Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:20 am on 5 November 2016 Permalink | Balas  

    Menggerakan Jari Saat Tasyahud 

    tahiyatMenggerakan Jari Saat Tasyahud

    Sunnah hukumnya mengangkat jari telunjuk dan menggerakannya saat tasyahud dalam shalat. Sebagaimana hadist Nabi Saw: “kemudian beliau mengangkat telunjuknya dan saya melihat beliau menggerakannya dan berdoa”(HR: Ahmad).

    Imam Baihaqi berkata : “Mungkin saja yang dimaksud ‘menggerakan’ dengan isyarat dengan telunjuk’ tidak berarti menggerakan berkali-kali, sesuai dengan hadist riwayat Ibnu Zubair: bahwa Nabi SAW memberi isyarat dengan jarinya jika membaca do’a dan tidak menggerakannya”(HR:Abu Dawud dengan isnad shohih).

    Dari hadist tersebut, dan hadist lainnya, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama tentang menggerakan jari telunjuk saat tasyahud:

    1. Ulama Al syafi’i berpendapat bahwa memberi Isyarat jari telunjuk hanya sekali saat mengucapkan “illalah”yang terdapat dalam tasyahud.
    2. Ulama Hanafi berpendapat mengangkat jari telunjuk ketika lafadz nafi atau” laa” dan meletakannya kembali saat membaca “illalah”(itsbat).
    3. Ulama Malik berpendapat mengerakannya kekiri dan kekanan hingga selesai shalat.
    4. Ulama Hambali berpendapat; memberi isyarat setiap kali mengucap lafadz Jalalah (allah) sebagai isyarat tauhid, dan tidak menggerak-gerakannya.

    ***

    (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah)

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 November 2016 Permalink | Balas  

    Anak Sebagai Amanah dan Lahan Tafakur 

    ibu dan anak lelakinya berdoaAnak Sebagai Amanah dan Lahan Tafakur

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Kondisi bangsa kita yang sedang sakit ini adalah sebuah cerminan bahwa keluarga-keluarga yang membentuk bangsa kita ini kurang sehat karena siapapun yang menjadi penyebab rusaknya negeri ini dulunya pasti anak-anak yang sempat dididik dalam sebuah keluarga.

    Dua hal yang bisa kita ambil hikmah mengapa negeri kita diuji seperti ini. Pertama, nila-nilai yang berlaku di keluarga-keluarga yang ada di bangsa kita tidak tepat. Kedua, sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini juga belum tepat, sehingga harus dievaluasi ulang.

    Menyalahkan, mengutuk dan mencaci tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Kalau kita belum bisa mengubah negara, marilah kita mulai dari mengubah keluarga kita. Peran anak bagi orang tua adalah sebagai amanah, cobaan, lahan tafakur, investasi pahala, dan indikator kesuksesan dunia akhirat.

    Pertama anak itu adalah amanah, bukan milik kita. Milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi, termasuk anak-anak kita. Kita jangankan membuat anak, menggambar anak saja belum tentu sanggup, bahkan membuat satu helai saja rambut tidak sanggup. Bagusnya jangan membuat sombong dan kekurangannya jangan membuat minder, kemudian melihat anak orang lain jangan iri, karena semuanya milik Allah.

    Umurnya Allah yang menentukan. Mati-matian kita ingin anak panjang umur, kita tak berdaya kalau pemiliknya akan mengambil. Walaupun penguasa negara, tak dapat menguasainya kalau Allah tak menghendaki. Yang penting bagi kita adalah menyikapi amanah ini dengan sebaik- baiknya.

    Kedua, anak sebagai cobaan (sudah diuraikan minggu kemarin). Ketiga, anak sebagai lahan tafakkur. Alangkah bahagianya jikalau Allah mengaruniakan kepada kita hati yang bening. Gelas bening yang berisi air bening, jika ada satu butir debu saja di dalamnya, maka kita mudah melihatnya. Begitu pula orang tua yang memiliki hati yang bersih, kalau melakukan kesalahan, maka ia bisa merasakannya, tidak sibuk menyalahkan anak, tetapi sibuk mengevaluasi diri.

    Alangkah beruntungnya orang yang berhati bersih, seperti gelas bening yang di dalamnya ada cahaya. Selain bisa menerangi seisi gelas, juga bisa menerangi sekitarnya. Kalau kita ingin selalu mendapatkan ilmu, maka rahasianya adalah bersihkan hati kita.

    Begitupula orang tua yang berhati bersih, setiap kejadian apapun senantiasa menjadi ilmu yang merupakan cahaya bagi dirinya dan sekitarnya. Ilmu tidak datang dari orang yang lebih tua saja, bahkan bisa datang dari anak-anak kecil.

    Betapa banyak yang bisa kita tafakuri dari perilaku anak-anak kita. Mereka jangan hanya dijadikan objek untuk mengekspresikan harapan kita kepada mereka, tetapi perilaku mereka pun harus menjadi pelajaran bagi kita. Banyak yang bisa kita renungkan dari sikap anak kecil itu, baik sisi positif maupun negatifnya.

    Pertama, anak kecil itu tidak panik dengan rezekinya, tetapi mengapa setelah dewasa banyak yang menjadi licik bahkan ada yang korupsi. Kita tidak usah risau dengan rezeki. Yang harus dirisaukan itu benar tidaknya cara kita menjemput rezeki kita.

    Kedua, anak kecil itu memiliki semangat pantang menyerah. Ketika anak belajar berjalan, dia jatuh bangkit. Tidak ada anak yang menyerah, hingga akhirnya bisa berjalan. Ini ilmu buat kita. Kegagalan itu bukan jatuh, tetapi kegagalan yang sebenarnya adalah kalau kita tidak pernah mau berbuat. Ketiga, anak kecil itu pemaaf. Mereka begitu mudah untuk memaafkan dan berdamai, tetapi mengapa banyak orang yang semakin tua semakin pendendam.

    Keempat, polos (apa adanya). Anak kecil itu tidak banyak beban dalam hidupnya karena mereka jujur sehingga merdeka hidupnya. Kita banyak menderita dalam hidup ini karena sering ingin kelihatan lebih baik dari kenyataan yang sebenarnya, sehingga malah menimbulkan masalah baru. Selain itu, kita juga bisa menafakuri kelakuan jelek anak-anak kita untuk melihat apakah kita kekanak-kanakan atau tidak. Ada beberapa perilaku anak kecil yang jangan ditiru, misalkan anak kecil itu senang pamer. Ini banyak yang terbawa sampai tua.

    Anak kecil juga suka memaksa dan ingin menang sendiri. Kalau mempunyai keinginan harus diikuti, jika tidak maka ia akan memaksanya tanpa mempedulikan apapun.

    Menurut pengakuan beberapa koruptor kecil-kecilan mereka melakukannya karena dipaksa oleh istrinya. Ini perilaku anak kecil. Ya Allah, muliakan bangsa ini dengan Engkau muliakan keluarga- keluarganya. Cahayai rumah tangga bangsa ini dengan cahaya hidayah- Mu. Jadikan bangsa ini bangsa rahmatan lil alamiin, bukti dari kebenaran agama-Mu.

    ***

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 3 November 2016 Permalink | Balas  

    Anak Sebagai Investasi 

    nasehat ibundaAnak Sebagai Investasi

    Oleh : KH Abdullah Gimnastiar

    Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam telah meninggal dunia (mati) maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah (yang ia berikan) atau ilmu yang ia manfaatkan kebaikan) atau anak shalih yang mendoakan dirinya.” (HR Muslim) Artinya anak itu adalah investasi. Anak-anak keturunan kita itu adalah bagian dari keselamatan dunia akhirat kita. Karenanya kita harus serius menanamkan keshalihan pada anak-anak kita.

    Kalau kita ingin menikmati masa depan kita, maka berapapun pengeluaran yang dikeluarkan untuk mendidik anak agar menjadi shalih, untuk belajar, sekolah dan lainnya, itu bukan biaya, melainkan investasi (modal) yang akan mendatangkan keuntungan suatu saat kelak.

    Saya pernah bertanya pada seseorang yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Ia menjawab, “Karena sebentar lagi perdagangan bebas, kita perlu mempunyai anak-anak yang memiliki visi ke depan untuk mengarungi era globalisasi.”

    Kemudian saya bertanya lagi, “Bagaimana kondisi ibadahnya di sana?”

    “Nanti saja kalau dia kembali ke Indonesia akan diperbaiki lagi.”

    “Bagaimana kalau sebelum lulus kuliah sudah diambil nyawanya oleh Allah? Apakah dia siap untuk pulang ke akhirat?”

    Belum tentu anak kita panjang umur. Berapa banyak anak yang mendahului orang tuanya pulang ke akhirat. Mereka jangan hanya dipersiapkan agar bisa hidup kaya di dunia saja, tetapi juga harus dipersiapkan agar bisa pulang dengan selamat, hidup mulia di akhirat.

    Dari Umar bin Khattab ketika ditanya (semoga Allah ridha kepadanya), “Ya Umar, apakah sama pahalanya jika saya mengurus orang tua seperti orang tua mengurus saya di waktu kecil?”

    “Tidak.”

    “Mengapa tidak?”

    “Karena orang tua mengurus kamu supaya kamu panjang umur.” Setelah kita meninggal, mudah-mudahan anak-anak kita yang mengurus, menyalatkan dan mengiringi jasad kita. Setelah kita dikubur, mudah- mudahan mereka sering mendoakan kita dalam munajat-munajatnya.

    Kasihan orang tua yang anaknya tidak tahu agama, sehingga tidak mengerti bagaimana mengurus jasad ibu bapaknya, tidak tahu shalat jenazah, dan setelah dikubur tidak mengerti bagaimana mendoakan orang tuanya.

    Warisan dipakai maksiat, vila dipakai zina, sehingga hancur dan perih orang tuanya. Tidak sedikit orang yang hidupnya terlunta-lunta di dunia karena anaknya, di akhirat tersiksa pula.

    Jangan sampai orang tua belum meninggal, anak-anak sudah menghitung warisannya. Bahkan ada anak yang mengurus orang tuanya yang sudah jompo, tetapi dalam benaknya, “Kenapa lama sekali sakitnya?” karena dia membutuhkan warisannya. Ini anak yang tidak shalih. Naudzubillahi min dzalik.

    Oleh karena itu, mengurus anak itu jangan pernah hanya dengan sisa waktu, tenaga, dan pikira. Bayangkan jika membangun investasi dengan sesuatu yang serba sisa. Berembuklah dengan istri bagaimana mengupayakan agar anak-anak kita menjadi hamba Allah yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

    Para pemimpin sekarang adalah anak hasil investasi keluarga-keluarga beberapa puluh tahun yang lalu, sedangkan anak-anak sekarang merupakan investasi untuk para pemimpin masa depan. Karenanya jika kita merindukan kebangkitan bangsa ini, maka harus diawali dengan kebangkitan dari keluarga-keluarga di rumah.

    Jika sang anak menjadi pemimpin, tentu tata nilai yang ditanamkan dalam keluarganya yang akan digunakannya kelak. Jika pada masa kecilnya tata nilai yang didapatkan di rumahnya hanya sibuk memamerkan harta kekayaan, maka jangan heran kalau setelah menjadi pemimpin dia hanya sibuk meraup harta.

    Sekarang investasi apa yang akan ditanamkan terhadap anak-anak kita di rumah? Kita perlu mengubah tata nilai seperti itu dengan melatih anak-anak kita agar hidup bersahaja, mencari uang sebanyak mungkin untuk dishadaqahkan. Sehingga setelah dewasa, dia makin kaya, makin banyak orang yang tertolong. Dia makin berkuasa, makin banyak orang yang terangkat martabatnya. Dia makin berani, makin banyak orang yang terlindungi karena keberaniannya.

    Ya Allah, titipkan kepada kami anak-anak keturunan yang lebih baik dari pada kami, yang menjadi jalan kebahagiaan dan keselamatan bagi dunia akhirat kami. Lindungi kami dari keturunan yang durhaka dan durjana.

    ***

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 2 November 2016 Permalink | Balas  

    Pengertian Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. 

    Lemah ImanPengertian Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

    [Iman dapat bertambah atau berkurang]

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :

    [1] Ikrar dengan hati.

    [2] Pengucapan dengan lisan.

    [3] Pengamalan dengan anggota badan

    Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

    “Arrtinya : Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab :’Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. [Al-Baqarah : 260]

    Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat di dalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

    Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

    Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

    Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

    Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. [Al-Mudatstsir : 31]

    “Artinya : Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :’Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’. Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. [At-Taubah : 124-125]

    Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

    Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya.

    [1] Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya dari pada yang lain.

    [2] Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman. :

    “Artinya : Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” [Adz-Dzariyat : 20-21].

    Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.

    [3] Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.

    Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu :

    [1] Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.

    [2] Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.

    [3] Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :”Artinya : Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. [Al-Hadits].

    [4] Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimannya dari sisi yang satu ini.

    [Disalin dari kitab Soal Jawab Masalah Iman dan Tauhid terbitan At-Tibyan Solo]

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 1 November 2016 Permalink | Balas  

    Berdzikir 

    dzikir 2Berdzikir

    Sawaluddin Ukkas

    Dzikir atau mengingat Allah, ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta’ala, memuji dan menyanjungNya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimilikiNya.

    1. Allah telah menitahkan kita agar banyak berdzikir,

    Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman! Berdzikir kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah padaNya diwaktu pagi maupun petang.” (Al Ahzab 41 -42)

    1. Allah menyatakan bahwa Ia akan mengingat orang yang ingat atau berdzikir kepadaNya :

    Firman Allah, “Berdzikirlah kamu kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu” (Al Baqarah 152).

    Dan dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Allah berfirman :

    “Aku ini adalah menurut dugaan hambaKu, dan Aku menyertainya dimana saja ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir atau ingat padaKu dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hatiKu dan dan kalau mengingatKu di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu secara berjalan kaki, Aku akan datang padanya dengan berlari”.

    1. Allah SWT, telah menetapkan ahli dzikir itu sebagai golongan istimewa dan terkemuka.

    Sabda Rasulullah saw. : “Telah majulah orang-orang yang istimewa !” Tanya mereka : “Siapakah orang-orang yang istimewa itu ?” Ujarnya : “Mereka ialah orang-orang yang berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun wanita”. (Hadits riwayat : Muslim)

    1. Orang-orang yang berdzikir itulah pada hakikatnya orang-orang yang hidup.

    Diterima dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda : “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati !” (Riwayat Bukhari).

    1. Berdzikir merupakan pokok pangkal amal-amal saleh, maka barang siapa diberi taufik untuk melakukannya, ia telah diberi kesempatan untuk menjadi wali Allah. Oleh sebab itulah Rasul saw selalu dzikir kepada Allah setiap saatnya, dan pernah berpesan kepada seorang laki-laki yang mengatakan kepadanya ” Mengenai syari’at-syariat Islam telah banyak anda sebutkan padaku. Sekarang sebutkan pula padaku sesuatu yang harus aku pegang teguh !”

    Maka ujar Nabi saw : “Mulutmu tidak akan kering disebabkan dzikir kepada Allah”. dan kepada sahabat-sahabatnya dipesankan : “Maukan kamu saya tunjukkan yang lebih utama dan lebih suci di sisi Tuhanmu, lebih meningkatkan derajatmu dan lebih berharga dari menafkahkan emas dan perak, bahkan lebih baik dari menghadapi menghadapi musuhmu dimana kamu akan berusaha akan menebas leher mereka, sebaliknya mereka berusaha akan menebas lehermu?” “Mau”, wahai Rasulullah”, ujar mereka. Maka sabdanya : “Yaitu berdzikir kepada Allah !”

    (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah).

    1. Ia juga merupakan jalan kebebasan, yakni dari siksa.

    Diterima dari Mu’adz ra. bahwa Nabi saw. bersabda : ” Tidak satupun amal yang dikerjakan oleh anak cucu Adam, yang lebih membebaskan dari siksa Allah dari pada dzikir kepada Allah ‘azza wajallah”. (Riwaya Ahmad).

    Sumber : Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 31 October 2016 Permalink | Balas  

    Adab Berjalan Ke Masjid Dan Bacaan Sewaktu Masuk Dan Keluarnya 

    Di-pintu-masuk-masjidAdab Berjalan Ke Masjid Dan Bacaan Sewaktu Masuk Dan Keluarnya

    Adab berjalan ke masjid

    Dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah selesai shalat, ia bertanya : “Ada apa dengan kamu tadi (berisik) ?”. Mereka menjawab : “Kami terburu-buru untuk turut (jama’ah)”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Janganlah kamu berbuat begitu !. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah !” [Hadits Shahih Riwayat : Bukhari, Muslim dan Ahmad]

    Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila kamu mendengar qamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. [Hadits Riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad]

    Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum :

    [1]. Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat apabila mendatangi tempat shalat (masjid).

    [2]. Kita dilarang tergesa-gesa/terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun qamat telah dikumandangkan.

    [3]. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama’ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama’ah.

    [4]. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/nasehat) kepada para jama’ah (ma’mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain.

    [5]. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat imam waktu itu. (ruku’ ketika imam ruku’, sujud ketika imam sujud, atau duduk tahiyat ahir ketika imam sedang tahiyat ahir, ed)

    [6]. Setelah imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

    Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat”. [Hadits Shahih Riwayat : Muslim].

    Bacaan ketika masuk dan keluar masjid

    dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu, “….Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : “ALLAHUMMAJ ‘AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : “(Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapakanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya”. [Hadits Riwayat : Muslim dan Abu Dawud]

    Dari Abi Humaid Radhiallahu’anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu’anhu, bahwasanya Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : “ALLAHUMMAF TAHLII ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”. Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : “ALLAHUMMA INNI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu) “.[Hadits Shahih Riwayat : Muslim, Ahmad dan Nasa’i].

    Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallm, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : “AUDZU BILLAHIL ‘AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL QADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tiada yang mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do’a di atas), syaithanpun berkata : Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya” [Hadits Shaih Riwayat Abu Dawud]

    (adapun yang masyhur di kalangan kaum muslim Indonesia adalah hadits ke dua di atas, dari Abi Humaid Radhiallahu’anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu’anhu, ed)

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam – Jakarta]

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 30 October 2016 Permalink | Balas  

    Doa Ketika Bersin dan Menguap 

    masih-ngantuk-mak_1650_lDoa Ketika Bersin dan Menguap

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dari Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : ” Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menyukai bersin dan membenci menguap. Jika salah seoarang dari kalian bersin, maka hendaklah ia menucapkan Alhamdulillah. Bagi kaum muslimin yang mendengar pujian tersebut hendaknya mengatakan ‘Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu rahmat)’, sedangkan menguap merupakan pekerjaan setan. Jika salah seorang dari kalian hendak menguap, maka sebisa mungkin hendaklah ia tahan. Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian menguap, maka setan akan mentertawakannya.”

    Masih dalam riwayat Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dan saudaranya atau orang yang bersamanya mengatakan kepadanya ‘Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan rahmat-Nya kepadamu)’. Jika salah seorang mengucapkan ‘Yarhamukallah’, maka orang yang bersin tersebut hendaklah menjawab ‘Yahdiikumullah wayushlih baalakum (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikanmu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).”

    Kedua hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari Radhiallahu anhu dalam kitabnya.

    Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu anhu mendengar Rasululah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “JIka salah seorang dari kalian bersin, maka hendaklah ia membaca ‘Alhamdulillah’, dan hendaklah kalian bertasymit (mengucapkan Yarhamukallah). Jika yang bersin tidak mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka janganlah kalian bertasymit.” (HR Muslim)

    ***

    Sumber : Doa-doa Rasulullah oleh Ibnu Taimiyah dengan muhaqqiq (peneliti) syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.

     
  • erva kurniawan 9:32 am on 29 October 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Dokter Membuka Aurat Wanita Dan Berkhalwat Dengannya Untuk Berobat 

    periksa dokterHukum Dokter Membuka Aurat Wanita Dan Berkhalwat Dengannya Untuk Berobat

    Apabila tidak ditemukan seorang dokter wanita yang diperlukan maka diperbolehkan baginya untuk berobat kepada dokter laki-laki, dan hal ini lebih mirip dengan keadaan darurat tetapi harus tetap terikat dengan aturan-aturan yang jelas. Oleh karena itu, para ahli fiqih berkata, keadaan darurat memperbolehkan untuk melakukan suatu hal sesuai dengan sekedar kebutuhan. Maka seorang dokter laki-laki tidak diperbolehkan untuk melihat atau memegang aurat pasien wanitanya yang tidak dibutuhkan untuk dilihatnya ataupun dipegang, dan wajib pula bagi wanita tersebut untuk menutup segala sesuatu yang tidak diperlukan untuk dibuka ketika berobat.

    Meski wanita dihukumi sebagai aurat, sesungguhnya aurat wanita bermacam-macam tingkatannya. Di antaranya ada aurat berat dan ada aurat yang lebih ringan darinya. Demikian pula sakit yang diderita oleh wanita, ada sakit yang berbahaya yang tidak boleh ditunda pengobatannya dan ada pula penyakit biasa yang tidak berbahaya apabila pengobatannya ditunda hingga mahramnya hadir untuk menemaninya berobat. Sebagaimana wanita juga bermacam-macam, di antara mereka ada wanita yang sudah tua dan wanita muda yang cantik serta ada pula pertengahan antara keduanya. Di antara mereka ada yang datang dalam keadaan tersiksa oleh penyakitnya dan juga di antara mereka ada yang datang ke rumah sakit tanpa terlihat pengaruh sakitnya. Di antara mereka ada yang dibius lokal atau keseluruhan, dan ada yang cukup diberi pil-pil dan semisalnya. Setiap individu dari mereka ada hukumnya tersendiri.

    Atas dasar semua itu maka berdua-duan dengan wnaita selain mahram adalah haram secara syara’ meskipun bagi dokter laki-laki yang mengobatinya berdasarkan hadits :

    “Artinya : Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan”.

    Maka harus hadir seseorang bersama keduanya baik suaminya ataupun salah satu mahramnya yang laki-laki. Dan apabila tidak bisa menghadirkan kerabat dekat yang wanita sedangkan sakitnya membahayakannya dan pengobatannya tidak biasa ditunda-tunda lagi, maka paling tidak harus dengan kehadiran seorang perawat wanita untuk menjaga agar tidak terjadi ‘khalwat’ yang terlarang.

    Adapun soal tentang hukum aurat anak perempuan yang masih kecil, maka seorang anak perempuan apabila belum berumur tujuh tahun dihukumi tidak mempunyai aurat. Apabila telah mencapai umur tujuh tahun maka ia mempunyai aurat sebagaimana dijelaskan oleh para ahli fiqih meskipun auratnya berbeda dengan aurat wanita yang lebih tua umurnya.

    Kapan Diperbolehkan Membuka Aurat

    Aurat hanya boleh dibuka karena adanya penyakit yang membahayakan. Adapun ungkapan : “Boleh membuka aurat untuk pengobatan” artinya boleh hingga aurat yang berat hanya saja aurat yang berat ini hanya diperbolehkan untuk dibuka dengan sebab suatu penyakit yang sangat berbahaya dan ditakutkan bisa menyebabkan meninggal atau semakin parahnya penyakit tersebut. Adapun sakit yang ringan, menurut saya tidak termasuk dalam ungkapan tersebut. Yang dimaksudkan disini adalah melihat aurat wanita dan laki-laki, dengan catatan bahwa yang diperbolehkan melihat aurat wanita hanyalah kaum wanita sendiri.

    Memang pada dasarnya aurat wanita tetap dianggap sebagai aurat di hadapan wanita lain, akan tetapi lebih ringan dibandingkan dengan di hadapan lelaki, karena penyebab timbulnya fitnah tidak ada dalam diri wanita apabila melihat pada aurat wanita lain.

    Maksud dari pengobatan di sini adalah pengobatan dari suatu penyakit. Sedangkan untuk tujuan menambah kekuatan, -dan dalam masalah ini banyak orang terlalaikan-, maka misalnya seorang lelaki membuka paha lelaki lain karena sakit yang ringan atau untuk tujuan menambah kekuatan, merupakan suatu kerusakan dan kejahatan yang besar. Ini telah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh manusia, tetapi ini adalah kebiasaan yang dilarang oleh syara’, meski banyak dilakukan oleh manusia.

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita -3, hal 190-193, Darul Haq]

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 28 October 2016 Permalink | Balas  

    Aku Dimakamkan Hari Ini 

    mayat2Aku Dimakamkan Hari Ini  

     

    Perlahan, tubuhku ditutup tanah,

    perlahan, semua pergi meninggalkanku,

    masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka

    aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,

    sendiri, menunggu keputusan…

     

    Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,

    Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,

    Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,

    rekan bisnis, atau orang-orang lain,

    aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

    Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,

    Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,

    Tangan kananku menghibur mereka,

    kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,

    tetapi aku tetap sendiri, disini,

    menunggu perhitungan …

     

    Menyesal sudah tak mungkin,

    Tobat tak lagi dianggap,

    dan ma’af pun tak bakal didengar,

    aku benar-benar harus sendiri…

     

    Tuhanku,

    (entah dari mana kekuatan itu datang,

    setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),

    jika kau beri aku satu lagi kesempatan,

    jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,

    beberapa hari saja…

     

    Aku harus berkeliling, memohon ma’af pada mereka,

    yang selama ini telah merasakan zalimku,

    yang selama ini sengsara karena aku,

    yang tertindas dalam kuasaku.

    yang selama ini telah aku sakiti hati nya

    yang selama ini telah aku bohongi

     

    Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,

    yang kukumpulkan dengan wajah gembira,

    yang kukuras dari sumber yang tak jelas,

    yang kumakan, bahkan yang kutelan.

    Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu

    Dan Tuhan,

    beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,

    untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,

    teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,

    maafkan aku ayah dan ibu ,

    mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu

    beri juga aku waktu,

    untuk berkumpul dengan istri dan anakku,

    untuk sungguh sungguh beramal soleh ,

    Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,

    bersama mereka …

    begitu sesal diri ini

    karena hari hari telah berlalu tanpa makna

    penuh kesia sia an

    kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya

    sama sekali mengapa ku sia sia saja ,

    waktu hidup yg hanya sekali itu

    andai ku bisa putar ulang waktu itu …

     

    Aku dimakamkan hari ini,

    dan semua menjadi tak terma’afkan,

    dan semua menjadi terlambat,

    dan aku harus sendiri,

    untuk waktu yang tak terbayangkan …

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 27 October 2016 Permalink | Balas  

    Menyikapi Masalah Dalam Hidup 

    AIRMATAMenyikapi Masalah Dalam Hidup

    Segala puji hanya milik Allah, pencipta, pemelihara, dan pemilik seluruh makhluk-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

    Semoga diri ini selalu sadar dan ingat bahwa ajal dapat menjemput kapan dan dimana saja kita berada sehingga kita dapat selalu mempersiapkan bekal untuk akhirat. Alangkah indahnya hidup ini bila kita selalu menghadapinya dengan semangat dan optimisme tinggi. Dengan semangat dan optimisme yang tinggi akan mendorong kita untuk selalu mempersembahkan karya terbaik untuk dunia ini.

    Kesempatan yang Allah berikan selama kita hidup hendaknya tidak kita sia-siakan. Dalam hidup, kita pasti akan menghadapi masalah. Suatu masalah akan mendatangi siapapun kita. Baik kaya maupun miskin, tua maupun muda, pria maupun wanita, pejabat maupun pelayan, orang pintar maupun bodoh, akan menghadapi masalah. Oleh sebab itu langkah yang paling tepat dalam menyikapinya adalah dengan menghadapi dan berusaha untuk menyelesaikannya tanpa pernah putus asa karena seorang muslim tidak boleh berputus asa dalam mengharap rahmat Allah.

    Akan sangat merugikan diri kita sendiri bila kita takut untuk menhadapinya dan hanya berusaha menghindar. Hal itu hanya akan membuat kita capek karena sudah pasti,

    pertama tidak akan menyelesaikan masalah dan kedua, kita malah mungkin akan bertemu dengan masalah baru. Masalah yang timbulpun silih berganti seakan tak ada habisnya. Pada hakikatnya masalah yang timbul bukanlah beban melainkan tantangan yang akan mendewasakan kita dalam berpikir dan bersikap sehingga kita bisa semakin bijaksana dalam menyikapi hidup ini. Oleh sebab itu ada tiga langkah yang sebaiknya kita lakukan ketika menemuinya yaitu

    Pertama, menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas, tidak dengan mengeluh atau berusaha mencari kambing hitam karena hal itu menandakan kekerdilan jiwa kita.

    Kedua, menghadapi dengan sabar dan tabah, tidak dengan terburu-buru, emosi, serta putus asa, karena hal ini menandakan lemahnya jiwa kita.

    Dan yang ketiga, menyelesaikannya dengan pikiran yang jernih, tidak dengan nafsu, karena hal ini menandakan tidak bijaknya jiwa kita. Disamping itu ada baiknya jika kita senantiasa berdoa agar Allah senantiasa memberi petunjuk serta kemudahan bagi kita dalam menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.

    Semua permasalahan pada hakikatnya berasal dari Allah, maka sudah sepatutnya kita bertawakkal pada-Nya setelah kita berusaha secara optimal untuk menyelesaikannya. Dan tak kalah pentingnya bagi kita untuk memahami dan meyakini bahwa apapun yang Allah takdirkan bagi kita maka itulah yang terbaik karena sesuai firman Allah yang berbunyi ” boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ( Al Baqarah : 216 )”.

    Wallahu ‘Alam bisshowab

    ***

    Kiriman Sahabat Joko P

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 26 October 2016 Permalink | Balas  

    Sakit Sebagai Kafarat 

    sakitSakit Sebagai Kafarat

    Oleh : Fajar Kurnianto

    Hidup tak selalu berjalan lurus, menyenangkan, dan membahagiakan. Suatu saat manusia akan mengalami siklus yang membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Dan, karena siklus inilah, Allah SWT menuntut umat manusia untuk menghadapinya dengan baik, sesuai dengan petunjuk-Nya. Dengan siklus kehidupan ini juga, umat manusia sesungguhya diuji, apakah tetap tegar dan optimistis, ataukah putus asa.

    Sakit adalah salah satunya. Tak selamanya manusia berada dalam kondisi sehat, yang memungkinkannya dapat melakukan apa saja. Suatu waktu ia pasti akan didera oleh satu hal yang membuatnya harus terbaring tak berdaya di atas ranjang, atau salah satu anggota badannya tidak berfungsi dengan baik. Pada kondisi seperti ini, godaan untuk berkeluh kesah dan putus asa akan selalu menyerangnya setiap saat, karena orang sakit potensial untuk putus asa.

    Sakit sesungguhnya adalah batu ujian bagi seorang Mukmin. Sakit bukanlah adzab yang dilimpahkan karena kebencian Allah, tapi justru itu adalah bagian dari kasih dan perhatian Allah SWT yang begitu besar kepada orang beriman. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya seorang yang beriman ketika didera musibah sakit, kemudian Allah menyembuhkannya, maka itu adalah kafarat (penghapus) bagi dosa-dosa yang ia lakukan sebelumnya. Ia sekaligus menjadi pesan berharga untuk menghadapi masa yang akan datang.” (HR Abu Dawud).

    Mengapa Allah menghapus dosa-dosa orang Mukmin yang sedang sakit? Ada dua hal yang menjadi alasannya. Pertama, faktor kesabaran, ketabahan, dan optimisme seorang Mukmin. Sakit justru adalah ujian kesabaran yang mesti dihadapi dengan sikap lapang dada dan besar hati. Dalam beberapa ayat Alquran, Allah SWT sering menyitir bahwa Dia akan selalu menyertai orang- orang yang sabar dalam menerima ujian, tak terkecuali sakit ini. ”Sesungguhnya Allah akan selalu menyertai orang-orang yang sabar.” (QS 2: 153).

    Kebersamaan Allah dengan Mukmin yang sakit adalah rahmat yang tiada terkira. Maka, biarpun rasa sakitnya teramat parah, namun karena ia merasa bahwa Allah selalu menyertainya, maka hampir-hampir tidak merasakan. Yang ada hanyalah kedamaian dan ketenteraman berada selalu di sisi-Nya.

    Kedua, faktor kesadaran yang timbul akibat sakit tersebut. Sakit sesungguhnya adalah waktu bagi seseorang untuk merenung dan mengingat-ingat segala perbuatan yang dilakukan sebelumnya. Seorang Mukmin yang sakit akan menjadikan sakit itu justru sebagai ladang introspeksi diri, sejauh mana ia melakukan segala perintah Allah SWT atau menjauhi larangan-Nya, pada saat ia belum sakit. Sakit sekaligus menjadi pesan bahwa manusia sejatinya adalah mahluk lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa. Sakit yang diderita adalah bentuk konkretnya.

    Dengan demikian, orang yang sakit seharusnya menyadari bahwa sakit justru merupakan karunia tak terkira baginya. Karena, dengan demikian, berarti Allah SWT masih peduli dan perhatian padanya. Kafarat dosa tentu adalah salah satu bagian dari itu. Di balik itu tersimpan pesan yang lebih besar: Allah SWT sesungguhnya sedang meninggikan derajat seorang Mukmin yang sedang sakit. Wallahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 2:04 am on 25 October 2016 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tidak Rindu (Bagian 3) 

    bidadariSiapa Yang Tidak Rindu (Bagian 3)

    Ketika Bidadari Turun Ke Bumi

    mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya.

    Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya ?

    Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah. Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?

    Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu?

    Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?

    Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.

    Ia menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.

    Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan riya.

    Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.

    Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah

    Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.

    Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. “Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah”. (HR. Muslim)

    Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholihah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini.

    Ya Allah, jadikanlah aku orang yang senantiasa dikelilingi oleh bidadari-bidadari bumi. Agar kelak di syurga aku tidak canggung lagi.

    (Dinukil dari buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 October 2016 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tidak Rindu (Bagian 2) 

    bidadariSiapa Yang Tidak Rindu (Bagian 2)

    Bidadari yang Cantik Jelita Menurut Pengabaran Al-Qur’an

    Allah mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Payudaranya sudah tumbuh sempurna, bentuknya bulat dan tidak menggelantung ke bawah. Yang seperti ini merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Allah mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah Radhiallahu anha pernah berkata, “warna puith adalah separoh keindahan.” Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata,

    Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan, laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan, dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut, Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat

    Al-‘In jama’ dari aina’, artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Allah mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lag cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman-Nya,

    “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (Al-Baqarah:25)

    Artinya. mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. MEreka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair,

    Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar, jika kau ingin cinta kita selalu mekar

    Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Hal ini menunjukkan kenikmatan bercinta dan bersetubuh dengan perawan daripada bersetubuh dengan wanita janda.

    Aisyah Radhiallahu anha, pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallau Alaihi wa Sallam, “Wahai rasulullah, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?”

    Beliau menjawab,”Di tempat yan belum dijadikan tempat gembalaan.”(Ditakhrij Muslim)

    Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, “Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)

    Jika ada yang berkata, “kenikmatan itu justru tidak begitu terasa nikmat saat mengadakan hubungan pertama kali bagi perawan, yang berbeda dengan wanita janda.” Hal ini bisa dijawab sebagai berikut:

    Pertama, yang dimaksudkan kenikmatan bersetubuh dengan perawan ialah karena wanita perawan belum pernah merasakannya dengan lelaki lain sebelumnya, sehingga cintanya lebih tertanam di dalam hati dan dapat menjaga kelanggengan hubungan, Ini ditilik dari keadaan wanita. Jika ditilik dari keadaan suami, maka ia merasa mendapat kebun yang masih asli, tidak pernah dijamah orang lain sebelumnya. Allah telah mengisyaratkan pengertian ini di dalam firmanNya,

    “Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (Ar-Rahman:74)

    Setelah itu kenikmatan persetubuhan masih tetap terasa seperti keadaan yang masih perawan.

    Kedua, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat, bahwa setiap kali penghuni surga menyetubuhi seorang wanita dalam keadaan perawan, maka wanita itu kembali menjadi perawan seperti keadaan sebelumya. Jadi, setiap kali dia menyetubuhinya, maka wanita itu tetap dalam keadaan sebelumnya. Jadi, setiap kali dia menyetubuhinya, maka wanita itu tetap dalam keadaan perawan.

    Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-‘Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.

    Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-‘Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebagay dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Allah menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi, adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.

    ***

    (bersambung)

    [dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu), karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, terbitan Darul Falah]

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 23 October 2016 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tidak Rindu (Bagian 1) 

    bidadariSiapa Yang Tidak Rindu (Bagian 1)

    Bidadari yang Cantik Jelita Menurut Pengabaran Al-Qur’an

    Allah telah memberikan sifat-sifat terindah kepada bidadari-bidadari surga. Mereka diberi pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu.

    Ath-Thabarany menuturkan, kami diberi tahu Bakr bin Sahl Ad-Dimyaty, kami diberitahu Amru bin Hisyam Al-Biruny, kami diberitahu Sulaiman bin Abu Karimah, dari Hisyam bin Hassan, dari Al-Hassan, dari ibunya, dari Ummu Salamah Radhiallahuanha, dia berkata, “Saya berkata,’Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”

    Beliau menjawab,”Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”

    Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.”(Al-Waqi’ah:23)

    Beliau menjawab,”Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

    Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman :70)

    Beliau menjawab,”Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”

    Saya berkata lagi,”Jelaskan padaku firman Allah, “seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shafat:49)

    Beliau menjawab,”Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”

    Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah :37)

    Beliau menjawab,” Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

    Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli ?”

    Beliau menjawab,”Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari bermata jeli, seperti apa yang tampak daripada yang tidak tampak.”

    Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

    Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa mereka dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya kulit bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kunigan, sanggulnya mutiara dan sisinya terbuat dari emas. Mereka berkata, Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya’.”

    Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita diantar kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka masuk surgapula. Siapakah diantara laki-laki itu yang menjadi suaminya di surga?”

    Beliau menjawab,”Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih siapa diantara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata,’Wahai Rabbku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai ummu Salamah, akhlka yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

    (disebutkan dalam catatan kaki buku Raudhatul Muhibbin (terbitan darul falah), halaman 201 :”Pengarang (Ibnul Qoyyim) menyebutkan hadits ini di dalam bukunya Hadil Arwah. Di sana dia memberi catatan : Sulaiman bin Abu Karamah menyendiri dalam riwayat ini. Abu Hatim menganggapnya dha’if. Menurut Ibnu Ady, mayoritas hadits-haditsnya adalah mungkar dan saya tidak melihat orang-orang dahulu membicarakannya. Kemudian dia menyebutkan hadits ini dari jalannya seraya berkata, “Hanya sanad inilah yang diketahui..”)

    ***

    (bersambung)

    [dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu), karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, terbitan Darul Falah]

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 22 October 2016 Permalink | Balas  

    Kesehatan di dalam Alquran dan Hadits 

    nasehat-quran1Kesehatan di dalam Alquran dan Hadits

    SAYAP LALAT MENGANDUNG OBAT.

    Apabila lalat masuk ke dalam minuman kamu, hendaklah ditenggelamkannya, kemudian dibuang lalat itu, karena sesungguhnya salah satu sayapnya mengandung penyakit dan yang satu lagi mengandung obat. (HSB 1463)

    MATI KARENA SAKIT PERUT ITU MATI SYAHID.

    Nabi SAW berkata: “Yang disebut mati syahid itu ada lima macam:

    1. Orang mati kena tikam.
    2. Orang mati karena sakit perut.
    3. Orang mati karena tenggelam.
    4. Orang mati ditimpa tanah longsor.
    5. Orang mati fi sabilillah (berjuang menegakkan agama)

    BAYI LAHIR MEMEKIK DAN MENANGIS KARENA DISENTUH SETAN.

    Rasulullah bersabda: “setiap anak Adam yang baru lahir disentuh setan ketika lahirnya itu, lalu ia memekik menangis karenanya, selain Maryam dan anaknya”. (HSB 1493)

    KENCING UNTA AGAR DIMINUM SEBAGAI OBAT.

    Nabi menyuruh mereka, orang-orang yang sakit-sakitan, mencari unta betina yang sedang menyusui, dan menyuruh pula mereka minum air kencing dan susu unta itu. (HSB 154)

    ORANG PEREMPUAN JUGA MENGELUARKAN MANI.

    Ummu Salamah: “Ya Rasulullah ! Apakah orang perempuan keluar mani jugakah ?” Jawab Rasulullah: “Ya, betul ! Taribat Yaminuk, mengapa engkau sebodoh itu ? Kalau tidak kenapa anaknya serupa dia”. (HSB 92)

    ALLAH MENGAJARKAN BAHWA PEREMPUAN MENGELUARKAN MANI.

    “Air mani laki-laki berwarna putih, dan air mani perempuan berwarna kekuning-kuningan. Apabila keduanya bertemu maka jika mani laki-laki lebih unggul dari mani perempuan akan lahir anak laki-laki. Dan jika mani perempuan yang lebih unggul dari mani laki-laki, akan lahir anak perempuan dengan izin Allah” “Sesungguhnya aku pernah ditanya orang seperti apa yang ditanyakan itu. Mulanya aku belum tahu apa-apa mengenai masalah itu, tetapi Allah mengajarkannya kepadaku” (HSM 262)

    ANAK SERUPA BAPAK ATAU SERUPA IBU?

    Jika airnya mendahului air istri, anak serupa bapaknya. Jika air ibunya mendahului air bapak, anak serupa ibu. (HSB 1465)

    BAU BUSUK MULUT ORANG BERPUASA LEBIH HARUM DARI KESTURI

    Aku ini puasa. Demi Allah yang diri Muhammad berada di genggamanNya, sesungguhnya bau busuk orang puasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi. (HSB 935)

    MANUSIA DISIPTAKAN.

    1. Manusia diciptakan dari tanah kering (Qs 55:14)
    2. Manusia diciptakan dari tanah liat (Qs 37:11)
    3. Manusia diciptakan dari air mani (Qs 35:11)
    4. Manusia diciptakan dari segumpal darah (Qs 40:67)
    5. Manusia diciptakan dari air terpancar (Qs 86:6)
    6. Manusia diciptakan dari setetes mani (Qs 80:19)
    7. Manusia diciptakan dari setitik air (Qs 36:77)
    8. Manusia diciptakan dari saripati air (Qs 32:8)

    LUBANG HIDUNG TEMPAT BERMALAM SETAN.

    Nabi bersabda: “Apabila di antara kamu bangun dari tidur, lalu berwuduk, maka hendaklah menyemburkan air dari hidung tiga kali, karena sesungguhnya setan bermalas di lubang hidung” (HSB 1458)

    KUPING ORANG TIDAK SHALAT MALAM TEMPAT KENCING SETAN.

    Abdullah berkata:”.. seorang laki-laki yang senantiasa tidur sampai subuh dan tidak pernah shalat malam”. Nabi bersabda: “Kupingnya telah dikencingi setan” (HSB 601)

    KUAP ITU DARI SETAN

    Nabi bersabda: “Allah mencintai bersin dan membenci kuap. Karena itu kalau bersin lalu ia memuji Allah, …kuap itu dari setan kalau ia mengucapkan “wah !”, maka setan tertawa”. (HSB 1911)

    MIMPI BURUK ITU DARI SETAN.

    Nabi bersabda: “Mimpi yang baik dari Tuhan, dan mimpi yang buruk dari setan” (HSB 1457)

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 21 October 2016 Permalink | Balas  

    Karir Wanita Dan Wanita Karir 

    wanita sholehahKarir Wanita Dan Wanita Karir

    Diskursus tentang karir wanita dan wanita karir dewasa ini semakin hangat, terutama di negeri ini dan mendapatkan dukungan serta perhatian serius dari berbagai kalangan, khususnya yang menamakan diri mereka kaum Feminis dan pemerhati wanita.

    Mereka selalu mengangkat tema “pengungkungan” Islam terhadap wanita dan mempromosikan motto emansipasi dan persamaan hak di segala bidang tanpa kecuali atau yang belakangan lebih dikenal dengan sebutan kesetaraan gender. Banyak wanita muslimah terkecoh olehnya, terutama mereka yang tidak memiliki basic keagamaan yang kuat dan memadai.

    Karena merupakan masalah yang urgen dan berimplikasi serius, maka tulisan kita kali ini mengangkat tema tersebut.

    Semoga tulisan ini menggugah wanita-wanita muslimah untuk kembali kepada fithrah mereka. Amien.

    Kondisi Wanita di Dunia Barat

    1. Dari sisi historis, terjunnya kaum wanita ke lapangan untuk bekerja dan berkarir semata-mata karena unsur keterpaksaan. Ada dua hal penting yang melatarbelakanginya :

    Pertama, terjadinya revolusi industri mengundang arus urbanisasi kaum petani pedesaan, tergiur untuk mengadu nasib di perkotaan, karena himpitan sistem kapitalis yang melahirkan tuan-tuan tanah yang rakus. Berangkat ke perkotaan, mereka berharap menda-patkan kehidupan yang lebih layak namun realitanya, justru semakin sengsara. Mereka mendapat upah yang rendah.

    Ke dua, kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah yang rakus  sengaja mengguna-kan momen terjunnya kaum wanita dan anak-anak, dengan lebih memberikan porsi kepada mereka di lapangan pekerjaan, karena mau diupah lebih murah daripada kaum lelaki, meskipun dalam jam kerja yang panjang.

    1. Kehidupan yang dialami oleh wanita di Barat yang demikian mengenaskan, sehingga menggerakkan nurani sekelompok pakar untuk membentuk sebuah organisasi kewanitaan yang diberi nama Humanitarian Movement yang bertujuan untuk membatasi eksploitasi kaum kapitalis terhadap para buruh, khususnya dari kalangan anak-anak. Organisasi ini berhasil mengupayakan undang-undang perlindungan anak, akan tetapi tidak demikian halnya dengan kaum wanita. Mereka tetap saja dihisap darahnya oleh kaum kapitalis tersebut.
    2. Hingga saat ini pun, kedudukan wanita karir di Barat belum terangkat dan masih saja mengenaskan, meskipun sudah mendapatkan sebagian hak mereka. Di antara indikasinya, mendapatkan upah lebih kecil daripada kaum laki-laki, keharusan membayar mahar kepada laki-laki bila ingin menikah, keharusan menanggung beban penghidupan keluarga bersama sang suami, dan lain sebagainya.

    Beberapa Dampak Negatif dari Terjunnya Wanita untuk Berkarir

    Di antara dampak-dampak negatif tersebut adalah:

    1. Penelitian kedokteran di lapangan (dunia Barat) menunjukkan telah terjadi perubahan yang amat signifikan terhadap bentuk tubuh wanita karir secara biologis, sehingga menyebabkannya kehilangan naluri kewanitaan, tetapi tidak berubah jenis kelamin menjadi laki-laki. Jenis wanita sema-cam ini dijuluki sebagai jenis kelamin ke tiga. Menurut data statistik, kebanyakan penyebab kemandulan para istri yang bekerja sebagai wanita-wanita karir tersebut bukan karena penyakit yang biasa dialami oleh anggota badan, tetapi lebih diakibatkan oleh ulah wanita di masyarakat Eropa yang secara total, baik dari aspek materil, pemikiran maupun biologis lari dari fithrahnya (yakni sifat keibuan). Penyebab lainnya adalah upaya mereka untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Hal inilah yang secara perlahan melenyapkan sifat keibuan mereka, banyaknya terjadi kemandulan serta mandegnya ASI sebagai akibat perbauran dengan kaum laki-laki.
    2. Di Barat, muncul fenomena yang mengkhawatirkan sekali akibat terjunnya kaum wanita sebagai wanita karir, yaitu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak kecil berupa pukulan yang keras, sehingga dapat mengakibatkan mereka meninggal dunia, gila atau cacat fisik. Majalah-majalah yang beredar di sana menyebutkan nama penyakit baru ini dengan sebutan Battered Baby Syn (penyakit anak yang dipukul). Majalah Hexagon dalam volume No. 5 tahun 1978 menyebutkan bahwa banyak sekali rumah sakit-rumah sakit di Eropa dan Amerika yang menampung anak-anak kecil yang dipukul secara keras oleh ibu-ibu mereka atau terkadang oleh bapak-bapak mereka.
    3. DR. Ahmad Al-Barr mengatakan, “Pada tahun 1967, lebih dari 6500 anak kecil yang dirawat di beberapa rumah sakit di Inggris yang berakhir dengan meninggal sekitar 20% dari mereka, sedangkan sisanya mengalami cacat fisik dan mental secara akut. Ada lagi, sekitar ratusan orang yang mengalami kebutaan dan lainnya ketulian setiap tahunnya, ada yang mengalami cacat fisik, ediot dan lumpuh akibat pukulan keras”.
    4. Para wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga tidak dapat memberikan pelayanan secara kontinyu terhadap anak-anak mereka yang masih kecil, karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk karir mereka.
    5. Berkurangnya angka kelahiran, sehingga pemerintah negara tersebut saat ini menggalakkan kampanye memperbanyak anak dan memberikan penghargaan bagi keluarga yang memiliki banyak anak. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kondisi yang ada di dunia Islam.

    Saksi Mereka Berbicara

    1. Seorang Filosof bidang ekonomi, Joel Simon berkata, “Mereka (para wanita) telah direkrut oleh pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka”.
    2. Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan polling seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita. Dari hasil polling tersebut didapat kesimpulan: “Bahwa sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65% dari mereka lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka”.

    Karir Wanita dalam Perspektif Islam

    Allah Ta’ala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerja-an yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak.

    Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang,  pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana disitir di dalam Al-Qur’an , “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua  orang ibu bapanya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS. Luqman: 14).

    Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak, tetapi harus dia tanggung juga. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga mengurangi staminanya.

    Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.

    Dienul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya.

    Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu (‘iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati, maka nafkahnya dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita.

    Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut.

    Selain itu, bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin.

    Solusi Islam Terhadap Diskursus Karir Wanita

    Ada kondisi yang teramat mendesak yang menyebabkan seorang wanita terpaksa bekerja ke luar rumah dengan persyaratan sebagai berikut:

    • Disetujui oleh kedua orangtuanya atau wakilnya atau suaminya, sebab persetujuannya adalah wajib secara agama dan qadla’ (hukum).
    • Pekerjaan tersebut terhindar dari ikhtilath (berbaur dengan bukan mahram), khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan laki-laki asing; Sebab ada dampak negatif yang besar. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan seorang wanita, kecuali bila bersama laki-laki (yang merupakan) mahramnya”. (HR. Bukhari).
    • Menutupi seluruh tubuhnya di hadapan laki-laki asing dan menjauhi semua hal yang berindikasi fitnah, baik di dalam berpakaian, berhias atau pun berwangi-wangian (menggunakan parfum). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapapun wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar menuju masjid, maka shalatnya tidak diterima hingga ia mandi.” (HR. Ibnu Majah). Dalam riwayat lain : “Siapapun wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar, lalu melewati sekelompok kaum lelaki agar mereka mencium baunya maka wanita itu adalah seorang pezina.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi)
    • Komitmen dengan akhlaq Islami dan hendaknya menampakkan keseriusan dan sungguh-sungguh di dalam berbicara, alias tidak dibuat-buat dan sengaja melunak-lunakkan suara, sebagaimana Firman Allah subhanhu wata’ala terhadap umumul mukminin junjungan kita, “Hai istri-istri Nabi, kalian tidak sama dengan siapapun perempuan lain jika kaian benar-benar bertaqwa, maka janganlah kamu tunduk (lembut, merendahkan suara) dalam berbicara sehingga orang-orang yang hatinya berpenyakit punya hasrat tidak baik (kepada kalian), tetapi katakanlah (kepada laki-laki) perkataan yang lugas.” .(Al-Ahzab: 32)
    • Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at dan kodratnya seperti dalam bidang pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.

    Penutup

    Sudah waktunya kita memahami betapa agungnya dien ini di dalam setiap produk hukumnya, berpegang teguh dengannya, menjadikannya sebagai hukum yang berlaku terhadap semua aturan di dalam kehidupan kita serta berkeyakinan secara penuh, bahwa ia akan selalu cocok dan sesuai di dalam setiap masa dan tempat.

    ***

    Saudaraku, setiap Muslim punya kewajiban untuk menyampaikan ajaran Islam. Kesempatan kita untuk berdakwah saat ini adalah :

    Anda sampaikan artikel ini kepada Saudara kita yang belum mengetahuinya.

    Sumber : http://groups.yahoo.com/group/salafiyyin/message/11

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 20 October 2016 Permalink | Balas  

    Mak Eroh, Wanita Besi dari Tasikmalaya 

    mak-erohMak Eroh, Wanita Besi dari Tasikmalaya

    BANYAK tokoh wanita hebat yang lahir di Indonesia ini, mulai dari zaman penjajahan, hingga perjuangan kemerdekaan, seperti RA Kartini, Tjut Nyak Dien, atau pahlawan wanita Sunda, Dewi Sartika.

    Dari sekian wanita super yang akan selalu dikenang masyarakat tersebut, terselip satu nama wanita dari Kabupaten Tasikmalaya, yakni Mak Eroh. Wanita yang meninggal pada 18 Oktober 2004 di usianya yang ke-68 tahun tersebut dikenal namanya pada 1988.

    Setahun kemudian, United Nations Environment Program dari PBB memberikan penghargaan lingkungan, Global 500. Sebagai penghormatan, Pemkab Tasikmalaya pun membangun monumen Mak Eroh bersama pahlawan lingkungan lainnya, Abdul Rodjak.

    Apa yang dilakukan Mak Eroh memang cukup mencengangkan dunia. Warga Desa Pasirkadu Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya berhasil membuat saluran air sepanjang 4.500 meter yang mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Proyek raksasa itu dapat diselesaikan dengan bantuan para muda desa, dalam waktu 2,5 tahun.

    Tekad kuat Mak Eroh untuk membuat saluran air ini awalnya didasari oleh sulitnya warga desa dalam mendapatkan air, baik untuk keperluan rumah tangga maupun pertanian.

    Kekeringan membuat Desa Pasirkadu jauh dari kesejahteraan. Awalnya, Mak Eroh memiliki gagasan untuk membuat saluran air sepanjang 50 meter yang dapat menghubungkan Desa Pasirkadu dengan Sungai Cilutung. Kerja kerasnya dimulai pada Juni 1985, namun gagasannya hanya menjadi bahan tertawaan warga sekitar. Namun dia tidak mundur. Dengan bermodalkan 20 pahat, 20 martil, 20 linggis, 20 belincong, plus cangkul yang dibeli dari hasil menjual perhiasan, Mak Eroh memulai misinya.

    Dengan peralatan sederhana itu, istri dari Emuh ini menggantungkan badannya hanya dengan bermodalkan seutas tali rotan, lalu dengan gesitnya memapras bukit cadas. Setelah bekerja keras selama 45 hari tanpa henti, Mak Eroh pun berhasil membuat saluran sepanjang 50 meter. Dia pun melaporkan hasil kerjanya kepada ketua RT setempat.

    Saat itu, warga nyaris tidak percaya dengan hasil kerja wanita yang tak lulus SD tersebut. Setelah Mak Eroh memberikan cara membabat bukit cadas, 19 pemuda tergerak hatinya untuk membantu, namun 8 di antaranya berhenti setelah 8 hari.

    Dengan kerja keras dan kegigihan, misi tersebut membuahkan hasil saluran dengan lebar 1 meter dan berkedalaman 0.25 meter yang menghubungkan Sungai Cilutung dengan Desa Pasirkadu.

    Dari hasil kerja kerasnya itu, sawah seluas 60 hektare dapat dialiri air Sungai Cilutung. Bukan hanya di Desa Pasirkadu, dua desa tetangga di Kecamatan Cisayong dan Indihiang pun mendapatkan berkah dengan limpahan air. Dengan kerja kerasnya, ibu dari Tohariah, Rohanah, dan Mesaroh tersebut telah menghidupi puluhan keluarga dan juga menolong puluhan anak-anak dari kebodohan.

    Pembuatan saluran air untuk keperluan pertanian, sebenarnya tugas pemerintah. Namun Mak Eroh tidak pernah berpikir untuk menuntut pemerintah menyediakan irigasi, namun berusaha sendiri menciptakan saluran air yang mengelilingi Gunung Galunggung tersebut.

    Mak Eroh sendiri tak pernah menyangka akan menerima Kalpataru, yang kini disimpan di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Dia pun tak pernah mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya.

    Bahkan saat ajal menjemput, Mak Eroh bersama suaminya tetap hidup seadanya tanpa mendapat imbalan dari jerih payahnya. Dia justru masih memikirkan masyarakat di usia senjanya saat itu. Dia berharap pemerintah mau mengusahakan pipa paralon untuk saluran air ke desanya. Dia juga berharap ada pembangunan masjid di kampungnya. Sebab, masjid terdekat berjarak dua kilometer dari rumahnya.

    Setelah meninggal, tak banyak lagi yang mengenal Mak Eroh. Sisa-sisa nama besarnya hanya terdengar saat pemerintah menggelar acara peringatan Hari Lingkungan Hidup. Sisanya, dia kembali terlupakan..

    Yang jelas, Mak Eroh telah memberikan inspirasi kepada kita bahwa alam bisa dipergunakan, namun kita jangan lupa melestarikannya. Perjalanan hidup Mak Eroh pun mengajarkan kepada kita bahwa kerja keras dan kegigihan dapat membuahkan hasil yang luar biasa. “Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda”. (*)

    Diposkan oleh Deni mulyana sasmita

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 19 October 2016 Permalink | Balas  

    Beribadah dengan Benar 

    Reciting-QuranBeribadah dengan Benar

    Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

    Hidup ini mau kemana? Kita hanya mampir sebentar di dunia ini dan pasti akan mati. Lalu hendak dibawa kemana hidup yang hanya sekali- kalinya ini? Jawabannya adalah bahwa hanya Allahlah tujuan kita. Tujuan hidup kita ini hanyalah untuk mengabdikan diri (beribadah) kepada Allah. Firman-Nya: “Tidaklah sekali-kali Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdikan hidupnya kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat [51]: 56).

    Dalam 7B (kiat menjadi sukses), rahasia yang pertama adalah beribadah dengan benar. Mengapa harus beribadah?

    Ibadah adalah fondasi. Tanpa ibadah, hidup bagaikan bangunan tanpa fondasi, pasti akan roboh. Tanpa ibadah yang tanggguh, sukses dunia akhirat hanyalah mimpi.

    Beribadah dengan benar artinya membangun fondasi yang semakin memperjelas visi hidup ini mau dibawa kemana. Karena dengan beribadah maka akan semakin memperjelas bahwa Allah adalah Khalik (Yang Menciptakan), sedangkan kita adalah makhluk (yang diciptakan). Allah yang disembah, sedangkan kita yang menyembah-Nya. Allah yang memerintah (berkuasa), sedangkan kita yang diperintah-Nya.

    Allah menciptakan dunia kemudian menciptakan makhluk. Makhluk diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, sedangkan dunia berikut isinya diciptakan hanyalah sebagai sarana agar kita bisa berkarya dan berbekal pulang untuk menghadap Allah.

    Artinya dunia berikut isinya diciptakan hanyalah untuk melayani kita supaya kita bisa mengabdikan diri kepada Allah.

    Orang yang tidak mengerti bahwa dunia ini hanyalah sebagai pelayan baginya, maka posisinya akan menjadi terbalik, justru dia yang akan diperbudak oleh dunia yaitu harta, pangkat, gelar, jabatan, dan syahwat. Bayangkan, pelayannya menjadi majikannya. Dia dihinakan oleh hambanya sendiri. Itulah yang menyebabkan kerusakan dan keterpurukan manusia. Kemudian Allah menciptakan Nabi Muhammad SAW agar kita bisa meneladani bagaimana cara beribadah dengan benar.

    Oleh karena itu, siapapun yang ingin sukses, belajarlah lebih banyak tentang bagaimana beribadah dengan benar. Cari ilmunya, segera praktikkan, dan istiqomahkan. Kemudian ajaklah istri dan anak beribadah dengan tangguh karena tidak akan ada yang menolong selain Allah.

    Shalat, dzikir, shaum, dan ibadah lainnya itu adalah perangkat yang membuat fondasi kesuksesan. Tetapi ibadah tidak hanya itu saja, melainkan segala aktivitas yang dijalankan dengan niat yang lurus karena Allah dan ikhtiar di jalan yang disukai Allah itu adalah ibadah. Misalnya dalam bekerja, orang-orang yang bekerjanya tidak diniatkan untuk beribadah tidak akan tahu orientasi hidup ini akan dibawa kemana, sehingga kesibukannya hanya mencari uang.

    Karenanya kalau bekerja, niatkan untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan cara yang disukai Allah. Tugas kita adalah bagaimana kita sibuk bekerja sehingga menjadi amal kebajikan, bukan karena harta, tetapi karena kerja adalah ladang amal. Harta sudah dibagikan sebelum kita tiba di dunia ini.

    Ciri orang yang beribadah dengan benar di antaranya adalah akhlaknya akan lebih terjaga, perbuatannya akan terpelihara dari kezaliman terhadap orang lain, dan emosinya akan lebih stabil.

    Kemudian ciri lainnya adalah qolbunya akan tenteram, pikirannya akan jernih, prestasinya mudah diraih, ide dan gagasannya akan ditolong oleh Allah.

    Misalnya, jika sedang rapat datang waktu shalat, maka utamakanlah shalat karena yang paling penting dari rapat itu justru bagaimana agar bisa ditolong oleh Allah.

    Kalau kita melalaikan shalat, maka keputusan yang diambil belum tentu tepat karena benar menurut kita belum tentu benar menurut Allah. Tetapi dengan mengutamakan ibadah, mudah-mudahan Allah menuntun kita menemukan jalan keluar walaupun berhadapan dengan banyak masalah.

    Hanya Allahlah satu-satunya yang menguasai langit dan bumi, kita semua dalam genggaman Allah.

    Jadi, mimpi negeri kita akan bangkit kalau rakyat dan para pemimpinnya menganggap remeh ibadah.

    Mimpi kita memiliki aparat dan tentara yang kita idolakan, kalau kepada Allah tidak takut. Kalau tentara mempunyai senjata doa, maka akan bisa meluluhkan hati musuh sehingga menjadi shalih. Zaman Rasulullah banyak musuh yang terkulai hatinya bukan dengan senjata perang, tapi dengan senjata doa.

    Mimpi kita mempunyai keputusan negara yang baik kalau para pengambil keputusannya tidak baik ibadahnya. Apa yang bisa dilakukan hanya oleh manusia seperti kita kalau tidak dibimbing dan ditolong oleh Allah Yang Mahatahu dan Menguasai segala sesuatu.

    Terlalu sombong bagi kita hidup tidak mengenal ibadah. Ciri kesombongan dan ketakaburan seseorang dilihat dari keengganannya beribadah.

    Maka, selamat berjuang saudaraku. Jadilah ahli ibadah yang istiqomah dan ikhlas.

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 7:55 am on 18 October 2016 Permalink | Balas  

    Di bawah lutut, Di atas mata kaki !! 

    isbalDi bawah lutut, Di atas mata kaki !!

    Adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mentaati beliau dengan melaksanakan perintahnya serta menjauhi larangannya dan membenarkan berita yang dibawa beliau.Tanda bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah terus komitmen melaksanakan simbol – simbol islam dalam bentuk perintah, larangan, ucapan, keyakinan, maupun amalan. Diantaranya adalah membiarkan jenggot dan memendekkan pakaian sebatas mata kaki yang itu semua dilakukan karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengharapkan pahala-Nya.

    Larangan Berbuat Isbal

    Isbal adalah menurunkan pakaian di bawah mata kaki baik itu berupa celana ataupun sarung. Mereka yang melakukan perbuatan Isbal pada pakaian bahkan sampai terseret di tanah, itu adalah perbuatan yang mengandung bahaya yang besar, kalau kesandung gimana? Bisa jadi celananya cepat sobek dan lusuh.

    Selain itu karena menentang perintah Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan apa yang dilarang Allah dan Rasulnya adalah sikap menentang, pelakunya akan mendapat ancaman yang keras. Firman Allah Azza wa Jalla dalam surat An – Nisaa:115 : “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti selain jalannya Sabilil Mukminin (para shahabat) maka kami biarkan dia tenggelam dalam kesesatan dan kami masukkan ke neraka jahannam. Dan itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.”

    dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat.”(Hr Bukhari dan lainnya)

    Pengertian sombong adalah sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam:”Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Riwayat Muslim di dalam hadits yang panjang)

    Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabada: “Isbal berlaku pada sarung, gamis dan serban. Siapa yang menurunkan pakaiannya sedikit saja karena sombong, tidak akan dilihat Allah di Hari Kiamat.” (Hr Abu Daud, Nasa’I dan Ibnu Majah. Hadits shahih).

    Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari:”Apa saja yang berada di bawah mata kaki berupa sarung maka tempatnya di neraka.”

    Diriwayatkan oleh Imam Malik dan Abu Daud dengan sanad yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sarung seorang mukmin sebatas kedua betisnya. Tidak mengapa bila dia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka.”

    Isbal jika dilakukan karena tidak sombong dan angkuh apakah itu juga diharamkan?

    Isbal tidak boleh dilakukan (haram) secara mutlak bagi pria apakah itu karena sombong atau tidak. Berdasarkan keumuman nash hadits yang diriwayatkan Bukhari dalam shahihnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Apa yang dibawah mata kaki berupa sarung, maka tempatnya adalah di neraka.”

    Dari Abu Dzarr radliyallahu ‘anhu, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada 3 golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak dilihat (dengan pandangan rahmat) dan tidak dibersihkan dari dosa serta mereka akan mendapat azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya)

    Dari sini jelas bahwa Larangan isbal bersifat umum dan mutlak (apakah itu karena sombong /tidak) dan tidak boleh menganggap larangan isbal hanya karena sombong saja. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan semua perbuatan isbal termasuk kesombongan, karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: “Jauhilah olehmu Isbal, karena dia termasuk perbuatan sombong.” (Hr Abu daud, dan tirmidzi dengan sanad yang shahih)

    PENUTUP

    Renungkanlah firman Allah Azza Wa Jalla dalam surat Al-Hasyr:7

    “Apa yang diberikan rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah,dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

    Semoga Allah memberi manfaat kepada saya dan Anda sekalian melalui Hidayah Kitab-Nya dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kemudian mengikutinya. Wallahu ta’ala a’lam .

    ***

    Sumber : Risalah kecil Bolehkah memanjangkan celana sampai di bawah mata kaki bagi muslim ? Oleh : Abu Abdirrahman Hamzah Al Atsari

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 12 October 2016 Permalink | Balas  

    Tuhan Yang Populer 

    harta karunTuhan Yang Populer

    Harta Atau Duit Sebagai Ilah

    Tuhan lain atau “tuhan tandingan”, yang paling populer di zaman modern ini ialah duit, karena ternyata memang duit ini termasuk “ilah” yang paling berkuasa di dunia ini. Di kalangan orang Amerika terkenal istilah “The Almighty Dollar” (Dollar yang maha kuasa). Memang telah ternyata di dunia, bahwa hampir semua yang ada di dalam hidup ini dapat diperoleh dengan duit, bahkan dalam banyak hal harga diri manusia pun bisa dibeli dengan duit.

    Cobalah lihat sekitar kita sekarang ini, hampir semuanya ada “harga”-nya, jadi bisa “dibeli” dengan duit. Manusia tidak malu lagi melakukan apa saja demi untuk mendapat duit, pada hal malu itu salah satu bahagian terpenting dari iman. Betapa banyak orang yang sampai hati menggadaikan negeri dan bangsanya sendiri demi mendapat duit. Memanglah “tuhan” yang berbentuk duit ini sangat banyak menentukan jalan kehidupan manusia di zaman modern ini.

    Pada mulanya manusia menciptakan duit hanyalah sebagai alat tukar untuk memudahkan serta mempercepat terjadinya perniagaan. Maka duit bisa ditukarkan dengan barang-barang atau jasa dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, duit juga disebut sebagai “harta cair” (liquid commodity). Kemudian, fungsi duit sebagai alat tukar ini menjadi demikian efektifnya, sehingga di zaman ini, terutama di negeri-negeri yang berlandaskan materialisme dan kapitalisme, duit juga dipakai sebagai alat ukur bagi status seseorang di dalam masyarakat.

    Kekuasaan, pengaruh, bahkan nilai pribadi seseorang diukur dengan jumlah kekayaan (asset)-nya. Prestasi pribadi seseorang pun telah diukur dengan umur semuda berapa ia menjadi jutawan. Semakin muda seseorang mendapat duit sejumlah sejuta dollar dianggap semakin tinggi nilai pribadinya.

    Umpamanya, ketika penulis sedang mengetik naskah edisi baru ini (di Ames, Iowa, USA, awal Ramadhan 1406/ May 1986), di dalam siaran TV diumumkan, bahwa Michael Jackson mendapat piagam kehormatan tertinggi (Golden Award) sebagai “seniman” penyanyi termuda (di bawah 30 tahun) yang terhebat, karena ia berhasil mendapat kontrak sejumlah 15 juta dollar untuk menyanyikan lagu “Pepsi Cola” di dalam siaran-siaran TV dan radio selama tiga tahun. Jadi ia berpenghasilan 5 juta dollar setahun dalam masa tiga tahun mendatang ini; kira-kira 20 x gaji presiden Amerika Serikat (Ronald Reagen) pada masa yang sama. Kehidupan dan gaya hidup orang-orang yang banyak duit ini di USA sengaja ditonjolkan melalui program yang periodik di TV (The Lifestyles of the Rich and Famous).

    Takhta Sebagai Ilah

    “Tuhan tandingan” kedua yang paling populer ialah pangkat atau takhta, karena pangkat ini erat sekali hubungannya dengan duit tadi, terutama di negeri-negeri yang sedang berkembang. Pangkat atau takhta bisa dengan mudah dipakai sebagai alat untuk mendapat duit atau harta, terutama di negeri-negeri di mana kebanyakan rakyatnya masih berwatak “nrimo”, karena belum terdidik dan belum cerdas. Apalagi, kalau di negeri itu kadar kebebasan mengeluarkan pendapat, baik secara lisan maupun tulisan, masih rendah.

    Di negeri-negeri yang rakyatnya sudah cerdas, dan kebebasan mengeluarkan pendapat terjamin penuh oleh undang-undang, memang peranan pangkat dan kedudukan tidak mudah, bahkan tidak mungkin dipakai untuk mendapatkan duit/harta. Oleh karena itu, orang-orang yang ikut aktif di dalam perebutan kedudukan yang bersifat politis di negeri- negeri yang sudah maju ini biasanya orang-orang yang sudah kaya lebih dahulu. Mendiang presiden Kennedy, umpamanya, menolak pembayaran gajinya sebagai presiden yang jumlahnya ketika itu 125 ribu dollar setahun, karena ia sudah jutawan sebelum jadi presiden. Ia merebut kedudukan kepresidenan dengan mengalahkan Nixon, ketika itu, karena dorongan rasa patriotiknya, atau mungkin juga demi menjunjung tinggi nama dan kehormatan keluarganya, namun bukan karena menginginkan kekayaan yang mungkin diperoleh dari kepresidenan itu.

    Jadi, nyata benar bedanya dengan bekas presiden Marcos dan isterinya Imelda, umpamanya, yang telah menjadi kaya raya akibat kedudukannya, karena itu mereka telah bersikeras terus mempertahankan kedudukan itu, walaupun rakyat sudah menyatakan ketidak-senangan mereka kepadanya. Hal ini bisa terjadi di negeri Marcos, karena kecerdasan dan kebebasan rakyatnya masih jauh di bawah kecerdasan dan kebebasan rakyat Amerika Serikat.

    Contoh-contoh seperti Marcos dan Imelda ini banyak sekali terjadi di negeri-negeri yang sedang berkembang, seperti Tahiti dengan Duvalier-nya, Iran dengan mendiang Syah-nya, dan lain-lain…! Suatu hal yang sangat menarik, karena berhubungan dengan masalah ini, ialah, bahwa Al-Qur’an sudah mengajarkan kepada para Muslim yang benar-benar bertawhid (beriman) agar mereka memilih pemimpin, selain Allah dan Rasul-Nya, hanyalah “orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan membayarkan zakat seraya tundak hanya kepada Allah.” Ayat selengkapnya berbunyi:

    “Sungguh, pemimpinmu (yang sejati) hanyalah Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan MEMBAYARKAN ZAKAT, seraya tunduk (patuh kepada Allah).” (Q.5:55)

    Bukankah yang diwajibkan membayar zakat ini ialah orang yang kaya, atau paling tidak orang yang sudah berkecukupan. Orang yang miskin, dan karena itu tidak mampu membayarkan zakat, walaupun sudah ta’at melakukan sembahyang, belum memenuhi syarat untuk dipilih sebagai pemimpin. Akan terlalu berat baginya mengatasi keinginan melepaskan diri dari tekanan kemiskinan itu, sehingga mungkin ia akan lebih mudah tergoda untuk memperkaya dirinya dahulu, sebelum atau sambil menjalankan tugasnya sebagai pemimpin itu.

    Sungguh, sangat tinggi hikmah yang terkandung di dalam ayat ini, terutama mengenai masalah memilih atau menentukan pemimpin. Sangat sayang, bahwa kebanyakan ummat Islam pada saat ini belum sempat mencapai tingkat kecerdasan yang memadai untuk memahami dan menghayati kandungan ayat suci ini. Oleh karena itu, ummat ini belum juga berhasil memilih pemimpin mereka sesuai dengan kandungan ajaran Allah ini. Akibatnya, ummat Islam belum mampu mencapai tingkat kemerdekaan (tawhid) yang minimal menurut standard yang dikehendaki al-Qur’an. Benar juga kiranya, jika ada yang mengatakan, bahwa “al-Qur’an masih terlalu tinggi bagi kebanyakan ummat Islam pada masa ini”. Dengan perkataan lain, ummat Islam pada masa ini masih terlalu rendah mutunya, sehingga belum pantas untuk menerima al-Qur’an yang mulia itu.

    Oleh karena itu, kita tak perlu heran jika nilai-nilai dasar dan pokok yang diajarkan di dalam al-Qur’an masih lebih mudah terlihat dipraktekkan di negeri-negeri, yang justru mayoritas penduduknya resmi belum beragama Islam.

    Syahwat Sebagai Ilah

    Tuhan ketiga yang paling populer pada setiap zaman ialah syahwat (sex). Demi memenuhi keinginan akan sex ini banyak orang yang tega melakukan apa saja yang dia rasa perlu. Orang yang sudah terlanjur mempertuhankan sex tidak akan bisa lagi melihat batas-batas kewajaran, sehingga ia akan melakukan apa saja demi kepuasan sex-nya.

    Contoh-contoh dalam sejarah mengenai hal ini cukup banyak, sehingga Allah mewahyukan riwayat yang sangat rinci tentang nabi Yusuf yang telah berjaya menaklukkan godaan sex ini. Nabi Yusuf dipujikan dalam al-Qur’an sebagai seorang yang telah berhasil menentukan pilihan yang tepat ketika dihadapkan dengan alternatif: pilih hidayah iman atau kemerdekaan. Beliau memilih ni’mat Allah yang pertama, yaitu hidayah iman. Dengan mengorbankan kemerdekaannya beliau memilih masuk penjara daripada mengorbankan imannya dengan tunduk kepada godaan keinginan syahwat isteri menteri, majikan beliau.

    “Dia (Yusuf) berkata: “Hai Tuhanku! Penjara itu lebih kusukai dari pada mengikuti keinginan (syahwat) mereka, dan jika tidak Engkau jauhkan dari padaku tipu daya mereka, niscaya aku pun akan tergoda oleh mereka, sehingga aku menjadi orang-orang yang jahil.” (Q. 12:33). Dari ayat ini jelas betapa hebat tekanan sex pada seseorang yang sehat dan masih remaja seperti Yusuf ketika digoda oleh isteri majikan beliau yang cantik jelita, namun dengan tawhid yang mantap beliau tidak sampai terjatuh ke lembah kehinaan.

    Sajak “Aku” nya Chairil Anwar yang sudah dikoreksi kiranya dapat dipakai untuk melukiskan pribadi Yusuf AS ini sebagai berikut:

    AKU

    Bila sampai waktuku

    ‘Kumau tak seorang ‘kan merayu

    Tidak juga ‘kau.

    Tak perlu sedu sedan itu

    Aku ini hamba Allah

    Dari gumpalan darah

    Merah

    Biar peluru menembus kulitku

    ‘Ku ‘kan terus mengabdi

    Mengabdi dan mengabdi

    Hanya kepada-Mu

    Ilahi Rabbi

    ***

    Sumber : Kuliah Tauhid

    Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc, Ph.D. Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN) Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB Bandung

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 11 October 2016 Permalink | Balas  

    Memberikan Pujian 

    bungaMemberikan Pujian

    Sumber: Indonesia Business Online

    Oleh: Arvan Pradiansyah

    Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, “Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang.”

    Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, “Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi saya.”

    Setiap manusia, apapun latar belakang nya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

    Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.

    Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus. Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

    Seorang kawan pernah mengatakan, “Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk.”

    “Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?” saya balik bertanya.

    “Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!”

    Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain? Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.

    Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita menci ntai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.

    Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre.

    Cinta adalah bukan “cinta karena”, tetapi “cinta walaupun”. Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.

    Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya ta npa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah “cinta walaupun”. Walaupun  Anda mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positiforang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.

    Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia  berkata, “Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!”

    Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, “Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!”

    Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.

    Kesalahan ketiga, disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label:orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang “segar dan baru”. Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.

    Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi — bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.

    Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

    Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir,  satpam, penjaga toko maupun petugas di jalan tol.

    Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya dengan doa, “Hati-hati di jalan Pak!” Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya  mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

    Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyu kur. Yang lebih penting, membuat orang merasa dimanusiakan.

    **

    Penulis adalah dosen FISIP Universitas Indonesia dan konsultan di Dunamis-Franklincovey Indonesia.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 10 October 2016 Permalink | Balas  

    Cukupkah Hanya Al-Qur’an Semata ( Membedah Faham Qur’aniyyin ) 

    Reciting-QuranCukupkah Hanya Al-Qur’an Semata ( Membedah Faham Qur’aniyyin )

    Hendaknya seseorang segera memohon ampun kepada Allah jika ia memiliki keyakinan sebagaimana yang didengungkan oleh Abdullah Chakrawaali dalam majalah Isyaatul Qur’an III \ h. 49, ia berkata : ” Sesungguhnya Al-Majid (Al-Qur’an ) telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam agama ini dengan terperinci dan terjelaskan dari semua aspeknya . Maka apa butuhnya kita terhadap wahyu yang khafi (tidak tertulis) dan kepada As-Sunnah ?? ” Ucapan seperti ini adalah racun yang disuntikkan oleh kaum salibis untuk meruntuhkan islam . Anehnya, orang-orang yang berpikiran seperti ini menamakan diri mereka Qur’aniyyin (ahlul qur’an) . Sidang pembaca yang budiman , saatnya antum melihat bagaimana sikap Al-Qur’an sendiri terhadap mereka. Ikutilah untaian wacana berikut ini, untuk mengetahui kedudukan As-Sunnah , dan mengetahui pula penyimpangan pola pikir yang berusaha menggeser As-sunnah sebagai sumber hukum.

    Kedudukan As-Sunnah Dalam Islam

    Allah berfirman :” Maka demi tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [Qs.An-nisa 65].

    Ketahuilah bahwa sesungguhnya menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam keadaan beliau tidak ada ditengah kita saat ini, berarti mewajibkan kita menjadikan peninggalan beliau yakni As-Sunnah sebagai hakim.

    Dalam ayat lain Allah berfirman :” jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia pada Allah dan rasulnya,.”[Qs. An-nisaa 59]

    Telah sepakat ahli tafsir, bahwa yang dimaksud dengan kembali kepada Allah dan rasulnya ialah kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Ini juga menunjukkan bahwa As-Sunnah juga memiliki kedudukan sebagai penentu hukum dalam islam bersama-sama dengan Al-Qur’an, dan kedudukan ini tidak dapat dipisahkan.

    Maka berdasarkan dua ayat diatas, tidak halal seorang muslim berkata cukuplah Al-Qur’an saja bagiku, dan aku tidak butuh kepada buku-buku hadits

    As-Sunnah sebagai penafsir Al-Qur’an

    Terdapat banyak contoh yang nyata dalam masalah ini. Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam sebuah risalahnya yang berjudul ” manzilatus sunnah fil-Islam” menafsirkan kata Al-Bayan [menerangkan] dalam ayat : “keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab. Dan kami turunkan kepada kamu al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” [Qs : An-Nahl 44].

    Beliau [syaikh Al-Albani] berkata : Al-bayan adalah penjelasan lafadz , kalimat atau ayat yang membutuhan penjelasan, yang demikian ini dikarenakan banyak terdapat ayat-ayat yang mujmal (masih global), ammah (umum), atau mutlak. Maka As-sunnah menjelaskan yang global, mengkhususkan yang umum, dan membatasi yang mutlak.

    Penjelasan tersebut terjadi dengan As-Sunnah yaitu perkataan, perbuatan beliau atau persetujuan Rasulullah terhadap perbuatan para sahabatnya.

    Beberapa contoh nyata

    • Firman Allah :”pencuri laki-laki dan perempuan, potonglah tangan mereka..” [Qs : Al-maidah : 38]. Kata pencuri dalam ayat tersebut bersifat mutlak, demikian juga kata tangan. Maka As-Sunnah datang membatasi kata yang pertama pencuri yaitu mereka yang mencuri lebih dari atau sama dengan ¼ dinar. Ini berarti pencuri tidak dipotong tangannya jika nilai curiannya kurang dari ¼ dinar . hal ini berdasarkan hadist Rasulullah :”tidak dipotong tangan kecuali dalam curian yang mencapai ¼ dinar atau lebih..” [ HR. Bukhari-Muslim]. As-Sunnah menerangkan maksud tangan dalam ayat tersebut dengan perbuatan Rasulullah perbuatan sahabatnya, dan kesepakatan mereka bahwa mereka dahulu memotong tangan pencuri sebatas pergelangan tangan mereka sebagaimana telah diketahui dalam kitab-kitab hadits.
    • Demikian pula ketika As-Sunnah menerangkan kata tayammum ” usaplah pada wajah-wajah dan tangan mereka.” [Qs. al-maidah :6]. Maksud tangan dalam ayat disini adalah telapak tangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : tayammum itu mengusap wajah dan kedua telapak tangan [HR : bukhari-muslim]
    • Demikian pula firman Allah : “katakanlah : ‘siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik ?’ katakanlah :’semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) dihari kiamat. Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui”. [Qs. Al-A’raff : 32]. Disini As-Sunnah menerangkan bahwa ada perhiasan yang haram. Rasulullah bersabda : “kedua benda ini (sutera dan Emas) haram bagi para lelaki ummatku dan halal bagi para wanitanya” [HR. hakim dan dia menshahihkannya].

    Penyimpangan Qur’aniyyin [Ingkar Sunnah]

    Dewasa ini telah muncul suatu kelompok yang menamakan dirinya Qur’aniyyin (pengikut Qur’an) namun pada hakekatnya mereka bukan pengikut Qur’an bahkan sekaligus mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan nafsu dan akal-akalan mereka tampa mencari keterangan tafsirnya dari sunnah yang shahih. Mereka menganggap as-sunnah bukanlah wahyu yang turun dari Allah. Padahal Allah berfirman :” dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat” [Qs : An-Najm : 3-5].

    Lihatlah bagaimana Al-Qur’an membantah mereka. Mereka juga menganggap al-Qur’an telah cukup sehingga tidak butuh kepada As-Sunnah padahal dalam surat An-nahl :44 Allah menjelaskan bahwa Rasulullah diperintahkan menjelaskan Al-Qur’an, tentu saja penjelasan Rasulullah terhadap Al-Qur’an adalah As-sunnah itu sendiri. Sungguh benar apa yang diungkapkan pepatah :

    “setiap orang menngaku menjadi kekasih Laila, hanya saja Laila tidak mengakui mereka sebagai kekasih”.

    Mereka Qur’aniyyin mengaku menjadi pengikut Al-Qur’an, akan tetapi Al-Qur’an tidak mengakui mereka sebagai pengikut.

    Berita Dari Rasulullah Tentang Mereka

    Rasulullah bersabda tentang mereka, para pengingkar sunnah, yang mengaku pengikut Al-Qur’an): ” sungguh sebentar lagi kalian akan melihat seseorang yang duduk di singgasananya, kemudian datang kepadanya urusanku (sunnahku) baik yang berisi larangan atau perintah, maka dia berkata : “aku tidak tahu ! semua yang kami dapatkan dalam kitab Allah itulah yang kami ikuti [ HR. At-Tirmidzi, lihat maanzilatus sunnah oleh syaikh Al-Albani]. Dalam riwayat lain dia berkata : apa yang kami dapatkan dalam kitabullah pengharaamannya, akan kami haramkan.” Maka Rasululah bersabda : ” ketahuilah bahwasanya aku diberi Al-Qur’an dan yang semisalnya bersamanya (yakni As-sunnah) [ HR. Ahmad 4/131 dan Abu Daaud 5/11)

    Dalaam riwayat lain Rasulullah bersabda : “Ketahuilah bahwa apa yang dilarang oleh Rasul maka itulah yang dilarang oleh Allah.”

    Tidak cukup hanya dengan Al-Qur’an semata.

    Berkata syaikh Al-Albani setelah membawakan riwayat-riwayat hadits diatas : ” hadits shahih diatas menjelaskan dengan tegas bahwa syari’at islam bukannya Al-Qur’an saja, melainkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barang siapa hanya berpegang paa salah satunya, berarti sama dengan tidak berpegang dengan keduanya, karena Al-Qur’an memerintahkan untuk berpegang dengan As-Sunnah demikian pula sebaliknya [manzilatus sunnah fil Islam, cet. Darus Salafiyyah 1404 H. ]

    Belajar dari sahabat dalam menyikapi pola fikir Qur’aniyyin

    Dalam satu riwayat yang shahih dari Ibnu mas’ud, datang seorang wanita kepadanya kemudian berkata : “kamukan orangnya yang berkata bahwa Allah melaknat namishat (wanita yang mencabut rambut alis) dan Mutamishat (wanita yang minta dicabutkan) dan Wasyimat (wanita yag mentato), Ibnu Mas’ud berkata : ya, benar. Aku telah membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir tetapi aku tidak menemukan apa yang kamu katakan. Maka ibnu mas’ud berkata : ‘jika kamu betul-betul membacanya maka kamu akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca : “apa yang disampaikan oleh rasul ambillah dan apa yang dilarang oleh rasul maka tinggalkanlah ” [QS. Al-Hasyr :7], aku telah mendengar rasulullah bersabda : “allah melaknat namishat ” [ HR. Bukhari-Muslim]

    Betapa indahnya kaidah-kaidah ilmiah yang dijabarkan melalui dialog yang lembut tersebut

    Wallahu a’lam

    Sumber “Risalah dakwah al-hujjah”

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 9 October 2016 Permalink | Balas  

    Daya Rusak Sebuah Hadits Palsu 

    berhenti-sebarkan-hadith-palsuDaya Rusak Sebuah Hadits Palsu

    Berkata sebagian kaum Muslimin : “Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa ketempat yang sejuk.” Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: “Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat” Benarkah ungkapan ini? benarkah Rasulullah mengucapkan hadits tersebut?

    Apa kata Muhadditsin tentang hadits tersebut??

    Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata: “Hadits tersebut tidak ada asalnya”. [Adh-Dha’ifah :II \ 76-85]

    Imam As-Subki berkata: “Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu).”

    Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: “ini adalah hadits bathil dan kebohongan.” [Ushul Al-Bida’]

    Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama.

    Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits: “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzhab.”

    Bagaimanakah daya rusak hadits palsu tersebut terhadap Islam ??

    1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam

    Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan berkata: “Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing , biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan menuju Allah, janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda: ” perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat.”

    Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman Allah dalam:

    Ø Surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya; “Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.”

    Ø Surat Ar-Rum ayat 31-32: ” Jangan kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

    Ø Surat Hud ayat: 118-119: ” Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.”

    Dan kita diperintah Allah Subhanahuwata’ala untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah Subhhanahu wata’ala dalam surat Al-An’am ayat: 153 yang artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: ” Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

    1. Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi sandaran kebenaran dan hakim

    Syaikh Al-Albani berkata: “Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits.” [Adh-Dha’ifah: I/76]

    Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam ketika mengadu kepada-Nya: “Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [QS. Al-Furqan:30]. Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat.

    1. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang lainnya.

    ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-’Imran ayat:110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

    1. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta.

    Rasulullah bersabda : “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka” [Riwayat Bukhari-Muslim]. Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah, demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan.

    1. Meninggalkan perintah Allah

    Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan oleh dua wahyu, maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman : “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa:59]

    1. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam

    Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya “ushul bida” mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman :”Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” [Al-Anfal: 46]

    . . . . kepada mereka ! ! !

    Tukang mengada-ada

    Simaklah firman Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

    “Seandainya dia [Muhammad] mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami [Allah], niscaya benar-benar Kami pegang ia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya”

    [QS. Al-Haqqah : 44 – 46]

    Mereka. . .!!!

    Tukang mengada-ada atas nama Allah dan Rasul-Nya.Para pembuat hadist palsu yang telah mendahului Allah dalam Syari’at.Para penebar hadist-hadist dusta yang telah mengotori Sunnah yang suci.

    Tidakkah mereka takut akan ayat di atas ? ?

    Mereka bukan Rasul sebagaimana Allah telah mengangkat Muhammad sebagai Rasul. Mereka bukan kekasih Allah sebagaimana Ia telah menjadikan Muhammad sebagai kekasih-Nya. Bukan pula mereka orang-orang yang disucikan oleh Allah sebagaimana Allah telah mensucikan Muhammad dari dosa.

    Sungguh Allah telah mengancam keras Kekasih-Nya dalam ayat tersebut dengan berfirman: “Kami potongan tali urat jantungnya”

    Lalu apakah MEREKA merasa aman ???

    Al-Hafidz Abul Khathab bin Dihyah berkata : “Jagalah dirimu wahai hamba-hamba Allah dari kebohongan orang yang meriwayatkan kepadamu hadist yang dikemukakan untuk memaparakn kebaikan. Sebab melakukan kebaikan harus berdasarkan syari’at dari Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam. Jika ternyata dia bohong maka dia keluar dari yang disyari’atkan dan berkhidmat kepada Syaithan karena dia menggunakan hadist atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berdasarkan keterangan dari Allah.” [Ma jaa fi Syahri Sya’ban, dinukil darinya oleh Abu Syamah dalam “Al-Baits :127”]

    Maraji’:

    Ushul bida’ [Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid]

    Sifatush shalaty An-Naby Shallallahu’alaihi wa sallam [Syaikh Muhammad Nasyaruddin Al-Albani] dan sumber-sumber lainnya

    Sumber: Risalah dakwah al-hujjah

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 8 October 2016 Permalink | Balas  

    Happy Ending 

    mari-berdoaHappy Ending

    Al-Hasyr (59) : 18 – “Hai orang – orang yang beriman , bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“.

    Tidak ada manusia didunia ini yang mengharapkan kesuraman masa depan, semua menginginkan masa depan yang baik, yang ceria, bisa membagakan dan membahagiakan  semua orang. Impian kita melambung jauh tentang harapan atau cita cita yang didambakan.

    Bahkan sejak kecil kita sering ditanya tentang cita cita kita.

    Suram atau ceria semua tergantung dari usaha yang kita lakukan, sebesar apa usaha yang telah kita lakukan, seberapa banyak usaha yang kita perbuat untuk mengejar impian tersebut, semua tergantung pada diri kita sendiri.

    Dua Periode

    Ada dua periode cita-cita yang harus kita jalankan :

    1. Periode Jangka Pendek (short time)
    2. Periode Jangka Panjang (long time)

    Periode Jangka Pendek. Di periode inilah sekarang kita sedang beraktivitas, periode ini berlangsung sampai ajal menjemput kita. Disebut periode jangka pendek karena tempatnya di dunia. (berasal dari kata danna – yadunnu – dunuwwan/dunyaanan, yang berarti ; sebentar, pendek atau sesaat.) .

    Periode Jangka Panjang. Periode inilah satu saat nanti kita akan hadapi, karena ini merupakan periode terakhir yaitu periode akhirat. Disinilah masa depan kita ditentukan, ceria atau suram.

    Dua periode ini saling berkaitan, kesuksesan masa depan di jangka panjang sangat ditentukan bagaimana kita berusaha pada periode di jangka pendek. Bukankah do’a yang sering kita panjatkan selalu menginginkan kesuksesan didunia dan akhirat. Sukses jangka pendek dan jangka panjang.

    Tiga Hal

    Prinsip hidup manusia itu tidak selalu terdaftar dalam keinginan, untuk itulah sangat dibutuhkan simpanan atau tabungan agar masa depan di periode jangka panjang berhasil dengan ceria.

    Ada tiga hal, yang wajib kita punya untuk menggapai masa depan sesuai perintah surat 59:18 tersebut, agar akhir hidup kita nanti bisa happy ending :

    1. Iman ( dipupuk, disiram, dirawat dan dijaga)
    2. Ilmu (untuk keperluan dunia dan akhirat sangat diperlukan ilmu)
    3. Amal / Praktik.

    Kita hidup selalu berhadapan dengan dua periode tersebut, sukses atau tidak, tergantung sejauhmana kita melakukannya.

    Semoga kita bisa happy ending diakhir hayat ini, tentunya dengan berusaha, bekerja, berkarya dengan amal nyata diperiode jangka pendek ini. Insya Allah.

    ***

    Kiriman Sahabat Muhammad Ali

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 7 October 2016 Permalink | Balas  

    Tiga Komponen Gizi 

    itikaf2Tiga Komponen Gizi

    “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (at-Tiin: 4).

    Manusia adalah mahluk yang paling mulia dalam penciptaannya, namun semua manusia ternyata menjadi perugi kecuali orang yang beriman.

    Kehidupan manusia akan menjadi pincang (tidak seimbang) manakala tidak adanya tiga komponen gizi, yang sangat diperlukan dalam menjalani aktivitas sehari hari.

    Tiga kompenen gizi tersebut adalah :

    1. JASAD

    Lemah tidaknya tubuh kita, tergantung sejauhmana supply yang diberikan kedalam jasad kita. Suppy untuk jasad ini adalah makanan, sakit atau tidaknya tubuh tergantung dari apa yang kita makan, untuk itulah sangat diperlukan makanan yang baik lagi halal (5:88). Dan jangan pula memakan secara berlebihan (7:31), karena inilah awal sebuah kepincangan.

    Bahkan Rasul SAW pernah bersabda yang diriwayatkan Abu Dawud, sabda beliau ; “Makanlah selagi lapar dan berhentilah sebelum kenyang’.

    Selain makanan yang diperlukan oleh jasad ini adalah Riyadoh (Berolahraga), bukankah mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada yang lemah. Berolahraga sangat baik untuk menunjang kesehatan badan kita.

    1. AKAL

    Sabda Rasul kepada Ali ra. : “Yang pertama-tama diciptakan oleh Allah adalah akal”.

    Perbedaan manusia dengan hewan terletak pada akal, dengan akal kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk.

    Makanan akal ini adalah ilmu pengetahuan, dengan berilmu seseorang mempunyai kekuatan/kelebihan. Karena memang beda orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui. Oleh karena itulah isi akal ini dengan ilmu yang dapat membuat kita bermanfaat buat orang lain. Allah meninggikan derajat dan memuliakan orang yang berilmu. Akal inilah alat untuk berikhtiar dalam segala aspek.

    1. RUHANI

    Dalam buku Tarbiyah Ruhiyah karya DR.Ali Abdul Halim Mahmud, Ruh adalah nama bagi nafsu yang dengannya mengalir kehidupan, gerakan, upaya mencari kebaikan, dan upaya menghindarkan keburukan dari dalam diri manusia.

    “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku “ (Yusuf : 53). Menurut Imam al-Ghazali, Ruh itu berupa eksistensi yang lembut yang sumbernya adalah lubang didalam organ hati.

    Makanan kebutuhan ruhani adalah nilai-nilai yang mendekatkan dengan Allah SWT, seperti wirid, zikir, dll. Pun melaksanakan berbagai kewajiban dengan menghadirkan hati.

    “Ketahuilah sesungguhnya didalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang bila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuhynya, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati/qolbu.” (HR.Tarmidzi,Abu Dawud,an-Nasa’I, dan Ibnu Majah).

    Jasad, akal, dan ruhani saling berkolerasi, tidak bisa terpisahkan dalam tubuh manusia. Apabila satu saja tidak terpenuhi kebutuhan supply makanannya, maka kehidupan manusia akan mengalami kepincangan/tidak seimbang.

     

    Kiriman Sahabat Muhammad Ali

     
    • Toko Herbal Madu Ungaran 11:24 am on 21 Oktober 2016 Permalink

      Masya ALLOH begitu luas ilmu ALLOH dan tidak sepantasnya kita menyombongkan diri dengan apa yang kita miliki. Dan jagalah tubuh ini dengan ketaatan dan menjauhkan diri dari larangan. Hidupkan lah Sunnah cintai dan amalkan insya ALLOH hidup sehat akan didapatkan

  • erva kurniawan 1:23 am on 6 October 2016 Permalink | Balas  

    Putri Qara 

    siluet-masjid-nabawiPutri Qara

    Diceritakan bahwa Putri Qara adalah istri saudagar kaya Amenhotep, berasal dari keluarga sederhana, tapi pintar, bijaksana dan berbudi pekerti yang baik. Karena ia berasal dari keluarga yang lebih miskin dibanding dengan suaminya, ia sering diperlakukan dengan tidak selayaknya, sampai suatu hari ia dan suaminya pergi ke desa nelayan dan melihat ada seorang nelayan yang miskin dan istrinya. Nelayan tersebut sangat miskin dan bahkan untuk membeli jala yang baru untuk mengganti jalanya yang robek pun ia tidak mampu. Istri nelayan tersebut adalah orang yang pemboros, malas dan suka berjudi, seluruh penghasilan suaminya digunakannya untuk berfoya-foya.

    Melihat kenyataan seperti itu, Putri Qara berkata kepada suaminya, bahwa seharusnya istri nelayan tersebut membantu memperbaiki jala suaminya.

    Amenhotep, menentang pendapat istrinya, mereka berdebat, sehingga Amenhotep marah dan kemudian memanggil nelayan miskin tersebut.

    Amenhotep menukarkan Putri Qara dengan istri nelayan tersebut.

    Putri Qara sedih karena terhina, suaminya memperlakukan seolah-olah dia adalah barang yang bisa dipertukarkan semaunya. Sang nelayan tertegun dan tidak berani membantah, karena Amenhotep terkenal kejam dan sadis karena kekayaannya.

    Putri Qara rajin membantu suaminya yang baru dalam bekerja. Karena kepandaian dan kebijaksanaan Putri Qara, lambat laun sang nelayan menjadi kaya. Sampai suatu ketika ada seorang tua dengan baju compang-camping dan tidak terurus datang ke rumah Putri Qara, pelayan dirumah tersebut mengenalinya sebagai Amenhotep. Amenhotep kemudian melepas terompahnya dan meletakkan di meja kecil di sudut rumah Putri Qara. Oleh pelayan, terompah tersebut diberikan pada Putri Qara dan menceritakan kondisi pemiliknya, sang Putri mengenali terompah tersebut dan memerintahkan pelayannya untuk memberikan pada Amenhotep baju baru, terompah baru dan 3 keping uang emas ditambah pesan : aku tidak diwarisi kekayaan tetapi budi pekerti, kebijaksanaa dan kemauan untuk bekerja.

    Amenhotep menerima pemberian itu dengan penyesalan akan tindakannya di masa lalu, karena egonya dia menukar istrinya yang baik dan bijaksana dengan seorang wanita yang hanya bisa menghamburkan harta suaminya.

    Cerita tersebut sederhana, tapi menyentuh karena ternyata begitu besar pengaruh seorang istri untuk suaminya.

    Oleh karenanya, hai wanita dampingi dan dukunglah pria dengan bijaksana, dan hai pria perlakukanlah wanita dengan penuh kasih, karena pada setiap pria yang sukses pasti terdapat seorang wanita yang mendukungnya dengan bijaksana.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 5 October 2016 Permalink | Balas  

    Bersyukur: Fakta Tentang Nikmat Atas Manusia 

    syukurBersyukur: Fakta Tentang Nikmat Atas Manusia

    Inilah fakta tentang nikmat yang dikaruniakan Allah SWT:

    “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS-14:7)

    “Menambah” berarti memberi sesuatu yang baru kepada sesuatu yang lain yang serupa dan sudah lebih dahulu ada.

    Bersyukur = Nikmat + Nikmat

    “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS-14:34)

    Bersyukur = Nikmat+Nikmat

    Bersyukur+Bersyukur = Nikmat+Nikmat+Nikmat

    Bersyukur+Bersyukur+Bersyukur = Nikmat+Nikmat+Nikmat+Nikmat

    Bersyukur+Bersyukur+Bersyukur+Bersyukur = Nikmat+Nikmat+Nikmat+Nikmat+Nikmat

    n = n + 1 ?

    Subhanallah! Ilmu matematika pun tidak bisa menghitungnya!

    Dan jika manusia tidak bersyukur, nikmat itu tidak hilang karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang:

    Bersyukur = Nikmat + Nikmat

    0 = 1 + 0 ?

    Subhanallah! Bahkan ilmu matematika sekalipun memang tidak bisa menghitungnya!

    Seseorang yang memiliki pengetahuan matematika akan mengatakan bahwa persamaan di atas adalah salah. Semestinya, jika kita menambahkan “bersyukur” di sisi kiri, maka akan ada “bersyukur” lain yang juga ditambahkan di sisi kanan. Itu benar secara matematis, tapi begitulah manusia, manusia dengan matematikanya:

    “Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”

    … jika manusia “bersyukur”, niscaya “nikmat”-lah yang akan bertambah. Itulah yang sesungguhnya.

    ***

    Maroji: Abdullah FS

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 4 October 2016 Permalink | Balas  

    Simpanan Bagi Hasil Di Bank 

    ribaSimpanan Bagi Hasil Di Bank

    Oleh: Mike Rini, dikutip dari Danareksa.com

    Apakah Anda termasuk orang yang percaya bahwa uang bisa didapat dengan sekejap mata tanpa usaha yang berarti ? Saya tidak. Saya orang yang tidak pernah percaya bahwa uang bisa didapat dengan sekejap mata. Tapi keyakinan saya tersebut ternyata bisa dipatahkan, tepatnya tahun 1998 jamannya masih krisis moneter. Saya tidak akan pernah lupa hari-hari dimana saya bisa mendapatkan uang dengan begitu mudahnya, bahkan tanpa usaha yang berarti sama sekali. Yang saya lakukan saat itu hanya mendepositokan uang saya di sebuah bank. Bayangkan dari uang sebesar Rp 100 juta yang saya depositokan, sim salabim ! satu bulan kemudian berubah menjadi Rp 140 juta !

    Jadi timbul pertanyaan, apa yang dilakukan bank tersebut sehingga bisa sebegitu hebatnya membayar bunga deposito sebesar itu. Saya tidak penah tahu kemana uang yang saya simpan dibank tersebut diinvestasikan, namun tidak lama setelahnya jawabannya datang dengan berita likuidasi bank-bank. Termasuk bank saya, hanya saja depositonya sudah saya cairkan dahulu, dan untuk kedua kalinya saya lagi-lagi beruntung. Beberapa teman-temannya yang dananya nyangkut di bank tersebut, harus menunggu berhari-hari dan mengantri dalam antrian yang sangat panjang untuk bisa mengambil dana mereka kembali. Bank-lah pihak yang paling merugi, bukan saja merugi tapi bangkrut total sampai harus ditutup. Kewajiban pembayaran bunga yang luar biasa ekstrim saat itu telah menamatkan riwayat bank tempat saya menabung bertahun-tahun.

    Bayangkan jika Anda yang berada di posisi penghutang seperti kasus bank tadi (dan seringnya memang begitu bukan ?). Kewajiban cicilan kredit rumah, kredit mobil atau kartu kredit yang tiba-tiba membengkak karena bunganya meroket dan semakin parah jika Anda terlambat membayar, bisa membuat Anda bangkrut. Begitulah keajaiban dari sistem bunga berbunga, bisa sangat menguntungkan di satu pihak namun merugikan pihak lain.

    Kenyataan ini telah membuktikan bahwa kelangsungan hidup bank konvensional selalu terganggu oleh gejolak suku bunga. Dari sinilah muncul kebutuhan akan adanya suatu sistem perbankan yang tidak berbasis bunga. Menjawab kebutuhan itu sistem perbankan syariah yang berbasis bagi hasil, konon lebih tangguh dari sistem perbankan konvensional. Namun jika dilihat dari kacamata kita sebagai nasabah, apakah menguntungkan jika kita menyimpan uang di bank syariah ? Setelah sekian lama terbiasa dengan sistem bunga bank konvensional, bisakah sistem bank syariah memberikan keuntungan yang lebih besar kepada nasabahnya ? “Tak kenal maka tak sayang”, bagi kita yang sudah terbiasa dengan sistem bunga pada bank konvensional, mungkin merasa ragu-ragu dengan sistem bagi hasil bank syariah. Namun terlepas dari berbagai keraguan tadi, alangkah baiknya kita menuntaskan rasa penasaran kita dengan mempelajari produk-produk simpanan di bank syariah.

    Perbedaan Bank Konvensional Dengan Bank Syariah

    Bank syariah adalah bank yang beroperasi berdasarkan syariah atau prinsip agama Islam. Sesuai dengan prinsip Islam yang melarang sistem bunga atau riba yang memberatkan, maka bank syariah beroperasi berdasarkan kemitraan pada semua aktivitas bisnis atas dasar kesetaraan dan keadilan. Perbedaan yang mendasar antara bank syariah dengan bank konvensional, antara lain :

    Perbedaan Falsafah

    Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank kovensional justru kebalikannya. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Dengan demikian sebenarnya semua jenis transaksi perniagaan melalu bank syariah diperbolehkan asalkan tidak mengandung unsur bunga (riba). Riba secara sederhana berarti sistem bunga berbunga atau compound interest dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya kewajiban salah satu pihak seperti efek bola salju pada cerita di awal artikel ini. Sangat menguntungkan saya tapi berakibat fatal untuk banknya. Riba, sangat berpotensi untuk mengakibatkan keuntungan besar disuatu pihak namun kerugian besar dipihak lain, atau malah ke dua-duanya.

    Konsep Pengelolaan Dana Nasabah

    Dalam sistem bank syariah dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan maupun investasi. Cara titipan dan investasi jelas berbeda dengan deposito pada bank konvensional dimana deposito merupakan upaya mem- bungakan uang. Konsep dana titipan berarti kapan saja si nasabah membutuhkan, maka bank syariah harus dapat memenuhinya, akibatnya dana titipan menjadi sangat likuid. Likuiditas yang tinggi inilah membuat dana titipan kurang memenuhi syarat suatu investasi yang membutuhkan pengendapan dana. Karena pengendapan dananya tidak lama alias cuma titipan maka bank boleh saja tidak memberikan imbal hasil. Sedangkan jika dana nasabah tersebut diinvestasikan, maka karena konsep investasi adalah usaha yang menanggung risiko, artinya setiap kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari usaha yang dilaksanakan, didalamnya terdapat pula risiko untuk menerima kerugian, maka antara nasabah dan banknya sama-sama saling berbagi baik keuntungan maupun risiko.

    Sesuai dengan fungsi bank sebagai intermediary yaitu lembaga keuangan penyalur dana nasabah penyimpan kepada nasabah peminjam, dana nasabah yang terkumpul dengan cara titipan atau investasi tadi kemudian, dimanfaatkan atau disalurkan ke dalam traksaksi perniagaan yang diperbolehkan pada sistem syariah. Hasil keuntungan dari pemanfaatan dana nasabah yang disalurkan ke dalam berbagai usaha itulah yang akan dibagikan kepada nasabah. Hasil usaha semakin tingi maka semakin besar pula keuntungan yang dibagikan bank kepada dan nasabahnya. Namun jika keuntungannya kecil otomatis semakin kecil pula keuntungan yang dibagikan bank kepada nasabahnya. Jadi konsep bagi hasil hanya bisa berjalan jika dana nasabah di bank di investasikan terlebih dahulu kedalam usaha, barulah keuntungan usahanya dibagikan. Berbeda dengan simpanan nasabah di bank konvensional, tidak peduli apakah simpanan tersebut di salurkan ke dalam usaha atau tidak, bank tetap wajib membayar bunganya.

    Dengan demikian sistem bagi hasil membuat besar kecilnya keuntungan yang diterima nasabah mengikuti besar kecilnya keuntungan bank syariah. Semakin besar keuntungan bank syariah semakin besar pula keuntungan nasabahnya. Berbeda dengan bank konvensional, keuntungan banknya tidak dibagikan kepada nasabahnya. Tidak peduli berapapun jumlah keuntungan bank konvesional, nasabah hanya dibayar sejumlah prosentase dari dana yang disimpannya saja.

    Kewajiban Mengelola Zakat

    Bank syariah diwajibkan menjadi pengelola zakat yaitu dalam arti wajib membayar zakat, menghimpun, mengadministrasikannya dan mendistribusikannya. Hal ini merupakan fungsi dan peran yang melekat pada bank syariah untuk memobilisasi dana-dana sosial (zakat. Infak, sedekah)

    Struktur Organisasi

    Di dalam struktur organisasi suatu bank syariah diharuskan adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS). DPS bertugas mengawasi segala aktifitas bank agar selalu sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. DPS ini dibawahi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Berdasarkan laporan dari DPS pada masing-masing lembaga keuangan syariah, DSN dapat memberikan teguran jika lembaga yang bersangkutan menyimpang. DSN juga dapat mengajukan rekomendasi kepada lembaga yang memiliki otoritas seperti Bank Indonesia dan Departemen Keuangan untuk memberikan sangsi.

    Bagaimana Kita Menyimpan Uang Di Bank Syariah

    Sebelumnya kita sudah sangat mengenal tabungan, giro dan deposito dari bank konvensional. Pada ke tiga produk bank ini maka setiap bulanya bank berjanji akan membayar sejumlah bunga. Di bank syariah juga mempunyai produk simpanan berupa tabungan, giro dan deposito hanya sebagai nasabah kita tidak menerima pembayaran bunga. Di bank syarah ada 2 cara yang bisa dipilih orang untuk menyimpan uangnya,yaitu :

    Titipan / Wadiah

    Menitip adalah memberikan kekuasaan kepada orang lain untuk menjaga hartanya/ barangnya. Dengan demikian cara titipan melibatkan adanya orang yang menitipkan (nasabah), pihak yang dititipi (bank syariah), barang yang dititipkan (dana nasabah). Menitipkan sebenarnya bukan usaha perniagaan yang lazim, kecuali penerima titipan menetapkan keharusan membayar biaya penitipan atau administrasi bagi penitip. Maka Titipan bisa memenuhi syarat perniagaan yang lazim. Artinya bank harus menjaga dan bertanggung jawab terhadap barang yang dititipkan karena sudah dibayar biaya administrasinya. Rekening giro di bank syariah dikelola dengan sistem titipan sehingga biasa dikenal dengan Giro Wadiah, karena pada dasarnya rekening giro adalah dana masyarakat di bank untuk tujuan pembayaran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat. Artinya giro hanyalah merupakan dana titipan nasabah, bukan dana yang diinvestasikan. Namun dana nasabah pada giro bisa dimanfaatkan oleh bank selama masih mengendap, tetapi kapanpun nasabah ingin menariknya bank wajib membayarnya. Sebagai imbalan dari titipan yang dimanfaatkan oleh bank syariah, nasabah dapat menerima imbal jasa berupa bonus. Namun bonus ini tidak diperjanjikan di depan melainkan tergantung dari kebijakan bank yang dikaitkan dengan pendapatn bank. Rekening tabungan harian yang memberlakukan ketentuan dapat ditarik setiap saat juga dikelola dengan cara titipan, karena sifatnya mirip dengan giro hanya berbeda mekanisme penarikannya.

    Investasi / Mudharabah

    adalah suatu bentuk perniagaan dimana pemilik modal (nasabah) menyetorkan modalnya kepada pengelola (bank) untuk diusahakan dengan keuntungan akan dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak. Sedangkan kerugian, jika ada akan ditanggung oleh si pemilik modal. Dengan demikian cara investasi melibatkan pemilik modal (nasabah), pengelola modal (bank), modal (dana) harus jelas berapa jumlahnya, jangka waktu pengelolaan modal, jenis pekerjaan atau proyek yang di biayai, porsi bagi hasil keuntungan. Deposito di bank syariah dikelola dengan cara investasi atau mudarobah, sehingga biasa dikenal dengan Deposito Mudharabah. Bank Syariah tidak membayar bunga deposito kepada deposan tetapi membayar bagi hasil keuntungan yang ditetapkan dengan nisbah. Beberapa jenis tabungan berjangka juga dikelola dengan cara mudharobah misalnya tabungan pendidikan dan tabungan hari tua, tabungan haji, tabungan berjangka ini biasa dikenal istilah Tabungan Pendidikan Mudharabah, Tabungan Haji. Tabungan-tabungan tersebut tidak dapat ditarik oleh pemilik dana sebelum jatuh tempo sehingga memenuhi syarat untuk diinvestasikan

    Bagaimana Nasabah Mendapat Keuntungan

    Jika bank konvensional membayar bunga kepada nasabahnya, maka bank syariah membayar bagi hasil keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Kesepakatan bagi hasil ini ditetapkan dengan suatu angka ratio bagi hasil atau nisbah. Nisbah antara bank dengan nasabahnya ditentukan di awal, misalnya ditentukan porsi masing-masing pihak 60:40, yang berarti atas hasil usaha yang diperolah akan didisitribusikan sebesar 60% bagi nasabah dan 40% bagi bank. Angka nisbah ini dengan mudah Anda dapatkan informasinya dengan bertanya ke customer service atau datang langsung dan melihat papan display ” Perhitugan dan Distribusi Bagi Hasil” yang ada di cabang bank syariah.

    Apakah Simpanan Nasabah di Bank Syariah Dijamin Pemerintah Dalam hal jaminan pemerintak terhadap dana pihak ke tiga di bank, maka bank syariah mempunyai kedudukan yang sama sama dengan bank konvensional. Dana nasabah di bank syariah tetap dijamin pemerintah sesuai dengan ketentuan jaminan pemerintah bagi dana nasabah di bank.

    Salam Mike Rini Perencana Keuangan

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 3 October 2016 Permalink | Balas  

    Pohon Tua 

    menanam-pohonPohon Tua

    Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang.

    Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

    Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

    Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu.

    Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. “Pohon yang sangat berguna,” begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.

    Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan.

    Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya.

    Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

    Sang pohon pun bersedih. “Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?” begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. “Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?” Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.

    Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.

    “Cittt…cericirit…cittt” Ah suara apa itu?

    Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.

    “Cittt…cericirit…cittt,” suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu… dua… tiga… dan empat anak burung lahir ke dunia. “Ah, doaku di jawab-Nya,” begitu seru sang pohon.

    Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana.

    Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. “Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini”, gumam sang pohon dengan berbinar.

    Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya.

    Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

    ***

    Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita.

    Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

    Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati.

    Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

    Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 2 October 2016 Permalink | Balas  

    Telaga hati 

    kayu tumbang di telaga warnaTelaga hati

    Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

    “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak tua itu.

    “Asin. Asin sekali,” jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

    Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau.

    Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.

    “Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.”

    Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar,” sahut sang pemuda.

    “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Beliau lagi.

    “Tidak,” jawab si anak muda.

    Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

    Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.

    Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

    Beliau melanjutkan nasehatnya.

    “Hatimu adalah wadah itu.

    Perasaanmu adalah tempat itu.

    Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.

    Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 1 October 2016 Permalink | Balas  

    Kewajiban Mengeluarkan Zakat 

    zakatKewajiban Mengeluarkan Zakat

    (Disarikan oleh Ikhwan Abidin dari Kitab az-Zakat karangan Dr. Yusuf al-Qorodhowi)

    Para ulama telah sepakat bahwa zakat wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim, yang merdeka, akil balig dan hartanya telah mencapai nisab.

    Dengan kata lain syarat-syarat orang yang mengeluarkan zakat antara lain :

    • Merdeka (bukan budak).
    • Akil dan Balig.
    • Harta yang dizakati itu sudah mencapai nisab.
    • Melewati masa setahun (haul)

    Mereka juga telah bersepakat bahwa zakat tidak diwajibkan kepada orang-orang non-Muslim, karena kewajiban ini merupakan cabang sekaligus rukun Islam sedangkan diri mereka berada di luar wilayah Islam, maka mereka tidak terkena beban kewajiban ini.

    Jika zakat tidak diwajibkan kepada orang-orang non-Muslim, maka ia juga tidak sah dilakukan oleh mereka sebagai suatu bentuk ibadah yang dapat mendatangkan pahala dari Allah karena hilangnya syarat yang pertama untuk diterima oleh Allah yaitu Islam.

    Allah berfirman  dalam al-Qur’an S. al-Furqon : 23

    “Dan Kami hadapi segala amal (kebajikan) yang telah mereka perbuat, lalu Kami jadikan amal-amal (kebajikan) itu (seperti) debu yang diterbangkan.” 

    Kenapa Zakat tidak diwajibkan kepada orang-orang non-Islam ?

    Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kiranya memahami dua hakekat berikut ini.

    1-    Sesungguhnya zakat adalah kewajiban sosial dan suatu kewajiban pada harta  yang harus ditunaikan untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Ia juga merupakan bentuk pajak yang diwajibkan oleh Allah kepada orang-orang yang mampu untuk diberikan kepada orang-orang miskin.

    2-    Hakekat zakat adalah salah satu bentuk ibadah dalam Islam dan salah satu dari lima rukun Islam. Keadaannya sama persis dengan kalimat syahadat, mendirikan sholat, berpuasa di bulan Romadhon dan haji ke Baitullah.

    Hakekat kedua ini didominasi oleh warna dan celupan agama yang sangat kental sehingga menjadikannya salah satu bentuk ritual Islam yang terbesar di mana tidak diperbolehkan melaksanakannya melainkan orang-orang yang sudah masuk Islam saja.

    Harta-harta yang Wajib Dizakati

    Al-Qur’an tidak menetapkan secara rinci harta-harta yang wajib dizakati, bagaimana syarat-syaratnya dan kadar zakatnya. Al-Qur’an hanya menyebutkannya secara global seperti emas, perak[1], tanaman dan buah-buahan[2], usaha[3], yang diambil dari bumi seperti tambang[4] dan lain-lain. Penjelasan secara rinci diberikan oleh as-Sunnah yang merupakan sumber tasyri’ kedua dalam ajaran Islam.

    Perlu kiranya ditegaskan di sini bahwa yang dimaksud dengan harta yang dikenai kewajiban zakat adalah harta konkrit atau substansi, bukan manfaat yang dimiliki oleh substansi itu.

    Syarat-syarat harta yang dizakati

    Jika  segala sesuatu yang dimiliki manusia dan mempunyai “nilai” disebut harta, maka apakah semua harta harus dizakati berapapun jumlahnya ? Sesungguhnya Islam datang dengan membawa keadilan dan kemudahan, karena itu kewajiban zakat tidak mungkin ditetapkan dengan mengenyampingkan prinsip keadilan dan kemudahan.  Harta yang wajib dizakati memiliki sejumlah syarat yang akan dijelaskan secara rinci di bawah ini.

    1. Kepemilikan yang sempurna.

    Sebenarnya harta itu adalah milik Allah, Dialah penciptanya dan Pemberinya[5] kepada sekalian manusia. Meskipun demikian Allah yang Maha Mulia menyandarkan kepemilikan harta kepada manusia sebagai penghormatan kepada hambaNya, keutamaan dari padaNya dan ujian terhadap mereka apakah mereka mau bersyukur atau kufur.[6]

    Maksud kepemilikan yang sempurna di sini adalah “kekuasaan atau legalitas yang dapat memberikan hak kepada yang memilikinya untuk menggunakan barang itu dan memanfaatkan semua kegunaan yang dapat diperoleh dari padanya secara terus menerus dan terbatas hanya kepadanya”.

    Dengan perkataan lain kesempurnaan kepemilikan mensyaratkan harta tersebut dimiliki  dan dikuasai oleh pemiliknya, tidak berkaitan dengan selain pemiliknya, dapat dipergunakan sekehendaknya dan segala manfaatnya dapat dinikmatinya.

    1. Tumbuh atau berkembang

    Harta yang dizakati harus dapat tumbuh dan berkembang atau berpotensi untuk tumbuh dan berkembang. Dalam bahasa ekonominya harta itu harus dapat menghasilkan keuntungan (profit), pendapatan (income) dan economic rent jika disewakan. Dengan mengacu kepada syarat ini maka harta yang sifatnya tidak dapat tumbuh atau berkembang dikecualikan dari kewajiban zakat seperti rumah dengan segala perabotnya, alat-alat kerajinan, kendaraan dan lain-lain.

    Mengingat bahwa illat (alasan) harta yang harus dizakati itu terletak pada kemampuannya untuk dapat tumbuh dan berkembang, maka semua harta yang memiliki sifat demikian terkena kewajiban zakat sekalipun tidak ditetapkan oleh Rasululah SAW tetapi tetap terkena keumuman ayat-ayat al-Qur’an.

    Sebagian fukoha terutama dhohiriyah berpendapat bahwa harta yang harus dizakati itu hanya yang telah ditetapkan secara rinci oleh Rasulullah SAW yaitu sapi, unta, kambing, gandum, sya’ir[7], kurma, anggur, emas dan perak. Di luar dari itu, menurut golongan ini,  tidak dikenakan kewajiban zakat.

    Sebagian fukoha lainnya terutama Hanafiyah meluaskan wilayah kewajiban zakat hingga meliputi semua harta yang tumbuh atau berkembang. Abu Hanifah mewajibkan zakat pada setiap yang dikeluarkan  oleh perut bumi yang maksud penanamannya untuk menghasilkan pendapatan dan bahkan ia tidak mensyaratkan nisab.[8]

    Alasan-alasan kewajiban zakat lebih dari delapan jenis barang seperti yang disebutkan oleh hadis-hadis.

    • Keumuman ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi SAW bahwa dalam setiap harta terdapat kewajiban yang harus ditunaikan yaitu zakat tanpa merinci lebih lanjut jenis-jenis harta, lihat ad-Dzariyat : 19; at-Taubah : 103.
    • Setiap orang kaya perlu membersihkan dan mensucikan dirinya dari penyakit-penyakit bakhil, kikir dan egoisme dengan cara mengeluarkan sebagian hartanya berupa zakat. Orang kaya di sini tidak terbatas pada mereka yang memiliki kekayaan berupa unta, sapi, kambing, kurma, gandum, anggur, emas dan perak saja; tetapi siapa saja yang kaya, tanpa memandang jenis harta yang menyusun kekayaannya itu. Adalah tidak masuk akal bahwa mereka yang harus mensucikan jiwanya dari penyakit-penyakit kotor itu hanya terbatas pada mereka yang memiliki kekayaan dari delapan jenis kekayaan itu saja. Sementara yang memiliki kekayaan selain dari itu tidak diperlukan untuk mencsucikan dirinya.
    • Setiap harta perlu disucikan karena ada kemungkinan terkontaminasi oleh unsur-unsur syubhat atau haram sewaktu diusahakan atau diperoleh. Pensucian ini dilakukan lewat zakat sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar :

    “Sesungguhnya Allah mewajibkan zakat sebagai pencuci bagi harta”. Al-Hadis.

    Tidaklah masuk akal bahwa pensucian ini terbatas pada delapan jenis harta   yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.

    • Pembagian harta zakat kepada delapan golongan tidak mungkin hanya menjadi kewajiban orang-orang kaya yang memiliki kekayaan dari delapan jenis harta tersebut. Sementara itu syariah membiarkan dan tidak mewajibkan kepada pemilik ribuan hektar perkebunan, pemilik pabrik besar, pemilik real estate, kaum profesional yang kadang-kadang dalam sehari penghasilan mereka lebih banyak dari pada petani setahun. Jika kewajiban mengeluarkan zakat hanya pada pemilik delapan jenis harta ini, lalu di manakah keadilan Islam ?
    • Benar bahwa tidak ada qiyas dalam ibadah, tetapi zakat itu tidak ibadah murni. Ia memiliki sifat muamalah dan ia adalah bagian dari sistem keuangan publik Islam. Karena itu qiyas yang benar dapat diterapkan pada zakat.
    • Harta yang dimiliki oleh kaum Muslimin memang harus dihormati tetapi dalam harta itu ada juga hak Allah dan hak sosial yaitu mereka yang membutuhkan seperti kaum fakir dan miskin. Hak ini secara tegas dinyatakan oleh Allah, karena itu tidak boleh diabaikan.
    1. Mencapai Nisab

    Islam tidak mewajibkan zakat pada harta benda dengan mengabaikan banyaknya atau jumlahnya, tetapi mensyaratkan harta itu mencapai ukuran tertentu yang disebut nisab untuk dapat dikenakan kewajiban mengeluarkan zakat. Jadi nisab adalah batasan minimal dari harta untuk dikenakan zakat atasnya. Misalnya unta 5 dan  kambing 40, perak 200 dirham dan hasil-hasil pertanian seperti biji-bijian dan buah-buahan 5 wasaq. Kalau jumlahnya di bawah itu, tidak dikenai kewajiban zakat.

    Hikmah nisab sebagai syarat mengeluarkan zakat adalah bahwa zakat merupakan suatu bentuk pajak yang diambil dari golongan kaya untuk diberikan kepada golongan miskin sebagai suatu bentuk pertolongan. Jika zakat diwajibkan kepada semua orang termasuk orang miskin – karena meniadakan persyaratan nisab – maka di sini  tidak ada arti pertolongan.

    Karena itulah Rasulullah SAW bersabda :

    “Tidak ada kewajiban zakat melainkan di atas nisab (keperluan)”

    1. Kelebihan di atas kebutuhan pokok (primer)

    Syarat ini sebenarnya ikutan dari syarat ketiga atau nisab. Ini bermakna bahwa jumlah harta yang mencapai nisab tersebut sudah di luar dari kebutuhan pokok orang yang akan mengeluarkan zakat.

    Dalam bahasa ekonomi harta yang dizakati itu telah dikurangi pengeluaran untuk konsumsi seperti makan, minum, pakaian, pengeluaran rutin untuk BBM, listrik, air, perabot rumah, nafkah untuk mereka yang tertanggung seperti anak, orang-orang tua, pembantu, buku dan sejenisnya.

    Persyaratan ini penting karena dengan begitu akan terwujud arti kaya dan kenikmatan  serta terealisasikan pelaksaanaan zakat dengan hati yang tulus dan rela.

    Dalil syarat ini antara lain diambil dari ayat al-Qur’an dan beberapa hadis Nabi.

    “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad tentang) apa yang (harus) mereka infakkan (zakatkan). Katakanlah (yang wajib dizakatkan itu) adalah kelebihan (dari kebutuhan).Al-baqoroh : 219.

    “Tidak ada (kewajiban) berzakat kecuali bagi harta yang melebihi nisab”. H. R. Bukhori secara muallaq.

    1. Bebas dari beban utang.

    Harta yang sudah dikurangi kebutuhan pokok dan pengeluaran rutin masih perlu diperiksa lagi sebelum dizakati. Pemeriksaan atau perhitungan ini untuk memastikan apakah harta itu sudah bersih (netto) atau masih kotor (bruto). Dalam perhitungan zakat, utang masih menjadi item yang mesti dikurangkan dari harta bersih.

    Jika si pemilik yang akan mengeluarkan zakat itu masih memiliki beban utang yang jumlahnya sama dengan nisabnya atau mengurangi jumlah nisabnya, maka ia belum terkena kewajiban untuk mengeluarkan zakat. Ia lebih wajib untuk melunasi utang-utangnya dari pada mengeluarkan zakat.

    “Barang siapa yang memiliki beban utang hendaklah melunasi utangnya dan membayar zakat dari sisa hartanya”. H. R Malik dalam Muwattho’

    1. Berlalunya masa setahun (haul)

    Pengertian haul di sini adalah bahwa harta yang ada di tangan si pemilik harus melalui masa dua belas bulan qomariyah. Namun syarat ini hanya berlaku bagi zakat dari binatang ternak, uang dan barang-barang perniagaan atau dalam bahasa ekonominya barang-barang modal.

    Adapun zakat dari tanaman, buah-buahan, madu dan barang tambang, yang dalam bahasa ekonominya di sebut zakat pendapatan dan profesi (income atau profession) tidak ada persyaratan harus berlalu masa setahun.

    Ibnu Rusyd mengatakan dalam bukunya Bidayatul Mujtahid vol 2, hal. 261-262:”Jumhur fukoha mensyaratkan kewajiban zakat pada emas, perak dan ternak dengan haul karena hal demikian telah dipraktekkan oleh para kholifah yang empat, karena sudah tersiar di kalangan para sahabat dan dipraktekkan di kalangan mereka, dan karena keyakinan mereka bahwa praktek yang sudah tersebar dan tidak ada yang khilaf ini tidak mungkin terjadi melainkan memang telah ditetapkan oleh Nabi”.

    ***

    [1] Lihat, at-Taubah : 34.

    [2] Lihat al-An’am : 141.

    [3] Lihat, al-Baqoroh : 276.

    [4] Idem.

    [5] Allah mengingatkan hakekat ini agar manusia tidak tertipu oleh status kepemilikan yang mereka nikmati di dunia. Berbagai gaya bahasa dipakai oleh Allah dalam al-Qur’an untuk menegaskan bahwa pemilik segala harta benda itu sebenarnya Allah SWT lihat, misalnya, S. An-Nur : 33; al-Baqoroh : 254; Al Imron : 180. Status kepemilikan manusia terhadap harta hanyalah sebagai wakil atau orang yang diberi amanah, lihat al-Hadid : 7.

    [6] Banyak ayat al-Qur’an yang menyandarkan kepemilikan harta kepada manusia misalnya dalam S. al-Munafiqun : 9; at-Taghobun : 15; al-Humazah : 3 dan lain-lain. Bahkan karena sifat kelembutan dan kemuliaan Allah terhadap hambaNya sampai-sampai Ia menggunakan kata-kata “meminjam” dan “membeli” dari harta dan jiwa hambaNya padahal itu semua milikNya, lihat al-Baqoroh : 245; al-Hadid : 11; at-Taubah : 111 dan lain-lain.

    [7] Sejenis gandum.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 30 September 2016 Permalink | Balas  

    Bapak… aku ingin sekolah 

    anak_dhuafaBapak, Aku Ingin Sekolah

    Segelas air putih terletak di meja kayu. Lelaki itu mengangkatnya untuk terakhir kali. Diteguk habis. Sejak kemarin siang belum ada satu butir nasipun yang singgah di perutnya. Hanya air putih. Itupun hanya air sumur di belakang. Kata orang air itu kotor. Tidak layak untuk diminum.

    Tapi apakah orang masih bisa berpikir kesehatan, higienis atau tidak, ketika tidak ada lagi pilihan? Tadi pagi dia hanya memanasi air itu dengan alat pemanas kecil yang diperolehnya beberapa waktu lalu dari seseorang.

    Dipandangnya gelas kosong. Baginya hanya minum air masih bisa bertahan.

    Bagaimana dengan dua anak dan istrinya? Dihela nafas panjang. Sejak kemarin persediaan beras sudah habis. Mau hutang pada tetangga sudah tidak mungkin lagi. Sudah banyak tetangga yang dimintai tolong untuk meminjaminya uang atau beras. Satupun belum ada yang dia bayar. Dia malu bila harus datang lagi ke salah satu dari mereka untuk meminjam uang atau beras.

    Lelaki itu berjalan keluar. Berdiri diambang pintu rumah kontrakkan.

    Sebuah pintu yang sempit dari sebuah kamar ukuran 3X4. Inilah rumahnya.

    Satu dari sekian deretan rumah petak. Dilihatnya beberapa anak bersiap-siap berangkat ke sekolah. Maria, anaknya yang tertua masih duduk di kelas II SD. Dia baru selesai mandi di kamar mandi umum.

    Sebentar lagi dia akan berangkat ke sekolah juga. Lelaki itu menghela nafas kembali. Apakah Maria akan bolos sekolah lagi? Keluh hatinya.

    Kemarin Maria sudah bolos 3 hari. Bukan karena sakit atau malas, melainkan tidak ada uang saku untuk naik angkot. Sekali jalan dia harus bayar Rp 1000.

    Kalau pergi pulang sudah Rp 2000. Darimana dia dapat uang Rp 2000?

    Sekolah Maria cukup jauh. Dulu dia sengaja menyekolahkan Maria di sekolah ini, sebab dia ingin anaknya memperoleh pendidikan yang bermutu. Ketika masih bekerja semua bisa diatasi. Setelah tidak bekerja dia sudah dua kali memohon keringanan dari kepala sekolah, sekarang Maria tinggal membayar separo dari uang sekolahnya semula. Namun ini masih sangat terasa berat sekali. Sekarang sudah 2 bulan Maria belum membayar uang sekolah.

    Pernah dia meminta bantuan pada seseorang ternyata tidak diberi, melainkan mendapatkan jawaban yang sangat menyakitkan hati. Dengan angkuh dia mengatakan kalau memang tidak mempunyai uang mengapa disekolahkan disana?

    Siapakah yang tahu bahwa dia akan ter PHK? Siapakah yang tidak ingin menyekolahkan anaknya di tempatnya. Sekali lagi lelaki itu menghembuskan nafas kesal. Dia kesal pada diri sendiri.

    Mengapa tidak bisa menemukan pekerjaan? Sudah hampir 6 bulan dia menganggur. Semula dia bekerja di sebuah perusahaan yang cukup baik. Tapi karena pemimpinnya korupsi, maka perusahaan menjadi bangkrut. Semua karyawan di PHK tanpa pesangon. Mau menuntut pada pemilik perusahaan tampaknya tidak mungkin sebab dia sekarang masuk dalam penjara. Hartanya disita. Dia dituduh menggelapkan uang milik seseorang dan terjerat hutang di sebuah bank.

    Selama 6 bulan ini sudah banyak kertas lamaran dibuat. Sudah banyak perusahaan dimasukinya, tapi semua jawabannya sama. Tidak ada lowongan atau yang lebih agak halus tunggu panggilan. Satu demi satu apa yang dimilikinya dari hasil bekerja sekian tahun telah dijualnya. Rumah dari kontrakan satu rumah menjadi sebuah kamar. Makan pun kini sudah semakin susah. Setiap hari hanya berpikir kepada siapa dia akan hutang lagi?

    Dilihatnya matahari yang cerah menyinari genting yang berjajar rapat.

    Apakah kalau dia pulang ke daerah asal semua akan beres? Apakah disana ada pekerjaan? Bukankah dia sampai merantau ke kota sebab di daerahnya tidak ada lagi yang bisa dijadikan peganggan untuk hidup? Orang tuanya hanya mewariskan sepetak tanah gersang yang sangat minim hasilnya. Di desa dia akan semakin tidak berdaya. Belum lagi pendidikan anak-anaknya. Pasti disana tidak akan terjamin.

    Lelaki itu terus termenung di depan pintu. Mau kemana lagi hari ini?

    Apakah yang bisa dimakan hari ini? Dia melihat Maria sudah berpakaian seragam. Hatinya pedih kalau melihat Maria dengan pakaian seragam dan siap berangkat sekolah. “Lebih baik kamu tidak masuk saja hari ini.” Kata lelaki itu sambil menatap Maria. “Aku malu diolok-olok temanku kalau aku bolos sekolah.” Maria mulai menangis minta sekolah. Hati lelaki itu bagai diremas. Hancur luluh. Semua kata tercekat ditenggorokan.

    Maria semakin keras menangis. Dia ngotot mau sekolah sebab malu diejek teman-teman di kampung dan di sekolah. Istrinya datang dari sumur. Dia marah ketika mendengar Maria menangis. Maria yang sudah sedih hati semakin sedih. Tangisnya semakin keras. Istrinya merasa tidak didengarkan maka dia mulai berteriak-teriak agar Maria berhenti menangis. Lelaki itu hanya mampu terdiam di ambang pintu. Teriakan istrinya dan tangis Maria seperti dua besi yang menjepit kepalanya sehingga mau pecah.

    Semua tidak salah. Istrinya pun jengkel akan situasi hidup yang membuat tegang. Maria yang belum faham dengan kesulitan orang tuanya hanya mampu menangis. Kamar menjadi ribut. Istrinya mulai mengomel panjang lebar.

    Suaranya keras menusuk jiwa. Lelaki itu hanya membisu. Di dekatinya Maria dan digendong keluar.

    Dia tidak ingin anaknya semakin disakiti dengan perkataan istrinya.

    Permintaan Maria sangat wajar. Dia ingin berangkat sekolah. Dia tidak meminta apa-apa selain sekolah. Maria dan adiknya memang anak yang baik.

    Mereka tidak pernah menuntut. Makan hanya dengan nasi dan garampun mereka diam saja, meski banyak temannya makan nasi dengan lauk dan sayur. Mereka jarang sekali meminta jajan. Mereka seolah faham dengan aneka kesulitan yang dialami oleh orang tuanya. Kini dia menangis sebab sudah tidak tahan diolok-olok temannya sebagai pemalas yang suka membolos. Namun dia tidak mungkin menerangkan pada Maria tentang kesulitan hidupnya.

    Maria terus menangis dalam gendongan. Dia meronta-ronta ingin turun dan berangkat ke sekolah. Lelaki itu berjalan ke tetangga siapa tahu masih ada orang yang berbaik hati mau memberi pinjaman uang Rp 2000 untuk ongkos angkot. Seorang tetangga akhirnya menyodorkan dua lembar ribuan. Maka dengan segala bujuk rayu akhirnya Maria mau diam dan bersiap ke sekolah.

    Namun dia belum makan. Di rumah hanya ada air putih dari sumur. Apakah dia akan kuat belajar sampai siang nanti?

    Ingin sekali lelaki itu berteriak untuk melepaskan beban di hatinya. Dia bisa gila melihat semua ini setiap hari. Bukan dia malas. Dia punya ijasah SMA.

    Dia sudah berusaha mencari pekerjaan meski hanya kuli bangunan. Namun pada jaman seperti ini, sebuah lowongan sudah dinanti sekian ratus pengangguran.

    Faktor usia dan ijasah membuatnya selalu kalah bersaing.

    Lelaki itu melambaikan tangan pada Maria yang berlari menuju jalan besar untuk mencegat angkot. Lelaki itu berjalan gontai menuju rumahnya yang kecil. Sayup-sayup dia mendengar seorang sedang membacakan berita di radio.

    Dengan jelas sekali dia mendengar bahwa terdakwa penggelapan uang negara sebesar 40 M dibebaskan. Ingin rasanya mengambil batu dan melempar radio itu. Ini sepertinya sebuah penghinaan pada kaum miskin.

    40 M bukan uang yang sedikit. Dan mereka mengatasnamakan rakyat menggunakan uang itu untuk memperkaya diri. Memang suara kelaparan dan kegelisahan yang muncul dari dalam dirinya belum menggema di masyarakat. Namun apakah dia diberi ruang dan kesempatan untuk bersuara? Kalau toh sudah bersuara apakah akan membuka hati para koruptor? Apakah ada rasa peduli dari mereka?.

