Updates from November, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:26 am on 13 November 2012 Permalink | Balas  

    Cerita Rasulullah SAW Kepada Mu’adz  

    Kata Ibnu Mubarak, Khalid bin Ma’dan berkata kepada Mu’adz: “Mohon diceritakan satu hadits yang terdengar olehmu dari Rasulullah SAW yang kamu hafal dan kamu ingat setiap hari karena sangat kerasnya haditz itu dan sangat halus dan sangat mendalamnya hadits tersebut. Hadits manakah menurut tuan yang paling penting?”. Maka jawabnya: “Baiklah akan aku ceritakan.” Kemudian beliau menangis dahulu. Lama sekali menangisnya itu, selanjutnya beliau berkata: “Ehm, sungguh rindu sekali kepada Rasulullah, ingin segera bersua dengan beliau.”

    Kemudian dia berkata lagi: “Ketika menghadap kepada Rasulullah SAW beliau menunggang kuda dan beliau menyuruhku untuk naik dibelakang beliau; kemudian berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut dan beliau menengadah ke langit, kemudian bersabda:

    “Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang berkehendak kepada makhlukNya menurut kehendakNya, wahai Mu’adz!”

    Jawabku: “Ya Sayyidal Mursalin.”

    Sabda beliau: “Sekarang aku akan menceritakan satu cerita kepadamu yang apabila dihafalkan olehmu, akan berguna bagimu, tapi kalau disepelekan olehmu, maka kamu tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah.

    “Hai Mua’dz! Allah itu menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh langit dan bumi. Tiap langit ada satu Malaikat yang menjaga pintu. Dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh Malaikat penjaga pintu menurut kadarnya pintu dan keagungannya.

    “Maka Malaikat yang memelihara amal si hamba dan mencatatnya naik ke langit dengan membawa amal si hamba tersebut yang bersinar-sinar cahayanya bagaikan cahaya matahari. Setelah sampai ke langit pertama, Malaikat Hafadzoh menganggap amal si hamba itu banyak dan memuji kepada amal-amal tersebut. Akan tetapi setelah sampai kepada pintu langit pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu langit pertama kepada Malaikat Hafadzoh: “Tamparkanlah amal ini ke muka (wajah) pemiliknya! Saya ini penjaga tukang mengumpat dan saya di perintah untuk tidak menerima tukang mengumpat orang lain itu untuk masuk dan jangan sampai melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.”

    “Kemudian keesokan harinya ada lagi Malaikat Hafadzoh naik kelangit dengan membawa amal shalih yang berkilauan cahayanya yang dianggap oleh Malaikat Hafadzoh begitu sangat banyaknya serta dipuji. Namun begitu sampai kelangit kedua (yang lolos dan selamat dari langit pertama sebab pemilik amal shalih tersebut tidak suka mengumpat) berkatalah Malaikat di langit kedua: “Berhentilah dan tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu, dia berharap keduniaan. Allah memerintahkan kepadaku harus menahan amal ini jangan sampai lewat kepada langit yang lain. Maka Malaikat semuanya melaknat kepada orang tersebut sampai sore.”

    “Ada lagi Malaikat Hafadzoh yang naik dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan penuh dengan sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang oleh Malaikat Hafadzoh dianggap demikian banyaknya dan di puji. Akan tetapi sampai di langit ketiga, berkatalah Malaikat penjaga langit ketiga: “Berhentilah, tamparkanlah ke wajah pemiliknya amal ini, saya Malaikat penjaga kibir (orang yang sombong) Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini tidak melewati pintuku dan jangan sampai ke langit berikutnya. Salahnya sendiri dia takabbur kepada orang lain di dalam perkumpulan.”

    Singkatnya, Malaikat Hafadzoh naik ke langit dengan membawa amal hamba yang lain dan bersinar bagaikan bintang yang paling besar. Suaranya gemuruh penuh dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji dan umrah. Begitu sampai ke langit ke empat, Malaikat penjaga langit ke empat itu berkata: “Berhentilah jangan dilanjutkan, tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, saya ini penjaga ujub dan Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini jangan sampai lewat, sebab jika dia beramal selalu ujub.”

    Kemudian naik lagi Malaikat Hafadzah dengan membawa amal hamba yang diiringi seperti pengantin perempuan diiring kepada suaminya. Begitu sampai ke langit kelima dengan membawa amal yang begitu bagus, seperti jihad, ibadah haji, ibadah umrah, cahanya pun berkilauan bagaikan matahari. Berkata Malaikat penjaga langit kelima: “Saya ini penjaga sifat hasud, nah dia itu yang amalnya demikian bagus itu suka hasud/iri kepada orang lain atas kenikmatan Allah yang diberikan kepadanya. Jadi dia itu membenci kepada orang yang meridlokan kepada nikmat Allah (benci nikmat). Saya diperintahkan oleh Allah jangan membiarkan amal itu untuk melewati pintuku ke pintu yang lain.”

    Kemudian Malaikat Hafadzah naik lagi dengan membawa amal yang lain berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji dan umrah sehingga sampailah ke langit yang keenam dan berkata Malaikat penjaga pintu ini: “Saya ini Malaikat penjaga pintu Rahmat, nah amal yang seolah-olah bagus ini tamparkanlah ke wajah pemiliknya, salahnya sendiri bahwa dia itu belum pernah mengasihi orang lain. Apabila ada orang yang mendapatkan musibah dia merasa senang. Aku diperintahkan oleh Allah bahwa amalnya ini jangan melewatiku, supaya jangan sampai kepada yang lain.”

    Dan naik lagi Malaikat Hafadzah ke langit dengan membawa amal si hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad dan wara’. Suaranya pun bergemuruh seperti geledek, cahayanyapun bagaikan kilat. Begitu sampai ke langit ketujuh, berkata Malaikat penjaga langit yang ketujuh itu: “Saya ini penjaga sum’ah (ingin masyur), sesungguhnya si pengamal ini ingin termasyur dalam kumpulan-kumpulan dan selalu ingin tinggi di saat berkumpul dengan kawan-kawannya yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkan kepadaku agar amalnya itu jangan sampai melewatiku dan jangan sampai kepada yang lain. Dan tiap-tiap amal yang tidak bersih karena Allah, maka itulah riya. Allah tidak akan menerima dan mengabulkan amalnya orang-orang yang riya.”

    Kemudian Malaikat Hafadzah itu naik lagi dengan membawa amalnya hamba yakni: shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik dan pendiam tidak banyak omong, Dzikir kepada Allah. Kemudian diiring oleh Malaikat kelangit ketujuh sehingga sampai menerobos hijab-hijab dan sampailah ke khadirat Allah. Para Malaikat itu berdiri dihadapan Allah. Semuanya menyaksikan bahwa amal ini adalah amal shalih, yang diikhlaskan karena Allah.

    Tapi firman Allah: “Kalian adalah Hafadzah, pencatat amal hambaKu, sedang Akulah yang mengintip hatinya, amal yang ini tidak karena Aku, yang dimaksud olehnya itu adalah selain daripadaKu, tidak diikhlaskan kepadaKu. Aku lebih mengetahui daripada kamu apa yang dimaksud olehnya dengan amalnya itu. Aku laknat mereka, menipu kepada orang lain dan juga menipu kepadamu (Malaikat-Malaikat Hafadzah) Tapi Aku ini tidak akan tertipu olehnya. Aku ini yang paling tahu akan hal yang ghaib-ghaib.. Akulah yang melihat isinya hati, dan tidak akan samar kepadaKu setiap apapun yang samar, tidak akan tersembunyi bagiKu setiap apapun yang sembunyi. PengetahuanKu atas apa yang telah terjadi, sama dengan pengetahuanKu akan apa yang bakal terjadi. PengetahuanKu atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuanKu kepada apa yang akan datang. PengetahuanKu kepada orang-orang yang terdahulu sebagaimana pengetahuanKu kepada orang-orang yang kemudian.

    “Aku lebih tahu atas apapun yang lebih samar daripada rahasia, bagaimana akan bisa hambaKu dengan amalnya itu menipu kepadaku, bisa juga mereka itu menipu kepada makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui kepada yang ghaib-ghaib. LaknatKu tetap kepadanya.”

    Kata ketujuh Malaikat dan 3000 Malaikat yang menyertai: “Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknatMu dan laknat kami semua bagi mereka.”

    Maka semua yang ada dilangit mengucapkan: “Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang-orang yang melaknat.”

    Sayyidina Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) kemudian menangis dengan terisak-isak, dan berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari apa yang diceritakan baru saja?”

    Sabda Rasulullah SAW.: “Hai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan!”

    Aku bertanya kembali: “Gusti tuan ini adalah Rasulullah, sedang saya ini adalah si Mu’adz bin Jabal bagaimana saya bisa selamat dan bagaimana saya bisa terlepas dari bahaya tersebut?”

    Bersabda Rasulullah SAW.: “Ya begitulah, seandainya dalam amalmu ada kelengahan, maka tahanlah mulutmu jangan sampai menjelekkan orang lain dan juga kepada saudara-saudaramu sesama Ulama. Apabila kamu hendak menjelekkan orang lain, harus ingat kepada dirimu sendiri sebagaimana engkau pun tahu bahwa dirimupun penuh dengan aib-aib. Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekkan orang lain. Jangan mengangkat dirimu sendiri dengan menekan orang lain. Jangan riya dengan amalmu agar amalmu itu diketahui orang lain. Dan janganlah kamu termasuk kedalam golongan orang yang mementingkan keduniaan dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal di sebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik olehmu. Dan janganlah takabur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia akhirat. Dan jangan berkata kasar dalam satu majlis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlakmu. Jangan membangkit-bangkit apabila kamu berbuat kebaikan. Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain dengan sebab mulutmu, kelak engkau akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahanam yakni sebagaimana firman Allah: “WANNAASYITHAATI NASYTHAA”

    Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia. Jadi mengoyak-ngoyak daging dari tulang.

    Aku berkata: “Ya Rasulullah, siapa yang kuat menanggung penderitaan semacam ini.”

    Jawab Rasulullah SAW.: “Mu’adz, yang kami ceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT., cukup untuk menggalang semua itu. Kamu harus menyayangi orang lain sebagaimana kamu menyayangi dirimu sendiri. Dan benci kepada orang lain apa-apa yang dibenci oleh dirimu sendiri. Apabila demikian maka kamu akan selamat dan pasti dirimu akan terhindar.

    Kata Khalid bin Ma’dam (yang meriwayatkan hadits tersebut adari Sayyidina Mu’adz): “Sayyidina Mu’adz sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya membaca Al-Qur’an dan mempelajari hadits ini sebagaimana mempelajari Al-Qur’an dalam majlisnya.”

    Maka setelah kalian mendengar hadits ini yang demikian luhur beritanya, yang besar bahayanya dan atsarnya yang menyakitkan. Serasa akan terbang bila hati mendengarnya serta membingungkan akal dan menyempitkan dada serta penuh dengan hura-hura yang mengagetkan.

    Nah, apabila kamu telah mendengarnya, maka kamu harus berlindung kepada Tuhanmu, Tuhan seru sekalian alam. Diam dipintu, mudah-mudahan saja dibukakan dengan lemah lembut/merendahkan diri dan mendo’a, menjerit dan menangis semalam-malaman. Juga disiang hari bersama orang-orang yang merendahkan diri yang menjerit dan berdo’a kehadirat Allah. Sebab tidak akan bisa selamat dalam urusan ini kecuali dengan adanya rahmat Allah SWT., dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di laut ini kecuali dengan penglihatan dan taufiqNya dan inayat daripadaNya. [*]

    ***

    *Menuju Mukmin Sejati*

    Imam Al-Ghazali

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 11 November 2012 Permalink | Balas  

    Keutamaan Berdzikir, Berdo’a dan Bertobat  

    Suatu saat, selepas shalat, Rasulullah Saw berbagi sapa dan berbincang bincang dengan para sahabat tentang pelbagai hal. Dalam perbincangan itu, Rasulullah menyampaikan keutamaan majelis dzikir, do’a dan permohonan ampun kepada Allah Swt. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa Allah Swt boleh jadi mengabulkan do’a seorang hamba, menghindarkannya dari bencana yang belum turun, menyimpan pahala do’anya di akhirat atau menghapusnya dosa-dosanya.

    Beliau pun berceramah :

    Sesungguhnya Allah Swt memiliki beberapa malaikat yang terus menerus berkeliling mencari majelis dzikir. Ketika menemukan majelis dzikir, mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah.

    Ketika majelis itu usai, mereka bubar dan kemudian naik kelangit. Ketika berada dilangit, mereka ditanya oleh Allah Swt. Yang sebenarnya lebih tahu ketimbang mereka, “Kalian datang dari mana? !”

    “Kami datang dari sisi para hamba-Mu di bumi yang mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, mengesakan-Mu, memuji-Mu, dan memohon kepada-Mu!” jawab mereka.

    “Apa yang mereka minta?” tanya Allah Swt.

    “Mereka memohon surga-Mu, “jawab mereka penuh takzim.

    “Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?” tanya Allah swt lebih jauh

    “Tidak, wahai Tuhan,” jawab para malaikat dengan takzim.

    “Betapa seandainya mereka melihat surga-Ku?” kata Allah Swt.

    “Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu, “ucap mereka tetap takzim.

    “Dari apa mereka memohon perlindungan kepada-Ku?” tanya Allah Swt lagi.

    “Dari Neraka-Mu, wahai Tuhan,” Jawab mereka terus dengan takzim.

    “Apakah mereka melihat Neraka-Ku ?” tanya Allah Swt sekali lagi.

    “Tidak“ jawab mereka serempak.

    “Betapa seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku,” kata Allah Swt.

    “Mereka juga memohon Ampunan kepada-Mu, wahai Tuhan,” ucap mereka tetap dengan takzim.

    “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka mohon, dan melindungi mereka dari neraka,“ jawab Allah SWT.

    “Wahai Tuhan, tapi dalam majelis mereka ada seseorang yang berdosa yang hanya kebetulan lewat lantas duduk bersama mereka,” lapor mereka.

    “Dia juga Kami ampuni. Sebab, orang yang mau duduk bersama mereka tidak celaka !” jawab Allah SWT.

    ***

    Sumber : buku “Mutiara Akhlak Rasulullah SAW” , penulis : Ahmad Rofi’ Usmani

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 9 November 2012 Permalink | Balas  

    Tingkatan Istighfar 

    Tingkatan Istighfar

    Di sebuah majelis pengajian Imam Hasan Al Bashri hadirlah seorang gembong penjahat. Beliau sendiri tidak pernah mengenalnya, hanya tahu namanya saja. Orang menyebutnya, Atabatul Ghulam. Siapa yang tidak kenal dengan kejahatan dan kekejamannya. Bahkan, tokoh ini sudah layak disebut orang fasik.

    Di tengah sesi tanya jawab, seorang jamaah mengajukan pertanyaan kepada Hasan Al Bashri, Ya Syekh, bagaimana jika seseorang sudah sangat keterlaluan mengerjakan kemaksiatan, apakah dosanya bisa diampuni Allah?

    Ulama besar dan tokoh sufi ini menjawab, Apabila penuh kesadaran dan dengan hati yang sungguh-sungguh bertobat menurut syarat-syaratnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, sekalipun dosanya itu seperti yang dilakukan Atabatul Ghulam.

    Betapa terkejutnya tokoh penjahat ini ketika dirinya dijadikan contoh pelaku dosa besar. Namun Allah tetap berkenan memberikan ampunan, seandainya ia mau bertobat sepenuh hati.

    Ada apa dengan istighfar?

    Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Luasnya ampunan Allah tidak bisa kita ukur atau kita batasi. Allah selalu membuka Diri-Nya untuk memberi ampunan bagi setiap hamba yang pernah menyimpang dari jalan-Nya. Bertaburan ayat dalam Alquran dan hadis Nabi yang menunjukkan betapa Maha Pengampunnya Allah SWT. Tidak hanya akan mengampuni, bahkan dengan kasih sayang-Nya, Allah mengajak setiap pendosa untuk bersegera kembali kepada-Nya.

    Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134, Allah SWT berfirman, Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    Ayat ini diawali dengan kata wassyarii’u atau dan bersegeralah yang berbentuk fiil amr (bentuk perintah). Mengapa Allah memerintahkan manusia bersegera (dengan bersungguh-sungguh) mendatangi ampunan-Nya? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, waktu yang dimiliki manusia sangat terbatas–berkisar 60 sampai 70 tahun–dan Allah hanya akan menerima tobat seseorang sebelum ajalnya tiba. Kedua, tidak semua orang mendapatkan ampunan Allah, walau Dia membuka lebar-lebar pintu tobat bagi hamba-Nya yang berdosa. Ketiga, tidak semua orang memiliki kesadaran dan perhatian terhadap arti penting bertobat dan maghfirah Allah SWT.

    Ada hal menarik dalam susunan ayat tersebut. Perintah untuk mendapatkan maghfirah Allah diungkapkan lebih dulu daripada perintah untuk mendapatkan syurga. Apa sebabnya? Jelas, bila kita mendapatkan maghfirah maka syurga pun otomatis akan kita raih. Maka, hal pertama yang kita lakukan adalah berusaha optimal untuk mendapatkan maghfirah Allah dan bertobat kepada-Nya.

    Apa perbedaan antara maghfirah dan tobat? Kedua kata ini hakikatnya merujuk pada hal serupa, yaitu kembali kepada Allah setelah melakukan dosa. Secara umum maghfirah berasal dari kata ghafara, yang berarti menutupi atau menyembunyikan. Orang Arab berkata, Ghafara al-syaib bil khidhab. Ia menyembunyikan ubannya dengan celupan. Jadi maghfirah dapat diartikan dengan ampunan Allah di mana Dia menutupi dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Cara kita memohon maghfirah Allah disebut istighfar. Dengan istighfar, kita meminta kepada Allah agar kita dipelihara dari konsekuensi dosa, dari akibat-akibat dosa, atau dari hal-hal buruk yang terjadi karena dosa tersebut. Ali bin Abi Thalib berkata, Pakailah wewangian istighfar, supaya Allah tidak mempermalukan kalian dengan bau busuk dari dosa-dosa kalian. Sedangkan tobat berarti kembali dari perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya kepada perbuatan baik.

    Mengapa kita harus ber-istighfar? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, Allah SWT telah memberikan nikmat melimpah kepada kita. Dan, nikmat tersebut harus kita syukuri sebagai hak Allah. Masalahnya kemampuan kita untuk mensyukuri nikmat sangatlah terbatas. Karena itu kita beristighfar atas ketidakoptimalan kita dalam menunaikan hak-hak Allah tersebut. Kedua, pada hakikatnya manusia membutuhkan ampunan Allah. Sesempurna apapun manusia pasti tidak akan pernah luput dari kesalahan. Ketiga, istighfar adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang bertakwa. Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134 di awal, Allah SWT menunjukkan bahwa istighfar merupakan karakteristik utama orang bertakwa. Ia mendahulukan beristighfar sebelum menjalankan amalan-amalan pelengkap lainnya, seperti menafkahkan harta-baik pada saat lapang ataupun sempit, menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

    Enam tahap Istighfar

    Istighfar itu kunci ibadah. Maka bersegeralah menuju ampunan Allah. Ketahuilah, Allah teramat bahagia saat seorang hamba kembali kepada-Nya. Kebahagiaan Allah melebihi bahagianya seseorang yang kehilangan unta dan semua perbekalannya di padang pasir, lalu ia menemukannya kembali tanpa kurang satu apapun. Namun, Istighfar bukan sekadar ucapan tanpa penghayatan yang memengaruhi perilaku. Istighfar mengandung sejumlah konsekuensi agar seorang pendosa berhak mendapat ampunan Allah SWT.

    Pertanyaannya, istighfar seperti apa yang memenuhi syarat ampunan Allah? Simaklah kisah berikut ini. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib melewati seorang yang sedang mengulang-ulang kata astaghfirullah. Ali menegurnya, Celaka kamu. Tahukah kamu apa arti istighfar? Istighfar ada pada tingkat yang sangat tinggi. Istighfar mengandung enam makna. Pertama, penyesalan akan apa yang sudah kamu lakukan. Kedua, bertekad untuk tidak mengulangi dosa. Ketiga, mengembalikan kembali hak makhluk yang sudah kamu rampas, sampai kamu kembali kepada Allah dengan tidak membawa hak orang lain padamu. Keempat, gantilah segala kewajiban yang telah kamu lalaikan. Kelima, arahkan perhatianmu kepada daging yang tumbuh karena harta yang haram. Rasakan kepedihan penyesalan sampai tulang kamu lengket pada kulitmu. Setelah itu tumbuhkanlah daging yang baru. Keenam, usahakan agar tubuhmu merasakan sakitnya ketaatan, setelah kamu merasakan manisnya kemaksiatan. Setelah memenuhi semua syarat itu, ucapkanlah Astaghfirullah.

    Semoga Allah memampukan kita menapaki tingkat demi tingkat istighfar ini. Amin. (tri )

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 8 November 2012 Permalink | Balas  

    Pujian dan Doa

    Oleh : Siti Nuryati

    Pujian adalah fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak tujuan orang memberi pujian. Ekspresi kekaguman, sekadar basa-basi atau bisa juga pujian yang diucapkan untuk menjilat. Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi hal positif yang dapat memotivasi untuk terus meningkatkan diri. Namun kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, bahkan takabur.

    Semakin sering orang lain memuji, makin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri. Rasulullah SAW memberi teladan yang menarik menyikapi pujian ini.

    Pertama, selalu mawas diri agar tidak terbuai pujian yang dikatakan orang. Setiap kali ada yang memuji, Rasulullah SAW menanggapinya dengan doa. ”Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan orang-orang itu.” (HR Al-Bukhari). Lewat doa ini, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pujian berpotensi menjerumuskan kita.

    Kedua, kalaupun sisi baik tentang kita itu benar adanya, Rasulullah SAW mengajarkan agar memohon kepada Allah SWT menjadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. ”Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira.” (HR Al-Bukhari).

    Selain memberi kiat menyikapi pujian, Nabi SAW dalam kesehariannya juga memberi contoh bagaimana mengemas pujian yang baik agar tidak menjerumuskan dan merusak kepribadian yang kita puji. Dalam kesehariannya, Nabi SAW tidak memuji di hadapan yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam.

    Setelah mendapat jawaban Nabi SAW, orang Badui itu berjanji menjalankannya dengan konsisten. Setelah si Badui pergi, Nabi SAW memujinya di hadapan para sahabat. ”Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

    Rasulullah SAW juga lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibnu Abbas mendalami tafsir Alquran, Nabi SAW tidak serta-merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibnu Abbas. ”Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Alquran).” (HR Al-Hakim).

    Begitu pula ketika melihat ketekunan Abu Hurairah dalam mengumpulkan hadis dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihafalnya. Doa ini dikabulkan Allah SWT, sehingga Abu Hurairah sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis.

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 7 November 2012 Permalink | Balas  

    Miskin Atau Kayakah Saya?

    “Orang miskin susah diatur, maunya dikasihani terus”. Barangkali kita pernah mendengar ungkapan ini, atau kalimat serupa, bisa jadi mungkin sering. Pola berinteraksi kita antar sesama, hablum minannas, bergeser dari tatanan semula yang diinginkan. Tatanan yang dimaksud, tak lain adalah pola yang disokong dengan etika-etika rabbani, hablum minallah.

    Walhasil, yang terjadi bukanlah saling hormat menghormati, dan memberi. Melainkan sifat congkak dan takabur. Jarak antara si miskin dan si kaya, seakan semakin jelas, dan memperlihatkan kepada kita bahwa dikotomi status, atau kasta dalam tradisi India, kian Alas dan legal saja.

    Tidak bermaksud untuk menyalahkan si kaya, toh harta dan kekayaan termasuk kebutuhan asasi, setiap orang pasti punya keinginan memilikinya “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak…” QS. Ali Imran (3) : 14. Keinginan itu manusiawi. Lantas apa masalahnya? Benar, apabila fitrah itu tidak lagi tulus, berubah menjadi ambisi yang berujung pada hubbuddunya, cinta akan dunia yang berlebihan. Ya, ujung-ujungnya, kita menduga bahwa gemerlap, kekayaan duniawi itu milik kita.

    Lebih naïf lagi, jika ambisi itu mendorong si kaya untuk mengatakan dengan lantang :”wahai si miskin, seakan lupa bahwa segala yang dimiliki adalah titipin, amanat, bahkan ujian dari Allah swt: “dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”, QS. Al Anfal (8) : 28.

    Tidak bolehkah saya kaya? Sudah Tentu boleh. Sebab, kemiskinan sendiri seperti yang pemah diriwayatkan adalah salah satu bibit kekufuran, Islam dengan tegas melawannya.

    Kemudian, kaya seperti apakah yang dimaksudkan? ni’ma al mal al shalih li al abdi al shalih (sebaik-baik harta ialah yang dimiliki oleh seorang hamba yang shaleh”, demikian Rasul saw bersabda. Tak lain, kekayaan yang dimaksudkan dalam Islam ialah yang menuntun pada kesalehan spiritual, pribadi dan sosial.

    Kondisi masyarakat kita, dan umat Islam pada umumnya, ternyata masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sudah seharusnya di sinilah letak peran orang kaya berada. Al takaful al ijtima’i, solidaritas sosial, peka akan sesama, tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Inilah konsep Islam.

    Kuatir harta akan berkurang? Allah swt menjanjikan harta yang pernah diinfakkan tidak akan berkurang, QS. Saba’ (34): 39, Allah akan mengganti harta tersebut. Yakinlah bahwa rizki ada ditangan Nya. Disamping itu, Allah swt tidak pernah memerintahkan untuk mensedekahkan seluruh harta, hanya sebagian saja, mimma tuhibbuun, secukupnya dari apa yang kita sukai.

    Bukan berarti ada anjuran bersedekah, lantas seluruh harta diinfakkan. Keseimbangan disini sangatlah dituntut. Manakah jatah untuk keluarga dan sebagian harta manakah yang hendak dinafkahkan. “wa laa tabsuth-haa kullal basthi..”, janganlah kamu terlalu mengulurkannya QS. Al Isra’ (17) : 29.

    Beramal, namun tidak melalaikan kewajiban terhadap anak, istri dan keluarga. Berinfak, tapi tidak mengesampingkan kebutuhan yang bersifat wajib.

    Selanjutnya, kemurahan hati si kaya seharusnya disikapi dewasa oleh sang miskin. Kondisi ekonomi yang dihadapi, tidak membuatnya membutakan mata hati, dan mengambil jalan pintas, atau sekedar berpangku tangan. Bilakah si miskin sadar bahwa kondisi tersebut adalah ujian, seberapa tabahkah ia menjalani. Sungguh hebat prinsip yang dimiliki seorang mukmin, yang apabila ditimpa kesusahan.dia bersabar, sebaliknya ketika mendapat nikmat ia syukuri. Demikian sabda Nabi saw.

    Tidak menjadi jaminan bahwa seorang yang kaya, lebih dalam hal spiritual dari si miskin. Kita akan menemukan potret, seorang hartawan yang enggan berbagi, dan acuh tak acuh terhadap saudaranya. Tepat jika rasul saw pernah bersabda” kekayaan bukanlah hanya harta dan pangkat, melainkan ketenangan jiwa”.

    Antara si miskin dan si kaya, sudah semestinya saling mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Keduanya mendapat ujian yang sama, harta dan kekayaan, yang membedakan hanyalah kesabaran yang dimiliki, mampukah sang hartawan dan si miskin menjaga hati kemudian bertanya pada nalurinya, miskin atau kayakah saya? Allahumma inna nasaluka al taufiq wa al sadad

    ***

    Nashih Nashrulloh

    Sumber: Tabloid Khalifah Edisi 28/Th II/2006

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 6 November 2012 Permalink | Balas  

    Para Peminat Neraka (Bagian 2 Habis)

    (Ach. Muchlis)

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nanti pada hari kiamat ada suara yang menyeru: ‘Hadirkan Fir’aun kemari!’ Maka fir’aun didatangkan, di kepalanya dipasang peci dari api neraka, dipakaikan baju gatharan atau tir serta menunggang babi. Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana orang‑orang yang sombong dan takabur?’ Mereka pun didatangkan dan berangkat ke neraka bersama Fir’aun sebagai pemimpinnya.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Qabil?’ Maka Qabil pun dihadirkan. Kemudian dikatakan: ‘Mana orang‑orang yang dengki?’ Kemudian mereka dikumpulkan dengan Qabil sebagai pemuka mereka menuju neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Ka’ab bin Asyraf pemuka ulama Yahudi?’ Ka’ab pun didatangkan kemudian ada seruan memanggil: ‘Maka malaikat menggiring mereka bersama Ka’ab sebagai pemimpinnya ke neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Walid bin Mughirah?’ Walid pun didatangkan kemudian ada panggilan: ‘Mana orang‑orang yang mengejek orang‑orang muslim yang fakir?’ Walid menjadi pemuka mereka menuju neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Ajda, orang yang celaka yang telah melakukan liwath dari kaum Nabi Luth?’ Ajda pun didatangkan lalu ada panggilan: ‘Mana orang‑orang yang melakukan liwath?’ Merekapun didatangkan dan Ajda sebagai pemimpin masuk neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Musailamatul Kadzdzab? Diapun didatangkan. Dan dia memanggil orang‑orang yang mendustakan kitab suci Al‑Qur’an. Dia adalah pemuka mereka masuk neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Iblis terkutuk?

    Iblis pun didatangkan dan berkata: ‘Wahai Hakim Yang Maha Adil, datangkanlah kepadaku tentaraku. Para muadzinku, para pembacaku, mereka yang sejalan denganku, para menteriku, para ahli fiqihku, para penjagaku, para pedagangku, para pemukul genderangku serta para penghalauku!’

    (iblis ditanya)

    Suara : Hai Iblis terkutuk dan terusir , siapakah para tentaramu itu?

    Iblis : Tentaraku ialah mereka yang mempunyai sifat rakus, para muadzinku ialah orang‑orang yang salah bacaannya, para pembacaku ialah para penyanyi, mereka yang sejalan denganku ialah mereka yang mengiris muka dan tangannya kemuka, diberi nila serta siapa saja yang minta diperlakukan demikian, para ahli fiqihku ialah mereka yang mengejek orang‑orang yang terkena musibah serta menghina orang‑orang yang makan barang halal, para penjagaku ialah mereka yang mendatangi almari arak dan yang tidak mau mengeluarkan zakat, para pedagangku ialah mereka yang menjual barbathah (batang dan bunga terlarang), para pemukul genderangku adalah orang‑orang yang menabuh rebana (alat musik), para penghalauku ialah mereka yang menanam pohon‑pohon anggur untuk dijadikan minuman yang memabukkan.

    Kemudian keluarlah seekor ular yang panjang lehernya sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Ular itu mengumpulkan mereka semua lalu menggiring ke neraka. (Tafsirur Taisir)‑(Durratun Nasihin II. Hal 34‑41)

    Di hari itu tidak berguna tuduhan dan makian, yang ada hanya ungkapan kemarahan mereka terutama terhadap Iblis, seperti yang digambarkan Allah dalam Al‑Qur’an:

    Dalam orang‑orang kafir itu berkata (di hari kiamat): ‘Ya Tuhan kami! Tunjukkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami, dari golongan jin dan manusia supaya kami jadikan mereka di bawah telapak‑telapak kaki kami agar mereka menjadi orang‑orang rendah.

    (QS. Fushshilat, 41:29)

    Demi mendengar tuduhan dan makian para ahli neraka terhadap dirinya, lalu Iblis menyampaikan pidatonya di hadapan mereka untuk membela diri. Firman Allah Swt: Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjajikan kepadamu tetapi aku mengingkarinya. Sekali‑kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekedar aku mengajakmu lalu kamu perkenankan aku; oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku; akan tetapi cercalah diri kamu sendiri. Aku sekali‑kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali‑kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali‑kali tidak dapat menolong aku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kamu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang‑orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS, Ibrahim, 14:22)

    Maka sebagian dari mereka berusaha untuk minta tolong kepada para pemimpin mereka sewaktu di dunia yang telah menyesatkan dan menyebabkan mereka dicampakkan di neraka, seperti firman Allah: Dan tatkala mereka akan berbantahan di neraka, yaitu orang‑orang yang lemah (para pengikut akan berkata kepada mereka yang sombong,

    Pengikut : Sesungguhnya kami pengikut‑pengikut kamu, maka bisakah kamu hindarkan dari kami sebagian dari azab neraka ini?

    (Mereka yang sombong itu berkata)

    Pemimpin: Kita semua berada di dalamnya, sesungguhnya Allah telah jatuhkan hukuman antara hamba‑hamba‑Nya. (QS, Al‑Mukmin, 40:47‑48)

    Karena tidak tahan terhadap kepedihan siksa neraka, mereka memohon keringanan kepada Tuhan melalui malaikat‑malaikat penjaga neraka, seperti firman Allah: Dan orang‑orang yang di neraka berkata kepada penjaga‑penjaga Jahannam.

    Ahli Neraka : Mintakanlah kepada Tuhan kamu supaya ia meringankan dari kami sehari saja dari azab.

    Malaikat : Dan bukankah telah datang kepada kamu rasul‑rasul kamu dengan membawa keterangan‑keterangan?

    Ahli Neraka : Ya.

    Malaikat : Kalau begitu, berdoalah kamu; dan tidak ada doa orang‑orang yang kafir itu melainkan dalam kesesatan. (QS, Al‑Mukmin, 40:49‑50)

    Mendengar jawaban dari malaikat‑malaikat penjaga neraka itu, mereka lalu berputus asa

    Sehingga yang mereka idam‑idamkan hanyalah kematian, seperti firman Allah:

    Dan mereka memanggil: ‘Hai Malik! hendaklah Tuhanmu hukumkan kematian atas kami.’ Ia jawab: ‘Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal (di dalam neraka ini).’ (QS,Az‑Zukhruf, 43:77)

    Kemudian mereka memohon langsung kepada Tuhan dengan doa yang sangat menyayat hati, seperti yang difirmankan Allah: Dan mereka berteriak di dalam neraka: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan kerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ (QS. Fathir, 35:37)

    Berkenaan dengan permohonan ahli neraka itu, Tuhan mengadakan dialog langsung dengan mereka, seperti firman Allah dalam Al‑Qur’an,

    Allah: Bukankah ayat‑ayat Ku telah dibacakan kepada kamu sekalian tetapi kamu mendustakan-nya?

    Ahli Neraka: Ya Tuhan! kami telah dikuasai oleh kejahatan kami dan kami adalah orang‑orang yang sesat. Ya Tuhan kami! keluarkanlah kami dari neraka ini (kembalikanlah kami ke dunia). Jika kami kembali (kafir) maka sesunguhnya kami orang‑orang yang zalim.

    Allah: Tinggalah kamu di dalamnya dan janganlah kamu berkata‑kata kepada‑Ku.

    Sesungguhnya ada segolongan dari hamba‑hambaKu berdoa (sewaktu di dunia): ‘Ya Allah! Kami telah beriman, maka ampunkanlah kami, lantaran Engkau sebaik‑baik pengasih. ‘Tetapi kamu jadikan mereka ejekan, hingga (kesibukan kamu mengejek mereka) menyebabkan kamu lupa mengingat‑Ku, dan kamu selalu mentertawakan mereka.

    Sesungguhnya pada hari ini Aku ganjari mereka dengan sebab kesabaran mereka, sesungguhnya merekalah orang‑orang yang dapat kemenangan. (QS, Al‑Mukminun, 23:105‑111)

    Pada hari itu tidak ada penolong‑penolong bagi orang‑orang kafir. Nabi Ibrahim as ingin menolong ayah kandungnya, Azar, si penyembah berhala, tetapi tidak sanggup. Bahkan doa beliau ditolak keras oleh Allah, seperti disebutkan dalam sebuah hadits: Pada hari kiamat nanti Nabi Ibrahim bertemu dengan ayahnya (Azar), pada waktu itu nampak wajah Azar hitam gelap, kemudian Nabi Ibrahim berkata: ‘Bukankah aku sudah mengingatkanmu agar kamu jangan memusuhi aku.’ Ayahnya menjawab: ‘Hari ini aku tidak akan memusuhi engkau.’ Ibrahim berkata: ‘Ya Allah, Engkau telah berjanji, janganlah Engkau menyusahkan kami pada hari kebangkitan ini dan tidak ada hal yang menyusahkan kami kecuali kesusahan yang akan diderita oleh ayahku.’ Tiba tiba Allah Swt menjawab: ‘Sesungguhnya Aku telah mengharamkan surga bagi orang‑orang kafir.’ Kemudian Ibrahim berkata kepada ayahnya: ‘Hai ayah, cobalah kau lihat apa yang ada di bawahmu itu.’ Setelah Azar melihatnya, tiba‑tiba nampak olehnya seperti ayam baru disembelih. Tidak antara lama kedua kaki Azar diserimpung kemudian dicampakkan ke dalam neraka. (HR. Imam Bukhari)

    Allah pernah menggambarkan penderitaan para ahli neraka kepada Nabi Musa as: ‘Wahai Musa, Neraka Wail adalah untuk perusak janji dan amanat, mereka akan disalib pada pohon Zaqqum dimana api masuk dari duburnya dan keluar lewat mulutnya, kedua telinga serta kedua matanya. Wahai Musa sungguh mereka akan digandengkan dengan setan‑setan dalam rantai‑rantai dan belenggu‑belenggu yang digantungkan pada mulutnya dimana otaknya mengalir melalui lubang hidungnya. Sekejab matapun tak akan dapat tidur, tak akan pernah merasa enak. Orang‑orang kafir sama memohon keamanan dengan minta mati karena dahsyatnya siksaan. Demikian juga para perusak janji, mereka memohon selamat dengan minta mati. Tidak ketinggalan para pezina, pemakan riba dan orang‑orang yang meninggalkan shalat. Mereka disiksa dalam neraka berwindu‑windu. Wahai Musa, andaikan air laut didatangkan, pohon‑pohon sebagai pena, manusia‑manusia dan jin‑jin sebagai juru tulis, maka sungguh habislah pena‑pena dan rusaklah manusia‑manusia dan jin‑jin serta keringlah seluruh air lautan sebelum bilangan windu Jahannam selesai ditulis (dihitung)’

    (Berita Ghaib dan Alam Akhirat, hal 178‑M. Ali Chasan Umar)

    Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Jibril as.

    Nabi : Apakah yang dimaksud Al‑Huqub (sewindu) itu?

    Jibril : Yaitu 4000 (empat ribu) tahun.

    Nabi : Setahun berapa bulan?

    Jibril : 4000 (empat ribu) bulan.

    Nabi : Sebulan berapa hari?

    Jibril : 4000 (empat ribu) hari.

    Nabi : Sehari berapa jam?

    Jibril : 70.000 (tujuh puluh ribu) jam dan setiap jam adalah satu tahun menurut dunia.

    (Dari Berita Alam Ghaib dan Alam Akhirat, hal. 179‑Idem)

    Diriwayatkan dari Ubaya bin Ka’ab, ia berkata: Nabi Saw bersabda: kelak di hari kiamat peminum arak didatangkan dengan kendi dikalungkan pada lehernya dan tambur pada kedua tapak tangannya lalu ditancapkan di atas tonggak dari neraka. Kemudian penyeru memanggil: ‘Inilah Fulan bin fulan dalam kedudukan seperti itu.’ Maka keluarlah arak dengan deras dari mulutnya. Merasa sangat sakit dan bau busuk keringatnya yang amat sangat, mereka memohon kepada Allah agar dihilangkan keringat mereka namun tidak dikabulkan. Jika mereka minta minum, maka diberi air yang mendidih hingga rontoklah usus‑ususnya.

    Jika mereka minta makan, maka diberi buah Zaqqum hingga meletus dan mendidihlah apa yang ada di dalam perut‑perut dan dalam otak‑otak mereka. Kemudian keluarlah nyala api neraka dari dalam mulutnya, maka rontoklah semua isi perut mereka. Tiap seorang dari mereka dimasukkan dalam satu peti yang sangat sempit dari bara api selama 1000 tahun. Kemudian dikeluarkan dan dimasukkan dalam kurungan neraka serta dibelenggu di dalamnya. Mereka menjerit‑jerit selam satu tahun tetapi tidak dikasihani. Di dalam kurungan itu terdapat ular‑ular dan kala‑kala sebesar onta. Ular‑ular itu menggerogoti telapak kakinya tapi ia tidak dapat memukulnya. Pada kepada mereka dituangi tembaga dari api, dan besi pada ubun‑ubunnya. Rantai melilit leher mereka dan belenggu‑belenggu pada tangannya.

    Setelah 1000 tahun mereka dikeluarkan dan langsung dilongtarkan ke dalam (neraka) Wail selama 1000 tahun. Kemudian mereka sama memanggil: ‘Wahai Muhammad! Aduh Muhammad!’ Begitu mendengar suara ummatku.’ Allah menjawab: ‘Itu suara peminum arak, mereka mati dalam keadaan mabuk, dihalau ke padang Mahsyar juga dalam keadaan mabuk.’ Lalu Nabi Saw memohonkan syafa’at: ‘Ya Allah keluarkanlah mereka dari neraka dengan syafa’atku.’ Permohonan Rasulullah dikabulkan, maka tidak kekallah mereka di sana.

    Tentang keadaan para peminat neraka, dilukiskan dalam riwayat lain yaitu setelah Allah memutuskan hukuman dan pengadilan‑Nya terhadap mereka, ia memerintahkan Jibril as.

    Allah: Wahai Jibril, apakah perbuatan para pendurhaka dari Ummat Muhammad?

    Jibril: Engkau yang Maha mengetahui tentang keadaan mereka.

    Allah: Pergilah dan saksikanlah keadaan mereka.

    (Maka Jibril mendatangi Malik yang sedang di atas mimbar dari api di tengah‑tengah Jahannam. Ketika Malik melihat Jibril, ia berdiri untuk menghormatnya dan berkata),

    Malik: Wahai Jibril, gerangan apakah yang memasukkan engkau ke tempat ini?

    Jibril: Karena ingin menyaksikan orang‑orang yang berdosa dari ummat Muhammad.

    Malik: Alangkah jeleknya keadaan mereka dan alangkah sempitnya tempat mereka. Api telah membakar daging‑daging mereka tinggallah wajah‑wajah dan hati‑hati mereka yang memancarkan cahaya iman.

    Jibril: Bukakanlah hijab agar dapat aku menyaksikan mereka.

    (Lalu Malik memerintahkan agar hijab diangkat. Setelah mereka melihat Jibril as yang indah rupanya, mereka mengira ia bukan malaikat azab, mereka bertanya),

    Ahli Neraka: Siapakah hamba ini? Tak pernah ada seorang pun yang datang seindah itu.

    Malik: Inilah Jibril as. Dialah yang menyampaikan wahyu kepada Muhammad.

    (Setelah mereka mendengar nama Muhammad Saw mereka semua berteriak, menjerit dan menangis).

    Ahli Neraka: Wahai Jibril, sampaikan salam kami kepada Muhammad dan beritahukanlah tentang kejelekan keadaan kami.

    (Kemudian Jibril menghadap Allah, Allah bertanya walaupun sudah tahu)

    Allah: Bagaimana kamu melihat keadaan umat Muhammad?

    Jibril: Wahai Tuhanku, bukan main jeleknya keadaan mereka dan bukan main sempitnya tempat mereka.

    Allah: Apakah mereka minta sesuatu kepadamu?

    Jibril: Benar ya Allah, mereka memohon agar aku menyampaikan salam mereka kepada Muhammad dan memberitahukan tentang kejelekan keadaan mereka.

    Allah: Pergilah kepadanya dan sampaikan kepadanya.

    (Kemudian Jibril as menemui Nabi Saw sambil menangis, sedangkan beliau berada dalam kemah dari intan yang putih yang memiliki 4000 pintu di bawah pohon Thuba di surga. Setiap pintu terdiri dua surup, satu surup dari emas dan yang satunya dari perak)

    Nabi : Apakah yang kau tangisi wahai saudaraku Jibril?

    Jibril : Wahai Muhammad, andaikan engkau melihat apa yang kulihat engkau sungguh menangis karena tangisku. Aku telah mendatangi orang‑orang yang berbuat maksiat dari ummatmu yang sedang disiksa. Mereka menyampaikan salam kepadamu. Mereka berkata: ‘Alangkah jeleknya keadaan kami dan alangkah sempitnya tempat kami.’ Dengarlah teriakan mereka. Mereka mengucapkan: ‘Wahai Muhammad!’

    (Begitu mendengar ucapan mereka, beliau menjawab, ‘Labbaikum labbaikum yaa ummati = Aku datang, aku datang wahai ummatku.’ Kemudian nabi Saw berdiri menangis datang di sisi Arsy dan para nabi berada di belakang beliau. Beliau lalu bersujud dan memuji kepada Allah dengan pujian yang tak seorang pun memuji seperti itu. Allah lalu berkata),

    Allah: Hai Muhammad, angkatlah tanganmu dan mintalah, kamu pasti diberi dan mohonlah syafa’at, kamu pasti diberi syafa’at.

    Nabi: Ya Allah, orang‑orang celaka dari ummatku telah lepas dari sidang pengadilanMu sedangkan hukum adalah urusan‑Mu. Engkau telah menyiksa mereka. Aku mohon agar engkau berkenan memberi syafa’at kepadaku.

    Allah: Aku telah memberikan syafa’at kepadamu untuk mereka.

    (Maka Nabi Saw datang beserta para Nabi untuk mengeluarkan setiap orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Muhammadun Rasulullah. Malik menghormati beliau. (Nabi Saw berkata):

    Nabi: Bagaimanakah keadaan ummatku yang celaka?

    Malik: Sangat jelek keadaan mereka dan sangat sempit tempat‑tempat mereka.

    Nabi: Bukakanlah pintu dan angkatlah anjat‑anjatan.

    (Setelah mereka melihat Nabi Saw mereka berteriak)

    Ahli Neraka: Aduh Muhammad, api telah membakar kulit‑kulit dan daging‑daging kami. Engkau telah meninggalkan dan melupakan kami di dalam neraka.

    Nabi: Sesungguhnya aku tak mengerti keadaan kalian.

    Kemudian mereka dikeluarkan dari neraka, keadaan mereka rusak karena dimakan api. Lalu nabi Saw pergi bersama mereka ke sungai di tepi pintu surga yang disebut ‘Nahrul Hayat’. Setelah mereka mandi di situ, keadaan mereka menjadi muda belia, semuanya sebaya. Wajah wajah mereka bersinar seperti bulan. Kening‑kening mereka tertulis tanda pembebasan dari Neraka. Setelah mereka memasuki surga mereka memohon agar tulisan itu dihapuskan Allah, maka Allah menghapuskannya.

    Hadits lain dari Abu Hurairah, ia berkata: bersabda Rasulullah Saw: Bahwasanya syafa’atku di hari kiamat (dalam neraka) ialah terhadap ummatku yang mengerjakan dosa besar. Mereka dimasukkan hanya pada pintu pertama neraka Jahannam. Wajah mereka tidak hitam, mata mereka tidak buta, tidak dibelenggu dengan rantai, tidak didampingkan bersama setan, tidak dicambuk dengan maqami (cemeti dari api) serta tidak dilemparkan ke lapisan neraka yang paling bawah. Mereka tinggal di neraka hanya sehari saja, ada yang sebulan, dan ada yang setahun, sesudah itu mereka dikeluarkan. Adapun mereka yang paling lama mengeram di neraka hanya selam ia hidup di dunia semenjak ia dijadikan sampai meninggal yaitu tujuh puluh tahun. (HR. Hakim dan Tirmidzi)

    Melihat orang‑orang Islam ditanting keluar dari neraka, kemudian memperoleh kenikmatan‑ kenikmatan yang luar biasa, maka tiada taranya penyesalan orang‑orang kafir, seperti yang difirmankan Allah: Orang‑orang kafir itu akan menginginkan sekiranya mereka dahulu menjadi orang Muslim. (QS, Al ‑ Hijr, 15:2)

    Wassalam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 5 November 2012 Permalink | Balas  

    Neraka

    (Ach. Muchlis)

    Allah Swt berfirman dalam Al‑Qur’an: Dan sesungguhnya Jahannam itu tempat yang dijanjikan bagi mereka sekalian. Ia mempunyai tujuh pintu; tiaptiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka (pengikutpengikut iblis). (QS. Al‑Hur, 15: 43:44)

    Tentang pintu‑pintu neraka, Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Jibril as: ‘Apakah keadaan pintu‑pintu neraka itu seperti pintu rumahku?’ Jawab Jibril: ‘Tidak, tetapi pintu neraka terbuka di bawah yang lain.’

    Dalam sebuah riwayat, Wahab bin Munabbih berkata, Jarak satu pintu ke pintu lainnya bisa ditempuh dengan perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintunya sangat panas dari yang lain dengan perbandingan tujuh puluh kali.

    (Mukhtashar Tadzkiratul Qurthuby, Dari Calon‑Calon ahli Surga dan Ahli Neraka ‑ M. Alli Chasan Umar)

    Rasulullah Saw, dalam riwayat lain, pernah berdialog dengan Malaikat Jibril as,

    Rasulullah: Siapakah orang‑orang yang menempati pintu‑pintu neraka itu?

    Jibril: Pintu pertama (paling bawah) namanya Hawiyah, ditempati orang‑orang munafik dan kafir. Pintu kedua namanya Jahim, ditempati orang‑orang musyrik. Pintu ketiga namanya Saqar, ditempati orang‑orang Shabiin (orang‑orang yang menukar agama, para penyembah bintang, yang mengaku beragama Nabi Nuh). Pintu keempat namanya Ladhaa, ditempati Iblis dan para pengikutnya serta orang‑orang Majusi (penyembah api). Pintu kelima namanya Huthamah, ditempati orang‑orang Yahudi. Pintu keenam namanya Sa’ir, ditempati orang‑orang Nasrani. Pintu ketujuh ditempati orang‑orang yang berbuat dosa besar dari golongan umatmu yang sampai mati mereka belum bertobat.

    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Jibril tidak menerangkan penghuni pintu ketujuh sehingga Rasulullah Saw bertanya: ‘Wahai Jibril mengapa engkau tidak menuturkan kepadaku penghuni pintu ketujuh? Jibril berkata: ‘Wahai Muhammad, tak usahlah engkau tanyakan hal itu kepadaku’. Kata Nabi Saw: ‘Baiklah kalau begitu.’ Maka Jibril berkata: ‘Wahai Muhammad, yaitu para pembuat dosa‑dosa besar dari ummatmu. Mereka mati sebelum bertobat. ‘Seketika itu Nabi Saw pingsan.

    Dan setelah sadar beliau berkata: ‘Wahai Jibril, besar sekali musibahku dan aku sangat takut. Apakah salah seorang dari ummatku akan masuk neraka?’ Jibril menjawab: ‘Ya, ummatmu yang berbuat dosa‑dosa besar.’ Maka nabi Saw menangis lalu Jibril menangis pula karena tangisnya Nabi Saw. (Tanbihul Ghafilin‑Al‑Faqih Abu Laits Samarqandi, hal 59)

    Pintu‑pintu neraka akan dibukakan bila golongan yang akan memasuki telah dihadirkan, seperti firman Allah: Dan orang‑orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong‑rombongan, sehingga apabila mereka sampai keneraka, dibukakan pintu‑pintunya dan penunggu‑penunggunya berkata kepada mereka: ‘Bukankah telah datang kepada kamu rasul‑rasul dari jenis kamu yang membacakan kepada kamu ayat‑ayat Tuhan kamu dan mengancam kamu dengan pertemuan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Ya ada! Tetapi telah pantas hukuman azab atas orang‑orang kafir. (QS, As‑Zumar, 39:72)

    Lalu dalam keadaan rela atau terpaksa mereka akan dihardik untuk memasukinya,

    Dikatakannya: ‘Masukilah pintu‑pintu Jahannam itu, kamu kekal di dalamnya.’ Maka alangkah jelek tempat kembali bagi orang‑orang yang sombong itu. (QS. Az‑Zumar, 39:72)

    Dalam sebuah hadits yang panjang, Abu Hurairah ra menggambarkan neraka pada kalimat terakhir hadits itu,

    Abu Hurairah berkata: Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah di tanganNya, bahwa dasar Jahannam itu dalamnya adalah tujuh puluh tahun (perjalanan).

    (HR. Muslim dan Hudzaifah dan Abu Hurairah ra)

    Dalam hadits lain, yaitu:

    Hadits Ibnu Abbas ra mengatakan: Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dengan para sahabatnya. Tiba‑tiba dia mendengar suatu suara. Ketika itu Nabi saw bertanya: ‘Tahukah kamu suara apakah itu?’ Jawab mereka: ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu.’ Kata Nabi Saw: ‘Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan baru sekarang sampai ke dasar neraka itu.’ (HR. Muslim)

    Tidaklah berlebihan bila dalam sebuah dialognya dengan Allah, Jahannam mengatakan masih sanggup memuat calon‑calon penghuninya berapa pun jumlahnya, seperti firman Allah,

    Ingatlah hari yang Kami akan bertanya kepada Jahannam: ‘Sudahkah engkau penuh?’ dan ia (Jahannam) akan menjawab: ‘Apakah ada tambahan?’ (QS, Qaf, 50:30)

    Tentang panasnya api neraka, Rasulullah Saw bersabda, Api kalian yang dinyalakan di dunia ini adalah sebagian dari tujuhpuluh bagian bila dibandingkan dengan panasnya api Jahannam. Para sahabat bertanya: ‘Demi Allah, yang ini saja yang di dunia kiranya sudah mencukupi (untuk menghancurkan manusia) ya Rasulullah?’

    Sahut beliau: ‘Sesungguhnya panasnya itu masih lebih sembilan puluh sembilan bagian lagi (dari api dunia ini) yang masing‑masing panasnya setiap bagian sedemikian itu. (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra)

    Dalam hadits lain dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Panas api yang kamu nyalakan di dunia ini (termasuk matahari) hanyalah sepertujuh puluh dari panasnya api neraka di akhirat. Kalau sebagian kecil (api neraka) jatuh ke dunia, niscaya mendidihlah air laut karena panasnya. (HR. Muslim) (Dari Kehidupan Insan di Alam Baqa‑Halimuddin SH, hal 8)

    Dalam satu riwayat disebukan bahwa Allah Ta’ala mengutus malaikat Jibril as kepada malaikat Malik supaya mengambil sebagian dari api neraka untuk keperluan Adam memasak makanan.

    Malaikat Malik berkata: Wahai Jibril, berapa api yang engkau kehendaki dari neraka?

    Jibril : Kira‑kira sebutir kurma.

    Malik : Wahai Jibril, sekiranya aku berikan kepadamu api neraka sebesar sebutir kurma, niscaya hancurlah tujuh langit dan tujuh bumi karena panasnya.

    Jibril : Bagaimana kalau hanya separuhnya saja?

    Malik : Andaikata apa yang engkau kehendaki itu aku berikan, niscaya tidak akan ada air di langit walau setetes pun dan tak akan tumbuh satu pun tumbuh‑tumbuhan di bumi.

    (Kemudian Jibril menghadap Allah dan berkata)

    Jibril : Ya Tuhanku, seberapa aku harus mengambil api dari neraka?

    Allah : Ambillah sebesar debu. (Durratun Nasihin III, hal 112)

    Maka Jibril mengambil api sebesar debu, lalu ia menyelamkannya dalam sungai sampai 70 (tujuh puluh) kali. Kemudian ia memberikannya kepada Adam as dan Jibril meletakkannya di atas gunung yang menjulang tinggi, gunung musnah. Akhirnya api itu dikembalikan lagi pada tempatnya. Adapun asapnya tertinggal pada batu‑batu dan besi‑besi sampai sekarang.

    Dan dapatlah dibayangkan betapa panasnya kalau percikan‑percikan api neraka itu seperti yang dilukiskan oleh Allah dalam Al‑Qur’an: Sesungguhnya neraka itu melontarkan percikan‑percikan api sebesar balok. (QS, Al‑Mursalat, 77:32)

    Malaikat Jibril as pernah memberi gambaran kepada Nabi Muhammad Saw tentang neraka. Begini: Andaikata neraka itu dibuka selubang jarum di arah timur maka terbakarlah penduduk bagian barat karena sangat panasnya.

    Dan andaikata pakaian ahli neraka digantungkan diantara langit dan bumi, maka matilah mereka karena sangat panasnya. Dan andaikan satu hasta rantai yang telah disebutkan Allah dalam kitab‑Nya itu diletakkan pada gunung maka hancurlah gunung itu hingga menembus tujuh bumi. Dan andaikata seorang lelaki dari ahli neraka yang disiksa berada di arah barat maka sungguh akan hanguslah orang yang berada di arah timur karena sangat hebatnya siksaan.

    Sebelum para ahli neraka dihadirkan, Allah mengadakan persiapan‑persiapan secukupnya untuk membuat kejutan‑kejutan yang mendirikan bulu roma. Bersabda Rasulullah Saw: Malaikat Jibril telah datang kepadaku, aku berkata kepadanya: ‘Wahai Jibril terangkanlah kepadaku sifat‑sifat neraka Jahannam. Ia (Jibril) berkata: ‘Sungguh Allah Ta’ala telah menciptakan neraka dan menyalakannya selama seribu tahun sehingga menjadi berwarna merah, kemudian menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga mejadi berwarna putih, lalu menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga berwarna hitam seperti malam yang gelap, nyalanya tidak pernah berhenti dan baranya tidak pernah bisa padam.’

    Allah melengkapi pemandangan di neraka dengan sesuatu yang tidak hanya boleh dilihat tetapi wajib didaki oleh penghuninya. Hadits Abi Said al‑khudry ra, katanya: Rasulullah Saw pernah membicarakan tentang firman Tuhan yang berbunyi: ‘Aku akan membebaninya dengan pendakian yang melelahkan.’ Yaitu gunung di dalam neraka yang wajib didaki oleh orang kafir selama tujuh puluh tahun. Demikianlah ketinggian gunung itu.

    (HR. Tirmidzi)

    Dalam hadits lain dari Anas ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Wailun itu suatu lembah di dalamnya neraka Jahannam. Dalamnya lembah itu sejauh empat puluh perjalanan bagi orang kafir baru sampai ke dasarnya. Kata Abi Said al Khudry ra: Bahwa Wailun itu adalah lembah yang terletak di antara dua buah gunung di dalam neraka. Empat puluh tahun lamanya orang kafir baru sampai ke dasarnya. (HR. Muslim)

    Rasulullah Saw menambahkan: Di dalamnya terdapat sebuah gunung yang bernama Raqabah yang dilalui orang‑orang kafir. Gunung ini begitu panasnya sehingga bila tangan diletakkan di atasnya maka tangan itu akan hancur dan bila diangkat maka kembali seperti semula. (HR. Tirmidzi)

    Tidak ada celah sedikitpun di dalamnya neraka yang tidak diramaikan oleh bara api. Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya tanah neraka itu terdiri dari timah hitam, pagarnya dari tembaga, atapnya dari belerang, kayu bakarnya dari manusia dan batu. Bila api neraka itu dinyalakan, maka semua yang ada di sana menyala pula menjadi api. (AL‑Hadits)

    Menurut keterangan dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Pada hari kiamat akan dikeluarkan neraka Jahannam dengan tujuh puluh ribu kendali, tiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat. (HR. Muslim)

    Keterangan selanjutnya adalah dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata: Neraka Jahannam pada hari kiamat nanti akan didatangkan dari bawah bumi yang ketujuh dan di sekelilingnya dikepung tujuh puluh ribu barisan malaikat. Setiap barisnya lebih banyak daripada jumlah dua golongan jin dan manusia. Mereka menarik Jahannam itu dengan tali‑talinya.

    Jahannam mempunyai empat kaki. Jarak antara dua kaki sejauh perjalanan seribu tahun. Jahannam memiliki tiga puluh ribu kepala, setiap kepala mempunyai tiga puluh ribu mulut, setiap mulut mempunyai tiga puluh ribu geraham, masing‑masing geraham tiga puluh ribu kali besarnya dari gunung Uhud, setiap mulut juga memiliki dua bibir selebar dunia. Pada setiap bibir terdapat rantai dari besi dan pada setiap rantai mempunyai tujuh puluh ribu kolong, setiap kolong dipegang para malaikat yang tak terhitung jumlahnya. Kemudian Jahannam digiring ke sebelah kiri Arsy. (Darratun Nasihin III, hal 15)

    Dan untuk menambah keseraman neraka maka Allah menciptakan Huraisy. Siapakah Huraisy itu? Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya, Rasulullah Saw bersabda: Kelak di hari kiamat akan keluar suatu (makhluk) dari neraka Jahannam namanya Huraisy yang dilahirkan dari yang panjangnya sejauh antara langit dan bumi sedang besarnya dari timur sampai barat.

    Lalu Jibril as bertanya: Hai Huraisy mau kemanakah engkau dan siapa yang engkau cari?

    Huraisy : Aku mencari lima golongan manusia. Pertama orang yang meninggalkan shalat. Kedua orang yang enggan mengeluarkan zakat. Ketiga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Keempat peminum arak. Kelima orang yang bercakap‑cakap di mesjid dalam urusan keduniaan (Durratun Nasihin I, hal. 129)

    Disamping Huraisy yang besar itu Allah juga menghiasi neraka dengan binatang‑binatang kecil yang berukuran kecil menurut dimensi neraka. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra dari Nabi Saw, beliau bersabda: Sungguh di neraka terdapat beberapa ular dan kalajengking sebesar leher onta. Maka mereka akan memagut serta menyengat salah seorang dari kamu dengan pagutan dan sengatan yang dapat dirasakan panasnya selama empat puluh musim gugur. (Daqaa‑Ioqul Akhbaari)

    (Dari Durratun Nasihin III, hal 243‑Usman al‑Khaibawi)

    Untuk melengkapi penderitaan orang‑orang kafir, Allah juga melipatgandakan dimensi tubuh mereka ratusan ribu kali. Dari Imam Muslim dari Abu Hurairah ra dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Geraham orang kafir itu seperti gunung Uhud dan tebal kulitnya sejauh tiga hari perjalanan.

    Keterangan: Dimensi mereka diperbesar ratusan ribu kali lipat untuk memperluas permukaan kulit. Hal ini dimaksudkan agar segala macam siksaan terutama siksa bakaran dapat benar‑benar dirasakan.

    Bersambung..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Bang Uddin 9:29 am on 5 November 2012 Permalink

      Mohon ada alat buat share donk
      inikan sesuai dengan statement di atas yaitu :
      “DIPERSILAHKAN JIKA INGIN MENGCOPY DAN MENYEBARLUASKAN ARTIKEL PADA BLOG INI.”

    • erva kurniawan 9:55 pm on 7 November 2012 Permalink

      Mohon dikasih saran gimana caranya, apakah ada fasilitas seperti itu di wordpress? maklum newbie :D

    • Raden Ilham Sastro 12:19 am on 8 November 2012 Permalink

      Reblogged this on R.A.D.E.N I.L.H.A.M.

  • erva kurniawan 1:59 am on 4 November 2012 Permalink | Balas  

    Menjaga Kesucian

    Islam mewajibkan seorang Muslimah mengenakan jilbab. ”Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab [33]: 59).

    Dengan jilbab, identitas seorang wanita menjadi jelas. Bahwa, mereka seorang Muslimah. Dengan jilbab pula, seorang wanita akan terhindar dari tatapan mata liar, sehingga mereka tidak diganggu. Kesucian mereka pun menjadi terjaga.

    Namun, jilbab bukan sekadar pakaian penutup tubuh (aurat) wanita. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pakaian yang dikenakan seorang wanita bisa dikatakan jilbab yang sebenarnya (jilbab syar’i).

    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya yang berjudul Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah menyebutkan delapan syarat jilbab syar’i.

    1. Pertama, menutup seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan.
    2. Kedua, bukan untuk tabarruj (bersolek) yang bisa menyebabkan pandangan mata tertuju padanya (QS Al-Ahzab [33]: 33).
    3. Ketiga, bahannya terbuat dari kain yang tebal, tidak tipis dan tidak tembus pandang (transparan).
    4. Keempat, kainnya longgar, tidak ketat, dan tidak membentuk lekuk tubuh.
    5. Kelima, tidak diberi wewangian atau parfum. ”Wanita mana saja yang memakai wewangian, lalu ia lewat di muka orang banyak agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
    6. Keenam, tidak menyerupai pakaian laki-laki. Sebab, Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Ahmad).
    7. Ketujuh, tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
    8. Kedelapan, bukan pakaian untuk mencari popularitas. ”Barangsiapa mengenakan pakaian untuk mencari popularitas di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

    Kedelapan, syarat ini bukanlah hal yang sulit untuk dipenuhi. Sebab, tidak ada yang sulit dalam syariat Islam. Semuanya mudah. ”Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.’‘ (QS Al-Baqarah [2]: 185). Dalam firman-Nya yang lain, ”Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama ini suatu kesempitan.’‘ (QS Al-Hajj (22): 78).

    ***

    (Mujianto )

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 3 November 2012 Permalink | Balas  

    Tipe-tipe Wanita dalam Alquran

    Ketika memasuki sebuah showroom, butik atau toko yang menjual pakaian wanita, kita akan mendapatkan pakaian dalam berbagai bentuk, corak dan ragamnya. Mau pilih yang mana? Semuanya terserah kita. Sebab kita sendiri yang akan memakainya. Kita pula yang akan menerima konsekuensi dari memakai pakaian tersebut.

    Pakaian dapat kita analogikan dengan kepribadian. Seperti halnya pakaian, kepribadian wanita pun memiliki beragam jenis dan corak. Kita diberi kebebasan untuk memilih tipe mana saja yang paling disukainya. Namun ingat, dalam setiap pilihan ada tanggung jawab yang harus dipikul. Karena itu, agar tidak menyesal dikemudian hari, Alquran memberi tuntunan kepada orang-orang beriman (khususnya Muslimah) agar tidak salah dalam memilih kepribadian.

    Lima tipe wanita

    Setidaknya ada lima tipe wanita dalam Alquran. Pertama, tipe pejuang. Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim, istri Fir’aun. Walau berada dalam cengkraman Fir’aun, Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir’aun. Allah SWT mengabadikan doanya, Dan Allah menjadikan perempuan Fir’aun teladan bagi orang-orang beriman, dan ia berdoa, Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS At Tahriim [66]: 11).

    Kedua, tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya. Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! .

    Demikian ungkap Maryam (QS Maryam [19]: 20). Karena keutamaan inilah, Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Alquran (QS Maryam [19]). Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan Kekasih Allah, Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 16-34). Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya, namun karena keshalihan dan kesuciannya.

    Ketiga, tipe penghasut, tukang fitnah dan biang gosip. Tipe ini diwakili Hindun, istrinya Abu Lahab. Alquran menjulukinya sebagai “pembawa kayu bakar” alias penyebar fitnah. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut (QS Al Lahab [111]: 1-5).

    Bersama suaminya, Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW, menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Isu yang awalnya biasa, menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun.

    Keempat, tipe wanita penggoda. Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Alquran, Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, Marilah ke sini. Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung (QS Yusuf [12]: 23).

    Kelima, tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya.  Allah SWT memuji wanita yang tidak taat kepada suaminya yang zalim, seperti dilakukan perempuan Fir’aun (QS At Tahriim [66]: 11). Namun, pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran, mereka malah menjadi pengkhianat dakwah.

    Difirmankan, Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). (QS At Tahriim [66]: 10).

    Wanita-wanita yang dikisahkan Alquran ini hidup ribuan tahun lalu. Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Ada pula tipe penghasut, penggoda dan pengkhianat. Terserah kita mau pilih yang mana. Bila memilih tipe pertama dan kedua, maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir, kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS An Nuur [24]: 34). Wallaahu a’lam.

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 2 November 2012 Permalink | Balas  

    Matahari Terbit dari Barat Dibenarkan Ilmuwan Fisika dan Masuk Islam 

    NASA Membenarkan Jika Matahari Akan Terbit dari Barat – Kebenaran ajaran Islam terus-menerus dibuktikan oleh penemuan demi penemuan ilmu pengetahuan. 1.400 tahun yang lalu, Rasulullah SAW sudah menyatakan dalam haditsnya bahwa kelak matahari akan terbit dari Barat sebagai bukti keagungan Allah SWT dan ciri-ciri kiamat sudah semakin dekat: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua mereka akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Dan riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibn Majah).

    Matahari terbit dari Barat akan terjadi selama satu hari saja, kemudian tertutuplah pintu taubat. Setelah itu, gerakan matahari pun akan kembali seperti sebelumnya terbit dari timur sampai terjadinya kiamat. Ini sesuai dan dibenarkan oleh peneliti NASA dalam artikelnya dibawah. Dari Ibn ‘Abbas, “Maka Ubai bin Ka’ab berkata: “Maka bagaimana jadinya matahari dan manusia setelah itu?” Rasulullah menjawab: “Matahari akan tetap menyinarkan cahayanya dan akan terbit sebagaimana terbit sebelumnya, dan orang-orang akan menghadapi (tugas-tugas) dunia mereka, apabila kuda seorang laki-laki melahirkan anaknya, maka ia tidak akan dapat menunggang kuda tersebut sampai terjadinya kiamat.” (Fathul Baari, Kitaburriqaq, Juz 11, Thulu’issyamsi Min Maghribiha).

    Matahari Terbit Dari Barat Dibenarkan Ilmuwan Fisika Dan Masuk Islam

    Ilmuwan Fisika Ukraina Masuk Islam Karena Membuktikan Kebenaran Al-qur’an Bahwa Putaran Poros Bumi Bisa Berbalik Arah

    Demitri Bolykov, sorang ahli fisika yang sangat menggandrungi kajian serta riset-riset ilmiah, mengatakan bahwa pintu masuk ke Islamannya adalah fisika. Sungguh suatu yang sangat ilmiah, bagaimanakah fisika bisa mendorang Demitri Bolyakov masuk Islam? Demitri mengatakan bahwa ia tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof. Nicolai Kosinikov, salah seorang pakar dalam bidang fisika.

    Mereka sedang dalam penelitian terhadap sebuah sempel yang diuji di laboratorium untuk mempelajari sebuah teori moderen yang menjelaskan tentang perputaran bumi dan porosnya. Mereka berhasil menetapkan teori tersebut. Akan tetapi Dimetri mengetahui bahwasanya diriwayatkan dalam sebuah hadis dari nabi saw yang diketahui umat Islam, bahkan termasuk inti akidah mereka yang menguatkan keharusan teori tersebut ada, sesuai dengan hasil yang dicapainya. Demitri merasa yakin bahwa pengetahuan seperti ini, yang umurnya lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai sumber satu-satunya yang mungkin hanyalah pencipta alam semesta ini.

    Teori yang dikemukan oleh Prof. Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menfsirakan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sempel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan, ditempatkan pada badan bermagnit yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.

    Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”.

    Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya. Pada tingkat realita di alam ini, daya matahari merupakan “kekuatan penggerak” yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya insensitas daya matahari. Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung. Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40 km dalam setahun. Bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak. Ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa “gerak” perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketika itu matahari akan terbit (keluar) dari Barat !!!

    Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian. Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia mendapati informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huarirah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima Taubatnya.”

    Sumber :

    ***

    http://www.youtube.com/watch?v=Zqee3EZ4Ifs

    http://klikmenarik.blogspot.com/2012/06/nasa-membenarkan-matahari-akan-terbit.html

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 1 November 2012 Permalink | Balas  

    Syetan Bangga Jika Dicaci, Karenanya Mencacimaki Syetan Tidak Boleh

    Oleh: Badrul Tamam

    Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

    Ketika tersandung batu, terpeleset, terjatuh atau terantuk sesuatu yang membuat sakit, sering meluncur dari lisan kita kalimat-kalimat umpatan seperti “Syetan!” (ungkapan kekesalan), atau “Syetan sialan.” Seolah-olah syetan ada di balik semua ini, karenanya dialah yang harus disalahkan.

    Memang syetan senantiasa berusaha menimpakan keburukan kepada umat manusia karena kedengkiannya. Terutama supaya manusia merugi dan sengsara dunia akhriat. Karenanya, syetan berusaha keras untuk menyesatkan umat manusia dari jalan hidayah supaya kelak menjadi temannya di neraka yang menyala-nyala.  Allah Ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)

    Tapi, menyalah-nyalahkan syetan dengan kalimat-kalimat umpatan bukan sebuah kebaikan.

    Diriwayatkan dari Abu Malih. Ada seseorang bercerita kepada Abu Malih. Ia berkata: “Saya pernah naik Unta bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Unta beliau terpeleset, tanpa sadar saya berkata, “Celakalah syetan.” Lalu Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Jangan kamu katakan “celaka Syetan”, sebab jika kamu katakan itu badan syetan akan semakin membesar sehingga sebesar rumah seraya berkata, ‘dengan kekuatanku (aku menggelincirkan dia.’ Tetapi katakanlah, ’Dengan menyebut nama Allah’. Bila kamu berkata demikian, maka badan syetan akan mengecil hingga sekecil lalat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai, al-Thabrani, al-Baihaqi, dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, beliau berkata, “Shahihul Isnad”, no.3128, 3129.)

    Menyebut nama Allah-lah yang pantas diucapkan oleh seorang muslim sebagai bentuk keyakinannya bahwa tidak ada yang terjadi di muka bumi kecuali atas izin-Nya. Bukan berarti dengan menyebut nama Allah, Allah disalah-salahkan. Sekali lagi tidak, tapi sebagai ungkapan keyakinan bahwa semua itu dengan izin Allah. Tentunya harus disertai juga dengan keyakinan bahwa apa yang Allah timpakan atas orang muslim hakikatnya membawa kebaikan. Boleh jadi musibah yang menimpa seorang muslim itu sebagai kafarah atas dosa dan kesalahannya atau sebagai ujian dari Allah untuk meninggikan derajatnya.

    Diriwayatkan dari Mu’awiyah radliyallah ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Tidak ada sesuatu yang menimpa seorang mukmin pada tubuhnya sehingga membuatnya sakit kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Ahmad 4/98, Al-Hakim 1/347 Mu’awiyah radliyallah ‘anhu. Al-Hakim menyatakan shahih sesuai syarat Syaikhain. Imam al-Dzahabi menyepakatinya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Shahihah 5/344, no. 2274)

    Diriwayatkan juga dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

    “Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun’alaih)

    Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/94): “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah).”

    Mengungkapkan kekesalan dengan mencaci maki syetan tidak akan membawa kebaikan. Selain tidak berpahala karena tidak mengembalikan urusan kepada Allah dan tidak sabar atas takdir-Nya, perbuatan tersebut malah membuat syetan merasa senang dan sombong. Syetan akan merasa bahwa kejadian itu ada karena kekuatan yang dimilikinya. Dan selayaknya, seorang muslim yang memproklamirkan syetan sebagai musuh abadinya tidak mau membuat syetan senang dan berbangga.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah berpesan secara khusus agar tidak mencaci syetan ketika terjadi musibah,

    “Janganlah kalian mencaci maki syetan, sebaliknya berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya.” (HR. al-Dailami, Tammaam dalam Fawa’idnya dan yang lainnya, sebagaimana yang terdapat dalam Shahihah milik Al-Albani no. 2422)

    Dan bagi siapa yang telah terlanjur dan sering mencaci maki syetan seperti dengan ungkapan, “Syetan sialan, syetan terkutuk!” (ungkapan kesal), dan kata-kata semisalnya dengan dalih Syetan ada di balik semua ini, bukan melakukan kebaikan. Sebaliknya, telah melanggar tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karenanya, dia harus beristighfar dan memperbaiki diri sehingga hati akan terbina mengeluarkan kata spontan yang mulia. Wallahu Ta’ala A’lam.

    ***

    [PurWD/voa-islam.com]

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 31 October 2012 Permalink | Balas  

    Kisah Shalawat Nabi Muhammad SAW

    Rasulullah S.A.W telah bersabda bahwa, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail A.S. telah berkata kepadaku.

    Berkata Jibril A.S. : “Wahai Rasulullah, barang siapa yang membaca selawat ke atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.”

    Berkata pula Mikail A.S. : “Mereka yang berselawat ke atas kamu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.”

    Berkata pula Israfil A.S. : “Mereka yang berselawat kepadamu akan aku sujud kepada Allah S.W.T dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah S.W.T mengampuni orang itu.”

    Malaikat Izrail A.S pula berkata : “Bagi mereka yang berselawat ke atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi-nabi.”

    Apakah kita tidak cinta kepada Rasulullah S.A.W.? Para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang berselawat ke atas Rasulullah S.A.W.

    Dengan kisah yang dikemukakan ini, kami harap para pembaca tidak akan melepaskan peluang untuk berselawat ke atas junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah, Rasul dan para malaikat.

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Azhar 12:01 am on 14 Desember 2012 Permalink

      Sholu ala Muhammad

    • Tory 3:06 pm on 24 Januari 2013 Permalink

      Shalawat nabi yg benar bagaimana? Ada yg bilang tidak pakai (syaidina) tolong penjelasannya

  • erva kurniawan 1:40 am on 27 October 2012 Permalink | Balas  

    Pemuda Itu

    Di tengah kesibukan dengan pekerjaan, terkadang kita terlena oleh pekerjaan itu sendiri. Shallat berjamaah terkadang terlewatkan, dengan alasan kerjaan nanggung, sebentar lagi meeting atau sebentar lagi ada bos. Banyak alasan sehingga kita melupakan aktifitas yang penuh pahala dan penuh hikmah ini. Terkadang karena hal – hal itu saya pun tertinggal shallat berjamaah.

    Kebetulan kantor tempat saya bekerja ada sebuah musholla kecil yang hanya bisa menampung 7 orang saja sedangkan pergi ke mesjid besar cukup jauh sekitar 300 meteran. Terkadang saya bisa pergi ke mesjid terkadang juga hanya mampu shallat sendiri di musholla kantor. Setiap saya bisa berkesempatan shallat asyar di mesjid ini lah saya selalu memperhatikan seorang pemuda, dengan pakaian seadanya tapi jelas kelihatan bersih dan rapi, serta rambut yang di sisir rapi, shallat khusu di shap sebelah kanan. Pemuda tadi begitu memperhatikan sekali akan kebersihan dalam menghadapkan diri pada Allah SWT, melalui shallatnya. Begitu memperhatikan sekali ketepatan waktu dalam shallatnya dan begitu memperhatikan sekali shallat berjamaah. Saya sempat menerka – nerka orang ini, mungkin dia seorang pegawai bangunan yang sedang mengerjakan project di sekitar mesjid itu atau bahkan seorang karyawan yang bekerja di kantor yang tidak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Sungguh jelas sekali terlihat dari wajahnya yang bersih dan kelihatan berseri, kelihatan jelas wajahnya yang selalu dibasahi oleh air wudhu.

    Hari itu menjelang adzan asyar berkumandang, teta – teki tentang siapa pemuda itu terjawab. Dari jauh terlihat sekelompok orang dengan membawa perkakas kebersihan sapu penggaruk daun sedang berjalan menuju tempat istirahatnya, dan di antara mereka terdapat si pemuda tadi. Oh…sungguh terenyuh hati ini, sungguh subhannallah… maha besar Allah, Kau telah memilih dia sebagai seorang pemuda yang shaleh mungkin jauh lebih shaleh daripada saya, bahkan saya tidak merasa diri shaleh. Padahal secara status sosial kalau dilihat dari pekerjaan yang dia lakukan sungguh pekerjaan yang dia lakukan bagi sebagian orang akan mencibirnya. Kerja dengan peluh keringat bercucuran di bawah terik matahari yang menyengat, belum lagi debu dan kotornya tempat pemuda itu bekerja. Tak terasa airmata rasanya mau tumpah melihat begitu mulianya pemuda itu di hadapan Allah di bandingkan dengan kondisi saya saat ini, kerja dikantor banyak waktu luang tapi terkadang suka melalaikan shallat berjamaah, meskipun pakaian banyak di lemari tapi terkadang tidak memperhatikan kebersihannya saat shallat. Baju kantor merangkap pula baju shallat. Sedangkan pemuda tadi selalu memperhatikan shallat berjamaah, berpakaian rapi dan bersih, membersihkan badan supaya segar dan wangi dan pergi ke mesjid itu pada saatnya shallat asyar padahal jaraknya cukup jauh.

    Puji syukur kepada Mu ya Allah atas segala peristiwa tadi, jadi cermin untuk memperbaiki ibadah saya, Ya..Allah berilah saya kekuatan untuk bisa melakukan taubatan na suha, taubat yang sebenar-benarnya taubat. Amin.

    Melalui tulisan ini saya berdoa dengan tulus ” ya..Allah berilah pemuda tadi kemulian hidup di dunia dan kemuliaan hidup di akherat ” aamiin.

    ***

    Cerita dari: Sahabat Jemaah Mesjid Baiturahim

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 26 October 2012 Permalink | Balas  

    Adap Tertawa Dalam wasiatnya Imam Hasan Al Banna… 

    Adap Tertawa

    Dalam wasiatnya, Imam Hasan Al-Banna menasihatkan hendaknya seorang Muslim tidak larut dalam tawa. Hati yang tenang dan hidup dengan iman akan selalu ingat akan keagungan Allah SWT, dipenuhi oleh rasa takut serta selalu berharap kepada-Nya.

    Banyak ayat Alquran yang menyebutkan tentang tertawa. Tertawa mengejek termasuk akhlak orang kafir dan munafik. Mereka menertawakan orang yang sungguh-sungguh beriman terhadap ayat-ayat yang telah diturunkan Allah SWT kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

    ”Sesungguhnya sekelompok hamba-Ku mengatakan, ‘Wahai Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan kasihanilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik yang mengasihi. Tetapi kalian menjadikan mereka ejekan, sehingga menyebabkan kalian lupa mengingat-Ku, dan kalian dulu menertawakan mereka. Hari ini aku ganjar mereka karena telah bersabar, sesungguhnya merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Mukminun [23]: 109-111).

    ”Sesungguhnya para pendosa itu, menertawakan orang-orang yang beriman. Dan bila mereka melalui, mereka mengerlingkan mata (mengejek).” (QS Al-Muthafiffin [83]: 29).

    Alquran mengategorikan tertawa sebagai jarimah (kriminal) seperti kisah Fir’aun dan kaumnya ketika datang kepada mereka utusan Allah SWT. ”Ketika Nabi itu datang membawa ayat-ayat Kami, mereka menertawakannya.” (QS Az-Zukhruf [43]: 47).

    Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang haramnya tertawa seperti yang disebutkan di atas. Namun, tak semua tertawa itu dilarang dan tidak semuanya diperbolehkan. Tertawa yang diperbolehkan adalah tertawa yang terlalu sering dan melampaui batas.

    Hal ini tergolong menjadi permainan yang melenakan dari kesungguhan dalam berbagai hal. Tertawa yang diperbolehkan adalah tertawa yang wajar dan tidak terbahak-bahak, selama itu menjadi tuntutan dan hajat, karena itu merupakan reaksi alamiah dan juga karakter manusia yang tidak mampu menahan atau menolaknya. Contoh tertawa yang baik dalam hal ini adalah para Nabi dan Rasul Allah SWT. Banyak riwayat yang menyatakan saat Nabi Muhammad SAW tertawa, tapi tertawanya tidak melampaui batas atau hanya tersenyum saja. Senyum Rasulullah SAW yang paling maksimal adalah nampak gigi gerahamnya.

    Bahkan dulu Rasulullah SAW adalah orang yang paling banyak senyum dan wajahnya berseri-seri. Inilah perangai yang baik nan indah yang dipakai oleh orang-orang yang muru’ah (punya harga diri) untuk menghiasi diri mereka.

    Karena tertawa berlebihan merupakan tingkah laku yang menyimpang dan melenyapkan kharisma seorang Mukmin dan bisa menurunkan derajat di kalangan manusia. Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘‘Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati dan menghilangkan kharisma seorang Mukmin.”

    Wallahu Alam

    ***

    Sumber : republika.co.id

    (Prayitno )

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 25 October 2012 Permalink | Balas  

    Memilih Teman Seperjalanan di Alam Barzakh 

    Firman Alloh SWT :”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung“. (QS. Ali Imran 104:105).

    Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. (Hadist Riwayat Tabrani)

    Memilih Teman Seperjalanan di Alam Barzakh 

    Seperti anda ketahui, di dalam hidup ini, Islam menawarkan dua pilihan, yaitu, jalan menuju Allah Swt, dan jalan menuju setan. Kita disuruh memilih, jalan mana yang kita kehendaki. Al Qur’an sendiri menegur kita “Fa ayna tadzhabun?” (Hendak pergi kemana kalian ini?) QS.81:26. Pertanyaan ini merupakan peringatan buat semua orang. Tetapi Nabi Ibrahim menjawab pertanyaan tsb sbb:

    Dan Ibrahim berkata:“Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (QS. 37:99)

    Dalam ayat lain dikatakan : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan”. (QS. 90:10)

    Yaitu jalan menuju Allah Swt dan jalan menuju selain Allah Swt. Bahkan sering kali kita temukan di dalam Al Qur’an ungkapan yang menganjurkan agar kita berjalan mengikuti orang-orang yang berjalan menuju Tuhan.

    …… dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31:15)

    Dunia utama yang harus dia tinggalkan adalah dirinya sendiri. Para ahli tafsir mengartikan ayat, Barang siapa yang keluar dari rumahnya (QS. 4:100), dalam dua makna; makna batin dan makna lahir. Makna lahir dari ayat ini, berkenaan dengan para sahabat Nabi Saw., yang meninggalkan rumahnya di Makkah menuju Madinah.

    Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa ayat itu berkenaan dengan orang tua yang sakit, yang ikut hijrah kemudian mati di perjalanan. Pada waktu itu, ketika sahabat lain sudah hijrah dia masih tinggal di Makkah. Kemudian turun ayat yang menegur orang yang tinggal di Makkah dan tidak mau hijrah.

    Dan kalau mereka mati, malaikat akan mengecam mereka yang tidak mau berhijrah. Al Qur’an Al Karim mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:”Dalam keadaan bagaimana kamu ini”. Mereka menjawab:”Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata:”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali, (QS. 4:97)

    Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), (QS. 4:98)

    Orang sakit dan tua ini mengatakan, “Saya ini tidak termasuk orang yang dikecualikan dalam ayat ini karena saya mempunyai bekal dan saya punya orang yang tahu jalan, hanya saja saya sakit. Oleh karena itu, angkutlah saya, bawa saya berhijrah.” Kemudian oleh keluarganya, ia dibawa ke Madinah. Sampai kemudian di suatu tempat yang bernawa Tawin, orang itu meninggal dunia. Kemudian turun ayat :

    ……Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:100)

    Itulah makna lahir dari ayat ini.

    Seperti yang pernah disebutkan dalam hadis Nabi, “Barang siapa yang meniti (salaka) jalan menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah.”

    Ada sebuah nasihat yang dapat kita ambil dari seoarang ulama, dan sufi besar pendiri sebuah tarekat, bernama Syaikh Najmuddin Al Kubra. Ia mempunyai banyak murid yang kelak menjadi para wali. Beliau memberikan beberapa bentuk jalan kehidupan, ketika dia sedniri sedang meniti jalan menuju Allah Swt.

    Beliau mengatakan, “Ada dua macam perjalanan manusia. Pertama perjalanan itu ialah perjalanan yang terpaksa, yang disebut safar qahri. Dan yang kedua, ialah perjalanan yang merupakan pilihan kita, atau yang disebut dengan safari ikhtiyari.” Artinya, ada perjalanan kita semua yang menuju Allah Swt tetapi dalam keadaan terpaksa; ada pula perjalanan kita yang menuju Allah dalam keadaan sukarela.

    Al Qur’an Al Karim mengatakan : “Sesungguhnya kita semua adalah kepunyaan Allah, dan semua akan kembali kepadaNYA” dan “Kepada Akulah semua akan kembali.” Dan itulah perjalanan yang tidak sukarela.

    Masih menurut beliau, perjalanan yang tidak sukarela itu sendiri memiliki beberapa stasiun.

    • Pertama, ketika kita berada pada sulbi ayah kita.
    • Kedua, ketika kita berada pada rahim ibu.
    • Ketiga, ketika kita dilahirkan ke dunia ini dan
    • Keempat, alam kubur, yang menurut agama, alam itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga, atau bisa juga menjadi sumur-sumur neraka, bergantung kepada amal perbuatan kita di dunia ini.

    Pada alam barzakh ini kita belum masuk surga atau neraka tetapi kita sudah berada dalam bayang-bayang keduanya.

    Sedangkan tahap kelima, ialah saat kebangkitan yang menurut Syaikh Najmuddin Al Kubra, usianya sama dengan (lebih kurang) 5.000 tahun usia dunia ini. Itulah hari kebangkitan, ketika semua manusia dibangkitkan dari tidurnya yang panjang.

    Menurut orang-orang sufi, kita semua tidak ingat lagi alam yang sebelum ini alam rahim, misalnya. Kita tidak ingat lagi suasana di alam rahim itu. Semua yang berada di alam rahim mempengaruhi tingkah laku kita sekarang ini; tetapi kita seakan-akan tidak mengalami dunia itu. Kita seakan-akan lahir ke dunia ini, kemudian kita menemukan alam kesadaran baru.

    Begitu pula, ketika kita berada di alam barzakh, kita mulai sadar bahwa di alam inilah sebetulnya kehidupan yang sebenarnya itu. Kehidupan dunia ini bagaikan sebuah mimpi saja. Suasana seperti baru kita sadari di alam barzakh itu.

    Allah Swt berfirman : Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam. (QS. 50:22)

    Kita merasakan alam barzakh itu sebagai permulaan kehidupan. Apa yang kita lakukan sekarang ini mempengaruhi suasana senang dan susah di alam barzakh nanti.

    Ketika kita nanti dibangkitkan, kita merasa bahwa alam barzakh itu seperti mimpi yang panjang. Semua orang merasakan bahwa memang itulah kehidupan yang sebenarnya. Al Qur’an Al Karim melukiskan peristiwa itu dalam surah Yasin sbb :

    Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul Rasul(Nya). (QS. 36:52)

    Itulah alam kebangkitan yang panjangnya kira-kira sama dengan hitungan 5.000 tahun dunia ini. Hanya Allah Yang Maha Tahu, karena perhitungan panjang-pendeknya waktu itu sangat relatif, apalagi ketika menghadapi alam lain. Kita sangat susah menghitung berapa lama waktu itu.

    Sayyidina Ali k.w. pernah meriwatkan bahwa begitu seseorang meninggal dunia, jenazahnya terbujur, diadakan “upacara perpisahan” di alam ruh. Pertama-tama ruh dihadapkan kepada seluruh kekayaannya yang dia miliki. Kemudian terjadi dialog antara keduanya. Mayit itu mengatakan kepada seluruh kekayaannya, “Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu itu sehingga akau lupa untuk mengabdi kepada Allah Swt., sampai aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalam perjalananku ini.” Lalu harta kekayaan itu berkata, “Ambillah dariku itu kain kafanmu.” Jadi tinggal kain kafanlah yang dibawa untuk bekal perjalanan selanjutnya.

    Sesudah itu si mayit dihadapkan kepada seluruh keluarganya – anak-anaknya, suami atau istrinya – kemudiansi mayit berkata, ” Dahulu akau mencintai kamu, menjaga dan merawat kamu. Begitu susah payah aku mengurus dirimu, sampai aku lupa mengurus diriku sendiri. Sekarang apa yang mau kalian bekalkan kepadaku pada perjalananku selanjutnya ?” Kemudian keluarganya mengatakan, “Aku antarkan kamu sampai ke kuburan.”

    Setelah perpisahan itu, si mayit akan dijemput oleh makhluk jelmaan amalnya. Kalau orang yang meninggal ini adalah orang yang sering berbuat baik, beramal saleh, maka dia akan dijemput oleh makluk yang berwajah ceria, yang memandangnya menimbulkan kenikmatan, dan memancarkan aroma semerbak. Makhluk jelmaan itu kemudian mengajak si mayit pergi. Kemudian mayit itu berkata : “Siapakah Anda ini sebenarnya ? Saya tidak kenal dengan Anda.” Makhluk itu kemudian menjawab: “Akulah amal saleh kamu dan aku akan mengantarkan kamu sampai hari perhitungan (hisab) nanti.”

    Bahwa amal-amal kita nanti akan berwujud, misalnya, sedekah yang sekarang ini tidak kita lihat wujudnya. Kita hanya mengenalnya sekarang ini sebagai sesuatu yang abstrak. Pekerjaan orang tersebut bisa kita lihat tapi wujudnya tidak dapat kita lihat. Yang menarik adalah bahwa amal saleh yang kita kerjakan akan selalu setia menemani kita sampai alam barzakh.

    Tetapi amal jelek juga akan berwujud. Dia akan berwujud wajah yang menakutkan, dengan bau yang menyengat seperti bangkai, dan ia akan terus menemani kita sampai hari hisab nanti. Kemudian ketika amal buruk itu ditanya, “Siapakah Anda ini sebenarnya ?” Maka dia menjawab, “Saya adalah amal kamu yang jelek. Dan aku akan menemani kamu sejak alam barzakh sampai kebangkitan nanti.

    Bayangkan perjalanan panjang yang ditemani makhluk yang mengerikan dan baunya bahkan melebihi bau bangkai. Padahal kalau kita lihat hadis-hadis Nabi, sedihnya seorang mayit ketika hendak meninggalkan keluarganya melebihi kesedihan seseorang yang harus meninggalkan keluarganya secara tiba-tiba, misalnya pergi ke luar negeri, atau mau pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah.

    Sang mayit pun akan berpisah dengan seluruh keluarganya bahkan dengan seluruh dunia ini yang pernah dihuninya setelah sekian lama. Setelah berpisah, dia akan hidup sendiri, dilanda kesepian yang luar biasa. Karena itu beruntunglah kalau dalam kesepian itu ia ditemani oleh teman-teman yang baik.

    Itulah perjalanan yang mau tidak mau mesti kita jalani. Sesudah perjalanan itu kita memasuki tempat tinggal yang abadi. Tempat itu bisa merupakan kesenangan yang abadi, yaitu surga; tetapi tempat abadi itu juga bisa berwujud neraka yang mengerikan.

    Selain perjalanan yang terpaksa (safar qahri), ada pula safar ikhtiyari, yaitu perjalanan yang merupakan pilihan kita. Kita bisa memilih berjalan atau tidak memilih berjalan. Perjalanan Ikhtiyari ini sendiri terbagi menjadi dua. Pertama, perjalanan ruhani, atau perjalanan jiwa kita menuju Allah Swt. Dan itulah yang disebut As-Suluk ila Malikil Muluk (perjalanan menuju Raja segala raja). Dalam perjalanan ini kita akan melewati beberapa tahapan sama seperti kita akan melewati beberapa tahapan pada perjalanan qahri tadi.

    Kedua, ialah perjalan fisik. Yaitu pindahnya Anda dari suatu kota ke kota lain. Islam sangat menganggap perjalana fisik ini. Dan bahkan mungkin hanya dalam Islam terdapat banyak anjuran mengenai pentingnya melakukan perjalanan. Seperti yang terdapat dalam QS. 6: 11; 16: 36; 27: 69; 29: 20; 30:42; semuanya mengatakan, “…..Adakanlah perjalanan dimuka bumi…”

    Oleh karena itu, salah satu keutamaan haji adalah karena di dalam ibadah haji itu ada unsur safar yang dilambangkan dengan meninggalkan dunia menuju Rumah Allah, yaitu Baytullah.Tetapi haji itu juga mengandung safar ruhani. Jadi, ibadah haji memiliki dua safar sekaligus.

    Dalam shalat, kita hanya mempunyai satu safar, yaitu safar ruhani, tidak safar jasmani. Ketika Anda berjalan untuk menuntut ilmu, Anda dianggap melakukan dua safar.

    ***

    Dikutip tanpa izin dari Buku: Terbitan Mizan. Renungan Renungan Sufistik, Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 24 October 2012 Permalink | Balas  

    Kajian Pintu-Pintu Masuknya Syetan

    Oleh Dr.H. Achmad Satori

    Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati.

    Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb. Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknya syetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkan untuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasi hati manusia.

    Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik. Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenarnya sangat banyak,

    Namun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah:

    1. Marah

    Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marah maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.

    2. Hasad

    Manusia bila hasud dan tamak menginginkan sesuatu dari orang lain maka ia akan menjadi buta. Rasulullah bersabda:” Cintamu terhadap sesuatu bisa menjadikanmu buta dan tuli” Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetan akan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehingga tidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hati manusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat.

    3. Perut kenyang

    Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahya bin Zakariyya a.s. Beliau melihat pada syetan beberapa belenggu dan gantungan pemberat untuk segala sesuatu seraya bertanya. Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini? Syetan menjawab: Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menggoda anak cucu Adam.Yahya bertanya: Apa hubungannya pemberat ini dengan manusia ? Syetan menjawab: Bila kamu kenyang maka aku beri pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir. Yahya bertanya lagi: Apa lainnya? Tidak ada! Jawab syetan. Kemudian Nabi Yahya berkata: Demi Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya. Iblis berkata. Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat pada orang muslim selamanya.

    Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela:

    • Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.
    • Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.
    • Mengganggu ketaatan kepada Allah
    • Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan
    • Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.
    • Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani

    4. Cinta perhiasan dan perabotan rumah tangga

    Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai perhiasan dan perabotan rumah tangga maka iblis bertelur dan beranak dan menggodanya untuk terus berusaha melengkapi dan membaguskan semua perabotan rumahnya, menghiasi temboknya, langit-langitnya dst. Akibatnya umurnya habis disibukkan dengan perabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada Allah.

    5. Tergesa-gesa dan tidak melakukan receck

    Rasulullah pernah bersabda: Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan dan hati-hati adalah dari Allah SWT.

    Allah berfirman: ”Manusia diciptakan tergesa-gesa” dalam ayat lain ditegaskan: “Sesungguhnya manusia itu sangat tergesa-gesa.”

    Mengapa kita dilarang tergesa-gesa? Semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan hata hati membutuhkan perenungan dan ketenangan. Sedangkan tergesa-gesa menghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajiban maka syetan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.

    6. Mencintai harta

    Kecintaan terhadap uang dan semua bentuk harta akan menjadi alat hebat bagi syetan. Bila orang memiliki kecintaan kuat terhadap harta maka hatinya akan kosong. Kalau dia mendapatkan uang sebanyak satu juta di jalan maka akan muncul dari harta itu sepuluh syahwat dan setiap syahwat membutuhkan satu juta. Demikianlah orang yang punya harta akan merasa kurang dan menginginkan tambahan lebih banyak lagi.

    7. Ta’assub bermadzhab dan meremehkan kelompok lain.

    Orang yang ta’assub dan memiliki anggapan bahwa kelompok lain salah sangat berbahaya. Orang yang demikian akan banyak mencaci maki orang lain. Meremehkan dan mencaci maki termasuk sifat binatang buas. Bila syetan menghiasi pada manusia bahwa taassub itu seakan-akan baik dan hak dalam diri orang itu maka ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain dan menjelekkannya.

    8. Kikir dan takut miskin.

    Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah dan selalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan dan siksa yang pedih adalah janji orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa memberikan haknya kepada fakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman pernah berkata: Sesungguhnya syaitan berkata: Anak cucu Adam tidak akan mengalahkanku dalama tiga hal perintahku: Aku perintahkan untuk mengambil harta dengan tanpa hak, menginfakkannya dengan tanpa hak dan menghalanginya dar hak kewajibannya (zakat). Sufyan berkata: Syetan tidak mempunyai senjata sehebat senjata rasa takutnya manusia dari kemiskinan. Apabila ia menerima sifat ini maka ia mengambil harta tanpa hak dan menghalanginya dari kewajiban zakatnya.

    9. Memikirkan Dzat Allah

    Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yang diinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan.

    10. Suudzon terhadap orang Islam ghibah.

    Allah berfirman dalam Surat Al Hujuroot 12 sbb.:

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

    Rasulullah pernah bersabda: Jauhillah tempat-tempat yang bisa memunculkan prasangka buruk. Kalau ada orang yang selalu suudzdzon dan selalu mencari cela orang lain maka sebenarnya ia adalah orang yang batinnya rusak. Orang mukmin senantiasa mencari maaf dan ampunan atetpi orang munafik selalu mencari cela orang lain.

    Itulah sebagian pintu-pintu masuknya syetan untuk menguasai benteng hatinya. Kalau kita teliti secara mendetail kita pasti tidak akan mempu menghitus semua pintu masuknya syetan ke dalam hati manusia

    Sekarang bagaimana solusi dari hal ini? Apakah cukup dengan zikrullah dan mengucapkan “Laa haula wa laa quwwata illa billah”? ketahuilah bahwa upaya untuk membentengi hati dari masuknya serbuan syetaan adalah dengan menutup semua pintu masuknya syetan dengan membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela yang disebutkan di atas. Bila kita bisa memutuskan akar semua sifat tercela maka syetan mendapatkan berbagai halangan untuk memasukinya ia tidak bisa menembus ke dalam karena zikrullah. Namun perlu diketahui bahwa zikir tidak akan kokh di hati selagi hati belum dipenuhi dengan ketakwaan dan dijauhkan dari sifat-sifat tercela. Bila orang yang hatinya masih diliputi oleh akhlak tercela maka zikrullah hanyalah omongan jiwa yang tidak menguasai hati dan tidak akan mampu menolak kehadiran syetan. Oleh sebab itu

    Allah berfirman:

    Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. ( Al A’raaf 201)

    Perumpamaan syetan adalah bagaikan anjing lapar yang mendekati anda. Bila anda tidak memiliki roti atau daging pasti ia akan meninggalkanmu walaupun cuma menghardiknya dengan ucapan kita. Tapi bila di tangan kita ada daging maka ia tidak akan pergi dari kita walaupun kita sudah berteriak ia ingin merebut daging dari kita. Demikian juga hati bila tidak memiliki makanan syetan akan pergi hanya dengan dzikrullah. Syahwat bila menguasi hati maka ia akan mengusir dzikrullah dari hati ke pinggirnya saja dan tidak bisa merasuk dalam relung hati. Sedangkan orang-orang muttaqin yang terlepas dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela maka ia akan dimasuki syetan bukan karena syahwat tapi karena kelalaian daari dzikrullah apabila ia kembali berdzikir maka syetan langsusng. Inilah yang ditegaskan firman Allah dalam ayat sebelumnya:

    Artinya: Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Al A’roof ayat 200)

    Dalam ayat lain disebutkan:

    Artinya: Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 98-100)

    Mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bila Umar ra. Melewati suatu lereng maka syetan mengambil lereng selain yang dilewati Umar.”? Karena Umar memiliki hati yang bersih dari sifat-sifat tercela sehingga syetan tidak bisa mendekat. Kendatipun hati berusaha menjauhkan diri dari syetan dengan dzikrullah tapi mustahil syetan akan menjauh dari kita bila kita belum membersihkan diri dari tempat yang disukai syetan yaitu syahwat, seperti orang yang meminum obat sebelum melindungi dir dari penyakit dan perut masih disibukkan dengan makanan yang kerasa dicerna. Taqwa adalah perlindungan hati dari syahwat dan nafsu apabila zikrullah masuk kedalam hati yang kosong dari zikir maka syetan mendesak mamsuk seperti masuknya penyakit bersamaan dengan dimakannya obat dalam perut yang masih kosong.

    Allah SWT berfirman :

    Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. ()

    Wallahu a’lamu bis showab.

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 23 October 2012 Permalink | Balas  

    Amalan Sebelum Tidur

    Suatu hari Rasulullah saw masuk ke rumah Sayyidah Fathimah as. Ketika itu, Fathimah sudah berbaring untuk tidur. Rasulullah saw lalu berkata, “Wahai Fathimah, lâ tanâmi. Janganlah engkau tidur sebelum engkau lakukan empat hal; mengkhatam Al-Quran, memperoleh syafaat dari para nabi, membuat hati kaum mukminin dan mukminat senang dan rida kepadamu, serta melakukan haji dan umrah.”

    Fathimah bertanya, “Bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sebelum tidur?” Rasulullah saw menjawab, “Sebelum tidur, bacalah oleh kamu Qul huwallâhu ahad tiga kali. Itu sama nilainya dengan mengkhatam Al-Quran.” Yang dimaksud dengan Qul huwallâhu ahad adalah seluruh surat Al-Ikhlas, bukan ayat pertamanya saja. Dalam banyak hadis, sering kali suatu surat disebut dengan ayat pertamanya. Misalnya surat Al-Insyirah yang sering disebut dengan surat Alam nasyrah.

    Rasulullah saw melanjutkan ucapannya, “Kemudian supaya engkau mendapat syafaat dariku dan para nabi sebelumku, bacalah shalawat: Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ shalayta ‘alâ Ibrâhim wa ‘alâ âli Ibrâhim. Allâhumma bârik ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ bârakta ‘alâ Ibrâhim wa ‘alâ âli Ibrâhim fil ‘âlamina innaka hamîdun majîd.

    “Kemudian supaya kamu memperoleh rasa rida dari kaum mukminin dan mukminat, supaya kamu disenangi oleh mereka, dan supaya kamu juga rida kepada mereka, bacalah istighfar bagi dirimu, orang tuamu, dan seluruh kaum mukminin dan mukminat.”

    Tidak disebutkan dalam hadis itu istighfar seperti apa yang harus dibaca. Yang jelas, dalam istighfar itu kita mohonkan ampunan bagi orang-orang lain selain diri kita sendiri. Untuk apa kita memohon ampunan bagi orang lain? Agar kita tidur dengan membawa hati yang bersih, tidak membawa kebencian atau kejengkelan kepada sesama kaum muslimin. Kita mohonkan ampunan kepada Allah untuk semua orang yang pernah berbuat salah terhadap kita. Hal itu tentu saja tidak mudah. Sulit bagi kita untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti hati kita. Bila kita tidur dengan menyimpan dendam, tanpa memaafkan orang lain, kita akan tidur dengan membawa penyakit hati. Bahkan mungkin kita tak akan bisa tidur. Sekalipun kita tidur, tidur kita akan memberikan mimpi buruk bagi kita. Penyakit hati itu akan tumbuh dan berkembang ketika kita tidur. Dari penyakit hati itulah lahir penyakit-penyakit jiwa dan penyakit-penyakit fisik. Orang yang stress harus membiasakan diri memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang membuatnya stress sebelum ia beranjak tidur.

    Dalam hadis itu tidak dicontohkan istighfar macam apa yang harus kita baca. Tapi ada satu istighfar yang telah dicontohkan oleh orang tua-orang tua kita di kampung. Biasanya setelah salat maghrib, mereka membaca:

    “Astaghfirullâhal azhîm lî wa lî wâlidayya wa lî ashâbil huqûqi wajibâti ‘alayya wal masyâikhina wal ikhwâninâ wa li jamî’il muslimîna wal muslimât wal mukminîna wal mukminât, al ahyâiminhum wal amwât. Ya Allah, aku mohonkan ampunan pada-Mu bagi diriku dan kedua orang tuaku, bagi semua keluarga yang menjadi kewajiban bagiku untuk mengurus mereka. Ampuni juga guru-guru kami, saudara-saudara kami, muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.”

    Bila kita amalkan istighfar itu sebelum tidur, paling tidak kita telah meminta ampun untuk orang tua kita. Istighfar kita, insya Allah, akan membuat orang tua kita di alam Barzah senang kepada kita. Istighfar itu pun akan menghibur mereka dalam perjalanan mereka di alam Barzah. Manfaat paling besar dari membaca istighfar adalah menentramkan tidur kita.

    Nasihat terakhir dari Rasulullah saw kepada Fathimah adalah, “Sebelum tidur, hendaknya kamu lakukan haji dan umrah.” Bagaimana caranya? Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang membaca subhânallâh wal hamdulillâh wa lâ ilâha ilallâh huwallâhu akbar, ia dinilai sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah.”

    Menurut Rasulullah saw, barangsiapa yang membaca wirid itu lalu tertidur pulas, kemudian dia bangun kembali, Allah menghitung waktu tidurnya sebagai waktu berzikir sehingga orang itu dianggap sebagai orang yang berzikir terus menerus. Tidurnya bukanlah tidur ghaflah, tidur kelalaian, tapi tidur dalam keadaan berzikir. Sebetulnya, bila sebelum tidur kita membaca zikir, tubuh kita akan tertidur tapi ruh kita akan terus berzikir. Sekiranya orang itu terbangun di tengah tidurnya, niscaya dari mulut orang itu akan keluar zikir asma Allah.

    ***

    Petikan dari ceramah KH. Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad di Mesjid Al-Munawwarah, tanggal 12 September 1999.

    Ditranskripsi oleh Ilman Fauzi Rakhmat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 21 October 2012 Permalink | Balas  

    Adil Membagi Waktu

    KH Abdullah Gymnastiar

    “Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya.” (HR Ahmad)

    Saudaraku, Islam sangat menaruh perhatian terhadap waktu. Dalam Alquran, bertebaran ayat-ayat yang berhubungan dengan waktu. Bahkan, berkali-kali Allah SWT bersumpah atas nama waktu. Misalnya di awal QS Al-Ashr <103>, Al-Lail <92>, Adh-Dhuha <93>, dsb. Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Maka tak usah heran bila Islam mengingatkan kita akan waktu minimal lima kali sehari semalam. Belum lagi anjuran untuk menghidupkan waktu disepertiga malam terakhir, waktu dhuha (saat matahari sepenggalahan).

    Mengingat pentingnya waktu, maka kita layak bertanya, sejauh mana komitmen kita terhadap waktu? Bila kita termasuk orang yang meremehkan waktu, tidak kecewa saat pertambahan waktu tidak menghasilkan peningkatan kualitas diri, maka bersiap-siaplah menjadi pecundang dalam hidup.

    Kita ini telah, sedang, dan akan selalu berpacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding dengan satu langkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, melambungnya angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas diri. Maka, siapapun yang bersungguh-sungguh mengisi waktunya dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.

    Kunci efektivitas waktu

    Efektivitas penggunaan waktu sangat dipengaruhi keterampilan kita dalam membaginya. Ada hak belajar, hak bekerja, hak tubuh, hak keluarga, hak ibadah juga hak evaluasi diri. Semuanya harus dibagi secara adil. Sibuk dan hebatnya belajar tanpa disertai istirahat dan ibadah misalnya, hanya akan mendatangkan masalah.

    Mahasiswa yang akan mengikuti ujian misalnya. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka menjadi keharusan baginya untuk membuat perencanaan. Sehari belajar berapa jam? Katakanlah belajar 2 jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berarti 12 jam perminggu atau 48 jam perbulan. Jadi, dalam tiga bulan ia harus belajar minimal 144 jam. Lalu, mata kuliahnya ada 10. Satu mata kuliah rata-rata lima bab dan satu bab sepuluh halaman, berarti 50 X 10 = 500 halaman. Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Dengan demikian, dalam satu jam ia harus menguasai minimal tiga lembar.

    Kuncinya, kita harus memetakan dulu potensi dan masalahnya. Lalu bergerak dengan acuan peta tersebut. Setelah itu kita disiplin menjalankannya. Sebab banyak orang yang hanya pandai membuat rencana, tapi kurang pandai menjalankannya. Karena itu, sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Buatlah secara proporsional dan fleksibel agar kita mudah menjalankannya.

    Menunda pekerjaan

    Ada satu kebiasaan yang akan menghambat efektivitas dan optimalisasi waktu yang kita miliki, yaitu kebiasaan menunda. Hebatnya, sebagian orang merasa bahwa menunda pekerjaan itu akan lebih baik. Padahal kebiasaan menunda hampir pasti mengundang masalah bila tidak didasarkan pada perhitungan matang.

    Dalam setiap waktu ada kewajiban yang harus kita tunaikan. Andaikan kita tunda maka pekerjaan lain pasti akan menyusul, sehingga pekerjaan makin menumpuk. Akhirnya, banyak energi, waktu dan biaya yang terbuang percuma selain berpeluang memunculkan rasa enggan untuk mengerjakannya.

    Contohnya ada seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Dalam hati ia berkata, “Saya akan belajar nanti malam saja supaya lebih tenang”. Ketika malam datang ia berkata lagi, “Ah nanti saja menjelang hari H saya akan belajar mati-matian”. Saat malam hari H tiba muncul lagi alasan, “Agar lebih masuk, saya akan belajar nanti Subuh”. Apa yang terjadi? Subuhnya terlambat dan ia pun bangun kesiangan dan telat masuk ruang kelas.

    Ada sebuah nasihat dari Imam Hasan Al-Bashri yang layak kita renungkan. “Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada hari esok. Kalaulah esok hari menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti pada hari ini. Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu”.

    Wallaahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 18 October 2012 Permalink | Balas  

    Kenapa Allah SWT Merahasiakan Mati?

    Suatu hari seperti dinukil oleh Syekh Abdurahman Al-Sinjari, dalam Al-Buka min Khasyatillah, Nabi Ya’qub berdialog dengan Malaikat pencabut nyawa.

    “Aku ingin sesuatu yang harus engkau penuhi sebagai tanda persudaraan kita,” pinta Nabi Ya’kub.

    “Apakah itu.” tanya malaikat maut.

    “Jika ajalku telah dekat, beritahulah aku.”

    Malaikat itu menjawab, “Baik, aku akan memenuhinya. Aku akan mengirimkan tidak hanya satu utusan, tapi dua atau tiga utusan.” Setelah itu keduanya berpisah. Hingga setelah lama malaikat itu datang kembali.

    “Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?” tanya Nabi Ya’qub.

    “Aku datang untuk mencabut nyawamu.” jawab malaikat.

    “Lalu mana ketiga utusanmu?” tanya Nabi Ya’qub lagi.

    “Sudah kukirim. Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan membungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya’qub itulah utusanku untuk setiap anak Adam.”

    Tetapi, kematian itu tidak hanya akan menimpa kepada orang-orang yang sudah lanjut usia (tua) saja, tapi semua orang baik itu bayi yang baru lahir atau belum lahir, anak-anak, remaja, dewasa samapai orang tua yang sudah jompo sekali. Pokoknya, setiap yang berjiwa baik itu manusia, hewan, tumbuhan dan lain sebagainya akan merasakan mati, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT yang artinya,

    Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imaran (3): 185)

    Malahan di lain ayat-Nya Allah SWT menerangkan bahwa kematian itu terjadi atas izin Allah SWT sebagai sebuah ketetapan yang telah ditentukan waktunya, sebagaimana firman-Nya,

    “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…” (QS. Ali Imran (3): 145)

    Maka, oleh karena itu, dimanapun kita, sedang apa pun kita, kalau Allah SWT sudah menetapkan ketentuan-Nya, bahwa saat ini, menit ini, jam ini, dan hari ini kita ditakdirkan mati, maka matilah kita. Allah SWT berfirman,

    “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS. An-Nisa (4): 78)

    Kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi dan akan menimapa kepada setiap yang berjiwa. Yang jadi masalah adalah tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan menimpa. Malahan Rasulullah SAW sendiri pun tidak diberitahu oleh Allah SWT. Sehingga timbul pertanyaan didiri kita masing-masing, kenapa Allah SWT merahasiakan masalah kematian ini?

    Ada beberapa alasan yang bisa kita ambil dari dirahasiakannya kematian itu:

    1. AGAR KITA TIDAK CINTA DUNIA

    DR. Aidh Al-Qarni dalam sebuah bukunya Cambuk Hati berkata bahwa, “Dunia adalah jembatan akhirat. Oleh karena itu, seberangilah ia dan janganlah Anda menjadikannya sebagai tujuan. Tidaklah berakal orang yang membangun gedung-gedung di atas jembatan” .

    Al-Ghazali dalam bukunya Mutiara Ihya Ulumuddin menukil beberapa hadits mengenai masalah dunia dianataranya adalah:

    Rasulullah SAW bersabda, “Dunia itu penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir” .

    Dan sabdanya pula, “Dunia itu terkutuk. Terkutuklah apa yang ada di dalamnya kecuali yang ditujukan kepada Allah.”

    Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa Raulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mencintai dunianya, niscaya ia akan membahayakan akhiratnya. Dan barangsiapa mencintai akhiratnya, niscaya ia akan membahayakan dunianya. Maka utamakanlah apa yang kekal daripada apa yang binasa.”

    Intinya adalah agar kita tidak cinta pada sesuatu yang pasti tiada. Jangan sampai ada makhluk, benda, harta, jabatan yang menjadi penghalang kita dari Allah SWT.

    2. AGAR KITA TIDAK MENUNDA AMAL

    Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, semua dirahasiakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, kita jangan sampai menunda-nunda ibadah, dan semua amal perbuatan baik yang akan kita lakukan, tobat yang kita lakukan, maaf yang kita ucapkan.

    Syekh Ahmad Atailah dalam bukunya Mutu Manikan dari Kitab Al-Hikam mengatakan bahwa,

    “Penundaanmu untuk beramal karena menanti waktu senggang, adalah timbul dari hati yang bodoh.”

    Dan Syekh Ahmad Atailah juga memberikan tipsnya untuk mengatur waktu dalam kehidupan duniawi yang mana perlu diperhatikan hal-hal beriut:

    1. Utamakan kehidupan akhirat, dan jadikan hidup didunia sebagai jembatan menuju akhirat, dan jangan menunda waktu beramal.
    2. Berpaculah dengan waktu, karena apabila salah menggunakan waktu, maka waktu itu akan memenggal kita. Artinya terputus seseorang dengan waktu terputus pula amal selanjutnya.
    3. Mengejar dunia tidak akan ada habisnya, lepas satu datang pula lainnya. Amal yang tertunda karena habisnya waktu, akan melemahkan semangat untuk menjalankan ibadah. Akibatnya hilang pula wujud kita sebagai hamba Allah yang wajib beribadah.
    4. Pergiatlah waktu beramal sebelum tibanya waktu ajal.
    5. Perketat waktu ibadah sebelum datang waktu berserah.
    6. Jangan menunda amal bakti sebelum datang waktu mati.
    7. Aturlah waktu untuk beramal agar kelak tidak menyesal.

    3. AGAR MENCEGAH MAKSIAT

    Ibnu Bathal berkata: “Jihadnya seseorang atas dirinya adalah jihad yang lebih sempurna” .

    Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya” (QS. An-Nazi’at (79): 40).

    Jihad seseorang atas dirinya sendiri dapat berupa mencegah diri dari maksiat, mencegah diri dari apa yang syubhat dan mencegah diri dari memperbanyak syahwat (kesenangan) yang diperbolehkan karena ingin menikmatinya kelak diakhirat.

    Meninggalkan maksiat adalah perjuangan, sedang keengganan meninggalkannya adalah pengingkaran. Maka, untuk menghindari maksiat, tidak lain dengan menemukan jalan keluarnya, dan satu-satunya jalan keluar adalah ketaatan dan menempatkan diri pada pergaulan yang dapat terhindar dari panggilan dan godaan hawa nafsu itu sendiri.

    4. AGAR MENJADI ORANG YANG CERDAS

    Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang merendahkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sementara orang bodoh adalah orang yang mengikuti diri pada hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan angan-angan kosong.”

    Oleh karena itu, jadilah menjdi orang yang cerdas. Karena hanya orang yang cerdaslah yang tahu bagaimana mempersiapkan mati. Mereka tahu bagaimana merubah yang fana ini menjadi sesuatu yang kekal.

    Misalnya, bagaimana caranya gaji yang fana ini bisa berubah menjadi kekal? Maka caranya adalah dengan mengeluarkan sebagian atau semuanya kalau memungkinkan dari gaji itu untuk tabungan akhiratnya. Dan ini merupakan investasi kita untuk masa depan kita juga.

    Sahabat-sahabat sekalian, kematian adalah sesuatu hal yang misterius yang hanya Allah saja yang tahu. Tinggal bagaimana diri kita dalam mempersiapkan diri ini untuk menghadapi kematian yang akan mendatangi kita.

    “ Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” . (QS. Ali Imran (3): 102)

    Wallahu A’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 17 October 2012 Permalink | Balas  

    Sabar – Pahala Allah Yang Tiada Batas

    “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala (atas) mereka (dengan) tanpa batas” (Q.S.Az Zumar Ayat 10).

    Saudaraku …

    Firman Allah di atas, memberikan pengertian yang amat dalam tentang hakikat Pahala atau Ganjaran Allah swt. Allah akan memberikan pahala kepada orang yang mampu bersikap Sabar dalam menghadapi berbagai lika-liku kehidupan. Allah tidak lagi membalas kebajikan yang manusia kerjakan dengan hitungan: sepuluh kali – amtsaaluhum atau tujuh puluh kali atau tujuh ratus kali lipatan. Tetapi Allah tegaskan bahwa bila manusia bersabar, maka Allah memberikan pahala buat mereka dengan – bighairi hisaab – alias tanpa batas. Subhaanallaah.

    Saudaraku,

    Pahala di sisi Allah tak berhingga – it was again and again – Pahala itu terus menerus mengalir ke dalam Hati manusia yang berbuat kebajikan. Sikapnya santun, Bicaranya Hikmah, Tutur Katanya menyejukkan, Fikirannya jernih dan luas Dadanya Luas, seluas lautan, karena dadanya mampu menerima Ilmu Allah, itulah hakikat pahala yang Allah karuniakan kepada manusia yang sabar. Dengan Pahala sabar, orang lain bisa dibuat iri, mereka ingin membeli dengan harga berapa saja, asal Pahala kesabaran itu jatuh ketangannya. Namun sayang seribu saying, Allah tidak menganugerahkan Pahala yang berlimpah ruah itu kepada orang yang tidak Sabar.

    Saudaraku,

    Terhadap Anak – Istri bahkan mungkin Cucu kita, kita haruslah Sabar. Contohlah bagaimana tatkala Rasulullah saw menggendong cucu kembarnyanya Hasan dan Husein – putra dari Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah. Saat digendong Rasul mereka berhadas kecil maaf ngompol, saati itu Fatimah gelisah, karena hadas kecil Hasan dan Husein mengotori pakaian Rasul namun demikian Rasul tetap menggendongnya. Apa kata Rasul ? Wahai Fatimah, biarkan Hasan dan Husein ini melaksanakan hajatnya, setelah selesai baru aku turunkan. Subhaanallaah. Betapa Sabar Rasulullah saw.

    Saudaraku,

    Janganlah pernah bermimpi bahwa Sabar itu ada batasnya, tetapi sabar yang benar adalah ia tiada berbatas (kecuali diperangi). Orang Sabar senantiasa didampingi Allah melalui tentara-tentaranya, melalui Malaikatnya, ia terlindungi dari perbuatan tercela dan menjerumuskannya.Orang Sabar senantiasa bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencari Wajah Allah swt tanpa pernah berkeluh kesah, semangatnya senantias membara karena ia haus akan cinta dan kasihNya. Semoga kita menjadikan Sabar sebagai bekal kita dalam mengarungi Mahligai Rumah Tangga kita, sebagai bekal kita mendidik Anak dan Istri dan Saudara kita, sebagai bekal menghadapi masyarakat kita dan tentunya sebagai bekal kita untuk menghadap Allah swt di Yaumil Akhir. Insya Allah

    ***

    Oleh Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 16 October 2012 Permalink | Balas  

    Jadilah Diri Anda Sendiri, Maka Anda Akan Bahagia

    Sahabatku

    Sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kebahagiaan adalah, ketika kita menjadi diri kita sendiri. Keyakinan kita dengan potensi, bakat, kekuatan dan karakteristik yang ada pada diri kita, membuat kita merasakan keistimewaan dan keunikan yang kita miliki.

    Janganlah ragu wahai sahabat, bila kita sudah menemukan bakat kita, sekalipun menurut orang lain adalah sesuatu yang remeh. Ketika kita menjadi diri kita sendiri, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia.

    Jika Anda berkumpul dengan orang-orang yang pintar pada satu bidang, yang mana bidang itu bukan keahlian Anda, jangan Anda katakan pada mereka bahwa keahlian yang mereka miliki juga Anda miliki. Keinginan Anda hidup dibawah bayang-bayang mereka justru akan melemahkan kedudukan Anda. Mengapa? Karena hal itu jelas akan menghilangkan kelebihan yang ada dalam diri Anda. Anda hanya berkutat pada kekurangan yang ada pada diri Anda. Dan jelas pada akhirnya akan melemahkan Anda, membuat Anda tidak bisa melangkah lebih jauh, dunia ini terasa sangat sempit. Jack Trout dalam bukunya yang cukup mencerahkan, Differentiatie or Die, berkata tentang hal ini: Jika Anda mengabaikan keunikan Anda dan mencoba untuk memenuhi kebutuhan semua orang, Anda langsung melemahkan apa yang membuat Anda berbeda.

    Jujurlah dan katakan pada mereka, Maaf, ini bukan bidang saya. Saya bodoh pada masalah yang kini sedang kalian bicarakan. Saya tidak tahu, apakah keahlian saya dapat digunakan untuk membantu kalian atau tidak. Ketika Anda memberitahukan kepada mereka bahwa keahlian Anda di bidang B bukan A, mereka akan lebih antusias kepada Anda. Mereka akan lebih percaya, salut dan bangga berteman dengan Anda. Percayalah kepadaku tentang hal ini. Anda adalah sesuatu yang berbeda dengan lainnya. Tidak pernah ada sejarah yang mencatat orang seperti Anda sebelumnya dan tidak akan ada orang seperti Anda di dunia ini pada masa yang akan datang. (Dr. Aidh Abdullah Al Qarni dalam bukunya, La Tahzan)

    Wahai sahabatku

    Tidak ingin menjadi diri kita sendiri disebabkan oleh keinginan kita untuk mendapatkan pujian manusia. Kita ingin menjadi populer di mata masyarakat. Sebuah hasil penelitian psikologi menyebutkan: orang-orang yang ingin menjadi populer seringkali tidak jujur. Dan mereka sendiri senang dipuji dengan amal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. (QS. 3: 188).

    Membuat diri terkenal, itu bukan tujuan hidup kita. Kita hanya disuruh berbuat sebaik mungkin. Jika niat kita sudah salah, maka hasilnya pun akan tidak maksimal. Jika niat kita ingin terkenal tidak segera terwujud, kita hanya bisa larut dalam kesedihan karena tujuan hidup kita sudah terkandaskan. Sedangkan tujuan itu sendiri adalah final kehidupan. Tidak ada lagi kehidupan sesudah gagal mencapai titik final.

    Berbeda dengan orang yang menyesuaikan tujuan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah; kegagalan dalam menghadapi sebuah episode kehidupan dunia ini bukan berarti kegagalan segala-galanya. Jangan berambisi mencari popularitas, karena tabiat tersebut adalah indikasi dari kekeruhan jiwa, kegelisahan, dan keresahan. (Dr. Aidh Al Qarni).

    Seburuk apapun karya kita dan sekecil apa pun prestasi kita, hargailah itu! Semua itu kita peroleh dari hasil kerja keras kita, hasil kejeniusan otak kita, dan hasil kreativitas kita.

    Sungguh, alangkah berbahagianya orang yang mencari ridha hanya kepada Allah semata. Dia tidak ingin menjadi populer di mata masyarakat. Jika masyarakat tidak menghargai karyanya, itu hal biasa baginya. Karena Allah sendiri telah berfirman: Kebanyakan manusia tiada mengetahui. Artinya hanya sedikit saja manusia yang dapat memahami kebenaran. Namun, bukan berarti bahwa dirinya lebih hebat dan lebih suci dari orang lain. Dia telah mendengar firman Allah yang berbunyi: Janganlah kalian mengklaim diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa. (QS. 53: 32).

    Jika masyarakat menghargai karyanya, sekali-kali tidaklah ia menyombongkan diri. Dan janganlah kalian (orang-orang beriman) berperilaku seperti orang-orang (kafir) yang keluar dari kampung halaman mereka dengan rasa angkuh dan bersikap riya kepada manusia. (QS. 8: 47).

    Sebuah kisah menyebutkan, seorang muslim yang fakir bernama Julaibib gugur dalam sebuah pertempuran melawan pasukan kafirin. Lantas Rasulullah SAW pun memeriksa orang-orang yang gugur dan para sahabat memberitahukan kepada beliau nama-nama mereka. Akan tetapi, mereka lupa kepada Julaibib hingga namanya tidak disebutkan, karena Julaibib bukan seorang yang terpandang dan bukan pula orang yang terkenal. Sebaliknya, Rasulullah ingat Julaibib dan tidak melupakannya; namanya masih tetap diingat oleh beliau di antara nama-nama lainnya yang disebut-sebut. Beliau sama sekali tidak lupa kepadanya, lalu beliau bersabda: tetapi aku merasa kehilangan Julaibib! Akhirnya, beliau menemukan jenazahnya dalam keadaan tertutup pasir, lalu beliau membersihkan pasir dari wajahnya seraya bersabda sambil meneteskan airmata: Ternyata engkau telah membunuh tujuh orang musuh, kemudian engkau sendiri terbunuh. Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu. Cukuplah bagi Julaibib dengan medali nabawi ini sebagai hadiah, kehormatan, dan anugerah.

    Wahai sahabat

    Seperti Julaibib, tidak ingin menjadi orang terkenal dan terpandang. Seperti Julaibib, hidup menjadi dirinya sendiri. Seperti Julaibib, mengakhiri hidupnya dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Tidakkah kita ingin mendapatkan apa yang telah didapatkan Julaibib?

    ***

    Oleh Sahabat: Imam Syamil

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 14 October 2012 Permalink | Balas  

    Wanita Penghuni Neraka

    Penulis: Muhammad Faizal Ibnu Jamil

    Saudariku Muslimah … .

    Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum musyrikin dan pelaku dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang darinya. Setiap Muslimin yang mengerti keadaan Surga dan neraka tentunya sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Surga dan terhindar jauh dari neraka, inilah fitrah.

    Pada Kajian kali ini, kami akan membahas tentang neraka dan penduduknya, yang mana mayoritas penduduknya adalah wanita dikarenakan sebab-sebab yang akan dibahas nanti. Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni neraka alangkah baiknya jika kita menoleh kepada peringatan-peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an tentang neraka dan adzab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)

    Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.”

    Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu juga mengomentari ayat ini : “Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”

    Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Di dalam surat lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)

    Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya. Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya beliau bersabda : “Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam.” (Shahihul Jami’ 6618)

    Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

    Wanita Penghuni Neraka

    Tentang hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :”Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

    Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.

    Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhum : ” … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.

    Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?”

    Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?”

    Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

    Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda :” … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

    Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad)

    Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tadzkirah halaman 369)

    Saudariku Muslimah … .

    Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoritas dari penghuni Surga.

    Saudariku Muslimah … .

    Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

    1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :

    “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)

    Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

    Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya. Cukup kiranya istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

    2. Durhaka Terhadap Suami

    Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :

    1. Durhaka dengan ucapan.

    2. Durhaka dengan perbuatan.

    3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.

    Bentuk pertama ialah seorang istri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya.

    Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang istri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini. Termasuk bentuk kedurhakaan ini ialah apabila seorang istri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang diperbolehkan syar’i. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan dengan maksud untuk menjelekkannya dan merusak kehormatannya sehingga nama suaminya jelek di mata orang lain. Bentuk serupa adalah apabila seorang istri meminta di thalaq atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mengaku-aku telah dianiaya atau didhalimi suaminya atau yang semisal dengan itu.

    Permintaan cerai biasanya diawali dengan pertengkaran antara suami dan istri karena ketidakpuasan sang istri terhadap kebaikan dan usaha sang suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan syari’at-syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah-sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam. Sungguh jelek apa yang dilakukan istri seperti ini terhadap suaminya.

    Ingatlah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :”Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’i, pent.) maka haram baginya wangi Surga.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi serta selain keduanya. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 85)

    Bentuk kedurhakaan kedua yang dilakukan para istri terjadi dalam hal perbuatan yaitu ketika seorang istri tidak mau melayani kebutuhan seksual suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang semisal dengan itu. Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang istri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Yang demikian seakan-akan seorang istri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’i. Demikian pula jika sang istri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang semisal dengan itu.

    Bentuk lain adalah apabila seorang istri tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, melakukan puasa sunnah tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti shalat, mandi janabat, atau puasa Ramadlan. Maka setiap istri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah istri yang durhaka terhadap suami dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Jika kedua bentuk kedurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang istri maka ia dikatakan sebagai istri yang durhaka dengan ucapan dan perbuatannya. (Dinukil dari kitab An Nusyuz karya Dr. Shaleh bin Ghanim As Sadlan halaman 23-25 dengan beberapa tambahan)

    Sungguh merugi wanita yang melakukan kedurhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada jalan ke Surga karena memang biasanya wanita yang melakukan kedurhakaan-kedurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu. Ketahuilah wahai saudariku Muslimah, jalan menuju Surga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini ada Surga yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang sabar menempuhnya.

    Ketahuilah pula bahwa jalan menuju neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sadarlah bahwa neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mau berpaling darinya semasa ia hidup di dunia. Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. Ia mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia yang ia takuti dan tangisi.

    3. Tabarruj

    Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Jilbab Al Mar’atil Muslimah halaman 120)

    Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .” (Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103 )

    Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang hal ini dalam firman-Nya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)

    Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan di dalam kitab Al Kabair halaman 131 : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya jika mereka keluar rumah … .”

    Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoyahkan keimanan yang kokoh sekalipun. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah.

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita. Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga. Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan di hadapan kaum pria. Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini terjadi pelecehan terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri.

    Wahai saudariku Muslimah … .

    Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islamy yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)

    Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi kami hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.

    Saudariku Muslimah … .

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda : “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)

    Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya.

    Amin. Wallahu A’lam bish Shawwab.

    ***

    (Dikutip dari tulisan Muhammad Faizal Ibnu Jamil,

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 13 October 2012 Permalink | Balas  

    Orang Yang Menukar Maghfirah Dengan Siksaan  

     “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjukdan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al-Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).” (QS. Al-Baqarah (2): 174-176)

    Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, mengadakan ta’wil, merubah atau memasukkan yang tidak asli dari kitab dengan pendapatnya sendiri, hanya karena imbalan keduniaan yang tak berharga. Misalnya, uang suap, uapah atas fatwayang mereka keluarkan secara batil, dan keuntungan lain yang biasanya dipungut oleh para pemimpin dari orang-orang yang dipinain. Dikatakan bahwa imabalan itu sedikit dan tak berharga, karena dilakukan dengan menukarkan kebenaran dengan kebatilan -sekalipun imbalan itu nilainya banyak- tetap tidak ada harganya sama sekali. Di samping itu, pelakunya tidak akan bisa menikmati jerih payah yang dilakukannya. Kenikmatan tersebut hanya bersifat sementara atau hanya terbatas pada batas usia manusia. Hal ini seperti yang difirmankan Allah:

    “..Padahal kemikmatan hidup didunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah (9): 38)

    Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan Kitabullah yang sebenarnya, kemudian menjualnya, maka upah yang mereka terima itu akan menjerumuskan kedalam neraka. Setelah itu, baru mereka mengerti akibat dari perbuatan menyembunyikan kebenaran itu.

    Ayat tersebut bisa diartikan pula dengan kalimat, “Sesungguhnya mereka hanya memenuhi perut dengan api neraka.” Dengan kata lain, mereka tidak bisa menghentikan sikap tamak didalam melahap keduniaan, melainkan api neraka akan membakar mereka. Hal ini seperti yang dikatakan dalam sebuah hadits,

    “Takkan bisa memenuhi perut anak Adam (manusia) melainkan tanah.”

    Hukum ayat diatas bersifat umum, termasuk kaum muslimin dan non muslim. Sebab, Sunatullah akan berlaku umum yakni selalu membela kebenaran dan memerangi kebatilan.

    Sesungguhnya llah berpaling dan murka terhadap mereka. Sebagaimana kebiasaan para raja, jika mereka sedang murka terhadap seseorang, maka mereka tidak mau mengajak berbicara. Tetapi jika mereka sedang dalam keadaan rida, mereka akan berlaku lemah lembut dan kasih sayang, disamping selalu menyambut dengan berseri-seri.

    Allah tidak akan membersihkan kotoran dan dosa-dosa mereka dengan cara memberikan ampunan atau memberi maaf perbuatan mereka, selama ketika kematian mereeka masih dalam keadaan kafir.

    Mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih dan menyakitkan.

    Sesungguhnya orang-orang yang tertimpa siksa yang sangat pedih itu ialah orang-orang yang meninggalkan hidayah yang kebenarannya tidak diperselisihkan lagi. Hidayah tersebut adalah apa saja yang disampaikan oleh para Rasul dari Tuhannya. Mereka lebih suka memilih pendapat orang di dalam urusan agama, sedang pendapat tersebut tidak mempunyai dasar yang pasti, bahkan menyesatkan dan membingungkan. Karenanya, para pengikutnya selalu berada dalam perselisihan dan persengketaan.

    Pengikut setia kesesatan itu berhak mendapat siksa sebagai ganti dari ampunan. Sebab, ia melakukan demikian itu lantaran kesadaran dan pilihannya sendiri, sebab hujjah kebenaran sudah tampak dihadapan matanya. Hal ini berarti ia telah menukar maghfirah (ampunan) dengan siksaan. Ringkasnya, mereka sendirilah yang mencelakakan dirinya karena telah memilih upah keduniawian, dan meremehkan pahala diakhirat.

    Pada dasarnya perbuatan mereka dapat mengantarkan kedalam neraka adalah perbuatan yang telah disebut didalam ayat yang telah lalu dan sangat mengherankan. Mantapnya mereka menuju jalan keneraka dan tidak pedulinya mereka terhadap balasan yang akan ditimpakan kepada mereka menunjukkan bahwa mereka itu bersikap “sabar”sebagai penghuni neraka. Hal ini tentu sangat mengherankan, dan lebih mengherankan lagi jika sikap seperti itu ditampilkan oleh orang yang berpikiran waras.

    Ungkapan seperti ini sama dengan suatu ucapan yang dikatakan kepada seseorang yang melakukan perbuatan yang dimurkai raja, “Alangkah kuatnya anda hidup terbelenggu dan tersekap didalam penjara.”Dengan kata lain, seseorang tidak melakukan hal tersebut bila tidak “sabar” dalam menahan siksaan. Tetapi, siapakah orang yang mampu bertahan terhadap siksaan mereka?

    Siksaan tersebut telah ditetapkan untuk mereka akibat sikap menentangnya mereka terhadap kitabullah yang berisi kebenaran. Padahal, kebenaran itu selamanya akan berada dipihak yang menang. Siapapun yang menentang kebenaran, pasti akan terperosok kejurang kekalahan.

    Pada dasarnya, orang-orang yang memperselisihkan kebenaran Kitabullah yang diturunkan Allah -padahal kitab ini berguna untuk menghilangkan segala persengketaan dan menyatukan pendapat- sebenarnya berada dipihak yang menyimpang dari kebenaran. Sebab, mereka sudah tidak mau mengambil kitab itu sebagai petunjuk. Sehingga setiap kelompok membuat caranya sendiri dengan berbagai perbedan yang tak dapat dihindarkan. Dengan demikian, timbul berbagai perselisihan dan perbedaan.

    Ayat ini mengandung ancaman -selain ancaman yang tersebut didalam ayat sebelumnya- terhadap orang-orang yang menyembunyikan kebenaran. Orang-orang yang berselisih ini, masing-masing tidak terjalin suasana kebersamaan. Mereka ini tidak seperti yang dianjurkan didalam firman Allah:

    “..dan bahwa (yang kami peringatkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya….” (QS. Al-An’am (6): 153)

    Karenanya, ahli kitab pun sebenarnya tidak boleh terbagi-bagi menjadi berbagai sekte. Sebagaimana dianjurkan didalam firman Allah:

    “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikit pun tanggungjawabmu terhadap mereka…” QS. Al-An’am (6): 159)

    Jika terdapat kekeliruan didalam memahami sesuatu, mereka wajib mengembalikan persoalan tersebut kepada Al-Kitab dan As-Sunnah hingga persengketaan itu terhenti. Hal ini seperti dianjurkan didalam firman Allah:

    “..Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya)…” (QS. An-Nisa”(4): 59)

    Didalam Islam, tidak ada alasan bagi kaum muslimin mempersoalkan agamanya atau perselisihan didalam agama. Sebab, Allah telah menjadikan setiap musykilah (problem) itu jalan keluar. Disamping itu, perbedaan di antara kaum muslimin itu hendaknya tidak melahirkan perpecahan dan persengketaan. Karen, semuanya sudah cukup jelas dan mudah. Demikian pula para ahli agama merasakan kemudahan didalam meneliti masalah-masalah yang diperselisihkan. Kemudian, jika mereka melihat salah satu diantara pendapat yang beralasan itu benar, maka dijadikan sebagai pegangan. Biasanya, kuatnya hujjah itu bertalian erat dengan maslahat umat dan bertalian dengan hukum-hukum yang sesuai dengan mereka. Sehingga tidak ada lagi orang yang berani menjual maghfirah dengan siksaan.[]

    *Tafsir Al-Maraghi*

    ***

    Ahmad Mushthafa Al-Maraghi

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 12 October 2012 Permalink | Balas  

    Kematian Itu Indah

    Ada sebuah perbincangan yang menarik antara seorang ustadz dengan jamaah pengajiannya. Sang Ustadz bertanya kepada jamaahnya “Ibu-Ibu mau masuk surga?” Serempak ibu-ibu menjawab “mauuuu….” Sang ustadz kembali bertanya “Ibu-ibu ingin mati hari ini tidak?”. Tak ada satupun yang menjawab. Rupanya tidak ada satupun yang kepengen mati. Dengan tersenyum ustadz tersebut berkata “Lha gimana mau masuk surga kalo gak mati-mati”.

    Ustadz itu meneruskan pertanyaannya “Ibu-ibu mau saya doakan panjang umur?” Dengan semangat ibu-ibu menjawab “mauuu….” Pak Ustadz kembali bertanya “Berapa lama ibu-ibu mau hidup? Seratus tahun? Dua ratus atau bahkan seribu tahun? Orang yang berumur 80 tahun saja sudah kelihatan tergopoh-gopoh apalagi yang berumur ratusan tahun”.

    Rupanya pertanyaan tadi tidak selesai sampai disitu. Sang ustadz masih terus bertanya “Ibu-ibu cinta dengan Allah tidak” Jawabannya bisa ditebak. Ibu-ibu serempak menjawab iya. Sang ustadz kemudian berkata “Biasanya kalo orang jatuh cinta, dia selalu rindu untuk berjumpa dengan kekasihnya, Apakah ibu-ibu sudah rindu ingin bertemu Allah?” Hening. Tidak ada yang menjawab.

    Kebanyakan dari kita ngeri membicarakan tentang kematian. Jangankan membicarakan, membayangkannya saja kita tidak berani. Jawabannya adalah karena kita tidak siap menghadapi peristiwa setelah kematian. Padahal, siap tidak siap kita pasti akan menjalaninya. Siap tidak siap kematian pasti akan datang menjemput. Daripada selalu berdalih tidak siap lebih baik mulai dari sekarang kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

    Persiapan terbaik adalah dengan selalu mengingat mati. Yakinkan pada diri kita bahwa kematian adalah pintu menuju Allah. Kematian adalah jalan menuju tempat yang indah, surga. Dengan selalu mengingat mati kita akan selalu berusaha agar setiap tindakan yang kita lakukan merupakan langkah-langkah menuju surga yang penuh kenikmatan.

    Hakekat kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan kembali menuju Allah. Dalam perjalanan yang singkat ini ada yang kembali dengan selamat, namun ada yang tersesat di neraka. Kita terlalu disibukkan oleh dunia hingga merasa bahwa dunia inilah kehidupan yang sebenarnya. Kita seakan lupa bahwa hidup ini hanya sekedar mampir untuk mencari bekal pulang. Kemilaunya keindahan dunia membuat kita terlena untuk menapaki jalan pulang.

    Rasulullah pernah berkata orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat mati. Dengan kata lain orang yang paling cerdas adalah orang yang mempunyai visi jauh ke depan. Dengan selalu mengingat visi atau tujuan hidupnya ia akan selalu bergairah melangkah ke depan. Visi seorang muslim tidak hanya dibatasi oleh kehidupan di dunia ini saja namun lebih dari itu, visinya jauh melintasi batas kehidupan di dunia. Visi seorang muslim adalah kembali dan berjumpa dengan Allah. Baginya saat-saat kematian adalah saat-saat yang indah karena sebentar lagi akan berjumpa dengan sang kekasih yang selama ini dirindukan.

    Terkadang kita takut mati karena kematian akan memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Orang tua, saudara, suami/istri, anak. Ini menandakan kita lebih mencintai mereka ketimbang Allah. Jika kita benar-benar cinta kepada Allah maka kematian ibarat sebuah undangan mesra dari Allah.

    Namun begitu kita tidak boleh meminta untuk mati. Mati sia-sia dan tanpa alasan yang jelas justru akan menjauhkan kita dari Allah. Mati bunuh diri adalah wujud keputusasaan atas kasih sayang Allah. Ingin segera mati karena kesulitan dunia menandakan kita ingin lari dari kenyataan hidup. Mati yang baik adalah mati dalam usaha menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Mati dalam usaha mewujudkan cita-cita terbesar yakni perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.

    Akhirnya orang yang selamat adalah orang yang menyadari bahwa semua harta dan kekuasaan adalah sarana untuk bisa kembali kepada Allah. Jasadnya mungkin bersimbah keluh berkuah keringat, banting tulang menundukkan dunia namun hatinya tetap hanya terpaut pada sang kekasihAllah SWT. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa kerja keras, berfikir cerdas dan berhati ikhlas.

    Duhai Pemilik dunia, ajarkan kami untuk menundukkan dunia, bukan kami yang tunduk kepada dunia. Bila kilauan dunia menyilaukan pandangan kami, bila taburan permata dunia mendebarkan hati kami, ingatkan kami ya Allah. Ingatkan bahwa keridhoan-Mu dan kasih sayang-Mu lebih besar dari pada sekedar dunia yang pasti akan kami tinggalkan. Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 10 October 2012 Permalink | Balas  

    Musuh Manusia

    Paling tidak ada tiga macam musuh umat Islam, yaitu kebodohan, kemiskinan, dan penyakit. Manusia diberi predikat Khalifah Allah di bumi ini membawa arti bahwa manusia diberi kewenangan untuk mengelola bumi dan segala isinya. Mengelola dunia hanya akan dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan dan ilmu pengetahuan. Karenanya sangat jelas, wahyu pertama yang turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5, yaitu perintah untuk membaca.

    Sejarah juga mencatat, ketika Perang Badar, banyak dari kaum Quraisy yang kalah dalam peperangan akhirnya menjadi tawanan. Rasulullah SAW akan membebaskan tawanan itu, jika mereka mau mengajarkan membaca dan menulis kepada sepuluh umat Islam. Catatan sejarah itu menunjukkan begitu besarnya perhatian umat Islam terhadap upaya memerangi kebodohan dan keterbelakangan. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam tidak menjadi kaum yang marginal, tidak tergilas derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Kemiskinan juga merupakan musuh yang harus dihapuskan. Islam memandang musuh karena akibat kemiskinan itu sangat fatal, yaitu menyangkut akidah. Rasulullah SAW bersabda, ”Kemiskinan akan membawa seseorang kepada kekufuran.” Bahkan, Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan pada masanya, bila di hadapan kita ada ular dan kemiskinan, maka yang harus dipunahkan terlebih dahulu adalah kemiskinan.

    Islam sendiri punya konsep aktual dan akurat dalam mengatasi kemiskinan, yakni zakat, infak, dan sedekah. Bila dikelola secara profesional dan proporsional serta amanah, maka kita optimistis bahwa kemiskinan yang melanda sebagian umat Islam akan bisa teratasi. Tidak akan ada lagi umat Islam yang antre bantuan dana kompensasi BBM.

    Sewaktu Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah dinasti Umayyah, kepemimpinannya mampu menyejahterakan rakyatnya lewat zakat. Walaupun masa pemerintahannya sangat singkat, kurang lebih tiga tahun, tapi mampu mengangkat harkat kehidupan rakyatnya, sehingga tidak ditemukan orang yang hidup dalam kemiskinan pada masa pemerintahannya.

    Musuh berikutnya adalah penyakit. Karena, bila seseorang berpenyakit, maka ia tidak akan bisa berkreasi dan berkarya. Kewajiban untuk berdakwah pun akan terasa lebih berat. Itulah sebabnya Islam mengajarkan agar umatnya menjaga diri agar tetap sehat. Sehat jasmani bisa didapat lewat olahraga, karena Nabi Muhammad SAW sendiri adalah orang yang suka berolahraga.

    Rasulullah SAW bersabda, ”Ajarkanlah anak-anakmu berenang, memanah, dan menunggang kuda.” Di lain hadis, Rasulullah bersabda, ”Bahwa orang Mukmin yang sehat lebih baik dan dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah (tidak sehat).”

    Ketiga musuh ini agar dicarikan solusi konkret agar umat Islam dapat meningkatkan kualitas diri.

    ***

    Oleh : Hamdani

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 9 October 2012 Permalink | Balas  

    Syirik dalam Ibadah.

    Syirik dalam ibadah lebih ringan daripada syirik yang sebenarnya, dan lebih enteng perkaranya. Ia bersumber kepada orang yang yakin bahwa tiada tuhan selain Allah. Ia berkeyakinan pula bahwa sebagai manusia ia tidak berdaya, tidak merugikan dan tidak bermanfaat, tidak bisa memberi dan tidak mencegah kecuali atas izin Allah swt. Ia menyakini bahwa tidak ada tuhan selain Dia dan tidak ada Tuhan pemelihara kecuali Dia. Akan tetapi, ia tidak mengkhususkan untuk Allah swt dalam bermuamalat dan beribadah. Ia berbuat untuk dirinya sendiri, terkadang memohon yang bersifat duniawi, kedudukan dan popularitas di mata orang banyak. Yang diterima untuk Allah hanya sebagian dari amalnya. Inilah yang banyak dilakukan oleh manusia. Disabdakan oleh Rasulullah s.a.w dalam suatu riwayat dari hadist Ibn Hibban dalam kumpulan hadistnya: ” Syirik dalam umat (jenis) ini lebih ringan timbangannya daripada semut kecil” Sahabat bertanya. ” bagaimana kita bisa selamat daripadanya ya rasulullah? ” Beliau bersabda. “Katakanlah , ya Allah …hamba berlindung kepada-Mu dari syirik bila hamba mengetahui dan hamba mohon ampun bila tidak mengetahui.”

    Semua riya’ adalah syirik. Allah swt berfirman ; ” Katakanlah, “Sesungguhnya aku (Muhammad)ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku,’Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu Tuhan Yang Esa. barangsiapa yang menghendaki perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”” (QS.Al-Kahfi:110)

    Allah adalah Tuhan yang tunggal , maka tiada Tuhan selain Dia. Ibadah hanya kepada Allah swt. Selain mengesakan Allah, harus mengesakan ibadah hanya kepada Allah. Untuk itu semua amal shaleh harus bebas dari riya’.

    Berkaitan dengan itu, Umar ibn Khathab memberikan ajaran berdo’a kepada kita yang berbunyi:

    “Ya..Allah jadikanlah amalku seluruhnya sholeh, dan jadikanlah murni untuk wajah-Mu, dan jangan Engkau jadikan sedikitpun dalam ibadah itu untuk seseorang”.

    Orang yang tidak memurnikan agama dengan beribadah hanya untuk Allah, sama halnya tidak menjalankan perintah-Nya. kalau dalam ibadahnya itu dicampur dengan peraturan yang datangnya selain dari Allah swt, ibadahnya tidak syah dan tidak akan diterima. Allah swt berfirman dalam hadist qudsi:“Aku tidak memerlukan sekutu-sekutu, maka siapapun yang melakukan amal dan menyekutukan dengan-Ku, selain Aku dalam amalnya, maka semua itu untuk yang ia sekutukan. Aku (Allah) suci dan bersih daripadanya.” (HR;Muslim).

    ***

    Sumber : terapi Penyakit Hati oleh : Ibnul Qoyyim al-Jauzi

    oleh : SDP

    Wassalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuhu

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 7 October 2012 Permalink | Balas  

    Tahajud Cinta

    Sebelum memejamkan mata untuk tidur dalam rangka mengakhiri aktifitas ‘dua puluh empat jam’ ini, mari kita melihat dan merenungkan suasana tahajud kita masing-masing.

    Apakah tahajud kita sebagai tahajudnya seorang hamba yang mencintai penciptanya, ataukah sekedar tahajud tanpa makna. Yang melakukan shalat hanya sekedarnya, setelah itu selesai dan bangga, karena sudah melaksanakan sebuah ‘ritual’ shalat tahajud. Untuk mengetahui hal itu, marilah kita mencoba mengukur diri masing-masing.

    1. Tentang niat,

    Apakah yang melatarbelakangi kita bangun malam?

    Apakah kita shalat tahajud karena terpaksa. Mungkin dikarenakan saudara kita, anak kita, istri / suami kita, atau ada orang dekat kita, yang bangun malam melakukan shalat tahajud. Dan kita pun ikut bangun malam lalu kita lakukan shalat tahajud itu.

    Ataukah tiba-tiba kita ingin ke kamar mandi, lalu kita sekalian mengambil air wudhu’ dan kitapun melaksanakan shalat tahajud.

    Atau kita sebelum tidur sudah berdo’a kepada Allah, agar Allah membangunkan diri kita untuk melakukan shalat tahajud.

    Apapun yang menyebabkan kita bangun malam, dan kita lanjutkan dengan shalat tahajud, maka semuanya merupakan perilaku istimewa di hadapan Allah. Karena kita melakukan sesuatu yang memang istimewa.

    Kalau kita hitung, pada saat di sepertiga malam menjelang pagi, sekitar jam tiga malam wib, kira-kira ada berapa orang yang bangun untuk melakukan shalat tahajud? Misalnya di sebuah kota? Atau di sebuah kampung? Sungguh amatlah sedikitnya!

    Tetapi marilah kita melihat diri kita masing-masing! Dimanakah posisi kita? Apa yang menyebabkan kita melakukan shalat tahajud? Apakah demi kecintaan kita kepada Allah Swt, sehingga kita begitu rindunya ingin bertemu denganNya, ketika semua orang lelap dalam tidurnya? Ataukah karena alasan lainnya? Setiap posisi itu tentu mempunyai nilai yang berbeda…

    2. Tentang pakaian,

    Setelah kita melakukan wudhu’ di waktu malam yang cukup dingin itu, ketika kita mengambil pakaian untuk melakukan shalat, apakah kita mengenakan pakaian yang seadanya saja, ataukah pakaian tidur saja. Ataukah kita mengenakan pakaian yang bagus, yang bersih, dan yang Allah menyenanginya.

    Ketika suatu saat kita shalat tahajud, dan waktu itu pakaian yang kita kenakan adalah pakaian yang seadanya saja, maka bandingkanlah dengan ketika kita pergi ke masjid untuk melakukan shalat jum’at. Begitu indah pakaian kita, begitu harum tubuh kita…

    Untuk siapa pakaian kita yang bagus dan indah itu? Kalau untuk Allah Swt, mengapa ketika shalat tahajud sendirian saat tidak ada orang yang melihatnya, kita justru mengenakan pakaian yang tidak indah? Seorang yang mencintai sesuatu, tentu ia akan memberikan yang terbaik buat si Dia…

    3. Tentang bacaan dan gerakan,

    Demikian juga tentang bacaan dan gerakan shalat yang kita lakukan di malam hari, ketika semua orang tidak ada yang mengetahuinya. Bagaimana kondisi kita?

    Apakah bacaan kita begitu `mesra’ saat kita bertemu dengan Dzat yang kita cintai, ataukah bacaan kita terburu-buru agar shalat cepat selesai?

    Apakah gerakan shalat kita begitu sempurna layaknya seorang prajurit yang sedang berada di hadapan komandannya, ataukah gerakan kita semaunya saja?

    Setelah kita mengembara mulai saat bangun pagi, selanjutnya melakukan perjalanan seharian di luar rumah, dan akhirnya kembali lagi ke rumah untuk tidur lagi, begitu seringnya kita bertemu dengan Allah Swt dalam berbagai macam peristiwa. Maka harapan kita tentulah saat ini kita telah menjadi seorang hamba yang begitu dekat dengan Allah Swt. Kecintaan dan kerinduan kepada Allah Swt akan tercermin dalam tahajud kita.

    Tahajud cinta seorang hamba adalah tahajud kerinduan, bukan tahajud paksaan. Tahajud cinta seorang hamba adalah tahajud yang mencerminkan jiwa yang tenang, dan hati yang tentram,..

    Itulah saat ending yang paling indah dalam hidup kita selama dua puluh empat jam setiap hari. Kalaulah ending hidup setiap hari, kita disuruh Rasul untuk dekat dengan Allah dalam tahajud, maka demikian pula dengan ending hidup seluruhnya, kitapun harus berupaya untuk dekat dengan Allah Swt.

    Orang yang berhasil dalam hidupnya, adalah mereka yang pada akhir hayatnya dipanggil oleh Allah Swt, dengan panggilan yang sangat mesra :

    “yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah,irji’i ilaa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah, fad khulli fii tibaadii wad khulii jannatii..”

    Inilah tanda cinta yang sebenar-benarnya cinta…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 3 October 2012 Permalink | Balas  

    Bahaya meninggalkan sholat

    1. Meninggalkan Shalat Merupakan Kekufuran

    Allah subhanahu wata’ala berfirman mengenai orang-orang Musyrikin, artinya, “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (at-Taubah:11)

    Yakni, jika mereka bertaubat dari kesyirikan dan kekufuran mereka, mendirikan shalat dengan meyakini kewajibannya, melaksanakan rukun-rukunnya dan membayar zakat yang diwajibkan, maka mereka adalah saudara di dalam agama Islam. Jadi, yang dapat difahami dari ayat ini, bahwa siapa saja yang ngotot melakukan kesyirikan, meninggalkan shalat atau menolak membayar zakat  maka ia bukan saudara kita dalam agama Islam.

    Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Pembeda)antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim)

    Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Aku khawatir tidak halal bagi laki-laki (suami) diam bersama isteri yang tidak melakukan shalat, tidak mandi jinabah dan tidak mempelajari al-Qur’an.”

    Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama seputar jenis kekufuran orang yang meninggalkan shalat karena bermalas-malasan meskipun menyakini kewajibannya, maka yang pasti perbuatan itu amat dimurkai.

    2. Meninggalkan Shalat Merupakan Kemunafikan.

    Mengenai hal ini, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia dan tidaklah mereka menyebut Allah melainkan sedikit sekali.” (an-Nisa`:142)

    Yakni, mereka, di samping melakukan shalat karena riya`, juga bermalas-malasan dan merasa amat berat melakukannya, tidak mengharap pahala dan tidak meyakini bahwa meninggalkannya mendapat siksa.

    Ibnu Mas’ud radhiyallahui ‘anhu berkata mengenai shalat berjama’ah, “Aku betul-betul melihat, tidak seorang pun di antara kami yang tidak melakukannya (shalat berjama’ah) selain orang yang munafik tulen. Bahkan ada seorang yang sampai bergelayut di antara dua orang disampingnya agar dapat berdiri di dalam shaf (karena ia masih sakit).” (HR. Muslim)

    3. Meninggalkan Shalat Menjadi Sebab Mendapatkan Su’ul Khatimah

    Imam Abu Muhammad ‘Abdul Haq rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa Su’ul Khatimah -semoga Allah melindungi kita darinya- tidak akan terjadi terhadap orang yang kondisi lahiriahnya lurus (istiqamah) dan batinnya baik. Alhamdulillah, hal seperti ini tidak pernah didengar dan tidak ada yang mengetahui pernah terjadi. Tetapi ia terjadi terhadap orang yang akalnya rusak dan ngotot melakukan dosa besar. Bisa jadi, kondisi seperti itu menguasainya lalu kematian menjem-putnya sebelum sempat bertaubat, maka syaithan pun memperdayainya ketika itu, nau’udzu billah. Atau dapat terjadi juga terhadap orang yang semula kondisinya istiqamah, namun kemudian berubah dan keluar dari kebiasaannya lalu terus berjalan ke arah itu sehingga menjadi sebab Su’ul Khatimah baginya.” (At-Tadzkirah: 53)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesung-guhnya ukuran semua amalan itu tergantung kepada kesudahannya.” (HR. Bukhari)

    Sementara orang yang melakukan shalat tetapi buruk dalam mengerjakannya, dia terancam mendapat Su’ul Khatimah, maka terlebih lagi dengan orang yang sama sekali tidak ‘menyapa’ shalat? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang yang shalat tetapi tidak sempurna dalam ruku’nya, ia seperti orang yang mematok-matok di dalam sujud shalatnya, maka beliau bersabda mengenainya, “Andai ia mati dalam kondisi seperti ini, maka ia mati bukan di atas agama Muhammad.” (Hadits Hasan)

    4. Meninggalkan Shalat Menjadi Slogan Penghuni Neraka Saqar

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya: “Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (Al-Muddatstsir: 27-30)

    Dan firman-Nya, artinya: “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Kecuali golongan kanan. Berada di dalam surga, mereka tanya menanya. Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa. ‘Apakah yang memasukkan kamu ke dalam (neraka) Saqar? Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama orang-orang yang membicarakannya.” (Al-Muddatstsir: 38-45)

    Jadi, orang-orang yang meninggalkan shalat tempatnya di neraka Saqar.

    5. Meninggalkan Shalat Merupakan Sebab Seorang Hamba Dipecundangi Syaithan

    Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah tiga orang yang berada di suatu perkampungan ataupun di pedalaman, lalu tidak mendirikan shalat di antara sesama mereka melainkan syaithan akan mempecundangi mereka. Karena itu, hendaklah kalian bersama jama’ah sebab srigala hanya memakan kambing yang sendirian.” (Hadits Hasan)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits tersebut menjelaskan bahwa, “Syaithan adalah serigala atas manusia yang merupakan musuh bebuyutannya. Maka sebagaimana burung yang semakin berada di ketinggian, semakin jauh dari petaka, sebaliknya, semakin berada di tempat rendah, petaka akan mengintainya, demikian pula halnya dengan kambing yang semakin dekat dengan penggembalanya, semakin terjaga keselamatannya, semakin ia menjauh, semakin terancam bahaya.” (Sumber: As-Shalah Limadza? Muhammad bin Ahmad al-Miqdam)

    Demikian di antara bahaya meninggalkan shalat, dan tentunya masih banyak lagi bahaya-bahaya yang lain. Semoga dapat memotivasi kita di dalam meningkatkan kualitas shalat kita dan menjadi pengingat tentang besarnya urusan shalat sehingga tidak meninggalkannya. (Abu Hafshah)

    Agar Shalat Menjadi Hal Yang Besar Di Mata Kita

    Berikut ini langkah-langkah yang inysa-Allah akan menjadikan kita memandang shalat sebagai masalah yang besar:

    a. Menjaga waktu-waktu shalat dan batasan-batasannya.

    b. Memperhatikan rukun-rukun, wajib dan kesempurnaannya.

    c. Bersegera melaksanakannya ketika datang waktunya.

    d. Sedih, gelisah dan menyesal ketika tidak bisa melakukan shalat dengan baik, seperti ketinggalan shalat berjama’ah dan menyadari bahwa seandainya shalatnya secara sendirian diterima oleh Allah subhanahu wata’ala, maka dia hanya mendapatkan satu pahala saja. Maka berarti dirinya telah kehilangan pahala sebanyak dua puluh tujuh kali lipat.

    e. Demikian pula ketika ketinggalan waktu-waktu awal yang merupakan waktu yang diridhai Allah subhanahu wata’ala, atau ketinggalan shaf pertama, yang jika orang mengetahui keutamaannya tentu mereka akan berundi untuk mendapatkannya.

    f. Kita juga bersedih manakala tidak mampu mencapai khusyu’ dan tidak dapat menghadirkan segenap hati ketika menghadap kepada Rabb Tabaraka Wata ala. Padahal khusyu’ adalah inti dan ruh shalat, karena shalat tanpa ada kekhusyu’an maka ibarat badan tanpa ruh.

    Oleh karena itu Allah tidak menerima shalat seseorang yang tidak khusyu’ meskipun dia telah gugur kewajibannya. Dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya, karena seseorang itu mendapatkan pahala shalat sesuai dengan kadar kekhusyu’an dan tingkat kesadaran dengan kondisi shalatnya itu.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba melakukan shalat dan dan tidaklah dia mendapatkan pahala shalatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dihasankan Al-Albani)

    Oleh karenanya beliau menegaskan dalam sabdanya, “Jika kalian berdiri untuk shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan meninggalkan dunia.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani).

    ***

    Sumber:

    1. Ash-Shalâh, Limâdza?, Muhammad bin Ahmad al-Miqdam, Dâr Thayyi-bah, Mekkah al-Mukarramah).
    2. Hayya ‘alash shalah, Khalid Abu Shalih  hal 12-13, Darul Wathan.
     
    • KaltimToday 6:31 am on 3 Oktober 2012 Permalink

      Terima kasih atas pencerahannya. Sangat bermanfaat bagi kami yang selalu bisa saja tersesat karena godaan dunia yang fana. :)

    • eny 12:43 pm on 3 Oktober 2012 Permalink

      Terima kasih, semoga dg artikel ini bisa membantu kita menjadi hamba Allah yg senantiasa menjaga sholatnya,,,Amin Ya Robbal Alamin,,,

    • Titien Nirwana 10:44 am on 9 Oktober 2012 Permalink

      terimakasih atas tulisannya, bermanfaat sekali

    • adji 8:25 am on 21 Januari 2013 Permalink

      Syukron pencerahannya

  • erva kurniawan 1:00 am on 30 September 2012 Permalink | Balas  

    Cara Menyucikan Hati

    Hati itu bagaikan kaca mata. Kalau kita menggunakan kaca mata yang bening, apa yang kita lihat akan tampak apa adanya. Yang putih akan jelas putihnya, yang coklat muda akan jelas warna aslinya. Namun kalau kita menggunakan kaca mata hitam, apa yang kita lihat tidak akan sesuai aslinya. Yang putih akan kelihatan abu muda dan warna coklat muda akan menjadi coklat tua. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau hitam, kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.

    Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya tapi dari performa batiniah atau hatinya.

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-hata kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.” (H.R. Muslim).

    Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya.

    Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah swt. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah swt. memaafkannya.

    Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda dhanniyyah (yang diperkirakan) bukan qath’iyyah (bukti-bukti yang pasti). Oleh karena itu tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal saleh, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya.

    Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat lain,

    “Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia itu sesungguhnya bersih atau bersinar, namun suka tertutupi oleh awan kemaksitan hingga sinarnya menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana caranya?

    1. Introspeksi diri

    Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Hasyr 59 : 18)

    2. Perbaikan Diri

    Perbaikan diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.

    “Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8)

    3. Tadabbur Al Qur’an

    Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Qur’an.

    “Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup.” (Q.S.Muhammad 47 : 24)

    4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh

    Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridoi Allah swt. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah saw bersabda,

    “.Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.” (H.R. Bukhari)

    5. Mengisi Waktu dengan Zikir

    Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir. Pertama, zikir Lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan zikir seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Zikir Amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah swt. dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan zikir lisan dan amali.

    “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S.Al-Ahzab 33 : 41-42)

    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah 2 :152)

    6. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh

    Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll., diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah, dll., dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Kerena itu, Allah swt.. mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang saleh seperti dikemukakan dalam ayat berikut.

    “Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridoan-Nya, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)

    7. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin, dan Yatim

    Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Rasulullah saw. bersabda,

    “Abu Hurairah r.a. bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau saw. menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (H.R. Ahmad).

    8. Mengingat Mati

    Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan manipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah saw. menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.

    “Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari akhirat.” (H.R.Hakim)

    9. Menghadiri Majelis Ilmu

    Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah swt. akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas.

    “Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malakikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (H.R. Muslim)

    10. Berdo’a kepada Allah swt.

    Allah swt. Maha Berkuasa untuk membolak balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu salamah r.a,. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu). Perhatikan riwayat berikut,.

    “Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).” ” Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca do’a: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.” Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi. Menurutnya hadits ini hasan)

    Selain do’a di atas, Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa ketika menginap di rumah Rasulullah saw., ia pernah mendengar beliau mengucapkan do’a berikut,

    “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.” (H.R.Muslim)

    Kesimpulannya, hati merupakan panglima untuk seluruh anggota jasad kita. Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi kalau hati kita busuk, seluruh amaliah pun busuk. Ada sepuluh cara agar kita memiliki hati yang suci, yaitu; Introspeksi diri, perbaikan diri, tadabbur Qur’an, menjaga kelangsungan amal saleh, mengisi waktu dengan zikir, bergaul dengan orang-orang saleh, berbagi kasih dengan fakir miskin dan anak yatim, mengingat mati, menghadiri majelis ta’lim, dan berdo’a kepada Allah swt. Mudah-mudahan Allah swt. selalu memberi kepada kita hati yang bening. Amiin . Wallahu A’lam

    ***

    Sumber : percikan-iman.com

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 29 September 2012 Permalink | Balas  

    Tangisan Sang Nabi

    Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, mengangkat kepalanya ke atas, dan semua cabangnya mengarah ke atas. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan kepala mereka, dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping.

    Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.”

    Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji.

    Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah.

    Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw.

    Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

    Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

    Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi Saw. bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).

    Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw., maka Ali bin Abi Thalib Ra. bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?” Ia menjawab, “Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.”

    Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.”

    Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, ..Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

    Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

    Rasulullah Saw. pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya, .Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf [12]: 92).

    Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.”

    Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau, sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?”

    “Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga firman-Nya, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nis・[4]: 41).

    Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.”

    Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.

    Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah Saw. sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah sendiri pernah melihat neraka. Dia melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah airmatanya dengan deras.

    Abu Dzar Ra. meriwayatkan dari Nabi Saw., bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118).

    Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, Allahumma salimna ummati. Ya Allah selamatkan umatku.

    Keadaan diri Nabi Muhammad Saw. digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya, Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 129).

    Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi, sebagaimana Nabi mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan airmatanya untuk kita. Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri? Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.

    ***

    Oleh Chandra Kurniawan

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 20 September 2012 Permalink | Balas  

    Istikamah Menjalankan Amalan Kecil

    Baiknya amal perbuatan itu, sebagai dari hasil baiknya budi dan hati, dan baiknya hati adalah hasil dari kesungguhan menjalankan perintah Allah, yaitu tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh-Nya (Ibnu Atha’ilah).

    Baiknya amal sangat tergantung dari baiknya hati, dan baiknya hati sangat tergantung dari istikamahnya diri untuk selalu dekat dengan Allah. Demikian kiranya maksud pernyataan Imam Ibnu Atha’ilah tersebut.

    Saudaraku, istikamah dalam kebaikan adalah hal penting dalam hidup. Sebab, sebuah amal yang dilakukan secara istikamah, walaupun kecil, perlahan tapi pasti akan mendekatkan kita kepada Allah. Karena itu, tidak ada amal kecil menurut pandangan Allah. Yang menentukan besar kecilnya sebuah amal adalah keikhlasan hati saat melakukannya.

    Ada sebuah kisah tentang Imam Al Ghazali. Suatu malam Hujjatul Islam ini bermimpi berada di Hari Perhitungan. Dari sekian banyak amalnya, ada satu amal yang sangat disukai Allah melebihi amal-amal lainnya. Ternyata bukan shalat, puasa, bukan karya-karya besarnya, atau hafalan Alqurannya, namun karena keikhlasannya menolong seekor lalat.

    Ceritanya, saat ia sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat jatuh ke dalam tinta. Segera saja Imam Al Ghazali mengambil lalat itu, membersihkan tinta dari tubuhnya, lalu melepaskannya.

    Kisah ini tentunya jangan sampai mengecilkan arti ibadah, menuntut dan menyebarkan ilmu, atau berjihad di jalan Allah. Kisah ini semata-mata menunjukkan betapa sesuatu yang kita anggap remeh bisa bernilai istimewa di sisi Allah.

    Karena itu, orang ikhlas tidak pusing memikirkan besar kecilnya amal. Yang ia pikirkan adalah bagaimana agar amal tersebut diterima Allah dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia.

    Sejatinya, tidak ada sesuatu yang besar di dunia ini tanpa kehadiran yang kecil. Semua yang besar tersusun dari hal-hal kecil. Buku misalnya. Ia adalah kumpulan bab; bab adalah kumpulan paragraf; paragraf adalah kumpulan kalimat; kalimat adalah kumpulan kata; kata adalah kumpulan huruf; dan huruf adalah kumpulan titik. Maka setebal apapun buku, hakikatnya adalah kumpulan dari titik.

    Demikian pula dengan kesalehan dan kemuliaan akhlak. Ia adalah kumpulan dari amal kebaikan yang dilakukan terus-menurus dengan penuh keikhlasan. Seseorang dianggap ahli tahajud bila setiap malam ia istikamah menjalankannya.

    Sebaliknya, kita sulit menyebutnya ahli tahajud bila ia hanya sekali dua kali melakukan tahajud. Intinya, akhlak mulai lahir dari kebiasaan, kebiasaan lahir konsistensi kita menjalankan sebuah amal, walau amal itu kita dianggap ringan dan kecil.

    Bila yang besar itu bentukan yang kecil, maka kita jangan sekali-kali menyepelekan yang kecil. Sebaliknya, kita harus membiasakan diri melakukan hal-hal kecil secara istikamah, selain menjalankan perintah-perintah yang wajib.

    Senyum dengan tulus adalah hal kecil yang nilai kebaikannya luar biasa. Termasuk pula memungut sampah, membersihkan kamar mandi, mengongkosi teman, berbagi makanan, meminjamkan buku, menengok orang sakit, memaafkan yang bersalah, bersedekah, mau mendengarkan, ucapan yang baik, dsb. Andai kita istikamah (konsisten) melakukannya, jangan heran bila Allah akan mengangkat derajat kita di hadapan manusia lain.

    Ada baiknya kita mulai membuat program untuk membiasakan diri melakukan hal-hal kecil bernilai ibadah. Saat bangun tidur misalnya, istikamahlah berzikir, membersihkan tempat tidur, membersihkan diri, berwudhu, menyapa atau tersenyum manis kepada anak dan pasangan kita. Atau saat berjumpa orang lain, dahulukan diri untuk tersenyum, mengucapkan salam, menyapa dengan penuh kesopanan. Saat hendak beraktivitas dahului dengan membaca basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah. Ketika hendak tidur, kita bisa mengawalinya dengan berwudhu, shalat witir, dzikir, atau membebaskan pikiran dari kedengkian dan kebencian terhadap orang lain.

    Saudaraku, terus dan teruslah melakukan amal-amal kecil. Insya Allah, dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah akan mengaruniakan kita kemuliaan akhlak. Amin.

    KH Abdullah Gymnastiar

    ***

    Sumber :Republika Online

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 19 September 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Kagum

    Perasaan kagum kepada sesuatu hal adalah sesuatu yang sah-sah saja. Apalagi, kalau rasa kagum itu menjadi sebuah motivasi untuk lebih bersemangat lagi dalam mencapai sesuatu hal yang dikaguminya itu. Seperti halnya kita merasa kagum kepada orang yang shalatnya selalu tepat waktu, padahal orang itu sangat sibuk sekali dengan pekerjaanya. Atau kita pun merasa kagum kepada orang-orang besar yang dikenal dalam catatan sejarah. Ujian, cobaan, dan bencana mereka hadapi seperti kucuran air hujan atau hembusan angin. Dan, kita juga tahu bahwa dibarisan paling depan dari mereka adalah pemimpin semua makhluk, Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanannya menuju Madinah, dia bersembunyi didalam gua bersama sahabatnya, Abu Bakar ra. Pada saat musuh sudah mendekati mereka, ia berkata kepada sahabatnya itu,

    “Jangan kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah (9): 40).

    Subhanallah…, Allahu Akbar… Kita tahu, bahwa Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin yang paling sempurna, sehingga jarang sekali melakukan kesalahan. Orang pun menjadi kagum dan percaya kepada beliau. Walau demikian, tatkala melakukan kekeliruan, Rasul berbesar hati untuk mengakuinya. Beliau pun tidak segan-segan menuruti nasihat para sahabatnya bila memang pendapatnya dianggap lebih baik. Dan ini merupakan salah satu bukti dari sekian banyak kisah Rasulullah SAW yang membuat kita kagum kepadanya.

    Maka, kita pun termotivasi oleh orang-orang yang kita kagumi itu, sehingga diri kita tergerak untuk mengikuti langkah mereka dan berupaya untuk lebih baik lagi dari mereka. Tetapi, yang jadi masalah adalah kalau kekaguman kepada orang atau sesuatu hal itu berlebihan, sehingga menimbulkan fanatisme buta. Yaitu, sikap fanatik dan melampaui batas terhadap pendapat atau tokoh tertentu. Fanatisme ini dapat menghalangi seseorang untuk mengikuti kebenaran. Karena terlalu kagum dengan tokoh, madzhab, organisasi atau kelompok, sehingga orang itu bisa mengabaikan Al-Qur’an dan sunah.

    Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang memperhatikan dengan kagum Basyar As-Sulaimi yang sedang shalat dengan khusyu’ Ketika Basyar selesai shalat, ia berkata pada laki-laki tersebut:

    “Janganlah kamu kagum dan tertipu melihat ibadah saya. Saya khawatir, karena sesungguhnya Iblis laknatullah telah menyembah Allah selama bertahun-tahun kemudian dia durhaka seperti keadannya sekarang.” (Hilyatul Aulia, 6/241/Tarbawi Edisi 28 Th.3 hal.14)

    Dan, didalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman mengenai wanita-wanita yang kagum kepada keelokan paras Nabi Yusuf as. dan menjadi celaka karena kekagumannya itu, sebagaimana firman-Nya :

    “Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”. (QS. Yusuf (12): 31)

    Sebuah fakta mengatakan bahwa, dulu Indonesia sempat kagum (ujub) dengan kemajuan ekonomi, tapi ternyata membuat orang-orangnya takabur, hingga terpuruk seperti sekarang ini. Maka, janganlah berlebihan dalam mengungkapkan perasaan kagum kita kepada sesuatu hal atau kepada diri kita sendiri sekalipun, sebab, kekaguman pada diri sendiri (ujub) adalah pangkal kesombongan. Allah SWT berfirman,

    “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya dimuka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS. Al-A’raf (7): 146)

    Ali bin Abi Thalib ra., berkata: “Janganlah sekali-kali engkau menyaingi Allah dalam keagungan-Nya dan menyerupai-Nya dalam kesombongan-Nya. Sebab, sesungguhnya Allah menghinakan setiap orang yang angkuh dan merendahkan setiap orang yang sombong.”

    Oleh karena itu, agar dapat menghilangkan sifat sombong dan memiliki akhlaq tawadhu, maka kita harus sering merenungkan nikmat yang Allah berikan kepada kita dan juga dengan merenungkan manfaat tawadhu dan kerugian sombong, mencontoh akhlaq orang-orang sholeh terdahulu yang tawadhu dan banyak berteman dengan orang-orang yang tawadhu dan juga tidak lupa bermohon kepada Allah untuk selalu berbuat baik. Sebab, kebaikan itu sangat mudah dilakukan oleh siapa saja yang oleh Allah dimudahkan untuk melakukannya. Allah memiliki simpanan kebaikan yang banyak sekali, yang akan dikaruniakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan, Allah juga mengalirkan keutamaan, kepada orang-orang yang baik yang senang melakukan kebaikan.

    Sahabat-sahabat sekalian, mudah-mudahan kita termasuk orang yang akan dikaruniakan kebaikan, sehingga kita menjadi orang yang mudah melakukan kebaikan. Dan, mudah-mudahan kita juga tidak termasuk orang-orang yang suka mengeluarkan perasaan kagum yang berlebihan, sehingga kita tidak tergolong dalam orang yang fanatisme buta yang justru akan menyesatkan kita semua. Nauzubillahimindzalik

    Wallahu A’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 18 September 2012 Permalink | Balas  

    Kenali Rambu-Rambu Pembatas Lintasan Hati

    Prasangka memang hanya lintasan hati. Karenanya, berprasangka sebenarnya manusiawi. Tak ada orang yang mampu meredam atau menahan yang namanya lintasan hati. Tak ada orang yang tak pernah memiliki prasangka buruk terhadap orang lain. Tak seorang pun bisa menghilangkan lintasan hatinya. Itu sebabnya , para sahabat mengajukan keberatannya kepada Rasulullah saat turun ayat, “Dan bila engkau menampakkan apa yang ada dalam hatimu, atau engkau menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu.” (QS. Al-Baqarah: 284) Para sahabat yakin tak mampu melawan lintasan hatinya, jika itu termasuk hitungan amal mereka. Akhirnya Allah menurunkan ayat selanjutnya, “Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sebatas kemampuannya.”

    Imam Al-Ghazali mengurai penjelasan buruk sangka dalam satu sub tema tentang ghibah, membicarakn keburukan orang lain. Menurutnya buruk sangka tak lain adalah ghibah bathiniyah (membicarakan keburukan orang lain dengan hati). “Sebagaimana Anda diharamkan untuk menyebut keburukan orang lain, maka demikian juga Anda diharamkan untuk berburuk sangka pada saudara Anda.” Demikian kata Imam Al-Ghazali. Apa yang harus dilakukan agar bisa menghindari bahya buruk sangka?

    Pertama, tumbuhkan empati kepada orang yang menjadi objek buruk sangka. Rasakan lah bila objek buruk sangka itu diri Anda sendiri yang sangat mungkin mengalami banyak kekurangan. Tips ini sama dengan apa yang dianjurkan Imam Al-Ghazali, ketika ia membahas masalah ghibah.

    Untuk menghindari ghiban, menurut Imam Al-Ghazali, salah satunya dengan merasakan bagaimana bila yang menjadi objek pembicaraan itu adalah diri sendiri. Bila kita senang mendengarkannya, maka teruskanlah bicara. Tapi bila tidak, maka jauhilah pembicaraan negatif itu. Sama dengan kondisi ghibah dalam hati, cara menghindarinya dengan membandingkan kondisi kita dengan kondisi orang yang menjadi objek prasangka.

    Kedua, teliti dari mana sumber perasaan negatif, atau buruk sangka itu muncul. Bila ia datang dari informasi seseorang, langkah yang paling baik adalah melakukan pertanyaan lebih detail tentang asal-usul berita miring itu. Apakah nara sumber berita itu benar-benar mengetahui secara autentik tentang kejasian yang memunculkan prasangka itu? Atau bisa juga ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan tentang benar tidaknya berita negatif tersebut. Bila Anda merasakan bahwa informasi itu belum tentu benar, berupayalah menghapuskan memori informasi itu dari pikiran Anda.

    Ada riwayat hadits menari yang disampaikan oleh Imam Ahmad dengan sanad shahih. Suatu ketika ada seorang lelaki melewati suatu kaum yang sedang berada dalam sebuah majlis. Orang laki-laki itu mengucapkan salam, mereka pun menjawab ucapan salam tersebut. Tapi tak berapa jauh orang itu pergi, salah seorang dari majlis itu berkata, “Sesungguhnya aku membenci orang itu karena Allah.” Orang yang mendengar perkataan itu terkejut dan mengatakan, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan. Demi Allah aku akan ajukan perkataan ini pada Rasulullah.”

    Orang yang telah lewat itu kemudian dipertemukan oleh Rasulullah dengan orang yang memiliki prasangka buruk itu. “Mengapa kamu membencinya?” tanya Rasul. “Aku tetangganya, dan mengenalnya. Demi Allah aku tidak pernah melihatnya melakukan shalat kecuali yang diwajibkan,” katanya. Orang itu berkata, “Tanyalah wahai Rasulullah, apakah ia pernah melihatku mengakhirkan shalat di luar waktunya atau aku pernah salah berwudhu, ruku’ atau sujud?” Orang yang berprasangka buruk itu mengatakan, “Tidak.” Kemudian ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak pernah melihatnya berpuasa sebulan kecuali pada bulan yang dipuasai oleh orang baik dan durhaka.” Orang yang dituduh itu mengatakan,“ Tanyakan wahai Rasulullah, “Apakah dia pernah melihatku tidak pusa pada bulan Ramadhan, atau aku mengurangi haknya?” Orang itu pun menjawab, “Tidak.”

    Tapi ia masih menambahkan lagi alasan kebenciannya. “Demi Allah aku belum pernah melihatnya memberi orang yang meminta-minta atau orang miskin sama sekali, aku juga tidak pernah melihatnya menginfakkan sesuatu dijalan Allah kecuali zakat yang juga dilakukan oleh orang yang baik dan durhaka,” katanya. Orang yang dituduh itu mengatakan, “Tanyakan padanya ya Rasulullah, apakah aku pernah mengurangi zakat ataukah aku pernah mendzalimi pemungut zakat yang memintanya?” Orang itu menjawab, “Tidak”  Akhirnya Rasulullah berkata pada orang yang melontarkan kebencian tanpa alasan yang jelas itu. “Pergilah, barangkali dia lebih baik daripada dirimu,” Ujar Rasulullah.

    Ketiga, bila sumber informasi itu muncul dari dalam hati sendiri tanpa sebab-sebab yang jelas, kecuali sekedar penampilan lahir atau kecurigaan belaka. Beristighfar dan mohon ampunlah kepada Allah SWT. , atas kekeliruan lintasan hati negatif itu. “Seseorang tidak boleh meyakini keburukan orang lain kecuali bila telah nyata dan tidak dapat diartikan dengan hal lain kecuali hanya dengan keburukan,” nasihat Imam Al-Ghazali.

    Beliau mencontohkan bila seseorang mencium bau minuman khamr dari mulut seseorang, ia masih belum boleh memastikan bahwa ia telah meminum khamr, karena masih ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa ia telah minum khamr, karena masih ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa dia berkumur-kumur saja dan tidak meminumnya, atau mungkin dia dipaksa meminumnya.

    Menurut Imam Al-Ghazali, sesuatu yang tidak disaksikan dengan mata kepala dan tidak didengar dengan telinga sendiri, tapi muncul didalam hati, maka itu tidak lain merupakan bisikan setan yang harus ditolak, karena syetan adalah makhluk yang fasik. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakkan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya.” (QS. Al-Hujaimah: 6)

    Keempat, sadarilah bahwa lahiriah seseorang tidak selalu identik dengan batinnya. Islam sama sekali tidak mengajarkan penilaian seseorang dari aspek lahirnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh kalian, tapi melihat pada hati kalian.”

    Dalam hadits yang shahih yang lain disebutkan pula bagaimana Rasulullah menggambarkan bahwa kondisi orang yang secara lahiriyah kurang baik, berdebu, rambutnya kumal, dan banyak dipandang hina oleh seseorang, tapi orang tersebut adalah yang paling didengar doanya oleh Allah SWT. Sebaliknya, orang yang bersih, dan menarik penampilan lahirioyahnya, ternyata orang itulah yang memiliki penilaiantidak baik dimata Allah SWT.

    Naif sekali, merasa curioga dan buruk sangka karena alasan lahir. Allah SWT bahkan menjelaskan bahwa diantara orang munafik biasanya memiliki penampilan yang memukau. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.” (QS. Al-Munafikun: 4)

    Kelima, terimalah fakta bahwa setiap orang pasti telah lepas kontrol sesekali. Tidak perlu mengembangkan perasaan dan dugaan terlalu besar dengan sesuatu kesalahan yang dilakukan seseorang. Kesalahan itu adalah sesuatu hal yang lumrah bagi manusia. Karenanya coba arahkan perhatian itu pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Terlalu besar memperhatikan kesalahan orang lain, merupakan menjadi sebab seseorang menjadi mudah mencurigai dan berburuk sangka. Ingatlah prinsip yang diajarkan Rasulullah Saw. Berbahagialah orang yang disibukkan oleh aib dan kesalahan dirinya, ketimbang sibuk oleh aib dan kesalahan orang lain.

    Keenam, salah satu pemicu buruk sangka, prasangka adalah rasa was-was atau beyangan ketakutan yang akan kita terima akibat pihak tertentu. Untuk mengatasinya, tumbuhkan keyakinan kuat bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas seluruh gerak-gerik hamba-Nya. Apa saja yang terjadi merupakan kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Keyakinan ini akan memunculkan kepasrahan dan ketenangan, serta tidak mudah membayangkan risiko pahit yang belum tentu benarnya. Keyakinan ini juga yang akan mengusir perasaan was-was dan bayangan menakutkan yang tak jelas ujung pangkalnya.

    Ketujuh, untuk mematahkan gangguan syetan, terapi yang paling penting adalah dengan dzikir kepada Allah SWT dan berusaha memperbanyak amal-amal ketaatan. Keduanya akan sangat menciptakan suasana hati yang hidup, bersih dan jernih. Hal ini lebih jauh akan menumbuhkan kualitas iman yang semakin tidak mudah bagi syetan untuk bersemayam didalam hati. Disinilah, seseorang akan mendapat cahaya Allah SWT sehingga pandangannya akan mengarah pada firasay yang benar, takutlah dari firasat seorang mukmin karena ia melihat dengan Nur Allah (HR. Turmudzi)

    Kedelapan, mintakan ampun kepada orang yang menjadi objek prasangka tanpa alasan yang jelas. itu adalah salah satu kafarat ghibah yang disebutkan Imam Al-Ghazali ra. Menurutnya, doa tersebut dapat menjengkelkan syetan sehingga syetan tidak bisa memasukan lintasan negatif atas seseorang . Prasangka, menurutnya sama dengan ghibah dalam hati. Maka, tebusannya antara lain dengan memohon ampunan kepada Allah atas saudara yang dicurigai itu.[]

    ***

    Majalah Tarbawi, Edisi 17 Th.2/28 Pebruari 2001

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 10 September 2012 Permalink | Balas  

    Mengingat Mati

    Satu hal yang harus senantiasa diingat oleh setiap diri adalah ‘kematian E Allah telah menjadikan kematian sebagai satu perkara yang harus melekat dalam hati seorang Mukmin. Hakikat hidup adalah menanti kematian, bukan menghindarkannya. Allah SWT. telah menjelaskan fakta ini lewat firman-Nya, “Setiap jiwa merasakan kematian, kemudian kepada Kami kalian akan dikembalikan.” (Qs. Al-‘Ankabût [29]: 57).

    Kematian itu ibarat gelas, setiap orang pasti akan merasakannya. Atau, kematian itu laksana pintu, setiap orang akan memasukinya. Kematian adalah syarat bertemu dengan Allah. Oleh sebab itu, seorang Muslim sejati tidak pernah menganggap kematian sebagai kematian. Ia hanya transit: dari dunia menuju akhirat. Dari kematian sementara menuju kehidupan hakiki: kampung akhirat. Ia hanya merupakan titik akhir dari perjalanan seorang manusia di dunia.

    Bagi orang-orang kafir, kematian ‘tidak pernah ada E karena menurut mereka dunia ini lah segalanya. Mereka bahkan membantah adanya hari ‘kebangkitan’ Allah menjelaskan sikap ingkar mereka ini, “Dan tentu mereka akan mengatakan: “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan sekali-kali kita tidak akan dibangkitkan.” (Qs. Al-An‘âm [6]: 29).

    Lebih tegas Allah menjelaskan, “Dan seandainya kalian melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentu kalian melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: “Bukankah kebangkitan ini benar?” Mereka menjawab: “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Allah berfirman: “Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kalian mengingkari (nya).” (Qs. Al-An‘âm [6]: 31).

    Tapi tidak bagi seorang Mukmin. Mereka benar-benar yakin dengan adanya kebangkitan. Dan kebangkitan itu pasti terjadi dan diawali dengan kematian. Orang yang mengingkari kebangkitan adalah orang-orang yang sangat merugi, karena benar adanya. “Sungguh telah merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas pungung mereka. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (Qs. Al-An‘âm [6]: 31).

    Maut adalah pemutus segalanya. Ia disebut oleh Kanjeng Nabi SAW. sebagai hâdim al-ladzdzât, pemutus segala bentuk kenikmatan. Orang yang mati tidak lagi bisa merasakan nikmatnya teh manis di pagi hari, atau kopi di malam hari. Ia juga tidak bisa merasakan bagaimana nikmatnya berkumpul dengan istri dan anak-anak; dengan orangtua dan tetangga. Atau, dia tidak bisa lagi menikmati keindahan dan panorama alam yang telah didesain oleh Allah sedemikian indahnya. Semuanya putus oleh “maut”.

    Orang yang berakal adalah yang mengerti kewajibannya di dunia ini. Ia tidak akan lama. Hanya ‘Mampir Ngombe’ kata orang Jawa. Ia laksana musafir yang berteduh di sebuah pohon yang rindang bernama dunia, setelah itu ia akan meninggalkannya. Tempatnya yang hakiki bukan di sini, tapi di ‘kampung akhirat’

    Kewajiban orang yang berakal, kata Ibnu al-Jauzy, adalah yang mempersiapkan diri untuk kematiannya.. Karena, menurut beliau, ia tidak tahu kapan kematian dari Tuhannya datang, dan tidak tahu kapan akan dipanggil? Saya melihat kebanyakan manusia telah tertipu oleh masa muda. Mereka lupa bahwa mereka akan meninggalkan teman-temannya dan dilalaikan oleh panjang angan-angan (thûl al-’amal). Mungkin seorang alim yang mukhlis akan berkata kepada dirinya: “Sibukkan dirimu dengan menuntut ilmu sekarang, kemudian beramallah dengan ilmu itu esok hari. Lalu ia berleha-leha dengan alasan ‘sedang rehat’ dan mengakhirkan persiapan untuk taubat. Dia tidak menghindarkan perbuatan gibah atau mendengarnya. Barangsiapa yang melakukan subhat (keraguan) dan berharap dapat menghapusnya dengan perbuatan wara’ dia telah lupa bahwa maut datang dengan tiba-tiba. Orang yang berakal adalah yang memberikan hak setiap kesempatan

    yang ada. Jika maut menemuinya dengan tiba-tiba, ia telah bersiap-siap dan jika dia telah memperolah apa yang diangan-angankanya, maka bertambah kebaikannya,” demikian catat ‘Allâmah Ibnu al-Jauzyi dalam Shayd al-Khâthir-nya.

    Bisa jadi kita termasuk orang yang berakal, sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnu al-Jauzy. Tetapi, bisa saja sebaliknya: kita adalah orang yang bodoh, tidak tahu kewajiban untuk menyambut maut ketika datang menjelang. Dunia hanyalah ‘sendau gurau’ tidak lebih. Tapi, sendau gurau ini ternyata banyak membuat kita ‘puyeng’ dan tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkraman dan jeratnya. Padahal, Allah telah menjelaskan dengan gamblang, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memikirkannya (memahaminya).” (Qs. Al-An‘âm [6]: 32).

    Bagi orang yang kaya raya, dunia bisa saja menjadi istana. Bagi si miskin, kemiskinannya bisa saja menjadikannya sebagai alat demonstrasi menentang tawakkal dan tidak sabar atas bagian yang diberikan Allah kepadanya. Lebih dari itu, kemiskinannya menjadikan dia lalai akan kematian. Bukankah kematian itu tidak pandang bulu. Ia akan datang kepada seorang presiden, tanpa minta izin. Ia juga bisa datang kepada pedagang asongan di stasiun kereta api tanpa belas kasihan. Ia akan menjelang orangtua yang sudah jompo dan juga kepada anak kecil, bahkan ketika masih menjadi janin di perut ibunya. Kematian itu ibarat buah kelapa. Ia bisa jatuh kapan saja. Sebelum jadi buah, ia bisa jatuh karena tersenggol lebah ketika menghisap madunya. Ketika muda, ia juga bisa jatuh. Dan ia bisa jatuh ketika sudah tua dan berminyak. Kita semua akan dihampiri oleh kematian. Allah SWT. telah memberikan warning agar kita tidak dilalaikan oleh kemegahan dunia.

    “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu), dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahannam. Dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘aynul yaqin’ kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).” (Qs. Al-Takâtsur [102]: 1-8).

    Maka, kewajiban setiap individu Mukmin di duni ini adalah beramal saleh. Hari-hari yang telah lalu harus ia jadikan sebagai pijakan dan barometer untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Ia harus melakukan muhasabah diri. Sayyidina ‘Umar ra. memberikan teladan yang cukup baik dalam bermuhasabah, sehingga adagiumnya sangat terkenal.

    (Hisablah diri kalian, sebelum kalian dihisabEdi hari kiamatEdan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk menghadap Allah: “Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah) (Qs. Al-Hâqqah [69]: 18).

    Semoga amal kita semakin hari semakin baik, dan menjadikan kita benar-benar siap untuk menyambut kematian. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.

    ***

    Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi.

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 8 September 2012 Permalink | Balas  

    Tiga Tipe Manusia

    “Berani hadapi tantangan menjadi manusia tipe malaikat, yang selalu mempercayai informasi akurat profesional yang akhirnya siap berubah dari detik per detik dalam menghadapi kehidupan?”

    Ada tiga tipe manusia dalam menghadapi persoalan kehidupan.

    Pertama, adalah manusia tipe malaikat, yaitu suatu tipe manusia yang mudah percaya dan segera bertindak selama data-datanya akurat dan profesional.

    Kedua, adalah manusia tipe manusia, yaitu suatu tipe manusia yang baru mau percaya setelah mengalami kejadian, walaupun sudah diberi bukti-bukti yang akurat.

    Ketiga, adalah manusia tipe setan, tetap saja tidak percaya walaupun sudah diberi bukti-bukti yang akurat dan sudah mengalami kejadian dari yang tidak dipercayai itu.

    Studi kasus sederhana, ketika zaman sekarang ekonomi sangat sulit, maka langkah efektif untuk menangani ekonomi kehidupan, bisa menggunakan dua pendekatan yaitu menghemat dan menambah penghasilan. Betapapun kecilnya penghasilan kita, tetap harus melakukan penghematan sekuat tenaga.

    Dan betapapun kecilnya peluang penghasilan tambahan kita, tetap harus berusaha melakukan penambahan penghasilan betapapun kecilnya. Kalau kasus ini diaplikasikan kepada tiga tipe manusia tadi, maka prilakunya akan sangat jauh berbeda.

    Manusia tipe pertama, yaitu manusia tipe malaikat.

    Manusia tipe ini, selalu percaya selama data-datanya akurat dan profesional. Sehingga dengan kondisi ekonomi yang sulit ini, prilaku-prilaku penghematan namun tidak pelit, selalu dilakukan dari detik per detik. Dan prilaku menambah penghasilan dari detik per detik juga selalu dilakukan tapi tetap menjaga agar tidak merugikan banyak orang.

    Manusia tipe kedua, yaitu manusia tipe manusia.

    Manusia tipe ini, memang percaya bahwa menghemat itu penting, namun tetap saja tidak mau menghemat, dan mau menghemat setelah dirinya dihadapkan pada kesulitan keuangan yang akut. Sehingga keinginan menghematnya, sudah tidak ada yang dihemat. Dan prilaku menambah penghasilan dari detik per detik juga tetap tidak dilakukan. Mereka akan melakukannya ketika keuangan sudah sangat menipis, sehingga tenaga untuk mengumpulkan uang saja sudah tidak ada.

    Manusia tipe ketiga, yaitu manusia tipe setan.

    Manusia tipe ini, adalah manusia yang selalu percaya terhadap informasi akurat dan profesional bahwa hidup harus menghemat, tidak pelit dan dapat menambah penghasilan yang tidak merugikan banyak orang. Namun kenyataan yang ada adalah tetap tidak menghemat, walaupun dirinya sudah kekurangan keuangan akut dan tetap tidak ada keinginan menambah penghasilan detik per detik, walaupun peluang sangat terbuka lebar di depan mata.

    Manusia tipe ini, lebih senang boros dan membeli banyak hal bukan karena kebutuhan tetapi karena keinginan belaka, walaupun uang yang diboroskan dari hasil menengadahkan tangannya yang kokoh itu, agar mendapatkan belas kasihan banyak orang.

    Setiap diri kita, berhak menentukan pilihannya sendiri. Namun, berhati-hatilah salah memilih pilihannya sendiri. Kalau memilih manusia tipe malaikat, berarti menjadi manusia siap berubah. Memilih manusia tipe manusia, berarti mau berubah setelah mengalami kejadian. Sedangkan memilih manusia tipe setan, berarti tetap tidak mau berubah, walaupun informasi manajerial kehidupan setiap detik selalu didapatkan.

    Berani hadapi tantangan menjadi manusia tipe malaikat, yang selalu mempercayai informasi akurat profesional yang akhirnya siap berubah dari detik per detik dalam menghadapi kehidupan? Atau tetap bertahan menjadi manusia tipe setan, selalu banyak informasi akurat untuk kemajuan dirinya, namun tetap saja tidak mau berubah. Bagaimana pendapat sahabat !!!

    ***

    Oleh : Masrukhul Amri, Knowledge Entrepreneur

     
  • erva kurniawan 8:30 am on 31 August 2012 Permalink | Balas  

    Meraih Keberkahan dalam Makanan

    Ada satu doa hampir semua orang hapal, termasuk anak-anak TPA. Yaitu doa sebelum makan, “Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaabannaar.” Artinya, “Ya Allah berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa neraka” (HR Ibnu As-Sani).

    Inti dari doa ini adalah “memohon keberkahan” dari rezeki yang telah Allah karuniakan, sehingga kita terpelihara dari keburukan (terutama dari siksa neraka). Andai kita mampu menyelami makna berkah dan mampu mengaplikasikan dalam tataran praktis, maka akan efek yang luar biasa dalam hidup.

    Konsep berkah

    Kata “berkah” berasal dari kata kerja baraka. Kata ini, menurut Ar-Raghib Al-Asfahani, seorang pakar bahasa Alquran, dari segi bahasa, mengacu kepada arti al-luzum (kelaziman), dan juga berarti al-tsubut (ketetapan atau keberadaan), dan tsubut al-khayr al-ilahy (adanya kebaikan Tuhan). Senada dengan Al-Asfahani, Lewis Ma’luf, juga mengartikan kata baraka dengan arti “menetap pada sesuatu tempat”. Dari arti ini, muncul istilah birkah, yaitu tempat air pada kamar mandi. Tempat air tersebut dinamakan birkah karena ia menampung air, sehingga air dapat menetap atau tertampung di dalamnya.

    Dari kata al-birkah inilah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengartikan berkah sebagai “kebaikan yang banyak dan tetap” atau “tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu”. Hampir senada dengan Al-Utsaimin, Ibnul Qayyim memaknai berkah sebagai “kenikmatan dan tambahan”.

    Ketika hendak makan, kita memohon agar rezeki yang kita nikmati diberkahi Allah SWT. Apa artinya? Kita makan bukan sekadar mengobati rasa lapar dan memenuhi selera semata, tapi juga untuk menjaga ketaatan kepada Allah SWT. Dengan makan itu kita berharap bisa konsisten dalam ketakwaan.

    Karena itu, agar berkah, maka makanan yang kita konsumsi harus memenuhi standar-standar yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Setidaknya ada dua syarat. Yaitu halal dan thayyib (baik), serta memperhatikan adab-adab yang dicontohkan Rasul SAW.

    Halal dan Thayyib Dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 168, Allah SWT berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

    Ayat ini memberi penekanan agar setiap manusia hanya mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib (baik). Halal dapat diartikan dibolehkannya sesuatu oleh Allah SWT berdasar suatu prinsip yang sesuai dengan aturan-Nya. Sehingga makna halal dalam ayat ini menyiratkan pentingnya semangat spiritual dalam memperoleh dan mengonsumsi makanan.

    Para ahli fuqaha membagi halal ini ke dalam dua bagian, yaitu halal secara dzat-nya dan halal secara perolehan. Makanan yang haram secara dzat-nya adalah bangkai (binatang yang menghembuskan nyawanya tanpa disembelih secara sah, kecuali ikan dan belalang), khamr, babi dan turunannya, binatang buas (bertaring), binatang pemakan kotoran, darah yang mengalir, dan sebagainya. (QS Al-Baqarah [2]: 173).

    Ada pula jenis yang haram bukan karena dzat-nya, tapi karena diperoleh dengan cara haram, atau ditujukan untuk perbuatan haram. Haram jenis kedua ini lebih luas lagi cakupannya, lebih sulit menghindarinya, sering tersamarkan, konsekuensi yang ditimbulkannya pun lebih berat.

    Setidaknya ada beberapa hal yang bisa membuat makanan yang kita makanan berubah statusnya dari halal menjadi haram.

    1. Makanan hasil riba (QS Al-Baqarah [2]: 275-276; 278-280)
    2. Memakan harta anak yatim secara batil (QS Al-Baqarah [2]: 220; QS An-Nisaa’ [4]: 10). Memakan harta anak yatim termasuk satu dari tujuh dosa besar yang membinasakan (HR Bukhari Muslim).
    3. Makanan yang didapatkan dengan cara batil (mengeksploitasi dan memeras serta merugikan, termasuk harta hasil KKN, merampok, mencuri) (QS An-Nisaa’ [4]: 29; QS Al-Baqarah [2]: 188; QS Al-Maidah [5]: 38)
    4. Memalsu dan mengurangi timbangan (QS Al-Muthaffifin [83]: 1-3)
    5. Harta hasil perbuatan tidak pantas, seperti hasil pornografi, pornoaksi, dan pelacuran (QS An-Nur [24]: 19)
    6. Harta hasil berkhianat/curang (QS Ali Imran [3]: 161, QS An-Nisaa’ [4]: 58; QS Al-Anfaal [8]: 27)
    7. Harta yang ditimbun (QS Al-Humazah [104]: 1-4, QS At-Taubah [9]: 34)

    Bila konsep halal lebih bernuansa “ukhrawi”, maka konsep thayyib lebih bersifat “duniawi”. Dalam arti lebih menyentuh unsur dzatnya. Thayyib ini harus memenuhi standar gizi serta proporsional (baik, seimbang dan sesuai untuk kesehatan tubuh). Sebab, baik menurut A belum tentu baik menurut B. Baik bagi bayi belum tentu baik menurut orang dewasa. Baik menurut orang sakit belum tentu baik menurut orang sehat.

    Sesungguhnya, kita akan mendapatkan kebaikan berlimpah bila makanan yang kita konsumsi terjamin kehalalannya, serta memenuhi standar gizi dan proporsional bagi tubuh. “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah [2]: 172)

    Adab-Adab terhadap Makanan Rasulullah SAW mencontohkan serangkaian adab berkait dengan makan. Di antaranya, tidak berlebihan (israf), memulai dengan doa dan ucapan basmalah, dan mengakhirinya dengan doa pula, tidak mencela makanan, menggunakan tangan kanan, sambil duduk, serta tidak tergesa-gesa.

    Selain itu, beliau pun menyebut pula beberapa keadaan yang diberkahi. Antara lain, makan bersama dan dimulai dari pinggir, serta menjilat jari (setelah makan). Rasulullah SAW bersabda, “Berkumpullah kalian menikmati makanan dan sebutlah nama Allah, kalian akan diberkahi padanya” (HR Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah). Dalam hadits lain disabdakan pula, “Barakah itu akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir dan jangan dari tengah” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Rasul pun memerintahkan untuk menjilat jari karena kita tidak tahu mana di antara makanan itu yang mengandung berkah (HR Bukhari).

    Dengan memperhatikan standar makanan yang dicontohkan Rasulullah SAW, insya Allah setiap suapan nasi atau tegukan minuman, akan membawa kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Karena itu, setelah selesai makanan, kita diperintahkan untuk memuji Allah SWT. Alhamdu lillaahilladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa Muslimiin”. Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami Muslim” (HR Abu Daud). (tri)

    Wallaahu a’lam.

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 25 August 2012 Permalink | Balas  

    Hancurkan Dinding Ego Kalian

    Bismillah hirRohman nirRohim

    Armageddon akan terjadi, bukan karena Allah SWT; tetapi karena ego kalian, yang tidak pernah puas.  Satu kata dari Rasulullah sallAllahu  alaihi wassalam memperjelas semua situasi sekarang yang kita hadapi, “Aku berlindung kepada Allah dari pengetahuan yang tidak membawa manfaat kepada orang yang bersangkutan, atau bagi kemanusiaan.  Aku juga berlindung kepada Allah dari kejahatan ego yang hanya menginginkan kesenangan dan kenikmatan fisik, tidak ada yang lain.”  Semoga Allah mengampuni kita.  Kata-kata doa ini adalah sesuatu yang penting.

    Oleh sebab itu, Rasulullah saw bersabda, “Aku datang untuk menghilangkan karakteristik buruk ego manusia.  Aku datang untuk menyandangkan kalian dengan kualitas terbaik, nilai terbaik, pakaian terbaik kalian, sehingga kalian akan berada di Hadirat Ilahi dengan Pakaian Ilahi yang terbaik dan paling berharga.”

    Nilai-nilai tersebut adalah pakaian terbaik bagi kalian. Jika kalian tidak mengenakan pakaian itu, kalian akan diusir, karena ego kalian tidak pernah merasa cukup. Dan Neraka juga akan berkata, “Wahai Tuhanku, jika ada lebih banyak lagi, Aku mohon agar mereka dikirimkan kepadaku. Kirimkanlah padaku orang-orang dengan keinginan egonya, mereka akan temukan bahwa apa yang mereka inginkan ada pada levelku.”

    Setelah Revolusi Perancis, tembok besar yang mencegah orang untuk bersikap patuh menjadi hancur.  Jangan dikira bahwa itu semua terjadi demikian-bahwa mereka mendobrak pintu Bastille.  Itu adalah peristiwa simbolik  bahwa Setan membuka penjara Bastille untuk mengeluarkan semua orang yang tidak patuh, yang tidak pernah menundukkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.  Dan Kerajaan ini mewakili Kerajaan Allah di bumi.

    Dan sebagaimana disebutkan dalam semua Kitab Suci, bahwa setiap bangsa sejak awal hingga 1789 masing-masing mempunyai seorang Raja, orang-orang menundukkan kepala kepada mereka, bukannya mengangkat kepalanya, dan menunduk kepada Raja berarti secara tidak langsung patuh terhadap Tuhan Pemilik Surga. Tetapi ketika dinding pemisah antara rakyat dan Raja dihancurkan, semua orang yang tidak patuh, para pemberontak, kalajengking dan naga, semua orang liar yang telah dipenjara keluar.

    Juga beberapa filsuf, dan scientist yang bodoh, yang Atheis dan tidak percaya kepada adanya Tuhan Yang Mahakuasa. Mereka menulis banyak buku yang mendorong orang agar orang tidak patuh kepada siapa saja.  Apa yang mereka katakan adalah seperti ketika Allah swt menciptakan ego kita. Ketika Ego ditanya oleh Allah, siapakah engkau, maka Ego menjawab,”Engkau adalah engkau, dan Aku adalah aku,” begitu kata ego.

    Ego tidak pernah mau menunduk kepada Tuhannya dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Penciptaku, Tuhan Pemilik Surga.”  Dia tidak pernah mau menundukkan kepalanya di Hadirat Ilahi, sampai Allah  swr memerintahkannya untuk dikurung dalam api Neraka yang panas Selama 1000 tahun.  Tetapi dia tetap tidak datang dan menunduk.  Kemudian dia dipindahkan ke dalam Neraka yang dingin selama 1000 tahun pula, tetapi ego tetap masih belum mau menunduk kepada Tuhannya.  Sampai ego itu ditempatkan di lembah kelaparan selama 1000 tahun, barulah kemudian dia keluar dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.”  Itulah karakteristik utama dari ego kita-tidak mau menundukkan kepala di hadapan orang lain.

    Jika dia tidak menundukkan kepalanya di hadapan Allah swt, bagaimana dia mau menundukkan kepala dihadapan mahluk yang lain. Tidak akan!

    Demikianlah karena manusia sekarang tidak menghargai satu sama lain sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan mereka yang unik dan terkasih, maka merekapun tak mampu untuk bersikap toleran satu sama lain, apalagi untuk mampu menghargai mereka atau menjadi lebih akrab dengan mereka.

    “Dunia ini tak cukup besar untuk menampung kita berdua,” kata salah seorang kepada yang lainnya, apalagi satu bangsa atau negara kepada bangsa dan negara lainnya. Setiap orang berteriak lantang akan dirinya masing-masing demikian kerasnya untuk menekan eksistensi yang lain. Dan perilaku semacam ini membuat orang menjadi demikian berat pula, hingga bumipun hampir-hampir tak mampu lagi menampung keseluruhan ras manusia, bukan karena jumlah mereka tapi karena sikap dan perilaku mereka.

    Kita telah mencegah diri kita sendiri dari sikap menghargai orang lain dan mencari keakraban dengan mereka. Kita melihat mereka tidak sebagai wakil-wakil Tuhan kita yang tercinta di muka bumi ini, tapi sebagai ancaman-ancaman bagi diri kita sendiri. Dan merekapun, sebagai gantinya, melihat kita sebagai orang-orang yang berbahaya, dan menarik keakraban mereka dari diri kita. Karena itulah, sikap liar dan buas tengah berjangkit dan tumbuh secara cepat pada manusia, dan dari sifat liar inilah muncul kebekuan, kebencian dan kedengkian di antara manusia.

    Ego dan nafsu rendah kita telah membangun dinding-dinding di sekeliling kita. Dinding dan tembok Ego yang tak dapat ditembus. Hancurkanlah lebih dahulu tembok-tembok Ego kalian itu, agar kalian mampu menghargai orang lain dan mendekati mereka. Setelah kalian mampu mengahancurkan dinding Ego itu, maka kalian akan menemukan bahwa perasaan-perasaan yang tulus mulai mengalir dari kalbu kalian, dan kemudian sebagian besar orang akan mulai menunjukkan sikap yang lebih baik terhadap diri kalian.

    Tetapi, jika kalian suka bertengkar dan terkuasai oleh ego rendah kalian yang buruk dan serakah, maka  tak seorang pun mampu mendekatimu dan kalian pun tak mampu mendekati seorang pun kecuali dengan kekerasan. Ini adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Jadi, hal pertama yang harus diperbaiki adalah dirimu sendiri, untuk mengendalikan ego/nafsu rendahmu, agar diri kalian mampu untuk meberikan keakraban yang tulus pada semua orang.

    Jika kalian ingin menyelamatkan diri kalian secara fisik dan spiritual dan selamanya, maka ikutilah langkah para Awliya.  Kita begitu lemah untuk mengikuti langkah para Nabi dan Rasul, karena dibutuhkan Iman yang kuat sehingga kalian bisa berpijak di jalur yang benar dengan mantap.  Jika kalian tidak mempunyai ‘qadama sidqin’, kalian belum memiliki langkah yang benar, kalian tidak dapat melangkah di jalan yang benar, tidak bisa.

    Jalan yang benar menuntut langkah yang benar. Langkah yang benar dilakukan oleh kaki yang benar.  Kaki yang benar adalah milik hati yang benar, jika hati kalian tidak benar, dia tidak bisa memerintahkan kaki kalian untuk berpijak dengan benar.  Oleh sebab itu perhatikanlah-seseorang yang mempunyai langkah yang benar, ikutilah mereka.  Siapa pun dia, kalian boleh mengikutinya.  Jika tidak, maka kalian akan mengikuti langkah Setan dan siapa pun yang mengikuti Setan, dia akhirnya akan sampai ke Neraka.

    Wa min Allah at Tawfiq

    Wassalam

    ***

    Oleh: Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 24 August 2012 Permalink | Balas  

    Kunci Meraih Pertolongan Allah

    KH Abdullah Gymnastiar

    “Saat kau bermunajat, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkan-Nya. Niscaya rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu”.

    Abdullah bin Abbas pernah bercerita. “Suatu hari aku berjalan di belakang Rasulullah SAW. Saat itu beliau bersabda,

    ”Nak, kuajarkan kepadamu beberapa kata: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niascaya Dia akan senantiasa bersamamu. Bila kau minta, maka mintalah kepada Allah. Bila kau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua manusia bersatu untuk memberikan sebuah kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis untukmu. Jika semua manusia bersatu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering”.

    Hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi ini diungkapkan pula dalam redaksi berbeda.

    “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah diwaktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan seiring dengan kesabaran, jalan keluar seiring dengan cobaan dan kemudahan seiring dengan kesulitan”.

    Saudaraku, redaksi hadis ini singkat, padat namun cakupan maknanya teramat dalam dan luas. Dalam hadis Rasulullah Saw. memberikan kunci-kunci bagaimana mendapatkan pertolongan Allah. Satu pesan utama hadis ini adalah “penghambaan” kepada Allah.

    Laa haula walaa quwwata illa billahil.

    Tiada daya maupun upaya selain atas kekuatan Allah. Saat kita menyadari kekerdilan diri di hadapan Allah, maka pertolongan Allah akan mendatangi kita. Bukankah kita makhluk lemah, sedangkan Allah Maha Menggenggam segalanya?

    Aa pernah bertanya kepada seorang guru, “Bagaimana caranya agar doa kita cepat dikabul oleh Allah?”.

    Beliau menjawab, “Saat kau berdoa, saat kau munajat, atau saat kau sujud, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkannya. Niscaya rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu.”

    Jadi, kunci terpenting agar kita ditolong Allah adalah dengan sungguh-sungguh menghamba kepada-Nya.

    Saat kita ingin dimuliakan Allah, maka akuilah kehinaan kita di hadapan Allah.

    Saat kita ingin dilebihkan, maka akui kekurangan kita di hadapan Allah.

    Saat kita ingin dikuatkan Allah, maka akui kelemahan kita di selemah-lemahnya di hadapan Allah.

    Imam Ibnu Atha’ilah berkata, “Buktikan dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Akuilah kekuranganmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuatan-Nya.”

    Saudaraku, sekali lagi, kekuatan terbesar yang kita miliki bukanlah kekuatan fisik, intelektual, kekuasaan ataupun harta kekayaan. Kekuatan terbesar kita adalah “pertolongan Allah”.

    Pertolongan Allah ini sangat dipengaruhi kualitas keyakinan kita kepada-Nya. Kualitas keyakinan biasanya akan melahirkan kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah akan melahirkan akhlakul karimah, seperti kualitas sabar, syukur, ikhlas, tawadhu, iffah, zuhud, qanaah, dsb. Karena itu, kemuliaan akhlak tergantung dari sejauh mana kita mengenal Allah.

    Wallaahu a’lam

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 23 August 2012 Permalink | Balas  

    Pernahkah Anda Berfikir

    Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?

    Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?

    Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?

    Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?

    Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?

    Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?

    Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?

    Jika demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?

    Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.

    Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

    “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mngerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

    Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:

    “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)

    “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minuun, 23:115)

    Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat.

    Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

    Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:

    “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (QS. Ar-Ruum, 30: 8)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 19 August 2012 Permalink | Balas  

    Adab Bertetangga

    Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, saking seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik, Rasulullah pernah mengira tetangga termasuk ahli waris. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan oleh Aisyah, ”Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya.” (HR Bukhari-Muslim).

    Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan mengirimkan hadiah.

    Sabda Rasulullah SAW, ”Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.” (HR Muslim).

    Lihatlah, betapa ringan ajaran Rasulullah, namun dampaknya sangat luar biasa bagi kerukunan dan keharmonisan kita dalam bermasyarakat. Untuk memberi hadiah tidak harus berupa bingkisan mahal, tapi cukup memberi sayur yang sehari-hari kita masak. Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, Rasulullah juga memerintahkan untuk saling menenggang perasaan masing-masing.

    ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” kata Rasulullah, ”maka hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari).

    Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang dikenal rajin melaksanakan shalat, puasa, dan zakat, tapi ia juga sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah menegaskan, ”Pantasnya dia di dalam api neraka!” Kemudian, sahabat itu bertanya lagi mengenai seorang wanita lain yang dikenal sedikit melaksanakan shalat dan puasa, namun sering berinfak dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Jawab Rasulullah, ”Ia pantas masuk surga!” (HR Ahmad).

    Seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya.

    Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ”Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman …!” Sahabat bertanya, ”Siapa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya.” (HR Bukhari).

    Suatu kali, Aisyah pernah bingung mengenai siapa di antara tentangganya yang harus diutamakan. Lalu, ia bertanya kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, saya mempunyai dua orang tetangga, kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?” Beliau bersabda, ”Kepada yang paling dekat rumahnya.” (HR Bukhari).

    Rasulullah menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian kebaikan seseorang. Kata beliau, ”Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.” (HR Tirmidzi).

    ***

    (Didik Hariyanto) sumber : Republika

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 18 August 2012 Permalink | Balas  

    ‘Idu’l-Fithri (Syawwal)

    Diriwayatkan oleh Ibnu ‘I-Jauzi dengan sanad yang bersambung sampai kepada Abu Sa’id Al-Khudri Ra., bahwasanya dia berkata, Rasulullah Saww. memerintahkan kepada kita pada hari Raya Fithri untuk memberikan fitrahnya kepada orang-orang fakir di antara saudara-saudara kita. Dan Beliau juga bersabda: “Barangsiapa membayar fitrah kepada orang fakir, maka dia bebas dari neraka, dan barangsiapa membayar fitrah kepada dua orang fakir, maka dia ditetapkan Allah bebas dari syirik dan sifat munafik, dan barangsiapa membayar fitrah kepada tiga orang fakir, maka berhak baginya masuk kedalam surga, dan dijodohkan Allah dengan bidadari cantik yang jeli matanya”.

    Diriwayatkan dari Baihaqi yang bersumber dari Abdullah bin Abbas Ra., sebuah hadist marfu’ yang panjang sehingga Beliau bersabda: “Apabila tiba waktu pagi hari Raya Fithri, Allah mengutus Malaikat pada setiap negri, lalu mereka turun ke bumi dan berdiri pada mulut setiap jalan, kemudian menyeru dengan seruan yang dapat didengar oleh segenap makhluk, selain jin dan manusia: “Hai umat Muhammad Saww, keluarlah menuju Tuhan Yang Maha Pemurah. Dia memberikan pemberian yang besar dan mengampuni banyak dosa”, Apabila mereka telah tampak berada pada tempat shalatnya, maka Allah berfirman kepada malaikat: “Wahai Malaikat-Ku, apakah balasan buruh yang sudah mau bekerja?”, Malaikat menjawab: “Balasannya adalah disempurnakan upahnya”. Allah berfirman: “Aku mempersaksikan kepada kalian, wahai Malaikat-Ku, bahwasanya Aku telah menjadikan puasa Ramadhan mereka dan ibadah malam mereka menjadi keridaan dan ampunan-Ku”. Kemudian Allah berfirman lagi: “Mintalah kepada-Ku, maka demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada kalian meminta kepada-Ku pada hari ini, baik yang menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat melainkan Aku memberinya. Dan demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada Aku menghina dan membuka aib kalian, pulanglah kalian dalam keadaan terampuni dosa kalian! Kalian telah beramal demi menuntut keridhaan-Ku dan Aku telah ridha pula kepada kalian”. Maka, mendengar firman Allah itu, Malaikat merasa gembira dengan karunia yang telah diberikan kepada umat Muhammad Saww. Ini”.

    Nabi Saww. telah bersabda: “Man ahyaa laylata’l-‘iidi lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam Hari Raya (Idul Fithri dan Idul Adha), maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika semua hati manusia mati”.

    Didalam hadits riwayat Thabrani dan Ibnu Majah diterangkan: “Man ahyaa laylata’l fithri wa laylata’l adhhaa lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya Fithri dan malam hari Raya Adha, maka tidak akan mati hatinya pada hari ketika hati manusia seluruhnya menjadi mati.

    Mu’adz ra. berkata: “Man Ahyaal layaa li’l arba’a wa jabat lahul jannatu : Laylatal tarwiyati wa laylata ‘arafata wa laylatan nahri wa laylatal fithri. Barangsiapa menghidupkan waktu-waktu malam yang empat, maka berhak baginya masuk ke dalam surga, yaitu : malam Tarwiyah (8 Dzu’l-hijjah), malam ‘Arafah (9 Dzu’l-hijjah), malam Nahr/Idul Adha (10 Dzu’l-hijjah), dan malam Fitrah (1 Syawwal)”. (HR. Ibnu Asakir)

    Disunatkan pada Hari Raya untuk mengenakan pakaian yang paling baik dari yang dimiliki.

    Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad orang yang dapat dipercaya, bahwa sesungguhnya hari itu disebut hari raya hanyalah karena pada hari itu Allah Swt. mengulangi pemberian kesenangan dan kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya. Atau karena diucapkan kepada orang-orang Mu-min: “Kembalilah kerumah kalian dengan mendapatkan ampunan”. Di dalam hadits yang lain diterangkan, bahwa apabila tiba Hari Raya dan manusia keluar kelapangan (untuk melakukan shalat), maka Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, karena Aku kalian beribadah, dan karena Aku kalian shalat. Pulanglah dengan memperoleh ampunan daripada-Ku!”.

    Wahab bin Munabbih mengatakan, bahwa Allah menciptakan surga pada hari Raya Fithri, menanam pohon Thuba pada hari Raya Fithri, dan memilih Malaikat Jibril sebagai penyalur wahyu juga pada hari Raya Fithri.

    Kata Anas bin Malik ra.: “Orang yang beriman itu mempunyai lima Hari Raya: (1.) Tiap-tiap hari dia berjalan melewati orang yang beriman dan tidak dicatat padanya suatu dosa, maka itu adalah Hari Raya. (2.) Hari dia keluar dari dunia ya’ni mati dengan berbekal iman, syahadat dan benteng dari tipu daya setan, maka hari itu adalah Hari Raya. (3.) Hari dia menyebrang shirathal mustaqim/jembatan dan dia selamat dari resikonya hari Qiyamat serta selamat pula dari tangan para musuhnya dan dari Malaikat Zabaniyah, maka itu adalah Hari Raya. (4.) Hari dia masuk kedalam sorga dan selamat dari neraka Jahim, maka itu adalah Hari Raya. (5.) Hari dia bisa melihat Tuhannya, maka itu adalah Hari Raya. (Abul-Laits)

    Dari Wahab bin Munabbih bahwa dia berkata: “Beliau Nabi Saww. bersabda: “Sesungguhnya Iblis ‘alaihil la’nah itu berteriak pada tiap-tiap Hari Raya, maka para ahlinya/tentaranya sama berkumpul disekelilingnya sambil berkata: “Wahai baginda kami, siapakah yang menjadikan baginda murka, maka sungguh dia akan kami hancurkan!”. Iblis berkata: “Tidak ada sesuatu, akan tetapi Allah Swt. pada hari ini telah mengampuni umat ini. Maka kamu sekalian harus menyibukkan mereka dengan segala macam yang lezat-lezat, dengan syahwat dan dengan minum arak, sehingga Allah murka kepada mereka”. Maka bagi orang yang berakal hendaknya bisa menahan dirinya pada Hari Raya dari pada segala macam nafsu syahwat dan dari semua yang dilarang, bahkan supaya selalu bertaat.

    Oleh karena itu beliau Nabi Saww. bersabda: “Bersungguh-sungguhlah kamu sekalian pada Hari Raya Fithri dengan bersedekah dan amalan yang baik yang bagus daripada shalat, zakat, bertasbih (membaca Subhanallaahi) dan tahlil (membaca Laa Ilaaha Illallaahu), karena sesungguhnya hari ini Allah Swt. mengampuni semua dosa kamu sekalian, mengabulkan do’amu dan melihat kamu sekalian dengan kasih sayang”. (Durratul Waa’izdiina)

    Diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa barangsiapa mengucapkan: “Subhanallaahi Wa Bihamdihi”, pada Hari Raya sebanyak tigaratus kali, lalu dihadiahkan kepada orang-orang Islam yang sudah mati, maka masuk ke dalam setiap kubur seribu cahaya, dan Allah menjadikan untuknya seribu cahaya di dalam kuburnya sendiri apabila dia mati. Dan tidak seorang pun dari orang-orang yang sudah mati melainkan dia mengucapkan pada hari kiyamat: “Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kasihanilah hamba-Mu, dan jadikanlah surga sebagai balasannya”. Lalu Allah Swt. berfirman: “Saksikanlah, sesungguhnya Aku telah mengampuninya”.

    Diperoleh keterangan dalam hadits para sahabat, bahwa barangsiapa memohon ampun kepada Allah Swt. pada Hari Raya sesudah shalat fardhu Shubuh sebanyak seratus kali, maka di dalam buku catatan amalnya tidak ditemukan catatan dosa sedikitpun dan nanti pada hari kiamat berada di bawah ‘Arsy dalam keadaan aman dari siksa Allah Swt.

    Barangsiapa berjalan ke kubur orangtuanya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. mencatat setiap langkahnya sesuatu kebaikan. Barangsiapa memuliakan kedua orangtuannya, maka Allah Swt. memuliakan kepadanya. Barangsiapa menghina Orang fakir, maka Allah Swt. menghinanya besok di hari kiyamat dan tidak melihat kepadanya. Barangsiapa memanggil orang fakir dan memberinya suatu makanan yang disukainya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. akan memberikan kepadanya sebuah kota dari cahaya permata dan yaqut, dan memberinya makanan dari makanan surga. Barangsiapa kembali pulang dari tempat shalatnya menuju rumahnya dengan tenang dan berwibawa, maka Allah Swt. akan memberi kepadanya nanti pada hari kiyamat setiap langkah sepuluh kebaikan. Barangsiapa melakukan perbuatan maksiat pada Hari Raya, maka Allah Swt. memanggil: “Tidakkah engkau malu kepada-Ku, padahal Aku memandang kamu dengan pandangan rahmat dan kasihan, sedang kamu semakin jauh dari-Ku. Bertaubatlah kepada-Ku, wahai hamba-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu, dan Aku jadikan kamu sebagai kekasih-Ku dan kekasih Malaikat-Ku. Barangsiapa memperluas dirinya dan keluarganya (dalam memberikan belanja) pada Hari Raya, maka Allah Swt. memperluas pintu kecukupan padanya dan menutup kefakiran daripadanya”.

    Dari Tsauban berkata, Rasulullah Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu bisittim-min syawwaaliin faka’annamaa shaamad-dahra kullahu. Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu mengikutinya berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah dia berpuasa setahun sempurna”. (HR. Ahmad)

    Di Dalam hadits yang lain Nabi Saww. bersabda: “Shiyaamu syahri ramadhaana bi’asyri ‘asyhurin, wa shiyaamu sittati ayyaamim-bisyahrayni. fadzaa lika shiyaamus-sanati. “Puasa bulan Ramadhan memadai dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari memadai dengan puasa dua bulan, maka puasa yang demikian itu adalah puasa setahun”.

    Dari Ayyub ra. berkata, Nabi Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu sittaamin syawwaalin kaana kashaumid-dahri. Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan puasa enam hari bulan syawwal, maka menyamai puasa selamanya (sepanjang masa)”. (HR. Ahmad dan Muslim)

    Ada yang mengatakan bila berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan maka menyamai puasa 300 Hari dan pada 6 hari bulan Syawwal menyamai 60 hari jadi berjumlah 360 hari (kurang lebih 1 tahun) karena setiap amal itu dilipatkan 10 kali lipat.

    Juga dari Ibn Umar ra. berkata, Nabi Muhammad Saww. bersabda: “Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan enam hari bulan Syawwal, maka keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan ia baru lahir dari perut ibunya“. (HR.At-Thabarani)

    Wahai Saudara-saudariku jadikanlah Idul Fithri tahun ini menjadi Hari Raya yang penuh berkah, rahmat, magfirah serta ridha dari Allah Swt. dengan berdzikir dan berdo’a kepada Allah pada malam (mustajab) Idul Fithri (1 Syawwal), pada sehabis shalat subuh berdzikir Istigfar seratus kali memohon ampun kepada Allah Swt., siangnya sehabis shalat dzuhur atau ashar membaca subhanallaahi wabihamdihi tigaratus kali kita hadiahkan pahalanya kepada muslim dan muslimah, mukmin dan mukminah, pada tanggal 2 Syawwalnya mengerjakan puasa 6 hari (berturut-turut) agar kita tercatat orang yang mengerjakan puasa setahun penuh, dan Insya Allah kita dapat memasuki surga melalui pintu khusus yang bernama Ar-Rayyan (pintu kesegaran) bagi orang-orang yang senang/suka berpuasa karena Allah Swt.

    Wallaahu a’lam bi shawab….

    ***

    Dikutip dari: * Ihya’ Ulumiddin –> Imam Al-Ghazali. * Riyadhus Shalihin –> Imam An-Nawawi. * Durratun Nasihin –> Usman Alkhaibawi. * At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-‘Adawiy * Irsyadul’ibad Ilasabilirrasyad –> H. Salim Bahreisy * Fatawa Rasulullah Saw. –> Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

     
    • Andik 2:13 am on 18 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih

  • erva kurniawan 1:22 am on 17 August 2012 Permalink | Balas  

    Karcis Jannatun Adnin Kholidina Fiiha… 

    “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl (16): 97)

    Inilah jaminan dari Allah SWT bagi orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan yang mengerjakan amal saleh, yang mana akan Allah berikan kepadanya kehidupan yang baik dan juga akan diberikan kepadanya balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan sebagaimana ayat diatas.

    Dalam Islam, dibedakan antara amal saleh (perbuatan baik) dengan perbuatan jahat. Dalam hal amal saleh (perbuatan baik) Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perbuatan terbaik dimata Allah adalah perbuatan baik yang dilakukan terus menerus meski dalam tingkat yang kecil sekalipun.” (HR. Bukhari)

    Dan didalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Kerjakanlah amal saleh semampu kamu karena Allah SWT tidak akan lelah sedikitpun untuk memberi penghargaan atas apa yang kamu lakukan asalkan kamu tidak bosan-bosan melakukannya.” (HR. Bukhari)

    Jadi, sekecil apapun perbuatan baik yang kita lakukan, pasti ada balasannya dari Allah SWT walaupun dengan senyuman sekalipun. Sebab “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yang banyak tertawa dan tersenyum. Begitu juga dengan membuang duri yang ada ditengah jalan, memungut sampah dan membuangnya di tempat samapah dan juga mengucapkan salam kepada orang tuamu, saudaramu, saudara semuslim atau ketika kita mau masuk rumah sekalipun sebagaimana Allah SWT berfirman, “Hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An-Nur (24): 61)

    Sedangkan hukum untuk orang yang menjawab salam adalah, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa :  86)

    Allah SWT juga menganjurkan kepada kita agar berbuat baik kepada kedua orang tua kita dengan sebaik-baiknya, sebagaimana firman-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“.” (QS. Al-Israa (17): 23-24)

    Itulah bentuk-bentuk amal saleh (perbuatan baik) yang bisa dibilang kecil tapi kalau dilakukan terus menerus maka Allah SWT akan memandangnya sebagai perbuatan terbaik. Dan banyak lagi perbuatan baik yang tidak disebutkan disini yang bisa kita lakukan. Dan semuanya akan ada balasannya dari Allah SWT dengan pahalanya dan kita pun akan melihatnya.

     “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah (99): 7)

    Tidak semua amal saleh (perbuatan baik) akan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala-Nya atau dengan surga-Nya. Sebab, orang yang tidak berimanpun (yaitu, orang yang tidak mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya), bisa juga melakukan amal saleh, malahan bisa jadi akan lebih baik dari kita sebagai orang yang beriman. Tapi Allah telah menetapkan, hanya orang-orang yang beriman saja yang akan Allah balas dengan pahala-Nya dan surga-Nya sebagaimana firman-Nya,

    Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisaa” (4): 124)

     “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah (2): 277)

    Dan banyak lagi firman Allah SWT yang senada yang menerangkan bahwa, “Orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah (2): 82)

    Dan, malang bagi orang yang berbuat jahat. Sebab, kejahatan yang dilakukannya akan dipikulnya sendiri sebagaimana firman-Nya, “Dan barangsiapa yang memberikan syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa” (4): 85)

    Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. An-Naml (27): 90)

    Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang beriman dan selalu melakukan amal saleh, sehingga Allah SWT pun memasukan kita kepada golongan “Orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 14 August 2012 Permalink | Balas  

    Cerdas Menuju Sholeh

    Fir’aun? Setiap zaman mengenang nama ini. Bukan nama yang indah tetapi sangat popular. Al-Qur’an menyebutnya sebanyak 74 kali. Semua lekat dengan kebengisan, kekejaman, tirani, kecongkakan dan sederet label jahat lainnya. Gambaran kekerdilan di balik nama besar fir’aun baru telah menjadi sebuah nama manis untuk didengar.

    Walaupun seluruh jagad mencela, menghina, bahkan melaknat nama ini, akan tetapi fir’aun-fir’aun baru tetap muncul kehadapan. Dengan berbagai tameng, fir’aun baru berpangkat tinggi tetap saja hadir dengan tipu daya yang lebih dahsyat. Prakteknya tidak lagi dengan menggunakan pedang, cambuk, dan alat-alat yang menyiksa lainnya. Tapi menggunakan tipu daya ekonomi dengan memiskinkan rakyat.

    Banyak hak rakyat di rebut dan di curi. Hukum menjadi jaminan bagi para fir’aun untuk menutupi diri. Sehingga rakyat tetap saja di buat percaya dan bergantung pada pribadi seperti itu. Apakah pribadi fir’aun ini yang disebut cerdas?

    Apakah cerdas itu?

    Apakah cerdas adalah orang yang hidupnya bergelimpang harta, kemana-mana dengan membawa puncak dunia berupa rumah megah dan mobil mewah, yang malah membuat ia terhina. Pikirkanlah? Saat ini begitu banyak orang kaya, tetapi para tetangga bahkan saudara mereka hidup dalam kesulitan. Orang-orang kaya tersebut malah menutup mata dan telinga seolah tidak pernah melihat dan mendengar jeritan rakyat jelata yang butuh perhatian dan bantuan.

    Apakah hati mereka telah tertutup? Atau karena tidak pernah mendengar teguran Rasulullah saw “Barang siapa tidak menaruh perhatian terhadap masalah kaum muslimin, bukan dari golongan mereka.” (Al Hadits).

    Apakah cerdas itu?

    Apakah cerdas adalah yang terkenal, namanya familiar ditengah masyarakat, orang yang sering berbicara, baik itu di mimbar atau tampil dilayar kaca? Tengoklah? Banyak manusia abad ini yang pintar berkata, beragumen, dan beretorika, mudah menipu lewat keindahan berbicara dan rupa, tetapi tidak segan-segan memakan dan menelan mangsa dengan kata indah dan wajah rupawan itu.

    Tengoklah para elit politik yang rajin dan pintar mengeluarkan kata-kata indah saat berkampanye, tetapi yang sebenarnya adalah bisa untuk membunuh saudaranya. Apakah ini yang disebut cerdas?

    Lalu apakah cerdas itu?

    Dalam sebuah riwayat dari Syadad bin Aus ra. Dari Rasulullah saw, beliau bersabda “Orang yang berakal adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Orang yang kurang perhitungan adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan bahwa Allah selalu mengampuni dan memaafkannya”.

    Dalam riwayat lain dikatakan, “Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian”. (HR. Tirmidzi)

    Hadits diatas mengingatkan manusia tentang kepintaran dan kecerdasan hakiki yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan di akhirat. Orang pintar dan cerdas adalah orang yang bersiap-siap mengumpulkan bekal untuk suatu masa setelah kematian. Orang itulah yang Rasulullah saw sebut dengan al-kais. Al-Kais adalah orang yang berfikir jauh kedepan untuk masa depan kehidupannya, bahkan untuk kehidupan yang kekal dan abadi. Orang pintar seperti yang disebut Rasulullah saw tidak terpancing untuk melakukan pekerjaan atau perbuatan yang hanya memberikan dampak pendek, apalagi yang tidak berdampak apa-apa atau merugikan.

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang menjadikan Allah sebagai pengawas terhadap ilmu. Kita memuji Allah swt yang telah memuliakan dan menjadikan kita sebagai penuntut ilmu, kemudian kita memohon kepada Allah swt agar senantiasa membukakan pintu-pintu-Nya bagi kita. Dan pintu paling agung yang dibukakan Allah swt kepada kita adalah Dia menjadikan kita sebagai hamba-Nya.

    Banyak manusia menyia-nyiakan Allah dengan perbuatan keji dan dosa karena kecintaan yang sangat pada dunia sehingga Allah akan menyia-nyiakan mereka didunia dan diakhirat. Layaknya Fir’aun yang durjana yang menyia-nyiakan Allah, sehingga Allah melenyapkannya didasar lautan.

    Allah swt berfirman, “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan”. (Al-An’am:120).

    Mungkin dosa yang kelihatan, terkadang kita meninggalkannya karena takut kepada pengawasan manusia, namun dosa yang tersembunyi tidak akan ditinggalkan, melainkan karena takut kepada Allah.

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tidak akan dapat kita realisasikan dengan sempurna, kecuali dengan mengkaji sirah (perjalanan hidup) Rasulullah saw dan merenungkan semua peristiwa serta nuansa pendidikan (tarbiyah) yang memperhatikan realita generasi sekarang ini. Dia adalah seorang yang ma’shum (terjamin kesuciannya).

    Allah telah menjadikannya sebagai suri tauladan bagi kita. Dia adalah orang yang jujur, guru yang sejati, dan komandan yang ulung. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hati kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab:21).

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku…

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa menjaga waktu, supaya jangan sampai terbuang dengan sia-sia. Allah swt berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada ilah selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia”. (Al-Mukminun:115-116).

    Dan ingatlah akan sabda Rasulullah berikut, “Kedua kaki seorang hamba itu tidak akan lenyap, sehingga di ditanya tentang empat perkara: Tentang keremajaannya, kemana ia habiskan; tentang hartanya, dari mana dan kemana dia belanjakan; tentang umurnya, untuk apa di habiskan; dan tentang ilmunya apa yang telah dia lakukan dengannya.” (HR. At Tirmidzi)

    Fahamilah, wahai saudaraku..

    Kecerdasan seperti inilah yang mengantarkan kita kepada pribadi yang sholeh. Jika ada akibat, pastilah ada sebab, dan jika ada reaksi, pastilah ada aksi. Sholeh adalah akibat dari pribadi yang cerdas sebagaimana Cerdas merupakan suatu aksi (perbuatan) yang menimbulkan kesholehan. Pancaran pribadi sholeh adalah keimanan. Karena umat yang hidup tanpa iman, bagaikan binatang melata. Madrasah tanpa iman, bagaikan asrama yang rapuh dan hancur. Hati tanpa iman bagaikan seonggok daging bangkai.

    Seorang guru tanpa iman, bagaikan sekujur tubuh yang lumpuh dan tidak dapat bergerak. Buku tanpa iman, tak lebih daripada sekadar lembaran-lembaran yang berbaris. Dan ceramah tanpa iman, bagaikan perkataan tanpa makna. Maka, mulailah hidup cerdas dan raihlah kesholehan hamba yang beriman, wahai saudaraku…

    Wallahu ‘alam bish showab

    ***

    Oleh : Bobi Hendra, SE. (Penulis adalah mantan Ka. SKI-IT BEM FE Trisakti periode 2004/2005)

    Hudzaifah.org

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 13 August 2012 Permalink | Balas  

    Hadis Muthahharah

    Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat. Maka baginda S.A.W telah berkata kepadanya Tanyalah apa yang engkau kehendaki :

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang alim. Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang paling kaya. Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri engkau maka engkau akan jadi orang paling kaya

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang adil. Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang paling baik. Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang istimewa di sisi Allah. Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan zikrullah nescaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

    Dia berkata : Aku mau disempurnakan imanku. Baginda S.A.W menjawab : Perelokkan akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik). Baginda S.A.W menjawab : Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan jika engkau tidak merasa begitu sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau maka dengan cara ini engkau akan termasuk golongan muhsinin

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang taat. Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajipan yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

    Dia berkata : Aku mau berjumpa Allah dalan keadaan bersih daripada dosa. Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu daripada najis dosa nescaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci daripada dosa

    Dia berkata : Aku mau dihimpun pada hari qiamat di bawah cahaya. Baginda S.A.W menjawab : Jangan menzalimi seseorang maka engkau akan dihitung pada hari qiamat di bawah cahaya

    Dia berkata : Aku mau dikasihi oleh Allah pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain nescaya Allah akan mengasihanimu pada hari qiamat

    Dia berkata : Aku mau dihapuskan segala dosaku. Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan beristighfar nescaya akan dihapuskan( kurangkan ) segala dosamu

    Dia berkata : Aku mau menjadi semulia-mulia manusia. Baginda S.A.W menjawab : Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain nescaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi segagah-gagah manusia. Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa menyerah diri (tawakkal) kepada Allah nescaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

    Dia berkata : Aku mau dimurahkan rezeki oleh Allah. Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadas ) nescaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya. Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

    Dia berkata : Aku mau diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain nescaya engkau akan terselamat daripada kemurkaan Allah dan rasulNya

    Dia berkata : Aku mau diterima segala permohonanku. Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram nescaya segala permohonanmu akan diterimaNya

    Dia berkata : Aku mau agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Tutuplah keburukan orang lain nescaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

    Dia berkata : Siapa yang terselamat daripada dosa? Baginda S.A.W menjawab : Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan,mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

    Dia berkata : Apakah sebesar-besar kebaikan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian ( bala )

    Dia berkata : Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

    Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ? Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi ( tidak diketahui ) dan menghubungkan kasih sayang

    Dia berkata: Apakah yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat? Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 11 August 2012 Permalink | Balas  

    Tujuan Pernikahan Dalam Al Quran 

    Akad Nikah Erva Kurniawan dan Titik Rahayuningsih 28 Juni 2008

    Tujuan Pernikahan Dalam Al Quran

    Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Nur: 32).

    Anjuran melaksanakan nikah dalam Al-Qur’an mengandung beberapa tujuan baik tujuan yang bersifat pisik maupun yang bersifat moral. Tujuan yang bersifat pisik adalah untuk menyalurkan hasrat biologis terhadap lawan jenis dan juga mengembangkan keturunan sebagai pelanjut tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

    Adapun tujuan moral dari pernikahan adalah untuk melakukan pengabdian kepada Tuhan dengan sebaik-baiknya dan dengan pengabdian ini akan diharapkan adanya intervensi dalam kehidupan berkeluarga yang akhirnya akan melahirkan generasi-generasi yang taat dan shalih.

    Sakralnya tujuan yang terkandung dalam pernikahan menunjukkan bahwa pernikahan bukanlah sekadar uji coba yang bilamana tidak mampu melanjutkannya dapat diberhentikan dengan seketika yang seolah-olah perceraian adalah sesuatu yang lumrah. Banyaknya terdapat persefsi yang seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang bahwa perniakhan hanya merupakan persoalan biologis semata.

    Berdasarkan tujuan inilah maka menghadapi pernikahan harus dilakukan dengan kematangan baik kematangan dari segi material terlebih lagi dari segi moral. Dengan kata lain mendapatkan kedewasaan sebelum menikah lebih baik daripada mendapatkannya sesudah menikah.

    Urgensi kematangan sebelum menikah ditandai dengan proses-proses yang harus dilalui secara berurutan seperti meresek, menanya, meminang, nikah gantung dan nikah sebenarnya. Hal ini dilakukan supaya calon suami-isteri benar-benar matang dalam mengayuhkan rumah tangganya karena proses-proses yang disebutkan tadi masih memberikan peluang untuk mengundurkan diri dari pernikahan sebelum sampai kepada pernikahan yang sebenarnya karena pengunduran diri (cerai) pasca pernikahan yang sebenarnya dapat menimbulkan korban beberapa pihak seperti keluarga dan anak-anak.

    Anjuran pernikahan dalam Al-Qur’an adalah anjuran yang penuh dengan persyaratan sehingga tujuan-tujuan dari pernikahan disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an sekalipun sifatnya masih global. Tujuan-tujuan pernikahan inilah yang seharusnya dijadikan bahan evaluasi baik oleh orang tua calon maupun para calon itu sendiri untuk menentukan kadar kemampuannya dalam menghadapi pernikahan. Nampaknya tujuan-tujuan inilah yang mendasari para orang tua dahulu membuat semacam proses untuk sampai kepada pernikahan yang sebenarnya agar tujuan-tujuan dimaksud dapat direalisasikan dalam rumah tangga.

    Adapun mengenai faktor biologis maka Nabi Muhammad memberikan solusi alternatif yaitu dengan melaksanakan puasa bagi yang tidak punya kemampuan untuk meredamnya. Sebaliknya Nabi Muhammad mengecam orang-orang yang punya kemampuan dalam berbagai aspek untuk menikah tapi tidak melaksanakannya dianggap sebagai orang yang anti terhadap sunnahnya. Berdasarkan hal maka pihak ketiga harus pula berperan aktif untuk mencarikan jodoh bagi orang-orang yang sangat sulit untuk mendapatkannya.

    Tujuan Pernikahan

    Tujuan-tujuan pernikahan sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah untuk mendapatkan surga dan ampunan Tuhan, untuk menjalankan hukum-hukum Tuhan dan mendapatkan karunia Tuhan (lihat Q.S. 2: 221, 230, Q.S. 24: 320). Adapun tujuan-tujuan yang lain seperti mengembangkan keturunan dan menyalurkan kebutuhan biologis adalah tujuan yang paling asasi dan sekiranya Al-Qur’an tidak menyebutkannya maka dipastikan bahwa tujuan yang seperti ini sudah lumrah berlaku.

    Tujuan dari pernikahan adalah untuk mendapatkan surga dan keampunan Tuhan sekalipun pernyataan ini tidak secara langsung ditegaskan dalam Al-Qur’an. Larangan Al-Qur’an menikah dengan orang-orang musyrik -walaupun mereka mengagumkan dalam berbagai aspek- didasarkan kepada kekhawatiran bahwa mereka akan menarik pasangannya yang mukmin ke neraka sedangkan Allah mengajak kepada surga dan keampunan.

    Ayat ini dapat dipahami bahwa menikah dengan orang-orang musyrik tidak direstui oleh Allah sedangkan menikah dengan orang-orang mukmin sudah pasti diridhai-Nya. Oleh karena itu menikahi orang-orang yang diridhai oleh Allah adalah merupakan aturan yang wajib diindahkan sehingga implikasi yang akan diperoleh ialah mendapatkan surga dan keampunan.

    Tujuan pernikahan selanjutnya adalah untuk menegakkan hukum-hukum Allah karena lebih efektif menegakkannya dengan berteman daripada sendirian. Berdasarkan tujuan ini maka keberadaan teman menikah adalah merupakan mitra dialog yang saling memberikan kontribusi kepada masing-masing pihak dalam berbagai urusan termasuk dalam urusan menegakkan hukum-hukum Allah.

    Menegakkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama suami isteri dan masing-masing pihak seyogianya memberikan kontrol terhadap pasangan masing-masing. Oleh karena itu salah satu pihak dianggap zhalim bilamana mendiamkan pasangannya melanggar ketentuan-ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah.

    Tujuan berikutnya dari suatu pernikahan adalah untuk mencari karunia Allah yaitu berupa rezeki yang halal karena rezeki yang tidak halal tidak termasuk karunia Allah dan pengertian karunia disini dengan rezeki dapat dipahami dengan adanya kalimat fakir (fuqara’) dan kalimat kaya (yughni). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa suami isteri tidak boleh bermalas-malasan mencari rezeki karena rezeki adalah salah satu penopang kehidupan keluarga. Kata karunia dalam redaksi ini dapat dipahami bahwa pencarian rezeki harus didasari kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku dan karenanya masing-masing pihak harus selektif agar mendapatkan rezeki yang direstui oleh Allah. Urgensi pencarian rezeki yang halal dan baik akan berimplikasi kepada jiwa dan mental anak sehingga baik tidaknya seorang anak sangat ditentukan oleh nilai hukum rezeki yang diberikan.

    Tujuan-tujuan dar pernikahan inilah yang seharusnya dipegang teguh secara konsisten oleh pasangan masing-masing sehingga keegoisan dalam mempertahankan dan menerima pendapat serta pemaksaan kehendak tidak seharusnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

    Ide-ide yang muncul dari pihak suami atau isteri harus dipikirkan secara rasional tidak dengan emosional dan oleh karena itu setiap ide yang muncul perlu didiskusikan agar memiliki tujuan yang jelas agar pihak lain tidak merasa terpaksa menerimanya dan hal ini adalah merupakan gambaran rumah tangga yang demokratis.

    Penutup

    Tujuan-tujuan yang terdapat dalam pernikahan sebagaimana yang telah digambarkan oleh Al-Qur’an menunjukkan bahwa perlunya kematangan dan kesiapan mental bagi yang ingin melaksanakan pernikahan.Kematangan dan persiapan menunjukkan bahwa pernikahan yang dilakukan berada pada tataran yang sangat serius yang tidak hanya memperhatikan aspek biologis akan tetapi tak kalah pentingnya ialah memperhatikan aspek psikologi dan dengan berdasarkan inilah diduga kuat bahwa pernikahan dimasukkan ke dalam kategori ibadah.

    ***

    Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag

    Dosen Fak. Tarbiyah IAIN-SU, Pengurus El-Misyka Circle

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 9 August 2012 Permalink | Balas  

    Dalam Shalat, Haruskah Ingat Allah Saja?

    Apa tujuan shalat? Allah SWT telah menunjukkannya kepada kita: “… dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS [20]: 14)

    Lantas, apakah di dalam shalat, sebaiknya hati kita kosong dari segala sesuatu kecuali Allah? Ketika kita bershalat, mestikah kita hilangkan semua pikiran selain Allah? Di dalamnya, haruskah kita abaikan masalah yang sedang kita hadapi?

    Terhadap tiga pertanyaan tersebut, ada banyak buku mengenai cara shalat khusyuk yang menjawab: “Ya, ya, ya.” Di antara mereka, ada yang menceritakan seseorang yang begitu “khusyuk” bershalat, sehingga ketika tiang masjid tempat shalatnya rubuh, ia diam saja dan terus bershalat sebagaimana biasanya. Mereka pun mengabarkan adanya seseorang yang terus saja bershalat, padahal lantai gedung tingkat dua sedang terbakar. “Bahkan ketika banyak orang berteriak memanggilnya, orang itu tetap dalam shalatnya.”

    Akan tetapi, saya tidak setuju dengan cara shalat seperti itu. Jawaban saya: “Tidak, tidak, tidak!” Saya khawatir, orang yang bershalat seperti itu terlalu khusyuk, sedangkan segala yang berlebihan bukanlah kebaikan lagi. Berikut ini sebagian dari alasan saya.

    Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya bila aku bershalat dan bermaksud memperpanjangnya lalu kudengar suara tangisan anak, maka kupercepat shalatku karena aku menyadari bahwa ibunya pasti terganggu oleh tangisan anaknya itu.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

    Ini jelas menunjukkan, hati beliau tidak kosong dari segala sesuatu (selain Allah). Di dalam shalat pun, Nabi saw. menaruh perhatian besar pada lingkungan.

    Umar r.a. berkata, “Sesungguhnya aku merencanakan penyiapan pasukanku ketika aku sedang bershalat.” (HR Bukhari)

    Ini jelas menunjukkan, kita tidak harus menghilangkan semua pikiran (selain Allah). Di dalam shalat pun, ada kalanya kita sebaiknya memikirkan masalah yang sedang kita hadapi.

    Kalau begitu, apakah Anda saya anjurkan melupakan tujuan shalat (yaitu “untuk mengingat Allah”)? Juga tidak! Alih-kita, sebaiknya kita mengingat Allah dan sekaligus memikirkan atau merasakan masalah yang sedang kita hadapi. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. [Satu untuk-Ku, satu untuknya.] Dan hamba-Ku berhak mendapatkan apa yang ia minta.” (HR Muslim)

    Atas dasar itu, di dalam shalat sebaiknya kita kaitkan kebutuhan kita dengan satu atau beberapa sifat Allah yang tercakup dalam Asmaul Husna.

    Umpamanya, tatkala kita bershalat dalam keadaan merasa tak berdaya lantaran “terlanda badai setinggi gunung” (tertimpa musibah, bangkrut, terjangkit penyakit berat dan tak kunjung sembuh, dsb.), kita bisa mengingat-ingat bahwa Allah itu Maha Penolong (al-Waliyy).

    Di dalam shalat itu, bacaan Al-Qur’annya pun bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan shalat kita. Salah satu contohnya adalah seperti yang disarankan oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam artikel “Kiat Salat Khusyu”:

    Pilihlah surat yang paling dimengerti dan yang berkaitan dengan kebutuhan kita, karena ini pun akan membantu kita lebih khusyu. Misalnya surat Al-Baqarah ayat terakhir atau surat al-Insyirah bisa dibaca ketika kita sedang menghadapi ujian karena isi surat tersebut harapan dan doa agar tidak diberi musibah yang berat serta keyakinan akan datangnya pertolongan Allah sesudah kesulitan.

    Dengan membaca surat yang sesuai dengan kebutuhan kita, bukankah kita menjadi tidak semata-mata mengingat Allah, tetapi sekaligus mengaitkannya dengan masalah yang sedang kita hadapi?

    ***

    M. Shodiq Mustika

    Penulis Buku Islami

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 9 August 2012 Permalink | Balas  

    Menyambut Ramadhan: Sambutlah dengan Kegembiraan

    Sebentar lagi tamu kita yang mulia bulan Ramadhan akan segera tiba. Kita semua sibuk ‎mempersiapkan diri menyambut bulan yang penuh berkah tersebut. Mempersiapkan diri ‎menyambut Ramadhan dengan baik-baik adalah amalan yang sangat mulia. Para ulama ‎sholeh terdahulu senantiasa mengkonsentrasikan diri menyambut Ramadhan dengan ‎penuh keseriusan. Rasulullah s.a.w. pernah berpesan kepada umatnya :”Akan segera ‎datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah s.w.t. ‎bersama kalian pada bulan itu, maka diturunkanlah rahmat, diampuni dosa-dosa dan ‎dikabulkan do’a dan permintaan. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam kebaikan, ‎lalu diikutkan bersama kalian malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah ‎kebaikan diri kalian, sesungguhnya orang yang rugi adalah mereka yang tidak ‎mendapatkan rahmat Allah”. Dalam al-Quran juga ditegaskan : “Demikianlah (perintah ‎Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu dari ‎ketakwaan hati. ‎

    Berikut ini adalah sebagian sikap-sikap terpuji yang dilakukan para ulama sholeh ‎terdahulu dalam menyambut bulan suci Ramadhan:‎ ‎

    1. Dengan kegembiraan dan kebahagiaan.‎

    Mereka selalu berharap datangnya Ramadhan dan ingin segera menyambutnya dengan ‎kegembiraan dan kebahagiaan. Yahya bin Abi Katsir meriwayatkan bahwa orang-orang ‎salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:”Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke ‎Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai ‎Ramadhan”. Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi mereka, ‎karena pada bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak ‎terkira.‎ ‎

    2. Dengan pengetahuan yang dalam.‎

    Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap ‎muslim. Ibadah puasa mempunyai ketentuan dan aturan yang harus dipenuhi agar sah dan ‎sempurna. Sesuatu yang menjadi prasyarat suatu ibadah wajib, maka wajib memenuhinya ‎dan wajib mempelajarinya. Ilmu tentang ketentuan puasa atau yang sering disebut dengan ‎fikih puasa merupakan hal yang wajib dipelajari oleh setiap muslim, minimal tentang hal-‎hal yang menjadi sah dan tidaknya puasa.‎ ‎

    3. Dengan do’a‎

    Bulan Ramadhan selain merupakan bulan karunia dan kenikmatan beribadah, juga ‎merupakan bulan tantangan. Tantangan menahan nafsu untuk perbuatan jahat, tantangan ‎untuk menggapai kemuliaan malam lailatul qadar dan tantangan-tantangan lainnya. ‎Keterbatasan manusia mengharuskannya untuk selalu berdo’a agar optimis melalui bulan ‎Ramadhan.‎ ‎

    4. Dengan tekad dan planning yang matang untuk mengisi Ramadhan

    Niat dan azam adalah bahasa lain dari planning. Orang-orang soleh terdahulu selalu ‎merencanakan pengisian bulan Ramadhan dengan cermat dan optimis. Berapa kali dia ‎akanmengkhatamkan membaca al-Quran, berapa kali sholat malam, berapa akan ‎bersedekah dan membari makan orang berpuasa, berapa kali kita menghadiri pengajian ‎dan membaca buku agama. Itulah planning yang benar mengisi Ramadhan, bukan hanya ‎sekedar memplaning menu makan dan pakaian kita untuk Ramadhan. Begitu juga selama ‎Ramadhan kita bertekad untuk bisa meraih taubatun-nasuuha, tobat yang meluruskan. ‎Wallahu a’lam

    ***

    Disusun oleh M. Niam

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 8 August 2012 Permalink | Balas  

    Usia yang Bermanfaat

    “Terkadang usia panjang masanya, tetapi sedikit manfaatnya. Terkadang usia itu pendek masanya, akan tetapi banyak manfaatnya.”

    Ada pepatah yang berbunyi, jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa. Benar apabila manusia suka bepergian, ia akan banyak memperoleh pengalaman, pemandangan dan penghayatan. Apabila panjang usianya dan lama hidupnya, berarti ia telah menikmati senang dan susahnya hidup pahit, dan manisnya perlajanan. Semua perjalanan hidup manusia akan memberi makna tersendiri baginya. Ia barulah berarti apabila usia yang ditempuh dalam hidupnya memberi manfaat baginya.

    Usia itu sebenarnya bukan karena panjang atau pendeknya, akan tetapi manfaat dan mudaratnya. Sebagus bagus usia ialah usia yang banyak manfaatnya bagi manusia. Rosulullah Saw bersabda, “Sebaik baik manusia ialah orang yang panjang umurnya, dan bagus amalnya, dan sejelek jelek manusia, adalah orang yang panjang umurnya akan tetapi rusak amalnya.”

    Syekh Ahmad Ataillah (pengarang kitab Al-Hikam) menegaskan pula :

    “Siapa yang diberkati umurnya, dalam masa singkat dari usianya, ia akan mencapai karunia Allah, yang tidak dapat dihitung dengan kata kata, dan tak dapat dikejar dengan isyarat.”

    Yang dicari oleh seorang muslim yang sholeh adalah barokahnya usia. Yang dimaksud usia ber-barokah adalah usia yang selalu membawa dan mengajak kepada kemanfaatan dunia dan akhirat. Umur yang barokah ini, selalu diberi kesempatan oleh Allah menjalankan kebaikan kebaikan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Sebab, apabila umur itu mendapat barokah, tidak ada waktu yang tersia sia dalam hidup seorang hamba.

    Hamba yang umurnya ber-barokah, ia selalu berada dalam situasi yang sempat akan tetapi bergegas gegas. Sempat artinya selalu ada peluang, bergegas gegas artinya cepat diamalkannya. Sehingga tidak terasa olehnya usia yang dianugerahkan kepadanya, waktunya sangat singkat sebab kesempatan kesempatan beribadah yang diberkati Allah kepadanya tidak mencukupi. Ia bergegas gegas, agar waktu yang singkat itu, tidak hilang begitu saja karena cepatnya perjalan usia.

    Dengan demikian, maka usia yang panjang atau usia yang pendek, akan memberi arti yang berguna bagi manusia, apabila dipergunakan untuk mendapatkan ridho Allah. Seperti yang diucapkan oleh Abu Abbas Al Mursy : “Alhamdulillah semua waktu waktu kami merupakan lailatul-qodar, artinya semua waktu diisi dengan amal yang bermanfaat. E Jangan sampai waktu yang didapatkan dari usia, hanyalah ibarat air yang disiramkan ke atas pasir yang panas. Airnya menguap, pasirnya tidak basah. Usia yang hilang begitu saja dari waktu yang dilalui, akan mengecewakan si pemilik usia itu sendiri pada hari kiamat. Sebab waktu waktu yang dianugerahkan kepada manusia dinamakan bermanfaat dan barokah apabila dipergunakan untuk memperbanyak amal ibadah, memohon ampun atas bermacam macam kesalahan dan dosa, serta bertobat dengan taubatan nasuha. Syekh Ahmad Ataillah mengatakan :

    “Kekecewaan dari semua kekecewaan, adalah ketika kalian berkesempatan, kalian tidak menghadap kepada Allah, karena sedang ada sedikit halangan, kalian tidak juga mendatangi Allah.”

    Ungkapan Syekh Ataillah ini mengingatkan kita, jangan sampai kesempatan dari usia, di waktu lapang ataupun sempit, hendaklah pandai pandai dimanfaatkan untuk Allah dan datang menghadap memohon hidayah dan inayah, memohon ampun serta bertobat*. *“Bergegas gegaslah kamu dalam keadaan ringan ataupun berat” (QS.At-Taubah :41)

    Perjalanan yang panjang telah ditempuh manusia di alam dunia ini. Banyak yang dialami oleh anak Adam dalam masalah duniawiyah, namun pengalaman hidup itu barulah berarti bagi hidup dunia dan akhirat, apabila dipersembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya, dan untuk ‘izzul Islam dan Muslimin.

    Memang kadang kadang manusia tidak mempergunakan kesempatan, atau kesempatan yang ada disia siakan, sehingga kesempatan yang tersedia, hilang begitu saja. Kesempatan yang dimaksud ialah kesempatan datang menghadap Allah dalam ibadah rutin, atau kesempatan mengerjakan ibadah sunah lainnya, yang sebenarnya tersedia, akan tetapi, manusia lalai dengan alasan kesibukan duniawi, atau kesibukan perjuangan. Alasan alasan seperti itu sebenarnya tidak perlu dikemukakan, karena Allah Ta’ala Maha Tahu tentang kemalasan dan keengganan diri kita. Allah Ta’ala lebih tahu bahwa manusia lebih mementingkan dirinya sendiri, hawa nafsunya sendiri, dari pada ingin mendapatkan ridho Allah dengan pertemuan pertemuan tertentu dengan Allah dalam bentuk ibadah.

    Memang merupakan suatu kekecewaan kelak di akhirat, di waktu seorang hamba menghadap Allah Swt. Manusia waktu itu datang menerima apa yang telah ia kerjakan di dunia. Masing masing datang dengan buah amal ibadahnya. Akan tetapi ada diantara manusia hadir di mahkamah Allah Swt dengan hati kecewa. Karena ia melihat orang lain datang kepada Allah dengan hati gembira menunjukkan amal ibadahnya yang wajib dan sunah yang sangat banyak, sedangkan ia datang dengan amal ibadah yang minim, yang tidak mampu melepaskan dirinya dari adzab Allah. Atau amal ibadahnya pas pasan saja.

    Ia kecewa, akan tetapi kekecewaan itu sudah tidak dapat ditebus lagi. Waktu itu kesibukan dunia yang dikerjakannya tidak mampu menambah amal ibadahnya. Harta dan segala macam yang diperolehnya dalam kesibukan dunia, tidak ada satupun yang memberi nilai tambah bagi kebahagiaan akhirat yang sudah habis di depannya. Seperti diterangkan Allah Ta’ala dalam firmannya, “Pada hari itu tidak ada gunanya harta dan anak anak, kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang damai.”(QS. Asy-syu’ara : 89).

    Bagi hamba Allah yang benar benar tunduk dan patuh kepada-Nya dalam segala hal, ia dalam hidupnya tidak menyia nyiakan waktu yang dianugerahkan Allah untuk datang kepada-Nya dalam waktu waktu yang ditentukan, atau melaksanakan ibadah ibadah sunah tanpa batas waktu dan sepanjang saat.

    Agar seseorang hamba tidak tersia sia di akhirat, dan kecewa di hadapan Allah, memanfaatkan saat saat kesempatan adalah sangat menguntungkan dan utama.

    ***

    Narasumber :“Mutumanikam dari kitab Al-….

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 7 August 2012 Permalink | Balas  

    Memohon Dari Apa Yang Diperintah

    “Sebagus bagusnya permohonan yang patut disampaikan kepada Allah, ialah semua yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan.”

    Jika ada yang patut diminta kepada Allah sebagai hamba, maka yang paling patut ialah mengharapkan kepada Allah agar meneguhkan iman dan keyakinan dengan kemantapan hati yang sungguh sungguh (istiqomah) kepada ajaran Islam dengan persembahan ibadah. Itulah yang paling bagus dan paling bergengsi bagi hamba yang memohon kepada Allah. Permohonan (istiqomah) dalam Islam itu sudah termasuk kepentingan dunia dan akhirat. Anda lebih baik meminta kepada Allah hal hal yang dituntut untuk dikerjakan oleh hamba, seperti khusu dalam sholat, atau termasuk perintah jihad dalam Islam, baik yang berkenaan kepentingan dunia maupun akhirat, dari pada meminta sesuatu yang disenangi, akan tetapi Allah Ta’ala tidak menyukainya.

    Memohon kepada Allah adalah harapan seorang hamba dalam bentuk doa dan usaha yang sesuai dengan perintah Allah dan sunah Nabi Muhammad Saw. Adalah sangat baik, apabila seorang hamba memohon kepada Allah, agar selalu mentaati-Nya, melaksanakan ibadah tanpa halangan, agar Allah memudahkan segala yang berkaitan dengan urusan Islam dan umat Islam. Demikian juga memohon kepada Allah agar terlepas dari tidak tergelincir kepada perbuatan maksiat dan dosa, serta diberi kekuatan untuk melaksanakan semua ketaatan. Memohon pula agar selalu dalam keadaan zikir dan senantiasa berada dalam suasana tenteram dalam mengingat Allah Ta’ala.

    ***

    Narasumber : Mutumanikam dari kitab “Al-Hikam”

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 6 August 2012 Permalink | Balas  

    Tingkatan Puasa

    Konsep Tazkiyatun Nafs (Membersihkan Jiwa) dari Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, ada 3 tingkatan Puasa :

    1. Puasanya orang Awam

    2. Puasanya orang Khusus

    3. Puasanya orang Super Khusus.

    Puasa orang awam

    Puasanya orang awam adalah puasa yang hanya menahan perut (dari makan dan minum) dan kemaluan dari memperturutkan Syahwat.

    Puasa orang khusus

    Yaitu puasanya orang-orang sholeh yang selain menahan perut dan kemaluan juga menahan semua anggota badan dari berbagai dosa, kesempurnaannya ada 6 perkara.

    1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang hal yang dicela dan dibenci, kesetiap hal yang dapat menyibukkan diri dari mengingat Allah SWT.
    2. Menjaga lisan dari membual, dusta, ghibah, perkataan kasar, pertengkaran, perdebatan dan mengendalikannya dengan diam, menyibukkan dengan dzikrullah dan membaca Al qur’an
    3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap hal yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarnya.
    4. Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa seperti tangan, kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari memakan makanan yang subhat pada saat tidak puasa (berbuka ).
    5. Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka sampai penuh perutnya, karena tidak ada wadah yang dibenci oleh Allah kecuali perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat jika orang yang berpuasa pada saat berbuka melahap berbagi makanan sebagai pengganti makanan yang tidak dibolehkan memakannya pada siang hari. Bahkan menjadi tradisi menyimpan dan mengumpulkan makanan sebagai persiapan pada saat berbuka padahal makanan yang tersimpan itu melebihi kapasitas perut kita bahkan mungkin bisa untuk makanan 1 minggu, astaghfirullah Hal Adhim.
    6. Hendaklah hatinya dalam keadaan “Tergantung” dan “Terguncang” antara cemas dan harap karena tidak tahu apakah puasanya diterima dan termasuk golongan yang Muqorrobin atau ditolak sehingga termasuk orang yang dimurkai oleh Allah SWT. Hendaklah hatinya selalu dalam keadaan demikian setiap selesai melakukan kebaikan.

    Puasa orang Super Khusus

    Yaitu puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran2 yang tidak berharga, juga menjaga hati dari selain Allah secara total. Puasa ini akan menjadi “Batal” karena pikiran selain Allah ( pikiran tentang dunia ).

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 720 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: