Updates from Agustus, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:10 am on 24 August 2012 Permalink | Balas  

    Kunci Meraih Pertolongan Allah 

    Kunci Meraih Pertolongan Allah

    KH Abdullah Gymnastiar

    “Saat kau bermunajat, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkan-Nya. Niscaya rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu”.

    Abdullah bin Abbas pernah bercerita. “Suatu hari aku berjalan di belakang Rasulullah SAW. Saat itu beliau bersabda,

    ”Nak, kuajarkan kepadamu beberapa kata: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niascaya Dia akan senantiasa bersamamu. Bila kau minta, maka mintalah kepada Allah. Bila kau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua manusia bersatu untuk memberikan sebuah kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis untukmu. Jika semua manusia bersatu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering”.

    Hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi ini diungkapkan pula dalam redaksi berbeda.

    “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah diwaktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan seiring dengan kesabaran, jalan keluar seiring dengan cobaan dan kemudahan seiring dengan kesulitan”.

    Saudaraku, redaksi hadis ini singkat, padat namun cakupan maknanya teramat dalam dan luas. Dalam hadis Rasulullah Saw. memberikan kunci-kunci bagaimana mendapatkan pertolongan Allah. Satu pesan utama hadis ini adalah “penghambaan” kepada Allah.

    Laa haula walaa quwwata illa billahil.

    Tiada daya maupun upaya selain atas kekuatan Allah. Saat kita menyadari kekerdilan diri di hadapan Allah, maka pertolongan Allah akan mendatangi kita. Bukankah kita makhluk lemah, sedangkan Allah Maha Menggenggam segalanya?

    Aa pernah bertanya kepada seorang guru, “Bagaimana caranya agar doa kita cepat dikabul oleh Allah?”.

    Beliau menjawab, “Saat kau berdoa, saat kau munajat, atau saat kau sujud, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkannya. Niscaya rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu.”

    Jadi, kunci terpenting agar kita ditolong Allah adalah dengan sungguh-sungguh menghamba kepada-Nya.

    Saat kita ingin dimuliakan Allah, maka akuilah kehinaan kita di hadapan Allah.

    Saat kita ingin dilebihkan, maka akui kekurangan kita di hadapan Allah.

    Saat kita ingin dikuatkan Allah, maka akui kelemahan kita di selemah-lemahnya di hadapan Allah.

    Imam Ibnu Atha’ilah berkata, “Buktikan dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Akuilah kekuranganmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuatan-Nya.”

    Saudaraku, sekali lagi, kekuatan terbesar yang kita miliki bukanlah kekuatan fisik, intelektual, kekuasaan ataupun harta kekayaan. Kekuatan terbesar kita adalah “pertolongan Allah”.

    Pertolongan Allah ini sangat dipengaruhi kualitas keyakinan kita kepada-Nya. Kualitas keyakinan biasanya akan melahirkan kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah akan melahirkan akhlakul karimah, seperti kualitas sabar, syukur, ikhlas, tawadhu, iffah, zuhud, qanaah, dsb. Karena itu, kemuliaan akhlak tergantung dari sejauh mana kita mengenal Allah.

    Wallaahu a’lam

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 23 August 2012 Permalink | Balas  

    Pernahkah Anda Berfikir 

    Pernahkah Anda Berfikir

    Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?

    Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?

    Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?

    Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?

    Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?

    Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?

    Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?

    Jika demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?

    Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.

    Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

    “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mngerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

    Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:

    “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)

    “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minuun, 23:115)

    Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat.

    Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

    Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:

    “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (QS. Ar-Ruum, 30: 8)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 19 August 2012 Permalink | Balas  

    Adab Bertetangga 

    Adab Bertetangga

    Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, saking seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik, Rasulullah pernah mengira tetangga termasuk ahli waris. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan oleh Aisyah, ”Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya.” (HR Bukhari-Muslim).

    Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan mengirimkan hadiah.

    Sabda Rasulullah SAW, ”Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.” (HR Muslim).

    Lihatlah, betapa ringan ajaran Rasulullah, namun dampaknya sangat luar biasa bagi kerukunan dan keharmonisan kita dalam bermasyarakat. Untuk memberi hadiah tidak harus berupa bingkisan mahal, tapi cukup memberi sayur yang sehari-hari kita masak. Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, Rasulullah juga memerintahkan untuk saling menenggang perasaan masing-masing.

    ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” kata Rasulullah, ”maka hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari).

    Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang dikenal rajin melaksanakan shalat, puasa, dan zakat, tapi ia juga sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah menegaskan, ”Pantasnya dia di dalam api neraka!” Kemudian, sahabat itu bertanya lagi mengenai seorang wanita lain yang dikenal sedikit melaksanakan shalat dan puasa, namun sering berinfak dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Jawab Rasulullah, ”Ia pantas masuk surga!” (HR Ahmad).

    Seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya.

    Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ”Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman …!” Sahabat bertanya, ”Siapa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya.” (HR Bukhari).

    Suatu kali, Aisyah pernah bingung mengenai siapa di antara tentangganya yang harus diutamakan. Lalu, ia bertanya kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, saya mempunyai dua orang tetangga, kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?” Beliau bersabda, ”Kepada yang paling dekat rumahnya.” (HR Bukhari).

    Rasulullah menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian kebaikan seseorang. Kata beliau, ”Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.” (HR Tirmidzi).

    ***

    (Didik Hariyanto) sumber : Republika

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 18 August 2012 Permalink | Balas  

    ‘Idu’l-Fithri (Syawwal) 

    ‘Idu’l-Fithri (Syawwal)

    Diriwayatkan oleh Ibnu ‘I-Jauzi dengan sanad yang bersambung sampai kepada Abu Sa’id Al-Khudri Ra., bahwasanya dia berkata, Rasulullah Saww. memerintahkan kepada kita pada hari Raya Fithri untuk memberikan fitrahnya kepada orang-orang fakir di antara saudara-saudara kita. Dan Beliau juga bersabda: “Barangsiapa membayar fitrah kepada orang fakir, maka dia bebas dari neraka, dan barangsiapa membayar fitrah kepada dua orang fakir, maka dia ditetapkan Allah bebas dari syirik dan sifat munafik, dan barangsiapa membayar fitrah kepada tiga orang fakir, maka berhak baginya masuk kedalam surga, dan dijodohkan Allah dengan bidadari cantik yang jeli matanya”.

    Diriwayatkan dari Baihaqi yang bersumber dari Abdullah bin Abbas Ra., sebuah hadist marfu’ yang panjang sehingga Beliau bersabda: “Apabila tiba waktu pagi hari Raya Fithri, Allah mengutus Malaikat pada setiap negri, lalu mereka turun ke bumi dan berdiri pada mulut setiap jalan, kemudian menyeru dengan seruan yang dapat didengar oleh segenap makhluk, selain jin dan manusia: “Hai umat Muhammad Saww, keluarlah menuju Tuhan Yang Maha Pemurah. Dia memberikan pemberian yang besar dan mengampuni banyak dosa”, Apabila mereka telah tampak berada pada tempat shalatnya, maka Allah berfirman kepada malaikat: “Wahai Malaikat-Ku, apakah balasan buruh yang sudah mau bekerja?”, Malaikat menjawab: “Balasannya adalah disempurnakan upahnya”. Allah berfirman: “Aku mempersaksikan kepada kalian, wahai Malaikat-Ku, bahwasanya Aku telah menjadikan puasa Ramadhan mereka dan ibadah malam mereka menjadi keridaan dan ampunan-Ku”. Kemudian Allah berfirman lagi: “Mintalah kepada-Ku, maka demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada kalian meminta kepada-Ku pada hari ini, baik yang menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat melainkan Aku memberinya. Dan demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada Aku menghina dan membuka aib kalian, pulanglah kalian dalam keadaan terampuni dosa kalian! Kalian telah beramal demi menuntut keridhaan-Ku dan Aku telah ridha pula kepada kalian”. Maka, mendengar firman Allah itu, Malaikat merasa gembira dengan karunia yang telah diberikan kepada umat Muhammad Saww. Ini”.

    Nabi Saww. telah bersabda: “Man ahyaa laylata’l-‘iidi lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam Hari Raya (Idul Fithri dan Idul Adha), maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika semua hati manusia mati”.

    Didalam hadits riwayat Thabrani dan Ibnu Majah diterangkan: “Man ahyaa laylata’l fithri wa laylata’l adhhaa lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya Fithri dan malam hari Raya Adha, maka tidak akan mati hatinya pada hari ketika hati manusia seluruhnya menjadi mati.

    Mu’adz ra. berkata: “Man Ahyaal layaa li’l arba’a wa jabat lahul jannatu : Laylatal tarwiyati wa laylata ‘arafata wa laylatan nahri wa laylatal fithri. Barangsiapa menghidupkan waktu-waktu malam yang empat, maka berhak baginya masuk ke dalam surga, yaitu : malam Tarwiyah (8 Dzu’l-hijjah), malam ‘Arafah (9 Dzu’l-hijjah), malam Nahr/Idul Adha (10 Dzu’l-hijjah), dan malam Fitrah (1 Syawwal)”. (HR. Ibnu Asakir)

    Disunatkan pada Hari Raya untuk mengenakan pakaian yang paling baik dari yang dimiliki.

    Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad orang yang dapat dipercaya, bahwa sesungguhnya hari itu disebut hari raya hanyalah karena pada hari itu Allah Swt. mengulangi pemberian kesenangan dan kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya. Atau karena diucapkan kepada orang-orang Mu-min: “Kembalilah kerumah kalian dengan mendapatkan ampunan”. Di dalam hadits yang lain diterangkan, bahwa apabila tiba Hari Raya dan manusia keluar kelapangan (untuk melakukan shalat), maka Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, karena Aku kalian beribadah, dan karena Aku kalian shalat. Pulanglah dengan memperoleh ampunan daripada-Ku!”.

    Wahab bin Munabbih mengatakan, bahwa Allah menciptakan surga pada hari Raya Fithri, menanam pohon Thuba pada hari Raya Fithri, dan memilih Malaikat Jibril sebagai penyalur wahyu juga pada hari Raya Fithri.

    Kata Anas bin Malik ra.: “Orang yang beriman itu mempunyai lima Hari Raya: (1.) Tiap-tiap hari dia berjalan melewati orang yang beriman dan tidak dicatat padanya suatu dosa, maka itu adalah Hari Raya. (2.) Hari dia keluar dari dunia ya’ni mati dengan berbekal iman, syahadat dan benteng dari tipu daya setan, maka hari itu adalah Hari Raya. (3.) Hari dia menyebrang shirathal mustaqim/jembatan dan dia selamat dari resikonya hari Qiyamat serta selamat pula dari tangan para musuhnya dan dari Malaikat Zabaniyah, maka itu adalah Hari Raya. (4.) Hari dia masuk kedalam sorga dan selamat dari neraka Jahim, maka itu adalah Hari Raya. (5.) Hari dia bisa melihat Tuhannya, maka itu adalah Hari Raya. (Abul-Laits)

    Dari Wahab bin Munabbih bahwa dia berkata: “Beliau Nabi Saww. bersabda: “Sesungguhnya Iblis ‘alaihil la’nah itu berteriak pada tiap-tiap Hari Raya, maka para ahlinya/tentaranya sama berkumpul disekelilingnya sambil berkata: “Wahai baginda kami, siapakah yang menjadikan baginda murka, maka sungguh dia akan kami hancurkan!”. Iblis berkata: “Tidak ada sesuatu, akan tetapi Allah Swt. pada hari ini telah mengampuni umat ini. Maka kamu sekalian harus menyibukkan mereka dengan segala macam yang lezat-lezat, dengan syahwat dan dengan minum arak, sehingga Allah murka kepada mereka”. Maka bagi orang yang berakal hendaknya bisa menahan dirinya pada Hari Raya dari pada segala macam nafsu syahwat dan dari semua yang dilarang, bahkan supaya selalu bertaat.

    Oleh karena itu beliau Nabi Saww. bersabda: “Bersungguh-sungguhlah kamu sekalian pada Hari Raya Fithri dengan bersedekah dan amalan yang baik yang bagus daripada shalat, zakat, bertasbih (membaca Subhanallaahi) dan tahlil (membaca Laa Ilaaha Illallaahu), karena sesungguhnya hari ini Allah Swt. mengampuni semua dosa kamu sekalian, mengabulkan do’amu dan melihat kamu sekalian dengan kasih sayang”. (Durratul Waa’izdiina)

    Diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa barangsiapa mengucapkan: “Subhanallaahi Wa Bihamdihi”, pada Hari Raya sebanyak tigaratus kali, lalu dihadiahkan kepada orang-orang Islam yang sudah mati, maka masuk ke dalam setiap kubur seribu cahaya, dan Allah menjadikan untuknya seribu cahaya di dalam kuburnya sendiri apabila dia mati. Dan tidak seorang pun dari orang-orang yang sudah mati melainkan dia mengucapkan pada hari kiyamat: “Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kasihanilah hamba-Mu, dan jadikanlah surga sebagai balasannya”. Lalu Allah Swt. berfirman: “Saksikanlah, sesungguhnya Aku telah mengampuninya”.

    Diperoleh keterangan dalam hadits para sahabat, bahwa barangsiapa memohon ampun kepada Allah Swt. pada Hari Raya sesudah shalat fardhu Shubuh sebanyak seratus kali, maka di dalam buku catatan amalnya tidak ditemukan catatan dosa sedikitpun dan nanti pada hari kiamat berada di bawah ‘Arsy dalam keadaan aman dari siksa Allah Swt.

    Barangsiapa berjalan ke kubur orangtuanya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. mencatat setiap langkahnya sesuatu kebaikan. Barangsiapa memuliakan kedua orangtuannya, maka Allah Swt. memuliakan kepadanya. Barangsiapa menghina Orang fakir, maka Allah Swt. menghinanya besok di hari kiyamat dan tidak melihat kepadanya. Barangsiapa memanggil orang fakir dan memberinya suatu makanan yang disukainya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. akan memberikan kepadanya sebuah kota dari cahaya permata dan yaqut, dan memberinya makanan dari makanan surga. Barangsiapa kembali pulang dari tempat shalatnya menuju rumahnya dengan tenang dan berwibawa, maka Allah Swt. akan memberi kepadanya nanti pada hari kiyamat setiap langkah sepuluh kebaikan. Barangsiapa melakukan perbuatan maksiat pada Hari Raya, maka Allah Swt. memanggil: “Tidakkah engkau malu kepada-Ku, padahal Aku memandang kamu dengan pandangan rahmat dan kasihan, sedang kamu semakin jauh dari-Ku. Bertaubatlah kepada-Ku, wahai hamba-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu, dan Aku jadikan kamu sebagai kekasih-Ku dan kekasih Malaikat-Ku. Barangsiapa memperluas dirinya dan keluarganya (dalam memberikan belanja) pada Hari Raya, maka Allah Swt. memperluas pintu kecukupan padanya dan menutup kefakiran daripadanya”.

    Dari Tsauban berkata, Rasulullah Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu bisittim-min syawwaaliin faka’annamaa shaamad-dahra kullahu. Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu mengikutinya berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah dia berpuasa setahun sempurna”. (HR. Ahmad)

    Di Dalam hadits yang lain Nabi Saww. bersabda: “Shiyaamu syahri ramadhaana bi’asyri ‘asyhurin, wa shiyaamu sittati ayyaamim-bisyahrayni. fadzaa lika shiyaamus-sanati. “Puasa bulan Ramadhan memadai dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari memadai dengan puasa dua bulan, maka puasa yang demikian itu adalah puasa setahun”.

    Dari Ayyub ra. berkata, Nabi Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu sittaamin syawwaalin kaana kashaumid-dahri. Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan puasa enam hari bulan syawwal, maka menyamai puasa selamanya (sepanjang masa)”. (HR. Ahmad dan Muslim)

    Ada yang mengatakan bila berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan maka menyamai puasa 300 Hari dan pada 6 hari bulan Syawwal menyamai 60 hari jadi berjumlah 360 hari (kurang lebih 1 tahun) karena setiap amal itu dilipatkan 10 kali lipat.

    Juga dari Ibn Umar ra. berkata, Nabi Muhammad Saww. bersabda: “Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan enam hari bulan Syawwal, maka keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan ia baru lahir dari perut ibunya“. (HR.At-Thabarani)

    Wahai Saudara-saudariku jadikanlah Idul Fithri tahun ini menjadi Hari Raya yang penuh berkah, rahmat, magfirah serta ridha dari Allah Swt. dengan berdzikir dan berdo’a kepada Allah pada malam (mustajab) Idul Fithri (1 Syawwal), pada sehabis shalat subuh berdzikir Istigfar seratus kali memohon ampun kepada Allah Swt., siangnya sehabis shalat dzuhur atau ashar membaca subhanallaahi wabihamdihi tigaratus kali kita hadiahkan pahalanya kepada muslim dan muslimah, mukmin dan mukminah, pada tanggal 2 Syawwalnya mengerjakan puasa 6 hari (berturut-turut) agar kita tercatat orang yang mengerjakan puasa setahun penuh, dan Insya Allah kita dapat memasuki surga melalui pintu khusus yang bernama Ar-Rayyan (pintu kesegaran) bagi orang-orang yang senang/suka berpuasa karena Allah Swt.

    Wallaahu a’lam bi shawab….

    ***

    Dikutip dari: * Ihya’ Ulumiddin –> Imam Al-Ghazali. * Riyadhus Shalihin –> Imam An-Nawawi. * Durratun Nasihin –> Usman Alkhaibawi. * At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-‘Adawiy * Irsyadul’ibad Ilasabilirrasyad –> H. Salim Bahreisy * Fatawa Rasulullah Saw. –> Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

     
    • Andik 2:13 am on 18 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih

  • erva kurniawan 1:22 am on 17 August 2012 Permalink | Balas  

    Karcis Jannatun Adnin Kholidina Fiiha… 

    Karcis Jannatun Adnin Kholidina Fiiha… 

    “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl (16): 97)

    Inilah jaminan dari Allah SWT bagi orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan yang mengerjakan amal saleh, yang mana akan Allah berikan kepadanya kehidupan yang baik dan juga akan diberikan kepadanya balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan sebagaimana ayat diatas.

    Dalam Islam, dibedakan antara amal saleh (perbuatan baik) dengan perbuatan jahat. Dalam hal amal saleh (perbuatan baik) Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perbuatan terbaik dimata Allah adalah perbuatan baik yang dilakukan terus menerus meski dalam tingkat yang kecil sekalipun.” (HR. Bukhari)

    Dan didalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Kerjakanlah amal saleh semampu kamu karena Allah SWT tidak akan lelah sedikitpun untuk memberi penghargaan atas apa yang kamu lakukan asalkan kamu tidak bosan-bosan melakukannya.” (HR. Bukhari)

    Jadi, sekecil apapun perbuatan baik yang kita lakukan, pasti ada balasannya dari Allah SWT walaupun dengan senyuman sekalipun. Sebab “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yang banyak tertawa dan tersenyum. Begitu juga dengan membuang duri yang ada ditengah jalan, memungut sampah dan membuangnya di tempat samapah dan juga mengucapkan salam kepada orang tuamu, saudaramu, saudara semuslim atau ketika kita mau masuk rumah sekalipun sebagaimana Allah SWT berfirman, “Hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An-Nur (24): 61)

    Sedangkan hukum untuk orang yang menjawab salam adalah, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa :  86)

    Allah SWT juga menganjurkan kepada kita agar berbuat baik kepada kedua orang tua kita dengan sebaik-baiknya, sebagaimana firman-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“.” (QS. Al-Israa (17): 23-24)

    Itulah bentuk-bentuk amal saleh (perbuatan baik) yang bisa dibilang kecil tapi kalau dilakukan terus menerus maka Allah SWT akan memandangnya sebagai perbuatan terbaik. Dan banyak lagi perbuatan baik yang tidak disebutkan disini yang bisa kita lakukan. Dan semuanya akan ada balasannya dari Allah SWT dengan pahalanya dan kita pun akan melihatnya.

     “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah (99): 7)

    Tidak semua amal saleh (perbuatan baik) akan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala-Nya atau dengan surga-Nya. Sebab, orang yang tidak berimanpun (yaitu, orang yang tidak mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya), bisa juga melakukan amal saleh, malahan bisa jadi akan lebih baik dari kita sebagai orang yang beriman. Tapi Allah telah menetapkan, hanya orang-orang yang beriman saja yang akan Allah balas dengan pahala-Nya dan surga-Nya sebagaimana firman-Nya,

    Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisaa” (4): 124)

     “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah (2): 277)

    Dan banyak lagi firman Allah SWT yang senada yang menerangkan bahwa, “Orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah (2): 82)

    Dan, malang bagi orang yang berbuat jahat. Sebab, kejahatan yang dilakukannya akan dipikulnya sendiri sebagaimana firman-Nya, “Dan barangsiapa yang memberikan syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa” (4): 85)

    Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. An-Naml (27): 90)

    Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang beriman dan selalu melakukan amal saleh, sehingga Allah SWT pun memasukan kita kepada golongan “Orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 14 August 2012 Permalink | Balas  

    Cerdas Menuju Sholeh 

    Cerdas Menuju Sholeh

    Fir’aun? Setiap zaman mengenang nama ini. Bukan nama yang indah tetapi sangat popular. Al-Qur’an menyebutnya sebanyak 74 kali. Semua lekat dengan kebengisan, kekejaman, tirani, kecongkakan dan sederet label jahat lainnya. Gambaran kekerdilan di balik nama besar fir’aun baru telah menjadi sebuah nama manis untuk didengar.

    Walaupun seluruh jagad mencela, menghina, bahkan melaknat nama ini, akan tetapi fir’aun-fir’aun baru tetap muncul kehadapan. Dengan berbagai tameng, fir’aun baru berpangkat tinggi tetap saja hadir dengan tipu daya yang lebih dahsyat. Prakteknya tidak lagi dengan menggunakan pedang, cambuk, dan alat-alat yang menyiksa lainnya. Tapi menggunakan tipu daya ekonomi dengan memiskinkan rakyat.

    Banyak hak rakyat di rebut dan di curi. Hukum menjadi jaminan bagi para fir’aun untuk menutupi diri. Sehingga rakyat tetap saja di buat percaya dan bergantung pada pribadi seperti itu. Apakah pribadi fir’aun ini yang disebut cerdas?

    Apakah cerdas itu?

    Apakah cerdas adalah orang yang hidupnya bergelimpang harta, kemana-mana dengan membawa puncak dunia berupa rumah megah dan mobil mewah, yang malah membuat ia terhina. Pikirkanlah? Saat ini begitu banyak orang kaya, tetapi para tetangga bahkan saudara mereka hidup dalam kesulitan. Orang-orang kaya tersebut malah menutup mata dan telinga seolah tidak pernah melihat dan mendengar jeritan rakyat jelata yang butuh perhatian dan bantuan.

    Apakah hati mereka telah tertutup? Atau karena tidak pernah mendengar teguran Rasulullah saw “Barang siapa tidak menaruh perhatian terhadap masalah kaum muslimin, bukan dari golongan mereka.” (Al Hadits).

    Apakah cerdas itu?

    Apakah cerdas adalah yang terkenal, namanya familiar ditengah masyarakat, orang yang sering berbicara, baik itu di mimbar atau tampil dilayar kaca? Tengoklah? Banyak manusia abad ini yang pintar berkata, beragumen, dan beretorika, mudah menipu lewat keindahan berbicara dan rupa, tetapi tidak segan-segan memakan dan menelan mangsa dengan kata indah dan wajah rupawan itu.

    Tengoklah para elit politik yang rajin dan pintar mengeluarkan kata-kata indah saat berkampanye, tetapi yang sebenarnya adalah bisa untuk membunuh saudaranya. Apakah ini yang disebut cerdas?

    Lalu apakah cerdas itu?

    Dalam sebuah riwayat dari Syadad bin Aus ra. Dari Rasulullah saw, beliau bersabda “Orang yang berakal adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Orang yang kurang perhitungan adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan bahwa Allah selalu mengampuni dan memaafkannya”.

    Dalam riwayat lain dikatakan, “Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian”. (HR. Tirmidzi)

    Hadits diatas mengingatkan manusia tentang kepintaran dan kecerdasan hakiki yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan di akhirat. Orang pintar dan cerdas adalah orang yang bersiap-siap mengumpulkan bekal untuk suatu masa setelah kematian. Orang itulah yang Rasulullah saw sebut dengan al-kais. Al-Kais adalah orang yang berfikir jauh kedepan untuk masa depan kehidupannya, bahkan untuk kehidupan yang kekal dan abadi. Orang pintar seperti yang disebut Rasulullah saw tidak terpancing untuk melakukan pekerjaan atau perbuatan yang hanya memberikan dampak pendek, apalagi yang tidak berdampak apa-apa atau merugikan.

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang menjadikan Allah sebagai pengawas terhadap ilmu. Kita memuji Allah swt yang telah memuliakan dan menjadikan kita sebagai penuntut ilmu, kemudian kita memohon kepada Allah swt agar senantiasa membukakan pintu-pintu-Nya bagi kita. Dan pintu paling agung yang dibukakan Allah swt kepada kita adalah Dia menjadikan kita sebagai hamba-Nya.

    Banyak manusia menyia-nyiakan Allah dengan perbuatan keji dan dosa karena kecintaan yang sangat pada dunia sehingga Allah akan menyia-nyiakan mereka didunia dan diakhirat. Layaknya Fir’aun yang durjana yang menyia-nyiakan Allah, sehingga Allah melenyapkannya didasar lautan.

    Allah swt berfirman, “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan”. (Al-An’am:120).

    Mungkin dosa yang kelihatan, terkadang kita meninggalkannya karena takut kepada pengawasan manusia, namun dosa yang tersembunyi tidak akan ditinggalkan, melainkan karena takut kepada Allah.

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tidak akan dapat kita realisasikan dengan sempurna, kecuali dengan mengkaji sirah (perjalanan hidup) Rasulullah saw dan merenungkan semua peristiwa serta nuansa pendidikan (tarbiyah) yang memperhatikan realita generasi sekarang ini. Dia adalah seorang yang ma’shum (terjamin kesuciannya).

    Allah telah menjadikannya sebagai suri tauladan bagi kita. Dia adalah orang yang jujur, guru yang sejati, dan komandan yang ulung. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hati kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab:21).

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku…

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa menjaga waktu, supaya jangan sampai terbuang dengan sia-sia. Allah swt berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada ilah selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia”. (Al-Mukminun:115-116).

    Dan ingatlah akan sabda Rasulullah berikut, “Kedua kaki seorang hamba itu tidak akan lenyap, sehingga di ditanya tentang empat perkara: Tentang keremajaannya, kemana ia habiskan; tentang hartanya, dari mana dan kemana dia belanjakan; tentang umurnya, untuk apa di habiskan; dan tentang ilmunya apa yang telah dia lakukan dengannya.” (HR. At Tirmidzi)

    Fahamilah, wahai saudaraku..

    Kecerdasan seperti inilah yang mengantarkan kita kepada pribadi yang sholeh. Jika ada akibat, pastilah ada sebab, dan jika ada reaksi, pastilah ada aksi. Sholeh adalah akibat dari pribadi yang cerdas sebagaimana Cerdas merupakan suatu aksi (perbuatan) yang menimbulkan kesholehan. Pancaran pribadi sholeh adalah keimanan. Karena umat yang hidup tanpa iman, bagaikan binatang melata. Madrasah tanpa iman, bagaikan asrama yang rapuh dan hancur. Hati tanpa iman bagaikan seonggok daging bangkai.

    Seorang guru tanpa iman, bagaikan sekujur tubuh yang lumpuh dan tidak dapat bergerak. Buku tanpa iman, tak lebih daripada sekadar lembaran-lembaran yang berbaris. Dan ceramah tanpa iman, bagaikan perkataan tanpa makna. Maka, mulailah hidup cerdas dan raihlah kesholehan hamba yang beriman, wahai saudaraku…

    Wallahu ‘alam bish showab

    ***

    Oleh : Bobi Hendra, SE. (Penulis adalah mantan Ka. SKI-IT BEM FE Trisakti periode 2004/2005)

    Hudzaifah.org

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 13 August 2012 Permalink | Balas  

    Hadis Muthahharah 

    Hadis Muthahharah

    Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat. Maka baginda S.A.W telah berkata kepadanya Tanyalah apa yang engkau kehendaki :

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang alim. Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang paling kaya. Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri engkau maka engkau akan jadi orang paling kaya

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang adil. Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang paling baik. Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang istimewa di sisi Allah. Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan zikrullah nescaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

    Dia berkata : Aku mau disempurnakan imanku. Baginda S.A.W menjawab : Perelokkan akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik). Baginda S.A.W menjawab : Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan jika engkau tidak merasa begitu sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau maka dengan cara ini engkau akan termasuk golongan muhsinin

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang taat. Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajipan yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

    Dia berkata : Aku mau berjumpa Allah dalan keadaan bersih daripada dosa. Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu daripada najis dosa nescaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci daripada dosa

    Dia berkata : Aku mau dihimpun pada hari qiamat di bawah cahaya. Baginda S.A.W menjawab : Jangan menzalimi seseorang maka engkau akan dihitung pada hari qiamat di bawah cahaya

    Dia berkata : Aku mau dikasihi oleh Allah pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain nescaya Allah akan mengasihanimu pada hari qiamat

    Dia berkata : Aku mau dihapuskan segala dosaku. Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan beristighfar nescaya akan dihapuskan( kurangkan ) segala dosamu

    Dia berkata : Aku mau menjadi semulia-mulia manusia. Baginda S.A.W menjawab : Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain nescaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi segagah-gagah manusia. Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa menyerah diri (tawakkal) kepada Allah nescaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

    Dia berkata : Aku mau dimurahkan rezeki oleh Allah. Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadas ) nescaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya. Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

    Dia berkata : Aku mau diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain nescaya engkau akan terselamat daripada kemurkaan Allah dan rasulNya

    Dia berkata : Aku mau diterima segala permohonanku. Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram nescaya segala permohonanmu akan diterimaNya

    Dia berkata : Aku mau agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Tutuplah keburukan orang lain nescaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

    Dia berkata : Siapa yang terselamat daripada dosa? Baginda S.A.W menjawab : Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan,mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

    Dia berkata : Apakah sebesar-besar kebaikan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian ( bala )

    Dia berkata : Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

    Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ? Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi ( tidak diketahui ) dan menghubungkan kasih sayang

    Dia berkata: Apakah yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat? Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 11 August 2012 Permalink | Balas  

    Tujuan Pernikahan Dalam Al Quran 

    Akad Nikah Erva Kurniawan dan Titik Rahayuningsih 28 Juni 2008

    Tujuan Pernikahan Dalam Al Quran

    Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Nur: 32).

    Anjuran melaksanakan nikah dalam Al-Qur’an mengandung beberapa tujuan baik tujuan yang bersifat pisik maupun yang bersifat moral. Tujuan yang bersifat pisik adalah untuk menyalurkan hasrat biologis terhadap lawan jenis dan juga mengembangkan keturunan sebagai pelanjut tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

    Adapun tujuan moral dari pernikahan adalah untuk melakukan pengabdian kepada Tuhan dengan sebaik-baiknya dan dengan pengabdian ini akan diharapkan adanya intervensi dalam kehidupan berkeluarga yang akhirnya akan melahirkan generasi-generasi yang taat dan shalih.

    Sakralnya tujuan yang terkandung dalam pernikahan menunjukkan bahwa pernikahan bukanlah sekadar uji coba yang bilamana tidak mampu melanjutkannya dapat diberhentikan dengan seketika yang seolah-olah perceraian adalah sesuatu yang lumrah. Banyaknya terdapat persefsi yang seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang bahwa perniakhan hanya merupakan persoalan biologis semata.

    Berdasarkan tujuan inilah maka menghadapi pernikahan harus dilakukan dengan kematangan baik kematangan dari segi material terlebih lagi dari segi moral. Dengan kata lain mendapatkan kedewasaan sebelum menikah lebih baik daripada mendapatkannya sesudah menikah.

    Urgensi kematangan sebelum menikah ditandai dengan proses-proses yang harus dilalui secara berurutan seperti meresek, menanya, meminang, nikah gantung dan nikah sebenarnya. Hal ini dilakukan supaya calon suami-isteri benar-benar matang dalam mengayuhkan rumah tangganya karena proses-proses yang disebutkan tadi masih memberikan peluang untuk mengundurkan diri dari pernikahan sebelum sampai kepada pernikahan yang sebenarnya karena pengunduran diri (cerai) pasca pernikahan yang sebenarnya dapat menimbulkan korban beberapa pihak seperti keluarga dan anak-anak.

    Anjuran pernikahan dalam Al-Qur’an adalah anjuran yang penuh dengan persyaratan sehingga tujuan-tujuan dari pernikahan disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an sekalipun sifatnya masih global. Tujuan-tujuan pernikahan inilah yang seharusnya dijadikan bahan evaluasi baik oleh orang tua calon maupun para calon itu sendiri untuk menentukan kadar kemampuannya dalam menghadapi pernikahan. Nampaknya tujuan-tujuan inilah yang mendasari para orang tua dahulu membuat semacam proses untuk sampai kepada pernikahan yang sebenarnya agar tujuan-tujuan dimaksud dapat direalisasikan dalam rumah tangga.

    Adapun mengenai faktor biologis maka Nabi Muhammad memberikan solusi alternatif yaitu dengan melaksanakan puasa bagi yang tidak punya kemampuan untuk meredamnya. Sebaliknya Nabi Muhammad mengecam orang-orang yang punya kemampuan dalam berbagai aspek untuk menikah tapi tidak melaksanakannya dianggap sebagai orang yang anti terhadap sunnahnya. Berdasarkan hal maka pihak ketiga harus pula berperan aktif untuk mencarikan jodoh bagi orang-orang yang sangat sulit untuk mendapatkannya.

    Tujuan Pernikahan

    Tujuan-tujuan pernikahan sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah untuk mendapatkan surga dan ampunan Tuhan, untuk menjalankan hukum-hukum Tuhan dan mendapatkan karunia Tuhan (lihat Q.S. 2: 221, 230, Q.S. 24: 320). Adapun tujuan-tujuan yang lain seperti mengembangkan keturunan dan menyalurkan kebutuhan biologis adalah tujuan yang paling asasi dan sekiranya Al-Qur’an tidak menyebutkannya maka dipastikan bahwa tujuan yang seperti ini sudah lumrah berlaku.

    Tujuan dari pernikahan adalah untuk mendapatkan surga dan keampunan Tuhan sekalipun pernyataan ini tidak secara langsung ditegaskan dalam Al-Qur’an. Larangan Al-Qur’an menikah dengan orang-orang musyrik -walaupun mereka mengagumkan dalam berbagai aspek- didasarkan kepada kekhawatiran bahwa mereka akan menarik pasangannya yang mukmin ke neraka sedangkan Allah mengajak kepada surga dan keampunan.

    Ayat ini dapat dipahami bahwa menikah dengan orang-orang musyrik tidak direstui oleh Allah sedangkan menikah dengan orang-orang mukmin sudah pasti diridhai-Nya. Oleh karena itu menikahi orang-orang yang diridhai oleh Allah adalah merupakan aturan yang wajib diindahkan sehingga implikasi yang akan diperoleh ialah mendapatkan surga dan keampunan.

    Tujuan pernikahan selanjutnya adalah untuk menegakkan hukum-hukum Allah karena lebih efektif menegakkannya dengan berteman daripada sendirian. Berdasarkan tujuan ini maka keberadaan teman menikah adalah merupakan mitra dialog yang saling memberikan kontribusi kepada masing-masing pihak dalam berbagai urusan termasuk dalam urusan menegakkan hukum-hukum Allah.

    Menegakkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama suami isteri dan masing-masing pihak seyogianya memberikan kontrol terhadap pasangan masing-masing. Oleh karena itu salah satu pihak dianggap zhalim bilamana mendiamkan pasangannya melanggar ketentuan-ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah.

    Tujuan berikutnya dari suatu pernikahan adalah untuk mencari karunia Allah yaitu berupa rezeki yang halal karena rezeki yang tidak halal tidak termasuk karunia Allah dan pengertian karunia disini dengan rezeki dapat dipahami dengan adanya kalimat fakir (fuqara’) dan kalimat kaya (yughni). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa suami isteri tidak boleh bermalas-malasan mencari rezeki karena rezeki adalah salah satu penopang kehidupan keluarga. Kata karunia dalam redaksi ini dapat dipahami bahwa pencarian rezeki harus didasari kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku dan karenanya masing-masing pihak harus selektif agar mendapatkan rezeki yang direstui oleh Allah. Urgensi pencarian rezeki yang halal dan baik akan berimplikasi kepada jiwa dan mental anak sehingga baik tidaknya seorang anak sangat ditentukan oleh nilai hukum rezeki yang diberikan.

    Tujuan-tujuan dar pernikahan inilah yang seharusnya dipegang teguh secara konsisten oleh pasangan masing-masing sehingga keegoisan dalam mempertahankan dan menerima pendapat serta pemaksaan kehendak tidak seharusnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

    Ide-ide yang muncul dari pihak suami atau isteri harus dipikirkan secara rasional tidak dengan emosional dan oleh karena itu setiap ide yang muncul perlu didiskusikan agar memiliki tujuan yang jelas agar pihak lain tidak merasa terpaksa menerimanya dan hal ini adalah merupakan gambaran rumah tangga yang demokratis.

    Penutup

    Tujuan-tujuan yang terdapat dalam pernikahan sebagaimana yang telah digambarkan oleh Al-Qur’an menunjukkan bahwa perlunya kematangan dan kesiapan mental bagi yang ingin melaksanakan pernikahan.Kematangan dan persiapan menunjukkan bahwa pernikahan yang dilakukan berada pada tataran yang sangat serius yang tidak hanya memperhatikan aspek biologis akan tetapi tak kalah pentingnya ialah memperhatikan aspek psikologi dan dengan berdasarkan inilah diduga kuat bahwa pernikahan dimasukkan ke dalam kategori ibadah.

    ***

    Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag

    Dosen Fak. Tarbiyah IAIN-SU, Pengurus El-Misyka Circle

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 9 August 2012 Permalink | Balas  

    Dalam Shalat, Haruskah Ingat Allah Saja? 

    Dalam Shalat, Haruskah Ingat Allah Saja?

    Apa tujuan shalat? Allah SWT telah menunjukkannya kepada kita: “… dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS [20]: 14)

    Lantas, apakah di dalam shalat, sebaiknya hati kita kosong dari segala sesuatu kecuali Allah? Ketika kita bershalat, mestikah kita hilangkan semua pikiran selain Allah? Di dalamnya, haruskah kita abaikan masalah yang sedang kita hadapi?

    Terhadap tiga pertanyaan tersebut, ada banyak buku mengenai cara shalat khusyuk yang menjawab: “Ya, ya, ya.” Di antara mereka, ada yang menceritakan seseorang yang begitu “khusyuk” bershalat, sehingga ketika tiang masjid tempat shalatnya rubuh, ia diam saja dan terus bershalat sebagaimana biasanya. Mereka pun mengabarkan adanya seseorang yang terus saja bershalat, padahal lantai gedung tingkat dua sedang terbakar. “Bahkan ketika banyak orang berteriak memanggilnya, orang itu tetap dalam shalatnya.”

    Akan tetapi, saya tidak setuju dengan cara shalat seperti itu. Jawaban saya: “Tidak, tidak, tidak!” Saya khawatir, orang yang bershalat seperti itu terlalu khusyuk, sedangkan segala yang berlebihan bukanlah kebaikan lagi. Berikut ini sebagian dari alasan saya.

    Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya bila aku bershalat dan bermaksud memperpanjangnya lalu kudengar suara tangisan anak, maka kupercepat shalatku karena aku menyadari bahwa ibunya pasti terganggu oleh tangisan anaknya itu.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

    Ini jelas menunjukkan, hati beliau tidak kosong dari segala sesuatu (selain Allah). Di dalam shalat pun, Nabi saw. menaruh perhatian besar pada lingkungan.

    Umar r.a. berkata, “Sesungguhnya aku merencanakan penyiapan pasukanku ketika aku sedang bershalat.” (HR Bukhari)

    Ini jelas menunjukkan, kita tidak harus menghilangkan semua pikiran (selain Allah). Di dalam shalat pun, ada kalanya kita sebaiknya memikirkan masalah yang sedang kita hadapi.

    Kalau begitu, apakah Anda saya anjurkan melupakan tujuan shalat (yaitu “untuk mengingat Allah”)? Juga tidak! Alih-kita, sebaiknya kita mengingat Allah dan sekaligus memikirkan atau merasakan masalah yang sedang kita hadapi. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. [Satu untuk-Ku, satu untuknya.] Dan hamba-Ku berhak mendapatkan apa yang ia minta.” (HR Muslim)

    Atas dasar itu, di dalam shalat sebaiknya kita kaitkan kebutuhan kita dengan satu atau beberapa sifat Allah yang tercakup dalam Asmaul Husna.

    Umpamanya, tatkala kita bershalat dalam keadaan merasa tak berdaya lantaran “terlanda badai setinggi gunung” (tertimpa musibah, bangkrut, terjangkit penyakit berat dan tak kunjung sembuh, dsb.), kita bisa mengingat-ingat bahwa Allah itu Maha Penolong (al-Waliyy).

    Di dalam shalat itu, bacaan Al-Qur’annya pun bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan shalat kita. Salah satu contohnya adalah seperti yang disarankan oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam artikel “Kiat Salat Khusyu”:

    Pilihlah surat yang paling dimengerti dan yang berkaitan dengan kebutuhan kita, karena ini pun akan membantu kita lebih khusyu. Misalnya surat Al-Baqarah ayat terakhir atau surat al-Insyirah bisa dibaca ketika kita sedang menghadapi ujian karena isi surat tersebut harapan dan doa agar tidak diberi musibah yang berat serta keyakinan akan datangnya pertolongan Allah sesudah kesulitan.

    Dengan membaca surat yang sesuai dengan kebutuhan kita, bukankah kita menjadi tidak semata-mata mengingat Allah, tetapi sekaligus mengaitkannya dengan masalah yang sedang kita hadapi?

    ***

    M. Shodiq Mustika

    Penulis Buku Islami

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 9 August 2012 Permalink | Balas  

    Menyambut Ramadhan: Sambutlah dengan Kegembiraan 

    Menyambut Ramadhan: Sambutlah dengan Kegembiraan

    Sebentar lagi tamu kita yang mulia bulan Ramadhan akan segera tiba. Kita semua sibuk ‎mempersiapkan diri menyambut bulan yang penuh berkah tersebut. Mempersiapkan diri ‎menyambut Ramadhan dengan baik-baik adalah amalan yang sangat mulia. Para ulama ‎sholeh terdahulu senantiasa mengkonsentrasikan diri menyambut Ramadhan dengan ‎penuh keseriusan. Rasulullah s.a.w. pernah berpesan kepada umatnya :”Akan segera ‎datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah s.w.t. ‎bersama kalian pada bulan itu, maka diturunkanlah rahmat, diampuni dosa-dosa dan ‎dikabulkan do’a dan permintaan. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam kebaikan, ‎lalu diikutkan bersama kalian malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah ‎kebaikan diri kalian, sesungguhnya orang yang rugi adalah mereka yang tidak ‎mendapatkan rahmat Allah”. Dalam al-Quran juga ditegaskan : “Demikianlah (perintah ‎Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu dari ‎ketakwaan hati. ‎

    Berikut ini adalah sebagian sikap-sikap terpuji yang dilakukan para ulama sholeh ‎terdahulu dalam menyambut bulan suci Ramadhan:‎ ‎

    1. Dengan kegembiraan dan kebahagiaan.‎

    Mereka selalu berharap datangnya Ramadhan dan ingin segera menyambutnya dengan ‎kegembiraan dan kebahagiaan. Yahya bin Abi Katsir meriwayatkan bahwa orang-orang ‎salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:”Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke ‎Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai ‎Ramadhan”. Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi mereka, ‎karena pada bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak ‎terkira.‎ ‎

    2. Dengan pengetahuan yang dalam.‎

    Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap ‎muslim. Ibadah puasa mempunyai ketentuan dan aturan yang harus dipenuhi agar sah dan ‎sempurna. Sesuatu yang menjadi prasyarat suatu ibadah wajib, maka wajib memenuhinya ‎dan wajib mempelajarinya. Ilmu tentang ketentuan puasa atau yang sering disebut dengan ‎fikih puasa merupakan hal yang wajib dipelajari oleh setiap muslim, minimal tentang hal-‎hal yang menjadi sah dan tidaknya puasa.‎ ‎

    3. Dengan do’a‎

    Bulan Ramadhan selain merupakan bulan karunia dan kenikmatan beribadah, juga ‎merupakan bulan tantangan. Tantangan menahan nafsu untuk perbuatan jahat, tantangan ‎untuk menggapai kemuliaan malam lailatul qadar dan tantangan-tantangan lainnya. ‎Keterbatasan manusia mengharuskannya untuk selalu berdo’a agar optimis melalui bulan ‎Ramadhan.‎ ‎

    4. Dengan tekad dan planning yang matang untuk mengisi Ramadhan

    Niat dan azam adalah bahasa lain dari planning. Orang-orang soleh terdahulu selalu ‎merencanakan pengisian bulan Ramadhan dengan cermat dan optimis. Berapa kali dia ‎akanmengkhatamkan membaca al-Quran, berapa kali sholat malam, berapa akan ‎bersedekah dan membari makan orang berpuasa, berapa kali kita menghadiri pengajian ‎dan membaca buku agama. Itulah planning yang benar mengisi Ramadhan, bukan hanya ‎sekedar memplaning menu makan dan pakaian kita untuk Ramadhan. Begitu juga selama ‎Ramadhan kita bertekad untuk bisa meraih taubatun-nasuuha, tobat yang meluruskan. ‎Wallahu a’lam

    ***

    Disusun oleh M. Niam

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 8 August 2012 Permalink | Balas  

    Usia yang Bermanfaat 

    Usia yang Bermanfaat

    “Terkadang usia panjang masanya, tetapi sedikit manfaatnya. Terkadang usia itu pendek masanya, akan tetapi banyak manfaatnya.”

    Ada pepatah yang berbunyi, jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa. Benar apabila manusia suka bepergian, ia akan banyak memperoleh pengalaman, pemandangan dan penghayatan. Apabila panjang usianya dan lama hidupnya, berarti ia telah menikmati senang dan susahnya hidup pahit, dan manisnya perlajanan. Semua perjalanan hidup manusia akan memberi makna tersendiri baginya. Ia barulah berarti apabila usia yang ditempuh dalam hidupnya memberi manfaat baginya.

    Usia itu sebenarnya bukan karena panjang atau pendeknya, akan tetapi manfaat dan mudaratnya. Sebagus bagus usia ialah usia yang banyak manfaatnya bagi manusia. Rosulullah Saw bersabda, “Sebaik baik manusia ialah orang yang panjang umurnya, dan bagus amalnya, dan sejelek jelek manusia, adalah orang yang panjang umurnya akan tetapi rusak amalnya.”

    Syekh Ahmad Ataillah (pengarang kitab Al-Hikam) menegaskan pula :

    “Siapa yang diberkati umurnya, dalam masa singkat dari usianya, ia akan mencapai karunia Allah, yang tidak dapat dihitung dengan kata kata, dan tak dapat dikejar dengan isyarat.”

    Yang dicari oleh seorang muslim yang sholeh adalah barokahnya usia. Yang dimaksud usia ber-barokah adalah usia yang selalu membawa dan mengajak kepada kemanfaatan dunia dan akhirat. Umur yang barokah ini, selalu diberi kesempatan oleh Allah menjalankan kebaikan kebaikan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Sebab, apabila umur itu mendapat barokah, tidak ada waktu yang tersia sia dalam hidup seorang hamba.

    Hamba yang umurnya ber-barokah, ia selalu berada dalam situasi yang sempat akan tetapi bergegas gegas. Sempat artinya selalu ada peluang, bergegas gegas artinya cepat diamalkannya. Sehingga tidak terasa olehnya usia yang dianugerahkan kepadanya, waktunya sangat singkat sebab kesempatan kesempatan beribadah yang diberkati Allah kepadanya tidak mencukupi. Ia bergegas gegas, agar waktu yang singkat itu, tidak hilang begitu saja karena cepatnya perjalan usia.

    Dengan demikian, maka usia yang panjang atau usia yang pendek, akan memberi arti yang berguna bagi manusia, apabila dipergunakan untuk mendapatkan ridho Allah. Seperti yang diucapkan oleh Abu Abbas Al Mursy : “Alhamdulillah semua waktu waktu kami merupakan lailatul-qodar, artinya semua waktu diisi dengan amal yang bermanfaat. E Jangan sampai waktu yang didapatkan dari usia, hanyalah ibarat air yang disiramkan ke atas pasir yang panas. Airnya menguap, pasirnya tidak basah. Usia yang hilang begitu saja dari waktu yang dilalui, akan mengecewakan si pemilik usia itu sendiri pada hari kiamat. Sebab waktu waktu yang dianugerahkan kepada manusia dinamakan bermanfaat dan barokah apabila dipergunakan untuk memperbanyak amal ibadah, memohon ampun atas bermacam macam kesalahan dan dosa, serta bertobat dengan taubatan nasuha. Syekh Ahmad Ataillah mengatakan :

    “Kekecewaan dari semua kekecewaan, adalah ketika kalian berkesempatan, kalian tidak menghadap kepada Allah, karena sedang ada sedikit halangan, kalian tidak juga mendatangi Allah.”

    Ungkapan Syekh Ataillah ini mengingatkan kita, jangan sampai kesempatan dari usia, di waktu lapang ataupun sempit, hendaklah pandai pandai dimanfaatkan untuk Allah dan datang menghadap memohon hidayah dan inayah, memohon ampun serta bertobat*. *“Bergegas gegaslah kamu dalam keadaan ringan ataupun berat” (QS.At-Taubah :41)

    Perjalanan yang panjang telah ditempuh manusia di alam dunia ini. Banyak yang dialami oleh anak Adam dalam masalah duniawiyah, namun pengalaman hidup itu barulah berarti bagi hidup dunia dan akhirat, apabila dipersembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya, dan untuk ‘izzul Islam dan Muslimin.

    Memang kadang kadang manusia tidak mempergunakan kesempatan, atau kesempatan yang ada disia siakan, sehingga kesempatan yang tersedia, hilang begitu saja. Kesempatan yang dimaksud ialah kesempatan datang menghadap Allah dalam ibadah rutin, atau kesempatan mengerjakan ibadah sunah lainnya, yang sebenarnya tersedia, akan tetapi, manusia lalai dengan alasan kesibukan duniawi, atau kesibukan perjuangan. Alasan alasan seperti itu sebenarnya tidak perlu dikemukakan, karena Allah Ta’ala Maha Tahu tentang kemalasan dan keengganan diri kita. Allah Ta’ala lebih tahu bahwa manusia lebih mementingkan dirinya sendiri, hawa nafsunya sendiri, dari pada ingin mendapatkan ridho Allah dengan pertemuan pertemuan tertentu dengan Allah dalam bentuk ibadah.

    Memang merupakan suatu kekecewaan kelak di akhirat, di waktu seorang hamba menghadap Allah Swt. Manusia waktu itu datang menerima apa yang telah ia kerjakan di dunia. Masing masing datang dengan buah amal ibadahnya. Akan tetapi ada diantara manusia hadir di mahkamah Allah Swt dengan hati kecewa. Karena ia melihat orang lain datang kepada Allah dengan hati gembira menunjukkan amal ibadahnya yang wajib dan sunah yang sangat banyak, sedangkan ia datang dengan amal ibadah yang minim, yang tidak mampu melepaskan dirinya dari adzab Allah. Atau amal ibadahnya pas pasan saja.

    Ia kecewa, akan tetapi kekecewaan itu sudah tidak dapat ditebus lagi. Waktu itu kesibukan dunia yang dikerjakannya tidak mampu menambah amal ibadahnya. Harta dan segala macam yang diperolehnya dalam kesibukan dunia, tidak ada satupun yang memberi nilai tambah bagi kebahagiaan akhirat yang sudah habis di depannya. Seperti diterangkan Allah Ta’ala dalam firmannya, “Pada hari itu tidak ada gunanya harta dan anak anak, kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang damai.”(QS. Asy-syu’ara : 89).

    Bagi hamba Allah yang benar benar tunduk dan patuh kepada-Nya dalam segala hal, ia dalam hidupnya tidak menyia nyiakan waktu yang dianugerahkan Allah untuk datang kepada-Nya dalam waktu waktu yang ditentukan, atau melaksanakan ibadah ibadah sunah tanpa batas waktu dan sepanjang saat.

    Agar seseorang hamba tidak tersia sia di akhirat, dan kecewa di hadapan Allah, memanfaatkan saat saat kesempatan adalah sangat menguntungkan dan utama.

    ***

    Narasumber :“Mutumanikam dari kitab Al-….

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 7 August 2012 Permalink | Balas  

    Memohon Dari Apa Yang Diperintah 

    Memohon Dari Apa Yang Diperintah

    “Sebagus bagusnya permohonan yang patut disampaikan kepada Allah, ialah semua yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan.”

    Jika ada yang patut diminta kepada Allah sebagai hamba, maka yang paling patut ialah mengharapkan kepada Allah agar meneguhkan iman dan keyakinan dengan kemantapan hati yang sungguh sungguh (istiqomah) kepada ajaran Islam dengan persembahan ibadah. Itulah yang paling bagus dan paling bergengsi bagi hamba yang memohon kepada Allah. Permohonan (istiqomah) dalam Islam itu sudah termasuk kepentingan dunia dan akhirat. Anda lebih baik meminta kepada Allah hal hal yang dituntut untuk dikerjakan oleh hamba, seperti khusu dalam sholat, atau termasuk perintah jihad dalam Islam, baik yang berkenaan kepentingan dunia maupun akhirat, dari pada meminta sesuatu yang disenangi, akan tetapi Allah Ta’ala tidak menyukainya.

    Memohon kepada Allah adalah harapan seorang hamba dalam bentuk doa dan usaha yang sesuai dengan perintah Allah dan sunah Nabi Muhammad Saw. Adalah sangat baik, apabila seorang hamba memohon kepada Allah, agar selalu mentaati-Nya, melaksanakan ibadah tanpa halangan, agar Allah memudahkan segala yang berkaitan dengan urusan Islam dan umat Islam. Demikian juga memohon kepada Allah agar terlepas dari tidak tergelincir kepada perbuatan maksiat dan dosa, serta diberi kekuatan untuk melaksanakan semua ketaatan. Memohon pula agar selalu dalam keadaan zikir dan senantiasa berada dalam suasana tenteram dalam mengingat Allah Ta’ala.

    ***

    Narasumber : Mutumanikam dari kitab “Al-Hikam”

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 6 August 2012 Permalink | Balas  

    Tingkatan Puasa 

    Tingkatan Puasa

    Konsep Tazkiyatun Nafs (Membersihkan Jiwa) dari Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, ada 3 tingkatan Puasa :

    1. Puasanya orang Awam

    2. Puasanya orang Khusus

    3. Puasanya orang Super Khusus.

    Puasa orang awam

    Puasanya orang awam adalah puasa yang hanya menahan perut (dari makan dan minum) dan kemaluan dari memperturutkan Syahwat.

    Puasa orang khusus

    Yaitu puasanya orang-orang sholeh yang selain menahan perut dan kemaluan juga menahan semua anggota badan dari berbagai dosa, kesempurnaannya ada 6 perkara.

    1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang hal yang dicela dan dibenci, kesetiap hal yang dapat menyibukkan diri dari mengingat Allah SWT.
    2. Menjaga lisan dari membual, dusta, ghibah, perkataan kasar, pertengkaran, perdebatan dan mengendalikannya dengan diam, menyibukkan dengan dzikrullah dan membaca Al qur’an
    3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap hal yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarnya.
    4. Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa seperti tangan, kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari memakan makanan yang subhat pada saat tidak puasa (berbuka ).
    5. Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka sampai penuh perutnya, karena tidak ada wadah yang dibenci oleh Allah kecuali perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat jika orang yang berpuasa pada saat berbuka melahap berbagi makanan sebagai pengganti makanan yang tidak dibolehkan memakannya pada siang hari. Bahkan menjadi tradisi menyimpan dan mengumpulkan makanan sebagai persiapan pada saat berbuka padahal makanan yang tersimpan itu melebihi kapasitas perut kita bahkan mungkin bisa untuk makanan 1 minggu, astaghfirullah Hal Adhim.
    6. Hendaklah hatinya dalam keadaan “Tergantung” dan “Terguncang” antara cemas dan harap karena tidak tahu apakah puasanya diterima dan termasuk golongan yang Muqorrobin atau ditolak sehingga termasuk orang yang dimurkai oleh Allah SWT. Hendaklah hatinya selalu dalam keadaan demikian setiap selesai melakukan kebaikan.

    Puasa orang Super Khusus

    Yaitu puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran2 yang tidak berharga, juga menjaga hati dari selain Allah secara total. Puasa ini akan menjadi “Batal” karena pikiran selain Allah ( pikiran tentang dunia ).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 5 August 2012 Permalink | Balas  

    Hamba Jelek Yang Berdoa 

    Hamba Jelek Yang Berdoa    

    Bismillaahirohmaanirrohiim.

    Di dalam Alqur’an surah Al Qodar ayat 1-5 Alloh berfirman: Sesungguhnya kami telah menurunkannya (alqur’an) pada malam kemuliaan (1). dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2). malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan (3). pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4). malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5)”.

    Jika dihitung perjalanan waktu qomariah atas kejadian malam kemuliaan (lailatul qodar), maka definisi malam itu sejak matahari terlihat tenggelam dari horizon bumi hingga matahari terlihat muncul/terbit fajar.

    Kita/umat islam yang benar pasti mengerjakan ibadah puasa dengan kewajiban berikut:

    1. Berbuka puasa
    2. Sholat maghrib
    3. Sholat isya
    4. Sholat subuh

    Jika ditambah ibadah yang sunah-sunah, misalnya:

    1. berdo’a sebelum berbuka puasa
    2. makan dan minum dengan tangan kanan
    3. berdo’a setelah makan/minum
    4. berdoa hendak wudhu
    5. berwudhu
    6. berdo’a setelah berwudhu
    7. berdo’a keluar rumah dan atau naik sepeda/motor/mobil ke mesjid
    8. berdo’a masuk masjid
    9. solat sunah tahiyatul masjid
    10. iktikaf meski hanya sesaat
    11. sholat sunah ba’diyah magrib
    12. berdo’a keluar masjid
    13. berdo’a keluar masjid jalan/naik sepeda/motor/mobil menuju rumah
    14. bercengkerama dengan anak istri sambil “mengajar”
    15. berdoa hendak wudhu untuk sholat isya’ (atau utk senantiasa jaga wudhu)
    16. berwudhu
    17. berdo’a setelah berwudhu
    18. berdo’a keluar rumah dan atau naik sepeda/motor/mobil ke mesjid
    19. berdo’a masuk masjid
    20. solat sunah tahiyatul masjid
    21. sholat sunah qobliyah isya’
    22. iktikaf meski hanya sesaat
    23. sholat sunah ba’diyah isya’
    24. mendengar ceramah/menuntut ilmu
    25. sholat tarawih dan witir dan dzikir
    26. berdo’a keluar masjid
    27. berdo’a naik sepeda/motor/mobil keluar dari mesjid
    28. tidur dengan adab nabi/doa
    29. sahur, sodaqoh, dan amalan-amalan sunah lainnya hingga terbit fajar.

    Ibadah-ibadah (wajib dan sunah) tersebut dilaksanakan dalam rentang “lailatul qodr”. Jadi, ya Alloh hambamu yang dhoif memohon, insya Alloh seluruh orang Islam yang menjalankan aturan Alloh dengan ikhlas akan mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

    Rosululloh saw memberikan sinyal bahwa lailatul qodar/malam kemuliaan tersebut akan berada di 10 hari terakhir bulan romadhon. Lagi, ada juga keterangan khususnya di malam ganjil dari 10 romadhon terakhir. Maukah kita mengejar Sebagai metafora

    Kalau ada showroom mobil jual Kijang Inova 2008 harga biasa 187 jt trus ada diskon khusus 90%, pembeli tinggal bayar 18,7jt, pasti saya akan antre mesti 3 bulan walau harus mengikuti berbagai syarat berguling badan /roll di depan show room.

    Malam kemuliaan jelas “diskon spesial” tak terperi dari Alloh (harga 29.500 malam kebaikan, “pembeli” tinggal tukar 1 malam saja…sub haanallooh). Ya Alloh jadikanlah hambamu ini sebagai orang yang bisa mensyukuri nikmat atas diri ini dan atas orang tua saya dan ridhoilah amalan baik hamba yang sedikit, dan baikkanlah anak keturunan saya, saya taubat hanya kepada Engkau, dan saya berserah kepada Engkau.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 4 August 2012 Permalink | Balas  

    Keutamaan beribadah pada Lailatul Qadri. 

    Keutamaan beribadah pada Lailatul Qadri.

    Allah Ta’ala berfirman:”Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an pada malam qadar (kemulian)). Dan tahukah kamu apakah malam kemulian itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadr:1-5)

    Allah Ta’ala berfirman:“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi”. (Ad-Dukhaan:13)

    Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Saww., beliau bersabda:“Barangsiapa beribadah pada malam Qadar dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya beberapa sahabat Nabi Saww. memimpikan Lailatul Qadar pada tujuh malam yang terakhir (dalam bulan Ramadhan), kemudian Rasulullah Saww. bersabda:“Aku perhatikan impianmu itu benar-benar tapat pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa ingin mencapai Lailatul Qadar, maka hendaknya ia bersungguh-sungguh pada malam yang terakhir”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Dari ‘Aisyah ra., ia berkata:”Rasulullah Saww. selalu beri’tikaf pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan ramadhan, serta bersabda:”Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan”.(HR.Bukhari dan Muslim)

    Dari ‘Aisyah ra., ia berkata:“Rasulullah Saww. apabila telah masuk pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, beliau selalu beribadah pada waktu malam serta membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh ibadah dan mengikatkan sarungnya (tidak bersetubuh dengan istrinya)”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Kapankah atau tepatnya Malam Qadar (Lailatul Qadar) itu ?

    Menurut pendapat yang masyhur tentang malam Al-qadar dengan mengutip keterangan dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas dan kebanyakan pendapat ulama’, adalah jatuh pada malam yang keduapuluh tujuh, dengan mengambil dalil dari sabda Nabi Saww.:“Iltamisuu lailatal qadri fii sab-in wa isyriina khalat min syahri ramadhaana. “Carilah malam Al-Qadar pada malam keduapuluh tujuh yang telah berlalu dari bulan Ramadhan”. Yaitu malam yang pada waktu pagi cuacanya sangat cerah, dan yang dengan cuaca itu Allah telah menjayakan agama Islam dan menurunkan Malaikat untuk memberikan pertolongan kepada Kaum Muslimin.

    Keterangan diatas dikuatkan lagi oleh sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Utsman bin Al-‘Ash mempunyai pembantu kecil yang berkata padanya: “Wahai tuan, sesungguhnya aku mendapatkan air laut rasanya tawar pada suatu malam Ramadhan”. Utsman bin Al-‘Ash berkata: “Apabila hal itu terjadi lagi di suatu malam, maka hendaklah kamu memberitahukan kepadaku”. Lalu dia memberitahukan kepadanya, ternyata malam itu adalah malam keduapuluh tujuh dari bulan Ramadhan.

    Keterangan diatas masih dikuatkan lagi oleh penganalisaan sebagian ulama’, yakni bahwa jumlah kalimat yang ada pada surat Al-Qadar adalah tigapuluh kalimat, sejumlah hari pada bulan Ramadhan. Demikian pula lafazh hiya (malam itu) dari kalimat salamun hiya, merupakan bagian kesempurnaan ayat yang keduapuluh tujuh. Dan kalimat yang menunjukkan malam Al-Qadar, pembacaannya adalah dengan diucapkan sekaligus, sekalipun kalimat-kalimat dalam surat Al-Qadar itu mengandung banyak kalimat seperti anzalnahu.

    Menurut analisa yang lain disebutkan, bahwa huruf yang menunjukkan nama lailatu’l-Qadr ada sembilan huruf yaitu: Lam, Ya, Lam, Ta, Hamzah (Alif), Lam, Qaf, Dal, dan Ra. Dan Kalimat Lailatu’l-Qadri dalam surat Al-Qadar diulang sampai tiga kali, jadi 9×3=27.

    Menurut pendapat lain yang dikutip dari keterangan sebagian ahli kasyaf menjelaskan, bahwa malam Al-Qadar itu jatuh pada hari yang bertepatan dengan awal bulan Ramadhan, Hanya saja, pendapat ini tidak dilandasi dengan pegangan apapun, sehingga dimungkinkan pendapat itu tidak terarah.

    Menurut analisa Syaikh Ahmad Zaruq dan lainnya dijelaskan, bahwasanya malam Al-Qadar itu tidak terlepas dari malam Jum’at pada tanggal-tanggal yang gasal/ganjil dari malam-malam yang akhir bulan Ramadhan. Analisa seperti ini juga dikutip dari keterangan Ibnu’l-‘Arabi.

    Didalam kitab tafsir Imam Al-Khatib dikemukakan suatu ketentuan tentang malam Al-Qadar, dengan mengutip penjelasan dari Syaikh Abu’l Hasan Asy-Syadzali, Bahwasanya:

    1. Jika awal Ramadhan pada hari Ahad, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh sembilan.
    2. Jika awal Ramadhan pada hari Senin, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh Satu. kemudian perhitungan seterusnya dilakukan dengan naik dan turun menurut harinya.
    3. Jika awal Ramadhan pada hari Selasa, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh tujuh.
    4. Jika awal Ramadhan pada hari Rabu, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal sembilanbelas.
    5. Jika awal Ramadhan pada hari Kamis, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh lima.
    6. Jika awal Ramadhan pada hari Jum’at, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal tujuhbelas.
    7. Jika awal Ramadhan pada hari Sabtu, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh tiga.

     Apa yang harus kita lakukan pada malam Qadar (Laitul Qadar) itu ?

    Kita memperbanyak shalat, memperbanyak memohon ampun (istigfar) kepada Allah, dzikir atau shalawat kepada Nabi Muhammad Saww. pada malam tersebut.

    Wahai Saudara-saudariku cari Ridha dan Ampunan Allah Swt. pada malam yang penuh dengan keagungan yaitu malam Al-Qadar (Lailatu’l-Qadri) pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, terutama pada malam tanggal 25 Ramadhan dan pada malam tanggal 27 Ramadhan, dengan banyak beribadah kepada Allah Swt., terutama memperbanyak istigfar memohon ampun kepada-Nya dan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saww.

    ***

    Huwallaahu A’lam Bisawab

    Dikutip dari: * Riyadhus Shalihin –> Imam An-Nawawi. * Durratun Nasihin –> Usman Alkhaibawi. * At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-‘Adawiy

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 3 August 2012 Permalink | Balas  

    Manajemen Umur dan Amal 

    Manajemen Umur dan Amal

    Assalaamu ‘alaikum wr wb.

    Marilah kita hayati, kita pikiri, dan kita lakui rumus manajemen yang datang dari Alloh swt di QS Al-Qodr. Rumus turunannya ada di beberapa hadist rasululloh, Muhammad saw sebagai petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK & JUKNIS).

    Mungkin semua muslim dan mukmin sudah hafal betul dengan surat pendek itu. Tapi, benarkah saya telah mengimplementasikan JUKLAK dan JUKNIS manajemen itu? astaghfirulloohal ‘adziim.

    Di setiap 10 hari terakhir dari ramadhan ada 1 malam bernilai = 1000 bulan, masya alloh. Kalau kita berbuat baik, misalnya solat malam dua rokaat saja dalam semalam dan Alloh swt ridho, maka akan diperoleh keuntungan menjadi senilai lebih dari 83 tahun kita melakukannya. Bagaimana dengan tahlil, tahmid, takbir, istighfar yang kita lakukan? Bagaimana dengan solat malam yang lebih? mungkin ada yang 8 + 3 witir rokaat dan mungkin ada yang 20 + 3 witir rokaat, ada yang menjamu saur untuk para peserta i’tikaf? Can we Imagine? This miracle has given to Muhammad saw and his followers only.

    Mari kita berusaha semaksimal kita bisa untuk mendapatkan keuntungan tersebut. Kalau hanya minimal, seluruh mukmin dan mukminat insya Alloh, Alloh akan memberikannya. (saya tidak hendak berseberangan dengan pandangan bahwa lailatul qodar itu hanya terjadi pada waktu “dulu” ketika al qur’an diturunkan secara serentak dari lauhul mahfudz ke langit bumi).

    Mari kita sama-sama menggapai jamuan Alloh swt yang luar biasa ini. Laa haula walaa quwwata illa billaah. Allohumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna ya kariim.

    Salam hormat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 2 August 2012 Permalink | Balas  

    Seandainya Tak Ada Ramadhan 

    Seandainya Tak Ada Ramadhan

    Oleh Rubina Qurratu’ain Zalfa

    Sungguh Maha Suci Allah yang telah menyediakan satu bulan yang istimewa yaitu bulan Ramadhan. Bulan penuh kasih sayang, bertabur rahmat, bulan dikabulkannya segala doa dan bulan penuh pengampunan hingga Allah swt menjanjikan bagi mereka yang amalannya puasa Ramadhannya diterima, maka akan kembali lahir sebagai manusia yang bersih dan suci dari dosa.

    Tak heran jika memasuki bulan Ramadhan kita semua jadi terkesan “mendadak salih.” Yang biasanya jarang baca al-Quran jadi rajin membaca al-Quran, yang biasanya jarang ke masjid jadi rajin ke masjid, yang biasanya tidak pernah mengerjakan sholat-sholat sunnah jadi rajin menunaikannya, yang biasanya malas mendengarkan kajian agama jadi rajin mendengarkan ceramah. Tak ketinggalan stasiun televisi dan radio yang berlomba-lomba menayangkan berbagai program Ramadhan. Nuansa relijiusnya jadi lebih terasa.

    Tentu saja perubahan ini merupakan perubahan yang menggembirakan, apalagi jika perubahan itu terbawa sampai Ramadhan usai. Karena salah satu esensi bulan Ramadhan adalah bulan di mana kita menempa diri bukan hanya dari sisi jasmani tapi juga dari sisi rohani. Ibarat besi yang ditempa setiap hari dengan kekuatan dan penuh kesabaran, besi itu akan menjadi besi yang bermutu tinggi dan mengeluarkan kilau yang terang.

    Ramadhan meski cuma satu bulan memberi kesempatan bagi kita untuk membasuh dosa, menyisihkan lebih banyak waktu untuk beribadah dan beramal salih dan lebih memfokuskan diri untuk kehidupan di akhirat kelak. Serta berlomba-lomba mengejar limpahan rahmah Malam Laylatul Qadar, malam yang lebih baik baik dari seribu bulan dan malam itu hanya ada pada bulan Ramadhan

    Subhanallah… Betapa nikmatnya Ramadhan. Tak heran jika orang-orang bertaqwa sangat merindukan datangnya bulan ini, menangis bila Ramadhan berakhir dan berharap semua bulan adalah Ramadhan.

    Bisa dibayangkan bagaimana jika 12 bulan dalam satu tahun itu sama, tidak ada bulan istimewa seperti bulan Ramadhan. Sepanjang tahun kita mungkin akan terus tenggelam dalam kesibukan duniawi, kita mungkin takkan pernah merasakan penderitaan kaum miskin yang kelaparan, kita mungkin tak kan pernah melatih menempa diri untuk mencapai derajat taqwa yang tertinggi dan kita mungkin tak kan pernah menjalin silaturahmi dengan kerabat yang jarang bersua seperti ketika hari Idul fitri.

    “Wahai manusia, kalian telah dilindungi bulan yang agung dan penuh barakah, bulan yang di dalamnya ada lailatul qadr, yang lebih baik dari seribu bulan, ” demikian Rasulullah saw, dalam khutbahnya menyambut bulan Ramadhan.

    Kita hampir sampai di pertengahan Ramadhan, masih banyak kesempatan bagi kita untuk terus menyempurnakan ibadah puasa kita di bulan suci, mengevaluasi diri dan membulatkan tekad untuk menjadi orang yang lebih baik setelah bulan Ramadhan nanti. Terimakasih ya Allah, Yang Maha Karim dan Maha Mengetahui. Telah Engkau sisihkan satu bulan mulia untuk kami, hamba-hambaMu yang hina dan penuh dosa ini. Ampunilah kami, terimalah amal serta ibadah puasa kami dan tempatkanlah kami di dalam surga… Aamin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 1 August 2012 Permalink | Balas  

    Menantikan Malam Seribu Bulan 

    Menantikan Malam Seribu Bulan

    Tak terasa setengah bulan Ramadhan telah terlewati. Bagaimana dengan ritual ibadah tambahan Anda, masih terus terjaga? Seperti biasa kita temui di awal puasa banyak masjid terlihat terisi penuh oleh jamaah shalat Tarawih. Namun menjelang minggu-minggu berikutnya barisan jamaah di mesjid terus berkurang.

    Barangkali kita terlalu bersemangat di awal-awal puasa, hingga kurang bisa mengatur ‘energi’ untuk beribadah . Mungkin juga terlalu sibuk mengurus pekerjaan rumah atau mengalami kebosanan untuk terus menjaga ritual salat sunnah di mesjid. Yang pasti di bulan ini, anjuran untuk mengerjakan ibadah dan berlomba-lomba dalam kebaikan sangat dianjurkan.

    Tentu pada ramadhan kali ini, kita tidak berharap ibadah yang tengah dilakukan menguap dengan sia-sia, alias hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Maka di pertengahan bulan ramadhan ini, Insya Allah, kita masih diberikan kesempatan untuk memadatkan dan merayakan ibadah-ibadah tambahan di malam hari. Tidakkah Anda menginginkan malam kedamaian dengan seribu bulan yang datang di sepuluh hari terakhir?

    Telah disebutkan dalam Al Quran dalam surat Al Qadr, bahwa tiada malam yang mendapat sebutan indah dari Tuhan kecuali lailatul qadar. Yakni malam yang kebaikannya melebihi seribu bulan. Malam itu memiliki kedudukan yang tinggi dan kemuliaan terhormat (al manzilah ar rafi’ah), lailatulbarakah (malam penuh berkah), lailaturrahmah (malam penuh kasih sayang), laylatussalam (malam penuh keselamatan). Lailatulqadr adalah anugerah khusus yang diberikan Allah pada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah untuk menjemputnya pada bulan Ramadhan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa shalat malam pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan ridla Allah, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya yang telah lalu.” Dari hadist riwayat Muttafaq ‘Alaih. Rasulullah selalu menganjurkan umatnya untuk selalu meraih malam itu.

    Bagaimana memastikan kedatangan malam lailatul qadr? Dari hadist riwayat Bukhari Muslim, Nabi berkata, “Carilah dia (lailatul qadar) pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan pada hitungan ganjil.” Lebih khusus lagi, setiap tanggal ganjil yakni: 21, 23, 25, dan seterusnya. Ada satu pendapat yang mengatakan, lailaltul qadr jatuh setiap 17 Ramadhan bertepatan dengan Nuzulul Quran.

    Di sepuluh malam terakhir ini dianjurkan untuk memperpadat ibadah sunah, seperti salat Tahajud, zikir, salat hajat, tadarus, I’tikaf, dan lainnya. Maka di bulan penuh berkah dan rahmat ini, semua umat muslim sedang menanti “bonus khusus” dari Allah, di mana malam itu penuh “cahaya kedamaian” hingga fajar menjelang. Selamat menanti dan meraih malam seribu bulan.

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 31 July 2012 Permalink | Balas  

    Malam Seribu Bulan 

    Malam Seribu Bulan

    Sungguh telah aku tutrunkan dia (Al Qur’an) dalam Lailatul Qodar. Tahukah kamu apa itu Lailatul Qodar. Lailatul Qodar itu lebih menjadi pilihan ketimbang seribu bulan.Para malaikat dan (Jibril yang menjadi Ruh), turun di malam itu atas izin Tuhan mereka (mengurai) segala (belitan) urusan. Mereka menyapa “salam” (selamat bagi semua, hamba Allah yang teguh). Malam seribu bulan itu (menebarkan berkahnya) samapai fajar menyingsingkan pijar.

    Ketika datang Lailatul Qodar, Kanjeng Nabi sedang sujud. Bersamaan dengan datangnya, hujan turun dengan derasnya. Air hujan yang pealn-pelan menggenangi tempat sujud Kanjeng Nabi, yang dengan lembut menyapa kulit muka beliau, sama sekali tak mengurangi keasyikan beliau menikmati prosesi malaika tyang dipimpin JIbril turun membelai dan menebar al qadar di muka bumi. Kanjeng Nabi yang tenggelam dalam keasyikannya. Keasyikan berbeda yang tak ada seorang perawipun mengisahkannya secara imajiner, dilukiskan seorang ulama sebagai yang tiada taranya. Terbukti dengan sujud Kanjeng Nabi yang sangat panjang, sangat lama dan tidak mempedulikan bagian gemercik air hujan yang makin lama membahasi pipi-mulia Kanjeng Nabi. Beliau sama sekali tidak bergeming. Tenggelam dalam keasyikan mendalam mengikuti prosesi malaikat dalam tabuh merdu segala merdu. Dlaam kidiung keselamatan membuluh perindu, yang didedangkan tak henti sampai fajar menyapa semesta. Malaikat pun menorehkan keindahan di mana-mana. Di hati pemburu Laialtul Qodar. Di hati kita. Wao! Betapa!

    Kita telah melakukan ancang-ancang sejak awal Ramadhan dan nafsu selama sua puluh hari penuh telah kita latih menyabari amal yang paling membosankan sekalipun. Kita lakukan amal yang di luar Ramadhan tidak pernah kita kerjakan. Tarawih, tadarrus, dan sedekah. Kita telah melatih hati dan nafsu kita untuk memiliki ketahanan dan daya tahan kuat demi pahala yang terhitung kelipatannya. Di antara kita bahkan ada yang sudah memulaiiktikafsejak tanggal sebelas, lalu meneruskannya dengan lebih intens hingga Ramadhan berakhir. I’tikaf adalah adalah bagian dari ibadah yang paling ringan. Hanya thenguk-thenguk, duduk diam di masjid, tanpa bacaan, tanpa menggerakkan anggota badan, bahkan terkantuk-kantuk, namun punya nilai dan berpahala. Kanjeng Nabi menganjurkan kepada kita menagguk datangnya Lailatul Qodar dengan ber i’tikaf itu, dengan ibadah paling ringan itu. Agar semua kita bisa melaksanakan dan memperoleh keunggulan malam seribu bulan yang dahsyat itu, yang setiap mukmin pasti mendambakannya itu.

    Gusti Allah menggambarkan, Lailatul Qodar (seharusnya) menjadi pilihan ketimbang seribu bulan. Artinya, dia sangat diikhtiarkan sungguh-sungguh oleh setiap shaim. Dan itu tidaklah terlalu berat. Dia berada dalam satu malam pada lima malam (saja) yang dijanjikan pasti datang , yaitu pada malam-malam tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan. Begitu menurut Kanjeng Nabi. Di antara kita (dari sekian Muslim yang berpuasa) telah memanjakan nafsu dan keinginan untuk lebih suka bersantai sebelum malam-malam itu menjelang. Tidur dan merenung. Setelah malam-malam itu lewat, kita berbuat sesuka nafsu keinginan kita. Sepanjang tahun. Gusti Allah dan Kanjeng Nabi menginginkan agar orang-orang beriman dapat menikmati pemandandan sangat indah , prosesi malaikat yang dipimpin JIbril turun ke bumi dengan gebyar warna-warni indah pelangi yang serasi. Sambil menebar janji pahala tak terhingga kelipatannya, hanya satu malam saja ditangguk oleh shaimyang berlega hati “thaharri berupaya bersungguh-sungguh “menemukannya”. Sungguh.

    Kit asemua percaya itu, karena kita mukmin yang beriman pada yang bghaib. Prosesi malaikat Laialatul Qodar itu ghaib dan hanya bisa disaksikan dengan mata hati yang tajam, bening, dan bersih dari “roin” (cemar duniawi yang menyaput nurani karena perbuatan tak bermutu yang dilakukan sehari-hari). Selama dua puluh hari kita telah mengelap gemerlap hari kita, membersihkannya dari “roin” sehingga manakala kita berlega hati meneguhkan konsentrasi penuh mencegat iring-iringan prosesi malaikat dan Ruh di malamal-qadar itu, dengan mata hati kita yang telah beningitu, niscaya kita akan dapat menyaksikan keindahan tiada tara itu. Keindahan malam seribu bulan.

    Mudah-mudahan di malam itu kita sempat menggumamkan doa : “Rabbana Inna Ka ‘Afuwun Karim, Tuhibbul ‘afwa fa’fu anna”. “Duh Gusti, Paduka Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, Paduka menyukai pengampunan, ampunkan dosa kami.” Kembalikan Gusti, perekat kebangsaan kami, perekat keindonessiaan kami. Amin.

    ***

    K.H. Cholil Bisri

    “Ketika Nurani Bicara” Rosda 1999, hal 15-17.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 30 July 2012 Permalink | Balas  

    Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah? 

    Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah?

    Sebagian besar masjid-masjid kaum muslimin saat ini kita lihat kosong dari jama’ah baik siang maupun malam. Pemandangan ini hampir merata kita temui di setiap tempat, baik di desa maupun di kota. Inilah buah dari kekurangfahaman mereka dalam ilmu syariat, khususnya yang berkaitan dengan hukum sholat berjama’ah.

    Sehingga bila kita tanyakan kepada seseorang, “Mengapa tidak sholat di masjid, kok malah sholat di rumah?”, boleh jadi ia menjawab, “Ah, itu kan cuma sunnah saja…”

    Astaghfirullah!!, semoga Alloh memahamkan kepada kaum muslimin tentang syariat yang mulia ini.

    Apa Hukum Sholat Berjama’ah?

    Ketahuilah, bahwa pendapat yang benar dan rajih dalam masalah ini ialah sholat berjamaah itu wajib (bagi laki-laki, adapun bagi kaum wanita, sholat di rumah lebih baik daripada sholat di masjid walaupun secara berjama’ah). Inilah pendapat yang didukung oleh dalil dalil yang kuat dan merupakan pendapat jumhur (seluruh) ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in, serta para imam madzhab (Kitabus Sholat karya Ibnul Qoyyim).

    Perintah Alloh Ta’ala Untuk Sholat Berjamaah dan Ancaman Nabi Yang Sangat Keras Bagi Yang Meninggalkannya

    “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (dalam keadaan berjamaah).” (Al Baqoroh: 43). Perhatikanlah wahai saudaraku, konteks kalimat dalam ayat ini adalah perintah, dan hukum asal perintah adalah wajib.

    Rosululloh telah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku yang ada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan sholat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka.” (Shahih HR. Bukhori)

    Hadits di atas menunjukkan wajibnya (fardhu ain) sholat berjama’ah, karena jika sekedar sunnah niscaya beliau tidak sampai mengancam orang yang meninggalkannya dengan membakar rumah. Rosululloh tidak mungkin menjatuhkan hukuman semacam ini pada orang yang meninggalkan fardhu kifayah, karena sudah ada orang yang melaksanakannya. (Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani)

    Diriwayatkan dari Abu Huroiroh, seorang lelaki buta datang kepada Rosululloh dan berkata, “Wahai Rosululloh, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rosululloh untuk tidak sholat berjama’ah dan agar diperbolehkan sholat di rumahnya. Kemudian Rosululloh memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu telah beranjak, Rosululloh memanggilnya lagi dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?”, Ia menjawab, “Ya”, Rosululloh bersabda, “Penuhilah seruan (adzan) itu.” (Shahih HR. Muslim).

    Perhatikanlah, jika untuk orang buta saja yang tidak memiliki penunjuk jalan itu tidak ada rukhsoh (keringanan) baginya, maka untuk orang yang normal lebih tidak ada rukhsoh lagi baginya.” (Al Mughni karya Ibnu Qudamah). Andaikan memang shalat berjama’ah ketika itu tidak wajib, untuk apa seorang leleki yang buta mesti repot-repot harus bertanya dan meminta keringanan kepada Rasululloh, sementara untuk orang yang sehat saja tidak wajib? Hal ini salah satu bukti tentang wajibnya shalat berjama’ah.

    Hanya Orang Munafik Saja Yang Sengaja Meninggalkan Sholat Jama’ah

    Sahabat besar Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu berkata tentang orang-orang yang tidak hadir dalam sholat jama’ah: “Telah kami saksikan (pada zaman kami), bahwa tidak ada orang yang meninggalkan sholat berjama’ah kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya atau orang yang sakit”.

    Lalu bagaimana seandainya Ibnu Mas’ud hidup di zaman kita sekarang ini, apa yang akan beliau katakan???

    ***

    (Disarikan oleh Abu Hudzaifah Yusuf dari terjemah kitab Sholatul Jama’ah Hukmuha wa Ahkamuha karya DR. Sholih bin Ghonim As-Sadlan)

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 27 July 2012 Permalink | Balas  

    Lailatul Qadr Menurut Dua Pemikir Tasawuf Berbeda Zaman 

    Lailatul Qadr Menurut Dua Pemikir Tasawuf Berbeda Zaman.

    Lailatul qadr adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu, menurut Nasaruddin Umar, pengajar IAIN Jakarta, berupa vibrasi (getaran) spiritual.

    Lail adalah malam. Perspektif tawasuf memandangnya sebagai sisi feminin. Lawan katanya nahr, siang, sebagai sisi maskulin. Lailatul qadr menonjolkan nuansa feminin dalam arti nurturing: kelembutan, kehangatan, kemesraan, pengayoman. Lawannya struggle: perebutan, keangkuhan, penguasaan, ketegaran.

    Lailatul qadr memancarkan pesan agar hamba Allah menciptakan kualitas feminin dalam dirinya, yakni membangun rasa kasih. “Jalur tercepat menjumpai Allah adalah jalur feminin. Makanya disebutkan dalam hadis Nabi, `Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga itu di bawah telapak kaki ibu,” kata Nasaruddin.

    Ibu dalam nash (teks) tersebut bermakna kualitas feminin, yang bisa pula dicapai kaum laki-laki. Yakni mencapai kecerdasan spiritual yang sangat berbeda dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual jauh lebih dahsyat.

    Kalau kita salat dengan mengandalkan logika, yang teringat bukan Tuhan. Mungkin nostalgia, proposal yang kita susun, atau munculnya ide-ide segar. Padahal dalam ibadah khusus, yaitu salat yang cuma beberapa menit itu, kita dituntut benar-benar ingat Tuhan. Dengan kecerdasan spiritual orang bisa menangis saat teringat Tuhan, dan merasakan keindahan tersendiri di dalam batinnya. “Dengan begitu, salatnya punya bekas,” kata Nasaruddin.

    Lalu, apa kaitan kecerdasan spiritual dengan lailatul qadr?

    “Lailatul qadr itu password atau entry point mencontoh sifat-sifat Tuhan,” ujarnya. Sayangnya, orang menyambut lailatul qadr dengan hiruk-pikuk dan berbau mitos. “Lailatul qadr jangan dimitoskan. Ada yang menunggu air membeku, kalau sudah dilihatnya air membeku, saat itulah ia berdoa. Bukan itu yang dimaksud malam kemuliaan.” Lailatul qadr jangan diukur dimensi waktu di bumi. Sebab, malam di sini berarti masih siang di tempat lain. Begitu juga sebaliknya, malam di sana, siang di sini.

    Lailatul qadr itu simbol, bukan fakta. Kalau memang fakta, ukuran malamnya ukuran mana, malam di Arab Saudi atau di Indonesia? Pahami lailatul qadr sebagai suasana batin feminin: indah, lembut, penuh kepasrahan, dan kehangatan terhadap Tuhan.

    Sampai di sini Nasaruddin bertemu dengan Hamka, penulis buku Tasawuf Modern, bahwa inti lailatul qadr adalah pencerahan. Bagi Hamka, yang dimaksud lailatul qadr adalah seperti masuk Islamnya Umar ibn Khattab, tatkala membaca lembaran mushaf yang direbutnya paksa dari adiknya, “Thaha! Tidaklah Kami turunkan kepada engkau Al-Quran supaya engkau sengsara. Melainkan peringatan bagi orang yang takut. Diturunkan oleh yang menjadikan bumi dan langit yang tinggi. Yaitu Yang Mahamurah, yang bersemayam di Arasy (ayat 1 sampai 5).

    Umar membacanya dua tiga kali, diulang-ulangnya. Ayat itu merasuk ke kalbunya, lalu datang suasana batin yang mengubah arah hidupnya. “Di mana Muhammad. Bawa aku kepadanya.” Dan Umar pun masuk Islam. “Itulah saat kemuliaan yang melebihi 1.000 bulan,” tulis Hamka.

    Atau tatkala seorang pemuda merayap-rayap pada malam hari, mencari perempuan untuk diajaknya bermaksiat. Tiba-tiba dari satu rumah berlentera terang terdengar suara merdu. Segera tahu si pemuda, di situlah berdiam perempuan rupawan tak bersuami. Dia masuk, lantas tertegun-tegun memandangi paras rupawan sang perempuan yang ternyata sedang membaca Al-Quran. Makin tertegun dia tatkala telinganya mendengar suara perempuan itu sampai pada bacaan: Alam ya’ni lilladziina `aamanuu, an takhsya’a quluubuhum lidzikrillahi wamaa nazala minal haqqi, belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman buat tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah Dia turunkan?” (Al-Hadid:36).

    Si pemuda merasa ayat itu seakan-akan dipukulkan kepadanya. Bergetarlah dia merasakan ada iman di lubuk jiwanya, yang selama ini telah diselubungi hawa nafsu. Ambruklah saat itu jua segala syahwat, ia meluncur turun, lari menuju masjid menegakkan salat. Sejak itu berubah hidupnya, menjadi manusia saleh. Pemuda itu tak lain Fudhail ibn Ayyadh. “Malam tatkala dia mendengar ayat Quran, lalu tergetar hatinya dan berubahlah perilakunya, itulah lailatul qadr.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 26 July 2012 Permalink | Balas  

    Puasa Yang Terlupakan 

    Puasa yang Terlupakan

    Yang sering kita lupakan, mengapa selama bulan Ramadan pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi dapur justru meningkat. Ini fenomena global di mana saja. Di dunia Arab pun demikian. Fenomena yang musti kita resahkan bersama. Bukankah “urusan perut” itu remeh sekali, dan mestinya pengeluaran menjadi mengecil selama Ramadan, karena kita makan hanya dua kali dari kebiasaan sehari tiga kali?

    Bukankah kita ini, selama ini, berpuasa setelah kenyang bersahur dan siap menyantap hidangan bebuka pada sore hari? Miskinkah kita? Bukankah tujuan puasa adalah untuk berlatih miskin? Tapi mengapa acara berbuka terlalu diformalisasi, harus ada kolak, ada ini ada itu, yang biasanya nggak ada diada-adakan? Seperti itukah puasa? Akhirnya makna puasa tetap saja hilang, karena kita tetap ingin nampak kaya, dan bahkan berusaha nampak lebih kaya lagi? Membeli ini dan itu?

    Berbuka itu kan yaa hanya sekedar utk membatalkan puasa. Hanya itu. Mengapa kita tidak sederhana saja, seperti biasanya. Bahkan seharusnya meniadakan yang biasanya ada, dan kita sisihkan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan.

    Kawan-kawan yang saya cintai, indah sekali ketika Qur’an menuturkan “orang yang berpuasa” memakai kalimat “saaih” (orang yang berkelana, dari siyaahah = berkelana). Maksudnya orang yang berpuasa itu perumpamaannya orang yang mengolah badannya dengan tujuan selanjutnya mengolah ruhnya. Menahan lapar, dahaga, dll, guna memuluskan jalan menuju alam rohani. Kita tidak akan mencapai alam rohani dengan sekedar menahan lapar sehari, setelah kenyang menyantap sahur dan menyiapkan menu buka seenak-enaknya. Beratkah puasa seperti ini? Ringan sekali bukan? Sadarlah kita itu puasanya anak kecil. Apalagi di musim penghujan dan musim dingin seperti sekarang, jarang rasa haus dan dahaga.

    Sadarlah kita, tak jarang merindukan puasa karena sekedar menuruti refleksi ikatan-ikatan perasaan dengan bentuk-bentuk lahiriyah suasana Ramadan: selama Ramadan ramai “kuliah subuh”, semarak masjid dengan tarawih dan tadarus, kekhasan santapan kolak hangat, dll. Semua anak kecil pun pasti merasakan hal yang demikian, merindukan suasana Ramadan itu. Anak kelas 4 SD sudah tak keberatan berpuasa, dia merindukan puasa dan suasana Ramadan seperti itu.

    Tapi sadarkah kita bahwa anak-anak kecil itu belum mampu menemukan sesungguhnya makna dan tujuan puasa? Apakah kita tetap seperti mereka, tetap kerdil, sekedar merindukan hal-hal yang demikian remehnya? Kita jangan membohongi batin kita sendiri, marilah kita tanya setulusnya kepada hati kita, “apakah kita hanya sekedar merindukan hal-hal di atas itu dan melupakan apa makna puasa itu sendiri, atau betul-betul ingin merasakan kepedihan saudara-saudara kita yang kelaparan dan kedinginan di pengungsian, tinggal di kemah-kemah lusuh?”. Mengapa kita harus berbuka bersama segala, apa tujuannya? Hanya sekedar menuruti keinginan bertemu kawan, ramai-ramai berbuka bareng? Hanya itu? Ya, siapa saja kalau ketemu kawan pasti senang, apalagi dalam acara yang dipersiapkan secara istimewa. Tapi sekali lagi, hal-hal spt itu hanyalah sekedar kesenangan-kesenangan lahir yang tak ada kaitannya sama sekali dengan substansi puasa. Tidakkah kita pikirkan biaya tiket Surabaya-Jakarta, Bandung-Jakarta, yang bisa didonasikan ke hal-hal yang lebih darurat, bisa untuk membeli buku untuk memperbanyak koleksi perpustakaan misalnya, belum lagi rugi waktu dll. Berkumpul bermusyawarah itu penting, tapi demikian pentingkah berkumpul untuk berbuka?

    Saatnya kita merenung bersama dengan hati yang jernih penuh kontemplasi. Yang paling sederhana, coba kita mengkalkulasi pengeluaran urusan pribadi, apakah semakin membengkak atau mengecil selama Ramadan. Kalau membengkak, maka hakekatnya kita tidak berpuasa sama sekali. Kita harus puas hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Dan itu kerugian yang teramat besar.

    Saatnya kita “mengencangkan ikat pinggang” sendiri, sambil melonggarkan belanja kita di jalan Allah. Ada cerita menarik dan mengesankan kaitannya dengan hal ini: Masa kecilnya Kiai Sahal (Rais Aam PBNU). Di saat menjelang hari raya Idul Fitri, Sahal kecil mendapat tugas rutin tahunan dari Romonya (KH. Mahfudh Salam). Tugas itu adalah membagi-bagikan pakaian-pakaian baru untuk kawan-kawannya yang fakir-miskin di kampungnya. Sementara dia sendiri tak pernah digantikan bajunya pada hari lebaran.

    Aah…seandainya kita bisa meniru.

    **

    Ya Allah Ya Aziz Berilah hambamu kekuatan Iman untuk mendapatkan Janjimu di bulan Ramadhan … Ya Rahim. Ya Allah Ya Ghofar Bukalah pintu hati kami untuk dapat mendengarkan seruan Mu .. Ya Rahman Ya Allah Ya Wujud Bukalah Pintu gerbang pengetahuanmu untuk kami yang bodoh ini …Ya Baqa

    “Mohon ma’af saya kepada semua atas segala apa yang telah saya lakukan baik secara Qauliyah, Filliyah, Maliyah maupun Qalbiyah, semoga kita bisa menjalani Puasa tahun ini dengan hati bersih”

    Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 24 July 2012 Permalink | Balas  

    Puasa : Menuju Makan yang Sejati 

    Puasa : Menuju Makan yang Sejati

    “Makan hanya ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang” adalah formula tentang kesehatan hidup. Tidak hanya menyangkut tubuh, tapi juga keseluruhan mental sejarah. Ia adalah contoh soal lebih dari sekadar teori keilmuan tentang keefektifan dan efisiensi.

    Selama ini pemahaman-pemahaman nilai budaya kita cenderung mentabukan perut. Orang yang hidupnya terlalu profesional dan hanya mencari uang, kita sebut “diperbudak oleh perut”. Para koruptor kita gelari “hamba perut” yang mengorbankan kepentingan negara rakyat demi perutnya sendiri.

    Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab, kebutuhan perut amat sederhana dan terbatas. Ia sekadar penampung dan distributor sejumlah zat yang diperlukan untuk memelihara kesehatan tubuh. Perut tidak pernah mempersoalkan, apakah kita memilih nasi pecel atau pizza, lembur kuring atau masakan Jepang.

    Yang menuntut lebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak untuk disantuni dengan jenis makanan cukup seharga seribu rupiah. Tetapi lidah mendorong kita harus mengeluarkan sepuluh ribu, seratus ribu atau terkadang sejuta rupiah.

    Mahluk lidah termasuk yang menghuni batas antara jasmani dengan rohani. Satu kaki lidak berpijak di kosmos jasmani, kaki lainnya berpijak di semesta rohani. Dengan kaki yang pertama ia memanggul kompleks tentang rasa dan selera; tidak cukup dengan standar 4 sehat 5 sempurna, ia membutuhkan variasi dan kemewahan. Semestinya cukup di warung pojok pasar, tapi bagian lidah yang ini memperkuda manusia untuk mencari berbagai jenis makanan, inovasi, dan paradigma teknologi makanan, yang dicari ke seantero kota dan desa. Biayanya menjadi ratusan kali lipat.

    Dengan kaki lainnya lidah memikul penyakit yang berasal dari suatu dunia misterius yang bernama mentalitas, nafsu, serta kecenderungan -kecenderungan aneh yang menyilati budaya manusia. Makan yang dalam konteks perut hanya berarti menjaga kesehatan, di kaki lida itu diperluas menjadi  bagian dari kompleks kultur, status sosial, gengsi, foedalisme, kepriyayian, serta penyakit-penyakit kejiwaan komunitas manusia lainnya.

    Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sejati dengan konteks perut dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsukan, dimanipulir atau diartifisialkan menajadi urusan kultur dan peradaban yang biayanya menjadi sangat mahal. BUdaya artifisialisasi makan ini dieksploitasi dan kemudian dipacu oleh etos industrialisasi segala bidang kehidupan, serta disahkkan oleh kepercayaan budaya makan, pembaruan teknologi konsumsi, jenis makanannya, panggung tempat makannya, nuansanya, lagu-lagu pengiringnya, pewarnaan meja kursi, dindingnya hingga karaokenya.

    Artifisialisasi budaya makan itu akhirnya menciptakan berbagai ketergantungan manusia, sehingga agar selamat sejahtera dalam keterlanjuran ketergantungan itu, manusia bernegosiasi di bursa efek, menyunat uang proyek, memborong barang-barang, bahkan berperang membunuh satu sama lain.

    Padahal perut hanya membutuhkan “makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”.

    Maka yang bernama “makan sejati” ialah makan yang sungguh-sungguh untuk perut. Adapun yang pada umumnya kita lakukan selama ini adalah “memberi makan kepada nafsu”. Perut amat sangat terbatas dan Allah mengajarinya untuk tahu membatasi diri. Sementara nafsu adalah api yang tiada terhingga skala pembesaran atau pemuaiannya. Jika filosofi makan dirobek dan dibocorkan menuju banjir bandang nafsu tidak terbatas, jika ia diartifisialkan dan dipalsukan dan tampaknya itulah satu sahan utama berbagai konflik dan ketidakadilan sejarah ummat manusia, maka sesungguhnya itulah contoh paling konkret dari terbunuhnya efisiensi dan keefektifan. Rekayasa budaa makan pada masyarakat kita, dari naluri sehari-hari hingga aplikasinya di pasal-pasal rancangan pembangunan jangka pendek dan jangka panjang, mengandung inefisiensi atau keborosan dan keserakahan, yang terbukti mengancam alam dan kehidupan manusia sendiri, disamping sangat itdak efektif mencapai hakikat tujuan makan itu sendiri.

    ***

    Emha Ainun Nadjib

    Dari buku : “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiyai”, Risalah Gusti 1994, hal 15-21

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 23 July 2012 Permalink | Balas  

    Sudahkah kita menjaga Puasa kita? 

    Sudahkah kita menjaga Puasa kita?        

    Rasulullah SAW bersabda : “Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil.” (Hadits Riwayat Bukhari – Muslim)

    “Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat.” (Hadits Riwayat Al-Azdiy)

    “Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah SWT tidak berhajat kepada puasanya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

    “Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

    “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar.” (Hadits Riwayat Turmudzi)

    Imam Al-Ghazali berkata : “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu, selain lapar dan haus. Sebab puasa itu bukanlah semata-mata menahan lapar dan haus, akan tetapi adalah menahan hawa nafsu. Boleh jadi orang tersebut berdusta, menggunjing dan memandang dengan syahwat, sehingga yang demikian itu membatalkan hakikat puasa.” (Ihya’ Ulumiddin)

    Para Ulama berkata: “Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa.” Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain.” (Ihya’ Ulumiddin)

    Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanahnya.” (Hadits Riwayat Al-Kharaithy)

    Sudahkah kita menjaga puasa kita?

    ***

    Referensi : Asrar Ash-Shaum min Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali

     
    • andika 7:45 am on 25 Juli 2012 Permalink

      mohon ijin untuk mencopy

    • ali 12:54 am on 7 Agustus 2012 Permalink

      mnt tlong tuk dijlsin makna dr sabda rosullullah yg dikemukakan oleh bukhori-muslim & conthx di khdpan shri-hari.trim’s

  • erva kurniawan 1:28 am on 22 July 2012 Permalink | Balas  

    Ghibah dan Puasa 

    Ghibah dan Puasa

    Dari ‘Ubaid r.a, dia berkata : “Di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan orang-orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah SAW, untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka. Sesampainya utusan tsb kepada Rasulullah SAW, beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ternyata kedua wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan Rasulullah SAW bersabda : “Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah ‘daging-daging’ mereka yang dipergunjingkan.” (Hadits Riwayat Ahmad)

    “Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

    “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan yang haram.” (Al-Qur’an Surat Al-Maidah : 42)

    Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. “ (Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat:12)

    ***

    REFERENSI: Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 21 July 2012 Permalink | Balas  

    Berdo’a dalam Puasa 

    Berdo’a dalam Puasa.

    Nabi Muhammada SAW pernah bersabda kepada para sahabat, “ada tiga (kelompok) orang yang sekali-sekali tidak akan ditolak do’anya oleh Allah. Pertama, do’a orang yang berpuasa. Kedua, do’a kepala negara yang adil. Ketiga, do’anya orang yang teraniaya.”

    Nabi Mengatakan bahwa Ramadahan itu adalah bulan penuh rahmah pada sepuluh hari pertama, penuh maghfirah pada sepuluh hari kedua, dan kebebasan dari api neraka pada sepuluh hari terakhir.

    Al Qur’an memberikan beberapa makna untuk Kata Do’a, bisa berarti istighatsah (permohonan bantuan dan pertolongan), permintaan, percakapan, memanggil, dan memuji. Dengan rajin berdo’a Insya Allah motivasi kita berpuasa, yaitu Taqwa, Insya Allah akan tercapai.

    Lebih tegas lagi Nabi SAW berkata, :”Do’a itu adalah ibadah, artinya mengabdikan diri kepada Allah. Kemudian beliau membuka Al Qur’an, “Tuhanmu telah berfirman : “Berdo’alah kamu dan mintalah kamu kepada-Ku, niscaya aku menerima permintaanmu, sesungguhnya mereka yang sombong tidak mau berdo’a kepada-Ku akan masuk kedalam neraka jahanam sebagai seorang hina-dina.”

    Agar do’a kita diterima Allah, sebaiknya kita patuhi tata cara berdo’a, antara lain hati kita harus ikhlas, konsentrasikan pikiran kepada siapa kita memohon, lalu kaji ulang apa apa yang kita mohonkan, lalu serahkan segala urusan kepada Nya. Nabi SAW berkata : “Allah tidak mengabulkan do’a dari hati yang ceroboh, Allah juga tidak mengabulkan do’a yang dicampuri dosa dan dalam keadaan memutus silaturahim.

    Mengapa do’a kita tidak diterima Allah, padahal Ia berjanji akan mengabulkannya?

    Seorang Sufi menjawab : Tujuh sebab do’a yang ditolak yaitu :

    1. Apa yang kita perbuat menyebabkan Allah murka.
    2. Mengaku hamba Allah tetapi tidak patuh
    3. Al Qur’an dibaca, tetapi perintah dan laranganNya diabaikan
    4. Mengaku umat Muhammad tetapi tidak melaksanakan sunnahnya
    5. Mengaku dunia ini tidak berharga disisi Allah, tetapi merasa senang kepadanya
    6. Tahu bahwa dunia tidak kekal, tetapi tingkah laku kita menggambarkan seakan-akan dunia ini kekal selamnya
    7. Mengaku akhirat itu lebih baik dari dunia, tetapi kita selalu mengutamakan dunia dan tidak bersungguh-sungguh terhadap akhirat.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 20 July 2012 Permalink | Balas  

    Panduan Amaliyah Ramadhan 

    PANDUAN AMALIYAH RAMADHAN

    Muqoddimah

    Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah,tapi dia mempunyai makna tersendiri . Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah (perjalanan) dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah,dari kehidupan penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah.muali dari tilawah Al-Qur-an,menahan syahwat dengan shiyam,sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa ramadhan yaitu : agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqarah:183 dan akhir Al-Hijr)

    Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang muslim. Hal ini terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya di hadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan.

    Diantara amaliyah-amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah adalah sebagai berikut :

    1. Shiyam (puasa)

    Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adlah shiyam (puasa),sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat Al-Baqarah:183-187 Dan diantara amaliyah shiyam ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah :

    a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya.

    “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya”(HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

    b. Tidak meninggalkan Shiyam, walaupun sehari dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam.

    Rasulullah SAW bersabda bahwa : “Barang siapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit,hal itu merupakan dosa besar yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup” (HR at Turmudzi).

    c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam

    Rasulullah SAW pernah bersabda : “Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkan makan dan minum,melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah juga bersabda bahwa : “Barang siapa berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya,maka tidak ada nilai bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum” (HR Bukhori dan Muslim)

    d. Bersungguh-sungguh melakukan shiyam dengan menempati aturan-aturannya.

    Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan,maka akan diampunkan dosa-dosa yang pernah dilakukan” (HR Bukhori,Muslim dan Abu Daud).

    e. Bersahur, Makanan yang berkah (al ghoda’ al mubarok).

    Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa : “Makanan sahur semuanya bernilai berkah.maka jangan anda tinggalkan,sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR Ahmad). Dan di sunnahkan mengakhiri makan sahur.

    f. Ifthor, berbuka puasa.

    Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya,ialah mereka yang bersegera berbuka puasa”. (HR Ahmad dan Tarmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengka),atau tamr (kurma) atau air saja” (HR Abu Daud dan Ahmad).

    g. Berdo’a.

    Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan ber ifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah. Rasulullah bahkan mensyari’atkan agar orang-orang berpuasa banyak memanjatkan do’a,sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda: ” Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-orang yang berpuasa sehingga mereka berbuka” (HR Ahmad dan Turmudzi)

    2. Tilawah (membaca) Al-Qur’an

    Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. (OQ Al Baqaroh:185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas Al-Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas Al-Qur’an di sepanjang tahun ini) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan. Imam Az Zuhri pernah berkata : ” Apabila Ramadhan datang maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Qur’an. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap mempertahankan tajwid (kaedah membaca Al-Qur’an”. Dan esensi dasar diturunkannya Al-Qur’an untuk ditadabburi,dipahami dan diamalkan (QS.Shod:29).

    3. Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan Shodaqoh lainnya).

    Salah satu Amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan Ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan “Barang siapa yang memberikan Ifthor kepada orang-orang yang berpuasa,maka ia mendapatkan pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu,tanpa mengurangi pahala orang yang berpusa tersebut” (HR Turmudzi dan An Nasa’I).

    Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan ifthor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal Dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan kepeduliannya tampil lebih menonjol,kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai “Lebih cepat dari Angin”(HR Bukhori).

    4. Memperhatikan Kesehatan

    Shaum memang termasuk kategori Ibadah (murni),sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini :

    a. Menyikat gigi dengan siwak (HR Bukhori dan Abu Daud)

    b. Berobat seperti dengan berbekam (Al Hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim

    c. Memperhatikan penampilan,seperti pernah diwasiatkan Rasulullah SAW kepada sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut (HR Al Haitsami)

    5. Memperhatikan Harmoni Keluarga

    Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus di peruntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah,tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau,selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni I’tikaf,harmoni itu tetap terjaga.

    6. Memperhatikan Aktivitas da’wah dan sosial

    Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh Amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da’wah,kegiatan sosial,perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekkah (tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9 H),mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin) dll.

    7. Qiyam Ramadhan (Sholat Tarawih)

    Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah Qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sholat Tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat Tarowih (berjama’ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR Bukhori Muslim). Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat Tarowih dalam 11 raka’at dengan bacaan2 yang panjang (HR Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat Tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah raka’at sholat Tarawih adalah 21 atau 23 raka’at (HR Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan raka’at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi’I, seorang tokoh yang dijuluki sebagai amirul mu’minin fi hadist, beliau menyampaikan bahwa : Beberapa Informasi tentang jumlah raka’at Tarowih menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 raka’at,kadang 21 dan terkadang 23 raka’at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 raka’at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 dan 23 raka’at mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma’ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan.

    8. I’tikaf

    Diantara Amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam bulan Ramadhan ialah I’tikaf,yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudri RA, hal demikian ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan,pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh jika Imam az Zuhri berkomentar : Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah I’tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke Madinah sehingga wafatnya disana.

    9. Lailat al Qadr

    Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr : 1-5). Rasulullah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih Lailat al Qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR Bukhori Muslim). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : Barang siapa yang sholat pada malam Lailatul Qodr berdasrkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (HR Bukhori Muslim).

    10. Umroh

    Umroh atau haji kecil bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan,sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah di sabdakan Rasulullah kepada seorang wanita dari Anshor bernama Ummu Sinan: “Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh,karena nilainya setara haji bersama Rasulullah SAW.(HR Bukhori Muslim).

    11. Zakat Fithr

    Pada hari-hari terkahir bulan ramadhan Amaliyah yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr,suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laki-laki maupun perempuan ,baik dewasa maupun anak-anak (HR Bukhori Muslim). Zakat Fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin.(HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

    12. Ramadhan bulan Taubat menuju Fithroh

    Selama sebulan penuh secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang maha pemurah juga maha pengampun . Beliaulah Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hamba Nya dari Api neraka (HR Rirmidzi dan Ibnu Majah). Karena inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fthroh nya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 19 July 2012 Permalink | Balas  

    I’tikaf 

    Pengajian Ramadhan : I’tikaf

    I’tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda :

    “Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw. Biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    “Dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rasulullah SAW. biasa beri’tikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah beri’tikaf selama dua puluh hari. (Hadist Riwayat Bukhori).

    Sebagian ulama mengatakan bahwa ibadah I’tikaf hanya bisa dilakukan dengan berpuasa.

     Tujuan I’tikaf.

    1. Dalam rangka menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam rangka pencapaian ketakwaan hamba.

    2. Sebagai salah satu bentuk penghormatan kita dalam meramaikan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah swt.

    3. Menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat 97:3.

    4. Membina rasa kesadaran imaniyah kepada Allah dan tawadlu’ di hadapan-Nya, sebagai mahluk Allah yang lemah.

     Rukun I’tikaf.

    I’tikaf dianggap syah apabila dilakukan di masjid dan memenuhi rukun-rukunnya sebagai berikut :

    1. Niat. Niat adalah kunci segala amal hamba Allah yang betul-betul mengharap ridla dan pahala dari-Nya.

    2. Berdiam di masjid. Maksudnya dengan diiringi dengan tafakkur, dzikir, berdo’a dan lain-lainya.

    3. Di dalam masjid. I’tikaf dianggap syah bila dilakukan di dalam masjid, yang biasa digunakan untuk sholat Jum’ah. Berdasarkan hadist Rasulullah saw.

    “Dan tiada I’tikaf kecuali di masjid jami’ (H.R. Abu Daud)

    4. Islam dan suci serta akil baligh.

     Cara ber-I’tikaf.

    1. Niat ber-I’tikaf karena Allah. Misalnya dengan mengucapkan : Aku berniat I’tikaf karena Allah ta’ala.

    2. Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak berzikir, tafakkur, membaca do’a, bertasbih dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.

    3. Diutamakan memulai I’tikaf setelah shalat subuh, sebagaimana hadist Rasulullah saw.

    “Dan dari Aisyah, ia berkata bahwasannya Nabi saw. apabila hendak ber-I’tikaf beliau shalat subuh kenudian masuk ke tempat I’tikaf. (H.R. Bukhori, Muslim)

    4. Menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. Dan disunnahkan memperbanyak membaca: Ya Allah sesungguhnya Engkau Pemaaf, maka maafkanlah daku.

    Waktu I’tikaf.

    1. Menurut mazhab Syafi’i I’tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber-I’tikaf. Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat I’tikaf maka syahlah I’tikafnya.

    2. I’tikaf dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang lebih utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh hadist di atas.

    Hal-hal yang membatalkan I’tikaf.

    1. Berbuat dosa besar.

    2. Bercampur dengan istri.

    3. Hilang akal karena gila atau mabuk.

    4.Murtad (keluar dari agama).

    5. Datang haid atau nifas dan semua yang mendatangkan hadas besar.

    6. Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak atau uzur, karena maksud I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan hanya untuk ibadah. 7. Orang yang sakit dan membawa kesulitan dalam melaksanakan I’tikaf.

    Hikmah Ber-I’tikaf .

    1. Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah.

    2. Seseorang yang tinggal di masjid mudah untuk memerangi hawa nafsunya, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan jiwa.

    3. Masjid merupakan madrasah ruhiyah yang sudah barang tentu selama sepuluh hari ataupun lebih hati kita akan terdidik untuk selalu suci dan bersih.

    4. Tempat dan saat yang baik untuk menjemput datangnya Lailatul Qadar.

    5. I’tikaf adalah salah satu cara untuk meramaikan masjid.

    6. Dan ibadah ini adalah salah satu cara untuk menghormati bulan suci Ramadhan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 18 July 2012 Permalink | Balas  

    17 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan 

    17 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan

    Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini kami sarikan 16 kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan

    Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

    Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

    1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

    Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.

    Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

    2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu

    Ini penyakit yang –diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

    3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

    Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.

    4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat

    Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari. Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang. Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb. “Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).

    5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib

    Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan).

    6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)

    Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh.

    7. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

    Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan. Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ; Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb. T idur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah) . Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang -bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing), menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb. Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)

    8. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan

    Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.

    9. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan ( terutama untuk laki-laki muslim )

    Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

    10. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikanIni pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.

    11. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya

    12. Semakin jarang bershadaqah

    13. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan

    14. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.

    5. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)

    16. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

    17. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa

    Mereka lebih sibuk apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang biasanya mengalami poin-poin nomor 14, 15 dan 16 adalah orang-orang yang tertipu oleh “fatamorgana Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan, mereka malah menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini-itu, substansi puasa yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif, memborong apa saja yang mereka mampu beli. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan. Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten dengan agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.

    Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu meng-up grade (naik kelas) puasa kita, wallaahu a’lam bis shawaab.

    ***

    (Ahmad Rizal, Alumni STAIL, dan KMI Gontor-Ponorogo/Hidayatullah)

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 17 July 2012 Permalink | Balas  

    Ramadhan Cinta 

    Ramadhan Cinta

    Ramadhan adalah bulan pembuktian cinta. Ketundukan adalah cinta, kebajikan adalah cinta, derma adalah cinta, dan menata jiwa lebih dewasa adalah cinta. Ramadhan, saatnya memberi makna istimewa pada cinta kita

    (Anis Matta)

    Dan, ramadhan kembali tiba!

    Sudah siapkah kita menyambutnya..?. Tentu, setiap diri kita punya jawaban masing-masing. Jawaban yang berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka yang penuh suka cita menyambutnya, dengan perasaan senang karena dipertemukan lagi dengan bulan yang mulia ini. Merugi, mereka yang biasa saja, bermalas-malas menyambutnya, apalagi mereka yang tak senang atau merasa terkekang karenanya. Padahal kalau kita memahaminya, sungguh banyak hikmah yang bisa petik pada setiap ramadhan tiba.

    Di dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasanya” (Muttafaqun’alaih). Dalam dimensi ini, kita memaknai bagaimana ibadah puasa adalah ibadah khusus. Ini adalah kesempatan kita untuk membuktikan cinta, kerendahan hati seorang hamba kepada sang khalik. Apa yang kita lakukan, puasa yang kita lakukan di bulan ramadhan, Dialah yang akan membalasnya. Bulan ini juga memberi kesempatan kita terhapus atas segala dosa-dosa kita. Doa-doa ampunan atas segala kesalahan terkabulkan, tentu dengan semangat pengharapan terdalam dari diri kita.

    Lewat perantaraan Rasulullah, juga disebutkan tentang keistemewaan orang yang berpuasa “ Sesungguhnya di surga ada satu pintu bernama Al-Rayyan, dari pintu ini akan masuk orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat, tidak ada siapapun selain mereka yang akan memasuki pintu ini, dikatakan, mana orang-orang yang berpuasa..?. Lalu mereka semua berdiri, tidak ada satupun yang memasuki pintu ini, jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya”. (Muttafaqun’alaih).

    Inilah dimensi transendental. Dimensi keTuhanan. Allah SWT telah menjanjikan kepada hambanya dengan kenikmatan kelak di kemudian hari jika benar-benar melakukan ibadah puasa dengan semestinya, sesuai sunnah-sunnah yang diajarkan Rasulullah. Maka, tak ada yang kita lakukan, selain kita memaknai bulan ini dengan bulan pembuktian cinta kita. Kita isi hari-hari puasa kita dengan ibadah-ibadah untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Bukan untuk apa-apa, semata-mata untuk meraih keridhoan Allah saja.

    Lantas, bagaimana dimensi kemanusiaannya..?. Puasa, sebenarnya ada wujud solidaritas kemanusiaan. Sebulan penuh kita melakukan puasa, menahan lapar dan haus sepanjang pagi dan siang. Makna yang bisa kita ambil sebenarnya melatih kepekaan sosial kita, kepedulian kita kepada sesama. Kita, mungkin hanya sebulan merasakan lapar dan dahaga, tapi diluar sana, bisa jadi teramat banyak yang setiap hari menahan lapar, sudah terbiasa hidup dengan amat kesulitan dan memprihatinkan. Para pengemis itu, gelandangan itu, buruh-buruh kasar itu, orang-orang pinggiran kota itu, petani miskin itu.

    Sungguh inilah bulan pembuktian cinta kita kepada sesama. Melihat dengan mata hati kita, teramat bersyukur kita sebenarnya. Sepanjang pagi dan siang mungkin kita sama-sama menahan lapar. Tapi ketika sore tiba, saat berbuka puasa, makanan-makanan enak toh masih sempat kita santap. Tidakkah kita pantas bersyukur karenanya ?. Bagaimana pembuktiannya, salah satunya adalah dengan derma kita untuk sesama, semangat untuk memberi dan berbagi dengan sesama. Kita asah mata hati kita untuk lebih peka atas nasib dan penderitaan orang lain. Lantas, kita berikan kebahagiaan sepanjang kita bisa untuk mereka. Membuat mereka sejenak tersenyum.

    Demikianlah ramadhan cinta menyapa kita, tidakkah kita merindukannya..?

    ***

    Oleh Yon’s Revolta

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 16 July 2012 Permalink | Balas  

    Bagaimana Menyambut Ramadhan 

    Bagaimana Menyambut Ramadhan

    Segala puji bagi Allah tuhan sekalian alam.

    Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad s.a.w.. Mari kita mohon kepada Allah, Dzhat Yang Maha Agung, semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang apabila mendapatkan rizqi bersyukur, apabila mendapatkan cobaan bersabar dan apabila melakukan dosa atau kesalahan mau meminta ampunan. Umat Islam saat ini sedang berada dalam masa yang sangat mencemaskan dan dalam perjalanan sejarahnya yang penuh onak dan duri. Tidak sedikit negara-negara Islam saat ini mengalami penderitaan yang sangat berat berupa kemiskinan, ditindas, dibantai, dijajah dlsb.

    Ramadhan sebentar lagi akan tiba, dan ini merupakan suatu momentum yang sangat tepat bagi kita kaum muslimin untuk menyamakan persepsi bahwa kita ini sebenarnya adalah satu tubuh, apabila salah satu organ tubuh terserang sakit maka seluruh tubuh akan merasakan sakit yang sama. Bulan Ramadhan juga merupakan ajang kita untuk “bertadharru’, meratap kepada Allah agar segala kesusahan, kedlaliman dan diskriminasi dijauhkan dari kita. Dan semoga umat ini juga ditunjukkan jalan yang benar, yaitu jalan dimana para pejuang kebenaran diberikan kejayaan atas orang-orang pembuat kerusakan. Semoga Allah menggandeng tangan umat ini kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tinggal beberapa hari lagi, kita kedatangan bulan Romadhan. Sudah sewajarnya kita menyambutnya dengan suka cita. Dulu para sahabat dan tabi’in senantiasa memanjatkan do’a agar di pertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. “Ya Allah sampaikan kami kepada bulan Ramadhan berikutnya”.

    Keutamaan Ramadhan.

    Keutamaan ini bisa dilihat dari turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Ini merupakan tanda yang cukup jelas betapa mulianya bulan ini, karena Al-Qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia. Allah berfirman “Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana diturunkan al-Qur’an di dalamnya untuk menjadi petunjuk bagi manusia, dan tanda-tanda dari petunjuk dan pembeda (dari yang benar dan batil)”. Untuk itulah Allah mewajibkan kaum muslimin untuk memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya dengan melaksanakan puasa sebagai realisasi rasa syukur kita kepada Allah atas ni’mat bulan Ramadhan, “Barangsiapa menemukan bulan (Ramadhan) maka berpuasalah”. Ramadhan merupakan bulan puasa, bulan mendirikan sholat, bulan memperbanyak membaca al-Qur’an, bulan yang penuh rahmat, maghfiroh dan pembebasan dari api neraka, bulan dimana segala amal kebajikan dilipatgandakan dan amal keburukan dan maksiat dimaafkan, bulan segala do’a dikabulkan, dan derajatnya ditinggikan. Allah mewajibkan puasa ini agar kita bisa bertaqwa dengan sesungguhnya, sebagaimana firman Allah :

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu melaksanakan puasa sebagaimana yang diwajibkan atas kaum sebelummu, agar kamu bertaqwa”.

    Taqwa adalah buah yang diharapkan mampu di hasilkan oleh puasa. Buah tersebut akan menjadi bekal orang beriman dan periasai baginya agar tidak terjatuh dalam jurang kemaksyiatan. Seorang ulama sufi pernah berkata tentang pengaruh taqwa bagi kehidupan seorang muslim; “Dengan bertaqwa, para kekasih Allah bisa terlindungi dari perbuatan yang tercela, dalam hatinya diliputi rasa takut kepada Allah sehingga menyebabkannya senantiasa terjaga di malam hari untuk beribadah, lebih suka menahan kesusahan dari pada mencari hiburan, rela merasakan lapar dan haus, merasa dekat dengan ajal sehingga mendorongnya untuk memperbanyak amal kebajikan. Taqwa merupakan kombinasi kebijakan dan pengetahuan, serta gabungan antara perkataan dan perbuatan.

    Di antara keutamaan bulan Ramadhan adalah seperti yang dijelaskan Rasulullah s.a.w. : “Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh syaithan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup , tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga ibuka hingga tidak ada satupun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru; “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkilah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi.)

    Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairoh RA berkata: berkata Rasulullah SAW: “Ketika telah masuk bulan Ramadhan maka dibuka pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka jahannam, dan dibeleggu semua syaithan”. Dalam Riwayat Bukhari yang lain; “ketika telah tiba bulan Ramadhan maka di bukakan pinti-pintu sorga”.

    Jadi di dalam bulan yang suci ini Allah menjauhkan semua penyebab kehancuran dan kemaksiatan, syaitan diikat dan dibelenggu, hingga tidak kuasa untuk membujuk manusia melakukan kemaksiatan yang keji dan terlarang, karena manusia sibuk melakukan ibadah, mengekang hawa nafsu mereka dengan beribadah, berdzikir dan membaca al-Qur’an. Ini sekaligus penggugah hamba beriman bahwa tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan ibadah dan taat kepada Allah ataupun melakukan maksiat karena sumber utama penyebab kemaksiatan, yaitu syetan telah dibelenggu.

    Ditutupnya pintu neraka mempunyai arti bahwa setiap hamba hendaknya tidak lagi melakukan perkara yang munkar dan mengekang diri dari menuruti hawa nafsunya, karena neraka sebagai tempat pembalasannya sedang ditutup. Pintu neraka ditutup semata untuk menghukum syaithan dan saat itulah selayaknya kemaksiatan berkurang dan sirna lalu digantikan dengan perbuatan mulia dan kebajikan.

    Sementara dibukanya pintu-pintu sorga mengisyaratkan terhamparnya kesempatan seluas-luasnya untuk meraih sorga dalam bulan Ramadhan. Iyadl berkata: ini merupakan tanda bagi para malaikat bahwa bulan yang istimewa telah tiba agar mereka menghormatinya dan menghadang syetan dari pekerjaannya mengganggu orang mu’min. Bisa juga itu mengisyaratkan banyaknya pahala dan ampunan yang diturunkan Allah agar mereka yang mengharapkannya berlomba-lomba meningkatkan amal ibadahnya dan agar mereka yang memimpikannya semakin berusaha mendapatkannya. Bisa juga maksud dibukanya pintu sorga adalah terbukanya kesempatan bagi hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketaatan, dengan terbukanya semua jalan kataatan dan tertutupnya jalan-jalan syetan. Adapun maksud terbukanya pintu-pintu langit adalah kata kiasan bagi turunnya rahmat Allah dan terbukanya tirai penutup bagi amal-amal hamba, di satu pihak karena taufiq Allah dan di lain pihak karena semua amal akan diterima Allah pada bulan tersebut. Taibi berkata : Malaikat diperintahkan memintakan rahmat kepada Allah untuk hambanya yang berpuasa dan agar mereka mendapatkan derajat yang mulia.

    Maka sangat beruntunglah bagi mereka yang mau memanfaatkan kesempatan tersebut, dan mudah-mudahan menjadi salah satu dari mereka yang dimuliakan dan diselamatkan dari api neraka di bulan suci tersebut. Sesungguhnya Allah membebaskan hamba-Nya dari siksa neraka karena beberapa amal : ada yang karena mentauhidkan Allah, ada yang karena sholat dan zakat, dan pembebasan pada bulan Ramadhan adalah karena puasa dan barakah yang terkandung di dalamnya, dengan banyaknya dzikir dan taubat yang di lakukan dalam bulan suci itu. Nabi Muhammad s.a.w. telah menceritakan dari tuhannya (Allah).; “Barang siapa berpuasa di bulan suci itu dengan beriman dan mengharap pahala dari sisi Allah maka diampuni segala dosa yang telah ia lakukan” dan barang siapa menghidupkan malam lailatul qadar dengan beriman dan bertulus hati maka diampunilah dosa yang telah ia lakukan.

    Berpuasa disertai dengan ketulusan niyat dan ikhlas akan mengantarkan hamba mendapatkan ampunan dan mendatangkan rahmat dan keridloan dari Allah. Inilah kesempatan yang terbuka bagi orang beriman agar berlomba-lomba dalam beramal kebajikan dan meninggalkan kemungkaran. Saudaraku!! jangan lewatkan kesempatan ini, apalagi sampai merugi dalam perkara ini, tidak saja kehilangan modal yang telah ada ditanganmu namun juga tidak sepeser pun keuntungan yang kau dapat, padahal di sana banyak orang-orang yang mendapatkannya. “Dan pada itu berlomba-lombalah orang-orang yang berlomba” (Q.S. 84:26).

    ***

    Oleh: Dr. Muhammad Hasan Abdul Baqi (Dewan Da’wah dan Tarbiyah, International Islamic Universtiy Islamabad)

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 15 July 2012 Permalink | Balas  

    Terminal Cinta Terakhir 

    Terminal Cinta Terakhir

    Memasuki ambang keagungan Ramadhan kali ini yang saya ingat suatu bagian dari ceramah orang yang saya cintai, yakni ustadz Yasin Hasan Abdullah ketika beliau tampil di Pesantren Daruttauhid Malang 1990.

    Beliau mengemukanan hal yang sederhana. “sekedar sesungging senyum saja dari seorang istri kepada suaminya, Allah memberinya pahala setakaran dengan satu kali salat tarawih.” Kemudian dengan tersenyum “nakal” belaiau melanjutkan dengan kalimat satire, “oleh karena itu, bagi kaum wanita kalau pas bulan Ramadhan tak bisa salat tarawih, tersenyum sajalah…”

    Ada dua sisi dari kepingan uang ” fatwa ustadz kita ini.

    Pertama,  beliau menjelaskan secara implosot betapa Islam sebagai agama, sejak semula sangat matang menyediakan inti-inti nilai (level rohani dan filosofi) beserta  komprehensinya, untuk diterjemahkan oleh para khalifah-Nya menjadi sistem nilai (level tata budaya), kemudian diterapkan, diimplementasikan, dimanifestasikan atau diwujud-kongkretakan (level bodang-bidang empiris) pada semua dan setiap langkah perilaku daan masyarakat.

    Jangankan soal tata hukum, etika sosial, moralitas politik atau berbagai keperluan mikro dan makro pergaulan, kebudayaan dan peradaban manusia” demikian kira-kira beliau melanjutkan fatwanya itu dalam hati. “Sedangkan sesungging senyum pun diurus nilainya oleh Allah melalui formula bimbingan-Nya yang bernama Islam.”

    Sisi kedua “keping uang” fatwa ustadz Yasun ialah otokritik halus terhadap tradisi “latah pahala” dalam budaya keagaman pada umumnya kaum muslimin.

    Pahala bukan saja “tidak baik”, bahkan pahala itu idaman lihur stiap hamba-Nya. Tetapi, pahala barulah sebuah “terminal” dalam perjalanan spiritual (tauhid) manusia menuju Allah yang mutlak dan abadi. Karena makna tauhid yakni menyaatukan diri kepada Allah adalah proses transformasi dari kesentaraan menuju kekekalan, dari kesemuan menuju kesejatian, atau dari posisi berjarak menuju jumbuh atau kesatuan dengan Dia yang Maha tak Terbayangkan itu.

    Saya menyebut pahala sebagai salah satu “terminal”. Artinya, ia bukan sesuatu yang harus kita jauhi, melainkan justru kita datangi. Atau lebih tepatnya kita singgahi, kemudian kita tinggalkan. Lantas kemana? Ke “terminal cinta terakhir”. Siapa lagi Dia kalau bukan Allah.

    Jadi samasekali tak salahnya beribadat demi mencari pahala. Tetapi benarkah kit aberhenti di situ?

    Mari kita renungkan kedalaman makna syahadat kita. Laa ilaaha illallah. Tak ada Tuhan Selain Allah. Apa artinya budaya Allah? Dia lah yang penting, yang utama, yang ujung segala ujung tujuan hidup kita. Secara kebudayaan kita berikrar, tak ada yang penting selain Allah, bukan tak ada yang penting selain pahala. Apa pentingnya pahala, jika kelak sudah diperkenankan “memperoleh” Allah.

    Kalau beribadat dengan orientasi dan target pahala, rasanya kok kita ini terhadap Allah pedagang pemburu laba. Padahala Allah kurang memberi apa kepada kita, hidung otak, hati, lidah, duka, dan kebahagiaan. Sementara kita tak pernah dan sanggup memberri apa pun kepada-Nya, bahkan begitu malas memberi suatu kesejatian hakikat diri kita sendiri.

    Kalau obsesi kita adalah pahala dan surga, dan kalau kita adalah pahala dan surga, dan kalau kita utamakan, jadinya kok pahala itulah yang kita Tuhankan. Apa tak malu kita kepada-Nya, pada akal dan perasaan kita sendiri.

    “Ibadat kapitalis” itu namanya. Kaum sufi menyebut kita Muslim hayawani, pelaku ibadat yang terminologinya terbatas pada surga dan neraka. Padahal keduanya hanya formula yang oleh Tuhan disesuaikan dengan idiom bahasa manusia untuk menggambarkan bentuk kebahagiaan dan kesengsaraan yang asli, keuntungan dan kerugian sesungguhnya.

    Padahal kita yang kurang serius meningkatkan mutu kemusliman sesudah memeluk Islam berpuluh-puluh tahun lamanya masih seret maju dari jenis kemusliman yang lebih rendah itu, yakni Muslim rabbani.

    Itu taraf kemusliman “birokrasi” atau “kepegawaian”. Kita melakukan salat, zakat, puasa, dan lain-lain karena  “takut pada atasan”. Kalau biasanya atasan kita camat, kasubdit, kabag atau mandor, maka dalam urusan ibadat mahdhoh, atasan kita hana Tuhan itu sendiri. Jadi kita jungkir balik di masjid dalam subtansi untuk “mengisi tanda tangan presensi”, supaya “gaji” kita tidak dipotong atau takut di-PHK.

    Kita ini memang aneh. Entah kenapa kok malas belajar kepada Rasulullah Muhammad, yang merupakan teladan utama tingkat Muslim rabbani. Muslim yang sehari berikrar, “Sesungguhnya salatku, hidupku, matiku semata-mata untuk Allah belaka,”dan melaksanakan-nya dalam implementasi kongkret kehidupannya.

    Padahal tiap salat kita juga rajin mengucapkan kalimat itu lho. Tetapi, bila sudah di kantor, ketika mengurus proyek, makelaran, membayangkan masa depan, bergaul dengan ini itu, masuk toko serba ada- anehnya Allah kok jadi nomor 27. Heran. Kita ini memang mahluk yang mbandel. Tak cocok disebut ahsani taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah. Hiii! malu ya sama Dia!

    Puasa itu adalah metoda (tarikat) yang luar biasa untuk memproses diri jadi ahsani taqwi, tak sekedar anusia Indonesia seutuhnya.” Lha wong Allah sendiri yang menciptakan metoda itu/ Dia mewajibkan puasa karena menjamin bahwa ia lebih sempurna dibanding segala penemuan metodik kita untuk merekayasa penyempurnaan kemanusiaan kita.

    Saya sendiri tak pernah selesai mengitung makna puasa. Ya untuk “peragian” rohani. Ya untuk melatih segala anasir yang baik dari mentalitas dan kejiwaan. Ya untuk menghayati secaa total betapa sia-sianya benda, kekayaan, pangkat, kenyang, enak, serta segala macam ciri dunia yang tiap hari kita kempit habis-habisan. Macam-macamlah, tak terhingga jumlah manfaatnya. Puasa membawa kita ambil jarak dari segala sesuatu  selain Allah yang selama ini menenggelamkan diri kita. Diri yang hanya satu ini kita berikan kepada dunia sampai habis, lantas apa yang tersisa untuk Allah? Padahal setiap saat kita berjanji sehidup semati, gunung kan kudaki lautan kan kusebrangi untuk Allah semata.

    Dalam Ramadhan sekarang ini apa ya tega kita kepada diri kita sendiri bila terus-terusan berpusasa dengan kadar dan target yang begini-begini terus.

    Untunglah kita-kita ini tetap dijaga oleh Allah untuk tetap Muslim terus, mmeskipun tak -naik tingkat dari barisan “ban kuning”. Dengan tetap Muslim setidaknya terpelihara pengetahuan kita bahwa Allah selalu begitu kasih memberi jalan benar kepada hamba-hamba-Nya. Antara lain melalui kewajiban puasa. Bayangkan andaikata Allah tak mewajibkan puasa, mungkin kita jadi lupa pada cinta dan tuntunan-Nya.

    Apalagi puasa itu diwajibkan bagi seluruh manusia. Juga salat, zakat, amal saleh, dan seterusnya. Banyak lho orang berkata “kalau Anda Muslim, Anda diwajibkan salat, puasa, zakat…”seolah-olah kalau kita tidak Muslim lantas tidak berdosa kalau tidak salat. Lucu.

    Kalau begitu, enakan tidak Muslim, bisa terbebas dari dosa tak salat, dosa maling, dosa korupsi, dosa menindas, dosa menggusur…

    ***

    Cak Nun

    “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiyai”, Risalah Gusti, 1994.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 14 July 2012 Permalink | Balas  

    Ada Semangat dalam Ramadhan 

    Ada Semangat dalam Ramadhan

    Oleh Satria Hadi Lubis

    Suatu ketika, seorang alim diundang berburu. Sang alim hanya dipinjami kuda yang lambat oleh tuan rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya. Semua kuda dipacu dengan cepatnya agar segera kembali ke rumah. Tapi kuda sang alim berjalan lambat. Sang alim kemudian melepas bajunya, melipat dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda yang mereka tunggangi lebih cepat. Dengan perasaan heran, tuan rumah bertanya kepada sang alim, ”Mengapa bajumu tetap kering?” ”Masalahnya kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju,” jawab sang alim ringan sambil berlalu meninggalkan tuan rumah.

    Dalam perjalanan hidup, kadangkala kita mengalami kesalahan orientasi (persepsi) seperti tuan rumah dalam cerita di atas. Kita menginginkan sesuatu namun tidak memiliki orientasi seperti yang diinginkan, sehingga akhirnya kita tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Begitu pula dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang menginginkan ibadahnya di bulan Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik. Namun setelah Ramadhan, ternyata sifat dan perilakunya kembali seperti semula. Tak berubah secara signifikan. Ia hanya mendapatkan lapar dan haus. Persis seperti yang disabdakan Nabi saw, ”Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun, kecuali lapar dan haus.”

    Hal itu karena orientasinya keliru. Ia tidak tahu hikmah di balik keagungan bulan Ramadhan. Salah satu dari sekian banyak hikmah Ramadhan yang sering dilupakan orang adalah fungsinya sebagai pembangkit semangat hidup. Ramadhan sesungguhnya adalah bulan motivasi (syahrul hamasah). Ramadhan semestinya mampu menjadikan setiap muslim yang beribadah di dalamnya menjadi termotivasi hidupnya. Coba kita lihat apa yang terjadi pada diri nenek moyang kita (para sahabat dan ulama sholihin) setelah ditempa Ramadhan. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai ajang pembakaran semangat yang membara. Sejarah mencatat dengan tinta emas sepak terjang mereka yang produktif. Banyak orang yang tak tahu, karena memiliki motivasi yang tinggi, umat Islam terdahulu menjadi penguasa dunia selama lebih kurang 14 abad. Lebih lama daripada kejayaan Eropa. Apalagi dari Amerika yang baru berjaya di akhir abad ini.

    Kejayaan Islam yang demikian lama di masa lalu tak bisa dipisahkan dari semangat nenek moyang kita untuk selalu bersemangat dan produktif dalam berkarya. Beberapa contoh bisa disebutkan di sini. Ibnu Jarir, misalnya, mampu menulis 14 halaman dalam sehari selama 72 tahun. Ibnu Taymiyah menulis 200 buku sepanjang hidupnya. Imam Ghazali adalah peneliti di bidang tasawuf, politik, ekonomi dan budaya sekaligus. Al-Alusi mengajar 24 pelajaran dalam sehari. Sedang Jabir bin Abdullah rela menempuh perjalanan selama satu bulan demi mendapatkan satu riwayat hadits. Fatimah binti Syafi’i pernah menggantikan lampu penerangan untuk ayahnya (Imam Syafi’i) sebanyak 70 kali. Semangat mereka terangkum dalam perkataan Abu Musa Al-Asy’ari ra.yang pernah ditanya oleh sahabatnya, ”Mengapa Anda tidak pernah mengistirahatkan diri Anda?” Abu Musa menjawab, ”Itu tidak mungkin, sesungguhnya yang akan menang adalah kuda pacuan!” Suatu ungkapan indah yang menggambarkan semangat yang membara, jiwa yang selalu ingin berkompetisi, berani dan pantang menyerah.

    Semangat Itu Ada di Depan Kita

    Semangat nenek moyang kita yang luar biasa dalam beramal tak bisa dilepaskan dari orientasi mereka yang benar terhadap fungsi ibadah dalam Islam, termasuk fungsi ibadah Ramadhan sebagai ajang melejitkan motivasi (achievement motivation training). Beda dengan kebanyakan kaum muslimin saat ini yang lebih memahami ibadah Ramadhan sebagai kegiatan seremonial dan tradisi tanpa makna.

    Beberapa bukti yang menunjukkan fungsi Ramadhan sebagai bulan pemotivasian adalah:

    1. Shaum (puasa)

    Tahukah Anda bahwa kekuatan semangat dapat mengalahkan kekuatan fisik? Itulah yang Allah latih kepada kita di bulan Ramadhan. Selama sebulan kita dilatih untuk mengalahkan nafsu yang berasal dari tubuh kasar kita; nafsu makan, minum, dan seksual. Kenyataannya, di bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan tarikan nafsu demi memenangkan semangat ruh kita. Sayangnya, latihan itu tidak dilanjutkan dalam skala kehidupan yang lebih luas dan dalam waktu yang lebih lama setelah Ramadhan, sehingga banyak di antara kita yang hidupnya tidak bersemangat dan produktif dalam beramal. Padahal kunci motivasi itu adalah kemampuan mengalahkan kekuatan fisik. Itulah yang kita lihat pada diri Abdullah bin Ummi Maktum ra.yang matanya buta tapi ngotot untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Juga pada diri Cut Nyak Dien atau Jenderal Sudirman, yang pantang menyerah kepada pasukan kolonial walau dalam kondisi sakit parah.

    2. Tarawih

    Ramadhan sebagai syahrul hamasah juga terlihat dalam pelaksanaan sholat tarawih. Sholat tarawih artinya sholat (di waktu malam) yang dilakukan dengan santai. Di zaman sahabat, sholat tarawih biasa dilakukan sepanjang malam. Dengan bacaan yang panjang dan diselingi juga dengan istirahat yang lama. Bahkan pernah dalam satu riwayat, para sahabat melakukan sholat tarawih berjama’ah sampai menjelang subuh. Hikmah dari ibadah tarawih yang dilakukan dengan santai dan tidak terburu-buru adalah untuk membentuk watak kesabaran dan ketekunan. Kita tahu, kesabaran dan ketekunan adalah kunci dari motivasi. Tidak mungkin seseorang itu termotivasi dan produktif berkarya tanpa memiliki sifat sabar dan tekun. Watak inilah yang dimiliki oleh nenek moyang kita, sehingga mereka menjadi umat yang jaya di masa lalu. Hal ini berbeda dengan pelaksanaan sholat tarawih di masa kini. Di mana waktunya tidak lebih dari 1-2 jam. Bahkan seringkali dilakukan tergesa-gesa. Hikmah tarawih sebagai ibadah yang melatih watak kesabaran dan ketekunan menjadi hilang, sehingga lenyap pulalah salah satu sarana pelatihan umat Islam untuk menjadi orang yang termotivasi hidupnya.

    3. I’tikaf

    Sarana lain yang disediakan Allah SWT untuk membentuk ruh semangat adalah i’tikaf. Ibadah i’tikaf berarti diam menyepi (untuk mengingat Allah) dan meninggalkan kesibukan duniawi. Bagi laki-laki, i’tikaf dilakukan di masjid. Sedang bagi perempuan dilakukan pada ruangan khusus di rumahnya. Nabi Muhammad saw tidak pernah meninggalkan ibadah i’tikaf ini sepanjang hidupnya. Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang sholih sepeninggal beliau. Sudah menjadi hal yang lazim di masa nenek moyang kita bahwa setiap Ramadhan masjid penuh dengan orang-orang yang i’tikaf.

    Bandingkan dengan kondisi sekarang. I’tikaf menjadi ibadah yang asing bagi kebanyakan kaum muslimin. Padahal ibadah ini sangat penting untuk kontemplasi diri. Dalam i’tikaf, kita melakukan uzlah (pertapaan) sebagai modal penting untuk bangkit dari keterpurukan atau sebagai momen untuk berubah. Nabi Muhammad saw berubah dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa (nabi) setelah uzlah ke Gua Hiro. Lalu Allah menggantikan sarana uzlah tersebut dengan i’tikaf untuk kita. Agar kita meniru perubahan menjadi manusia luar biasa tersebut seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.. Allah meminta kita agar mengulangi momen uzlah tersebut setiap tahun, sehingga kita selalu termotivasi untuk berubah semakin baik dari tahun ke tahun. Dari bulan ke bulan. Bahkan dari hari ke hari. Nabi saw bersabda, ”Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemaren, ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, ia merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemaren, ia beruntung.”

    Ramadhan sebagai bulan pemotivasian seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh kita semua. Sungguh beruntunglah mereka yang menggunakan Ramadhan sebagai ajang peningkatan motivasi hidupnya. Lalu dengan modal Ramadhan ia mengisi hari-harinya di luar Ramadhan dengan semangat yang membara untuk beramal melesat ke angkasa kemuliaan. Sungguh, ada semangat dalam Ramadhan.

    ***

    Satria Hadi Lubis, MM, MBA

    Konsultan Manajemen Kehidupan dan Penulis Buku-Buku Pengembangan Pribadi

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 11 July 2012 Permalink | Balas  

    Panduan I’tikaf Ramadhan 

    Panduan I’tikaf Ramadhan

    Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan ) oleh Rasulullah SAW adalah i’tikaf. setiap muslim dianjurkan (disunnatkan) untuk beri’tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.

    Definisi I’tikaf

    Para ulama mendefinisikan i’tikaf yaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT . Ibnu Hazm berkata: I’tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqorrub kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. (al Muhalla V/179)

    Hukum I’tikaf

    Para ulama telah berijma’ bahwa i’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnatkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. A’isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: “Adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ” HR. Bukhori & Muslim) Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian halnya para shahabat dan istri beliau senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: ” Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan i’tikaf bukan sunnat”.

    Fadhilah (keutamaan) I’tikaf

    Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukan anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf? Ahmad menjawab : tidak kecuali hadits lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para istri Rasulullah SAW dan para ulama’ salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

    Macam-macam I’tikaf

    I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I’tikaf sunnah yaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I’tikaf yang wajib yaitu yang didahului dengan nadzar (janji), seperti : “Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri’tikaf.

    Waktu I’tikaf

    Untuk i’tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan, sedangkan i’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya’la bin Umayyah berkata: “Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i’tikaf”.

    Syarat-syarat I’tikaf

    Orang yang i’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :

    1. Muslim
    2. Berakal
    3. Suci dari janabah ( junub), haidh dan nifas.

    Oleh karena itu i’tikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

    Rukun-rukun I’tikaf

    1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)
    2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh : 187)

    Disini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat i’tikaf . Sebagian ulama membolehkan i’tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama’ah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan shalat jama’ah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i’tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum’at, sehingga orang yang i’tikaf tidak perlu meninggalkan tempat i’tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum’at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang afdhol yaitu i’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah SAW i’tikaf di masjid jami’. Lebih afdhol di tiga masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

    Awal dan akhir I’tikaf

    Khusus i’tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa yang ingin i’tikaf dengan ku, hendaklah ia beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan (HR. Bukhori). 10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i’tikaf dilakukan 10 malam terakhir, yaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.

    Hal-hal yang disunnahkan waktu i’tikaf

    Disunnahkan agar orang yang i’tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT, seperti shalat, membaca al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do’a dan sebagainya. Termasuk juga didalamnya pengajian, ceramah, ta’lim, diskusi ilmiah, tela’ah buku tafsir, hadits, siroh dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktifitas ilmiah lainnya dan berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

    Hal-hal yang diperbolehkan bagi mu’takif (orang yang beri’tikaf)

    1. Keluar dari tempat i’tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)
    2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
    3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluanya .
    4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

    Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

    1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan salah satu rukun i’tikaf yaitu berdiam di masjid.
    2. Murtad (keluar dari agama Islam)
    3. Hilangnya akal, karena gila atau mabuk
    4. Haidh & Nifas
    5. Berjima’ (bersetubuh dengan istri) (QS. 2: 187). Akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.
    6. Pergi shalat jum’at ( bagi mereka yang membolehkan i’tikaf di mushalla yang tidak dipakai shalat jum’at)

    Wallahu’alam.

    ***

    Sumber : The Indonesian Muslim Student Association of North America

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 10 July 2012 Permalink | Balas  

    Bagaimana Hukum Air Laut itu 

    Bagaimana Hukum Air Laut itu

    Air Laut itu hukumnya suci dan halal bangkainya, sebagaimana sabda Rasulullah sholallhu ‘alahi wasallam:

    Dari Abu Hurairah radhiAllahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah sholallahu ‘alahi wasallam ditanya oleh seorang lali-laki, ia bertanya : Ya Rasulullah, sesungguhnya kami berlayar di laut, dan kami membawa sedikit air (tawar) jika kami berwudhu dengan air itu, kami akan kehausan, apakah kami boleh berwudhu dengan air laut? Kemudian Rasulullah menjawab: “Laut it suci airnya, halal bangkainya”. {Riwayat Imam yang Lima, dan berkata At Tirmidzi Hadist ini Hasan Shahih}. [Naiul Authar : Hadist No. 1]

    Hadist ini menerangkan bahwa Air laut itu suci airnya dan juga bangkainya halal. Sebagai catatan tentu saja bangkai yang dimaksud adalah bangkai yang masih segar bukan bangkai yang sudah membusuk, karena dalam syari’at ini selain kita diperintah untuk memakan yang halal tapi harus disertai dengan kadar makanan yang baik, sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

    Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 9 July 2012 Permalink | Balas  

    Sabar 

    Sabar    

    Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

    Sekilas Tentang Hadits :

    Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh:

    • Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al- Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.
    • Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 & 23412.
    • Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al- Riqaq, Bab Al-Mu’min Yu’jaru Fi Kulli Syai’, hadits no 2777.

    Makna Hadits Secara Umum

    Setiap mukmin digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah `ajaban’. Pesona berpangkal dari adanya positif thinking seorang mukmin. Ketika mendapatkan kebaikan, ia refleksikan dalam bentuk syukur terhadap Allah swt. Karena ia paham, hal tersebut merupakan anugerah Allah. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, ia akan bersabar. Karena ia yakin, hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang ada rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt.

    Urgensi Kesabaran

    Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan: seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menggambarkan ciri dan keutamaan orang beriman sebagaimana hadits di atas.

    Makna Sabar

    Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran”. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

    Perintah bersabar pada ayat di atas adalah untuk menahan diri dari keingingan `keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabnya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah swt.

    Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

    Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).”

    Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an

    Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an, baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah swt.

    1. Sabar merupakan perintah Allah. “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.
    2. Larangan isti’jal (tergesa-gesa). “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (Al-Ahqaf: 35)
    3. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar: “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 177)
    4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
    5. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)
    6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Ra’d: 23 – 24)

    Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits

    Sebagaimana dalam Al-Qur’an, dalam hadits banyak sekali sabda Rasulullah yang menggambarkan kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar:

    1. Kesabaran merupakan “dhiya’ ” (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim)
    2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah pernah menggambarkan: “…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” (HR. Bukhari)
    3. Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)
    4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.” (HR. Muslim)
    5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, `Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya’.” (HR. Bukhari)
    6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas’ud berkata”Seakan-akan aku memandang Rasulullah saw. menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, `Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari)
    7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)
    8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullan saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)
    9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah saw. mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan- angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, `Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari Muslim)

    Bentuk-Bentuk Kesabaran

    Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga:

    1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.
    2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, dan memandang sesuatu yang haram.
    3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta dan kehilangan orang yang dicintai.

    Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran

    Ketidaksabaran (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran. Di antaranya:

    1. Mengikhlaskan niat kepada Allah swt.
    2. Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.
    3. Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.
    4. Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.
    5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.
    6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.
    7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 8 July 2012 Permalink | Balas  

    Mengutuk Orang Muslim 

    Mengutuk Orang Muslim

    Yang dimaksudkan dengan mengutuk ialah mendoakan orang lain agar mendapat kecelakaan. Mengutuk adalah satu perbuatan yang terlarang kita lakukan sesama muslim. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW. di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud:

    ” Mencaci orang Islam itu termasuk fasik dan membunuhnya termasuk kafir.”

    Rasulullah SAW. bersabda: “Mengutuk seorang mukmin itu seperti membunuhnya.” [HR Jamaah selain Ibnu Majah, hadis riwayat Tsabit bin Adl-Dlahak]

    Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba bila melaknat seseorang niscaya laknat itu akan naik ke langit kemudian menutup pintu pintu langit di bawahnya, lalu turun ke bumi menutup pintu pintu yang lain, kemudian mengambil tangan kanan di tangan kirinya, apabila tidak memenuhi sasarannya, ia kembali kepada orang yang dilaknat dan jika tidak bisa ia akan kembali kepada orang yang melaknatnya.” [HR Abu Daud]

    Rasulullah SAW. bersabda ” Tidaklah para pelaknat itu dapat jadi penolong dan saksi di hari kiamat.” [HR Muslim dan Abu Daud]

    Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak pantas seorang teman baik, mengutuk temannya” [HR Muslim dari Abu Hurairah]

    Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW. bersabda:

    “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencerca, bukan yang suka menjuluki, bukan yang suka berbuat keji, dan bukan juga orang yang suka membicarakan yang keji”.

    Dari hadis hadis tersebut di atas telah diterangkan bahwa mengutuk orang mukmin itu termasuk perbuatan yang berdosa, karena kutukan dan laknat itu menjadi hak dan wewenang ALLAH SWT saja, dalam menghukum setiap hambanya. Sehingga kita dilarang mengutuk karena kegunaan kutukan itu mengharapkan supaya ALLAH SWT. mencabut semua nikmat yang telah diberikan kepada hamba tersebut baik nikmat lahir maupun nikmat batin, supaya dia (orang yang dilaknat) tidak memperoleh nikmat dan anugerahNya. Oleh karena itu Rasulullah SAW. melarang perbuatan itu, bahkan menganjurkan sebaliknya yaitu supaya saling mendoakan sesama muslim agar mendapat nikmat dan kurnia dari ALLAH SWT.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 7 July 2012 Permalink | Balas  

    Mengapa Doa tak terkabul 

    Mengapa Doa tak terkabul

    KETIKA Ibrahim bin Adham, seorang ulama tasawuf yang terkemuka, sedang berjalan disebuah pasar di kota Basrah, sekumpulan manusia menghampirinya lalu bertanya kepadanya:

    “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (Al-Mukmin:6)

    “Kami telah menyeru-Nya berkali-kali tetapi Allah masih tidak menjawab dan memperkenankan seruan kami itu.”

    Maka Ibrahim bin Adham pun berkata:

    “Wahai kaum Basrah! Sesungguhnya hati kamu itu telah mati dalam beberapa perkara.

    “Kamu telah mengenal Allah, tetapi kamu tidak menunaikan hak-Nya. “Kamu telah membaca Kitab Allah, tetapi kamu tidak beramal dengannya.

    “Kamu mendakwa bahwa kamu cintakan Rasulullah saw tetapi kamu tinggalkan sunnahnya.

    “Kamu telah katakan bahwa maut itu adalah benar tetapi kamu tidak bersedia menghadapinya.

    “Kamu telah katakan bahwa kamu takutkan api neraka tetapi kamu telah meridhoi diri kamu padanya.

    “Kamu telah katakan bahwa kamu kasihkan syurga tetapi kamu tidak beramal semata-mata untuknya. “Kamu sibuk dengan keaiban saudara-saudara kamu tetapi kamu lupa menutup keaiban kamu. “Kamu telah merasai nikmat Tuhan kamu tetapi kamu tidak bersyukur pada-Nya.

    “Kamu telah mengebumikan mayat-mayat saudara kamu yang telah meninggal dunia tetapi kamu tidak mengambil contoh dan pelajaran atas kematian mereka. “Bagaimanakah Allah swt hendak memperkenankan seruan kamu itu?”

    Jika kita meneliti apa yang telah dikatakan oleh Ibrahim bin Adham itu, Maka kita dapati bahwa nasihatnya itu sesuai dengan firman Allah yang artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. (Surah Al-Baqarah: 186)

    Kita perlu mawas diri bahwa seseorang Muslim itu tidak harus Selalu bertumpu kepada ayat pendek ini, malah hendaklah dia meneruskan pemahamannya pada ayat ini: Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Surah Al-Baqarah: 186)

    Justeru itu, hendaklah kita menyahut segala perintah Allah dan meninggalkan segala laranganNya. Di sini juga kita dapat mengambil pelajaran, diantaranya:

    Umumnya susunan kata pada orang yang berdoa mengesankan bahwa Seseorang hamba ingin sekali dan tidak sabar agar doanya terkabul secepat mungkin, namun apabila mereka dapati doa mereka itu sudah terkabul, maka mereka terus meninggalkan doa itu sama sekali.

    Sikap ini diibaratkan oleh Ibnu Qayyim seperti seorang insan menanam sesuatu benih. Mereka menjaga dan mengairinya setiap saat. Apabila mereka dapati usaha itu lewat dan mendatangkan hasil, maka ia terus ditinggalkannya. Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya :

    Diperkenankan (doa) salah seorang daripada kamu, jika dia tidak berniat mengharapkan hasilnya dengan segera. Baginda menambah lagi …aku pernah menyeru (Tuhanku), tapi tidak diperkenankan bagiku.

    Baginda bersabda lagi yang bermakna : Jangan sekali-kali kamu lemah dalam berdoa. Tidak mendatangkan kebinasaan jika seseorang itu menyertai dirinya dengan berdoa.

    Allah berfirman pula dalam Kitab Suci-Nya yang artinya : Jadilah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Surah Al-Baqarah: 45).

     
    • Andri wisnu 11:19 am on 10 Juli 2012 Permalink

      saya menyukai blog anda, rekomendasi dari istri untuk mengunjungi blog ini, isi postingannya membuat pencerahan bagi saya, thank nice info

  • erva kurniawan 1:08 am on 6 July 2012 Permalink | Balas  

    Neraka oh Neraka 

    Neraka oh Neraka

    Kehebatan apinya

    Abu Hurairah meriwayatkan:

    “Ketika Rasulullah berkata: Api dunia kamu adalah satu dari 70 bagian api neraka;”lalu seseorang bertanya;”Ya Rasulullah, adakah ia tidak akan mencukupi untuk membakar orang kafir? Maka Rasulullah menjawab “Api neraka mempunyai 69 bagian lebih dari api biasa di dunia,dan kesemuanya adalah sangat panas sebagaimana api dunia. (Riwayat Bukhari)

    Kesan neraka pada dunia saat ini

    Kesan-kesan kehebatan neraka dapat dirasakan di dunia ini berdasarkan hadis Rasulullah:

    Diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

    Rasulullah bersabda: Api neraka mengadu kepada Allah dengan berkata;”Hai Tuhanku, bagian-bagian padaku memakan di antara satu sama lain. “Lalu Allah membenarkannya mengambil dua pernafasan yaitu pada musim sejuk dan pada musim panas. Inilah sebabnya mengapa kamu terasa terlalu panas dan terlalu sejuk,” Riwayat Bukhori

    Makanan penduduk neraka

    Penduduk neraka tetap diberi makanan walaupun makanan ini tidak menyuburkan badan mereka.

    Firman Allah:

    “Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” Al Ghasiyah 6-7

    Minuman ahli neraka

    1. Hamim (air yang mendidih)

    Firman Allah:

    “Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya.”

    2. Ghassaq (nanah dan darah)

    Firman Allah:

    “Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini.Dan tiada makanan sedikit pun kecuali dari darah dan nanah.Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” Al Haqqah 35-37

    3. Sadid (air danur (nanah) yang keluar dari tubuh ahli neraka)

    Firman Allah:”Dihadapan mereka ada neraka Jahannam,dan ia diberi minum dari air danur(nanah yang keluar dari tubuh ahli neraka.” Ibrahim 16

    4. Air seperti Tembaga cair

    Firman Allah:

    “Dan jika mereka meminta minum,niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti tembaga yang mendidih yang menghanguskan muka mereka.Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling hina.” Al Kahfi 29.

    Pakaian ahli neraka

    1. Pakaian dari api

    Firman Allah: “Inilah dua golongan(mukmin dan kafir) yang bertengkar,mereka saling bertengkar mengenai tuhan mereka.Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian dari api neraka.Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” Al Hajj 19

    2. Pakaian dari minyak tar

    Firman Allah: “Pakaian mereka adalah dari minyak tar dan muka mereka diliputi oleh jilatan api neraka.” Ibrahim 50.

    Bahan bakar api neraka

    Bahan bakar neraka adalah terdiri dari manusia dan jin yang kafir dan ingkar kepada Allah,batu-batu termasuk patung berhala.

    Firman Allah; “Hai orang yang beriman.Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;penjaganya malaikat yang kasar,yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya dan mengerjakan apa yang diperintahkanNya.” (At Tahrim 6)

    Penduduk neraka

    Imran bin Husin meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda:

    “Aku melihat ke dalam syurga dan mendapati kebanyakan penduduknya adalah orang miskin,dan aku melihat ke dalam neraka,aku mendapati kebanyakan penduduknya adalah wanita,” Riwayat Bukhori.

    Nama-nama neraka

    Neraka mempunyai beberapa nama sebagaimana telah disebutkan di dalam Al Quran, iaitu:

    1. Jahannam –

    Firman Allah yang artinya “Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai.” An- Naba:21

    2. Latho

    Firman Allah yang bermaksud “Sekali-kali tidak dapat sesungguhnya neraka (Latho) itu adalah api yang bergolak, yang mengelupaskan kulit kepala” – Al- Ma’arij; 15-16.

    3. Al-Hutamah

    “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Dan tahukah kamu apa Hutamah itu? Iaitu api yang disediakan Allah yang dinyalakan, yang naik sampai ke hati.” Al – Humazah 4-7

    4. Sa’ir

    Yang disebutkan dalam surah Asy-Syura:7 yang artinya: ..Sesungguhnya masuk ke syurga dan segolongan masuk ke neraka sa’ir.’

    5. Saqar

    Firman Allah yang artinya “Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apakah neraka Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.”

    6. Al- Jahim

    “Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat.” Asy-Syura :91

    7. Al- Hawiyah

     “Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. …. yaitu api yang sangat panas.” Al- Qari’ah;8-11.

    Penjaga neraka

    Al Quran menyebutkan bahwa jumlah penjaga neraka itu sembilan belas seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surah Al- Muddaththir ayat 30-31. Salah satu dari sembilan belas itu adalah Malik, penjaga pintu neraka. Allah telah menyebutkan namanya dalam Al-Qur’an yang artinya “Mereka berseru, Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja. Dia menjawab; Kamu akan tetap tinggal di neraka ini.”

    Inikah rumah masa depan kita ?

    NAUDZUBILLAHI MIN DZALIK

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 5 July 2012 Permalink | Balas  

    Takabbur 

    Takabbur

    Sombong atau takabur (takabbur) adalah sifat hati yang terkeji (madzmumi) dan merupakan satu daripada penyakit hati yang membawa akibat kebinasaan diri. Pengertian tentang takabur dapat difahami dari maksud beberapa hadist yang berikut :

    Rasulullah bersabda, “Dianggap sebagai takabur itu ialah menolak apa yang benar dan mengaggap hina kepada orang lain”. (HR. Muslim).

    Bersabda Rasulullah saw kepada sahabatnya, Abu Dzar : “Takabur itu meninggalkan kebenaran dan engkau mengambil selain kebenaran. Engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu”.

    Rasulullah saw bertanya kepada sekumpulan Sahabat, “Tahukah kamu, orang gila yang sebenar-benarnya?” Para Sahabat menjawab, “Tidak tahu, ya Rasulullah”. Lalu Rasulullah menjelaskan, “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan takabur, memandang rendah kepada orang lain, membusungkan dada, mengharapkan syurga sambil membuat maksiat dan kejahatannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya”.

    Berdasarkan kisah di dalam al-Qur’an, makhluk yang pertama yang diserang dan menjadi mangsa penyakit takabur ialah Iblis (la’natullah). Walaupun diperintah oleh Allah swt, Iblis enggan menghormati Adam a.s (manusia dan nabi Allah yang pertama) karena dia menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam. Katanya, “Aku lebih baik daripadanya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan daripada tanah” (QS 7:12). Iblis lalu dilaknat oleh Allah swt karena sifat takaburnya itu. Sekurang-kurangnya dua akibat kecelakaan yang menimpa Iblis karena ketakaburnya :

    Pertama, ia dimasukkan ke dalam golongan kafir. Allah Taala berfirman :

    Ia (Iblis) enggan dan menyombong diri (takabbur) dan ia termasuk golongan yang kafir (QS 2:34).

    Kedua, ia dimasukkan ke dalam golongan orang yang terhina dan tidak layak tinggal di syurga. Allah berfirman :

    Turunlah engkau dari syurga itu karena tidak patut (tidak layak) bagimu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina. (QS 7:13).

    Sifat takabur itu dapat dikenali dari tutur kata dan tingkah laku bersumber dari lintasan hati yang mengandung rasa tinggi atau besar diri di samping merendah-kan mertabat orang lain atau menolak kebenaran.

    Mengikut Abu Yazid: “Seorang hamba itu selama masih mempunyai sangkaan, bahwa antara makhluk ada orang yg lebih buruk atau lebih jahat amalannya daripada dirinya sendiri, maka orang itu bersifat takabur”.

    Lalu Abu Yazid ditanya, “Kapan seseorang itu dapat disebut sebagai bertawadhuk(rendah hati)?”

    Abu Yazid menjawab, “Ketika ia tidak tahu bagaimana kedudukan serta keadaan dirinya sendiri”.

    Lawan sifat takbur itu ialah tawadhuk (tawadhdhuk atau dhi’ah), yaitu lintasan rasa rendah dan hina diri, termasuk pernyataan lewat perbuatan dan lisan. Dengan menyuburkan sifat dan sikap merendah hati dan pasrah kepada Allah, seseorang akan dapat mencegah penyakit takabur dan juga ujub. Tawaduk itu adalah sifat hati yang terpuji (mahmudi). Sifat ini membawa kemuliaan. Orang yang berkenaan akan mendapat kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Allah.

    Rasulullah saw bersabda, mafhumnya : Allah tidak akan memberi tambahan kepada seorang hamba karena gemar memberi maaf kecuali kemulian, dan tiada seorang pun yang merendahkan diri karena mengharapkan keridhaan Allah kecuali Allah akan memberi tingkat yang tinggi kepadanya (HR. Muslim).

    Takabur dan tawaduk masing-masing ada kalanya bersifat umum dan ada kalanya bersifat khusus. Orang yang merasakan tidak memadai dengan kerendahan atau kesederhanaan hidupnya dikatakan terjatuh ke dalam Takabur Umum. Sebaliknya, orang yang merasakan sudah berada  dengan keperluan hidup sekadar yang ada, walaupun yang rendah atau sederhana mutunya, dia termasuk dalam tawaduk umum. Adapun Takabur Khusus bersifat tertutup, tidak mau menerima, malah tidak bersedia untuk menerima kebenaran dari orang lain.

    Lawannya ialah Tawaduk Khusus yang bersifat terbuka, sentiasa melatih diri untuk menerima kebenaran tanpa mengira ada orang yang membawa kebenran itu hina atau mulia. Untuk mempertahankan tawaduk umum, kita hendaklah sentiasa menginggati pengalaman pahit yang pernah menimpa diri kita sejak mula dilahirkan dan senantiasa menginsafi diri kita sebagai hamba Allah, sekurang-kurangnya sebagaimana yang dikatakan oleh ulama:

    “Asal kamu dari setitik mani (nuthfah) yang anyir. Akhir kamu menjadi bangkai (mayat) yang busuk. Dan, di antara keduanya, sepanjang hayat, kamu menanggung kekotoran (najis) di dalam perut kamu”.

    Untuk mempertahan tawaduk khusus pula kita hendaklah sentiasa mengingati siksaan Allah Taala sebagai pembalasan, sekiranya kita menyeleweng daripada kebenaran dan berpanjangan di dalam kebatilan. Berbeda dengan sifat-sifat hati lain yang hanya mengotori amal ibadah dan memudaratkan perkara “cabang” saja dalam agama, takabur memudaratkan perkara “pokok”, mengotori agama dan akidah. Sekurang-kurangnya takabur mengakibatkan empat mudharat :

    1. terhalang dari mendapat kebenaran dan buta mata hati dalam makrifat terhadap ayat-ayat yang mengandung pengertian tentang hukum dan hikmat Allah. Allah Taala berfirman, mafhumnya:

    Aku akan memalingkan mereka dari ayat-ayat-Ku orang yang menyombongkan dirinya (takabur) di muka bumi tanpa alasan yang benar. (QS 7:146)

    Demikianlah Allah menguncikan hati setiap orang yang takabur lagi sewenang-wenang. (QS 40:35)

    2. dimurkai dan dibenci oleh Allah Taala, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud :

    Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang membesarkan dirinya (takbur). (QS 16:23)

    Diriwayatkan : Nabi Musa a.s telah bertanya kepada Allah, “Hai, Tuhanku. Siapakah di antara makhluk-Mu yang paling Engkau murkai?”. Allah Taala berfirman, mafhumnya: Orang takbur hatinya, kasar lidahnya, terkelip-kelip matanya, bakhil tangannya dan jahat perangainya”.

    3. mendapat kehinaan dan siksaan di dunia sebelum di akhirat.

    Bersyair Khatimul-Asham, “Jauhkan dirimu dari mati dalam tiga keadaan, yaitu takabur, loba dan ujub. Sesungguhnya, orang yang takabur itu tidak dikeluarkan oleh Allah Taala dari dunia sehingga dia diperlihatkan dulu penghinaan ke atasnya kepada sekurang-kurangnya keluarganya sendiri. Orang yang loba tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah merasa sangat memerlukan secuil roti dan seteguk air karena terlalu lapar dan dahaga tetapi tak lalu ditelannya. Dan, orang yang ujub juga tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah diperlihatkan dirinya bergelimang dengan air kencing dan tahinya sendiri”.

    Gambaran penghinaan di akhirat pula terdapat dalam hadist dari Abu Hurairah r.a. Katanya, Rasulullah bersabda :

    “Orang-orang yang sombong, keras kepala dan takabur, akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti kumpulan semut, dipijak-pijak oleh manusia karena hinanya mereka di sisi Allah Ta’ala”.

    4. disiksa di akhirat dan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Taala (tersebut dalam Hadis Qudsi), mafhumnya: Kebesaran itu selindang-Ku dan ‘adzmat (keagungan) itu kainku. Sesiapa merebut salah satu daripada yang dua itu, Aku masukkan dia ke neraka Jahannam.

    Rasulullah bersabda : “Tiada akan masuk syurga orang yang ada di dalam hatinya seberat biji sawi daripada sifat takabur” (HR. Muslim).

    Mengikut hadist yang lain, Rasulullah bersabda : “Wahai Abu Dzar, barangsiapa mati dalam keadaan hatinya ada sebesar debu sahaja dari sifat takabur, dia tidak akan tercium bau syurga kecuali bila bertaubat sebelum maut menjemputnya”.

    Biasanya faktor yang menimbulkan rasa takbur di hati seseorang itu ialah sesuatu kelebihan atau keistimewaan yang dimilikinya. Banyak faktornya. diantaranya sebagaimana yang dilantunkan oleh Imam al-Ghazali, yaitu : Ilmu, ibadah / amal, keturunan, kejelitaan atau ketampanan rupa paras, kekayaan harta benda, kekuasaan / kekuatan dan banyak pengikut / kaum keluarga.

    Demikianlah, memang sudah jelas sekali, sebagaimana yang telah berlaku. Iblis menjadi takabur karena faktor keturunannya (asal kejadiannya), Fir’aun karena kekuasaannya dan Qarun karena hartanya. Jadi, sesiapa yang memiliki kelebihan atau keistimewaan dalam hal-hal yang tersebut, hendaklah berhati-hati agar tidak terhanyut di lautan ghaflah atau menjadi lupa daratan sehingga hatinya dihinggapi penyakit takabur.

    Wallahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 2 July 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Sombong atau Jadilah Iblis 

    Jangan Sombong atau Jadilah Iblis

    Cerita tentang kesombongan, tentang takabur, tentang selalu berbangga diri, adalah sebuah kisah yang lebih tua dibanding penciptaan manusia. Ia hadir dan berawalketika manusia masih dalam perencanaan penciptaan. Karenahanya para malaikatmakhluk yang diciptakansebelum manusia, kesombongan sejatinyaberhulu dari malaikat.

    ADALAH Azazil, malaikat yang dikenal penduduk surga karena doanya mudah dikabulkan oleh Allah. Karena selalu dikabulkan oleh Allah, bahkan para malaikat pernah memintanya untuk mendoakan agar mereka tidak tertimpa laknat Allah.

    Tersebutlah suatu ketika saat berkeliling di surga, malaikat Israfil mendapati sebuahtulisan”Seorang hamba Allah yang telah lama mengabdi akan mendapat laknat dengan sebab menolak perintah Allah.”Tulisan yang tertera di salah satu pintu surga itu, tak pelak membuat Israfil menangis. Ia takut, itu adalah dirinya. Beberapa malaikat lain juga menangis dan punya ketakutan yang sama seperti Israfil, setelah mendengar kabar perihal tulisan di pintu surga itu dari Israfil. Mereka lalu sepakat mendatangi Azazil dan meminta didoakan agar tidak tertimpalaknat dari Allah.Setelah mendengar penjelasan dari Israfil dan para malaikat yang lain, Azazil lalu memanjatkan doa. “Ya Allah. Janganlah Engkau murka atas mereka.”

    Di luar doanya yang mustajab, Azazil dikenal juga sebagai Sayidul Malaikat alias penghulu para malaikat danKhazunal Janah (bendaharawan surga). Semua lapis langit dan para penghuninya, menjuluki Azazil dengan sebutan penuh kemuliaan meski berbeda-beda.Pada langit lapis pertama misalnya, iaberjuluk‘Aabid, ahli ibadah yang mengabdi luar biasa kepada Allah pada langit lapis pertama.

    Di langit lapis kedua,julukan pada Azazil adalah Raki Eatau ahli ruku kepada Allah. Saajid atau ahli sujud adalah gelarnya di langit lapis ketiga. Pada langit berikutnya ia dijuluki Khaasyi Ekarena selalumerendah dan takluk kepada Allah. Karena ketaatannya kepada Allah, langit lapis kelima menyebut Azazil sebagai Qaanit. Gelar Mujtahid diberikan kepada Azazil olehlangit keenam, karena ia bersungguh-sungguh ketika beribadah kepada Allah.Pada langit ketujuh, ia dipanggil Zaahid, karena sederhana dalam menggunakan sarana hidup.

    Selama 120 tahun, Azazil, si penghulu para malaikat menyandang semuagelar kehormatan dan kemuliaan, hingga tibalah ketika para malaikat melakukan musyawarah besar atas undangan Allah.Ketika itu, Allah, Zat pemilik kemutlakan dan semua niat, mengutarakan maksud untuk menciptakan pemimpin di bumi. ”Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi,” begitulah firman Allah.

    Semua malaikat hampir serentak menjawab mendengar kehendak Allah.”Ya Allah, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi, yang hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau. E Allah menjawab kekhawatiran para malaikat dan meyakinkan bahwa, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Allah lalu menciptakan manusia pertama yang diberi nama Adam. Kepada para malaikat, Allah memperagakan kelebihan dan keistimewaan Adam, yang menyebabkanpara malaikat mengakui kelebihan Adamatas mereka. Lalu Allah menyuruh semua malaikat agar bersujud kepada Adam, sebagai wujud kepatuhan danpengakuan atas kebesaran Allah. Seluruh malaikat pun bersujud, kecualiAzazil.

    “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat ‘Sujudlah kamu kepada Adam Emaka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”  (Al Baqarah: 34)

    Bersemi Sejak di Awal Surga

    Sebagai penghulu para malaikat dengan semua gelar dan sebutan kemuliaan, Azazil merasa tak pantas bersujud pada makhluk lain termasuk Adam karena merasa penciptaan dan statusnyayang lebih baik. Allah melihat tingkah dan sikap Azazil, lalu bertanya sembari memberi gelar baru baginya Iblis. “Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Kuciptakandengan kedua tanganKu. Apakah kamu menyombongkan diri (takabur) ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?”

    Mendengar pernyataan Allah, bukan permintaan ampun yang keluar dari Azazil, sebaliknyaia malahmenantang dan berkata, “Ya Allah, aku (memang) lebih baik dibandingkan Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah. E Mendengar jawaban Azazil yang sombong, Allah berfirman. “Keluarlah kamu dari surga. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang diusir”.

    Azazil alias Iblis, sejak itu tak lagi berhak menghuni surga. Kesombongan dirinya, yang merasa lebih baik, lebih mulia dan sebagainya dibanding makhluk telah menyebabkannya menjadi penentang Allah yang paling nyata. Padahal Allah sungguh tak menyukai orang-orang yang sombong.

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. E

    Bibit kesombongan dari Azazil sejatinya sudah bersemai sejak Israfil danpara malaikat mendatanginya agar mendoakan mereka kepada Allah. Waktu itu, ketika mendengar penjelasan Israfil, Azazil berkata, ”Ya Allah! Hamba-Mu yang manakah yang berani menentang perintah-Mu, sungguh aku ikut mengutuknya E Azazil lupa, dirinya adalah jugahamba Allah dan tak menyadari bahwa kata “hamba Eyang tertera pada tulisan di pintu surga, bisa menimpakepada siapa saja, termasuk dirinya.

    Lalu, demi mendengar ketetapan Allah, Iblis bertambah nekat seraya meminta kepada Allah agar diberi dispensasi. Katanya,”Ya Allah, beri tangguhlah aku sampai mereka ditangguhkan. EAllah bermurah hati, dan Iblis mendapat apa yang dia minta yaitu masa hidup panjang selama manusia masih hidup di permukaan bumi sebagai khalifah.

    Dasar Iblis, Allah yang maha pemurah, masih juga ditawar.Ia lantas bersumpah akan menyesatkan Adam dan anak cucunya, seluruhnya, “Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.” Maka kata Allah, “Yang benar adalah sumpah-Ku dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis dari golongan kamu danorang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”

    Menular pada Manusia

    Korban pertama dari usaha penyesatan yang dilakukan Iblis, tentu saja adalah Adam dan Hawa. Dengan tipu daya dan rayuan memabukkan, Nabi Adam as. dan Siti Hawa lupa pada perintah dan larangan Allah. Keduanya baru sadar setelah murka Allah turun.Terlambat memang, karena itu Adam dan Hawa diusir dari surga dan ditempatkan di bumi.

    Dan sukses Iblis menjadikan Adam dan Hawa sebagai korban pertama penyesatannya, tak bisa dilihat sebagai sebuah kebetulan. Adam dan Hawa, bagaimanapun adalah Bapak dan Ibu seluruh manusia, awal dari semua sperma dan indung telur. Mereka berdua, karena itu menjadi alat ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan Iblis menyesatkan manusia. Jika asal usul seluruh manusia saja,berhasil disesatkan apalagi anak cucunya.

    Singkat kata, kesesatan yang di dalamnya juga ada sombong, takabur, selalu merasa paling hebat, lupa bahwa masih ada Allah E juga sangat bisa menular kepada manusia sampai kelak di ujung zaman.

    Di banyak riwayat, banyak kisah tentang kaum atau umat terdahulu yang takabur menentang dan memperolokkanhukum-hukum Allah, sehingga ditimpakan kepada mereka azab yang mengerikan. Kaum Aad, Samud, umat Nuh,kaum Luth, dan Bani Israil adalah sedikit contoh dari bangsa-bangsa yang takabur dan sombonglalu merekadinistakan oleh Allah, senista-nistanya.Karena sifat takabur pula, sosok-sosok sepertiFir’aun si Raja Mesir kuno, Qarun, Hamaan dan Abu Jahal juga mendapatkan azab yang sangat pedih di dunia dan pasti kelak di akhirat.

    Pada zaman sekarang, manusia sombong yang selalu menentang Allah bukanberkurang, sebaliknya malah bertambah. Ada yang sibuk mengumpulkan harta dan lalu menonjolkan diri dengan kekayaannya. Yang lain rajin mencari ilmu, namun kemudian takabur dan merasa paling pintar. Sebagian berbangga dengan asal usul keturunan; turunan ningrat, anak kiai, dan sebagainya. Ada juga yang merasa diri paling cantik, paling putih, paling mulus dibanding manusia lain.

    Mereka yang beribadah, shalat siang malam, puasa, zakat dan berhaji merasa paling saleh dan sebagainya. Ada yang meninggalkan perintah-perintah Tuhan hanya karena mempertahankan dan bangga denganbudaya warisan nenek moyang, dan seolah-olah segala sesuatu di luar budaya itu tak bernilai. Tak sedikit jugayang mengesampingkan larangan-larangan Allah hanya karena menguber era laju zaman modern yang selaludibanggakan.

    Sebagai manusia, orang-orang semacam itu tak bermanfaat sama sekali. Mata jamiah mereka memang melihat, tapi mata hatinya sudah buta melihat kebenaran dan kebesaran Allah.Allah telah dijadikan nomor dua, sementara yang nomor satu adalah diri dan makluk lain di sekitar dirinya. Hati mereka menjadi gelaptanpa nur iman sebagai pelita. Akal mereka tidak dapat membedakan antara yang hak (benar) dengan yang batil (salah).

    “Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (takabur)” (Al Muddatstsir: 23).

    Iblis sebagai pelopor sifat takabur selalu mendoktrin kepada siapa saja sifat takabur, dan mewariskannya kepada jin dan manusia. Tujuannya jelas, untuk menyebarkan sumpah (Iblis) pada golongannya sebagaimana golongan setan dari jenis jin. Setan tentudominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa jin, begitu pula setan dari golongan jenis manusia, sangat dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa manusia

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al A’raaf: 179).

    Penawar Takabur

    Seperti penyakit hati yang lain, mengobati sifat dan sikap sombong bukan perkara mudah. Tak ada dokter, tabib, atau sinse yang sanggup mengobatinya. Dari yang tidak mudah itu, ada beberapa yang bisa disebut sebagai obat mengatasi sombong atau takabur.

    Pertama adalah tawadu atau merendahkan hati. Hanya dengansikap rendah hati, meyakini tak ada yang lebih dan tak ada yang patut dibanggakan dari diri dan apapun yang diperbuat diri, semua kesombongan bisa disingkirkan. Sikaptawadu bisa mengimbangi dan menetralkan jiwa dari sifat takabur, karena hanya dengan rendah hati manusia bisamelaksanakan perintah Allah.Seorang yang selalu rendah hati, maka padanyatidak akan ada rasa congkak dan besar diri apalagi merasa lebihdari yang lain. Ia senantiasa meyakinisesuatu yang istimewa pada dirinya atau orang lain, semata karena anugerah Allah.

    Tawakal adalah obat keduamelawan sombong. Dengan tawakal alias berserah diri sepenuhnya kepada Allah maka akal akan menyadari dan hati akan meyakini, semua yang terjadipada manusia dan seluruh makhluk adalah atas kehendak Allah dan karena itu tak layak bagi manusia untuk menyombongkan diri selain hanya berpasrah pada Allah. Sifat takabur senantiasa mengajak manusia untuk berbuat ingkar kepada Allah, sebaliknya tawakalsenantiasa menyuruh manusia berbuat menurut ketentuan Allah.

     “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal “ (Al Hujuraat : 13.)

    Ibarat manusia,maka akan didapati tawaduadalah sebagai ruh, dan tawakal sebagai jasad.Karena menyangkut tentang kesempurnaandimensi batiniah dan dimensi jasmaniah, maka sangat jelas keberadaan duasifat ini (tawadu dan tawakal) sangat menentukanuntuk menetralkan keberadaan nafsu (jiwa) yang bertempat antara ruh dan jasad (lahiriah dan batiniah), termasuk sifat sombong. Karena itu jika ruh dan jasad tadi tak bersatu, sulit bagi manusia bisa bisa mencapai derajat sebagaimanusia utuh atau insan kamil.

    Ia masih bisa disebut sombong, atau takabur. Sifat yang dibawa Azazil, malaikat yang dikutuk menjadi Iblis dan terusir dari surga Allah.

    ***

    Dikutip dari Majalah “KASYAF”

     
    • A Nizami 3:52 pm on 4 Desember 2012 Permalink

      Allah melarang kita untuk sombong:

      ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’:37]

      Allah mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari air mani yang tidak berharga. Pantaskah manusia bersikap sombong?

      ”Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” [Yaa Siin:77]

      Nabi berkata bahwa orang yang sombong meski hanya sedikit saja niscaya tidak akan masuk surga:

      Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]

      Read more http://media-islam.or.id/2007/11/20/janganlah-sombong

  • erva kurniawan 1:30 am on 1 July 2012 Permalink | Balas  

    Berkumpul Dan Berdo’a Yang Masyhur Pada Malam Nisfu Sya’ban 

    Berkumpul Dan Berdo’a Yang Masyhur Pada Malam Nisfu Sya’ban

    Jika malam nisfu sya’ban datang, sebagian kaum muslimin melakukan ibadah khusus seperti shalat dan membaca do’a. Apakah yang mereka lakukan itu disyari’atkan ? Adakah dalil yang menunjukkan kelebihan malam itu?

    Mengenai keutamaan malam nisfu sya’ban ini terdapat beberapa buah hadits, antara lain berbunyi :

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala bertajalli (menampakkan diri) pada malam nisfu sya’ban kepada hamba-hamba-Nya serta mengabulkan do’a mereka, kecuali sebagian ahli maksiat.”

    Hadits ini dianggap hasan oleh sebagian orang dan dilemahkan oleh sebagian ulama yang lain, sehingga Al Faqih al Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi berkata, “Tidak ada satupun hadits yang shahih mengenai keutamaan malam nisfu sya’ban.”

    Tidak terdapat satu pun riwayat dari Nabi saw. Dan para shahabat serta generasi pertama Islam—yang merupakan sebaik-baik generasi—bahwa mereka berkumpul di masjid-masjid untuk menghidupkan malam ini dan membaca do’a-do’a khusus serta melakukan shalat-shalat khusus pula sebagaimana yang kita lihat di beberapa negara Islam.

    Di beberapa negeri Islam, pada malam nisfu Sya’ban, orang-orang berkumpul di masjid-masjid. Mereka membaca surat Yasin, kemudian melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk panjang umur, lalu shalat dua raka’at lagi dengan niat agar kaya dan ‘tidak berkeperluan’ kepada orang lain. Setelah itu, membaca do’a yang tidak diriwayatkan dari seorangpun golongan salaf, yaitu do’a yang panjang, yang bertentangan dengan nash, dan bertentangan ma’nanya antara satu dengan yang lain. Dalam do’a itu mereka mengucapkan (yang artinya-peny):

    “Ya Allah, jika Engkau telah mencatat aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka (sengsara), terhalang, terusir, atau sempit rejeki-ku, maka hapuskanlah ya Allah dengn karunia-Mu akan kecelakaan (kesengsaraanku), keterhalanganku,keterusiranku dan kesempitan rejeki-ku itu. Dan tetapkanlah aku di sisi-Mu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rejeki, dan diberi pertolongan kepada kebaikan seluruhnya, karena sesungguhnya Engkau telah berfirman, dan firman-MU adalah benar, di dalam kitab-Mu yang Engkau turunkan dan melalui lisan Nabi-Mu yang Engkau utus (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh  Mahfuzh).”

    Makna ayat yang disebut dalam bagian terakhir do’a di atas (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab) ialah bahwa sesuatu yang telah ditetapkan dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) tidak mungkin dihapus atau ditambah dengan ketetapan baru. Kalau pun dapat dihapus atau dibuat ketapan yang baru itu bukan pada catatan Lauh Mahfuzh, melainkan pada selain itu, yaitu pada catatan malaikat dan lainnya. Jadi bagaimana mungkin seorang hamba dapat meminta kepada Tuhannya agar Dia menghapuskan dan menetapkan sesuatu yang baru di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)?

    Begitu pula do’a-do’a yang mereka ucapkan seperti: “Jika Engkau telah menentukan begitu dan begini………..maka hapuskanlah ini dan itu, atau perbuatlah begini dan begitu….” Hal itu menunjukkan keraguan, padahal Nabi saw. Menyuruh kita berdo’a kepada Allah dengan mantap dan sungguh-sungguh, tidak boleh merasa bimbang dan ragu-ragu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa do’a nisfu Sya’ban tersebut salah dan tidak mempunyai landasan sama sekali.

    Dalam do’a tersebut juga terdapat ucapan :”Wahai Tuhanku,dengan tajalli agung pada malam nisfu Sya’ban yang mulia, yang pada malam itu segala urusan dijelaskan dan ditetapkan, hendaklah Engkau hilangkan bala bencana dari kami, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui…..”

    Ucapan di atas juga merupakan kesalahan, karena yang dimaksud dengan malam dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah (tentang hidup, mati rejeki, nasib baik, nasib buruk, dan sebagainya) itu ialah malam diturunkannya Al Quran, malam al Qadar, malam tajalli yang teragung, yaitu pada bulan ramadhan menurut nash Al Quran. Allah berfirman:

    “Haa Miiiim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad Dukhan : 1-4)

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQuran) pada malam kemuliaan“ (Al Qadr :1)

    “Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…” (Al-Baqarah:185)

    Jadi, secara meyakinkan dapat dikatakan bahwa yang dimaksud ‘malam dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah itu ‘ yang disebutkan dalam do’a nisfu Sya’ban tersebut adalah malam Al Qadar pada bulan ramadhan sebagaimana ijma’ ulama. Adapun riwayat dari Qatadah yang menyebutkan bahwa malam nisfu Sya’ban itu malam yang dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah merupakan riwayat dha’if dan mudhtharib (tidak meyakinkan). Sebelumnya dari Qatadah sendiri terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa malam itu ialah malam Al Qadar.

    Ibnu Katsir menilai dha’if hadits yang menerangkan bahwa pada malam nisfu Sya’ban telah ditetapkan ajal (manusia) dari bulan  sya’ban yang satu ke bulan sya’ban yang lain. Hal ini bertentangan dengan nash-nash (Al-Quran dan hadist yang shohih).

    Dari sini kita tahu bahwa do’a nisfu sya’ban tersebut penuh dengan kekeliruan dan kesalahan, dan merupakan do’a yang tidak ada riwayatnya dari nabi SAW, dari generasi umat terbaik (generasi sahabat, peny) dan tidak diriwayatkan dari kalangan salaf.

    Masalah berkumpul-kumpul (pada malam nisfu sya’ban) dalam bentuk yang seperti yang kita lihat dan kita dengar di beberapa negara Islam, itu merupakan bid’ah.  Seharusnya mengenai peribadatan kita hanya mengikuti riwayat yang ada.  Kita tidak boleh mengada-ada. Kita mesti mengikuti jalan kebenaran yang telah ditempuh orang-orang salaf, dan meninggalkan jalan keburukan (bid’ah) yang diciptakan orang khalaf (belakangan). Sebab, semua yang diadakan (dalam ibadah) adalah bid’ah, semua bid’ah adalah sesat, dan semua kesesatan adalah tempatnya di neraka (kullu bid’atin dholaalah wa kullu dhallaalatin fin naar, peny).

    Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mengikuti apa yang datang dari Rasulullah saw.dan sahabat-sahabat beliau.

    ***

    (disalin dari: Hadyul Islam Fatawi Muashirah (terjemahan Jilid-1): Syaikh DR.Yusuf Qardhawy)

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 30 June 2012 Permalink | Balas  

    Rezeki yang Telah Ditetapkan 

    Rezeki yang Telah Ditetapkan

    “Kesungguhan dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah akan mendapatkannya, dan mengurangi dari apa yang diwajibkan padamu, adalah termasuk sifat yang menunjukkan bashiroh (mata hati) yang tertutup.”

    Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada seorang hamba adalah rezeki. Sesuatu yang dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah adalah rezeki juga. Pertanggunganjawaban itu, tidak lain ialah menempatkan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada para hamba ialah dengan menjadikan harta berfungsi ibadah. Dengan demikian setiap harta kekayaan yang dijamin oleh Allah kepada manusia, hendaklah berfungsi benar sebagai barang jaminan yang diberlakukan sebagai ibadah untuk kepentingan yang berfaedah bagi si pemilik dan bermanfaat pula bagi sesama hamba Allah.

    Sebab harta yang menjadi jaminan itu akan ditarik kembali oleh Allah apabila harta itu tidak memberikan manfaat bagi agama, sesama hamba, dalam hubungannya dengan keagungan nama Allah Ta’ala. Jaminan itu, berarti Allah Swt adalah pemilik yang syah dari semua harta yang ada di tangan manusia. Allah Ta’ala akan ridho apabila rezeki Allah itu akan menghidupkan syariat, kesejahtraan para hamba Allah, dan tentu Allah akan murka apabila rezeki itu jatuh ke tempat maksiat.

    Selain itu pengertian yang dapat diambil dari perkataan sungguh sungguh di atas, adalah menunjukan kemampuan yang cukup untuk mendapatkan rezeki yang telah ditebarkan Allah Ta’ala di muka bumi ini. Kesungguhan mendapat rezeki Allah itu menjadi suatu keharusan, bahkan bisa menjadi wajib apabila rezeki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba. Mencari rezeki Allah itu bagi manusia telah menjadi sunnatullah. Jaminan Allah atas rezeki manusia, sebagaimana Allah telah menjamin rezeki bagi seekor anak hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup, karena Allah telah menyediakannya rezeki. Demikian juga halnya binatang melata ketika lahir, mampu melangsungkan hidupnya karena jaminan Allah atas rezekinya masing masing. Sebagaimana Allah berfirman, “Tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya.”.

    Dalam menuntut rezeki di dunia ini Allah tidak akan memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan mereka masing masing. Yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersikap berlebih lebihan. Karena sikap ini akan membawa ketamakan. Sedangkan ketamakan akan menjurus kepada kerakusan dan aniaya. Sikap rakus dan aniaya itu akan membutakan mata hati manusia.

    Orang mukmin ketika mencari rezeki dengan sungguh sungguh selalu memperhatikan pula cara ber-muamalah, sikap hati hati, serta mampu membedakan antara harta yang halal dan harta yang haram.

    Jaminan yang telah diberi oleh Allah dalam hal rezeki ini seperti difirmankan dalam Al-Qur anul Karim, “Perintahlah keluargamu mendirikan sholat, dan berlaku tabahlah menghadapi hidup. Tak perlu kamu bertanya soal rezeki.”

    Karena Allah Ta’ala telah menjamin rezeki hamba hamba-Nya, maka kesungguhan hamba untuk berikhtiar dan memohon dari Allah sangat dituntut. Pemberian Allah kepada manusia sesuai dengan ketaatan manusia kepada Allah.

    Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa kedudukan seorang hamba dalam kaitannya dengan rezeki yang diterimanya dari Allah, sangat erat dengan anugerah yang harus dijaganya. Rezeki sebagai pemberian Allah, haram untuk disia siakan, dan wajib untuk dimanfaatkan bagi agama Allah dan sesama hamba-nya.

    Rezeki banyak kaitannya dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. Rezeki selain menjadi bekal hidup dunia, termasuk pula untuk bekal hidup di Akhirat. Apabila harta yang telah di-rezkikan kepada manusia dipergunakan untuk kepentingan agama dan amal soleh, seperti menginfakkan dan menzakatkannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur an “Berbekal bekallah kamu, maka sebaik baik bekal adalah menunjukkan ketakwaan kepada Allah.”

    Ketakwaan dalam harta, tidak lain adalah memberikan harta itu kepada hamba Allah yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap muslim itu terkandung hak orang orang dhu’afa.

    ***

    Narasumber: “Mutumanikam dari kitab Al-Hikam”.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 29 June 2012 Permalink | Balas  

    Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk 

    Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk

    Beriman kepada Qadar/Taqdir Allah yang baik atau pun yang buruk adalah rukun Iman yang ke 6.

    Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim)

    Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Sehingga hati kita selalu bahagia.

    “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)

    “Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]

    Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.

    Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz

    Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.

    Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.

    Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; “tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]

    “Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]

    “Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]

    “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]

    Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.

    Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]

    Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz

    “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]

    Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.

    Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT

    “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)

    Allah Maha Berkehendak

    Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.

    Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]

    Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.

    Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]

    Mendekat Kepada Allah

    Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]

    Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]

    Berserah diri Kepada Allah

    Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]

    “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]

    “Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]

    Menerima Ketetapan/Takdir Allah

    Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.

    Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216]

    Jangan Putus Asa!

    Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.

    Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.

    Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.

    Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]

    Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]

    Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.

    Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.

    Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.

    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]

    …Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]

    Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!

    “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]

    …Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]

    Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita

    Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.

    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]

    Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]

    “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]

    Berusaha Mencari Karunia Allah

    Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.

    Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]

    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]

    Allah Maha Tahu

    Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan

    Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)

    Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)

    Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata: Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)

    ***

    Sumber : disusun oleh oleh : Abu Tauam Al Khalafy, dari berbagai sumber :

    1. 40 Hadits Shahih, Imam An Nawawi, Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H.
    2. Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, At Tibyan, Solo, Edisi Indonesia, November 2000 M.
    3. Aqidah Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Media Hidayah, Cetakan Pertama, Mei 2005 M
    4. Tauhid, Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif. Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H

    syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 28 June 2012 Permalink | Balas  

    Malas 

    Malas 

    Kata Rasulullah SAW malas adalah sebuah penyakit. Penyakit malas ini selalu menjadi musuh manusia dan banyak manusia yang terpedaya oleh penyakit ini. Salah satunya mungkin diri kita.

    Coba kita rasakan, adakah penyakit malas didiri kita? Ketika kita mau melaksanakan shalat tahajud atau shalat subuh adakah penyakit malas disana? Ketika kita selesai shalat Fardu lalu kita berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT adakah penyakit malas disana? Ketika disuruh oleh ibu kita untuk mengerjakan sesuatu hal padahal kita lagi asyiknya nonton tv, adakah penyakit malas disana? Ketika menerima tugas dari atasan di kantor, adakah penyakit malas disana? Dan banyak lagi suasana atau keadaan diri kita yang mana pada waktu itu diri kita sedang dilanda penyakit malas. Dan ini dirasakan oleh semua, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua.

    Pernah suatu hari teman saya bilang, dulu sewaktu saya masih sekolah, saya jarang sekali dapat rengking di kelas saya, karena saya malas untuk belajar sehingga nilai ulanganpun saya selalu dapat nilai kecil. Tetapi, setelah saya buang rasa malas yang ada didiri saya, Alhamdulillah nilai-nilai ulanganpun menjadi bagus dan Alhamdulillah saya dapat rangking satu terus.

    Begitupun dengan teman yang dulu satu kerjaan dengan saya yang sekarang telah tiada (meninggal dunia) mudah-mudahan Allah mengampuni atas semua dosanya dan menerima semua amal salihnya dan dilapangkan kuburnya amin. Dia pindah kerja ke perusahaan lain, disana kerjanya bagus sampai oleh atasannya dia diangkat menjadi kepala bagian diperusahannya yang lain, dan dia dapat menjalankannya dengan baik dan penuh tanggungjawab, sampai atasanya memberikan penghargaan atas dedikasi kerjanya yang baik itu. Itu semua dia lakukan dengan semangat yang tinggi dan tidak kalah penting lagi dia lakukan dengan Ikhlas.

    Dan perlu diingat oleh kita semua, bahwa semua pengusaha, pendidik, pekerja, olahragawan dan lain sebagainya bisa berhasil dibidangnya, karena, mereka semua bisa melepaskan diri dari penyakit malas yang menyerangnya itu. Dan Allah SWT pun telah menganjurkan agar kita sebagai hamba-Nya untuk selalu bersemangat dalam melakukan suatu aktivitas. Baik itu dalam beribadah kepada Allah SWT maupun dalam bermuamalah dengan sesama manusia.

    Ada sebuah gambaran yang sangat indah dari Allah untuk kita renungkan, yang mana gambaran itu Allah tuangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Aadiyaat ayat 1 sampai 5:

     “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,” (QS. Al-Aadiyaat (100): 1-5)

    Dalam kitabnya “Tafsir Al-Qur’an Kontemporer EUstadz Aam Amiruddin mengatakan bahwa, Ayat 1-5 menggambarkan keperkasaan kuda perang yang berlari kencang menyerang kumpulan musuh . Begitu semangat dan kencangnya kuda itu berlari hingga hentakan kakinya memercikkan api dan menerbangkan debu.

    Hal tersebut merupakan penggambaran yang sangat indah dari Allah SWT untuk kita renungkan. Umat Islam seharusnya menadi umat yang gigih, penuh semangat dan kerja keras dalam memperjuangkan apapun, sebagaimana halnya kuda perang yang begitu gigih, penuh semangat, dan mengerahkan seluruh kemampuannya menerjang kumpulan musuh.

    Namun, fakta dalam kehidupan keseharian menunjukkan bahwa kita belum menjadi bangsa yang memiliki etos kerja yang baik. Padahal kalau kita gali pesan-pesan Ilahi, sungguh banyak ayat yang mendorong kita agar menjadi orang yang giat bekerja dan banyak berkarya, misalnya ayat-ayat berikut ini,

     “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu…,” (QS. At-Tubah (9): 105)

     “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah (94): 7-8)

    Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu melakukan yang terbaik. Kalau kita menjadi ibu, jadilah ibu yang terbaik dalam mendidik anak-anak dan mengatur rumah tangga. Kalau kita menjadi ayah, jadilah ayah yang terbaik dalam mengayomi dan menapkahi keluarga. Kalau kita menjadi karyawan, jadilah karyawan yang bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugas perusahaan. Jadi, apapun profesi dan bidang kerja kita, maka jadilah yang terbaik di bidangnya.

    Maka tidak ada kata malas dalam ajaran Islam. Apabila kita telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain karena Allah SWT lebih menyukai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang di sukai dan dikasihi oleh Allah SWT karena kita berani melepaskan diri dari penyakit malas itu.

    Wallahu A’lam

    ***

    Sumber: jkmhal.com

    e…@jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 27 June 2012 Permalink | Balas  

    Berwudlu Dalam Makna 

    Berwudlu Dalam Makna

    Apakah sebenarnya makna wudlu? Apakah ia berfungsi membersihkan ataukah mensucikan? Ternyata, berwudlu lebih memiliki makna untuk mensucikan diri. Bukan sekedar membersihkan.

    Membersihkan dalam istilah agama disebut sebagai istinja’. Misalnya, setelah kita buang air kecil atau besar. Maka kita diwajibkan membersihkan diri dengan air atau batu atau cara-cara yang telah diajarkan.

    Namun berwudlu lebih kepada mensucikan. Dan ini lebih bermakna batiniah daripada lahiriah. Memang berwudlu mesti bersih dulu lewat istinja’, tetapi berwudlu sendiri tidak harus bersifat membersihkan. Memang, berwudlu juga harus mengusap anggota badan dengan air atau debu. Tapi coba perhatikan, anggota badan yang diusap tidak terkait secara langsung dengan hadats yang terjadi. Apalagi dengan najisnya, sama sekali tidak. Karena itu, jika kita tidak menemukan air, maka kita oleh bertayamum dengan menggunakan ‘debu yang bersih’.

    Tentu kita segera paham, bahwa debu (sebersih apa pun) ya tetaplah debu. Ia tidak akan bisa membersihkan badan kita yang kotor (malah semakin ‘berdebu’), sebagaimana air membersihkan badan kita. Jadi makna bertayamum (sebagai pengganti wudlu) bukanlah membersihkan melainkan mensucikan. Demikian pula berwudlu, adalah mensucikan. Bukan badan tetapi batin.

    Jadi berwudlu bukanlah membersihkan najis, melainkan menghilangkan hadats kecil, karena buang air besar dan buang air kecil. Sedangkan hadats besar, yang disebabkan oleh ‘hubungan suami istri’ dihilangkan dengan cara mandi. Coba perhatikan ini : ‘hadats kecil’ dihilangkan dengan cara membasuh sebagian anggota tubuh kita dengan

    cara berwudlu, sedangkan hadats besar dihilangkan dengan cara membasuh seluruh badan kita dengan air, alias mandi besar. Jika tidak menemukan, maka lakukan dengan debu yang bersih. Baik wudlu maupun mandi besar bisa digantikan dengan tayamum. Ini, sekali lagi menunjukkan kepada kita, bahwa yang disucikan bukanlah badan. Tapi, batin.

    Namun demikian, dalam aktivitas berwudlu, sebenarnya Allah juga menghendaki agar kita selalu menjaga kebersihan. Karena itu, sebelum berwudlu kita mesti beristinja’ terlebih dahulu. Hilangkan najis dulu, baru kemudian mensucikan diri. Sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.

    QS. Al Maidah (5): 6

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

    Berwudlu memang membasuh anggota-anggota badan, mulai dari muka sampai ke kaki. Akan tetapi yang membatakan wudlu bukanlah kotoran yang mengotori badan kita, melainkan ‘pikiran kotor’ yang menghinggapi hati kita.

    Coba cermati filosofi wudlu ini. Jika kita sudah berwudlu, maka aktivitas makan dan minum tidaklah membatakannya. Demikian pula jika badan kita kena najis. Untuk mengatasi kedua hal tersebut, cukup membersihkannya saja. Tidak perlu mengulangi berwudlu. Jika anda. makan minum ketika masih mempunyai wudlu, maka untuk melakukan shalat, anda cukup berkumur saja. Demikian pula jika anda terkena najis atau kotoran pada anggota badan, anda cukup mencuci dan membersihkannya saja.

    Kalau begitu apakah yang membatakan wudlu? Wudlu dibatakan oleh ‘kotoran-kotoran’ atau gangguan yang bersifat kejiwaan. Misalnya, menyentuh kemaluan dan menyentuh perempuan yang mengarah kepada syahwat. Atau, ketiduran dan pingsan yang menyebabkan hilangnya akal. Atau kentut, kencing dan buang air besar, yang memang ditetapkan oleh Allah sebagai pembatal wudlu dalam arti melatih kemampuan kita dalam mengendalikan diri.

    Khusus tentang kentut, buang air kecil dan buang air besar, ada yang menganggap bahwa pembatalan wudlu itu bersifat jasmani. Bagi saya tidak demikian. Bukan ‘gas’ kentut, air seni dan faeces itu sebenarnya yang membatakan. Melainkan ketidak mampuan kita mengendalikan ketiga hal itulah yang oleh Allah dijadikan pembatal wudlu.

    Buktinya, jika kita terkena ‘gas’ kentut, atau terkena air kencing, atau terkena faeces orang lain, hal itu tidak membatakan wudlu kita. Cukup dengan membersihkan saja. Ini membuktikan bahwa yang membatakan wudlu kita bukanlah bendanya, melainkan prosesnya.

    Nah, dengan menetapkan ketiga hal tersebut sebagai pembatal wudlu, sebenarnya Allah menginginkan kita hidup bersih dan teratur. Selain itu, juga mampu mengendalikan diri untuk tidak berlaku sembarangan. Hidup bersih dan teratur akan membuat hidup kita sehat.

    Dengan demikian, seorang muslim harus selalu menjaga kesehatan ‘perutnya’, berkait dengan shalat 5 waktu yang dijalaninya. Apalagi kesehatan perut ini sangatlah vital. Lebih dari 80 persen penyakit modern dewasa ini berasal dari tidak terjaganya ‘perut’. Makan sembarang makan, dengan pola yang jelek bakal menyebabkan problem kesehatan.

    (Cermatilah berbagai macam penyakit modern dewasa ini berasal dari perut. Misalnya, darah tinggi, asam urat, diabetes, liver, typhus, jantung, dan obesitas (kegemukan) dengan berbagai macam komplikasinya.. Pengaturan pola makan yang baik dan hidup yang teratur akan sangat mengurangi berbagai resiko penyakit tersebut.

    Jadi, filosofi wudlu adalah filosofi mensucikan hati dan pengendalian diri secara kejiwaan. Kesucian hati dan pengendalian diri itu akan semakin sempurna, ketika seseorang bisa menata hatinya untuk berserah diri penuh keikhlasan, karena Allah semata.

    Orang yang kurang ikhlas dalam wudlu biasanya malah akan memperoleh ‘godaan’ yang bersifat membatakan wudlunya. Di antaranya adalah kecenderungan untuk kentut yang berlebihan. Jika, anda menemui hal semacam itu, maka relakan sajalah. Artinya, kalau memang Allah menghendaki kita tidak bisa menahan diri untuk tidak kentut, ya buang saja gas itu. Dan kita relakan untuk berwudlu kembali.

    Ketakutan untuk ‘kentut’ seringkali malah membuat kita merasa was-was, ‘wudlu kita sudah batal atau belum’. Sekali lagi ini adalah latihan untuk mengendalikan diri dan keikhlasan kita kepada Allah. Bagi orang yang ikhlas, semuanya akan terasa menjadi mudah saja. Dan Keikhlasan itulah yan menjadi salah satu kunci bagi kekhusyukan shalat kita. Termasuk bagi kemustajaban do’a kita di dalam shalat.

    Dengan demikian, sejak dari niat melakukan wudlu, kita harus sudah mengkondisilkan hati bahwa wudlu kita ini adalah untuk mensucikan hati dalam menyongsong ibadah shalat. Sehingga seluruh tatacara wudlu itu mesti kita barengi dengan do’a untuk mensucikan anggota-anggota badan yang kita wudlukan.

    Kalau kita mengacu pada ayat tersebut di atas, maka berwudlu memiliki 4 gerakan utama, yaitu mengusap wajah, mengusap tangan, mengusap kepala, dan mengusap kaki. Keempat anggota badan itu adalah anggota vital yang sering kita gunakan dalam interaksi kehidupan kita sehari-hari.

    Wajah adalah representasi dari kepribadian dan diri seseorang. Dalam shalat, wajah kita inilah yang dihadapkan kepada Allah sebagaimana kita ucapkan dalam do’a iftitah (inni wajahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawati wal ardhisesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan Langit dan Bumi).

    QS. Ar Ruum (30): 30

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tdak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

    Maka dengan mengusap wajah, kita meniatkan untuk mensucikan seluruh diri kita, lahir dan batin. Kita ingin menghadapkan ‘wajah’ dan diri kepada Allah dalam keadaan terbaik yang kita miliki.

    Di wajah itu pula terdapat mata, mulut, hidung, dan telinga yang juga mesti kita sucikan dari berbagai ‘kekotoran’ perbuatan kita selama ini. Mudah-mudahan dengan mengusapkan air wudlu ke wajah kita, berbagai indera kita itu ikut tersucikan. Tidak lagi makan, minum, berkata, melihat, mendengar dan mencium sembarangan yang bisa menyebabkan berbagai persoalan dalam kehidupan kita, pribadi maupun masyarakat.

    Sebaliknya, dengan mensucikannya kita berharap memunculkan manfaat yang positip dari indera-indera yang kita gunakan untuk kebaikan. Dan dari wajah yang sering terkena air wudlu itu, mudah-mudahan memancar cahaya jernih yang menggambarkan aura positip dari orang-orang yang saleh.

    Selain wajah, Allah mengajarkan agar kita juga mensucikan kedua tangan. Tangan adalah representasi dari perbuatan dan karya-karya kita. Maka mensucikan kedua belah tangan adalah bermakna menjauhkan seluruh perbuatan dan berbagai hasil karya kita dari hal-hal yang kotor.

    Betapa banyaknya orang berbuat kerusakan di muka Bumi dengan tangan-tangan mereka. Daratan dan lautan mengalami kerusakan yang sangat parah yang justru menyebabkan turunnya kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Banjir dan kerusakan lingkungan serta rusaknya atmosfer memunculkan problem yang serius buat kehidupan generasi-generasi mendatang. Maka, kita harus mengendalikan tangan-tangan kita, agar tidak semakin memperparah keadaan. Nah komitmen itulah yang kita tegaskan lewat aktivitas wudlu’.

    QS. Ar Ruum (30): 41

    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

    Yang ketiga, adalah mengusap kepala. Inilah anggota badan yang paling penting dalam kehidupan kita. Kepala adalah anggota badan yang mengendalikan seluruh kemauan untuk melakukan sesuatu dan kemudian membuat keputusan. Di otak itulah kehendak kita berada. Karena itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk mensucikannya.

    Mensucikan kepala adalah mensucikan berbagai kehendak yang ‘tersembunyi’ di dalam otak. Betapa menyenangkannya dunia ini, kalau isi kepala setiap kita adalah hal-hal yang positip. Hal-hal yang memberikan manfaat untuk kehidupan kita, kini maupun nanti.

    Maka, disinilah Allah mengajarkan kepada kita untuk membangun komitmen : mari kita sucikan kehendak dan segala keinginan kita menjadi kehendak dan keinginan yang suci yang memberikan manfaat besar buat siapa saja. Diri kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, masyarakat bangsa dan negara, serta umat manusia seluruhnya.

    Dan yang terakhir, kita mengusap kaki dalam berwudlu. Kita semua berharap agar seluruh langkah kehidupan kita mencerminkan ‘wajah-wajah’ yang suci, ‘tangan-tangan’ yang suci, dan ‘isi kepala’ yang suci.

    Inilah makna wudlu kita. Wudlu adalah sebuah komitmen suci untuk mengendalikan diri agar menjadi orang yang bertaubat dari segala kesalahan kemanusiaan kita, bersih dari keinginan yang keji dan merugikan orang lain, serta komitmen untuk selalu berbuat dan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. Karena itu, seusai wudlu kita diajari untuk membaca do’a:

    Asyhadu anlaa ilaaha illailaahu wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu laa Nabiyya ba’dahu Allahummaj’alni minattawwabin waj’alni minal mutathaahiriin waj’alni minal ‘ibaadihash shaalihiin

    “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada serikat bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, tidak ada Nabi sesudahnya. Ya Allah jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang mensucikan diri, dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hambaMu yang saleh.”

    Do’a sesudah wudlu di atas memberikan penegasan kepada kita bahwa berwudlu itu untuk memperoleh tiga hal yang terkandung dalam do’a di atas. Yaitu, bertaubat atas segala hal yang selama ini ‘kurang bagus’. Karena itu lantas mohon menjadi orang yang ‘disucikan’ dari berbagai ‘kekurangan’ tersebut. Dan akhirnya, memohon untuk dijadikan sebagai orang-orang yang banyak ‘berbuat kebaikan’ atau orang-orang yang beribadah dalam keihklasan, alias orang-orang yang saleh.

    Jadi, wudlu adalah sebuah proses untuk membangun komitmen menjadi lebih berkualitas. Menyiapkan diri untuk menapaki langkah-langkah berikutnya. Siap menghadapi proses yang lebih berat lagi ke depan.

    Dengan demikian, diharapkan shalatnya akan lebih khusyuk. Lebih bermakna. Bermakna dalam dzikirnya. dan bermakna dalam do’anya. Ya, bukankah shalat kita memiliki makna untuk berdzikir dan berdo’a?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 26 June 2012 Permalink | Balas  

    Bershalat Dalam Makna 

    Bershalat Dalam Makna

    Kebanyakan kita shalat secara hafalan. Sangat jarang yang melakukan shalat dengan memahami maknanya Padahal kunci kekhusyukan shalat adalah kefahaman tentang apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucapkan. Maka, mau tidak mau kita harus menggunakan akal untuk memahami makna shalat kita.

    Jika tidak, maka hal yang menimpa laki-laki yang pernah disuruh Rasul mengulangi shalatnya sampai 3 kali bakal menimpa kita. Artinya, shalat kita ternyata tidak memiliki makna apa-apa. Dan dianggap belum melaksanakan shalat. Tentu, shalat yang demikian, bukanlah seperti yang diharapkan Rasulullah saw. Apalagi, kalau kita ingin ketemu Allah, tentu sangatlah jauh. Karena itu, marilah kita mulai berusaha untuk memaknai setiap shalat kita.

    Secara umum, makna shalat kita ada 2, yaitu ‘berdzikir’ dan ‘berdo’a’. Maka, sebelum kita memulai shalat, kita harus sudah membangun suasana hati, bahwa shalat itu bertujuan untuk ‘berdzikir’ dan ‘berdo’a’.

    1. Shalat sebagai Dzikir kepada Allah

    Untuk apakah berdzikir? Fungsinya adalah agar kita ‘ingat Eterus dengan Allah. Untuk apa ‘ingat’ sama Allah? Agar setiap ‘langkah kehidupan’ kita bermakna laa ilaaha illaallaah. Kenapa mesti laa ilaaha illallah? Disinilah proses keimanan berperan penting! Orang yang tidak menggunakan akalnya tidak akan bisa menemukan jawabnya.

    Proses keimanan yang baik adalah seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim. Beliau beriman kepada Allah bukan karena memperoleh warisan dari orang tuanya, atau gurunya. beliau memperolehnya dengan cara ‘bereksperimen’: mencari ‘SESUATU Eyang layak dianggap sebagai Tuhan.

    Maka, Allah mengabadikan catatan sejarah ‘pencarian’ Ibrahim itu di dalam al Qur’an. Dan kita semua umat muhammad disuruhNya untuk meneladani beliau. Dan bahkan, kemudian menjadikan do’a Ibrahim itu sebagai salah satu do’a yang kita baca di dalam shalat kita setiap hari.

    (Baca rentetan ayat berikut ini. Dan, perhatikan bagian terakhir, yaitu di ayat 79. Do’a tersebut diabadikan sebagai do’a iftitah dalam shalat yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita.)

    QS. Al An’aam (6): 74 – 79

    “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar. “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.

    “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan Bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. “

    “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

    “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

    “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

    “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan Bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

    Dari pencariannya itulah Ibrahim akhirnya memperoleh kesimpulan yang sangat mendasar, bahwa kehidupan kita ini harus berorientasi kepada satu tujuan saja, yaitu Allah. Kenapa demikian? Karena ternyata segala sesuatu yang selain DIA hanya semu belaka. Semuanya akan musnah dan binasa kecuali Allah saja.

    QS. Qashaash (28): 88

    “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada Nyalah kamu dikembalikan.”

    Kesimpulan itulah yang merasuk ke dalam jiwa Nabi Ibrahim, sehingga beliau memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Tidak bisa digoyahkan, meskipun diperintahkan untuk mengorbankan anak yang dicintainya, Ismail. Maka, Allah lantas memerintahkan kepada kita semua untuk mengikuti cara-cara Ibrahim di dalam beragama, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

    QS. An Nisaa'(4): 125

    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

    Segala yang kita miliki dan kita bangga-banggakan bakal lenyap. Harta yang bertumpuk, kekuasaan, penampilan diri, dan berbagai kecintaan pada Dunia bakal berakhir seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi Allah tidak. Itulah sebagian dari makna laa ilaaha illallah.

    Karena itu, semua tujuan hidup mesti kita arahkan kepada Allah saja. Dialah yang memiliki segala kebahagiaan Dunia dan kebahagiaan Akhirat. Maka, jika Dia berkehendak, segalanya bisa terjadi untuk kebahagiaan kita di Dunia dan Akhirat nanti.

    Inilah yang dimaksudkan dengan berdzikir kepada Allah. Bukan sekedar ingat Allah, dengan tidak jelas jluntrungannya, melainkan ingat dalam arti laa ilaaha illallah. Ingat bahwa seluruh eksistensi ini hanya milik Allah belaka.

    Bahwa Allah lah yang layak mengisi ingatan kita setiap saat setiap waktu. (Secara lebih detil akan saya uraikan pada pembahasan secara terpisah). Itulah yang kita rasakan dalam shalat. Dan itu pula yang kita lakukan setelah shalat, sebagaimana DIA ajarkan pada ayat-ayat berikut ini.

    QS. Thahaa (20): 14

    ‘Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

    QS. An Nisaa'(4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Secara umum, dengan selalu ingat kepada Allah kita akan memetik banyak manfaat, diantaranya adalah:

    1. Hati kita akan selalu tenang dan tentram, jauh dari rasa was-was.

    Sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.

    QS. Ar Ra’d (13): 28

    “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.

    2. Menjadi orang yang ‘tahan banting’ alias sabar dan tegar, karena kita merasa selalu dekat dengan Allah.

    QS. Al Baqarah (2): 153

    “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

    3. Menjadi orang yang ikhlas dan rendah hati, karena kita tahu bahwa kita ini memang sebenarnya kecil. Hanya Allah yang Maha Besar.

    QS. Al Furqaan (25): 63 – 64

    “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas Bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. ” “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”

    4. Terhindar dari perbuatan yang kotor (keji) dan merugikan (mungkar) orang lain.

    QS. Al Ankabut (29): 45

    “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    5. Menjadi orang yang ‘Berhati kaya’, alias tidak ‘Serakah’ dan suka menolong orang lain, karena kita merasa dekat dengan Dzat Yang Maha Kaya lagi Menyayangi.

    QS. Ali lmran (3):134

    “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

    Dan masih ratusan manfaat lagi yang bisa kita petik dari kedekatan kita kepada Allah. Secara umum Allah mengatakan bahwa orang yang dekat kepada Allah akan terjauhkan dari rasa sedih dan bakal bergembira terus di Dunia maupun di Akhirat. Sebagaimana Dia firmankan berikut ini.

    QS. Yunus (10): 62 – 64

    “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

    “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bettakwa.”

    “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di Dunia dan (dalam kehidupan) di Akhirat. Tdak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. “

    2. Shalat adalah Berdo’a.

    Seringkali, shalat kita tidak bermakna sebagai do’a (permintaan tolong kepada Allah). Shalat adalah sebuah kewajiban belaka. Sedangkan untuk berdoa, kebanyakan kita melakukannya di luar shalat. Misalnya, setelah shalat. Atau, waktu-waktu lain yang dianggap mustajab.

    Padahal, coba perhatikan ayat-ayat berikut ini. Allah memerintahkan agar kita minta tolong (berdo’a) kepadaNya dengan cara shalat. Mereka adalah orang-orang, yang istilah Allah ‘lambungnya jauh dari tempat tidumya E Artinya, mereka banyak melakukan shalat malam untuk berdo’a kepada Allah dengan penuh harap.

    QS. Al Baqarah (2): 45

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat Dan sesungguhnya yang demikian itu. sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’

    QS. Al Badarah (2): 153

    Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

    QS. As Sajdah (32): 15 – 16

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri,

    Lambung mereka jauh dari tempat tidumya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

    Nah, dengan demikian, mestinya kita mulai merubah cara minta tolong kita kepada Allah. Cara berdo’a yang paling baik yang dianjurkan Allah adalah dengan melakukan shalat. Di dalam shalat itulah kita berdo’a dan memohon pertolongan atas berbagai permasalahan yang kita hadapi. Dan setelah itu, tunggulah ‘hasilnya’ dengan penuh kesabaran.

    Namun demikian, berdo’a memang tidak dibatasi hanya dalam shalat. Allah ‘menerima’ do’a kita kapan saja kita butuh. Akan tetapi, shalat adalah tatacara yang secara ‘formal’ diajarkan oleh Allah. Insya Allah, jika kita mengikuti petunjuk tersebut do’a kita lebih mustajab.

    Pada dasarnya, tatacara dan ucapan-ucapan di dalam shalat telah ditentukan oleh Rasulullah saw. Akan tetapi, kita bisa memaknai ucapan-ucapan itu dengan hal-hal yang sedang menjadi permasalahan dalam kehidupan kita. Sehingga do’a kita di dalam shalat itu tidaklah hambar, melainkan ‘ngematch’ alias nyambung dengan problem kehidupan sehari-hari.

    Selain memberikan makna kepada do’a standar dalam shalat, ada saat-saat yang kita diperbolehkan berdoa secara ‘lebih bebas’ di dalam shalat kita. Di antaranya adalah pada saat i’tidal, yaitu seusai membaca do’a i’tidal (contohnya: ada yang membaca do’a Qunut ada yang tidak).

    Saat-saat yang lain, adalah ketika duduk di antara dua sujud, dimana kita selalu mengucapkan do’a memohon kesehatan, rezeki, permohonan ampun dan permintaan maaf, dan lain sebagainya. Juga di dalam sujud, dimana kita sedang dalam ‘kondisi terdekat’ kita dengan Allah. Dan akhirnya, pada saat menjelang salam, setelah membaca tasyahud akhir dan shalawat Nabi.

    Begitulah, sangat banyak kesempatan yang diberikan kepada kita untuk berdo’a di dalam shalat. Intinya, agar shalat kita tidak terasa hambar. Tetapi memiliki ‘muatan’ kebutuhan hidup dan permintaan tolong kepada Allah atas segala problem kehidupan kita.

    Dan yang paling penting dari proses berdo’a kita itu adalah sikap hati. Janganlah kita ragu di dalam berdo’a. Yakinlah, Allah pasti menjawab do’a kita, asalkan kita memang bersungguh-sungguh di dalam berdo’a. Hal itu telah Dia janjikan dalam firmanNya. Nggak usah ragu. Sekali lagi jangan sampai ragu, karena Allah akan mengabulkan do’a kita sesuai dengan prasangka hati kita. Kalau yakin, hasilnya ya meyakinkan. Kalau ragu, hasilnya ya meragukan.

    QS. Al Baqarah (2): 186

    “Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “

    Sebelum lebih jauh kita membahas makna do’a-do’a shalat, maka cermatilah firman-firman Allah berikut ini agar do’a kita di dalam shalat lebih ‘diperhatikan’ Allah. Dan mudah-mudahan dikabulkanNya.

    QS. Yunus (10): 22

    “… dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada Nya semata-mata… “

    QS. As Sajdah (32): 16

    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

    QS. Al Qalam (68): 48

    Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).

    QS. Al Israa’ (17): 11

    Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.

    QS. Al A’raaf (7): 55

    Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang, yang melampaui batas.

    Lewat ayat-ayat tersebut Allah mengajarkan kepada kita bahwa do’a yang baik adalah mengikuti kondisi-kondisi tersebut. Di antaranya adalah :

    1. Berdo’alah dengan penuh keikhlasan, hanya semata mata, kepada Allah saja. Bahkan, kalimat yang digunakan adalah, mukhlisiina lahuddiin, yaitu mengikhlaskan diri dalam beragama. Bukan hanya ketika berdo’a, melainkan dalam seluruh peribadatan yang kita jalankan, kita ikhlas hanya untuk Allah saja.
    2. Dengan rasa takut dan penuh harap. Artinya, janganlah kita berdo’a dengan tidak serius. Misalnya, dengan perasaan ‘cuek’ dikabulkan syukur, nggak dikabulkan ya sudah. Berdo’a yang seperti ini tidaklah serius. Berdo’a adalah memohon pertolongan kepada Allah, maka tentu dilakukan dengan sepenuh hati dan ‘harap-harap cemas’.
    3. Jangan berdo’a dalam keadaan marah atau penuh kebencian atas perbuatan seseorang kepada kita. Bertawakallah kepada Allah dengan penuh kesabaran, Insya Allah Dia akan memberikan yang tebaik buat kita.
    4. Jangan berdo’a untuk kejahatan. Ikutilah jalan yang lurus yang diajarkan Allah dan RasulNya kepada kita. Meskipun kita sedang terjepit, usahakan agar kita tidak melakukan kejahatan. Sekali lagi bertawakallah kepada Allah, maka Dia akan memberikan yang terbaik buat kita.
    5. Ucapkanlah do’a kita dengan suara yang lembut dan berendah diri kepada Allah. Jangan berdo’a dengan suara yang keras, karena Allah sebenarnya begitu dekat dengan kita. Dia lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita (QS.50:16). Dia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati kita. Jadi kenapa kita mesti berteriak-teriak dalam berdo’a. Orang-orang yang berdo’a dengan suara keras, cenderung memiliki hati yang riya’ atau pamer kepada orang lain. Do’a yang demikian menjadi tidak ikhlas adanya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 25 June 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Meremehkan Wirid 

    Jangan Meremehkan Wirid

    “Tidak akan meremehkan wirid kecuali orang yang bodoh. Karena  Allah (Al-Warid) itu diperoleh di akherat’, sedangkan Al-Wirid, akan selesai dengan musnahnya dunia. Yang paling baik diperintahkan oleh manusia, adalah yang tidak pernah musnah. Wirid yang diperintahkan Allah kepadamu, serta karunia yang kalian terima, adalah merupakan hajatmu sendiri terhadap Allah Ta’ala. Dimanakah letaknya perbedaan antara perintah Allah kepadamu dengan pengharapan kalian kepada-Nya.”

    Yang dimaksud wirid ialah perbuatan seorang hamba yang berbentuk ibadah, lahir dan batin. Sedangkan Al-Warid adalah karunia Allah ke dalam batinnya seorang hamba ibarat cahaya yang halus,  yang bersinar sinar di dalam dadanya dan memberi nur ke dalam dadanya, semuanya sebagai karunia Allah yang wujudnya dalam ibadah si hamba. Al-Warid itu adalah dari Allah Swt, merupakan muamalah dan ibadah.

    Adapun wirid adalah amalan yaang dikerjakan di dunia secara tetap dan tertib di dunia ini juga berupa ibadah secara tertib termasuk dzikir yang dikerjakan terus menerus, tidak pernah ditinggalkan. Warid merupakan karunia Allah kepada para hamba berupa penjelasan, nurullah, kenikmatan  merasakan ibadah, hidayah dan taufik Allah, semuanya merupakan amalan batin yang kuat. Kenikmatan warid itu berkelanjutan hingga hari akhirat. Antara Wirid dan Al-Warid mempunyai kaitan yang kuat Apabila Al-Warid itu karunia Allah, wirid adalah ibadah yang tetap dan tertib.

    Orang yang melaksanakan wirid dalam ibadah, adalah orang yang memelihara hubungannya dengan Allah secara tetap, tidak pernah tertutup dalam saat waktu yang tetap pula. Dalam keadaan apapun dan di manapun, ia senantiasa menjaga ibadah rutinnya itu dengan baik dan dikerjakan sebagus bagusnya. Contoh ibadah yang diwiridkan, seperti sholat sunah yang dipilih untuk wirid, dzikir yang diwiridkan, puasa sunah yang diwiridkan, dan lain lainnya. Hamba yang wirid selalu membasahi jiwa dan lidahnya dengan dzikrullah. Karena dikerjakan secara rutin, maka ibadah tersebut sudah menjadi kebiasaan serta dikerjakan dengn senang hati dan dirasakan kenikmatannya.

    Kedua duanya, Wirid dan Warid, ibarat saudara kembar yang saling berlomba menjadi ibadah yang sangat dicintai untuk mendapatkan keridhoan Allah Swt. Yang satu (wirid) ibadah untuk menghiasi lahir, yang satu ibadah (warid) untuk menghiasi batin.  Wirid adalah hak Allah yang diperintahkan agar diamalkan oleh para hamba. Sedang warid adalah hak hamba yang disampaikan kepada Allah Swt.

    Menghidupkan wirid dalam hidup hamba Allah diperlukan, agar si hamba tetap kontak dengan Allah di waktu waktu yang sudah ditentukan oleh si hamba sendiri. Sebab amal ibadah yang paling baik ialah dikerjakan terus menerus, walaupun sedikit (kecil). Amal seperti ini sangat disukai oleh Allah   Ta’ala

    Diriwayatkan bahwasanya Al Jundi adalah seorang ahli makrifat yang membiasakan dirinya membaca Al-Qur an dalam waktu yang telah ditetapkan, sehingga waktu ia wafat bertepatan dengan ia menghatamkan Al-Qur an, dan menghatamkan bacaannya di saat itu. Disebutkan juga dalam beberapa riwayat oleh Abu Qosim Ad-Daraj, bahwa Al Jundi adalah seorang ahli makrifat yang senang beribadah dan mewiridkan ibadah ibadahnya itu.

    Abu Tolib Al Makky berkata, “Orang yang senantiasa men-dawam-kan (membiasakan ibadah rutin), termasuk akhlak orang beriman, dan jalan para abidin, sebab cara ini akan memperkokoh iman, termasuk hal juga yang menjadi amalan Rosulullah Saw.”

    Di samping wirid yang dikerjakan secara tetap dan tertib, seorang hamba memerlukan warid, yang disebut Imdad, artinya warid yang tidak terputus putus dan senantiasa bersambung yang dipersiapkan.  Dengan persiapan melalui wirid ini barulah warid itu masuk menjadi hiasan kalbu para ahli makrifat. Tanpa wirid maka tidak ada warid.

    Syekh Ahmad Atailah (pengarang kitab Al-Hikam) menjelaskan lagi :

    “Masuknya warid Imdad menurut persiapannya (wirid), dan terbitnya cahaya atas hati sesuai kebersihan hati itu pula.”

    Warid itu dapat memasuki hati dan rasa seorang hamba, apabila hati si hamba telah bersih dari pengaruh duniawi yang meresahkan dan mengendorkan iman. Hati akan menjadi bersih menurut wirid yang dilakukan oleh si hamba dengan terus menerus, tertib, dan kontinyu. Memelihara terlaksananya wirid sangat diperlukan bagi terangnya hati manusia dengan nurullah.

    ***

    Narasumber : Buku “Mutumanikan dari kitab Al-Hikam”

    Firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan (supaya) mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

    Lurus artinya jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 24 June 2012 Permalink | Balas  

    Makruhnya Mencabut Uban 

    Assalamu’alaikum wa rohmatullohi Ta’ala wa barokatuhu

    Makruhnya Mencabut Uban

    Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, Rosululloh bersabda, “Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang memiliki uban sehelaipun sesudah masuk Islam kecuali uban tersebut akan menjadi cahaya untuknya di hari kiamat kelak.” (Shohih Jami’ush Shoghir diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/256/4184 dan Nasai 8/136).

    Anjuran untuk Mewarnai Uban dengan Daun Pacar, Katm atau Sejenisnya dan Haram Mewarnainya dengan Warna Hitam

    Dari Abu Dzar rodhiyallohu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya termasuk yang paling baik untuk merubah warna uban ialah daun pacar dan katm.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.1546. Diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/259/4187, Tirmidzi 3/145/1806, Ibnu Majah 2/1196/3622 dan An Nasai 8/139. Teks hadits tersebut ada dalam riwayat Ibnu Majah).

    Katm adalah tumbuhan yang menghasilkan warna hitam kemerah-merahan. Demikian keterangan dalam Fiqh Sunnah 1/35. Ed.

    Dari Abu Huroiroh, beliau menyatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai uban mereka, maka selisihilah mereka!” (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Bukhori 1/354/5899, Muslim 3/1663/2103, Abu Dawud 11/257/4185, dan An Nasai 8/137).

    Dari jabir rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Abu Quhafah didatangkan ke hadapan Rosululloh ketika Fathul Makkah dalam keadaan rambut dan jenggotnya seperti tsagomah. Rosululloh bersabda, “Ubahlah warna ubannya dengan warna apapun akan tetapi jauhilah penggunaan warna hitam.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.4170. Diriwayatkan oleh Muslim 3/1663-69-2102, Abu Dawud 11/258/4186, An Nasai 8/138, dan Ibnu Majah 2/1197/3624). Tsaghomah adalah pohon yang daun dan bunganya berwarna putih.

    Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Rosululloh bersabda, “Kelak di akhir jaman akan muncul sekelompok orang yang mewarnai ubannya dengan warna hitam seperti warna tembolok merpati. Mereka tidak akan mencium bau surga.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.8153. Diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/266/4194 dan An Nasai 8/138)

    Wallahu’alam bish showwab

    Wassalamu’alaikum wa rohmatullohi Ta’ala wa barokatuhu

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 22 June 2012 Permalink | Balas  

    Jauhi Sifat Angkuh dan Sombong 

    Jauhi Sifat Angkuh dan Sombong

    Sifat angkuh dan sombong telah banyak mencelakakan makhluk ciptaan Allah subhanahu wata’ala, mulai dari peristiwa terusirnya Iblis dari sorga karena kesombongannya untuk tidak mau sujud kepada Nabi Adam alaihis salam tatkala diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk sujud hormat kepadanya.

    Demikian juga Allah subhanahu wata’ala telah menenggelamkan Qorun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya.

    Allah subhanahu wata’ala juga telah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya di lautan karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya, dan karena kesombongannya itulah dia lupa diri sehingga dengan keangkuhannya dia menyatakan dirinya adalah tuhan yang harus disembah dan diagungkan.

    Kehancuran kaum Nabi Luth alaihis salam juga karena kesombongan mereka dengan menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Luth alaihis salam agar mereka meninggalkan kebiasaan buruk mereka yaitu melakukan penyimpangan seksual, yakni lebih memilih pasangan hidup mereka sesama jenis (homosek), sehingga tanpa disangka-sangka pada suatu pagi, Allah subhanahu wata’ala membalikkan bumi yang mereka tempati dan tiada satu pun di antara mereka yang bisa menyelamatkan diri dari adzab Allah yang datangnya tiba-tiba.

    Dan masih banyak kisah lain yang bisa menyadarkan manusia dari kesombongan dan keangkuhan, kalaulah mereka mau mempergunakan hati nurani dan akalnya secara sehat.

    Mengapa manusia tidak boleh sombong? Sebab manusia adalah makhluk yang lemah, maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, telah menjelaskan tentang bahayanya sifat kesombongan dan keangkuhan, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

    “Tidak masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit kesombongan, kemudian seseorang berkata: “(ya Rasulullah) sesungguhnya seseorang itu senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus”, Beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah itu Indah dan Dia menyenangi keindahan, (dan yang dimaksud dengan) kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain” (HR. Muslim)

    Imam An-Nawawi rahimahullah berkomentar tentang hadits ini, “Hadits ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka dan menolak kebenaran”. (Syarah Shahih Muslim 2/269).

    Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak pantas mengerjakan suatu urusan, dia juga sombong menerima kebenaran dari orang lain”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam 2/275)

    Raghib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Sombong adalah keadaan/kondisi seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain, kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari` 22/140).

    Nash-nash Ilahiyyah banyak sekali mencela orang yang sombong dan angkuh, baik yang terdapat dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah.

    1. Orang Yang Sombong Telah Mengabaikan Perintah Allah subhanahu wata’ala.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (angkuh).” (QS. 31:18)

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, menjelaskan makna firman Allah subhanahu wata’ala: (Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia) dia berkata: “Janganlah kamu sombong dan merendahkan manusia, hingga kamu memalingkan wajahmu ketika mereka berbicara kepadamu.” (Tafsir At-Thobari 21/74)

    Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan Firman Allah subhanahu wata’ala, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”, maksudnya janganlah kamu menjadi orang yang sombong, keras kepala, berbuat semena-mena, janganlah kamu lakukan semua itu yang menyebabkan Allah murka kepadamu”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/417).

    2. Orang Yang Sombong Menjadi Penghuni Neraka.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Katakanlah kepada mereka: Masuklah kalian ke pintu-pintu neraka jahannam dan kekal di dalamnya, maka itulah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. Az-Zumar: 72)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Tidak akan masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya terdapat sedikit kesombongan.” (HR. Muslim)

    Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni surga? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni surga adalah) orang-orang yang lemah lagi direndahkan oleh orang lain, kalau dia bersumpah (berdo’a) kepada Allah niscaya Allah kabulkan do’anya, Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni neraka? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni neraka adalah) orang-orang yang keras kepala, berbuat semena-mena (kasar), lagi sombong”. (HR. Bukhori & Muslim)

    3. Orang Yang Sombong Pintu Hatinya Terkunci & Tertutup.

    Sebagaimana Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:

    “Demikianah Allah mengunci mati pintu hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (QS. Ghafir 35)

    Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Sebagaimana Allah mengunci mati hati orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah maka demikian juga halnya Allah juga mengunci mati hati orang yang sombong lagi berbuat semena-mena, yang demikian itu karena hati merupakan sumber pangkal kesombongan, sedangkan anggota tubuh hanya tunduk dan patuh mengikuti hati”. (Fathul Qodir 4/492).

    4. Kesombongan Membawa Kepada Kehinaan Di Dunia & Di Akhirat

    Orang yang sombong akan mendapatkan kehinaan di dunia ini berupa kejahilan, sebagai balasan dari perbuatannya, perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:

    “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di dunia ini tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanku”. (QS. Al-‘Araf: 146)

    (Maksudnya) yaitu Aku (Allah) halangi mereka memahami hujah-hujjah dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang keagungan-Ku, syari’at-Ku, hukum-hukum-Ku pada hati orang-orang yang sombong untuk ta’at kepada kepada-Ku dan sombong kepada manusia tanpa alasan yang benar, sebagaimana mereka sombong tanpa alasan yang benar, maka Allah hinakan mereka dengan kebodohan (kejahilan). (Tafsir Ibnu Katsir 2/228)

    Kebodohan adalah sumber segala malapetaka, sehingga Allah sangat mencela orang-orang yang jahil dan orang-orang yang betah dengan kejahilannya, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Sesungguhnya makhluk yang paling jelek (paling hina) di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apapun (jahil).” (QS. Al-Anfal:22)

    Maksudnya Allah subhanahu wata’ala menghinakan orang-orang yang tidak mau mendengar-kan kebenaran dan tidak mau menutur-kan yang haq, sehingga orang tersebut tidak memahami ayat-ayat-Nya yang pada akhirnya menyebabkan dia menjadi seorang yang jahil dan tidak mengerti apa-apa, dan kejahilan itulah bentuk kehinaan bagi orang-orang yang sombong.

    Dan orang yang sombong di akhirat dihinakan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan memperkecil postur tubuh mereka sekecil semut dan hinaan datang kepada dari segala penjuru tempat, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut:

    “Orang-orang yang sombong akan dihimpunkan pada hari kiamat seperti dalam bentuk semut-semut kecil dengan rupa manusia, dari segala tempat datang hinaan kepada mereka, mereka digiring ke penjara neraka jahannam yang di sebut Bulas, di bagian atasnya api yang menyala-nyala dan mereka diberi minuman dari kotoran penghuni neraka”. (HR. Tirmizi & Ahmad, dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat)

    Semoga dengan merenungi nash-nash Ilahiyyah diatas, karunia Allah subhanahu wata’ala beserta kita dan bisa menjauhkan kita dari sifat angkuh dan sombong. (Abu Abdillah Dzahabi)

    ***

    Tulisan ini disadur dari Majalah Al-Furqon Edisi: 5 Tahun V /Dzulhijjah 1426 /Januari 2006

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 19 June 2012 Permalink | Balas  

    Zikir Mengingat Allah 

    Zikir Mengingat Allah

    Allah memerintahkan orang yang beriman untuk berzikir (mengingat dan menyebut nama Allah) sebanyak-banyaknya:

    “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41]

    Tidak berzikir akan mengakibatkan seseorang jadi orang yang rugi.

    “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS Al Munaafiquun 63:9]

    Allah mengingat orang yang mengingatNya.

    “Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al Baqarah:152]

    Orang yang beriman selalu ingat kepada Allah dalam berbagai keadaan :

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali ‘Imran 3:190-191]

    Dengan berzikir hati menjadi tenteram.

    “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]

    Menyebut Allah dapat membawa ketenangan dan menyembuhkan jiwa :

    “Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak).” (HR. Al-Baihaqi)

    Nabi berkata: Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

    “Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Hanzhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Hanzhalah hingga diulang-ulang tiga kali).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

    “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Nabi berkata: “ Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: “Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, “Ya.” Nabi Saw berkata,”Zikrullah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

    Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan.” Nabi Saw berkata, “Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Nabi berkata: Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya’la)

    Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah : “Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati.” (HR. Ad-Dailami)

    “Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah yaitu kalimat: “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)

    Nabi berkata: “Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya “Laailaha illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan “Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan “Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)

    Di antara zikir yang utama adalah Laa ilaaha illallahu (Tidak ada Tuhan selain Allah) “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu” [HR Turmudzi]

    “Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku berkata bahwa kalimat : “Subhanallah, wal hamdulillah, wa Laa Ilaaha Illallah, wallahu akbar” (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha Besar) itu lebih kusukai daripada apa yang dibawa oleh matahari terbit.” (HR Bukhari dan Muslim)

    ***

    Referensi: Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press Disadur dari: HaditsWeb 2.0 – Sofyan Efendi – Kumpulan dan Referensi Belajar Hadits

    Syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 18 June 2012 Permalink | Balas  

    Matematika Sedekah 

    Matematika Sedekah

    Pengantar

    Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dan sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.

    Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan- kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. Kepada yang mau peduli dan berbagi.

    Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.

    Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan fadilah-fadilah/ keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis, adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi, kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat ‘mukhlishiina lahuddien’, derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.

    Matematika Dasar Sedekah

    Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?

    10 – 1 = 19

    Pertambahan ya? Bukan pengurangan? Kenapa matematikanya begitu? Matematika pengurangan darimana? Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar? Kenapa bukan 10-1 = 9?

    Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas, matematika sederhana yang diambil dari QS. 6: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.

    Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya, bukan 9. Melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat. Hasil akhir, atau jumlah akhir, bagi mereka yang mau bersedekah, tentu akan lebih banyak lagi, tergantung Kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar sepuluh kali lipat.

    Dalam QS. 2: 261, Allah menjanjikan 700x lipat. Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu bentuknya apa? Bukalah mata hati, dan kembangkan ke- husnudzdzanan, atau positif thinking ke Allah. Bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita.

    Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak

    Kita sudah belajar matematika dasar sedekah, dimana setiap kita bersedekah Allah menjanjikan minimal pengembalian sepuluh kali lipat (walaupun ada di ayat lain yg Allah menyatakan akan membayar 2x lipat). Atas dasar ini pula, kita coba bermain-main dengan matematika sedekah yang mengagumkan. Bahwa semakin banyak kita bersedekah, ternyata betul Allah akan semakin banyak juga memberikan gantinya, memberikan pengambalian dari-Nya.

    Coba lihat ilustrasi matematika berikut ini:

    Pada pembahasan diatas, kita belajar: 10 – 1 = 19. Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:

    • 10 – 2= 28
    • 10 – 3= 37
    • 10 – 4= 46
    • 10 – 5= 55
    • 10 – 6= 64
    • 10 – 7= 73
    • 10 – 8= 82
    • 10 – 9= 91
    • 10 – 10= 100

    Menarik bukan? Lihat hasil akhirnya? Semakin banyak dan semakin banyak. Sekali lagi, semakin banyak bersedekah, semakin banyak penggantian dari Allah. Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita untuk bersedekah, meringankan langkah untuk bersedekah, dan membuat balasan Allah tidak terhalang sebab dosa dan kesalahan kita.

    2.5 % Tidaklah Cukup

    Saudaraku, barangkali sekarang ini zamannya minimalis. Sehingga ke sedekah juga hitung-hitungannya jadi minimalis. Angka yang biasa diangkat, 2,5%. Kita akan coba ilustrasikan, dengan perkalian sepuluh kali lipat, bahwa sedekah minimalis itu tidak punya pengaruh yang signifikan.

    Contoh berikut ini, adalah contoh seorang karyawan yang punya gaji 1jt. Dia punya pengeluaran rutin sebesar 2jt. Kemudian dia bersedekah 2,5% dari penghasilan yang 1jt itu. Maka kita dapat perhitungannya sebagai berikut:

    Sedekah: Sebesar 2,5%

    2,5% dari 1.000.000 = 25.000

    Maka, tercatat di atas kertas:

    1.000.000 – 25.000 = 975.000

    Tapi kita belajar, bahwa 975.000 bukan hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau sebesar 250.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 975.000 + 250.000 = 1.225.000 Lihat, ‘hasil akhir’ dari perhitungan sedekah 2,5% dari 1jt, ‘hanya’ jadi Rp. 1.225.000,-. Masih jauh dari pengeluaran dia yang sebesar Rp. 2jt. Boleh dibilang secara bercanda, bahwa jika dia sedekahnya ‘hanya’ 2,5%, dia masih akan keringetan untuk mencari sisa 775.000 untuk menutupi kebutuhannya.

    Coba Sedekah 10 %.

    Saudara sudah belajar, bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Ketika diterapkan dalam kasus seorang karyawan yang memiliki gaji 1jt dan pengeluarannya 2jt, maka dia hanya mendapatkan pertambahan 250rb, yang merupakan perkalian sedekah 2,5% dari 1jt, dikalikan sepuluh. Sehingga ‘skor’ akhir, pendapatan dia hanya berubah menjadi Rp. 1.225.000. Masih cukup jauh dari kebutuhan dia yang 2jt.

    Sekarang kita coba terapkan ilustrasi berbeda. Ilustrasi sedekah 10%.

    Sedekah: Sebesar 10%

    10% dari 1.000.000 = 100.000

    Maka, tercatat di atas kertas:

    1.000.000 – 100.000 = 900.000

    Kita lihat, memang kurangnya semakin banyak, dibandingkan dengan kita bersedekah 2,5%. Tapi kita belajar, bahwa 900.000 itu bukanlah hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau dikembalikan sebesar 1.000.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 900.000 + 1.000.000 = 1.900.000

    Dengan perhitungan ini, dia ‘berhasil’ mengubah penghasilannya, menjadi mendekati angka pengeluaran yang 2 juta nya. Dia cukup butuh 100 rb tambahan lagi, yang barangkali Allah yang akan menggenapkan 2 juta.

    Dan satu hal yang saya kagumi dari matematika Allah, bahwa Spiritual Values, ternyata selalu punya keterkaitan dengan Economic Values. Kita akan bahas pelan-pelan sisi ini, sampai kepada pemahaman yang mengagumkan tentang kebenaran janji Allah tentang perbuatan baik dan perbuatan buruk. Kita sedang membicarakan bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Mestinya sedekah kita, haruslah minimal 10%. Dengan bersedekah 10%, insya Allah kebutuhan- kebutuhan kita, yang memang kita hidup di dunia pasti punya kebutuhan, akan tercukupi.

    Dari ilustrasi diatas, saya memaparkan bahwa ketika seorang karyawan bersedekah 2,5% dari gajinya yang 1jt, maka ‘pertambahannya’ menjadi Rp. 1.225.000. Yakni didapat dari Rp.975.000, sebagai uang tercatat setelah dipotong sedekah, ditambah dengan pengembalian sepuluh kali lipat dari Allah dari 2,5% nya.

    Bila sedekah 2,5% ini yang dia tempuh, sedangkan dia punya pengeluaran 2jt, maka kekurangannya teramat jauh. Dia masih butuh Rp. 775.000,-. Maka kemudian saya mengajukan agar kita bersedekah jangan 2,5%, tapi lebihkan. Misalnya 10%.

    Saudaraku, ada pernyataan menarik dari guru-guru sedekah, bahwa katanya, sedekah kita yang 2,5% itu sebenarnya tetap akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita, di dunia ini, maupun kebutuhan yang lebih hebat lagi di akhirat, kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain sedekah. Misalnya, bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan selalu berjamaah. Shalat dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya; qabliyah ba’diyah, hajat, dhuha, tahajjud. Bagus juga dalam hubungan dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan sekerja, kawan usaha. Terus, kita punya maksiat sedikit, keburukan sedikit. Bila ini yang terjadi, maka insya Allah, cukuplah kita akan segala hajat kita. Allah akan menambah poin demi poin dari apa yang kita lakukan. Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal, dan banyak maksiatnya. Jadilah kita orang-orang yang merugi. Skor akhir yang sebenarnya sudah bertambah, dengan sedekah 2,5% itu, malah harus melorot, harus tekor, sebab kita tidak menjaga diri. Perbuatan buruk kita, memakan perbuatan baik kita. Tambahi terus amaliyah kita, dan kurangi terus maksiat kita

    Kalikan Dari Target Supaya Beroleh Lebih.

    Saudaraku, ini menyambung tulisan diatas. Kasusnya, tetap sama: Seorang karyawan dengan gaji 1jt, yang punya pengeluaran 2jt. Bila karyawan tersebut mau hidup tidak pas-pasan, dan mau dicukupkan Allah, dia harus menjaga dirinya dari keburukan, dan terus memacu dirinya dengan berbuat kebaikan dan kebaikan. Kemudian, lakukan sedekah 10% bukan dari gajinya, melainkan dari pengeluarannya.

    Sedekah 10% dari 2jt (bukan dari gajinya yang 1jt), maka akan didapat angka sedekah sebesar Rp. 200rb. Gaji pokok sebesar 1jt, dikurang 200rb, menjadi tinggal 800rb. Lihat, angka tercatatnya tambah mengecil, menjadi tinggal 800.000. Tapi di sinilah misteri sedekah yang ajaib. Yang 200rb yang disedekahkan, akan dikembalikan sepuluh kali lipat oleh Allah, atau menjadi 2jt. sehingga skor akhirnya bukan 800rb, melainkan 2,8jt.

    Dengan perhitungan di atas, kebutuhannya yang 2jt, malah terlampaui. Dia lebih 800rb. Subhanallah. Apalagi kalau kemudian dia betul-betul mau memelihara diri dari maksiat dan dosa, dan mempertahankan perbuatan baik, maka lompatan besar akan terjadi dalam hidupnya. Sebuah perubahan besar, sungguh-sungguh akan terjadi. Baik kemuliaan hidup, kejayaan, kekayaan, hingga keberkahan dan ketenangan hidup. Sekali lagi, subhanallah.

    ***

    Artikel Ustadz Yusuf Mansur

     
    • R.Suryo Basuki 3:05 am on 30 Januari 2013 Permalink

      subhanallah…ya Allah jadikan hambamu ini ahli sedekah dan jauhkan dari maksiat….

  • erva kurniawan 1:29 am on 17 June 2012 Permalink | Balas  

    Siapakah diantara manusia yang merugi? 

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

    Siapakah diantara manusia yang merugi?

    Allah Subhanahu wata’ala berfirman :” Yaitu, orang-orang yang melanggar perjanjian Allah, sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan untuk menghubunginya, dan membuat kerusakan dimuka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi”(Q.S Al Baqarah 27).

    FirmanNya lagi :”Dan orang-orang yang merusak janji Allah, sesudah diikrarkan dengan teguh, dan memutuskan apa-apa yang diperintahkan untuk dihubungkan, dan mengadakan kerusakan dimuka bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk(jahannam).(Q.S Ar Ra’d 25)

    Diriwayatkan dari Imam Bukhari, dalam kitabnya Adabul Mufrad(1:36), dan Al baihaqi 6:220, dan dari sahabat Jubair bin Math’am, Ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturrahm”.

    Dari Abi Bukrah, Rasulullah bersabda :” Tidak ada dosa, yang paling disegerakan hukumannya didunia, dan disimpan azabnya diakhirat , selain mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm”.

    Dalam riwayat lain, “Langit dunia ini sangat luas, kecuali untuk mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm”

    Dalam riwayat Al Baihaqi kitab su’bah iman juga, dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda :” Tiap hari khamis malam Jum’at segala amalan akan dipersembahkan kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm

    Dalam riwayat Bukhari, kitab adabul mufrad (1:36), dari Abdullah bin’aufa, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan rahmatnya kepada mereka yang memutuskan hubungan silaturrahm”.

    Dalam syarah (penjelasan) Imam Bukhari, Kitab fathul baari, Ibnu Hajar menjelaskan, diriwayatkan dari Siti ‘Aisyah, dari Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang ingin dimudahkan rezekinya, hendaklah ia menghubungkan silaturrahm, baik dengan tetangga, dan baik akhlaqnya.”(H.R Atturmidzi dan hadis ini derajatnya Hadist Hasan).

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

    ***

    Dari Milis, oleh Sahabat: Rahima.

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 16 June 2012 Permalink | Balas  

    Renungan Kehidupan 

    Renungan Kehidupan

    Setelah sholat malam, ditengah keheningan malam coba diri ini merenung tentang :

    1. Kepala kita! Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba yang tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia?
    2. Mata kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?
    3. Telinga Kita! Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan utk mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?
    4. Hidung Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak yatim piatu yang sangat kehilangan kedua orangtuanya dan sangat mendambakan cinta bunda dan ayahnya?
    5. Mulut kita! Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna dan berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti: bergibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?
    6. Tangan Kita! Apakah sudah kita gunakan utk bersedekah kepada dhuafa, membantu sesama yang kena musibah, membantu sesama yang butuh bantuan, mencipta karya yang berguna bagi ummat atau kita gunakan untuk mencuri, korupsi, menzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta orang yang tak berdaya?
    7. Kaki Kita! Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat menuntut ilmu bermanfaat, ke tempat-tempat pengajian yang kian mendekatkan perasaan kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?
    8. Dada Kita! Apakah didalamnya tersimpan perasaan yang lapang, sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riya?
    9. Perut kita! Apakah didalamnya diisi oleh makanan halal dan makanan yang diperoleh dengan cara yang halal sehingga semua terasa nikmat dan barokah. Atau didalamnya diisi oleh makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal, dengan segala ketamakan dan kerakusan kita?
    10. Diri kita! Apakah kita sering tafakur, tadabur, dan selalu bersyukur atas karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?

    ***

    (Dari berbagai sumber, dengan sedikit ‘editing’ tanpa mengubah makna aslinya)

    Sumber : taushiyah-online.com

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 15 June 2012 Permalink | Balas  

    Oleh-Oleh dari Sidratul Muntaha Shalat Lima Waktu 

    Oleh-Oleh dari Sidratul Muntaha Shalat Lima Waktu

    Apakah oleh-oleh yang dibawa Rasulullah saw sepulang dari Isra’ Mi’raj? Pada umumnya ulama sepakat bahwa beliau membawa ‘oleh-oleh’ perintah shalat 5 waktu. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kumpulan hadits shahihnya, lewat Anas Ibn Malik.

    Disana diceritakan bahwa Rasulullah saw pada awalnya menerima perintah shalat 50 waktu, tetapi akhirnya diturunkan sampai 5 waktu, setelah Rasulullah disarankan oleh Nabi Musa untuk mohon keringanan. Maka, akhirnya jadilah perintah shalat itu hanya 5 waktu dalam sehari semalam.

    Akan tetapi, apakah yang dimaksudkan dengan perintah ‘shalat 5 waktu’ itu? Di kalangan umat Islam ada beberapa persepsi yang berkembang.

    1. Ada yang berpendapat bahwa saat Mi’raj itulah Rasulullah saw menerima perintah shalat untuk pertama kalinya. Atau dengan kata lain, sebelum itu beliau belum menjalani shalat.
    2. Mirip dengan yang pertama, ada yang berpendapat bahwa dengan Isra’ Mi’raj itu Allah bertujuan untuk memberikan perintah dan mengajarkan ‘tatacara shalat’. Jadi tatacara shalat yang kita lakukan sekarang ini adalah ‘oleh-oleh’ Nabi saat Mi’raj ke Sidratul Muntaha.
    3. Namun, agak berbeda dengan dua pendapat di atas, ada yang mengatakan bahwa perintah shalat dalam peristiwa Isra’ Mi’raj itu hanya terkait dengan jumlah waktunya saja, yaitu 5 waktu : Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’. Sedangkan tatacara shalatnya sudah turun sebelumnya.
    4. Dan, lebih jauh lagi, ada yang mengemukakan pendapat bahwa peristiwa itu bukan untuk menerima perintah shalat, melainkan untuk menunjukkan tanda-tanda Kebesaran dan Kekuasaan Allah kepada Rasulullah saw, yang sedang terhimpit beban berat dalam masa perjuangan beliau. Namun demikian, proses Isra’ dan Mi’raj itu sendiri memberikan pelajaran kepada kita bagaimana seharusnya shalat yang khusyuk.

    Bagi saya, keempat persepsi itu agak rancu. Dan memberikan pengaruh pada kepahaman kita secara mendasar. Karena itu kita harus mendiskusikan secara lebih mendalam. Untuk memahami pendapat-pendapat itu, ada baiknya kita menengok kembali beberapa landasan yang dipakai untuk memahami peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut.

    Yang pertama adalah hadits yang meriwayatkan peristiwa Isra’Mi’raj. Hadits itu terdapat dalam kumpulan hadits shahih Imam Muslim, yang diceritakan oleh Anas Ibn Malik. Di hadits yang cukup panjang itu diceritakan seluruh kisah perjalanan Nabi Muhammad saw pada malam itu. Dan salah satu informasinya, Rasulullah saw menerima perintah shalat 5 waktu, setelah terjadi ‘tawar-menawar’ dari 50 waktu.

    Lepas dari ‘ketidak setujuan’ beberapa kalangan terhadap, proses ‘tawar menawar Eitu, menurut hadits tersebut, akhirnya Rasulullah saw menerima perintah shalat 5 waktu. Di sinilah muncul beberapa persepsi yang agak ‘rancu’.

    Misalnya, tentang pendapat ‘apakah benar Rasulullah saw menerima perintah shalat pertama kalinya pada waktu itu’. Kenapa muncul pertanyaan demikian? Karena ada beberapa informasi di dalam hadits maupun Qur’an yang mengatakan bahwa perintah shalat itu sebenarnya diberikan untuk pertama kalinya bukan kepada beliau. Bahkan pada saat perjalanan Isra’ Mi’raj itu pun Rasulullah saw sudah menjalankan shalat di beberapa tempat pemberhentian. Termasuk juga shalat di masjidil Aqsha sebelum berangkat Mi’raj.

    Maka, kita memang pantas untuk mempertanyakan, manakah informasi yang harus kita ambil sebagai kesimpulan : Rasullullah saw menerima perintah shalat pada saat Mi’raj di langit ke tujuh, ataukah sebelum itu beliau sudah menjalankan shalat.

    Apalagi dalam berbagai ayat Qur’an Allah berfirman bahwa perintah shalat itu memang sudah diberikan sejak zaman Nabi Ibrahim as. Sehingga seluruh keturunan, anak cucu Nabi Ibrahim, juga telah menjalankan shalat. Tentu saja, termasuk Nabi Muhammad saw. Coba cermati ayat-ayat berikut ini.

    Dalam beberapa ayat Qur’an disebutkan bahwa perintah shalat itu sebenarnya sudah diwahyukan sejak lama kepada para Nabi dan Rasul sebagai ibadah utama untuk berkomunikasi dengan Allah. Jadi bukan hanya pada saat Rasulullah saw saja shalat itu diperintahkan.

    QSAl Anbiyaa’ (21):72 – 73

    “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim), Ishaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh.”

    “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,”

    Ayat di atas secara tegas menginformasikan kepada kita bahwa Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub telah menerima wahyu untuk mengerjakan shalat (wa iqaamash shalaati). Selain kepada beliau bertiga, Musa ternyata juga sudah memperoleh perintah shalat itu. Hal tersebut diceritakan Allah kepada Nabi Muhammad dalam ayat berikut ini.

    QS. Thahaa (20): 13 – 14

    “Dan Aku telah memilih kamu (Musa), maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).

    “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

    Lebih jauh, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah agar anak keturunan beliau dijadikan Allah sebagai orang-orang yang menjaga shalatnya, dan terus istiqamah untuk menegakkan. Termasuk di dalamnya adalah Nabi Isa as.

    QS. Ibrahim (14): 39 – 40

    “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do’a.”

    “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku-orang orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku.”

    QS. Maryam (19): 30 – 31

    “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup”

    Dan yang lebih menarik, Allah memberikan gambaran bahwa cara shalat mereka juga dengan ruku’ dan sujud kepada Allah. Selain itu ditegaskan bahwa mereka tidak menyerikatkan Allah, mensucikan, dan mengagungkan, serta memuji muji KebesaranNya.

    QS. Al Hajj (22): 26

    “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.“

    QS. Maryam (19): 58 – 59

    “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”

    “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.

    Kalimat ‘menyia-nyiakan shalat’ di bagian terakhir ayat di atas, menunjukkan kepada kita bahwa beliau-beliau adalah hamba-hamba Allah yang sangat taat menegakkan shalat. Karena digambarkan, banyak orang sesudah mereka yang menyia-nyiakan shalat, dan bermalas-malasan dalam mengerjakannya. Maka, lantas turun Rasul baru (sampai Nabi Muhammad saw.) untuk memompa kembali semangat dan ketaatan umat dalam menegakkan shalat.

    QS. Al Hajj (22) : 78

    “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

    Dan kalau kita cermati ayat di atas, kita bahkan memperoleh informasi bahwa sejak zaman Nabi Ibrahim kita memang sudah disebut sebagai orang Islam. Juga pada zaman Nabi Muhammad, yang menjadi saksi atas keislaman kita. Maka, kita memperoleh perintah untuk mendirikan shalat sebagaimana Nabi Ibrahim juga menjalankan shalat.

    Nah, berbagai ayat dan informasi di atas, saya kira memberikan penegasan kepada kita bahwa sebenarnya shalat itu sudah menjadi bagian wahyu-wahyu Allah sejak zaman Rasul-Rasul sebelumnya. Bukan hanya kepada Rasulullah Muhammad saw. Apalagi kalau kita baca hadits ‘shahih dan kuat’ berikut ini :

    “Aku didatangi Jibril a.s. pada awal-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkan kepadaku wudlu dan shalat”

    (HR Imam Hakim – vol. III : 217, Al Baihaqi vol. I : 162, dan Imam Ahmad vol. V : 203, sebagaimana dikutip dalam buku ‘Shalat bersama Nabi Saw’, Hasan Bin ‘Ali as Saqqaf, Yordania, terjemahan oleh Drs Tarmana Ahmad Qosim, Agustus 2003).

    Hadits Nabi ini menceritakan, sebenarnya turunnya perintah shalat itu terjadi di awal-awal masa kenabian. Berarti sejak awal masa kenabian beliau, Rasulullah saw memang sudah menjalani shalat. Bukan setelah peristiwa Isra’Mi’raj.

    Dan agaknya ini ada kaitannya dengan masa turunnya surat Al Fatihah. Dalam bukunya, ‘Al Fatihah, Membuka Mata Batin dengan Surat Pembuka’, Achmad Chodjim menuturkan bahwa Al Fatihah adalah surat yang diturunkan di awal-awal masa kenabian.

    Meskipun ada perbedaan pendapat tentang urutan ke berapa wahyu ini diturunkan, tetapi sebagian besar ulama sepakat bahwa surat Al Fatihah adalah surat yang diturunkan pertamakali secara lengkap 1 surat. Wahyu yang lainnya biasanya diturunkan secara terpotong-potong dalam satu atau beberapa ayat.

    Maka, kalau kita amati antara turunnya wahyu Al Fatihah dan datangnya Jibril mengajari shalat kepada Rasulullah saw terdapat pada kurun waktu yang hampir bersamaan. Atau bahkan mungkin saling berkaitan. Hal ini, karena surat Al Fatihah merupakan surat yang wajib dibaca dalam shalat. Rasulullah saw mengatakan, tidak sah shalat seseorang jika tidak membaca al Fatihah.

    Dengan adanya berbagai informasi di atas, maka agaknya kita perlu menata kembali kefahaman tentang turunnya perintah shalat pada saat beliau Mi’raj. Khususnya, persepsi yang berkembang di beberapa kalangan Islam selama ini, bahwa shalat untuk pertama kalinya diperintahkan kepada umat Islam pada saat Rasulullah saw Mi’raj.

    Persepsi yang kedua, adalah yang berkait dengan ‘tata cara’ shalat. Diskusi kita di atas saya kira telah memberikan gambaran yang berbeda tentang turunnya perintah ‘tatacara’ shalat Rasulullah saw.

    Secara umum, kita telah dapat menangkap informasi, dari berbagai ayat di atas, bahwa gerakan-gerakan shalat para Nabi sebelum Rasulullah saw pun sama, yaitu ruku’ dan sujud. Gerakan ruku’ adalah gerakan membungkuk dari posisi berdiri, dan kemudian dilanjutkan dengan bersujud yaitu menyentuhkan dahi kita ke permukaan Bumi.

    Memang tidak ada penjelasan yang khusus tentang cara shalatnya umat sebelum Nabi Muhammad. Tetapi secara umum kita melihatnya memiliki dasar-dasar yang sama. Sehingga pada umat nasrani tertentu, di Timur Tengah, pun kita melihat mereka memiliki gerakan yang mirip dengan gerakan shalat umat Islam. Yaitu ada ruku’ dan sujudnya.

    Dan, shalat yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada kita itu berasal dari apa yang diajarkan oleh Jibril kepada beliau. termasuk cara berwudlunya. Praktek shalat telah beliau jalankan, jauh sebelum peristiwa Isra’dan Mi’raj.

    Yang menarik, tatacara shalat yang kita lakukan sebagai umat beliau ini adalah hasil penglihatan para sahabat terhadap shalat Rasulullah saw. Dan kemudian diteruskan pada generasi-generasi selanjutnya. Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan secara khusus, beliau cuma mengucapkan “shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat E

    Maka pada jaman itu, para sahabat selalu mencermati melihat, mendengarkan, dan menirukan bagaimana shalatnya Rasulullah saw. Termasuk saling menceritakan tentang tatacara shalat beliau.

    Namun demikian, Rasulullah saw juga mengkoreksi praktek shalat yang dilakukan oleh sahabat. Di antaranya, yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim (diceritakan secara rinci dalam buku ‘Shalat Bersama Nabi Saw’, sebagaimana saya sebutkan di atas).

    Digambarkan ada seorang laki-laki masuk masjid, sementara Rasulullah saw berada di bagian lain masjid itu. Rasul melihat laki-laki itu melakukan shalat 2 rakaat. Selesai shalat, laki-laki itu mendekati Nabi dan mengucapkan salam. Rasulullah saw menjawabnya.

    Namun, beliau memerintahkan kepada laki-laki itu untuk mengulangi shalatnya: “Kembalilah, ulangi shalatmu, karena sesungguhnya kamu belum shalat”. Maka lelaki itu pun mengulangi shalatnya 2 rakaat. Setelah itu dia mendekat lagi kepada Nabi sambil mengucapkan salam.

    Rasul menjawab salamnya, tapi kemudian mengucapkan perintah yang sama : “Kembalilah, ulangi shalatmu, karena kamu sesungguhnya belum shalat.” Maka, lelaki itu pun kembali melakukan shalat, dan setelah itu kembali kepada Rasulullah saw. Tapi lagi-lagi Rasul menyuruhnya untuk mengulangi shalatnya. Hal itu terjadi sampai tiga kali. Akhirnya, si lelaki ‘menyerah’ kepada Rasul.”

    Demi Tuhan yang mengutusmu dengan hak, aku tidak dapat melakukan shalat yang lebih baik dari pada ini (maka perlihatkanlah kepadaku) dan ajari aku karena sesungguhnya aku manusia biasa, kadang aku benar dan kadang aku salah. “Maka Rasulullah saw pun mengajari laki-laki tesebut, bagaimana cara shalat yang seharusnya.

    Kisah ini, selain menggambarkan kepada kita bahwa Rasulullah saw tidak memberikan pelatihan shalat secara khusus kepada setiap sahabat, tetapi beliau tetap mengkoreksi orang-orang yang tidak melakukan shalatnya secara baik. Bahkan, ada kesan, orang-orang yang tidak menguasai ilmu shalat dengan baik, kualitas shalatnya juga dianggap tidak baik. Sehingga, secara tegas Rasulullah saw mengatakan bahwa dia sebenarnya belum shalat, karena itu perlu mengulanginya.

    Kembali kepada tatacara shalat sebelum Rasulullah saw. Memang penulis belum menemukan penjelasan detil tentang perbedaan tatacara shalat Rasulullah saw dengan Rasul sebelumnya. Akan tetapi, secara umum, shalat mereka. memiliki makna yang sama. Apalagi dengan adanya gerakan ruku’ dan sujud.

    Sebagaimana saya uraikan di depan, shalat memiliki makna untuk berserah diri kepada Allah, mengagungkanNya, mensucikanNya, dan memuji KebesaranNya. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara shalat para Nabi itu. Akan tetapi, dalam bacaan yang diucapkan tentu memiliki perbedaan. Terutama pada Surat Al Fatihah dan syahadat serta shalawat yang dibaca pada saat Tasyahud. Hal ini disebabkan Al Fatihah memang baru turun pada zaman Rasulullah saw, dan syahadat serta. shalawat Nabi terkait langsung dengan beliau. Namun begitu, pada saat tasyahud akhir, kita yang umat Muhammad ini membaca shalawat untuk beliau dengan cara mendoakannya sebagaimana shalawat dan barokah yang dilimpahkan Allah kepada Nabi Ibrahim (dikenal sebagai shalawat lbrahimiyyah).

    Hal ini, memberikan penegasan kepada kita bahwa memang ada keterkaitan yang sangat erat antara shalat Muhammad saw dengan shalat Ibrahim a.s. Intinya sama, tapi dengan redaksi yang berbeda.

    Dalam buku ‘Shalat Bersama Nabi Saw’ dikatakan bahwa bacaan tasyahud diajarkan secara jelas oleh Rasulullah saw dengan redaksi tertentu. Sedangkan, setelah itu kita diwajibkan membaca shalawat Nabi, dengan redaksi yang lebih longgar. Dan sesudah bacaan shalawat itu kita. disunnahkan untuk berdo’a, menjelang salam.

    Bacaan tasyahud akhir.

    Attahiyatul mubaarakatush shalawaatuth thayyibaatulillah

    Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warahmatullaahi

    wabarakaatuh assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadilahish

    shaalihin Asyhadu anlaa i1aaha ifiallaah wa asyhadu anna

    Muhammadarrasulullaah

    “Salam sejahtera penuh berkah, dan shalawat (rahmat) yang baik (semuanya) hanya milik Allah. Semoga salam sejahtera ditetapkan kepada engkau wahai Nabi, dan rahmat serta berkah (dari) Allah SWT Dan semoga pula salam sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. E

    Bacaan Shalawat:

    Allaahumma shalli’alaa Muhammad wa’ala ‘ali Muhammad kamaa shallaita ‘alaa lbraahim wa’alaa ‘ali Ibrahim wa baarik’alaa Muhammad wa’alaa ‘ali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa lbraahim wa ‘alaa ‘ali lbraahim fil ‘alaamfina innaka hamfidum majiid.

    “Ya Allah berikanlah shalawat (rahmat) kepada Nabi Muhamad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana telah Engkau berikan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Dan berikanlah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana telah Engkau berikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau di seluruh alam, Maha Terpuji dan Maha Mulia.

    Maka dalam hal ‘tatacara’ shalat terkait dengan Isra’ Mi’raj, kita memperoleh ‘tanda-tanda’ atau ‘jejak’ bahwa tidak seluruh tatacara shalat Rasulullah saw yang kita jalankan sekarang ini diturunkan pada zaman Rasulullah saw. Sebagian besar dan pokok ternyata telah diajarkan sejak zaman Nabi Ibrahim. Dan kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad lewat perantaraan malaikat Jibril.

    Perintah untuk mengikuti Nabi Ibrahim itu banyak kita temui di dalam Al Qur’an, di antaranya adalah ayat-ayat di bawah ini.

    QS. An Nahl (16): 123

    “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

    QS. An Nisaa’ (4): 125

    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

    QS. Ali Imran (3): 95

    Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.

    QS. Yusuf (12): 38

    “Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri (Nya).”

    Yang ketiga, persepsi mengenai shalat 5 waktu. Persepsi tentang turunnya perintah shalat 5 waktu pada saat Mi’raj Rasulullah saw lebih menemukan pijakannya, dibandingkan dengan perintah tentang ‘tata cara’ dan ‘perintah shalat pertama kali’ yang telah kita diskusikan di atas.

    Perintah shalat 5 waktu itu, telah kita ketahui diceritakan dalam hadits tentang Isra’ Mi’raj yang, kita bahas di atas. Selain itu, perintah tentang waktu-waktu shalat juga difirmankan Allah dalam ayat berikut ini.

    QS Al Israa’ (17): 78

    “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

    Dalam tafsir Al Misbah, vol 7 : 525, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan perintah shalat 5 waktu secara langsung. Yang dimaksud dengan sesudah matahari tergelincir (li duluk asy syams) adalah shalat Dhuhur, Ashar dan Maghrib. Sedangkan yang dimaksud sampai gelap malam (ilaa ghasaq al lail) adalah shalat lsya’. Dan shalat subuh diistilahkan sebagai Qur-aan al fajr.

    Menurut Quraish Shihab, penempatan perintah shalat 5 waktu dalam surat al Israa’ ini sangatlah tepat, karena berkait langsung dengan cerita Isra’ Mi’raj yang membawa ‘oleh-oleh’ perintah shalat 5 waktu. Meskipun kita tidak menemukan penjelasan yang eksplisit dalam firman Allah bahwa perintah shalat 5 waktu itu diterima oleh Rasulullah saw pada saat Mi’raj di langit ke tujuh.

    Quraish Shihab menjelaskan bahwa turunnya surat al Israa’ ini memang terjadi sebelum peristiwa Hijrah. Artinya, turun di Mekkah di sekitar peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut.

    Jadi dalam persepsi ini dikatakan, bahwa sebenarnya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini Rasulullah saw memang tidak menerima perintah menjalankan shalat. Atau juga tidak diajari tata cara shalat. Rasulullah cuma menerima perintah, yaitu umat Muhammad mesti menjalankan shalat 5 waktu dalam sehari semalam. Akan tetapi mengenai tatacaranya sudah diterima oleh Rasulullah saw di awal-awal masa kenabian beliau dari malaikat Jibril. Bahkan beliau sudah menjalankannya.

    Persepsi yang ke empat, adalah pendapat yang mengatakan bahwa perjalanan Isra’Mi’raj itu bukan bertujuan menerima perintah shalat. Melainkan sebuah perjalanan yang dimaksudkan Allah untuk ‘memompa’ semangat Rasulullah saw dalam memperjuangkan penyampaian risalah Islam. Karena pada waktu itu Rasulullah saw memang sedang mengalami keprihatinan yang sangat mendalam, akibat Lantas Allah menunjukkan tanda-tanda KebesaranNya di alam semesta kepada Rasulullah saw, dengan maksud membesarkan hati beliau. Sekaligus memberikan keyakinan yang lebih besar tentang kekuasaanNya. Sedangkan perintah shalat 5 waktu, menurut persepsi ini, diterima beliau lewat wahyu seperti biasanya. Termasuk perintah shalat yang terdapat pada QS. Al lsraa’ (17) : 78 tersebut.

    Pendapat ini didasarkan pada Firman Allah SWT dalam QS. Al Israa’ (17): 1, yang bercerita tentang perjalanan Isra’, maupun QS. An Najm (53): 14-18 yang dijadikan dasar pijakan cerita Mi’raj. Kedua-duanya tidak menyinggung perintah shalat, melainkan bertujuan ‘mempertontonkan’ kebesaran Allah di alam semesta. Mulai dari langit pertama sampai ke tujuh, di Sidratul Muntaha.

    Apalagi kalau kita ingat bahwa ternyata masjid al-Haram dan masjd al Aqsha tersebut adalah dua masjid yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, dalam masa perjuangan beliau menyebarkan agama Islam. Maka, dalam konteks ini, Rasulullah saw diutus untuk napak tilas rute perjuangan Nabi Ibrahim itu bersama Jibril. Dimulai dari Mekkah ke Palestina kemudian balik lagi ke Mekkah.

    Ini juga ada kaitannya dengan informasi Al Qur’an bahwa rumah ibadah yang tertua memang ada di Mekkah. Sedangkan yang di Palestina (al Aqsha) dibangun oleh Ibrahim sesudah yang di Mekkah. Dalam hadits Bukhari Muslim, yang diriwayatkan oleh Abu Dzar, Rasulullah mengatakan bahwa al Aqsha dibangun sekitar 40 tahun sesudah yang di Mekkah

    (Tafsir al Misbah, vol. 7, Quraish Shihab, h1m. 404)

    QS. Ali lmran (3): 96

    “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

    Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Barra’ra, katanya : setelah Rasulullah saw, sampai di Madinah, beliau sembahyang menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Beliau ingin supaya diperintahkan menghadap ke Ka’bah. Maka diturunkan oleh Allah ayat “Sesungguhnya telah Kami lihat tengadah mukamu ke langit (berdoa). Sebab itu Kami palingkan mukamu menghadap kiblat yang engkau sukai. (QS. 2: 144). Beliau diperintahkan menghadap ke arah Kabah. Ada seorang laki-laki sembahyang Ashar bersama dengan Nabi saw, kemudian itu dia pergi dan bertemu dengan satu kumpulan kaum Anshar. Lalu dia mengatakan, bahwa dia hadir sembahyang bersama Nabi saw. Dan beliau telah diperintahkan menghadap ke arah Kabah. Lalu orang yang sedang sembahyang itu berputar ketika sedang ruku’ dalam sembahyang Ashar.

    Hadits ini bercerita tentang arah kiblat Rasulullah saw sesudah terjadinya Isra’ Mi’raj. Beliau menghadap ke Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan. Akan tetapi, hal itu memunculkan ‘rasan-rasan’ yang kurang mengenakkan hati dari orang-orang Yahudi, bahwa shalatnya umat Islam menghadap ke arah tanah kelahiran mereka. Maka, Rasulullah saw pun berdo’a kepada Allah sambil berharap turunnya perintah tentang arah kiblat. Dan memang lantas turun QS. Al Badarah (2) : 144, sebagaimana diceritakan oleh hadits di atas.

    Dengan adanya cerita-cerita di atas, maka kita melihat adanya keterkaitan antara sejarah kedua masjid tersebut, dengan perjuangan penyampaian agama Islam oleh Nabi-Nabi sebelumnya, serta dengan tatacara shalat pada zaman Nabi Muhammad, termasuk penentuan kiblatnya.

    Dalam tafsir al Misbah, vol 7, Quraish Shihab, halaman 405 diceritakan bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj itu menjadi semacam Isyarat tentang ajaran tauhid yang dibawa para Nabi sejak zaman Ibrahim as sampai Nabi Muhammad saw. Agama Islam dikembangkan dimulai dari Masjid al Haram, kemudian berkembang ke Palestina, berpusat di Baitul Maqdis, dan kemudian berakhir di Masjid al Haram lagi.

    Maka, persepsi yang keempat ini lantas memperoleh pijakan yang kuat, berdasarkan firman-firman Allah di dalam al Qur’an. Untuk itu, di bawah ini saya kutipkan lagi kedua surat yang terkait dengan perjalanan tersebut.

    QS. Israa’ (17): 1 -Kisah Israa’

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba Nya pada suatu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    QS. An Najm (53): 14 – 18 -Kisah Mi’raj

    “Di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada Surga tempat tinggal. Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu, dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Kekuasaan Tuhannya yang paling besar”

    Kalau kita mencoba mencermati kembali QS. lsraa'(17): 1, maka kita tidak memperoleh sedikit pun tentang perintah shalat. Padahal itulah satu-satunya ayat yang menceritakan perjalanan Rasulullah saw dari Mekkah ke Palestina. Bahkan, dengan sangat gamblang Allah menginformasikan di ayat itu, “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran) Kami.” (linuriyahu min aayaatinaa). Jadi menurut ayat tersebut, tujuan Allah memperjalankan Rasulullah saw dari Mekkah ke Palestina adalah untuk menunjukkan tanda-tanda Kebesaran Allah di alam semesta.

    Demikian pula, kalau kita lihat ayat-ayat di surat An Najm: 14-18, yang menggambarkan kejadian Mi’raj. Ayat-ayat inilah yang dijadikan pijakan oleh para ulama untuk memahami peristiwa Mi’raj Rasulullah saw. Dan sekali lagi ayat-ayat tersebut tidak menceritakan tentang perintah shalat. Melainkan, untuk menunjukkan betapa hebatnya ciptaan Allah yang telah dipertontonkanNya kepada Rasulullah di langit yang ke tujuh.

    “Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Kekuasaan Tuhannya yang paling besar” (laqad ra-aa min aayaati rabbihil qubraa).

    Tentang kejadian Isra’ Mi’raj ini, ada ulama yang berpendapat bahwa keduanya terjadi dalam satu paket perjalanan, sebagaimana digambarkan oleh hadits Shahih Muslim, dari Anas Ibn Malik. Namun ada juga yang berpendapat bahwa antara Isra’ dan Mi’raj sebenarnya terjadi dalam waktu yang berbeda. Alasan pendapat yang kedua ini didasarkan pada ayat-ayat yang digunakan Allah untuk menceritakan Isra’ Mi’raj itu adalah ayat yang berbeda. dan turun dalam masa yang berbeda pula.

    Namun demikian, dalam konteks pembahasan turunnya shalat, kedua-duanya tidak menceritakan tentang perintah shalat. Melainkan bertujuan untuk menunjukkan Kekuasaan dan Kebesaran Allah di alam semesta. Sedangkan perintan shalat diberikan Allah lewat wahyu-wahyu seperti biasanya. Dan tata cara shalatnya diajarkan oleh Jibril di awal-awal masa kenabian beliau.

    Berikut ini adalah sebagian dari puluhan perintah shalat yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah saw.

    QS. Al Baqarah (2): 43

    “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.”

    QS. Al Baqarah (2): 45

    “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”

    QS. Al Baqarah (2): 110

    Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

    QS. Al Baqarah (2): 153

    Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

    QS. Al Baqarah (2): 238

    Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.

    QS. An Nisaa’ (4): 43

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”

    QS. An Nisaa’ (4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    QS. Al Maa-idah (5): 6

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, danjika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih);sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

    QS. Ibrahim (14): 31

    “Katakanlah kepada hamba-hamba Ku yang telah beriman. Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang terangan sebelum datang harrii (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan”

    QS. Al Hijr (15): 98

    maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat).

    QS. Al Israa’ (17): 78

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

    QS. Thaahaa (20):14

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

    QS. Thaahaa (20): 132

    Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

    QSAl ‘Ankabuut (29): 45

    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Lebih jelas lagi soal datangnya perintah shalat itu, kalau kita membaca ayat-ayat di dalam surat Al Muzammil (73) : 1 – 9. Ayat-ayat ini adalah wahyu di awal-awal masa kenabian. Bahkan ini adalah wahyu kedua setelah turunnya surat Al ‘Alaq. Ya, di wahyu kedua itu Allah sudah memerintahkan kepada Nabi untuk melakukan shalat.

    QS. Al Muzammil (73):1 – 9

    “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada Nya dengan penuh ketekunan. (Dia lah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.”

    Di ayat-ayat tersebut Allah telah memerintahkan Nabi untuk melakukan shalat malam, secara khusyu’, sebagai persiapan untuk menerima wahyu-wahyu berikutnya yang sangat berat. Ini menunjukkan kepada kita bahwa perintah shalat itu memang sudah turun sejak awal masa kenabian beliau. Dan ini sesuai dengan hadits Nabi yang mengatakan bahwa Jibril datang kepada beliau untuk mengajarkan tatacara wudlu dan tatacara shalat di awal-awal masa kenabian.

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat di dalam al Qur’an yang memerintahkan untuk menjalankan ibadah shalat. Jumlah ayat tentang shalat tersebut ada puluhan. Mulai dari yang mengandung perintah mengerjakan, waktu pelaksanaannya, cara mencapai kekhusyukan, sampai perintah agar kita paham apa yang kita baca di dalam shalat. Semuanya telah difirmankan Allah dengan jelas.

    Yang belum jelas di dalam al Qur’an adalah tentang tatacara shalat itu sendiri. Nah, untuk itu Rasulullah saw mengatakan kepada umatnya agar melihat dan menirukan tatacara shalat yang beliau lakukan sepanjang hidupnya. Dan, tatacara shalat itu langsung kita praktekkan secara turun temurun sejak dulu sampai sekarang. Itulahtatacara shalat yang diajarkan oleh malaikat Jibril kepada beliau.

    Kembali kepada pembahasan kita tentang persepsi ke empat. Dengan demikian mereka berpendapat, bahwa perintah shalat itu sebenarnya disampaikan Allah kepada Rasulullah saw lewat firman dalam berbagai ayatNya. Termasuk yang berkait dengan waktu-waktu pelaksanaannya, mulai Subuh sampai Isya’.

    Jadi shalat 5 waktu itu pun diperintahkan Allah lewat wahyu sebagaimana wahyu yang lain. Bukan lewat Isra’ dan Mi’raj. Kenapa demikian? Karena ternyata perintah shalat 5 waktu itu bisa kita temukan dalam al Qur’an, diantaranya adalah QS. An Nisaa’: 103 dan QS. Israa: 78.

    Perjalanan Isra’ Mi’raj, lantas dimaknai sebagai perjalanan yang memberikan penegasan terhadap Kebesaran Allah di alam semesta, kepada Rasulullah saw. Karena itu, selama dalam perjalanan tersebut diperlihatkan seluruh petilasan agama-agama tauhid yang diperjuangkan oleh para Rasul sebelum beliau. Sehingga dikabarkan juga, beliau berhenti di beberapa tempat petilasan para Rasul terdahulu. Dan disana beliau melakukan shalat 2 rakaat. Hal ini untuk, memberikan motivasi yang besar kepada Rasulullah saw bahwa para Nabi terdahulu juga mengalami perjuangan yang berat. Ltulah ‘pesan’ yang ada pada perjalanan Isra’ dari Mekkah, ke Palestina.

    Sedangkan perjalanan Mi’raj ke langit ke tujuh adalah perjalanan spiritual melintasi berbagai dimensi yang menghasilkan pelajaran kekhusyukan dalam shalat. Hal ini, telah saya uraikan di bagian terdahulu tentang Mi’raj Rasulullah saw menembus berbagai batas langit. Dimana kekhusyukan beliau itu telah memberikan penglihatan-penglihatan yang menakjubkan di setiap perpindahan dimensi.

     
    • hevnypmu 8:52 am on 11 Maret 2013 Permalink

      bagus

    • honeysmile17 4:38 pm on 4 Mei 2013 Permalink

      Benar sekali sholat, sudah dilakukan sejak dulu oleh para nabi … kalau ada perintah sholat pada jaman nabi muhammad ketika isro’ mi’roj dan Allah memerintahkan kepada nabi muhammad sebagai wahyu sholat 5-waktu sebagai suatu perintah terakhir yang disetujui nabi muhammad yang sebelumnya terjadi tawar menawar dengan Allah … dari jumlah 50-waktu akhirnya menjadi 5-waktu… Allah kalau berfrman memerintahkan hanya sekali dan harus dilaksanakan … bisa dilihat firman-2-Nya dalam al-quran .. sedangkan perintah sholat terjadi tawar menawar dengan manusia sebagai nabi …menurut saya tidak masuk akal … mana ada Allah tawar menawar dengan manusia kaya jual beli aja, sepertinya inforrmasi wahyu sholat 5-waktu itu terjadi karena tawar menawar adalah cerita yang sangat lucu adanya menurut saya …

    • nothing 6:03 pm on 18 Juni 2013 Permalink

      Bagaimana klo orang yg kena santet apa harus sholat dalam keadaan kesakitan kena santet. Apa wajib diadakan sumpah pocong untuk membantu mencari dan mendamaikan korban dengan pelaku dukun si penyantet.

    • honeysmile17 3:13 pm on 19 Juni 2013 Permalink

      Bila ada perselisihan diantara manusia/mukmin… maka kembalilah berhukum kepada Petunjuknya yaitu Al-Quran ….jangan berhukum kepada yang lain.. lihat Firman-Nya 6/106, 7/3, 43/43 …please buka petunjukmu.. semoga kamu menjadi faham..

  • erva kurniawan 1:06 am on 14 June 2012 Permalink | Balas  

    Godaan Menjelang Hari Pernikahan 

    Godaan Menjelang Hari Pernikahan   

    Sejak era 80-an pesta pernikahan seringkali dilakukan di “gedung” daripada di rumah. Semakin lama untuk memperoleh gedung yang dapat digunakan untuk acara pernikahan menjadi semakin jauh dari waktu acara akan dilakukan. Untuk mendapatkan tempat memakan waktu enam bulan, bahkan sampai satu tahun. Hal tersebut, tentu saja membawa pengaruh dalam persiapan mental seseorang yang akan menikah. Jika dahulu sepasang anak manusia yang mau menikah, dapat langsung menikah beberapa saat kemudian Karena tidak perlu memesan gedung berikut aksesori yang terkait dengan pesta pernikahan tersebut. Dengan demikian, seringkali niat suci sepasang manusia yang akan menikah menjadi tertunda untuk dapat melaksanakannya, bahkan terkadang niat suci tersebut terselenggara dalam keadaan tidak suci lagi.

    Dalam beberapa kondisi yang penulis temukan, beberapa pasang calon mempelai terjebak melakukan hal-hal yang seharusnya mereka jaga kesuciannya sebelum akad nikah dilaksanakan akibat panjangnya waktu antara niat suci tersebut diikrarkan dengan waktu pelaksanaan ibadah suci tersebut. Kondisi yang serba permisif saat ini turut pula menambah kesempatan untuk melakukan hal-hal yang belum waktunya dilakukan.

    Pernah sebuah kejadian yang penulis temukan, yakni seorang anak muda yang “taat” beribadah melakukan hal yang belum dibenarkan untuk dilakukan dengan calon isterinya beberapa hari sebelum akad dilaksanakan karena kondisi yang membuat mereka tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Sebagaimana banyak ditemukan, semakin dekat dengan akan dilaksanakannya acara pernikahan, maka semakin banyak pula tekanan yang diterima. Sang anak muda dan calon isterinya berkeluh kesah dan saling “curhat” terhadap tekanan-tekanan yang mereka terima baik menyangkut segala “tetek-bengek” acara yang tak kunjung “beres” dan permintaan-permintan dari keluarga dan berbagai pihak yang cukup “memusingkan”. Untuk saling menenangkan hati, maka mereka saling ‘curhat” berduaan, mulai dari kata-kata hingga gerakan dan akhirnya tanpa disadari mereka telah jauh melangkah melakukan hal yang telah mereka jaga selama ini.

    Sang anak muda dengan penuh penyesalan menyampaikan “keteledorannya” kepada penulis. Dia menyesal tidak dapat menjaga kesucian niat suci mereka untuk menempuh kehidupan suci berumahtangga hanya beberapa hari sebelum acara suci tersebut dilakukan. Penulis hanya dapat menyampaikan, bahwa sesuatu yang telah terjadi tidak ada gunanya disesali terus menerus. Hanya minta ampun kepada Allah yang dapat menjadi jalan keluarnya.

    Kejadian sepasang anak manusia yang telah berniat suci untuk mengarungi bahtera rumah tangga sakinah mawaddah waramah yang ternoda sebelum niat suci tersebut terlaksana, bukan hanya dialami oleh anak muda di atas. Beberapa kasus yang hampir serupa penulis temui pula pada beberapa pasang anak muda lainnya. Ada yang beberapa hari menjelang pernikahan seperti di atas, ada yang sebulan sebelum akad nikah dilangsungkan, ada yang dua bulan atau tiga bulan sebelum acara suci tersebut dilaksanakan. Mereka berbeda dengan pasangan-pasangan yang menikah karena “kecelakaan” dan berbeda sama sekali dengan orang-orang yang hidup bebas tanpa ikatan pernikahan.

    Mereka telah merencanakan suatu kehidupan suci untuk membentuk keluarga sakinah mawadah waramah. Namun di tengah jalan, sebelum kehidupan suci tersebut mereka lalui, mereka “tanpa sadar” telah menodai kesucian niat suci yang mereka ikrarkan. Kondisi ini mungkin lebih berat daripada kondisi orang-orang yang sebelum ketemu pasangan dalam rumah tangga mereka telah terjerumus melakukan pergaulan bebas dengan orang lain, dan kemudian mereka insyaf lalu menikah dengan orang lain. Suatu perbuatan masa lalu yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, seringkali menghantui alam bawah sadar seseorang. Seorang yang melakukan perbuatan “terlarang” dengan orang lain mungkin tidak akan seberat orang yang pernah melakukan perbuatan “terlarang” dengan pasangan “syah” nya sendiri. Orang yang taubat dan telah melakukan perbuatan “terlarang” dengan bukan pasangan “syah”nya akan berkurang rasa penyesalannya karena tidak menemui orang yang pernah melakukan dosa bersamanya, sedangkan orang yang melakukan dengan orang yang saat ini telah menjadi pasangan “syah”nya setiap dia ingat dosanya dia akan menemui orang yang pernah bersama melakukan dosa dengannya.

    Oleh karena itu, saya sering menghimbau kepada pasangan-pasangan muda yang telah merencanakan pernikahan mereka, tetapi dilakukan dengan jarak waktu yang cukup panjang karena berbagai macam “persiapan” yang harus dilakukan sebelum pernikahan itu sendiri dilakukan, untuk menjaga diri mereka untuk tidak terlalu sering berdua-duaan karena syetan tidak pernah relah melihat anak manusia hidup dengan kesucian. Banyak dari mereka yang merasa yakin bahwa mereka cukup kuat dengan iman yang dimiliki. Namun pada akhirnya, anak-anak manusia yang yakin dengan keimanan mereka tadi, tidak sedikit yang terjerembab menodai ikrar suci yang akan mereka laksanakan. Oleh karena itu, Al Qur’an secara tegas menyatakan bahwa jangan kau dekati zinah. Jadi bukan hanya zinah yang dilarang. Berdua-duaan di tempat yang tak terawasi merupakan pintu untuk mendekati zinah bahkan zinah itu sendiri.

    Ketaatan beribadah seseorang tidak menjadi jaminan, bahwa syetan tidak akan menggoda mereka. Semakin kuat iman seseorang akan semakin kuat syetan yang diutus untuk menggoda anak manusia yang sedang berdua-duaan sebelum ikrar suci mereka terlaksana. Akhirnya penyesalan datang karena mereka tidak sempat menikmati malam pertama mereka nan suci. Kondisi tersebut ibarat seorang yang berpuasa sedang menunggu bedug maghrib, tetapi tergoda menikmati makanan yang disiapkannya untuk berbuka puasa menjelang azan maghrib berkumandang. Nauzubillah min zalik.

    ***

    Penulis: MERZA GAMAL

    (Tulisan ini kupersembahkan untuk “anak-anakku” yang sedang menanti pelaksanaan ikrar suci mereka)

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 13 June 2012 Permalink | Balas  

    Allah Menjawab Doa Dengan Cara-Nya 

    Allah Menjawab Doa Dengan Cara-Nya

    Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-NYA. Pada suatu hari, seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Dia biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi.

    Ternyata salah satu kelerengnya hilang. Tiba-tiba anak itu berkata: “Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?”

    Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran.

    Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan dengan demikian melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya: “Sayang apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?”

    “Tidak Bi”, jawab anak itu, “tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi.”

    Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendakNya.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • susi 10:23 pm on 16 Juni 2012 Permalink

      Subhanallah.

  • erva kurniawan 1:58 am on 12 June 2012 Permalink | Balas  

    Rukhsah Shalat dari Allah 

    Rukhsah Shalat dari Allah

    Islam adalah agama yang mudah dan banyak sekali memberikan kemudahan (rukhsah) bagi umatnya. Termasuk dalam hal pelaksanaan ibadah shalat atas apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Berikut ini di antara bentuk-bentuk kemudahan dari Allah SWT tersebut.

    1. Membukakan pintu ketika sedang shalat.

    Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah sedang shalat di rumah dan pintu terkunci dari dalam, lalu saya datang dan meminta agar dibukakan pintu, lalu Rasulullah bergerak membuka pintu kemudian melanjutkan shalatnya.” Aisyah berkata, “Pintu itu berada di arah kiblat.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

    Namun, sebelum melakukan gerakan tersebut (membuka pintu), hendaknya orang yang sedang shalat mengeraskan bacaan takbirnya agar diketahui oleh orang yang mengetuk pintu. Jika tidak mengerti juga maka hendaknya membuka pintu dengan gerakan yang sangat halus dan tidak memalingkan tubuhnya dari arah kiblat.

    2. Shalat sambil menggendong bayi atau balita

    Ada sebuah pertanyaan. Apa yang dilakukan seseorang (ibu) jika ia mempunyai bayi atau balita yang rewel yang menyebabkan ia susah melaksanakan shalat karena kerewelannya?

    Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan pemeluknya untuk melakukan ibadah tanpa terhalang oleh apa pun. Oleh karena itu, dalam kasus di atas, jika tidak ada orang lain yang mengasuhnya atau seseorang yang menjaganya ketika kita akan melakukan shalat, sebagai rukhsah (keringanan) bagi kita adalah kita boleh menggendongnya ketika kita shalat.

    Adapun caranya adalah sebagai berikut.

    1. Sebelum digendong terlebih dahulu bersihkan dari segala macam najis yang menempel pada bayi atau balita.
    2. Niat seperti biasa sambil menggendong bayi atau balita.
    3. Tangan tidak perlu diangkat ketika takbir dan juga tidak bersedekap di atas dada, karena hukum mengangkat tangan dan menyedekapkan di atas dada adalah sunah.
    4. Ketika rukuk, tangan tidak perlu diletakkan di atas lutut, tapi tetap memegang erat bayi atau balita.
    5. Ketika hendak sujud, letakkan bayi atau balita tersebut di tempat yang mudah dijangkau tanpa gerakan yang berlebihan.
    6. Laksanakan seperti itu hingga shalat selesai.

    Hal ini berdasarkan hadist dari Abu Qatadah, ia berkata, “Rasulullah shalat sedang cucunya Umamah putri Zainab berada di punggungnya. Bila beliau rukuk, diletakkannya cucunya tersebut dan bila berdiri dari sujud, diambilnya kembali dan diletakkan di punggungnya seperti semula.”

    Dari Abdullah bin Syidad dari ayahnya berkata, “Pada suatu ketika Rasulullah keluar untuk mengerjakan shalat Zuhur atau Asar, beliau membawa cucunya Hasan atau Husein, lalu maju ke depan dan meletakkan cucunya kemudian bertakbir. Ketika sujud, beliau sujud lama sekali hingga terangkat kepalaku. Terlihat olehku, ternyata sang cucu sedang berada di punggung Rasulullah, maka aku pun kembali sujud. Setelah selesai shalat, para jamaah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lama sekali Anda sujud hingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau wahyu sedang diturunkan kepadamu.’ Rasulullah menjawab, ‘Semua itu tidak terjadi, melainkan ketika itu cucuku sedang berada di punggungku dan aku tidak mau mengganggunya hingga dia merasa puas bermain-main.” (HR Ahmad, An-Nasa`i, dan Hakim)

    3. Memberi isyarat dalam shalat.

    Diperbolehkan memberi isyarat kepada orang yang sangat membutuhkan. Misalnya seseorang yang menanyakan kunci kendaraan, sedangkan kita sedang melaksanakan shalat dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya selain kita. Sedangkan dia sangat membutuhkan kendaraan, atau memberi isyarat kepada seseorang untuk melakukan sesuatu, atau memberi isyarat ketika menjawab salam. Hal ini berdasarkan pada sebuah hadits:

    Jabir bin Abdullah ra berkata, “Aku diperintahkan oleh Nabi agar datang menemuinya, karena pada waktu itu beliau hendak pergi bertemu dengan Bani Musthalik, kebetulan aku tiba ketika Nabi sedang shalat di atas kendaraannya. Aku berkata-kata kepadanya, maka beliau pun memberikan isyarat dengan tangannya sambil menganggukkan kepalanya sedangkan aku mendengarkan bacaan shalat beliau. Setelah selesai shalat, beliau bertanya kepadaku, “Bagaimana tugas yang aku berikan kepadamu? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab ucapanmu, karena ketika itu aku sedang shalat.” (HR Muslim dan Ahmad)

    Hadits lain menerangkan, Syuaib berkata, “Subhaanallah”, dan bagi makmum perempuan dengan menepukkan tangan sehingga menimbulkan bunyi. Dengan bunyi tersebut, imam akan segera menyadari kesalahannya dan memperbaikinya. Hal ini didasarkan pada hadist, dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah bersabda, “Aku berjalan di dekat Rasulullah ketika beliau sedang melaksanakan shalat. Aku pun mengucapkan salam kepadanya dan beliau menjawab dengan isyarat.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

    ***

    Artikel ini dikutip dari buku “Panduan Pintar Shalat”

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 11 June 2012 Permalink | Balas  

    Iman, Islam, dan Ihsan 

    Iman, Islam, dan Ihsan

    Pokok ajaran Islam ada 3, yaitu: Iman, Islam dan Ihsan. Dasarnya adalah hadits sebagai berikut:

    Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.” Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.” Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.” Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.” Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).” Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)

    a. Rukun Iman 6 Perkara

    Iman adalah keyakinan kita pada 6 rukun iman. Islam adalah pokok-pokok ibadah yang wajib kita kerjakan. Ada pun Ihsan adalah cara mendekatkan diri kita kepada Allah.

    Tanpa iman semua amal perbuatan baik kita akan sia-sia. Tidak ada pahalanya di akhirat nanti:

    Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun…” [An Nuur:39]

    Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” [Ibrahim:18]

    Iman ini harus dilandasi ilmu yang mantap sehingga kita bisa menjelaskannya kepada orang lain. Bukan sekedar taqlid atau ikut-ikutan.

    Sebagaimana hadits di atas, rukun Iman ada 6. Pertama Iman kepada Allah. Artinya kita meyakini adanya Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah. Di bab-bab berikutnya akan dijelaskan secara rinci tentang hal ini.

    Rukun Iman yang kedua adalah iman kepada Malaikat-malaikat Allah. Kita yakin bahwa Malaikat adalah hamba Allah yang selalu patuh pada perintah Allah.

    Rukun Iman yang ketiga adalah beriman kepada Kitab-kitabNya. Kita yakin bahwa Allah telah menurunkan Taurat kepada Musa, Zabur kepada Daud, Injil kepada Isa, dan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad. Namun kita harus yakin juga bahwa semua kitab-kitab suci di atas telah dirubah oleh manusia sehingga Allah kembali menurunkan Al Qur’an yang dijaga kesuciannya sebagai pedoman hingga hari kiamat nanti.

    Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” [Al Baqarah:79]

    Kita harus meyakini kebenaran Al Qur’an dan mengamalkannya:

    Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]

    Rukun Iman yang keempat adalah beriman kepada Rasul-rasul (Utusan) Allah. Rasul/Nabi merupakan manusia yang terbaik yang pantas dijadikan suri teladan yang diutus Allah untuk menyeru manusia ke jalan Allah. Ada 25 Nabi yang disebut dalam Al Qur’an yang wajib kita imani di antaranya Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad.

    Karena ajaran Nabi-Nabi sebelumnya telah dirubah ummatnya, kita harus meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang harus kita ikuti ajarannya.

    Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…” [Al Ahzab:40]

    Rukun Iman yang kelima adalah beriman kepada Hari Akhir (Kiamat/Akhirat). Kita harus yakin bahwa dunia ini fana. Suatu saat akan tiba hari Kiamat. Pada saat itu manusia akan dihisab. Orang yang beriman dan beramal saleh masuk ke surga. Orang yang kafir masuk neraka.

    Selain kiamat besar kita juga harus yakin akan kiamat kecil yaitu mati. Setiap orang pasti mati. Untuk itu kita harus selalu hati-hati dalam bertindak.

    Rukun Iman yang keenam adalah percaya kepada Takdir/qadar yang baik atau pun yang buruk. Meski manusia wajib berusaha dan berdoa, namun apa pun hasilnya kita harus menerima dan mensyukurinya sebagai takdir dari Allah.

    b. Rukun Islam 5 Perkara

    Ada pun rukun Islam terdiri dari 5 perkara. Barang siapa yang tidak mengerjakannya maka Islamnya tidak benar karena rukunnya tidak sempurna.

    Rukun Islam pertama yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Asyhaadu alla ilaaha illallaahu wa asyhaadu anna muhammadar rasuulullaah. Artinya kita meyakini hanya Allah Tuhan yang wajib kita patuhi perintah dan larangannya. Jika ada perintah dan larangan dari selain Allah, misalnya manusia, yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah, maka Allah yang harus kita patuhi. Ada pun Muhammad adalah utusan Allah yang menjelaskan ajaran Islam. Untuk mengetahui ajaran Islam yang benar, kita berkewajiban mempelajari dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad.

    Konsekwensi dari 2 kalimat syahadat adalah kita harus mempelajari dan memahami Al Qur’an dan Hadits yang sahih (minimal Kutuubus sittah: Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An Nasaa’i, dan Ibnu Majah) dan mengamalkannya.

    Rukun Islam kedua adalah shalat 5 waktu, yaitu: Subuh 2 rakaat, Dzuhur dan Ashar 4 raka’at, Maghrib 3 rakaat, dan Isya 4 raka’at. Shalat adalah tiang agama barang siapa meninggalkannya berarti merusak agamanya.

    Rukun Islam ketiga adalah puasa di Bulan Ramadhan. Yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan seks, bertengkar, marah, dan segala perbuatan negatif lainnya dari subuh hingga maghrib.

    Rukun Islam keempat adalah membayar zakat bagi para muzakki (orang yang wajib pajak/mampu). Ada pun orang yang mustahiq (berhak menerima zakat seperti fakir, miskin, amil, mualaf, orang budak, berhutang, Sabilillah, dan ibnu Sabil) berhak menerima zakat. Zakat merupakan hak orang miskin agar harta tidak hanya beredar di antara orang kaya saja.

    Rukun Islam yang kelima adalah berhaji ke Mekkah jika mampu. Mampu di sini dalam arti mampu secara fisik dan juga secara keuangan. Sebelum berhaji, hutang yang jatuh tempo harus dibayar dan keluarga yang ditinggalkan harus diberi bekal yang cukup. Nabi berkata barang siapa yang mati tapi tidak berhaji padahal dia mampu, maka dia mati dalam keadaan munafik.

    c. Ihsan Mendekatkan Diri kepada Allah

    Ada pun Ihsan adalah cara agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita. Ihsan ini harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga jika kita berbuat baik, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbersit niat kita untuk berbuat keburukan, kita tidak mengerjakannya karena Ihsan tadi.

    Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya.

    Itulah sekilas pokok-pokok dari ajaran Islam. Semoga kita semua bisa memahami dan mengamalkannya.

    ***

    Dari Sahabat

    http://syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 10 June 2012 Permalink | Balas  

    Nabi Muhammad Manusia Terbaik di Dunia 

    Nabi Muhammad Manusia Terbaik di Dunia

    “Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagimu yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab:31]

    Itulah firman Allah yang menyatakan kemuliaan Nabi Muhammad. Bahkan non Muslim seperti Sir George Bernard Shaw dalam buku ‘The Genuine Islam,’ Vol. 1, No. 8, 1936 menyatakan bahwa jika ada agama yang akan menguasai Inggris atau Eropa dalam abad mendatang mungkin itu adalah Islam. Muhammad adalah orang yang mengagumkan dan pantas disebut Penyelamat Manusia (the Savior of Humanity). Begitu katanya.

    Mahatma Gandhi, dalam pernyataan yang diterbitkan di “Young India”, tahun 1924 menyatakan bahwa bukanlah pedang yang menyebarkan Islam. Tapi kepedulian, keberanian, dan keimanan Nabi kepada Tuhan yang menyebabkan itu. Ketika saya menutup buku jilid kedua dari Kisah Nabi Muhammad, saya menyesal karena tidak ada lagi yang dapat dibaca.

    Dan memang Muhammad yang kala itu pengikutnya hanya istri dan keponakannya, Ali, tidaklah mungkin bisa menyebarkan Islam dengan pedang. Karena kepribadiannya dan kebenaran Islamlah maka orang-orang berbondong memeluk Islam. Jika pun ada perang, maka itu tak lebih dari membela diri sebagaimana diketahui bahwa 3 perang besar pertama seperti perang Badar, Uhud, dan Khandaq terjadi di kota tempat tinggal ummat Islam di Madinah ketika mereka diserang kaum kafir Mekkah bersama sekutunya. Begitu pula perang Mu’tah terjadi di tanah Arab ketika tentara Romawi yang beragama Kristen menyerang untuk menghancurkan Islam.

    Michael H Hart dalam buku ‘The 100, A Ranking of the Most Influential Persons In History,’ New York, 1978 menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan pertama 100 orang paling berpengaruh di dunia mengalahkan Isaac Newton, Paulus, dan Yesus.

    Menurut Michael H Hart, kebanyakan dari orang-orang besar yang ada dalam bukunya menjadi besar karena kebetulan lahir di negara-negara maju yang jadi pusat peradaban dunia. Bahkan tanpa ada mereka pun tetap saja negara-negara tersebut akan maju dan akan ada banyak orang yang akan menggantikannya untuk memimpin kemajuan tersebut.

    Sebagai contoh Napoleon Bonaparte yang memimpin Perancis untuk menguasai Eropa itu terjadi karena Perancis adalah memang negara Eropa yang besar dan kuat. Napoleon tidak bisa melakukan itu jika Perancis adalah negara yang kecil dan lemah. Dan pada akhirnya, Napoleon pun gagal dan meninggal dalam pengasingan.

    Yesus pun meski merupakan penyebar agama Kristen yang pertama, namun dia ditangkap dan disalib oleh tentara Romawi. Jumlah pengikutnya saat Yesus meninggal tidak banyak. Paulus lah yang berhasil mengembangkan agama Kristen sehingga diterima bangsa Eropa.

    Sebaliknya, Nabi Muhammad lahir di kawasan yang terbelakang. Mekkah kota kelahiran Nabi adalah kota kecil di pinggiran yang jauh dari pusat perdagangan, seni, dan ilmu pengetahuan. Saat itu yang jadi negara besar dalah Romawi dan Persia. Ada pun bangsa Arab adalah bangsa jajahan yang terbelakang dengan jumlah penduduk yang hingga sekarang pun tidak banyak serta terpecah menjadi berbagai suku yang saling perang satu sama lain.

    Pada saat Nabi lahir, kebanyakan bangsa Arab menyembah berhala. Selama 3 tahun pertama Nabi Muhammad menyeru Islam pada keluarga dan teman dekatnya. Baru pada tahun 613 Nabi menyiarkan Islam secara terbuka sehingga Islam mulai menyebar. Penguasa Mekkah yang kafir pun menganggap Nabi Muhammad sebagai bahaya dan ingin membunuhnya sehingga Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Setelah 3 kali serangan kaum kafir Mekkah dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq gagal, Nabi Muhammad dan pengikutnya menaklukkan kota Mekkah tahun 630. Pada saat meninggal tahun 632 Nabi Muhammad yang bertahun-tahun pada masa awal kenabiannya ditentang penduduk kafir Quraisy dalam tempo 23 tahun sanggup menyatukan bangsa Arab di dalam Islam.

    Bangsa Arab bukan hanya sanggup menahan serangan tentara Romawi dan Persia, bahkan sanggup menaklukkannya. Hingga saat ini ibukota Romawi, Constantinople, di bawah kepemimpinan negara Islam dan berganti nama jadi Istambul (Turki). Begitu pula Baghdad yang sebelumnya jadi ibukota Persia ada di negara Islam Iraq.

    Yang harus diingat adalah bahwa peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad bukanlah peperangan yang penuh darah seperti yang dilakukan tentara Salib yang membantai semua ummat Islam yang mereka taklukkan seperti dalam film “Kingdom of Heaven” (dibintangi Orlando Bloom). Peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad seperti pada perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Tabuk terjadi karena mereka membela diri dari serangan kaum kafir. Peperangan terhadap kerajaan Romawi dan Persia justru membebaskan daerah jajahan kerajaan tersebut sehingga mereka lepas dari penindasan kerajaan Romawi dan Persia yang membebani rakyat dengan pajak yang besar. Pada saat penaklukan kota Mekkah misalnya boleh dikata tidak ada peperangan yang penuh darah. Tapi penyerahan yang penuh kedamaian.

    Dalam 100 tahun sejak kematian Nabi Muhammad, Kerajaan Islam menyebar dari India, Pakistan, Iran, Timur Tengah, Afrika Utara, Albania, Yugoslavia, hingga Spanyol sepanjang 7.600 km dengan lebar 3.200 km di 3 benua! Ini adalah satu imperium terbesar yang pernah ada dalam sejarah. Meski Spanyol kembali dikuasai Katolik setelah 7 abad, namun Islam tetap berkuasa di negara-negara Afrika Utara, Timur Tengah, Iran, dan Pakistan.

    Islam bukan hanya maju secara politik dan militer. Dalam ilmu pengetahuan pun tiba-tiba bangsa Arab yang dulunya terbelakang di bawah ilmuwan Yunani atau Persia tiba-tiba jadi pemimpin. Banyak penemuan Islam / ilmuwan Arab/Islam yang diakui dunia hingga sekarang.

    Sebagai contoh, sistem angka yang dipakai dunia sekarang adalah sistem angka Arab (Arabic Numeral) menggantikan sistem angka Romawi (Roman Numeral) yang kaku. Dengan angka Arab anda dapat menulis 93.567.794.214.698 dengan mudah. Angka tersebut tidak bisa ditulis dengan sistem angka Romawi.

    Dalam ensiklopedi Microsoft Encarta disebut bahwa dalam dunia Islam yang menyebar ke Barat hingga Spanyol banyak dihasilkan penemuan Ilmiah seperti angka Arab: === The Islamic world, which in medieval times extended as far west as Spain, also produced many scientific breakthroughs. The Arab mathematician Muhammad al-Khwrizm introduced Hindu-Arabic numerals to Europe many centuries after they had been devised in southern Asia. === Astronom Arab (baca Astronom Muslim) juga banyak yang menemukan dan menamakan bintang seperti Aldebaran, Altair, dan Deneb. Al Haytham (Alhacen) yang mengantarkan ilmu Optic juga menemukan metode Ilmiah yang menekankan kepada observasi, eksperimen, dan pencatatan yang akurat.

    Singkatnya, Nabi Muhammad bukan hanya sekedar pemimpin agama atau Nabi. Namun beliau juga adalah pemimpin militer, pemimpin negara, dan juga peletak fondasi berkembangnya ilmu pengetahuan Islam (Islam Golden Age) di kalangan ummat Islam.

    Hanya dalam waktu 23 tahun, Nabi Muhammad berhasil merubah bangsa Arab yang bodoh dan terbelakang serta terjajah menjadi bangsa yang cerdas dan terkemuka di dunia mengalahkan 2 super power dunia: Romawi dan Persia. Ini merupakan satu teladan yang harus bisa ditiru oleh pemimpin-pemimpin Islam!

    Tak heran jika seorang Non Muslim seperti Michael H Hart pun mengakui Nabi Muhammad sebagai orang nomor satu di dunia mengalahkan Yesus dan manusia-manusia lain di dunia.

    Jika Non Muslim saja bersikap seperti itu, maka ummat Islam yang dalam syahadahnya mengakui Muhammad sebagai utusan Allah juga harus mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah manusia paling sempurna yang maksum (terpelihara dari kesalahan). Oleh karena itu ummat Islam harus mempelajari siroh/sejarah Nabi dan mengikuti sunnah Nabi.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 9 June 2012 Permalink | Balas  

    Panggilan Allah Hanya 3x Saja 

    Panggilan Allah Hanya 3x Saja

    Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Mekah, aku bertanya pada Ibu.

    “Ibu”, kataku, “ada cerita apa yang menarik dari Umrah.?” Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah.

    Dan Ibu, memberikan Tausyiahnya. Kebetulan umrahku dimulai di Madinah dulu selama 4 hari, baru ke Mekah. Tujuannya adalah mendapatkan saat Malam Jumat di depan Kabah. Jadi aku punya kesempatan untuk bertanya tentang Umrah.

    Ibu berkata,”Sayang-ku, Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup.”

    Keningku berkerut, “Sedikit sekali Allah memanggil kita?”

    Ibu tersenyum, “Sayang, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu?”

    Saya menggelengkan kepala.

    “Panggilan pertama adalah Azan”, ujar Ibu.

    “Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar. Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak ‘cepat marah’ akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Azan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti”.

    Saya terpekur, mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain. Masya Allah. .

    Ibu melanjutkan, “Sayang-ku, Panggilan yang kedua adalah panggilan Umrah/Haji. Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya ‘bergiliran’. Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalannya pun berbeda-beda. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak berencana pula akan pergi, ada yang memang berencana dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan ‘Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan’, sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang kedua. Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu”.

    Mata saya semakin berkaca-kaca, Subhanallah, saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rencanakan, Alhamdulillah.

    “Dan panggilan ke-3”, lanjut Ibu, “Adalah KEMATIAN . Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus, Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu sayangku, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah, Insya Allah syurga adalah balasannya”.

    Renungkanlah bersama…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 7 June 2012 Permalink | Balas  

    Pesan Untuk Para Calon Istri 

    Pesan Untuk Para Calon Istri

    Asma’ binti Kharijah Al Fazary berpesan kepada puterinya ketika menikah (sebelum melepaskan kepergiannya menuju suaminya):

    “Wahai puteriku sayang, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah kau kenal sebelumnya. Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadikanlah dirimu tempat sandaran baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan baginya, ia akan menjadi abdi bagimu. Jangan kau merepotkannya sehingga ia merasa kesal. Dan jangan terlalu jauh darinya sehingga ia lupa akan dirimu. Jika ia mendekatimu, maka dekatilah. Jika ia berpaling, maka menjauhlah. Peliharalah pandangannya, pendengarannya dan penciumannya. Jangan sampai ia memandang sesuatu yang buruk darimu. Dan jangan sampai ia mendengar kata-kata kasar darimu. Dan jangan sampai ia mencium bau yang tak sedap darimu. Jadikanlah setiap apa yang ia lihat adalah wajahmu yang cantik berseri-seri. Jadikanlah setiap apa yang ia dengar adalah ucapanmu yang santun dan lembut. Jadikanlah setiap apa yang ia cium adalah aroma wangi tubuh dan pakaianmu.”

    “Ayahmu dulu berpesan kepada ibumu: Maafkanlah segala kesalahan dan kehilafanku, niscaya cinta kita akan terus bersemi. Ketika aku marah, janganlah kau memancing lagi amarahku. Karena benci dan cinta takkan pernah bersatu. Saat benci datang, cinta pun kan berlalu.”

    Demikian isi pesan tersebut. Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan bahan renungan untuk para calon istri yang akan memasuki sebuah kehidupan baru. Kehidupan yang mengakhiri masa lajang penuh penantian yang melelahkan.

    Wallahu a’lamu bis showab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 6 June 2012 Permalink | Balas  

    Siapakah orang yang sibuk? 

    Siapakah orang yang sibuk?

    Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya, seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman A.S. Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah dan bersegeralah!

    Siapakah orang yang manis senyumannya?

    Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ketika ditimpa musibah, lalu dia berucap “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Kemudian berkata,”Ya Rabbi, Aku ridho dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar…

    Siapakah orang yang kaya?

    Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada, dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah.. .

    Siapakah orang yang miskin?

    Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada,selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki…

    Siapakah orang yang rugi?

    Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan, namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Maka hargailah waktumu dan bersegeralah. ..

    Siapakah orang yang paling cantik?

    Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik. Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda…

    Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?

    Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan, dimana kuburnya akan diluaskan sejauh mata memandang. Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu…

    Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?

    Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan, lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia…

    Siapakah orang yang mempunyai akal?

    Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak, karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya…

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 5 June 2012 Permalink | Balas  

    Shalat 5 Waktu 

    Shalat 5 Waktu Pembeda Muslim dari Orang Kafir

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

    Berikut satu tulisan dari buku “Iman, Islam, dan Ihsan” yang bisa didownload di: http://syiarislam.wordpress.com

    Shalat 5 Waktu – Rukun Islam yang kedua. Rukun Islam yang kedua (setelah membaca 2 kalimat syahadat) adalah shalat 5 waktu (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya). Dalam Al Qur’an Allah memerintahkan kita untuk shalat 5 waktu:

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Al Israa’:78]

    … Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [An Nisaa’:103]

    Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’“ [Al Baqarah:43]

    Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” [Al Kautsar:2]

    Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” [Al Baqarah:110]

    a. Shalat Bisa Mencegah Perbuatan Keji Dan Munkar

    Shalat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:

    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al ‘Ankabuut:45]

    Shalat untuk mengingat Allah:

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thaahaa:14]

    b. Didiklah Anak/Keluarga Anda Untuk Shalat

    Didiklah anak/keluarga anda untuk shalat:

    Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman:17]

    “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Thaha : 132)

    “Hendaknya kita tetap memelihara/mengerjakan shalat kita: “Peliharalah semua Shalat(mu), dan peliharalah shalat wusthaa” (Al Baqarah :238)

    Shalat sangat penting. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang tidak mengerjakannya berarti dia meruntuhkan agama:

    “Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqi)

    c. Shalat Pembeda Orang Islam dengan Orang Kafir

    Pembeda antara orang muslim dengan kafir adalah shalat. Barang siapa tidak shalat berarti dia kafir:

    “Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

    “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079)

    Amal yang pertama dihisab adalah shalat. Begitu dia tidak shalat, meski puasa, zakat, haji, rajin sedekah, dia langsung dimasukkan ke neraka:

    Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, maka apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain” (Thabrani)

    Jangan sampai kita dan keluarga kita yang sudah baligh bolong-bolong shalatnya. Apalagi sampai meninggalkannya. Orang yang tidak mengerjakan shalat disiksa di neraka:

    “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat….” (Al-Muddatstsir: 42-43)

    “Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)

    “Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian.” (Maryam: 59)

    d. Shalat Tepat Waktu dan Berjama’ah

    Hendaknya kita shalat tepat waktu:

    Pekerjaan yang sangat disuka Allah, ialah mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sesudah itu berbakti kepada ibu-bapak. Sesudah itu berjihad menegakkan agama Allah” (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat 5 waktu, hendaknya berjama’ah: Anas r.a.:

    Nabi SAW selalu memotivasi umatnya untuk sholat berjamaah dan melarang mereka pergi keluar sebelum imam mereka pergi (Muslim)

    Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, pahalanya berlipat ganda sampai duapuluh tujuh derajat (dibandingkan dengan shalat sendirian) (Bukhori dan Muslim)

    Jika shalat berjama’ah, jangan mendahului imam. Tunggu imam ruku dulu, baru anda ruku. Tunggu imam sujud dulu, baru anda sujud: Rasul Bersabda: Takutlah kamu bila angkat kepalamu dari sujud mendahului imam, karena Allah akan ubah kepalamu jadi kepala keledai (Bukhori dan Muslim)

    Ummu Salamah r.a.: Bila selesai salam pada saat sholat di masjid, Rasul berhenti sejenak agar wanita pulang lebih dahulu sebelum pria (Bukhori)

    Semoga kita di akhirat nanti termasuk dalam golongan orang yang mengerjakan shalat.

    Wassalammualaikum Wr. Wb.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 2 June 2012 Permalink | Balas  

    Air Kencing : Penyebab kebanyakan siksa kubur. 

    Air Kencing : Penyebab kebanyakan siksa kubur.  

    Ibnu Abbas ra mengisahkan bahwa suatu hari Rasulullah saw melintasi dua makam, lalu beliau berkata, “Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa, mereka berdua disiksa bukan disebabkan melakukan dosa besar. Salah satu dari mereka disiksa karena tidak sampai bersih saat bersuci dari buang air kecil.” Seorang perempuan Yahudi mendatangi Aisyah seraya berkata, “Sesungguhnya azab kubur itu disebabkan air kencing.” Mendengar perkataannya, Aisyah berkata, “Engkau bohong.” Perempuan Yahudi itu menjelaskan, “Karena air kencing itu mengenai kulit dan pakaian.” Kemudian Rasulullah saw keluar untuk mengerjakan shalat, sedangkan suara kami semakin keras terdengar (karena ribut). Mendengar keributan ini Rasulullah saw bertanya, “Ada apa ini?” Aisyah pun meceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh perempuan Yahudi tadi, setelah itu Rasulullah saw bersabda, “Dia memang benar.” Abdurrahman bin Hasaah mendengar Rasulullah saw bertanya, “Tahukah kalian apa yang telah menimpa salah seorang Bani Israil? Dulu, saat mereka terkena air kencing, mereka segera membersihkannya dengan memotong pakaian yang terkena cipratan air kencing tersebut. Melihat perbuatan ini, orang itu melarang mereka, maka dia pun diadzab dalam kuburnya. Dalam hadist yang diriwayatkan dari Abu Huraihah ra secara mauquf, Rasulullah saw bersabda, ” Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan air kencing.”

    Pada suatu malam Abdullah bin Umar pergi ke rumah seorang perempuan tua yang di samping rumahnya terdapat pemakaman. Lalu dia mendengar suara lirih yang berkata, “Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu gayung?” Abdullah bin Umar pun berkata, “Celaka, apa yang terjadi?” Perempuan tua itu menjawab, “Itu adalah suara suamiku yang tidak pernah bersuci dari buang air kecil.” Mendengar penjelasan tersebut, Abdullah bin Umar berkata, “Celakalah dia! Unta saja kalau kencing bersuci, tapi dia malah tidak peduli.” Perempuan tua itu kembali menuturkan kisah suaminya : Ketika suamiku sedang duduk, ada seorang lelaki mendatanginya seraya berkata, “Berilah aku minum, aku sangat haus.” Suamiku malah berkata, “Engkau membawa gayung sedangkan gayung kami tergantung.” Orang itu berkata, “Wahai tuan, berilah aku minum, aku hampir mati kehausan.” Suamiku berkata, “Engkau membawa gayung.” Akhirnya lelaki yang meminta air untuk minum itu meninggal dunia. Setelah itu, suamiku juga meninggal dunia. Namun sejak hari pertama dia meninggal dunia, seringkali terdengar suara suamiku dari arah pemakaman, “Kencing, apa itu kencing? Gayung, apa itu gayung?”

    Nauzubillah min dzalik, ternyata perkara kecil saja bisa menyebabkan kita mendapat siksa kubur ya? Banyak orang memandang remeh bersuci setelah buang air kecil (kurang bersih bahkan tidak bersuci sama sekali), padahal hal yang remeh itu bisa menjadi malapetaka ketika kita masuk pada Alam Barzakh.

    “Ya Allah, lindungi kami semua dari siksa neraka, siksa kubur, fitnah dunia & alam barzakh, serta fitnah yang ditimbulkan oleh dajjal, amin.”

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Veishayana Inalatani Ayu 5:00 pm on 5 Februari 2013 Permalink

      Sungguh ..sngatt lah berarty bagi.kita smua … :) (^_^)

  • erva kurniawan 1:24 am on 1 June 2012 Permalink | Balas  

    Hadits tentang Haramnya Khamar / Minuman Keras 

    Hadits tentang Haramnya Khamar / Minuman Keras      

    Assalamu’alaikum wr wb, Dari hadits di bawah kita dapat menyaksikan keimanan para sahabat Nabi. Begitu Allah mengharamkan khamar, tanpa banyak tanya apalagi debat, mereka tumpahkan khamar-khamar yang mereka miliki ke jalan sehingga jalanan jadi berbau khamar. Sungguh beda dengan sekarang.

    1. Pengharaman khamar serta menerangkan bahwa khamar itu terbuat dari perasan anggur, kurma basah, kurma kering dan lain sebagainya yang dapat memabukkan.

    Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra., ia berkata: Aku mendapat seekor unta bersama Rasulullah saw. dari rampasan perang Badar. Dan Rasulullah saw. memberiku seekor unta yang lain. Pada suatu hari aku menderumkan keduanya di depan pintu seorang sahabat Ansar, aku hendak memuatkan idzkhir (sejenis tumbuh-tumbuhan) di atas kedua unta tersebut untuk aku jual kepada seorang tukang emas dari Bani Qainuqa` yang datang bersamaku. Uang penjualan itu akan kupergunakan membantu walimah Fatimah ra. Pada saat itu, Hamzah bin Abdul Muthalib ra. sedang minum minuman keras di rumah tersebut. Ia ditemani seorang budak perempuan yang bernyanyi untuknya. Budak itu berkata: Hai Hamzah, perhatikanlah unta-unta yang gemuk itu! Tiba-tiba Hamzah melompat ke arah kedua untaku dengan pedang, lalu ia potong ponok keduanya dan ia belah lambung keduanya, kemudian ia ambil hati keduanya. Aku katakan kepada Ibnu Syihab: Dan bagaimana dengan ponoknya? Ia berkata: Ponok-ponoknya di pangkas dan dibawa pergi. Kata Ibnu Syihab: Ali berkata: Dan aku menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Lalu aku mendatangi Rasulullah saw. yang pada saat itu Zaid bin Haritsah sedang berada di dekat beliau. Aku pun menceritakan peristiwa tersebut. Kemudian beliau bersama Zaid keluar dan aku juga ikut bersama beliau. Lalu beliau masuk menemui Hamzah dan marah kepadanya. Hamzah mengangkat pandangannya, kemudian berkata: Kalian ini tidak lain hanyalah budak-budak bapakku! Rasulullah saw. kemudian mundur ke belakang lalu meninggalkan mereka. (Shahih Muslim No.3660)

    Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Aku sedang memberi minum para tamu di rumah Abu Thalhah, pada hari khamar diharamkan. Minuman mereka hanyalah arak yang terbuat dari buah kurma. Tiba-tiba terdengar seorang penyeru menyerukan sesuatu. Abu Thalhah berkata: Keluar dan lihatlah! Aku pun keluar. Ternyata seorang penyeru sedang mengumumkan: Ketahuilah bahwa khamar telah diharamkan. Arak mengalir di jalan-jalan Madinah. Abu Thalhah berkata kepadaku: Keluarlah dan tumpahkan arak itu! Lalu aku menumpahkannya (membuangnya). Orang-orang berkata: Si polan terbunuh. Si polan terbunuh. Padahal arak ada dalam perutnya. (Perawi hadis berkata: Aku tidak tahu apakah itu juga termasuk hadis Anas). Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh karena makanan yang telah mereka makan dahulu, asal mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amal-amal saleh. (Shahih Muslim No.3662)

    2. Makruh membuat minuman dari kurma dan anggur kering yang dicampur

    Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra.: Bahwa Nabi saw. melarang anggur kering dicampur dengan kurma atau kurma yang belum matang dengan kurma yang matang. (Shahih Muslim No.3674)

    Hadis riwayat Abu Qatadah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian membuat minuman kurma setengah matang (mengkal) dan kurma matang sekaligus. Janganlah kalian membuat minuman anggur dan kurma sekaligus. Masaklah masing-masing dari keduanya secara terpisah. (Shahih Muslim No.3681)

    3. Larangan membuat nabiz dalam wadah yang dicat dengan teer, dalam labu kering, panci seng, kayu yang dilubangi, dan menerangkan bahwa larangan itu dihapus dan sekarang halal asal tidak memabukkan

    Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Rasulullah saw. melarang pembuatan minuman dalam kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3693)

    Hadis riwayat Aisyah, Ummul Mukminin ra.: Dari Aswad, ia berkata: Aku bertanya kepada Ummul Mukminin: Wahai Ummul Mukminin! Beritahukanlah kepadaku, apa yang dilarang oleh Rasulullah saw. untuk dijadikan bahan membuat minuman! Ummul Mukminin berkata: Rasulullah saw. melarang kami ahlulbait membuat minuman nabidz dalam kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3694)

    Hadis riwayat Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra.: Dari Said bin Jubair ia berkata: Aku bersaksi bahwa Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra. menyaksikan bahwa Rasulullah saw. melarang kulit labu, tempayan, wadah yang dicat dengan teer dan kayu yang dilubangi. (Shahih Muslim No.3705)

    Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata: Ketika Rasulullah saw. melarang nabiz dalam beberapa bejana, orang-orang berkata: Tidak setiap orang mempunyai bejana lain. Lalu Rasulullah saw. memberikan kemurahan (dispensasi) kepada mereka, boleh minum dalam guci yang tidak dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3726)

    4. Menerangkan bahwa setiap yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram

    Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah ditanya tentang arak dari madu. Beliau menjawab: Setiap minuman yang memabukkan adalah haram. (Shahih Muslim No.3727)

    5. Balasan peminum khamar yang belum bertobat di akhirat

    Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Setiap minuman yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barang siapa minum khamar di dunia lalu ia mati dalam keadaan masih tetap meminumnya (kecanduan) dan tidak bertobat, maka ia tidak akan dapat meminumnya di akhirat (di surga). (Shahih Muslim No.3733)

    ***

    Sumber: hadith.al-islam.com

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 30 May 2012 Permalink | Balas  

    Hadits tentang Ayah, Ibu, Anak, dan Keluarga 

    Hadits tentang Ayah, Ibu, Anak, dan Keluarga    

    1. Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

    2. Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, “Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?” Orang itu menjawab, “Masih.” Lalu Nabi Saw bersabda, “Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad.” (Mutafaq’alaih)

    Penjelasan: Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.

    3. Rasulullah Saw pernah berkata kepada seseorang, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (Asy-Syafi’i dan Abu Dawud)

    Keterangan: Terdapat satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Saw dan melapor.

    Dia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku ….”

    “Pergilah Kau membawa ayahmu kesini”, perintah beliau. Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau.

    Jibril berkata: “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya”.

    Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?”

    Lelaki tua itu menjawab: “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?”

    Rasulullah bersabda lagi: “Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!”

    Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah Swt berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya …”

    Nabi mendesak: “Katakanlah, aku ingin mendengarnya.”

    Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang…, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu …, seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.’

    Selanjutnya Jabir berkata: “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: “Engkau dan hartamu milik ayahmu!” (HR. At-Thabarani dalam “As-Saghir” dan Al-Ausath).

    4. Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR. Muslim)

    Penjelasan: Yang dimaksud kufur nikmat dan bukan kufur akidah.

    5. Barangsiapa menisbatkan keturunan dirinya kepada selain ayahnya sendiri dan dia mengetahuinya bahwa dia bukan ayah yang sebenarnya maka surga diharamkan baginya. (HR. Muslim)

    6. Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi Saw menjawab, “ibumu…ibumu…ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq’alaih).

    7. Ibu dan Bapak berhak makan dari harta milik anak mereka dengan cara yang makruf. Seorang anak tidak boleh makan dari harta ibu bapaknya kecuali dengan ijin mereka. (HR. Ad-Dailami).

    8. Barangsiapa berhaji untuk kedua orang tuanya atau melunasi hutang-hutangnya maka dia akan dibangkitkan Allah pada hari kiamat dari golongan orang-orang yang mengamalkan kebajikan. (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daar Quthni).

    9. Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

    Penjelasan: Kalau berbakti masuk surga dan kalau bersikap durhaka kepada mereka masuk neraka.

    10. Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)

    11. Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, “Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?” Nabi Saw menjawab, “Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq’alaih)

    12. Kedudukan seorang paman sebagai (pengganti) kedudukan ayahnya. (HR. Adarqothani)

    13. Warisan bagi Allah ‘Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya. (HR. Ath-Thahawi).

    14. Salah satu kenikmatan Allah atas seorang ialah dijadikan anaknya mirip dengan ayahnya (dalam kebaikan). (HR. Ath-Thahawi)

    15. Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)

    16. Seorang datang kepada Nabi Saw dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi Saw menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatirnu).” (HR. Aththusi).

    17. Cintailah anak-anak dan kasih sayangi lah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki. (HR. Ath-Thahawi).

    18. Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu. (HR. Bukhari dan Muslim)

    19. Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan yang satu terhadap yang lain tentu aku akan mengutamakan pemberian kepada yang perempuan. (HR. Ath-Thabrani)

    20. Barangsiapa mempunyai dua anak perempuan dan diasuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk surga. (HR. Bukhari)

    21. Anak menyebabkan kedua orang tuanya kikir dan penakut. (HR. Ibnu Babawih dan Ibnu ‘Asakir).

    22. Barangsiapa memelihara (mengasuh) tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan wajib baginya masuk surga. (HR. Ath-Thahawi).

    23. Seorang ibu yang kematian tiga orang puteranya lalu berserah diri (pasrah) kepada Allah, rela dan ikhlas, maka dia akan masuk surga. (HR. Muslim)

    24. Ajarkan putera-puteramu berenang dan memanah. (HR. Ath-Thahawi).

    25. Setiap anak tergadai dengan (tebusan) akikahnya (seekor atau dua ekor kambing) yang disembelih pada umur tujuh hari dan dicukur rambut kepalanya (sebagian atau seluruhnya) dan diberi nama. (HR. An-Nasaa’i)

    26. Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaklah dia bersilaturrahim (berhubungan baik dengan keluarga dekat) niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezekinya, ditambah umurnya dan Allah memasukkannya ke dalam surga yang dijanjikanNya. (HR. Ar-Rabii’).

    27. Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

    28. Abang yang tertua (sulung) kedudukannya sebagai ayah. (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

    29. Orang yang memutus hubungan kekeluargaan tidak akan masuk surga. (Mutafaq’alaih)

    30. Rahim adalah cabang dari nama Arrahman (Arrahman Arrahim). Rahim mengucapkan keluhan dan pengaduan: “Ya Robbi, aku telah diputus (hubungan kekeluargaanku), aku telah diperlakukan dengan buruk oleh keluarga dekatku. Ya Robbi, aku telah dizalimi mereka, ya Robbi, ya Robbi.” Lalu Allah menjawab: “Tidakkah kamu ridha Aku menyambung hubunganKu dengan orang yang menghubungimu dan Aku putus hubunganKu dengan orang yang memutus hubungannya dengan kamu. (HR. Bukhari)

    31. Rasulullah Saw memberi uang belanja kepada keluarga beliau dari bagian rampasan perang yang menjadi hak beliau untuk kebutuhan rumah tangga selama setahun. Apabila ternyata ada kelebihannya maka uang itu diminta kembali dan dimasukkan ke dalam perbendaharaan negara (baitul maal). (HR. Ahmad)

    33. Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga. (HR. Abu Dawud).

    32. Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya. (HR. Ad-Dailami)

    ***

    Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 29 May 2012 Permalink | Balas  

    Rapat dan Luruskan Shof-Shof Kalian!!! 

    Rapat dan Luruskan Shof-Shof Kalian!!!

    Judul ini merupakan sebuah penggalan perintah sang Umar Al-Faruq rodhiyallohu’anhu kepada makmum sesaat sebelum mengimami sholat berjamaah. Hal itu merupakan wujud perhatian besar beliau terhadap tuntunan Rosulululloh shollallohu ‘alaihi wassalam yang mulia ini. Sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas rodhiyallohu’anhu bahwasanya Rosululloh bersabda yang artinya, Rapikan (rapat dan lurus) shof kalian, sesungguhnya shof termasuk bagian menegakkan sholat.” (HR. Bukhori 732)

    Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar rodhiyallohu’anhuma, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, Rapikanlah shof, sejajarkan antara bahu, penuhi yang masih kosong (masih longgar), bersikap lunaklah terhadap saudara kalian dan janganlah kalian biarkan kelonggaran untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shof, Alloh akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutus shof Alloh akan memutusnya.” (HR. Abu Dawud no. 666). Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menekankan pentingnya merapatkan dan meluruskan shof.

    Wajibnya Meluruskan dan Merapatkan Shof

    Ternyata Rosululloh tidak hanya memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shof, namun beliau juga mengancam keras orang-orang yang tidak merapikan shof mereka seperti dalam suatu redaksi hadits, “Sungguh kalian mau merapikan shof kalian atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara kalian.” (HR. Bukhori-Muslim)

    Sebuah kaidah dalam Islam menyatakan bahwa asal perintah adalah wajib. Begitu pula mustahil suatu perkara yang mendapatkan ancaman maka hukumnya hanya sampai sunnah saja. Maka pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajibnya merapikan shof dan apabila suatu jama’ah sholat tidak merapikan shof mereka maka mereka berdosa. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullohu yang dapat kita lihat dalam kitab Majmu’ Fatawa beliau. Namun bagi yang tidak merapikan sholat maka sholatnya tetap sah berdasarkan perbuatan Anas rodhiyallohu’anhu yang mengingkari mereka yang tidak merapikan sholat tetapi tidak memerintahkan agar mereka mengulanginya.

    Bagaimana Cara Meluruskan Shof?

    Adapun sifat dan tata cara merapikan shof telah tercantum dalam banyak hadits diantaranya sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir rodhiyallohu’anhu, beliau berkata, Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam pernah menghadap manusia dengan wajahnya seraya mengatakan, Rapikanlah shof-shof kalian (3x). Demi Alloh, kalian merapikan shof kalian, atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara hati kalian.’ Nu’man berkata, ‘Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” (HR. Abu Dawud no. 662)

    Hadits-hadits ini menunjukan secara jelas pentingnya merapikan shof dan hal itu termasuk kesempurnaan sholat hendaknya saling lurus dan tidak maju mundur antara satu dengan yang lain, dan saling rapat satu dengan yang lain, dan saling rapat antara bahu dengan bahu, kaki dengan kaki, dan lutut dengan lutut. Namun pada zaman sekarang, sunnah ini dilupakan, seandainya engkau mempraktekkannya, niscaya masyarakat lari seperti keledai. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

    Adapun kita sesudah mengetahui tentang perintah ini sudah sepantasnya berusaha sekuat kemampuan melaksanakannya. Tidakkah kita ingin merasakan kelezatan menegakkan amalan ini di dalam hati kita. Serta menjadi pemegang tombak syariat di muka bumi ini. Semoga Alloh subhana wata’ala memberikan hidayah kepada kita semua.

    Kesimpulannya, merapikan shof meliputi hal-hal berikut:

    1. Meluruskan barisan sholat dan merapikannya.
    2. Memenuhi shof yang masih renggang.
    3. Menyempurnakan shof yang pertama terlebih dahulu dan begitu seterusnya.
    4. Saling berdekatan.

    Sholat di Antara Dua Tiang?

    Maka konsekuensi dari perintah merapikan dan merapikan shof sholat adalah tidak membuat shof diantara tiang -kecuali dharuri (terpaksa)- sehingga shof sholat terputus. Sebagaimana para sahabat menghindari hal tersebut di zaman Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam. Konsekuensi yang lain adalah seyogyanya mengisi kekosongan dalam shof sekalipun di tengah sholat mengamalkan hadits yang diriwayatkan Thabrani dengan redaksi terjemahannya “Tidak ada langkah yang lebih banyak pahalanya daripada pahala seseorang menuju kelonggaran dalam shof untuk menutupinya.”

    ***

    Oleh: Muhammad Ikrar Yamin

    (Disarikan dari Majalah Al-Furqon edisi 10 tahun IV)

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 28 May 2012 Permalink | Balas  

    Jujur 

    Jujur

    Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur. ( QS. At-Taubah 9:119 )

    Menurut penuturan Ibnu Mas’ud r.a. Rasulullah SAW. Pernah bersabda: Hendaklah kamu bersifat jujur karena sifat jujur akan membawa kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa kesyurga. Apabila seseorang bersifat jujur dan membiasakan dirinya untuk senantiasa jujur, maka Alllah akan menetapkannya sebagai orang yang jujur. Jauhilah olehmu sifat bohong karena bohong itu membawa pada kejahatan dan kejahatan itu akan membawa kedalam neraka. Bila seseorang bersifat bohong dan membiasakan dirinya bersifat bohong, maka Allah akan menetapkannya sebagai seorang pembohong. (HR.Muttafaq ‘alaih).

    Orang yang jujur adalah orang yang pernyataannya sesuai dengan kenyataan. Baik pernyataan itu dengan lisan, dengan tulisan, ataupun dalam bentuk penampilan dan perbuatan.

    Bila seorang pemimpin memberikan pernyataan dengan lisan atau tulisan, bahwa dia sangat prihatinan dengan kemiskinan rakyat, karena itu dia akan sangat peduli dan akan memperhatikan dengan serius nasib rakyat kecil yang miskin, padahal dalam kenyataannya dia lebih mementingkan rakyat lapisan atas karena akan menguntungkan pada peribadinya, maka pemimpin itu adalah pemimpin yang tidak jujur, karena perkataannya tidak sesuai dengan kenyataan. Allah sangat murka kepada orang yang perkatannya tidak sejalan dengan perbuatannya :

    Amat besar kemurkaan Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. ( QS. Ash-Shaf 3 )

    Bila seseorang calon pemimpin tampil dihadapan rakyatnya dengan penampilan seorang pemimpin yang meyakinkan, padahal sebenarnya dia tidaklah mempunyai kemampuan untuk kepemimpinan yang akan dipegangnya karena bukan bidangnya, dan dia tidak punya pengalaman sama sekali dalam bidang yang akan di pimimpin nya. Maka orang itu adalah calon pemimpin yang tidak jujur , dan bila jadi pemimpin nanti, maka dia adalah pemimpin yang tidak jujur.( baca: pemimpin gadungan). Sama saja dengan seorang yang berpenampilan sebagai seorang dokter, padahal dia bukan dokter, maka orang itu adalah dokter gadungan.

    Bila seseorang mendirikan rumah sakit atau panti asuhan, atau yayasan sosial yang secara lahir diduga orang bahwa itu adalah project kemanusiaan, padahal sebenarnya projet itu adalah project bisnis, atau atau projek untuk mengeruk kekayaan untuk dirinya dan keluarganya, maka orang itu adalah orang yang tidak jujur dalam perbuatannnya, atau orang yang bohong , membohongi masyarakat ramai.

    Sifat jujur merupakan syarat utama untuk seorang pemimpin, karena itulah salah sifat yang wajib bagi seorang rasul, sifat yang pertamanya adalah sifat jujur atau ash-shidqu. Secara umum, sifat jujur juga merupakan sifat utama bagi seorang mukimn, karena orang mukmin itu adalah orang yang jujur, tidak ada artinya iman tanpa kejujuran. Karena itulah firman Allah swt. diatas (QS.9:119) memerintahkan orang beriman untuk bersifat jujur.

    Sabda Rasulullah saw. diatas memerintahkan orang beriman agar bersifat jujur, karena sifat jujur itu adalah induk kebaikan (kebahagiaan) yang akan membawa sesorang masuk syurga. Sifat jujur itu sangat berat bagi mereka yang tidak terbiasa bersifat jujur, karena itu Rasulullah saw. Mengingatkan agar kita membiasakan sifat jujur agar sifat jujur itu menjadi ringan dan membudaya dalam kehidupan.

    Sebaliknya Rasulullah memperingatkan agar kita menjauhi sifat bohong. Karena bohong itu adalah induk kejahatan dan kemaksiatan. Orang yang tidak biasa berbohong, akan merasakan bahwa bohong itu sebenarnya berat, karena itu Rasululullah mengingatkan kita agar tidak membiasakan bohong agar sifat bohong itu tidak menjadi kebiasaan, bila sudah menjadi kebiasaan akan sangat berat meninggalkannya.

    Sebaliknya bila bohong itu tidak dibiasakan, maka bohong itu akan terasa berat. Bila seseorang sudah terbiasa bohong, maka dia akan terbiasa pula berbuat jahat dan maksiat, karena sifat bohong adalah sumber semua kejahatan dan kemaksiatan.

    ***

    Oleh : Ust. DR. H. Suhairy Ilyas. MA

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 27 May 2012 Permalink | Balas  

    Tahapan Setelah Mati 

     

    Tahapan Setelah Mati

     

    (Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Hari Kebangkitan di Akhirat)

     

    Setelah manusia mati akan mengalami tahapan sbb :

     

    1.Alam Barzakh

     

    Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab dan nikmat yang ada di alam kubur (barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli bid’ah. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh dan jasad manusia baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur. Rasulullah SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab kubur, diantaranya mereka yang

     

    1. Suka mengadu domba
    2. Suka berbuat ghulul
    3. Berbuat kebohongan
    4. Membaca Al Qur’an tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang dilarang dalam Al’Qur’an
    5. Melakukan zina
    6. Memakan riba
    7. Belum membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak masuk surga karena hutangnya)
    8. Tidak bersuci setelah buang air kecil, sehingga masih bernajis

     

    Adapun yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, shaum, zakat, dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung silaturahim, segala perbuatan yang ma’ruf dan berbuat baik kepada manusia , juga berlindung kepada Allah SWT dari adzab kubur.

     

     2. Peniupan Sangkakala

     

    Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia dan membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, spt dijelaskan pada Al Qur’an :

     

     “Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT” ( QS. Az Zumar :68 ).

     

    Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras dan hebat sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah I tu keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.

     

    Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya : “ Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al Hajj:1-2).

     

    Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia ; “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.” (QS. Yaa Siin : 51).

     

    Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak seorangpun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia. Kemudian sangkakala yang kedua ditiup kembali, dan manusia pun bermunculan (bangkit) dan berdiri”.(HR. Muslim).

     

     3.Hari Berbangkit

     

    “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah : 6).

     

     4.Padang Mahsyar

     

    “(Yaitu) pada hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS. Ibrahim:48).

     

    Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada hari kiamat untuk dihisap dan diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4). Karena amat lamanya hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.

     

    Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari. (QS.Yunus:45).

     

     “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).

     

    Adapun orang yang beriman merasakan lama pada hari itu seperti waktu antara dhuhur dan ashar saja. Subhanallah.

     

    Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin seandainya ia dapat menebus dirinya dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, dengan istri serta saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya ketika di dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa’arij:11-14).

     

    5. Syafaat

     

    Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir dan munafik, maka tidak ada syafaat bagi mereka.

     

    Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah SWT).

     

    6. Hisab

     

    Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran.

     

    Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).

     

    Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, kita umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili diantara manusia adalah urusan darah.

     

    Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya”.(QS. Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi.

     

    Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93).

     

    Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati.

     

    7. Pembagian catatan amal

     

    Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.

     

    Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT.

     

    Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, spt pada firman Allah berikut ini:

     

    “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”, (QS. Al Insyiqaq:8-12) .

     

    “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al Haqqah:25 31).

     

    8. Mizan

     

    Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”. (QS. Al Anbiya:47)

     

    Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.

     

    Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga

     

     9. Telaga

     

    Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga tersebut. Barang siapa minum dari telaga tersebut maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah SAW lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :

     

    “Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mengharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak”, (HR. Bukhari Muslim).

     

    Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).

     

    10.Ujian Keimanan Seseorang

     

    Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.

     

    Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): ”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS.Al hadid:13).

     

    Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.

     

     11. Shirat

     

    Shirath adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).

     

    Beberapa Hadits tentang Shirath

     

    Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata : Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim)

     

     “Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)

     

    “Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angin, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)

     

    Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad SAW dan para pemimpin umat beliau. Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.” (HRBukhari).

     

    Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan

     

     12. Jembatan

     

    Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.

     

    Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antara satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia. Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”. (HR. Bukhari).

     

    Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.

     

    Kesimpulan :

     

    Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu apa yang akan kita alami di hari akhir nanti, tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia ini. Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai surga-Nya dan dijauhkan dari siksa neraka-Mu ya Allah, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu ya Allah……

     

    ***

     

    Sumber :

     

    1. Poster ‘Hidup Sesudah Mati” (berupa diagram tahapan dan penjelasan setiap tahapan)
    2. Hidup Sesudah Mati edisi terjemah oleh Syaikh Jasim Muhammad Al Muthawwi
    3. Al Yaum Al Akhir, Juz I,II,III oleh Dr. umar Sulaiman Al Asyqar
    4. Syarah Lum’atul I’tiqad Al hadi Ila Sabilir Rasyad oleh Syaikh Utsaimin
    5. Tahdzib Syarah Ath thahawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafi
    6. Tadzkirah, Imam Qurthubi
    7. At Takhwif Minan Naar oleh Ibnu rajab Al Hambali
    8. Hadiul Arwah Ila Biladil Afrah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah
    9. Nihayatul Bidayah wan Nihayah oleh Al hafidz Ibnu Katsir
    10. Ahwalun Naar oleh Muhammad Ali Al Kulaib. (Disalin/ diketik pada tgl : 17 Ramadhan 1428 H, pkl 8 pagi).

     

    Sumber : http://www.taushiyah-online.com

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 26 May 2012 Permalink | Balas  

    Ternyata Kesyirikan di Zaman Kita Lebih Parah 

    Ternyata Kesyirikan di Zaman Kita Lebih Parah

    Para pembaca yang budiman, diantara musibah besar yang menimpa kaum muslimin dewasa ini adalah acuh terhadap urusan agama dan sibuk dengan urusan dunia. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan Alloh karena sedikitnya pemahaman tentang permasalahan-permasalahan agama. Dan jurang terdalam yang mereka masuki yaitu lembah hitam kesyirikan.

    Perbuatan dosa yang paling besar inipun begitu samar bagi kebanyakan manusia karena kejahilan mereka dan rajinnya setan dalam meyesatkan manusia sebagaimana yang dikisahkan Alloh tentang sumpah iblis, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Al-A’rof: 16). Bahkan kesyirikan hasil tipudaya iblis yang terjadi pada masa kita sekarang ini lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam!! Kenapa bisa demikian ?

    Kemusyrikan Zaman Dahulu Hanya di Waktu Lapang

    Sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh melakukan kesyirikan hanya ketika dalam keadaan lapang saja. Namun tatkala mereka dalam keadaan sempit, terjepit, susah dan ketakutan mereka kembali mentauhidkan Alloh, hanya berdo’a kepada Alloh saja dan melupakan segala sesembahan selain Alloh. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Alloh tentang keadaan mereka,

    “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Al-Isra’: 67).

    “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Alloh) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka’.” (Az-Zumar: 8).

    Itulah keadaan musyrikin zaman dahulu, lalu bagaimana keadaan musyrikin pada zaman kita ini? Ternyata sama saja bagi orang-orang musyrik zaman kita ini, baik dalam waktu lapang ataupun sempit tetap saja mereka menjadikan bagi Alloh sekutu. Tatkala punya hajatan (misalnya pernikahan, membangun rumah ataupun yang lainnya) mereka memberikan sesajen ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Tatkala sesuatu ketika terkena musibah, mereka beranggapan bahwa mereka telah kuwalat terhadap yang mbaurekso (jin penunggu) kampungnya kemudian meminta ampun dan berdoa kepadanya agar menghilangkan musibah itu atau pergi ke dukun untuk menghilangkannya. Ini adalah bentuk kesyirikan kepada Alloh yang amat nyata.

    Alloh berfirman, “Hanya bagi Alloh-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan sesuatu yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ro’du: 14)

    Sesembahan Musyrikin Dulu Lebih Mending Sholehnya

    Orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam menjadikan sekutu bagi Alloh dari dua kelompok, yang pertama adalah hamba-hamba Alloh yang sholeh, baik dari kalangan para nabi, malaikat ataupun wali. Dan yang kedua adalah seperti pohon, batu dan lainnya. Lalu bagaimana keadaan orang-orang musyrik zaman kita? Saking parahnya keadaan mereka, orang-orang yang telah mereka kenal sebagai orang suka berbuat maksiatpun mereka sembah dan diharapkan berkahnya. Lihat betapa banyak orang yang berbondong-bondong ngalap berkah ke makam Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus, Sragen. Diceritakan bahwa mereka berdua adalah seorang anak dan ibu tiri (permaisuri raja) dari kerajaan Majapahit yang berselingkuh, kemudian mereka diusir dari kerajaan dan menetap di Gunung Kemukus hingga meninggal. Konon sebelum meninggal Pangeran Samudro berpesan bahwa keinginan peziarah dapat terkabul jika melakukan seperti apa yang ia lakukan bersama ibu tirinya. Sehingga sebagai syarat “mujarab” untuk mendapat berkah di sana, harus dengan berselingkuh dulu!! Allohu Akbar!

    Musyrikin Zaman Dahulu Tidak Menyekutukan Alloh Dalam Rububiyah-Nya

    Tauhid Rububiyah adalah mengikrarkan bahwa Alloh lah satu-satunya pencipta segala sesuatu, yang memberikan rizki, yang menghidupkan dan mematikan serta hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Alloh.. Ini semua diakui oleh orang-orang musyrik zaman dahulu.

    Dalilnya adalah firman Alloh, “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Alloh’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Alloh )?.” (Az-Zukhruf: 87).

    Juga firman-Nya, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’.” (Yunus: 31)

    Akan tetapi titik penyimpangan mereka yaitu kesyirikan dalam Tauhid Uluhiyah (mengikrarkan bahwa hanya Alloh sajalah yang berhak ditujukan kepada-Nya segala bentuk ibadah, seperti do’a, nadzar, menyembelih kurban dan lain-lain). Inilah yang diingkari oleh musyrikin zaman dulu. Mereka berdoa kepada patung atau penghuni kubur bukan dengan keyakinan bahwa patung itu bisa mengabulkan do’a mereka atau punya kekuasaan untuk mendatangkan keburukan, namun yang mereka maksudkan hanyalah supaya patung (sebagai perwujudan dari orang sholeh) atau penghuni kubur itu dapat menyampaikan do’a mereka kepada Alloh. Mereka berkeyakinan bahwa orang sholeh itu yang telah diwujudkan/dilambangkan dalam bentuk gambar/patung tersebut mempunyai kedudukan mulia di sisi Alloh. Sementara mereka merasa banyak berbuat dosa dan maksiat, sehingga tidak pantas meminta langsung kepada Alloh, tetapi harus melalui perantara. Inilah yang mereka kenal dengan meminta syafa’at pada sesembahan mereka Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

    Lalu bagaimana keadaan musyrikin sekarang ini? Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa yang memberikan jatah ikan bagi nelayan, yang mengatur ombak laut selatan adalah Nyi Roro Kidul. Sungguh tidak seorang pun dapat menciptakan seekor ikan kecil pun, ini adalah hak khusus Alloh dalam Rububiyah-Nya, tetapi mereka menisbatkannya kepada Nyi Roro Kidul. Allohu akbar! betapa keterlaluan dan lancangnya terhadap Pencipta alam semesta!!! Sehingga tidaklah heran pula jika banyak diantara masyarakat yang takut memakai baju hijau tatkala berada di pantai selatan, karena khawatir ditelan ombak yang telah diatur oleh Nyi Roro Kidul.

    Lihatlah, betapa orang-orang musyrik zaman dahulu lebih berakal daripada orang-orang musyrik sekarang ini. Karena maraknya bentuk-bentuk kesyirikan dan samarnya hal tersebut sudah seharusnya setiap kita untuk mempelajari ilmu tauhid agar dapat menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari segala macam bentuk kesyirikan. Sungguh betapa jahilnya orang yang mengatakan “Untuk apa belajar tauhid sekarang ini?”

    Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar memberikan kepada kita taufik dan menjauhkan diri kita dari berbagai macam bentuk kesyirikan yang merupakan sebab kehancuran di dunia maupun di akhirat. Wallohu A’lam.

    ***

    Artikel muslim.or.id

    Ibnu ‘Ali Al-Barepany

     
    • iwan 7:35 am on 3 Juni 2012 Permalink

      ya karena da sebagian golongan dari kita yang salah dalam mamaknai tawasul \ wasilah .

  • erva kurniawan 1:16 am on 25 May 2012 Permalink | Balas  

    Bidadari Surga 

    Bidadari Surga

    “Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik, sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Waaqi’ah [56] : 22-24).

    Sebuah kehidupan di Jannah yang penuh dengan kenikmatan yang tiada tara. Air yang terpancar dari mata air Kafur, Tsanim, dan Salsabil serta sungai-sungai yang mengalirkan air susu. Kemudian, para gadis yang elok nan rupawan berdiam diri di dalam istana-istana surga, mereka tak kan pernah keluar melainkan menunggu para calon suaminya yang beriman ketika di dunia.

    Kecantikan, keindahan tubuh, keanggunan, dan segala kelebihan yang dimilikinya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tak mampu untuk digambarkan dengan pena-pena kita. Gadis perawan itu terjaga kesuciannya, tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan, jahil baik dari kalangan manusia maupun jin. Mereka adalah para wanita surga atau yang lebih kita kenal dengan nama BIDADARI.

    Demikianlah gambaran yang terlintas di benak kita, sekilas mengenai bidadari dan keindahan surga. Untuk selebihnya, wallahu a’lam. Gambaran tentang surga dan neraka, malaikat dan bidadari, merupakan sesuatu yang termasuk ke dalam perkara ghaibiah. Kita mengimaninya berdasarkan informasi yang diberikan melalui firman Allah dan sabda RasulNya.

    ***

    Karakteristik Sang Bidadari

    Mengenai bidadari itu sendiri, kita mengetahuinya sesuai dengan yang diinformasikan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antara kabar itu, adalah karakter sang bidadari, inilah karakter yang dimiliki oleh wanita surga itu, yakni Cantik dan Berakhlak baik.

    Sekali lagi, siapa pun tak dapat menggambarkan kecantikannya. Jangankan untuk itu, sekadar mengkhayalkannya saja kita tak berdaya. Namun kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya, Allah berfirman, “Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan.” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 58).

    “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 70).

    “(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit di dalam rumah.” (QS. Ar-Rahmaan [55] : 72).

    Ath-Thabrani meriwayatkan dalam kitab Mujamnya dari Ummu Salamah, dia berkata, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firman Allah : Huurun ‘iin.” Rasulullah berkata, “Huurun ‘iin artinya mata yang indah dan jeli.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Kaamtsaalil lu’lu’il maknun.” Rasulullah berkata, “Artinya bersih sebersih mutiara yang tak pernah disentuh tangan.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Fii hinna khairaat hisaan.” Rasulullah berkata, “Baik akhlaknya dan cantik wajahnya.” Aku berkata lagi, “Tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Kaannahunna baidhun maknuun.” Rasulullah berkata, “Kelembutan kulit mereka seperti kulit yang ada di bagian dalam kulit telur.” Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, tolong terangkan kepadaku tentang firmanNya : Uruban atrooban.” Rasulullah berkata, Mereka yang di dunia sudah tua renta, di surga menjadi gadis-gadis yang sebaya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani, dari Bakar bin Sahl Ad-Dimyathi, dari Umar bin Hasyim Al-Hassan, dari Hasan, dari bapaknya, dari Ummu Salamah, dia berkata, “Aku mengingatnya.”).

    Itulah gambaran tentang karakteristik dari bidadari surga. Di samping itu, juga ada karakteristik khusus yang tak dimiliki oleh wanita dunia, di antara karakteristik khusus wanita surga itu adalah :

    “Suci dan disucikan,” sebagaimana firman Allah SWT, “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS. Al-Baqarah [2] : 25). Mereka tidak memiliki sejumlah kotoran atau mengalami proses sekresi seperti halnya wanita dunia, misalnya haidh, nifas, buang air kecil atau buang air besar, ludah, dahak, peluh, serta kentut, baik yang berbunyi maupun tidak.

    Penuh CINTA, dalil yang berkenaan dengan ini adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Waaqi’ah [56] : 37, “Penuh cinta lagi sebaya umurnya.”

    Gadis ABADI, dalam surat An-Naba ayat 33, diterangkan maksud dari gadis-gadis remaja yang sebaya adalah mereka tidak pernah mengenal uban atau tua, bahkan setiap pekan mereka akan bertambah cantik dan menawan.

    Tidak Mata Keranjang (QS. Ar-Rahmaan [55] : 56) dan hanya tinggal di dalam rumah. Inilah yang seharusnya menjadi kaca perbandingan bagi setiap mu’minah, sang bidadari begitu extra dalam menahan pandangan dan tidak pernah ke luar dari istananya.

    Tubuhnya wangi dan bercahaya. Dalam riwayat Bukhari dalam Kitab Shahihnya, Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya salah seorang dari wanita surga menampakkan diri ke bumi, niscaya akan bercahaya antara bumi dan langit dan niscaya antara bumi dan langit itu dipenuhi dengan bau wangi. Tutup kepala wanita surga saja lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Dunya).

    Do’a bidadari untuk para suami mereka di dunia, dalam Kitab Maraasilnya, ‘Ikrimah meriwayatkan, “Sesungguhnya para bidadari berdo’a untuk para suami mereka saat para suami mereka masih berada di dunia. Mereka berkata : Ya Allah, tolonglah dia dalam menjalankan agama, hadapkan dia dengan hatinya untuk taat kepadaMu, dan sampaikan dia kepada kami, demi kemuliaanMu, wahai Rabb Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”

    Subhanallah… Demikianlah karakteristik wanita surga itu. Untuk para wanita, seharusnyalah kita terbetik rasa iri dengan para bidadari tersebut, agar termotivasi untuk menjadi wanita muslimah yang taat pada Allah dan RasulNya. Sekarang kalau sudah begitu, apa yang ada di benakmu, wahai mukminah???

    ***

    Wanita Dunia Bisa Lebih Baik dari Bidadari Surga

    Surga adalah hak asasi atas muslim yang beriman dan beramal shalih. Surga dipersembahkan khusus bagi hambaNya yang taat, baik dari kaum pria maupun wanita. Begitu pula dengan seorang wanita jika ia berniat untuk berhijrah menjadi seorang mukminah sejati. Perlombaan untuk menjadi lebih baik dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya adalah hak asasinya sebagai seorang hamba.

    Dengan melihat karakteristik sang bidadari, seharusnyalah hal tersebut menjadi cermin bagi setiap wanita dunia. Bidadari adalah makhluk yang tercipta mirip dengan bangsamu, wahai wanita, tapi ketahuilah engkau bisa lebih baik dan lebih mulia darinya, Insya Allah. Ingatlah firman Allah dalam surat At-Tiin ayat 4, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.”

    Maka dari itu, berusahalah, berlombalah, dan bersegeralah dalam ketaatan kepada Allah SWT agar engkau lebih anggun daripadanya. Di antara jalan yang dapat ditempuh adalah MENJAGA KESUCIAN. Jagalah permatamu, wahai mukminah, janganlah kau umbar dan kau jual dengan harga yang murah, apalagi harga itu adalah harga duniawi yang kotor.

    Milikilah rasa penuh cinta. Tumbuhkanlah cinta itu hanya kepada Allah serta mempersiapkan cintamu itu untuk seorang laki-laki yang akan menjadi suamimu atau telah sah menjadi suamimu. Janganlah terjerat dan terperangkap dengan rayuan gombal dan cinta buta, sebab hal itu hanya akan menggoreskan luka di hatimu.

    Jagalah dan tundukkanlah pandanganmu, karena wanita dunia yang menyakiti suaminya dengan memandang pria lain (sekalipun terpaksa), merupakan wanita yang memiliki kekurangan dan kehinaan dalam dirinya. Maka pantaslah jika suaminya (yang shaleh) akan direbut oleh para bidadari surgawi.

    Referensi :

    1. Ukhti Al-Muslimah Sabiiluki ilal Jannah. Karya Itisham Ahmad Sharraf, Daar Al-I’tisham.
    2. Ensiklopedia Surga, Karya Mahir Ahmad Ash-shufi, Pustaka Azzam. 3. Mu’minah, No. 8 Tahun I, 2006.

    ***

    Penulis : Indriani Budi Astuti

    KotaSantri.com

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 24 May 2012 Permalink | Balas
    Tags: kibr, maha suci allah, puji, rizki, syirik   

    Nasihat Nuh as kepada Anaknya 

    Nasihat Nuh as kepada Anaknya

    Dari Abdullah bin Umar r. huma,

    Rasulullah saw bersabda, ”Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang nasihat Nuh kepada anaknya?”

    Para sahabat berkata, ”Ya, beritahukanlah kepada kami.”

    Rasulullah bersabda: ”Nuh menasehati anaknya, ’Wahai anakku, aku menasehati kamu dengan ucapan Laa ilaaha illallaah, karena sesungguhnya jika kalimat itu diletakkan dalam satu timbangan, lalu langit dan bumi ditempatkan pada timbangan yang lain, niscaya kalimat itu akan lebih berat. Meskipun dibentuk dalam lingkaran yang kokoh, maka kalimat itu akan memecahkan lingkaran itu sehingga ia sampai ke hadapan Allah swt; dan aku menasehatimu dengan ucapan Subhanallaahil Azhiim Wabihamdihii (Maha Suci Allah yang Maha Agung dan dengan segala puji-Nya) dan Hamdulillah (Segala Puji bagi-Nya), karena ucapan ini adalah ibadahnya seluruh makhluk dan [dengan ucapan tersebut] mereka diberi rizki; dan aku melarang kamu dari dua perkara: Syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu) dan Kibr (sombong), karena dua sifat ini menjauhkan manusia dari Allah.’”

    (HR: Al-Bazaar)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 23 May 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Marah 

    Jangan Marah

    Sering kita marah-marah padahal Nabi sangat melarang hal ini. Adakalanya kita berdalih dengan alasan kita melakukannya karena agama. Padahal Allah mengutamakan kebaikan akhlak, bukan kekasaran:

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali ‘Imran:159]

    Memang ada beberapa kondisi yang mewajibkan kita marah bahkan berperang mengangkat senjata terhadap orang-orang yang sangat zhalim tapi itu ada persyaratan khusus yang biasanya dibahas dalam bab lain khususnya yang berkaitan dengan jihad. Di sini kita akan mempelajari tentang marah.

    Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” [HR Bukhari]

    “Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk.” (HR. Bukhari dan Al Hakim)

    Dari hadits di atas jelaslah seorang yang pemarah bukanlah orang Islam dan juga bukan orang beriman karena orang-orang takut mendekat dan kena marah olehnya.

    Abu Musa r.a. berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.“ [HR Bukhari]

    Ketika marah, kita harus bisa menahan diri.

    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” Muttafaq Alaihi.

    Orang yang suka marah/zhalim pada orang lain niscaya akan merasa kegelapan pada hari kiamat. Ketika listrik mati di malam hari dan gelap tak ada alat penerang kita tidak suka hal itu. Nah kegelapan hari kiamat jauh lebih buruk dari hal itu dan lebih lama:

    Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jauhilah kedholiman karena kedholiman ialah kegelapan pada hari kiamat, dan jauhilah kikir karena ia telah membinasakan orang sebelummu.” Riwayat Muslim.

    Ketika seseorang minta nasehat, Nabi menjawab “Jangan marah” berulangkali:

    Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku nasehat. Beliau bersabda: “Jangan marah.” Lalu orang itu mengulangi beberapa kali, dan beliau bersabda: “Jangan marah.” Riwayat Bukhari.

    Orang yang paling baik akhlaknya yang dekat dengan Nabi. Bukan orang yang pemarah:

    Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

    Orang yang marah karena diingatkan untuk takwa kepada Allah berdosa besar:

    Cukup berdosa orang yang jika diingatkan agar bertaqwa kepada Allah, dia marah. (HR. Ath-Thabrani)

    Salah satu penyebab yang paling banyak membuat orang masuk neraka adalah mulut yang suka marah. Meski dia rajin sholat, puasa, zakat dan haji tapi jika suka marah tetap masuk neraka:

    Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik.” Beliau ditanya lagi, “Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?” Rasulullah Saw menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

    Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

    Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai.”(HR. Muslim)

    Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata: Dua orang pemuda saling mencaci di hadapan Rasulullah saw. lalu mulailah mata salah seorang dari mereka memerah dan urat lehernya membesar. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila diucapkan, maka akan hilanglah kemarahan yang didapati yaitu “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”. Lelaki itu berkata: Apakah engkau menyangka aku orang gila?. (Shahih Muslim No.4725)

    Sering orang marah kepada pembantunya / bawahannya karena dia merasa lebih tinggi sementara pembantunya / bawahannya lebih rendah dan selalu takut kepadanya. Padahal menurut Anas seorang pembantu Nabi, selama 10 tahun dia bekerja dengan Nabi, tak pernah sekalipun Nabi memarahinya meski dia ada salah.

    Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah Saw, “Pelayan (pembantu rumah tangga) saya berbuat keburukan dan kezaliman.” Nabi Saw menjawab, “Kamu harus memaafkannya setiap hari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Baihaqi)

    Biasanya orang marah terhadap pembantu / bawahan karena pekerjaan “kurang/tidak beres”. Padahal Nabi memerintahkan untuk memberi pekerjaan hanya sesuai kemampuan mereka dan jika perlu kita harus membantu mereka jika mereka kesulitan. Allah memberi ganjaran pahala untuk itu:

    Apa yang kamu ringankan dari pekerjaan pembantumu bagimu pahala di neraca timbanganmu. (HR. Ibnu Hibban)

    Bagi seorang budak jaminan pangan dan sandangnya. Dia tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak mampu dilakukannya. (HR. Muslim)

    Pelayan-pelayanmu adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka bernaung di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa saudaranya yang berada di bawah naungan kekuasaannya hendaklah mereka diberi makan serupa dengan yang dia makan dan diberi pakaian serupa dengan yang dia pakai. Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka tunaikan. Jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikut membantu mereka. (HR. Bukhari)

    Allah melarang kita untuk banyak bicara. Apalagi banyak marah. Karena akan menyebabkan kita masuk neraka:

    Sesungguhnya Allah melarang kamu banyak omong, yang diomongkan, dan menyia-nyiakan harta serta banyak bertanya. (HR. Asysyihaab)

    Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR. Ath-Thabrani)

    Jika marah, diamlah. Kebanyakan penyebab retaknya rumah tangga / keluarga adalah ketika suami/istri marah, mereka tidak diam. Justru melontarkan perkataan yang menyakitkan hati pasangannya. Padahal dengan diam pun pasangan kita tahu kita sedang marah tanpa membuat dia sakit hati karena perkataan kita:

    Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad)

    Jika kita marah, maka pahala kita akan diberikan kepada orang yang kita marahi. Jika pahala kita habis, maka dosa orang yang kita marahi dipindahkan Allah ke kita. Inilah orang yang muflis/bangkrut di akhirat. Dia mengira akan masuk surga karena rajin beribadah, tapi dia juga rajin menzhalimi/memarahi orang lain hingga akhirnya masuk neraka:

    Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami)

    Tahukah kamu siapa orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab, “Allah dan rasulNya lebih mengetahui.” Nabi Saw lalu berkata, “ Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu. Di akhirat orang-orang yang disakitinya menuntut dan mengambil pahalanya sebagai tebusan. Bila pahalanya habis sebelum selesai ganti rugi atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim)

    Jika kita berbuat salah kepada Allah, begitu kita tobat dan minta ampun kepada Allah, niscaya Allah memaafkan. Tetapi jika kita berbuat salah terhadap manusia, misalnya memarahinya, dosa kita tidak akan diampuni kecuali orang yang kita meminta maaf kepada orang yang kita zhalimi.

    Ada satu kisah seorang ayah menyuruh anaknya yang pemarah untuk memaku beberapa paku ke pagar. Meski paku-paku itu dicabut, namun lubang bekas paku itu tetap ada. Begitulah jika kita memarahi orang. Meski kita sudah minta maaf, namun bekas luka di hati orang yang kita marahi akan tetap ada.

    Kita harus yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Sehingga Allah mengetahui jika kita sedang menzhalimi seseorang. Kita juga harus yakin bahwa segala ucapan dan tindakan kita selalu dicatat oleh dua malaikat, yaitu Roqib dan ‘Atid dan akan dihitung di hari Kiamat nanti. Oleh sebab itu hindarilah segala ucapan dan perbuatan yang buruk.

    Jangan mencaci/menghina orang lain dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (maksudnya saudaramu) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan” [Al Hujuraat:11]

    Tips agar tidak marah:

    • Baca ta”awudz (a”udzubillahi minasy syaithoonir rojiim) sebab setan membisikkan manusia untuk berbuat dosa termasuk marah. Berlindunglah terhadap Allah.
    • Bersabarlah. Tahan kemarahan anda
    • Diamlah
    • Jika anda berdiri, duduklah.
    • Jika masih marah, berwudlu-lah
    • Jika terpaksa bicara, beritahu cara yang benar. Misalnya: Kalau melakukan ini caranya begini sambil memperagakannya. Jangan panjang-panjang cukup 2x. Kalau kesalahan masih terulang, ulangi lagi nasehat tersebut. Hindari menggelari orang dengan sebutan yang anda sendiri tidak suka seperti bodoh, dan sebagainya.

    ***

    Sumber: syiarislam.wordpress.com/2008/03/17/jangan-marah/

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 22 May 2012 Permalink | Balas  

    Adab ke Masjid 

    Adab ke Masjid

    Hadits pertama “Dari Abu Qatadah, ia berkata : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi SAW, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi telah selesai shalat, ia bertanya : “Ada apa urusan kamu tadi (berisik) ?”. Mereka menjawab : “Kami terburu-buru untuk turut (jama’ah)”, Nabi SAW berkata : “Janganlah kamu berbuat begitu !. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah !” (Hadits riwayat : Ahmad, Muslim dan Bukhari).

    Hadits keduaDari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda : “Apabila kamu mendengar iqamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. (Hadits riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i & Ahmad).

    Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum :

    1. Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat apabila mendatangi tempat shalat/masjid.
    2. Kita dilarang tergesa-gesa/terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun iqamat telah dikumandangkan.
    3. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama’ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama’ah.
    4. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/nasehat) kepada para jama’ah (ma’mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain.
    5. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat Imam waktu itu.
    6. Setelah Imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

    Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi SAW pernah bersabda. Artinya : “Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat”. (Hadits riwayat : Muslim). Periksa : Shahih Muslim 2 : 99,100. Shahih Bukhari 1 : 156. Subulus Salam (syarah Bulughul Maram) 2 : 33, 34. Nailul Authar (terjemahan) 2 : 781. koleksi hadits hukum, Ustadz Hasbi 4 : 27. Fiqih Sunnah.

    Hadits ketiga “…..Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : “ALLAHUMMAJ ‘AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya”. (Hadits riwayat : Muslim & Abu Dawud).

    Keterangan :

    1. Hadits ini diriwayatkan dari jalan Ibnu Abbas ra yang menerangkan tentang shalat Nabi SAW diwaktu malam (shalat ul-lail).
    2. Hadits ini menyatakan : Disukai kita mengucapkan do’a di atas di waktu pergi ke Masjid. Periksa : Tuhfatudz Dzakirin hal : 93, Imam Syaukani. Al-Adzkar hal : 25, Imam Nawawi. Fathul Bari’ 11 : 16, Ibnu hajar. Aunul Ma’bud (syarah Abu Dawud) 4 : 232. Syarah shahih Muslim 5 : 51, Imam Nawawi.

    Hadits keempat “Dari Abi Humaid atau dari Abi Usaid, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : “ALLAHUMMAF TAHLI ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”. Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : “ALLAHUMMA IN-NI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu)”. (Hadits riwayat : Muslim, Ahmad & Nasa’i).

    Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita mengucapkan do’a di atas apabila masuk ke masjid dan keluar dari padanya. Periksa : Shahih Muslim 2 : 155. Sunan Nasa’i 2 : 41. Fathur Rabbani 3 : 51,52 Nomor hadits 314. Al-Adzkar hal : 25.

    Hadits kelimaDari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi SAW, bahwasanya Nabi SAW, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : “AUDZU BILLAHIL ‘AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL ADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tidak mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)”. Nabi SAW berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do’a di atas), syaithanpun berkata : Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya”. (Hadits riwayat Abu Dawud).

    Hadits ini menyatakan : Disunatkan kita membaca do’a mohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan apabila memasuki masjid. Periksa : Sunan Abu Dawud Nomor hadits : 466, Aunul Ma’bud Nomor hadits : 462. Minhalul ‘Adzbul Mauruud (syarah Abu Dawud) 4 : 75, Imam As-Subki. Adzkar hal : 26. Tafsir Ibnu Katsir 3 : 294.

    ***

    Abdul Hakim bin Amir Abdat

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 20 May 2012 Permalink | Balas  

    Jihad Ibu 

    Jihad Ibu

    Rasulullah SAW bersabda, ”Setiap jerih payah istri di rumah sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad.” (HR Bukhari dan Muslim). Pada dasarnya, Islam telah memberikan keistimewaan kepada para istri untuk tetap berada di rumahnya. Untuk mendapatkan surga-Nya kelak, para istri cukup berjuang di rumah tangganya dengan ikhlas. Tetesan keringat mereka di dapur dinilai sama dengan darah mujahid di medan perang.

    Menjadi ibu rumah tangga kedengarannya memang sepele dan remeh, hanya berkecimpung dengan urusan rumah dari A-Z, namun siapa sangka banyak sekali kebaikan dan hikmah yang dapat diperoleh. Ibulah yang mengambil porsi terbesar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.

    Pertumbuhan suatu generasi bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Di tangan ibu pula pendidikan anak ditanamkan dari usia dini, dan berkat keuletan dan ketulusan ibu jualah bermunculan generasi-generasi berkualitas dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

    Dalam Islam, ini adalah tugas besar, namun sangat mulia dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Sayangnya, kebanyakan wanita modern saat ini tidak menyukai aktivitas rumah tangga. Mereka lebih bangga bekerja di luar rumah karena beranggapan tinggal di rumah identik dengan ketidakmandirian dan ketidakberdayaan ekonomi. Maka, jadilah peran ibu di rumah dianggap rendah, dan tidak sedikit ibu rumah tangga yang malu-malu ketika ditanya apa pekerjaannya.

    Meskipun seorang wanita tidak bekerja setelah lulus sarjana, ilmunya tidak akan sia-sia, sebab ia akan menjadi ibu sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Kebiasaan berpikir ilmiah yang ia dapatkan dari proses belajar di bangku kuliah itulah yang akan membedakannya dalam mendidik anak. Seorang ibu memang harus cerdas dan berkualitas, sebab kewajiban mengurus anak tidak sebatas memberi makan.

    Ia harus mampu merawat dan mendidik anak-anaknya dengan benar, penuh kasih sayang, kesabaran, menempanya dengan nilai dan norma agama agar sang anak mampu menghindar dari pengaruh lingkungan dan kemajuan teknologi yang merusak akal dan akhlaknya. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh seorang ibu yang cerdas. (Siti Yuliati)

    ***

    Sumber: republika

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 19 May 2012 Permalink | Balas  

    Amanah 

    Amanah

    Ust. DR H. Suhairy Ilyas. MA

    Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, (QS..4:58)

    Amanah, Iman dan Aman adalah tiga kata yang berasal dari akar kata yang sama, yaitu kata Amina. Pada umumnya kata-kata yang berasal dari akar kata yang sama masing-masing mempunyai kedekatan makna, disamping juga mempunyai korelasi makna. Demikian juga dengan kata-kata : Amanah, Iman dan Aman.

    Amanah artinya adalah sesuatu yang dititipkan atau dipercayakan kepada seseorang. Iman artinya adalah kepercayaan atau keyakinan.. Aman adalah sesuatu yang dipercayai atau diyakini tidak ada gangguan sedikitpun. Lawan dari aman adalah ketakutan atau kekacauan karena ada yang mengacau atau mengganggu.

    Adapun korelasi diantara ketiganya itu adalah bahwa Amanah itu tidak akan terlaksana tanpa Iman, hanya dengan landasan Iman lah amanah itu akan terlaksana. Sedangkan Aman adalah hasil daripada Amanah yang berlandaskan Iman. Dengan artikata Amanah yang diserahkan kepada orang yang beriman pasti akan menimbulkan rasa aman.

    Demikialah, Amanah itu akan menjamin rasa Aman : Bila suatu negeri dipimpin oleh pemimpin yang beriman maka negeri itu pasti akan aman, itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para Khulafaurrasyidin yang penuh amanah. Sebaliknya bila suatu negeri rakyatnya tidak merasa aman, salah satu penyebabnya ialah karena pemimpin negeri itu yang tidak amanah alias khianat. Kenapa terjadi korupsi besar-besaran disuatu negeri sehingga negeri itu menjadi terancam bangkrut karena dililit hutang, dan rakyat terancam kemiskinan yang menyedihkan ? Jawabnya karena hilangnya amanah dari pemimpin negeri tersebut.

    Karena itulah Rasulullah SAW. Pernah mengingatkan: “Idza dhuyi’atil amanah fantazhirissa’ah” artinya : Bila disia-siakan amanah maka tunggulah kehancuran!. Lalu sahabat bertanya: “Wakaifa idha’atuha?” Rasulullah menjawab : “Idza wusidal amru ila khairi ahlihi fantazhirissa’ah!”. Bila diserahkan suatu urusan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran! Maksudnya, bila diserahkan kepemimpinan kepada orang yang bukan ahlinya, ahlinya disini bukan hanya ahli dalam hal ilmu atau managemen, tapi pengertian ahli disini adalah orang yang memenuhi syarat, berhak dan pantas untuk memikul tanggung jawab. Orang yang tidak amanah seharusnya tidak berhak untuk jadi pemimpin atau memegang keuangan; bila diserahkan juga kepemimpin kepada orang yang tidak amanah tentulah dia akan khianat dalam kepemimpinannya.

    Rasulullah SAW sebelum menjadi Rasul mendapatkan gelar kehormatan dari masyarakat Arab waktu itu dengan “Al-Amin” karena dikenal oleh masyarakat sebagai seorang yang sangat dipercaya dalam menjaga Amanah. Setelah beliau menjadi Rasul, maka salah satu sifat yang wajib beliau miliki adalah sifat Amanah. Dalam kenyataanya memang beliau seumur hidupnya sangat berpegang teguh pada Amanah, baik amanah yang beliau terima dari Allah secara lansung untuk menegakkan Islam, maupun amanah yang diberikan masyarakat kepada beliau. Karena itulah kepemimpinan beliau berhasil dengan gemilang-gemilang, beliau berhasil menciptakan rasa aman yang merata, padahal beliau mendapati masyarakat jahiliyah dalam keadaan kacau balau, jauh dari rasa aman. Waktu prosesi Hijrah ke Madinah.

    Ali bin Abi Thalib selain diperintah Rasulullah untuk mengelabui orang-orang kafir yang mengepung rumah beliau dengan tidur ditempat tidur dan memakai selimut beliau; Ali juga diperintahkan Rasulullah untuk mengembalikan kunci-kunci kedai dan gudang yang diamanahkan masyarakat Arab pada beliau.

    Dengan demikian dapat difahami bahwa Amanah merupakan salah satu tanda orang yang beriman. Apabila seorang tidak dapat memegang amanah suatu pertanda dia bukan orang yang beriman, tepatnya orang munafiq. Karena itulah dalam salah satu hadits shahih Rasulullah SAW. Bersabda (yang artinya) : “Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga : Bila berbicara bohong, bila berjanji mungkir, bila diberi amanah dia khianat (HR.Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud). Hadits ini menjelaskan bahwa salah satu tanda orang munafiq ialah tidak dapat memegang amanah atau khianat terhadap amanah.. Dalam kenyataannya memang orang-orang munafiq sangat sering mengkhianati Rasulullah dan para sahabat..

    Amanah akan mudah dikhianati bila yang memegang amanah merasakan bahwa amanah yang dipegangnya itu adalah amanah dari atasannya atau dari seseorang manusia, karena orang yang memberi amanah itu tidak selalu bersama dia dan mengawasinya. Akan tetapi bila yang memegang amanah menyadari sepenuhnya bahwa hakikat semua amanah itu adalah perintah Allah SWT, kepada hamba-Nya (QS.4:58), maka amanah itu tidak akan mudah dikhianati, karena dia merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasi amanah yang diamanahkan kepadanya..Bila dia berhasil menjaga amanah tersebut, dia yakin bahwa Allah akan ridha kepadanya, dan bila dia khianat pada amanah tersebut, maka Allah akan murka kepadanya.

    Seorang mukmin sangat takut mengkhianati amanah, karena mengkhianati amanah berarti melunturkan iman, bahkan melunturkan agamanya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW Bersabda : “Addinu amanah, la diina liman la amanita lahu” Agama itu adalah amanah, tidak ada agama bagi orang yang tidak amanah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 18 May 2012 Permalink | Balas  

    Keajaiban Tasbih 

    KEAJAIBAN TASBIH

    Oleh: Abu Bakrin al-Atsari

     Subhanallahi wa bihamdihi , Subhanallahil ‘adhim

    “Maha Suci Allah dan dengan pujian-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung ” (HR. Muslim :2692, Abu Dawud:5091)

    A. Makna Dzikir Ini

    Tasbih artinya penyucian Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala sifat kekurangan. Adapun Bihamdihi maknanya aku bertasbih sambil memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maksud seseorang bertasbih dengan dzikir ini adalah untuk menjauhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya seperti bodoh, lemah, mati, ngantuk dan sifat-sifat yang serupa dengan makhluk-Nya sekaligus memuji-Nya dengan menetapkan sifat- sifat yang sempurna bagi-Nya. (Syarh Aqidah Wasithiyyah:1/128, Syahrul Mumti’:2/67, al-futuhat:1/135).

    B. Kapan Dzikiri Ini Dibaca

    Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa membaca tatkala pagi dan sore Subhanallah wa bihamdihi 100kali maka tidaklah datang seseorang pada hari kiamat dengan amalan yang lebih utama daripada bacaan ini kecuali seseorang yang mengucapkan yang serupa atau lebih banyak lagi.” (HR. Muslim no.2692, Abu Dawud 5091)

    C. Keutamaan Dzikir Ini

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan: “Dua kata yang ringan di lidah, berat dalam mizan (timbangan amal hari kiamat), disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘adhim. (Shahih Bukhari :6406)

    Dari Jabir radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan Subhanallahil ‘adhim wa bihamdihi maka ditanamkan baginya kurma di surga”. (Hasan Shahih, Sunan Tirmidzi:3464)

    Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan: “Barangsiapa yang membaca Subhanallahi wa bihamdihi dalam sehari 100 kali maka diampuni dosanya sekalipun seperti buih dilautan”. (Muslim:6842)

    Dari Sulaimana bin Yasar dari seorang laki-laki Anshor bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Berkata Nabi Nuh ‘alaihissallam kepada anaknya: ‘ Aku wasiatkan kepadamu dengan suatu wasiat yang aku ringkas agar engkau tidak melupakannya. Aku wasiatkan dengan dua hal dan aku larang dari dua hal’. Kemudian beliau menyebutkan diantara wasiatanya, “Dan aku wasiatkan dengan Subhanallahi wa bihamdihi karena ia adalah do’anya para makhluk dan dengan dua kata itu makhluk diberikan rezeki. Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Isra'(17):44). (HR. an-Nasai dan al-Bazzar, lihat Shahih Targhib wa Tarhib:1543)

    D. Faedah

    Konteks hadits ini (Hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu diatas) menunjukkan bahwa dzikir ini dibaca 100kali sekaligus untuk dua waktu itu tidak dipisah menjadi dua waktu, pagi 100 kali dan sore 100kali, berdasarkan riwayat lain yang menjelaskan hal itu. Lebih utama maksudnya lebih utama dari jenis dzikir ini bukan dari amalan yang lain. (lihat al-Futuhat:1/669) Bolehnya menambah bilangan dzikir ini karena disyariatkan dan tidaklah terlarang, sebagaimana larangan untuk menambah ibadah yang memang sudah dibatasi bilangannya seperti roka’at shalat, bilangan wudhu dan lainnya. (al Futuhat:1/670) Allah-lah pemberi taufiq ke jalan yang benar.

    Wallahu ‘alamu bish showab.

    ***

    Diketik ulang dari Majalah Al-Mawwadah Edisi 12 Tahun ke 1, Jumadil Tsani – Rajab 1429 H, Rubrik Benteng Diri Muslim hal.20

    Humaira Ummu Abdillah

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 16 May 2012 Permalink | Balas  

    Malaikat Yang Mengunjungi Orang Sakit 

    Malaikat Yang Mengunjungi Orang Sakit

    “Apabila seorang hamba yg beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yg terbaik yg dikerjakan hamba mukmin itu pada saat sehat dan pada saat waktu senangnya.”

    Oleh Abu Imamah al Bahili. Dalam hadist yg lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.

    Allah memerintahkan:

    • Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
    • Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
    • Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
    • Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

    Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.

    Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa2nya kepada hamba mukmin.

    Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata :

    “‘Ya Allah mengapa dosa2 ini tidak Engkau kembalikan ?”

    Allah menjawab : “ Tidak baik bagi kemuliaanKu jika Aku mengembalikan dosa2nya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa2 tersebut ke dalam laut.”

    Dengan ini , maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

    “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

    ***

    (Diambil dari Kitab Klasik Al Mawa’izh al Ushfuriah)

    Smg kisah ini dapat memberi hikmah dan manfaat bagi kita semua terlebih bagi teman2ku, saudara2ku dan orang2 yg aku cintai yg sedang dalam keadaan sakit, smg diberikan kesabaran dan ketabahan…..Aamiin..

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 15 May 2012 Permalink | Balas  

    Syarat Untuk Ingkar Kepada Allah 

    Syarat Untuk Ingkar Kepada Allah

    Berikut ini ialah beberapa syarat seandainya kita ingin ingkar kepada Allah:

    1. Janganlah engkau tinggal di buminya Allah, termasuk juga di semesta alam yang diciptakan Allah swt.
    2. Janganlah engkau mengirup udara yang disediakan Allah bagi hambaNya
    3. Janganlah engkau memakan rezekiNya
    4. Seandainya datang malaikat pencabut nyawa hendak mencabut nyawamu, usirlah dia dan kalau bisa bunuhlah dia.
    5. Hindarilah pertanyaan dan siksa kubur.
    6. Tolaklah ketika engkau di putuskan untuk menghuni neraka
    7. Janganlah engkau menghuni syurga Allah
    8. Dan lain – lain sebagainya

    Seandainya engkau dapat melakukan hal tersebut silahkan engkau ingkari kepada Allah swt dan berlakulah sesuka hatimu. Namun, jika engkau tidak sanggup melaksanakannya walaupun hanya satu, wajiblah engkau mengikuti jalan yang telah di risalahkan Allah melalui para Rasul Nya

    ***

    Oleh Sahabat: Alex Kibadachi

    Referensi : Ali bin Abi Thalib, karya Ali Audah

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 14 May 2012 Permalink | Balas  

    Manfaat Dzikir 

    Manfaat Dzikir  

    1.Membuat hati menjadi tenang.

    Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d : 28)

    Banyak orang yang ketika mendapat kesulitan maka mereka mencari cara-cara yang salah untuk dapat mencapai ketenangan hidup. Diantaranya dengan mendengarkan musik yang diharamkan Allah, meminum khamr atau bir atau obat terlarang lainnya. Mereka berharap agar bisa mendapatkan ketenangan.. Yang mereka dapatkan bukanlah ketenangan yang hakiki, tetapi ketenangan yang semu. Karena cara-cara yang mereka tempuh dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Ingatlah firman Allah Jalla wa ‘Ala di atas, sehingga bila kita mendapat musibah atau kesulitan yang membuat hati menjadi gundah, maka ingatlah Allah, insya Allah hati menjadi tenang.

    2.Mendapatkan pengampunan dan pahala yang besar.

    “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab : 35)

    3.Dengan mengingat Allah, maka Allah akan ingat kepada kita.

    Allah berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan)”. (Al Baqarah : 152)

    4.Dzikir itu diperintahkan oleh Allah agar kita berdzikir sebanyak-banyaknya.

    Firman Allah Azza wa Jalla “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada – Nya di waktu pagi dan petang.” (Al Ahzab : 41 – 42)

    5.Banyak menyebut nama Allah akan menjadikan kita beruntung.

    “Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Al Anfal : 45)

    6.Dzikir kepada Allah merupakan pembeda antara orang mukmin dan munafik, karena sifat orang munafik adalah tidak mau berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit saja.

    “Sesungguhnya orang – orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An Nisaa’ : 142)

    7.Dzikir merupakan amal ibadah yang paling mudah dilakukan.

    Banyak amal ibadah yang sebetulnya mudah untuk kita lakukan. Semisal :

    • Membaca basmillah ketika akan makan / minum
    • Membaca doa keluar / masuk kamar mandi
    • Membaca dzikir – dzikir sewaktu pagi dan petang
    • Membaca doa keluar / masuk rumah
    • Membaca doa ketika turun hujan
    • Membaca dzikir setelah hujan turun
    • Membaca doa ketika berjalan menuju masjid
    • Membaca dzikir ketika masuk / keluar masjid
    • Membaca hamdalah ketika bersin
    • Membaca dzikir – dzikir ketika akan tidur
    • Membaca doa ketika bangun tidur

    Dan lain-lain banyak sekali amalan yang mudah kita lakukan. Bila kita tinggalkan, maka rugilah kita berapa banyak ganjaran yang harusnya kita dapat, tetapi tidak kita peroleh padahal itu mudah untuk diraih. Coba saja hitung berapa banyak kita keluar masuk kamar mandi dalam sehari?

    ***

    Oleh Sahabat: Alex Kibadachi

    Di rangkum dan diunduh dari Perpustakaan Islam

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 13 May 2012