    Lelaki itu hanya salah satu dari jutaan masyarakat yang hidup jauh dibawah garis kemiskinan. Dia hanya bagian sebuah masyarakat yang sering dihina oleh sikap orang berkuasa yang dengan wewenang-wenang menggunakan uang rakyat demi kepentingan pribadi. Lelaki itu berjalan gontai. Perutnya sudah sangat lapar. Dia harus keluar untuk mencari pekerjaan. Masihkah ada pintu terbuka untukku sehingga aku bisa menyekolahkan anak-anakku? Siang semakin terik membakar hati yang gersang…

    Jika Anda tergerak dengan tulisan diatas, kirimkan hal ini kepada kerabat-kerabat Anda, dan tidak ada salahnya juga kita mau menengok dan memberikan bantuan kepada orang-orang disekeliling kita yang mungkin mempunyai pengalaman yang hampir mirip dengan tulisan diatas.

    Have nice day &

    Best Regards

    ***

    Kiriman Sahabat Tri Lestari

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 29 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (14) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (14)

    Zakat Harta Haram

    1. Harta haram adalah semua harta yang secara hukum syariat dilarang dimiliki atau memanfaatkannya, baik haram karena bendanya mengandung mudarat atau kotoran seperti mayit dan minuman keras, atau haram karena faktor luar, seperti adanya kesalahan dalam cara pengalihan milik, seperti mengambil sesuatu dari pemiliknya tanpa izin (merampok), mengambil dari pemilik dengan cara yang tidak dibenarkan hukum, meskipun dengan kerelaan pemiliknya, seperti transaksi riba dan sogok.
    2. Pemegang harta haram yang mendapat harta dengan cara yang tidak beres, tidak dianggap pemilik barang tersebut selama-lamanya. Dia diwajibkan mengembalikannya kepada pemilik aslinya atau kepada ahli warisnya jika diketahui.
    • Jika tidak diketahui lagi, dia diwajibkan mendermakan harta tersebut kepada kepentingan sosial dengan meniatkan bahwa derma tersebut adalah atas nama pemilik aslinya.
    • Jika ia mendapatkan harta haram itu sebagai upah dari pekerjaan yang diharamkan maka ia harus mendermakannya untuk kepentingan sosial dan tidak boleh dikembalikan kepada orang yang memberinya.
    • Harta haram tidak dikembalikan kepada pemilik semula, selama dia masih tetap melakukan transaksi yang tidak legal tersebut, seperti harta yang diperoleh dari transaksi riba, akan tetapi diharuskan mendermakannya kepada kepentingan sosial.
    • Bila terdapat kesulitan dalam mengembalikan harta, pemegangnya diwajibkan mengembalikan nilainya kepada pemiliknya semula jika diketahui, bila tidak, maka nilai tersebut didermakan kepada kepentingan sosial dengan meniatkan derma tersebut atas nama pemilik semula.
    1. Harta yang haram karena zatnya sendiri, tidak wajib dibayar zakatnya, karena menurut hukum tidak dianggap harta yang berharga. Untuk menyelesaikannya harus dilalui cara-cara yang dibenarkan dalam agama.
    • Pemegang harta yang haram karena terdapat ketidakberesan dalam cara mendapatkannya tidak wajib membayar zakatnya, karena tidak memenuhi kriteria “dimiliki dengan sempurna” yang merupakan syarat wajib zakat. Bila sudah kembali kepada pemiliknya semula, yang bersangkutan wajib membayar zakatnya untuk satu tahun yang telah lalu, walaupun hilangnya sudah berlalu beberapa tahun. Hal ini sesuai dengan pendapat yang lebih kuat.
    • Pemegang harta haram yang tidak mengembalikannya kepada pemilik aslinya, kemudian membayarkan sejumlah zakat dari harta tersebut, masih tetap berdosa menyimpan dan menggunakan sisa harta tersebut dan tetap diwajibkan mengembalikan keseluruhannya kepada pemiliknya selama diketahui, bila tidak, maka dia diwajibkan mendermakan sisanya. Adapun harta yang dibayarkan itu tidak dinamakan zakat.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 28 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (13) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (13)

    Zakat Perusahaan Dagang Dan Industri

    1. Zakat perusahaan industri disamakan dengan perdagangan dengan pertimbangan sama-sama subjek hukum abstrak dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
    • Adanya peraturan yang mengharuskan pembayaran zakat perusahaan tersebut.
    • Aturan Dasar perusahaan memuat hal tersebut.
    • Dewan Umum mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan hal itu.
    • Kerelaan para pemegang saham menyerahkan pengeluaran zakat sahamnya kepada dewan direksi perusahaan.

    Pendapat ini berdasarkan prinsip usaha bersama yang diterangkan dalam hadis Nabi saw. tentang zakat binatang ternak yang penerapannya digeneralisasikan oleh beberapa mazhab fikih dan yang disetujui pula dalam Muktamar Zakat I. Sebaiknya perusahaan yang bersangkutan itulah yang membayar zakat dalam keempat kondisi yang disebutkan di atas. Jika tidak, maka perusahaan harus menghitung seluruh zakat kekayaannya kemudian memasukkan ke dalam anggaran tahunan catatan yang menerangkan nilai zakat setiap saham untuk mempermudah pemegang saham mengetahui berapa zakat sahamnya.

    1. Perusahaan yang bersangkutan menghitung zakat kekayaannya dengan cara yang sama seperti zakat individu biasa.

    Sehingga masing-masing jenis kekayaan dikeluarkan zakatnya sesuai dengan volume yang ditentukan baik berupa uang, hewan ternak, hasil pertanian, komoditas atau pun yang lainnya.

    Namun perlu diketahui bahwa saham yang dimiliki oleh negara, badan wakaf, lembaga zakat atau yayasan sosial lainnya, tidak wajib dizakati.

    Zakat Pendapatan Dan Propesi

    Hasil pendapatan ialah harta yang menjadi milik si pembayar zakat yang sebelumnya tidak dia miliki. Jika seorang pembayar zakat telah memiliki suatu harta yang mencukupi nisab kemudian sebelum sampai haul dia mendapatkan harta dari jenis yang sama, seperti keuntungan dagang atau produksi hewan ternak, maka harta yang didapatkan tersebut digabung dengan modal pokok saat sampai haulnya, kemudian dizakati, baik harta yang didapat berasal dari pertumbuhan dan penambahan dari modal pokok atau bukan.

    Pendapat ini diadopsi dari pendapat mazhab Hanafi, dalam upaya menghindari kesulitan akibat dari berpencarnya harta yang wajib dizakati, perbedaan waktu pembayaran zakat dan untuk memudahkan mengetahui volume zakat dari setiap bagian dari harta miliknya. Jika pendapatan tersebut berasal dari jenis yang berbeda, bukan sejenis modal pokok, seperti dia memiliki uang kemudian dia mendapatkan penghasilan hewan ternak, maka penghasilan ini tidak digabungkan untuk melengkapi nisab modal pokok, jika masih kurang dan tidak digabungkan ke haul modal pokok tersebut, jika haulnya belum lengkap tetapi haulnya dimulai di saat ia memperoleh pendapatan tersebut dan telah sampai nisab.

    Hasil pendapatan yang diperoleh dari selain pertambahan modal pokok atau karena sebab lain, tetapi jenisnya sama dengan jenis harta pokok, seperti upah dan gaji (berupa uang), semuanya digabung dengan kekayaan pokok milik si wajib zakat untuk melengkapi nisab dan haul, kemudian dizakati.

    Bagi orang yang ingin kehati-hatian, dapat mengalkulasikan jumlah yang diperkirakan akan melebihi kebutuhan keluarganya satu tahun, kemudian membayar zakatnya, (dalam catatan). Artinya mempercepat pembayaran zakat sebelum haul, dengan syarat nanti dia akan tetap mengalkulasikan hartanya di akhir haul, berapa yang wajib dizakati secara real, kemudian membayar kekurangannya. Jika ternyata lebih, maka lebihnya menjadi sedekah suka rela.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 27 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (12) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (12)

    Bagaimana Seorang Pedagang Menaksir Aset Dagangnya?

    Setiap pedagang harus menaksir kekayaan niaganya dengan harga pasaran yang berlaku ketika itu baik lebih rendah dari harga pembelian atau pun lebih tinggi karena harga saat itulah yang dijadikan standar. Yang dimaksud dengan harga pasaran ialah harga penjualan pada saat kewajiban zakat itu tiba.

    Di sini tidak diterapkan prinsip akuntansi lama yang memperhitungkan biaya atau harga pasaran yang lebih murah karena hal itu hanya berlaku dalam usaha bersama di mana para partner yang berserikat berhak memilih apakah akan menghitung seluruh keuntungan untuk dibagikan atau akan menyisihkan sebagiannya dengan cara memilih biaya atau harga pasar yang lebih rendah. Sedangkan zakat bukan hak si pembayar zakat namun hak mustahik di antara delapan golongan masyarakat yang telah ditentukan. Dari situ, maka harus diyakinkan bahwa kewajiban itu dibayarkan dengan memperhitungkan harga pasaran yang telah mencakup biaya produksi dan keuntungan yang dikandungnya.

    Apabila harga pasaran lebih rendah dari biaya produksi, maka untuk mencegah kerugian si pembayar zakat, harta perniagaan itu ditaksir dengan harga grosir meskipun nanti akan dijual secara grosir atau eceran sebagaimana yang diputuskan oleh Lembaga Fikih di Mekah.

    Mengeluarkan Zakat Dalam Bentuk Barang Atau Harganya

    Pada dasarnya zakat komoditas dagang, dibayar dalam bentuk uang berdasarkan harga yang berlaku pada waktu kewajiban zakat itu tiba, bukan berupa barang. Pendapat ini berdasarkan riwayat dari Umar bin Khatthab r.a. yang berkata kepada Hammas, “Bayarlah zakat hartamu!” Hammas menjawab, “Saya hanya memiliki beberapa buah kantong kulit.” Umar menyuruh, “Taksir harganya lalu bayar zakatnya.” Pendapat ini lebih berguna bagi kaum fakir supaya mereka dapat memenuhi hajat hidupnya yang bermacam-macam.

    Walau demikian, boleh mengeluarkan zakat dalam bentuk barang untuk mempermudah dan meringankan si pembayar zakat ketika kondisi perdagangan sedang lesu atau arus likuidasi lemah, dengan syarat barang tersebut harus dapat dimanfaatkan oleh kaum miskin.

    Piutang Pedagang Di Tangan Orang Lain

    Piutang seperti ini dibagi ke dalam dua bagian .

    1. Piutang yang diharapkan dapat dilunasi:

    Yaitu piutang yang berada pada seorang yang mengaku berutang dan mampu melunasinya atau mengingkari utang tersebut namun terdapat bukti dan dalil jika seandainya perkara itu dihadapkan ke pengadilan niscaya si pedagang akan berhasil memenangkannya. Piutang ini dikenal dengan istilah piutang baik. Piutang seperti ini harus dibayar zakatnya setiap tahun oleh pedagang atau pun perusahaan.

    1. Piutang yang tidak diharapkan dapat dilunasi:

    Yaitu piutang yang ada di tangan orang yang mengingkari utangnya dan tidak terdapat bukti apa pun. Atau piutang yang terdapat pada seseorang yang mengakui dirinya berutang tetapi senantiasa menunda pembayaran atau dalam keadaan kesulitan keuangan sehingga tidak mampu melunasinya. Piutang ini dikenal dengan istilah piutang yang diragukan dapat dilunasi. Piutang yang seperti ini tidak wajib dizakati oleh pedagang atau pun perusahaan kecuali setelah benar-benar diterima, ketika itu, wajib dizakati untuk satu tahun, walaupun sudah berada di tangan si pengutang beberapa tahun lamanya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 26 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (11) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (11)

    Definisi Komoditas Dagang

    Yang dimaksud dengan komoditas dagang ialah seluruh barang yang dibeli dengan tujuan untuk diperdagangkan, baik dengan cara mengimpor dari luar negeri atau dibeli dari pasar setempat. Komoditas itu bisa berupa real estate, bahan makanan, bahan pertanian, hewan ternak dan lain sebagainya, baik dilakukan oleh perseorangan atau beberapa orang dalam sebuah usaha bersama.

    Perbedaan Antara Barang Milik Pribadi Dan Komoditas Dagang

    Yang dimaksud dengan barang milik pribadi ialah semua barang yang dibeli untuk digunakan secara pribadi, bukan untuk diperdagangkan yang dalam ilmu akuntansi dinamakan aset tetap, yaitu yang dibeli oleh seorang pedagang atau pengusaha dengan niat untuk ditahan sebagai alat produksi, seperti mesin, bangunan, mobil, peralatan, areal tanah, perabotan, gudang, rak pajang, meja dan perlengkapan kantor dan lain-lain yang tidak untuk diperjualbelikan. Seluruh benda-benda itu merupakan aset yang tidak wajib dizakati dan tidak termasuk harta zakat.

    Sedangkan komoditas dagang adalah barang-barang yang sengaja dipersiapkan untuk diperjualbelikan yang di dalam istilah akuntansi dinamakan dengan aset berkembang. Yaitu segala sesuatu yang dibeli oleh seorang pedagang atau pengusaha dengan niat untuk diperdagangkan. Seperti barang dagangan, alat-alat, mobil, tanah dan lain-lain. Semua komoditas itu harus dizakati bila telah memenuhi syarat wajibnya.

    Syarat Wajib Zakat Komoditas Dagang

    Syarat wajib zakat komoditas dagang sama dengan syarat wajib zakat kekayaan uang ditambah dua syarat lain yaitu usaha dan niat.

    1. Usaha, yaitu memiliki komoditas dagang dengan cara transaksi pertukaran.

    Baik melalui transaksi pembelian kontan atau barter, atau dengan utang biasa dan berjangka. Seperti seorang wanita yang memperoleh suatu komoditas sebagai mahar kawin atau pengganti khuluk.

    Tetapi bila komoditas itu diperoleh dengan cara warisan, hibah, menarik kembali barang yang cacat atau memanfaatkan tanah yang dimiliki untuk pertanian, maka berarti ia tidak menzakatinya sebagai komoditas dagang namun sebagai barang-barang ekploitasi karena diperoleh tidak dengan proses pertukaran.

    1. Niat, yaitu dengan merencanakan akan memperdagangkan komoditas yang telah diperoleh.

    Berdagang ialah menjual komoditas yang telah dibeli dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Agar niat dapat dianggap sah harus dikukuhkan ketika pertama kali membeli suatu komoditas. Seandainya seseorang membeli sebuah mobil dengan niat untuk pemakaian pribadi tetapi akan dijual juga bila mendatangkan keuntungan, maka mobil itu tidak termasuk komoditas dagang yang wajib dizakati. Berbeda dengan seandainya ia membeli beberapa unit mobil dengan niat diperdagangkan dan untuk mencari laba lalu salah satu dipakai sendiri, maka mobil tersebut tetap sebagai komoditas dagang yang wajib dizakati, karena yang dijadikan tolak ukur adalah niat pertama ketika membeli.

    Dengan demikian segala barang yang dibeli dengan niat untuk dimanfaatkan sendiri, tidak bisa dianggap sebagai komoditas dagang hanya karena ingin menjual jika mendatangkan laba. Segala barang yang diniatkan untuk diniagakan tidak akan berubah menjadi barang milik pribadi hanya karena digunakan untuk pemakaian sendiri sewaktu-waktu.

    Namun bila seorang telah membeli suatu barang dengan niat untuk diperdagangkan kemudian sebelum dijual ia merubah niat dan memanfaatkannya buat kepentingan pribadi, maka niat itu telah cukup untuk merubah status barang di atas dari komoditas dagang menjadi barang milik pribadi sehingga tidak wajib dizakati. Begitu juga sebaliknya, jika ia membeli sebuah barang untuk dipakai sendiri kemudian berubah niat untuk diniagakan, maka barang itu wajib dizakati.

    Termasuk komoditas dagang yang wajib dizakati adalah laba yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan berikut :

    1. Praktek jual beli dengan tujuan mencari keuntungan yang mencakup proyek-proyek perdagangan baik berupa usaha individual atau pun mudarabah, atau perusahaan pribadi atau pun perseroan dan lain sebagainya.
    2. Praktek mediasi antara pedagang, seperti para broker dan makelar yang mendapatkan komisi.
    3. Praktek tukar-menukar mata uang dan berbagai macam bentuk investasi.

    Cara Membayar Zakat Komoditas Dagang

    Apabila waktu pembayaran zakat telah tiba, maka wajib bagi seorang pedagang muslim atau pemilik suatu perusahaan menginventarisir aset usahanya yang berupa komoditas dagang lalu menggabungkannya dengan kekayaan uang lain, baik yang dikembangkan dalam perniagaan maupun tidak, ditambah dengan piutang-piutang yang kemungkinan besar dapat dilunasi lalu dikurangi utang-utang yang harus dilunasi kepada pihak lain kemudian sisanya dizakati sebesar 2,5% (lihat kembali: haul sebagai syarat wajib zakat).

    Dalam masalah ini Imam Abu Ubaid telah meriwayatkan pendapat Maimun bin Mahran sebagai berikut: “(Bila telah tiba waktu pembayaran zakat, maka hitunglah kekayaan uang dan barang perniagaan yang kamu miliki kemudian taksir seluruhnya dalam bentuk uang setelah ditambah dengan piutang yang ada dan dikurangi dengan utang yang harus dilunasi kemudian zakatilah sisanya).”

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 25 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (10) 

    Management Dan Audit Zakat (10)

    Pengauditan Zakat Berbagai Jenis Pendapatan (Kalkulasi Untung Rugi)

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Daftar pendapatan adalah salah satu daftar keuangan yang dibuat oleh akuntan di akhir setiap priode atau secara umum pada akhir tahun anggaran. Daftar ini disebut dengan kalkulasi untung rugi. Daftar ini mencakup semua pemasukan dan pengeluaran yang terjadi pada priode tahun anggaran. Dengan daftar ini dapat diproyeksikan jumlah keuntungan atau kerugian yang akan dialami perusahaan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Semua pemasukan harus ditaksir harganya dengan benar sesuai dengan aturan kegiatan yang dibenarkan hukum Islam. Di antara hal yang perlu diperhatikan adalah halal haramnya pemasukan tersebut. Bila pemasukan mencakup harta yang haram atau kotor, maka wajib disisihkan terlebih dahulu. Demikian juga dengan perbelanjaan harus ditaksir dengan baik dan benar sesuai dengan aturan yang dibolehkan dalam hukum Islam. Di antara hal-hal yang perlu diperhatikan adalah perbelanjaan yang tidak mubazir, tidak mewah dan tidak berlebih-lebihan. Zakat tidak terpengaruh secara langsung dengan point-point daftar pendapatan tetapi barang-barang zakat akan terpengaruh akibat tagihan-tagihan yang harus dipotong dari pendapatan. Hal ini akan lebih jelas pada penjelasan berikut.

    1. Pengauditan zakat pendapatan.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Pemasukan adalah gelombang dana yang masuk kepada perusahaan dalam tahun anggaran tertentu yang berpengaruh besar terhadap barang-barang modal. Di antara point-point pemasukan adalah; hasil penjualan, hasil penyewaan barang tak bergerak, penghasilan investasi dan komisi. Semua ini diatur menurut kaidah hak milik dalam konsep akuntansi konvensional.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Pemasukan dalam barang-barang zakat termasuk penambahan agen dan debitor atau penambahan jumlah uang di bank atau di kas. Dana ini tidak digabungkan dengan barang-barang zakat, sehingga tidak kena zakat dua kali.

    1. Pengauditan zakat perbelanjaan (umum).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan perbelanjaan adalah semua jenis biaya yang dibayarkan untuk memperlancar jalannya kegiatan perusahaan, seperti gaji, sewa, transportasi, pengangkutan dll. Perbelanjaan dapat dibagi kepada:

    • Perbelanjaan langsung, seperti biaya-biaya produksi
    • Perbelanjaan tidak langsung, seperti biaya pemasaran dan biaya administratif.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Perbelanjaan ini tergolong biaya jasa, tidak ada hubungan sama sekali dengan benda barang produksi, oleh sebab itu tidak termasuk dalam barang-barang zakat. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam kalkulasi zakat atas kegiatan yang sedang dalam penyelesaian atau barang yang masih dalam proses produksi. Di segi lain, sewaktu membayar biaya-biaya ini terkadang mengalami pemotongan dari barang-barang zakat, oleh sebab itu tidak dapat dipotong lagi dari barang zakat, sehingga tidak terjadi dua kali pemotongan yang mengakibatkan penurunan volume zakat yang dibayar.

    1. Pengauditan zakat keuntungan yang telah diterima.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Hasil yang diperoleh dari deposito, tabungan investasi dan sebagainya dianggap pemasukan yang dapat dilihat dalam daftar pemasukan atau dalam kalkulasi untung rugi. Dalam sistem akuntansi konvensional tidak dibedakan antara pemasukan yang halal dan pemasukan yang haram, oleh sebab itu semuanya digabungkan dalam satu paket.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Islam menganggap bahwa penghasilan yang diperoleh dari deposito dan rekening investasi adalah riba yang diharamkan oleh Alquran dan hadis. Penghasilan seperti ini dianggap hasil usaha kotor yang harus disingkirkan dan harus segera didermakan kepada kegiatan kebajikan, kecuali untuk pencetakan Alquran dan pembangunan mesjid. Harta ini tidak boleh dimasukkan ke dalam hak milik si wajib zakat. Paling boleh dibayarkan sejumlah zakatnya saja, malah sebagian besar ulama berpendapat tidak boleh dizakati sama sekali, karena Allah bersih, tidak menerima yang kotor-kotor. Bila harta seperti ini masuk ke dalam barang-barang zakat, harus segera disingkirkan dengan mendermakannya kepada kegiatan-kegiatan kebajikan sosial, sedangkan yang tersisa dibayarkan zakatnya.

    Fatwa Komite Fikih Islam, Organisasi Konperensi Islam, Jeddah

    1. Zakat Utang (Keputusan No. 1 Tahun 2)

    Setelah memperhatikan dan mendiskusikan masalah zakat utang dari berbagai seginya, Komite menyatakan sbb :

    • Tidak ada teks dalam Alquran atau hadis Nabi saw. yang menjelaskan masalah zakat utang.
    • Banyak dijumpai info klasik dari para sahabat dan tabiin r.a. yang menjelaskan tentang cara pembayaran zakat utang
    • Persepsi tentang zakat utang terdapat perbedaan di kalangan mazhab-mazhab keislaman.
    • Perbedaan tersebut barang kali didasari oleh perbedaan persepsi tentang kaidah penyebutan istilah “pendapatan” terhadap sejumlah uang yang mungkin diperoleh sebagai pembayaran utang.

    Bila debitor berkecukupan dan selalu membayar utang tepat waktu, maka zakat utang wajib dibayar oleh pemberi piutang setiap tahun.

    Bila debitor tergolong orang susah atau suka menunda-nunda pembayaran utang, maka zakat utang wajib dibayar oleh pemberi piutang setelah memenuhi kurun waktu satu tahun (haul) dari saat penerimaan bayaran,.

    1. Zakat Barang Tidak Bergerak Dan Tanah (non-pertanian) Sewaan (keputusan No.2 Tahun 2)

    Setelah membaca kajian yang dibuat tentang (zakat barang tidak bergerak dan tanah non-pertanian sewaan), dan setelah mendiskisukan permasalah secara detil, Komite memutuskan sbb:

    • Tidak diperoleh teks yang jelas yang mewajibkan pembayaran zakat atas barang tidak bergerak dan tanah sewaan.
    • Demikian juga tidak diperoleh teks yang jelas yang mewajibkan pembayaran segera zakat hasil barang tidak bergerak dan sewa tanah non-pertanian. Oleh sebab itu, Komite memutuskan :

    Zakat tidak diwajibkan atas modal barang tidak bergerak dan tanah sewaan

    Zakat hanya diwajibkan atas penghasilannya sebesar 2,5 % setelah cukup haul terhitung dari saat penerimaannya dengan mempertimbangkan syarat-syarat dan penghalang lainnya.

    3. Zakat Aset Perusahaan (Keputusan No. 3 Tahun 3)

    Setelah memperhatikan kajadian tentang zakat modal perusahaan, Komite memutuskan sbb :

    • Saham perusahaan wajib dizakati oleh pemilik saham. Perusahaan dapat bertindak sebagai wakil pemilik saham untuk menyalurkan zakatnya atas nama mereka.
    • Dewan manejerial dapat menyalurkan zakat saham perusahaan bagaikan subjek hukum konkrit membayar zakatnya, dengan artian bahwa semua saham yang terdapat dalam perusahaan tertentu dianggap bagaikan sebuah harta milik seorang. Dengan demikian wajib dibayar zakatnya sesuai dengan jenis harta, nisab, volume zakatnya dan ketentuan lain dalam zakat harta pribadi. Hal ini diputuskan atas kaidah “harta campuran” yang menurut sebagian ulama boleh digeneralisasikan terhadap semua jenis harta. Saham yang tidak dikenakan zakat, harus dipotong, termasuk saham tabungan umum, wakaf, badan kebajikan dan saham non-muslim.
    • Bila perusahaan tidak membayar zakat sahamnya, maka para pemegang saham wajib membayar zakat sahamnya masing-masing. Bila pemilik saham memperoleh keterangan tentang pembayaran zakat sahamnya pada perusahaan tersebut, maka berarti kewajiban zakatnya telah selesai, sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Bila pemegang saham tidak mendapatkan keterangan tersebut, maka dilihat niat pemegang saham tersebut, kalau niatnya sewaktu mendepositkan saham hanya untuk memperoleh penghasilan tahunan dari deposit tersebut, maka dia membayar zakatnya atas dasar zakat eksploitasi, yaitu sebesar 2,5 % dari keuntungan (di luar modal) dengan mempertimbangkan haul terhitung dari saat penerimaan keuntungan tersebut dan syarat serta penghalang lainnya. Hal ini sesuai dengan keputusan Komite Fikih Islam pada sidang tahun kedua tentang zakat barang tidak bergerak dan tanah non-pertanian sewaan.

     

    Bila pemilik saham mendepositkan modalnya dengan maksud dagang, maka ia wajib membayar zakatnya atas dasar modal perdagangan, ia wajib membayar sebesar 2,5 % dari modal dan keuntungan setelah cukup haul yang nilainya dihitung atas dasar harga pasaran sedang berjalan atau penentuan seorang ahli.

    • Bila seorang pemilik saham menjual sahamnya di tengah-tengah haul, dia diharuskan menggabungkan harga saham tersebut dengan harta kekayaannya yang lain, seterusnya membayar zakatnya sekalian, bila haulnya sempurna. Pembeli diharuskan membayar zakat saham yang baru di beli tersebut sesuai ketentuan di atas.
    1. Penyaluran Zakat

    Penginvestasian zakat dalam proyek-proyek yang menguntungkan

    Setelah membaca dan mendengarkan pendapat peserta dan tenaga ahli tentang kajian yang dibuat seputar penginvestasian zakat dalam proyek-proyek yang menguntungkan bukan atas nama pribadi mustahik, Komite memutuskan sbb:

    Secara prinsip dobolehkan menginvestasikan zakat dalam proyek-proyek investasi yang menguntungkan bukan atas nama mustahak zakat atau atas nama pihak resmi yang bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat dengan catatan : proyek ini dilakukan setelah memenuhi semua kebutuhan pokok para mustahak dan terdapat jaminan yang cukup bonafid untuk menghindari terjadinya kemungkinan kerugian.

    1. Mustahik Zakat

    Penyaluran zakat kepada Dana Solidaritas Islam.

    Setelah membaca nota penjelasan tentang Dana Solidaritas Islam dan aktifitasnya yang disampaikan pada Seminar Dewan Zakat III serta kajian yang dibuat seputar penyaluran zakat kepada Dana Solidaritas Islam, Komite menghimbau :

    Dalam upaya membantu Dana Solidaritas Islam merealisir targetnya (sesuai dengan AD) dan memperhatikan keputusan Pertemuan Puncak Islam II yang menyebutkan pendirian Dana ini dengan pembiayaannya dari sumbangan negara-negara anggota, mengingat bahwa sebagian anggota tidak mengirimkan sumbangannya secara rutin, maka Komite menghimbau seluruh negara-negara anggota dan yayasan-yayasan keislaman lainnya untuk memberikan bantuan dana kepada yayasan di atas guna dapat merealisir target mulianya dalam melayani kepentingan ummat Islam.

    Memutuskan :

    Pertama. Tidak diperkenankan menyalurkan uang zakat untuk membantu aktifitas Dana Solidaritas Islam, karena hal tersebut akan menghambat mustahak zakat lainnya yang tertera dalam Alquran mendapatkan hak mereka.

    Kedua. Dana Solidaritas Islam seharusnya meminta keagenan baik dari pribadi-pribadi, instansi-instansi untuk menyalurkan zakat harta mereka kepada mustahak yang legal dengan syarat-syarat sbb :

    • Masing-masing wakil dan pemberi wakil memenuhi kriteria resmi.
    • Dana Solidaritas memasukkan masalah ini ke dalam AD & ART dan tujuan organisasinya serta mengadakan revisi seperlunya agar dapat melakukan kegiatan seperti dimaksud.
    • Dana Solidaritas membuat kotak khusus penampungan zakat sehingga tidak bercampur dengan dana lain yang dapat dipergunakan di luar mustahak zakat seperti kepentingan umum dll.
    • Dana Solidaritas tidak diperkenankan menggunakan dana zakat untuk keperluan administrasi, gaji pegawai dan pengeluaran lainnya yang tidak termasuk dalam mustahak zakat yang delapan.
    • Dalam menyalurkan zakat, Dana Solidaritas harus memperhatikan syarat-syarat yang ditentukan untuk mustahak zakat yang delapan.
    • Dana Solidaritas harus konsekwen menyalurkan zakat tersebut secepat mungkin, paling lama satu tahun, agar mustahak dapat mempergunakannya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 24 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (9) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (9)

    Pengauditan Zakat Hak Milik

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan hak milik adalah hak milik bersih pemegang saham (pemilik perusahaan) yaitu perbedaan antara total nilai barang-barang modal dikurangi dengan total tagihan-tagihan dan potongan-potongan. Ini dapat digambarkan dalam persamaan berikut:

    Hak milik = barang-barang modal – (tagihan dan potongan).

    Hak milik dapat mencakup point-point berikut:

    1. Modal
    2. Biaya-biaya persediaan (cadangan)
    3. Keuntungan yang belum dibagi-bagikan

    Definisinya menurut hukum Islam:

    Hak milik disebut juga dengan tanggungan keuangan bersih. Materi ini telah dibicarakan oleh pakar fikih secara panjang lebar dalam buku-buku fikih, bab modal.

    Point-point hak milik di atas akan dijelaskan berikut, baik dari segi definisi, cara kalkulasinya menurut sistem akuntansi konvensional berikut cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam dari kaca mata pengauditan zakat.

    1. Pengauditan zakat saham (modal)

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang diinvestasikan oleh pemegang saham dalam suatu perusahaan modal yang terdiri dari banyak saham. Setiap saham dianggap sebagai satu kuota dari modal perusahaan secara keseluruhan. Saham tersebut adalah berbentuk nilai nominal yang harus dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Modal yang harus dibayar adalah merupakan hak milik pemegang saham yang terlihat dalam bentuk nilai nominal yang harus dibayar masing-masing. Modal ini adalah merupakan sumber pendanaan perusahaan untuk jangka panjang yang secara hukum tidak dianggap sebagai utang atas perusahaan, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Pengauditan zakat biaya-biaya cadangan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang disisihkan dari penghasilan bersih yang dapat didistribusikan untuk menunjang kondisi perusahaan atau untuk pendanaan kegiatannya di masa mendatang ataupun untuk mengimplementasikan peraturan pemerintah.

    Di antara contoh cadangan tersebut adalah sbb:

    • Cadangan untuk suatu peraturan yang bersifat mengikat
    • Cadangan untuk peraturan yang bersifat opsional
    • Cadangan untuk penggantian barang-barang modal
    • Cadangan untuk modal dasar.

    Dalam pelaksanaan biaya-biaya cadangan ini harus diperhatikan aturan-aturan pelaksanaan dan kaidah-kaidah akuntansi yang berlaku umum. Biaya-biaya ini akan nampak dalam daftar keuangan pusat pada point hak milik.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Biaya-biaya cadangan ini dianggap sebagai hak milik para pemegang saham, karena bersumber dari keuntungan yang sudah merupakan hak mereka, sesuai dengan jumlah aset yang tertulis dalam daftar. Biaya-biya cadangan ini tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena termasuk keuntungan yang disisihkan untuk para pemegang saham, pemilik perusahaan atau untuk perusahaan itu sendiri, oleh sebab itu tidak termasuk dalam ikatan-ikatan yang harus dibayar.

    1. Pengauditan zakat modal tambahan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dibayar oleh para pemegang saham sebagai penambahan saham baru. Jumlah ini dapat terlihat dari perbedaan antara nilai saham nominal dengan nilai saham sewaktu pencatatan. Dana ini diperlakukan sebagai dana cadangan modal dan kadang-kadang dianggap sebagai hak milik.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini dianggap sebagai dana cadangan, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Pengauditan zakat keuntungan yang belum didistribusikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dihasilkan oleh perusahaan pada tahun-tahun yang lalu, karena satu dan lain hal belum didistribusikan kepada pemegang saham. Pengauditannya dilakukan setelah dewan umum menyetujui pelaksanaan kegiatan pembagian keuntungan yang dibuat sepengetahuan ketua dewan direksi perusahaan modal tersebut.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana yang belum didistribusikan dianggap sebagai hak milik para pemegang saham yang tidak bisa dipotong dari barang-barang zakat, karena dari segi pemilikan tidak berbeda dari dana cadangan.

    1. Pengauditan zakat kerugian yang belum didistribusikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah kerugian yang terjadi dalam priode anggaran tahun berjalan atau tahun-tahun sebelumnya, karena satu dan lain hal belum didistribusikan kepada para pemegang saham.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    • Kerugian yang belum didistribusikan dianggap pengurangan terhadap hak milik.
    • Kerugian ini tidak mempengaruhi barang-barang zakat dalam point-point daftar pendapatan (kalkulasi untung rugi).
     
  • erva kurniawan 1:03 am on 23 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (8) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (8)

    Pengauditan Zakat Dari Alokasi

    Alokasi biaya tak terduga adalah sejumlah dana yang disisihkan dari pendapatan di akhir tahun anggaran. Dana tersebut diperuntukkan buat menutupi penyusutan barang-barang modal atau untuk pembayaran tagihan dari perusahaan lain yang belum dapat ditentukan sebelumnya.

    Ada beberapa macam alokasi untuk biaya tak terduga, di antaranya:

    1. Alokasi biaya penyusutan atau kerusakan barang-barang modal.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah biaya yang disisihkan dari pendapatan setiap tahun anggaran untuk menutupi penyusutan barang-barang modal guna kelangsungan pemakaiannya, kelangsungan pekerjaan, meraih keuntungan dan untuk membantu penggantian atau perbaikannya.

    Cara menaksir nilainya dilakukan dengan berbagai teknis akuntansi yang sesuai dengan keadaan dan kondisi barang itu.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Dalam hukum Islam, alokasi ini tidak termasuk kebutuhan yang perlu dipotong dari barang-barang zakat, karena barang-barang modal tersebut tidak termasuk barang yang dizakati.

    1. Alokasi biaya sarana usaha yang sedang beroperasi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah biaya yang disisihkan dari pendapatan untuk menutupi perbedaan antara harga registrasi dan harga sekarang. Hal ini dilakukan sebagai aplikasi dari kaidah kehati-hatian.

    Penaksiran harga dilakukan atas dasar biaya terendah antara pemakaian standar biaya atau standar harga pasar. Di antara contoh alokasi seperti ini adalah :

    • Alokasi biaya untuk menutupi penurunan harga mata uang.
    • Alokasi biaya untuk menutupi penurunan harga barang tak bergerak yang dibuat sebagai modal dagang.
    • Alokasi biaya untuk menutupi utang-utang yang diragukan kebenarannya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Mengingat bahwa cara menentukan nilai barang-barang modal yang sedang beroperasi (aktif) untuk tujuan zakat dilakukan atas dasar harga pasaran, maka potongan semacam ini tidak termasuk kebutuhan yang harus dipotong dari barang-barang zakat.

    Namun bila harga barang-barang yang sedang beroperasi tersebut ditaksir (karena satu dan lain hal) atas dasar harga registrasi dan ternyata lebih besar dari harga pasaran, maka alokasi semacam ini dapat dikeluarkan (dipotong) dari barang-barang zakat.

    1. Alokasi biaya untuk menutupi ikatan dengan pihak lain yang belum ditentukan sebelumnya.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah keterikatan perusahaan dengan pihak lain yang belum ditentukan secara pasti sebelumnya. Contohnya; alokasi biaya mengakhiri masa kerja pegawai (pensiun dan PHK), alokasi biaya liburan, alokasi pembayaran pajak, alokasi pembayaran denda-denda dll.

    Nilai alokasi biaya ini ditaksir oleh tenaga ahli sesuai dengan volume kewajiban keuangan, kontrak, aturan-aturan dan ketentuan yang dilakukan dengan pihak lain. Nilai alokasi ini dianggap sebagai beban yang harus dipikul perusahaan dan selalu muncul dalam kalkulasi untung rugi.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Kewajiban-kewajiban keuangan seperti ini harus diperhitungkan nilainya dengan teliti dan detil tanpa berlebih-lebihan, sehingga tidak beralih menjadi anggaran persediaan (cadangan) rahasia. Nilai ini dianggap sebagai utang yang telah jatuh tempo yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila ternyata terdapat penaksiran yang berlebihan, maka perbedaan perhitungan tersebut harus ditarik kembali. Bila dalam kalkulasi tersebut terdapat bunga (denda keterlambatan) atas pembayaran tagihan yang sudah diperhitungkan sebelumnya, maka bunga tersebut tidak termasuk utang yang wajib dibayar, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari penghasilan barang-barang zakat tetapi yang dapat dipotong hanyalah tagihan-tagihan yang telah jatuh tempo (mesti dibayar).

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 22 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (7) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (7)

    Pengauditan Zakat Hasil Tagihan

    Yang dimaksud dengan tagihan adalah kewajiban materi yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain, tagihan-tagihan seperti ini sering juga disebut dengan istilah potongan-potongan. Di antara jenis-jenis tagihan adalah, kredit jangka pendek, kredit jangka panjang, utang-utang, surat tanda pembayaran, rekening bank, penarikan, pembayaran yang telah jatuh tempo, pemasukan yang telah diterima terlebih dahulu, pajak-pajak tahun berjalan, deposit yang telah dibayarkan oleh pihak lain dll.

    Berikut ini akan disajikan definisi dan penaksiran nilai unit-unit di atas menurut sistem akuntansi konvensional berikut cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam apakah dipotong dari barang-barang zakat atau tidak.

    1. Tagihan jangka panjang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua kewajiban-kewajiban materi yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain yang tidak dituntut pengembaliannya kecuali setelah berlalu satu tahun atau lebih dari tahun anggaran yang sedang berjalan, seperti kredit jangka panjang, rekening dan surat pembayaran jangka panjang. Cara menaksir nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak termasuk penghasilannya bila belum dibayarkan secara tersendiri. Tagihan-tagihan seperti ini dapat dilihat dalam daftar hak milik atau daftar tagihan-tagihan yang sedang beroperasi (aktif).

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Secara umum nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak. Ketentuan hukum tentang tagihan ini berbeda-beda sesuai dengan sistem pengoperasiannya:

    • Bila cicilan tahun berjalan dari tagihan jangka panjang tersebut dipergunakan untuk pendanaan barang-barang yang sedang beroperasi, maka semuanya dipotong dari barang-barang zakat, kalau perusahaan tersebut tidak memiliki kekayaan lain yang melebihi dari kebutuhan pokok yang dapat menutupi semua tagihan tahun berjalan tersebut.
    • Bila cicilan jangka panjang tersebut dipergunakan untuk pendanaan barang-barang modal tetap, maka cicilan tahun berjalan dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila jatuh temponya terjadi setelah berakhirnya tahun anggaran, maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    Secara umum dapat dikatakan bahwa semua tagihan-tagihan tahun berjalan dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Tagihan-tagihan bergerak.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo yang harus dilunasi dalam waktu singkat, kurang dari satu tahun, seperti utang dan surat tanda pembayaran dll. Berikut ini akan disampaikan keterangan detil:

    • Utang-utang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo yang harus dilunasi dalam waktu singkat, kurang dari satu tahun. Tagihan ini timbul akibat pembelian barang dan keperluan produksi lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam kontrak di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai utang-utang ditaksir berdasarkan nilai yang tercatat dalam kontrak. Utang-utang ini dianggap merupakan tagihan tahun berjalan yang boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    • Surat-surat tanda pembayaran (giral pembayaran).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Surat-surat pembayaran dibuat sesuai dengan obligasi atau rekening yang ada. Surat pembayaran ini merupakan hak suplier barang atau jasa dari sebuah perusahaan. Surat pembayaran ini biasanya harus dapat dicairkan dalam tempo yang singkat, kurang dari satu tahun. Cara penaksiran nilainya adalah berdasarkan aset yang tercatat di dalam daftar di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai surat pembayaran ditaksir atas dasar nilai yang tercatat di dalam daftar. Surat pembayaran ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila tagihan tersebut mempunyai keuntungan karena penundaan, maka tidak dapat dipotongkan, karena keuntungan tersebut tidak diakui dalam hukum.

    1. Kredit bank.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dipinjam oleh perusahaan dari bank yang harus dikembalikan dalam tempo yang singkat, tidak melebihi dari satu tahun. Cara penaksiran nilai kredit bank ini dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam daftar pada akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Tagihan tahun berjalan ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak dan dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila kredit tersebut mempunyai keuntungan, maka tidak boleh dipotongkan dari barang-barang zakat, karena keuntungan tersebut tidak diakui dalam agama.

    1. Pembayaran di muka

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua pengeluaran yang dikeluarkan pada tahun berjalan sedangkan penagihannya baru dapat dilakukan pada tahun anggaran mendatang. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam kontrak di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Pembayaran di muka ditaksir nilainya atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak dan dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena dianggap tagihan tahun berjalan.

    1. Penghasilan yang telah diterima terlebih dahulu (penerimaan di muka).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang telah diterima secara praktis pada tahun anggaran berjalan pada hal dana tersebut berhubungan dengan transaksi tahun mendatang. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, karena dana tersebut dianggap sebagai kewajiban perusahaan terhadap pihak lain sebagai imbalan dari kontrak transaksi barang produksi atau jasa yang akan dipersembahkan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, tanpa ditambah atau dikurangi. Adapun ketentuan hukumnya, terdapat perbedaan sesuai dengan tempo yang diberlakukan:

    • Bila penghasilan yang telah diterima tersebut adalah imbalan dari harga barang yang belum diserahkan (barang tersebut tidak termasuk dalam barang-barang zakat), maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat, akan tetapi bila barang tersebut sudah termasuk dalam daftar barang-barang yang dizakati, maka boleh dipotong dari barang-barang zakat.
    • Bila penghasilan yang telah diterima tersebut termasuk cicilan pertama dari jasa yang belum dilakukan, maka cicilan tersebut dianggap utang kepada orang lain, oleh sebab itu dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena cicilan tersebut tidak terdapat pemiliknya yang pasti dimana ada kemungkinan kontrak tersebut dibatalkan kemudian hari.
    1. Hak-hak orang lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua hak-hak yang wajib dibayarkan kepada pihak lain, seperti tagihan pajak, asuransi sosial dll. Hak-hak seperti ini dianggap sebagai kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilainya yang tercatat dalam kontrak yang dalam banyak hal dapat bertambah dengan keuntungan atau berkurang akibat denda keterlambatan pembayaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, tanpa penambahan dan pengurangan. Hak-hak orang lain seperti ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Keuntungan yang telah direncanakan pendistribusiannya.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah usul pendistribusian materi yang telah diumumkan oleh Dewan Direksi sebuah perusahaan, akan tetapi usul tersebut belum mendapat persetujuan dari sidang umum pemegang saham, sehingga kegiatan pendistribusian belum dapat dilakukan secara praktis. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar jumlah yang disebutkan dalam usul Dewan Direksi yang dapat dilihat dalam anggaran keuangan pada point keuntungan yang telah diusulkan pendistribusiannya.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir sesuai dengan nilai yang tercatat dalam kontrak yang dapat dilihat dalam kalkulasi pembagian keuntungan. Dana ini tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena belum mendapat persetujuan dari sidang umum pemegang saham, sehingga belum dapat dianggap hak dari para pemegang saham.

    1. Keuntungan transaksi spekulasi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional Yang dimaksud dengan istilah ini adalah keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan dari transaksi spekulasi sampai akhir tahun anggaran. Keuntungan ini dibagi antara pemilik modal dan pelaksana sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Zakat usaha spekulasi wajib dibayar oleh pemilik harta, sedangkan bagian pelaksana (pekerja) dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Deposit.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah kewajiban yang wajib dibayar kepada pihak lain sebagai jaminan atau perjanjian untuk melaksanakan sebuah kegiatan tertentu. Penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercantum dalam daftar. Dana ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila tagihan tersebut tidak diharuskan pembayarannya pada tahun berjalan, maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat tahun berjalan, akan tetapi akan dipotong pada saat jatuh tempo.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 21 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (6) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (6)

    Pengauditan Zakat Atas Barang Bergerak

    Yaitu aset yang dimiliki untuk dikelola dalam bentuk usaha jual beli sehingga menghasilkan keuntungan dan tidak digunakan untuk menghasilkan income (disewa) sebagaimana halnya dengan aset tetap.

    Di antara jenis aset bergerak ialah stok barang yang masih digudangkan (barang yang telah di akhir masa temponya, piutang, kwitansi penerimaan, asuransi pada pihak lain, perjanjian dengan pihak lain, cicilan kontrak yang telah dibayarkan terlebih dahulu, pendapatan yang telah pasti, deposito dan saldo rekening berjalan yang ada di   bank serta kekayaan uang yang telah ada).

    Selanjutnya akan diterangkan definisi dan cara penghitungannya menurut sistem akuntansi konvensional serta hukum syariatnya dari sudut pandang zakat harta.

    1. Barang-barang yang telah selesai diproduksi (barang jadi).

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah barang-barang yang diperuntukkan buat jual beli yang dimiliki perusahaan di akhir tahun anggaran. Istilah populer untuk pengertian di atas adalah barang-barang jadi.

