Updates from Februari, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:57 am on 1 February 2013 Permalink | Balas  

    Istiqomah

    Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyeimbang atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

    Dalil-dalil dan Dasar Istiqomah “Maka tetaplah (istiqomah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 11:112).

    Juga dalam ayat lain disebutkan, “Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Tuhan) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 41: 31-32)

    “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni- penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 46: 13-14)

    Ayat diatas menggambarkan urgensi istiqomah setelah beriman dan pahala besar yang dijanjikan Allah SWT seperti hilangnya rasa takut, sirnanya kesedihan dan surga bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keimanan dalam setiap kondisi atau situasi apapun.

    Hal ini dikuatkan hadits Nabi berikut ini. “Aku berkata: “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku satu perkataan DALAM Islam yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun selain engkau. Beliau bersabda: “Katakanlah, `Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah (jangan menyimpang).” (HR. Muslim dari Abu’ Amarah Sufyan bin Abdullah)

    Faktor-Faktor yang Melahirkan Istiqomah Ibnu Qayyim dalam “Madaarijus Salikiin” menjelaskan bahwa ada lima faktor yang mampu melahirkan istiqomah dalam jiwa seseorang sebagaimana berikut:

    1. Beramal dan melakukan optimalisasi

    “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar- benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. 22:78)

    2. Berlaku moderat antara tindakan melampaui batas dan menyia-nyiakan

    “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. 25:67)

    Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash: “Wahai Abdullah bin Amr, sesungguhnya setiap orang yang beramal memiliki puncaknya dan setiap puncak akan mengalami kefuturan (keloyoan). Maka barangsiapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada bid’ah, maka ia akan merugi” (HR. Iman Ahmad dari sahabat Anshor)

    3. Tidak melampaui batas yang telah digariskan ilmu pengetahuannya

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. 17:36)

    4. Tidak menyandarkan pada faktor kontemporal, melainkan bersandar pada sesuatu yang jelas – ikhlas

    Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. 98:5)

    5. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW bersabda: “Siapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perbedaan yang keras, maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khalifah Rasyidin (yang lurus), gigitlah ia dengan gigi taringmu.” (Abu Daud dari Al- Irbadi bin Sariah)

    Imam Sufyan berkata: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali bila ia disertai amal, dan tidaklah lurus perkataan dan amal kecuali dengan niat, dan tidaklah lurus perkataan, amal dan niat kecuali bila sesuai dengan sunnah.”

    ***

    die *Buleti Jum’at Ummul Quro*

     
  • erva kurniawan 9:55 am on 30 January 2013 Permalink | Balas  

    Balasan Dari Jenis Amal

    Dari Abdurrahman As-Sulamy, dia berkata, “Aku masuk masjid, dan pada waktu yang sama Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berada diatas mimbar. Dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada salah seorang dari para nabi Bani Israel: Katakanlah kepada orang-orang yang taat kepada-Ku dari umatmu, `Janganlah mereka mengandalkan amal mereka, karena Aku tidak menggerakkan seseorang pada hari Kiamat saat hisab, kemudian Aku berkeinginan untuk mengazabnya melainkan Aku pun mengazabnya’. Katakan kepada orang-orang yang durhaka kepada-Kudari umat- mu, `Janganlah mereka putus asa, karena Aku mengampuni dosa-dosa besar, dan Aku tidak peduli. Tidak ada diantara penduduk kampung, tidak pula penduduk kota, dan tidak pula penduduk bumi, tidak pula orang khusus dan seorang wanita berada pada apa yang Kucintai, sehingga Aku pun berada pada apa yang dicintainya, kemudian dia beralih dari apa yang Kucintai kepada apa yang Kubenci, melainkan Aku juga beralih dari apa yang dicintainya kepada apa yang dibencinya. Sesungguhnya tidak ada dari penduduk kota, tidak pula penduduk bumi, laki-laki khusus maupun wanita, yang berada pada apa yang Kubenci, kemudian dia beralih dari apa-apa yang Kubenci kepada apa yang Kucintai, melainkan Aku juga beralih dari apa yang dibencinya kepada apa yang dicintainya’. Bukan termasuk golongan orang yang meramalkan keburukan atau meminta agar diramalkan baginya. Aku dengan akhlakku adalah bagiku.” (Diriwayatkan Ath- Thabrani di dalam Al-Ausath, di dalamnya ada Isa bin Muslim Ath Thahawy, yang menurut Abu Zar’ah, dia adalah lemah, sedangkan rijal yang lainnya tsiqat. Majma Az-Zawa’id, 1/307)

    Mengkhawatirkan Amal lebih Berat daripada Amal itu Sendiri

    Diriwayatkan dari Abud-Darda’, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya mengkhawatirkan amal lebih berat daripada amal itu sendiri. Sesungguhnya seseorang benar-benar mengerjakan amal lalu ditetapkan baginya amal orang lain yang shalih yang dikerjakannya secara sembunyi-sembunyi, yang pahalanya dilipatgandakan tujuh pluh kali. Lalu syetan senantiasa menghampirinya hingga dia menceritakan amalnya kepada manusia dan dia suka dirinya disebut-sebut dan dipuji karena amalnya itu, sehingga amalnya ditetapkan sebagai amal yang dilakukan secara terang-terangan dan sebagai perbuatan riya’. Hendaklah seseorang yang menjaga agamanya, takut kepada Allah dan seseungguhnya riya’ itu merupakan syirik.” (Diriwayatkan Al-Baihaqi. Menurut Al-Hafizh Abdul-Azhim, hadits ini mauquf. At-Targhib, 1/3).

    Orang yang Beramal untuk Mencari Ketenaran

    Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid. Dia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat- nikmatnya dan dia pun mengenalinya. Allah bertanya, `Apa yang kamu kerjakan didunia?’ Dia menjawab, `Aku berperang karena-Mu hingga aku mati syahid’. Allah berfirman, “Kamu dusta, tapi kamu berperang agar dikatakan, `Dia adalah seorang pemberani’. Maka memang begitulah yang dikatakan. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya agar dia ditelungkupkan wajahnya hingga dia dilemparkan ke neraka. Dan, seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkan serta membaca Al- Qur’an, dia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya sehingga diapun mengenalinya. Allah berfirman, `Apa yang kamu amalkan di bumi?’ Dia menjawab, `Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena-Mu’. Allah berfirman, `Kamu dusta. Tapi kamu mempelajari ilmu agar engkau dikatakan orang yang berilmu, dan kamu membaca Al-Qur’an agar kamu dikatakan, `Dia adalah qari’, dan memang begitulah yang dikatakan. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya hingga dia ditelungkupkan pada wajahnya hingga dia dilemparkan ke neraka. Dan seseorang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberi-Nya berbagai macam harta, semuanya. Lalu dia didatangkan, lalu diperkenalkan nikmat-bnikmatnya kepadanya sehingga diapun mengenalinya. Allah berfirman, `Apa yang kamu kerjakan di dunia?’ Dia menjawab, `Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau suka jika di keluarkan shadaqah padanya, melainkan aku mengeluarkan shadaqah padanya karena-Mu’. Allah berfirman, `Kamu dusta’. tapi kamu mengerjakannya agar dikatakan, `Dia adalah orang yang dermawan’, dan memang begitulah yang dikatakan’. Kemudian Allah memerintahkannya hingga dia ditelungkupkan pada wajahnya kemudian dia dilemparkan ke neraka.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi dan An- Nasa’i).[*]

    ***

    die *Khutbah-Khutbah Rasulullahh* Muhammad Khalil Al-Khatib

    Abu Luthfia

     
    • Faizah 1:16 pm on 6 Februari 2013 Permalink

      Saya cukup meminati artikel2 yang dilakarkan, dimana banyak nasihat dan peringatan2 yang perlu kita amalkan dalam kehidupan kita seharian. Artikel2 seperti di atas adalah satu-satu artikel yang paling saya
      Minati. Teruskan usaha anda, kerana artikel2 seperti sangat diperlukan oleh kita. Terima kasih kerana menggerakkan hati dan minat saya terhadap artikel2 seperti ini.

  • erva kurniawan 1:49 am on 29 January 2013 Permalink | Balas  

    Beristirahat Akan Sangat Membantu Kelanjutan Perjalanan

    Dalam syariah jelas sekali, ada kebebasan yang membantu seseorang  untuk meningkatkan kualitasnya dalam beribadah, dalam berimfak dan  dalam beramal shaleh. Rasulullah SAW sendiri biasa tertawa,  bercanda, dan tidak berbicara kecuali yang perlu-perlu saja.

    “Dan bahwasannya Dialah yang membuat manusia tertawa dan menangis.”  (QS. An-Najm: 43)

    Beliau pernah mengajak `Aisyah balapan lari, dan selalu bijaksana  mempertimbangkan kapan harus memberi nasihat kepada para shahabatnya  semata-mata untuk menghindarkan kebosanan pada diri mereka.  Rasulullah juga melarang sesuatu yang dibuat-buat, terlalu mendalam,  dan menyulitkan diri sendiri. Beliau pernah mengabarkan bahwa orang  yang mempersulit dirinya dalam menjalankan agama maka agama akan  benar-benar mempersulitnya. Dalam sebuah hadits juga disebutkan  bahwa agama ini sangat kuat dan tegas maka perlakukanlah dia dengan  lembut. Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa setiap hamba  itu memiliki vitalitasnya masing-masing yakni kekuatan, ketegasan,  dan kemampuan untuk menolak. Seseorang yang terlalu memaksakan diri  untuk melakukan yang terlalu berat akan hancur. Sebab dia hanya  melihat pada kondisi sekarang saja, tanpa memperhatikan apa saja  yang bisa terjadi secara tiba-tiba, berapa lamanya, dan sampai  dimana kebosanan itu karena selalu tertekan. Orang yang berpikir  akan menyadari bahwa dirinya memiliki batas minimal kemampuan untuk  menyelesaikan pekerjaannya secara marathon. Ketika suatu saat sedang  bersemangat maka dia akan menambah volume pekerjaan yang  diselesaikannya, dan ketika suatu saat sedang tidak bersemangat maka  dia akan bekerja dengan kemampuan minimalnya. Inilah makna dari  atsar shahabat: Jiwa itu memiliki kemampuan untuk maju dan untuk  mundur. Maka pergunakanlah kemampuan itu sebaik-baiknya tatkala  sedang maju, dan tinggalkanlah dia saat sedang mundur.

    Sejauh pengamatan saya, orang yang memaksakan diri untuk menambah  berat timbangan amalnya, terlalu banyak melakukan yang nafilah, dan  nekad melakukan amalan diluar batas kemampuannya, justru akan  terputus dari amalan itu dan kembali melemah, bahkan jauh lebih  lemah dari sebelumnya.

    Agama pada dasarnya, datang untuk membahagiakan umat manusia.

    “Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi  susah.” (QS. Thaha: 2)

    Allah menghinakan orang-orang yang membebani diri mereka dengan  sesuatu yang diluar batas kemampuannya, yang akhirnya harus menarik  diri dari dunia nyata dengan melanggar apa yang telah mereka  komitmenkan terhadap diri mereka sendiri.

    “Dan, mereka mengada-ngadakan rahbaniyah, padahal Kami tidak  mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada- ngadakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak  memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” (QS. Al-Hadid:  27)

    Kelebihan Islam dibandingkan gama-agama lain didunia adalah bahwa  Islam itu agama fitrah, agama yang bersahaja, agama yang  memperhatikan sukma dan raga, dunia dan akhirat, dan agama yang  mudah.

    “(Itulah) agama yang lurus.” (QS. Ar-Rum: 30)

    Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri: “Ada seorang Arab Badui datang  kepada Rasulullah dan bertanya, `Wahai Rasulullah, siapakah orang  yang paling baik?’ Rasulullah menjawab, `Seorang mukmin yang  berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya, kermudian seeorang  yang mengasingkan diri di sebuah lembah untuk menyembah Rabbnya’.”  Dalam riwayat lain juga ditambahkan: “…, dan bertakwa kepada Allah,  serta meninggalkan manusia dari kejahatannya.”

    Masih dari Abu Said al-Khudri: “Saya mendengar Rasulullah  bersabda, `Hampir tiba masanya di mana sebaik-baik harta seorang  muslim adalah seekor domba yang menyusuri lereng-lereng gunung dan  di tempat mengembara (desa) karena melarikan diri membawa agamanya  untuk menjauhi fitnah’.” (HR. Bukhari)

    Umar bin Al-Khaththab pernah berkata, “Menyendirilah sewajarnya.”

    Sangat bagus pesan yang disampaikan oleh Junaid al- Baghdadi. “Menguat-nguatkan diri untuk ber’uzlah itu jauh lebih  mudah daripada harus memaksakan diri untuk bergaul dengan banyak  orang.”

    Al-Khaththabi mengatakan, “Seandainya manfaat ber’uzlah itu hanyalah  menghindarkan diri dari kebiasaan ghibah dan dari kebiasaan melihat  kemungkaran yang tidak mampu dia hilangkan, maka itu sudah merupakan  sesuatu kebaikan yang besar.”

    Ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Hakim dari Abu Dzar  secara marfu’ dengan sanad hasan: “Menyendiri itu lebih baik  daripada duduk dengan teman yang buruk budi pekertinya.”

    Al-Khaththabi menyebutkan dalam bukunya al-`Uzlah bahwa ber’uzlah  dan bergaul itu berbeda seiring dengan keadaan seseorang. Dalil- dalil yang diturunkan menyuruh untuk bergaul dengan orang lain  karena itu berkaitan dengan ketaatan kepada para pemimpin dan untuk  mengkaji masalah-masalah agama. Untuk pergaulan-pergaulan yang lain,  bagi yang sudah mempunyai penghidupan yang cukup dan kemampuan untuk  menjaga agamanya, maka lebih baik untuk mengurangi kegiatan itu  dengan tidak mempengaruhi kewajibannya untuk bershalat jamaah,  menjawab salam, menengok orang sakit, menghadiri pemakaman, dan lain  sebagainya.. Maksud mengurangi disini adalah mengurangi kontak  sosial yang berlebihan karena itu hanya akan membuat hati tidak  tenang dan waktu yang seharusnya untuk melakukan hal-hal yang lebih  penting terbuang sia-sia. Bergaul dengan orang lain tak ubahnya  kebutuhan tubuh terhadap makan dan minum. Artinya, dalam menghadapi  makanan dan minuman itu, seseorang harus bisa mendahulukan mana yang  dibutuhkan dan mana yang tidak, karena yang demikian itu lebih  bersih untuk tubuh dan hati.

    Al-Qusyairi dalam ar-Risalah mengatakan bahwa alasan orang memilih  ber’uzlah adalah untuk menghindarkan orang lain dari kemungkinan  kejahatan yang ia lakukan, bukan sebaliknya: menghindarkan dirinya  dari kemungkinan kejahatan yang dilakukan orang lain. Alasan  pertama, menghindarkan diri dari sikap merendahkan diri, karena itu  merupakan sifat orang yang merendahkan diri. Sedangkan alasan kedua,  karena keyakinan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain, yang  merupakan sifat orang yang sombong.

    Dalam masalah `uzlah , orang digolongkan menjadi tiga: dua golongan  ekstri dan satu golongan lagi moderat.

    Pertama, orang yang menjauh dari masyarakat sampai pada shalat  jum’at, shalat jama’ah, shalat hari raya, dan kumpulan-kumpulan yang  bertujuan baik lainnya. Mereka ini salah.

    Kedua, orang yang bergaul dan berbaur dengan masyarakat sampai dalam  hal-hal yang diikuti syetan, yang mengandung ketidakbenaran, gossip,  dan tak membuang waktu percuma. Mereka juga salah.

    Sedangkan kelompok ketiga adalah orang yang bercampur dengan  masyarakat dalam ibadah-ibadah yang hanya bisa dilakukan secara  berjama’ah, melibatkan diri dalam kegiatan yang prinsipnya saling  tolong-menolong untuk kebaikan, ketakwaan, dan mendatangkan pahala  dan ganjaran. Selain itu juga, menjauhi kegiatan-kegiatan yang  menghalangi kedekatannya dengan Allah dan melakukan kemubahan yang  berlebihan.

    “Dan, demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat  yang adil dan pilihan.” (QS. Al-Baqarah: 143)[*]

    ***

    die *La Tahzan* DR. Aidh al-Qarni

    Abu Luthfia

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 24 January 2013 Permalink | Balas  

    Mengenal Kematian

    Ketahuilah wahai penguasa dunia, bahwa manusia itu terdiri dari dua golongan: satu golongan yang memandang perkara dunia dan berangan- angan memiliki umur panjang. Golongan kedua adalah golongan orang- orang berakal yang menjadikan kematian sebagai cermin untuk melihat kemana tempat mereka kembali, bagaimana keluar dari dunia dengan keimanan yang tetap selamat. Mereka juga memikirkan apa yang akan mereka bawa dari dunia untuk bekal alam kubur mereka. Mereka juga memikirkan apa yang akan mereka tinggalkan untuk musuh-musuh mereka bencana dan siksaan.

    Pemikiran ini wajib dimiliki oleh manusia, lebih-lebih lagi bagi para penguasa dan pemilik dunia, karena mereka paling banyak membuat cemas hati manusia. Mereka memberikan budak-budak mereka kepada orang lain dengan cara yang jahat. Mereka membuat khawatir manusia dan membuat takut hati manusia. Sesungguhnya disisi Allah SWT terdapat seorang pengawal yang namanya Izra’il. Tidak ada tempat sembunyi bagi siapapun bagi kedatangannya. Semua pembantu kerajaan meminta upah berupa emas, perak, dan makanan, sedangkan pembantu yang ini (Izra’il) tidak meminta upah kecuali nyawa. Semua wakil Sultan memerlukan syafaat, sedangkan wakil ini (Izra’il) tidak memerlukan syafaat. Semua wakil suka menangguh-nangguhkan tugasnya mungkin sehari, semalam, atau sejam, sedangkan wakil ini tidak pernah menangguhkan tugasnya satu hembusan nafaspun. Keajaibannya sangat banyak. Tetapi kami hanya akan menguraikan lima hikayat:

    Hikayat Pertama: Diriwayatkan oleh Wahab bin Munabbih. Dia adalah seorang pendeta Yahudi yang kemudian masuk Islam. Diceritakan bahwa pada suatu hari seorang raja yang agung ingin berkuda ke seluruh pelosok kerajaannya agar masyarakat melihat kehebatan dan keindahannya. Raja itu memerintahkan para pejabat, pengawal dan pembesar kerajaan untuk menyiapkan tunggangan agar masyarakat melihat kekuasaannya. Dia juga menyuruh mereka untuk menyediakan pakaian kebesarannya. Dia memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan kuda pilihan yang kuat. Dia memilih kuda yang tercepat larinya, yang diberi nama as-Sabak. Dia memacu kuda itu didepan pasukan. Dia merasa bangga dengan kehebatan dan kekuasaannya.

    Datanglah Iblis. Iblis meletakkan mulutnya pada telinganya dan meniupkan perasaan sombong pada raja itu. Maka berkatalah raja itu, “Siapa yang dapat menyamaiku didunia ini?”

    Dia memacu kudanya dengan sombong dan merasa bangga dengan kudanya itu. Dia tidak melihat kepada seorangpun karena perasaan hebat dan sombongnya, serta perasaan ujub dan bangganya. Tiba-tiba dihadapannya berdiri seorang laki-laki yang berpakaian compang camping. Orang itu memberi salam kepada sang raja, tetapi raja itu tidak membalas salamnya. Orang itu kemudian memegang tali kekang kuda sang raja. Kemudian raja itu berkata: “Lepaskan tanganmu dari tali kekang kuda ini. Engkau tidak tahu tali kekang kuda siapa yang engkau pegang!” Orang itu berkata, “Aku mempunyai keperluan denganmu”. Raja berkata, “Sabarlah, tunggu aku turun”. Orang itu berkata, “Keperluanku adalah saat ini juga, bukan saat engkau turun dari kudamu”. Raja berkata, “Katakan, apa keperluannya!” Orang itu berkata, “Ini rahasia. Aku tidak akan mengatakannya kecuali ke telingamu”. Raja menyodorkan telinganya kepada orang itu. Orang itu berkata, “Aku Malaikat Maut. Aku hendak mencabut nyawamu”. Raja berkata, “Tangguhkanlah sampai aku pulang ke rumahku, berpamitan kepada anak istriku”. Orang itu berkata, “Tidak, engkau tidak akan melihat mereka lagi untuk selamanya karena jatah umurmu sudah habis”. Maka, Malaikat Maut pun mengambil nyawanya. Pada waktu itu sang raja sedang duduk diatas kuda kebanggaannya”. Malaikat Maut pergi dari sana, kemudian mendatangi seorang laki-laki soleh yang diridhai Allah. Malaikat mengucapkan salam. Laki-laki itu membalas salamnya. Malaikat berkata, “Aku mempunyai keperluan denganmu dan ini rahasia.” Laki-laki salih itu berkata, “Katakanlah keperluanmu di telingaku”. Malaikat berkata, “Aku adalah Malaikat Maut”. Laki-laki itu berkata, “Selamat datang, segala puji bagi Allah atas kedatanganmu karena sesungguhnya aku banyak mendekatkan diri untuk menyambut kedatanganmu. Aku merasa terlalu lama menunggumu. Aku sangat merindukan kedatanganmu”. Malaikat berkata, “Jika engkau mempunyai urusan selesaikanlah dahulu”. Laki-laki itu berkata, “Tidak ada urusan yang lebih penting daripada saat bertemu dengan Rabbku Azza wa Jalla”. Malaikat berkata, “Cara seperti apa yang engkau sukai ketika aku mencabut nyawamu? Aku diperintahkan mencabut nyawamu dengan cara yang engkau pilih dan engkau inginkan”. Laki-laki itu berkata, “Ijinkanlah aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Ketika aku sujud, cabutlah nyawaku. Maka, Mlaikat Maut melakukan permintaan orang itu dan mengirimnya kepada rahmat Allah Jalla wa `Ala”.

    Hikayat Kedua: Ada seorang raja yang memiliki banyak harta. Dia telah mengumpulkan banyak harta, dari berbagai macam harta benda yang telah Allah ciptakan, untuk menghibur dirinya. Dia berusaha untuk memakan apa yang telah dikumpulkannya itu. Dia kumpulkan kenikmatan-kenikmatan yang banyak, membangun istana yang tinggi dan megah yang layak bagi para raja, para pembesar, para tokoh, dan orang-orang yang agung. Dia membuat dua pintu gerbang yang dijaga oleh para pengawal yang seram, para penjaga, tentara, dan penjaga pintu sebagaimana yang ia inginkan.

    Pada suatu hari, ia memerintahkan bawahannya untuk memasak makanan yang lezat-lezat dan mengumpulkan para pembesar kerajaan, aparat kerajaan, sahabatnya, dan para pelayannya. Mereka diundang untuk makan-makan dengannya. Dia duduk diatas singgasana sambil bertelekan diatas bantalnya. Kemudian dia berkata, “Wahai orang-orang yang hadir disini, aku telah mengumpulkan semua kenikmatan dunia dan isinya. Oleh karena itu, aku persembahkan buat kalian dan silakan reguk kenikmatan ini sebagai ucapan selamat atas umur yang panjang dan harta yang banyak”.

    Belum habis ucapan raja itu, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari belakang istana dengan pakaian compang-camping. Di pundaknya tergantung keranjang makanan seperti orang yang akan meminta-minta makanan. Dia mengetuk pintu dengan ketukan yang sangat keras dan menakutkan sehingga istana itu bergetar dan gonjang-ganjing. Para penjaga ketakutan dan lari kearah pintu gerbang dan berkata, “Hai orang miskin, engkau sungguh-sungguh tidak punya sopan santun. Sabarlah sampai kami menghabiskan makanan yang lezat ini”. Orang itu berkata kepada mereka, “Katakan kepada rajamu untuk keluar menemuiku karena aku mempunyai urusan yang sangat penting dan mendesak”. Para pengawal berkata, “Menyingkirlah wahai orang miskin! Memangnya siapa dirimu hingga berani menyuruh rajaku keluar menemuimu!” Orang itu berkata, “Beritahukan kepada rajamu apa yang aku katakana”. Ketika mereka memberitahukannya kepada raja, maka raja berkata, “Mengapa kalian tidak mengusir orang itu. Marahi dan hardik dia!” Tiba-tiba pintu gerbang diketuk lebih keras lagi dari ketukan yang pertama. Maka mereka semua berdiri sambil memegang tongkat dan senjata dengan maksud memerangi orang itu. Terdengarlah suara, “Tetaplah di tempat kalian! Aku adalah Malaikat Maut”. Maka merekapun menggigil dan tidak jadi bergerak. Hati mereka menjadi ciut. Pikiran mereka menjadi kacau. Raja itu pun berkata, “Katakan kepadanya, ambillah apa saja sebagai gantiku”. Malaikat berkata, “Aku tidak mengambil apa-apa selain engkau. Tidaklah aku datang kecuali untuk menemuimu. Aku akan memisahkanmu dari segala kenikmatan ini”. Raja itu berkata, “Laknat Allah bagi harta benda ini yang telah menipuku dan membuatku celaka, serta telah menghalangiku untuk beribadah kepada Tuhanku. Dulu aku menyangka bahwa harta benda akan bermanfaat bagiku. Hari ini adalah hari penyesalan dan hari bencana buatku. Aku telah keluar mengulurkan kedua tanganku kepadanya (menyambut dengan gembira) tetapi dia malah menjadi musuhku”.

    Kemudian Allah membuat harta itu dapat bicara, dan harta benda itu berkata, “Mengapa engkau melaknati aku? Laknatilah dirimu sendiri. Karena sesungguhnya Allah menciptakan aku dan juga dirimu dari tanah. Allah menjadikan aku berada di tanganmu untuk menjadi bekal akhiratmu, memberikan aku kepada orang-orang miskin, memberikan zakat kepada orang-orang yang lemah, membangun jembatan, masjid, jalan, dan sebagainya. Jika demikian maka aku akan menjadi penolongmu pada Hari Kiamat. Sedangkan engkau mengumpulkan aku, menyimpanku, dan membelanjakan aku untuk mengikuti hawa nafsumu, engkau tidak bersyukur malah berkufur. Maka hari ini aku akan menjadi musuhmu, dan engkau akan menyesal serta menderita. Lalu mengapa engkau melaknati aku?”

    Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawa raja itu sebelum dia sempat memakan makanannya. Dia terjatuh dari singgasananya dan mati.

    Hikayat Ketiga: Yazid ar-Ruqasyi bertutur sebagai berikut: Pada masa Bani Israil ada seorang penguasa. Pada suatu hari ia duduk disinggasananya. Tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki masuk melalui pintu rumahnya. Orang itu bertampang keji dan berbadan besar. Penguasa itu sangat ketakutan. Dia khawatir laki-laki itu akan menyerangnya. Wajahnya pucat pasi dan berkata, “Siapakah engkau? Siapa yang telah menyuruhmu masuk kerumahku.”

    Laki-laki itu berkata, “Pemilik rumah ini yang menyuruhku kesini. Tidak ada dinding yang dapat menghalangiku. Aku tidak memerlukan izin untuk masuk kemanapun. Aku tidak takut oleh kekuasaan para sultan. Aku tidak merasa takut oleh penguasa. Tidak ada seorangpun yang dapat lari dari jangkauanku.”

    Ketika mendengar perkataan orang itu, wajahnya menjadi pucat pasi dan badannya menggigil, dan ia berkata, “Apakah engkau Malaikat Maut?”

    Orang itu menjawab, “Benar.”

    Penguasa berkata, “Aku bersumpah demi Allah, berilah aku penangguhan satu hari saja agar aku dapat bertobat dari segala dosaku. Aku akan memohon keringanan dari Tuhanku. Aku akan mengimfaqkan harta benda yang aku miliki dan aku simpan hingga tidak terbebani oleh azab akibat harta itu, diakhirat kelak.”

    Malaikat berkata, “Bagaimana aku dapat menangguhkan padahal umurmu sudah habis, dan waktu sudah ditetapkan secara tertulis.”

    Penguasa itu berkata, “Tangguhkanlah sesaat saja.” Malaikat berkata, “Sesungguhnya jangka waktu itu telah diberikan tetapi engkau lalai dan menyia-nyiakannya. Jatah nafasmu sudah habis, tidak tersisa satu nafaspun untukmu.”

    Dia berkata, “Siapa yang akan menyertaiku jika engkau membawaku keliang kubur?” Malaikat berkata, “Tidak ada yang menyertaimu kecuali amalmu.”

    Dia berkata, “Aku tidak mempunyai amal kebaikan.” Malaikat berkata, “Jika demikian, neraka dan murka Tuhan adalah tempat yang layak untukmu.”

    Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawanya sehingga dia terjatuh dari singgasananya. Terjadilah kegaduhan diseluruh kerajaan. Jika orang- orang mengetahui apa yang terjadi pada penguasa itu, yaitu murka Allah, pastilah tangisnya dan ratapan mereka akan lebih keras lagi.

    Hikayat Keempat: Diceritakan bahwa Malaikat Maut menemui Nabi Sulaiman bin Daud as. Malaikat Maut melihat dengan tajam dalam waktu yang lama kepada salah seorang pembantu Nabi Sulaiman. Ketika Malaikat Maut keluar, laki-laki itu bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang masuk tadi?”

    Nabi Sulaman menjawab, “Malaikat Maut”. Laki-laki itu berkata, “Aku takut Malaikat maut hendak mencabut nyawaku. Oleh karena itu aku akan menghindar darinya.”

    Nabi Sulaiman berkata, “Bagaimana caramu menghindar darinya?”

    Laki-laki itu menjawab, “Suruhlah angin membawaku ke negeri India saat ini juga. Mudah-mudahan Malaikat Maut terkecoh dan tidak dapat menemukanku.”

    Nabi Sulaiman menyuruh angin untuk membawa laki-laki itu ke tempat yang dituju. Mlaikat Maut kembali dan menemui Nabi Sulaiman. Kemudian Nabi Sulaiman bertanya kepada Malaikat Maut, “Mengapa engkau melihat kepada laki-laki itu lama sekali?”

    Malaikat Maut berkata, “Aku sungguh merasa heran terhadapnya. Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di negeri India padahal negeri itu sangat jauh. Tetapi ternyata angin telah membawanya ke sana. Itulah takdir Allah SWT.

    Hikayat Kelima: Diriwayatkan bahwa Dzul Qarnain melewati sebuah kaum yang tidak memiliki harta dunia sedikitpun. Mereka membuat kuburan bagi keluarga mereka yang telah mati di depan pintu rumah mereka. Setiap hari mereka mengamati kuburan itu, membersihkan, menyapu, menziarahinya dan beribadah kepada Allah di sekat kuburan itu. Mereka tidak makan kecuali rerumputan dan berbagai tanaman lain. Kemudian Dzul Qarnain mengutus seorang laki-laki. Utusan itu kemudian memanggil raja kaum itu tapi dia tidak memenuhi panggilan utusan itu, dan berkata, “Aku tak punya keperluan kepadanya, tidak juga dia kepadaku.”

    Maka kemudian Dzul Qarnain mendatangi kaum tersebut dan berkata, “Bagaimana keadaan kalian? Mengapa aku tidak melihat emas atau perak yang kalian miliki. Dan mengapa aku juga tidak melihat nikmat dunia yang kalian miliki?” Pemimpin mereka menjawab, “Karena nikmat dunia tidak pernah membuat kenyang seorang manusia pun.”

    Bertanya kembali Dzul Qarnain, “Mengapa kalian membuat kuburan di depan rumah kalian?”

    Dia menjawab, “Agar langsung terlihat oleh mata kami, sehingga akan mempengaruhi ingatan kami akan kematian, dan mendinginkan hasrat pada dunia dalam hati kami. Tujuan itu agar kami tidak disibukkan oleh dunia dan melupakan Tuhan kami.”

    Dzul Qarnain bertanya kembali, “Dan mengapa kalian hanya memakan rerumputan dan tanaman?” Dia menjawab, “Karena kami benci menjadikan perut-perut kami sebagai kuburan bagi hewan-hewan. Dan bagaimana pun lezatnya suatu makanan, tetap akan hancur.”

    Pimpinan kaum itu menjulurkan tangannya ke dalam lubang dan mengeluarkan satu buah tengkorak kepala manusia kemudian meletakkan tengkorak itu didepannya dan berkata, “Wahai Dzul Qarnain, apakah engkau tahu, siapa pemilik tengkorak ini? Ini adalah tengkorak seorang raja didunia yang telah menzhalimi rakyatnya, bersikap melampaui batas kepada mereka dan suka menyiksa orang-orang lemah, serta menghabiskan seluruh waktunya untuk mengumpulkan dunia. Maka Allah mencabut nyawanya dan menjadikan neraka sebagai tempat kembali untuknya.”

    Kemudian pemimpin kaum itu menjulurkan kembali tangannya dan mengambil sebuah tengkorak kepala yang lain dan meletakkan didepannya. Dia bertanya, “Apakah engkau tahu siapa pemilik tengkorak ini? Sesungguhnya kepala ini milik seorang raja yang adil. Dia mengasihi rakyatnya dan menyukai seluruh anggota kerajaannya, kemudian Allah mencabut nyawanya dan memasukkannya kedalam surga serta meninggikan derajatnya.”

    Setelah itu, pemimpin kaum itu meletakkan tangannya diatas kepala Dzul Qarnain dan berkata, “Termasuk golongan manakah kepalamu ini? Dzul Qarnain menangis tersedu-sedu sambil menundukkan kepalanya dan berkata, “Jika engkau mau menjadi sahabatku, akan aku serahkan sawah dan ladangku kepadamu dan memberikan sebagian kerajaan kepadamu.” Laki-laki itu menjawab, “Tidak mungkin, aku tidak menyukainya.” Dzul Qarnain bertanya, “Mengapa demikian?” Dia menjawab, “Karena seluruh manusia akan menjadi musuhmu karena harta dan kekuasaan. Sebaliknya, mereka akan menjadi saudaramu akibat perasaan qanaah dan kemiskinanmu. Maka Allah akan bersamamu.”

    Oleh karena itu sekarang engkau harus mengetahui hikayat-hikayat kematian tersebut dan meyakini keberadaannya.

    Ketahuilah, bahwa orang-orang yang lalai dan tertipu tidak suka mendengarkan cerita-cerita tentang kematian karena mereka tidak ingin kehilangan perasaan cinta dunia dan kelezatan makanan dan minuman mereka . Terdapat sebuah riwayat yang menyatakan bahwa orang yang banyak mengingat mati dan gelapnya liang lahat, maka kuburnya seperti salah satu taman dari taman-taman surga. Sedangkan orang yang melupakan kematian dan lalai dari mengingatnya, maka kuburnya seperti salah satu jurang dari jurang-jurang neraka.

    Pada suatu haru Rasulullah sedang membahas pahala orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang-orang yang terbunuh dalam medan perang melawan orang-orang kafir. Kemudian Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah pahala mati syahid akan diperoleh oleh orang-orang yang tidak mati syahid?” Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang mengingat kematian dua puluh kali setiap hari, maka pahala dan derajatnya sama dengan orang-orang yang mati syahid.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat mati karena hal itu akan menghapus dosa dan menghilangkan perasaan cinta dunia dalam hatimu.”

    Rasulullah SAW pernah ditanya, “Siapakah manusia yang paling berakal dan paling bijaksana?”

    Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”

    Siapa saja yang mengenal dunia sebagaimana yang telah kami uraikan dan senantiasa mengingat kematian dalam hatinya, maka urusan dunianya akan menjadi mudah. Hal itu juga akan menguatkan fondasi keimanannya, menumbuhkan dan menambahkan keimanan dalam hatinya, serta menumbuhkan cabang pohon keimanan yang ada padanya. Dia akan menemui Allah dengan keimanan yang kokoh. Allah Yang Maha Sempurna Kekuasaan-Nya dan Maha Tinggi Perkataan-Nya, akan menerangi pandangan para penguasa dunia sehingga ia akan melihat hakikat segal;a sesuatu, bersungguh-sungguh dalam menggapai kehidupan akhirat, dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah serta makhluk-Nya.

    Sesungguhnya ditengah-tengah makhluk terdapat berjuta-juta rakyat jika diperlakukan dengan adil maka mereka akan memberikan syafaat. Siapa saja dari kalangan orang-orang yang beriman, yang mendapatkan syafaat dari seluruh makhluk, maka pada Hari Kiamat dia akan selamat dari azab. Tetapi, jika dia menzalimi mereka, maka mereka semua akan memusuhinya. Urusannya akan hancur berantakkan. Jika pemberi syafaat menjadi musuhnya, maka urusannya akan menjadi tidak menentu.

    ***

    ETIKA BERKUASA: Nasihat-nasihat Imam Al-Ghazali* Karya Imam Al-Ghazali

    from : http://www.jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 23 January 2013 Permalink | Balas  

    Kiamat Sudah Dekat

    “Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi tak menghiraukannya” QS. Al Anbiyaa’ : 1

    Kiamat sudah dekat! Begitulah kata Allah di dalam Al Qur’an. Itulah hari hancurnya segala kehidupan di muka bumi. Maka, Hari Berbangkit pun bakal terjadi tidak lama lagi. Yaitu ketika manusia dibangkitkan dari kematiannya. Dari dalam kuburnya. Dan, karena itu, Hari Perhitungan pun sudah hampir datang. Saat manusia dihitung segala amal perbuatannya. Antara perbuatan buruk dan amalan baiknya, kemudian dibalasiNya…

    Benarkan semua itu sudah dekat dan bakal terjadi tidak lama lagi? Ya begitulah. Ada dua penjelasan tentang dekatnya hari Kiamat, hari Berbangkit dan hari Perhitungan itu.

    Pertama, Hari Kiamat bakal terjadi tidak lama lagi dihitung dari saat-saat terjadinya kematian kita. Kenapa demikian? Karena saat berada di dalam Kubur, kita tidak akan merasakan waktu yang lama. Terasa singkat. Seperti satu hari atau setengah hari. Sebagaimana dikemukakan Allah di dalam FirmanNya.

    QS. Al Israa’ (17) : 52

    Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.

    Di ayat lain lebih tegas, bahwa waktu di alam kubur itu memang terasa demikian singkat. Satu hari atau setengah hari saja. Bahkan, kehidupan di Bumi pun ketika dibandingkan dengan kehidupan akhirat menjadi sangat singkat. Juga, seperti satu hari atau setengah hari. Semua itu, disebabkan adanya relativitas waktu antara Dunia dan Akhirat.

    QS. Al Mukminuun (23) : 112-113

    Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”

    Secara umum Allah mengatakan bahwa masa penantian di alam Barzakh itu memang berlangsung sangat cepat. Bagaikan waktu satu hari, atau lebih cepat tagi. Berarti, jika seseorang meninggal pada hari Minggu, sehari kemudian, yaitu hari Senin dia sudah akan dibangkitkan dari dalam kuburnya.

    Anda mungkin masih merasa aneh dengan penjelasan ini. Akan lebih gamblang jika saya contohkan dengan orang tidur. Ya, kematian adalah ibarat orang tidur lelap. Tak merasakan apa-apa. Ketika terbangun, dia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Jika anda tanyai: hei berapa lama kamu tidur? dia pasti akan geleng-geleng kepala sambil mengatakan: entahlah, mungkin satu atau dua jam. Padahal ia telah tertidur selama 6-7 jam.

    Ya, orang yang terbangun dari tidur lelapnya tidak akan pernah tahu berapa lama ia tertidur. Ia baru akan tahu lama tidurnya, jika ia melihat ke jam tangannya: ‘Oh, ternyata saya tertidur selama 6-7 jam. Lama juga, ya…’

    Begitulah yang digambarkan oleh Allah dalam Al Qur’an terhadap orang-orang yang dibangkitkan dari dalam kuburnya. Ia merasa seperti bangun dari tidur saja.

    QS. Yaa Siin (36) : 52

    Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).

    Maka kembali kepada hari Kebangkitan, Allah menegaskan bahwa saat-saat itu akan datang dengan cepat. Tak lama lagi. ‘Sehari’ sesudah kematian datang menjemput kita. Padahal, datangnya kematian itu pun tidak pernah kita ketahui. Yakinkah anda bahwa anda bakal masih hidup di tahun depan? Atau bulan depan? Minggu depan? Besok pagi? Satu jam lagi? Tidak, bukan?

    Nah, inilah misteri kehidupan paling besar dalam kehidupan manusia: ‘kematian’, dan seluruh peristiwa yang bakal terjadi sesudah kematian. Yang jelas saat-saat itu bakal datang kepada setiap orang. Semakin mendekati kita semua…

    Penjelasan yang ke dua tentang sudah dekatnya kiamat itu muncul dari prediksi astronomi. Bahwa Bumi ini bakal mengalami ‘kecelakaan’ dan bertabrakan dengan segerombolan benda langit di kabut Oort.

    Itulah saat-saat hancurnya planet bumi, dengan kerusakan yang sangat fatal. Bumi bakal dibombardir oleh jutaan bebatuan dari angkasa luar, sehingga muncul angin badai, gempa bumi, gunung meletus dan bencana tsunami di mana-mana.

    Kapan itu terjadi? Para pakar Astronomi mulai melihat tanda-tandanya dan menduga-duga waktu terjadinya. Yang jelas, kehancuran kehidupan bumi itu sudah pernah melanda bumi beberapa kali secara periodik, setiap 150-200 juta tahun sekali. Yang terakhir adalah di jaman Dinosaurus, sekitar 200 juta tahun yang lalu. Waktu itu, kehidupan makhluk raksasa itu mengalami kehancuran dan musnah.

    Jika itu terjadi secara periodik, berarti peristiwa berikutnya akan terjadi tidak lama lagi? Ya, begitulah. Sekaranglah waktunya, planet bumi bakal didatangi lagi oleh segerombolan batuan dari angkasa luar dalam jumlah besar. Dan kemudian mengalami kehancurannya. Kapan persisnya? Allah mengatakan bahwa Dia masih merahasiakannya…

    QS. Thaahaa (20) : 15

    Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri dibalas dengan apa yang ia usahakan.

    QS. Al Ahzab (33) : 63

    Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 22 January 2013 Permalink | Balas  

    Ibarat Emergency Exit di Pesawat

    Prof Dr M Quraish Shihab:

    Sejak lama istilah poligami, jumlah yang tidak sedikit dari perempuan yang berhak digauli, sudah dikenal dalam kehidupan manusia. Tidak hanya di kalangan masyarakat Arab Jahiliyah tapi juga negara-negara Eropa seperti di Jerman, Swiss, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia hingga Inggris. Islam membolehkan poligami berdasar firman Allah SWT pada Alquran surat Nisa (4) ayat 3. Namun demikian, bukan berarti ayat itu membuka lebar-lebar pintu poligami tanpa batas dan syarat, tetapi dalam saat yang sama ia tidak juga dapat dikatakan menutup pintunya rapat-rapat, sebagaimana dikehendaki sementara orang.

    ”Poligami itu bukan anjuran, tetapi salah satu solusi yang diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan dan memenuhi syarat-syaratnya. Poligami mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu,” tandas Quraish kepada Republika di ruang kerjanya Pusat Studi al Quran (PSQ) Ciputat Tangerang Selasa (5/12). Berikut ini penjelasan lengkap tentang apa dan bagaimana poligami menurut Islam:

    Kapan istilah poligami mulai muncul?

    Poligami telah dikenal oleh masyarakat manusia, yaitu hubungan dengan perempuan yang berhak digauli dengan jumlah lebih dari satu. Dalam Perjanjian Lama misalnya, disebutkan bahwa Nabi Sulaiman AS memiliki tujuh ratus ‘istri’ bangsawan dan tiga ratus gundik. Poligami meluas di samping dalam masyarakat Arab Jahiliyah juga pada bangsa Ibrani dan Sicilia yang kemudian melahirkan sebagian besar bangsa Rusia, Lithuania, Polandia, dan sebagainya.

    Bagaimana pandangan Islam tentang poligami?

    Islam membolehkan poligami berdasar firman Allah dalam QS an-Nisa’ ayat 3 yang artinya: ”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan (yatim), maka nikahilah yang kamu senangi dari perempuan-perempuan (lain): dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat. Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Ayat ini turun berkaitan dengan sikap sementara pemelihara anak yatim perempuan yang bermaksud menikahi mereka karena harta mereka tapi enggan berlaku adil.

    Pada ayat tersebut disebutkan adanya syarat berlaku adil, bisa dijelaskan?

    Dalam ayat tersebut terdapat kata khiftum yang biasa diartikan takut, yang juga dapat diartikan mengetahui, menunjukkan bahwa siapa saja yang yakin atau menduga keras atau bahkan menduga tidak akan berlaku adil terhadap istri-istrinya yang yatim maupun yang bukan, maka mereka tidak diperkenankan oleh ayat tersebut untuk berpoligami. Yang diperkenanakan berpoligami hanyalah yang yakin atau menduga keras dapat berlaku adil. Yang ragu, apakah bisa berlaku adil atau tidak, seyogyanya tidak berpoligami.

    Ada yang menyebutkan ayat tersebut merupakan perintah untuk berpoligami karena adanya fi’il amr (kata kerja perintah, red)?

    Ayat ini tidak menganjurkan apalagi mewajibkan berpoligami, tetapi ia hanya berbicara tentang bolehnya poligami. Poligami dalam ayat itu merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat membutuhkan dan dengan syarat yang tidak ringan. Islam mendambakan kebahagiaan keluarga, kebahagiaan yang antara lain didukung oleh cinta kepada pasangan. Cinta yang sebenarnya menuntut agar seseorang tidak mencintai kecuali pasangannya.

    Kira-kira apa yang melatarbelakangi seseorang berpoligami?

    Bukankah kenyataan menunjukkan bahwa jumlah lelaki lebih sedikit dari jumlah perempuan? Bukankah rata-rata usia perempuan lebih panjang dari usia lelaki, sedang potensi masa subur lelaki lebih lama daripada potensi masa subur perempuan? Hal ini bukan saja karena mereka mengalami haid, tapi juga karena mereka mengalami manopouse sedang lelaki tidak mengalami keduanya. Bukankah peperangan yang hingga kini tidak kunjung dapat dicegah lebih banyak merenggut nyawa lelaki daripada nyawa perempuan? Maka poligami ketika itu adalah jalan keluar yang paling tepat. Namun sekali lagi perlu diingat poligami bukanlah anjuran apalagi kewajiban. Seandainya ia anjuran, pasti Allah SWT menciptakan perempuan lebih banyak empat kali lipat dari jumlah laki-laki, karena tidak adanya menganjurkan sesuatu kalau apa yang dianjurkan tidak tersedia. Ayat ini hanya memberi wadah bagi mereka yang mengingingkannya, ketika menghadapi kondisi atau kasus tertentu. Poligami mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang, yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.

    Bagaimana dengan anggapan berpoligami adalah sunnah Rasul?

    Tidak bisa dikatakan bahwa Rasul SAW menikahi lebih dari satu perempuan dan pernikahan semacam itu hendaknya diteladani. Karena, tidak semua apa yang dilakukan Rasul SAW perlu diteladani sebagaimana tidak semua yang wajib atau terlarang bagi beliau, wajib atau terlarang pula bagi umatnya. Bukankah Rasul SAW antara lain wajib bangun shalat malam dan tidak boleh menerima zakat? Bukankah tidak batal wudlu beliau bila tertidur? Selanjutnya perlu dipertanyakan buat mereka yang beranggapan poligami adalah sunah Rasul SAW. ”Apakah benar mereka benar-benar ingin meneladani Rasul SAW dalam pernikahannya?”

    Kalau benar demikian, maka perlu mereka sadari Rasul SAW baru berpoligami setelah pernikahan pertamanya berlalu sekian lama setelah meninggalnya Khadijah RA. Kita ketahui Rasul SAW menikah dalam usia 25 tahun, 15 tahun setelah pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah RA, beliau diangkat menjadi Nabi. Istri beliau ini wafat pada tahun ke-10 kenabian Beliau. Ini berarti beliau bermonogami selama 25 tahun. Lalu setelah tiga atau empat tahun sesudah wafatnya Khadijah RA, baru beliau menggauli Aisyah RA yakni pada tahun kedua atau ketiga Hijriyah, sedang beliau wafat dalam tahun ke-11 Hijriyah dalam usia 63 tahun.

    Ini berarti beliau berpoligami hanya dalam waktu delapan tahun, jauh lebih pendek daripada hidup bermonogami beliau, baik dihitung berdasar masa kenabian lebih-lebih jika dihitung seluruh masa pernikahan beliau. Jika demikian, maka mengapa bukan masa yang lebih banyak itu yang diteladani? Mengapa mereka yang bermaksud meneladani Rasul SAW itu tidak meneladaninya dalam memilih calon-calon istri yang telah mencapai usia senja? Semua istri Nabi SAW selain Aisyah adalah janda-janda yang berusia di atas 45 tahun? Di samping itu, mengapa mereka tidak meneladani beliau dalam kesetiaannya yang demikian besar terhadap istri petamanya, sampai-sampai beliau menyatakan kecintaan dan kesetiaannya walau di hadapan istri-istri beliau yang lain?

    ***

    Dari REPUBLIKA

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 18 January 2013 Permalink | Balas  

    Mengenalkan Allah pada Anak

    Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

    Kalau anak-anak kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan -meskipun barangkali ada yang demikian-tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak.

    Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam suasana menakutkan dengan sifat-sifat Jalaliyah (Maha Besar). Sifat Jamaliyah (Maha Indah) Allah hampir-hampir tak mereka ketahui, kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Akibatnya, mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian menghampiri orang-orang tersayang. Astaghfirullah al ‘azhiim.

    Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kekeliruan-meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita lalu kita mengeluarkan ancaman. Kita meneriakkan asma Allah, “Ayo., nggak boleh! Dosa! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”

    Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka. “Eh. nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba.? Mubazir! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho.”

    Nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara, “Mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari”.

    Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti pengguna kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka ‘menjauh’ karena telanjur memiliki kesan yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan Rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik. (Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian).

    Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang mereka berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Semenjak kecil, mereka memang tak biasa menangkap dan merasakan kasih sayang Allah.

    Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apapun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan maknanya kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Apa yang mereka rasakan bertentangan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

    Bercermin pada perintah Nabi dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:

    Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha IllaLlah Rasulullah pernah mengingatkan, “Awalilah bayi-bayimu dengan kalimat Laa ilaaha illaLlah.”

    Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otak dan menghidupkan cahaya hati. Apa yang didengar di saat-saat awal kehidupan akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan.

    Suara ibu yang berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.

    Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah berpesan: “Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (Riwayat At-Tirmidzi)

    Dalam riwayat lain disebutkan, “Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan.”

    Tak ada penolong kecuali Allah Yang Maha Kuasa; Allah yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali Allah. Dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah. Wallahu a’lam bishawab.

    Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Kariim, sebagaimana firman-Nya, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)

    Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara. Pertama, memperkenalkan Allah melalui sifat al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

    Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, “Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?”

    Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran-bukan hanya pengetahuan-bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

    Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat al-Karim. Di dalamnya berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya, dan memuliakan mereka yang mulia. Wallahu a’lam bishawab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 14 January 2013 Permalink | Balas  

    Setiap Kata Itu Pasti Tercatat

    Allah SWT berfirman, “Tiada suatu kata yang diucapkan melainkan didekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

    Allah berfirman, “Sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (perbuatan kalian) yang mulia (disisi Allah) dan yang mencatat (perbuatan itu). Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)

    Dalam firman ALLAH ada juga, “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepada kalian dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang kalian telah kerjakan.” (QS. Al-Jatsiyah: 29)

    Banyak berbicara menyebabkan kejemuan pada manusia. Mereka akan berpaling dari Anda dan mereka tidak akan senang mendengar ucapan Anda. Dari Abu Wail, “Abdullah ibn Mas’ud sering mengingatkan manusia pada hari kamis, lalu seseorang berkata kepadanya, `Wahai Abdurrahman, aku begitu menyukai jika engkau mengingatkan kami setiap hari.’ Dia berkata, `Aku khawatir akan menjenuhkan kalian, maka aku memilih waktu yang tepat (tidak sering) untuk kalian dalam memberi nasehat, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW terhadap kita’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Oleh karena itu, para khatib Jum’at dianjurkan untuk meringkas khutbahnya.

    Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya shalat yang panjang dan khutbahnya yang ringkas merupakan pertanda akan kecerdasannya (imam dan khatib pada shalat jum’at). Maka panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah, karena sebagian dari penjelasan (yang memukau) bagaikan sihir.” (HR. Muslim)

    ALLAH menganjurkan kita untuk membatasi pembicaraan dalam kebaikan dan meninggalkan ucapan yang tidak baik. ALLAH berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan- bisikan dari orang-orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, berbuat baik atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan ALLAH, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An- Nisa: 114)

    Rasulullah SAW telah membimbing kita untuk menjaga lisan:

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menjamin kepadaku akan apa yang ada diantara jenggot dan kumisnya (maksudnya adalah lisannya) dan apa yang berada di antara dua kakinya (maksudnya adalah kemaluannya), maka Aku menjamin surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang diam, maka akan selamat.” Maka ringkas dan padat dalam berkata-kata sangat dianjurkan. Ini adalah bagian dari ke pahaman akan agama. Maka jangan banyak bicara, kecuali untuk sesuatu yang bermanfaat.

    “Di antara perangai Nabi adalah kemampuannya bertutur ringkas dan padat makna.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Allah telah memberikan nikmat kepada Nabi Daud as. berupa hikmah dan kecerdasan dalam berbicara dan menganalisa permasalahan yang dihadapi oleh kaumnya. “Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (QS. Shad: 20)

    Setelah delegasi Abdul Qays menemui Rasulullah SAW mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu dari daerah yang jauh. Antara daerah kami dan daerahmu ini terdapat kampung Mudhar yang penduduknya masih kafir. Kami tidak bisa menemuimu kecuali pada bulan haram (suci). Oleh karena itu, ajarkan kepada kami satu perkara yang pasti, yang akan kami ajarkan kepada orang-orang setelah kami, yang menjamin kami masuk surga…” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Mereka meminta sesuatu sederhana yang bisa memasukkan mereka ke surga.

    Setelah penjelasan ini, apakah Anda akan menjadi orang yang banyak bicara? Apakah Anda ingin catatan buku Anda di hari hari akhirat penuh dengan isu dan kesia-siaan? Apakah Anda ingin catatan buku Anda menjadi hitam dengan catatan gunjingan dan cacian terhadap orang lain? Banyak bicara akan menyebabkan kita kesulitan dalam menghadapi hari penghitungan (yaumull a-hisab). Banyak bicara menghilangkan wibawa. Banyak bicara akan menghilangkan ketenangan dan ketentraman. Banyak bicara membuat orang tidak mampu mengingat apa yang mereka dengar. Mereka hanya ingat sebagian dan lupa sebagian.

    Oleh karena itulah, ucapan-ucapan Rasulullah SAW sangat ringkas dan padat. Ketika Rasulullah berkata-kata, jika ada orang yang hendak menghitung kata-katanya, pasti dia dapat menghitungnya (HR. Bukhari dan Muslim)

    Shalawat dan salam bagi Nabi SAW yang memiliki budi pekerti yang luhur yang diutus sebagai pelengkap kesempurnaan akhlak mulia.

    ***

    die: Fikih Akhlak

    Oleh: Musthafa Al-Adawy

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 11 January 2013 Permalink | Balas  

    Samakah Tubuh Kita dengan Gajah?

    Berlindung yang paling aman adalah hanya kepada Allah SWT. karena hanya Allah-lah Yang Maha Pencipta. Semua makhluk, baik yang kelihatan maupun yang tidak (yang gaib), Allah yang menciptakannya. Langit, Bumi beserta isinya semuanya Allah yang menciptakan. Oleh sebab itu, tidak ada lagi yang patut kita sembah dan memohon perlindungan-Nya kecuali hanya kepada Allah SWT.

    Kenapa kita harus berlindung? Karena, kita ini sebenarnya makhluk yang lemah, makhluk yang selalu digoda oleh setan la’natullah. Setiap gerak langkah kita, setan selalu mengikuti dan menggoda kita. Tidak ada celah bagi kita yang tidak ada setannya, semua celah yang ada dalam kehidupan kita pasti ada setannya. Siapa pun kita. Apakah kita ini sebagai Kyai, ustadz, guru, yang beriman atau pun tidak beriman kepada Allah SWT. semuanya pasti di goda oleh setan.

    “A’udzubillahiminasyaithaanirrajiim” “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”

    Kalimat ini sebagai titik awal kita setelah kita beriman kepada Allah SWT. Karena kita dituntut oleh Allah SWT. untuk selalu berlindung kepadaNya. Sebagaimana Allah juga telah memerintahkan kepada kita untuk membaca Al-Qur’an dengan diawali membaca Ta’awudz terlebih dahulu, sebagaimana firmanNya.

     “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl (16): 98)

    Sebab, orang yang selalu berlindung kepada Allah, pasti tidak akan diganggu oleh setan. Serangan setan yang bertubi-tubi kepada orang tersebut dapat dipatahkan dengan mudah karena kezuhudannya atau ketaqwaannya kepada Allah SWT. Tapi alangkah ruginya diri kita, jika diri kita jauh dari Allah SWT. maka, ketika setan menyerang diri kita, kita akan mudah di kalahkannya dan ditaklukannya, sehingga diri kita akan menjadi tunggangannya setan la’natullah.

    Coba kita perhatikan orang-orang yang tubuhnya menjadi tunggangan setan la’natullah. Sombong, takabur, menghalalkan segala cara, adalah sifatnya. Melanggar perintah Allah SWT. adalah kebiasaannya, dan banyak lagi kebiasaan buruk yang dilakukannya. Semuanya tergantung perintah si penunggangnya. Maka azab Allah SWT. pasti datang kepadanya. Bukan hanya kepada si penunggangnya tapi juga kepada tunggangannya yaitu tubuh kita.

    Tulisan diatas mengingatkan diri kita kepada sebuah kisah, yang di abadikan didalam Al-Qur’an. Bagaimana Raja Abrahah dengan pasukan Gajahnya yang gagah perkasa menyerang kota Makkah dan ingin menghancurkan Ka’bah. Akan tetapi karena kesucian Ka’bah atau karena Allah telah ridha kepada Ka’bah sebagai Baitullah, maka serangan itu dapat di gagalkan dengan azab yang Allah turunkan melalui Burung- burung Ababil sebagaimana firman Allah,

    Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan ka’bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. Al-Fiil (105): 1- 5)

    Kita bisa lihat, bagaimana Gajah yang gagah perkasa bisa di tundukan oleh kita sebagai penunggangnnya. Maka Gajah yang gagah perkasa itu akan turut kepada si penunggangnya. Kemana pun yang kita mau, maka Gajah itu pun akan turut mengikutinya. Bisa kita gunakan sebagai pembantu kita dalam bekerja dihutan misalkan, atau bisa juga sebagai alat transportasi, atau juga sebagai tontonan. Semuanya dapat kita lakukan tergantung keinginan kita dan Gajah itu pun akan mengikuti suruhan kita. Mau di buat baik (jinak) atau mau dibuat buas, terserah kita karena Gajah itu sudah tunduk kepada kita. Begitu juga dengan Raja Abrahah, dia menggunakan Gajah untuk menyerang kota Makkah untuk menghancurka Ka’bah.

    Tidak jauh beda dengan kita, seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa kalau hati kita atau keimanan kita sudah dapat ditundukan oleh setan la’natullah, maka, diri kita pun akan dikendalikan oleh setan. Apa pun yang dimau setan, maka kita akan mengikutinya. Kalau sudah begitu, maka, diri kita sudah termasuk golongan yang ingkar (kafir) kepada Allah SWT. Orang yang seperti ini, mau di beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman kepada Allah SWT., sebagaimana Allah SWT telah berfirman,

    “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah (2): 6-7)

    Sahabat-sahabat sekalian, semoga ini menjadi bahan renungan bagi kita. Sehingga kita lebih waspada lagi dari tipu muslihatnya setan la’natullah, sehingga kita tidak dijadikannya sebagai tunggangannya. Anda bukan gajah, maka berlatihlah mengendalikan diri.

    Wallaahu a’lam

    ***

    abuluthfia.multiply.com

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 10 January 2013 Permalink | Balas  

    Al-Fatah

    Al-Fatah artinya adalah Yang Maha Pembuka. Kalau kita memperhatikan dari arti kalimat Al-Fatah, kita akan tahu dan mengerti bahwa, ada yang membuka berarti ada yang menutup. Dan itu semua hanya Allah SWT. yang bisa melakukannya. Allah yang memberi (membuka) rizki dan Allah juga yang menutup rizki itu sehingga tidak diturunkan kepada kita. Oleh sebab itu, maka kita dituntut untuk tunduk kepadanya dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangan- Nya.

    Maka, kita jangan terlalu berharap kepada makhluk, sebab segala sesuatu juga hanya Allah-lah yang mengaturnya. Hidup, mati, rizki, jodoh, pekerjaan dan lain sebagainya semuanya hanya Allah-lah yang mengaturnya karena hanya Allah yang menciptakan semua itu. Makanya bila bergabung jin dan manusia untuk memberi rizki, kekuasaan atau apa saja bila Allah tidak menghendaki maka tidak akan bisa memberikannya atau membantunya. Seperti halnya jika jin dan manusia bergabung untuk membuat yang serupa Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan dapat membuatnya, sebagaimana firman Allah SWT.,

    “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Isra (17): 88)

    Begitu juga dengan hati, hati bisa baik atau jelek tergantung Allah yang mengaturnya. Oleh sebab itu kita harus berusaha dan berdoa kepada Allah SWT. agar hati kita selalu dilapangkan, sebab yang membuka dan menutup hati kita adalah Allah SWT. Maka mintalah kepada Allah untuk dibukakan:

    1. Iman yang Kuat. Upaya kita supaya iman kita kuat adalah beri iman kita pupuk, yang mana pupuk iman itu adalah Ilmu yang bermanfaat, amal yang baik dan ikhlas.

    “Allaahumma inni as-aluka `ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban wa `amalan mutaqabbalan” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rizki yang baik dan amal yang diterima)

    2. Jalan Hidup Sehat. Sebagai upaya kita untuk memiliki jalan hidup yang sehat selain berdoa kepada Allah adalah beri tubuh kita makanan yang halalan tayiban, jaga kebersihan tubuh dan rutin beroleh raga.

    “… Dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Araf (7): 69)

    3. Nikmatnya Akur (bersahabat). Sebab mempunyai orang yang dibenci, sangat menyiksa sekali, sehingga dunia ini menjadi sempit karenanya, karena kemana-mana ada orang yang dibenci. Orang yang tidak akur (bersahabat) itu adalah, orang yang mudah tersinggung dan orang yang senang menyimpan memori (prasangka) jelek ke seluruh orang. Maka alangkah baiknya kalau kita mempunyai sikap:

    a. Berlapang dada “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur (24): 22)

    b. Pemaaf “Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nisa’ (4): 149)

    c. Stop membicarakan kejelekan orang lain. Bilal bin Al-Harts berkata bahwa, Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan kata-kata yang menimbulkan keridhaan Allah, apa yang diduga bahwa kata-kata itu sampai kepada keridhaan-Nya, maka Allah menulis keridhaan-Nya disebabkan kata-kata itu sampai hari kiamat. Dan sesungguhnya orang yang berbicara dengan kata-kata yang menimbulkan kemurkaan Allah, apa yang diduga bahwa kata-kata itu sampai kepada kemurkaan-Nya, maka Allah menulis kemurkaaan-Nya atasnya disebabkan kata-kata itu.”

    Wallahu a’lam

    ***

    Sumber: abuluthfia.multiply.com

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 9 January 2013 Permalink | Balas  

    Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya 

    Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk Mengatasinya

    Tanda-tanda Lemah Iman

    1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
    2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur’an
    3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
    4. Meninggalkan sunnah
    5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
    6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
    7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
    8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari’ah
    9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
    10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
    11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
    12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
    13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
    14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
    15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
    16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
    17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
    18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
    19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
    20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

    Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:

    1. Tilawah Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
    2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
    3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
    4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
    5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
    6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
    7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
    8. Berdo’a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
    9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.
    10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.
    11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

    ***

    dikutip dari milis lain

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 8 January 2013 Permalink | Balas  

    Buah Ranum Dari Keridhaan

    “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. Al- Bayyinah: 8)

    Keridhaan memiliki buah yang melimpah berupa keimanan. Orang yang ridha hatinya akan terangkat hingga tempat yang paling tinggi, yang kemudian mempengaruhi keyakinannya yang semakin mendalam dan kuat mengakar. Pengaruhnya kemudian adalah kejujuran dalam berucap, berbuat dan berperilaku.

    Kesempurnaan ubudiyahnya lebih disebabkan kemampuannya menjalankan konsekuensi-konsekuensi hukum yang sebenarnya berat baginya. Tapi, ketika hanya hukum-hukum yang ringan saja yang ia jalankan maka itu akan membuat jarak ubudiyahnya dengan Rabbnya semakin jauh. Dalam konteks bahwa ubudiyah itu berarti kesabaran, tawakal, keridhaan, rasa rendah diri, rasa membutuhkan, ketaklukan, dan ketundukkan, maka ubudiyah itu tidak akan sempurna kecuali dengan menjalankan keharusan yang memang berat untuk dilakukan. Keridhaan terhadap qadha’ bukan berarti ridha terhadap qadha’ , yang tidak memberatkan, tapi terhadap yang menyakitkan dan memberatkan. Hamba tidak berhak mengatur qadha’ dan qadar Allah, dengan menerima yang ia mau dan tidak menerima yang tidak ia mau. Karena pada dasarnya manusia itu tidak diberi hak untuk memilih: hak itu mutlak wewenang Allah karena Dia lebih mengetahui, lebih bijaksana, lebih agung dan lebih tinggi. Karena Allah mengetahui alam ghaib, mengetahui segala rahasia, dan mengetahui akibat dari segala hal.

    Saling Meridhai Satu hal yang harus disadari adalah bahwa keridhaan hamba kepada Allah dalam segala hal akan membuat Rabbnya ridha kepadanya. Ketika hamba ridha dengan rizki yang sedikit, maka Rabbnya akan ridha kepadanya dengan amal sedikit yang dia persembahkan. Ketika hamba ridha terhadap semua keadaan yang melingkupinya dan tetap mempertahankan kualitas keridhaannya itu maka Allah akan cepat meridhainya ketika dia meminta keridhaan-Nya. Dengan kacamata itu, lihatlah orang-orang yang ikhlas, walaupun ilmu mereka sedikit tapi Allah meridhai semua usaha mereka karena memang mereka ridha kepada Allah dan Allah meridhai mereka. Berbeda dengan orang-orang munafik yang selalu ditolak amalan mereka. Mereka tidak menerima apa yang telah Allah turunkan dan tidak suka terhadap keridhaan-Nya, maka Allah pun menyia-nyiakan amalan-amalan mereka.

    Faedah dari Keridhaan Keridhaan akan menciptakan ketenangan, hati yang dingin, ketegaran dalam menghadapi berbagai permasalahan yang tumpang tindih dan yang muncul deras sekali. Hati yang ridha akan yakin sepenuhnya kepada janji Allah dan Rasul-Nya. Hati orang seperti ini seakan dibisikan suara,

    “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)

    Sebaliknya, tidak menerima akan membuat hati tidak tenang, ragu dan cemas, tidak tegar, sakit hati dan bergejolak. Hati menjadi bergejolak dan terganggu, seakan didalamnya ada suara membisikan.

     “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada Kami melainkan tipu daya”. (QS. Al-Ahzab: 22)

    Orang-orang yang memiliki hati seperti ini akan mengakui kebenaran jika datang kebenaran, dan akan berpaling jika mereka dituntut untuk memenuhi tugas mereka. Ketika mereka diberi kebaikan maka mereka akan merasa tenang, tapi ketika diuji maka mereka akan berubah menjadi buruk. Mereka akan merugi di dunia dan akhirat.

    “Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)

    Dan, keridhaan akan memberikan ketenangan, sesuatu yang paling berharga. Karena ketenangan akan membuat hati menjadi tegar, keadaan terkendali dan hati menjadi jernih. Dan tidak menerima hanya akan menjauhkannya dari ketenangan itu, jauh dekatnya tergantung pada besar kecilnya ketidakpuasan terhadap keadaan. Ketika ketenangan itu hilang maka dengan serta merta kegembiraan, rasa aman, dan kedamaian hidup, juga akan lenyap. Itu berarti bahwa nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah ketenangan di hati. Dan bagaimana itu bisa didapatkan? Tentunya, dengan keridhaannya kepada Allah bagaimana pun keadaan yang melingkupinya.

    Keselamatan Itu Ada Bersama Keridhaan Keridhaan akan membukakan pintu keselamatan. Keridhaan akan membuat hati menjadi terbebas dan bersih dari tipu daya, kebusukan dan kedengkian. Karena hanya orang yang berhati bersihlah yang akan selamat dari adzab Allah, sebab hati yang bersih adalah hati yang jauh dari syubuhat, dari keraguan dari menyekutukan Allah dan dari jerat-jerat Iblis yang menyesatkan. Dalam hati seperti ini hanya ada sati: Allah.

    Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain- main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An’am: 91)

    Adalah muastahil dalam hati yang bersih itu masih terdapat rasa tidak menerima. Semakin hamba itu ridhamaka semakin bersih hatinya. Kotoran hati, kebusukan dan tipu daya adalah kaitan dari sikap tidak menerima. Sedangkan kebersihan, kelurusan dan kemuliaan hati adalah kaitan keridhaan. Kedengkian adalah buah dari sikap yang tidak menerima. Dan hati yang bersih dari unsur dengki, adalah buah dari keridhaan. Diibaratkan , keridhaan adalah pohon yang baik, yang disirami dengan air keikhlasan dan ditanam di kabut tauhid. Akarnya keimanan, dahan-dahannya adalah amal shaleh, dan buahnya sangat manis. Disebutkan dalam hadits: “Yang akan mencicipi rasa iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” Atau, seperti disebutkan dalam hadits yang lain: “Ada tiga hal yang bila ketiganya itu menyatu dalam dirinya maka dia akan mendapatkan manisnya iman…”

    Buah dari Keimanan adalah Rasa Bersyukur Keridhaan akan membuahkan rasa syukur yang merupakan level keimanan tertinggi, bahkan merupakan hakikat dari keimanan itu sendiri. Dalam tahapan iman, rasa syukur itu adalah puncaknya. Orang yang tidak ridha terhadap pemberian Allah, keputusan-Nya, penciptaan-Nya, pengaturan-Nya, terhadap yang diambil dan yang diberikan-Nya, tidak akan bisa bersyukur kepada Allah. Dan itu artinya, orang yang bersyukur adalah orang yang paling menikmati hidup.[*]

    ***

    die *La Tahzan* DR. Aidh al-Qarni

    Dari jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 6 January 2013 Permalink | Balas  

    Kiamat Tidak Ada Tanda-Tandanya

    Oleh: Aam Amiruddin

    Bagaimana memahami hadits yang menjelaskan “tanda-tanda kiamat” dengan ungkapan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kiamat itu akan terjadi dengan tiba-tiba? Bukankah kata “tiba-tiba” mengandung makna tidak ada tanda-tanda? Bagaimana menyikapi keterangan yang terkesan kontradiktif?

    Apa yang Anda katakan benar. Memang ada sejumlah ayat yang menegaskan bahwa kiamat itu akan terjadi secara mendadak atau tiba- tiba. Paling tidak ada empat ayat yang menjelaskannya. Yaitu,

    “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Al- A’raf: 187)

    “Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan Kami, terhadap kelalaian Kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, Amat buruklah apa yang mereka pikul itu.” (QS. Al-An’am: 31)

    “Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?” (QS. Yusuf: 107)

    “Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS. Az-Zukhruf: 66)

    Keempat ayat diatas menjelaskan bahwa kiamat akan terjadi secara mendadak atau tiba-tiba. Namun, diakui pula bahwa ada sejumlah hadits shahih yang menjelaskan tanda-tanda kiamat, diantaranya:

    Tatkala ditanya oleh Malaikat Jibril tentang tanda-tanda kiamat, Rasulullah SAW menjawab, “Apabila budak wanita melahirkan tuannya dan apabila engkau lihat orang-orang yang bertelanjang kaki, berpakaian compang-camping, miskin, dan pengembala kambing berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.” (Mutafaq’alaih)

    Maksud apabila budak wanita melahirkan tuannya adalah banyak anak yang memperlakukan orang tuanya seperti budak atau pembantu. Banyak anak yang berani menghardik, membentak, bahkan menganiaya orang tuanya. Na’udzubillah!

    Sedangkan yang dimaksud, Engkau lihat orang-orang yang bertelanjang kaki, berpakaian compang-camping, miskin, dan pengembala kambing berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan adalah banyak manusia yang materialistis. Orang yang berpenghasilan rendah memiliki nafsu terhadap materi melebihi penghasilannya. Dia menginginkan bangunan megah.

    Kalau kita fokuskan pada konteks zaman sekarang, banyak orang yang berpenghasilan biasa-biasa saja, tapi gaya hidupnya seperti orang yang berpenghasilan luar biasa. Gaji Cuma 2 juta sebulan tapi bergaya hidup seperti yang berpenghasilan 10 juta per bulan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Diantara tanda-tanda kiamat adalah lenyapnya ilmu pengetahuan (agama), meluaskan kebodohan, banyaknya minum khamr, dan perzinaan terjadi secara terang-terangan.” (HR. Bukhari)

    Hadits ini menegaskan bahwa diantara tanda kiamat, apabila manusia sudah tidak merasa tertarik lagi untuk mempelajari ajaran-ajaran agama. Khamr atau minuman yang memabukan sudah menjadi minuman kesehariaan, dan perzinaan semakin menjamur, terbuka, dan terang- terangan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan datang kiamat hingga waktu terasa amat pendek, satu tahun serasa sebulan, satu bulan serasa seminggu, satu minggu serasa sehari, satu hari serasa sejam, satu jam hanya selama membakar pelepah kurma.” (HR. Ahmad)

    Hadits ini menegaskan bahwa diantara tanda kiamat adalah pada saat manusia merasa sangat bertah didunia, hingga setahun serasa sebulan, sebulan serasa seminggu, seminggu serasa sehari. Ini menunjukkan bahwa manusia merasa sangat betah hingga waktu terasa menjadi sangat singkat.

    Itulah hadits-hadits sahih yang menjelaskan tanda-tanda kiamat. Pertanyaannya, apakah hadits-hadits yang menjelaskan tanda-tanda kiamat itu kontradiktif dengan ayat-ayat yang menjelaskan bahwa kiamat itu akan terjadi secara tiba-tiba?

    Ada yang beranggapan bahwa sesuatu yang tiba-tiba berarti tidak ada tanda-tanda. Padahal logikanya tidaklah demikian. Maksud bahwa kiamat itu mendadak atau tiba-tiba adalah kiamat itu tidak bisa diketahui secara pasti dan diidentifikasi kapan terjadinya, bukan berarti tidak ada tanda-tandanya. Jadi sesuangguhnya tidak ada kontradiktif antara ayat yang menjelaskan bahwa kiamat itu akan terjadi mendadak dengan hadits yang menjelaskan tanda-tanda kiamat, bahkan justru bisa saling melengkapi. Wallahu A’lam.

    ***

    die *Percikan Iman* No.11 Th.VII November 2006 M/Syawal 1427 H

    Dari: jkmhal.com

     
    • bejono777 6:09 pm on 6 Januari 2013 Permalink

      terimakasih ilmunya……semoga kita selalu istiqomah dan ingat bahwa sesuatu itu atas kehendakNYA

  • erva kurniawan 1:56 am on 5 January 2013 Permalink | Balas  

    Etika di Masjid

    Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a:

    “Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya”. (Muttafaq’alaih).

    Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq’alaih).

    Berdo`a disaat masuk dan keluar masjid. Disunatkan bagi orang yang masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam lalu mengucapkan:

    “(Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”

    Dan bila keluar mendahulukan kaki kiri, lalu bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam kemudian membaca do`a:

    “(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu)”. (HR. Muslim).

    Disunnatkan melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid bila telah masuk masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah shalat dua raka`at sebelum duduk”. (Muttafaq alaih).

    Dilarang berjual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka doakanlah “Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu”. Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah “Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah atau orang yang badannya berbau tidak sedap. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang dengan-nya manusia terganggu”. (HR. Muslim). Dan termasuk juga rokok dan bau lain yang tidak sedap yang keluar dari badan atau pakaian.

    Dilarang keluar dari masjid sesudah adzan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila tukang adzan telah adzan, maka jangan ada seorangpun yang keluar sebelum shalat”. (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat, dan disunnatkan bagi orang yang sholat menaroh batas di depannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang sholat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri dari jarak empat puluh itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. (Muttafaq alaih).

    Tidak menjadikan masjid sebagai jalan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berzikir dan shalat”. (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Tidak menyaringkan suara di dalam masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Termasuk perbuatan mengganggu orang shalat adalah membiarkan Handphone anda dalam keadaan aktif di saat shalat.

    Hendaknya wanita tidak memakai farfum atau berhias bila akan pergi ke masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh farfum”. (HR. Muslim).

    Orang yang junub, wanita haid atau nifas tidak boleh masuk masjid. Allah berfirman: “(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (an-Nisa: 43).

    Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya: “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid”. Aisyah menjawab: Sesungguhnya aku haid? Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. (HR. Muslim).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 4 January 2013 Permalink | Balas  

    Menahan Amarah dan Penuh Kasih Sayang

    Kelemahlembutan adalah akhlak mulia. Ia berada diantara dua akhlak yang rendah dan jelek, yaitu kemarahan dan kebodohan. Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya dega kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak diridhoi Allah ta’ala dan rasul-Nya. Dan jika hamba tersebut menyelesaikan masalahnya dengan kebodohan dirinya, niscaya ia akan dihinakan manusia. Namun jika dihadapi dengan ilmu dan kelemahlembutan, ia akan mulia di sisi Allah ta’ala dan makhluk-makhluknya. Orang yang memiliki akhlak lemah lembut, insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

    Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidk pernah terpisahkan dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia gagal untuk menyelesaikan problemanya.

    Demikian agungnya akhlak ini sehingga rasullah memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya : “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa)”. (HR. Muslim)

    Akhlak mulia ini terkadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain. Padahal rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasehat : “ Janganlah kamu marah.” Dan beliau mengulanginya berkali-kali dengan bersabda : “Janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari).

    Dari hadits ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya itu agar tidak marah. Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh hawa nafsu yang memancing pelakunya bersikap melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca, dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dati kelemahlembutan.

    Di dalam hadits yang shahih Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda : “Bukanlah dikatakan seorang yang kuat itu dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat dalam menahan dirinya dari marah”. (Muttafaqqun’alahi).

    Ulama telah menjelaskan berbagai cara menyembuhkan penyakit marah yang tercelah yang ada pada seorang hamba, yaitu :

    Berdoa kepada Allah, yang membimbing dan menunjuki hamba-hambaNya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri manusia. Allah ta’alah berfirman: “Berdoalah kalian kepadaku niscaya akan aku kabulkan.” (Ghafir: 60)

    Terus-menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Quran, bertasbih, bertahlil, dan istigfar, karena Allah telah menjelaskan bahwa hati manusia akan tenang dan tenteram dengan mengingat Allah. Allah berfirman : “Ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” ( Ar-Ra’d : 28).

    Mengingat nash-nash yang menganjurkan untuk menahan marah dan balasan bagi orang-orang yang mampu manahan amarahnya sebagaimana sabda nabi shalallahu ‘alaihi wasallam : “ Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluq-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari surga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemauannya “ (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat shahihul jami’ No. 6398).

    Merubah posisi ketika marah, seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, dan jikalau ia sedang duduk maka hendaklah ia berbaring, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu alaihi wa sallam : “ Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah ia berbaring.” (Al-Misykat 5114).

    Berlindung dari setan dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya.

    Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela. Dan betapa indahnya perilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemahlembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah. Sebaliknya bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “ Tidaklah kelemahlembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut kecuali akan menjadikannya jelek.” (HR. Muslim).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 3 January 2013 Permalink | Balas  

    Sholat Subuh, Ujian Terberat Bagi Munafikin

    Ceritanya, suatu ketika, Dr. Raghib menemui seorang ustadz (da’i) yang ceramahnya begitu memukau dan menanyakan perihal penyebab da’i itu jarang salat Subuh berjamaah di masjid. Pertanyaan ini diajukan, setelah sebelumnya beliau mengamati langsung beberapa Hari dan ikut salat Subuh di masjid dekat rumah si da’i, namun tidak melihat sang da’i salat Subuh di situ.

    Mendapat pertanyaan demikian, sang da’i dengan enteng dan tanpa rasa malu menjawab pertanyaan Dr. Raghib: ” Maafkan saya, semoga Allah mengampuni saya dan mengampuni Anda. Kondisi saya sangat sulit. Pagi-pagi saya sudah mulai kerja, sementara tidur agak terlambat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Mendengar jawaban seperti itu, kontan saja hati beliau bergejolak, jiwanya terasa sempit dan tenggorokkannya terasa tersumbat.

    Akhirnya, dari kejadian itu beliau termotivasi untuk segera menulis sebuah buku tentang hikmah di balik salat Subuh, yang kemudian -atas kehendak Allah swt.- buku itu (Misteri Salat Subuh) menjadi Best Seller.

    Makna Ujian

    Ungkapan lidah sering tak sesuai dengan keyakinan hati. dan beribu ucapan tidak sesuai dengan amal perbuatan. Mukmin yang benar dan jujur adalah yang sesuai antara perkataan dengan perbuatannya. Sedangkan orang munafik, secara lahiriah kelihatan bagus dan bersih, namun hatinya keras bagaikan batu, bahkan lebih keras lagi.

    Allah swt. Maha Mengetahui apa yang terlintas dalam hati manusia. Mengetahui Mata yang tidak jujur dan segala yang tersembunyi dalam dada. Mengetahui yang munafik dari yang mukmin, serta mengetahui yang dusta dari yang jujur.

    Namun, atas kehendak-Nya, Dia berhak memberikan ujian-ujian tertentu, untuk mengetahui rahasia hati yang tersembunyi dalam setiap jiwa; serta menunjukkan siapa yang hanya berbicara tanpa melaksanakan apa yang ia katakan; atau menyakini sesuatu, tapi tidak merealisasikannya.

    Tujuan ditampakkannya rahasia hati itu karena Allah swt. Ingin menegakkan hujjah (alasan) atas manusia, agar di Hari kiamat nanti tidak Ada seorang pun yang merasa terzalimi dan teraniaya. Mereka diberi ujian, akan tetapi sebagian besar gagal dalam ujian tersebut. Lebih dari itu, melalui ujian, Allah swt. Ingin membersihkan barisan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik. Sebab, bercampurnya orang mukmin dengan orang munafik akan melemahkan barisan, menyebabkan kegoncangan, dan mengakibatkan kekalahan serta kehancuran.

    Ujian merupakan sunnah ilahiyah dan sebagai standar bagi semua manusia tanpa kecuali, yang berlaku sejak Adam a.s. diciptakan hingga hari kiamat kelak.

    Allah swt. Berfirman dalam kitab-Nya: Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ” Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS.Al-Ankabut [29]: 1-3).

    Ujian dari Allah swt. Tidak sedikit jumlahnya, dan berlaku terus-menerus sejak manusia mendapat beban syariat, sampai tibanya kematian. Jihad fisabilillah merupakan ujian, bahkan sebagai ujian yang sangat berat. Namun, bukan mustahil dilakukan karena orang-orang mukmin bisa Lulus dalam ujian itu. Sedangkan orang-orang munafik, tidak akan Lulus. Infak di jalan Allah swt. Adalah ujian. Ujian ini sulit, tetapi bukan sesuatu yang mustahil.

    Orang mukmin mampu melaksanakannya, sementara orang munafik tidak akan mampu. Begitu pula, bersikap baik terhadap sesama manusia juga ujian; menahan amarah juga ujian; rida dengan hukum Allah swt. Juga ujian; berbuat baik kepada orang tua pun ujian, dan seterusnya.

    Ujian memiliki variasi tingkat kesulitan. Seorang mukmin harus lulus dalam semua ujian itu untuk membuktikan kebenaran imannya, dan untuk menyelaraskan antara lisan dan hatinya.

    Salat Subuh, Ujian Terberat

    Inilah ujian yang sesungguhnya. Ujian yang sangat sulit, namun bukan satu hal yang mustahil. Nilai tertinggi dalam ujian ini ­bagi seorang laki-laki­ adalah salat Subuh secara rutin berjamaah di masjid. Sedangkan bagi wanita, salat Subuh tepat pada waktunya di rumah. Setiap orang dianggap gagal dalam ujian penting ini, manakala mereka salat tidak tepat waktu, sesuai yang telah ditetapkan Allah swt.

    Sikap manusia dalam menunaikan salat wajib cukup beragam. Ada yang mengerjakan sebagian salatnya di masjid, namun meninggalkan sebagian yang lain. Ada pula yang melaksanakan salat sebelum habis waktunya, namun dikerjakan di rumah. Dan, Ada pula sebagian orang yang mengerjakan salat ketika hampir habis Batas waktunya (dengan tergesa-gesa). Yang terbaik di antara mereka adalah yang mengerjakan salat wajib secara berjamaah di mushala/masjid pada awal waktu.

    Rasulullah saw. Telah membuat klasifikasi yang dijadikan sebagai tolok ukur untuk membedakan antara orang mukmin dengan orang munafik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda: ” Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya’ dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Apabila Rasulullah saw. meragukan keimanan seseorang, beliau akan menelitinya pada saat salat Subuh. Apabila beliau tidak mendapati orang tadi salat Subuh (di masjid), maka benarlah apa yang beliau ragukan dalam hati.

    Di balik pelaksanaan dua rakaat di ambang fajar ini, tersimpan rahasia yang menakjubkan. Banyak permasalahan yang bila dirunut, bersumber dari pelaksanaan salat Subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya, para sahabat Rasulullah saw. sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas itu.

    Pernah suatu hari, mereka terlambat salat Subuh dalam penaklulkan benteng Tastar. ‘Kejadian’ ini membuat seorang sahabat, Anas bin Malik selalu menangis bila mengingatnya. Yang menarik, ternyata Subuh juga menjadi waktu peralihan dari era jahiliyah menuju era tauhid. Kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka lainnya, dilibas azab Allah swt. pada waktu Subuh.

    Seorang penguasa Yahudi pernah menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam, kecuali pada satu hal, yaitu bila jumlah jamaah salat Subuh mencapai jumlah jamaah salat Jumat. Memang, tanpa salat Subuh, umat Islam tidak lagi berwibawa. Tak selayaknya kaum muslimin mengharapkan kemuliaan, kehormatan, dan kejayaan, bila mereka tidak memperhatikan salat ini.

    Bagaimana orang-orang muslim tidur di waktu Subuh, lalu dia berdoa pada waktu Dhuha atau waktu Zhuhur atau waktu sore hari (Ashar), memohon kemenangan, keteguhan dan kejayaan di muka bumi. Bagaimana mungkin?

    Sesungguhnya agama ini tidak akan mendapatkan kemenangan, kecuali telah terpenuhi semua syarat-syaratnya. Yaitu dengan melaksanakan ibadah, konsekuen dengan akidah, berakhlak mulia, mengikuti ajaran-Nya, tidak melanggar larangan-Nya, dan tidak sedikit pun meninggalkannya, baik yang sepele apalagi yang sangat penting.

    Subhanallah! Allah swt. akan mengubah apa yang terjadi di muka bumi ini dari kegelapan menjadi keadilan, dari kerusakan menuju kebaikan. Semua itu terjadi pada waktu yang mulia, ialah waktu Subuh. Berhati-hatilah, jangan sampai tertidur pada saat yang mulia ini. Allah swt akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga salat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam. Diriwayatkan dari Ammarah bin Ruwainah r.a., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk neraka, orang yang salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari.” (HR. Muslim).

    Salat Subuh merupakan hadiah dari Allah swt., tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertaubat. Hati yang diisi dengan cinta kemaksiatan, bagaimana mungkin akan bangun untuk salat Subuh? Hati yang tertutup dosa, bagaimana mungkin akan terpengaruh oleh hadist-hadist yang berbicara tentang keutamaan salat Subuh?

    Orang munafik tidak mengetahui kebaikan yang terkandung dalam salat Subuh berjamaah di masjid. Sekiranya mereka mengetahui kebaikan yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan pergi ke masjid, bagaimanapun kondisinya, seperti sabda Rasulullah saw.: ” Maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak.”

    Coba kita bayangkan ketika ada seorang laki-laki yang tidak mampu berjalan, tidak ada orang yang membantu memapahnya. Dalam kondisi yang sedemikian rupa, ia bersikeras mendatangi masjid dengan merangkak dan merayap di atas tanah untuk mendapatkan kebaikan yang terkandung dalam salat Subuh berjamaah Sekiranya kita saksikan ada orang yang meninggalkan salat Subuh berjamaah di masjid (dengan sengaja), maka kita akan mengetahui betapa besar musibah yang telah menimpanya.

    Tentu saja, tulisan ini bukan untuk menuduh orang-orang yang tidak menegakkan salat Subuh di masjid dengan sebutan munafik. Allah swt Maha Tahu akan kondisi setiap muslim. Namun, sebaiknya hal ini dapat dijadikan sebagai bahan koreksi bagi setiap individu (kita), orang-orang yang kita cintai, anak-anak, serta sahabat-sahabat kita. Sudahkah kita salat Subuh berjamaah di masjid/musalla secara istiqomah?

    Jika seseorang meninggalkan salat Subuh dengan sengaja, maka kesengajaan tersebut adalah bukti nyata dari sifat kemunafikan. Barang siapa yang pada dirinya terdapat sifat ini, maka segeralah bermuhasabah (intropeksi diri) dan bertaubat. Mengapa? Karena dikhawatirkan akhir hayat yang buruk (su’ul khatimah) akan menimpanya. Nauzubillah minzalik! (HD).

    ***

    Hudzaifah.org

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 1 January 2013 Permalink | Balas  

    Menyebarkan Salam

    Bagian perkara yang akan menumbuhkan cinta dan kasih sayang antara sesame adalah menyebarkan salam (kedamaian) dan mewujudkannya. Karena itulah ada beberapa hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan dan menjelaskan dampak positif dan keutamaannya:

    Barra Ibn Azib ra. berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kita akan tujuh perkara: (1) menjenguk orang sakit, (2) mengiringi jenazah, (3) mendoakan orang yang bersin, (4) menolong orang yang lemah, (5) membantu orang yang teraniaya, (6) menyebarkan salam dan (7) melaksanakan sumpah dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga, kecuali dengan beriman. Kalian tidak akan beriman, kecuali dengan saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian lakukan, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian!” (HR. Muslim)

    Dalam riwayat Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dari Anas ra., Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah termasuk salah satu dari nama Allah yang diletakkan didunia. Sebarkanlah salam diantara kalian!”

    Dari Abdullah Ibn Amr ra., “Seorang pemuda bertanya kepada Rasulullah SAW., `Apa yang terbaik dalam Islam?’ Rasulullah menjawab, `Memberi makan (orang miskin) dan mengucapkan salam kepada yang engkau kenal atau yang tidak engkau kenal.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah menjelaskan bahwa di antara hak muslim atas saudaranya ialah mengucapkan salam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Hak seorang Muslim atas orang muslim ada enam.” Ditanyakan, “Apa saja ya Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “(1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam. (2) Jika dia mengundangmu, maka datanglah. (3) Jika dia meminta nasihatmu, berilah nasihat. (4) Jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah, doakanlah. (5) Jika dia sakit, jenguklah. (6) Jika dia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

    Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. Nabi SAW bersabda, “Hindarilah duduk di jalan-jalan!” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kita tidak ada tempat didik yang lain untuk berbincang-bincang?” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “”Jika kalian enggan meninggalkan tempat itu, maka berikan hak jalan itu!” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah apa hak jalan ini?” Rasulullah SAW menjawab, “Menjaga pandangan, tidak mengganggu, membalas salam, menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang memulai memberi salam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW memberi salam kepada anak-anak kecil, seperti disebutkan dalam ash-shahihain dari Anas ra., Beliau juga memberi salam kepada para wanita, sebagaimana disebutkan dalam sunan Tirmidzi dan al- Adab al-Mufrad milik Bukhari dengan sanad hasan dari Asma binti Yazid ra., “Rasulullah SAW melewatiku, dan aku disamping teman-teman sebayaku, lalu beliau memberi salam kepada kami.”

    Begitu juga dalam suatu perkumpulan terdapat muslimin, musyrikin, penyembahan patung dan Yahudi. Nabi SAW mengucapkan salam kepada perkumpulan seperti itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Para sahabat Rasulullah, jika sedang berjalan kemudian berhadapan dengan pohon atau semak belukar yang menyebabkan mereka harus berpisah satu sama lain, mereka memberi salam ketika bertemu lagi. (Ibnu Sunni dalam bukunya, “Amal al-Yaum wa al-Lailah)

    Yang juga akan menumbuhkan rasa cinta dan kasih adalah berkirim salam kepada orang lain. Dan ini bukan perkara yang berat. Dari Aisyah ra., Rasulullah SAW berkata, “Wahai Aisyah, Jibril menyampaikan salam kepadamu.” Aisyah ra., berkata, “Untuknya salam dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW berkata, “Sesungguhnya aku berharap, jika umurku panjang, bisa berjumpa dengan Isa ibn Maryam as. Jika ada diantara kalian yang bertemu dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya.” (HR. Ahmad)

    Jadi, dalam berkirim salam terdapat pahala dan ganjaran yang besar. Yang paling membuat orang Yahudi menjadi dengki adalah adanya salam dan kata “amin”.

    Diriwayatkan dari Aisyah ra., dari Nabi SAW., “Yang membuat orang- orang Yahudi dengki kepada kalian adalah salam dan kata amin.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Bukhari dalam al-Abad al-Mufrad)

    Salam merupakan salah satu dari nama-nama Allah dan menyebarkan salam berarti menyebut Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (mengingat) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

    Berapa banyak kejahatan yang gagal dengan adanya kalimat, as- salamu’alaikum! Berapa banyak kebaikan yang diperoleh dengan kalimat as-salamu’alaikum! Berapa banyak hubungan persaudaraan terjalin dengan kalimat as-salamu’alaikum!

    Dan sebaliknya, beberapa banyak kesulitan, bencana, kesengsaraan, terputusnya tali persaudaraan, ketidak peduliaan dan permusuhan, disebabkan meninggalkan ucapan as-salamu’alaikum!

    Sebarkanlah dan perbanyaklah salam. Ucapkanlah salam kepada yang muda, tua, kaya, miskin, laki-laki, perempuan…, baik yang Anda kenal maupun yang tidak; bahkan kepada orang yang sudah meninggal sekalipun. Yakin bahwa didalam salam kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia ada kebaikan. Insya Allah.

    ***

    Sumber: jkmhal.com

    die *Fikih Akhlak*

    Musthafa Al-Adawy

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 31 December 2012 Permalink | Balas  

    Sudahkah anda bersukur

    Musim terus berganti, waktu terus berlalu, usia kian bertambah. Banyak yang sudah kita lalui di kehidupan ini. Ada masa dimana kita merasa senang. Tatkala Anda menemukan pekerjaan idaman Anda, mendapatkan promosi, dan terus menapaki tangga karir yang lebih tinggi dengan fasilitas yang lebih baik pula, Anda memiliki perasaan senang. Ini mungkin merupakan salah satu titik puncak dalam kehidupan Anda. Dunia seakan sangat indah masa itu.

    Tak dapat dielakkan, ada pula masa dimana Anda mengalami begitu banyak masalah. Anda merasa sangat tertekan. Proyek Anda mengalami hambatan ini dan itu, atasan Anda terus menuntut Anda dengan kinerja tertentu, persoalan rumah tangga, kejenuhan dan lain sebagainya. Pada titik ini, Anda menjadi sangat bingung, konsentrasi Anda terpecah, wajah Anda muram, dan antusiasme serta semangat Anda semakin menurun.

    Musim boleh berganti, waktu boleh berlalu, tapi Anda harus terus belajar menjadi orang yang bijak. Bila Anda sedang melalui masa-masa yang senang, apa yang Anda lakukan? Anda tentunya bersyukur. Bila Anda sedang melalui badai dalam hidup Anda, apa yang Anda lakukan? Biasanya, mengeluh. Setiap manusia normal, pasti pernah mengeluh. Memang hal tersebut bukan sesuatu yang salah, tapi mengeluh juga bukan sesuatu yang baik dan bijak. Anda merasa kecewa, Anda merasa jenuh, bahkan Anda marah terhadap orang lain sebagai manifestasi dari permasalahan yang Anda hadapi. Jelas ini tidak baik bagi mental Anda. Lalu apa yang harus Anda lakukan?

    Yang harus Anda lakukan adalah BERSYUKUR.

    Mari kita ubah paradigma berpikir kita. Anda harus mensyukuri segala permasalahan yang terjadi dalam hidup Anda. Jadilah orang yang memiliki sikap yang positif. Sebagian dari Anda (yang memiliki sikap negatif) mungkin akan berpikir ” Ah, teori… Ngomong sih gampang… Belum tau aja.” Kalau Anda berpikir demikian, tidak apa, Anda dapat terus melanjutkan kehidupan dengan cara-cara lama dan paradigma Anda sendiri. It’s your life anyway. Sebagian lagi dari Anda (yang memiliki sikap positif atau memiliki keinginan untuk berubah) akan bertanya “Saya mau, bagaimana caranya?”

    Mulailah dengan hal-hal kecil yang dapat menjadi latihan mental bagi Anda.

    • Bersyukur atas hari ini. Anda memiliki Anda masih dapat bernafas sementara banyak orang yang untuk bernafas saja masih memerlukan bantuan. (lihat di rumah sakit)
    • Bersyukur atas hari ini. Anda memiliki pekerjaan sementara banyak orang terpaksa harus mengemis untuk hidup. (lihat di jalanan, anak-anak dan orangtuanya mengemis)
    • Bersyukur atas hari ini. Anda dapat mengenyam pendidikan yang layak sementara banyak orang yang membacapun tidak bisa. (lihat di daerah terpencil tanpa sekolah)
    • Bersyukur atas hari ini. Anda masih dapat makan enak sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang menjadi kurus kering dan kurag gizi (lihat berita di TV yang terjadi di Afrika)
    • Bersyukur atas hari ini. Bersyukur karena Anda mengalami masalah. Bersyukur karena masalah diperkenankan terjadi dalam hidup Anda. Bersyukur karena masalah hadir membantu untuk membentuk pribadi Anda.

    Ambil waktu tenang sejenak di sela-sela kesibukan Anda atau mungkin malam hari sebelum Anda tidur. Pejamkan mata Anda agar dapat lebih berkonsentrasi. Lakukan refleksi diri. Lihat kembali perjalan hidup Anda. Mengapa Anda ada di sini saat ini? Berapa banyak sudah hal-hal luar biasa, hal-hal baik dan positif yang terjadi pada hidup Anda? Syukurilah. Lihat juga berapa banyak permasalahan yang muncul dan sudah Anda lalui? Syukurilah. Rasakan di setiap detik kehidupan Anda.

    Bersyukurlah karena badai pasti berlalu. Ingat, ada musim berikutnya dalam hidup Anda. Ada babak baru di hadapan Anda. Siapkan diri Anda untuk musim yang baru dengan sejuta keindahan di dalamnya.

    ***

    Oleh Erwin Arianto,SE

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 29 December 2012 Permalink | Balas  

    Bersaksilah Karena Allah

    Allah berfirman, “Hendaklah kalian tegakkan persaksian karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)

    Jangan bersaksi karena hanya ingin disebut orang yang berkata benar. Jadikanlah persaksian dan ucapan Anda karena Allah, dengan mengharap pahala dan ridha-Nya.

    Jika Anda belajar, jadikan belajar itu hanya karena Allah, jika berjihad, jadikan jihad itu hanya karena Allah. Jika berderma, jadikan derma itu hanya karena Allah.

    Jika Anda belajar karena ingin disebut sebagai seorang intelektual, maka api neraka telah menyala untuk Anda. Begitu juga jika berjihad agar disebut sebagai pejuang; dan berderma agar disebut dermawan. Karena itu, ada sebuah hadits yang menguraikan soal itu:

    Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah ra.; “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, `Sesungguhnya orang yang pertama kali disidang pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia akan dihadapkan pada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan itu semua?’ `Aku telah berperang demi Engkau, hingga aku mati syahid. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.’ Kemudian orang itu diseret kedalam api neraka. Kemudian orang yang belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al- Qur’an. Dia dihadapkan kepada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan semua ini?’ `Aku telah belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an demi Engkau,’ jawabnya. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau belajar agar dikatakan sebagai orang yang pintar dan engkau membaca Al- Qur’an agar dikatakan sebagai seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an). Kemudian orang itu diseret kedalam api neraka. Kemudian orang yang diluaskan rizkinya oleh Allah. Dia dihadapkan kepada nikmat- nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan ini semua?’ `Aku selalu mendermakannya demi Engkau di jalan yang Engkau suka.’ (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berderma agar dikatakan sebagai seorang dermawan.’ Kemudian orang itu diseret kedalam api neraka.”

    Jadikanlah shalatmu, ibadahmu, kehidupanmu dan kematianmu hanya untuk Allah.

    “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah aku diperintahkan dan aku adalah yang pertama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS.Al-An’am: 162-163)

    Hadits-hadits yang berhubungan dengan perkara di atas:

    Rasulullah SAW bersabda, tentang orang yang dimasukkan ke dalam perlindungan Allah pada hari ketika tak ada lagi selain perlindungan- Nya, “Yaitu dua orang yang mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

    Abu Daud dan Ahmad meriwayatkan, “Ada tiga hal yang jika ketiganya ada dalam diri seseorang maka ia pasti merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasulnya lebih dicintai dari segalanya, (2) Mencintai atau tidak mencintai, karena Allah. (3) Tidak mau kembali kepada kekufuran, seperti halnya tidak mau untuk dilemparkan ke neraka.”

    Sabdanya yang lain, dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad, “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan melarang karena Allah, maka telah sempurnalah imannya.”

    Dalam hadits yang lain, “Sesungguhnya setiap derma yang engkau keluarkan karena Allah, engkau akan mendapatkan pahala karenanya, bahkan derma yang engkau berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Nabi SAW juga bersabda, “Jika seseorang membiayai hidup keluarganya dan dia melakukannya untuk mencari ridha Allah– maka berarti dia sudah bersedekah.” (HR. Bukhari)

    Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah berkata pada hari Kiamat, `Dimanakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? pada hari ini, Aku akan melindunginya, ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Ku.” (HR. Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra. Nabi SAW bersabda, “Seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, kemudian Allah mengutus satu malaikat di jalannya. Ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, `Engkau hendak kemana?’ Dia menjawab, `Saya ingin mengunjungi saudara saya di desa ini.’ Malaikat itu bertanya lagi, `Adakah oleh-oleh yang akan engkau berikan untuknya?’ Dia menjawab, `Tidak ada, selain hanya saya mencintainya karena Allah.’ Malaikat itu berkata, `Aku adalah utusan Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya (saudaramu) karena Allah.'” (HR. Muslim)

    Dari Abu Muslim Al-Khulani, ia berkata, Aku mendatangi masjid penduduk Damaskus kebetulan terdapat sekelompok orang yang di dalamnya nampak beberapa sahabat Rasulullah yang senior. Diantara mereka terdapat seorang pemuda yang matanya bercelak dan bersinar. Setiap kali mereka berselisih tentang sesuatu, mereka mengembalikan perselisihan itu kepada pemuda tersebut, pemuda yang masih remaja. Aku (Abu Muslim Al-Khulani) bertanya kepada teman dudukku, `Siapakah pemuda itu?’ Dia menjawab, `Dia adalah Mu’adz Ibn Jabal.’ Kemudian aku datang pada sore hari, mereka tidak hadir, dan aku datang pada pagi hari, mereka juga tidak datang. Aku berangkat pergi, namun tiba- tiba aku melihat pemuda itu sedang shalat di dekat sebuah tiang. Aku duduk mendekat dan berusaha menghampiri. Dia memberi salam dan aku mendekatinya lagi. Aku berkata kepadanya, `Aku mencintai karena Allah.’ Aku mendekatinya lagi dan dia berkata, `Apa yang engkau katakana?’ Aku berkata, `Aku mencintai karena Allah.’ Dia berkata, `Aku mendengar Rasulullah bercerita tentang Tuhannya yang berkata, `Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan Arsy pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah.’ Kemudian aku keluar sampai bertemu dengan Ubadah ibn Shamit dan aku menceritakan kepadanya tentang apa yang diceritakan oleh Muadz ibn Jabal. Ubadah ibn Shamit kemudian berkata, `Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda tentang Tuhannya yang berkata, `Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling mencinta karena Aku. Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling memberi karena Aku. Orang-orang yang Saling membeberi karena Aku. Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di bawah naungan Arsy pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah.” (HR. Ahmad)

    Dalam Riwayat Tirmidzi ada hadits, “Allah berkata, `Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya dan didoakan oleh para nabi dan orang-orang yang mati syahid’.”

    Apabila anda mencintai suatu kaum karena Allah, maka anda akan dikumpulkan bersama mereka pada hari Kiamat. Dari Abo Musa ra., `Ditanyakan kepada Nabi SAW., `Seseorang mencintai suatu kaum dan dia tidak pernah bertemu mereka?’ Nabi bersabda, `Seseorang akan bersama orang yang dicintai’.” (HR. Bukhari)

    ***

    Musthafa al-`Adawy *Fikih Akhlak*

    Dari: jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 28 December 2012 Permalink | Balas  

    Nasehat – Nasehat Seputar Membaca Al-Qur’an  

    Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Al-Qur’an adalah sumber hukum yang pertama bagi kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran serta kemuliaan para pembacanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir : 29).

    Al-Qur’an adalah ilmu yang paling mulia, karena itulah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya bagi orang lain, mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari pada belajar ilmu yang lainya. Dari Utsman bin Affan radhiyallah ‘anhu , beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya(HR. Muslim)

    Diriwayatkan juga oleh Imam Al-Bukhari, bahwa yang duduk di majlis Khalifah Umar Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau bermusyawarah dalam memutuskan berbagai persoalan adalah para ahli Qur’an baik dari kalangan tua maupun muda.

    Keutamaan membaca Al-Qur’an di malam hari

    Suatu hal yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur’an pada malam hari. Lebih utama lagi kalau membacanya pada waktu shalat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus (yang telah masuk Islam), mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu malam hari, sedang mereka juga bersujud (Shalat).” (Ali Imran: 113)

    Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ini menyebutkan bahwa ayat ini turun kepada beberapa ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Asad bin Ubaid, Tsa’labah bin Syu’bah dan yang lainya. Mereka selalu bangun tengah malam dan melaksanakan shalat tahajjud serta memperbanyak memba-ca Al-Qur’an di dalam shalat mereka. Allah memuji mereka dengan menyebut-kan bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh, seperti diterangkan pada ayat berikutnya.

    Jangan riya’ dalam membaca Al-Qur’an

    Karena membaca Al-Qur’an merupa-kan suatu ibadah, maka wajiblah ikhlas tanpa dicampuri niat apapun. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menuaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

    Kalau timbul sifat riya’ saat kita membaca Al-Qur’an tersebut, kita harus cepat-cepat membuangnya, dan mengembalikan niat kita, yaitu hanya karena Allah. Karena kalau sifat riya’ itu cepat-cepat disingkirkan maka ia tidak mempengaruhi pada ibadah membaca Al-Qur’an tersebut. (lihat Tafsir Al ‘Alam juz 1, hadits yang pertama).

    Kalau orang membaca Al-Qur’an bukan karena Allah tapi ingin dipuji orang misalnya, maka ibadahnya tersebut akan sia-sia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah n bersabda, artinya:

    “Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an maka di bawalah ia (dihadapkan kepada Allah), lalu (Allah) mengenalkan-nya (mengingatkannya) nikmat-nikmatnya, iapun mengenalnya (mengingatnya), Allah berfirman: Apa yang kamu amalkan padanya (nikmat)? Ia menjawab: Saya menuntut ilmu serta mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an padaMu (karena Mu). Allah berfirman : Kamu bohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan orang “alim”, dan kamu mem-baca Al-Qur’an agar dikatakan “Qari’, maka sudah dikatakan (sudah kamu dapatkan), kemudian dia diperintahkan (agar dibawa ke Neraka) maka diseretlah dia sehingga dijerumuskan ke Neraka Jahannam.” (HR. Muslim)

    Semoga kita terpelihara dari riya’.

    Jangan di jadikan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dunia.

    Misalnya untuk mendapatkan harta, agar menjadi pemimpin di masyarakat, untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, agar orang-orang selalu meman-dangnya dan yang sejenisnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “…Dan barang siapa yang menghen-daki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya kebaha-gianpun di akhirat. (As-Syura: 20).”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki …” (Al Israa’ : 18)

    Jangan mencari makan dari Al-Qur’an

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya.” (HR. Ahmad, Shahih).

    Imam Al-Bukhari dalam kitab shahih-nya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur’an, “Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur’an dan makan denganNya”, Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.

    Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallah ‘anhu bahwasanya dia sedang melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an di hadapan suatu kaum . Setelah selesai membaca iapun minta imbalan. Maka Imran bin Hushain berkata: Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Barangsiapa membaca Al-Qur’an hendaklah ia meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al- Qur’an lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya (Al-Qur’an) (HR. Ahmad dan At Tirmizi dan ia mengatakan: hadits hasan)

    Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti ‘Atha, Malik dan Syafi’i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut.Wallahu A’lam.

    Jangan meninggalkan Al-Qur’an.

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Dan berkata Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (Al-Furqan: 30).

    Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan Al-Qur’an adalah hanya tidak membacanya saja, padahal yang dimaksud di sini adalah sangat umum. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini. Dia menjelaskan bahwa yang dimaksud meninggalkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut;

    • Apabila Al-Qur’an di bacakan, lalu yang hadir menimbulkan suara gaduh dan hiruk pikuk serta tidak mendengarkannya.
    • Tidak beriman denganNya serta mendustakanNya
    • Tidak memikirkanNya dan memahamiNya
    • Tidak mengamalkanNya, tidak menjunjung perintahNya serta tidak menjauhi laranganNya.
    • Berpaling dariNya kepada yang lainnya seperti sya’ir nyanyian dan yang sejenisnya.

    Semua ini termasuk meninggalkan Al-Qur’an serta tidak memperdulikan-nya. Semoga kita tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur’an. Amin.

    Jangan ghuluw terhadap Al-Qur’an

    Maksud ghuluw di sini adalah berlebih-lebihan dalam membacaNya. Diceritakan dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin Umar radhiyallah ‘anhu beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah benar bahwa ia puasa dahr (terus-menerus) dan selalu membaca Al-Qur’an di malam hari. Ia pun menjawab: “Benar wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintah padanya agar puasa seperti puasa Nabi Daud alaihis salam , dan membaca Al-Qur’an khatam dalam sebulan. Ia pun menajwab: Saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bacalah pada setiap 20 hari (khatam). Iapun menjawab saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah berasabda : Bacalah pada setiap 10 hari. Iapun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah pada setiap 7 hari (sekali khatam), dan jangan kamu tambah atas yang demikian itu.” (HR. Muslim)

    Diriwayatkan dari Abdu Rahman bin Syibl radhiyallah ‘anhu dalam hadits yang disebutkan diatas: “Dan janganlah kamu ghuluw padanya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi). Wallahu ‘a’lam bishshawab.

    ***

    (Sumber Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 306; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Muhktasar).; Fathu Al Bari jilid 10 kitab fadhailil Qur’an, Al Hafiz IbnuHajar ; At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an, An Nawawi Tahqiq Abdul Qadir Al Arna’uth; Fadhail Al-Qur’an, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Tahqiq Dr. Fahd bin Abdur Rahman Al Rumi.)

    Oleh: Chandra Kusumantoro

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 27 December 2012 Permalink | Balas  

    Ujian Allah

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sungguh Allah akan menguji kamu dengan berbagai cobaan, sebagaimana kamu menguji (membakar) emas dengan api. Ada orang yang keluar (dari ujian tersebut) seperti emas murni, orang itulah yang dilindungi Allah dari kejelekan; ada juga orang yang keluar seperti emas yang tidak murni, orang itu masih dipenuhi keraguan; dan terakhir ada orang yang keluar seperti emas hitam, orang itulah yang terkena fitnah (siksa).”  (HR Al Hakim dalam al-Mustadrak dan dia menganggapnya shahih no 7878. Hadits ini diriwayatkan juga oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam)

    Pernah Anda mengamati begaimana emas dibakar dengan api? Jika menginginkan emas murni 24 karat, Anda harus memanggangnya di atas api yang lebih besar. Diantara manusia itu ada yang keluar (dari ujian) bak emas murni, yaitu emas yang bersih dan bening seketika. Adakah di antara kita orang yang keluar seperti emas murni tersebut? Jika ada, berarti ialah orang yang dilindungi Allah SWT.

    Ada lagi orang yang keluar (dari ujian tersebut) dalam keadaan bingung, suatu saat ia memuji Allah dan di lain kesempatan dia kembali kepada kebiasaannya (bermaksiat). Ada lagi tipe orang yang keluar seperti emas yang hitam pekat yang sudah menjadi arang. Golongan manusia jenis inilah yang terlaknat.

    Di hari kiamat setiap kita akan ditanya. Nah, seperti apakah Anda? Termasuk jenis emas manakah Anda? murni, campuran, atau…??

    Mungkin kita tidak pernah mengalami musibah seperti yang dialami Nabi Yaqub as. Meskipun Allah sangat menyayanginya, Dia tetap mengujinya. Kalau Allah menguji Anda dengan suatu musibah, janganlah mengatakan, “Sungguh, Allah sedang murka kepadaku.” Ya Allah, mengapa Engkau menimpakan ini kepadaku?” Janganlah sekali-kali Anda mengucapkan kata-kata itu, karena sesungguhnya Allah menyayangi Anda. Mungkin Anda mempunyai dosa yang Anda tanggung hingga Anda masuk neraka Jahannam. Allah SWT tidak menginginkan Anda masuk neraka. Allah hendak menyucikan diri Anda dan memasukkan Anda ke dalam surgaNya. Karena itu, Allah menguji Anda dengan musibah. Pada hari kiamat, Allah menginginkan Anda berdiri tegak di hadapanNya. Untuk itu, Allah terlebih dahulu menyucikan diri Anda di dunia ini.

    (sumber: romantika Yusuf, Amru Khalid, maghfirah pustaka, 2004)

    ***

    Dari: Erwin Arianto, SE

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 25 December 2012 Permalink | Balas  

    Kesenangan (Cinta) Duniawi yang Melalaikan

    Firman Allah :

    (38:30) Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhannya),

    (38:31) (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

    (38:32) maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”.

    (38:33) “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu”.

    Empat ayat diatas adalah dari Surot Shood, menceritakan suatu kisah ibrah berkenaaan kesenangan / kecintaan duniawi yang bisa melalaikan ketaatan terhadap perintah Allah.

    Ayat pertama, (38:30) informasi kepada kita bahwa Allah memberikan karunia kepada Nabi Daud as, seorang anak yang merupakan sebaik-baik hamba Allah dan amat taat kepada Allah, yaitu Nabi Sulaiman as.

    Ayat kedua, (38:31) menceritakan bahwa Nabi Sulaiman punya hoby memelihara kuda. Dan kuda-kudanya sangat terlatih. Namun karena hobynya ini membuat lalai dalam mengingat Allah, sehingga ia berkata :

    Ayat ketiga, (38:32) “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. Karena kesenangannya dalam memelihara kuda dan melatihnya membuat ia lalai lalu ia mengambil keputusan :

    Ayat ke empat, (38:33) “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.

    Apa yang dilakukan Nabi Sulaiman as, merupakan sebuah kisah yang patut kita ambil ibrahnya, betapa pentingnya untuk ingat terhadap perintah Allah dan jangan sampai kita lalai terhadap mengingat Allah karena kesibukan duniawi sesaat.

    Lalu mari kita renungkan surot at-Tawbah ayat 24 dibawah ini :

    (9:24) Katakanlah: “jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”.

    Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

    Semoga Allah melindungi kita dalam pemeliharaan dan pendidikan-Nya agar lebih mencintai Allah, Rasul dan Jihad. Jangan sampai kecintaan ataupun kesenangan kita terhadap bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kita, harta kekayaan yang kita usahakan, perniagaan yang kita khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kita sukai membuat kita lalai dalam mengingat Allah.

    Karena jika kita tidak segera toubat dari kelalaian terhadap Allah, Rasul dan Jihad maka akan termasuk orang-orang yang fasik. Na’udzubillah min zalik.

    Wassalam

    • Beribadah karena manusia itu munafiq
    • Meninggalkan ibadah karena manusia itu musyrik

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 24 December 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Sampai Amal Kita Hangus!

    Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.

    Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air wudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal. Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.

    Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.

    Para sahabat penasaran, Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunya Abdullah bin Amr bin ‘Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untuk menginap tiga hari di rumahnya.

    Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja.

    Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, Amal apa yang engkau lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? Jawaban Abu Umamah sungguh mengecewakan, Apa yang engkau lihat itulah.

    Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam.

    Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hatilah (qolbun saliim) yang akan memasuki surga tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla. Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy Syu’araa [26]: 87).

    Kebersihan hati adalah password untuk membuka pintu surga. Sesedikit apa pun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke surga, asal ia memiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apa pun amal, tidak akan berarti sama sekali bila kita memiliki hati penuh penyakit.

    Abu Umamah layak ditiru. Ia bukan sahabat sekaliber Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan atau pun Ali bin Abi Thalib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, juga beberapa sahabat lainnya. Namun, derajatnya di mata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, hingga Rasulullah SAW memvonis ia sebagai calon penghuni surga. Mengapa? Sebab hatinya bersih dari penyakit dan lapang dari kebencian dan dendam. Sehingga semua amal kebaikannnya tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah SWT.

    Karena itu, selain sibuk memperbanyak amal kebaikan, kita pun harus sibuk menjaga hati dari penyakit-penyakit membahayakan. Sebab, percuma saja kita menghiasai diri dengan berjuta-juta amalan–wajib maupun sunnat, sedang hati tidak pernah kita bersihkan. Sebaliknya, walau amal kita biasa-biasa saja, namun dibingkai kebersihan hati, maka nilainya akan jauh lebih tinggi di hadapan Allah. Lebih baik makan sayur kacang di mangkuk yang bersih, daripada makan gule spesial yang ditaruh di mangkuk penuh kotoran. Ideal tentu makan gule spesial di mangkuk bersih. Atau banyak ibadah dengan landasan qalbun saliim.

    Namun setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha menghancurkan amal-amal yang tengah kita kumpulkan saat Ramadhan ini. Maka, sekali lagi, di tengah kesibukan kita beramal, jangan lupakan hati kita. Lindungi dari penyakit-penyakit penghancur amal. Menurut Rasul SAW, ada tiga penyakit yang akan menghanguskan amal kita.

    Pertama, takabur atau sombong. Menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, takabur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan kemuliaan akhlak. Betapa tidak, orang takabur akan selalu mendustakan kebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya. Jangankan banyak, sedikit saja di hati kita ada sikap takabur, maka surga akan menjauh, amal-amal jadi tidak berarti. Disabdakan, Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sikap takabur walaupun sebesar debu. (HR Muslim).

    Kedua, hasud atau iri dengki. Ciri khas seorang pendengki adalah adanya ketidakrelaan ketika orang lain mendapat nikmat dan sangat berharap nikmat tersebut segera lenyap darinya. Bahasa kerennya, susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah . Kedengkian sangat efektif menghancurkan kebaikan. Rasulullah Saw. menegaskan, Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

    Ketiga, riya atau beramal karena mengharap pujian orang lain. Riya adalah tingkatan terendah dari amal. Rasul menyebutnya syirik kecil yang juga efektif menghapuskan kebaikan. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat debu saja berupa riya. Sebuah hadis qudsi mengungkapkan pula bagaimana murkanya Allah kepada orang yang riya dalam amalnya. Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia menlihat catatan amal-amalnya, Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riya) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HR Ahmad dan Baihaqi). Dalam Alquran, diungkapkan pula bahaya riya, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria (QS Al Maa’un [107]: 4-6).

    Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menjaga hati dan amalan kita dari kebinasaan. Semoga.

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 22 December 2012 Permalink | Balas  

    Meneladani Akhlak Rasulullah

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai? Maka, tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” QS Al Hujuraat:12

    Menapaki hari demi hari dari bulan Ramadhan yang paling utama di antara segala bulan ini ternyata kita tidak semata-mata sedang menjalani suatu kewajiban dari Allah. Akan tetapi pada hakikatnya kita tengah menapaki nikmat demi nikmat, pahala demi pahala, serta ampunan demi ampunan dari-Nya.

    Rasulullah SAW diutus oleh Allah ke dunia ini bertugas untuk menyempurnakan akhlak. Beliau ajarkan akhlak mulia pada keluarga, sahabat, dan umatnya. Terhadap siapa pun beliau menghormati. Beliau tidak berbicara cepat seperti orang angkuh. Namun beliau juga tidak berbicara pelan seperti orang yang malas berkata-kata.

    Lisan Rasulullah dilimpahi curahan berkah yang melimpah. Beliau berbicara jelas, tegas, penuh makna dan menghujam ke hati para shahabat yang mendengarnya. Ucapan beliau sarat dengan hikmah, indah dan bernilai. Beliau tidak berbicara kecuali perlu. Beliau selalu membuka dan menutup pembicaraan dengan menyebut nama Allah.

    Dengan demikian, maka sangat mustahil bagi Rasulullah SAW untuk berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain atau menceritakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan mereka.

    Allah berfirman dalam hadits Qudsi, yang artinya : “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya”.

    Allah SWT menuntun manusia hidup dengan adab kesopanan yang luhur. Jika mereka berpegang dengan adab tersebut, insya Allah akan tumbuh rasa cinta dan kebersamaan di antara mereka. Hidup bermasyarakat akan rawan konflik. Disengaja atau tidak selalu saja akan muncul potensi sakit hati. Dan Allah telah mengajari kita agar hidup jauh dari prasangka buruk (su’uzhan), mencari-cari kesalahan orang (tajassus), dan (ghibah) yaitu membicarakan aib saudaranya, yang jika mereka mendengarnya tentu akan sakit hati dan membencinya.

    Berburuk sangka atau su’uzhan akan membuat hati kita capek dan busuk. Kita tahu bahwa prasangka-prasangka buruk akan memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Selain merusak hati su’uzhan juga akan melenyapkan kebahagiaan, merusak akhlak dan akan menodai kedudukan kita di sisi Allah. Jika kita sadar bahwa su’uzhan itu buruk akibatnya, maka mengapa kita tidak berbaik sangka (husnuzhan) saja kepada orang lain?

    Saat kita mengucapkan salam pada orang lain, kemudian tidak mendapat jawaban sedikit pun, maka cobalah untuk berbaik sangka. Siapa tahu orang yang kita salami tidak mendengar suara kita atau mungkin saja ia tengah konsentrasi berdzikir pada Allah. Biasakanlah kita melatih diri untuk mencari seribu satu alasan positif agar dapat memaklumi orang lain. Respons positif kita bisa dijadikan salah satu cara untuk menghindari kebiasaan ber-su’uzhan.

    Orang yang gemar berburuk sangka, maka akan menderita sendiri. Hidupnya akan sempit, sesempit gelas yang terisi air. Kalau dimasukkan ke dalamnya sesendok garam saja, maka akan terasa asin seluruh airnya. Berbeda dengan danau, walaupun dimasukkan sekarung garam, maka airnya tidak akan menjadi asin, sebab airnya melimpah. Demikian juga hati kita, jika hati kita sempit sesempit gelas maka sedikit saja masalah akan membuat hati kita sakit. Dan bila hati sudah sakit maka apa pun yang terjadi, akan terlihat buruk oleh mata kita. Maka jika kita gemar berbaik sangka (husnuzhan), insya Allah hidup akan terasa tenang dan lapang.

    Lingkungan juga dapat membentuk akhlak seseorang. Lingkungan orang-orang beriman dan terpuji akhlaknya, insya Allah akan menghindarkan diri kita dari berburuk sangka. Ketika ada orang tak dikenal datang ke rumah kita, jangan langsung su’uzhan. Tapi juga jangan sampai hilang kewaspadaan, waspada tetap dibutuhkan di samping kewajiban kita berbaik sangka. Kita kenali yang mendatangi rumah kita, maka jangan langsung kita su’uzhan terlebih dahulu. Tapi, tidak ada salahnya kalau kita selalu waspada agar dapat mengendalikan keadaan dengan tepat.

    Belajar untuk mencari seribu satu alasan sebagai jawaban dari berbagai permasalahan dapat menjadikan kita selalu husnuzhan dengan tepat. Jangan sampai kita berbaik sangka pada para penjahat. Bisa-bisa, sebelum kita menyadarinya ternyata kita telah menjadi korban kejahatannya. Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau kita berbaik sangka pada maling. Ber-husnuzhan juga ada ilmunya, jangan sampai kita tertipu karena telah ber-husnuzhan pada orang yang tidak tepat. Ber-husnuzhan lah pada orang beriman dan akhlaknya mulia. Dan biasakanlah untuk selalu dapat memaklumi sikap orang lain dan tetap harus waspada.

    Selain menghindari su’uzhan, Allah mengajarkan hamba-Nya melalui Rasulullah SAW untuk tidak ber-tajassus (mencari-cari aib orang lain) dan ber-ghibah (menceritakan aib orang lain). Dua hal buruk ini sangat akrab sekali dalam kehidupan manusia. Kadang malah bisa menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

    Ghibah adalah menyebut-nyebut seseorang tentang hal-hal yang tidak ia sukai dan tanpa sepengetahuannya. Ghibah itu dimisalkan dengan memakan daging bangkai, sebab dengan ber-ghibah berarti kita telah merobek-robek kehormatan pribadi dan orang lain yang serupa dengan merobek-robek dan memakan daging yang sudah menjadi bangkai. Lebih dari itu, ayat dari surat al Hujuraat sebagaimana tersebut di atas, menganggap bahwa daging yang dimakan itu adalah daging saudara sendiri yang telah mati, sebagai gambaran betapa kejinya perbuatan seperti itu yang dianggap menjijikan oleh perasaan orang lain.

    Saudaraku, apabila kita terlanjur ber-su’uzhan, tajassus, dan ghibah, maka wajiblah bagi kita untuk bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya. Ketika perbuatan dosa itu kita lakukan, maka secara langsung kita harus bertaubat, yaitu dengan cara berhenti dari perbuatan dosa dan menyesal atas keterlanjurannya serta bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang sudah terlanjur dilakukan itu.

    Selain bertaubat, kita harus meminta maaf pada orang yang telah kita sakiti dengan su’uzhan, tajassus, dan ghibah yang telah kita lakukan. Jika kita tidak sempat meminta maaf padanya karena ia telah tiada, maka doakanlah kebaikan bagi diri dan keluarganya. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah mengampuni dosa yang telah kita perbuat dan tentu saja kita berharap menjadi golongan orang-orang yang bertakwa. Wallahu a’lam.

    ***

    (KH Abdullah Gymnastiar )

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 13 December 2012 Permalink | Balas  

    Semangat Sebagai Kunci Kebahagiaan Opsi

    Oleh : Aa Gym

    Bismillahirahmanirrahim

    Kepribadian manusia sangat tergantung kepada suasana hati yang dipengaruhi pikiran. Seumpama teko, ia hanya mengeluarkan isinya. Bila isinya teh, maka yang keluar pun teh. Kalau isinya air bening, maka teko itu pun hanya mengeluarkan air bening.

    Demikian halnya dengan kepribadian seseorang. Bila hatinya sedang diliputi kegembiraan, maka terpancarlah rasa sukacita itu dari raut wajah, tutur kata gerak-gerik, dan perilaku fisik lainnya. Sebaliknya, hati yang sedih sebagai buah dari pikiran yang kusut. Tercermin pulalah dalam penampilan, tatapan mata, desahan nafas, raut wajah, atau kelesuan tubuhnya.

    Memang, tubuh hanyalah alat ekspresi dari kondisi hati. Sehingga, Rosulullah saw. pernah bersabda, “Di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau daging itu baik, maka baik pula tubuhnya, tetapi kalau daging itu buruk, maka buruklah seluruh sikapnya. Ia adalah hati.”

    Oleh karena itu, sekiranya dalam mengarungi hidup ini kita merasa kurang berprestasi, kurang berkualitas, atau jemu dan tidak bergairah dalam menghadapi hari demi hari, sehingga kehadiran kita kurang memiliki arti, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan, maka ketahuilah bahwa semua itu sama sekali bukan disebabkan oleh adanya kesulitan-kesulitan yang menghimpit, melainkan lantaran kurang terampilnya kita dalam mengelola suasana hati, sehingga menjadi tidak sanggup memompa dan membakar semangat. Padahal, bukankah semua bahan bakunya telah disiapkan oleh Allah yang Maha Rahman secara adil dan sempurna, di dalam diri kita sendiri?

    “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk,” demikian firman-Nya. Jadi, tidak ada kekurangan menurut ilmu Allah. Diri kita sudah disiapkan dengan sempurna untuk menjadi diri sendiri, yang memiliki potensi sama untuk meraih kualitas pribadi terbaik yang berhak mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Jadi, tidak ada kekurangan menurut ilmu Allah. Diri kita sudah disiapkan dengan sempurna untuk menjadi diri sendiri, yang memiliki potensi sama untuk meraih kualitas pribadi terbaik yang berhak mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Sungguhpun kita dapati beberapa kekurangan menempel pada tubuh ini, sesungguhnya kekurangan lahir itu amatlah semu. Dan itupun semata-mata didasarkan atas penilaian kita saja yang sudah pasti senantiasa diselimuti hawa nafsu. Sesungguhnya kekurangan-kekurangan yang Dia berikan pada jasad (lahir) ini merupakan alat yang amat potensial untuk mengembangkan kualitas hati.

    Bahwa justru dengan kekurangan yang ada, hati menjadi terlindung dari riya, sum’ah, dan takabur, sehingga menjadi terlatih untuk selalu ridha dan sabar. Bukankah bersikap sabar itu lebih sulit dan berat ketika mendapatkan nikmat ketimbang saat didera musibah? Disamping itu, hati pun niscaya akan terlatih menjadi ahli syukur karena ternyata musibah kekurangan yang ada itu pasti teramat kecil dibandingkan dengan nikmat kesempurnaan lainnya yang melimpah ruah.

    Walhasil, bila kekurangan itu membuat kita menjadi minder (rendah diri), pemalu, kecewa, atau bahkan putus asa, maka jelaslah semua ini karena diciptakan oleh perasaan sendiri sebagai akibat salah mengatur suasana hati. Sehingga, tidak hanya akan merugikan diri sendiri, tetapi bukan tidak mungkin orang lain pun ikut terkena getahnya.

    Maka, mengantisipasi kondisi semacam ini, kuncinya hanya satu: kesadaran penuh bahwa hidup didunia ini hanya mampir sebentar saja karena memang bukan disinilah tempat kita yang sebenarnya. Asal usul kita adalah dari surga dan tempat itu yang memang layak bagi kita. Jika berminat dan bersungguh-sungguh berjuang untuk mendapatkannya, maka Allah pun sebenarnya sangat ingin membantu kita untuk kembali ke surga.

    Bukalah kitabullah Al-Qur’an dan lihatlah janji-janji yang difirmankanNya. Betapa banyak amalan yang amat kecil dan sederhana bisa membuat dosa kita diampuni dan diberi pahala berlipat ganda.

    Sahabat, kita memang harus bertindak cermat agar “sang umur”, sebagai modal hidup kita, benar-benar efektif dan termanfaatkan dengan baik. Sebab, bisa jadi kita tak lama lagi hidup di dunia ini. Akankah sisa umur ini kita habiskan dengan kesengsaraan dan kecemasan padahal semua itu sama sekali tidak mengubah apapun, kecuali hanya menambah tersiksanya hidup kita? Tidak!, sudah terlalu lama kita menyengsarakan diri. Harus kita manfaatkan sisa umur ini dengan sebaik-baiknya agar mendapat kebahagiaan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

    Kebanyakan kita suka tenggelam dalam kesengsaraan, persis seperti kapal selam yang bocor, semakin banyak bocornya, semakin cepat pula tenggelamnya. Sepertinya kita ini adalah orang-orang yang tidak dapat mengatur pikiran dengan baik. Kerap terhantui oleh masa lalu, berangan-angan dan cemas akan hari esok, semua itu membanjiri dan menenggelamkan pikiran, sehingga tak sempat lagi berfikir banyak untuk hari ini. Padahal, hari kita justru hari ini.

    Sekiranya masa lalu kita buruk dan kurang sukses, justru akan menjadi baik dengan baiknya hari ini. Begitupun jika kita merindukan hari esok yang baik, maka kita peroleh dengan berlaku semaksimal mugkin pada hari ini. Sekali lagi, hari milik kita adalah hari ini. Maka, kita buat sukses dengan gemilang. Apa yang terjadi di masa lalu adalah bahan pendorong untuk hari ini. Bergelimang dosa pada hari yang lalu menjadi pemicu untuk bertaubat pada hari ini. Janganlah pikiran kita dipenuhi dengan ingatan akan banyaknya dosa, namun penuhilah dengan pikiran tentang bagaimana caranya agar memperoleh ampunan dari Allah pada hari ini.

    Karenanya, gelorakan semangat untuk bertaubat sesempurna mungkin. Kelemahan dan kegagalan masa lalu tidak usah menjadi buah fikiran berlama-lama. Kuasailah pikiran dengan baik dan kerahkan seoptimal mungkin agar memperoleh kesuksessan dan kebahagiaan pada hari ini.

    Bila air dari gelas tumpah, apalah perlunya pikiran dan hati tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan berlarut-larut. Biarlah semuanya terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Kuatkan pikiran kita untuk mencari air yang baru. Dengan demikian, Insya Allah tumpahnya air akan menjadi keuntungan karena kita mendapatkan pahala sabar serta pahala ikhtiar.

    Dan yang terlebih penting lagi, kita akan dilimpahi aneka nikmat baru yang lebih besar karena kita telah menjadi ahli syukur nikmat. Bukankah Allah Azza wa Jalla telah berjanji, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim (140):7)

    Jadi, jangan pikiran kita terjerat oleh rasa malu. Kemarin jelek, maka hari ini harus bagus, sehingga hari esok pun menjadi cerlang cemerlang!. Aturlah pikiran kita dengan baik dan cegahlah dari hal-hal yang dapat merusak suasana hari ini. Kondisikan agar kita selalu mampu berpikir positif.

    Mengapa kita harus gelisah memikirkan nikmat yang belum tampak? Padahal, semua yang kita inginkan mutlak kuncinya adalah qudrah dan iradah Allah. Dan Dia sangat memperhatikan perilaku kita setiap saat. Sekiranya Allah, tidak menghendaki, maka tidak akan pernah terjadi apapun jua. Namun sekiranya Dia menhendaki sesuatu, maka tiada sesuatu pun yang dapat menolaknya.

    Allah berfirman, “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya, kecuali Dia. Dan jika Allah menhendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus (10) : 107)

    Tegasnya, siapapun yang memiliki cita-cita luhur, yakinlah bahwa hari ini adalah kunci untuk hari esok. Sekiranya Allah menyaksikan hari ini penuh dengan perjuangan dan pengabdian yang gigih, sarat semangat dan gairah hidup, shalat tepat waktu dan khusyuk, bibir dilimpahi dengan bacaan Qur’an dan dzikir, kerap berbuat kebaikan pada sesama, maka niscaya Dia akan membukakan jalan bagi kesuksessan hidup kita.

    Semoga Allah menggolongkan kita menjadi hamba-hambanya yang penuh semangat dan gairah hidup untuk menyempurnakan ikhtiar di jalan yang diridhai-Nya, sehingga singkat di dunia benar-benar penuh kesan dan arti.

    ***

    Rangkuman Pengajian MMQ Humas DT Jakarta

    dtjakarta.or.id

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 9 December 2012 Permalink | Balas  

    Kebaikan Yang Indah

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa,”Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab,” Kebaikan.” [An Nahl; 16:30]

    Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta tolong pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.

    Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.

    Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya, “Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu.”

    “Oh, tidak,” jawab tetangganya. “Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui.”

    Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan(disediakan) kebaikan dan tambahan (ridha Allah) serta muka-muka mereka tidak tertutup oleh kehitaman dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah ahli surga yang mereka kekal di dalamnya [Yuunus; 10:26]

    ***

    Sumber: Editor Rekan Kantor

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 8 December 2012 Permalink | Balas  

    Taubat Pembersih Qolbu 

    Oleh: Ningrum M.

    Bismillahirrahmanirrahimm

    Suatu kehidupan sampai akhir hayat pastinya tidak akan sepi dari suasana  hati terhadap suasana hati yang gembira hari ini besok sedih. Baru gembira  menit berikut bisa sedih. Kenapa? Jadi sampai akhir hayat kita tidak akan  berhenti bertemu dengan dua hal yang kontras. Sebentar sedih,  setelah itu  gembira,  setelah gembira setelah itu sedih,  saat ini bahagia besok kena  fitnah.

    “Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang  menyucikan diri” ( Qs. Al-Baqarah:222)

    Bagaimana Taubat sebagai pembersih Qolbu ? Kalau qolbu kita bisa bersih  dialah yang bakal membawa kita menuju kepada ketenangan, tapi kalau qolbu  kita banyak polkadotnya (titik-titiknya) itu yang susah terijabah, itu yang  susah bawaannya ngotot dan emosi. Yang kita inginkan adalah hati yang  bersih, kalau hati kita hitam harus dibersihkan dengan taubat dan istighfar  sehingga lama kelamaan hitamnya akan hilang, kita berharap dengan  riyadhohnya akan tertetes jiwa Allah dalam hati kita.

    Bertaubatlah kepada Allah setiap waktu karena itu dianjurkan oleh Allah SWT  sebagaimana firman-Nya dalam QS An-Nuur ayat 31 “Bertaubatlah kalian semua  kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung”. Mau  menjadi untung atau rugi, kita lah yang memilih. Taubat merupakan sarana  yang mengatar hamba menjadi kekasih Allah, artinya jangan berjalan selain  bersama Allah.

    Rasulullah SAW bersabda :”Kadangkala timbul perasaan dalam hatiku maka aku  beristighfar memohon ampun kepada Allah 100 kali”. Beda sekali dengan kita  istighfar kita itu kejar setoran, maksudnya, kalau mau istighfar itu  menggugurkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita maka istighfarnya  tembakkan kepada kesalahan yang kita tuju. Mudah-mudahan istighfar kita yang  100 hanya membersihkan kesalahan kita yang hanya 10, sehingga kita surplus  90, ini namanya istighfar  kita adalah berkualitas. Jadi terjawab mengapa  istighfar 100 kali tapi masih jutek? karena tidak yakin Allah menghapus  noda-noda yang membekas.

    Oleh karena itu, usahakan untuk senantiasa bertafakaur sepanjang hidupmu.  Renungkan apa yang telah engkau perbuat setiap hari? Apa yang telah engkau  perbuat di siang hari? jika engkau melakukannya dalam ketaatan maka  bersyukurlah dan sebaliknya maka bersegeralah menuju ampunannya. Jangan  menyesali diri dengan tertawa bahagia, tapi sesalilah dengan jujur,  kekecewaan, penyesalan yang mendalam. Jadi kalau kita ingin dipandang oleh  Allah dari Arsy’-Nya dengan penuh cinta, maka tafakurilah segala sesuatu  yang salah kemudian bergegaslah untuk beristighfar. Namun kalau dia tidak  menyesali maka merugilah ia. Efeknya dari ini adalah Allah akan menggantikan  kesedihan dengan keceriaan, kehinaan dengan kemulyaan, kegelapan dengan  cahaya dan ketertutupan dengan ketersingkapan yang ada. Inilah reward dari  Allah, barang siapa yang  melakukan kesalahan hendaknya dia bergegas  beristighfar, bukankah ini yang kita impikan suatu kepribadian yang  bercahaya  sebagai muslimah, sesuatu kesedihan menjadi kesenangan, bukankah  ini yang kita impikan suatu kepribadian yang penuh cahaya sehingga terbuka  cahaya pikir.

    Allah SWT tidak akan menghitung-hitung kesalahan hamba-Nya, ia paham bahwa  hambanya akan segera beristighfar, betapa pentingnya suatu instropeksi diri  pada setiap waktu, bukan hanya pada saat ulang tahun. Justru dari sholat ke  sholat kita harus beristighfar yang dapat menghapus kesalahan-kesalahan  kita. Seorang ahli tafakur dia akan senantiasa peka terhadap kesalahannya  artinya dia tidak ingin terperangkap kedalam lubang yang kedua kalinya.  Tentu dia akan tegap lagi, menginginkan kasih sayang Allah.

    Oleh karena itu hendaknya engkau tujukan semua amal perbuatanmu untuk Allah,  barang siapa amal perbuatannya jatuh kedalam dosa maka qolbunya akan menjadi  gelap gulita. Kalau kita senantiasa melakukan kesalahan tetapi Allah tetap  saja mengaruniakan kepada kita rizki yang berlimpah itu berarti kasih sayang  Allah lebih utama dibanding murka Allah kepada kita.

    Jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT  karena kita tidak akan pernah luput dari pengawasan dan perlindunganNya.  Berbuat kesalahan itu ibarat api sementara kegelapan adalah asapnya, jadi  seperti orang yang menyalakan perapian dirumah selama 70 tahun bukankah  rumah tsb akan gelap. Inilah perwujudan orang-orang yang salah. Ia baru  menjadi bersih dengan taubat kepada Allah, jika engkau bertaubat kepada  Allah bekas-bekas salah tersebut bisa menjadi sirna. Ketahuilah bahwa taubat  adalah terminal pertama, segala bentuk ibadah akan diterima Allah jika  didahuli dengan niat.

    Kedaan hamba yang melakukan salah sama seperti periuk besi diatas api,  semakin lama semakin menghitam warnanya, kalau kita ingat salah ingat priuk  jangan ingat wajah cantik, tidak kelihatan nanti salahnya, walaupun dicuci  ia tidak akan kembali. Setiap mukmin jika melakukan kesalahan maka akan  timbul bintik hitam pada qolbunya, jika ia bertaubat, beristighfar memohon  ampunan maka bintik hitam tadi akan terhapus. Nah, istighfar yang baik  adalah bukan istighfar yang kejar setoran., tetapi salah mana yang akan kita  tuju. Taubatlah yang bisa mencuci hitamnya qolbu sehingga amal-amal saleh  bisa tampak terang diterima oleh Allah SWT. Jika ini bisa dilakukan maka  hidup akan menjadi lebih baik. Sebab taubat merupakan karunia menjadi lebih  baik, yang diberikan kepada hambanya yang dikehendaki. Kadang kala seorang  budak yang kurus berhasil melakukan taubat tetapi majikannya tidak, mungkin  pembantu kita jauh lebih mulia daripada kita. Nur nya lebih bercahaya  daripada kita.

    Jadi orang-orang yang suka bertaubat, disini Allah memposisikan diri-Nya  sebagai orang yang mencintai hambanya  bukan sebagai yang dicintai.  Bayangkan Allah yang mencintai, Ya Allah cintailah aku, berikanlah aku cinta  yang bisa mendekatkan aku kepadaMu, Ikrar ingin dicintai Allah adalah  resikonya siap atau tidak kita untuk mendahulukan Allah dan berserah diri.  Orang yang merasa senang dengan sesuatu itu jika mengetahui kadar dan nilai  sesuatu itu, jika engkau menebarkan intan permata maka  kepada binatang  melata niscaya mereka lebih menyenangi gandum, artinya termasuk kelompok  manakah kita ini? Jika kita orang yang bertaubat berarti kita termasuk orang  yang dicintai Allah, tetapi jika tidak kita termasuk orang yang zhalim.

    Bagi kita yang mempunyai salah menumpuk jangan berputus asa terhadap rahmat  Allah SWT dengan berkata sudah berapa kali aku bertaubat dan menyesal. Kalau  hati ingin terawat bersih maka harus dirawat dengan ibadah yang baik dengan  kalimah Allah, kerja yang prestasi di jalan yang lurus. Boleh jadi solehah  yang gaul.

    Suatu ketika Syeikh Abu Hasan As-Sadjili bercerita, aku pernah ditegur  “Wahai Ali bersihkanlah bajumu dengan pertolongan Allah, pastilah ia akan  selalu terpelihara” “bajuku yang mana? Allah telah memberimu pakaian  ma’rifat yaitu tauhiid, lalu pakaian mahabbah yaitu cinta kepada Allah,  kemudian pakaian islam, siapa yang mengenal Allah yang lain tidak berarti  baginya. Barang siapa orang-orang yang bersama-Ku maka Aku cintai. Jadi,  kalau masih marah, masih tidak sabar, berarti Allah belum berada di dalam  jiwanya. Apa salahnya? ingat-ingat lagi apakah kesalahan yang telah kita  lakukan kepada Allah SWT, kemudian bertaubatlah..

    ***

    dtjakarta.or.id

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 1 December 2012 Permalink | Balas  

    Shadaqah Menyembuhkan Penyakit

    Di antara problematika kehidupan yang banyak dihadapi manusia adalah ditimpa berbagai macam penyakit, baik jasmani maupun rohani. Dan untuk mengobati penyakit, beragam ikhtiar dan usaha dilakukan oleh manusia. Ada di antara manusia yang menyalahi syari’at Islam dalam melakukan ikhtiar, seperti mendatangi dukun, orang pintar dan paranormal. Namun banyak juga yang sadar tentang bahaya perdukunan, sehingga mereka pun berusaha mencari pengobatan dengan cara yang sesuai dengan syari’at Islam, seperti mendatangi dokter, berbekam, mengonsumsi habbatus sauda’ (jinten hitam) dan madu, atau dengan cara ruqyah syar’iyyah.

    Dalam tulisan kali ini akan dibahas tentang salah satu sebab syar’i untuk memperoleh kesembuhan, simak dan resapilah nasehat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau telah bersabda, “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan ber-shadaqah.” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih al-Jami’)

    Cobalah iringi ikhtiar dan usaha yang kita lakukan secara syar’i dalam mencari kesembuhan dengan bershadaqah dan tanamkanlah niat shadaqah tersebut di dalam hati kita agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan penyakit yang sedang menimpa kita.

    Sebab-Sebab Syar’i untuk Memperoleh Kesembuhan

    Pertama: Melakukan ikhtiar secara Islami dan jangan melakukan ikhtiar yang terlarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah yang menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah kalian tapi jangan berobat dengan cara yang diharamkan” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)

    Kedua: Meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah subhanahu wata’ala adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Menyembuhkan, sedangkan makhluk yang terlibat proses pengobatan seperti dokter, tabib, obat-obatan dan hal-hal yang terkait lainnya, itu semua hanyalah sarana menuju kesembuhan, dan buanglah sejauh mungkin keyakinan-keyakinan dan ungkapan-ungkapan yang menyimpang dari aqidah tauhid, seperti seseorang mengungkapkan perkataan setelah memperoleh kesembuhan, “Dokter Fulan memang hebat, obat itu memang manjur,” dan ungkapan-ungkapan keliru lainnya.

    Ke tiga: Dekatkan diri dan tingkatkan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata’ala, serta mohonlah kepada-Nya ampunan atas dosa-dosa yang kita perbuat, karena salah satu hikmah Allah subhanahu wata’ala menurunkan penyakit pada diri kita adalah agar kita kembali ke jalan-Nya.

    Ke empat: Bertawakkallah kepada-Nya dan berdo’alah selalu kepada Allah subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Menyembuhkan segala penyakit, agar penyakit segera diangkat dari diri kita dan janganah bosan untuk berdo’a, sebab kita tidak tahu kapan Dia menjawab do’a kita. Perhatikan sebab-sebab terkabulnya do’a serta penuhi syarat-syaratnya.

    Ke lima: Bershadaqahlah semampu kita karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan kesembuhan melalui shadaqah, dan tepislah jauh-jauh anggapan bahwa bershadaqah itu mengurangi harta kita, justru Allah subhanahu wata’ala akan melipatgandakan harta kita. Dan niatkanlah shadaqah untuk memperoleh kesembuhan dari Allah subhanahu wata’ala.

    Ke enam: Yakini dan tanamkan keyakin-an sedalam-dalamnya bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkan penyakit kita.

    Kisah-Kisah Nyata Orang Sembuh Setelah Bershadaqah

    Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij berkata, “Wahai saudaraku yang sedang sakit, shadaqah yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah shadaqah yang diniatkan untuk memperoleh kesembuhan, boleh jadi anda telah banyak melakukan shadaqah, tetapi hal itu tidak anda lakukan dengan niat untuk mendapatkan kesembuhan dari Allah subhanahu wata’ala, oleh karena itu coba anda lakukan sekarang dan tumbuhkanlah kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkan diri anda. Isilah perut para fakir miskin hingga kenyang, atau santunilah anak yatim, atau wakafkanlah harta anda, atau melakukan shadaqah jariah, karena sesungguhnya shadaqah tersebut dapat mengangkat dan menghilangkan berbagai macam penyakit dan berbagai macam musibah dan cobaan, dan hal seperti itu sudah banyak dialami oleh orang-orang yang diberi taufiq dan hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga mereka memperoleh obat penawar yang bersifat rohani (termotivasi oleh keimanan, ketaatan dan  keyakinan pada Allah subhanahu wata’ala) dan itu lebih bermanfaat daripada sekedar obat-obat biasa. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga telah melakukan pengobatan dengan metode pengobatan ruhaniyah ilahiyyah (yaitu pengobatan yang menitikberatkan pada aspek keimanan, ketaatan dan keyakinan pada Allah subhanahu wata’ala). Demikian juga dengan para generasi salafus shaleh, mereka juga selalu bershadaqah sesuai kadar sakit dan derita yang menimpa mereka, dan shadaqah yang mereka keluarkan adalah harta mereka yang sangat berkualitas. Wahai saudaraku yang sedang sakit janganlah anda bakhil terhadap diri anda sendiri, sekaranglah waktunya untuk shadaqah.” (Shifatun ‘Ilaajiyyah Tuzilu Al-Amraadh bi Al-Kulliyyah)

    Kisah Pertama: Ada seseorang bertanya kepada Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, tentang penyakit di lututnya yang telah diderita semenjak tujuh tahun. Dia telah melakukan bermacam usaha untuk mengobatinya dan telah bertanya kepada para dokter, tetapi belum merasakan hasil manfaatnya. Maka Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, berkata kepadanya, “Pergilah anda mencari sumber air dan galilah sumur di situ karena orang-orang membutuh-kan air! Aku berharap ada air yang memancar di situ, maka orang itu pun melakukan apa yang disarankan oleh beliau, lalu dia pun sembuh.” (Kisah ini dikutip dari Shahih At-Targhib)

    Kisah Ke dua: Ada seseorang yang diserang penyakit kanker. Dia sudah keliling dunia untuk mengobati penya-kitnya, tetapi belum memperoleh kesembuhan. Akhirnya dia pun bershadaqah kepada seorang ibu yang memelihara anak yatim, maka melalui hal itu Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan dia.

    Kisah Ke tiga: Kisah ini langsung diceritakan oleh orang yang menga-laminya kepada Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij, Dia berkata kepada beliau, “Saya mem-punyai seorang putri balita yang menderita suatu penyakit di sekitar tenggorokannya. Saya telah keluar masuk ke beberapa rumah sakit dan sudah konsultasi dengan banyak dokter, namun tidak ada hasil apa pun yang dirasakan. Sedangkan penyakit putriku tersebut semakin memburuk, bahkan untuk menghadapi penyakitnya tersebut, hampir-hampir saya ini yang jatuh sakit dan perhatian seluruh anggota keluarga tersita untuk mengurusinya. Dan yang bisa kami lakukan hanya memberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya saja. Kalaulah bukan karena rahmat Allah subhanahu wata’ala rasa-rasanya kami sudah putus asa olehnya. Namun apa yang di angan-angankan itu pun datang dan terkuaklah pintu kesulitan yang kami alami selama ini. Suatu hari ada seorang yang shalih menghubungiku lewat telephon lalu menyampaikan hadits Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam, “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bershadaqah.” Saya katakan kepada orang shalih tersebut, sungguh saya sudah banyak bershodaqoh! Lalu kata beliau kepadaku, “Bershadaqahlah kali ini dengan niat agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan putrimu. Mendengar hal itu saya langsung mengeluarkan shadaqah yang sangat sederhana kepada seseorang yang fakir, namun belum ada perobahan pada putriku. Lalu hal itu saya sampaikan kepada orang shalih tersebut. Dia pun mengatakan kepada saya, “Anda adalah orang yang banyak dapat nikmat dan punya banyak harta. Cobalah engkau bershadaqah dalam jumlah yang lebih banyak.” Setelah mendengar itu, maka saya pun mengisi mobil saya sepenuh-penuhnya dengan beras, lauk pauk, dan bahan makanan lainnya, lalu saya bagi-bagikan langsung kepada orang-orang yang membutuh-kannya, sehingga mereka sangat senang menerimanya. Dan demi Allah (saya bersumpah) saya tidak akan lupa selama-lamanya, ketika shadaqah

    tersebut selesai saya bagi-bagikan, Alhamdulillah putriku yang sedang sakit tersebut sembuh dengan sempurna. Maka saat itu saya pun menyakini bahwa di antara sebab-sebab syar’i yang paling utama untuk meraih kesembuhan adalah shadaqah. Dan sekarang atas berkat karunia dari Allah subhanahu wata’ala putriku tersebut telah tiga tahun tidak mengalami sakit apa pun, Dan mulai saat itulah saya banyak-banyak mengeluarkan shodaqoh terutama mewakafkan harta saya pada hal-hal yang baik, dan (Alhamdulillah) setiap hari saya merasakan nikmat dan kesehatan pada diri saya sendiri maupun pada keluarga saya serta saya juga merasakan keberkahan pada harta saya. (Isnen Azhar)

    ***

    Sumber: alsofwah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 30 November 2012 Permalink | Balas  

    Bertuhan Kepada Siapa?

    Kepada siapakah manusia mesti bertuhan? Semuanya sangat bergantung pada kecerdasan akalnya. Apakah dia bisa menemukan Tuhan yang paling Perkasa atau tidak. Apakah dia bisa menemukan Tuhan yang Paling Baik ataukah tidak. Apakah dia bisa bertemu Tuhan yang Paling Besar di antara segala eksistensi alam semesta ataukah tidak.

    Banyak orang memilih Tuhan yang begitu sepele dan lemah. Misalnya, berupa kalung azimat. Atau, patung sesembahan. Atau, Dewi Keberuntungan. Atau, bahkan dirinya sendiri yang dijadikan Tuhan. Kita bisa berdiskusi panjang untuk menunjukkan betapa lemah dan sepelenya Tuhan-Tuhan yang mereka pilih itu. Dan sungguh tidak pantas menjadi Tuhan bagi orang-orang yang memiliki akal dan kecerdasan cukup baik. Apalagi kecerdasan tinggi.

    Seseorang yang memiliki kecerdasan cukup baik, pasti akan memilih Tuhan yang layak dijadikan tempat bergantung. Bukan Tuhan yang ‘tidak layak’, yang justru bergantung kepada kita. Tuhan yang ‘memberikan manfaat’ ketika disembah. Bukan Tuhan yang justru ‘memanfaatkan’ kita, atau kita yang memberikan manfaat kepada dia. Tuhan yang jauh lebih Perkasa dari kita, Bukan Tuhan yang kalah perkasa oleh kita. Tuhan yang mampu memberikan pertolongan ketika kita butuhkan, bukan Tuhan yang justru membutuhkan pertolongan kita.

    Sayangnya banyak manusia tidak melakukan pemikiran seperti itu di dalam mencari Tuhan yang pantas dia ‘sembah’ dan agung-agungkan. Entahlah, kenapa banyak manusia lebih suka bertuhan secara untung-untungan, ikut-ikutan, menduga-duga, dan bahkan asal-asalan.

    Jarang yang sengaja melakukan pencarian dengan melewati pemikiran panjang yang terstruktur dengan baik. Sehingga dia memperoleh kesimpulan meyakinkan, yang bisa dipertanggung jawabkan.

    Saya lebih suka melakukan pendekatan yang terakhir ini, dalam mencari Tuhan. Saya juga tidak mau sekadar ikut-ikutan dalam bertuhan. Sebab, semua akibatnya adalah saya sendiri yang menanggungnya. Bahagia maupun derita. Dunia maupun akhirat.

    Kepada siapakah kita sebaiknya bertuhan? Tentu pertanyaan ini sangat relevan untuk diajukan kepada siapa pun. Termasuk kepada saya dan Anda. Ya, cobalah Anda pikirkan jawabannya. Menurut Anda, kepada siapakah Anda ingin bertuhan?

    Kepada ‘sesuatu’ yang lemah ataukah yang kuat dan perkasa? Pasti Anda akan menjawabnya: ya, pastilah kepada yang kuat dan perkasa. Masa iya, kita mau bertuhan kepada yang lemah?!

    Kepada siapakah Anda ingin bertuhan, kepada yang pintar ataukah yang bodoh? Pastilah juga Anda akan menjawab: tentu saja kepada yang pintar bahkan sangat pintar!! Tahu segala macam sehingga bisa menjadi tempat bertanya dan berkonsultasi!

    Kepada siapakah juga Anda ingin bertuhan, kepada yang besar ataukah yang kecil? Tentu pula Anda akan menjawab: saya kira kita semua ingin bertuhan kepada sesuatu yang besar Jauh lebih besar dari kita. Bahkan sangat besar, sehingga lebih besar dari apa pun yang pernah kita pahami!

    Kepada siapakah Anda ingin bertuhan, kepada yang suka ngasih rezeki atau yang malah moroti rezeki kita? Sudah juga bisa dipastikan, bahwa Anda akan bertuhan kepada yang suka ngasih rezeki.

    Dan seterusnya. Dan seterusnya. Anda bisa menginventarisasi spesifikasi Tuhan yang Anda inginkan, beratus-ratus spesifikasi lagi.

    Tapi intinya, pasti Anda ingin memiliki Tuhan yang bisa dibanggakan. Tuhan yang bisa dijadikan tempat bergantung ketika butuh pertolongan. Tuhan yang bisa ngajari ilmu pengetahuan dan kepahaman tentang segala sesuatu. Tuhan yang selalu menjaga kesehatan kita dan selalu mencukupi kebutuhan hidup kita. Ya, Tuhan yang menyayangi dan sekaligus ‘menarik’ untuk kita cintai dan kita sayangi.

    Pokoknya Tuhan yang banyak memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada kita! Bukan Tuhan yang menyusahkan kita. Anda setuju??! Sudah pasti setuju. Karena, saya juga ingin bertuhan kepada Tuhan yang demikian itu.

    Bahkan saya juga ingin Tuhan itu begitu dekatnya dengan saya, sehingga dimana pun dan kapan pun saya memerlukan pertolonganNya, saya bisa langsung bertemu denganNya. Dan pasti, DIA mengabulkan permintaan-permintaan kita dengan penuh kasih sayang.

    Bukan Tuhan yang begitu jauh dan tak jelas ‘keberadaannya” sehingga sulit dihubungi. Apalagi, Tuhan yang cuek terhadap kita. Tentu tidak masuk dalam kriteria Tuhan yang kita inginkan. Dan, sulit untuk menjadi klangenan kita, alias menjadi yang selalu kita rindukan.

    Ya, ringkas kata, tuhan yang pantas dijadikan Tuhan adalah DIA yang penuh perhatian kepada kita, sebagai hambaNya. Tuhan yang tidak membutuhkan kita untuk membangun kepentinganNya, tapi justru DIA menjadi kebutuhan kita, dan selalu memenuhi kepentingan kita. Tuhan yang ‘menguntungkan’ untuk disembah dan dijadikan pusat dari segala orientasi kehidupan kita!

    Wah, adakah eksistensi yang bisa memenuhi spesifikasi yang berat itu? Benarkah ada ‘Sosok Sempurna’ yang demikian hebat? Itulah yang mesti kita cari, kalau kita memang membutuhkan Tuhan dalam kehidupan kita. (Tapi, sebagaimana telah kita bahas di depan, kenyataannya manusia selalu butuh Tuhan, bukan?!)

    Kalau Anda tanya saya, pasti saya katakan dengan sejujurnya bahwa saya butuh Tuhan! Sebab saya sangat menyadari betapa ternyata saya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Sehingga kalau saya hidup di atas kekuatan saya sendiri sepenuhnya, saya bakal menemui banyak problem yang tidak terselesaikan.

    Saya bakal mengalami stress berkepanjangan, karena saya sangat menyadari ternyata begitu banyaknya persoalan dalam hidup ini yang berada di luar kemampuan saya. Meskipun beberapa kawan mengatakan bahwa saya ini termasuk orang yang tidak bodoh-bodoh banget, punya wawasan dan skill lumayan, kemampuan manajerial yang cukup, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi, itu kan pandangan orang luar.

    Saya sangat tahu diri saya. Bahwa saya seringkali menjadi demikian bodoh dalam menghadapi banyak persoalan. Apalagi yang berat-berat dan di luar dugaan.

    Saya juga sering mengalami stress, ketika tidak mampu mencapai sasaran-sasaran pekerjaan saya. Dan tidak jarang, itu menjadi stress berkepanjangan yang sangat menekan jiwa.

    Dulu, saya juga suka khawatir terhadap rezeki. Bukan ketika sedang lapang. Tapi ketika sedang terjepit. Saya tak jarang, juga risau dengan kesehatan.

    Lebih gelisah lagi, kalau saya ingat usia. Saya sedang antri menuju kematian. Sementara saya tidak tahu ada apakah di balik kematian itu?! Saya menjadi sangat ngeri terhadap kematian. Cerita-cerita mistis di sekitar saya menjadi penambah kegelisahan.

    Dan seterusnya. Dan seterusnya. Puluhan, atau mungkin ratusan daftar kelemahan, kekhawatiran, kegelisahan, dan problem saling silang dalam kehidupan saya.

    Saya butuh ‘Teman’ yang kuat. Yang kalau saya perlukan, IA selalu siap menolong tanpa pamrih dan memberatkan saya. Saya juga butuh ‘Konsultan’ yang hebat, karena begitu banyak pekerjaan besar yang harus saya lakukan dan selesaikan dalam hidup ini.

    Disamping itu, saya butuh pula ‘Psikiater’ yang handal. Yang ketika saya menemui masalah, saya bisa curhat sepuas-puasnya. Didengarkan dengan penuh perhatian dan bisa memberikan solusi yang tepat dan menentramkan.

    Dalam hal rezeki, saya memerlukan ‘Partner Bisnis’ bermodal raksasa. Karena saya ingin hidup sejahtera. Begitu pula saudara-saudara saya yang butuh pertolongan bisa datang kapan saja kepada saya karena saya punya ‘backing Eyang demikian dermawan. Apalagi, saya juga ingin membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi orang-orang yang tidak beruntung, padahal mereka sebenarnya punya skill dan ingin bekerja keras dalam hidupnya.

    Ya, dan akhirnya saya butuh seorang ‘Sahabat’ yang selalu mendampingi dalam berbagai kondisi, suka dan duka, sedih dan gembira.

    Adakah ‘orang’ yang bisa memenuhi segala keinginan itu? Apakah diri saya sendiri bisa memenuhi segala yang saya sebut di atas? Saya tahu pasti jawabannya: Tidak! Apakah kawan-kawan dan orang di sekeliling saya mau memenuhi semua keinginan ‘gila’ tersebut? Pasti malah ditertawakan oleh orang sedunia!

    Kalau begitu, siapakah yang mau menjadi ‘Sahabat’ dari orang yang egois menang sendiri  seperti saya ini? Orang yang maunya cuma menerima pertolongan atas kepentingannya sendiri. Sementara itu, orang lain yang menolongnya tidak memperoleh imbalan sedikitpun dari apa yang kita minta darinya. Jawabnya cuma satu: TUHAN! Lho, Tuhan yang mana? Tuhan yang Sesungguhnya … !!

    Begitulah Al Qur’an ngajari kita. Kalau bertuhan itu mbok ya jangan kepada hal-hal yang remeh-temeh. Tapi bertuhanlah kepada yang hebat sekalian. Jangan tanggung-tanggung! Masa iya bertuhan kepada patung, kepada azimat, kepada sesama manusia, dan kepada segala sesuatu yang jelas-jelas tidak hebat dan tidak bisa menolong kita.

    QS. Ahqaf (46) : 28

    Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri, tidak dapat menolong mereka? Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.

    QS. Al A’raaf (7) : 197

    Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.”

    QS. Al Anbiyaa (21) : 43

    Atau adakah, mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri Mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?

    QS. Maryam (19) : 42

    Ingatlah ketika la (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

    Betapa telaknya Allah berfirman di dalam Al Qur’an terhadap orang-orang yang bertuhan secara tidak masuk akal. Masa iya, kita bertuhan kepada sesuatu yang tidak bisa menolong kita. Lha untuk apa kita bertuhan kepadanya.

    Wong, menolong dirinya sendiri pun tidak bisa. Ya nggak usah bertuhan aja lah! Ngrepoti! Buang- buang waktu dan energi!

    Apakah yang disebut berhala? Allah menjelaskan dalam ayatNya yang lain bahwa berhala adalah segala sesuatu selain ‘Tuhan yang Sesungguhnya’. Jadi tidak selalu berupa patung. Dalam contoh di atas, kebetulan yang dimaksud berhala adalah patung-patung yang dibuat oleh orang tua nabi Ibrahim. Hal itu dikemukakan oleh Allah dalam ayat berikut ini.

    QS. An Nisaa (4) : 117

    Yang mereka sembah selain DIA itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,

    Di era modern ini berhala bisa berarti segala macam selain Tuhan yang mendominasi hidup dan kehidupan kita. Mulai dari kesombongan terhadap diri sendiri, harta benda, kekuasaan, sampai kebergantungan kepada benda-benda supranatural atau pun mistik.

    Tapi begitulah memang cara bertuhan orang yang tidak menggunakan akal. Sekadar ikut-ikutan orang-orang di sekitarnya atau apa yang dilakukan nenek moyangnya saja.

    Al Qur’an mengkritik habis-habisan cara bertuhan yang demikian. Sebab, akan sangat mudah terjerumus kepada sesuatu yang salah. Allah telah memberikan akal kepada kita untuk menimbang dan menyeleksi informasi dari sekitar. Kita akan mempertanggung jawabkan segala keputusan itu.

    QS. Al Baqarah (2) : 170

    Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab:  ETidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”

    Sehingga dalam ayat yang lain lagi, Allah mengingatkan dengan nada ‘mengejek tapi menyadarkan’ bahwa berhala-berhala yang mereka jadikan Tuhan itu sebenarnya tidak berpengaruh apa pun bagi mereka. Sama saja mereka berdoa kepada berhala itu ataupun tidak, tidak ada dampaknya!

    QS. Al A’raaf (7) : 193

    Dan jika kamu menyerunya (berhala) untuk memberi Petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.

    QS. Ar Ra’d (13) : 14

    Hanya bagi Allah lah do’a yang benar Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.

    Kenapa Mesti Allah?

    Lantas, kalau begitu : Siapakah ‘Tuhan Sebenarnya’ yang memenuhi kriteria tersebut? Marilah kita cari bersama. Tidak sulit untuk menemukannya, karena dalam sejarah kemanusiaan kita sudah mengenal berbagai macam Tuhan, dari berbagai bangsa dan berbagai agama.

    Islam sendiri tidaklah turun di zaman rasul Muhammad saja. Melainkan sejak zaman pertama kali ada manusia, Allah telah menamakan agamaNya sebagai Islam. Dan Pemeluknya disebut sebagai musslimuun alias orang yang berserah diri. Hal itu bisa kita temukan dalam berbagai ayat Al Qur’an al Karim.

    QS. Al Baqarah : 132

    Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”

    Ayat di atas telah memberikan gambaran kepada kita bahwa sejak zaman nabi Ibrahim, beliau telah menyebut agamanya sebagai agama Islam. Padahal kita tahu, bahwa anak cucu Ibrahim inilah yang menurunkan agama-agama besar yang sekarang kita kenal, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Semua itu sebenarnya hanya berasal dari satu agama saja, yaitu agama Ibrahim, Islam.

    QS. Ali 1mran (3) : 19

    Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam, Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab Nya.

    QS. Al Hajj (22) : 78

    Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

    Ayat ini juga menegaskan bahwa sejak dulu yang namanya Agama yang turun dari Allah itu adalah Islam, yang bermakna ‘berserah diri’ kepadaNya. Bahwa kemudian ada yang mengubah nama, itu baru terjadi di kemudian hari karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan dari penganutnya. Tapi, ‘berserah diri’ menjadi makna utama dari ‘Islam’

    Bahkan, Al Qur’an juga memberikan gambaran bahwa yang disebut ‘Islam’ itu sebenarnya adalah makna universal dari sikap ‘berserah diri’. Bukan hanya sekadar atribut, simbol, dan lambang-lambang. Bukan hanya untuk manusia, tetapi semua makhluk berakal. Baik yang di langit maupun di bumi. Hal itu digambarkan dalam ayat berikut ini.

    QS. Ali Imran : 83

    Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri siapa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

    Maka, ‘Tuhan yang sebenarnya’ itu sesungguhnya adalah Tuhan yang satu. Tuhannya siapa saja. Tuhan dari semua makhluk yang berakal. Tidak ada yang berhak mengklaim bahwa Tuhan yang benar itu adalah Tuhan golongan atau kelompok tertentu.

    Selama kita mengacu kepada sifat-sifat yang benar dari Dzat ketuhanan itu, maka kita telah mengacu kepada Tuhan yang sama. Apa pun namanya. Dalam konteks Al Qur’an itulah yang kita sebut sebagai Allah.

    Akan lain halnya, ketika kita mengacu kepada substansi dan sifat-sifat yang berbeda. Tentu saja Tuhan yang kita maksudkan lantas berbeda pula. Al Qur’an sendiri menegaskan hal itu. Bahwa Tuhan para penganut Al Kitab sejak dulu kala, sesungguhnya adalah Tuhan yang sama. Dan kepadaNya sepatutnya setiap kita berserah diri. Sekali lagi, asalkan substansi sifat-sifatNya layak disebut Tuhan.

    QS. Al Ankabut : 46

    Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri”

    Ayat di atas mengingatkan kepada kita, bahwa kita dilarang ‘berdebat kusir’ dengan para penganut kitab lainnya dalam hal ketuhanan. Apalagi sampai menimbulkan pertengkaran. Yang dianjurkan adalah berdiskusi secara baik untuk mencari kebenaran. Kecuali dengan orang-orang yang memang zalim, mau menang sendiri. Percuma, tidak akan menemukan solusinya. Lebih baik hentikan saja.

    Sebenarnya ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Tuhan yang satu’ kata Al Qur’an. Dan kepadaNya kita semua berserah diri.

    Jadi persoalan pokoknya sebenarnya bukan pada nama penyebutannya, tetapi pada sifat-sifatNya. Meskipun kita menyebut nama Tuhan yang sama, tetapi sifat yang kita maksudkan berbeda, maka sesungguhnya kita telah bertuhan kepada Dzat yang berbeda. Sebaliknya, ketika kita menyebut nama yang berbeda, tetapi mengacu kepada sifat-sifatNya yang sama, maka sebenarnya kita telah menyembah kepada Tuhan yang sama.

    Sayangnya, kebanyakan manusia menyembah Tuhan yang namanya berbeda, dengan sifat yang berbeda pula. Sehingga, Tuhan yang dimaksudkan pun menjadi berbeda. Dan, ketika sifat-sifat itu tidak sesuai dengan kriteria ‘Tuhan Yang Sempurna’, maka Allah mengatakan itu sebagai ‘nama kosong’ belaka.

    QS. Yusuf (12) : 40

    Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

    QS. An Najm (53) : 23

    Itu tidak lain hanyalah nama-nama Yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuknya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan  sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

    Coba bayangkan, Allah dengah sangat tegas mengatakan, bahwa orang yang menyembah Tuhan yang karakternya tidak mengarah kepada Allah, disebutNya sebagai hanya menyembah ‘nama’. Bukan menyembah Dzat!

    Allah tidak pernah mempermasalahkan nama-nama. Karena yang lebih substansial adalah Dzat. ‘Nama’ hanyalah pepesan kosong. Dengan kata lain, Allah ingin menegaskan bahwa Tuhan di alam semesta ini tidak bisa tidak ya cuma satu saja. Apa pun namaNya, jika Ia benar-benar Tuhan, maka pasti akan mengarah kepada Dzat yang Tunggal, yaitu Allah.

    Karena itu, meskipun Allah memperkenalkan dirinya di dalam Al Qur’an ribuan kali tidak kurang dari 2500 kali namun Allah memperbolehkan kita menyebut Nya dengan nama apa saja yang kita suka, selama sesuai dengan sifat-sifatNya.

    QS. Israa'(17): 110

    Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar Rahman, Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

    Inilah yang diamalkan oleh para sufi sejak lama. Mereka lebih suka menyebut Allah dengan Huwa (DIA). Sedangkan Nama-NamaNya lebih menunjukkan Sifat-Sifat, yang seketika mengisi ‘makna’ dalam jiwa sang sufi ketika menyebut Huwa.

    Ayah saya pernah mengajarkan kepada saya, bahwa Allah hadir di setiap nafas kita. Karena itu, ‘barengilah tarikan dan hembusan nafasmu dengan kata Huwa’ dalam hati, tanpa bersuara, katanya.

    Ketika menarik nafas,’HU’ Ketika menghembuskan nafas,’WA’ ‘ Maka, keluar masuknya nafas adalah sebuah dzikir yang tiada pernah terputus. Sementara itu, batinnya langsung mengarah kepada Allah yang SATU, dengan segala Sifat Ketuhanan yang terdapat dalam Asmaaul Husna. Ada juga yang menyebut asma ‘Allah Eketika menghembuskan nafas atau menarik nafas. Hal ini sesuai dengan firman-Nya

    Ali Imron : 191.

    (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

    QS. An Nisaa’ (4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Dengan tegas Allah swt memerintahkan kita agar selalu berdzikir (mengingatNya), baik itu di waktu berdiri, duduk, maupun berbaring. Karena kelak di Yaumul Hisab Allah menghisab setiap manusia dengan sangat teliti, sehingga hembusan dan tarikan nafaspun dimintai pertanggungan jawab.

    Maka, kita melihat korelasi yang jelas antara Islam sebagai agama universal yang bermakna ‘berserah diri’ dengan Allah sebagai Tuhan yang juga universal – Tuhannya seluruh umat manusia. Bahkan Tuhan bagi segala yang ada di dalam alam semesta.

    Coba telaah kembali ayat-ayat di atas. Bahwa Islam adalah agama universal bagi siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Bagi mereka yang menggunakan akal dalam beragama. Bukan orang-orang yang sekadar ikut-ikutan, dikarenakan nenek moyang dan orang-orang di sekitarnya berlaku demikian.

    Sementara itu, Allah sebagai Tuhannya orang-orang Islam juga bersifat universal. Tuhan yang menyediakan diri menjadi Tuhan umat manusia. Bukan hanya menjadi Tuhan bagi orang-orang yang berKTP dan beratribut Islam. Puluhan ayat dalam Al Qur’an bercerita demikian. Di antaranya adalah berikut ini.

    QS. An Nas : 1 -3

    Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Rajanya manusia. Sesembahan manusia.

    QS. Al A’raaf (7) : 67

    Hud berkata: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.

    QS. Az Zumar (39) : 38

    Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Eniscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya? Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku “. Kepada Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.

    Begitulah, dengan sangat meyakinkan Allah mengatakan bahwa dirinyalah satu-satunya Tuhan alam semesta dengan segala isinya. Bukan hanya karena namaNya, melainkan karena sifat-sifatNya yang Maha Sempurna. Maha Suci dari segala kekurangan. Satu-satunya Dzat yang pantas disebut Tuhan…

    QS. At Hasyr (S9) 24

    Dia lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 29 November 2012 Permalink | Balas  

    Menit-Menit Sangat Berharga Dalam Hidup

    “Tempat mengadu, meminta, dan kembali segala urusan bagi orang beriman hanyalah Allah, Rasulullah memberitahukan menit-menit yang sangat berharga untuk menghadap dan memohon kepada Allah”

    1. Waktu sepertiga malam terakhir saat orang lain terlelap dalam tidurnya, Allah SWT berfirman:

    “….Mereka para muttaqin sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam, mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS Adz Dzariyat: 18-19).

    Rasulullah SAW bersabda: “Rabb (Tuhan) kita turun disetiap malam ke langit yang terendah, yaitu saat sepertiga malam terakhir, maka Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu maka Aku berikan kepadanya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu maka Aku ampunkan untuknya.” (HR Al Bukhari)

    Dari Amr bin Ibnu Abasah mendengar Nabi SAW bersabda: “tempat yang paling mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia dalam sujudnya dan jika ia bangun melaksanakan sholat pada sepertiga malam yang akhir. Karena itu, jika kamu mampu menjadi orang yang berzikir kepada Allah pada saat itu maka jadilah.” (HR At Tirmidzi dan Ahmad)

    2. Waktu antara adzan dan iqamah, saat menunggu shalat berjamaah

    Rasulullah SAW bersabda: “Doa itu tidak ditolak antara adzan dan iqamah, maka berdoalah!” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Hadits Abdullah bin Amr Ibnul Ash ra, bahwa ada seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para muadzin itu telah mengungguli kita,” maka Rasulullah SAW bersabda: “Ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh para muadzan itu dan jika kamu selesai (menjawab), maka memohonlah, kamu pasti diberi”.

    (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

    3. Pada waktu sujud, yaitu sujud dalam shlat atau sujud-sujud lain ang diajarkan Islam. (seperti sujud syukur, sujud tilawah dan sujud sahwi)

    “Kedudukan hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR Muslim)

    Dan dalam hadits Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Rasulullah SAW membuka tabir (ketika beliau sakit), sementara orang-orang sedang berbaris (sholat ) dibelakang Abu Bakar ra, maka Rasulullah SAW bersabda; “”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak tersisa dari mubasysyirat nubuwwah (kabar gembira lewat kenabian) kecuali mimpi baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan untuknya. Ingatlah bahwasanya aku dilarang untuk membaca Al Qur’an ketika ruku’ atau ketika sujud. Adapun didalam ruku’, maka agungkanlah Allah dan adapun di salam sujud, maka bersungguh-sunguhlah berdoa, sebab (hal itu) pantas dimaqbulkan bagi kamu semua.” (HR Muslim)

    4. Setelah sholat fardhu. Yaitu setelah melaksanakan sholat-sholat wajib yang lima waktu, termasuk sehabis sholat Jumat.

    Allah berfirman: “dan bertasbihlah kamu kepadaNya di malam hari dan selesai sholat” (QS Qaaf: 40)

    “Rasulullah SAW ditanya tentang kapan doa yang paling didengar (oleh Allah), maka beliau bersabda: “Tengah malam terakhir dan setelah sholat-sholat yang diwajibkan.” (HR At Tirmidzi)

    5. Waktu-waktu khusus, tetapi tidak diketahui dengan pasti batasan-batasannya.

    “Sesungguhnya di malam hari ada satu saat (yang mustajab), tidak ada seorang muslim pun yang bertepatan pada waktu itu meminta kepada Allah kebaikan urusan dunia dan akhirat melainkan Allah pasti memberi kepadanya.” (HR Muslim)

    Dalam kitab Al JAwabul Kafi dijelaskan: “…Jika doa itu disertai dengan hadirnya kalbu dan dalam penuh khusyu’ terhadap apa yang diminta dan bertepatan dengan salah satu dari waktu-waku yang ijabah yang enam itu yaitu: (1). sepertiga akhir dari wakt malam, (2). ketika adzan, (3). waktu antara adzan dan iqamah, (4). setelah sholat-sholat fardhu, (5) ketika imam naik ke atas mimbar pada hari Jumat sampai selesainya sholat Jumat pada hari itu, (6). waktu terakhir setelah Ashar”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 28 November 2012 Permalink | Balas  

    Perlukah Kita Bertuhan?

    Tidak semua kita menganggap perlu untuk bertuhan. Meskipun, ia termasuk orang yang percaya kepada adanya Tuhan. Banyak hal yang melatarbelakangi seseorang sehingga ia memilih tidak bertuhan. Sehingga, bisa jadi, muncul pertanyaan di dalam benak Anda: “Ya, sebenarnya perlukah kita bertuhan?”.

    Sejarah peradaban manusia menunjukkan, bahwa hampir di seluruh penjuru bumi manusia memiliki kebergantungan kepada sesuatu yang supranatural. Coba saja datang ke berbagai suku primitif di seluruh dunia, pasti mereka memiliki agama atau semacam agama, yang mengajarkan adanya kekuatan-kekuatan supranatural di luar kuasa manusia.

    Itulah Tuhan mereka. Apa pun bentuknya. Ada yang bertuhan kepada nenek moyangnya. Atau bertuhan kepada patung-patung. Atau bertuhan kepada ‘penghuni’ pohon. Bertuhan kepada berbagai macam azimat. Dan lain sebagainya.

    Dan sebenarnya bukan hanya pada kalangan primitif, masyarakat modern pun tidak ada yang tidak bertuhan. Meskipun, sebagian mereka menyatakan bahwa mereka tidak percaya kepada adanya Tuhan alias atheis. Pada kenyataannya mereka seringkali meminta bantuan dan bahkan bergantung kepada sesuatu, yang dianggapnya jauh lebih kuat dari dirinya. Kenapa demikian? Karena setiap kita menyadari betapa manusia ini demikian lemah. Nah, ketika seseorang telah bergantung dan bersandar kepada ‘Sesuatu yang Lebih Kuat’ itulah sebenarnya dia telah mengakui ada dan perlunya bertuhan. Apa pun namanya.

    Boleh jadi, masyarakat modern menyebutnya sebagai faktor X, kekuatan supranatural, dewi keberuntungan, dan lain sebagainya. Tapi intinya, setiap kita memerlukan adanya Tuhan dalam kehidupan kita.

    Pada skala kecerdasan yang lebih tinggi pun, tidak sedikit orang yang mengaku tidak mempercayai Tuhan. Katakanlah para ilmuwan. Baik ilmu kealaman maupun ilmu ilmu sosial, atau filsafat sekali pun.

    Sebagiannya telah saya bahas dalam diskusi sebelum ini : ‘Jiwa & Ruh. EMereka adalah orang-orang yang terlalu bertumpu pada ‘Kesadaran Inderawi’. Atau, sedikit lebih tinggi, adalah ‘Kesadaran Rasional’.

    Orang-orang yang membangun kesadarannya hanya bertumpu pada keduanya, hanya akan memperoleh kesadaran yang bersifat materialistik alias lahiriah. Mereka tidak menyangka bahwa ada eksistensi yang bersifat batiniah, yang juga nyata. Tapi, mereka tidak mampu ‘menangkapnya E

    Yang tertangkap olehnya hanya sebagian saja dari sifat ketuhanan: yang bersifat lahiriah. Dan mereka tidak menganggap itu sebagai Tuhan. Karena bagi mereka, Tuhan haruslah bersifat batiniah.

    Yang lebih jelek lagi, mereka malah menganggap Tuhan tidak perlu ada karena menurut mereka hukum alam ini sudah bisa berfungsi dengan sendirinya tanpa melibatkan eksistensi Tuhan.

    Padahal, Tuhan meliputi segala-galanya. Baik yang bersifat lahiriah maupun yang bersifat batiniah. Termasuk, hukum alam yang mereka sebut-sebut berjalan dengan sendirinya itu sebenarnya adalah perwujudan dari ‘sebagian’ sifat-sifat Ketuhanan yang bisa kita observasi secara lahiriah. Sedangkan secara holistik, eksistensi Ketuhanan itu meliputi yang lahir maupun yang batin.

    Hal ini akan kita bahas lebih jauh pada bab yang lain, ketika kita berusaha mengenal Allah, Tuhan paling sempurna yang disembah oleh manusia.

    Jadi, setiap kita sebenarnya telah mengakui keberadaan Tuhan, dan sekaligus membutuhkanNya. Karena, itu memang telah menjadi fitrah manusia. Hal itu, telah Dia firmankan di dalam KitabNya, Al Qur’an al Karim.

    QS. Al A’raaf : 172

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

    Jadi, jelas sekali, bahwa setiap manusia memiliki naluri ketuhanan. Persoalannya adalah, apakah mereka merasa membutuhkan kehadiranNya ataukah tidak. Dalam hal interaksi dengan Tuhan ini, mereka terdiri dari beberapa kelompok, yaitu :

    1. Orang yang tidak mau melakukan interaksi dengan Tuhan, karena merasa tidak butuh. Itulah orang-orang yang kafir alias ingkar. Mengakui keberadaanNya, tetapi tidak mau menjadikan sebagai Tuhannya. Begitulah sifat yang ditunjukkan oleh Iblis dalam kisah penciptaan manusia pertama : Adam dan Hawa.

    2. Orang yang malas berinteraksi denganNya. Mereka anggap bahwa bertuhan merepotkan saja. Mereka tidak paham tentang konsep ketuhanan, dan perlunya bertuhan dalam kehidupannya. Itulah orang-orang yang dalam istilah Qur’an disebut sebagai orang yang lalai dan bodoh. Mereka harus lebih banyak lagi membangun wacana kehidupan. Jangan sampai usianya habis, menemui ajalnya, tapi belum tahu makna kehidupan yang sesungguhnya.

    3. Orang yang melakukan interaksi dengah Tuhan secara terpaksa. Mereka menjalankan agama secara ikut-ikutan, dan menganggap Tuhan sebagai Dzat yang harus disembah. Yang kalau tidak disembah bakal menjatuhkan sanksi neraka. Dan kalau disembah bakal memberikan surga. Inilah orang yang belum tahu makna agama dan makna ibadahnya. Kelompok inilah yang disinyalir oleh rasulullah saw sebagai orang-orang yang melakukan puasa tanpa memperoleh makna puasanya kecuali lapar dan dahaga. Atau seperti orang yang sudah mengerjakan shalat, tetapi disuruh mengulangi shalatnya, karena sesungguhnya dia tidak menegakkan shalat di dalam ritual shalat. Atau seperti orang-orang yang riya’ alias pamer di dalam zakat dan infaqnya. Atau seperti orang yang berhaji tanpa memahami makna hajinya, kecuali sekadar tour ke tanah suci. Atau lebih mendasar lagi, bagaikan orang yang membaca syahadat tapi tidak pernah menyaksikan makna syahadat di dalam kesehariannya.

    4. Orang yang merasakan manfaat dalam berinteraksi dengan Tuhan. Ia menemukan bahwa Tuhan adalah ‘Sesuatu’ yang Hidup, Berkehendak, Berkuasa, Adil, Sangat Penyayang, Suka Memberi, dan Sumber Segala Kenikmatan. Maka ia selalu merindukan untuk bisa selalu berinteraksi denganNya. Orang yang demikian ini, akhirnya melakukan interaksi dengan Tuhannya secara suka rela dan bahkan mencintaiNya. Inilah orang yang disebut sebagai muslimuun, yang telah berserah diri dan bergantung sepenuhnya kepada Dzat Yang paling Sempurna, Penguasa alam semesta.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 27 November 2012 Permalink | Balas  

    Benarkah Tuhan Ada?

    Tidak semua kita yakin bahwa Tuhan benar-benar ada! Apalagi yakin tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan satu-satunya di alam semesta. Kalau pun yakin, biasanya, tingkatnya tidak ‘benar-benar yakin’. Cuma sekadar percaya! Lho, memang apa beda antara ‘yakin’ dengan ‘percaya’? Dan apa pula bedanya Tuhan dengan Allah?

    Ada beberapa tingkatan orang ber keyakinan tentang keberadaan Tuhan. Tapi secara garis besar, kita bisa membaginya hanya dalam dua kelompok saja yaitu : mereka yang tidak percaya bahwa Tuhan ada, dan mereka yang mempercayai keberadaanNya. Masing-masing memiliki derajat ketidakpercayaan atau kepercayaan yang berbeda-beda.

    1. Tidak percaya bahwa Tuhan ada

    Dalam sejarah kemanusiaan, kita mengetahui ada sekelompok orang yang tidak percaya terhadap adanya Tuhan. Mereka sering kita sebut sebagai kelompok Atheis alias orang-orang yang tidak bertuhan.

    Mereka terdiri dari berbagai macam golongan masyarakat dan strata kecerdasan. Ada yang mampu secara ekonomi atau sebaliknya. Ada juga yang mampu secara intelektual dan sebaliknya. Sangat menarik untuk memahami bahwa mereka bisa mencapai kesimpulan tentang tidak adanya Tuhan. Lebih jauh, kalau dilihat latar belakangnya, mereka bisa dikelompokkan lagi ke dalam beberapa golongan.

    a. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan karena kesombongan. Misalnya, mereka merasa tidak perlu bertuhan karena ‘merasa’ bisa mengatasi segala kebutuhannya sendiri.

    b. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena kebodohan dan ketidakmampuannya. Ini, tentu saja, sangat memprihatinkan. Karena biasanya mereka hanya menjadi korban dari orang-orang yang dianggapnya pintar dan memiliki otoritas tertentu.

    c. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena malas berpikir dan tidak mau repot karenanya. Bertuhan, menurut mereka malah dianggap sebagai kegiatan yang merepotkan saja. Karena, lantas harus melakukan upacara-upacara tertentu sebagai konsekuensi bertuhan. Jadi lebih baik tidak bertuhan saja.

    Namun, pada dasarnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tidak bertuhan. Dulu, kini maupun nanti. Sebab makna bertuhan, sebenarnya adalah menempatkan ‘sesuatu’ menjadi pusat dan tujuan bagi kehidupan seseorang.

    Jadi, ketika kita menempatkan ‘kekuasaan’ sebagai ‘pusat dan tujuan’ hidup kita, maka kita sebenarnya telah bertuhan pada kekuasaan. Dan ini terjadi sejak zaman dulu, kini, maupun nanti.

    Diantaranya, yang diceritakan di dalam Qur’an adalah Fir’aun dengan kekuasaannya yang besar. Sehingga, dia lantas menuhankan dirinya. Ini adalah contoh dari tipikal orang yang sombong. Dia merasa dirinya mampu mengatasi berbagai macam hal dalam kehidupannya. Bahkan dia menjadi tempat bergantung orang lain. Maka, dia merasa menjadi penguasa atas segala yang ada di sekitarnya. Kekuasaannya telah mendorong dirinya untuk bertuhan kepada dirinya sendiri. Yang kemudian, justru membawanya kepada kehancuran.

    Yang semacam Fir’aun ini bukan hanya terjadi pada zaman dulu. Sekarang pun banyak terjadi di berbagai belahan bumi. Sampai kapan pun.

    Ketika seorang presiden dari sebuah negara adikuasa menempatkan diri dan negaranya sebagai penguasa tertinggi dalam kehidupan manusia, maka ia sebenarnya telah menempatkan dirinya sebagai Tuhan. Padahal, sebenarnya tidak ada hak sedikit pun bagi seorang manusia, atau kelompok, untuk menguasai orang lain dan kelompok lain. Sungguh, ia telah menjadi Fir’aun, dalam dunia modern.

    QS. A’ A’raaf (7) : 54

    Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

    Ayat di atas dengan sangat gamblang mengatakan itu. Bahwa menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah saja. Sedangkan manusia dengan manusia lainnya cuma saling mengingatkan dan berkoordinasi untuk membentuk kehidupan yang harmonis dan sejahtera, secara adil. Karena, setiap kita memang memiliki derajat yang sama. Tidak boleh ada yang merendahkan dan menghina satu sama lain.

    Jadi kembali kepada konsep bertuhan setiap manusia yang telah menempatkan ‘sesuatu’ sebagai pusat orientasi kehidupannya, maka ia telah menciptakan Tuhan dalam kehidupannya.

    Itu bisa berupa apa pun. Seseorang bisa bertuhan kepada diri sendiri, pada kekuasaan, pada harta benda, pada wanita cantik, pada kesenangan duniawi, dan berbagai orientasi kehidupan yang mungkin.

    Kalau begitu definisinya, maka bisa dipastikan tidak ada orang yang tidak bertuhan di dalam kehidupannya. Persoalannya tinggal, kepada apa atau siapa dia bertuhan … !

    Namun demikian, banyak juga orang yang mengatakan tidak bertuhan karena tidak paham dengan definisi ini. Termasuk orang yang sombong tersebut. Mereka tidak mau bertuhan kepada sesuatu di luar dirinya, karena menganggap dirinya sudah cukup bisa mengatasi dan memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidupnya. Ya, sebenarnya dia telah bertuhan kepada dirinya sendiri.

    Atau ada juga, kelompok lain, yang malas bertuhan karena dianggap merepotkan saja. Maka, dia sudah bertuhan kepada kemalasannya. Atau, orang yang lain lagi, mereka yang tidak berpengetahuan dan lantas ikut-ikutan, maka mereka telah bertuhan kepada orang lain. Atau bahkan bertuhan pada ‘kebodohannya’. Jadi sekali lagi, tidak ada orang yang tidak bertuhan. Karena setiap kita memiliki kepentingan dan orientasi kehidupan yang mendominasi. Dan itulah Tuhan kita…

    2. Mereka yang percaya keberadaan Tuhan.

    Sementara itu, kelompok yang lain adalah mereka yang mempercayai bahwa Tuhan ada. Tentu saja dengan berbagai alasan dan latar belakangnya. Yang jika dikelompokkan lagi, maka orang-orang yang percaya terhadap keberadaan Tuhan ini pun ada beberapa golongan.

    a. Orang yang percaya pada Tuhan karena doktrin. Sejak kecil ia telah didoktrin oleh sekitarnya, termasuk oleh orang tua dan guru-gurunya, bahwa Tuhan memang ada. Meskipun, boleh jadi dia tidak paham alasannya. Atau tidak mengerti maksudnya. Karena banyak orang di sekitarnya percaya Tuhan itu ada, maka ia pun sepantasnya percaya bahwa Tuhan memang ada.

    b. Orang yang percaya kepada Tuhan karena logika dan rasio. Akalnya mengatakan Tuhan mesti ada. Inilah orang-orang yang mencari keberadaan Tuhan lewat kecerdasannya. Akalnya, justru tidak bisa menerima jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada dalam kehidupannya. Karena dia bisa benar-benar ‘melihat’ dan merasakan hadirnya ‘Suatu Kekuasaan Super’ dalam kehidupannya. Dan itulah Tuhan.

    c. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan karena merasa membutuhkan kehadiranNya. Yang tanpa kehadiranNya, mereka merasa tidak berdaya. Inilah orang-orang yang melakukan pendekatan kepada tuhannya menggunakan Kesadaran Spiritual.

    d. Orang-orang yang memperoleh kesimpulan bahwa Tuhan yang ada di alam semesta ini sebenarnya adalah Tuhan Yang Satu. Bukan bermacam-macam seperti yang dianut oleh berbagai agama. Kita harus mencari ‘Siapakah’ sebenarnya Tuhan yang Satu itu. Dimanakah Dia berada. Bagaimanakah Dia. Dan sebagainya. Inilah orang-orang yang menggunakan Kesadaran Tauhidnya untuk mencari eksistensi Ketuhanan. Sang Penguasa Tunggal Jagad Semesta Raya.

    Jadi, bagi orang-orang yang percaya terhadap keberadaan Tuhan pun, belum tentu ia telah bertuhan secara benar. Karena, memang latar belakangnya bisa sangat beragam. Setidak-tidaknya mereka memiliki tingkat-tingkat kualitas yang berbeda-beda di dalam mempersepsi dan berinteraksi dengan Tuhannya.

    Ketika seseorang hanya ikut-ikutan dalam bertuhan kepada sesuatu yang dianggapnya Tuhan, maka kita patut mempertanyakan apakah ia telah bertuhan secara benar. Apakah ia telah memiliki persepsi yang juga benar tentang Tuhan yang diimajinasikannya. Atau lebih jauh, apakah ia telah berinteraksi secara benar pula dengan Tuhannya itu.

    Jika, mereka merasa risau dengan pertanyaan itu, barangkali akan terjadi stimulasi untuk mencari Tuhan. Baik dalam mempersepsi maupun dalam hal berinteraksi. Jika ini yang terjadi, maka kualitas bertuhan orang itu akan meningkat. Ia mulai berpikir dan menggunakan akalnya untuk mempersepsi Tuhan dan melakukan kontak-kontak denganNya.

    Pada tingkatan yang lebih tinggi, orang yang sudah percaya pada keberadaan Tuhan akan menemukan sosok Tuhan yang dia butuhkan. Pada tingkat ini ia akan melakukan interaksi lebih intensif. Apalagi, jika interaksi itu telah terasa terjadi dalam 2 arah: dialogis. Maka, ia telah menemukan Tuhannya!

    Puncaknya, orang yang demikian ini akan bertemu dengan Tuhan yang Satu. Dialah Tuhan yang menguasai segala yang ada di dalam semesta. Tuhan yang menciptakan sekaligus memelihara. Tuhan yang Maha mengasihi, Maha Menyayangi. Tuhan yang Penuh Kesempumaan dalam eksistensiNya…

    Jadi, pada bagian ini, kita boleh membuat kesimpulan sementara bahwa Tuhan adalah sesuatu yang pasti ada dalam kehidupan seseorang. Tidak mungkin seseorang tidak bertuhan. Tinggal, kepada apa dan kepada siapakah seseorang itu bertuhan.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 25 November 2012 Permalink | Balas  

    Sedikit Tentang Ghargharah

    Oleh : Muzammil Alfatih bin Muhlani

    “Sesungguhnya Allah senantiasa menerima taubat seorang hamba, selain hamba itu belum mengalama Ghargharah,” (Al Hadist)

    Perkataan ‘Ghargharah’ di dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi di atas ialah keadaan di mana seseorang sedang bertarung melawan maut atau saat di mana ia akan melepaskan nyawanya. Sinonim Ghargharah ialah Sakaratul Maut. Tentang sakaratul maut ini, ada sebuah Hadist berbunyi: “Allahumma hawwin alaiya fii sakaratil mauti…” [Ya Allah, mudahkanlah bagiku kelak dalam menghadapi sakaratul maut]

    Di dalam Al Qur’an, tertulis: “Kullu nafsin dzaaiqotul mauti….” Kata ‘nafs’  dalam ayat tersebut di atas dapat diartikan jiwa atau nyawa, jadi ‘kullu nafs’ adalah setiap yang mempunya jiwa/nyawa.

    Kehidupan manusia menurut sebuah Hadizt, bermula dari 120 hari setelah terjadinya pembuahan. Pada saat itu Allah meniupkan rokh kepada janin. Waktu itu masih merupakan calon manusia. Jadi dapat dikatakan : “Hidup ialah berpadunya antara rokh (jiwa) dan jasad (jasmani).” Nyawa atau rokh menurut Imam Ghozali ialah :”Suatu jeni zat halus yang bersumber di dalam lubang-lubang hati manusia, yang memancarkan ke seluruh anggota tubuhnya.” Dikatakan bahwa hidup dapat diibaratkan dengan cahaya yang berada di suatu ruangan, di mana rokh adalah lampunya. Bekerjanya rokh dalam jasad adalah ibarat bekerjanya cahaya dalam ruangan. (Ikhyaau ‘uluumuddiin, juz III hal 3).

    Ghazali lebih lanjut mengatakan bahwa sakitnya orang-yang menghadapi sakaratul maut itu tidak dapat diceritakan dan tiada yang dapat mengetahuinya secara pasti, kecuali mereka yang memang telah mengalaminya. Seseorang yang sedang demikian berarti sedang mengalami pencabutan rokhnya dari seluruh urat, daging, tulang, rambut, kulit, dsb. Dan itu dapat dibayangkan betapa nyerinya sakaratul maut itu!

    Orang yang dipukul jasadnya biasanya menjerit atau mengadakan perlawanan sekedar untuk mengurang sakit dan lari menyelamatkan diri. Semua dapat dilakukannya jika ia masih mempunyai tenaga. Seseorang yang sedang mengalami ghargharah tidak demikian keadannya. Ia tidak dapat menjerit, meminta tolong, tidak dapat melawan dan melarikan diri. Sebab jasmani dan akalnya hampir tak berfungsi lagi.

    Lalu apa yang dapat dilakukannya? Pasrah. Itulah satu-satunya sikap yang benar dan baik. Pasrah sambil menahan rasa sakit/nyeri saat dicabut nyawanya.

    Ilmu Kedokteran modern belum berhasil mengungkap banyak hal yang menyangkut sakaratul maut ini. Juga tidak dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan sakaratul maut itu, dan usaha apa yang bisa mencegahnya. Seandainya sudah berhasil menunda dan mencegah sakarat, besar kemungkinan di bumi ini takkan ditemukan pusara-pusara.

    Ada pendapat bahwa tingkat siksaan dalam sakarat tidak selalu sama bagi setiap orang. Bergantung kepada kadar iman dan dosa yang dibuatnya. Di masyarakat ada semacam pemeo, bahwa seenteng-entengnya sakarat ialah seperti seekor kambing yang sedang dikuliti.

    Bahwa sekarat merupakan sesuatu yang berat dan menimbulkan siksaan dalam bentuk tersendiri. Terbukti dari ucapan dan doa Rasulullah saw, “Allahumma hawwin ‘alaiya fii sakaratil mauti,” Pernah diceritakan mengenai masalah sakarat ini. Seorang ulama tua di hari-hari akhir hayatnya selalu mengajarkan hal-hal yang menyangkut kematian kepada murid-murdinya. Ulama tersebut membacakan sebuah Hadist yang berbunyi, “Laqqinuu mautakum la ilaha illallahu (Orang yang hampir mati talqinkanlah dengan menyruhnya mengucapkan kalimat suci Lailaha Illaallah)” Kemudian dibacakan pula sebuah Hadist, “Man Kaana aakhiru kalaamihi lailaha illaallahu, dakholal jannah,” (Siapa yang akhir ucapannya Lailaaha illaallah, maka masuklah ke sorga)

    Ketika sang ulama yang guru itu sedang menghadapi sakaratul maut, para muridnya tak lupa akan pesan ajarannya itu. Maka dituntunnya guru untuk mengucapkan kalimat Lailahaa illaallah. Tetapi apa kata guru? “Tidak” teriaknya. Tiga kali murid-murid mentaqinkannya, tiga kali pula sang guru berteriak “Tidak”. Dan semua yang menyaksikan menjadi heran. Beberapa saat kemudian, keadaan sang guru bertambah baik. Setelah baik benar berceritalah sang guru bahwa ketika  para muridnya menalqinkan kalimah suci itu datang makhluk aneh menjelma dalam pikirannya menyuruh “mempertuhan” dirinya. Sang guru menolak suruhan itu dengan mengatakan “tidak”.

    Tahulah semua, bahwa jawaban “tidak” dari sang guru tadi ditujukan kepada makhluk yang mempertuhankan dirinya. Setelah bercerita itu, sang guru mengucapkan kalimah suci dengan urut dan lancar, tenang dan mantap.

    Dan setelah selesai berucap, terdiamlah sang ulama/guru untuk selamanya. Dari kisah ini disiratkan dalam keadaan sakaratul maut, masih saja datang godaan dari syetan yang terkutuk, walaupun dia itu ulama dan guru.

    Masa/saat sakaratul maut adalah masa tertutupnya pintu taubah.

    “Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan/dosa, hingga bila datang ajal/sakaratul maut kepada mereka (barulah) mereka mengatakan ‘sesungguhnya saya bertaubat sekarang’. Dan tak pula diterima taubat orang-orang yang mati dalam kekafiran, bagi mereka itu Kami sediakan siksa yang pedih.” (4:18).

    Wallahu’alam bishowab.

    ***

    (Diambil dari berbagai sumber. Petikan buletin Jum’at yang dibuat sendiri oleh penulis).

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 23 November 2012 Permalink | Balas  

    Ibu Rumah Tangga

    Diawal pernikahan, saya dan suami membuat kesepakatan dengan ikhlas bahwa saya tinggal dirumah mengurus rumah tangga dengan fokus pada pendidikan anak. Sementara, suami menjadi kepala rumah tangga dengan fokus pekerjaan di luar rumah. Ketika itu, saya menganggap pekerjaan rumah tangga hanyalah pekerjaan sederhana, karena bukankah menjadi ibu rumah tangga adalah fitrah wanita? Tetapi, setelah menjalani kehidupan rumah tangga, saya baru sadar, ternyata pekerjaan rumah tangga itu sangat rumit.

    Seorang ibu rumah tangga tidak memiliki jam kerja tertentu, artinya, tugasnya dimulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Bahkan, menjadi ibu rumah tangga, berarti banyak belajar, seperti belajar manajemen, baik manajemen rumah tangga, manajemen keuangan sampai manajemen qalbu. Lalu belajar pembukuan, dimana aku selalu njelimet mengatur keuangan, karena penghasilan suami memang pas-pasan. Dan kemudian belajar psikologi, baik psikologi anak maupun psikologi umum.

    Bahkan, untuk bisa mensyukuri nafkah dari suami, aku harus punya bermacam-macam ketrampilan, seperti memasak yang sebelumnya jarang aku lakukan. Ketrampilan menjahit pun harus aku kuasai. Sebab, untuk pakaian anak yg jumlahnya bertambah setiap dua tahun, terlalu mahal bagiku apabila harus membeli pakaian jadi.

    Alhamdulillah, dengan bekal kemauan dan sedkit nekad, semua ketrampilan itu dapat aku kuasai. Termasuk ketrampilan pangkas rambut! Mulai rambu abinya, sampai anak keenam kutangani sendiri. Banyangkan jika upah pangkas rambut 1 orang Rp 4.000 maka aku bisa berhemat 28 ribu rupiah tiap bulan. Begitupun pakaian anak, aku bisa hemat 50 % dari harga pakaian jadi di pasaran dikalikan kebutuhan 8 orang. Bukankah penghematan cukup besar? Belum lagi, makanan jajanan yg kuolah sendiri. Aku yakin, jika beli makanan jadi harganya pasti berlipat.

    Namun, setelah sekian banyak yg kuhemat, nyatanya keuangan kami tetap seret. Rupanya penyebabnya adalah minimnya penghasilan suami. Maka jadilah aku, tiga tahun belakangan ini, seorang motivator sekaligus konsultan bagi suamiku, sehingga alhamdulillah kini suamiku telah mempunyai pekerjaan yg layak dengan status yg baik di masyarakat.

    Lalu, seiring dengan kemandirian anak-anak, aku pun memilih salah satu keahlianku untuk kusumbangkan pada masyarakat. Aku ingin lebih bernilai, tidak hanya bagi keluarga tapi juga bagi masyarakat. Alhamdulillah, suamiku mendukung niat itu.

    Kadang-kadang, timbul pikiran jahilku, berapa gajiku seharusnya atas semua tugasku ini? Aku ratu rumah tangga sekaligus pembantu. Aku manajer merangkap baby sitter. Aku juga akuntan dan konsultan suamiku dalam usahanya. Pendidik sekaligus tukang ketik, penggagas sekaligus tukang pangkas. Aku juga seorang pengobat sekaligus perawat. Keluarga kami jarang kedokter atau rumah sakit, berbekal kepandaian pijat refleksi dan juice therapy yg kupelajari dari buku. Aku juga aktor bagi anak-anak takkala menggambarkan berbagai macam watak yg ada dalam cerita yg sedang kami baca.

    Itulah karirku selama 15 tahun menjadi ibu rumah tangga.

    Aku lantas teringat kata-kata Mahbub Junaidi-Seorang ekonom Pakistan – “Jika ibu-ibu rumah tangga meminta diberikan gaji, maka nilainya adalah satu milyar dollar pertahun. Sebuah nilai yg besar utk budget sebuah negara. Syukurlah ibu-ibu rumah tangga memberikan tenaganya dengan cinta, maka tak perlu memusingkan Kepala Negara bukan?

    Aku setuju dengan pendapatnya. Aku sanggup bersusah payah menjalani karir ibu rumah tangga, walau selalu diremehkan dan jarang mendapat pengakuan yg layak dari masyarakat, hanya karena aku sangat mencintai suami dan anak-anak yang diamanahkan Allah padaku. Dan yg lebih penting dari semua itu aku mendapat cinta dari Yang Maha Pencipta. Allahu Rabbul ‘Alamin.

    Salam hormat buat ibu-ibu rumah tangga sejati. Karirmu sangat penting, dalam mempersiapkan generasi Rabbani. Dan gajimu, insya Allah kehidupan hakiki syurgawi.

    ***

    (Sumber: Majalah Ummi)

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 21 November 2012 Permalink | Balas  

    Namaku Izrail

    “Wahai anakku! Jika ada sesuatu yang tak bisa kau pastikan bila dia datang, maka persiapkan dirimu untuk menghadapinya sebelum dia mendatangimu sedang engkau dalam keadaan lengah”

    (Nasihat Luqman kepada anaknya)

    Tiba-tiba saja ia berdiri dihadapanku. Memperkenalkan diri entah dari mana. Terus terang, aku melongo ketika orang atau lebih tepatnya mahluk itu ada dihadapanku. Entah kenapa, aku tidak terlalu kaget. Hanya saja, memang muncul rasa heran dan takut. Tubuhku yang sedang berbaring setengah terangkat. Aku menatap bengong melihatnya berdiri di hadapanku. Meski rasa takut menyergapku, aku seakan-akan tidak merasa asing dengan sosok ini.

    Kayanya pernah kenal, tapi dimana gitu. Dalam beberapa saat aku seperti pikun. Lupa. Tepatnya nggak tau apakah pernah bertemu dengannya atau tidak. Sepertinya aku mengalami dejavu, pikirku.

    Cukup lama ia memandangku dengan diam, setelah dia menyebutkan namanya begitu saja. Padahal aku nggak minta diperkenalkan. Boro-boro perkenalan, dia begitu saja mengada, makanya siapa diapun aku nggak ngeh. Izrail katanya. Siapa ya? Rasanya nama itu pernah kudengar dengan baik. Tapi aku lagi-lagi tidak mampu menggali memori dari otakku yang tiba-tiba menjadi beku.

    Ia nampaknya termasuk mahluk yang tak mau tau. Tepatnya super cuek. Apakah aku mau atau tidak, nampaknya ia memang tak peduli. Bilamana ia mau, ia akan memperkenalkan diri. Bila tidak, ya sudah lewat begitu saja. Tak peduli orang yang disapanya mau atau tidak. Apakah yang di datanginya jantungan atau tidak. Baginya itu nampaknya tidak menjadi soal benar.

    Apalagi kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Seperti menyergap dari ketiadaan, muncul begitu saja. Bagi yang penakut, mungkin kemunculannya bisa membuat semaput. Dia seperti hantu. Untungnya aku termasuk bukan manusia yang kagetan. Sehingga kemunculannya yang tiba-tiba itu tidak terlalu membuatku semaput. Tapi yang jelas memang otakku jadi beku. Seperti sekarang ini. Memandang dengan bodoh kesosok yang luar biasa ganteng ini.

    Kupikir-pikir, memang aku belum pernah melihat wajah seperti dia ini. Wajahnya lebih mirip manekin yang dipajang ditoko-toko ketimbang manusia. Halus, berkulit bersih, bahkan seperti menimbulkan pendar sinar. Meskipun, kebersihan kulitnya agak sedikit tidak lazim dengan warna bersih yang memerah dadu seperti pipi bayi itu. Dia senyam-senyum dikulum, seperti seorang teman lama yang sedang menggoda. Wah, pikirku, ni orang kalau ikut kontes Indonesian Idol atau AFI barangkali langsung menang, yang lainnya langsung bertumbangan.

    “Sudah tau siapa aku?”, lanjutnya memecahkan kebingunganku.

    “Eh..emmmm yyyaa…siapa ya”, dengan sedikit gemetaran dan tergagap-gagap aku menjadi grogi, tapi lagi-lagi aku masih belum ngeh siapa dia, padahal dia sudah menyebutkan namanya. Nama itu memang terdengar tidak asing. Cuma, aku lagi-lagi lupa dimana pernah mendengar nama itu.

    Dia tersenyum simpul. Swear, senyumnya termasuk kategori senyum manis bagi makhluk berjenis kelamin laki-laki (terus terang saja gender ini perlu saya buat dengan font italyc karena saya sendiri bingung ini orang laki-laki atau perempuan).

    Kemudian dengan perlahan ia berkata” Aku diminta menjemputmu…”.

    “Siapa?”, tanyaku masih setengah bingung.

    “Dia…”, katanya pendek.

    “Dia siapa ya?”, tanyaku lagi, otakku masih beku, tak bisa menduga dan tak tahu dengan yang ia maksud.

    “Kkkamu sendiri siapa?”, tanyaku dengan sedikit gagap tetapi lebih mantap.

    Keberanianku muncul begitu saja. Nampaknya, ia tidak kaget dengan reaksiku yang nampaknya masih belum begitu jelas. Aku sendiri masih mencoba mengingat-ingat. Tapi, rasanya memang sel-sel kelabu otakku jadi tumpul tak bisa berpikir. Entah kenapa, kemampuan berpikirku jadi mandeg. Daya ingatku seperti berputar-putar tak menentu, tak bisa mengatur alur logis yang benar. Melompat-lompat dan terputus-putus begitu saja seperti komputer yang perangkat lunaknya error karena kerusakan prosesornya. Kira-kira pernah kenal dimana dengan sosok aneh ini. Tanpa ba-bi-bu lagi nongol dan langsung memperkenalkan diri. Kucoba mengingat-ingat sekiranya aku pernah bertemu dengannya. Disuatu tempat, di suatu waktu.

    Disela-sela kepikunannku, aku mencoba mengingat-ingat. Apakah teman sekolahku dulu pikirku. Ah, kelihatannya bukan. Tapi tetap tak bisa kuingat, siapakah pemilik sosok ganjil dihadapanku ini. Lagi pula kami masih sering kumpul-kumpul satu sama lain, meskipun sudah hampir 10 tahun angkatan kami habis alias pada lulus dari bangku kuliah. Ah, nampaknya bukan. Pelan-pelan kuhimpun daya ingatku, sedikit demi sedikit aku merasakan otakku melumer.

    Tak ada dari temanku yang penampilannya mirip dia ini. Meskipun dari lain jurusan, aku masih ingat satu persatu beberapa temanku semasa kuliah dulu. Frame demi frame aku mencoba memutar kembali wajah-wajah temanku. Si Bambang yang pernah dipenjara dulu karena aksi bakar ban di kampus. Atau si Nirwan yang jadi budayawan. Walaupun aku cuma satu dua kali ketemu dengan dia toh aku masih mengingat wajahnya. Bahkan beberapa teman satu kampus yang cuma kenal muka pun aku masih rada-rada ingat. Lha yang ada didepanku ini benar-benar asing banget. Walaupun samar-samar wajah itu seperti familiar dengan ku.

    Wajah sesosok wanita melintas sekilas, Ah tapi bukan dia, bukan dia, dia sudah lama pergi. Aku tepiskan bayangan yang melintas dari masa lalu itu. Entah kapan ketemunya akupun tidak tau. Tapi memang ada satu wajah yang sempat melintas dikepalaku, tapi tidak mungkin dia, soalnya dia memang cewek. Tapi, yah yang berdiri di hadapanku ini memang susah kujelaskan apakah cewek atau cowok. Ahhh, mungkin kawan se SMA dulu pikirku. Mencoba tidak menyerah, untuk mengingat dia yang tiba-tiba berdiri didepanku. Ingatanku pun melayang ke SMA dulu untuk mencari-cari dan mencocokkan siapa gerakan teman SMA yang mirip-mirip dia ini. Lagi-lagi aku tidak menemukan sesorang pun yang mirip dia. Kemudian kujelajahi kenangan SMP dan sekolah dasar.

    Blank…

    Benar-benar blank nih pikirku, persis komputer yang tidak ada BIOS-nya. Siapa dia ini ya. Aku membatin, sambil menatap sosoknya. Mereka-reka, mencoba mengingat dan menggali dari sel-sel kelabu diotakku. Uhh…, rasanya…nggak ada ingatan sama sekali tentang sosok yang satu ini.

    “Ngomong-ngomong sebenarnya kamu ini siapa…”, kegugupan dan kebengonganku sudah hampir lenyap. Ganti keingintahuanku muncul tentang dia sendiri.

    Sejenak ia menatapku lekat-lekat, kemudian “Ehm..aku sebenarnya pernah kamu kenal duluuuuu sekali”. Ia malah menjadi sedikit grogi. Ia mencoba memberi penekanan pada kata dulu. Jadinya terdengar sedikit aneh. Dan terus terang, senyum dikulumnya itu membuat beberapa bulu-bulu halus ditekukku mulai meremang.

    “Dddulu kapan yyya?” lanjutku setengah gemetar menuntaskan keingintahuanku.

    “Ya dulu, sewaktu kamu baru mau disinari oleh Dia”.

    Ha….apa maksudnya “disinari”. Disinari apaan ya.

    (Sepotong ayat tiba-tiba melintas, membuka suatu kenangan asosiatif masa yang telah lama sekali berlalu, Alif Laam Mim Raa, (QS 13:1).

    Lagi pula, kok ucapannya sangat takzim sewaktu ia ucapkan “Dia”. Bahkan setengah takut-takut.

    “Aku diminta segera menjemputmu”, katanya sedikit lebih takzim kepadaku.

    “Haaa”. Aku melongo antara bingung, heran, takut, dan takjub menjadi satu.

    Namanya Izrail

    “Ya Allah”, ujarku setengah tak percaya. “Engkau…engkau… Izrail malaikat?”, tanyaku.

    Ia mengangguk. Baru kusadari ia yang berdiri di hadapanku ini memang berkulit sangat bersih. Bahkan bisa kubilang bersinar. Persis seperti gambaran buku-buku tentang orang-orang yang ahli ibadah. Halus, nyaris tanpa otot dan bulu. Ya mirip kulit bayilah. Ya bulu, sama sekali tidak ada bulu dikulitnya. Wajahnya ganteng, bahkan nyaris cantik. Mungkin kenyal-kenyal dikit kalau dipegang-pegang seperti bunyi iklan sabun mandi “Dove”, pikirku. Aku yakin, ia bisa menjadi Casanova nomor wahid kalau ia mau. Atau kalau mau jadi iklan sabun mandi, mungkin cocok untuk sabun mandi apapun. Dalam arti sabun mandi kecantikan atau kegantengan. Soalnya memang sampai saat ini, kalau saja ia tidak bersuara, sulit sekali membedakan antara laki-laki atau wanita.

    Rambutnya teratur rapi tidak panjang dan tidak terlalu pendek, lurus tergerai. Sedang-sedang saja, tidak seperti orang yang habis bercukur maupun tidak bercukur lama. Malah nampaknya tidak pernah ditumbuhi kumis. Alisnya nyaris bertemu diatas hidungnya yang bangir. Dengan sorot mata yang lembut namun dingin. Bibirnya seolah terus-menerus tersenyum simpul, setengah meledek melihat kebingungan dan sekarang kekagetanku. Bahkan, sebenarnya lebih mirip bibir joker musuh bebuyutannya tokoh komik Batman dan Robin atau salah satu bintang film yang menjadi ikon sabun mandi terkenal. Walah…, senyumnya memang mirip Tamara Blezinky.

    Tidak ada yang aneh sebenarnya kalau saja orang tidak berada dalam jarak dekat. Aku yang cuma beberapa puluh senti darinya bisa melihat keganjilan sosok yang jangkung dan tampan ini. Bau harum yang tak pernah kucium dari bunga atau pewangi manapun dihirup hidungku. Rasanya bau harum, manis, dan menenangkan. Kok ya, si Izrail ini pake minyak wangi darimana pikirku. Bisa membuat aroma terapi seperti itu. Mungkin efek wewangian ini juga yang menenangkan diriku, Entahlah, aku sendiri masing dipengaruhi kebengongan dan kebingungan.

    Aku masih membanding-bandingkan sosoknya dengan beberapa public figure yang sering kulihat di bioskop dan televisi. Seingatku tidak ada peragawan ataupun bintang film yang mirip dengan dia ini. Leonardo Di Caprio yang tampan imut-imut pun tidak seperti dia, atau Pau Min Che yang aktor F4 pun jauh banget. Entah suku apa si Izrail ini. Dari melongo, kaget, bingung sekarang ada yang merambat pelan-pelan disekujur tubuhku. Bulu-bulu kudukku berdiri serentak, meremang diantara keringatku yang mulai merembes dan terasa dingin disekujur tubuhku. Aku mendadak disergap rasa takut amat sangat.

    Namun itu tak berlangsung lama. Entah darimana datangnya, perasaanku yang campur aduk itu menemukan titik keseimbangannya manakala mencermati sosok yang berdiri dihadapanku ini. Wah, memang efek wewangian ini yang membuatku tenang pikirku. Tubuhku sudah kembali ke posisi rebahan di pembaringan. Tanpa daya. Kuamati lagi sosok Izrail yang ada di hadapanku. Tepatnya bukan dihadapanku. Tapi diujung ranjangku.

    Ya, saat itu aku sebenarnya lagi terbaring lemas dipembaringanku. Bukan sakit atau pun meriang. Cuma seperti kurang gairah. Waktu itu sudah menjelang tengah malam. Jadi sebenarnya aku sudah bersiap-siap mau rebahan untuk tidur setelah membolak-balik beberapa lembar surat dari Al Qur’an versi H.B. Jassin yang diberi judul “Bacaan Mulia”. Namun kedatangannya yang tiba-tiba membuyarkan kantukku. Tak ada yang bisa kukatakan saat itu. Pelan-pelan, karena kulihat ia juga cuma berdiri disitu, aku mulai mencoba menenangkan diri. Menatapnya dengan tolol. Lalu kuberanikan diri membuka dialog lagi setelah beberapa detik kebisuan melanda kami berdua. Aku mulai menyadari datangnya sesuatu.

    “Sudah waktunyakah aku?”, tanyaku pelan. Sangat pelan sekali. Kupikir ia tak mendengar ucapanku. “Ya, sudah saatnya menghadap Dia”, katanya. Beberapa jenak aku pun cuma bisa menatapnya lagi. Tanpa komentar dan rasa apapun. Hambar. Lalu entah bagaimana tiba-tiba saja aku nyeletuk tenang. Lagi-lagi, kurasakan ketenanganku karena pengaruh wewangiannya.

    “Boleh aku meminta sesuatu sebelum engkau mengambilku…”, harapku. Ia tidak kelihatan bimbang, malah sepertinya sudah tau kalau aku akan sedikit rewel. Ia cuma mengangguk. Lalu, entah ide darimana, lidahku fasih bertanya. “Ceritakan tentang kamu…”.

    Hikayat Izrail

    Begitu saja. Ketika Ia Berkehendak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, maka aku mengada seperti yang lainnya dari jenisku. Tercipta begitu saja dari al-Haba dan Nur Muhammad, berkas-berkas debu dan cahaya yang memanifestasikan Kun Fa Yakuun. Aku adalah satu diantara yang tak terhitung, yang Dia ciptakan untuk menjaga kelangsungan Kun Fa Yakuun. Aku adalah bagian dari Kehendak dan Kemahakuasaan-Nya. Ada milyaran proses yang menyertai Kuasa-Nya. Sejumlah itulah kami ada. Baik yang nyata maupun yang kasat mata. Baik yang terasa maupun tidak terasa. Baik di dalam maupun di tapal batas semesta.

    Masing-masing dari kami mempunyai tugas-tugas yang spesifik. Aku adalah salah satunya yang bertugas setiap saat, bersiap sedia bilamana semua makhluk sudah tiba untuk dikembalikan kepadaNya. Karena aku dari jenis makhluk yang mengikuti kepatuhan-Nya, maka aku sebenarnya tidak pernah terikat oleh ruang dan waktu, kendati aku selalu mengikuti arus Sang Waktu, seperti layaknya mahluk lain yang berada dalam kisaran tersebut.

    Jadi pendeknya aku tak pernah mati, sebelum yang lainnya kumatikan atas kehendak-Nya. Atau makhluk semacam itulah; Yang bertasbih tanpa kenal lelah, tak kenal waktu ataupun pengertian-pengertian relativistik seperti yang dinisbahkan kepada kaummu.

    Tugasku ya seperti yang kamu rasakan ini, mengembalikan serpihan-serpihan cahaya kembali ke asalnya, ke awal mula penyaksian-Nya, ketika kalian bersaksi “Ya, Kami bersaksi!” . Aku biasanya cuma sekedar menerima catatan dari Lauh Mahfuzh, siapa-siapa yang harus kujemput saat itu. Hanya saja, karena aku tak pernah mengenal waktu, aku bisa berada dimana saja, kapan saja, tapi bukan Coca Cola lho.

    O ya, ngomong-nomong soal debu & cahaya. Memang aku terbuat dari serpihan-serpihan debu & cahaya yang menjaga proses Kun Fa yakuun. Sebenarnya, aku dan yang lainnya ada karena Dia mempunyai Kehendak dan Keinginan Yang Tak Terbantahkan; Dia ada karena Kekekalan diri-Nya, kemandirian-Nya, sehingga bagi selain-Nya, maka Dia adalah Perbendaharaan Tersembunyi.

    Aku ada, makhluk lainnya juga ada, semata-mata karena limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga ketika Dia mendeklarasikan Kekekalan-Nya dan Kemandirian-Nya yang Absolut maka Dia berkata:

    “Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u’rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi ‘arafu-ni –Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku.

    Dia ucapkan Basmalah sebagai Rahmat dan Kasih Sayang yang Dia limpahkan, sebagai bagian dari Perbendaharaan-Nya yang tak akan ternilai oleh semua makhluk-Nya, tak akan terbalaskan kecuali oleh rahmat dan hidayah-Nya sendiri. Maka, dalam pemeliharaan Asma Ar-Rahmaan dan ar-Rahiim, Dia firmankan kehendak-Nya “Jadilah!” dan muncullah cahaya kemegahan-Nya sebagai Nur Muhammad, sebagai citra awal mula-Nya yang sempurna; kemudian aku mengetahui bahwa melaluinya aku akan mengenal-Nya.

    Dalam pusaran wawu, yang berputar melawan detak Sang Waktu, Nur Muhammad adalah cahaya-Nya yang tidak tercitrakan di alam nyata; kecuali bagi mereka yang memiliki qolbu Mukminin dan mereka yang menempatkan dirinya sebagai bagian darinya. Ketika Nur Muhammad menyinari zarah tanpa massa, yang kelak ditakdirkan menjadi al-Haba, maka dalam kuatnya pusaran wawu, Thaasin adalah firman-Nya yang memaujudkan kekuasaan-Nya, terciptalah minyak zaitun yang diberkahi, yang kilau kemilaunya mampu menerangi, kendati tanpa disentuh api.

    Simetri Kegaiban Mutlak-Nya pecah mandiri karena kehendak-Nya semata; Maka dari Kegaiban Mutlak-Nya, melimpah dengan Rahmat dan Kasih Sayang-Nya, al-Iradah-Nya goncangkan kegaiban sehingga gelombang al-Qudrah-Nya maujud mencapai batas-batas untuk segera munculkan al-Haba sebagai debu awal mula dan semburat cahaya Nur Muhammad meneranginya, hingga “Jadilah!” lelehan minyak zaitun itu seperti minyak tak tembus cahaya, lantas kehendak-Nya terkonfirmasikan sebagai plasma awal mula yang meledak-ledak dengan sendirinya, ciptakan gelombang Dentuman Awal Mula (Big-Bang), yang lontarkan al-Haba sebagai debu-debu materi pemula, yang luaskan ruang awal-mula dalam ketakberhinggaan Sang Waktu yang mengada menjadi fondasi alam nyata; darinya muncul salah satu kaumku yang mampu menjangkau setiap sudut-sudut semesta; membangun superspace awal mula; Dari Nur Muhammad, maujud salah satu kaumku mengikat semua maujud al-Haba menjadi semua makhluk, baik sendiri-sendiri sebagai

    gelembung-gelembung kuantum, maupun sintesa dari banyak zarah menjadi citarasa-citarasa , inti-inti, atom-atom, molekul-molekul, sel-sel, jaringan-jaringan, organ-organ, obyek-obyek, menjadi galaksi-galaksi, menjadi bintang-bintang, menjadi planet-planet, batuan, pegunungan, lautan, tumbuhan, binatang, manusia, dan menjadi dirimu.

    Kaum mu, tercipta dari proses setelah milyaran tahun Kun Fa Yakuun berjalan. Itulah tanah lempung dari seluruh penjuru bumi, yang pernah kuambil dulu. Lantas kemudian Dia tiupkan Ruh dari cahaya-Nya. Dia berfirman ketika itu,

    Alif Laam Ra, (Qs 2:1)

    Alif Laam Mim Ra (Qs 13:1)

    Cahayamu Dia ciptakan dengan penuh rahmat, kasih sayang dan kemuliaan-Nya. Maka “Jadilah!” kaummu yang mengemban semua amanat kesempurnaan citra-Nya; Amanat yang tak sanggup diemban kaumku, amanat yang tak sanggup diemban oleh semua makhluk kecuali kaummu. Adam yang diciptakan sebagai manusia sempurna pertama, adalah moyangmu, yang memahami asmaa-a-kullahaa, yang menjadi khalifah pertama mengemban amanat itu.

    Kamu mungkin heran, kalau aku sendiri sebenarnya mahluk yang sangat tak kasat mata. Serpihan al-Haba dan Nur Muhammad adalah bahan bakuku, yang terhalus ciptakan diriku. Disaat tertentu kaumku jadi sangat nyata dan bisa berbentuk apa saja.

    Persis seperti cahaya yang memantul atau bayang-bayang yang timbul dari setiap makhluk dibawah cahaya. Karena aku dekat dengan esensi dirimu, maka penampakkanku sebenarnya sangat tergantung pada apapun yang menggerakkan tindakanmu, motivasimu, dan niat-niatmu. Bagi kaum sejenis ku, bentuk tak berarti apa-apa.

    Selama milyaran tahun, Dia telah menetapkan masing-masing dari kami dengan urusan-urusan yang spesifik. Dia telah berfirman, Thaahaa (QS 20:1) Untuk menyingkapkan segala sesuatu, dari Asma-asma-Nya yang menjadi ketentuannya. Yang kelak engkau kenal sebagai, Alif, Ba, Jim, Dal (ABJAD) 1,2,3,4 (desimal) 10101010….(biner)

    Kami adalah kaum spesialis, dengan perintah-perintah-Nya, yang tak bisa kami bantah. Kami menyertai setiap gerak-gerik segala makhluk selain kaum kami. Karena tugas kami memang begitu. Kami awasi segala perilaku dan tindak tanduk kaummu, kesesatanmu, kemuliaan-mu. Kami bukan memata-matai, tetapi sekedar mencatat atau tugas-tugas khusus lainnya.

    Semuanya kami catat sesuai dengan yang kami ketahui. Tapi lebih tepatnya menjadi saksi atas proses kesempurnaanmu, dengan rahmat, anugerah, kasih sayang, hikmah, keadilan dan kebijaksaan-Nya. Dia telah berfirman dengan kelembutan sebelum semuanya ditampilkan dengan Basmalah, Kaf ha ya Ain Shaad (Qs 19:1) Kelembutan itu adalah “yatalaththaf” (Qs 18:19) yang memunculkan Rahmat dan Kasih Sayangnya ketika Kun fa Yakuun (Qs 36:82) dicetuskan sebagai perintah penciptaan dengan ketentuan yang pasti terjadi (QS 69:1).

    Tugas yang kuemban entah sampai kapan, aku sendiri tidak pernah diberi tahu. Seperti aku misalnya. Tugasku sangat spesifik untuk mengembalikan ruh segala mahluk kembali kepada-Nya. Setelah itu, ya sudah, petugas yang lain dari jenisku akan meneruskan proses itu. Begitu saja setiap saat dari waktu ke waktu. Monoton memang. Tapi entah kenapa aku senang-senang saja menjalankan titah-Nya itu. Bagiku menjalankan perintah-Nya bukan sekedar tugas atau perintah. Tapi menggairahkan unsur-unsur pembentukanku.

    Entah sudah berapa banyak aku mengembalikan ruh setiap mahluk di semesta ini. Dari kaum apa saja, dari ras apa saja. Yang baik-baik ataupun yang durhaka. Yang sedang sekarat ataupun yang sehat-sehat saja. Pokoknya, yang berdiam disetiap sudut semesta, yang mengikuti proses sejak Kun Fa yakuun difirmankan.

    Aku sendiri, tentu saja menjadi bagian dari proses itu. Tapi karena kuasa-Nya, tugas kami memang cuma menjaga agar proses itu berjalan seperti yang Ia Kehendaki. Kehendak-Nya adalah Kemutlakkan-Nya. Maka kaum kami seringkali merupakan bagian dari apa yang disebut sunnatullah. Aturan dan ketetapan-ketetapan yang menyertai kun fa yakuun, baik yang pasti atau tidak pasti.

    Kenapa Aku? Kenapa aku yang ditugasi begitu? Ini ada sejarahnya. Kan tadi sudah kukatakan, bahwa aku dulu pernah mengambil debu dari bumi. Ketika Dia hendak menciptakan Adam, moyangmu itu, Dia mengutus satu malaikat yang sebenarnya tugasnya memikul ‘Arsy untuk membawa debu dari bumi.

    Ketika dia ngotot ingin mengambil debu dari bumi, Bumi berkata “Aku memintamu demi Zat Yang telah mengutusnya agar engkau tidak mengambil apa pun dariku sekarang yang neraka memiliki bagian darinya”. Malaikat pemikul Arsy terkejut, maka dia pun batal mengambil debu bumi.

    Ketika ia melaporkan kepada-Nya, Dia berfirman “Apa yang mencegahmu untuk membawa apa yang telah aku perintahkan kepadamu?”. Dia menjawab, “Bumi telah meminta kepadaku demi keagungan-Mu, sehingga aku merasa berat untuk menolak sesuatu yang meminta demi Keagungan-Mu”. Maka Allah kemudian mengutus malaikat lainnya kepada bumi, tetapi bumi mengatakan alasan yang persis sama seperti sebelumnya.

    Demikian sampai entah berapa milyar tahun dalam ukuranmu sampai Allah mengutus semuanya. Akhirnya Allah mengutusku untuk mengambil debu. Bumi pun mengatakan seperti sebelumnya. Tapi, sudah menjadi kehendak-Nya kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan debu dan tanah liat akan ditugaskan kepadaku. Aku berkata kepada bumi,”Sesungguhnya Dia yang mengutusku lebih berhak untuk ditaati daripada kamu”.

    Bumipun bungkam seribu bahasa dan pasrah atas kehendak-Nya. Akupun mengambil dari permukaan bumi seluruh tanah yang baik dan buruk, semua unsur yang ada di Bumi yang mengandung Carbon, Hidrogen dan Oksigen, dan membawanya kepada-Nya. Lalu Dia mengucurkan air surga kekumpulan debu bumi itu sehingga menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk yaitu minthiin (Qs 23:12), dan darinya Ia menciptakan Adam.” Itulah sebabnya kenapa aku ditugaskan untuk mengambil ruh manusia dan mengembalikannya ke Yang Berhak Menentukan Nasib.

    Aku tak mengenal belas kasihan. Dulu, aku pernah berbelas kasih kepada manusia yang hendak kucabut nyawanya. Namun, kehendak Allah mengandung rahasia-rahasia yang tersembunyi, sehingga akupun malu melakukan penentangan Kehendak-Nya. Suatu hari, aku diperintahkan mencabut nyawa seorang perempuan di padang pasir yang panas. Ketika kudatangi, dia baru saja melahirkan anak laki-laki. Aku menaruh belas kasihan kepada perempuan itu karena keterpencilannya, dan juga kasihan terhadap anak laki-laki perempuan itu karena masih bayi namun tidak terawat di tengah padang pasir yang buas. Namun fatal akibatnya, karena anak kecil dimana aku menaruh belas kasih itu ternyata adalah penguasa lalim dan tiran yang tak ada duanya di bumi. Dari situ, aku memahami bahwa “Mahasuci Dia yang memperlihatkan kebaikan kepada yang dikehendaki-Nya!”.

    Ketika aku berbelas kasihan, maka aku tidak mencabut nyawa bayi itu, tapi aku kemudian menyesalinya karena apa yang kuanggap kebaikan ternyata benih kejahatan yang kubiarkan tumbuh karena aku salah menafsirkan kehendak Tuhan

    Izrail terdiam sejenak. Agaknya ia masih mengenang apa yang dilakukannya dulu. Kemudian ia melanjutkan. Jangan tanya siapakah ibu bapakku, seperti layaknya makhluk lainnya yang beribu bapak. Katakan saja, aku manifestasi Kehendak Yang Kuasa. Manifestasi al-Qudrah setelah Ia memfirmankan “kun!”.

    Seperti saya bilang tadi, kaum sejenisku tercipta begitu saja karena Ia Berkehendak. Kalau kamu bertanya berapakah banyak tugas yang telah kulakukan? Aku sendiri tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Karena pengetahuan tentang itu tidak kami miliki.

    Ada yang lain dari jenisku yang melakukan hitung menghitung. Itu bukan tugasku. Aku jadinya memang mahluk yang sangat spesifik. Sebenarnya kalau soal spesialisasi begini, kami tidak ada apa-apanya dibanding kalian manusia. Soalnya, hanya kaum kalianlah yang diberi kehendak bebas untuk berpikir, memilah dan memilih dengan bertanggung jawab. Kaum kami tak sanggup memikulnya, karena kami telah melihat dampak-dampaknya yang mengerikan.

    Dia pun menghendaki kami bertasbih dan sujud dihadapan Nenek Moyangmu. Pernah kami protes begini-begitu sewaktu kami diberitahu bahwa Dia Berkehendak menciptakan mahluk manusia. Namun, Dia Maha Mengetahui atas apapun yang terjadi sejak Awal dan Akhir.

    Kami sebenarnya terikat Sang Waktu seperti kaummu. Sang Waktu adalah kaum sejenisku. Ialah yang memungkinkan perubahan. Kami sebenarnya pun tau kalau manusia akan selalu begini begitu di semesta yang Dia ciptakan dengan rahmat dan kasih Sayang-Nya yang tak terbalaskan. Yang tidak kami miliki ada pada makhluk yang satu ini. Keinginan, akal, dan atribut lain yang kami tau bakal jadi masalah nanti.

    Kami memang sedikit iri, sampai Dia menunjukkan kuasaNya atas semua makhluk manusia. Kalian sebenarnya lebih tahu dari kami atas segala mahluk yang pernah Ia ciptakan.

    Kami pun lalu sujud dihadapan nenek moyangmu, Adam. Cuma satu makhluk yang tak mau sujud. Ialah Iblis yang kemudian akan selalu mendampingi kalian dalam proses Kun Fa yakuun. Maka, iapun terkutuk. Allah berfirman :

    “Keluarlah engkau dari padanya, karena sesungguhnya engkau terkutuk, dan sesungguhnya laknat atasmu sampai hari kemudian.”

    Begitulah, Iblis pun menjadi musuh abadimu dan musuhmu yang sejati. Ia menyusup di kumpulan-kumpulan debu al-Haba yang sekarang maujud menjadi semua bentuk, karena keinginan, karena hasrat, karena syahwat, karena ketamakan, kerakusan, kesombongan, dan penyakit-penyakit Sang Iblis lainnya. Aku tak kuasa mengusirnya dari sekitarmu, soalnya memang bukan tugasku. Kan tadi sudah kubilang kaumku adalah kaum spesialis. Begitulah aku.

    Izrail mengakhiri kisahnya. Aku terdiam. Kemudian, karena tugas-tugasnya itu aku bertanya tentang cara dia mengakhiri kehidupan seseorang, cara dia mengambil ruh makhluk bernyawa. “Proses pengambilan ruh? “, dia mengangkat alisnya.

    Sebenarnya bagaimana caraku mengambil ruhmu itu tergantung dari banyak hal. Dan semuanya ada didiri kamu sendiri. Ada yang mungkin menurutmu kelihatan mudah, ada juga yang sulit. Ada yang berkesan ada juga yang tidak menyimpan kesan apa-apa. Aku sendiri tidak tau kenapa bisa tidak berkesan sama sekali. Ia maunya begitu kok.

    Cara mengambilnya pun macam-macam. Kan sudah ku bilang kalau bahan dasarku adalah cahaya. Penampakanku sebenarnya tergantung dari kamu sendiri. Ada banyak hal yang mempengaruhi penampakan ku. Tapi, yang utama memang segala gerak gerik dan tingkah laku yang pernah kamu lakukan di semesta ini, akan mempengaruhi wujud penampakkanku.

    Demikian juga cara mengambil ruh kehidupan yang bersemayam di wujud fisikmu, tergantung pada kebandelan dan kepatuhanmu. Memang kaum mu ini termasuk makhluk yang diistimewakan-Nya. Sangat disayang, sangat sempurna dibanding makhluk lainnya. Hanya, seringkali kaum kamu itu ngeyel.

    Kalau tidak, malah bisa dibilang pin-pinbo alias pintar pintar bodoh. Dan yang paling menjengkelkan, kalau kaum kamu ini sudah dikuasai oleh penyakitnya Sang Iblis yang terusir. Walah, susahnya minta ampun. Padahal pengambilan ini sebenarnya proses yang biasa-biasa saja. Kamu sendiri kan tahu tiap saat ada saja yang kuambil. Dengan baik-baik atau dengan paksa, dengan sendiri-sendiri atau berkelompok, dengan senang atau dengan ketakutan. Memang sih aku sering datang tiba-tiba. Maklum namanya cuma makhluk yang cuma menjalankan perintah. Aku sendiri tidak tahu kapan harus segera menemuimu. Itu rahasia Dia Yang Penuh Rahasia.

    Kaum kami pun, yang bisa dibilang 100 % patuh dan selalu beribadah kepada-Nya, tak tau apa-apa kalau menyangkut urusan takdir makhluk. Sungguh, tugas kaum kami cuma memenuhi perintah Dia. Memang sih seringkali ada delay sewaktu kami menjalankan tugas. Biasanya kalau ada delay, kehadiran kami akan didahului aura yang mempengaruhi kelakukan mahluk yang akan kami ambil. Mungkin kamu sendiri tidak menyadari hal itu. Tapi begitulah. Kaum kamu sebenarnya ada di dalam genggaman-Nya dengan ketat. Ada yang digenggam erat-erat. Ada yang direnggangkan, sampai kesombongan menyergapnya. Dan mengira, dirinya sangat hebat dan berkuasa, sampai-sampai dia pun menafikan peran Tuhannya. Padahal, semua malapetaka, semua kehinaan, semua hal yang buruk-buruk dapat terhindar dari dia semata-mata karena Dia sangat menyayanginya.

    Akhirnya, kesombongan itu menjerumuskan dirinya dalam banyak kesesatan dan kebodohan. Benar, sombong, bodoh dan sesat itu sebenarnya hampir beriringan, karena itulah karakter Azazil, sang Iblis yang mengira dirinya pantas disujudi karena ilusi kesuciannya. Banyak kaummu yang terkena ilusi palsu itu. Maka berhati-hatilah, sebenarnya semua manusia mempunyai peluang untuk tergelincir ke dalam perangkap tipu daya Sang Durjana yang dikutuk oleh-Nya.

    Kami yang mempunyai tugas mengambil sebenarnya cuma satu. Berhubung kami tidak terikat dalam proses yang kalian jalani, tidak oleh ruang maupun waktu, sepintas kami kelihatan ada banyak. Memang begitulah kejadiannya. Dalam satu waktu ukuran kalian, kami bisa serentak mengambil banyak ruh dengan berbagai cara, dimana saja.

    Sudah tak terbilang, berapa milyar ruh yang kuputuskan dari semua harapan dan impiannya, dari semua angan-angan dan cita-citanya, dari semua keasyikannya, dari semua kesenangannya, hartanya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, rumah-rumahnya, mobil-mobilnya, perusahaan-perusahaannya, jabatan-jabatannya, pacar-pacar gelapnya, dan lain-lainnya.

    Tapi, itu tak cukup untuk mengingatkan manusia. Hingga iapun seperti keledai dipenggilingan masa, terperosok di lubang yang sama dari masa ke masa.

    Kelalaian manusia dari mengingat kedatanganku nampaknya sudah menjadi penyakit zaman. Dari waktu ke waktu melakukan tugasku, kelalaian mereka terhadap kedatanganku menimbulkan rasa sombong dan berpanjang angan-angan. Entah sudah berapa banyak aku menghanguskan “business plan” mereka. Kaummu semestinya mengingat syair yang dibuat oleh seorang arif ini,

    Kita lalai dari mati di pagi dan sore hari, Seperti penghuni dunia yang lalai, Dari kematian di sore dan pagi hari, Seseorang berjalan di suatu hari seperti tubuh tanpa ruh, Didepan mataku, setiap yang hidup adalah isyarat kematian, Merintihlah jiwamu wahai orang miskin, bila engkau merintih, Sungguh, kau akan mati meski kau berumur seperti Nuh.

    Aku rasanya sudah kebal dengan semua keadaan ruh yang kutarik dalam keadaan apapun. Pembantu-pembantuku sejumlah mahluk berruh yang ada di semesta ini. Jadi, setiap saat sebenarnya aku mengintip semua makhluk, mengincar semua makhluk. Begitu sinyal terakhir diisyaratkan Allah SWT maka akupun akan beraksi memadamkan semua kepongahan dan harapan manusia.

    Ketahuilah, sesungguhnya ruh dalam keadaan telanjang dalam tubuh seorang hamba, ia akan diambil apabila dikehendaki dan dilepaskan apabila dikehendaki oleh-Nya. Maka Bersiaplah untuk mati wahai jiwa dan berusahalah untuk selamat, orang bijak yang siap meyakini bahwa tak ada keabadian bagi kehidupan dan tak ada tempat pelarian dari kematian.

    Engkau hanya peminjam apa yang mesti dikembalikan. Kita bukanlah pemilik kehidupan ini, juga bukan pemilik tempat hidup ini. Kita tak berharta, tak berkeluarga, tidak juga anak-anak kita miliki.

    Semuanya orang-orang telanjang. Jiwa kita menuju masa yang dekat, Yang Meminjamkan akan mengambil yang dipinjamkan.

    Sebenarnya aku juga ditugaskan untuk mematikan malaikat, setan, iblis, pohon, binatang, dan makhluk bernyawa lainnya. Maka ia yang bernyawa, pastilah akan gemetar melihat kedatanganku.

    Sebenarnya, ada banyak cara aku menarik ruh dari tubuh atau jasad mahluk bernyawa. Hal itu sebenarnya tergantung dari segala hal yang membentuk kamu, amal-amal kamu, dan kelakukan kamu. Mau tau bagaimana aku menarik ruh dari tubuh manusia? Aku menariknya langsung dari jasad yang hidup melalui ubun-ubun kepala.

    Kamu seringkan menyedot minuman dari dalam botol? Persis! Seperti itulah aku menarik ruh manusia dari tubuhnya. Saat itu kulakukan, seluruh sel-sel genetis tubuhmu mulai dari ujung kaki, sedikit demi sedikit akan mati. Maka, jemari kakilah yang akan mengalami kematian pertama kali, baru kemudian bergerak ke telapak kaki, tungkai, kemudian ke betis, lalu paha dan seterusnya. Pada keadaan ruh kutarik, ujung-ujung kaki akan mengejang, kaku. Dengan cara yang sama setiap bagian tubuh pelan-pelan akan kesakitan amat sangat dan kemudian mati rasa, bertanda ruh sudah melalui bagian itu. Maka, berpisahnya tubuh dengan ruh akan terjadi setelah ruh dan tubuh merasakan sakit yang sangat dahsyat.

    Bagaimana rasanya. Susah kugambarkan, karena aku cuma melihat saja, kan aku yang mencabut nyawa. Aku cuma melihat saja bagaimana manusia yang kucabut nyawanya berkelojotan dengan berbagai ekspresi rasa sakit yang dia rasakan saat itu. Jadi aku sendiri ndak tahu bagaimana rasanya ketika ruh kutarik dari jasad manusia.

    Tapi, baiklah, dari pengalamanku mungkin gambarannya bisa kusimpulkan demikian : Rasanya seperti disayat-sayat karena ruh kehidupanmu, yang menempel disetiap atom tubuhmu, sel-sel genetismu yang menjadi jaringan syaraf, otot, pembuluh darah, persendian, rambut, kulit kepala, kulit yang membungkus tubuhmu, dan semua bagian tubuhmu kutarik-tarik, kubetot-betot dengan keras. Bayangkan saja jika ruhmu enggan meninggalkan dunia, maka semakin enggan, semakin sakitlah rasanya. Kalau ndak percaya, coba saja kamu cubit kulitmu keras-keras. Sakit kan!

    Kamu pernah kan mengalami luka disayat. Perih! Begitulah teriakan sebagian dari mereka yang kucabut ruhnya. Tapi luka tersayat yang sering dialami manusia tidak seberapa dibandingkan dengan tercabutnya ruh dari jasadmu dengan paksa. Kalau sayatan luka kan cuma terjadi di sekitar luka saja, itupun sakitnya sudah luar biasa dan terasa di bagian tubuh lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana kalau seluruh sel tubuh terasa disayat-sayat. Jangan heran kalau manusia akan berkeringat, menjerit, melolong-lolong, meraung-raung, dan menggeliat-geliat berkelojotan ketika ruh ditarik keluar dari kepompong tubuhnya.

    Manusia akan terkuras tenaganya, akibat kelelahannya, ia bahkan tak lagi dapat bernafas, ia akan merasakan seperti tertimpa beban berat kesombongan, kedengkian, ketamakan, kemaksiatan, dan kejahilan lainnya. Namun demikian, apabila tubuh kuat, suara yang dikeluarkan ketika bernafas akan berbeda-beda. Ada yang dengan susah payah, ada yang mudah. Sesuai dengan amal yang pernah dilakukan tubuhnya.

    Rasa sakit yang tak terkira muncul karena ruh yang lembut menjadi jinak dan menyatu setelah berhubungan dengan tubuh. Keduanya kemudian bercampur dan saling merasuki satu sama lain, sehingga keduanya seperti menjadi sesuatu yang satu. Ruh dan jasad menjadi melekat. Keduanya tak akan terpisahkan, kecuali dengan suatu upaya penarikan yang kuat, sehingga manusia merasakannya sebagai suatu kepayahan yang amat sangat dan sakit yang luar biasa.

    Ketahuilah, kesukaanmu akan syahwat, nafsu dan materi serta keduniawian cenderung akan semakin melekatkan ruhmu dalam jasadmu. Kenapa demikian, ini karena atom-atom tubuhmu semakin memiliki energi yang tinggi, sehingga ikatan-ikatan atomis dalam tubuhmu akan semakin kuat.

    Dikatakan bahwa tubuhmu menyimpan energi dalam yang berlebihan, sehingga seringkali energi berlebihan ini melonjak-lonjak dengan liar dan menumbuhkan berbagai syahwat dan nafsu. Kromosom-kromosommu akan terganggu, kode-kodenya yang asli akan jungkir balik, bahkan akibat langsungnya akan muncul menjadi berbagai penyakit yang payah seperti kanker, jantung, atau pikun. Itulah yang akan mencelakakanmu, akan menyiksamu.

    Jadi semakin lekat ruh dalam jasad maka semakin sakitlah engkau rasakan ketika aku menarik-nariknya karena keengganan ruhmu meninggalkan jasadmu. Setelah rasa sakit tak terkira dan kekuatan jasad menurun, suara akan berangsur hilang, dan setiap bagian tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku.

    Sakitnya penarikan ruh memang menggentarkan siapapun juga. Jangankan manusia biasa, para nabi dan rasul pun menggigil ketakutan manakala aku datang. Karena alasan itulah, seorang nabi yang paling dimuliakan diantara nabi-nabi dan rasul-rasul, Muhammad SAW, memohon kepada Allah SWT agar membebaskan beliau dari penderitaan dan kepedihan kematian.

    Beliaupun sudah mengingatkan, “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghancurkan kelezatan, yakni kematian.” Banyak orang arif dan ulama yang membuat syair tentang hilangnya kelezatan ketika aku datang. Kata mereka,

    Ingatlah kematian yang menghancurkan kelezatan, Dan bersiaplah untuk kematian yang akan datang, Wahai yang hatinya lalai dari mengingat kematian, Ingatlah tempatmu sebelum tiba saat perjumpaan,  Bertobatlah kepada Allah dari kelalaian dan segala yang lezat, Sesungguhnya kematian sangatlah dekat, Ingatlah musibah hari-hari dan saat-saat yang terlewat, Jangan merasa tenang dengan dunia dan perhiasannya yang melekat.

    Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan kesakitan saat penarikan ruh dalam firman dengan gambaran berikut “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan) (QS 75:29)”, yang banyak ditafsirkan oleh ulama sebagai berhimpunnya rasa sakit sakratul maut dengan kerugian karena melepaskan ridha Allah.

    Allah menyebut keadaan tersebut dengan “sakrah”, karena sakitnya kematian disertai dengan keburukan yang dihimpun akan membuat semaput pemiliknya, sehingga biasanya kesadarannya hilang. Allah berfirman, “Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS 50:19)”[17].

    Bagaimana gambaran yang jelas mengenai rasa sakit dan penderitaan kematian memang bermacam-macam. Sehingga terdapat gambaran yang tidak persis sama, namun intinya serupa yaitu suatu rasa sakit yang tak terkirakan. Kamu mungkin dapat menyimak dari beberapa kisah tentang kematian berikut ini.

    Hasan bin Ali pernah mendengar sabda Nabimu yang mulia yang mengatakan padanya bahwa “pedihnya kematian setara dengan luka-luka tiga ratus tusukan pedang”. Ali Bin Abu Thalib kwj. bahkan menyebutkan setara dengan seribu pukulan pedang. Bisa kamu bayangkan bukan bagaimana sakitnya. Jangankan dipukul pedang, lha luka tergores silet saja bisa membuat manusia mengaduh-aduh nggak karuan, apalagi dipukul-pukul seribu kali dengan pedang.

    Gambaran lain menyebutkan, kalau pedihnya kematian itu lebih tajam dari gigi gergaji, lebih tajam dari mata gunting, lebih menyakitkan daripada dipanggang diatas kawah panas gunung berapi. Makanya ada pepatah yang mengatakan bahwa “maut lebih menyakitkan daripada tusukan pedang, gergaji, atau sayatan gunting”.

    Para nabi dan rasulpun mempunyai gambaran yang menakutkan betapa pedihnya ketika aku datang. Dikisahkan ketika Nabi Musa meninggal dunia dan ditanya Allah bagaimana rasa sakitnya kematian yang ia rasakan, ia menjawab bahwa kejadian itu seperti seekor burung yang dipanggang hidup-hidup, tapi nyawanya tidak juga lepas dan ia tidak menemukan cara untuk melepaskan diri. Musa juga menggambarkan peristiwa itu seperti kambing hidup yang sedang dikuliti.

    Bukankah Aisyah r.a pernah juga mengatakan bahwa ketika Nabi SAW akan meninggalkan dunia fana ini, ada secangkir air penuh tergeletak didekat beliau. Beliau mencelupkan tangannya kedalam cangkir berulang-ulang dan membasahi dan membasuh wajahnya. Beliau berdoa kepada Allah supaya dibebaskan dari sakratul maut.

    Demikian juga, khalifah kedua Umar bin Khatab r.a. meminta Ka’ab menggambarkan keadaan ketika seseorang dalam sakratul maut. Dia menjawab “Pencabutan nyawa dari badan dapat dibandingkan dengan pencabutan duri-duri dari tubuh manusia sedemikian rupa sehingga seluruh tubuh merasakan cengkeraman rasa sakit yang amat sangat.”

    Itulah sekelumit gambaran bagaimana kami melakukan tugas pencabutan ruh dari tubuh manusia dan rasa sakit yang dirasakannya. Perlu kamu ketahui juga, kalau pengaruh pencabutan ruh, atau kematian itu tidak cuma sekedar ketika ruh dicabut dari jasadmu. Namun pengaruhnya akan terus-menerus dirasakan sampai keliang lahat.

    Akan kuceritakan sebuah riwayat lama yang menginformasikan hal ini. Pernah sekelompok orang datang kekuburan dan berdoa kepada Allah untuk menghidupkan seseorang yang telah meninggal. Maksud mereka adalah ingin mengetahui bagaimana penderitaan yang dialami si mati pada saat aku beraksi. Atas idzin Allah, si mati yang kebetulan seorang yang bertakwa pun hidup kembali. Ia berkata, “Aku meninggal 50 tahun yang lalu, namun hingga kini rasa pedihnya belum hilang dari hatiku!”. Bayangkan! Rasa sakit yang dialami ruh si mati yang nampaknya tidak hilang begitu saja, namun terasakan hingga puluhan tahun.

    Aura kedatanganku yang menguat biasanya kalian sebut sebagai Sakratul Maut. Dalam keadaan sakratul maut, setiap saat sekarat demi sekarat akan manusia lalui, penderitaan demi penderitaan akan dirasakan, sakit demi sakit akan mengingatkan manusia pada semua perbuatannya, dan hal itu terus akan terjadi sampai ruhnya mencapai kerongkongannya.

    Pada titik kritis ini, berhentilah perhatian manusia kepada dunia dan semua yang ada di dalamnya. Berhentilah semua harapan-harapan dan angan-angan mereka. Saat itu, simetri kegaiban pun terkuak dihadapannya, pemandangan alam akhirat pun muncul begitu saja. Pintu tobatpun ditutup dan manusia pun diliputi oleh kesedihan dan penyesalan. Ia mungkin akan teringat sabda Rasulullah SAW “Tobat seorang manusia tetap diterima selama dia belum sampai pada kondisi sakratul maut (yaitu sampainya nyawa di kerongkongan)”. Maka semakin menyesallah ia. Tapi semua itu terlambat dan ketika aku menampakkan diriku semakin nyata, maka saat itu jangan pernah bertanya tentang pahit getirnya kematian ketika sakratul maut tiba. Pendek kata karena kengerian tentang kedatanganku maka Rasulullah SAW pernah bersabda tentang aku, dengan sabdanya beliau sebenarnya hanya ingin mengingatkan manusia, katanya:

    “Kalau kalian melihat ajal dan perjalanannya, pastilah kalian akan membenci angan-angan dan tipu dayanya.

    Tak seorangpun penghuni rumah kecuali ada Malaikat Maut yang memperhatikan mereka dua kali sehari. Orang yang didapati ajalnya telah habis, maka dia cabut nyawanya.

    Bila keluarganya menangis sedih, dia bertanya ‘Mengapa kalian menangis?’ Dan mengapa kalian bersedih?

    Demi Allah, Aku tidak mengurangi umur kalian, tidak pula mengekang rezeki kalian, dan akupun tidak berdosa.

    Sesungguhnya aku benar-benar akan kembali kepada kalian (yang masih hidup saat itu), kemudian kembali, dan kemudian kembali, sehingga aku tidak menyisakan seorangpun dari kalian.'”

    Demikianlah, aku akan datang tanpa diundang dan pergi tanpa diantar. Ia yang saatnya sudah ditentukan, maka ia akan menghadapi aku sesuai dengan keadaannya, rasa sakitnya, dan kengeriannya.

    Banyak ungkapan yang menggambarkan bagaimana rasa sakit ketika aku mencabut nyawa manusia. Namun, percayalah itu semua tidaklah lengkap benar karena keluarbiasaan sakratul maut tidak dapat diketahui dengan pasti, kecuali oleh orang yang merasakannya sendiri. Tahukah kamu, bahwa pencabutan nyawa termasuk kondisi spiritual yang cuma bisa dirasakan oleh orang yang kucabut nyawanya. Jadi, orang lain mungkin menggambarkan dengan ungkapan yang berbeda-beda. Tapi, begitulah kematian, ia hanya bisa dirasakan oleh yang meregang nyawanya sendirian.

    Karena kematian termasuk keadaan ruhani, maka menjadi jelas bahwa keadaan ruhanimu sangat mempengaruhi bagaimana rasanya mati. Orang lain cuma bisa mengira-ngira saja dengan menganalogi-kannya dengan rasa sakit yang benar-benar pernah dialaminya, atau dengan cara mengamati orang lain yang sedang meregang nyawa. Lewat analogi pula akan diketahui bahwa setiap anggota badan yang tidak bernyawa, tidak bisa lagi merasakan rasa sakit.

    Akan kuperjelas lagi bagaimana rasa sakitnya kematian. Gambarkan saja satu bagian dirimu terbakar api, maka rasa sakit yang dialami akan menjalar keseluruh tubuh dan jiwa. Dan sesuai dengan kadar yang menjalar ke jiwa, maka sebesar itu pula kadar yang dialami oleh seseorang. Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan selama sakratul maut menghunjam jiwa dan menyebar keseluruh tubuh. Sehingga bagi yang sedang sekarat, maka ia merasakan dirinya ditarik-tarik, dibetot, dan dicerabut dari setiap sel, urat nadi, syaraf, persendian, dari setiap akar rambut yang tumbuh dibadannya dan kulit kepala, hingga kaki. Jadi, jangan Anda tanyakan lagi bagaimana derita dan rasa sakit yang tengah dialami oleh mereka yang dijemput olehku!

    Maka, perhatikanlah sekiranya kamu mengalami suatu peristiwa yang berhubungan dengan kematian, apakah itu kematian salah satu keluargamu, tetanggamu, atau teman-temanmu. Perhatikan bagaimanakah keadaannya! Gunakan pengalamanmu dalam mengiringi kematian sebagai pelajaran dan peringatan bagimu, bahwa tak ada yang abadi, semua pasti akan mati!

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 19 November 2012 Permalink | Balas  

    Asal Usul dan Tujuan Kehidupan

    Pembahasan kita kali ini adalah menjawab pertanyaan : Untuk apa kita mempelajari Ruh dan Jiwa? Kenapa nggak cuek aja? Toh, dipelajari atau tidak, Ruh dan Jiwa itu sudah ada di dalam tubuh dan terlibat dalam kehidupan kita?

    Orang Jawa mengatakan untuk mengetahui: ‘sangkan paraning dumadi’ alias asal usul dan tujuan kehidupan. Darimanakah kehidupan ini muncul dan akan kemanakah kita sesudah itu? Hal yang sama telah dilakukan oleh para ilmuwan, filsuf, dan orang-orang bijak sepanjang sejarah kemanusiaan.

    Inti dari semua itu adalah untuk mengetahui untuk apakah kita ada? Apakah sebenarnya misi utama kehidupan kita? Apakah sekadar ‘mengalir’ begitu saja? Ataukah, memiliki tujuan tertentu?

    Jawaban atas pertanyaan itu mulai tergambar lebih jelas ketika kita memasuki wilayah ‘dunia Jiwa dan Ruh’ ‘ Hal inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-firman Nya yang baru kita bahas di bagian sebelum ini. Bahwa, semua itu menjadi pelajaran dan mengandung hikmah bagi orang-orang yang mau berpikir dengan akalnya.

    Pelajaran apa? Bahwa Allah adalah Sang Maha Pencipta yang Maha Sempurna. Bahwa, manusia diciptakan Allah dengan mengikuti FitrahNya. Yang dengan Fitrah itu manusia akan mencapai kualitas tertingginya sebagai seorang manusia makhluk paling sempurna dari yang pernah diciptakan Allah.

    Bahwa, untuk mencapai kesempurnaan itu seorang manusia harus paham caranya, yaitu dengan mengikuti petunjukNya dalam sebuah agama Fitrah, yang termaktub dalam Al-Qur’an al karim.

    Itulah agama yang diciptakan berdasarkan keseimbangan, sebagaimana keseimbangan alam semesta dan keseimbangan diri serta kehidupan manusia. Barangsiapa mengikuti keseimbangan penciptaan itu maka selamatlah kehidupannya. Dan barangsiapa menabrak keseimbangan itu, maka celakalah dia. Dunia dan Akhirat.

    Bahwa, manusia memiliki kebebasan melakukan apa saja untuk kebahagiaan dirinya. Ia dihadapkan pada dua pilihan dalam kehidupannya: kebajikan ataukah kejahatan. Kebajikan adalah jalan hidup yang sesuai dengan konsep kesimbangan tersebut. Sedangkan kejahatan adalah segala sesuatu yang menabrak keseimbangan ciptaan Allah di alam semesta.

    Kebebasan atas pilihan itu oleh Allah telah dimasukkan ke dalam Jiwa manusia berupa kecenderungan untuk memilih jalan kefasikan atau jalan kebajikan. Caranya ada 2: membersihkan Jiwa atau mengotorinya.

    Maka berbahagialah orang-orang yang memilih membersihkan Jiwanya, dan menderitalah, orang-orang yang mengotorinya. Orang yang bersih Jiwanya, bakal jernih dalam memandang kehidupan, dan kemudian memperoleh kebahagiaan karena bisa bersikap dan bertindak sesuai dengan Sunnatullah yang berprinsip pada keseimbangan.

    Sebaliknya, orang yang hatinya kotor, bagaikan orang buta yang tidak tahu jalan kemana dia harus melangkah. Ia seperti orang buta yang menabrak segala sesuatu di hadapannya. Hidupnya penuh dengan masalah, karena ia tidak tahu bagaimana harus berlaku dalam keseimbangan Sunnatullah itu.

    Maka, setiap kita akan menuai hasil perbuatan kita sendiri. Segala kebaikan akan kembali kepada kita, sebagaimana kejahatan yang juga kembali pada diri kita masing-masing.

    Allah telah memberikan sebagian Ruh Nya kepada badan kita. Maka, dalam diri kita selalu ada bisikan-bisikan malaikat yang menuntun kita kepada kualitas sifat-sifat Ilahiah. la menuntun kita pada ‘Kebajikan Universal’, yang menghasilkan kondisi rahmatan lil ‘aalamin (Kebahagiaan Semesta) sebagai tujuan final diciptakan kehidupan.

    Allah mengarahkan kita agar tidak terjebak pada kehidupan Duniawi yang mengikat kebahagiaan kita hanya sekadar sekualitas materi. Karena, di dalam diri kita memang selalu ada bisikan Iblis yang mempengaruhi agar kita hanya mengorientasikan kehidupan pada pemenuhan kebutuhan badan semata. Tak peduli pada Keseimbangan Universal, yang mengarah pada ‘Kebahagiaan Semesta’.

    Bahwa drama kehidupan manusia digelar melewati tahapan-tahapan kehidupan yang bertingkat-tingkat. Awalnya tidak ada, kemudian menjadi ada, dan akhirnya tidak ada kembali. Asalnya dari Allah, kemudian diciptakan oleh Allah, dan akhirnya kembali lagi kepada Allah. Begitulah drama kehidupan seluruh makhluk di alam semesta ini. Tak terkecuali manusia.

    Manusia bukanlah makhluk abadi. Manusia bukanlah makhluk yang ada selama-lamanya. Sebab, manusia dulu memang pernah tidak ada. Dan suatu ketika nanti bakal ‘lenyap’ kembali.

    Memang banyak di antara kita yang tidak rela bakal lenyap. Mereka ingin hidup kekal, selama-lamanya. Tidak pernah hilang lagi. Lho, memangnya kita ini siapa? Kok ingin menyamai Dzat Allah Yang Maha Kekal?

    Dalam diskusi yang sering saya hadiri seringkali menemui pendapat-pendapat seperti itu. Banyak di antara kita yang tidak rela alam akhirat bakal lenyap. Sebab, kalau Akhirat lenyap, lantas (kita) manusia berada dimana?’ Jadi, pada intinya, sebenarnya mereka bukan tidak rela Akhirat bakal lenyap, melainkan ‘tidak rela dirinya lenyap’!

    Manusia, pada hakikatnya, ingin hidup abadi, selama-lamanya. Kenapa demikian? Karena Ruh yang bersemayam di dalam diri kita memang mengimbaskan sifat-sifat Ketuhanan. Di antaranya, ingin Hidup Terus, ingin Berkuasa Terus, Berkehendak sebebas-bebasnya terus, dan segala macam sifat keabadian lainnya.

    Kita lupa bahwa kita bukan Tuhan. Kita hanyalah manusia biasa yang diciptakanNya, berupa perpaduan badan material, Jiwa energial dan Ruh. Itu pun, Ruh yang ditiupkan kepada kita hanyalah sebagian saja dari Ruh Nya. Maka, jangan berharap kita akan menyamai Allah,

    Kita ada karena Ruh masih bersemayam dalam diri kita. Begitu Ruh itu dicabut kembali oleh Allah, maka eksistensi kita sebagai manusia ikut lenyap. Jangankan, pada waktu Ruh dicabut, saat kita tidur saja kita sudah tidak merasakan apa-apa. Eksistensi kita sudah hilang, seiring kesadaran yang juga hilang. (Masihkah anda merasa ada ketika anda tertidur lelap?!!)

    Bayangkan kalau seandainya kita tidak bangun lagi, maka kita sebenarnya sudah ‘lenyap’. Kita tidak lagi merasakan apa-apa. Eksistensi kehidupan kita sudah tidak ada artinya lagi. Bagaimana menurut Anda?

    Itulah yang telah kita diskusikan di depan, bahwa Jiwa dan Ruh kita ada dalam genggaman Allah. DIA memegang Jiwa seseorang pada saat matinya dan pada saat tidurnya. Lantas, Allah mengembalikan Jiwa itu kepada badan yang masih diizinkanNya untuk bangun kembali dari tidurnya.

    Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita agar kita berdoa menjelang tidur dan sesudah tidur, seperti sedang mengalami kematian. Sebab, antara tidur dan mati hampir tidak ada bedanya.

    ‘Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut’ (Dengan Nama Mu ya Allah aku hidup, dan dengan Nama Mu aku mati). Begitulah beliau mengajarkan kepada kita untuk berdoa menjelang tidur. Karena kita tidak tahu apakah kita bisa bangun kembali ataukah tidak. Kita berserah diri saja kepada Allah yang menguasai Jiwa kita.

    Dan ketika terbangun dari tidur, Rasulullah saw mengajarkan untuk membaca: ‘Alhamdulillaahilladzii ahyana ba’da maa amaatana wa ilaihi nusyur’ (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali sesudah kematianku, dan kepadaNya lah aku kembali).

    Begitu tipisnya antara hidup dan mati. Setiap hari kita ditidurkan oleh Allah beberapa jam. Saat itulah kita telah mencicipi kematian. Itulah saat-saat Jiwa kita ditahan oleh Allah. Kita tidak bisa merasakan, mengendalikan, atau apalagi melawan.

    Ketika kantuk datang menyerang, itulah saat-saat menjelang ‘Kematian Sementara’ kita. Cobalah rasakan, pada saat-saat itulah Allah mulai berangsur-angsur menahan Jiwa kita entah akan dikembalikan lagi ataukah ditahan seterusnya.

    Setiap hari, kita telah ‘berlatih’ untuk menemui kematian yang sesungguhnya. Tapi seringkali, kita merasa betapa kematian kita masih begitu jauhnya. Padahal, kematian demikian dekat dengan kehidupan kita. Karena, kehidupan dan kematian selalu bersama-sama, di mana pun mereka berada. Dan bisa berganti posisi kapan pun Allah mau.

    Kematian hanyalah berpisahnya badan dengan Jiwa & Ruh untuk sementara waktu. Tapi bukan untuk 1-2 jam, melainkan berjuta tahun sampai kita bangun dari kematian itu di Hari Kebangkitan. Kejadiannya persis seperti saat kita terbangun dari tidur kita sehari-hari.

    QS. Yasin (36) : 52

    Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).

    Akankah kita termasuk orang-orang yang menyesal saat ‘dibangunkan’ kembali kelak? Ataukah kita temasuk hamba-hamba yang berbahagia? Semua itu bergantung kepada bagaimana saat-saat sebelum kita berangkat tidur itu.

    Kalau kita termasuk orang-orang yang sudah terlatih untuk memasuki tidur dengan baik, maka Insya Allah kita akan bangun kembali dalam keadaan yang baik dan segar. Tapi kalau kita memasuki saat-saat tidur itu dengan penuh masalah yang membelit kehidupan kita, maka sungguh tidur kita akan menjadi ‘Mimpi Buruk’ bagi kita. Dan tiba-tiba kita terbangun dengan kondisi yang sakit dan menyesakkan dada.

    Dan, yang lebih menakutkan, mimpi buruk itu ternyata menjadi kenyataan saat kita terbangun dari ‘tidur panjang’ itu. Jiwa kita yang terlanjur kotor selama kehidupan sebelum ‘tidur panjang’, tidak sempat lagi kita bersihkan. Dan ternyata, harus dibersihkan di dalam Api yang meyala-nyala di Neraka Jahannam

    Berbeda dengan mereka yang telah melatih dan membiasakan dirinya untuk hidup bersih penuh kedamaian dan cinta kasih. ‘Tidur’ mereka sungguh adalah tidur yang nikmat. Tidurnya para Jiwa yang Penuh Kedamaian – Nafs al Muthmainnah. Mereka bermimpi indah sepanjang tidurnya yang pulas. Dan di ‘Esok Harinya’, mereka terbangun dalam kebahagiaan Jiwa yang Fitri, di surga Jannatun Nalm…

    (QS Fajr 27 – 30)

    Hai Jiwa yang tenang Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba Ku, dan masuklah ke dalam surga Ku.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 18 November 2012 Permalink | Balas  

    Ditahan Sementara Atau Selamanya

    Berkaitan dengan terlepasnya Jiwa dari badan, Allah mengatakan bahwa Jiwa seseorang bisa ditahan sementara atau selamanya oleh Allah. Orang-orang yang tertidur disebut Allah sebagai orang yang Jiwanya ditahan sementara. Sedangkan orang mati, Jiwa ditahan selamanya, sampai waktu yang ditentukan. Yaitu, hari Kebangkitan.

    (QS. Az Zumar (39) : 42) Allah memegang Jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) Jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah Jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan Jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

    Ada 3 hal yang menarik dari ayat di atas. Yang pertama, adalah informasi bahwa Allah memegang Jiwa seseorang ketika mati atau tertidur. Allah memberikan gambaran, bahwa orang yang tertidur atau pun mati, Jiwanya dalam kendali Allah sepenuhnya. Tidak terlepas kemana-mana. Sehingga, terserah Allah Jiwa itu mau dikembalikan atau tidak ke dalam badan seseorang.

    Bagaimanakah menggambarkan hal itu dalam diri manusia? Seperti saya katakan di depan, bahwa Allah menempatkan Ruh dalam diri seseorang sebagai bagian dari EksistensiNya. Maka, ketika dalam tidur atau pun kematiannya, Jiwa tetap berada dalam ‘genggaman’ alias ‘kekuasaan’ Ruhnya.

    Meskipun badan sudah mati dan hancur, Jiwa tetap ‘hidup’ karena masih dalam pengaruh fungsi Ruh. Itulah yang dikatakan Allah dalam ayat-ayat sebelumnya, bahwa para pejuang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati. Mereka tetap ‘hidup’ di sisi Allah bahkan memperoleh rezeki dariNya.

    Tapi, tentu saja kehidupan Jiwa setelah kematian badan itu tidaklah sama dengan ketika ia masih bersatu dengan badannya, sebagaimana telah kita diskusikan di depan.

    Yang kedua, adalah informasi bahwa bagi orang yang tidur, jiwa bakal dikembalikan saat dia bangun. Dalam konteks ini ‘memegang Jiwa’ juga memberikan kesan bahwa ‘kebebasan’ Jiwa pada saat orang itu tertidur dan mati tidak lagi sebagaimana ketika dia hidup. Seseorang yang tertidur apalagi mati tidaklah memiliki kebebasan berekspresi lagi, karena Jiwanya ‘dipegang’ oleh Allah.

    Sebaliknya, ketika seseorang telah terbangun dari tidurnya, Allah melepaskan Jiwa itu dalam ‘kebebasan’ berekspresinya kembali. Maka, seseorang yang berada dalam kesadaran penuhnya menjadi bertanggung jawab terhadap segala tingkah lakunya.

    Ini konsisten dengan pembahasan kita sebelumnya, bahwa yang dimaksud Jiwa adalah kesadaran yang terkait dengan akal. Karena itu, ia bisa naik atau turun kualitasnya, atau bahkan timbul dan tenggelam sesuai dengan kondisi yang menyertainya.

    Kualitas Jiwa bukan hanya tergantung kepada Ruh melainkan juga tergantung kepada kualitas tubuh. Jika kualitas tubuh menurun, kualitas Jiwa juga akan turun. Meskipun tidak sepenuhnya begitu.

    Pada orang-orang yang telah mencapai tingkatan tinggi dalam ‘Kesadarannya’ Jiwanya semakin tidak tergantung kepada tubuhnya. Jiwa bergerak ke arah kualitas Ruh.

    Sebaliknya bagi mereka yang rendah tingkat ‘Kesadarannya’ Jiwanya terjebak oleh kualitas badannya. Ia bergerak menuju unsur material yang bertumpu pada keterbatasan fisiknya.

    Jadi, dalam konteks ‘memegang Jiwa’ ini, makna yang paling penting adalah betapa Allah memiliki kekuasaan yang mutlak terhadap keluar masuknya Jiwa dalam diri seseorang, tapi DIA memberikan ‘kebebasan yang bertanggung jawab’ kepada manusia ketika berada dalam kondisi kesadarannya.

    Yang ketiga, dalam ayat tersebut Allah berfirman bahwa semua itu mengandung hikmah dan menjadi pelajaran bagi orang-orang ‘yang mau berpikir’ tentang Kekuasaan Allah.

    Di satu sisi DIA ingin menegaskan bahwa Allah adalah faktor utama atas berfungsi atau tidaknya kesadaran seseorang. Jika DIA menghendaki mencabut kesadaran itu, maka hilanglah kesadaran kita. Sebaliknya jika DIA menghendaki mengembalikannya, maka tidak ada seseorang yang bisa menghalangi.

    Di sisi lain, DIA memotivasi kita bahwa di dalam tidur dan kematian itu terdapat pelajaran yang sangat berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahwa, pemahaman tentang Jiwa, bakal menghantarkan kita kepada pengenalan kekuasaan Allah lebih mendalam.

    Jangan malah sebaliknya, berlindung di balik kata ‘ghaib’ lantas kita tidak mau mengambil pelajaran tentang mekanisme kejiwaan di dalam diri kita. Atau, karena kerancuan dalam memahami ayat di bawah ini kita lantas tidak mau berusaha memahami tentang Jiwa.

    (QS. Al Israa’ (17) : 85) Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

    Dengan apa yang telah diskusikan, saya kira kini Anda telah memperoleh kefahaman yang lebih baik, tentang perbedaan Jiwa dan Ruh. Bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas bukanlah Jiwa, melainkan Ruh. Memang kefahaman tentang Ruh jauh lebih rumit. Namun, bukan berarti kita sama sekali tidak boleh mempelajarinya. Kata ‘illa qaliila’ menunjukkan, bahwa meskipun sedikit Allah masih memberikan ilmu tentang Ruh itu kepada manusia.

    Kalau pun kita bersandar kepada kalimat ‘min amri rabbii’ (urusan Tuhanku), untuk menghindari pembelajaran tentang Ruh, itu juga kurang tepat. Sebab, semua urusan di alam semesta ini memang menjadi urusanNya semata. Mana ada kejadian di alam semesta yang tidak menjadi urusan Allah. Apalagi tentang Ruh yang demikian misterius.

    Daun jatuh, bunga berkembang, dan tiupan angin pun menjadi urusan Tuhan. Semut terlahir, gajah mencari makanan, dan burung beterbangan di angkasa juga menjadi urusan Tuhan. Apalagi perputaran bermiliar-miliar benda langit di dalam orbitnya, di jagad semesta raya, tentu saja menjadi urusan Allah semata. Dan begitu pula keluar masuknya Jiwa dan Ruh dalam diri miliaran manusia di muka bumi, semuanya menjadi urusan Allah. DIA adalah Tuhan yang senantiasa dalam kesibukan urusanNya.

    (QS. Ar) Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 17 November 2012 Permalink | Balas  

    Perjalanan Panjang Meraih Ihsan

    Malaikat Jibril pernah hadir di tengah-tengah majelis Rasulullah SAW Ketika itu Jibril mengajukan serangkaian pertanyaan yang mampu dijawab Rasul dengan baik. Setiap kali Rasul menjawab, Jibril mengatakan, “Engkau benar!” Hal ini membuat heran para sahabat. Dia yang bertanya, tapi dia pula yang membenarkan jawaban Rasul. Keheranan ini terjawab ketika Rasul mengatakan kalau yang datang itu adalah Malaikat Jibril yang sengaja memberi pelajaran kepada mereka tentang iman, Islam dan ihsan.

    Ihsan adalah beribadah seolah-olah melihat Allah. Bila kita tidak melihat Allah, maka sesungguhnya Allah melihat kita. Demikian makna ihsan menurut Rasulullah SAW (HR Muslim). Jadi, ihsan menunjukkan satu kondisi kejiwaan manusia, berupa penghayatan bahwa dirinya senantiasa diawasi oleh Allah. Perasaan ini akan melahirkan sikap hati-hati, waspada dan terkendalinya suasana jiwa.

    Iman, Islam, dan ihsan adalah tiga pilar bangunan Islam. Sehingga ihsan tidak bisa dilepaskan dari rukun iman dan rukun Islam. Ketiganya saling melengkapi. Kalau diilustrasikan, fondasinya adalah rukun iman, pilar-pilar dengan keseluruhan bangunan yang ada di atasnya adalah rukun Islam, dan ihsan sebagai ruhnya. Jadi, ihsan adalah penentu hadir dan tidaknya ruh seorang Muslim dalam menjalankan aturan Islam. Ketika seseorang beriman, berislam, namun tidak berihsan, maka saat itu ia belum sampai pada ruh ajaran Islam. Karena itu sangat penting bagi setiap Muslim untuk terus melakukan introspeksi diri, apakah sudah melakukan tajdiidul ihsan atau belum. Jangan sampai karena sibuk mencari dunia, aktivitas yang kita lakukan kehilangan ruhnya.

    Membangun sikap ihsan

    Sebentar lagi kita akan kembali memasuki bulan Ramadan. Tema sentral Ramadan adalah menjalankan ibadah saum. Kita menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal dilakukan di luar Ramadan. Bukan hanya menahan diri dari hal yang haram, tapi dari hal yang halal, seperti makan, minum dan hubungan seks. Bila demikian saum erat kaitannya dengan ihsan. Sebab, siapa pun yang tidak memiliki sifat ihsan, mustahil akan bisa melakukan saum. Tanpa sikap ihsan, seseorang tidak akan memiliki kemampuan untuk menahan diri dari hal yang dihalalkan maupun diharamkan.

    Allah SWT mendesain waktu yang panjang demi berjalannya proses penerapan rukun Islam. Dalam setahun, rukun Islam–khususnya rukun yang empat sesudah syahadat–dijalankan sejak bulan Rajab sampai Muharam. Perintah shalat hadir di bulan Rajab, melalui peristiwa Isra Mi’raj. Lalu perintah saum terjadi di bulan Ramadan, zakat di akhir Ramadan, dan haji di bulan Dzulqa’dah. Dari sana lalu masuk bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah. Setelah memasuki tahun baru hijrah, umat yang berhaji diharapkan bisa kembali dengan membawa semangat hijrah yang membawa perubahan pada dirinya. Mengapa syahadat tidak memiliki momen khusus? Syahadat adalah transaksi kehidupan kita dengan Allah yang harus terus berlangsung selama 12 bulan penuh.

    Jadi kita tidak bisa menumbuhkan ihsan hanya pada bulan Ramadan saja. Ihsan harus dilihat sebagai sebuah proses panjang, dari mulai shalat, saum, zakat serta haji.

    Ihsan dan keimanan

    Pertanyaannya, bagaimana cara mempertahankan sikap ihsan ini? Mempertahankan ihsan tidak jauh beda dengan mempertahankan iman. Dalam sebuah hadis disabdakan bahwa al-iimanu yazid wa laa yankus. Iman itu kadang bertambah, kadang berkurang, kadang naik, kadang turun. Kalau dibuat grafik, naik turunnya iman ada tiga.

    Pertama, garis turun dan garis naik berada dalam posisi sama. Naik +10, turun -10. Keimanan seperti ini memungkinkan seseorang mendapatkan khusnul khatimah (baik di akhir), bila Allah berkenan mencabut nyawanya pada saat iman sedang naik +10. Namun bila Allah mencabut nyawanya pada saat imannya turun (-10), maka ia akan mendapatkan su’ul khatimah (jelek di akhir).

    Kedua, naiknya sedikit, tapi mudah turun secara drastis. Misal, naik +2, turun -15, dst. Orang yang memiliki keimanan seperti ini, kemungkinan besar akan meninggal dalam kondisi su’ul khatimah. Ketiga, naiknya cepat, tapi lambat turunnya dan sedikit. Orang dengan iman konstruktif seperti ini, ketika ketaatannya naik, ia akan merasakan betapa lezatnya keimanan. Namun saat ia terjatuh pada kemaksiatan, ia akan resah dan ingin segera meninggalkan kemaksiatan tersebut.

    Menjaga sikap ihsan

    Ada tiga cara untuk meningkatkan kualitas iman dan ihsan. Pertama, tadzwidul ‘ulum atau membekali diri dengan ilmu tentang hakikat kebenaran dan jalan hidup. Kalau kita ingin memiliki ihsan yang terpelihara, jadilah orang yang haus ilmu dan terus belajar tentang kebenaran (agama).

    Kedua, kita harus memiliki shahabatus shalihin atau bersahabat dengan orang shalih. Kita boleh kenal dengan sembarang orang, tapi kita tidak boleh bersahabat dengan sembarang orang. Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang akan mengikuti agama dan keyakinan sahabat karibnya. Maka hendaknya seseorang memerhatikan siapa yang akan dijadikan sahabat karibnya (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

    Ketiga, amalkan hadis Nabi bahwa agama itu nasihat (saling menasihati). Faktor ketiga ini sulit dilakukan sebagian besar masyarakat kita. sebab, masyarakat kita memiliki tiga penyakit. [1]. Penyakit ewuh pekewuh, merasa sungkan, ada beban psikologis saat harus menasehati orang lain dalam kebaikan. [2]. Masyarakat kita belum menjadi masyarakat yang digambarkan Rasul. Kata Rasul, umat Islam itu laksana sisir, di mana anak sisir selalu sama tinggi dan sama rendah (egaliter). Masyarakat kita cenderung paternalistik. Orang yang lebih rendah akan sulit menasehati orang yang lebih tinggi. Padahal kehidupan Rasul dan para sahabat sangat egaliter. [3]. Cycle linguistic. Bahasa yang kita miliki sangat kaya ungkapan kebencian dan miskin ungkapan cinta serta kasih sayang.

    Kalau tiga hal tersebut kita jalankan dengan baik, insya Allah bukan hanya iman yang bisa dipertahankan, tapi juga ihsan. Bila ihsan tetap menyala dalam hati seorang Muslim, niscaya ia akan jadi manusia unggul. Ia tidak hanya berpikir sekadar beramal, tapi akan berpikir bagaimana amal tersebut bisa optimal. Karena itu, seorang ihsan akan terhindar dari sifat under achiever, minder, merasa cukup dengan nilai delapan padahal ia mampu meraih nilai sepuluh.

    Hakikatnya, ihsan itu dekat dengan itqan, yaitu selalu rapih, tertib dan mampu menata hidup dengan baik. Itulah cerminan para muhsinin. (tri )

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 15 November 2012 Permalink | Balas  

    Kata-kata Hikmah Khulafaur Rasyidin

    Abu Bakar radhiallahu anhu berkata:

    Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan, yaitu:

    1. Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau;
    2. Hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau;
    3. Hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau;
    4. Adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna

    Umar bin Khattab radhiallahu anhu berkata:

    Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang menyintai akhirat, dunia pasti menyertainya. Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.

    Utsman bin Affan radhiallahu anhu berkata:

    Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah:

    1. Hatinya selalu berniat suci
    2. Lidahnya selalu basah dengan zikrullah
    3. Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa)
    4. Segala perkara dihadapaiya dengan sabar dan tabah
    5. Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.

    Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata:

    1. Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu’.
    2. Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
    3. Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur’an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
    4. Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara’ (memelihara diri dan hati-hati dari dosa)
    5. Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi.
    6. Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki.
    7. Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan.
    8. Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya, siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang harga dirinya, berarti dia tidak wara’, sedang orang yang tidak wara’ itu berarti hatinya mati.

    ***

    Dari Sahabat

    Eramuslim.com

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 13 November 2012 Permalink | Balas  

    Cerita Rasulullah SAW Kepada Mu’adz  

    Kata Ibnu Mubarak, Khalid bin Ma’dan berkata kepada Mu’adz: “Mohon diceritakan satu hadits yang terdengar olehmu dari Rasulullah SAW yang kamu hafal dan kamu ingat setiap hari karena sangat kerasnya haditz itu dan sangat halus dan sangat mendalamnya hadits tersebut. Hadits manakah menurut tuan yang paling penting?”. Maka jawabnya: “Baiklah akan aku ceritakan.” Kemudian beliau menangis dahulu. Lama sekali menangisnya itu, selanjutnya beliau berkata: “Ehm, sungguh rindu sekali kepada Rasulullah, ingin segera bersua dengan beliau.”

    Kemudian dia berkata lagi: “Ketika menghadap kepada Rasulullah SAW beliau menunggang kuda dan beliau menyuruhku untuk naik dibelakang beliau; kemudian berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut dan beliau menengadah ke langit, kemudian bersabda:

    “Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang berkehendak kepada makhlukNya menurut kehendakNya, wahai Mu’adz!”

    Jawabku: “Ya Sayyidal Mursalin.”

    Sabda beliau: “Sekarang aku akan menceritakan satu cerita kepadamu yang apabila dihafalkan olehmu, akan berguna bagimu, tapi kalau disepelekan olehmu, maka kamu tidak akan mempunyai hujjah kelak di hadapan Allah.

    “Hai Mua’dz! Allah itu menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh langit dan bumi. Tiap langit ada satu Malaikat yang menjaga pintu. Dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh Malaikat penjaga pintu menurut kadarnya pintu dan keagungannya.

    “Maka Malaikat yang memelihara amal si hamba dan mencatatnya naik ke langit dengan membawa amal si hamba tersebut yang bersinar-sinar cahayanya bagaikan cahaya matahari. Setelah sampai ke langit pertama, Malaikat Hafadzoh menganggap amal si hamba itu banyak dan memuji kepada amal-amal tersebut. Akan tetapi setelah sampai kepada pintu langit pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu langit pertama kepada Malaikat Hafadzoh: “Tamparkanlah amal ini ke muka (wajah) pemiliknya! Saya ini penjaga tukang mengumpat dan saya di perintah untuk tidak menerima tukang mengumpat orang lain itu untuk masuk dan jangan sampai melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.”

    “Kemudian keesokan harinya ada lagi Malaikat Hafadzoh naik kelangit dengan membawa amal shalih yang berkilauan cahayanya yang dianggap oleh Malaikat Hafadzoh begitu sangat banyaknya serta dipuji. Namun begitu sampai kelangit kedua (yang lolos dan selamat dari langit pertama sebab pemilik amal shalih tersebut tidak suka mengumpat) berkatalah Malaikat di langit kedua: “Berhentilah dan tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu, dia berharap keduniaan. Allah memerintahkan kepadaku harus menahan amal ini jangan sampai lewat kepada langit yang lain. Maka Malaikat semuanya melaknat kepada orang tersebut sampai sore.”

    “Ada lagi Malaikat Hafadzoh yang naik dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan penuh dengan sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang oleh Malaikat Hafadzoh dianggap demikian banyaknya dan di puji. Akan tetapi sampai di langit ketiga, berkatalah Malaikat penjaga langit ketiga: “Berhentilah, tamparkanlah ke wajah pemiliknya amal ini, saya Malaikat penjaga kibir (orang yang sombong) Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini tidak melewati pintuku dan jangan sampai ke langit berikutnya. Salahnya sendiri dia takabbur kepada orang lain di dalam perkumpulan.”

    Singkatnya, Malaikat Hafadzoh naik ke langit dengan membawa amal hamba yang lain dan bersinar bagaikan bintang yang paling besar. Suaranya gemuruh penuh dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji dan umrah. Begitu sampai ke langit ke empat, Malaikat penjaga langit ke empat itu berkata: “Berhentilah jangan dilanjutkan, tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, saya ini penjaga ujub dan Allah memerintahkan kepadaku agar amal ini jangan sampai lewat, sebab jika dia beramal selalu ujub.”

    Kemudian naik lagi Malaikat Hafadzah dengan membawa amal hamba yang diiringi seperti pengantin perempuan diiring kepada suaminya. Begitu sampai ke langit kelima dengan membawa amal yang begitu bagus, seperti jihad, ibadah haji, ibadah umrah, cahanya pun berkilauan bagaikan matahari. Berkata Malaikat penjaga langit kelima: “Saya ini penjaga sifat hasud, nah dia itu yang amalnya demikian bagus itu suka hasud/iri kepada orang lain atas kenikmatan Allah yang diberikan kepadanya. Jadi dia itu membenci kepada orang yang meridlokan kepada nikmat Allah (benci nikmat). Saya diperintahkan oleh Allah jangan membiarkan amal itu untuk melewati pintuku ke pintu yang lain.”

    Kemudian Malaikat Hafadzah naik lagi dengan membawa amal yang lain berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji dan umrah sehingga sampailah ke langit yang keenam dan berkata Malaikat penjaga pintu ini: “Saya ini Malaikat penjaga pintu Rahmat, nah amal yang seolah-olah bagus ini tamparkanlah ke wajah pemiliknya, salahnya sendiri bahwa dia itu belum pernah mengasihi orang lain. Apabila ada orang yang mendapatkan musibah dia merasa senang. Aku diperintahkan oleh Allah bahwa amalnya ini jangan melewatiku, supaya jangan sampai kepada yang lain.”

    Dan naik lagi Malaikat Hafadzah ke langit dengan membawa amal si hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad dan wara’. Suaranya pun bergemuruh seperti geledek, cahayanyapun bagaikan kilat. Begitu sampai ke langit ketujuh, berkata Malaikat penjaga langit yang ketujuh itu: “Saya ini penjaga sum’ah (ingin masyur), sesungguhnya si pengamal ini ingin termasyur dalam kumpulan-kumpulan dan selalu ingin tinggi di saat berkumpul dengan kawan-kawannya yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkan kepadaku agar amalnya itu jangan sampai melewatiku dan jangan sampai kepada yang lain. Dan tiap-tiap amal yang tidak bersih karena Allah, maka itulah riya. Allah tidak akan menerima dan mengabulkan amalnya orang-orang yang riya.”

    Kemudian Malaikat Hafadzah itu naik lagi dengan membawa amalnya hamba yakni: shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik dan pendiam tidak banyak omong, Dzikir kepada Allah. Kemudian diiring oleh Malaikat kelangit ketujuh sehingga sampai menerobos hijab-hijab dan sampailah ke khadirat Allah. Para Malaikat itu berdiri dihadapan Allah. Semuanya menyaksikan bahwa amal ini adalah amal shalih, yang diikhlaskan karena Allah.

    Tapi firman Allah: “Kalian adalah Hafadzah, pencatat amal hambaKu, sedang Akulah yang mengintip hatinya, amal yang ini tidak karena Aku, yang dimaksud olehnya itu adalah selain daripadaKu, tidak diikhlaskan kepadaKu. Aku lebih mengetahui daripada kamu apa yang dimaksud olehnya dengan amalnya itu. Aku laknat mereka, menipu kepada orang lain dan juga menipu kepadamu (Malaikat-Malaikat Hafadzah) Tapi Aku ini tidak akan tertipu olehnya. Aku ini yang paling tahu akan hal yang ghaib-ghaib.. Akulah yang melihat isinya hati, dan tidak akan samar kepadaKu setiap apapun yang samar, tidak akan tersembunyi bagiKu setiap apapun yang sembunyi. PengetahuanKu atas apa yang telah terjadi, sama dengan pengetahuanKu akan apa yang bakal terjadi. PengetahuanKu atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuanKu kepada apa yang akan datang. PengetahuanKu kepada orang-orang yang terdahulu sebagaimana pengetahuanKu kepada orang-orang yang kemudian.

    “Aku lebih tahu atas apapun yang lebih samar daripada rahasia, bagaimana akan bisa hambaKu dengan amalnya itu menipu kepadaku, bisa juga mereka itu menipu kepada makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui kepada yang ghaib-ghaib. LaknatKu tetap kepadanya.”

    Kata ketujuh Malaikat dan 3000 Malaikat yang menyertai: “Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknatMu dan laknat kami semua bagi mereka.”

    Maka semua yang ada dilangit mengucapkan: “Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang-orang yang melaknat.”

    Sayyidina Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) kemudian menangis dengan terisak-isak, dan berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari apa yang diceritakan baru saja?”

    Sabda Rasulullah SAW.: “Hai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan!”

    Aku bertanya kembali: “Gusti tuan ini adalah Rasulullah, sedang saya ini adalah si Mu’adz bin Jabal bagaimana saya bisa selamat dan bagaimana saya bisa terlepas dari bahaya tersebut?”

    Bersabda Rasulullah SAW.: “Ya begitulah, seandainya dalam amalmu ada kelengahan, maka tahanlah mulutmu jangan sampai menjelekkan orang lain dan juga kepada saudara-saudaramu sesama Ulama. Apabila kamu hendak menjelekkan orang lain, harus ingat kepada dirimu sendiri sebagaimana engkau pun tahu bahwa dirimupun penuh dengan aib-aib. Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekkan orang lain. Jangan mengangkat dirimu sendiri dengan menekan orang lain. Jangan riya dengan amalmu agar amalmu itu diketahui orang lain. Dan janganlah kamu termasuk kedalam golongan orang yang mementingkan keduniaan dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal di sebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik olehmu. Dan janganlah takabur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia akhirat. Dan jangan berkata kasar dalam satu majlis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlakmu. Jangan membangkit-bangkit apabila kamu berbuat kebaikan. Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain dengan sebab mulutmu, kelak engkau akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahanam yakni sebagaimana firman Allah: “WANNAASYITHAATI NASYTHAA”

    Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia. Jadi mengoyak-ngoyak daging dari tulang.

    Aku berkata: “Ya Rasulullah, siapa yang kuat menanggung penderitaan semacam ini.”

    Jawab Rasulullah SAW.: “Mu’adz, yang kami ceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT., cukup untuk menggalang semua itu. Kamu harus menyayangi orang lain sebagaimana kamu menyayangi dirimu sendiri. Dan benci kepada orang lain apa-apa yang dibenci oleh dirimu sendiri. Apabila demikian maka kamu akan selamat dan pasti dirimu akan terhindar.

    Kata Khalid bin Ma’dam (yang meriwayatkan hadits tersebut adari Sayyidina Mu’adz): “Sayyidina Mu’adz sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya membaca Al-Qur’an dan mempelajari hadits ini sebagaimana mempelajari Al-Qur’an dalam majlisnya.”

    Maka setelah kalian mendengar hadits ini yang demikian luhur beritanya, yang besar bahayanya dan atsarnya yang menyakitkan. Serasa akan terbang bila hati mendengarnya serta membingungkan akal dan menyempitkan dada serta penuh dengan hura-hura yang mengagetkan.

    Nah, apabila kamu telah mendengarnya, maka kamu harus berlindung kepada Tuhanmu, Tuhan seru sekalian alam. Diam dipintu, mudah-mudahan saja dibukakan dengan lemah lembut/merendahkan diri dan mendo’a, menjerit dan menangis semalam-malaman. Juga disiang hari bersama orang-orang yang merendahkan diri yang menjerit dan berdo’a kehadirat Allah. Sebab tidak akan bisa selamat dalam urusan ini kecuali dengan adanya rahmat Allah SWT., dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di laut ini kecuali dengan penglihatan dan taufiqNya dan inayat daripadaNya. [*]

    ***

    *Menuju Mukmin Sejati*

    Imam Al-Ghazali

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 11 November 2012 Permalink | Balas  

    Keutamaan Berdzikir, Berdo’a dan Bertobat  

    Suatu saat, selepas shalat, Rasulullah Saw berbagi sapa dan berbincang bincang dengan para sahabat tentang pelbagai hal. Dalam perbincangan itu, Rasulullah menyampaikan keutamaan majelis dzikir, do’a dan permohonan ampun kepada Allah Swt. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa Allah Swt boleh jadi mengabulkan do’a seorang hamba, menghindarkannya dari bencana yang belum turun, menyimpan pahala do’anya di akhirat atau menghapusnya dosa-dosanya.

    Beliau pun berceramah :

    Sesungguhnya Allah Swt memiliki beberapa malaikat yang terus menerus berkeliling mencari majelis dzikir. Ketika menemukan majelis dzikir, mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah.

    Ketika majelis itu usai, mereka bubar dan kemudian naik kelangit. Ketika berada dilangit, mereka ditanya oleh Allah Swt. Yang sebenarnya lebih tahu ketimbang mereka, “Kalian datang dari mana? !”

    “Kami datang dari sisi para hamba-Mu di bumi yang mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, mengesakan-Mu, memuji-Mu, dan memohon kepada-Mu!” jawab mereka.

    “Apa yang mereka minta?” tanya Allah Swt.

    “Mereka memohon surga-Mu, “jawab mereka penuh takzim.

    “Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?” tanya Allah swt lebih jauh

    “Tidak, wahai Tuhan,” jawab para malaikat dengan takzim.

    “Betapa seandainya mereka melihat surga-Ku?” kata Allah Swt.

    “Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu, “ucap mereka tetap takzim.

    “Dari apa mereka memohon perlindungan kepada-Ku?” tanya Allah Swt lagi.

    “Dari Neraka-Mu, wahai Tuhan,” Jawab mereka terus dengan takzim.

    “Apakah mereka melihat Neraka-Ku ?” tanya Allah Swt sekali lagi.

    “Tidak“ jawab mereka serempak.

    “Betapa seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku,” kata Allah Swt.

    “Mereka juga memohon Ampunan kepada-Mu, wahai Tuhan,” ucap mereka tetap dengan takzim.

    “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka mohon, dan melindungi mereka dari neraka,“ jawab Allah SWT.

    “Wahai Tuhan, tapi dalam majelis mereka ada seseorang yang berdosa yang hanya kebetulan lewat lantas duduk bersama mereka,” lapor mereka.

    “Dia juga Kami ampuni. Sebab, orang yang mau duduk bersama mereka tidak celaka !” jawab Allah SWT.

    ***

    Sumber : buku “Mutiara Akhlak Rasulullah SAW” , penulis : Ahmad Rofi’ Usmani

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 9 November 2012 Permalink | Balas  

    Tingkatan Istighfar 

    Tingkatan Istighfar

    Di sebuah majelis pengajian Imam Hasan Al Bashri hadirlah seorang gembong penjahat. Beliau sendiri tidak pernah mengenalnya, hanya tahu namanya saja. Orang menyebutnya, Atabatul Ghulam. Siapa yang tidak kenal dengan kejahatan dan kekejamannya. Bahkan, tokoh ini sudah layak disebut orang fasik.

    Di tengah sesi tanya jawab, seorang jamaah mengajukan pertanyaan kepada Hasan Al Bashri, Ya Syekh, bagaimana jika seseorang sudah sangat keterlaluan mengerjakan kemaksiatan, apakah dosanya bisa diampuni Allah?

    Ulama besar dan tokoh sufi ini menjawab, Apabila penuh kesadaran dan dengan hati yang sungguh-sungguh bertobat menurut syarat-syaratnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, sekalipun dosanya itu seperti yang dilakukan Atabatul Ghulam.

    Betapa terkejutnya tokoh penjahat ini ketika dirinya dijadikan contoh pelaku dosa besar. Namun Allah tetap berkenan memberikan ampunan, seandainya ia mau bertobat sepenuh hati.

    Ada apa dengan istighfar?

    Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Luasnya ampunan Allah tidak bisa kita ukur atau kita batasi. Allah selalu membuka Diri-Nya untuk memberi ampunan bagi setiap hamba yang pernah menyimpang dari jalan-Nya. Bertaburan ayat dalam Alquran dan hadis Nabi yang menunjukkan betapa Maha Pengampunnya Allah SWT. Tidak hanya akan mengampuni, bahkan dengan kasih sayang-Nya, Allah mengajak setiap pendosa untuk bersegera kembali kepada-Nya.

    Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134, Allah SWT berfirman, Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    Ayat ini diawali dengan kata wassyarii’u atau dan bersegeralah yang berbentuk fiil amr (bentuk perintah). Mengapa Allah memerintahkan manusia bersegera (dengan bersungguh-sungguh) mendatangi ampunan-Nya? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, waktu yang dimiliki manusia sangat terbatas–berkisar 60 sampai 70 tahun–dan Allah hanya akan menerima tobat seseorang sebelum ajalnya tiba. Kedua, tidak semua orang mendapatkan ampunan Allah, walau Dia membuka lebar-lebar pintu tobat bagi hamba-Nya yang berdosa. Ketiga, tidak semua orang memiliki kesadaran dan perhatian terhadap arti penting bertobat dan maghfirah Allah SWT.

    Ada hal menarik dalam susunan ayat tersebut. Perintah untuk mendapatkan maghfirah Allah diungkapkan lebih dulu daripada perintah untuk mendapatkan syurga. Apa sebabnya? Jelas, bila kita mendapatkan maghfirah maka syurga pun otomatis akan kita raih. Maka, hal pertama yang kita lakukan adalah berusaha optimal untuk mendapatkan maghfirah Allah dan bertobat kepada-Nya.

    Apa perbedaan antara maghfirah dan tobat? Kedua kata ini hakikatnya merujuk pada hal serupa, yaitu kembali kepada Allah setelah melakukan dosa. Secara umum maghfirah berasal dari kata ghafara, yang berarti menutupi atau menyembunyikan. Orang Arab berkata, Ghafara al-syaib bil khidhab. Ia menyembunyikan ubannya dengan celupan. Jadi maghfirah dapat diartikan dengan ampunan Allah di mana Dia menutupi dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Cara kita memohon maghfirah Allah disebut istighfar. Dengan istighfar, kita meminta kepada Allah agar kita dipelihara dari konsekuensi dosa, dari akibat-akibat dosa, atau dari hal-hal buruk yang terjadi karena dosa tersebut. Ali bin Abi Thalib berkata, Pakailah wewangian istighfar, supaya Allah tidak mempermalukan kalian dengan bau busuk dari dosa-dosa kalian. Sedangkan tobat berarti kembali dari perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya kepada perbuatan baik.

    Mengapa kita harus ber-istighfar? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, Allah SWT telah memberikan nikmat melimpah kepada kita. Dan, nikmat tersebut harus kita syukuri sebagai hak Allah. Masalahnya kemampuan kita untuk mensyukuri nikmat sangatlah terbatas. Karena itu kita beristighfar atas ketidakoptimalan kita dalam menunaikan hak-hak Allah tersebut. Kedua, pada hakikatnya manusia membutuhkan ampunan Allah. Sesempurna apapun manusia pasti tidak akan pernah luput dari kesalahan. Ketiga, istighfar adalah kebiasaan para nabi dan orang-orang bertakwa. Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134 di awal, Allah SWT menunjukkan bahwa istighfar merupakan karakteristik utama orang bertakwa. Ia mendahulukan beristighfar sebelum menjalankan amalan-amalan pelengkap lainnya, seperti menafkahkan harta-baik pada saat lapang ataupun sempit, menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

    Enam tahap Istighfar

    Istighfar itu kunci ibadah. Maka bersegeralah menuju ampunan Allah. Ketahuilah, Allah teramat bahagia saat seorang hamba kembali kepada-Nya. Kebahagiaan Allah melebihi bahagianya seseorang yang kehilangan unta dan semua perbekalannya di padang pasir, lalu ia menemukannya kembali tanpa kurang satu apapun. Namun, Istighfar bukan sekadar ucapan tanpa penghayatan yang memengaruhi perilaku. Istighfar mengandung sejumlah konsekuensi agar seorang pendosa berhak mendapat ampunan Allah SWT.

    Pertanyaannya, istighfar seperti apa yang memenuhi syarat ampunan Allah? Simaklah kisah berikut ini. Suatu hari, Ali bin Abi Thalib melewati seorang yang sedang mengulang-ulang kata astaghfirullah. Ali menegurnya, Celaka kamu. Tahukah kamu apa arti istighfar? Istighfar ada pada tingkat yang sangat tinggi. Istighfar mengandung enam makna. Pertama, penyesalan akan apa yang sudah kamu lakukan. Kedua, bertekad untuk tidak mengulangi dosa. Ketiga, mengembalikan kembali hak makhluk yang sudah kamu rampas, sampai kamu kembali kepada Allah dengan tidak membawa hak orang lain padamu. Keempat, gantilah segala kewajiban yang telah kamu lalaikan. Kelima, arahkan perhatianmu kepada daging yang tumbuh karena harta yang haram. Rasakan kepedihan penyesalan sampai tulang kamu lengket pada kulitmu. Setelah itu tumbuhkanlah daging yang baru. Keenam, usahakan agar tubuhmu merasakan sakitnya ketaatan, setelah kamu merasakan manisnya kemaksiatan. Setelah memenuhi semua syarat itu, ucapkanlah Astaghfirullah.

    Semoga Allah memampukan kita menapaki tingkat demi tingkat istighfar ini. Amin. (tri )

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 8 November 2012 Permalink | Balas  

    Pujian dan Doa

    Oleh : Siti Nuryati

    Pujian adalah fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Banyak tujuan orang memberi pujian. Ekspresi kekaguman, sekadar basa-basi atau bisa juga pujian yang diucapkan untuk menjilat. Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi hal positif yang dapat memotivasi untuk terus meningkatkan diri. Namun kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, bahkan takabur.

    Semakin sering orang lain memuji, makin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri. Rasulullah SAW memberi teladan yang menarik menyikapi pujian ini.

    Pertama, selalu mawas diri agar tidak terbuai pujian yang dikatakan orang. Setiap kali ada yang memuji, Rasulullah SAW menanggapinya dengan doa. ”Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan orang-orang itu.” (HR Al-Bukhari). Lewat doa ini, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pujian berpotensi menjerumuskan kita.

    Kedua, kalaupun sisi baik tentang kita itu benar adanya, Rasulullah SAW mengajarkan agar memohon kepada Allah SWT menjadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. ”Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira.” (HR Al-Bukhari).

    Selain memberi kiat menyikapi pujian, Nabi SAW dalam kesehariannya juga memberi contoh bagaimana mengemas pujian yang baik agar tidak menjerumuskan dan merusak kepribadian yang kita puji. Dalam kesehariannya, Nabi SAW tidak memuji di hadapan yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam.

    Setelah mendapat jawaban Nabi SAW, orang Badui itu berjanji menjalankannya dengan konsisten. Setelah si Badui pergi, Nabi SAW memujinya di hadapan para sahabat. ”Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

    Rasulullah SAW juga lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibnu Abbas mendalami tafsir Alquran, Nabi SAW tidak serta-merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibnu Abbas. ”Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Alquran).” (HR Al-Hakim).

    Begitu pula ketika melihat ketekunan Abu Hurairah dalam mengumpulkan hadis dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihafalnya. Doa ini dikabulkan Allah SWT, sehingga Abu Hurairah sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis.

    ***

    Sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 7 November 2012 Permalink | Balas  

    Miskin Atau Kayakah Saya?

    “Orang miskin susah diatur, maunya dikasihani terus”. Barangkali kita pernah mendengar ungkapan ini, atau kalimat serupa, bisa jadi mungkin sering. Pola berinteraksi kita antar sesama, hablum minannas, bergeser dari tatanan semula yang diinginkan. Tatanan yang dimaksud, tak lain adalah pola yang disokong dengan etika-etika rabbani, hablum minallah.

    Walhasil, yang terjadi bukanlah saling hormat menghormati, dan memberi. Melainkan sifat congkak dan takabur. Jarak antara si miskin dan si kaya, seakan semakin jelas, dan memperlihatkan kepada kita bahwa dikotomi status, atau kasta dalam tradisi India, kian Alas dan legal saja.

    Tidak bermaksud untuk menyalahkan si kaya, toh harta dan kekayaan termasuk kebutuhan asasi, setiap orang pasti punya keinginan memilikinya “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak…” QS. Ali Imran (3) : 14. Keinginan itu manusiawi. Lantas apa masalahnya? Benar, apabila fitrah itu tidak lagi tulus, berubah menjadi ambisi yang berujung pada hubbuddunya, cinta akan dunia yang berlebihan. Ya, ujung-ujungnya, kita menduga bahwa gemerlap, kekayaan duniawi itu milik kita.

    Lebih naïf lagi, jika ambisi itu mendorong si kaya untuk mengatakan dengan lantang :”wahai si miskin, seakan lupa bahwa segala yang dimiliki adalah titipin, amanat, bahkan ujian dari Allah swt: “dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”, QS. Al Anfal (8) : 28.

    Tidak bolehkah saya kaya? Sudah Tentu boleh. Sebab, kemiskinan sendiri seperti yang pemah diriwayatkan adalah salah satu bibit kekufuran, Islam dengan tegas melawannya.

    Kemudian, kaya seperti apakah yang dimaksudkan? ni’ma al mal al shalih li al abdi al shalih (sebaik-baik harta ialah yang dimiliki oleh seorang hamba yang shaleh”, demikian Rasul saw bersabda. Tak lain, kekayaan yang dimaksudkan dalam Islam ialah yang menuntun pada kesalehan spiritual, pribadi dan sosial.

    Kondisi masyarakat kita, dan umat Islam pada umumnya, ternyata masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sudah seharusnya di sinilah letak peran orang kaya berada. Al takaful al ijtima’i, solidaritas sosial, peka akan sesama, tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Inilah konsep Islam.

    Kuatir harta akan berkurang? Allah swt menjanjikan harta yang pernah diinfakkan tidak akan berkurang, QS. Saba’ (34): 39, Allah akan mengganti harta tersebut. Yakinlah bahwa rizki ada ditangan Nya. Disamping itu, Allah swt tidak pernah memerintahkan untuk mensedekahkan seluruh harta, hanya sebagian saja, mimma tuhibbuun, secukupnya dari apa yang kita sukai.

    Bukan berarti ada anjuran bersedekah, lantas seluruh harta diinfakkan. Keseimbangan disini sangatlah dituntut. Manakah jatah untuk keluarga dan sebagian harta manakah yang hendak dinafkahkan. “wa laa tabsuth-haa kullal basthi..”, janganlah kamu terlalu mengulurkannya QS. Al Isra’ (17) : 29.

    Beramal, namun tidak melalaikan kewajiban terhadap anak, istri dan keluarga. Berinfak, tapi tidak mengesampingkan kebutuhan yang bersifat wajib.

    Selanjutnya, kemurahan hati si kaya seharusnya disikapi dewasa oleh sang miskin. Kondisi ekonomi yang dihadapi, tidak membuatnya membutakan mata hati, dan mengambil jalan pintas, atau sekedar berpangku tangan. Bilakah si miskin sadar bahwa kondisi tersebut adalah ujian, seberapa tabahkah ia menjalani. Sungguh hebat prinsip yang dimiliki seorang mukmin, yang apabila ditimpa kesusahan.dia bersabar, sebaliknya ketika mendapat nikmat ia syukuri. Demikian sabda Nabi saw.

    Tidak menjadi jaminan bahwa seorang yang kaya, lebih dalam hal spiritual dari si miskin. Kita akan menemukan potret, seorang hartawan yang enggan berbagi, dan acuh tak acuh terhadap saudaranya. Tepat jika rasul saw pernah bersabda” kekayaan bukanlah hanya harta dan pangkat, melainkan ketenangan jiwa”.

    Antara si miskin dan si kaya, sudah semestinya saling mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Keduanya mendapat ujian yang sama, harta dan kekayaan, yang membedakan hanyalah kesabaran yang dimiliki, mampukah sang hartawan dan si miskin menjaga hati kemudian bertanya pada nalurinya, miskin atau kayakah saya? Allahumma inna nasaluka al taufiq wa al sadad

    ***

    Nashih Nashrulloh

    Sumber: Tabloid Khalifah Edisi 28/Th II/2006

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 6 November 2012 Permalink | Balas  

    Para Peminat Neraka (Bagian 2 Habis)

    (Ach. Muchlis)

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nanti pada hari kiamat ada suara yang menyeru: ‘Hadirkan Fir’aun kemari!’ Maka fir’aun didatangkan, di kepalanya dipasang peci dari api neraka, dipakaikan baju gatharan atau tir serta menunggang babi. Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana orang‑orang yang sombong dan takabur?’ Mereka pun didatangkan dan berangkat ke neraka bersama Fir’aun sebagai pemimpinnya.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Qabil?’ Maka Qabil pun dihadirkan. Kemudian dikatakan: ‘Mana orang‑orang yang dengki?’ Kemudian mereka dikumpulkan dengan Qabil sebagai pemuka mereka menuju neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Ka’ab bin Asyraf pemuka ulama Yahudi?’ Ka’ab pun didatangkan kemudian ada seruan memanggil: ‘Maka malaikat menggiring mereka bersama Ka’ab sebagai pemimpinnya ke neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Walid bin Mughirah?’ Walid pun didatangkan kemudian ada panggilan: ‘Mana orang‑orang yang mengejek orang‑orang muslim yang fakir?’ Walid menjadi pemuka mereka menuju neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Ajda, orang yang celaka yang telah melakukan liwath dari kaum Nabi Luth?’ Ajda pun didatangkan lalu ada panggilan: ‘Mana orang‑orang yang melakukan liwath?’ Merekapun didatangkan dan Ajda sebagai pemimpin masuk neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Musailamatul Kadzdzab? Diapun didatangkan. Dan dia memanggil orang‑orang yang mendustakan kitab suci Al‑Qur’an. Dia adalah pemuka mereka masuk neraka.

    Kemudian ada seruan lagi: ‘Mana Iblis terkutuk?

    Iblis pun didatangkan dan berkata: ‘Wahai Hakim Yang Maha Adil, datangkanlah kepadaku tentaraku. Para muadzinku, para pembacaku, mereka yang sejalan denganku, para menteriku, para ahli fiqihku, para penjagaku, para pedagangku, para pemukul genderangku serta para penghalauku!’

    (iblis ditanya)

    Suara : Hai Iblis terkutuk dan terusir , siapakah para tentaramu itu?

    Iblis : Tentaraku ialah mereka yang mempunyai sifat rakus, para muadzinku ialah orang‑orang yang salah bacaannya, para pembacaku ialah para penyanyi, mereka yang sejalan denganku ialah mereka yang mengiris muka dan tangannya kemuka, diberi nila serta siapa saja yang minta diperlakukan demikian, para ahli fiqihku ialah mereka yang mengejek orang‑orang yang terkena musibah serta menghina orang‑orang yang makan barang halal, para penjagaku ialah mereka yang mendatangi almari arak dan yang tidak mau mengeluarkan zakat, para pedagangku ialah mereka yang menjual barbathah (batang dan bunga terlarang), para pemukul genderangku adalah orang‑orang yang menabuh rebana (alat musik), para penghalauku ialah mereka yang menanam pohon‑pohon anggur untuk dijadikan minuman yang memabukkan.

    Kemudian keluarlah seekor ular yang panjang lehernya sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Ular itu mengumpulkan mereka semua lalu menggiring ke neraka. (Tafsirur Taisir)‑(Durratun Nasihin II. Hal 34‑41)

    Di hari itu tidak berguna tuduhan dan makian, yang ada hanya ungkapan kemarahan mereka terutama terhadap Iblis, seperti yang digambarkan Allah dalam Al‑Qur’an:

    Dalam orang‑orang kafir itu berkata (di hari kiamat): ‘Ya Tuhan kami! Tunjukkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami, dari golongan jin dan manusia supaya kami jadikan mereka di bawah telapak‑telapak kaki kami agar mereka menjadi orang‑orang rendah.

    (QS. Fushshilat, 41:29)

    Demi mendengar tuduhan dan makian para ahli neraka terhadap dirinya, lalu Iblis menyampaikan pidatonya di hadapan mereka untuk membela diri. Firman Allah Swt: Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjajikan kepadamu tetapi aku mengingkarinya. Sekali‑kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekedar aku mengajakmu lalu kamu perkenankan aku; oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku; akan tetapi cercalah diri kamu sendiri. Aku sekali‑kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali‑kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali‑kali tidak dapat menolong aku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kamu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang‑orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS, Ibrahim, 14:22)

    Maka sebagian dari mereka berusaha untuk minta tolong kepada para pemimpin mereka sewaktu di dunia yang telah menyesatkan dan menyebabkan mereka dicampakkan di neraka, seperti firman Allah: Dan tatkala mereka akan berbantahan di neraka, yaitu orang‑orang yang lemah (para pengikut akan berkata kepada mereka yang sombong,

    Pengikut : Sesungguhnya kami pengikut‑pengikut kamu, maka bisakah kamu hindarkan dari kami sebagian dari azab neraka ini?

    (Mereka yang sombong itu berkata)

    Pemimpin: Kita semua berada di dalamnya, sesungguhnya Allah telah jatuhkan hukuman antara hamba‑hamba‑Nya. (QS, Al‑Mukmin, 40:47‑48)

    Karena tidak tahan terhadap kepedihan siksa neraka, mereka memohon keringanan kepada Tuhan melalui malaikat‑malaikat penjaga neraka, seperti firman Allah: Dan orang‑orang yang di neraka berkata kepada penjaga‑penjaga Jahannam.

    Ahli Neraka : Mintakanlah kepada Tuhan kamu supaya ia meringankan dari kami sehari saja dari azab.

    Malaikat : Dan bukankah telah datang kepada kamu rasul‑rasul kamu dengan membawa keterangan‑keterangan?

    Ahli Neraka : Ya.

    Malaikat : Kalau begitu, berdoalah kamu; dan tidak ada doa orang‑orang yang kafir itu melainkan dalam kesesatan. (QS, Al‑Mukmin, 40:49‑50)

    Mendengar jawaban dari malaikat‑malaikat penjaga neraka itu, mereka lalu berputus asa

    Sehingga yang mereka idam‑idamkan hanyalah kematian, seperti firman Allah:

    Dan mereka memanggil: ‘Hai Malik! hendaklah Tuhanmu hukumkan kematian atas kami.’ Ia jawab: ‘Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal (di dalam neraka ini).’ (QS,Az‑Zukhruf, 43:77)

    Kemudian mereka memohon langsung kepada Tuhan dengan doa yang sangat menyayat hati, seperti yang difirmankan Allah: Dan mereka berteriak di dalam neraka: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan kerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ (QS. Fathir, 35:37)

    Berkenaan dengan permohonan ahli neraka itu, Tuhan mengadakan dialog langsung dengan mereka, seperti firman Allah dalam Al‑Qur’an,

    Allah: Bukankah ayat‑ayat Ku telah dibacakan kepada kamu sekalian tetapi kamu mendustakan-nya?

    Ahli Neraka: Ya Tuhan! kami telah dikuasai oleh kejahatan kami dan kami adalah orang‑orang yang sesat. Ya Tuhan kami! keluarkanlah kami dari neraka ini (kembalikanlah kami ke dunia). Jika kami kembali (kafir) maka sesunguhnya kami orang‑orang yang zalim.

    Allah: Tinggalah kamu di dalamnya dan janganlah kamu berkata‑kata kepada‑Ku.

    Sesungguhnya ada segolongan dari hamba‑hambaKu berdoa (sewaktu di dunia): ‘Ya Allah! Kami telah beriman, maka ampunkanlah kami, lantaran Engkau sebaik‑baik pengasih. ‘Tetapi kamu jadikan mereka ejekan, hingga (kesibukan kamu mengejek mereka) menyebabkan kamu lupa mengingat‑Ku, dan kamu selalu mentertawakan mereka.

    Sesungguhnya pada hari ini Aku ganjari mereka dengan sebab kesabaran mereka, sesungguhnya merekalah orang‑orang yang dapat kemenangan. (QS, Al‑Mukminun, 23:105‑111)

    Pada hari itu tidak ada penolong‑penolong bagi orang‑orang kafir. Nabi Ibrahim as ingin menolong ayah kandungnya, Azar, si penyembah berhala, tetapi tidak sanggup. Bahkan doa beliau ditolak keras oleh Allah, seperti disebutkan dalam sebuah hadits: Pada hari kiamat nanti Nabi Ibrahim bertemu dengan ayahnya (Azar), pada waktu itu nampak wajah Azar hitam gelap, kemudian Nabi Ibrahim berkata: ‘Bukankah aku sudah mengingatkanmu agar kamu jangan memusuhi aku.’ Ayahnya menjawab: ‘Hari ini aku tidak akan memusuhi engkau.’ Ibrahim berkata: ‘Ya Allah, Engkau telah berjanji, janganlah Engkau menyusahkan kami pada hari kebangkitan ini dan tidak ada hal yang menyusahkan kami kecuali kesusahan yang akan diderita oleh ayahku.’ Tiba tiba Allah Swt menjawab: ‘Sesungguhnya Aku telah mengharamkan surga bagi orang‑orang kafir.’ Kemudian Ibrahim berkata kepada ayahnya: ‘Hai ayah, cobalah kau lihat apa yang ada di bawahmu itu.’ Setelah Azar melihatnya, tiba‑tiba nampak olehnya seperti ayam baru disembelih. Tidak antara lama kedua kaki Azar diserimpung kemudian dicampakkan ke dalam neraka. (HR. Imam Bukhari)

    Allah pernah menggambarkan penderitaan para ahli neraka kepada Nabi Musa as: ‘Wahai Musa, Neraka Wail adalah untuk perusak janji dan amanat, mereka akan disalib pada pohon Zaqqum dimana api masuk dari duburnya dan keluar lewat mulutnya, kedua telinga serta kedua matanya. Wahai Musa sungguh mereka akan digandengkan dengan setan‑setan dalam rantai‑rantai dan belenggu‑belenggu yang digantungkan pada mulutnya dimana otaknya mengalir melalui lubang hidungnya. Sekejab matapun tak akan dapat tidur, tak akan pernah merasa enak. Orang‑orang kafir sama memohon keamanan dengan minta mati karena dahsyatnya siksaan. Demikian juga para perusak janji, mereka memohon selamat dengan minta mati. Tidak ketinggalan para pezina, pemakan riba dan orang‑orang yang meninggalkan shalat. Mereka disiksa dalam neraka berwindu‑windu. Wahai Musa, andaikan air laut didatangkan, pohon‑pohon sebagai pena, manusia‑manusia dan jin‑jin sebagai juru tulis, maka sungguh habislah pena‑pena dan rusaklah manusia‑manusia dan jin‑jin serta keringlah seluruh air lautan sebelum bilangan windu Jahannam selesai ditulis (dihitung)’

    (Berita Ghaib dan Alam Akhirat, hal 178‑M. Ali Chasan Umar)

    Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Jibril as.

    Nabi : Apakah yang dimaksud Al‑Huqub (sewindu) itu?

    Jibril : Yaitu 4000 (empat ribu) tahun.

    Nabi : Setahun berapa bulan?

    Jibril : 4000 (empat ribu) bulan.

    Nabi : Sebulan berapa hari?

    Jibril : 4000 (empat ribu) hari.

    Nabi : Sehari berapa jam?

    Jibril : 70.000 (tujuh puluh ribu) jam dan setiap jam adalah satu tahun menurut dunia.

    (Dari Berita Alam Ghaib dan Alam Akhirat, hal. 179‑Idem)

    Diriwayatkan dari Ubaya bin Ka’ab, ia berkata: Nabi Saw bersabda: kelak di hari kiamat peminum arak didatangkan dengan kendi dikalungkan pada lehernya dan tambur pada kedua tapak tangannya lalu ditancapkan di atas tonggak dari neraka. Kemudian penyeru memanggil: ‘Inilah Fulan bin fulan dalam kedudukan seperti itu.’ Maka keluarlah arak dengan deras dari mulutnya. Merasa sangat sakit dan bau busuk keringatnya yang amat sangat, mereka memohon kepada Allah agar dihilangkan keringat mereka namun tidak dikabulkan. Jika mereka minta minum, maka diberi air yang mendidih hingga rontoklah usus‑ususnya.

    Jika mereka minta makan, maka diberi buah Zaqqum hingga meletus dan mendidihlah apa yang ada di dalam perut‑perut dan dalam otak‑otak mereka. Kemudian keluarlah nyala api neraka dari dalam mulutnya, maka rontoklah semua isi perut mereka. Tiap seorang dari mereka dimasukkan dalam satu peti yang sangat sempit dari bara api selama 1000 tahun. Kemudian dikeluarkan dan dimasukkan dalam kurungan neraka serta dibelenggu di dalamnya. Mereka menjerit‑jerit selam satu tahun tetapi tidak dikasihani. Di dalam kurungan itu terdapat ular‑ular dan kala‑kala sebesar onta. Ular‑ular itu menggerogoti telapak kakinya tapi ia tidak dapat memukulnya. Pada kepada mereka dituangi tembaga dari api, dan besi pada ubun‑ubunnya. Rantai melilit leher mereka dan belenggu‑belenggu pada tangannya.

    Setelah 1000 tahun mereka dikeluarkan dan langsung dilongtarkan ke dalam (neraka) Wail selama 1000 tahun. Kemudian mereka sama memanggil: ‘Wahai Muhammad! Aduh Muhammad!’ Begitu mendengar suara ummatku.’ Allah menjawab: ‘Itu suara peminum arak, mereka mati dalam keadaan mabuk, dihalau ke padang Mahsyar juga dalam keadaan mabuk.’ Lalu Nabi Saw memohonkan syafa’at: ‘Ya Allah keluarkanlah mereka dari neraka dengan syafa’atku.’ Permohonan Rasulullah dikabulkan, maka tidak kekallah mereka di sana.

    Tentang keadaan para peminat neraka, dilukiskan dalam riwayat lain yaitu setelah Allah memutuskan hukuman dan pengadilan‑Nya terhadap mereka, ia memerintahkan Jibril as.

    Allah: Wahai Jibril, apakah perbuatan para pendurhaka dari Ummat Muhammad?

    Jibril: Engkau yang Maha mengetahui tentang keadaan mereka.

    Allah: Pergilah dan saksikanlah keadaan mereka.

    (Maka Jibril mendatangi Malik yang sedang di atas mimbar dari api di tengah‑tengah Jahannam. Ketika Malik melihat Jibril, ia berdiri untuk menghormatnya dan berkata),

    Malik: Wahai Jibril, gerangan apakah yang memasukkan engkau ke tempat ini?

    Jibril: Karena ingin menyaksikan orang‑orang yang berdosa dari ummat Muhammad.

    Malik: Alangkah jeleknya keadaan mereka dan alangkah sempitnya tempat mereka. Api telah membakar daging‑daging mereka tinggallah wajah‑wajah dan hati‑hati mereka yang memancarkan cahaya iman.

    Jibril: Bukakanlah hijab agar dapat aku menyaksikan mereka.

    (Lalu Malik memerintahkan agar hijab diangkat. Setelah mereka melihat Jibril as yang indah rupanya, mereka mengira ia bukan malaikat azab, mereka bertanya),

    Ahli Neraka: Siapakah hamba ini? Tak pernah ada seorang pun yang datang seindah itu.

    Malik: Inilah Jibril as. Dialah yang menyampaikan wahyu kepada Muhammad.

    (Setelah mereka mendengar nama Muhammad Saw mereka semua berteriak, menjerit dan menangis).

    Ahli Neraka: Wahai Jibril, sampaikan salam kami kepada Muhammad dan beritahukanlah tentang kejelekan keadaan kami.

    (Kemudian Jibril menghadap Allah, Allah bertanya walaupun sudah tahu)

    Allah: Bagaimana kamu melihat keadaan umat Muhammad?

    Jibril: Wahai Tuhanku, bukan main jeleknya keadaan mereka dan bukan main sempitnya tempat mereka.

    Allah: Apakah mereka minta sesuatu kepadamu?

    Jibril: Benar ya Allah, mereka memohon agar aku menyampaikan salam mereka kepada Muhammad dan memberitahukan tentang kejelekan keadaan mereka.

    Allah: Pergilah kepadanya dan sampaikan kepadanya.

    (Kemudian Jibril as menemui Nabi Saw sambil menangis, sedangkan beliau berada dalam kemah dari intan yang putih yang memiliki 4000 pintu di bawah pohon Thuba di surga. Setiap pintu terdiri dua surup, satu surup dari emas dan yang satunya dari perak)

    Nabi : Apakah yang kau tangisi wahai saudaraku Jibril?

    Jibril : Wahai Muhammad, andaikan engkau melihat apa yang kulihat engkau sungguh menangis karena tangisku. Aku telah mendatangi orang‑orang yang berbuat maksiat dari ummatmu yang sedang disiksa. Mereka menyampaikan salam kepadamu. Mereka berkata: ‘Alangkah jeleknya keadaan kami dan alangkah sempitnya tempat kami.’ Dengarlah teriakan mereka. Mereka mengucapkan: ‘Wahai Muhammad!’

    (Begitu mendengar ucapan mereka, beliau menjawab, ‘Labbaikum labbaikum yaa ummati = Aku datang, aku datang wahai ummatku.’ Kemudian nabi Saw berdiri menangis datang di sisi Arsy dan para nabi berada di belakang beliau. Beliau lalu bersujud dan memuji kepada Allah dengan pujian yang tak seorang pun memuji seperti itu. Allah lalu berkata),

    Allah: Hai Muhammad, angkatlah tanganmu dan mintalah, kamu pasti diberi dan mohonlah syafa’at, kamu pasti diberi syafa’at.

    Nabi: Ya Allah, orang‑orang celaka dari ummatku telah lepas dari sidang pengadilanMu sedangkan hukum adalah urusan‑Mu. Engkau telah menyiksa mereka. Aku mohon agar engkau berkenan memberi syafa’at kepadaku.

    Allah: Aku telah memberikan syafa’at kepadamu untuk mereka.

    (Maka Nabi Saw datang beserta para Nabi untuk mengeluarkan setiap orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Muhammadun Rasulullah. Malik menghormati beliau. (Nabi Saw berkata):

    Nabi: Bagaimanakah keadaan ummatku yang celaka?

    Malik: Sangat jelek keadaan mereka dan sangat sempit tempat‑tempat mereka.

    Nabi: Bukakanlah pintu dan angkatlah anjat‑anjatan.

    (Setelah mereka melihat Nabi Saw mereka berteriak)

    Ahli Neraka: Aduh Muhammad, api telah membakar kulit‑kulit dan daging‑daging kami. Engkau telah meninggalkan dan melupakan kami di dalam neraka.

    Nabi: Sesungguhnya aku tak mengerti keadaan kalian.

    Kemudian mereka dikeluarkan dari neraka, keadaan mereka rusak karena dimakan api. Lalu nabi Saw pergi bersama mereka ke sungai di tepi pintu surga yang disebut ‘Nahrul Hayat’. Setelah mereka mandi di situ, keadaan mereka menjadi muda belia, semuanya sebaya. Wajah wajah mereka bersinar seperti bulan. Kening‑kening mereka tertulis tanda pembebasan dari Neraka. Setelah mereka memasuki surga mereka memohon agar tulisan itu dihapuskan Allah, maka Allah menghapuskannya.

    Hadits lain dari Abu Hurairah, ia berkata: bersabda Rasulullah Saw: Bahwasanya syafa’atku di hari kiamat (dalam neraka) ialah terhadap ummatku yang mengerjakan dosa besar. Mereka dimasukkan hanya pada pintu pertama neraka Jahannam. Wajah mereka tidak hitam, mata mereka tidak buta, tidak dibelenggu dengan rantai, tidak didampingkan bersama setan, tidak dicambuk dengan maqami (cemeti dari api) serta tidak dilemparkan ke lapisan neraka yang paling bawah. Mereka tinggal di neraka hanya sehari saja, ada yang sebulan, dan ada yang setahun, sesudah itu mereka dikeluarkan. Adapun mereka yang paling lama mengeram di neraka hanya selam ia hidup di dunia semenjak ia dijadikan sampai meninggal yaitu tujuh puluh tahun. (HR. Hakim dan Tirmidzi)

    Melihat orang‑orang Islam ditanting keluar dari neraka, kemudian memperoleh kenikmatan‑ kenikmatan yang luar biasa, maka tiada taranya penyesalan orang‑orang kafir, seperti yang difirmankan Allah: Orang‑orang kafir itu akan menginginkan sekiranya mereka dahulu menjadi orang Muslim. (QS, Al ‑ Hijr, 15:2)

    Wassalam

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:26 am on 5 November 2012 Permalink | Balas  

    Neraka

    (Ach. Muchlis)

    Allah Swt berfirman dalam Al‑Qur’an: Dan sesungguhnya Jahannam itu tempat yang dijanjikan bagi mereka sekalian. Ia mempunyai tujuh pintu; tiaptiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka (pengikutpengikut iblis). (QS. Al‑Hur, 15: 43:44)

    Tentang pintu‑pintu neraka, Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Jibril as: ‘Apakah keadaan pintu‑pintu neraka itu seperti pintu rumahku?’ Jawab Jibril: ‘Tidak, tetapi pintu neraka terbuka di bawah yang lain.’

    Dalam sebuah riwayat, Wahab bin Munabbih berkata, Jarak satu pintu ke pintu lainnya bisa ditempuh dengan perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintunya sangat panas dari yang lain dengan perbandingan tujuh puluh kali.

    (Mukhtashar Tadzkiratul Qurthuby, Dari Calon‑Calon ahli Surga dan Ahli Neraka ‑ M. Alli Chasan Umar)

    Rasulullah Saw, dalam riwayat lain, pernah berdialog dengan Malaikat Jibril as,

    Rasulullah: Siapakah orang‑orang yang menempati pintu‑pintu neraka itu?

    Jibril: Pintu pertama (paling bawah) namanya Hawiyah, ditempati orang‑orang munafik dan kafir. Pintu kedua namanya Jahim, ditempati orang‑orang musyrik. Pintu ketiga namanya Saqar, ditempati orang‑orang Shabiin (orang‑orang yang menukar agama, para penyembah bintang, yang mengaku beragama Nabi Nuh). Pintu keempat namanya Ladhaa, ditempati Iblis dan para pengikutnya serta orang‑orang Majusi (penyembah api). Pintu kelima namanya Huthamah, ditempati orang‑orang Yahudi. Pintu keenam namanya Sa’ir, ditempati orang‑orang Nasrani. Pintu ketujuh ditempati orang‑orang yang berbuat dosa besar dari golongan umatmu yang sampai mati mereka belum bertobat.

    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Jibril tidak menerangkan penghuni pintu ketujuh sehingga Rasulullah Saw bertanya: ‘Wahai Jibril mengapa engkau tidak menuturkan kepadaku penghuni pintu ketujuh? Jibril berkata: ‘Wahai Muhammad, tak usahlah engkau tanyakan hal itu kepadaku’. Kata Nabi Saw: ‘Baiklah kalau begitu.’ Maka Jibril berkata: ‘Wahai Muhammad, yaitu para pembuat dosa‑dosa besar dari ummatmu. Mereka mati sebelum bertobat. ‘Seketika itu Nabi Saw pingsan.

    Dan setelah sadar beliau berkata: ‘Wahai Jibril, besar sekali musibahku dan aku sangat takut. Apakah salah seorang dari ummatku akan masuk neraka?’ Jibril menjawab: ‘Ya, ummatmu yang berbuat dosa‑dosa besar.’ Maka nabi Saw menangis lalu Jibril menangis pula karena tangisnya Nabi Saw. (Tanbihul Ghafilin‑Al‑Faqih Abu Laits Samarqandi, hal 59)

    Pintu‑pintu neraka akan dibukakan bila golongan yang akan memasuki telah dihadirkan, seperti firman Allah: Dan orang‑orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong‑rombongan, sehingga apabila mereka sampai keneraka, dibukakan pintu‑pintunya dan penunggu‑penunggunya berkata kepada mereka: ‘Bukankah telah datang kepada kamu rasul‑rasul dari jenis kamu yang membacakan kepada kamu ayat‑ayat Tuhan kamu dan mengancam kamu dengan pertemuan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Ya ada! Tetapi telah pantas hukuman azab atas orang‑orang kafir. (QS, As‑Zumar, 39:72)

    Lalu dalam keadaan rela atau terpaksa mereka akan dihardik untuk memasukinya,

    Dikatakannya: ‘Masukilah pintu‑pintu Jahannam itu, kamu kekal di dalamnya.’ Maka alangkah jelek tempat kembali bagi orang‑orang yang sombong itu. (QS. Az‑Zumar, 39:72)

    Dalam sebuah hadits yang panjang, Abu Hurairah ra menggambarkan neraka pada kalimat terakhir hadits itu,

    Abu Hurairah berkata: Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah di tanganNya, bahwa dasar Jahannam itu dalamnya adalah tujuh puluh tahun (perjalanan).

    (HR. Muslim dan Hudzaifah dan Abu Hurairah ra)

    Dalam hadits lain, yaitu:

    Hadits Ibnu Abbas ra mengatakan: Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dengan para sahabatnya. Tiba‑tiba dia mendengar suatu suara. Ketika itu Nabi saw bertanya: ‘Tahukah kamu suara apakah itu?’ Jawab mereka: ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu.’ Kata Nabi Saw: ‘Itu adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu dan baru sekarang sampai ke dasar neraka itu.’ (HR. Muslim)

    Tidaklah berlebihan bila dalam sebuah dialognya dengan Allah, Jahannam mengatakan masih sanggup memuat calon‑calon penghuninya berapa pun jumlahnya, seperti firman Allah,

    Ingatlah hari yang Kami akan bertanya kepada Jahannam: ‘Sudahkah engkau penuh?’ dan ia (Jahannam) akan menjawab: ‘Apakah ada tambahan?’ (QS, Qaf, 50:30)

    Tentang panasnya api neraka, Rasulullah Saw bersabda, Api kalian yang dinyalakan di dunia ini adalah sebagian dari tujuhpuluh bagian bila dibandingkan dengan panasnya api Jahannam. Para sahabat bertanya: ‘Demi Allah, yang ini saja yang di dunia kiranya sudah mencukupi (untuk menghancurkan manusia) ya Rasulullah?’

    Sahut beliau: ‘Sesungguhnya panasnya itu masih lebih sembilan puluh sembilan bagian lagi (dari api dunia ini) yang masing‑masing panasnya setiap bagian sedemikian itu. (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra)

    Dalam hadits lain dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Panas api yang kamu nyalakan di dunia ini (termasuk matahari) hanyalah sepertujuh puluh dari panasnya api neraka di akhirat. Kalau sebagian kecil (api neraka) jatuh ke dunia, niscaya mendidihlah air laut karena panasnya. (HR. Muslim) (Dari Kehidupan Insan di Alam Baqa‑Halimuddin SH, hal 8)

    Dalam satu riwayat disebukan bahwa Allah Ta’ala mengutus malaikat Jibril as kepada malaikat Malik supaya mengambil sebagian dari api neraka untuk keperluan Adam memasak makanan.

    Malaikat Malik berkata: Wahai Jibril, berapa api yang engkau kehendaki dari neraka?

    Jibril : Kira‑kira sebutir kurma.

    Malik : Wahai Jibril, sekiranya aku berikan kepadamu api neraka sebesar sebutir kurma, niscaya hancurlah tujuh langit dan tujuh bumi karena panasnya.

    Jibril : Bagaimana kalau hanya separuhnya saja?

    Malik : Andaikata apa yang engkau kehendaki itu aku berikan, niscaya tidak akan ada air di langit walau setetes pun dan tak akan tumbuh satu pun tumbuh‑tumbuhan di bumi.

    (Kemudian Jibril menghadap Allah dan berkata)

    Jibril : Ya Tuhanku, seberapa aku harus mengambil api dari neraka?

    Allah : Ambillah sebesar debu. (Durratun Nasihin III, hal 112)

    Maka Jibril mengambil api sebesar debu, lalu ia menyelamkannya dalam sungai sampai 70 (tujuh puluh) kali. Kemudian ia memberikannya kepada Adam as dan Jibril meletakkannya di atas gunung yang menjulang tinggi, gunung musnah. Akhirnya api itu dikembalikan lagi pada tempatnya. Adapun asapnya tertinggal pada batu‑batu dan besi‑besi sampai sekarang.

    Dan dapatlah dibayangkan betapa panasnya kalau percikan‑percikan api neraka itu seperti yang dilukiskan oleh Allah dalam Al‑Qur’an: Sesungguhnya neraka itu melontarkan percikan‑percikan api sebesar balok. (QS, Al‑Mursalat, 77:32)

    Malaikat Jibril as pernah memberi gambaran kepada Nabi Muhammad Saw tentang neraka. Begini: Andaikata neraka itu dibuka selubang jarum di arah timur maka terbakarlah penduduk bagian barat karena sangat panasnya.

    Dan andaikata pakaian ahli neraka digantungkan diantara langit dan bumi, maka matilah mereka karena sangat panasnya. Dan andaikan satu hasta rantai yang telah disebutkan Allah dalam kitab‑Nya itu diletakkan pada gunung maka hancurlah gunung itu hingga menembus tujuh bumi. Dan andaikata seorang lelaki dari ahli neraka yang disiksa berada di arah barat maka sungguh akan hanguslah orang yang berada di arah timur karena sangat hebatnya siksaan.

    Sebelum para ahli neraka dihadirkan, Allah mengadakan persiapan‑persiapan secukupnya untuk membuat kejutan‑kejutan yang mendirikan bulu roma. Bersabda Rasulullah Saw: Malaikat Jibril telah datang kepadaku, aku berkata kepadanya: ‘Wahai Jibril terangkanlah kepadaku sifat‑sifat neraka Jahannam. Ia (Jibril) berkata: ‘Sungguh Allah Ta’ala telah menciptakan neraka dan menyalakannya selama seribu tahun sehingga menjadi berwarna merah, kemudian menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga mejadi berwarna putih, lalu menyalakannya lagi selama seribu tahun sehingga berwarna hitam seperti malam yang gelap, nyalanya tidak pernah berhenti dan baranya tidak pernah bisa padam.’

    Allah melengkapi pemandangan di neraka dengan sesuatu yang tidak hanya boleh dilihat tetapi wajib didaki oleh penghuninya. Hadits Abi Said al‑khudry ra, katanya: Rasulullah Saw pernah membicarakan tentang firman Tuhan yang berbunyi: ‘Aku akan membebaninya dengan pendakian yang melelahkan.’ Yaitu gunung di dalam neraka yang wajib didaki oleh orang kafir selama tujuh puluh tahun. Demikianlah ketinggian gunung itu.

    (HR. Tirmidzi)

    Dalam hadits lain dari Anas ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Wailun itu suatu lembah di dalamnya neraka Jahannam. Dalamnya lembah itu sejauh empat puluh perjalanan bagi orang kafir baru sampai ke dasarnya. Kata Abi Said al Khudry ra: Bahwa Wailun itu adalah lembah yang terletak di antara dua buah gunung di dalam neraka. Empat puluh tahun lamanya orang kafir baru sampai ke dasarnya. (HR. Muslim)

    Rasulullah Saw menambahkan: Di dalamnya terdapat sebuah gunung yang bernama Raqabah yang dilalui orang‑orang kafir. Gunung ini begitu panasnya sehingga bila tangan diletakkan di atasnya maka tangan itu akan hancur dan bila diangkat maka kembali seperti semula. (HR. Tirmidzi)

    Tidak ada celah sedikitpun di dalamnya neraka yang tidak diramaikan oleh bara api. Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya tanah neraka itu terdiri dari timah hitam, pagarnya dari tembaga, atapnya dari belerang, kayu bakarnya dari manusia dan batu. Bila api neraka itu dinyalakan, maka semua yang ada di sana menyala pula menjadi api. (AL‑Hadits)

    Menurut keterangan dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Pada hari kiamat akan dikeluarkan neraka Jahannam dengan tujuh puluh ribu kendali, tiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat. (HR. Muslim)

    Keterangan selanjutnya adalah dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata: Neraka Jahannam pada hari kiamat nanti akan didatangkan dari bawah bumi yang ketujuh dan di sekelilingnya dikepung tujuh puluh ribu barisan malaikat. Setiap barisnya lebih banyak daripada jumlah dua golongan jin dan manusia. Mereka menarik Jahannam itu dengan tali‑talinya.

    Jahannam mempunyai empat kaki. Jarak antara dua kaki sejauh perjalanan seribu tahun. Jahannam memiliki tiga puluh ribu kepala, setiap kepala mempunyai tiga puluh ribu mulut, setiap mulut mempunyai tiga puluh ribu geraham, masing‑masing geraham tiga puluh ribu kali besarnya dari gunung Uhud, setiap mulut juga memiliki dua bibir selebar dunia. Pada setiap bibir terdapat rantai dari besi dan pada setiap rantai mempunyai tujuh puluh ribu kolong, setiap kolong dipegang para malaikat yang tak terhitung jumlahnya. Kemudian Jahannam digiring ke sebelah kiri Arsy. (Darratun Nasihin III, hal 15)

    Dan untuk menambah keseraman neraka maka Allah menciptakan Huraisy. Siapakah Huraisy itu? Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra katanya, Rasulullah Saw bersabda: Kelak di hari kiamat akan keluar suatu (makhluk) dari neraka Jahannam namanya Huraisy yang dilahirkan dari yang panjangnya sejauh antara langit dan bumi sedang besarnya dari timur sampai barat.

    Lalu Jibril as bertanya: Hai Huraisy mau kemanakah engkau dan siapa yang engkau cari?

    Huraisy : Aku mencari lima golongan manusia. Pertama orang yang meninggalkan shalat. Kedua orang yang enggan mengeluarkan zakat. Ketiga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Keempat peminum arak. Kelima orang yang bercakap‑cakap di mesjid dalam urusan keduniaan (Durratun Nasihin I, hal. 129)

    Disamping Huraisy yang besar itu Allah juga menghiasi neraka dengan binatang‑binatang kecil yang berukuran kecil menurut dimensi neraka. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra dari Nabi Saw, beliau bersabda: Sungguh di neraka terdapat beberapa ular dan kalajengking sebesar leher onta. Maka mereka akan memagut serta menyengat salah seorang dari kamu dengan pagutan dan sengatan yang dapat dirasakan panasnya selama empat puluh musim gugur. (Daqaa‑Ioqul Akhbaari)

    (Dari Durratun Nasihin III, hal 243‑Usman al‑Khaibawi)

    Untuk melengkapi penderitaan orang‑orang kafir, Allah juga melipatgandakan dimensi tubuh mereka ratusan ribu kali. Dari Imam Muslim dari Abu Hurairah ra dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Geraham orang kafir itu seperti gunung Uhud dan tebal kulitnya sejauh tiga hari perjalanan.

    Keterangan: Dimensi mereka diperbesar ratusan ribu kali lipat untuk memperluas permukaan kulit. Hal ini dimaksudkan agar segala macam siksaan terutama siksa bakaran dapat benar‑benar dirasakan.

    Bersambung..

    ***

    Dari Sahabat

     
    • Bang Uddin 9:29 am on 5 November 2012 Permalink

      Mohon ada alat buat share donk
      inikan sesuai dengan statement di atas yaitu :
      “DIPERSILAHKAN JIKA INGIN MENGCOPY DAN MENYEBARLUASKAN ARTIKEL PADA BLOG INI.”

    • erva kurniawan 9:55 pm on 7 November 2012 Permalink

      Mohon dikasih saran gimana caranya, apakah ada fasilitas seperti itu di wordpress? maklum newbie :D

    • Raden Ilham Sastro 12:19 am on 8 November 2012 Permalink

      Reblogged this on R.A.D.E.N I.L.H.A.M.

  • erva kurniawan 1:59 am on 4 November 2012 Permalink | Balas  

    Menjaga Kesucian

    Islam mewajibkan seorang Muslimah mengenakan jilbab. ”Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab [33]: 59).

    Dengan jilbab, identitas seorang wanita menjadi jelas. Bahwa, mereka seorang Muslimah. Dengan jilbab pula, seorang wanita akan terhindar dari tatapan mata liar, sehingga mereka tidak diganggu. Kesucian mereka pun menjadi terjaga.

    Namun, jilbab bukan sekadar pakaian penutup tubuh (aurat) wanita. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pakaian yang dikenakan seorang wanita bisa dikatakan jilbab yang sebenarnya (jilbab syar’i).

    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya yang berjudul Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah menyebutkan delapan syarat jilbab syar’i.

    1. Pertama, menutup seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan.
    2. Kedua, bukan untuk tabarruj (bersolek) yang bisa menyebabkan pandangan mata tertuju padanya (QS Al-Ahzab [33]: 33).
    3. Ketiga, bahannya terbuat dari kain yang tebal, tidak tipis dan tidak tembus pandang (transparan).
    4. Keempat, kainnya longgar, tidak ketat, dan tidak membentuk lekuk tubuh.
    5. Kelima, tidak diberi wewangian atau parfum. ”Wanita mana saja yang memakai wewangian, lalu ia lewat di muka orang banyak agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
    6. Keenam, tidak menyerupai pakaian laki-laki. Sebab, Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Ahmad).
    7. Ketujuh, tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
    8. Kedelapan, bukan pakaian untuk mencari popularitas. ”Barangsiapa mengenakan pakaian untuk mencari popularitas di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

    Kedelapan, syarat ini bukanlah hal yang sulit untuk dipenuhi. Sebab, tidak ada yang sulit dalam syariat Islam. Semuanya mudah. ”Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.’‘ (QS Al-Baqarah [2]: 185). Dalam firman-Nya yang lain, ”Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama ini suatu kesempitan.’‘ (QS Al-Hajj (22): 78).

    ***

    (Mujianto )

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 3 November 2012 Permalink | Balas  

    Tipe-tipe Wanita dalam Alquran

    Ketika memasuki sebuah showroom, butik atau toko yang menjual pakaian wanita, kita akan mendapatkan pakaian dalam berbagai bentuk, corak dan ragamnya. Mau pilih yang mana? Semuanya terserah kita. Sebab kita sendiri yang akan memakainya. Kita pula yang akan menerima konsekuensi dari memakai pakaian tersebut.

    Pakaian dapat kita analogikan dengan kepribadian. Seperti halnya pakaian, kepribadian wanita pun memiliki beragam jenis dan corak. Kita diberi kebebasan untuk memilih tipe mana saja yang paling disukainya. Namun ingat, dalam setiap pilihan ada tanggung jawab yang harus dipikul. Karena itu, agar tidak menyesal dikemudian hari, Alquran memberi tuntunan kepada orang-orang beriman (khususnya Muslimah) agar tidak salah dalam memilih kepribadian.

    Lima tipe wanita

    Setidaknya ada lima tipe wanita dalam Alquran. Pertama, tipe pejuang. Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. Ia berani menanggung risiko apa pun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. Tipe ini diwakili oleh Siti Asiyah binti Mazahim, istri Fir’aun. Walau berada dalam cengkraman Fir’aun, Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang Muslimah. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir’aun. Allah SWT mengabadikan doanya, Dan Allah menjadikan perempuan Fir’aun teladan bagi orang-orang beriman, dan ia berdoa, Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (QS At Tahriim [66]: 11).

    Kedua, tipe wanita shalihah yang menjaga kesucian dirinya. Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya. Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! .

    Demikian ungkap Maryam (QS Maryam [19]: 20). Karena keutamaan inilah, Allah SWT mengabadikan namanya sebagai nama salah satu surat dalam Alquran (QS Maryam [19]). Maryam pun diamanahi untuk mengasuh dan membesarkan Kekasih Allah, Isa putra Maryam (QS Maryam [19]: 16-34). Allah SWT memuliakan Maryam bukan karena kecantikannya, namun karena keshalihan dan kesuciannya.

    Ketiga, tipe penghasut, tukang fitnah dan biang gosip. Tipe ini diwakili Hindun, istrinya Abu Lahab. Alquran menjulukinya sebagai “pembawa kayu bakar” alias penyebar fitnah. Dalam istilah sekarang wanita penyiram bensin. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. demikian pula istrinya, pembawa kayu bakar yang di lehernya ada tali dari sabut (QS Al Lahab [111]: 1-5).

    Bersama suaminya, Hindun bahu membahu menentang dakwah Rasulullah SAW, menyebar fitnah dan melakukan kezaliman. Isu yang awalnya biasa, menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun.

    Keempat, tipe wanita penggoda. Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf. Petualangan Zulaikha diungkapkan dalam Alquran, Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, Marilah ke sini. Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung (QS Yusuf [12]: 23).

    Kelima, tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya.  Allah SWT memuji wanita yang tidak taat kepada suaminya yang zalim, seperti dilakukan perempuan Fir’aun (QS At Tahriim [66]: 11). Namun, pada saat bersamaan Allah pun mengecam perempuan yang bekhianat kepada suaminya (yang saleh). Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran, mereka malah menjadi pengkhianat dakwah.

    Difirmankan, Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). (QS At Tahriim [66]: 10).

    Wanita-wanita yang dikisahkan Alquran ini hidup ribuan tahun lalu. Namun karakteristik dan sifatnya tetap abadi sampai sekarang. Ada tipe pejuang yang kokoh keimanannya. Ada wanita salehah yang tangguh dalam ibadah dan konsisten menjaga kesucian diri. Ada pula tipe penghasut, penggoda dan pengkhianat. Terserah kita mau pilih yang mana. Bila memilih tipe pertama dan kedua, maka kemuliaan dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan. Sedangkan bila memilih tiga tipe terakhir, kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhiratlah akan kita rasakan. Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS An Nuur [24]: 34). Wallaahu a’lam.

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 2 November 2012 Permalink | Balas  

    Matahari Terbit dari Barat Dibenarkan Ilmuwan Fisika dan Masuk Islam 

    NASA Membenarkan Jika Matahari Akan Terbit dari Barat – Kebenaran ajaran Islam terus-menerus dibuktikan oleh penemuan demi penemuan ilmu pengetahuan. 1.400 tahun yang lalu, Rasulullah SAW sudah menyatakan dalam haditsnya bahwa kelak matahari akan terbit dari Barat sebagai bukti keagungan Allah SWT dan ciri-ciri kiamat sudah semakin dekat: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua mereka akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Dan riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibn Majah).

    Matahari terbit dari Barat akan terjadi selama satu hari saja, kemudian tertutuplah pintu taubat. Setelah itu, gerakan matahari pun akan kembali seperti sebelumnya terbit dari timur sampai terjadinya kiamat. Ini sesuai dan dibenarkan oleh peneliti NASA dalam artikelnya dibawah. Dari Ibn ‘Abbas, “Maka Ubai bin Ka’ab berkata: “Maka bagaimana jadinya matahari dan manusia setelah itu?” Rasulullah menjawab: “Matahari akan tetap menyinarkan cahayanya dan akan terbit sebagaimana terbit sebelumnya, dan orang-orang akan menghadapi (tugas-tugas) dunia mereka, apabila kuda seorang laki-laki melahirkan anaknya, maka ia tidak akan dapat menunggang kuda tersebut sampai terjadinya kiamat.” (Fathul Baari, Kitaburriqaq, Juz 11, Thulu’issyamsi Min Maghribiha).

    Matahari Terbit Dari Barat Dibenarkan Ilmuwan Fisika Dan Masuk Islam

    Ilmuwan Fisika Ukraina Masuk Islam Karena Membuktikan Kebenaran Al-qur’an Bahwa Putaran Poros Bumi Bisa Berbalik Arah

    Demitri Bolykov, sorang ahli fisika yang sangat menggandrungi kajian serta riset-riset ilmiah, mengatakan bahwa pintu masuk ke Islamannya adalah fisika. Sungguh suatu yang sangat ilmiah, bagaimanakah fisika bisa mendorang Demitri Bolyakov masuk Islam? Demitri mengatakan bahwa ia tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof. Nicolai Kosinikov, salah seorang pakar dalam bidang fisika.

    Mereka sedang dalam penelitian terhadap sebuah sempel yang diuji di laboratorium untuk mempelajari sebuah teori moderen yang menjelaskan tentang perputaran bumi dan porosnya. Mereka berhasil menetapkan teori tersebut. Akan tetapi Dimetri mengetahui bahwasanya diriwayatkan dalam sebuah hadis dari nabi saw yang diketahui umat Islam, bahkan termasuk inti akidah mereka yang menguatkan keharusan teori tersebut ada, sesuai dengan hasil yang dicapainya. Demitri merasa yakin bahwa pengetahuan seperti ini, yang umurnya lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai sumber satu-satunya yang mungkin hanyalah pencipta alam semesta ini.

    Teori yang dikemukan oleh Prof. Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menfsirakan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sempel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan, ditempatkan pada badan bermagnit yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.

    Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan “Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika”.

    Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya. Pada tingkat realita di alam ini, daya matahari merupakan “kekuatan penggerak” yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya insensitas daya matahari. Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung. Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40 km dalam setahun. Bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak. Ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa “gerak” perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketika itu matahari akan terbit (keluar) dari Barat !!!

    Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian. Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia mendapati informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huarirah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ”Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima Taubatnya.”

    Sumber :

    ***

    http://www.youtube.com/watch?v=Zqee3EZ4Ifs

    http://klikmenarik.blogspot.com/2012/06/nasa-membenarkan-matahari-akan-terbit.html

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 1 November 2012 Permalink | Balas  

    Syetan Bangga Jika Dicaci, Karenanya Mencacimaki Syetan Tidak Boleh

    Oleh: Badrul Tamam

    Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

    Ketika tersandung batu, terpeleset, terjatuh atau terantuk sesuatu yang membuat sakit, sering meluncur dari lisan kita kalimat-kalimat umpatan seperti “Syetan!” (ungkapan kekesalan), atau “Syetan sialan.” Seolah-olah syetan ada di balik semua ini, karenanya dialah yang harus disalahkan.

    Memang syetan senantiasa berusaha menimpakan keburukan kepada umat manusia karena kedengkiannya. Terutama supaya manusia merugi dan sengsara dunia akhriat. Karenanya, syetan berusaha keras untuk menyesatkan umat manusia dari jalan hidayah supaya kelak menjadi temannya di neraka yang menyala-nyala.  Allah Ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)

    Tapi, menyalah-nyalahkan syetan dengan kalimat-kalimat umpatan bukan sebuah kebaikan.

    Diriwayatkan dari Abu Malih. Ada seseorang bercerita kepada Abu Malih. Ia berkata: “Saya pernah naik Unta bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Unta beliau terpeleset, tanpa sadar saya berkata, “Celakalah syetan.” Lalu Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Jangan kamu katakan “celaka Syetan”, sebab jika kamu katakan itu badan syetan akan semakin membesar sehingga sebesar rumah seraya berkata, ‘dengan kekuatanku (aku menggelincirkan dia.’ Tetapi katakanlah, ’Dengan menyebut nama Allah’. Bila kamu berkata demikian, maka badan syetan akan mengecil hingga sekecil lalat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai, al-Thabrani, al-Baihaqi, dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, beliau berkata, “Shahihul Isnad”, no.3128, 3129.)

    Menyebut nama Allah-lah yang pantas diucapkan oleh seorang muslim sebagai bentuk keyakinannya bahwa tidak ada yang terjadi di muka bumi kecuali atas izin-Nya. Bukan berarti dengan menyebut nama Allah, Allah disalah-salahkan. Sekali lagi tidak, tapi sebagai ungkapan keyakinan bahwa semua itu dengan izin Allah. Tentunya harus disertai juga dengan keyakinan bahwa apa yang Allah timpakan atas orang muslim hakikatnya membawa kebaikan. Boleh jadi musibah yang menimpa seorang muslim itu sebagai kafarah atas dosa dan kesalahannya atau sebagai ujian dari Allah untuk meninggikan derajatnya.

    Diriwayatkan dari Mu’awiyah radliyallah ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    “Tidak ada sesuatu yang menimpa seorang mukmin pada tubuhnya sehingga membuatnya sakit kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Ahmad 4/98, Al-Hakim 1/347 Mu’awiyah radliyallah ‘anhu. Al-Hakim menyatakan shahih sesuai syarat Syaikhain. Imam al-Dzahabi menyepakatinya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Shahihah 5/344, no. 2274)

    Diriwayatkan juga dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

    “Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun’alaih)

    Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/94): “Apabila engkau ditimpa musibah maka janganlah engkau berkeyakinan bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu, sampaipun duri yang mengenai dirimu, akan berlalu tanpa arti. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikan dengan yang lebih baik (pahala) dan menghapuskan dosa-dosamu dengan sebab itu. Sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya. Ini merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila musibah itu terjadi dan orang yang tertimpa musibah itu mengingat pahala dan mengharapkannya, maka dia akan mendapatkan dua balasan, yaitu menghapus dosa dan tambahan kebaikan (sabar dan ridha terhadap musibah).”

    Mengungkapkan kekesalan dengan mencaci maki syetan tidak akan membawa kebaikan. Selain tidak berpahala karena tidak mengembalikan urusan kepada Allah dan tidak sabar atas takdir-Nya, perbuatan tersebut malah membuat syetan merasa senang dan sombong. Syetan akan merasa bahwa kejadian itu ada karena kekuatan yang dimilikinya. Dan selayaknya, seorang muslim yang memproklamirkan syetan sebagai musuh abadinya tidak mau membuat syetan senang dan berbangga.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah berpesan secara khusus agar tidak mencaci syetan ketika terjadi musibah,

    “Janganlah kalian mencaci maki syetan, sebaliknya berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya.” (HR. al-Dailami, Tammaam dalam Fawa’idnya dan yang lainnya, sebagaimana yang terdapat dalam Shahihah milik Al-Albani no. 2422)

    Dan bagi siapa yang telah terlanjur dan sering mencaci maki syetan seperti dengan ungkapan, “Syetan sialan, syetan terkutuk!” (ungkapan kesal), dan kata-kata semisalnya dengan dalih Syetan ada di balik semua ini, bukan melakukan kebaikan. Sebaliknya, telah melanggar tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karenanya, dia harus beristighfar dan memperbaiki diri sehingga hati akan terbina mengeluarkan kata spontan yang mulia. Wallahu Ta’ala A’lam.

    ***

    [PurWD/voa-islam.com]

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 738 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: