Updates from Maret, 2013 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:09 am on 16 March 2013 Permalink | Balas  

    takziahMati

    Oleh : H Ahmad Fudholi

    Kematian adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan oleh manusia. Apa pun cara yang dilakukan, kematian akan tetap menghampirinya. Sekokoh apa pun bangunan yang dibuat, kalau sudah sampai waktunya, kematian pasti datang.

    Tidak ada cara untuk menghadapinya, selain kepasrahan. Itulah ketentuan yang sudah ditetapkan di setiap pundak manusia. Jadi percuma saja lari dari kematian. Kemana pun larinya dan sejauh apa pun jaraknya, kalau sudah tiba masanya, setiap manusia akan tetap mati. Hanya ada satu kunci menghadapi kematian yaitu kepasrahan total menyambut kedatangnnya.

    Kematian tidak hanya dialami oleh manusia. Binatang dan tumbuh-tumbuhan juga akan merasakan mati, sebagaimana mereka merasakan hidup. Lebih dari itu, makhluk yang tak kasat mata juga akan bernasib sama. Termasuk jin dan iblis, serta makhluk yang paling taat seperti malaikat. Semuanya akan mati.

    Sebagaimana firman Allah SWT, ”Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kecuali yang mempunyai kemampuan menghidupkan dan mematikan. Dia akan tetap hidup dan selalu hidup, Dialah Allah, Tuhan seluruh alam.” Menyikapi kenyataan ini, seharusnya manusia mempunyai kesadaran dirinya tidak mempunyai kekuasaan apa pun menghadapi ketentuan Ilahi. Dia hanya makhluk yang lemah, yang harus pasrah dengan kehendak sang Penguasa.

    Manusia hanyalah makhluk kecil yang hidup di atas permukaan bumi. Lebih kecil lagi atau sangat kecil jika dibandingkan dengan kebesaran alam raya ini. Dan tidak ada artinya sama sekali bila berhadapan dengan kebesaran Allah. Harta yang dimilikinya tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kekayaan Allah, kalau dia merasa kaya. Dia amat bodoh jika dibandingkan dengan kepandaian Allah, bila dia merasa pintar.

    Kebanggaan-kebanggaan yang dimiliki akan lebur bila berhadapan dengan kebanggaan yang Allah miliki. Karena itu, tidak sepantasnya manusia menyombongkan diri di hadapan Allah dan juga makhluk-Nya.

    Sebaliknya, manusia harus bersikap tawaduk dalam hidupnya. Menghindari sikap arogan dalam berkata dan bertindak dengan manusia. Berlaku lemah lembut pada setiap makhluk, sopan santun dalam bertutur, menyebarkan salam ketulusan, dan menyayangi setiap ciptaan Allah.

    Bagaimana pun, manusia adalah makhluk yang lemah. Apa pun yang dimiliki tidak bisa membuatnya kuat. Kita tetap akan musnah bersama kebanggaan dan kekayaan yang dimilikinya.

    Mengingat lemahnya manusia dan ketidakmampuannya menghadapi maut, manusia seharusnya memperkaya diri dengan amal kebaikan. Karena hanya amal baiklah yang dapat memberikan kebahagiaan pada kehidupan selanjutnya. Wallahu alam bish shawab.

    ***

    sumber: http://www.republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 14 March 2013 Permalink | Balas  

    Siksa Kubur dan Penderitaannya 

    mayat2Siksa Kubur & Penderitaannya

    Dari Barrak ‘Azib: Kami bersama Rasulullah saw mengiringi jenazah sahabat Anshar. Setelah sampai di pemakaman beliau duduk dan kami pun duduk di sekitarnya seperti ada burung di kepala kami. Kemudian beliau mengangkat kepala seraya bersabda, “Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur!”

    Beliaupun mengulanginya hingga tiga kali. Kemudian beliau meneruskan perkataannya bahwa orang mukmin ketika akan mati didatangi malaikat yang wajahnya putih seperti matahari. mereka duduk di depannya sambil memegang kafan surga.

    Tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya dan menyeru padanya, “Hai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan keridlaan Allah swt”. Lalu ruhnya mengalir keluar seperti tetesan air, ia diterima dan dimasukkan kafan, kemudian dibawa keluar. Baunya harum seperti minyak kasturi untuk selanjutnya dibawa naik. Setiap melewati kumpulan para malaikat mereka bertanya, “Ruh siapakah yang harum ini?” Pertanyaan itu dijawab dengan ruhnya fulan bin fulan.

    Hal demikian terus berlangsung hingga ke langit. Para penghuninya menyambut baik kedatangan ruh terebut. Setiap menaiki jenjangnya, malaikat Muqarrabun mengantarkan hingga langit ke tujuh. Allah berfirman, “Tulislah ketentuannya di surga ‘Illiyyin!”. Lalu dikembalikan ke bumi karena dari sanalah Kami ciptakan dan ke dalamnya Kami pulangkan. Pada saatnya akan Kami bangkitkan. Maka bergabunglah kembali ruh tersebut dengan jasadnya di dalam kubur.

    Tidak lama kemudian datanglah malaikat Munkar-Nakir seraya bertanya, “Siapakah Tuhanmu?” Dijawab: Allah Tuhanku. “Apa agamamu?” Dijawab: Islam agamaku. “Bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang diutus di tengah-tengah kamu?” Dijawab: Beliau utusan Allah. “Dari mana pengetahuan itu?” Dijawab: Aku belajar dari kitab Allah, iman kepadanya dan membenarkannya.

    Maka datanglah panggilan, “Betul hambaku, berikan kepadanya hamparan dan pakaian surga. Bukakan pintu yang menuju surga agar harum dan hawanya ia nikmati. Lapangkan kuburnya sejauh mata memandang. Lalu datanglah sesosok yang tampan lagi harum baunya dan berkata: “Terimalah kabar gembira yang dulu dijanjikan Tuhan.” Dijawab: Siapa sebenarnya dirimu itu? “Aku adalah jelmaan amal baikmu dulu.” Dijawab: Ya Allah, segerakan hari Kiamat agar aku dapat cepat-cepat berkumpul bersama keluarga dan sahabat-sahabatku.

    Kemudian Nabi saw melanjutkan ceritanya. Sedangkan bagi orang kafir, ketika akan mati. Mereka didatangi oleh malaikat yang hitam mukanya lagi hitam pakaiannya dan mereka duduk di depannya. Tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya dan berkata, “Hai ruh jahat. Keluarlah menuju kemarahan Allah. Tersebarlah ke semua anggota tubuhnya.” Lalu ruh dicabut, seperti mencabut besi dari bulu basah. Urat dan ototnya putus-putus. Ruh itu diterima dan dimasukkan ke dalam kain hitam untuk dibawa keluar. Baunya busuk seperti bangkai. Lalu ruh itu dibawa naik. Setiap melewati kumpulan malaikat, mereka bertanya, “Ruh jahat siapakah yang busuk itu?” Pertanyaan itu dijawab dengan, “Ruh fulan bin fulan”. Jawaban itu terdengar sampai ke langit. Ketika akan masuk, pintu tidak dibukakan.

    Nabi saw pun membaca ayat “…sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit buat mereka. Dan tidak dapat masuk surga kecuali jika ada unta yang masuk ke dalam lubang jarum ini (sesuatu hal yang mustahil). Demikianlah balasan bagi orang-orang yang dhalim.” (QS al-A’raf: 40)

    Lalu perintah Allah, “Tulislah ketentuannya di neraka Sijjin, dan lemparkanlah ruh itu.” Allah berfirman “Barangsiapa menyekutukan Allah. Tidak ada bedanya seperti terjun dari langit lalu disambar burung besar atau dibanting angin ke jurang curam sejauhnya.” (QS al-Hajj: 31)

    Kemudian ruh tersebut melekat lagi ke tubuhnya di dalam kubur. Tidak lama kemudian datang malaikat Munkar-Nakir dan memeganginya lagi menggertak: “Siapa Tuhanmu?” Dijawab: Aku tidak kenal. “Apa agamamu?” Dijawab: Aku belum mengenalnya. “Bagaimana tanggapanmu tentang orang yang diutus di tengah-tengah hidupmu?” Dijawab: Itupun aku tidak kenal.

    Maka datanglah seruan keras, “Dusta dia, hamparkan dan bukakan pintu neraka baginya.” Lalu terasalah hawa panasnya, kuburnya menghimpit dan hancurlah tulang rusuknya. Tidak lama kemudian datang seorang yang buruk rupa, berbau busuk dan menggertak, “Sambutlah hari buruk bagimu. Saat yang dulu kamu membantahnya ketika diperingatkan.” Ditanyalah kepadanya, “Siapakah kamu ini?” Dijawab bahwa ia adalah perilaku jahatnya. Lalu jenazah itu pun berkata, “Ya Tuhan, tundalah dulu hari Kiamat. Jangan terburu-buru hari Kiamat.”

    Dari Abu Hurairah ra., Nabi saw bersabda, Bahwasanya orang mukmin dikunjungi malaikat yang memegang kain sutra berisi minyak kasturi di saat sakratul maut. Ia mencabut ruhnya dengan pelan seperti mengambil rambut dari dalam adonan seraya menyeru “Hai jiwa yang tenang. Pulanglah ke hadirat Tuhanmu dengan hati puas dan diridlai Tuhan”. (QS al-Fajr: 27-28)

    Pulanglah dengan rahmat dan ridla Allah. Ketika ruh keluar, lalu diletakkan pada minyak kasturi dan bunga-bunga dalam bungkusan sutra dan ditunjukkan ke surga ‘Illiyyin.

    Bagi orang kafir ketika sakratul maut, malaikat membawa kain bulu berisi api. Lalu ruh dicabut dengan sekerasnya dari tubuhnya dan dikatakan kepadanya, “Hai jiwa yang jahat. Keluarlah menuju kemarahan Tuhan. Menuju tempat terhina dan siksaNya.” Sesudah ruh keluar, lalu diletakkan di atas bara api mendidih, dilipat dan dibawa ke neraka Sijjin.

    Dari Abdullah bin Umar ra. katanya, Seorang mukmin ketika masuk kubur menjadi luaslah kuburnya hingga 70 hasta. Bunga-bunga harum bertaburan. Sutra dihamparkan baginya. Sedikit hafalan dari al-Qur’an menjadi penerang baginya seperti cahaya matahari, layaknya seperti pengantin baru. Tiada seorangpun yang berani membangunkannya dari tidurnya kecuali sang kekasih (demikianlah nikmatnya)….

    Bagi orang kafir, kuburan menjadi sempit hingga tulang rusuknya hancur ditelah. Ular sebesar leher unta menghampirinya dan menyabit-nyabit dagingnya sampai hanya tinggal tulang belulang. Malaikat yang buta tuli lagi bisu memukulnya dengan gada besi. Jeritannya tidak didengar dan keadaannya tidak dilihat. Ditambah lagi hidangan siksa api neraka pada setiap pagi dan sore.

    Sehubungan dengan itu al-Faqih Abu Laits as-Samarqandiy menegaskan bahwa barangsiapa yang menghendaki selamat dari siksa kubur, maka lakukanlah hal di bawah ini secara berkesinambungan:

    1. Shalat lima waktu
    2. Banyak bersedekah
    3. Selalu membaca al-Qur’an
    4. Banyak bertasbih (minimal lafal Subhanallah).

    Dan tinggalkanlah perkara di bawah ini:

    1. Dusta
    2. Khianat
    3. Adu domba
    4. Menyisakan air kencing, seperti disabdakan oleh Nabi saw, “Bersihkanlah air kencing dengan sebersihnya. Karena kebanyakan siksa kubur akibat air kencing (yang tersisa, sekalipun sudah dibersihkan)”.

    Rasul saw bersabda “Empat perkara dibenci Allah, yaitu:

    1. Main-main ketika shalat
    2. Bergurau di tengah-tengah baca al-Qur’an
    3. Berkata keji ketika puasa
    4. Tertawa-tawa di kuburan”

    Muhammad bin as-Samak berpesan bahwa ketika melihat kuburan, “Janganlah tenang dan diamnya kubur membujuk Anda karena tidak sedikit orang bingung di dalamnya. Janganlah ratanya kubur menipu Anda karena di dalamnya terdapat perbedaan yang mencolok antara penghuni yang satu dengan yang lain. Maka bagi akal sehat, sebaiknya sering memikirkan kuburan sebelum masuk ke dalamnya.”

    Sufyan ats-Tsauri berpesan, “Barangsiapa sering memikirkan tentang kubur, pastilah ia memperoleh kebun surga. Tetapi bagi yang melupakannya, pasti terjerumus ke jurang neraka.”

    Sayyidina Ali ra. berpesan dalam khutbahnya, “Hai sekalian manusia. Pikirkanlah maut yang tidak mungkin kamu hindari. Di mana saja engkau berada ia pasti menghampirimu. Engkau lari maka diapun mengejarnya. Ia selalu terikat pada ubun-ubunmu. Lalu sebaiknya carilah jalan selamat. Carilah jalan selamat. Dan cepatlah karena kubur di belakangmu selalu mengejar. Ingatlah bahwa kubur merupakan kebun surga atau jurang neraka. Setiap hari ia memperingatkan kita bahwa dia adalah rumah gelap, tempat sunyi dan rumah ulat-ulat. Pikirkanlah bahwa sesudah itu kamu masuk hari yang lebih mengerikan. Anak kecil menjadi beruban. Orangtua menjadi bingung seperti mabuk. Para ibu lupa dengan bayi yang disusuinya. Wanita yang hamil tapi kandungannya gugur. Suatu kenyataan yang sulit diingkari bahwa mereka bukan mabuk akibat minuman keras. Tetapi siksa Allah yang dahsyat lagi mengerikan. Pikirkanlah sekali lagi bahwa setelah itu akan terjadi kobaran api neraka yang sangat panas lagi curam. Dengan besi sebagai perhiasan, darah bercampur nanah yang mengalir darinya. Jauh dari rahmat Allah. Menangislah orang Islam dan berkata bahwa di samping itu terdapat surga seluas langit dan bumi bagi orang yang bertakwa. Mudah-mudahan Allah menyelamatkan kami dari azab yang pedih dan memasukkan kami ke dalam surga kenikmatan. Amin.”

    Pesan Usayid bin Abdurrahman: Aku memperoleh kabar bahwa seorang mukmin yang meninggal ketika dibawa dalam keranda berkata, “Cepatlah membawaku dalam keranda ini.” Dan setelah masuk kubur tanahnya berbicara, “Aku senang ketika kamu hidup di atasku.” Tetapi saat seorang yang kafir meninggal, dirinya berkata, “Pulangkan aku ini”, katanya di dalam keranda. Setelah masuk kubur, tanah pun mengomel, “Sejak dulu aku benci padamu ketika kau hidup di atasku. Lebih-lebih sekarang setelah kau mati, aku tidak habis-habisnya membencimu.”

    Bahwasanya Utsman bin Affan ra. menangis ketika berdiri di atas kubur. Seseorang bertanya padanya, “Mengapa Anda menangis karena kubur? Ketika menerangkan mengenai surga dan neraka Anda tidak menangis.” Jawabnya, “Rasulullah saw bersabda: Kubur adalah tempat awal bagi akhirat. Jika seseorang selamat dalam kubur maka harapan baik baginya. Karena sesudah itu ringan baginya. Tetapi jika seseorang celaka dalam kubur maka pertanda buruk. Karena sesudah itu sangat berat baginya.”

    Abdul Hamid bin Mahmud al-Maghuli berpesan: Aku sedang duduk bersama Ibnu Abbas. Lalu datanglah serombongan orang yang bertanya kepadanya, “Kami jamaah haji. Salah seorang dari kami ada yang meninggal di daerah Dzatish-shifah. Lalu kami mengurusnya dan sewaktu menggali kubur ternyata ada ular melingkarinya. Kemudian kami pindah ke kubur lain, ternyata ada ularnya pula. Hal ini kami lakukan hingga tiga kali dan ternyata setiap kubur terdapat ularnya. Lalu apa yang kami lakukan terhadap jenazah itu?” Ibnu Abbas menjawab, “Itulah amal perbuatan sang almarhum ketika di dunia. Sebaiknya kuburlah ular itu. Demi Allah jika bumi ini kau gali semua, pasti kau akan menemukan ular di dalamnya.” Lalu pulanglah mereka selesai menguburkan jenazah tersebut dan mengembalikan barang bawaan (bekal) perjalanan hajinya pada keluarganya. Rombongan itu pun bertanya pada sang keluarga mengenai perbuatan selama hidupnya. Sang istri almarhum menjawab, “Dia penjual gandum dalam karung. Untuk makan sehari-harinya dia ambilkan dari karung tersebut dan menggantinya dengan tangkai-tangkai gandum seberat gandum yang dimakannya sehari.”

    Abu Laits as-Samarqandiy menjelaskan perihal kisah tersebut dan berpesan bahwa khianat adalah penyebab siksa kubur. Kisah nyata di atas merupakan peringatan bagi kita agar tidak mudah berkhianat. Dikatakan bahwa setiap hari bumi menyeru manusia sebanyak lima kali, yakni:

    • Hai umat manusia! Kalian hidup dan berjalan di atas punggungku. Ke dalam perutkulah kalian mati dan dikembalikan.
    • Hai umat manusia! Kalian makan di atasku. Di dalam perutku kalian dimakan ulat.
    • Hai umat manusia! Kalian bersenang-senang di atasku. Di dalam perutku kalian akan menangis.
    • Hai umat manusia! Di atas punggungku kalian bersorak sorai dan bersedih di dalam perutku.
    • Hai umat manusia! Di atas punggungku kalian berbuat maksiat dan di dalam perutku kalian disiksa.

    Amr bin Dinar bercerita bahwa ada seorang penduduk Madinah yang memiliki saudara perempuan di sebelah kota yang sedang sakit. Tidak lama kemudian ia meninggal. Setelah sang jenazah dikubur, sang penduduk Madinah teringat bahwa ada sesuatu yang ikut terkubur saat pemakaman. Kemudian dengan bantuan beberapa orang penduduk setempat, ia menggali lagi kuburan saudaranya. Benda miliknya yang terkubur pun diketemukannya kembali. Namun ketika ia membuka sedikit liang lahatnya, ia melihat api yang menyala. Kemudian kuburan itu diratakan lagi dan ia pulang dan menanyakan pada ibunya, “Apakah yang dilakukan saudaraku semasa hidupnya?” Sang ibu menjawab, “Mengapa engkau bertanya tentang itu padahal ia telah meninggal dunia?” Ia pun terus mendesak ibunya agar menjawab pertanyaannya. Hingga sang ibu menjawab, “Ia selalu mengakhirkan waktu shalatnya. Melengahkan kesucian dan mengadu domba sesama tetangga.” Itulah sebabnya mengapa ia disiksa dalam kuburnya. Oleh karenanya barangsiapa menghendaki selamat dari siksa kubur, maka hindarilah perilaku adu domba baik antar tetangga maupun dengan orang lain.

    Dari Barrak bin ‘Azib, Nabi saw bersabda, Ketika orang Islam ditanya dalam kubur maka mengakui tiada Tuhan yang lain kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Firman Allah: “Allah mengokohkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam hidupnya di dunia dan akhirat.” (QS Ibrahim:27) Keteguhan orang mukmin akan dialami dalam menghadapi tiga fase. Rincian dari fase-fase tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Melihat malaikat maut

    • Terpelihara dari kekafiran dan istiqamah dalam tauhid sehingga saat nyawanya keluar dia tetap dalam keadaan Islam.
    • Malaikat menyenangkan dirinya dengan rahmat.
    • Ditujukkan tempat kediaman surganya.

    2. Menjawab pertanyaan Munkar-Nakir

    • Jawaban dengan ilham yang diridlai Allah.
    • Tiada rasa gentar ataupun takut.
    • Tidak berada dalam kubur tetapi dalam kebun surga.

    3. Perhitungan amal (yaumul hisab)

    • Semua pertanyaan dijawab benar dengan ilham Allah
    • Perhitungannya ringan dan mudah.
    • Semua dosa dan kesalahannya diampuni. Namun beberapa ulama menyatakan bahwa fase-fase tersebut terdiri dari empat, yaitu maut, kubur, perhitungan, dan fase shirat (meniti jembatan dengan secepat kilat).

    Pertanyaan dalam kubur. Seandainya orang bertanya mengenai pertanyaan-pertanyaan dalam kubur seperti apakah bentuknya. Maka berikut adalah beberapa pendapat ulama:

    • Setengahnya menyatakan bahwa pertanyaan ditujukan pada ruh (jiwanya). Ketika itu jiwa masuk raga namun hanya sampai di dada.
    • Setengah lainnya mengatakan bahwa ruh berada di antara raga dan kafan pembungkus.

    Pertanyaan-pertanyaan dalam kubur hendaknya diterima dengan penuh iman tanpa banyak perdebatan tentang tata caranya. Umumnya ada dua faktor penyebab mengapa orang dapat membantah mengenai pertanyaan dalam kubur tersebut, yakni:

    • Pernyataan kubur tidak masuk akal karena bertentangan dengan sunnatullah (hukum alam).
    • Tidak adanya bukti atau dalil bahwa pertanyaan kubur diterima akal sehat dan sejalan dengan hukum alam.

    Kemudian jika kedua faktor tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk membantah ataupun menolak mengenai adanya pernyataan dalam kubur. Hal ini berarti dia bukanlah orang yang beragama. Karena orang yang beragama Islam yang beriman, dituntut oleh imannya untuk mengakui adanya kenabian dan mukjizat. Para Nabi mulai dari Adam as. hingga Muhammad saw. adalah manusia biasa dan berperilaku serupa. Tetapi mereka memiliki berbagai keistimewaan yang bertentangan dengan sunnatullah. Bukan hanya mukjizat seperti tongkat yang berubah menjadi ular, tongkat yang membelah lautan, tongkat yang menyemburkan mata air dari batu oleh Nabi Musa as, api yang mendingin bagi Nabi Ibrahim as.,maupun kemampuan menghidupkan orang mati bagi Nabi Isa. Kesemua mukjizat tersebut tidak ada yang mampu dinalar oleh akal manusia. Bahkan kenabian pun bertentangan dengan hukum alam karena wahyu yang mereka terima terkadang langsung dari Allah swt lewat mimpi ataupun lewat perjumpaan dengan malaikat. Tidak semua manusia mampu menerima wahyu, bahkan harusnya binasa jika mengikuti hukum alam. Tetapi para Nabi adalah manusia terpilih, kuat dan tangguh. Mengenai bukti atau dalil tentang adanya pertanyaan kubur sudah cukup memadai dari hadits-hadits Nabi yang termuat dalam kitab ini. Hal tersebut merupakan landasan kuat untuk berpijak bagi orang yang mau beriman.

    Firman Allah: “Barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka penghidupan yang sempit akan menimpanya (termasuk siksa–atau berupa pertanyaan dalam kubur menurut penafsiran para ahli tafsir) dan kelak di hari Kiamat Kami akan kelompokkan mereka dalam keadaan buta.” (QS Thaahaa: 124)

    Adapun bukti ataupun dalil mengenai hal itu bisa kita dapatkan dari firman Allah dalam al-Qur’an surat Ibrahim ayat 27 yang telah tertera di atas. Penjelasan dalam hadits antara lain sebagai berikut. Abu Laits as-Samarqandiy meriwayatkan dari Said ibn Musayyah, dari Umar ra., Nabi saw bersabda, “Ketika mukmin masuk kubur, datanglah dua malaikat untuk mengujinya, mendudukkan dan mengajukan pertanyaan kepadanya. Padahal ia masih mendengar suara sandal pengantarnya yang pulang dari melawat jenazah tersebut. Lalu kedua malaikat bertanya, “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? dan siapa nabimu?” Jawabnya, “Allah Tuhanku, Islam agamaku dan Nabi Muhammad saw nabiku.” Kata kedua malaikat, “Yang mengokohkanmu pada ucapan itu adalah Allah dan kamu boleh tidur nyenyak.” Demikian arti firman Allah (QS Ibrahim: 27). Bagi mereka yang aniaya, Allah tidak memberi petunjuk dengan taufikNya dan disesatkan. Sehingga ketika mereka menerima pertanyaan dari malaikat tentang ketiga hal di atas, mereka menjawab dengan, “Tidak tahu.” Menerima jawaban tersebut, kedua malaikat berkata, “Tidak tahu? Terimalah pukulan gada ini!” Maka dengan pukulan tersebut sang jenazah menjerit hingga semua makhluk mendengarnya kecuali manusia dan jin.

    Dari Abu Hazim, dari Ibnu Umar ra., Rasul saw bersabda, “Wahai Umar, apa yang kau lakukan ketika malaikat berdua (Munkar-Nakir) datang mengujimu di kubur. Rupa kedua malaikat adalah hitam semu biru, siungnya mengguris bumi, rambutnya panjang dan suaranya sekeras petir. Matanya pun seperti kilat menyambar.” Umar balik bertanya, “Ya Rasul, sadarkan pikiranku saat itu seperti sekarang?” Rasul menjawab, “Ya, kau sadar seperti saat ini.” Umar pun menyahut, “Kalau begitu saya akan atasi keduanya dengan izin Allah swt.” Rasul saw pun bersabda, “Umar adalah orang yang diberi taufik (oleh Allah).”

    Dari Abu Hurairah, Rasul saw bersabda, Setiap jenazah akan mendengkur yang akan terdengar oleh semua hewan kecuali manusia. Jika manusia mendengarnya, maka mereka pasti akan pingsan. Lalu ketika sang jenazah diantar ke pemakaman, ia mengatakan, “Percepat langkahmu, jika kalian tahu balasan amal baik di depanku, pasti kalian akan mempercepatnya.” Hal itu berlaku bagi orang yang baik. Sedangkan bagi orang yang jahat ketika jenazahnya diantar ke pemakaman maka ia berkata, “Tidak perlu terburu-buru. Jika kalian tahu bahaya mencekam di depanku, pastilah kalian akan memperlambat.” Sesudah masuk kubur datanglah dua malaikat yang hitam semu biru dari arah kepalanya. Lalu ibadah (shalatnya) menolak kedatangan mereka, “Jangan datang dari arahku. Terkadang ia terjaga semalaman mengkhawatirkan hal seperti ini.” Ketika mereka datang dari arah kaki ditolak oleh ketaatan pada kedua orangtuanya, “Jangan lewat arahku. Karena ia berjalan tegak mengkhawatirkan hal seperti ini.” Kedatangan malaikat dari arah kanan juga ditolak, “Jangan lewat arahku, ia bersedekah, mengkhawatirkan hal seperti ini.” Sedangkan kedatangan dari arah kiri ditolak puasanya, “Jangan melewati aku. Karena ia lapar dan dahaga mengkhawatirkan hal seperti ini.” Kemudian sang jenazah dibangunkan dan ditanya, “Tahukah orang yang menyampaikan ajaran kepadamu?” Sahutnya, “Siapa dia?” “Yaitu Nabi Muhammad saw.” Jawabnya,”Aku bersaksi bahwa ia Rasul Allah swt.” Malaikat berdua berkata, “Kamu hidup menjadi orang mukmin, dan mati sebagai mukmin. Lapanglah kuburnya dan terbukalah karomah Allah baginya. Marilah kita mohon taufik dan benteng dari Allah. Mohon perlindungan dari nafsu sesat lagi menyesatkan serta terlena. Mohon perlindungan dari siksa kubur sebagaimana Nabi saw berlindung darinya.”

    Dari ‘Aisyah ra.: Semula aku tidak mengerti tentang adanya siksa kubur sampai seorang wanita Yahudi datang minta sesuatu kepadaku. Setelah kuberi sesuatu ia mendoakanku, “Mudah-mudahan Allah menyelamatkan aku dari siksa kubur.”

    Aku menyangka ucapan tersebut hanyalah tipuan Yahudi hingga akhirnya aku sampaikan hal tersebut pada Nabi saw. Beliau bersabda, “Bahwasanya siksa kubur adalah benar. Setiap muslim harus berlindung darinya, menyiapkan bekal amal baik secukupnya. Karena Allah masih memudahkan amal baik selama ia hidup di dunia. Nanti kalau sudah masuk ke dalam kubur, amal baik sedikitpun tidak akan diperkenankan Allah. Sekalipun ia ingin melakukannya, hingga tinggal penyesalan yang tersisa. Maka bagi akal sehat, hendaknya berpikir tentang hal itu (kematian). Mereka yang sudah mati sangat menginginkan (jika dapat) untuk melakukan shalat 2 rakaat, menyebut kalimat ‘Laa ilaaha illallaah’ sekali, bertasbih sekali. Tetapi semuanya itu tidak diperkenankan.”

    Hal ini mengherankan manusia yang masih hidup mengapa hari-hari kehidupan mereka disia-siakan untuk bermain tak berarti dan terlena.

    Hai saudaraku, jangan sia-siakan hidupmu karena kehidupanmu adalah pokok kejayaanmu. Kamu dapat dengan mudah mengumpulkan keuntungan sebesar-besarnya jika menghargai pokoknya. Nanti akan tiba saatnya kamu tidak dapat melakukan hal itu karena sudah mati. Sekalipun kamu menginginkan untuk beriman, beramal dan beribadah kepada Allah swt.

    Akhirnya marilah kita berdoa memohon taufik kepada Allah, mempersiapkan bekal yang mencukupi di waktu sangat hajat agar tidak menyesal di kemudian hari. Memohon agar dimudahkan ketika sakratul maut dan di kubur. Amin. Bahwasanya Dia Yang Maha Pengasih, Maha Mencukupi dan sebaik-baik Wakil. Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Agung

    ***

    Dari: Tanbihul Ghafilin (Pengingat manusia yang lengah)

    Karya Abu Laits as-Samarqandiy

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 12 March 2013 Permalink | Balas  

    jenuhJenuh

    Oleh : Reza Ervani

    J : Jangan Berlebihan

    Ada seorang wanita yang datang pada Aisyah. Aisyah memuji wanita itu sebagai ahli ibadah yang luar biasa, karena saking tekunnya ia menyediakan tongkat untuk berpegangan jika ia sudah tidak kuat berdiri ketika sholat.

    Ketika hal itu disampaikan pada Nabi saw. Nabi bersabda : Jangan berlebihan, Allah itu tidak akan jenuh hingga engkau jenuh.

    Atur ritme dalam segala hal, agar tak usang.

    E : Efektifkan Komunikasi

    Logika apa yang paling bisa menjelaskan maraknya friendster, ramainya sms, dan larisnya free talk walaupun tengah malam. Intinya sederhana, karena manusia diciptakan dengan kebutuhan untuk bercerita dan berbagi. Curhat dong, cari teman bercerita

    N : Naik Ke Tantangan Berikutnya

    Looking for new challenges. Ummat ini dilahirkan untuk menjadi ummat terbaik, khairu ummah, ini sunatullah. Melanggarnya hanya akan melahirkan kejenuhan. Kejenuhan bergerak, kejenuhan beramal, kejenuhan berinisatif. Naiklah ke anak tangga berikutnya, agar kau bisa uji kekuatanmu lebih jauh.

    U : Undur Sejenak untuk Maju Lebih Jauh

    Ijlis Bina’ Nu’min Sa-ah, begitu ujar sahabat Nabi. Berhentilah sejenak, perbaharui iman, bersihkan sepatu yang sudah berdebu, asah kembali pedang yang tumpul, ambil air wudhu cuci wajahmu hingga bisa menatap ke depan lebih jauh lagi.

    H : Hasbiyallah wa Ni’mal Wakill Ni’mal Maula Wa Ni’man Nashir

    Sungguh kejenuhan itu adalah masalah hati. Dan Maha Penggenggam hati hanyalah Allah semata. Qolbu itu artinya yang berbolak-balik, ketika ia berbalik atau tertutup debu maka cahaya Allah akan terhalang, maka lahirlah kejenuhan. Maka tengadahkan tanganmu padaNya, minta Ia jaga hatimu agar tidak mati karena enggan dan malas.

    Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa (Al Quran Al Karim Surah Al Qalam ayat 10 – 12)

    Naudzubillahi min dzalik,

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 11 March 2013 Permalink | Balas  

    DoaMajmu’ Syarif Kamil

    TAAWUDZ

    A ‘uudzubillaahi minasysyaithaanir rajiim.

    Rasulullah saw. memerintahkan membaca taawudz, antara lain ketika:

    1. Memulai membaca Alquran
    2. Memulai berdoa dan berdzikir.
    3. Mengucapkan ketika sedang dalam kemarahan, kekhawatiran, ketakutan, keraguan dll.

    Rasulullah saw. menerangkan beberapa fadilah membaca taawuz, antara lain:

    1. Melindungi diri dari segala kejahatan.
    2. Menghilangkan nafsu amarah.
    3. Menimbulkan ketenangan hati.

    BASMALLAH

    Bismillaahir rahmaanir rahiim

    Basmalah diucapkan setiap kali akan memulai perbuatan baik. Rasulullah saw. menerangkan fadilah basmalah yaitu:

    1. Salah satu nama dari nama-nama Allah swt.
    2. Allah swt. memberikan kalimat basmalah hanya kepada Nabi Sulaiman a.s dan Rasulullah saw.
    3. Menghindarkan diri dari gangguan setan.
    4. Mendapatkan keberkahan dalam setiap urusan.

    HASBALLAH

    Hasbunallaah wa ni’mal wakiil. Ni’mal maula wa ni’man nashiir

    Rasulullah saw. mengungkapkan bahwa orang yang membaca kalimat hasbalah akan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi masalah.

    ISTIRJA’

    Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun

    Kalimat istirja’ diucapkan saat mendapatkan cobaan dan musibah, baik besar maupun kecil, seperti ketakutan, kelaparan, kematian dan lain-lain. Kalimat ini bertujuan mengingatkan orang yang tertimpa musibah supaya menjadi orang yang sabar. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang yang mengucapkan istirja’ dan bersabar saat ditimpa musibah akan mendapatkan, antara lain;

    1. Berkah, rahmat dan petunjuk Allah swt.
    2. Pahala dalam musibah.
    3. Pengganti yang lebih baik.
    4. Rumah di surga.

    ISTIGHFAR

    Istighfar adalah mengucapkan kalimat Astaghfirullaahal ‘azhiim

    Istighfar diucapkan dengan penuh keikhlasan untuk memohon ampunan dan bertobat kepada Allah SWT. Rasulullah saw. Menganjurkan untuk membaca istighfar setiap saat agar selalu dekat dengan Allah SWT, walaupun mengucapkan istighfar hanya satu kali, tetapi dengan hati yang ikhlas, Insya Allah diterima Allah swtâ?¦ Rasulullah saw. menjelaskan fadillah istighfar, di antaranya :

    1. Mendapatkan pangampunan Allah swt.
    2. Menenangkan diri ketika marah.
    3. Menadapatkan jalan keluar dari kesusahan dan kesempitan.
    4. Mendapatkan rezeki yang tidak terduga.
    5. Buku catatan amal di hari kiamat kelak akan memberikan kesenangan.

    SHALAWAT

    Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa alii sayyidinaa Muhammad.

    Shalawat adalah permohonan kepada Allah swt. Agar memberikan berkah dan rahmat kepada nabi Muhammad saw. Beserta keluarga dan para sahabatnya. Apabila diucapkan sebelum atau sesudah berdoa, menjadikan doa segera naik ke langit. Rasulullah saw. Menerangkan beberapa fadilah bagi pembaca shalawat, antara lain:

    1. Setiap bershalawat satu kali, Allah swt bershalawat sepuluh kali untuknya.
    2. Allah swt. meninggikan derajat 10 kali,memberikan 10 kebajikan, menghapuskan 10 kejahatan, dan membebaskan dari kemunafikan.
    3. Mendapatkan tempat yang paling utama bersama Rasulullahsaw. Di hari kiamat, mendapatkan tempat di surga bersama syuhada, dan jauh dari api neraka.
    4. Jika membaca masing-masing 10 kali pada pagi dan sore hari, mendapatkan syafaat Rasulullah saw di hari kiamat. Jika membaca 3 kali pada siang dan malam hari, mendapatkan pengampunan dosa selam sehari semalam.
    5. Mendapatkan keberkahan dalam setiap urusan penting, terpelihara dari kesusahan dan menjadi orang yang dermawan.
    6. Sebagai pengganti zakat dan sedekah (pembersihan diri dari dosa) bagi orang-orang yang tidak memiliki kewajiban berzakat dan tidak memiliki kelebihan harta.

    AL BAAQIYAATUSH SHAALIHAT

    Al baaqiyaatush shaalihat terdiri atas kalimat

    1. Tasbih : Subhaanallah
    2. Tahmid : Alhamdulillah
    3. Takbir : Allahu akbar
    4. Hauqqalah : Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim

    Kalimat-kalimat tersebut merupakan bagian dari perbendaharaan surga. Pembaca mendapatkan fadilah kandungan kalimat al-Baqiyatush shalihat walaupun hanya membaca sekali, lebih utama apabila dibaca sesering mungkin. Rasulullah saw. Menjelaskan fadilah bagi pembaca al-Baqiyatush shalihat, diantaranya :

    1. Dicintai Allah swt.
    2. Dicintai Rasulullah saw.
    3. Dilindungi malaikat.
    4. Dimintakan ampunan oleh malaikat kepada Allah swt.
    5. diberikan pahala satu pohon di surga.

    Rasulullah saw. juga menerangkan, pembaca salah satu atau beberapa kalimat yang termasuk dalam kalimat al-Baqiyatush shalihat secara terpisah, tetap akan mendapatkan fadilah, di antaranya :

    1. Pahala tasbih mengisi separuh timbangan, hamdalah memenuhi timbangan dan takbir memenuhi antara langit dan bumi.
    2. Membaca tasbih, tahmid atau takbir adalah sedekah.
    3. Jika membaca tasbih, takbir atau tahlil maka Allah swt. menghapuskan 25 kejahatan.
    4. Jika membaca hamdalah, maka Allah swt.menghapuskan 30 kejahatan.
    5. Pembaca Subhaanallaahi wa bihamdihii sebanyak 100 kali dalam satu hari diampuni dosanya dan dituliskan 1000 kebajikanbaginya.
    6. Jika membaca Subhaanallaahi wa bihamdihii,subhaanallaahil ‘azhiim maka memberatkan timbangan amal dan disayangi Allah yang Maha Penyayang.
    7. Membaca hauqqalah, sama dengan mendapatkan obat untuk 99 macam penyakit, atau paling sedikit mendapatkan ketenangan hati.
    8. Bagi pembaca, Laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syay inqadiir sebanyak 10 kali, maka Allah swt membukakan pintu langit untuknya, memperkenankan permintaannya dan menghapuskan keburukannya.
    9. Jika membaca, Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wahuwal hayyuladzii laayamuutu biyadihilkhairu wahuwa ‘alaa kulli syay inqadiir. Niscaya Allah sat. memasukkannya ke dalam surga Na’im.

    Wassalam

    ***

    Oleh : Tutik

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 9 March 2013 Permalink | Balas  

    Doa_Sapu_JagatDoa Sapu Jagad

    Mengapa ada istilah do’a sapu jagad…?

    Apa dan bagaimana perannya…?

    Begitu populernya do’a ini. Sebuah do’a yang tertera dalam kitab suci Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 201. Di dalam kegiatan manasik haji, do’a ini menjadi idola para calon jamaah haji. Maklum dengan hafal do’a ini, konon akan mempermudah para jama’ah dalam melakukan aktivitas perjalanan hajinya.

    Do’a ini mampu mengganti do’a-do’a lain, yang begitu banyak tersebar dalam setiap aktivitas di tanah haram. Begitu populernya do’a ini, sehingga setiap orang ketika melakukan do’a untuk memohon sesuatu kepada Allah, baik secara pribadi maupun secara kolektif, selalu ditutup dengan do’a ini.

    QS. Al-Baqarah (2) : 200 – 202

    Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, atau berzikir lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

    Sungguh sangat layak do’a ini disebut sebagai doa ‘sapu jagad’ atau doa universal, sebab :

    1. Jangkauannya kini & nanti (dunia & akhirat)

    Apa yang diinginkan oleh do’a ini memiliki jangkauan yang sangat luas. Isi dalam do’a ini tidak menginginkan suatu yang bersifat materi, tetapi lebih kepada sesuatu yang memiliki makna lebih penting, lebih luas, lebih menyeluruh, dengan masa yang sangat panjang. Tidak terbatas pada kehidupan dunia saja tetapi, menjangkau pada kehidupan akhir yang lebih abadi, lebih kekal, dan lebih indah dibanding dengan kehidupan kini.

    QS. Al-A’laa (87) : 16-17

    Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

    QS. Qashash (28) : 77

    Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan, janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

    Meskipun urusan duniawi begitu kecilnya dibandingkan dengan urusan akhirat, tetapi tetap urusan duniawi jangan dilupakan. Karena melalui dunia inilah keberhasilan akhirat akan kita dapatkan.

    2. Mengapa formulasinya dunia lebih dahulu? Apakah lebih penting dunia dibanding akhirat?

    Seseorang bertanya dalam suatu diskusi agama.

    “Apabila akhirat lebih penting, mengapa di dalam kita berdo’a, yang diucapkan lebih dahulu, atau yang diminta lebih dahulu adalah kebahagiaan dunia? Bukan kebahagiaan akhirat? Apa maksudnya?”

    Maka dengan bijaksana, sang ustadz-pun menjawab:

    “Benar, bahwa akhirat itu memang lebih penting. Dengan didahulukannya sebutan dunia, bukan ‘berarti dunia yang lebih penting, tetapi justru akhirat-lah yang jauh lebih penting.”

    Lanjut pak Ustadz :

    “Rasul pernah mengatakan bahwa hidup ini bagaikan garis lurus. Jika anda yakin seperti apa yang disampaikan Rasulullah, maka sebenarnya dunia dan akhirat berada pada satu garis lurus. Artinya kita akan bertemu dengan akhirat setelah kita melalui dunia ini.”

    Dengan kata lain, jika yang kita tuju hanya dunia saja, kita tidak akan bertemu dengan akhirat. Karena letaknya akhirat di ujung perjalanan. Sebaliknya jika yang kita tuju adalah kehidupan akhirat, kita pasti akan bertemu dan melewati dunia.” “Hal itu dikarenakan posisi dunia berada pada jarak yang lebih dekat, sementara akhirat berada pada penghujung perjalanan manusia….”

    “…alhamdulillaah, saya mengerti ustadz, terima kasih…” jawab sang penanya.

    3. Perbandingan dunia dan akhirat?

    Selain masalah sebutan yang mendulukan dunia daripada akhirat, perbandingan dunia dan akhirat selalu saja menjadi bahan pembicaraan dalam setiap diskusi.

    Kata seseorang peserta diskusi :

    “Dunia ini begitu luasnya, bumi tak ada artinya dibanding dengan besarnya alam semesta raya yang sulit diukur batasnya. Lalu bagaimana dengan kehidupan akhirat nanti? Seberapa luas kehidupan akhirat nanti?”

    Pak Ahmad, sebagai salah satu peserta diskusi mencoba menjawabnya :”…tentu kita tidak bisa mengukur secara pasti luasnya negeri akhirat, tetapi saya teringat kata rasulullah saw, bahwa perbandingan dunia dengan akhirat seperti setetes air yang jatuh dari ujung jari kita ke dalam samudera. Sementara air yang ada di samudera itulah akhirat nanti…!

    Berarti benar-benar kehidupan dunia yang nampaknya luas dan besar ini, tidak ada artinya sama sekali, dibanding dengan kehidupan akhirat. Yang jauh lebih luas, jauh lebih kekal, jauh lebih abadi, dan jauh lebih indah…” Peserta diskusinya pun membenarkan pendapatnya.

    Begitu pendapatnya disetujui oleh peserta lain, Ahmad pun membuka Al-Qur’an yang ada di tangannya, dan ia mengutip sebuah ayat Al-qur’an yang berbunyi :

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di ahirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

    (QS. Al-Hadiid 57 : 20)

    4. Digunakan sebagai penutup do’a

    Disebut do’a sapu jagad, karena do’a ini telah disepakati oleh para ulama, bahwa berdo’a tanpa do’a ini rasanya tidak lengkap. Bahkan begitu populernya do’a sapu jagad ini, sampai seorang non Islam yang bekerja sebagai fotografer pada suatu acara pernikahan, ia hafal betul. Setelah pak ustadz membaca do’a “Rabbanaa aatina fiddunya hasanah…”ini, sang fotografer pun mengetahui bahwa do’a telah menjelang selesai. Dan ia siap bertugas untuk memotret acara berikutnya.

    Pak Robert sang juru potret itu, ketika ditanya oleh seseorang yang kebetulan duduk di sebelahnya, mengapa ia mengetahui bahwa do’a pada acara itu sudah menjelang selesai? ia menjawab :

    “wah, saya sudah hafal betul. Do’a sepanjang apa pun menurut pengalaman saya, jika sudah sampai pada do’a tersebut berarti do’a sudah hampir selesai.” Katanya.

    5. Tidak berani minta surga

    Satu hal yang perlu kita ingat dan kita renungkan, ialah bahwa dalam do’a ini kita tidak diajari untuk meminta surga. Sementara dalam kehidupan kita sehari-hari apabila kita bertanya pada setiap orang, apa yang mereka inginkan jika mereka berbuat baik? Mungkin lebih dari sembilan puluh persen mereka akan mengatakan minta surga. Tetapi do’a sapujagad ini, do’a yang paling dihafal oleh seluruh umat Islam ini adalah do’a yang di dalamnya tidak mengajarkan untuk minta surga. Ada apa gerangan? Mengapa?

    Dari seluruh ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata-kata surga, tidak satu pun ayat yang mengatakan bahwa manusia dengan perbuatan baiknya yang telah dilakukan ketika hidup di dunia, dengan sendirinya ia akan masuk surga. Tetapi yang ada di dalam Al-Qur’an ialah bahwa Allah-lah yang akan memasukkan surga kepada siapa yang dikehendakiNya. Allah menggunakan kekuasaanNya, dan akan memasukkan surga kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Surga adalah milik Allah. Surga adalah sebuah hadiah dari Allah bagi orang yang berhasil dalam perjuangannya ketika di dunia.

    Surga adalah tempat kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt. Surga bukan ada dengan sendirinya. Surga bukan tujuan akhir bagi seorang hamba. Sebab tujuan akhir dari perjalanan manusia adalah Allah Swt. Dzat Yang Maha Indah, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Bijaksana, Raja di hari kemudian, Dialah Allah Azza walla, Dzat Yang Maha segala Maha…. Yang hanya kepadaNya semua akan kembali.

    QS. At-Taubah (9) : 21

    Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal,

    QS. An-Nisa’ (4) :13

    Hukum-hukum tersebut itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.

    QS.Al-Insan (76) : 31

    Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.

    6. Yang diminta dalam do’a sapu jagad

    Dalam do’a tersebut yang diharapkan dan diminta oleh seorang hamba kepada Tuhannya ada tiga aspek utama. Yang hal tersebut secara eksplisit lebih dipentingkan dari pada surga.

    1. Dunia yang Khasanah

    Apakah dunia yang khasanah itu? Dunia yang khasanah adalah kehidupan dunia yang menentramkan hati, yang menjadikan jiwa menjadi tenang dan damai. Merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Bisa sabar terhadap ujian dan cobaan yang menimpa, serta selalu bersyukur terhadap nikmat yang yang diberikan.

    QS. Al-Fajr (89) : 27-30

    Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.

    2. Akhirat yang Khasanah

    Apakah akhirat yang khasanah itu? Kehidupan di hari akhir nanti tak ada pilihan lain kecuali surga atau neraka. Surga adalah tempat balasan bagi orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya. Ia telah sukses menjalankan perintah Allah, dan dengan rela ia meninggalkan larangan-laranganNya.

    Sementara neraka adalah tempat siksa bagi orang-orang yang ingkar kepada Allah. Mereka selalu melakukan perbuatan yang dilarangNya dan tidak pernah menjalankan apa yang diperintahkanNya.

    Di alam akhirat nanti, orang-orang yang mendapatkan akhirat khasanah, mereka betul-betul bahagia. Selain mendapatkan surga yang telah dijanjikan Allah, mereka juga bertemu dengan Allah swt dalam keadaan bahagia.

    QS. Al-Hasyr (59) : 20

    Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.

    QS.Al-Kahfi (18) : 31

    Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah;

    QS. Ali-Imran (3) : 12

    Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya”.

    3. Terhindar dari siksa api neraka

    Neraka, adalah seburuk-buruknya tempat kembali. Demikian informasi dari Al-Qur’an al Karim. Bahkan bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu. uih, begitu menggiriskan…tentu saja sebagai hamba yang beriman kita mohon untuk dihindarkan dari siksa neraka ini. Karenanya do’a sapu jagad tersebut, betul-betul do’a yang tepat, yang universal, yang dipakai untuk penutup dari segala do’a.

    QS. Ali-Imran (3) : 10

    Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka,

    QS. Ali-Imran (3) : 192

    Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

    7. Yang penting adalah mendapat ampunanNya

    Mohon ampun adalah salah satu sifat dari orang yang taqwa. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bagaimana ciri-ciri orang yang bertaqwa yang selalu mohon ampunan Allah

    QS. An-Nisa’ (4) : 106

    dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    QS. An-Nisa’ (4) : 110

    Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    QS. Ali-Imran (3) : 17

    (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta’at, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.

    Bahkan mohon ampun di waktu malam (waktu sahur), merupakan salah satu ciri istimewa bagi orang yang bertaqwa. Bangun di waktu sepertiga malam ketika sebagian besar manusia terlelap dalam tidurnya, seorang hamba yang bertaqwa bangun dari tidurnya. Bergegas ia ke kamar mandi mengambil air wudhu. Dibasuhnya semua perilaku yang salah, melalui tangannya. Dibasuhnya ucapan yang sering khilaf melalui mulutnya. Dibasuhnya pandangannya, dibasuhnya nafasnya, dibasuhnya fikirannya… Dan akhirnya dibasuhnya kedua kakinya dengan maksud agar langkah kakinya yang sering tak terarah itu menjadi bersih, suci, untuk menghadap sang Ilahi.

    Dan akhirnya setelah semua anggota wudhu’ sudah dibasuhnya dengan khusyu, ia mengangkat kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah:

    “Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu la syarika lahu, wa asyhadu anna Muhammad abduhu warasuluhu. Allahummaj’alni minattawwabina, waj’alni minal mutathahhiriina.” (HR. Attirmidzi)

    Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah jadikanlah aku sebagai golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang suci.

    Dengan wudhu yang semacam itu, maka terasa begitu lapang dada ini. Maka ketika seorang hamba mengangkat kedua tangannya untuk memulai shalat, yaitu ketika takbiratul ihram, niscaya hatinya akan terfokus hanya untuk Allah semata. Bacaan saat itu terasa menggetarkan dada. Dan insya Allah, Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Pengampun akan memaafkan segala kesalahan hambaNya.

    Ampunan adalah kunci surga. Tak ada seorang pun yang bisa masuk surga tanpa ampunanNya. Sebab manusia selalu berpeluang untuk melakukan kesalahan.

    Seorang yang mendapatkan ampunanNya insya Allah jalannya akan lurus. Dan insya Allah akan mendapat kesuksesan dalam hidupnya. Baik di dunia ini lebih-lebih dalam kehidupan akhirat nanti.

    Sungguh tak seorang pun yang bersih dari khilaf dan salah. Manakala seorang hamba terlanjur berbuat salah, maka mohon ampun itulah obat mujarabnya. Dengan bertaubat sebenar-benarnya taubat, insya Allah terbukalah hijab yang menutupi hatinya. Karena hijab inilah yang membuat manusia menjadi tertutup nuraninya, sehingga sering berbuat salah. Dan Allah pun, insya Allah akan memberikan ampunan yang tiada terhingga itu, untuk hamba yang dicintaiNya..

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 28 February 2013 Permalink | Balas  

    semesta alam3 Faedah Dari Tanda-tanda Yang Ada Di Semesta Alam Dan Penemuan- penemuan Ilmiah

    1. Kita dapat menelaah asma-asma dan sifat-sifat Allah SWT yang ada di semesta alam, agar menjadi jelas bagi kita bahwa Allah Maha Bijaksana, Maha Mengatur, Maha Menciptakan, dan Maha Pemberi Rizki. Dialah yang menciptakan tiap-tiap makhluknya dengan sebaik-baiknya dan Anda tidak akan menemukan adanya perbedaan dalam ciptaan-Nya.

    “…(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu…” (QS. An-Naml (27): 88)

    “Dia telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa (20): 50)

    Semuanya itu menunjukkan adanya Allah dan kemahakuasaan-Nya. Perhatikanlah tubuh Anda… perhatikanlah segala aktivitas Anda… dan semua perkataan yang Anda ucapkan. Perhatikanlah pula semua kesibukan, perasaan, dan gagasan Anda. Anda adalah bagian dari alam dan Anda sendiri adalah alam. Pada diri Anda tersembunyi alam yang paling agung. Mengapa Anda tidak mau memikirkan dan merenungkan diri Anda sendiri sehingga Anda menjadi hamba Allah yang baik?

    “(Juga) pada dirimu sendiri, maaka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzaariyaat (51): 21)

    Mula-mula faedah yang dapat kita petik ialah kita dapat menelaah asma- asma Allah melalui semesta alam dan sifat-sifat-Nya. Apabila kita melihat bunga yang merah, kita akan berpikir siapakah yang memberinya warna merah sedemikian indahnya.

    2. Hendaknya perasaan dan penemuan ini dan juga pemahaman ini beralih kepada iman.

    Tidaklah cukup Anda hanya mengenal bahwa yang menciptakan bunga adalah Allah, sedang Anda tetap tidak shalat, tidak menunaikan zakat, tidak bertasbih, dan tidak pula berdzikir kepada Allah. Demikianlah karena seorang peneliti yang kafir sekalipun mengetahui bahwa semua itu adalah buatan Allah, tetapi dia tidak beriman kepada Allah.

    3. Anda dapat berdzikir kepada Allah melalui kitab semesta alam yang ditampilkan oleh Allah kepada Anda sehingga memudahkan Anda untuk mengingat-Nya.

    Anda memandang pohon, maka mulut Anda berdecak kagum mengucapkan “Subhanallah”

    Anda memandang gunung, maka mulut Anda mengatakan “Subhanallah”

    Anda memandang ke air, cahaya, bumi, langit, gunung-gunung, dan lembah-lembah, lalu Anda berdecak kagum seraya mengucapkan “Subhanallah”

    Al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad SAW dan adalah mula-mula surat yang diturunkan adalah Iqra’ (bacalah), padahal beliau adalah seorang yang Ummi, tidak bisa baca dan tulis.

    “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang memgingkari(mu)”. (QS. Al-Ankabut (29): 48).

    Akan tetapi beliau keluar dari gua Hira dan mengeluarkan kepalanya dari gua hira untuk membaca lembaran semesta alam, lalu membaca bintang-bintang yang gemerlapan, matahari yang terbit, lembah-lembah, aiar yang menyumber, parit-parit dan pancuran-pancuran air, serta sungai-sungai dan pohon-pohon, lalu beliau membaca semua itu. Oleh karena itu, ahlul `ilmi ada yang mengatakan sehubungan dengan makna iqra’, yakni bacalah semua yang terdapat disemesta alam agar Anda mengenal Allah SWT.

    Jangan sampai seseorang diantara kita lalai terhadap ayat-ayat yang besar ini. Manakala dia berekreasi atau pergi ke hutan, ia hanya memandang hasil kreasi manusia yang hina dan meninggalkan kreasi dan buatan Tuhan manusia (Allah SWT).

    Allah SWT telah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda- tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran (3): 190-191)

    Kita memohon kepada Allah semoga Dia menghindarkan kita dari neraka dan menjadikan kita termasuk orang yang menafakuri penciptaan diri dan tanda-tanda yang besar dari kekuasaan Allah yang terdapat di alam semesta.

    Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad SAW, segenap keluarga dan shahabat-ahahabatnya.

    ***

    die *Cambuk Hati* DR. Aidh Al-Qarni

    Sumber: jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 25 February 2013 Permalink | Balas  

    Berlomba Menebar Rahmat

    “Balighu ‘annii walaw aayah ” (Sampaikan dariku meski satu ayat, HR Bukhari & Turmudzi).

    Hadits tersebut kita yakini shohih dan merupakan kewajiban setiap muslim untuk melaksanakannya. Rasulullah saw. juga dikenal bersifat tabligh, senantiasa menyampaikan wahyu dari Allah SWT. secara sempurna kepada ummatnya.

    Kata balighu berasal dari kata baligha / ablagha yang bermakna menyampaikan informasi, dalam berbagai bentuknya. Kata ‘annii dapat bermakna “dariku”, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul saw, maupun “tentang aku”, yakni tentang segala aspek peri kehidupan Rasul saw. Kata aayah dapat bermakna tekstual (naskah ayat al Qur-an maupun Hadits) maupun kontekstual (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT). Dengan demikian hadits ini mewajibkan kita untuk mengabarkan tentang Islam yang sempurna dalam keseluruhan dimensinya, meskipun baru satu sisi yang mampu kita ungkapkan.

    Karena makna bahasa tersebut, khususnya makna kata balighu, selama ini hadits tersebut dimaknai sebatas perintah berda’wah, baik yang dilakukan oleh para ‘alim ‘ulama dalam tabligh / kajian atau penulisan buku, maupun kalangan awam dalam pergaulanan sehari-hari. Namun demikian tidaklah semua muslim memiliki keterampilan, kesempatan dan kepercayaan diri untuk menyampaikan informasi dalam bentuk yang dapat dipahami orang lain, sehingga mereka tidak dapat mengamalkan hadits tersebut. Di samping itu jika semua orang “harus” berbicara atau menulis, siapakah lagi yang akan mendengarkan dan membaca?

    Saya berpendapat hadits ini mungkin sebenarnya dapat bermakna lebih luas. Kata balighu boleh jadi tidak hanya bermakna perintah menyampaikan informasi, tetapi juga menyampaikan manfa’at / maslahat dari setiap ayat / hadits kepada yang membutuhkannya. Dengan pengertian ini setiap muslim sesungguhnya dapat mengamalkan hadits tersebut, apa pun keahlian dan kesempatan yang dimilikinya. Produsen dapat menghasilkan manfaat berupa barang atau jasa, distributor menghantarkannya ke pasar-pasar dan pusat layanan atau langsung ke lokasi konsumen, sedangkan teknisi / praktisi membantu mewujudkan manfaat tersebut sesuai kebutuhan konsumen secara efektif.

    Sebagai konsekuensinya, tentu saja semua muslim harus berupaya memahami hikmah dari ayat-ayat suci al Qur’an dan hadits-hadits Rasul saw. sejauh dan sebanyak yang mampu dipahaminya. Selanjutnya kita berusaha sekuat tenaga mewujudkan hikmah / manfaat ayat tersebut sesuai dengan segala sumber daya dan kemampuan yang telah diamanahkan Allah SWT kepada kita. Perkembangan ilmu pengetahuan / teknologi mutakhir menjadi penting artinya dalam memfasilitasi proses transformasi dari kalam al Khaliq menjadi manfaat nyata bagi makhluq tersebut.

    “Siapa menghendaki dunia hendaklah dengan ilmu. Siapa menghendaki akhirat hendaklah dengan ilmu. Siapa menghendaki keduanya hendaklah dengan ilmu.” (al Hadits)

    Jika kita kaji berbagai temuan ilmiah di berbagai bidang ilmu, sesungguhnya semua tidak lain membuktikan kebenaran absolut Sunatullah yang termaktub pula dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul saw. Sangat disayangkan pada kenyataannya sedikit sekali cendekiawan muslim yang secara produktif menyampaikan fenomena tersebut (makna kontekstual “ayat”) kepada ummat dalam bahasa populer. Padahal tulisan-tulisan dan pemaparan semacam ini dapat menghantarkan ummat untuk mengenal Tuhannya ( ma’rifatullah) dengan lebih baik, dan menggugah kesadaran serta kebanggaan sebagai muslim (izzatul muslimin). Dikotomi keilmuan antara ilmu agama / ukhrowi dan umum / duniawi yang selama ini masih berjalan menghambat proses “membumikan al-Qur-an”. Kondisi ini diperparah dengan semakin maraknya pemikiran yang menyanjung sekularisme dan irrelevansi Qur-an – Sunnah dalam kehidupan ultra-modern saat ini.

    “…Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu ialah yang lebih taqwanya…” .(QS al Hujuraat 49:13)

    …Sesungguhnya yang bertaqwa kepada Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu…” (QS Faathir 35:28)

    Seandainya semua muslim mengamalkan hadits ini dengan baik, niscaya kita akan saling berlomba-lomba dalam kebajikan ( fastabiqul khairat), tidak hanya dalam menuntut ilmu (tholabul ‘ilmi), tetapi juga dengan memberi sebanyak-banyaknya manfaat kepada lingkungan sekitar ( rahmatan lil ‘alamin).

    “Sebaik-baik di antaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain.” ( H.R. Bukhari dan Muslim).

    Wallahu a’lam bish showab.

    ***

    Oleh: Nurul Hidayati Fithriyah.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 24 February 2013 Permalink | Balas  

    Mengenai Qiblat

    Orang-orang pergi ke Timur, Barat, Utara dan Selatan, tetapi ke mana pun mereka pergi, fokus mereka tetap satu, yaitu qiblat. Allah berfirman bahwa ketika kalian ingin melakukan salat, arahkan muka kalian menuju Rumah Allah yang suci, yaitu Kabah.

    Sungguh Kami melihatmu (Wahai Muhammad saw) memalingkan mukamu mencari petunjuk ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram [Kabah]. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. [2:144]

    Di mana pun kalian berada, arahkan muka kalian ke arah masjid yang di dalamnya terdapat Kabah di Mekkah. Karena adanya Kabah, tempat di sekitarnya menjadi suci. Tempat itu dinamakan haram, artinya terlarang. Itu adalah tempat di mana dosa-dosa tidak diperkenankan. Itu adalah tempat yang suci, bahkan niat buruk pun akan ditulis sebagai amal buruk kalian. Ia disebut masjid, tetapi Allah membuatnya lebih dari itu. Pada kenyataannya, tempat itu adalah tempat di mana dosa-dosa tidak dapat diterima. Itulah sebabnya nama masjid itu dalam bahasa Arab disebut Masjidil Haram, artinya “Masjid Terlarang” (juga diterjemahkan sebagai “Masjid yang Suci”).

    Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [17:1]

    Di mana pun tempat ini disebutkan, ia selalu Masjid al-Haram. Nama Masjid al-Haram berarti bahwa seseorang tidak diperkenankan melakukan perbuatan berdasarkan hasrat buruknya—bahkan tak seorang pun diperkenankan mempunyai niat buruk di sana. Hanya keinginan yang baik dan pikiran yang baik yang diperbolehkan masuk, bukannya karakteristik binatang.

    Binatang bertindak tanpa batas pada perilaku mereka. Jadi “Masjid al-Haram” berarti masjid di mana perilaku rendah tidak diterima. Simbol terbaik untuk kelalaian adalah keledai. Bila orang mempunyai karakter seperti ini, kita katakan bahwa mereka menampilkan perilaku keledai. Kini, orang-orang membawa karakteristik ini. Kelalaian mereka membawa mereka ke perilaku buas, dan mereka melakukan segala macam perbuatan yang tidak dapat diterima.

    Setiap orang mempunyai tujuan dan harapan untuk mencapai tempat suci, dan bagi Muslim, tempat itu adalah Masjid al-Haram. Yang menjadi fokus bagi Muslim adalah untuk meraih level karakter yang sempurna, belajar darinya, dan mendapat pencerahan darinya. Allah mengetahui isi hati kita. Menurut ketulusan dan pencapaian kalian, Allah menghubungkan kalian dengan tujuan kalian.

    Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, Kami akan tunjukkan mereka pada jalan-jalan Kami, jalan-jalan yang sesuai bagi mereka. [29:69]

    Ada level-level pencapaian. Kita harus maju meninggalkan kelalaian kita, belajar dan mendidik diri kita dengan menjaga hubungan dengan seorang yang telah mendapat pencerahan.

    Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (dalam kata dan perbuatan)”. [9:119]. Hati yang mengkilap dari orang yang tulus dan jujur (shiddiq) adalah bak penampung cahaya surgawi dan berkah Ilahi agar termanifestasi. Orang seperti itu bagi kita adalah bagaikan matahari.

    Ketika matahari bersinar, seluruh dunia bersinar dari sumber energi itu yang membuat segalanya menjadi terlihat. Sebelumnya gelap, kemudian terang. Menurut kepribadian kalian dan sesuai dengan berapa banyak kalian membebaskan diri kalian dari perilaku “keledai” kepada level-level yang lebih tinggi yang telah diberikan oleh Allah.

    Fokus setiap orang seharusnya adalah tempat yang suci. Kita mulai membayangkan bahwa kita tahu sesuatu. Jika kita tahu sesuatu, kita harus berbuat berdasarkan pengetahuan itu dan mengikutinya sesuai dengan pemahaman kita.

    ***

    Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani ar-Rabbani qs

    Dari Buku Sufi Science of Self Realization

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 23 February 2013 Permalink | Balas  

    Anjuran Sholat Pada Permulaan Waktu

    Rosulullah Saw bersabda, “Permulaan waktu adalah ridho Allah, tengah waktu adalah rahmat Allah, dan akhir waktu adalah ampunan Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung.” (HR. Daruquthni)

    Rosulullah Saw bersabda, “Amal yang paling utama adalah sholat pada waktunya berbakti kepada kedua orang tua, dan jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad)

    Dalam hadisnya Bazzar berkata, “Kemudian Nabi Muhammad saw datang pada suatu kaum yang dipacah kepalanya dengan batu. Ketika kepala itu pecah kemudian pulih kembali seperti semula, begitu seterusnya.” Rosulullah Saw bertanya, “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Mereka itu adalah orang-orang yang merasa berat kepalanya untuk mengerjakan sholat.” (Jawazir, hal. 114, Jilid I)

    Ibnu Abbas ra. Berkata, “Pada hari kiamat nanti, ada seorang laki-laki disuruh berdiri di hadapan Allah. Kemudian Allah memerintahnya ke neraka.” Maka dia berkata, “Wahai Tuhan, kenapa begini ?” Kemudian Dia (Allah) berfirman, “Sebab kamu akhirkan sholat dari waktunya dan sebab sumpah dustamu kepada-Ku.” (Jawazir, hal. 116, Jilid I)

    Keterangan : Bergegas mengerjakan sholat pada awal waktu, hukumnya sunat. Mengakhirkan sholat hingga keluar waktunya dengan disengaja hukumnya haram. Jadi kalau ada orang yang berangkat tidur setelah waktu sholat datang sedang ia belum mengerjakan sholat dan tidak punya keyakinan bahwa di tengah-tengah tidurnya nanti pasti ada orang yang membangunkan, maka berangkat tidur dalam keadaan demikian itu hukumnya haram. Tetapi kalau ia punya prasangka bahwa di tengah-tengah tidurnya nanti pasti ada yang membangunkan sebagaimana biasa, maka tidurnya itu terkena hukum makruh, tidak haram.

    ***

    Narasumber: Kitab “At-Targhiib Wat-Tarhiib”

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 21 February 2013 Permalink | Balas  

    Tahajud Perkuat Sistem Imun Tubuh

    Prof Dr Mohammad Sholeh

    Rasulullah SAW nyaris tidak pernah melewatkan satu malam pun kecuali dengan shalat tahajud, bahkan di saat peperangan sekalipun. Dulu, shalat tahajud diwajibkan. “Setelah turun surat Al-Muzzammil ayat 19 dan 20 baru disunatkan,” ujar Prof Dr Mohammad Sholeh, pengasuh Klinik Terapi Tahajud dan trainer salat khusyuk kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, Rabu (31/1)

    Mengapa Rasulullah SAW menganjurkan shalat ini, hanya Beliau yang tahu. Namun perkembangan sains membuktikan, shalat ini banyak manfaatnya. “Secara medispun bisa dibuktikan,” ujar pria yang tahun 2000 berhasil mempertahankan disertasi doktornya di jurusan Psikoneuroimunologi Unair mengenai shalat tahajud untuk sistem imun tubuh ini. Berikut ini penjelasannya mengenai kajian ilmiahnya tentang tahajud:

    Apa alasan Anda tertarik meneliti tentang shalat tahajud dan hubungannya dengan sistem imun tubuh?

    Pertama tidak ada shalat sunat yang dianjurkan oleh Alquran kecuali tahajud. Sedangkan shalat-shalat sunat lain itu hanya sampai pada tataran hadis Rasulullah SAW. Kalau shalat sunat tahajud itu ada di dalam surat Al-Muzzammil ayat 1 sampai 20 terutama pada ayat 1 sampai 10. Kemudian Surat Al-Isra ayat 79. Ini alasan logika normatifnya.

    Kedua, Rasulullah SAW sama sekali tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Ketiga, tidak ada shalat sunat yang diwajibkan Islam kecuali tahajjud. Selama satu tahun Rasulullah mewajibkan umatnya melaksanakan shalat tahajjud, sebelum turun ayat tadi.

    Lalu ada hadis kudsi yang menjelaskan tentang setiap dua per tiga malam Allah SWT turun ke langit pertama sambil menyerukan, “Hamba-Ku yang sedang ruku dan sujud melaksanakan shalat tahajjud, permintaanmuakan Aku beri, doamu akan Aku kabulkan, dosamu akan Aku ampuni.” Ditambah dengan hadis riwayat Tabrani yang menjelaskan bahwa shalat tahajud itu kebiasaan yang dilakukan oleh para orang-orang saleh di jaman dulu dan itu menyembuhkan baik fisik maupun psikis.

    Logika pengalamannya: saya dulu pernah kena penyakit kangker kulit. Dokter sudah angkat tangan. Namun tahajud menyelamatkan saya. Tahun 1982 sampai 1987, setelah itu saya dinyatakan sembuh sama sekali.

    Berapa lama disertasi Anda susun?

    Enam bulan sudah selesai. Enam bulan penelitiannya. Saya termasuk tercepat, 1998 sampai 2000. Jadi, dua tahun setengah lebih satu bulan.

    Mengapa sistem imun yang Anda teliti?

    Dalam tubuh kita oleh Yang Mahakuasa sudah ada yang namanya sistem imun (daya tahan tubuh). Daya tahan tubuh itu maksudnya apa? Misalnya, darah kita kalau dilihat merah tapi kalau dianalisis darah kita campur dengan reagen kemudian dianalisis di laboratorium nanti komponen di dalam tubuh macam-macam darah itu. Jadi, ada hemoglobin, ada hormon kartisol.

    Dosen saya bilang, saya ini banyak mematahkan teori ilmu kedokteran lama. Semisal, jantung koroner secara teori kedokteran lama tidak bisa disembuhkan. Tapi, melalui imunitas imunologi tadi penyakit ini bisa disembuhkan.

    Bagaimana bisa?

    Jantung koroner ini penyebabnya tersumbatnya arteri jantung karena kolestarol. Kolesterol itu adalah lemak yang berwarna kuning yang berasal dari makanan yang kita makan diolah oleh tubuh menjadi glikogen kemudian diolah lagi menjadi glukosa. Glukosa diolah lagi menjadi kolesterol. Kalau orang tidak pernah gerak maka kolesterol akan menyumbat pada organ yang tidak pernah digerakkan. Nah, kalau orang itu mau shalat tahajud berlama-lama seperti Rasulullah SAW, dua rakaat saja semalam, nantinya akan ada metabolisme tubuh kita akan bercucuran keringat, bahkan di ruangan ber-AC sekalipun.

    Keluarnya keringat ini menyehatkan. Karena di dalam tubuh kita ada metabolisme kolesterol-kolester ol akan dibakar ATP/ADP sehingga menjadi energi yang merangsang kelenjar keringat untuk berkeringat. Jadi, kalau tidak berkeringat tidak banyak membawa dampak fisik. Kebanyakan orang shalat tahajud itu hanya sekadar memburu-buru pahala atau mengejar maqamam mahmuda dalam pengertian sempit.

    Maksud Anda dengan maqamam mahmuda?

    Shalat tahajjud menjadi Bupati. Untuk tujuan duniawi. Kesehatan dan keimanan itu saya kira yang paling tepat untuk maqamam mahmuda.

    Bagaimana sampai pada kesimpulan bahwa shalat tahajud berpengaruh pada sistem imun tubuh?

    Penelitian saya dari 51 siswa SMU yang saya ambil training sebelumnya yang usianya sama. Karena syarat penelitian kuantitatif itu harus homogen. Jadi, usianya sama yaitu laki-laki antara usia 16 tahun sampai 20 tahun. Sama-sama SMU kelas 1 Hidayatullah yang tidak pernah shalat tahajjud sama sekali. Kemudian tidak pernah mengikuti tariqah-tariqah dan sebagainya. Kemudian saya ambil darahnya sebelum shalat. Kemudian saya ambil darahnya lagi setelah shalat satu bulan, saya ambil darahnya lagi setelah dua bulan. Aktivitasnya sama, menu makannya sama, usianya sama, sama-sama tidak pernah shalat tahajud. Ternyata variabel yang saya teliti, makrofagnya beda. Makrofag itu intinya adalah sel imunitas tubuh yang berfungsi untuk memakan sel lain yang tidak normal.

    Jadi, kalau ada orang kena kista itu menunjukkan bahwa makrofagnya mengalami defisiensi. Saya sudah bisa mendeteksi orang itu mengalami penurunan. Dengan demikian kalau teorinya dirunut lebih dalam, makrofag tidak akan berproduksi kalau yang bersangkutan stress. Kalau dirunut lagi mungkin orang ini kena penyakit hati seperti, iri, dengki, sombong. Nah hal yang seperti ini yang menyebabkan stress. Nggak pernah qona-ah (puas), tawakal, jadi, akidah itu menentukan sekali penyakit seseorang.

    Kenapa orang yang sering tahajud tak pusing kepala, padahal dia bangun tengah malam?

    Karena otak kita ketika shalat tahajjud melepaskan seritonin, beta endorsin, dan melatonin yang diproduksi otak. Ketika seseorang shalat tahajjud, seritonin, beta endorsin, dan melatonin itu terproduksi. Itu yang menyebabkan kita menjadi tenang. Karena ketenangan itulah maka homeostasis terjaga. Pusing disebabkan karena terganggunya homeostasis, mungkin bisa hipertensi atau hipotensi. Shalat tahajud itu kan meditasi tingkat tinggi. Itu yang menjaga homeostasis atau kecenderungan untuk tetap dalam keadaan normal. Orang sakit itu terganggunya homeostasis. Nah, ketika shalat tahajud relaksasinya tercapai secara maksimal maka keseimbangan tubuh terjaga. Tak akan ada hipertensi dan hipotensi. Termasuk kolesterol akan dibabat habis oleh aktivitas tahajud. Kolesterol akan hilang menjadi energi.

    Bagaimana Shalat Tahajud yang Benar?

    Yaitu dilakukan dengan khusyuk, tulus ikhlas, gerakannya seperti Rasulullah shalat kemudian kontinyu. Saya merujuk kepada hadis shahih Muslim yang diriwayatkan Khuzaifah yang pernah bercerita suatu malam pernah shalat tahajjud bersama Rasulullah kemudian begitu mengangkat tangan sebagai tanda takbiratul ihram terdengar dari belakang Rasulullah terisak-isak karena manangis. Rasulullah kemudian membaca doa iftitah sangat pelan setelah itu membaca Al Fatihah sangat pelan sekali setelah itu baca surat. Surat yag dibaca Rasulullah tidak tanggung-tanggung yaitu surat Al Baqarah, padahal ayatnya ada 286. Ketika sampai seratus ayat kata Khuzaifah kiranya disudahi ternyata tidak masih dilanjutkan. Setelah selesai surat Albaqarah, ternyata ditambah surat An-Nisaa. Setelah surat An-Nisa, dilanjutkan membaca surat Ali Imran. Nah, sehingga satu rakaat saja membaca tiga surat yang panjang-panjang kira-kira lima juz lebih. Kata Khuzaifah, “Bukan hanya di situ. Setelah Rasulullah membaca surat kemudian ruku yang lamanya sama dengan membaca Alqurannya. Kemudian i’tidal sama dengan rukunya. Kemudian sujud sama dengan i’tidalnya, setelah itu duduk iftiras sama dengan sujudnya. Sehingga Rasulullah semalam hanya dua rakaat. Kemudian tambah satu rakaat witir keburu sudah Bilal adzan.”

    Inilah yang saya trainingkan. Tetapi saya tidak ajarkan shalat yang panjang-panjang itu. Suratnya silahkan apa yang dihapal, tetapi setelah membaca surat jangan langsung ruku, disambung lagi dengan dialog, mengadukan masalah kepada Allah. Bisa juga kita manfaatkan sebelum ruku kita mendialogkan segala persoalan yang sedang kita hadapi. Mungkin anak yang jauh dari harapan, suami yang punya masalah, ekonomi yang morat-marit. Itu diadukan kepada Allah. Jadi, shalat khusyuk itu bukan shalat yang lupa segala-galanya.

    Kita tidak perlu menargetkan shalat tahajud itu delapan rakaat ditambah tiga rakaat witir yang penting bukan kuantitasnya tapi kualitas. Ada conect, komunikasi intens dengan Allah bahwa kita sadar sesadar-sadarnya sedang shalat menghadap kepada yang Mahakuasa, Mahaagung, Mahasegala-galanya. Digenggaman- Nya lah segala urusan. Sehingga kalau kita sudah bisa seperti itu nikmat rasanya. Karena itu nikmat maka sayang kalau diputus. Dua rakaat saja bisa dua jam setengah.

    ***

    Republika: Jumat, 02 Februari 2007

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 18 February 2013 Permalink | Balas  

    Anjuran Wudhu dan Meyempurnakannya

    Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, apabila hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, maka mandilah.” (Q.S. Al-Maidah 6)

    Rosulullah Saw bersabda, “Kuncinya sholat adalah suci.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)

    Rosulullah Saw bersabda, “Siapa saja berwudhu seraya membaguskannya, kemudian sholat dua raka’at, yang dua raka’at itu hatinya tidak terbentik keinginan duniawi, maka ia keluar dari dosanya seperti ketika dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Ihyaa’  hal. 116, jilid 1)

    Rosulullah Saw bersabda, “Apabila seorang muslim berwudhu kemudian dia berkumur, maka keluarlah dosa-dosa dari mulutnya. Apabila ia masukkan air ke dalam hidung kemudian dikeluarkan lagi, maka keluarlah dosa-dosa dari hidungnya. Apabila ia basuh mukanya, maka keluarlah dosa-dosa dari mukanya hingga dosa-dosa itu pula keluar dari bawah bibir kedua matanya. Apabila ia basuh kedua tangannya, maka keluarlah dosa-dosa dari kedua tangannya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya. Apabila ia usap kepalanya, maka keluarlah dosa-dosa dari kepalanya hingga keluar dosa-dosa itu dari bawah kedua telinganya. Apabila ia basuh kedua kakinya, maka keluarlah dosa-dosa dari kedua kakinya hingga keluar pula dosa-dosa itu dari bawah kuku kedua kakinya Kemudian perjalannya ke masjid dan sholatnya (sholat sunah) merupakan ibadah sunat baginya.” (HR. Al-Ihyaa’  hal. 116, jilid 1).

    Rosulullah Saw bersabda, “Basuhlah cela-cela jari tangan kalian, maka tidak akan dibasuh oleh Allah pada hari kiamat dengan api neraka.” (HR. Duruquthni)

    Keterangan: Sebelum berwudhu disunatkan membasuh tangan. Yaitu antara jari-jari tangan dibasuh dengan air. Membasuh diantara jari-jari tangan termasuk kesempurnaan wudhu.

    Rosulullah Saw bersabda, “Kecelakaan besar dari api neraka bagi tumit-tumit (yang tak terbasuh dalam berwudhu). Maka sempurnakanlah wudhu.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

    Keterangan: Hadis-hadis di atas menerangkan betapa pentingnya menyempunakan wudhu. Untuk menyempurnakan wudhu, sebaiknya hal-hal yang sunat di dalam wudhu dilaksanakan. Yaitu:

    • Membaca basmalah.
    • Membasuh dua telapak tangan sebelum membasuh muka.
    • Berkumur.
    • Memasukkan air ke dalam hidung kemudian dikeluarkan lagi (istinsyaq).
    • Mengusap seluruh kepala dengan air.
    • Mengusap dua telinga dengan air, baik bagian luar atau bagian dalamnya.
    • Membasuh jenggot yang lebat dengan memasukkan jari-jari tangan ke dalam jenggot itu.
    • Membasuh jari-jari kaki / tangan.
    • Mendahulukan yang kanan dari yang kiri dari anggota wudhu.
    • Mengulang sampai tiga kali dalam bersuci.
    • Muwalah, yaitu mengerjakan rukun-rukun wudhu secara beruntun tanpa dipisah oleh waktu yang lama.

    Dan masih banyak lagi hal-hal yang sunat dalam berwudhu seperti melebihkan dalam membasuh tangan dan kaki dari bagian yang wajib dibasuh.

    ***

    Narasumber: Kitab “At-Targhiib Wat-Tarhiib

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 16 February 2013 Permalink | Balas  

    Ganjaran Bersedekah

    RasulAllah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menganjurkan kepada kita umatnya untuk memperbanyak sedekah, hal itu dimaksudkan agar rezeki yang Allah berikan kepada kita menjadi berkah.

    Allah memberikan jaminan kemudahan bagi orang yang berdekah, ganjaran yang berlipatganda (700 kali) dan ganti, sebagaimana firman-Nya dan sabda RasuluAllah SAW, sbb :

    Allah Ta’ala berfirman, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. {Qs. Al Lail (92) : 5-8}

    Allah Ta’ala berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”. {Qs. Al Baqarah (2) : 261}

    RasulAllah SAW bersabda, “Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia dibumi. Yang satu menyeru, “Ya Tuhan, karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kepada Allah”. Yang satu lagi menyeru “musnahkanlah orang yang menahan hartanya”.

    ***

    Oleh sahabat: Ketut Junaedi

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 15 February 2013 Permalink | Balas  

    Tolak Bala dengan Sedekah

    Orang-orang yang beriman sangat sadar dengan kekuatan sedekah untuk menolak bala, kesulitan dan berbagai macam penyakit, sebagaimana sabda RasulAllah SAW, sbb :

    “Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah mendahului sedekah”.

    “Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah”.

    “Obatilah penyakitmu dengan sedekah”.

    Banyak dari kita yang sudah mengetahui dan memahami perihal anjuran bersedekah ini, namun persoalannya seringkali kita teramat susah untuk melakukannya karena kekhawatiran bahwa kita salah memberi, sebagai contoh kadang kita enggan memberi pengemis/pengamen yang kita temui dipinggir jalan dengan pemikiran bahwa mereka (pengemis/pengamen tsb) menjadikan meminta-minta sebagai profesinya, tidak mendidik, dll. Padahal sesungguhnya prasangka kita yang demikian adalah bisikan-bisikan setan laknatullah yang tidak rela melihat kita berbuat baik (bersedekah), sebaiknya mulai saat ini hendaknya kita hilangkan prasangka-prasangka yang demikian karena seharusnya sedekah itu kita niatkan sebagai bukti keimanan kita atas perintah Allah dan rasul-Nya yang menganjurkan umatnya untuk gemar bersedekah,

    Masalah apabila ternyata kemudian bahwa sedekah yang kita beri kepada pengemis/pengamen tadi tidak tepat sasaran, bukan lagi urusan kita, karena sedekah hakekatnya adalah ladang amal bagi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Pengemis/pengamen/fakir miskin lainnya adalah ladang amal bagi orang yang berkecukupan, dapat kita bayangkan andaikata tidak ada lagi orang-orang tersebut, kepada siapa lagi kita dapat beramal (bersedekah)?

    Atau kalo kita termasuk orang yang tidak suka memberi sedekah (kepada pengemis/pengamen/fakir miskin) dengan berbagai alasan dan pertimbangan maka biasakanlah bersedekah dengan menyiapkan sejumlah uang sebelum sholat Jum’at dan memasukkan ke kotak-kotak amal yang tersedia dan biasakan dengan memberi sejumlah minimal setiap Jum’at, misalnya Jum’at ini kita menyumbang Rp. 10 ribu ke kotak amal maka sebaiknya Jum’at berikutnya harus sama, syukur-syukur bisa lebih dan terutama harus diiringi dengan keikhlasan.

    Sedekah anda, walaupun kecil tetapi amat berharga disisi Allah Azza Wa Jalla. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi didunia dan akhirat karena tidak mendapat keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk untuk kepentingan dirinya. Sebab menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah dan sebaliknya menahannya adalah celaka. Tidak mengherankan jika orang yang bersedekah diibaratkan orang yang berinvestasi dan menabung disisi Allah dengan jalan meminjamkan pemberiannya kepada Allah. Balasan yang akan diperoleh berlipatganda. Mereka tidak akan rugi meskipun pada awalnya mereka kehilangan sesuatu.

    ***

    Oleh sahabat: Ketut Junaedi

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 9 February 2013 Permalink | Balas  

    Alif Laam Miim’

    Tahukah anda, apa arti dan makna ‘alif laam Miim’…?

    Tiba-tiba saja, aku terhenti membaca lembaran pertama Al-qur’an itu. Dan akupun tak kuasa lagi untuk melanjutkannya… Mataku berkaca-kaca. Kutahan tetesan air mataku, sebisanya. Ah! tidak bisa! Bahkan ada air mata yang menetes jatuh ke bajuku.

    Aku tak sanggup berucap. Tenggorokkanku terasa sakit. Lidahku kelu. Nafasku memburu. Tambah lama, air mataku semakin tak terbendung. Akhirnya berderai juga dan kubiarkan berjatuhan. Mengalir deras, entah membasahi apa saja yang ada di bawahnya.

    Aku tak tahu apa penyebabnya. Mungkin haru, mungkin rindu, mungkin takut, atau bahkan mungkin ada perasaan cemas. Semua bercampur menjadi satu. Tak bisa kugambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Semua rasa ada di dalam qalbu.

    Semua itu terjadi ketika pandangan mataku terpaku pada ayat pertama surat Al-Baqarah yang berbunyi “alif laam miim…” Bahkan tanganku yang membawa kitab Al-Qur’an sempat bergetar menahan gejolak hati yang tak karuan rasanya.

    Itulah suasana hatiku ketika untuk pertama kali aku masuk ke masjid Nabawi. Aku bersama-sama dengan banyak orang masuk ke masjid Rasulullah. Saat itu aku tak mengetahui arah. Belok kanan, belok kiri atau lurus, aku tak tahu. Aku terus maju mengikuti saja kemana arah langkah kakiku membawa.

    Akhirnya aku melihat ada tempat kosong dalam sebuah shaf. Aku pun menuju ke tempat itu. Ku lakukan shalat dua rakaat. Setelah selesai aku mengambil kitab Al-qur’an untuk ku baca. Ketika aku menebarkan pandanganku ke kanan dan ke kiri, betapa terkejutnya aku. Karena tanpa kusadari aku sudah berada di dekat makam Rasulullah… Dan ternyata itulah yang disebut sebagai Raudhah. Sebuah taman surga yang selalu ku idamkan sejak aku mengikuti manasik haji dahulu. Ternyata saat itu tanpa kusengaja aku sudah berada di dalamnya.

    Maka, saat aku menyadari bahwa aku berada dekat sekali dengan Rasul tercinta. Aku ingin sekali membaca Al-Qur’an yang agung itu. Dan begitu aku membuka lembaran pertama dan bertemu dengan ayat pertama surat Al Baqarah, saat itulah aku tidak bisa mempertahankan keharuanku.

    Begitu bibirku menyentuh kalimat pendek yang hanya terdiri dari tiga huruf saja, alif, laam, dan ketika aku berusaha mencari arti dan maknanya… Aku merasa tidak bisa dan tidak mampu. Seketika itu juga aku merasa betapa kecilnya diri ini, betapa lemahnya, dan betapa tidak berdayanya…. Maka yang bisa aku lakukan hanyalah menangis. Tidak jelas kenapa dengan diriku. Tetapi yang kurasakan dan kuharapkan saat itu, aku ingin mohon ampun, atas segala kesalahanku, kesombonganku, keangkuhanku… Yang pernah, bahkan mungkin sering singgah dalam hatiku.

    Sebenarnya aku tidak tahu dan juga tidak mengerti apa makna huruf-huruf itu. Yang merupakan gabungan tiga huruf: alif, laam dan miim. Tetapi begitu aku membuka lembaran pertama Alqur’an dan bertemu dengan tiga huruf pertama dari surat Al-Baqarah itu, tiba-tiba hati bergetar, jantung berdegub lebih kencang, air mata tak tertahankan lagi…entah apa yang menyebabkannya.

    QS.Al-Baqarah (2) : 1-2

    “Alif Laam Miim.” (hanya Allah yang mengetahui maksudnya). Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

    Kalau mengartikan 3 huruf saja aku tak mampu, bagaimana dengan ratusan ribu huruf yang berada di Al-Qur’an. Huruf-huruf itu tertata sedemikian indah. Membentuk kalimat dan ayat-ayat yang luar biasa. Penuh makna dan keseimbangan fantastis.

    Berfikir tentang hal itu, semakin bertambahlah rasa ketidak-mampuanku sebagai seorang hamba. Berkat alif laam miim, aku semakin merasa, dan semakin mengetahui betapa kecilnya manusia. Betapa rendahnya ilmu yang dimilikinya…

    Maka bertambah deraslah air mataku..

    Itulah sebuah suasana hati di Raudhah. Sang taman surga..! Betapa indahnya jika hati manusia di dalam kesehariannya diwarnai oleh suasana Raudhah. Tentu hidup ini akan damai sejahtera. Semua orang akan peka dan peduli pada orang lain. Semua orang akan mengakui ketidak berdayaannya sebagai orang yang kecil, yang lemah, yang tak tahu apa-apa.

    Semua merasa dalam aktivitas hidupnya selalu dekat Rasulullah. Dekat dengan ajarannya, dekat sunahnya. Dekat dengan sifat-sifatnya yang jujur, yang amanah, yang selalu menyampaikan kebenaran, yang selalu menggunakan logika imannya.

    Rupanya hanya di Raudhah itulah, aku bisa bertemu dengan suasana hati yang seperti itu. Betapa seringnya aku membaca huruf-huruf alif, laam dan miim. Tetapi tidak pernah menemukan suasana hati semacam itu. Kecuali di Raudhah ini..

    Rasulullah saw, bersabda

    ” Tempat yang terletak diantara rumahku dan mimbarku, merupakan suatu taman di antara taman-taman surga..”

    (HR. Bukhari, dari Abu Hurairah)

    ***

    Oleh Sahabat: Firliana Putri

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 8 February 2013 Permalink | Balas  

    Do’a Sehari-Hari 

    Berikut do’a sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW dengan sumber yang jelas. Wassalam

    Do’a Sehari-Hari

    1. Do’a Sebelum Makan

    Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtana wa qinaa ‘adzaa-bannaari Bismillahirrahmaaniraahiimi.

    Artinya : Ya Allah berkahilah kami dalam rezki yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (HR. Ibnu as-Sani)

    2. Do’a Sesudah Makan

    Alhamdulillahilladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa muslimiina

    Artinya : Segala puji bagi Allah Yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami muslim. (HR. Abu Daud)

    Alhamdulilaahilladzi ath’amanii hadzaa wa razaqaniihi min ghayri hawlin minnii wa laa quwwatin.

    Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan melipahkannya kepadaku tanpa daya dan kekuatanku. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    3. Do’a Sebelum Tidur

    Bismikallahhumma ahyaa wa bismika amuutu.

    Artinya : Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

    4. Do’a Sesudah Bangun Tidur

    Alhamdulillaahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin nusyuuru

    Artinya : Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami. Kepada-Nya-lah kami akan kembali (HR. Bukhari)

    5.Do’a Terkejut Bangun Dari Tidur

    A’uudzu bikalimaatillahit tammaati min ghadhabihi wa min syarri ‘ibaadihi wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuni

    Artinya : Aku berlindung dengan kalimah Allah yang sempurna dari kemarahan Allah dari kejahatan hamba-hamba-Nya dan dari gangguan setan dan dari kehadiran mereka (HR. Abu Daud dan Tir-middzi)

    6.Do’a Mimpi Baik

    Alhamudlillaahirrabbil ‘alamiina

    Artinya : Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam (HR. Bukhari)

    7.Do’a Mimpi Tidak Baik

    Allaahumma innii a;uudzu bika min ‘amalisy syaythaani, wa sayyi’aatil ahlaami

    Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan setan dan dari mimpi-mimpi yang buruk (HR. Ibn as-Sani)

    8.Do’a Sesudah Duduk Bangun Tidur

    Laa ilaaha illaa anta subhaanaka allahuma zidnii ‘ilman wa laa tuzigh qalbii ba’da idz hadaitanii wa hablii min ladunka rahmatan innaka antal wahhaabu.

    Artinya : Tidak ada Tuhan melainkan Engkau, maha suci Engkau ya Allah, aku minta ampun kepada-Mu tentang dosa-dosaku, dan aku mohon rahmat-Mu tentang dosa-dosaku, dan aku mohon rahmat-Mu. Ya Allah, tambahlah ilmuku dan janganlah Engkau gelincirkan hatiku setelah Engkau memberi petunjuk kepadaku, dan karuniakanlah rahmat untuk-ku daripada-Mu, sesungguhnya Engkaulah yang maha Memberi. (HR. Abu Daud)

    9.Do’a Menjelang Shubuh

    Allaahumma innii a’uuzdu bika min dhiiqid dun-yaa wa dhiiqi yaumil qiyaamati.

    Artinya : Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan hari kiamat. (HR. Abu Daud)

    10. Do’a Menyambut Datangnya Pagi

    Ashbagnaa wa ashbahal mulku lillaahi ‘Azza wa jalla, wal hamdu lillaahi, wal kibriyaa’u wal ‘azhamatu lillaahi, wal khalqu wal amru wallailu wannahaaru wa maa sakana fiihimaa lillaahi Ta’aalaa. Allahummaj’al awwala haadzan nahaari shalaahan wa ausathahu najaahan, wa aakhirahu falaahan, yaa arhamar raahimiina.

    Artinya : Kami telah mendapatkan Shubuh dan jadilah segala kekuasaan kepunyaan Allah, demikian juga kebesaran dan keagungan, penciptaan makhluk, segala urusan, malam dan siang dan segala yang terjadi pada keduanya, semuanya kepunyaan Allah Ta’ala. Ya Allah, jadikanlah permulaan hari ini suatu kebaikan dan pertengahannya suatu kemenangan dan penghabisannya suatu kejayaan, wahai Tuhan yang paling Penyayang dari segala penyayang.

    Allahumma innii as’aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan

    Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rezki yang baik dan amal yang baik Diterima. (h.r. Ibnu Majah)

    11. Do’a Menyambut Petang Hari

    Amsainaa wa amsal mulku lillaahi walhamdulillahi, laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lahu. Allahumma innii as’aluka min khairi haadzihil lailati wa khhaiiri maa fiihaa, wa a’uudzu bika min syarrihaa wa syarrimaa fiihaa. Allaahumma innii a’udzuu bika minal kasali walharami wa suu’il kibari wa fitnatid dun-yaa wa ‘adzaabil qabri.

    Artinya : Kami telah mendapatkan petang, dan jadilah kekuasaan dan segala puji kepunyaan Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan malam ini dan kebaikan yang terdapat padanya dan aku berlindung dengan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang terdapat padanya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari malas, tua bangka, dan dari keburukan lanjut umur dan gangguan dunia dan azab kubur. (HR. Muslim)

    Allaahumma anta rabbii, laa ilaaha illaa anta, ‘alaika tawakakaltu wa anta rabbul ‘arsyil ‘azhiimi, maa syaa’allahu kaana, wa maa lam yasya’ lam yakun. Laa haula wa laa quwwata illaa billahil ‘alliyyil ‘azhiimi. A’lamu annallaaha ‘alaa kuli syai’in qadiirun, wa annallahu qad ahaatha bukillin syai’in ‘ilman. Allahumma innii a’uudzu bika min syarri nafsii, wa min syarri kuli daabbatin anta aakhidzun bi naashiyatihaa. Inaa rabbii’alaa shiraathin mustaqiimin.

    Artinya : Ya allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang lain kecuali Engkau, kepada-Mu aku bertawakkal, dan engkau adalah penguasa ‘Arasy Yang Maha Agung, apa yang dekehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terjadi, tidak ada daya dan uapaya melainkan dengan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Aku mengetahui bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu, dan bahwa pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan dariku, dan kejahatan setiap binatang yang melata yang Engkau dapat bertindak terhadapnya, sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.

    12. Do’a Masuk Rumah

    Assalaamu ‘alaynaa wa ‘ alaa ‘ibaadillahish shaalihiina. Allaahumma innii as-aluka khayral mawliji wa khayral makhraji. Bismillahi walajnaa wa bismillaahi kharahnaa wa ‘alallahi tawakkalnaa, alhamdulilaahil ladzii awaanii.

    Artinya : Semoga Allah mencurahkan keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba-Nya yang shalih. Ya Allah, bahwasanya aku memohon pada-Mu kebaikan tempat masuk dan tempat keluarku. Dengan menyebut nama-Mu aku masuk, dan dengan mneyebut nama Allah aku keluar. Dan kepada Allah Tuhan kami, kami berserah diri. Segala puji bagi Allah yang telah melindungi kami. (HR. Abu Daud)

    13. Do’a Keluar Rumah

    Bismilaahi tawakkaltu ‘alallahi wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahi.

    Artinya : Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

    14. Do’a Menuju Masjid

    Allaahummaj’al fii qalbii nuuran wa fii lisaanii nuuran waj’al fii sam’ii nuuran waj’al fii basharii nuuran waj’al min khalfii wa min amaamii nuuran waj’al min fawqii nuuran wa min tahtii nuuran. Allahumma a’thinii nuuran.

    Artinya : Ya Allah, jadikanlah dalam qalbuku nur, dalam lisanku nur, jadikanlah dalam pendengaranku nur dan dalam penglihatanku nur. Jadikanlah dari belakang-ku nur dan dari depanku nur. Jadikanlah dari atasku nur dan dari bawahku nur. Ya Allah, berilah aku nur tersebut. (HR.Muslim)

    15. Do’a Masuk Masjid

    A’uudzu billahil ‘aliyyil ‘azhiimi. Wa biwajhihil kariimi, wa bisulthaanihil qadiimi minasy syaythaanir rajiimi alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiina. Allaahumma shalli wa sallim ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin. Allaahumaghfirlii dzunuubii waftah lii abwaaba rahmatika.

    Artinya : Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Dan demi wajah-Nya Yang Maha Mulia dan dengan kekuasaan-Nya Yang tak berpermulaan (berlindung aku) dari kejahatan syaitan yang terkutuk. Segala puji kepunyaan Allah Tuhan semesta alam. Ya Allah, sanjung dan selamatkanlah Nabi Muhammad saw. Dan keluarganya. Ya Allah, ampunilah segala dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmat-Mu. (h.r. Abu Daud)

    Allaahummaftah lii abwaaba rahmatika.

    Artinya : Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu. (h.r. Muslim)

    16. Do’a Keluar Masjid

    Allaahumma innii as’aluka min fadhlika

    Artinya : Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karunia-Mu. (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasa’I dan Ibnu Majah)

    17. Do’a Masuk WC

    Allaahumma innii a’uudzubika minal khubutsi wal khabaa’itsi.

    Artinya : Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari syaitan besar laki-laki dan betina. (HR. Bukhari dan Muslim)

    18. Do’a Keluar WC

    Ghufraanaka. Alhamdulillaahil ladzii adzhaba ‘annjil adzaa wa’aafaanii.

    Artinya : Ku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakitku dan telah menyembuhkan/menyelamatkanku. (HR. Abu Daud)

    19. Sewaktu Bepergian

    Allahumma bika asra’iinu wa ‘alayka atawakkalu. Allaahumma dzallil lii shu’uubata amrii wa sahhil ‘alayya masyaqqata safarii warzuqnii minal khayri aktsara mim maa athlubu washrif ‘ annii kulla syarrin. Rabbisyarahlii shadrii wa yassirlii amrii. Allaahumma innii astahfizhuka wa astawdi’uka nafsii wa diinii wa ahlii wa aqaaribii wa kulla maa an’amta ‘alayya wa ‘alayhim bihi min aakhiratin wa dun-yaa, fahfazhnaa ajma’iina min kulli suu’in yaa kariimu, da’waahum fiihaasubhaanakallahumma wa tahiyyatuhum fitha salaamun, wa aakhiru da’waahum ‘anil hamdu lilaahi rabbil ‘ aalamiiina, wa shallallahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aalihii wa shahbihii wa sallama.

    Artinya : Ya Allah, aku memohon pertolongann-Mu dan kepada-Mu aku menyerahkan diri. Ya Allah, mudahkanlah kesulitan urusanku dan gampangkanlah kesukaran perjalananku, berilah padaku rezeki yang baik dan lebih banyak dari apa yang kuminta. Hindarkanlah dariku segala keburukan. Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah segala urusanku.

    Ya Allah, kumohon pemeliharaan-Mu dan kutitipkan diriku kepada-Mu, agamaku, keluargaku, kerabatku dan semua yang Engkau ni’matkan padaku dan kepada mereka, semenjak dari akhirat dan dunia. Peliharalah kami semua dari keburukan, Ya Allah Yang Maha Mulia. Do’a mereka (dalam surga) ialah : “Subhaanakallahumma” (artinya : Maha Suci Engkau ya Allah). Ucapan sanjungan mereka di dalamnya ialah : “Salaam” (artinya : keselamatan).

    Dan akhir do’a mereka padanya ialah ” “Alhamdulillahi rabbil aalamiin”, (artinya : Segala puji bagi Allah Tuhan seantero alam). Dan semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan kepada Nabi Muhammad saw. Dan kepada keluarganya dan kepada sahabatnya, semoga Allah memberinya keselamatan. (Disebutkan oleh an-Nawawi)

    20. Do’a Tiba di Tujuan

    Alhamdulillaahil ladzi sallamanii wal ladzii aawaanii wal ladzii jama’asy syamla bii.

    Artinya : Segala puji bagi Allah, yang telah menyelamatkan aku dan yang telah melindungiku dan yang mengumpulkanku dengan keluargaku.

    21. Do’a Ketika Bercermin

    Alhamdulillaahil ladzii sawwaa khalqii fa’addalahu wa karrama shuurata wajhii fahassanahaa waja’alanii minal muslimiina.

    Artinya : Segala puji bagi Allah yang menyempurnakan kejadianku dan memperindah dan memuliakan rupaku lalu, membaguskannya dan menjadikan aku orang Islam. (HR. Ibnu as-Sani)

    Allaahumma kamaa hassanta khalqii fahassin khuluqii

    Artinya : Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pulalah akhlakku. (HR. Ahmad)

    22. Do’a Ketika Hendak Berpakaian

    Biismilaahirrahmaanirrahiimi. Allaahumma innii as-aluka min khayrihi wa khayri maa huwa lahu wa a’uudzubika min syarrihi wa khayri maa huwa lahu.

    Artinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan pakaian ini dan dari kebaikan sesuatu yang ada di pakaian ini. Dan aku berlindung pada-Mu dari kejahatan pakaian ini dan kejahatan sesuatu yang ada di pakaian ini.

    Alhamdulillahilladzii kasaanii hadzaa wa razaqaniihi min ghayri hawlin minnii wa laa quwatin.

    Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan pakaian ini kepadaku dan mengkaruniakannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku. (HR. Ibnu as-Sani)

    23. Do’a Ketika Hendak Bersetubuh

    Bismillaahi, allahumma jannibnasy syaythaana wa jannibisy syaythaana maa razaqtanaa.

    Artinya : Dengan nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami. (HR. Bukhari)

    24. Do’a Masuk Pasar

    Bismillahi, allahumma innii as-aluka khayra haadzihiz suuqi wa khayra maa fiihaa, wa a’uudzu bika min syarri haadzihis suuqi wa min syarri maa fiithaa. Allahumma innii a’uudzu bika an ushiiba fiihaa yamiinaam faajiratan aw shafagatan khaasiratan.

    Artinya : Dengan nama Allah ya Allah aku memohon pada-Mu kebaikan pasar ini dan kebaikan yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pasar ini dan dari keburukan yang ada didalamnya. Dan aku berlindung pada-Mu dari sumpah palsu dan dari suatu pembelian atau penjualan yang merugikan. (HR. Hakim)

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 7 February 2013 Permalink | Balas  

    Fadha’il Al-Quran

    Fadha’il artinya kelebihan atau keutamaan. Ketertarikan kita terhadap sesuatu (atau tidak) bergantung pada ilmu kita tentang kelebihan atau kegunaan sesuatu itu. Agar manusia tertarik kepada Alquran, Rasulullah Saw pun memberi banyak fadha’il al Qur’an. Meski demikian, ketertarikan manusia kepada Alquran pun sangat bergantung pada iman dan keyakinannya kepada janji Allah Swt dan Rasul-Nya. Misalnya, Umar bin Khatthab Ra sangat tertarik kepada Alquran setelah membaca firman Allah Swt

    Artinya : “Thaha, Tidaklah Kami turunkan Alquran ini agar kamu sengsara.” (QS Thaha: 1-2)

    Sebaliknya, Walid bin Mughirah – walaupun sangat tertarik kepada Alquran dengan memuji setinggi-tingginya pada akhirnya ia tidak beriman kepada Alquran dan berusaha mencari alasan untuk menjauhkan diri dengan mengatakan “Itu adalah sihir yang diajarkan kepada Muhammad “. Oleh karena itu, keimanan yang telah Allah Swt karuniakan kepada kita hendaknya kita tingkatkan sehingga menumbuhkan ketertarikannya kepada Alquran melalui penjelasan Rasul-Nya. Fadha’il al-Qur’an yang diberikan kepada manusia dibagi menjadi dua, fadha’il di dunia dan fadha’il di akhirat.

    Fadha’il Al Qur’an di Dunia

    1. Allah Swt mengangkat derajat Ahl al Qur’an (manusia yang senantiasa berinteraksi dengan Alquran) menjadi keluarga Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda,

    “Sesungguhnya di antara manusia terdapat keluarga Allah Swt.” Ditanyakan, ” Siapakah mereka, ya Rasulullah ? ” Rasul Saw menjawab, ” Mereka adalah ahl al-Qur’an. Mereka keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.” (HR Imam Ahmad)

    Kata ahlu (keluarga) menunjukkan hubungan yang dekat antara Allah Swt dan hamba-Nya. Kedekatan itu melambangkan kecintaan dan cinta akan dapat meringankan manusia dalam melaksanakan seluruh perintah Allah Swt. Sekalipun berat, perintah yang susah pun akan menjadi mudah.

    2. Alquran adalah kenikmatan yang harus didamba-dambakan.

    ” Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan : Seseorang yang diberi Allah Alquran, lalu ia membacanya sepanjang malam dan siang. Seseorang yang diberi Allah harta, lalu ia belanjakan di jalan Allah sepanjang malam dan siang.”

    Penetapan Alquran sebagai nikmat yang harus didamba-dambakan adalah suatu isyarat agar orang beriman dapat membedakan nikmat yang hakiki dan semu. Kemampuan merasakan Alquran sebagai nikmat yang hakiki merupakan indikasi iman yang sehat dan keyakinan terhadap hari akhirat serta janji Allah Swt yang ada di dalamnya. Sebaliknya, ketidakmampuan manusia merasakan nikmat Alquran merupakan indikasi penyakit hubbud dun-ya (cinta dunia yang berlebihan), lemahnya iman kepada hari akhir, dan tidak yakin terhadap janji Allah Swt yang ada di dalamnya.

    3. Allah Swt menyandingkan derajat Ahlul Qur’an dengan para malaikat atau nabi yang telah diberi wahyu. Adapun yang kemampuan membaca Al-qurannya masih terbata-bata, Allah Swt memberinya dua pahala. Rasulullah Saw bersabda,

    ” Orang yang mahir berinteraksi dengan Alquran akan bersama para malaikat yang mulia dan taat, sedangkan yang membaca Alquran dengan terbata-bata dan ia merasa sulit, ia mendapatkan dua pahala.” (HR Imam Muslim)

    Imam Nawawi dalam kitab Syarh Muslim menjelaskan bahwa kata mahir berarti mampu membaca, menghafal, memahami, tadabbur, dan mengamalkan Alquran. Pribadi yang seperti itu sangat diperlukan masyarakat karena akan berfungsi sebagai cahaya pencerah hidup Islami di tengah masyarakatnya. Adapun dua pahala bagi muslim yang bacaannya terbata-bata merupakan himbauan agar ia terus rajin membaca walaupun masih terbata-bata karena Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan kesulitan upayanya dalam membaca. Dua pahala baginya bukan berarti legitimasi bagi yang tidak mampu membaca Alquran untuk tidak mengembangkan kemampuannya. Janji itu harus menjadi motivasi yang kuat untuk terus berinteraksi dengan Alquran. Interaksi yang teratur menjamin bacaan seorang muslim yang terbata-bata menjadi lancar. Ingat ungkapan, “alah bisa oleh biasa.” Adapun yang sudah mahir, ia harus berusaha istiqamah bersama Alquran.

    4. Ahl al Qur’an adalah orang yang paling berhak menjadi imam dalam solat. Rasulullah Saw bersabda,

    ” Orang yang berhak menjadi imam adalah orang yang paling banyak interaksinya dengan Alquran. ”

    Rekomendasi Rasulullah Saw itu bukan semata-mata penghargaan terhadap Ahlul Qur’an, melainkan menunjukkan peran yang harus diutamakan di tengah masyarakat, yaitu peran tarbiyah (pembinaan keimanan) dalam kehidupan masyarakat. Pelaksanaan solat setiap hari di masjid sesungguhnya merupakan kegiatan tarbiyah yang sangat efektif bagi setiap mukmin jika didukung, misalnya, dengan imam yang berkualitas sesuai rekomendasi Rasulullah Saw. Namun, kondisi masyarakat kita saat ini masih jauh dari interaksi Alquran yang tinggi sehingga pelaksanaan solat berjamaah di masjid kehilangan ruh dan atsarnya (dampak). Dengan kondisi seperti itu, ada beberapa kerugian yang dialami umat Islam.

    Pertama, umat menjadi tidak terbiasa dengan ayat-ayat Alquran karena selama bertahun-tahun mereka hanya mendengar ayat atau surat yang sama. Hal itu berdampak pada kesulitan mereka membaca atau menghafal Alquran karena jarangnya mereka mendengar ayat-ayat Allah Swt di sekitar mereka.

    Kedua, umat kurang merasakan ruh ayat – ayat Alquran sehingga kandungan Alquran tidak sampai dengan baik. Kandungan itu berupa ancaman, himbauan, perintah, atau larangan.

    Terakhir, peran Alquran sebagai pedoman hidup kurang tersosialisasi secara intensif. Hal itu berdampak pada banyaknya mutiara Alquran (seperti ayat-ayat tentang mengatur rumah tangga, ekonomi, dan bernegara) yang tidak tersampaikan secara rutin.

    5. Ahl alQur’an adalah orang yang selalu mendapat ketenangan, rahmat, naungan malaikat, dan namanya disebut-sebut Allah Swt,

    ” Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah lalu di antara mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya kecuali turun kepada mereka ketenangan yang diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah Swt menyebut nama-nama mereka di sisi makhluk yang ada di dekat-Nya,” (HR Imam Muslim)

    Mungkin kita bertanya, mengapa sedemikian tinggi penghargaan Allah Swt kepada orang-orang yang mempelajari Alquran, apalagi kepada orang yang mengamalkannya ?

    Sesungguhnya penghargaan Allah Swt itu merupakan rangsangan Rabbani agar manusia mau mengamalkan Alquran tanpa merasa berat, Ketika manusia mau mempelajari wahyu-Nya, itu merupakan indikasi keimanannya kepada kebenaran Allah Swt yang mutlak melalui firman-Nya. Sebaliknya, jika keimanannya kepada Allah Swt tipis dan lemah, manusia tidak akan siap melakukan amal apapun yang terkait dengan Alquran. Jangankan disuruh mengamalkan Alquran, sekadar membuka mushaf pun ia enggan melakukannya! Oleh karena itu, pantaslah jika penghargaan tadi diberikan Allah Swt hanya kepada Ahl al-Qur’an. Selanjutnya, kegiatan membaca dan mempelajari Alquran akan menguatkan keimanan sehingga Allah Swt menjadi Zat yang paling dicintai dalam hidupnya. Alquran pun akan menyirami hatinya yang gersang dan menjadikan hati itu lembut serta peka terhadap teguran Allah Swt. Keadaan itulah yang akan mengantarkan manusia kepada kesiapan mengamalkan Alquran di dalam hidupnya.

    6. Ahl alQur’an adalah orang yang mendapatkan kebaikan dari Allah Swt

    ” Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkan.” (HR Imam Bukhari)

    Kebaikan berarti keberkahan. Dan hidup yang penuh berkah menurut hadis tadi berarti hidup yang aktif bersama Alquran, bahkan dituntut untuk aktif belajar dan mengajarkannya karena diungkapkan dengan huruf waw dan bukan dengan fa’ atau tsumma yang artinya kemudian. ( Menunjukkan belajar dan mengajarkan Alquran sekaligus, bukan belajar dulu hingga menguasai baru mengajarkannya, peny.)

    Bagaimana jika kemampuan kita masih terbatas? Ada dua hal yang harus kita perhatikan tentang mengajarkan Alquran.

    Pertama, mengajar berarti menyampaikan sehingga secara teknis tidak harus dalam bentuk formal dengan jumlah murid yang banyak. Kepada satu orang saja-anak atau istri-sudah dianggap mengajar Alquran. Untuk itu, jangan pernah berpikir bahwa mengajar berarti harus formal dengan jumlah murid yang banyak sehingga hal itu akan menghambat percepatan pengajaran Alquran di tubuh umat ini.

    Semangat mengajar seperti itulah yang dapat mengem ban misi dakwah ke dalam masyarakat. Ingat, sasaran pertama dakwah adalah dimulai dari satu orang. Sabda Rasulullah Saw,

    ” Sesungguhnya,hidayah Allah yang berikan kepa- da seseorang karena usahamu adalah lebih baik bagimu daripada onta merah (**) “

    ** Unta merah di zaman Rasulullah Saw adalah kendaraan termahal yang harganya ratusan dinar (mata uang dari emas) dan jauh lebih mahal dibandingkan mobil mewah yang ada di masa sekarang.

    Kedua, mengajar Alquran memang harus dengan kemampuan yang optimal. Namun, bagaimana jika di lingkungan kita tidak ada orang yang siap mengajarkan Alquran kecuali kita? Dalam hal itu, kita wajib segera menghapus buta huruf Alquran di lingkungan kita. Ibaratnya, jika tetangga kita kelaparan dan kita tidak memiliki apa-apa kecuali nasi, kita pasti akan memberikan nasi itu dan tidak akan menunggu sampai kita memiliki nasi dengan lauk empat sehat lima sempurna. Begitulah ketentuan bagi orang yang terbatas kemampuannya dalam mengajarkan Alquran kepada umat yang sedang lapar akan hidayah Allah Swt. jadi, kita harus segera turun tangan mengajarkan Alquran. Insya Allah, selama proses belajar dan mengajar itu, setiap kekurangan akan tertutupi dengan sendirinya. Kemampuan tidak akan berhenti, bahkan akan terus meningkat.

    Fadha’il Al Qur’an di Akhirat

    Berikut ini beberapa fadha’il alQur’an di akhirat bagi manusia :

    1. Alquran Menjadi Syafaat bagi Manusia yang menjadi Sahabatnya

    ” Bacalah Alquran karena sesungguhnya ia akan tatang pada Hari Kiamat sebagai syafaat bagi orang-orang yang menjadi sahabatnya (Alquran).” (HR Imam Bukhari)

    Membaca merupakan langkah pertama membangun persahabatan kita dengan Alquran. Membaca Alquran membangun cinta kalamullah dan kecintaan itu akan memotivasi kita untuk lebih memahami, merenungi, mengamalkan, dan memperjuangkan Alquran sehingga wahyu Allah Swt menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita.

    Saya-penulis-yakin kondisi persahabatan seperti itulah yang dimaksudkan nasehat Rasulullah Saw itu. Terbukti kondisi seperti itu yang dicontohkan Rasulullah Saw, para sahabat, dan semua salafush shalih. Untuk itu, janganlah meremehkan satu langkah awal dalam berinteraksi dengan Alquran seperti halnya tidak boleh kita merasa puas hanya dengan satu interaksi, misalnya hanya tertarik membaca Alquran tanpa tergugah untuk lebih menyelaminya.

    Hadis itu pun mengingatkan kita tentang manfaat Alquran yang tidak hanya di dunia, tetapi di akhirat juga karena Rasulullah Saw mengangkat isu tentang pentingnya pertolongan pada hari kiamat. Alquran sendiri dengan luas menjelaskan suasana kehidupan akhirat mulai dari Hari Kiamat, kebangkitan, sampai ganjaran di surga dan neraka. Hadis tadi pun memiliki korelasi yang kuat dengan ayat-ayat Alquran dengan menjanjikan pertolongan melalui syafaat Alquran bagi siapa saja yang bersahabat dengannya.

    2. Alquran Menjadi Pembela bagi Manusia saat Menghadapi Pengadilan Allah Swt

    Dari Nazvwas bin Sam’ an Ra, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘ Pada hari Qiamat, didatangkan Alquran dan ahlinya, yaitu orang-orang yang dulu mengamalkannya di dunia. Sural al Baqarah dan Ali Imron pun maju mendampingi dan membelanya.” (HR Imam Muslim)

    Hadits ini sangat banyak memuat pesan-pesan keimanan terhadap hari akhirat. Bagi seorang muslim, tidak ada pilihan lain kecuali yakin sepenuhnya terhadap penjelasan Rasulullah Saw bahwa Alquran akan menjadi makhluk yang berperan seperti manusia ia dan dapat diperintahkan untuk datang, maju ke depan, bahkan membela manusia dengan gigih bagaikan seorang pengacara profesional. Itu langkah awal yang harus ada dalam diri kita ketika membaca hadits Rasulullah Saw itu. Tanpa sikap itu, iman kita menjadi batal karena berarti menolak kerasulan Muhammad Saw yang pasti benar dalam ucapannya. Tanpa sikap itu pula, kita tidak akan termotivasi untuk berinteraksi dengan Alquran seperti kandungan hadis itu.

    Hadis itu secara tidak langsung memberitahu juga bahwa tidak semua manusia mendapat pembelaan dari Alquran. Hadits Rasulullah Saw itu hanya meliputi manusla yang di dunianya betul-betul mengamalkan Alquran. Itu berarti komitmen terhadap Alquran tidak cukup hanya dengan komitmen lisan seperti tilawah, menghafal, dan mengkajinya, tetapi butuh pula komitmen badan dan hati yang harus bergerak sesuai dengan tuntutan Alquran. Misalnya, berinfak jika Alquran menyuruhnya berinfak, berjihad jika Alquran menyuruhnya berjihad, dan melakukan perintah lainnya. Dua komitmen itulah yang akan menjadikan manusia dibela Alquran di pengadilan Allah Swt yang saat itu tidak ada pengacara, ternan dekat, atau siapa pun yang dapat membela manusia.

    3. Alquran Mengangkat Kedudukan Manusia di Surga

    Dari Abdullah bin’ Amr bin’ Ash Ra, dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda, ” Dikatakan kepada Shahib Alquran, ‘ Bacalah dan naiklah dan nikmatilah seperti halnya kamu menikmati bacaan Alquranmu di dunia ! Sesungguhnya, kedudukanmu ada di akhir ayat yang kamu baca.” (HR Imam Abu Dawud dan Imam Turmudzi)

    Sekali lagi Rasulullah Saw mengingatkan kita bahwa keutamaan Alquran di akhirat ada di balik persahabatan manusia dengannya sehingga mereka yang mendapatkan kemuliaan dari Alquran disebut dengan Shahib. Di hadis itu, Shahib Alquran akan tetap menikmati kembali lantunan ayat-ayat Alquran di saat tidak ada lagi mush-haf untuk membaca Alquran.

    Hal ini mengingatkan kita pada kisah-kisah orang-orang beriman saat sakaratu/ maut. Pada umumnya, orang-orang yang sangat dekat dengan Alquran pada saat-saat itu selalu melantunkan ayat-ayat Alquran dengan fashih dan indah seakan mereka masih sehat dan jauh dari kematian.

    Begitulah mukjizat Alquran yang selalu ingin bersama sahabatnya di saat yang pada umumnya manusia tidak mungkin lagi mengingat Alquran. jadi, hadis itu sangat logis jika terjadi pada manusia. Bahkan kejadian itu akan mengantarkan manusia pada tingkatan surga yang sesuai dengan banyaknya ayat Alquran yang ia hafal.

    4. Alquran Sumber Pahala bagi Orang yang Beriman

    Rasulullah Saw bersabda, ” Siapa saja yang membaca satu huruf.Alquran, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif-lam-mim itu satu huuf, melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf ” (HR Imam Turmudzi deiigan sanad hadis hasan sahih)

    Keimanan kita kepada akhirat mengharuskan kita meyakini janji pahala dan hukuman Allah Swt. jadi siapa pun yang yakin dengan hadis itu akan memiliki motivasi yang tinggi dalam hidup bersama Alquran dengan memperbanyak tilawah bahkan menghafalnya agar terjadi pengulangan tilawah yang sangat besar. Tanpa keyakinan itu manusia pun tidak akan kuat menyibukkan dirinya dengan Alquran, apalagi jika terus berlangsung sampai akhir hayatnya. Sungguh rugi orang yang hidupnya jauh dari Alquran karena tertutup baginya kesempatan mendapatkan limpahan pahala yang sangat besar dari Allah Swt melalui Alquran. Dari hadis itu pula kita dapat merasakan luasnya rahmat.Allah Swt kepada orarg mukmin. Bayangkan jika Allah tidak menurunkan Alquran atau mencabutnya seperti ancaman-Nya. (QS al-lsra'; 86-87)

    5. Alquran Mengangkat Derajat Orangtua di Akhirat bagi Orangtua yang Berhasil Mendidik Anaknya dengan Alquran.

    “Siapa saja yang belajar Alquran dan mengamalkannya, pada hari kiamat (Allah Swt) akan memberikan kepada kedua orangtuanya mahkota yang cahayanya lebih indah dari cahaya matahari. Kedua orangtua itu akan berkata, “Mengapa kami diberi (mahkota) ini ?” Dijawablah, ‘ Itu karena anakmu telah mempelajari Alquran. “(HR Imam Abu Dazuud, Imam Ahmad, dan Imam Ibnu Hakim)

    Hadits itu menunjukkan bahwa Alquran adalah sumber kemuliaan. Siapa saja yang berinteraksi dengannya akan dimuliakan Allah Swt. Bahkan orangtua yang mengajarkan Alquran kepada anaknya pun dimuliakan Allah Swt. Sebaliknya, siapa saja yang menjauhkan dirinya dari Alquran akan direndahkan Allah Swt secara pribadi maupun secara jama’i. Dalam kenyataan sejarahnya, umat Islam adalah Umat yang paling mulia di muka Bumi ini bersama Al-Quran. Sebaliknya, umat Islampun adalah umat yang sangat terhina karena meninggalkan Al-qur’an.

    Silahkan Download sinopsis buku Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah di http://www.pks-kab-bekasi.org

    Sumber : Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah – Abdul Aziz Abdur Rouf, Lc

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 6 February 2013 Permalink | Balas  

    Etika Berdo’a

    Dalam berinteraksi dengan manusia, ada etika, sopan santun, dan adab. Menjaga pola interaksi dan komunikasi yang baik, akan menjamin hubungan yang baik dengan sesama. Begitupun sebaliknya. Tanpa etika, sopan santun dan adab, hubungan sesama manusia akan sulit menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Ilustrasi ini, akan mengawali, bagaimana kita menjalin hubungan, komunikasi dan interaksi yang baik dengan Allah SWT melalui do’a.

    Tentu ada beberapa langkah yang diajarkan Allah, Rasulullah dan para salafushalih agar kita bisa berdo’a dengan baik.

    Pertama, pilihlah waktu-waktu yang tepat untuk berdo’a. Sebenarnya berdo’a itu tidak terikat dengan waktu, tetapi Islam memang mengajarkan ada waktu yang paling baik dan istimewa untuk berdo’a. Beberapa waktu istimewa untuk dikabulkannya do’a antara lain di malam qadar (sepuluh malam terakhir dalam bulan Ramadhan), di hari Arafah (9 Zulhijjah di kala jemaah haji wukuf di Arafah), di bulan Ramadhan, di hari Jum’at, di sepertiga malam yang terakhir (sesudah jam 2 malam), pada waktu sahur (sebelum fajar), sesudah berwudhu, usai azan sebelum iqamat, ketika sedang berpuasa, ketika dalam medan jihad, di setiap selesai shalat fardu, pada waktu sedang sujud (dalam sholat atau di luar sholat), ketika sedang musafir atau bepergian, dan sebagainya. Termasuk di sini, adalah tidak menyia-nyiakan untuk berdo’a di tempat-tempat yang istimewa, seperti di Masjidil Haram, misalnya.

    Kedua, gunakan keberadaan diri kita untuk meraih kesempatan berdo’a. Rasulullah menjelaskan, di antara do’a yang mustajab adalah do’a orang tua untuk anaknya, atau do’a anak yang berbakti dengan baik kepada orang tuanya, dan do’a seorang muslim untuk saudaranya yang muslim, tanpa diketahui oleh saudara yang dido’akan itu. Maka, bila kita menjadi orang tua, perbanyaklah do’a untuk anak-anak. Bila kita menjadi anak, berusahalah untuk berbakti kepada orang tua, agar do’a kita terkabulkan. Dan, jangan lupa seringlah berdo’a untuk saudara dengan diam-diam. Karena Allah berjanji akan memberi untuk kita, apa yang kita mintakan untuk saudara kita itu. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendo’akan saudaranya secara diam-diam, kecuali malaikat berkata,  ‘dan untukmu seperti apa yang engkau mintakan untuknya.” (HR. Muslim).

    Ketiga, mulailah berdo’a dengan memperbanyak puji-pujian kepada Allah. Memulai dengan tahmid (pujian terhadap Allah) dan shalawat kepada Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam. Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang di antara kamu berdo’a, hendaknya memulai dengan memuji dan menyanjung Rabbnya, dan bershalawat kepada Nabi, kemudian berdo’a apa yang dia kehendaki.” (HR.Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani). Ibnu Mas’ud ra pernah berdo’a, ia memulai dengan tahmid, kemudian bershalawat, kemudian diteruskan dengan do’a untuk kebaikan dirinya. Maka Rasulullah yang ketika itu mendengarnya mengatakan, “Mintalah pasti kamu diberi, mintalah pasti kamu diberi.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih, dan Abdul Qadir Al-Arnauth berkata, sanadnya hasan).

    Keempat, mengangkat kedua tangan. Ini adalah salah satu sikap yang menunjukkan kebutuhan seorang hamba dalam berdo’a. Perhatikanlah sabda Rasulullah yang berbunyi, “Sesungguhnya Rabbmu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia, malu dari hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangannya (memohon) kepada-Nya kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangannya.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Al-Albani).

    Kelima, jangan mengeraskan suara. Cukup berdo’a dengan suara samar. Menghinakan diri di hadapan-Nya dan menampakkan kebutuhan yang sangat. Cukup denqan kata-kata yang sederhana, jelas. Utamakan materi do’a yang berasal daripada Rasulullah SAW, sahabat atau salafushalih. Allah berfirman, “Berdo’alah kepada Tuhan kalian dengan merendahkan diri dan suara pelan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.Al-A’raf: 55).

    Keenam, sebelum berdo’a, ucapkan istighfar dan mohon ampun kepada Allah atas seluruh kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Mintalah dengan penuh kesungguhan ampunan (maghfirah) Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahuinya, baik yang diingat maupun yang terlupa. Sebab bagi Allah, tak ada sesuatu yang tersembunyi. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan apa yang ada diantara keduanya. Dia juga mengetahui apa yang kita rahasiakan dari urusan kita, dan apa yang kita nyatakan. Allah berfirman: “Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.” (Qs. Al Baqarah: 284). “Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al-Mukmin: 19). Memohon ampun disertai dengan taubat yang benar dan niat yang ikhlas demi Allah akan menyucikan jiwa dan membersihkannya dari dosa-dosa.

    Ketujuh, konsentrasi dan khusyu’. Pahami dan resapi benar-benar apa yang kita minta. Berdo’a tidaklah sekadar melafadzkan bait-bait yang dihafal tanpa mengerti maknanya, tetapi harus benar-benar memahami dan menginginkan dikabulkannya do’a itu. Rasulullah bersabda: “Mohonlah kepada Allah sementara kamu sangat yakin untuk dikabulkan, dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan do’a dari hati yang lalai dan bermain-main.” (HR. At-Tirmidzi, di hasankan oleh Al-Mundziri dan Al-Albani). Ketidaksesuaian sikap sewaktu berdo’a turut mempengaruhi kesempurnaan berdo’a. Jangan sampai kita berdo’a, sementara hati kita ngelayap entah ke mana. Ingat, perbuatan manusia hanya bermakna jika disertai kesadaran hati, oleh karena itu Allah hanya menilai perbuatan manusia yang berpijak pada kesadaran hati. Demikian juga do’a kepada Allah, yang didengar bukan bunyi kata-kata, tetapi kesadaran hati orang yang berdo’a. Menurut Hadist Riwayat Tirmizi, Allah tidak mendengarkan dan tidak mengabulkan do’a dari orang yang hatinya lalai (min qalbi ghafilin lahin).

    Kedelapan, hindari berdo’a untuk keburukan. Seorang muslim dilarang keras mendo’akan kemusnahan dan kehancuran sesama muslim, karena Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya (seagama) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Rasulullah tidak pernah mengajukan permohonan yang buruk untuk siapa pun. Bahkan pernah, ketika malaikat gunung menawarkannya untuk membalas perilaku keji penduduk Thaif, Rasul tetap menolak dan berharap agar keturunan mereka yang beriman. Rasulullah ketika itu malah berdo’a, “Ya Allah, berilah hidayah dan petunjuk-Mu kepada kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

    Kesembilan, tidak tergesa-gesa agar do’a itu dikabulkan. Rasulullah bersabda: “Akan dikabulkan bagi seseorang di antara kamu selagi tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata, ‘Saya telah berdo’a tetapi tidak dikabulkan’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk penyakit yang menghalangi terkabulnya do’a adalah tergesa-gesa, menganggap lambat pengabulan do’anya sehingga ia malas untuk berdo’a lagi.” Padahal bisa jadi antara do’a dan jawabannya memerlukan waktu 40 tahun, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. (Abu Lairs As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin). Ibnul Jauzi berkata: “Ketahuilah bahwa do’a orang mukmin itu tidak akan ditolak, hanya saja terkadang yang lebih utama baginya itu diundur jawabannya atau diganti dengan yang lebih baik dari permintaannya, cepat atau lambat.” (Fathul Bari, 11/141).

    Kesepuluh, berdo’alah kepada Allah di segala kondisi dan keadaan. Jangan hanya berdo’a di saat-saat sempit dan membutuhkan pertolongan. Dalam Al Qur’an, Allah SWT banyak menyinggung sikap orang-orang yang hanya berdo’a dalam situasi kepepet. “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Qs. Yunus: 12).

    Selain hal-hal di atas, tentu, soal terpenting lainnya adalah ikhlas dan hati yang bersih. Murnikan harapan dan keinginan dalam do’a untuk kebaikan mencapai ridha Allah. Ingat, kehadiran kita di muka bumi ini membawa misi ibadah dan untuk tunduk kepada Allah saja. Itulah tujuan akhir hidup seseorang yang sebenarnya. Maka, permohonan apa pun yang kita sampaikan, harus selalu dikaitkan dengan keridhaan Allah SWT. Wallahu’alam.

    ***

    Dari Sahabat

    beranda.blogsome.com

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 4 February 2013 Permalink | Balas  

    Tolok Ukur Kebenaran

    Apa dasarnya suatu pendapat/keyakinan dikatakan benar, atau salah?

    Di dalam kehidupan kita sehari-hari, sering kali suatu pendapat dikatakan benar karena pendapat itu telah diterima dan dijalankan secara turun temurun sejak zaman dahulu. Kita mendapati orang tua kita meyakini seperti itu, orang tua kita mendapati keyakinan yang sama dari kakek dan nenek kita, dan seterusnya.

    Padahal kalau kita perhatikan, suatu keyakinan terbentuk menjadi tradisi adalah karena ia dilakukan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi, terlepas apakah yang dilakukan itu benar atau salah.

    Al-Qur’an menggambarkan bagaimana manusia secara keliru telah mengidentikkan tradisi dengan kebenaran. Ketika diajak untuk mengikuti apa yang diturunkan Allah, mereka yang ingkar menolaknya dan memilih untuk mengikuti apa yang sudah menjadi tradisi dari dulu.

    “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang Allah turunkan’. Mereka berkata, ‘(tidak) bahkan kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami.’ Padahal nenek moyang mereka tidak memahami sesuatu, dan tidak mendapat petunjuk.” (Q.S. 2:170)

    Sandaran berikutnya yang juga sangat umum digunakan orang dalam menetapkan benar atau salahnya suatu keyakinan adalah pendapat umum. Orang-orang ini melakukan sesuatu semata-mata karena kebanyakan orang juga melakukan hal yang sama. Mereka menyandarkan tindakannya pada sebuah asumsi bahwa tidaklah mungkin sekian ratus juta atau sekian milyar orang telah mempraktikkan sesuatu yang salah.

    Terdapat rasa aman dan nyaman ketika melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebanyakan orang. Perasaan tersebut manusiawi sifatnya, karena jumlah pendukung yang banyak cenderung meningkatkan “kesan benar” suatu keyakinan.

    “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu beruntung.” (Q.S. 5:100)

    Namun di balik aman dan nyaman yang dirasakan itu, perlu diingat bahwa sesuatu yang dilakukan oleh kebanyakan orang bukanlah jaminan kebenaran. Ketika ratusan juta orang sama-sama memelihara asumsi (persangkaan) bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, sedangkan al-Qur’an berkata lain, maka hasil akhirnya adalah semua akan sama-sama salah dan salah sama-sama.

    “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah, mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka dan mereka hanyalah berdusta.” (Q.S. 6:116)

    Fatwa dari orang-orang yang memiliki pengaruh seperti pemuka agama adalah alternatif lain pedoman kebenaran bagi banyak orang. Kondisi ini didukung oleh kenyataan bahwa kebanyakan orang menyukai kemudahan dengan “menerima jadi” fatwa-fatwa agama daripada coba menelaah sendiri kitab al-Qur’an yang telah diturunkan Allah untuk manusia.

    Ironisnya, para pemuka agama yang telah diberi kepercayaan ini pun tidak luput dari kemungkinan menjadi berhala yang akan menyesatkan manusia dengan cara mengeluarkan fatwa yang berlainan dari apa yang telah diturunkan oleh Allah.

    “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan pemuka agama dan rahib memakan harta manusia dengan cara palsu, dan menghalangi dari jalan Allah…” (Q.S. 9:34)

    Di Akhirat banyak manusia yang menyesal karena telah mentaati pemuka-pemuka mereka ketika di dunia.

    “Dan mereka berkata: `Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami. Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)’.” (Q.S. 33:67)

    Karena itu, dukungan dari orang-orang yang terkemuka bukanlah jaminan kebenaran suatu pendapat atau keyakinan.

    Dalam kaitannya dengan kecenderungan manusia kepada materi, adapula orang yang ketika dihadapkan kepada suatu pilihan, ia meniliknya berdasarkan ukuran materi. Seakan-akan kebenaran itu pastilah berada di pihak yang dikaruniai keunggulan materi.

    Cara pandang yang dangkal ini juga telah terjadi sejak dahulu. Di dalam al-Qur’an dikisahkan bagaimana orang-orang yang tidak beriman bermaksud membandingkan tempat tinggal dan majelisnya dengan golongan mereka yang beriman. Allah ingatkan bahwa bahkan generasi terdahulu yang lebih mewah daripada mereka telah dmusnahkan oleh Allah karena keingkarannya.

    “Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepada mereka, bukti-bukti yang jelas, orang-orang yang tidak beriman berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Yang manakah antara dua golongan yang lebih baik tempatnya, dan lebih baik majelisnya?’ Dan berapa banyaknya generasi yang Kami telah musnahkan sebelum mereka yang lebih baik peralatan rumah dan penampakan luarnya!” (Q.S. 19:73-74)

    Allah menolak berbagai bentuk persangkaan yang dijadikan manusia sebagai tolok ukur kebenaran sebagaimana telah diuraikan di atas. Allah dengan lugas menetapkan bahwa suatu pendapat/keyakinan dikatakan benar adalah karena ia dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan Kitab Allah.

    “Alif Lam Mim Ra. Inilah ayat-ayat Kitab; dan apa yang diturunkan kepada kamu dari Rabb kamu adalah yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (Q.S. 13:1)

    Dan yang benar itu bisa jadi berbeda dengan apa yang sudah menjadi tradisi sejak dulu, dengan keyakinan banyak orang, ataupun dengan pendapat pemuka agama.

    ***

    http://allah-semata.com

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 1 February 2013 Permalink | Balas  

    Istiqomah

    Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyeimbang atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

    Dalil-dalil dan Dasar Istiqomah “Maka tetaplah (istiqomah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 11:112).

    Juga dalam ayat lain disebutkan, “Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Tuhan) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 41: 31-32)

    “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni- penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 46: 13-14)

    Ayat diatas menggambarkan urgensi istiqomah setelah beriman dan pahala besar yang dijanjikan Allah SWT seperti hilangnya rasa takut, sirnanya kesedihan dan surga bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keimanan dalam setiap kondisi atau situasi apapun.

    Hal ini dikuatkan hadits Nabi berikut ini. “Aku berkata: “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku satu perkataan DALAM Islam yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun selain engkau. Beliau bersabda: “Katakanlah, `Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah (jangan menyimpang).” (HR. Muslim dari Abu’ Amarah Sufyan bin Abdullah)

    Faktor-Faktor yang Melahirkan Istiqomah Ibnu Qayyim dalam “Madaarijus Salikiin” menjelaskan bahwa ada lima faktor yang mampu melahirkan istiqomah dalam jiwa seseorang sebagaimana berikut:

    1. Beramal dan melakukan optimalisasi

    “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar- benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. 22:78)

    2. Berlaku moderat antara tindakan melampaui batas dan menyia-nyiakan

    “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. 25:67)

    Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash: “Wahai Abdullah bin Amr, sesungguhnya setiap orang yang beramal memiliki puncaknya dan setiap puncak akan mengalami kefuturan (keloyoan). Maka barangsiapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada bid’ah, maka ia akan merugi” (HR. Iman Ahmad dari sahabat Anshor)

    3. Tidak melampaui batas yang telah digariskan ilmu pengetahuannya

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. 17:36)

    4. Tidak menyandarkan pada faktor kontemporal, melainkan bersandar pada sesuatu yang jelas – ikhlas

    Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. 98:5)

    5. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW bersabda: “Siapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perbedaan yang keras, maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khalifah Rasyidin (yang lurus), gigitlah ia dengan gigi taringmu.” (Abu Daud dari Al- Irbadi bin Sariah)

    Imam Sufyan berkata: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali bila ia disertai amal, dan tidaklah lurus perkataan dan amal kecuali dengan niat, dan tidaklah lurus perkataan, amal dan niat kecuali bila sesuai dengan sunnah.”

    ***

    die *Buleti Jum’at Ummul Quro*

     
  • erva kurniawan 9:55 am on 30 January 2013 Permalink | Balas  

    Balasan Dari Jenis Amal

    Dari Abdurrahman As-Sulamy, dia berkata, “Aku masuk masjid, dan pada waktu yang sama Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berada diatas mimbar. Dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada salah seorang dari para nabi Bani Israel: Katakanlah kepada orang-orang yang taat kepada-Ku dari umatmu, `Janganlah mereka mengandalkan amal mereka, karena Aku tidak menggerakkan seseorang pada hari Kiamat saat hisab, kemudian Aku berkeinginan untuk mengazabnya melainkan Aku pun mengazabnya’. Katakan kepada orang-orang yang durhaka kepada-Kudari umat- mu, `Janganlah mereka putus asa, karena Aku mengampuni dosa-dosa besar, dan Aku tidak peduli. Tidak ada diantara penduduk kampung, tidak pula penduduk kota, dan tidak pula penduduk bumi, tidak pula orang khusus dan seorang wanita berada pada apa yang Kucintai, sehingga Aku pun berada pada apa yang dicintainya, kemudian dia beralih dari apa yang Kucintai kepada apa yang Kubenci, melainkan Aku juga beralih dari apa yang dicintainya kepada apa yang dibencinya. Sesungguhnya tidak ada dari penduduk kota, tidak pula penduduk bumi, laki-laki khusus maupun wanita, yang berada pada apa yang Kubenci, kemudian dia beralih dari apa-apa yang Kubenci kepada apa yang Kucintai, melainkan Aku juga beralih dari apa yang dibencinya kepada apa yang dicintainya’. Bukan termasuk golongan orang yang meramalkan keburukan atau meminta agar diramalkan baginya. Aku dengan akhlakku adalah bagiku.” (Diriwayatkan Ath- Thabrani di dalam Al-Ausath, di dalamnya ada Isa bin Muslim Ath Thahawy, yang menurut Abu Zar’ah, dia adalah lemah, sedangkan rijal yang lainnya tsiqat. Majma Az-Zawa’id, 1/307)

    Mengkhawatirkan Amal lebih Berat daripada Amal itu Sendiri

    Diriwayatkan dari Abud-Darda’, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya mengkhawatirkan amal lebih berat daripada amal itu sendiri. Sesungguhnya seseorang benar-benar mengerjakan amal lalu ditetapkan baginya amal orang lain yang shalih yang dikerjakannya secara sembunyi-sembunyi, yang pahalanya dilipatgandakan tujuh pluh kali. Lalu syetan senantiasa menghampirinya hingga dia menceritakan amalnya kepada manusia dan dia suka dirinya disebut-sebut dan dipuji karena amalnya itu, sehingga amalnya ditetapkan sebagai amal yang dilakukan secara terang-terangan dan sebagai perbuatan riya’. Hendaklah seseorang yang menjaga agamanya, takut kepada Allah dan seseungguhnya riya’ itu merupakan syirik.” (Diriwayatkan Al-Baihaqi. Menurut Al-Hafizh Abdul-Azhim, hadits ini mauquf. At-Targhib, 1/3).

    Orang yang Beramal untuk Mencari Ketenaran

    Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat ialah seseorang yang mati syahid. Dia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat- nikmatnya dan dia pun mengenalinya. Allah bertanya, `Apa yang kamu kerjakan didunia?’ Dia menjawab, `Aku berperang karena-Mu hingga aku mati syahid’. Allah berfirman, “Kamu dusta, tapi kamu berperang agar dikatakan, `Dia adalah seorang pemberani’. Maka memang begitulah yang dikatakan. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya agar dia ditelungkupkan wajahnya hingga dia dilemparkan ke neraka. Dan, seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkan serta membaca Al- Qur’an, dia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya sehingga diapun mengenalinya. Allah berfirman, `Apa yang kamu amalkan di bumi?’ Dia menjawab, `Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena-Mu’. Allah berfirman, `Kamu dusta. Tapi kamu mempelajari ilmu agar engkau dikatakan orang yang berilmu, dan kamu membaca Al-Qur’an agar kamu dikatakan, `Dia adalah qari’, dan memang begitulah yang dikatakan. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya hingga dia ditelungkupkan pada wajahnya hingga dia dilemparkan ke neraka. Dan seseorang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberi-Nya berbagai macam harta, semuanya. Lalu dia didatangkan, lalu diperkenalkan nikmat-bnikmatnya kepadanya sehingga diapun mengenalinya. Allah berfirman, `Apa yang kamu kerjakan di dunia?’ Dia menjawab, `Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau suka jika di keluarkan shadaqah padanya, melainkan aku mengeluarkan shadaqah padanya karena-Mu’. Allah berfirman, `Kamu dusta’. tapi kamu mengerjakannya agar dikatakan, `Dia adalah orang yang dermawan’, dan memang begitulah yang dikatakan’. Kemudian Allah memerintahkannya hingga dia ditelungkupkan pada wajahnya kemudian dia dilemparkan ke neraka.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi dan An- Nasa’i).[*]

    ***

    die *Khutbah-Khutbah Rasulullahh* Muhammad Khalil Al-Khatib

    Abu Luthfia

     
    • Faizah 1:16 pm on 6 Februari 2013 Permalink

      Saya cukup meminati artikel2 yang dilakarkan, dimana banyak nasihat dan peringatan2 yang perlu kita amalkan dalam kehidupan kita seharian. Artikel2 seperti di atas adalah satu-satu artikel yang paling saya
      Minati. Teruskan usaha anda, kerana artikel2 seperti sangat diperlukan oleh kita. Terima kasih kerana menggerakkan hati dan minat saya terhadap artikel2 seperti ini.

  • erva kurniawan 1:49 am on 29 January 2013 Permalink | Balas  

    Beristirahat Akan Sangat Membantu Kelanjutan Perjalanan

    Dalam syariah jelas sekali, ada kebebasan yang membantu seseorang  untuk meningkatkan kualitasnya dalam beribadah, dalam berimfak dan  dalam beramal shaleh. Rasulullah SAW sendiri biasa tertawa,  bercanda, dan tidak berbicara kecuali yang perlu-perlu saja.

    “Dan bahwasannya Dialah yang membuat manusia tertawa dan menangis.”  (QS. An-Najm: 43)

    Beliau pernah mengajak `Aisyah balapan lari, dan selalu bijaksana  mempertimbangkan kapan harus memberi nasihat kepada para shahabatnya  semata-mata untuk menghindarkan kebosanan pada diri mereka.  Rasulullah juga melarang sesuatu yang dibuat-buat, terlalu mendalam,  dan menyulitkan diri sendiri. Beliau pernah mengabarkan bahwa orang  yang mempersulit dirinya dalam menjalankan agama maka agama akan  benar-benar mempersulitnya. Dalam sebuah hadits juga disebutkan  bahwa agama ini sangat kuat dan tegas maka perlakukanlah dia dengan  lembut. Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa setiap hamba  itu memiliki vitalitasnya masing-masing yakni kekuatan, ketegasan,  dan kemampuan untuk menolak. Seseorang yang terlalu memaksakan diri  untuk melakukan yang terlalu berat akan hancur. Sebab dia hanya  melihat pada kondisi sekarang saja, tanpa memperhatikan apa saja  yang bisa terjadi secara tiba-tiba, berapa lamanya, dan sampai  dimana kebosanan itu karena selalu tertekan. Orang yang berpikir  akan menyadari bahwa dirinya memiliki batas minimal kemampuan untuk  menyelesaikan pekerjaannya secara marathon. Ketika suatu saat sedang  bersemangat maka dia akan menambah volume pekerjaan yang  diselesaikannya, dan ketika suatu saat sedang tidak bersemangat maka  dia akan bekerja dengan kemampuan minimalnya. Inilah makna dari  atsar shahabat: Jiwa itu memiliki kemampuan untuk maju dan untuk  mundur. Maka pergunakanlah kemampuan itu sebaik-baiknya tatkala  sedang maju, dan tinggalkanlah dia saat sedang mundur.

    Sejauh pengamatan saya, orang yang memaksakan diri untuk menambah  berat timbangan amalnya, terlalu banyak melakukan yang nafilah, dan  nekad melakukan amalan diluar batas kemampuannya, justru akan  terputus dari amalan itu dan kembali melemah, bahkan jauh lebih  lemah dari sebelumnya.

    Agama pada dasarnya, datang untuk membahagiakan umat manusia.

    “Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi  susah.” (QS. Thaha: 2)

    Allah menghinakan orang-orang yang membebani diri mereka dengan  sesuatu yang diluar batas kemampuannya, yang akhirnya harus menarik  diri dari dunia nyata dengan melanggar apa yang telah mereka  komitmenkan terhadap diri mereka sendiri.

    “Dan, mereka mengada-ngadakan rahbaniyah, padahal Kami tidak  mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada- ngadakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak  memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.” (QS. Al-Hadid:  27)

    Kelebihan Islam dibandingkan gama-agama lain didunia adalah bahwa  Islam itu agama fitrah, agama yang bersahaja, agama yang  memperhatikan sukma dan raga, dunia dan akhirat, dan agama yang  mudah.

    “(Itulah) agama yang lurus.” (QS. Ar-Rum: 30)

    Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri: “Ada seorang Arab Badui datang  kepada Rasulullah dan bertanya, `Wahai Rasulullah, siapakah orang  yang paling baik?’ Rasulullah menjawab, `Seorang mukmin yang  berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya, kermudian seeorang  yang mengasingkan diri di sebuah lembah untuk menyembah Rabbnya’.”  Dalam riwayat lain juga ditambahkan: “…, dan bertakwa kepada Allah,  serta meninggalkan manusia dari kejahatannya.”

    Masih dari Abu Said al-Khudri: “Saya mendengar Rasulullah  bersabda, `Hampir tiba masanya di mana sebaik-baik harta seorang  muslim adalah seekor domba yang menyusuri lereng-lereng gunung dan  di tempat mengembara (desa) karena melarikan diri membawa agamanya  untuk menjauhi fitnah’.” (HR. Bukhari)

    Umar bin Al-Khaththab pernah berkata, “Menyendirilah sewajarnya.”

    Sangat bagus pesan yang disampaikan oleh Junaid al- Baghdadi. “Menguat-nguatkan diri untuk ber’uzlah itu jauh lebih  mudah daripada harus memaksakan diri untuk bergaul dengan banyak  orang.”

    Al-Khaththabi mengatakan, “Seandainya manfaat ber’uzlah itu hanyalah  menghindarkan diri dari kebiasaan ghibah dan dari kebiasaan melihat  kemungkaran yang tidak mampu dia hilangkan, maka itu sudah merupakan  sesuatu kebaikan yang besar.”

    Ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Hakim dari Abu Dzar  secara marfu’ dengan sanad hasan: “Menyendiri itu lebih baik  daripada duduk dengan teman yang buruk budi pekertinya.”

    Al-Khaththabi menyebutkan dalam bukunya al-`Uzlah bahwa ber’uzlah  dan bergaul itu berbeda seiring dengan keadaan seseorang. Dalil- dalil yang diturunkan menyuruh untuk bergaul dengan orang lain  karena itu berkaitan dengan ketaatan kepada para pemimpin dan untuk  mengkaji masalah-masalah agama. Untuk pergaulan-pergaulan yang lain,  bagi yang sudah mempunyai penghidupan yang cukup dan kemampuan untuk  menjaga agamanya, maka lebih baik untuk mengurangi kegiatan itu  dengan tidak mempengaruhi kewajibannya untuk bershalat jamaah,  menjawab salam, menengok orang sakit, menghadiri pemakaman, dan lain  sebagainya.. Maksud mengurangi disini adalah mengurangi kontak  sosial yang berlebihan karena itu hanya akan membuat hati tidak  tenang dan waktu yang seharusnya untuk melakukan hal-hal yang lebih  penting terbuang sia-sia. Bergaul dengan orang lain tak ubahnya  kebutuhan tubuh terhadap makan dan minum. Artinya, dalam menghadapi  makanan dan minuman itu, seseorang harus bisa mendahulukan mana yang  dibutuhkan dan mana yang tidak, karena yang demikian itu lebih  bersih untuk tubuh dan hati.

    Al-Qusyairi dalam ar-Risalah mengatakan bahwa alasan orang memilih  ber’uzlah adalah untuk menghindarkan orang lain dari kemungkinan  kejahatan yang ia lakukan, bukan sebaliknya: menghindarkan dirinya  dari kemungkinan kejahatan yang dilakukan orang lain. Alasan  pertama, menghindarkan diri dari sikap merendahkan diri, karena itu  merupakan sifat orang yang merendahkan diri. Sedangkan alasan kedua,  karena keyakinan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain, yang  merupakan sifat orang yang sombong.

    Dalam masalah `uzlah , orang digolongkan menjadi tiga: dua golongan  ekstri dan satu golongan lagi moderat.

    Pertama, orang yang menjauh dari masyarakat sampai pada shalat  jum’at, shalat jama’ah, shalat hari raya, dan kumpulan-kumpulan yang  bertujuan baik lainnya. Mereka ini salah.

    Kedua, orang yang bergaul dan berbaur dengan masyarakat sampai dalam  hal-hal yang diikuti syetan, yang mengandung ketidakbenaran, gossip,  dan tak membuang waktu percuma. Mereka juga salah.

    Sedangkan kelompok ketiga adalah orang yang bercampur dengan  masyarakat dalam ibadah-ibadah yang hanya bisa dilakukan secara  berjama’ah, melibatkan diri dalam kegiatan yang prinsipnya saling  tolong-menolong untuk kebaikan, ketakwaan, dan mendatangkan pahala  dan ganjaran. Selain itu juga, menjauhi kegiatan-kegiatan yang  menghalangi kedekatannya dengan Allah dan melakukan kemubahan yang  berlebihan.

    “Dan, demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat  yang adil dan pilihan.” (QS. Al-Baqarah: 143)[*]

    ***

    die *La Tahzan* DR. Aidh al-Qarni

    Abu Luthfia

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 24 January 2013 Permalink | Balas  

    Mengenal Kematian

    Ketahuilah wahai penguasa dunia, bahwa manusia itu terdiri dari dua golongan: satu golongan yang memandang perkara dunia dan berangan- angan memiliki umur panjang. Golongan kedua adalah golongan orang- orang berakal yang menjadikan kematian sebagai cermin untuk melihat kemana tempat mereka kembali, bagaimana keluar dari dunia dengan keimanan yang tetap selamat. Mereka juga memikirkan apa yang akan mereka bawa dari dunia untuk bekal alam kubur mereka. Mereka juga memikirkan apa yang akan mereka tinggalkan untuk musuh-musuh mereka bencana dan siksaan.

    Pemikiran ini wajib dimiliki oleh manusia, lebih-lebih lagi bagi para penguasa dan pemilik dunia, karena mereka paling banyak membuat cemas hati manusia. Mereka memberikan budak-budak mereka kepada orang lain dengan cara yang jahat. Mereka membuat khawatir manusia dan membuat takut hati manusia. Sesungguhnya disisi Allah SWT terdapat seorang pengawal yang namanya Izra’il. Tidak ada tempat sembunyi bagi siapapun bagi kedatangannya. Semua pembantu kerajaan meminta upah berupa emas, perak, dan makanan, sedangkan pembantu yang ini (Izra’il) tidak meminta upah kecuali nyawa. Semua wakil Sultan memerlukan syafaat, sedangkan wakil ini (Izra’il) tidak memerlukan syafaat. Semua wakil suka menangguh-nangguhkan tugasnya mungkin sehari, semalam, atau sejam, sedangkan wakil ini tidak pernah menangguhkan tugasnya satu hembusan nafaspun. Keajaibannya sangat banyak. Tetapi kami hanya akan menguraikan lima hikayat:

    Hikayat Pertama: Diriwayatkan oleh Wahab bin Munabbih. Dia adalah seorang pendeta Yahudi yang kemudian masuk Islam. Diceritakan bahwa pada suatu hari seorang raja yang agung ingin berkuda ke seluruh pelosok kerajaannya agar masyarakat melihat kehebatan dan keindahannya. Raja itu memerintahkan para pejabat, pengawal dan pembesar kerajaan untuk menyiapkan tunggangan agar masyarakat melihat kekuasaannya. Dia juga menyuruh mereka untuk menyediakan pakaian kebesarannya. Dia memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan kuda pilihan yang kuat. Dia memilih kuda yang tercepat larinya, yang diberi nama as-Sabak. Dia memacu kuda itu didepan pasukan. Dia merasa bangga dengan kehebatan dan kekuasaannya.

    Datanglah Iblis. Iblis meletakkan mulutnya pada telinganya dan meniupkan perasaan sombong pada raja itu. Maka berkatalah raja itu, “Siapa yang dapat menyamaiku didunia ini?”

    Dia memacu kudanya dengan sombong dan merasa bangga dengan kudanya itu. Dia tidak melihat kepada seorangpun karena perasaan hebat dan sombongnya, serta perasaan ujub dan bangganya. Tiba-tiba dihadapannya berdiri seorang laki-laki yang berpakaian compang camping. Orang itu memberi salam kepada sang raja, tetapi raja itu tidak membalas salamnya. Orang itu kemudian memegang tali kekang kuda sang raja. Kemudian raja itu berkata: “Lepaskan tanganmu dari tali kekang kuda ini. Engkau tidak tahu tali kekang kuda siapa yang engkau pegang!” Orang itu berkata, “Aku mempunyai keperluan denganmu”. Raja berkata, “Sabarlah, tunggu aku turun”. Orang itu berkata, “Keperluanku adalah saat ini juga, bukan saat engkau turun dari kudamu”. Raja berkata, “Katakan, apa keperluannya!” Orang itu berkata, “Ini rahasia. Aku tidak akan mengatakannya kecuali ke telingamu”. Raja menyodorkan telinganya kepada orang itu. Orang itu berkata, “Aku Malaikat Maut. Aku hendak mencabut nyawamu”. Raja berkata, “Tangguhkanlah sampai aku pulang ke rumahku, berpamitan kepada anak istriku”. Orang itu berkata, “Tidak, engkau tidak akan melihat mereka lagi untuk selamanya karena jatah umurmu sudah habis”. Maka, Malaikat Maut pun mengambil nyawanya. Pada waktu itu sang raja sedang duduk diatas kuda kebanggaannya”. Malaikat Maut pergi dari sana, kemudian mendatangi seorang laki-laki soleh yang diridhai Allah. Malaikat mengucapkan salam. Laki-laki itu membalas salamnya. Malaikat berkata, “Aku mempunyai keperluan denganmu dan ini rahasia.” Laki-laki salih itu berkata, “Katakanlah keperluanmu di telingaku”. Malaikat berkata, “Aku adalah Malaikat Maut”. Laki-laki itu berkata, “Selamat datang, segala puji bagi Allah atas kedatanganmu karena sesungguhnya aku banyak mendekatkan diri untuk menyambut kedatanganmu. Aku merasa terlalu lama menunggumu. Aku sangat merindukan kedatanganmu”. Malaikat berkata, “Jika engkau mempunyai urusan selesaikanlah dahulu”. Laki-laki itu berkata, “Tidak ada urusan yang lebih penting daripada saat bertemu dengan Rabbku Azza wa Jalla”. Malaikat berkata, “Cara seperti apa yang engkau sukai ketika aku mencabut nyawamu? Aku diperintahkan mencabut nyawamu dengan cara yang engkau pilih dan engkau inginkan”. Laki-laki itu berkata, “Ijinkanlah aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Ketika aku sujud, cabutlah nyawaku. Maka, Mlaikat Maut melakukan permintaan orang itu dan mengirimnya kepada rahmat Allah Jalla wa `Ala”.

    Hikayat Kedua: Ada seorang raja yang memiliki banyak harta. Dia telah mengumpulkan banyak harta, dari berbagai macam harta benda yang telah Allah ciptakan, untuk menghibur dirinya. Dia berusaha untuk memakan apa yang telah dikumpulkannya itu. Dia kumpulkan kenikmatan-kenikmatan yang banyak, membangun istana yang tinggi dan megah yang layak bagi para raja, para pembesar, para tokoh, dan orang-orang yang agung. Dia membuat dua pintu gerbang yang dijaga oleh para pengawal yang seram, para penjaga, tentara, dan penjaga pintu sebagaimana yang ia inginkan.

    Pada suatu hari, ia memerintahkan bawahannya untuk memasak makanan yang lezat-lezat dan mengumpulkan para pembesar kerajaan, aparat kerajaan, sahabatnya, dan para pelayannya. Mereka diundang untuk makan-makan dengannya. Dia duduk diatas singgasana sambil bertelekan diatas bantalnya. Kemudian dia berkata, “Wahai orang-orang yang hadir disini, aku telah mengumpulkan semua kenikmatan dunia dan isinya. Oleh karena itu, aku persembahkan buat kalian dan silakan reguk kenikmatan ini sebagai ucapan selamat atas umur yang panjang dan harta yang banyak”.

    Belum habis ucapan raja itu, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari belakang istana dengan pakaian compang-camping. Di pundaknya tergantung keranjang makanan seperti orang yang akan meminta-minta makanan. Dia mengetuk pintu dengan ketukan yang sangat keras dan menakutkan sehingga istana itu bergetar dan gonjang-ganjing. Para penjaga ketakutan dan lari kearah pintu gerbang dan berkata, “Hai orang miskin, engkau sungguh-sungguh tidak punya sopan santun. Sabarlah sampai kami menghabiskan makanan yang lezat ini”. Orang itu berkata kepada mereka, “Katakan kepada rajamu untuk keluar menemuiku karena aku mempunyai urusan yang sangat penting dan mendesak”. Para pengawal berkata, “Menyingkirlah wahai orang miskin! Memangnya siapa dirimu hingga berani menyuruh rajaku keluar menemuimu!” Orang itu berkata, “Beritahukan kepada rajamu apa yang aku katakana”. Ketika mereka memberitahukannya kepada raja, maka raja berkata, “Mengapa kalian tidak mengusir orang itu. Marahi dan hardik dia!” Tiba-tiba pintu gerbang diketuk lebih keras lagi dari ketukan yang pertama. Maka mereka semua berdiri sambil memegang tongkat dan senjata dengan maksud memerangi orang itu. Terdengarlah suara, “Tetaplah di tempat kalian! Aku adalah Malaikat Maut”. Maka merekapun menggigil dan tidak jadi bergerak. Hati mereka menjadi ciut. Pikiran mereka menjadi kacau. Raja itu pun berkata, “Katakan kepadanya, ambillah apa saja sebagai gantiku”. Malaikat berkata, “Aku tidak mengambil apa-apa selain engkau. Tidaklah aku datang kecuali untuk menemuimu. Aku akan memisahkanmu dari segala kenikmatan ini”. Raja itu berkata, “Laknat Allah bagi harta benda ini yang telah menipuku dan membuatku celaka, serta telah menghalangiku untuk beribadah kepada Tuhanku. Dulu aku menyangka bahwa harta benda akan bermanfaat bagiku. Hari ini adalah hari penyesalan dan hari bencana buatku. Aku telah keluar mengulurkan kedua tanganku kepadanya (menyambut dengan gembira) tetapi dia malah menjadi musuhku”.

    Kemudian Allah membuat harta itu dapat bicara, dan harta benda itu berkata, “Mengapa engkau melaknati aku? Laknatilah dirimu sendiri. Karena sesungguhnya Allah menciptakan aku dan juga dirimu dari tanah. Allah menjadikan aku berada di tanganmu untuk menjadi bekal akhiratmu, memberikan aku kepada orang-orang miskin, memberikan zakat kepada orang-orang yang lemah, membangun jembatan, masjid, jalan, dan sebagainya. Jika demikian maka aku akan menjadi penolongmu pada Hari Kiamat. Sedangkan engkau mengumpulkan aku, menyimpanku, dan membelanjakan aku untuk mengikuti hawa nafsumu, engkau tidak bersyukur malah berkufur. Maka hari ini aku akan menjadi musuhmu, dan engkau akan menyesal serta menderita. Lalu mengapa engkau melaknati aku?”

    Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawa raja itu sebelum dia sempat memakan makanannya. Dia terjatuh dari singgasananya dan mati.

    Hikayat Ketiga: Yazid ar-Ruqasyi bertutur sebagai berikut: Pada masa Bani Israil ada seorang penguasa. Pada suatu hari ia duduk disinggasananya. Tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki masuk melalui pintu rumahnya. Orang itu bertampang keji dan berbadan besar. Penguasa itu sangat ketakutan. Dia khawatir laki-laki itu akan menyerangnya. Wajahnya pucat pasi dan berkata, “Siapakah engkau? Siapa yang telah menyuruhmu masuk kerumahku.”

    Laki-laki itu berkata, “Pemilik rumah ini yang menyuruhku kesini. Tidak ada dinding yang dapat menghalangiku. Aku tidak memerlukan izin untuk masuk kemanapun. Aku tidak takut oleh kekuasaan para sultan. Aku tidak merasa takut oleh penguasa. Tidak ada seorangpun yang dapat lari dari jangkauanku.”

    Ketika mendengar perkataan orang itu, wajahnya menjadi pucat pasi dan badannya menggigil, dan ia berkata, “Apakah engkau Malaikat Maut?”

    Orang itu menjawab, “Benar.”

    Penguasa berkata, “Aku bersumpah demi Allah, berilah aku penangguhan satu hari saja agar aku dapat bertobat dari segala dosaku. Aku akan memohon keringanan dari Tuhanku. Aku akan mengimfaqkan harta benda yang aku miliki dan aku simpan hingga tidak terbebani oleh azab akibat harta itu, diakhirat kelak.”

    Malaikat berkata, “Bagaimana aku dapat menangguhkan padahal umurmu sudah habis, dan waktu sudah ditetapkan secara tertulis.”

    Penguasa itu berkata, “Tangguhkanlah sesaat saja.” Malaikat berkata, “Sesungguhnya jangka waktu itu telah diberikan tetapi engkau lalai dan menyia-nyiakannya. Jatah nafasmu sudah habis, tidak tersisa satu nafaspun untukmu.”

    Dia berkata, “Siapa yang akan menyertaiku jika engkau membawaku keliang kubur?” Malaikat berkata, “Tidak ada yang menyertaimu kecuali amalmu.”

    Dia berkata, “Aku tidak mempunyai amal kebaikan.” Malaikat berkata, “Jika demikian, neraka dan murka Tuhan adalah tempat yang layak untukmu.”

    Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawanya sehingga dia terjatuh dari singgasananya. Terjadilah kegaduhan diseluruh kerajaan. Jika orang- orang mengetahui apa yang terjadi pada penguasa itu, yaitu murka Allah, pastilah tangisnya dan ratapan mereka akan lebih keras lagi.

    Hikayat Keempat: Diceritakan bahwa Malaikat Maut menemui Nabi Sulaiman bin Daud as. Malaikat Maut melihat dengan tajam dalam waktu yang lama kepada salah seorang pembantu Nabi Sulaiman. Ketika Malaikat Maut keluar, laki-laki itu bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang masuk tadi?”

    Nabi Sulaman menjawab, “Malaikat Maut”. Laki-laki itu berkata, “Aku takut Malaikat maut hendak mencabut nyawaku. Oleh karena itu aku akan menghindar darinya.”

    Nabi Sulaiman berkata, “Bagaimana caramu menghindar darinya?”

    Laki-laki itu menjawab, “Suruhlah angin membawaku ke negeri India saat ini juga. Mudah-mudahan Malaikat Maut terkecoh dan tidak dapat menemukanku.”

    Nabi Sulaiman menyuruh angin untuk membawa laki-laki itu ke tempat yang dituju. Mlaikat Maut kembali dan menemui Nabi Sulaiman. Kemudian Nabi Sulaiman bertanya kepada Malaikat Maut, “Mengapa engkau melihat kepada laki-laki itu lama sekali?”

    Malaikat Maut berkata, “Aku sungguh merasa heran terhadapnya. Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di negeri India padahal negeri itu sangat jauh. Tetapi ternyata angin telah membawanya ke sana. Itulah takdir Allah SWT.

    Hikayat Kelima: Diriwayatkan bahwa Dzul Qarnain melewati sebuah kaum yang tidak memiliki harta dunia sedikitpun. Mereka membuat kuburan bagi keluarga mereka yang telah mati di depan pintu rumah mereka. Setiap hari mereka mengamati kuburan itu, membersihkan, menyapu, menziarahinya dan beribadah kepada Allah di sekat kuburan itu. Mereka tidak makan kecuali rerumputan dan berbagai tanaman lain. Kemudian Dzul Qarnain mengutus seorang laki-laki. Utusan itu kemudian memanggil raja kaum itu tapi dia tidak memenuhi panggilan utusan itu, dan berkata, “Aku tak punya keperluan kepadanya, tidak juga dia kepadaku.”

    Maka kemudian Dzul Qarnain mendatangi kaum tersebut dan berkata, “Bagaimana keadaan kalian? Mengapa aku tidak melihat emas atau perak yang kalian miliki. Dan mengapa aku juga tidak melihat nikmat dunia yang kalian miliki?” Pemimpin mereka menjawab, “Karena nikmat dunia tidak pernah membuat kenyang seorang manusia pun.”

    Bertanya kembali Dzul Qarnain, “Mengapa kalian membuat kuburan di depan rumah kalian?”

    Dia menjawab, “Agar langsung terlihat oleh mata kami, sehingga akan mempengaruhi ingatan kami akan kematian, dan mendinginkan hasrat pada dunia dalam hati kami. Tujuan itu agar kami tidak disibukkan oleh dunia dan melupakan Tuhan kami.”

    Dzul Qarnain bertanya kembali, “Dan mengapa kalian hanya memakan rerumputan dan tanaman?” Dia menjawab, “Karena kami benci menjadikan perut-perut kami sebagai kuburan bagi hewan-hewan. Dan bagaimana pun lezatnya suatu makanan, tetap akan hancur.”

    Pimpinan kaum itu menjulurkan tangannya ke dalam lubang dan mengeluarkan satu buah tengkorak kepala manusia kemudian meletakkan tengkorak itu didepannya dan berkata, “Wahai Dzul Qarnain, apakah engkau tahu, siapa pemilik tengkorak ini? Ini adalah tengkorak seorang raja didunia yang telah menzhalimi rakyatnya, bersikap melampaui batas kepada mereka dan suka menyiksa orang-orang lemah, serta menghabiskan seluruh waktunya untuk mengumpulkan dunia. Maka Allah mencabut nyawanya dan menjadikan neraka sebagai tempat kembali untuknya.”

    Kemudian pemimpin kaum itu menjulurkan kembali tangannya dan mengambil sebuah tengkorak kepala yang lain dan meletakkan didepannya. Dia bertanya, “Apakah engkau tahu siapa pemilik tengkorak ini? Sesungguhnya kepala ini milik seorang raja yang adil. Dia mengasihi rakyatnya dan menyukai seluruh anggota kerajaannya, kemudian Allah mencabut nyawanya dan memasukkannya kedalam surga serta meninggikan derajatnya.”

    Setelah itu, pemimpin kaum itu meletakkan tangannya diatas kepala Dzul Qarnain dan berkata, “Termasuk golongan manakah kepalamu ini? Dzul Qarnain menangis tersedu-sedu sambil menundukkan kepalanya dan berkata, “Jika engkau mau menjadi sahabatku, akan aku serahkan sawah dan ladangku kepadamu dan memberikan sebagian kerajaan kepadamu.” Laki-laki itu menjawab, “Tidak mungkin, aku tidak menyukainya.” Dzul Qarnain bertanya, “Mengapa demikian?” Dia menjawab, “Karena seluruh manusia akan menjadi musuhmu karena harta dan kekuasaan. Sebaliknya, mereka akan menjadi saudaramu akibat perasaan qanaah dan kemiskinanmu. Maka Allah akan bersamamu.”

    Oleh karena itu sekarang engkau harus mengetahui hikayat-hikayat kematian tersebut dan meyakini keberadaannya.

    Ketahuilah, bahwa orang-orang yang lalai dan tertipu tidak suka mendengarkan cerita-cerita tentang kematian karena mereka tidak ingin kehilangan perasaan cinta dunia dan kelezatan makanan dan minuman mereka . Terdapat sebuah riwayat yang menyatakan bahwa orang yang banyak mengingat mati dan gelapnya liang lahat, maka kuburnya seperti salah satu taman dari taman-taman surga. Sedangkan orang yang melupakan kematian dan lalai dari mengingatnya, maka kuburnya seperti salah satu jurang dari jurang-jurang neraka.

    Pada suatu haru Rasulullah sedang membahas pahala orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang-orang yang terbunuh dalam medan perang melawan orang-orang kafir. Kemudian Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah pahala mati syahid akan diperoleh oleh orang-orang yang tidak mati syahid?” Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang mengingat kematian dua puluh kali setiap hari, maka pahala dan derajatnya sama dengan orang-orang yang mati syahid.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat mati karena hal itu akan menghapus dosa dan menghilangkan perasaan cinta dunia dalam hatimu.”

    Rasulullah SAW pernah ditanya, “Siapakah manusia yang paling berakal dan paling bijaksana?”

    Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”

    Siapa saja yang mengenal dunia sebagaimana yang telah kami uraikan dan senantiasa mengingat kematian dalam hatinya, maka urusan dunianya akan menjadi mudah. Hal itu juga akan menguatkan fondasi keimanannya, menumbuhkan dan menambahkan keimanan dalam hatinya, serta menumbuhkan cabang pohon keimanan yang ada padanya. Dia akan menemui Allah dengan keimanan yang kokoh. Allah Yang Maha Sempurna Kekuasaan-Nya dan Maha Tinggi Perkataan-Nya, akan menerangi pandangan para penguasa dunia sehingga ia akan melihat hakikat segal;a sesuatu, bersungguh-sungguh dalam menggapai kehidupan akhirat, dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah serta makhluk-Nya.

    Sesungguhnya ditengah-tengah makhluk terdapat berjuta-juta rakyat jika diperlakukan dengan adil maka mereka akan memberikan syafaat. Siapa saja dari kalangan orang-orang yang beriman, yang mendapatkan syafaat dari seluruh makhluk, maka pada Hari Kiamat dia akan selamat dari azab. Tetapi, jika dia menzalimi mereka, maka mereka semua akan memusuhinya. Urusannya akan hancur berantakkan. Jika pemberi syafaat menjadi musuhnya, maka urusannya akan menjadi tidak menentu.

    ***

    ETIKA BERKUASA: Nasihat-nasihat Imam Al-Ghazali* Karya Imam Al-Ghazali

    from : http://www.jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 23 January 2013 Permalink | Balas  

    Kiamat Sudah Dekat

    “Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi tak menghiraukannya” QS. Al Anbiyaa’ : 1

    Kiamat sudah dekat! Begitulah kata Allah di dalam Al Qur’an. Itulah hari hancurnya segala kehidupan di muka bumi. Maka, Hari Berbangkit pun bakal terjadi tidak lama lagi. Yaitu ketika manusia dibangkitkan dari kematiannya. Dari dalam kuburnya. Dan, karena itu, Hari Perhitungan pun sudah hampir datang. Saat manusia dihitung segala amal perbuatannya. Antara perbuatan buruk dan amalan baiknya, kemudian dibalasiNya…

    Benarkan semua itu sudah dekat dan bakal terjadi tidak lama lagi? Ya begitulah. Ada dua penjelasan tentang dekatnya hari Kiamat, hari Berbangkit dan hari Perhitungan itu.

    Pertama, Hari Kiamat bakal terjadi tidak lama lagi dihitung dari saat-saat terjadinya kematian kita. Kenapa demikian? Karena saat berada di dalam Kubur, kita tidak akan merasakan waktu yang lama. Terasa singkat. Seperti satu hari atau setengah hari. Sebagaimana dikemukakan Allah di dalam FirmanNya.

    QS. Al Israa’ (17) : 52

    Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.

    Di ayat lain lebih tegas, bahwa waktu di alam kubur itu memang terasa demikian singkat. Satu hari atau setengah hari saja. Bahkan, kehidupan di Bumi pun ketika dibandingkan dengan kehidupan akhirat menjadi sangat singkat. Juga, seperti satu hari atau setengah hari. Semua itu, disebabkan adanya relativitas waktu antara Dunia dan Akhirat.

    QS. Al Mukminuun (23) : 112-113

    Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”

    Secara umum Allah mengatakan bahwa masa penantian di alam Barzakh itu memang berlangsung sangat cepat. Bagaikan waktu satu hari, atau lebih cepat tagi. Berarti, jika seseorang meninggal pada hari Minggu, sehari kemudian, yaitu hari Senin dia sudah akan dibangkitkan dari dalam kuburnya.

    Anda mungkin masih merasa aneh dengan penjelasan ini. Akan lebih gamblang jika saya contohkan dengan orang tidur. Ya, kematian adalah ibarat orang tidur lelap. Tak merasakan apa-apa. Ketika terbangun, dia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Jika anda tanyai: hei berapa lama kamu tidur? dia pasti akan geleng-geleng kepala sambil mengatakan: entahlah, mungkin satu atau dua jam. Padahal ia telah tertidur selama 6-7 jam.

    Ya, orang yang terbangun dari tidur lelapnya tidak akan pernah tahu berapa lama ia tertidur. Ia baru akan tahu lama tidurnya, jika ia melihat ke jam tangannya: ‘Oh, ternyata saya tertidur selama 6-7 jam. Lama juga, ya…’

    Begitulah yang digambarkan oleh Allah dalam Al Qur’an terhadap orang-orang yang dibangkitkan dari dalam kuburnya. Ia merasa seperti bangun dari tidur saja.

    QS. Yaa Siin (36) : 52

    Mereka berkata: “Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).

    Maka kembali kepada hari Kebangkitan, Allah menegaskan bahwa saat-saat itu akan datang dengan cepat. Tak lama lagi. ‘Sehari’ sesudah kematian datang menjemput kita. Padahal, datangnya kematian itu pun tidak pernah kita ketahui. Yakinkah anda bahwa anda bakal masih hidup di tahun depan? Atau bulan depan? Minggu depan? Besok pagi? Satu jam lagi? Tidak, bukan?

    Nah, inilah misteri kehidupan paling besar dalam kehidupan manusia: ‘kematian’, dan seluruh peristiwa yang bakal terjadi sesudah kematian. Yang jelas saat-saat itu bakal datang kepada setiap orang. Semakin mendekati kita semua…

    Penjelasan yang ke dua tentang sudah dekatnya kiamat itu muncul dari prediksi astronomi. Bahwa Bumi ini bakal mengalami ‘kecelakaan’ dan bertabrakan dengan segerombolan benda langit di kabut Oort.

    Itulah saat-saat hancurnya planet bumi, dengan kerusakan yang sangat fatal. Bumi bakal dibombardir oleh jutaan bebatuan dari angkasa luar, sehingga muncul angin badai, gempa bumi, gunung meletus dan bencana tsunami di mana-mana.

    Kapan itu terjadi? Para pakar Astronomi mulai melihat tanda-tandanya dan menduga-duga waktu terjadinya. Yang jelas, kehancuran kehidupan bumi itu sudah pernah melanda bumi beberapa kali secara periodik, setiap 150-200 juta tahun sekali. Yang terakhir adalah di jaman Dinosaurus, sekitar 200 juta tahun yang lalu. Waktu itu, kehidupan makhluk raksasa itu mengalami kehancuran dan musnah.

    Jika itu terjadi secara periodik, berarti peristiwa berikutnya akan terjadi tidak lama lagi? Ya, begitulah. Sekaranglah waktunya, planet bumi bakal didatangi lagi oleh segerombolan batuan dari angkasa luar dalam jumlah besar. Dan kemudian mengalami kehancurannya. Kapan persisnya? Allah mengatakan bahwa Dia masih merahasiakannya…

    QS. Thaahaa (20) : 15

    Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri dibalas dengan apa yang ia usahakan.

    QS. Al Ahzab (33) : 63

    Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 22 January 2013 Permalink | Balas  

    Ibarat Emergency Exit di Pesawat

    Prof Dr M Quraish Shihab:

    Sejak lama istilah poligami, jumlah yang tidak sedikit dari perempuan yang berhak digauli, sudah dikenal dalam kehidupan manusia. Tidak hanya di kalangan masyarakat Arab Jahiliyah tapi juga negara-negara Eropa seperti di Jerman, Swiss, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia hingga Inggris. Islam membolehkan poligami berdasar firman Allah SWT pada Alquran surat Nisa (4) ayat 3. Namun demikian, bukan berarti ayat itu membuka lebar-lebar pintu poligami tanpa batas dan syarat, tetapi dalam saat yang sama ia tidak juga dapat dikatakan menutup pintunya rapat-rapat, sebagaimana dikehendaki sementara orang.

    ”Poligami itu bukan anjuran, tetapi salah satu solusi yang diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan dan memenuhi syarat-syaratnya. Poligami mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu,” tandas Quraish kepada Republika di ruang kerjanya Pusat Studi al Quran (PSQ) Ciputat Tangerang Selasa (5/12). Berikut ini penjelasan lengkap tentang apa dan bagaimana poligami menurut Islam:

    Kapan istilah poligami mulai muncul?

    Poligami telah dikenal oleh masyarakat manusia, yaitu hubungan dengan perempuan yang berhak digauli dengan jumlah lebih dari satu. Dalam Perjanjian Lama misalnya, disebutkan bahwa Nabi Sulaiman AS memiliki tujuh ratus ‘istri’ bangsawan dan tiga ratus gundik. Poligami meluas di samping dalam masyarakat Arab Jahiliyah juga pada bangsa Ibrani dan Sicilia yang kemudian melahirkan sebagian besar bangsa Rusia, Lithuania, Polandia, dan sebagainya.

    Bagaimana pandangan Islam tentang poligami?

    Islam membolehkan poligami berdasar firman Allah dalam QS an-Nisa’ ayat 3 yang artinya: ”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan (yatim), maka nikahilah yang kamu senangi dari perempuan-perempuan (lain): dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat. Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Ayat ini turun berkaitan dengan sikap sementara pemelihara anak yatim perempuan yang bermaksud menikahi mereka karena harta mereka tapi enggan berlaku adil.

    Pada ayat tersebut disebutkan adanya syarat berlaku adil, bisa dijelaskan?

    Dalam ayat tersebut terdapat kata khiftum yang biasa diartikan takut, yang juga dapat diartikan mengetahui, menunjukkan bahwa siapa saja yang yakin atau menduga keras atau bahkan menduga tidak akan berlaku adil terhadap istri-istrinya yang yatim maupun yang bukan, maka mereka tidak diperkenankan oleh ayat tersebut untuk berpoligami. Yang diperkenanakan berpoligami hanyalah yang yakin atau menduga keras dapat berlaku adil. Yang ragu, apakah bisa berlaku adil atau tidak, seyogyanya tidak berpoligami.

    Ada yang menyebutkan ayat tersebut merupakan perintah untuk berpoligami karena adanya fi’il amr (kata kerja perintah, red)?

    Ayat ini tidak menganjurkan apalagi mewajibkan berpoligami, tetapi ia hanya berbicara tentang bolehnya poligami. Poligami dalam ayat itu merupakan pintu kecil yang hanya dapat dilalui oleh siapa yang sangat membutuhkan dan dengan syarat yang tidak ringan. Islam mendambakan kebahagiaan keluarga, kebahagiaan yang antara lain didukung oleh cinta kepada pasangan. Cinta yang sebenarnya menuntut agar seseorang tidak mencintai kecuali pasangannya.

    Kira-kira apa yang melatarbelakangi seseorang berpoligami?

    Bukankah kenyataan menunjukkan bahwa jumlah lelaki lebih sedikit dari jumlah perempuan? Bukankah rata-rata usia perempuan lebih panjang dari usia lelaki, sedang potensi masa subur lelaki lebih lama daripada potensi masa subur perempuan? Hal ini bukan saja karena mereka mengalami haid, tapi juga karena mereka mengalami manopouse sedang lelaki tidak mengalami keduanya. Bukankah peperangan yang hingga kini tidak kunjung dapat dicegah lebih banyak merenggut nyawa lelaki daripada nyawa perempuan? Maka poligami ketika itu adalah jalan keluar yang paling tepat. Namun sekali lagi perlu diingat poligami bukanlah anjuran apalagi kewajiban. Seandainya ia anjuran, pasti Allah SWT menciptakan perempuan lebih banyak empat kali lipat dari jumlah laki-laki, karena tidak adanya menganjurkan sesuatu kalau apa yang dianjurkan tidak tersedia. Ayat ini hanya memberi wadah bagi mereka yang mengingingkannya, ketika menghadapi kondisi atau kasus tertentu. Poligami mirip dengan pintu darurat dalam pesawat terbang, yang hanya boleh dibuka dalam keadaan emergency tertentu.

    Bagaimana dengan anggapan berpoligami adalah sunnah Rasul?

    Tidak bisa dikatakan bahwa Rasul SAW menikahi lebih dari satu perempuan dan pernikahan semacam itu hendaknya diteladani. Karena, tidak semua apa yang dilakukan Rasul SAW perlu diteladani sebagaimana tidak semua yang wajib atau terlarang bagi beliau, wajib atau terlarang pula bagi umatnya. Bukankah Rasul SAW antara lain wajib bangun shalat malam dan tidak boleh menerima zakat? Bukankah tidak batal wudlu beliau bila tertidur? Selanjutnya perlu dipertanyakan buat mereka yang beranggapan poligami adalah sunah Rasul SAW. ”Apakah benar mereka benar-benar ingin meneladani Rasul SAW dalam pernikahannya?”

    Kalau benar demikian, maka perlu mereka sadari Rasul SAW baru berpoligami setelah pernikahan pertamanya berlalu sekian lama setelah meninggalnya Khadijah RA. Kita ketahui Rasul SAW menikah dalam usia 25 tahun, 15 tahun setelah pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah RA, beliau diangkat menjadi Nabi. Istri beliau ini wafat pada tahun ke-10 kenabian Beliau. Ini berarti beliau bermonogami selama 25 tahun. Lalu setelah tiga atau empat tahun sesudah wafatnya Khadijah RA, baru beliau menggauli Aisyah RA yakni pada tahun kedua atau ketiga Hijriyah, sedang beliau wafat dalam tahun ke-11 Hijriyah dalam usia 63 tahun.

    Ini berarti beliau berpoligami hanya dalam waktu delapan tahun, jauh lebih pendek daripada hidup bermonogami beliau, baik dihitung berdasar masa kenabian lebih-lebih jika dihitung seluruh masa pernikahan beliau. Jika demikian, maka mengapa bukan masa yang lebih banyak itu yang diteladani? Mengapa mereka yang bermaksud meneladani Rasul SAW itu tidak meneladaninya dalam memilih calon-calon istri yang telah mencapai usia senja? Semua istri Nabi SAW selain Aisyah adalah janda-janda yang berusia di atas 45 tahun? Di samping itu, mengapa mereka tidak meneladani beliau dalam kesetiaannya yang demikian besar terhadap istri petamanya, sampai-sampai beliau menyatakan kecintaan dan kesetiaannya walau di hadapan istri-istri beliau yang lain?

    ***

    Dari REPUBLIKA

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 18 January 2013 Permalink | Balas  

    Mengenalkan Allah pada Anak

    Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

    Kalau anak-anak kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan -meskipun barangkali ada yang demikian-tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak.

    Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam suasana menakutkan dengan sifat-sifat Jalaliyah (Maha Besar). Sifat Jamaliyah (Maha Indah) Allah hampir-hampir tak mereka ketahui, kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Akibatnya, mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian menghampiri orang-orang tersayang. Astaghfirullah al ‘azhiim.

    Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kekeliruan-meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita lalu kita mengeluarkan ancaman. Kita meneriakkan asma Allah, “Ayo., nggak boleh! Dosa! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”

    Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka. “Eh. nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba.? Mubazir! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho.”

    Nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara, “Mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari”.

    Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti pengguna kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka ‘menjauh’ karena telanjur memiliki kesan yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan Rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik. (Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian).

    Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang mereka berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Semenjak kecil, mereka memang tak biasa menangkap dan merasakan kasih sayang Allah.

    Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apapun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan maknanya kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Apa yang mereka rasakan bertentangan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

    Bercermin pada perintah Nabi dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:

    Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha IllaLlah Rasulullah pernah mengingatkan, “Awalilah bayi-bayimu dengan kalimat Laa ilaaha illaLlah.”

    Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otak dan menghidupkan cahaya hati. Apa yang didengar di saat-saat awal kehidupan akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan.

    Suara ibu yang berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.

    Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah berpesan: “Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (Riwayat At-Tirmidzi)

    Dalam riwayat lain disebutkan, “Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan.”

    Tak ada penolong kecuali Allah Yang Maha Kuasa; Allah yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali Allah. Dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah. Wallahu a’lam bishawab.

    Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Kariim, sebagaimana firman-Nya, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)

    Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara. Pertama, memperkenalkan Allah melalui sifat al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

    Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, “Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?”

    Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran-bukan hanya pengetahuan-bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

    Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat al-Karim. Di dalamnya berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya, dan memuliakan mereka yang mulia. Wallahu a’lam bishawab.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 14 January 2013 Permalink | Balas  

    Setiap Kata Itu Pasti Tercatat

    Allah SWT berfirman, “Tiada suatu kata yang diucapkan melainkan didekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

    Allah berfirman, “Sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (perbuatan kalian) yang mulia (disisi Allah) dan yang mencatat (perbuatan itu). Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Infithar: 10-12)

    Dalam firman ALLAH ada juga, “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepada kalian dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang kalian telah kerjakan.” (QS. Al-Jatsiyah: 29)

    Banyak berbicara menyebabkan kejemuan pada manusia. Mereka akan berpaling dari Anda dan mereka tidak akan senang mendengar ucapan Anda. Dari Abu Wail, “Abdullah ibn Mas’ud sering mengingatkan manusia pada hari kamis, lalu seseorang berkata kepadanya, `Wahai Abdurrahman, aku begitu menyukai jika engkau mengingatkan kami setiap hari.’ Dia berkata, `Aku khawatir akan menjenuhkan kalian, maka aku memilih waktu yang tepat (tidak sering) untuk kalian dalam memberi nasehat, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW terhadap kita’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Oleh karena itu, para khatib Jum’at dianjurkan untuk meringkas khutbahnya.

    Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya shalat yang panjang dan khutbahnya yang ringkas merupakan pertanda akan kecerdasannya (imam dan khatib pada shalat jum’at). Maka panjangkanlah shalat dan ringkaskanlah khutbah, karena sebagian dari penjelasan (yang memukau) bagaikan sihir.” (HR. Muslim)

    ALLAH menganjurkan kita untuk membatasi pembicaraan dalam kebaikan dan meninggalkan ucapan yang tidak baik. ALLAH berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan- bisikan dari orang-orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, berbuat baik atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan ALLAH, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An- Nisa: 114)

    Rasulullah SAW telah membimbing kita untuk menjaga lisan:

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menjamin kepadaku akan apa yang ada diantara jenggot dan kumisnya (maksudnya adalah lisannya) dan apa yang berada di antara dua kakinya (maksudnya adalah kemaluannya), maka Aku menjamin surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang diam, maka akan selamat.” Maka ringkas dan padat dalam berkata-kata sangat dianjurkan. Ini adalah bagian dari ke pahaman akan agama. Maka jangan banyak bicara, kecuali untuk sesuatu yang bermanfaat.

    “Di antara perangai Nabi adalah kemampuannya bertutur ringkas dan padat makna.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Allah telah memberikan nikmat kepada Nabi Daud as. berupa hikmah dan kecerdasan dalam berbicara dan menganalisa permasalahan yang dihadapi oleh kaumnya. “Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (QS. Shad: 20)

    Setelah delegasi Abdul Qays menemui Rasulullah SAW mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu dari daerah yang jauh. Antara daerah kami dan daerahmu ini terdapat kampung Mudhar yang penduduknya masih kafir. Kami tidak bisa menemuimu kecuali pada bulan haram (suci). Oleh karena itu, ajarkan kepada kami satu perkara yang pasti, yang akan kami ajarkan kepada orang-orang setelah kami, yang menjamin kami masuk surga…” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Mereka meminta sesuatu sederhana yang bisa memasukkan mereka ke surga.

    Setelah penjelasan ini, apakah Anda akan menjadi orang yang banyak bicara? Apakah Anda ingin catatan buku Anda di hari hari akhirat penuh dengan isu dan kesia-siaan? Apakah Anda ingin catatan buku Anda menjadi hitam dengan catatan gunjingan dan cacian terhadap orang lain? Banyak bicara akan menyebabkan kita kesulitan dalam menghadapi hari penghitungan (yaumull a-hisab). Banyak bicara menghilangkan wibawa. Banyak bicara akan menghilangkan ketenangan dan ketentraman. Banyak bicara membuat orang tidak mampu mengingat apa yang mereka dengar. Mereka hanya ingat sebagian dan lupa sebagian.

    Oleh karena itulah, ucapan-ucapan Rasulullah SAW sangat ringkas dan padat. Ketika Rasulullah berkata-kata, jika ada orang yang hendak menghitung kata-katanya, pasti dia dapat menghitungnya (HR. Bukhari dan Muslim)

    Shalawat dan salam bagi Nabi SAW yang memiliki budi pekerti yang luhur yang diutus sebagai pelengkap kesempurnaan akhlak mulia.

    ***

    die: Fikih Akhlak

    Oleh: Musthafa Al-Adawy

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 11 January 2013 Permalink | Balas  

    Samakah Tubuh Kita dengan Gajah?

    Berlindung yang paling aman adalah hanya kepada Allah SWT. karena hanya Allah-lah Yang Maha Pencipta. Semua makhluk, baik yang kelihatan maupun yang tidak (yang gaib), Allah yang menciptakannya. Langit, Bumi beserta isinya semuanya Allah yang menciptakan. Oleh sebab itu, tidak ada lagi yang patut kita sembah dan memohon perlindungan-Nya kecuali hanya kepada Allah SWT.

    Kenapa kita harus berlindung? Karena, kita ini sebenarnya makhluk yang lemah, makhluk yang selalu digoda oleh setan la’natullah. Setiap gerak langkah kita, setan selalu mengikuti dan menggoda kita. Tidak ada celah bagi kita yang tidak ada setannya, semua celah yang ada dalam kehidupan kita pasti ada setannya. Siapa pun kita. Apakah kita ini sebagai Kyai, ustadz, guru, yang beriman atau pun tidak beriman kepada Allah SWT. semuanya pasti di goda oleh setan.

    “A’udzubillahiminasyaithaanirrajiim” “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”

    Kalimat ini sebagai titik awal kita setelah kita beriman kepada Allah SWT. Karena kita dituntut oleh Allah SWT. untuk selalu berlindung kepadaNya. Sebagaimana Allah juga telah memerintahkan kepada kita untuk membaca Al-Qur’an dengan diawali membaca Ta’awudz terlebih dahulu, sebagaimana firmanNya.

     “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl (16): 98)

    Sebab, orang yang selalu berlindung kepada Allah, pasti tidak akan diganggu oleh setan. Serangan setan yang bertubi-tubi kepada orang tersebut dapat dipatahkan dengan mudah karena kezuhudannya atau ketaqwaannya kepada Allah SWT. Tapi alangkah ruginya diri kita, jika diri kita jauh dari Allah SWT. maka, ketika setan menyerang diri kita, kita akan mudah di kalahkannya dan ditaklukannya, sehingga diri kita akan menjadi tunggangannya setan la’natullah.

    Coba kita perhatikan orang-orang yang tubuhnya menjadi tunggangan setan la’natullah. Sombong, takabur, menghalalkan segala cara, adalah sifatnya. Melanggar perintah Allah SWT. adalah kebiasaannya, dan banyak lagi kebiasaan buruk yang dilakukannya. Semuanya tergantung perintah si penunggangnya. Maka azab Allah SWT. pasti datang kepadanya. Bukan hanya kepada si penunggangnya tapi juga kepada tunggangannya yaitu tubuh kita.

    Tulisan diatas mengingatkan diri kita kepada sebuah kisah, yang di abadikan didalam Al-Qur’an. Bagaimana Raja Abrahah dengan pasukan Gajahnya yang gagah perkasa menyerang kota Makkah dan ingin menghancurkan Ka’bah. Akan tetapi karena kesucian Ka’bah atau karena Allah telah ridha kepada Ka’bah sebagai Baitullah, maka serangan itu dapat di gagalkan dengan azab yang Allah turunkan melalui Burung- burung Ababil sebagaimana firman Allah,

    Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan ka’bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. Al-Fiil (105): 1- 5)

    Kita bisa lihat, bagaimana Gajah yang gagah perkasa bisa di tundukan oleh kita sebagai penunggangnnya. Maka Gajah yang gagah perkasa itu akan turut kepada si penunggangnya. Kemana pun yang kita mau, maka Gajah itu pun akan turut mengikutinya. Bisa kita gunakan sebagai pembantu kita dalam bekerja dihutan misalkan, atau bisa juga sebagai alat transportasi, atau juga sebagai tontonan. Semuanya dapat kita lakukan tergantung keinginan kita dan Gajah itu pun akan mengikuti suruhan kita. Mau di buat baik (jinak) atau mau dibuat buas, terserah kita karena Gajah itu sudah tunduk kepada kita. Begitu juga dengan Raja Abrahah, dia menggunakan Gajah untuk menyerang kota Makkah untuk menghancurka Ka’bah.

    Tidak jauh beda dengan kita, seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa kalau hati kita atau keimanan kita sudah dapat ditundukan oleh setan la’natullah, maka, diri kita pun akan dikendalikan oleh setan. Apa pun yang dimau setan, maka kita akan mengikutinya. Kalau sudah begitu, maka, diri kita sudah termasuk golongan yang ingkar (kafir) kepada Allah SWT. Orang yang seperti ini, mau di beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman kepada Allah SWT., sebagaimana Allah SWT telah berfirman,

    “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah (2): 6-7)

    Sahabat-sahabat sekalian, semoga ini menjadi bahan renungan bagi kita. Sehingga kita lebih waspada lagi dari tipu muslihatnya setan la’natullah, sehingga kita tidak dijadikannya sebagai tunggangannya. Anda bukan gajah, maka berlatihlah mengendalikan diri.

    Wallaahu a’lam

    ***

    abuluthfia.multiply.com

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 10 January 2013 Permalink | Balas  

    Al-Fatah

    Al-Fatah artinya adalah Yang Maha Pembuka. Kalau kita memperhatikan dari arti kalimat Al-Fatah, kita akan tahu dan mengerti bahwa, ada yang membuka berarti ada yang menutup. Dan itu semua hanya Allah SWT. yang bisa melakukannya. Allah yang memberi (membuka) rizki dan Allah juga yang menutup rizki itu sehingga tidak diturunkan kepada kita. Oleh sebab itu, maka kita dituntut untuk tunduk kepadanya dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangan- Nya.

    Maka, kita jangan terlalu berharap kepada makhluk, sebab segala sesuatu juga hanya Allah-lah yang mengaturnya. Hidup, mati, rizki, jodoh, pekerjaan dan lain sebagainya semuanya hanya Allah-lah yang mengaturnya karena hanya Allah yang menciptakan semua itu. Makanya bila bergabung jin dan manusia untuk memberi rizki, kekuasaan atau apa saja bila Allah tidak menghendaki maka tidak akan bisa memberikannya atau membantunya. Seperti halnya jika jin dan manusia bergabung untuk membuat yang serupa Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan dapat membuatnya, sebagaimana firman Allah SWT.,

    “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Isra (17): 88)

    Begitu juga dengan hati, hati bisa baik atau jelek tergantung Allah yang mengaturnya. Oleh sebab itu kita harus berusaha dan berdoa kepada Allah SWT. agar hati kita selalu dilapangkan, sebab yang membuka dan menutup hati kita adalah Allah SWT. Maka mintalah kepada Allah untuk dibukakan:

    1. Iman yang Kuat. Upaya kita supaya iman kita kuat adalah beri iman kita pupuk, yang mana pupuk iman itu adalah Ilmu yang bermanfaat, amal yang baik dan ikhlas.

    “Allaahumma inni as-aluka `ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban wa `amalan mutaqabbalan” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rizki yang baik dan amal yang diterima)

    2. Jalan Hidup Sehat. Sebagai upaya kita untuk memiliki jalan hidup yang sehat selain berdoa kepada Allah adalah beri tubuh kita makanan yang halalan tayiban, jaga kebersihan tubuh dan rutin beroleh raga.

    “… Dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Araf (7): 69)

    3. Nikmatnya Akur (bersahabat). Sebab mempunyai orang yang dibenci, sangat menyiksa sekali, sehingga dunia ini menjadi sempit karenanya, karena kemana-mana ada orang yang dibenci. Orang yang tidak akur (bersahabat) itu adalah, orang yang mudah tersinggung dan orang yang senang menyimpan memori (prasangka) jelek ke seluruh orang. Maka alangkah baiknya kalau kita mempunyai sikap:

    a. Berlapang dada “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur (24): 22)

    b. Pemaaf “Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nisa’ (4): 149)

    c. Stop membicarakan kejelekan orang lain. Bilal bin Al-Harts berkata bahwa, Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan kata-kata yang menimbulkan keridhaan Allah, apa yang diduga bahwa kata-kata itu sampai kepada keridhaan-Nya, maka Allah menulis keridhaan-Nya disebabkan kata-kata itu sampai hari kiamat. Dan sesungguhnya orang yang berbicara dengan kata-kata yang menimbulkan kemurkaan Allah, apa yang diduga bahwa kata-kata itu sampai kepada kemurkaan-Nya, maka Allah menulis kemurkaaan-Nya atasnya disebabkan kata-kata itu.”

    Wallahu a’lam

    ***

    Sumber: abuluthfia.multiply.com

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 9 January 2013 Permalink | Balas  

    Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk mengatasinya 

    Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat untuk Mengatasinya

    Tanda-tanda Lemah Iman

    1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
    2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur’an
    3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
    4. Meninggalkan sunnah
    5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
    6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
    7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
    8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari’ah
    9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
    10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
    11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
    12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
    13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
    14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
    15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
    16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
    17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
    18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
    19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
    20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

    Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:

    1. Tilawah Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
    2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
    3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
    4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
    5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
    6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
    7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
    8. Berdo’a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
    9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.
    10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.
    11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

    ***

    dikutip dari milis lain

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 8 January 2013 Permalink | Balas  

    Buah Ranum Dari Keridhaan

    “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. Al- Bayyinah: 8)

    Keridhaan memiliki buah yang melimpah berupa keimanan. Orang yang ridha hatinya akan terangkat hingga tempat yang paling tinggi, yang kemudian mempengaruhi keyakinannya yang semakin mendalam dan kuat mengakar. Pengaruhnya kemudian adalah kejujuran dalam berucap, berbuat dan berperilaku.

    Kesempurnaan ubudiyahnya lebih disebabkan kemampuannya menjalankan konsekuensi-konsekuensi hukum yang sebenarnya berat baginya. Tapi, ketika hanya hukum-hukum yang ringan saja yang ia jalankan maka itu akan membuat jarak ubudiyahnya dengan Rabbnya semakin jauh. Dalam konteks bahwa ubudiyah itu berarti kesabaran, tawakal, keridhaan, rasa rendah diri, rasa membutuhkan, ketaklukan, dan ketundukkan, maka ubudiyah itu tidak akan sempurna kecuali dengan menjalankan keharusan yang memang berat untuk dilakukan. Keridhaan terhadap qadha’ bukan berarti ridha terhadap qadha’ , yang tidak memberatkan, tapi terhadap yang menyakitkan dan memberatkan. Hamba tidak berhak mengatur qadha’ dan qadar Allah, dengan menerima yang ia mau dan tidak menerima yang tidak ia mau. Karena pada dasarnya manusia itu tidak diberi hak untuk memilih: hak itu mutlak wewenang Allah karena Dia lebih mengetahui, lebih bijaksana, lebih agung dan lebih tinggi. Karena Allah mengetahui alam ghaib, mengetahui segala rahasia, dan mengetahui akibat dari segala hal.

    Saling Meridhai Satu hal yang harus disadari adalah bahwa keridhaan hamba kepada Allah dalam segala hal akan membuat Rabbnya ridha kepadanya. Ketika hamba ridha dengan rizki yang sedikit, maka Rabbnya akan ridha kepadanya dengan amal sedikit yang dia persembahkan. Ketika hamba ridha terhadap semua keadaan yang melingkupinya dan tetap mempertahankan kualitas keridhaannya itu maka Allah akan cepat meridhainya ketika dia meminta keridhaan-Nya. Dengan kacamata itu, lihatlah orang-orang yang ikhlas, walaupun ilmu mereka sedikit tapi Allah meridhai semua usaha mereka karena memang mereka ridha kepada Allah dan Allah meridhai mereka. Berbeda dengan orang-orang munafik yang selalu ditolak amalan mereka. Mereka tidak menerima apa yang telah Allah turunkan dan tidak suka terhadap keridhaan-Nya, maka Allah pun menyia-nyiakan amalan-amalan mereka.

    Faedah dari Keridhaan Keridhaan akan menciptakan ketenangan, hati yang dingin, ketegaran dalam menghadapi berbagai permasalahan yang tumpang tindih dan yang muncul deras sekali. Hati yang ridha akan yakin sepenuhnya kepada janji Allah dan Rasul-Nya. Hati orang seperti ini seakan dibisikan suara,

    “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)

    Sebaliknya, tidak menerima akan membuat hati tidak tenang, ragu dan cemas, tidak tegar, sakit hati dan bergejolak. Hati menjadi bergejolak dan terganggu, seakan didalamnya ada suara membisikan.

     “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada Kami melainkan tipu daya”. (QS. Al-Ahzab: 22)

    Orang-orang yang memiliki hati seperti ini akan mengakui kebenaran jika datang kebenaran, dan akan berpaling jika mereka dituntut untuk memenuhi tugas mereka. Ketika mereka diberi kebaikan maka mereka akan merasa tenang, tapi ketika diuji maka mereka akan berubah menjadi buruk. Mereka akan merugi di dunia dan akhirat.

    “Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)

    Dan, keridhaan akan memberikan ketenangan, sesuatu yang paling berharga. Karena ketenangan akan membuat hati menjadi tegar, keadaan terkendali dan hati menjadi jernih. Dan tidak menerima hanya akan menjauhkannya dari ketenangan itu, jauh dekatnya tergantung pada besar kecilnya ketidakpuasan terhadap keadaan. Ketika ketenangan itu hilang maka dengan serta merta kegembiraan, rasa aman, dan kedamaian hidup, juga akan lenyap. Itu berarti bahwa nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah ketenangan di hati. Dan bagaimana itu bisa didapatkan? Tentunya, dengan keridhaannya kepada Allah bagaimana pun keadaan yang melingkupinya.

    Keselamatan Itu Ada Bersama Keridhaan Keridhaan akan membukakan pintu keselamatan. Keridhaan akan membuat hati menjadi terbebas dan bersih dari tipu daya, kebusukan dan kedengkian. Karena hanya orang yang berhati bersihlah yang akan selamat dari adzab Allah, sebab hati yang bersih adalah hati yang jauh dari syubuhat, dari keraguan dari menyekutukan Allah dan dari jerat-jerat Iblis yang menyesatkan. Dalam hati seperti ini hanya ada sati: Allah.

    Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain- main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An’am: 91)

    Adalah muastahil dalam hati yang bersih itu masih terdapat rasa tidak menerima. Semakin hamba itu ridhamaka semakin bersih hatinya. Kotoran hati, kebusukan dan tipu daya adalah kaitan dari sikap tidak menerima. Sedangkan kebersihan, kelurusan dan kemuliaan hati adalah kaitan keridhaan. Kedengkian adalah buah dari sikap yang tidak menerima. Dan hati yang bersih dari unsur dengki, adalah buah dari keridhaan. Diibaratkan , keridhaan adalah pohon yang baik, yang disirami dengan air keikhlasan dan ditanam di kabut tauhid. Akarnya keimanan, dahan-dahannya adalah amal shaleh, dan buahnya sangat manis. Disebutkan dalam hadits: “Yang akan mencicipi rasa iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” Atau, seperti disebutkan dalam hadits yang lain: “Ada tiga hal yang bila ketiganya itu menyatu dalam dirinya maka dia akan mendapatkan manisnya iman…”

    Buah dari Keimanan adalah Rasa Bersyukur Keridhaan akan membuahkan rasa syukur yang merupakan level keimanan tertinggi, bahkan merupakan hakikat dari keimanan itu sendiri. Dalam tahapan iman, rasa syukur itu adalah puncaknya. Orang yang tidak ridha terhadap pemberian Allah, keputusan-Nya, penciptaan-Nya, pengaturan-Nya, terhadap yang diambil dan yang diberikan-Nya, tidak akan bisa bersyukur kepada Allah. Dan itu artinya, orang yang bersyukur adalah orang yang paling menikmati hidup.[*]

    ***

    die *La Tahzan* DR. Aidh al-Qarni

    Dari jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 6 January 2013 Permalink | Balas  

    Kiamat Tidak Ada Tanda-Tandanya

    Oleh: Aam Amiruddin

    Bagaimana memahami hadits yang menjelaskan “tanda-tanda kiamat” dengan ungkapan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kiamat itu akan terjadi dengan tiba-tiba? Bukankah kata “tiba-tiba” mengandung makna tidak ada tanda-tanda? Bagaimana menyikapi keterangan yang terkesan kontradiktif?

    Apa yang Anda katakan benar. Memang ada sejumlah ayat yang menegaskan bahwa kiamat itu akan terjadi secara mendadak atau tiba- tiba. Paling tidak ada empat ayat yang menjelaskannya. Yaitu,

    “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Al- A’raf: 187)

    “Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan Kami, terhadap kelalaian Kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, Amat buruklah apa yang mereka pikul itu.” (QS. Al-An’am: 31)

    “Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya?” (QS. Yusuf: 107)

    “Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS. Az-Zukhruf: 66)

    Keempat ayat diatas menjelaskan bahwa kiamat akan terjadi secara mendadak atau tiba-tiba. Namun, diakui pula bahwa ada sejumlah hadits shahih yang menjelaskan tanda-tanda kiamat, diantaranya:

    Tatkala ditanya oleh Malaikat Jibril tentang tanda-tanda kiamat, Rasulullah SAW menjawab, “Apabila budak wanita melahirkan tuannya dan apabila engkau lihat orang-orang yang bertelanjang kaki, berpakaian compang-camping, miskin, dan pengembala kambing berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.” (Mutafaq’alaih)

    Maksud apabila budak wanita melahirkan tuannya adalah banyak anak yang memperlakukan orang tuanya seperti budak atau pembantu. Banyak anak yang berani menghardik, membentak, bahkan menganiaya orang tuanya. Na’udzubillah!

    Sedangkan yang dimaksud, Engkau lihat orang-orang yang bertelanjang kaki, berpakaian compang-camping, miskin, dan pengembala kambing berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan adalah banyak manusia yang materialistis. Orang yang berpenghasilan rendah memiliki nafsu terhadap materi melebihi penghasilannya. Dia menginginkan bangunan megah.

    Kalau kita fokuskan pada konteks zaman sekarang, banyak orang yang berpenghasilan biasa-biasa saja, tapi gaya hidupnya seperti orang yang berpenghasilan luar biasa. Gaji Cuma 2 juta sebulan tapi bergaya hidup seperti yang berpenghasilan 10 juta per bulan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Diantara tanda-tanda kiamat adalah lenyapnya ilmu pengetahuan (agama), meluaskan kebodohan, banyaknya minum khamr, dan perzinaan terjadi secara terang-terangan.” (HR. Bukhari)

    Hadits ini menegaskan bahwa diantara tanda kiamat, apabila manusia sudah tidak merasa tertarik lagi untuk mempelajari ajaran-ajaran agama. Khamr atau minuman yang memabukan sudah menjadi minuman kesehariaan, dan perzinaan semakin menjamur, terbuka, dan terang- terangan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan datang kiamat hingga waktu terasa amat pendek, satu tahun serasa sebulan, satu bulan serasa seminggu, satu minggu serasa sehari, satu hari serasa sejam, satu jam hanya selama membakar pelepah kurma.” (HR. Ahmad)

    Hadits ini menegaskan bahwa diantara tanda kiamat adalah pada saat manusia merasa sangat bertah didunia, hingga setahun serasa sebulan, sebulan serasa seminggu, seminggu serasa sehari. Ini menunjukkan bahwa manusia merasa sangat betah hingga waktu terasa menjadi sangat singkat.

    Itulah hadits-hadits sahih yang menjelaskan tanda-tanda kiamat. Pertanyaannya, apakah hadits-hadits yang menjelaskan tanda-tanda kiamat itu kontradiktif dengan ayat-ayat yang menjelaskan bahwa kiamat itu akan terjadi secara tiba-tiba?

    Ada yang beranggapan bahwa sesuatu yang tiba-tiba berarti tidak ada tanda-tanda. Padahal logikanya tidaklah demikian. Maksud bahwa kiamat itu mendadak atau tiba-tiba adalah kiamat itu tidak bisa diketahui secara pasti dan diidentifikasi kapan terjadinya, bukan berarti tidak ada tanda-tandanya. Jadi sesuangguhnya tidak ada kontradiktif antara ayat yang menjelaskan bahwa kiamat itu akan terjadi mendadak dengan hadits yang menjelaskan tanda-tanda kiamat, bahkan justru bisa saling melengkapi. Wallahu A’lam.

    ***

    die *Percikan Iman* No.11 Th.VII November 2006 M/Syawal 1427 H

    Dari: jkmhal.com

     
    • bejono777 6:09 pm on 6 Januari 2013 Permalink

      terimakasih ilmunya……semoga kita selalu istiqomah dan ingat bahwa sesuatu itu atas kehendakNYA

  • erva kurniawan 1:56 am on 5 January 2013 Permalink | Balas  

    Etika di Masjid

    Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a:

    “Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku, dan jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku, dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya”. (Muttafaq’alaih).

    Berjalan menuju masjid untuk shalat dengan tenang dan khidmat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq’alaih).

    Berdo`a disaat masuk dan keluar masjid. Disunatkan bagi orang yang masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam lalu mengucapkan:

    “(Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”

    Dan bila keluar mendahulukan kaki kiri, lalu bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam kemudian membaca do`a:

    “(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu)”. (HR. Muslim).

    Disunnatkan melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid bila telah masuk masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah shalat dua raka`at sebelum duduk”. (Muttafaq alaih).

    Dilarang berjual-beli dan mengumumkan barang hilang di dalam masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang yang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka doakanlah “Semoga Allah tidak memberi keuntungan bagimu”. Dan apabila kamu melihat orang yang mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah “Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah atau orang yang badannya berbau tidak sedap. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yang dengan-nya manusia terganggu”. (HR. Muslim). Dan termasuk juga rokok dan bau lain yang tidak sedap yang keluar dari badan atau pakaian.

    Dilarang keluar dari masjid sesudah adzan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila tukang adzan telah adzan, maka jangan ada seorangpun yang keluar sebelum shalat”. (HR. Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

    Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat, dan disunnatkan bagi orang yang sholat menaroh batas di depannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya orang yang lewat di depan orang yang sedang sholat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri dari jarak empat puluh itu lebih baik baginya daripada lewat di depannya”. (Muttafaq alaih).

    Tidak menjadikan masjid sebagai jalan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu menjadikan masjid sebagai jalan, kecuali (sebagai tempat) untuk berzikir dan shalat”. (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani).

    Tidak menyaringkan suara di dalam masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang sedang shalat. Termasuk perbuatan mengganggu orang shalat adalah membiarkan Handphone anda dalam keadaan aktif di saat shalat.

    Hendaknya wanita tidak memakai farfum atau berhias bila akan pergi ke masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh farfum”. (HR. Muslim).

    Orang yang junub, wanita haid atau nifas tidak boleh masuk masjid. Allah berfirman: “(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (an-Nisa: 43).

    Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya: “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid”. Aisyah menjawab: Sesungguhnya aku haid? Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. (HR. Muslim).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 4 January 2013 Permalink | Balas  

    Menahan Amarah dan Penuh Kasih Sayang

    Kelemahlembutan adalah akhlak mulia. Ia berada diantara dua akhlak yang rendah dan jelek, yaitu kemarahan dan kebodohan. Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya dega kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak diridhoi Allah ta’ala dan rasul-Nya. Dan jika hamba tersebut menyelesaikan masalahnya dengan kebodohan dirinya, niscaya ia akan dihinakan manusia. Namun jika dihadapi dengan ilmu dan kelemahlembutan, ia akan mulia di sisi Allah ta’ala dan makhluk-makhluknya. Orang yang memiliki akhlak lemah lembut, insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

    Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidk pernah terpisahkan dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia gagal untuk menyelesaikan problemanya.

    Demikian agungnya akhlak ini sehingga rasullah memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya : “Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa)”. (HR. Muslim)

    Akhlak mulia ini terkadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain. Padahal rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasehat : “ Janganlah kamu marah.” Dan beliau mengulanginya berkali-kali dengan bersabda : “Janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari).

    Dari hadits ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya itu agar tidak marah. Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh hawa nafsu yang memancing pelakunya bersikap melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca, dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dati kelemahlembutan.

    Di dalam hadits yang shahih Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda : “Bukanlah dikatakan seorang yang kuat itu dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat dalam menahan dirinya dari marah”. (Muttafaqqun’alahi).

    Ulama telah menjelaskan berbagai cara menyembuhkan penyakit marah yang tercelah yang ada pada seorang hamba, yaitu :

    Berdoa kepada Allah, yang membimbing dan menunjuki hamba-hambaNya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri manusia. Allah ta’alah berfirman: “Berdoalah kalian kepadaku niscaya akan aku kabulkan.” (Ghafir: 60)

    Terus-menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Quran, bertasbih, bertahlil, dan istigfar, karena Allah telah menjelaskan bahwa hati manusia akan tenang dan tenteram dengan mengingat Allah. Allah berfirman : “Ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” ( Ar-Ra’d : 28).

    Mengingat nash-nash yang menganjurkan untuk menahan marah dan balasan bagi orang-orang yang mampu manahan amarahnya sebagaimana sabda nabi shalallahu ‘alaihi wasallam : “ Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluq-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari surga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemauannya “ (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat shahihul jami’ No. 6398).

    Merubah posisi ketika marah, seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, dan jikalau ia sedang duduk maka hendaklah ia berbaring, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu alaihi wa sallam : “ Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah ia berbaring.” (Al-Misykat 5114).

    Berlindung dari setan dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya.

    Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela. Dan betapa indahnya perilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemahlembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah. Sebaliknya bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “ Tidaklah kelemahlembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut kecuali akan menjadikannya jelek.” (HR. Muslim).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 3 January 2013 Permalink | Balas  

    Sholat Subuh, Ujian Terberat Bagi Munafikin

    Ceritanya, suatu ketika, Dr. Raghib menemui seorang ustadz (da’i) yang ceramahnya begitu memukau dan menanyakan perihal penyebab da’i itu jarang salat Subuh berjamaah di masjid. Pertanyaan ini diajukan, setelah sebelumnya beliau mengamati langsung beberapa Hari dan ikut salat Subuh di masjid dekat rumah si da’i, namun tidak melihat sang da’i salat Subuh di situ.

    Mendapat pertanyaan demikian, sang da’i dengan enteng dan tanpa rasa malu menjawab pertanyaan Dr. Raghib: ” Maafkan saya, semoga Allah mengampuni saya dan mengampuni Anda. Kondisi saya sangat sulit. Pagi-pagi saya sudah mulai kerja, sementara tidur agak terlambat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Mendengar jawaban seperti itu, kontan saja hati beliau bergejolak, jiwanya terasa sempit dan tenggorokkannya terasa tersumbat.

    Akhirnya, dari kejadian itu beliau termotivasi untuk segera menulis sebuah buku tentang hikmah di balik salat Subuh, yang kemudian -atas kehendak Allah swt.- buku itu (Misteri Salat Subuh) menjadi Best Seller.

    Makna Ujian

    Ungkapan lidah sering tak sesuai dengan keyakinan hati. dan beribu ucapan tidak sesuai dengan amal perbuatan. Mukmin yang benar dan jujur adalah yang sesuai antara perkataan dengan perbuatannya. Sedangkan orang munafik, secara lahiriah kelihatan bagus dan bersih, namun hatinya keras bagaikan batu, bahkan lebih keras lagi.

    Allah swt. Maha Mengetahui apa yang terlintas dalam hati manusia. Mengetahui Mata yang tidak jujur dan segala yang tersembunyi dalam dada. Mengetahui yang munafik dari yang mukmin, serta mengetahui yang dusta dari yang jujur.

    Namun, atas kehendak-Nya, Dia berhak memberikan ujian-ujian tertentu, untuk mengetahui rahasia hati yang tersembunyi dalam setiap jiwa; serta menunjukkan siapa yang hanya berbicara tanpa melaksanakan apa yang ia katakan; atau menyakini sesuatu, tapi tidak merealisasikannya.

    Tujuan ditampakkannya rahasia hati itu karena Allah swt. Ingin menegakkan hujjah (alasan) atas manusia, agar di Hari kiamat nanti tidak Ada seorang pun yang merasa terzalimi dan teraniaya. Mereka diberi ujian, akan tetapi sebagian besar gagal dalam ujian tersebut. Lebih dari itu, melalui ujian, Allah swt. Ingin membersihkan barisan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik. Sebab, bercampurnya orang mukmin dengan orang munafik akan melemahkan barisan, menyebabkan kegoncangan, dan mengakibatkan kekalahan serta kehancuran.

    Ujian merupakan sunnah ilahiyah dan sebagai standar bagi semua manusia tanpa kecuali, yang berlaku sejak Adam a.s. diciptakan hingga hari kiamat kelak.

    Allah swt. Berfirman dalam kitab-Nya: Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ” Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS.Al-Ankabut [29]: 1-3).

    Ujian dari Allah swt. Tidak sedikit jumlahnya, dan berlaku terus-menerus sejak manusia mendapat beban syariat, sampai tibanya kematian. Jihad fisabilillah merupakan ujian, bahkan sebagai ujian yang sangat berat. Namun, bukan mustahil dilakukan karena orang-orang mukmin bisa Lulus dalam ujian itu. Sedangkan orang-orang munafik, tidak akan Lulus. Infak di jalan Allah swt. Adalah ujian. Ujian ini sulit, tetapi bukan sesuatu yang mustahil.

    Orang mukmin mampu melaksanakannya, sementara orang munafik tidak akan mampu. Begitu pula, bersikap baik terhadap sesama manusia juga ujian; menahan amarah juga ujian; rida dengan hukum Allah swt. Juga ujian; berbuat baik kepada orang tua pun ujian, dan seterusnya.

    Ujian memiliki variasi tingkat kesulitan. Seorang mukmin harus lulus dalam semua ujian itu untuk membuktikan kebenaran imannya, dan untuk menyelaraskan antara lisan dan hatinya.

    Salat Subuh, Ujian Terberat

    Inilah ujian yang sesungguhnya. Ujian yang sangat sulit, namun bukan satu hal yang mustahil. Nilai tertinggi dalam ujian ini ­bagi seorang laki-laki­ adalah salat Subuh secara rutin berjamaah di masjid. Sedangkan bagi wanita, salat Subuh tepat pada waktunya di rumah. Setiap orang dianggap gagal dalam ujian penting ini, manakala mereka salat tidak tepat waktu, sesuai yang telah ditetapkan Allah swt.

    Sikap manusia dalam menunaikan salat wajib cukup beragam. Ada yang mengerjakan sebagian salatnya di masjid, namun meninggalkan sebagian yang lain. Ada pula yang melaksanakan salat sebelum habis waktunya, namun dikerjakan di rumah. Dan, Ada pula sebagian orang yang mengerjakan salat ketika hampir habis Batas waktunya (dengan tergesa-gesa). Yang terbaik di antara mereka adalah yang mengerjakan salat wajib secara berjamaah di mushala/masjid pada awal waktu.

    Rasulullah saw. Telah membuat klasifikasi yang dijadikan sebagai tolok ukur untuk membedakan antara orang mukmin dengan orang munafik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda: ” Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya’ dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Apabila Rasulullah saw. meragukan keimanan seseorang, beliau akan menelitinya pada saat salat Subuh. Apabila beliau tidak mendapati orang tadi salat Subuh (di masjid), maka benarlah apa yang beliau ragukan dalam hati.

    Di balik pelaksanaan dua rakaat di ambang fajar ini, tersimpan rahasia yang menakjubkan. Banyak permasalahan yang bila dirunut, bersumber dari pelaksanaan salat Subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya, para sahabat Rasulullah saw. sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas itu.

    Pernah suatu hari, mereka terlambat salat Subuh dalam penaklulkan benteng Tastar. ‘Kejadian’ ini membuat seorang sahabat, Anas bin Malik selalu menangis bila mengingatnya. Yang menarik, ternyata Subuh juga menjadi waktu peralihan dari era jahiliyah menuju era tauhid. Kaum ‘Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka lainnya, dilibas azab Allah swt. pada waktu Subuh.

    Seorang penguasa Yahudi pernah menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam, kecuali pada satu hal, yaitu bila jumlah jamaah salat Subuh mencapai jumlah jamaah salat Jumat. Memang, tanpa salat Subuh, umat Islam tidak lagi berwibawa. Tak selayaknya kaum muslimin mengharapkan kemuliaan, kehormatan, dan kejayaan, bila mereka tidak memperhatikan salat ini.

    Bagaimana orang-orang muslim tidur di waktu Subuh, lalu dia berdoa pada waktu Dhuha atau waktu Zhuhur atau waktu sore hari (Ashar), memohon kemenangan, keteguhan dan kejayaan di muka bumi. Bagaimana mungkin?

    Sesungguhnya agama ini tidak akan mendapatkan kemenangan, kecuali telah terpenuhi semua syarat-syaratnya. Yaitu dengan melaksanakan ibadah, konsekuen dengan akidah, berakhlak mulia, mengikuti ajaran-Nya, tidak melanggar larangan-Nya, dan tidak sedikit pun meninggalkannya, baik yang sepele apalagi yang sangat penting.

    Subhanallah! Allah swt. akan mengubah apa yang terjadi di muka bumi ini dari kegelapan menjadi keadilan, dari kerusakan menuju kebaikan. Semua itu terjadi pada waktu yang mulia, ialah waktu Subuh. Berhati-hatilah, jangan sampai tertidur pada saat yang mulia ini. Allah swt akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga salat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam. Diriwayatkan dari Ammarah bin Ruwainah r.a., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk neraka, orang yang salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari.” (HR. Muslim).

    Salat Subuh merupakan hadiah dari Allah swt., tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertaubat. Hati yang diisi dengan cinta kemaksiatan, bagaimana mungkin akan bangun untuk salat Subuh? Hati yang tertutup dosa, bagaimana mungkin akan terpengaruh oleh hadist-hadist yang berbicara tentang keutamaan salat Subuh?

    Orang munafik tidak mengetahui kebaikan yang terkandung dalam salat Subuh berjamaah di masjid. Sekiranya mereka mengetahui kebaikan yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan pergi ke masjid, bagaimanapun kondisinya, seperti sabda Rasulullah saw.: ” Maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak.”

    Coba kita bayangkan ketika ada seorang laki-laki yang tidak mampu berjalan, tidak ada orang yang membantu memapahnya. Dalam kondisi yang sedemikian rupa, ia bersikeras mendatangi masjid dengan merangkak dan merayap di atas tanah untuk mendapatkan kebaikan yang terkandung dalam salat Subuh berjamaah Sekiranya kita saksikan ada orang yang meninggalkan salat Subuh berjamaah di masjid (dengan sengaja), maka kita akan mengetahui betapa besar musibah yang telah menimpanya.

    Tentu saja, tulisan ini bukan untuk menuduh orang-orang yang tidak menegakkan salat Subuh di masjid dengan sebutan munafik. Allah swt Maha Tahu akan kondisi setiap muslim. Namun, sebaiknya hal ini dapat dijadikan sebagai bahan koreksi bagi setiap individu (kita), orang-orang yang kita cintai, anak-anak, serta sahabat-sahabat kita. Sudahkah kita salat Subuh berjamaah di masjid/musalla secara istiqomah?

    Jika seseorang meninggalkan salat Subuh dengan sengaja, maka kesengajaan tersebut adalah bukti nyata dari sifat kemunafikan. Barang siapa yang pada dirinya terdapat sifat ini, maka segeralah bermuhasabah (intropeksi diri) dan bertaubat. Mengapa? Karena dikhawatirkan akhir hayat yang buruk (su’ul khatimah) akan menimpanya. Nauzubillah minzalik! (HD).

    ***

    Hudzaifah.org

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 1 January 2013 Permalink | Balas  

    Menyebarkan Salam

    Bagian perkara yang akan menumbuhkan cinta dan kasih sayang antara sesame adalah menyebarkan salam (kedamaian) dan mewujudkannya. Karena itulah ada beberapa hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan dan menjelaskan dampak positif dan keutamaannya:

    Barra Ibn Azib ra. berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan kita akan tujuh perkara: (1) menjenguk orang sakit, (2) mengiringi jenazah, (3) mendoakan orang yang bersin, (4) menolong orang yang lemah, (5) membantu orang yang teraniaya, (6) menyebarkan salam dan (7) melaksanakan sumpah dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga, kecuali dengan beriman. Kalian tidak akan beriman, kecuali dengan saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian lakukan, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian!” (HR. Muslim)

    Dalam riwayat Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dari Anas ra., Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah termasuk salah satu dari nama Allah yang diletakkan didunia. Sebarkanlah salam diantara kalian!”

    Dari Abdullah Ibn Amr ra., “Seorang pemuda bertanya kepada Rasulullah SAW., `Apa yang terbaik dalam Islam?’ Rasulullah menjawab, `Memberi makan (orang miskin) dan mengucapkan salam kepada yang engkau kenal atau yang tidak engkau kenal.'” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah menjelaskan bahwa di antara hak muslim atas saudaranya ialah mengucapkan salam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Hak seorang Muslim atas orang muslim ada enam.” Ditanyakan, “Apa saja ya Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “(1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam. (2) Jika dia mengundangmu, maka datanglah. (3) Jika dia meminta nasihatmu, berilah nasihat. (4) Jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah, doakanlah. (5) Jika dia sakit, jenguklah. (6) Jika dia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

    Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. Nabi SAW bersabda, “Hindarilah duduk di jalan-jalan!” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kita tidak ada tempat didik yang lain untuk berbincang-bincang?” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “”Jika kalian enggan meninggalkan tempat itu, maka berikan hak jalan itu!” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah apa hak jalan ini?” Rasulullah SAW menjawab, “Menjaga pandangan, tidak mengganggu, membalas salam, menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemungkaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang memulai memberi salam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW memberi salam kepada anak-anak kecil, seperti disebutkan dalam ash-shahihain dari Anas ra., Beliau juga memberi salam kepada para wanita, sebagaimana disebutkan dalam sunan Tirmidzi dan al- Adab al-Mufrad milik Bukhari dengan sanad hasan dari Asma binti Yazid ra., “Rasulullah SAW melewatiku, dan aku disamping teman-teman sebayaku, lalu beliau memberi salam kepada kami.”

    Begitu juga dalam suatu perkumpulan terdapat muslimin, musyrikin, penyembahan patung dan Yahudi. Nabi SAW mengucapkan salam kepada perkumpulan seperti itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Para sahabat Rasulullah, jika sedang berjalan kemudian berhadapan dengan pohon atau semak belukar yang menyebabkan mereka harus berpisah satu sama lain, mereka memberi salam ketika bertemu lagi. (Ibnu Sunni dalam bukunya, “Amal al-Yaum wa al-Lailah)

    Yang juga akan menumbuhkan rasa cinta dan kasih adalah berkirim salam kepada orang lain. Dan ini bukan perkara yang berat. Dari Aisyah ra., Rasulullah SAW berkata, “Wahai Aisyah, Jibril menyampaikan salam kepadamu.” Aisyah ra., berkata, “Untuknya salam dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW berkata, “Sesungguhnya aku berharap, jika umurku panjang, bisa berjumpa dengan Isa ibn Maryam as. Jika ada diantara kalian yang bertemu dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya.” (HR. Ahmad)

    Jadi, dalam berkirim salam terdapat pahala dan ganjaran yang besar. Yang paling membuat orang Yahudi menjadi dengki adalah adanya salam dan kata “amin”.

    Diriwayatkan dari Aisyah ra., dari Nabi SAW., “Yang membuat orang- orang Yahudi dengki kepada kalian adalah salam dan kata amin.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Bukhari dalam al-Abad al-Mufrad)

    Salam merupakan salah satu dari nama-nama Allah dan menyebarkan salam berarti menyebut Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (mengingat) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

    Berapa banyak kejahatan yang gagal dengan adanya kalimat, as- salamu’alaikum! Berapa banyak kebaikan yang diperoleh dengan kalimat as-salamu’alaikum! Berapa banyak hubungan persaudaraan terjalin dengan kalimat as-salamu’alaikum!

    Dan sebaliknya, beberapa banyak kesulitan, bencana, kesengsaraan, terputusnya tali persaudaraan, ketidak peduliaan dan permusuhan, disebabkan meninggalkan ucapan as-salamu’alaikum!

    Sebarkanlah dan perbanyaklah salam. Ucapkanlah salam kepada yang muda, tua, kaya, miskin, laki-laki, perempuan…, baik yang Anda kenal maupun yang tidak; bahkan kepada orang yang sudah meninggal sekalipun. Yakin bahwa didalam salam kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia ada kebaikan. Insya Allah.

    ***

    Sumber: jkmhal.com

    die *Fikih Akhlak*

    Musthafa Al-Adawy

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 31 December 2012 Permalink | Balas  

    Sudahkah anda bersukur

    Musim terus berganti, waktu terus berlalu, usia kian bertambah. Banyak yang sudah kita lalui di kehidupan ini. Ada masa dimana kita merasa senang. Tatkala Anda menemukan pekerjaan idaman Anda, mendapatkan promosi, dan terus menapaki tangga karir yang lebih tinggi dengan fasilitas yang lebih baik pula, Anda memiliki perasaan senang. Ini mungkin merupakan salah satu titik puncak dalam kehidupan Anda. Dunia seakan sangat indah masa itu.

    Tak dapat dielakkan, ada pula masa dimana Anda mengalami begitu banyak masalah. Anda merasa sangat tertekan. Proyek Anda mengalami hambatan ini dan itu, atasan Anda terus menuntut Anda dengan kinerja tertentu, persoalan rumah tangga, kejenuhan dan lain sebagainya. Pada titik ini, Anda menjadi sangat bingung, konsentrasi Anda terpecah, wajah Anda muram, dan antusiasme serta semangat Anda semakin menurun.

    Musim boleh berganti, waktu boleh berlalu, tapi Anda harus terus belajar menjadi orang yang bijak. Bila Anda sedang melalui masa-masa yang senang, apa yang Anda lakukan? Anda tentunya bersyukur. Bila Anda sedang melalui badai dalam hidup Anda, apa yang Anda lakukan? Biasanya, mengeluh. Setiap manusia normal, pasti pernah mengeluh. Memang hal tersebut bukan sesuatu yang salah, tapi mengeluh juga bukan sesuatu yang baik dan bijak. Anda merasa kecewa, Anda merasa jenuh, bahkan Anda marah terhadap orang lain sebagai manifestasi dari permasalahan yang Anda hadapi. Jelas ini tidak baik bagi mental Anda. Lalu apa yang harus Anda lakukan?

    Yang harus Anda lakukan adalah BERSYUKUR.

    Mari kita ubah paradigma berpikir kita. Anda harus mensyukuri segala permasalahan yang terjadi dalam hidup Anda. Jadilah orang yang memiliki sikap yang positif. Sebagian dari Anda (yang memiliki sikap negatif) mungkin akan berpikir ” Ah, teori… Ngomong sih gampang… Belum tau aja.” Kalau Anda berpikir demikian, tidak apa, Anda dapat terus melanjutkan kehidupan dengan cara-cara lama dan paradigma Anda sendiri. It’s your life anyway. Sebagian lagi dari Anda (yang memiliki sikap positif atau memiliki keinginan untuk berubah) akan bertanya “Saya mau, bagaimana caranya?”

    Mulailah dengan hal-hal kecil yang dapat menjadi latihan mental bagi Anda.

    • Bersyukur atas hari ini. Anda memiliki Anda masih dapat bernafas sementara banyak orang yang untuk bernafas saja masih memerlukan bantuan. (lihat di rumah sakit)
    • Bersyukur atas hari ini. Anda memiliki pekerjaan sementara banyak orang terpaksa harus mengemis untuk hidup. (lihat di jalanan, anak-anak dan orangtuanya mengemis)
    • Bersyukur atas hari ini. Anda dapat mengenyam pendidikan yang layak sementara banyak orang yang membacapun tidak bisa. (lihat di daerah terpencil tanpa sekolah)
    • Bersyukur atas hari ini. Anda masih dapat makan enak sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang menjadi kurus kering dan kurag gizi (lihat berita di TV yang terjadi di Afrika)
    • Bersyukur atas hari ini. Bersyukur karena Anda mengalami masalah. Bersyukur karena masalah diperkenankan terjadi dalam hidup Anda. Bersyukur karena masalah hadir membantu untuk membentuk pribadi Anda.

    Ambil waktu tenang sejenak di sela-sela kesibukan Anda atau mungkin malam hari sebelum Anda tidur. Pejamkan mata Anda agar dapat lebih berkonsentrasi. Lakukan refleksi diri. Lihat kembali perjalan hidup Anda. Mengapa Anda ada di sini saat ini? Berapa banyak sudah hal-hal luar biasa, hal-hal baik dan positif yang terjadi pada hidup Anda? Syukurilah. Lihat juga berapa banyak permasalahan yang muncul dan sudah Anda lalui? Syukurilah. Rasakan di setiap detik kehidupan Anda.

    Bersyukurlah karena badai pasti berlalu. Ingat, ada musim berikutnya dalam hidup Anda. Ada babak baru di hadapan Anda. Siapkan diri Anda untuk musim yang baru dengan sejuta keindahan di dalamnya.

    ***

    Oleh Erwin Arianto,SE

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 29 December 2012 Permalink | Balas  

    Bersaksilah Karena Allah

    Allah berfirman, “Hendaklah kalian tegakkan persaksian karena Allah.” (QS. Ath-Thalaq: 2)

    Jangan bersaksi karena hanya ingin disebut orang yang berkata benar. Jadikanlah persaksian dan ucapan Anda karena Allah, dengan mengharap pahala dan ridha-Nya.

    Jika Anda belajar, jadikan belajar itu hanya karena Allah, jika berjihad, jadikan jihad itu hanya karena Allah. Jika berderma, jadikan derma itu hanya karena Allah.

    Jika Anda belajar karena ingin disebut sebagai seorang intelektual, maka api neraka telah menyala untuk Anda. Begitu juga jika berjihad agar disebut sebagai pejuang; dan berderma agar disebut dermawan. Karena itu, ada sebuah hadits yang menguraikan soal itu:

    Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah ra.; “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, `Sesungguhnya orang yang pertama kali disidang pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia akan dihadapkan pada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan itu semua?’ `Aku telah berperang demi Engkau, hingga aku mati syahid. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.’ Kemudian orang itu diseret kedalam api neraka. Kemudian orang yang belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al- Qur’an. Dia dihadapkan kepada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan semua ini?’ `Aku telah belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an demi Engkau,’ jawabnya. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau belajar agar dikatakan sebagai orang yang pintar dan engkau membaca Al- Qur’an agar dikatakan sebagai seorang qari’ (pembaca Al-Qur’an). Kemudian orang itu diseret kedalam api neraka. Kemudian orang yang diluaskan rizkinya oleh Allah. Dia dihadapkan kepada nikmat- nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan ini semua?’ `Aku selalu mendermakannya demi Engkau di jalan yang Engkau suka.’ (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berderma agar dikatakan sebagai seorang dermawan.’ Kemudian orang itu diseret kedalam api neraka.”

    Jadikanlah shalatmu, ibadahmu, kehidupanmu dan kematianmu hanya untuk Allah.

    “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah aku diperintahkan dan aku adalah yang pertama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS.Al-An’am: 162-163)

    Hadits-hadits yang berhubungan dengan perkara di atas:

    Rasulullah SAW bersabda, tentang orang yang dimasukkan ke dalam perlindungan Allah pada hari ketika tak ada lagi selain perlindungan- Nya, “Yaitu dua orang yang mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

    Abu Daud dan Ahmad meriwayatkan, “Ada tiga hal yang jika ketiganya ada dalam diri seseorang maka ia pasti merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasulnya lebih dicintai dari segalanya, (2) Mencintai atau tidak mencintai, karena Allah. (3) Tidak mau kembali kepada kekufuran, seperti halnya tidak mau untuk dilemparkan ke neraka.”

    Sabdanya yang lain, dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad, “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan melarang karena Allah, maka telah sempurnalah imannya.”

    Dalam hadits yang lain, “Sesungguhnya setiap derma yang engkau keluarkan karena Allah, engkau akan mendapatkan pahala karenanya, bahkan derma yang engkau berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Nabi SAW juga bersabda, “Jika seseorang membiayai hidup keluarganya dan dia melakukannya untuk mencari ridha Allah– maka berarti dia sudah bersedekah.” (HR. Bukhari)

    Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah berkata pada hari Kiamat, `Dimanakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? pada hari ini, Aku akan melindunginya, ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Ku.” (HR. Muslim)

    Dari Abu Hurairah ra. Nabi SAW bersabda, “Seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, kemudian Allah mengutus satu malaikat di jalannya. Ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, `Engkau hendak kemana?’ Dia menjawab, `Saya ingin mengunjungi saudara saya di desa ini.’ Malaikat itu bertanya lagi, `Adakah oleh-oleh yang akan engkau berikan untuknya?’ Dia menjawab, `Tidak ada, selain hanya saya mencintainya karena Allah.’ Malaikat itu berkata, `Aku adalah utusan Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya (saudaramu) karena Allah.'” (HR. Muslim)

    Dari Abu Muslim Al-Khulani, ia berkata, Aku mendatangi masjid penduduk Damaskus kebetulan terdapat sekelompok orang yang di dalamnya nampak beberapa sahabat Rasulullah yang senior. Diantara mereka terdapat seorang pemuda yang matanya bercelak dan bersinar. Setiap kali mereka berselisih tentang sesuatu, mereka mengembalikan perselisihan itu kepada pemuda tersebut, pemuda yang masih remaja. Aku (Abu Muslim Al-Khulani) bertanya kepada teman dudukku, `Siapakah pemuda itu?’ Dia menjawab, `Dia adalah Mu’adz Ibn Jabal.’ Kemudian aku datang pada sore hari, mereka tidak hadir, dan aku datang pada pagi hari, mereka juga tidak datang. Aku berangkat pergi, namun tiba- tiba aku melihat pemuda itu sedang shalat di dekat sebuah tiang. Aku duduk mendekat dan berusaha menghampiri. Dia memberi salam dan aku mendekatinya lagi. Aku berkata kepadanya, `Aku mencintai karena Allah.’ Aku mendekatinya lagi dan dia berkata, `Apa yang engkau katakana?’ Aku berkata, `Aku mencintai karena Allah.’ Dia berkata, `Aku mendengar Rasulullah bercerita tentang Tuhannya yang berkata, `Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan Arsy pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah.’ Kemudian aku keluar sampai bertemu dengan Ubadah ibn Shamit dan aku menceritakan kepadanya tentang apa yang diceritakan oleh Muadz ibn Jabal. Ubadah ibn Shamit kemudian berkata, `Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda tentang Tuhannya yang berkata, `Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling mencinta karena Aku. Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling memberi karena Aku. Orang-orang yang Saling membeberi karena Aku. Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di bawah naungan Arsy pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah.” (HR. Ahmad)

    Dalam Riwayat Tirmidzi ada hadits, “Allah berkata, `Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya dan didoakan oleh para nabi dan orang-orang yang mati syahid’.”

    Apabila anda mencintai suatu kaum karena Allah, maka anda akan dikumpulkan bersama mereka pada hari Kiamat. Dari Abo Musa ra., `Ditanyakan kepada Nabi SAW., `Seseorang mencintai suatu kaum dan dia tidak pernah bertemu mereka?’ Nabi bersabda, `Seseorang akan bersama orang yang dicintai’.” (HR. Bukhari)

    ***

    Musthafa al-`Adawy *Fikih Akhlak*

    Dari: jkmhal.com

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 28 December 2012 Permalink | Balas  

    Nasehat – Nasehat Seputar Membaca Al-Qur’an  

    Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Al-Qur’an adalah sumber hukum yang pertama bagi kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran serta kemuliaan para pembacanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir : 29).

    Al-Qur’an adalah ilmu yang paling mulia, karena itulah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya bagi orang lain, mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari pada belajar ilmu yang lainya. Dari Utsman bin Affan radhiyallah ‘anhu , beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya(HR. Muslim)

    Diriwayatkan juga oleh Imam Al-Bukhari, bahwa yang duduk di majlis Khalifah Umar Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau bermusyawarah dalam memutuskan berbagai persoalan adalah para ahli Qur’an baik dari kalangan tua maupun muda.

    Keutamaan membaca Al-Qur’an di malam hari

    Suatu hal yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur’an pada malam hari. Lebih utama lagi kalau membacanya pada waktu shalat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus (yang telah masuk Islam), mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu malam hari, sedang mereka juga bersujud (Shalat).” (Ali Imran: 113)

    Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ini menyebutkan bahwa ayat ini turun kepada beberapa ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Asad bin Ubaid, Tsa’labah bin Syu’bah dan yang lainya. Mereka selalu bangun tengah malam dan melaksanakan shalat tahajjud serta memperbanyak memba-ca Al-Qur’an di dalam shalat mereka. Allah memuji mereka dengan menyebut-kan bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh, seperti diterangkan pada ayat berikutnya.

    Jangan riya’ dalam membaca Al-Qur’an

    Karena membaca Al-Qur’an merupa-kan suatu ibadah, maka wajiblah ikhlas tanpa dicampuri niat apapun. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menuaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

    Kalau timbul sifat riya’ saat kita membaca Al-Qur’an tersebut, kita harus cepat-cepat membuangnya, dan mengembalikan niat kita, yaitu hanya karena Allah. Karena kalau sifat riya’ itu cepat-cepat disingkirkan maka ia tidak mempengaruhi pada ibadah membaca Al-Qur’an tersebut. (lihat Tafsir Al ‘Alam juz 1, hadits yang pertama).

    Kalau orang membaca Al-Qur’an bukan karena Allah tapi ingin dipuji orang misalnya, maka ibadahnya tersebut akan sia-sia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah n bersabda, artinya:

    “Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an maka di bawalah ia (dihadapkan kepada Allah), lalu (Allah) mengenalkan-nya (mengingatkannya) nikmat-nikmatnya, iapun mengenalnya (mengingatnya), Allah berfirman: Apa yang kamu amalkan padanya (nikmat)? Ia menjawab: Saya menuntut ilmu serta mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an padaMu (karena Mu). Allah berfirman : Kamu bohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan orang “alim”, dan kamu mem-baca Al-Qur’an agar dikatakan “Qari’, maka sudah dikatakan (sudah kamu dapatkan), kemudian dia diperintahkan (agar dibawa ke Neraka) maka diseretlah dia sehingga dijerumuskan ke Neraka Jahannam.” (HR. Muslim)

    Semoga kita terpelihara dari riya’.

    Jangan di jadikan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dunia.

    Misalnya untuk mendapatkan harta, agar menjadi pemimpin di masyarakat, untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, agar orang-orang selalu meman-dangnya dan yang sejenisnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “…Dan barang siapa yang menghen-daki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya kebaha-gianpun di akhirat. (As-Syura: 20).”Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki …” (Al Israa’ : 18)

    Jangan mencari makan dari Al-Qur’an

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya.” (HR. Ahmad, Shahih).

    Imam Al-Bukhari dalam kitab shahih-nya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur’an, “Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur’an dan makan denganNya”, Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.

    Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallah ‘anhu bahwasanya dia sedang melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an di hadapan suatu kaum . Setelah selesai membaca iapun minta imbalan. Maka Imran bin Hushain berkata: Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Barangsiapa membaca Al-Qur’an hendaklah ia meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al- Qur’an lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya (Al-Qur’an) (HR. Ahmad dan At Tirmizi dan ia mengatakan: hadits hasan)

    Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti ‘Atha, Malik dan Syafi’i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut.Wallahu A’lam.

    Jangan meninggalkan Al-Qur’an.

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Dan berkata Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (Al-Furqan: 30).

    Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan Al-Qur’an adalah hanya tidak membacanya saja, padahal yang dimaksud di sini adalah sangat umum. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini. Dia menjelaskan bahwa yang dimaksud meninggalkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut;

    • Apabila Al-Qur’an di bacakan, lalu yang hadir menimbulkan suara gaduh dan hiruk pikuk serta tidak mendengarkannya.
    • Tidak beriman denganNya serta mendustakanNya
    • Tidak memikirkanNya dan memahamiNya
    • Tidak mengamalkanNya, tidak menjunjung perintahNya serta tidak menjauhi laranganNya.
    • Berpaling dariNya kepada yang lainnya seperti sya’ir nyanyian dan yang sejenisnya.

    Semua ini termasuk meninggalkan Al-Qur’an serta tidak memperdulikan-nya. Semoga kita tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur’an. Amin.

    Jangan ghuluw terhadap Al-Qur’an

    Maksud ghuluw di sini adalah berlebih-lebihan dalam membacaNya. Diceritakan dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin Umar radhiyallah ‘anhu beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah benar bahwa ia puasa dahr (terus-menerus) dan selalu membaca Al-Qur’an di malam hari. Ia pun menjawab: “Benar wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintah padanya agar puasa seperti puasa Nabi Daud alaihis salam , dan membaca Al-Qur’an khatam dalam sebulan. Ia pun menajwab: Saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bacalah pada setiap 20 hari (khatam). Iapun menjawab saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah berasabda : Bacalah pada setiap 10 hari. Iapun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah pada setiap 7 hari (sekali khatam), dan jangan kamu tambah atas yang demikian itu.” (HR. Muslim)

    Diriwayatkan dari Abdu Rahman bin Syibl radhiyallah ‘anhu dalam hadits yang disebutkan diatas: “Dan janganlah kamu ghuluw padanya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi). Wallahu ‘a’lam bishshawab.

    ***

    (Sumber Rujukan: Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 306; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Muhktasar).; Fathu Al Bari jilid 10 kitab fadhailil Qur’an, Al Hafiz IbnuHajar ; At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an, An Nawawi Tahqiq Abdul Qadir Al Arna’uth; Fadhail Al-Qur’an, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Tahqiq Dr. Fahd bin Abdur Rahman Al Rumi.)

    Oleh: Chandra Kusumantoro

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 27 December 2012 Permalink | Balas  

    Ujian Allah

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sungguh Allah akan menguji kamu dengan berbagai cobaan, sebagaimana kamu menguji (membakar) emas dengan api. Ada orang yang keluar (dari ujian tersebut) seperti emas murni, orang itulah yang dilindungi Allah dari kejelekan; ada juga orang yang keluar seperti emas yang tidak murni, orang itu masih dipenuhi keraguan; dan terakhir ada orang yang keluar seperti emas hitam, orang itulah yang terkena fitnah (siksa).”  (HR Al Hakim dalam al-Mustadrak dan dia menganggapnya shahih no 7878. Hadits ini diriwayatkan juga oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam)

    Pernah Anda mengamati begaimana emas dibakar dengan api? Jika menginginkan emas murni 24 karat, Anda harus memanggangnya di atas api yang lebih besar. Diantara manusia itu ada yang keluar (dari ujian) bak emas murni, yaitu emas yang bersih dan bening seketika. Adakah di antara kita orang yang keluar seperti emas murni tersebut? Jika ada, berarti ialah orang yang dilindungi Allah SWT.

    Ada lagi orang yang keluar (dari ujian tersebut) dalam keadaan bingung, suatu saat ia memuji Allah dan di lain kesempatan dia kembali kepada kebiasaannya (bermaksiat). Ada lagi tipe orang yang keluar seperti emas yang hitam pekat yang sudah menjadi arang. Golongan manusia jenis inilah yang terlaknat.

    Di hari kiamat setiap kita akan ditanya. Nah, seperti apakah Anda? Termasuk jenis emas manakah Anda? murni, campuran, atau…??

    Mungkin kita tidak pernah mengalami musibah seperti yang dialami Nabi Yaqub as. Meskipun Allah sangat menyayanginya, Dia tetap mengujinya. Kalau Allah menguji Anda dengan suatu musibah, janganlah mengatakan, “Sungguh, Allah sedang murka kepadaku.” Ya Allah, mengapa Engkau menimpakan ini kepadaku?” Janganlah sekali-kali Anda mengucapkan kata-kata itu, karena sesungguhnya Allah menyayangi Anda. Mungkin Anda mempunyai dosa yang Anda tanggung hingga Anda masuk neraka Jahannam. Allah SWT tidak menginginkan Anda masuk neraka. Allah hendak menyucikan diri Anda dan memasukkan Anda ke dalam surgaNya. Karena itu, Allah menguji Anda dengan musibah. Pada hari kiamat, Allah menginginkan Anda berdiri tegak di hadapanNya. Untuk itu, Allah terlebih dahulu menyucikan diri Anda di dunia ini.

    (sumber: romantika Yusuf, Amru Khalid, maghfirah pustaka, 2004)

    ***

    Dari: Erwin Arianto, SE

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 25 December 2012 Permalink | Balas  

    Kesenangan (Cinta) Duniawi yang Melalaikan

    Firman Allah :

    (38:30) Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhannya),

    (38:31) (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

    (38:32) maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”.

    (38:33) “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu”.

    Empat ayat diatas adalah dari Surot Shood, menceritakan suatu kisah ibrah berkenaaan kesenangan / kecintaan duniawi yang bisa melalaikan ketaatan terhadap perintah Allah.

    Ayat pertama, (38:30) informasi kepada kita bahwa Allah memberikan karunia kepada Nabi Daud as, seorang anak yang merupakan sebaik-baik hamba Allah dan amat taat kepada Allah, yaitu Nabi Sulaiman as.

    Ayat kedua, (38:31) menceritakan bahwa Nabi Sulaiman punya hoby memelihara kuda. Dan kuda-kudanya sangat terlatih. Namun karena hobynya ini membuat lalai dalam mengingat Allah, sehingga ia berkata :

    Ayat ketiga, (38:32) “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. Karena kesenangannya dalam memelihara kuda dan melatihnya membuat ia lalai lalu ia mengambil keputusan :

    Ayat ke empat, (38:33) “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.

    Apa yang dilakukan Nabi Sulaiman as, merupakan sebuah kisah yang patut kita ambil ibrahnya, betapa pentingnya untuk ingat terhadap perintah Allah dan jangan sampai kita lalai terhadap mengingat Allah karena kesibukan duniawi sesaat.

    Lalu mari kita renungkan surot at-Tawbah ayat 24 dibawah ini :

    (9:24) Katakanlah: “jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”.

    Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

    Semoga Allah melindungi kita dalam pemeliharaan dan pendidikan-Nya agar lebih mencintai Allah, Rasul dan Jihad. Jangan sampai kecintaan ataupun kesenangan kita terhadap bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kita, harta kekayaan yang kita usahakan, perniagaan yang kita khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kita sukai membuat kita lalai dalam mengingat Allah.

    Karena jika kita tidak segera toubat dari kelalaian terhadap Allah, Rasul dan Jihad maka akan termasuk orang-orang yang fasik. Na’udzubillah min zalik.

    Wassalam

    • Beribadah karena manusia itu munafiq
    • Meninggalkan ibadah karena manusia itu musyrik

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 24 December 2012 Permalink | Balas  

    Jangan Sampai Amal Kita Hangus!

    Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk, sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat. Mendengar kabar menarik tersebut, semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.

    Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air wudhu. Penampilannya biasa-biasa saja. Ia pun bukan orang terkenal. Abu Umamah Ibnu Jarrah, demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.

    Keesokan harinya, peristiwa serupa terulang kembali. Demikian pula hari ketiga.

    Para sahabat penasaran, Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni surga? Salah satunya Abdullah bin Amr bin ‘Ash. Ia pun meminta izin kepada Abu Umamah untuk menginap tiga hari di rumahnya.

    Tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satu pun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja.

    Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya, ujar Abdullah. Ia pun bertanya, Amal apa yang engkau lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu calon penghuni surga? Jawaban Abu Umamah sungguh mengecewakan, Apa yang engkau lihat itulah.

    Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba tuan rumah berkata, Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, saya pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam.

    Ada banyak ibrah dari kisah ini. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hatilah (qolbun saliim) yang akan memasuki surga tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khaliq, Allah Azza wa Jalla. Difirmankan, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS Asy Syu’araa [26]: 87).

    Kebersihan hati adalah password untuk membuka pintu surga. Sesedikit apa pun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke surga, asal ia memiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apa pun amal, tidak akan berarti sama sekali bila kita memiliki hati penuh penyakit.

    Abu Umamah layak ditiru. Ia bukan sahabat sekaliber Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan atau pun Ali bin Abi Thalib. Ibadahnya pun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, juga beberapa sahabat lainnya. Namun, derajatnya di mata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, hingga Rasulullah SAW memvonis ia sebagai calon penghuni surga. Mengapa? Sebab hatinya bersih dari penyakit dan lapang dari kebencian dan dendam. Sehingga semua amal kebaikannnya tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah SWT.

    Karena itu, selain sibuk memperbanyak amal kebaikan, kita pun harus sibuk menjaga hati dari penyakit-penyakit membahayakan. Sebab, percuma saja kita menghiasai diri dengan berjuta-juta amalan–wajib maupun sunnat, sedang hati tidak pernah kita bersihkan. Sebaliknya, walau amal kita biasa-biasa saja, namun dibingkai kebersihan hati, maka nilainya akan jauh lebih tinggi di hadapan Allah. Lebih baik makan sayur kacang di mangkuk yang bersih, daripada makan gule spesial yang ditaruh di mangkuk penuh kotoran. Ideal tentu makan gule spesial di mangkuk bersih. Atau banyak ibadah dengan landasan qalbun saliim.

    Namun setan tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha menghancurkan amal-amal yang tengah kita kumpulkan saat Ramadhan ini. Maka, sekali lagi, di tengah kesibukan kita beramal, jangan lupakan hati kita. Lindungi dari penyakit-penyakit penghancur amal. Menurut Rasul SAW, ada tiga penyakit yang akan menghanguskan amal kita.

    Pertama, takabur atau sombong. Menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, takabur akan menjadi batas pemisah antara seseorang dengan kemuliaan akhlak. Betapa tidak, orang takabur akan selalu mendustakan kebenaran, menganggap rendah orang lain dan meninggikan dirinya. Jangankan banyak, sedikit saja di hati kita ada sikap takabur, maka surga akan menjauh, amal-amal jadi tidak berarti. Disabdakan, Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sikap takabur walaupun sebesar debu. (HR Muslim).

    Kedua, hasud atau iri dengki. Ciri khas seorang pendengki adalah adanya ketidakrelaan ketika orang lain mendapat nikmat dan sangat berharap nikmat tersebut segera lenyap darinya. Bahasa kerennya, susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah . Kedengkian sangat efektif menghancurkan kebaikan. Rasulullah Saw. menegaskan, Dengki itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

    Ketiga, riya atau beramal karena mengharap pujian orang lain. Riya adalah tingkatan terendah dari amal. Rasul menyebutnya syirik kecil yang juga efektif menghapuskan kebaikan. Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal yang di dalamnya terdapat seberat debu saja berupa riya. Sebuah hadis qudsi mengungkapkan pula bagaimana murkanya Allah kepada orang yang riya dalam amalnya. Pada hari kiamat Allah berfirman, ketika semua manusia menlihat catatan amal-amalnya, Pergilah kamu semua kepada apa yang kamu jadikan harapan (riya) di dunia. Lihatlah apakah kamu semua memperoleh balasan dari mereka? (HR Ahmad dan Baihaqi). Dalam Alquran, diungkapkan pula bahaya riya, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria (QS Al Maa’un [107]: 4-6).

    Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menjaga hati dan amalan kita dari kebinasaan. Semoga.

    ***

    sumber: republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 22 December 2012 Permalink | Balas  

    Meneladani Akhlak Rasulullah

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai? Maka, tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” QS Al Hujuraat:12

    Menapaki hari demi hari dari bulan Ramadhan yang paling utama di antara segala bulan ini ternyata kita tidak semata-mata sedang menjalani suatu kewajiban dari Allah. Akan tetapi pada hakikatnya kita tengah menapaki nikmat demi nikmat, pahala demi pahala, serta ampunan demi ampunan dari-Nya.

    Rasulullah SAW diutus oleh Allah ke dunia ini bertugas untuk menyempurnakan akhlak. Beliau ajarkan akhlak mulia pada keluarga, sahabat, dan umatnya. Terhadap siapa pun beliau menghormati. Beliau tidak berbicara cepat seperti orang angkuh. Namun beliau juga tidak berbicara pelan seperti orang yang malas berkata-kata.

    Lisan Rasulullah dilimpahi curahan berkah yang melimpah. Beliau berbicara jelas, tegas, penuh makna dan menghujam ke hati para shahabat yang mendengarnya. Ucapan beliau sarat dengan hikmah, indah dan bernilai. Beliau tidak berbicara kecuali perlu. Beliau selalu membuka dan menutup pembicaraan dengan menyebut nama Allah.

    Dengan demikian, maka sangat mustahil bagi Rasulullah SAW untuk berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain atau menceritakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan mereka.

    Allah berfirman dalam hadits Qudsi, yang artinya : “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukan akan menimpanya”.

    Allah SWT menuntun manusia hidup dengan adab kesopanan yang luhur. Jika mereka berpegang dengan adab tersebut, insya Allah akan tumbuh rasa cinta dan kebersamaan di antara mereka. Hidup bermasyarakat akan rawan konflik. Disengaja atau tidak selalu saja akan muncul potensi sakit hati. Dan Allah telah mengajari kita agar hidup jauh dari prasangka buruk (su’uzhan), mencari-cari kesalahan orang (tajassus), dan (ghibah) yaitu membicarakan aib saudaranya, yang jika mereka mendengarnya tentu akan sakit hati dan membencinya.

    Berburuk sangka atau su’uzhan akan membuat hati kita capek dan busuk. Kita tahu bahwa prasangka-prasangka buruk akan memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Selain merusak hati su’uzhan juga akan melenyapkan kebahagiaan, merusak akhlak dan akan menodai kedudukan kita di sisi Allah. Jika kita sadar bahwa su’uzhan itu buruk akibatnya, maka mengapa kita tidak berbaik sangka (husnuzhan) saja kepada orang lain?

    Saat kita mengucapkan salam pada orang lain, kemudian tidak mendapat jawaban sedikit pun, maka cobalah untuk berbaik sangka. Siapa tahu orang yang kita salami tidak mendengar suara kita atau mungkin saja ia tengah konsentrasi berdzikir pada Allah. Biasakanlah kita melatih diri untuk mencari seribu satu alasan positif agar dapat memaklumi orang lain. Respons positif kita bisa dijadikan salah satu cara untuk menghindari kebiasaan ber-su’uzhan.

    Orang yang gemar berburuk sangka, maka akan menderita sendiri. Hidupnya akan sempit, sesempit gelas yang terisi air. Kalau dimasukkan ke dalamnya sesendok garam saja, maka akan terasa asin seluruh airnya. Berbeda dengan danau, walaupun dimasukkan sekarung garam, maka airnya tidak akan menjadi asin, sebab airnya melimpah. Demikian juga hati kita, jika hati kita sempit sesempit gelas maka sedikit saja masalah akan membuat hati kita sakit. Dan bila hati sudah sakit maka apa pun yang terjadi, akan terlihat buruk oleh mata kita. Maka jika kita gemar berbaik sangka (husnuzhan), insya Allah hidup akan terasa tenang dan lapang.

    Lingkungan juga dapat membentuk akhlak seseorang. Lingkungan orang-orang beriman dan terpuji akhlaknya, insya Allah akan menghindarkan diri kita dari berburuk sangka. Ketika ada orang tak dikenal datang ke rumah kita, jangan langsung su’uzhan. Tapi juga jangan sampai hilang kewaspadaan, waspada tetap dibutuhkan di samping kewajiban kita berbaik sangka. Kita kenali yang mendatangi rumah kita, maka jangan langsung kita su’uzhan terlebih dahulu. Tapi, tidak ada salahnya kalau kita selalu waspada agar dapat mengendalikan keadaan dengan tepat.

    Belajar untuk mencari seribu satu alasan sebagai jawaban dari berbagai permasalahan dapat menjadikan kita selalu husnuzhan dengan tepat. Jangan sampai kita berbaik sangka pada para penjahat. Bisa-bisa, sebelum kita menyadarinya ternyata kita telah menjadi korban kejahatannya. Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau kita berbaik sangka pada maling. Ber-husnuzhan juga ada ilmunya, jangan sampai kita tertipu karena telah ber-husnuzhan pada orang yang tidak tepat. Ber-husnuzhan lah pada orang beriman dan akhlaknya mulia. Dan biasakanlah untuk selalu dapat memaklumi sikap orang lain dan tetap harus waspada.

    Selain menghindari su’uzhan, Allah mengajarkan hamba-Nya melalui Rasulullah SAW untuk tidak ber-tajassus (mencari-cari aib orang lain) dan ber-ghibah (menceritakan aib orang lain). Dua hal buruk ini sangat akrab sekali dalam kehidupan manusia. Kadang malah bisa menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

    Ghibah adalah menyebut-nyebut seseorang tentang hal-hal yang tidak ia sukai dan tanpa sepengetahuannya. Ghibah itu dimisalkan dengan memakan daging bangkai, sebab dengan ber-ghibah berarti kita telah merobek-robek kehormatan pribadi dan orang lain yang serupa dengan merobek-robek dan memakan daging yang sudah menjadi bangkai. Lebih dari itu, ayat dari surat al Hujuraat sebagaimana tersebut di atas, menganggap bahwa daging yang dimakan itu adalah daging saudara sendiri yang telah mati, sebagai gambaran betapa kejinya perbuatan seperti itu yang dianggap menjijikan oleh perasaan orang lain.

    Saudaraku, apabila kita terlanjur ber-su’uzhan, tajassus, dan ghibah, maka wajiblah bagi kita untuk bertaubat dengan taubat yang sesungguhnya. Ketika perbuatan dosa itu kita lakukan, maka secara langsung kita harus bertaubat, yaitu dengan cara berhenti dari perbuatan dosa dan menyesal atas keterlanjurannya serta bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi perbuatan yang sudah terlanjur dilakukan itu.

    Selain bertaubat, kita harus meminta maaf pada orang yang telah kita sakiti dengan su’uzhan, tajassus, dan ghibah yang telah kita lakukan. Jika kita tidak sempat meminta maaf padanya karena ia telah tiada, maka doakanlah kebaikan bagi diri dan keluarganya. Dengan demikian, mudah-mudahan Allah mengampuni dosa yang telah kita perbuat dan tentu saja kita berharap menjadi golongan orang-orang yang bertakwa. Wallahu a’lam.

    ***

    (KH Abdullah Gymnastiar )

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 13 December 2012 Permalink | Balas  

    Semangat Sebagai Kunci Kebahagiaan Opsi

    Oleh : Aa Gym

    Bismillahirahmanirrahim

    Kepribadian manusia sangat tergantung kepada suasana hati yang dipengaruhi pikiran. Seumpama teko, ia hanya mengeluarkan isinya. Bila isinya teh, maka yang keluar pun teh. Kalau isinya air bening, maka teko itu pun hanya mengeluarkan air bening.

    Demikian halnya dengan kepribadian seseorang. Bila hatinya sedang diliputi kegembiraan, maka terpancarlah rasa sukacita itu dari raut wajah, tutur kata gerak-gerik, dan perilaku fisik lainnya. Sebaliknya, hati yang sedih sebagai buah dari pikiran yang kusut. Tercermin pulalah dalam penampilan, tatapan mata, desahan nafas, raut wajah, atau kelesuan tubuhnya.

    Memang, tubuh hanyalah alat ekspresi dari kondisi hati. Sehingga, Rosulullah saw. pernah bersabda, “Di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau daging itu baik, maka baik pula tubuhnya, tetapi kalau daging itu buruk, maka buruklah seluruh sikapnya. Ia adalah hati.”

    Oleh karena itu, sekiranya dalam mengarungi hidup ini kita merasa kurang berprestasi, kurang berkualitas, atau jemu dan tidak bergairah dalam menghadapi hari demi hari, sehingga kehadiran kita kurang memiliki arti, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan, maka ketahuilah bahwa semua itu sama sekali bukan disebabkan oleh adanya kesulitan-kesulitan yang menghimpit, melainkan lantaran kurang terampilnya kita dalam mengelola suasana hati, sehingga menjadi tidak sanggup memompa dan membakar semangat. Padahal, bukankah semua bahan bakunya telah disiapkan oleh Allah yang Maha Rahman secara adil dan sempurna, di dalam diri kita sendiri?

    “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk,” demikian firman-Nya. Jadi, tidak ada kekurangan menurut ilmu Allah. Diri kita sudah disiapkan dengan sempurna untuk menjadi diri sendiri, yang memiliki potensi sama untuk meraih kualitas pribadi terbaik yang berhak mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Jadi, tidak ada kekurangan menurut ilmu Allah. Diri kita sudah disiapkan dengan sempurna untuk menjadi diri sendiri, yang memiliki potensi sama untuk meraih kualitas pribadi terbaik yang berhak mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Sungguhpun kita dapati beberapa kekurangan menempel pada tubuh ini, sesungguhnya kekurangan lahir itu amatlah semu. Dan itupun semata-mata didasarkan atas penilaian kita saja yang sudah pasti senantiasa diselimuti hawa nafsu. Sesungguhnya kekurangan-kekurangan yang Dia berikan pada jasad (lahir) ini merupakan alat yang amat potensial untuk mengembangkan kualitas hati.

    Bahwa justru dengan kekurangan yang ada, hati menjadi terlindung dari riya, sum’ah, dan takabur, sehingga menjadi terlatih untuk selalu ridha dan sabar. Bukankah bersikap sabar itu lebih sulit dan berat ketika mendapatkan nikmat ketimbang saat didera musibah? Disamping itu, hati pun niscaya akan terlatih menjadi ahli syukur karena ternyata musibah kekurangan yang ada itu pasti teramat kecil dibandingkan dengan nikmat kesempurnaan lainnya yang melimpah ruah.

    Walhasil, bila kekurangan itu membuat kita menjadi minder (rendah diri), pemalu, kecewa, atau bahkan putus asa, maka jelaslah semua ini karena diciptakan oleh perasaan sendiri sebagai akibat salah mengatur suasana hati. Sehingga, tidak hanya akan merugikan diri sendiri, tetapi bukan tidak mungkin orang lain pun ikut terkena getahnya.

    Maka, mengantisipasi kondisi semacam ini, kuncinya hanya satu: kesadaran penuh bahwa hidup didunia ini hanya mampir sebentar saja karena memang bukan disinilah tempat kita yang sebenarnya. Asal usul kita adalah dari surga dan tempat itu yang memang layak bagi kita. Jika berminat dan bersungguh-sungguh berjuang untuk mendapatkannya, maka Allah pun sebenarnya sangat ingin membantu kita untuk kembali ke surga.

    Bukalah kitabullah Al-Qur’an dan lihatlah janji-janji yang difirmankanNya. Betapa banyak amalan yang amat kecil dan sederhana bisa membuat dosa kita diampuni dan diberi pahala berlipat ganda.

    Sahabat, kita memang harus bertindak cermat agar “sang umur”, sebagai modal hidup kita, benar-benar efektif dan termanfaatkan dengan baik. Sebab, bisa jadi kita tak lama lagi hidup di dunia ini. Akankah sisa umur ini kita habiskan dengan kesengsaraan dan kecemasan padahal semua itu sama sekali tidak mengubah apapun, kecuali hanya menambah tersiksanya hidup kita? Tidak!, sudah terlalu lama kita menyengsarakan diri. Harus kita manfaatkan sisa umur ini dengan sebaik-baiknya agar mendapat kebahagiaan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

    Kebanyakan kita suka tenggelam dalam kesengsaraan, persis seperti kapal selam yang bocor, semakin banyak bocornya, semakin cepat pula tenggelamnya. Sepertinya kita ini adalah orang-orang yang tidak dapat mengatur pikiran dengan baik. Kerap terhantui oleh masa lalu, berangan-angan dan cemas akan hari esok, semua itu membanjiri dan menenggelamkan pikiran, sehingga tak sempat lagi berfikir banyak untuk hari ini. Padahal, hari kita justru hari ini.

    Sekiranya masa lalu kita buruk dan kurang sukses, justru akan menjadi baik dengan baiknya hari ini. Begitupun jika kita merindukan hari esok yang baik, maka kita peroleh dengan berlaku semaksimal mugkin pada hari ini. Sekali lagi, hari milik kita adalah hari ini. Maka, kita buat sukses dengan gemilang. Apa yang terjadi di masa lalu adalah bahan pendorong untuk hari ini. Bergelimang dosa pada hari yang lalu menjadi pemicu untuk bertaubat pada hari ini. Janganlah pikiran kita dipenuhi dengan ingatan akan banyaknya dosa, namun penuhilah dengan pikiran tentang bagaimana caranya agar memperoleh ampunan dari Allah pada hari ini.

    Karenanya, gelorakan semangat untuk bertaubat sesempurna mungkin. Kelemahan dan kegagalan masa lalu tidak usah menjadi buah fikiran berlama-lama. Kuasailah pikiran dengan baik dan kerahkan seoptimal mungkin agar memperoleh kesuksessan dan kebahagiaan pada hari ini.

    Bila air dari gelas tumpah, apalah perlunya pikiran dan hati tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan berlarut-larut. Biarlah semuanya terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Kuatkan pikiran kita untuk mencari air yang baru. Dengan demikian, Insya Allah tumpahnya air akan menjadi keuntungan karena kita mendapatkan pahala sabar serta pahala ikhtiar.

    Dan yang terlebih penting lagi, kita akan dilimpahi aneka nikmat baru yang lebih besar karena kita telah menjadi ahli syukur nikmat. Bukankah Allah Azza wa Jalla telah berjanji, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim (140):7)

    Jadi, jangan pikiran kita terjerat oleh rasa malu. Kemarin jelek, maka hari ini harus bagus, sehingga hari esok pun menjadi cerlang cemerlang!. Aturlah pikiran kita dengan baik dan cegahlah dari hal-hal yang dapat merusak suasana hari ini. Kondisikan agar kita selalu mampu berpikir positif.

    Mengapa kita harus gelisah memikirkan nikmat yang belum tampak? Padahal, semua yang kita inginkan mutlak kuncinya adalah qudrah dan iradah Allah. Dan Dia sangat memperhatikan perilaku kita setiap saat. Sekiranya Allah, tidak menghendaki, maka tidak akan pernah terjadi apapun jua. Namun sekiranya Dia menhendaki sesuatu, maka tiada sesuatu pun yang dapat menolaknya.

    Allah berfirman, “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya, kecuali Dia. Dan jika Allah menhendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus (10) : 107)

    Tegasnya, siapapun yang memiliki cita-cita luhur, yakinlah bahwa hari ini adalah kunci untuk hari esok. Sekiranya Allah menyaksikan hari ini penuh dengan perjuangan dan pengabdian yang gigih, sarat semangat dan gairah hidup, shalat tepat waktu dan khusyuk, bibir dilimpahi dengan bacaan Qur’an dan dzikir, kerap berbuat kebaikan pada sesama, maka niscaya Dia akan membukakan jalan bagi kesuksessan hidup kita.

    Semoga Allah menggolongkan kita menjadi hamba-hambanya yang penuh semangat dan gairah hidup untuk menyempurnakan ikhtiar di jalan yang diridhai-Nya, sehingga singkat di dunia benar-benar penuh kesan dan arti.

    ***

    Rangkuman Pengajian MMQ Humas DT Jakarta

    dtjakarta.or.id

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 9 December 2012 Permalink | Balas  

    Kebaikan Yang Indah

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa,”Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab,” Kebaikan.” [An Nahl; 16:30]

    Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang dialaminya di apotek setempat. Ia meminta tolong pada tetangganya agar mau menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.

    Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu. Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.

    Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya, “Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya waktu itu.”

    “Oh, tidak,” jawab tetangganya. “Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui.”

    Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan(disediakan) kebaikan dan tambahan (ridha Allah) serta muka-muka mereka tidak tertutup oleh kehitaman dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah ahli surga yang mereka kekal di dalamnya [Yuunus; 10:26]

    ***

    Sumber: Editor Rekan Kantor

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 8 December 2012 Permalink | Balas  

    Taubat Pembersih Qolbu 

    Oleh: Ningrum M.

    Bismillahirrahmanirrahimm

    Suatu kehidupan sampai akhir hayat pastinya tidak akan sepi dari suasana  hati terhadap suasana hati yang gembira hari ini besok sedih. Baru gembira  menit berikut bisa sedih. Kenapa? Jadi sampai akhir hayat kita tidak akan  berhenti bertemu dengan dua hal yang kontras. Sebentar sedih,  setelah itu  gembira,  setelah gembira setelah itu sedih,  saat ini bahagia besok kena  fitnah.

    “Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang  menyucikan diri” ( Qs. Al-Baqarah:222)

    Bagaimana Taubat sebagai pembersih Qolbu ? Kalau qolbu kita bisa bersih  dialah yang bakal membawa kita menuju kepada ketenangan, tapi kalau qolbu  kita banyak polkadotnya (titik-titiknya) itu yang susah terijabah, itu yang  susah bawaannya ngotot dan emosi. Yang kita inginkan adalah hati yang  bersih, kalau hati kita hitam harus dibersihkan dengan taubat dan istighfar  sehingga lama kelamaan hitamnya akan hilang, kita berharap dengan  riyadhohnya akan tertetes jiwa Allah dalam hati kita.

    Bertaubatlah kepada Allah setiap waktu karena itu dianjurkan oleh Allah SWT  sebagaimana firman-Nya dalam QS An-Nuur ayat 31 “Bertaubatlah kalian semua  kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung”. Mau  menjadi untung atau rugi, kita lah yang memilih. Taubat merupakan sarana  yang mengatar hamba menjadi kekasih Allah, artinya jangan berjalan selain  bersama Allah.

    Rasulullah SAW bersabda :”Kadangkala timbul perasaan dalam hatiku maka aku  beristighfar memohon ampun kepada Allah 100 kali”. Beda sekali dengan kita  istighfar kita itu kejar setoran, maksudnya, kalau mau istighfar itu  menggugurkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita maka istighfarnya  tembakkan kepada kesalahan yang kita tuju. Mudah-mudahan istighfar kita yang  100 hanya membersihkan kesalahan kita yang hanya 10, sehingga kita surplus  90, ini namanya istighfar  kita adalah berkualitas. Jadi terjawab mengapa  istighfar 100 kali tapi masih jutek? karena tidak yakin Allah menghapus  noda-noda yang membekas.

    Oleh karena itu, usahakan untuk senantiasa bertafakaur sepanjang hidupmu.  Renungkan apa yang telah engkau perbuat setiap hari? Apa yang telah engkau  perbuat di siang hari? jika engkau melakukannya dalam ketaatan maka  bersyukurlah dan sebaliknya maka bersegeralah menuju ampunannya. Jangan  menyesali diri dengan tertawa bahagia, tapi sesalilah dengan jujur,  kekecewaan, penyesalan yang mendalam. Jadi kalau kita ingin dipandang oleh  Allah dari Arsy’-Nya dengan penuh cinta, maka tafakurilah segala sesuatu  yang salah kemudian bergegaslah untuk beristighfar. Namun kalau dia tidak  menyesali maka merugilah ia. Efeknya dari ini adalah Allah akan menggantikan  kesedihan dengan keceriaan, kehinaan dengan kemulyaan, kegelapan dengan  cahaya dan ketertutupan dengan ketersingkapan yang ada. Inilah reward dari  Allah, barang siapa yang  melakukan kesalahan hendaknya dia bergegas  beristighfar, bukankah ini yang kita impikan suatu kepribadian yang  bercahaya  sebagai muslimah, sesuatu kesedihan menjadi kesenangan, bukankah  ini yang kita impikan suatu kepribadian yang penuh cahaya sehingga terbuka  cahaya pikir.

    Allah SWT tidak akan menghitung-hitung kesalahan hamba-Nya, ia paham bahwa  hambanya akan segera beristighfar, betapa pentingnya suatu instropeksi diri  pada setiap waktu, bukan hanya pada saat ulang tahun. Justru dari sholat ke  sholat kita harus beristighfar yang dapat menghapus kesalahan-kesalahan  kita. Seorang ahli tafakur dia akan senantiasa peka terhadap kesalahannya  artinya dia tidak ingin terperangkap kedalam lubang yang kedua kalinya.  Tentu dia akan tegap lagi, menginginkan kasih sayang Allah.

    Oleh karena itu hendaknya engkau tujukan semua amal perbuatanmu untuk Allah,  barang siapa amal perbuatannya jatuh kedalam dosa maka qolbunya akan menjadi  gelap gulita. Kalau kita senantiasa melakukan kesalahan tetapi Allah tetap  saja mengaruniakan kepada kita rizki yang berlimpah itu berarti kasih sayang  Allah lebih utama dibanding murka Allah kepada kita.

    Jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT  karena kita tidak akan pernah luput dari pengawasan dan perlindunganNya.  Berbuat kesalahan itu ibarat api sementara kegelapan adalah asapnya, jadi  seperti orang yang menyalakan perapian dirumah selama 70 tahun bukankah  rumah tsb akan gelap. Inilah perwujudan orang-orang yang salah. Ia baru  menjadi bersih dengan taubat kepada Allah, jika engkau bertaubat kepada  Allah bekas-bekas salah tersebut bisa menjadi sirna. Ketahuilah bahwa taubat  adalah terminal pertama, segala bentuk ibadah akan diterima Allah jika  didahuli dengan niat.

    Kedaan hamba yang melakukan salah sama seperti periuk besi diatas api,  semakin lama semakin menghitam warnanya, kalau kita ingat salah ingat priuk  jangan ingat wajah cantik, tidak kelihatan nanti salahnya, walaupun dicuci  ia tidak akan kembali. Setiap mukmin jika melakukan kesalahan maka akan  timbul bintik hitam pada qolbunya, jika ia bertaubat, beristighfar memohon  ampunan maka bintik hitam tadi akan terhapus. Nah, istighfar yang baik  adalah bukan istighfar yang kejar setoran., tetapi salah mana yang akan kita  tuju. Taubatlah yang bisa mencuci hitamnya qolbu sehingga amal-amal saleh  bisa tampak terang diterima oleh Allah SWT. Jika ini bisa dilakukan maka  hidup akan menjadi lebih baik. Sebab taubat merupakan karunia menjadi lebih  baik, yang diberikan kepada hambanya yang dikehendaki. Kadang kala seorang  budak yang kurus berhasil melakukan taubat tetapi majikannya tidak, mungkin  pembantu kita jauh lebih mulia daripada kita. Nur nya lebih bercahaya  daripada kita.

    Jadi orang-orang yang suka bertaubat, disini Allah memposisikan diri-Nya  sebagai orang yang mencintai hambanya  bukan sebagai yang dicintai.  Bayangkan Allah yang mencintai, Ya Allah cintailah aku, berikanlah aku cinta  yang bisa mendekatkan aku kepadaMu, Ikrar ingin dicintai Allah adalah  resikonya siap atau tidak kita untuk mendahulukan Allah dan berserah diri.  Orang yang merasa senang dengan sesuatu itu jika mengetahui kadar dan nilai  sesuatu itu, jika engkau menebarkan intan permata maka  kepada binatang  melata niscaya mereka lebih menyenangi gandum, artinya termasuk kelompok  manakah kita ini? Jika kita orang yang bertaubat berarti kita termasuk orang  yang dicintai Allah, tetapi jika tidak kita termasuk orang yang zhalim.

    Bagi kita yang mempunyai salah menumpuk jangan berputus asa terhadap rahmat  Allah SWT dengan berkata sudah berapa kali aku bertaubat dan menyesal. Kalau  hati ingin terawat bersih maka harus dirawat dengan ibadah yang baik dengan  kalimah Allah, kerja yang prestasi di jalan yang lurus. Boleh jadi solehah  yang gaul.

    Suatu ketika Syeikh Abu Hasan As-Sadjili bercerita, aku pernah ditegur  “Wahai Ali bersihkanlah bajumu dengan pertolongan Allah, pastilah ia akan  selalu terpelihara” “bajuku yang mana? Allah telah memberimu pakaian  ma’rifat yaitu tauhiid, lalu pakaian mahabbah yaitu cinta kepada Allah,  kemudian pakaian islam, siapa yang mengenal Allah yang lain tidak berarti  baginya. Barang siapa orang-orang yang bersama-Ku maka Aku cintai. Jadi,  kalau masih marah, masih tidak sabar, berarti Allah belum berada di dalam  jiwanya. Apa salahnya? ingat-ingat lagi apakah kesalahan yang telah kita  lakukan kepada Allah SWT, kemudian bertaubatlah..

    ***

    dtjakarta.or.id

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 1 December 2012 Permalink | Balas  

    Shadaqah Menyembuhkan Penyakit

    Di antara problematika kehidupan yang banyak dihadapi manusia adalah ditimpa berbagai macam penyakit, baik jasmani maupun rohani. Dan untuk mengobati penyakit, beragam ikhtiar dan usaha dilakukan oleh manusia. Ada di antara manusia yang menyalahi syari’at Islam dalam melakukan ikhtiar, seperti mendatangi dukun, orang pintar dan paranormal. Namun banyak juga yang sadar tentang bahaya perdukunan, sehingga mereka pun berusaha mencari pengobatan dengan cara yang sesuai dengan syari’at Islam, seperti mendatangi dokter, berbekam, mengonsumsi habbatus sauda’ (jinten hitam) dan madu, atau dengan cara ruqyah syar’iyyah.

    Dalam tulisan kali ini akan dibahas tentang salah satu sebab syar’i untuk memperoleh kesembuhan, simak dan resapilah nasehat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau telah bersabda, “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan ber-shadaqah.” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih al-Jami’)

    Cobalah iringi ikhtiar dan usaha yang kita lakukan secara syar’i dalam mencari kesembuhan dengan bershadaqah dan tanamkanlah niat shadaqah tersebut di dalam hati kita agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan penyakit yang sedang menimpa kita.

    Sebab-Sebab Syar’i untuk Memperoleh Kesembuhan

    Pertama: Melakukan ikhtiar secara Islami dan jangan melakukan ikhtiar yang terlarang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah yang menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah kalian tapi jangan berobat dengan cara yang diharamkan” (Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)

    Kedua: Meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah subhanahu wata’ala adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Menyembuhkan, sedangkan makhluk yang terlibat proses pengobatan seperti dokter, tabib, obat-obatan dan hal-hal yang terkait lainnya, itu semua hanyalah sarana menuju kesembuhan, dan buanglah sejauh mungkin keyakinan-keyakinan dan ungkapan-ungkapan yang menyimpang dari aqidah tauhid, seperti seseorang mengungkapkan perkataan setelah memperoleh kesembuhan, “Dokter Fulan memang hebat, obat itu memang manjur,” dan ungkapan-ungkapan keliru lainnya.

    Ke tiga: Dekatkan diri dan tingkatkan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata’ala, serta mohonlah kepada-Nya ampunan atas dosa-dosa yang kita perbuat, karena salah satu hikmah Allah subhanahu wata’ala menurunkan penyakit pada diri kita adalah agar kita kembali ke jalan-Nya.

    Ke empat: Bertawakkallah kepada-Nya dan berdo’alah selalu kepada Allah subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Menyembuhkan segala penyakit, agar penyakit segera diangkat dari diri kita dan janganah bosan untuk berdo’a, sebab kita tidak tahu kapan Dia menjawab do’a kita. Perhatikan sebab-sebab terkabulnya do’a serta penuhi syarat-syaratnya.

    Ke lima: Bershadaqahlah semampu kita karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan kesembuhan melalui shadaqah, dan tepislah jauh-jauh anggapan bahwa bershadaqah itu mengurangi harta kita, justru Allah subhanahu wata’ala akan melipatgandakan harta kita. Dan niatkanlah shadaqah untuk memperoleh kesembuhan dari Allah subhanahu wata’ala.

    Ke enam: Yakini dan tanamkan keyakin-an sedalam-dalamnya bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkan penyakit kita.

    Kisah-Kisah Nyata Orang Sembuh Setelah Bershadaqah

    Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij berkata, “Wahai saudaraku yang sedang sakit, shadaqah yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah shadaqah yang diniatkan untuk memperoleh kesembuhan, boleh jadi anda telah banyak melakukan shadaqah, tetapi hal itu tidak anda lakukan dengan niat untuk mendapatkan kesembuhan dari Allah subhanahu wata’ala, oleh karena itu coba anda lakukan sekarang dan tumbuhkanlah kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkan diri anda. Isilah perut para fakir miskin hingga kenyang, atau santunilah anak yatim, atau wakafkanlah harta anda, atau melakukan shadaqah jariah, karena sesungguhnya shadaqah tersebut dapat mengangkat dan menghilangkan berbagai macam penyakit dan berbagai macam musibah dan cobaan, dan hal seperti itu sudah banyak dialami oleh orang-orang yang diberi taufiq dan hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala, sehingga mereka memperoleh obat penawar yang bersifat rohani (termotivasi oleh keimanan, ketaatan dan  keyakinan pada Allah subhanahu wata’ala) dan itu lebih bermanfaat daripada sekedar obat-obat biasa. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga telah melakukan pengobatan dengan metode pengobatan ruhaniyah ilahiyyah (yaitu pengobatan yang menitikberatkan pada aspek keimanan, ketaatan dan keyakinan pada Allah subhanahu wata’ala). Demikian juga dengan para generasi salafus shaleh, mereka juga selalu bershadaqah sesuai kadar sakit dan derita yang menimpa mereka, dan shadaqah yang mereka keluarkan adalah harta mereka yang sangat berkualitas. Wahai saudaraku yang sedang sakit janganlah anda bakhil terhadap diri anda sendiri, sekaranglah waktunya untuk shadaqah.” (Shifatun ‘Ilaajiyyah Tuzilu Al-Amraadh bi Al-Kulliyyah)

    Kisah Pertama: Ada seseorang bertanya kepada Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, tentang penyakit di lututnya yang telah diderita semenjak tujuh tahun. Dia telah melakukan bermacam usaha untuk mengobatinya dan telah bertanya kepada para dokter, tetapi belum merasakan hasil manfaatnya. Maka Abdullah Bin Mubarak rahimahullah, berkata kepadanya, “Pergilah anda mencari sumber air dan galilah sumur di situ karena orang-orang membutuh-kan air! Aku berharap ada air yang memancar di situ, maka orang itu pun melakukan apa yang disarankan oleh beliau, lalu dia pun sembuh.” (Kisah ini dikutip dari Shahih At-Targhib)

    Kisah Ke dua: Ada seseorang yang diserang penyakit kanker. Dia sudah keliling dunia untuk mengobati penya-kitnya, tetapi belum memperoleh kesembuhan. Akhirnya dia pun bershadaqah kepada seorang ibu yang memelihara anak yatim, maka melalui hal itu Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan dia.

    Kisah Ke tiga: Kisah ini langsung diceritakan oleh orang yang menga-laminya kepada Syaikh Sulaiman Bin Abdul Karim Al-Mufarrij, Dia berkata kepada beliau, “Saya mem-punyai seorang putri balita yang menderita suatu penyakit di sekitar tenggorokannya. Saya telah keluar masuk ke beberapa rumah sakit dan sudah konsultasi dengan banyak dokter, namun tidak ada hasil apa pun yang dirasakan. Sedangkan penyakit putriku tersebut semakin memburuk, bahkan untuk menghadapi penyakitnya tersebut, hampir-hampir saya ini yang jatuh sakit dan perhatian seluruh anggota keluarga tersita untuk mengurusinya. Dan yang bisa kami lakukan hanya memberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya saja. Kalaulah bukan karena rahmat Allah subhanahu wata’ala rasa-rasanya kami sudah putus asa olehnya. Namun apa yang di angan-angankan itu pun datang dan terkuaklah pintu kesulitan yang kami alami selama ini. Suatu hari ada seorang yang shalih menghubungiku lewat telephon lalu menyampaikan hadits Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam, “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan bershadaqah.” Saya katakan kepada orang shalih tersebut, sungguh saya sudah banyak bershodaqoh! Lalu kata beliau kepadaku, “Bershadaqahlah kali ini dengan niat agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkan putrimu. Mendengar hal itu saya langsung mengeluarkan shadaqah yang sangat sederhana kepada seseorang yang fakir, namun belum ada perobahan pada putriku. Lalu hal itu saya sampaikan kepada orang shalih tersebut. Dia pun mengatakan kepada saya, “Anda adalah orang yang banyak dapat nikmat dan punya banyak harta. Cobalah engkau bershadaqah dalam jumlah yang lebih banyak.” Setelah mendengar itu, maka saya pun mengisi mobil saya sepenuh-penuhnya dengan beras, lauk pauk, dan bahan makanan lainnya, lalu saya bagi-bagikan langsung kepada orang-orang yang membutuh-kannya, sehingga mereka sangat senang menerimanya. Dan demi Allah (saya bersumpah) saya tidak akan lupa selama-lamanya, ketika shadaqah

    tersebut selesai saya bagi-bagikan, Alhamdulillah putriku yang sedang sakit tersebut sembuh dengan sempurna. Maka saat itu saya pun menyakini bahwa di antara sebab-sebab syar’i yang paling utama untuk meraih kesembuhan adalah shadaqah. Dan sekarang atas berkat karunia dari Allah subhanahu wata’ala putriku tersebut telah tiga tahun tidak mengalami sakit apa pun, Dan mulai saat itulah saya banyak-banyak mengeluarkan shodaqoh terutama mewakafkan harta saya pada hal-hal yang baik, dan (Alhamdulillah) setiap hari saya merasakan nikmat dan kesehatan pada diri saya sendiri maupun pada keluarga saya serta saya juga merasakan keberkahan pada harta saya. (Isnen Azhar)

    ***

    Sumber: alsofwah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 30 November 2012 Permalink | Balas  

    Bertuhan Kepada Siapa?

    Kepada siapakah manusia mesti bertuhan? Semuanya sangat bergantung pada kecerdasan akalnya. Apakah dia bisa menemukan Tuhan yang paling Perkasa atau tidak. Apakah dia bisa menemukan Tuhan yang Paling Baik ataukah tidak. Apakah dia bisa bertemu Tuhan yang Paling Besar di antara segala eksistensi alam semesta ataukah tidak.

    Banyak orang memilih Tuhan yang begitu sepele dan lemah. Misalnya, berupa kalung azimat. Atau, patung sesembahan. Atau, Dewi Keberuntungan. Atau, bahkan dirinya sendiri yang dijadikan Tuhan. Kita bisa berdiskusi panjang untuk menunjukkan betapa lemah dan sepelenya Tuhan-Tuhan yang mereka pilih itu. Dan sungguh tidak pantas menjadi Tuhan bagi orang-orang yang memiliki akal dan kecerdasan cukup baik. Apalagi kecerdasan tinggi.

    Seseorang yang memiliki kecerdasan cukup baik, pasti akan memilih Tuhan yang layak dijadikan tempat bergantung. Bukan Tuhan yang ‘tidak layak’, yang justru bergantung kepada kita. Tuhan yang ‘memberikan manfaat’ ketika disembah. Bukan Tuhan yang justru ‘memanfaatkan’ kita, atau kita yang memberikan manfaat kepada dia. Tuhan yang jauh lebih Perkasa dari kita, Bukan Tuhan yang kalah perkasa oleh kita. Tuhan yang mampu memberikan pertolongan ketika kita butuhkan, bukan Tuhan yang justru membutuhkan pertolongan kita.

    Sayangnya banyak manusia tidak melakukan pemikiran seperti itu di dalam mencari Tuhan yang pantas dia ‘sembah’ dan agung-agungkan. Entahlah, kenapa banyak manusia lebih suka bertuhan secara untung-untungan, ikut-ikutan, menduga-duga, dan bahkan asal-asalan.

    Jarang yang sengaja melakukan pencarian dengan melewati pemikiran panjang yang terstruktur dengan baik. Sehingga dia memperoleh kesimpulan meyakinkan, yang bisa dipertanggung jawabkan.

    Saya lebih suka melakukan pendekatan yang terakhir ini, dalam mencari Tuhan. Saya juga tidak mau sekadar ikut-ikutan dalam bertuhan. Sebab, semua akibatnya adalah saya sendiri yang menanggungnya. Bahagia maupun derita. Dunia maupun akhirat.

    Kepada siapakah kita sebaiknya bertuhan? Tentu pertanyaan ini sangat relevan untuk diajukan kepada siapa pun. Termasuk kepada saya dan Anda. Ya, cobalah Anda pikirkan jawabannya. Menurut Anda, kepada siapakah Anda ingin bertuhan?

    Kepada ‘sesuatu’ yang lemah ataukah yang kuat dan perkasa? Pasti Anda akan menjawabnya: ya, pastilah kepada yang kuat dan perkasa. Masa iya, kita mau bertuhan kepada yang lemah?!

    Kepada siapakah Anda ingin bertuhan, kepada yang pintar ataukah yang bodoh? Pastilah juga Anda akan menjawab: tentu saja kepada yang pintar bahkan sangat pintar!! Tahu segala macam sehingga bisa menjadi tempat bertanya dan berkonsultasi!

    Kepada siapakah juga Anda ingin bertuhan, kepada yang besar ataukah yang kecil? Tentu pula Anda akan menjawab: saya kira kita semua ingin bertuhan kepada sesuatu yang besar Jauh lebih besar dari kita. Bahkan sangat besar, sehingga lebih besar dari apa pun yang pernah kita pahami!

    Kepada siapakah Anda ingin bertuhan, kepada yang suka ngasih rezeki atau yang malah moroti rezeki kita? Sudah juga bisa dipastikan, bahwa Anda akan bertuhan kepada yang suka ngasih rezeki.

    Dan seterusnya. Dan seterusnya. Anda bisa menginventarisasi spesifikasi Tuhan yang Anda inginkan, beratus-ratus spesifikasi lagi.

    Tapi intinya, pasti Anda ingin memiliki Tuhan yang bisa dibanggakan. Tuhan yang bisa dijadikan tempat bergantung ketika butuh pertolongan. Tuhan yang bisa ngajari ilmu pengetahuan dan kepahaman tentang segala sesuatu. Tuhan yang selalu menjaga kesehatan kita dan selalu mencukupi kebutuhan hidup kita. Ya, Tuhan yang menyayangi dan sekaligus ‘menarik’ untuk kita cintai dan kita sayangi.

    Pokoknya Tuhan yang banyak memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada kita! Bukan Tuhan yang menyusahkan kita. Anda setuju??! Sudah pasti setuju. Karena, saya juga ingin bertuhan kepada Tuhan yang demikian itu.

    Bahkan saya juga ingin Tuhan itu begitu dekatnya dengan saya, sehingga dimana pun dan kapan pun saya memerlukan pertolonganNya, saya bisa langsung bertemu denganNya. Dan pasti, DIA mengabulkan permintaan-permintaan kita dengan penuh kasih sayang.

    Bukan Tuhan yang begitu jauh dan tak jelas ‘keberadaannya” sehingga sulit dihubungi. Apalagi, Tuhan yang cuek terhadap kita. Tentu tidak masuk dalam kriteria Tuhan yang kita inginkan. Dan, sulit untuk menjadi klangenan kita, alias menjadi yang selalu kita rindukan.

    Ya, ringkas kata, tuhan yang pantas dijadikan Tuhan adalah DIA yang penuh perhatian kepada kita, sebagai hambaNya. Tuhan yang tidak membutuhkan kita untuk membangun kepentinganNya, tapi justru DIA menjadi kebutuhan kita, dan selalu memenuhi kepentingan kita. Tuhan yang ‘menguntungkan’ untuk disembah dan dijadikan pusat dari segala orientasi kehidupan kita!

    Wah, adakah eksistensi yang bisa memenuhi spesifikasi yang berat itu? Benarkah ada ‘Sosok Sempurna’ yang demikian hebat? Itulah yang mesti kita cari, kalau kita memang membutuhkan Tuhan dalam kehidupan kita. (Tapi, sebagaimana telah kita bahas di depan, kenyataannya manusia selalu butuh Tuhan, bukan?!)

    Kalau Anda tanya saya, pasti saya katakan dengan sejujurnya bahwa saya butuh Tuhan! Sebab saya sangat menyadari betapa ternyata saya memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Sehingga kalau saya hidup di atas kekuatan saya sendiri sepenuhnya, saya bakal menemui banyak problem yang tidak terselesaikan.

    Saya bakal mengalami stress berkepanjangan, karena saya sangat menyadari ternyata begitu banyaknya persoalan dalam hidup ini yang berada di luar kemampuan saya. Meskipun beberapa kawan mengatakan bahwa saya ini termasuk orang yang tidak bodoh-bodoh banget, punya wawasan dan skill lumayan, kemampuan manajerial yang cukup, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi, itu kan pandangan orang luar.

    Saya sangat tahu diri saya. Bahwa saya seringkali menjadi demikian bodoh dalam menghadapi banyak persoalan. Apalagi yang berat-berat dan di luar dugaan.

    Saya juga sering mengalami stress, ketika tidak mampu mencapai sasaran-sasaran pekerjaan saya. Dan tidak jarang, itu menjadi stress berkepanjangan yang sangat menekan jiwa.

    Dulu, saya juga suka khawatir terhadap rezeki. Bukan ketika sedang lapang. Tapi ketika sedang terjepit. Saya tak jarang, juga risau dengan kesehatan.

    Lebih gelisah lagi, kalau saya ingat usia. Saya sedang antri menuju kematian. Sementara saya tidak tahu ada apakah di balik kematian itu?! Saya menjadi sangat ngeri terhadap kematian. Cerita-cerita mistis di sekitar saya menjadi penambah kegelisahan.

    Dan seterusnya. Dan seterusnya. Puluhan, atau mungkin ratusan daftar kelemahan, kekhawatiran, kegelisahan, dan problem saling silang dalam kehidupan saya.

    Saya butuh ‘Teman’ yang kuat. Yang kalau saya perlukan, IA selalu siap menolong tanpa pamrih dan memberatkan saya. Saya juga butuh ‘Konsultan’ yang hebat, karena begitu banyak pekerjaan besar yang harus saya lakukan dan selesaikan dalam hidup ini.

    Disamping itu, saya butuh pula ‘Psikiater’ yang handal. Yang ketika saya menemui masalah, saya bisa curhat sepuas-puasnya. Didengarkan dengan penuh perhatian dan bisa memberikan solusi yang tepat dan menentramkan.

    Dalam hal rezeki, saya memerlukan ‘Partner Bisnis’ bermodal raksasa. Karena saya ingin hidup sejahtera. Begitu pula saudara-saudara saya yang butuh pertolongan bisa datang kapan saja kepada saya karena saya punya ‘backing Eyang demikian dermawan. Apalagi, saya juga ingin membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi orang-orang yang tidak beruntung, padahal mereka sebenarnya punya skill dan ingin bekerja keras dalam hidupnya.

    Ya, dan akhirnya saya butuh seorang ‘Sahabat’ yang selalu mendampingi dalam berbagai kondisi, suka dan duka, sedih dan gembira.

    Adakah ‘orang’ yang bisa memenuhi segala keinginan itu? Apakah diri saya sendiri bisa memenuhi segala yang saya sebut di atas? Saya tahu pasti jawabannya: Tidak! Apakah kawan-kawan dan orang di sekeliling saya mau memenuhi semua keinginan ‘gila’ tersebut? Pasti malah ditertawakan oleh orang sedunia!

    Kalau begitu, siapakah yang mau menjadi ‘Sahabat’ dari orang yang egois menang sendiri  seperti saya ini? Orang yang maunya cuma menerima pertolongan atas kepentingannya sendiri. Sementara itu, orang lain yang menolongnya tidak memperoleh imbalan sedikitpun dari apa yang kita minta darinya. Jawabnya cuma satu: TUHAN! Lho, Tuhan yang mana? Tuhan yang Sesungguhnya … !!

    Begitulah Al Qur’an ngajari kita. Kalau bertuhan itu mbok ya jangan kepada hal-hal yang remeh-temeh. Tapi bertuhanlah kepada yang hebat sekalian. Jangan tanggung-tanggung! Masa iya bertuhan kepada patung, kepada azimat, kepada sesama manusia, dan kepada segala sesuatu yang jelas-jelas tidak hebat dan tidak bisa menolong kita.

    QS. Ahqaf (46) : 28

    Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri, tidak dapat menolong mereka? Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan.

    QS. Al A’raaf (7) : 197

    Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri.”

    QS. Al Anbiyaa (21) : 43

    Atau adakah, mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri Mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?

    QS. Maryam (19) : 42

    Ingatlah ketika la (Ibrahim) berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?

    Betapa telaknya Allah berfirman di dalam Al Qur’an terhadap orang-orang yang bertuhan secara tidak masuk akal. Masa iya, kita bertuhan kepada sesuatu yang tidak bisa menolong kita. Lha untuk apa kita bertuhan kepadanya.

    Wong, menolong dirinya sendiri pun tidak bisa. Ya nggak usah bertuhan aja lah! Ngrepoti! Buang- buang waktu dan energi!

    Apakah yang disebut berhala? Allah menjelaskan dalam ayatNya yang lain bahwa berhala adalah segala sesuatu selain ‘Tuhan yang Sesungguhnya’. Jadi tidak selalu berupa patung. Dalam contoh di atas, kebetulan yang dimaksud berhala adalah patung-patung yang dibuat oleh orang tua nabi Ibrahim. Hal itu dikemukakan oleh Allah dalam ayat berikut ini.

    QS. An Nisaa (4) : 117

    Yang mereka sembah selain DIA itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,

    Di era modern ini berhala bisa berarti segala macam selain Tuhan yang mendominasi hidup dan kehidupan kita. Mulai dari kesombongan terhadap diri sendiri, harta benda, kekuasaan, sampai kebergantungan kepada benda-benda supranatural atau pun mistik.

    Tapi begitulah memang cara bertuhan orang yang tidak menggunakan akal. Sekadar ikut-ikutan orang-orang di sekitarnya atau apa yang dilakukan nenek moyangnya saja.

    Al Qur’an mengkritik habis-habisan cara bertuhan yang demikian. Sebab, akan sangat mudah terjerumus kepada sesuatu yang salah. Allah telah memberikan akal kepada kita untuk menimbang dan menyeleksi informasi dari sekitar. Kita akan mempertanggung jawabkan segala keputusan itu.

    QS. Al Baqarah (2) : 170

    Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab:  ETidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”

    Sehingga dalam ayat yang lain lagi, Allah mengingatkan dengan nada ‘mengejek tapi menyadarkan’ bahwa berhala-berhala yang mereka jadikan Tuhan itu sebenarnya tidak berpengaruh apa pun bagi mereka. Sama saja mereka berdoa kepada berhala itu ataupun tidak, tidak ada dampaknya!

    QS. Al A’raaf (7) : 193

    Dan jika kamu menyerunya (berhala) untuk memberi Petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.

    QS. Ar Ra’d (13) : 14

    Hanya bagi Allah lah do’a yang benar Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.

    Kenapa Mesti Allah?

    Lantas, kalau begitu : Siapakah ‘Tuhan Sebenarnya’ yang memenuhi kriteria tersebut? Marilah kita cari bersama. Tidak sulit untuk menemukannya, karena dalam sejarah kemanusiaan kita sudah mengenal berbagai macam Tuhan, dari berbagai bangsa dan berbagai agama.

    Islam sendiri tidaklah turun di zaman rasul Muhammad saja. Melainkan sejak zaman pertama kali ada manusia, Allah telah menamakan agamaNya sebagai Islam. Dan Pemeluknya disebut sebagai musslimuun alias orang yang berserah diri. Hal itu bisa kita temukan dalam berbagai ayat Al Qur’an al Karim.

    QS. Al Baqarah : 132

    Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”

    Ayat di atas telah memberikan gambaran kepada kita bahwa sejak zaman nabi Ibrahim, beliau telah menyebut agamanya sebagai agama Islam. Padahal kita tahu, bahwa anak cucu Ibrahim inilah yang menurunkan agama-agama besar yang sekarang kita kenal, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Semua itu sebenarnya hanya berasal dari satu agama saja, yaitu agama Ibrahim, Islam.

    QS. Ali 1mran (3) : 19

    Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam, Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab Nya.

    QS. Al Hajj (22) : 78

    Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

    Ayat ini juga menegaskan bahwa sejak dulu yang namanya Agama yang turun dari Allah itu adalah Islam, yang bermakna ‘berserah diri’ kepadaNya. Bahwa kemudian ada yang mengubah nama, itu baru terjadi di kemudian hari karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan dari penganutnya. Tapi, ‘berserah diri’ menjadi makna utama dari ‘Islam’

    Bahkan, Al Qur’an juga memberikan gambaran bahwa yang disebut ‘Islam’ itu sebenarnya adalah makna universal dari sikap ‘berserah diri’. Bukan hanya sekadar atribut, simbol, dan lambang-lambang. Bukan hanya untuk manusia, tetapi semua makhluk berakal. Baik yang di langit maupun di bumi. Hal itu digambarkan dalam ayat berikut ini.

    QS. Ali Imran : 83

    Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri siapa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

    Maka, ‘Tuhan yang sebenarnya’ itu sesungguhnya adalah Tuhan yang satu. Tuhannya siapa saja. Tuhan dari semua makhluk yang berakal. Tidak ada yang berhak mengklaim bahwa Tuhan yang benar itu adalah Tuhan golongan atau kelompok tertentu.

    Selama kita mengacu kepada sifat-sifat yang benar dari Dzat ketuhanan itu, maka kita telah mengacu kepada Tuhan yang sama. Apa pun namanya. Dalam konteks Al Qur’an itulah yang kita sebut sebagai Allah.

    Akan lain halnya, ketika kita mengacu kepada substansi dan sifat-sifat yang berbeda. Tentu saja Tuhan yang kita maksudkan lantas berbeda pula. Al Qur’an sendiri menegaskan hal itu. Bahwa Tuhan para penganut Al Kitab sejak dulu kala, sesungguhnya adalah Tuhan yang sama. Dan kepadaNya sepatutnya setiap kita berserah diri. Sekali lagi, asalkan substansi sifat-sifatNya layak disebut Tuhan.

    QS. Al Ankabut : 46

    Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri”

    Ayat di atas mengingatkan kepada kita, bahwa kita dilarang ‘berdebat kusir’ dengan para penganut kitab lainnya dalam hal ketuhanan. Apalagi sampai menimbulkan pertengkaran. Yang dianjurkan adalah berdiskusi secara baik untuk mencari kebenaran. Kecuali dengan orang-orang yang memang zalim, mau menang sendiri. Percuma, tidak akan menemukan solusinya. Lebih baik hentikan saja.

    Sebenarnya ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Tuhan yang satu’ kata Al Qur’an. Dan kepadaNya kita semua berserah diri.

    Jadi persoalan pokoknya sebenarnya bukan pada nama penyebutannya, tetapi pada sifat-sifatNya. Meskipun kita menyebut nama Tuhan yang sama, tetapi sifat yang kita maksudkan berbeda, maka sesungguhnya kita telah bertuhan kepada Dzat yang berbeda. Sebaliknya, ketika kita menyebut nama yang berbeda, tetapi mengacu kepada sifat-sifatNya yang sama, maka sebenarnya kita telah menyembah kepada Tuhan yang sama.

    Sayangnya, kebanyakan manusia menyembah Tuhan yang namanya berbeda, dengan sifat yang berbeda pula. Sehingga, Tuhan yang dimaksudkan pun menjadi berbeda. Dan, ketika sifat-sifat itu tidak sesuai dengan kriteria ‘Tuhan Yang Sempurna’, maka Allah mengatakan itu sebagai ‘nama kosong’ belaka.

    QS. Yusuf (12) : 40

    Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

    QS. An Najm (53) : 23

    Itu tidak lain hanyalah nama-nama Yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuknya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan  sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

    Coba bayangkan, Allah dengah sangat tegas mengatakan, bahwa orang yang menyembah Tuhan yang karakternya tidak mengarah kepada Allah, disebutNya sebagai hanya menyembah ‘nama’. Bukan menyembah Dzat!

    Allah tidak pernah mempermasalahkan nama-nama. Karena yang lebih substansial adalah Dzat. ‘Nama’ hanyalah pepesan kosong. Dengan kata lain, Allah ingin menegaskan bahwa Tuhan di alam semesta ini tidak bisa tidak ya cuma satu saja. Apa pun namaNya, jika Ia benar-benar Tuhan, maka pasti akan mengarah kepada Dzat yang Tunggal, yaitu Allah.

    Karena itu, meskipun Allah memperkenalkan dirinya di dalam Al Qur’an ribuan kali tidak kurang dari 2500 kali namun Allah memperbolehkan kita menyebut Nya dengan nama apa saja yang kita suka, selama sesuai dengan sifat-sifatNya.

    QS. Israa'(17): 110

    Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar Rahman, Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

    Inilah yang diamalkan oleh para sufi sejak lama. Mereka lebih suka menyebut Allah dengan Huwa (DIA). Sedangkan Nama-NamaNya lebih menunjukkan Sifat-Sifat, yang seketika mengisi ‘makna’ dalam jiwa sang sufi ketika menyebut Huwa.

    Ayah saya pernah mengajarkan kepada saya, bahwa Allah hadir di setiap nafas kita. Karena itu, ‘barengilah tarikan dan hembusan nafasmu dengan kata Huwa’ dalam hati, tanpa bersuara, katanya.

    Ketika menarik nafas,’HU’ Ketika menghembuskan nafas,’WA’ ‘ Maka, keluar masuknya nafas adalah sebuah dzikir yang tiada pernah terputus. Sementara itu, batinnya langsung mengarah kepada Allah yang SATU, dengan segala Sifat Ketuhanan yang terdapat dalam Asmaaul Husna. Ada juga yang menyebut asma ‘Allah Eketika menghembuskan nafas atau menarik nafas. Hal ini sesuai dengan firman-Nya

    Ali Imron : 191.

    (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

    QS. An Nisaa’ (4): 103

    “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Dengan tegas Allah swt memerintahkan kita agar selalu berdzikir (mengingatNya), baik itu di waktu berdiri, duduk, maupun berbaring. Karena kelak di Yaumul Hisab Allah menghisab setiap manusia dengan sangat teliti, sehingga hembusan dan tarikan nafaspun dimintai pertanggungan jawab.

    Maka, kita melihat korelasi yang jelas antara Islam sebagai agama universal yang bermakna ‘berserah diri’ dengan Allah sebagai Tuhan yang juga universal – Tuhannya seluruh umat manusia. Bahkan Tuhan bagi segala yang ada di dalam alam semesta.

    Coba telaah kembali ayat-ayat di atas. Bahwa Islam adalah agama universal bagi siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Bagi mereka yang menggunakan akal dalam beragama. Bukan orang-orang yang sekadar ikut-ikutan, dikarenakan nenek moyang dan orang-orang di sekitarnya berlaku demikian.

    Sementara itu, Allah sebagai Tuhannya orang-orang Islam juga bersifat universal. Tuhan yang menyediakan diri menjadi Tuhan umat manusia. Bukan hanya menjadi Tuhan bagi orang-orang yang berKTP dan beratribut Islam. Puluhan ayat dalam Al Qur’an bercerita demikian. Di antaranya adalah berikut ini.

    QS. An Nas : 1 -3

    Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Rajanya manusia. Sesembahan manusia.

    QS. Al A’raaf (7) : 67

    Hud berkata: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.

    QS. Az Zumar (39) : 38

    Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Eniscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya? Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku “. Kepada Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.

    Begitulah, dengan sangat meyakinkan Allah mengatakan bahwa dirinyalah satu-satunya Tuhan alam semesta dengan segala isinya. Bukan hanya karena namaNya, melainkan karena sifat-sifatNya yang Maha Sempurna. Maha Suci dari segala kekurangan. Satu-satunya Dzat yang pantas disebut Tuhan…

    QS. At Hasyr (S9) 24

    Dia lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 29 November 2012 Permalink | Balas  

    Menit-Menit Sangat Berharga Dalam Hidup

    “Tempat mengadu, meminta, dan kembali segala urusan bagi orang beriman hanyalah Allah, Rasulullah memberitahukan menit-menit yang sangat berharga untuk menghadap dan memohon kepada Allah”

    1. Waktu sepertiga malam terakhir saat orang lain terlelap dalam tidurnya, Allah SWT berfirman:

    “….Mereka para muttaqin sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir malam, mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS Adz Dzariyat: 18-19).

    Rasulullah SAW bersabda: “Rabb (Tuhan) kita turun disetiap malam ke langit yang terendah, yaitu saat sepertiga malam terakhir, maka Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepadaKu maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepadaKu maka Aku berikan kepadanya, dan siapa yang meminta ampun kepadaKu maka Aku ampunkan untuknya.” (HR Al Bukhari)

    Dari Amr bin Ibnu Abasah mendengar Nabi SAW bersabda: “tempat yang paling mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia dalam sujudnya dan jika ia bangun melaksanakan sholat pada sepertiga malam yang akhir. Karena itu, jika kamu mampu menjadi orang yang berzikir kepada Allah pada saat itu maka jadilah.” (HR At Tirmidzi dan Ahmad)

    2. Waktu antara adzan dan iqamah, saat menunggu shalat berjamaah

    Rasulullah SAW bersabda: “Doa itu tidak ditolak antara adzan dan iqamah, maka berdoalah!” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Hadits Abdullah bin Amr Ibnul Ash ra, bahwa ada seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para muadzin itu telah mengungguli kita,” maka Rasulullah SAW bersabda: “Ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh para muadzan itu dan jika kamu selesai (menjawab), maka memohonlah, kamu pasti diberi”.

    (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

    3. Pada waktu sujud, yaitu sujud dalam shlat atau sujud-sujud lain ang diajarkan Islam. (seperti sujud syukur, sujud tilawah dan sujud sahwi)

    “Kedudukan hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR Muslim)

    Dan dalam hadits Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Rasulullah SAW membuka tabir (ketika beliau sakit), sementara orang-orang sedang berbaris (sholat ) dibelakang Abu Bakar ra, maka Rasulullah SAW bersabda; “”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak tersisa dari mubasysyirat nubuwwah (kabar gembira lewat kenabian) kecuali mimpi baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan untuknya. Ingatlah bahwasanya aku dilarang untuk membaca Al Qur’an ketika ruku’ atau ketika sujud. Adapun didalam ruku’, maka agungkanlah Allah dan adapun di salam sujud, maka bersungguh-sunguhlah berdoa, sebab (hal itu) pantas dimaqbulkan bagi kamu semua.” (HR Muslim)

    4. Setelah sholat fardhu. Yaitu setelah melaksanakan sholat-sholat wajib yang lima waktu, termasuk sehabis sholat Jumat.

    Allah berfirman: “dan bertasbihlah kamu kepadaNya di malam hari dan selesai sholat” (QS Qaaf: 40)

    “Rasulullah SAW ditanya tentang kapan doa yang paling didengar (oleh Allah), maka beliau bersabda: “Tengah malam terakhir dan setelah sholat-sholat yang diwajibkan.” (HR At Tirmidzi)

    5. Waktu-waktu khusus, tetapi tidak diketahui dengan pasti batasan-batasannya.

    “Sesungguhnya di malam hari ada satu saat (yang mustajab), tidak ada seorang muslim pun yang bertepatan pada waktu itu meminta kepada Allah kebaikan urusan dunia dan akhirat melainkan Allah pasti memberi kepadanya.” (HR Muslim)

    Dalam kitab Al JAwabul Kafi dijelaskan: “…Jika doa itu disertai dengan hadirnya kalbu dan dalam penuh khusyu’ terhadap apa yang diminta dan bertepatan dengan salah satu dari waktu-waku yang ijabah yang enam itu yaitu: (1). sepertiga akhir dari wakt malam, (2). ketika adzan, (3). waktu antara adzan dan iqamah, (4). setelah sholat-sholat fardhu, (5) ketika imam naik ke atas mimbar pada hari Jumat sampai selesainya sholat Jumat pada hari itu, (6). waktu terakhir setelah Ashar”.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 28 November 2012 Permalink | Balas  

    Perlukah Kita Bertuhan?

    Tidak semua kita menganggap perlu untuk bertuhan. Meskipun, ia termasuk orang yang percaya kepada adanya Tuhan. Banyak hal yang melatarbelakangi seseorang sehingga ia memilih tidak bertuhan. Sehingga, bisa jadi, muncul pertanyaan di dalam benak Anda: “Ya, sebenarnya perlukah kita bertuhan?”.

    Sejarah peradaban manusia menunjukkan, bahwa hampir di seluruh penjuru bumi manusia memiliki kebergantungan kepada sesuatu yang supranatural. Coba saja datang ke berbagai suku primitif di seluruh dunia, pasti mereka memiliki agama atau semacam agama, yang mengajarkan adanya kekuatan-kekuatan supranatural di luar kuasa manusia.

    Itulah Tuhan mereka. Apa pun bentuknya. Ada yang bertuhan kepada nenek moyangnya. Atau bertuhan kepada patung-patung. Atau bertuhan kepada ‘penghuni’ pohon. Bertuhan kepada berbagai macam azimat. Dan lain sebagainya.

    Dan sebenarnya bukan hanya pada kalangan primitif, masyarakat modern pun tidak ada yang tidak bertuhan. Meskipun, sebagian mereka menyatakan bahwa mereka tidak percaya kepada adanya Tuhan alias atheis. Pada kenyataannya mereka seringkali meminta bantuan dan bahkan bergantung kepada sesuatu, yang dianggapnya jauh lebih kuat dari dirinya. Kenapa demikian? Karena setiap kita menyadari betapa manusia ini demikian lemah. Nah, ketika seseorang telah bergantung dan bersandar kepada ‘Sesuatu yang Lebih Kuat’ itulah sebenarnya dia telah mengakui ada dan perlunya bertuhan. Apa pun namanya.

    Boleh jadi, masyarakat modern menyebutnya sebagai faktor X, kekuatan supranatural, dewi keberuntungan, dan lain sebagainya. Tapi intinya, setiap kita memerlukan adanya Tuhan dalam kehidupan kita.

    Pada skala kecerdasan yang lebih tinggi pun, tidak sedikit orang yang mengaku tidak mempercayai Tuhan. Katakanlah para ilmuwan. Baik ilmu kealaman maupun ilmu ilmu sosial, atau filsafat sekali pun.

    Sebagiannya telah saya bahas dalam diskusi sebelum ini : ‘Jiwa & Ruh. EMereka adalah orang-orang yang terlalu bertumpu pada ‘Kesadaran Inderawi’. Atau, sedikit lebih tinggi, adalah ‘Kesadaran Rasional’.

    Orang-orang yang membangun kesadarannya hanya bertumpu pada keduanya, hanya akan memperoleh kesadaran yang bersifat materialistik alias lahiriah. Mereka tidak menyangka bahwa ada eksistensi yang bersifat batiniah, yang juga nyata. Tapi, mereka tidak mampu ‘menangkapnya E

    Yang tertangkap olehnya hanya sebagian saja dari sifat ketuhanan: yang bersifat lahiriah. Dan mereka tidak menganggap itu sebagai Tuhan. Karena bagi mereka, Tuhan haruslah bersifat batiniah.

    Yang lebih jelek lagi, mereka malah menganggap Tuhan tidak perlu ada karena menurut mereka hukum alam ini sudah bisa berfungsi dengan sendirinya tanpa melibatkan eksistensi Tuhan.

    Padahal, Tuhan meliputi segala-galanya. Baik yang bersifat lahiriah maupun yang bersifat batiniah. Termasuk, hukum alam yang mereka sebut-sebut berjalan dengan sendirinya itu sebenarnya adalah perwujudan dari ‘sebagian’ sifat-sifat Ketuhanan yang bisa kita observasi secara lahiriah. Sedangkan secara holistik, eksistensi Ketuhanan itu meliputi yang lahir maupun yang batin.

    Hal ini akan kita bahas lebih jauh pada bab yang lain, ketika kita berusaha mengenal Allah, Tuhan paling sempurna yang disembah oleh manusia.

    Jadi, setiap kita sebenarnya telah mengakui keberadaan Tuhan, dan sekaligus membutuhkanNya. Karena, itu memang telah menjadi fitrah manusia. Hal itu, telah Dia firmankan di dalam KitabNya, Al Qur’an al Karim.

    QS. Al A’raaf : 172

    Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

    Jadi, jelas sekali, bahwa setiap manusia memiliki naluri ketuhanan. Persoalannya adalah, apakah mereka merasa membutuhkan kehadiranNya ataukah tidak. Dalam hal interaksi dengan Tuhan ini, mereka terdiri dari beberapa kelompok, yaitu :

    1. Orang yang tidak mau melakukan interaksi dengan Tuhan, karena merasa tidak butuh. Itulah orang-orang yang kafir alias ingkar. Mengakui keberadaanNya, tetapi tidak mau menjadikan sebagai Tuhannya. Begitulah sifat yang ditunjukkan oleh Iblis dalam kisah penciptaan manusia pertama : Adam dan Hawa.

    2. Orang yang malas berinteraksi denganNya. Mereka anggap bahwa bertuhan merepotkan saja. Mereka tidak paham tentang konsep ketuhanan, dan perlunya bertuhan dalam kehidupannya. Itulah orang-orang yang dalam istilah Qur’an disebut sebagai orang yang lalai dan bodoh. Mereka harus lebih banyak lagi membangun wacana kehidupan. Jangan sampai usianya habis, menemui ajalnya, tapi belum tahu makna kehidupan yang sesungguhnya.

    3. Orang yang melakukan interaksi dengah Tuhan secara terpaksa. Mereka menjalankan agama secara ikut-ikutan, dan menganggap Tuhan sebagai Dzat yang harus disembah. Yang kalau tidak disembah bakal menjatuhkan sanksi neraka. Dan kalau disembah bakal memberikan surga. Inilah orang yang belum tahu makna agama dan makna ibadahnya. Kelompok inilah yang disinyalir oleh rasulullah saw sebagai orang-orang yang melakukan puasa tanpa memperoleh makna puasanya kecuali lapar dan dahaga. Atau seperti orang yang sudah mengerjakan shalat, tetapi disuruh mengulangi shalatnya, karena sesungguhnya dia tidak menegakkan shalat di dalam ritual shalat. Atau seperti orang-orang yang riya’ alias pamer di dalam zakat dan infaqnya. Atau seperti orang yang berhaji tanpa memahami makna hajinya, kecuali sekadar tour ke tanah suci. Atau lebih mendasar lagi, bagaikan orang yang membaca syahadat tapi tidak pernah menyaksikan makna syahadat di dalam kesehariannya.

    4. Orang yang merasakan manfaat dalam berinteraksi dengan Tuhan. Ia menemukan bahwa Tuhan adalah ‘Sesuatu’ yang Hidup, Berkehendak, Berkuasa, Adil, Sangat Penyayang, Suka Memberi, dan Sumber Segala Kenikmatan. Maka ia selalu merindukan untuk bisa selalu berinteraksi denganNya. Orang yang demikian ini, akhirnya melakukan interaksi dengan Tuhannya secara suka rela dan bahkan mencintaiNya. Inilah orang yang disebut sebagai muslimuun, yang telah berserah diri dan bergantung sepenuhnya kepada Dzat Yang paling Sempurna, Penguasa alam semesta.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 27 November 2012 Permalink | Balas  

    Benarkah Tuhan Ada?

    Tidak semua kita yakin bahwa Tuhan benar-benar ada! Apalagi yakin tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan satu-satunya di alam semesta. Kalau pun yakin, biasanya, tingkatnya tidak ‘benar-benar yakin’. Cuma sekadar percaya! Lho, memang apa beda antara ‘yakin’ dengan ‘percaya’? Dan apa pula bedanya Tuhan dengan Allah?

    Ada beberapa tingkatan orang ber keyakinan tentang keberadaan Tuhan. Tapi secara garis besar, kita bisa membaginya hanya dalam dua kelompok saja yaitu : mereka yang tidak percaya bahwa Tuhan ada, dan mereka yang mempercayai keberadaanNya. Masing-masing memiliki derajat ketidakpercayaan atau kepercayaan yang berbeda-beda.

    1. Tidak percaya bahwa Tuhan ada

    Dalam sejarah kemanusiaan, kita mengetahui ada sekelompok orang yang tidak percaya terhadap adanya Tuhan. Mereka sering kita sebut sebagai kelompok Atheis alias orang-orang yang tidak bertuhan.

    Mereka terdiri dari berbagai macam golongan masyarakat dan strata kecerdasan. Ada yang mampu secara ekonomi atau sebaliknya. Ada juga yang mampu secara intelektual dan sebaliknya. Sangat menarik untuk memahami bahwa mereka bisa mencapai kesimpulan tentang tidak adanya Tuhan. Lebih jauh, kalau dilihat latar belakangnya, mereka bisa dikelompokkan lagi ke dalam beberapa golongan.

    a. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan karena kesombongan. Misalnya, mereka merasa tidak perlu bertuhan karena ‘merasa’ bisa mengatasi segala kebutuhannya sendiri.

    b. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena kebodohan dan ketidakmampuannya. Ini, tentu saja, sangat memprihatinkan. Karena biasanya mereka hanya menjadi korban dari orang-orang yang dianggapnya pintar dan memiliki otoritas tertentu.

    c. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena malas berpikir dan tidak mau repot karenanya. Bertuhan, menurut mereka malah dianggap sebagai kegiatan yang merepotkan saja. Karena, lantas harus melakukan upacara-upacara tertentu sebagai konsekuensi bertuhan. Jadi lebih baik tidak bertuhan saja.

    Namun, pada dasarnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tidak bertuhan. Dulu, kini maupun nanti. Sebab makna bertuhan, sebenarnya adalah menempatkan ‘sesuatu’ menjadi pusat dan tujuan bagi kehidupan seseorang.

    Jadi, ketika kita menempatkan ‘kekuasaan’ sebagai ‘pusat dan tujuan’ hidup kita, maka kita sebenarnya telah bertuhan pada kekuasaan. Dan ini terjadi sejak zaman dulu, kini, maupun nanti.

    Diantaranya, yang diceritakan di dalam Qur’an adalah Fir’aun dengan kekuasaannya yang besar. Sehingga, dia lantas menuhankan dirinya. Ini adalah contoh dari tipikal orang yang sombong. Dia merasa dirinya mampu mengatasi berbagai macam hal dalam kehidupannya. Bahkan dia menjadi tempat bergantung orang lain. Maka, dia merasa menjadi penguasa atas segala yang ada di sekitarnya. Kekuasaannya telah mendorong dirinya untuk bertuhan kepada dirinya sendiri. Yang kemudian, justru membawanya kepada kehancuran.

    Yang semacam Fir’aun ini bukan hanya terjadi pada zaman dulu. Sekarang pun banyak terjadi di berbagai belahan bumi. Sampai kapan pun.

    Ketika seorang presiden dari sebuah negara adikuasa menempatkan diri dan negaranya sebagai penguasa tertinggi dalam kehidupan manusia, maka ia sebenarnya telah menempatkan dirinya sebagai Tuhan. Padahal, sebenarnya tidak ada hak sedikit pun bagi seorang manusia, atau kelompok, untuk menguasai orang lain dan kelompok lain. Sungguh, ia telah menjadi Fir’aun, dalam dunia modern.

    QS. A’ A’raaf (7) : 54

    Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

    Ayat di atas dengan sangat gamblang mengatakan itu. Bahwa menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah saja. Sedangkan manusia dengan manusia lainnya cuma saling mengingatkan dan berkoordinasi untuk membentuk kehidupan yang harmonis dan sejahtera, secara adil. Karena, setiap kita memang memiliki derajat yang sama. Tidak boleh ada yang merendahkan dan menghina satu sama lain.

    Jadi kembali kepada konsep bertuhan setiap manusia yang telah menempatkan ‘sesuatu’ sebagai pusat orientasi kehidupannya, maka ia telah menciptakan Tuhan dalam kehidupannya.

    Itu bisa berupa apa pun. Seseorang bisa bertuhan kepada diri sendiri, pada kekuasaan, pada harta benda, pada wanita cantik, pada kesenangan duniawi, dan berbagai orientasi kehidupan yang mungkin.

    Kalau begitu definisinya, maka bisa dipastikan tidak ada orang yang tidak bertuhan di dalam kehidupannya. Persoalannya tinggal, kepada apa atau siapa dia bertuhan … !

    Namun demikian, banyak juga orang yang mengatakan tidak bertuhan karena tidak paham dengan definisi ini. Termasuk orang yang sombong tersebut. Mereka tidak mau bertuhan kepada sesuatu di luar dirinya, karena menganggap dirinya sudah cukup bisa mengatasi dan memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidupnya. Ya, sebenarnya dia telah bertuhan kepada dirinya sendiri.

    Atau ada juga, kelompok lain, yang malas bertuhan karena dianggap merepotkan saja. Maka, dia sudah bertuhan kepada kemalasannya. Atau, orang yang lain lagi, mereka yang tidak berpengetahuan dan lantas ikut-ikutan, maka mereka telah bertuhan kepada orang lain. Atau bahkan bertuhan pada ‘kebodohannya’. Jadi sekali lagi, tidak ada orang yang tidak bertuhan. Karena setiap kita memiliki kepentingan dan orientasi kehidupan yang mendominasi. Dan itulah Tuhan kita…

    2. Mereka yang percaya keberadaan Tuhan.

    Sementara itu, kelompok yang lain adalah mereka yang mempercayai bahwa Tuhan ada. Tentu saja dengan berbagai alasan dan latar belakangnya. Yang jika dikelompokkan lagi, maka orang-orang yang percaya terhadap keberadaan Tuhan ini pun ada beberapa golongan.

    a. Orang yang percaya pada Tuhan karena doktrin. Sejak kecil ia telah didoktrin oleh sekitarnya, termasuk oleh orang tua dan guru-gurunya, bahwa Tuhan memang ada. Meskipun, boleh jadi dia tidak paham alasannya. Atau tidak mengerti maksudnya. Karena banyak orang di sekitarnya percaya Tuhan itu ada, maka ia pun sepantasnya percaya bahwa Tuhan memang ada.

    b. Orang yang percaya kepada Tuhan karena logika dan rasio. Akalnya mengatakan Tuhan mesti ada. Inilah orang-orang yang mencari keberadaan Tuhan lewat kecerdasannya. Akalnya, justru tidak bisa menerima jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada dalam kehidupannya. Karena dia bisa benar-benar ‘melihat’ dan merasakan hadirnya ‘Suatu Kekuasaan Super’ dalam kehidupannya. Dan itulah Tuhan.

    c. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan karena merasa membutuhkan kehadiranNya. Yang tanpa kehadiranNya, mereka merasa tidak berdaya. Inilah orang-orang yang melakukan pendekatan kepada tuhannya menggunakan Kesadaran Spiritual.

    d. Orang-orang yang memperoleh kesimpulan bahwa Tuhan yang ada di alam semesta ini sebenarnya adalah Tuhan Yang Satu. Bukan bermacam-macam seperti yang dianut oleh berbagai agama. Kita harus mencari ‘Siapakah’ sebenarnya Tuhan yang Satu itu. Dimanakah Dia berada. Bagaimanakah Dia. Dan sebagainya. Inilah orang-orang yang menggunakan Kesadaran Tauhidnya untuk mencari eksistensi Ketuhanan. Sang Penguasa Tunggal Jagad Semesta Raya.

    Jadi, bagi orang-orang yang percaya terhadap keberadaan Tuhan pun, belum tentu ia telah bertuhan secara benar. Karena, memang latar belakangnya bisa sangat beragam. Setidak-tidaknya mereka memiliki tingkat-tingkat kualitas yang berbeda-beda di dalam mempersepsi dan berinteraksi dengan Tuhannya.

    Ketika seseorang hanya ikut-ikutan dalam bertuhan kepada sesuatu yang dianggapnya Tuhan, maka kita patut mempertanyakan apakah ia telah bertuhan secara benar. Apakah ia telah memiliki persepsi yang juga benar tentang Tuhan yang diimajinasikannya. Atau lebih jauh, apakah ia telah berinteraksi secara benar pula dengan Tuhannya itu.

    Jika, mereka merasa risau dengan pertanyaan itu, barangkali akan terjadi stimulasi untuk mencari Tuhan. Baik dalam mempersepsi maupun dalam hal berinteraksi. Jika ini yang terjadi, maka kualitas bertuhan orang itu akan meningkat. Ia mulai berpikir dan menggunakan akalnya untuk mempersepsi Tuhan dan melakukan kontak-kontak denganNya.

    Pada tingkatan yang lebih tinggi, orang yang sudah percaya pada keberadaan Tuhan akan menemukan sosok Tuhan yang dia butuhkan. Pada tingkat ini ia akan melakukan interaksi lebih intensif. Apalagi, jika interaksi itu telah terasa terjadi dalam 2 arah: dialogis. Maka, ia telah menemukan Tuhannya!

    Puncaknya, orang yang demikian ini akan bertemu dengan Tuhan yang Satu. Dialah Tuhan yang menguasai segala yang ada di dalam semesta. Tuhan yang menciptakan sekaligus memelihara. Tuhan yang Maha mengasihi, Maha Menyayangi. Tuhan yang Penuh Kesempumaan dalam eksistensiNya…

    Jadi, pada bagian ini, kita boleh membuat kesimpulan sementara bahwa Tuhan adalah sesuatu yang pasti ada dalam kehidupan seseorang. Tidak mungkin seseorang tidak bertuhan. Tinggal, kepada apa dan kepada siapakah seseorang itu bertuhan.

    ***

    Dari Sahabat

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 749 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: