Updates from Mei, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:14 am on 16 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: mandi besar, mandi wajib, rukun mandi wajib, tata cara mandi besar, tata cara mandi wajib   

    Tata Cara Mandi Wajib 

    Hal – hal yang menyebabkan diwajibkannya mandi:

    1. Keluar air mani, baik saat terjaga ataupun tidur, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” (HR. Muslim no. 343 dan Abu Dawud no. 214)
    2. Jima’ (berhubungan badan), walaupun tidak keluar air mani. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia telah duduk diantara ke empat cabang istrinya … (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi meskipun tidak keluar air mani” (HR. Muslim no. 348)
    3. Masuk Islamnya orang kafir. Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika ia masuk Islam, Nabi SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR. At Tirmidzi no. 602 dan Abu Dawud no. 351, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ul Ghaliil no. 128)
    4. Terputusnya haidh dan nifas. Dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy, “Jika datang haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah” (HR. Al Bukhari no. 320, Muslim no. 333, Abu Dawud no. 279, At Tirmidzi no. 125 dan An Nasa’i I/186)
    5. Hari Jum’at. Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mandi Jum’at wajib bagi setiap orang yang telah baligh” (HR. Al Bukhari no. 879, Muslim no. 346, Abu Dawud no. 337, An Nasa’i III/93 dan Ibnu Majah no. 1089)

    Adapun tata caranya adalah berdasarkan hadits dari jalan Aisyah ra., ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah SAW hendak mandi janabah (junub), beliau membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalu beliau mengambil air dan memasukan jari – jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

    Pada riwayat lain dikatakan, “…dan dimasukannya jari – jari ke dalam urat rambut hingga bila dirasanya air telah membasahi kulit [kepala], disauknya dua telapak tangan lagi dan disapukannya ke kepalanya sebanyak 3 kali, kemudian dituangkan ke seluruh tubuh” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

    Dari hadits yang mulia di atas maka urutan tata cara mandi wajib adalah:

    1. Membasuh kedua tangan
    2. Membasuh kemaluan
    3. Berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat [Boleh menangguhkan menangguhkan membasuh kedua kaki sampai selesai mandi (Fikih Sunnah hal. 154)]
    4. Mencuci rambut dengan cara memasukan jari – jemari ke pangkal rambut
    5. Menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3x atau mengambil air dengan kedua tangan kemudian menyapukannya ke kepalanya.
    6. Menguyur seluruh badan
    7. Membasuh kaki

    Sedangkan rukun dari mandi wajib ini menurut pandangan fiqh ada 2 yaitu:

    1. Berniat. Karena inilah yang memisahkan antara ibadah dengan kebiasaan dan adat.
    2. Membasuh seluruh anggota tubuh. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu junub hendaklah bersuci”, maksudnya adalah mandi.

    ***

    Maraji’:

    1. Fikih Sunnah Jilid 1, Sayyid Sabiq, PT. Al Ma’arif, Bandung, Cetakan Kedelapan belas, 1997 M.
    2. Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.
     
    • ardhilest 1:24 am on 16 Mei 2010 Permalink

      nice info gan..

      sudi kiranya mampir di blog ane..

    • Ikhsan 9:27 am on 20 Mei 2010 Permalink

      sip

    • Hamba Allah 9:21 am on 7 Juni 2010 Permalink

      Artikel ini sangat bermanfaat bagi saya dan ummat Islam lainnya…

    • NanDa Chuex Bloik 4:42 pm on 19 Februari 2011 Permalink

      thanks yha ats infonya!!!!

    • ardi 1:00 am on 29 April 2011 Permalink

      niatnya pa sob???

  • erva kurniawan 1:40 am on 14 May 2010 Permalink | Balas  

    Bagaimana Memahami Ayat Allah Di Alam 

    Karya : Harun Yahya

    Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya.

    Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu

    “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:190-191)

    Di banyak ayat dalam Alqur’an, pernyataan seperti, “Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”, “terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal,” memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini:

    “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An-Nahl, 16:11)

    Marilah kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.

    Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.

    Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut? Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?

    Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan:

    “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’aam, 6:59).

    Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan:

    “Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS. Al-An’aam, 6:95)

    Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 13 May 2010 Permalink | Balas  

    Berang-berang, Insinyur Pembuat Bendungan 

    Karya : Harun Yahya

    Arsitektur adalah bidang di mana konsep seni dan estetika yang ditanamkan Allah dalam diri manusia dapat terlihat. Tapi tahukah Anda, ternyata masih terdapat banyak arsitek di alam ini yang sama terampilnya dengan manusia? Salah satu dari sekian banyak contoh yang ada adalah berang-berang.

    Menebang Pohon dengan Gigi dan Cakar

    Kisah tentang berang-berang dimulai dengan seekor pejantan dan betina yang pergi untuk membuat sarang baru untuk mereka sendiri. Pasangan berang-berang ini akan membangun rumahnya di atas sungai. Tapi, untuk mengerjakannya, pertama kali mereka harus membendung laju arus sungai. Untuk menahan laju aliran ini mereka menggunakan cara yang sama seperti yang telah dilakukan manusia selama ratusan tahun. Dengan kata lain, mereka membuat bendungan.

    Untuk memulai membangun bendungan, pertama-tama mereka harus mendapatkan bahan baku. Bahan baku ini terdiri atas balok kayu dan cabang-cabang pohon. Berang-berang mulai bekerja dengan pergi menuju areal hutan di sekitar sungai. Pertama-tama mereka memakan sedikit dedaunan dari pohon yang mereka temukan. Tapi tugas utama mereka adalah menebang dan mendorong pohon ini hingga roboh. Mereka melakukannya dengan cara menggerogoti batang utama pohon tersebut. Yang menarik di sini adalah mereka menggerogoti kayu sedemikian rupa sehingga ketika pekerjaan menebang berakhir, batang pohon senantiasa roboh ke arah sungai.

    Menebang dan merobohkan pohon masih merupakan bagian pekerjaan yang paling sederhana. Selanjutnya, berang-berang memotong pohon tersebut pada cabang-cabangnya. Mereka memulai membangun bendungan dengan meletakkan cabang-cabang tersebut di depan gelondongan kayu terbesar yang telah mereka robohkan sebelumnya. Perlu diketahui bahwa, setiap saat, peralatan yang mereka gunakan hanyalah cakar dan mulutnya saja.

    Mereka melakukan pekerjaan menebang pohon dan membangun bendungan dengan penuh kesabaran. Dua ekor berang-berang menebang rata-rata empat ratus pohon per tahun. Mereka memotong-motong pepohonan yang berada agak jauh dari bendungan pada cabang-cabangnya, dan kemudian menyeret potongan-potongan tersebut ke bendungan.

    Berang-berang selalu menggunakan gigi depan untuk menggerogoti batang atau cabang pohon. Karena mereka menggunakannya setiap waktu, maka gigi depan ini menjadi tumpul atau rusak. Tetapi rahang berang-berang dibuat dengan memperhitungkan semua hal ini sebelumnya. Gigi depannya yang tajam selalu tumbuh memanjang, layaknya kuku manusia. Demikianlah, Allah Yang Maha Besar, yang menciptakan berang-berang, juga menciptakan gigi mereka sesuai dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan.

    Tubuh berang-berang didisain sedemikian rupa sehingga memudahkan mereka untuk berenang dan menyelam dalam air. Kakinya berselaput sehingga mudah mengayuh air. Ekor belakangnya berbentuk seperti dayung raksasa, sehingga mereka dapat berenang dengan nyaman dalam air.

    Dan Bendungan Pun Terbentuk…

    Berang-berang terus saja membangun bendungan mereka dengan penuh semangat. Mereka begitu ahli dalam menyusun batang pohon dan cabang-cabang kecil, dan memperluas bendungan sedikit demi sedikit setiap hari.

    Lambat-laun, bendungan menjadi semakin besar sehingga permukaan air yang terbendung di bagian depan pun semakin meninggi. Akhirnya, setelah beberapa bulan bekerja, danau yang besar pun terbentuk. Tapi karena danau bertambah besar, berang-berang harus memperkokoh bendungan tersebut dan memperbaiki kerusakannya. Mereka melakukan tugas berat ini dengan penuh kesabaran. Pemandangan yang muncul sebagai hasil kerja keras selama beberapa bulan ini sungguh menakjubkan. Sebuah bendungan yang sesungguhnya, yang menyerupai buatan manusia, telah terbentuk.

    Pada pengamatan lebih dekat, berang-berang membuat bendungan mereka dalam bentuk cekung. Bentuk seperti ini tidak dipilih secara kebetulan. Karena bentuk bendungan yang terbaik menahan tekanan air adalah bendungan yang berbentuk cekung. Faktanya, bendungan pembangkit listrik tenaga air modern yang ada sekarang juga dibangun dalam bentuk cekung.

    Singkat kata, berang-berang memiliki pengetahuan tentang konstruksi, yang pada manusia dicapai setelah beberapa waktu, sejak hari pertama dari kehidupan mereka. Lalu, siapakah yang memberikan mereka pengetahuan tersebut? Tidak diragukan lagi, suatu makhluk hidup tidak mungkin memperoleh kemampuan membangun bendungan secara kebetulan. Ia tidak dapat menemukan bentuk bendungan yang akan memiliki daya tahan terkuat dalam menahan tekanan air secara kebetulan, dan ia pun tidak mampu menurunkan kemampuan ini kepada generasi berikutnya. Adalah Allah Yang Maha Besar, yang memberi berang-berang kemampuan yang mereka miliki, yang menciptakan semua makhluk hidup, dan yang memberi ilham atas apa yang mereka lakukan.

    Rumah Bertingkat di Atas Air

    Tujuan berang-berang membangun bendungan yang besar ini adalah untuk mendapatkan danau dengan air yang tenang di mana mereka dapat membuat sarang. Mereka juga membuat sarang ketika mereka sedang membangun bendungan. Sarang tersebut terletak di salah satu sisi danau, di suatu tempat yang dekat dengan tepian. Sarang ini, yang terlihat seperti gundukan kayu jika dilihat dari atas, ternyata didisain dengan sangat rapi.

    Satu-satunya jalan masuk ke dalam sarang adalah dari bawah permukaan air. Untuk mencapainya, haruslah melalui terowongan tersembunyi. Terowongan ini bermuara pada suatu bilik tersembunyi di atas permukaan air. Keluarga berang-berang hidup di bilik yang kering dan aman ini. Sejumlah berang-berang membangun sarangnya dua lantai. Lantai pertama adalah sebagai jalan masuk dan ruang tamu, dan laintai berikutnya sebagai ruang makan dan ruang tidur.

    Sarang berang-berang memiliki dua jalan masuk bawah air dan satu lubang angin yang terletak di bagian paling atas. Dalam sarangnya yang luar biasa ini, berang-berang tidak hanya terlindung dari bahaya luar, tapi juga memiliki naungan yang nyaman.

    Ilham dari Allah

    Danau kecil yang dibentuk berang-berang kadang dapat mencapai kedalaman tiga sampai empat meter. Mereka sebenarnya tidak memerlukan air sedalam ini untuk membangun sarang mereka. Kalau begitu, mengapa mereka membuat danau sedemikian dalam?

    Jawaban atas pertanyaan ini tampak nyata pada musim dingin. Pada musim dingin, permukaan air membeku dan membentuk lapisan es yang lumayan tebal. Jika danau tidak cukup dalam, danau akan membeku hingga ke dasar, dan segala yang ada akan memjadi bongkahan es, dan ini akan melumpuhkan kemampuan berang-berang untuk bergerak.

    Berang-berang, seolah tahu akan hal ini dan berusaha membuat danau kecil tersebut sedalam mungkin. Dengan demikian, di musim dingin, lapisan air yang tebal tersisa di bawah es. Ini cukup bagi berang-berang untuk dapat bergerak di dalam air dan mendapatkan makan.

    Jika seseorang berpikir tentang hal ini, akan jelas bahwa apa yang dilakukan oleh berang-berang sangatlah luar biasa. Makhluk kecil ini berhasil mengerjakan sesuatu yang kebanyakan orang tidak mampu melakukannya tanpa pendidikan dan pelatihan khusus. Jadi, siapakah yang menjadikan mereka mampu melakukan hal ini?

    Adalah mustahil mengatakan bahwa berang-berang adalah makhluk yang memiliki kecerdasan istimewa. Jadi, bagaimana binatang kecil ini merencanakan sarangnya dengan terowongan masuk istimewa ke dalam air, dan dilengkapi lubang angin? Bagaimana mereka tahu cara membuat bendungan dengan disain yang sama seperti pusat-pusat pembangkit listrik tenaga air paling modern di dunia?

    Pekerjaan-pekerjaan ini jauh di luar jangkauan kecerdasan dan pengetahuan yang dimiliki binatang kecil yang menawan ini. Jelas bahwa ada kekuasaan luar biasa yang memungkinkan mereka melakukan pekerjaan dengan sangat baik.

    Allah Yang Maha Besar, yang menciptakan semua makhluk hidup dan mengilhami perilaku berang-berang, juga mengilhami berang-berang untuk membuat bendungan dan sarang mereka yang sempurna. Allah menyatakan Kekuasaan-Nya atas semua makhluk hidup dalam sebuah ayat Alquran:

    Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada dilangit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk. (QS. Ar-Ruum, 30:26)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 12 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: harun yahya, Keajaiban Dalam Rahim Ibu   

    Keajaiban Dalam Rahim Ibu 

    Karya : Harun Yahya

    Awalnya Hanya Bersel Satu

    Makhluk hidup bersel satu yang tak terhitung jumlahnya mendiami bumi kita. Semua makhluk bersel satu ini berkembang biak dengan membelah diri, dan membentuk salinan yang sama seperti diri mereka sendiri ketika pembelahan ini terjadi.

    Embrio yang berkembang dalam rahim ibu juga memulai hidupnya sebagai makhluk bersel satu, dan sel ini memperbanyak diri dengan cara membelah diri, dengan kata lain membuat salinan dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, tanpa adanya perencanaan khusus, sel-sel yang akan membentuk bayi yang belum lahir ini akan memiliki bentuk yang sama. Dan apabila ini terjadi, maka yang akhirnya muncul bukanlah wujud manusia, melainkan gumpalan daging tak berbentuk. Tapi ini tidaklah terjadi karena sel-sel tersebut membelah dan memperbanyak diri bukan tanpa pengawasan.

    Sel yang Sama Membentuk Organ yang Berbeda

    Sperma dan sel telur bertemu, dan kemudian bersatu membentuk sel tunggal yang disebut zigot. Satu sel tunggal ini merupakan cikal-bakal manusia. Sel tunggal ini kemudian membelah dan memperbanyak diri. Beberapa minggu setelah penyatuan sperma dan telur ini, sel-sel yang terbentuk mulai tumbuh berbeda satu sama lain dengan mengikuti perintah rahasia yang diberikan kepada mereka. Sungguh sebuah keajaiban besar: sel-sel tanpa kecerdasan ini mulai membentuk organ dalam, rangka, dan otak.

    Sel-sel otak mulai terbentuk pada dua celah kecil di salah satu ujung embrio. Sel-sel otak akan berkembang biak dengan cepat di sini. Sebagai hasilnya, bayi akan memiliki sekitar sepuluh milyar sel otak. Ketika pembentukan sel-sel otak tengah berlangsung, seratus ribu sel baru ditambahkan pada kumpulan sel ini setiap menitnya.

    Masing-masing sel baru yang terbentuk berperilaku seolah-olah tahu di mana ia harus menempatkan diri, dan dengan sel mana saja ia harus membuat sambungan. Setiap sel menemukan tempatnya masing-masing. Dari jumlah kemungkinan sambungan yang tak terbatas, ia mampu menyambungkan diri dengan sel yang tepat. Terdapat seratus trilyun sambungan dalam otak manusia. Agar sel-sel otak dapat membuat trilyunan sambungan ini dengan tepat, mereka harus menunjukkan kecerdasan yang jauh melebihi tingkat kecerdasan manusia. Padahal sel tidak memiliki kecerdasan sama sekali.

    Bahkan tidak hanya sel otak, setiap sel yang membelah dan memperbanyak diri pada embrio pergi dari tempat pertama kali ia terbentuk, dan langsung menuju ke titik yang harus ia tempati. Setiap sel menemukan tempat yang telah ditetapkan untuknya, dan dengan sel manapun mereka harus membentuk sambungan, mereka akan mengerjakannya.

    Lalu, siapakah yang menjadikan sel-sel yang tak memiliki akal pikiran tersebut mengikuti rencana cerdas ini? Profesor Cevat Babuna, mantan dekan Fakultas Kedokteran, Ginekologi dan Kebidanan, Universitas Istanbul, Turki, berkomentar:

    Bagaimana semua sel yang sama persis ini bergerak menuju tempat yang sama sekali berbeda, seolah-olah mereka secara mendadak menerima perintah dari suatu tempat, dan berusaha agar benar-benar terbentuk organ-organ yang sungguh berbeda? Hal ini jelas menunjukkan bahwa sel yang identik ini, yang tidak mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, yang memiliki genetika dan DNA yang sama, tiba-tiba menerima perintah dari suatu tempat, sebagian dari mereka membentuk otak, sebagian membentuk hati, dan sebagian yang lain membentuk organ yang lain lagi.

    Proses pembentukan dalam rahim ibu berlangsung terus tanpa henti. Sejumlah sel yang mengalami perubahan, tiba-tiba saja mulai mengembang dan mengkerut. Setelah itu, ratusan ribu sel ini berdatangan dan kemudian saling bergabung membentuk jantung. Organ ini akan terus-menerus berdenyut seumur hidup.

    Hal yang serupa terjadi pada pembentukan pembuluh darah. Sel-sel pembuluh darah bergabung satu sama lain dan membentuk sambungan di antara mereka. Bagaimana sel-sel ini mengetahui bahwa mereka harus membentuk pembuluh darah, dan bagaimana mereka melakukannya? Ini adalah satu di antara beragam pertanyaan yang belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan.

    Sel-sel pembuluh ini akhirnya berhasil membuat sistem tabung yang sempurna, tanpa retakan atau lubang padanya. Permukaan bagian dalam pembuluh darah ini mulus bagaikan dibuat oleh tangan yang ahli. Sistem pembuluh darah yang sempurna tersebut akan mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh bayi. Jaringan pembuluh darah memiliki panjang lebih dari empat puluh ribu kilometer. Ini hampir menyamai panjang keliling bumi.

    Perkembangan dalam perut ibu berlangsung tanpa henti. Pada minggu kelima tangan dan kaki embrio mulai terlihat. Benjolan ini sebentar lagi akan menjadi lengan. Beberapa sel kemudian mulai membentuk tangan. Tetapi sebentar lagi, sebagian dari sel-sel pembentuk tangan embrio tersebut akan melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ribuan sel ini melakukan bunuh diri massal.

    Mengapa sel-sel ini membunuh diri mereka sendiri? Kematian ini memiliki tujuan yang amat penting. Bangkai-bangkai sel yang mati di sepanjang garis tertentu ini diperlukan untuk pembentukan jari-jemari tangan. Sel-sel lain memakan sel-sel mati tersebut, akibatnya celah-celah kosong terbentuk di daerah ini. Celah-celah kosong tersebut adalah celah di antara jari-jari kita.

    Akan tetapi, mengapa ribuan sel mengorbankan dirinya seperti ini? Bagaimana dapat terjadi, sebuah sel membunuh dirinya sendiri agar bayi dapat memiliki jari-jari pada saatnya nanti? Bagaimana sel tersebut tahu bahwa kematiannya adalah untuk tujuan tertentu? Semua ini sekali lagi menunjukkan bahwa semua sel penyusun manusia ini diberi petunjuk oleh Allah.

    Pada tahap ini, sejumlah sel mulai membentuk kaki. Sel-sel tersebut tidak mengetahui bahwa embrio akan harus berjalan di dunia luar. Tapi mereka tetap saja membuat kaki dan telapaknya untuk embrio.

    Ketika embrio berumur empat minggu, dua lubang terbentuk pada bagian wajahnya, masing-masing terletak pada tiap sisi kepala embrio. Mata akan terbentuk di kedua lubang ini pada minggu keenam. Sel-sel tersebut bekerja dalam sebuah perencanaan yang sulit dipercaya selama beberapa bulan, dan satu demi satu membentuk bagian-bagian berbeda yang menyusun mata. Sebagian sel membentuk kornea, sebagian pupil, dan sebagian yang lain membentuk lensa. Masing-masing sel berhenti ketika mencapai batas akhir dari daerah yang harus dibentuknya. Pada akhirnya, mata, yang mengandung empat puluh komponen yang berbeda, terbentuk dengan sempurna tanpa cacat. Dengan cara demikian, mata yang diakui sebagai kamera paling sempurna di dunia, muncul menjadi ada dari sebuah ketiadaan di dalam perut ibu. Perlu dipahami bahwa manusia yang bakal lahir ini akan membuka matanya ke dunia yang berwarna-warni, dan mata yang sesuai untuk tugas ini telah dibuat.

    Suara di dunia luar yang akan didengar oleh bayi yang belum lahir juga telah diperhitungkan dalam pembentukan seorang manusia dalam rahim. Telinga yang akan mendengarkan segala suara tersebut juga dibentuk dalam perut ibu. Sel-sel tersebut membentuk alat penerima suara terbaik di dunia.

    Semua uraian ini mengingatkan kita bahwa penglihatan dan pendengaran adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada kita. Allah menerangkan hal ini dalam Alquran sebagaimana berikut:

    Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl, 16:78)

    Penciptaan Kedua

    Berbagai peristiwa yang telah dikisahkan dalam tulisan ini dialami oleh semua orang di dunia. Setiap manusia dipancarkan ke rahim sebagai sebuah sel sperma yang kemudian bersatu dengan sel telur, dan kemudian memulai kehidupan sebagai sel tunggal. Semua ini terjadi karena adanya kondisi yang secara khusus diciptakan di tempat tersebut. Bahkan sebelum manusia mulai mengetahui keberadaan dirinya sendiri, Allah telah memberi bentuk pada tubuh mereka, dan menciptakan manusia normal dari sebuah sel tunggal.

    Adalah kewajiban bagi setiap orang di dunia untuk merenungkan kenyataan ini. Dan kewajiban Anda adalah untuk memikirkan bagaimana anda lahir ke dunia ini, dan kemudian bersyukur kepada Allah.

    Jangan lupa bahwa Tuhan kita, yang telah menciptakan tubuh kita sekali, akan mencipta kita lagi setelah kematian kita, dan akan mempertanyakan segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Hal ini amatlah mudah bagi-Nya.

    Mereka yang melupakan penciptaan diri mereka sendiri dan mengingkari kehidupan akhirat, benar-benar telah tertipu. Allah berfirman tentang orang-orang ini dalam Alquran:

    Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pada kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yaasiin, 36:77-79)

    ***

    Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta’ala

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 11 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: dosa meninggalkan sholat, Siksa Meninggalkan Sholat   

    Siksa Meninggalkan Sholat 

    “Apakah yang menyebabkan kamu masuk neraka Saqar ini?” Mereka menjawab: ” kami tidak termasuk golongan orang-orang yang mengerjakan Sholat” (S. Al-Muddatsir 42, 43 ).

    Siksaan ketika hidup di dunia

    1. Allah kurangkan keberkatan umurnya
    2. Rezekinya dipersempitkan oleh Allah
    3. Tidak ada tempat baginya disisi Agama ISlam
    4. Do’anya tertolak
    5. Hilang cahaya sholeh dari wajahnya
    6. Amal kebaikan yang dilakukan langsung tidak diberi pahala

    Siksaan ketika sakaratul maut

    1. Ia akan menghadapi sakaratul maut dalam keadaan hina
    2. Matinya dala keadaan menderita kelaparan
    3. Matinya dalam keadaan yang sangat haus, walaupun diberi minum sebanyak tujuh lautan

    Siksaan ketika berada di dalam kubur

    1. Allah akan menyempitkan kuburannya dengan sesempit-sempitnya
    2. Kuburnya akan digelapkan
    3. Allah akan menyiksanya dengan pedih sampai hari Qiamat

    Siksaan ketika berada di akhirat

    1. Dia akan dibelenggu dan diseret kepadang mahsyar oleh malaikat.
    2. Allah tidak akan memandangnya dengan pandangan belas kasihan.
    3. Allah tidak akan mengampuni dosanya dan akan disiksa dengan keras didalam neraka.

    Nibah bagi orang yang meninggalkan shalat

    1. SUBUH, : Ia akan disiksa selama 60 tahun didalam neraka
    2. DZUHUR, : Dosanya seperti membunuh 1000 jiwa orang Islam
    3. ASHAR, : Dosanya seperti meruntuhkan Ka’bah
    4. MAGHRIB, : Dosanya seperti ia berzina denga Ibunya (Jika pria)atau berzina dengan Bapaknay (bagi Wanita)
    5. ISYA’, : Allah tidak akan ridha’ ia hidup dibumi Allah, dan ia akan didesak mencari bumi lain.

    ***

    (Kitab Raudhatussalihin)

     
    • aje 11:04 pm on 18 Mei 2010 Permalink

      ijin copy , insya allah

    • Andri Yanto 3:02 am on 11 September 2011 Permalink

      MUDAH2AN BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA,, AMIIN,,,!!

  • erva kurniawan 1:36 am on 9 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: istiqomah   

    Makna Istikomah 

    Oleh : Muhammad Bajuri

    Allah SWT berfirman, ”Istikomahlah kamu sebagaimana engkau telah diperintahkan.” (QS Hud [11]:112). Sasaran ayat ini bukan hanya Rasulullah SAW, tetapi seluruh hamba-Nya. Sebab, istikamah adalah kunci pembuka kemuliaan. Bahkan sebagian ulama menempatkan istikomah pada tingkatan puncak dari tangga pendakian seorang hamba menuju kesempurnaan makrifat, kebeningan hati, dan kemurnian akidah.

    Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafi berkata, ”Wahai Rasulullah SAW, katakanlah suatu perkataan kepadaku tentang Islam, sehingga aku tidak perlu lagi bertanya kepada siapapun selain engkau.” Beliau bersabda, ”Katakan aku beriman kepada Allah SWT, lalu istikomahlah.” (HR Ahmad).

    Konsep istikomah tidak sesederhana seperti yang sering dipahami selama ini. Istikomah seringkali diidentikkan dengan kontinyuitas sebuah amal. Al Qurthubi menyatakan bahwa ayat istikomah (QS Hud:112) telah membuat rambut Nabi Muhammad SAW beruban.

    Diceritakan bahwa Abi Ali Asy-Syanawi mengaku pernah melihat Rasulullah SAW dalam mimpi. Dia kemudian bertanya, ”Wahai Rasulullah SAW, ada sebuah riwayat darimu bahwa engkau pernah berkata, Surat Hud telah membuat kepala beruban.” Beliau menjawab, ”Benar.” Asy Syanawi bertanya kembali, ”Ayat apakah yang membuat rambutmu beruban, apakah ayat yang menceritakan tentang kisah-kisah para Nabi atau kehancuran umat terdahulu?” Beliau bersabda, ”Tidak, tetapi disebabkan ayat yang berbunyi, ‘istikomahlah kamu sebagaimana engkau telah diperintahkan’.” (Muhammad bin Allan Ash Shadiqi, Dalil Al Falihin, I/282).

    Secara bahasa, kata istikomah merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata istaqama, yastaqimu yang artinya lurus, teguh, dan konsisten. Namun, pengertian secara bahasa ini belumlah cukup untuk mewujudkan istikomah sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Oleh karena itu, ulama tasawuf mendefinisikan bahwa istikomah adalah bersikap konsisten terhadap pengakuan iman dan Islam, serta dengan tulus mengabdikan diri kepada Allah SWT untuk mengharapkan ridha-Nya di dunia dan akhirat.

    Dari sekian banyak definisi yang dikemukakan para ulama, dapat dipahami bahwa dalam beristikamah ada dua hal pokok yang harus dipenuhinya. Pertama, beriman kepada Allah SWT. Kedua, mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, baik secara lahir maupun batin. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa orang yang istikomah adalah orang yang bisa mengaktualisasikan nilai keimanan, keislaman, dan keihsanan dalam dirinya secara total.

    Meski untuk bisa mencapai tingkatan istikomah itu terasa amat sulit, namun kita harus tetap berusaha dan ber-munajah semampu kita. Sebab, seperti dikatakan Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat istikomah (QS Hud:112) ini, bahwa istikomah merupakan media yang paling baik untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai kesulitan duniawi. Wallahu a’lam.

    ***

    Republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 6 May 2010 Permalink | Balas  

    Dan Akan Keluar dari Neraka 

    Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan mengampuni yang selain itu bagi siapa yang Ia kehendaki …” (QS An Nisaa’ 116, lihat juga QS An Nisaa’ 48)

    Dari Anas ra., Rasulullah SAW bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah, padahal di hatinya hanya memiliki keimanan seberat sya’irah (biji gandum). Dan akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah padahal di hatinya hanya memiliki keimanan seberat burrah (sejenis biji gandum). Dan akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah padahal di hatinya hanya memiliki keimanan seberat dzarrah (debu, atom)” (HR. Bukhari no. 44 dan Muslim 1/125)

    Maka dari itu ahlus sunnah wal jama’ah meyakini bahwa seorang mukmin, yang mana dia tidak menyekutukan Allah Ta’ala dengan sesuatu apapun, maka dia tidak akan pernah kekal di dalam api neraka dan akan dimasukan ke dalam surga karena ampunan dan rahmat-Nya walaupun keimanan yang dimilikinya hanya seberat sebuah debu. Dan inilah aqidah shahih para salafush shalih (orang – orang shalih terdahulu).

    Semoga bermanfaat

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Hendra 7:08 pm on 6 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah, allah memang maha pemaaf lg penyayang

  • erva kurniawan 1:07 am on 5 May 2010 Permalink | Balas  

    Amal dan Kebaikan Seorang Kafir (Non Muslim) 

    Sesungguhnya apabila seseorang meninggal di luar Islam, tidak akan mungkin masuk Surga berdasarkan firman Allah, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya jannah, dan tempatnya ialah naar, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maa-idah : 72)

    Sementara semua amal kebajikan yang dilakukannya padahal ia masih kafir, tidak akan berguna di akhirat sedikitpun, dan tempat kembalinya adalah Neraka. Dasarnya adalah firman Allah, “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi..” (Ali Imraan : 85)

    Demikian juga firman Allah, ” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan…” (Al-Furqaan : 23)

    Juga firman Allah, ” Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan..” (Al-A’raaf : 147)

    Aisyah -Radhiallahu ‘anha– pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah! Ibnu Juz’an dahulu di Masa Jahiliyyah selalu menjaga hubungan silaturrahmi dan memberi makan fakir miskin. Apakah itu berguna baginya di akhirat?” Beliau menjawab: “Tidak akan berguna baginya. Karena ia tidak pernah mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku di Hari Pembalasan nanti.” (HR. Imam Muslim dalam Shahih-nya 214)

    Adapun apabila orang kafir itu belum mendengar tentang Islam dan belum sampai dakwah kepadanya, maka Wallahu A’lam, Allah akan mengujinya di Hari Kiamat nanti.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • annisa 10:10 am on 10 Mei 2010 Permalink

      memang hal ini sangat penting untuk kita ketahui..
      dan pernah dibahas di liqo’an/pengajian kami, jawabannya sama
      yaitu akan sia-sia amal kebaikkan mereka disisi Allah,

      yg menjadi tantangan bagi kita adalah dapatkah kita mendakwahi mereka secara halus dan baik2…. wloupun saya sendiri blum mencoba scara maksimal..krn masih kurangnya keilmuan ttg Islam, walahu’alam bi showab.
      ya.. Allah kuatkanlah kami..

  • erva kurniawan 1:06 am on 30 April 2010 Permalink | Balas  

    Masih Adakah Ahli Kitab? 

    Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut mari kita lihat surat Rasulullah SAW kepada pembesar bangsa Romawi, Heraklius, sebagai berikut:

    Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya Kepada Heraklius, pembesar Bangsa Romawi Keselamatan atas orang yang mengikuti hidayah (Islam), amma ba’du,

    “Maka sesungguhnya aku mengajakmu kepada seruan Islam, Islamlah pasti engkau akan selamat dan Allah akan memberikan kepadamu pahala dua kali lipat. Tetapi jika engkau berpaling, maka sesungguhnya engkau (berdosa) dan akan menanggung dosa rakyatmu dan (kemudian beliau SAW mengutip firman Allah surat Ali Imran ayat 64)

    ‘Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian lain Ilah selain Allah’. Jika mereka berpaling maka katakanlah, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang – orang yang berserah diri (kepada Allah)” (HR. Al Bukhari no. 7 dan Muslim no. 1773)

    Fiqh Hadits:

    Rasulullah SAW telah mengirim surat kepada pembesar Romawi, Heraklius yang beragama nasrani (Kristen) yang mana di dalam suratnya Rasulullah SAW mengutip firman Allah SWT, “Hai Ahli Kitab …”. Hal ini menunjukan bahwa pembesar Romawi yang bernama Heraklius adalah seorang ahli kitab.

    Jadi yang dimaksud ahli kitab adalah orang – orang yang beragama yahudi dan nasrani baik yang dahulu dan sekarang, yang belum merubah kitab mereka (Taurat dan Injil) ataupun yang telah merubah kitab mereka. Karena pada masa Rasulullah SAW atau masa Heraklius, isi kitab Taurat dan Injil telah banyak mengalami perubahan.

    Maraji’:

    Disarikan dari buku Al Masaa-il Jilid 5, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah Press, Jakarta, Cetakan Pertama, November 2005, Hal. 162-169

    [Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra. ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman, “Innaka sata’tii qauman aHla kitaab fa-idzaa ji’tuHum fad’uHum ilaa AnyasyHaduu an laa ilaaHa illallaHu wa anna muhammadan rasuulullaH” yang artinya “Sesungguhnya engkau akan menjumpai kaum ahli kitab, jika engkau bertemu dengan mereka maka dakwahkanlah bahwa tiada tuhan yang disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya, dari Abdullah bin Abbas ra.)]

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 29 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: , makhluk malaikat,   

    Relatifitas Waktu Penghuni Langit dan Bumi 

    Alam semesta demikian besamya. Siapakah yang menghuni? Apakah hanya manusia saja. Ataukah ada makhluk lain. Sampai sekarang ilmu Astrobiologi belum menemukan data-data yang signifikan. Semuanya, baru pada tingkat dugaan dan asumsi-asumsi. Karena itu, agaknya kita belum bisa bersandar pada data data empirik untuk membahas tentang penghuni alam semesta ini. Meskipun, baru baru ini NASA telah memperoleh data adanya air di Mars lewat pesawat tidak berawaknya. Akan tetapi semua itu masih jauh dari memadai untuk mengatakan di sana ada kehidupan.

    Untuk itu, akan lebih baik jika kita mendasarkan pembahasan kita pada informasi dari Al Quran. Di dalam Al Quran, makhluk ciptaan Allah disebut hanya ada 6 macam, yang 3 berakal, dan 3 lainnya tidak yaitu: malaikat, jin, manusia, binatang, tanaman, dan benda mati.

    Makhluk Malaikat

    Malaikat adalah makhluk yang diciptakan Allah khusus untuk ‘membantu’ Allah mengurus alam semesta ciptaanNya. Bukan berarti Allah ‘kewalahan’ dalam mengurus alam semesta ini dan kemudian butuh bantuan malaikat. Allah berfirman bahwa Dia selalu dalam kesibukan mengurusi alam semesta.

    QS. Ar Rahman (55) : 29, “Semua yang ada di langit dan di Bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”

    Pada hakikatnya, yang sibuk mengurusi alam semesta adalah Allah semata. Karena, toh malaikat adalah ciptaan Allah. Akan tetapi Allah membuat sebuah mekanisnne yang memang melibatkan malaikat dalam interaksiNya dengan makhluk-makhluk yang lain terutama manusia hal ini, misalnya, terlihat dari firmanNya berikut ini.

    QS Asy Syuraa (42) : 51, “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

    Bukan karena Allah tidak mampu berkomunikasi dengan makhluk ciptaanNya, justru sebaliknya, badan manusia terlalu ringkih untuk bisa berkomunikasi dengan Allah. Jangankan ‘berhadapan’ dengan Allah, berdekatan dengan Matahari saja badan manusia pasti hancur. Demikian pula pancaindera kita, terlalu lemah untuk untuk bisa berkomunikasi dengan Dzat Yang Maha Agung itu. Maka, ada mekanisme tertentu untuk bisa berkomunikasi denganNya. Nah, di antaranya adalah dengan melewati malaikat.

    Malaikat adalah makhluk Allah yang badannya terbuat dari cahaya. Badan cahaya itu lantas diberi Ruh oleh Allah. Maka jadilah makhluk malaikat.  Karena badannya terbuat dari cahaya, maka badan malaikat itu memiliki berbagai keunggulan, jauh di atas manusia atau makhluk Al lah lainnya. Bobotnya sangat ringan. Karena itu kecepatannya sangat tinggi. Bahkan tertinggi di alam semesta.

    Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik. Karena itu, malaikat juga bisa bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi itu. Jika mau, malaikat bisa bergerak mengelilingi Bumi sebanyak 8 kali hanya dalam waktu 1 detik.  Dengan kecepatan setinggi itu, malaikat lantas memiliki berbagai kelebihan. Di antaranya, malaikat memiliki waktu yang sangat panjang dibandingkan dengan waktu manusia. Terjadilah relatifitas waktu, sebagaimana diinformasikan Allah dalam ayat berikut ini.

    QS Al Ma’arij (70) : 4, “Naik malaikat dan ruh kepadaNya dalam waktu sehari yang kadarnya 50.000 tahun.”

    Secara eksplisit Allah menginformasikan kepada kita bahwa sehari bagi malaikat adalah seperti 50.000 tahun bagi manusia. Kenapa bisa demikian? Karena malaikat memiliki kecepatan yang sangat tinggi. Ilmu Fisika Modern menjelaskan, bahwa bagi makhluk yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan bergerak lamban baginya.

    Malaikat sebagai utusanNya diberi kecepatan yang tertinggi di alam semesta agar bisa menyelesaikan berbagai tugasnya dengan mudah. Dengan demikian, tugas yang sangat beragam itu bisa, diselesakan dengan baik. Termasuk mendampingi orang-orang yang beriman dalam menghadapi berbagai persoalannya.

    Kecepatan malaikat yang demikian tinggi itu bukan hanya berpengaruh pada cepatnya gerakan saja, melainkan juga berpengaruh pada panjang pendeknya waktu, sehingga terjadilah relatifitas waktu.

    QS. Fushilat (41) : 30, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (sambil mengatakan): janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

    Berbagai kelebihan tersebut membawa konsekuensi yang luas pada hubungan kita dengan malaikat. Misalnya, jika malaikat mau mengurus kita, katakanlah mencatat perbuatan manusia, mereka hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat Anggaplah malaikat sedang mengamati perbuatan kita selama beberapa menit. Sebenamya waktu manusia sudah berjalan bertahun tahun.

    Sehingga peradaban manusia modern yang diperkirakan berusia 50.000 tahun sejak penciptaan Adam itu, bagi malaikat baru terjadi sehari yang lalu, alias kemarin. Atau, katakanlah usia alam semesta yang diperkirakan 12 miliar tahun ini, bagi malaikat baru berusia 240.000 hari alias sekitar 660 tahun saja.

    Maka jangan heran jika di Al Qur’an terdapat banyak informasi tentang relatifitas waktu itu. Misalnya Allah mengatakan bahwa sehari pada hari kiamat memiliki kadar 1000 tahun, seperti firman berikut ini.

    QS Al Hajj (22) : 47, “Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali. kali tidak akan menyalahi janji Nya Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

    Contoh yang lain, ada manusia yang pada hari kiamat itu ditanya oleh Allah tentang lamanya dia tinggal di Bumi. Mereka mengatakan bahwa mereka tinggal di Bumi itu hanya sekitar satu hari saja. Akan tetapi, orang yang lain ada yang menjawabnya 10 hari.

    QS. Thahaa (20) : 103 – 104, “Mereka berbisik bisik di antara mereka : kami tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sepuluh (hari). Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sehari saja.

    Dengan adanya relatifitas waktu tersebut, maka kita bisa memahami firman Allah yang mengatakan bahwa kiamat sudah dekat. Sudah kelihatan tanda-tandanya. Akan tetapi, sampai sekarang belum juga terjadi. Padahal sejak zaman nabi Muhammad sampai sekarang, waktu manusia sudah berjalan hampir 1500 tahun.

    Di’sisi’, Allah waktu berjalan sangat lambat. (Tetapi Allah tidak terikat dimensi waktu. Justru ‘waktu’ yang berada di dalam Allah). Karena itu, meskipun waktu alam semesta di mata manusia sudah berjalan sekitar 12 miliar tahun, Allah mengatakan bahwa proses penciptaan alam semesta ini di sisi Allah hanya butuh waktu 6 hari! Jadi setiap tahap penciptaan alam semesta hanya butuh waktu penciptaan Masing-masing 1 hari saja. Dan sampai sekarang proses tersebut belum berhenti.

    Kembali kepada malaikat. Malaikat adalah makhluk cahaya yang didesain memiliki berbagai kelebihan oleh Allah. Mereka bisa bergerak ke mana saja di alam semesta ini, sebagaimana digambarkan dalam QS Al Ma’arij : 4 tersebut di atas. Perjalanan malaikat dari Bumi menuju langit, misalnya, digambarkan hanya ditempuhnya dalam waktu sehari saja. Padahal manusia menempuhnya dalam waktu 50.000 tahun.

    Bahkan bukan hanya perjalanan fisik di langit dunia, tetapi malaikat juga memiliki kelebihan untuk bisa menembus dimensi dimensi langit pertama sampai dengan langit ke tujuh. Malaikat adalah makhluk dari langit ketujuh, yang berdimensi 9

    Tugas malaikat beragam. Mulai dari menyampaikan wahyu kepada para nabi, ‘mencatat’ perbuatan manusia, menyampaikan rezeki, sampai kepada penjaga Surga dan Neraka. Semua itu dilakukan malaikat persis sesuai perintah Allah. Malaikat tidak pernah membangkang terhadap perintah Allah. Setiap saat mereka selalu bertasbih memuji kebesaran Allah.

    QS. Al Anbiyaa’ : 19 – 20, “Dan kepunyaanNyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat malaikat yang di sisiNya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembahNya, dan tiada merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “

    QS. Faathir : 1,  “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan Bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua-dua, tiga-tiga, empat empat. Allah menambah apa yang Dia kehendaki tentang ciptaanNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

     
    • ari kurniawan 5:50 pm on 29 April 2010 Permalink

      Maha Besar Allah yg telah menciptakan mahluk dan segala sesuatu yg di dalamnya terdapat pelajaran bagi kita. Subhanallah…

    • eL Abee 7:05 am on 30 April 2010 Permalink

      Yang benar “relativitas”

    • sabil 3:00 pm on 30 April 2010 Permalink

      saya penasaran ! mau baca ! tapi ini terlalu panjang ..

    • tary 8:50 pm on 30 April 2010 Permalink

      Allahu akbar….Maha Besar Allah.Dia lah yang Maha Sempurna.
      Subhanallah…..

    • phallend 8:44 pm on 12 Mei 2010 Permalink

      klo trllu pnjsng y d copy, d print trus d bw plg&d bc d rmh j.. gtu j kok repot..

    • MISBAHUDIN 12:03 am on 20 Januari 2011 Permalink

      SUBEHANALLAH MAHA SUCI ENGKAU YA ALLAH YG TELAH MENJADIKAN SEMUA INI TIDAK SIA SIA AMPUNI HAMBAMU INI DAN JAUHKAN KAMI DARI SIKSAMU. AMIIN

  • erva kurniawan 1:49 am on 27 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: walimah   

    Walimah yang Paling Buruk di Sisi Allah 

    Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah. Yaitu bila orang miskin yang ingin datang tidak diundang sebaliknya orang yang tidak butuh (orang kaya) malah diundang. Siapa yang tidak mendatangi undangan itu termasuk makshiat kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR Muslim)

    Fawaid

    1. Walimah itu seharusnya bermanfaat untuk memberi makan orang-orang yang membutuhkan, baik fakir, miskin atau anak-anak yatim. Jangan sampai wallimah itu hanya memberi makan buat orang yang pada hakikatnya tidak terlalu butuh karena sudah kaya.
    2. Walimah yang demikian itu dipandang oleh Rasulullah SAW sebagai walimah yang tidak baik, yaitu dengan menyebutkan bahwa makanan pada walimah itu adalah seburuk-buruk hidangan.
    3. Namun pengertian hadits ini bukan berarti menu makanan itu menjadi haram hukumnya sehingga tidak boleh dimakan, melainkan maksudnya adalah bila sebuah walimah itu dikemas sedemikian rupa dengan melupakan orang miskin dan dikhususkan hanya orang kaya saja yang boleh hadir, maka walimah itu adalah walimah yang buruk. Tidak selayaknya seorang muslim menyelenggarakan walimah yang seperti itu.
    4. Hadits ini juga menjadil landasan dalil keharusan seseorang untuk memenuhi undangan bila diundang.

    ***

    eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 6:28 pm on 26 April 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Ketika Kita Singgah Sejenak 

    Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

    Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjanjikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya. Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota “A” dan anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!

    Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana. Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang menerpa.

    Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai-sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang diminta.

    Nah, ketahuilah bahwa kota “A” itu tiada lain adalah akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.

    Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah menjajikan surga Jannatun Na’im – padahal apapun yang dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun – dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan “kekecewaannya” melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah, dengan berfirman, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai?” (Q.S. Ar Ruum 30: 7) “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui,” demikian firmanNya pula. (Q.S. Al Ankabuut 29: 64)

    Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak yang “mengecewakan” seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang dititipkan Alloh kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta, waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau singgah sejenak saja.

    Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun untuk ini Alloh Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan rizkinya. Dengan catatan, sepanjang “ongkos” tersebut tidak dhamburkan sia-sia. Alloh memampirkan kita di dunia ini seraya tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti, maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa Alloh akan mencukupi kita dengan limpahan karunianya.

    Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti bahwa semua yang dititipkan Alloh itu sebenarnya untuk bekal pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki) padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke mana pun.

    Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Jadi, jaminan dari Alloh untuk kehidupan dunia ini sebenarnya ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan ikhtiarnya.

    Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh Alloh dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, “Ini rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat dan keberkahan.

    Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

    Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah dikumpul-kumpulkannya dipakainya untuk pergi melancong kemana saja yang dia suka.

    Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia! Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang, maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama, maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan siapapun yang menghargai.

    Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia, pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja. Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya. Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa. Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata, melainkan Allohlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak dapat tak ada masalah karena Alloh tidak akan pernah lupa memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah dicatat oleh Alloh. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang gagal.

    Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita semua itu tidak ada apa-apanya karena Allohlah sebagai penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justru menjadi ujian bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena Alloh saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita, sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.

    Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu karena itu berarti Alloh memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur, sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian manusia.

    Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu sederhana? Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya. Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini, maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!

    Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah Alloh berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi) janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashas 28: 77). Maka itu semata-mata dimaksudkan agar kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan Alloh kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati di akhirat.

    ***

    Sumber: Buletin Dakwah Qolbun Salim Edisi 03, Ramadhan 1422 H Divisi Humas – Daarut Tauhiid Jakarta

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 25 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: sahabat rasulullah   

    Keutamaan dan Hak Sahabat Rasulullah SAW 

    Berikut ini adalah hadits – hadits shahih yang menceritakan keutamaan Sahabat Rasulullah SAW,

    Dari Abdullah bin Mas’ud ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Khairun naasi qarnii tsummal ladziina yaluunaHum tsummal ladziina yaluunaHum” yang artinya, “Sebaik – baik manusia adalah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, kemudian zaman berikutnya” (HR. Bukhari no. 3651 dan Muslim no. 2533)

    Abu Burdah meriwayatkan dari bapaknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa ahshaabii amanatun liummatii faidzaa dzahaba ashhaabii ataa ummatii maa yuu’aduun” yang artinya, “Dan sahabatku adalah pengaman bagi umatku, jika sahabatku telah pergi maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas umatku” (HR. Muslim no. 2531)

    Rasulullah SAW bersabda, “Inna amannan naasi ‘alayya fii maaliHi washuhbatiHi abuubakrin” yang artinya, “Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar” (HR. Bukhari no. 3654 dan Muslim no. 2382)

    Sa’ad bin Abi Waqqash ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “IiHan yabnal khaththaabi wal ladzii nafsii biyadiHi maa laqiyakasy syaithaanu saalikan fajjan qaththu illaa salaka fajjan ghaira fajjik” yang artinya, “Bahagialah wahai Ibnul Khaththab, demi Allah, setiap kali setan berpas-pasan denganmu pada satu jalan ia pasti memilih jalan lain selain jalan yang engkau lalui” (HR. Bukhari no. 3683 dan Muslim no. 2396)

    Rasulullah SAW bersabda perihal Utsman bin Affan ra., “Alaa astahii min rajulin tastahii minHul malaa-ikatu” yang artinya, “Tidakkah aku malu terhadap lelaki yang para malaikat malu terhadapnya !?” (HR. Muslim no. 1401)

    Dari Abu Sarihah ra. atau Zaid bin Arqam ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Man kuntu maulaaHu fa’aliyun maulaaHu” yang artinya, “Barangsiapa yang mengangkat diriku sebagai walinya maka Ali adalah walinya juga” (HR. Ahmad dalam Kitab Al Fadhaail no. 959, At Tirmidzi, An Nasa’i dalam Kitab Khashaaish Ali no. 76 dan Ibnu Abi Syaibah, hadits ini shahih)

    Dari Irbad bin Sariyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa man ya’isy minkum fasayarakh tilaafan katsiran fa’alaikum bimaa ‘araftum min sunnatii wa sunnatil khulafaair raasyidiin al maHdiyyiin” yang artinya, “Barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang amat banyak. Hendaklah kalian tetap memegang teguh sunnahku yang kalian ketahui dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang berada diatas petunjuk” (HR. Imam Ahmad dalam Kitab Musnad IV/126-127, Abu Dawud no. 4607, At Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42 dan Ad Darimi no. 95, hadits ini shahih)

    Dan masih banyak hadits – hadits shahih maupun atsar yang menceritakan tentang keutamaan para Sahabat Rasulullah SAW dan tentu saja keutamaan mereka banyak juga disebutkan di dalam Al Qur’an Al Karim, maka dari itu mereka radhiyallaHu ‘anHum memiliki hak – hak istimewa yang harus dipenuhi oleh seluruh kaum muslimin diantaranya:

    Mencintai mereka ra. Perlu diketahui mencitai mereka berarti kita telah mewujudkan konsekwensi cinta terhada Allah SWT, sebab Allah SWT telah mengabarkan bahwa Dia telah ridha terhadap para sahabat ra.

    “Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal” (QS At Taubah 21)

    Memohonkan rahmat dan ampunan untuk mereka ra. Sebagai realisasi firman Allah SWT, “Dan orang – orang yang datang sesudah mereka (yaitu sesudah kaum Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Yaa Rabb kami, berilah ampun kepada kami dan saudara – saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang – orang beriman, Yaa Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al Hasyr 10)

    Menahan lisan dari membicarakan kesalahan mereka ra. apalagi mencela mereka ra. Hal ini karena kesalahan mereka ra. sangatlah sedikit dibandingkan dengan kebaikan mereka ra. yang begitu banyak, apalagi sumber kesalahan mereka bersumber dari ijtihad yang diampuni. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Laa tasubbuu ashhaabii fawal ladzii nafsii biyadiHi lau anfaqa ahadukum mitsla uhudin dzaHaban maa balagha mudda ahadiHim walaa nashiifaHu” yang artinya, “Janganlah kalian mencela sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya seandainya seorang diantara kalian berinfak emas seperti gunung Uhud, sungguh belum menyamai satu mud seorang diantara mereka, tidak pula separuhnya” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)

    Nabi SAW juga bersabda, “Idzaa dzukira ashhaabii fa-amsikuu” yang artinya, “Apabila disebut sahabatku maka diamlah” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Ash Shahihah no. 34)

    Maka dari itu Al Munawi berkata, “Yakni apa yang terjadi diantara mereka berupa peperangan dan persengketaan, (maka diamlah) secara wajib dari mencela mereka dan membicarakan mereka dengan tidak pantas, karena mereka adalah sebaik – baiknya umat” (Kitab Faidhul Qadir 1/347)

    Sedangkan sikap membela sahabat dan mencela para pencela sahabat adalah warisan para ulama salafush shalih. Imam Abu Zur’ah Ar-Raazi Rahimahullahu berkata, “Apabila anda melihat seseorang mencela salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu zindiq, karena Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam menurut kami adalah benar dan Al-Qur’an itu benar. Sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan hadits kepada kita adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Mereka (yang mencela para sahabat) hanyalah ingin mencela para saksi kita untuk membatalkan Al-Qur’an dan sunnah, padahal celaan itu lebih pantas untuk mereka dan mereka adalah orang-orang zindiq” [lihat Kitab Al-Kifaayah fii ‘ilmil riwaayah oleh Al-Khatib Al-Baghdadi hal.67].

    Dan Imam Al-Barbahaari Rahimahullahu berkata dalam Kitab Syarhus sunnah hal 50 no.104, “Apabila anda melihat seseorang mencela para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu pemilik ucapan yang jelek dan pengekor hawa nafsu”.

    Akhirnya, Yaa Allah saksikanlah bahwa kami mencintai sahabat Nabi-Mu dan berlepas diri dari perilaku kaum Syi’ah Rafidhah (dan selainnya) yang mencela sahabat Nabi-Mu.

    ***

    Maraji’

    1. Mengenal Keutamaan Mutiara Zaman, Hamd bin Abdillah bin Ibrahim Al Humaidi, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, Agustus 2002 M.
    2. Disarikan dari Tulisan Ustadz Abu Ubaidah Al Atsari, Majalah Al Furqan, Lajnah Dakwah Ma’had Al Furqan, Edisi 12, Tahun IV, Rajab 1426 H, hal. 20.

    KuHanyaOrangBiasa

    MURNIKAN TAUHID, TEGAKAN SUNNAH

    Dari Abu Dzar ra., Rasulullah SAW bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga” (HR. Bukhari)

     
  • erva kurniawan 7:31 pm on 16 April 2010 Permalink | Balas  

    Doa Malam yang Mustajab 

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bangun pada malam hari dan berkata, “Laa ilaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH, laHul mulku wa laHul hamdu, yuhyii wa yumiitu biyadiHil khairu, wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, subhaanallaH wal hamdulillaH wa laa ilaHa illallaHu wallaHu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billaH’

    [Tiada ilah kecuali Allah satu- satunya tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah seluruh kerajaan dan seluruh pujian. Dia menghidupkan dan mematikan dengan di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah]

    kemudian dia berkata, ‘Allahummaghfirlii’ [Ya Allah ampunilah aku]

    atau dia berdoa, maka akan dikabulkan doanya. Dan jika dia bangun lalu shalat maka diterimalah shalatnya” (HR. Bukhari 1/387 dan Abu Dawud 4/314)

    Aku telah membaca doa ini agar aku sembuh dari sakit kemudian Allah SWT menyembuhkanku. Dan aku membacanya agar pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan menjadi mudah, kemudian Allah memudahkannya untukku.

    Aku menasehatkan kepada seluruh kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan, terutama saudara-saudaraku di Palestina, Afghanistan dan di negeri-negeri muslim lainnya, agar mereka berserah diri kepada Allah SWT saja dan membaca doa ini, dibarengi dengan usaha sebagai perantara seperti mempersiapkan diri untuk berjihad dengan harta dan senjata.

    Dan juga kepada saudara-saudaraku sesama muslim di seluruh dunia agar mereka mendoakan saudara-saudara kita sesama muslim yang terusir dari kampung halaman mereka, semoga Allah menolong dan menguatkan mereka serta mengembalikan mereka ke negeri mereka yang semula, terutama saudara-saudara kita di Palestina.

    Sebab doa seorang muslim kepada saudaranya secara diam-diam adalah termasuk doa yang mustajab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Kitab Shahih Muslim no. 2733), terutama doa yang penuh berkah di atas yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan yang telah mendatangkan manfaat bagi banyak orang.

    Semoga Bermanfaat

    ***

    Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, adalah murid Syaikh Albani

     
  • erva kurniawan 7:13 pm on 15 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: masjid al qiblatain, masjid qiblatain   

    Masjid Qiblatain Masjid Berkiblat Dua 

    Sebuah peristiwa penting berupa perpindahan arah kiblat dialami Rasulullah  SAW dan para sehabat saat sedang melakukan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Qiblatain. Itulah mengapa masjid ini dinamai Qiblatain yang berarti dua kiblat.

    Syahdan ketika Rasulullah SAW sedang melakukan salat dzuhur (riwayat lain menyebutkan salat ashar) berjamaah di Masjid Qiblatain, mendadak turun wahyu (Q.S. Al-Bagarah:114) yang memerintahkan mengubah arah kiblat dari Masjidil Aqsa di Palestina (utara) ke Ka’bah di Masjidil Haram di Mekkah (selatan).

    “Sungguh Kami melihat mukamu, menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwu berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”

    Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah SAW dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

    Peristiwa yang terjadi pada tahun 2 H, atau tepatnya 17 bulan setalah nabi Muhammad hijrah ke Madinah (Sumber: dari Muhammad Husain Haekal, “Sejarah Hidup Muhammad”, hal. 22, Litera AntarNusa) itulah yang menjadi cikal bakal pemberian nama Masjid Qiblatain yang berarti dua kiblat. Sebelum dinamai Qiblatain karena perubahan arah kiblat itu, masjid yang terletak di atas bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah, itu bernama Masjid Bani Salamah.

    Tadinya di dekat Masjid Qiblatain ada telaga yang diberi nama Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi. Mengingat pentingnya air untuk masjid, maka atas anjuran Rasulullah SAW, Usman bin Affan kemudian menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan menjadikannya sebagai wakaf. Air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid, serta kebutuhan minum penduduk sekitar. Hanya bentuk fisiknya sudah tidak kelihatan, karena ditutup dengan tembok.

    Dalam perkembangannya, pemugaran Masjid Qiblatain terus-menerus dilakukan, sejak zaman Umayyah, Abbasiyah, Utsmani, hingga zaman pemerintahan Arab Saudi sekarang ini. Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas kelihatan. Di situ diterakan bunyi QS. AlBaqarah: 114, ditambah larangan bagi siapa saja yang shalat agar tidak menggunakan kiblat lama itu.

    Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat di sana, jamaah dapat juga memetik ibrah (suri teladan) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah, melaksanakan perintah Allah SWT baik dalam segi ibadah mahdlab (ritual), seperti berjamaah, mengganti kiblat, dan menyucikan diri, maupun dalam segi ibadah ghair mahdlah (sosial) seperti menyisihkan harta untuk kepentingan umat, untuk memugar masjid dan lain sebagainya.

    Bila mengacu pada peristiwa di atas, maka kita perlu memberitahukan arah kiblat yang sebenarnya meski kepada orang yang sedang shalat. Dan baginya boleh merubah atau membetulkan arah posisi kiblat meski dalam shalat, tanpa perlu mengulangi rakaat yang salah arahnya. TC Nar

    ***

    Sumber: Majalah Travel Club

     
    • Sakti 7:00 pm on 16 April 2010 Permalink

      Assalamualaikum,

      Salam kenal mas…

      Saya sangat senang menemukan blog ini. Isinya sangat menarik, inspiratif buat saya dan banyak hal-hal yang saya belum ketahui…

      Terimakasih sudah menuliskannya disini dan saya minta ijin, mungkin nanti beberapa artikel akan saya tulis ulang di blog-blog milik saya (tentu saya akan tautkan ke artikel bersangkutan disini :) ).

    • eemoo 9:43 am on 5 Mei 2010 Permalink

      nice blog gan…
      mau share link untuk gambar masjid2 dunia –> http://www.majestad.wordpress.com
      http://www.eemoo.wordpress.com

    • Asti 2:57 pm on 21 Mei 2010 Permalink

      Salam kenal mas, artikel tentang mesjid Quba bagus dan boleh dong disebarkan. Namun ada koreksi sedikit, bahwa kejadian perubahan arah kiblat bukan tahun tahun 12 H, tetapi tahun 2 H, atau tepatnya 17 bulan setalah nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Sumber dari Muhammad Husain Haekal, “Sejarah Hidup Muhammad”, hal. 22, Litera AntarNusa.

  • erva kurniawan 7:02 pm on 14 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: hajar aswad   

    Hajar Aswad Batu Surga Saksi Kita di Akhirat 

    Diyakini sebagai batu surga, Hajar Aswad bakal menjadi saksi kita di akhirat kelak. Karena itulah, meski sunah hukumnya, ribuan jamaah haji berupaya sekuat tenaga untuk dapat menciumnya. Meski hanya sunah, setiap jamah haji selalu berupaya untuk sebisa mungkin dapat mencium Hajar Aswad (batu hitam). Selain diyakini sebagai batu surga, konon, Hajar Aswad kelak akan menjadi saksi kita di akhirat.

    Terletak di sudut selatan Kabah pada ketinggian 1,10 meter dari lantai Masjidil Haram, batu hitam berukuran 25 x 17 cm ini selalu menyedot perhatian jamaah haji. Mereka berusaha untuk dapat menciumnya, atau paling tidak dapat ber-ihtilam (menyalaminya atau mencium tangan ketika tawaf).

    Meski demikian, untuk melakukan ritual ini (mencium Hajar Aswad), setiap orang dituntut kesabarannya, mengingat banyaknya jamaah haji yang memiliki niat serupa. Karena itu, tidak dibenarkan jika kita memaksakan untuk menciumnya sembari menyakiti jemaah yang lainnya. Apalagi jika hal itu memicu keributan dengan sesama jamaah. Di lain pihak, karena hukumnya bukan wajib melainkan sunah, sejauh ini Pemerintah Arab Saudi tidak menyediakan sarana sebagaimana tawaf dan sa’i.

    Apa makna di balik prosesi mencium Hajar Aswad? Konon, mencium Hajar Aswad adalah lambang perjanjian kita dengan Allah SWT. Hajar Aswad melambangkan “tangan Allah”. Mencium Hajar Aswad-baik dari dekat maupun dari jauh melambangkan perjanjian kita dengan “menjabat” tangan Allah. Seakan-akan kita berkata, “Ya Allah, saya berjanji bahwa mulai saat ini saya telah masuk ke dalam lingkaran-Mu, dan tidak akan pernah keluar dari lingkaran-Mu ini”. Karena itu, jika ada kesempatan dan kemampuan, setiap jamaah disunahkan untuk mencium Hajar Aswad.

    Mulanya Putih

    Menurut sejarahnya, Hajar Aswad adalah batu yang diberikan Malaikat Jibril kepada Nabi Ismail AS ketika diperintah mencari batu oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS yang hendak meninggikan Kabah. Kala itu, Hajar Aswad menyala-nyala karena saking putihnya. Cahayanya menyinari Barat dan Timur.

    Tapi mengapa Hajar Aswad sekarang berwarna hitam? Ada beberapa versi mengenai hal ini. Hajar Aswad itu berubah warnanya menjadi hitam pekat karena diduga kuat akibat peristiwa kebakaran yang terjadi di zaman Quraisy dan di era Ibnu Zubair. Akibatnya Hajar Aswad mengalami keretakkan yang kemudian diikat oleh Ibnu Zubair dengan perak ketika ia merenovasinya.

    Versi lainnya menyebutkan, berubahnya warna Hajar Aswad dari semula abyad (putih) menjadi aswad (hitam) karena dosa-dosa anak cucu Adam. Dalam kaitan ini ada sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, berwarna lebih putih dari susu. Dosa-dosa anak cucu Adam-lah yang menjadikannya hitam”. Mana yang benar? Wallaahua’lam.

    Dalam kaitan versi kedua, Ibnu Zhahirah mengingatkan bahwa dosa-dosa anak manusia saja bisa menghitamkan batu, apalagi pengaruhnya terhadap hati manusia. Ini jelas sebagai peringatan kepada anak cucu Adam agar hanya kepada Allah SWT sajalah kita bertumpu.

    Hajar Aswad yang sekarang adalah 8 bongkahan kecil akibat pecahnya batu yang semula besar. Kedelapan bongkahan itu masih tersusun rapi pada tempatnya seperti sekarang. Pecahnya batu itu terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syi’ah Al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al-Qaramathi yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Ihsa’ pada tahun 319 Hijriyah. Tetapi batu itu dikembalikan lagi pada tahun 339 Hijriah.

    Gugusan yang terbesar berukuran sebuah kurma yang tertanam di batu besar lain dan dikelilingi oleh ikatan perak inilah yang senantiasa dirindui setiap muslim untuk dapat menciumnya. Batu yang terletak dalam lingkaran perak itulah yang diusahakan jamaah haji untuk dapat menciumnya, bukan batu yang berada di sekitarnya.

    Dalam perkembangannya, Hajar Aswad pernah mengalami renovasi pada zaman Raja Fahd, tepatnya pada bulan Rabiul Awal 1422 Hijriyah. Kini, setiap tahun menjelang musim haji, Hajar Aswad senantiasa dibersihkan berbarengan dengan pencucian Kabah. Pada saat inilah, biasanya Pemerintah Arab Saudi memberi kesempatan kepada tamu-tamu kerajaan untuk menyaksikan pencucian Kabah sekaligus mencium Hajar Aswad. TC Nar

    ***

    Sumber: Majalah Travel Club

     
  • erva kurniawan 9:47 am on 12 April 2010 Permalink | Balas  

    Apa Pantas Kita Berharap Surga? 

    Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk.

    Sholat lima waktu? Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua itu belum termasuk catatan, “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”.

    Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

    Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka.

    Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

    Baca Qur’an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya.

    Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

    Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

    Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudahlah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

    Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun.

    Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

    Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel, setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?

    Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

    Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surge Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu?

    Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri? Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun. Selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.

    Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

    Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga.

    Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu, hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

    Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua ketika iedul Fitri yang baru berlalu? Apakah hari itu….hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna………???

    Apakah siang harinya kita sudah mengantuk dan akhirnya tertidur lelap…? Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata…??? atau bahkan kita menganggap cengeng……??? sampai sekeras itukah hati kita….???

    Ya Allah ya Rabb-ku, jangan Kau paling hati kami menjadi hati yg keras, sehingga meneteskan air matapun susah, merasa bersih, merasa suci, merasa tak bersalah, merasa tak butuh orang lain, merasa modernis, Idealis dan visionis. Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan terlukis bayang hampa tanpa makna dan kebahagiaan semu penuh ragu, Astaghfirullaah Yaa Allah, ampunilah segenap khilaf kami. Amien.

    ***

     
  • erva kurniawan 7:39 am on 11 April 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Alquran Menghitung Kecepatan Cahaya 

    NAMA Albert Einstein melekat dengan dunia fisika dan menjadi ikon fisika modern. Rumus E = mc^2 dianggap sebagai rumus Einstein yang dalam pandangan awam merupakan “rumus” untuk membuat bom atom. Albert Einstein memang pantas dianggap sebagai tokoh utama yang memimpin revolusi di dunia fisika.

    Salah satu teorinya yang mendobrak paradigma fisika berbunyi “kecepatan cahaya merupakan tetapan alam yang besarannya bersifat absolut dan tidak bergantung kepada kecepatan sumber cahaya dan kecepatan pengamat”.

    Menurut Einstein, tidak ada yang mutlak di dunia ini (termasuk waktu) kecuali kecepatan cahaya. Selain itu, kecepatan cahaya adalah kecepatan tertinggi di alam ini. Artinya, tidak mungkin ada (materi) yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Pendapat Einstein ini mendapat dukungan dari hasil percobaan yang dilakukan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Michelson-Morley, Fizeu, dan Zeeman.

    Di mata awam, postulat Einstein ini memunculkan banyak keanehan. Misalnya, sejak dulu logika kita berpendapat bahwa jika kita bergerak dengan kecepatan v1 di atas kendaraan yang berkecepatan v2, kecepatan total kita terhadap pengamat yang diam adalah v1 + v2. Tetapi, menurut Einstein, cara penghitungan tersebut salah karena dapat mengakibatkan munculnya kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya.

    Oleh karena itu, menurut Einstein, formula penjumlahan kecepatan yang benar adalah sebagai berikut= (v1 +v2) / (1 + (v1 x v2 / c2)).

    ***

    Sinodik dan Siderial

    Dalam menghitung gerakan benda langit, digunakan dua sistem yaitu Sinodik dan Siderial. Sistem Sinodik didasarkan pada gerakan semu Bulan dan Matahari dilihat dari Bumi. Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Masehi di mana satu bulan = 29,53509 hari.

    Sistem Siderial didasarkan pada gerakan relatif Bulan dan Matahari dilihat dari bintang jauh (pusat semesta). Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Islam (Hijriah) di mana satu bulan = 27,321661 hari . Ahli-ahli astronomi selalu mendasarkan perhitungan gerak benda langit (mechanical of Celestial) kepada sistem Siderial karena dianggap lebih eksak dibandingkan sistem Sinodik yang mengandalkan penampakan semu dari Bumi.

    ***

    Sinyal dari Alquran

    Mengetahui besaran kecepatan cahaya adalah sesuatu yang sangat menarik bagi manusia. Sifat unik cahaya yang menurut Einstein adalah satu-satunya komponen alam yang tidak pernah berubah, membuat sebagian ilmuwan terobsesi untuk menghitung sendiri besaran kecepatan cahaya dari berbagai informasi.

    Seorang ilmuwan matematika dan fisika dari Mesir, Dr. Mansour Hassab Elnaby merasa adanya sinyal-sinyal dari Alquran yang membuat ia tertarik untuk menghitung kecepatan cahaya, terutama berdasarkan data-data yang disajikan Alquran. Dalam bukunya yang berjudul A New Astronomical Quranic Method for The Determination of the Speed C , Mansour Hassab Elnaby menguraikan secara jelas dan sistematis tentang cara menghitung kecepatan cahaya berdasarkan redaksi ayat-ayat Alquran. Dalam menghitung kecepatan cahaya ini, Mansour menggunakan sistem yang lazim dipakai oleh ahli astronomi yaitu sistem Siderial.

    Ada beberapa ayat Alquran yang menjadi rujukan Dr. Mansour Hassab Elnaby. Pertama, “Dialah (Allah) yang menciptakan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat bagi perjalanan Bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan ” (Q.S. Yunus ayat 5).

    Kedua, ” Dialah (Allah) yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan masing-masing beredar dalam garis edarnya” (Q.S. Anbia ayat 33).

    Ketiga, “Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu kembali kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu” (Q.S. Sajdah ayat 5).

    Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa jarak yang dicapai “sang urusan” selama satu hari adalah sama dengan jarak yang ditempuh Bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan. Dalam bukunya, Dr. Mansour menyatakan bahwa “sang urusan” inilah yang diduga sebagai sesuatu “yang berkecepatan cahaya”.

    **

    Hitungan Alquran

    Dari ayat di atas dan menggunakan rumus sederhana tentang kecepatan, kita mendapatkan persamaan sebagai berikut:

    C x t = 12.000 x L ……………(1)

    C = kecepatan “sang urusan” atau kecepatan cahaya

    t = kala rotasi Bumi = 24 x 3600 detik = 86164,0906 detik

    L = jarak yang ditempuh Bulan dalam satu edar = V x T

    Untuk menghitung L, kita perlu menghitung kecepatan Bulan. Jika kecepatan Bulan kita notasikan dengan V, maka kita peroleh persamaan:

    V = (2 x phi x R) / T

    R = jari-jari lintasan Bulan terhadap Bumi = 324264 km

    T = kala Revolusi Bulan = 655,71986 jam, sehingga diperoleh

    V = 3682,07 km / jam (sama dengan hasil yang diperoleh NASA)

    Meski demikian, Einstein mengusulkan agar faktor gravitasi Matahari dieliminir terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang lebih eksak.

    Menurut Einstein, gravitasi matahari membuat Bumi berputar sebesar:

    a = Tm / Te x 360°

    Tm = Kala edar Bulan = 27,321661 hari

    Te = Kala edar Bumi = 365,25636 hari, didapat a= 26,92848°

    Besarnya putaran ini harus dieliminasi sehingga didapat kecepatan eksak Bulan adalah

    Ve= V cos a.

    Jadi, L = ve x T, di mana T kala edar Bulan = 27,321661 hari = 655,71986 jam

    Sehingga L = 3682,07 x cos 26,92848° x 655,71986 = 2152612,336257 km

    Dari persamaan (1) kita mendapatkan bahwa C x t = 12.000 x L

    Jadi, diperoleh C = 12.000 x 2152612,336257 km / 86164,0906 detik

    C = 299.792,4998 km /detik

    Hasil hitungan yang diperoleh oleh Dr. Mansour Hassab Elnaby ternyata sangat mirip dengan hasil hitungan lembaga lain yang menggunakan peralatan sangat canggih. Berikut hasilnya :

    Hasil hitung Dr. Mansour Hassab Elnaby C = 299.792,4998 km/detik

    Hasil hitung US National Bureau of Standard C = 299.792,4601 km/ detik

    Hasil hitung British National Physical Labs C = 299.792,4598 km/detik

    Hasil hitung General Conf on Measures C = 299.792,458 km/detik

    **

    Penutup

    Lepas dari benar tidaknya interpretasi yang dilakukan oleh Dr. Mansour Hassab Elnaby, usaha demikian menunjukkan betapa kitab suci Alquran memiliki tantangan bagi para ilmuwan untuk lebih kreatif dan tajam dalam mengungkap fenomena-fenomena alam.

    Boleh jadi, apa yang disajikan Dr. Mansour Hassab Elnaby merupakan bukti tambahan bahwa Alquran benar-benar datang dari Sang Khalik.

    ***

    Oleh: Wildaiman, Alumni Matematika ITB, Guru Matematika Pontren Al Masudiyah-Cigondewah Kab. Bandung,

     
    • rago 2:21 pm on 14 April 2010 Permalink

      Al’quran adalah ciptaan ALLAH yang maha dahsyat oleh karena itu wahai manusia berlomba-lombalah berbuat kebaikan karena azab Allah sangatlah pedih

    • arabidol 7:57 pm on 21 April 2010 Permalink

      2 Petrus 3:8 Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.

    • zainoel 8:30 pm on 21 Juli 2011 Permalink

      subhanallah……. engkaulah yang maha agung ya robb….

  • erva kurniawan 7:18 am on 10 April 2010 Permalink | Balas  

    Pemaaf Suatu Keperibadian Yang Indah 

    Ketika kita bergaul dengan orang lain, aka terjadi berbagai peristiwa, ada yang menyenangkan dan ada yang menyakitkan hati. Disaat orang melakukan berbagai kesalahan terhadap kita dalam pergaulan tersebut, hendaknya kita bermurah hati memaafkannya. Firman Allah menjelaskan, “Jadilah engkau orang yang pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raf : 199)

    Sifat pemaaf merupakan lambang keperibadian yang indah, sebab didalam sanubari orang yang suka memaafkan orang lain itu tersimpan keikhlasan dan kerelaan hati yang suci. Orang pemaaf itu pastilah terhindar dari sifat dendam. Dia menganggap bahwa kesalahan orang lain terhadapnya itu merupakan ‘kekeliruan’ dan’ kelemahannya’ selaku manusia.

    Al Qur’an selalu membimbing kita kearah menjadi orang yang berbudi tinggi dan menolong orang lain. Pemaaf berarti kita telah menghormati orang lain sebagaimana kita mengormati diri sendiri.

    Firman Allah menjelaskan, “Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka.” (QS. Ali Imran : 159)

    Memaafkan orang lain yang bersalah, berarti kita telah membebaskan mereka dari dosa bersalah, sekalipun mereka tidak meminta dibebaskan. Merupakan suatu perbuatan terpuji karena menghapuskan dosa dan kesalahan saudara-saudara kita sesama manusia, terutama sesama muslim.

    Tujuan memberi maaf orang yang bersalah, walaupun ia tidak meminta maaf, ialah menginginkan perdamaian dan menghilangkan permusuhan serta ingin membantu seseorang dari menanggung dosa kesalahannya itu. Sifat cinta perdamaian dan ingin berbuat baik dalam bentuk membebaskan orang lain dari dosa, itulah yang disuruh oleh agama Islam.

    Sifat pemaaf salah satu ciri-ciri orang yang bertakwa, yang patuh dan taat kepada ajaran agama. Firman Allah SWT menjelaskan, “Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartannya, baik diwaktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran : 133-134).

    ***

    Sumber: Penenang Jiwa dan Pikiran.

     
    • salsabila putri 11:06 am on 16 Juli 2012 Permalink

      jadilah orang yg pemaaf

  • erva kurniawan 6:53 am on 9 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: mencela, mencerca   

    Mencerca Dan Mencela 

    Oleh : Ustadz Muhammad bin Hasan Baharun

    Mencerca dan mencela adalah jelas perbuatan tak terpuji, tapi mengapa orang masih suka melakukannya? Padahal Al-Qur’an dalam surat-surat 9:74,79; 12:31,92; 49:11 dan 68:11,30 berbicara soal cela dan cerca. Salah satunya Allah berfirman, “Celaka berat bagi para pencerca dan pengumpat.” (QS. 104:1)

    Kebiasaan buruk tersebut agaknya meningkat belakangan ini baik dalam pertemuan umum maupun melalui media massa dan menjadi semacam pekerjaan rutin insan yang tipis iman. Simaklah omongan sebagian orang bila lepas kesibukannya, selalu mengumpat dan mencerca orang lain. Bak kata pepatah “kuman di seberang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata sendiri tak ketahuan.”

    Allah berfirman dalam kitab suci-Nya yang melukiskan dalam bentuk metafor, “Orang yang suka mencerca itu ibarat memakan daging saudaranya sendiri sesama muslim.”

    Dalam suatu riwayat, Nabi SAW bersabda, “Seorang dikatakan muslim ialah apabila saudaranya sesama muslim selamat dari lidah dan tangannya.” (HR. An-Nawawy)

    Akhir-akhir ini di media massa banyak orang yang mencerca orang lain, bahkan sudah menjurus pada pelanggaran privasi seseorang dan sudah menjadi kebiasaan. Di tempat-tempat umum seperti di sekolah, kampus, kantor dan lapangan, banyak orang cerca-mencerca, malahan terhadap terhadap sesamanya yang sudah mendahului kita ke alam baka. Karena mudahnya lidah mengucap, hingga cerca dan gosip seperti sesuatu yang lumrah disampaikan. Bahkan sebagian menganggap hal itu sebagai tanda keakraban. Atau ada yang bilang bahwa hal itu menunjukkan sikap yang kritis. Tentu saja itu semua keliru!

    Di jaman Nabi SAW, pernah ada orang mencerca Sahabat beliau. Baginda Nabi SAW pun lantas bersabda, “Jangan Anda mencerca para Sahabatku!. Seandainya Anda belanjakan harta sebesar gunung Uhud, niscaya amal Anda tak akan dapat mengalahkan jasa para Sahabatku.” (Muttafaqun alaihi)

    Kemudian dalam kesempatan lain, beliau berpesan, “Jika ada seseorang yang mencerca para Sahabatku, katakanlah, ‘semoga laknat Allah atas kejahatanmu.'”

    Pangkal gosip dan cerca adalah lidah. Diriwayatkan bahwa Lukman Al-Hakim, seorang arif yang termasyhur itu pernah disuruh majikannya membeli daging yang baik untuk menjamu tetamu yang bertandang. Kemudian Lukman membeli hati dan lidah. Sang majikan marah dan menanyakan mengapa ia membeli hati dan daging. Ia pun menjawab, “Tidakkah ini daging yang baik seperti yang tuan pesan. Sebab hati merupakan sumber amal perbuatan yang baik, sedangkan lidah dapat menjalin tali persaudaraan. Dari keduanya, seseorang dapat membangun kebajikan.”

    Pada saat yang lain majikan itu memerintahkan Lukman membeli daging yang busuk, untuk diketahui, kiranya jenis daging apa yang akan dibeli olehnya. Kemudian ia pun pulang dari pasar membawa hati dan lidah. Tersentaklah majikan tersebut dan bertanya kenapa gerangan ia membeli barang yang sama, padahal ia disuruh membeli daging yang paling busuk. Ia menjawab, “Benar tuanku, ini daging terbusuk. Hati adalah daging yang paling baik dan sekaligus juga yang paling busuk. Ia sumber kedengkian dan rasa congkak. Sedangkan lidah merupakan alat untuk melaknat, mencerca dan mencaci orang lain.”

    Oleh karena itu jagalah lidah kita dari perbuatan mencerca dan mencela yang dapat merusak segala amal kebajikan, seperti api yang melahap kayu bakar. Bersihkanlah hati dari rasa dendam dan dengki, sebab lidah merupakan cerminan gejolak hati. Bila hati bersih, lidah niscaya tidak akan bertutur kecuali yang baik. Sebaliknya bila hati tercemar, maka lidah akan mudah berkata-kata yang buruk.

    ***

    [Disarikan dari Sorotan Cahaya Ilahi, M. Baharun, hal. 37-40, cetakan I, penerbit Pustaka Progressif, 1995]

     
    • cahyo 1:47 pm on 28 April 2010 Permalink

      Indah sekali,,selain pandangan mata,hati dan lidahpun harus dijaga.

  • erva kurniawan 3:57 am on 6 April 2010 Permalink | Balas  

    Diet Rasulullah 

    Rasulullah merupakan teladan yang baik dalam mengendalikan diri. Kita harus melihat berbagai cara dan berbagai jenis makanan yang paling disukai oleh Rasulullah. Diantara makanan yang disukai oleh baginda yang dikatakan oleh Aisyah bahw Rasulullah suka daging yang enak dan madu. (HR. Bukhari)

    Rasulullah SAW tidak mau mengumpulkan dalam perutnya dengan berbagai macam makanan. Jika baginda memakan daging, baginda tidak menambahnya dengan yang lain. Jika baginda memakan kurma, baginda tidak memakan jenis makanan yang lain. Jika baginda memakan roti, maka cukuplah roti itu saja bagi baginda, jika baginda hanya menemui susu tanpa roti, itupun sudah mencukupi bagi baginda.

    Menurut Sayyidah Aisyah, perut rasulullah SAW tidak pernah penuh sampai kenyang, baginda tidak pernah meminta makanan, lalu memakan, itu tidak disukainya. Bila keluarga baginda memberi makanan, makanan itu baginda makan begitu juga minuman, apa saja yang diberikan oleh keluarga baginda, baginda tidak menolaknya. Oleh sebab itu baginda berkata : “Aku lapar sehari dan aku kenyang sehari. Bila aku lapar aku bersabar dan berdo’a dengan merendahkan diri kepada Allah, dan bila aku kenyang aku akan bersyukur kepada Allah SWT”.

    Rasulullah apabila ingin makan, baginda makan sebelum terlalu lapar, dan berhenti sebelum terlalu kenyang. Bukan harus menuruti kehendak hawa nafsu, dengan memakan sebanyak-banyaknya dari makanan yang lezat menurut selera kita. Sehingga memenuhi perut.

    Madu adalah sejenis makanan yang dapat menjaga seseorang dari serangan berbagai penyakit, sebagaimana sabda Rasulullah dari Abu Hurairah, “Jika setiap orang menjilat madu tiga kali setiap pagi dalam setiap bulan, dia tidak akan menderita sakit keras”.

    Demikianlah cara Rasulullah dalam mengatur kehidupan baginda, yang dapat kita tiru dalam menjalani kehidupan kita pada abad modern ini. Sehingga kita tidak mudak terpengaruh dengan berbagai kemewahan yang membuat kita lupa diri sendiri. Makanan berlebihan itu juga dapat mengakibatkan besarnya hawa nafsu, yang dapat merusak diri dan dapat menyebabkan hidup menjadi keluh kesah dan tidak tenteram.

    ***

    Sumber : Penenang Jiwa dan Pikiran

     
  • erva kurniawan 8:13 pm on 2 April 2010 Permalink | Balas  

    Ketika Dosa Sedalam Samudra 

    Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, bahkan sepanjang usia kita?

    Andaikan saja kita bersedia menyediakan kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira, apa yang terjadi?

    Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menahan muatan dosa kita.

    Bukankah shalat kita masih ” bolong-bolong “? Bukankah shalat kita sering terlambat, dikerjakan mau habis waktunya dan tidak khusyuk? Bukankah kita pernah menahan hak faqir miskin?

    Bukankah kita pernah, bahkan sering berbohong, mengingkari janji, bersumpah dengan sumpah yang palsu, bersikap munafiq, mencerca manusia, mengejeknya, menuduhnya, berburuk sangka padanya, iri hati, hasad, mengobarkan rasa benci membenci dan dendam pada seseorang?

    Bukankah kita pernah merasa diri paling benar, paling pintar dari orang lain, ta’adjub, riya, sombong, marah yang tak pada tempatnya, angkuh, congkak, hebat, dan tinggi dari orang lain?

    Bukankah karena lidah kita, tangan kita, badan, kaki kita, mata dan hati kita pernah menyakiti manusia lainnya?

    Bukankah kita pernah menyelipkan kertas amplop pada petugas administrasi demi untuk kelancaran urusan kita, bermanis muka, lain di mulut, lain dihati, bersikap munafik pada pejabat dan penguasa, menyandarkan urusan padanya, agar kita dipandang pegawai yang baik dan banyak kerja, pada hakikatnya banyak yang tidak kita kerjakan, malah kita asyik berdiri didepan computer, chatting dan melihat situs-situs yang tidak baik, menghabiskan waktu memakan harta yang tidak berhak kita makan, tanpa kita menyadarinya, bahwa hal itu bukan hak kita.

    Bukankah kita pernah menerima uang yang tak jelas statusnya, sehingga pendapatan kita berlipat ganda?

    Bukankah kita sering tak mau menolong orang yang meminta bantuan pada kita, menolong saudara kita yang dalam kesulitan, walaupun kita sanggup menolongnya?

    Daftar ini akan bisa semakin sangat panjang bila diteruskan.

    Lalu apa yang harus kita lakukan?

    Allah SWT berfirman dalam surat Az Zumar (39:53), “Katakanlah wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (kecuali syirik).  Sesungguhnya Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang.”

    Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allahpun menjanjikan kita untuk mengampuni dosa-dosa kita.

    Karena itu, kosongkanlah lagi kotak-kotak yang penuh tadi dengan taubat padaNya. Kita kembalikan kotak itu seperti keadaannya semula, kita kembalikan jiwa kita kepada jiwa yang fitri dan bersih.

    Jika kita punya onta lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang, bukankah kita sedih?

    Bagaimana pula jika onta itu tiba-tiba kembali berjalan menuju kita lengkap dengan segala perbekalannya, bukankah kita merasa bahagia?

    Rasulullah SAW bersabda, “ketahuilah Allah akan lebih senang lagi melihat hambaNya yang berlumuran dosa kembali kepadaNya.”

    Allah berfirman, “Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah padaNya, sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi “. (Q. S.  39:54 )

    Seperti onta yang sesat jalan, dan mungkin telah tenggelam didasar lautan samudra, mengapa kita tak berusaha berjalan kembali menuju Allah, dan menangis di “kaki kebesaranNya”, mengakui kesalahan kita, dan memohon ampunanNya.

    Wahai Tuhan Yang kasih SayangNya lebih besar dari MurkaNya. Ampuni kami ya Allah.

    ***

    Disampaikan di “renungan” pengajian Muttaqin Kairo.

    Oleh: Rahima

     
    • annisa 10:26 am on 6 April 2010 Permalink

      Astaghfirullah al adzhiimmi…,
      hanya kata itu yang mampu terucap mengingat dosa2 yg telah di lakukan..hizk.. hizk..
      Allahumma a’inna ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik..

    • Hendra 8:57 pm on 6 April 2010 Permalink

      Astagfirullah alaziim….

    • dian 10:28 am on 7 Desember 2011 Permalink

      Astagfirullah al adzhiim…
      patut dibaca semua orang, izin share di FB, shukran….

  • erva kurniawan 7:49 pm on 1 April 2010 Permalink | Balas
    Tags: manfaat sholat,   

    Dahsyatnya Manfaat Gerakan Sholat 

    Salat adalah amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan-gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas tubuh) seorang muslim. Namun, pernahkah terpikirkan manfaat masing-masing gerakan? Sudut pandang ilmiah menjadikan salat gudang obat bagi berbagai jenis penyakit.

    Saat seorang hamba telah cukup syarat untuk mendirikan salat, sejak itulah ia mulai menelisik makna dan manfaatnya. Sebab salat diturunkan untuk menyempurnakan fasilitasNya bagi kehidupan manusia. Setelah sekian tahun menjalankan salat, sampai di mana pemahaman kita mengenainya.

    TAKBIRATUL IHRAM

    Postur: berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.

    Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

    RUKUK

    Postur: Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.

    Manfaat: Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

    I’TIDAL

    Postur: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga.

    Manfaat: I’tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

    SUJUD

    Postur: Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.

    Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tumakninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

    DUDUK

    Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.

    Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, postur ini mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

    SALAM

    Gerakan: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.

    Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala d! an menjaga kekencangan kulit wajah.

    **

    Beribadah secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi mempercantik diri wanita luar-dalam.

    PACU KECERDASAN

    Gerakan sujud dalam salat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?

    Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.

    Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud.

    PERINDAH POSTUR

    Gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan salat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.

    Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

    MUDAHKAN PERSALINAN

    Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

    PERBAIKI KESUBURAN

    Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam salat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.

    Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi! ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

    AWET MUDA

    Pada dasarnya, seluruh gerakan salat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

    Gerakan terakhir, yaitu salam dan menengok ke kiri dan kanan punya pengaruh besar pada kekencangan. kulit wajah. Gerakan ini tak ubahnya relaksasi wajah dan leher. Yang tak kalah pentingnya, gerakan ini menghindarkan wanita dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya.

     
    • aresaja 1:20 pm on 2 April 2010 Permalink

      postingan yang sangat bermanfaat… mohon izin copy paste… salam kenal… http://aresaja.wordpress.com

    • Hendra tanjung 1:39 pm on 2 April 2010 Permalink

      Assalamuallaikum.wr wb. Slam knal. Kang gmana ya cra copy paste na lewat opmin tp pake hp. Aq slalu bca artikel akang tp maaf klo ngak ksi komen

    • zuhdi 10:37 am on 19 April 2010 Permalink

      amt bermanfaat bgt kang…izin copy paste jg ya… slm kenal

    • Mhd Rasyid Ridho 2:56 pm on 24 April 2010 Permalink

      Subhanallah…., trimakasih atas article ini. Mohon izin copy paste.

    • iswandi 1:53 pm on 3 Juli 2010 Permalink

      Subhanallah…..,terima ksh atas artikel nya,semoga ini menjadikan pelajaran penting dalam kehidupan sehari-hari saya…mohon izin copy paste nya. assalamualaikum wr.wb

    • munawir 11:54 am on 10 Mei 2011 Permalink

      hiii sunguh banyak mamfaat gerakan sholat
      sesenguh nya olah raaga itu adalah …pengobataan tradi sional …yaayaaya i like it

  • erva kurniawan 7:40 pm on 31 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: mahar pernikahan   

    Berlebihan Dalam Meminta Mahar 

    Oleh: Syaikh Abdul Aziz Bin Baz

    Bahwa kebanyakan orang saat ini berlebih-lebihan di dalam meminta mahar dan mereka menuntut uang yang sangat banyak (kepada calon suami) ketika akan mengawinkan putrinya, ditambah dengan syarat-syarat lain yang harus dipenuhi. Apakah uang yang diambil dengan cara seperti itu halal ataukah haram hukumnya?

    Yang diajarkan adalah meringankan mahar dan menyederhanakannya serta tidak melakukan persaingan, sebagai pengamalan kita kepada banyak hadits yang berkaitan dengan masalah ini, untuk mempermudah pernikahan dan untuk menjaga kesucian kehormatan muda-mudi.

    Para wali tidak boleh menetapkan syarat uang atau harta (kepada pihak lelaki) untuk diri mereka, sebab mereka tidak mempunyai hak dalam hal ini, ini adalah hak perempuan (calon istri) semata, kecuali ayah. Ayah boleh meminta syarat kepada calon menantu sesuatu yang tidak merugikan putrinya dan tidak mengganggu pernikahannya. Jika ayah tidak meminta persyaratan seperti itu, maka itu lebih baik dan utama.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman artinya, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya” [An-Nur : 32]

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘anhu, artinya, “Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah”

    Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menikahkan seorang shahabat dengan perempuan yang menyerahkan dirinya kepada beliau, ia bersabda, artinya, “Carilah sekalipun cincin yang terbuat dari besi” [Riwayat Bukhari]

    Ketika shahabat itu tidak menemukannya, maka Rasulullah menikahkannya dengan mahar “Mengajarkan beberapa surat Al-Qur’an kepada calon istri”

    Mahar yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri-istrinya pun hanya bernilai 500 Dirham, yang pada saat ini senilai 130 Real, sedangkan mahar putri-putri beliau hanya bernilai 400 Dirham.

    Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, artinya, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tuladan yang baik” [Al-Ahzab : 21]

    Manakala beban biaya pernikahan itu semakin sederhana dan mudah, maka semakin mudahlah penyelamatan terhadap kesucian kehormatan laki-laki dan wanita dan semakin berkurang pulalah perbuatan keji (zina) dan kemungkaran, dan jumlah ummat Islam makin bertambah banyak.

    Semakin besar dan tinggi beban perkawinan dan semakin ketat perlombaan mempermahal mahar, maka semakin berkuranglah perkawinan, maka semakin menjamurlah perbuatan zina serta pemuda dan pemudi akan tetap membujang, kecuali orang dikehendaki Allah.

    Maka nasehat saya kepada seluruh kaum Muslimin di mana saja mereka berada adalah agar mempermudah urusan nikah dan saling tolong menolong dalam hal itu. Hindari, dan hindarilah perilaku meununtut mahar yang mahal, hindari pula sikap memaksakan diri di dalam pesta pernikahan. Cukuplah dengan pesta yang dibenarkan syari’at yang tidak banyak membebani kedua mempelai.

    Semoga Allah memerbaiki kondisi kaum muslimin semuanya dan memberi taufiq kepada mereka untuk tetap berpegang teguh kepada Sunnah di dalam segala hal.

    ***

    [Kitabud Da’wah, Al-Fatawa hal 166-168 dari Fatwa Syaikh Ibnu Baz]

     
    • La Ode Muh. Al-khalaq 2:33 am on 18 April 2010 Permalink

      maaf sy hax mw tax brp 500 dirham klo di rupiakan pada saat ini?? cz menurut sy. waktu Rasulullah menyunting Khadijah binti khuwailid, mahar yg di sampaikan Rasulullah sangat besar yaitu 20 ekor unta merah (unta terbaik saat itu) bahkan ad yg mengatakn klo 100 ekor. saat itu unta adalah kenderaan terbaik saat itu. dan klo unta itu kita dekati dengan ilmu ekonomi kontemporer, maka ia harus di-valuw-kan d value kan. dan klo value alat transportasi itu kita tarik ke era skg, maka tinggal liat sj,apa kenderaan rerbaik saat ini?? tarulah kenderaan terbaik saat ini BMW. maka secara value, saat itu Rasulullah telah memberi mahar sebanyak, paling tidak 20 BMW klo dihitung2 sich skitar 6 miliar he..he..,
      dan itu dilakukan Rasululah semata2 untuk menghargai wanita.., wallahu alam…

    • rahmah mahing 8:15 am on 23 Juni 2010 Permalink

      Jazakallah khair

    • Yoeni 4:22 pm on 11 Oktober 2010 Permalink

      Seandainya Semua Orang berfikirn seperti itu…..tdk TerLalu BerLebihan dlm mrmbrikn Mahar pasti akan Aman n Sentosa…

  • erva kurniawan 7:07 pm on 30 March 2010 Permalink | Balas  

    Akhlak Berat Timbangannya 

    sumber: http://almuhajir.net

    **

    Muhammad Rasulullah saw bersabda, “Tiada sesuatu yang lebih berat bagi timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dibandingkan dengan akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kekejian yang nista. Bahwasanya orang yang berakhlak mulia dapat mencapai martabat orang yang berpuasa dan bersalat.” (Ahmad bin Hambal)

    Keterangan:

    Ada beberapa orang yang dapat mencapai tingkat keimanan tertentu karena memperbanyak shalat dan puasa. Tingkat keimanan tersebut ternyata juga dapat dicapai oleh orang yang berakhlak mulia, meskipun shalat dan puasa yang dilaksanakannya hanya yang wajib-wajib saja, yaitu shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah dalam hadis berikut ini.

    Siti ‘Aisyah ra menuturkan, Muhammad Rasulullah bersabda, “Orang yang beriman, dengan akhlak yang baik, akan dapat mencapai martabat setaraf dengan orang yang tekun berpuasa pada siang hari dan salat pada malam harinya.” (HR. Abu Dawud)

    Anas bin Malik ra, mengatakan, Muhammad Rasulullah saw bersabda, “Dengan akhlak yang baik, manusia pasti (dapat) mencapai martabat yang tinggi dan kedudukan mulia di akhirat kelak, sekalipun ibadahnya lemah (hanya melaksanakan yang wajib saja). Dengan akhlak yang buruk, orang akan menempati kedudukan paling bawah di neraka Jahannam.” (HR. At-Thabrani)

    Mungkin karena inilah, kita tidak perlu heran saat mendengar kisah tentang seseorang yang mencapai derajat kewalian hanya dengan berlaku jujur selama enam bulan.

    ***

    [Disarikan dari Petuah-Petuah Rasulullah, jilid 3, seputar masalah etika]

     
  • erva kurniawan 5:29 pm on 28 March 2010 Permalink | Balas  

    Berapa Nilai Dirimu, Saudaraku? 

    Eramuslim – Kita makhluk yang paling mulia yang telah diciptakan oleh Allah SWT, makhluk yang paling kuat karena ternyata dari sekian ratus ribu sel sperma yang berjuang untuk hidup, kita lah pemenangnya. Pernahkah kita berpikir untuk memberikan berapa nilai dari diri kita? Apakah harga diri kita hanya sebatas dunia yang ingin kita kuasai, emas dan perak yang ingin kita miliki?

    Padahal jelas – jelas Rasulullah bersabda, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, “Dunia ini terkutuk, semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali dzikir kepada Allah, hal-hal yang bersangkutan dzikir, seorang ‘alim dan seorang pelajar.” Dunia dengan emas dan peraknya, kekuasan dan jabatan yang selalu ingin kita kejar, kemewahan dengan rumah megahnya, sama sekali tidak berhak mengalirkan setetes pun air mata kita. Terkadang kita melupakan bahwa dunia ini hanyalah titipan buat kita. Demikian yang dikatakan oleh Labid.

    Harta dan keluarga tak lain adalah barang titipan, dan suatu saat barang titipan itu akan dikembalikan. Tapi sekali lagi, terkadang kita benar-benar melupakannya, selalu setiap bergantinya hari yang kita pikirkan hanyalah bagaimana agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita perlukan, dan pernahkah kita berpikir, apakah saudara-saudara kita di luar sana membutuhkan bantuan kita hanya untuk sekedar makan hari ini? Pernahkah terbersit sedikit saja dipikiran kita bahwa mereka sebenarnya meminta bantuan kita,hanya saja kita selalu membutakan mata dan menulikan telinga kita untuk mereka?

    Lalu, apakah kita juga mengetahui kalau setiap jiwa mukmin itu lebih berharga dari dunia dan seisinya?, Dan pernahkah kita sedikit saja merenung, bahwa semua kekayaan dan kedudukan yang kita miliki bisa menangguhkan bahkan menghambat maut dari kita, dapat menolong kita dari siksa dan azabnya Allah?, Jika kita tahu jawabannya tidak, lalu kenapa kita masih selalu saja menghargai diri kita hanya sebatas harta, emas dan perak?

    Demi hidupmu, kekayaan takkan memberi manfaat kepada seorang pun ketika dada sudah tersengal dan sesak (Hatim Ath-Thai)

    Pertanyaannya adalah seberapa besarkah nilai kita sebagai seorang manusia yang mulia dan manusia yang terpilih?

    Hasan Al-Bashri mengatakan, “Jangan tentukan harga dirimu kecuali dengan surga. Jiwa orang yang beriman itu mahal, tapi sebagian dari mereka justru menjualnya dengan harga yang murah.”

    Sayangnya, hanya sebagian kecil dari kita yang menyadari kalau jiwa kita sebagai makhluk yang beriman sangatlah mahal, atau mungkin kita selalu berpikir kalau harta dan dunia ini lebih berharga dan lebih mahal dari sebuah jiwa yang beriman, sehingga yang sering kita tangisi adalah di saat kita kehilangan uang, kebakaran rumah yang mewah, kehilangan pekerjaan, kita tidak pernah merasa menyesal dan menangis ketika hati kita mulai terasa mati dan jauh dari Allah, tidak pernah ada air mata ketika kita mengingat semua dosa-dosa yang telah kita perbuat, lalu jika sudah seperti ini, apa lagi yang bisa kita harapkan untuk membantu kita di hari akhir nanti?, dan jika ketaatan kepada Rabb sudah tidak ada lagi, maka dapatkah terwujud untuk mendapatkan cinta-Nya dan bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik?

    Subhanallah, ketika menuliskan artikel ini pun, saya berusaha untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada, akankah keinginan untuk memiliki sebuah rumah di syurga-Nya dan engkau menjadi tetangga saya ya saudaraku, dapat terwujud? Insyaallah, Amin

    ***

    Oleh: Amda Usnaka (eramuslim.com)

     
    • teguh prayoga 4:55 pm on 29 Maret 2010 Permalink

      Artikel yg sangat bermanfaat untuk ku. Ku harap aku bisa sadar. Amin.

  • erva kurniawan 5:04 pm on 27 March 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Hadis Shohih Tentang Ruh Yang Meninggal 

    Dari Al-Barra’ bin ‘Azib, dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam (mengantarkan) jenazah seorang laki-laki Anshar. Kemudian kami sampai di kuburan, tetapi belum dibuatkan lahd *1). Maka Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam duduk, dan kami duduk di sekitar beliau. Seolah-olah di atas kepala kami (hinggap) burung *2). Ditangan beliau terdapat kayu yang beliau pukulkan ketanah sampai berbekas.

    Lalu beliau mengangkat kepalanya, kemudian bersabda, “Berlindunglah kepada Allah dari siksa kubur!”-dua kali atau tiga kali- kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin, saat akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit, wajah-wajah mereka putih, wajah-wajah mereka seolah-olah matahari. Mereka membawa kafan dari kafan-kafan sorga, dan hanuth *3) dari hanuth sorga. Sehingga para malaikat itu duduk dari hamba yang mukmin itu sejauh mata memandang.

    Dan datanglah malakul maut ‘alaihis salam *4) sehingga dia duduk dekat kepalanya, lalu berkata,  “Wahai nafs (jiwa; ruh; nyawa) yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaanNya!”. Maka nyawa itu pun keluar, ia mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut qirbah (wadah untuk menyimpan air yang terbuat dari kulit), lalu malakul maut itu memegangnya.

    Setelah malakul maut itu memegangnya, mereka (para malaikat yang berwajah putih itu) tidak membiarkan nyawa itu -sekejap mata di tangannya, mereka mengambilnya, dan meletakkannya pada kafan sorga itu. Dan keluarlah darinya bau misk yang paling wangi yang dia dapati di atas bumi.

    Kemudian mereka naik membawa nyawa tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok para malaikat, kecuali sekelompok malaikat itu bertanya, “Ruh siapakah yang baik ini?”. Mereka menjawab, “Si Fulan anak Si Fulan”, dengan nama terbaik yang dia dahulu diberi nama di dunia.

    Sehingga mereka membawa nyawa itu sampai ke langit dunia. Kemudian mereka minta dibukakan untuk nyawa tersebut. Maka langit dunia dibukakan untuknya.

    Kemudian para penghuni pada tiap-tiap langit mengiringi nyawa itu sampai ke langit yang selanjutnya. Sehingga membawa nyawa itu berakhirke langit yang ke tujuh. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah kitab (catatan) hambaku di dalam ‘iliyyin *5), dan kembalikanlah dia ke bumi. (Karena sesungguhnya dari bumi Kami telah menciptakan mereka, dan darinya Kami akan mengeluarkan mereka, pada waktu yang lain. Maka ruhnya dikembalikan) *6) di dalam jasadnya.

    Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya,

    1. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah Rabbmu?”
    1. Dia menjawab, “Rabbku adalah Allah”.
    1. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?”
    1. Dia menjawab, “Agamaku adalah Al-Islam”.
    1. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”
    1. Dia menjawab, “Beliau utusan Allah”.
    1. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?”
    1. Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allah, aku mengimaninya dan membenarkannya”.

    Maka seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah berrkata) benar, berilah dia hamparan dari sorga, (dan berilah dia pakaian dari sorga) *7), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.

    Maka datanglah kepadanya bau sorga dan wanginya sorga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang.

    Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istri dan hartaku”.

    **

    Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir, pada saat akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat yang memiliki wajah-wajah hitam.

    Mereka membawa pakaian-pakaian dari rambu, sehingga duduk darinya sejauh mata memandang.

    Kemudian datanglah malakul maut, sehingga dia duduk di dekat kepalanya, lalu berkata, “Wahai nafs (jiwa; ruh; nyawa) yang jahat, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahannya!”. Maka nyawa itupun bercerai -berai di dalam jasadnya. Maka malakul maut mencabutnya, sebagaimana dicabutnya saffud *8) dari wol yang basah. Lalu malakul maut itu memegangnya.

    Setelah malakul maut memegangnya, mereka (para malaikat yang berwajah hitam itu) tidak membiarkan nyawa itu -sekejap mata- di tangannya, sehingga mereka mengambilnya, dan meletakkannya pada pakaian dari rambut itu. Dan keluarlah darinya seperti bangkai yang paling busuk yang didapati di atas bumi.

    Kemudian mereka naik membawa nyawa tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok para malaikat kecuali sekelompok para malaikat itu bertanya, “Ruh siapakah yang jahat ini?”. Mereka menjawab, “Si Fulan anak si Fulan”, dengan nama terburuk yang dia dahulu diberi nama di dunia. Kemudian minta dibukakan, tetapi langit di dunia tidak dibukakan untuknya. Kemudian Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam membaca,

    “Sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum.” (QS. Al A’raf, 40)

    Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah kitab (catatan) hambaku di dalam sijjin”, *9) di bumi yang bawah, kemudian nyawanya dilempar dengan keras.”

    Kemudian Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam membaca, “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS,  Al Hajj, 31)

    Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya,

    1. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah Rabbmu?”
    1. Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
    1. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?”
    1. Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
    1. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”
    1. Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.

    Maka seorang penyeru dari langit berseru, “Hambaku telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka”.

    Maka datanglah kepadanya panasnya neraka dan asapnya. Dan kuburnya disempitkan atasnya, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.

    Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar dengan apa yang menyusahkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (keburukan)”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata,  “Rabbku, janganlah engkau tegakkan hari kiamat”. (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Al-Albani di dalam Ahkamul Janaiz dan Shahih Al-Jami’ no, 1672)

    **

    Catatan kaki

    1). Celah yang ada pada kiblat kubur sebagai tempat mayit.

    2). Di dalam perkataan ini terdapat isyarat diam di saat penguburan, tidak mengeraskan dzikir-dzikir, dan berteriak dengan tahlil (perkataan,  Allahu Akbar), maka renungkanlah.

    3). Minyak wangi khusus yang dicampur untuk mayit, memiliki aroma yang wangi.

    4). Banyak orang menamakannya Izra’il, namun itu tidak ada dalilnya.

    5). Dari kata ‘a-‘uluw (tinggi),ada juga yang mengatakan,  itu adalah langit ke tujuh, dan disanalah ruh-ruh kaum mukminin.

    6). Dalam kurung ini tidak terdapat di dalam kitab berbahasa Arab yang kami terjemahkan,  Al-Maut, karya Syaikh Ali bin Hasan, tetapi ada di dalam kitab asalnya, Ahkamul Janaiz karya Syaikh Al-Albani, dan terdapat di dalam lafazh hadits imam Ahmad di dalam Musnadnya, maka kamipun menuliskannya.

    7). Lihat fone note sebelum ini.

    8). Gancu; besi-besi bercabang yang dibengkokkan (ujungnya)

    9). Yakni,  penjara dan tempat yang sempit.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 4:17 pm on 25 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Permasalahan Adzab Kubur 

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan :

    Apakah adzab kubur itu menimpa jasad ataukah menimpa ruh?

    Jawab :

    Pada dasarnya adzab kubur itu akan menimpa ruh, karena hukuman setelah mati adalah bagi ruh. Sedangkan badannya adalah sekedar bangkai yang rapuh. Oleh karena itu badan tidak memerlukan lagi bahan makanan untuk keberlangsungannya; tidak butuh makan dan minum, bahkan justru dimakan oleh tanah.

    Akan tetapi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata bahwa ruh kadang masih bersambung dengan jasad sehingga diadzab atau diberi nikmat bersama-sama. Adapula pendapat lain di kalangan Ahlus Sunnah bahwa adzab atau nikmat di alam kubur itu akan menimpa jasad, bukan ruh.

    Pendapat ini beralasan dengan bukti empiris. Pernah dibongkar sebagian kuburan dan terlihat ternyata bekas siksa yang menimpa jasad. Dan pernah juga dibongkar kuburan yang lain ternyata terlihat bekas nikmat yang diterima oleh jasad itu.

    Ada sebagian orang yang bercerita kepadaku bahwa di daerah Unaizah ini ada penggalian untuk membuat benteng batas wilayah negeri. Sebagian dari daerah yang digali itu ada yang bertepatan dengan kuburan. Akhirnya terbukalah suatu liang lahat dan di dalamnya masih terdapat mayat yang kafannya telah dimakan tanah, sedangkan jasadnya masih utuh dan kering belum dimakan apa-apa. Bahkan mereka mengatakan melihat jenggotnya, dan dari mayat itu terhambur bau harum seperti minyak misk.

    Para pekerja galian itu kemudian menghentikan pekerjaannya sejenak dan kemudian pergi kepada seorang Syaikh untuk mengutarakan persoalan yang terjadi. Syaikh tersebut berkata, “Biarkan dalam posisi sebagaimana adanya. Hindarilah ia dan galilah dari sebelah kanan atau sebelah kiri!”.

    Beralasan dari kejadian-kejadian seperti ini, ulama menyatakan bahwa ruh terkadang bersambung dengan jasad, sehingga siksa itu menimpa ruh dan jasad. Barangkali ini pula yang diisyaratkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kubur itu akan menghimpit orang kafir sehingga remuk tulang-tulang rusuknya”. Ini menunjukkan bahwa siksa itu menimpa jasad, karena tulang rusuk itu terdapat pada jasad. Wallahu A’lam.

    **

    Pertanyaan :

    Apakah adzab kubur menimpa orang mukmin yang bermaksiat ataukah hanya menimpa orang kafir ?

    Jawab :

    Adzab kubur yang terus menerus akan menimpa orang munafik dan orang kafir. Sedangkan orang mukmin yang bermaksiat bisa juga disiksa di kubur. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim disebutkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melewati dua kuburan seraya bersabda : “Kedua penghuni kuburan itu diadzab dan keduanya bukannya diadzab lantaran dosa besar. Salah satunya diadzab karena tidak bertabir dari kencing, sedangkan yang satunya suka kesana-kemari mengumbar fitnah (mengumpat)”. Kedua penghuni kubur itu jelas orang muslim.

    **

    Pertanyaan :

    Apakah adzab kubur itu terus menerus ataukah tidak ?

    Jawab :

    Jika seseorang itu kafir –na’udzu billah– maka tidak ada jalan baginya untuk meraih kenikmatan selama-lamanya, sehingga siksa kubur yang ia terima itu sifatnya terus menerus.

    Namun orang mukmin yang bermaksiat, maka di kuburnya ia akan diadzab sesuai dengan dosa-dosa yang dahulu pernah ia perbuat. Boleh jadi adzab yang menimpa lantaran dosanya itu hanya sedikit sehingga tidak memerlukan waktu penyiksaan sepanjang ia berada di alam barzah antara kematiannya sehingga bangkitnya kiamat. Dengan demikian, jelas bahwa adzab yang menimpanya itu terputus, dan bukan selamanya.

    **

    Pertanyaan :

    Apakah adzab kubur itu bisa diringankan atas orang mukmin yang bermaksiat?

    Jawab :

    Memang benar bahwa adzab kubur itu bisa diringankan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melalui dua kuburan lantas berkata, “Kedua penghuni kubur itu di adzab, dan dia diadzab bukan karena dosa besar, tapi hakekatnya juga besar. Salah satunya tidak membersihkan diri atau tidak bertabir dari kencing, sedangkan yang satunya lagi biasa kian kemari menghambur fitnah”. Kemudian beliau mengambil dua pelepah kurma yang masih basah kemudian membelahnya menjadi dua, lalu menancapkannya pada masing-masing kuburan itu seraya bersabda, “Semoga bisa meringankan adzab yang menimpa kedua orang itu selama pelepah itu belum kering”.

    Ini merupakan satu dalil bahwa adzab kubur itu bisa diringankan, yang menjadi pertanyaan, apa kaifiatnya antara dua pelepah kurma itu dengan diringankannya adzab atas kedua penghuni kubur itu?

    Ada yang memberikan alasan bahwa karena kedua pelepah kurma itu selalu bertasbih selama belum kering, dan tasbih itu bisa meringankan siksaan yang menimpa mayit. Berpijak dari sini ada yang mengambil alasan akan sunnahnya berziarah kubur dan bertasbih di situ untuk meringankan adzab yang menimpa si mayit.

    Sedangkan ulama lain menyatakan bahwa alasan seperti ini lemah, karena kedua pelepah kurma itu senantiasa bertasbih, apakah dalam kondisi basah maupun sudah kering. Allah Ta’ala berfirman, “Artinya : Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. (Al-Isra’ : 44)

    Pernah juga terdengar tasbihnya kerikil oleh Rasulullah, sedangkan kerikil itu kering. Lalu, apa yang menjadi alasan sekarang? Alasannya, bahwa; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar berkenan meringankan adzab yang menimpa kedua orang di atas selama kedua pelepah kurma itu masih basah.

    Artinya, waktu permohonan beliau itu tidak lama, hanya sebatas basahnya pelepah kurma. Ini dimaksudkan sebagai ancaman terhadap siapa saja yang melakukan perbuatan seperti kedua mayit yang diadzab itu.

    Karena sebenarnya dosa yang diperbuat itu termasuk besar. Salah satunya tidak menjaga diri dari kencing. Jika demikian, ia melakukan shalat tanpa adanya kesucian dari najis. Sedangkan yang satunya lagi kian kemari mengumbar fitnah, merusak hubungan baik sesama hamba Allah –na’udzu billah–, serta menghembuskan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Dengan demikian perbuatan yang dilakukan itu berdampak besar.

    Inilah alasan yang lebih mendekati. Jadi, itu merupakan syafaat sementara dari beliau dan sebagai peringatan atau ancaman kepada umatnya, dan bukan merupakan kebakhilan beliau untuk memberikan syafaat yang kekal.

    ***

    Wallahu Alam

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:05 pm on 24 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Beribadah Di Sisi Kuburan 

    Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah tentang gereja dengan gambar-gambar yang ada di dalamnya yang dilihat di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka bersabdalah beliau, “Mereka itu, apabila ada orang yang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu rupaka-rupaka (sesajian). Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah.”

    Mereka dikatakan oleh beliau sebagai sejelek-jelek makhluk, karena melakukan dua fitnah sekaligus, yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya dan fitnah membuat rupaka-rupaka (sesajian). Diriwayatkan dari ‘Aisyah , ia berkata: “Tatkala Rasulullah hendak diambil nyawanya, beliau pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan napas. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah, beliau bersabda, “Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Beliau mengingatkan agar dijauhkan dari perbuatan itu, dan seandainya bukan karena hal itu niscaya kuburan beliau akan dimegahkan, hanya saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.

    Muslim meriwayatkan dari Jundab bin ‘Abdullah , katanya, “Aku mendengar Nabi lima hari sebelum wafatnya bersabda: “Sungguh aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) dari antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil, seandainya aku menjadikan seorang khalil dari antara umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu perbuatan itu.”

    Rasulullah menjelang akhir hayatnya -sebagaimana dalam hadits Jundab- telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya -sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah- beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan itu. Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, dan inilah makna dari kata-kata ‘Aisyah: “… dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah. “, karena para sahabat belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau, padahal setiap tempat yang dimaksudkan untuk melakukan shalat di sana itu berarti sudah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk shalat di sebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah, “Telah dijadikan bumi ini untukku sebagi masjid dan alat untuk bersuci.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim) “Jangan kamu Duduk di atas kuburan dan jangan Shalat menghadap kepadanyanya.” (HR. Muslim)

    Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dengan sanad jayyid, dari Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia ialah orang-orang yang masih hidup ketika terjadi Kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagi tempat ibadah.” (Hadits ini diriwayatkan pula dalam Shahih Abu Hatim)

    Termasuk perbuatan yang dilarang dilakukan di sisi kuburan adalah Tawassul dengan orang-orang mati, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka, sebagaimana banyak kita saksikan pada saat ini.

    Mereka menamakan perbuatan tersebut sebagai tawassul, padahal sebenarnya tidak demikian. Sebab tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyari’atkan. Seperti dengan perantara iman, amal shalih, Asmaa’ul Husnaa dan sebagainya.

    Berdo’a dan memohon kepada orang-orang mati adalah berpaling dari Allah. Ia termasuk syirik besar. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim”. (Yunus: 106)

    Orang-orang zhalim dalam ayat di atas berarti orang-orang musyrik. …Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. ( Al An’am : 88).

    ***

    Maraji: Kitab Tauhid, Oleh Syaikh Muhammad At tamimi. Jalan Golongan yang Selamat, Syaikh Muhammad Jamil Zainu.

     
  • erva kurniawan 7:49 am on 22 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: arti mimpi,   

    Mimpi Pemicu Kejujuran 

    Eramuslim -Ketika tidur sesekali kita bermimpi, entah itu mimpi baik atau buruk. Terkadang mimpi itu begitu berkesan, sehingga kita ingin tahu apa makna di baliknya. Ada kalanya mimpi itu demikian menakutkan, yang membuat kita tak ingin menceritakannya pada siapapun.

    Berbagai pertanyaan kemudian timbul. Apakah semua mimpi itu bisa dipercaya dan punya arti? Perlukah setiap mimpi dipertimbangkan atau sebaiknya diabaikan saja? Apa akibat dari sebuah mimpi? Dapatkah mimpi dijadikan salah satu sumber ilmu pengetahuan?

    Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat mengenai mimpi, misalnya dalam QS Ash Shaaffaat 37: 102 diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS. bermimpi melihat dirinya menyembelih Ismail as anaknya. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

    Kemudian dalam QS Yusuf 12: 43, diceritakan raja Mesir bermimpi pada saat Nabi Yusuf as masih dipenjara karena tuduhan pelecehan seksual. “Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka: Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.”

    Lebih lanjut dalam QS al-Fath 48: 27 dikisahkan selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah, Nabi Muhammad SAW bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”

    Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani. Setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekah maka orang-orang munafik memperolok-olokkan Nabi dan menyatakan bahwa mimpi Nabi yang dikatakan beliau pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka. Maka turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa mimpi Nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. Dan sebelum itu dalam waktu yang dekat Nabi akan menaklukkan kota Khaibar. Andaikata pada tahun terjadinya Perdamaian Hudaibiyah itu kaum muslim memasuki kota Mekah, maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu.

    Dalam HR Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dari Abu Hurairah ra. dikatakan “Mimpi seorang mukmin merupakan satu perempat puluh enam dari kenabian”. Ini berarti hanya mimpi seorang mukmin yang patut dipertimbangkan, karena merupakan pengkabaran dari Allah SWT. Itupun hanya sebagian kecil saja, yang digambarkan sebagai seperempat puluh enam bagian, dimana sebagian besar telah diberikan pada para nabi. Abu Bakar ra. terkenal sebagai ahli menakwilkan mimpi karena beliau adalah orang yang shidiq (jujur). Beliau pernah bermimpi sedang menaiki tangga bersama Rasulullah SAW, namun berselisih dua anak tangga. Takwil dari mimpi itu adalah beliau akan meninggal dua tahun setelah Rasulullah SAW wafat dan memang demikianlah yang terjadi.

    Para ulama berpendapat mimpi tidak bisa dijadikan salah satu sumber ilmu pengetahuan, apalagi jika bertentangan dengan syariat. Ini berbeda dengan kasus pengisyariatan adzan yang datang melalui mimpi Bilal, salah seorang sahabat Nabi SAW. Bilal bermimpi meneriakkan lafadz adzan, kemudian dilaporkan pada Rasulullah SAW. Menurut Rasulullah SAW mimpi itu benar dan bisa diterapkan. Masalahnya saat ini Rasulullah SAW tidak ada, sehingga para ulama sepakat bahwa mimpi tidak bisa lagi dijadikan sebagai salah satu sumber hukum.

    Lalu, jika kita sendiri pernah bermimpi, bagaimana sebaiknya menyikapinya?

    Para ulama memiliki berbagai pendapat. Intinya, mimpi itu bias merupakan refleksi dari aktivitas ruh seseorang pada saat ia tidur. Misalnya seseorang yang ingin segera menikah, bisa saja malamnya dia bermimpi menikah. Namun kita perlu berhati-hati, karena mimpi juga bisa merupakan permainan syaitan yang ingin menakuti-nakuti; itulah salah satu pentingnya mengapa kita disunnahkan berdoa sebelum tidur dan tidur dalam keadaan berwudhu. Mimpi buruk ini tidak perlu diceritakan pada siapapun. Jika kita mengalaminya segeralah bangun dan laksanakan sholat.

    Pendapat dari ulama lainnya, mimpi itu dapat merupakan peringatan awal atau pertanda untuk sesuatu yang telah, sedang atau akan terjadi. Misalnya ada seseorang bermimpi gunung meletus, air laut meluap, atau mimpi terjadi kiamat. Salah satu takbir mimpi kiamat adalah pertanda orang tersebut akan berpergian jauh, berpindah kampung halaman atau berpindah negeri.

    Sebaliknya, mimpi baik dapat merupakan kabar gembira dari Allah SWT, misalnya mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Menurut HR Imam Bukhari, siapa yang melihat Rasulullah SAW dalam tidurnya, maka apa yang dilihatnya adalah Rasulullah SAW sendiri, karena syaitan tidak bisa menyerupai beliau. Orang-orang arif berpendapat, mimpi bertemu Rasulllah SAW bermakna bahwa orang tersebut Insya Allah tidak akan meninggal sebelum berkunjung ke makam Rasulullah alias naik haji. Bisa juga berarti ia akan menjadi ulama.

    Saat ini telah banyak kitab yang memuat takbir mimpi. Prinsipnya, karena mimpi bisa mempunyai banyak arti maka tak ada jaminan mana yang benar. Jadi sifatnya cuma pertanda dan tidak bisa langsung disimpulkan begitu saja. Namun paling tidak takbir mimpi tersebut bisa mengurangi kegelisahan. Analoginya adalah ramalan cuaca, dimana kita bias memanfaatkan informasi tersebut untuk mengantisipasi keadaan cuaca yang mungkin akan terjadi. Namun demikian, kepastiannya tetap hanya dari Allah SWT.

    Mimpi yang berupa pesan dari Allah SWT hanya dapat dipantulkan ke dalam hati orang-orang yang shidiq. Menurut Imam al-Gazali, fungsi ruh untuk menangkap isyarat Ilahi ibarat cermin yang memantulkan cahaya. Orang shidiq merupakan cermin yang paling bersih dan bening dimana cahaya Ilahi tidak terdistorsi sama sekali. Rasulullah SAW bersabda, “Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya.” (Muttafaq ‘alaih).

    Mungkin ada di antara kita yang lalu berpendapat, “Mimpi saya jadi tidak punya arti lagi, karena saya bukan orang yang jujur 100%”. Bukan demikian. Justru sebaliknya, hal ini dapat menjadi pemicu motivasi kita: “Berusahalah menjadi orang yang jujur dan sholeh agar kita bias menafsirkan mimpi dan menangkap pesan-pesan Allah SWT lainnya. Semakin kita berusaha menjadi shidiq dan shaleh, Insya Allah semakin banyak pesan-pesan Allah yang dapat kita terima”. Wallahua’lam bish-showab.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 7:26 am on 20 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: akikah untuk bayi, aqiqah untuk bayi, memberi nama yang baik untuk bayi, mencukur rambut bayi, mengadzani dan iqomat bayi   

    Mengadzani Bayi yang Baru Lahir 

    Putriku Alisha Latif Kurniaputri

    Putriku Alisha Latif Kurniaputri

    Mengazani dan mengiqamati bayi saat lahir merupakan bagian dari sunnah Rasulllah SAW. Yaitu sunnah yang dilakukan oleh ayah atau kakek bayi tersebut dengan berazan di telinga kanan dan beriqamat di telinga kiri.

    Dalil dari praktek ini adalah apa yang telah dikerjakan oleh Baginda Rasulllah SAW terhadap cucu beliau, yaitu Hasan dan Husein. Ketika lahir, oleh Rasulullah SAW keduanya diazani dan diiqamati oleh beliau.

    Dari Ibnu Sunni dari Al-Husein bin Ali bahwa Rasulullah SAW besabda, “Siapa yang mendapat kelahiran bayi, maka hendaknya dia mengazaninya di telinga kanan dan mengiqamatinya di telinga kiri, dengan itu tidak akan tertimpa umma Shibyan (Al-Qarinah)” (HR Ahmad, Tirmizy dan Abu Daud)

    Selain diazani, juga disunnahkan untuk melakukan penyembelihan hewan aqiqah, biasanya berkaitan dengan kelahiran seorang bayi. Juga dilakukan pemberian nama kepada bayi dengan nama yang baik. Nama yang baik diantaranya adalah Abdullah atau Abdurrahman sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.

    Diantara nama yang paling benar adalah Hammam dan Harits sebagaimana tertera dalam hadits shahih. Boleh juga menggunakan nama para malaikat dan nama para Nabi. Ibnu Hazm berkata, “Diharamkan menggunakan nama dewa yang disembah seperti Abdul Uzza, Abdu Hubal atau Abdul Ka`bah dan lainnya”.

    Serangkaian dengan itu, disunnahkan juga untuk mencukur rambut kepala bayi itu dan ditimbang berat rambut itu dan dikeluarkan sedekah seberat rambut itu dengan harga perak atau emas.

    Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ya Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah seharga perak sesuai dengan berat rambutnya kepada orang-orang miskin, maka ditimbangnya dan ternyata beratnya seharga satu dirham atau beberapa dirham.” (HR. Ahmad, Turmuzi).

    ***

    Oleh: Ahmad Sarwat, Lc.

     
  • erva kurniawan 7:05 am on 19 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: akherat kekal abadi, dunia fana   

    Dunia Yang Tidak Ada Nilainya 

    Dunia Yang Mempesona

    Inilah pesona dunia, dimana banyak orang siap menghamba untuk mendapatkannya. Pesona pantai yang indah hingga gunung yang sejuk, pesona mobil yang nyaman hingga kapal pesiar yang mewah, pesona rumah yang besar hingga pusat-pusat hiburan keluarga yang bertebaran, pesona layanan kelas satu di restoran mewah hingga menikmati perjalanan kelas satu ke kota-kota indah di dunia ini, pesona memiliki banyak anak hingga pesona dihormati banyak orang, pesona memiliki uang banyak yang siap memiliki apapun yang kita ingini, pesona wanita cantik hingga pesona makanan dan minuman lezat, halal maupun haram, dan masih ada berjuta-juta jenis lagi berbagai pesona dunia lainnya yang siap menghibur para pecinta pesona dunia.

    Untuk mendapatkan pesona dunia tersebut manusia menghabiskan demikian banyak waktu bekerja keras menumpuk harta untuk mengejar kebahagiaan duniawi. Pencinta dunia bahkan tidak atau sedikit saja menyisakan waktunya untuk amal akhirat di sela-sela kesibukan kerjanya atau di waktu luangnya dan dikala ia sehat. Mereka bahkan melupakan sholat atau minimal menunda sholat untuk urusan dunia yang lebih jelas terlihat di depan mata mereka. Sebagian bahkan siap korupsi, merampok, mencuri, menganiaya, menipu, memperkosa, membodohi orang lain untuk mendapatkan tiket membeli pesona dunia.

    Disisi lain, sebagian manusia meluangkan demikian banyak waktunya untuk menikmati pesona dunia, bahkan tanpa mau bekerja dengan keras apalagi beribadah kepada Pemilik Dunia ini. Merekalah para pemilik harta berlebih yang menggunakannya untuk bersantai dan menikmati fasilitas dunia, termasuk para pemilik waktu yang menggunakannya untuk bermalas-malas di rumahnya yang nyaman, berjudi atau menikmati narkoba, termasuk juga para pemilik kekuasaan yang menggunakan kelebihannya untuk mendengar kekaguman orang lain pada dirinya atau memamerkan pengaruhnya atau fisiknya yang indah.

    Dunia Yang Menipu dan Melalaikan

    1. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang rendah dan sementara.

    Allah mengilustrasikannya seperti air hujan yang menyuburkan tumbuhan sampai jangka waktu tertentu dan akhirnya tumbuhan itu menjadi kering. Allah berfirman, ”Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai pula perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan ia laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang yang berpikir.” (QS 10: 24).

    2. Kehidupan dunia hanyalah permainan, melalaikan dan kesenangan yang menipu.

    Firman Allah SWT, ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS, Al-Hadid : 20)

    Firman Allah SWT, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS, Ali Imran : 14).

    Firman Allah SWT, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS, At-Takatsur: 1-5).

    Firman Allah SWT, “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. (QS, Fathir : 5)

    3. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang kekal.

    Firman Allah SWT, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (QS, Al-‘Ankabut : 64)

    Firman Allah SWT, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dan dia ingat akan Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang yang ingkar) memilih dunia, padahal akhirat itu jauh lebih baik dan lebih kekal”. (QS, Al A’laa :14-17)

    Dunia Yang Tidak Ada Nilainya

    Para pecinta dunia hanya berpikir bahwa adalah tak mungkin Tuhan menciptakan dunia yang sangat sempurna, luas dan lengkap ini kalau tidak untuk dinikmati. Bahkan mereka berpikir tak mungkin Tuhan akan menghancurkan dunia ciptaan-Nya sendiri yang demikian menakjubkan ini melalui suatu bencana kiamat. Pencinta dunia hanya takjub kepada dunia yang luar biasa ini dan tidak pada akhirat karena mereka tidak tahu gambaran mengenai akhirat.

    Rasulullah SAW telah menggambarkan betapa kecilnya nilai dunia ini dibanding akhirat dalam beberapa hadits sbb :

    1. Nilai dunia tidak ada artinya dibanding dengan nilai akhirat.

    “Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia” (dari Al-Mustaurid ibn Syaddad r.a, Hadits Riwayat Muslim). Inilah penggambaran luar biasa yang menunjukkan betapa tak ada nilainya dunia ini dibanding keluarbiasaan alam akhirat.

    2. Nilai dunia lebih hina bagi Allah dibanding dari nilai bangkai seekor kambing cacat dalam pandangan manusia.

    Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berjalan melewati pasar sementara orang-orang berjalan di kanan kiri beliau. Beliau melewati seekor anak kambing yang telinganya kecil dan sudah menjadi bangkai. Beliau lalu mengangkatnya dan memegang telinganya, seraya bersabda, “Siapa diantara kalian yang mau membeli ini dengan satu dirham (saja)?”. Mereka menjawab, “Kami tidak mau membelinya dengan apapun. Apa yang kami bisa perbuat dengannya?” Kemudian beliau SAW bertanya, “Apakah kamu suka ia menjadi milikmu?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya ia hidup ia adalah aib (cacat), ia bertelinga kecil, apalagi setelah ia menjadi bangkai?”. Maka beliau SAW bersabda, “Demi Allah, dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai ini dalam pandangan kalian.” (HR Muslim).

    Ibarat anak kambing yang cacat dan telah jadi bangkai pula, maka tak seorangpun yang mau memilikinya bahkan memandangnya apalagi menyimpannya; demikianlah Rasulullah SAW menggambarkan bagaimana Allah SWT menilai dunia ini yang diibaratkan lebih rendah dan hina dari bangkai kambing.

    3. Dunia tidak ada nilainya di sisi Allah, bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun..

    Sahal Ibn Sa’ad as-Sa’idi ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seandainya dunia itu ada nilainya disisi Allah bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun, tentu Dia tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir meskipun seteguk air.” (HR Tirmidzi, shahih).

    Hadits ini juga memberi makna bahwa rezeki dan kebahagiaan dunia juga diberikan Allah pada orang kafir maupun fasik, bahkan sering diberikan lebih banyak dibanding yang Ia berikan kepada orang-orang yang sholeh, ini karena nilai dunia yang sangat tidak ada artinya dibanding akhirat.

    Dunia Adalah Ladang Akhirat

    Setiap muslim harus mempertimbangkan kepentingan akhirat dalam setiap aktivitasnya. Allah berfirman, ”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya? Maka, apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi, kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS 28: 60-61).

    Rasulullah SAW bersabda: “Dunia ini adalah ladang untuk bercocok tanam (tempat melakukan amal ibadah dan amal kebajikan) yang hasilnya dipanen kelak di negeri akhirat.”

    Jangan terlena dengan dunia ini, jangan buang-buang waktu, manfaatkan setiap detik hidup kita yang masih tersisa di dunia ini untuk:

    1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub) dengan memperbanyak dzikir dan amal ibadah lainnya.
    2. Mengerjakan berbagai amal sholeh dan kebaikan walaupun sekedar memberikan sebutir kurma kepada orang lain
    3. Membekali diri dengan takwa
    4. Menggunakan kenikmatan yang diberikan Allah SWT (harta, waktu luang, kesehatan) untuk taat kepada-Nya.
    5. Mensyukuri nikmat Allah SWT dengan menggunakan nikmat tersebut untuk semakin lebih taat kepada-Nya. Menggunakan nikmat harta, nikmat waktu, nikmat sehat untuk digunakan sebagai sarana dan fasilitas untuk beribadah lebih banyak lagi kepada-Nya.

    Semoga kita tidak termasuk umat yang digambarkan Allah SWT seperti dalam firman-Nya, “Hingga ketika datang kematian menjemput salah seorang dari mereka, ia pun berkata: ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku bias mengerjakan amal shalih yang dulunya aku tinggalkan’.” (Al-Mukminun: 99-100)

    Atau firman Allah SWT, “Sebelum datang kematian menjemput salah seorang dari kalian, hingga ia berkata: ‘Wahai Rabbku, seandainya Engkau menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.’ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktunya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Munafiqun: 10-11)

    ***

    Disarikan dari Hakikat Dunia (Mahyudin Purwanto ), Hakikat Perilaku Zuhud (Muhammad Irfan Helmy), Kehidupan Dunia (Firdaus MA), Kitab Riyadhus Shalihin (Imam Nawawi), dll.

     
    • teguh prayoga 3:06 pm on 28 Maret 2010 Permalink

      subhanallah, . . .
      Aku terlampau sering melupakan Allah, melupakan akhirat. Ampunilah aku ya Allah. .

    • tomo 1:43 pm on 7 Juli 2011 Permalink

      dunia seperti permainan… kesenangan yg menipu…. aku pikir Allah menurunkan firman ini 1500 tahun yg lalu karena Dia tahu perkembangan manusia saat ini tentang manusia yg suka menghabiskan waktunya untuk menonton film, jadi Dia memberi bimbingan kepada kita berdasarkan tingkat pengetahuan kita saat ini sejenak agar kita berpikir tentang keadaan kita dan tingkah laku kita
      dunia seperti film yg di putar, ada skenario, pelaku(aktor) dalam adegannya, semua hanya sandiwara. kalau kita( manusia) mau membandingkan kehidupan kita dengan sandiwara dalam film, sebenarnya hampir tidak ada bedanya.

  • erva kurniawan 5:33 am on 16 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: amal sholekhah, amal soleh   

    Amalan Penolak Musibah 

    BERDOA

    Hadits dari Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim, diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda,  “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdoa, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya doa bermanfaat bagi sesuatu yang terjadi dan masih belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa, maka berpeganglah, wahai hamba allah, pada doa”.

    Sepantasnyalah bagi seorang mukmin untuk berdoa, karena ia akan mendatangkan kebaikan dan dapat menolak keburukan dan bencana. Dalam konteks ini ada banyak hadits yang menunujkan urgensi, efek dan pengaruh yang besar dari doa, dengan izin Allah. Disebutkan dalam sebuah hadits, sabda Rasulullah saw, “Persiapkanlah doa untuk menghadapi bencana.” (HR. ath-Thabrani).

    Sesungguhnya doa adalah alat untuk menolak bencana dan mendatangkan rahmat, sebagaimana perisai adalah untuk menangkis senjata, dan air sebagai sebab untuk tumbuh dan keluarnya biji-bijian dari tanah. Sebagaimana perisai akan menolak senjata, maka keduanya saling membela diri, maka begitulah doa dan bencana. Dan bukan termasuk menyadari takdir orang yang kemudian tidak membawa senjata.

    SEDEKAH

    Sedekah dapat menolak bencana. Karena ada hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Ali, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sedekah dapat merubah takdir yang mubram ( yang pasti)”. (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)

    Asal hadits tersebut diatas adalah, “Silahturahmi dapat memperpanjang umur, dan sedekah dapat merubah takdir yang mubram”

    TASBIH

    Bacaan tasbih dapat mencegah terjadinya bencana, karena ada hadits yang diriwayatkan Ibn Ka’ab, dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda, “Subhanallah dapat mencegah turunnya azab”.

    Hal ini juga ditunjukan oleh firman Allah SWT, tentang Nabi Yunus as, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kebangkitan,” (QS. ash-Shaffat : 143 – 144).

    Tafsir dari QS. ash-Shaffat : 143 – 144 artinya, “Seandainya ia tidak termasuk orang-orang yang mengingat Allah, dan termasuk orang-orang yang menyucikan-Nya, meninggikan-Nya dan memohon ampun kepada-Nya, niscaya perut ikan tersebut akan menjadi kuburannya.”

    Akan tetapi dengan bacaan tasbih, dzikir dan permohonan ampunnya telah membebaskannya dari kesedihan. Tasbihnya sebagaimana yang diceritakan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap “Bahwa tidak Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim,” (QS. al-Anbiya’: 87).

    Kemudian bahwa Allah setelah itu berfirman, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiya’: 88)

    Dalam riwayat lain dari Sa’d ibn Abi Waqqash, Rasulullah saw bersabda, ” Maukah kalian kuberitahu suatu doa, yang jika kalian memanfaatkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu?”. Para sahabat menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Rasul bersabda: “Yaitu, doa Dzun Nun : La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin (tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk di antara orang-orang yang zhalim).” (HR. Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan al Hakim)

    SHALAWAT UNTUK RASULULLAH SAW

    Sebagian orang saleh berkata: Sesungguhnya diantara sebab terbesar yang dapat menolak takdir dan melenyapkan keruwetan hidup adalah banyak membaca shalawat untuk Rasulullah saw. Karena sesungguhnya banyak membaca shalawat untuk beliau termasuk perantara yang berguna untuk keamanan dari segala ketakutan dan mendapat penghargaan dari Allah dengan ketinggian derajat di Surga.

    Adapun dalil yang menguatkan argumentasi ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay ibn Ka’b, bahwa seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala shalawatnya untuk Rasulullah saw, maka Beliau berkata kepada orang tersebut, “Jika begitu, lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni.” (HR. Imam Ahmad, ath-Thabrani)

    Shalawat atas Nabi saw, adalah wajib menurut kesepakatan ulama (Ijma’), karena adanya firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (QS. al-Ahzab : 56)

    Shalawat dari Allah SWT adalah rahmat, Shalawat dari Malaikat adalah permohonan ampun. Sedangkan Shalawat dari orang mukmin adalah doa.

    Rasulullah saw bersabda, “Setiap doa terhijab di bawah langit. Ketika Shalawat telah datang mengantarnya, maka doa itu akan naik.”

    Dilain pihak, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”

    TAQWA

    Sesungguhnya taqwa adalah penyebab terkuat untuk mendatangkan kebaikan dan menolak bencana dengan tanpa disangka-sangka.

    Allah SWT berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberikan rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS. ath-Thalaq : 2-3).

    Tafsir jalan keluar yaitu dari kesulitan dan kesedihan dunia dan akhirat Tafsir rizki dari arah yang tiada disangka-sangka yaitu memberi rizki dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.

    Taqwa adalah melaksanakan ketaatan-ketaatan dan menjauhi maksiat. Siapa yang telah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, maka itulah hal terbesar yang dapat membukakan pintu kebahagian di dunia dan akhirat.

    MEMPERBANYAK ISTIGFAR

    Allah SWT berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai,” (QS. Nuh : 10-12).

    Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menetapi istigfar, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, kebebasan dari setiap kesedihan, dan Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diperhitungkannya,” (HR. Abu Daud, Ibn Majah dan Imam Ahmad).

    Diceritakan bahwa seseorang telah mengadukan tentang paceklik dan kekeringan kepada Hasan al-Bashri, maka beliau menasehati, “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

    Orang lain mengadukan tentang kemiskinannya kepada beliau, beliau menasehati: “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

    Satunya lagi datang mengadukan tentang masalah kebunnya yang ditimpa kekeringan. Beliau menasehati: “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

    Yang lain lagi datang kepda beliau mengadukan masalah kemandulannya. Beliau tetap menasehati: “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

    Kemudian beliau membacakan ayat tersebut (QS. Nuh : 10-12), kepada mereka.

    ***

    Disadur dari buku : Prilaku yang dapat memperpanjang umur dan merubah takdir, oleh Ahmad Baghlabah, hal 109 – 118.

     
    • anisa 9:24 am on 18 Maret 2010 Permalink

      Subhanallah.., kuatkanlah hamba untuk sll mengingat-Mu dan jauhkanlah kami semua dari keburukan dan musibah..
      aamiin..

    • Paman 2:09 am on 23 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih banyak kepada penulis artikel ini. Insya Allah kami amalkan kiat-kiat penolak musibah. Amiin

  • erva kurniawan 5:27 am on 15 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Arti Sebuah Obrolan 

    Oleh : Ust. Musyaffa AbdurRahim, Lc.

    **

    Tersebutlah dalam buku-buku sejarah bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang terkenal juga sebagai khalifah Ar-Rasyid yang kelima, telah berhasil merubah gaya obrolan masyarakatnya.

    Pada masa khalifah sebelumnya, obrolan masyarakat tidak pernah keluar dari materi dan dunia, di manapun mereka berada; di rumah, di pasar, di tempat bekerja dan bahkan di masjid-masjid.

    Dalam obrolan mereka terdengarlah pertanyaan-pertanyaan berikut, “Berapa rumah yang sudah engkau bangun? Kamu sudah mempunyai istana atau belum? Budak perempuan yang ada di rumahmu berapa? Berapa yang cantik? Hari ini engkau untung berapa dalam berbisnis? Dan semacamnya.”

    Pada zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin, dan setelah dia melakukan tajdid (pembaharuan) dan ishlah (reformasi), dimulai dari meng-ishlah dirinya sendiri, lalu istrinya, lalu kerabat dekatnya dan seterusnya kepada seluruh rakyatnya, berubahlah pola obrolan masyarakat yang menjadi rakyatnya.

    Dalam obrolan mereka, terdengarlah pertanyaan-pertanyaan sebaai berikut, “Hari ini engkau sudah membaca Al Qur’an berapa juz? Bagaimana tahajjud-mu tadi malam? Berapa hari engkau berpuasa pada bulan ini? Dan semacamnya.”

    Mungkin diantara kita ada yang mempertanyakan, apa arti sebuah obrolan? Dan bukankah obrolan semacam itu sah-sah saja? Ia kan belum masuk kategori makruh? Apalagi haram? Lalu, kenapa mesti diperbincangkan dan diperbandingkan? Bukankah perbandingan semacam ini merupakan sebuah kekeliruan, kalau memang hal itu masuk dalam kategori mubah?

    Dari aspek hukum syar’i, obrolan yang terjadi pada masa khalifah sebelum Umar bin Abdul Aziz memang masuk kategori hal-hal yang sah-sah saja, artinya, mubah, alias tidak ada larangan dalam syari’at.

    Akan tetapi, bila hal itu kita tinjau dari sisi lain, misalnya dari tinjauan tarbawi da’awi misalnya, maka hal itu menujukkan bahwa telah terjadi perubahan feeling pada masyarakat, atau bisa juga kita katakan, telah terjadi obsesi pada ummat.

    Pada masa Sahabat (Ridhwanullah ‘alaihim), obsesi orang (dengan segala tuntutannya, baik yang berupa feeling ataupun ‘azam, bahkan amal) selalu terfokus pada bagaimana menyebar luaskan Islam ke seluruh penjuru negeri, dengan harga berapapun, dan apapun, sehingga, pada masa mereka Islam telah membentang begitu luas di atas bumi ini. Namun, pada masa-masa menjelang khalifah Umar bin Abdul Aziz, obsesi itu telah berubah.

    Dampak dari adanya perubahan ini adalah melemahnya semangat jihad, semangat da’wah ilallah, semangat men-tarbiyah dan men-takwin masyarakat agar mereka memahami Islam, menerapkannya dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

    Al Hamdulillah, Allah swt memunculkan dari hamba-Nya ini orang yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang mampu memutar kembali “gaya” dan “pola” obrolan masyarakatnya, sehingga, kita semua mengetahui bahwa pada masa khalifah yang hanya memerintah 2,5 tahun itu, Islam kembali jaya dan menjadi gaya hidup masyarakat.

    Tersebut pula dalam sejarah bahwa beberapa saat setelah kaum muslimin menguasai Spanyol, ada seorang utusan Barat Kristen yang memasuki negeri Islam Isbania (Nama Spanyol saat dikuasai kaum muslimin).

    Tujuan dia memasuki wilayah Islam adalah untuk mendengar dan menyaksikan bagaimana kaum muslimin mengobrol, ya, “hanya” untuk mengetahui bagaimana kaum muslimin mengobrol. Sebab dari obrolan inilah dia akan menarik kesimpulan, bagaimana obsesi kaum muslimin saat itu.

    Selagi dia berjalan-jalan untuk mendapatkan informasi tentang gaya kaum muslimin, tertumbuklah pandangannya kepada seorang bocah yang sedang menangis, maka dihampirilah bocah itu dan ditanya kenapa dia menangis? Sang bocah itu menjelaskan bahwa biasanya setiap kali dia melepaskan satu biji anak panah, maka dia bisa mendapatkan dua burung sekaligus, namun, pada hari itu, sekali dia melepaskan satu biji anak panah, dia hanya mendapatkan seekor burung.

    Mendengar jawaban seperti itu, sang utusan itu mengambil kesimpulan bahwa obsesi kaum muslimin Isbania (Spanyol) saat itu masihlah terfokus pada jihad fisabilillah, buktinya, sang bocah yang masih polos itu, bocah yang tidak bisa direkayasa itu, masih melatih diri untuk memanah dengan baik, hal ini menunjukkan bahwa orang tua mereka masih terobsesi untuk berjihad fisabilillah, sehingga terpengaruhlah sang bocah itu tadi.

    Antara obrolan orang tua dan tangis bocah yang polos itu ada kesamaan, terutama dalam hal: keduanya sama-sama meluncur secara polos dan tanpa rekayasa, namun merupakan cermin yang nyata dari sebuah obsesi.

    Setelah masa berlalu berabad-abad, datang lagi mata-mata dari Barat, untuk melihat secara dekat bagaimana kaum muslimin mengobrol, ia datangi tempat-tempat berkumpulnya mereka, ia datangi pasar, tempat kerja, tempat-tempat umum dan tidak terlupakan, ia datangi pula masjid.

    Ternyata, ada kesamaan pada semua tempat itu dalam hal obrolan, semuanya sedang memperbincangkan, “Budak perempuan saya yang bernama si fulanah, sudah orangnya cantik, suara nyanyiannya merdu dan indah sekali, rumah saya yang di tempat anu itu, betul-betul indah memang, pemandangannya bagus, desainnya canggih, luas dan sangat menyenangkan”, dan semacamnya.

    Merasa yakin bahwa gaya obrolan kaum muslimin sudah sedemikian rupa, pulanglah sang mata-mata itu dengan penuh semangat, dan sesampainya di negerinya, mulailah disusun berbagai rencana untuk menaklukkan negeri yang sudah delapan abad di bawah kekuasaan Islam itu. Dan kita semua mengetahui bahwa, semenjak saat itu, sampai sekarang, negeri itu bukan lagi negeri Muslim.

    Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah, betapa seringnya kita mengobrol, sadarkah kita, model manakah gaya obrolan kita sekarang ini?

    Sadarkah kita bahwa obrolan adalah cerminan dari obsesi kita?

    Sadarkah kita bahwa obrolan kita lebih hebat pengaruhnya daripada sebuah ceramah yang telah kita persiapkan sedemikian rupa?

    Bila tidak, cobalah anda reka, pengaruh apa yang akan terjadi bila anda adalah seorang ustadz atau da’i, yang baru saja turun dari mimbar khutbah, khutbah Jum’at dengan tema: “Kezuhudan salafush-Shalih dan pengaruhnya dalam efektifitas da’wah”.

    Sehabis shalat Jum’at, anda mengobrol dengan beberapa orang yang masih ada di situ, dalam obrolan itu, anda dan mereka memperbincangkan. Bagaimana mobil Merci anda yang hendak anda tukar dengan BMW dalam waktu dekat ini, dan bagaimana mobil Pajero puteri anda yang sebentar lagi akan anda tukar dengan Land Cruiser, dan bagaimana rumah anda yang di Pondok Indah yang akan segera anda rehab, yang anggarannya kira-kira menghabiskan lima milyar rupiah dan semacamnya.

    Cobalah anda menerka, pengaruh apakah yang akan terjadi pada orang-orang yang anda ajak mengobrol itu? Mereka akan mengikuti materi yang anda sampaikan lewat khutbah Jum’at atau materi yang anda sampaikan lewat obrolan?

    Sekali lagi, memang obrolan semacam itu bukanlah masuk kategori “terlarang” secara syar’i, akan tetapi, saya hanya hendak mengajak anda memikirkan apa dampaknya bagi da’wah ilallah.

    Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah… Sadarkah kita bahwa telah terjadi perubahan besar dalam gaya obrolan kita antara era 80-an dengan 90-an dan dengan 2000-an, obrolan yang terjadi saat kita bertemu dengan saudara seaqidah kita, obrolan yang terjadi antar sesama aktifis Rohis di kampus dan sekolah masing-masing kita.

    Saat itu, obrolan kita tidak pernah keluar dari da’wah, da’wah, tarbiyah dan tarbiyah, namun sekarang?

    Silahkan masing-masing kita menjawabnya, lalu kaitkan antara gegap gempita da’wah dan tarbiyah saat itu dengan seringnya kita mendengar adanya dha’fun tarbawi di sana sini.

    ***

    Sumber: Email dari Sabahat

     
    • anisa 9:51 am on 18 Maret 2010 Permalink

      astaghfirullah al adzhimiii.. sptnya hal2 yg kami obrolin stiap hari belum lah sesuatu yg selalu positif , trims dah mengingatkan….
      ampuni kami ya Allah…

    • giyar 9:18 pm on 3 April 2010 Permalink

      assalamualaikum jazakaloh akh seperti diingatkan kembali mohon doanya semoga bisa lebih baik

    • aulia 8:56 pm on 23 Mei 2010 Permalink

      saya jadi malu saat baca artikel ini. semoga saya bisa merubah obrolan saya jadi positif, demi kemajuan Islam. mohon doanya. trims

    • Obrolan 9:26 pm on 1 September 2010 Permalink

      saya jadi saat baca artikel ini.gue suka blog ini! kaget , lagi

  • erva kurniawan 11:00 pm on 11 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: tata cara wudhu,   

    Sunah-Sunnah Dalam Wudhu 

    Oleh Syaikh Khalid al Husainan Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]

    [a]. Mengucapkan Bismillah[1]

    [b]. Membasuh Kedua Telapak Tangan Tiga Kali[2]

    [c]. Mendahulukan Berkumur-Kumur (Madhmadhoh) Dan Istinsyaq (Memasukkan Air Ke Dalam Hidung Lalu Menghirupnya Dengan Sekali Nafas Sampai Ke dalam Hidung Yang Paling Ujung) Sebelum Membasuh Muka.

    [d]. Setelah Istinsyaq Lalu Istintsaar (Mengeluarkan /Menyemburkan Air Dari Hidung Sesudah Menghirupnya Dengan Telapak Tangan Kiri).

    Berdasarkan hadits, yang artinya, “Lalu Nabi membasuh kedua telapak tangan tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq, lalu istintsaar lalu membasuh muka tiga kali” [Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 159 dan Muslim no. 226]

    [E] Bersungguh-Sungguh Dalam Berkumur-Kumur Dan Istinsyaq Bagi Orang Yang Sedang Tidak Berpuasa.

    Berdasarkan hadits, yang artinya, “Bersungguh-sungguh dalam menghirup air ke hidung, kecuali kalau kamu sedang berpuasa”. [HR.Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no.38; Nasaaiy, no. 114 dan Ibnu Majah, no. 407 & 448 dan selain mereka).

    Makna bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur adalah menggerakkan air di ke seluruh bagian mulutnya. Sedangkan makna bersungguh-sungguh dalam istinsyaq adalah menghirup air sampai ke bagian hidung yang terdalam.

    [f]. Menyatukan Antara Berkumur Dan Istinsyaq Dengan Sekali Cidukan Tangan Kanan, Tanpa Pemisahan Antara Keduanya.

    [i]. Mengusap Kepala

    Cara mengusap kepala, memulai dari bagian depan kepala depan kemudian menggerakkan kedua tangannya hingga ke belakang (tengkuk) lalu mengembalikan ke tempat semula.

    Hukum membasuh kepala adalah wajib yaitu berlaku keumuman pada setiap apa yang dibasuh dari kepala dalam berbagai kondisi. Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Artinya, “Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membasuh kepalanya lalu menjalankan kedua tangannya ke belakang dan mengembalikannya” [Hadits Riwayat Bukhary no. 185 dan Muslim no. 235. Pent]

    [j]. Menyela-Nyela Jari-Jari Kedua Tangan Dan Kedua Kaki.

    Berdasarkan hadit yang artinya, “Sempurnakanlah wudhu’, selai-selailah jari-jemari” [HR.Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no.38; Nasaaiy, no. 114 dan Ibnu Majah, no. 448. Pent]

    [k]. At Tayaamun (Memulai Dari Sebelah Kanan)

    At- Tayaamun (dalam wudhu’) artinya memulai membasuh anggota wudhu’ yang sebelah kanan kemudian yang kiri dari kedua tangan maupun kaki.

    Artinya, “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai dalam mendahulukan yang kanan ketika memakai sandalnya, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya”. [Hadits Riwayat Bukhari no. 168 dan Muslim, no. 268 dan selain keduanya. Pent.]

    [l]. Menambah Bilangan Basuhan Dari Sekali Menjadi Tiga Kali Basuhan. Tambahan Ini Berlaku Dalam Membasuh Muka, Kedua Tangan Dan Kedua Kaki.

    [m]. Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat Setelah Selesai Dari Wudhu’ Dengan Ucapan.

    “Asyhadu alla ilaaha illallaahu wahdahu la syariikalahu wa asyahadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu”.

    “Artinya : Aku bersaksi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

    Tiada lain balasannya kecuali pasti dibukakan baginya pintu-pintu surga yang bejumlah delapan, lalu ia masuk dari pintu mana saja yang ia sukai’ [Hadits Riwayat Muslim, no. 234; Abu Dawud, no. 169; Tirmidzi, no. 55 ; Nasaaiy, no. 148 dan Ibnu Majah, no. 470. Pent]

    [n]. Wudhu’ Di Rumah

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa yang berwudhu di rumahnya, kemudian berjalan ke masjid untuk melaksanakan kewajiban dari Allah dan langkah yang satu menghapuskan dosa dan langkah yang lain mengangkat derajat.” [Hadits Riwayat Muslim no. 666]

    [o]. Ad-Dalk

    Yaitu meletakkan tangan yang basah (yang akan dipakai untuk menggosok atau membasuh,-pent) pada anggota wudhu’ bersama air atau setelahnya.

    ***

    [Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]

     
  • erva kurniawan 10:48 pm on 10 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , sunah ketika bangun tidur   

    Sunnah-Sunnah Ketika Bangun Tidur 

    Oleh Syaikh Khalid al Husainan

    [a] Mengusap Bekas Tidur Yang Ada Di Wajah Maupun Tangan

    Hal ini menurut Imam An-Nawawy dan Al Hafidz Ibnu Hajar sebagai sesuatu yang dianjurkan berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya, “Rasulullah bangun tidur kemudian duduk sambil mengusap wajahnya dengan tangannya.” [Hadits Riwayat Muslim no. 763 ]

    [b] Doa Ketika Bangun Tidur

    Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangkitkan” [Hadits Riwayat Bukhari no. 6312 dan Muslim no. 2711]

    [c] Bersiwak

    Artinya, “Adalah Rasulullah apabila bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak” [Hadits Riwayat Bukhari no. 245 dan Muslim no. 255]

    [d] Beristintsaar [Mengeluarkan /Menyemburkan Air Dari Hidung Sesudah Menghirupnya]

    Artinya, “Apabila seorang diantara kalian bangun tidur maka beristintsaarlah tiga kali karena sesungguhnya syaitan bermalam di batang hidungnyai” [Hadits Riwayat Bukhari no. 3295 dan Muslim no. 238]

    [e] Mencuci Kedua Tangan Tiga Kali.

    Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Bila salah seorang diantaramu bangun tidur, janganlah ia menyelamkan tangannya ke dalam bejana, sebelum ia mencucinya tiga kali” [Hadits Riwayat Bukhari no. 162 dan Muslim no. 278]

    ***

    [Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]

     
    • rabbani75 6:56 am on 22 Oktober 2010 Permalink

      Mas eva terima kasih izin ngopy gambar

    • tyang 11:44 am on 11 Desember 2010 Permalink

      trimakasih atas tipsnya.
      saya ijin copy gambarnya ya…

    • erva kurniawan 3:53 pm on 13 Desember 2010 Permalink

      Silahkan :)

  • erva kurniawan 9:37 pm on 7 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: katak, kodok, makan kodok haram   

    Larangan Membunuh Kodok dan Memakannya 

    Oleh : Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

    Dari Abdurrahman bin Utsman (ia berkata), “Sesungguhnya seorang tabib pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang kodok yang ia akan jadikan obat ? Maka Nabi SAW telah melarang tabib tersebut membunuh kodok” (HR. Abu Dawud no. 3871, An Nasaa’i 7/210, Hakim 4/411, Baihaqi 9/258, hadits shahih)

    Berkata Imam Hakim, “Hadits ini shahih isnadnya”. Dan Imam Dzahabi telah menyetujuinya.

    Hadits yang mulia ini merupakan hujjah yang kuat tentang haramnya memakan daging kodok karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang membunuhnya, baik untuk dimakan atau untuk disia – siakan.

    Di dalam hadits di atas seorang tabib (dokter) meminta izin kepada Nabi SAW untuk menjadikan kodok sebagai obat. Tentunya yang dimaksud oleh si dokter ialah dengan cara memakannya atau memberi makan kepada pasien yang dia yakini bahwa daging kodok itu sebagai obat.

    Fatwa para Imam :

    Berkata Abdullah bin Ahmad, “Aku pernah bertanya kepada bapakku (yakni Imam Ahmad bin Hambal) tentang kodok, lalu beliau menjawab, ‘Tidak boleh dimakan dan tidak boleh dibunuh. Karena Nabi SAW telah melarang membunuh kodok berdasarkan hadits Abdurrahman bin Utsman” (Masaa-il Imam Ahmad hal. 271 – 272, ditahqiq oleh Zuhair Syaawisy)

    Imam Al Khaththaabiy mengatakan bahwa kodok itu haram dimakan. (‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud juz 10 hal. 252 – 253) Imam Ibnu Hazm di Kitabnya Al Muhalla juz 7 hal. 245, 398 dan 410) menyatakan bahwa kodok itu sama sekali tidak halal dimakan.

    ***

    Disarikan dari Kitab Al Masaa-il jilid 4, Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darul Qalam, Pasar Minggu – Jakarta, Cetakan Pertama, 2004 M, hal. 261 – 272

     
    • Ompoer 9:43 pm on 7 Maret 2010 Permalink

      mengapa harus membunuh kodok….menangkapnya juga susah…lompat sini…lompat sana….
      salam kenal

    • kimsanada 9:43 pm on 7 Maret 2010 Permalink

      jikalau untuk penelitian gimana bang hukumnya? :)

    • untung Handoyo 1:00 pm on 17 Maret 2010 Permalink

      Saya ingin penjelasa mengapa kodok itu harap dan tidak boleh di bunuh…… apa lagi sampai tidak boleh di bunuh…. mengapa

    • erva kurniawan 6:46 pm on 17 Maret 2010 Permalink

      Waktu sekolah SD saya ingat betul, waktu itu guru agama saya menjelaskan hewan yang haram dimakan salah satunya adalah hewan ampibi yang hidup di 2(dua) alam. Sebagaimana kita ketahui kodok metamorfosis waktu kecil bernafas dengan insang dan hidup di air, dan ketika dewasa hidup di darat bernafas dengan paru2.

      Kenapa haram dimakan? Analogi menurut saya seperti halnya kenapa kita haram memakan babi. Pada awalnya banyak pertentangan kenapa tidak boleh memakan babi, belakangan diketahui bahwa babi tidak mempunyai urat leher, sehingga tidak bisa disembelih untuk mengeluarkan darahnya. Darah mengandung toksin/racun yang dapat berbahaya bagi yang memakannya.
      Kalau kodok, menurut dan sepengetahuan saya, kodok merupakan bio indikator atau indikator tercemarnya lingkungan disekitarnya, karena kodok menyerap racun disekitarnya dan menumpuk di kulit. Konsentrasi racun di kulit, berguna untuk mengetahui keadaan lingkungan. Mungkin itu kenapa dilarang dibunuh apalagi memakan kodok karena sama artinya kita memakan racun.

      Mungkin teman-teman ada yang mau menambah atau punya pendapat lain?

    • vent hetfield 1:15 am on 17 Februari 2013 Permalink

      ternyata eh ternyata….., mungkin di bilang haram itu masuk akal, karna daging kodok banyak mengandung cacing cacing pitta ya berbahaya

  • erva kurniawan 9:28 pm on 6 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: ilmu dan harta   

    Ilmu dan Harta 

    Dalam kitab Mukasyafatui Qulub karya Imam Al Ghazali, diceritakan bahwa suatu hari ‘Ali bin Abi Thalib ditanya oleh kaum Khawarij tentang keutamaan ilmu dibanding harta, Beliau menjawab: “Ilmu lebih utama daripada harta.” Mereka menanyakan alasannya kepada Ali. Beliau memberikan alasan sebagai berikut:

    1. Ilmu adalah pusaka para Nabi, sedangkan harta adalah pusaka Qarun, Sadad, Fir’aun, dan lain-lain.
    2. Ilmu itu menjagamu sedangkan harta malah engkau yang harus menjaganya.
    3. Harta itu jika engkau berikan menjadi berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau berikan malahan bertambah.
    4. Pemilik harta disebut dengan nama bakhil (kikir) dan buruk, tetapi pemilik ilmu disebut dengan nama keagungan dan kemuliaan.
    5. Pemilik harta itu musuhnya banyak, sedang pemilik ilmu temannya banyak.
    6. Harta harus dijaga dari pencuri, sedang ilmu tidak perlu.
    7. Di akhirat nanti pemilik harta akan dihisab, sedangkan orang berilmu akan memperoleh syafa’at.
    8. Harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman, tetapi ilmu tak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman.
    9. Harta membuat hati seseorang menjadi keras, sedangkan ilmu malah membuat hati menjadi bercahaya.
    10. Pemilik harta bisa mengaku menjadi Tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedangkan orang yang berilmu justru mengaku sebagai insan hamba Tuhan karena ilmunya.

    Tanya jawab antara kaum Khawarij dengan ‘Ali bin Abi Thalib tersebut menegaskan betapa ilmu itu lebih utama daripada harta, Bahkan ‘Ali akan menjelaskan lebih banyak lagi keutamaan-keutamaan ilmu daripada harta jika mereka bertanya lagi.

    Ketika umat Islam di masa Bani Abbas (abad ke-8-13 M) mengutamakan ilmu pengetahuan, maka umat Islam di masa itu telah mencapai kemajuan yang amat pesat dan peradaban yang amat tinggi. Tetapi setelah umat Islam tidak lagi mengutamakan ilmu pengetahuan, umat Islam mengalami kemunduran hingga akhirnya dijajah oleh bangsa Barat.

    Oleh karena itu jika kita sekarang ini ingin mencapai kemajuan dan peradaban yang tinggi, maka hendaknya kita mengutamakan ilmu pengetahuan. Salah satu ujudnya ialah memperhatikan dunia pendidikan kita, sehingga sarana dan prasarana pendidikan tersedia dengan cukup dan baik, serta bias diikuti oleh semua lapisan masyarakat, termasuk lapisan masyarakat yang paling lemah sekalipun.

    Sungguh suatu hal yang sangat ironis jika kita ingin menjadi bangsa yang maju dan punya peradaban yang tinggi, tetapi tidak senus memperhatikan dunia pendidikan. Satu sisi biaya pendidikan di masyarakat kita sangat tinggi sehingga banyak orang-orang yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya, di sisi lain justru banyak sarana dan prasarana pendidikan sangat memprihatinkan, bahkan sudah banyak gedung-gedung sekolah yang ambruk. Sementara penumpukan harta terjadi di mana-mana, korupsi terus merajalela dan kesenjangan sosial juga makin parah. Jika demikian yang akan terjadi bukan kemajuan, melainkan kehancuran.

    ***

    Sumber: Email Sahabat

     
  • erva kurniawan 9:54 pm on 5 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , sholat fardhu   

    Kaifiat Sholat Nabi (Membaca Ta’awudz & Al Fatihah) 

    MEMBACA TA’AWWUDZ

    Membaca do’a ta’awwudz adalah disunnahkan dalam setiap raka’at, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Apabila kamu membaca al Qur-an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An Nahl : 98).

    Dan pendapat ini adalah yang paling shahih dalam madzhab Syafi’i dan diperkuat oleh Ibnu Hazm (Lihat al Majmuu’ III/323 dan Tamaam al Minnah 172-177).

    Nabi biasa membaca ta’awwudz yang berbunyi:

    “A’UUDZUBILLAHI MINASY SYAITHAANIR RAJIIM MIN HAMAZIHI WA NAFKHIHI WANAFTSIHI”

    artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari semburannya (yang menyebabkn gila), dari kesombongannya, dan dari hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).” (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Daraquthni, Hakim dan dishahkan olehnya serta oleh Ibnu Hibban dan Dzahabi).

    Atau mengucapkan:

    “A’UUZUBILLAHIS SAMII’IL ALIIM MINASY SYAITHAANIR RAJIIM…”

    artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk” (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad hasan).

    **

    MEMBACA AL FATIHAH

    Hukum Membaca Al-Fatihah

    Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu dari sekian banyak rukun sholat, jadi kalau dalam sholat tidak membaca Al-Fatihah maka tidak sah sholatnya berdasarkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Tidak dianggap sholat (tidak sah sholatnya) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Jama’ah: yakni Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah).

    “Barangsiapa yang sholat tanpa membaca Al-Fatihah maka sholatnya buntung, sholatnya buntung, sholatnya buntung…tidak sempurna” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).

    Kapan Kita Wajib Membaca Surat Al-Fatihah

    Jelas bagi kita kalau sedang sholat sendirian (munfarid) maka wajib untuk membaca Al-Fatihah, begitu pun pada sholat jama’ah ketika imam membacanya secara sirr (tidak diperdengarkan) yakni pada sholat Dhuhur, ‘Ashr, satu roka’at terakhir sholat Mahgrib dan dua roka’at terakhir sholat ‘Isyak, maka para makmum wajib membaca surat Al-Fatihah tersebut secara sendiri-sendiri secara sirr (tidak dikeraskan).

    Lantas bagaimana kalau imam membaca secara keras?

    Tentang ini Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa pernah Rasulullah melarang makmum membaca surat dibelakang imam kecuali surat Al-Fatihah: “Betulkah kalian tadi membaca (surat) dibelakang imam kalian?” Kami menjawab: “Ya, tapi dengan cepat wahai Rasulallah.” Berkata Rasul: “Kalian tidak boleh melakukannya lagi kecuali membaca Al-Fatihah, karena tidak ada sholat bagi yang tidak membacanya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhori, Abu Dawud, dan Ahmad, dihasankan oleh At-Tirmidzi dan Ad-Daraquthni).

    Selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum membaca surat apapun ketika imam membacanya dengan jahr (diperdengarkan) baik itu Al-Fatihah maupun surat lainnya. Hal ini selaras dengan keterangan dari Al-Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal tentang wajibnya makmum diam bila imam membaca dengan jahr (keras).

    Berdasar arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :”Dijadikan imam itu hanya untuk diikuti. Oleh karena itu apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian, dan apabila imam membaca, maka hendaklah kalian diam (sambil memperhatikan bacaan imam itu)” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud no. 603 & 604. Ibnu Majah no. 846, An-Nasa-i. Imam Muslim berkata: Hadits ini menurut pandanganku Shahih).

    “Barangsiapa sholat mengikuti imam (bermakmum), maka bacaan imam telah menjadi bacaannya juga.” (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah, Ad-Daraquthni, Ibnu Majah, Thahawi dan Ahmad lihat kitab Irwa-ul Ghalil oleh Syaikh Al-Albani).

    Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah mendirikan sholat yang beliau keraskan bacaanya dalam sholat itu, beliau bertanya: “Apakah ada seseorang diantara kamu yang membaca bersamaku tadi ?” Maka seorang laki-laki menjawab, “Ya ada, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau berkata, “Sungguh aku katakan: Mengapakah (bacaan)ku ditentang dengan Al-Qur’an (juga).” Berkata Abu Hurairah, kemudian berhentilah orang-orang dari membaca bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sholat-sholat yang Rasulullah keraskan bacaannya, ketika mereka sudah mendengar (larangan) yang demikian itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-i dan Malik. Abu Hatim Ar Razi menshahihkannya, Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan).

    Hadits-hadits tersebut merupakan dalil yang tegas dan kuat tentang wajib diamnya makmum apabila mendengar bacaan imam, baik Al-Fatihah-nya maupun surat yang lain. Selain itu juga berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Dan apabila dibacakan Al-Qur-an hendaklah kamu dengarkan ia dan diamlah sambil memperhatikan (bacaannya), agar kamu diberi rahmat.” (Al-A’raaf : 204).

    Ayat ini asalnya berbentuk umum yakni dimana saja kita mendengar bacaan Al-Qur-an, baik di dalam sholat maupun di luar sholat wajib diam mendengarkannya walaupun sebab turunnya berkenaan tentang sholat. Tetapi keumuman ayat ini telah menjadi khusus dan tertentu (wajibnya) hanya untuk sholat, sebagaimana telah diterangkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Adh Dhohak, Qotadah, Ibarahim An Nakha-i, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan lain-lain. Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/280-281.

    Cara Membaca Al Fatihah

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Fatihah pada setiap roka’at. Membacanya dengan berhenti pada setiap akhir ayat (waqof), tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya (washol) berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, Sahmi dan ‘Amr Ad Dani, dishahihkan oleh Hakim, disetujui Adz-Dzahabi.

    Begitulah seterusnya sampai selesai ayat yang terakhir. Terkadang beliau membaca: ( MAALIKI YAUMIDDIIN ). Atau dengan memendekkan bacaan ‘maa’ menjadi: ( MALIKI YAUMIDDIIN ). Berdasarkan riwayat yang mutawatir dikeluarkan oleh Tamam Ar Razi, Ibnu Abi Dawud, Abu Nu’aim, dan Al Hakim. Hakim menshahihkannya, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.

    Seandainya Seseorang Belum Hafal Al-Fatihah

    Bagi seseorang yang belum hafal Al Fatihah terutama bagi yang baru masuk Islam, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusinya. Nasehatnya untuk orang yang belum hafal Al-Fatihah (tentunya dia tak berhak jadi Imam)

    Ucapkanlah: SUBHANALLAHI, WALHAMDULILLAHI, WA LAA ILAHA ILLALLAHU, WALLAHU AKBAR, WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHI

    artinya: “Maha Suci Allah, Segala puji milik Allah, tiada Ilah (yang haq) kecuali Allah, Allah Maha Besar, Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Hakim, Thabrani dan Ibnu Hibban disahihkan oleh Hakim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Jika kamu hafal suatu ayat Al-Qur-an maka bacalah ayat tersebut, jika tidak maka bacalah Tahmid, Takbir dan Tahlil.” (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dihasankan oleh At-Tirmidzi, tetapi sanadnya shahih, baca Shahih Abi Dawud hadits no. 807).

    **

    MEMBACA AMIN

    Hukum Bagi Imam:

    Membaca amin disunnahkan bagi imam sholat.

    Dari Abu hurairah, dia berkata: “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika selesai membaca surat Ummul Kitab (Al-Fatihah) mengeraskan suaranya dan membaca amin.” (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni dan Ibnu Majah, oleh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Shahihah dikatakan sebagai hadits yang berkualitas shahih) “Bila Nabi selesai membaca Al-Fatihah (dalam sholat), beliau mengucapkan amiin dengan suara keras dan panjang.” (Hadits shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud).

    Hadits tersebut mensyari’atkan para imam untuk mengeraskan bacaan amin, demikian yang menjadi pendapat Al-Imam Al-Bukhari, As-Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan para imam fikih lainnya. Dalam shahihnya Al-Bukhari membuat suatu bab dengan judul ‘baab jahr al-imaan bi al-ta-miin’ (artinya: bab tentang imam mengeraskan suara ketika membaca amin). Didalamnya dinukil perkataan (atsar) bahwa Ibnu Al-Zubair membaca amin bersama para makmum sampai seakan-akan ada gaung dalam masjidnya.

    Juga perkataan Nafi’ (maula Ibnu Umar): Dulu Ibnu Umar selalu membaca aamiin dengan suara yang keras. Bahkan dia menganjurkan hal itu kepada semua orang. Aku pernah mendengar sebuah kabar tentang anjuran dia akan hal itu.”

    Hukum Bagi Makmum:

    Dalam hal ini ada beberapa petunjuk dari Nabi (Hadits), atsar para shahabat dan perkataan para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika imam membaca amiin maka hendaklah kalian juga membaca amiin.”

    Hal ini mengisyaratkan bahwa membaca amiin itu hukumnya wajib bagi makmum. Pendapat ini dipertegas oleh Asy-Syaukani. Namun hukum wajib itu tidak mutlak harus dilakukan oleh makmum. Mereka baru diwajibkan membaca amiin ketika imam juga membacanya. Adapun bagi imam dan orang yang sholat sendiri, maka hukumnya hanya sunnah. (lihat Nailul Authaar, II/262).

    “Bila imam selesai membaca ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladhdhooolliin, ucapkanlah amiin [karena malaikat juga mengucapkan amiin dan imam pun mengucapkan amiin]. Dalam riwayat lain: “(apabila imam mengucapkan amiin, hendaklah kalian mengucapkan amiin) barangsiapa ucapan aminnya bersamaan dengan malaikat, (dalam riwayat lain disebutkan: “bila seseorang diantara kamu mengucapkan amin dalam sholat bersamaan dengan malaikat dilangit mengucapkannya), dosa-dosanya masa lalu diampuni.” (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa-i dan Ad-Darimi)

    Syaikh Al-Albani mengomentari masalah ini sebagai berikut: “Aku berkata: Masalah ini harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan dengan cara meninggalkannya. Termasuk kesempurnaan dalam mengerjakan masalah ini adalah dengan membarengi bacaan amin sang imam, dan tidak mendahuluinya. (Tamaamul Minnah hal. 178).

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • pakne Nafa 12:52 pm on 10 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih atas pencerahannya. Semoga Allah membalas dg pahala yang banyak.

  • erva kurniawan 9:46 pm on 4 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Menikmati Kesederhanaan 

    Republika : Rabu, 27 Juli 2005

    Oleh : Syarif Hade Masyah

    Suatu kali Umar bin Khathab RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Kala itu Umar mendapati Nabi sedang berbaring di tikar yang sangat kasar. Saking kasarnya alas tidur Nabi itu, anyaman tikarnya membekas di pipi beliau. Tidak semua tubuh beliau beralas tikar. Sebagian tubuhnya beralas tanah. Bantal yang beliau gunakan pun pelepah kurma yang keras.

    Melihat pemandangan itu Umar langsung menangis. “Mengapa Anda menangis?” tanya Rasulullah. “Bagaimana saya tidak menangis? Alas tidur itu telah menorehkan bekas di pipi Anda. Anda ini Nabi sekaligus kekasih Allah. Mengapa kekayaan Anda hanya seperti yang saya lihat sekarang ini? Apa Anda tidak melihat bagaimana Kisra (Raja Persia) dan Kaisar (Raja Romawi) duduk di atas singgasana emas dan berbantalkan sutra terindah?” jawab Umar yang sekaligus balik bertanya.

    Apa jawab Nabi? “Mereka ingin menghabiskan kenikmatan dan kesenangan sekarang ini. Padahal, kenikmatan dan kesenangan itu cepat berakhir. Berbeda dengan kita. Kita lebih senang mendapat kenikmatan dan kesenangan itu untuk hari nanti.”

    Nabi telah memberi contoh dan teladan mulia dalam sikap sederhana. Catatan sejarah menunjukkan beliau tidak memiliki perabot rumah tangga biasa, apalagi yang mewah. Makanan favorit beliau hanya roti kering, segelas air putih, dan satu-dua butir kurma. Itu pun sudah beliau anggap sebagai kemewahan.

    Menyerukan sikap sederhana tidak akan berhasil bila tidak diiringi keteladanan. Belakangan kita banyak melihat orang yang menggembar-gemborkan hidup hemat, meski sikap hidupnya tidak menunjukkan apa yang diserukannya.

    Mobilnya lebih dari satu, rumahnya ada di mana-mana, perlengkapan rumahnya serba mewah, watt untuk perabotan elektroniknya luar biasa, dan pakaiannya impor semua.

    Menurut seorang tabi’in, seseorang dikategorikan boros jika dalam hal makanan dan berpakaian dia selalu menuruti keinginannya.

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Dunia itu diperuntukkan bagi pecintanya. Siapa yang mengambil dunia lebih dari batas kecukupannya, maka tanpa terasa dia telah merenggut ajal kematiannya.” (HR Al-Bazzar).

    Sekarang kita sedang merasakan ‘ajal kematian’ akibat sikap konsumtif dan boros pada listrik dan BBM. Sikap seperti itu biasanya dilatari oleh keinginan terlihat mewah yang sering kali membuat seseorang lupa diri. Sebagian kita bahkan tak segan meraih keinginan itu dengan cara yang tidak dibenarkan. Godaan untuk sikap hidup seperti itu tak ada habisnya.

    Allah SWT berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu! Kelak kalian akan mengetahui akibat perbuatan kalian itu. Janganlah begitu! Kelak kalian akan mengetahuinya.” (QS 102: 1-4).

    Kita tidak hanya hidup untuk hari ini. Semua yang kita miliki jangan dihabiskan sesuka hati. Kita masih mempunyai anak-cucu yang juga ingin mewarisi apa yang sudah kita raih. Sederhana itu pilihan untuk menjalani hidup yang terfokus pada hal yang benar-benar berarti dan membebaskan diri dari segala belenggu. Ini yang membedakannya dari miskin.

    ***

     
  • erva kurniawan 5:48 pm on 2 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: doa istiftah,   

    Kaifiat Sholat Nabi (Membaca Do’a Istiftah) 

    Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, ”Bagaimana hukum membaca do’a istiftah”?

    Jawab: Do’a istiftah hukumnya sunnah, bukan wajib baik dalam sholat wajib maupun sholat sunnah. Sebaiknya dalam membaca do’a istiftah dibaca secara bergantian diantara do’a-do’a istiftah yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam agar ia mendapatkan sunnah membaca semua do’a istiftah. Tetapi jika ia hanya hafal satu jenis do’a istiftah dan melazimi bacaannya, maka tidak mengapa. Karena secara dhohir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bermacam-macam do’a istiftah dan tasyahud adalah untuk memudahkan manusia. Begitu juga dalam dzikir setelah sholat, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca bermacam bentuk dzikir untuk mendapatkan dua faidah:

    Pertama: Agar manusia tidak terus menerus mengucapkan satu macam dzikir, karena bila terbiasa dengan satu jenis dzikir ucapan dzikir akan menjadi otomatis keluarnya sehingga meskipun ia tidak berkosentrasi lisannya dapat mengucapkan walau tanpa berfikir dikarenakan kebiasaannya tadi. Bila manusia membaca dzikir-dzikir yang ada secara bergantian maka hal itu lebih dapat mengkosentrasikan hati dan ia lebih memahami apa yang ia ucapkan.

    Kedua: Mempermudah manusia, sehingga mereka dapat memilih do’a mana yang sesuai dengannya.

    Karena dua faidah inilah sebagian ibadah tidak hanya satu bentuk saja, seperti do’a istiftah, tasyahud, dan dzikir-dzikir setelah sholat.

    **

    Membaca Do’a Istiftah

    Do’a istiftah yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermacam-macam. Dalam do’a istiftah tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan pujian, sanjungan dan kalimat keagungan untuk Allah.

    Beliau pernah memerintahkan hal ini kepada orang yang salah melakukan sholatnya dengan sabdanya:

    “Tidak sempurna sholat seseorang sebelum ia bertakbir, mengucapkan pujian, mengucapkan kalimat keagungan (do’a istiftah), dan membaca ayat-ayat al Qur-an yang dihafalnya” (HR. Abu Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim, disetujui oleh Dzahabi).

    Adapun bacaan do’a istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya adalah:

    “ALLAHUUMMA BA’ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIBI, ALLAAHUMMA NAQQINII MIN KHATHAAYAAYA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAAHUMMAGHSILNII BIL MAA’I WATS TSALJI WAL BARADI”

    artinya:

    “Ya, Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya, Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya, Allah cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).

    Atau kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaca dalam sholat fardhu:

    “WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAN [MUSLIMAN] WA MAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. INNA SHOLATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAHI RABBIL ‘ALAMIIN. LAA SYARIIKALAHU WABIDZALIKA UMIRTU WA ANA AWWALUL MUSLIMIIN. ALLAHUMMA ANTAL MALIKU, LAA ILAAHA ILLA ANTA [SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA] ANTA RABBII WA ANA ‘ABDUKA, DHALAMTU NAFSII, WA’TARAFTU BIDZAMBI, FAGHFIRLII DZAMBI JAMII’AN, INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA. WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQI LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLA ANTA LABBAIKA WA SA’DAIKA, WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIKA. WASY SYARRULAISA ILAIKA. [WAL MAHDIYYU MAN HADAITA]. ANA BIKA WA ILAIKA [LAA MANJAA WALAA MALJA-A MINKA ILLA ILAIKA. TABAARAKTA WA TA’AALAITA ASTAGHFIRUKA WAATUUBU ILAIKA”

    yang artinya:

    “Aku hadapkan wajahku kepada Pencipta seluruh langit dan bumi dengan penuh kepasrahan dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sesuatu pun yang menyekutui-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku termasuk orang yang pertama-tama menjadi muslim. Ya Allah, Engkau-lah Penguasa, tiada Ilah selain Engkau semata-mata. [Engkau Mahasuci dan Mahaterpuji], Engkaulah Rabb-ku dan aku hamba-Mu, aku telah menganiaya diriku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya hanya Engkau-lah yang berhak mengampuni semua dosa. Berilah aku petunjuk kepada akhlaq yang paling baik, karena hanya Engkau-lah yang dapat memberi petunjuk kepada akhlaq yang terbaik dan jauhkanlah diriku dari akhlaq buruk. Aku jawab seruan-Mu, sedang segala keburukan tidak datang dari-Mu. [Orang yang terpimpin adalah orang yang Engkau beri petunjuk]. Aku berada dalam kekuasaan-Mu dan akan kembali kepada-Mu, [tiada tempat memohon keselamatan dan perlindungan dari siksa-Mu kecuali hanya Engkau semata]. Engkau Mahamulia dan Mahatinggi, aku mohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat dan ibnusarijan.blogspot.com

     
  • erva kurniawan 5:06 pm on 1 March 2010 Permalink | Balas
    Tags: istri berbakti kepada suami,   

    Wasiat Rasulullah SAW Kepada Aisyah 

    Saiyidatuna ‘Aisyah r.’a meriwayatkan : Rasulullah S.A.W bersabda “Hai Aisyah, aku berwasiat kepada engkau. Hendaklah engkau senantiasa mengingat wasiatku ini. Sesungguhnya engkau akan senantiasa di dalam kebajikan selama engkau mengingat wasiatku ini… ”

    Intisari wasiat Rasulullah S.A.W tersebut dirumuskan seperti berikut: Hai, Aisyah, peliharalah diri engkau. Ketahuilah bahwa sebagian besar dari pada kaum engkau (kaum wanita) adalah menjadi kayu api di dalam neraka.

    Diantara sebab-sebabnya ialah mereka itu :

    1. Tidak dapat menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan), tidak sabar apabila ditimpa musibah
    2. tidak memuji Allah atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan nikmat dan rahmat tidak bersyukur.
    3. mengkufurkan nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah
    4. membanyakkan kata-kata yang sia-sia, banyak bicara yang tidak bermanfaat.

    Wahai, Aisyah, ketahuilah :

    1. bahwa wanita yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang diberikan oleh suaminya maka amalannya akan digugurkan oleh Allah
    2. bahwa wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, maka pada hari kiamat, Allah menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan ditengkuknya.
    3. bahwa isteri yang memandang jahat (menuduh atau menaruh sangkaan buruk terhadap suaminya), Allah akan menghapuskan muka dan tubuhnya pada hari kiamat.
    4. bahwa isteri yang tidak memenuhi kemauan suami-nya di tempat tidur atau menyusahkan urusan ini atau mengkhianati suaminya, akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubunnya terikat kepada dua kakinya di dalam neraka.
    5. bahwa wanita yang mengerjakan sholat dan berdoa untuk dirinya tetapi tidak untuk suaminya, akan dipukul mukanya dengan sholatnya.
    6. bahwa wanita yang dikenakan musibah ke atasnya lalu dia menampar-nampar mukanya atau merobek-robek pakaiannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama dengan isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan tiada harapan mendapat kebajikan syafaat dari siapa pun;
    7. bahwa wanita yang berzina akan dicambuk dihadapan semua makhluk didepan neraka pada hari kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan depalan puluh cambuk dari api.
    8. bahwa isteri yang mengandung (hamil) baginya pahala seperti berpuasa pada siang harinya dan mengerjakan qiamul-lail pada malamnya serta pahala berjuang fi sabilillah.
    9. bahwa isteri yang bersalin (melahirkan), bagi tiap-tiap kesakitan yang dideritainya diberi pahala memerdekakan seorang budak. Demikian juga pahalanya setiap kali menyusukan anaknya.
    10. bahwa wanita apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti suaminya, maka diumpamakan dengan titik-titik darah dalam perjuangan fisabilillah.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • Lisa melia 10:32 am on 2 Maret 2010 Permalink

      ini baGus sekali buat wanita2..agar tau apa2 yang boelh dilakukan dan yang tidak boleh untuk dilakukan
      bagus sekali…

    • atiek 8:26 am on 1 Juni 2010 Permalink

      inilah yang harus kita pelajari bagaimana menjadi seorang wanita dan istri yang berbakti dan taat kepada suami dan apa yang pantas dan tidak pantas dilakukanseorang wanita muslim dan istri yang soleha

    • riza 8:47 am on 8 April 2011 Permalink

      wah terima kasih postingannya. Ijin copy ya?

  • erva kurniawan 6:38 pm on 26 February 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Menghitung Bacaan Tasbih dengan Jari Tangan Kanannya 

    Yang disunahkan dalam berdzikir adalah dengan menggunakan jari – jari tangan :

    Abdullah bin Amr ra berkata, “Ra-aytu rasulullahi ya’qidut tasbiiha bi yamiinihi” yang artinya “Aku melihat Rasulullah menghitung bacaan tasbih (dengan jari–jari) tangan kanannya” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no. 1502 dan Tirmidzi no. 3486)

    Bahkan Nabi SAW memerintahkan para sahabat wanita menghitung : Subhaanallah, alhamdulillah dan mensucikan Allah dengan jari–jari, karena jari–jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada Hari Kiamat) (Hadits Hasan Riwayat Abu Dawud no 1501 dan At Tirmidzi, dihasankan oleh Imam An Nawai dan Ibnu Hajar Al ‘Asqalani)

    ***

    Sumber: Dzikir Pagi Petang, Yazid Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Cetakan Pertama, Desember 2004, Hal 47

     
    • agro 11:48 am on 16 Mei 2010 Permalink

      TAPI UMAT ISLAM KOK MSH BANYAK YG PAKAI TASBIH YA! SAAT DZIKIR SETELAH SHOLAT. APA ADA SUNNAH SHOHIHAH YG DILAKUKAN NABI? KL ADA BUKANKAH ITU BERTENTANGAN DG SABDA NABI DI ATAS. MHN PENCERAHAN DR TMN2

    • Fadillah Shopline 8:33 pm on 15 Mei 2012 Permalink

      ya betul, betul, betul :)

  • erva kurniawan 6:36 am on 25 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: al fatihah, umul kitab   

    Resume Al-Fatihah 

    1. Surat Al Fatihah mempunyai beberapa nama, diantaranya: Ummul Kitab, Ummul Qur’an, Al-Hamd, Al-Asas, Ash- Sholat, Al- Wafiyah, Al-Kifayah, Ar-Raqiyah, As-Sabu’l Matsani (15:87)

    2. Surat Al Fatihah mengandung prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, yaitu: Tauhid, Ibadah, Hukum-hukum dan peraturan-peraturan, Janji dan ancaman, Kisah-kisah atau cerita-cerita.

    3. Beberapa kata yang perlu diperhatikan:

    • Rabbi : mendidik, menambah dan menyempurnakan, menghimpun, memperbaiki dan menanggung, memimpin dan mengurus keperluan yang dipimpin, dan memiliki dan mengusai.
    • Ar-Rahman : yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan kurnia
    • Ar-Rahim : orang yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat ini `tetap’ pada-Nya selama-lamanya.
    • Ad-Din : perhitungan, ganjaran atau pembalasan, patuh, menundukkan, syariat atau agama.
    • Ibadah : menghamba, tunduk dan taat, memuliakan, selalu menyertai, dan menahan diri.

    4. Tentang ‘Basmalah’

    • Basmalah itu adalah suatu ayat yang tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala masing-masing surat, dan pembatas antara surat dengan surat yang lain. Jadi ia bukanlah satu ayat dari al Fatihah atau dari suatu surat yang lain, yang dimulai dengan Basmalah itu. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta ahli qiroah dan fuqoha Madinah, Basrah dan Syam, dan juga pendapat Imam Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah ‘Basmalah’ itu tidak dikeraskan membacanya dalam shalat bahkan Imam Malik tidak membaca Basmalah sama sekali.
    • Basmalah adalah salah satu ayat dari al Fatihah dan dari sesuatu surat yang lain, yang dimulai dengan ‘Basmalah’. Ini adalah pendapat Imam Syafi’I beserta ahli qiroah Mekkah dan Kuffah. Sebab itu menurut mereka ‘Basmalah’ itu dibaca dengan suara keras dalam shalat (Jahar)

    5. Al Fatihah sebagai Rukun shalat

    Sabda Nabi Saw. “Daripada Ubadah bin Shamit, bahwasannya Nabi Saw. berkata: “Tidaklah ada sholat (tidak sah sholat) bagi siapa yang tidak membaca Fatihail Kitab” (HR. Al-Jamaah)

    6. Ucap `Basmalah’ pada tiap pekerjaan baik

    “Tiap-tiap pekerjaan yang penting, kalau tidak dimulai dengan Bismillah, maka pekerjaan itu akan percuma jadinya”. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah)

    ***

    Referensi: Dari beberapa Kitab Tafsir

    Sumber: Email Sahabat

     
  • erva kurniawan 5:50 am on 24 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: syair taubat,   

    Permohonan Taubat 

    Ya Allah, Aku tak pantas masuk masuk ke surga Tapi aku juga tak sanggup menahan siksa neraka.

    Ampunilah dosaku, terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Pengampun.

    Dosaku begitu banyak Bagaikan pasir di tepi pantai Jika Engkau tak menerima taubatku, sungguh Engkau adalah Yang Maha Kuasa.

    Jika Engkau ampuni aku, sungguh Engkau adalah yang Maha Mengampuni Dosa

    Tiap tahun sisa umurku berkurang Namun dosaku bertambah setiap saat Jika Engkau tidak menerima taubatku. Pada siapa lagi aku kan mengadu?

    ***

    Syair terjemahan bebas dari lagu Al I’tiroof yang dinyanyikan Haddad Alwi

     
  • erva kurniawan 5:42 am on 23 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: hakim di neraka, hakim yang adil, keadilan   

    Hakim Di Neraka 

    Oleh : KH Didin Hafidhuddin

    Dari Buraidah ra Rasulullah saw bersabda, ”Hakim itu terdiri atas tiga kelompok, dua kelompok berada di neraka dan satu kelompok berada di surga. Kelompok pertama adalah hakim yang mengetahui kebenaran (fakta), kemudian ia menetapkan keputusannya berdasarkan kebenaran tersebut, maka ia akan berada di surga.”

    ”Kelompok kedua,” lanjut Muhammad dalam hadis riwayat Hakim itu, ”Adalah hakim yang tahu kebenaran (fakta), tetapi ia tidak memutuskan berdasarkan kebenaran itu, maka ia berlaku zalim dalam hukum dan tempatnya adalah di neraka. Ketiga, hakim yang tidak tahu kebenaran (fakta) dan ia menetapkan keputusan kepada manusia berdasarkan kebodohannya, maka tempatnya di neraka.”

    Akhir-akhir ini bangsa kita disuguhi berbagai peristiwa menarik, terutama berkaitan dengan masalah penegakan hukum dengan digelarnya pengadilan atas tokoh-tokoh penting negeri ini. Pengadilan itu mendapat sorotan tajam berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Rakyat akan menilai apakah para penegak hukum mampu menegakkan kebenaran ataukah justru sebaliknya, mereka malah mempermainkan hukum untuk menyelamatkan kepentingan elite.

    Salah satu komponen strategis yang menentukan tegaknya keadilan hukum adalah hakim. Di tanganyalah segala perkara diputuskan, kebaikan dan kemudaratan ditentukan. Keputusan hakim sangat menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap komitmen penegakan hukum. Apakah hukum mampu bersikap adil terhadap seluruh lapisan masyarakat, baik terhadap elite maupun rakyat jelata, ataukah hukum bersikap pilih kasih di mana si kuat diselamatkan dan si lemah menderita.

    Begitu beratnya tugas hakim sampai-sampai mereka diibaratkan memiliki dua kaki, satu menginjak surge dan lainnya menginjak neraka. Kesalahan sedikit saja akan menimbulkan dampak fatal. Karena itu, seorang hakim hendaknya sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, jangan sampai keputusannya menzalimi orang tidak bersalah. Hati nurani seorang hakim harus terus-menerus dipertajam.

    Kita sadar bahwa supremasi hukum merupakan benteng pertahanan terakhir masyarakat. Jika hukum tegak, maka tegaklah masyarakat. Jika hukum rusak, maka akan rusak pula masyarakatnya. Wallahu’alamu bi ash shawab.

    ***

    Sumber: Republika Online

    Dalam ajaran Islam dinyatakan bahwa hakim itu, satu kaki berada di surga, satu kaki di neraka. Jika hakim itu adil, yaitu menghukum yang salah, surge imbalannya. Tapi jika hakim itu tidak adil, menghukum orang yang tak bersalah, neraka balasannya.

    Tentu bukan cuma hakim saja yang dimaksud. Aparat hukum terkait seperti Polisi dan Jaksa juga bisa masuk neraka jika mereka menzalimi orang, yaitu memenjarakan orang yang tak bersalah atau membebaskan orang yang bersalah.

     
    • broali 5:56 am on 23 Februari 2010 Permalink

      berat posisi penegak hukum, bagi yang sadar….

  • erva kurniawan 5:01 am on 21 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , pahala,   

    60 Pintu Pahala Dan Pelebur Dosa 

    Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi dan utusan yang paling mulia.

    Risalah ini ditujukan kepada setiap muslim yang beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Tujuan utama yang sangat urgen bagi setiap muslim adalah ia keluar meninggalkan dunia fana ini dengan ampunan Allah dari segala dosa sehingga Allah tidak menghisabnya pada hari Kiamat, dan memasukkannya ke dalam surga kenikmatan, hidup kekal didalamnya, tidak keluar selama-lamanya.

    Di dalam risalah yang sederhana ini kami sampaikan beberapa amalan yang dapat melebur dosa dan membawa pahala yang besar, yang kesemuanya bersumber dari hadist-hadist yang shahih. Kita bermohon kepada Allah yang Maha Hidup, yang tiada Tuhan yang haq selain Dia, untuk menerima segala amalan kita. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    1. TAUBAT

    “Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya” HR. Muslim, No. 2703. “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama ruh belum sampai ketenggorokan”.

    2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU

    “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga” HR. Muslim, No. 2699.

    3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH

    “Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: “Tentu”, lalu beliau bersabda: (( Zikir kepada Allah Ta`ala ))” HR. At Turmidzi, No. 3347.

    4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN

    “Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya” HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.

    5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH

    “Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” HR. Muslim, No. 2674.

    6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.

    “Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman” HR. Muslim, No. 804.

    7. MEMBACA AL QUR`AN

    “Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya” HR. Muslim, No. 49.

    8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA

    “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya” HR. Bukhari, Juz. IX/No. 66.

    9. MENYEBARKAN SALAM

    “Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam” HR. Muslim, No.54.

    10. MENCINTAI KARENA ALLAH

    “Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: ((Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku))” HR. Muslim, No. 2566.

    11. MEMBESUK ORANG SAKIT

    “Tiada seorang muslim pun membesuk orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada sore harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga” HR. Tirmidzi, No. 969.

    12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG

    “Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat” HR. Muslim, No.2699.

    13. MENUTUP AIB ORANG LAIN

    “Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat” HR. Muslim, No. 2590.

    14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI

    “Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: “Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya” HR. Bukhari, Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim, No. 2555.

    15. BERAKHLAK YANG BAIK

    “Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: “Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik” HR. Tirmidzi, No. 2003.

    16. JUJUR

    “Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga” HR. Bukhari Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim., No. 2607.

    17. MENAHAN MARAH

    “Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai” HR. Tirmidzi, No. 2022.

    18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS

    “Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a:(Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut” HR. Tirmidzi, Juz III/No. 153.

    19. SABAR

    “Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahannya” HR. Bukhari, Juz. X/No. 91.

    20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

    “Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka…! Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: ((Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga))” HR. Muslim, No. 2551.

    21. BERUSAHA MEMBANTU PARA JANDA DAN MISKIN

    “Orang yang berusaha membantu para janda dan fakir miskin sama halnya dengan orang yang berjihad di jalan Allah” dan saya (perawi-pent) mengira beliau berkata: ((Dan seperti orang melakukan qiyamullail yang tidak pernah jenuh, dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka” HR. Bukhari, Juz. X/No. 366.

    22. MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM

    “Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti begini,” seraya beliau menunjukan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah.” HR. Bukhari, Juz. X/No. 365.

    23. WUDHU`

    “Barangsiapa yang berwudhu`, kemudian ia memperbagus wudhu`nya maka keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya, hingga keluar dari ujung kukunya” HR. Muslim, No. 245.

    24. BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU`

    Barangsiapa berwudhu` lalu memperbagus wudhu`nya kemudian ia mengucapkan: (yang artinya) “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci,” maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki” HR. Muslim, No. 234.

    25. MENGUCAPKAN DO`A SETELAH AZAN

    “Barangsiapa mengucapkan do`a ketika ia mendengar seruan azan: (yang artinya) “Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya” maka ia berhak mendapatkan syafa`atku pada hari kiamat” HR. Bukhari, Juz. II/No. 77.

    26. MEMBANGUN MASJID

    “Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga” HR. Bukhari, No. 450.

    27. BERSIWAK

    “Seandainya saya tidak mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat” HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.

    28. BERANGKAT KE MASJID

    “Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore” HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.

    29. SHALAT LIMA WAKTU

    “Tiada seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu kemudian ia memperbagus wudhu`nya, kekhusyu`annya dan ruku`nya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak dilanggar suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa” HR. Muslim, No. 228.

    30. SHALAT SUBUH DAN ASHAR

    “Barangsiapa shalat pada dua waktu pagi dan sore (subuh dan ashar) maka ia masuk surga” HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.

    31. SHALAT JUM`AT

    “Barangsiapa berwudhu` lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri shalat Jum`at, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jum`at pada hari itu dengan Jum`at yang lain dan ditambah lagi tiga hari” HR. Muslim, 857.

    32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM`AT

    “Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya” HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.

    33. MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAT RAWATIB

    “Tiada seorang hamba muslim shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga” HR. Muslim, No. 728.

    34. SHALAT 2 (DUA) RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA

    “Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudhu` dengan sempurna kemudian berdiri melakukan shalat 2 rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya” HR. Abu Daud, No.1521.

    35. SHALAT MALAM

    “Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam” HR. Muslim, No. 1163.

    36. SHALAT DHUHA

    “Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rakaat dhuha” HR. Muslim, No. 720.

    37. SHALAWAT KEPADA NABI SAW

    “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali” HR. Muslim, No. 384.

    38. PUASA

    “Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.

    39. PUASA 3 (TIGA) HARI PADA SETIAP BULAN

    “Puasa 3 (tiga) hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa” HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.

    40. PUASA 6 (ENAM) HARI PADA BULAN SYAWAL

    “Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa” HR. Muslim, 1164.

    41. PUASA `ARAFAT

    “Puasa pada hari `Arafat (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang” HR. Muslim, No. 1162.

    42. PUASA `ASYURA

    “Dan dengan puasa hari `Asyura (10 Muharram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya” HR. Muslim,No. 1162.

    43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA

    “Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun” HR. Tirmidzi, No. 807.

    44. SHALAT DI MALAM LAILATUL QADR

    “Barangsiapa mendirikan shalat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.

    45. SEDEKAH

    “Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api” HR. Tirmidzi, No. 2616.

    46. HAJI DAN UMRAH

    “Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga” HR. Muslim, No. 1349.

    47. BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI BULAN DZULHIJJAH

    “Tiada hari-hari, beramal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: “Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: “Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apapun” HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.

    48. JIHAD DI JALAN ALLAH

    “Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.

    49. INFAQ DI JALAN ALLAH

    “Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka iapun (juga) termasuk ikut berperang” HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.

    50. MENSHALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH

    “Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: “Apakah dua qirat itu?”, beliau menjawab: (Seperti dua gunung besar)” HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.

    51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN

    “Siapa yang menjamin bagiku “sesuatu” antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga” HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.

    52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH DAN SUBHANALLAH WA BI HAMDIH

    “Barangsiapa mengucapkan: (Laa ilaa ha illallahu wahdahu laa syarikalah, lahul mulku walahul hamdu wa huma ‘alaa kulli syai’ing qadiir) sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya”. Dan beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: (Subhanallahi wa bihamdih) satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan” HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.

    53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN

    “Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang” HR. Muslim.

    54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN

    “Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya maka ia pasti akan mendapatkan surga” HR. Ahmad dengan sanad yang baik.

    55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN

    “Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga” HR. Bukhari.

    57. MENINGGALKAN PERDEBATAN

    “Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya” HR. Abu Daud.

    58. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN

    “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga? Mereka berkata: “Tentu wahai Rasulullah”, maka beliau bersabda: “Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga” Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.

    59. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA

    “Apabila seorang perempuan menjaga shalatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki” HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.

    60. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN

    “Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apapun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga” Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.

    ***

    Judul Asli: 60 “baaban min abwabi Al-ajri wan kaffaraati al-khataya”- daarul wathan. Diterjemahkan oleh: Abdurrauf Amak Lc.

     
    • Sugianto Parjan 1:36 pm on 3 Oktober 2010 Permalink

      habis no.55 lompat ke no 57 berarti hanya 59 , no.56 kemana ?????? seharusnya judulnya 59 Pintu Pahala Dan Pelebur Dosa

    • Nooy SaLu Rindoe 11:17 pm on 26 April 2011 Permalink

      mOga lebih brmanfaat y khusus’y bwt yg nulis ni n umum’y bwt qta smua.
      Amiin yra. ^^

  • erva kurniawan 6:08 pm on 14 February 2010 Permalink | Balas  

    Hari Anda Adalah Hari Ini 

    eramuslim – Jika datang pagi maka janganlah menunggu tibanya sore. Pada hari ini Anda hidup, bukan di hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan kejelekannya, dan bukan pula hari esok yang belum tentu datang.

    Hari ini dengan mataharinya yang menyinari Anda, adalah hari Anda. Umur Anda hanya sehari. Karena itu anggaplah rentang kehidupan Anda adalah hari ini saja, seakan-akan Anda dilahirkan pada hari ini dan akan mati hari ini juga.

    Saat itulah Anda hidup, jangan tersangkut dengan gumpalan masa lalu dengan segala keresahan dan kesusahannya, dan jangan pula terikat dengan ketidakpastian-ketidakpastian di masa yang penuh dengan hal-hal yang menakutkan serta gelombang yang sangat mengerikan. Hanya untuk hari sajalah seharusnya Anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras.

    Pada hari ini Anda harus mempersembahkan kualitas shalat yang khusyu’, bacaan Al-Quran yang sarat tadabbur, dzikir yang sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian pada jiwa dan raga, serta bersikap sosial terhadap sesama.

    Hanya untuk hari ini saja, saat mana Anda hidup. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar membagi setiap jamnya. Anggaplah setiap menitnya sebagai hitungan tahun, dan setiap detiknya sebagai hitungan bulan, saat-saat dimana Anda bisa menanam kebaikan dan mempersembahkan sesuatu yang indah.

    Beristighfarlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada- Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan nanti, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan. Terimalah rezeki yang Anda dapatkan hari ini dengan penuh keridhaan: Istri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan posisi Anda.

    “Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS Al-A’raf: 144)

    Jalanilah hidup Anda hari ini dengan tanpa kesedihan dan guncangan jiwa, tanpa rasa tidak menerima dan keirian, dan tanpa kedengkian.

    Satu hal yang harus Anda lakukan adalah menuliskan pada dinding hati Anda suatu kalimat (yang juga harus Anda tuliskan dia atas meja Anda): “Harimu adalah hari ini”. Jika Anda makan nasi hangat hari ini, maka apakah nasi yang Anda makan kemarin atau nasi besok hari yang belum jadi akan berdampak negatif terhadap diri Anda?

    Jika Anda bisa minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin? Atau, mengapa malah mengharapkan air yang hambar dan panas yang akan datang esok hari?

    Jika Anda jujur terhadap diri Anda sendiri maka dengan kemauan keras, Anda akan bisa menundukkan jiwa Anda pada teori ini : “Saya tidak akan pernah hidup kecuali hari ini.” Oleh karena itu, manfaatkanlah hari ini, setiap detiknya, untuk membangun kepribadian, untuk mengembangkan semua potensi yang ada, dan untuk membersihkan amalan Anda.

    Katakanlah: “Hari ini saya akan mengatakan yang baik-baik saja. Saya tidak akan pernah mengucapkan kata-kata kotor dan menjijikkan, tidak akan pernah mencela dan mengghibah. Hari ini saya akan menertibkan rumah dan kantor, agar tidak semrawut dan berantakan, agar rapi dan teratur. Karena saya hanya hidup untuk hari ini saja maka saya akan memperhatikan kebersihan dan penampilan diri. Juga, gaya hidup, keseimbangan cara berjalan, bertutur dan tindak tanduk.”

    Karena saya hanya hidup untuk hari ini saja maka saya akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, melakukan shalat sesempurna mungkin, melakukan shalat-shalat nafilah sebagai bekal untuk diri sendiri, bergelut dengan Al-Qur’an, mengkaji buku-buku yang ada, mencatat hal-hal yang perlu, dan menelaah buku yang bermanfaat.

    Saya hidup untuk hari ini saja, karenanya saya akan menanam nilai-nilai keutamaan di dalam hati ini dan mencabut pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri: takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka.

    Saya hidup untuk hari ini saja, karenanya saya akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kebaikan kepada mereka: menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang kebingungan, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang dalam kesulitan, membantu yang dizhalimi, membantu yang lemah, mengasihi yang menderita, menghormati seorang yang alim, menyayangi anak kecil, dan menghormati yang sepuh.

    Karena saya hidup untuk hari ini saja maka saya akan hidup untuk mengucapkan, “Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah bersama mataharimu. Aku tidak akan menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku tercenung sedetikpun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”

    “Wahai masa depan, yang masih berada dalam keghaiban, aku tidak akan pernah bergelut dengan mimpi-mimpi dan tidak akan pernah menjual diri untuk ilusi. Aku tidakk memburu sesuatu yang belum tentu ada karena esok hari tidak berarti apa-apa, esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan, dan tidak pantas dikenang.”

    “Hari Anda adalah hari ini”, adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”, kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • nisa 10:09 am on 15 Februari 2010 Permalink

      Subhanallah.. tulisan yg bagus untuk di renungkan dan amalkan,
      ijin share ya.. mas..
      semoga kita bisa merealisasikannya, dan kehidupan kita lebih sukses kedepannya, selamat dunia dan akherat.. amiiiin…100 x

    • hartati 10:44 pm on 26 Februari 2010 Permalink

      trima kasih u artikelnya,membasuh hati yang yg luka,kecewa,smoga Allah memberikan kebaikan u anda.amin

    • agro 12:02 pm on 16 Mei 2010 Permalink

      malu aq membaca tulisan ini….karena selama ini aq berkutat dgn ilusi2 yg tdk jelas. astaghfirullah

  • erva kurniawan 8:19 pm on 12 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    Mahar Khas Banjar 

    mahar pernikahanKafemuslimah.com, Iring-iringan wanita memadati jalan kecil menuju rumah tetangga. Di tangan mereka masing-masing membawa bungkusan yang dihias dengan apiknya. Ada deh kira-kira sepuluhan orang. Iring-iringan itu kemudian disambut oleh ibu-ibu pengajian. Rumah tipe 36 itu spontan penuh. Acara mengantar jujuran pun dimulai. Jujuran?

    Jujuran itu tradisi suku Banjar menjelang pernikahan yang dilakukan oleh calon suami dalam memenuhi keinginan calon isteri dan keluarganya. Jujuran berupa uang yang telah disepakati jumlahnya oleh kedua belah pihak di saat lamaran. Disamping itu juga ada yang namanya tikar kelambu. Tikar kelambu ini bukan berarti tikar sama kelambu, tapi hanya sebuah kiasan yang isinya perlengkapan kamar pengantin, seperti lemari pakaian, meja rias, ranjang, kain, sepatu wanita, peralatan make up, bahkan ada yang sampai ke pakaian dalam segala. Tapi semuanya tentu berdasarkan kesanggupan calon suami dan keluarganya, jumlahnya pun sekedarnya saja. Namun apabila permintaan calon isteri dan keluarganya tidak terpenuhi dan tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak, mendingan sang pria mundur saja.

    Jujuran yang dibawa oleh iring-iringan tadi, sebelum diserahkan ke pihak perempuan, melalui beberapa tahapan. Pertama, acara sambutan dan perkenalan dari masing-masing pihak. Dari pihak calon pria melalui juru bicaranya mengungkapkan maksud dan kedatangan mereka datang dan pihak perempuan melalui juru bicaranya menyambut kedatangan tersebut. Kedua, yang pertama kali diserahkan adalah jujuran yang berbentuk uang. Uang tersebut diletakkan disebuah tempat yang sudah disiapkan, didalam tempat uang tersebut terdapat beras kuning, daun pandan, permen, dan uang receh (koin), serta kayu sejenis centong untuk mengaduk. Beberapa orang tetua (orang yang dituakan) dari pihak perempuan, bergantian mengaduk tempat uang tersebut.

    Mengaduk disini bukan berarti mengaduk sungguhan, tetapi hanya simbol saja. Ketiga, apabila ada kesepakatan untuk dihitung, uang tersebut kemudian dihitung didepan umum. Namun hal ini sudah jarang sekali terjadi, kecuali dilakukan oleh orang-orang yang kuat memegang adat. Keempat, menyerahkan cincin, kalau memang ada. Kelima, menyerahkan barang-barang bawaan lainnya. Kemudian ditutup dengan doa.

    **

    Tradisi. Masyarakat kita kebanyakan masih kuat dengan tradisi-tradisi seperti di atas. Tak hanya dari suku Banjar, dari suku lain pun ada tradisi seperti ini. Seperti Betawi dengan hantarannya. Pada intinya proses itu sama, bahkan untuk tradisi suku Jawa mungkin lebih ruwet lagi.

    Andai semua keluarga pihak perempuan memberlakukan tradisi demikian, apakah tidak menghalangi proses menuju pernikahan tersebut? Dari beberapa cerita yang pernah didengar, ternyata banyak para pelamar memilih mengundurkan diri karena tradisi tersebut.

    Padahal dalam hadits disebutkan bahwa:

    “Sesungguhnya wanita yang paling besar berkahnya ialah yang paling bagus wajahnya dan paling sedikit maskawinnya.” (Abu Umar, At-Tauqani dalam kitab mu’asyarah al-ahliin).

    “Sesungguh diantara berkah wanita adalah kemudahan meminangnya, kemudahan maskawinnya dan kemudahan rahimnya.” (Ahmad)

    “Sebaik-baik wanita adalah yang bagus wajahnya dan murah maskawinnya.” (Ibnu Hibban)

    Pernikahan adalah sunnah Rasulullah yang harus segera dilaksanakan apabila tidak ada keraguan di hati keduanya, seperti yang diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi bahwa, “Dan apabila datang kepadamu orang yang kamu rela akan agama dan amanahnya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kamu lakukan, maka akan terjadi bencana di bumi dan kerusakan yang besar.”

    Kalau kita lihat di zaman Rasulullah, maharnya Fatimah binti Muhammad SAW adalah baju besinya Ali karromallah wajhah, karena Ali tidak memiliki yang lainnya, lalu ia menjualnya kemudian diberikan kepada Faatimah sebagai mahar. Ada juga wanita shahabiyah yang maharnya hanya berupa cincin besi. Bahkan mahar berupa ayat-ayat Al Qur’an pun ada, yang kemudian diajarkan oleh suaminya.

    Kalau kita bandingkan di zaman kita saat ini, banyak kita saksikan mahar-mahar dan barang-barang yang berharga, bahkan berlebih-lebihan perayaannya, pemborosan. Padahal Islam telah menentang pemborosan dan menjadikan pemboros sebagai saudara syaitan. Sebagaimana firman Allah SWT menyatakan:

    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Al-Isra:27).

    “…. dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra:26)

    “…. dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (jangan terlalu kikir dan jangan pula terlalu pemurah) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra:29)

    Wahai muslimin dan muslimah, andai kita tahu firman Allah dan sunnah Rasul-Nya, apa yang akan kita lakukan sekarang? Ikut adat dengan alasan keinginan keluarga kah? Atau tetap teguh menjalankan syariat-Nya? Banyak cara menuju ke China, andai keluarga kita orang yang fanatik dengan adat, cukup bijaksana kalau mencoba menyampaikan (mensosialisasikan) keinginan-keinginan kita mulai dari sekarang kepada keluarga. Allah menilai proses, bukan hasil. Berusahalah. Sebelum saatnya tiba, dijemput sang mujahid!

    ***

    Sumber: Kafemuslimah.com

     
    • nisa 10:04 am on 15 Februari 2010 Permalink

      bahasan yang bagus.. untuk memurnikan kembali niat mnikah bagi kaum muda skrg.. afwan, wlpun dulu ana ada hantaran/jujuran jg tp g’ sbrp byaknya.. cuma syarat aja.. coz ngikut keluarga suami, kami dl aja inginnya mnikah sdrhana saja yg penting sah.. tp ttp di adakan walimatul ursy krn keinginan keluarga dan banyaknya teman.

  • erva kurniawan 7:56 pm on 11 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Jika Anak Ingin Menikah 

    nikah erva kurniawan vs titik rahayuningsih 2Oleh: N Inayati Ashriyah (Republika Online)

    Ketika seorang akhwat berkata pada orang tuanya, “Mama, Papa…, Saya akan menikah dengan…”, terkejutkah mereka? Atau, mereka mengucap “Alhamdulillah” seraya kemudian menghujani anaknya dengan pertanyaan-pertanyaan; Siapakah calon suami pilihannya? Baikkah dia? Latar belakang pendidikan dan keluarganya seperti apa? Apakah dia seiman? Dan sederet pertanyaan lainnya yang akan membuat anak gadis mereka kewalahan untuk menjawabnya.

    Di tempat lain, seorang ikhwan mengajukan hal yang sama pada orang tuanya. Dan respon mereka pun tidak jauh berbeda dengan orang tua si akhwat.

    Wajarkah jika orang tua bersikap demikian? Apakah mereka bisa dicap ‘sok ngatur’? Ataukah memang demikianlah tugas orang tua, memastikan anak-anaknya mendapat pasangan yang sesuai dengan tuntunan agama.

    Rasulullah SAW bersabda, “Bila datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia. Karena bila kalian tiada melakukannya, maka akan terjadi fitnah di atas bumi dan kerusakan yang luas.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

    Orang tua mana pun tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa anaknya, termasuk dalam masalah perjodohan. Orang tua pun tidak ingin anaknya menderita kemiskinan atau kesengsaraan setelah anaknya menikah nanti. Maka, tidak sedikit orang tua yang mengajukan syarat bagi calon menantunya, “harus memiliki pekerjaan”, atau “sarjana” bahkan tidak jarang orang tua menginginkan menantunya berstatus “pegawai negeri”. Itu sah-sah saja.

    Yang menjadi masalah, ketika kenyataannya tidak demikian, calon menantu mereka bukan sarjana, bukan pegawai negeri, dan belum memiliki penghasilan yang tetap, maka konflik pun terjadi. Orang tua tetap pada pendiriannya dan si anak pun tetap pada pilihannya.

    Sejauh ini, masalah seperti itu masih kerap kita temukan. Ketika seorang laki-laki atau perempuan dewasa yang telah siap untuk berumah tangga karena dorongan biologis, psikologis, dan yang paling utama adalah niat menikah karena Allah, maka orang tua harus menyadarinya sejak awal agar akhlak mereka tetap terjaga. Jangan sampai karena belum tamat kuliah, orang tua memilih membiarkan anaknya berpacaran dahulu dibanding segera menikahkan mereka.

    “Dan nikahkanlah bujang-bujang kamu dan budak laki-laki dan perempuan yang telah patut menikah. Jika mereka itu miskin, maka nanti Allah berikan kecukupan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Mahatahu.” (QS an-Nuur [24]:32).

    Jangan takut anak kita menjadi miskin harta karena Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka. Takutlah kalau anak-anak kita miskin agama, miskin akhlak, dan miskin ilmu! Khawatirkan kalau anak kita tidak shalih!

    Jadi, tugas utama orang tua terhadap anaknya adalah membantunya untuk mendapat pasangan yang shalih jika ia tidak mampu mencari sendiri pasangannya. Jika ternyata si anak telah mendapatkannya, maka nikahkanlah mereka!

    Tidak sedikit remaja yang mempunyai kesadaran untuk menjaga agar akhlaknya tetap bersih dan terjaga dari segala macam kemaksiatan akibat berpacaran, hal ini perlu kita syukuri. Namun tidak sedikit pula orang tua yang malah menilai anaknya tidak wajar karena lain dari remaja pada umumnya yang lebih memilih untuk berpacaran dengan bebas. Sedangkan anaknya dinilai ‘gila’ agama. Akhirnya, terjadilah ‘perang’ berkepanjangan antara orang tua dan anak. Selain masalah pekerjaan, sarjana, masalah ‘gila’ agama ini juga menjadi sebuah dilema.

    Ada banyak cara untuk menyelesaikan permasalahan seperti ini agar tidak muncul di kemudian hari. Orang tua harus membiasakan anaknya mandiri dan berusaha dengan lapang melepaskan mereka jika telah baligh untuk membiayai dirinya sendiri. Dengan begitu, jika saatnya tiba untuk menikah, maka si anak sudah terbiasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan orang tua pun tidak menjadi khawatir.

    Biasanya, adanya perselisihan disebabkan oleh perbedaan pemahaman terhadap sesuatu. Seorang anak belum tentu benar dengan segala keyakinannya, demikian pula dengan orang tua. Mereka belum tentu benar dengan segala pengalamannya. Yang dibutuhkan di sini adalah ilmu.

    Orang tua dan anak harus belajar menyelesaikan masalah mereka dengan menggunakan dasar ilmu. Tidak ada kata terlambat, ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat bisa didapat kapan pun, di mana pun, dan dari siapa pun.

    Menjadi seorang bijak dalam menyikapi segala permasalahan hidup memang tidak mudah, termasuk bijak menyikapi keinginan anak untuk segera berumah tangga.

    ***

    Sumber: Republika Online

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 9 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: Bahaya Valentine, valentine day   

    Bahaya Valentine 

    Memasuki bulan Februari, kita menyaksikan banyak media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day atau biasanya disebut hari kasih sayang.

    Biasanya pada 14 Februari mereka saling mengucapkan “selamat hari Valentine”, berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta.

    Sangat disayangkan banyak ABG khususnya teman-teman kita, para remaja putri muslimah yang terkena penyakit ikut-ikutan dan mengekor budaya Barat atau budaya ritual agama lain akibat pengaruh TV dan media massa lainnya. Termasuk dalam hal ini perayaan Hari Valentine, yang pada dasarnya adalah mengenang kembali pendeta St.Valentine.

    Belakangan, Virus Valentine tidak hanya menyerang remaja bahkan orang tua pun turut larut dalam perayaan yang bersumber dari budaya Barat ini.

    **

    Sejarah Valentine

    Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St.Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II.

    Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St.Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya. Claudius II melihat St.Valentine meng-ajak manusia kepada agama Nashrani lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya. Dalam versi kedua , Claudius II memandang para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. Tetapi St.Valentine menentang perintah ini dan terus mengada-kan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan.

    Dalam penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “Dari yang tulus cintanya, Valentine.”  Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nashrani ber-sama 46 kerabatnya.

    Versi ketiga menyebutkan ketika agama Nashrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkum-pul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan ” dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.”

    Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini, para pendeta memutuskan mengganti kalimat “dengan nama tuhan Ibu” dengan kalimat ” dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nashrani.

    Versi lain mengatakan St.Valentine ditanya tentang Atharid, tuhan perdagangan, kefasihan, makar dan pencurian, dan Jupiter, tuhan orang Romawi yang terbesar. Maka dia menjawab tuhan-tuhan tersebut buatan manusia dan bahwasanya tuhan yang sesungguhnya adalah Isa Al Masih, oleh karenanya ia dihukum mati.

    Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dzalim tersebut. Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya itu merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi!!!

    Hukum Valentine

    Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan  pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut .” (HR. At-Tirmidzi).

    Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir, adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu ke-mungkaran yang besar.

    Ibnul Qayyim berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan semisalnya.

    Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.

    Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

    Abu Waqid Radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).

    Adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci orang-orang kafir serta menyelisihi mereka dalam ibadah dan perilaku. Serta mengetahui bahwa sikap seperti ini di dalamnya terdapat kemas-lahatan yang tidak terhingga, sebaliknya gaya hidup yang menyerupai orang kafir justru mengandung kerusakan yang lebih banyak.

    Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang, lagi pula, menyerupai kaum kafir dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.

    Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya: ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim .” (Al-Maidah:51)

    “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)

    “Dan janganlah belas kasihan kepada kedua pezina tersebut mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat.” (An-Nur: 2)

    Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah As-Sunnah (tuntunan Allah dan Rasul-Nya). Tidak ada suatu bid’ah pun yang dihidupkan kecuali saat itu ada suatu sunnah yang ditinggalkan. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca.

    “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pu-la jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7)

    Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.

    Ada seorang gadis mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang mempe-ringatinya. Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi perayaan ini adalah dari ritual agama lain!

    Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.

    Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.

    Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara, suami .dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang dirayakan oleh orang-orang kafir.

    Semoga Allah senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan: ” Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, yang saling mengunjungi karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (Al-Hadits).

    **

    Fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin:

    Pertanyaan: Pada akhir-akhir ini ini telah tersebar dan membudaya perayaan hari Valentine terutama di kalangan pelajar putri, padahal ia merupakan salah satu dari sekian macam hari raya kaum Nashrani. Biasanya pakaian yang dikenakan berwarna merah lengkap dengan sepatu, dan mereka saling tukar mawar merah. Bagaimana hukum merayakan hari Valentine ini, dan apa pula saran dan anjuran anda kepada kaum muslimin. Semoga Allah selalu memelihara dan melindungi anda.

    Jawab:

    Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena:

    • Pertama: ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam.
    • Kedua : ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) – semoga Allah meridhai mereka.

    Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 10:16 am on 8 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: fungsi hijab, fungsi jilbab, kanker nesofaring,   

    Jilbab Mengurangi Risiko Kanker 

    titik rahayuningsih 3

    Titik Rahayuningsih

    Saat ini, jilbab bukan lagi fenomena kelompok sosial tertentu, tetapi sudah menjadi fenomena seluruh lapisan masyarakat. Tidak sedikit jumlah artis, eksekutif, dan publik figur lainnya menggemari dan menggunakannya.

    Beruntunglah Anda yang sudah mengenakan jilbab (veil), kerudung bagi wanita muslim ini tak hanya menunjukkan kerendahan hati dan kesopanan, tetapi juga melindungi Anda dari penyakit mematikan.

    Jilbab yang dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador (Iran), pardeh (India dan Pakistan), milayat (Libya), abaya (Irak), charshaf (Turki), hijab (Mesir, Sudan, dan Yaman), dapat memperkecil risiko pemakainya terkena kanker tenggorokan dan hidung. Alasannya, jilbab mampu menyaring sejumlah virus yang suka mampir ke saluran pernapasan bagian atas.

    Profesor Kamal Malaker asal Kanada, menyatakan wanita Arab Saudi – yang sebagian besar menutup wajahnya secara penuh- jarang sekali terserang virus Epstein barr, yang menyebabkan kanker nasofaring. Bisa dikatakan jumlah penderita kanker jenis ini sangat rendah.

    “Jilbab melindungi wanita dari infeksi saluran pernapasan bagian atas, ” tulis Saudi Gazette, Jumat (19/3), mengutip pernyataan Malaker, “Di Arab Saudi, jumlah wanita penderita kanker nasofaring sangat rendah dibandingkan laki-laki,” lanjut Malaker.

    “Kenyataan ini sungguh menarik, bagaimana pakaian adat yang begitu sederhana memiliki pengaruh begitu besar pada kehidupan manusia,” ujar Malaker, kepala bidang onkologi radiasi Rumah Sakit King Abdul Azis.

    Kanker nasofaring merupakan kanker yang paling banyak diderita masyakarakat untuk jenis kanker Telinga Hidung Tenggorokan (THT) Kepala Leher (KL).

    Tingginya angka penderita kanker nasofaring terutama akibat keberadaan virus epstein barr yang hampir ada pada 90 persen masyarakat di negara berkembang. Jika virus tersebut ‘terbangun’, maka dapat terjadi mutasi sel yang berujung pada kanker nasofaring.

    Nasofaring merupakan saluran yang terletak di belakang hidung, tepatnya di atas rongga mulut.

    Gejala awal dari kanker nasofaring tersebut antara lain gejala pada telinga yang ditandai dengan dengingan terus-menerus pada telinga.

    Di samping itu, sering disertai gejala pada hidung seperti pilek berkepanjangan yang disertai dengan darah, suara parau yang berkepanjangan, sering mimisan dan nyeri saat menelan.

    Kanker nasofaring merupakan penyakit kanker keempat yang paling banyak menyerang penderita kanker di Indonesia. (zrp/Reuters)

    ***

    Sumber: Kompas.com

     
    • muza 7:24 pm on 10 Maret 2010 Permalink

      wah subhanallah bagus,,,blh izin dicopy ya,,,terimaksih

  • erva kurniawan 7:19 am on 3 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: artikel tentang sombong, sifat sombong, sombong   

    Keharaman Berperilaku Sombong 

    berdoa2Assalamu’alaikum wr wb

    Keharaman Berperilaku Sombong

    Allah berfirman:

    Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (Al Baqarah: 206).

    Jati dirinya seorang Muslim jika diingatkan untuk berbuat baik, ia cenderung memiliki sifat tawadhu, ikhlash, mengikuti, merasa masih sedkit beramal, berkhusnudzhon pada peringatan, dan tidak apriori. Maka ia telah menyatakan permusuhan dengan syetan (jenis manusia & jin) dan seorang Muslim memang harus mengikrarkan permusuhan dengan syetan.

    Jangan sampai sedikitpun rasa takut merasuki diri kita atas segala sepak terjang syetan (manusia & jin) karena jika kita di jalan benar adalah Allah swt yang satu2nya mampu menolong kita. Sudah banyak nasihat sejarah untuk kita: Hancurnya Raja Namruzd (mati mengenaskan), Fir’aun (mati tenggelam), Qorun (ditimbun tanah), Abu Jahal (mati dalam peperangan), Yitzhak Rabin (ditembak pemuda Yahudi), Titanic (Tenggelamnya Kapal mewah anti tenggelam), dll sementara kita tidak berkuasa seperti mereka apa lebih pantas kah lagi kita sombong??

    Kesombongan adalah salah satu sifat tercela yang menjadi musuh terbesar bagi umat Islam. Kenapa? Karena kesombongan bisa menghinggapi siapa saja yang tidak ma’sum. Menghadapai kesombongan yang ada pada diri kita atau orang lain sangat berbeda menanganinnya.

    Saya ambil contoh: JUDI, MALING, BERKORBAN UNTUK BERHALA, adalah perbuatan haram masih bisa hindari. Tapi jika SOMBONG akan sulit terdeteksi karena sifat ini bisa juga merasuki Amal baik kita dengan merasa sudah cukup beramal, malas mencari ilmu, suudzhon jika ada nasihat, menyepelekan Syariat Allah (segala asfeknya) maka jalan satu2nya adalah tidak henti2nya kita mengakui di hadapan Allah dalam setiap nafas kita. Mengakui betapa sulitnya beramala ikhlas, berihsan, menghindari akan dosa2 mata, hati kita.

    Jika begitu tidak ada jalan ternyata memang kita setiap saat senantiasa bertaubat, tidak hanya sehabis sholat kita bertaubat namun hendaknya setiap nafas kita. Karena Allah tidak memberitahukan pada kita kapan kita mati.

    Wa’Llahu’alam bisshowwab. Yang benar dari Allah swt & yang salah dari saya, semoga menjadi renungan terutama bagi saya pribadi dan umat Islam.

    Wassalamu’alaikum wr wb

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • haryanto,dibatam 11:13 am on 5 Februari 2010 Permalink

      ya,mesti disebarkan sebagai pedoman generasi muda yang akan mengarungi kehidupan yang majemuk/hetrogen,tks

  • erva kurniawan 6:41 am on 2 February 2010 Permalink | Balas
    Tags: kelebihan surat yasin, keutamaan membaca surat yasin, surat yasin, yasin   

    Kelebihan Surat Yasin 

    yasin1to9

    Kelebihan Surat Yasin

    Rasulullah Saw telah bersabda, “Bacalah Surat Yassin karena ia mengandungi keberkatan”, yaitu:

    1. Apabila orang lapar membaca Surat Yassin, ia menjadi kenyang.
    2. Jika orang tidak mempunyai pakaian akan mendapat pakaian.
    3. Jika orang belum menikah, segera mendapat jodoh.
    4. Jika dalam ketakutan akan hilang perasaan takut.
    5. Jika terpenjara akan dibebaskan.
    6. Jika musafir membacanya, akan mendapat kesenangan apa yang dilihatnya.
    7. Jika tersesat, sampai ke tempat yang ditujuinya.
    8. Jika dibacakan kepada orang yang telah meninggal dunia, Allah meringankan siksanya.
    9. Jika orang yang dahaga membacanya, hilang rasa hausnya.
    10. Jika dibacakan kepada orang yang sakit, terhindar daripada penyakitnya.
    11. Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya setiap sesuatu mempunyai hati dan hati al- Quran itu ialah Yassin. Sesiapa membaca surat Yassin, niscaya Allah menuliskan pahalanya seperti pahala membaca al-Quran sebanyak 10 kali.
    12. Sabda Rasulullah s.a.w, “Apabila datang ajal orang yang suka membaca surat Yassin pada setiap hari, turunlah beberapa malaikat berbaris bersama Malaikat maut. Mereka berdoa dan meminta dosanya diampunkan Allah, menyaksikan ketika mayatnya dimandikan dan turut menyembahyangkan jenazahnya”.
    13. Malaikat Maut tidak mau memaksa mencabut nyawa orang yang suka membaca Yassin sehingga datang Malaikat Ridwan dari syurga membawa minuman untuknya. Ketika dia meminumnya alangkah nikmat perasaannya dan dimasukkan ke dalam kubur dengan rasa bahagia dan tidak merasa sakit ketika nyawanya diambil.
    14. Rasulullah s.a.w bersabda selanjutnya: “Barang siapa sembahyang sunat dua rakaat pada malam Jumaat, dibaca pada rakaat pertama surat Yassin dan rakaat kedua Tabaroka, Allah jadikan setiap huruf cahaya dihadapannya pada hari kemudian dan dia akan menerima suratan amalannya ditangan kanan dan diberi kesempatan membela 70 orang daripada ahli rumahnya tetapi sesiapa yang meragui keterangan ini, dia adalah orang-orang yang munafik.

    ***

    Sumber: email sahabat, Rokiah – Salmah Daud

     
    • new 4:33 pm on 12 Mei 2011 Permalink

      subhanallah y,,

    • ABDUL HALIM SAAD 11:21 pm on 23 September 2011 Permalink

      Alhamdulillah syukur kpd Allah swt.

    • dea 2:43 pm on 23 Oktober 2011 Permalink

      alhamdullillah ..kita smua akan kembali kpada x..dn d ampuni sgala dosa d dunia maupun di akhirat. spya kita sllu ingat . hidup cman stu kali , dan di dunia hnya sementara,bhwa manusia pasti mati, jgn mnyia2 kan ksmpatan mari kita smua prbnyak zkir dn doa dn mgaji, tanks atas manfaat ayat d atas smga brmanfaat bgi kita semua amiiiiiiiiiiin syukron jazila

    • deddy 7:27 am on 3 Februari 2012 Permalink

      Tulisan anda bagus untuk motivasi umat dalam membaca alQuran, tapi perlu dituliskan juga hadits sahih mengenai keutamaan2 surat Yasin tersebut. Agar umat tetap istiqomah mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW dan tidak terjebak pada ibadah yang tidak dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

    • mizsemberpink 11:42 am on 20 Mei 2014 Permalink

      assalamu’alaikm.. kelebihan surat yasin ini kan berdasarkan hadits.. saya sudah baca artikel anda ttg derajat hadits surat yassin … trus bagaimana yang di artikel ini, hadits’nya shahih atau lemah kah? mohon petunjuk, syukron.

    • mizsemberpink 11:44 am on 20 Mei 2014 Permalink

      artikel yang ini..saya nge-link’nya.. https://ervakurniawan.wordpress.com/2014/05/20/derajat-hadits-fadhilah-surat-yasin/ ..makasih ya atas penjelasan untuk artikel ini.. syukron.. saya benar2 pengen dapat kejelasannya.. *yang masih bingung soal surat yasin*

    • erva kurniawan 5:52 am on 24 Mei 2014 Permalink

      Waalaikum salam
      Mohon maaf mas mizsemberpink, hamba Allah yang lemah ilmu ini belum mendapatkan keterangan, mungkin rekan-rekan yang lain ada
      yang mengetahui tentang hal ini
      Saya menyadari kurang faham dengan agama, masih perlu banyak belajar, kadang tidak mengecek kebenaran tulisan sebelum diposting.
      Awalnya saya mempunyai harapan ada diskusi antar bloger lain yang lebih faham tentang agama tentang materi tulisan.
      Bila lebih banyak mudharat daripada manfaatnya, postingan dimaksud saya hapus

  • erva kurniawan 6:32 pm on 31 January 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Bertengkar Itu Indah 

    nikah erva kurniawan vs titik rahayuningsihBuat yang sudah nikah, mau nikah, punya niat untuk nikah. Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !”

    Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati sa’at-sa’at bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi sa’at sa’at tidak bertengkar.

    Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

    Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :

    1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah.

    Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah, makin energik …” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….”

    Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”,saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :) maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah :)

    2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa.

    Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

    Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.

    Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

    3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga !

    Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).

    Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”.

    Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

    4. Kalau marah jangan di depan anak anak !

    Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita.

    Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya. Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :

    • Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”
    • Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!
    • Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa ?”

    Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita ???

    5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat !

    Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa ‘ibaadilahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh …. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya.

    OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Illahi ….. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas….??? Nnngg……. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar … :)

    6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan (Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran resensi sebuah film).

    Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”. Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.

    ***

    Sumber: Email dari Sahabat

     
    • Sri Mulyati 3:07 pm on 3 Oktober 2010 Permalink

      izin copi ya….

  • erva kurniawan 8:24 pm on 20 January 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Berapa Tarikan Nafas Lagi Usia Kita? 

    al-quran2Sumber: Email Sahabat.

    Sadarkan diri kita sisa umur kita, hitung-hitunglah ‘tinggal’ berapa tarikan nafas usia kita masing-masing. Mumpung kita masih punya ‘sekian juta’ tarikan nafas, sebaiknya kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, lakukan segala aktifitas dengan mengatas namakan Allah.

    **

    (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syeitan yang terkutuk, artikel ini saya tulis sama sekali bukan bermaksud mendahului ketentuan Allah, melainkan semata-mata agar kita semua ingat akan pentingnya waktu)

    Sampai dengan tahun 80-an, sering terbaca oleh kita bahwa umur rata-rata orang Indonesia adalah 60 tahun. Setelah era 80-an sampai saat ini umur rata-rata tersebut naik menjadi 65-an, hal ini kemungkinan disebabkan makin banyaknya orang yang sadar akan kesehatan, juga bisa disebabkan makin banyaknya fasilitas kesehatan yang mudah diperolehan masyakarat, misalnya makin menjamurnya puskesmas-puskesmas, dan lain-lain, yang pasti itu memang sudah kehendak Allah.

    Namanya saja ‘rata-rata’ berarti bisa saja seseorang meninggal sebelum usia 65 tahun, namun juga bisa setelah melampaui usia itu. Untuk memudahkan ‘renungan kita’, maka sebaiknya angka (usia) 65 di atas sebaiknya kita jadikan patokan, agar renungan kita jadi lebih terfokus.

    Misalnya usia kita saat ini adalah 30 tahun, jadi sisa hidup kita ‘tinggal’ : 65 tahun – 30 tahun = 35 tahun.

    Bila 1 tahun itu lamanya 365 hari, maka usia kita ‘tinggal’ : 35 x 365 hari = 12.775 hari.

    Bila 1 hari itu 24 jam, maka usia kita ‘tinggal’ : 12.775 x 24 jam = 306.600 jam .

    Harap kita ingat, dalam 24 jam itu seseorang pasti mempunyai waktu tidak aktif, artinya waktu dimana seseorang harus istirahat, baik jasmani maupun rohani, yakni tidur.

    Misalnya waktu tak aktif itu adalah 7 jam, maka waktu aktif seseorang ‘sebetulnya’ hanya 17 jam . Jadi waktu hidup yang aktif itu hanya ‘tinggal’ : 12.775 x 17 jam = 217.175 jam .

    Bila 1 jam itu adalah 60 menit, maka usia kita ‘tinggal’ : 217.175 x 60 menit = 13.030.500 menit.

    Bila 1 menit itu adalah 60 detik, maka usia kita ‘tinggal’ : 13.030.500 x 60 detik = 781.830.000 detik.

    Terakhir, bila seseorang itu sekali menarik nafas lamanya rata-rata 2 detik, maka usia kita ‘tinggal’ = 781.830.000 : 2 = 390.915.000 tarikan nafas.

    Sadarkan diri kita akan hal di atas, hitung-hitunglah ‘tinggal’ berapa tarikan nafas usia kita masing-masing. Mumpung kita masih punya ‘sekian juta’ tarikan nafas, sebaiknya kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, lakukan segala aktifitas dengan mengatas namakan Allah, agar semua langkah kita insya Allah bisa bernilai ibadah, karena kita dicipta oleh Allah tujuannya adalah supaya beribadah kepadaNya. (QS.adz-dzaariyaat : 56)

    Sesali dan bertaubatlah kalau pada tarikan nafas yang telah lalu kita pernah berbuat salah, kita pernah lupa menjaga lidah, kita pernah lalai menjaga pandangan, kita tak pernah merawat hati dengan baik sehingga hanya terisi nafsu duniawi, tak pernah mengingat Allah, dan senantiasa lupa akan mati.

    Mumpung masih dianugerahi Allah untuk menikmati tarikan nafas pada saat ini, dan insya Allah masih ‘sekian juta’ lagi. Alangkah ruginya bila tak kita manfaatkan untuk mengingatNya, tunduk padaNya, beribadah kepadaNya. Sungguh kita tak akan mampu memperpanjang tarikan nafas itu bila Allah tak mengijinkan, walau hanya satu tarikan saja.

    **

    Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian

    Melainkan yang beriman dan beramal sholeh

    Demi masa sesungguhnya manusia kerugian

    Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran

    Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal

    Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali

    Ingat lima perkara sebelum lima perkara Sihat sebelum sakit

    Muda sebelum tua

    Kaya sebelum miskin

    Lapang sebelum sempit

    Hidup sebelum mati

    Sungguh tak lama usia kita tinggal ‘sekian juta’ tarikan nafas.

    ***

    Note : syair di atas dikutip dari lagu ‘demi masa’ Raihan, yang bersumber dari QS.al ashr : 1-3 dan hadist

     
    • kumbang99 8:30 pm on 20 Januari 2010 Permalink

      terima kasih udah diingetin….

    • annisa 2:10 pm on 26 Januari 2010 Permalink

      benar.. sebaiknya kita saling mengingatkan..
      agar tidak lupa berbuat semaksimal mungkin untuk kebaikan dan dapat menjadi sebaik2-nya manusia,yaitu yang bermanfaat bagi orang lain.. amiin..

    • II YUSUF G 2:11 pm on 27 Januari 2011 Permalink

      astagpirullahaladzim … allahu Akabar Kita tidak ada apa-apanya …. Ya Allah. Maafkanlah

  • erva kurniawan 10:40 am on 29 December 2009 Permalink | Balas  

    Lima Harapan Allah 

    m_dinPenulis : M Din Syamsuddin

    Mungkin ada yang bertanya, mengapa ALLAH Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya masih berharap kepada manusia, bukankah DIA tidak memerlukan apa-apa dari makhluk-NYA? Namun, ternyata ALLAH menaruh harapan atas kaum beriman. Lima harapan ALLAH itu terungkap dalam rangkaian ayat tentang puasa dan Ramadhan (al Baqarah: 183-189), yaitu dalam bentuk ‘kalimat harapan’ (la’alla) yang terdapat pada akhir beberapa ayat tersebut.

    Dalam perspektif Bahasa Arab, la’alla, secara harfiah berarti mudah-mudahan atau semoga, merupakan harapan faktual dan potensial, yakni bahwa harapan itu berdasarkan fakta-fakta yang ada dalam diri yang diharapkan dan karenanya sangat mungkin terlaksana.

    Harapan pertama, (akhir ayat 183), la’allakum tattaqun, semoga kamu menjadi orang bertakwa, dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah puasa. Bahwa, shaimin dan shaimat diharapkan dapat meraih predikat ketakwaan, tentu melalui proses aktif dan dinamis dalam suatu keberagaman yang berorientasi pada sikap menjadi (to be) daripada sekadar memiliki (to have).

    Harapan kedua (akhir ayat 185), la’allakum tasykurun, semoga kamu menjadi orang bersyukur, berhubungan antara lain dengan wahyu Alquran yang diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan. Alquran adalah hidayah ALLAH berupa petunjuk, nilai dan ajaran yang sangat penting bagi manusia untuk mencapai derajat kemanusiaan tertinggi, karenanya harus disyukuri melalui pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Alquran tersebut.

    Harapan ketiga, la’allahum yarsyudun, semoga mereka menjadi orang yang terbimbingkan, dikaitkan dengan komunikasi intensif melalui doa kepada ALLAH. Doa adalah medium yang sangat efektif untuk memperoleh tambahan kekuatan dari sumber-NYA, yaitu Sang Pencipta yang sesungguhnya sangat dekat dengan manusia ciptaan-NYA, bahkan lebih dekat dari urat nadinya sendiri.

    Harapan keempat (akhir ayat 187), la’allahum yattaqun, semoga mereka menjadi orang bertakwa, merupakan pengulangan dan penekanan dari harapan pertama, yang kali ini dikaitkan dengan pengindahan terhadap ketentuan dan batas-batas yang telah ditentukan ALLAH dalam kehidupan muamalat. Sikap ketaatan seperti inilah yang akan membawa kaum beriman kepada ketakwaan.

    Harapan terakhir (akhir ayat 189), la’allakum tuflihun, semoga kamu menjadi orang yang menang dan berbahagia, berkaitan dengan sikap hidup yang berorientasi kepada kebaikan dan kebenaran sebagai pangkat kemenangan dan kebahagiaan.

    ***

     
    • Hanifah 12:06 pm on 12 Januari 2010 Permalink

      Semoga saya bisa memenuhi harapan Rabb-ku..aminn

    • mecca ria 12:34 pm on 23 Januari 2010 Permalink

      Subhanallah….indah sekali harapan Mu ya Alloh, bimbing dan ingatkan aku selalu agar aku bisa memenuhinya.

  • erva kurniawan 10:14 am on 27 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: anak sholeh, orang tua   

    Takkan Pernah Sebanding 

    2Mother_sonSobat, pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini? Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal berdua. Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing. Betapa sepinya mereka.

    Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita buang “pup” di saat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena tiba-tiba anaknya sakit.

    Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.

    Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan Ibu menerima pembangkangan demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena teman-teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu menyambut kita dengan senyum.

    Sobat, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan Ibu dalam doanya seperti yang pernah aku dengar?

    Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu Ayah dan ibu terluka dan mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita? Astaghfirullaahal ‘adziim.

    Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan?

    Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena mereka tidak sengaja memecahkan Kristal kecil hadiah ulang tahun dari teman kita?

    Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?

    Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa “menghidupi” diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia).

    Lalu? Mungkinkah kita bisa seperti Ismail as yang merelakan dirinya disembelih ayah kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa as yang dihanyutkan ketika bayi?

    Ternyata kita masih sangat jauh…

    Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?

    Sobat, bantu aku agar optimis! Ya, masih banyak waktu untuk membahagiakan mereka. Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan “tidak” ketika mereka menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka saat ini juga, sapa mereka dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia! Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu!

    Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan. Walau takkan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani di peristirahatan terakhir nanti.

    Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil. Jadikan kami termasuk anak-anak yang shaleh ya Allah hingga doa-doa kami termasuk doa-doa yang Engkau ijabah. Aamin…

    ***

    Dari sahabat

     
  • erva kurniawan 10:08 pm on 23 December 2009 Permalink | Balas  

    Bahaya Mengungkit Pemberian 

    sedekah 1“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (Al-Baqarah: 264)

    Al-Wahidy berkata, “Maksudnya adalah menyebut-nyebut apa yang sudah diberikan.”

    Al-Kalby berkata, “Menyebut-nyebut sedekahnya kepada Allah dan menyakiti perasaan orang yang menerimanya.”

    Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah saw. bersabda, “Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat kelak, serta tidak akan dipandang-Nya, dan tidak pula disucikan-Nya, yaitu orang yang mengulurkan kainnnya, orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai dari Abu Dzar al- Ghifari).

    Dalam sebuah hadis yang lain disebutkan, “Tiga golongan yang tidak akan masuk surga; orang yang durhaka kepada ibu bapaknya, orang yang terus menerus minum arak, dan orang yang suka menungkit-ungkit pemberiannya.”

    Dalam hadis lain disebutkan, “Tidak akan masuk surga orang yang memperdaya, orang yang kikir, dan orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian.” (HR Ahmad)

    Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah mengungkit-ungkit kebaikan, sebab ia akan membatalkan rasa syukur dan menghapuskan pahala.” Lalu Rasulullah membacakan ayat, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).”

    Suatu hari Ibnu Sirrin mendengar seseorang berkata kepada temannya, “Aku sudah berbuat baik kepadamu, aku sudah melakukan ini dan itu.” Maka, Ibnu Sirrin menegurnya dan berkata, “Hai diamlah! Tidak ada kebaikan dalam amal kebajikanmu jika ia disebut-sebut!”

    Sebagian ulama berkata, “Barang siapa mengungkit-ungkit kebaikannya, ia bukan termasuk orang yang bersyukur dan barang siapa merasa bangga dengan amalnya, pahalanya menjadi terhapus.” Wallahu a’lam bish showab

    ***

    Sumber: Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia sebagaimana disadur dari Al-Kabaair, Syamsuddin Muhammad bin Utsman bin Qaimaz at-Turkmani al-Fariqi ad-Dimasyqi asy-Syafii

     
  • erva kurniawan 1:45 pm on 13 December 2009 Permalink | Balas  

    Pernahkah Kita Memikirkannya? 

    laut-11“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran 3:190-191)

    Coba perhatikan dirimu, wahai sahabatku ! Rupa wajahmu, mata indahmu, senyum manismu, Subhanallah.. Adakah insan yang sama sepertimu di belahan dunia ini ? Baik rupa, sifat maupun wataknya ? Tidak ada, bukan ?! Yach..tidak ada seorangpun yang sama sepertimu, walau dirimu kembar sekalipun ! Dari sekian banyak manusia, dari sekian triliun jiwa Pernahkah engkau temui ada yang sama satu dengan lainnya ? Tidak ada bukan ?! Apa yang terlintas di pikiranmu ? Allah !

    Yach..Maha Besar Allah.. Betapa Maha Kaya_Nya Dia.. Tak seorangpun yang patut dipuji selain Diri_Nya..! Tidak ada sedikitpun yang pantas kita sombongkan atas diri kita, Begitupun terhadap makhluk-makhluk_Nya. Subhanallah..walhamdulillah..walaa ilaa hailallah..wallaahu akbar..!

    Kita ini dulu hanyalah dari setetes air mani yang hina, menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, tulang, kemudian dibalut dengan kulit, sehingga jadilah kita, manusia, makhluk yang amat sempurna penciptaan_Nya. Betapa kita harus bersyukur, bukan ? Apa yang terucap di bibirmu ? Allah !

    Diri kita hanyalah satu dari sekian banyak makhluk yang Ia ciptakan, sahabatku.. Keciiil, tiada artinyanya sama sekali dibandingkan dengan penciptaan langit dan bumi ini ! Pernahkah kita memikirkannya ?

    Allah menundukkan matahari dan bulan untuk kita, Matahari bersinar, bulan bercahaya.. Tidak mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam mendahului siang Masing-masing beredar menurut garis edarnya. Pernahkah kita memikirkannya ?..

    Allah menghamparkan bumi dan meletakkan gunung-gunung yang kokoh, dan menumbuhkan tumbuhan darinya segala macam jenis tanaman yang indah dipandang mata. Pernahkah kita memikirkannya?

    Allah menurunkan air dari langit yang banyak manfaatnya, lalu menumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-bijian yang sebagian ada yang kita makan. Pernahkah kita memikirkannya ?

    Allah memberi kita minum dari apa yang berada dalam perut binatang ternak berupa susu yang bersih antara tahi dan darah, yang enak ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Pernahkah kita memikirkannya ?

    Allah menundukkan langit dan dunia ini untuk kita, Langit sebagai atap, Bumi tempat menetap Pernahkah kita memikirkannya ? Semuanya patuh pada apa yang diperintahkan Allah kapadanya untuk melayani kita. Pernahkah kita memikirkannya ?

    Pernahkah terpikir jika semua itu tidak ditundukkan Allah untuk kita, alamat dunia ini akan hancur ? Dapatkah kita bayangkan apa yang akan terjadi ? Pernahkah terpikir oleh kita, jika Allah lelah ataupun lengah sesaat, maka seluruh yang ada di jagat raya ini akan binasa ?!

    Adakah orang yang mengetahui dengan tidak mengetahui ?

    Adakah sama yang buta dengan yang melihat ?

    Fenomena alam ini menunjukkan betapa Kuasa-Nya Allah akan segala sesuatu. Kelak suatu saat nanti langit itu akan pecah berderai. Kelak suatu hari nanti bumi itu akan terbelah-belah mengeluarkan apa yang dikandungnya. Tidak takutkah kita ?, Tidak tergetarkah Qalbu dan jiwa kita ? Tidak bertambahkan keimanan, kecintaan serta kerinduan kita pada_Nya ?

    Tanpa kita sadari, silih bergantinya siang dan malam dari detik menit kehidupan ini menyadarkan kita. Baru saja kita lahir menjadi seorang bayi mungil, tahu-tahu sudah sebesar ini. Baru saja kita merasa tentram berdekatan dengan orang-orang yang kita sayang, tahu-tahu mereka telah pergi meninggalkan kita. Baru saja kita tertidur dan terjaga, kemudian ? Kita dapati tubuh ini sudah tua, tenaga sudah mulai berkurang, rambut sudah mulai beruban, mata sudah mulai rabun..dan..??? Siap-siap untuk pulang, kembali kepada siapa Yang Menciptakan kita. Tidakkah kita merindukan_Nya? Pernahkah kita memikirkannya ?..

    Pada suatu hari diwaktu shubuh, Setelah mengumandangkan azan di Masjid Madinah, lama Bilal menanti kehadiran Rasulullah keluar dari peraduannya untuk shalat berjamaah, namun Rasul belum juga muncul. Karena itu, pergilah Bilal menemuinya, antara perasaan cemas kalau-kalau Rasul yang amat dicintainya jatuh sakit.

    Sesudah minta izin kepada Siti Aisyah, Bilal segera menuju ke kamar tidur Rasulullah. Ketika sampai dimuka pintu, Bilal melihat ke dalam, kamar yang sederhana tanpa ada kasur tebal seperti kasur kita di sini, tidak ada bantal bersulam yang indah melainkan hanya seonggok rumput kering di sudut, itulah kekayaan Rasul kita, sebagai Pemimpin Dunia yang telah menggerakkan revolusi yang paling berhasil dalam sejarah kemanusiaan selama dunia berkembang.

    Didapatinya Nabi kita Saw sedang duduk di atas sajadah menghadap Qiblat, menangis tersedu-sedu. Bertanya Bilal, “Ya Nabiyallah, apakah gerangan yang menyebabkan dikau menangis? Padahal kalau ada juapun kesalahanmu, baik dahulu ataupun nanti, akan diampuni oleh Allah”.

    Kemudian Rasulullah menjawab, “Wahai Bilal, tengah malam telah datang Jibril membawa wahyu kepadaku dari Allah Swt, demikian bunyinya. “ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran 3:190-191)

    Sengsara hai Bilal! Ujar Nabi selanjutnya, bagi orang yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkannya. Apa maksud Rasulullah Saw tersebut, wahai sahabatku ? Firman Allah dalam QS. Ali Imran 3 : 190-191 di atas dan ungkapan Nabi tersebut mengandung makna yang dalam bagi kita untuk senantiasa merenung dan memikirkan Fenomena alam yang ada di sekeliling kita.

    Jiwa yang suci bersih dapatlah mendengar dan melihat indahnya alam ini. Disana terdapat tiga sifat Tuhan, yaitu Jamal (indah), Jalal (agung), dan Kamal (sempurna). Semua yang ada ini adalah dinding pembatas kita dengan Dia. Tetapi bilamana kita berusaha menembusnya (dengan sekuat jiwa) insya Allah, dengan penglihatan ruhani yang bersih, niscahya terbukalah hijab itu. Hanya mata yang lahir ini saja yang melihat batas itu, melihat berbagai fenomena alam Gunung menjulang tinggi, deburan ombak, awan berarak, kembang bermekaran. Adapun mata ruhani mulailah menembus dinding itu. Bukan dinding lagi yang kelihatan, tetapi pencipta dari semuanya itu, “Allah”.

    “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

    ***

     
    • jannahsaid 9:39 pm on 19 Desember 2009 Permalink

      saya telah copy dan paste hasil nukilan blog awak ni di blog sy, harap awk tidak marah.sy harap ia boleh di kngsi bersam2 teman2 yang lain. njannah89.blogspot.com

    • zilmita. S 10:03 am on 9 Juli 2010 Permalink

      boleh copy paste y..

  • erva kurniawan 12:56 pm on 10 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: istri nabi muhammad, istri rasul   

    Siapa Saja Istri Nabi dan Mengapa Dinikahi? 

    muhammadBismillahirrahmanirrahiem. Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d,

    Dalam catatan sirah nabawiyah, ada sebelas orang wanita yang dinikahi oleh Rasulullah SAW, dua di antara mereka meninggal ketika Rasulullah SAW masih hidup sedangkan sisanya meninggal setelah beliau wafat. Nama-nama isteri beliau adalah:

    1. Khodijah binti Khuwailid RA, ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khodijah 40 tahun. Dari pernikahnnya dengan Khodijah Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau meninggal. Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah: Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khodijah masih hidup.

    2. Saudah binti Zam’ah RA, dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian beberapa hari setelah wafatnya Khodijah. Ia adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya yang bernama As-Sakron bin Amr.

    3. Aisyah binti Abu Bakar RA, dinikahi oleh Rasulullah SAW bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah. Ia dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Ia adalah seorang gadis dan Rasulullah SAW tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah.

    Dengan menikahi Aisyah, maka hubungan beliau dengan Abu Bakar menjadi sangat kuat dan mereka memiliki ikatan emosional yang khusus. Posisi Abu Bakar sendiri sangat pending dalam dakwah Rasulullah SAW baik selama beliau masih hidup dan setelah wafat. Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang pertama yang di bawahnya semua bentuk perpecahan menjadi sirna.

    Selain itu Aisyah ra adalah sosok wanita yang cerdas dan memiliki ilmu yang sangat tinggi dimana begitu banyak ajaran Islam terutama masalah rumah tangga dan urusan wanita yang sumbernya berasal dari sosok ibunda muslimin ini.

    4. Hafsoh binti Umar bin Al-Khotob RA, beliau ditinggal mati oleh suaminya Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah. Beliau menikahinya untuk menghormati bapaknya Umar bin Al-Khotob.

    Dengan menikahi hafshah putri Umar, maka hubungan emosional antara Rasulullah SAW dengan Umar menjadi sedemikian akrab, kuat dan tak tergoyahkan. Tidak heran karena Umar memiliki pernanan sangant penting dalam dakwah baik ketika fajar Islam baru mulai merekah maupun saat perluasan Islam ke tiga peradaban besar dunia. Di tangan Umar, Islam berhasil membuktikan hampir semua kabar gembira di masa Rasulullah SAW bahwa Islam akan mengalahkan semua agama di dunia.

    5. Zainab binti Khuzaimah RA, dari Bani Hilal bin Amir bin Sho’sho’ah dan dikenal sebagai Ummul Masakin karena ia sangat menyayangi mereka. Sebelumnya ia bersuamikan Abdulloh bin Jahsy akan tetapi suaminya syahid di Uhud, kemudian Rasulullah SAW menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah. Ia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW .

    6. Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah RA, sebelumnya menikah dengan Abu salamah, akan tetapi suaminya tersebut meninggal di bulan Jumada Akhir tahun 4 Hijriyah dengan menngalkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal di tahun yang sama.

    Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormati Ummu Salamah dan memelihara anak-anak yatim tersebut.

    7. Zainab binti Jahsyi bin Royab RA, dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah SAW. Sebelumnya ia menikahi dengan Zaid bin Harits kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Ia dinikahi oleh Rasulullah SAW di bulan Dzul Qo’dah tahun kelima dari Hijrah.

    Pernikahan tersebut adalah atas perintah Alloh SWT untuk menghapus kebiasaan Jahiliyah dalam hal pengangkatan anak dan juga menghapus segala konskuensi pengangkatan anak tersebut.

    8. Juwairiyah binti Al-Harits RA, pemimpin Bani Mustholiq dari Khuza’ah. Ia merupakan tawanan perang yang sahamnya dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan dinikahi oleh beliau pada bulan Sya’ban tahun ke 6 Hijrah.

    Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormatinya dan meraih simpati dari kabilhnya (karena ia adalah anak pemimpin kabilah tersebut) dan membebaskan tawanan perang.

    9. Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan RA, sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nashroni dan meninggal di sana. Ummu Habibbah tetap istiqomah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah SAW mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhomari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharrom tahun 7 Hijrah. Nabi mengkhitbah Ummu Habibah melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah.

    Sehingga alasan yang paling kuat adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya. Serta penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.

    10. Shofiyyah binti Huyay bin Akhtob RA, dari Bani Israel, ia merupakan tawan perang Khoibar lalu Rasulullah SAW memilihnya dan dimeredekakan serta dinikahinya setelah menaklukan Khoibar tahun 7 Hijriyyah.

    Pernikahan tersebut bertujuan untuk menjaga kedudukan beliau sebagai anak dari pemuka kabilah.

    11. Maimunah binti Al- Harits RA, saudarinya Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Harits. Ia adalah seorang janda yang sudah berusia lanjut, dinikahi di bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijrah pada saat melaksanakan Umroh Qadho.

    Dari kesemua wanita yang dinikahi Rasulullah SAW, tak satupun dari mereka yang melahirkan anak hasil perkawinan mereka dengan Rasulullah SAW, kecuali Khadijatul Kubra seperti yang disebutkan di atas. Namun Rasulullah SAW pernah memiliki anak laki-laki selain dari Khadijah yaitu dari seorang budak wanita yang bernama Mariah Al-Qibthiyah yang merupakan hadiah dari Muqauqis pembesar Mesir. Anak itu bernama Ibrahim namun meninggal saat masih kecil.

    Demikianlah sekelumit data singkat para istri Rasulullah SAW yang mulia, dimana secara khusus Rasulullah SAW diizinkan mengawini mereka dan jumlah mereka lebih dari 4 orang, batas maksimal poligami dalam Islam.

    Dari kesemuanya itu, umumnya Rasulullah SAW menikahi mereka karena pertimbangan kemanusiaan dan kelancaran urusan dakwah.

    Selain itu ada hikmah yang sangat mendalam di masa kini yaitu semakin banyaknya sumber-sumber ajaran Islam terutama yang berkaitan dengan fiqih wanita, karena memang dari sanalah umumnya pelajaran Rasulullah SAW tentang wanita itu berasal. Seandainya Rasulullah SAW hanya beristrikan satu orang saja, maka kajian fiqih wanita sekarang ini akan menjadi sangat sempit karena sumbernya terbatas hanya dari satu orang.

    Namun alhamdulillah atas tadbir ilahi, dengan beristri sampai 11 orang, maka sumber itu menjadi cukup banyak. Dan purnalah Islam sebagai agama yang syamil mutakamil.

    Sedangkan tuduhan non muslim bahwa Rasulullah SAW adalah tukang kawin dan kemaruk dengan wanita adalah tuduhan yang sangat menjijikkan sekaligus menyesatkan, karena semuanya hanya dipenuhi dengan kebencian, kedegilan dan kebodohan yang akut serta mencerminkan penuduhnya sebagai tipe mengamat amatiran yang tidak pernah lengkap membaca sirah nabawiyah dengan sumber yang otentik. Semoga Allah menghancurkan angkara murka musuh-musuhnya dan menghinakan orang-orang yang menghina nabi-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak, Amien Ya Rabbal `Alamien.

    Wallahu A`lam Bish-Showab,

    ***

     
    • hasan 10:19 pm on 2 Januari 2010 Permalink

      khodijah adalah wanita yang sangat berpengaruh thd kehidupan Mohammad, shg Mohammad tidak berani main-main dg-nya, maka sepeninggal khodijah Mohamad baru cari wanita yang lebih muda. kan wajar tidak berlebih, karena punya kuasa dan kedudukan.

    • hamba ALLAH 8:48 am on 9 Juli 2010 Permalink

      semua adalah rencana ALLAH SWT untuk kebesaran islam di muka bumi

    • auliyya 7:55 pm on 28 Oktober 2010 Permalink

      Maria Al Qibtiya?

    • ridho 3:43 am on 17 Januari 2013 Permalink

      sholallohu ala muhammad.

    • damar 12:04 am on 20 Juni 2013 Permalink

      apakahy ini benar? kenapa ustad klo lg ceramah mengatakan istri nabi cuma 4?

  • erva kurniawan 7:02 am on 6 December 2009 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Makna Sebuah Pernikahan 

    akad nikah erva kurniawan - titik rahayuningsihMenikah adalah saat di mana gerbang kesucian mulai dibentangkan

    Menikah adalah saat di mana ketidaksempurnaan bukan lagi masalah yang mesti diperdebatkan

    Menikah adalah saat di mana nyuci nyemir masang bohlam nyambung kabel nyiram kembang nguras bak mandi masak nasi nyetrika ngecat pagar belanja kentang ngganti popok tak lagi bibi kerjakan

    Menikah adalah saat di mana akar dirajut dari benang-benang pemikiran

    Menikah adalah saat di mana syara direngkuh sebagai tolok ukur perbuatanMenikah adalah saat di mana ketulusan diikatkan sebagai senyum kasih sayang

    Menikah adalah saat di mana kesendirian dicampakkan sebagai sebuah kebersamaan

    Menikah adalah saat di mana kegelisahan beralih pada ketenangan

    Menikah adalah saat di mana kehinaan beralih pada kemuliaanMenikah adalah saat di mana peluh bergulir lanjutkan perjuangan

    Menikah adalah saat di mana kesetiaan adalah harga mati yang tak bisa dilelang

    Menikah adalah saat di mana bunga-bunga bersemi pada taman-taman

    Menikah adalah saat di mana kemarau basah oleh sapaan air hujan

    Menikah adalah saat di mana hati yang membatu lapuk oleh kasih sayang

    Menikah adalah sebuah pilihan antara jalan Tuhan dan jalan setan

    Menikah adalah sebuah pertimbangan antara hidayah dan kesesatan

    Menikah adalah saat di mana suka dan duka saling dating

    Menikah adalah saat di mana tawa dan air mata saling berdendang

    Menikah adalah saat di mana ikan dan karang bersatu dalam lautan

    Menikah adalah saat di mana dua hati menyatu dalam ketauhidan

    Menikah adalah saat di mana syahwat tidak lagi bertebaran di jalan-jalan

    Menikah adalah saat di mana ketakwaan menjadi teluk perhentian

    Menikah adalah saat di mana kehangatan menyatu dalam pekatnya malam

    Menikah adalah saat di mana cinta pada Allah dan rasul-Nya dititipkan

    Menikah adalah saat di mana dua hati berganti peran pada kedewasaan

    Menikah adalah saat di mana dua jasad menambah kekuatan dakwah peradaban

    Menikah adalah saat di mana kecantikan adalah sebuah ujian

    Menikah adalah saat di mana kecerewetan diperindah oleh aksesori kesabaran

    Menikah adalah saat di mana bunga-bunga mulai menyemi pada alang

    Menikah adalah saat di mana bidadari-bidadari dunia turun di telaga-telaga kesejukan

    Menikah adalah saat di mana jundi-jundi kecil adalah cericit burung pada dahan-dahan

    Menikah adalah saat di mana pemahaman-pemahaman mulai disemikan

    Menikah adalah saat di mana amal-amal mulai ditumbuhkan

    Menikah adalah saat di mana keadilan mulai ditegakkan

    Menikah adalah saat dimana optimistis adalah leksem baru dari sebuah kefuturan Adalah saat di mana kecemburuan adalah rona pelangi pada awan

    Menikah adalah saat di mana kesendirian menutup epik kehidupan saat di mana syahadat menjadi saksi utama penerimaan

    Menikah adalah saat di mana aktivitas dibangun atas dasar ketaatan

    Menikah adalah saat di mana perbedaan ciptakan kemesraan

    Menikah adalah saat di mana istana tahajud dibangun pada pucuk-pucuk malam

    Menikah adalah saat di mana belaian bak kumbang yang teteskan madu-madu kehidupan

    Menikah adalah saat di mana kecupan bak mentari yang segarkan dedaunan dari kemarau panjang

    Menikah adalah saat di mana goresan bayang-bayang yang kulukis pada mimpi-mimpi malam berubah menjadi kenyataan

    ***

    Sumber email teman

     
    • dokterdita 7:13 am on 6 Desember 2009 Permalink

      Menikah adalah pilihan hidup untuk menjadi lebih dewasa

    • wahyu am 9:33 am on 6 Desember 2009 Permalink

      Pandangan tentang pernihakan, mantep gan :lol:

      Blog Jelek sumpah, jangan diklik!

    • yossy wahyu indrawan 12:48 pm on 7 Desember 2009 Permalink

      Ya Rabbi, mudahkan dan lapangkan jalan bagi hamba untuk menyempurnakan dien.

  • erva kurniawan 6:39 pm on 27 November 2009 Permalink | Balas  

    Kebaikan bagi Setiap Mukmin dan Mu’minah 

    sholatBersabda Nabi Muhammad S.A.W “Barangsiapa memohonkan ampunan untuk orang-orang mukmin dan mukminah, maka Allah akan tuliskan untuknya kebaikan dari setiap mukmin dan mukminah” (HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Bani).

    Alangkah indahnya jika seseorang berdoa untuk dirinya, orangtuanya, dan orang -orang mukmin dan mukminah baik yang hidup ataupun yang mati (diantara mereka). Allah Ta’ala berfirman dalam menceritakan doa Nabi Nuh as:

    QS. Nuh (71) :28 “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.

    Doa Nabi Ibrahim as (14) :41 “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat) “.

    Firman Allah ketika memuji hamba-hambaNya yang mukmin:

    Qs Al Hasyr (59):10 “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. “

    ***

     
  • erva kurniawan 6:35 pm on 26 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: muhammad, , rasulullah   

    Siapakah Gerangan Manusia Yang Paling Sayang Kepadamu 

    muhammad 2Sahabatku rahimakumullah, siapakah gerangan manusia yang paling penyayang kepadamu? Paling peduli akan dirimu dan masa depanmu? Yach, dialah Rasulullah Saw.

    Gambaran kasih sayangnya kepada kita dapat dilihat dalam Firman Allah Swt QS. At Taubah 9 ayat 128, yang artinya:

    “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (Al Qur’an At Taubah 9 ; 128)

    Pada suatu malam, Beliau berdo’a semalam suntuk kepada Allah dengan ungkapan segenap jiwa dan perasaannya yang penuh kasih, berdo’a agar kita selamat.

    “Ya Allah, Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba_Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al Qur’an Al Maidah 5 ; 118)

    Dengan mengangkat kedua belah tangannya, Beliau berucap, “Allahumma, ummati, ummati ! Wahai Allah, umatku, ! umatku, !” Kemudian berlinang air matanya,

    Dari Abu Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash r.a, katanya, Nabi Saw membaca Firman Allah (do’a Nabi Isa a.s./Al Qur’an Al Maidah 5 ; 118) tersebut di atas. Lalu Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya seraya  berkata, “Allahumma, ummati, ummati !” (Wahai Allah! Umatku! Umatku!). dan sesudah itu Rasulullah Saw menangis. Maka berfirman Allah Azza wa Jalla kepada Jibril a.s., “Hai, Jibril ! Pergilah kepada Muhammad ! (dan sesungguhnya Tuhanmu Maha Tahu) Tanyalah kepadanya kenapa dia menangis. Maka pergilah Jibril kepada Muhammad Saw, menanyakan kenapa. Rasulullah Saw lalu menceritakan kepada Jibril kenapa beliau menangis dan mengatakan (Padahal Allah Maha Tahu). Maka firman Allah, “Hai, Jibril! Pergilah kepada Muhammad, katakana kepadanya: “Aku akan memperkenankanmu membela umatmu dan tidak akan mengecewakanmu”.

    Ridha Allah atas pembelaan Rasul kepada kita dan seluruh umatnya inilah yang dinamakan syafaat Beliau kepada kita. Namun dengan syarat kita tidak boleh mempersekutukan Allah Swt.

    Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah Saw, bersabda : “Setiap Nabi mempunyai do’a mustajab (do’a yang pasti diperkenankan), karena itu para nabi segera memanfaatkan do’anya untuk menolong umatnya. Tetapi aku akan memanfaatkan nanti untuk membela umatku di hari kiamat. Insya Allah do’aku itu akan mencapai setiap umatku yang meninggal dengan tidak mempersekutukan Allah Swt”.

    Dan seandainya saja kita tahu betapa ikhlas dan tulusnya Rasulullah Saw kepada kita dan seluruh umatnya,  Beliau ingin kita semua selamat dan beroleh jalan yang lurus,  Tidak ingin kita tersesat jalan (kafir) tertutup hatinya dari menerima kebenaran, hal ini dapat kita lihat:

    Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud) r.a., katanya Rasulullah Saw, bersabda kepadanya, sabdanya: “Bacakanlah Qur’an kepadaku !” Jawabku, Bagaimana pula aku harus membacakannya kepada anda, sedangkan Qur’an itu sendiri diturunkan kepada anda. Sabda beliau : “Aku ingin mendengarkannya dari orang lain.” Karena itu kubacakan kepada beliau Surah An Nisa. Ketika bacaanku sampai kepada ayat:

    Fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bisyahidin wa ji’na bika haula syahida’. “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)”. (Al Qur’an An-Nisa’ 4 ; 41)

    Ketika itu aku mengarahkan pandanganku kepada beliau, maka kelihatan olehku air matanya mengalir.

    Karena itu, pantaslah saja Allah sangat menyayanginya, mengasihinya, dan bersyalawat untuknya, Bagaimana dengan kita?,

    ***

    Rindu kami padamu ya Rasul, Rindu tiada terperih, berabad jarak darimu ya Rasul, serasa dikau di sini, Cinta ikhlasmu pada manusia bagaikan cahya suarga. Dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja.

     
  • erva kurniawan 3:53 am on 25 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Seputar Ibadah Qurban 

     

    aidil-adha

    Qurban dalam bahasa Arab artinya dekat, ibadah qurban artinya menyembelih hewan sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah qurban disebut juga “udzhiyah” artinya hewan yang disembelih sebagai qurban. Ibadah qurban disinggung oleh al-Qur’an surah al-Kauthar “Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan menyembelihlah” .

    Keutamaan qurban dijelaskan oleh sebuah hadist A’isyah, Rasulullah s.a.w. bersabda “Sebaik-baik amal bani adam bagi Allah di hari iedul adha adalah menyembelih qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya” (H.R. Tirmizi, Ibnu Majah).

    Dalam riwayat Anas bin Malik, “Rasulullah menyembelih dua ekor domba putih bertanduk, beliau meletakkan kakinya di dekat leher hewan tersebut lalu membaca basmalah dan bertakbir dan menyembelihnya” (H.R. Tirmizi dll).

    Hukum ibadah qurban, Mazhab Hanafi mengatakan wajib dengan dalil hadist Abu Haurairah yang menyebutkan Rasulullah s.a.w. bersabda “Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka jangan lah ia mendekati masjidku” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah). Ini menunjukkan sesuatu perintah yang sangat kuat sehingga lebih tepat untuk dikatakan wajib.

    Mayoritas ulama mengatakan hukum qurban sunnah dan dilakukan setiap tahun bagi yang mampu. Mazhab syafi’i mengatakan qurban hukumnya sunnah ‘ain (menjadi tanggungan individu) bagi setiap individu sekali dalam seumur dan sunnah kifayah bagi sebuah keluarga besar, menjadi tanggungan seluruh anggota keluarga, namun kesunnahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya.

    Dalil yang melandasi pendapat ini adalah riwayat Umi Salamh, Rasulullah s.a.w. bersabda “Bila kalian melihat hilal dzul hijjah dan kalian menginginkan menjalankan ibadah qurban, maka janganlah memotong bulu dan kuku hewan yang hendak disembelih” (H.R. Muslim dll), hadist ini mengaitkan ibadah qurban dengan keinginan yang artinya bukan kewajiban.

    Dalam riwayat Ibnu ABbas Rasulullah s.a.w. mengatakan “Tiga perkara bagiku wajib, namun bagi kalian sunnah, yaitu shalat witir, menyembelih qurban dan shalat iedul adha” (H.R. Ahmad dan Hakim).

    Qurban disunnahkan kepada yang mampu. Ukuran kemampuan tidak berdasarkan kepada nisab, namun kepada kebutuhan per individu, yaitu apabila seseorang setelah memenuhi kebutuhan sehari-harinya masih memiliki dana lebih dan mencukupi untuk membeli hewan qurban, khususnya di hari raya iedul adha dan tiga hari tasyriq.

    Dalam beribadah qurban harus disertai niyat berqurban untuk Allah atas nama dirinya. Berqurban atas nama orang lain menurut mazhab Syafi’i mengatakan tidak sah tanpa seizin orang tersebut, demikian atas nama orang yang telah meninggal tidak sah bila tanpa dasar wasiat. Ulama Maliki mengatakan makruh berqurban atas nama orang lain. Ulama Hanafi dan Hanbali mengatakan sah saja berqurban untuk orang lain yang telah meninggal dan pahalanya dikirimkan kepada almarhum.

    Dalam menyembelih qurban disunnahkan membaca bismillah, membaca sholawat untuk Rasulullah, menghadapkan hewan ke arah kiblat waktu menyembelih, membaca takbir sebelum basmalah dan sesudahnya sarta berdoa ” Ya Allah qurban ini dari-Mu dan untuk-Mu”.

    Wallohu ‘alam bissawab

    ***

    (Sumber: pesantren-online)

     
  • erva kurniawan 5:14 pm on 22 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , gosip   

    Ghibah, Keburukan Yang Makin Disenangi 

    acara tvSumber : Ummu Zaidan Feikar

    Perbuatan tercela, tapi menjadi biasa. Sebab, dikemas dalam acara yang menarik di televisi.

    Banyak hal yang bergeser dan berubah dengan hadirnya pesawat televisi ke rumah kita, terutama yang berkaitan dengan budaya dan akhlak. Salah satu yang jelas terlihat yaitu pergeseran makna bergunjing atau menggosip.

    Menggosip adalah tindakan yang kurang terpuji yang celakanya, kebiasaan ini seringkali dilekatkan pada sifat kaum wanita. Dulu, orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran.

    Beberapa acara informasi kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket hiburan (infotainment) dengan jelas-jelas menyebut kata gosip sebagi bagian dari nama acaranya. Bahkan pada salah satu dari acara tersebut pembawa acaranya menyebut dirinya atau menyapa pemirsannya dengan istilah “biang gosip”. Mereka dengan bangganya mengaku sebagai tukang gosip.

    Saat ini, hampir di setiap stasiun televisi memiliki paket acara seperti di atas. Bahkan satu stasiun ada yang memiliki lebih dari satu paket acara infotainment tersebut, dengan jadwal tayangan ada yang mendapat porsi tiga kali seminggu. Hampir semua isi acara sejenis itu, isinya adalah menyingkap kehidupan pribadi para selebritis. Walhasil, pemirsa akan mengenal betul seluk beluk kehidupan para artis, seolah diajak masuk ke dalam rumah bahkan kamar tidur para artis.

    Sepintas acara ini terkesan menghibur. Seorang ibu yang kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya, mungkin akan terasa terhibur dengan informasi sisi-sisi kehidupan pribadi orang-orang terkenal. Apalagi kemasan acara yang semakin bervariasi ada yang diselingi nyanyi, wawancara langsung dengan artis, daftar hari ulang tahun para selebritis, dll. Namun jika kita cermati lebih jauh, isinya kurang lebih adalah menggosip atau bergunjing.

    Awal tahun 2002 ditandai dengan banyaknya artis yang pisah ranjang dan bercerai. Peristiwa-peristiwa semacam ini merupakan sasaran empuk bagi penyaji hiburan semacam ini. Pemirsa disuguhi sajian informasi yang sarat dengan pergunjingan. Masing-masing pihak merasa benar dan tentu saja menyalahkan pihak lainnya.

    Menggosip yang merupakan tindakan buruk, bisa tidak terasa lagi memiliki konotasi buruk jika terus-menerus disosialisasikan dengan paket menarik pada televisi. Menggosip akan terasa sebagai tindakan biasa dan lumrah dilakukan. Menceritakan aib orang lain menjadi sesuatu yang tanpa beban kita lakukan. Padahal jika kita cermati makna gosip -yang sama dengan ghibah- barangkali kita akan merasa ngeri.

    Ghibah dalam Islam

    Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.

    Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan, “Ketika kami bersama Rasulullah saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

    Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab, `Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anas bin Malik ra).

    Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka mengghibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

    Banyak kesempatan bagi ibu-ibu untuk menggosip. Pada saat berbelanja mengelilingi gerobak tukang sayur, menyuapi anak di halaman, pada acara arisan atau kumpulan ibu-ibu. Meng-ghibah kadang mendapat pembenaran dengan dalih, “Ini fakta, untuk diambil pelajarannya!”. Padahal di balik itu lebih banyak faktor ghibahnya daripada pelajarannya.

    Benarkah orang cenderung suka meng-ghibah, bahkan terkesan menikmati kebiasaan seperti ini? Seorang pengasuh konsultasi keluarga pada sebuah media cetak mengatakan rahasia mengapa rubriknya tetap disukai pembaca selama puluhan tahun. Katanya, pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka menggunjingkan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau ternyata bukan dirinya saja yang menderita. Karena umumnya surat yang datang untuk berkonsultasi adalah mereka yang memiliki masalah.

    Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar. Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

    Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim).

    Sosialisasi pergunjingan di televisi bagaimanapun harus dihindari. Jangan sampai kita merasa tidak berdosa melakukannya. Bahkan merasa terhibur dengan informasi semacam itu. Kita mesti berhati-hati. Bahaya ghibah harus senantiasa ditanamkan agar kita senantiasa sadar akan bahayanya. Benar kiranya jika dikatakan bahwa dulu orang tinggal di dalam rumah karena menghindari bahaya dari luar. Kini bahaya justru berasal dari dalam rumah sendiri yaitu dengan hadirnya acara yang menurunkan kualitas iman di televisi. Semoga kita bisa arif menyikapinya.

    Menangkal Ghibah

    Penyakit yang satu ini begitu mudahnya terjangkit pada diri seseorang. Bisa datang melalui televisi, bisa pula melalui kegiatan arisan, berbagai pertemuan, sekedar obrolan di warung belanjaan, bahkan melalui pengajian.

    Untuk menghindarinya juga tak begitu mudah, mengharuskan kita ekstra hati-hati, caranya?

    1. Berbicara Sambil Berfikir

    Cobalah untuk berpikir sebelum berbicara, “perlukah saya mengatakan hal ini?” dan kembangkan menjadi, “apa manfaatnya? Apa mudharatnya?” Berarti, otak harus senantiasa digunakan, dalam keadaan sesantai apapun. Seperti Rasulullah saw yang biasanya memberi jeda sesaat untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan orang.

    2. Berbicara Sambil Berzikir

    Berzikir di sini maksudnya selalu menghadirkan ingatan kita kepada Allah swt. Ingatlah betapa buruknya ancaman dan kebencian Allah kepada orang yang ber-ghibah. Bawalah ingatan ini pada saat berbicara dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

    3. Tingkatkan Rasa Percaya Diri

    Orang yang tidak percaya diri, suka mengikut saja perbuatan orang lain, sehingga ia mudah terseret perbuatan ghibah temannya. Bahkan ia pun berpotensi menyebabkan ghibah, karena tak memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan dan menilai orang lain.

    4. Buang Penyakit Hati

    Kebanyakan ghibah tumbuh karena didasari rasa iri dan benci, juga ketidakikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau lebih beruntung daripada kita. Dan kalau dirinya kurang beruntung, diapun senang menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih sengsara daripada dirinya.

    5. Posisikan Diri

    Ketika sedang membicarakan keburukan orang lain, segera bayangkan bagaimana perasaan kita jika keburukan kita pun dibicarakan orang. Seperti hadis yang menjanjikan bahwa Allah akan menutupi cacat kita sepanjang kita tidak membuka cacat orang lain. Sebaliknya tak perlu heran jika Allah pun akan membuka cacat kita di depan orang lain jika kita membuka cacat orang.

    6. Hindari, Ingatkan, Diam atau Pergi

    Hindarilah segala sesuatu yang mendekatkan kita pada ghibah. Seperti acara-acara bernuansa ghibah di televisi dan radio. Juga berita-berita Koran dan majalah yang membicarakan kejelekan orang.

    Jika terjebak dalam situasi ghibah, ingatkanlah mereka akan kesalahannya. Jika tak mampu, setidaknya Anda diam dan tak menanggapi ghibah tersebut. Atau Anda memilih hengkang dan `menyelamatkan diri’.*

     
    • the riza de kasela 5:47 pm on 22 November 2009 Permalink

      Godaan setan yang paling tidak disadari nih
      ______________________________________________
      Tidak menolak kunjungan Anda ke blog saia yang lain di http://rizaherbal.wordpress.com/

  • erva kurniawan 9:54 pm on 19 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Syarat Maksiat 

    siluet masjidSuatu hari seorang lelaki menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, ‘Wahai Aba Ishak! Saya selalu melakukan maksiat, tolong berikan aku nasihat’.

    Ibrahim berkata, ‘Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka kamu boleh teruskan melakukan maksiat.’

    1. Jika kamu maksiat kepada Allah, jangan makan rezekiNya.” Lelaki itu seraya berkata, ‘Aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah? ”Ya,” tegas Ibrahim bin Adham. ”Kalau kamu sudah memahaminya, masi pantaskah memakan rezekinya, sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya? ”
    2. ”Yang kedua,” kata Ibrahim, ”kalau mau bermaksiat, jangan tinggal dibumi-Nya! Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, ”Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kau layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar segala larangan-Nya? ” ”Ya, Anda benar,” kata lelaki itu.
    3. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab,”Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!” Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, ”Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?” ”Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?” kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.
    4. Ibrahim melanjutkan, ”Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu,katakanlah kepadanya, ‘Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal saleh’.” Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, ”Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku? ” ”Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?” ”Baiklah, apa syarat yang kelima?”
    5. Ibrahim pun menjawab, ”Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya.” Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar. Dia berkata, ”Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya. ” Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran. ”Mulai saat ini aku bertobat kepada Allah,” katanya sambil terisak.

    ***

    Sumber email teman

     
  • erva kurniawan 8:04 am on 18 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: amalan bulan dzulhijah, bulan dzulhijah, dzulhijah, , , keutamaan bulan dzulhijah   

    Amalan Bulan Dzulhijjah 

    wukuf-arafah

    Wukuf di Padang Arafah

    Khusus tentang puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasa di hari Arafah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang.”

    Rasulullah SAW telah bersabda: “Dua bulan untuk berhari raya tidak berkurang keduanya, Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR Muslim ).

    Dalil-dalil tentang keutamaan bulan Dzulhijjah

    Firman Allah subhanahu wata’ala:  Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)

    Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (dari bulan Dzulhijjah).” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad fi sabilillah?” Beliau bersabda: “Dan tidak pula jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun.” (HR Jama’ah kecuali Muslim dan an-Nasa’i).

    Dalam kitabnya Fathul Baari menyatakan : “Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diistimewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya semua ibadah-ibadah yang utama yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu”.

    Amal-amal yang Disyariatkan pada Hari-hari Tersebut

    0121. Melaksanakan ibadah haji dan umrah.

    Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda : “Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat (penghapus dosa-dosa) diantara keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    2. Shaum pada hari Arafah, ketika jamaah haji sedang wukuf (9 Dzulhijjah).

    Tidak diragukan lagi bahwa ibadah puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan salah satu amalan yang dilebihkan oleh Allah SWT dari amalan-amalan shalih lainnya. Sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi.

    Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka (karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Khusus tentang puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasa di hari Arafah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang.”

    takbir23. Memperbanyak takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut.

    Sebagaiman a Firman Allah subhanahu wata’ala:  “Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang tertentu” (QS. Al Hajj: 28)Tafsiran dari “hari-hari yang tertentu” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu para ulama kita menyunnahkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut.

    Dan penafsiran itu dikuatkan pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil , takbir dan tahmid.”

    4. Bertaubat dan menjauhi kemaksiatan serta seluruh dosa agar mendapatkan maghfirah dan rahmat dari Allah SWT.

    Hal ini penting dilakukan karena kemaksiatan merupakan penyebab ditolaknya dan jauhnya seseorang dari rahmat Allah SWT, sebaliknya ketaatan merupakan sebab kedekatan dan kecintaan Allah SWT kepada seseorang.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah apabila seseorang melakukan apa yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    5. Memperbanyak ibadah-ibadah sunnat seperti shalat, membaca Al Qur’an, bersedekah, dan ibadah sunah lainnya.

    Amalan tersebut akan dilipat gandakan pahalanya jika dilakukan pada hari-hari tersebut. Ibadah yang kecil pun jika dilakukan pada hari-hari tersebut akan lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala daripada ibadah yang besar yang dilakukan pada waktu yang lain. Contohnya jihad, yang merupakan seutama-utama amal, namun akan dikalahkan oleh amal-amal shalih lain yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah, kecuali orang yang mendapat syahid.

    6. Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, baik itu siang maupun malam, terutama ketika selesai shalat berjama’ah di masjid.

    Takbir ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, sedang bagi jama’ah haji sejak Zhuhur hari penyembelihan (10 Dzulhijjah). Adapun akhir hari bertakbir adalah pada hari Tasyrik yang terakhir (13 Dzulhijjah).

    Imam Bukhori berkata: “Adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah radiallahuanhuma keluar ke pasar pada hari sepuluh bulan Dzul Hijjah, mereka berdua bertakbir dan orang-orangpun ikut bertakbir karenanya.”

    kurban7. Memotong hewan qurban (udlhiyah) bagi yang mampu pada hari raya Qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah).

    Hal ini merupakan sunnah bapak kita Ibrahim AS ketika Allah subhanahu wata’ala mengganti anak beliau dengan seekor sembelihan yang besar.

    Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan, Nabi Muhammad SAW berqurban dengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir.

    8. Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia berqurban.

    Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya.”

    Di riwayat lain disebutkan: “Maka janganlah dia (memotong) rambut dan kuku-kukunya sehingga dia berqurban.”

    Kemungkinan hikmah larangan tersebut agar menyerupai orang yang menggiring (membawa) qurban sembelihan saat melakukan ibadah haji, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala: “… Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum qurban sampai di tempat penyembelihannya…” (QS. Al Baqarah :196).

    9. Melaksanakan shalat ‘Ied berjama’ah.

    Karenanya janganlah seseorang menjadikan hari ‘Ied untuk berbuat kejahatan dan kesombongan. Serta jangan pula menjadikannya sebagai kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah SWT dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian dan musik-musik yang melalaikan, minuman keras dan yang semacamnya. Perbuatantersebut menyebabkan terhapusnya amalan kita yang telah dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan tersebut.

    Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk kepada agar kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan kesempatan emas seperti ini dengan baik. Amin.

    ***

    (Sumber : cybermq.com)

     
    • fikri 8:13 pm on 18 November 2009 Permalink

      asl,,,Bang gmn cara rubah Icon Linknya sama foto sendiri kaya link punya abang?

  • erva kurniawan 9:36 pm on 16 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: buraq, buroq   

    Buraq 

    imaginative_imagery_alburaq_or45smAsal kata dari Baraqa artinya gemilap/gemerlap, khususnya menggambarkan sinar. Kendaraan Buraq digambarkan seperti kuda yang membawa malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW ketika melaksanakan Isra dan Miraj.

    Di India digambarkan Buraq ini berkepala manusia wanita dan berekor merak bertubuh kuda dan di Cirebon bahkan ada keseniannya, juga menggambarkan kuda berkepala manusia wanita dan bersayap. Di Indonesia malah buraq adalah merek salah satu maskapai penerbangan, mungkin mengacu bahwa pesawat tersebut terbang secepat buraq. Tinggi buraq digambarkan lebih tinggi dari keledai. Apakah gambaran buraq yang dipercayai masyarakat awam ini karena pengaruh agama Hindu saat berkembangnya agama Islam, hal ini tidak dibahas dalam literatur-literatur. Gambaran ini bisa dimaknai bahwa buraq adalah mahluk fantastik yang merupakan perpaduan antara untsur manusia dan binatang sehingga ia merupakan simbol perpaduan seluruh mahluk yang mengantarkan nabi menuju surga.

    Di dalam riwayat yang membahas tentang isra miraj, buraq digambarkan sebagai kendaraan yang lebih cepat dari pada cahaya, dimana pandangan matanya sejauh dunia dan satu luncatannya melebihi dunia. Dari riwayat bisa dipahami bahwa buraq sesungguhnya merupakan wujud intellect (aql) atau wujud realitas spiritual, yang mesti difahami dan dikenal sifat-sifatnya dengan tidak menggunakan proses analisis dan akal fikiran saja tapi iman, sebagaimana Abu Bakar as Shidiq mempercayai tanpa reserve.

    isra-mikrajDi dalam Al Quran tidak ada kata bouraq, mungkin masuk dalam peristiwa isra miraj yang dinyatakan dalam QS Al Isra: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsa yang kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepada-Nya sebagian dari tanda-tanda kami. Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS:17:1).

    Buraq dalam pembahasan logika tentu tidak masuk akal, di sini ada hal yang menarik, umumnya manusia menganggap kepergian Rosul adalah tebang menuju langit/luar angkasa menggunakan buraq seperti pesawat ulang alik challenger. Dus, hal ini mengandung makna bahwa Rosul harus terbang ke angkasa melebihi kecepatan cahaya. Tentunya, secara logika hal ini tidak masuk akal. Kasus ketidakpercayaan dialami juga oleh kaum kafir quraisy pada masanya. Sekarang berkembang faham bahwa kepergian rosul adalah perjalanan spiritual di mana yang bergerak adalah ruhaninya, dan dimensi alam-alam langit adalah bukan vertikal melainkan horisontal dalam dimensi tinggi melewati alam jin dan malakut.

    Isra miraj memang akan terus diperdebatkan, hal yang sebaiknya ditanya adalah mengapa ada isra miraj, bukan bagaimananya. Begitu ditanya bagaimana maka akan didapat hal-hal yang tidak masuk akal, bagi penulis mengenai buraq bisa saja ada karena kekuasaan itu Tuhan tidak tebatas… ungkapan “Kun Fayakun” menjelaskan bahwa apa yang akan dikehendaki-Nya pasti terjadi.

    ***

    Sumber email teman

     
    • rosmala 2:38 pm on 20 November 2009 Permalink

      waw…. seru…..
      kapan – kapan kalo ada pembahasan lagi mengenai isra mi’raj, share ya… syukron

    • ahmed 2:19 am on 14 April 2012 Permalink

      seru bgt cerita ini aku suka

  • erva kurniawan 9:07 pm on 14 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Sebutir Korma Penjegal Doa 

    kurmaUsai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.

    Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.

    Empat Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.

    Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

    “Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,” kata malaikat yang satu.

    “Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

    Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT garagara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. “Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar.

    Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma, untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

    Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya ibrahim.

    “Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

    “Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”.

    Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.

    “Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

    “Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”

    Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

    Empat bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah Ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”

    “O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

    Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? Lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu…

    ***

    Sumber: email teman

     
    • days 11:54 pm on 15 November 2009 Permalink

      astagfirullah……………..
      ….takut rasanya mengingat smua yg terlanjur terjadi…..
      astagfirullah hal adzim…….

    • annisa 3:50 pm on 16 November 2009 Permalink

      astaghfirullah.. trim’s sudah mengingatkan…
      sudah bersihkah diri ini ???

    • budi 12:08 am on 5 Juli 2015 Permalink

      thx dpt ilmu pencerahan lg

  • erva kurniawan 8:28 pm on 13 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: kapal nabi nuh   

    Bukti Tawasul Nabi Nuh Kepada Rasulullah 

    PERAHU NABI NUHPada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu di daerah tersebut berserakan.

    Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia yang sangat besar di dalamnya.

    Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain. Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut.

    kapal-nabi-nuh3

    Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953. Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:

    1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
    2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China
    3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
    4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
    5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
    6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
    7. Mayor Cottor, Stalin College

    noah_arkKemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.

    Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani. Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:

    “Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari dzatMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”

    Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun. Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.

    Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s.

    Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:

    1. Weekly – Mirror, Inggris 28Desember 1953
    2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954
    3. Manchester Sunlight, 23Januari 1954
    4. London Weekly Mirror, 1Februari 1954
    5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954
    6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
    7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969

    ***

    Sumber: email teman

     
    • Fahreza 10:39 am on 15 November 2009 Permalink

      Artikel yang menarik.

    • Fadiel 2:05 pm on 2 Desember 2009 Permalink

      Allahumma shali ala muhammad wa alii muhammad… afwan kpd yg punya blog ini saya mohon izin untuk mengcopy nya… terima kasih

    • mnrizki 5:57 pm on 8 Februari 2010 Permalink

      Pada admin minta ijin copas artikelnya, terima kasih.
      Kunjungi: http://majlisdzikrullahpekojan.org

    • boy paskand 10:08 pm on 13 April 2010 Permalink

      hanya allah yg tahu……

    • rago 2:52 pm on 14 April 2010 Permalink

      Subahanallah….Allah maha besar….Maha Agung

    • Arex QPAS 10:44 am on 7 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah..Maha suci Allah…
      Dia telah membuktikan kekuasaan-Nya terhadap Qta…
      Allahuakbar…

    • ikram 11:44 am on 9 Mei 2010 Permalink

      masya Allah ,maha besar Allah….
      di dalam Alquran telah terbukti bahwa kapal Nabi NUH benar-benar ada……
      mudah mudahan kita semua bisa sadar……..

    • rizal 1:51 pm on 13 Mei 2010 Permalink

      untuk yang memiliki blog ini saya minta izin meng_copynya
      semoga saja semua orang bisa sadar atas kebesaranNya

    • rizal 8:02 pm on 13 Mei 2010 Permalink

      maaf saya telah mng opy blog anda

    • -dayat Love Dea- 11:22 am on 17 Mei 2010 Permalink

      kiamat sudah dekat ya…………….?

    • -dayat Love Dea- 11:25 am on 17 Mei 2010 Permalink

      semua manusia sgra taubat……………?

    • -Henii nurr haenii- 2:43 pm on 21 Mei 2010 Permalink

      Subhanallah….

    • Kasih, sayang dan cinta 9:55 pm on 29 Mei 2010 Permalink

      MASA ALLOH

    • putra 10:01 pm on 24 Juni 2010 Permalink

      Subhanallah, Allahuakbar

    • muhammad imam 8:52 pm on 24 Maret 2011 Permalink

      Subhanalla ,maha besar allloh

    • kanjeng 9:25 am on 13 September 2011 Permalink

      pukulan telak bagi mereka yg mrngingkari keutamaan Ahl bait……………………………….

  • erva kurniawan 11:53 am on 10 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: amar maruf, nahi munkar   

    Bila Amar Ma’ruf Nahi Munkar Diabaikan 

    siluet masjid 9Allah SWT mensifati umat Islam dalam Al-Qur’an sebagai umat yang terbaik karena menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. (Al-Imran [3] ayat 110) yang artinya :

    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

    Kebaikan Umat Islam ini diperkuat oleh Rasulullah saw.dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang ayat 110 surat Ali Imran: “Kamu melengkapi tujuh puluh umat, kamulah yang paling baik dan paling  mulia di sisi Allah.”

    Kalau kita perhatikan susunan ayat di atas kita dapatkan bahwa penyebutan amar ma’ruf dan nahy munkar (menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar) didahulukan dari pada penyebutan iman kepada Allah, padahal iman kepada Allah merupakan derajat tertinggi dan lebih dahulu keberadaannya, bahkan amar ma’ruf dan nahy munkar merupakan konsekwensi iman kepada Allah.

    Ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya amar ma’ruf dan nahy munkar, dan umat yang melakukannya adalah umat yang terbaik, karena umat itu telah mencurahkan segala potensi dan kemampuannya untuk mewujudkan kebaikan dan mencegah timbulnya kejahatan bagi umat manusia.

    Karena pentingnya amar ma’ruf dan nahy munkar, Allah SWT memerintahkan umat  Islam untuk melakukannya. Firman Allah SWT dalam surat (Al-Imran [3] ayat 104) yang artinya :

    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

    Sebagai perintah Allah, sudah barang tentu jika dilaksanakan akan menyebabkan lahirnya berbagai macam kebaikan baik di dunia maupun di akhirat, sebaliknya jika perintah ditinggalkan dan diabaikan akan menyebabkan timbulnya keburukan baik di dunia maupun di akhirat.

    Dalam tulisan ini akan diuraikan secara singkat akibat-akibat yang akan timbul jika amar ma’ruf dan nahy munkar ditinggalkan dan diabaikan, agar dalam diri kita timbul rasa takut kalau kita mengabaikan dan menyia-nyiakannya, yang pada akhirnya kita terdorong untuk melakukannya.

    **

    Pengertian Amar Ma’ruf Dan Nahy Munkar

    Untuk menghindari perbedaan penafsiran tentang amar ma’ruf dan nahy munkar, terlebih dahulu perlu dijelaskan pengertian amar ma’ruf dan nahy munkar.

    1. Pengertian amar ma’ruf

    Dr. Sayyid Muhammad Nuh menjelaskan dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah ‘Ala al-Thariq bahwa al-ma’ruf adalah nama yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai Allah, baik perkataan, maupun perbuatan lahir dan batin.

    Jadi al-ma’ruf mencakup keyakinan, yaitu iman kepada Allah, malaikat Nya, kitab Nya, Rasul Nya, hari akhir dan qadar (takdir).

    Juga mencakup ibadah, yaitu shalat, zakat, shaum, haji, jihad, nikah dan thalaq, menyusui anak, pemeliharaan anak, nafkah, iddah dan semacamnya.

    Mencakup juga hukum danperundang- undangan seperti mu’amalah maliyyah (transaksi harta), hudud (hukuman-hukuman) , qishash, transaksi-transaksi , perjanjian-perjanjian dan semacamnya. Mencakup juga akhlaq, seperti shidiq (jujur), ‘adil, amanah, ‘iffah (menjaga diri dari yang haram), setia janji dan semacamnya.

    Semuanya itu dikatakan ma’ruf ( yang menurut bahasa berarti dikenal) karena  fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengenalnya dan menyaksikan kebaikannya.

    Jadi pengertian amar ma’ruf ( menyuruh kepada yang ma’ruf ) adalah mengajak  dan memberikan dorongan kepada orang untuk melaksanakannya, menyiapkan sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk mengokohkan pilar-pilarnya serta menjadikannya sebagai ciri umum bagi seluruh kehidupan.

    2. Pengertian nahy munkar

    Al-Munkar (kemungkaran) adalah nama yang mencakup semua yang dibenci dan tidak diridhai Allah, baik perkataan maupun perbuatan lahir dan batin.

    Jadi munkar (kemungkaran) mencakup : kemusyrikan dengan segala bentuknya, mencakup segala penyakit hati seperti riya’, hiqd (dengki), hasad (iri),permusuhan, kebencian dan semacamnya. Mencakup juga penyia-nyiaan ibadah seperti shalat, zakat, shaum, haji dan semacamnya. Mencakup juga perbuatan-perbuatan keji seperti zina,mencuri, minum khamar (minuman keras), menuduh berzina, merampok, berbuat aniaya dan semacamnya.

    Juga mencakup dusta, zalim, khiyanat, perbuatan hina, pengecut dan semacamnya.

    Kemungkaran dikatakan munkar karena fitrah yang bersih dan akal yang sehat mengingkari dan menyaksikan kejahatan, kerusakan dan bahaya yang ditimbulkannya.

    Jadi pengertian nahy munkar (mencegah dari yang munkar) adalah memperingatkan, menjauhkan dan menghalangi orang dari melakukannya, memutuskan sebab-sebab dan sarana-sarananya dalam bentuk membasminya sampai ke akar-akarnya serta membersihkan kehidupan dari segala bentuk kemungkaran.

    **

    Akibat Mengabaikan Perintah Amar Ma’ruf Dan Nahy Munkar

    Sebagaimana diungkapkan dalam pendahuluan karena pentingnya amar ma’ruf dan nahy munkar, Allah memerintahkan umat Islam untuk melakukan amar ma’ruf dan nahy munkar. Ketika kewajiban itu diabaikan dan tidak dilaksanakan, maka pasti orang-orang yang mengabaikan dan tidak melaksanakannya akan mendapat dosa. Tidak ada satu umatpun yang mengabaikan perintah amar ma’ruf dan nahy munkar kecuali Allah menimpakan berbagai hukuman kepada umat itu.

    Berikut ini akan disebutkan sebagiannya sebagaimana disebutkan oleh Dr.Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dalam bukunya Al-Amru Bil-Ma’ruf Wan-Nahyu’Anil- Munkar dan Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Taujihat Nabawiyyah.

    1. Azab yang menyeluruh

    Apabila kemaksiatan telah merajalela di tengah-tengah masyarakat, sedangkan orang-orang yang shalih tidak berusaha mengingkari dan membendung kerusakan tersebut, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh baik orang-orang yang jahat maupun orang-orang yang shalih. Firman Allah:

    “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS.Al-Anfal [8] ayat 25).

    Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dengan sanadnya dari Zainab binti Jahsy bahwa ia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa padahal di tengah-tengah kita ada orang-orang yang shalih? Rasulullah saw. menjawab: “Ya, apabila kemaksitan telah merajalela.”

    Abu Bakar r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya jika orang-orang melihat orang yang berbuat zalim lalu tidak mencegahnya, maka hampir saja menimpakan siksa secara menyeluruh kepada mereka”. (HR. Tirmidzi).

    2. Tidak dikabulkannya do’a orang-orang yang shalih

    Apabila suatu masyarakat mengabaikan amar ma’ruf dan nahy munkar serta tidak mencegah orang yang berbuat zalim dari kezalimannya, maka Allah akan menimpakan siksa kepada mereka dengan tidak mengabulkan do’a mereka.

    Sabda Rasulullah saw.: “Demi dzat yang diriku ada di tangan-Nya hendaknya kamu menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, atau Allah akan menimpakan siksa kepadamu kemudian kamu berdo’a kepada-Nya lalu tidak dikabulkan. (HR. Tirmidzi).

    3. Berhak mendapatkan laknat

    Di antara hukuman orang yang mengabaikan amar ma’ruf dan nahy munkar adalah berhak mendapatkan laknat, yakni terusir dari rahmat Allah sebagaimana yang telah menimpa Bani Israil ketika mengabaikan amar ma’ruf dan nahy munkar.

    Abu Daud meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pertama kerusakan yang terjadi pada Bani Israil, yaitu seseorang jika bertemu kawannya sedang berbuat kejahatan ditegur: wahai fulan, bertaqwalah pada Allah dan tinggalkan perbuatan yang kamu lakukan, karena perbuatan itu tidak halal bagimu, kemudian pada esok harinya bertemu lagi sedang berbuat itu juga, tetapi ia tidak menegurnya, bahkan ia telah menjadi teman makan minum dan duduk-duduknya. Maka ketika demikian keadaan mereka, Allah menutup hati masing-masing, sebagaimana firman Allah:

    “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. sampai firman Allah (tapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik).”

    Kemudian Nabi bersabda: “Tidak, sekali-kali jangan seperti mereka. Demi Allah, kamu harus menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar dan mencegah orang yang berbuat zalim, kamu harus mengembalikannya ke jalan hak, dan kamu batasi di dalam hak itu. Atau kalau tidak, Allah akan menutup hatimu, kemudian melaknat kamu sebagaimana melaknat mereka.”

    4. Timbulnya perpecahan

    Sudah merupakan aksiomatis bahwa kemungkaran yang paling berat dan dan paling keji dapat menjauhkan syari’at Allah dari realitas kehidupan dan ditinggalkannya hukum-hukum Nya dalam kehidupan manusia.

    Apabila hal ini terjadi dan orang-orang diam, tidak mengingkari dan tidak mencegahnya, maka Allah akan menanamkan perpecahan  dan permusuhan di kalangan mereka sehingga mereka saling melakukan pembunuhan dan menumpahkan darah. Inilah yang diperingatkan Rasulullah saw kepada umatnya dan beliau mohon perlindungan Allah agar umatnya tidak menemukan hal itu.

    Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitab Sunannya dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa ia bekata: Rasulullah saw. datang kepada kami dengan mengatakan: Wahai golongan Muhajirin, Ada lima hal apabila kalian melakukannya, pasti kalian akan ditimpa berbagai macam azab, saya berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menemukannya. Tidaklah pemimpin-pemimpin kalian tidak berhukum dengan Al-Qur’an dan memilih hukum selain hukum Allah, kecuali Allah menanamkan perpecahan di antara kalian.”

    5. Pemusnahan mental

    Sebagai kehormatan kepada Nabi Muhammad saw, Allah tidak memusnahkan umat beliau secara fisik sebagaimana yang telah menimpa umat-umat terdahulu seperti kaum Nabi Hud, Shalih, Nuh, Luth dan Syu’aib yang telah mendustakan para Nabi dan mendurhakai perintah Allah. Tetapi bisa saja Allah membinasakan umat Muhammad SAW secara mental.

    Maksudnya umat ini tidak dimusnahkan fisiknya, tetap dalam keadaan hidup, sekalipun melakukan dosa dan maksiat yang menyebabkan kehancuran dan kebinasaan, namun walaupun jumlahnya banyak, kekayaannya melimpah ruah, di sisi Allah tidak ada nilainya sama sekali, musuh-musuhnya tidak merasa takut, serta kawan-kawannya tidak merasa hormat. Inilah yang diberitakan Rasulullah saw. ketika umat ini takut mengatakan yang hak dan tidak mencegah orang yang berbuat zalim dari kezalimannya.

    Beliau bersabda: “Apabila kamu melihat umatku tidak mau mengatakan kepada orang yang berbuat zalim di antara mereka: “Kamulah orang yang berbuat zalim,” maka mereka dibiarkan dalam kemaksiatan yang mereka lakukan dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad)

    **

    Penutup

    Demikianlah di antara hukuman Allah akibat diabaikannya amar ma’ruf dan nahy munkar. Cukuplah lima hukuman yang disebutkan di atas menumbuhkan rasa  takut bagi seorang mukmin untuk tidak mengabaikan perintah amar ma’ruf dan nahy munkar, sekaligus mendorongnya untuk melakukan perintah tersebut.

     
  • erva kurniawan 11:35 am on 9 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: ,   

    Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut 

    jenazah (1)“Tiap – tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”. QS.Al-Ankabut (29):57.

    “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. QS. Az-Zumar (39):30.

    “Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang dhalim”. QS. Al-Jum’ah (62):7.

    “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. QS. Al-Jum’ah (62): 8.

    **

    Bila kita berbicara tentang kematian sering kali kita dicela oleh orang orang yang merasa tidak nyaman mendengarkan cerita tentang kematian itu, mereka pada umumnya menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia saja, dan pada umumnya seseorang tidak ingin memikirkan peristiwa tentang kematian dirinya, padahal tidak ada satu makhlukpun yang dapat menjamin bahwa seseorang akan tetap hidup dalam satu, dua jam kedepan, dan atau hari hari berikutnya.

    Betapa hebatnya bila kita setiap hari, manakala kita menyaksikan kematian orang lain yang ada disekitar kita, kita juga memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya, dan betapa hebat dan baiknya bila kita sadar dan menyadari bahwa kematian itu juga sedang mengintai dan menunggu kita, dan betapa habat yang amat luarbiasa bila kita menyadari bahwa dari detik ke detik, dari menit kemenit dari waktu kewaktu dan dari hari kehari yang kita lalui selama ini justru semakin mendekatkan diri kita dari kematian, sebagaimana juga yang berlaku bagi orang orang yang ada disekeliling kita baik yang kita saksikan kita dengar dari mulut kemulut ihwal berita duka tersebut, atau dari berbagai mass media, keistimewaan yang telah menggiringnya untuk menyiapkan berbagai bekal, seperti amal shaleh, patuh dan taat pada perintah Allah yang telah ditetapkan bagi dirinya sebagai seorang hamba yang lemah, juga dengan ikhlas tabah dan sabar manakala mendapat musibah dengan berpasarah diri kepada Nya, juga sekuat tenaga berusaha untuk menjauhi segala larangan larangan dari sang Maha Pencipta dan sang Maha memelihara dirinya, dan sekuat tenaga mempertahankan serta tidak menyekutukan Allah SWT dengan apapun, sebagai bekal yang dapat dibawa manakala maut telah menjemputnya.

    Akan tetapi justru sebaliknya pada umumnya masyarakat kita sangat sulit dan sangat takut bila mendengar tentang kematian bahkan cenderung mereka mengalihkan perhatian serta berusaha untuk menghindar dari kematian, sebagaimana yang telah Allah SWT informasikan pada kita dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 7 yang artinya tercantum diatas, dengan berbagai cara mereka mengalihkan dan berusaha untuk menghindari kematian, seseorang biasanya menghindari kematian dengan menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian, mereka berpikir tentang di mana mereka akan mengadakan pertemuan, dimana mereka akan melanjutkan pendidikan atau kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, pakaian apa yang akan mereka gunakan untuk menghadiri undangan acara yang telah disiapkan, apa yang akan dimasak untuk makan nanti, serta masih banyak contoh lain, yang mereka anggap dapat mengalihkan dan menghidari dari kematian, hal-hal ini merupakan persoalan – persoalan penting yang sering kita pikirkan selama ini, karena kehidupan yang kita jalani selama ini kita artikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari – hari.

    Kita sadari atau tidak, kita persiapkan atau tidak, kematian merupakan hal yang pasti, dan kita semua pasti tidak akan dapat menghindari, serta melarikan diri dari kematian, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 8 yang artinya tercantum tersebut diatas, tanpa terkecuali, kita semua pasti mati, kita semua baik yang saat ini masih hidup, maupun yang akan hidup, pasti akan menghadapi kematian yang selama ini kita hindari kehadirannya, pada hari yang telah Allah tentukan, namun justru masyarakat kita pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan dan kebetulan saja, maka manakala kita menghadapi kematian, hampir dipastikan kita tidak siap serta tidak memiliki kesiapan apapun.

    Wahai saudaraku betapa indahnya, bila kematian yang telah menanti saatnya tiba untuk kita semua telah hadir menjemput kita sesuai ketetapan yang telah Allah tetapkan pada semua hambanya, sebagai hamba Allah yang beriman, Dan Allah SWT mengabulkan do’a yang telah kita panjatkan setiap saat, dengan ungkapn “ALLAHUMMA HAWWIN ALAINAA FII SAKARAATIL MAUUT” serta diakhir kata tidak terucap kata kata lain selain ucapan yang sangat indah yakni dengan ucapan “LAAILLAHAILLALLOHU MUHAMMADARASULULLOH”, dari saat kita menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, kita semua sudah tidak ada apa-apanya lagi selain hanya “seonggok daging dan tulang”, tubuh kita yang diam dan terbujur kaku akan segera dimandikan untuk yang terakhir kalinya, dan tubuh kita yang sudah menjadi mayat dibungkus kain kafan, jenazah kita yang sudah dishalati akan segera dibawa ke kuburan dalam keranda, dan sesudah jenazah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi seluruh badan kita, inilah kesudahan cerita hidup kita, dan mulai saat itu kita hanyalah seorang yang namanya terukir pada batu nisan diatas kuburan.

    Wahai saudaraku mumpung saat ini kita masih dapat membaca, masih dapat mengedipkan mata, masih dapat menggerakkan semua anggota badan, kita masih dapat berbicara, kita masih dapat tertawa, kita juga masih dapat beraktifitas sebagaimana biasa,  semua ini merupakan fungsi tubuh karena kita masih hidup, hari ini kita yang melihat dan menonton tayangan TV tentang kematian saudara saudara kita, bisa jadi suatu saat nanti saudara saudara kita dibelahan bumi lain yang menonton jenazah jenazah kita yang ditayangkan oleh berbagai mass media, dan mari kita renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh kita setelah kita mati nanti, apakah kita dapat mengucapkan dua kalimah syahadat diakhir hayat kita, apakah ketika kita menemui ajal dalam keadaan taqwa atau justru sebaliknya, marilah kita segera bertaubat, agar setiap saat bila ajal menjemput kita, kita telah siap dengan sebenar benarnya berdasarkan dan sesuai tuntunan Nabi kita Nabi Muhammad SAW, serta kita semua mendapat ampunan serta keringanan juga mati dalam keadaan husnul khotimah dan bukan suul khotimah

    Allaahumma innaa nas aluka Salaamatan Fiddiin Wa ‘Aafiyatan Fil Jasadi Wa Ziyaadatan Fil ‘Ilmi Wa Barakatan Fir Rizqi Wa Taubatan Qablal Maut Wa Rahmatan Indal Maut Wa Maghfiratam Ba’dal Maut Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut Wan Najaata Minnannar Wal ‘Afwa Indal Hisab Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idzhadaitanaa Wa Hab Lanaa Milladunka Rahmatan Innaka Antal Wahhaab.

    Semoga bermanfaat, dan terimakasih

    ***

    Oleh: Mujiarto Karuk

     
    • Suzanna 4:58 pm on 17 Desember 2010 Permalink

      Carilah duniamu seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya dan carilah akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok pagi” (Hadis Riwayat Ibnu Asahin)

  • erva kurniawan 11:10 am on 8 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: adab mengucapkan salam, assalamualaikum, salam   

    Ucapkan Salam Sesuai Tuntunan 

    assalamualaikum13QS. An-Nisa’ [4] : 86. yang artinya “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).  Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”.

    Sewaktu saya menunggu chikatetsu (kereta bawah tanah) menuju pulang, saya melihat ada seorang muslimah. Ya, muslimah. Saya jarang bisa melihat atau bertemu muslimah di Negeri Matahari Terbit ini. Dari perawakannya, sepertinya dia dari bangsa Arab. Dia menoleh ke arah saya yang berada di barisan depan dan menggerakkan bibirnya mengucapkan sesuatu. Dia mengucapkan, “Assalamu’alaikum! ” Saya spontan menjawab dengan suara pelan, “Wa’alaikumsalam” dan kusambung dalam hati, “Warahmatullahi wabarakatuh. ”

    Sungguh hati ini bagaikan gurun sahara mendapat curahan hujan. Demikian damai dan bahagia sekali. Tidak setiap hari saya mendapatkan salam langsung seperti itu. Biasanya saya hanya mendapat salam lewat email atau telepon. Atau bila saya bertemu sahabat-sahabat saya sesama muslim Indonesia, maka salam pun bertebaran demikian indahnya.

    Tentu saja, salam formal khas Jepang tiap hari saya dapatkan. Ohayou gozaimasu, konnichiwa ataupun konbanwa (selamat pagi, selamat siang ataupun selamat malam), sudah biasa terdengar. Tetapi itu berbeda dengan salam dalam Islam.

    Pada pertemuan pengajian pun, teman yang datang belakangan akan mengucapkan salam kepada yang telah lebih dulu datang. Tidaklah elok bila yang datang belakangan, tetapi menyalami teman akrabnya yang duduk agak jauh. Sedangkan dia akan melewati teman lain yang duduk dekat pintu masuk. Seperti sabda Rasulullah, salam bukan saja diucapkan kepada orang yang dikenal tetapi juga kepada yang belum dikenal.

    Bagaimana dengan salam yang ditulis singkat atau diucapkan sambil lalu? Saya pernah membaca email yang salam penutupnya hanya ditulis “Wass.” Entahlah apakah saya saja yang merasa nelangsa dan merasa diacuhkan dengan salam seperti itu. Seakan ditinggal pergi buru-buru oleh si pemberi salam. Benarkah dia memberi salam ataukah empat huruf itu hanyalah suara yang mirip salam? Tidakkah terpikir untuk menambah empat huruf lagi hingga salam penutup itu mempunyai makna?

    Pernah pula, belum selesai saya menamatkan salam penutup yang pendek pun, si penelepon sudah menutup telepon. Begitu pula sebaliknya, telepon diputus tanpa jawaban salam saya dengar dari seberang.

    “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An-Nisaa’: 86)

    Bukankah salam itu doa? Doa yang diucapkan untuk saudaranya seakidah, “Semoga Allah memberi keselamatan padamu.” Walaupun memberi salam itu sunnah. Tetapi tahukah kita bahwa yang mengucapkan salam lebih dulu itu lebih dicintai Allah? Siapa yang tidak mau dicintai Allah? Semua makhluk berlomba mendapatkan cinta Allah. Kebalikannya, menjawab salam itu wajib. Salam dalam Islam merupakan doa. Selain itu salam juga merupakan sedekah.

    Pernah sahabat Rasulullah, Umar bin Khatab mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah. “Ya, Rasulullah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku…” Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu. “Ya, Rasulullah, itu kulakukan karena aku ingin supaya Umar bisa mendapatkan istana di Surga! Seperti yang disabdakan olehmu, ya Rasulullah. Bahwa siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga.”

    Bayangkan dengan memberi salam kita bisa membangun istana di Surga. Dengan salam, hati-hati kita terikat untuk saling mencintai. Kenapa kita tidak bersegera menebar salam kepada sahabat, handai taulan, keluarga dan saudara-saudara kita seiman? Sabda Rasulullah, “Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

    ***

    Oleh: Seriyawati, Arsip Eramuslim

     
    • amalia 1:38 pm on 12 November 2009 Permalink

      ijin share yah

  • erva kurniawan 10:42 am on 6 November 2009 Permalink | Balas
    Tags: musibah, musibah akherat, musibah dunia   

    Tiga Jenis Manusia Dalam Menghadapi Musibah 

    musibahBissmillahirrohmaan irrohiim

    “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. QS. Al-Isra’ (17) ayat 16.

    “Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan”. Asy-Syuara (26) : 208

    “Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman yang Kami telah membinasakannya sebelum mereka; maka apakah mereka akan beriman?“. QS.Al-Anbiya (21) ayat 6.

    “Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kelaliman”. QS. Al-Qashash 28 ayat 59.

    “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertobat)”. Al-Ahqaaf (46) ayat 27.

    “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lohmahfuz)” . QS.Al-Isyra’ (17) ayat 58.

    Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu kaum baik berupa kesenangan maupun kesusahan, akan tetapi umumnya musibah selalu identik dengan kesusahan, padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya juga musibah juga. Dan dengan musibah, Allah SWT hendak menguji, siapa yang paling baik amalnya.

    “Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya. QS Al-Kahfi (18) : 7

    Dan didalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah.

    “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. QS. Al-An’am (6) : 125

    “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Qs. Al-Baqarah (2) ayat 156.

    Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalh sebagai hukuman dan azab kepadanya, sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.

    Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa, Ia tidak pernah menyerahkan apa – apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT.

    Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya, Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.

    Dan Musibah yang ditimpakan kepada umat manusia ada dua macam. pertama, musibah dunia dan yang kedua, musibah akhirat.

    Musibah dunia salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Baqarah  (2) ayat 155. “Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.

    Adapun musibah akhirat adalah orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkenamusibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.

    Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.

    Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa dan siksa.

    Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman, “Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya, apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.

    Kesimpulan musibah demi musibah yang kita hadapi selama ini, masih lebih baik apabila kita mau bertobat, dan musibah demi musibah yang kita lihat , kita rasakan dan kita alami, bila kita hadapi dengan sabar, ikhlas dan tetap istikomah serta taubat sebenar-benarnya taubat dan juga kembali kepada baik hukum Allah yang telah Allah SWT gariskan dan telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an serta bimbingan yang telah Nabi Muhammad SAW contohkan untuk kita semua sesuai yang tertera dalam hadits yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, pastilah kita akan mendapat pahala serta petunjuk dan Insya Allah kita semua selamat baik dunia sampai akhirat, semoga….

    Aamiin Yarobbal Alamiin

    Marilah kita taubat sebenar-benarnya taubat, agar musibah yang kita rasakan kita alami dan kita dengar, Allah ganti dengan keberkahan dan keridhoan serta kebahagian baik dunia sampai akhirat.

    ***

    Penulis: Mujiarto Karuk

    Sumber: berbagai Sumber

     
  • erva kurniawan 7:12 pm on 19 October 2009 Permalink | Balas
    Tags: ayat kursi   

    Kelebihan Ayat Kursi 

    ayat-kursi

    Dari Anas bin Malik r.a. berkata, “Rasulullah S.A.W bersabda : Apabila seseorang dari umatku membaca ayat Kursi 12 kali, kemudian dia berwuduk dan mengerjakan solat subuh, nescaya Allah akan menjaganya dari kejahatan syaitan dan darjatnya sama dengan orang yang membaca seluruh al-Qur’an sebanyak tiga kali, dan pada hari kiamat ia akan diberi mahkota dari cahaya yang menyinari semua penghuni dunia.”

    Berkata Anas bin Malik, “Ya Rasulullah, apakah hendak dibaca setiap hari?”

    Sabda Rasulullah S.A.W, ” Tidak, cukuplah membacanya pada setiap hari Jumaat.”

    Umat-umat dahulu hanya sedikit sahaja yang mempercayai rasul-rasul mereka dan itu pun apabila mereka melihat mukjizat secara langsung. Kita sebagai umat Islam tidak boleh ragu-ragu tentang apa yang diterangkan oleh Allah dan Rasul. Janganlah kita ragu-ragu tentang al-Qur’an, hadis dan sunnah Rasul kita. Janganlah kita menjadi seperti umat yang terdahulu yang mana mereka itu lebih suka banyak bertanya dan hendak melihat bukti-bukti terlebih dahulu sebelum mereka beriman.

    Setiap satu yang dianjurkan oleh Rasulullah S.A.W kepada kita adalah untuk kebaikan kita sendiri. Rasulullah S.A.W menyuruh kita mengamalkan membaca surah Kursi. Kehebatan ayat ini telah ditearngkan dalam banyak hadis. Kehebatan ayat Kursi ini adalah untuk kita juga, yakni untuk menangkis gangguan syaitan dan kuncu-kuncunya di samping itu kita diberi pahala.

    Begitu juga dengan surah al-Falaq, surah Yasin dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai keistimewaannya. Setiap isi al-Qur’an itu mempunyai kelebihan yang tersendiri. Oleh itu kita umat Islam, janganlah ada sedikit pun keraguan tentang ayat-ayat al-Qur’an, hadis Nabi dan sunnah Baginda S.A.W. Keraguan dan was-was itu datangnya dari syaitan.

    ***

     
  • erva kurniawan 6:16 pm on 18 October 2009 Permalink | Balas
    Tags: shalawat nabi,   

    Kelebihan Berselawat 

    SHOLAWATRasulullah S.A.W telah bersabda bahawa, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail A.S. telah berkata kepadaku.

    Berkata Jibril A.S. : “Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca selawat ke atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.”

    Berkata pula Mikail A.S. : “Mereka yang berselawat ke atas kamu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.”

    Berkata pula Israfil A.S. : “Mereka yang berselawat kepadamu akan aku sujud kepada Allah S.W.T dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah S.W.T mengampuni orang itu.”

    Malaikat Izrail A.S pula berkata : “Bagi mereka yang berselawat ke atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi-nabi.”

    Apakah kita tidak cinta kepada Rasulullah S.A.W.? Para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang berselawat ke atas Rasulullah S.A.W.

    Dengan kisah yang dikemukakan ini, kami harap para pembaca tidak akan melepaskan peluang untuk berselawat ke atas junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah, Rasul dan para malaikat.

    ***

     
    • rully 3:09 pm on 20 Oktober 2009 Permalink

      subhanallha,,,jadi menambah keimanan lagi nih..
      pak,,,bu,,, langganan majalah sinar islam online yuk,,, dijamin deh bakalan uptodate tentang berita keislaman yang terbaru,,,, mungkin bisa jadi terinspirasi dari artikel nya lho…

  • erva kurniawan 6:40 pm on 4 October 2009 Permalink | Balas
    Tags: bekicot, fenomena bekicot, puasa bekicot   

    Binatang Yang Berpuasa : Bekicot 

    bekicotBekicot, juga sering disebut di daerah tertentu, siput atau keong. Binatang kecil ini sering merayap atau menempel di tanaman. Bekicot merupakan musuh bagi para peladang karena merupakan hama  yang sulit diberantas. Bekicot hanya mampu berjalan merayap, dengan tubuh mereka yang berbentuk agak panjang namun sangat lunak. Untuk menghindarkan diri dari bahaya, tubuhnya dilindungi oleh semacam cangkang yang keras.

    Bekicot menyukai tempat yang lembab. Mereka lebih suka mengubur dirinya didalam tanah sepanjang hari yang panas, dan keluar menjelang sore hari atau di saat siang hari yang mendung. Hal ini dilakukan bekicot untuk melindungi kulitnya dari panas yang terik.

    Bekicot mendapatkan makanan dari tanaman juga dari daun-daun yang gugur. Makanan ini dengan cepat membentuk lemak dalam tubuh mereka. Di negara empat musim, bekicot juga berpuasa seperti binatang lainnya. Tapi anehnya, mereka juga berpuasa di musim panas.

    Allah Maha Besar menciptakan bekicot sedemikian rupa. Mereka mampu mengeluarkan cairan lendir untuk melindungi kulitnya. Sehingga tidak terlalu kering di musim kemarau yang panjang. Walaupun demikian kemungkinan dehidrasi sering juga tak terhindarkan.

    Oleh karenanya meski bekicot mengeluarkan cairan berlendir, pada hari-hari yang sangat panas mereka menempelkan diri pada batang pohon, atau didahan tanaman merambat. Atau bahkan di dinding rumah. Kemudian cairan berlendir ini akan berubah menjadi semacam lapisan kering di seluruh tubuh mereka. Dalam keadaan seperti inilah, mereka berpuasa. Mereka menunggu sampai hari yang panas menjadi lebih sejuk. Di negara empat musim biasanya terjadi di saat menjelang musim gugur.

    Bekicot berhenti puasa ketika cuaca menjadi lebih sejuk. Mereka kembali mencari makanan, mengganti lemak tubuh yang hilang selama proses berpuasa.

    Allah Maha Besar memberi tanda bagi umatNya yang mau membaca alam, membaca tanda-tanda kekuasaanNya. Subhanallah. ..Maha Besar Allah !!.

    ***

    Oleh: Dwitra Zaky, Oktober 2004.

     
    • mamen 9:52 pm on 23 Oktober 2009 Permalink

      apakah bekecot halal untuk di konsumsi,khusus nya oleh umat islam?

  • erva kurniawan 10:14 am on 28 September 2009 Permalink | Balas
    Tags: , bekerja keras   

    Anjuran Untuk Bekerja