Updates from Oktober, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:24 am on 25 October 2012 Permalink | Balas  

    Memilih Teman Seperjalanan di Alam Barzakh 

    Firman Alloh SWT :”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung“. (QS. Ali Imran 104:105).

    Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. (Hadist Riwayat Tabrani)

    Memilih Teman Seperjalanan di Alam Barzakh 

    Seperti anda ketahui, di dalam hidup ini, Islam menawarkan dua pilihan, yaitu, jalan menuju Allah Swt, dan jalan menuju setan. Kita disuruh memilih, jalan mana yang kita kehendaki. Al Qur’an sendiri menegur kita “Fa ayna tadzhabun?” (Hendak pergi kemana kalian ini?) QS.81:26. Pertanyaan ini merupakan peringatan buat semua orang. Tetapi Nabi Ibrahim menjawab pertanyaan tsb sbb:

    Dan Ibrahim berkata:“Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (QS. 37:99)

    Dalam ayat lain dikatakan : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan”. (QS. 90:10)

    Yaitu jalan menuju Allah Swt dan jalan menuju selain Allah Swt. Bahkan sering kali kita temukan di dalam Al Qur’an ungkapan yang menganjurkan agar kita berjalan mengikuti orang-orang yang berjalan menuju Tuhan.

    …… dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31:15)

    Dunia utama yang harus dia tinggalkan adalah dirinya sendiri. Para ahli tafsir mengartikan ayat, Barang siapa yang keluar dari rumahnya (QS. 4:100), dalam dua makna; makna batin dan makna lahir. Makna lahir dari ayat ini, berkenaan dengan para sahabat Nabi Saw., yang meninggalkan rumahnya di Makkah menuju Madinah.

    Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa ayat itu berkenaan dengan orang tua yang sakit, yang ikut hijrah kemudian mati di perjalanan. Pada waktu itu, ketika sahabat lain sudah hijrah dia masih tinggal di Makkah. Kemudian turun ayat yang menegur orang yang tinggal di Makkah dan tidak mau hijrah.

    Dan kalau mereka mati, malaikat akan mengecam mereka yang tidak mau berhijrah. Al Qur’an Al Karim mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:”Dalam keadaan bagaimana kamu ini”. Mereka menjawab:”Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata:”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali, (QS. 4:97)

    Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), (QS. 4:98)

    Orang sakit dan tua ini mengatakan, “Saya ini tidak termasuk orang yang dikecualikan dalam ayat ini karena saya mempunyai bekal dan saya punya orang yang tahu jalan, hanya saja saya sakit. Oleh karena itu, angkutlah saya, bawa saya berhijrah.” Kemudian oleh keluarganya, ia dibawa ke Madinah. Sampai kemudian di suatu tempat yang bernawa Tawin, orang itu meninggal dunia. Kemudian turun ayat :

    ……Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:100)

    Itulah makna lahir dari ayat ini.

    Seperti yang pernah disebutkan dalam hadis Nabi, “Barang siapa yang meniti (salaka) jalan menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah.”

    Ada sebuah nasihat yang dapat kita ambil dari seoarang ulama, dan sufi besar pendiri sebuah tarekat, bernama Syaikh Najmuddin Al Kubra. Ia mempunyai banyak murid yang kelak menjadi para wali. Beliau memberikan beberapa bentuk jalan kehidupan, ketika dia sedniri sedang meniti jalan menuju Allah Swt.

    Beliau mengatakan, “Ada dua macam perjalanan manusia. Pertama perjalanan itu ialah perjalanan yang terpaksa, yang disebut safar qahri. Dan yang kedua, ialah perjalanan yang merupakan pilihan kita, atau yang disebut dengan safari ikhtiyari.” Artinya, ada perjalanan kita semua yang menuju Allah Swt tetapi dalam keadaan terpaksa; ada pula perjalanan kita yang menuju Allah dalam keadaan sukarela.

    Al Qur’an Al Karim mengatakan : “Sesungguhnya kita semua adalah kepunyaan Allah, dan semua akan kembali kepadaNYA” dan “Kepada Akulah semua akan kembali.” Dan itulah perjalanan yang tidak sukarela.

    Masih menurut beliau, perjalanan yang tidak sukarela itu sendiri memiliki beberapa stasiun.

    • Pertama, ketika kita berada pada sulbi ayah kita.
    • Kedua, ketika kita berada pada rahim ibu.
    • Ketiga, ketika kita dilahirkan ke dunia ini dan
    • Keempat, alam kubur, yang menurut agama, alam itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga, atau bisa juga menjadi sumur-sumur neraka, bergantung kepada amal perbuatan kita di dunia ini.

    Pada alam barzakh ini kita belum masuk surga atau neraka tetapi kita sudah berada dalam bayang-bayang keduanya.

    Sedangkan tahap kelima, ialah saat kebangkitan yang menurut Syaikh Najmuddin Al Kubra, usianya sama dengan (lebih kurang) 5.000 tahun usia dunia ini. Itulah hari kebangkitan, ketika semua manusia dibangkitkan dari tidurnya yang panjang.

    Menurut orang-orang sufi, kita semua tidak ingat lagi alam yang sebelum ini alam rahim, misalnya. Kita tidak ingat lagi suasana di alam rahim itu. Semua yang berada di alam rahim mempengaruhi tingkah laku kita sekarang ini; tetapi kita seakan-akan tidak mengalami dunia itu. Kita seakan-akan lahir ke dunia ini, kemudian kita menemukan alam kesadaran baru.

    Begitu pula, ketika kita berada di alam barzakh, kita mulai sadar bahwa di alam inilah sebetulnya kehidupan yang sebenarnya itu. Kehidupan dunia ini bagaikan sebuah mimpi saja. Suasana seperti baru kita sadari di alam barzakh itu.

    Allah Swt berfirman : Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam. (QS. 50:22)

    Kita merasakan alam barzakh itu sebagai permulaan kehidupan. Apa yang kita lakukan sekarang ini mempengaruhi suasana senang dan susah di alam barzakh nanti.

    Ketika kita nanti dibangkitkan, kita merasa bahwa alam barzakh itu seperti mimpi yang panjang. Semua orang merasakan bahwa memang itulah kehidupan yang sebenarnya. Al Qur’an Al Karim melukiskan peristiwa itu dalam surah Yasin sbb :

    Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul Rasul(Nya). (QS. 36:52)

    Itulah alam kebangkitan yang panjangnya kira-kira sama dengan hitungan 5.000 tahun dunia ini. Hanya Allah Yang Maha Tahu, karena perhitungan panjang-pendeknya waktu itu sangat relatif, apalagi ketika menghadapi alam lain. Kita sangat susah menghitung berapa lama waktu itu.

    Sayyidina Ali k.w. pernah meriwatkan bahwa begitu seseorang meninggal dunia, jenazahnya terbujur, diadakan “upacara perpisahan” di alam ruh. Pertama-tama ruh dihadapkan kepada seluruh kekayaannya yang dia miliki. Kemudian terjadi dialog antara keduanya. Mayit itu mengatakan kepada seluruh kekayaannya, “Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu itu sehingga akau lupa untuk mengabdi kepada Allah Swt., sampai aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalam perjalananku ini.” Lalu harta kekayaan itu berkata, “Ambillah dariku itu kain kafanmu.” Jadi tinggal kain kafanlah yang dibawa untuk bekal perjalanan selanjutnya.

    Sesudah itu si mayit dihadapkan kepada seluruh keluarganya – anak-anaknya, suami atau istrinya – kemudiansi mayit berkata, ” Dahulu akau mencintai kamu, menjaga dan merawat kamu. Begitu susah payah aku mengurus dirimu, sampai aku lupa mengurus diriku sendiri. Sekarang apa yang mau kalian bekalkan kepadaku pada perjalananku selanjutnya ?” Kemudian keluarganya mengatakan, “Aku antarkan kamu sampai ke kuburan.”

    Setelah perpisahan itu, si mayit akan dijemput oleh makhluk jelmaan amalnya. Kalau orang yang meninggal ini adalah orang yang sering berbuat baik, beramal saleh, maka dia akan dijemput oleh makluk yang berwajah ceria, yang memandangnya menimbulkan kenikmatan, dan memancarkan aroma semerbak. Makhluk jelmaan itu kemudian mengajak si mayit pergi. Kemudian mayit itu berkata : “Siapakah Anda ini sebenarnya ? Saya tidak kenal dengan Anda.” Makhluk itu kemudian menjawab: “Akulah amal saleh kamu dan aku akan mengantarkan kamu sampai hari perhitungan (hisab) nanti.”

    Bahwa amal-amal kita nanti akan berwujud, misalnya, sedekah yang sekarang ini tidak kita lihat wujudnya. Kita hanya mengenalnya sekarang ini sebagai sesuatu yang abstrak. Pekerjaan orang tersebut bisa kita lihat tapi wujudnya tidak dapat kita lihat. Yang menarik adalah bahwa amal saleh yang kita kerjakan akan selalu setia menemani kita sampai alam barzakh.

    Tetapi amal jelek juga akan berwujud. Dia akan berwujud wajah yang menakutkan, dengan bau yang menyengat seperti bangkai, dan ia akan terus menemani kita sampai hari hisab nanti. Kemudian ketika amal buruk itu ditanya, “Siapakah Anda ini sebenarnya ?” Maka dia menjawab, “Saya adalah amal kamu yang jelek. Dan aku akan menemani kamu sejak alam barzakh sampai kebangkitan nanti.

    Bayangkan perjalanan panjang yang ditemani makhluk yang mengerikan dan baunya bahkan melebihi bau bangkai. Padahal kalau kita lihat hadis-hadis Nabi, sedihnya seorang mayit ketika hendak meninggalkan keluarganya melebihi kesedihan seseorang yang harus meninggalkan keluarganya secara tiba-tiba, misalnya pergi ke luar negeri, atau mau pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah.

    Sang mayit pun akan berpisah dengan seluruh keluarganya bahkan dengan seluruh dunia ini yang pernah dihuninya setelah sekian lama. Setelah berpisah, dia akan hidup sendiri, dilanda kesepian yang luar biasa. Karena itu beruntunglah kalau dalam kesepian itu ia ditemani oleh teman-teman yang baik.

    Itulah perjalanan yang mau tidak mau mesti kita jalani. Sesudah perjalanan itu kita memasuki tempat tinggal yang abadi. Tempat itu bisa merupakan kesenangan yang abadi, yaitu surga; tetapi tempat abadi itu juga bisa berwujud neraka yang mengerikan.

    Selain perjalanan yang terpaksa (safar qahri), ada pula safar ikhtiyari, yaitu perjalanan yang merupakan pilihan kita. Kita bisa memilih berjalan atau tidak memilih berjalan. Perjalanan Ikhtiyari ini sendiri terbagi menjadi dua. Pertama, perjalanan ruhani, atau perjalanan jiwa kita menuju Allah Swt. Dan itulah yang disebut As-Suluk ila Malikil Muluk (perjalanan menuju Raja segala raja). Dalam perjalanan ini kita akan melewati beberapa tahapan sama seperti kita akan melewati beberapa tahapan pada perjalanan qahri tadi.

    Kedua, ialah perjalan fisik. Yaitu pindahnya Anda dari suatu kota ke kota lain. Islam sangat menganggap perjalana fisik ini. Dan bahkan mungkin hanya dalam Islam terdapat banyak anjuran mengenai pentingnya melakukan perjalanan. Seperti yang terdapat dalam QS. 6: 11; 16: 36; 27: 69; 29: 20; 30:42; semuanya mengatakan, “…..Adakanlah perjalanan dimuka bumi…”

    Oleh karena itu, salah satu keutamaan haji adalah karena di dalam ibadah haji itu ada unsur safar yang dilambangkan dengan meninggalkan dunia menuju Rumah Allah, yaitu Baytullah.Tetapi haji itu juga mengandung safar ruhani. Jadi, ibadah haji memiliki dua safar sekaligus.

    Dalam shalat, kita hanya mempunyai satu safar, yaitu safar ruhani, tidak safar jasmani. Ketika Anda berjalan untuk menuntut ilmu, Anda dianggap melakukan dua safar.

    ***

    Dikutip tanpa izin dari Buku: Terbitan Mizan. Renungan Renungan Sufistik, Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 24 October 2012 Permalink | Balas  

    Kajian Pintu-Pintu Masuknya Syetan 

    Kajian Pintu-Pintu Masuknya Syetan

    Oleh Dr.H. Achmad Satori

    Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati.

    Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb. Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknya syetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkan untuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasi hati manusia.

    Pintu tempat masuknya syetan adalah semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik. Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenarnya sangat banyak,

    Namun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah:

    1. Marah

    Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marah maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.

    2. Hasad

    Manusia bila hasud dan tamak menginginkan sesuatu dari orang lain maka ia akan menjadi buta. Rasulullah bersabda:” Cintamu terhadap sesuatu bisa menjadikanmu buta dan tuli” Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetan akan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehingga tidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hati manusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat.

    3. Perut kenyang

    Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahya bin Zakariyya a.s. Beliau melihat pada syetan beberapa belenggu dan gantungan pemberat untuk segala sesuatu seraya bertanya. Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini? Syetan menjawab: Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menggoda anak cucu Adam.Yahya bertanya: Apa hubungannya pemberat ini dengan manusia ? Syetan menjawab: Bila kamu kenyang maka aku beri pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir. Yahya bertanya lagi: Apa lainnya? Tidak ada! Jawab syetan. Kemudian Nabi Yahya berkata: Demi Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya. Iblis berkata. Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat pada orang muslim selamanya.

    Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela:

    • Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.
    • Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.
    • Mengganggu ketaatan kepada Allah
    • Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan
    • Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.
    • Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani

    4. Cinta perhiasan dan perabotan rumah tangga

    Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai perhiasan dan perabotan rumah tangga maka iblis bertelur dan beranak dan menggodanya untuk terus berusaha melengkapi dan membaguskan semua perabotan rumahnya, menghiasi temboknya, langit-langitnya dst. Akibatnya umurnya habis disibukkan dengan perabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada Allah.

    5. Tergesa-gesa dan tidak melakukan receck

    Rasulullah pernah bersabda: Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan dan hati-hati adalah dari Allah SWT.

    Allah berfirman: ”Manusia diciptakan tergesa-gesa” dalam ayat lain ditegaskan: “Sesungguhnya manusia itu sangat tergesa-gesa.”

    Mengapa kita dilarang tergesa-gesa? Semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan hata hati membutuhkan perenungan dan ketenangan. Sedangkan tergesa-gesa menghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajiban maka syetan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.

    6. Mencintai harta

    Kecintaan terhadap uang dan semua bentuk harta akan menjadi alat hebat bagi syetan. Bila orang memiliki kecintaan kuat terhadap harta maka hatinya akan kosong. Kalau dia mendapatkan uang sebanyak satu juta di jalan maka akan muncul dari harta itu sepuluh syahwat dan setiap syahwat membutuhkan satu juta. Demikianlah orang yang punya harta akan merasa kurang dan menginginkan tambahan lebih banyak lagi.

    7. Ta’assub bermadzhab dan meremehkan kelompok lain.

    Orang yang ta’assub dan memiliki anggapan bahwa kelompok lain salah sangat berbahaya. Orang yang demikian akan banyak mencaci maki orang lain. Meremehkan dan mencaci maki termasuk sifat binatang buas. Bila syetan menghiasi pada manusia bahwa taassub itu seakan-akan baik dan hak dalam diri orang itu maka ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain dan menjelekkannya.

    8. Kikir dan takut miskin.

    Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah dan selalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan dan siksa yang pedih adalah janji orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa memberikan haknya kepada fakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman pernah berkata: Sesungguhnya syaitan berkata: Anak cucu Adam tidak akan mengalahkanku dalama tiga hal perintahku: Aku perintahkan untuk mengambil harta dengan tanpa hak, menginfakkannya dengan tanpa hak dan menghalanginya dar hak kewajibannya (zakat). Sufyan berkata: Syetan tidak mempunyai senjata sehebat senjata rasa takutnya manusia dari kemiskinan. Apabila ia menerima sifat ini maka ia mengambil harta tanpa hak dan menghalanginya dari kewajiban zakatnya.

    9. Memikirkan Dzat Allah

    Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yang diinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan.

    10. Suudzon terhadap orang Islam ghibah.

    Allah berfirman dalam Surat Al Hujuroot 12 sbb.:

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

    Rasulullah pernah bersabda: Jauhillah tempat-tempat yang bisa memunculkan prasangka buruk. Kalau ada orang yang selalu suudzdzon dan selalu mencari cela orang lain maka sebenarnya ia adalah orang yang batinnya rusak. Orang mukmin senantiasa mencari maaf dan ampunan atetpi orang munafik selalu mencari cela orang lain.

    Itulah sebagian pintu-pintu masuknya syetan untuk menguasai benteng hatinya. Kalau kita teliti secara mendetail kita pasti tidak akan mempu menghitus semua pintu masuknya syetan ke dalam hati manusia

    Sekarang bagaimana solusi dari hal ini? Apakah cukup dengan zikrullah dan mengucapkan “Laa haula wa laa quwwata illa billah”? ketahuilah bahwa upaya untuk membentengi hati dari masuknya serbuan syetaan adalah dengan menutup semua pintu masuknya syetan dengan membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela yang disebutkan di atas. Bila kita bisa memutuskan akar semua sifat tercela maka syetan mendapatkan berbagai halangan untuk memasukinya ia tidak bisa menembus ke dalam karena zikrullah. Namun perlu diketahui bahwa zikir tidak akan kokh di hati selagi hati belum dipenuhi dengan ketakwaan dan dijauhkan dari sifat-sifat tercela. Bila orang yang hatinya masih diliputi oleh akhlak tercela maka zikrullah hanyalah omongan jiwa yang tidak menguasai hati dan tidak akan mampu menolak kehadiran syetan. Oleh sebab itu

    Allah berfirman:

    Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. ( Al A’raaf 201)

    Perumpamaan syetan adalah bagaikan anjing lapar yang mendekati anda. Bila anda tidak memiliki roti atau daging pasti ia akan meninggalkanmu walaupun cuma menghardiknya dengan ucapan kita. Tapi bila di tangan kita ada daging maka ia tidak akan pergi dari kita walaupun kita sudah berteriak ia ingin merebut daging dari kita. Demikian juga hati bila tidak memiliki makanan syetan akan pergi hanya dengan dzikrullah. Syahwat bila menguasi hati maka ia akan mengusir dzikrullah dari hati ke pinggirnya saja dan tidak bisa merasuk dalam relung hati. Sedangkan orang-orang muttaqin yang terlepas dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela maka ia akan dimasuki syetan bukan karena syahwat tapi karena kelalaian daari dzikrullah apabila ia kembali berdzikir maka syetan langsusng. Inilah yang ditegaskan firman Allah dalam ayat sebelumnya:

    Artinya: Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( Al A’roof ayat 200)

    Dalam ayat lain disebutkan:

    Artinya: Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (An Nahl 98-100)

    Mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bila Umar ra. Melewati suatu lereng maka syetan mengambil lereng selain yang dilewati Umar.”? Karena Umar memiliki hati yang bersih dari sifat-sifat tercela sehingga syetan tidak bisa mendekat. Kendatipun hati berusaha menjauhkan diri dari syetan dengan dzikrullah tapi mustahil syetan akan menjauh dari kita bila kita belum membersihkan diri dari tempat yang disukai syetan yaitu syahwat, seperti orang yang meminum obat sebelum melindungi dir dari penyakit dan perut masih disibukkan dengan makanan yang kerasa dicerna. Taqwa adalah perlindungan hati dari syahwat dan nafsu apabila zikrullah masuk kedalam hati yang kosong dari zikir maka syetan mendesak mamsuk seperti masuknya penyakit bersamaan dengan dimakannya obat dalam perut yang masih kosong.

    Allah SWT berfirman :

    Artinya: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. ()

    Wallahu a’lamu bis showab.

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 23 October 2012 Permalink | Balas  

    Amalan Sebelum Tidur 

    Amalan Sebelum Tidur

    Suatu hari Rasulullah saw masuk ke rumah Sayyidah Fathimah as. Ketika itu, Fathimah sudah berbaring untuk tidur. Rasulullah saw lalu berkata, “Wahai Fathimah, lâ tanâmi. Janganlah engkau tidur sebelum engkau lakukan empat hal; mengkhatam Al-Quran, memperoleh syafaat dari para nabi, membuat hati kaum mukminin dan mukminat senang dan rida kepadamu, serta melakukan haji dan umrah.”

    Fathimah bertanya, “Bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sebelum tidur?” Rasulullah saw menjawab, “Sebelum tidur, bacalah oleh kamu Qul huwallâhu ahad tiga kali. Itu sama nilainya dengan mengkhatam Al-Quran.” Yang dimaksud dengan Qul huwallâhu ahad adalah seluruh surat Al-Ikhlas, bukan ayat pertamanya saja. Dalam banyak hadis, sering kali suatu surat disebut dengan ayat pertamanya. Misalnya surat Al-Insyirah yang sering disebut dengan surat Alam nasyrah.

    Rasulullah saw melanjutkan ucapannya, “Kemudian supaya engkau mendapat syafaat dariku dan para nabi sebelumku, bacalah shalawat: Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ shalayta ‘alâ Ibrâhim wa ‘alâ âli Ibrâhim. Allâhumma bârik ‘alâ Muhammad wa ‘alâ âli Muhammad, kamâ bârakta ‘alâ Ibrâhim wa ‘alâ âli Ibrâhim fil ‘âlamina innaka hamîdun majîd.

    “Kemudian supaya kamu memperoleh rasa rida dari kaum mukminin dan mukminat, supaya kamu disenangi oleh mereka, dan supaya kamu juga rida kepada mereka, bacalah istighfar bagi dirimu, orang tuamu, dan seluruh kaum mukminin dan mukminat.”

    Tidak disebutkan dalam hadis itu istighfar seperti apa yang harus dibaca. Yang jelas, dalam istighfar itu kita mohonkan ampunan bagi orang-orang lain selain diri kita sendiri. Untuk apa kita memohon ampunan bagi orang lain? Agar kita tidur dengan membawa hati yang bersih, tidak membawa kebencian atau kejengkelan kepada sesama kaum muslimin. Kita mohonkan ampunan kepada Allah untuk semua orang yang pernah berbuat salah terhadap kita. Hal itu tentu saja tidak mudah. Sulit bagi kita untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti hati kita. Bila kita tidur dengan menyimpan dendam, tanpa memaafkan orang lain, kita akan tidur dengan membawa penyakit hati. Bahkan mungkin kita tak akan bisa tidur. Sekalipun kita tidur, tidur kita akan memberikan mimpi buruk bagi kita. Penyakit hati itu akan tumbuh dan berkembang ketika kita tidur. Dari penyakit hati itulah lahir penyakit-penyakit jiwa dan penyakit-penyakit fisik. Orang yang stress harus membiasakan diri memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang membuatnya stress sebelum ia beranjak tidur.

    Dalam hadis itu tidak dicontohkan istighfar macam apa yang harus kita baca. Tapi ada satu istighfar yang telah dicontohkan oleh orang tua-orang tua kita di kampung. Biasanya setelah salat maghrib, mereka membaca:

    “Astaghfirullâhal azhîm lî wa lî wâlidayya wa lî ashâbil huqûqi wajibâti ‘alayya wal masyâikhina wal ikhwâninâ wa li jamî’il muslimîna wal muslimât wal mukminîna wal mukminât, al ahyâiminhum wal amwât. Ya Allah, aku mohonkan ampunan pada-Mu bagi diriku dan kedua orang tuaku, bagi semua keluarga yang menjadi kewajiban bagiku untuk mengurus mereka. Ampuni juga guru-guru kami, saudara-saudara kami, muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.”

    Bila kita amalkan istighfar itu sebelum tidur, paling tidak kita telah meminta ampun untuk orang tua kita. Istighfar kita, insya Allah, akan membuat orang tua kita di alam Barzah senang kepada kita. Istighfar itu pun akan menghibur mereka dalam perjalanan mereka di alam Barzah. Manfaat paling besar dari membaca istighfar adalah menentramkan tidur kita.

    Nasihat terakhir dari Rasulullah saw kepada Fathimah adalah, “Sebelum tidur, hendaknya kamu lakukan haji dan umrah.” Bagaimana caranya? Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang membaca subhânallâh wal hamdulillâh wa lâ ilâha ilallâh huwallâhu akbar, ia dinilai sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah.”

    Menurut Rasulullah saw, barangsiapa yang membaca wirid itu lalu tertidur pulas, kemudian dia bangun kembali, Allah menghitung waktu tidurnya sebagai waktu berzikir sehingga orang itu dianggap sebagai orang yang berzikir terus menerus. Tidurnya bukanlah tidur ghaflah, tidur kelalaian, tapi tidur dalam keadaan berzikir. Sebetulnya, bila sebelum tidur kita membaca zikir, tubuh kita akan tertidur tapi ruh kita akan terus berzikir. Sekiranya orang itu terbangun di tengah tidurnya, niscaya dari mulut orang itu akan keluar zikir asma Allah.

    ***

    Petikan dari ceramah KH. Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad di Mesjid Al-Munawwarah, tanggal 12 September 1999.

    Ditranskripsi oleh Ilman Fauzi Rakhmat

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 21 October 2012 Permalink | Balas  

    Adil Membagi Waktu 

    Adil Membagi Waktu

    KH Abdullah Gymnastiar

    “Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya.” (HR Ahmad)

    Saudaraku, Islam sangat menaruh perhatian terhadap waktu. Dalam Alquran, bertebaran ayat-ayat yang berhubungan dengan waktu. Bahkan, berkali-kali Allah SWT bersumpah atas nama waktu. Misalnya di awal QS Al-Ashr <103>, Al-Lail <92>, Adh-Dhuha <93>, dsb. Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Maka tak usah heran bila Islam mengingatkan kita akan waktu minimal lima kali sehari semalam. Belum lagi anjuran untuk menghidupkan waktu disepertiga malam terakhir, waktu dhuha (saat matahari sepenggalahan).

    Mengingat pentingnya waktu, maka kita layak bertanya, sejauh mana komitmen kita terhadap waktu? Bila kita termasuk orang yang meremehkan waktu, tidak kecewa saat pertambahan waktu tidak menghasilkan peningkatan kualitas diri, maka bersiap-siaplah menjadi pecundang dalam hidup.

    Kita ini telah, sedang, dan akan selalu berpacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding dengan satu langkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, melambungnya angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas diri. Maka, siapapun yang bersungguh-sungguh mengisi waktunya dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.

    Kunci efektivitas waktu

    Efektivitas penggunaan waktu sangat dipengaruhi keterampilan kita dalam membaginya. Ada hak belajar, hak bekerja, hak tubuh, hak keluarga, hak ibadah juga hak evaluasi diri. Semuanya harus dibagi secara adil. Sibuk dan hebatnya belajar tanpa disertai istirahat dan ibadah misalnya, hanya akan mendatangkan masalah.

    Mahasiswa yang akan mengikuti ujian misalnya. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka menjadi keharusan baginya untuk membuat perencanaan. Sehari belajar berapa jam? Katakanlah belajar 2 jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berarti 12 jam perminggu atau 48 jam perbulan. Jadi, dalam tiga bulan ia harus belajar minimal 144 jam. Lalu, mata kuliahnya ada 10. Satu mata kuliah rata-rata lima bab dan satu bab sepuluh halaman, berarti 50 X 10 = 500 halaman. Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Dengan demikian, dalam satu jam ia harus menguasai minimal tiga lembar.

    Kuncinya, kita harus memetakan dulu potensi dan masalahnya. Lalu bergerak dengan acuan peta tersebut. Setelah itu kita disiplin menjalankannya. Sebab banyak orang yang hanya pandai membuat rencana, tapi kurang pandai menjalankannya. Karena itu, sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Buatlah secara proporsional dan fleksibel agar kita mudah menjalankannya.

    Menunda pekerjaan

    Ada satu kebiasaan yang akan menghambat efektivitas dan optimalisasi waktu yang kita miliki, yaitu kebiasaan menunda. Hebatnya, sebagian orang merasa bahwa menunda pekerjaan itu akan lebih baik. Padahal kebiasaan menunda hampir pasti mengundang masalah bila tidak didasarkan pada perhitungan matang.

    Dalam setiap waktu ada kewajiban yang harus kita tunaikan. Andaikan kita tunda maka pekerjaan lain pasti akan menyusul, sehingga pekerjaan makin menumpuk. Akhirnya, banyak energi, waktu dan biaya yang terbuang percuma selain berpeluang memunculkan rasa enggan untuk mengerjakannya.

    Contohnya ada seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Dalam hati ia berkata, “Saya akan belajar nanti malam saja supaya lebih tenang”. Ketika malam datang ia berkata lagi, “Ah nanti saja menjelang hari H saya akan belajar mati-matian”. Saat malam hari H tiba muncul lagi alasan, “Agar lebih masuk, saya akan belajar nanti Subuh”. Apa yang terjadi? Subuhnya terlambat dan ia pun bangun kesiangan dan telat masuk ruang kelas.

    Ada sebuah nasihat dari Imam Hasan Al-Bashri yang layak kita renungkan. “Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada hari esok. Kalaulah esok hari menjadi milikmu, maka jadilah kamu seperti pada hari ini. Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu”.

    Wallaahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 18 October 2012 Permalink | Balas  

    Kenapa Allah SWT Merahasiakan Mati? 

    Kenapa Allah SWT Merahasiakan Mati?

    Suatu hari seperti dinukil oleh Syekh Abdurahman Al-Sinjari, dalam Al-Buka min Khasyatillah, Nabi Ya’qub berdialog dengan Malaikat pencabut nyawa.

    “Aku ingin sesuatu yang harus engkau penuhi sebagai tanda persudaraan kita,” pinta Nabi Ya’kub.

    “Apakah itu.” tanya malaikat maut.

    “Jika ajalku telah dekat, beritahulah aku.”

    Malaikat itu menjawab, “Baik, aku akan memenuhinya. Aku akan mengirimkan tidak hanya satu utusan, tapi dua atau tiga utusan.” Setelah itu keduanya berpisah. Hingga setelah lama malaikat itu datang kembali.

    “Wahai sahabatku, apakah engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?” tanya Nabi Ya’qub.

    “Aku datang untuk mencabut nyawamu.” jawab malaikat.

    “Lalu mana ketiga utusanmu?” tanya Nabi Ya’qub lagi.

    “Sudah kukirim. Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah kekarnya, dan membungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya’qub itulah utusanku untuk setiap anak Adam.”

    Tetapi, kematian itu tidak hanya akan menimpa kepada orang-orang yang sudah lanjut usia (tua) saja, tapi semua orang baik itu bayi yang baru lahir atau belum lahir, anak-anak, remaja, dewasa samapai orang tua yang sudah jompo sekali. Pokoknya, setiap yang berjiwa baik itu manusia, hewan, tumbuhan dan lain sebagainya akan merasakan mati, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT yang artinya,

    Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imaran (3): 185)

    Malahan di lain ayat-Nya Allah SWT menerangkan bahwa kematian itu terjadi atas izin Allah SWT sebagai sebuah ketetapan yang telah ditentukan waktunya, sebagaimana firman-Nya,

    “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…” (QS. Ali Imran (3): 145)

    Maka, oleh karena itu, dimanapun kita, sedang apa pun kita, kalau Allah SWT sudah menetapkan ketentuan-Nya, bahwa saat ini, menit ini, jam ini, dan hari ini kita ditakdirkan mati, maka matilah kita. Allah SWT berfirman,

    “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS. An-Nisa (4): 78)

    Kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi dan akan menimapa kepada setiap yang berjiwa. Yang jadi masalah adalah tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan menimpa. Malahan Rasulullah SAW sendiri pun tidak diberitahu oleh Allah SWT. Sehingga timbul pertanyaan didiri kita masing-masing, kenapa Allah SWT merahasiakan masalah kematian ini?

    Ada beberapa alasan yang bisa kita ambil dari dirahasiakannya kematian itu:

    1. AGAR KITA TIDAK CINTA DUNIA

    DR. Aidh Al-Qarni dalam sebuah bukunya Cambuk Hati berkata bahwa, “Dunia adalah jembatan akhirat. Oleh karena itu, seberangilah ia dan janganlah Anda menjadikannya sebagai tujuan. Tidaklah berakal orang yang membangun gedung-gedung di atas jembatan” .

    Al-Ghazali dalam bukunya Mutiara Ihya Ulumuddin menukil beberapa hadits mengenai masalah dunia dianataranya adalah:

    Rasulullah SAW bersabda, “Dunia itu penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir” .

    Dan sabdanya pula, “Dunia itu terkutuk. Terkutuklah apa yang ada di dalamnya kecuali yang ditujukan kepada Allah.”

    Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa Raulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mencintai dunianya, niscaya ia akan membahayakan akhiratnya. Dan barangsiapa mencintai akhiratnya, niscaya ia akan membahayakan dunianya. Maka utamakanlah apa yang kekal daripada apa yang binasa.”

    Intinya adalah agar kita tidak cinta pada sesuatu yang pasti tiada. Jangan sampai ada makhluk, benda, harta, jabatan yang menjadi penghalang kita dari Allah SWT.

    2. AGAR KITA TIDAK MENUNDA AMAL

    Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, semua dirahasiakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, kita jangan sampai menunda-nunda ibadah, dan semua amal perbuatan baik yang akan kita lakukan, tobat yang kita lakukan, maaf yang kita ucapkan.

    Syekh Ahmad Atailah dalam bukunya Mutu Manikan dari Kitab Al-Hikam mengatakan bahwa,

    “Penundaanmu untuk beramal karena menanti waktu senggang, adalah timbul dari hati yang bodoh.”

    Dan Syekh Ahmad Atailah juga memberikan tipsnya untuk mengatur waktu dalam kehidupan duniawi yang mana perlu diperhatikan hal-hal beriut:

    1. Utamakan kehidupan akhirat, dan jadikan hidup didunia sebagai jembatan menuju akhirat, dan jangan menunda waktu beramal.
    2. Berpaculah dengan waktu, karena apabila salah menggunakan waktu, maka waktu itu akan memenggal kita. Artinya terputus seseorang dengan waktu terputus pula amal selanjutnya.
    3. Mengejar dunia tidak akan ada habisnya, lepas satu datang pula lainnya. Amal yang tertunda karena habisnya waktu, akan melemahkan semangat untuk menjalankan ibadah. Akibatnya hilang pula wujud kita sebagai hamba Allah yang wajib beribadah.
    4. Pergiatlah waktu beramal sebelum tibanya waktu ajal.
    5. Perketat waktu ibadah sebelum datang waktu berserah.
    6. Jangan menunda amal bakti sebelum datang waktu mati.
    7. Aturlah waktu untuk beramal agar kelak tidak menyesal.

    3. AGAR MENCEGAH MAKSIAT

    Ibnu Bathal berkata: “Jihadnya seseorang atas dirinya adalah jihad yang lebih sempurna” .

    Allah SWT berfirman, “Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhan-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya” (QS. An-Nazi’at (79): 40).

    Jihad seseorang atas dirinya sendiri dapat berupa mencegah diri dari maksiat, mencegah diri dari apa yang syubhat dan mencegah diri dari memperbanyak syahwat (kesenangan) yang diperbolehkan karena ingin menikmatinya kelak diakhirat.

    Meninggalkan maksiat adalah perjuangan, sedang keengganan meninggalkannya adalah pengingkaran. Maka, untuk menghindari maksiat, tidak lain dengan menemukan jalan keluarnya, dan satu-satunya jalan keluar adalah ketaatan dan menempatkan diri pada pergaulan yang dapat terhindar dari panggilan dan godaan hawa nafsu itu sendiri.

    4. AGAR MENJADI ORANG YANG CERDAS

    Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang merendahkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sementara orang bodoh adalah orang yang mengikuti diri pada hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan angan-angan kosong.”

    Oleh karena itu, jadilah menjdi orang yang cerdas. Karena hanya orang yang cerdaslah yang tahu bagaimana mempersiapkan mati. Mereka tahu bagaimana merubah yang fana ini menjadi sesuatu yang kekal.

    Misalnya, bagaimana caranya gaji yang fana ini bisa berubah menjadi kekal? Maka caranya adalah dengan mengeluarkan sebagian atau semuanya kalau memungkinkan dari gaji itu untuk tabungan akhiratnya. Dan ini merupakan investasi kita untuk masa depan kita juga.

    Sahabat-sahabat sekalian, kematian adalah sesuatu hal yang misterius yang hanya Allah saja yang tahu. Tinggal bagaimana diri kita dalam mempersiapkan diri ini untuk menghadapi kematian yang akan mendatangi kita.

    “ Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” . (QS. Ali Imran (3): 102)

    Wallahu A’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 17 October 2012 Permalink | Balas  

    Sabar – Pahala Allah Yang Tiada Batas 

    Sabar – Pahala Allah Yang Tiada Batas

    “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala (atas) mereka (dengan) tanpa batas” (Q.S.Az Zumar Ayat 10).

    Saudaraku …

    Firman Allah di atas, memberikan pengertian yang amat dalam tentang hakikat Pahala atau Ganjaran Allah swt. Allah akan memberikan pahala kepada orang yang mampu bersikap Sabar dalam menghadapi berbagai lika-liku kehidupan. Allah tidak lagi membalas kebajikan yang manusia kerjakan dengan hitungan: sepuluh kali – amtsaaluhum atau tujuh puluh kali atau tujuh ratus kali lipatan. Tetapi Allah tegaskan bahwa bila manusia bersabar, maka Allah memberikan pahala buat mereka dengan – bighairi hisaab – alias tanpa batas. Subhaanallaah.

    Saudaraku,

    Pahala di sisi Allah tak berhingga – it was again and again – Pahala itu terus menerus mengalir ke dalam Hati manusia yang berbuat kebajikan. Sikapnya santun, Bicaranya Hikmah, Tutur Katanya menyejukkan, Fikirannya jernih dan luas Dadanya Luas, seluas lautan, karena dadanya mampu menerima Ilmu Allah, itulah hakikat pahala yang Allah karuniakan kepada manusia yang sabar. Dengan Pahala sabar, orang lain bisa dibuat iri, mereka ingin membeli dengan harga berapa saja, asal Pahala kesabaran itu jatuh ketangannya. Namun sayang seribu saying, Allah tidak menganugerahkan Pahala yang berlimpah ruah itu kepada orang yang tidak Sabar.

    Saudaraku,

    Terhadap Anak – Istri bahkan mungkin Cucu kita, kita haruslah Sabar. Contohlah bagaimana tatkala Rasulullah saw menggendong cucu kembarnyanya Hasan dan Husein – putra dari Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah. Saat digendong Rasul mereka berhadas kecil maaf ngompol, saati itu Fatimah gelisah, karena hadas kecil Hasan dan Husein mengotori pakaian Rasul namun demikian Rasul tetap menggendongnya. Apa kata Rasul ? Wahai Fatimah, biarkan Hasan dan Husein ini melaksanakan hajatnya, setelah selesai baru aku turunkan. Subhaanallaah. Betapa Sabar Rasulullah saw.

    Saudaraku,

    Janganlah pernah bermimpi bahwa Sabar itu ada batasnya, tetapi sabar yang benar adalah ia tiada berbatas (kecuali diperangi). Orang Sabar senantiasa didampingi Allah melalui tentara-tentaranya, melalui Malaikatnya, ia terlindungi dari perbuatan tercela dan menjerumuskannya.Orang Sabar senantiasa bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencari Wajah Allah swt tanpa pernah berkeluh kesah, semangatnya senantias membara karena ia haus akan cinta dan kasihNya. Semoga kita menjadikan Sabar sebagai bekal kita dalam mengarungi Mahligai Rumah Tangga kita, sebagai bekal kita mendidik Anak dan Istri dan Saudara kita, sebagai bekal menghadapi masyarakat kita dan tentunya sebagai bekal kita untuk menghadap Allah swt di Yaumil Akhir. Insya Allah

    ***

    Oleh Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 16 October 2012 Permalink | Balas  

    Jadilah Diri Anda Sendiri, Maka Anda Akan Bahagia 

    Jadilah Diri Anda Sendiri, Maka Anda Akan Bahagia

    Sahabatku

    Sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kebahagiaan adalah, ketika kita menjadi diri kita sendiri. Keyakinan kita dengan potensi, bakat, kekuatan dan karakteristik yang ada pada diri kita, membuat kita merasakan keistimewaan dan keunikan yang kita miliki.

    Janganlah ragu wahai sahabat, bila kita sudah menemukan bakat kita, sekalipun menurut orang lain adalah sesuatu yang remeh. Ketika kita menjadi diri kita sendiri, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia.

    Jika Anda berkumpul dengan orang-orang yang pintar pada satu bidang, yang mana bidang itu bukan keahlian Anda, jangan Anda katakan pada mereka bahwa keahlian yang mereka miliki juga Anda miliki. Keinginan Anda hidup dibawah bayang-bayang mereka justru akan melemahkan kedudukan Anda. Mengapa? Karena hal itu jelas akan menghilangkan kelebihan yang ada dalam diri Anda. Anda hanya berkutat pada kekurangan yang ada pada diri Anda. Dan jelas pada akhirnya akan melemahkan Anda, membuat Anda tidak bisa melangkah lebih jauh, dunia ini terasa sangat sempit. Jack Trout dalam bukunya yang cukup mencerahkan, Differentiatie or Die, berkata tentang hal ini: Jika Anda mengabaikan keunikan Anda dan mencoba untuk memenuhi kebutuhan semua orang, Anda langsung melemahkan apa yang membuat Anda berbeda.

    Jujurlah dan katakan pada mereka, Maaf, ini bukan bidang saya. Saya bodoh pada masalah yang kini sedang kalian bicarakan. Saya tidak tahu, apakah keahlian saya dapat digunakan untuk membantu kalian atau tidak. Ketika Anda memberitahukan kepada mereka bahwa keahlian Anda di bidang B bukan A, mereka akan lebih antusias kepada Anda. Mereka akan lebih percaya, salut dan bangga berteman dengan Anda. Percayalah kepadaku tentang hal ini. Anda adalah sesuatu yang berbeda dengan lainnya. Tidak pernah ada sejarah yang mencatat orang seperti Anda sebelumnya dan tidak akan ada orang seperti Anda di dunia ini pada masa yang akan datang. (Dr. Aidh Abdullah Al Qarni dalam bukunya, La Tahzan)

    Wahai sahabatku

    Tidak ingin menjadi diri kita sendiri disebabkan oleh keinginan kita untuk mendapatkan pujian manusia. Kita ingin menjadi populer di mata masyarakat. Sebuah hasil penelitian psikologi menyebutkan: orang-orang yang ingin menjadi populer seringkali tidak jujur. Dan mereka sendiri senang dipuji dengan amal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya. (QS. 3: 188).

    Membuat diri terkenal, itu bukan tujuan hidup kita. Kita hanya disuruh berbuat sebaik mungkin. Jika niat kita sudah salah, maka hasilnya pun akan tidak maksimal. Jika niat kita ingin terkenal tidak segera terwujud, kita hanya bisa larut dalam kesedihan karena tujuan hidup kita sudah terkandaskan. Sedangkan tujuan itu sendiri adalah final kehidupan. Tidak ada lagi kehidupan sesudah gagal mencapai titik final.

    Berbeda dengan orang yang menyesuaikan tujuan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah; kegagalan dalam menghadapi sebuah episode kehidupan dunia ini bukan berarti kegagalan segala-galanya. Jangan berambisi mencari popularitas, karena tabiat tersebut adalah indikasi dari kekeruhan jiwa, kegelisahan, dan keresahan. (Dr. Aidh Al Qarni).

    Seburuk apapun karya kita dan sekecil apa pun prestasi kita, hargailah itu! Semua itu kita peroleh dari hasil kerja keras kita, hasil kejeniusan otak kita, dan hasil kreativitas kita.

    Sungguh, alangkah berbahagianya orang yang mencari ridha hanya kepada Allah semata. Dia tidak ingin menjadi populer di mata masyarakat. Jika masyarakat tidak menghargai karyanya, itu hal biasa baginya. Karena Allah sendiri telah berfirman: Kebanyakan manusia tiada mengetahui. Artinya hanya sedikit saja manusia yang dapat memahami kebenaran. Namun, bukan berarti bahwa dirinya lebih hebat dan lebih suci dari orang lain. Dia telah mendengar firman Allah yang berbunyi: Janganlah kalian mengklaim diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa. (QS. 53: 32).

    Jika masyarakat menghargai karyanya, sekali-kali tidaklah ia menyombongkan diri. Dan janganlah kalian (orang-orang beriman) berperilaku seperti orang-orang (kafir) yang keluar dari kampung halaman mereka dengan rasa angkuh dan bersikap riya kepada manusia. (QS. 8: 47).

    Sebuah kisah menyebutkan, seorang muslim yang fakir bernama Julaibib gugur dalam sebuah pertempuran melawan pasukan kafirin. Lantas Rasulullah SAW pun memeriksa orang-orang yang gugur dan para sahabat memberitahukan kepada beliau nama-nama mereka. Akan tetapi, mereka lupa kepada Julaibib hingga namanya tidak disebutkan, karena Julaibib bukan seorang yang terpandang dan bukan pula orang yang terkenal. Sebaliknya, Rasulullah ingat Julaibib dan tidak melupakannya; namanya masih tetap diingat oleh beliau di antara nama-nama lainnya yang disebut-sebut. Beliau sama sekali tidak lupa kepadanya, lalu beliau bersabda: tetapi aku merasa kehilangan Julaibib! Akhirnya, beliau menemukan jenazahnya dalam keadaan tertutup pasir, lalu beliau membersihkan pasir dari wajahnya seraya bersabda sambil meneteskan airmata: Ternyata engkau telah membunuh tujuh orang musuh, kemudian engkau sendiri terbunuh. Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu. Cukuplah bagi Julaibib dengan medali nabawi ini sebagai hadiah, kehormatan, dan anugerah.

    Wahai sahabat

    Seperti Julaibib, tidak ingin menjadi orang terkenal dan terpandang. Seperti Julaibib, hidup menjadi dirinya sendiri. Seperti Julaibib, mengakhiri hidupnya dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Tidakkah kita ingin mendapatkan apa yang telah didapatkan Julaibib?

    ***

    Oleh Sahabat: Imam Syamil

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 14 October 2012 Permalink | Balas  

    Wanita Penghuni Neraka 

    Wanita Penghuni Neraka

    Penulis: Muhammad Faizal Ibnu Jamil

    Saudariku Muslimah … .

    Suatu hal yang pasti bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan. Surga diciptakan-Nya sebagai tempat tinggal yang abadi bagi kaum Mukminin dan neraka sebagai tempat tinggal bagi kaum musyrikin dan pelaku dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang darinya. Setiap Muslimin yang mengerti keadaan Surga dan neraka tentunya sangat berharap untuk dapat menjadi penghuni Surga dan terhindar jauh dari neraka, inilah fitrah.

    Pada Kajian kali ini, kami akan membahas tentang neraka dan penduduknya, yang mana mayoritas penduduknya adalah wanita dikarenakan sebab-sebab yang akan dibahas nanti. Sebelum kita mengenal wanita-wanita penghuni neraka alangkah baiknya jika kita menoleh kepada peringatan-peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an tentang neraka dan adzab yang tersedia di dalamnya dan perintah untuk menjaga diri daripadanya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim : 6)

    Imam Ath Thabari rahimahullah menyatakan di dalam tafsirnya : “Ajarkanlah kepada keluargamu amalan ketaatan yang dapat menjaga diri mereka dari neraka.”

    Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu juga mengomentari ayat ini : “Beramallah kalian dengan ketaatan kepada Allah, takutlah kalian untuk bermaksiat kepada-Nya dan perintahkan keluarga kalian untuk berdzikir, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”

    Dan masih banyak tafsir para shahabat dan ulama lainnya yang menganjurkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka dengan mengerjakan amalan shalih dan menjauhi maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Di dalam surat lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Al Baqarah : 24)

    Begitu pula dengan ayat-ayat lainnya yang juga menjelaskan keadaan neraka dan perintah untuk menjaga diri daripadanya. Kedahsyatan dan kengerian neraka juga dinyatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya beliau bersabda : “Api kalian yang dinyalakan oleh anak cucu Adam ini hanyalah satu bagian dari 70 bagian neraka Jahanam.” (Shahihul Jami’ 6618)

    Jikalau api dunia saja dapat menghanguskan tubuh kita, bagaimana dengan api neraka yang panasnya 69 kali lipat dibanding panas api dunia? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

    Wanita Penghuni Neraka

    Tentang hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :”Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

    Hadits ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang penduduk Surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.

    Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhum : ” … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.

    Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?”

    Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?”

    Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

    Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda :” … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

    Dari Imran bin Husain dia berkata, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad)

    Imam Qurthubi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk Surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia, dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At Tadzkirah halaman 369)

    Saudariku Muslimah … .

    Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoritas dari penghuni Surga.

    Saudariku Muslimah … .

    Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka. Amin.

    1. Kufur Terhadap Suami dan Kebaikan-Kebaikannya

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :

    “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)

    Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita Mukminah yang menginginkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.

    Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya. Cukup kiranya istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabiyah sebagai suri tauladan bagi istri-istri kaum Mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.

    2. Durhaka Terhadap Suami

    Kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum Muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu adalah :

    1. Durhaka dengan ucapan.

    2. Durhaka dengan perbuatan.

    3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.

    Bentuk pertama ialah seorang istri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya.

    Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang istri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini. Termasuk bentuk kedurhakaan ini ialah apabila seorang istri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang diperbolehkan syar’i. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan dengan maksud untuk menjelekkannya dan merusak kehormatannya sehingga nama suaminya jelek di mata orang lain. Bentuk serupa adalah apabila seorang istri meminta di thalaq atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mengaku-aku telah dianiaya atau didhalimi suaminya atau yang semisal dengan itu.

    Permintaan cerai biasanya diawali dengan pertengkaran antara suami dan istri karena ketidakpuasan sang istri terhadap kebaikan dan usaha sang suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan syari’at-syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah-sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam. Sungguh jelek apa yang dilakukan istri seperti ini terhadap suaminya.

    Ingatlah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :”Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’i, pent.) maka haram baginya wangi Surga.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi serta selain keduanya. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 85)

    Bentuk kedurhakaan kedua yang dilakukan para istri terjadi dalam hal perbuatan yaitu ketika seorang istri tidak mau melayani kebutuhan seksual suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak mendatanginya dan yang semisal dengan itu. Termasuk dari bentuk ini ialah apabila seorang istri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Yang demikian seakan-akan seorang istri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’i. Demikian pula jika sang istri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang semisal dengan itu.

    Bentuk lain adalah apabila seorang istri tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, melakukan puasa sunnah tanpa izin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti shalat, mandi janabat, atau puasa Ramadlan. Maka setiap istri yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti tersebut adalah istri yang durhaka terhadap suami dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Jika kedua bentuk kedurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang istri maka ia dikatakan sebagai istri yang durhaka dengan ucapan dan perbuatannya. (Dinukil dari kitab An Nusyuz karya Dr. Shaleh bin Ghanim As Sadlan halaman 23-25 dengan beberapa tambahan)

    Sungguh merugi wanita yang melakukan kedurhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada jalan ke Surga karena memang biasanya wanita yang melakukan kedurhakaan-kedurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu. Ketahuilah wahai saudariku Muslimah, jalan menuju Surga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan dipenuhi dengan rintangan-rintangan yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini ada Surga yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang sabar menempuhnya.

    Ketahuilah pula bahwa jalan menuju neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sadarlah bahwa neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mau berpaling darinya semasa ia hidup di dunia. Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. Ia mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia yang ia takuti dan tangisi.

    3. Tabarruj

    Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Jilbab Al Mar’atil Muslimah halaman 120)

    Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tersebut. Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .” (Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103 )

    Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang hal ini dalam firman-Nya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (An Nur : 31)

    Imam Adz Dzahabi rahimahullah menyatakan di dalam kitab Al Kabair halaman 131 : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisalnya jika mereka keluar rumah … .”

    Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoyahkan keimanan yang kokoh sekalipun. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al Qur’an dan As Sunnah.

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria adalah fitnahnya wanita. Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum Mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya Surga. Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan di hadapan kaum pria. Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini terjadi pelecehan terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil perbuatan mereka sendiri.

    Wahai saudariku Muslimah … .

    Hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islamy yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (Al Ahzab : 33)

    Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi kami hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.

    Saudariku Muslimah … .

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda : “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)

    Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya.

    Amin. Wallahu A’lam bish Shawwab.

    ***

    (Dikutip dari tulisan Muhammad Faizal Ibnu Jamil,

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 13 October 2012 Permalink | Balas  

    Orang Yang Menukar Maghfirah Dengan Siksaan 

    Orang Yang Menukar Maghfirah Dengan Siksaan  

     “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjukdan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al-Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).” (QS. Al-Baqarah (2): 174-176)

    Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, mengadakan ta’wil, merubah atau memasukkan yang tidak asli dari kitab dengan pendapatnya sendiri, hanya karena imbalan keduniaan yang tak berharga. Misalnya, uang suap, uapah atas fatwayang mereka keluarkan secara batil, dan keuntungan lain yang biasanya dipungut oleh para pemimpin dari orang-orang yang dipinain. Dikatakan bahwa imabalan itu sedikit dan tak berharga, karena dilakukan dengan menukarkan kebenaran dengan kebatilan -sekalipun imbalan itu nilainya banyak- tetap tidak ada harganya sama sekali. Di samping itu, pelakunya tidak akan bisa menikmati jerih payah yang dilakukannya. Kenikmatan tersebut hanya bersifat sementara atau hanya terbatas pada batas usia manusia. Hal ini seperti yang difirmankan Allah:

    “..Padahal kemikmatan hidup didunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah (9): 38)

    Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan Kitabullah yang sebenarnya, kemudian menjualnya, maka upah yang mereka terima itu akan menjerumuskan kedalam neraka. Setelah itu, baru mereka mengerti akibat dari perbuatan menyembunyikan kebenaran itu.

    Ayat tersebut bisa diartikan pula dengan kalimat, “Sesungguhnya mereka hanya memenuhi perut dengan api neraka.” Dengan kata lain, mereka tidak bisa menghentikan sikap tamak didalam melahap keduniaan, melainkan api neraka akan membakar mereka. Hal ini seperti yang dikatakan dalam sebuah hadits,

    “Takkan bisa memenuhi perut anak Adam (manusia) melainkan tanah.”

    Hukum ayat diatas bersifat umum, termasuk kaum muslimin dan non muslim. Sebab, Sunatullah akan berlaku umum yakni selalu membela kebenaran dan memerangi kebatilan.

    Sesungguhnya llah berpaling dan murka terhadap mereka. Sebagaimana kebiasaan para raja, jika mereka sedang murka terhadap seseorang, maka mereka tidak mau mengajak berbicara. Tetapi jika mereka sedang dalam keadaan rida, mereka akan berlaku lemah lembut dan kasih sayang, disamping selalu menyambut dengan berseri-seri.

    Allah tidak akan membersihkan kotoran dan dosa-dosa mereka dengan cara memberikan ampunan atau memberi maaf perbuatan mereka, selama ketika kematian mereeka masih dalam keadaan kafir.

    Mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih dan menyakitkan.

    Sesungguhnya orang-orang yang tertimpa siksa yang sangat pedih itu ialah orang-orang yang meninggalkan hidayah yang kebenarannya tidak diperselisihkan lagi. Hidayah tersebut adalah apa saja yang disampaikan oleh para Rasul dari Tuhannya. Mereka lebih suka memilih pendapat orang di dalam urusan agama, sedang pendapat tersebut tidak mempunyai dasar yang pasti, bahkan menyesatkan dan membingungkan. Karenanya, para pengikutnya selalu berada dalam perselisihan dan persengketaan.

    Pengikut setia kesesatan itu berhak mendapat siksa sebagai ganti dari ampunan. Sebab, ia melakukan demikian itu lantaran kesadaran dan pilihannya sendiri, sebab hujjah kebenaran sudah tampak dihadapan matanya. Hal ini berarti ia telah menukar maghfirah (ampunan) dengan siksaan. Ringkasnya, mereka sendirilah yang mencelakakan dirinya karena telah memilih upah keduniawian, dan meremehkan pahala diakhirat.

    Pada dasarnya perbuatan mereka dapat mengantarkan kedalam neraka adalah perbuatan yang telah disebut didalam ayat yang telah lalu dan sangat mengherankan. Mantapnya mereka menuju jalan keneraka dan tidak pedulinya mereka terhadap balasan yang akan ditimpakan kepada mereka menunjukkan bahwa mereka itu bersikap “sabar”sebagai penghuni neraka. Hal ini tentu sangat mengherankan, dan lebih mengherankan lagi jika sikap seperti itu ditampilkan oleh orang yang berpikiran waras.

    Ungkapan seperti ini sama dengan suatu ucapan yang dikatakan kepada seseorang yang melakukan perbuatan yang dimurkai raja, “Alangkah kuatnya anda hidup terbelenggu dan tersekap didalam penjara.”Dengan kata lain, seseorang tidak melakukan hal tersebut bila tidak “sabar” dalam menahan siksaan. Tetapi, siapakah orang yang mampu bertahan terhadap siksaan mereka?

    Siksaan tersebut telah ditetapkan untuk mereka akibat sikap menentangnya mereka terhadap kitabullah yang berisi kebenaran. Padahal, kebenaran itu selamanya akan berada dipihak yang menang. Siapapun yang menentang kebenaran, pasti akan terperosok kejurang kekalahan.

    Pada dasarnya, orang-orang yang memperselisihkan kebenaran Kitabullah yang diturunkan Allah -padahal kitab ini berguna untuk menghilangkan segala persengketaan dan menyatukan pendapat- sebenarnya berada dipihak yang menyimpang dari kebenaran. Sebab, mereka sudah tidak mau mengambil kitab itu sebagai petunjuk. Sehingga setiap kelompok membuat caranya sendiri dengan berbagai perbedan yang tak dapat dihindarkan. Dengan demikian, timbul berbagai perselisihan dan perbedaan.

    Ayat ini mengandung ancaman -selain ancaman yang tersebut didalam ayat sebelumnya- terhadap orang-orang yang menyembunyikan kebenaran. Orang-orang yang berselisih ini, masing-masing tidak terjalin suasana kebersamaan. Mereka ini tidak seperti yang dianjurkan didalam firman Allah:

    “..dan bahwa (yang kami peringatkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya….” (QS. Al-An’am (6): 153)

    Karenanya, ahli kitab pun sebenarnya tidak boleh terbagi-bagi menjadi berbagai sekte. Sebagaimana dianjurkan didalam firman Allah:

    “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikit pun tanggungjawabmu terhadap mereka…” QS. Al-An’am (6): 159)

    Jika terdapat kekeliruan didalam memahami sesuatu, mereka wajib mengembalikan persoalan tersebut kepada Al-Kitab dan As-Sunnah hingga persengketaan itu terhenti. Hal ini seperti dianjurkan didalam firman Allah:

    “..Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya)…” (QS. An-Nisa”(4): 59)

    Didalam Islam, tidak ada alasan bagi kaum muslimin mempersoalkan agamanya atau perselisihan didalam agama. Sebab, Allah telah menjadikan setiap musykilah (problem) itu jalan keluar. Disamping itu, perbedaan di antara kaum muslimin itu hendaknya tidak melahirkan perpecahan dan persengketaan. Karen, semuanya sudah cukup jelas dan mudah. Demikian pula para ahli agama merasakan kemudahan didalam meneliti masalah-masalah yang diperselisihkan. Kemudian, jika mereka melihat salah satu diantara pendapat yang beralasan itu benar, maka dijadikan sebagai pegangan. Biasanya, kuatnya hujjah itu bertalian erat dengan maslahat umat dan bertalian dengan hukum-hukum yang sesuai dengan mereka. Sehingga tidak ada lagi orang yang berani menjual maghfirah dengan siksaan.[]

    *Tafsir Al-Maraghi*

    ***

    Ahmad Mushthafa Al-Maraghi

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 12 October 2012 Permalink | Balas  

    Kematian Itu Indah 

    Kematian Itu Indah

    Ada sebuah perbincangan yang menarik antara seorang ustadz dengan jamaah pengajiannya. Sang Ustadz bertanya kepada jamaahnya “Ibu-Ibu mau masuk surga?” Serempak ibu-ibu menjawab “mauuuu….” Sang ustadz kembali bertanya “Ibu-ibu ingin mati hari ini tidak?”. Tak ada satupun yang menjawab. Rupanya tidak ada satupun yang kepengen mati. Dengan tersenyum ustadz tersebut berkata “Lha gimana mau masuk surga kalo gak mati-mati”.

    Ustadz itu meneruskan pertanyaannya “Ibu-ibu mau saya doakan panjang umur?” Dengan semangat ibu-ibu menjawab “mauuu….” Pak Ustadz kembali bertanya “Berapa lama ibu-ibu mau hidup? Seratus tahun? Dua ratus atau bahkan seribu tahun? Orang yang berumur 80 tahun saja sudah kelihatan tergopoh-gopoh apalagi yang berumur ratusan tahun”.

    Rupanya pertanyaan tadi tidak selesai sampai disitu. Sang ustadz masih terus bertanya “Ibu-ibu cinta dengan Allah tidak” Jawabannya bisa ditebak. Ibu-ibu serempak menjawab iya. Sang ustadz kemudian berkata “Biasanya kalo orang jatuh cinta, dia selalu rindu untuk berjumpa dengan kekasihnya, Apakah ibu-ibu sudah rindu ingin bertemu Allah?” Hening. Tidak ada yang menjawab.

    Kebanyakan dari kita ngeri membicarakan tentang kematian. Jangankan membicarakan, membayangkannya saja kita tidak berani. Jawabannya adalah karena kita tidak siap menghadapi peristiwa setelah kematian. Padahal, siap tidak siap kita pasti akan menjalaninya. Siap tidak siap kematian pasti akan datang menjemput. Daripada selalu berdalih tidak siap lebih baik mulai dari sekarang kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

    Persiapan terbaik adalah dengan selalu mengingat mati. Yakinkan pada diri kita bahwa kematian adalah pintu menuju Allah. Kematian adalah jalan menuju tempat yang indah, surga. Dengan selalu mengingat mati kita akan selalu berusaha agar setiap tindakan yang kita lakukan merupakan langkah-langkah menuju surga yang penuh kenikmatan.

    Hakekat kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan kembali menuju Allah. Dalam perjalanan yang singkat ini ada yang kembali dengan selamat, namun ada yang tersesat di neraka. Kita terlalu disibukkan oleh dunia hingga merasa bahwa dunia inilah kehidupan yang sebenarnya. Kita seakan lupa bahwa hidup ini hanya sekedar mampir untuk mencari bekal pulang. Kemilaunya keindahan dunia membuat kita terlena untuk menapaki jalan pulang.

    Rasulullah pernah berkata orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat mati. Dengan kata lain orang yang paling cerdas adalah orang yang mempunyai visi jauh ke depan. Dengan selalu mengingat visi atau tujuan hidupnya ia akan selalu bergairah melangkah ke depan. Visi seorang muslim tidak hanya dibatasi oleh kehidupan di dunia ini saja namun lebih dari itu, visinya jauh melintasi batas kehidupan di dunia. Visi seorang muslim adalah kembali dan berjumpa dengan Allah. Baginya saat-saat kematian adalah saat-saat yang indah karena sebentar lagi akan berjumpa dengan sang kekasih yang selama ini dirindukan.

    Terkadang kita takut mati karena kematian akan memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Orang tua, saudara, suami/istri, anak. Ini menandakan kita lebih mencintai mereka ketimbang Allah. Jika kita benar-benar cinta kepada Allah maka kematian ibarat sebuah undangan mesra dari Allah.

    Namun begitu kita tidak boleh meminta untuk mati. Mati sia-sia dan tanpa alasan yang jelas justru akan menjauhkan kita dari Allah. Mati bunuh diri adalah wujud keputusasaan atas kasih sayang Allah. Ingin segera mati karena kesulitan dunia menandakan kita ingin lari dari kenyataan hidup. Mati yang baik adalah mati dalam usaha menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Mati dalam usaha mewujudkan cita-cita terbesar yakni perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.

    Akhirnya orang yang selamat adalah orang yang menyadari bahwa semua harta dan kekuasaan adalah sarana untuk bisa kembali kepada Allah. Jasadnya mungkin bersimbah keluh berkuah keringat, banting tulang menundukkan dunia namun hatinya tetap hanya terpaut pada sang kekasihAllah SWT. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa kerja keras, berfikir cerdas dan berhati ikhlas.

    Duhai Pemilik dunia, ajarkan kami untuk menundukkan dunia, bukan kami yang tunduk kepada dunia. Bila kilauan dunia menyilaukan pandangan kami, bila taburan permata dunia mendebarkan hati kami, ingatkan kami ya Allah. Ingatkan bahwa keridhoan-Mu dan kasih sayang-Mu lebih besar dari pada sekedar dunia yang pasti akan kami tinggalkan. Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 10 October 2012 Permalink | Balas  

    Musuh Manusia 

    Musuh Manusia

    Paling tidak ada tiga macam musuh umat Islam, yaitu kebodohan, kemiskinan, dan penyakit. Manusia diberi predikat Khalifah Allah di bumi ini membawa arti bahwa manusia diberi kewenangan untuk mengelola bumi dan segala isinya. Mengelola dunia hanya akan dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan dan ilmu pengetahuan. Karenanya sangat jelas, wahyu pertama yang turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5, yaitu perintah untuk membaca.

    Sejarah juga mencatat, ketika Perang Badar, banyak dari kaum Quraisy yang kalah dalam peperangan akhirnya menjadi tawanan. Rasulullah SAW akan membebaskan tawanan itu, jika mereka mau mengajarkan membaca dan menulis kepada sepuluh umat Islam. Catatan sejarah itu menunjukkan begitu besarnya perhatian umat Islam terhadap upaya memerangi kebodohan dan keterbelakangan. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam tidak menjadi kaum yang marginal, tidak tergilas derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Kemiskinan juga merupakan musuh yang harus dihapuskan. Islam memandang musuh karena akibat kemiskinan itu sangat fatal, yaitu menyangkut akidah. Rasulullah SAW bersabda, ”Kemiskinan akan membawa seseorang kepada kekufuran.” Bahkan, Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan pada masanya, bila di hadapan kita ada ular dan kemiskinan, maka yang harus dipunahkan terlebih dahulu adalah kemiskinan.

    Islam sendiri punya konsep aktual dan akurat dalam mengatasi kemiskinan, yakni zakat, infak, dan sedekah. Bila dikelola secara profesional dan proporsional serta amanah, maka kita optimistis bahwa kemiskinan yang melanda sebagian umat Islam akan bisa teratasi. Tidak akan ada lagi umat Islam yang antre bantuan dana kompensasi BBM.

    Sewaktu Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah dinasti Umayyah, kepemimpinannya mampu menyejahterakan rakyatnya lewat zakat. Walaupun masa pemerintahannya sangat singkat, kurang lebih tiga tahun, tapi mampu mengangkat harkat kehidupan rakyatnya, sehingga tidak ditemukan orang yang hidup dalam kemiskinan pada masa pemerintahannya.

    Musuh berikutnya adalah penyakit. Karena, bila seseorang berpenyakit, maka ia tidak akan bisa berkreasi dan berkarya. Kewajiban untuk berdakwah pun akan terasa lebih berat. Itulah sebabnya Islam mengajarkan agar umatnya menjaga diri agar tetap sehat. Sehat jasmani bisa didapat lewat olahraga, karena Nabi Muhammad SAW sendiri adalah orang yang suka berolahraga.

    Rasulullah SAW bersabda, ”Ajarkanlah anak-anakmu berenang, memanah, dan menunggang kuda.” Di lain hadis, Rasulullah bersabda, ”Bahwa orang Mukmin yang sehat lebih baik dan dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah (tidak sehat).”

    Ketiga musuh ini agar dicarikan solusi konkret agar umat Islam dapat meningkatkan kualitas diri.

    ***

    Oleh : Hamdani

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 9 October 2012 Permalink | Balas  

    Syirik dalam Ibadah 

    Syirik dalam Ibadah.

    Syirik dalam ibadah lebih ringan daripada syirik yang sebenarnya, dan lebih enteng perkaranya. Ia bersumber kepada orang yang yakin bahwa tiada tuhan selain Allah. Ia berkeyakinan pula bahwa sebagai manusia ia tidak berdaya, tidak merugikan dan tidak bermanfaat, tidak bisa memberi dan tidak mencegah kecuali atas izin Allah swt. Ia menyakini bahwa tidak ada tuhan selain Dia dan tidak ada Tuhan pemelihara kecuali Dia. Akan tetapi, ia tidak mengkhususkan untuk Allah swt dalam bermuamalat dan beribadah. Ia berbuat untuk dirinya sendiri, terkadang memohon yang bersifat duniawi, kedudukan dan popularitas di mata orang banyak. Yang diterima untuk Allah hanya sebagian dari amalnya. Inilah yang banyak dilakukan oleh manusia. Disabdakan oleh Rasulullah s.a.w dalam suatu riwayat dari hadist Ibn Hibban dalam kumpulan hadistnya: ” Syirik dalam umat (jenis) ini lebih ringan timbangannya daripada semut kecil” Sahabat bertanya. ” bagaimana kita bisa selamat daripadanya ya rasulullah? ” Beliau bersabda. “Katakanlah , ya Allah …hamba berlindung kepada-Mu dari syirik bila hamba mengetahui dan hamba mohon ampun bila tidak mengetahui.”

    Semua riya’ adalah syirik. Allah swt berfirman ; ” Katakanlah, “Sesungguhnya aku (Muhammad)ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku,’Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu Tuhan Yang Esa. barangsiapa yang menghendaki perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”” (QS.Al-Kahfi:110)

    Allah adalah Tuhan yang tunggal , maka tiada Tuhan selain Dia. Ibadah hanya kepada Allah swt. Selain mengesakan Allah, harus mengesakan ibadah hanya kepada Allah. Untuk itu semua amal shaleh harus bebas dari riya’.

    Berkaitan dengan itu, Umar ibn Khathab memberikan ajaran berdo’a kepada kita yang berbunyi:

    “Ya..Allah jadikanlah amalku seluruhnya sholeh, dan jadikanlah murni untuk wajah-Mu, dan jangan Engkau jadikan sedikitpun dalam ibadah itu untuk seseorang”.

    Orang yang tidak memurnikan agama dengan beribadah hanya untuk Allah, sama halnya tidak menjalankan perintah-Nya. kalau dalam ibadahnya itu dicampur dengan peraturan yang datangnya selain dari Allah swt, ibadahnya tidak syah dan tidak akan diterima. Allah swt berfirman dalam hadist qudsi:“Aku tidak memerlukan sekutu-sekutu, maka siapapun yang melakukan amal dan menyekutukan dengan-Ku, selain Aku dalam amalnya, maka semua itu untuk yang ia sekutukan. Aku (Allah) suci dan bersih daripadanya.” (HR;Muslim).

    ***

    Sumber : terapi Penyakit Hati oleh : Ibnul Qoyyim al-Jauzi

    oleh : SDP

    Wassalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuhu

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 7 October 2012 Permalink | Balas  

    Tahajud Cinta 

    Tahajud Cinta

    Sebelum memejamkan mata untuk tidur dalam rangka mengakhiri aktifitas ‘dua puluh empat jam’ ini, mari kita melihat dan merenungkan suasana tahajud kita masing-masing.

    Apakah tahajud kita sebagai tahajudnya seorang hamba yang mencintai penciptanya, ataukah sekedar tahajud tanpa makna. Yang melakukan shalat hanya sekedarnya, setelah itu selesai dan bangga, karena sudah melaksanakan sebuah ‘ritual’ shalat tahajud. Untuk mengetahui hal itu, marilah kita mencoba mengukur diri masing-masing.

    1. Tentang niat,

    Apakah yang melatarbelakangi kita bangun malam?

    Apakah kita shalat tahajud karena terpaksa. Mungkin dikarenakan saudara kita, anak kita, istri / suami kita, atau ada orang dekat kita, yang bangun malam melakukan shalat tahajud. Dan kita pun ikut bangun malam lalu kita lakukan shalat tahajud itu.

    Ataukah tiba-tiba kita ingin ke kamar mandi, lalu kita sekalian mengambil air wudhu’ dan kitapun melaksanakan shalat tahajud.

    Atau kita sebelum tidur sudah berdo’a kepada Allah, agar Allah membangunkan diri kita untuk melakukan shalat tahajud.

    Apapun yang menyebabkan kita bangun malam, dan kita lanjutkan dengan shalat tahajud, maka semuanya merupakan perilaku istimewa di hadapan Allah. Karena kita melakukan sesuatu yang memang istimewa.

    Kalau kita hitung, pada saat di sepertiga malam menjelang pagi, sekitar jam tiga malam wib, kira-kira ada berapa orang yang bangun untuk melakukan shalat tahajud? Misalnya di sebuah kota? Atau di sebuah kampung? Sungguh amatlah sedikitnya!

    Tetapi marilah kita melihat diri kita masing-masing! Dimanakah posisi kita? Apa yang menyebabkan kita melakukan shalat tahajud? Apakah demi kecintaan kita kepada Allah Swt, sehingga kita begitu rindunya ingin bertemu denganNya, ketika semua orang lelap dalam tidurnya? Ataukah karena alasan lainnya? Setiap posisi itu tentu mempunyai nilai yang berbeda…

    2. Tentang pakaian,

    Setelah kita melakukan wudhu’ di waktu malam yang cukup dingin itu, ketika kita mengambil pakaian untuk melakukan shalat, apakah kita mengenakan pakaian yang seadanya saja, ataukah pakaian tidur saja. Ataukah kita mengenakan pakaian yang bagus, yang bersih, dan yang Allah menyenanginya.

    Ketika suatu saat kita shalat tahajud, dan waktu itu pakaian yang kita kenakan adalah pakaian yang seadanya saja, maka bandingkanlah dengan ketika kita pergi ke masjid untuk melakukan shalat jum’at. Begitu indah pakaian kita, begitu harum tubuh kita…

    Untuk siapa pakaian kita yang bagus dan indah itu? Kalau untuk Allah Swt, mengapa ketika shalat tahajud sendirian saat tidak ada orang yang melihatnya, kita justru mengenakan pakaian yang tidak indah? Seorang yang mencintai sesuatu, tentu ia akan memberikan yang terbaik buat si Dia…

    3. Tentang bacaan dan gerakan,

    Demikian juga tentang bacaan dan gerakan shalat yang kita lakukan di malam hari, ketika semua orang tidak ada yang mengetahuinya. Bagaimana kondisi kita?

    Apakah bacaan kita begitu `mesra’ saat kita bertemu dengan Dzat yang kita cintai, ataukah bacaan kita terburu-buru agar shalat cepat selesai?

    Apakah gerakan shalat kita begitu sempurna layaknya seorang prajurit yang sedang berada di hadapan komandannya, ataukah gerakan kita semaunya saja?

    Setelah kita mengembara mulai saat bangun pagi, selanjutnya melakukan perjalanan seharian di luar rumah, dan akhirnya kembali lagi ke rumah untuk tidur lagi, begitu seringnya kita bertemu dengan Allah Swt dalam berbagai macam peristiwa. Maka harapan kita tentulah saat ini kita telah menjadi seorang hamba yang begitu dekat dengan Allah Swt. Kecintaan dan kerinduan kepada Allah Swt akan tercermin dalam tahajud kita.

    Tahajud cinta seorang hamba adalah tahajud kerinduan, bukan tahajud paksaan. Tahajud cinta seorang hamba adalah tahajud yang mencerminkan jiwa yang tenang, dan hati yang tentram,..

    Itulah saat ending yang paling indah dalam hidup kita selama dua puluh empat jam setiap hari. Kalaulah ending hidup setiap hari, kita disuruh Rasul untuk dekat dengan Allah dalam tahajud, maka demikian pula dengan ending hidup seluruhnya, kitapun harus berupaya untuk dekat dengan Allah Swt.

    Orang yang berhasil dalam hidupnya, adalah mereka yang pada akhir hayatnya dipanggil oleh Allah Swt, dengan panggilan yang sangat mesra :

    “yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah,irji’i ilaa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah, fad khulli fii tibaadii wad khulii jannatii..”

    Inilah tanda cinta yang sebenar-benarnya cinta…

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 3 October 2012 Permalink | Balas  

    Bahaya meninggalkan sholat 

    Bahaya meninggalkan sholat

    1. Meninggalkan Shalat Merupakan Kekufuran

    Allah subhanahu wata’ala berfirman mengenai orang-orang Musyrikin, artinya, “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (at-Taubah:11)

    Yakni, jika mereka bertaubat dari kesyirikan dan kekufuran mereka, mendirikan shalat dengan meyakini kewajibannya, melaksanakan rukun-rukunnya dan membayar zakat yang diwajibkan, maka mereka adalah saudara di dalam agama Islam. Jadi, yang dapat difahami dari ayat ini, bahwa siapa saja yang ngotot melakukan kesyirikan, meninggalkan shalat atau menolak membayar zakat  maka ia bukan saudara kita dalam agama Islam.

    Dalam sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Pembeda)antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim)

    Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Aku khawatir tidak halal bagi laki-laki (suami) diam bersama isteri yang tidak melakukan shalat, tidak mandi jinabah dan tidak mempelajari al-Qur’an.”

    Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama seputar jenis kekufuran orang yang meninggalkan shalat karena bermalas-malasan meskipun menyakini kewajibannya, maka yang pasti perbuatan itu amat dimurkai.

    2. Meninggalkan Shalat Merupakan Kemunafikan.

    Mengenai hal ini, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia dan tidaklah mereka menyebut Allah melainkan sedikit sekali.” (an-Nisa`:142)

    Yakni, mereka, di samping melakukan shalat karena riya`, juga bermalas-malasan dan merasa amat berat melakukannya, tidak mengharap pahala dan tidak meyakini bahwa meninggalkannya mendapat siksa.

    Ibnu Mas’ud radhiyallahui ‘anhu berkata mengenai shalat berjama’ah, “Aku betul-betul melihat, tidak seorang pun di antara kami yang tidak melakukannya (shalat berjama’ah) selain orang yang munafik tulen. Bahkan ada seorang yang sampai bergelayut di antara dua orang disampingnya agar dapat berdiri di dalam shaf (karena ia masih sakit).” (HR. Muslim)

    3. Meninggalkan Shalat Menjadi Sebab Mendapatkan Su’ul Khatimah

    Imam Abu Muhammad ‘Abdul Haq rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa Su’ul Khatimah -semoga Allah melindungi kita darinya- tidak akan terjadi terhadap orang yang kondisi lahiriahnya lurus (istiqamah) dan batinnya baik. Alhamdulillah, hal seperti ini tidak pernah didengar dan tidak ada yang mengetahui pernah terjadi. Tetapi ia terjadi terhadap orang yang akalnya rusak dan ngotot melakukan dosa besar. Bisa jadi, kondisi seperti itu menguasainya lalu kematian menjem-putnya sebelum sempat bertaubat, maka syaithan pun memperdayainya ketika itu, nau’udzu billah. Atau dapat terjadi juga terhadap orang yang semula kondisinya istiqamah, namun kemudian berubah dan keluar dari kebiasaannya lalu terus berjalan ke arah itu sehingga menjadi sebab Su’ul Khatimah baginya.” (At-Tadzkirah: 53)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesung-guhnya ukuran semua amalan itu tergantung kepada kesudahannya.” (HR. Bukhari)

    Sementara orang yang melakukan shalat tetapi buruk dalam mengerjakannya, dia terancam mendapat Su’ul Khatimah, maka terlebih lagi dengan orang yang sama sekali tidak ‘menyapa’ shalat? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang yang shalat tetapi tidak sempurna dalam ruku’nya, ia seperti orang yang mematok-matok di dalam sujud shalatnya, maka beliau bersabda mengenainya, “Andai ia mati dalam kondisi seperti ini, maka ia mati bukan di atas agama Muhammad.” (Hadits Hasan)

    4. Meninggalkan Shalat Menjadi Slogan Penghuni Neraka Saqar

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya: “Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (Al-Muddatstsir: 27-30)

    Dan firman-Nya, artinya: “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Kecuali golongan kanan. Berada di dalam surga, mereka tanya menanya. Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa. ‘Apakah yang memasukkan kamu ke dalam (neraka) Saqar? Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama orang-orang yang membicarakannya.” (Al-Muddatstsir: 38-45)

    Jadi, orang-orang yang meninggalkan shalat tempatnya di neraka Saqar.

    5. Meninggalkan Shalat Merupakan Sebab Seorang Hamba Dipecundangi Syaithan

    Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah tiga orang yang berada di suatu perkampungan ataupun di pedalaman, lalu tidak mendirikan shalat di antara sesama mereka melainkan syaithan akan mempecundangi mereka. Karena itu, hendaklah kalian bersama jama’ah sebab srigala hanya memakan kambing yang sendirian.” (Hadits Hasan)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits tersebut menjelaskan bahwa, “Syaithan adalah serigala atas manusia yang merupakan musuh bebuyutannya. Maka sebagaimana burung yang semakin berada di ketinggian, semakin jauh dari petaka, sebaliknya, semakin berada di tempat rendah, petaka akan mengintainya, demikian pula halnya dengan kambing yang semakin dekat dengan penggembalanya, semakin terjaga keselamatannya, semakin ia menjauh, semakin terancam bahaya.” (Sumber: As-Shalah Limadza? Muhammad bin Ahmad al-Miqdam)

    Demikian di antara bahaya meninggalkan shalat, dan tentunya masih banyak lagi bahaya-bahaya yang lain. Semoga dapat memotivasi kita di dalam meningkatkan kualitas shalat kita dan menjadi pengingat tentang besarnya urusan shalat sehingga tidak meninggalkannya. (Abu Hafshah)

    Agar Shalat Menjadi Hal Yang Besar Di Mata Kita

    Berikut ini langkah-langkah yang inysa-Allah akan menjadikan kita memandang shalat sebagai masalah yang besar:

    a. Menjaga waktu-waktu shalat dan batasan-batasannya.

    b. Memperhatikan rukun-rukun, wajib dan kesempurnaannya.

    c. Bersegera melaksanakannya ketika datang waktunya.

    d. Sedih, gelisah dan menyesal ketika tidak bisa melakukan shalat dengan baik, seperti ketinggalan shalat berjama’ah dan menyadari bahwa seandainya shalatnya secara sendirian diterima oleh Allah subhanahu wata’ala, maka dia hanya mendapatkan satu pahala saja. Maka berarti dirinya telah kehilangan pahala sebanyak dua puluh tujuh kali lipat.

    e. Demikian pula ketika ketinggalan waktu-waktu awal yang merupakan waktu yang diridhai Allah subhanahu wata’ala, atau ketinggalan shaf pertama, yang jika orang mengetahui keutamaannya tentu mereka akan berundi untuk mendapatkannya.

    f. Kita juga bersedih manakala tidak mampu mencapai khusyu’ dan tidak dapat menghadirkan segenap hati ketika menghadap kepada Rabb Tabaraka Wata ala. Padahal khusyu’ adalah inti dan ruh shalat, karena shalat tanpa ada kekhusyu’an maka ibarat badan tanpa ruh.

    Oleh karena itu Allah tidak menerima shalat seseorang yang tidak khusyu’ meskipun dia telah gugur kewajibannya. Dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya, karena seseorang itu mendapatkan pahala shalat sesuai dengan kadar kekhusyu’an dan tingkat kesadaran dengan kondisi shalatnya itu.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba melakukan shalat dan dan tidaklah dia mendapatkan pahala shalatnya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dihasankan Al-Albani)

    Oleh karenanya beliau menegaskan dalam sabdanya, “Jika kalian berdiri untuk shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan meninggalkan dunia.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani).

    ***

    Sumber:

    1. Ash-Shalâh, Limâdza?, Muhammad bin Ahmad al-Miqdam, Dâr Thayyi-bah, Mekkah al-Mukarramah).
    2. Hayya ‘alash shalah, Khalid Abu Shalih  hal 12-13, Darul Wathan.
     
    • KaltimToday 6:31 am on 3 Oktober 2012 Permalink

      Terima kasih atas pencerahannya. Sangat bermanfaat bagi kami yang selalu bisa saja tersesat karena godaan dunia yang fana. :)

    • eny 12:43 pm on 3 Oktober 2012 Permalink

      Terima kasih, semoga dg artikel ini bisa membantu kita menjadi hamba Allah yg senantiasa menjaga sholatnya,,,Amin Ya Robbal Alamin,,,

    • Titien Nirwana 10:44 am on 9 Oktober 2012 Permalink

      terimakasih atas tulisannya, bermanfaat sekali

    • adji 8:25 am on 21 Januari 2013 Permalink

      Syukron pencerahannya

  • erva kurniawan 1:00 am on 30 September 2012 Permalink | Balas  

    Cara Menyucikan Hati 

    Cara Menyucikan Hati

    Hati itu bagaikan kaca mata. Kalau kita menggunakan kaca mata yang bening, apa yang kita lihat akan tampak apa adanya. Yang putih akan jelas putihnya, yang coklat muda akan jelas warna aslinya. Namun kalau kita menggunakan kaca mata hitam, apa yang kita lihat tidak akan sesuai aslinya. Yang putih akan kelihatan abu muda dan warna coklat muda akan menjadi coklat tua. Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa adanya, sementara kalau hati kita kotor atau hitam, kita akan melihat realita itu tidak seperti sebenarnya.

    Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan lahiriahnya tapi dari performa batiniah atau hatinya.

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta-hata kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.” (H.R. Muslim).

    Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan taat atau perbuatan menyimpangnya.

    Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah swt. Sebaliknya, ada kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya atau bahkan berbuat maksiat, ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah swt. memaafkannya.

    Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda dhanniyyah (yang diperkirakan) bukan qath’iyyah (bukti-bukti yang pasti). Oleh karena itu tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal saleh, sebagaimana tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki melakukan perbuatan buruk atau maksiat. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya.

    Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat lain,

    “Ali bin Abi Thalib r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan. Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

    Hadits ini memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia itu sesungguhnya bersih atau bersinar, namun suka tertutupi oleh awan kemaksitan hingga sinarnya menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, kita harus berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana caranya?

    1. Introspeksi diri

    Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Hasyr 59 : 18)

    2. Perbaikan Diri

    Perbaikan diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupakan tindak lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.

    “Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8)

    3. Tadabbur Al Qur’an

    Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk. Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka tadabburi Qur’an.

    “Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci atau tertutup.” (Q.S.Muhammad 47 : 24)

    4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh

    Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridoi Allah swt. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah saw bersabda,

    “.Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.” (H.R. Bukhari)

    5. Mengisi Waktu dengan Zikir

    Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir. Pertama, zikir Lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan zikir seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah, dll. Kedua, Zikir Amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk penerapan ajaran-ajaran Allah swt. dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi dengan zikir lisan dan amali.

    “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Q.S.Al-Ahzab 33 : 41-42)

    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah 2 :152)

    6. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh

    Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita. Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll., diharapkan kita akan terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan ajaran-ajaran Allah, dll., dikhawatirkan kita pun akan terseret arus kemaksiatan tersebut. Kerena itu, Allah swt.. mengingatkan agar kita bergaul dengan orang-orang saleh seperti dikemukakan dalam ayat berikut.

    “Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridoan-Nya, dan janganlah kamu palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah keadaan itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)

    7. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin, dan Yatim

    Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati, sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang lain. Rasulullah saw. bersabda,

    “Abu Hurairah r.a. bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah saw. tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau saw. menegaskan, “Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (H.R. Ahmad).

    8. Mengingat Mati

    Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk mengarungi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan manipis dan akhirnya habis. Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah saw. menganjurkan agar sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening.

    “Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang, berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan mengingatkan akan hari akhirat.” (H.R.Hakim)

    9. Menghadiri Majelis Ilmu

    Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media pensucian hati. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah swt. akan menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas.

    “Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malakikat akan menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (H.R. Muslim)

    10. Berdo’a kepada Allah swt.

    Allah swt. Maha Berkuasa untuk membolak balikan hati seseorang. Karena itu sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu salamah r.a,. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan hati adalah: Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu). Perhatikan riwayat berikut,.

    “Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a yang banyak diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada agama-Mu).” ” Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca do’a: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika.” Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi. Menurutnya hadits ini hasan)

    Selain do’a di atas, Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa ketika menginap di rumah Rasulullah saw., ia pernah mendengar beliau mengucapkan do’a berikut,

    “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.” (H.R.Muslim)

    Kesimpulannya, hati merupakan panglima untuk seluruh anggota jasad kita. Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi kalau hati kita busuk, seluruh amaliah pun busuk. Ada sepuluh cara agar kita memiliki hati yang suci, yaitu; Introspeksi diri, perbaikan diri, tadabbur Qur’an, menjaga kelangsungan amal saleh, mengisi waktu dengan zikir, bergaul dengan orang-orang saleh, berbagi kasih dengan fakir miskin dan anak yatim, mengingat mati, menghadiri majelis ta’lim, dan berdo’a kepada Allah swt. Mudah-mudahan Allah swt. selalu memberi kepada kita hati yang bening. Amiin . Wallahu A’lam

    ***

    Sumber : percikan-iman.com

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 29 September 2012 Permalink | Balas  

    Tangisan Sang Nabi 

    Tangisan Sang Nabi

    Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, mengangkat kepalanya ke atas, dan semua cabangnya mengarah ke atas. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan kepala mereka, dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping.

    Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.”

    Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji.

    Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah.

    Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw.

    Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

    Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

    Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi Saw. bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).

    Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw., maka Ali bin Abi Thalib Ra. bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?” Ia menjawab, “Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.”

    Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.”

    Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, ..Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

    Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf [12]: 91).

    Rasulullah Saw. pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya, .Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf [12]: 92).

    Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.”

    Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada Engkau, sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada Engkau?”

    “Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisa hingga firman-Nya, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nis・[4]: 41).

    Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.”

    Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.

    Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah Saw. sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah sendiri pernah melihat neraka. Dia melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah airmatanya dengan deras.

    Abu Dzar Ra. meriwayatkan dari Nabi Saw., bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118).

    Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, Allahumma salimna ummati. Ya Allah selamatkan umatku.

    Keadaan diri Nabi Muhammad Saw. digambarkan Allah Swt. dalam firman-Nya, Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 129).

    Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi, sebagaimana Nabi mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan airmatanya untuk kita. Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri? Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.

    ***

    Oleh Chandra Kurniawan

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 20 September 2012 Permalink | Balas  

    Istikamah Menjalankan Amalan Kecil 

    Istikamah Menjalankan Amalan Kecil

    Baiknya amal perbuatan itu, sebagai dari hasil baiknya budi dan hati, dan baiknya hati adalah hasil dari kesungguhan menjalankan perintah Allah, yaitu tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh-Nya (Ibnu Atha’ilah).

    Baiknya amal sangat tergantung dari baiknya hati, dan baiknya hati sangat tergantung dari istikamahnya diri untuk selalu dekat dengan Allah. Demikian kiranya maksud pernyataan Imam Ibnu Atha’ilah tersebut.

    Saudaraku, istikamah dalam kebaikan adalah hal penting dalam hidup. Sebab, sebuah amal yang dilakukan secara istikamah, walaupun kecil, perlahan tapi pasti akan mendekatkan kita kepada Allah. Karena itu, tidak ada amal kecil menurut pandangan Allah. Yang menentukan besar kecilnya sebuah amal adalah keikhlasan hati saat melakukannya.

    Ada sebuah kisah tentang Imam Al Ghazali. Suatu malam Hujjatul Islam ini bermimpi berada di Hari Perhitungan. Dari sekian banyak amalnya, ada satu amal yang sangat disukai Allah melebihi amal-amal lainnya. Ternyata bukan shalat, puasa, bukan karya-karya besarnya, atau hafalan Alqurannya, namun karena keikhlasannya menolong seekor lalat.

    Ceritanya, saat ia sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat jatuh ke dalam tinta. Segera saja Imam Al Ghazali mengambil lalat itu, membersihkan tinta dari tubuhnya, lalu melepaskannya.

    Kisah ini tentunya jangan sampai mengecilkan arti ibadah, menuntut dan menyebarkan ilmu, atau berjihad di jalan Allah. Kisah ini semata-mata menunjukkan betapa sesuatu yang kita anggap remeh bisa bernilai istimewa di sisi Allah.

    Karena itu, orang ikhlas tidak pusing memikirkan besar kecilnya amal. Yang ia pikirkan adalah bagaimana agar amal tersebut diterima Allah dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia.

    Sejatinya, tidak ada sesuatu yang besar di dunia ini tanpa kehadiran yang kecil. Semua yang besar tersusun dari hal-hal kecil. Buku misalnya. Ia adalah kumpulan bab; bab adalah kumpulan paragraf; paragraf adalah kumpulan kalimat; kalimat adalah kumpulan kata; kata adalah kumpulan huruf; dan huruf adalah kumpulan titik. Maka setebal apapun buku, hakikatnya adalah kumpulan dari titik.

    Demikian pula dengan kesalehan dan kemuliaan akhlak. Ia adalah kumpulan dari amal kebaikan yang dilakukan terus-menurus dengan penuh keikhlasan. Seseorang dianggap ahli tahajud bila setiap malam ia istikamah menjalankannya.

    Sebaliknya, kita sulit menyebutnya ahli tahajud bila ia hanya sekali dua kali melakukan tahajud. Intinya, akhlak mulai lahir dari kebiasaan, kebiasaan lahir konsistensi kita menjalankan sebuah amal, walau amal itu kita dianggap ringan dan kecil.

    Bila yang besar itu bentukan yang kecil, maka kita jangan sekali-kali menyepelekan yang kecil. Sebaliknya, kita harus membiasakan diri melakukan hal-hal kecil secara istikamah, selain menjalankan perintah-perintah yang wajib.

    Senyum dengan tulus adalah hal kecil yang nilai kebaikannya luar biasa. Termasuk pula memungut sampah, membersihkan kamar mandi, mengongkosi teman, berbagi makanan, meminjamkan buku, menengok orang sakit, memaafkan yang bersalah, bersedekah, mau mendengarkan, ucapan yang baik, dsb. Andai kita istikamah (konsisten) melakukannya, jangan heran bila Allah akan mengangkat derajat kita di hadapan manusia lain.

    Ada baiknya kita mulai membuat program untuk membiasakan diri melakukan hal-hal kecil bernilai ibadah. Saat bangun tidur misalnya, istikamahlah berzikir, membersihkan tempat tidur, membersihkan diri, berwudhu, menyapa atau tersenyum manis kepada anak dan pasangan kita. Atau saat berjumpa orang lain, dahulukan diri untuk tersenyum, mengucapkan salam, menyapa dengan penuh kesopanan. Saat hendak beraktivitas dahului dengan membaca basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah. Ketika hendak tidur, kita bisa mengawalinya dengan berwudhu, shalat witir, dzikir, atau membebaskan pikiran dari kedengkian dan kebencian terhadap orang lain.

    Saudaraku, terus dan teruslah melakukan amal-amal kecil. Insya Allah, dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah akan mengaruniakan kita kemuliaan akhlak. Amin.

    KH Abdullah Gymnastiar

    ***

    Sumber :Republika Online

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 19 September 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Kagum 

    Jangan Kagum

    Perasaan kagum kepada sesuatu hal adalah sesuatu yang sah-sah saja. Apalagi, kalau rasa kagum itu menjadi sebuah motivasi untuk lebih bersemangat lagi dalam mencapai sesuatu hal yang dikaguminya itu. Seperti halnya kita merasa kagum kepada orang yang shalatnya selalu tepat waktu, padahal orang itu sangat sibuk sekali dengan pekerjaanya. Atau kita pun merasa kagum kepada orang-orang besar yang dikenal dalam catatan sejarah. Ujian, cobaan, dan bencana mereka hadapi seperti kucuran air hujan atau hembusan angin. Dan, kita juga tahu bahwa dibarisan paling depan dari mereka adalah pemimpin semua makhluk, Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanannya menuju Madinah, dia bersembunyi didalam gua bersama sahabatnya, Abu Bakar ra. Pada saat musuh sudah mendekati mereka, ia berkata kepada sahabatnya itu,

    “Jangan kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah (9): 40).

    Subhanallah…, Allahu Akbar… Kita tahu, bahwa Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin yang paling sempurna, sehingga jarang sekali melakukan kesalahan. Orang pun menjadi kagum dan percaya kepada beliau. Walau demikian, tatkala melakukan kekeliruan, Rasul berbesar hati untuk mengakuinya. Beliau pun tidak segan-segan menuruti nasihat para sahabatnya bila memang pendapatnya dianggap lebih baik. Dan ini merupakan salah satu bukti dari sekian banyak kisah Rasulullah SAW yang membuat kita kagum kepadanya.

    Maka, kita pun termotivasi oleh orang-orang yang kita kagumi itu, sehingga diri kita tergerak untuk mengikuti langkah mereka dan berupaya untuk lebih baik lagi dari mereka. Tetapi, yang jadi masalah adalah kalau kekaguman kepada orang atau sesuatu hal itu berlebihan, sehingga menimbulkan fanatisme buta. Yaitu, sikap fanatik dan melampaui batas terhadap pendapat atau tokoh tertentu. Fanatisme ini dapat menghalangi seseorang untuk mengikuti kebenaran. Karena terlalu kagum dengan tokoh, madzhab, organisasi atau kelompok, sehingga orang itu bisa mengabaikan Al-Qur’an dan sunah.

    Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang memperhatikan dengan kagum Basyar As-Sulaimi yang sedang shalat dengan khusyu’ Ketika Basyar selesai shalat, ia berkata pada laki-laki tersebut:

    “Janganlah kamu kagum dan tertipu melihat ibadah saya. Saya khawatir, karena sesungguhnya Iblis laknatullah telah menyembah Allah selama bertahun-tahun kemudian dia durhaka seperti keadannya sekarang.” (Hilyatul Aulia, 6/241/Tarbawi Edisi 28 Th.3 hal.14)

    Dan, didalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman mengenai wanita-wanita yang kagum kepada keelokan paras Nabi Yusuf as. dan menjadi celaka karena kekagumannya itu, sebagaimana firman-Nya :

    “Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”. (QS. Yusuf (12): 31)

    Sebuah fakta mengatakan bahwa, dulu Indonesia sempat kagum (ujub) dengan kemajuan ekonomi, tapi ternyata membuat orang-orangnya takabur, hingga terpuruk seperti sekarang ini. Maka, janganlah berlebihan dalam mengungkapkan perasaan kagum kita kepada sesuatu hal atau kepada diri kita sendiri sekalipun, sebab, kekaguman pada diri sendiri (ujub) adalah pangkal kesombongan. Allah SWT berfirman,

    “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya dimuka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS. Al-A’raf (7): 146)

    Ali bin Abi Thalib ra., berkata: “Janganlah sekali-kali engkau menyaingi Allah dalam keagungan-Nya dan menyerupai-Nya dalam kesombongan-Nya. Sebab, sesungguhnya Allah menghinakan setiap orang yang angkuh dan merendahkan setiap orang yang sombong.”

    Oleh karena itu, agar dapat menghilangkan sifat sombong dan memiliki akhlaq tawadhu, maka kita harus sering merenungkan nikmat yang Allah berikan kepada kita dan juga dengan merenungkan manfaat tawadhu dan kerugian sombong, mencontoh akhlaq orang-orang sholeh terdahulu yang tawadhu dan banyak berteman dengan orang-orang yang tawadhu dan juga tidak lupa bermohon kepada Allah untuk selalu berbuat baik. Sebab, kebaikan itu sangat mudah dilakukan oleh siapa saja yang oleh Allah dimudahkan untuk melakukannya. Allah memiliki simpanan kebaikan yang banyak sekali, yang akan dikaruniakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan, Allah juga mengalirkan keutamaan, kepada orang-orang yang baik yang senang melakukan kebaikan.

    Sahabat-sahabat sekalian, mudah-mudahan kita termasuk orang yang akan dikaruniakan kebaikan, sehingga kita menjadi orang yang mudah melakukan kebaikan. Dan, mudah-mudahan kita juga tidak termasuk orang-orang yang suka mengeluarkan perasaan kagum yang berlebihan, sehingga kita tidak tergolong dalam orang yang fanatisme buta yang justru akan menyesatkan kita semua. Nauzubillahimindzalik

    Wallahu A’lam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 18 September 2012 Permalink | Balas  

    Kenali Rambu-Rambu Pembatas Lintasan Hati 

    Kenali Rambu-Rambu Pembatas Lintasan Hati

    Prasangka memang hanya lintasan hati. Karenanya, berprasangka sebenarnya manusiawi. Tak ada orang yang mampu meredam atau menahan yang namanya lintasan hati. Tak ada orang yang tak pernah memiliki prasangka buruk terhadap orang lain. Tak seorang pun bisa menghilangkan lintasan hatinya. Itu sebabnya , para sahabat mengajukan keberatannya kepada Rasulullah saat turun ayat, “Dan bila engkau menampakkan apa yang ada dalam hatimu, atau engkau menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan itu.” (QS. Al-Baqarah: 284) Para sahabat yakin tak mampu melawan lintasan hatinya, jika itu termasuk hitungan amal mereka. Akhirnya Allah menurunkan ayat selanjutnya, “Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sebatas kemampuannya.”

    Imam Al-Ghazali mengurai penjelasan buruk sangka dalam satu sub tema tentang ghibah, membicarakn keburukan orang lain. Menurutnya buruk sangka tak lain adalah ghibah bathiniyah (membicarakan keburukan orang lain dengan hati). “Sebagaimana Anda diharamkan untuk menyebut keburukan orang lain, maka demikian juga Anda diharamkan untuk berburuk sangka pada saudara Anda.” Demikian kata Imam Al-Ghazali. Apa yang harus dilakukan agar bisa menghindari bahya buruk sangka?

    Pertama, tumbuhkan empati kepada orang yang menjadi objek buruk sangka. Rasakan lah bila objek buruk sangka itu diri Anda sendiri yang sangat mungkin mengalami banyak kekurangan. Tips ini sama dengan apa yang dianjurkan Imam Al-Ghazali, ketika ia membahas masalah ghibah.

    Untuk menghindari ghiban, menurut Imam Al-Ghazali, salah satunya dengan merasakan bagaimana bila yang menjadi objek pembicaraan itu adalah diri sendiri. Bila kita senang mendengarkannya, maka teruskanlah bicara. Tapi bila tidak, maka jauhilah pembicaraan negatif itu. Sama dengan kondisi ghibah dalam hati, cara menghindarinya dengan membandingkan kondisi kita dengan kondisi orang yang menjadi objek prasangka.

    Kedua, teliti dari mana sumber perasaan negatif, atau buruk sangka itu muncul. Bila ia datang dari informasi seseorang, langkah yang paling baik adalah melakukan pertanyaan lebih detail tentang asal-usul berita miring itu. Apakah nara sumber berita itu benar-benar mengetahui secara autentik tentang kejasian yang memunculkan prasangka itu? Atau bisa juga ditanyakan langsung kepada yang bersangkutan tentang benar tidaknya berita negatif tersebut. Bila Anda merasakan bahwa informasi itu belum tentu benar, berupayalah menghapuskan memori informasi itu dari pikiran Anda.

    Ada riwayat hadits menari yang disampaikan oleh Imam Ahmad dengan sanad shahih. Suatu ketika ada seorang lelaki melewati suatu kaum yang sedang berada dalam sebuah majlis. Orang laki-laki itu mengucapkan salam, mereka pun menjawab ucapan salam tersebut. Tapi tak berapa jauh orang itu pergi, salah seorang dari majlis itu berkata, “Sesungguhnya aku membenci orang itu karena Allah.” Orang yang mendengar perkataan itu terkejut dan mengatakan, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan. Demi Allah aku akan ajukan perkataan ini pada Rasulullah.”

    Orang yang telah lewat itu kemudian dipertemukan oleh Rasulullah dengan orang yang memiliki prasangka buruk itu. “Mengapa kamu membencinya?” tanya Rasul. “Aku tetangganya, dan mengenalnya. Demi Allah aku tidak pernah melihatnya melakukan shalat kecuali yang diwajibkan,” katanya. Orang itu berkata, “Tanyalah wahai Rasulullah, apakah ia pernah melihatku mengakhirkan shalat di luar waktunya atau aku pernah salah berwudhu, ruku’ atau sujud?” Orang yang berprasangka buruk itu mengatakan, “Tidak.” Kemudian ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak pernah melihatnya berpuasa sebulan kecuali pada bulan yang dipuasai oleh orang baik dan durhaka.” Orang yang dituduh itu mengatakan,“ Tanyakan wahai Rasulullah, “Apakah dia pernah melihatku tidak pusa pada bulan Ramadhan, atau aku mengurangi haknya?” Orang itu pun menjawab, “Tidak.”

    Tapi ia masih menambahkan lagi alasan kebenciannya. “Demi Allah aku belum pernah melihatnya memberi orang yang meminta-minta atau orang miskin sama sekali, aku juga tidak pernah melihatnya menginfakkan sesuatu dijalan Allah kecuali zakat yang juga dilakukan oleh orang yang baik dan durhaka,” katanya. Orang yang dituduh itu mengatakan, “Tanyakan padanya ya Rasulullah, apakah aku pernah mengurangi zakat ataukah aku pernah mendzalimi pemungut zakat yang memintanya?” Orang itu menjawab, “Tidak”  Akhirnya Rasulullah berkata pada orang yang melontarkan kebencian tanpa alasan yang jelas itu. “Pergilah, barangkali dia lebih baik daripada dirimu,” Ujar Rasulullah.

    Ketiga, bila sumber informasi itu muncul dari dalam hati sendiri tanpa sebab-sebab yang jelas, kecuali sekedar penampilan lahir atau kecurigaan belaka. Beristighfar dan mohon ampunlah kepada Allah SWT. , atas kekeliruan lintasan hati negatif itu. “Seseorang tidak boleh meyakini keburukan orang lain kecuali bila telah nyata dan tidak dapat diartikan dengan hal lain kecuali hanya dengan keburukan,” nasihat Imam Al-Ghazali.

    Beliau mencontohkan bila seseorang mencium bau minuman khamr dari mulut seseorang, ia masih belum boleh memastikan bahwa ia telah meminum khamr, karena masih ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa ia telah minum khamr, karena masih ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa dia berkumur-kumur saja dan tidak meminumnya, atau mungkin dia dipaksa meminumnya.

    Menurut Imam Al-Ghazali, sesuatu yang tidak disaksikan dengan mata kepala dan tidak didengar dengan telinga sendiri, tapi muncul didalam hati, maka itu tidak lain merupakan bisikan setan yang harus ditolak, karena syetan adalah makhluk yang fasik. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakkan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya.” (QS. Al-Hujaimah: 6)

    Keempat, sadarilah bahwa lahiriah seseorang tidak selalu identik dengan batinnya. Islam sama sekali tidak mengajarkan penilaian seseorang dari aspek lahirnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh kalian, tapi melihat pada hati kalian.”

    Dalam hadits yang shahih yang lain disebutkan pula bagaimana Rasulullah menggambarkan bahwa kondisi orang yang secara lahiriyah kurang baik, berdebu, rambutnya kumal, dan banyak dipandang hina oleh seseorang, tapi orang tersebut adalah yang paling didengar doanya oleh Allah SWT. Sebaliknya, orang yang bersih, dan menarik penampilan lahirioyahnya, ternyata orang itulah yang memiliki penilaiantidak baik dimata Allah SWT.

    Naif sekali, merasa curioga dan buruk sangka karena alasan lahir. Allah SWT bahkan menjelaskan bahwa diantara orang munafik biasanya memiliki penampilan yang memukau. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.” (QS. Al-Munafikun: 4)

    Kelima, terimalah fakta bahwa setiap orang pasti telah lepas kontrol sesekali. Tidak perlu mengembangkan perasaan dan dugaan terlalu besar dengan sesuatu kesalahan yang dilakukan seseorang. Kesalahan itu adalah sesuatu hal yang lumrah bagi manusia. Karenanya coba arahkan perhatian itu pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Terlalu besar memperhatikan kesalahan orang lain, merupakan menjadi sebab seseorang menjadi mudah mencurigai dan berburuk sangka. Ingatlah prinsip yang diajarkan Rasulullah Saw. Berbahagialah orang yang disibukkan oleh aib dan kesalahan dirinya, ketimbang sibuk oleh aib dan kesalahan orang lain.

    Keenam, salah satu pemicu buruk sangka, prasangka adalah rasa was-was atau beyangan ketakutan yang akan kita terima akibat pihak tertentu. Untuk mengatasinya, tumbuhkan keyakinan kuat bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas seluruh gerak-gerik hamba-Nya. Apa saja yang terjadi merupakan kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Keyakinan ini akan memunculkan kepasrahan dan ketenangan, serta tidak mudah membayangkan risiko pahit yang belum tentu benarnya. Keyakinan ini juga yang akan mengusir perasaan was-was dan bayangan menakutkan yang tak jelas ujung pangkalnya.

    Ketujuh, untuk mematahkan gangguan syetan, terapi yang paling penting adalah dengan dzikir kepada Allah SWT dan berusaha memperbanyak amal-amal ketaatan. Keduanya akan sangat menciptakan suasana hati yang hidup, bersih dan jernih. Hal ini lebih jauh akan menumbuhkan kualitas iman yang semakin tidak mudah bagi syetan untuk bersemayam didalam hati. Disinilah, seseorang akan mendapat cahaya Allah SWT sehingga pandangannya akan mengarah pada firasay yang benar, takutlah dari firasat seorang mukmin karena ia melihat dengan Nur Allah (HR. Turmudzi)

    Kedelapan, mintakan ampun kepada orang yang menjadi objek prasangka tanpa alasan yang jelas. itu adalah salah satu kafarat ghibah yang disebutkan Imam Al-Ghazali ra. Menurutnya, doa tersebut dapat menjengkelkan syetan sehingga syetan tidak bisa memasukan lintasan negatif atas seseorang . Prasangka, menurutnya sama dengan ghibah dalam hati. Maka, tebusannya antara lain dengan memohon ampunan kepada Allah atas saudara yang dicurigai itu.[]

    ***

    Majalah Tarbawi, Edisi 17 Th.2/28 Pebruari 2001

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 10 September 2012 Permalink | Balas  

    Mengingat Mati 

    Mengingat Mati

    Satu hal yang harus senantiasa diingat oleh setiap diri adalah ‘kematian E Allah telah menjadikan kematian sebagai satu perkara yang harus melekat dalam hati seorang Mukmin. Hakikat hidup adalah menanti kematian, bukan menghindarkannya. Allah SWT. telah menjelaskan fakta ini lewat firman-Nya, “Setiap jiwa merasakan kematian, kemudian kepada Kami kalian akan dikembalikan.” (Qs. Al-‘Ankabût [29]: 57).

    Kematian itu ibarat gelas, setiap orang pasti akan merasakannya. Atau, kematian itu laksana pintu, setiap orang akan memasukinya. Kematian adalah syarat bertemu dengan Allah. Oleh sebab itu, seorang Muslim sejati tidak pernah menganggap kematian sebagai kematian. Ia hanya transit: dari dunia menuju akhirat. Dari kematian sementara menuju kehidupan hakiki: kampung akhirat. Ia hanya merupakan titik akhir dari perjalanan seorang manusia di dunia.

    Bagi orang-orang kafir, kematian ‘tidak pernah ada E karena menurut mereka dunia ini lah segalanya. Mereka bahkan membantah adanya hari ‘kebangkitan’ Allah menjelaskan sikap ingkar mereka ini, “Dan tentu mereka akan mengatakan: “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan sekali-kali kita tidak akan dibangkitkan.” (Qs. Al-An‘âm [6]: 29).

    Lebih tegas Allah menjelaskan, “Dan seandainya kalian melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentu kalian melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: “Bukankah kebangkitan ini benar?” Mereka menjawab: “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Allah berfirman: “Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kalian mengingkari (nya).” (Qs. Al-An‘âm [6]: 31).

    Tapi tidak bagi seorang Mukmin. Mereka benar-benar yakin dengan adanya kebangkitan. Dan kebangkitan itu pasti terjadi dan diawali dengan kematian. Orang yang mengingkari kebangkitan adalah orang-orang yang sangat merugi, karena benar adanya. “Sungguh telah merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas pungung mereka. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (Qs. Al-An‘âm [6]: 31).

    Maut adalah pemutus segalanya. Ia disebut oleh Kanjeng Nabi SAW. sebagai hâdim al-ladzdzât, pemutus segala bentuk kenikmatan. Orang yang mati tidak lagi bisa merasakan nikmatnya teh manis di pagi hari, atau kopi di malam hari. Ia juga tidak bisa merasakan bagaimana nikmatnya berkumpul dengan istri dan anak-anak; dengan orangtua dan tetangga. Atau, dia tidak bisa lagi menikmati keindahan dan panorama alam yang telah didesain oleh Allah sedemikian indahnya. Semuanya putus oleh “maut”.

    Orang yang berakal adalah yang mengerti kewajibannya di dunia ini. Ia tidak akan lama. Hanya ‘Mampir Ngombe’ kata orang Jawa. Ia laksana musafir yang berteduh di sebuah pohon yang rindang bernama dunia, setelah itu ia akan meninggalkannya. Tempatnya yang hakiki bukan di sini, tapi di ‘kampung akhirat’

    Kewajiban orang yang berakal, kata Ibnu al-Jauzy, adalah yang mempersiapkan diri untuk kematiannya.. Karena, menurut beliau, ia tidak tahu kapan kematian dari Tuhannya datang, dan tidak tahu kapan akan dipanggil? Saya melihat kebanyakan manusia telah tertipu oleh masa muda. Mereka lupa bahwa mereka akan meninggalkan teman-temannya dan dilalaikan oleh panjang angan-angan (thûl al-’amal). Mungkin seorang alim yang mukhlis akan berkata kepada dirinya: “Sibukkan dirimu dengan menuntut ilmu sekarang, kemudian beramallah dengan ilmu itu esok hari. Lalu ia berleha-leha dengan alasan ‘sedang rehat’ dan mengakhirkan persiapan untuk taubat. Dia tidak menghindarkan perbuatan gibah atau mendengarnya. Barangsiapa yang melakukan subhat (keraguan) dan berharap dapat menghapusnya dengan perbuatan wara’ dia telah lupa bahwa maut datang dengan tiba-tiba. Orang yang berakal adalah yang memberikan hak setiap kesempatan

    yang ada. Jika maut menemuinya dengan tiba-tiba, ia telah bersiap-siap dan jika dia telah memperolah apa yang diangan-angankanya, maka bertambah kebaikannya,” demikian catat ‘Allâmah Ibnu al-Jauzyi dalam Shayd al-Khâthir-nya.

    Bisa jadi kita termasuk orang yang berakal, sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnu al-Jauzy. Tetapi, bisa saja sebaliknya: kita adalah orang yang bodoh, tidak tahu kewajiban untuk menyambut maut ketika datang menjelang. Dunia hanyalah ‘sendau gurau’ tidak lebih. Tapi, sendau gurau ini ternyata banyak membuat kita ‘puyeng’ dan tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkraman dan jeratnya. Padahal, Allah telah menjelaskan dengan gamblang, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memikirkannya (memahaminya).” (Qs. Al-An‘âm [6]: 32).

    Bagi orang yang kaya raya, dunia bisa saja menjadi istana. Bagi si miskin, kemiskinannya bisa saja menjadikannya sebagai alat demonstrasi menentang tawakkal dan tidak sabar atas bagian yang diberikan Allah kepadanya. Lebih dari itu, kemiskinannya menjadikan dia lalai akan kematian. Bukankah kematian itu tidak pandang bulu. Ia akan datang kepada seorang presiden, tanpa minta izin. Ia juga bisa datang kepada pedagang asongan di stasiun kereta api tanpa belas kasihan. Ia akan menjelang orangtua yang sudah jompo dan juga kepada anak kecil, bahkan ketika masih menjadi janin di perut ibunya. Kematian itu ibarat buah kelapa. Ia bisa jatuh kapan saja. Sebelum jadi buah, ia bisa jatuh karena tersenggol lebah ketika menghisap madunya. Ketika muda, ia juga bisa jatuh. Dan ia bisa jatuh ketika sudah tua dan berminyak. Kita semua akan dihampiri oleh kematian. Allah SWT. telah memberikan warning agar kita tidak dilalaikan oleh kemegahan dunia.

    “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu), dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahannam. Dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘aynul yaqin’ kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu).” (Qs. Al-Takâtsur [102]: 1-8).

    Maka, kewajiban setiap individu Mukmin di duni ini adalah beramal saleh. Hari-hari yang telah lalu harus ia jadikan sebagai pijakan dan barometer untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Ia harus melakukan muhasabah diri. Sayyidina ‘Umar ra. memberikan teladan yang cukup baik dalam bermuhasabah, sehingga adagiumnya sangat terkenal.

    (Hisablah diri kalian, sebelum kalian dihisabEdi hari kiamatEdan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk menghadap Allah: “Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah) (Qs. Al-Hâqqah [69]: 18).

    Semoga amal kita semakin hari semakin baik, dan menjadikan kita benar-benar siap untuk menyambut kematian. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.

    ***

    Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi.

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 8 September 2012 Permalink | Balas  

    Tiga Tipe Manusia 

    Tiga Tipe Manusia

    “Berani hadapi tantangan menjadi manusia tipe malaikat, yang selalu mempercayai informasi akurat profesional yang akhirnya siap berubah dari detik per detik dalam menghadapi kehidupan?”

    Ada tiga tipe manusia dalam menghadapi persoalan kehidupan.

    Pertama, adalah manusia tipe malaikat, yaitu suatu tipe manusia yang mudah percaya dan segera bertindak selama data-datanya akurat dan profesional.

    Kedua, adalah manusia tipe manusia, yaitu suatu tipe manusia yang baru mau percaya setelah mengalami kejadian, walaupun sudah diberi bukti-bukti yang akurat.

    Ketiga, adalah manusia tipe setan, tetap saja tidak percaya walaupun sudah diberi bukti-bukti yang akurat dan sudah mengalami kejadian dari yang tidak dipercayai itu.

    Studi kasus sederhana, ketika zaman sekarang ekonomi sangat sulit, maka langkah efektif untuk menangani ekonomi kehidupan, bisa menggunakan dua pendekatan yaitu menghemat dan menambah penghasilan. Betapapun kecilnya penghasilan kita, tetap harus melakukan penghematan sekuat tenaga.

    Dan betapapun kecilnya peluang penghasilan tambahan kita, tetap harus berusaha melakukan penambahan penghasilan betapapun kecilnya. Kalau kasus ini diaplikasikan kepada tiga tipe manusia tadi, maka prilakunya akan sangat jauh berbeda.

    Manusia tipe pertama, yaitu manusia tipe malaikat.

    Manusia tipe ini, selalu percaya selama data-datanya akurat dan profesional. Sehingga dengan kondisi ekonomi yang sulit ini, prilaku-prilaku penghematan namun tidak pelit, selalu dilakukan dari detik per detik. Dan prilaku menambah penghasilan dari detik per detik juga selalu dilakukan tapi tetap menjaga agar tidak merugikan banyak orang.

    Manusia tipe kedua, yaitu manusia tipe manusia.

    Manusia tipe ini, memang percaya bahwa menghemat itu penting, namun tetap saja tidak mau menghemat, dan mau menghemat setelah dirinya dihadapkan pada kesulitan keuangan yang akut. Sehingga keinginan menghematnya, sudah tidak ada yang dihemat. Dan prilaku menambah penghasilan dari detik per detik juga tetap tidak dilakukan. Mereka akan melakukannya ketika keuangan sudah sangat menipis, sehingga tenaga untuk mengumpulkan uang saja sudah tidak ada.

    Manusia tipe ketiga, yaitu manusia tipe setan.

    Manusia tipe ini, adalah manusia yang selalu percaya terhadap informasi akurat dan profesional bahwa hidup harus menghemat, tidak pelit dan dapat menambah penghasilan yang tidak merugikan banyak orang. Namun kenyataan yang ada adalah tetap tidak menghemat, walaupun dirinya sudah kekurangan keuangan akut dan tetap tidak ada keinginan menambah penghasilan detik per detik, walaupun peluang sangat terbuka lebar di depan mata.

    Manusia tipe ini, lebih senang boros dan membeli banyak hal bukan karena kebutuhan tetapi karena keinginan belaka, walaupun uang yang diboroskan dari hasil menengadahkan tangannya yang kokoh itu, agar mendapatkan belas kasihan banyak orang.

    Setiap diri kita, berhak menentukan pilihannya sendiri. Namun, berhati-hatilah salah memilih pilihannya sendiri. Kalau memilih manusia tipe malaikat, berarti menjadi manusia siap berubah. Memilih manusia tipe manusia, berarti mau berubah setelah mengalami kejadian. Sedangkan memilih manusia tipe setan, berarti tetap tidak mau berubah, walaupun informasi manajerial kehidupan setiap detik selalu didapatkan.

    Berani hadapi tantangan menjadi manusia tipe malaikat, yang selalu mempercayai informasi akurat profesional yang akhirnya siap berubah dari detik per detik dalam menghadapi kehidupan? Atau tetap bertahan menjadi manusia tipe setan, selalu banyak informasi akurat untuk kemajuan dirinya, namun tetap saja tidak mau berubah. Bagaimana pendapat sahabat !!!

    ***

    Oleh : Masrukhul Amri, Knowledge Entrepreneur

     
  • erva kurniawan 8:30 am on 31 August 2012 Permalink | Balas  

    Meraih Keberkahan dalam Makanan 

    Meraih Keberkahan dalam Makanan

    Ada satu doa hampir semua orang hapal, termasuk anak-anak TPA. Yaitu doa sebelum makan, “Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaabannaar.” Artinya, “Ya Allah berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa neraka” (HR Ibnu As-Sani).

    Inti dari doa ini adalah “memohon keberkahan” dari rezeki yang telah Allah karuniakan, sehingga kita terpelihara dari keburukan (terutama dari siksa neraka). Andai kita mampu menyelami makna berkah dan mampu mengaplikasikan dalam tataran praktis, maka akan efek yang luar biasa dalam hidup.

    Konsep berkah

    Kata “berkah” berasal dari kata kerja baraka. Kata ini, menurut Ar-Raghib Al-Asfahani, seorang pakar bahasa Alquran, dari segi bahasa, mengacu kepada arti al-luzum (kelaziman), dan juga berarti al-tsubut (ketetapan atau keberadaan), dan tsubut al-khayr al-ilahy (adanya kebaikan Tuhan). Senada dengan Al-Asfahani, Lewis Ma’luf, juga mengartikan kata baraka dengan arti “menetap pada sesuatu tempat”. Dari arti ini, muncul istilah birkah, yaitu tempat air pada kamar mandi. Tempat air tersebut dinamakan birkah karena ia menampung air, sehingga air dapat menetap atau tertampung di dalamnya.

    Dari kata al-birkah inilah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengartikan berkah sebagai “kebaikan yang banyak dan tetap” atau “tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu”. Hampir senada dengan Al-Utsaimin, Ibnul Qayyim memaknai berkah sebagai “kenikmatan dan tambahan”.

    Ketika hendak makan, kita memohon agar rezeki yang kita nikmati diberkahi Allah SWT. Apa artinya? Kita makan bukan sekadar mengobati rasa lapar dan memenuhi selera semata, tapi juga untuk menjaga ketaatan kepada Allah SWT. Dengan makan itu kita berharap bisa konsisten dalam ketakwaan.

    Karena itu, agar berkah, maka makanan yang kita konsumsi harus memenuhi standar-standar yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Setidaknya ada dua syarat. Yaitu halal dan thayyib (baik), serta memperhatikan adab-adab yang dicontohkan Rasul SAW.

    Halal dan Thayyib Dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 168, Allah SWT berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

    Ayat ini memberi penekanan agar setiap manusia hanya mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib (baik). Halal dapat diartikan dibolehkannya sesuatu oleh Allah SWT berdasar suatu prinsip yang sesuai dengan aturan-Nya. Sehingga makna halal dalam ayat ini menyiratkan pentingnya semangat spiritual dalam memperoleh dan mengonsumsi makanan.

    Para ahli fuqaha membagi halal ini ke dalam dua bagian, yaitu halal secara dzat-nya dan halal secara perolehan. Makanan yang haram secara dzat-nya adalah bangkai (binatang yang menghembuskan nyawanya tanpa disembelih secara sah, kecuali ikan dan belalang), khamr, babi dan turunannya, binatang buas (bertaring), binatang pemakan kotoran, darah yang mengalir, dan sebagainya. (QS Al-Baqarah [2]: 173).

    Ada pula jenis yang haram bukan karena dzat-nya, tapi karena diperoleh dengan cara haram, atau ditujukan untuk perbuatan haram. Haram jenis kedua ini lebih luas lagi cakupannya, lebih sulit menghindarinya, sering tersamarkan, konsekuensi yang ditimbulkannya pun lebih berat.

    Setidaknya ada beberapa hal yang bisa membuat makanan yang kita makanan berubah statusnya dari halal menjadi haram.

    1. Makanan hasil riba (QS Al-Baqarah [2]: 275-276; 278-280)
    2. Memakan harta anak yatim secara batil (QS Al-Baqarah [2]: 220; QS An-Nisaa’ [4]: 10). Memakan harta anak yatim termasuk satu dari tujuh dosa besar yang membinasakan (HR Bukhari Muslim).
    3. Makanan yang didapatkan dengan cara batil (mengeksploitasi dan memeras serta merugikan, termasuk harta hasil KKN, merampok, mencuri) (QS An-Nisaa’ [4]: 29; QS Al-Baqarah [2]: 188; QS Al-Maidah [5]: 38)
    4. Memalsu dan mengurangi timbangan (QS Al-Muthaffifin [83]: 1-3)
    5. Harta hasil perbuatan tidak pantas, seperti hasil pornografi, pornoaksi, dan pelacuran (QS An-Nur [24]: 19)
    6. Harta hasil berkhianat/curang (QS Ali Imran [3]: 161, QS An-Nisaa’ [4]: 58; QS Al-Anfaal [8]: 27)
    7. Harta yang ditimbun (QS Al-Humazah [104]: 1-4, QS At-Taubah [9]: 34)

    Bila konsep halal lebih bernuansa “ukhrawi”, maka konsep thayyib lebih bersifat “duniawi”. Dalam arti lebih menyentuh unsur dzatnya. Thayyib ini harus memenuhi standar gizi serta proporsional (baik, seimbang dan sesuai untuk kesehatan tubuh). Sebab, baik menurut A belum tentu baik menurut B. Baik bagi bayi belum tentu baik menurut orang dewasa. Baik menurut orang sakit belum tentu baik menurut orang sehat.

    Sesungguhnya, kita akan mendapatkan kebaikan berlimpah bila makanan yang kita konsumsi terjamin kehalalannya, serta memenuhi standar gizi dan proporsional bagi tubuh. “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah [2]: 172)

    Adab-Adab terhadap Makanan Rasulullah SAW mencontohkan serangkaian adab berkait dengan makan. Di antaranya, tidak berlebihan (israf), memulai dengan doa dan ucapan basmalah, dan mengakhirinya dengan doa pula, tidak mencela makanan, menggunakan tangan kanan, sambil duduk, serta tidak tergesa-gesa.

    Selain itu, beliau pun menyebut pula beberapa keadaan yang diberkahi. Antara lain, makan bersama dan dimulai dari pinggir, serta menjilat jari (setelah makan). Rasulullah SAW bersabda, “Berkumpullah kalian menikmati makanan dan sebutlah nama Allah, kalian akan diberkahi padanya” (HR Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah). Dalam hadits lain disabdakan pula, “Barakah itu akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir dan jangan dari tengah” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Rasul pun memerintahkan untuk menjilat jari karena kita tidak tahu mana di antara makanan itu yang mengandung berkah (HR Bukhari).

    Dengan memperhatikan standar makanan yang dicontohkan Rasulullah SAW, insya Allah setiap suapan nasi atau tegukan minuman, akan membawa kebaikan bagi kita di dunia dan akhirat. Karena itu, setelah selesai makanan, kita diperintahkan untuk memuji Allah SWT. Alhamdu lillaahilladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa Muslimiin”. Artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami Muslim” (HR Abu Daud). (tri)

    Wallaahu a’lam.

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 25 August 2012 Permalink | Balas  

    Hancurkan Dinding Ego Kalian 

    Hancurkan Dinding Ego Kalian

    Bismillah hirRohman nirRohim

    Armageddon akan terjadi, bukan karena Allah SWT; tetapi karena ego kalian, yang tidak pernah puas.  Satu kata dari Rasulullah sallAllahu  alaihi wassalam memperjelas semua situasi sekarang yang kita hadapi, “Aku berlindung kepada Allah dari pengetahuan yang tidak membawa manfaat kepada orang yang bersangkutan, atau bagi kemanusiaan.  Aku juga berlindung kepada Allah dari kejahatan ego yang hanya menginginkan kesenangan dan kenikmatan fisik, tidak ada yang lain.”  Semoga Allah mengampuni kita.  Kata-kata doa ini adalah sesuatu yang penting.

    Oleh sebab itu, Rasulullah saw bersabda, “Aku datang untuk menghilangkan karakteristik buruk ego manusia.  Aku datang untuk menyandangkan kalian dengan kualitas terbaik, nilai terbaik, pakaian terbaik kalian, sehingga kalian akan berada di Hadirat Ilahi dengan Pakaian Ilahi yang terbaik dan paling berharga.”

    Nilai-nilai tersebut adalah pakaian terbaik bagi kalian. Jika kalian tidak mengenakan pakaian itu, kalian akan diusir, karena ego kalian tidak pernah merasa cukup. Dan Neraka juga akan berkata, “Wahai Tuhanku, jika ada lebih banyak lagi, Aku mohon agar mereka dikirimkan kepadaku. Kirimkanlah padaku orang-orang dengan keinginan egonya, mereka akan temukan bahwa apa yang mereka inginkan ada pada levelku.”

    Setelah Revolusi Perancis, tembok besar yang mencegah orang untuk bersikap patuh menjadi hancur.  Jangan dikira bahwa itu semua terjadi demikian-bahwa mereka mendobrak pintu Bastille.  Itu adalah peristiwa simbolik  bahwa Setan membuka penjara Bastille untuk mengeluarkan semua orang yang tidak patuh, yang tidak pernah menundukkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.  Dan Kerajaan ini mewakili Kerajaan Allah di bumi.

    Dan sebagaimana disebutkan dalam semua Kitab Suci, bahwa setiap bangsa sejak awal hingga 1789 masing-masing mempunyai seorang Raja, orang-orang menundukkan kepala kepada mereka, bukannya mengangkat kepalanya, dan menunduk kepada Raja berarti secara tidak langsung patuh terhadap Tuhan Pemilik Surga. Tetapi ketika dinding pemisah antara rakyat dan Raja dihancurkan, semua orang yang tidak patuh, para pemberontak, kalajengking dan naga, semua orang liar yang telah dipenjara keluar.

    Juga beberapa filsuf, dan scientist yang bodoh, yang Atheis dan tidak percaya kepada adanya Tuhan Yang Mahakuasa. Mereka menulis banyak buku yang mendorong orang agar orang tidak patuh kepada siapa saja.  Apa yang mereka katakan adalah seperti ketika Allah swt menciptakan ego kita. Ketika Ego ditanya oleh Allah, siapakah engkau, maka Ego menjawab,”Engkau adalah engkau, dan Aku adalah aku,” begitu kata ego.

    Ego tidak pernah mau menunduk kepada Tuhannya dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Penciptaku, Tuhan Pemilik Surga.”  Dia tidak pernah mau menundukkan kepalanya di Hadirat Ilahi, sampai Allah  swr memerintahkannya untuk dikurung dalam api Neraka yang panas Selama 1000 tahun.  Tetapi dia tetap tidak datang dan menunduk.  Kemudian dia dipindahkan ke dalam Neraka yang dingin selama 1000 tahun pula, tetapi ego tetap masih belum mau menunduk kepada Tuhannya.  Sampai ego itu ditempatkan di lembah kelaparan selama 1000 tahun, barulah kemudian dia keluar dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.”  Itulah karakteristik utama dari ego kita-tidak mau menundukkan kepala di hadapan orang lain.

    Jika dia tidak menundukkan kepalanya di hadapan Allah swt, bagaimana dia mau menundukkan kepala dihadapan mahluk yang lain. Tidak akan!

    Demikianlah karena manusia sekarang tidak menghargai satu sama lain sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan mereka yang unik dan terkasih, maka merekapun tak mampu untuk bersikap toleran satu sama lain, apalagi untuk mampu menghargai mereka atau menjadi lebih akrab dengan mereka.

    “Dunia ini tak cukup besar untuk menampung kita berdua,” kata salah seorang kepada yang lainnya, apalagi satu bangsa atau negara kepada bangsa dan negara lainnya. Setiap orang berteriak lantang akan dirinya masing-masing demikian kerasnya untuk menekan eksistensi yang lain. Dan perilaku semacam ini membuat orang menjadi demikian berat pula, hingga bumipun hampir-hampir tak mampu lagi menampung keseluruhan ras manusia, bukan karena jumlah mereka tapi karena sikap dan perilaku mereka.

    Kita telah mencegah diri kita sendiri dari sikap menghargai orang lain dan mencari keakraban dengan mereka. Kita melihat mereka tidak sebagai wakil-wakil Tuhan kita yang tercinta di muka bumi ini, tapi sebagai ancaman-ancaman bagi diri kita sendiri. Dan merekapun, sebagai gantinya, melihat kita sebagai orang-orang yang berbahaya, dan menarik keakraban mereka dari diri kita. Karena itulah, sikap liar dan buas tengah berjangkit dan tumbuh secara cepat pada manusia, dan dari sifat liar inilah muncul kebekuan, kebencian dan kedengkian di antara manusia.

    Ego dan nafsu rendah kita telah membangun dinding-dinding di sekeliling kita. Dinding dan tembok Ego yang tak dapat ditembus. Hancurkanlah lebih dahulu tembok-tembok Ego kalian itu, agar kalian mampu menghargai orang lain dan mendekati mereka. Setelah kalian mampu mengahancurkan dinding Ego itu, maka kalian akan menemukan bahwa perasaan-perasaan yang tulus mulai mengalir dari kalbu kalian, dan kemudian sebagian besar orang akan mulai menunjukkan sikap yang lebih baik terhadap diri kalian.

    Tetapi, jika kalian suka bertengkar dan terkuasai oleh ego rendah kalian yang buruk dan serakah, maka  tak seorang pun mampu mendekatimu dan kalian pun tak mampu mendekati seorang pun kecuali dengan kekerasan. Ini adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Jadi, hal pertama yang harus diperbaiki adalah dirimu sendiri, untuk mengendalikan ego/nafsu rendahmu, agar diri kalian mampu untuk meberikan keakraban yang tulus pada semua orang.

    Jika kalian ingin menyelamatkan diri kalian secara fisik dan spiritual dan selamanya, maka ikutilah langkah para Awliya.  Kita begitu lemah untuk mengikuti langkah para Nabi dan Rasul, karena dibutuhkan Iman yang kuat sehingga kalian bisa berpijak di jalur yang benar dengan mantap.  Jika kalian tidak mempunyai ‘qadama sidqin’, kalian belum memiliki langkah yang benar, kalian tidak dapat melangkah di jalan yang benar, tidak bisa.

    Jalan yang benar menuntut langkah yang benar. Langkah yang benar dilakukan oleh kaki yang benar.  Kaki yang benar adalah milik hati yang benar, jika hati kalian tidak benar, dia tidak bisa memerintahkan kaki kalian untuk berpijak dengan benar.  Oleh sebab itu perhatikanlah-seseorang yang mempunyai langkah yang benar, ikutilah mereka.  Siapa pun dia, kalian boleh mengikutinya.  Jika tidak, maka kalian akan mengikuti langkah Setan dan siapa pun yang mengikuti Setan, dia akhirnya akan sampai ke Neraka.

    Wa min Allah at Tawfiq

    Wassalam

    ***

    Oleh: Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 24 August 2012 Permalink | Balas  

    Kunci Meraih Pertolongan Allah 

    Kunci Meraih Pertolongan Allah

    KH Abdullah Gymnastiar

    “Saat kau bermunajat, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkan-Nya. Niscaya rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu”.

    Abdullah bin Abbas pernah bercerita. “Suatu hari aku berjalan di belakang Rasulullah SAW. Saat itu beliau bersabda,

    ”Nak, kuajarkan kepadamu beberapa kata: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niascaya Dia akan senantiasa bersamamu. Bila kau minta, maka mintalah kepada Allah. Bila kau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua manusia bersatu untuk memberikan sebuah kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis untukmu. Jika semua manusia bersatu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan tinta telah kering”.

    Hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi ini diungkapkan pula dalam redaksi berbeda.

    “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah diwaktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan seiring dengan kesabaran, jalan keluar seiring dengan cobaan dan kemudahan seiring dengan kesulitan”.

    Saudaraku, redaksi hadis ini singkat, padat namun cakupan maknanya teramat dalam dan luas. Dalam hadis Rasulullah Saw. memberikan kunci-kunci bagaimana mendapatkan pertolongan Allah. Satu pesan utama hadis ini adalah “penghambaan” kepada Allah.

    Laa haula walaa quwwata illa billahil.

    Tiada daya maupun upaya selain atas kekuatan Allah. Saat kita menyadari kekerdilan diri di hadapan Allah, maka pertolongan Allah akan mendatangi kita. Bukankah kita makhluk lemah, sedangkan Allah Maha Menggenggam segalanya?

    Aa pernah bertanya kepada seorang guru, “Bagaimana caranya agar doa kita cepat dikabul oleh Allah?”.

    Beliau menjawab, “Saat kau berdoa, saat kau munajat, atau saat kau sujud, kecilkanlah dirimu sekecil-kecilnya di hadapan Allah, dan besarkanlah Allah sebesar-besarnya semampu kau membesarkannya. Niscaya rahmat dan pertolongan Allah akan mengalir kepadamu.”

    Jadi, kunci terpenting agar kita ditolong Allah adalah dengan sungguh-sungguh menghamba kepada-Nya.

    Saat kita ingin dimuliakan Allah, maka akuilah kehinaan kita di hadapan Allah.

    Saat kita ingin dilebihkan, maka akui kekurangan kita di hadapan Allah.

    Saat kita ingin dikuatkan Allah, maka akui kelemahan kita di selemah-lemahnya di hadapan Allah.

    Imam Ibnu Atha’ilah berkata, “Buktikan dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Akuilah kehinaanmu, niscaya Allah menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Akuilah kekuranganmu, niscaya Allah menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Akuilah kelemahanmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kekuatan-Nya.”

    Saudaraku, sekali lagi, kekuatan terbesar yang kita miliki bukanlah kekuatan fisik, intelektual, kekuasaan ataupun harta kekayaan. Kekuatan terbesar kita adalah “pertolongan Allah”.

    Pertolongan Allah ini sangat dipengaruhi kualitas keyakinan kita kepada-Nya. Kualitas keyakinan biasanya akan melahirkan kekuatan ruhiyah. Kekuatan ruhiyah akan melahirkan akhlakul karimah, seperti kualitas sabar, syukur, ikhlas, tawadhu, iffah, zuhud, qanaah, dsb. Karena itu, kemuliaan akhlak tergantung dari sejauh mana kita mengenal Allah.

    Wallaahu a’lam

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 23 August 2012 Permalink | Balas  

    Pernahkah Anda Berfikir 

    Pernahkah Anda Berfikir

    Pernahkah anda memikirkan bahwa anda tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini; dan anda telah diciptakan dari sebuah ketiadaan?

    Pernahkan anda berpikir bagaimana bunga yang setiap hari anda lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni?

    Pernahkan anda memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari anda, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya?

    Pernahkan anda berpikir bahwa lapisan luar dari buah-buahan seperti pisang, semangka, melon dan jeruk berfungsi sebagai pembungkus yang sangat berkualitas, yang membungkus daging buahnya sedemikian rupa sehingga rasa dan keharumannya tetap terjaga?

    Pernahkan anda berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika anda sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota anda hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja anda pun kehilangan segala sesuatu yang anda miliki di dunia ini?

    Pernahkan anda berpikir bahwa kehidupan anda berlalu dengan sangat cepat, anda pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan anda?

    Pernahkan anda memikirkan bahwa suatu hari nanti, malaikat maut yang diutus oleh Allah akan datang menjemput untuk membawa anda meninggalkan dunia ini?

    Jika demikian, pernahkan anda berpikir mengapa manusia demikian terbelenggu oleh kehidupan dunia yang sebentar lagi akan mereka tinggalkan dan yang seharusnya mereka jadikan sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat?

    Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.

    Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

    “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mngerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

    Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an:

    “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)

    “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minuun, 23:115)

    Oleh karena itu, yang paling pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian segala sesuatu yang ia lihat di alam sekitar serta segala kejadian atau peristiwa yang ia jumpai selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah ia mati. Yakni ketika ia mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah; namun sayang sudah terlambat.

    Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa pada hari penghisaban, tiap manusia akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan tersebut: “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS. Al-Fajr, 89:23-24)

    Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami kebenaran, akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan alasan inilah, Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya:

    “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (QS. Ar-Ruum, 30: 8)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 19 August 2012 Permalink | Balas  

    Adab Bertetangga 

    Adab Bertetangga

    Islam memerintahkan umatnya untuk bertetangga secara baik. Bahkan, saking seringnya Jibril mewasiatkan agar bertetangga dengan baik, Rasulullah pernah mengira tetangga termasuk ahli waris. Kata Rasulullah, seperti diriwayatkan oleh Aisyah, ”Jibril selalu mewasiatkan kepadaku tentang tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisinya.” (HR Bukhari-Muslim).

    Namun, ternyata waris atau warisan yang dimaksud Jibril adalah agar umat Islam selalu menjaga hubungan baik dengan sesama tetangga. Bertetangga dengan baik itu, termasuk menyebarkan salam ketika bertemu, menyapa, menanyakan kabarnya, menebar senyum, dan mengirimkan hadiah.

    Sabda Rasulullah SAW, ”Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.” (HR Muslim).

    Lihatlah, betapa ringan ajaran Rasulullah, namun dampaknya sangat luar biasa bagi kerukunan dan keharmonisan kita dalam bermasyarakat. Untuk memberi hadiah tidak harus berupa bingkisan mahal, tapi cukup memberi sayur yang sehari-hari kita masak. Untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga, Rasulullah juga memerintahkan untuk saling menenggang perasaan masing-masing.

    ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” kata Rasulullah, ”maka hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari).

    Suatu kali, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang dikenal rajin melaksanakan shalat, puasa, dan zakat, tapi ia juga sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah menegaskan, ”Pantasnya dia di dalam api neraka!” Kemudian, sahabat itu bertanya lagi mengenai seorang wanita lain yang dikenal sedikit melaksanakan shalat dan puasa, namun sering berinfak dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Jawab Rasulullah, ”Ia pantas masuk surga!” (HR Ahmad).

    Seorang wanita bersusah payah melaksanakan shalat wajib, bangun malam, menahan haus dan lapar, serta mengorbankan harta untuk berinfak, namun menjadi mubazir lantaran buruk dalam bertutur sapa dengan tetangganya.

    Rasulullah bersumpah terhadap orang yang berperilaku demikian, tiga kali, dengan sumpahnya, ”Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman …!” Sahabat bertanya, ”Siapa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Orang yang tetangganya tidak pernah merasa aman dari keburukan perilakunya.” (HR Bukhari).

    Suatu kali, Aisyah pernah bingung mengenai siapa di antara tentangganya yang harus diutamakan. Lalu, ia bertanya kepada Rasulullah, ”Ya Rasulullah, saya mempunyai dua orang tetangga, kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?” Beliau bersabda, ”Kepada yang paling dekat rumahnya.” (HR Bukhari).

    Rasulullah menjadikan akhlak kepada tetangga sebagai acuan penilaian kebaikan seseorang. Kata beliau, ”Sebaik-baik kawan di sisi Allah adalah yang paling baik (budi pekertinya) terhadap kawannya, sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.” (HR Tirmidzi).

    ***

    (Didik Hariyanto) sumber : Republika

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 18 August 2012 Permalink | Balas  

    ‘Idu’l-Fithri (Syawwal) 

    ‘Idu’l-Fithri (Syawwal)

    Diriwayatkan oleh Ibnu ‘I-Jauzi dengan sanad yang bersambung sampai kepada Abu Sa’id Al-Khudri Ra., bahwasanya dia berkata, Rasulullah Saww. memerintahkan kepada kita pada hari Raya Fithri untuk memberikan fitrahnya kepada orang-orang fakir di antara saudara-saudara kita. Dan Beliau juga bersabda: “Barangsiapa membayar fitrah kepada orang fakir, maka dia bebas dari neraka, dan barangsiapa membayar fitrah kepada dua orang fakir, maka dia ditetapkan Allah bebas dari syirik dan sifat munafik, dan barangsiapa membayar fitrah kepada tiga orang fakir, maka berhak baginya masuk kedalam surga, dan dijodohkan Allah dengan bidadari cantik yang jeli matanya”.

    Diriwayatkan dari Baihaqi yang bersumber dari Abdullah bin Abbas Ra., sebuah hadist marfu’ yang panjang sehingga Beliau bersabda: “Apabila tiba waktu pagi hari Raya Fithri, Allah mengutus Malaikat pada setiap negri, lalu mereka turun ke bumi dan berdiri pada mulut setiap jalan, kemudian menyeru dengan seruan yang dapat didengar oleh segenap makhluk, selain jin dan manusia: “Hai umat Muhammad Saww, keluarlah menuju Tuhan Yang Maha Pemurah. Dia memberikan pemberian yang besar dan mengampuni banyak dosa”, Apabila mereka telah tampak berada pada tempat shalatnya, maka Allah berfirman kepada malaikat: “Wahai Malaikat-Ku, apakah balasan buruh yang sudah mau bekerja?”, Malaikat menjawab: “Balasannya adalah disempurnakan upahnya”. Allah berfirman: “Aku mempersaksikan kepada kalian, wahai Malaikat-Ku, bahwasanya Aku telah menjadikan puasa Ramadhan mereka dan ibadah malam mereka menjadi keridaan dan ampunan-Ku”. Kemudian Allah berfirman lagi: “Mintalah kepada-Ku, maka demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada kalian meminta kepada-Ku pada hari ini, baik yang menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat melainkan Aku memberinya. Dan demi keperkasaan dan kemegahan-Ku, tiada Aku menghina dan membuka aib kalian, pulanglah kalian dalam keadaan terampuni dosa kalian! Kalian telah beramal demi menuntut keridhaan-Ku dan Aku telah ridha pula kepada kalian”. Maka, mendengar firman Allah itu, Malaikat merasa gembira dengan karunia yang telah diberikan kepada umat Muhammad Saww. Ini”.

    Nabi Saww. telah bersabda: “Man ahyaa laylata’l-‘iidi lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam Hari Raya (Idul Fithri dan Idul Adha), maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika semua hati manusia mati”.

    Didalam hadits riwayat Thabrani dan Ibnu Majah diterangkan: “Man ahyaa laylata’l fithri wa laylata’l adhhaa lam yamut qalbuhu yauma tamuutu’l quluubu. Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya Fithri dan malam hari Raya Adha, maka tidak akan mati hatinya pada hari ketika hati manusia seluruhnya menjadi mati.

    Mu’adz ra. berkata: “Man Ahyaal layaa li’l arba’a wa jabat lahul jannatu : Laylatal tarwiyati wa laylata ‘arafata wa laylatan nahri wa laylatal fithri. Barangsiapa menghidupkan waktu-waktu malam yang empat, maka berhak baginya masuk ke dalam surga, yaitu : malam Tarwiyah (8 Dzu’l-hijjah), malam ‘Arafah (9 Dzu’l-hijjah), malam Nahr/Idul Adha (10 Dzu’l-hijjah), dan malam Fitrah (1 Syawwal)”. (HR. Ibnu Asakir)

    Disunatkan pada Hari Raya untuk mengenakan pakaian yang paling baik dari yang dimiliki.

    Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad orang yang dapat dipercaya, bahwa sesungguhnya hari itu disebut hari raya hanyalah karena pada hari itu Allah Swt. mengulangi pemberian kesenangan dan kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya. Atau karena diucapkan kepada orang-orang Mu-min: “Kembalilah kerumah kalian dengan mendapatkan ampunan”. Di dalam hadits yang lain diterangkan, bahwa apabila tiba Hari Raya dan manusia keluar kelapangan (untuk melakukan shalat), maka Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, karena Aku kalian beribadah, dan karena Aku kalian shalat. Pulanglah dengan memperoleh ampunan daripada-Ku!”.

    Wahab bin Munabbih mengatakan, bahwa Allah menciptakan surga pada hari Raya Fithri, menanam pohon Thuba pada hari Raya Fithri, dan memilih Malaikat Jibril sebagai penyalur wahyu juga pada hari Raya Fithri.

    Kata Anas bin Malik ra.: “Orang yang beriman itu mempunyai lima Hari Raya: (1.) Tiap-tiap hari dia berjalan melewati orang yang beriman dan tidak dicatat padanya suatu dosa, maka itu adalah Hari Raya. (2.) Hari dia keluar dari dunia ya’ni mati dengan berbekal iman, syahadat dan benteng dari tipu daya setan, maka hari itu adalah Hari Raya. (3.) Hari dia menyebrang shirathal mustaqim/jembatan dan dia selamat dari resikonya hari Qiyamat serta selamat pula dari tangan para musuhnya dan dari Malaikat Zabaniyah, maka itu adalah Hari Raya. (4.) Hari dia masuk kedalam sorga dan selamat dari neraka Jahim, maka itu adalah Hari Raya. (5.) Hari dia bisa melihat Tuhannya, maka itu adalah Hari Raya. (Abul-Laits)

    Dari Wahab bin Munabbih bahwa dia berkata: “Beliau Nabi Saww. bersabda: “Sesungguhnya Iblis ‘alaihil la’nah itu berteriak pada tiap-tiap Hari Raya, maka para ahlinya/tentaranya sama berkumpul disekelilingnya sambil berkata: “Wahai baginda kami, siapakah yang menjadikan baginda murka, maka sungguh dia akan kami hancurkan!”. Iblis berkata: “Tidak ada sesuatu, akan tetapi Allah Swt. pada hari ini telah mengampuni umat ini. Maka kamu sekalian harus menyibukkan mereka dengan segala macam yang lezat-lezat, dengan syahwat dan dengan minum arak, sehingga Allah murka kepada mereka”. Maka bagi orang yang berakal hendaknya bisa menahan dirinya pada Hari Raya dari pada segala macam nafsu syahwat dan dari semua yang dilarang, bahkan supaya selalu bertaat.

    Oleh karena itu beliau Nabi Saww. bersabda: “Bersungguh-sungguhlah kamu sekalian pada Hari Raya Fithri dengan bersedekah dan amalan yang baik yang bagus daripada shalat, zakat, bertasbih (membaca Subhanallaahi) dan tahlil (membaca Laa Ilaaha Illallaahu), karena sesungguhnya hari ini Allah Swt. mengampuni semua dosa kamu sekalian, mengabulkan do’amu dan melihat kamu sekalian dengan kasih sayang”. (Durratul Waa’izdiina)

    Diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa barangsiapa mengucapkan: “Subhanallaahi Wa Bihamdihi”, pada Hari Raya sebanyak tigaratus kali, lalu dihadiahkan kepada orang-orang Islam yang sudah mati, maka masuk ke dalam setiap kubur seribu cahaya, dan Allah menjadikan untuknya seribu cahaya di dalam kuburnya sendiri apabila dia mati. Dan tidak seorang pun dari orang-orang yang sudah mati melainkan dia mengucapkan pada hari kiyamat: “Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kasihanilah hamba-Mu, dan jadikanlah surga sebagai balasannya”. Lalu Allah Swt. berfirman: “Saksikanlah, sesungguhnya Aku telah mengampuninya”.

    Diperoleh keterangan dalam hadits para sahabat, bahwa barangsiapa memohon ampun kepada Allah Swt. pada Hari Raya sesudah shalat fardhu Shubuh sebanyak seratus kali, maka di dalam buku catatan amalnya tidak ditemukan catatan dosa sedikitpun dan nanti pada hari kiamat berada di bawah ‘Arsy dalam keadaan aman dari siksa Allah Swt.

    Barangsiapa berjalan ke kubur orangtuanya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. mencatat setiap langkahnya sesuatu kebaikan. Barangsiapa memuliakan kedua orangtuannya, maka Allah Swt. memuliakan kepadanya. Barangsiapa menghina Orang fakir, maka Allah Swt. menghinanya besok di hari kiyamat dan tidak melihat kepadanya. Barangsiapa memanggil orang fakir dan memberinya suatu makanan yang disukainya pada Hari Raya Fithri, maka Allah Swt. akan memberikan kepadanya sebuah kota dari cahaya permata dan yaqut, dan memberinya makanan dari makanan surga. Barangsiapa kembali pulang dari tempat shalatnya menuju rumahnya dengan tenang dan berwibawa, maka Allah Swt. akan memberi kepadanya nanti pada hari kiyamat setiap langkah sepuluh kebaikan. Barangsiapa melakukan perbuatan maksiat pada Hari Raya, maka Allah Swt. memanggil: “Tidakkah engkau malu kepada-Ku, padahal Aku memandang kamu dengan pandangan rahmat dan kasihan, sedang kamu semakin jauh dari-Ku. Bertaubatlah kepada-Ku, wahai hamba-Ku, niscaya Aku mengampuni dosamu, dan Aku jadikan kamu sebagai kekasih-Ku dan kekasih Malaikat-Ku. Barangsiapa memperluas dirinya dan keluarganya (dalam memberikan belanja) pada Hari Raya, maka Allah Swt. memperluas pintu kecukupan padanya dan menutup kefakiran daripadanya”.

    Dari Tsauban berkata, Rasulullah Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu bisittim-min syawwaaliin faka’annamaa shaamad-dahra kullahu. Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu mengikutinya berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah dia berpuasa setahun sempurna”. (HR. Ahmad)

    Di Dalam hadits yang lain Nabi Saww. bersabda: “Shiyaamu syahri ramadhaana bi’asyri ‘asyhurin, wa shiyaamu sittati ayyaamim-bisyahrayni. fadzaa lika shiyaamus-sanati. “Puasa bulan Ramadhan memadai dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari memadai dengan puasa dua bulan, maka puasa yang demikian itu adalah puasa setahun”.

    Dari Ayyub ra. berkata, Nabi Saww. bersabda: “Man shaama ramadhaana wa ‘atba’ahu sittaamin syawwaalin kaana kashaumid-dahri. Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan puasa enam hari bulan syawwal, maka menyamai puasa selamanya (sepanjang masa)”. (HR. Ahmad dan Muslim)

    Ada yang mengatakan bila berpuasa sebulan penuh dibulan Ramadhan maka menyamai puasa 300 Hari dan pada 6 hari bulan Syawwal menyamai 60 hari jadi berjumlah 360 hari (kurang lebih 1 tahun) karena setiap amal itu dilipatkan 10 kali lipat.

    Juga dari Ibn Umar ra. berkata, Nabi Muhammad Saww. bersabda: “Siapa yang puasa bulan Ramadhan lalu dilanjutkan enam hari bulan Syawwal, maka keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan ia baru lahir dari perut ibunya“. (HR.At-Thabarani)

    Wahai Saudara-saudariku jadikanlah Idul Fithri tahun ini menjadi Hari Raya yang penuh berkah, rahmat, magfirah serta ridha dari Allah Swt. dengan berdzikir dan berdo’a kepada Allah pada malam (mustajab) Idul Fithri (1 Syawwal), pada sehabis shalat subuh berdzikir Istigfar seratus kali memohon ampun kepada Allah Swt., siangnya sehabis shalat dzuhur atau ashar membaca subhanallaahi wabihamdihi tigaratus kali kita hadiahkan pahalanya kepada muslim dan muslimah, mukmin dan mukminah, pada tanggal 2 Syawwalnya mengerjakan puasa 6 hari (berturut-turut) agar kita tercatat orang yang mengerjakan puasa setahun penuh, dan Insya Allah kita dapat memasuki surga melalui pintu khusus yang bernama Ar-Rayyan (pintu kesegaran) bagi orang-orang yang senang/suka berpuasa karena Allah Swt.

    Wallaahu a’lam bi shawab….

    ***

    Dikutip dari: * Ihya’ Ulumiddin –> Imam Al-Ghazali. * Riyadhus Shalihin –> Imam An-Nawawi. * Durratun Nasihin –> Usman Alkhaibawi. * At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-‘Adawiy * Irsyadul’ibad Ilasabilirrasyad –> H. Salim Bahreisy * Fatawa Rasulullah Saw. –> Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

     
    • Andik 2:13 am on 18 Agustus 2012 Permalink

      Terima kasih

  • erva kurniawan 1:22 am on 17 August 2012 Permalink | Balas  

    Karcis Jannatun Adnin Kholidina Fiiha… 

    Karcis Jannatun Adnin Kholidina Fiiha… 

    “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl (16): 97)

    Inilah jaminan dari Allah SWT bagi orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan yang mengerjakan amal saleh, yang mana akan Allah berikan kepadanya kehidupan yang baik dan juga akan diberikan kepadanya balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan sebagaimana ayat diatas.

    Dalam Islam, dibedakan antara amal saleh (perbuatan baik) dengan perbuatan jahat. Dalam hal amal saleh (perbuatan baik) Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perbuatan terbaik dimata Allah adalah perbuatan baik yang dilakukan terus menerus meski dalam tingkat yang kecil sekalipun.” (HR. Bukhari)

    Dan didalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, “Kerjakanlah amal saleh semampu kamu karena Allah SWT tidak akan lelah sedikitpun untuk memberi penghargaan atas apa yang kamu lakukan asalkan kamu tidak bosan-bosan melakukannya.” (HR. Bukhari)

    Jadi, sekecil apapun perbuatan baik yang kita lakukan, pasti ada balasannya dari Allah SWT walaupun dengan senyuman sekalipun. Sebab “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yang banyak tertawa dan tersenyum. Begitu juga dengan membuang duri yang ada ditengah jalan, memungut sampah dan membuangnya di tempat samapah dan juga mengucapkan salam kepada orang tuamu, saudaramu, saudara semuslim atau ketika kita mau masuk rumah sekalipun sebagaimana Allah SWT berfirman, “Hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An-Nur (24): 61)

    Sedangkan hukum untuk orang yang menjawab salam adalah, “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa :  86)

    Allah SWT juga menganjurkan kepada kita agar berbuat baik kepada kedua orang tua kita dengan sebaik-baiknya, sebagaimana firman-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“.” (QS. Al-Israa (17): 23-24)

    Itulah bentuk-bentuk amal saleh (perbuatan baik) yang bisa dibilang kecil tapi kalau dilakukan terus menerus maka Allah SWT akan memandangnya sebagai perbuatan terbaik. Dan banyak lagi perbuatan baik yang tidak disebutkan disini yang bisa kita lakukan. Dan semuanya akan ada balasannya dari Allah SWT dengan pahalanya dan kita pun akan melihatnya.

     “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah (99): 7)

    Tidak semua amal saleh (perbuatan baik) akan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala-Nya atau dengan surga-Nya. Sebab, orang yang tidak berimanpun (yaitu, orang yang tidak mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya), bisa juga melakukan amal saleh, malahan bisa jadi akan lebih baik dari kita sebagai orang yang beriman. Tapi Allah telah menetapkan, hanya orang-orang yang beriman saja yang akan Allah balas dengan pahala-Nya dan surga-Nya sebagaimana firman-Nya,

    Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisaa” (4): 124)

     “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah (2): 277)

    Dan banyak lagi firman Allah SWT yang senada yang menerangkan bahwa, “Orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah (2): 82)

    Dan, malang bagi orang yang berbuat jahat. Sebab, kejahatan yang dilakukannya akan dipikulnya sendiri sebagaimana firman-Nya, “Dan barangsiapa yang memberikan syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa” (4): 85)

    Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. An-Naml (27): 90)

    Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang beriman dan selalu melakukan amal saleh, sehingga Allah SWT pun memasukan kita kepada golongan “Orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” Amin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 14 August 2012 Permalink | Balas  

    Cerdas Menuju Sholeh 

    Cerdas Menuju Sholeh

    Fir’aun? Setiap zaman mengenang nama ini. Bukan nama yang indah tetapi sangat popular. Al-Qur’an menyebutnya sebanyak 74 kali. Semua lekat dengan kebengisan, kekejaman, tirani, kecongkakan dan sederet label jahat lainnya. Gambaran kekerdilan di balik nama besar fir’aun baru telah menjadi sebuah nama manis untuk didengar.

    Walaupun seluruh jagad mencela, menghina, bahkan melaknat nama ini, akan tetapi fir’aun-fir’aun baru tetap muncul kehadapan. Dengan berbagai tameng, fir’aun baru berpangkat tinggi tetap saja hadir dengan tipu daya yang lebih dahsyat. Prakteknya tidak lagi dengan menggunakan pedang, cambuk, dan alat-alat yang menyiksa lainnya. Tapi menggunakan tipu daya ekonomi dengan memiskinkan rakyat.

    Banyak hak rakyat di rebut dan di curi. Hukum menjadi jaminan bagi para fir’aun untuk menutupi diri. Sehingga rakyat tetap saja di buat percaya dan bergantung pada pribadi seperti itu. Apakah pribadi fir’aun ini yang disebut cerdas?

    Apakah cerdas itu?

    Apakah cerdas adalah orang yang hidupnya bergelimpang harta, kemana-mana dengan membawa puncak dunia berupa rumah megah dan mobil mewah, yang malah membuat ia terhina. Pikirkanlah? Saat ini begitu banyak orang kaya, tetapi para tetangga bahkan saudara mereka hidup dalam kesulitan. Orang-orang kaya tersebut malah menutup mata dan telinga seolah tidak pernah melihat dan mendengar jeritan rakyat jelata yang butuh perhatian dan bantuan.

    Apakah hati mereka telah tertutup? Atau karena tidak pernah mendengar teguran Rasulullah saw “Barang siapa tidak menaruh perhatian terhadap masalah kaum muslimin, bukan dari golongan mereka.” (Al Hadits).

    Apakah cerdas itu?

    Apakah cerdas adalah yang terkenal, namanya familiar ditengah masyarakat, orang yang sering berbicara, baik itu di mimbar atau tampil dilayar kaca? Tengoklah? Banyak manusia abad ini yang pintar berkata, beragumen, dan beretorika, mudah menipu lewat keindahan berbicara dan rupa, tetapi tidak segan-segan memakan dan menelan mangsa dengan kata indah dan wajah rupawan itu.

    Tengoklah para elit politik yang rajin dan pintar mengeluarkan kata-kata indah saat berkampanye, tetapi yang sebenarnya adalah bisa untuk membunuh saudaranya. Apakah ini yang disebut cerdas?

    Lalu apakah cerdas itu?

    Dalam sebuah riwayat dari Syadad bin Aus ra. Dari Rasulullah saw, beliau bersabda “Orang yang berakal adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Orang yang kurang perhitungan adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan bahwa Allah selalu mengampuni dan memaafkannya”.

    Dalam riwayat lain dikatakan, “Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian”. (HR. Tirmidzi)

    Hadits diatas mengingatkan manusia tentang kepintaran dan kecerdasan hakiki yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan di akhirat. Orang pintar dan cerdas adalah orang yang bersiap-siap mengumpulkan bekal untuk suatu masa setelah kematian. Orang itulah yang Rasulullah saw sebut dengan al-kais. Al-Kais adalah orang yang berfikir jauh kedepan untuk masa depan kehidupannya, bahkan untuk kehidupan yang kekal dan abadi. Orang pintar seperti yang disebut Rasulullah saw tidak terpancing untuk melakukan pekerjaan atau perbuatan yang hanya memberikan dampak pendek, apalagi yang tidak berdampak apa-apa atau merugikan.

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang menjadikan Allah sebagai pengawas terhadap ilmu. Kita memuji Allah swt yang telah memuliakan dan menjadikan kita sebagai penuntut ilmu, kemudian kita memohon kepada Allah swt agar senantiasa membukakan pintu-pintu-Nya bagi kita. Dan pintu paling agung yang dibukakan Allah swt kepada kita adalah Dia menjadikan kita sebagai hamba-Nya.

    Banyak manusia menyia-nyiakan Allah dengan perbuatan keji dan dosa karena kecintaan yang sangat pada dunia sehingga Allah akan menyia-nyiakan mereka didunia dan diakhirat. Layaknya Fir’aun yang durjana yang menyia-nyiakan Allah, sehingga Allah melenyapkannya didasar lautan.

    Allah swt berfirman, “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan”. (Al-An’am:120).

    Mungkin dosa yang kelihatan, terkadang kita meninggalkannya karena takut kepada pengawasan manusia, namun dosa yang tersembunyi tidak akan ditinggalkan, melainkan karena takut kepada Allah.

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku..

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tidak akan dapat kita realisasikan dengan sempurna, kecuali dengan mengkaji sirah (perjalanan hidup) Rasulullah saw dan merenungkan semua peristiwa serta nuansa pendidikan (tarbiyah) yang memperhatikan realita generasi sekarang ini. Dia adalah seorang yang ma’shum (terjamin kesuciannya).

    Allah telah menjadikannya sebagai suri tauladan bagi kita. Dia adalah orang yang jujur, guru yang sejati, dan komandan yang ulung. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hati kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab:21).

    Jadilah orang yang cerdas, wahai saudaraku…

    Orang yang cerdas itu adalah orang yang senantiasa menjaga waktu, supaya jangan sampai terbuang dengan sia-sia. Allah swt berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada ilah selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia”. (Al-Mukminun:115-116).

    Dan ingatlah akan sabda Rasulullah berikut, “Kedua kaki seorang hamba itu tidak akan lenyap, sehingga di ditanya tentang empat perkara: Tentang keremajaannya, kemana ia habiskan; tentang hartanya, dari mana dan kemana dia belanjakan; tentang umurnya, untuk apa di habiskan; dan tentang ilmunya apa yang telah dia lakukan dengannya.” (HR. At Tirmidzi)

    Fahamilah, wahai saudaraku..

    Kecerdasan seperti inilah yang mengantarkan kita kepada pribadi yang sholeh. Jika ada akibat, pastilah ada sebab, dan jika ada reaksi, pastilah ada aksi. Sholeh adalah akibat dari pribadi yang cerdas sebagaimana Cerdas merupakan suatu aksi (perbuatan) yang menimbulkan kesholehan. Pancaran pribadi sholeh adalah keimanan. Karena umat yang hidup tanpa iman, bagaikan binatang melata. Madrasah tanpa iman, bagaikan asrama yang rapuh dan hancur. Hati tanpa iman bagaikan seonggok daging bangkai.

    Seorang guru tanpa iman, bagaikan sekujur tubuh yang lumpuh dan tidak dapat bergerak. Buku tanpa iman, tak lebih daripada sekadar lembaran-lembaran yang berbaris. Dan ceramah tanpa iman, bagaikan perkataan tanpa makna. Maka, mulailah hidup cerdas dan raihlah kesholehan hamba yang beriman, wahai saudaraku…

    Wallahu ‘alam bish showab

    ***

    Oleh : Bobi Hendra, SE. (Penulis adalah mantan Ka. SKI-IT BEM FE Trisakti periode 2004/2005)

    Hudzaifah.org

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 13 August 2012 Permalink | Balas  

    Hadis Muthahharah 

    Hadis Muthahharah

    Dari Sayyidina Khalid bin Al-Walid Radiallahu’anhu telah berkata : Telah datang seorang arab desa kepada Rasulullah S.A.W yang mana dia menyatakan tujuannya : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kedatanganku ini adalah untuk bertanya kepada engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku di dunia dan akhirat. Maka baginda S.A.W telah berkata kepadanya Tanyalah apa yang engkau kehendaki :

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang alim. Baginda S.A.W menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi orang yang alim

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang paling kaya. Baginda S.A.W menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri engkau maka engkau akan jadi orang paling kaya

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang adil. Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang paling baik. Baginda S.A.W menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi orang yang istimewa di sisi Allah. Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan zikrullah nescaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah

    Dia berkata : Aku mau disempurnakan imanku. Baginda S.A.W menjawab : Perelokkan akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan orang yang muhsinin (baik). Baginda S.A.W menjawab : Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan jika engkau tidak merasa begitu sekurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau maka dengan cara ini engkau akan termasuk golongan muhsinin

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang taat. Baginda S.A.W menjawab : Tunaikan segala kewajipan yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat

    Dia berkata : Aku mau berjumpa Allah dalan keadaan bersih daripada dosa. Baginda S.A.W menjawab : Bersihkan dirimu daripada najis dosa nescaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci daripada dosa

    Dia berkata : Aku mau dihimpun pada hari qiamat di bawah cahaya. Baginda S.A.W menjawab : Jangan menzalimi seseorang maka engkau akan dihitung pada hari qiamat di bawah cahaya

    Dia berkata : Aku mau dikasihi oleh Allah pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain nescaya Allah akan mengasihanimu pada hari qiamat

    Dia berkata : Aku mau dihapuskan segala dosaku. Baginda S.A.W menjawab : Banyakkan beristighfar nescaya akan dihapuskan( kurangkan ) segala dosamu

    Dia berkata : Aku mau menjadi semulia-mulia manusia. Baginda S.A.W menjawab : Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain nescaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

    Dia berkata : Aku mau menjadi segagah-gagah manusia. Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa menyerah diri (tawakkal) kepada Allah nescaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia

    Dia berkata : Aku mau dimurahkan rezeki oleh Allah. Baginda S.A.W menjawab : Sentiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadas ) nescaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

    Dia berkata : Aku mau termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya. Baginda S.A.W menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Mereka

    Dia berkata : Aku mau diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Jangan marah kepada orang lain nescaya engkau akan terselamat daripada kemurkaan Allah dan rasulNya

    Dia berkata : Aku mau diterima segala permohonanku. Baginda S.A.W menjawab : Jauhilah makanan haram nescaya segala permohonanmu akan diterimaNya

    Dia berkata : Aku mau agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat. Baginda S.A.W menjawab : Tutuplah keburukan orang lain nescaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

    Dia berkata : Siapa yang terselamat daripada dosa? Baginda S.A.W menjawab : Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan,mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

    Dia berkata : Apakah sebesar-besar kebaikan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian ( bala )

    Dia berkata : Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah? Baginda S.A.W menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

    Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ? Baginda S.A.W menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi ( tidak diketahui ) dan menghubungkan kasih sayang

    Dia berkata: Apakah yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat? Baginda S.A.W menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 11 August 2012 Permalink | Balas  

    Tujuan Pernikahan Dalam Al Quran 

    Akad Nikah Erva Kurniawan dan Titik Rahayuningsih 28 Juni 2008

    Tujuan Pernikahan Dalam Al Quran

    Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Nur: 32).

    Anjuran melaksanakan nikah dalam Al-Qur’an mengandung beberapa tujuan baik tujuan yang bersifat pisik maupun yang bersifat moral. Tujuan yang bersifat pisik adalah untuk menyalurkan hasrat biologis terhadap lawan jenis dan juga mengembangkan keturunan sebagai pelanjut tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

    Adapun tujuan moral dari pernikahan adalah untuk melakukan pengabdian kepada Tuhan dengan sebaik-baiknya dan dengan pengabdian ini akan diharapkan adanya intervensi dalam kehidupan berkeluarga yang akhirnya akan melahirkan generasi-generasi yang taat dan shalih.

    Sakralnya tujuan yang terkandung dalam pernikahan menunjukkan bahwa pernikahan bukanlah sekadar uji coba yang bilamana tidak mampu melanjutkannya dapat diberhentikan dengan seketika yang seolah-olah perceraian adalah sesuatu yang lumrah. Banyaknya terdapat persefsi yang seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang bahwa perniakhan hanya merupakan persoalan biologis semata.

    Berdasarkan tujuan inilah maka menghadapi pernikahan harus dilakukan dengan kematangan baik kematangan dari segi material terlebih lagi dari segi moral. Dengan kata lain mendapatkan kedewasaan sebelum menikah lebih baik daripada mendapatkannya sesudah menikah.

    Urgensi kematangan sebelum menikah ditandai dengan proses-proses yang harus dilalui secara berurutan seperti meresek, menanya, meminang, nikah gantung dan nikah sebenarnya. Hal ini dilakukan supaya calon suami-isteri benar-benar matang dalam mengayuhkan rumah tangganya karena proses-proses yang disebutkan tadi masih memberikan peluang untuk mengundurkan diri dari pernikahan sebelum sampai kepada pernikahan yang sebenarnya karena pengunduran diri (cerai) pasca pernikahan yang sebenarnya dapat menimbulkan korban beberapa pihak seperti keluarga dan anak-anak.

    Anjuran pernikahan dalam Al-Qur’an adalah anjuran yang penuh dengan persyaratan sehingga tujuan-tujuan dari pernikahan disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an sekalipun sifatnya masih global. Tujuan-tujuan pernikahan inilah yang seharusnya dijadikan bahan evaluasi baik oleh orang tua calon maupun para calon itu sendiri untuk menentukan kadar kemampuannya dalam menghadapi pernikahan. Nampaknya tujuan-tujuan inilah yang mendasari para orang tua dahulu membuat semacam proses untuk sampai kepada pernikahan yang sebenarnya agar tujuan-tujuan dimaksud dapat direalisasikan dalam rumah tangga.

    Adapun mengenai faktor biologis maka Nabi Muhammad memberikan solusi alternatif yaitu dengan melaksanakan puasa bagi yang tidak punya kemampuan untuk meredamnya. Sebaliknya Nabi Muhammad mengecam orang-orang yang punya kemampuan dalam berbagai aspek untuk menikah tapi tidak melaksanakannya dianggap sebagai orang yang anti terhadap sunnahnya. Berdasarkan hal maka pihak ketiga harus pula berperan aktif untuk mencarikan jodoh bagi orang-orang yang sangat sulit untuk mendapatkannya.

    Tujuan Pernikahan

    Tujuan-tujuan pernikahan sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah untuk mendapatkan surga dan ampunan Tuhan, untuk menjalankan hukum-hukum Tuhan dan mendapatkan karunia Tuhan (lihat Q.S. 2: 221, 230, Q.S. 24: 320). Adapun tujuan-tujuan yang lain seperti mengembangkan keturunan dan menyalurkan kebutuhan biologis adalah tujuan yang paling asasi dan sekiranya Al-Qur’an tidak menyebutkannya maka dipastikan bahwa tujuan yang seperti ini sudah lumrah berlaku.

    Tujuan dari pernikahan adalah untuk mendapatkan surga dan keampunan Tuhan sekalipun pernyataan ini tidak secara langsung ditegaskan dalam Al-Qur’an. Larangan Al-Qur’an menikah dengan orang-orang musyrik -walaupun mereka mengagumkan dalam berbagai aspek- didasarkan kepada kekhawatiran bahwa mereka akan menarik pasangannya yang mukmin ke neraka sedangkan Allah mengajak kepada surga dan keampunan.

    Ayat ini dapat dipahami bahwa menikah dengan orang-orang musyrik tidak direstui oleh Allah sedangkan menikah dengan orang-orang mukmin sudah pasti diridhai-Nya. Oleh karena itu menikahi orang-orang yang diridhai oleh Allah adalah merupakan aturan yang wajib diindahkan sehingga implikasi yang akan diperoleh ialah mendapatkan surga dan keampunan.

    Tujuan pernikahan selanjutnya adalah untuk menegakkan hukum-hukum Allah karena lebih efektif menegakkannya dengan berteman daripada sendirian. Berdasarkan tujuan ini maka keberadaan teman menikah adalah merupakan mitra dialog yang saling memberikan kontribusi kepada masing-masing pihak dalam berbagai urusan termasuk dalam urusan menegakkan hukum-hukum Allah.

    Menegakkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama suami isteri dan masing-masing pihak seyogianya memberikan kontrol terhadap pasangan masing-masing. Oleh karena itu salah satu pihak dianggap zhalim bilamana mendiamkan pasangannya melanggar ketentuan-ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah.

    Tujuan berikutnya dari suatu pernikahan adalah untuk mencari karunia Allah yaitu berupa rezeki yang halal karena rezeki yang tidak halal tidak termasuk karunia Allah dan pengertian karunia disini dengan rezeki dapat dipahami dengan adanya kalimat fakir (fuqara’) dan kalimat kaya (yughni). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa suami isteri tidak boleh bermalas-malasan mencari rezeki karena rezeki adalah salah satu penopang kehidupan keluarga. Kata karunia dalam redaksi ini dapat dipahami bahwa pencarian rezeki harus didasari kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku dan karenanya masing-masing pihak harus selektif agar mendapatkan rezeki yang direstui oleh Allah. Urgensi pencarian rezeki yang halal dan baik akan berimplikasi kepada jiwa dan mental anak sehingga baik tidaknya seorang anak sangat ditentukan oleh nilai hukum rezeki yang diberikan.

    Tujuan-tujuan dar pernikahan inilah yang seharusnya dipegang teguh secara konsisten oleh pasangan masing-masing sehingga keegoisan dalam mempertahankan dan menerima pendapat serta pemaksaan kehendak tidak seharusnya terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

    Ide-ide yang muncul dari pihak suami atau isteri harus dipikirkan secara rasional tidak dengan emosional dan oleh karena itu setiap ide yang muncul perlu didiskusikan agar memiliki tujuan yang jelas agar pihak lain tidak merasa terpaksa menerimanya dan hal ini adalah merupakan gambaran rumah tangga yang demokratis.

    Penutup

    Tujuan-tujuan yang terdapat dalam pernikahan sebagaimana yang telah digambarkan oleh Al-Qur’an menunjukkan bahwa perlunya kematangan dan kesiapan mental bagi yang ingin melaksanakan pernikahan.Kematangan dan persiapan menunjukkan bahwa pernikahan yang dilakukan berada pada tataran yang sangat serius yang tidak hanya memperhatikan aspek biologis akan tetapi tak kalah pentingnya ialah memperhatikan aspek psikologi dan dengan berdasarkan inilah diduga kuat bahwa pernikahan dimasukkan ke dalam kategori ibadah.

    ***

    Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag

    Dosen Fak. Tarbiyah IAIN-SU, Pengurus El-Misyka Circle

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 9 August 2012 Permalink | Balas  

    Dalam Shalat, Haruskah Ingat Allah Saja? 

    Dalam Shalat, Haruskah Ingat Allah Saja?

    Apa tujuan shalat? Allah SWT telah menunjukkannya kepada kita: “… dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS [20]: 14)

    Lantas, apakah di dalam shalat, sebaiknya hati kita kosong dari segala sesuatu kecuali Allah? Ketika kita bershalat, mestikah kita hilangkan semua pikiran selain Allah? Di dalamnya, haruskah kita abaikan masalah yang sedang kita hadapi?

    Terhadap tiga pertanyaan tersebut, ada banyak buku mengenai cara shalat khusyuk yang menjawab: “Ya, ya, ya.” Di antara mereka, ada yang menceritakan seseorang yang begitu “khusyuk” bershalat, sehingga ketika tiang masjid tempat shalatnya rubuh, ia diam saja dan terus bershalat sebagaimana biasanya. Mereka pun mengabarkan adanya seseorang yang terus saja bershalat, padahal lantai gedung tingkat dua sedang terbakar. “Bahkan ketika banyak orang berteriak memanggilnya, orang itu tetap dalam shalatnya.”

    Akan tetapi, saya tidak setuju dengan cara shalat seperti itu. Jawaban saya: “Tidak, tidak, tidak!” Saya khawatir, orang yang bershalat seperti itu terlalu khusyuk, sedangkan segala yang berlebihan bukanlah kebaikan lagi. Berikut ini sebagian dari alasan saya.

    Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya bila aku bershalat dan bermaksud memperpanjangnya lalu kudengar suara tangisan anak, maka kupercepat shalatku karena aku menyadari bahwa ibunya pasti terganggu oleh tangisan anaknya itu.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

    Ini jelas menunjukkan, hati beliau tidak kosong dari segala sesuatu (selain Allah). Di dalam shalat pun, Nabi saw. menaruh perhatian besar pada lingkungan.

    Umar r.a. berkata, “Sesungguhnya aku merencanakan penyiapan pasukanku ketika aku sedang bershalat.” (HR Bukhari)

    Ini jelas menunjukkan, kita tidak harus menghilangkan semua pikiran (selain Allah). Di dalam shalat pun, ada kalanya kita sebaiknya memikirkan masalah yang sedang kita hadapi.

    Kalau begitu, apakah Anda saya anjurkan melupakan tujuan shalat (yaitu “untuk mengingat Allah”)? Juga tidak! Alih-kita, sebaiknya kita mengingat Allah dan sekaligus memikirkan atau merasakan masalah yang sedang kita hadapi. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. [Satu untuk-Ku, satu untuknya.] Dan hamba-Ku berhak mendapatkan apa yang ia minta.” (HR Muslim)

    Atas dasar itu, di dalam shalat sebaiknya kita kaitkan kebutuhan kita dengan satu atau beberapa sifat Allah yang tercakup dalam Asmaul Husna.

    Umpamanya, tatkala kita bershalat dalam keadaan merasa tak berdaya lantaran “terlanda badai setinggi gunung” (tertimpa musibah, bangkrut, terjangkit penyakit berat dan tak kunjung sembuh, dsb.), kita bisa mengingat-ingat bahwa Allah itu Maha Penolong (al-Waliyy).

    Di dalam shalat itu, bacaan Al-Qur’annya pun bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan shalat kita. Salah satu contohnya adalah seperti yang disarankan oleh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam artikel “Kiat Salat Khusyu”:

    Pilihlah surat yang paling dimengerti dan yang berkaitan dengan kebutuhan kita, karena ini pun akan membantu kita lebih khusyu. Misalnya surat Al-Baqarah ayat terakhir atau surat al-Insyirah bisa dibaca ketika kita sedang menghadapi ujian karena isi surat tersebut harapan dan doa agar tidak diberi musibah yang berat serta keyakinan akan datangnya pertolongan Allah sesudah kesulitan.

    Dengan membaca surat yang sesuai dengan kebutuhan kita, bukankah kita menjadi tidak semata-mata mengingat Allah, tetapi sekaligus mengaitkannya dengan masalah yang sedang kita hadapi?

    ***

    M. Shodiq Mustika

    Penulis Buku Islami

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 9 August 2012 Permalink | Balas  

    Menyambut Ramadhan: Sambutlah dengan Kegembiraan 

    Menyambut Ramadhan: Sambutlah dengan Kegembiraan

    Sebentar lagi tamu kita yang mulia bulan Ramadhan akan segera tiba. Kita semua sibuk ‎mempersiapkan diri menyambut bulan yang penuh berkah tersebut. Mempersiapkan diri ‎menyambut Ramadhan dengan baik-baik adalah amalan yang sangat mulia. Para ulama ‎sholeh terdahulu senantiasa mengkonsentrasikan diri menyambut Ramadhan dengan ‎penuh keseriusan. Rasulullah s.a.w. pernah berpesan kepada umatnya :”Akan segera ‎datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah s.w.t. ‎bersama kalian pada bulan itu, maka diturunkanlah rahmat, diampuni dosa-dosa dan ‎dikabulkan do’a dan permintaan. Allah melihat kalian berlomba-lomba dalam kebaikan, ‎lalu diikutkan bersama kalian malaikat-malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah ‎kebaikan diri kalian, sesungguhnya orang yang rugi adalah mereka yang tidak ‎mendapatkan rahmat Allah”. Dalam al-Quran juga ditegaskan : “Demikianlah (perintah ‎Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu dari ‎ketakwaan hati. ‎

    Berikut ini adalah sebagian sikap-sikap terpuji yang dilakukan para ulama sholeh ‎terdahulu dalam menyambut bulan suci Ramadhan:‎ ‎

    1. Dengan kegembiraan dan kebahagiaan.‎

    Mereka selalu berharap datangnya Ramadhan dan ingin segera menyambutnya dengan ‎kegembiraan dan kebahagiaan. Yahya bin Abi Katsir meriwayatkan bahwa orang-orang ‎salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:”Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke ‎Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai ‎Ramadhan”. Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa bagi mereka, ‎karena pada bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak ‎terkira.‎ ‎

    2. Dengan pengetahuan yang dalam.‎

    Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap ‎muslim. Ibadah puasa mempunyai ketentuan dan aturan yang harus dipenuhi agar sah dan ‎sempurna. Sesuatu yang menjadi prasyarat suatu ibadah wajib, maka wajib memenuhinya ‎dan wajib mempelajarinya. Ilmu tentang ketentuan puasa atau yang sering disebut dengan ‎fikih puasa merupakan hal yang wajib dipelajari oleh setiap muslim, minimal tentang hal-‎hal yang menjadi sah dan tidaknya puasa.‎ ‎

    3. Dengan do’a‎

    Bulan Ramadhan selain merupakan bulan karunia dan kenikmatan beribadah, juga ‎merupakan bulan tantangan. Tantangan menahan nafsu untuk perbuatan jahat, tantangan ‎untuk menggapai kemuliaan malam lailatul qadar dan tantangan-tantangan lainnya. ‎Keterbatasan manusia mengharuskannya untuk selalu berdo’a agar optimis melalui bulan ‎Ramadhan.‎ ‎

    4. Dengan tekad dan planning yang matang untuk mengisi Ramadhan

    Niat dan azam adalah bahasa lain dari planning. Orang-orang soleh terdahulu selalu ‎merencanakan pengisian bulan Ramadhan dengan cermat dan optimis. Berapa kali dia ‎akanmengkhatamkan membaca al-Quran, berapa kali sholat malam, berapa akan ‎bersedekah dan membari makan orang berpuasa, berapa kali kita menghadiri pengajian ‎dan membaca buku agama. Itulah planning yang benar mengisi Ramadhan, bukan hanya ‎sekedar memplaning menu makan dan pakaian kita untuk Ramadhan. Begitu juga selama ‎Ramadhan kita bertekad untuk bisa meraih taubatun-nasuuha, tobat yang meluruskan. ‎Wallahu a’lam

    ***

    Disusun oleh M. Niam

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 8 August 2012 Permalink | Balas  

    Usia yang Bermanfaat 

    Usia yang Bermanfaat

    “Terkadang usia panjang masanya, tetapi sedikit manfaatnya. Terkadang usia itu pendek masanya, akan tetapi banyak manfaatnya.”

    Ada pepatah yang berbunyi, jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa. Benar apabila manusia suka bepergian, ia akan banyak memperoleh pengalaman, pemandangan dan penghayatan. Apabila panjang usianya dan lama hidupnya, berarti ia telah menikmati senang dan susahnya hidup pahit, dan manisnya perlajanan. Semua perjalanan hidup manusia akan memberi makna tersendiri baginya. Ia barulah berarti apabila usia yang ditempuh dalam hidupnya memberi manfaat baginya.

    Usia itu sebenarnya bukan karena panjang atau pendeknya, akan tetapi manfaat dan mudaratnya. Sebagus bagus usia ialah usia yang banyak manfaatnya bagi manusia. Rosulullah Saw bersabda, “Sebaik baik manusia ialah orang yang panjang umurnya, dan bagus amalnya, dan sejelek jelek manusia, adalah orang yang panjang umurnya akan tetapi rusak amalnya.”

    Syekh Ahmad Ataillah (pengarang kitab Al-Hikam) menegaskan pula :

    “Siapa yang diberkati umurnya, dalam masa singkat dari usianya, ia akan mencapai karunia Allah, yang tidak dapat dihitung dengan kata kata, dan tak dapat dikejar dengan isyarat.”

    Yang dicari oleh seorang muslim yang sholeh adalah barokahnya usia. Yang dimaksud usia ber-barokah adalah usia yang selalu membawa dan mengajak kepada kemanfaatan dunia dan akhirat. Umur yang barokah ini, selalu diberi kesempatan oleh Allah menjalankan kebaikan kebaikan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Sebab, apabila umur itu mendapat barokah, tidak ada waktu yang tersia sia dalam hidup seorang hamba.

    Hamba yang umurnya ber-barokah, ia selalu berada dalam situasi yang sempat akan tetapi bergegas gegas. Sempat artinya selalu ada peluang, bergegas gegas artinya cepat diamalkannya. Sehingga tidak terasa olehnya usia yang dianugerahkan kepadanya, waktunya sangat singkat sebab kesempatan kesempatan beribadah yang diberkati Allah kepadanya tidak mencukupi. Ia bergegas gegas, agar waktu yang singkat itu, tidak hilang begitu saja karena cepatnya perjalan usia.

    Dengan demikian, maka usia yang panjang atau usia yang pendek, akan memberi arti yang berguna bagi manusia, apabila dipergunakan untuk mendapatkan ridho Allah. Seperti yang diucapkan oleh Abu Abbas Al Mursy : “Alhamdulillah semua waktu waktu kami merupakan lailatul-qodar, artinya semua waktu diisi dengan amal yang bermanfaat. E Jangan sampai waktu yang didapatkan dari usia, hanyalah ibarat air yang disiramkan ke atas pasir yang panas. Airnya menguap, pasirnya tidak basah. Usia yang hilang begitu saja dari waktu yang dilalui, akan mengecewakan si pemilik usia itu sendiri pada hari kiamat. Sebab waktu waktu yang dianugerahkan kepada manusia dinamakan bermanfaat dan barokah apabila dipergunakan untuk memperbanyak amal ibadah, memohon ampun atas bermacam macam kesalahan dan dosa, serta bertobat dengan taubatan nasuha. Syekh Ahmad Ataillah mengatakan :

    “Kekecewaan dari semua kekecewaan, adalah ketika kalian berkesempatan, kalian tidak menghadap kepada Allah, karena sedang ada sedikit halangan, kalian tidak juga mendatangi Allah.”

    Ungkapan Syekh Ataillah ini mengingatkan kita, jangan sampai kesempatan dari usia, di waktu lapang ataupun sempit, hendaklah pandai pandai dimanfaatkan untuk Allah dan datang menghadap memohon hidayah dan inayah, memohon ampun serta bertobat*. *“Bergegas gegaslah kamu dalam keadaan ringan ataupun berat” (QS.At-Taubah :41)

    Perjalanan yang panjang telah ditempuh manusia di alam dunia ini. Banyak yang dialami oleh anak Adam dalam masalah duniawiyah, namun pengalaman hidup itu barulah berarti bagi hidup dunia dan akhirat, apabila dipersembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya, dan untuk ‘izzul Islam dan Muslimin.

    Memang kadang kadang manusia tidak mempergunakan kesempatan, atau kesempatan yang ada disia siakan, sehingga kesempatan yang tersedia, hilang begitu saja. Kesempatan yang dimaksud ialah kesempatan datang menghadap Allah dalam ibadah rutin, atau kesempatan mengerjakan ibadah sunah lainnya, yang sebenarnya tersedia, akan tetapi, manusia lalai dengan alasan kesibukan duniawi, atau kesibukan perjuangan. Alasan alasan seperti itu sebenarnya tidak perlu dikemukakan, karena Allah Ta’ala Maha Tahu tentang kemalasan dan keengganan diri kita. Allah Ta’ala lebih tahu bahwa manusia lebih mementingkan dirinya sendiri, hawa nafsunya sendiri, dari pada ingin mendapatkan ridho Allah dengan pertemuan pertemuan tertentu dengan Allah dalam bentuk ibadah.

    Memang merupakan suatu kekecewaan kelak di akhirat, di waktu seorang hamba menghadap Allah Swt. Manusia waktu itu datang menerima apa yang telah ia kerjakan di dunia. Masing masing datang dengan buah amal ibadahnya. Akan tetapi ada diantara manusia hadir di mahkamah Allah Swt dengan hati kecewa. Karena ia melihat orang lain datang kepada Allah dengan hati gembira menunjukkan amal ibadahnya yang wajib dan sunah yang sangat banyak, sedangkan ia datang dengan amal ibadah yang minim, yang tidak mampu melepaskan dirinya dari adzab Allah. Atau amal ibadahnya pas pasan saja.

    Ia kecewa, akan tetapi kekecewaan itu sudah tidak dapat ditebus lagi. Waktu itu kesibukan dunia yang dikerjakannya tidak mampu menambah amal ibadahnya. Harta dan segala macam yang diperolehnya dalam kesibukan dunia, tidak ada satupun yang memberi nilai tambah bagi kebahagiaan akhirat yang sudah habis di depannya. Seperti diterangkan Allah Ta’ala dalam firmannya, “Pada hari itu tidak ada gunanya harta dan anak anak, kecuali yang datang menghadap Allah dengan hati yang damai.”(QS. Asy-syu’ara : 89).

    Bagi hamba Allah yang benar benar tunduk dan patuh kepada-Nya dalam segala hal, ia dalam hidupnya tidak menyia nyiakan waktu yang dianugerahkan Allah untuk datang kepada-Nya dalam waktu waktu yang ditentukan, atau melaksanakan ibadah ibadah sunah tanpa batas waktu dan sepanjang saat.

    Agar seseorang hamba tidak tersia sia di akhirat, dan kecewa di hadapan Allah, memanfaatkan saat saat kesempatan adalah sangat menguntungkan dan utama.

    ***

    Narasumber :“Mutumanikam dari kitab Al-….

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 7 August 2012 Permalink | Balas  

    Memohon Dari Apa Yang Diperintah 

    Memohon Dari Apa Yang Diperintah

    “Sebagus bagusnya permohonan yang patut disampaikan kepada Allah, ialah semua yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan.”

    Jika ada yang patut diminta kepada Allah sebagai hamba, maka yang paling patut ialah mengharapkan kepada Allah agar meneguhkan iman dan keyakinan dengan kemantapan hati yang sungguh sungguh (istiqomah) kepada ajaran Islam dengan persembahan ibadah. Itulah yang paling bagus dan paling bergengsi bagi hamba yang memohon kepada Allah. Permohonan (istiqomah) dalam Islam itu sudah termasuk kepentingan dunia dan akhirat. Anda lebih baik meminta kepada Allah hal hal yang dituntut untuk dikerjakan oleh hamba, seperti khusu dalam sholat, atau termasuk perintah jihad dalam Islam, baik yang berkenaan kepentingan dunia maupun akhirat, dari pada meminta sesuatu yang disenangi, akan tetapi Allah Ta’ala tidak menyukainya.

    Memohon kepada Allah adalah harapan seorang hamba dalam bentuk doa dan usaha yang sesuai dengan perintah Allah dan sunah Nabi Muhammad Saw. Adalah sangat baik, apabila seorang hamba memohon kepada Allah, agar selalu mentaati-Nya, melaksanakan ibadah tanpa halangan, agar Allah memudahkan segala yang berkaitan dengan urusan Islam dan umat Islam. Demikian juga memohon kepada Allah agar terlepas dari tidak tergelincir kepada perbuatan maksiat dan dosa, serta diberi kekuatan untuk melaksanakan semua ketaatan. Memohon pula agar selalu dalam keadaan zikir dan senantiasa berada dalam suasana tenteram dalam mengingat Allah Ta’ala.

    ***

    Narasumber : Mutumanikam dari kitab “Al-Hikam”

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 6 August 2012 Permalink | Balas  

    Tingkatan Puasa 

    Tingkatan Puasa

    Konsep Tazkiyatun Nafs (Membersihkan Jiwa) dari Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, ada 3 tingkatan Puasa :

    1. Puasanya orang Awam

    2. Puasanya orang Khusus

    3. Puasanya orang Super Khusus.

    Puasa orang awam

    Puasanya orang awam adalah puasa yang hanya menahan perut (dari makan dan minum) dan kemaluan dari memperturutkan Syahwat.

    Puasa orang khusus

    Yaitu puasanya orang-orang sholeh yang selain menahan perut dan kemaluan juga menahan semua anggota badan dari berbagai dosa, kesempurnaannya ada 6 perkara.

    1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari memandang hal yang dicela dan dibenci, kesetiap hal yang dapat menyibukkan diri dari mengingat Allah SWT.
    2. Menjaga lisan dari membual, dusta, ghibah, perkataan kasar, pertengkaran, perdebatan dan mengendalikannya dengan diam, menyibukkan dengan dzikrullah dan membaca Al qur’an
    3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap hal yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarnya.
    4. Menahan berbagai anggota badan lainnya dari berbagai dosa seperti tangan, kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari memakan makanan yang subhat pada saat tidak puasa (berbuka ).
    5. Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka sampai penuh perutnya, karena tidak ada wadah yang dibenci oleh Allah kecuali perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasanya bisa bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat jika orang yang berpuasa pada saat berbuka melahap berbagi makanan sebagai pengganti makanan yang tidak dibolehkan memakannya pada siang hari. Bahkan menjadi tradisi menyimpan dan mengumpulkan makanan sebagai persiapan pada saat berbuka padahal makanan yang tersimpan itu melebihi kapasitas perut kita bahkan mungkin bisa untuk makanan 1 minggu, astaghfirullah Hal Adhim.
    6. Hendaklah hatinya dalam keadaan “Tergantung” dan “Terguncang” antara cemas dan harap karena tidak tahu apakah puasanya diterima dan termasuk golongan yang Muqorrobin atau ditolak sehingga termasuk orang yang dimurkai oleh Allah SWT. Hendaklah hatinya selalu dalam keadaan demikian setiap selesai melakukan kebaikan.

    Puasa orang Super Khusus

    Yaitu puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran2 yang tidak berharga, juga menjaga hati dari selain Allah secara total. Puasa ini akan menjadi “Batal” karena pikiran selain Allah ( pikiran tentang dunia ).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 5 August 2012 Permalink | Balas  

    Hamba Jelek Yang Berdoa 

    Hamba Jelek Yang Berdoa    

    Bismillaahirohmaanirrohiim.

    Di dalam Alqur’an surah Al Qodar ayat 1-5 Alloh berfirman: Sesungguhnya kami telah menurunkannya (alqur’an) pada malam kemuliaan (1). dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2). malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan (3). pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4). malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5)”.

    Jika dihitung perjalanan waktu qomariah atas kejadian malam kemuliaan (lailatul qodar), maka definisi malam itu sejak matahari terlihat tenggelam dari horizon bumi hingga matahari terlihat muncul/terbit fajar.

    Kita/umat islam yang benar pasti mengerjakan ibadah puasa dengan kewajiban berikut:

    1. Berbuka puasa
    2. Sholat maghrib
    3. Sholat isya
    4. Sholat subuh

    Jika ditambah ibadah yang sunah-sunah, misalnya:

    1. berdo’a sebelum berbuka puasa
    2. makan dan minum dengan tangan kanan
    3. berdo’a setelah makan/minum
    4. berdoa hendak wudhu
    5. berwudhu
    6. berdo’a setelah berwudhu
    7. berdo’a keluar rumah dan atau naik sepeda/motor/mobil ke mesjid
    8. berdo’a masuk masjid
    9. solat sunah tahiyatul masjid
    10. iktikaf meski hanya sesaat
    11. sholat sunah ba’diyah magrib
    12. berdo’a keluar masjid
    13. berdo’a keluar masjid jalan/naik sepeda/motor/mobil menuju rumah
    14. bercengkerama dengan anak istri sambil “mengajar”
    15. berdoa hendak wudhu untuk sholat isya’ (atau utk senantiasa jaga wudhu)
    16. berwudhu
    17. berdo’a setelah berwudhu
    18. berdo’a keluar rumah dan atau naik sepeda/motor/mobil ke mesjid
    19. berdo’a masuk masjid
    20. solat sunah tahiyatul masjid
    21. sholat sunah qobliyah isya’
    22. iktikaf meski hanya sesaat
    23. sholat sunah ba’diyah isya’
    24. mendengar ceramah/menuntut ilmu
    25. sholat tarawih dan witir dan dzikir
    26. berdo’a keluar masjid
    27. berdo’a naik sepeda/motor/mobil keluar dari mesjid
    28. tidur dengan adab nabi/doa
    29. sahur, sodaqoh, dan amalan-amalan sunah lainnya hingga terbit fajar.

    Ibadah-ibadah (wajib dan sunah) tersebut dilaksanakan dalam rentang “lailatul qodr”. Jadi, ya Alloh hambamu yang dhoif memohon, insya Alloh seluruh orang Islam yang menjalankan aturan Alloh dengan ikhlas akan mendapatkan malam kemuliaan tersebut.

    Rosululloh saw memberikan sinyal bahwa lailatul qodar/malam kemuliaan tersebut akan berada di 10 hari terakhir bulan romadhon. Lagi, ada juga keterangan khususnya di malam ganjil dari 10 romadhon terakhir. Maukah kita mengejar Sebagai metafora

    Kalau ada showroom mobil jual Kijang Inova 2008 harga biasa 187 jt trus ada diskon khusus 90%, pembeli tinggal bayar 18,7jt, pasti saya akan antre mesti 3 bulan walau harus mengikuti berbagai syarat berguling badan /roll di depan show room.

    Malam kemuliaan jelas “diskon spesial” tak terperi dari Alloh (harga 29.500 malam kebaikan, “pembeli” tinggal tukar 1 malam saja…sub haanallooh). Ya Alloh jadikanlah hambamu ini sebagai orang yang bisa mensyukuri nikmat atas diri ini dan atas orang tua saya dan ridhoilah amalan baik hamba yang sedikit, dan baikkanlah anak keturunan saya, saya taubat hanya kepada Engkau, dan saya berserah kepada Engkau.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 4 August 2012 Permalink | Balas  

    Keutamaan beribadah pada Lailatul Qadri. 

    Keutamaan beribadah pada Lailatul Qadri.

    Allah Ta’ala berfirman:”Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an pada malam qadar (kemulian)). Dan tahukah kamu apakah malam kemulian itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadr:1-5)

    Allah Ta’ala berfirman:“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi”. (Ad-Dukhaan:13)

    Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Saww., beliau bersabda:“Barangsiapa beribadah pada malam Qadar dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya beberapa sahabat Nabi Saww. memimpikan Lailatul Qadar pada tujuh malam yang terakhir (dalam bulan Ramadhan), kemudian Rasulullah Saww. bersabda:“Aku perhatikan impianmu itu benar-benar tapat pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa ingin mencapai Lailatul Qadar, maka hendaknya ia bersungguh-sungguh pada malam yang terakhir”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Dari ‘Aisyah ra., ia berkata:”Rasulullah Saww. selalu beri’tikaf pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan ramadhan, serta bersabda:”Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan”.(HR.Bukhari dan Muslim)

    Dari ‘Aisyah ra., ia berkata:“Rasulullah Saww. apabila telah masuk pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, beliau selalu beribadah pada waktu malam serta membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh ibadah dan mengikatkan sarungnya (tidak bersetubuh dengan istrinya)”. (HR.Bukhari dan Muslim)

    Kapankah atau tepatnya Malam Qadar (Lailatul Qadar) itu ?

    Menurut pendapat yang masyhur tentang malam Al-qadar dengan mengutip keterangan dari Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas dan kebanyakan pendapat ulama’, adalah jatuh pada malam yang keduapuluh tujuh, dengan mengambil dalil dari sabda Nabi Saww.:“Iltamisuu lailatal qadri fii sab-in wa isyriina khalat min syahri ramadhaana. “Carilah malam Al-Qadar pada malam keduapuluh tujuh yang telah berlalu dari bulan Ramadhan”. Yaitu malam yang pada waktu pagi cuacanya sangat cerah, dan yang dengan cuaca itu Allah telah menjayakan agama Islam dan menurunkan Malaikat untuk memberikan pertolongan kepada Kaum Muslimin.

    Keterangan diatas dikuatkan lagi oleh sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Utsman bin Al-‘Ash mempunyai pembantu kecil yang berkata padanya: “Wahai tuan, sesungguhnya aku mendapatkan air laut rasanya tawar pada suatu malam Ramadhan”. Utsman bin Al-‘Ash berkata: “Apabila hal itu terjadi lagi di suatu malam, maka hendaklah kamu memberitahukan kepadaku”. Lalu dia memberitahukan kepadanya, ternyata malam itu adalah malam keduapuluh tujuh dari bulan Ramadhan.

    Keterangan diatas masih dikuatkan lagi oleh penganalisaan sebagian ulama’, yakni bahwa jumlah kalimat yang ada pada surat Al-Qadar adalah tigapuluh kalimat, sejumlah hari pada bulan Ramadhan. Demikian pula lafazh hiya (malam itu) dari kalimat salamun hiya, merupakan bagian kesempurnaan ayat yang keduapuluh tujuh. Dan kalimat yang menunjukkan malam Al-Qadar, pembacaannya adalah dengan diucapkan sekaligus, sekalipun kalimat-kalimat dalam surat Al-Qadar itu mengandung banyak kalimat seperti anzalnahu.

    Menurut analisa yang lain disebutkan, bahwa huruf yang menunjukkan nama lailatu’l-Qadr ada sembilan huruf yaitu: Lam, Ya, Lam, Ta, Hamzah (Alif), Lam, Qaf, Dal, dan Ra. Dan Kalimat Lailatu’l-Qadri dalam surat Al-Qadar diulang sampai tiga kali, jadi 9×3=27.

    Menurut pendapat lain yang dikutip dari keterangan sebagian ahli kasyaf menjelaskan, bahwa malam Al-Qadar itu jatuh pada hari yang bertepatan dengan awal bulan Ramadhan, Hanya saja, pendapat ini tidak dilandasi dengan pegangan apapun, sehingga dimungkinkan pendapat itu tidak terarah.

    Menurut analisa Syaikh Ahmad Zaruq dan lainnya dijelaskan, bahwasanya malam Al-Qadar itu tidak terlepas dari malam Jum’at pada tanggal-tanggal yang gasal/ganjil dari malam-malam yang akhir bulan Ramadhan. Analisa seperti ini juga dikutip dari keterangan Ibnu’l-‘Arabi.

    Didalam kitab tafsir Imam Al-Khatib dikemukakan suatu ketentuan tentang malam Al-Qadar, dengan mengutip penjelasan dari Syaikh Abu’l Hasan Asy-Syadzali, Bahwasanya:

    1. Jika awal Ramadhan pada hari Ahad, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh sembilan.
    2. Jika awal Ramadhan pada hari Senin, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh Satu. kemudian perhitungan seterusnya dilakukan dengan naik dan turun menurut harinya.
    3. Jika awal Ramadhan pada hari Selasa, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh tujuh.
    4. Jika awal Ramadhan pada hari Rabu, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal sembilanbelas.
    5. Jika awal Ramadhan pada hari Kamis, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh lima.
    6. Jika awal Ramadhan pada hari Jum’at, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal tujuhbelas.
    7. Jika awal Ramadhan pada hari Sabtu, maka malam Al-Qadar jatuh pada tanggal duapuluh tiga.

     Apa yang harus kita lakukan pada malam Qadar (Laitul Qadar) itu ?

    Kita memperbanyak shalat, memperbanyak memohon ampun (istigfar) kepada Allah, dzikir atau shalawat kepada Nabi Muhammad Saww. pada malam tersebut.

    Wahai Saudara-saudariku cari Ridha dan Ampunan Allah Swt. pada malam yang penuh dengan keagungan yaitu malam Al-Qadar (Lailatu’l-Qadri) pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, terutama pada malam tanggal 25 Ramadhan dan pada malam tanggal 27 Ramadhan, dengan banyak beribadah kepada Allah Swt., terutama memperbanyak istigfar memohon ampun kepada-Nya dan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saww.

    ***

    Huwallaahu A’lam Bisawab

    Dikutip dari: * Riyadhus Shalihin –> Imam An-Nawawi. * Durratun Nasihin –> Usman Alkhaibawi. * At-Tuhfa Al-Mardhiyyah fil Akhbaril Qudsiyyah wal Ahadits Nabawiyyah –> Asy-Syaikh Abdul Majid Al-‘Adawiy

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 3 August 2012 Permalink | Balas  

    Manajemen Umur dan Amal 

    Manajemen Umur dan Amal

    Assalaamu ‘alaikum wr wb.

    Marilah kita hayati, kita pikiri, dan kita lakui rumus manajemen yang datang dari Alloh swt di QS Al-Qodr. Rumus turunannya ada di beberapa hadist rasululloh, Muhammad saw sebagai petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan (JUKLAK & JUKNIS).

    Mungkin semua muslim dan mukmin sudah hafal betul dengan surat pendek itu. Tapi, benarkah saya telah mengimplementasikan JUKLAK dan JUKNIS manajemen itu? astaghfirulloohal ‘adziim.

    Di setiap 10 hari terakhir dari ramadhan ada 1 malam bernilai = 1000 bulan, masya alloh. Kalau kita berbuat baik, misalnya solat malam dua rokaat saja dalam semalam dan Alloh swt ridho, maka akan diperoleh keuntungan menjadi senilai lebih dari 83 tahun kita melakukannya. Bagaimana dengan tahlil, tahmid, takbir, istighfar yang kita lakukan? Bagaimana dengan solat malam yang lebih? mungkin ada yang 8 + 3 witir rokaat dan mungkin ada yang 20 + 3 witir rokaat, ada yang menjamu saur untuk para peserta i’tikaf? Can we Imagine? This miracle has given to Muhammad saw and his followers only.

    Mari kita berusaha semaksimal kita bisa untuk mendapatkan keuntungan tersebut. Kalau hanya minimal, seluruh mukmin dan mukminat insya Alloh, Alloh akan memberikannya. (saya tidak hendak berseberangan dengan pandangan bahwa lailatul qodar itu hanya terjadi pada waktu “dulu” ketika al qur’an diturunkan secara serentak dari lauhul mahfudz ke langit bumi).

    Mari kita sama-sama menggapai jamuan Alloh swt yang luar biasa ini. Laa haula walaa quwwata illa billaah. Allohumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna ya kariim.

    Salam hormat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 2 August 2012 Permalink | Balas  

    Seandainya Tak Ada Ramadhan 

    Seandainya Tak Ada Ramadhan

    Oleh Rubina Qurratu’ain Zalfa

    Sungguh Maha Suci Allah yang telah menyediakan satu bulan yang istimewa yaitu bulan Ramadhan. Bulan penuh kasih sayang, bertabur rahmat, bulan dikabulkannya segala doa dan bulan penuh pengampunan hingga Allah swt menjanjikan bagi mereka yang amalannya puasa Ramadhannya diterima, maka akan kembali lahir sebagai manusia yang bersih dan suci dari dosa.

    Tak heran jika memasuki bulan Ramadhan kita semua jadi terkesan “mendadak salih.” Yang biasanya jarang baca al-Quran jadi rajin membaca al-Quran, yang biasanya jarang ke masjid jadi rajin ke masjid, yang biasanya tidak pernah mengerjakan sholat-sholat sunnah jadi rajin menunaikannya, yang biasanya malas mendengarkan kajian agama jadi rajin mendengarkan ceramah. Tak ketinggalan stasiun televisi dan radio yang berlomba-lomba menayangkan berbagai program Ramadhan. Nuansa relijiusnya jadi lebih terasa.

    Tentu saja perubahan ini merupakan perubahan yang menggembirakan, apalagi jika perubahan itu terbawa sampai Ramadhan usai. Karena salah satu esensi bulan Ramadhan adalah bulan di mana kita menempa diri bukan hanya dari sisi jasmani tapi juga dari sisi rohani. Ibarat besi yang ditempa setiap hari dengan kekuatan dan penuh kesabaran, besi itu akan menjadi besi yang bermutu tinggi dan mengeluarkan kilau yang terang.

    Ramadhan meski cuma satu bulan memberi kesempatan bagi kita untuk membasuh dosa, menyisihkan lebih banyak waktu untuk beribadah dan beramal salih dan lebih memfokuskan diri untuk kehidupan di akhirat kelak. Serta berlomba-lomba mengejar limpahan rahmah Malam Laylatul Qadar, malam yang lebih baik baik dari seribu bulan dan malam itu hanya ada pada bulan Ramadhan

    Subhanallah… Betapa nikmatnya Ramadhan. Tak heran jika orang-orang bertaqwa sangat merindukan datangnya bulan ini, menangis bila Ramadhan berakhir dan berharap semua bulan adalah Ramadhan.

    Bisa dibayangkan bagaimana jika 12 bulan dalam satu tahun itu sama, tidak ada bulan istimewa seperti bulan Ramadhan. Sepanjang tahun kita mungkin akan terus tenggelam dalam kesibukan duniawi, kita mungkin takkan pernah merasakan penderitaan kaum miskin yang kelaparan, kita mungkin tak kan pernah melatih menempa diri untuk mencapai derajat taqwa yang tertinggi dan kita mungkin tak kan pernah menjalin silaturahmi dengan kerabat yang jarang bersua seperti ketika hari Idul fitri.

    “Wahai manusia, kalian telah dilindungi bulan yang agung dan penuh barakah, bulan yang di dalamnya ada lailatul qadr, yang lebih baik dari seribu bulan, ” demikian Rasulullah saw, dalam khutbahnya menyambut bulan Ramadhan.

    Kita hampir sampai di pertengahan Ramadhan, masih banyak kesempatan bagi kita untuk terus menyempurnakan ibadah puasa kita di bulan suci, mengevaluasi diri dan membulatkan tekad untuk menjadi orang yang lebih baik setelah bulan Ramadhan nanti. Terimakasih ya Allah, Yang Maha Karim dan Maha Mengetahui. Telah Engkau sisihkan satu bulan mulia untuk kami, hamba-hambaMu yang hina dan penuh dosa ini. Ampunilah kami, terimalah amal serta ibadah puasa kami dan tempatkanlah kami di dalam surga… Aamin.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 1 August 2012 Permalink | Balas  

    Menantikan Malam Seribu Bulan 

    Menantikan Malam Seribu Bulan

    Tak terasa setengah bulan Ramadhan telah terlewati. Bagaimana dengan ritual ibadah tambahan Anda, masih terus terjaga? Seperti biasa kita temui di awal puasa banyak masjid terlihat terisi penuh oleh jamaah shalat Tarawih. Namun menjelang minggu-minggu berikutnya barisan jamaah di mesjid terus berkurang.

    Barangkali kita terlalu bersemangat di awal-awal puasa, hingga kurang bisa mengatur ‘energi’ untuk beribadah . Mungkin juga terlalu sibuk mengurus pekerjaan rumah atau mengalami kebosanan untuk terus menjaga ritual salat sunnah di mesjid. Yang pasti di bulan ini, anjuran untuk mengerjakan ibadah dan berlomba-lomba dalam kebaikan sangat dianjurkan.

    Tentu pada ramadhan kali ini, kita tidak berharap ibadah yang tengah dilakukan menguap dengan sia-sia, alias hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Maka di pertengahan bulan ramadhan ini, Insya Allah, kita masih diberikan kesempatan untuk memadatkan dan merayakan ibadah-ibadah tambahan di malam hari. Tidakkah Anda menginginkan malam kedamaian dengan seribu bulan yang datang di sepuluh hari terakhir?

    Telah disebutkan dalam Al Quran dalam surat Al Qadr, bahwa tiada malam yang mendapat sebutan indah dari Tuhan kecuali lailatul qadar. Yakni malam yang kebaikannya melebihi seribu bulan. Malam itu memiliki kedudukan yang tinggi dan kemuliaan terhormat (al manzilah ar rafi’ah), lailatulbarakah (malam penuh berkah), lailaturrahmah (malam penuh kasih sayang), laylatussalam (malam penuh keselamatan). Lailatulqadr adalah anugerah khusus yang diberikan Allah pada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah untuk menjemputnya pada bulan Ramadhan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa shalat malam pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan ridla Allah, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya yang telah lalu.” Dari hadist riwayat Muttafaq ‘Alaih. Rasulullah selalu menganjurkan umatnya untuk selalu meraih malam itu.

    Bagaimana memastikan kedatangan malam lailatul qadr? Dari hadist riwayat Bukhari Muslim, Nabi berkata, “Carilah dia (lailatul qadar) pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan pada hitungan ganjil.” Lebih khusus lagi, setiap tanggal ganjil yakni: 21, 23, 25, dan seterusnya. Ada satu pendapat yang mengatakan, lailaltul qadr jatuh setiap 17 Ramadhan bertepatan dengan Nuzulul Quran.

    Di sepuluh malam terakhir ini dianjurkan untuk memperpadat ibadah sunah, seperti salat Tahajud, zikir, salat hajat, tadarus, I’tikaf, dan lainnya. Maka di bulan penuh berkah dan rahmat ini, semua umat muslim sedang menanti “bonus khusus” dari Allah, di mana malam itu penuh “cahaya kedamaian” hingga fajar menjelang. Selamat menanti dan meraih malam seribu bulan.

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 31 July 2012 Permalink | Balas  

    Malam Seribu Bulan 

    Malam Seribu Bulan

    Sungguh telah aku tutrunkan dia (Al Qur’an) dalam Lailatul Qodar. Tahukah kamu apa itu Lailatul Qodar. Lailatul Qodar itu lebih menjadi pilihan ketimbang seribu bulan.Para malaikat dan (Jibril yang menjadi Ruh), turun di malam itu atas izin Tuhan mereka (mengurai) segala (belitan) urusan. Mereka menyapa “salam” (selamat bagi semua, hamba Allah yang teguh). Malam seribu bulan itu (menebarkan berkahnya) samapai fajar menyingsingkan pijar.

    Ketika datang Lailatul Qodar, Kanjeng Nabi sedang sujud. Bersamaan dengan datangnya, hujan turun dengan derasnya. Air hujan yang pealn-pelan menggenangi tempat sujud Kanjeng Nabi, yang dengan lembut menyapa kulit muka beliau, sama sekali tak mengurangi keasyikan beliau menikmati prosesi malaika tyang dipimpin JIbril turun membelai dan menebar al qadar di muka bumi. Kanjeng Nabi yang tenggelam dalam keasyikannya. Keasyikan berbeda yang tak ada seorang perawipun mengisahkannya secara imajiner, dilukiskan seorang ulama sebagai yang tiada taranya. Terbukti dengan sujud Kanjeng Nabi yang sangat panjang, sangat lama dan tidak mempedulikan bagian gemercik air hujan yang makin lama membahasi pipi-mulia Kanjeng Nabi. Beliau sama sekali tidak bergeming. Tenggelam dalam keasyikan mendalam mengikuti prosesi malaikat dalam tabuh merdu segala merdu. Dlaam kidiung keselamatan membuluh perindu, yang didedangkan tak henti sampai fajar menyapa semesta. Malaikat pun menorehkan keindahan di mana-mana. Di hati pemburu Laialtul Qodar. Di hati kita. Wao! Betapa!

    Kita telah melakukan ancang-ancang sejak awal Ramadhan dan nafsu selama sua puluh hari penuh telah kita latih menyabari amal yang paling membosankan sekalipun. Kita lakukan amal yang di luar Ramadhan tidak pernah kita kerjakan. Tarawih, tadarrus, dan sedekah. Kita telah melatih hati dan nafsu kita untuk memiliki ketahanan dan daya tahan kuat demi pahala yang terhitung kelipatannya. Di antara kita bahkan ada yang sudah memulaiiktikafsejak tanggal sebelas, lalu meneruskannya dengan lebih intens hingga Ramadhan berakhir. I’tikaf adalah adalah bagian dari ibadah yang paling ringan. Hanya thenguk-thenguk, duduk diam di masjid, tanpa bacaan, tanpa menggerakkan anggota badan, bahkan terkantuk-kantuk, namun punya nilai dan berpahala. Kanjeng Nabi menganjurkan kepada kita menagguk datangnya Lailatul Qodar dengan ber i’tikaf itu, dengan ibadah paling ringan itu. Agar semua kita bisa melaksanakan dan memperoleh keunggulan malam seribu bulan yang dahsyat itu, yang setiap mukmin pasti mendambakannya itu.

    Gusti Allah menggambarkan, Lailatul Qodar (seharusnya) menjadi pilihan ketimbang seribu bulan. Artinya, dia sangat diikhtiarkan sungguh-sungguh oleh setiap shaim. Dan itu tidaklah terlalu berat. Dia berada dalam satu malam pada lima malam (saja) yang dijanjikan pasti datang , yaitu pada malam-malam tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan. Begitu menurut Kanjeng Nabi. Di antara kita (dari sekian Muslim yang berpuasa) telah memanjakan nafsu dan keinginan untuk lebih suka bersantai sebelum malam-malam itu menjelang. Tidur dan merenung. Setelah malam-malam itu lewat, kita berbuat sesuka nafsu keinginan kita. Sepanjang tahun. Gusti Allah dan Kanjeng Nabi menginginkan agar orang-orang beriman dapat menikmati pemandandan sangat indah , prosesi malaikat yang dipimpin JIbril turun ke bumi dengan gebyar warna-warni indah pelangi yang serasi. Sambil menebar janji pahala tak terhingga kelipatannya, hanya satu malam saja ditangguk oleh shaimyang berlega hati “thaharri berupaya bersungguh-sungguh “menemukannya”. Sungguh.

    Kit asemua percaya itu, karena kita mukmin yang beriman pada yang bghaib. Prosesi malaikat Laialatul Qodar itu ghaib dan hanya bisa disaksikan dengan mata hati yang tajam, bening, dan bersih dari “roin” (cemar duniawi yang menyaput nurani karena perbuatan tak bermutu yang dilakukan sehari-hari). Selama dua puluh hari kita telah mengelap gemerlap hari kita, membersihkannya dari “roin” sehingga manakala kita berlega hati meneguhkan konsentrasi penuh mencegat iring-iringan prosesi malaikat dan Ruh di malamal-qadar itu, dengan mata hati kita yang telah beningitu, niscaya kita akan dapat menyaksikan keindahan tiada tara itu. Keindahan malam seribu bulan.

    Mudah-mudahan di malam itu kita sempat menggumamkan doa : “Rabbana Inna Ka ‘Afuwun Karim, Tuhibbul ‘afwa fa’fu anna”. “Duh Gusti, Paduka Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, Paduka menyukai pengampunan, ampunkan dosa kami.” Kembalikan Gusti, perekat kebangsaan kami, perekat keindonessiaan kami. Amin.

    ***

    K.H. Cholil Bisri

    “Ketika Nurani Bicara” Rosda 1999, hal 15-17.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 30 July 2012 Permalink | Balas  

    Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah? 

    Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah?

    Sebagian besar masjid-masjid kaum muslimin saat ini kita lihat kosong dari jama’ah baik siang maupun malam. Pemandangan ini hampir merata kita temui di setiap tempat, baik di desa maupun di kota. Inilah buah dari kekurangfahaman mereka dalam ilmu syariat, khususnya yang berkaitan dengan hukum sholat berjama’ah.

    Sehingga bila kita tanyakan kepada seseorang, “Mengapa tidak sholat di masjid, kok malah sholat di rumah?”, boleh jadi ia menjawab, “Ah, itu kan cuma sunnah saja…”

    Astaghfirullah!!, semoga Alloh memahamkan kepada kaum muslimin tentang syariat yang mulia ini.

    Apa Hukum Sholat Berjama’ah?

    Ketahuilah, bahwa pendapat yang benar dan rajih dalam masalah ini ialah sholat berjamaah itu wajib (bagi laki-laki, adapun bagi kaum wanita, sholat di rumah lebih baik daripada sholat di masjid walaupun secara berjama’ah). Inilah pendapat yang didukung oleh dalil dalil yang kuat dan merupakan pendapat jumhur (seluruh) ulama dari kalangan sahabat dan tabi’in, serta para imam madzhab (Kitabus Sholat karya Ibnul Qoyyim).

    Perintah Alloh Ta’ala Untuk Sholat Berjamaah dan Ancaman Nabi Yang Sangat Keras Bagi Yang Meninggalkannya

    “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (dalam keadaan berjamaah).” (Al Baqoroh: 43). Perhatikanlah wahai saudaraku, konteks kalimat dalam ayat ini adalah perintah, dan hukum asal perintah adalah wajib.

    Rosululloh telah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku yang ada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan sholat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka.” (Shahih HR. Bukhori)

    Hadits di atas menunjukkan wajibnya (fardhu ain) sholat berjama’ah, karena jika sekedar sunnah niscaya beliau tidak sampai mengancam orang yang meninggalkannya dengan membakar rumah. Rosululloh tidak mungkin menjatuhkan hukuman semacam ini pada orang yang meninggalkan fardhu kifayah, karena sudah ada orang yang melaksanakannya. (Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani)

    Diriwayatkan dari Abu Huroiroh, seorang lelaki buta datang kepada Rosululloh dan berkata, “Wahai Rosululloh, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rosululloh untuk tidak sholat berjama’ah dan agar diperbolehkan sholat di rumahnya. Kemudian Rosululloh memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu telah beranjak, Rosululloh memanggilnya lagi dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?”, Ia menjawab, “Ya”, Rosululloh bersabda, “Penuhilah seruan (adzan) itu.” (Shahih HR. Muslim).

    Perhatikanlah, jika untuk orang buta saja yang tidak memiliki penunjuk jalan itu tidak ada rukhsoh (keringanan) baginya, maka untuk orang yang normal lebih tidak ada rukhsoh lagi baginya.” (Al Mughni karya Ibnu Qudamah). Andaikan memang shalat berjama’ah ketika itu tidak wajib, untuk apa seorang leleki yang buta mesti repot-repot harus bertanya dan meminta keringanan kepada Rasululloh, sementara untuk orang yang sehat saja tidak wajib? Hal ini salah satu bukti tentang wajibnya shalat berjama’ah.

    Hanya Orang Munafik Saja Yang Sengaja Meninggalkan Sholat Jama’ah

    Sahabat besar Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu berkata tentang orang-orang yang tidak hadir dalam sholat jama’ah: “Telah kami saksikan (pada zaman kami), bahwa tidak ada orang yang meninggalkan sholat berjama’ah kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya atau orang yang sakit”.

    Lalu bagaimana seandainya Ibnu Mas’ud hidup di zaman kita sekarang ini, apa yang akan beliau katakan???

    ***

    (Disarikan oleh Abu Hudzaifah Yusuf dari terjemah kitab Sholatul Jama’ah Hukmuha wa Ahkamuha karya DR. Sholih bin Ghonim As-Sadlan)

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 27 July 2012 Permalink | Balas  

    Lailatul Qadr Menurut Dua Pemikir Tasawuf Berbeda Zaman 

    Lailatul Qadr Menurut Dua Pemikir Tasawuf Berbeda Zaman.

    Lailatul qadr adalah malam istimewa, malam keutamaan. Keutamaan itu, menurut Nasaruddin Umar, pengajar IAIN Jakarta, berupa vibrasi (getaran) spiritual.

    Lail adalah malam. Perspektif tawasuf memandangnya sebagai sisi feminin. Lawan katanya nahr, siang, sebagai sisi maskulin. Lailatul qadr menonjolkan nuansa feminin dalam arti nurturing: kelembutan, kehangatan, kemesraan, pengayoman. Lawannya struggle: perebutan, keangkuhan, penguasaan, ketegaran.

    Lailatul qadr memancarkan pesan agar hamba Allah menciptakan kualitas feminin dalam dirinya, yakni membangun rasa kasih. “Jalur tercepat menjumpai Allah adalah jalur feminin. Makanya disebutkan dalam hadis Nabi, `Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga itu di bawah telapak kaki ibu,” kata Nasaruddin.

    Ibu dalam nash (teks) tersebut bermakna kualitas feminin, yang bisa pula dicapai kaum laki-laki. Yakni mencapai kecerdasan spiritual yang sangat berbeda dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual jauh lebih dahsyat.

    Kalau kita salat dengan mengandalkan logika, yang teringat bukan Tuhan. Mungkin nostalgia, proposal yang kita susun, atau munculnya ide-ide segar. Padahal dalam ibadah khusus, yaitu salat yang cuma beberapa menit itu, kita dituntut benar-benar ingat Tuhan. Dengan kecerdasan spiritual orang bisa menangis saat teringat Tuhan, dan merasakan keindahan tersendiri di dalam batinnya. “Dengan begitu, salatnya punya bekas,” kata Nasaruddin.

    Lalu, apa kaitan kecerdasan spiritual dengan lailatul qadr?

    “Lailatul qadr itu password atau entry point mencontoh sifat-sifat Tuhan,” ujarnya. Sayangnya, orang menyambut lailatul qadr dengan hiruk-pikuk dan berbau mitos. “Lailatul qadr jangan dimitoskan. Ada yang menunggu air membeku, kalau sudah dilihatnya air membeku, saat itulah ia berdoa. Bukan itu yang dimaksud malam kemuliaan.” Lailatul qadr jangan diukur dimensi waktu di bumi. Sebab, malam di sini berarti masih siang di tempat lain. Begitu juga sebaliknya, malam di sana, siang di sini.

    Lailatul qadr itu simbol, bukan fakta. Kalau memang fakta, ukuran malamnya ukuran mana, malam di Arab Saudi atau di Indonesia? Pahami lailatul qadr sebagai suasana batin feminin: indah, lembut, penuh kepasrahan, dan kehangatan terhadap Tuhan.

    Sampai di sini Nasaruddin bertemu dengan Hamka, penulis buku Tasawuf Modern, bahwa inti lailatul qadr adalah pencerahan. Bagi Hamka, yang dimaksud lailatul qadr adalah seperti masuk Islamnya Umar ibn Khattab, tatkala membaca lembaran mushaf yang direbutnya paksa dari adiknya, “Thaha! Tidaklah Kami turunkan kepada engkau Al-Quran supaya engkau sengsara. Melainkan peringatan bagi orang yang takut. Diturunkan oleh yang menjadikan bumi dan langit yang tinggi. Yaitu Yang Mahamurah, yang bersemayam di Arasy (ayat 1 sampai 5).

    Umar membacanya dua tiga kali, diulang-ulangnya. Ayat itu merasuk ke kalbunya, lalu datang suasana batin yang mengubah arah hidupnya. “Di mana Muhammad. Bawa aku kepadanya.” Dan Umar pun masuk Islam. “Itulah saat kemuliaan yang melebihi 1.000 bulan,” tulis Hamka.

    Atau tatkala seorang pemuda merayap-rayap pada malam hari, mencari perempuan untuk diajaknya bermaksiat. Tiba-tiba dari satu rumah berlentera terang terdengar suara merdu. Segera tahu si pemuda, di situlah berdiam perempuan rupawan tak bersuami. Dia masuk, lantas tertegun-tegun memandangi paras rupawan sang perempuan yang ternyata sedang membaca Al-Quran. Makin tertegun dia tatkala telinganya mendengar suara perempuan itu sampai pada bacaan: Alam ya’ni lilladziina `aamanuu, an takhsya’a quluubuhum lidzikrillahi wamaa nazala minal haqqi, belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman buat tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah Dia turunkan?” (Al-Hadid:36).

    Si pemuda merasa ayat itu seakan-akan dipukulkan kepadanya. Bergetarlah dia merasakan ada iman di lubuk jiwanya, yang selama ini telah diselubungi hawa nafsu. Ambruklah saat itu jua segala syahwat, ia meluncur turun, lari menuju masjid menegakkan salat. Sejak itu berubah hidupnya, menjadi manusia saleh. Pemuda itu tak lain Fudhail ibn Ayyadh. “Malam tatkala dia mendengar ayat Quran, lalu tergetar hatinya dan berubahlah perilakunya, itulah lailatul qadr.”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 26 July 2012 Permalink | Balas  

    Puasa Yang Terlupakan 

    Puasa yang Terlupakan

    Yang sering kita lupakan, mengapa selama bulan Ramadan pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi dapur justru meningkat. Ini fenomena global di mana saja. Di dunia Arab pun demikian. Fenomena yang musti kita resahkan bersama. Bukankah “urusan perut” itu remeh sekali, dan mestinya pengeluaran menjadi mengecil selama Ramadan, karena kita makan hanya dua kali dari kebiasaan sehari tiga kali?

    Bukankah kita ini, selama ini, berpuasa setelah kenyang bersahur dan siap menyantap hidangan bebuka pada sore hari? Miskinkah kita? Bukankah tujuan puasa adalah untuk berlatih miskin? Tapi mengapa acara berbuka terlalu diformalisasi, harus ada kolak, ada ini ada itu, yang biasanya nggak ada diada-adakan? Seperti itukah puasa? Akhirnya makna puasa tetap saja hilang, karena kita tetap ingin nampak kaya, dan bahkan berusaha nampak lebih kaya lagi? Membeli ini dan itu?

    Berbuka itu kan yaa hanya sekedar utk membatalkan puasa. Hanya itu. Mengapa kita tidak sederhana saja, seperti biasanya. Bahkan seharusnya meniadakan yang biasanya ada, dan kita sisihkan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan.

    Kawan-kawan yang saya cintai, indah sekali ketika Qur’an menuturkan “orang yang berpuasa” memakai kalimat “saaih” (orang yang berkelana, dari siyaahah = berkelana). Maksudnya orang yang berpuasa itu perumpamaannya orang yang mengolah badannya dengan tujuan selanjutnya mengolah ruhnya. Menahan lapar, dahaga, dll, guna memuluskan jalan menuju alam rohani. Kita tidak akan mencapai alam rohani dengan sekedar menahan lapar sehari, setelah kenyang menyantap sahur dan menyiapkan menu buka seenak-enaknya. Beratkah puasa seperti ini? Ringan sekali bukan? Sadarlah kita itu puasanya anak kecil. Apalagi di musim penghujan dan musim dingin seperti sekarang, jarang rasa haus dan dahaga.

    Sadarlah kita, tak jarang merindukan puasa karena sekedar menuruti refleksi ikatan-ikatan perasaan dengan bentuk-bentuk lahiriyah suasana Ramadan: selama Ramadan ramai “kuliah subuh”, semarak masjid dengan tarawih dan tadarus, kekhasan santapan kolak hangat, dll. Semua anak kecil pun pasti merasakan hal yang demikian, merindukan suasana Ramadan itu. Anak kelas 4 SD sudah tak keberatan berpuasa, dia merindukan puasa dan suasana Ramadan seperti itu.

    Tapi sadarkah kita bahwa anak-anak kecil itu belum mampu menemukan sesungguhnya makna dan tujuan puasa? Apakah kita tetap seperti mereka, tetap kerdil, sekedar merindukan hal-hal yang demikian remehnya? Kita jangan membohongi batin kita sendiri, marilah kita tanya setulusnya kepada hati kita, “apakah kita hanya sekedar merindukan hal-hal di atas itu dan melupakan apa makna puasa itu sendiri, atau betul-betul ingin merasakan kepedihan saudara-saudara kita yang kelaparan dan kedinginan di pengungsian, tinggal di kemah-kemah lusuh?”. Mengapa kita harus berbuka bersama segala, apa tujuannya? Hanya sekedar menuruti keinginan bertemu kawan, ramai-ramai berbuka bareng? Hanya itu? Ya, siapa saja kalau ketemu kawan pasti senang, apalagi dalam acara yang dipersiapkan secara istimewa. Tapi sekali lagi, hal-hal spt itu hanyalah sekedar kesenangan-kesenangan lahir yang tak ada kaitannya sama sekali dengan substansi puasa. Tidakkah kita pikirkan biaya tiket Surabaya-Jakarta, Bandung-Jakarta, yang bisa didonasikan ke hal-hal yang lebih darurat, bisa untuk membeli buku untuk memperbanyak koleksi perpustakaan misalnya, belum lagi rugi waktu dll. Berkumpul bermusyawarah itu penting, tapi demikian pentingkah berkumpul untuk berbuka?

    Saatnya kita merenung bersama dengan hati yang jernih penuh kontemplasi. Yang paling sederhana, coba kita mengkalkulasi pengeluaran urusan pribadi, apakah semakin membengkak atau mengecil selama Ramadan. Kalau membengkak, maka hakekatnya kita tidak berpuasa sama sekali. Kita harus puas hanya sebatas menahan lapar dan dahaga. Dan itu kerugian yang teramat besar.

    Saatnya kita “mengencangkan ikat pinggang” sendiri, sambil melonggarkan belanja kita di jalan Allah. Ada cerita menarik dan mengesankan kaitannya dengan hal ini: Masa kecilnya Kiai Sahal (Rais Aam PBNU). Di saat menjelang hari raya Idul Fitri, Sahal kecil mendapat tugas rutin tahunan dari Romonya (KH. Mahfudh Salam). Tugas itu adalah membagi-bagikan pakaian-pakaian baru untuk kawan-kawannya yang fakir-miskin di kampungnya. Sementara dia sendiri tak pernah digantikan bajunya pada hari lebaran.

    Aah…seandainya kita bisa meniru.

    **

    Ya Allah Ya Aziz Berilah hambamu kekuatan Iman untuk mendapatkan Janjimu di bulan Ramadhan … Ya Rahim. Ya Allah Ya Ghofar Bukalah pintu hati kami untuk dapat mendengarkan seruan Mu .. Ya Rahman Ya Allah Ya Wujud Bukalah Pintu gerbang pengetahuanmu untuk kami yang bodoh ini …Ya Baqa

    “Mohon ma’af saya kepada semua atas segala apa yang telah saya lakukan baik secara Qauliyah, Filliyah, Maliyah maupun Qalbiyah, semoga kita bisa menjalani Puasa tahun ini dengan hati bersih”

    Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 24 July 2012 Permalink | Balas  

    Puasa : Menuju Makan yang Sejati 

    Puasa : Menuju Makan yang Sejati

    “Makan hanya ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang” adalah formula tentang kesehatan hidup. Tidak hanya menyangkut tubuh, tapi juga keseluruhan mental sejarah. Ia adalah contoh soal lebih dari sekadar teori keilmuan tentang keefektifan dan efisiensi.

    Selama ini pemahaman-pemahaman nilai budaya kita cenderung mentabukan perut. Orang yang hidupnya terlalu profesional dan hanya mencari uang, kita sebut “diperbudak oleh perut”. Para koruptor kita gelari “hamba perut” yang mengorbankan kepentingan negara rakyat demi perutnya sendiri.

    Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab, kebutuhan perut amat sederhana dan terbatas. Ia sekadar penampung dan distributor sejumlah zat yang diperlukan untuk memelihara kesehatan tubuh. Perut tidak pernah mempersoalkan, apakah kita memilih nasi pecel atau pizza, lembur kuring atau masakan Jepang.

    Yang menuntut lebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak untuk disantuni dengan jenis makanan cukup seharga seribu rupiah. Tetapi lidah mendorong kita harus mengeluarkan sepuluh ribu, seratus ribu atau terkadang sejuta rupiah.

    Mahluk lidah termasuk yang menghuni batas antara jasmani dengan rohani. Satu kaki lidak berpijak di kosmos jasmani, kaki lainnya berpijak di semesta rohani. Dengan kaki yang pertama ia memanggul kompleks tentang rasa dan selera; tidak cukup dengan standar 4 sehat 5 sempurna, ia membutuhkan variasi dan kemewahan. Semestinya cukup di warung pojok pasar, tapi bagian lidah yang ini memperkuda manusia untuk mencari berbagai jenis makanan, inovasi, dan paradigma teknologi makanan, yang dicari ke seantero kota dan desa. Biayanya menjadi ratusan kali lipat.

    Dengan kaki lainnya lidah memikul penyakit yang berasal dari suatu dunia misterius yang bernama mentalitas, nafsu, serta kecenderungan -kecenderungan aneh yang menyilati budaya manusia. Makan yang dalam konteks perut hanya berarti menjaga kesehatan, di kaki lida itu diperluas menjadi  bagian dari kompleks kultur, status sosial, gengsi, foedalisme, kepriyayian, serta penyakit-penyakit kejiwaan komunitas manusia lainnya.

    Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sejati dengan konteks perut dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsukan, dimanipulir atau diartifisialkan menajadi urusan kultur dan peradaban yang biayanya menjadi sangat mahal. BUdaya artifisialisasi makan ini dieksploitasi dan kemudian dipacu oleh etos industrialisasi segala bidang kehidupan, serta disahkkan oleh kepercayaan budaya makan, pembaruan teknologi konsumsi, jenis makanannya, panggung tempat makannya, nuansanya, lagu-lagu pengiringnya, pewarnaan meja kursi, dindingnya hingga karaokenya.

    Artifisialisasi budaya makan itu akhirnya menciptakan berbagai ketergantungan manusia, sehingga agar selamat sejahtera dalam keterlanjuran ketergantungan itu, manusia bernegosiasi di bursa efek, menyunat uang proyek, memborong barang-barang, bahkan berperang membunuh satu sama lain.

    Padahal perut hanya membutuhkan “makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”.

    Maka yang bernama “makan sejati” ialah makan yang sungguh-sungguh untuk perut. Adapun yang pada umumnya kita lakukan selama ini adalah “memberi makan kepada nafsu”. Perut amat sangat terbatas dan Allah mengajarinya untuk tahu membatasi diri. Sementara nafsu adalah api yang tiada terhingga skala pembesaran atau pemuaiannya. Jika filosofi makan dirobek dan dibocorkan menuju banjir bandang nafsu tidak terbatas, jika ia diartifisialkan dan dipalsukan dan tampaknya itulah satu sahan utama berbagai konflik dan ketidakadilan sejarah ummat manusia, maka sesungguhnya itulah contoh paling konkret dari terbunuhnya efisiensi dan keefektifan. Rekayasa budaa makan pada masyarakat kita, dari naluri sehari-hari hingga aplikasinya di pasal-pasal rancangan pembangunan jangka pendek dan jangka panjang, mengandung inefisiensi atau keborosan dan keserakahan, yang terbukti mengancam alam dan kehidupan manusia sendiri, disamping sangat itdak efektif mencapai hakikat tujuan makan itu sendiri.

    ***

    Emha Ainun Nadjib

    Dari buku : “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiyai”, Risalah Gusti 1994, hal 15-21

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 23 July 2012 Permalink | Balas  

    Sudahkah kita menjaga Puasa kita? 

    Sudahkah kita menjaga Puasa kita?        

    Rasulullah SAW bersabda : “Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil.” (Hadits Riwayat Bukhari – Muslim)

    “Lima hal yang dapat membatalkan puasa: berkata dusta, ghibah (menggunjing), memfitnah, sumpah dusta dan memandang dengan syahwat.” (Hadits Riwayat Al-Azdiy)

    “Barangsiapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan dusta selama berpuasa, maka Allah SWT tidak berhajat kepada puasanya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

    “Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

    “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali haus dan lapar.” (Hadits Riwayat Turmudzi)

    Imam Al-Ghazali berkata : “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya itu, selain lapar dan haus. Sebab puasa itu bukanlah semata-mata menahan lapar dan haus, akan tetapi adalah menahan hawa nafsu. Boleh jadi orang tersebut berdusta, menggunjing dan memandang dengan syahwat, sehingga yang demikian itu membatalkan hakikat puasa.” (Ihya’ Ulumiddin)

    Para Ulama berkata: “Betapa banyak orang yang berpuasa padahal ia berbuka (tidak berpuasa) dan betapa banyak orang yang berbuka padahal ia berpuasa.” Yang dimaksud dengan orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud dengan berpuasa tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan kendali bagi anggota tubuh yang lain.” (Ihya’ Ulumiddin)

    Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya puasa itu adalah amanah, maka hendaknya masing-masing kamu menjaga amanahnya.” (Hadits Riwayat Al-Kharaithy)

    Sudahkah kita menjaga puasa kita?

    ***

    Referensi : Asrar Ash-Shaum min Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali

     
    • andika 7:45 am on 25 Juli 2012 Permalink

      mohon ijin untuk mencopy

    • ali 12:54 am on 7 Agustus 2012 Permalink

      mnt tlong tuk dijlsin makna dr sabda rosullullah yg dikemukakan oleh bukhori-muslim & conthx di khdpan shri-hari.trim’s

  • erva kurniawan 1:28 am on 22 July 2012 Permalink | Balas  

    Ghibah dan Puasa 

    Ghibah dan Puasa

    Dari ‘Ubaid r.a, dia berkata : “Di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan orang-orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah SAW, untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka. Sesampainya utusan tsb kepada Rasulullah SAW, beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ternyata kedua wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan Rasulullah SAW bersabda : “Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah ‘daging-daging’ mereka yang dipergunjingkan.” (Hadits Riwayat Ahmad)

    “Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

    “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan yang haram.” (Al-Qur’an Surat Al-Maidah : 42)

    Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. “ (Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat:12)

    ***

    REFERENSI: Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 21 July 2012 Permalink | Balas  

    Berdo’a dalam Puasa 

    Berdo’a dalam Puasa.

    Nabi Muhammada SAW pernah bersabda kepada para sahabat, “ada tiga (kelompok) orang yang sekali-sekali tidak akan ditolak do’anya oleh Allah. Pertama, do’a orang yang berpuasa. Kedua, do’a kepala negara yang adil. Ketiga, do’anya orang yang teraniaya.”

    Nabi Mengatakan bahwa Ramadahan itu adalah bulan penuh rahmah pada sepuluh hari pertama, penuh maghfirah pada sepuluh hari kedua, dan kebebasan dari api neraka pada sepuluh hari terakhir.

    Al Qur’an memberikan beberapa makna untuk Kata Do’a, bisa berarti istighatsah (permohonan bantuan dan pertolongan), permintaan, percakapan, memanggil, dan memuji. Dengan rajin berdo’a Insya Allah motivasi kita berpuasa, yaitu Taqwa, Insya Allah akan tercapai.

    Lebih tegas lagi Nabi SAW berkata, :”Do’a itu adalah ibadah, artinya mengabdikan diri kepada Allah. Kemudian beliau membuka Al Qur’an, “Tuhanmu telah berfirman : “Berdo’alah kamu dan mintalah kamu kepada-Ku, niscaya aku menerima permintaanmu, sesungguhnya mereka yang sombong tidak mau berdo’a kepada-Ku akan masuk kedalam neraka jahanam sebagai seorang hina-dina.”

    Agar do’a kita diterima Allah, sebaiknya kita patuhi tata cara berdo’a, antara lain hati kita harus ikhlas, konsentrasikan pikiran kepada siapa kita memohon, lalu kaji ulang apa apa yang kita mohonkan, lalu serahkan segala urusan kepada Nya. Nabi SAW berkata : “Allah tidak mengabulkan do’a dari hati yang ceroboh, Allah juga tidak mengabulkan do’a yang dicampuri dosa dan dalam keadaan memutus silaturahim.

    Mengapa do’a kita tidak diterima Allah, padahal Ia berjanji akan mengabulkannya?

    Seorang Sufi menjawab : Tujuh sebab do’a yang ditolak yaitu :

    1. Apa yang kita perbuat menyebabkan Allah murka.
    2. Mengaku hamba Allah tetapi tidak patuh
    3. Al Qur’an dibaca, tetapi perintah dan laranganNya diabaikan
    4. Mengaku umat Muhammad tetapi tidak melaksanakan sunnahnya
    5. Mengaku dunia ini tidak berharga disisi Allah, tetapi merasa senang kepadanya
    6. Tahu bahwa dunia tidak kekal, tetapi tingkah laku kita menggambarkan seakan-akan dunia ini kekal selamnya
    7. Mengaku akhirat itu lebih baik dari dunia, tetapi kita selalu mengutamakan dunia dan tidak bersungguh-sungguh terhadap akhirat.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 20 July 2012 Permalink | Balas  

    Panduan Amaliyah Ramadhan 

    PANDUAN AMALIYAH RAMADHAN

    Muqoddimah

    Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah,tapi dia mempunyai makna tersendiri . Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah (perjalanan) dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah,dari kehidupan penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah.muali dari tilawah Al-Qur-an,menahan syahwat dengan shiyam,sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa ramadhan yaitu : agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqarah:183 dan akhir Al-Hijr)

    Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang muslim. Hal ini terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya di hadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan.

    Diantara amaliyah-amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah adalah sebagai berikut :

    1. Shiyam (puasa)

    Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adlah shiyam (puasa),sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat Al-Baqarah:183-187 Dan diantara amaliyah shiyam ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah :

    a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya.

    “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya”(HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

    b. Tidak meninggalkan Shiyam, walaupun sehari dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam.

    Rasulullah SAW bersabda bahwa : “Barang siapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit,hal itu merupakan dosa besar yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup” (HR at Turmudzi).

    c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam

    Rasulullah SAW pernah bersabda : “Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkan makan dan minum,melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah juga bersabda bahwa : “Barang siapa berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya,maka tidak ada nilai bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum” (HR Bukhori dan Muslim)

    d. Bersungguh-sungguh melakukan shiyam dengan menempati aturan-aturannya.

    Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan,maka akan diampunkan dosa-dosa yang pernah dilakukan” (HR Bukhori,Muslim dan Abu Daud).

    e. Bersahur, Makanan yang berkah (al ghoda’ al mubarok).

    Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa : “Makanan sahur semuanya bernilai berkah.maka jangan anda tinggalkan,sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR Ahmad). Dan di sunnahkan mengakhiri makan sahur.

    f. Ifthor, berbuka puasa.

    Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya,ialah mereka yang bersegera berbuka puasa”. (HR Ahmad dan Tarmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengka),atau tamr (kurma) atau air saja” (HR Abu Daud dan Ahmad).

    g. Berdo’a.

    Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan ber ifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah. Rasulullah bahkan mensyari’atkan agar orang-orang berpuasa banyak memanjatkan do’a,sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda: ” Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-orang yang berpuasa sehingga mereka berbuka” (HR Ahmad dan Turmudzi)

    2. Tilawah (membaca) Al-Qur’an

    Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. (OQ Al Baqaroh:185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas Al-Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas Al-Qur’an di sepanjang tahun ini) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan. Imam Az Zuhri pernah berkata : ” Apabila Ramadhan datang maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Qur’an. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap mempertahankan tajwid (kaedah membaca Al-Qur’an”. Dan esensi dasar diturunkannya Al-Qur’an untuk ditadabburi,dipahami dan diamalkan (QS.Shod:29).

    3. Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan Shodaqoh lainnya).

    Salah satu Amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan Ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan “Barang siapa yang memberikan Ifthor kepada orang-orang yang berpuasa,maka ia mendapatkan pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu,tanpa mengurangi pahala orang yang berpusa tersebut” (HR Turmudzi dan An Nasa’I).

    Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan ifthor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal Dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan kepeduliannya tampil lebih menonjol,kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai “Lebih cepat dari Angin”(HR Bukhori).

    4. Memperhatikan Kesehatan

    Shaum memang termasuk kategori Ibadah (murni),sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini :

    a. Menyikat gigi dengan siwak (HR Bukhori dan Abu Daud)

    b. Berobat seperti dengan berbekam (Al Hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim

    c. Memperhatikan penampilan,seperti pernah diwasiatkan Rasulullah SAW kepada sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut (HR Al Haitsami)

    5. Memperhatikan Harmoni Keluarga

    Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus di peruntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah,tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau,selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni I’tikaf,harmoni itu tetap terjaga.

    6. Memperhatikan Aktivitas da’wah dan sosial

    Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh Amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da’wah,kegiatan sosial,perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekkah (tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9 H),mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin) dll.

    7. Qiyam Ramadhan (Sholat Tarawih)

    Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah Qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sholat Tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat Tarowih (berjama’ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR Bukhori Muslim). Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat Tarowih dalam 11 raka’at dengan bacaan2 yang panjang (HR Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat Tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah raka’at sholat Tarawih adalah 21 atau 23 raka’at (HR Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan raka’at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi’I, seorang tokoh yang dijuluki sebagai amirul mu’minin fi hadist, beliau menyampaikan bahwa : Beberapa Informasi tentang jumlah raka’at Tarowih menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 raka’at,kadang 21 dan terkadang 23 raka’at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 raka’at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 dan 23 raka’at mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma’ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan.

    8. I’tikaf

    Diantara Amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam bulan Ramadhan ialah I’tikaf,yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudri RA, hal demikian ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan,pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh jika Imam az Zuhri berkomentar : Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah I’tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke Madinah sehingga wafatnya disana.

    9. Lailat al Qadr

    Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr : 1-5). Rasulullah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih Lailat al Qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR Bukhori Muslim). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : Barang siapa yang sholat pada malam Lailatul Qodr berdasrkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (HR Bukhori Muslim).

    10. Umroh

    Umroh atau haji kecil bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan,sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah di sabdakan Rasulullah kepada seorang wanita dari Anshor bernama Ummu Sinan: “Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh,karena nilainya setara haji bersama Rasulullah SAW.(HR Bukhori Muslim).

    11. Zakat Fithr

    Pada hari-hari terkahir bulan ramadhan Amaliyah yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr,suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laki-laki maupun perempuan ,baik dewasa maupun anak-anak (HR Bukhori Muslim). Zakat Fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin.(HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

    12. Ramadhan bulan Taubat menuju Fithroh

    Selama sebulan penuh secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang maha pemurah juga maha pengampun . Beliaulah Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hamba Nya dari Api neraka (HR Rirmidzi dan Ibnu Majah). Karena inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fthroh nya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 19 July 2012 Permalink | Balas  

    I’tikaf 

    Pengajian Ramadhan : I’tikaf

    I’tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda :

    “Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw. Biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    “Dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rasulullah SAW. biasa beri’tikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah beri’tikaf selama dua puluh hari. (Hadist Riwayat Bukhori).

    Sebagian ulama mengatakan bahwa ibadah I’tikaf hanya bisa dilakukan dengan berpuasa.

     Tujuan I’tikaf.

    1. Dalam rangka menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam rangka pencapaian ketakwaan hamba.

    2. Sebagai salah satu bentuk penghormatan kita dalam meramaikan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah swt.

    3. Menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat 97:3.

    4. Membina rasa kesadaran imaniyah kepada Allah dan tawadlu’ di hadapan-Nya, sebagai mahluk Allah yang lemah.

     Rukun I’tikaf.

    I’tikaf dianggap syah apabila dilakukan di masjid dan memenuhi rukun-rukunnya sebagai berikut :

    1. Niat. Niat adalah kunci segala amal hamba Allah yang betul-betul mengharap ridla dan pahala dari-Nya.

    2. Berdiam di masjid. Maksudnya dengan diiringi dengan tafakkur, dzikir, berdo’a dan lain-lainya.

    3. Di dalam masjid. I’tikaf dianggap syah bila dilakukan di dalam masjid, yang biasa digunakan untuk sholat Jum’ah. Berdasarkan hadist Rasulullah saw.

    “Dan tiada I’tikaf kecuali di masjid jami’ (H.R. Abu Daud)

    4. Islam dan suci serta akil baligh.

     Cara ber-I’tikaf.

    1. Niat ber-I’tikaf karena Allah. Misalnya dengan mengucapkan : Aku berniat I’tikaf karena Allah ta’ala.

    2. Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak berzikir, tafakkur, membaca do’a, bertasbih dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.

    3. Diutamakan memulai I’tikaf setelah shalat subuh, sebagaimana hadist Rasulullah saw.

    “Dan dari Aisyah, ia berkata bahwasannya Nabi saw. apabila hendak ber-I’tikaf beliau shalat subuh kenudian masuk ke tempat I’tikaf. (H.R. Bukhori, Muslim)

    4. Menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. Dan disunnahkan memperbanyak membaca: Ya Allah sesungguhnya Engkau Pemaaf, maka maafkanlah daku.

    Waktu I’tikaf.

    1. Menurut mazhab Syafi’i I’tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber-I’tikaf. Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat I’tikaf maka syahlah I’tikafnya.

    2. I’tikaf dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang lebih utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh hadist di atas.

    Hal-hal yang membatalkan I’tikaf.

    1. Berbuat dosa besar.

    2. Bercampur dengan istri.

    3. Hilang akal karena gila atau mabuk.

    4.Murtad (keluar dari agama).

    5. Datang haid atau nifas dan semua yang mendatangkan hadas besar.

    6. Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak atau uzur, karena maksud I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan hanya untuk ibadah. 7. Orang yang sakit dan membawa kesulitan dalam melaksanakan I’tikaf.

    Hikmah Ber-I’tikaf .

    1. Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah.

    2. Seseorang yang tinggal di masjid mudah untuk memerangi hawa nafsunya, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan jiwa.

    3. Masjid merupakan madrasah ruhiyah yang sudah barang tentu selama sepuluh hari ataupun lebih hati kita akan terdidik untuk selalu suci dan bersih.

    4. Tempat dan saat yang baik untuk menjemput datangnya Lailatul Qadar.

    5. I’tikaf adalah salah satu cara untuk meramaikan masjid.

    6. Dan ibadah ini adalah salah satu cara untuk menghormati bulan suci Ramadhan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 18 July 2012 Permalink | Balas  

    17 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan 

    17 Kekeliruan Umum Selama Ramadhan

    Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini kami sarikan 16 kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan

    Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

    Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.

    1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

    Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.

    Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.

    2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu

    Ini penyakit yang –diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.

    3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

    Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.

    4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat

    Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari. Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang. Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb. “Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).

    5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib

    Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan).

    6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)

    Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh.

    7. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

    Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan. Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ; Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb. T idur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah) . Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang -bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing), menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb. Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)

    8. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan

    Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.

    9. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan ( terutama untuk laki-laki muslim )

    Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.

    10. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikanIni pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.

    11. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya

    12. Semakin jarang bershadaqah

    13. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan

    14. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.

    5. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)

    16. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan

    17. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa

    Mereka lebih sibuk apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang biasanya mengalami poin-poin nomor 14, 15 dan 16 adalah orang-orang yang tertipu oleh “fatamorgana Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan, mereka malah menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini-itu, substansi puasa yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif, memborong apa saja yang mereka mampu beli. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan. Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten dengan agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.

    Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu meng-up grade (naik kelas) puasa kita, wallaahu a’lam bis shawaab.

    ***

    (Ahmad Rizal, Alumni STAIL, dan KMI Gontor-Ponorogo/Hidayatullah)

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 17 July 2012 Permalink | Balas  

    Ramadhan Cinta 

    Ramadhan Cinta

    Ramadhan adalah bulan pembuktian cinta. Ketundukan adalah cinta, kebajikan adalah cinta, derma adalah cinta, dan menata jiwa lebih dewasa adalah cinta. Ramadhan, saatnya memberi makna istimewa pada cinta kita

    (Anis Matta)

    Dan, ramadhan kembali tiba!

    Sudah siapkah kita menyambutnya..?. Tentu, setiap diri kita punya jawaban masing-masing. Jawaban yang berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka yang penuh suka cita menyambutnya, dengan perasaan senang karena dipertemukan lagi dengan bulan yang mulia ini. Merugi, mereka yang biasa saja, bermalas-malas menyambutnya, apalagi mereka yang tak senang atau merasa terkekang karenanya. Padahal kalau kita memahaminya, sungguh banyak hikmah yang bisa petik pada setiap ramadhan tiba.

    Di dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasanya” (Muttafaqun’alaih). Dalam dimensi ini, kita memaknai bagaimana ibadah puasa adalah ibadah khusus. Ini adalah kesempatan kita untuk membuktikan cinta, kerendahan hati seorang hamba kepada sang khalik. Apa yang kita lakukan, puasa yang kita lakukan di bulan ramadhan, Dialah yang akan membalasnya. Bulan ini juga memberi kesempatan kita terhapus atas segala dosa-dosa kita. Doa-doa ampunan atas segala kesalahan terkabulkan, tentu dengan semangat pengharapan terdalam dari diri kita.

    Lewat perantaraan Rasulullah, juga disebutkan tentang keistemewaan orang yang berpuasa “ Sesungguhnya di surga ada satu pintu bernama Al-Rayyan, dari pintu ini akan masuk orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat, tidak ada siapapun selain mereka yang akan memasuki pintu ini, dikatakan, mana orang-orang yang berpuasa..?. Lalu mereka semua berdiri, tidak ada satupun yang memasuki pintu ini, jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya”. (Muttafaqun’alaih).

    Inilah dimensi transendental. Dimensi keTuhanan. Allah SWT telah menjanjikan kepada hambanya dengan kenikmatan kelak di kemudian hari jika benar-benar melakukan ibadah puasa dengan semestinya, sesuai sunnah-sunnah yang diajarkan Rasulullah. Maka, tak ada yang kita lakukan, selain kita memaknai bulan ini dengan bulan pembuktian cinta kita. Kita isi hari-hari puasa kita dengan ibadah-ibadah untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Bukan untuk apa-apa, semata-mata untuk meraih keridhoan Allah saja.

    Lantas, bagaimana dimensi kemanusiaannya..?. Puasa, sebenarnya ada wujud solidaritas kemanusiaan. Sebulan penuh kita melakukan puasa, menahan lapar dan haus sepanjang pagi dan siang. Makna yang bisa kita ambil sebenarnya melatih kepekaan sosial kita, kepedulian kita kepada sesama. Kita, mungkin hanya sebulan merasakan lapar dan dahaga, tapi diluar sana, bisa jadi teramat banyak yang setiap hari menahan lapar, sudah terbiasa hidup dengan amat kesulitan dan memprihatinkan. Para pengemis itu, gelandangan itu, buruh-buruh kasar itu, orang-orang pinggiran kota itu, petani miskin itu.

    Sungguh inilah bulan pembuktian cinta kita kepada sesama. Melihat dengan mata hati kita, teramat bersyukur kita sebenarnya. Sepanjang pagi dan siang mungkin kita sama-sama menahan lapar. Tapi ketika sore tiba, saat berbuka puasa, makanan-makanan enak toh masih sempat kita santap. Tidakkah kita pantas bersyukur karenanya ?. Bagaimana pembuktiannya, salah satunya adalah dengan derma kita untuk sesama, semangat untuk memberi dan berbagi dengan sesama. Kita asah mata hati kita untuk lebih peka atas nasib dan penderitaan orang lain. Lantas, kita berikan kebahagiaan sepanjang kita bisa untuk mereka. Membuat mereka sejenak tersenyum.

    Demikianlah ramadhan cinta menyapa kita, tidakkah kita merindukannya..?

    ***

    Oleh Yon’s Revolta

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 16 July 2012 Permalink | Balas  

    Bagaimana Menyambut Ramadhan 

    Bagaimana Menyambut Ramadhan

    Segala puji bagi Allah tuhan sekalian alam.

    Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad s.a.w.. Mari kita mohon kepada Allah, Dzhat Yang Maha Agung, semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang apabila mendapatkan rizqi bersyukur, apabila mendapatkan cobaan bersabar dan apabila melakukan dosa atau kesalahan mau meminta ampunan. Umat Islam saat ini sedang berada dalam masa yang sangat mencemaskan dan dalam perjalanan sejarahnya yang penuh onak dan duri. Tidak sedikit negara-negara Islam saat ini mengalami penderitaan yang sangat berat berupa kemiskinan, ditindas, dibantai, dijajah dlsb.

    Ramadhan sebentar lagi akan tiba, dan ini merupakan suatu momentum yang sangat tepat bagi kita kaum muslimin untuk menyamakan persepsi bahwa kita ini sebenarnya adalah satu tubuh, apabila salah satu organ tubuh terserang sakit maka seluruh tubuh akan merasakan sakit yang sama. Bulan Ramadhan juga merupakan ajang kita untuk “bertadharru’, meratap kepada Allah agar segala kesusahan, kedlaliman dan diskriminasi dijauhkan dari kita. Dan semoga umat ini juga ditunjukkan jalan yang benar, yaitu jalan dimana para pejuang kebenaran diberikan kejayaan atas orang-orang pembuat kerusakan. Semoga Allah menggandeng tangan umat ini kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tinggal beberapa hari lagi, kita kedatangan bulan Romadhan. Sudah sewajarnya kita menyambutnya dengan suka cita. Dulu para sahabat dan tabi’in senantiasa memanjatkan do’a agar di pertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. “Ya Allah sampaikan kami kepada bulan Ramadhan berikutnya”.

    Keutamaan Ramadhan.

    Keutamaan ini bisa dilihat dari turunnya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Ini merupakan tanda yang cukup jelas betapa mulianya bulan ini, karena Al-Qur’an adalah Kalamullah yang diturunkan untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia. Allah berfirman “Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana diturunkan al-Qur’an di dalamnya untuk menjadi petunjuk bagi manusia, dan tanda-tanda dari petunjuk dan pembeda (dari yang benar dan batil)”. Untuk itulah Allah mewajibkan kaum muslimin untuk memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya dengan melaksanakan puasa sebagai realisasi rasa syukur kita kepada Allah atas ni’mat bulan Ramadhan, “Barangsiapa menemukan bulan (Ramadhan) maka berpuasalah”. Ramadhan merupakan bulan puasa, bulan mendirikan sholat, bulan memperbanyak membaca al-Qur’an, bulan yang penuh rahmat, maghfiroh dan pembebasan dari api neraka, bulan dimana segala amal kebajikan dilipatgandakan dan amal keburukan dan maksiat dimaafkan, bulan segala do’a dikabulkan, dan derajatnya ditinggikan. Allah mewajibkan puasa ini agar kita bisa bertaqwa dengan sesungguhnya, sebagaimana firman Allah :

    “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu melaksanakan puasa sebagaimana yang diwajibkan atas kaum sebelummu, agar kamu bertaqwa”.

    Taqwa adalah buah yang diharapkan mampu di hasilkan oleh puasa. Buah tersebut akan menjadi bekal orang beriman dan periasai baginya agar tidak terjatuh dalam jurang kemaksyiatan. Seorang ulama sufi pernah berkata tentang pengaruh taqwa bagi kehidupan seorang muslim; “Dengan bertaqwa, para kekasih Allah bisa terlindungi dari perbuatan yang tercela, dalam hatinya diliputi rasa takut kepada Allah sehingga menyebabkannya senantiasa terjaga di malam hari untuk beribadah, lebih suka menahan kesusahan dari pada mencari hiburan, rela merasakan lapar dan haus, merasa dekat dengan ajal sehingga mendorongnya untuk memperbanyak amal kebajikan. Taqwa merupakan kombinasi kebijakan dan pengetahuan, serta gabungan antara perkataan dan perbuatan.

    Di antara keutamaan bulan Ramadhan adalah seperti yang dijelaskan Rasulullah s.a.w. : “Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh syaithan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup , tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga ibuka hingga tidak ada satupun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru; “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkilah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi.)

    Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairoh RA berkata: berkata Rasulullah SAW: “Ketika telah masuk bulan Ramadhan maka dibuka pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka jahannam, dan dibeleggu semua syaithan”. Dalam Riwayat Bukhari yang lain; “ketika telah tiba bulan Ramadhan maka di bukakan pinti-pintu sorga”.

    Jadi di dalam bulan yang suci ini Allah menjauhkan semua penyebab kehancuran dan kemaksiatan, syaitan diikat dan dibelenggu, hingga tidak kuasa untuk membujuk manusia melakukan kemaksiatan yang keji dan terlarang, karena manusia sibuk melakukan ibadah, mengekang hawa nafsu mereka dengan beribadah, berdzikir dan membaca al-Qur’an. Ini sekaligus penggugah hamba beriman bahwa tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan ibadah dan taat kepada Allah ataupun melakukan maksiat karena sumber utama penyebab kemaksiatan, yaitu syetan telah dibelenggu.

    Ditutupnya pintu neraka mempunyai arti bahwa setiap hamba hendaknya tidak lagi melakukan perkara yang munkar dan mengekang diri dari menuruti hawa nafsunya, karena neraka sebagai tempat pembalasannya sedang ditutup. Pintu neraka ditutup semata untuk menghukum syaithan dan saat itulah selayaknya kemaksiatan berkurang dan sirna lalu digantikan dengan perbuatan mulia dan kebajikan.

    Sementara dibukanya pintu-pintu sorga mengisyaratkan terhamparnya kesempatan seluas-luasnya untuk meraih sorga dalam bulan Ramadhan. Iyadl berkata: ini merupakan tanda bagi para malaikat bahwa bulan yang istimewa telah tiba agar mereka menghormatinya dan menghadang syetan dari pekerjaannya mengganggu orang mu’min. Bisa juga itu mengisyaratkan banyaknya pahala dan ampunan yang diturunkan Allah agar mereka yang mengharapkannya berlomba-lomba meningkatkan amal ibadahnya dan agar mereka yang memimpikannya semakin berusaha mendapatkannya. Bisa juga maksud dibukanya pintu sorga adalah terbukanya kesempatan bagi hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketaatan, dengan terbukanya semua jalan kataatan dan tertutupnya jalan-jalan syetan. Adapun maksud terbukanya pintu-pintu langit adalah kata kiasan bagi turunnya rahmat Allah dan terbukanya tirai penutup bagi amal-amal hamba, di satu pihak karena taufiq Allah dan di lain pihak karena semua amal akan diterima Allah pada bulan tersebut. Taibi berkata : Malaikat diperintahkan memintakan rahmat kepada Allah untuk hambanya yang berpuasa dan agar mereka mendapatkan derajat yang mulia.

    Maka sangat beruntunglah bagi mereka yang mau memanfaatkan kesempatan tersebut, dan mudah-mudahan menjadi salah satu dari mereka yang dimuliakan dan diselamatkan dari api neraka di bulan suci tersebut. Sesungguhnya Allah membebaskan hamba-Nya dari siksa neraka karena beberapa amal : ada yang karena mentauhidkan Allah, ada yang karena sholat dan zakat, dan pembebasan pada bulan Ramadhan adalah karena puasa dan barakah yang terkandung di dalamnya, dengan banyaknya dzikir dan taubat yang di lakukan dalam bulan suci itu. Nabi Muhammad s.a.w. telah menceritakan dari tuhannya (Allah).; “Barang siapa berpuasa di bulan suci itu dengan beriman dan mengharap pahala dari sisi Allah maka diampuni segala dosa yang telah ia lakukan” dan barang siapa menghidupkan malam lailatul qadar dengan beriman dan bertulus hati maka diampunilah dosa yang telah ia lakukan.

    Berpuasa disertai dengan ketulusan niyat dan ikhlas akan mengantarkan hamba mendapatkan ampunan dan mendatangkan rahmat dan keridloan dari Allah. Inilah kesempatan yang terbuka bagi orang beriman agar berlomba-lomba dalam beramal kebajikan dan meninggalkan kemungkaran. Saudaraku!! jangan lewatkan kesempatan ini, apalagi sampai merugi dalam perkara ini, tidak saja kehilangan modal yang telah ada ditanganmu namun juga tidak sepeser pun keuntungan yang kau dapat, padahal di sana banyak orang-orang yang mendapatkannya. “Dan pada itu berlomba-lombalah orang-orang yang berlomba” (Q.S. 84:26).

    ***

    Oleh: Dr. Muhammad Hasan Abdul Baqi (Dewan Da’wah dan Tarbiyah, International Islamic Universtiy Islamabad)

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 15 July 2012 Permalink | Balas  

    Terminal Cinta Terakhir 

    Terminal Cinta Terakhir

    Memasuki ambang keagungan Ramadhan kali ini yang saya ingat suatu bagian dari ceramah orang yang saya cintai, yakni ustadz Yasin Hasan Abdullah ketika beliau tampil di Pesantren Daruttauhid Malang 1990.

    Beliau mengemukanan hal yang sederhana. “sekedar sesungging senyum saja dari seorang istri kepada suaminya, Allah memberinya pahala setakaran dengan satu kali salat tarawih.” Kemudian dengan tersenyum “nakal” belaiau melanjutkan dengan kalimat satire, “oleh karena itu, bagi kaum wanita kalau pas bulan Ramadhan tak bisa salat tarawih, tersenyum sajalah…”

    Ada dua sisi dari kepingan uang ” fatwa ustadz kita ini.

    Pertama,  beliau menjelaskan secara implosot betapa Islam sebagai agama, sejak semula sangat matang menyediakan inti-inti nilai (level rohani dan filosofi) beserta  komprehensinya, untuk diterjemahkan oleh para khalifah-Nya menjadi sistem nilai (level tata budaya), kemudian diterapkan, diimplementasikan, dimanifestasikan atau diwujud-kongkretakan (level bodang-bidang empiris) pada semua dan setiap langkah perilaku daan masyarakat.

    Jangankan soal tata hukum, etika sosial, moralitas politik atau berbagai keperluan mikro dan makro pergaulan, kebudayaan dan peradaban manusia” demikian kira-kira beliau melanjutkan fatwanya itu dalam hati. “Sedangkan sesungging senyum pun diurus nilainya oleh Allah melalui formula bimbingan-Nya yang bernama Islam.”

    Sisi kedua “keping uang” fatwa ustadz Yasun ialah otokritik halus terhadap tradisi “latah pahala” dalam budaya keagaman pada umumnya kaum muslimin.

    Pahala bukan saja “tidak baik”, bahkan pahala itu idaman lihur stiap hamba-Nya. Tetapi, pahala barulah sebuah “terminal” dalam perjalanan spiritual (tauhid) manusia menuju Allah yang mutlak dan abadi. Karena makna tauhid yakni menyaatukan diri kepada Allah adalah proses transformasi dari kesentaraan menuju kekekalan, dari kesemuan menuju kesejatian, atau dari posisi berjarak menuju jumbuh atau kesatuan dengan Dia yang Maha tak Terbayangkan itu.

    Saya menyebut pahala sebagai salah satu “terminal”. Artinya, ia bukan sesuatu yang harus kita jauhi, melainkan justru kita datangi. Atau lebih tepatnya kita singgahi, kemudian kita tinggalkan. Lantas kemana? Ke “terminal cinta terakhir”. Siapa lagi Dia kalau bukan Allah.

    Jadi samasekali tak salahnya beribadat demi mencari pahala. Tetapi benarkah kit aberhenti di situ?

    Mari kita renungkan kedalaman makna syahadat kita. Laa ilaaha illallah. Tak ada Tuhan Selain Allah. Apa artinya budaya Allah? Dia lah yang penting, yang utama, yang ujung segala ujung tujuan hidup kita. Secara kebudayaan kita berikrar, tak ada yang penting selain Allah, bukan tak ada yang penting selain pahala. Apa pentingnya pahala, jika kelak sudah diperkenankan “memperoleh” Allah.

    Kalau beribadat dengan orientasi dan target pahala, rasanya kok kita ini terhadap Allah pedagang pemburu laba. Padahala Allah kurang memberi apa kepada kita, hidung otak, hati, lidah, duka, dan kebahagiaan. Sementara kita tak pernah dan sanggup memberri apa pun kepada-Nya, bahkan begitu malas memberi suatu kesejatian hakikat diri kita sendiri.

    Kalau obsesi kita adalah pahala dan surga, dan kalau kita adalah pahala dan surga, dan kalau kita utamakan, jadinya kok pahala itulah yang kita Tuhankan. Apa tak malu kita kepada-Nya, pada akal dan perasaan kita sendiri.

    “Ibadat kapitalis” itu namanya. Kaum sufi menyebut kita Muslim hayawani, pelaku ibadat yang terminologinya terbatas pada surga dan neraka. Padahal keduanya hanya formula yang oleh Tuhan disesuaikan dengan idiom bahasa manusia untuk menggambarkan bentuk kebahagiaan dan kesengsaraan yang asli, keuntungan dan kerugian sesungguhnya.

    Padahal kita yang kurang serius meningkatkan mutu kemusliman sesudah memeluk Islam berpuluh-puluh tahun lamanya masih seret maju dari jenis kemusliman yang lebih rendah itu, yakni Muslim rabbani.

    Itu taraf kemusliman “birokrasi” atau “kepegawaian”. Kita melakukan salat, zakat, puasa, dan lain-lain karena  “takut pada atasan”. Kalau biasanya atasan kita camat, kasubdit, kabag atau mandor, maka dalam urusan ibadat mahdhoh, atasan kita hana Tuhan itu sendiri. Jadi kita jungkir balik di masjid dalam subtansi untuk “mengisi tanda tangan presensi”, supaya “gaji” kita tidak dipotong atau takut di-PHK.

    Kita ini memang aneh. Entah kenapa kok malas belajar kepada Rasulullah Muhammad, yang merupakan teladan utama tingkat Muslim rabbani. Muslim yang sehari berikrar, “Sesungguhnya salatku, hidupku, matiku semata-mata untuk Allah belaka,”dan melaksanakan-nya dalam implementasi kongkret kehidupannya.

    Padahal tiap salat kita juga rajin mengucapkan kalimat itu lho. Tetapi, bila sudah di kantor, ketika mengurus proyek, makelaran, membayangkan masa depan, bergaul dengan ini itu, masuk toko serba ada- anehnya Allah kok jadi nomor 27. Heran. Kita ini memang mahluk yang mbandel. Tak cocok disebut ahsani taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah. Hiii! malu ya sama Dia!

    Puasa itu adalah metoda (tarikat) yang luar biasa untuk memproses diri jadi ahsani taqwi, tak sekedar anusia Indonesia seutuhnya.” Lha wong Allah sendiri yang menciptakan metoda itu/ Dia mewajibkan puasa karena menjamin bahwa ia lebih sempurna dibanding segala penemuan metodik kita untuk merekayasa penyempurnaan kemanusiaan kita.

    Saya sendiri tak pernah selesai mengitung makna puasa. Ya untuk “peragian” rohani. Ya untuk melatih segala anasir yang baik dari mentalitas dan kejiwaan. Ya untuk menghayati secaa total betapa sia-sianya benda, kekayaan, pangkat, kenyang, enak, serta segala macam ciri dunia yang tiap hari kita kempit habis-habisan. Macam-macamlah, tak terhingga jumlah manfaatnya. Puasa membawa kita ambil jarak dari segala sesuatu  selain Allah yang selama ini menenggelamkan diri kita. Diri yang hanya satu ini kita berikan kepada dunia sampai habis, lantas apa yang tersisa untuk Allah? Padahal setiap saat kita berjanji sehidup semati, gunung kan kudaki lautan kan kusebrangi untuk Allah semata.

    Dalam Ramadhan sekarang ini apa ya tega kita kepada diri kita sendiri bila terus-terusan berpusasa dengan kadar dan target yang begini-begini terus.

    Untunglah kita-kita ini tetap dijaga oleh Allah untuk tetap Muslim terus, mmeskipun tak -naik tingkat dari barisan “ban kuning”. Dengan tetap Muslim setidaknya terpelihara pengetahuan kita bahwa Allah selalu begitu kasih memberi jalan benar kepada hamba-hamba-Nya. Antara lain melalui kewajiban puasa. Bayangkan andaikata Allah tak mewajibkan puasa, mungkin kita jadi lupa pada cinta dan tuntunan-Nya.

    Apalagi puasa itu diwajibkan bagi seluruh manusia. Juga salat, zakat, amal saleh, dan seterusnya. Banyak lho orang berkata “kalau Anda Muslim, Anda diwajibkan salat, puasa, zakat…”seolah-olah kalau kita tidak Muslim lantas tidak berdosa kalau tidak salat. Lucu.

    Kalau begitu, enakan tidak Muslim, bisa terbebas dari dosa tak salat, dosa maling, dosa korupsi, dosa menindas, dosa menggusur…

    ***

    Cak Nun

    “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiyai”, Risalah Gusti, 1994.

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 14 July 2012 Permalink | Balas  

    Ada Semangat dalam Ramadhan 

    Ada Semangat dalam Ramadhan

    Oleh Satria Hadi Lubis

    Suatu ketika, seorang alim diundang berburu. Sang alim hanya dipinjami kuda yang lambat oleh tuan rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya. Semua kuda dipacu dengan cepatnya agar segera kembali ke rumah. Tapi kuda sang alim berjalan lambat. Sang alim kemudian melepas bajunya, melipat dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda yang mereka tunggangi lebih cepat. Dengan perasaan heran, tuan rumah bertanya kepada sang alim, ”Mengapa bajumu tetap kering?” ”Masalahnya kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju,” jawab sang alim ringan sambil berlalu meninggalkan tuan rumah.

    Dalam perjalanan hidup, kadangkala kita mengalami kesalahan orientasi (persepsi) seperti tuan rumah dalam cerita di atas. Kita menginginkan sesuatu namun tidak memiliki orientasi seperti yang diinginkan, sehingga akhirnya kita tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Begitu pula dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang menginginkan ibadahnya di bulan Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik. Namun setelah Ramadhan, ternyata sifat dan perilakunya kembali seperti semula. Tak berubah secara signifikan. Ia hanya mendapatkan lapar dan haus. Persis seperti yang disabdakan Nabi saw, ”Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun, kecuali lapar dan haus.”

    Hal itu karena orientasinya keliru. Ia tidak tahu hikmah di balik keagungan bulan Ramadhan. Salah satu dari sekian banyak hikmah Ramadhan yang sering dilupakan orang adalah fungsinya sebagai pembangkit semangat hidup. Ramadhan sesungguhnya adalah bulan motivasi (syahrul hamasah). Ramadhan semestinya mampu menjadikan setiap muslim yang beribadah di dalamnya menjadi termotivasi hidupnya. Coba kita lihat apa yang terjadi pada diri nenek moyang kita (para sahabat dan ulama sholihin) setelah ditempa Ramadhan. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai ajang pembakaran semangat yang membara. Sejarah mencatat dengan tinta emas sepak terjang mereka yang produktif. Banyak orang yang tak tahu, karena memiliki motivasi yang tinggi, umat Islam terdahulu menjadi penguasa dunia selama lebih kurang 14 abad. Lebih lama daripada kejayaan Eropa. Apalagi dari Amerika yang baru berjaya di akhir abad ini.

    Kejayaan Islam yang demikian lama di masa lalu tak bisa dipisahkan dari semangat nenek moyang kita untuk selalu bersemangat dan produktif dalam berkarya. Beberapa contoh bisa disebutkan di sini. Ibnu Jarir, misalnya, mampu menulis 14 halaman dalam sehari selama 72 tahun. Ibnu Taymiyah menulis 200 buku sepanjang hidupnya. Imam Ghazali adalah peneliti di bidang tasawuf, politik, ekonomi dan budaya sekaligus. Al-Alusi mengajar 24 pelajaran dalam sehari. Sedang Jabir bin Abdullah rela menempuh perjalanan selama satu bulan demi mendapatkan satu riwayat hadits. Fatimah binti Syafi’i pernah menggantikan lampu penerangan untuk ayahnya (Imam Syafi’i) sebanyak 70 kali. Semangat mereka terangkum dalam perkataan Abu Musa Al-Asy’ari ra.yang pernah ditanya oleh sahabatnya, ”Mengapa Anda tidak pernah mengistirahatkan diri Anda?” Abu Musa menjawab, ”Itu tidak mungkin, sesungguhnya yang akan menang adalah kuda pacuan!” Suatu ungkapan indah yang menggambarkan semangat yang membara, jiwa yang selalu ingin berkompetisi, berani dan pantang menyerah.

    Semangat Itu Ada di Depan Kita

    Semangat nenek moyang kita yang luar biasa dalam beramal tak bisa dilepaskan dari orientasi mereka yang benar terhadap fungsi ibadah dalam Islam, termasuk fungsi ibadah Ramadhan sebagai ajang melejitkan motivasi (achievement motivation training). Beda dengan kebanyakan kaum muslimin saat ini yang lebih memahami ibadah Ramadhan sebagai kegiatan seremonial dan tradisi tanpa makna.

    Beberapa bukti yang menunjukkan fungsi Ramadhan sebagai bulan pemotivasian adalah:

    1. Shaum (puasa)

    Tahukah Anda bahwa kekuatan semangat dapat mengalahkan kekuatan fisik? Itulah yang Allah latih kepada kita di bulan Ramadhan. Selama sebulan kita dilatih untuk mengalahkan nafsu yang berasal dari tubuh kasar kita; nafsu makan, minum, dan seksual. Kenyataannya, di bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan tarikan nafsu demi memenangkan semangat ruh kita. Sayangnya, latihan itu tidak dilanjutkan dalam skala kehidupan yang lebih luas dan dalam waktu yang lebih lama setelah Ramadhan, sehingga banyak di antara kita yang hidupnya tidak bersemangat dan produktif dalam beramal. Padahal kunci motivasi itu adalah kemampuan mengalahkan kekuatan fisik. Itulah yang kita lihat pada diri Abdullah bin Ummi Maktum ra.yang matanya buta tapi ngotot untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Juga pada diri Cut Nyak Dien atau Jenderal Sudirman, yang pantang menyerah kepada pasukan kolonial walau dalam kondisi sakit parah.

    2. Tarawih

    Ramadhan sebagai syahrul hamasah juga terlihat dalam pelaksanaan sholat tarawih. Sholat tarawih artinya sholat (di waktu malam) yang dilakukan dengan santai. Di zaman sahabat, sholat tarawih biasa dilakukan sepanjang malam. Dengan bacaan yang panjang dan diselingi juga dengan istirahat yang lama. Bahkan pernah dalam satu riwayat, para sahabat melakukan sholat tarawih berjama’ah sampai menjelang subuh. Hikmah dari ibadah tarawih yang dilakukan dengan santai dan tidak terburu-buru adalah untuk membentuk watak kesabaran dan ketekunan. Kita tahu, kesabaran dan ketekunan adalah kunci dari motivasi. Tidak mungkin seseorang itu termotivasi dan produktif berkarya tanpa memiliki sifat sabar dan tekun. Watak inilah yang dimiliki oleh nenek moyang kita, sehingga mereka menjadi umat yang jaya di masa lalu. Hal ini berbeda dengan pelaksanaan sholat tarawih di masa kini. Di mana waktunya tidak lebih dari 1-2 jam. Bahkan seringkali dilakukan tergesa-gesa. Hikmah tarawih sebagai ibadah yang melatih watak kesabaran dan ketekunan menjadi hilang, sehingga lenyap pulalah salah satu sarana pelatihan umat Islam untuk menjadi orang yang termotivasi hidupnya.

    3. I’tikaf

    Sarana lain yang disediakan Allah SWT untuk membentuk ruh semangat adalah i’tikaf. Ibadah i’tikaf berarti diam menyepi (untuk mengingat Allah) dan meninggalkan kesibukan duniawi. Bagi laki-laki, i’tikaf dilakukan di masjid. Sedang bagi perempuan dilakukan pada ruangan khusus di rumahnya. Nabi Muhammad saw tidak pernah meninggalkan ibadah i’tikaf ini sepanjang hidupnya. Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang sholih sepeninggal beliau. Sudah menjadi hal yang lazim di masa nenek moyang kita bahwa setiap Ramadhan masjid penuh dengan orang-orang yang i’tikaf.

    Bandingkan dengan kondisi sekarang. I’tikaf menjadi ibadah yang asing bagi kebanyakan kaum muslimin. Padahal ibadah ini sangat penting untuk kontemplasi diri. Dalam i’tikaf, kita melakukan uzlah (pertapaan) sebagai modal penting untuk bangkit dari keterpurukan atau sebagai momen untuk berubah. Nabi Muhammad saw berubah dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa (nabi) setelah uzlah ke Gua Hiro. Lalu Allah menggantikan sarana uzlah tersebut dengan i’tikaf untuk kita. Agar kita meniru perubahan menjadi manusia luar biasa tersebut seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.. Allah meminta kita agar mengulangi momen uzlah tersebut setiap tahun, sehingga kita selalu termotivasi untuk berubah semakin baik dari tahun ke tahun. Dari bulan ke bulan. Bahkan dari hari ke hari. Nabi saw bersabda, ”Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemaren, ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, ia merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemaren, ia beruntung.”

    Ramadhan sebagai bulan pemotivasian seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh kita semua. Sungguh beruntunglah mereka yang menggunakan Ramadhan sebagai ajang peningkatan motivasi hidupnya. Lalu dengan modal Ramadhan ia mengisi hari-harinya di luar Ramadhan dengan semangat yang membara untuk beramal melesat ke angkasa kemuliaan. Sungguh, ada semangat dalam Ramadhan.

    ***

    Satria Hadi Lubis, MM, MBA

    Konsultan Manajemen Kehidupan dan Penulis Buku-Buku Pengembangan Pribadi

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 11 July 2012 Permalink | Balas  

    Panduan I’tikaf Ramadhan 

    Panduan I’tikaf Ramadhan

    Diantara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan ) oleh Rasulullah SAW adalah i’tikaf. setiap muslim dianjurkan (disunnatkan) untuk beri’tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. I’tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.

    Definisi I’tikaf

    Para ulama mendefinisikan i’tikaf yaitu berdiam atau tinggal di masjid dengan adab-adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT . Ibnu Hazm berkata: I’tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqorrub kepada Allah SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. (al Muhalla V/179)

    Hukum I’tikaf

    Para ulama telah berijma’ bahwa i’tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnatkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. A’isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: “Adalah Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ” HR. Bukhori & Muslim) Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian halnya para shahabat dan istri beliau senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata: ” Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatakan i’tikaf bukan sunnat”.

    Fadhilah (keutamaan) I’tikaf

    Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukan anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf? Ahmad menjawab : tidak kecuali hadits lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqorrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para istri Rasulullah SAW dan para ulama’ salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

    Macam-macam I’tikaf

    I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I’tikaf sunnah yaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada Allah SWT seperti i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I’tikaf yang wajib yaitu yang didahului dengan nadzar (janji), seperti : “Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, maka aku akan beri’tikaf.

    Waktu I’tikaf

    Untuk i’tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan, sedangkan i’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya’la bin Umayyah berkata: “Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i’tikaf”.

    Syarat-syarat I’tikaf

    Orang yang i’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :

    1. Muslim
    2. Berakal
    3. Suci dari janabah ( junub), haidh dan nifas.

    Oleh karena itu i’tikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

    Rukun-rukun I’tikaf

    1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhori & Muslim tentang niat)
    2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh : 187)

    Disini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat i’tikaf . Sebagian ulama membolehkan i’tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama’ah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan shalat jama’ah setiap waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i’tikaf itu dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum’at, sehingga orang yang i’tikaf tidak perlu meninggalkan tempat i’tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum’at. Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa yang afdhol yaitu i’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah SAW i’tikaf di masjid jami’. Lebih afdhol di tiga masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho.

    Awal dan akhir I’tikaf

    Khusus i’tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ” Barangsiapa yang ingin i’tikaf dengan ku, hendaklah ia beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan (HR. Bukhori). 10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i’tikaf dilakukan 10 malam terakhir, yaitu setelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied.

    Hal-hal yang disunnahkan waktu i’tikaf

    Disunnahkan agar orang yang i’tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT, seperti shalat, membaca al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi SAW, do’a dan sebagainya. Termasuk juga didalamnya pengajian, ceramah, ta’lim, diskusi ilmiah, tela’ah buku tafsir, hadits, siroh dan sebagainya. Namun demikian yang menjadi prioritas utama adalah ibadah-ibadah mahdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktifitas ilmiah lainnya dan berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah.

    Hal-hal yang diperbolehkan bagi mu’takif (orang yang beri’tikaf)

    1. Keluar dari tempat i’tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim)
    2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.
    3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluanya .
    4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

    Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

    1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena meninggalkan salah satu rukun i’tikaf yaitu berdiam di masjid.
    2. Murtad (keluar dari agama Islam)
    3. Hilangnya akal, karena gila atau mabuk
    4. Haidh & Nifas
    5. Berjima’ (bersetubuh dengan istri) (QS. 2: 187). Akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.
    6. Pergi shalat jum’at ( bagi mereka yang membolehkan i’tikaf di mushalla yang tidak dipakai shalat jum’at)

    Wallahu’alam.

    ***

    Sumber : The Indonesian Muslim Student Association of North America

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 10 July 2012 Permalink | Balas  

    Bagaimana Hukum Air Laut itu 

    Bagaimana Hukum Air Laut itu

    Air Laut itu hukumnya suci dan halal bangkainya, sebagaimana sabda Rasulullah sholallhu ‘alahi wasallam:

    Dari Abu Hurairah radhiAllahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah sholallahu ‘alahi wasallam ditanya oleh seorang lali-laki, ia bertanya : Ya Rasulullah, sesungguhnya kami berlayar di laut, dan kami membawa sedikit air (tawar) jika kami berwudhu dengan air itu, kami akan kehausan, apakah kami boleh berwudhu dengan air laut? Kemudian Rasulullah menjawab: “Laut it suci airnya, halal bangkainya”. {Riwayat Imam yang Lima, dan berkata At Tirmidzi Hadist ini Hasan Shahih}. [Naiul Authar : Hadist No. 1]

    Hadist ini menerangkan bahwa Air laut itu suci airnya dan juga bangkainya halal. Sebagai catatan tentu saja bangkai yang dimaksud adalah bangkai yang masih segar bukan bangkai yang sudah membusuk, karena dalam syari’at ini selain kita diperintah untuk memakan yang halal tapi harus disertai dengan kadar makanan yang baik, sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

    Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 9 July 2012 Permalink | Balas  

    Sabar 

    Sabar    

    Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

    Sekilas Tentang Hadits :

    Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh:

    • Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al- Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.
    • Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 & 23412.
    • Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al- Riqaq, Bab Al-Mu’min Yu’jaru Fi Kulli Syai’, hadits no 2777.

    Makna Hadits Secara Umum

    Setiap mukmin digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah `ajaban’. Pesona berpangkal dari adanya positif thinking seorang mukmin. Ketika mendapatkan kebaikan, ia refleksikan dalam bentuk syukur terhadap Allah swt. Karena ia paham, hal tersebut merupakan anugerah Allah. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, ia akan bersabar. Karena ia yakin, hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang ada rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt.

    Urgensi Kesabaran

    Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan: seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menggambarkan ciri dan keutamaan orang beriman sebagaimana hadits di atas.

    Makna Sabar

    Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran”. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

    Perintah bersabar pada ayat di atas adalah untuk menahan diri dari keingingan `keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabnya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah swt.

    Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

    Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).”

    Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an

    Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an, baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah swt.

    1. Sabar merupakan perintah Allah. “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.
    2. Larangan isti’jal (tergesa-gesa). “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (Al-Ahqaf: 35)
    3. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar: “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 177)
    4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
    5. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)
    6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Ra’d: 23 – 24)

    Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits

    Sebagaimana dalam Al-Qur’an, dalam hadits banyak sekali sabda Rasulullah yang menggambarkan kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar:

    1. Kesabaran merupakan “dhiya’ ” (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim)
    2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah pernah menggambarkan: “…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” (HR. Bukhari)
    3. Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)
    4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.” (HR. Muslim)
    5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, `Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya’.” (HR. Bukhari)
    6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas’ud berkata”Seakan-akan aku memandang Rasulullah saw. menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, `Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari)
    7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)
    8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullan saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)
    9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah saw. mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan- angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, `Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari Muslim)

    Bentuk-Bentuk Kesabaran

    Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga:

    1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.
    2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, dan memandang sesuatu yang haram.
    3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta dan kehilangan orang yang dicintai.

    Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran

    Ketidaksabaran (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran. Di antaranya:

    1. Mengikhlaskan niat kepada Allah swt.
    2. Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.
    3. Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.
    4. Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.
    5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.
    6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.
    7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 8 July 2012 Permalink | Balas  

    Mengutuk Orang Muslim 

    Mengutuk Orang Muslim

    Yang dimaksudkan dengan mengutuk ialah mendoakan orang lain agar mendapat kecelakaan. Mengutuk adalah satu perbuatan yang terlarang kita lakukan sesama muslim. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW. di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud:

    ” Mencaci orang Islam itu termasuk fasik dan membunuhnya termasuk kafir.”

    Rasulullah SAW. bersabda: “Mengutuk seorang mukmin itu seperti membunuhnya.” [HR Jamaah selain Ibnu Majah, hadis riwayat Tsabit bin Adl-Dlahak]

    Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba bila melaknat seseorang niscaya laknat itu akan naik ke langit kemudian menutup pintu pintu langit di bawahnya, lalu turun ke bumi menutup pintu pintu yang lain, kemudian mengambil tangan kanan di tangan kirinya, apabila tidak memenuhi sasarannya, ia kembali kepada orang yang dilaknat dan jika tidak bisa ia akan kembali kepada orang yang melaknatnya.” [HR Abu Daud]

    Rasulullah SAW. bersabda ” Tidaklah para pelaknat itu dapat jadi penolong dan saksi di hari kiamat.” [HR Muslim dan Abu Daud]

    Rasulullah SAW. bersabda: “Tidak pantas seorang teman baik, mengutuk temannya” [HR Muslim dari Abu Hurairah]

    Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW. bersabda:

    “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencerca, bukan yang suka menjuluki, bukan yang suka berbuat keji, dan bukan juga orang yang suka membicarakan yang keji”.

    Dari hadis hadis tersebut di atas telah diterangkan bahwa mengutuk orang mukmin itu termasuk perbuatan yang berdosa, karena kutukan dan laknat itu menjadi hak dan wewenang ALLAH SWT saja, dalam menghukum setiap hambanya. Sehingga kita dilarang mengutuk karena kegunaan kutukan itu mengharapkan supaya ALLAH SWT. mencabut semua nikmat yang telah diberikan kepada hamba tersebut baik nikmat lahir maupun nikmat batin, supaya dia (orang yang dilaknat) tidak memperoleh nikmat dan anugerahNya. Oleh karena itu Rasulullah SAW. melarang perbuatan itu, bahkan menganjurkan sebaliknya yaitu supaya saling mendoakan sesama muslim agar mendapat nikmat dan kurnia dari ALLAH SWT.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 7 July 2012 Permalink | Balas  

    Mengapa Doa tak terkabul 

    Mengapa Doa tak terkabul

    KETIKA Ibrahim bin Adham, seorang ulama tasawuf yang terkemuka, sedang berjalan disebuah pasar di kota Basrah, sekumpulan manusia menghampirinya lalu bertanya kepadanya:

    “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (Al-Mukmin:6)

    “Kami telah menyeru-Nya berkali-kali tetapi Allah masih tidak menjawab dan memperkenankan seruan kami itu.”

    Maka Ibrahim bin Adham pun berkata:

    “Wahai kaum Basrah! Sesungguhnya hati kamu itu telah mati dalam beberapa perkara.

    “Kamu telah mengenal Allah, tetapi kamu tidak menunaikan hak-Nya. “Kamu telah membaca Kitab Allah, tetapi kamu tidak beramal dengannya.

    “Kamu mendakwa bahwa kamu cintakan Rasulullah saw tetapi kamu tinggalkan sunnahnya.

    “Kamu telah katakan bahwa maut itu adalah benar tetapi kamu tidak bersedia menghadapinya.

    “Kamu telah katakan bahwa kamu takutkan api neraka tetapi kamu telah meridhoi diri kamu padanya.

    “Kamu telah katakan bahwa kamu kasihkan syurga tetapi kamu tidak beramal semata-mata untuknya. “Kamu sibuk dengan keaiban saudara-saudara kamu tetapi kamu lupa menutup keaiban kamu. “Kamu telah merasai nikmat Tuhan kamu tetapi kamu tidak bersyukur pada-Nya.

    “Kamu telah mengebumikan mayat-mayat saudara kamu yang telah meninggal dunia tetapi kamu tidak mengambil contoh dan pelajaran atas kematian mereka. “Bagaimanakah Allah swt hendak memperkenankan seruan kamu itu?”

    Jika kita meneliti apa yang telah dikatakan oleh Ibrahim bin Adham itu, Maka kita dapati bahwa nasihatnya itu sesuai dengan firman Allah yang artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. (Surah Al-Baqarah: 186)

    Kita perlu mawas diri bahwa seseorang Muslim itu tidak harus Selalu bertumpu kepada ayat pendek ini, malah hendaklah dia meneruskan pemahamannya pada ayat ini: Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Surah Al-Baqarah: 186)

    Justeru itu, hendaklah kita menyahut segala perintah Allah dan meninggalkan segala laranganNya. Di sini juga kita dapat mengambil pelajaran, diantaranya:

    Umumnya susunan kata pada orang yang berdoa mengesankan bahwa Seseorang hamba ingin sekali dan tidak sabar agar doanya terkabul secepat mungkin, namun apabila mereka dapati doa mereka itu sudah terkabul, maka mereka terus meninggalkan doa itu sama sekali.

    Sikap ini diibaratkan oleh Ibnu Qayyim seperti seorang insan menanam sesuatu benih. Mereka menjaga dan mengairinya setiap saat. Apabila mereka dapati usaha itu lewat dan mendatangkan hasil, maka ia terus ditinggalkannya. Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya :

    Diperkenankan (doa) salah seorang daripada kamu, jika dia tidak berniat mengharapkan hasilnya dengan segera. Baginda menambah lagi …aku pernah menyeru (Tuhanku), tapi tidak diperkenankan bagiku.

    Baginda bersabda lagi yang bermakna : Jangan sekali-kali kamu lemah dalam berdoa. Tidak mendatangkan kebinasaan jika seseorang itu menyertai dirinya dengan berdoa.

    Allah berfirman pula dalam Kitab Suci-Nya yang artinya : Jadilah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Surah Al-Baqarah: 45).

     
    • Andri wisnu 11:19 am on 10 Juli 2012 Permalink

      saya menyukai blog anda, rekomendasi dari istri untuk mengunjungi blog ini, isi postingannya membuat pencerahan bagi saya, thank nice info

  • erva kurniawan 1:08 am on 6 July 2012 Permalink | Balas  

    Neraka oh Neraka 

    Neraka oh Neraka

    Kehebatan apinya

    Abu Hurairah meriwayatkan:

    “Ketika Rasulullah berkata: Api dunia kamu adalah satu dari 70 bagian api neraka;”lalu seseorang bertanya;”Ya Rasulullah, adakah ia tidak akan mencukupi untuk membakar orang kafir? Maka Rasulullah menjawab “Api neraka mempunyai 69 bagian lebih dari api biasa di dunia,dan kesemuanya adalah sangat panas sebagaimana api dunia. (Riwayat Bukhari)

    Kesan neraka pada dunia saat ini

    Kesan-kesan kehebatan neraka dapat dirasakan di dunia ini berdasarkan hadis Rasulullah:

    Diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

    Rasulullah bersabda: Api neraka mengadu kepada Allah dengan berkata;”Hai Tuhanku, bagian-bagian padaku memakan di antara satu sama lain. “Lalu Allah membenarkannya mengambil dua pernafasan yaitu pada musim sejuk dan pada musim panas. Inilah sebabnya mengapa kamu terasa terlalu panas dan terlalu sejuk,” Riwayat Bukhori

    Makanan penduduk neraka

    Penduduk neraka tetap diberi makanan walaupun makanan ini tidak menyuburkan badan mereka.

    Firman Allah:

    “Mereka tidak memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri,yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” Al Ghasiyah 6-7

    Minuman ahli neraka

    1. Hamim (air yang mendidih)

    Firman Allah:

    “Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air yang mendidih yang memuncak panasnya.”

    2. Ghassaq (nanah dan darah)

    Firman Allah:

    “Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini.Dan tiada makanan sedikit pun kecuali dari darah dan nanah.Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” Al Haqqah 35-37

    3. Sadid (air danur (nanah) yang keluar dari tubuh ahli neraka)

    Firman Allah:”Dihadapan mereka ada neraka Jahannam,dan ia diberi minum dari air danur(nanah yang keluar dari tubuh ahli neraka.” Ibrahim 16

    4. Air seperti Tembaga cair

    Firman Allah:

    “Dan jika mereka meminta minum,niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti tembaga yang mendidih yang menghanguskan muka mereka.Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling hina.” Al Kahfi 29.

    Pakaian ahli neraka

    1. Pakaian dari api

    Firman Allah: “Inilah dua golongan(mukmin dan kafir) yang bertengkar,mereka saling bertengkar mengenai tuhan mereka.Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian dari api neraka.Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” Al Hajj 19

    2. Pakaian dari minyak tar

    Firman Allah: “Pakaian mereka adalah dari minyak tar dan muka mereka diliputi oleh jilatan api neraka.” Ibrahim 50.

    Bahan bakar api neraka

    Bahan bakar neraka adalah terdiri dari manusia dan jin yang kafir dan ingkar kepada Allah,batu-batu termasuk patung berhala.

    Firman Allah; “Hai orang yang beriman.Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;penjaganya malaikat yang kasar,yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya dan mengerjakan apa yang diperintahkanNya.” (At Tahrim 6)

    Penduduk neraka

    Imran bin Husin meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda:

    “Aku melihat ke dalam syurga dan mendapati kebanyakan penduduknya adalah orang miskin,dan aku melihat ke dalam neraka,aku mendapati kebanyakan penduduknya adalah wanita,” Riwayat Bukhori.

    Nama-nama neraka

    Neraka mempunyai beberapa nama sebagaimana telah disebutkan di dalam Al Quran, iaitu:

    1. Jahannam –

    Firman Allah yang artinya “Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai.” An- Naba:21

    2. Latho

    Firman Allah yang bermaksud “Sekali-kali tidak dapat sesungguhnya neraka (Latho) itu adalah api yang bergolak, yang mengelupaskan kulit kepala” – Al- Ma’arij; 15-16.

    3. Al-Hutamah

    “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Dan tahukah kamu apa Hutamah itu? Iaitu api yang disediakan Allah yang dinyalakan, yang naik sampai ke hati.” Al – Humazah 4-7

    4. Sa’ir

    Yang disebutkan dalam surah Asy-Syura:7 yang artinya: ..Sesungguhnya masuk ke syurga dan segolongan masuk ke neraka sa’ir.’

    5. Saqar

    Firman Allah yang artinya “Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Tahukah kamu apakah neraka Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.”

    6. Al- Jahim

    “Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat.” Asy-Syura :91

    7. Al- Hawiyah

     “Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. …. yaitu api yang sangat panas.” Al- Qari’ah;8-11.

    Penjaga neraka

    Al Quran menyebutkan bahwa jumlah penjaga neraka itu sembilan belas seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surah Al- Muddaththir ayat 30-31. Salah satu dari sembilan belas itu adalah Malik, penjaga pintu neraka. Allah telah menyebutkan namanya dalam Al-Qur’an yang artinya “Mereka berseru, Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja. Dia menjawab; Kamu akan tetap tinggal di neraka ini.”

    Inikah rumah masa depan kita ?

    NAUDZUBILLAHI MIN DZALIK

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 5 July 2012 Permalink | Balas  

    Takabbur 

    Takabbur

    Sombong atau takabur (takabbur) adalah sifat hati yang terkeji (madzmumi) dan merupakan satu daripada penyakit hati yang membawa akibat kebinasaan diri. Pengertian tentang takabur dapat difahami dari maksud beberapa hadist yang berikut :

    Rasulullah bersabda, “Dianggap sebagai takabur itu ialah menolak apa yang benar dan mengaggap hina kepada orang lain”. (HR. Muslim).

    Bersabda Rasulullah saw kepada sahabatnya, Abu Dzar : “Takabur itu meninggalkan kebenaran dan engkau mengambil selain kebenaran. Engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu”.

    Rasulullah saw bertanya kepada sekumpulan Sahabat, “Tahukah kamu, orang gila yang sebenar-benarnya?” Para Sahabat menjawab, “Tidak tahu, ya Rasulullah”. Lalu Rasulullah menjelaskan, “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan takabur, memandang rendah kepada orang lain, membusungkan dada, mengharapkan syurga sambil membuat maksiat dan kejahatannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya”.

    Berdasarkan kisah di dalam al-Qur’an, makhluk yang pertama yang diserang dan menjadi mangsa penyakit takabur ialah Iblis (la’natullah). Walaupun diperintah oleh Allah swt, Iblis enggan menghormati Adam a.s (manusia dan nabi Allah yang pertama) karena dia menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam. Katanya, “Aku lebih baik daripadanya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan daripada tanah” (QS 7:12). Iblis lalu dilaknat oleh Allah swt karena sifat takaburnya itu. Sekurang-kurangnya dua akibat kecelakaan yang menimpa Iblis karena ketakaburnya :

    Pertama, ia dimasukkan ke dalam golongan kafir. Allah Taala berfirman :

    Ia (Iblis) enggan dan menyombong diri (takabbur) dan ia termasuk golongan yang kafir (QS 2:34).

    Kedua, ia dimasukkan ke dalam golongan orang yang terhina dan tidak layak tinggal di syurga. Allah berfirman :

    Turunlah engkau dari syurga itu karena tidak patut (tidak layak) bagimu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina. (QS 7:13).

    Sifat takabur itu dapat dikenali dari tutur kata dan tingkah laku bersumber dari lintasan hati yang mengandung rasa tinggi atau besar diri di samping merendah-kan mertabat orang lain atau menolak kebenaran.

    Mengikut Abu Yazid: “Seorang hamba itu selama masih mempunyai sangkaan, bahwa antara makhluk ada orang yg lebih buruk atau lebih jahat amalannya daripada dirinya sendiri, maka orang itu bersifat takabur”.

    Lalu Abu Yazid ditanya, “Kapan seseorang itu dapat disebut sebagai bertawadhuk(rendah hati)?”

    Abu Yazid menjawab, “Ketika ia tidak tahu bagaimana kedudukan serta keadaan dirinya sendiri”.

    Lawan sifat takbur itu ialah tawadhuk (tawadhdhuk atau dhi’ah), yaitu lintasan rasa rendah dan hina diri, termasuk pernyataan lewat perbuatan dan lisan. Dengan menyuburkan sifat dan sikap merendah hati dan pasrah kepada Allah, seseorang akan dapat mencegah penyakit takabur dan juga ujub. Tawaduk itu adalah sifat hati yang terpuji (mahmudi). Sifat ini membawa kemuliaan. Orang yang berkenaan akan mendapat kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Allah.

    Rasulullah saw bersabda, mafhumnya : Allah tidak akan memberi tambahan kepada seorang hamba karena gemar memberi maaf kecuali kemulian, dan tiada seorang pun yang merendahkan diri karena mengharapkan keridhaan Allah kecuali Allah akan memberi tingkat yang tinggi kepadanya (HR. Muslim).

    Takabur dan tawaduk masing-masing ada kalanya bersifat umum dan ada kalanya bersifat khusus. Orang yang merasakan tidak memadai dengan kerendahan atau kesederhanaan hidupnya dikatakan terjatuh ke dalam Takabur Umum. Sebaliknya, orang yang merasakan sudah berada  dengan keperluan hidup sekadar yang ada, walaupun yang rendah atau sederhana mutunya, dia termasuk dalam tawaduk umum. Adapun Takabur Khusus bersifat tertutup, tidak mau menerima, malah tidak bersedia untuk menerima kebenaran dari orang lain.

    Lawannya ialah Tawaduk Khusus yang bersifat terbuka, sentiasa melatih diri untuk menerima kebenaran tanpa mengira ada orang yang membawa kebenran itu hina atau mulia. Untuk mempertahankan tawaduk umum, kita hendaklah sentiasa menginggati pengalaman pahit yang pernah menimpa diri kita sejak mula dilahirkan dan senantiasa menginsafi diri kita sebagai hamba Allah, sekurang-kurangnya sebagaimana yang dikatakan oleh ulama:

    “Asal kamu dari setitik mani (nuthfah) yang anyir. Akhir kamu menjadi bangkai (mayat) yang busuk. Dan, di antara keduanya, sepanjang hayat, kamu menanggung kekotoran (najis) di dalam perut kamu”.

    Untuk mempertahan tawaduk khusus pula kita hendaklah sentiasa mengingati siksaan Allah Taala sebagai pembalasan, sekiranya kita menyeleweng daripada kebenaran dan berpanjangan di dalam kebatilan. Berbeda dengan sifat-sifat hati lain yang hanya mengotori amal ibadah dan memudaratkan perkara “cabang” saja dalam agama, takabur memudaratkan perkara “pokok”, mengotori agama dan akidah. Sekurang-kurangnya takabur mengakibatkan empat mudharat :

    1. terhalang dari mendapat kebenaran dan buta mata hati dalam makrifat terhadap ayat-ayat yang mengandung pengertian tentang hukum dan hikmat Allah. Allah Taala berfirman, mafhumnya:

    Aku akan memalingkan mereka dari ayat-ayat-Ku orang yang menyombongkan dirinya (takabur) di muka bumi tanpa alasan yang benar. (QS 7:146)

    Demikianlah Allah menguncikan hati setiap orang yang takabur lagi sewenang-wenang. (QS 40:35)

    2. dimurkai dan dibenci oleh Allah Taala, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud :

    Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang membesarkan dirinya (takbur). (QS 16:23)

    Diriwayatkan : Nabi Musa a.s telah bertanya kepada Allah, “Hai, Tuhanku. Siapakah di antara makhluk-Mu yang paling Engkau murkai?”. Allah Taala berfirman, mafhumnya: Orang takbur hatinya, kasar lidahnya, terkelip-kelip matanya, bakhil tangannya dan jahat perangainya”.

    3. mendapat kehinaan dan siksaan di dunia sebelum di akhirat.

    Bersyair Khatimul-Asham, “Jauhkan dirimu dari mati dalam tiga keadaan, yaitu takabur, loba dan ujub. Sesungguhnya, orang yang takabur itu tidak dikeluarkan oleh Allah Taala dari dunia sehingga dia diperlihatkan dulu penghinaan ke atasnya kepada sekurang-kurangnya keluarganya sendiri. Orang yang loba tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah merasa sangat memerlukan secuil roti dan seteguk air karena terlalu lapar dan dahaga tetapi tak lalu ditelannya. Dan, orang yang ujub juga tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah diperlihatkan dirinya bergelimang dengan air kencing dan tahinya sendiri”.

    Gambaran penghinaan di akhirat pula terdapat dalam hadist dari Abu Hurairah r.a. Katanya, Rasulullah bersabda :

    “Orang-orang yang sombong, keras kepala dan takabur, akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti kumpulan semut, dipijak-pijak oleh manusia karena hinanya mereka di sisi Allah Ta’ala”.

    4. disiksa di akhirat dan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Taala (tersebut dalam Hadis Qudsi), mafhumnya: Kebesaran itu selindang-Ku dan ‘adzmat (keagungan) itu kainku. Sesiapa merebut salah satu daripada yang dua itu, Aku masukkan dia ke neraka Jahannam.

    Rasulullah bersabda : “Tiada akan masuk syurga orang yang ada di dalam hatinya seberat biji sawi daripada sifat takabur” (HR. Muslim).

    Mengikut hadist yang lain, Rasulullah bersabda : “Wahai Abu Dzar, barangsiapa mati dalam keadaan hatinya ada sebesar debu sahaja dari sifat takabur, dia tidak akan tercium bau syurga kecuali bila bertaubat sebelum maut menjemputnya”.

    Biasanya faktor yang menimbulkan rasa takbur di hati seseorang itu ialah sesuatu kelebihan atau keistimewaan yang dimilikinya. Banyak faktornya. diantaranya sebagaimana yang dilantunkan oleh Imam al-Ghazali, yaitu : Ilmu, ibadah / amal, keturunan, kejelitaan atau ketampanan rupa paras, kekayaan harta benda, kekuasaan / kekuatan dan banyak pengikut / kaum keluarga.

    Demikianlah, memang sudah jelas sekali, sebagaimana yang telah berlaku. Iblis menjadi takabur karena faktor keturunannya (asal kejadiannya), Fir’aun karena kekuasaannya dan Qarun karena hartanya. Jadi, sesiapa yang memiliki kelebihan atau keistimewaan dalam hal-hal yang tersebut, hendaklah berhati-hati agar tidak terhanyut di lautan ghaflah atau menjadi lupa daratan sehingga hatinya dihinggapi penyakit takabur.

    Wallahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 2 July 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Sombong atau Jadilah Iblis 

    Jangan Sombong atau Jadilah Iblis

    Cerita tentang kesombongan, tentang takabur, tentang selalu berbangga diri, adalah sebuah kisah yang lebih tua dibanding penciptaan manusia. Ia hadir dan berawalketika manusia masih dalam perencanaan penciptaan. Karenahanya para malaikatmakhluk yang diciptakansebelum manusia, kesombongan sejatinyaberhulu dari malaikat.

    ADALAH Azazil, malaikat yang dikenal penduduk surga karena doanya mudah dikabulkan oleh Allah. Karena selalu dikabulkan oleh Allah, bahkan para malaikat pernah memintanya untuk mendoakan agar mereka tidak tertimpa laknat Allah.

    Tersebutlah suatu ketika saat berkeliling di surga, malaikat Israfil mendapati sebuahtulisan”Seorang hamba Allah yang telah lama mengabdi akan mendapat laknat dengan sebab menolak perintah Allah.”Tulisan yang tertera di salah satu pintu surga itu, tak pelak membuat Israfil menangis. Ia takut, itu adalah dirinya. Beberapa malaikat lain juga menangis dan punya ketakutan yang sama seperti Israfil, setelah mendengar kabar perihal tulisan di pintu surga itu dari Israfil. Mereka lalu sepakat mendatangi Azazil dan meminta didoakan agar tidak tertimpalaknat dari Allah.Setelah mendengar penjelasan dari Israfil dan para malaikat yang lain, Azazil lalu memanjatkan doa. “Ya Allah. Janganlah Engkau murka atas mereka.”

    Di luar doanya yang mustajab, Azazil dikenal juga sebagai Sayidul Malaikat alias penghulu para malaikat danKhazunal Janah (bendaharawan surga). Semua lapis langit dan para penghuninya, menjuluki Azazil dengan sebutan penuh kemuliaan meski berbeda-beda.Pada langit lapis pertama misalnya, iaberjuluk‘Aabid, ahli ibadah yang mengabdi luar biasa kepada Allah pada langit lapis pertama.

    Di langit lapis kedua,julukan pada Azazil adalah Raki Eatau ahli ruku kepada Allah. Saajid atau ahli sujud adalah gelarnya di langit lapis ketiga. Pada langit berikutnya ia dijuluki Khaasyi Ekarena selalumerendah dan takluk kepada Allah. Karena ketaatannya kepada Allah, langit lapis kelima menyebut Azazil sebagai Qaanit. Gelar Mujtahid diberikan kepada Azazil olehlangit keenam, karena ia bersungguh-sungguh ketika beribadah kepada Allah.Pada langit ketujuh, ia dipanggil Zaahid, karena sederhana dalam menggunakan sarana hidup.

    Selama 120 tahun, Azazil, si penghulu para malaikat menyandang semuagelar kehormatan dan kemuliaan, hingga tibalah ketika para malaikat melakukan musyawarah besar atas undangan Allah.Ketika itu, Allah, Zat pemilik kemutlakan dan semua niat, mengutarakan maksud untuk menciptakan pemimpin di bumi. ”Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah (pemimpin) di muka bumi,” begitulah firman Allah.

    Semua malaikat hampir serentak menjawab mendengar kehendak Allah.”Ya Allah, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi, yang hanya akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau. E Allah menjawab kekhawatiran para malaikat dan meyakinkan bahwa, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Allah lalu menciptakan manusia pertama yang diberi nama Adam. Kepada para malaikat, Allah memperagakan kelebihan dan keistimewaan Adam, yang menyebabkanpara malaikat mengakui kelebihan Adamatas mereka. Lalu Allah menyuruh semua malaikat agar bersujud kepada Adam, sebagai wujud kepatuhan danpengakuan atas kebesaran Allah. Seluruh malaikat pun bersujud, kecualiAzazil.

    “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat ‘Sujudlah kamu kepada Adam Emaka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”  (Al Baqarah: 34)

    Bersemi Sejak di Awal Surga

    Sebagai penghulu para malaikat dengan semua gelar dan sebutan kemuliaan, Azazil merasa tak pantas bersujud pada makhluk lain termasuk Adam karena merasa penciptaan dan statusnyayang lebih baik. Allah melihat tingkah dan sikap Azazil, lalu bertanya sembari memberi gelar baru baginya Iblis. “Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Kuciptakandengan kedua tanganKu. Apakah kamu menyombongkan diri (takabur) ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?”

    Mendengar pernyataan Allah, bukan permintaan ampun yang keluar dari Azazil, sebaliknyaia malahmenantang dan berkata, “Ya Allah, aku (memang) lebih baik dibandingkan Adam. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah. E Mendengar jawaban Azazil yang sombong, Allah berfirman. “Keluarlah kamu dari surga. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang diusir”.

    Azazil alias Iblis, sejak itu tak lagi berhak menghuni surga. Kesombongan dirinya, yang merasa lebih baik, lebih mulia dan sebagainya dibanding makhluk telah menyebabkannya menjadi penentang Allah yang paling nyata. Padahal Allah sungguh tak menyukai orang-orang yang sombong.

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. E

    Bibit kesombongan dari Azazil sejatinya sudah bersemai sejak Israfil danpara malaikat mendatanginya agar mendoakan mereka kepada Allah. Waktu itu, ketika mendengar penjelasan Israfil, Azazil berkata, ”Ya Allah! Hamba-Mu yang manakah yang berani menentang perintah-Mu, sungguh aku ikut mengutuknya E Azazil lupa, dirinya adalah jugahamba Allah dan tak menyadari bahwa kata “hamba Eyang tertera pada tulisan di pintu surga, bisa menimpakepada siapa saja, termasuk dirinya.

    Lalu, demi mendengar ketetapan Allah, Iblis bertambah nekat seraya meminta kepada Allah agar diberi dispensasi. Katanya,”Ya Allah, beri tangguhlah aku sampai mereka ditangguhkan. EAllah bermurah hati, dan Iblis mendapat apa yang dia minta yaitu masa hidup panjang selama manusia masih hidup di permukaan bumi sebagai khalifah.

    Dasar Iblis, Allah yang maha pemurah, masih juga ditawar.Ia lantas bersumpah akan menyesatkan Adam dan anak cucunya, seluruhnya, “Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.” Maka kata Allah, “Yang benar adalah sumpah-Ku dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahanam dengan jenis dari golongan kamu danorang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”

    Menular pada Manusia

    Korban pertama dari usaha penyesatan yang dilakukan Iblis, tentu saja adalah Adam dan Hawa. Dengan tipu daya dan rayuan memabukkan, Nabi Adam as. dan Siti Hawa lupa pada perintah dan larangan Allah. Keduanya baru sadar setelah murka Allah turun.Terlambat memang, karena itu Adam dan Hawa diusir dari surga dan ditempatkan di bumi.

    Dan sukses Iblis menjadikan Adam dan Hawa sebagai korban pertama penyesatannya, tak bisa dilihat sebagai sebuah kebetulan. Adam dan Hawa, bagaimanapun adalah Bapak dan Ibu seluruh manusia, awal dari semua sperma dan indung telur. Mereka berdua, karena itu menjadi alat ukur keberhasilan atau ketidakberhasilan Iblis menyesatkan manusia. Jika asal usul seluruh manusia saja,berhasil disesatkan apalagi anak cucunya.

    Singkat kata, kesesatan yang di dalamnya juga ada sombong, takabur, selalu merasa paling hebat, lupa bahwa masih ada Allah E juga sangat bisa menular kepada manusia sampai kelak di ujung zaman.

    Di banyak riwayat, banyak kisah tentang kaum atau umat terdahulu yang takabur menentang dan memperolokkanhukum-hukum Allah, sehingga ditimpakan kepada mereka azab yang mengerikan. Kaum Aad, Samud, umat Nuh,kaum Luth, dan Bani Israil adalah sedikit contoh dari bangsa-bangsa yang takabur dan sombonglalu merekadinistakan oleh Allah, senista-nistanya.Karena sifat takabur pula, sosok-sosok sepertiFir’aun si Raja Mesir kuno, Qarun, Hamaan dan Abu Jahal juga mendapatkan azab yang sangat pedih di dunia dan pasti kelak di akhirat.

    Pada zaman sekarang, manusia sombong yang selalu menentang Allah bukanberkurang, sebaliknya malah bertambah. Ada yang sibuk mengumpulkan harta dan lalu menonjolkan diri dengan kekayaannya. Yang lain rajin mencari ilmu, namun kemudian takabur dan merasa paling pintar. Sebagian berbangga dengan asal usul keturunan; turunan ningrat, anak kiai, dan sebagainya. Ada juga yang merasa diri paling cantik, paling putih, paling mulus dibanding manusia lain.

    Mereka yang beribadah, shalat siang malam, puasa, zakat dan berhaji merasa paling saleh dan sebagainya. Ada yang meninggalkan perintah-perintah Tuhan hanya karena mempertahankan dan bangga denganbudaya warisan nenek moyang, dan seolah-olah segala sesuatu di luar budaya itu tak bernilai. Tak sedikit jugayang mengesampingkan larangan-larangan Allah hanya karena menguber era laju zaman modern yang selaludibanggakan.

    Sebagai manusia, orang-orang semacam itu tak bermanfaat sama sekali. Mata jamiah mereka memang melihat, tapi mata hatinya sudah buta melihat kebenaran dan kebesaran Allah.Allah telah dijadikan nomor dua, sementara yang nomor satu adalah diri dan makluk lain di sekitar dirinya. Hati mereka menjadi gelaptanpa nur iman sebagai pelita. Akal mereka tidak dapat membedakan antara yang hak (benar) dengan yang batil (salah).

    “Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri (takabur)” (Al Muddatstsir: 23).

    Iblis sebagai pelopor sifat takabur selalu mendoktrin kepada siapa saja sifat takabur, dan mewariskannya kepada jin dan manusia. Tujuannya jelas, untuk menyebarkan sumpah (Iblis) pada golongannya sebagaimana golongan setan dari jenis jin. Setan tentudominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa jin, begitu pula setan dari golongan jenis manusia, sangat dominan untuk menjerumuskan dan menyesatkan bangsa manusia

    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al A’raaf: 179).

    Penawar Takabur

    Seperti penyakit hati yang lain, mengobati sifat dan sikap sombong bukan perkara mudah. Tak ada dokter, tabib, atau sinse yang sanggup mengobatinya. Dari yang tidak mudah itu, ada beberapa yang bisa disebut sebagai obat mengatasi sombong atau takabur.

    Pertama adalah tawadu atau merendahkan hati. Hanya dengansikap rendah hati, meyakini tak ada yang lebih dan tak ada yang patut dibanggakan dari diri dan apapun yang diperbuat diri, semua kesombongan bisa disingkirkan. Sikaptawadu bisa mengimbangi dan menetralkan jiwa dari sifat takabur, karena hanya dengan rendah hati manusia bisamelaksanakan perintah Allah.Seorang yang selalu rendah hati, maka padanyatidak akan ada rasa congkak dan besar diri apalagi merasa lebihdari yang lain. Ia senantiasa meyakinisesuatu yang istimewa pada dirinya atau orang lain, semata karena anugerah Allah.

    Tawakal adalah obat keduamelawan sombong. Dengan tawakal alias berserah diri sepenuhnya kepada Allah maka akal akan menyadari dan hati akan meyakini, semua yang terjadipada manusia dan seluruh makhluk adalah atas kehendak Allah dan karena itu tak layak bagi manusia untuk menyombongkan diri selain hanya berpasrah pada Allah. Sifat takabur senantiasa mengajak manusia untuk berbuat ingkar kepada Allah, sebaliknya tawakalsenantiasa menyuruh manusia berbuat menurut ketentuan Allah.

     “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal “ (Al Hujuraat : 13.)

    Ibarat manusia,maka akan didapati tawaduadalah sebagai ruh, dan tawakal sebagai jasad.Karena menyangkut tentang kesempurnaandimensi batiniah dan dimensi jasmaniah, maka sangat jelas keberadaan duasifat ini (tawadu dan tawakal) sangat menentukanuntuk menetralkan keberadaan nafsu (jiwa) yang bertempat antara ruh dan jasad (lahiriah dan batiniah), termasuk sifat sombong. Karena itu jika ruh dan jasad tadi tak bersatu, sulit bagi manusia bisa bisa mencapai derajat sebagaimanusia utuh atau insan kamil.

    Ia masih bisa disebut sombong, atau takabur. Sifat yang dibawa Azazil, malaikat yang dikutuk menjadi Iblis dan terusir dari surga Allah.

    ***

    Dikutip dari Majalah “KASYAF”

     
    • A Nizami 3:52 pm on 4 Desember 2012 Permalink

      Allah melarang kita untuk sombong:

      ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’:37]

      Allah mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari air mani yang tidak berharga. Pantaskah manusia bersikap sombong?

      ”Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” [Yaa Siin:77]

      Nabi berkata bahwa orang yang sombong meski hanya sedikit saja niscaya tidak akan masuk surga:

      Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” [HR Muslim]

      Read more http://media-islam.or.id/2007/11/20/janganlah-sombong

  • erva kurniawan 1:30 am on 1 July 2012 Permalink | Balas  

    Berkumpul Dan Berdo’a Yang Masyhur Pada Malam Nisfu Sya’ban 

    Berkumpul Dan Berdo’a Yang Masyhur Pada Malam Nisfu Sya’ban

    Jika malam nisfu sya’ban datang, sebagian kaum muslimin melakukan ibadah khusus seperti shalat dan membaca do’a. Apakah yang mereka lakukan itu disyari’atkan ? Adakah dalil yang menunjukkan kelebihan malam itu?

    Mengenai keutamaan malam nisfu sya’ban ini terdapat beberapa buah hadits, antara lain berbunyi :

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala bertajalli (menampakkan diri) pada malam nisfu sya’ban kepada hamba-hamba-Nya serta mengabulkan do’a mereka, kecuali sebagian ahli maksiat.”

    Hadits ini dianggap hasan oleh sebagian orang dan dilemahkan oleh sebagian ulama yang lain, sehingga Al Faqih al Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi berkata, “Tidak ada satupun hadits yang shahih mengenai keutamaan malam nisfu sya’ban.”

    Tidak terdapat satu pun riwayat dari Nabi saw. Dan para shahabat serta generasi pertama Islam—yang merupakan sebaik-baik generasi—bahwa mereka berkumpul di masjid-masjid untuk menghidupkan malam ini dan membaca do’a-do’a khusus serta melakukan shalat-shalat khusus pula sebagaimana yang kita lihat di beberapa negara Islam.

    Di beberapa negeri Islam, pada malam nisfu Sya’ban, orang-orang berkumpul di masjid-masjid. Mereka membaca surat Yasin, kemudian melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk panjang umur, lalu shalat dua raka’at lagi dengan niat agar kaya dan ‘tidak berkeperluan’ kepada orang lain. Setelah itu, membaca do’a yang tidak diriwayatkan dari seorangpun golongan salaf, yaitu do’a yang panjang, yang bertentangan dengan nash, dan bertentangan ma’nanya antara satu dengan yang lain. Dalam do’a itu mereka mengucapkan (yang artinya-peny):

    “Ya Allah, jika Engkau telah mencatat aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka (sengsara), terhalang, terusir, atau sempit rejeki-ku, maka hapuskanlah ya Allah dengn karunia-Mu akan kecelakaan (kesengsaraanku), keterhalanganku,keterusiranku dan kesempitan rejeki-ku itu. Dan tetapkanlah aku di sisi-Mu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rejeki, dan diberi pertolongan kepada kebaikan seluruhnya, karena sesungguhnya Engkau telah berfirman, dan firman-MU adalah benar, di dalam kitab-Mu yang Engkau turunkan dan melalui lisan Nabi-Mu yang Engkau utus (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh  Mahfuzh).”

    Makna ayat yang disebut dalam bagian terakhir do’a di atas (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab) ialah bahwa sesuatu yang telah ditetapkan dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) tidak mungkin dihapus atau ditambah dengan ketetapan baru. Kalau pun dapat dihapus atau dibuat ketapan yang baru itu bukan pada catatan Lauh Mahfuzh, melainkan pada selain itu, yaitu pada catatan malaikat dan lainnya. Jadi bagaimana mungkin seorang hamba dapat meminta kepada Tuhannya agar Dia menghapuskan dan menetapkan sesuatu yang baru di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)?

    Begitu pula do’a-do’a yang mereka ucapkan seperti: “Jika Engkau telah menentukan begitu dan begini………..maka hapuskanlah ini dan itu, atau perbuatlah begini dan begitu….” Hal itu menunjukkan keraguan, padahal Nabi saw. Menyuruh kita berdo’a kepada Allah dengan mantap dan sungguh-sungguh, tidak boleh merasa bimbang dan ragu-ragu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa do’a nisfu Sya’ban tersebut salah dan tidak mempunyai landasan sama sekali.

    Dalam do’a tersebut juga terdapat ucapan :”Wahai Tuhanku,dengan tajalli agung pada malam nisfu Sya’ban yang mulia, yang pada malam itu segala urusan dijelaskan dan ditetapkan, hendaklah Engkau hilangkan bala bencana dari kami, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui…..”

    Ucapan di atas juga merupakan kesalahan, karena yang dimaksud dengan malam dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah (tentang hidup, mati rejeki, nasib baik, nasib buruk, dan sebagainya) itu ialah malam diturunkannya Al Quran, malam al Qadar, malam tajalli yang teragung, yaitu pada bulan ramadhan menurut nash Al Quran. Allah berfirman:

    “Haa Miiiim. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad Dukhan : 1-4)

    “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (AlQuran) pada malam kemuliaan“ (Al Qadr :1)

    “Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…” (Al-Baqarah:185)

    Jadi, secara meyakinkan dapat dikatakan bahwa yang dimaksud ‘malam dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah itu ‘ yang disebutkan dalam do’a nisfu Sya’ban tersebut adalah malam Al Qadar pada bulan ramadhan sebagaimana ijma’ ulama. Adapun riwayat dari Qatadah yang menyebutkan bahwa malam nisfu Sya’ban itu malam yang dijelaskannya segala urusan yang penuh hikmah merupakan riwayat dha’if dan mudhtharib (tidak meyakinkan). Sebelumnya dari Qatadah sendiri terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa malam itu ialah malam Al Qadar.

    Ibnu Katsir menilai dha’if hadits yang menerangkan bahwa pada malam nisfu Sya’ban telah ditetapkan ajal (manusia) dari bulan  sya’ban yang satu ke bulan sya’ban yang lain. Hal ini bertentangan dengan nash-nash (Al-Quran dan hadist yang shohih).

    Dari sini kita tahu bahwa do’a nisfu sya’ban tersebut penuh dengan kekeliruan dan kesalahan, dan merupakan do’a yang tidak ada riwayatnya dari nabi SAW, dari generasi umat terbaik (generasi sahabat, peny) dan tidak diriwayatkan dari kalangan salaf.

    Masalah berkumpul-kumpul (pada malam nisfu sya’ban) dalam bentuk yang seperti yang kita lihat dan kita dengar di beberapa negara Islam, itu merupakan bid’ah.  Seharusnya mengenai peribadatan kita hanya mengikuti riwayat yang ada.  Kita tidak boleh mengada-ada. Kita mesti mengikuti jalan kebenaran yang telah ditempuh orang-orang salaf, dan meninggalkan jalan keburukan (bid’ah) yang diciptakan orang khalaf (belakangan). Sebab, semua yang diadakan (dalam ibadah) adalah bid’ah, semua bid’ah adalah sesat, dan semua kesesatan adalah tempatnya di neraka (kullu bid’atin dholaalah wa kullu dhallaalatin fin naar, peny).

    Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mengikuti apa yang datang dari Rasulullah saw.dan sahabat-sahabat beliau.

    ***

    (disalin dari: Hadyul Islam Fatawi Muashirah (terjemahan Jilid-1): Syaikh DR.Yusuf Qardhawy)

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 30 June 2012 Permalink | Balas  

    Rezeki yang Telah Ditetapkan 

    Rezeki yang Telah Ditetapkan

    “Kesungguhan dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah akan mendapatkannya, dan mengurangi dari apa yang diwajibkan padamu, adalah termasuk sifat yang menunjukkan bashiroh (mata hati) yang tertutup.”

    Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada seorang hamba adalah rezeki. Sesuatu yang dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah adalah rezeki juga. Pertanggunganjawaban itu, tidak lain ialah menempatkan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada para hamba ialah dengan menjadikan harta berfungsi ibadah. Dengan demikian setiap harta kekayaan yang dijamin oleh Allah kepada manusia, hendaklah berfungsi benar sebagai barang jaminan yang diberlakukan sebagai ibadah untuk kepentingan yang berfaedah bagi si pemilik dan bermanfaat pula bagi sesama hamba Allah.

    Sebab harta yang menjadi jaminan itu akan ditarik kembali oleh Allah apabila harta itu tidak memberikan manfaat bagi agama, sesama hamba, dalam hubungannya dengan keagungan nama Allah Ta’ala. Jaminan itu, berarti Allah Swt adalah pemilik yang syah dari semua harta yang ada di tangan manusia. Allah Ta’ala akan ridho apabila rezeki Allah itu akan menghidupkan syariat, kesejahtraan para hamba Allah, dan tentu Allah akan murka apabila rezeki itu jatuh ke tempat maksiat.

    Selain itu pengertian yang dapat diambil dari perkataan sungguh sungguh di atas, adalah menunjukan kemampuan yang cukup untuk mendapatkan rezeki yang telah ditebarkan Allah Ta’ala di muka bumi ini. Kesungguhan mendapat rezeki Allah itu menjadi suatu keharusan, bahkan bisa menjadi wajib apabila rezeki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba. Mencari rezeki Allah itu bagi manusia telah menjadi sunnatullah. Jaminan Allah atas rezeki manusia, sebagaimana Allah telah menjamin rezeki bagi seekor anak hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup, karena Allah telah menyediakannya rezeki. Demikian juga halnya binatang melata ketika lahir, mampu melangsungkan hidupnya karena jaminan Allah atas rezekinya masing masing. Sebagaimana Allah berfirman, “Tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya.”.

    Dalam menuntut rezeki di dunia ini Allah tidak akan memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan mereka masing masing. Yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersikap berlebih lebihan. Karena sikap ini akan membawa ketamakan. Sedangkan ketamakan akan menjurus kepada kerakusan dan aniaya. Sikap rakus dan aniaya itu akan membutakan mata hati manusia.

    Orang mukmin ketika mencari rezeki dengan sungguh sungguh selalu memperhatikan pula cara ber-muamalah, sikap hati hati, serta mampu membedakan antara harta yang halal dan harta yang haram.

    Jaminan yang telah diberi oleh Allah dalam hal rezeki ini seperti difirmankan dalam Al-Qur anul Karim, “Perintahlah keluargamu mendirikan sholat, dan berlaku tabahlah menghadapi hidup. Tak perlu kamu bertanya soal rezeki.”

    Karena Allah Ta’ala telah menjamin rezeki hamba hamba-Nya, maka kesungguhan hamba untuk berikhtiar dan memohon dari Allah sangat dituntut. Pemberian Allah kepada manusia sesuai dengan ketaatan manusia kepada Allah.

    Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa kedudukan seorang hamba dalam kaitannya dengan rezeki yang diterimanya dari Allah, sangat erat dengan anugerah yang harus dijaganya. Rezeki sebagai pemberian Allah, haram untuk disia siakan, dan wajib untuk dimanfaatkan bagi agama Allah dan sesama hamba-nya.

    Rezeki banyak kaitannya dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. Rezeki selain menjadi bekal hidup dunia, termasuk pula untuk bekal hidup di Akhirat. Apabila harta yang telah di-rezkikan kepada manusia dipergunakan untuk kepentingan agama dan amal soleh, seperti menginfakkan dan menzakatkannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur an “Berbekal bekallah kamu, maka sebaik baik bekal adalah menunjukkan ketakwaan kepada Allah.”

    Ketakwaan dalam harta, tidak lain adalah memberikan harta itu kepada hamba Allah yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap muslim itu terkandung hak orang orang dhu’afa.

    ***

    Narasumber: “Mutumanikam dari kitab Al-Hikam”.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 29 June 2012 Permalink | Balas  

    Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk 

    Beriman kepada Takdir yang Baik dan Buruk

    Beriman kepada Qadar/Taqdir Allah yang baik atau pun yang buruk adalah rukun Iman yang ke 6.

    Dari Umar bin Khaththab ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman yaitu, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat dan kepada takdir yang baik dan yang buruk” (HR Imam Muslim)

    Meski kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga dan berdo’a, namun kita harus menerima dan mensyukuri apa yang terjadi. Sehingga hati kita selalu bahagia.

    “Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (QS Ali Imran 123)

    “Tuhanmu berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti akan Kami tambah nikmat kepadamu. Jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih.” [Ibrahim:7]

    Jika kita bersyukur, maka kita akan bahagia. Allah pun akan menambah nikmatnya. Tapi jika kita tidak bersyukur, kita akan kecewa, frustrasi, dan akhirnya putus asa.

    Segala Sesuatu Telah Ditulis dalam Lauhul Mahfudz

    Kita sering membaca buku, koran, majalah, ensiklopedi yang ditulis manusia tentang kejadian yang telah terjadi. Kadang yang ditulis itu ternyata tidak benar meski mereka berusaha menulis seakurat mungkin.

    Allah Maha Mengetahui segala hal yang ghaib dan tersembunyi bahkan ketika semua yang lain tidak mengetahuinya. Semua hal, bukan hanya yang sudah terjadi, namun yang akan terjadi sudah ditulis Allah dalam Lauhul Mahfudz. Jangan heran karena ilmu Allah sangat luas.

    Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; “tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]

    “Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]

    “Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]

    “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” [Huud:6]

    Sebagai Tuhan yang Maha Tahu, maka seluruh tulisan yang ditulis Allah itu adalah benar.

    Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” [Al Israa’ :58]

    Tak ada satu bencana pun yang menimpa kita kecuali sudah ditulis dalam kitab Lauhul Mahfuz

    “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al Hadiid:22]

    Oleh sebab itu janganlah kita khawatir akan segala musibah yang akan menimpa kita.

    Sering orang datang ke peramal atau paranormal untuk mengetahui takdirnya. Padahal ini adalah dosa besar dan tak ada seorang pun tahu perkara yang ghaib kecuali Allah SWT

    “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS An Naml:65)

    Allah Maha Berkehendak

    Kita harus meyakini bahwa Allah adalah yang Maha Berkehendak. Allah dengan mudah dapat mewujudkan segala keinginannya.

    Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]

    Oleh karena itu Nabi dan para sahabat tidak gentar menghadapi musuh baik kelompok kafir Quraisy, Yahudi, bahkan dua negara adidaya Romawi dan Persia. Mereka tahu bahwa Allah sudah menentukan kematian mereka. Tak ada satu pun yang dapat memajukan atau memundurkannya meski hanya sedetik saja.

    Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula)” memajukannya. [Al A’raaf:34]

    Mendekat Kepada Allah

    Untuk itu patutlah kita mendekati Allah SWT dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita seharusnya mencintai Allah agar Allah juga mencintai kita. Jika Allah mencintai kita, insya Allah apa yang kita inginkan akan dikabulkannya.

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:35]

    Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” [Al Ahzab:17]

    Berserah diri Kepada Allah

    Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.” [Yusuf:67]

    “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]

    “Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” [Ali ‘Imran:166]

    Menerima Ketetapan/Takdir Allah

    Sering kita dihadapkan pada situasi yang kita benci atau sesuatu yang buruk menimpa kita. Hendaknya kita tawakkal kepada Allah karena boleh jadi itu baik bagi kita.

    Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216]

    Jangan Putus Asa!

    Di media massa diberitakan beberapa ibu membunuh anaknya (kemudian bunuh diri) hanya karena khawatir tidak bisa membahagiakan anaknya.

    Di AS ada seorang bapak yang dikenal baik kemudian membunuh 2 putri kembarnya. Seorang psikolog di acara Oprah Winfrey mengatakan bahwa itu terjadi karena bapak tersebut menderita depresi. Diperkirakan 20% penduduk AS pernah menderita depresi. Yang paling berbahaya adalah jika penderita depresi sudah kehilangan harapan (hope) atau putus asa. Orang seperti ini bukan hanya bisa bunuh diri tapi juga bisa membunuh orang yang dia cintai.

    Dalam Islam kita dilarang putus asa dan harus beriman kepada takdir. Kita menerima semua ujian karena yakin itu semua sudah ditetapkan oleh Allah.

    Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” [Al Hijr:56]

    Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]

    Allah tidak menginginkan kita jadi dokter, kaya raya, atau yang lainnya. Yang dinginkan Allah dari kita hanya takwa. Yaitu mematuhi aturannya dan menjauhi larangannya. Toh ketika manusia mati, segala harta, jabatan, dan istri yang cantik sudah tidak bermanfaat lagi baginya.

    Kita jangan takut dan sedih jika ditimpa musibah berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan kematian. Itu adalah cobaan. Ucapkanlah bahwa kita semua adalah milik atau ciptaan Allah dan kepada Allah kita kembali.

    Jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita dan surga adalah imbalannya.

    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al Baqarah:155-157]

    …Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf :87]

    Kita harus yakin bahwa dibalik kesulitan yang menimpa kita, insya Allah akan ada kemudahan. Percayalah karena ini adalah janji Allah yang Maha Benar!

    “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]

    …Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]

    Allah tidak Membebani Cobaan di luar Kemampuan Kita

    Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita cobaan di luar kemampuan kita. Segala macam cobaan insya Allah bisa kita atasi selama kita dekat dengan Allah SWT.

    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah:286]

    Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya…” [Al Mu’minuun:62]

    “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” [At Taghabun:16]

    Berusaha Mencari Karunia Allah

    Meski kita beriman kepada Takdir Allah, tidak berarti kita jadi fatalis dan tidak berusaha melakukan apa-apa.

    Jika telah shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah:10]

    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77]

    Allah Maha Tahu

    Sebagai Tuhan yang Maha Mengetahui, Allah sebelum menciptakan sesuatu sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan ciptaannya dan Dia tuliskan itu. Meski demikian kita tetap wajib berusaha. Karena orang yang ditakdirkan masuk surga akan dimudahkan Allah untuk mengerjakan perbuatan ahli surga. Dan orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan

    Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. sebagai orang yang jujur dan dipercaya bercerita kepada kami: Sesungguhnya setiap individu kamu mengalami proses penciptaan dalam perut ibunya selama empat puluh hari (sebagai nutfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. Demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kamu telah melakukan amalan penghuni surga sampai ketika jarak antara dia dan surga tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kamu telah melakukan perbuatan ahli neraka sampai ketika jarak antara dia dan neraka tinggal hanya sehasta saja namun karena sudah didahului takdir sehingga dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga. (Shahih Muslim No.4781)

    Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia. Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)

    Hadis riwayat Imran bin Hushain ra., ia berkata: Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang harus beramal? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi takdirnya. (Shahih Muslim No.4789)

    ***

    Sumber : disusun oleh oleh : Abu Tauam Al Khalafy, dari berbagai sumber :

    1. 40 Hadits Shahih, Imam An Nawawi, Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H.
    2. Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, At Tibyan, Solo, Edisi Indonesia, November 2000 M.
    3. Aqidah Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi, ta’liq oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Media Hidayah, Cetakan Pertama, Mei 2005 M
    4. Tauhid, Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul Lathif. Direktorat Percetakan dan Penerbitan Departemen Agama Saudi Arabia, 1422 H

    syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 28 June 2012 Permalink | Balas  

    Malas 

    Malas 

    Kata Rasulullah SAW malas adalah sebuah penyakit. Penyakit malas ini selalu menjadi musuh manusia dan banyak manusia yang terpedaya oleh penyakit ini. Salah satunya mungkin diri kita.

    Coba kita rasakan, adakah penyakit malas didiri kita? Ketika kita mau melaksanakan shalat tahajud atau shalat subuh adakah penyakit malas disana? Ketika kita selesai shalat Fardu lalu kita berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT adakah penyakit malas disana? Ketika disuruh oleh ibu kita untuk mengerjakan sesuatu hal padahal kita lagi asyiknya nonton tv, adakah penyakit malas disana? Ketika menerima tugas dari atasan di kantor, adakah penyakit malas disana? Dan banyak lagi suasana atau keadaan diri kita yang mana pada waktu itu diri kita sedang dilanda penyakit malas. Dan ini dirasakan oleh semua, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua.

    Pernah suatu hari teman saya bilang, dulu sewaktu saya masih sekolah, saya jarang sekali dapat rengking di kelas saya, karena saya malas untuk belajar sehingga nilai ulanganpun saya selalu dapat nilai kecil. Tetapi, setelah saya buang rasa malas yang ada didiri saya, Alhamdulillah nilai-nilai ulanganpun menjadi bagus dan Alhamdulillah saya dapat rangking satu terus.

    Begitupun dengan teman yang dulu satu kerjaan dengan saya yang sekarang telah tiada (meninggal dunia) mudah-mudahan Allah mengampuni atas semua dosanya dan menerima semua amal salihnya dan dilapangkan kuburnya amin. Dia pindah kerja ke perusahaan lain, disana kerjanya bagus sampai oleh atasannya dia diangkat menjadi kepala bagian diperusahannya yang lain, dan dia dapat menjalankannya dengan baik dan penuh tanggungjawab, sampai atasanya memberikan penghargaan atas dedikasi kerjanya yang baik itu. Itu semua dia lakukan dengan semangat yang tinggi dan tidak kalah penting lagi dia lakukan dengan Ikhlas.

    Dan perlu diingat oleh kita semua, bahwa semua pengusaha, pendidik, pekerja, olahragawan dan lain sebagainya bisa berhasil dibidangnya, karena, mereka semua bisa melepaskan diri dari penyakit malas yang menyerangnya itu. Dan Allah SWT pun telah menganjurkan agar kita sebagai hamba-Nya untuk selalu bersemangat dalam melakukan suatu aktivitas. Baik itu dalam beribadah kepada Allah SWT maupun dalam bermuamalah dengan sesama manusia.

    Ada sebuah gambaran yang sangat indah dari Allah untuk kita renungkan, yang mana gambaran itu Allah tuangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Aadiyaat ayat 1 sampai 5:

     “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,” (QS. Al-Aadiyaat (100): 1-5)

    Dalam kitabnya “Tafsir Al-Qur’an Kontemporer EUstadz Aam Amiruddin mengatakan bahwa, Ayat 1-5 menggambarkan keperkasaan kuda perang yang berlari kencang menyerang kumpulan musuh . Begitu semangat dan kencangnya kuda itu berlari hingga hentakan kakinya memercikkan api dan menerbangkan debu.

    Hal tersebut merupakan penggambaran yang sangat indah dari Allah SWT untuk kita renungkan. Umat Islam seharusnya menadi umat yang gigih, penuh semangat dan kerja keras dalam memperjuangkan apapun, sebagaimana halnya kuda perang yang begitu gigih, penuh semangat, dan mengerahkan seluruh kemampuannya menerjang kumpulan musuh.

    Namun, fakta dalam kehidupan keseharian menunjukkan bahwa kita belum menjadi bangsa yang memiliki etos kerja yang baik. Padahal kalau kita gali pesan-pesan Ilahi, sungguh banyak ayat yang mendorong kita agar menjadi orang yang giat bekerja dan banyak berkarya, misalnya ayat-ayat berikut ini,

     “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu…,” (QS. At-Tubah (9): 105)

     “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah (94): 7-8)

    Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu melakukan yang terbaik. Kalau kita menjadi ibu, jadilah ibu yang terbaik dalam mendidik anak-anak dan mengatur rumah tangga. Kalau kita menjadi ayah, jadilah ayah yang terbaik dalam mengayomi dan menapkahi keluarga. Kalau kita menjadi karyawan, jadilah karyawan yang bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugas perusahaan. Jadi, apapun profesi dan bidang kerja kita, maka jadilah yang terbaik di bidangnya.

    Maka tidak ada kata malas dalam ajaran Islam. Apabila kita telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain karena Allah SWT lebih menyukai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang di sukai dan dikasihi oleh Allah SWT karena kita berani melepaskan diri dari penyakit malas itu.

    Wallahu A’lam

    ***

    Sumber: jkmhal.com

    e…@jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 27 June 2012 Permalink | Balas  

    Berwudlu Dalam Makna 

    Berwudlu Dalam Makna

    Apakah sebenarnya makna wudlu? Apakah ia berfungsi membersihkan ataukah mensucikan? Ternyata, berwudlu lebih memiliki makna untuk mensucikan diri. Bukan sekedar membersihkan.

    Membersihkan dalam istilah agama disebut sebagai istinja’. Misalnya, setelah kita buang air kecil atau besar. Maka kita diwajibkan membersihkan diri dengan air atau batu atau cara-cara yang telah diajarkan.

    Namun berwudlu lebih kepada mensucikan. Dan ini lebih bermakna batiniah daripada lahiriah. Memang berwudlu mesti bersih dulu lewat istinja’, tetapi berwudlu sendiri tidak harus bersifat membersihkan. Memang, berwudlu juga harus mengusap anggota badan dengan air atau debu. Tapi coba perhatikan, anggota badan yang diusap tidak terkait secara langsung dengan hadats yang terjadi. Apalagi dengan najisnya, sama sekali tidak. Karena itu, jika kita tidak menemukan air, maka kita oleh bertayamum dengan menggunakan ‘debu yang bersih’.

    Tentu kita segera paham, bahwa debu (sebersih apa pun) ya tetaplah debu. Ia tidak akan bisa membersihkan badan kita yang kotor (malah semakin ‘berdebu’), sebagaimana air membersihkan badan kita. Jadi makna bertayamum (sebagai pengganti wudlu) bukanlah membersihkan melainkan mensucikan. Demikian pula berwudlu, adalah mensucikan. Bukan badan tetapi batin.

    Jadi berwudlu bukanlah membersihkan najis, melainkan menghilangkan hadats kecil, karena buang air besar dan buang air kecil. Sedangkan hadats besar, yang disebabkan oleh ‘hubungan suami istri’ dihilangkan dengan cara mandi. Coba perhatikan ini : ‘hadats kecil’ dihilangkan dengan cara membasuh sebagian anggota tubuh kita dengan

    cara berwudlu, sedangkan hadats besar dihilangkan dengan cara membasuh seluruh badan kita dengan air, alias mandi besar. Jika tidak menemukan, maka lakukan dengan debu yang bersih. Baik wudlu maupun mandi besar bisa digantikan dengan tayamum. Ini, sekali lagi menunjukkan kepada kita, bahwa yang disucikan bukanlah badan. Tapi, batin.

    Namun demikian, dalam aktivitas berwudlu, sebenarnya Allah juga menghendaki agar kita selalu menjaga kebersihan. Karena itu, sebelum berwudlu kita mesti beristinja’ terlebih dahulu. Hilangkan najis dulu, baru kemudian mensucikan diri. Sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.

    QS. Al Maidah (5): 6

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

    Berwudlu memang membasuh anggota-anggota badan, mulai dari muka sampai ke kaki. Akan tetapi yang membatakan wudlu bukanlah kotoran yang mengotori badan kita, melainkan ‘pikiran kotor’ yang menghinggapi hati kita.

    Coba cermati filosofi wudlu ini. Jika kita sudah berwudlu, maka aktivitas makan dan minum tidaklah membatakannya. Demikian pula jika badan kita kena najis. Untuk mengatasi kedua hal tersebut, cukup membersihkannya saja. Tidak perlu mengulangi berwudlu. Jika anda. makan minum ketika masih mempunyai wudlu, maka untuk melakukan shalat, anda cukup berkumur saja. Demikian pula jika anda terkena najis atau kotoran pada anggota badan, anda cukup mencuci dan membersihkannya saja.

    Kalau begitu apakah yang membatakan wudlu? Wudlu dibatakan oleh ‘kotoran-kotoran’ atau gangguan yang bersifat kejiwaan. Misalnya, menyentuh kemaluan dan menyentuh perempuan yang mengarah kepada syahwat. Atau, ketiduran dan pingsan yang menyebabkan hilangnya akal. Atau kentut, kencing dan buang air besar, yang memang ditetapkan oleh Allah sebagai pembatal wudlu dalam arti melatih kemampuan kita dalam mengendalikan diri.

    Khusus tentang kentut, buang air kecil dan buang air besar, ada yang menganggap bahwa pembatalan wudlu itu bersifat jasmani. Bagi saya tidak demikian. Bukan ‘gas’ kentut, air seni dan faeces itu sebenarnya yang membatakan. Melainkan ketidak mampuan kita mengendalikan ketiga hal itulah yang oleh Allah dijadikan pembatal wudlu.

    Buktinya, jika kita terkena ‘gas’ kentut, atau terkena air kencing, atau terkena faeces orang lain, hal itu tidak membatakan wudlu kita. Cukup dengan membersihkan saja. Ini membuktikan bahwa yang membatakan wudlu kita bukanlah bendanya, melainkan prosesnya.

    Nah, dengan menetapkan ketiga hal tersebut sebagai pembatal wudlu, sebenarnya Allah menginginkan kita hidup bersih dan teratur. Selain itu, juga mampu mengendalikan diri untuk tidak berlaku sembarangan. Hidup bersih dan teratur akan membuat hidup kita sehat.

    Dengan demikian, seorang muslim harus selalu menjaga kesehatan ‘perutnya’, berkait dengan shalat 5 waktu yang dijalaninya. Apalagi kesehatan perut ini sangatlah vital. Lebih dari 80 persen penyakit modern dewasa ini berasal dari tidak terjaganya ‘perut’. Makan sembarang makan, dengan pola yang jelek bakal menyebabkan problem kesehatan.

    (Cermatilah berbagai macam penyakit modern dewasa ini berasal dari perut. Misalnya, darah tinggi, asam urat, diabetes, liver, typhus, jantung, dan obesitas (kegemukan) dengan berbagai macam komplikasinya.. Pengaturan pola makan yang baik dan hidup yang teratur akan sangat mengurangi berbagai resiko penyakit tersebut.

    Jadi, filosofi wudlu adalah filosofi mensucikan hati dan pengendalian diri secara kejiwaan. Kesucian hati dan pengendalian diri itu akan semakin sempurna, ketika seseorang bisa menata hatinya untuk berserah diri penuh keikhlasan, karena Allah semata.

    Orang yang kurang ikhlas dalam wudlu biasanya malah akan memperoleh ‘godaan’ yang bersifat membatakan wudlunya. Di antaranya adalah kecenderungan untuk kentut yang berlebihan. Jika, anda menemui hal semacam itu, maka relakan sajalah. Artinya, kalau memang Allah menghendaki kita tidak bisa menahan diri untuk tidak kentut, ya buang saja gas itu. Dan kita relakan untuk berwudlu kembali.

    Ketakutan untuk ‘kentut’ seringkali malah membuat kita merasa was-was, ‘wudlu kita sudah batal atau belum’. Sekali lagi ini adalah latihan untuk mengendalikan diri dan keikhlasan kita kepada Allah. Bagi orang yang ikhlas, semuanya akan terasa menjadi mudah saja. Dan Keikhlasan itulah yan menjadi salah satu kunci bagi kekhusyukan shalat kita. Termasuk bagi kemustajaban do’a kita di dalam shalat.

    Dengan demikian, sejak dari niat melakukan wudlu, kita harus sudah mengkondisilkan hati bahwa wudlu kita ini adalah untuk mensucikan hati dalam menyongsong ibadah shalat. Sehingga seluruh tatacara wudlu itu mesti kita barengi dengan do’a untuk mensucikan anggota-anggota badan yang kita wudlukan.

    Kalau kita mengacu pada ayat tersebut di atas, maka berwudlu memiliki 4 gerakan utama, yaitu mengusap wajah, mengusap tangan, mengusap kepala, dan mengusap kaki. Keempat anggota badan itu adalah anggota vital yang sering kita gunakan dalam interaksi kehidupan kita sehari-hari.

    Wajah adalah representasi dari kepribadian dan diri seseorang. Dalam shalat, wajah kita inilah yang dihadapkan kepada Allah sebagaimana kita ucapkan dalam do’a iftitah (inni wajahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawati wal ardhisesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan Langit dan Bumi).

    QS. Ar Ruum (30): 30

    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tdak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

    Maka dengan mengusap wajah, kita meniatkan untuk mensucikan seluruh diri kita, lahir dan batin. Kita ingin menghadapkan ‘wajah’ dan diri kepada Allah dalam keadaan terbaik yang kita miliki.

    Di wajah itu pula terdapat mata, mulut, hidung, dan telinga yang juga mesti kita sucikan dari berbagai ‘kekotoran’ perbuatan kita selama ini. Mudah-mudahan dengan mengusapkan air wudlu ke wajah kita, berbagai indera kita itu ikut tersucikan. Tidak lagi makan, minum, berkata, melihat, mendengar dan mencium sembarangan yang bisa menyebabkan berbagai persoalan dalam kehidupan kita, pribadi maupun masyarakat.

    Sebaliknya, dengan mensucikannya kita berharap memunculkan manfaat yang positip dari indera-indera yang kita gunakan untuk kebaikan. Dan dari wajah yang sering terkena air wudlu itu, mudah-mudahan memancar cahaya jernih yang menggambarkan aura positip dari orang-orang yang saleh.

    Selain wajah, Allah mengajarkan agar kita juga mensucikan kedua tangan. Tangan adalah representasi dari perbuatan dan karya-karya kita. Maka mensucikan kedua belah tangan adalah bermakna menjauhkan seluruh perbuatan dan berbagai hasil karya kita dari hal-hal yang kotor.

    Betapa banyaknya orang berbuat kerusakan di muka Bumi dengan tangan-tangan mereka. Daratan dan lautan mengalami kerusakan yang sangat parah yang justru menyebabkan turunnya kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Banjir dan kerusakan lingkungan serta rusaknya atmosfer memunculkan problem yang serius buat kehidupan generasi-generasi mendatang. Maka, kita harus mengendalikan tangan-tangan kita, agar tidak semakin memperparah keadaan. Nah komitmen itulah yang kita tegaskan lewat aktivitas wudlu’.

    QS. Ar Ruum (30): 41

    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

    Yang ketiga, adalah mengusap kepala. Inilah anggota badan yang paling penting dalam kehidupan kita. Kepala adalah anggota badan yang mengendalikan seluruh kemauan untuk melakukan sesuatu dan kemudian membuat keputusan. Di otak itulah kehendak kita berada. Karena itu, Allah memerintahkan kepada kita untuk mensucikannya.

    Mensucikan kepala adalah mensucikan berbagai kehendak yang ‘tersembunyi’ di dalam otak. Betapa menyenangkannya dunia ini, kalau isi kepala setiap kita adalah hal-hal yang positip. Hal-hal yang memberikan manfaat untuk kehidupan kita, kini maupun nanti.

    Maka, disinilah Allah mengajarkan kepada kita untuk membangun komitmen : mari kita sucikan kehendak dan segala keinginan kita menjadi kehendak dan keinginan yang suci yang memberikan manfaat besar buat siapa saja. Diri kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, masyarakat bangsa dan negara, serta umat manusia seluruhnya.

    Dan yang terakhir, kita mengusap kaki dalam berwudlu. Kita semua berharap agar seluruh langkah kehidupan kita mencerminkan ‘wajah-wajah’ yang suci, ‘tangan-tangan’ yang suci, dan ‘isi kepala’ yang suci.

    Inilah makna wudlu kita. Wudlu adalah sebuah komitmen suci untuk mengendalikan diri agar menjadi orang yang bertaubat dari segala kesalahan kemanusiaan kita, bersih dari keinginan yang keji dan merugikan orang lain, serta komitmen untuk selalu berbuat dan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk generasi sekarang maupun yang akan datang. Karena itu, seusai wudlu kita diajari untuk membaca do’a:

    Asyhadu anlaa ilaaha illailaahu wahdahu laa syariikalahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu laa Nabiyya ba’dahu Allahummaj’alni minattawwabin waj’alni minal mutathaahiriin waj’alni minal ‘ibaadihash shaalihiin

    “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada serikat bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, tidak ada Nabi sesudahnya. Ya Allah jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang mensucikan diri, dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hambaMu yang saleh.”

    Do’a sesudah wudlu di atas memberikan penegasan kepada kita bahwa berwudlu itu untuk memperoleh tiga hal yang terkandung dalam do’a di atas. Yaitu, bertaubat atas segala hal yang selama ini ‘kurang bagus’. Karena itu lantas mohon menjadi orang yang ‘disucikan’ dari berbagai ‘kekurangan’ tersebut. Dan akhirnya, memohon untuk dijadikan sebagai orang-orang yang banyak ‘berbuat kebaikan’ atau orang-orang yang beribadah dalam keihklasan, alias orang-orang yang saleh.

    Jadi, wudlu adalah sebuah proses untuk membangun komitmen menjadi lebih berkualitas. Menyiapkan diri untuk menapaki langkah-langkah berikutnya. Siap menghadapi proses yang lebih berat lagi ke depan.

    Dengan demikian, diharapkan shalatnya akan lebih khusyuk. Lebih bermakna. Bermakna dalam dzikirnya. dan bermakna dalam do’anya. Ya, bukankah shalat kita memiliki makna untuk berdzikir dan berdo’a?

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 26 June 2012 Permalink | Balas  

    Bershalat Dalam Makna 

    Bershalat Dalam Makna

    Kebanyakan kita shalat secara hafalan. Sangat jarang yang melakukan shalat dengan memahami maknanya Padahal kunci kekhusyukan shalat adalah kefahaman tentang apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucapkan. Maka, mau tidak mau kita harus menggunakan akal untuk memahami makna shalat kita.

    Jika tidak, maka hal yang menimpa laki-laki yang pernah disuruh Rasul mengulangi shalatnya sampai 3 kali bakal menimpa kita. Artinya, shalat kita ternyata tidak memiliki makna apa-apa. Dan dianggap belum melaksanakan shalat. Tentu, shalat yang demikian, bukanlah seperti yang diharapkan Rasulullah saw. Apalagi, kalau kita ingin ketemu Allah, tentu sangatlah jauh. Karena itu, marilah kita mulai berusaha untuk memaknai setiap shalat kita.

    Secara umum, makna shalat kita ada 2, yaitu ‘berdzikir’ dan ‘berdo’a’. Maka, sebelum kita memulai shalat, kita harus sudah membangun suasana hati, bahwa shalat itu bertujuan untuk ‘berdzikir’ dan ‘berdo’a’.

    1. Shalat sebagai Dzikir kepada Allah

    Untuk apakah berdzikir? Fungsinya adalah agar kita ‘ingat Eterus dengan Allah. Untuk apa ‘ingat’ sama Allah? Agar setiap ‘langkah kehidupan’ kita bermakna laa ilaaha illaallaah. Kenapa mesti laa ilaaha illallah? Disinilah proses keimanan berperan penting! Orang yang tidak menggunakan akalnya tidak akan bisa menemukan jawabnya.

    Proses keimanan yang baik adalah seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim. Beliau beriman kepada Allah bukan karena memperoleh warisan dari orang tuanya, atau gurunya. beliau memperolehnya dengan cara ‘bereksperimen’: mencari ‘SESUATU Eyang layak dianggap sebagai Tuhan.

    Maka, Allah mengabadikan catatan sejarah ‘pencarian’ Ibrahim itu di dalam al Qur’an. Dan kita semua umat muhammad disuruhNya untuk meneladani beliau. Dan bahkan, kemudian menjadikan do’a Ibrahim itu sebagai salah satu do’a yang kita baca di dalam shalat kita setiap hari.

    (Baca rentetan ayat berikut ini. Dan, perhatikan bagian terakhir, yaitu di ayat 79. Do’a tersebut diabadikan sebagai do’a iftitah dalam shalat yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita.)

    QS. Al An’aam (6): 74 – 79

    “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar. “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.

    “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan Bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. “

    “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.

    “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

    “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

    “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan Bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

    Dari pencariannya itulah Ibrahim akhirnya memperoleh kesimpulan yang sangat mendasar, bahwa kehidupan kita ini harus berorientasi kepada satu tujuan saja, yaitu Allah. Kenapa demikian? Karena ternyata segala sesuatu yang selain DIA hanya semu belaka. Semuanya akan musnah dan binasa kecuali Allah saja.

    QS. Qashaash (28): 88

    “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada Nyalah kamu dikembalikan.”

    Kesimpulan itulah yang merasuk ke dalam jiwa Nabi Ibrahim, sehingga beliau memiliki keteguhan iman yang luar biasa. Tidak bisa digoyahkan, meskipun diperintahkan untuk mengorbankan anak yang dicintainya, Ismail. Maka, Allah lantas memerintahkan kepada kita semua untuk mengikuti cara-cara Ibrahim di dalam beragama, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

    QS. An Nisaa'(4): 125

    “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

    Segala yang kita miliki dan kita bangga-banggakan bakal lenyap. Harta yang bertumpuk, kekuasaan, penampilan diri, dan berbagai kecintaan pada Dunia bakal berakhir seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi Allah tidak. Itulah sebagian dari makna laa ilaaha illallah.

    Karena itu, semua tujuan hidup mesti kita arahkan kepada Allah saja. Dialah yang memiliki segala kebahagiaan Dunia dan kebahagiaan Akhirat. Maka, jika Dia berkehendak, segalanya bisa terjadi untuk kebahagiaan kita di Dunia dan Akhirat nanti.

    Inilah yang dimaksudkan dengan berdzikir kepada Allah. Bukan sekedar ingat Allah, dengan tidak jelas jluntrungannya, melainkan ingat dalam arti laa ilaaha illallah. Ingat bahwa seluruh eksistensi ini hanya milik Allah belaka.

    Bahwa Allah lah yang layak mengisi ingatan kita setiap saat setiap waktu. (Secara lebih detil akan saya uraikan pada pembahasan secara terpisah). Itulah yang kita rasakan dalam shalat. Dan itu pula yang kita lakukan setelah shalat, sebagaimana DIA ajarkan pada ayat-ayat berikut ini.

    QS. Thahaa (20): 14

    ‘Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

    QS. An Nisaa'(4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Secara umum, dengan selalu ingat kepada Allah kita akan memetik banyak manfaat, diantaranya adalah:

    1. Hati kita akan selalu tenang dan tentram, jauh dari rasa was-was.

    Sebagaimana difirmankan Allah berikut ini.

    QS. Ar Ra’d (13): 28

    “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.

    2. Menjadi orang yang ‘tahan banting’ alias sabar dan tegar, karena kita merasa selalu dekat dengan Allah.

    QS. Al Baqarah (2): 153

    “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

    3. Menjadi orang yang ikhlas dan rendah hati, karena kita tahu bahwa kita ini memang sebenarnya kecil. Hanya Allah yang Maha Besar.

    QS. Al Furqaan (25): 63 – 64

    “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas Bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. ” “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”

    4. Terhindar dari perbuatan yang kotor (keji) dan merugikan (mungkar) orang lain.

    QS. Al Ankabut (29): 45

    “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    5. Menjadi orang yang ‘Berhati kaya’, alias tidak ‘Serakah’ dan suka menolong orang lain, karena kita merasa dekat dengan Dzat Yang Maha Kaya lagi Menyayangi.

    QS. Ali lmran (3):134

    “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

    Dan masih ratusan manfaat lagi yang bisa kita petik dari kedekatan kita kepada Allah. Secara umum Allah mengatakan bahwa orang yang dekat kepada Allah akan terjauhkan dari rasa sedih dan bakal bergembira terus di Dunia maupun di Akhirat. Sebagaimana Dia firmankan berikut ini.

    QS. Yunus (10): 62 – 64

    “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

    “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bettakwa.”

    “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di Dunia dan (dalam kehidupan) di Akhirat. Tdak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. “

    2. Shalat adalah Berdo’a.

    Seringkali, shalat kita tidak bermakna sebagai do’a (permintaan tolong kepada Allah). Shalat adalah sebuah kewajiban belaka. Sedangkan untuk berdoa, kebanyakan kita melakukannya di luar shalat. Misalnya, setelah shalat. Atau, waktu-waktu lain yang dianggap mustajab.

    Padahal, coba perhatikan ayat-ayat berikut ini. Allah memerintahkan agar kita minta tolong (berdo’a) kepadaNya dengan cara shalat. Mereka adalah orang-orang, yang istilah Allah ‘lambungnya jauh dari tempat tidumya E Artinya, mereka banyak melakukan shalat malam untuk berdo’a kepada Allah dengan penuh harap.

    QS. Al Baqarah (2): 45

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat Dan sesungguhnya yang demikian itu. sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’

    QS. Al Badarah (2): 153

    Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

    QS. As Sajdah (32): 15 – 16

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri,

    Lambung mereka jauh dari tempat tidumya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

    Nah, dengan demikian, mestinya kita mulai merubah cara minta tolong kita kepada Allah. Cara berdo’a yang paling baik yang dianjurkan Allah adalah dengan melakukan shalat. Di dalam shalat itulah kita berdo’a dan memohon pertolongan atas berbagai permasalahan yang kita hadapi. Dan setelah itu, tunggulah ‘hasilnya’ dengan penuh kesabaran.

    Namun demikian, berdo’a memang tidak dibatasi hanya dalam shalat. Allah ‘menerima’ do’a kita kapan saja kita butuh. Akan tetapi, shalat adalah tatacara yang secara ‘formal’ diajarkan oleh Allah. Insya Allah, jika kita mengikuti petunjuk tersebut do’a kita lebih mustajab.

    Pada dasarnya, tatacara dan ucapan-ucapan di dalam shalat telah ditentukan oleh Rasulullah saw. Akan tetapi, kita bisa memaknai ucapan-ucapan itu dengan hal-hal yang sedang menjadi permasalahan dalam kehidupan kita. Sehingga do’a kita di dalam shalat itu tidaklah hambar, melainkan ‘ngematch’ alias nyambung dengan problem kehidupan sehari-hari.

    Selain memberikan makna kepada do’a standar dalam shalat, ada saat-saat yang kita diperbolehkan berdoa secara ‘lebih bebas’ di dalam shalat kita. Di antaranya adalah pada saat i’tidal, yaitu seusai membaca do’a i’tidal (contohnya: ada yang membaca do’a Qunut ada yang tidak).

    Saat-saat yang lain, adalah ketika duduk di antara dua sujud, dimana kita selalu mengucapkan do’a memohon kesehatan, rezeki, permohonan ampun dan permintaan maaf, dan lain sebagainya. Juga di dalam sujud, dimana kita sedang dalam ‘kondisi terdekat’ kita dengan Allah. Dan akhirnya, pada saat menjelang salam, setelah membaca tasyahud akhir dan shalawat Nabi.

    Begitulah, sangat banyak kesempatan yang diberikan kepada kita untuk berdo’a di dalam shalat. Intinya, agar shalat kita tidak terasa hambar. Tetapi memiliki ‘muatan’ kebutuhan hidup dan permintaan tolong kepada Allah atas segala problem kehidupan kita.

    Dan yang paling penting dari proses berdo’a kita itu adalah sikap hati. Janganlah kita ragu di dalam berdo’a. Yakinlah, Allah pasti menjawab do’a kita, asalkan kita memang bersungguh-sungguh di dalam berdo’a. Hal itu telah Dia janjikan dalam firmanNya. Nggak usah ragu. Sekali lagi jangan sampai ragu, karena Allah akan mengabulkan do’a kita sesuai dengan prasangka hati kita. Kalau yakin, hasilnya ya meyakinkan. Kalau ragu, hasilnya ya meragukan.

    QS. Al Baqarah (2): 186

    “Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “

    Sebelum lebih jauh kita membahas makna do’a-do’a shalat, maka cermatilah firman-firman Allah berikut ini agar do’a kita di dalam shalat lebih ‘diperhatikan’ Allah. Dan mudah-mudahan dikabulkanNya.

    QS. Yunus (10): 22

    “… dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada Nya semata-mata… “

    QS. As Sajdah (32): 16

    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

    QS. Al Qalam (68): 48

    Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).

    QS. Al Israa’ (17): 11

    Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.

    QS. Al A’raaf (7): 55

    Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang, yang melampaui batas.

    Lewat ayat-ayat tersebut Allah mengajarkan kepada kita bahwa do’a yang baik adalah mengikuti kondisi-kondisi tersebut. Di antaranya adalah :

    1. Berdo’alah dengan penuh keikhlasan, hanya semata mata, kepada Allah saja. Bahkan, kalimat yang digunakan adalah, mukhlisiina lahuddiin, yaitu mengikhlaskan diri dalam beragama. Bukan hanya ketika berdo’a, melainkan dalam seluruh peribadatan yang kita jalankan, kita ikhlas hanya untuk Allah saja.
    2. Dengan rasa takut dan penuh harap. Artinya, janganlah kita berdo’a dengan tidak serius. Misalnya, dengan perasaan ‘cuek’ dikabulkan syukur, nggak dikabulkan ya sudah. Berdo’a yang seperti ini tidaklah serius. Berdo’a adalah memohon pertolongan kepada Allah, maka tentu dilakukan dengan sepenuh hati dan ‘harap-harap cemas’.
    3. Jangan berdo’a dalam keadaan marah atau penuh kebencian atas perbuatan seseorang kepada kita. Bertawakallah kepada Allah dengan penuh kesabaran, Insya Allah Dia akan memberikan yang tebaik buat kita.
    4. Jangan berdo’a untuk kejahatan. Ikutilah jalan yang lurus yang diajarkan Allah dan RasulNya kepada kita. Meskipun kita sedang terjepit, usahakan agar kita tidak melakukan kejahatan. Sekali lagi bertawakallah kepada Allah, maka Dia akan memberikan yang terbaik buat kita.
    5. Ucapkanlah do’a kita dengan suara yang lembut dan berendah diri kepada Allah. Jangan berdo’a dengan suara yang keras, karena Allah sebenarnya begitu dekat dengan kita. Dia lebih dekat kepada kita daripada urat leher kita (QS.50:16). Dia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati kita. Jadi kenapa kita mesti berteriak-teriak dalam berdo’a. Orang-orang yang berdo’a dengan suara keras, cenderung memiliki hati yang riya’ atau pamer kepada orang lain. Do’a yang demikian menjadi tidak ikhlas adanya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 25 June 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Meremehkan Wirid 

    Jangan Meremehkan Wirid

    “Tidak akan meremehkan wirid kecuali orang yang bodoh. Karena  Allah (Al-Warid) itu diperoleh di akherat’, sedangkan Al-Wirid, akan selesai dengan musnahnya dunia. Yang paling baik diperintahkan oleh manusia, adalah yang tidak pernah musnah. Wirid yang diperintahkan Allah kepadamu, serta karunia yang kalian terima, adalah merupakan hajatmu sendiri terhadap Allah Ta’ala. Dimanakah letaknya perbedaan antara perintah Allah kepadamu dengan pengharapan kalian kepada-Nya.”

    Yang dimaksud wirid ialah perbuatan seorang hamba yang berbentuk ibadah, lahir dan batin. Sedangkan Al-Warid adalah karunia Allah ke dalam batinnya seorang hamba ibarat cahaya yang halus,  yang bersinar sinar di dalam dadanya dan memberi nur ke dalam dadanya, semuanya sebagai karunia Allah yang wujudnya dalam ibadah si hamba. Al-Warid itu adalah dari Allah Swt, merupakan muamalah dan ibadah.

    Adapun wirid adalah amalan yaang dikerjakan di dunia secara tetap dan tertib di dunia ini juga berupa ibadah secara tertib termasuk dzikir yang dikerjakan terus menerus, tidak pernah ditinggalkan. Warid merupakan karunia Allah kepada para hamba berupa penjelasan, nurullah, kenikmatan  merasakan ibadah, hidayah dan taufik Allah, semuanya merupakan amalan batin yang kuat. Kenikmatan warid itu berkelanjutan hingga hari akhirat. Antara Wirid dan Al-Warid mempunyai kaitan yang kuat Apabila Al-Warid itu karunia Allah, wirid adalah ibadah yang tetap dan tertib.

    Orang yang melaksanakan wirid dalam ibadah, adalah orang yang memelihara hubungannya dengan Allah secara tetap, tidak pernah tertutup dalam saat waktu yang tetap pula. Dalam keadaan apapun dan di manapun, ia senantiasa menjaga ibadah rutinnya itu dengan baik dan dikerjakan sebagus bagusnya. Contoh ibadah yang diwiridkan, seperti sholat sunah yang dipilih untuk wirid, dzikir yang diwiridkan, puasa sunah yang diwiridkan, dan lain lainnya. Hamba yang wirid selalu membasahi jiwa dan lidahnya dengan dzikrullah. Karena dikerjakan secara rutin, maka ibadah tersebut sudah menjadi kebiasaan serta dikerjakan dengn senang hati dan dirasakan kenikmatannya.

    Kedua duanya, Wirid dan Warid, ibarat saudara kembar yang saling berlomba menjadi ibadah yang sangat dicintai untuk mendapatkan keridhoan Allah Swt. Yang satu (wirid) ibadah untuk menghiasi lahir, yang satu ibadah (warid) untuk menghiasi batin.  Wirid adalah hak Allah yang diperintahkan agar diamalkan oleh para hamba. Sedang warid adalah hak hamba yang disampaikan kepada Allah Swt.

    Menghidupkan wirid dalam hidup hamba Allah diperlukan, agar si hamba tetap kontak dengan Allah di waktu waktu yang sudah ditentukan oleh si hamba sendiri. Sebab amal ibadah yang paling baik ialah dikerjakan terus menerus, walaupun sedikit (kecil). Amal seperti ini sangat disukai oleh Allah   Ta’ala

    Diriwayatkan bahwasanya Al Jundi adalah seorang ahli makrifat yang membiasakan dirinya membaca Al-Qur an dalam waktu yang telah ditetapkan, sehingga waktu ia wafat bertepatan dengan ia menghatamkan Al-Qur an, dan menghatamkan bacaannya di saat itu. Disebutkan juga dalam beberapa riwayat oleh Abu Qosim Ad-Daraj, bahwa Al Jundi adalah seorang ahli makrifat yang senang beribadah dan mewiridkan ibadah ibadahnya itu.

    Abu Tolib Al Makky berkata, “Orang yang senantiasa men-dawam-kan (membiasakan ibadah rutin), termasuk akhlak orang beriman, dan jalan para abidin, sebab cara ini akan memperkokoh iman, termasuk hal juga yang menjadi amalan Rosulullah Saw.”

    Di samping wirid yang dikerjakan secara tetap dan tertib, seorang hamba memerlukan warid, yang disebut Imdad, artinya warid yang tidak terputus putus dan senantiasa bersambung yang dipersiapkan.  Dengan persiapan melalui wirid ini barulah warid itu masuk menjadi hiasan kalbu para ahli makrifat. Tanpa wirid maka tidak ada warid.

    Syekh Ahmad Atailah (pengarang kitab Al-Hikam) menjelaskan lagi :

    “Masuknya warid Imdad menurut persiapannya (wirid), dan terbitnya cahaya atas hati sesuai kebersihan hati itu pula.”

    Warid itu dapat memasuki hati dan rasa seorang hamba, apabila hati si hamba telah bersih dari pengaruh duniawi yang meresahkan dan mengendorkan iman. Hati akan menjadi bersih menurut wirid yang dilakukan oleh si hamba dengan terus menerus, tertib, dan kontinyu. Memelihara terlaksananya wirid sangat diperlukan bagi terangnya hati manusia dengan nurullah.

    ***

    Narasumber : Buku “Mutumanikan dari kitab Al-Hikam”

    Firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan (supaya) mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

    Lurus artinya jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 24 June 2012 Permalink | Balas  

    Makruhnya Mencabut Uban 

    Assalamu’alaikum wa rohmatullohi Ta’ala wa barokatuhu

    Makruhnya Mencabut Uban

    Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, Rosululloh bersabda, “Janganlah mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang memiliki uban sehelaipun sesudah masuk Islam kecuali uban tersebut akan menjadi cahaya untuknya di hari kiamat kelak.” (Shohih Jami’ush Shoghir diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/256/4184 dan Nasai 8/136).

    Anjuran untuk Mewarnai Uban dengan Daun Pacar, Katm atau Sejenisnya dan Haram Mewarnainya dengan Warna Hitam

    Dari Abu Dzar rodhiyallohu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya termasuk yang paling baik untuk merubah warna uban ialah daun pacar dan katm.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.1546. Diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/259/4187, Tirmidzi 3/145/1806, Ibnu Majah 2/1196/3622 dan An Nasai 8/139. Teks hadits tersebut ada dalam riwayat Ibnu Majah).

    Katm adalah tumbuhan yang menghasilkan warna hitam kemerah-merahan. Demikian keterangan dalam Fiqh Sunnah 1/35. Ed.

    Dari Abu Huroiroh, beliau menyatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai uban mereka, maka selisihilah mereka!” (Muttafaq ‘alaih. Diriwayatkan oleh Bukhori 1/354/5899, Muslim 3/1663/2103, Abu Dawud 11/257/4185, dan An Nasai 8/137).

    Dari jabir rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Abu Quhafah didatangkan ke hadapan Rosululloh ketika Fathul Makkah dalam keadaan rambut dan jenggotnya seperti tsagomah. Rosululloh bersabda, “Ubahlah warna ubannya dengan warna apapun akan tetapi jauhilah penggunaan warna hitam.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.4170. Diriwayatkan oleh Muslim 3/1663-69-2102, Abu Dawud 11/258/4186, An Nasai 8/138, dan Ibnu Majah 2/1197/3624). Tsaghomah adalah pohon yang daun dan bunganya berwarna putih.

    Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Rosululloh bersabda, “Kelak di akhir jaman akan muncul sekelompok orang yang mewarnai ubannya dengan warna hitam seperti warna tembolok merpati. Mereka tidak akan mencium bau surga.” (Shohih Jami’ush Shoghir no.8153. Diriwayatkan oleh Abu Dawud 11/266/4194 dan An Nasai 8/138)

    Wallahu’alam bish showwab

    Wassalamu’alaikum wa rohmatullohi Ta’ala wa barokatuhu

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 22 June 2012 Permalink | Balas  

    Jauhi Sifat Angkuh dan Sombong 

    Jauhi Sifat Angkuh dan Sombong

    Sifat angkuh dan sombong telah banyak mencelakakan makhluk ciptaan Allah subhanahu wata’ala, mulai dari peristiwa terusirnya Iblis dari sorga karena kesombongannya untuk tidak mau sujud kepada Nabi Adam alaihis salam tatkala diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk sujud hormat kepadanya.

    Demikian juga Allah subhanahu wata’ala telah menenggelamkan Qorun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya.

    Allah subhanahu wata’ala juga telah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya di lautan karena kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah subhanahu wata’ala dan juga kepada sesama kaumnya, dan karena kesombongannya itulah dia lupa diri sehingga dengan keangkuhannya dia menyatakan dirinya adalah tuhan yang harus disembah dan diagungkan.

    Kehancuran kaum Nabi Luth alaihis salam juga karena kesombongan mereka dengan menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Luth alaihis salam agar mereka meninggalkan kebiasaan buruk mereka yaitu melakukan penyimpangan seksual, yakni lebih memilih pasangan hidup mereka sesama jenis (homosek), sehingga tanpa disangka-sangka pada suatu pagi, Allah subhanahu wata’ala membalikkan bumi yang mereka tempati dan tiada satu pun di antara mereka yang bisa menyelamatkan diri dari adzab Allah yang datangnya tiba-tiba.

    Dan masih banyak kisah lain yang bisa menyadarkan manusia dari kesombongan dan keangkuhan, kalaulah mereka mau mempergunakan hati nurani dan akalnya secara sehat.

    Mengapa manusia tidak boleh sombong? Sebab manusia adalah makhluk yang lemah, maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, telah menjelaskan tentang bahayanya sifat kesombongan dan keangkuhan, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah Bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

    “Tidak masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit kesombongan, kemudian seseorang berkata: “(ya Rasulullah) sesungguhnya seseorang itu senang pakaiannya bagus dan sandalnya bagus”, Beliau bersabda: “Sesunguhnya Allah itu Indah dan Dia menyenangi keindahan, (dan yang dimaksud dengan) kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang lain” (HR. Muslim)

    Imam An-Nawawi rahimahullah berkomentar tentang hadits ini, “Hadits ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka dan menolak kebenaran”. (Syarah Shahih Muslim 2/269).

    Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak pantas mengerjakan suatu urusan, dia juga sombong menerima kebenaran dari orang lain”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam 2/275)

    Raghib Al-Asfahani rahimahullah berkata, “Sombong adalah keadaan/kondisi seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, memandang dirinya lebih utama dari orang lain, kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan cara menolak kebenaran (dari-Nya) dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan maupun dalam mentauhidkan-Nya.” (Umdatul Qari` 22/140).

    Nash-nash Ilahiyyah banyak sekali mencela orang yang sombong dan angkuh, baik yang terdapat dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah.

    1. Orang Yang Sombong Telah Mengabaikan Perintah Allah subhanahu wata’ala.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (angkuh).” (QS. 31:18)

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, menjelaskan makna firman Allah subhanahu wata’ala: (Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia) dia berkata: “Janganlah kamu sombong dan merendahkan manusia, hingga kamu memalingkan wajahmu ketika mereka berbicara kepadamu.” (Tafsir At-Thobari 21/74)

    Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan Firman Allah subhanahu wata’ala, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”, maksudnya janganlah kamu menjadi orang yang sombong, keras kepala, berbuat semena-mena, janganlah kamu lakukan semua itu yang menyebabkan Allah murka kepadamu”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/417).

    2. Orang Yang Sombong Menjadi Penghuni Neraka.

    Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Katakanlah kepada mereka: Masuklah kalian ke pintu-pintu neraka jahannam dan kekal di dalamnya, maka itulah sejelek-jelek tempat kembali.” (QS. Az-Zumar: 72)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Tidak akan masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya terdapat sedikit kesombongan.” (HR. Muslim)

    Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni surga? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni surga adalah) orang-orang yang lemah lagi direndahkan oleh orang lain, kalau dia bersumpah (berdo’a) kepada Allah niscaya Allah kabulkan do’anya, Maukah Aku beritakan kepada kalian tentang penghuni neraka? Para shahabat menjawab: tentu (wahai Rasulullah), lalu beliau berkata: “(Penghuni neraka adalah) orang-orang yang keras kepala, berbuat semena-mena (kasar), lagi sombong”. (HR. Bukhori & Muslim)

    3. Orang Yang Sombong Pintu Hatinya Terkunci & Tertutup.

    Sebagaimana Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:

    “Demikianah Allah mengunci mati pintu hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (QS. Ghafir 35)

    Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Sebagaimana Allah mengunci mati hati orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah maka demikian juga halnya Allah juga mengunci mati hati orang yang sombong lagi berbuat semena-mena, yang demikian itu karena hati merupakan sumber pangkal kesombongan, sedangkan anggota tubuh hanya tunduk dan patuh mengikuti hati”. (Fathul Qodir 4/492).

    4. Kesombongan Membawa Kepada Kehinaan Di Dunia & Di Akhirat

    Orang yang sombong akan mendapatkan kehinaan di dunia ini berupa kejahilan, sebagai balasan dari perbuatannya, perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:

    “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di dunia ini tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanku”. (QS. Al-‘Araf: 146)

    (Maksudnya) yaitu Aku (Allah) halangi mereka memahami hujah-hujjah dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang keagungan-Ku, syari’at-Ku, hukum-hukum-Ku pada hati orang-orang yang sombong untuk ta’at kepada kepada-Ku dan sombong kepada manusia tanpa alasan yang benar, sebagaimana mereka sombong tanpa alasan yang benar, maka Allah hinakan mereka dengan kebodohan (kejahilan). (Tafsir Ibnu Katsir 2/228)

    Kebodohan adalah sumber segala malapetaka, sehingga Allah sangat mencela orang-orang yang jahil dan orang-orang yang betah dengan kejahilannya, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya:

    “Sesungguhnya makhluk yang paling jelek (paling hina) di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu yang tidak mengerti apapun (jahil).” (QS. Al-Anfal:22)

    Maksudnya Allah subhanahu wata’ala menghinakan orang-orang yang tidak mau mendengar-kan kebenaran dan tidak mau menutur-kan yang haq, sehingga orang tersebut tidak memahami ayat-ayat-Nya yang pada akhirnya menyebabkan dia menjadi seorang yang jahil dan tidak mengerti apa-apa, dan kejahilan itulah bentuk kehinaan bagi orang-orang yang sombong.

    Dan orang yang sombong di akhirat dihinakan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan memperkecil postur tubuh mereka sekecil semut dan hinaan datang kepada dari segala penjuru tempat, hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits berikut:

    “Orang-orang yang sombong akan dihimpunkan pada hari kiamat seperti dalam bentuk semut-semut kecil dengan rupa manusia, dari segala tempat datang hinaan kepada mereka, mereka digiring ke penjara neraka jahannam yang di sebut Bulas, di bagian atasnya api yang menyala-nyala dan mereka diberi minuman dari kotoran penghuni neraka”. (HR. Tirmizi & Ahmad, dihasankan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Misykat)

    Semoga dengan merenungi nash-nash Ilahiyyah diatas, karunia Allah subhanahu wata’ala beserta kita dan bisa menjauhkan kita dari sifat angkuh dan sombong. (Abu Abdillah Dzahabi)

    ***

    Tulisan ini disadur dari Majalah Al-Furqon Edisi: 5 Tahun V /Dzulhijjah 1426 /Januari 2006

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 19 June 2012 Permalink | Balas  

    Zikir Mengingat Allah 

    Zikir Mengingat Allah

    Allah memerintahkan orang yang beriman untuk berzikir (mengingat dan menyebut nama Allah) sebanyak-banyaknya:

    “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41]

    Tidak berzikir akan mengakibatkan seseorang jadi orang yang rugi.

    “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS Al Munaafiquun 63:9]

    Allah mengingat orang yang mengingatNya.

    “Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al Baqarah:152]

    Orang yang beriman selalu ingat kepada Allah dalam berbagai keadaan :

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali ‘Imran 3:190-191]

    Dengan berzikir hati menjadi tenteram.

    “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]

    Menyebut Allah dapat membawa ketenangan dan menyembuhkan jiwa :

    “Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak).” (HR. Al-Baihaqi)

    Nabi berkata: Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

    “Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Hanzhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Hanzhalah hingga diulang-ulang tiga kali).” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

    “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Nabi berkata: “ Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur’an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: “Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, “Ya.” Nabi Saw berkata,”Zikrullah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

    Seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan.” Nabi Saw berkata, “Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah).” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

    Nabi berkata: Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya’la)

    Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah : “Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati.” (HR. Ad-Dailami)

    “Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh Allah yaitu kalimat: “Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘Adzhim” (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)

    Nabi berkata: “Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya “Laailaha illallah”. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan “Alhamdulillah”, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan “Astaghfirullah” dan jika ditimpa musibah dia berkata “Inna lillahi wainna ilaihi roji’uun.” (HR. Ad-Dailami)

    Nabi berkata: Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “La haula wala Quwwata illa billah.” (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).” (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)

    Di antara zikir yang utama adalah Laa ilaaha illallahu (Tidak ada Tuhan selain Allah) “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu” [HR Turmudzi]

    “Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku berkata bahwa kalimat : “Subhanallah, wal hamdulillah, wa Laa Ilaaha Illallah, wallahu akbar” (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha Besar) itu lebih kusukai daripada apa yang dibawa oleh matahari terbit.” (HR Bukhari dan Muslim)

    ***

    Referensi: Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press Disadur dari: HaditsWeb 2.0 – Sofyan Efendi – Kumpulan dan Referensi Belajar Hadits

    Syiarislam.wordpress.com

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 18 June 2012 Permalink | Balas  

    Matematika Sedekah 

    Matematika Sedekah

    Pengantar

    Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dan sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.

    Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan- kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. Kepada yang mau peduli dan berbagi.

    Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.

    Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan s