Updates from Juli, 2010 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:35 am on 8 July 2010 Permalink | Balas  

    Hukum Shalat di Belakang Pelaku Maksiat yang Menampakkan Kemaksiatannya 

    Ahlus Sunnah menganggap shalat berjama’ah di belakang imam baik yang shalih maupun yang fasik dari kaum muslimin adalah sah. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal diantara mereka (Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 529, takhrij dan ta’liq oleh Syaikh Syu’aib al Arnauth dan ‘Abdullah bin Abdul Muhsin at Turki).

    Dalam Shahih Bukhari no. 1660, 1662 dan 1663 disebutkan bahwa sahabat ‘Abdullah bin Umar radhiyallaHu ‘anHu pernah shalat dengan bermakmum kepada al Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi. Padahal al Hajjaj adalah seorang yang fasik dan bengis, sementara Abdullah bin Umar radhiyallaHu ‘anHu adalah seorang sahabat yang sangat hati – hati dalam menjaga dan mengikuti sunnah Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam.

    Al Hajjaj adalah seorang amir yang zhalim, dia menjadi amir di Irak selama 20 tahun dan dialah yang membunuh Abdullah bin Zubair bin ‘Awam ra. di Makkah, padahal sahabat Abdullah bin Zubair ra. adalah salah seorang dari empat orang yang ditugaskan oleh Khalifah Utsman bin Affan ra. untuk menulis ulang Al Qur’an. Hajjaj mati tahun 95 H (Taqribut Tahdzib no. 1144 dan Tahdzibut Tahdzib II/184-186 oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalany)

    Demikian juga yang dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik radhiyallaHu ‘anHu yang juga bermakmum kepada al Hajjaj bin Yusuf.

    Berkaitan dengan masalah ini, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka betul, kalian dan mereka mendapat pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa” (HR. Al Bukhari no. 694 dan Ahmad II/355 dari Abu Hurairah ra.)

    Imam Hasan al Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang boleh atau tidaknya shalat di belakang ahlul bid’ah, beliau menjawab, “Shalatlah di belakangnya dan ia yang menanggung dosa bid’ahnya”. Lalu Imam al Bukhari memberikan Bab dalam Kitab Shahihnya berkaitan dengan perkataan Imam Hasan al Bashri rahimahullah tadi yaitu : Bab Imamatil Maftuun wal Mubtadi’ di Kitabul Adzan.

    Berkata pula Imam Nawawi rahimahullah, “Bahwa shalat di belakang orang yang fasik dan pemimpin yang zhalim, sah shalatnya” (al Majmu’ Syahrul Muhadzdzab IV/253)

    Dan Imam Syafi’i rahimahullah menyebutkan dalam al Mukhtashar bahwa makruh hukumnya shalat di belakang orang fasik dan ahlul bid’ah, kalau dikerjakan juga, maka shalatnya tetap sah, dan inilah pendapat jumhur ulama’.

    ***

    Maraji’: Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At Taqwa, Bogor, Cetakan Kedua, April 2005 M. Semoga Bermanfaat.

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 6 July 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Taubat 

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Taubat adalah kembali dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepadaNya.

    Taubat itu disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” [Al-Baqarah : 222]

    Taubat itu wajib atas setiap mukmin. “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” [At-Tahrim : 8]

    Taubat itu salah satu faktor keberuntungan. “Artinya : Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” [An-Nur : 31]

    Keberuntungan ialah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang dikhawatirkannya. Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan meskipun banyak. “Artinya : Katakanlah, Hai hamba-hambaKu yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semunya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az-Zumar : 53]

    Jangan berputus asa, wahai saudaraku yang berdosa, dari rahmat Tuhanmu. Sebab pintu taubat masih terbuka hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Allah membentangkan tanganNya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tanganNya di siang hari agar pelaku dosa malam hari bertubat hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya” [Hadits Riwayat Muslim dalam At-Tubah, No. 2759]

    Betapa banyak orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang banyak dan besar, lalu Allah menerima taubatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain berserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih ; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Al-Furqan : 68-70]

    Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat.

    Pertama: Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan meniatkan taubat itu karena mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.

    Kedua: Menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena melakukannya dan berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

    Ketiga: Meninggalkan kemasiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia meninggalkannya, jika itu berupa perbuatan haram dan ia segera mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah meninggalkan kewajiban. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka segera ia membebaskan diri darinya, baik dengan mengembalikannya kepada yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

    Keempat: Bertekad untuk tidak kembali kepada kemasiatan tersebut di masa yang akan datang.

    Kelima: Taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik ketika ajal datang maupun ketika matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan. ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” [An-Nisa : 18]

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Barangsiapa bertubat sebelum matahri terbit dari tempat tenggelamnya, maka Allah menerima taubatnya” [Hadits Riwayat Muslim daalm Adz-Dzikir wa Ad-Du’a, No. 2703]

    Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    ***

    [Risalah fi Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 44-45, Syaikh Ibn Utsaimin]

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah, Penerbit Darul Haq]

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 27 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: panduan sholat berjamaah, ruku   

    Mendapatkan Ruku’ berarti Mendapat 1 Raka’at 

    Membaca Al Faatihah merupakan rukun di dalam shalat, dari Ubadah bin ash Shamit ra., Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Laa Shalaata liman lam yaqra’ bifaatihatil kitaab” yang artinya “Tidak (sah) shalat orang yang tidak membaca fatihatul kitab (al faatihah)” (HR. Bukhari no. 756, Muslim no. 394, At Tirmidzi no. 247, An Nasa’I II/137, Ibnu Majah no. 837 dan Abi Dawud no. 807)

    Namun dalil di atas adalah dalil yang sifatnya umum, dan jika terdapat dalil khusus yang berkaitan dengan dalil umum maka kaidahnya adalah dalil khusus yang didahulukan.

    Berkaitan dengan terlambatnya makmum untuk mengikuti shalat berjama’ah, maka Rasulullah ShalallaHu alaiHi wa sallam memberikan beberapa tuntunannya yaitu :

    1. Mengikuti imam shalat dalam keadaan apa pun.

    Dari Ali bin Abi Thalib ra. dan Mu’adz bin Jabal ra., mereka mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat imam sedang berada pada suatu keadaan, maka hendaklah ia melakukan gerakan sebagaimana yang dilakukan imam” (HR. At Tirmidzi no. 588, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiih Sunan At Tirmidzi no. 484)

    2. Mendapatkan ruku’ berarti mendapatkan 1 raka’at.

    Dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa Nabi ShalallaHu alaiHi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendatangi shalat jama’ah pada saat kami sedang sujud, maka sujudlah dan itu jangan dihitung (satu raka’at). Dan barangsiapa mendapati (imam) sedang ruku’, maka dia mendapatkan satu raka’at shalat” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’ush Shaghiir no. 468)

    ***

    Maraji’:

    Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 24 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , Dosa Besar Zina,   

    Dosa Besar Zina 

    Dosa zina itu tidaklah sama. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra’ : 32)

    Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali siapa saja yang bertaubat. (QS. al-Furqan: 68-70)

    Perempuan yang berzina. dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (QS. an-Nuur : 2)

    Para ulama berkata, “Ini adalah hukuman bagi pezina perempuan dan laki-laki yang masih bujang, belum menikah di dunia. Jika sudah menikah walaupun baru sekali seumur hidup, maka hukuman bagi keduanya adalah dirajam dengan bebatuan sampai mati. Demikian pula telah dijelaskan dalam hadits dari Nabi SAW bahwasanya jika hukuman qishash ini belum dilaksanakan bagi keduanya di dunia dan keduanya mati dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa zina itu niscaya keduanya akan diadzab di neraka dengan cambuk api.

    Dalam kitab Zabur tertulis, “Sesungguhnya para pezina itu akan digantung pada kemaluan mereka di neraka dan akan disiksa dengan cambuk besi. Maka jika mereka melolong karena pedihnya cambukan malaikat Zabaniyah berkata, “Ke mana suara ini ketika kamu tertawa-tawa, bersuka ria dan tidak merasa diawasi oleh Allah serta tidak malu kepada-Nya.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman seorang pezina itu ketika berzina. Tidaklah beriman seorang pencuri itu ketika mencuri. Tidaklah beriman seorang yang menenggak arak itu ketika menenggaknya. Dan tidaklah beriman orang yang merampas harta yang tinggi nilainya – karenanya orang-orang memandangnya – itu ketika merampasnya.” (Hadits Riwayat Bukhariy)

    Beliau juga bersabda, “Apabila seorang hamba berzina akan keluarlah iman darinya. Keimanan itu seperti payung yang ada di atasnya. Kemudian jika ia berhenti dari perbuatan itu maka imannya akan kembali kepadanya, Beliau juga bersabda, “Barangsiapa berzina atau meminum arak niscaya Allah mencabut keimanan dari dirinya sebagaimana manusia melepaskan baju dari kepalanya.” Juga, “Tiga orang yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak akan dilihat serta disucikan, pun bagi mereka azab yang pedih, seorang tua yang berzina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang congkak.”

    Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Apakah dosa yang paling besar di sisi Allah ta’ala?; Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang menciptakanmu, ‘Sungguh itu sangatlah besar. Lalu apa lagi? Tanyaku kembali. Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu membunuh anakmu karena takut jika kelak ia makan bersamamu. ‘Lalu apa lagi’, tanyaku lagi. Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu berzina dengan kekasih (maksudnya istri) tetanggamu.’

    Maka Allah SWT menurunkan pembenaran dari sabda beliau itu dengan firman-Nya, “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiarnat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan hina, kecuali siapa saja yang bertaubat.” (QS. Al-Furqan:68-70)

    Perhatikan, bagaimana Allah telah rnenyertakan penyebutan zina dengan istri tetangga dengan menyekutukan Allah dan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang dibenarkan syara’. Hadits ini tercantum dalam Bukhari dan Muslim.

    Imam Bukhari meriwayatkan hadits tidur Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub. Dalam hadits itu disebutkan bahwa Beliau SAW didatangi oleh malaikat Jibril dan Mikail. Beliau berkisah,”Kami berangkat pergi sehingga sampai di suatu tempat semisal tannur bagian atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya luas. Dari situ terdengar suara gaduh dan ribut-ribut. Kami menengoknya, ternyata disitu banyak laki-laki dan perempuan telanjang. Jika mereka dijilat api yang ada dibawahnya mereka melolong oleh panasnya yang dahsyat. Aku bertanya,; Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah para pezina perempuan dan laki-laki. Itulah adzab bagi mereka sampai tibanya hari kiamat.”

    Semoga Allah melimpahkan ampunan dan kesejahteraan batin bagi kita semua.

    Tentang tafsir bahwa Jahannam itu ‘ia memiliki tujuh pintu’ (al-hijjr:44) ‘Atha’ berkata, “Pintu yang paling hebat panas dan sengatannya dan yang paling busuk baunya adalah pintu yang diperuntukkan bagi para pezina yang berzina setelah mereka tahu keharamannya.”

    Makhul ad-Dimasyqiy berkata, “Para penghuni neraka mencium bau busuk berkata, ‘Kami belum pernah mencium bau yang lebih busuk dari bau ini. Dijelaskan kepada mereka, ‘Itulah bau kemaluan para pezina.”

    Ibnu Zaid, salah seorang imam dalam bidang tafsir berkata ” Sesungguhnya bau kemaluan para pezina itu benar-benar menyiksa para penghuni neraka.”

    Di antara sepuluh ayat yang diperintahkan oleh Allah kepada Musa as. “Janganlah kamu mencuri dan jangan pula berzina sehingga Aku menutup wajah-Ku darimu!” Jika ini merupakan khithab (kalimat) untuk Nabi Allah, Musa, lalu bagaimana dengan yang lainnya?!

    Nabi SAW telah menyampaikan bahwa Iblis menyebar para tentaranya ke muka bumi, berkata, “Siapa di antara kalian yang menyesatkan seorang muslim akan aku kenakan sebuah mahkota di kepalanya. Siapa yang paling besar fitnahnya paling dekatlah kedudukannya kepadaku. Salah satu tentaranya menghadap dan berkata, “Aku akan terus menggoda si Fulan sampai ia mau menceraikan istrinya.” Iblis berkata, “Aku tidak akan memberikan mahkota sebab pasti nanti ia menikah lagi dengan yang lain. Tentara yang lain menghadap dan berkata, “Aku akan terus menggoda si fulan sampai aku berhasil menanamkan permusuhan antara ia dan saudaranya.” Iblis berkata, “Aku tidak akan memberikan mahkota sebab suatu saat ia pasti berdamai lagi.” Tentara yang lain menghadap dan ia berkata, “Aku akan terus menggoda si Fulan sampai ia berzina.” Iblis berkata, “Wah, bagus sekali itu.” Lalu Iblis mendekatkan tentaranya itu kepadanya dan meletakkan mahkota di atas kepalanya.

    Kita berlindung kepada Allah dari keburukan setan dan tentara-tentaranya.

    Dari Anas, Rasulullah SAW bersabda, ” Sesungguhnya iman ‘sirbal’, kain panjang yang dipakaikan oleh Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Apabila seorang hamba berzina maka Allah mencabut sirbal itu darinya. Jika bertaubat, Dia akan mengembalikannya.

    Diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Wahai sekalian orang-orang Islam, takutlah kalian dari (melakukan) zina. Sungguh padanya enam ancaman; tiga di dunia dan tiga yang lain di akhirat. Yang di dunia adalah hilangnya kharisma wajah, pendeknya umur, dan kefakiran yang berkepanjangan. Adapun yang di akhirat adalah kemurkaan Allah Tabara wa ta’ala, buruknya hisab, dan adzab neraka.”

    Beliau juga bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berhenti minum arak, niscaya Allah ta’ala akan memberinya minum air sungai Ghuthah. Yaitu sungai di neraka yang bersumber dari kemaluan para pelacur (wanita-wanita pezina).” (Hadist riwayat Imam Ahmad)

    Begitulah, di neraka kelak akan mengalir dari kemaluan mereka nanah dan darah busuk lalu itu semua akan diminumkan kepada orang yang mati dalam keadaan ‘mushirr’, terus menerus dan tidak berhenti dari minum arak.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dosa setelah syirik yang lebih besar disisi Allah dari pada ‘setetes air’ yang dituangkan oleh seorang laki-laki ke kemaluan yang tidak dihalalkan baginya.”

    Rasulullah SAW juga bersabda,”Di Jahannam ada sebuah lembah yang dipenuhi oleh ular berbisa. Ukurannya sebesar leher unta. Ular-ular ini akan mematuk orang yang meninggalkan shalat dan bisanya akan menggerogoti tubuhnya selama 70 tahun, lalu terkelupaslah daging-dagingnya.Di sana juada lembah yang namanya Jubb al-Huzn. la dipenuhi ular dan kalajengking. Ukuran kalajengkingnya sebesar bighal (peranakan kuda dan keledai). la memiliki 70 sengat. Masing-masingnya memiliki kantung bisa. la akan menyengat pezina dan memasukkan isi kantung bisanya ke dalam tubuh pezina itu. la akan merasakan pedih sakitnya selama 1000 tahun. Lalu terkelupaslah daging-dagingnya dan akan mengalir dari kemaluannya nanah dan darah busuk.”

    Disebutkan pula bahwa barangsiapa meletakkan tangannya pada seorang wanita dengan disertai syahwat, pada hari kiamat nanti akan datang dengan tangan terbelenggu di leher. Jika ia menciumnya, kedua mulutnya akan digadaikan di neraka. Dan jika berzina dengannya, pahanya akan berbicara dan bersaksi pada hari kiamat nanti. Ia akan berkata, “Aku telah berbuat sesuatu yang haram.” Maka Allah memandangnya dengan pandangan murka. Pandangan Allah ini mengenai wajah orang itu dan ia pun mengingkarinya. la malah bertanya, Apa yang telah aku lakukan?” Tiba-tiba seraya bersaksi lidahnya berkata, “Aku telah mengucapkan kata-kata yang haram.” Kedua tangannya bersaksi, “Aku telah memegang sesuatu yang haram.” Kedua matanya juga bersaksi, “Aku telah melihat yang diharamkan.” Kedua kakinya juga, “Aku telah berjalan menuju kepada yang haram.” Kemaluannya berkata, “Aku telah melakukannya.” Malaikat penjaga berkata ”Aku telah mendengarnya.” Yang satu lagi berkata, “Aku telah melihatnya.; Akhirnya Allah berfirman, “Adapun Aku telah mengetahui semuanya dan menutupinya.” Selanjutnya Allah berfirman, “Wahai para Malaikat-Ku, bawa orang itu dan timpakan kepadanya adzab-Ku. Aku sudah teramat murka kepada seseorang yang tidak punya malu kepada-Ku.”

    Riwayat ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat an-Nuur: 24 “Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

    Zina yang paling besar dosanya adalah berzina dengan saudara kandung, ibu tiri, dan semua wanita yang termasuk mahram. Hakim telah menyatakan keshahihan hadits yang berbunyi “Barangsiapa berzina dengan wanita yang masih mahramnya maka bunuhlah ia.” Sahabat Bara’ meriwayatkan bahwa pamannya (saudara ibu) telah diutus oleh Rasulullah SAW untuk menemui seseorang yang telah berzina dengan ibu tirinya. Ia diperintahkan untuk membunuh dan menjadikan hartanya sebagai ghanimah.

    Kita memohon kepada Allah yang Maha Pemberi agar mengampuni semua dosa-dosa kita. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

    ***

    Semoga bermanfaat

    Oleh: Said Alwin

     
    • hana 6:34 pm on 4 September 2011 Permalink

      lalu bagaimana cara menanggulangi dan toubat nasuha yg benar agar allah mau mengampuni dosanya..?

    • Bagus 11:50 pm on 11 Oktober 2011 Permalink

      Saya mendengar Taubat itu ada 3 syarat : 1. Amat sangat menyesali dengan apa yang sudah dilakukan 2. tidak pernah mengulangi lagi apa yang dilakukan 3. memperbaiki diri dengan perbuatan baik

    • jois 9:26 am on 3 November 2011 Permalink

      Bagi adik-adik yg sudah jadi korban hasutan iblis dan tentaranya, bertobatlah agar Allah SWT berkenan memberikan kebajikan didunia dan diakhirat.Amin…

    • agustina madani 12:23 pm on 6 Maret 2012 Permalink

      Syukron…

    • wahyu 4:35 pm on 13 Maret 2012 Permalink

      pak ustad sya pernah melakukan zina 6 kali apakah allah mau 5fin q?

  • erva kurniawan 1:07 am on 22 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Kehidupan Sesudah Mati   

    Kehidupan Sesudah Mati 

    Sesungguhnya hidup sesudah mati itu adalah hak. Allah telah menjelaskannya dalam Al Qur’an. Meski demikian, sejak zaman dulu hingga zaman sekarang, banyak orang yang tidak percaya akan adanya kehidupan sesudah mati. Mereka mengira jika sudah mati dan jadi tulang belulang, ya sudah. Tidak ada apa-apa lagi.

    Dengan cara begitu, orang bebas berbuat jahat. Toh mereka tidak akan dapat ganjaran di akhirat nanti.

    Inilah perkataan orang-orang yang kafir akan adanya hidup sesudah mati: “Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata:  “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” [Al Israa’: 98]

    “Dan berkata manusia:  “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” [Maryam: 66]

    Mereka ragu bahwa Allah mampu menciptakan mereka kembali.

    Tapi Allah menegaskan bahwa Allah yang telah menciptakan mereka dari ketiadaan, sanggup menciptakan mereka kembali dari tulang-tulang yang berserakan. Ibarat seorang yang membuat mobil, begitu mobilnya hancur berantakan, dia bisa membuat mobil itu bangkit kembali dari rongsokan yang tersisa. Namun Allah SWT jauh lebih hebat dari itu.

    Kehidupan di dunia ini fana. Pasti akan hancur. Para ilmuwan menyatakan bahwa energi matahari dan juga bintang-bintang lainnya yang terbakar terus berkurang setiap hari. Suatu saat energi itu akan habis dan gaya gravitasi serta gaya lainnya yang membuat bintang-bintang tidak bertabrakan akan hilang. Oleh karena itu, kehidupan dunia pasti sirna dan diganti dengan kehidupan akhirat yang lebih kekal dan lebih baik.

    “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” [Al Israa’: 99]

    “Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?” [Maryam: 67]

    Dan Allah telah menjanjikan bahwa Dia akan membangkitkan orang-orang yang kafir bersama setan dan memasukkan mereka ke neraka Jahannam untuk menerima balasan atas kekafiran dan perbuatan jahatnya.

    “Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut.” [Maryam: 68]

    Mudah-mudahan kita beriman pada hari akhir dan hidup sesudah mati. Dan tidak tersesat oleh orang-orang kafir.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 15 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Mengakhirkan Sholat, Meninggalkan Sholat   

    Mengakhirkan dan Meninggalkan Sholat 

    Saudara-saudara Rahimakumullah, ketahuilah bahwa sesungguhnya bencana yang dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian masyarakat kita pada Sholat Lima Waktu, Sholat Jum’at dan Sholat Berjamaah, padahal semua itu adalah ibadah-ibadah yang dengannya Allah meninggikan derajat dan menghapuskan dosa-dosa maksiat. Dan sholat adalah cara ibadah seluruh penghuni bumi dan langit.

    Rasulullah SAW bersabda, “Langit merintih dan memang ia pantas merintih, karena pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (sholat) kepada Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Imam Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

    Orang yang meninggalkan sholat karena dilalaikan oleh urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya.

    Dengarkanlah nasihatku tentang nasib orang yang meninggalkan sholat, baik semasa hidup maupun setelah meninggal. Sesungguhnya Allah merahmati orang yang mendengarkan nasihat kemudian memperhatikan dan mengamalkannya.

    Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya sholat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’, 4:103)

    Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Setelah Isya’ aku bersama Umar bin Khattab RA pergi ke rumah Abu Bakar AsShiddiq RA untuk suatu keperluan. Sewaktu melewati pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan. Kami pun terhenyak dan berhenti sejenak. Kami dengar beliau menangis dan meratap.”

    “Ahh…, andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap sholat. Ahh…, aku sungguh menyesali umatku.”

    “Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,” kata Umar RA. Umar kemudian mengetuk pintu. “Siapa?” tanya Aisyah RA. “Aku bersama Abu Hurairah.”

    Kami meminta izin untuk masuk dan ia mengizinkannya. Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya, “Duhai Tuhanku, Engkau adalah Waliku bagi umatku, maka perlakukan mereka sesuai sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”

    “Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?”

    “Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah sehabis mengerjakan sholat di mesjid, Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu,” kemudian ia berkata, “Bacalah!”

    “Apa yang harus kubaca?”

    “Bacalah: “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam, 19:59)

    “Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan sholat?”

    “Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan sholat, mengakhirkan sholat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu. Bagi mereka satu dinar (uang) lebih berharga daripada sholat.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA.

    Abu Darda` berkata, “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berdzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan sholat.”

    Diriwayatkan pula bahwa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah adalah sholat. Jika sholat seseorang cacat, maka seluruh amalnya akan ditolak.

    Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk sholat, karena Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.”

    Atha’ Al-Khurasaniy berkata, “Sekali saja seorang hamba bersujud kepada Allah di suatu tempat di bumi, maka tempat itu akan menjadi saksinya kelak di hari kiamat. Dan ketika meninggal dunia tempat sujud itu akan menangisinya.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Sholat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama.” (HR. Imam Baihaqi)

    “Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (HR. Bazzar dari Abu Darda`), kafir yang dimaksud disini adalah ingkar terhadap perintah Allah karena perbuatan orang kafir adalah tidak pernah shalat. Dalam Shahih Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda yang membedakan antara orang beriman dengan orang kafir adalah shalat. Maka maukah kita disamakan dengan orang kafir, padahal Rasulullah saw bersabda”Barang siapa mengikuti kebiasaan suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut”. Orang2 kafir adalah orang yang tidak pernah shalat, maukah kita termasuk golongan mereka.

    “Barang siapa bertemu Allah sedang ia mengabaikan sholat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikan kebaikannya.” (HR. Thabrani)

    “Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka terlepas sudah darinya jaminan Muhammad.” (HR. Imam Ahmad dan Baihaqi)

    “Allah telah mewajibkan sholat lima waktu kepada hamba-Nya. Barang siapa menunaikan sholat pada waktunya, maka di hari kiamat, sholat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya. Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpulkan bersama Firaun dan Haman.” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad).

    Wasiat ini mudah-mudahan sangat bermanfaat buat kita semuanya umat Islam. Tugas kita semua untuk saling mengingatkan sesama Muslim akan pentingnya Sholat!

    ***

    Dikutip dari Kitab Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Semoga bermanfaat, kiriman dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 14 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Pohon Az-Zaqqum, Pohon Zaqqum, Zaqqum   

    Pohon Neraka Jahannam: Az-Zaqqum 

    Nabi bersabda, “Andai setetes pohon Az-Zaqqum menetes ke dunia, maka merusak kehidupan penduduk dunia. Bagaimana dengan orang yang makannya ialah Az-Zaqqum?” (HR. At Timidzi)

    Dari Ibnu Abbas ra, berkata, “Nabi SAW membaca ayat ini, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Al-Imran 102), lalu bersabda, ‘Andai setetes pohon Az-Zaqqum menetes ke dunia, maka merusak kehidupan penduduk dunia. Bagaimana dengan orang yang makannya ialah Az-Zaqqum?” (HR. At Timidzi-Hadits ini Hasan shahih)

    Diriwayatkan Ibnu Madjah di As-sunan, Kitab Az-Zuhud, Bab shifati AN-Naar, 2/1446 dan imam Ahmad di Al-Musnad,1/301, 338 Dan disebutkan Al-Albani di Shahih Al-Jami’ Ash-Shagir, 5/59, hadits no. 5126 dari Ibnu Abbas ra.

    Makna Hadits

    Motivasi orang untuk berbuat baik dan membekali diri dengan sifat mulia itu berbeda antar satu dengan lain. Ada orang yang motivasinya ialah menyukai hal yang baik dan akhlak mulia. Ada orang yang motivasinya ialah mengharapkan pahala dan imbala dan sebagainya.

    Jika motivasi seseorang semakin kuat, ia semakin termotivasi untuk mengerjakan kebaikan dan meningkatkan akhlak mulia. Begitu pula sebaliknya.

    Hadits yang sedang kita bahas sekarang memotivasi, dengan lembut, kelompok tertentu, yaitu orang yang tidak mau mengerjakan kebaikan.

    Dalil pohon Az-Zaqqum

    “(Makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum? Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.” (Ash-Shaffat: 62-68)

    “Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang amat panas. (Ad-Dukhan: 43-46)

    “Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum. Dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan” (Al Waaqi’ah: 51-56)

    Tafsir

    Az-Zaqqum adalah pohon yang tumbuh di dasar Saqar (Neraka jahannam), dahannya membentang tinggi hingga mengenai lapisan neraka, neraka jahanam membuatnya panas membara hingga mendidih seperti mendidihnya air panas. Penghuni neraka memakannya hingga penuh, setelah makan Az-Zaqqum maka mereka minum air panas seperti unta kehausan yang tak kan hilang sama sekali.

    Hikmah:

    1. Umat Islam harus komitmen dengan manhaj Allah SWT, dengan amal kebiakan, berhenti maksiat dan dosa, sebelum ajal menjelang, dan sebelum Az-Zaqqum menjadi makanan sehari dan air minum yang panas selamanya
    2. Dahsyatnya siksa neraka, yang tak pernah dilihat mata. Contohnya, Az-Zaqqum tersebut.
    3. Hadits dan ayat tersebut sebagai hiburan bagi pembela kebenaran, kendati pembela kebatilan menyiksa mereka namun kelak pembela kebatilan yang menyiksa pembela kebenaran tersebut akan mendapatkan siksa balasan di neraka.

    ***

    Dikutip dari Buku: Pesan Nabi-Dr. As-Sayyid Muhammad Nuh terbitan An-Nadwah 149-153 Cet 1. Syawwal 1425/ November 2004 H.

     
    • FADJAR SETYANTO 5:50 am on 15 Juni 2010 Permalink

      Bagus, luar biasa.

    • rizal 9:46 pm on 15 Juni 2010 Permalink

      Saya telah membaca tulisan ini hingga sampai akhir… Masyallah.. Subhannallah.. Bagaimana Allah Maha Teli dalam menghitung setiap mili detik apa saja yang telah manusia perbuat.
      Demi Allah, jika saya teringat ini, hamba mohon ampun kepadamu Ya Allah Azza Wa Jalla….. Engkaulah, Tuhan semesta jagad raya, yang menghidupkan dan mematikan. Jika Engkau tidak memberi hidayah hingga sampai sekarang , mungkin hamba adalah adalah orang yang termasuk golongan orang-orang kufur dari hidayahMu. Jika Engkau, masih memberi hamba, hidayah, semoga hamba termasuk orang-orang golongan yang ikhlas dan beriman kepadaMu ya Rab.

    • koecingoptek 3:44 pm on 22 September 2010 Permalink

      di indonesia terdapat pohon itu?

    • endra 2:18 pm on 8 April 2011 Permalink

      maha suci ALLAH tuhan Langit dan Bumi

      yang memiliki siksa yang paling pedih bagi hambanya yang membangkang……

    • Nieta Gengsolimus 7:02 pm on 5 Februari 2012 Permalink

      subhanallah
      Kita berlindung dari segala siksa dan pedih kepada ALLAH SWT.

    • Gina 5:26 am on 6 Maret 2012 Permalink

      MasyaAllah, Rahmat Mu Yaa Allah sangat luas dibandingkan dengan gunungan dosa, oleh karena Yaa Allah curahkan lah Rahmat Mu agar hamba dapat terhindar dari Maksiat

    • Fauzan 9:56 am on 20 April 2012 Permalink

      Izinn COPAS ya Saya INGIN BAGI2 Ilmu!!

  • erva kurniawan 1:23 am on 11 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Mencintai Rasul   

    Mencintai Rasul 

    Oleh : Alwi Shahab

    Abdullah bin Hisyam menceritakan, suatu hari ia dan sejumlah sahabat melihat Nabi Muhammad SAW sedang menjabat tangan Umar bin Khatab. Sambil berjabat tangan itu, Umar berkata, ”Demi Allah wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada segalanya, kecuali diriku sendiri.”

    Mendengar perkataan Umar, Nabi berujar, ”Tidak beriman salah seorang dari kamu sampai aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri.” Mendengar sabda Nabi, Umar pun berkata, ”Kalau begitu, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Mendengar jawaban sahabatnya ini, Rasulullah menegaskan, ”Sekarang inilah imanmu telah sempurna, wahai Umar.”

    Dalam sejarah Islam, kita dapati banyak sekali sahabat Rasulullah yang membela dan mencintainya melebihi dirinya dan keluarganya. Mereka rela berkorban termasuk nyawanya sendiri dalam membela Nabi. Seperti Ali bin Abi Thalib, saat Nabi hendak hijrah ke Madinah, untuk mengelabui kaum kafir Quraish, bersedia tidur di tempat tidur Nabi.

    Ada kisah menarik dari seorang perempuan Anshar ketika Perang Uhud. Dalam peperangan melawan kaum kafir, perempuan ini telah kehilangan suami, ayah, dan saudara lelakinya, yang syahid membela Islam. Ketika oleh beberapa sahabat berita duka ini disampaikan kepadanya, perempuan itu bertanya, ”Bagaimanakah keadaan Rasulullah?” Dijawab, ”Beliau sebagaimana yang engkau cintai.”

    Setelah perempuan itu melihat sendiri Rasulullah, ia pun berkata, ”Segala musibah sesudah engkau adalah kecil.” Para ulama dan sejarawan Islam menyatakan, ”Mencintai Rasulullah merupakan fenomena kecintaan kepada Allah. Sebab, beliaulah pembawa wahyu, penyampai risalah, yang membimbing manusia ke jalan kebenaran dan penunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah pemilik segala yang ada di langit dan bumi.

    Allah sendiri memberikan penghargaan yang tinggi kepada Rasulullah, sebagai contoh panutan. Begitu tingginya penghormatan kepada Nabi, sehingga diabadikan dalam surah Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi, ”Allah dan para malaikat memberikan salam kepada Nabi. Wahai, orang-orang beriman, berikanlah shalawat dan salam kepadanya.”

    Karena itulah, umat Islam di segenap penjuru dunia menjadi sangat tersinggung dan marah ketika Nabi Muhammad, yang mereka cintai dan hormati itu, dihina dalam bentuk kartun di sebuah harian di Denmark, dengan dalih kebebasan pers yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, menunjukkan bagaimana kebencian mereka terhadap Islam.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 10 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Joki Dalam Sholat Berjamaah   

    Joki Dalam Sholat Berjamaah 

    Apabila seseorang yang telah selesai melakukan sholat berjamaah mendapati saudara muslim lainnya terlambat untuk sholat berjamaah boleh menjadi makmum kembali agar saudara muslim tersebut mendapatkan kebaikan sholat berjamaah dan hukumnya sebagai sedekah karena:

    Dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Kebaikan salat berjamaah melebihi salat sendirian sebanyak 27 derajat.” (Bukhari dan Muslim)

    dan firman Allah swt

    “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu….” (An-Nisa : 102)

    Adalah memberi sedekah kepada orang yang tidak dapat pahala sholat berjamaah lalu tidak ada orang lain yang seperti dia maka bagi orang yang sudah mengikuti sholat berjamaah yang on time boleh memberikan sedekah menjadi makmumnya.

    Dalil haditsnya sebagai berikut:

    Ada riwayat lain dari Imam Ahmad, yang riwayat ini masyhur di kalangan pengikutnya, pada intinya lmam Ahmad dan pengikut-pengikutnya daripada ahli tafsir membawakan hadits yang diriwayatkan oleh lmam Tirmidzi, lmam Ahmad sendiri dan lain-lainnya dari kalangan shahabat Abu Sa’id al-Khudri:

    “Ada seorang lelaki masuk masjid dan Rasulullah sallallaahu’alaihi wa sallam sudah selesai berjamaah shalat. Di sekitar Rasul waktu itu masih ada beberapa shahabat. Maka, Rasulullah sallallaahu’alaihi wa sallam melihat lelaki itu akan melakukan shalat sendiri. Kemudian Rasulullah sallallaahu’alaihi wa sallam bersabda, adakah seseorang yang bisa bersedekah kepadanya ?”. Kemudian ada seorang laki-laki berdiri, lantas shalat bersamanya. Maka (seseorang itupun) shalat bersamanya” (HR Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi)

    Dalam satu riwayat yang lain yang dibawakan oleh lmam Abu Bakar al-Baihaqi dalam kitab Sunan al-Kubra menjelaskan, bahwa laki-laki yang bersedekah dimaksud adalah shahabat Abu Bakar. Tetapi, riwayat ini dhaif sanadnya. Adapun yang shahih adalah riwayat yang tidak menyebutkan nama laki-laki dimaksud.

    Sebagaimana penjelasan dari Syaikh Muhammad Nashirudin dalam kajian hadits tentang “Hukum Sholat Jama’ah Kedua” maka didapatkan kesimpulan bahwa:

    Yang bersedekah menjadi makmum sedangkan yang disedekahi menjadi Imamnya karena yang bersedekah sudah mengikuti sholat berjamaah pertama.

    ***

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 8 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Jin dan Iblis   

    Jin dan Iblis 

    Pembahasan ini adalah untuk semakin mempertebal keyakinan dan keimanan kita kepada makhluk ghoib, yang Alloh hanya berikan pengetahuan kecuali sedikit. Dan tentu saja untuk lebih mengenal musuh hakiki umat Islam yaitu iblis laknatulloh.

    Jin

    Jin ini adalah makhluk yang diciptakan oleh Alloh sebelum penciptaan Adam manusia pertama. Jin adalah makhluk yang juga dikenai kewajiban seperti halnya manusia. Mereka ada yang beriman dan ada juga yang kafir, ada yang menjadi mujahid dan ada juga yang menjadi pasukan Iblis. Merka memiliki kemampuan untuk memilih beriman atau kafir. Dan kepada mereka pun Alloh sudah menurunkan Rosul dari golongan mereka sendiri;

    “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS Al-An’am: 130)

    Kehidupan Jin ini adalah juga bermacam macam seperti manusia, berkembang biak, bekerja, makan dan minum, tentu saja di alam mereka. Bagi jin yang beriman, mereka juga melaksanakan syariat yang diturunkan oleh Alloh melalui rosul rosul dari golongan mereka, bentuk syariatnya seperti apa wallohualam.

    Iblis laknatulloh

    Iblis laknatulloh ini adalah dari golongan Jin dan memiliki posisi yang tinggi dan sejajar dengan para malaikat sampai pada waktunya iblis laknatulloh ini kemudian dilaknat Alloh karena kesombonganya.

    Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS Al Kahfi: 18)

    Kemudian dengan kemampuan leadership dan imortality (abadi,) iblis ini mengetahui rahasia alam dan lebih pintar karena telah mengarungi dunia ini beribu ribu tahun lamanya dan belajar dari setiap lintasan waktu yang dilaluinya. Bahkan Iblis laknatulloh ini kemudian berkolaborasi dengan dajjal laknatulloh membangun kerajaan mereka, wilayahnya meliputi 5 samudera 5 benua, terbentang dari Segitiga Bermuda mengelilingi bumi hingga pantai Meksiko. Pasukannya adalah dari golongan manusia dan jin, eh salah dari golongan jin dan manusia. Syetannirojiem adalah sebutan bagi mereka ini (jin dan manusia) yang telah tergoda dan terpedaya yang kemudian berpihak kepada iblis laknatulloh dan memusuhi Alloh dan semua makhluk yang beriman kepada Nya baik jin maupun manusia.

    Pasukan iblis laknatulloh dari golongan manusia menguasai hampir keseluruhan negara adikuasa Amerika Serikat, keseluruhan Israel, sebagian Eropa dan Afrika, juga Asia dan Australia. Walaupun secara kuantitas umat Islam masih mayoritas, tapi secara kualitas mereka sudah menguasai bumi dan dalam proses perusakan muka bumi dan melakukan pertumpahan darah, persis seperti yang dikhawatirkan malaikat saat berargumentasi dengan Alloh waktu penciptaan Adam as;

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(QS. Al-Baqoroh: 30)

    Sepertinya sejarah terulang kembali.

    Kelebihan pasukan iblis laknatulloh ini adalah invisiblenya (tak terlihat) oleh manusia, sehingga mereka bisa memainkan bidak catur tanpa bisa kita lihat langkah langkahnya. Langkah antisipatip yang bisa dilakukan untuk menangkal serangan mereka adalah dengan dzikir dan doa, insya Alloh bisa terhindar dari bujuk dan rayuan mereka. Sedangkan secara offensive, seruan jihad (bukan jihad kerdil, seperti bom boman yang merebak saat ini, tapi jihad besar dalam memerangi iblis dan sekutunya) harus terus dikumandangkan. Jihad melawan Iblis inilah jihad terbesar manusia, karena peperangan yang dilakukan oleh mujahid dimanapun dipelosok bumi, pada hakekatnya adalah peperangan melawan kekuatan iblis laknatulloh.

    Syurga mereka adalah Neraka bagi kita nantinya, sebaliknya Neraka mereka adalah Syurga bagi kita nantinya,  Insya Alloh.

    Audzubillahhiminasyaithonirojiem…

    Audzubillahhiminasyaithonirojiem…

    Sekali lagi deh biar ganjil…

    Audzubillahhiminasyaithonirojiem…

    ***

    Sahabat Ari

     
    • rizal 10:01 pm on 15 Juni 2010 Permalink

      Persis seperti salah satu tanda-tanda sifat Dajjal, laknatullah…
      Apa yang ditangan kiri (Surga) adalah sebaliknya (neraka), Apa yang ditangan kanan (neraka) adalah sebaliknya Surga..

  • erva kurniawan 1:59 am on 7 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , Haji Pengabdi Setan,   

    Haji Pengabdi Setan 

    Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

    Jamaah haji Indonesia yang pulang ke Tanah Air, bila mereka ditanya apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekkah, hampir seluruhnya menjawab, ”Ingin.” Hanya segelintir yang menjawab, “Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi SAW.”

    Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Tapi, dari kacamata agama, itu tidak selamanya positif.

    Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.

    Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida’ (haji perpisahan). Itu artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali.Mengapa?

    Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.

    Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta’addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, melainkan memilih ibadah muta’addiyah.

    Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta’addiyah, misalnya, oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.

    Di Madinah, banyak ”mahasiswa” belajar pada Nabi SAW. Mereka tinggal di shuffah Masjid Nabawi. Jumlahnya ratusan. Mereka yang disebut ahl al-shuffah itu adalah mahasiswa Nabi SAW yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri, seperti Abu Hurairah. Bersama para sahabat, Nabi SAW menanggung makan mereka. Ibadah muta’addiyah seperti ini yang diteladankan beliau, bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah umrah tiap bulan.

    Karenanya, para ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Ibrahim al-Nakha’i, dan  alik bin Anas berpendapat, beribadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh (tidak disukai), karena Nabi SAW dan ulama salaf tidak pernah melakukannya.

    Dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka’bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta’addiyah afdhol min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual).

    Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram.

    Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?

    Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.

    Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

    Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya. Wa Allah a’lam.

    ***

    http://www.gatra.com

     
    • mekanikas 10:56 am on 31 Januari 2016 Permalink

      islam itu agama setan . koq ada tertulis seorang muslim mau aja disuruh setan

  • erva kurniawan 1:57 am on 6 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: , Dosa Besar dan Dosa Kecil, dosa kecil   

    Dosa Besar dan Dosa Kecil 

    Imam Ibnul Qayyim berkata, “Dosa itu dibagi menjadi dosa kecil dan dosa besar berdasarkan nash Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ Salafush Shalih dan qiyas” (Madarij As Salikin 1/342)

    Berikut beberapa dalil yang digunakan dalam permasalahan tersebut :

    Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu menjauhi dosa – dosa besar diantara dosa – dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan – kesalahanmu (dosa – dosamu yang kecil)” (QS An Nisa’ : 31)

    Imam Al Qurthubi berkata, “Ketika Allah Ta’ala melarang dosa – dosa besar dalam surat ini, Dia menjanjikan bagi orang yang menjauhinya keringanan terhadap dosa – dosa kecil” (Tafsir Al Qurthuby 5/158)

    Allah Ta’ala berfirman, “(Yaitu) orang yang menjauhi dosa – dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan – kesalahan kecil” (QS An Najm : 32)

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda, “Shalat lima waktu, dari (shalat) Jum’at ke (shalat) Jum’at yang lain dan dari (puasa) Ramadhan ke (puasa) Ramadhan yang lain adalah penghapus dosa – dosa kecil diantara waktu – waktu tersebut selama tidak melakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233)

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dosa besar adalah setiap dosa yang diancam dengan siksa khusus seperti berzina, mencuri, durhaka kepada kedua orangtua, menipu, bersikap jahat kepada kaum muslimin dan lainnya.

    Sedangkan hukum pelakunya dari segi nama adalah mukmin yang kurang keimanannya. Disebut juga ia beriman dengan keimanannya dan fasiq akibat dosa besar yang ia lakukan, namun ia tidak keluar dari keimanan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika ada 2 golongan dari orang – orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Sesungguhnya orang – orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu” (QS Al Hujurat : 10)

    Allah Ta’ala menyebut dua kelompok yang saling berperang sebagai saudara meskipun kedua kelompok tersebut melakukan dosa besar dan juga kepada kelompok yang ketiga yaitu kelompok yang mengishlah keduanya.

    Namun ada satu dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah Ta’ala dan dapat menyebabkan pelakunya keluar dari Islam yaitu dosa syirik atau menyekutukan Allah SWT dengan yang lain, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS An Nisa’ : 48)

    ***

    Maraji’ :

    Muzilul Ilbas fii Al Ahkam ‘ala An Nas, Sa’id bin Shabir Abduh, Griya Ilmu, Jakarta, Cetakan Pertama, Sya’ban 1426 H/September 2005 M.

     
    • rizal 10:06 pm on 15 Juni 2010 Permalink

      Demi Allah, jika saya teringat ini, hamba mohon ampun kepadamu Ya Allah Azza Wa Jalla….. Engkaulah, Tuhan semesta jagad raya, yang menghidupkan dan mematikan. Jika Engkau tidak memberi hidayah hingga sampai sekarang , mungkin hamba adalah adalah orang yang termasuk golongan orang-orang kufur dari hidayahMu. Jika Engkau, masih memberi hamba, hidayah, semoga hamba termasuk orang-orang golongan yang ikhlas dan beriman kepadaMu ya Rab.

  • erva kurniawan 1:54 am on 3 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Waktu-Waktu Yang Dilarang Untuk Shalat   

    Waktu-Waktu Yang Dilarang Untuk Shalat 

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat (sunnah) setelah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat setelah shalat ‘Ashar hingga matahari terbenam” (Muttafaqun ‘alaih). Dalam lafadh Imam Muslim, “Tidak ada shalat setelah shalat fajar”.

    Dari ‘Uqbah bin Amir berkata, “Tiga waktu dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit, yaitu : ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat, dan ketika matahari hamper terbenam” (HR. Muslim).

    Dari Amru bin Abasah radliyallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Beritahukanlah kepadaku sesuatu tentang shalat”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah shalat Shubuh, kemudian berhentilah melakukan shalat lain, hingga terbit matahari, hingga matahari meninggi. Sesungguhnya matahari itu terbit di antara sepasang tanduk setan. Waktu itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya. Kemudian shalatlah karena shalat pada saat itu disaksikan oleh para malaikat hingga baying-bayang tembok tegak. Kemudian berhentilah melakukan shalat lain, karena kala itu neraka Jahannam dinyalakan. Apabila matahari sudah tergelincir, shalatlah hingga datang waktu Ashar. Kemudian berhentilah melakukan sha;at hingga matahari tenggelam. Karena matahri tenggelam di antara sepasang tanduk setan, dan ketika itulah orang-orang musyrik bersujud kepadanya” (HR. Muslim).

    Dari 3 hadits di atas dapat diketahui ada 5 waktu terlarang untuk melakukan shalat:

    1. Setelah shalat Shubuh sampai terbit matahari.
    2. Ketika terbit matahari sampai matahari setinggi satu tombak (dimulainya waktu Dhuha), dimana hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh hadits ‘Amr bin Abasah dengan lafadh, “Matahari itu meninggi kira-kira seukuran satu tombak atau dua tombak “
    3. Ketika matahari tepat di atas kepala (pertengahan siang) sampai tergelincir (zawal masuk waktu Dhuhur).
    4. Setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari.
    5. Ketika matahari mulai tenggelam sampai betul-betul tenggelam (masuk waktu Maghrib).

    Kelima waktu di atas adalah diharamkan bagi setiap muslim untuk melakukan shalat (sunnah). Akan tetapi para ulama berbeda tentang dilakukannya shalat sunnah dengan sebab-sebab tertentu (contoh : shalat tahiyyatul masjid, shalat sunnah wudlu, shalat khusuf, dan lain-lain) yang dilakukan pada 5 waktu terlarang tersebut. Yang lebih rajih (kuat) insya allah adalah diperbolehkan melakukannya pada 5 waktu terlarang tersebut wallahu a’lam

    Sedikit dari tulisan di atas semoga dapat berguna untuk menambah kefahaman kita akan ilmu agama dan tentunya memperbaiki amalan shalat kita sehari-hari.

    ***

    myquran.com

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 3 June 2010 Permalink | Balas  

    Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah? Benarkah ? 

    Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah? Benarkah ?

    “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32). Salah satu anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !”(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

    Pernikahan menyatukan dua energi besar untuk sama-sama berjuang menggapai ridlo Allah SWT. Penyatuan energi sehingga membentuk suatu sinergi tentunya membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian itulah akan banyak ditemui ketidakcocokan, pergesekan yang menimbulkan konflik dari masing -masing pasangan. Betapa tidak masing-masing memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, karakter yang berbeda untuk diselaraskan sesuai dengan keinginan Allah SWT dalam sebuah pernikahan.

    Agar konflik dan masalah dalam berrumah tangga dapat diminimalisir maka setiap pasangan harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, sehingga dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka sudah siap menghadapi goncangan, pergesakan dan hambatan yang ada.

    Pernikahan

    Pernikahan adalah konsep sakral dari sebuah kontak (ijab Qobul) secara syah yang dilakukan oleh pasangan lelaki dan perempuan sesuai tata nilai hukum yang berlaku, baik hukum positif maupun hukum religius.

    Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Ijab qabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

    Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:Sahl bin Said berkata: “Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: “Saya serahkan diriku kepadamu.” Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya.” Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: “Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Secara umum tujuan suatu penikahan menurut Islam adalah untuk mencapai ridho Allah, secara khusus yakni :

    1. Mengabdi ke hadapan Allah.
    2. Malaksanakan sunnah Rasulullah.
    3. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
    4. Membentuk suatu masyarakat islami.
    5. Mendapatkan ketenangan jiwa.

    “Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah: 71)

    Percekcokan dalam Rumah Tangga

    Dalam suatu interaksi dua manusia yang berlatar belakang beda baik secara kultur, karakter dan gaya hdup sudah dapat dipastikan tidak akan lepas dari suatu pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga menimbulkan suatu percekcokan.Hal ini sangat wajar dan manusiawi, jangankan pasangan seperti kita manusia biasa, rumah tangga Rasulullah pun tidak lepas dari percekcokan, yang membedakannya dengan kita Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia dan dibimbing oleh Allah untuk menjadi contoh bagi ummatnya.

    Banyak keluarga muslim yang hanya karena masalah kecil mengakhiri pernikahan, suatu ikatan yang telah Allah kokohkan. Masalah bisa saja hanya bermula dari salah persepsi karena komunikasi yang tidak lancar sehingga menimbulkan salah pengertian atau mungkin kebiasaan kecil suami yang tidak disukai isteri atau juga ketidaktepatan mengekspresikan emosi seperti kecewa, marah. Semuanya bisa saja terjadi hanya saja ada pasangan yang mampu mengatasi masalah kecil tersebut dengan baik ada juga yang tidak mampu menyelesaikannya sehingga masalah kecil tersebut menumpuk dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga yang sedang dibangun.

    Faktor-faktor penyebab terjadinya percekcokan dalam rumah tangga adalah:

    1. Kurang lancarnya komunikasi

    Komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam berrumah tangga, bagaimana mungkin masing-masing pasangan mengetahui keinginan dan harapan pasangannnya kalau tidak adanya komunikasi yang baik sehingga keinginan dan harapan tersampaikan dan tidak salah persepsi. Seorang suami atau isteri hendaknya menyampaikan pesan dengan lembut dan baik, tentunya dengan mempertimbangkan pula waktu dalam menyampaikan pesan tersebut.

    Suami yang baru saja pulang kerja dengan badan yang lelah dan perut yang lapar tidak mungkin seorang isteri menyampaikan keluhannya sepanjang siang itu, tapi harus menunggu waktu yang tepat dimana suami dalam keadaan yang santai dan tenang

    2. Kurangnya pengetahuan/ ilmu

    Sebelum memasuki jenjang berrumah tangga calon suami atau isteri sebaiknya menggali dan menyempurnakan ilmu tentang pernikahan, dengan ilmu maka kita akan paham seperti apa rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah dan bagaimana melajukan bahtera di tengah lautan kehidupan yang bergelombang.

    3. Kurangnya pengendalian diri masing-masing pasangan

    Sebelum menikah mungkin segalanya tampak indah di depan mata. Satu, dua, tiga bulan pertama semuanya bak di syurga dunia, tapi ketika usia pernikahan memasuki bulan keempat mulailah masalah bermunculan. Disini kita harus mampu mengendalikan diri kita. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri diuji oleh Allah. Sikap yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi masalah adalah dengan senantiasa berlindung dan memohon pertolongan Allah untuk tetap tenang, diberi kemudahan untuk berpikir jernih dan bertindak tepat.

    Banyaklah belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berpengalaman dalam berrumah tangga, khususnya keluarga-keluarga mukmin, bagaimanakah mereka mengatasi konflik rumaha tangga, bagaimanakah mereka mengendalikan diri ketika menghadapi masalah.

    4. Tidak adanya kesadaran sebagai hamba

    Seorang hamba Allah sepanjang hidupnya selalu mengabdi, segala aktifitasnya harus selalu bernilai ibadah di hadapan Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat : 55 dikatakan “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepadaKu”

    Maka seorang hamba Allah akan meninggalkan semua sikap dan perilakunya yang tidak bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya harus untuk dan atas nama Allah, dengan bertitik tolak pada “Sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?”

    Benarkah Budaya Jawa “Nrimo” Sesuai Syariat Islam?

    Perempuan adalah mahluk yang sangat istimewa dengan kehalusan budi pekerti, kelembutan cinta, wajah nan anggun berwibawa, suara yang lirih, langkah yang gemulai dan sikap yang taat, patuh, hormat pada orang tua serta berbakti pada suami, merupakan gambaran perempuan di mata bangsa Jawa dan beberapa bagian di Indonesia. Tabu jika ada seorang perempuan yang lantang, memberontak terhadap suatu keputusan orang tua atau suaminya, melanggar adat katanya. Bahkan ketika seorang suami menyakitinya, menjadikannya isteri simpanan pun tabu baginya untuk menolak apa lagi melawan.

    Nilai-nilai tersebut semakin menguat dengan datangnya Islam ke Pulau Jawa, walau salah kaprah dalam memahaminya budaya ‘nrimo’ sudah menjadi bagian dari kehidupan beragama di Jawa. Suami adalah pimpinan rumah tangga sehingga apa yang dikatakannya mutlak harus ditaati ‘pamali’ jika membantah atau menolak.

    Sebenarnya perintah taat dalam Islam tidak demikian, selalu diikuti kata “selama pimpinan (baik kepala rumah tangga, pemimpin masyarakat dan pimpinan negara) tersebut tunduk dan taat kepada Allah dan RasulNya.

    Ketaatan kepada ulil amri merupakan ketaatan bersyarat yakni taat manakala ulil amri tersebut berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, apalagi ketaatan terhadap seorang suami. Taat dan patuh kepada suami adalah semata-mata hanya karena Allah telah memerintahkannya, sehingga semua yang dilakukan suami atau isteri akan bernilai ibadah manakala ia melakukannya atas nama Allah SWT, mencintai suami atau isteri merupakan bentuk kecintaan terhadap Allah SWT.

    Manakala seorang pimpinan berbuat menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah maka ketaatan tersebut menjadi batal adanya. Dalam berumah tangga jika suami berbuat salah maka isteri wajib mengingatkannya, mengajaknya kembali ke jalan yang benar, tetapi jika berbagai cara telah dilakukan untuk mengingatkan suami maka suami tersebut tidak wajib untuk ditaati, sehingga ‘nrimo’ nya Jawa tidak berlaku. Dalam hal ini manakala suami menyimpang dari ketentuan Allah SWT maka isteri tampil bak seorang ‘Srikandi’ di medan perang gigih berjuang melemahkan nafsu syetan yang ada dalam diri suami.

    Seperti telah disebutkan di atas QS At Taubah : 71 “Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah: 71)

    Suami isteri harus merupakan penolong menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada hal yang munkar, sehingga ketika percekcokan suami isteri karena salah satunya menyimpang dari ketentuan Allah, maka pasangannya mengingatkan dan meluruskannya, sehingga percekcokan tersebut akan bernilai ibadah. Percekcokan inilah yang dibenarkan oleh Allah SWT dan bahkan dianjurkan, seperti dalam hadits Bukhori Muslim “Jika melihat kemunkaran cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu cegah dengan lisanmu dan jika tidak mampu cukuplah dengan hati maka itulah selemah-lemahnya iman”

    Suami dan Isteri Sebagai Partner

    Era globalisasi informasi telah mengubah pandangan tentang wanita dan isteri, posisi wanita bukan berada di bawah telunjuk pria atau kaum suami tetapi memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi. Fenomena pandangan tentang wanita ‘mampu mengerjakan semua pekerjaan seperti halnya pria’ telah menyeret wanita meniggalkan fitrahnya, banyak ditemukan keputusan dan pengelolaan rumah tangga mutlak di tangan isteri, sehingga suami kehilangan wibawa dan pengaruhnya dalam memimpin rumah tangga.

    Islam dien yang menjunjung tinggi wanita, dalam Islam wanita adalah partner dalam menjalani biduk rumah tangga. Wanita dan pria sama-sama sebagai subyek bukan obyek. Namun tetap pria dengan berbagai kelebihan yang Allah berikan ia sebagai pemimpin dalam berrumah tangga. Isteri dalam hal ini sebagai partner, sebagai wakil di rumah tangga.

    Jika fitrah yang Allah tetapkan ini dilanggar maka lihatlah kesudahan orang-orang yang tidak mentaati ketetapan Allah SWT, malapetaka dan kehancuran yang akan didapat., serta jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

    Menjalankan peran sebagai subyek dalam rumah tangga, berarti isteri memiliki kewajiban untuk menolong, meluruskan suami ketika suami berbuat menyalahi aturan Allah SWT, sudah barang tentu sebaliknya jika isteri menyimpang dari jalan Allah SWT maka suami berkewajiban mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang benar.

    Jika dalam menjalankan perannya baik suami atau isteri tidak mau mendengarkan tausyiah kita maka percekcokan akan terjadi, namun percekcokan ini akan menjadi ibadah di hadapan Allah, sehingga tidak perlu khawatir selama kita benar sesuai dengan ketetapan Allah janganlah takut atau merasa bersalah pada saat kita harus adu mulut atau mungkin adu otot dengan pasangan kita.

    Dari uraian di atas maka sebaiknya calon isteri atau suami sebelum memasuki jenjang pernikahan, sempurnakanlah ilmu dan pengetahuan tentang berumah tangga sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

    Melalui tahapan seperti di bawah ini :

    1. Ta’aruf

    ” Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS.Al Hujurat : 13)

    Ta’aruf tidak identik dengan pacaran, ta’aruf artinya saling mengenali diri masing- masing. Proses ta’aruf sebelum menikah hanya dibolehkan jika sesuai syariat yang telah Allah tetapkan, bukan liar dan tidak terkontrol. Ta’aruf yang dibenarkan memiliki rambu-rambu sebagai berikut:

    • bertujuan mengenali pasangan untuk menuju jenjang pernikan (bukan untuk eksploitasi hawa nafsu)
    • tidak berduaan, harus ada muhrim dari pihak calon mempelai perempuan
    • pembicaraan tidak mengarah pada hal-hal yang menimbulkan birahi
    • saling menyesuaikan diri satu sama lain

    Dalam ta’aruf ini hendaknya masing-masing pasangan saling bertanya mengenai :

    –          Apa yang menjadi tujuan dan hidup pasangannya?

    –          Apa saja yang disukai?

    –          Apa yang dibenci?

    –          Apa saja yang membuatnya kecewa?

    –          Apa saja yang membuatnya marah ?

    –          Apa cita-citanya?

    –          Apa tujuan menikah?

    –          Bagaimana cara mengatasi masalah selama ini?

    –          Dan lain sebagainya.

    Sehingga jika masing-masing pasangan mengenai kebiasaan dan sifat calon istri atau suaminya, ia memiliki bahan untuk saling menyesuaikan diri.

    2. Tafahum

    Tafahum adalah saling memahami, setelah masing-masing pasangan saling mengenal maka tahapan selanjutnya adalah saling paham, mengerti dan menyesuaikan diri kebiasaan masing-masing, sehingga semua masalah dihadapi dengan tenang karena masing-masing mengetahui cara pandangnya.

    3. Ta’awun

    “Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa  lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah: 71)

    Ta’awun berarti saling menolong, seperti ayat di atas bahwa suami/isteri adalah penolong bagi pasangannya, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang.

    4. Takaful

    Takaful artinya penyeimbang, pasangan suami isteri harus menjadi penyeimbang dari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan yang dimiliki isteri hendaknya dilengkapi oleh kelebihan yang dimiliki suami begitupun sebaliknya, sehingga sama-sama berproses untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan untuk menjadi hamba allah yang berprestasi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 2 June 2010 Permalink | Balas
    Tags: Syarat-Syarat Sholat,   

    Tuntunan Shalat: Syarat-Syarat Sholat 

    Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam yaitu :

    I. Syarat-Syarat Wajib Shalat, yaitu syarat-syarat diwajibkannya seseorang mengerjakan shalat. Jadi jika seseorang tidak memenuhi syarat-syarat itu tidak diwajibkan mengerjakan shalat. yaitu :

    1. Islam, Orang yang tidak Islam tidak wajib mengerjakan shalat.

    2. Suci dari Haidl dan Nifas, Perempuan yang sedang Haidl (datang bulan)atau baru melahirkan tidak wajib mengerjakan shalat.

    3.Berakal Sehat, Orang yang tidak berakal sehat seperti orang gila,orang yang mabuk, dan Pingsan tidak wajib mengerjakan shalat, sebagaimana sabda Rasulullah, “Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari’at) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga, anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    4. Baliqh (Dewasa), Orang yang belum baliqh tidak wajib mengerjakan shalat. Tanda-tanda orang yang sudah baliqh:

    a. Sudah berumur 10 tahun. sebagaimana sabda Rasulullah, “Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    b. Mimpi bersetubuh.

    c. Mulai keluar darah haidl (datang bulan) bagi anak perempuan

    5.Telah sampai da’wah kepadanya, Orang yang belum pernah mendapatkan da’wah/seruan agama tidak wajib mengerjakan shalat.

    6. Terjaga, Orang yang sedang tertidur tidak wajib mengerjakan shalat.

    II. Syarat-Syarat Sah Shalat, yaitu yang harus dipenuhi apabila seseorang hendak melakukan shalat. Apabila salah satu syarat tidak dipenuhi maka tidak sah shalatnya. Syarat-syarat tersebut ialah :

    1. Masuk waktu shalat. Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 103)

    Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat Jibril pun pernah turun, untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemudian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam, “Di antara keduanya itu adalah waktu shalat.”

    2. Suci dari hadats besar dan hadats kecil. Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, artinya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata.”

    Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, artinya, “Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci”. (HR. Muslim)

    3. Suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis, adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah, “Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (Al-Muddatstsir: 4)

    Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari).

    4. Menutup aurat, Aurat harus ditutup rapat-rapat dengan sesuatu yang dapat menghalangi terlihatnya warna kulit. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap kali berada ditempat sujud .” (Al-A’raf: 31)

    Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. sedangkan tempat sujud adalah tempat shalat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah.

    5. Menghadap kiblat, Orang yang mengerjakan shalat wajib menghadap kiblat yaitu menghadap ke arah Masjidil Charam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 30 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Rukun Shalat,   

    Tuntunan Shalat: Rukun-Rukun Shalat 

    Shalat itu mempunyai rukun-rukun yang apabila salah satunya ditinggalkan maka tidak sah shalatnya. Rukun-rukun tersebut adalah :

    1. Berniat, yaitu niat di hati untuk melaksanakan shalat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya”. (Muttafaq ‘alaih)

    Dan niat itu dilakukan bersamaan dengan melaksana-kan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan, tidak mengapa kalau niat itu sedikit lebih dahulu dari keduanya.

    2. Takbiratul Ihram, yaitu takbir yang pertama kali diucapkan oleh orang yang mengerjakan shalat sebagai tanda mulai mengerjakan shalat dengan lafazh (ucapan) “Allaahu Akbar” Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Kunci shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

    3. Berdiri bagi yang sanggup. berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam shalat-mu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah: 238)

    Dan berdasarkan Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam kepada Imran bin Hushain, “Shalatlah kamu dengan berdiri, apabila tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan berbaring ke samping.” (HR. Al-Bukhari)

    4. Membaca surat Al-Fatihah wajib pada setiap rakaat shalat fardhu dan shalat sunnah; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.” (HR. Al-Bukhari)

    5. Ruku’ dengan thuma’ninah; bagi orang yang shalat dengan berdiri minimal adalah menunduk kira-kira dua telapak tangannya sampai kelutut dan yang sempurna yaitu betul-betul menunduk sampai datar/lurus antara tulang punggung dengan lehernya (90 derajat) serta meletakan dua telapak tangan kelutut. Ruku’ ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujud-lah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

    Juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi wasallam kepada seseorang yang tidak benar shalatnya, “ … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah/ tenang dalam keadaan ruku’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    6. I’tidal dengan thuma’ninah ; artinya berdiri lurus seperti pada waktu membaca Fatihah.Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap seseorang yang salah dalam shalat-nya, ” … kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    7. Sujud dua kali dengan thuma’ninah; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam sujud.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    8. Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad, dengan isnad shahih)

    9. Duduk dengan tumaninah serta Membaca tasyahhud akhir dan shawalat nabi ; Ada-pun tasyahhud akhir itu, maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu yang bunyinya, “Dahulu kami membaca di dalam shalat sebelum diwajibkan membaca tasyahhud adalah ‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril dan Mikail.’ Maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca, “Segala penghormatan, shalawat dan kalimat yang baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan hamba-hamba yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR. An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih)

    Dan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Apabila salah seorang di antara kamu duduk (tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala penghormatan, shalawat dan kalimat-kalimat yang baik bagi Allah’.” (HR. Abu Daud, An-Nasai dan yang lainnya, hadits ini shahih dan diriwayatkan pula dalam dalam”. (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim)

    Adapun duduk untuk tasyahhud itu termasuk rukun juga karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun

    10. Membaca salam; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Pembuka shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

    11. Tertib (Melakukan rukun-rukun shalat secara ber-urutan) Oleh karena itu janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram dan jangan-lah ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari)

    Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun shalat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah shalatnya.

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 29 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Hal Yang Membatalkan Shalat,   

    Tuntunan Shalat: Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat 

    Shalat seseorang akan batal jika melakukan salah satu hal dibawah ini :

    1. Makan dan minum dengan sengaja. Hal ini ber-dasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya di dalam shalat itu ada kesibukkan tertentu.” (Muttafaq ‘alaih) (1) Dan ijma’ ulama juga mengatakan demikian.

    2. Berbicara dengan sengaja, bukan untuk kepentingan pelaksanaan shalat. “Dari Zaid bin Arqam radhiallaahu anhu, ia berkata, “Dahulu kami berbicara di waktu shalat, salah seorang dari kami berbicara kepada temannya yang berada di sampingnya sampai turun ayat: ‘Dan hendaklah kamu berdiri karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’, maka kami pun diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dan juga sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas ada di dalamnya percakapan manusia sedikit pun.” (HR. Muslim)

    Adapun pembicaraan yang maksudnya untuk membetulkan pelaksanaan shalat, maka hal itu diperbolehkan seperti membetulkan bacaan (Al-Qur’an) imam, atau imam setelah memberi salam kemudian bertanya apakah shalatnya sudah sempurna, apabila ada yang menjawab belum, maka dia harus menyempurnakannya. Hal ini pernah terjadi terhadap Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam , kemudian Dzul Yadain bertanya kepada Beliau, “Apakah Anda lupa ataukah sengaja meng-qashar shalat, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam menjawab, ‘Aku tidak lupa dan aku pun tidak bermaksud meng-qashar shalat.’ Dzul Yadain berkata, ‘Kalau begitu Anda telah lupa wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Apa-kah yang dikatakan Dzul Yadain itu betul?’ Para sahabat menjawab, ‘Benar.’ Maka beliau pun menambah shalatnya dua rakaat lagi, kemudian melakukan sujud sahwi dua kali.” (Muttafaq ‘alaih)

    3. Meninggalkan salah satu rukun shalat atau syarat shalat yang telah disebutkan di muka, apabila hal itu tidak ia ganti/sempurnakan di tengah pelaksanaan shalat atau sesudah selesai shalat beberapa saat. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam terhadap orang yang shalatnya tidak tepat, “Kembalilah kamu melaksanakan shalat, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

    Lantaran orang itu telah meninggalkan tuma’ninah dan i’tidal. Padahal kedua hal itu termasuk rukun.

    4. Banyak melakukan gerakan, karena hal itu bertentangan dengan pelaksanaan ibadah dan membuat hati dan anggota tubuh sibuk dengan urusan selain ibadah. Adapun gerakan yang sekadarnya saja, seperti memberi isyarat untuk menjawab salam, membetulkan pakaian, menggaruk badan dengan tangan, dan yang semisalnya, maka hal itu tidaklah membatalkan shalat.

    5. Tertawa sampai terbahak-bahak. Para ulama sepakat mengenai batalnya shalat yang disebabkan tertawa seperti itu. Adapun tersenyum, maka kebanyakan ulama menganggap bahwa hal itu tidaklah merusak shalat seseorang.

    6. Tidak berurutan dalam pelaksanaan shalat, seperti mengerjakan shalat Isya sebelum mengerjakan shalat Maghrib, maka shalat Isya itu batal sehingga dia shalat Maghrib dulu, karena berurutan dalam melaksanakan shalat-shalat itu adalah wajib, dan begitulah perintah pelaksanaan shalat itu.

    7. Kelupaan yang fatal, seperti menambah shalat menjadi dua kali lipat, umpamanya shalat Isya’ delapan rakaat, karena perbuatan tersebut merupakan indikasi yang jelas, bahwa ia tidak khusyu’ yang mana hal ini merupakan ruhnya shalat.

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Hal Yang Makruh Didalam Shalat,   

    Tuntunan Shalat: Hal-Hal Yang Makruh Didalam Shalat 

    Yang dimaksud makruh yaitu : perbuatan yang apabila dikerjakan tidak membatalkan shalat tetapi jika ditinggalkan akan mendatangkan pahala. Oleh karena itu sebaiknya ditinggalkan.

    1. Menengadahkan pandangan ke atas. Hal ini ber-dasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat peng-lihatan mereka ke langit dalam shalat mereka? Hendak-lah mereka berhenti dari hal itu atau (kalau tidak), nis-caya akan tersambar penglihatan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dengan makna yang sama)

    2. Meletakkan tangan di pinggang. Hal ini berdasar-kan larangan Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. (Muttafaq ‘alaih)

    3. Menoleh atau melirik, terkecuali apabila diperlukan. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiallaahu anha. Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam tentang seseorang yang menoleh dalam keadaan shalat, beliau menjawab, “Itu adalah pencurian yang dilakukan syaitan dari shalat seorang hamba.” (HR. Al-Bukhari dan Abu Daud, lafazh ini dari riwayatnya)

    4. Melakukan pekerjaan yang sia-sia, serta segala yang membuat orang lalai dalam shalatnya atau menghilangkan kekhusyu’an shalatnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Hendaklah kamu tenang dalam melaksanakan shalat.” (HR. Muslim)

    5. Menaikkan rambut yang terurai atau melipatkan lengah baju yang terulur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak boleh melipat baju atau menaikkan rambut (yang terulur).” (Muttafaq ‘alaih)

    6. Menyapu kerikil yang ada di tempat sujud (dengan tangan) dan meratakan tanah lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Dari Mu’aiqib, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam menyebutkan tentang menyapu di masjid (ketika shalat), maksudnya menyapu kerikil (dengan telapak tangan). Beliau bersabda, ‘Apabila memang harus berbuat begitu, maka hendaklah sekali saja.” (HR. Muslim)

    “Dari Mu’aiqib pula, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda tentang seseorang yang meratakan tanah pada tempat sujudnya (dengan telapak tangan), beliau bersabda, ‘Kalau kamu melakukannya, maka hendaklah sekali saja.” (Muttafaq ‘alaih)

    7. Mengulurkan pakaian sampai mengenai lantai dan menutup mulut (tanpa alasan). “Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam melarang mengulurkan pakaian sampai mengenai lantai dalam shalat dan menutup mulut.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

    Adapun jika menutup mulut karena hal seperti menguap ataupun yang lainnya maka hal tersebut dibolehkan sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits.

    8. Shalat di hadapan makanan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan.” (HR. Muslim)

    9. Shalat sambil menahan buang air kecil atau besar, dan sebagainya yang mengganggu ketenangan hati. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan dan shalat seseorang yang menahan buang air kecil dan besar.” (HR. Muslim)

    10. Shalat ketika sudah terlalu mengantuk. Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu ada yang mengantuk dalam keadaan shalat, maka hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Maka sesungguhnya apabila salah seorang di antara kamu ada yang shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak akan tahu apa yang ia lakukan, barangkali ia bermaksud minta ampun kepada Allah, ternyata dia malah mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 26 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: hal yang diperbolehkan dalam shalat,   

    Tuntunan Shalat: Hal-hal Yang Diperbolehkan Dalam Shalat 

    Diantara hal-hal yang diperbolehkan dalam shalat yaitu:

    1. Membetulkan bacaan imam. Apabila imam lupa ayat tertentu maka makmum boleh mengingatkan ayat tersebut kepada imam. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, “Bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wasallam shalat, kemudian beliau membaca suatu ayat, lalu beliau salah dalam membaca ayat tersebut. Setelah selesai shalat beliau bersabda kepada Ubay, ‘Apakah kamu shalat bersama kami?’, ia menjawab, ‘Ya’, kemudian beliau bersabda, ‘Apakah yang menghalangi-mu untuk membetulkan bacaanku.” (HR. Abu Daud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban, shahih)

    2. Bertasbih atau bertepuk tangan (bagi wanita) apa-bila terjadi sesuatu hal, seperti ingin menegur imam yang lupa atau membimbing orang yang buta dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Barangsiapa terjadi padanya sesuatu dalam shalat, maka hendaklah bertasbih, sedangkan bertepuk tangan hanya untuk perempuan saja.” (Muttafaq ‘alaih)

    3. Membunuh ular, kalajengking dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Bunuhlah kedua binatang yang hitam itu sekalipun dalam (keadaan) shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, shahih)

    4. Mendorong orang yang melintas di hadapannya ketika shalat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Apabila salah seorang di antara kamu shalat meng-hadap ke arah sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian ada yang mau melintas di hadapannya, maka hendaklah dia mendorongnya dan jika dia memaksa maka perangilah (cegahlah dengan keras). Sesungguhnya (perbuatannya) itu adalah (atas dorongan) syaitan.” (Muttafaq ‘alaih)

    5. Membalas dengan isyarat apabila ada yang me-ngajaknya bicara atau ada yang memberi salam kepadanya. Dasarnya ialah hadits Jabir bin Abdullah, “Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, ‘Telah mengutus-ku Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang beliau pergi ke Bani Musthaliq. Kemudian beliau saya temui sedang shalat di atas onta-nya, maka saya pun berbicara kepadanya. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya. Saya ber-bicara lagi kepada beliau, kemudian beliau kembali memberi isyarat sedang saya mendengar beliau membaca sambil memberi isyarat dengan kepalanya. Ketika beliau selesai dari shalatnya beliau bersabda, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan perintahku tadi? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk bicara kecuali karena aku dalam keadaan shalat.” (HR. Muslim)

    Dari Ibnu Umar, dari Shuhaib , ia berkata, “Aku telah melewati Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka aku beri salam kepadanya, beliau pun membalasnya dengan isyarat. “Berkata Ibnu Umar: “Aku tidak tahu terkecuali ia (Shuhaib) berkata dengan isyarat jari-jarinya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan selain mereka, hadits shahih)

    Dari sini dapat kita ketahui, bahwa isyarat itu terkadang dengan tangan atau dengan anggukan kepala atau dengan jari.

    6. Menggendong bayi ketika shalat. Hal ini berdasar-kan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, “Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, ‘Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-‘Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku’, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.” (HR. Muslim)

    7. Berjalan sedikit karena keperluan. Dalilnya adalah hadits Aisyah radhiallaahhu anha, “Dari Aisyah radhialaahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa pintu itu menghadap kiblat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

    8. Melakukan gerakan ringan, seperti membetulkan shaf dengan mendorong seseorang ke depan atau menarik-nya ke belakang, menggeser makmum dari kiri ke kanan, membetulkan pakaian, berdehem ketika perlu, menggaruk badan dengan tangan, atau meletakkan tangan ke mulut ketika menguap. Hal ini berdasarkan hadits berikut, “Dari Ibnu Abbas , ia berkata, ‘Aku pernah menginap di (rumah) bibiku, Maimunah, tiba-tiba Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bangun di waktu malam mendirikan shalat, maka aku pun ikut bangun, lalu aku ikut shalat bersama Nabi Shallallaahu alaihi wasallam, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di sebelah kanannya.” (Muttafaq ‘alaih)

    ***

    Sumber: dzikir.org

     
    • alv 8:17 pm on 19 Maret 2011 Permalink

      ijin copy paste semua artikel yang menyejukkan hati ini.
      saya inggin menyebar luaskannya

  • erva kurniawan 1:10 am on 22 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Shalat Jama’ dan Qashar   

    Shalat Jama’ dan Qashar 

    Shalat Qashar

    Mengqashar shalat merupakan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaiHi wa sallam ketika beliau dalam keadaan safar dan merupakan sedekah dari Allah Ta’ala kepada kaum muslimin. Dia berfirman,

    “Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang – orang kafir. Sesungguhnya orang – orang kafir itu musuh yang nyata bagimu” (QS An Nisa’ : 101)

    Ya’la bin Umayah, dia menanyakan ayat ini pada Umar bin Khaththab ra. [tentang] firman Allah Ta’ala, “…jika kamu takut diserang orang – orang kafir …”, padahal orang – orang sudah dalam keadaan aman. Umar ra. berkata, “Dulu aku juga bingung dengan masalah ini, lalu aku menanyakannya pada Rasulullah Shalallahu ‘alaiHi wa sallam, lantas beliau Shalallahu ‘alaiHi wa sallam bersabda, ‘Itu adalah shadaqah dari Allah untuk kalian, maka terimalah shadaqah-Nya’” (HR. Muslim no. 686, Abu Dawud no. 1187, An Nasa’i III/116, Ibnu Majah no. 1065 dan At Tirmidzi no. 5025)

    Ibnu Abbas ra. berkata, “Melalui lisan Nabi kalian, Allah mewajibkan shalat empat raka’at dalam keadaan mukim, dua raka’at ketika safar dan satu raka’at ketika dalam keadaan takut” (HR. Muslim no. 687, Abu Dawud no. 1234, dan An Nasa’i III/118)

    Ibnu Umar ra. berkata, “Aku pernah menemani perjalanan Rasulullah, dan beliau tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya” (HR. Al Bukhari no. 1102, Muslim no. 689, Abu Dawud no. 1211 dan An Nasa’i III/123)

    Batasan Jarak Shalat Qashar

    Para ulama memiliki banyak pendapat yang berbeda dalam menentukan batasan jarak diperbolehkannya mengqashar shalat. Sampai – sampai Ibnu Al Mundzir dan yang lainnya menyebutkan lebih dari 20 pendapat dalam masalah ini. Yang rajih adalah, “Pada dasarnya tidak ada batasan jarak yang pasti, kecuali yang disebut safar dalam bahasa Arab, yaitu bahasa yang digunakan Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam saat berkomunikasi dengan mereka (orang – orang Arab)” (Al Muhalla V/21)

    Syaikh Muhammad bin Musa Al Nashr (murid Syaikh Albani) mengatakan tentang masalah ini ketika berkunjung ke Indonesia, “Musafir atau tidak, itu kembali kepada ukuran ‘urf (adat kebiasaan yang dikenal masyarakat). Misalnya, bila ‘urf masyarakat disini (disini maksudnya adalah kota Malang, Jawa Timur) menganggap orang yang pergi ke Jakarta adalah sebagai seorang musafir, maka pada saat itu dia boleh mengqashar dan menjama’ shalat”

    Tempat Diperbolehkannya Mengqashar Shalat

    Mayoritas ulama berpendapat bahwa disyari’atkan mengqashar shalat ketika meninggalkan tempat mukim dan keluar dari daerah tempat tinggal. Dan tidaklah disempurnakan shalat menjadi 4 raka’at sampai memasuki rumah pertama (di dalam tempat tinggalnya).

    Anas ra. berkata, “Aku shalat dzuhur empat raka’at bersama Nabi di Madinah. Sedangkan di Dzul Hulaifah dua raka’at” (HR. Al Bukhari no. 1089, Muslim no. 690, Abu Dawud no. 1190, At Tirmidzi no. 544 dan An Nasa’i I/235)

    Sampai Kapankah Diperbolehkannya Mengqashar Shalat?

    Jika seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan suatu kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia [dapat] melakukan qashar hingga meninggalkan daerah tersebut.

    Dari Jabir ra., dia berkata, “Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari sambil tetap mengashar shalat” (HR. Abu Dawud no. 1223, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1094)

    Jadi, kedudukan seseorang sebagai musafir akan gugur ketika ia berniat untuk bermukim di suatu tempat. Namun ia diperbolehkan untuk mengqashar shalat selama sembilan belas hari setelah berniat untuk bermukim, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas ra., “Nabi Shalallahu ‘alaiHi wa sallam tinggal selama 19 hari sambil melakukan qashar. Jika kami melakukan safar selama 19 hari, maka kami melakukan qashar. Dan jika lebih dari itu, maka kami menyempurnakan shalat” (HR. Al Bukhari no. 1080, At Tirmidzi no. 547, dan Ibnu Majah no. 1075)

    ***

    Maraji’

    1. Majalah As Sunnah, Edisi 11/Tahun VIII/1425 H/2005 M, halaman 9.
    2. Panduan Fiqh Lengkap Jilid 1, Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.
     
  • erva kurniawan 1:26 am on 20 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: Berhaji Cukup Sekali   

    Berhaji Cukup Sekali 

    Setiap tahun ada sekitar 200.000 orang jamaah haji Indonesia. Biaya yang dibutuhkan tak kurang dari 30 juta rupiah perorang. Seandainya 25 persen saja dari jumlah itu kita berdayakan, maka kita akan mendapatkan angka 1 trilyun rupiah pertahun. Angka yang tidak kecil untuk menuntaskan kemiskinan umat.

    Dalam keadaan fisik yang lelah, Abdullah bin Mubarak, tertidur di lantai Masjidil Haram. Dalam tidurnya, ulama zuhud ternama yang hidup di era pemerintahan Bani Abbasiyah ini bermimpi didatangi dua malaikat. Kedua malaikat itu, turun dari langit khusus untuk menemuinya. Dalam mimpinya, ia mendengar dialog kedua malaikat itu. “Berapa jumlah kaum Muslim yang menunaikan haji tahun ini? “tanya salah satu malaikat. “Ada 600 ribu orang,” jawab yang satunya. “Lalu berapa orang yang hajinya diterima Allah?”

    “Tidak seorang pun. Tapi, ada seorang lelaki bernama Muwaffaq dari Damaskus yang hajinya diterima oleh Allah. Bahkan berkat ibadahnya itu menyebabkan haji kaum Muslim diterima Allah,” jawab yang ditanya.

    Begitu terbangun, Abdullah bin Mubarak mencari orang bernama Muwaffaq. Ternyata Muwaffaq adalah seorang lelaki tukang sol sepatu yang telah bertahun-tahun mengumpulkan uang untuk bekal melaksanakan haji. Suatu saat, istrinya minta dibelikan makanan. Tak sulit bagi Muwaffaq menemukan makanan yang diminta istrinya. Ketika hendak pulang, Muwaffaq tertarik dengan kepulan asap yang keluar dari dapur rumah seorang tetangganya. Setelah mengucap salam, Muwaffaq masuk ke rumah itu. Apa yang didapatinya? Seorang perempuan tua dan beberapa anak yatim sedang memasak daging keledai. Menurut perempuan tua itu, yang ia masak adalah bangkai keledai. Ia terpaksa melakukannya karena telah beberapa hari tak ada yang bisa dimakan.

    Mendengar jawaban itu, Muwaffaq segera pulang menemui istrinya. Didapatinya sang istri tak bernafsu lagi dengan makanan hasil pencarian suaminya. Muwaffaq gembira dan lantas menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya. Akhirnya keduanya sepakat bawah tabungan mereka sejumlah 300 dirham yang semula mau digunakan sebagai bekal haji, diserahkan kepada perempuan tua yang menanggung beberapa anak yatim itu. “Aku telah menunaikan ibadah haji di depan rumahku,” ucap Muwaffaq kemudian sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit.

    Kisah tersebut menarik untuk direnungi. Dalam Islam, pahala tak bisa dinilai semata dari kuantitas, tapi juga harus memperhatikan kualitasnya. Secara kualitas, mereka yang berangkat ke Tanah Suci, melakukan thawaf, sai, wukuf di Arafah dan rangkaian ibadah haji lainnya, tentu lebih besar dibandingkan dengan orang yang “hanya” memberi makan tetangganya. Padahal, dalam kisah di atas, Muwaffaq baru pertama kali ingin berhaji. Bagaimana dengan mereka yang sudah berulang-ulang?

    Imam al-Ghazali dalam karya magnum opus-nya, Ihya’ Ulumuddin dengan keras dan lantang mengritik para haji, baik yang melakukannya untuk kali pertama, maupun yang ingin mengulanginya. Terhadap mereka yang berangkat haji untuk kali pertama, al-Ghazali melontarkan kritiknya. Menurutnya, di antara mereka banyak yang berangkat tanpa lebih dulu membersihkan jiwa dan hati. Mereka banyak yang mengabaikan aspek-aspek ibadah haji yang berdimensi psikis maupun etis. Ketika tiba di Tanah Suci, mereka tak mampu menjaga kesucian diri untuk tidak menzalimi orang lain ketika thawaf, mengolok-olok, dan berkata keji.

    Kritik yang disampaikan al-Ghazali itu, sebenarnya sangat relevan dan signifikan bagi kondisi bangsa yang kini dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis berkepanjangan. Lalu, mungkinkah hukum haji ulang itu bergeser dari sunnah menjadi makruh, atau bahkan haram?

    Secara umum, ada beberapa alasan pengulangan pelaksanaan ibadah haji. Pertama, mengulangi haji semata-mata untuk memperbanyak amalan sunnah. Kedua, mengulangi karena haji yang pertama terasa belum sah lantaran ada beberapa syarat dan rukun yang mungkin tak sempat atau lupa dijalankan. Ketiga, mengulangi ibadah haji karena gengsi dan ikut-ikutan.

    Dua kategori terakhir itulah yang relevan dengan kritik al-Ghazali pada mereka yang kemaruk melaksanakan ibadah haji. Mayoritas umat Islam Indonesia, bahkan yang hidup di tengah komunitas Muslim mancanegara, sampai detik ini masih memutlakkan wajibnya haji pertama, dan sunnah bagi yang bermaksud mengulanginya. Pandangan ini, disebabkan mayoritas umat Islam tak memiliki pengetahuan cukup memadai tentang thuruq al-istimbath al-ahkam (metode-metode pengambilan hukum), seiring ketidakberdayaan mereka dalam memahami ajaran Islam secara benar, integral, dan komprehensif. Selama ini yang diketahui masyarakat, ibadah haji hukumnya wajib dan sunnah bagi yang mengulanginya. Mereka belum pernah menemukan hukum haji yang berulang kali itu, makruh, atau bahkan haram, misalnya.

    Para ulama menetapkan hukum wajib dan sunnah itu karena mendasarkan pikirannya kepada nash yang dianggapnya qath’i (pasti). Ini sebagaimana platform-Nya, “Allah mewajibkan atas manusia untuk menyengaja bait (pergi ke Baitullah menunaikan ibadah haji) bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana,” (QS Ali Imran: 97).

    Sedangkan penetapan hukum sunnah didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Barangsiapa ingin menambah atau mengulangi ibadah haji itu hukumnya sunnah. “Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir, Rasulullah saw bersabda, “Tiada balasan apapun bagi haji mabrur kecuali surga. Ditanya kepadanya, apa makna mabrur itu? Dijawab, suka memberi makanan (bantuan sosial) dan selalu lemah lembut dalam berbicara.”

    Tak heran kalau Ibrahim bin Yazid al-Nakha’i, seorang tabiin yang lahir 46 H (666 M) dan hidup pada era pemerintahan Bani Umayyah, pernah mengeluarkan sebuah fatwa, “sedekah itu lebih baik daripada haji sunnah.” Dengan demikian, mengulangi ibadah haji sesudah haji pertama hukumnya makruh.

    Karena itu, pengulangan ibadah haji yang disebut oleh hadits di atas sebagai “sunnah”, bisa saja bergeser menjadi “makruh”, dan atau bahkan “haram” apabila realita bertentangan dengan maslahat (kebaikan) yang ditetapkan secara qath’i (pasti).

    Memelihara anak yatim dan menyantuni fakir miskin, yang disebut berkali-kali sebagai program pengentasan kemiskinan oleh al-Quran, merupakan mashlahat yang qath’i (pasti) dan amat mendesak ketimbang menunaikan haji sunnah yang berulang. Menyerahkan dan mendayagunakan haji sunnah (haji ulang) bagi mereka yang membutuhkan, jelas merupakan maslahat yang berimplikasi positif. Ini amat relevan dan signifikan buat kondisi bangsa Indonesia yang kini secara objektif sedang dihadapkan pada persoalan kemiskinan akibat krisis berkepanjangan.

    Mengingat secara kuantitatif umat Islam Indonesia mayoritas, maka problem kemiskinan merupakan urusan umat Islam itu sendiri. Karena itu, kepada kaum Muslim yang telah meraih gelar “haji” dan berkeinginan untuk melaksanakan lagi kali kedua dan seterusnya, sebaiknya berpikir. Secara kalkulasi pahala, memikirkan ulang keinginan berhaji juga bisa dijelaskan. Kalau saja kita berhaji tiga kali kemudian meninggal, maka tak ada lagi nilai tambah atau pahala bagi ibadah kita. Berbeda bila kita cukup berhaji sekali saja, lalu dana yang dua kali, didayagunakan untuk beasiswa bagi yang miskin, dan orang-orang yang kreatif serta produktif, kita akan tetap memperoleh pahala yang selalu berkesinambungan, meski kita telah terbujur kaku di liang kubur.

    Memang, dalam al-Qur’an ibadah haji yang dipelopori Nabi Ibrahim, wajib hukumnya. “Serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segala penjuru yang jauh,”(QS al-Hajj: 27). Dalam ayat lain Allah menyatakan, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Tuhan,” (QS Ali Imran: 97).

    Namun sebagian besar dari kita mungkin cenderung memandang ibadah haji sebagai ritual individu, bukan ritual politik komunal. Sehingga dalam praktiknya seakan-akan suatu keimanan seseorang belum mumpuni kalau belum berhaji. Umat pun berlomba-lomba mengumpulkan uang dan habis hanya untuk biaya haji.

    Menyejahterakan rakyat memang tugas pemerintah. Tapi, mungkinkah menunggu tindakan pemerintah di saat sebagian besar dana APBN didapat dari mengutang dan digerogoti KKN seperti sekarang? Akhirnya, bila dana yang dikeluarkan untuk berhaji ulang, disalurkan guna menolong mereka yang membutuhkan, manfaatnya akan lebih besar. Dana yang tersalurkan akan menetes terus ke bawah, menyebar ke samping dan mengalirkan pahala berlimpah. Ganjarannya bukan 10, tapi lebih dari 700 kali lipat. Allah berfirman, “Perumpamaan (manfaat) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, dimana pada setiap bulir mengandung seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang dikehendakinya. Allah maha luas (karunia) dan maha tahu,” (QS Al-Baqarah: 261).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 19 May 2010 Permalink | Balas
    Tags: , , tata cara perkawinan menurut islam, Tata Cara Pernikahan Yang Islam   

    Proses Tata Cara Pernikahan Yang Islami 

    Oleh : Salmah Machfoedz

    Sesungguhnya Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya yang akan memasuki jenjang pernikahan, lengkap dengan tata cara atau aturan-aturan Allah Subhanallah. Sehingga mereka yang tergolong ahli ibadah, tidak akan memilih tata cara yang lain. Namun di masyarakat kita, hal ini tidak banyak diketahui orang.

    Pada risalah yang singkat ini, kami akan mengungkap tata cara penikahan sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam yang hanya dengan cara inilah kita terhindar dari jalan yang sesat (bidah). Sehingga orang-orang yang mengamalkannya akan berjalan di atas landasan yang jelas tentang ajaran agamanya karena meyakini kebenaran yang dilakukannya. Dalam masalah pernikahan sesunggguhnya Islam telah mengatur sedemikian rupa. Dari mulai bagaimana mencari calon pendamping hidup sampai mewujudkan sebuah pesta pernikahan. Walaupun sederhana tetapi penuh barakah dan tetap terlihat mempesona. Islam juga menuntun bagaimana memperlakukan calon pendamping hidup setelah resmi menjadi sang penyejuk hati. Berikut ini kami akan membahas tata cara pernikahan menurut Islam secara singkat.

    Hal-Hal Yang Perlu Dilakukan Sebelum Menikah

    I. Minta Pertimbangan

    Bagi seorang lelaki sebelum ia memutuskan untuk mempersunting seorang wanita untuk menjadi isterinya, hendaklah ia juga minta pertimbangan dari kerabat dekat wanita tersebut yang baik agamanya. Mereka hendaknya orang yang tahu benar tentang hal ihwal wanita yang akan dilamar oleh lelaki tersebut, agar ia dapat memberikan pertimbangan dengan jujur dan adil. Begitu pula bagi wanita yang akan dilamar oleh seorang lelaki, sebaiknya ia minta pertimbangan dari kerabat dekatnya yang baik agamanya.

    II. Shalat Istikharah

    Setelah mendapatkan pertimbangan tentang bagaimana calon isterinya, hendaknya ia melakukan shalat istikharah sampai hatinya diberi kemantapan oleh Allah Taala dalam mengambil keputusan.

    Shalat istikharah adalah shalat untuk meminta kepada Allah Taala agar diberi petunjuk dalam memilih mana yang terbaik untuknya. Shalat istikharah ini tidak hanya dilakukan untuk keperluan mencari jodoh saja, akan tetapi dalam segala urusan jika seseorang mengalami rasa bimbang untuk mengambil suatu keputusan tentang urusan yang penting. Hal ini untuk menjauhkan diri dari kemungkinan terjatuh kepada penderitaan hidup. Insya Allah ia akan mendapatkan kemudahan dalam menetapkan suatu pilihan.

    III. Khithbah (peminangan)

    Setelah seseorang mendapat kemantapan dalam menentukan wanita pilihannya, maka hendaklah segera meminangnya. Laki-laki tersebut harus menghadap orang tua/wali dari wanita pilihannya itu untuk menyampaikan kehendak hatinya, yaitu meminta agar ia direstui untuk menikahi anaknya. Adapun wanita yang boleh dipinang adalah bilamana memenuhi dua syarat sebagai berikut, yaitu:

    1. Pada waktu dipinang tidak ada halangan-halangan syari yang menyebabkan laki-laki dilarang memperisterinya saat itu. Seperti karena suatu hal sehingga wanita tersebut haram dinikahi selamanya (masih mahram) atau sementara (masa iddah/ditinggal suami atau ipar dan lain-lain).
    2. Belum dipinang orang lain secara sah, sebab Islam mengharamkan seseorang meminang pinangan saudaranya.

    Dari Uqbah bin Amir radiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang mukmin adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu meninggalkannya.” (HR. Jamaah)

    Apabila seorang wanita memiliki dua syarat di atas maka haram bagi seorang laki-laki untuk meminangnya.

    IV. Melihat Wanita yang Dipinang

    Islam adalah agama yang hanif yang mensyariatkan pelamar untuk melihat wanita yang dilamar dan mensyariatkan wanita yang dilamar untuk melihat laki-laki yang meminangnya, agar masing- masing pihak benar-benar mendapatkan kejelasan tatkala menjatuhkan pilihan pasangan hidupnya.

    Dari Jabir radliyallahu anhu, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, maka apabila ia mampu hendaknya ia melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahinya.” Jabir berkata: “Maka aku meminang seorang budak wanita dan aku bersembunyi untuk bisa melihat apa yang mendorong aku untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abu Dawud, 1832).

    Adapun ketentuan hukum yang diletakkan Islam dalam masalah melihat pinangan ini di antaranya adalah:

    1. Dilarang berkhalwat dengan laki-laki peminang tanpa disertai mahram.
    2. Wanita yang dipinang tidak boleh berjabat tangan dengan laki- laki yang meminangnya.

    V. Aqad Nikah

    Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi:

    1. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.

    2. Adanya ijab qabul.

      Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul itu artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Dalam perkawinan yang dimaksud dengan “ijab qabul” adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

      Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa, Sahl bin Said berkata, “Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: “Saya serahkan diriku kepadamu.” Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya.” Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

      Hadist Sahl di atas menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengijabkan seorang perempuan kepada Sahl dengan mahar atau maskawinnya ayat Al-Quran dan Sahl menerimanya.

      3. Adanya Mahar (mas kawin)

        Islam memuliakan wanita dengan mewajibkan laki-laki yang hendak menikahinya menyerahkan mahar (mas kawin). Islam tidak menetapkan batasan nilai tertentu dalam mas kawin ini, tetapi atas kesepakatan kedua belah pihak dan menurut kadar kemampuan. Islam juga lebih menyukai mas kawin yang mudah dan sederhana serta tidak berlebih-lebihan dalam memintanya.

        Dari Uqbah bin Amir, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan.” (HR. Al-Hakim dan Ibnu Majah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 3279 oleh Al-Albani)

        4. Adanya Wali

          Dari Abu Musa radliyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sah suatu pernikahan tanpa wali.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1836).

          Wali yang mendapat prioritas pertama di antara sekalian wali-wali yang ada adalah ayah dari pengantin wanita. Kalau tidak ada barulah kakeknya (ayahnya ayah), kemudian saudara lelaki seayah seibu atau seayah, kemudian anak saudara lelaki. Sesudah itu barulah kerabat-kerabat terdekat yang lainnya atau hakim.

          5. Adanya Saksi-Saksi

            Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi yang adil.” (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan dari Aisyah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir oleh Syaikh Al-Albani no. 7557).

            Menurut sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam, sebelum aqad nikah diadakan khuthbah lebih dahulu yang dinamakan khuthbatun nikah atau khuthbatul-hajat.

            VI. Walimah

            Walimatul Urus hukumnya wajib. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaih wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf, “….Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Alabni dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)

            Memenuhi undangan walimah hukumnya juga wajib, sesuai riwayat “Jika kalian diundang walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan perkawinan atau yang lainnya). Barangsiapa yang tidak menyambut undangan itu berarti ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari 9/198, Muslim 4/152, dan Ahmad no. 6337 dan Al-Baihaqi 7/262 dari Ibnu Umar).

            Akan tetapi tidak wajib menghadiri undangan yang didalamnya terdapat maksiat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya, kecuali dengan maksud akan merubah atau menggagalkannya. Jika telah terlanjur hadir, tetapi tidak mampu untuk merubah atau menggagalkannya maka wajib meninggalkan tempat itu.

            Dari Ali berkata, “Saya membuat makanan maka aku mengundang Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dan beliaupun datang. Beliau masuk dan melihat tirai yang bergambar maka beliau keluar dan bersabda, “Sesungguhnya malaikat tidak masuk suatu rumah yang di dalamnya ada gambar.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah, shahih, lihat Al-Jamius Shahih mimma Laisa fis Shahihain 4/318 oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii).

            Adapun Sunnah yang harus diperhatikan ketika mengadakan walimah adalah sebagai berikut:

            1. Dilakukan selama 3 (tiga) hari setelah hari dukhul (masuk- nya) seperti yang dibawakan oleh Anas radliallahu `anhu, katanya, Dari Anas radliallahu `anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam telah menikahi Shafiyah dengan maskawin pembebasannya (sebagai tawanan perang Khaibar) dan mengadakan walimah selama tiga hari.” (HR. Abu Yala, sanad hasan, seperti yang terdapat pada Al-Fath 9/199 dan terdapat di dalam Shahih Bukhari 7/387 dengan makna seperti itu. Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthaharah oleh Al-Albani hal. 65)
            2. Hendaklah mengundang orang-orang shalih, baik miskin atau kaya sesuai dengan wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Jangan bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan jangan makan makananmu kecuali seorang yang bertaqwa.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Abi Said Al-Khudri, hasan, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 7341 dan Misykah Al-Mashabih 5018).
            3. Sedapat mungkin memotong seekor kambing atau lebih, sesuai dengan taraf ekonominya. Keterangan ini terdapat dalam hadits Al-Bukhari, An-Nasai, Al-Baihaqi dan lain-lain dari Anas radliallahu `anhu. Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf, “Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)

            Akan tetapi dari beberapa hadits yang shahih menunjukkan dibolehkan pula mengadakan walimah tanpa daging. Dibolehkan pula memeriahkan perkawinan dengan nyanyi-nyanyian dan menabuh rebana (bukan musik) dengan syarat lagu yang dinyanyikan tidak bertentangan dengan ahklaq seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini, Dari Aisyah bahwasanya ia mengarak seorang wanita menemui seorang pria Anshar. Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Aisyah, mengapa kalian tidak menyuguhkan hiburan? Karena kaum Anshar senang pada hiburan.” (HR. Bukhari 9/184-185 dan Al-Hakim 2/184, dan Al-Baihaqi 7/288).

            Tuntunan Islam bagi para tamu undangan yang datang ke pesta perkawinan hendaknya mendoakan kedua mempelai dan keluarganya.

            Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan doa, “Mudah-mudahan Allah memberimu berkah. Mudah-mudahahan Allah mencurahkan keberkahan kepadamu dan mudah – mudahan Dia mempersatukan kalian berdua dalam kebajikan.” (HR. Said bin Manshur di dalam Sunannya 522, begitu pula Abu Dawud 1/332 dan At-Tirmidzi 2/171 dan yang lainnya, lihat Adabuz Zifaf hal. 89)

            Adapun ucapan seperti “Semoga mempelai dapat murah rezeki dan banyak anak” sebagai ucapan selamat kepada kedua mempelai adalah ucapan yang dilarang oleh Islam, karena hal itu adalah ucapan yang sering dikatakan oleh Kaum jahiliyyah.

            Dari Hasan bahwa Aqil bin Abi Thalib menikah dengan seorang wanita dari Jisyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyyah: “Bir rafa wal banin.” Aqil bin Abi Thalib mencegahnya, katanya: “Jangan kalian mengatakan demikian karena Rasulullah melarangnya.” Para tamu bertanya: ” Lalu apa yang harus kami ucapkan ya Aba Zaid?” Aqil menjelaskan, ucapkanlah: “Mudah- mudahan Allah memberi kalian berkah dan melimpahkan atas kalian keberkahan.” Seperti itulah kami diperintahkan. (HR. Ibnu Abi Syaibah 7/52/2, An-Nasai 2/91, Ibnu Majah 1/589 dan yang lainnya, lihat Adabuz Zifaf hal. 90)

            Demikianlah tata cara pernikahan yang disyariatkan oleh Islam. Semoga Allah Taala memberikan kelapangan bagi orang- orang yang ikhlas untuk mengikuti petunjuk yang benar dalam memulai hidup berumah tangga dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam.

            Mudah-mudahan mereka digolongkan ke dalam hamba-hamba yang dimaksudkan dalam firman-Nya: “Yaitu orang-orang yang berdoa: Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Furqan: 74).

            ***

            Maraji:

            • Fiqhul Marah Al-Muslimah, Ibrahim Muhammad Al-Jamal.
            • Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani.
             
            • said 12:33 am on 20 Mei 2010 Permalink

              cukup memadai urain nya , alhamdullah.

          1. erva kurniawan 1:58 am on 18 May 2010 Permalink | Balas
            Tags: syarat diterima amalan   

            Amal yang Diterima 

            Oleh : Iin Rosliah

            Cinta dan semangat saja tak cukup dijadikan modal agar amal diterima Allah SWT. Ada dua syarat yang mutlak harus dipenuhi supaya amal tidak sia-sia di hadapan-Nya.

            1. Pertama, ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, bukan karena motivasi duniawi atau ingin meraih puji.
            2. Kedua, muwafaqah, artinya amal yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah SAW.

            Ikhlas dan muwafaqah, ibarat dua sisi mata uang, saling terkait dan tak dapat dipisahkan. Ibnu Katsir saat menafsirkan QS Al Kahfi: 110 menguraikan, ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW merupakan dua rukun amal yang akan diterima. Rukun adalah tiang. Sebuah bangunan akan terwujud manakala kedua tiangnya berdiri tegak. Begitu pula amal, akan diterima ketika dua syaratnya terpenuhi.

            Ketika kita beribadah karena ingin mendapat sanjungan sesama, berarti hati kita telah mendua. Dalam kacamata agama, ini dikategorikan sebagai perbuatan syirik yang akan menghalangi diterimanya amal oleh Allah SWT. ”Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya.” (QS Al Kahfi;110).

            Ibnul Qayyim mengibaratkan orang yang beramal tanpa keikhlasan seperti seorang musafir yang mengisi penuh kantongnya dengan pasir. Ia membawanya, tapi tidak mendapatkan manfaat apa pun. Walau secara lahiriah tampak besar dan bagus, bila tak dihiasi dengan keikhlasan, amal apa pun menjadi tak bermakna dalam pandangan Allah SWT. Alhasil, bukannya pahala yang diraih, justru azab yang didapat.

            Jangan pula sampai terjadi seperti tiga orang Muslim di hadapan mahkamah Allah SWT kelak. Imam Muslim meriwayatkan, ada seorang mujahid, seorang alim, dan seorang dermawan. Bukan surga yang diperoleh, justru neraka yang didapat ketiganya. Pasalnya, amal yang mereka lakukan hanya untuk mengejar prestise. Yang satu berjuang agar disebut syuhada. Yang kedua menuntut ilmu dan mengajarkannya agar disebut ulama. Dan yang terakhir menginfakkan hartanya agar dinilai sebagai dermawan.

            Setelah ikhlas, syarat berikutnya adalah kesesuaian setiap amal dengan tuntunan dalam Alquran dan sunah. Ini mengandung makna, ibadah apa pun yang diperbuat, hendaknya dilandasi oleh ilmu. Beribadah tanpa dasar ilmu, cenderung menjadikan perasaan sebagai standar. Baik buruk bukan diukur oleh dalil, tapi semata-mata menimbang rasa. Alhasil, mudah tergelincir dalam perbuatan bid’ah, mengada-ada dalam urusan ibadah.

            Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa mengerjakan satu amalan yang tak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim).

            ***

            Sumber: Republika

             
          2. erva kurniawan 1:14 am on 16 May 2010 Permalink | Balas
            Tags: mandi besar, mandi wajib, rukun mandi wajib, tata cara mandi besar, tata cara mandi wajib   

            Tata Cara Mandi Wajib 

            Hal – hal yang menyebabkan diwajibkannya mandi:

            1. Keluar air mani, baik saat terjaga ataupun tidur, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya air (mandi) itu disebabkan air (keluarnya mani)” (HR. Muslim no. 343 dan Abu Dawud no. 214)
            2. Jima’ (berhubungan badan), walaupun tidak keluar air mani. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika ia telah duduk diantara ke empat cabang istrinya … (kiasan untuk bersetubuh), maka ia wajib mandi meskipun tidak keluar air mani” (HR. Muslim no. 348)
            3. Masuk Islamnya orang kafir. Dari Qais bin ‘Ashim, ia menceritakan bahwa ketika ia masuk Islam, Nabi SAW menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR. At Tirmidzi no. 602 dan Abu Dawud no. 351, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaa’ul Ghaliil no. 128)
            4. Terputusnya haidh dan nifas. Dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy, “Jika datang haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah” (HR. Al Bukhari no. 320, Muslim no. 333, Abu Dawud no. 279, At Tirmidzi no. 125 dan An Nasa’i I/186)
            5. Hari Jum’at. Dari Abu Sa’id Al Khudri ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mandi Jum’at wajib bagi setiap orang yang telah baligh” (HR. Al Bukhari no. 879, Muslim no. 346, Abu Dawud no. 337, An Nasa’i III/93 dan Ibnu Majah no. 1089)

            Adapun tata caranya adalah berdasarkan hadits dari jalan Aisyah ra., ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah SAW hendak mandi janabah (junub), beliau membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalu beliau mengambil air dan memasukan jari – jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

            Pada riwayat lain dikatakan, “…dan dimasukannya jari – jari ke dalam urat rambut hingga bila dirasanya air telah membasahi kulit [kepala], disauknya dua telapak tangan lagi dan disapukannya ke kepalanya sebanyak 3 kali, kemudian dituangkan ke seluruh tubuh” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

            Dari hadits yang mulia di atas maka urutan tata cara mandi wajib adalah:

            1. Membasuh kedua tangan
            2. Membasuh kemaluan
            3. Berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat [Boleh menangguhkan menangguhkan membasuh kedua kaki sampai selesai mandi (Fikih Sunnah hal. 154)]
            4. Mencuci rambut dengan cara memasukan jari – jemari ke pangkal rambut
            5. Menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3x atau mengambil air dengan kedua tangan kemudian menyapukannya ke kepalanya.
            6. Menguyur seluruh badan
            7. Membasuh kaki

            Sedangkan rukun dari mandi wajib ini menurut pandangan fiqh ada 2 yaitu:

            1. Berniat. Karena inilah yang memisahkan antara ibadah dengan kebiasaan dan adat.
            2. Membasuh seluruh anggota tubuh. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu junub hendaklah bersuci”, maksudnya adalah mandi.

            ***

            Maraji’:

            1. Fikih Sunnah Jilid 1, Sayyid Sabiq, PT. Al Ma’arif, Bandung, Cetakan Kedelapan belas, 1997 M.
            2. Panduan Fiqih Lengkap Jilid 1, Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1426 H/Juli 2005 M.
             
            • ardhilest 1:24 am on 16 Mei 2010 Permalink

              nice info gan..

              sudi kiranya mampir di blog ane..

            • Ikhsan 9:27 am on 20 Mei 2010 Permalink

              sip

            • Hamba Allah 9:21 am on 7 Juni 2010 Permalink

              Artikel ini sangat bermanfaat bagi saya dan ummat Islam lainnya…

            • NanDa Chuex Bloik 4:42 pm on 19 Februari 2011 Permalink

              thanks yha ats infonya!!!!

            • ardi 1:00 am on 29 April 2011 Permalink

              niatnya pa sob???

          3. erva kurniawan 1:40 am on 14 May 2010 Permalink | Balas  

            Bagaimana Memahami Ayat Allah Di Alam 

            Karya : Harun Yahya

            Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya.

            Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu

            “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:190-191)

            Di banyak ayat dalam Alqur’an, pernyataan seperti, “Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”, “terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal,” memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini:

            “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An-Nahl, 16:11)

            Marilah kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.

            Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.

            Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut? Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?

            Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan:

            “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’aam, 6:59).

            Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan:

            “Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS. Al-An’aam, 6:95)

            Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.

            ***

            Dari Sahabat

             
          4. erva kurniawan 1:24 am on 13 May 2010 Permalink | Balas  

            Berang-berang, Insinyur Pembuat Bendungan 

            Karya : Harun Yahya

            Arsitektur adalah bidang di mana konsep seni dan estetika yang ditanamkan Allah dalam diri manusia dapat terlihat. Tapi tahukah Anda, ternyata masih terdapat banyak arsitek di alam ini yang sama terampilnya dengan manusia? Salah satu dari sekian banyak contoh yang ada adalah berang-berang.

            Menebang Pohon dengan Gigi dan Cakar

            Kisah tentang berang-berang dimulai dengan seekor pejantan dan betina yang pergi untuk membuat sarang baru untuk mereka sendiri. Pasangan berang-berang ini akan membangun rumahnya di atas sungai. Tapi, untuk mengerjakannya, pertama kali mereka harus membendung laju arus sungai. Untuk menahan laju aliran ini mereka menggunakan cara yang sama seperti yang telah dilakukan manusia selama ratusan tahun. Dengan kata lain, mereka membuat bendungan.

            Untuk memulai membangun bendungan, pertama-tama mereka harus mendapatkan bahan baku. Bahan baku ini terdiri atas balok kayu dan cabang-cabang pohon. Berang-berang mulai bekerja dengan pergi menuju areal hutan di sekitar sungai. Pertama-tama mereka memakan sedikit dedaunan dari pohon yang mereka temukan. Tapi tugas utama mereka adalah menebang dan mendorong pohon ini hingga roboh. Mereka melakukannya dengan cara menggerogoti batang utama pohon tersebut. Yang menarik di sini adalah mereka menggerogoti kayu sedemikian rupa sehingga ketika pekerjaan menebang berakhir, batang pohon senantiasa roboh ke arah sungai.

            Menebang dan merobohkan pohon masih merupakan bagian pekerjaan yang paling sederhana. Selanjutnya, berang-berang memotong pohon tersebut pada cabang-cabangnya. Mereka memulai membangun bendungan dengan meletakkan cabang-cabang tersebut di depan gelondongan kayu terbesar yang telah mereka robohkan sebelumnya. Perlu diketahui bahwa, setiap saat, peralatan yang mereka gunakan hanyalah cakar dan mulutnya saja.

            Mereka melakukan pekerjaan menebang pohon dan membangun bendungan dengan penuh kesabaran. Dua ekor berang-berang menebang rata-rata empat ratus pohon per tahun. Mereka memotong-motong pepohonan yang berada agak jauh dari bendungan pada cabang-cabangnya, dan kemudian menyeret potongan-potongan tersebut ke bendungan.

            Berang-berang selalu menggunakan gigi depan untuk menggerogoti batang atau cabang pohon. Karena mereka menggunakannya setiap waktu, maka gigi depan ini menjadi tumpul atau rusak. Tetapi rahang berang-berang dibuat dengan memperhitungkan semua hal ini sebelumnya. Gigi depannya yang tajam selalu tumbuh memanjang, layaknya kuku manusia. Demikianlah, Allah Yang Maha Besar, yang menciptakan berang-berang, juga menciptakan gigi mereka sesuai dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan.

            Tubuh berang-berang didisain sedemikian rupa sehingga memudahkan mereka untuk berenang dan menyelam dalam air. Kakinya berselaput sehingga mudah mengayuh air. Ekor belakangnya berbentuk seperti dayung raksasa, sehingga mereka dapat berenang dengan nyaman dalam air.

            Dan Bendungan Pun Terbentuk…

            Berang-berang terus saja membangun bendungan mereka dengan penuh semangat. Mereka begitu ahli dalam menyusun batang pohon dan cabang-cabang kecil, dan memperluas bendungan sedikit demi sedikit setiap hari.

            Lambat-laun, bendungan menjadi semakin besar sehingga permukaan air yang terbendung di bagian depan pun semakin meninggi. Akhirnya, setelah beberapa bulan bekerja, danau yang besar pun terbentuk. Tapi karena danau bertambah besar, berang-berang harus memperkokoh bendungan tersebut dan memperbaiki kerusakannya. Mereka melakukan tugas berat ini dengan penuh kesabaran. Pemandangan yang muncul sebagai hasil kerja keras selama beberapa bulan ini sungguh menakjubkan. Sebuah bendungan yang sesungguhnya, yang menyerupai buatan manusia, telah terbentuk.

            Pada pengamatan lebih dekat, berang-berang membuat bendungan mereka dalam bentuk cekung. Bentuk seperti ini tidak dipilih secara kebetulan. Karena bentuk bendungan yang terbaik menahan tekanan air adalah bendungan yang berbentuk cekung. Faktanya, bendungan pembangkit listrik tenaga air modern yang ada sekarang juga dibangun dalam bentuk cekung.

            Singkat kata, berang-berang memiliki pengetahuan tentang konstruksi, yang pada manusia dicapai setelah beberapa waktu, sejak hari pertama dari kehidupan mereka. Lalu, siapakah yang memberikan mereka pengetahuan tersebut? Tidak diragukan lagi, suatu makhluk hidup tidak mungkin memperoleh kemampuan membangun bendungan secara kebetulan. Ia tidak dapat menemukan bentuk bendungan yang akan memiliki daya tahan terkuat dalam menahan tekanan air secara kebetulan, dan ia pun tidak mampu menurunkan kemampuan ini kepada generasi berikutnya. Adalah Allah Yang Maha Besar, yang memberi berang-berang kemampuan yang mereka miliki, yang menciptakan semua makhluk hidup, dan yang memberi ilham atas apa yang mereka lakukan.

            Rumah Bertingkat di Atas Air

            Tujuan berang-berang membangun bendungan yang besar ini adalah untuk mendapatkan danau dengan air yang tenang di mana mereka dapat membuat sarang. Mereka juga membuat sarang ketika mereka sedang membangun bendungan. Sarang tersebut terletak di salah satu sisi danau, di suatu tempat yang dekat dengan tepian. Sarang ini, yang terlihat seperti gundukan kayu jika dilihat dari atas, ternyata didisain dengan sangat rapi.

            Satu-satunya jalan masuk ke dalam sarang adalah dari bawah permukaan air. Untuk mencapainya, haruslah melalui terowongan tersembunyi. Terowongan ini bermuara pada suatu bilik tersembunyi di atas permukaan air. Keluarga berang-berang hidup di bilik yang kering dan aman ini. Sejumlah berang-berang membangun sarangnya dua lantai. Lantai pertama adalah sebagai jalan masuk dan ruang tamu, dan laintai berikutnya sebagai ruang makan dan ruang tidur.

            Sarang berang-berang memiliki dua jalan masuk bawah air dan satu lubang angin yang terletak di bagian paling atas. Dalam sarangnya yang luar biasa ini, berang-berang tidak hanya terlindung dari bahaya luar, tapi juga memiliki naungan yang nyaman.

            Ilham dari Allah

            Danau kecil yang dibentuk berang-berang kadang dapat mencapai kedalaman tiga sampai empat meter. Mereka sebenarnya tidak memerlukan air sedalam ini untuk membangun sarang mereka. Kalau begitu, mengapa mereka membuat danau sedemikian dalam?

            Jawaban atas pertanyaan ini tampak nyata pada musim dingin. Pada musim dingin, permukaan air membeku dan membentuk lapisan es yang lumayan tebal. Jika danau tidak cukup dalam, danau akan membeku hingga ke dasar, dan segala yang ada akan memjadi bongkahan es, dan ini akan melumpuhkan kemampuan berang-berang untuk bergerak.

            Berang-berang, seolah tahu akan hal ini dan berusaha membuat danau kecil tersebut sedalam mungkin. Dengan demikian, di musim dingin, lapisan air yang tebal tersisa di bawah es. Ini cukup bagi berang-berang untuk dapat bergerak di dalam air dan mendapatkan makan.

            Jika seseorang berpikir tentang hal ini, akan jelas bahwa apa yang dilakukan oleh berang-berang sangatlah luar biasa. Makhluk kecil ini berhasil mengerjakan sesuatu yang kebanyakan orang tidak mampu melakukannya tanpa pendidikan dan pelatihan khusus. Jadi, siapakah yang menjadikan mereka mampu melakukan hal ini?

            Adalah mustahil mengatakan bahwa berang-berang adalah makhluk yang memiliki kecerdasan istimewa. Jadi, bagaimana binatang kecil ini merencanakan sarangnya dengan terowongan masuk istimewa ke dalam air, dan dilengkapi lubang angin? Bagaimana mereka tahu cara membuat bendungan dengan disain yang sama seperti pusat-pusat pembangkit listrik tenaga air paling modern di dunia?

            Pekerjaan-pekerjaan ini jauh di luar jangkauan kecerdasan dan pengetahuan yang dimiliki binatang kecil yang menawan ini. Jelas bahwa ada kekuasaan luar biasa yang memungkinkan mereka melakukan pekerjaan dengan sangat baik.

            Allah Yang Maha Besar, yang menciptakan semua makhluk hidup dan mengilhami perilaku berang-berang, juga mengilhami berang-berang untuk membuat bendungan dan sarang mereka yang sempurna. Allah menyatakan Kekuasaan-Nya atas semua makhluk hidup dalam sebuah ayat Alquran:

            Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada dilangit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk. (QS. Ar-Ruum, 30:26)

            ***

            Dari Sahabat

             
          5. erva kurniawan 1:56 am on 12 May 2010 Permalink | Balas
            Tags: harun yahya, Keajaiban Dalam Rahim Ibu   

            Keajaiban Dalam Rahim Ibu 

            Karya : Harun Yahya

            Awalnya Hanya Bersel Satu

            Makhluk hidup bersel satu yang tak terhitung jumlahnya mendiami bumi kita. Semua makhluk bersel satu ini berkembang biak dengan membelah diri, dan membentuk salinan yang sama seperti diri mereka sendiri ketika pembelahan ini terjadi.

            Embrio yang berkembang dalam rahim ibu juga memulai hidupnya sebagai makhluk bersel satu, dan sel ini memperbanyak diri dengan cara membelah diri, dengan kata lain membuat salinan dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, tanpa adanya perencanaan khusus, sel-sel yang akan membentuk bayi yang belum lahir ini akan memiliki bentuk yang sama. Dan apabila ini terjadi, maka yang akhirnya muncul bukanlah wujud manusia, melainkan gumpalan daging tak berbentuk. Tapi ini tidaklah terjadi karena sel-sel tersebut membelah dan memperbanyak diri bukan tanpa pengawasan.

            Sel yang Sama Membentuk Organ yang Berbeda

            Sperma dan sel telur bertemu, dan kemudian bersatu membentuk sel tunggal yang disebut zigot. Satu sel tunggal ini merupakan cikal-bakal manusia. Sel tunggal ini kemudian membelah dan memperbanyak diri. Beberapa minggu setelah penyatuan sperma dan telur ini, sel-sel yang terbentuk mulai tumbuh berbeda satu sama lain dengan mengikuti perintah rahasia yang diberikan kepada mereka. Sungguh sebuah keajaiban besar: sel-sel tanpa kecerdasan ini mulai membentuk organ dalam, rangka, dan otak.

            Sel-sel otak mulai terbentuk pada dua celah kecil di salah satu ujung embrio. Sel-sel otak akan berkembang biak dengan cepat di sini. Sebagai hasilnya, bayi akan memiliki sekitar sepuluh milyar sel otak. Ketika pembentukan sel-sel otak tengah berlangsung, seratus ribu sel baru ditambahkan pada kumpulan sel ini setiap menitnya.

            Masing-masing sel baru yang terbentuk berperilaku seolah-olah tahu di mana ia harus menempatkan diri, dan dengan sel mana saja ia harus membuat sambungan. Setiap sel menemukan tempatnya masing-masing. Dari jumlah kemungkinan sambungan yang tak terbatas, ia mampu menyambungkan diri dengan sel yang tepat. Terdapat seratus trilyun sambungan dalam otak manusia. Agar sel-sel otak dapat membuat trilyunan sambungan ini dengan tepat, mereka harus menunjukkan kecerdasan yang jauh melebihi tingkat kecerdasan manusia. Padahal sel tidak memiliki kecerdasan sama sekali.

            Bahkan tidak hanya sel otak, setiap sel yang membelah dan memperbanyak diri pada embrio pergi dari tempat pertama kali ia terbentuk, dan langsung menuju ke titik yang harus ia tempati. Setiap sel menemukan tempat yang telah ditetapkan untuknya, dan dengan sel manapun mereka harus membentuk sambungan, mereka akan mengerjakannya.

            Lalu, siapakah yang menjadikan sel-sel yang tak memiliki akal pikiran tersebut mengikuti rencana cerdas ini? Profesor Cevat Babuna, mantan dekan Fakultas Kedokteran, Ginekologi dan Kebidanan, Universitas Istanbul, Turki, berkomentar:

            Bagaimana semua sel yang sama persis ini bergerak menuju tempat yang sama sekali berbeda, seolah-olah mereka secara mendadak menerima perintah dari suatu tempat, dan berusaha agar benar-benar terbentuk organ-organ yang sungguh berbeda? Hal ini jelas menunjukkan bahwa sel yang identik ini, yang tidak mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, yang memiliki genetika dan DNA yang sama, tiba-tiba menerima perintah dari suatu tempat, sebagian dari mereka membentuk otak, sebagian membentuk hati, dan sebagian yang lain membentuk organ yang lain lagi.

            Proses pembentukan dalam rahim ibu berlangsung terus tanpa henti. Sejumlah sel yang mengalami perubahan, tiba-tiba saja mulai mengembang dan mengkerut. Setelah itu, ratusan ribu sel ini berdatangan dan kemudian saling bergabung membentuk jantung. Organ ini akan terus-menerus berdenyut seumur hidup.

            Hal yang serupa terjadi pada pembentukan pembuluh darah. Sel-sel pembuluh darah bergabung satu sama lain dan membentuk sambungan di antara mereka. Bagaimana sel-sel ini mengetahui bahwa mereka harus membentuk pembuluh darah, dan bagaimana mereka melakukannya? Ini adalah satu di antara beragam pertanyaan yang belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan.

            Sel-sel pembuluh ini akhirnya berhasil membuat sistem tabung yang sempurna, tanpa retakan atau lubang padanya. Permukaan bagian dalam pembuluh darah ini mulus bagaikan dibuat oleh tangan yang ahli. Sistem pembuluh darah yang sempurna tersebut akan mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh bayi. Jaringan pembuluh darah memiliki panjang lebih dari empat puluh ribu kilometer. Ini hampir menyamai panjang keliling bumi.

            Perkembangan dalam perut ibu berlangsung tanpa henti. Pada minggu kelima tangan dan kaki embrio mulai terlihat. Benjolan ini sebentar lagi akan menjadi lengan. Beberapa sel kemudian mulai membentuk tangan. Tetapi sebentar lagi, sebagian dari sel-sel pembentuk tangan embrio tersebut akan melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ribuan sel ini melakukan bunuh diri massal.

            Mengapa sel-sel ini membunuh diri mereka sendiri? Kematian ini memiliki tujuan yang amat penting. Bangkai-bangkai sel yang mati di sepanjang garis tertentu ini diperlukan untuk pembentukan jari-jemari tangan. Sel-sel lain memakan sel-sel mati tersebut, akibatnya celah-celah kosong terbentuk di daerah ini. Celah-celah kosong tersebut adalah celah di antara jari-jari kita.

            Akan tetapi, mengapa ribuan sel mengorbankan dirinya seperti ini? Bagaimana dapat terjadi, sebuah sel membunuh dirinya sendiri agar bayi dapat memiliki jari-jari pada saatnya nanti? Bagaimana sel tersebut tahu bahwa kematiannya adalah untuk tujuan tertentu? Semua ini sekali lagi menunjukkan bahwa semua sel penyusun manusia ini diberi petunjuk oleh Allah.

            Pada tahap ini, sejumlah sel mulai membentuk kaki. Sel-sel tersebut tidak mengetahui bahwa embrio akan harus berjalan di dunia luar. Tapi mereka tetap saja membuat kaki dan telapaknya untuk embrio.

            Ketika embrio berumur empat minggu, dua lubang terbentuk pada bagian wajahnya, masing-masing terletak pada tiap sisi kepala embrio. Mata akan terbentuk di kedua lubang ini pada minggu keenam. Sel-sel tersebut bekerja dalam sebuah perencanaan yang sulit dipercaya selama beberapa bulan, dan satu demi satu membentuk bagian-bagian berbeda yang menyusun mata. Sebagian sel membentuk kornea, sebagian pupil, dan sebagian yang lain membentuk lensa. Masing-masing sel berhenti ketika mencapai batas akhir dari daerah yang harus dibentuknya. Pada akhirnya, mata, yang mengandung empat puluh komponen yang berbeda, terbentuk dengan sempurna tanpa cacat. Dengan cara demikian, mata yang diakui sebagai kamera paling sempurna di dunia, muncul menjadi ada dari sebuah ketiadaan di dalam perut ibu. Perlu dipahami bahwa manusia yang bakal lahir ini akan membuka matanya ke dunia yang berwarna-warni, dan mata yang sesuai untuk tugas ini telah dibuat.

            Suara di dunia luar yang akan didengar oleh bayi yang belum lahir juga telah diperhitungkan dalam pembentukan seorang manusia dalam rahim. Telinga yang akan mendengarkan segala suara tersebut juga dibentuk dalam perut ibu. Sel-sel tersebut membentuk alat penerima suara terbaik di dunia.

            Semua uraian ini mengingatkan kita bahwa penglihatan dan pendengaran adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada kita. Allah menerangkan hal ini dalam Alquran sebagaimana berikut:

            Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl, 16:78)

            Penciptaan Kedua

            Berbagai peristiwa yang telah dikisahkan dalam tulisan ini dialami oleh semua orang di dunia. Setiap manusia dipancarkan ke rahim sebagai sebuah sel sperma yang kemudian bersatu dengan sel telur, dan kemudian memulai kehidupan sebagai sel tunggal. Semua ini terjadi karena adanya kondisi yang secara khusus diciptakan di tempat tersebut. Bahkan sebelum manusia mulai mengetahui keberadaan dirinya sendiri, Allah telah memberi bentuk pada tubuh mereka, dan menciptakan manusia normal dari sebuah sel tunggal.

            Adalah kewajiban bagi setiap orang di dunia untuk merenungkan kenyataan ini. Dan kewajiban Anda adalah untuk memikirkan bagaimana anda lahir ke dunia ini, dan kemudian bersyukur kepada Allah.

            Jangan lupa bahwa Tuhan kita, yang telah menciptakan tubuh kita sekali, akan mencipta kita lagi setelah kematian kita, dan akan mempertanyakan segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Hal ini amatlah mudah bagi-Nya.

            Mereka yang melupakan penciptaan diri mereka sendiri dan mengingkari kehidupan akhirat, benar-benar telah tertipu. Allah berfirman tentang orang-orang ini dalam Alquran:

            Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pada kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yaasiin, 36:77-79)

            ***

            Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta’ala

             
          6. erva kurniawan 1:47 am on 11 May 2010 Permalink | Balas
            Tags: dosa meninggalkan sholat, Siksa Meninggalkan Sholat   

            Siksa Meninggalkan Sholat 

            “Apakah yang menyebabkan kamu masuk neraka Saqar ini?” Mereka menjawab: ” kami tidak termasuk golongan orang-orang yang mengerjakan Sholat” (S. Al-Muddatsir 42, 43 ).

            Siksaan ketika hidup di dunia

            1. Allah kurangkan keberkatan umurnya
            2. Rezekinya dipersempitkan oleh Allah
            3. Tidak ada tempat baginya disisi Agama ISlam
            4. Do’anya tertolak
            5. Hilang cahaya sholeh dari wajahnya
            6. Amal kebaikan yang dilakukan langsung tidak diberi pahala

            Siksaan ketika sakaratul maut

            1. Ia akan menghadapi sakaratul maut dalam keadaan hina
            2. Matinya dala keadaan menderita kelaparan
            3. Matinya dalam keadaan yang sangat haus, walaupun diberi minum sebanyak tujuh lautan

            Siksaan ketika berada di dalam kubur

            1. Allah akan menyempitkan kuburannya dengan sesempit-sempitnya
            2. Kuburnya akan digelapkan
            3. Allah akan menyiksanya dengan pedih sampai hari Qiamat

            Siksaan ketika berada di akhirat

            1. Dia akan dibelenggu dan diseret kepadang mahsyar oleh malaikat.
            2. Allah tidak akan memandangnya dengan pandangan belas kasihan.
            3. Allah tidak akan mengampuni dosanya dan akan disiksa dengan keras didalam neraka.

            Nibah bagi orang yang meninggalkan shalat

            1. SUBUH, : Ia akan disiksa selama 60 tahun didalam neraka
            2. DZUHUR, : Dosanya seperti membunuh 1000 jiwa orang Islam
            3. ASHAR, : Dosanya seperti meruntuhkan Ka’bah
            4. MAGHRIB, : Dosanya seperti ia berzina denga Ibunya (Jika pria)atau berzina dengan Bapaknay (bagi Wanita)
            5. ISYA’, : Allah tidak akan ridha’ ia hidup dibumi Allah, dan ia akan didesak mencari bumi lain.

            ***

            (Kitab Raudhatussalihin)

             
            • aje 11:04 pm on 18 Mei 2010 Permalink

              ijin copy , insya allah

            • Andri Yanto 3:02 am on 11 September 2011 Permalink

              MUDAH2AN BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA,, AMIIN,,,!!

          7. erva kurniawan 1:36 am on 9 May 2010 Permalink | Balas
            Tags: istiqomah   

            Makna Istikomah 

            Oleh : Muhammad Bajuri

            Allah SWT berfirman, ”Istikomahlah kamu sebagaimana engkau telah diperintahkan.” (QS Hud [11]:112). Sasaran ayat ini bukan hanya Rasulullah SAW, tetapi seluruh hamba-Nya. Sebab, istikamah adalah kunci pembuka kemuliaan. Bahkan sebagian ulama menempatkan istikomah pada tingkatan puncak dari tangga pendakian seorang hamba menuju kesempurnaan makrifat, kebeningan hati, dan kemurnian akidah.

            Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafi berkata, ”Wahai Rasulullah SAW, katakanlah suatu perkataan kepadaku tentang Islam, sehingga aku tidak perlu lagi bertanya kepada siapapun selain engkau.” Beliau bersabda, ”Katakan aku beriman kepada Allah SWT, lalu istikomahlah.” (HR Ahmad).

            Konsep istikomah tidak sesederhana seperti yang sering dipahami selama ini. Istikomah seringkali diidentikkan dengan kontinyuitas sebuah amal. Al Qurthubi menyatakan bahwa ayat istikomah (QS Hud:112) telah membuat rambut Nabi Muhammad SAW beruban.

            Diceritakan bahwa Abi Ali Asy-Syanawi mengaku pernah melihat Rasulullah SAW dalam mimpi. Dia kemudian bertanya, ”Wahai Rasulullah SAW, ada sebuah riwayat darimu bahwa engkau pernah berkata, Surat Hud telah membuat kepala beruban.” Beliau menjawab, ”Benar.” Asy Syanawi bertanya kembali, ”Ayat apakah yang membuat rambutmu beruban, apakah ayat yang menceritakan tentang kisah-kisah para Nabi atau kehancuran umat terdahulu?” Beliau bersabda, ”Tidak, tetapi disebabkan ayat yang berbunyi, ‘istikomahlah kamu sebagaimana engkau telah diperintahkan’.” (Muhammad bin Allan Ash Shadiqi, Dalil Al Falihin, I/282).

            Secara bahasa, kata istikomah merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata istaqama, yastaqimu yang artinya lurus, teguh, dan konsisten. Namun, pengertian secara bahasa ini belumlah cukup untuk mewujudkan istikomah sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. Oleh karena itu, ulama tasawuf mendefinisikan bahwa istikomah adalah bersikap konsisten terhadap pengakuan iman dan Islam, serta dengan tulus mengabdikan diri kepada Allah SWT untuk mengharapkan ridha-Nya di dunia dan akhirat.

            Dari sekian banyak definisi yang dikemukakan para ulama, dapat dipahami bahwa dalam beristikamah ada dua hal pokok yang harus dipenuhinya. Pertama, beriman kepada Allah SWT. Kedua, mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, baik secara lahir maupun batin. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa orang yang istikomah adalah orang yang bisa mengaktualisasikan nilai keimanan, keislaman, dan keihsanan dalam dirinya secara total.

            Meski untuk bisa mencapai tingkatan istikomah itu terasa amat sulit, namun kita harus tetap berusaha dan ber-munajah semampu kita. Sebab, seperti dikatakan Ibnu Katsir dalam menjelaskan ayat istikomah (QS Hud:112) ini, bahwa istikomah merupakan media yang paling baik untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai kesulitan duniawi. Wallahu a’lam.

            ***

            Republika.co.id

             
          8. erva kurniawan 1:58 am on 6 May 2010 Permalink | Balas  

            Dan Akan Keluar dari Neraka 

            Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan mengampuni yang selain itu bagi siapa yang Ia kehendaki …” (QS An Nisaa’ 116, lihat juga QS An Nisaa’ 48)

            Dari Anas ra., Rasulullah SAW bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah, padahal di hatinya hanya memiliki keimanan seberat sya’irah (biji gandum). Dan akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah padahal di hatinya hanya memiliki keimanan seberat burrah (sejenis biji gandum). Dan akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah padahal di hatinya hanya memiliki keimanan seberat dzarrah (debu, atom)” (HR. Bukhari no. 44 dan Muslim 1/125)

            Maka dari itu ahlus sunnah wal jama’ah meyakini bahwa seorang mukmin, yang mana dia tidak menyekutukan Allah Ta’ala dengan sesuatu apapun, maka dia tidak akan pernah kekal di dalam api neraka dan akan dimasukan ke dalam surga karena ampunan dan rahmat-Nya walaupun keimanan yang dimilikinya hanya seberat sebuah debu. Dan inilah aqidah shahih para salafush shalih (orang – orang shalih terdahulu).

            Semoga bermanfaat

            ***

            Dari Sahabat

             
            • Hendra 7:08 pm on 6 Mei 2010 Permalink

              Subhanallah, allah memang maha pemaaf lg penyayang

          9. erva kurniawan 1:07 am on 5 May 2010 Permalink | Balas  

            Amal dan Kebaikan Seorang Kafir (Non Muslim) 

            Sesungguhnya apabila seseorang meninggal di luar Islam, tidak akan mungkin masuk Surga berdasarkan firman Allah, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya jannah, dan tempatnya ialah naar, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maa-idah : 72)

            Sementara semua amal kebajikan yang dilakukannya padahal ia masih kafir, tidak akan berguna di akhirat sedikitpun, dan tempat kembalinya adalah Neraka. Dasarnya adalah firman Allah, “Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi..” (Ali Imraan : 85)

            Demikian juga firman Allah, ” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan…” (Al-Furqaan : 23)

            Juga firman Allah, ” Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan..” (Al-A’raaf : 147)

            Aisyah -Radhiallahu ‘anha– pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah! Ibnu Juz’an dahulu di Masa Jahiliyyah selalu menjaga hubungan silaturrahmi dan memberi makan fakir miskin. Apakah itu berguna baginya di akhirat?” Beliau menjawab: “Tidak akan berguna baginya. Karena ia tidak pernah mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku di Hari Pembalasan nanti.” (HR. Imam Muslim dalam Shahih-nya 214)

            Adapun apabila orang kafir itu belum mendengar tentang Islam dan belum sampai dakwah kepadanya, maka Wallahu A’lam, Allah akan mengujinya di Hari Kiamat nanti.

            ***

            Dari Sahabat

             
            • annisa 10:10 am on 10 Mei 2010 Permalink

              memang hal ini sangat penting untuk kita ketahui..
              dan pernah dibahas di liqo’an/pengajian kami, jawabannya sama
              yaitu akan sia-sia amal kebaikkan mereka disisi Allah,

              yg menjadi tantangan bagi kita adalah dapatkah kita mendakwahi mereka secara halus dan baik2…. wloupun saya sendiri blum mencoba scara maksimal..krn masih kurangnya keilmuan ttg Islam, walahu’alam bi showab.
              ya.. Allah kuatkanlah kami..

          10. erva kurniawan 1:06 am on 30 April 2010 Permalink | Balas  

            Masih Adakah Ahli Kitab? 

            Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut mari kita lihat surat Rasulullah SAW kepada pembesar bangsa Romawi, Heraklius, sebagai berikut:

            Dari Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya Kepada Heraklius, pembesar Bangsa Romawi Keselamatan atas orang yang mengikuti hidayah (Islam), amma ba’du,

            “Maka sesungguhnya aku mengajakmu kepada seruan Islam, Islamlah pasti engkau akan selamat dan Allah akan memberikan kepadamu pahala dua kali lipat. Tetapi jika engkau berpaling, maka sesungguhnya engkau (berdosa) dan akan menanggung dosa rakyatmu dan (kemudian beliau SAW mengutip firman Allah surat Ali Imran ayat 64)

            ‘Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian lain Ilah selain Allah’. Jika mereka berpaling maka katakanlah, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang – orang yang berserah diri (kepada Allah)” (HR. Al Bukhari no. 7 dan Muslim no. 1773)

            Fiqh Hadits:

            Rasulullah SAW telah mengirim surat kepada pembesar Romawi, Heraklius yang beragama nasrani (Kristen) yang mana di dalam suratnya Rasulullah SAW mengutip firman Allah SWT, “Hai Ahli Kitab …”. Hal ini menunjukan bahwa pembesar Romawi yang bernama Heraklius adalah seorang ahli kitab.

            Jadi yang dimaksud ahli kitab adalah orang – orang yang beragama yahudi dan nasrani baik yang dahulu dan sekarang, yang belum merubah kitab mereka (Taurat dan Injil) ataupun yang telah merubah kitab mereka. Karena pada masa Rasulullah SAW atau masa Heraklius, isi kitab Taurat dan Injil telah banyak mengalami perubahan.

            Maraji’:

            Disarikan dari buku Al Masaa-il Jilid 5, Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darus Sunnah Press, Jakarta, Cetakan Pertama, November 2005, Hal. 162-169

            [Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra. ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman, “Innaka sata’tii qauman aHla kitaab fa-idzaa ji’tuHum fad’uHum ilaa AnyasyHaduu an laa ilaaHa illallaHu wa anna muhammadan rasuulullaH” yang artinya “Sesungguhnya engkau akan menjumpai kaum ahli kitab, jika engkau bertemu dengan mereka maka dakwahkanlah bahwa tiada tuhan yang disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya, dari Abdullah bin Abbas ra.)]

             
          11. erva kurniawan 1:55 am on 29 April 2010 Permalink | Balas
            Tags: , makhluk malaikat,   

            Relatifitas Waktu Penghuni Langit dan Bumi 

            Alam semesta demikian besamya. Siapakah yang menghuni? Apakah hanya manusia saja. Ataukah ada makhluk lain. Sampai sekarang ilmu Astrobiologi belum menemukan data-data yang signifikan. Semuanya, baru pada tingkat dugaan dan asumsi-asumsi. Karena itu, agaknya kita belum bisa bersandar pada data data empirik untuk membahas tentang penghuni alam semesta ini. Meskipun, baru baru ini NASA telah memperoleh data adanya air di Mars lewat pesawat tidak berawaknya. Akan tetapi semua itu masih jauh dari memadai untuk mengatakan di sana ada kehidupan.

            Untuk itu, akan lebih baik jika kita mendasarkan pembahasan kita pada informasi dari Al Quran. Di dalam Al Quran, makhluk ciptaan Allah disebut hanya ada 6 macam, yang 3 berakal, dan 3 lainnya tidak yaitu: malaikat, jin, manusia, binatang, tanaman, dan benda mati.

            Makhluk Malaikat

            Malaikat adalah makhluk yang diciptakan Allah khusus untuk ‘membantu’ Allah mengurus alam semesta ciptaanNya. Bukan berarti Allah ‘kewalahan’ dalam mengurus alam semesta ini dan kemudian butuh bantuan malaikat. Allah berfirman bahwa Dia selalu dalam kesibukan mengurusi alam semesta.

            QS. Ar Rahman (55) : 29, “Semua yang ada di langit dan di Bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”

            Pada hakikatnya, yang sibuk mengurusi alam semesta adalah Allah semata. Karena, toh malaikat adalah ciptaan Allah. Akan tetapi Allah membuat sebuah mekanisnne yang memang melibatkan malaikat dalam interaksiNya dengan makhluk-makhluk yang lain terutama manusia hal ini, misalnya, terlihat dari firmanNya berikut ini.

            QS Asy Syuraa (42) : 51, “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

            Bukan karena Allah tidak mampu berkomunikasi dengan makhluk ciptaanNya, justru sebaliknya, badan manusia terlalu ringkih untuk bisa berkomunikasi dengan Allah. Jangankan ‘berhadapan’ dengan Allah, berdekatan dengan Matahari saja badan manusia pasti hancur. Demikian pula pancaindera kita, terlalu lemah untuk untuk bisa berkomunikasi dengan Dzat Yang Maha Agung itu. Maka, ada mekanisme tertentu untuk bisa berkomunikasi denganNya. Nah, di antaranya adalah dengan melewati malaikat.

            Malaikat adalah makhluk Allah yang badannya terbuat dari cahaya. Badan cahaya itu lantas diberi Ruh oleh Allah. Maka jadilah makhluk malaikat.  Karena badannya terbuat dari cahaya, maka badan malaikat itu memiliki berbagai keunggulan, jauh di atas manusia atau makhluk Al lah lainnya. Bobotnya sangat ringan. Karena itu kecepatannya sangat tinggi. Bahkan tertinggi di alam semesta.

            Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik. Karena itu, malaikat juga bisa bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi itu. Jika mau, malaikat bisa bergerak mengelilingi Bumi sebanyak 8 kali hanya dalam waktu 1 detik.  Dengan kecepatan setinggi itu, malaikat lantas memiliki berbagai kelebihan. Di antaranya, malaikat memiliki waktu yang sangat panjang dibandingkan dengan waktu manusia. Terjadilah relatifitas waktu, sebagaimana diinformasikan Allah dalam ayat berikut ini.

            QS Al Ma’arij (70) : 4, “Naik malaikat dan ruh kepadaNya dalam waktu sehari yang kadarnya 50.000 tahun.”

            Secara eksplisit Allah menginformasikan kepada kita bahwa sehari bagi malaikat adalah seperti 50.000 tahun bagi manusia. Kenapa bisa demikian? Karena malaikat memiliki kecepatan yang sangat tinggi. Ilmu Fisika Modern menjelaskan, bahwa bagi makhluk yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan bergerak lamban baginya.

            Malaikat sebagai utusanNya diberi kecepatan yang tertinggi di alam semesta agar bisa menyelesaikan berbagai tugasnya dengan mudah. Dengan demikian, tugas yang sangat beragam itu bisa, diselesakan dengan baik. Termasuk mendampingi orang-orang yang beriman dalam menghadapi berbagai persoalannya.

            Kecepatan malaikat yang demikian tinggi itu bukan hanya berpengaruh pada cepatnya gerakan saja, melainkan juga berpengaruh pada panjang pendeknya waktu, sehingga terjadilah relatifitas waktu.

            QS. Fushilat (41) : 30, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (sambil mengatakan): janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

            Berbagai kelebihan tersebut membawa konsekuensi yang luas pada hubungan kita dengan malaikat. Misalnya, jika malaikat mau mengurus kita, katakanlah mencatat perbuatan manusia, mereka hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat Anggaplah malaikat sedang mengamati perbuatan kita selama beberapa menit. Sebenamya waktu manusia sudah berjalan bertahun tahun.

            Sehingga peradaban manusia modern yang diperkirakan berusia 50.000 tahun sejak penciptaan Adam itu, bagi malaikat baru terjadi sehari yang lalu, alias kemarin. Atau, katakanlah usia alam semesta yang diperkirakan 12 miliar tahun ini, bagi malaikat baru berusia 240.000 hari alias sekitar 660 tahun saja.

            Maka jangan heran jika di Al Qur’an terdapat banyak informasi tentang relatifitas waktu itu. Misalnya Allah mengatakan bahwa sehari pada hari kiamat memiliki kadar 1000 tahun, seperti firman berikut ini.

            QS Al Hajj (22) : 47, “Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali. kali tidak akan menyalahi janji Nya Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

            Contoh yang lain, ada manusia yang pada hari kiamat itu ditanya oleh Allah tentang lamanya dia tinggal di Bumi. Mereka mengatakan bahwa mereka tinggal di Bumi itu hanya sekitar satu hari saja. Akan tetapi, orang yang lain ada yang menjawabnya 10 hari.

            QS. Thahaa (20) : 103 – 104, “Mereka berbisik bisik di antara mereka : kami tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sepuluh (hari). Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sehari saja.

            Dengan adanya relatifitas waktu tersebut, maka kita bisa memahami firman Allah yang mengatakan bahwa kiamat sudah dekat. Sudah kelihatan tanda-tandanya. Akan tetapi, sampai sekarang belum juga terjadi. Padahal sejak zaman nabi Muhammad sampai sekarang, waktu manusia sudah berjalan hampir 1500 tahun.

            Di’sisi’, Allah waktu berjalan sangat lambat. (Tetapi Allah tidak terikat dimensi waktu. Justru ‘waktu’ yang berada di dalam Allah). Karena itu, meskipun waktu alam semesta di mata manusia sudah berjalan sekitar 12 miliar tahun, Allah mengatakan bahwa proses penciptaan alam semesta ini di sisi Allah hanya butuh waktu 6 hari! Jadi setiap tahap penciptaan alam semesta hanya butuh waktu penciptaan Masing-masing 1 hari saja. Dan sampai sekarang proses tersebut belum berhenti.

            Kembali kepada malaikat. Malaikat adalah makhluk cahaya yang didesain memiliki berbagai kelebihan oleh Allah. Mereka bisa bergerak ke mana saja di alam semesta ini, sebagaimana digambarkan dalam QS Al Ma’arij : 4 tersebut di atas. Perjalanan malaikat dari Bumi menuju langit, misalnya, digambarkan hanya ditempuhnya dalam waktu sehari saja. Padahal manusia menempuhnya dalam waktu 50.000 tahun.

            Bahkan bukan hanya perjalanan fisik di langit dunia, tetapi malaikat juga memiliki kelebihan untuk bisa menembus dimensi dimensi langit pertama sampai dengan langit ke tujuh. Malaikat adalah makhluk dari langit ketujuh, yang berdimensi 9

            Tugas malaikat beragam. Mulai dari menyampaikan wahyu kepada para nabi, ‘mencatat’ perbuatan manusia, menyampaikan rezeki, sampai kepada penjaga Surga dan Neraka. Semua itu dilakukan malaikat persis sesuai perintah Allah. Malaikat tidak pernah membangkang terhadap perintah Allah. Setiap saat mereka selalu bertasbih memuji kebesaran Allah.

            QS. Al Anbiyaa’ : 19 – 20, “Dan kepunyaanNyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat malaikat yang di sisiNya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembahNya, dan tiada merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “

            QS. Faathir : 1,  “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan Bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua-dua, tiga-tiga, empat empat. Allah menambah apa yang Dia kehendaki tentang ciptaanNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

             
            • ari kurniawan 5:50 pm on 29 April 2010 Permalink

              Maha Besar Allah yg telah menciptakan mahluk dan segala sesuatu yg di dalamnya terdapat pelajaran bagi kita. Subhanallah…

            • eL Abee 7:05 am on 30 April 2010 Permalink

              Yang benar “relativitas”

            • sabil 3:00 pm on 30 April 2010 Permalink

              saya penasaran ! mau baca ! tapi ini terlalu panjang ..

            • tary 8:50 pm on 30 April 2010 Permalink

              Allahu akbar….Maha Besar Allah.Dia lah yang Maha Sempurna.
              Subhanallah…..

            • phallend 8:44 pm on 12 Mei 2010 Permalink

              klo trllu pnjsng y d copy, d print trus d bw plg&d bc d rmh j.. gtu j kok repot..

            • MISBAHUDIN 12:03 am on 20 Januari 2011 Permalink

              SUBEHANALLAH MAHA SUCI ENGKAU YA ALLAH YG TELAH MENJADIKAN SEMUA INI TIDAK SIA SIA AMPUNI HAMBAMU INI DAN JAUHKAN KAMI DARI SIKSAMU. AMIIN

          12. erva kurniawan 1:49 am on 27 April 2010 Permalink | Balas
            Tags: walimah   

            Walimah yang Paling Buruk di Sisi Allah 

            Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah. Yaitu bila orang miskin yang ingin datang tidak diundang sebaliknya orang yang tidak butuh (orang kaya) malah diundang. Siapa yang tidak mendatangi undangan itu termasuk makshiat kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR Muslim)

            Fawaid

            1. Walimah itu seharusnya bermanfaat untuk memberi makan orang-orang yang membutuhkan, baik fakir, miskin atau anak-anak yatim. Jangan sampai wallimah itu hanya memberi makan buat orang yang pada hakikatnya tidak terlalu butuh karena sudah kaya.
            2. Walimah yang demikian itu dipandang oleh Rasulullah SAW sebagai walimah yang tidak baik, yaitu dengan menyebutkan bahwa makanan pada walimah itu adalah seburuk-buruk hidangan.
            3. Namun pengertian hadits ini bukan berarti menu makanan itu menjadi haram hukumnya sehingga tidak boleh dimakan, melainkan maksudnya adalah bila sebuah walimah itu dikemas sedemikian rupa dengan melupakan orang miskin dan dikhususkan hanya orang kaya saja yang boleh hadir, maka walimah itu adalah walimah yang buruk. Tidak selayaknya seorang muslim menyelenggarakan walimah yang seperti itu.
            4. Hadits ini juga menjadil landasan dalil keharusan seseorang untuk memenuhi undangan bila diundang.

            ***

            eramuslim.com

             
          13. erva kurniawan 6:28 pm on 26 April 2010 Permalink | Balas
            Tags:   

            Ketika Kita Singgah Sejenak 

            Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

            Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjanjikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya. Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota “A” dan anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!

            Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana. Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang menerpa.

            Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai-sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang diminta.

            Nah, ketahuilah bahwa kota “A” itu tiada lain adalah akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.

            Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah menjajikan surga Jannatun Na’im – padahal apapun yang dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun – dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan “kekecewaannya” melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah, dengan berfirman, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai?” (Q.S. Ar Ruum 30: 7) “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui,” demikian firmanNya pula. (Q.S. Al Ankabuut 29: 64)

            Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak yang “mengecewakan” seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang dititipkan Alloh kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta, waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau singgah sejenak saja.

            Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun untuk ini Alloh Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan rizkinya. Dengan catatan, sepanjang “ongkos” tersebut tidak dhamburkan sia-sia. Alloh memampirkan kita di dunia ini seraya tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti, maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa Alloh akan mencukupi kita dengan limpahan karunianya.

            Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti bahwa semua yang dititipkan Alloh itu sebenarnya untuk bekal pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki) padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke mana pun.

            Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Jadi, jaminan dari Alloh untuk kehidupan dunia ini sebenarnya ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan ikhtiarnya.

            Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh Alloh dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, “Ini rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat dan keberkahan.

            Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

            Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah dikumpul-kumpulkannya dipakainya untuk pergi melancong kemana saja yang dia suka.

            Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia! Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang, maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama, maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan siapapun yang menghargai.

            Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia, pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja. Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya. Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa. Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata, melainkan Allohlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak dapat tak ada masalah karena Alloh tidak akan pernah lupa memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah dicatat oleh Alloh. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang gagal.

            Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita semua itu tidak ada apa-apanya karena Allohlah sebagai penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justru menjadi ujian bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena Alloh saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita, sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.

            Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu karena itu berarti Alloh memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur, sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian manusia.

            Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu sederhana? Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya. Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini, maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!

            Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah Alloh berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi) janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashas 28: 77). Maka itu semata-mata dimaksudkan agar kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan Alloh kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati di akhirat.

            ***

            Sumber: Buletin Dakwah Qolbun Salim Edisi 03, Ramadhan 1422 H Divisi Humas – Daarut Tauhiid Jakarta

             
          14. erva kurniawan 1:07 am on 25 April 2010 Permalink | Balas
            Tags: sahabat rasulullah   

            Keutamaan dan Hak Sahabat Rasulullah SAW 

            Berikut ini adalah hadits – hadits shahih yang menceritakan keutamaan Sahabat Rasulullah SAW,

            Dari Abdullah bin Mas’ud ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Khairun naasi qarnii tsummal ladziina yaluunaHum tsummal ladziina yaluunaHum” yang artinya, “Sebaik – baik manusia adalah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, kemudian zaman berikutnya” (HR. Bukhari no. 3651 dan Muslim no. 2533)

            Abu Burdah meriwayatkan dari bapaknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa ahshaabii amanatun liummatii faidzaa dzahaba ashhaabii ataa ummatii maa yuu’aduun” yang artinya, “Dan sahabatku adalah pengaman bagi umatku, jika sahabatku telah pergi maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas umatku” (HR. Muslim no. 2531)

            Rasulullah SAW bersabda, “Inna amannan naasi ‘alayya fii maaliHi washuhbatiHi abuubakrin” yang artinya, “Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar” (HR. Bukhari no. 3654 dan Muslim no. 2382)

            Sa’ad bin Abi Waqqash ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “IiHan yabnal khaththaabi wal ladzii nafsii biyadiHi maa laqiyakasy syaithaanu saalikan fajjan qaththu illaa salaka fajjan ghaira fajjik” yang artinya, “Bahagialah wahai Ibnul Khaththab, demi Allah, setiap kali setan berpas-pasan denganmu pada satu jalan ia pasti memilih jalan lain selain jalan yang engkau lalui” (HR. Bukhari no. 3683 dan Muslim no. 2396)

            Rasulullah SAW bersabda perihal Utsman bin Affan ra., “Alaa astahii min rajulin tastahii minHul malaa-ikatu” yang artinya, “Tidakkah aku malu terhadap lelaki yang para malaikat malu terhadapnya !?” (HR. Muslim no. 1401)

            Dari Abu Sarihah ra. atau Zaid bin Arqam ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Man kuntu maulaaHu fa’aliyun maulaaHu” yang artinya, “Barangsiapa yang mengangkat diriku sebagai walinya maka Ali adalah walinya juga” (HR. Ahmad dalam Kitab Al Fadhaail no. 959, At Tirmidzi, An Nasa’i dalam Kitab Khashaaish Ali no. 76 dan Ibnu Abi Syaibah, hadits ini shahih)

            Dari Irbad bin Sariyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wa man ya’isy minkum fasayarakh tilaafan katsiran fa’alaikum bimaa ‘araftum min sunnatii wa sunnatil khulafaair raasyidiin al maHdiyyiin” yang artinya, “Barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang amat banyak. Hendaklah kalian tetap memegang teguh sunnahku yang kalian ketahui dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang berada diatas petunjuk” (HR. Imam Ahmad dalam Kitab Musnad IV/126-127, Abu Dawud no. 4607, At Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42 dan Ad Darimi no. 95, hadits ini shahih)

            Dan masih banyak hadits – hadits shahih maupun atsar yang menceritakan tentang keutamaan para Sahabat Rasulullah SAW dan tentu saja keutamaan mereka banyak juga disebutkan di dalam Al Qur’an Al Karim, maka dari itu mereka radhiyallaHu ‘anHum memiliki hak – hak istimewa yang harus dipenuhi oleh seluruh kaum muslimin diantaranya:

            Mencintai mereka ra. Perlu diketahui mencitai mereka berarti kita telah mewujudkan konsekwensi cinta terhada Allah SWT, sebab Allah SWT telah mengabarkan bahwa Dia telah ridha terhadap para sahabat ra.

            “Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal” (QS At Taubah 21)

            Memohonkan rahmat dan ampunan untuk mereka ra. Sebagai realisasi firman Allah SWT, “Dan orang – orang yang datang sesudah mereka (yaitu sesudah kaum Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Yaa Rabb kami, berilah ampun kepada kami dan saudara – saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang – orang beriman, Yaa Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS Al Hasyr 10)

            Menahan lisan dari membicarakan kesalahan mereka ra. apalagi mencela mereka ra. Hal ini karena kesalahan mereka ra. sangatlah sedikit dibandingkan dengan kebaikan mereka ra. yang begitu banyak, apalagi sumber kesalahan mereka bersumber dari ijtihad yang diampuni. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Laa tasubbuu ashhaabii fawal ladzii nafsii biyadiHi lau anfaqa ahadukum mitsla uhudin dzaHaban maa balagha mudda ahadiHim walaa nashiifaHu” yang artinya, “Janganlah kalian mencela sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya seandainya seorang diantara kalian berinfak emas seperti gunung Uhud, sungguh belum menyamai satu mud seorang diantara mereka, tidak pula separuhnya” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541)

            Nabi SAW juga bersabda, “Idzaa dzukira ashhaabii fa-amsikuu” yang artinya, “Apabila disebut sahabatku maka diamlah” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Ash Shahihah no. 34)

            Maka dari itu Al Munawi berkata, “Yakni apa yang terjadi diantara mereka berupa peperangan dan persengketaan, (maka diamlah) secara wajib dari mencela mereka dan membicarakan mereka dengan tidak pantas, karena mereka adalah sebaik – baiknya umat” (Kitab Faidhul Qadir 1/347)

            Sedangkan sikap membela sahabat dan mencela para pencela sahabat adalah warisan para ulama salafush shalih. Imam Abu Zur’ah Ar-Raazi Rahimahullahu berkata, “Apabila anda melihat seseorang mencela salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu zindiq, karena Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam menurut kami adalah benar dan Al-Qur’an itu benar. Sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan hadits kepada kita adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Mereka (yang mencela para sahabat) hanyalah ingin mencela para saksi kita untuk membatalkan Al-Qur’an dan sunnah, padahal celaan itu lebih pantas untuk mereka dan mereka adalah orang-orang zindiq” [lihat Kitab Al-Kifaayah fii ‘ilmil riwaayah oleh Al-Khatib Al-Baghdadi hal.67].

            Dan Imam Al-Barbahaari Rahimahullahu berkata dalam Kitab Syarhus sunnah hal 50 no.104, “Apabila anda melihat seseorang mencela para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam maka ketahuilah bahwa dia itu pemilik ucapan yang jelek dan pengekor hawa nafsu”.

            Akhirnya, Yaa Allah saksikanlah bahwa kami mencintai sahabat Nabi-Mu dan berlepas diri dari perilaku kaum Syi’ah Rafidhah (dan selainnya) yang mencela sahabat Nabi-Mu.

            ***

            Maraji’

            1. Mengenal Keutamaan Mutiara Zaman, Hamd bin Abdillah bin Ibrahim Al Humaidi, Darul Haq, Jakarta, Cetakan Pertama, Agustus 2002 M.
            2. Disarikan dari Tulisan Ustadz Abu Ubaidah Al Atsari, Majalah Al Furqan, Lajnah Dakwah Ma’had Al Furqan, Edisi 12, Tahun IV, Rajab 1426 H, hal. 20.

            KuHanyaOrangBiasa

            MURNIKAN TAUHID, TEGAKAN SUNNAH

            Dari Abu Dzar ra., Rasulullah SAW bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga” (HR. Bukhari)

             
          15. erva kurniawan 7:31 pm on 16 April 2010 Permalink | Balas  

            Doa Malam yang Mustajab 

            Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bangun pada malam hari dan berkata, “Laa ilaHa illallaHu wahdaHu laa syariikalaH, laHul mulku wa laHul hamdu, yuhyii wa yumiitu biyadiHil khairu, wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, subhaanallaH wal hamdulillaH wa laa ilaHa illallaHu wallaHu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billaH’

            [Tiada ilah kecuali Allah satu- satunya tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nyalah seluruh kerajaan dan seluruh pujian. Dia menghidupkan dan mematikan dengan di tangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah]

            kemudian dia berkata, ‘Allahummaghfirlii’ [Ya Allah ampunilah aku]

            atau dia berdoa, maka akan dikabulkan doanya. Dan jika dia bangun lalu shalat maka diterimalah shalatnya” (HR. Bukhari 1/387 dan Abu Dawud 4/314)

            Aku telah membaca doa ini agar aku sembuh dari sakit kemudian Allah SWT menyembuhkanku. Dan aku membacanya agar pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan menjadi mudah, kemudian Allah memudahkannya untukku.

            Aku menasehatkan kepada seluruh kaum muslimin yang sedang mengalami kesulitan, terutama saudara-saudaraku di Palestina, Afghanistan dan di negeri-negeri muslim lainnya, agar mereka berserah diri kepada Allah SWT saja dan membaca doa ini, dibarengi dengan usaha sebagai perantara seperti mempersiapkan diri untuk berjihad dengan harta dan senjata.

            Dan juga kepada saudara-saudaraku sesama muslim di seluruh dunia agar mereka mendoakan saudara-saudara kita sesama muslim yang terusir dari kampung halaman mereka, semoga Allah menolong dan menguatkan mereka serta mengembalikan mereka ke negeri mereka yang semula, terutama saudara-saudara kita di Palestina.

            Sebab doa seorang muslim kepada saudaranya secara diam-diam adalah termasuk doa yang mustajab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Kitab Shahih Muslim no. 2733), terutama doa yang penuh berkah di atas yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan yang telah mendatangkan manfaat bagi banyak orang.

            Semoga Bermanfaat

            ***

            Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, adalah murid Syaikh Albani

             
          16. erva kurniawan 7:13 pm on 15 April 2010 Permalink | Balas
            Tags: masjid al qiblatain, masjid qiblatain   

            Masjid Qiblatain Masjid Berkiblat Dua 

            Sebuah peristiwa penting berupa perpindahan arah kiblat dialami Rasulullah  SAW dan para sehabat saat sedang melakukan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Qiblatain. Itulah mengapa masjid ini dinamai Qiblatain yang berarti dua kiblat.

            Syahdan ketika Rasulullah SAW sedang melakukan salat dzuhur (riwayat lain menyebutkan salat ashar) berjamaah di Masjid Qiblatain, mendadak turun wahyu (Q.S. Al-Bagarah:114) yang memerintahkan mengubah arah kiblat dari Masjidil Aqsa di Palestina (utara) ke Ka’bah di Masjidil Haram di Mekkah (selatan).

            “Sungguh Kami melihat mukamu, menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwu berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”

            Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah SAW dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

            Peristiwa yang terjadi pada tahun 2 H, atau tepatnya 17 bulan setalah nabi Muhammad hijrah ke Madinah (Sumber: dari Muhammad Husain Haekal, “Sejarah Hidup Muhammad”, hal. 22, Litera AntarNusa) itulah yang menjadi cikal bakal pemberian nama Masjid Qiblatain yang berarti dua kiblat. Sebelum dinamai Qiblatain karena perubahan arah kiblat itu, masjid yang terletak di atas bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah, itu bernama Masjid Bani Salamah.

            Tadinya di dekat Masjid Qiblatain ada telaga yang diberi nama Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi. Mengingat pentingnya air untuk masjid, maka atas anjuran Rasulullah SAW, Usman bin Affan kemudian menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan menjadikannya sebagai wakaf. Air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid, serta kebutuhan minum penduduk sekitar. Hanya bentuk fisiknya sudah tidak kelihatan, karena ditutup dengan tembok.

            Dalam perkembangannya, pemugaran Masjid Qiblatain terus-menerus dilakukan, sejak zaman Umayyah, Abbasiyah, Utsmani, hingga zaman pemerintahan Arab Saudi sekarang ini. Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda kiblat pertama masih jelas kelihatan. Di situ diterakan bunyi QS. AlBaqarah: 114, ditambah larangan bagi siapa saja yang shalat agar tidak menggunakan kiblat lama itu.

            Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat di sana, jamaah dapat juga memetik ibrah (suri teladan) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah, melaksanakan perintah Allah SWT baik dalam segi ibadah mahdlab (ritual), seperti berjamaah, mengganti kiblat, dan menyucikan diri, maupun dalam segi ibadah ghair mahdlah (sosial) seperti menyisihkan harta untuk kepentingan umat, untuk memugar masjid dan lain sebagainya.

            Bila mengacu pada peristiwa di atas, maka kita perlu memberitahukan arah kiblat yang sebenarnya meski kepada orang yang sedang shalat. Dan baginya boleh merubah atau membetulkan arah posisi kiblat meski dalam shalat, tanpa perlu mengulangi rakaat yang salah arahnya. TC Nar

            ***

            Sumber: Majalah Travel Club

             
            • Sakti 7:00 pm on 16 April 2010 Permalink

              Assalamualaikum,

              Salam kenal mas…

              Saya sangat senang menemukan blog ini. Isinya sangat menarik, inspiratif buat saya dan banyak hal-hal yang saya belum ketahui…

              Terimakasih sudah menuliskannya disini dan saya minta ijin, mungkin nanti beberapa artikel akan saya tulis ulang di blog-blog milik saya (tentu saya akan tautkan ke artikel bersangkutan disini :) ).

            • eemoo 9:43 am on 5 Mei 2010 Permalink

              nice blog gan…
              mau share link untuk gambar masjid2 dunia –> http://www.majestad.wordpress.com
              http://www.eemoo.wordpress.com

            • Asti 2:57 pm on 21 Mei 2010 Permalink

              Salam kenal mas, artikel tentang mesjid Quba bagus dan boleh dong disebarkan. Namun ada koreksi sedikit, bahwa kejadian perubahan arah kiblat bukan tahun tahun 12 H, tetapi tahun 2 H, atau tepatnya 17 bulan setalah nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Sumber dari Muhammad Husain Haekal, “Sejarah Hidup Muhammad”, hal. 22, Litera AntarNusa.

          17. erva kurniawan 7:02 pm on 14 April 2010 Permalink | Balas
            Tags: hajar aswad   

            Hajar Aswad Batu Surga Saksi Kita di Akhirat 

            Diyakini sebagai batu surga, Hajar Aswad bakal menjadi saksi kita di akhirat kelak. Karena itulah, meski sunah hukumnya, ribuan jamaah haji berupaya sekuat tenaga untuk dapat menciumnya. Meski hanya sunah, setiap jamah haji selalu berupaya untuk sebisa mungkin dapat mencium Hajar Aswad (batu hitam). Selain diyakini sebagai batu surga, konon, Hajar Aswad kelak akan menjadi saksi kita di akhirat.

            Terletak di sudut selatan Kabah pada ketinggian 1,10 meter dari lantai Masjidil Haram, batu hitam berukuran 25 x 17 cm ini selalu menyedot perhatian jamaah haji. Mereka berusaha untuk dapat menciumnya, atau paling tidak dapat ber-ihtilam (menyalaminya atau mencium tangan ketika tawaf).

            Meski demikian, untuk melakukan ritual ini (mencium Hajar Aswad), setiap orang dituntut kesabarannya, mengingat banyaknya jamaah haji yang memiliki niat serupa. Karena itu, tidak dibenarkan jika kita memaksakan untuk menciumnya sembari menyakiti jemaah yang lainnya. Apalagi jika hal itu memicu keributan dengan sesama jamaah. Di lain pihak, karena hukumnya bukan wajib melainkan sunah, sejauh ini Pemerintah Arab Saudi tidak menyediakan sarana sebagaimana tawaf dan sa’i.

            Apa makna di balik prosesi mencium Hajar Aswad? Konon, mencium Hajar Aswad adalah lambang perjanjian kita dengan Allah SWT. Hajar Aswad melambangkan “tangan Allah”. Mencium Hajar Aswad-baik dari dekat maupun dari jauh melambangkan perjanjian kita dengan “menjabat” tangan Allah. Seakan-akan kita berkata, “Ya Allah, saya berjanji bahwa mulai saat ini saya telah masuk ke dalam lingkaran-Mu, dan tidak akan pernah keluar dari lingkaran-Mu ini”. Karena itu, jika ada kesempatan dan kemampuan, setiap jamaah disunahkan untuk mencium Hajar Aswad.

            Mulanya Putih

            Menurut sejarahnya, Hajar Aswad adalah batu yang diberikan Malaikat Jibril kepada Nabi Ismail AS ketika diperintah mencari batu oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS yang hendak meninggikan Kabah. Kala itu, Hajar Aswad menyala-nyala karena saking putihnya. Cahayanya menyinari Barat dan Timur.

            Tapi mengapa Hajar Aswad sekarang berwarna hitam? Ada beberapa versi mengenai hal ini. Hajar Aswad itu berubah warnanya menjadi hitam pekat karena diduga kuat akibat peristiwa kebakaran yang terjadi di zaman Quraisy dan di era Ibnu Zubair. Akibatnya Hajar Aswad mengalami keretakkan yang kemudian diikat oleh Ibnu Zubair dengan perak ketika ia merenovasinya.

            Versi lainnya menyebutkan, berubahnya warna Hajar Aswad dari semula abyad (putih) menjadi aswad (hitam) karena dosa-dosa anak cucu Adam. Dalam kaitan ini ada sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, berwarna lebih putih dari susu. Dosa-dosa anak cucu Adam-lah yang menjadikannya hitam”. Mana yang benar? Wallaahua’lam.

            Dalam kaitan versi kedua, Ibnu Zhahirah mengingatkan bahwa dosa-dosa anak manusia saja bisa menghitamkan batu, apalagi pengaruhnya terhadap hati manusia. Ini jelas sebagai peringatan kepada anak cucu Adam agar hanya kepada Allah SWT sajalah kita bertumpu.

            Hajar Aswad yang sekarang adalah 8 bongkahan kecil akibat pecahnya batu yang semula besar. Kedelapan bongkahan itu masih tersusun rapi pada tempatnya seperti sekarang. Pecahnya batu itu terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syi’ah Al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al-Qaramathi yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Ihsa’ pada tahun 319 Hijriyah. Tetapi batu itu dikembalikan lagi pada tahun 339 Hijriah.

            Gugusan yang terbesar berukuran sebuah kurma yang tertanam di batu besar lain dan dikelilingi oleh ikatan perak inilah yang senantiasa dirindui setiap muslim untuk dapat menciumnya. Batu yang terletak dalam lingkaran perak itulah yang diusahakan jamaah haji untuk dapat menciumnya, bukan batu yang berada di sekitarnya.

            Dalam perkembangannya, Hajar Aswad pernah mengalami renovasi pada zaman Raja Fahd, tepatnya pada bulan Rabiul Awal 1422 Hijriyah. Kini, setiap tahun menjelang musim haji, Hajar Aswad senantiasa dibersihkan berbarengan dengan pencucian Kabah. Pada saat inilah, biasanya Pemerintah Arab Saudi memberi kesempatan kepada tamu-tamu kerajaan untuk menyaksikan pencucian Kabah sekaligus mencium Hajar Aswad. TC Nar

            ***

            Sumber: Majalah Travel Club

             
          18. erva kurniawan 9:47 am on 12 April 2010 Permalink | Balas  

            Apa Pantas Kita Berharap Surga? 

            Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk.

            Sholat lima waktu? Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua itu belum termasuk catatan, “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”.

            Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

            Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka.

            Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

            Baca Qur’an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya.

            Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

            Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

            Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudahlah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

            Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun.

            Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

            Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel, setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?

            Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

            Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surge Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu?

            Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri? Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun. Selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.

            Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

            Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga.

            Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu, hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

            Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua ketika iedul Fitri yang baru berlalu? Apakah hari itu….hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna………???

            Apakah siang harinya kita sudah mengantuk dan akhirnya tertidur lelap…? Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata…??? atau bahkan kita menganggap cengeng……??? sampai sekeras itukah hati kita….???

            Ya Allah ya Rabb-ku, jangan Kau paling hati kami menjadi hati yg keras, sehingga meneteskan air matapun susah, merasa bersih, merasa suci, merasa tak bersalah, merasa tak butuh orang lain, merasa modernis, Idealis dan visionis. Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan terlukis bayang hampa tanpa makna dan kebahagiaan semu penuh ragu, Astaghfirullaah Yaa Allah, ampunilah segenap khilaf kami. Amien.

            ***

             
          19. erva kurniawan 7:39 am on 11 April 2010 Permalink | Balas
            Tags:   

            Alquran Menghitung Kecepatan Cahaya 

            NAMA Albert Einstein melekat dengan dunia fisika dan menjadi ikon fisika modern. Rumus E = mc^2 dianggap sebagai rumus Einstein yang dalam pandangan awam merupakan “rumus” untuk membuat bom atom. Albert Einstein memang pantas dianggap sebagai tokoh utama yang memimpin revolusi di dunia fisika.

            Salah satu teorinya yang mendobrak paradigma fisika berbunyi “kecepatan cahaya merupakan tetapan alam yang besarannya bersifat absolut dan tidak bergantung kepada kecepatan sumber cahaya dan kecepatan pengamat”.

            Menurut Einstein, tidak ada yang mutlak di dunia ini (termasuk waktu) kecuali kecepatan cahaya. Selain itu, kecepatan cahaya adalah kecepatan tertinggi di alam ini. Artinya, tidak mungkin ada (materi) yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Pendapat Einstein ini mendapat dukungan dari hasil percobaan yang dilakukan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Michelson-Morley, Fizeu, dan Zeeman.

            Di mata awam, postulat Einstein ini memunculkan banyak keanehan. Misalnya, sejak dulu logika kita berpendapat bahwa jika kita bergerak dengan kecepatan v1 di atas kendaraan yang berkecepatan v2, kecepatan total kita terhadap pengamat yang diam adalah v1 + v2. Tetapi, menurut Einstein, cara penghitungan tersebut salah karena dapat mengakibatkan munculnya kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya.

            Oleh karena itu, menurut Einstein, formula penjumlahan kecepatan yang benar adalah sebagai berikut= (v1 +v2) / (1 + (v1 x v2 / c2)).

            ***

            Sinodik dan Siderial

            Dalam menghitung gerakan benda langit, digunakan dua sistem yaitu Sinodik dan Siderial. Sistem Sinodik didasarkan pada gerakan semu Bulan dan Matahari dilihat dari Bumi. Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Masehi di mana satu bulan = 29,53509 hari.

            Sistem Siderial didasarkan pada gerakan relatif Bulan dan Matahari dilihat dari bintang jauh (pusat semesta). Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Islam (Hijriah) di mana satu bulan = 27,321661 hari . Ahli-ahli astronomi selalu mendasarkan perhitungan gerak benda langit (mechanical of Celestial) kepada sistem Siderial karena dianggap lebih eksak dibandingkan sistem Sinodik yang mengandalkan penampakan semu dari Bumi.

            ***

            Sinyal dari Alquran

            Mengetahui besaran kecepatan cahaya adalah sesuatu yang sangat menarik bagi manusia. Sifat unik cahaya yang menurut Einstein adalah satu-satunya komponen alam yang tidak pernah berubah, membuat sebagian ilmuwan terobsesi untuk menghitung sendiri besaran kecepatan cahaya dari berbagai informasi.

            Seorang ilmuwan matematika dan fisika dari Mesir, Dr. Mansour Hassab Elnaby merasa adanya sinyal-sinyal dari Alquran yang membuat ia tertarik untuk menghitung kecepatan cahaya, terutama berdasarkan data-data yang disajikan Alquran. Dalam bukunya yang berjudul A New Astronomical Quranic Method for The Determination of the Speed C , Mansour Hassab Elnaby menguraikan secara jelas dan sistematis tentang cara menghitung kecepatan cahaya berdasarkan redaksi ayat-ayat Alquran. Dalam menghitung kecepatan cahaya ini, Mansour menggunakan sistem yang lazim dipakai oleh ahli astronomi yaitu sistem Siderial.

            Ada beberapa ayat Alquran yang menjadi rujukan Dr. Mansour Hassab Elnaby. Pertama, “Dialah (Allah) yang menciptakan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat bagi perjalanan Bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan ” (Q.S. Yunus ayat 5).

            Kedua, ” Dialah (Allah) yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan masing-masing beredar dalam garis edarnya” (Q.S. Anbia ayat 33).

            Ketiga, “Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu kembali kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu” (Q.S. Sajdah ayat 5).

            Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa jarak yang dicapai “sang urusan” selama satu hari adalah sama dengan jarak yang ditempuh Bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan. Dalam bukunya, Dr. Mansour menyatakan bahwa “sang urusan” inilah yang diduga sebagai sesuatu “yang berkecepatan cahaya”.

            **

            Hitungan Alquran

            Dari ayat di atas dan menggunakan rumus sederhana tentang kecepatan, kita mendapatkan persamaan sebagai berikut:

            C x t = 12.000 x L ……………(1)

            C = kecepatan “sang urusan” atau kecepatan cahaya

            t = kala rotasi Bumi = 24 x 3600 detik = 86164,0906 detik

            L = jarak yang ditempuh Bulan dalam satu edar = V x T

            Untuk menghitung L, kita perlu menghitung kecepatan Bulan. Jika kecepatan Bulan kita notasikan dengan V, maka kita peroleh persamaan:

            V = (2 x phi x R) / T

            R = jari-jari lintasan Bulan terhadap Bumi = 324264 km

            T = kala Revolusi Bulan = 655,71986 jam, sehingga diperoleh

            V = 3682,07 km / jam (sama dengan hasil yang diperoleh NASA)

            Meski demikian, Einstein mengusulkan agar faktor gravitasi Matahari dieliminir terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang lebih eksak.

            Menurut Einstein, gravitasi matahari membuat Bumi berputar sebesar:

            a = Tm / Te x 360°

            Tm = Kala edar Bulan = 27,321661 hari

            Te = Kala edar Bumi = 365,25636 hari, didapat a= 26,92848°

            Besarnya putaran ini harus dieliminasi sehingga didapat kecepatan eksak Bulan adalah

            Ve= V cos a.

            Jadi, L = ve x T, di mana T kala edar Bulan = 27,321661 hari = 655,71986 jam

            Sehingga L = 3682,07 x cos 26,92848° x 655,71986 = 2152612,336257 km

            Dari persamaan (1) kita mendapatkan bahwa C x t = 12.000 x L

            Jadi, diperoleh C = 12.000 x 2152612,336257 km / 86164,0906 detik

            C = 299.792,4998 km /detik

            Hasil hitungan yang diperoleh oleh Dr. Mansour Hassab Elnaby ternyata sangat mirip dengan hasil hitungan lembaga lain yang menggunakan peralatan sangat canggih. Berikut hasilnya :

            Hasil hitung Dr. Mansour Hassab Elnaby C = 299.792,4998 km/detik

            Hasil hitung US National Bureau of Standard C = 299.792,4601 km/ detik

            Hasil hitung British National Physical Labs C = 299.792,4598 km/detik

            Hasil hitung General Conf on Measures C = 299.792,458 km/detik

            **

            Penutup

            Lepas dari benar tidaknya interpretasi yang dilakukan oleh Dr. Mansour Hassab Elnaby, usaha demikian menunjukkan betapa kitab suci Alquran memiliki tantangan bagi para ilmuwan untuk lebih kreatif dan tajam dalam mengungkap fenomena-fenomena alam.

            Boleh jadi, apa yang disajikan Dr. Mansour Hassab Elnaby merupakan bukti tambahan bahwa Alquran benar-benar datang dari Sang Khalik.

            ***

            Oleh: Wildaiman, Alumni Matematika ITB, Guru Matematika Pontren Al Masudiyah-Cigondewah Kab. Bandung,

             
            • rago 2:21 pm on 14 April 2010 Permalink

              Al’quran adalah ciptaan ALLAH yang maha dahsyat oleh karena itu wahai manusia berlomba-lombalah berbuat kebaikan karena azab Allah sangatlah pedih

            • arabidol 7:57 pm on 21 April 2010 Permalink

              2 Petrus 3:8 Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.

            • zainoel 8:30 pm on 21 Juli 2011 Permalink

              subhanallah……. engkaulah yang maha agung ya robb….

          20. erva kurniawan 7:18 am on 10 April 2010 Permalink | Balas  

            Pemaaf Suatu Keperibadian Yang Indah 

            Ketika kita bergaul dengan orang lain, aka terjadi berbagai peristiwa, ada yang menyenangkan dan ada yang menyakitkan hati. Disaat orang melakukan berbagai kesalahan terhadap kita dalam pergaulan tersebut, hendaknya kita bermurah hati memaafkannya. Firman Allah menjelaskan, “Jadilah engkau orang yang pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raf : 199)

            Sifat pemaaf merupakan lambang keperibadian yang indah, sebab didalam sanubari orang yang suka memaafkan orang lain itu tersimpan keikhlasan dan kerelaan hati yang suci. Orang pemaaf itu pastilah terhindar dari sifat dendam. Dia menganggap bahwa kesalahan orang lain terhadapnya itu merupakan ‘kekeliruan’ dan’ kelemahannya’ selaku manusia.

            Al Qur’an selalu membimbing kita kearah menjadi orang yang berbudi tinggi dan menolong orang lain. Pemaaf berarti kita telah menghormati orang lain sebagaimana kita mengormati diri sendiri.

            Firman Allah menjelaskan, “Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka.” (QS. Ali Imran : 159)

            Memaafkan orang lain yang bersalah, berarti kita telah membebaskan mereka dari dosa bersalah, sekalipun mereka tidak meminta dibebaskan. Merupakan suatu perbuatan terpuji karena menghapuskan dosa dan kesalahan saudara-saudara kita sesama manusia, terutama sesama muslim.

            Tujuan memberi maaf orang yang bersalah, walaupun ia tidak meminta maaf, ialah menginginkan perdamaian dan menghilangkan permusuhan serta ingin membantu seseorang dari menanggung dosa kesalahannya itu. Sifat cinta perdamaian dan ingin berbuat baik dalam bentuk membebaskan orang lain dari dosa, itulah yang disuruh oleh agama Islam.

            Sifat pemaaf salah satu ciri-ciri orang yang bertakwa, yang patuh dan taat kepada ajaran agama. Firman Allah SWT menjelaskan, “Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartannya, baik diwaktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran : 133-134).

            ***

            Sumber: Penenang Jiwa dan Pikiran.

             
            • salsabila putri 11:06 am on 16 Juli 2012 Permalink

              jadilah orang yg pemaaf

          21. erva kurniawan 6:53 am on 9 April 2010 Permalink | Balas
            Tags: mencela, mencerca   

            Mencerca Dan Mencela 

            Oleh : Ustadz Muhammad bin Hasan Baharun

            Mencerca dan mencela adalah jelas perbuatan tak terpuji, tapi mengapa orang masih suka melakukannya? Padahal Al-Qur’an dalam surat-surat 9:74,79; 12:31,92; 49:11 dan 68:11,30 berbicara soal cela dan cerca. Salah satunya Allah berfirman, “Celaka berat bagi para pencerca dan pengumpat.” (QS. 104:1)

            Kebiasaan buruk tersebut agaknya meningkat belakangan ini baik dalam pertemuan umum maupun melalui media massa dan menjadi semacam pekerjaan rutin insan yang tipis iman. Simaklah omongan sebagian orang bila lepas kesibukannya, selalu mengumpat dan mencerca orang lain. Bak kata pepatah “kuman di seberang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata sendiri tak ketahuan.”

            Allah berfirman dalam kitab suci-Nya yang melukiskan dalam bentuk metafor, “Orang yang suka mencerca itu ibarat memakan daging saudaranya sendiri sesama muslim.”

            Dalam suatu riwayat, Nabi SAW bersabda, “Seorang dikatakan muslim ialah apabila saudaranya sesama muslim selamat dari lidah dan tangannya.” (HR. An-Nawawy)

            Akhir-akhir ini di media massa banyak orang yang mencerca orang lain, bahkan sudah menjurus pada pelanggaran privasi seseorang dan sudah menjadi kebiasaan. Di tempat-tempat umum seperti di sekolah, kampus, kantor dan lapangan, banyak orang cerca-mencerca, malahan terhadap terhadap sesamanya yang sudah mendahului kita ke alam baka. Karena mudahnya lidah mengucap, hingga cerca dan gosip seperti sesuatu yang lumrah disampaikan. Bahkan sebagian menganggap hal itu sebagai tanda keakraban. Atau ada yang bilang bahwa hal itu menunjukkan sikap yang kritis. Tentu saja itu semua keliru!

            Di jaman Nabi SAW, pernah ada orang mencerca Sahabat beliau. Baginda Nabi SAW pun lantas bersabda, “Jangan Anda mencerca para Sahabatku!. Seandainya Anda belanjakan harta sebesar gunung Uhud, niscaya amal Anda tak akan dapat mengalahkan jasa para Sahabatku.” (Muttafaqun alaihi)

            Kemudian dalam kesempatan lain, beliau berpesan, “Jika ada seseorang yang mencerca para Sahabatku, katakanlah, ‘semoga laknat Allah atas kejahatanmu.'”

            Pangkal gosip dan cerca adalah lidah. Diriwayatkan bahwa Lukman Al-Hakim, seorang arif yang termasyhur itu pernah disuruh majikannya membeli daging yang baik untuk menjamu tetamu yang bertandang. Kemudian Lukman membeli hati dan lidah. Sang majikan marah dan menanyakan mengapa ia membeli hati dan daging. Ia pun menjawab, “Tidakkah ini daging yang baik seperti yang tuan pesan. Sebab hati merupakan sumber amal perbuatan yang baik, sedangkan lidah dapat menjalin tali persaudaraan. Dari keduanya, seseorang dapat membangun kebajikan.”

            Pada saat yang lain majikan itu memerintahkan Lukman membeli daging yang busuk, untuk diketahui, kiranya jenis daging apa yang akan dibeli olehnya. Kemudian ia pun pulang dari pasar membawa hati dan lidah. Tersentaklah majikan tersebut dan bertanya kenapa gerangan ia membeli barang yang sama, padahal ia disuruh membeli daging yang paling busuk. Ia menjawab, “Benar tuanku, ini daging terbusuk. Hati adalah daging yang paling baik dan sekaligus juga yang paling busuk. Ia sumber kedengkian dan rasa congkak. Sedangkan lidah merupakan alat untuk melaknat, mencerca dan mencaci orang lain.”

            Oleh karena itu jagalah lidah kita dari perbuatan mencerca dan mencela yang dapat merusak segala amal kebajikan, seperti api yang melahap kayu bakar. Bersihkanlah hati dari rasa dendam dan dengki, sebab lidah merupakan cerminan gejolak hati. Bila hati bersih, lidah niscaya tidak akan bertutur kecuali yang baik. Sebaliknya bila hati tercemar, maka lidah akan mudah berkata-kata yang buruk.

            ***

            [Disarikan dari Sorotan Cahaya Ilahi, M. Baharun, hal. 37-40, cetakan I, penerbit Pustaka Progressif, 1995]

             
            • cahyo 1:47 pm on 28 April 2010 Permalink

              Indah sekali,,selain pandangan mata,hati dan lidahpun harus dijaga.

          22. erva kurniawan 3:57 am on 6 April 2010 Permalink | Balas  

            Diet Rasulullah 

            Rasulullah merupakan teladan yang baik dalam mengendalikan diri. Kita harus melihat berbagai cara dan berbagai jenis makanan yang paling disukai oleh Rasulullah. Diantara makanan yang disukai oleh baginda yang dikatakan oleh Aisyah bahw Rasulullah suka daging yang enak dan madu. (HR. Bukhari)

            Rasulullah SAW tidak mau mengumpulkan dalam perutnya dengan berbagai macam makanan. Jika baginda memakan daging, baginda tidak menambahnya dengan yang lain. Jika baginda memakan kurma, baginda tidak memakan jenis makanan yang lain. Jika baginda memakan roti, maka cukuplah roti itu saja bagi baginda, jika baginda hanya menemui susu tanpa roti, itupun sudah mencukupi bagi baginda.

            Menurut Sayyidah Aisyah, perut rasulullah SAW tidak pernah penuh sampai kenyang, baginda tidak pernah meminta makanan, lalu memakan, itu tidak disukainya. Bila keluarga baginda memberi makanan, makanan itu baginda makan begitu juga minuman, apa saja yang diberikan oleh keluarga baginda, baginda tidak menolaknya. Oleh sebab itu baginda berkata : “Aku lapar sehari dan aku kenyang sehari. Bila aku lapar aku bersabar dan berdo’a dengan merendahkan diri kepada Allah, dan bila aku kenyang aku akan bersyukur kepada Allah SWT”.

            Rasulullah apabila ingin makan, baginda makan sebelum terlalu lapar, dan berhenti sebelum terlalu kenyang. Bukan harus menuruti kehendak hawa nafsu, dengan memakan sebanyak-banyaknya dari makanan yang lezat menurut selera kita. Sehingga memenuhi perut.

            Madu adalah sejenis makanan yang dapat menjaga seseorang dari serangan berbagai penyakit, sebagaimana sabda Rasulullah dari Abu Hurairah, “Jika setiap orang menjilat madu tiga kali setiap pagi dalam setiap bulan, dia tidak akan menderita sakit keras”.

            Demikianlah cara Rasulullah dalam mengatur kehidupan baginda, yang dapat kita tiru dalam menjalani kehidupan kita pada abad modern ini. Sehingga kita tidak mudak terpengaruh dengan berbagai kemewahan yang membuat kita lupa diri sendiri. Makanan berlebihan itu juga dapat mengakibatkan besarnya hawa nafsu, yang dapat merusak diri dan dapat menyebabkan hidup menjadi keluh kesah dan tidak tenteram.

            ***

            Sumber : Penenang Jiwa dan Pikiran

             
          23. erva kurniawan 8:13 pm on 2 April 2010 Permalink | Balas  

            Ketika Dosa Sedalam Samudra 

            Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, bahkan sepanjang usia kita?

            Andaikan saja kita bersedia menyediakan kotak kosong, lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan, kira-kira, apa yang terjadi?

            Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut tak berbentuk kotak lagi, karena tak mampu menahan muatan dosa kita.

            Bukankah shalat kita masih ” bolong-bolong “? Bukankah shalat kita sering terlambat, dikerjakan mau habis waktunya dan tidak khusyuk? Bukankah kita pernah menahan hak faqir miskin?

            Bukankah kita pernah, bahkan sering berbohong, mengingkari janji, bersumpah dengan sumpah yang palsu, bersikap munafiq, mencerca manusia, mengejeknya, menuduhnya, berburuk sangka padanya, iri hati, hasad, mengobarkan rasa benci membenci dan dendam pada seseorang?

            Bukankah kita pernah merasa diri paling benar, paling pintar dari orang lain, ta’adjub, riya, sombong, marah yang tak pada tempatnya, angkuh, congkak, hebat, dan tinggi dari orang lain?

            Bukankah karena lidah kita, tangan kita, badan, kaki kita, mata dan hati kita pernah menyakiti manusia lainnya?

            Bukankah kita pernah menyelipkan kertas amplop pada petugas administrasi demi untuk kelancaran urusan kita, bermanis muka, lain di mulut, lain dihati, bersikap munafik pada pejabat dan penguasa, menyandarkan urusan padanya, agar kita dipandang pegawai yang baik dan banyak kerja, pada hakikatnya banyak yang tidak kita kerjakan, malah kita asyik berdiri didepan computer, chatting dan melihat situs-situs yang tidak baik, menghabiskan waktu memakan harta yang tidak berhak kita makan, tanpa kita menyadarinya, bahwa hal itu bukan hak kita.

            Bukankah kita pernah menerima uang yang tak jelas statusnya, sehingga pendapatan kita berlipat ganda?

            Bukankah kita sering tak mau menolong orang yang meminta bantuan pada kita, menolong saudara kita yang dalam kesulitan, walaupun kita sanggup menolongnya?

            Daftar ini akan bisa semakin sangat panjang bila diteruskan.

            Lalu apa yang harus kita lakukan?

            Allah SWT berfirman dalam surat Az Zumar (39:53), “Katakanlah wahai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (kecuali syirik).  Sesungguhnya Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang.”

            Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti kalimat yang berbau murka. Justru Allah mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Allahpun menjanjikan kita untuk mengampuni dosa-dosa kita.

            Karena itu, kosongkanlah lagi kotak-kotak yang penuh tadi dengan taubat padaNya. Kita kembalikan kotak itu seperti keadaannya semula, kita kembalikan jiwa kita kepada jiwa yang fitri dan bersih.

            Jika kita punya onta lengkap dengan segala perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang, bukankah kita sedih?

            Bagaimana pula jika onta itu tiba-tiba kembali berjalan menuju kita lengkap dengan segala perbekalannya, bukankah kita merasa bahagia?

            Rasulullah SAW bersabda, “ketahuilah Allah akan lebih senang lagi melihat hambaNya yang berlumuran dosa kembali kepadaNya.”

            Allah berfirman, “Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah padaNya, sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi “. (Q. S.  39:54 )

            Seperti onta yang sesat jalan, dan mungkin telah tenggelam didasar lautan samudra, mengapa kita tak berusaha berjalan kembali menuju Allah, dan menangis di “kaki kebesaranNya”, mengakui kesalahan kita, dan memohon ampunanNya.

            Wahai Tuhan Yang kasih SayangNya lebih besar dari MurkaNya. Ampuni kami ya Allah.

            ***

            Disampaikan di “renungan” pengajian Muttaqin Kairo.

            Oleh: Rahima

             
            • annisa 10:26 am on 6 April 2010 Permalink

              Astaghfirullah al adzhiimmi…,
              hanya kata itu yang mampu terucap mengingat dosa2 yg telah di lakukan..hizk.. hizk..
              Allahumma a’inna ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik..

            • Hendra 8:57 pm on 6 April 2010 Permalink

              Astagfirullah alaziim….

            • dian 10:28 am on 7 Desember 2011 Permalink

              Astagfirullah al adzhiim…
              patut dibaca semua orang, izin share di FB, shukran….

          24. erva kurniawan 7:49 pm on 1 April 2010 Permalink | Balas
            Tags: manfaat sholat,   

            Dahsyatnya Manfaat Gerakan Sholat 

            Salat adalah amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan-gerakannya sudah sangat melekat dengan gestur (gerakan khas tubuh) seorang muslim. Namun, pernahkah terpikirkan manfaat masing-masing gerakan? Sudut pandang ilmiah menjadikan salat gudang obat bagi berbagai jenis penyakit.

            Saat seorang hamba telah cukup syarat untuk mendirikan salat, sejak itulah ia mulai menelisik makna dan manfaatnya. Sebab salat diturunkan untuk menyempurnakan fasilitasNya bagi kehidupan manusia. Setelah sekian tahun menjalankan salat, sampai di mana pemahaman kita mengenainya.

            TAKBIRATUL IHRAM

            Postur: berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah.

            Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

            RUKUK

            Postur: Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.

            Manfaat: Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

            I’TIDAL

            Postur: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga.

            Manfaat: I’tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

            SUJUD

            Postur: Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.

            Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tumakninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

            DUDUK

            Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.

            Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, postur ini mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

            SALAM

            Gerakan: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.

            Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala d! an menjaga kekencangan kulit wajah.

            **

            Beribadah secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi mempercantik diri wanita luar-dalam.

            PACU KECERDASAN

            Gerakan sujud dalam salat tergolong unik. Falsafahnya adalah manusia menundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang didalami Prof Sholeh, gerakan ini mengantar manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?

            Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.

            Risetnya telah mendapat pengakuan dari Harvard Universitry, AS. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan masuk Islam setelah diam-diam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud.

            PERINDAH POSTUR

            Gerakan-gerakan dalam salat mirip yoga atau peregangan (stretching). Intinya untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan salat dibandingkan gerakan lainnya adalah salat menggerakan anggota tubuh lebih banyak, termasuk jari kaki dan tangan.

            Sujud adalah latihan kekuatan untuk otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.

            MUDAHKAN PERSALINAN

            Masih dalam pose sujud, manfaat lain bisa dinikmati kaum hawa. Saat pinggul dan pinggang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externuus) berkontraksi penuh. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lama. Ini menguntungkan wanita karena dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila, otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami ia justru lebih elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).

            PERBAIKI KESUBURAN

            Setelah sujud adalah gerakan duduk. Dalam salat ada dua macam sikap duduk, yaitu duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk (tahiyyat akhir). Yang terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, inilah daerah paling terlindung karena terdapat tiga lubang, yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih.

            Saat duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi! ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

            AWET MUDA

            Pada dasarnya, seluruh gerakan salat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.

            Gerakan terakhir, yaitu salam dan menengok ke kiri dan kanan punya pengaruh besar pada kekencangan. kulit wajah. Gerakan ini tak ubahnya relaksasi wajah dan leher. Yang tak kalah pentingnya, gerakan ini menghindarkan wanita dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya.

             
            • aresaja 1:20 pm on 2 April 2010 Permalink

              postingan yang sangat bermanfaat… mohon izin copy paste… salam kenal… http://aresaja.wordpress.com

            • Hendra tanjung 1:39 pm on 2 April 2010 Permalink

              Assalamuallaikum.wr wb. Slam knal. Kang gmana ya cra copy paste na lewat opmin tp pake hp. Aq slalu bca artikel akang tp maaf klo ngak ksi komen

            • zuhdi 10:37 am on 19 April 2010 Permalink

              amt bermanfaat bgt kang…izin copy paste jg ya… slm kenal

            • Mhd Rasyid Ridho 2:56 pm on 24 April 2010 Permalink

              Subhanallah…., trimakasih atas article ini. Mohon izin copy paste.

            • iswandi 1:53 pm on 3 Juli 2010 Permalink

              Subhanallah…..,terima ksh atas artikel nya,semoga ini menjadikan pelajaran penting dalam kehidupan sehari-hari saya…mohon izin copy paste nya. assalamualaikum wr.wb

            • munawir 11:54 am on 10 Mei 2011 Permalink

              hiii sunguh banyak mamfaat gerakan sholat
              sesenguh nya olah raaga itu adalah …pengobataan tradi sional …yaayaaya i like it

          25. erva kurniawan 7:40 pm on 31 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: mahar pernikahan   

            Berlebihan Dalam Meminta Mahar 

            Oleh: Syaikh Abdul Aziz Bin Baz

            Bahwa kebanyakan orang saat ini berlebih-lebihan di dalam meminta mahar dan mereka menuntut uang yang sangat banyak (kepada calon suami) ketika akan mengawinkan putrinya, ditambah dengan syarat-syarat lain yang harus dipenuhi. Apakah uang yang diambil dengan cara seperti itu halal ataukah haram hukumnya?

            Yang diajarkan adalah meringankan mahar dan menyederhanakannya serta tidak melakukan persaingan, sebagai pengamalan kita kepada banyak hadits yang berkaitan dengan masalah ini, untuk mempermudah pernikahan dan untuk menjaga kesucian kehormatan muda-mudi.

            Para wali tidak boleh menetapkan syarat uang atau harta (kepada pihak lelaki) untuk diri mereka, sebab mereka tidak mempunyai hak dalam hal ini, ini adalah hak perempuan (calon istri) semata, kecuali ayah. Ayah boleh meminta syarat kepada calon menantu sesuatu yang tidak merugikan putrinya dan tidak mengganggu pernikahannya. Jika ayah tidak meminta persyaratan seperti itu, maka itu lebih baik dan utama.

            Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman artinya, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya” [An-Nur : 32]

            Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘anhu, artinya, “Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah”

            Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menikahkan seorang shahabat dengan perempuan yang menyerahkan dirinya kepada beliau, ia bersabda, artinya, “Carilah sekalipun cincin yang terbuat dari besi” [Riwayat Bukhari]

            Ketika shahabat itu tidak menemukannya, maka Rasulullah menikahkannya dengan mahar “Mengajarkan beberapa surat Al-Qur’an kepada calon istri”

            Mahar yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri-istrinya pun hanya bernilai 500 Dirham, yang pada saat ini senilai 130 Real, sedangkan mahar putri-putri beliau hanya bernilai 400 Dirham.

            Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, artinya, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tuladan yang baik” [Al-Ahzab : 21]

            Manakala beban biaya pernikahan itu semakin sederhana dan mudah, maka semakin mudahlah penyelamatan terhadap kesucian kehormatan laki-laki dan wanita dan semakin berkurang pulalah perbuatan keji (zina) dan kemungkaran, dan jumlah ummat Islam makin bertambah banyak.

            Semakin besar dan tinggi beban perkawinan dan semakin ketat perlombaan mempermahal mahar, maka semakin berkuranglah perkawinan, maka semakin menjamurlah perbuatan zina serta pemuda dan pemudi akan tetap membujang, kecuali orang dikehendaki Allah.

            Maka nasehat saya kepada seluruh kaum Muslimin di mana saja mereka berada adalah agar mempermudah urusan nikah dan saling tolong menolong dalam hal itu. Hindari, dan hindarilah perilaku meununtut mahar yang mahal, hindari pula sikap memaksakan diri di dalam pesta pernikahan. Cukuplah dengan pesta yang dibenarkan syari’at yang tidak banyak membebani kedua mempelai.

            Semoga Allah memerbaiki kondisi kaum muslimin semuanya dan memberi taufiq kepada mereka untuk tetap berpegang teguh kepada Sunnah di dalam segala hal.

            ***

            [Kitabud Da’wah, Al-Fatawa hal 166-168 dari Fatwa Syaikh Ibnu Baz]

             
            • La Ode Muh. Al-khalaq 2:33 am on 18 April 2010 Permalink

              maaf sy hax mw tax brp 500 dirham klo di rupiakan pada saat ini?? cz menurut sy. waktu Rasulullah menyunting Khadijah binti khuwailid, mahar yg di sampaikan Rasulullah sangat besar yaitu 20 ekor unta merah (unta terbaik saat itu) bahkan ad yg mengatakn klo 100 ekor. saat itu unta adalah kenderaan terbaik saat itu. dan klo unta itu kita dekati dengan ilmu ekonomi kontemporer, maka ia harus di-valuw-kan d value kan. dan klo value alat transportasi itu kita tarik ke era skg, maka tinggal liat sj,apa kenderaan rerbaik saat ini?? tarulah kenderaan terbaik saat ini BMW. maka secara value, saat itu Rasulullah telah memberi mahar sebanyak, paling tidak 20 BMW klo dihitung2 sich skitar 6 miliar he..he..,
              dan itu dilakukan Rasululah semata2 untuk menghargai wanita.., wallahu alam…

            • rahmah mahing 8:15 am on 23 Juni 2010 Permalink

              Jazakallah khair

            • Yoeni 4:22 pm on 11 Oktober 2010 Permalink

              Seandainya Semua Orang berfikirn seperti itu…..tdk TerLalu BerLebihan dlm mrmbrikn Mahar pasti akan Aman n Sentosa…

          26. erva kurniawan 7:07 pm on 30 March 2010 Permalink | Balas  

            Akhlak Berat Timbangannya 

            sumber: http://almuhajir.net

            **

            Muhammad Rasulullah saw bersabda, “Tiada sesuatu yang lebih berat bagi timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dibandingkan dengan akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kekejian yang nista. Bahwasanya orang yang berakhlak mulia dapat mencapai martabat orang yang berpuasa dan bersalat.” (Ahmad bin Hambal)

            Keterangan:

            Ada beberapa orang yang dapat mencapai tingkat keimanan tertentu karena memperbanyak shalat dan puasa. Tingkat keimanan tersebut ternyata juga dapat dicapai oleh orang yang berakhlak mulia, meskipun shalat dan puasa yang dilaksanakannya hanya yang wajib-wajib saja, yaitu shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah dalam hadis berikut ini.

            Siti ‘Aisyah ra menuturkan, Muhammad Rasulullah bersabda, “Orang yang beriman, dengan akhlak yang baik, akan dapat mencapai martabat setaraf dengan orang yang tekun berpuasa pada siang hari dan salat pada malam harinya.” (HR. Abu Dawud)

            Anas bin Malik ra, mengatakan, Muhammad Rasulullah saw bersabda, “Dengan akhlak yang baik, manusia pasti (dapat) mencapai martabat yang tinggi dan kedudukan mulia di akhirat kelak, sekalipun ibadahnya lemah (hanya melaksanakan yang wajib saja). Dengan akhlak yang buruk, orang akan menempati kedudukan paling bawah di neraka Jahannam.” (HR. At-Thabrani)

            Mungkin karena inilah, kita tidak perlu heran saat mendengar kisah tentang seseorang yang mencapai derajat kewalian hanya dengan berlaku jujur selama enam bulan.

            ***

            [Disarikan dari Petuah-Petuah Rasulullah, jilid 3, seputar masalah etika]

             
          27. erva kurniawan 5:29 pm on 28 March 2010 Permalink | Balas  

            Berapa Nilai Dirimu, Saudaraku? 

            Eramuslim – Kita makhluk yang paling mulia yang telah diciptakan oleh Allah SWT, makhluk yang paling kuat karena ternyata dari sekian ratus ribu sel sperma yang berjuang untuk hidup, kita lah pemenangnya. Pernahkah kita berpikir untuk memberikan berapa nilai dari diri kita? Apakah harga diri kita hanya sebatas dunia yang ingin kita kuasai, emas dan perak yang ingin kita miliki?

            Padahal jelas – jelas Rasulullah bersabda, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, “Dunia ini terkutuk, semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali dzikir kepada Allah, hal-hal yang bersangkutan dzikir, seorang ‘alim dan seorang pelajar.” Dunia dengan emas dan peraknya, kekuasan dan jabatan yang selalu ingin kita kejar, kemewahan dengan rumah megahnya, sama sekali tidak berhak mengalirkan setetes pun air mata kita. Terkadang kita melupakan bahwa dunia ini hanyalah titipan buat kita. Demikian yang dikatakan oleh Labid.

            Harta dan keluarga tak lain adalah barang titipan, dan suatu saat barang titipan itu akan dikembalikan. Tapi sekali lagi, terkadang kita benar-benar melupakannya, selalu setiap bergantinya hari yang kita pikirkan hanyalah bagaimana agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita perlukan, dan pernahkah kita berpikir, apakah saudara-saudara kita di luar sana membutuhkan bantuan kita hanya untuk sekedar makan hari ini? Pernahkah terbersit sedikit saja dipikiran kita bahwa mereka sebenarnya meminta bantuan kita,hanya saja kita selalu membutakan mata dan menulikan telinga kita untuk mereka?

            Lalu, apakah kita juga mengetahui kalau setiap jiwa mukmin itu lebih berharga dari dunia dan seisinya?, Dan pernahkah kita sedikit saja merenung, bahwa semua kekayaan dan kedudukan yang kita miliki bisa menangguhkan bahkan menghambat maut dari kita, dapat menolong kita dari siksa dan azabnya Allah?, Jika kita tahu jawabannya tidak, lalu kenapa kita masih selalu saja menghargai diri kita hanya sebatas harta, emas dan perak?

            Demi hidupmu, kekayaan takkan memberi manfaat kepada seorang pun ketika dada sudah tersengal dan sesak (Hatim Ath-Thai)

            Pertanyaannya adalah seberapa besarkah nilai kita sebagai seorang manusia yang mulia dan manusia yang terpilih?

            Hasan Al-Bashri mengatakan, “Jangan tentukan harga dirimu kecuali dengan surga. Jiwa orang yang beriman itu mahal, tapi sebagian dari mereka justru menjualnya dengan harga yang murah.”

            Sayangnya, hanya sebagian kecil dari kita yang menyadari kalau jiwa kita sebagai makhluk yang beriman sangatlah mahal, atau mungkin kita selalu berpikir kalau harta dan dunia ini lebih berharga dan lebih mahal dari sebuah jiwa yang beriman, sehingga yang sering kita tangisi adalah di saat kita kehilangan uang, kebakaran rumah yang mewah, kehilangan pekerjaan, kita tidak pernah merasa menyesal dan menangis ketika hati kita mulai terasa mati dan jauh dari Allah, tidak pernah ada air mata ketika kita mengingat semua dosa-dosa yang telah kita perbuat, lalu jika sudah seperti ini, apa lagi yang bisa kita harapkan untuk membantu kita di hari akhir nanti?, dan jika ketaatan kepada Rabb sudah tidak ada lagi, maka dapatkah terwujud untuk mendapatkan cinta-Nya dan bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik?

            Subhanallah, ketika menuliskan artikel ini pun, saya berusaha untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada, akankah keinginan untuk memiliki sebuah rumah di syurga-Nya dan engkau menjadi tetangga saya ya saudaraku, dapat terwujud? Insyaallah, Amin

            ***

            Oleh: Amda Usnaka (eramuslim.com)

             
            • teguh prayoga 4:55 pm on 29 Maret 2010 Permalink

              Artikel yg sangat bermanfaat untuk ku. Ku harap aku bisa sadar. Amin.

          28. erva kurniawan 5:04 pm on 27 March 2010 Permalink | Balas
            Tags:   

            Hadis Shohih Tentang Ruh Yang Meninggal 

            Dari Al-Barra’ bin ‘Azib, dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam (mengantarkan) jenazah seorang laki-laki Anshar. Kemudian kami sampai di kuburan, tetapi belum dibuatkan lahd *1). Maka Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam duduk, dan kami duduk di sekitar beliau. Seolah-olah di atas kepala kami (hinggap) burung *2). Ditangan beliau terdapat kayu yang beliau pukulkan ketanah sampai berbekas.

            Lalu beliau mengangkat kepalanya, kemudian bersabda, “Berlindunglah kepada Allah dari siksa kubur!”-dua kali atau tiga kali- kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin, saat akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit, wajah-wajah mereka putih, wajah-wajah mereka seolah-olah matahari. Mereka membawa kafan dari kafan-kafan sorga, dan hanuth *3) dari hanuth sorga. Sehingga para malaikat itu duduk dari hamba yang mukmin itu sejauh mata memandang.

            Dan datanglah malakul maut ‘alaihis salam *4) sehingga dia duduk dekat kepalanya, lalu berkata,  “Wahai nafs (jiwa; ruh; nyawa) yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaanNya!”. Maka nyawa itu pun keluar, ia mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut qirbah (wadah untuk menyimpan air yang terbuat dari kulit), lalu malakul maut itu memegangnya.

            Setelah malakul maut itu memegangnya, mereka (para malaikat yang berwajah putih itu) tidak membiarkan nyawa itu -sekejap mata di tangannya, mereka mengambilnya, dan meletakkannya pada kafan sorga itu. Dan keluarlah darinya bau misk yang paling wangi yang dia dapati di atas bumi.

            Kemudian mereka naik membawa nyawa tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok para malaikat, kecuali sekelompok malaikat itu bertanya, “Ruh siapakah yang baik ini?”. Mereka menjawab, “Si Fulan anak Si Fulan”, dengan nama terbaik yang dia dahulu diberi nama di dunia.

            Sehingga mereka membawa nyawa itu sampai ke langit dunia. Kemudian mereka minta dibukakan untuk nyawa tersebut. Maka langit dunia dibukakan untuknya.

            Kemudian para penghuni pada tiap-tiap langit mengiringi nyawa itu sampai ke langit yang selanjutnya. Sehingga membawa nyawa itu berakhirke langit yang ke tujuh. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah kitab (catatan) hambaku di dalam ‘iliyyin *5), dan kembalikanlah dia ke bumi. (Karena sesungguhnya dari bumi Kami telah menciptakan mereka, dan darinya Kami akan mengeluarkan mereka, pada waktu yang lain. Maka ruhnya dikembalikan) *6) di dalam jasadnya.

            Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya,

            1. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah Rabbmu?”
            1. Dia menjawab, “Rabbku adalah Allah”.
            1. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?”
            1. Dia menjawab, “Agamaku adalah Al-Islam”.
            1. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”
            1. Dia menjawab, “Beliau utusan Allah”.
            1. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?”
            1. Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allah, aku mengimaninya dan membenarkannya”.

            Maka seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah berrkata) benar, berilah dia hamparan dari sorga, (dan berilah dia pakaian dari sorga) *7), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.

            Maka datanglah kepadanya bau sorga dan wanginya sorga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang.

            Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istri dan hartaku”.

            **

            Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir, pada saat akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat yang memiliki wajah-wajah hitam.

            Mereka membawa pakaian-pakaian dari rambu, sehingga duduk darinya sejauh mata memandang.

            Kemudian datanglah malakul maut, sehingga dia duduk di dekat kepalanya, lalu berkata, “Wahai nafs (jiwa; ruh; nyawa) yang jahat, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahannya!”. Maka nyawa itupun bercerai -berai di dalam jasadnya. Maka malakul maut mencabutnya, sebagaimana dicabutnya saffud *8) dari wol yang basah. Lalu malakul maut itu memegangnya.

            Setelah malakul maut memegangnya, mereka (para malaikat yang berwajah hitam itu) tidak membiarkan nyawa itu -sekejap mata- di tangannya, sehingga mereka mengambilnya, dan meletakkannya pada pakaian dari rambut itu. Dan keluarlah darinya seperti bangkai yang paling busuk yang didapati di atas bumi.

            Kemudian mereka naik membawa nyawa tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok para malaikat kecuali sekelompok para malaikat itu bertanya, “Ruh siapakah yang jahat ini?”. Mereka menjawab, “Si Fulan anak si Fulan”, dengan nama terburuk yang dia dahulu diberi nama di dunia. Kemudian minta dibukakan, tetapi langit di dunia tidak dibukakan untuknya. Kemudian Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam membaca,

            “Sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum.” (QS. Al A’raf, 40)

            Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah kitab (catatan) hambaku di dalam sijjin”, *9) di bumi yang bawah, kemudian nyawanya dilempar dengan keras.”

            Kemudian Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Salam membaca, “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS,  Al Hajj, 31)

            Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya,

            1. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah Rabbmu?”
            1. Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
            1. Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?”
            1. Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
            1. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”
            1. Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.

            Maka seorang penyeru dari langit berseru, “Hambaku telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka”.

            Maka datanglah kepadanya panasnya neraka dan asapnya. Dan kuburnya disempitkan atasnya, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.

            Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar dengan apa yang menyusahkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (keburukan)”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata,  “Rabbku, janganlah engkau tegakkan hari kiamat”. (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Al-Albani di dalam Ahkamul Janaiz dan Shahih Al-Jami’ no, 1672)

            **

            Catatan kaki

            1). Celah yang ada pada kiblat kubur sebagai tempat mayit.

            2). Di dalam perkataan ini terdapat isyarat diam di saat penguburan, tidak mengeraskan dzikir-dzikir, dan berteriak dengan tahlil (perkataan,  Allahu Akbar), maka renungkanlah.

            3). Minyak wangi khusus yang dicampur untuk mayit, memiliki aroma yang wangi.

            4). Banyak orang menamakannya Izra’il, namun itu tidak ada dalilnya.

            5). Dari kata ‘a-‘uluw (tinggi),ada juga yang mengatakan,  itu adalah langit ke tujuh, dan disanalah ruh-ruh kaum mukminin.

            6). Dalam kurung ini tidak terdapat di dalam kitab berbahasa Arab yang kami terjemahkan,  Al-Maut, karya Syaikh Ali bin Hasan, tetapi ada di dalam kitab asalnya, Ahkamul Janaiz karya Syaikh Al-Albani, dan terdapat di dalam lafazh hadits imam Ahmad di dalam Musnadnya, maka kamipun menuliskannya.

            7). Lihat fone note sebelum ini.

            8). Gancu; besi-besi bercabang yang dibengkokkan (ujungnya)

            9). Yakni,  penjara dan tempat yang sempit.

            ***

            Sumber: Email dari Sahabat

             
          29. erva kurniawan 4:17 pm on 25 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: ,   

            Permasalahan Adzab Kubur 

            Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

            Pertanyaan :

            Apakah adzab kubur itu menimpa jasad ataukah menimpa ruh?

            Jawab :

            Pada dasarnya adzab kubur itu akan menimpa ruh, karena hukuman setelah mati adalah bagi ruh. Sedangkan badannya adalah sekedar bangkai yang rapuh. Oleh karena itu badan tidak memerlukan lagi bahan makanan untuk keberlangsungannya; tidak butuh makan dan minum, bahkan justru dimakan oleh tanah.

            Akan tetapi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata bahwa ruh kadang masih bersambung dengan jasad sehingga diadzab atau diberi nikmat bersama-sama. Adapula pendapat lain di kalangan Ahlus Sunnah bahwa adzab atau nikmat di alam kubur itu akan menimpa jasad, bukan ruh.

            Pendapat ini beralasan dengan bukti empiris. Pernah dibongkar sebagian kuburan dan terlihat ternyata bekas siksa yang menimpa jasad. Dan pernah juga dibongkar kuburan yang lain ternyata terlihat bekas nikmat yang diterima oleh jasad itu.

            Ada sebagian orang yang bercerita kepadaku bahwa di daerah Unaizah ini ada penggalian untuk membuat benteng batas wilayah negeri. Sebagian dari daerah yang digali itu ada yang bertepatan dengan kuburan. Akhirnya terbukalah suatu liang lahat dan di dalamnya masih terdapat mayat yang kafannya telah dimakan tanah, sedangkan jasadnya masih utuh dan kering belum dimakan apa-apa. Bahkan mereka mengatakan melihat jenggotnya, dan dari mayat itu terhambur bau harum seperti minyak misk.

            Para pekerja galian itu kemudian menghentikan pekerjaannya sejenak dan kemudian pergi kepada seorang Syaikh untuk mengutarakan persoalan yang terjadi. Syaikh tersebut berkata, “Biarkan dalam posisi sebagaimana adanya. Hindarilah ia dan galilah dari sebelah kanan atau sebelah kiri!”.

            Beralasan dari kejadian-kejadian seperti ini, ulama menyatakan bahwa ruh terkadang bersambung dengan jasad, sehingga siksa itu menimpa ruh dan jasad. Barangkali ini pula yang diisyaratkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kubur itu akan menghimpit orang kafir sehingga remuk tulang-tulang rusuknya”. Ini menunjukkan bahwa siksa itu menimpa jasad, karena tulang rusuk itu terdapat pada jasad. Wallahu A’lam.

            **

            Pertanyaan :

            Apakah adzab kubur menimpa orang mukmin yang bermaksiat ataukah hanya menimpa orang kafir ?

            Jawab :

            Adzab kubur yang terus menerus akan menimpa orang munafik dan orang kafir. Sedangkan orang mukmin yang bermaksiat bisa juga disiksa di kubur. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim disebutkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melewati dua kuburan seraya bersabda : “Kedua penghuni kuburan itu diadzab dan keduanya bukannya diadzab lantaran dosa besar. Salah satunya diadzab karena tidak bertabir dari kencing, sedangkan yang satunya suka kesana-kemari mengumbar fitnah (mengumpat)”. Kedua penghuni kubur itu jelas orang muslim.

            **

            Pertanyaan :

            Apakah adzab kubur itu terus menerus ataukah tidak ?

            Jawab :

            Jika seseorang itu kafir –na’udzu billah– maka tidak ada jalan baginya untuk meraih kenikmatan selama-lamanya, sehingga siksa kubur yang ia terima itu sifatnya terus menerus.

            Namun orang mukmin yang bermaksiat, maka di kuburnya ia akan diadzab sesuai dengan dosa-dosa yang dahulu pernah ia perbuat. Boleh jadi adzab yang menimpa lantaran dosanya itu hanya sedikit sehingga tidak memerlukan waktu penyiksaan sepanjang ia berada di alam barzah antara kematiannya sehingga bangkitnya kiamat. Dengan demikian, jelas bahwa adzab yang menimpanya itu terputus, dan bukan selamanya.

            **

            Pertanyaan :

            Apakah adzab kubur itu bisa diringankan atas orang mukmin yang bermaksiat?

            Jawab :

            Memang benar bahwa adzab kubur itu bisa diringankan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melalui dua kuburan lantas berkata, “Kedua penghuni kubur itu di adzab, dan dia diadzab bukan karena dosa besar, tapi hakekatnya juga besar. Salah satunya tidak membersihkan diri atau tidak bertabir dari kencing, sedangkan yang satunya lagi biasa kian kemari menghambur fitnah”. Kemudian beliau mengambil dua pelepah kurma yang masih basah kemudian membelahnya menjadi dua, lalu menancapkannya pada masing-masing kuburan itu seraya bersabda, “Semoga bisa meringankan adzab yang menimpa kedua orang itu selama pelepah itu belum kering”.

            Ini merupakan satu dalil bahwa adzab kubur itu bisa diringankan, yang menjadi pertanyaan, apa kaifiatnya antara dua pelepah kurma itu dengan diringankannya adzab atas kedua penghuni kubur itu?

            Ada yang memberikan alasan bahwa karena kedua pelepah kurma itu selalu bertasbih selama belum kering, dan tasbih itu bisa meringankan siksaan yang menimpa mayit. Berpijak dari sini ada yang mengambil alasan akan sunnahnya berziarah kubur dan bertasbih di situ untuk meringankan adzab yang menimpa si mayit.

            Sedangkan ulama lain menyatakan bahwa alasan seperti ini lemah, karena kedua pelepah kurma itu senantiasa bertasbih, apakah dalam kondisi basah maupun sudah kering. Allah Ta’ala berfirman, “Artinya : Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. (Al-Isra’ : 44)

            Pernah juga terdengar tasbihnya kerikil oleh Rasulullah, sedangkan kerikil itu kering. Lalu, apa yang menjadi alasan sekarang? Alasannya, bahwa; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar berkenan meringankan adzab yang menimpa kedua orang di atas selama kedua pelepah kurma itu masih basah.

            Artinya, waktu permohonan beliau itu tidak lama, hanya sebatas basahnya pelepah kurma. Ini dimaksudkan sebagai ancaman terhadap siapa saja yang melakukan perbuatan seperti kedua mayit yang diadzab itu.

            Karena sebenarnya dosa yang diperbuat itu termasuk besar. Salah satunya tidak menjaga diri dari kencing. Jika demikian, ia melakukan shalat tanpa adanya kesucian dari najis. Sedangkan yang satunya lagi kian kemari mengumbar fitnah, merusak hubungan baik sesama hamba Allah –na’udzu billah–, serta menghembuskan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Dengan demikian perbuatan yang dilakukan itu berdampak besar.

            Inilah alasan yang lebih mendekati. Jadi, itu merupakan syafaat sementara dari beliau dan sebagai peringatan atau ancaman kepada umatnya, dan bukan merupakan kebakhilan beliau untuk memberikan syafaat yang kekal.

            ***

            Wallahu Alam

            Sumber: Email dari Sahabat

             
          30. erva kurniawan 3:05 pm on 24 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: , , , , ,   

            Beribadah Di Sisi Kuburan 

            Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah tentang gereja dengan gambar-gambar yang ada di dalamnya yang dilihat di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka bersabdalah beliau, “Mereka itu, apabila ada orang yang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu rupaka-rupaka (sesajian). Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah.”

            Mereka dikatakan oleh beliau sebagai sejelek-jelek makhluk, karena melakukan dua fitnah sekaligus, yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya dan fitnah membuat rupaka-rupaka (sesajian). Diriwayatkan dari ‘Aisyah , ia berkata: “Tatkala Rasulullah hendak diambil nyawanya, beliau pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan napas. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah, beliau bersabda, “Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

            Beliau mengingatkan agar dijauhkan dari perbuatan itu, dan seandainya bukan karena hal itu niscaya kuburan beliau akan dimegahkan, hanya saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.

            Muslim meriwayatkan dari Jundab bin ‘Abdullah , katanya, “Aku mendengar Nabi lima hari sebelum wafatnya bersabda: “Sungguh aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) dari antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil, seandainya aku menjadikan seorang khalil dari antara umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu perbuatan itu.”

            Rasulullah menjelang akhir hayatnya -sebagaimana dalam hadits Jundab- telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya -sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah- beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan itu. Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, dan inilah makna dari kata-kata ‘Aisyah: “… dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah. “, karena para sahabat belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau, padahal setiap tempat yang dimaksudkan untuk melakukan shalat di sana itu berarti sudah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk shalat di sebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah, “Telah dijadikan bumi ini untukku sebagi masjid dan alat untuk bersuci.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim) “Jangan kamu Duduk di atas kuburan dan jangan Shalat menghadap kepadanyanya.” (HR. Muslim)

            Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dengan sanad jayyid, dari Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia ialah orang-orang yang masih hidup ketika terjadi Kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagi tempat ibadah.” (Hadits ini diriwayatkan pula dalam Shahih Abu Hatim)

            Termasuk perbuatan yang dilarang dilakukan di sisi kuburan adalah Tawassul dengan orang-orang mati, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka, sebagaimana banyak kita saksikan pada saat ini.

            Mereka menamakan perbuatan tersebut sebagai tawassul, padahal sebenarnya tidak demikian. Sebab tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyari’atkan. Seperti dengan perantara iman, amal shalih, Asmaa’ul Husnaa dan sebagainya.

            Berdo’a dan memohon kepada orang-orang mati adalah berpaling dari Allah. Ia termasuk syirik besar. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim”. (Yunus: 106)

            Orang-orang zhalim dalam ayat di atas berarti orang-orang musyrik. …Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. ( Al An’am : 88).

            ***

            Maraji: Kitab Tauhid, Oleh Syaikh Muhammad At tamimi. Jalan Golongan yang Selamat, Syaikh Muhammad Jamil Zainu.

             
          31. erva kurniawan 7:49 am on 22 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: arti mimpi,   

            Mimpi Pemicu Kejujuran 

            Eramuslim -Ketika tidur sesekali kita bermimpi, entah itu mimpi baik atau buruk. Terkadang mimpi itu begitu berkesan, sehingga kita ingin tahu apa makna di baliknya. Ada kalanya mimpi itu demikian menakutkan, yang membuat kita tak ingin menceritakannya pada siapapun.

            Berbagai pertanyaan kemudian timbul. Apakah semua mimpi itu bisa dipercaya dan punya arti? Perlukah setiap mimpi dipertimbangkan atau sebaiknya diabaikan saja? Apa akibat dari sebuah mimpi? Dapatkah mimpi dijadikan salah satu sumber ilmu pengetahuan?

            Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat mengenai mimpi, misalnya dalam QS Ash Shaaffaat 37: 102 diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS. bermimpi melihat dirinya menyembelih Ismail as anaknya. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

            Kemudian dalam QS Yusuf 12: 43, diceritakan raja Mesir bermimpi pada saat Nabi Yusuf as masih dipenjara karena tuduhan pelecehan seksual. “Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka: Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.”

            Lebih lanjut dalam QS al-Fath 48: 27 dikisahkan selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah, Nabi Muhammad SAW bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”

            Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani. Setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekah maka orang-orang munafik memperolok-olokkan Nabi dan menyatakan bahwa mimpi Nabi yang dikatakan beliau pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka. Maka turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa mimpi Nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. Dan sebelum itu dalam waktu yang dekat Nabi akan menaklukkan kota Khaibar. Andaikata pada tahun terjadinya Perdamaian Hudaibiyah itu kaum muslim memasuki kota Mekah, maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu.

            Dalam HR Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud dari Abu Hurairah ra. dikatakan “Mimpi seorang mukmin merupakan satu perempat puluh enam dari kenabian”. Ini berarti hanya mimpi seorang mukmin yang patut dipertimbangkan, karena merupakan pengkabaran dari Allah SWT. Itupun hanya sebagian kecil saja, yang digambarkan sebagai seperempat puluh enam bagian, dimana sebagian besar telah diberikan pada para nabi. Abu Bakar ra. terkenal sebagai ahli menakwilkan mimpi karena beliau adalah orang yang shidiq (jujur). Beliau pernah bermimpi sedang menaiki tangga bersama Rasulullah SAW, namun berselisih dua anak tangga. Takwil dari mimpi itu adalah beliau akan meninggal dua tahun setelah Rasulullah SAW wafat dan memang demikianlah yang terjadi.

            Para ulama berpendapat mimpi tidak bisa dijadikan salah satu sumber ilmu pengetahuan, apalagi jika bertentangan dengan syariat. Ini berbeda dengan kasus pengisyariatan adzan yang datang melalui mimpi Bilal, salah seorang sahabat Nabi SAW. Bilal bermimpi meneriakkan lafadz adzan, kemudian dilaporkan pada Rasulullah SAW. Menurut Rasulullah SAW mimpi itu benar dan bisa diterapkan. Masalahnya saat ini Rasulullah SAW tidak ada, sehingga para ulama sepakat bahwa mimpi tidak bisa lagi dijadikan sebagai salah satu sumber hukum.

            Lalu, jika kita sendiri pernah bermimpi, bagaimana sebaiknya menyikapinya?

            Para ulama memiliki berbagai pendapat. Intinya, mimpi itu bias merupakan refleksi dari aktivitas ruh seseorang pada saat ia tidur. Misalnya seseorang yang ingin segera menikah, bisa saja malamnya dia bermimpi menikah. Namun kita perlu berhati-hati, karena mimpi juga bisa merupakan permainan syaitan yang ingin menakuti-nakuti; itulah salah satu pentingnya mengapa kita disunnahkan berdoa sebelum tidur dan tidur dalam keadaan berwudhu. Mimpi buruk ini tidak perlu diceritakan pada siapapun. Jika kita mengalaminya segeralah bangun dan laksanakan sholat.

            Pendapat dari ulama lainnya, mimpi itu dapat merupakan peringatan awal atau pertanda untuk sesuatu yang telah, sedang atau akan terjadi. Misalnya ada seseorang bermimpi gunung meletus, air laut meluap, atau mimpi terjadi kiamat. Salah satu takbir mimpi kiamat adalah pertanda orang tersebut akan berpergian jauh, berpindah kampung halaman atau berpindah negeri.

            Sebaliknya, mimpi baik dapat merupakan kabar gembira dari Allah SWT, misalnya mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Menurut HR Imam Bukhari, siapa yang melihat Rasulullah SAW dalam tidurnya, maka apa yang dilihatnya adalah Rasulullah SAW sendiri, karena syaitan tidak bisa menyerupai beliau. Orang-orang arif berpendapat, mimpi bertemu Rasulllah SAW bermakna bahwa orang tersebut Insya Allah tidak akan meninggal sebelum berkunjung ke makam Rasulullah alias naik haji. Bisa juga berarti ia akan menjadi ulama.

            Saat ini telah banyak kitab yang memuat takbir mimpi. Prinsipnya, karena mimpi bisa mempunyai banyak arti maka tak ada jaminan mana yang benar. Jadi sifatnya cuma pertanda dan tidak bisa langsung disimpulkan begitu saja. Namun paling tidak takbir mimpi tersebut bisa mengurangi kegelisahan. Analoginya adalah ramalan cuaca, dimana kita bias memanfaatkan informasi tersebut untuk mengantisipasi keadaan cuaca yang mungkin akan terjadi. Namun demikian, kepastiannya tetap hanya dari Allah SWT.

            Mimpi yang berupa pesan dari Allah SWT hanya dapat dipantulkan ke dalam hati orang-orang yang shidiq. Menurut Imam al-Gazali, fungsi ruh untuk menangkap isyarat Ilahi ibarat cermin yang memantulkan cahaya. Orang shidiq merupakan cermin yang paling bersih dan bening dimana cahaya Ilahi tidak terdistorsi sama sekali. Rasulullah SAW bersabda, “Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya.” (Muttafaq ‘alaih).

            Mungkin ada di antara kita yang lalu berpendapat, “Mimpi saya jadi tidak punya arti lagi, karena saya bukan orang yang jujur 100%”. Bukan demikian. Justru sebaliknya, hal ini dapat menjadi pemicu motivasi kita: “Berusahalah menjadi orang yang jujur dan sholeh agar kita bias menafsirkan mimpi dan menangkap pesan-pesan Allah SWT lainnya. Semakin kita berusaha menjadi shidiq dan shaleh, Insya Allah semakin banyak pesan-pesan Allah yang dapat kita terima”. Wallahua’lam bish-showab.

            ***

            Sumber: Email dari Sahabat

             
          32. erva kurniawan 7:26 am on 20 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: akikah untuk bayi, aqiqah untuk bayi, memberi nama yang baik untuk bayi, mencukur rambut bayi, mengadzani dan iqomat bayi   

            Mengadzani Bayi yang Baru Lahir 

            Putriku Alisha Latif Kurniaputri

            Putriku Alisha Latif Kurniaputri

            Mengazani dan mengiqamati bayi saat lahir merupakan bagian dari sunnah Rasulllah SAW. Yaitu sunnah yang dilakukan oleh ayah atau kakek bayi tersebut dengan berazan di telinga kanan dan beriqamat di telinga kiri.

            Dalil dari praktek ini adalah apa yang telah dikerjakan oleh Baginda Rasulllah SAW terhadap cucu beliau, yaitu Hasan dan Husein. Ketika lahir, oleh Rasulullah SAW keduanya diazani dan diiqamati oleh beliau.

            Dari Ibnu Sunni dari Al-Husein bin Ali bahwa Rasulullah SAW besabda, “Siapa yang mendapat kelahiran bayi, maka hendaknya dia mengazaninya di telinga kanan dan mengiqamatinya di telinga kiri, dengan itu tidak akan tertimpa umma Shibyan (Al-Qarinah)” (HR Ahmad, Tirmizy dan Abu Daud)

            Selain diazani, juga disunnahkan untuk melakukan penyembelihan hewan aqiqah, biasanya berkaitan dengan kelahiran seorang bayi. Juga dilakukan pemberian nama kepada bayi dengan nama yang baik. Nama yang baik diantaranya adalah Abdullah atau Abdurrahman sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.

            Diantara nama yang paling benar adalah Hammam dan Harits sebagaimana tertera dalam hadits shahih. Boleh juga menggunakan nama para malaikat dan nama para Nabi. Ibnu Hazm berkata, “Diharamkan menggunakan nama dewa yang disembah seperti Abdul Uzza, Abdu Hubal atau Abdul Ka`bah dan lainnya”.

            Serangkaian dengan itu, disunnahkan juga untuk mencukur rambut kepala bayi itu dan ditimbang berat rambut itu dan dikeluarkan sedekah seberat rambut itu dengan harga perak atau emas.

            Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ya Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah seharga perak sesuai dengan berat rambutnya kepada orang-orang miskin, maka ditimbangnya dan ternyata beratnya seharga satu dirham atau beberapa dirham.” (HR. Ahmad, Turmuzi).

            ***

            Oleh: Ahmad Sarwat, Lc.

             
          33. erva kurniawan 7:05 am on 19 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: akherat kekal abadi, dunia fana   

            Dunia Yang Tidak Ada Nilainya 

            Dunia Yang Mempesona

            Inilah pesona dunia, dimana banyak orang siap menghamba untuk mendapatkannya. Pesona pantai yang indah hingga gunung yang sejuk, pesona mobil yang nyaman hingga kapal pesiar yang mewah, pesona rumah yang besar hingga pusat-pusat hiburan keluarga yang bertebaran, pesona layanan kelas satu di restoran mewah hingga menikmati perjalanan kelas satu ke kota-kota indah di dunia ini, pesona memiliki banyak anak hingga pesona dihormati banyak orang, pesona memiliki uang banyak yang siap memiliki apapun yang kita ingini, pesona wanita cantik hingga pesona makanan dan minuman lezat, halal maupun haram, dan masih ada berjuta-juta jenis lagi berbagai pesona dunia lainnya yang siap menghibur para pecinta pesona dunia.

            Untuk mendapatkan pesona dunia tersebut manusia menghabiskan demikian banyak waktu bekerja keras menumpuk harta untuk mengejar kebahagiaan duniawi. Pencinta dunia bahkan tidak atau sedikit saja menyisakan waktunya untuk amal akhirat di sela-sela kesibukan kerjanya atau di waktu luangnya dan dikala ia sehat. Mereka bahkan melupakan sholat atau minimal menunda sholat untuk urusan dunia yang lebih jelas terlihat di depan mata mereka. Sebagian bahkan siap korupsi, merampok, mencuri, menganiaya, menipu, memperkosa, membodohi orang lain untuk mendapatkan tiket membeli pesona dunia.

            Disisi lain, sebagian manusia meluangkan demikian banyak waktunya untuk menikmati pesona dunia, bahkan tanpa mau bekerja dengan keras apalagi beribadah kepada Pemilik Dunia ini. Merekalah para pemilik harta berlebih yang menggunakannya untuk bersantai dan menikmati fasilitas dunia, termasuk para pemilik waktu yang menggunakannya untuk bermalas-malas di rumahnya yang nyaman, berjudi atau menikmati narkoba, termasuk juga para pemilik kekuasaan yang menggunakan kelebihannya untuk mendengar kekaguman orang lain pada dirinya atau memamerkan pengaruhnya atau fisiknya yang indah.

            Dunia Yang Menipu dan Melalaikan

            1. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang rendah dan sementara.

            Allah mengilustrasikannya seperti air hujan yang menyuburkan tumbuhan sampai jangka waktu tertentu dan akhirnya tumbuhan itu menjadi kering. Allah berfirman, ”Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai pula perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan ia laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang yang berpikir.” (QS 10: 24).

            2. Kehidupan dunia hanyalah permainan, melalaikan dan kesenangan yang menipu.

            Firman Allah SWT, ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS, Al-Hadid : 20)

            Firman Allah SWT, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS, Ali Imran : 14).

            Firman Allah SWT, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS, At-Takatsur: 1-5).

            Firman Allah SWT, “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. (QS, Fathir : 5)

            3. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang kekal.

            Firman Allah SWT, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (QS, Al-‘Ankabut : 64)

            Firman Allah SWT, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dan dia ingat akan Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang yang ingkar) memilih dunia, padahal akhirat itu jauh lebih baik dan lebih kekal”. (QS, Al A’laa :14-17)

            Dunia Yang Tidak Ada Nilainya

            Para pecinta dunia hanya berpikir bahwa adalah tak mungkin Tuhan menciptakan dunia yang sangat sempurna, luas dan lengkap ini kalau tidak untuk dinikmati. Bahkan mereka berpikir tak mungkin Tuhan akan menghancurkan dunia ciptaan-Nya sendiri yang demikian menakjubkan ini melalui suatu bencana kiamat. Pencinta dunia hanya takjub kepada dunia yang luar biasa ini dan tidak pada akhirat karena mereka tidak tahu gambaran mengenai akhirat.

            Rasulullah SAW telah menggambarkan betapa kecilnya nilai dunia ini dibanding akhirat dalam beberapa hadits sbb :

            1. Nilai dunia tidak ada artinya dibanding dengan nilai akhirat.

            “Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia” (dari Al-Mustaurid ibn Syaddad r.a, Hadits Riwayat Muslim). Inilah penggambaran luar biasa yang menunjukkan betapa tak ada nilainya dunia ini dibanding keluarbiasaan alam akhirat.

            2. Nilai dunia lebih hina bagi Allah dibanding dari nilai bangkai seekor kambing cacat dalam pandangan manusia.

            Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berjalan melewati pasar sementara orang-orang berjalan di kanan kiri beliau. Beliau melewati seekor anak kambing yang telinganya kecil dan sudah menjadi bangkai. Beliau lalu mengangkatnya dan memegang telinganya, seraya bersabda, “Siapa diantara kalian yang mau membeli ini dengan satu dirham (saja)?”. Mereka menjawab, “Kami tidak mau membelinya dengan apapun. Apa yang kami bisa perbuat dengannya?” Kemudian beliau SAW bertanya, “Apakah kamu suka ia menjadi milikmu?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya ia hidup ia adalah aib (cacat), ia bertelinga kecil, apalagi setelah ia menjadi bangkai?”. Maka beliau SAW bersabda, “Demi Allah, dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai ini dalam pandangan kalian.” (HR Muslim).

            Ibarat anak kambing yang cacat dan telah jadi bangkai pula, maka tak seorangpun yang mau memilikinya bahkan memandangnya apalagi menyimpannya; demikianlah Rasulullah SAW menggambarkan bagaimana Allah SWT menilai dunia ini yang diibaratkan lebih rendah dan hina dari bangkai kambing.

            3. Dunia tidak ada nilainya di sisi Allah, bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun..

            Sahal Ibn Sa’ad as-Sa’idi ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seandainya dunia itu ada nilainya disisi Allah bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun, tentu Dia tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir meskipun seteguk air.” (HR Tirmidzi, shahih).

            Hadits ini juga memberi makna bahwa rezeki dan kebahagiaan dunia juga diberikan Allah pada orang kafir maupun fasik, bahkan sering diberikan lebih banyak dibanding yang Ia berikan kepada orang-orang yang sholeh, ini karena nilai dunia yang sangat tidak ada artinya dibanding akhirat.

            Dunia Adalah Ladang Akhirat

            Setiap muslim harus mempertimbangkan kepentingan akhirat dalam setiap aktivitasnya. Allah berfirman, ”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya? Maka, apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi, kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS 28: 60-61).

            Rasulullah SAW bersabda: “Dunia ini adalah ladang untuk bercocok tanam (tempat melakukan amal ibadah dan amal kebajikan) yang hasilnya dipanen kelak di negeri akhirat.”

            Jangan terlena dengan dunia ini, jangan buang-buang waktu, manfaatkan setiap detik hidup kita yang masih tersisa di dunia ini untuk:

            1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub) dengan memperbanyak dzikir dan amal ibadah lainnya.
            2. Mengerjakan berbagai amal sholeh dan kebaikan walaupun sekedar memberikan sebutir kurma kepada orang lain
            3. Membekali diri dengan takwa
            4. Menggunakan kenikmatan yang diberikan Allah SWT (harta, waktu luang, kesehatan) untuk taat kepada-Nya.
            5. Mensyukuri nikmat Allah SWT dengan menggunakan nikmat tersebut untuk semakin lebih taat kepada-Nya. Menggunakan nikmat harta, nikmat waktu, nikmat sehat untuk digunakan sebagai sarana dan fasilitas untuk beribadah lebih banyak lagi kepada-Nya.

            Semoga kita tidak termasuk umat yang digambarkan Allah SWT seperti dalam firman-Nya, “Hingga ketika datang kematian menjemput salah seorang dari mereka, ia pun berkata: ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku bias mengerjakan amal shalih yang dulunya aku tinggalkan’.” (Al-Mukminun: 99-100)

            Atau firman Allah SWT, “Sebelum datang kematian menjemput salah seorang dari kalian, hingga ia berkata: ‘Wahai Rabbku, seandainya Engkau menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.’ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktunya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Munafiqun: 10-11)

            ***

            Disarikan dari Hakikat Dunia (Mahyudin Purwanto ), Hakikat Perilaku Zuhud (Muhammad Irfan Helmy), Kehidupan Dunia (Firdaus MA), Kitab Riyadhus Shalihin (Imam Nawawi), dll.

             
            • teguh prayoga 3:06 pm on 28 Maret 2010 Permalink

              subhanallah, . . .
              Aku terlampau sering melupakan Allah, melupakan akhirat. Ampunilah aku ya Allah. .

            • tomo 1:43 pm on 7 Juli 2011 Permalink

              dunia seperti permainan… kesenangan yg menipu…. aku pikir Allah menurunkan firman ini 1500 tahun yg lalu karena Dia tahu perkembangan manusia saat ini tentang manusia yg suka menghabiskan waktunya untuk menonton film, jadi Dia memberi bimbingan kepada kita berdasarkan tingkat pengetahuan kita saat ini sejenak agar kita berpikir tentang keadaan kita dan tingkah laku kita
              dunia seperti film yg di putar, ada skenario, pelaku(aktor) dalam adegannya, semua hanya sandiwara. kalau kita( manusia) mau membandingkan kehidupan kita dengan sandiwara dalam film, sebenarnya hampir tidak ada bedanya.

          34. erva kurniawan 5:33 am on 16 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: amal sholekhah, amal soleh   

            Amalan Penolak Musibah 

            BERDOA

            Hadits dari Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim, diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda,  “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdoa, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya doa bermanfaat bagi sesuatu yang terjadi dan masih belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa, maka berpeganglah, wahai hamba allah, pada doa”.

            Sepantasnyalah bagi seorang mukmin untuk berdoa, karena ia akan mendatangkan kebaikan dan dapat menolak keburukan dan bencana. Dalam konteks ini ada banyak hadits yang menunujkan urgensi, efek dan pengaruh yang besar dari doa, dengan izin Allah. Disebutkan dalam sebuah hadits, sabda Rasulullah saw, “Persiapkanlah doa untuk menghadapi bencana.” (HR. ath-Thabrani).

            Sesungguhnya doa adalah alat untuk menolak bencana dan mendatangkan rahmat, sebagaimana perisai adalah untuk menangkis senjata, dan air sebagai sebab untuk tumbuh dan keluarnya biji-bijian dari tanah. Sebagaimana perisai akan menolak senjata, maka keduanya saling membela diri, maka begitulah doa dan bencana. Dan bukan termasuk menyadari takdir orang yang kemudian tidak membawa senjata.

            SEDEKAH

            Sedekah dapat menolak bencana. Karena ada hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Ali, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sedekah dapat merubah takdir yang mubram ( yang pasti)”. (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)

            Asal hadits tersebut diatas adalah, “Silahturahmi dapat memperpanjang umur, dan sedekah dapat merubah takdir yang mubram”

            TASBIH

            Bacaan tasbih dapat mencegah terjadinya bencana, karena ada hadits yang diriwayatkan Ibn Ka’ab, dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda, “Subhanallah dapat mencegah turunnya azab”.

            Hal ini juga ditunjukan oleh firman Allah SWT, tentang Nabi Yunus as, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kebangkitan,” (QS. ash-Shaffat : 143 – 144).

            Tafsir dari QS. ash-Shaffat : 143 – 144 artinya, “Seandainya ia tidak termasuk orang-orang yang mengingat Allah, dan termasuk orang-orang yang menyucikan-Nya, meninggikan-Nya dan memohon ampun kepada-Nya, niscaya perut ikan tersebut akan menjadi kuburannya.”

            Akan tetapi dengan bacaan tasbih, dzikir dan permohonan ampunnya telah membebaskannya dari kesedihan. Tasbihnya sebagaimana yang diceritakan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap “Bahwa tidak Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim,” (QS. al-Anbiya’: 87).

            Kemudian bahwa Allah setelah itu berfirman, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiya’: 88)

            Dalam riwayat lain dari Sa’d ibn Abi Waqqash, Rasulullah saw bersabda, ” Maukah kalian kuberitahu suatu doa, yang jika kalian memanfaatkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu?”. Para sahabat menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Rasul bersabda: “Yaitu, doa Dzun Nun : La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin (tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk di antara orang-orang yang zhalim).” (HR. Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan al Hakim)

            SHALAWAT UNTUK RASULULLAH SAW

            Sebagian orang saleh berkata: Sesungguhnya diantara sebab terbesar yang dapat menolak takdir dan melenyapkan keruwetan hidup adalah banyak membaca shalawat untuk Rasulullah saw. Karena sesungguhnya banyak membaca shalawat untuk beliau termasuk perantara yang berguna untuk keamanan dari segala ketakutan dan mendapat penghargaan dari Allah dengan ketinggian derajat di Surga.

            Adapun dalil yang menguatkan argumentasi ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay ibn Ka’b, bahwa seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala shalawatnya untuk Rasulullah saw, maka Beliau berkata kepada orang tersebut, “Jika begitu, lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni.” (HR. Imam Ahmad, ath-Thabrani)

            Shalawat atas Nabi saw, adalah wajib menurut kesepakatan ulama (Ijma’), karena adanya firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (QS. al-Ahzab : 56)

            Shalawat dari Allah SWT adalah rahmat, Shalawat dari Malaikat adalah permohonan ampun. Sedangkan Shalawat dari orang mukmin adalah doa.

            Rasulullah saw bersabda, “Setiap doa terhijab di bawah langit. Ketika Shalawat telah datang mengantarnya, maka doa itu akan naik.”

            Dilain pihak, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”

            TAQWA

            Sesungguhnya taqwa adalah penyebab terkuat untuk mendatangkan kebaikan dan menolak bencana dengan tanpa disangka-sangka.

            Allah SWT berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberikan rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS. ath-Thalaq : 2-3).

            Tafsir jalan keluar yaitu dari kesulitan dan kesedihan dunia dan akhirat Tafsir rizki dari arah yang tiada disangka-sangka yaitu memberi rizki dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.

            Taqwa adalah melaksanakan ketaatan-ketaatan dan menjauhi maksiat. Siapa yang telah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, maka itulah hal terbesar yang dapat membukakan pintu kebahagian di dunia dan akhirat.

            MEMPERBANYAK ISTIGFAR

            Allah SWT berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai,” (QS. Nuh : 10-12).

            Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menetapi istigfar, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, kebebasan dari setiap kesedihan, dan Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diperhitungkannya,” (HR. Abu Daud, Ibn Majah dan Imam Ahmad).

            Diceritakan bahwa seseorang telah mengadukan tentang paceklik dan kekeringan kepada Hasan al-Bashri, maka beliau menasehati, “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

            Orang lain mengadukan tentang kemiskinannya kepada beliau, beliau menasehati: “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

            Satunya lagi datang mengadukan tentang masalah kebunnya yang ditimpa kekeringan. Beliau menasehati: “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

            Yang lain lagi datang kepda beliau mengadukan masalah kemandulannya. Beliau tetap menasehati: “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

            Kemudian beliau membacakan ayat tersebut (QS. Nuh : 10-12), kepada mereka.

            ***

            Disadur dari buku : Prilaku yang dapat memperpanjang umur dan merubah takdir, oleh Ahmad Baghlabah, hal 109 – 118.

             
            • anisa 9:24 am on 18 Maret 2010 Permalink

              Subhanallah.., kuatkanlah hamba untuk sll mengingat-Mu dan jauhkanlah kami semua dari keburukan dan musibah..
              aamiin..

            • Paman 2:09 am on 23 Agustus 2012 Permalink

              Terima kasih banyak kepada penulis artikel ini. Insya Allah kami amalkan kiat-kiat penolak musibah. Amiin

          35. erva kurniawan 5:27 am on 15 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: , , , , ,   

            Arti Sebuah Obrolan 

            Oleh : Ust. Musyaffa AbdurRahim, Lc.

            **

            Tersebutlah dalam buku-buku sejarah bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang terkenal juga sebagai khalifah Ar-Rasyid yang kelima, telah berhasil merubah gaya obrolan masyarakatnya.

            Pada masa khalifah sebelumnya, obrolan masyarakat tidak pernah keluar dari materi dan dunia, di manapun mereka berada; di rumah, di pasar, di tempat bekerja dan bahkan di masjid-masjid.

            Dalam obrolan mereka terdengarlah pertanyaan-pertanyaan berikut, “Berapa rumah yang sudah engkau bangun? Kamu sudah mempunyai istana atau belum? Budak perempuan yang ada di rumahmu berapa? Berapa yang cantik? Hari ini engkau untung berapa dalam berbisnis? Dan semacamnya.”

            Pada zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin, dan setelah dia melakukan tajdid (pembaharuan) dan ishlah (reformasi), dimulai dari meng-ishlah dirinya sendiri, lalu istrinya, lalu kerabat dekatnya dan seterusnya kepada seluruh rakyatnya, berubahlah pola obrolan masyarakat yang menjadi rakyatnya.

            Dalam obrolan mereka, terdengarlah pertanyaan-pertanyaan sebaai berikut, “Hari ini engkau sudah membaca Al Qur’an berapa juz? Bagaimana tahajjud-mu tadi malam? Berapa hari engkau berpuasa pada bulan ini? Dan semacamnya.”

            Mungkin diantara kita ada yang mempertanyakan, apa arti sebuah obrolan? Dan bukankah obrolan semacam itu sah-sah saja? Ia kan belum masuk kategori makruh? Apalagi haram? Lalu, kenapa mesti diperbincangkan dan diperbandingkan? Bukankah perbandingan semacam ini merupakan sebuah kekeliruan, kalau memang hal itu masuk dalam kategori mubah?

            Dari aspek hukum syar’i, obrolan yang terjadi pada masa khalifah sebelum Umar bin Abdul Aziz memang masuk kategori hal-hal yang sah-sah saja, artinya, mubah, alias tidak ada larangan dalam syari’at.

            Akan tetapi, bila hal itu kita tinjau dari sisi lain, misalnya dari tinjauan tarbawi da’awi misalnya, maka hal itu menujukkan bahwa telah terjadi perubahan feeling pada masyarakat, atau bisa juga kita katakan, telah terjadi obsesi pada ummat.

            Pada masa Sahabat (Ridhwanullah ‘alaihim), obsesi orang (dengan segala tuntutannya, baik yang berupa feeling ataupun ‘azam, bahkan amal) selalu terfokus pada bagaimana menyebar luaskan Islam ke seluruh penjuru negeri, dengan harga berapapun, dan apapun, sehingga, pada masa mereka Islam telah membentang begitu luas di atas bumi ini. Namun, pada masa-masa menjelang khalifah Umar bin Abdul Aziz, obsesi itu telah berubah.

            Dampak dari adanya perubahan ini adalah melemahnya semangat jihad, semangat da’wah ilallah, semangat men-tarbiyah dan men-takwin masyarakat agar mereka memahami Islam, menerapkannya dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

            Al Hamdulillah, Allah swt memunculkan dari hamba-Nya ini orang yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang mampu memutar kembali “gaya” dan “pola” obrolan masyarakatnya, sehingga, kita semua mengetahui bahwa pada masa khalifah yang hanya memerintah 2,5 tahun itu, Islam kembali jaya dan menjadi gaya hidup masyarakat.

            Tersebut pula dalam sejarah bahwa beberapa saat setelah kaum muslimin menguasai Spanyol, ada seorang utusan Barat Kristen yang memasuki negeri Islam Isbania (Nama Spanyol saat dikuasai kaum muslimin).

            Tujuan dia memasuki wilayah Islam adalah untuk mendengar dan menyaksikan bagaimana kaum muslimin mengobrol, ya, “hanya” untuk mengetahui bagaimana kaum muslimin mengobrol. Sebab dari obrolan inilah dia akan menarik kesimpulan, bagaimana obsesi kaum muslimin saat itu.

            Selagi dia berjalan-jalan untuk mendapatkan informasi tentang gaya kaum muslimin, tertumbuklah pandangannya kepada seorang bocah yang sedang menangis, maka dihampirilah bocah itu dan ditanya kenapa dia menangis? Sang bocah itu menjelaskan bahwa biasanya setiap kali dia melepaskan satu biji anak panah, maka dia bisa mendapatkan dua burung sekaligus, namun, pada hari itu, sekali dia melepaskan satu biji anak panah, dia hanya mendapatkan seekor burung.

            Mendengar jawaban seperti itu, sang utusan itu mengambil kesimpulan bahwa obsesi kaum muslimin Isbania (Spanyol) saat itu masihlah terfokus pada jihad fisabilillah, buktinya, sang bocah yang masih polos itu, bocah yang tidak bisa direkayasa itu, masih melatih diri untuk memanah dengan baik, hal ini menunjukkan bahwa orang tua mereka masih terobsesi untuk berjihad fisabilillah, sehingga terpengaruhlah sang bocah itu tadi.

            Antara obrolan orang tua dan tangis bocah yang polos itu ada kesamaan, terutama dalam hal: keduanya sama-sama meluncur secara polos dan tanpa rekayasa, namun merupakan cermin yang nyata dari sebuah obsesi.

            Setelah masa berlalu berabad-abad, datang lagi mata-mata dari Barat, untuk melihat secara dekat bagaimana kaum muslimin mengobrol, ia datangi tempat-tempat berkumpulnya mereka, ia datangi pasar, tempat kerja, tempat-tempat umum dan tidak terlupakan, ia datangi pula masjid.

            Ternyata, ada kesamaan pada semua tempat itu dalam hal obrolan, semuanya sedang memperbincangkan, “Budak perempuan saya yang bernama si fulanah, sudah orangnya cantik, suara nyanyiannya merdu dan indah sekali, rumah saya yang di tempat anu itu, betul-betul indah memang, pemandangannya bagus, desainnya canggih, luas dan sangat menyenangkan”, dan semacamnya.

            Merasa yakin bahwa gaya obrolan kaum muslimin sudah sedemikian rupa, pulanglah sang mata-mata itu dengan penuh semangat, dan sesampainya di negerinya, mulailah disusun berbagai rencana untuk menaklukkan negeri yang sudah delapan abad di bawah kekuasaan Islam itu. Dan kita semua mengetahui bahwa, semenjak saat itu, sampai sekarang, negeri itu bukan lagi negeri Muslim.

            Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah, betapa seringnya kita mengobrol, sadarkah kita, model manakah gaya obrolan kita sekarang ini?

            Sadarkah kita bahwa obrolan adalah cerminan dari obsesi kita?

            Sadarkah kita bahwa obrolan kita lebih hebat pengaruhnya daripada sebuah ceramah yang telah kita persiapkan sedemikian rupa?

            Bila tidak, cobalah anda reka, pengaruh apa yang akan terjadi bila anda adalah seorang ustadz atau da’i, yang baru saja turun dari mimbar khutbah, khutbah Jum’at dengan tema: “Kezuhudan salafush-Shalih dan pengaruhnya dalam efektifitas da’wah”.

            Sehabis shalat Jum’at, anda mengobrol dengan beberapa orang yang masih ada di situ, dalam obrolan itu, anda dan mereka memperbincangkan. Bagaimana mobil Merci anda yang hendak anda tukar dengan BMW dalam waktu dekat ini, dan bagaimana mobil Pajero puteri anda yang sebentar lagi akan anda tukar dengan Land Cruiser, dan bagaimana rumah anda yang di Pondok Indah yang akan segera anda rehab, yang anggarannya kira-kira menghabiskan lima milyar rupiah dan semacamnya.

            Cobalah anda menerka, pengaruh apakah yang akan terjadi pada orang-orang yang anda ajak mengobrol itu? Mereka akan mengikuti materi yang anda sampaikan lewat khutbah Jum’at atau materi yang anda sampaikan lewat obrolan?

            Sekali lagi, memang obrolan semacam itu bukanlah masuk kategori “terlarang” secara syar’i, akan tetapi, saya hanya hendak mengajak anda memikirkan apa dampaknya bagi da’wah ilallah.

            Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah… Sadarkah kita bahwa telah terjadi perubahan besar dalam gaya obrolan kita antara era 80-an dengan 90-an dan dengan 2000-an, obrolan yang terjadi saat kita bertemu dengan saudara seaqidah kita, obrolan yang terjadi antar sesama aktifis Rohis di kampus dan sekolah masing-masing kita.

            Saat itu, obrolan kita tidak pernah keluar dari da’wah, da’wah, tarbiyah dan tarbiyah, namun sekarang?

            Silahkan masing-masing kita menjawabnya, lalu kaitkan antara gegap gempita da’wah dan tarbiyah saat itu dengan seringnya kita mendengar adanya dha’fun tarbawi di sana sini.

            ***

            Sumber: Email dari Sabahat

             
            • anisa 9:51 am on 18 Maret 2010 Permalink

              astaghfirullah al adzhimiii.. sptnya hal2 yg kami obrolin stiap hari belum lah sesuatu yg selalu positif , trims dah mengingatkan….
              ampuni kami ya Allah…

            • giyar 9:18 pm on 3 April 2010 Permalink

              assalamualaikum jazakaloh akh seperti diingatkan kembali mohon doanya semoga bisa lebih baik

            • aulia 8:56 pm on 23 Mei 2010 Permalink

              saya jadi malu saat baca artikel ini. semoga saya bisa merubah obrolan saya jadi positif, demi kemajuan Islam. mohon doanya. trims

            • Obrolan 9:26 pm on 1 September 2010 Permalink

              saya jadi saat baca artikel ini.gue suka blog ini! kaget , lagi

          36. erva kurniawan 11:00 pm on 11 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: tata cara wudhu,   

            Sunah-Sunnah Dalam Wudhu 

            Oleh Syaikh Khalid al Husainan Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]

            [a]. Mengucapkan Bismillah[1]

            [b]. Membasuh Kedua Telapak Tangan Tiga Kali[2]

            [c]. Mendahulukan Berkumur-Kumur (Madhmadhoh) Dan Istinsyaq (Memasukkan Air Ke Dalam Hidung Lalu Menghirupnya Dengan Sekali Nafas Sampai Ke dalam Hidung Yang Paling Ujung) Sebelum Membasuh Muka.

            [d]. Setelah Istinsyaq Lalu Istintsaar (Mengeluarkan /Menyemburkan Air Dari Hidung Sesudah Menghirupnya Dengan Telapak Tangan Kiri).

            Berdasarkan hadits, yang artinya, “Lalu Nabi membasuh kedua telapak tangan tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq, lalu istintsaar lalu membasuh muka tiga kali” [Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 159 dan Muslim no. 226]

            [E] Bersungguh-Sungguh Dalam Berkumur-Kumur Dan Istinsyaq Bagi Orang Yang Sedang Tidak Berpuasa.

            Berdasarkan hadits, yang artinya, “Bersungguh-sungguh dalam menghirup air ke hidung, kecuali kalau kamu sedang berpuasa”. [HR.Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no.38; Nasaaiy, no. 114 dan Ibnu Majah, no. 407 & 448 dan selain mereka).

            Makna bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur adalah menggerakkan air di ke seluruh bagian mulutnya. Sedangkan makna bersungguh-sungguh dalam istinsyaq adalah menghirup air sampai ke bagian hidung yang terdalam.

            [f]. Menyatukan Antara Berkumur Dan Istinsyaq Dengan Sekali Cidukan Tangan Kanan, Tanpa Pemisahan Antara Keduanya.

            [i]. Mengusap Kepala

            Cara mengusap kepala, memulai dari bagian depan kepala depan kemudian menggerakkan kedua tangannya hingga ke belakang (tengkuk) lalu mengembalikan ke tempat semula.

            Hukum membasuh kepala adalah wajib yaitu berlaku keumuman pada setiap apa yang dibasuh dari kepala dalam berbagai kondisi. Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

            Artinya, “Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membasuh kepalanya lalu menjalankan kedua tangannya ke belakang dan mengembalikannya” [Hadits Riwayat Bukhary no. 185 dan Muslim no. 235. Pent]

            [j]. Menyela-Nyela Jari-Jari Kedua Tangan Dan Kedua Kaki.

            Berdasarkan hadit yang artinya, “Sempurnakanlah wudhu’, selai-selailah jari-jemari” [HR.Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no.38; Nasaaiy, no. 114 dan Ibnu Majah, no. 448. Pent]

            [k]. At Tayaamun (Memulai Dari Sebelah Kanan)

            At- Tayaamun (dalam wudhu’) artinya memulai membasuh anggota wudhu’ yang sebelah kanan kemudian yang kiri dari kedua tangan maupun kaki.

            Artinya, “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai dalam mendahulukan yang kanan ketika memakai sandalnya, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya”. [Hadits Riwayat Bukhari no. 168 dan Muslim, no. 268 dan selain keduanya. Pent.]

            [l]. Menambah Bilangan Basuhan Dari Sekali Menjadi Tiga Kali Basuhan. Tambahan Ini Berlaku Dalam Membasuh Muka, Kedua Tangan Dan Kedua Kaki.

            [m]. Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat Setelah Selesai Dari Wudhu’ Dengan Ucapan.

            “Asyhadu alla ilaaha illallaahu wahdahu la syariikalahu wa asyahadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu”.

            “Artinya : Aku bersaksi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

            Tiada lain balasannya kecuali pasti dibukakan baginya pintu-pintu surga yang bejumlah delapan, lalu ia masuk dari pintu mana saja yang ia sukai’ [Hadits Riwayat Muslim, no. 234; Abu Dawud, no. 169; Tirmidzi, no. 55 ; Nasaaiy, no. 148 dan Ibnu Majah, no. 470. Pent]

            [n]. Wudhu’ Di Rumah

            Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

            “Artinya : Barangsiapa yang berwudhu di rumahnya, kemudian berjalan ke masjid untuk melaksanakan kewajiban dari Allah dan langkah yang satu menghapuskan dosa dan langkah yang lain mengangkat derajat.” [Hadits Riwayat Muslim no. 666]

            [o]. Ad-Dalk

            Yaitu meletakkan tangan yang basah (yang akan dipakai untuk menggosok atau membasuh,-pent) pada anggota wudhu’ bersama air atau setelahnya.

            ***

            [Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]

             
          37. erva kurniawan 10:48 pm on 10 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: , sunah ketika bangun tidur   

            Sunnah-Sunnah Ketika Bangun Tidur 

            Oleh Syaikh Khalid al Husainan

            [a] Mengusap Bekas Tidur Yang Ada Di Wajah Maupun Tangan

            Hal ini menurut Imam An-Nawawy dan Al Hafidz Ibnu Hajar sebagai sesuatu yang dianjurkan berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya, “Rasulullah bangun tidur kemudian duduk sambil mengusap wajahnya dengan tangannya.” [Hadits Riwayat Muslim no. 763 ]

            [b] Doa Ketika Bangun Tidur

            Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangkitkan” [Hadits Riwayat Bukhari no. 6312 dan Muslim no. 2711]

            [c] Bersiwak

            Artinya, “Adalah Rasulullah apabila bangun malam membersihkan mulutnya dengan bersiwak” [Hadits Riwayat Bukhari no. 245 dan Muslim no. 255]

            [d] Beristintsaar [Mengeluarkan /Menyemburkan Air Dari Hidung Sesudah Menghirupnya]

            Artinya, “Apabila seorang diantara kalian bangun tidur maka beristintsaarlah tiga kali karena sesungguhnya syaitan bermalam di batang hidungnyai” [Hadits Riwayat Bukhari no. 3295 dan Muslim no. 238]

            [e] Mencuci Kedua Tangan Tiga Kali.

            Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Bila salah seorang diantaramu bangun tidur, janganlah ia menyelamkan tangannya ke dalam bejana, sebelum ia mencucinya tiga kali” [Hadits Riwayat Bukhari no. 162 dan Muslim no. 278]

            ***

            [Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]

             
            • rabbani75 6:56 am on 22 Oktober 2010 Permalink

              Mas eva terima kasih izin ngopy gambar

            • tyang 11:44 am on 11 Desember 2010 Permalink

              trimakasih atas tipsnya.
              saya ijin copy gambarnya ya…

            • erva kurniawan 3:53 pm on 13 Desember 2010 Permalink

              Silahkan :)

          38. erva kurniawan 9:37 pm on 7 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: katak, kodok, makan kodok haram   

            Larangan Membunuh Kodok dan Memakannya 

            Oleh : Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

            Dari Abdurrahman bin Utsman (ia berkata), “Sesungguhnya seorang tabib pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang kodok yang ia akan jadikan obat ? Maka Nabi SAW telah melarang tabib tersebut membunuh kodok” (HR. Abu Dawud no. 3871, An Nasaa’i 7/210, Hakim 4/411, Baihaqi 9/258, hadits shahih)

            Berkata Imam Hakim, “Hadits ini shahih isnadnya”. Dan Imam Dzahabi telah menyetujuinya.

            Hadits yang mulia ini merupakan hujjah yang kuat tentang haramnya memakan daging kodok karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang membunuhnya, baik untuk dimakan atau untuk disia – siakan.

            Di dalam hadits di atas seorang tabib (dokter) meminta izin kepada Nabi SAW untuk menjadikan kodok sebagai obat. Tentunya yang dimaksud oleh si dokter ialah dengan cara memakannya atau memberi makan kepada pasien yang dia yakini bahwa daging kodok itu sebagai obat.

            Fatwa para Imam :

            Berkata Abdullah bin Ahmad, “Aku pernah bertanya kepada bapakku (yakni Imam Ahmad bin Hambal) tentang kodok, lalu beliau menjawab, ‘Tidak boleh dimakan dan tidak boleh dibunuh. Karena Nabi SAW telah melarang membunuh kodok berdasarkan hadits Abdurrahman bin Utsman” (Masaa-il Imam Ahmad hal. 271 – 272, ditahqiq oleh Zuhair Syaawisy)

            Imam Al Khaththaabiy mengatakan bahwa kodok itu haram dimakan. (‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud juz 10 hal. 252 – 253) Imam Ibnu Hazm di Kitabnya Al Muhalla juz 7 hal. 245, 398 dan 410) menyatakan bahwa kodok itu sama sekali tidak halal dimakan.

            ***

            Disarikan dari Kitab Al Masaa-il jilid 4, Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darul Qalam, Pasar Minggu – Jakarta, Cetakan Pertama, 2004 M, hal. 261 – 272

             
            • Ompoer 9:43 pm on 7 Maret 2010 Permalink

              mengapa harus membunuh kodok….menangkapnya juga susah…lompat sini…lompat sana….
              salam kenal

            • kimsanada 9:43 pm on 7 Maret 2010 Permalink

              jikalau untuk penelitian gimana bang hukumnya? :)

            • untung Handoyo 1:00 pm on 17 Maret 2010 Permalink

              Saya ingin penjelasa mengapa kodok itu harap dan tidak boleh di bunuh…… apa lagi sampai tidak boleh di bunuh…. mengapa

            • erva kurniawan 6:46 pm on 17 Maret 2010 Permalink

              Waktu sekolah SD saya ingat betul, waktu itu guru agama saya menjelaskan hewan yang haram dimakan salah satunya adalah hewan ampibi yang hidup di 2(dua) alam. Sebagaimana kita ketahui kodok metamorfosis waktu kecil bernafas dengan insang dan hidup di air, dan ketika dewasa hidup di darat bernafas dengan paru2.

              Kenapa haram dimakan? Analogi menurut saya seperti halnya kenapa kita haram memakan babi. Pada awalnya banyak pertentangan kenapa tidak boleh memakan babi, belakangan diketahui bahwa babi tidak mempunyai urat leher, sehingga tidak bisa disembelih untuk mengeluarkan darahnya. Darah mengandung toksin/racun yang dapat berbahaya bagi yang memakannya.
              Kalau kodok, menurut dan sepengetahuan saya, kodok merupakan bio indikator atau indikator tercemarnya lingkungan disekitarnya, karena kodok menyerap racun disekitarnya dan menumpuk di kulit. Konsentrasi racun di kulit, berguna untuk mengetahui keadaan lingkungan. Mungkin itu kenapa dilarang dibunuh apalagi memakan kodok karena sama artinya kita memakan racun.

              Mungkin teman-teman ada yang mau menambah atau punya pendapat lain?

            • vent hetfield 1:15 am on 17 Februari 2013 Permalink

              ternyata eh ternyata….., mungkin di bilang haram itu masuk akal, karna daging kodok banyak mengandung cacing cacing pitta ya berbahaya

          39. erva kurniawan 9:28 pm on 6 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: ilmu dan harta   

            Ilmu dan Harta 

            Dalam kitab Mukasyafatui Qulub karya Imam Al Ghazali, diceritakan bahwa suatu hari ‘Ali bin Abi Thalib ditanya oleh kaum Khawarij tentang keutamaan ilmu dibanding harta, Beliau menjawab: “Ilmu lebih utama daripada harta.” Mereka menanyakan alasannya kepada Ali. Beliau memberikan alasan sebagai berikut:

            1. Ilmu adalah pusaka para Nabi, sedangkan harta adalah pusaka Qarun, Sadad, Fir’aun, dan lain-lain.
            2. Ilmu itu menjagamu sedangkan harta malah engkau yang harus menjaganya.
            3. Harta itu jika engkau berikan menjadi berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau berikan malahan bertambah.
            4. Pemilik harta disebut dengan nama bakhil (kikir) dan buruk, tetapi pemilik ilmu disebut dengan nama keagungan dan kemuliaan.
            5. Pemilik harta itu musuhnya banyak, sedang pemilik ilmu temannya banyak.
            6. Harta harus dijaga dari pencuri, sedang ilmu tidak perlu.
            7. Di akhirat nanti pemilik harta akan dihisab, sedangkan orang berilmu akan memperoleh syafa’at.
            8. Harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman, tetapi ilmu tak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman.
            9. Harta membuat hati seseorang menjadi keras, sedangkan ilmu malah membuat hati menjadi bercahaya.
            10. Pemilik harta bisa mengaku menjadi Tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedangkan orang yang berilmu justru mengaku sebagai insan hamba Tuhan karena ilmunya.

            Tanya jawab antara kaum Khawarij dengan ‘Ali bin Abi Thalib tersebut menegaskan betapa ilmu itu lebih utama daripada harta, Bahkan ‘Ali akan menjelaskan lebih banyak lagi keutamaan-keutamaan ilmu daripada harta jika mereka bertanya lagi.

            Ketika umat Islam di masa Bani Abbas (abad ke-8-13 M) mengutamakan ilmu pengetahuan, maka umat Islam di masa itu telah mencapai kemajuan yang amat pesat dan peradaban yang amat tinggi. Tetapi setelah umat Islam tidak lagi mengutamakan ilmu pengetahuan, umat Islam mengalami kemunduran hingga akhirnya dijajah oleh bangsa Barat.

            Oleh karena itu jika kita sekarang ini ingin mencapai kemajuan dan peradaban yang tinggi, maka hendaknya kita mengutamakan ilmu pengetahuan. Salah satu ujudnya ialah memperhatikan dunia pendidikan kita, sehingga sarana dan prasarana pendidikan tersedia dengan cukup dan baik, serta bias diikuti oleh semua lapisan masyarakat, termasuk lapisan masyarakat yang paling lemah sekalipun.

            Sungguh suatu hal yang sangat ironis jika kita ingin menjadi bangsa yang maju dan punya peradaban yang tinggi, tetapi tidak senus memperhatikan dunia pendidikan. Satu sisi biaya pendidikan di masyarakat kita sangat tinggi sehingga banyak orang-orang yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya, di sisi lain justru banyak sarana dan prasarana pendidikan sangat memprihatinkan, bahkan sudah banyak gedung-gedung sekolah yang ambruk. Sementara penumpukan harta terjadi di mana-mana, korupsi terus merajalela dan kesenjangan sosial juga makin parah. Jika demikian yang akan terjadi bukan kemajuan, melainkan kehancuran.

            ***

            Sumber: Email Sahabat

             
          40. erva kurniawan 9:54 pm on 5 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: , sholat fardhu   

            Kaifiat Sholat Nabi (Membaca Ta’awudz & Al Fatihah) 

            MEMBACA TA’AWWUDZ

            Membaca do’a ta’awwudz adalah disunnahkan dalam setiap raka’at, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Apabila kamu membaca al Qur-an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An Nahl : 98).

            Dan pendapat ini adalah yang paling shahih dalam madzhab Syafi’i dan diperkuat oleh Ibnu Hazm (Lihat al Majmuu’ III/323 dan Tamaam al Minnah 172-177).

            Nabi biasa membaca ta’awwudz yang berbunyi:

            “A’UUDZUBILLAHI MINASY SYAITHAANIR RAJIIM MIN HAMAZIHI WA NAFKHIHI WANAFTSIHI”

            artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari semburannya (yang menyebabkn gila), dari kesombongannya, dan dari hembusannya (yang menyebabkan kerusakan akhlaq).” (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Daraquthni, Hakim dan dishahkan olehnya serta oleh Ibnu Hibban dan Dzahabi).

            Atau mengucapkan:

            “A’UUZUBILLAHIS SAMII’IL ALIIM MINASY SYAITHAANIR RAJIIM…”

            artinya: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk” (Hadits diriwayatkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad hasan).

            **

            MEMBACA AL FATIHAH

            Hukum Membaca Al-Fatihah

            Membaca Al-Fatihah merupakan salah satu dari sekian banyak rukun sholat, jadi kalau dalam sholat tidak membaca Al-Fatihah maka tidak sah sholatnya berdasarkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Tidak dianggap sholat (tidak sah sholatnya) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Jama’ah: yakni Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah).

            “Barangsiapa yang sholat tanpa membaca Al-Fatihah maka sholatnya buntung, sholatnya buntung, sholatnya buntung…tidak sempurna” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim dan Abu ‘Awwanah).

            Kapan Kita Wajib Membaca Surat Al-Fatihah

            Jelas bagi kita kalau sedang sholat sendirian (munfarid) maka wajib untuk membaca Al-Fatihah, begitu pun pada sholat jama’ah ketika imam membacanya secara sirr (tidak diperdengarkan) yakni pada sholat Dhuhur, ‘Ashr, satu roka’at terakhir sholat Mahgrib dan dua roka’at terakhir sholat ‘Isyak, maka para makmum wajib membaca surat Al-Fatihah tersebut secara sendiri-sendiri secara sirr (tidak dikeraskan).

            Lantas bagaimana kalau imam membaca secara keras?

            Tentang ini Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa pernah Rasulullah melarang makmum membaca surat dibelakang imam kecuali surat Al-Fatihah: “Betulkah kalian tadi membaca (surat) dibelakang imam kalian?” Kami menjawab: “Ya, tapi dengan cepat wahai Rasulallah.” Berkata Rasul: “Kalian tidak boleh melakukannya lagi kecuali membaca Al-Fatihah, karena tidak ada sholat bagi yang tidak membacanya.” (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhori, Abu Dawud, dan Ahmad, dihasankan oleh At-Tirmidzi dan Ad-Daraquthni).

            Selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum membaca surat apapun ketika imam membacanya dengan jahr (diperdengarkan) baik itu Al-Fatihah maupun surat lainnya. Hal ini selaras dengan keterangan dari Al-Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal tentang wajibnya makmum diam bila imam membaca dengan jahr (keras).

            Berdasar arahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :”Dijadikan imam itu hanya untuk diikuti. Oleh karena itu apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian, dan apabila imam membaca, maka hendaklah kalian diam (sambil memperhatikan bacaan imam itu)” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud no. 603 & 604. Ibnu Majah no. 846, An-Nasa-i. Imam Muslim berkata: Hadits ini menurut pandanganku Shahih).

            “Barangsiapa sholat mengikuti imam (bermakmum), maka bacaan imam telah menjadi bacaannya juga.” (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah, Ad-Daraquthni, Ibnu Majah, Thahawi dan Ahmad lihat kitab Irwa-ul Ghalil oleh Syaikh Al-Albani).

            Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah mendirikan sholat yang beliau keraskan bacaanya dalam sholat itu, beliau bertanya: “Apakah ada seseorang diantara kamu yang membaca bersamaku tadi ?” Maka seorang laki-laki menjawab, “Ya ada, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau berkata, “Sungguh aku katakan: Mengapakah (bacaan)ku ditentang dengan Al-Qur’an (juga).” Berkata Abu Hurairah, kemudian berhentilah orang-orang dari membaca bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sholat-sholat yang Rasulullah keraskan bacaannya, ketika mereka sudah mendengar (larangan) yang demikian itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-i dan Malik. Abu Hatim Ar Razi menshahihkannya, Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan).

            Hadits-hadits tersebut merupakan dalil yang tegas dan kuat tentang wajib diamnya makmum apabila mendengar bacaan imam, baik Al-Fatihah-nya maupun surat yang lain. Selain itu juga berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Dan apabila dibacakan Al-Qur-an hendaklah kamu dengarkan ia dan diamlah sambil memperhatikan (bacaannya), agar kamu diberi rahmat.” (Al-A’raaf : 204).

            Ayat ini asalnya berbentuk umum yakni dimana saja kita mendengar bacaan Al-Qur-an, baik di dalam sholat maupun di luar sholat wajib diam mendengarkannya walaupun sebab turunnya berkenaan tentang sholat. Tetapi keumuman ayat ini telah menjadi khusus dan tertentu (wajibnya) hanya untuk sholat, sebagaimana telah diterangkan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Adh Dhohak, Qotadah, Ibarahim An Nakha-i, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan lain-lain. Lihat Tafsir Ibnu Katsir II/280-281.

            Cara Membaca Al Fatihah

            Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Al-Fatihah pada setiap roka’at. Membacanya dengan berhenti pada setiap akhir ayat (waqof), tidak menyambung satu ayat dengan ayat berikutnya (washol) berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, Sahmi dan ‘Amr Ad Dani, dishahihkan oleh Hakim, disetujui Adz-Dzahabi.

            Begitulah seterusnya sampai selesai ayat yang terakhir. Terkadang beliau membaca: ( MAALIKI YAUMIDDIIN ). Atau dengan memendekkan bacaan ‘maa’ menjadi: ( MALIKI YAUMIDDIIN ). Berdasarkan riwayat yang mutawatir dikeluarkan oleh Tamam Ar Razi, Ibnu Abi Dawud, Abu Nu’aim, dan Al Hakim. Hakim menshahihkannya, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.

            Seandainya Seseorang Belum Hafal Al-Fatihah

            Bagi seseorang yang belum hafal Al Fatihah terutama bagi yang baru masuk Islam, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusinya. Nasehatnya untuk orang yang belum hafal Al-Fatihah (tentunya dia tak berhak jadi Imam)

            Ucapkanlah: SUBHANALLAHI, WALHAMDULILLAHI, WA LAA ILAHA ILLALLAHU, WALLAHU AKBAR, WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHI

            artinya: “Maha Suci Allah, Segala puji milik Allah, tiada Ilah (yang haq) kecuali Allah, Allah Maha Besar, Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.” (Hadits Shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Hakim, Thabrani dan Ibnu Hibban disahihkan oleh Hakim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi).

            Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Jika kamu hafal suatu ayat Al-Qur-an maka bacalah ayat tersebut, jika tidak maka bacalah Tahmid, Takbir dan Tahlil.” (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dihasankan oleh At-Tirmidzi, tetapi sanadnya shahih, baca Shahih Abi Dawud hadits no. 807).

            **

            MEMBACA AMIN

            Hukum Bagi Imam:

            Membaca amin disunnahkan bagi imam sholat.

            Dari Abu hurairah, dia berkata: “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika selesai membaca surat Ummul Kitab (Al-Fatihah) mengeraskan suaranya dan membaca amin.” (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni dan Ibnu Majah, oleh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Shahihah dikatakan sebagai hadits yang berkualitas shahih) “Bila Nabi selesai membaca Al-Fatihah (dalam sholat), beliau mengucapkan amiin dengan suara keras dan panjang.” (Hadits shahih dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Abu Dawud).

            Hadits tersebut mensyari’atkan para imam untuk mengeraskan bacaan amin, demikian yang menjadi pendapat Al-Imam Al-Bukhari, As-Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan para imam fikih lainnya. Dalam shahihnya Al-Bukhari membuat suatu bab dengan judul ‘baab jahr al-imaan bi al-ta-miin’ (artinya: bab tentang imam mengeraskan suara ketika membaca amin). Didalamnya dinukil perkataan (atsar) bahwa Ibnu Al-Zubair membaca amin bersama para makmum sampai seakan-akan ada gaung dalam masjidnya.

            Juga perkataan Nafi’ (maula Ibnu Umar): Dulu Ibnu Umar selalu membaca aamiin dengan suara yang keras. Bahkan dia menganjurkan hal itu kepada semua orang. Aku pernah mendengar sebuah kabar tentang anjuran dia akan hal itu.”

            Hukum Bagi Makmum:

            Dalam hal ini ada beberapa petunjuk dari Nabi (Hadits), atsar para shahabat dan perkataan para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika imam membaca amiin maka hendaklah kalian juga membaca amiin.”

            Hal ini mengisyaratkan bahwa membaca amiin itu hukumnya wajib bagi makmum. Pendapat ini dipertegas oleh Asy-Syaukani. Namun hukum wajib itu tidak mutlak harus dilakukan oleh makmum. Mereka baru diwajibkan membaca amiin ketika imam juga membacanya. Adapun bagi imam dan orang yang sholat sendiri, maka hukumnya hanya sunnah. (lihat Nailul Authaar, II/262).

            “Bila imam selesai membaca ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladhdhooolliin, ucapkanlah amiin [karena malaikat juga mengucapkan amiin dan imam pun mengucapkan amiin]. Dalam riwayat lain: “(apabila imam mengucapkan amiin, hendaklah kalian mengucapkan amiin) barangsiapa ucapan aminnya bersamaan dengan malaikat, (dalam riwayat lain disebutkan: “bila seseorang diantara kamu mengucapkan amin dalam sholat bersamaan dengan malaikat dilangit mengucapkannya), dosa-dosanya masa lalu diampuni.” (Hadits dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa-i dan Ad-Darimi)

            Syaikh Al-Albani mengomentari masalah ini sebagai berikut: “Aku berkata: Masalah ini harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan dengan cara meninggalkannya. Termasuk kesempurnaan dalam mengerjakan masalah ini adalah dengan membarengi bacaan amin sang imam, dan tidak mendahuluinya. (Tamaamul Minnah hal. 178).

            ***

            Sumber: Email dari Sahabat

             
            • pakne Nafa 12:52 pm on 10 Agustus 2012 Permalink

              Terima kasih atas pencerahannya. Semoga Allah membalas dg pahala yang banyak.

          41. erva kurniawan 9:46 pm on 4 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: , , , , ,   

            Menikmati Kesederhanaan 

            Republika : Rabu, 27 Juli 2005

            Oleh : Syarif Hade Masyah

            Suatu kali Umar bin Khathab RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Kala itu Umar mendapati Nabi sedang berbaring di tikar yang sangat kasar. Saking kasarnya alas tidur Nabi itu, anyaman tikarnya membekas di pipi beliau. Tidak semua tubuh beliau beralas tikar. Sebagian tubuhnya beralas tanah. Bantal yang beliau gunakan pun pelepah kurma yang keras.

            Melihat pemandangan itu Umar langsung menangis. “Mengapa Anda menangis?” tanya Rasulullah. “Bagaimana saya tidak menangis? Alas tidur itu telah menorehkan bekas di pipi Anda. Anda ini Nabi sekaligus kekasih Allah. Mengapa kekayaan Anda hanya seperti yang saya lihat sekarang ini? Apa Anda tidak melihat bagaimana Kisra (Raja Persia) dan Kaisar (Raja Romawi) duduk di atas singgasana emas dan berbantalkan sutra terindah?” jawab Umar yang sekaligus balik bertanya.

            Apa jawab Nabi? “Mereka ingin menghabiskan kenikmatan dan kesenangan sekarang ini. Padahal, kenikmatan dan kesenangan itu cepat berakhir. Berbeda dengan kita. Kita lebih senang mendapat kenikmatan dan kesenangan itu untuk hari nanti.”

            Nabi telah memberi contoh dan teladan mulia dalam sikap sederhana. Catatan sejarah menunjukkan beliau tidak memiliki perabot rumah tangga biasa, apalagi yang mewah. Makanan favorit beliau hanya roti kering, segelas air putih, dan satu-dua butir kurma. Itu pun sudah beliau anggap sebagai kemewahan.

            Menyerukan sikap sederhana tidak akan berhasil bila tidak diiringi keteladanan. Belakangan kita banyak melihat orang yang menggembar-gemborkan hidup hemat, meski sikap hidupnya tidak menunjukkan apa yang diserukannya.

            Mobilnya lebih dari satu, rumahnya ada di mana-mana, perlengkapan rumahnya serba mewah, watt untuk perabotan elektroniknya luar biasa, dan pakaiannya impor semua.

            Menurut seorang tabi’in, seseorang dikategorikan boros jika dalam hal makanan dan berpakaian dia selalu menuruti keinginannya.

            Rasulullah SAW juga bersabda, “Dunia itu diperuntukkan bagi pecintanya. Siapa yang mengambil dunia lebih dari batas kecukupannya, maka tanpa terasa dia telah merenggut ajal kematiannya.” (HR Al-Bazzar).

            Sekarang kita sedang merasakan ‘ajal kematian’ akibat sikap konsumtif dan boros pada listrik dan BBM. Sikap seperti itu biasanya dilatari oleh keinginan terlihat mewah yang sering kali membuat seseorang lupa diri. Sebagian kita bahkan tak segan meraih keinginan itu dengan cara yang tidak dibenarkan. Godaan untuk sikap hidup seperti itu tak ada habisnya.

            Allah SWT berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu! Kelak kalian akan mengetahui akibat perbuatan kalian itu. Janganlah begitu! Kelak kalian akan mengetahuinya.” (QS 102: 1-4).

            Kita tidak hanya hidup untuk hari ini. Semua yang kita miliki jangan dihabiskan sesuka hati. Kita masih mempunyai anak-cucu yang juga ingin mewarisi apa yang sudah kita raih. Sederhana itu pilihan untuk menjalani hidup yang terfokus pada hal yang benar-benar berarti dan membebaskan diri dari segala belenggu. Ini yang membedakannya dari miskin.

            ***

             
          42. erva kurniawan 5:48 pm on 2 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: doa istiftah,   

            Kaifiat Sholat Nabi (Membaca Do’a Istiftah) 

            Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, ”Bagaimana hukum membaca do’a istiftah”?

            Jawab: Do’a istiftah hukumnya sunnah, bukan wajib baik dalam sholat wajib maupun sholat sunnah. Sebaiknya dalam membaca do’a istiftah dibaca secara bergantian diantara do’a-do’a istiftah yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam agar ia mendapatkan sunnah membaca semua do’a istiftah. Tetapi jika ia hanya hafal satu jenis do’a istiftah dan melazimi bacaannya, maka tidak mengapa. Karena secara dhohir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bermacam-macam do’a istiftah dan tasyahud adalah untuk memudahkan manusia. Begitu juga dalam dzikir setelah sholat, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam membaca bermacam bentuk dzikir untuk mendapatkan dua faidah:

            Pertama: Agar manusia tidak terus menerus mengucapkan satu macam dzikir, karena bila terbiasa dengan satu jenis dzikir ucapan dzikir akan menjadi otomatis keluarnya sehingga meskipun ia tidak berkosentrasi lisannya dapat mengucapkan walau tanpa berfikir dikarenakan kebiasaannya tadi. Bila manusia membaca dzikir-dzikir yang ada secara bergantian maka hal itu lebih dapat mengkosentrasikan hati dan ia lebih memahami apa yang ia ucapkan.

            Kedua: Mempermudah manusia, sehingga mereka dapat memilih do’a mana yang sesuai dengannya.

            Karena dua faidah inilah sebagian ibadah tidak hanya satu bentuk saja, seperti do’a istiftah, tasyahud, dan dzikir-dzikir setelah sholat.

            **

            Membaca Do’a Istiftah

            Do’a istiftah yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermacam-macam. Dalam do’a istiftah tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan pujian, sanjungan dan kalimat keagungan untuk Allah.

            Beliau pernah memerintahkan hal ini kepada orang yang salah melakukan sholatnya dengan sabdanya:

            “Tidak sempurna sholat seseorang sebelum ia bertakbir, mengucapkan pujian, mengucapkan kalimat keagungan (do’a istiftah), dan membaca ayat-ayat al Qur-an yang dihafalnya” (HR. Abu Dawud dan Hakim, disahkan oleh Hakim, disetujui oleh Dzahabi).

            Adapun bacaan do’a istiftah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya adalah:

            “ALLAHUUMMA BA’ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIBI, ALLAAHUMMA NAQQINII MIN KHATHAAYAAYA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAAHUMMAGHSILNII BIL MAA’I WATS TSALJI WAL BARADI”

            artinya:

            “Ya, Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya, Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya, Allah cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).

            Atau kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaca dalam sholat fardhu:

            “WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAN [MUSLIMAN] WA MAA ANA MINAL MUSYRIKIIN. INNA SHOLATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAHI RABBIL ‘ALAMIIN. LAA SYARIIKALAHU WABIDZALIKA UMIRTU WA ANA AWWALUL MUSLIMIIN. ALLAHUMMA ANTAL MALIKU, LAA ILAAHA ILLA ANTA [SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA] ANTA RABBII WA ANA ‘ABDUKA, DHALAMTU NAFSII, WA’TARAFTU BIDZAMBI, FAGHFIRLII DZAMBI JAMII’AN, INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA. WAHDINII LI AHSANIL AKHLAAQI LAA YAHDII LI AHSANIHAA ILLA ANTA, WASHRIF ‘ANNII SAYYI-AHAA LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYI-AHAA ILLA ANTA LABBAIKA WA SA’DAIKA, WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIKA. WASY SYARRULAISA ILAIKA. [WAL MAHDIYYU MAN HADAITA]. ANA BIKA WA ILAIKA [LAA MANJAA WALAA MALJA-A MINKA ILLA ILAIKA. TABAARAKTA WA TA’AALAITA ASTAGHFIRUKA WAATUUBU ILAIKA”

            yang artinya:

            “Aku hadapkan wajahku kepada Pencipta seluruh langit dan bumi dengan penuh kepasrahan dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sesuatu pun yang menyekutui-Nya. Demikianlah aku diperintah dan aku termasuk orang yang pertama-tama menjadi muslim. Ya Allah, Engkau-lah Penguasa, tiada Ilah selain Engkau semata-mata. [Engkau Mahasuci dan Mahaterpuji], Engkaulah Rabb-ku dan aku hamba-Mu, aku telah menganiaya diriku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah semua dosaku. Sesungguhnya hanya Engkau-lah yang berhak mengampuni semua dosa. Berilah aku petunjuk kepada akhlaq yang paling baik, karena hanya Engkau-lah yang dapat memberi petunjuk kepada akhlaq yang terbaik dan jauhkanlah diriku dari akhlaq buruk. Aku jawab seruan-Mu, sedang segala keburukan tidak datang dari-Mu. [Orang yang terpimpin adalah orang yang Engkau beri petunjuk]. Aku berada dalam kekuasaan-Mu dan akan kembali kepada-Mu, [tiada tempat memohon keselamatan dan perlindungan dari siksa-Mu kecuali hanya Engkau semata]. Engkau Mahamulia dan Mahatinggi, aku mohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).

            ***

            Sumber: Email dari Sahabat dan ibnusarijan.blogspot.com

             
          43. erva kurniawan 5:06 pm on 1 March 2010 Permalink | Balas
            Tags: istri berbakti kepada suami,   

            Wasiat Rasulullah SAW Kepada Aisyah 

            Saiyidatuna ‘Aisyah r.’a meriwayatkan : Rasulullah S.A.W bersabda “Hai Aisyah, aku berwasiat kepada engkau. Hendaklah engkau senantiasa mengingat wasiatku ini. Sesungguhnya engkau akan senantiasa di dalam kebajikan selama engkau mengingat wasiatku ini… ”

            Intisari wasiat Rasulullah S.A.W tersebut dirumuskan seperti berikut: Hai, Aisyah, peliharalah diri engkau. Ketahuilah bahwa sebagian besar dari pada kaum engkau (kaum wanita) adalah menjadi kayu api di dalam neraka.

            Diantara sebab-sebabnya ialah mereka itu :

            1. Tidak dapat menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan), tidak sabar apabila ditimpa musibah
            2. tidak memuji Allah atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan nikmat dan rahmat tidak bersyukur.
            3. mengkufurkan nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah
            4. membanyakkan kata-kata yang sia-sia, banyak bicara yang tidak bermanfaat.

            Wahai, Aisyah, ketahuilah :

            1. bahwa wanita yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang diberikan oleh suaminya maka amalannya akan digugurkan oleh Allah
            2. bahwa wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, maka pada hari kiamat, Allah menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan ditengkuknya.
            3. bahwa isteri yang memandang jahat (menuduh atau menaruh sangkaan buruk terhadap suaminya), Allah akan menghapuskan muka dan tubuhnya pada hari kiamat.
            4. bahwa isteri yang tidak memenuhi kemauan suami-nya di tempat tidur atau menyusahkan urusan ini atau mengkhianati suaminya, akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubunnya terikat kepada dua kakinya di dalam neraka.
            5. bahwa wanita yang mengerjakan sholat dan berdoa untuk dirinya tetapi tidak untuk suaminya, akan dipukul mukanya dengan sholatnya.
            6. bahwa wanita yang dikenakan musibah ke atasnya lalu dia menampar-nampar mukanya atau merobek-robek pakaiannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama dengan isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan tiada harapan mendapat kebajikan syafaat dari siapa pun;
            7. bahwa wanita yang berzina akan dicambuk dihadapan semua makhluk didepan neraka pada hari kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan depalan puluh cambuk dari api.
            8. bahwa isteri yang mengandung (hamil) baginya pahala seperti berpuasa pada siang harinya dan mengerjakan qiamul-lail pada malamnya serta pahala berjuang fi sabilillah.
            9. bahwa isteri yang bersalin (melahirkan), bagi tiap-tiap kesakitan yang dideritainya diberi pahala memerdekakan seorang budak. Demikian juga pahalanya setiap kali menyusukan anaknya.
            10. bahwa wanita apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti suaminya, maka diumpamakan dengan titik-titik darah dalam perjuangan fisabilillah.

            ***

            Sumber: Email dari Sahabat

             
            • Lisa melia 10:32 am on 2 Maret 2010 Permalink

              ini baGus sekali buat wanita2..agar tau apa2 yang boelh dilakukan dan yang tidak boleh untuk dilakukan
              bagus sekali…

            • atiek 8:26 am on 1 Juni 2010 Permalink

              inilah yang harus kita pelajari bagaimana menjadi seorang wanita dan istri yang berbakti dan taat kepada suami dan apa yang pantas dan tidak pantas dilakukanseorang wanita muslim dan istri yang soleha

            • riza 8:47 am on 8 April 2011 Permalink

              wah terima kasih postingannya. Ijin copy ya?

          44. erva kurniawan 6:38 pm on 26 February 2010 Permalink | Balas
            Tags:   

            Menghitung Bacaan Tasbih dengan Jari Tangan Kanannya 

            Yang disunahkan dalam berdzikir adalah dengan menggunakan jari – jari tangan :

            Abdullah bin Amr ra berkata, “Ra-aytu rasulullahi ya’qidut tasbiiha bi yamiinihi” yang artinya “Aku melihat Rasulullah menghitung bacaan tasbih (dengan jari–jari) tangan kanannya” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no. 1502 dan Tirmidzi no. 3486)

            Bahkan Nabi SAW memerintahkan para sahabat wanita menghitung : Subhaanallah, alhamdulillah dan mensucikan Allah dengan jari–jari, karena jari–jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada Hari Kiamat) (Hadits Hasan Riwayat Abu Dawud no 1501 dan At Tirmidzi, dihasankan oleh Imam An Nawai dan Ibnu Hajar Al ‘Asqalani)

            ***

            Sumber: Dzikir Pagi Petang, Yazid Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Cetakan Pertama, Desember 2004, Hal 47

             
            • agro 11:48 am on 16 Mei 2010 Permalink

              TAPI UMAT ISLAM KOK MSH BANYAK YG PAKAI TASBIH YA! SAAT DZIKIR SETELAH SHOLAT. APA ADA SUNNAH SHOHIHAH YG DILAKUKAN NABI? KL ADA BUKANKAH ITU BERTENTANGAN DG SABDA NABI DI ATAS. MHN PENCERAHAN DR TMN2

            • Fadillah Shopline 8:33 pm on 15 Mei 2012 Permalink

              ya betul, betul, betul :)

          45. erva kurniawan 6:36 am on 25 February 2010 Permalink | Balas
            Tags: al fatihah, umul kitab   

            Resume Al-Fatihah 

            1. Surat Al Fatihah mempunyai beberapa nama, diantaranya: Ummul Kitab, Ummul Qur’an, Al-Hamd, Al-Asas, Ash- Sholat, Al- Wafiyah, Al-Kifayah, Ar-Raqiyah, As-Sabu’l Matsani (15:87)

            2. Surat Al Fatihah mengandung prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, yaitu: Tauhid, Ibadah, Hukum-hukum dan peraturan-peraturan, Janji dan ancaman, Kisah-kisah atau cerita-cerita.

            3. Beberapa kata yang perlu diperhatikan:

            • Rabbi : mendidik, menambah dan menyempurnakan, menghimpun, memperbaiki dan menanggung, memimpin dan mengurus keperluan yang dipimpin, dan memiliki dan mengusai.
            • Ar-Rahman : yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan kurnia
            • Ar-Rahim : orang yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat ini `tetap’ pada-Nya selama-lamanya.
            • Ad-Din : perhitungan, ganjaran atau pembalasan, patuh, menundukkan, syariat atau agama.
            • Ibadah : menghamba, tunduk dan taat, memuliakan, selalu menyertai, dan menahan diri.

            4. Tentang ‘Basmalah’

            • Basmalah itu adalah suatu ayat yang tersendiri, diturunkan Allah untuk jadi kepala masing-masing surat, dan pembatas antara surat dengan surat yang lain. Jadi ia bukanlah satu ayat dari al Fatihah atau dari suatu surat yang lain, yang dimulai dengan Basmalah itu. Ini adalah pendapat Imam Malik beserta ahli qiroah dan fuqoha Madinah, Basrah dan Syam, dan juga pendapat Imam Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Sebab itu menurut Imam Abu Hanifah ‘Basmalah’ itu tidak dikeraskan membacanya dalam shalat bahkan Imam Malik tidak membaca Basmalah sama sekali.
            • Basmalah adalah salah satu ayat dari al Fatihah dan dari sesuatu surat yang lain, yang dimulai dengan ‘Basmalah’. Ini adalah pendapat Imam Syafi’I beserta ahli qiroah Mekkah dan Kuffah. Sebab itu menurut mereka ‘Basmalah’ itu dibaca dengan suara keras dalam shalat (Jahar)

            5. Al Fatihah sebagai Rukun shalat

            Sabda Nabi Saw. “Daripada Ubadah bin Shamit, bahwasannya Nabi Saw. berkata: “Tidaklah ada sholat (tidak sah sholat) bagi siapa yang tidak membaca Fatihail Kitab” (HR. Al-Jamaah)

            6. Ucap `Basmalah’ pada tiap pekerjaan baik

            “Tiap-tiap pekerjaan yang penting, kalau tidak dimulai dengan Bismillah, maka pekerjaan itu akan percuma jadinya”. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah)

            ***

            Referensi: Dari beberapa Kitab Tafsir

            Sumber: Email Sahabat

             
          46. erva kurniawan 5:50 am on 24 February 2010 Permalink | Balas
            Tags: syair taubat,   

            Permohonan Taubat 

            Ya Allah, Aku tak pantas masuk masuk ke surga Tapi aku juga tak sanggup menahan siksa neraka.

            Ampunilah dosaku, terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa dan Maha Pengampun.

            Dosaku begitu banyak Bagaikan pasir di tepi pantai Jika Engkau tak menerima taubatku, sungguh Engkau adalah Yang Maha Kuasa.

            Jika Engkau ampuni aku, sungguh Engkau adalah yang Maha Mengampuni Dosa

            Tiap tahun sisa umurku berkurang Namun dosaku bertambah setiap saat Jika Engkau tidak menerima taubatku. Pada siapa lagi aku kan mengadu?

            ***

            Syair terjemahan bebas dari lagu Al I’tiroof yang dinyanyikan Haddad Alwi

             
          47. erva kurniawan 5:42 am on 23 February 2010 Permalink | Balas
            Tags: hakim di neraka, hakim yang adil, keadilan   

            Hakim Di Neraka 

            Oleh : KH Didin Hafidhuddin

            Dari Buraidah ra Rasulullah saw bersabda, ”Hakim itu terdiri atas tiga kelompok, dua kelompok berada di neraka dan satu kelompok berada di surga. Kelompok pertama adalah hakim yang mengetahui kebenaran (fakta), kemudian ia menetapkan keputusannya berdasarkan kebenaran tersebut, maka ia akan berada di surga.”

            ”Kelompok kedua,” lanjut Muhammad dalam hadis riwayat Hakim itu, ”Adalah hakim yang tahu kebenaran (fakta), tetapi ia tidak memutuskan berdasarkan kebenaran itu, maka ia berlaku zalim dalam hukum dan tempatnya adalah di neraka. Ketiga, hakim yang tidak tahu kebenaran (fakta) dan ia menetapkan keputusan kepada manusia berdasarkan kebodohannya, maka tempatnya di neraka.”

            Akhir-akhir ini bangsa kita disuguhi berbagai peristiwa menarik, terutama berkaitan dengan masalah penegakan hukum dengan digelarnya pengadilan atas tokoh-tokoh penting negeri ini. Pengadilan itu mendapat sorotan tajam berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Rakyat akan menilai apakah para penegak hukum mampu menegakkan kebenaran ataukah justru sebaliknya, mereka malah mempermainkan hukum untuk menyelamatkan kepentingan elite.

            Salah satu komponen strategis yang menentukan tegaknya keadilan hukum adalah hakim. Di tanganyalah segala perkara diputuskan, kebaikan dan kemudaratan ditentukan. Keputusan hakim sangat menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap komitmen penegakan hukum. Apakah hukum mampu bersikap adil terhadap seluruh lapisan masyarakat, baik terhadap elite maupun rakyat jelata, ataukah hukum bersikap pilih kasih di mana si kuat diselamatkan dan si lemah menderita.

            Begitu beratnya tugas hakim sampai-sampai mereka diibaratkan memiliki dua kaki, satu menginjak surge dan lainnya menginjak neraka. Kesalahan sedikit saja akan menimbulkan dampak fatal. Karena itu, seorang hakim hendaknya sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, jangan sampai keputusannya menzalimi orang tidak bersalah. Hati nurani seorang hakim harus terus-menerus dipertajam.

            Kita sadar bahwa supremasi hukum merupakan benteng pertahanan terakhir masyarakat. Jika hukum tegak, maka tegaklah masyarakat. Jika hukum rusak, maka akan rusak pula masyarakatnya. Wallahu’alamu bi ash shawab.

            ***

            Sumber: Republika Online

            Dalam ajaran Islam dinyatakan bahwa hakim itu, satu kaki berada di surga, satu kaki di neraka. Jika hakim itu adil, yaitu menghukum yang salah, surge imbalannya. Tapi jika hakim itu tidak adil, menghukum orang yang tak bersalah, neraka balasannya.

            Tentu bukan cuma hakim saja yang dimaksud. Aparat hukum terkait seperti Polisi dan Jaksa juga bisa masuk neraka jika mereka menzalimi orang, yaitu memenjarakan orang yang tak bersalah atau membebaskan orang yang bersalah.

             
            • broali 5:56 am on 23 Februari 2010 Permalink

              berat posisi penegak hukum, bagi yang sadar….

          48. erva kurniawan 5:01 am on 21 February 2010 Permalink | Balas
            Tags: , pahala,   

            60 Pintu Pahala Dan Pelebur Dosa 

            Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi dan utusan yang paling mulia.

            Risalah ini ditujukan kepada setiap muslim yang beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Tujuan utama yang sangat urgen bagi setiap muslim adalah ia keluar meninggalkan dunia fana ini dengan ampunan Allah dari segala dosa sehingga Allah tidak menghisabnya pada hari Kiamat, dan memasukkannya ke dalam surga kenikmatan, hidup kekal didalamnya, tidak keluar selama-lamanya.

            Di dalam risalah yang sederhana ini kami sampaikan beberapa amalan yang dapat melebur dosa dan membawa pahala yang besar, yang kesemuanya bersumber dari hadist-hadist yang shahih. Kita bermohon kepada Allah yang Maha Hidup, yang tiada Tuhan yang haq selain Dia, untuk menerima segala amalan kita. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

            1. TAUBAT

            “Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya” HR. Muslim, No. 2703. “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama ruh belum sampai ketenggorokan”.

            2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU

            “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga” HR. Muslim, No. 2699.

            3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH

            “Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: “Tentu”, lalu beliau bersabda: (( Zikir kepada Allah Ta`ala ))” HR. At Turmidzi, No. 3347.

            4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN

            “Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya” HR. Bukhari, Juz. X/ No. 374 dan Muslim, No. 1005.

            5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH

            “Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” HR. Muslim, No. 2674.

            6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.

            “Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman” HR. Muslim, No. 804.

            7. MEMBACA AL QUR`AN

            “Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya” HR. Muslim, No. 49.

            8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA

            “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya” HR. Bukhari, Juz. IX/No. 66.

            9. MENYEBARKAN SALAM

            “Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam” HR. Muslim, No.54.

            10. MENCINTAI KARENA ALLAH

            “Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: ((Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku))” HR. Muslim, No. 2566.

            11. MEMBESUK ORANG SAKIT

            “Tiada seorang muslim pun membesuk orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada sore harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga” HR. Tirmidzi, No. 969.

            12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG

            “Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat” HR. Muslim, No.2699.

            13. MENUTUP AIB ORANG LAIN

            “Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat” HR. Muslim, No. 2590.

            14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI

            “Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: “Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya” HR. Bukhari, Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim, No. 2555.

            15. BERAKHLAK YANG BAIK

            “Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: “Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik” HR. Tirmidzi, No. 2003.

            16. JUJUR

            “Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga” HR. Bukhari Juz. X/No. 423 dan HR. Muslim., No. 2607.

            17. MENAHAN MARAH

            “Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai” HR. Tirmidzi, No. 2022.

            18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS

            “Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a:(Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut” HR. Tirmidzi, Juz III/No. 153.

            19. SABAR

            “Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahannya” HR. Bukhari, Juz. X/No. 91.

            20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

            “Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka…! Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: ((Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga))” HR. Muslim, No. 2551.

            21. BERUSAHA MEMBANTU PARA JANDA DAN MISKIN

            “Orang yang berusaha membantu para janda dan fakir miskin sama halnya dengan orang yang berjihad di jalan Allah” dan saya (perawi-pent) mengira beliau berkata: ((Dan seperti orang melakukan qiyamullail yang tidak pernah jenuh, dan seperti orang berpuasa yang tidak pernah berbuka” HR. Bukhari, Juz. X/No. 366.

            22. MENANGGUNG BEBAN HIDUP ANAK YATIM

            “Saya dan penanggung beban hidup anak yatim itu di surga seperti begini,” seraya beliau menunjukan kedua jarinya: jari telunjuk dan jari tengah.” HR. Bukhari, Juz. X/No. 365.

            23. WUDHU`

            “Barangsiapa yang berwudhu`, kemudian ia memperbagus wudhu`nya maka keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya, hingga keluar dari ujung kukunya” HR. Muslim, No. 245.

            24. BERSYAHADAT SETELAH BERWUDHU`

            Barangsiapa berwudhu` lalu memperbagus wudhu`nya kemudian ia mengucapkan: (yang artinya) “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya,Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci,” maka dibukakan baginya pintu-pintu surga dan ia dapat memasukinya dari pintu mana saja yang ia kehendaki” HR. Muslim, No. 234.

            25. MENGUCAPKAN DO`A SETELAH AZAN

            “Barangsiapa mengucapkan do`a ketika ia mendengar seruan azan: (yang artinya) “Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan, dan bangkitkanlah ia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya” maka ia berhak mendapatkan syafa`atku pada hari kiamat” HR. Bukhari, Juz. II/No. 77.

            26. MEMBANGUN MASJID

            “Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga” HR. Bukhari, No. 450.

            27. BERSIWAK

            “Seandainya saya tidak mempersulit umatku niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap shalat” HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.

            28. BERANGKAT KE MASJID

            “Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore” HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.

            29. SHALAT LIMA WAKTU

            “Tiada seorang muslim kedatangan waktu shalat fardhu kemudian ia memperbagus wudhu`nya, kekhusyu`annya dan ruku`nya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak dilanggar suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa” HR. Muslim, No. 228.

            30. SHALAT SUBUH DAN ASHAR

            “Barangsiapa shalat pada dua waktu pagi dan sore (subuh dan ashar) maka ia masuk surga” HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.

            31. SHALAT JUM`AT

            “Barangsiapa berwudhu` lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri shalat Jum`at, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jum`at pada hari itu dengan Jum`at yang lain dan ditambah lagi tiga hari” HR. Muslim, 857.

            32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUM`AT

            “Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri shalat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain ia akan dikabulkan permohonannya” HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.

            33. MENGIRINGI SHALAT FARDHU DENGAN SHALAT SUNNAT RAWATIB

            “Tiada seorang hamba muslim shalat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai shalat sunnat selain shalat fardhu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga” HR. Muslim, No. 728.

            34. SHALAT 2 (DUA) RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA

            “Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudhu` dengan sempurna kemudian berdiri melakukan shalat 2 rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya” HR. Abu Daud, No.1521.

            35. SHALAT MALAM

            “Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam” HR. Muslim, No. 1163.

            36. SHALAT DHUHA

            “Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan shalat 2 rakaat dhuha” HR. Muslim, No. 720.

            37. SHALAWAT KEPADA NABI SAW

            “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah membalas shalawatnya itu sebanyak 10 kali” HR. Muslim, No. 384.

            38. PUASA

            “Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu dari neraka selama 70 tahun” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.

            39. PUASA 3 (TIGA) HARI PADA SETIAP BULAN

            “Puasa 3 (tiga) hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa” HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.

            40. PUASA 6 (ENAM) HARI PADA BULAN SYAWAL

            “Barangsiapa melakukan puasa Ramadhan, lalu ia mengiringinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka hal itu seperti puasa sepanjang masa” HR. Muslim, 1164.

            41. PUASA `ARAFAT

            “Puasa pada hari `Arafat (9 Dzulhijjah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang” HR. Muslim, No. 1162.

            42. PUASA `ASYURA

            “Dan dengan puasa hari `Asyura (10 Muharram) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya” HR. Muslim,No. 1162.

            43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA

            “Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun” HR. Tirmidzi, No. 807.

            44. SHALAT DI MALAM LAILATUL QADR

            “Barangsiapa mendirikan shalat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.

            45. SEDEKAH

            “Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api” HR. Tirmidzi, No. 2616.

            46. HAJI DAN UMRAH

            “Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kaffarah (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga” HR. Muslim, No. 1349.

            47. BERAMAL SHALIH PADA 10 HARI BULAN DZULHIJJAH

            “Tiada hari-hari, beramal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: “Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah? Beliau bersabda: “Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apapun” HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.

            48. JIHAD DI JALAN ALLAH

            “Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya” HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.

            49. INFAQ DI JALAN ALLAH

            “Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka iapun (juga) termasuk ikut berperang” HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.

            50. MENSHALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH

            “Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai dishalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan: “Apakah dua qirat itu?”, beliau menjawab: (Seperti dua gunung besar)” HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.

            51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN

            “Siapa yang menjamin bagiku “sesuatu” antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga” HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.

            52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH DAN SUBHANALLAH WA BI HAMDIH

            “Barangsiapa mengucapkan: (Laa ilaa ha illallahu wahdahu laa syarikalah, lahul mulku walahul hamdu wa huma ‘alaa kulli syai’ing qadiir) sehari seratus kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari syaithan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorangpun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya”. Dan beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan: (Subhanallahi wa bihamdih) satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan” HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.

            53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN

            “Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang” HR. Muslim.

            54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN

            “Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya maka ia pasti akan mendapatkan surga” HR. Ahmad dengan sanad yang baik.

            55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN

            “Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga” HR. Bukhari.

            57. MENINGGALKAN PERDEBATAN

            “Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya” HR. Abu Daud.

            58. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN

            “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga? Mereka berkata: “Tentu wahai Rasulullah”, maka beliau bersabda: “Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga” Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.

            59. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA

            “Apabila seorang perempuan menjaga shalatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki” HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.

            60. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN

            “Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apapun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga” Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.

            ***

            Judul Asli: 60 “baaban min abwabi Al-ajri wan kaffaraati al-khataya”- daarul wathan. Diterjemahkan oleh: Abdurrauf Amak Lc.

             
            • Sugianto Parjan 1:36 pm on 3 Oktober 2010 Permalink

              habis no.55 lompat ke no 57 berarti hanya 59 , no.56 kemana ?????? seharusnya judulnya 59 Pintu Pahala Dan Pelebur Dosa

            • Nooy SaLu Rindoe 11:17 pm on 26 April 2011 Permalink

              mOga lebih brmanfaat y khusus’y bwt yg nulis ni n umum’y bwt qta smua.
              Amiin yra. ^^

          49. erva kurniawan 6:08 pm on 14 February 2010 Permalink | Balas  

            Hari Anda Adalah Hari Ini 

            eramuslim – Jika datang pagi maka janganlah menunggu tibanya sore. Pada hari ini Anda hidup, bukan di hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan kejelekannya, dan bukan pula hari esok yang belum tentu datang.

            Hari ini dengan mataharinya yang menyinari Anda, adalah hari Anda. Umur Anda hanya sehari. Karena itu anggaplah rentang kehidupan Anda adalah hari ini saja, seakan-akan Anda dilahirkan pada hari ini dan akan mati hari ini juga.

            Saat itulah Anda hidup, jangan tersangkut dengan gumpalan masa lalu dengan segala keresahan dan kesusahannya, dan jangan pula terikat dengan ketidakpastian-ketidakpastian di masa yang penuh dengan hal-hal yang menakutkan serta gelombang yang sangat mengerikan. Hanya untuk hari sajalah seharusnya Anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras.

            Pada hari ini Anda harus mempersembahkan kualitas shalat yang khusyu’, bacaan Al-Quran yang sarat tadabbur, dzikir yang sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian pada jiwa dan raga, serta bersikap sosial terhadap sesama.

            Hanya untuk hari ini saja, saat mana Anda hidup. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar membagi setiap jamnya. Anggaplah setiap menitnya sebagai hitungan tahun, dan setiap detiknya sebagai hitungan bulan, saat-saat dimana Anda bisa menanam kebaikan dan mempersembahkan sesuatu yang indah.

            Beristighfarlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada- Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan nanti, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan. Terimalah rezeki yang Anda dapatkan hari ini dengan penuh keridhaan: Istri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan posisi Anda.

            “Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS Al-A’raf: 144)

            Jalanilah hidup Anda hari ini dengan tanpa kesedihan dan guncangan jiwa, tanpa rasa tidak menerima dan keirian, dan tanpa kedengkian.

            Satu hal yang harus Anda lakukan adalah menuliskan pada dinding hati Anda suatu kalimat (yang juga harus Anda tuliskan dia atas meja Anda): “Harimu adalah hari ini”. Jika Anda makan nasi hangat hari ini, maka apakah nasi yang Anda makan kemarin atau nasi besok hari yang belum jadi akan berdampak negatif terhadap diri Anda?

            Jika Anda bisa minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang Anda minum kemarin? Atau, mengapa malah mengharapkan air yang hambar dan panas yang akan datang esok hari?

            Jika Anda jujur terhadap diri Anda sendiri maka dengan kemauan keras, Anda akan bisa menundukkan jiwa Anda pada teori ini : “Saya tidak akan pernah hidup kecuali hari ini.” Oleh karena itu, manfaatkanlah hari ini, setiap detiknya, untuk membangun kepribadian, untuk mengembangkan semua potensi yang ada, dan untuk membersihkan amalan Anda.

            Katakanlah: “Hari ini saya akan mengatakan yang baik-baik saja. Saya tidak akan pernah mengucapkan kata-kata kotor dan menjijikkan, tidak akan pernah mencela dan mengghibah. Hari ini saya akan menertibkan rumah dan kantor, agar tidak semrawut dan berantakan, agar rapi dan teratur. Karena saya hanya hidup untuk hari ini saja maka saya akan memperhatikan kebersihan dan penampilan diri. Juga, gaya hidup, keseimbangan cara berjalan, bertutur dan tindak tanduk.”

            Karena saya hanya hidup untuk hari ini saja maka saya akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, melakukan shalat sesempurna mungkin, melakukan shalat-shalat nafilah sebagai bekal untuk diri sendiri, bergelut dengan Al-Qur’an, mengkaji buku-buku yang ada, mencatat hal-hal yang perlu, dan menelaah buku yang bermanfaat.

            Saya hidup untuk hari ini saja, karenanya saya akan menanam nilai-nilai keutamaan di dalam hati ini dan mencabut pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri: takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka.

            Saya hidup untuk hari ini saja, karenanya saya akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kebaikan kepada mereka: menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang kebingungan, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang dalam kesulitan, membantu yang dizhalimi, membantu yang lemah, mengasihi yang menderita, menghormati seorang yang alim, menyayangi anak kecil, dan menghormati yang sepuh.

            Karena saya hidup untuk hari ini saja maka saya akan hidup untuk mengucapkan, “Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah bersama mataharimu. Aku tidak akan menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku tercenung sedetikpun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”

            “Wahai masa depan, yang masih berada dalam keghaiban, aku tidak akan pernah bergelut dengan mimpi-mimpi dan tidak akan pernah menjual diri untuk ilusi. Aku tidakk memburu sesuatu yang belum tentu ada karena esok hari tidak berarti apa-apa, esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan, dan tidak pantas dikenang.”

            “Hari Anda adalah hari ini”, adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”, kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.

            ***

            Sumber: Email dari Sahabat

             
            • nisa 10:09 am on 15 Februari 2010 Permalink

              Subhanallah.. tulisan yg bagus untuk di renungkan dan amalkan,
              ijin share ya.. mas..
              semoga kita bisa merealisasikannya, dan kehidupan kita lebih sukses kedepannya, selamat dunia dan akherat.. amiiiin…100 x

            • hartati 10:44 pm on 26 Februari 2010 Permalink

              trima kasih u artikelnya,membasuh hati yang yg luka,kecewa,smoga Allah memberikan kebaikan u anda.amin

            • agro 12:02 pm on 16 Mei 2010 Permalink

              malu aq membaca tulisan ini….karena selama ini aq berkutat dgn ilusi2 yg tdk jelas. astaghfirullah

          50. erva kurniawan 8:19 pm on 12 February 2010 Permalink | Balas
            Tags: , ,   

            Mahar Khas Banjar 

            mahar pernikahanKafemuslimah.com, Iring-iringan wanita memadati jalan kecil menuju rumah tetangga. Di tangan mereka masing-masing membawa bungkusan yang dihias dengan apiknya. Ada deh kira-kira sepuluhan orang. Iring-iringan itu kemudian disambut oleh ibu-ibu pengajian. Rumah tipe 36 itu spontan penuh. Acara mengantar jujuran pun dimulai. Jujuran?

            Jujuran itu tradisi suku Banjar menjelang pernikahan yang dilakukan oleh calon suami dalam memenuhi keinginan calon isteri dan keluarganya. Jujuran berupa uang yang telah disepakati jumlahnya oleh kedua belah pihak di saat lamaran. Disamping itu juga ada yang namanya tikar kelambu. Tikar kelambu ini bukan berarti tikar sama kelambu, tapi hanya sebuah kiasan yang isinya perlengkapan kamar pengantin, seperti lemari pakaian, meja rias, ranjang, kain, sepatu wanita, peralatan make up, bahkan ada yang sampai ke pakaian dalam segala. Tapi semuanya tentu berdasarkan kesanggupan calon suami dan keluarganya, jumlahnya pun sekedarnya saja. Namun apabila permintaan calon isteri dan keluarganya tidak terpenuhi dan tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak, mendingan sang pria mundur saja.

            Jujuran yang dibawa oleh iring-iringan tadi, sebelum diserahkan ke pihak perempuan, melalui beberapa tahapan. Pertama, acara sambutan dan perkenalan dari masing-masing pihak. Dari pihak calon pria melalui juru bicaranya mengungkapkan maksud dan kedatangan mereka datang dan pihak perempuan melalui juru bicaranya menyambut kedatangan tersebut. Kedua, yang pertama kali diserahkan adalah jujuran yang berbentuk uang. Uang tersebut diletakkan disebuah tempat yang sudah disiapkan, didalam tempat uang tersebut terdapat beras kuning, daun pandan, permen, dan uang receh (koin), serta kayu sejenis centong untuk mengaduk. Beberapa orang tetua (orang yang dituakan) dari pihak perempuan, bergantian mengaduk tempat uang tersebut.

            Mengaduk disini bukan berarti mengaduk sungguhan, tetapi hanya simbol saja. Ketiga, apabila ada kesepakatan untuk dihitung, uang tersebut kemudian dihitung didepan umum. Namun hal ini sudah jarang sekali terjadi, kecuali dilakukan oleh orang-orang yang kuat memegang adat. Keempat, menyerahkan cincin, kalau memang ada. Kelima, menyerahkan barang-barang bawaan lainnya. Kemudian ditutup dengan doa.

            **

            Tradisi. Masyarakat kita kebanyakan masih kuat dengan tradisi-tradisi seperti di atas. Tak hanya dari suku Banjar, dari suku lain pun ada tradisi seperti ini. Seperti Betawi dengan hantarannya. Pada intinya proses itu sama, bahkan untuk tradisi suku Jawa mungkin lebih ruwet lagi.

            Andai semua keluarga pihak perempuan memberlakukan tradisi demikian, apakah tidak menghalangi proses menuju pernikahan tersebut? Dari beberapa cerita yang pernah didengar, ternyata banyak para pelamar memilih mengundurkan diri karena tradisi tersebut.

            Padahal dalam hadits disebutkan bahwa:

            “Sesungguhnya wanita yang paling besar berkahnya ialah yang paling bagus wajahnya dan paling sedikit maskawinnya.” (Abu Umar, At-Tauqani dalam kitab mu’asyarah al-ahliin).

            “Sesungguh diantara berkah wanita adalah kemudahan meminangnya, kemudahan maskawinnya dan kemudahan rahimnya.” (Ahmad)

            “Sebaik-baik wanita adalah yang bagus wajahnya dan murah maskawinnya.” (Ibnu Hibban)

            Pernikahan adalah sunnah Rasulullah yang harus segera dilaksanakan apabila tidak ada keraguan di hati keduanya, seperti yang diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi bahwa, “Dan apabila datang kepadamu orang yang kamu rela akan agama dan amanahnya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kamu lakukan, maka akan terjadi bencana di bumi dan kerusakan yang besar.”

            Kalau kita lihat di zaman Rasulullah, maharnya Fatimah binti Muhammad SAW adalah baju besinya Ali karromallah wajhah, karena Ali tidak memiliki yang lainnya, lalu ia menjualnya kemudian diberikan kepada Faatimah sebagai mahar. Ada juga wanita shahabiyah yang maharnya hanya berupa cincin besi. Bahkan mahar berupa ayat-ayat Al Qur’an pun ada, yang kemudian diajarkan oleh suaminya.

            Kalau kita bandingkan di zaman kita saat ini, banyak kita saksikan mahar-mahar dan barang-barang yang berharga, bahkan berlebih-lebihan perayaannya, pemborosan. Padahal Islam telah menentang pemborosan dan menjadikan pemboros sebagai saudara syaitan. Sebagaimana firman Allah SWT menyatakan:

            “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Al-Isra:27).

            “…. dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra:26)

            “…. dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (jangan terlalu kikir dan jangan pula terlalu pemurah) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra:29)

            Wahai muslimin dan muslimah, andai kita tahu firman Allah dan sunnah Rasul-Nya, apa yang akan kita lakukan sekarang? Ikut adat dengan alasan keinginan keluarga kah? Atau tetap teguh menjalankan syariat-Nya? Banyak cara menuju ke China, andai keluarga kita orang yang fanatik dengan adat, cukup bijaksana kalau mencoba menyampaikan (mensosialisasikan) keinginan-keinginan kita mulai dari sekarang kepada keluarga. Allah menilai proses, bukan hasil. Berusahalah. Sebelum saatnya tiba, dijemput sang mujahid!

            ***

            Sumber: Kafemuslimah.com

             
            • nisa 10:04 am on 15 Februari 2010 Permalink

              bahasan yang bagus.. untuk memurnikan kembali niat mnikah bagi kaum muda skrg.. afwan, wlpun dulu ana ada hantaran/jujuran jg tp g’ sbrp byaknya.. cuma syarat aja.. coz ngikut keluarga suami, kami dl aja inginnya mnikah sdrhana saja yg penting sah.. tp ttp di adakan walimatul ursy krn keinginan keluarga dan banyaknya teman.

          51. erva kurniawan 7:56 pm on 11 February 2010 Permalink | Balas
            Tags: ,   

            Jika Anak Ingin Menikah 

            nikah erva kurniawan vs titik rahayuningsih 2Oleh: N Inayati Ashriyah (Republika Online)

            Ketika seorang akhwat berkata pada orang tuanya, “Mama, Papa…, Saya akan menikah dengan…”, terkejutkah mereka? Atau, mereka mengucap “Alhamdulillah” seraya kemudian menghujani anaknya dengan pertanyaan-pertanyaan; Siapakah calon suami pilihannya? Baikkah dia? Latar belakang pendidikan dan keluarganya seperti apa? Apakah dia seiman? Dan sederet pertanyaan lainnya yang akan membuat anak gadis mereka kewalahan untuk menjawabnya.

            Di tempat lain, seorang ikhwan mengajukan hal yang sama pada orang tuanya. Dan respon mereka pun tidak jauh berbeda dengan orang tua si akhwat.

            Wajarkah jika orang tua bersikap demikian? Apakah mereka bisa dicap ‘sok ngatur’? Ataukah memang demikianlah tugas orang tua, memastikan anak-anaknya mendapat pasangan yang sesuai dengan tuntunan agama.

            Rasulullah SAW bersabda, “Bila datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia. Karena bila kalian tiada melakukannya, maka akan terjadi fitnah di atas bumi dan kerusakan yang luas.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

            Orang tua mana pun tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa anaknya, termasuk dalam masalah perjodohan. Orang tua pun tidak ingin anaknya menderita kemiskinan atau kesengsaraan setelah anaknya menikah nanti. Maka, tidak sedikit orang tua yang mengajukan syarat bagi calon menantunya, “harus memiliki pekerjaan”, atau “sarjana” bahkan tidak jarang orang tua menginginkan menantunya berstatus “pegawai negeri”. Itu sah-sah saja.

            Yang menjadi masalah, ketika kenyataannya tidak demikian, calon menantu mereka bukan sarjana, bukan pegawai negeri, dan belum memiliki penghasilan yang tetap, maka konflik pun terjadi. Orang tua tetap pada pendiriannya dan si anak pun tetap pada pilihannya.

            Sejauh ini, masalah seperti itu masih kerap kita temukan. Ketika seorang laki-laki atau perempuan dewasa yang telah siap untuk berumah tangga karena dorongan biologis, psikologis, dan yang paling utama adalah niat menikah karena Allah, maka orang tua harus menyadarinya sejak awal agar akhlak mereka tetap terjaga. Jangan sampai karena belum tamat kuliah, orang tua memilih membiarkan anaknya berpacaran dahulu dibanding segera menikahkan mereka.

            “Dan nikahkanlah bujang-bujang kamu dan budak laki-laki dan perempuan yang telah patut menikah. Jika mereka itu miskin, maka nanti Allah berikan kecukupan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Mahatahu.” (QS an-Nuur [24]:32).

            Jangan takut anak kita menjadi miskin harta karena Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka. Takutlah kalau anak-anak kita miskin agama, miskin akhlak, dan miskin ilmu! Khawatirkan kalau anak kita tidak shalih!

            Jadi, tugas utama orang tua terhadap anaknya adalah membantunya untuk mendapat pasangan yang shalih jika ia tidak mampu mencari sendiri pasangannya. Jika ternyata si anak telah mendapatkannya, maka nikahkanlah mereka!

            Tidak sedikit remaja yang mempunyai kesadaran untuk menjaga agar akhlaknya tetap bersih dan terjaga dari segala macam kemaksiatan akibat berpacaran, hal ini perlu kita syukuri. Namun tidak sedikit pula orang tua yang malah menilai anaknya tidak wajar karena lain dari remaja pada umumnya yang lebih memilih untuk berpacaran dengan bebas. Sedangkan anaknya dinilai ‘gila’ agama. Akhirnya, terjadilah ‘perang’ berkepanjangan antara orang tua dan anak. Selain masalah pekerjaan, sarjana, masalah ‘gila’ agama ini juga menjadi sebuah dilema.

            Ada banyak cara untuk menyelesaikan permasalahan seperti ini agar tidak muncul di kemudian hari. Orang tua harus membiasakan anaknya mandiri dan berusaha dengan lapang melepaskan mereka jika telah baligh untuk membiayai dirinya sendiri. Dengan begitu, jika saatnya tiba untuk menikah, maka si anak sudah terbiasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan orang tua pun tidak menjadi khawatir.

            Biasanya, adanya perselisihan disebabkan oleh perbedaan pemahaman terhadap sesuatu. Seorang anak belum tentu benar dengan segala keyakinannya, demikian pula dengan orang tua. Mereka belum tentu benar dengan segala pengalamannya. Yang dibutuhkan di sini adalah ilmu.

            Orang tua dan anak harus belajar menyelesaikan masalah mereka dengan menggunakan dasar ilmu. Tidak ada kata terlambat, ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat bisa didapat kapan pun, di mana pun, dan dari siapa pun.

            Menjadi seorang bijak dalam menyikapi segala permasalahan hidup memang tidak mudah, termasuk bijak menyikapi keinginan anak untuk segera berumah tangga.

            ***

            Sumber: Republika Online

             
          52. erva kurniawan 1:13 am on 9 February 2010 Permalink | Balas
            Tags: Bahaya Valentine, valentine day   

            Bahaya Valentine 

            Memasuki bulan Februari, kita menyaksikan banyak media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day atau biasanya disebut hari kasih sayang.

            Biasanya pada 14 Februari mereka saling mengucapkan “selamat hari Valentine”, berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta.

            Sangat disayangkan banyak ABG khususnya teman-teman kita, para remaja putri muslimah yang terkena penyakit ikut-ikutan dan mengekor budaya Barat atau budaya ritual agama lain akibat pengaruh TV dan media massa lainnya. Termasuk dalam hal ini perayaan Hari Valentine, yang pada dasarnya adalah mengenang kembali pendeta St.Valentine.

            Belakangan, Virus Valentine tidak hanya menyerang remaja bahkan orang tua pun turut larut dalam perayaan yang bersumber dari budaya Barat ini.

            **

            Sejarah Valentine

            Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St.Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II.

            Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St.Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya. Claudius II melihat St.Valentine meng-ajak manusia kepada agama Nashrani lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya. Dalam versi kedua , Claudius II memandang para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. Tetapi St.Valentine menentang perintah ini dan terus mengada-kan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan.

            Dalam penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “Dari yang tulus cintanya, Valentine.”  Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nashrani ber-sama 46 kerabatnya.

            Versi ketiga menyebutkan ketika agama Nashrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkum-pul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan ” dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.”

            Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini, para pendeta memutuskan mengganti kalimat “dengan nama tuhan Ibu” dengan kalimat ” dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nashrani.

            Versi lain mengatakan St.Valentine ditanya tentang Atharid, tuhan perdagangan, kefasihan, makar dan pencurian, dan Jupiter, tuhan orang Romawi yang terbesar. Maka dia menjawab tuhan-tuhan tersebut buatan manusia dan bahwasanya tuhan yang sesungguhnya adalah Isa Al Masih, oleh karenanya ia dihukum mati.

            Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dzalim tersebut. Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya itu merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi!!!

            Hukum Valentine

            Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan  pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi’ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut .” (HR. At-Tirmidzi).

            Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir, adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu ke-mungkaran yang besar.

            Ibnul Qayyim berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan semisalnya.

            Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.

            Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

            Abu Waqid Radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.” Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).

            Adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan bara’ ( loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci orang-orang kafir serta menyelisihi mereka dalam ibadah dan perilaku. Serta mengetahui bahwa sikap seperti ini di dalamnya terdapat kemas-lahatan yang tidak terhingga, sebaliknya gaya hidup yang menyerupai orang kafir justru mengandung kerusakan yang lebih banyak.

            Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka akan membuat mereka senang, lagi pula, menyerupai kaum kafir dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.

            Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya: ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim .” (Al-Maidah:51)

            “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22)

            “Dan janganlah belas kasihan kepada kedua pezina tersebut mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat.” (An-Nur: 2)

            Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah As-Sunnah (tuntunan Allah dan Rasul-Nya). Tidak ada suatu bid’ah pun yang dihidupkan kecuali saat itu ada suatu sunnah yang ditinggalkan. Dampak buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at shalatnya membaca.

            “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pu-la jalan) mereka yang sesat.” (Al-Fatihah:6-7)

            Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia sen