    Barang-barang jadi dapat berbentuk materi dan non-materi.

    Dalam sistem kalkulasinya diperlakukan sama yaitu dengan menentukan harga yang paling rendah antára harga pasaran dan harga modal dengan membuat alokasi dana untuk penurunan harga, kedaluarsaan atau kekurang lancaran. Bila harga pasaran ternyata lebih rendah, dibuat juga alokasi dana untuk menanggulangi penurunan harga.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Untuk barang-barang yang dibeli untuk dijual kembali, cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga pasar, bila dijual eceran, maka ditentukan menurut harga eceran, bila dijual grosiran, ditentukan menurut harga grosiran.

    Harga tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya sesuai dengan fatwa Simposium Masalaè Zakat Kontemporer I tahun 1409 H/ 1994 M. Untuk barang-barang yang diproduk langsung oleh perusahaan untuk dijual, maka penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan bakunya bçrikut dengan harga bahan tambahcn lain yang materinya kelihatan, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    Mengenai alokasi dana yang disåbutkan di atas, tidak dapat diterima dalam pengalkulasian zakat yang berdasar atas harga pasaran, namun bila dilakukan pengalkulasian atas dasar harga modal sedangkan harga pasaran ternyata lebih rendah, maka alokasi dana untuk penurunan harga dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    Barang-barang non materi mempunyai ketentuan hukum dan diperlakukan sama dengan barang-barang materi.

    1. Barang-barang yang sedang dalam proses produksi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang masih dalam proses pembuatan dan belum siap. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar biaya produksi yang terdiri dari:

    harga bahan baku, biaya-biaya lain seperti upah dan gaji pegawai, pengeluaran produksi baik secara langsung ataupun tidak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan baku dan bahan-bahan tambahan lainnya (yang nampak dalam produksi saja) kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Bahan baku utama.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Bahan baku utama adalah semua bahan baku utama yang masuk ke dalam produksi. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga bahan yang terdiri dari harga pembelian bahan ditambah dengan semua pengeluaran dari pengangkutan sampai penggudangan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Bahan baku utama dapat dibagi dua bagian:

    • Bahan baku asli dan utama. Bahan ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.
    • Bahan baku yang larut. Seperti bahan pencuci, pengepakan dll. Bahan ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat, karena tidak termasuk barang-barang perdagangan.
    1. Suku cadang modal tetap.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam bidang ini semua suku cadang alat-alat dan perlengkapan yang dipergunakan dalam kegiatan produksi, bukan untuk tujuan dagang. Unit-unit ini kadang-kadang dapat terlihat dalam kelompok barang-barang tetap, kadang-kadang dalam kelompok barang-barang khusus. Cara penaksiran harganya dilakukan atas dasar harga produksi setelah dikeluarkan dana alokasi untuk suku cadang yang kedaluarsa.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Unit ini dianggap termasuk dalam kelompok barang-barang modal tetap, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat.

    1. Suku cadang yang diperuntukkan untuk dagang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua jenis suku cadang yang masih dalam stok dengan tujuan untuk diperjual belikan, oleh sebab itu unit ini diperlakukan sebagai barang-komoditi dagang.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Barang-barang yang masih dalam perjalanan.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah dibeli, dibayar harganya dan sedang dalam proses pengangkutan tetapi belum sampai di gudang pembeli sampai akhir tahun anggaran. Penaksiran nilai barang-barang seperti ini adalah berdasarkan harga beli ditambah dengan biaya-biaya lain.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan harga pasaran di saat dan tempat pembelian, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya. Bila barang-barang dibeli atas dasar dokumen kredit, maka harga yang tertera dalam dokumen kredit tersebut sebelum dibayar tunai adalah merupakan nilai barang yang kelak akan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Barang-barang yang dialihkan kepada pihak lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah diserahkan oleh pemilik kepada diler (agen) untuk dijual. Penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga modal.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran di tempat barang, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya yang dimiliki si wajib zakat.

    1. Piutang (tagihan atas pihak lain).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua tagihan atas pihak lain, sebagi imbalan dari harga barang, transaksi, jasa atau tagihan lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga bersih yang dapat ditagih. Jumlah ini termasuk ke dalam kelompok alokasi piutang yang pengembaliannya diragukan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Piutang dapat dibagi tiga macam:

    • Piutang yang kemungkinan besar dapat ditagih. Piutang seperti ini digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat yang nilainya ditaksir atas nilai nominal.
    • Piutang yang tidak diharap dapat ditagih. Piutang seperti ini tidak digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat. Zakatnya baru dibayar ketika menerimanya dan hanya untuk tahun berjalan saja, walaupun piutang tersebut telah berlalu beberapa tahun.
    • Piutang yang dianggap gugur. Piutang seperti ini tidak diharap dapat ditagih lagi, oleh sebab itu tidak wajib dibayar zakatnya.

    Mengenai alokasi piutang yang penagihannya diragukan, boleh dipotong dari barang-barang zakat, bila telah digabungkan sebelumnya, bila piutang tersebut belum digabungkan ke dalam barang-barang zakat, maka tidak perlu dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Obligasi penerimaan (surat tanda terima).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah surat-surat berharga yang berlaku dalam kegiatan dagang akan tetapi waktu pencairannya belum sampai, seperti surat-surat obligasi, rekening dll. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran sekarang.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Surat-surat seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan nilai nominal dari surat-surat berharga tersebut, tanpa menambahkan bunga. Bila surat-surat berharga tersebut berasal dari harga barang yang telah dijual dengan pembayaran kemudian, maka selisih harga antara harga tunai dengan harga kemudian dimasukkan ke dalam harga dan diperlakukan sebagai piutang berjangka lama dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Deposit yang berada di tangan pihak lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk ke dalam unit ini semua uang yang ditahan oleh pihak lain sebagai deposit (jaminan) atas kelangsungan transaksi, janji-janji atau komitmen perusahaan untuk melakukan sesuatu kegiatan yang tertera dalam suatu kontrak. Cara penaksiran nilainya adalah berdasarkan nilai nominal yang tercatat dalam kontrak/ kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Deposit yang merupakan jaminan suatu transaksi seperti ini dianggap sebagai hak milik bersyarat, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat kecuali ketika penerimaannya dan hanya dibayar untuk tahun berjalan saja walaupun deposit tersebut telah berlangsung beberapa tahun. Dengan demikian, maka deposit hanya dianggap sebagai barang zakat untuk tahun penerimaannya saja.

    1. Cicilan yang dibayar terlebih dahulu.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua dana yang dibayarkan terlebih dahulu kepada langganan, seperti pemborong, industri dan semacamnya untuk dapat melancarkan kegiatan kerjanya yang sedang dalam proses. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai nominal yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana semacam ini dianggap telah keluar dari tangan pemilik pertama dan telah menjadi milik bersyarat sesuai dengan kontrak yang telah ditanda tangani ke dua belah pihak. Oleh sebab itu dana ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat lagi.

    1. Biaya yang dibayarkan terlebih dahulu.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan terlebih dahulu pada tahun anggaran berjalan untuk pengeluaran tahun anggaran berikut, seperti sewa gedung dan asuransi untuk tahun berikut yang dibayar terlebih dahulu. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana seperti ini tidak dikenakan zakat lagi, karena telah keluar dari tangan pemilik pertama dan menjadi dana bersyarat yang dapat dimanfaatkan kemudian hari.

    1. Penghasilan yang sudah jatuh tempo.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua penghasilan/ pemasukan yang mempunyai tempo pada tahun anggaran berjalan akan tetapi belum ditagih sampai akhir tahun, seperti penghasilan investasi dan sewa yang telah jatuh tempo. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini dianggap sebagai piutang, oleh sebab itu ketentuan hukumnya sama dengan ketentuan hukum tentang piutang. Bila piutang tersebut tergolong piutang yang diharap dapat ditagih, maka digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya, bila termasuk dalam piutang yang tidak diharap dapat ditagih, maka tidak dikenakan kewajiban zakat sampai diterima secara praktis.

    1. Dokumen kredit untuk pembayaran barang dagang (LC).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini, semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Dokumen kredit untuk pembelian barang-barang konsumsi atau sumber pencaharian.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut. Dana ini tidak dikenakan zakat.

    1. Dana surat jaminan (LG).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan kepada pihak bank untuk menutupi surat jaminan yang disampaikan kepada pihak lain, di mana pihak bank memberikan jaminannya bahwa pemilik dana akan melaksanakan transaksi atau kontrak yang telah ditanda tangani. Bila ternyata pihak pemilik dana tidak menepati kontrak atau transaksinya, maka dana yang dibayarkan tersebut akan dicairkan untuk pihak pelanggan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai surat jaminan ditaksir atas dasar nilai yang memang benar-benar telah dibayarkan kepada pihak counterpart. Dana ini tidak dikenakan zakat, karena merupakan milik bersyarat yang belum terlaksana. Bila nilai surat jaminan tersebut ditarik kembali, maka dana tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya dan dibayarkan zakatnya untuk tahun berjalan saja.

    1. Deposito bank.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang didepositkan di bank, baik dalam bentuk rekening berjalan, rekening investasi atau jenis lain. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam daftar setelah dicocokkan dengan daftar rekening yang dikeluarkan oleh pihak bank.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini digabungkan dengan nilai barang-barang zakat, tanpa memasukkan keuntungan yang bersifat riba, karena keuntungan riba tersebut harus didermakan kepada pihak kebajikan dan kegiatan sosial di luar pembangunan mesjid dan pencetakan Alquran. Adapun penghasilan yang tidak bersifat riba (halal), harus digabungkan dengan modal pokok dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Uang kas.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang disimpan di kas perusahaan, baik dalam bentuk emas, perak, obligasi, surat berharga ataupun dalam bentuk mata uang kertas. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai uangnya di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Penaksirannya dilakukan atas dasar nilainya di saat tercapainya haul, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Pembayaran terlebih dahulu biaya kegiatan yang akan menghasilkan kemudian.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana-dana yang telah dibayarkan oleh sebuah perusahaan terlebih dahulu dan kelak akan menghasilkan pemasukan beberapa tahun kemudian, seperti biaya iklan, biaya pendirian perusahaan, biaya-biaya sebelum beroperasi yang biasanya berkisar antara 3 s/d 5 tahun. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar modal setelah dipotong alokasi konsumsi.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana seperti ini tidak dikenakan zakat, karena berkaitan dengan penggunaan dan pengoperasian, begitu juga konsumsi yang telah dialokasikan tidak dipotong dari barang-barang zakat.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 20 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (5) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (5)

    Pengauditan Zakat Dari Proyek Yang Sedang Dalam Taraf Pelaksanaan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua proyek pembangunan yang masih dan sedang dilaksanakan dan belum selesai, seperti proyek pembangunan gedung, proyek reparasi dan lain-lain. Barang-barang tersebut bila telah selesai bisa dimasukkan dalam aset tetap atau pun aset beredar sesuai dengan tujuan proyek tersebut. Proyek itu ditaksir berdasarkan biaya pembangunannya sejak tanggal penetapan anggaran termasuk harga tanah, desain arsitekturnya, izin bangunan, bahan material dan gaji buruh. Aset itu tidak bisa dipakai kecuali setelah selesai dan mulai dipergunakan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Bila proyek itu dibuat untuk dipergunakan dalam operasi, maka tidak wajib dizakati. Namun bila diniatkan untuk dijadikan komoditas dagang, maka penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran tanah dan bahan bakunya saja kemudian digabungkan dengan barang-barang lain yang harus dizakatkan.

    Pengauditan Zakat Dari Investasi Jangka Panjang

    Yang dimaksud dengan istilah ini ialah segala kekayaan yang diinvestasikan ke dalam berbagai macam aset. Hal ini dilakukan oleh suatu perusahaan jika ia memiliki surplus anggaran untuk membiayai kegiatan pokoknya. Tujuan investasi ini adalah untuk menghasilkan income ataupun dengan tujuan niaga.

    Investasi jangka panjang dapat berupa:

    • Investasi surat-surat obligasi.
    • Investasi real estate.

    Penaksiran akuntansi dan hukum syariatnya berbeda sesuai dengan jenisnya.

    Investasi saham

    Definisi dan cara penghitungan akuntansi konvensional:

    Saham adalah bagian dari modal suatu perusahaan di mana seorang pemegang saham itu termasuk pemilik aset perusahaan. Sebuah saham memiliki beberapa macam nilai/harga:

    Harga nominal:

    Yaitu harga yang ditentukan pertama kali ketika dikeluarkan.

    Harga pasaran:

    Yaitu harga yang ditentukan berdasarkan kondisi permintaan dan persediaan di bursa obligasi yang ditaksir atas dasar harga yang terkecil apakah produksi ataukah pasar dengan menyediakan dana penurunan harga saham jika harga pasarannya lebih rendah daripada harga belinya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Saham-saham itu ditaksir dengan harga pasarannya ketika akan dizakatkan. Jika perusahaan yang mengeluarkan saham itu bergerak dalam bidang yang halal maka sahamnya boleh dimiliki namun jika bidangnya itu haram maka diharamkan pula pemilikan sahamnya.

    Cara pembayaran zakatnya:

    Jika perusahaan yang mengeluarkan saham itu telah membayarkan zakatnya, maka tidak ada lagi kewajiban zakat atas pemilik saham. Tetapi jika belum maka si pemilik harus menzakatkannya sesuai dengan tujuan apa ia memiliki saham tersebut.

    1. Investasi saham untuk tujuan menghasilkan income.

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvensionalnya:

    Yaitu investasi berupa saham yang dimiliki dengan tujuan untuk mengembangkan kekayaan dan memberikan kemasukan yang dinamakan juga dengan istilah investasi jangka panjang. Investasi itu bisa masuk dalam kelompok aset tetap dan aset beredar yang ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga beli (harga tercatat) atau pun harga pasarannya dan harus disediakan dana penurunan harga saham bila harga pasarannya lebih rendah daripada harga tercatatnya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    • Bila pemilik saham dapat mengetahui nilai setiap saham dari aset zakat perusahaan yang mengeluarkannya, maka ia harus mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.
    • Jika tidak diketahui, maka ia harus menggabungkan income yang dihasilkan dari saham itu dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan kemudian membayarkan zakatnya sebesar 2,5%.

    Catatan:

    Penghitungan dalam pembayaran zakat didasarkan atas harga pasarannya sehingga dana yang dialokasikan untuk penurunan harga obligasi itu tidak diambil dari aset-aset yang harus dizakatkan.

    1. Investasi berupa saham untuk tujuan niaga.

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvesional:

    Yaitu investasi berupa saham yang dibeli untuk tujuan diperdagangkan atau dijual kembali agar menghasilkan keuntungan. Saham yang seperti ini ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga tercatat atau pun harga pasarannya dengan menyediakan dana apabila harga pasarannya itu lebih rendah daripada harga tercatatnya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    • Investasi saham yang diperdagangkan ini ditaksir dengan harga pasaran ketika telah tiba haulnya dan digabungkan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan.
    1. Investasi dalam bentuk saham anak perusahaan (untuk menghasilkan income)

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvensionalnya:

    Yang dimaksud dengan anak perusahaan ialah perusahaan yang secara langsung atau pun tidak langsung dimiliki oleh perusahaan induknya lebih dari 50% sahamnya yang mempunyai hak suara. Saham ini ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga beli atau pun harga pasarannya dengan menyediakan dana jika harga pasarannya lebih rendah daripada harga tercatatnya (produksinya).

    Penghitungan zakat dan hukum syariatnya:

    Zakat anak perusahaan itu dihitung secara terpisah kemudian ditentukan berapa besarkah jatah perusahaan induknya berdasarkan besar saham yang dimiliki. Incomenya digabungkan dengan aset lain milik perusahaan induk yang harus dizakatkan bila anak perusahaannya belum membayarkan zakatnya secara langsung.

    1. Investasi berupa saham perusahaan asosiasi.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Perusahaan assosiasi ialah yang tidak merupakan anak perusahaan. Investasi berupa saham perusahaan seperti ini dianggap termasuk investasi jangka panjang. Investasi ini dihitung berdasarkan harga terendah di antara harga beli dan pasarannya dengan menyediakan dana bila harga pasaran lebih rendah daripada harga tercatatnya (produksi).

    Penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Pada investasi seperti ini diterapkan hukum yang sama dengan investasi saham dengan tujuan menghasilkan income di mana dana penurunan harganya tidak diambil dari aset yang harus dizakatkan.
    1. Investasi dalam saham perusahaan yang dibeli.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensionalnya:

    Terkadang suatu perusahaan itu diberikan wewenang untuk membeli sahamnya dari bursa obligasi dalam batas tertentu berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum. Tujuannya adalah untuk diperdagangkan bukan untuk menghasilkan income di mana saham tersebut akan dijual kembali ketika perusahaan itu membutuhkan dana likuidasi. Saham itu dihitung dengan harga pembeliannya.

    Penghitungan dan hukum syariatnya:

    Dihitung berdasarkan harga pasaran yang berlaku ketika haulnya tiba lalu disatukan dengan aset lain yang harus dizakatkan.

    1. Investasi berupa efek.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensionalnya:

    Efek merupakan alat keuangan yang dikeluarkan bagi pemegangnya yang menjadi hubungan utang-piutang dan mengandung suku bunga yang harus dibayarkan pada waktu tertentu. Pihak debitor (yang mengeluarkan efek) berkewajiban membayar suku bunga itu di samping jumlah asli uang yang dipinjam (harga efek) pada saat jatuh temponya. Efek itu dihitung dengan harga beli ditambah diskon ataupun dikurangi pertambahan harga. Bila efek itu beredar di pasaran maka dihitung berdasarkan harga yang terendah dengan menyediakan dana penurunan harganya bila harga pasaran lebih rendah daripada harga belinya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Efek itu dihitung dengan harga nominalnya. Haram bertransaksi dengan efek karena mengandung suku bunga riba yang diharamkan oleh syariat Islam namun si pemilik harus membayarkan zakat dari harga belinya dan digabungkan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan. Sedangkan suku bunga yang dihasilkan dari efek itu harus didermakan untuk kepentingan sosial selain pembangunan mesjid dan mencetak Alquran untuk menghindari penghasilan haram.
    1. Investasi dalam obligasi kas negara.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Sebagian pemerintah suatu negara meminjam modal dari pasar domestiknya dengan cara mengeluarkan surat obligasi berbunga yang dikenal dengan istilah obligasi kas negara. Obligasi tidak berbeda dengan obligasi yang lain yang dihitung berdasarkan harga belinya yang disesuaikan pemotongan harga sejak tanggal pembelian.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Obligasi kas negara ini dinilai dengan harga nominal ketika pertama kali dikeluarkan. Diharamkan melakukan transaksi dengan obligasi kas negara ini karena mengandung suku bunga riba dan diterapkan padanya hukum-hukum syariat yang berlaku terhadap surat obligasi lain secara umum.
    1. Investasi dalam real estate dengan tujuan menghasilkan pemasukan (income).

    Definisi dan cara penghitungan akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah di atas ialah kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk berbagai macam real estate seperti areal tanah dan gedung/bangunan yang dimiliki untuk tujuan menghasilkan pemasukan.

    Kekayaan investasi itu dinilai berdasarkan kaedah dasar akuntansi yaitu harga yang terendah di antara harga beli atau harga pasarannya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Investasi di atas tidak dikenakan kewajiban zakat pada bendanya tetapi pada income bersihnya yang disatukan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan lalu dibayarkan zakat seluruhnya sebesar 2,5%.
    1. Investasi dalam real estate dengan tujuan niaga.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Yaitu harta kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk areal tanah dan bangunan/gedung atau berbagai macam real estate lainnya yang dimiliki untuk tujuan niaga.

    Investasi di atas dinilai berdasarkan harga terendah di antara harga beli atau pun harga pasarannya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Dinilai berdasarkan harga pasarannya lalu disatukan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 19 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (4) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (4)

    Klasifikasi Harta Dalam Fikih Islam Dan Hubungannya Dengan Pengauditan Zakat

    Harta kekayaan dalam fikih Islam dapat diklasifikasikan kepada:

    1. Uang, alat penukar dalam suatu transaksi yang sekaligus merupakan harga suatu barang. Uang dapat dibagi dua bagian, masing-masing:
    • Mata uang mutlak, seperti emas dan perak.
    • Mata uang terbatas, seperti uang kertas (kartal dan giral) dan uang logam.

    2. Barang, yaitu harta yang dapat dimanfaatkan sesuai fungsinya. Barang ini dapat dibagi dua bagian, sbb:

    • Barang yang dipakai, yaitu barang-barang yang dimiliki untuk tujuan pemanfaatannya dalam berbagai jenis kegiatan, seperti alat-alat bangunan, binatang ternak. Barang-barang seperti ini mirip dengan barang-barang eksploitasi (barang-barang yang tidak bergerak).
    • Modal perdagangan, yaitu barang yang diperuntukkan buat diperjual belikan, yaitu barang-barang yang dapat ditransaksikan yang dibeli atau diproduksi untuk tujuan dagang. Modal perdagangan ini disebut juga dengan istilah modal aktif (modal yang sedang beroperasi).

    3. Binatang ternak, yaitu unta, sapi, kambing dan semacamnya. Binatang ternak dapat dibagi tiga bagian, masing-masing:

    • Binatang perahan atau bibit.
    • Binatang pekerja, yaitu binatang yang dimiliki untuk dieksploitasi.
    • Binatang ternak dagangan.

    4. Tanam-tanaman dan buah-buahan, yaitu hasil pertanian. Kekayaan ini dapat dibagi dua, masing-masing:

    • Pertanian yang diairi dengan alat irigasi bermodal
    • Pertanian yang diairi dengan air hujan, tanpa modal.

    Penjelasan lebih lanjut sekitar kewajiban zakat hasil pertanian akan disampaikan kemudian.

    Pengauditan Zakat Dari Aset Tidak Bergerak

    Yang dimaksud dengan modal tetap adalah semua barang modal yang dipakai untuk jangka panjang, seperti areal tanah, gedung, furniture, mobil dan sebagainya yang dimiliki tanpa niat memperjual belikannya. Barang modal ini dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu:

    • Aset tetap yang diperuntukkan buat pemakaian dan pengoperasian.
    • Modal tetap yang dipergunakan untuk menarik keuntungan.

    Berikut ini disampaikan definisi dan cara menaksir nilainya dalam sistem akuntansi konvensional, kemudian sistem penaksiran nilai dan ketentuan hukum Islam tentang kewajiban zakat dari kekayaan di atas:

    1. Aset tetap material yang diperuntukkan buat pemakaian dan operasi

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Aset tetap adalah semua barang yang dimiliki untuk tujuan pemakaian tidak untuk diperjualbelikan dan mencari keuntungan secara langsung. Contoh, real estate, alat-alat pertukangan, mobil, furniture, perlengkapan dsb. Cara menaksir nilainya adalah atas dasar harga beli dikurangi penurunan nilai (depresiasi) karena pemakaian yang terus-menerus.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini tidak dikenakan kewajiban zakat karena tidak termasuk harta yang harus dizakatkan. Demikian juga dana yang dialokasikan untuk biaya pemakaiannya tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Aset tetap material yang menghasilkan keuntungan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah benda kekayaan yang dimiliki dengan niat untuk menghasilkan keuntungan, seperti real estate, mobil yang disewakan. Cara menaksir nilainya adalah atas dasar harga pembelian dikurangi penurunan harga karena pemakaian yang terus-menerus.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Benda-benda seperti di atas tidak terkena kewajiban zakat. Yang dikenakan zakat adalah hasil bersih penyewaannya yang harus digabungkan dengan kekayaan si pembayar zakat yang lainnya. Volume zakatnya adalah 2,5% sesuai dengan pendapat yang lebih kuat yang diputuskan oleh Lembaga Fikih Islam Jeddah.

    1. Aset tetap abstrak untuk dipakai dan dioperasikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua hak milik abstrak yang dapat dimanfaatkan dan membantu dalam operasi di berbagai bidang usaha, seperti hak cipta, hak cetak, hak merek dagang dan sebagainya.

    Cara menaksir nilainya adalah dengan menaksir harga (biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh hak tersebut) ditambah dengan biaya-biaya keperluan lainnya, dikurangi dengan alokasi dana pemakaian.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Modal seperti ini tidak dikenakan kewajiban zakat karena berkaitan dengan aset tetap lainnya yang ditujukan untuk membantu jalannya operasi usaha. Bila niat memilikinya untuk diperdagangkan, maka cara kalkulasinya adalah dengan menaksir harga pasarnya kemudian dizakati seperti barang-barang perdagangan.

    1. Aset tetap abstrak yang menghasilkan income.

    Yaitu hak-hak abstrak yang dimiliki untuk menghasilkan suatu income, seperti hak mengarang dan hak cipta yang disewakan dalam masa tertentu dengan imbalan tertentu pula.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Hak-hak tersebut tidak dikenakan kewajiban zakat namun hasil bersih kemasukannya digabungkan dengan harta zakat lainnya dan dizakatkan sebesar 2,5%.

    Penjelasan tentang aset tetap:

    1. Dana yang dialokasikan untuk biaya pemakaian aset tetap adalah merupakan penurunan harga yang terjadi akibat pemakaian dan berkurangnya masa validitas barang tersebut. Pengurangan nilai tahunan itu dihitung berdasarkan berbagai macam sistem akuntansi.

    Hukumnya: Anggaran dana ini tidak termasuk dana yang boleh dipotong/diambil dari harta-harta zakat lainnya karena asetnya tidak termasuk barang yang wajib dizakatkan.

    1. Suku bunga pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai/membeli aset tetap: Sebagian para ahli akuntan berpendapat bahwa suku bunga itu disatukan dengan harga beli aset tersebut.

    Adapun hukum syariatnya: Suku bunga tersebut dianggap termasuk riba yang jika telah dibayarkan maka berarti telah keluar dari harta yang harus dizakati. Tetapi jika belum dibayar maka tidak boleh dipotong dari harta yang harus dizakatkan karena suku bunga tersebut tidak termasuk utang yang harus dilunasi dalam pandangan syariat meskipun telah disepakati dan mempunyai kekuatan hukum.

    1. Dana yang dialokasikan untuk perawatan dan pemeliharaan barang-barang aset tetap yang dipakai sewaktu-waktu.

    Hukum syariatnya adalah tidak boleh dipotong/diambil dari harta yang harus dizakatkan karena memang kenyataannya belum dikeluarkan.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 18 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (3) 

    Management Dan Audit Zakat (3)

    Kaidah Pengauditan Dan Penyaluran Zakat

    Ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penentuan, penaksiran dan pembuatan laporan zakat. Prinsip-prinsip tersebut digali dari sumber-sumber hukum Islam dan dari ilmu akuntansi sehingga antara kedua sumber di atas tidak ada kontradiksi.

    Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah :

    1. Prinsip haul

    Fikih Islam menganggap satu tahun kamariah (hijriah) adalah tenggang waktu yang sudah cukup untuk pengembangan suatu harta. Oleh sebab itu para mukallaf wajib mengalkulasikan harta kekayaan yang dimilikinya dengan harga pasaran, bila telah cukup satu tahun kamariah.

    Dalam kitab Syarhus Shagir dapat dibaca sebagai berikut:

    (Taksirlah harta kekayaanmu per jenis setiap tahun atas dasar harga di kala itu (harga pasaran) dengan harga yang adil dan pembelian yang baik).

    Prinsip ini tidak diaplikasikan untuk zakat hasil pertanian, buah-buahan, hasil tambang dan barang galian. Dalam kaitan ini Imam Syafii mengatakan “haul adalah salah satu syarat wajib zakat, bila haul tidak cukup walaupun sebentar, harta tidak kena kewajiban zakat.

    Haul ini merupakan syarat wajib zakat untuk harta kekayaan selain biji-bijian, barang tambang dan barang galian”. Ulama-ulama mazhab Maliki mengatakan, “Haul merupakan salah satu syarat wajib zakat kecuali kekayaan tambang, barang galian dan tanam-tanaman.”

    1. Prinsip independensi tahun anggaran

    Sesuai dengan prinsip haul diatas, pengauditan zakat harus berdasar pada prinsip independensi tahun anggaran. Hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Rusyd sbb: “Harta yang dibelanjakan sebelum cukup haul (sebentar atau lama), kemudian mengalami kerusakan, maka harta itu tidak kena kewajiban zakat, yang kena kewajiban adalah harta yang masih tertinggal jika masih memenuhi nisab dan telah cukup haul. Adapun harta yang kena kewajiban zakat yang dibelanjakan setelah haul (sebentar atau lama), masih tetap kena kewajiban zakat berikut dengan harta kekayaan yang masih tinggal.”

    1. Prinsip berkembang, baik real atau pun estimasi

    Pengauditan zakat berdasar pada prinsip harta yang dapat berkembang baik secara real atau estimasi, baik barang tersebut dicairkan di pertengahan haul atau tidak, baik perkembangan tersebut berlaku kontinu atau terputus-putus.

    Dr. Syauki Ismail Sahata menjelaskan hal ini sebagai berikut: “Laba dalam akuntansi Islam adalah perkembangan harta yang berlaku dalam haul, baik harta tersebut dicairkan menjadi uang atau masih tetap sebagai mana adanya, karena tidak terjadi transaksi jual beli. Dalam kedua kondisinya dapat dilihat adanya keuntungan, sedangkan transaksi jual beli fungsinya tidak lebih hanya sekedar pengalihan bentuk harta dari bentuk aslinya kepada bentuk lain yang dapat menampakkan realita keuntungan.

    Oleh sebab itu bila sudah saatnya acara kalkulasi, tidak perlu ditunggu sampai nilai itu terjadi dalam bentuk realita, karena yang menjadi pertimbangan dalam penaksiran nilai adalah terjadinya keuntungan bukan munculnya suatu keuntungan yang ditandai dengan transaksi jual beli, karena jual beli tidak berfungsi membuat keuntungan, tetapi hanya memunculkan keuntungan.”

    1. Prinsip kemampuan biaya

    Pengauditan zakat harus memperhatikan kemampuan biaya dari seorang wajib zakat, prinsip ini lebih dikenal dalam fikih Islam dengan istilah nisab zakat.

    Dalam Alquran prinsip ini banyak disebut, antara lain firman Allah yang artinya: “Kamu akan ditanya tentang harta yang akan dibelanjakan, katakanlah harta yang melebihi kebutuhan.” (Q.S. Al-Baqarah:219) Hasan Basyri menafsirkan ayat di atas dengan, “Jangan bayarkan hartamu, kemudian kamu duduk meminta-minta.”

    Prinsip ini lebih jelas lagi dari penjelasan Rasulullah saw kepada seorang yang datang menanya, “Mulailah dari dirimu, bayarkan sedekah kepada dirimu, jika masih ada sisa belanja keluargamu, bersedekahlah kepada keluarga dekatmu, bila masih lebih, bersedekahlah kepada .. dst.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

    Prinsip ini diterapkan dalam fikih Islam adalah dengan target untuk tidak memaksa umat Islam di satu pihak dan menganjurkan mereka untuk selalu meningkatkan produksi di pihak lain. Ukuran kemampuan biaya dalam kalkulasi zakat mempunyai nilai unifikasi yaitu 20 Dinar atau 200 Dirham untuk kekayaan uang.

    1. Prinsip zakat dipungut dari penghasilan bersih (neto) dan jumlah kotor (bruto) sesuai dengan bentuk dan jenis harta kekayaan yang ada

    Sebagai implementasi dari prinsip kemampuan biaya, zakat harus berdasar pada prinsip pemotongan utang-utang yang telah jatuh tempo dan biaya-biaya lainnya dari total penghasilan atau kekayaan, sebagai upaya untuk meringankan beban ummat Islam.

    Dalil hukum dari prinsip ini cukup banyak, di antaranya adalah nukilan Abu Ubaid dari ulama lain “bila hartamu telah cukup haul, lihatlah harta-harta kekayaanmu, baik uang atau barang-barang yang dapat dijual, seterusnya taksirlah harganya dengan uang. Bila kamu mempunyai piutang dari orang yang dapat diharapkan pembayarannya, hitunglah bersama dengan kekayaan itu. Bila kamu mempunyai utang, potonglah dari hartamu, seterusnya bayarlah zakat sisa kekayaanmu itu”.

    Data ini menunjukkan bahwa utang-utang dipotong dari barang-barang zakat sebelum diadakan kalkulasi. Hal ini persis dengan nukilan dari seorang ulama klasik yang mengatakan, “Bayarlah utang-utang dan pajak-pajakmu, jika sisanya masih mencukupi 5 watsaq, bayarlah zakatnya.” (Yahya bin Adam Al-Qurasyi, Kitab Al-Kharaj, hal. 59)

    Di pihak lain Rasulullah saw. selalu memesankan kepada pegawai yang ditugaskan mengadakan penaksiran harta kekayaan pertanian dan buah-buahan untuk menentukan dan menaksir barang-barang yang wajib zakat, beliau mengatakan, “Bila kamu mengadakan penaksiran, ambillah dan sisakan sepertiga atau seperempat.” (H.R. Ahmad)

    Dari penjelasan di atas jelas bahwa kalkulasi zakat mempertimbangkan betul-betul utang-utang dan biaya-biaya yang diperlukan untuk memperoleh suatu penghasilan berikut dengan kondisi personil dan kekeluargaan si wajib zakat.

    1. Prinsip penggabungan harta kekayaan

    Ketika mengadakan pengumpulan dan penentuan harta-harta yang wajib zakat, harus diperhatikan semua harta kekayaan yang dimiliki oleh si wajib zakat, baik yang terdapat di dalam negeri atau di luar negeri. Dalam hal ini semua harta kekayaan harus digabungkan menjadi satu, kemudian dipotong dengan utang-utang dan biaya-biaya lain, seterusnya dibayar zakat dari barang-barang yang tersisa bila masih mencukupi nisab.

    Ibnu Qayim menjelaskan prinsip ini sbb: “Barang perdagangan yang telah mencukupi haul yang terdapat di dalam negeri (tempat barang), walaupun sudah dikirimkan ke negara lain, nilainya harus ditaksir bersama-sama dengan barang barang lain ketika menaksir zakatnya walaupun jenis barang itu berbeda-beda.”

    1. Prinsip penaksiran harga dilakukan berdasarkan harga pasaran

    Akuntansi Islam dalam menaksir barang-barang zakat di akhir tahun selalu berdasar pada prinsip penaksiran nilai barang dengan harga pasaran.

    Dalam sebuah nukilan dari Jabir bin Zaid, beliau mengatakan, “Taksirlah barang itu sesuai dengan harganya di saat zakat sudah wajib (akhir haul) kemudian bayarlah zakatnya.” Data ini mengandung suatu arti bahwa penaksiran harga suatu barang untuk tujuan pembayaran zakat harus dilakukan berdasarkan harga di akhir haul.

    Prinsip ini didukung oleh mayoritas pakar fikih. Dalam sebuah nukilan dari Maimun bin Mahran dia mengatakan: (Bila hartamu telah cukup haul, lihatlah harta-bendamu yang lain, baik uang ataupun barang yang dapat diperjual belikan, kemudian taksirlah harganya dengan uang, bila kamu mempunyai piutang atas orang yang mampu, hitunglah bersama-sama, bila kamu mempunyai utang potonglah dari harta tersebut seterusnya bayarlah zakat sisanya).

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 17 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (2) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (2)

    Penentuan Volume Yang Diterima Mustahik

    Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat ulama fikih sebagai berikut:

    1. Untuk masing-masing golongan mustahik zakat dialokasikan sebesar seperdelapan (1/8 atau 12,5%) dari total harta zakat yang terkumpul. Jika dana yang telah dialokasikan bagi suatu golongan itu tidak mencukupi, maka dapat diambil dari sisa dana yang dialokasikan untuk golongan mustahik lain. Bila tidak ada juga maka diambil dari sumber lain kas negara atau dengan cara mewajibkan pajak baru untuk menutupi kekurangan itu atas mereka yang kaya sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
    2. Bagi setiap golongan mustahik zakat dialokasikan dana sesuai dengan kebutuhannya tanpa terikat dengan seperdelapannya. Bila harta zakat yang terkumpul itu tidak mencukupi maka diambil dari sumber lain kas negara atau dengan cara mewajibkan pungutan baru atas harta orang-orang yang kaya untuk menutupi kekurang itu dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syariat Islam.

    Proses Pengauditan Zakat

    Prosedur pengauditan zakat dapat disimpulkan dalam point-point berikut:

    1. Menentukan tanggal haul, yaitu tanggal mulainya dihitung zakat. Tanggal ini berbeda-beda sesuai dengan kondisi si wajib zakat, kecuali dalam hal zakat hasil pertanian, buah-buahan, barang tambang dan barang galian serta kekayaan laut yang harus dibayar zakatnya di saat panen atau mendapatkan hasil.
    2. Menentukan dan menaksir harta kekayaan si wajib zakat serta penjelasan tentang kekayaan yang kena kewajiban zakat (barang-barang zakat).
    3. Menentukan dan menaksir jumlah tagihan tahun berjalan atau tagihan yang telah jatuh tempo yang akan menjadi potongan dari barang-barang zakat.
    4. Menyisihkan tagihan tahun berjalan dan tagihan yang telah jatuh tempo untuk menentukan barang-barang zakat.
    5. Menentukan nisab zakat sesuai dengan jenis barang-barang zakat yang ada.
    6. Membandingkan antara total barang-barang yang wajib zakat dengan nisab zakat (antara point no. 4 dengan point no. 5) untuk mengetahui apakah barang-barang zakat tersebut kena kewajiban zakat atau tidak. Bila barang-barang zakat tersebut telah mencapai nisab, zakatnya ditarik.
    7. Menentukan volume (rate) zakat yang akan dibayar dari barang-barang zakat. Volume ini ada kalanya :

    2,5% untuk zakat uang, perdagangan, eksploitasi, hasil usaha, harta perolehan demikian juga zakat hasil tambang menurut mayoritas ulama.

    5% untuk zakat hasil pertanian dan buah-buahan yang diairi dengan irigasi dan alat-alat yang menelan biaya.

    10% untuk zakat hasil pertanian dan buah-buahan yang diairi dengan air hujan yang tidak menelan biaya.

    20% untuk zakat barang galian.

    8. Mengalkulasikan jumlah zakat yang harus dibayar dengan mengalikan volume zakat.

    9. Membebankan kewajiban zakat sbb:

    • Perorangan atau perusahaan pribadi, memikul semua jumlah zakat secara pribadi.
    • Perusahaan partnership, jumlah zakat dibagi kepada semua partner sesuai dengan persentase kuota masing-masing dalam modal perusahaan. Dengan demikian akan dapat diketahui kewajiban masing-masing partner.
    • Perusahaan sero (saham), jumlah zakat dibagi-bagi sesuai dengan jumlah sero, untuk menentukan jumlah zakat yang merupakan beban masing-masing sero, kemudian dikalkulasikan dengan jumlah sero yang dimiliki masing-masing pemegang saham, untuk mengetahui jumlah zakat yang merupakan kewajiban masing-masing pesero.

    10. Menyalurkan zakat kepada mustahak yang ada sesuai dengan aturan yang ditentukan dalam fikih zakat.

    11. Membuat laporan tentang jumlah zakat dan cara penyalurannya yang dibuat dalam bentuk list dan laporan keuangan dengan berbagai bentuknya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 16 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (1) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (1)

    Pengertian Pengauditan Zakat

    Pengauditan (kalkulasi) zakat banyak berkaitan dengan penentuan dan penaksiran volume zakat, ketentuan penyalurannya kepada para mustahak serta penjelasan masing-masing point di atas sesuai dengan aturan yang berlaku dalam fikih zakat.

    Tugas pengauditan zakat terdiri dari:

    1. Mengumpulkan, menentukan dan menaksir nilai barang-barang zakat.
    2. Mengumpulkan, menentukan dan menaksir nilai potongan-potongan dari zakat.
    3. Menghitung volume zakat dan jumlah yang wajib dibayar.
    4. Memberikan penjelasan tentang penyaluran zakat kepada para mustahik.
    5. Membuat catatan tentang sumber dan mustahik zakat secara priodik.

    Penentuan Mustahik Zakat

    Allah swt. telah menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat sebagai berikut:

    1. Fakir
    2. Miskin
    3. Amil zakat
    4. Mualaf
    5. Budak
    6. Orang yang berutang
    7. Orang yang berjuang fisabilillah
    8. Ibnu sabil

    Kaidah Pengauditan Zakat

    Pemerintah atau pihak yang mendapat wewenang dari Pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat dapat mempergunakan kaidah-kaidah berikut:

    Kaidah pokok penyaluran zakat harta.

    Allah swt telah menentukan mustahik zakat lewat firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 60 yang berarti, “(Zakat hanya disalurkan kepada fakir, miskin, amil, muallaf, memerdekaan budak, orang yang berutang, fi sabilillah dan ibn sabil. Hal tersebut merupakan kewajiban dari Allah swt, sesungguhnya Allah maha tahu lagi maha bijaksana).”

    Atas dasar ini, pemerintah tidak diperkenankan menyalurkan hasil pemungutan zakat kepada pihak lain di luar mustahik yang delapan di atas. Di sini terdapat sebuah kaidah umum, bahwa pemerintah dalam melakukan pengalokasian harus mempertimbangkan kemaslahatan umat Islam semampunya.

    Dalam kaitan ini pemerintah menghadapi beberapa masalah yang perlu dijelaskan, yaitu;

    Bagaimana mendistribusikan zakat kepada mustahik yang delapan?

    Dalam hal ini, para pakar fikih telah membuat beberapa kaidah yang dapat membantu Pemerintah dalam menyalurkan zakat, di antaranya adalah sbb:

    A. Alokasi atas dasar kecukupan dan keperluan.

    Sebagian ulama fikih berpendapat bahwa pengalokasian zakat kepada mustahik yang delapan haruslah berdasarkan tingkat kecukupan dan keperluannya masing-masing.

    Dengan menerapkan kaidah ini maka akan terdapat surplus pada harta zakat seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab, Usman bin Affan dan Umar bin Abdul Aziz. Jika hal itu terjadi maka didistribusikan kembali sehingga dapat mewujudkan kemaslahan kaum muslimin seluruhnya. Atau mungkin juga akan mengalami defisit (kekurangan) di mana pada saat itu pemerintah boleh menarik pungutan tambahan dari orang-orang yang kaya dengan syarat tertentu sebagai berikut:

    1. Kebutuhan yang sangat mendesak di samping tidak adanya sumber lain.
    2. Mendistribusikan pungutan tambahan tersebut dengan cara yang adil.
    3. Harus disalurkan demi kemaslahan umat Islam.
    4. Mendapat restu dari tokoh-tokoh masyarakat Islam.

    B. Berdasarkan harta zakat yang terkumpul.

    Sebagian ulama fikih berpendapat harta zakat yang terkumpul itu dialokasikan kepada mustahik yang delapan sesuai dengan kondisi masing-masing. Kaidah ini akan mengakibatkan masing-masing mustahik tidak menerima zakat yang dapat mencukupi kebutuhannya dan menjadi wewenang pemerintah dalam mempertimbangkan mustahik mana saja yang lebih berhak daripada yang lain. Setiap kaidah yang disimpulkan dari sumber syariat Islam ini dapat diterapkan tergantung pada pendapatan zakat dan kondisi yang stabil.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 15 September 2016 Permalink | Balas  

    Pernahkah Terpikir Atau Ini Saja Cukup ? 

    mushola-malPernahkah Terpikir Atau Ini Saja Cukup ?

    Seorang warga negara asing yang baru bertugas di Indonesia sempat terheran-heran. Setiap dia parkir di basement kantornya dia melihat sebuah ruangan yang di dalamnya ada orang-orang sedang berdiri, ada yang duduk, ada yang sedang ‘berjajar-berbaris’. Hal yang sama dia temukan juga di tempat parkir di banyak mall-mall di Jakarta.

    Karena penasaran dia bertanya pada temannya yang telah lama bertugas di Indonesia. Dia sangat terkejut ketika tahu bahwa ruangan itu adalah tempat ibadah (musholla). Dan orang-orang yang ada di dalam itu sedang sholat. Dan dia lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa tidak ada tempat sholat di kantornya selain di basement tadi.

    Ketika rapat di kantornya, dia menyinggung masalah ini. Dia berkata, bagaimana Anda bisa bekerja dengan baik untuk bertemu dengan klien kita, jika untuk bertemu dengan Tuhan saja Anda tidak pernah memikirkan tempat yang layak? Bukankah seharusnya tempat ibadah menjadi prioritas di kantor ini? Mulai saat ini ruangan tempat kita rapat, kita jadikan tempat anda untuk bertemu dengan Tuhan Anda!

    Ironis memang , kita yang mengaku negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tidak pernah memikirkan tempat sholat di kantor kita. Kita akan protes keras kalau ruangan kita kecil, sempit dan kotor tapi kita tidak pernah protes jika untuk sholat kita harus berada diruangan yang ala kadarnya sekedar tempat disudut-sudut kantor yang sedikit kosong. Untuk berjamaah, sujud dan rukuk saja sulit.

    Bukti nyata yang lain adalah hampir seluruh mushola di kantor pemerintah, swasta, mal, terminal hanyalah tempat yang keberadaannya dipikirkan belakangan. Bahkan banyak kantor yang tidak memiliki tempat sholat dengan alasan tidak ada tempat lagi. Namun gudang-gudang, pantry dan (maaf) toilet selalu mejadi prioritas utama. Jika kita berkesempatan jalan-jalan di mal, terminal atau tempat umum lainnya cobalah cari musholla , 99,999 % kalau Anda temukan pasti ada di basement, dekat toilet umum dan di ruangan yang untuk mencarinya perlu perjuangan!. Dengan kondisi yang ‘jorok’ dan bau.

    Lalu dengan enaknya dan cueknya kita berdoa agar rejeki yang kita dapat semoga barokah dan manfaat? Padahal kita tidak pernah memikirkan tempat dimana barokah dan manfaat itu akan dicurahkan oleh Allah? Ironis!.

    Wallahua’lam

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 14 September 2016 Permalink | Balas  

    Kembalikan Keranjang Itu! 

    ibu dan anak lelakinya berdoaKembalikan Keranjang Itu!

    Suatu kali ada sepasang suami istri yang hidup serumah dengan ayah sang suami. Orang tua ini sangat rewel karena cepat tersinggung dan tak henti-hentinya mengeluh. Akhirnya suami istri itu memutuskan untuk mengenyahkannya. Sang suami memasukkan orang tua itu ke dalam keranjang yang dipanggul di bahunya. Ketika ia sedang bersiap-siap meninggalkan rumah, anak laki-lakinya yang baru berusia sepuluh tahun muncul dan bertanya, “Ayah, kakek hendak dibawa ke mana?”

    Sang Ayah menjawab bahwa ia bermaksud membawa kakek anak itu ke gunung agar ia bisa belajar hidup sendiri. Anak itu terdiam, namun pada waktu ayahnya sudah berlalu, ia berteriak, “Ayah, jangan lupa membawa keranjangnya pulang.”

    Ayahnya merasa aneh, sehingga ia berhenti dan bertanya mengapa. Anak itu menjawab, “Aku memerlukannya untuk membawa ayah nanti kalau ayah sudah tua.”

    Orang itu segera membatalkan niatnya membawa ayahnya ke gunung. Sejak saat itu suami istri itu memperhatikan orang tua sang suami dengan penuh kasih sayang dan memenuhi semua kebutuhannya.

    Jika anak hidup dengan saling pengertian, ia belajar menjadi sabar

    Jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri

    Jika anak hidup dengan pujian, ia belajar menghargai

    Jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar menjadi adil

    Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar memiliki kepercayaan

    Jika anak hidup dalam dukungan, ia belajar menyukai dirinya sendiri

    Jika anak diterima dan hidup dalam persahabatan, ia belajar menemukan cinta di dunia

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 13 September 2016 Permalink | Balas  

    Menjaga Kehormatan Diri 

    itikaf 2Menjaga Kehormatan Diri

    Oleh : Abdullah Gymnastiar

    Semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk membaca potensi yang telah Allah berikan. Menggali dan mengembangkan diri kita dengan baik sehingga hidup yang sekali-kalinya ini tidak menjadi beban bagi orang lain, bahkan hidup terhormat karena bisa meringankan beban orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya.

    Saudaraku, kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan kta. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri.

    Benar, dalam  hidup ini kita pasti membutuhkan orang  lain. Itu pasti! Tapi menikmati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia. Menjadi manusia mandiri adalah manusia yang akan memiliki harga diri. Mandiri adalah sumber percaya diri. Mandiri membuat kita lebih tenteram diri. Bangsa mandiri adalah bangsa yang akan mempunyai harga diri.

    Dalam Al Quran ditegaskan, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu gigih mengubah nasibnya sendiri. Kita diberi kemampuan oleh Allah untuk mengubah nasib kita. Berarti kemampuan kita mandiri untuk mengarungi hidup ini merupakan kunci yang diberikan Allah untuk sukses dunia dan insya Allah di akhirat kelak.

    Keuntungan mandiri kita akan punya wibawa sendiri. Sehebat-hebat peminta-minta pasti tidak akan punya wibawa. Misal, seorang aparat yang berpenampilan gagah tetapi gemar melakukan pungutan yang tak semestinya pasti akan jatuh wibawanya.

    Keuntungan lain, kita makin percaya diri dalam menghadapi hidup ini. Orang-orang yang terlatih menghadapi masalah sendiri akan berbeda  semangatnya dalam mengarungi hidup ini dibanding orang yang selalu bersandar kepada orang lain. Sebab, kalau kita bersandar kepada selain Allah, kita akan takut sandarannya hilang. Maka orang-orang yang mandiri cenderung lebih tenang dan lebih tenteram dalam menghadapi hidup ini. Selain dia siap mengarungi, dia juga akan memiliki mental yang mantap. Ingat! Mandiri itu adalah sikap mental

    Lantas dari mana kita mengawali menjadi mandiri? Pertama, mandiri diawali dafi mental. Harus memiliki tekad yang kuat, “Saya harus menjadi manusia terhormat, tidak boleh menjadi benalu!”. Dulu, pernah ada seorang anak kecil yang terseranng demam. Ketika itu dia tidak banyak bicara. Dia ambil gayung dan washlap. Lalu naik ke tempat tidur, menarik selimut, dan mengompres dirinya sendiri. Tiap orang kagum, kecil-kecil sudah mandiri,. Subhanallah, belum juga tamat sekolah sudah dihormati.

    Kisah lain, ada pengalaman pada suatu kesempatan saya berada di Madinah, tepatnya di masjid Nabawi. Saya melihat ada seorang laki-laki tuna netra, telinganya ditutup kapas, dan raut wajahnya sederhana. Dia duduk di atas tikar yang lusuh dan di depannya ada  beberapa botol minyak wangi. Kala itu kami tergerak untuk memberinya sedekah. Namun apa yang terjadi, ia menolak jika diberi uang sebagai sedekah. Ia hanya mau menerima uang jika saya membeli minyak wanginya. Dan itu pun hanya mau menerima setara dengan harga minyak wangi yang dibeli, tidak mau dilebihkan. Subhanallah, sungguh pun memiliki keterbatasan fisik, ternyata beliau pantang meminta-minta.

    Jadi jiwa mandiri ini benar-benar harus ditanamkan sejak kecil. Kita harus mulai merindukan anak-anak kita tumbuh tidak sekedar menjadi pekerja, namun menjadi orang yang mampu menciptakan pekerjaan. Ini penting, karena begitu banyak potensi pada bangsa ini yang tak tergali. Namun ini tentu tidak berarti bahwa mereka yang bekerja pada orang lain tidak mandiri. Para karyawan, buruh, atau pekerja lainnya jelas merupakan sosok yang mandiri. Sebab penekanannya adalah kesungguhan berikhtiar agar tidak menjadi beban orang lain.

    Kedua, kita harus memiliki keberanian mencoba dan memikul resiko. Jadi kemandirian itu hanya milik pemberani. Orang yang bermental mandiri tidak akan menganggap kesulitan sebagai kesulitan, melainkan sebagai tantangan dan peluang. Kalau kita tidak berani mencoba, itulah gagal. Kalau sudah dicoba jatuh. Itu biasa.

    Kegagalan itu tidak pernah terjadi pada orang-orang yang mencoba. Yang gagal itu yang tak pernah mencoba. Bahkan pengalaman bangkrut juga dapat menjadi keuntungan. Artinya, dari kebangkrutan itulah dia akan belajar memperbaiki lagi usahanya, pengalaman itu dapat membuatnya lebih waspada dan lebih semangat agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Tidak ada kata gagal dalam bisnis, yang gagal itu yang tidak berani mencoba.

    Kunci ketiga bila ingin mandiri adalah tingkat keyakinan kepada Allah. Kita  harus yakin, Allah yang menciptakan kita, Allah yang memberikan rezeki. Manusia tak mempunyai apa-apa kecuali yang Allah titipkan. Barang siapa serius menggebu untuk taat kepada Allah, Allah berjanji akan diberi jalan keluar dari setiap kesulitannya.

    Saudaraku, di antara kunci menjaga harga diri, marilah kita hindari merasa nikmat mendapatkan sesuatu. Tapi nikmatilah diri kita ketika memberikan sesuatu. Jangan merasa kaya dengan banyak orang yang memberi, tapi merasalah bahagia ketika kita bisa banyak memberi.

    Terakhir, semoga  jerih payah kita membuahkan rezeki yang melimpah, sehingga bisa menolong orang yang membutuhkan. Hendaklah niat kita tidak hanya untuk kepentingan sendiri dan keluarga saja, tetapi saudah melebar untuk kepentingan umat. Subhanallah! Hendaklah kita  tidak termasuk orang-orang yang ragu untuk mewakafkan diri bagi kepentingan agama Allah. “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS Al Fatihah 5-6)

    Wallahu a’lam

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 September 2016 Permalink | Balas  

    Implikasi Risywah (Budaya Suap) Di Tengah Masyarakat 

    Implikasi Risywah (Budaya Suap) Di Tengah Masyarakat

    Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Pertanyaan.

    Syaikh Abdul Azi bin Baz ditanya : Bagaimana jadinya kondisi suatu masyarakat ketika budaya suap menyebar di tengah mereka.?

    Jawaban.

    Tidak dapat disangkal lagi bahwa munculnya berbagai perbuatan maksiat akan menyebabkan keretakan dalam hubungan masyarakat, terputusnya tali kasih sayang diantara individu-individunya dan timbulnya kebencian, permusuhan serta tidak saling tolong menolong dalam berbuat kebajikan. Di antara impikasi paling buruk dari merajalelanya budaya suap dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya di dalam lingkungan masyarakat adalah muculnya dan tersebarnya prilaku-prilaku nista, lenyapnya prilaku-prilkaku utama (akhlaq yang baik) dan sebagian anggota masyarakat suka menganiaya sebagian yang lainnya. Hal ini sebagai akibat dari pelecehan terhadap hak-hak melalui perbuatan suap, mencuri, khianat, kecurangan di dalam mu’amalat, kesaksian palsu dan jenis-jenis kezhaliman dan perbuatan melampui batas semisalnya.

    Semua jenis-jenis ini adalah tindakan kejahatan yang paling buruk. Ia termasuk salah satu dari sebab-sebab mendapatkan kemurkaan Allah, timbulnya kebencian dan permusuhan antar sesama Muslim dan sebab-sebab terjadinya adzab menyeluruh lainnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Sesungguhnya bila manusia telah melihat kemungkaran lantas tidak mengingkarinya, maka telah dekatklah Allah meratakan adzabNya terhadap mereka”

    [Hadits Riwayat Imam Ahmad (1,17,30,54) dengan sanad Shahih dari Abu Bakar As-Shidiq Radhiyallahu ‘anhu, dan Abu Daud, kitab Al-Malahim (4338), At-Tirmidzi, kitab At-Tafsir (3057) dan Ibnu Majah, kitab Al-Fitan (4005) semisalnya]

    [Kitab Ad-Da’wah dari fatwa Syaikh Ibnu Baz]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 3 Darul Haq]

    Sumber” almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 11 September 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Syari’at Terhadap Suap 

    korupsiHukum Syari’at Terhadap Suap

    Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Pertanyaan.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukum syari’at terhadap risywah (suap) ?

    Jawaban.

    Risywah (suap) haram hukumnya berdasarkan nash (teks syari’at) dan ijma’ (kesepakatan para ulama). Ia adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang Hakim dan selainnya untuk melencengkan dari al-haq dan memberikan putusan yang berpihak kepada pemberinya sesuai dengan keinginan nafsunya.

    Dalam hal ini, terdapat hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau : “Artinya : Melaknat penyuap dan orang yang disuap” [Hadits Riwayat Abu Dawud, kitab Al-Aqdiiyah 3580, At-Tirmidzi, kitab Al-Ahkam 1337 dan Ibnu Majah, kitab Al-Ahkam 2313]

    Terdapat riwayat yang lain, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat Ar-Ra’isy juga [1]. Yakni, perantara antara keduanya. Dan, tidak dapat diragukan lagi bahwa dia berdosa dan berhak mendapatkan cacian, celaan dan siksaan karena membantu di dalam melakukan perbuatan dosa dan melampui batas, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertawaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya” [Al-Ma’idah : 2]

    [Kitab Ad-Da’wah, Juz I ,hal 156 dari Fatwa Syaikh Ibn Baz]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 5-6 Darul Haq]

    ***

    Foote Note.

    [1] Hadits Riwayat Ahmad 21893, Al-Bazzar 1353, Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 1415, Al-Haitsamiy berkata di dalam Majma’ Az-Zawa’id (IV : 199), “Di dalam riwayat tersebut terdapat Abul Haththab, seorang yang tidak diketahui identitasnya (anonym)”.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 10 September 2016 Permalink | Balas  

    Jejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an 

    gua hiroJejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an

    Gua Hira-Jabal Nur termasuk obyek wisata di Mekah. Gua ini sangat terkenal dalam sejarah Islam, karena di dalam gua itulah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam diangkat menjadi rasul, di situ pula turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama [Al ‘Alaq 1-5]. Gua kecil ini terletak di puncak gunung Jabal Nur, di bagian utara Mekah, sekitar 5 km dari Masjidil-Haram, di sebelah kiri perjalanan menuju Arafah. Tinggi puncak Jabal Nur sekitar 200 m. Bentuk gunung ini terlihat berdiri tajam. Disekelilingnya terdapat sejumlah gunung, bukit batu dan jurang.

    Bentuk Gua Hira agak memanjang, terletak di belakang 2 batu raksasa yang sangat dalam dan sempit, tidak dapat dilalui lebih dari satu orang. Di dalam gua hanya bisa didiami sekitar 5 orang saja, dan sekedar cukup untuk tidur 3 orang berdampingan. Tinggi gua hanya sebatas orang berdiri, atau sekitar 2 meter. Seandainya tidak ada bangunan yang tinggi di Masjidil-Haram, dari mulut gua bagian belakang dapat dilihat Ka’bah (Masjidil Haram). Meskipun dalam syariat berhaji tidak ditemukan perintah untuk mendatangi Gua Hira, namun pada musim haji banyak jamaah haji menyempatkan diri untuk naik ke Jabal Nur, menyaksikan Gua Hira. Di kawasan gunung ini tidak ditemui tanaman sedikitpun juga. Gersang. Hanya terdiri dari batu-batu besar. Mendaki puncak Gua Hira membutuhkan waktu paling tidak 2 jam. Keadaan di puncaknya sangat sunyi dan senyap hingga terasa menakutkan.

    Beberapa tahun sebelum dan setelah menikah dengan Khadijah binti Khuwalid, Rasulullah telah menjadikan Gua Hira sebagai tempat menyepi untuk ber tafakur, mengasingkan diri dari berbagai kerusakan moral penduduk Mekah. Selama itu Beliau juga bekerja membantu para jamaah haji yang datang ke Ka’bah dengan menyediakan air minum buat mereka. Namun Beliau tidak pernah beribadah menurut kepercayaan orang Arab kala itu, menyembah berhala yang ada di Ka’bah. Rasulullah sering memisahkan diri dari keramaian untuk menemukan jalan keluar- cara agar masyarakat tidak menyembah berhala.

    Di gua ini menjelang usia 40, Rasulullah yang selalu bertafakur, beribadah menurut agama Ibrahim selama berjam-jam bahkan berhari-hari hanya dengan membawa bekal makan dan minum secukupnya. Beliau pulang hanya untuk mengambil perbekalan dan kembali lagi ke gua. Sepanjang bulan Ramadhan digunakan Beliau untuk beribadah. Pada malam 17 Ramadhan 41H atau 6 Agustus 610, Beliau melihat “cahaya” terang benderang memenuhi ruangan gua. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul dihadapan Beliau menyampaikan wahyu Allah Yang Maha Tinggi, yang pertama, Al ‘Alaq (1-5) Setelah itu dengan perasaan takut dan gelisah, Beliau bergegas pulang dan berkata pada Khadijah : “Selimutilah Aku, selimutilah Aku.” Khadijah menyelimuti dan mendampingi Beliau hingga hilang rasa takutnya. Setelah mendengar kisah yang sangat ganjil dialami suaminya di Gua Hira, Khadijah segera menemui Waraqah bin Naufal, anak paman Khadijah, seorang pemeluk agama Nasrani di jaman Jahiliyah. Waraqah pandai menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani. Melalui dia, Muhammad tahu bawa Dirinya akan diangkat menjadi Nabi dan Rasul sebagaimana Nabi Musa, menerima wahyu Allah Yang Maha Tinggi melalui Jibril.

    Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam ketika itu berusia sekitar 40 tahun. Beliau telah dipilih Allah Yang Maha Tinggi sebagai Rasul. Rasul terakhir yang membawa manusia dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang.

     

    Kiriman Sahabat Meilany

     
  • erva kurniawan 2:18 am on 9 September 2016 Permalink | Balas  

    Prasangka Baik 

    prasangkaPrasangka Baik

    Ulasan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi

    Duhai… alangkah indahnya husnuzhzhon (prasangka baik). Dengan prasangka baik kita bisa menangkap asrôr (rahasia-rahasia) makhluk tanpa mereka sadari. Namun kini ikatan (rowâbith) telah lepas, dan kita hanya memandang basyariah (sisi lahiriah) saja. Jika seseorang melihat orang lain melakukan maksiat, ia lalu berprasangka buruk kepadanya. Serahkanlah urusan makhluk kepada Kholiq (Allah), jika mau Dia akan menyiksanya; jika mau Dia akan mengampuninya.

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik, bagi siapa pun yang Dia kehendaki.” (QS An-Nisa, 4:48)

    Bisa jadi dia termasuk orang yang diampuni Allah sesuai kehendak-Nya. Syeikh Ibn Arabi berkata, “Andaikata aku melihat seseorang bermaksiat kepada Allah, kemudian dia menghilang sejenak dari pandanganku, aku akan meyakini bahwa ia seorang wali Allah. Sebab, mungkin ia telah bertobat, dan Allah kemudian menerima tobatnya dan memilihnya.”

    Tidak ada seorang pun dapat mencegah Allah membuka pintu pengampunan. Allah selalu membuka pintu pengampunan lebar-lebar untuk manusia. Seseorang boleh jadi kafir, tapi sesaat kemudian telah jadi wali. Berprasangka baiklah kepada manusia. Jika kau ingin meneliti, maka telitilah dirimu sendiri. Curigailah dirimu sendiri, meskipun ia sedang berbuat ketaatan.

    Waspadailah tipu muslihat, yang ditimbulkan rasa lapar dan kenyang. Boleh jadi perut yang lapar, lebih buruk dari yang kenyang.

    Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

    Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada sebaik-baik akhlak, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkkan kepada sebaik-baik akhlak selain Engkau. Dan singkirkan dariku akhlak yang tercela, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menyingkirkannya dariku selain Engkau.

    Dikatakan bahwa tasawuf adalah akhlak. Barang siapa mengunggulimu dalam akhlak, maka ia telah mengunggulimu dalam tasawuf. Ibrahim bin Adham berkata, “Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan sepanjang hidupku seperti dalam dua kejadian ini:

    Pertama, sewaktu aku menumpang perahu dan seluruh penumpang menjadikanku sebagai bahan olok-olok mereka. Dalam pandangan mereka aku sangat hina.

    Aku lalu mengucapkan Alhamdulillâh.

    Kedua, ketika aku sedang berbaring, tiba-tiba datang seekor anjing mengencingiku.”

    Kita diterpa kemerosotan akhlak, dan penyebabnya adalah nafs yang sangat kuat. Semoga Allah mensucikan nafs kita. Sungguh beruntung orang yang mensucikan (jiwa)-nya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.(QS Asy-Samsy, 91:9-10)

    Para ulama tidak menuliskan contoh-contoh akhlak mulia, kecuali untuk diamalkan. Perangilah nafs-mu sekuat tenaga agar dapat berperilaku dengan akhlak As-Sayidul Ma’shûm (Nabi saw). Kita butuh obat, karena penyakit telah terlalu banyak.

    Wahai Penyembuh, sembuhkanlah. Wahai Yang memperbaiki, perbaikilah. (L:315)

    (Sekilas tentang Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Putera Riyadi)

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 8 September 2016 Permalink | Balas  

    Memandang Sisi yang Baik 

    amalan baikMemandang Sisi yang Baik

    Ulasan Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Seorang hamba dituntut untuk meminta kepada Tuhannya agar dapat melihat kebaikan-kebaikan para makhluk-Nya, juga agar dapat menutupi aib-aib mereka.

    Jika ia telah menyaksikan kebaikan-kebaikan mereka, maka ia akan berprasangka baik (husnuddhon) kepada mereka. Jika ternyata ia belum melaksanakan kebajikan yang telah mereka lakukan , maka hendaknya ia berusaha dengan sungguh-sungguh, dan bertawajjuh kepada Allah agar Ia menganugerahkan kebaikan-kebaikan itu kepadanya, karena ia tidak akan memperoleh apa pun kecuali dengan pertolongan Tuhannya. Dengan berbuat demikian, Allah akan memudahkan dan menyampaikannya pada kebaikan tersebut. Karena barang siapa memohon pertolongan kepada Allah,niscaya ia akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

    “Kalian semua sesat kecuali yang telah Kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, nanti Aku akan memberi petunjuk kepada.” (HR Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, baihaqi dan Darimi)

    Jika kebaikan yang ia miliki ternyata lebih baik dan lebih sempurna, maka hendaknya ia meminta agar Allah menambah kebaikannya, bersyukur atas taufik yang diberikan Allah kepadanya, dan bersyukur karena Allah telah mengkhususkannya untuk memperoleh kebaikan itu. Jika ia berbuat demikian, ia akan memperoleh kebaikan tambahan.

    Jangan sampai kebaikan itu membuatnya merasa ujub (berbangga diri). Jangan sampai ia memandang dirinya lebih baik dari yang lain, jangan sampai karunia yang diberikan Allah kepadanya menimbulkan perasaan sombong. Karena, sesungguhnya dirinya dan juga orang lain berada dalam tawanan kekuasaan dan kehendak Allah. Ia seharusnya merasa takut jika suatu waktu Allah mencabut kebaikan-kebaikannya kemudian memberikannya kepada orang-orang lain, dan sebagai gantinya, ia melaksanakan keburukan-keburukan mereka.

    Jika Allah menunjukkan keburukan seseorang, maka ia dituntut untuk berakhlak dengan akhlak Tuhannya Yang Maha Pengasih, yakni mengasihi mereka dan menutupi aib-aibnya. Karena sesungguhnya keburukan yang Allah tampakkan adalah rahasia yang dipercayakan Allah kepadanya dengan tujuan agar ia dapat menyimpan rahasia itu, kemudian dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut memberikan nasihat kepada orang itu, atau melalui sindiran, atau dengan cara lain yang baik sebagaimana teguran Rasulullah SAW kepada para sahabatnya:

    “Mengapa sekelompok orang berbuat demikian, hendaknya mereka menghentikan perbuatannya.” (C:13)

    (Salatnya Para Wali, Nûrun Lil Qulûb Yudhî`, Putera Riyadi)

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 7 September 2016 Permalink | Balas  

    Memahami Hawa Nafsu 

    amalan baikMemahami Hawa Nafsu

    Ulasan Al-Habib Muhammad bin Abdullah bin Syeikh Alaydrus

    Ketika seorang hamba melihat dengan akalnya tanpa terpengaruh oleh hawa, maka segala sesuatu akan tampak sebagaimana hakikatnya. Namun jarang yang dapat melihat dengan cara demikian, karena hawa terlalu menguasai nafs, dan nafs sangat sulit untuk melepaskan diri dari kekuasaan hawa. Bahkan karena demikian tersembunyi dan sulit dipahami, maka manusia tidak dapat merasakan kehadiran hawa. Hanya orang-orang yang berakal unggul (superior) yang dapat mengetahui keberadaan hawa dalam nafs-nya.

    Hawa adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawa. Oleh karena itu, jauhilah hawa dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawa akan menodai agama dan murûah -mu, sebagaimana dikatakan dalam syair:

    Jika kau ikuti hawa, ia akan menuntunmu menuju semua perbuatan yang tercela bagimu.

    Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu temukan bahwa hawa-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawa merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawa bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu, dan akan hilang akal sehatnya. Oleh karena itu, seorang yang pandai harus menyadari hal ini dan berusaha mematikan hawa-nya dengan mujâhadah dan mukhôlafah (penentangan).

    Hakikat hawa adalah kecenderungan pada sesuatu yang batil. Hawa adalah perilaku dan tabiat nafs. Semua kecenderungan nafs pada kebatilan disebut hawa.

    Hawa terbagi dua:

    Pertama, ajakan-ajakan syahwat yang terdapat dalam diri seseorang, misalnya berbagai hal di atas, yang menipu dan menguasai nafs serta diperebutkan oleh manusia. Ajakan-ajakan syahwat tersebut hina dan buruk, karena itulah orang-orang yang memiliki murûah menjauhinya demi menjaga agama, menyucikan murûah, melindungi kehormatan, dan menjaga akal mereka. Orang-orang berakal, jika menghadapi tipu daya hawa dan penentangan nafsu, mereka tetap kokoh, tidak goyah.

    Mereka mempertimbangkan akibatnya dengan hati-hati dan tidak gegabah. Lain halnya dengan orang-orang yang akal dan jiwanya lemah, mereka akan dikuasai nafs hingga tak dapat berkutik. Hawa akan menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela.

    Namun karena hatinya telah buta, hanyut dimabuk hawa, mereka tidak menyadari berbagai keburukan yang telah dilakukannya.

    Kedua, hawa yang timbul ketika seseorang marah (ghodhob). Hawa jenis ini merupakan jenis hawa yang paling buruk. Sebab hawa yang timbul ketika seseorang sedang marah (ghodhob) bersifat memaksa dan sulit diajak kompromi. Hanya kaum ksatria (abthôl), orang-orang yang berakal sehatlah yang mampu mengetahui keberadaan hawa ini.

    Jenis hawa yang lain adalah (perasaan) yang timbul ketika seseorang bersikap sombong (kibr) dan congkak. Jenis hawa ini juga buruk, merusak agama dan menghancurkan amal. Namun pengaruh buruknya lebih ringan dibandingkan dengan hawa yang timbul ketika marah. Hawa yang timbul ketika marah menggoncangkan nafs dan menghilangkan akal sehatnya. Nafs menjadi bodoh.

    Ketahuilah, marah adalah jenis hawa yang paling berat. Para abdâl pilihan memperoleh kedudukan di sisi Allah karena mereka benar-benar menjauhi semua jenis hawa. Sebab, semua jenis hawa adalah buruk. Para ashâbul Haq Ta’âlâ selalu berpijak pada kebenaran. Sebab, kebenaran adalah lawan kebatilan.

    Mereka sadar bahwa seberapa besar mereka mendekati hawa, maka sebesar itu pula mereka menjadi jauh dari Allah. Karena itu dalam semua perilakunya (makan, tidur, berbicara, dan lain-lain) mereka hanya melakukannya sebatas kebutuhan (dharûri) saja. Dalam pandangan mereka segala sesuatu yang melebihi batas kebutuhan merupakan bagian dari hawa.

    (Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

    Catatan:

    Muruah: Usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang dianggap baik oleh masyarakat dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk olehnya, misalnya duduk-duduk di pinggir jalan, dll.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 6 September 2016 Permalink | Balas  

    Penjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan 

    zakatPenjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Berikut ini penjelasan tentang zakat gaji/penghasilan dari profesi

    (Dari Buku Panduan Zakat Praktis karya Drs. H. Hasan Rifa’i Al Faridly-Dewan Syariah Dompet Dhuafa Republika)

    Dasar hukum :

    Firman Allah SWT :

    ‘Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian’ (Q.S. Adz-Dzariyat : 19)

    ‘…………..Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya ……..’ (Q.S. Al Hadid : 7)

    ‘Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik ……..’ (Q.S. Al Baqarah : 267)

    Hadits Nabi SAW :

    Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan (H.R. Thabrani)

    Hasil Profesi :

    Hasil profesi (pegawai negeri, pegawai swasta, konsultan, dokter, notaris dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu-jaman Rasulullah). Oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan zakat. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan yang mendapat porsi pembahasan yang sangat  memadai dan detail.

    Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapat dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin di antara mereka (sesuai dengan ketentuan syara’/syariat). Dengan dmeikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat.

    Akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarga) nya, maka ia menjadi mustahiq (orang yang menerima zakat), sedang jika hasilnya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit, maka bagiannya tidak wajib zakat.

    Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

    Ketentuan Zakat Penghasilan (Profesi) :

    Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dikategorikan berdasarkan qiyas/analogi atas kemiripan (syabbah) terhadap karakteristik harta zakat yang ada, yaitu :

    1. Model memperoleh harta penghasilan/profesi mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat diqiyaskan ke dalam zakat pertanian berdasarkan nishab (653 kg gabah kering giling atau setara dengan 552 kg beras) dan waktu pengeluaran zakatnya (setiap kali panen – untuk zakat penghasilan setiap terima gaji bulanan atau disetahunkan).
    2. Model harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang, sehingga harta ini dapat dianalogikan ke dalam zakat harta (kelompok harta simpanan/kekayaan wajib zakat berupa uang simpanan, emas, perak, surat berharga) berdasarkan kadar zakat yang harus dibayarkan (2,5%). Dengan demikian hasil profesi/gaji seseorang jika telah memenuhi ketentuan wajib zakat, maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

    Hikmah Zakat :

    Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, transendental dan horisontal. Oleh sebab itu, zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, yaitu :

    1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa dan lemah papa, untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah SWT.
    2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri manusia yang biasa timbul di kala ia melihat orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, jika mewah. Sedang ia sendiri tak punya apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
    3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia, menjadi murah hati, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi) dan mengikis sifat bakhil (kikir) dan serakah yang menjadi tabiat manusia sehingga dapat merasakan ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah dan tuntutan kewajiban kemasyarakatan.
    4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri di atas prinsip-prinsip : Ummatan Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, hak dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Takaful Ijtimai (tanggung jawab bersama).
    5. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), kesimbangan dalam kepemilikan harta (social ownership) dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
    6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah.
    7. Dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seorang dengan lainnya rukun, damai dan harmonis yang dapat menciptakan situasi yang tenteram dan aman lahir dan batin. Dalam masyarakat seperti itu akan tumbuh lagi bahaya komunisme (Atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab, dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme sudah dijawab. Akhirnya sesuai janji Allah, akan tercipta sebuah masyarakat baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    Jazakumullah Khairan Katsiran

    Fendy

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 5 September 2016 Permalink | Balas  

    Isa anak Allah? (Bagian 2) 

    nasehat-quran1Isa anak Allah?

    A=Muslim B=Kristen

    Malam 2.

    Yesus Adalah Utusan (Rasul) Tuhan

    A: Sebagaimana kita telah rembuk kemarin malam, apakah akan dilanjutkan juga musyawarah kita ini?

    B: Memang demikian, karena kedatangan kami kemari khususnya untuk melanjutkan pertemuan kita kemarin malam.

    A: Kalau tidak khilaf, pembicaraan kita masih berkisar dalam soal ketuhanan Yesus dalam Bibel.

    B: Betul begitu. Kemarin malam saya mengharapkan agar Bapak menunjukkan ayat-ayat dalam Kitab Injil apakah Yesus itu Tuhan atau bukan.

    A: Kemarin malam telah saya tunjukkan. Agar berurutan sebaiknya kita ulangi lagi ayat-ayat Injil tersebut, lalu akan saya tunjukkan lagi ayat-ayatnya yang lain, setujukah Saudara pendapat saya ini?

    B: Memang sebaiknya begitu, agar berurutan dan bertambah jelas, baiklah diulangi lagi.

    A: Silahkan Buka Matius pasal 1 ayat 16.

    B: Baik, dalam pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria ialah yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus”.

    A: Di sini jelas, ayat ini menyebutkan sendiri, bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria. Jadi Yesus adalah anak manusia, bukan anak Tuhan, sebagaimana telah saya terangkan dalam pertemuan pertama. Makna: “Yesus” dan “Kristus”

    B: Ya, pada pertemuan pertama Bapak telah terangkan dan saya telah mengerti. Menurut pendapat Bapak, apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan kata: “Yesus dan Kristus”.

    A: Apakah Saudara belum mengetahui arti daripada dua buah kata tersebut?

    B: Saya mengerti. Tetapi hanya untuk mencocokkan saja dengan penafsiran Bapak.

    A: Baik, Yesus adalah bahasa Yunani, yang berarti: “Melepaskan”, melepaskan manusia daripada dosa.

    B: Dari manakah adanya keterangan bahwa Yesus itu berarti melepaskan dosa?

    A: Sebetulnya susunan pertanyaan itu timbul dari saya. Tetapi saya mengerti mungkin Saudara akan menguji saya tentang Injil, walaupun begitu saya penuhi juga pengharapan Saudara. Silahkan periksa di Matius pasal 1 ayat 21.

    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka ia akan beranakkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau namakan Dia, Yesus, karena ialah yang akan melepaskan kaumnya daripada segala dosanya”.

    A: Itulah ayatnya, Arti Kristus ialah Almasih, Sang Sabda, Adil, Ratu Salem dan ada beberapa lagi artinya yang lain: Kata Almasih dalam Injil bahasa Inggris disebut: “Christ the Lord” di dalam Injil bahasa Arab disebut: “Almasih Ar-Robb”. Kata “Lord dan Robb” artinya tuanku, paduka tuan, dan ada juga dengan arti Tuhan, dan lain-lain lagi. Akan tetapi karena Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan melainkan utusanNya bagaimana tersebut dalam Kitab Injil Johanes pasal 17 ayat 23, dan ia diperanakkan oleh manusia, sebagaimana tersebut dalam Injil Matius pasal 1 ayat 16 dan 21, malah ia sendiri yang berkata dan mengakui bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), sebagaimana disebutkan dalam Injil Markus, pasal 12 ayat 29 dan di ayat-ayat Injil yang lain-lain, maka berdasarkan pengakuan Yesus itu, jelas Yesus itu bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan.

    B: Benar yang Bapak maksudkan itu.

    Sekali lagi: Tuhan itu Esa (Tunggal)

    A: Selanjutnya harap periksa lagi di Markus pasal 12 ayat 29.

    B: Di sini menyebutkan: “Maka jawab Yesus kepadanya: “Hukum yang terutama inilah: dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan Kita, ialah Tuhan Yang Esa”.

    A: Jelas bahwa Tuhan itu Esa, artinya satu, Tunggal, jadi Yesus bukan Tuhan sebagaimana telah saya terangkan.

    B: Ya, sudah Bapak terangkan kemarin malam.

    A: Periksa lagi Ulangan pasal 4 ayat 35.

    B: Di sini menyebutkan: “Maka kepadamulah Ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itu Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

    A: Kitab Injil Saudara sendiri yang menyebutkan dan Yesus sendiri yang menyampaikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa. Jadi tegas sekali Yesus sendiri tidak mengaku menjadi Tuhan. Ini pun telah saya terangkan pada pertemuan kita kemarin malam.

    B: Ya, saya sudah mengerti dan menerimanya.

    A: Periksa lagi di Ulangan pasal 6 ayat 4.

    B: Di Ulangan pasal dan ayat tersebut menyebutkan demikian: “Dengarlah olehmu hai Israil! Sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya”.

    A: Jelas di Kitab Injil sendiri menyebutkan Allah itu Esa, Tunggal. Yesus telah mengakui sendiri bahwa dia bukan Tuhan. Bagaimana pendapat Saudara? Kaum Kristen mengatakan Yesus itu Tuhan, sedangkan Yesus sendiri menolak disebut dirinya Tuhan.

    B: Ya, saya tidak mengerti dan tambah bingung.

    A: Biarlah tidak apa-apa. Marilah kita teruskan lagi. Periksa di Matius pasal 27 ayat 1.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Setelah hari siang, maka segala kepala iman dan orang tua-tua kaumpun berundinglah atas hal Yesus, supaya dibunuh Dia”.

    A: Kalau betul Yesus itu Tuhan, mustahil ada manusia merencanakan untuk membunuh Dia. Silahkan buka lagi di Matius pasal 26 ayat 38.

    B: Di ayat ini ada menyebutkan: “Kemudian kata Yesus kepada mereka itu: “Hatiku amat sangat berdukacita, hampir mati rasaku; tinggallah kamu di sini dan berjagalah sertaku”.

    A: Di ayat ini menyebutkan bahwa Yesus amat sangat berduka cita pantaskah ada Tuhan berduka cita? Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan. Periksa lagi di Lukas pasal 2 ayat 11.

    B: Baik di ayat ini menyebutkan: “Sebab pada hari ini sudah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan itu di dalam negeri Daud”.

    A: Wajarkah Tuhan dilahirkan oleh manusia (Maria)? Terus periksa di Johanes pasal 5 ayat 30. Tuhan Tidak Berkuasa Berbuat Sekehendaknya?

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Maka aku tidak boleh berbuat satu apa dari mauku sendiri, seperti aku dengar begitu aku hukumkan, dan hukumku itu adil adanya, karena tidak aku coba turut mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus aku”.

    A: Ayat itu Yesus sendiri yang berkata bahwa ia tidak berkuasa berbuat sekehendaknya. Wajarkah Tuhan tidak berkuasa berbuat sekehendaknya? Di ayat itu pun Yesus mengaku sendiri bahwa kehendaknya itu menurut kehendak Tuhan yang mengutus dia. Kalau Yesus betul Tuhan, tentu tidak dapat diperintah oleh siapa pun. Di ayat ini juga Yesus mengaku, bahwa dia bukan Tuhan melainkan diutus oleh Tuhan. Yang diutus itu tentu bukan Tuhan.

    B: Kalau berdasarkan ayat tersebut, memang benar keterangan Bapak.

    A: Kalau begitu jelas bahwa: 1. Yesus datang ke dunia ini bukan kemauannya sendiri tetapi utusan Tuhan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Tuhan telah mengutus nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain. 2. Yesus menghidupkan orang mati bukan maunya sendiri melainkan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Ilyas [Ilyas = Elisa, pent.] dapat menghidupkan orang mati. 3. Yesus dapat menyembuhkan penyakit kusta (lepra), bukan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Tuhan sebagaimana Ilyas dapat menyembuhkan penyakit lepra.

    Keterangan saya ini berdasarkan pengakuan Yesus sendiri di ayat tadi bahwa “tidak aku coba mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus Aku”.

    Apakah Saudara memerlukan lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan pengakuan Yesus sendiri bahwa Ia bukan Tuhan?

    B: Buat saya masih memerlukan lagi, bukankah telah saya sampaikan kepada Bapak, bahwa saya ingin mencari kepuasan dalam meneliti ajaran-ajaran agama, terutama dalam hal Ketuhanan yang hakiki. Tetapi saya ingin bertanya, dan maaf sebelumnya, bagaimanakah Bapak bisa hafal di luar kepala tentang ayat-ayat Bibel, dan keistimewaan Bapak ini saya merasa kagum.

    A: Itu adalah petunjuk Tuhan. Alhamdulillah saya memang mempelajari bermacam agama, akhirnya saya bertambah yakin akan kebenaran agama Islam. Kalau Saudara merasa kagum kepada saya, maka saya pun lebih merasa kagum lagi kepada Saudara selaku pemeluk agama Kristen berhasrat meneliti ajaran-ajaran agamanya. Juga dengan bantuan Bapak Markam ini. Baiklah kita lanjutkan, periksa lagi di Ulangan pasal 4 ayat 39. “Laa ilaaha illa Allaah” = “Tidak ada Tuhan melainkan Allah” dalam Bible

    B: Baik, di pasal dan ayat ini disebutkan sebagai berikut: “Maka sekarang ketahuilah olehmu dan perhatikanlah ini baik-baik, bahwa Tuhan itulah Allah, baik di langit yang di atas, baik di bumi yang di bawah, dan kecuali Ia tiadalah lain lagi.”

    A: Tegas sekali, di Kitab Injil sendiri yang menyebutkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Yesus sendiri pula yang berkata bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Jadi Yesus pun bukan Tuhan. Ayat ini tentu tidak dapat diputar-putar lagi. Kalau ada penganut agama Kristen mengakui Yesus itu Tuhan, maka pengakuannya bertentangan dengan kitab sucinya sendiri, dan bertentangan pula dengan ajaran Yesus.

    B: Tetapi dalam Injil Johanes pasal 10 ayat 38 ada menyebutkan: “Supaya kamu dapat tahu dan percaya, yang Bapa ada di dalam aku, dan aku ada di dalam Bapa”. Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam Yesus, maksudnya Tuhan dan Yesus itu satu adanya atau singkatnya bahwa Yesus pun Tuhan. Juga dalam Johanes pasal 14 ayat 11 ada menyebutkan: “Percayalah yang aku ini dalam Bapa, dan Bapa dalam aku”.

    A: Kalau Saudara berpegang dengan ayat tersebut, bahwa Yesus itu Tuhan, maka Saudara harus mengakui juga bahwa Tuhan itu Yesus dan Yesus itu Tuhan.

    B: Tidak demikian, tetapi Yesus dan Tuhan itu satu.

    A: Kalau begitu, saya ingin bertanya: “Di ayat itu ada dua rangkaian kata ialah “Yesus dan Tuhan”. Siapakah yang lebih berkuasa di antara keduanya. Tuhan Bapakah atau Yesus?

    B: Tentu Tuhan Bapa. “Bapaku itu lebih dari aku … “, ” … Dia yang MENGUTUS aku” Yesus adalah UTUSAN (RASUL) Allah

    A: Kalau masih ada yang lebih berkuasa dari Yesus, maka Yesus tentu bukan Tuhan, lebih jelas periksa di Injil Johanes pasal 14 ayat 28.

    B: Baik, di ayat ini ada menyebutkan: “Kamu sudah dengar aku bilang, yang aku pergi serta datang kembali sama kamu. Coba kamu cinta sama aku, hati, sebab aku sudah bilang: “Yang aku pergi sama Bapa, karena Bapaku itu lebih dari aku”.

    [Karena kalimat di atas agak membingungkan, berikut adalah kutipan dari “Al-Kitab

    Terjemahan Baru”, pent.] [“Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapaku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.”]

    [dan versi “Al-Kitab Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari”, pent.: Kalian sudah mendengar Aku berkata, ‘Aku akan pergi, tetapi Aku akan datang kembali kepadamu’. Kalau kalian mengasihi Aku, kalian akan senang Aku pergi kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar daripadaku.]

    A: Di ayat ini Yesus sendiri mengatakan: “Bapaku itu lebih dari aku”, ini menunjukkan bahwa, kalau Yesus itu Tuhan, maka ialah Tuhan yang tidak sempurna, oleh karena masih ada yang melebihi tingkatnya. Yang tidak sempurna itu tentu bukan Tuhan. Harap Saudara periksa lagi di Injil Johanes pasal 12 ayat 45.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Dan barang siapa yang melihat aku, dia melihat sama Dia yang mengutus aku”.

    A: Pantaskah Tuhan diutus? Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa ada Tuhan yang di utus? Maksud ayat tersebut siapa yang melihat Yesus, seolah-olah ia melihat Tuhan yang mengutus Yesus. Jadi perkataan Yesus di atas menunjukkan bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Makna: “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa”

    B: Saya belum meneliti maksud ayat di Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 yang menyebutkan bahwa “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa” seperti yang telah saya bacakan tadi. Akan tetapi dalam ayat ini saya berpendapat ada dua macam penafsiran: 1. Yesus adalah Tuhan. 2. Berdasarkan Injil Johanes pasal 12 ayat 45 yang kita baca itu menyebutkan, Yesus itu adalah utusan Tuhan. Utusan di sini maksudnya selaku Tuhan ia menyampaikan sendiri ajarannya kepada manusia.

    A: Ayat itu bukan berarti mempunyai dua macam penafsiran, tetapi di antara dua ayat tersebut yakni di Johanes pasal 10 ayat 38, dan pasal 14 ayat 11 dan Johanes pasal 12 ayat 45 itu adalah bertentangan. Di satu ayat ditafsirkan Yesus itu Tuhan, dan di ayat lain disebutkan bahwa Yesus itu utusan Tuhan. Jadi di dalam Injil sendiri terdapat ayat-ayatnya antara yang satu dengan yang lain bertentangan. Kita perlu ingat kembali pada pembicaraan kita semula kalau ada kitab suci yang isinya berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, maka apakah kitab suci itu masih akan dipertahankan kesuciannya…?

    B: Betul, kita telah bicarakan hal itu pada pertemuan yang lalu.

    A: Andaikan Saudara masih juga mempertahankan ketuhanan Yesus dengan berdasarkan ayat Bibel yang menyebutkan: “Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus” sebagaimana tersebut dalam Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 itu, maka Saudara pun akan dijawab oleh Kitab Injil Saudara sendiri, bahwa penafsiran Saudara itu tidak benar.

    B: Di manakah menyebutkan demikian?

    A: Silahkan Saudara periksa di Injil Johanes pasal 17 ayat 21. Sekali lagi: Yesus hanyalah UTUSAN (RASUL) Tuhan

    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya semua jadi satu, ia Bapa! seperti Bapa dalam saya dan saya dalam Bapa dan supaya dia orang jadi satu dalam kita, biar dunia percaya Bapa sudah mengutus saya”.

    A: Jelas di ayat ini kalau Yesus sendiri berkata bahwa Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus dan muridnya pun ada dalam Bapa. Kalau begitu harus Saudara akui bahwa murid-murid Yesus pun Tuhan juga.

    B: Kalau begitu bagaimana arti yang sebenarnya ayat itu menurut Bapak?

    A: Kalimat: “Bapa dalam saya” dan muridnya jadi satu dengan kita (Allah dan Yesus) di ayat tersebut maksudnya, supaya Yesus senantiasa tidak melupakan Allah (Bapa) demikian juga muridnya tidak melupakan Yesus dan Allah (Bapa). Dan di akhir ayat tersebut Yesus berkata “biar dunia percaya yang Bapa mengutus saya”. Rangkaian kata-kata ini tegas sekali Yesus mengakui bahwa ia bukan Anak Allah, melainkan utusannya, dan teruskan Saudara baca di Johanes pasal 17 ayat 23.

    B: Baik, ayat tersebut menyebutkan: “Saya dalam dia orang, dan Bapa dalam saya, supaya dunia boleh tahu yang Bapa sudah mengutus saya”.

    A: Apakah susunan ayat tersebut belum jelas bahwa Yesus sendiri yang berkata dan mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Apakah Saudara masih belum puas tentang ayat-ayat Injil yang menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan, karena saya anggap telah cukup banyak tunjukkan kepada Saudara.

    B: Sebagaimana telah saya sampaikan kepada Bapak, saya ingin kepuasan. Sebetulnya keterangan-keterangan Bapak telah memuaskan saya, namun demikian kalau masih ada ayat-ayatnya lagi harap Bapak tunjukkan. Sekali lagi: “Laa ilaaha illa Allaah” dalam Bible

    A: Baik saya penuhi pengharapan Saudara silahkan Saudara periksa di kitab Samuel yang kedua pasal 7 ayat 22.

    B: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Maka sebab itu besarlah Engkau, ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan Engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami”.

    A: Di ayat ini jelas bahwa Yesus sendiri menghadapkan kata-katanya kepada Allah, bahwa tiada yang dapat disamakan dengan Allah. Jadi Yesus sendiri mengakui bahwa dirinya tidak sama dengan Tuhan, dengan kata lain ia bukan Tuhan dan di tengah-tengah ayat itu Yesus sendiri berkata: “Tiada Allah melainkan engkau”. Jadi Yesus termasuk yang lain, yakni ia bukan Tuhan Allah. Rangkaian ayat tersebut, Yesus sendiri yang berkata bahwa, “tiada Tuhan melainkan Allah”. Mengapa kaum Kristen mengangkat Yesus selaku Tuhan? Silahkan periksa lagi Injil Yahya pasal 17 ayat 8.

    B: Baik, sebutan ayat tersebut adalah sebagai berikut: “Karena segala firman yang telah Engkau firmankan kepadaku, itulah aku sampaikan kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetahui dengan sesungguhnya bahwa aku datang dari ada-Mu, dan lagi mereka itu percaya bahwa Engkau yang menyuruh aku.

    A: Di ayat ini Yesus sendiri berkata bahwa ia menerima firman dari Allah. Kalau Yesus Tuhan, tentunya tidak membutuhkan firman dari siapa pun juga. Di akhir ayat itu juga Yesus sendiri berkata bahwa “Engkaulah yang menyuruh aku”. Jadi Yesus itu bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan, sebagaimana nabi-nabi dan utusan-utusan Allah yang lain-lain juga. Teruskan Saudara periksa Injil Matius pasal 26 ayat 2.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Kamu memang mengetahui bahwa dua hari lagi akan ada hari raya Paskah, dan Anak manusia akan diserahkan supaya ia disalibkan”.

    A: Yang dimaksud dengan anak manusia di ayat itu ialah Yesus sendiri. Jadi jelas Yesus mengakui bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Lanjutkan periksa Injil Matius pasal 5 ayat 45. Sekali lagi: makna “Anak Allah” dalam Bible

    B: Baik, ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga…”

    A: Cukup sampai di situ. Di ayat ini Saudara saksikan sendiri, bahwa Yesus sendiri yang berkata kepada murid-muridnya, supaya kamu menjadi anak-anak bapamu yang di surga; yakni apabila murid-muridnya taat atas perintah-perintah Tuhan, menurut Yesus mereka akan jadi anak Tuhan juga. Berdasarkan ayat Bibel tersebut tentunya Anak Tuhan akan menjadi banyak jumlahnya, bukan Yesus saja.

    B: Tetapi di Injil Johanes pasal 1 ayat 34 menyebutkan: “Maka aku sudah melihat itu, serta bersaksi yang dia inilah Anak Allah”. Juga di Injil Matius pasal 3 ayat 17 menyebutkan: “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan” Di Injil Lukas pasal 1 ayat 32 juga menyebutkan: “Maka ia akan menjadi besar, dan ia akan dikatakan Anak Allah Yang Maha Tinggi, maka Allah, Tuhan kita akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, nenek moyangnya itu”. Di Ibrani pasal 4 ayat 14 menyebutkan: “Sedangkan ada kepada kita seorang Imam Maha Besar yang sudah melintas segala langit, yaitu Yesus Anak Allah, maka hendaklah kita memegang pengakuan itu”. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan bahwa Yesus Anak Allah. Kalau Bapak memerlukan akan saya tunjukkan ayat-ayatnya.

    A: Saya mengerti, bahwa ayat-ayat Bibel yang menyebutkan Yesus Anak Allah sebagaimana tersebut di:

    Matius: Pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63 dan Pasal 16 ayat 17.

    Johanes: Pasal 3 ayat 16, pasal 1 ayat 34 dan 40, pasal 17 ayat 1, pasal 19 ayat 7, pasal 16 ayat 27 dan ayat 30, pasal 15 ayat 23 dan beberapa ayat lainnya di Johanes.

    Rum: Pasal 1 ayat 9, pasal 5 ayat 10, pasal 8 ayat 3, pasal 29 ayat 32.

    Galitiah: Pasal 1 ayat 16, pasal 4 ayat 4 dan 6.

    Lukas: Pasal 1 ayat 32 dan 35, pasal 3 ayat 22, pasal 4 ayat 3 dan 9, pasal 4 ayat 43 dan 41.

    Ibrani: Pasal 1 ayat 2, 5 dan 8, pasal 3 ayat 6, pasal 4 ayat 14, pasal 5 ayat 5 dan 8.

    Matius: pasal 2 ayat 15, pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3 dan ayat 6, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63, pasal 16 ayat 17.

    Korintus: Pasal 1 ayat 9.

    Dan masih ada beberapa ayat lain di Kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tetapi maksudnya bukan Anak Allah yang sebenarnya, karena Yesus sendiri mengaku di Kitab Injil bahwa ia adalah utusan Allah, bukan Anak Allah. Dan ia sendiri berkata: “anak manusia” bukan anak Tuhan, Jadi jumlah ayat-ayat di Kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tidak menjamin kebenarannya bahwa ia Anak Allah betul-betul, sebagaimana kita sering mendengar ucapan-ucapan “Anak Kapal” “Anak Sekolah” tidak berarti bahwa kapal dan sekolah itu beranak, melainkan mempunyai arti bahwa orang itu selalu terikat oleh peraturan-peraturan kapal dan pelajaran-pelajaran di sekolah. Periksa lagi Yahya pasal 5 ayat 30.

    B: Ayat tersebut demikian bunyinya: “Suatu pun tidak aku dapat berbuat menurut kehendakku sendiri melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana yang aku dengar, dan hukumku itu adil adanya, karena bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku.

    A: Di sini jelas sekiranya Yesus itu Tuhan, tentu dapat berbuat sekehendaknya sendiri. Tetapi di Bibel sendiri menyebutkan bahwa perbuatan Yesus itu adalah kehendak Tuhan. Dan sekiranya Yesus itu Tuhan, tentunya tidak ada yang mengutus. Mustahil Tuhan menjadi utusan Tuhan, atau dengan lain kata “Utusan Tuhan itu adalah Tuhan”. Bisakah terjadi demikian?

    B: Sudah jelas dan terima kasih.

    A: Silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Seorang pun tiada naik ke surga, kecuali ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia”.

    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Yesus sendiri adalah anak manusia, bukan anak Tuhan.

    B: Betul berdasarkan ayat tersebut Yesus adalah anak manusia.

    A: Periksa lagi di Matius pasal 27 ayat 30.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Maka mereka itupun meludahi dia, serta mengambil buluh itu memalu kepalanya”.

    A: Kalau Yesus itu betul Tuhan, bagaimana Tuhan bisa diludahi dan diperolok-olokkan? Mengapa ada Tuhan yang begitu lemah? Sesuai dengan pengharapan Saudara supaya puas dengan soal ketuhanan Yesus menurut Bibel dan perkataan Yesus sendiri ada menyebutkan Ia bukan Tuhan, sekali lagi periksa di Matius pasal 21 ayat 18 dan 19.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Pada pagi-pagi harinya, apabila Ia kembali ke negeri itu, ia merasa lapar”. Serta dipandangnya sepohon ara di sisi jalan, pergilah ia ke situ dan didapatinya suatu apa pun tiada di pohon itu, melainkan daun sahaja. Lalu berkatalah ia kepadanya: Janganlah jadi buah daripadamu lagi selama-lamanya. Maka dengan seketika itu juga layulah pohon ara itu”.

    A: Kalau Yesus itu Tuhan tentu ia tidak akan mengutuk pohon itu supaya tidak berbuah melainkan ia akan menciptakan buah pada pohon itu dengan kekuasaannya selaku Tuhan. Akan tetapi pohon yang tidak berbuat kesalahan apa-apa kepada Yesus dan pohon yang tidak tahu apa-apa itu malah dikutuk oleh Yesus. Wajarkah Tuhan mengutuk makhluk yang tidak bersalah? Padahal kalau betul Yesus itu Tuhan tentu ia berkuasa menciptakan pohon itu supaya mengeluarkan buahnya seketika itu juga, tidak lalu mengutuknya.

    B: Bapak hafal betul tentang ayat-ayat di Kitab Injil, jadi sudah jelas berdasarkan ayat-ayat Injil yang Bapak sebutkan dan dikuatkan lagi dengan beberapa ayat lainnya, nyatalah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan.

    A: Persoalan Yesus anak Tuhan itu telah kita bicarakan pada pertemuan pertama, dan sudah dibereskan oleh Injil sendiri yang menyebutkan bahwa selain Yesus masih banyak lagi beberapa manusia yang harus diakui anak Tuhan, dan seharusnya mereka itu diakui juga oleh golongan Kristen, menjabat anak tuhan, bukan Yesus saja, karena berdasarkan Kitab Injil sendiri anak Tuhan itu banyak.

    B: Ya betul kita telah bicarakan tentang itu. Siapakah “Anak SULUNG Allah” yang sebenarnya dari “Anak SULUNG”-“Anak SULUNG” yang disebutkan dalam Bible?

    A: Supaya lebih Jelas, baiklah saya ulangi, di Injil ada menyebutkan bahwa: 1. Daud anak Allah yang sulung (Mazmur, pasal 89 ayat 27) 2. Yakub (Israil) adalah anak Allah yang Sulung (Keluaran pasal 4 ayat 22 dan 23) 3. Afraim adalah anak Allah yang Sulung (Yeremia pasal 31 ayat 9) Jadi Daud anak Allah yang sulung, Yakub anak Allah yang sulung, dan Afraim juga anak Allah yang sulung. Ketiga-tiganya atau kesemuanya adalah anak sulung. Yang manakah yang betul-betul sulung? Apakah ayat ini benar semuanya atau salah semuanya? Karena itu saya jelaskan bahwa anak Allah yang tersebut dalam Bibel itu, tidak berarti anak Allah yang sebenarnya melainkan maksudnya ialah kekasih Allah, atau mereka yang taat kepada perintah-perintah tuhan.

    B: Saya sudah mengerti, terima kasih. Makna: “Anak” dan “Bapa” dalam Bible

    A: Tetapi Saudara mungkin belum mengerti betul tentang arti “Anak dan Bapa” dalam bahasa Ibrani, atau susunan bahasa yang terpakai dalam Bibel.

    B: Kalau begitu bagaimanakah arti yang sebenarnya?

    A: Dalam bahasa Ibrani kata “Bapa” itu dipakai buat Tuhan, sedangkan kata “anak” dipakai buat mereka yang dihormati, seperti para Nabi dan para Rasul.

    B: Dasar apakah yang dipergunakan oleh Bapak tentang keterangan itu?

    A: Saya sudah sebutkan pada pertemuan yang pertama ialah tersebut dalam Injil Matius.

    B: Saya tidak ingat, di pasal dan ayat berapa?

    A: Silahkan buka Matius, pasal 5 ayat 9.

    B: Baik, di sini disebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang karena mereka itu akan disebut anak Allah”.

    A: Jelas siapa saja mendamaikan manusia akan disebut akan menjabat “anak Allah” kalau begitu anak Allah itu ratusan, ribuan malah mungkin jutaan orang, jadi bukan Yesus saja.

    ***

    Wallahualam..

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 4 September 2016 Permalink | Balas  

    Isa anak Allah? 

    al quranIsa anak Allah?

    A=Muslim B=Kristen

    Malam 1.

    Ketuhanan Yesus

    A: Sejak kapan Saudara beragama Kristen?

    B: Sejak saya dilahirkan.

    A: Apakah Saudara benar-benar mempelajari bahwa agama Kristen itu suatu agama yang paling benar?

    B: Ya, memang saya menyadari.

    A: Apakah Saudara berkeyakinan bahwa Kitab Injil itu suci?

    B: Ya, saya yakin sekali.

    A: Dari siapakah pengertian Saudara bahwa Bibel itu dari Tuhan Yang Maha Suci?

    B: Guru saya menerangkan bahwa Bibel adalah Kitab Suci berisi pengajaran Tuhan Yesus, yang dicatat oleh Rasul-Rasul Matius, Lukas, Yohanes dan Rasul Markus.

    A: Apakah yang dimaksud suci pada Bibel itu mempunyai arti bahwa Bibel bersih daripada kesalahan-kesalahan?

    B: Betul demikian. Tetapi kesalahan yang bagaimana yang Bapak maksudkan?

    A: Misalnya pada suatu saat ada orang mengabarkan pada Saudara si A sakit, sedangkan orang lain memberitahukan bahwa pada saat itu si A tidak sakit. Kedua berita itu apakah benar semuanya atau salah semuanya, atau salah satunya yang benar?

    B: Diantara keduanya itu tentu salah satu yang benar atau keduanya salah dan mustahil kedua-duanya benar.

    A: Satu misal lain, si A mempunyai 3 orang anak dan orang lain mengatakan si A mempunyai 10 anak. Apakah dua perkataan itu benar semuanya atau salah semuanya atau salah satu yang benar?

    B: Tidak mungkin benar semuanya, melainkan salah satunya yang benar atau salah semuanya.

    A: Kalau saya mengatakan benar semuanya, bagaimana pendapat saudara?

    B: Itu adalah mustahil, karena ternyata ada perselisihan di antara keduanya.

    A: Andaikata ada suatu kitab suci, akan tetapi ayat-ayat di dalamnya di antara yang satu dengan yang lain terdapat perselisihan, apakah kitab itu akan dinamakan kitab suci?

    B: Tentu bukan kitab suci, karena yang dinamakan kitab suci itu adalah ilham (wahyu) dari Tuhan, yang mustahil terdapat kesalahan atau perselisihan.

    A: Jadi kalau begitu bukan kitab suci lagi?

    B: Betul, kesuciannya telah batal.

    A: Kalau demikian, tentu isinya tidak dapat dipercaya, kesuciannya atau kebenarannya, karena di antara ayat-ayatnya terdapat perselisihan.

    B: Yang jelas di antara ayat-ayatnya pasti bukan dari Tuhan, atau sudah dicampuradukkan dengan karangan manusia, sehingga kesuciannya ternoda. Ringkasnya sudah tidak suci lagi.

    A: Kalau misalnya Bibel terdapat selisih antara satu ayat dengan ayat lain apakah Saudara masih berkeyakinan Bibel itu kitab suci?

    B: Saya tidak yakin kalau Kitab Bibel tidak suci. Terkecuali kalau ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan ayat-ayatnya berselisih antara yang satu dengan yang lain, yang dapat menimbulkan keraguan saya tentang kesuciannya. Menurut penelitian Bapak, apakah ayat-ayat Bibel ada yang berselisih?

    A: Ya, banyak yang berselisih.

    B: Di Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru?

    A: Dua-duanya terdapat beberapa perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain.

    B: Di bab apa dan pasal serta ayat berapa?

    A: Supaya berurutan saya atur dalam beberapa pasal: Pertama soal Ketuhanan Yesus, karena soal Ketuhanan adalah termasuk kepercayaan pokok pada tiap-tiap agama. Jadi soal ini perlu sekali didahulukan. Sesudah itu kita berpindah kepada soal yang lain yang berhubungan dengan soal agama Kristen yang termaktub dalam Kitab Bibel. Bagaimana pendapat Saudara?

    B: Baik, saya menyetujui pendapat Bapak. Siapa Sajakah “Anak Allah” Itu?

    A: Sekarang saya ingin bertanya, apakah alasan Saudara bahwa Yesus menjadi anak Tuhan?

    B: Dalam “Matius” pasal 3 ayat 17 menyebutkan demikian : “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. KepadaNya Aku berkenan”. Juga di Lukas pasal 4 ayat 41, bahwa “Yesus itu Anak Allah.”

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 5 ayat 9.

    B: Baik, Dalam pasal dan ayat itu menyebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah”.

    A: Berdasarkan ayat tersebut, yang dimaksudkan “Anak Allah” itu ialah orang yang dihormati seperti Nabi. Kalau Yesus dianggap anak Allah, maka semua orang yang mendamaikan manusia pun menjadi anak-anak Allah juga. Jadi bukan Yesus saja Anak Allah tetapi ada terlalu banyak.

    B: Dalam “Yohanes” pasal 14 ayat 9 disebutkan: “Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa”, dan di ayat 10 disebutkan: “Tiadakah engkau percaya bahwa Aku ini di dalam Bapa, dan Bapa pun di dalam Aku? Segala perkataan yang Aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal di dalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu.” Tritunggal atau 15Tunggal?

    A: Baiklah. Silahkan Saudara periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 23.

    B: Baik, di pasal ini disebutkan bahwa: “Aku di dalam mereka itu, dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan.”

    A: Perhatikan di ayat ini ada tersusun kata “Aku di dalam mereka”. Kata “mereka” di ayat ini ialah sahabat Yesus. Sedang yang dimaksudkan dengan “Aku” ialah Yesus. Jadi kata “Aku” beserta mereka artinya Yesus beserta sahabat-sahabatnya. Jadi Tuhan itu beserta Yesus dan para sahabatnya. Kalau Saudara percaya hal kesatuan Yesus dengan Bapa maka Saudara pun harus percaya tentang kesatuan Bapa itu dengan semua sahabat Yesus yang berjumlah 12 orang itu. Jadi bukan Yesus dan Roh Suci saja yang menjadi satu dengan Tuhan, melainkan harus ditambah 12 orang lagi. Ini namanya persatuan Tuhan atau Tuhan persatuan bukan hanya Tritunggal tetapi 15tunggal. Jadi berdasarkan perselisihan ayat-ayat tersebut, yang manakah yang benar? Tiga menjadi Tunggal atau 15 menjadi Tunggal? Ayat manakah yang akan Saudara yakini, yang tiga menjadi tunggal ataukah yang 15 itu? Allah itu Esa (Tunggal)

    B: Tunggu dulu Pak, ini agak membingungkan saya.

    A: Tentu akan lebih membingungkan Saudara kalau saya tunjukkan ayat yang lain. Silahkan periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 3.

    B: Baik, di sini menyebutkan “Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa dan Yesus kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    A: Di ayat ini menyebutkan Tuhan adalah Esa. Dalam Kamus bahasa Indonesia oleh E. St. Harahap, cetakan ke II disebutkan bahwa Esa itu berarti satu, pertama (tunggal) dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Yesus Kristus adalah Pesuruh Allah (Utusan/Rasul). Kalau demikian, manakah yang benar? Di satu ayat menyebutkan Tuhan dengan Yesus menjadi satu, di lain ayat 15 menjadi satu dan yang lain lagi Tuhan itu Tunggal, sedangkan di ayat itu pula menyebutkan bahwa Yesus itu pesuruh Allah, bukan Tuhan. Menurut pengakuan Saudara suatu kitab suci yang kandungan ayat-ayatnya bertentangan antara yang satu dengan yang lain tentu sulit sekali dipercaya kesuciannya, karena yang disebut suci itu bersih dari kekeliruan dan perselisihan.

    B: Masih adakah ayat yang menyebutkan demikian?

    A: Ayat yang bagaimana yang Saudara maksudkan?

    B: Ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), bukan tiga menjadi satu.

    A: Silahkan buka di “Ulangan” pasal 4 ayat 35.

    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka kepadamulah ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itulah Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

    A: Jelas di dalam Bibel sendiri menerangkan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal.

    B: Tetapi itu di dalam Kitab Perjanjian Lama. Apakah terdapat juga di Perjanjian Baru?

    A: Saudara minta di Perjanjian Baru, baiklah. Silahkan Saudara buka Markus pasal 12 ayat 29.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan “Maka jawab Yesus kepadanya, hukum yang terutama ialah: Dengarlah olehmu hai Israel, adapun Allah Tuhan kita ialah Tuhan yang Esa.”

    A: Periksa lagi di Perjanjian Lama di “Ulangan” pasal 6 ayat 4.

    B: Baik, di sini disebutkan: “Dengarlah olehmu hai Israel, sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya.”

    A: Apakah belum jelas bahwa Bibel sendiri yang menjadi kitab sucinya orang Kristen menyebutkan seterang-terangnya bahwa Tuhan itu tunggal, bukan tiga menjadi satu atau satu menjadi tiga. Taruh kata di Bibel ada ayat yang menyebutkan Tuhan itu tiga menjadi satu, saya ingin bertanya yang manakah di antara kedua ayat itu yang benar, yang Tunggalkah atau yang tiga menjadi Tunggal? Jadi salah satu dari dua ayat tersebut pasti ada yang benar, karena sudah jelas dua ayat itu tidak sama. Kalau salah satu atau dua-duanya salah, maka kandungan kitab suci itu ada yang salah, jadi bukan kitab suci namanya.

    B: Betul, salah satu pasti salah atau kedua-duanya salah.

    A: Kalau demikian apakah dapat diyakini kebenarannya sebagai kitab suci, kalau kitab suci itu mengandung kesalahan atau tidak benar isinya?

    B: Ya, yang disebut kitab suci itu harus bersih dari kesalahan-kesalahan kalau tidak demikian maka batallah kesucian kitab suci itu.

    Apakah Yesus Bersatu dengan Allah?

    A: Menurut kepercayaan Saudara, apakah Yesus bersatu dengan Allah?

    B: Ya demikian.

    A: Kalau demikian tentu Yesus adalah selalu bersama Allah dan Allah selalu bersama Yesus.

    B: Betul demikian sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” 10, 30 yang bunyinya sebagai berikut: “Aku dan Bapa itu satu adanya”. Demikian juga Roh Suci, sebab Roh Suci itu menjadi satu dengan Yesus, sebagaimana tersebut dalam Injil, ialah setelah Yesus berumur 30 tahun turun Roh Suci kepadanya dan dibaptiskan oleh pembaptis yaitu Yohanes. Jadi jelas bahwa Yesus, Roh Suci, Tuhan adalah Tunggal. Eli, Eli, Lama Sabakhtani … (Ya Tuhan, Ya Tuhan, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?)

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 27 ayat 46.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Maka sekira-kira pukul tiga itu berserulah Yesus dengan suara yang nyaring katanya: “Eli, Eli, lama sabakhtani”, artinya: “Ya Tuhan, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku.”

    A: Berdasarkan seruan Yesus di ayat itu, jelas bahwa Yesus tidak bersatu dengan Tuhan, yakni Tuhan meninggalkan Yesus, waktu akan disalibkan. Mestinya kalau Tuhan menjadi satu dengan Yesus, di saat itulah saat tepat untuk menolong Yesus, tetapi kenyataannya Tuhan tidak bersatu dengan Yesus sehingga Yesus sendiri minta tolong.

    B: Tetapi Yesus itu hidupnya memang untuk disalib guna menebus dosa manusia.

    A: Kalau hidupnya Yesus memang untuk disalib, mengapa Yesus tidak bersedia dan menolak untuk disalib? Buktinya ia berseru dengan suara nyaring minta tolong pada Tuhan agar ia terlepas dari disalibkan. Dengan kata lain Yesus tidak bersedia selaku penebus dosa.

    B: Betul, saya lantas tidak mengerti mengapa ayat-ayat Bibel ada yang simpang siur.

    Apakah Manusia-Manusia yang Menyalibkan Yesus Itu Dilaknat atau Mendapat Pahala?

    A: Dari sebab itulah mengapa Saudara menyembah Yesus selaku Tuhan yang tidak berkuasa menyelamatkan dirinya sendiri, malah minta tolong. Pantaskah ada Tuhan demikian? Dan saya lanjutkan pertanyaan, apakah manusia-manusia yang menyalibkan Yesus itu dilaknat?

    B: Pasti dilaknat.

    A: Mestinya tidak dilaknat, malah Yesus harus berterima kasih kepada mereka yang menyalibkan dia, bahkan mereka itu seharusnya mendapatkan ganjaran, karena menurut keterangan Saudara, kehidupan Yesus itu harus disalib untuk menebus dosa-dosa. Jika tidak ada manusia yang bersedia menyalibkan Yesus, maka dosa-dosa manusia tentu tidak ada yang menebusnya. Jadi manusia-manusia yang telah menyalib Yesus itu berjasa kepada Yesus dan penganut-penganut Kristen. Akan tetapi mereka yang sudah terbukti berjasa itu malah dilaknat. Mestinya mereka itu masuk surga dan dipuji-puji atas jasanya.

    B: Ini memang tidak masuk akal atau sekurang-kurangnya memang sulit dimengerti, akan tetapi Roh Tuhan bersatu dengan Yesus itu tidak mustahil sebagaimana banyak manusia yang kesurupan hantu, jin, malaikat atau makhluk-makhluk halus lainnya sehingga tindakan tindakan dan perbuatannya menurut kehendak makhluk halus tersebut. Demikian juga ada yang kemasukan Roh Suci seperti roh malaikat sehingga tindakan-tindakan dan perbuatannya adalah suci.

    A: Kalau demikian baiklah saya bikin pertanyaan: Manusia yang bersatu (kesurupan) jin itu apakah dia disebut jin?

    B: Tidak.

    A: Yesus yang bersatu (menerima) Roh Tuhan itu apakah ia disebut Tuhan?

    B: Mestinya tidak juga.

    A: Seharusnya begitu. Jadi jelas bahwa Yesus yang menerima Roh Ketuhanan tentunya bukan Tuhan. Manusia yang menerima wahyu Tuhan itu bukan Tuhan melainkan adalah utusan (pesuruh) Tuhan. Sesuai dengan pengakuan Yesus sendiri sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” pasal 17 ayat 3 yang berbunyi: “Supaya mereka itu mengenal Engkau. Allah Yang Maha Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    B: Saya lantas tambah tidak mengerti tentang Ketuhanan Yesus itu.

    A: Menurut keterangan Saudara tadi, bahwa manusia yang bersatu dengan (kesurupan) makhluk halus seperti roh-roh, jin dan malaikat, maka tindakan dan perbuatannya pasti menurut kehendak atau menyerupai perbuatan makhluk-makhluk halus itu.

    B: Benar begitu.

    A: Kalau demikian maka Yesus yang Saudara akui bersatu dengan Tuhan mestinya tindakan-tindakan dan perbuatannya menyerupai perbuatan Tuhan.

    B: Mestinya begitu.

    A: Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Tuhan tidak tidur tetapi Yesus tidur, Tuhan tidak makan tetapi Yesus makan, Tuhan tidak sakit tetapi Yesus sakit, Tuhan tidak menyembah kepada siapa pun tetapi Yesus menyembah Tuhan. Tuhan tidak mati tetapi Yesus mati, walaupun menurut i’tikat Kristen hidup kembali, tetapi ia mati. Yesus Tidak Mengetahui Yang Gaib

    B: Menurut anggapan orang Kristen salah satu yang mneyebabkan Yesus bersatu dengan Tuhan, karena ia mengetahui yang gaib.

    A: Kalau begitu silahkan buka “Markus” pasal 13 ayat 31, 32.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Sesungguhnya langit dan bumi akan lenyap tetapi perkataan-Ku kekal. Tetapi akan harinya atau ketikanya itu tidak diketahui oleh seorang jua pun, baik segala malaikat yang di sorga pun tidak, Anak itu pun tidak, hanyalah Bapa saja.”

    A: Jelas di Bibel sendiri tertulis, Yesus sendiri mengaku tidak ada yang tahu kapan hari kiamat, melainkan hanya Tuhan sendiri. Jadi tegas Yesus sendiri tidak mengetahui waktunya hari kiamat, yang termasuk suatu yang gaib. Yang tidak tahu itu pasti bukan Tuhan.

    Siapa Anak Sulung Allah?

    B: Tetapi Yesus menyebutkan dirinya di ayat ini dengan kata: “Anak”, yang berarti ia anak Tuhan.

    A: Silahkan buka “Matius” pasal 1 ayat 16.

    B: Baik, di situ disebutkan: “dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria, ialah yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.”

    A: Jelas bahwa yang diperanakkan itu pasti bukan Tuhan sebagaimana tersebut dalam ayat tersebut. Silahkan periksa lagi “Keluaran” pasal 4 ayat 22.

    B: Baik, di situ disebutkan: “Maka pada masa itu hendaklah katamu kepada Fir’aun demikian: “Inilah firman Tuhan: Bahwa Israil itulah anak-Ku laki-laki, yaitu anak-Ku yang sulung”.

    A: Di ayat ini disebutkan bahwa Israil adalah anak Tuhan yang sulung, sedangkan Yesus tidak disebutkan anak yang ke berapa. Silahkan buka lagi “Yeremia” pasal 31 ayat 9.

    B: Ayat ini menyebutkan, “Akulah Bapak bagi Israil, dan Afraim itulah anak yang sulung.”

    A: Jelas sekali bahwa berdasarkan Bibel sendiri anak Tuhan itu banyak, bukan Yesus saja, padahal sebenarnya yang dimaksudkan dengan “Anak” dalam ayat itu ialah mereka yang dikasihi oleh Tuhan, termasuk Yesus jadi bukan anak yang sebenarnya.

    B: Tetapi dalam “Matius” pasal 1 ayat 18, menyebutkan sebagai berikut: “Adapun kelahiran Yesus Kristus demikian adanya: Tatkala Maria, yaitu ibunya, bertunangan dengan Yusuf, sebelum keduanya bersetubuh, maka nyatalah Maria itu hamil daripada Roh Kudus. Roh Kudus artinya Roh Tuhan. Oleh karenanya maka Yesus itu adalah anak Tuhan, sebagaimana juga di “Matius” pasal 1 ayat 20 menyebutkan: “Yusuf bermimpi seorang malaikat, Tuhan berkata: “Hai Yusuf, anak Daud, janganlah engkau kuatir menerima Maria itu menjadi istrimu karena kandungan itu terbitnya daripada Roh Kudus.” Apa Maksud Roh Kudus dalam Bible?

    A: Kalau begitu silahkan buka: “Kisah Rasul” pasal 6 ayat 5.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Maka perkataan ini diperkenankan oleh sekalian orang banyak itu, lalu memilih Stephanus, yaitu seorang yang penuh dengan iman, dan Roh Kudus, dan lagi Philippus, dan Prokhorus dan Nikanor dan Simion dan Parmenas dan Nikolaus yaitu mualaf asalnya dari negeri Antiochia.

    A: Jadi berdasarkan ayat Bibel sendiri menunjukkan bahwa Roh Kudus itu bukan pada Yesus saja. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu Roh Suci, atau Roh Kesucian yang maksudnya roh yang bersih dari roh-roh kotor, bukan seperti roh setan atau hantu. Sebagaimana halnya para Nabi lainnya dengan roh sucinya. Menurut Al Qur’an, Roh Kudus (roh suci) itu berarti “Jibril”. Di Bibel sendiri menyebutkan bahwa para nabi yang terdahulu adalah Kudus.

    B: Di Bibel pasal berapa menyebutkan demikian?

    A: Silahlan periksa surat Petrus yang kedua pasal 3 ayat 2.

    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu ingat perkataan yang sudah disabdakan dahulu oleh nabi yang kudus dan akan hukum Tuhan lagi juru selamat, dengan jalan rasul-rasul yang disuruhkan kepadamu”.

    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Roh Kudus itu bukan Tuhan dengan kata lain bahwa Yesus dalam kandungan Maria itu bukan Tuhan atau Roh Tuhan, melainkan adalah roh bersih, suci, dengan izin atau perintah Allah yang dikaruniakan kepada hamba yang dikehendakinya. Lebih jelas harap Saudara periksa dalam “Kisah Rasul”, pasal 5 ayat 32.

    B: Ayat tersebut menyebutkan: “Dan kami inilah saksi atas segala perkara itu, ” demikian juga Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada sekalian orang yang menurut Dia.”

    A: Silahkan periksa lagi dalam “Lukas” pasal 1 ayat 41.

    B: Pasal ini menyebutkan bahwa: “Maka berlakulah tatkala Elisabet mendengar salam Maria itu, meloncatlah kanak-kanak yang di dalam rahimnya itu dan Elisabet penuh Roh Kudus.

    A: Sudah jelas sekali bahwa arti Roh Kudus adalah Roh Suci yang dikaruniakan oleh Allah kepada siapa pun yang dikehendakinya. Kalau sekiranya Roh Kudus itu diartikan dengan Allah atau Roh Allah maka bukan Yesus saja menjadi Tuhan atau anak Tuhan, melainkan segala orang yang taat kepada Tuhan, para Nabi dan Elisabet (istri Zakaria) pun mestinya Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menghidupkan Orang Mati (Atas Kehendak Allah)

    B: Yesus dianggap Tuhan oleh karena ia mempunyai Roh Ketuhanan, terbukti dengan pangkat Ketuhanannya sehingga ia dapat menghidupkan orang mati. Inilah kesamaan Allah dengan Yesus.

    A: Kalau begitu, silahkan periksa di “Kitab Raja-raja yang kedua” pasal 13 ayat 21.

    B: Baik, di sini ada menyebutkan: “Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya seorang Anu, tiba-tiba terlihat mereka itu suatu pasukan lalu dicampakkannya orang mati itu ke dalam kubur Elisa, maka baru orang mati itu dimasukkan ke dalamnya dan kena mayat Elisa itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri”.

    [Elisa = Ilyas, dalam Islam, pent.]

    A: Di sini menyebutkan malah tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Jadi bukan Yesus saja dapat menghidupkan orang mati bahkan tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Yang berarti tulang-tulang Elisa adalah tulang-tulang ketuhanan. Kalau Yesus di waktu hidupnya dapat menghidupkan orang mati, akan tetapi Elisa di waktu tak bernyawa, malah hanya dengan tulang-tulangnya, yang di dalam kubur dapat menghidupkan orang mati. Kalau perbuatan Yesus dikatakan ajaib maka Elisa lebih ajaib dari pada Yesus. Jadi seharusnya Elisa pun dianggap Tuhan juga. Periksa lagi di “Kitab Raja-Raja yang pertama” pasal 17 ayat 22.

    B: Ya, di sini menyebutkan: “Maka didengar akan Do’a Elisa itu, lalu kembalilah nyata kanak-kanak itu ke dalamnya sehingga hiduplah ia pula”.

    A: Kalau secara adil, seharusnya Elisa dianggap Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Orang Buta (Atas Kehendak Allah)

    B: Tetapi Yesus dapat menyembuhkan orang buta sehingga melihat.

    A: Kalau begitu periksa “Kitab Raja-Raja yang kedua” pasal 6 ayat 17 dan 30.

    B: Ya di pasal itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang buta, sehingga dapat melihat.

    A: Kalau begitu, Elisa pun harus dianggap Tuhan juga, karena menyamai Yesus dan menyamai sifat Tuhan.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Penyakit Lepra (Atas Kehendak Allah)

    B: Sekali lagi Yesus dapat menyembuhkan penyakit lepra (penyakit kusta)

    A: Silahkan periksa kitab “Raja-Raja yang kedua” pasal 5 ayat 10 dan 11.

    B: Baik, di pasal dan ayat itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang sakit kusta bernama Naaman.

    A: Jadi Elisa pun dapat menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta malah dapat menghidupkan orang mati. Mengapa tidak diangkat juga menjadi Tuhan?

    B: Akan tetapi pasal kejadian Yesus tanpa pencampuran laki-laki dengan istrinya. Inilah kelebihan rohnya Yesus daripada rohnya Elisa.

    A: Asal kejadian Nabi Adam tanpa bapak dan ibu. Mengapa Adam tidak dianggap Tuhan? Juga Hawa asal kejadiannya tanpa ibu, ia pun bisa dianggap juga Tuhan Wanita.

    B: Tetapi Adam dan Hawa kedua-duanya berdosa.

    A: Kalau begitu Yesus pun berdosa, karena Yesus keturunan Maria, sedang Maria keturunan Adam dan Hawa. Yesus sendiri pernah dibawa oleh Iblis ke puncak gunung. Pantaskah Tuhan dibawa oleh Iblis?

    B: Di mana cerita itu disebutkan? Yesus Dibawa Iblis ke Puncak Gunung

    A: Di Bibel. Silahkan Saudara periksa “Lukas” pasal 4 ayat 5.

    B: Baik, di situ menyebutkan: “Maka Iblis pun membawa dia ke puncak gunung.”

    A: Nah, suatu kejadian aneh, Tuhan dibawa iblis yang berarti ia tunduk kepada kemauan iblis.

    B: Walaupun demikian Yesus tetap suci daripada dosa.

    A: Para Nabi lainnya pun suci daripada dosa. Akan tetapi mereka tidak menganggap dirinya selaku Tuhan, malah Yesus sendiri pun tidak juga mengaku Tuhan, sedangkan pengikut-pengikutnya mempertuhankan dia.

    B: Tidak demikian, nabi-nabi berbuat dosa, tetapi Yesus tidak.

    A: Nabi-nabi yang berbuat dosa atau kesalahan itu telah bertobat, lalu diberi ampun oleh Tuhan, sebagaimana juga Yesus pernah minta ampun dan diberi ampun oleh Tuhan. Mereka para Nabi diberi ampun, artinya dosanya telah habis karenanya, lalu mereka disebut bersih dari dosa dan kesalahan-kesalahan.

    Yesus pun Berdosa

    B: Di manakah menyebutkan bahwa Yesus merasa ia minta ampun kepada Tuhan?

    A: Silahkan Saudara periksa sendiri di “Matius” pasal 6 ayat 12.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan ampunilah kiranya kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami.

    A: Jelas Yesus sendiri meminta ampun akan kesalahannya. Jadi dia pernah berbuat kesalahan.

    B: Tetapi di ayat ini juga ada menyebutkan bahwa Yesus suka memberikan ampun semua kesalahan orang kepadanya.

    A: Kalau hanya begitu, kitapun bisa. Kitapun bersedia memberikan ampun kepada orang-orang yang berbuat kesalahan kepada kita.

    Misteri Malkisedik

    B: Tetapi tidak ada manusia selain Adam yang dilahirkan ke dunia ini tanpa bapak, melainkan Yesus saja. Jadi masih dapat dibenarkan kalau Yesus disebut “Putera Tuhan” atau “Tuhan Anak”.

    A: Kalau misalnya ada seorang manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu, maka orang itu pasti akan diakui oleh Saudara bahwa ia lebih berhak menduduki jabatan Tuhan daripada Yesus dilahirkan tanpa bapak saja.

    B: Tetapi dalam sejarah manusia belum pernah ada, dan mustahil adanya.

    A: Kalau kiranya ada, maka yang manakah di antara keduanya yang lebih tinggi derajat Ketuhanannya antara Yesus yang dilahirkan hanya tanpa bapak saja dengan manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu?

    B: Menurut akal tentunya manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu itu lebih tinggi derajat ketuhanannya. Oleh karena ia dilahirkan lebih ajaib keadaannya daripada kelahiran Yesus.

    A: Benarkah demikian pendapat Saudara?

    B: Ya, saya akui, manusia yang demikian lebih ajaib daripada Yesus, akan tetapi saya minta supaya Bapak tunjukkan di Kitab, dan Bapak harus mengambil dari Kitab yang terkenal, bukan dari buku-buku dongengan atau ceritera-ceritera khayalan saja.

    A: Supaya lekas beres urusan ini, silahkan Saudara periksa di Kitab Bibel atau Injil, Kitab Suci Saudara sendiri.

    B: Di Bab dan pasal berapakah ada menyebutkan?

    A: Silahkan Saudara periksa di “Ibrani” pasal 7 ayat 1, 2 dan 3.

    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan seperti berikut: “Adapun Malkisedik itu, yaitu raja di Salem dan Imam Allah taala, yang sudah berjumpa dengan Ibrahim tatkala Ibrahim kembali daripada menewaskan raja-raja, lalu diberkatinya Ibrahim”. “Kepadanya juga Ibrahim sudah memberi bahagian sepuluh Esa. Makna Malkisedik itu kalau diterjemahkan, pertama-tama artinya raja keadilan, kemudian pula raja di Salem, yaitu raja damai”. Yang tiada berbapak dan tiada beribu dan tiada bersilsilah, dan tiada berawal…”.

    A: Cukup, Saudara telah membaca di kitab suci Saudara sendiri, bahwa Malkisedik seorang raja di Salem tanpa bapak dan ibu, malah tiada silsilahnya. Sesuai dengan pendapat Saudara, apakah cerita yang disebutkan dalam kitab suci Saudara ini berupa dongengan atau cerita-cerita khayalan? Kalau dikatakan dongeng atau cerita khayalan, maka apakah Saudara akan terima kalau ada yang mengatakan bahwa kitab suci Saudara ada mengandung cerita-cerita khayalan atau dongengan yang dibuat-buat? Dan kalau Saudara masih mempertahankan kesucian kitab Saudara itu mengapakah Saudara tidak mengangkat Malkisedik menjabat Tuhan juga, malah jabatan ketuhanannya tentunya lebih tinggi daripada Yesus. Dan berpegang dengan pendirian Saudara sendiri bahwa kelahiran Malkisedik itu lebih ajaib dari Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan tanpa bapak sedangkan Malkisedik dilahirkan tanpa bapak dan ibu. Selain itu Malkisedik masih mempunyai kelebihan lagi daripada Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan dengan bersilsilah, yaitu dari Maria, sedangkan menurut Bibel sendiri Malkisedik dilahirkan tanpa silsilah sama sekali. Apakah Saudara masih akan mempertahankan ketuhanan Yesus…?

    B: Saya lantas tidak mengerti dan menjadi bingung!

    A: Tidak mengerti itu tidak apa-apa, dan bingung sebenarnya tidak apa-apa, karena kalau sudah mengerti rasa bingung akan lenyap dengan sendirinya.

    B: Ya, saya membenarkan keterangan Bapak. Tetapi dalam Kitab Injil Johanes pasal 1 ayat 1 dan 2 menyebutkan: “Maka pada mulanya ada itu Kalam, maka Kalam itu serta dengan Allah, dan Kalam itu Allah. Ia itu pada mulanya serta dengan Allah. Kata “Ia” di ayat ini maksudnya ialah “Yesus”. Jadi Yesus beserta dengan Allah.

    A: Dalam susunan ayat tersebut di atas ada kata penghubung ialah: “serta” atau beserta. Kalau ada orang berkata “Si Salim dengan si Amin”, maka susunan kalimat ini semua orang dapat mengerti bahwa si Salim tetap si Salim bukan si Amin jadi berdasarkan ayat Bibel yang Saudara baca dengan susunan “Ia” (Yesus) beserta Allah, langsung dapat dimengerti bahwa Yesus bukan Allah, dan Allah bukan Yesus. Jelaslah bahwa Yesus tidak sama dengan Allah, dengan kata lain kata Yesus bukan Tuhan. Dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Kalam itu Allah. Padahal Kalam itu bukan Allah dan Allah bukan Kalam. Jadi Allah dan Kalam pun lain.

    B: Bagaimana kalau Yesus disebut saja anak Tuhan?

    A: Saya sudah jelaskan tentang itu pada Saudara dalam pembicaraan kita yang lalu. Dan Saudara telah mengakui kebenaran keterangan saya. Sekarang saya tambah, Kalau Tuhan itu beranak, baik anaknya berupa manusia seperti Yesus atau lainnya, maka ke-Esa-an Tuhan sudah ternoda karenanya. Sedang kita pun tidak mungkin menodai ke-Esa-an Tuhan.

    B: Tetapi dalam kitab: “Wahyu” pasal 22 ayat 13 menyebutkan: “Maka Aku inilah Alif dan Ya, yang terdahulu dan yang kemudian. Yang Awal dan Yang Akhir”.

    A: Rangkaian perkataan itu bukan perkataan Yesus sendiri, melainkan firman Allah kepada Yesus. Bukti kebenaran perkataan saya ini silahkan Saudara periksa di Kitab “Wahyu” tersebut pasal 21 ayat 6.

    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku: “Sudahlah genap; Aku inilah Alif dan Ya, yaitu Yang Awal dan Yang Akhir”.

    A: Jelas di ayat itu menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku” Siapakah yang berfirman kepadaku (kepada Yesus) di ayat ini?

    B: Tentu Allah yang berfirman.

    A: Jadi yang berfirman Aku inilah Alif dan Ya, Yang Awal dan Yang Akhir, bukan perkataan Yesus sendiri, tetapi firman Allah kepada Yesus.

    B: Di Johanes pasal 8 ayat 58 Yesus berkata: “Sebelumnya Ibrahim aku sudah ada”. Jadi bisa dianggap Yesus itu permulaan.

    A: Kalau Yesus dikatakan “Permulaan”, maka diapun tidak benar. Karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Walaupun ia dikatakan hidup lagi. Dan orang sudah mati itu tidak bisa dikatakan: “seorang yang terkemudian” dan kalau Yesus itu hidup lagi, tidak bisa dikatakan: “Permulaan” bukan pula “Yang Terkemudian” bukan “Yang Awal” maupun “Yang Akhir”.

    B: Saya lantas makin tidak mengerti, malah tambah membingungkan saya karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Yang pada mulanya tidak ada, tidak bisa disebut: “Permulaan”. Kalau Yesus diperanakkan, mustahil bisa disebut “Permulaan”. dan kalau Yesus pernah mati, mustahil bisa disebut “Yang Terkemudian”

    A: Supaya lebih jelas kepada Saudara maka saya hadapkan pertanyaan: Andaikata Yesus itu disebut “Permulaan” maka apa dengan dasar inikah Saudara mengakui Yesus itu Tuhan?

    B: Ya, betul begitu.

    A: Kalau demikian, bagaimanakah anggapan Saudara, kalau sekiranya dalam kitab suci Saudara ada menyebutkan bahwa ada seseorang manusia Yesus, yang tidak ada permulaannya dan tidak ada kesudahannya. Apakah manusia itu akan diakui Tuhan juga oleh Saudara?

    B: Di pasal manakah menyebutkan demikian.

    A: Sebelum saya tunjukkan, apakah Saudara masih tetap berpendirian akan mengakui Tuhan kepada seorang yang tidak ada permulaan dan kesudahannya, sebagaimana Saudara bertuhan kepada Yesus?

    B: Kalau betul ada, tentu saya bimbang atau sekurang-kurangnya meragukan saya atas kebenaran Yesus selaku Tuhan.

    A: Mestinya Saudara mengakui Tuhan dua-duanya, dengan lain kata disamping Yesus ada lagi Tuhan Tambahan.

    B: Ya, bisa juga begitu. Akan tetapi tentu saja keyakinan saya lantas tambah tidak karuan. Di pasal manakah ada menyebutkan ada seorang manusia yang tidak ada permulaan dan kesudahannya.

    A: Saya telah katakan di kitab suci Saudara sendiri. Silahkan buka Ibrani pasal 7 ayat 2 dan 3.

    B: Baik, seperti tadi sudah saya bacakan sampai baris pertama ayat ketiga dari pasal tersebut sebagai berikut: “Malkisedik yang tiada berbapa dan tiada beribu dan tiada bersilsilah dan tiada berawal dan berkesudahan hidupnya, melainkan ia diserupakan Anak Allah, maka kekallah ia selama-salamanya”.

    A: Bagaimana perasaan Saudara dengan susunan ayat ini. Berdasarkan ayat ini bukan Yesus saja yang menjadi permulaan tetapi juga Malkisedik.

    B: Keyakinan saya memang jadi bimbang terhadap Ketuhanan Yesus.

    A: Bimbang atau tidaknya terserah Saudara, yang jelas tidak ada niat sama sekali untuk mengajak Saudara meninggalkan agama Kristen. Yang penting adalah rembukan dan penelitian semata-mata. Meneliti dan menganalisa terhadap sesuatu adalah hak semua orang, asalkan penelitian itu benar-benar tidak mengganggu ketentraman umum.

    B: Terimakasih, dan saya masih akan bertanya lagi pada Bapak, maklumlah saya ini sedang mencari kepuasan yang dapat menimbulkan keyakinan saya dalam memeluk agama.

    A: Silahkan Saudara bertanya, keyakinan itu timbul setelah menyelidiki dan meneliti dengan kepuasan. Di dalam agama Islam tidak ada paksaan. Yang penting menyampaikan (da’wah), tidak lebih dari itu. Teruskanlah pertanyaan Saudara.

    B: Setelah kita bersoal jawab tentang Ketuhanan Yesus timbullah keraguan dalam hati saya, namun apakah Bapak masih bersedia menunjukkan ayat-ayat Bibel yang menyatakan bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan?

    A: Walau telah saya tunjukkan ayat-ayat Bibel sendiri, tentang pengakuan Yesus sendiri bahwa Tuhan itu Tunggal, namun demi pengharapan Saudara akan saya penuhi juga. Akan tetapi apakah tidak sebaiknya kita lanjutkan besok malam saja oleh karena waktu sudah malam (Jam 12.25).

    B: Ya, terima kasih, besok malam saja kita lanjutkan.

    Bersambung.

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 3 September 2016 Permalink | Balas  

    Pemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an 

    quranPemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an

    Oleh Hedi Rachdiana

    Tulisan ini tidak bermaksud lain, ini sekedar bahan renungan. Benarkah Nabi (N).Isa bisa menghidupkan orang mati?, Berdasarkan tafsir Qur’an Suci terjemahan dari The Holy Qur’an, antara lain disebutkan sebagai berikut:

    Sepintas Tentang Maryam (Bunda Maria)

    Maryam diserahkan ke rumah suci sejak umur 3 sampai umur 12 tahun. Ia adalah termasuk golongan Pendeta yang saleh, ayahnya bernama Imran, dan Ia diasuh oleh N. Zakaria.

    Injil Lukas 1:26-27 menjelaskan, bahwa Maryam menerima khabar baik tentang kelahiran Isa (Yesus), setelah beliau menikah dengan Yusuf (bukan Nabi Yusuf) melalui suatu undian, hal ini dilakukan mengingat Maryam sejak kecil berada di rumah suci, hanya dengan cara ini beliau dapat dilepaskan untuk menikah.

    Memang sejarah Maryam dan N.Isa diselubungi kegelapan, namun dengan turunnya Qur’an mengumumkan kedudukan mereka sebenarnya sebagai hamba Tuhan yang tulus dan sekaligus menolak pandangan ekstrim, yakni pandangan kaum Yahudi bahwa Isa dikandung dalam dosa dan anak haram hasil hubungan gelap Maryam dengan Panther, dan pandangan kaum Nasrani sebagai anak Tuhan penebus dosa.

    Ketika Maryam dikhabarkan akan melahirkan seorang putera, beliau belum diberitahukan tentang pernikahannya, sehingga beliau berkata `pria belum pernah menyentuhku’, namun beliau pun mendapatkan jawabannya sendiri bahwa anak pasti akan lahir dengan jalan Allah membuat keadaan begitu rupa. Kata-kata ini bukanlah berarti bahwa beliau akan mengandung secara tidak wajar (kun fayakun lahir tanpa ayah), karena Maryam pun mempunyai anak lagi.

    Sepintas Tentang Nabi Isa (Yesus)

    N.Isa mempunyai sebutan lain yaitu Al-Masih atau Ibnu Maryam, makna Al-Masih lebih tepat disebut julukan, karena mempunyai arti orang yang suka bepergian, bepergian ini sudah merupakan kebiasaan beliau untuk berda’wah. Isa (bahasa Arab), bahasa Ibraninya Yosyua dan bahasa Yunaninya Yesus.

    Qur’an tak menyebut-nyebut suami Maryam (ayah N.Isa), hal ini mirip dengan peristiwa N.Musa. Oleh karena itu, tak disebutnya ayah N.Musa kita sepakat tidak mempersoalkan status N.Musa, dan N.Isa pun bukan berarti tidak mem-punyai ayah. Kasus ini dimungkinkan karena Maryam jauh lebih terkenal daripada Yusuf ayah N.Isa tersebut.

    “Eli, Eli, lama sabbahtani” (Tuhanku, Tuhanku mengapa Engkau tinggalkan aku), N.Isa berdo’a dengan menangis ketika disalib dan ditusuk lambungnya, ini menandakan beliau tidak ada bedanya dengan manusia biasa, mengeluarkan darah dan sakit. Beliau tidak mati konyol di palang salib, melainkan mendapat pertolongan Allah dengan cara disamarkan (ada seorang dari golongan musuhnya yang mirip beliau), beliau disembunyikan muridnya di suatu makam, berkat do’anya beliau selamat dan sembuh.

    Beliau tidak naik ke langit dan akan dibangkitkan pada hari kiamat, beliau pergi ke Galilea beserta 2 orang muridnya, mengungsi ke tempat aman dari kejaran Yahudi, beliau meninggal/dimakamkan di Kasmir yang lebih dikenal dengan nama Yuz Asaf. N.Isa tidak meninggal dalam usia 33 tahun, juga bukan lahir pada tanggal 25 Desember, melainkan hidup sampai usia 120 tahun dan meninggal secara wajar.

    N.Isa dapat bicara selagi buaian dan sesudah tua, ini hanya menunjukan tamsil/ibarat bahwa keadaan beliau akan mengalami perubahan dari bayi menjadi tua. Hendaklah direnungkan bahwa ciri- ciri ucapan beliau ialah bahwa beliau selalu berbicara dengan tamsil, marilah kita simak tentang tamsil-tamsil di bawah ini:

    Tentang Pembuatan Seekor Burung dari Tanah dan Meniupnya hingga Hidup

    Mustahil secara logika, namun mudah dipahami secara tamsil, karena derajat nabi itu jauh lebih tinggi daripada pembuat mainan burung, di lain pihak hak mencipta tidak diberikan kepada siapapun selain Allah SWT sendiri.

    N.Isa meniupkan ruh dalam manusia, artinya beliau meningkatkan derajat manusia di atas orang-orang yang condong ke duniawi, dan para murid beliau yang awalnya hina (tamsil dimisalkan tanah) setelah mendapat ajaran beliau ibarat burung terbang untuk menyebarkan kebenaran.

    Tentang Penyembuhan Orang Sakit (Buta)

    Tidak mustahil secara logika, namun hendaklah dipahami bahwa N.Isa adalah akhli menyembuhkan penyakit rohani bukan penyakit jasmani. Jadi menurut keterangan, buta di sini bukanlah buta mata lahirnya, melainkan buta hatinya, lihatlah kembali tafsir Qur’an (pada ayat- ayat lainnya) yang membicarakan tentang orang buta dan tuli.

    Tentang Menghidupkan Orang Mati

    Mustahil, karena Qur’an menerangkan sejelasnya-jelasnya bahwa orang mati tidak akan kembali lagi ke dunia, Qur’an Surat 39:42 menerangkan bahwa “Allah mencabut jiwa (manusia) pada waktu matinya, dan yang tak mati pada waktu tidurnya lalu ia menahan (jiwa) yang ia pastikan mati, dan ia kirim kembali (jiwa) yang lain, sampai waktu yang ditentukan”, atau Qur’an Surat 23:100 yang menerangkan bahwa “Dan di belakang mereka adalah tabir (barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan”.

    Ada 3 golongan manusia yang disebut-sebut dalam Qur’an sebagai yang dihidupkan kembali, yakni:

    -Orang yang kodratnya seperti tanah (tak ubahnya seperti keadaan tanah yakni mati dan hina), lalu berserah diri kepada perilaku nabi dan akhirnya terbang tinggi ke ruang angkasa rohani yang mulia. -Orang yang sakit rohaninya lalu diobati dan sembuh. -Orang yang sungguh-sungguh mati dan dihidupkan lagi rohaninya

    Wabillahi taufik wal hidayah,

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 2 September 2016 Permalink | Balas  

    Untuk Yang Slalu Setia 

    cincinUntuk Yang Slalu Setia

    Hari itu di pemakaman, siang begitu terik dan menyengat. Para pelayat yang kebanyakan berbaju hitam memadati lokasi pemakaman. Di antara begitu banyak orang, wanita cantik itu berdiri mengenakan pakaian dan kerudung berwarna putih, ekspresi tenang terlihat di raut wajah yang tersaput kesedihan.

    Pada saat penguburan berlangsung, sebelum jenazah dimasukkan ke liang lahat, wanita itu mendekati jenazah yang terbungkus kain kafan kemudian mencium bagian kening jenazah dan membisikkan kata-kata tak terdengar dengan perasaan dan suasana yang sulit kulukiskan. Aku melihat keharuan di antara para pelayat menyaksikan adegan itu.

    Wanita itu adalah istri dari laki-laki yang pada hari itu dikubur. Setelah acara penguburan selesai satu persatu pelayat mengucapkan kalimat duka cita kepada wanita tersebut yang menyambut ucapan itu dengan senyuman manis dan kesedihan yang telah hilang dari wajahnya, seolah-olah pada saat yang seharusnya menyedihkan itu dia merasa bahagia.

    Kudekati wanita itu.

    “Kak, yang sabar ya, insya Allah abang diterima dengan baik di sisi-Nya,” ujarku perlahan. Dia menatapku dengan senyuman tanpa kata-kata. Rasa penasaran menyeruak dalam hatiku melihat ekspresinya. Tapi perasaan itu tidak kuungkapkan.

    Beberapa hari setelah pemakaman itu, aku datang ke rumah wanita itu. Kudapati ia sedang mengurus kembang mawar putih seperti apa yang sering dilakukannya. Kusapa dia dengan wajar, “Assalaamu’alaikum, sedang sibuk kak?” tanyaku

    “Wa’alaikusallam… Oh adik, ayo duduk dulu,” jawabnya seraya membereskan perlengkapan tanaman.

    “Saya mengganggu kak?” tanyaku lagi,

    “Kenapa harus mengganggu dik, ini kakak sedang menyiapkan bunga untuk dzikir nanti malam,” jawabnya.

    Sesaat setelah jawaban terakhir suasana hening terjadi di antara kami. Dengan hati-hati kuajukan perasaan yang selama beberapa hari mengganjal di hatiku. “Kak, apakah kakak tidak merasa sedih dengan kepergian abang?” tanyaku.

    Dia menatapku dan berkata, “Kenapa adik bertanya seperti itu?”

    Aku tidak segera menjawab karena takut dia tersinggung, dan, “Karena kakak justru terlihat bahagia menurut adik, kakak tersenyum pada saat pemakaman dan bahkan tidak mencucurkan airmata pada saat kepergian abang,” ujarku.

    Dia menatapku lagi dan menghela nafas panjang. “Apakah kesedihan selalu berwujud air mata?” Sebuah pertanyaan yang tidak sanggup kujawab. Kemudian dia meneruskan kembali perkataanya. “Kami telah bersama sekian lama, sebagai seorang wanita aku sangat kehilangan laki-laki yang kucintai, tapi aku juga seorang istri yang memiliki kewajiban terhadap seorang suami. Dan kegoisanku sebagai seorang wanita harus hilang ketika berhadapan dengan tugasku sebagai seorang istri,” katanya tenang.

    “Maksud kakak?” aku tambah penasaran.

    “Sebuah kesedihan tidak harus berwujud air mata, kadang kesedihan juga berwujud senyum dan tawa. Kakak sedih sebagai seorang wanita tapi bahagia sebagai seorang istri. Abang adalah seorang laki-laki yang baik, yang tidak hanya selalu memberikan pujian dan rayuan tapi juga teguran. Dia selalu mendidik kakak sepanjang hidupnya. Abang mengajarkan kakak banyak hal. Dulu abang selalu mengatakan sayang pada kakak setiap hari bahkan dalam keadaan kami tengah bertengkar. Kadang ketika kami tidak saling menyapa karena marah, abang menyelipkan kata sayang pada kakak di pakaian yang kakak gunakan. Ketika kakak bertanya kenapa? abang menjawab, karena abang tidak ingin kakak tidak mengetahui bahwa abang menyayangi kakak dalam kondisi apapun, abang ingin kakak tau bahwa ia menyayangi kakak. Jawaban itu masih kakak ingat sampai sekarang. Wanita mana yang tidak sedih kehilangan laki-laki yang begitu menyayanginya? Tapi …”

    Dia menghentikan kata-katanya.

    “Tapi apa kak?” kejarku.

    ” Tapi sebagai seorang istri, kakak tidak boleh menangis,” katanya tersenyum.

    “Kenapa?” tanyaku tidak sabar. Perlahan kulihat matanya menerawang.

    “Sebagai seorang istri, kakak tidak ingin abang pergi dengan melihat kakak sedih, sepanjang hidupnya dia bukan hanya laki-laki tapi juga seorang suami dan guru bagi kakak. Dia tidak melarang kakak bersedih, tapi dia selalu melarang kakak meratap, kata abang, Allah tidak suka melihat hamba yang cengeng, dunia ini hanya sementara dan untuk apa ditangisi.”

    Wanita itu melanjutkan, “pada satu malam setelah kami sholat malam berjamaah, abang menangis, tangis yang tidak pernah kakak lupakan, abang berkata pada kakak bahwa jika suatu saat di antara kami meninggal lebih dahulu, masing-masing tidak boleh menangis, karena siapa pun yang pergi akan merasa tidak tenang dan sedih, sebagai seorang istri, kakak wajib menuruti kata-kata abang.”

    “Pemakaman bukanlah akhir dari kehidupan tapi adalah awal dari perjalanan, kematian adalah pintu gerbang dari keabadian. Saat di dunia ini kakak mencintai abang dan kita selalu ingin berada bersama dengan orang yang kita cintai, abang adalah orang baik. Dalam perjalanan waktu abang lah yang pertama kali dicintai Allah dan diminta untuk menemui-Nya, abang selalu mengatakan bahwa baginya Allah SWT adalah sang Kekasih dan abang selalu mengajarkan kakak untuk mencintai-Nya. Saat seorang Kekasih memanggil apakah kita harus bersedih? Abang bahagia dengan kepergiannya. Dalam syahadatnya abang tersenyum dan sungguh egois jika kakak sedih melihat abang bahagia,” sambungnya.

    Tanpa memberikan kesempatan untuk aku berkata, serangkaian kata terus mengalir dari wanita itu,

    “Kakak bahagia melihat abang bahagia dan kakak ingin pada saat terakhir kakak melihat abang, kakak ingin abang tau bahwa baik abang di dunia maupun di akhirat kakak mencintainya dan berterima kasih pada abang karena abang telah meninggalkan sebuah harta yang sangat berharga untuk kakak yaitu cinta pada Allah SWT. Dulu abang pernah mengatakan pada kakak jika kita tidak bisa bersama di dunia ini kakak tidak perlu bersedih karena sebagai suami istri, kakak dan abang akan bertemu dan bersama di akhirat nanti bahkan di surga selama kami masih berada dalam jalan Allah. Dan abang telah memulai perjalanannya dengan baik, doakanlah kakak ya dik semoga kakak bisa memulai perjalanan itu dengan baik pula. Kakak sayang abang dan kakak ingin bertemu abang lagi.”

    Kali ini kulihat kakak tersenyum dan dalam keheningan taman aku tak mampu berkata-kata lagi.

    ***

    Kiriman Jingga

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 1 September 2016 Permalink | Balas  

    Puasanya Ikan Salem Merah 

    salem merahPuasanya Ikan Salem Merah

    Puasanya ikan salem merah adalah puasa alami, yang menggambarkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan sebagai contoh keunikan ragam kehidupan hayati yang ada di alam sekitar kita.

    Pada masa awal hidupnya ikan salem merah hidup di air tawar. Lalu setelah dewasa, mereka bermigrasi ke lautan luas. Ikan salem merah menghabiskan sebagian hidupnya di laut, sekitar 4- 7 tahun. Ketika ikan salem merah cukup dewasa untuk berpijah mereka akan berkumpul bersama di suatu tempat di lautan. Setelah berkumpul dalam jumlah puluhan ribu, mereka akan membagi dirinya berdasarkan spesies masing-masing, dan bersama-sama kembali ke sungai tempat menetasnya dahulu. Mereka kerap harus melompati air terjun dan berbagai kesulitan lainnya, yang jaraknya bisa sejauh 1.600 kilometer dari tempat mereka hidup di lautan. Dengan rintangan yang sangat besar, ikan salem merah terus berusaha keras melawan arus sungai yang deras, dengan berbagai macam halangan kayu-kayu, batu-batu kali, kemungkinan dimangsa predator atau jatuh ke jaring nelayan. [lm: ikan ini sangat lezat dagingnya, sering dibuat juga sebagai ikan kalengan]

    Perjalanan ini terkadang membutuhkan waktu beberapa bulan lamanya. Yang mengagumkan, bahwa sejak awal perjalanan panjang ini mereka sudah mulai berpuasa. Berdasarkan penelitian para ahli, ternyata lama puasa para ikan inilah yang berguna sebagai standar naluriah untuk menuntun mereka mengenali sungai mana para ikan itu berasal. Juga kandungan lemak yang cukup tinggi pada ikan salem merah ternyata bermanfaat sebagai cadangan makanan selama migrasi balik ini. Luput dari para pemangsa dan nelayan, akhirnya dengan tubuh penuh luka dan kelelahan para ikan ini bisa mencapai hulu sungai tempat mereka ditetaskan pertama kali. Subhanallah…Maha Besar Allah !!!.

    Ketika mereka tiba di hulu sungai inilah, mereka akan otomatis bekerjasama antara pasangan jantan dan betina. Dengan sirip kecil dibelakang sirip punggungnya yang besar mereka menggali lubang kedalaman sekitar 45 cm, sebagai tempat penetasan calon telur-telur ikan. Untuk penggalian ini diperlukan waktu beberapa minggu lamanya

    Jika telah siap, sang betina akan meletakkan telur-telur yang berjumlah ribuan, dan sang jantan mengeluarkan sperma untuk membuahi telur-telur betinanya. Setelah proses ini selesai, sang calon ibu ikan akan menutup lubang tempat telur ini dengan lumpur yang cukup tebal. Kemudian pasangan ikan ini akan tetap berenang-renang di sekitar lubang telur, menunggu beberapa waktu hingga telur-telur ini menetas.

    Saat bayi-bayi ikan salem merah mendorong dirinya keluar dari lubang penetasan, sang orang tua ikan akan melihat anak-anaknya pertama dan untuk terakhir kalinya. Lalu matilah mereka, dalam keadaan berpuasa. Ikan-ikan yang mati ini akan mengapung di permukaan, kemudian berangsur turun ke dasar sungai, membusuk.

    Sebenarnya ini adalah bagian dari proses menjaga keseimbangan alam di dasar sungai.

    Mereka mati setelah meninggalkan sekelompok generasi baru, yang harus mengalami proses ‘kesulitan’ – kembali ke lautan.

    Kemudian setelah dewasa, anak-anak ikan salem merah ini akan mengulangi siklus yang sama seperti orangtuanya, dan mati dalam keadaan berpuasa.

    Subhanallah…Maha Besar Allah !!!

    Dwitra Zaky Reston

    Diambil dari tulisan Dr. `Abd Al-Hakam `Abd Al-Latif As-Sa`idi Lecturer of Entomology – Faculty of Agriculture – Al-Azhar University

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 31 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (5/5) 

    38berdoaTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (5/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Tuntutan dan etika di dalam berdoa, bukan hanya menghendaki kita berdoa untuk diri sendiri, akan tetapi ia juga menghendaki kita mendoakan untuk orang lain terutama kepada ibu bapa, zuriat keturunan, ahli keluarga, saudara mara, muslimin dan muslimat sama ada yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Doa yang seumpama ini banyak tersebut di dalam Al-Qur’an. Di antaranya ialah doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam di dalam surah Ibrahim ayat 41 yang tafsirnya :

    “Wahai Tuhan kami! Berilah keampunan bagiku dan bagi kedua ibu bapaku serta bagi orang-orang yang beriman, pada masa berlakunya hitungan amal dan pembalasan.”

    Ibu bapa adalah orang yang terutama sekali untuk didoakan oleh anak-anak sebagai membalas jasa keduanya memelihara dan mendidik di waktu kecil. Anjuran ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Isra’ ayat 24 yang tafsirnya :

    “Dan doakanlah (untuk mereka dengan berkata): “Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua (ibu bapaku) sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil.”

    Sesungguhnya doa anak-anak kepada kedua ibu bapa adalah besar manfaatnya, lebih-lebih lagi apabila keduanya telah meninggal dunia. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila seseorang meninggal dunia, terputus amalnya daripadanya melainkan daripada tiga (sumber); daripada sedekah jariah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak salih yang mendoakannya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat darjat seseorang hamba yang salih di dalam syurga, maka dia berkata: “Wahai Tuhanku! Dari mana saya memperoleh darjat ini?” Allah menjawab: “(Ianya) daripada doa permohonan keampunan yang dilakukan oleh anakmu.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Sebagaimana anak-anak dianjurkan berdoa untuk kedua ibu bapa, begitu juga ibu bapa adalah dianjurkan supaya mendoakan anak-anak mereka sebagaimana Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berdoa untuk anaknya yang tersebut di dalam surah Ash-Shaffat ayat 100 yang tafsirnya :

    “Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku anak yang tergolong daripada orang-orang yang salih.”

    Mendoakan orang lain lebih-lebih lagi orang yang tiada hadir dan tanpa pengetahuannya adalah lebih cepat dan mudah dikabulkan sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa yang paling cepat diterima ialah doa seseorang bagi seseorang yang lain yang tidak hadir.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Manakala daripada Ummu Ad-Darda’ berkata, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa seorang muslim bagi saudaranya yang tidak hadir adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang diwakilkan setiap kali dia berdoa bagi saudaranya itu. Malaikat yang diwakilkan itu pula berkata: “Amin, dan bagimu seumpama (yang didoakan).”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Imam Nawawi Rahimahullah Ta’ala berkata bahawa doa yang semacam ini mustajab karena keikhlasan orang yang mendoakan itu. Setengah ulama salaf apabila mereka hendak berdoa untuk diri mereka sendiri, mereka akan mendoakan juga saudara mereka yang muslim dengan doa yang seumpamanya karena cara doa seperti ini adalah mustajab, di samping mereka juga akan mendapat seumpama apa yang mereka doakan bagi saudara mereka yang muslim itu. (lihat Syarh Shahih Muslim 9/44)

    Oleh karena itu juga, adalah disunatkan meminta agar didoakan oleh orang-orang yang mempunyai kelebihan seperti orang-orang salih sekalipun dia (orang yang meminta didoakan itu) mempunyai kedudukan yang lebih baik daripada orang tersebut (orang yang diminta supaya mendoakan), berdasarkan riwayat daripada Ibnu Umar daripada Umar bin Al-Khaththab Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :

    “Sesungguhnya dia (Umar) meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan umrah. Lalu Nabi bersabda: “Wahai saudaraku! Sertakan kami di dalam doamu dan jangan engkau melupakan (untuk mendoakan) kami.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dari itu janganlah berdoa untuk diri sendiri sahaja, berdoalah untuk orang lain juga hatta kepada orang yang bukan berugama Islam sekalipun, tetapi dengan syarat bukan doa yang berbentuk permohonan keampunan bagi mereka, karena ianya dilarang sebagaimana firman Allah di dalam surah At-Taubah ayat 113 yang tafsirnya :

    “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka.”

    Doa yang diharuskan kepada orang yang bukan Islam ialah doa agar mereka mendapat hidayat, sihat tubuh badan dan seumpamanya yang layak disebutkan untuk orang yang bukan Islam sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar keburukan ke atas mereka” Orang-orang menyangka bahawa Baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: “Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Selain daripada itu juga yang berhubung dengan doa, setiap orang Islam hendaklah menghindari daripada menzalimi dan menganiayai orang lain sekalipun kepada orang yang berbuat maksiat karena doa orang yang dizalimi itu adalah sangat mustajab sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’az bin Jabal ketika Baginda mengutusnya ke Yaman yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang maksudnya :

    “Dan takutlah engkau akan doa orang yang dizalimi, sesungguhnya (doa orang yang dizalimi itu) tidak ada di antaranya dan di antara Allah pendinding.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan pula daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Doa orang yang dizalimi itu adalah mustajab, sekalipun dia adalah seorang yang berbuat maksiat, karena kemaksiatannya itu adalah tertanggung ke atas dirinya sendiri.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Akhirnya sebagai penutup, setiap orang Islam hendaklah memperbanyakkan doa. Berdoa adalah menunjukkan akan ingatan kepada Allah Yang Maha Berkuasa. Mengingat Allah hendaklah dilakukan di setiap masa sama ada di waktu senang atau susah. Begitulah juga dengan amalan dalam berdoa hendaklah dilakukan di setiap masa lebih-lebih lagi di waktu senang dan mewah, dengan itu apabila di waktu susah doa akan mudah diperkenankan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallah ‘anhu yang maksudnya:

    “Barangsiapa suka supaya dikabulkan doanya oleh Allah di waktu kesulitan dan kesusahan, maka hendaklah dia memperbanyakkan doa di waktu senang.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    —– SELESAI —-

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 30 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (4/5) 

    berdoa 1Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (4/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Di antara azan dan iqamah. Daripada Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa di antara azan dan iqamah tidak akan ditolak. Berkata para sahabat: “Maka apa yang patut kami katakan wahai Rasulullah (ketika itu)?” Nabi bersabda: “Pohonlah kepada Allah keafiatan di dunia dan di akhirat.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    vii) Ketika berhadapan dengan musuh di dalam peperangan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d As-Sa’idi bahawasanya dia berkata yang maksudnya :

    “Dua masa dibukakan keduannya pintu-pintu langit dan sedikit sekali doa orang yang berdoa ditolak; ketika panggilan untuk mendirikan sembahyang dan berhadapan dengan musuh dalam peperangan.”

    (Hadits riwayat Malik)

    viii) Ketika sujud di dalam sembahyang. Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sehampir-hampir seorang hamba kepada Tuhannya adalah (ketika) dia sujud, maka kamu perbanyakkanlah doa.”

    (Hadits riwayat Muslim An-Nasa’i, Abu Daud dan Ahmad)

    ix) Ketika mendengar kokokan ayam. Ini adalah berdasarkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

    “Apabila kamu mendengar kokokan ayam maka mohonlah kepada Allah daripada kelebihanNya, sesungguhnya ayam itu telah melihat malaikat dan apabila kamu mendengar pekikan suara keldai maka mohonlah perlindungan dengan Allah daripada syaitan, sesungguhnya keldai itu telah melihat syaitan.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Adapun sebab digalakkan berdoa pada waktu itu, adalah bagi mengharapkan pengaminan malaikat kepada doa yang dibacakan dan permohonan keampunan mereka kepada orang yang berdoa dan persaksian mereka terhadap keikhlasan orang yang berdoa. (Lihat Fath Al-Bari 6/508 dan Syarh Shahih Muslim 9/41)

    Oleh karena itu juga ketika mengucapkan amin pada surah Al-Fatihah di dalam sembahyang adalah saat dimakbulkan doa karena para malaikat turut juga mengaminkan pada ketika itu berdasarkan riwayat daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila imam mengucapkan amin maka hendaklah kamu mengucapkan amin, sesungguhnya sesiapa yang bertepatan aminnya dengan amin malaikat nescaya diampuni baginya apa yang terdahulu daripada dosanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

    x) Ketika waktu hujan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Dua ketika (di mana doa) tidak ditolak atau sedikit sekali yang ditolak: (iaitu) berdoa ketika azan dan ketika pertempuran sedang berkecamuk (dan dalam satu riwayat mengatakan) dan ketika hujan.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    xi) Ketika meminum air zam zam. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Air Zamzam itu menurut kehendak tujuan meminumnya. Jika engkau meminumnya untuk memohonkan kesembuhan dengannya nescaya Allah akan menyembuhkanmu dan jika engkau meminumnya untuk memohon perlindungan nescaya Allah akan melindungimu dan jika engkau meminumnya bagi melepaskan rasa dahagamu nescaya Allah akan melepaskannya dan jika engkau meminumnya bagi kekenyanganmu nescaya Allah akan mengenyangkanmu, ia (air Zamzam) itu adalah lekukan daripada pukulan malaikat Jibril dan minuman Nabi Ismail.”

    (Hadits riwayat Ad-Daraquthni dan Al-Hakim)

    xii) Ketika membaca Al-Quran terutama apabila khatam. Diriwayatkan daripada ‘Imran bin Hushain berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka bermohonlah (berdoa) kepada Allah dengan Al-Quran, sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Quran meminta (upah dan sedekah) kepada manusia dengan membacanya.”

    Hadits riwayat Tirmidzi)

    Diriwayatkan pula daripada Mujahid Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Telah diutus seseorang kepadaku dan dia berkata: “Sesungguhnya kami menjemputmu karena kami hendak mengkhatam Al-Quran dan sesungguhnya telah sampai kepada kami bahawa doa diperkabulkan ketika mengkhatam Al-Quran. Berkata Mujahid: “Maka mereka berdoa dengan beberapa doa (ketika khatam Al-Quran).”

    (Riwayat Ad-Darimi)

    xiii) Di tempat-tempat yang mulia karena keberkatannya dan kemuliaan yang dikurniakan oleh Allah seperti di Masjidilharam, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa. Para ulama berpendapat bahawa berdoa di tempat-tempat ini adalah mustajab karena melihat kepada keberkatan dan kemuliaannya di samping rahmat Allah yang luas di tempat-tempat tersebut. Diriwayatkan daripada Abu Darda’ Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Satu kali sembahyang di Masjidilharam adalah menyamai dengan seratus ribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di masjidku (Masjid An-Nabawi) menyamai dengan seribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di Baitulmaqdis menyamai dengan lima ratus kali sembahyang.”

    (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 29 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (3/5) 

    berdoa 3Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (3/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berterusan berdoa dan mengulang-ngulang doa sebanyak tiga kali dan tidak berputus asa serta tergesa-gesa menganggap doa tidak diperkabulkan. Diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya:

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang mengulang-ngulang di dalam berdoa.”

    (Hadits riwayat Baihaqi)

    Daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenangi supaya seseorang itu berdoa tiga-tiga kali dan beristighfar tiga-tiga kali.”

    (Hadits riwayat Abu Daud dan Ahmad)

    Manakala daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Dikabulkan (doa) salah seorang daripada kamu selama dia tidak tergesa-gesa iaitu dengan berkata: “Aku sudah berdoa (tetapi) tidak dikabulkan.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Tersebut di dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah ‘ala Al-Adzkar An-Nawawiyah, Makki menyebutkan bahawa jarak masa doa Nabi Zakaria ‘Alaihissalam memohon dikurniakan zuriat dengan berita gembira adalah 40 tahun. Begitu juga sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu ‘Athiyyah daripada Ibnu Jarir, Muhammad bin Ali dan Adh-Dhahhak bahawa doa Nabi Musa ‘Alaihissalam kepada Firaun tidak diperkenankan melainkan setelah 40 tahun berlalu.

    Sesungguhnya kadang-kadang doa belum diperkenankan kerana doa itu menjadi pahala yang disimpan di akhirat nanti dan adakalanya menjadi sebab dipalingkan seseorang itu daripada sesuatu keburukan dengan sebab doanya itu. Oleh itu adalah lebih baik terus menerus berdoa daripada merungut-rungut doa tidak dikabulkan. Daripada Abu Sa’id Al-Khudri berkata sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tiada seorang muslim berdoa dengan satu doa, bukan doa yang mengandungi dosa dan bukan doa yang memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengurniakan dengan doanya itu salah satu daripada tiga perkara: sama ada dipercepatkan (disegerakan) baginya doanya itu, atau disimpan baginya pahala doanya itu di akhirat (sebagai balasan), atau dihindarkan daripadanya sesuatu keburukan seumpamanya. Mereka berkata: “Kalau begitu baiklah kami memperbanyakkan doa”. Bersabda Nabi: “Allah lebih banyak menerima doa hamba-hambanya.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    1. Memilih dan mengutamakan waktu-waktu dan tempat-tempat atau ketika dimana doa mudah dan cepat dikabulkan. Di antaranya ialah:
    2. i) Di satu pertiga akhir waktu malam dan selepas menunaikan sembahyang fardu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun tiap-tiap malam ke langit dunia ketika tinggal satu pertiga akhir waktu malam berfirman: “Barangsiapa yang berdoa kepadaKu maka Aku akan mengabulkannya baginya, barangsiapa meminta kepadaKu maka Aku akan memberinya, barangsiapa memohon keampunanKu maka Aku mengampuninya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan daripada Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah ditanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Doa apakah yang lebih didengar (dikabulkan)?” Nabi bersabda: “(Doa tatkala) satu pertiga terakhir malam dan sesudah sembahyang fardu.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. ii) Malam Lailatulqadar. Firman Allah di dalam surah Al-Qadr ayat 3-5 yang tafsirnya :

    “Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikut). Sejahteralah malam (yang berkat itu) hingga terbit fajar.”

    Manakala diriwayatkan daripada Sayyidatina Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata yang maksudnya:

    “Aku berkata: “Wahai Rasulullah! Apa pendapatmu (katamu) jika aku mengetahui malam Lailatulqadar daripada mana-mana malam, apa yang hendak aku baca pada malam itu?” Nabi bersabda: “Engkau bacalah Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia, suka mengampuni maka ampunilah aku.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    iii) Hari Arafah. Diriwayatkan daripada ‘Amr bin Syuaib daripada bapanya daripada neneknya sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sebaik-sebaik doa ialah doa pada hari Arafah dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan ialah tiada tuhan melainkan Allah yang tunggal yang tiada sekutu bagiNya. BagiNya kekuasaan dan bagiNya puji-pujian dan Dia Maha Berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. iv) Bulan Ramadhan. Ini adalah kerana bulan Ramadan ialah bulan yang agung, bulan yang mulia lagi berkat serta dibukakan pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya telah datang kepada kamu Bulan Ramadan bulan yang diberkati, Allah memfardukan kepada kamu berpuasa di dalamnya. Dalam bulan Ramadan dibuka pintu-pintu syurga dan dikunci pintu-pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Tambahan lagi orang yang berpuasa itu tidak ditolak sebagaimana yang yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka: Orang yang berpuasa sehinggalah dia berbuka, imam (pemerintah) yang adil dan doa orang yang dizalimi.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. v) Hari dan malam Jumaat. Daripada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir berkata, telah bersabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sesungguhnya hari Jumaat itu adalah penghulu segala hari dan hari yang paling agung di sisi Allah dan ia (hari Jumaat) adalah lebih agung di sisi Allah dari Hari Raya Adha dan Hari Raya Fitri. Pada hari Jumaat itu terdapat lima peristiwa penting. (Iaitu) Allah mencipta Nabi Adam, Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, Allah mewafatkan Nabi Adam, pada hari itu ada satu waktu, bila seorang hamba memohon kepada Allah pasti Allah mengurniakannya selama mana dia tidak meminta yang haram dan pada hari itu juga terjadinya Hari Kiamat. Tiada satu malaikat Muqarrib, tidak juga langit, bumi, angin, gunung, dan lautan kecuali mereka itu merasa takut akan hari Jumaat.”

    (Hadits riwayat Ibnu Majah)

    Diriwayatkan pula daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila malam Jumaat, jika engkau berdaya bangun pada satu pertiga malam yang akhir, maka sesungguhnya padanya ada satu waktu yang dipersaksikan (oleh Allah dan para malaikat) dan doa pada waktu itu mustajab.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 28 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (2/5) 

    Doa masuk masjidTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (2/5)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berdoa dengan jalan bertawassul dengan amal saleh. Allah berfirman di dalam surah Al-Ma’idah ayat 35 yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang boleh menyampaikan kepadaNya (dengan mematuhi perintahNya dan meninggalkan laranganNya).”

    Manakala diriwayatkan daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda maksudnya :

    “Tiga orang keluar berjalan-jalan lalu mereka kehujanan, maka mereka masuk ke dalam sebuah gua yang terdapat di sebuah gunung. Lalu (apabila hendak keluar) mereka terhalang oleh satu batu besar. Nabi bersabda: “Lantas berkata sebahagian mereka (salah seorang) kepada yang lain: “Berdoalah kamu kepada Allah dengan amal salih yang paling baik yang telah kamu lakukan. Maka berdoa salah seorang daripada mereka: “Ya Allah! Sesungguhya aku mempunyai ibu bapa yang sangat tua. Dulu aku selalu keluar mengembala, kemudian aku datang untuk memerah susu, aku membawa air susu selanjutnya untuk aku berikan kepada ibu bapaku lalu keduanya minum, kemudian barulah aku beri minum anakku, keluargaku dan isteriku. Maka pada satu malam aku terhalang (memberi minum keduanya) karena aku datang (membawa susu) sedang keduanya sedang tidur. Nabi menyabdakan kata orang itu: “Aku (benci) tidak suka untuk membangunkan keduanya walaupun anak-anak menggeliat-geliat kelaparan di kakiku. Maka begitulah keadaan kebiasaanku dan kebiasaan mereka berdua sehingga terbit fajar. Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku telah melakukan sedemikian itu karena semata-semata untuk mendapatkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini yang dari situ kami boleh melihat langit”. Nabi bersabda: “Lalu dibebaskanlah mereka (dengan bergerak satu pertiga batu besar itu). Berdoa seorang lagi yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku dulu pernah mencintai seorang perempuan iaitu salah seorang anak perempuan bapa saudaraku sebagaimana cinta yang mendalam seorang lelaki kepada seorang perempuan. Perempuan itu mengatakan: “Engkau tidak akan memperoleh sedemikian itu daripadanya sehingga engkau memberinya seratus dinar” Lalu aku berusaha sehingga aku berhasil mengumpulkannya (wang sebanyak itu), maka ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia (wanita itu) berkata: “Bertakwalah engkau kepada Allah dan janganlah engkau merosakkan mahkota kegadisan kecuali dengan haknya”. Lalu aku berdiri dan meninggalkannya, maka jika engkau mengetahui bahawa aku melakukan sedemikian itu karena semata-mata mengharapkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini”. Nabi bersabda: “Maka Allah membebaskan mereka (dengan bergerak batu itu) dua pertiga”. Berdoa pula seorang yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku mengupah seorang pekerja dengan beberapa cupak gandum lalu aku memberinya dan dia menolak untuk mengambil (upahnya). Lalu aku senghaja mengambil dari beberapa cupak gandum itu lalu aku tanam sehingga aku belikan daripada hasilnya seekor lembu dan pengembalanya, kemudian dia datang seraya berkata: “Wahai Hamba Allah! Berikan (kepadaku) hak saya”. Maka aku berkata: “Pergilah engkau kepada lembu itu dan pengembalanya, sesungguhnya itu adalah milikmu”. Pekerja itu berkata: “Adakah engkau menghinaku?” Aku menjawab: “Aku tidak menghinamu tetapi memang lembu itu benar-benar milikmu.” Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku melakukan hal sedemikian itu karena semata-mata mendapatkan keredaanMu maka bebaskanlah kami”. Maka dibebaskanlah kitu daripada mereka.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    1. Berdoa menghadap ke kiblat dan mengangkat dua tangan sekira-kira nampak putih ketiak dan menyapu kedua tapak tangan ke muka setelah selesai. Daripada ‘Abbad bin Tamim Al-Mazini bahawa ia mendegar bapa saudaranya berkata maksudnya :

    “Pada satu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi keluar memohon dikurniakan hujan. Maka Baginda membelakangi orang sambil berdoa mengadap kiblat dan membalikkan selendangnya, kemudian baginda bersembahyang dua rakaat.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu ada kemuliaan dan sesungguhnya semulia-mulia majlis ialah majlis yang dihadapkan ke kiblat.”

    (Hadits riwayat Ath-Thabarani dan Al-Hakim)

    Diriwayatkan pula daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya sewaktu berdoa sehingga ternampak putih kedua ketiaknya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Daripada Umar bin Al-Khatthab Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda mengangkat kedua tangannya sewaktu berdoa, Baginda tidak akan menurunkan keduanya sehinggalah Baginda menyapukan keduanya ke mukanya.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan merasa penuh yakin akan diperkenankan. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu maksudnya :

    “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin diperkenankan dan ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai serta tidak sungguh-sungguh.”

    1. Berdoa disertai dengan kerendahan hati, khusyuk dengan jiwa yang tulus ikhlas,merendahkan suara di antara berbisik dan nyaring dan diiringi dengan perasaan takut azab Allah dan penuh harapan dengan limpah kurniaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah Al-A’raf ayat 55 tafsirnya :

    “Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan.”

    Perkara ini ditekankan juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sabdanya yang diriwayatkan daripada Abu Musa Al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu maksudnya :

    “Wahai Manusia! Berlembutlah kamu terhadap diri kamu sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang ghaib, sesungguhnya Dia bersama kamu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat yang berkat namaNya dan tinggi kebesaranNya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Di dalam surah Al-Anbiya’ ayat 90, Allah berfirman maksudnya :

    “Sesungguhnya mereka sentiasa berlumba-lumba dalam mengerjakan kebaikan, dan sentiasa berdoa kepada Kami dengan penuh harapan serta gerun takut dan mereka pula sentiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.”

    1. Tidak berdoa dengan sesuatu yang tidak selayaknya seperti perkara yang tidak munasabah dan mustahil. Maka oleh karena itu adalah lebih utama berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur yang datang daripada Al-Quran dan Sunnah dan para sahabat. Di samping doa-doa tersebut jauh daripada permohonan yang tidak selayaknya, doa-doa tersebut bersifat umum, menyeluruh dan padat. Daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata maksudnya :

    “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai doa yang menyeluruh maknanya dan dia tinggalkan selain daripada itu.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Oleh karena itu doa yang paling banyak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam baca sebagaimana yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Adalah doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbanyak sekali (Baginda baca ialah): “Ya Allah! Ya Tuhan kami! Kurniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharakanlah kami daripada azab api neraka.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 27 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (1/5) 

    ibu dan anak lelakinya berdoaTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (1/5)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berdoa merupakan salah satu daripada elemen yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia merupakan pengakuan hamba terhadap kekuasaan Allah yang mutlak terhadap segala yang berlaku, manakala dari segi yang lain pula ia adalah bentuk pengabdian seorang hamba kerana hadirnya perasaan berhajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berdasarkan ini, doa mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah dan Allah menyukai orang yang berdoa kepadaNya. Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam hadits yang lain pula, daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Mohonlah kebaikan/kelebihan daripada Allah kerana sesungguhnya Allah suka diminta kebaikan/kelebihan dan sebaik-baik ibadah adalah menunggu kelapangan (terlepas daripada kesusahan).”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Doa adalah penggerak dalaman yang memberikan kekuatan, keyakinan, harapan dan keberkatan dalam apa jua amal perbuatan. Maka tidak hairan di dalam Islam setiap langkah sesuatu perbuatan, ada doa-doanya tertentu yang digalakkan supaya diamalkan sama ada sebelum memulakan sesuatu perbuatan ataupun selepas melakukannya. Semua ini tidak lain, bagi menggalakkan orang-orang Islam agar sentiasa berdoa dan bagi menggambarkan bahawa berdoa itu adalah salah satu daripada keperluan yang penting di dalam mencari keberkatan, keredaan dan perlindungan Allah sepenuhnya pada mencapai segala apa yang dilakukan. Sebab itu orang yang enggan berdoa bukan sahaja dia telah menutup bagi dirinya berbagai-bagai pintu kebaikan, malah dia juga akan mendapat kemurkaan daripada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu yang maksdunya :

    “Sesungguhnya orang yang tidak meminta (berdoa) kepada Allah, Dia (Allah) marah kepadanya.”

    Kelebihan atau fadhilat doa itu amat besar dan banyak sekali. Melalui doa, keampunan dan rahmat diperolehi, dan melalui doa juga musibah dan kesusahan terhindar. Pendeknya, jika Allah menghendaki dan merestui doa hambanya, tiada ada satu daya kuasa pun yang dapat menghalangnya dan Allah tidak akan mensia-siakan keikhlasan orang yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman di dalam surah Al- Baqarah ayat 186 yang tafsirnya :

    “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): “Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik dan betul.”

    Imam Al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala berkata:

    “Jika ada orang bertanya, apa manfaat doa itu padahal qada (ketentuan Allah) tidak dapat dihindarkan. Ketahuilah bahawa qada juga boleh menghindarkan suatu bala dengan berdoa. Maka doa adalah menjadi sebab bagi tertolaknya suatu bala bencana dan adanya rahmat Allah sebagaimana juga halnya bahawa perisai adalah menjadi sebab bagi terhindarnya seseorang daripada senjata dan air menjadi sebab bagi tumbuhnya tumbuh-tumbuhan di muka bumi.”

    Perkara ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah di dalam surah Ar-Ra’d ayat 39 yang tafsirnya :

    “Allah menghapuskan apa jua yang dikehendakiNya dan Dia juga menetapkan apa jua yang dikehendakiNya. Dan (ingatlah) pada sisiNya ada ibu segala suratan.”

    Manakala daripada Salman Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Tidak tertolak qada itu melainkan oleh doa dan tidak bertambah di dalam umur itu melainkan oleh kebajikan.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam menghuraikan hadits di atas, pengarang kitab Bahr Al-Madzi membawakan masalah qadha mubram dan qadha mu’allaq tentang makna kedua-dua jenis qadha itu dan hubungannya dengan doa: “(Kata ulama) Qadha Mubram itu ialah suatu yang ditentukan Allah di dalam ilmunya tiada boleh diubah dan tiada boleh ditukar akan dia dan qadha mu’allaq itu seperti suatu perkara yang berta’liq sekiranya engkau berdoa nescaya diperkenankan apa-apa doamu dan jika sekiranya engkau berbuat kebaktian dan silaturrahim nescaya dipanjangkan umurmu dan sekiranya tiada diperbuat kebaktian dan tiada berdoa, maka tiadalah diperkenankan dan ditambah umur menurut dan bertentang dengan barang yang di dalam ilmuNya. Maka qadha mu’allaq itulah yang ditolak oleh doa.” (Lihat Bahr Al-Madzi 13-14/196)

    Adapun kelebihan orang yang berdoa itu sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan daripada Salman Al-Farisi yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah itu Hidup dan Maha Pemberi, Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya kepadaNya lalu Dia mengembalikan kedua tangannya (membalas doa orang itu) dalam keadaan kosong serta rugi.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Di dalam ayat dan hadits tersebut, jelas diterangkan bahawa apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, nescaya Allah akan mengabulkan doanya dan tidak akan membiarkan doanya itu kosong sahaja. Tetapi perlu diingat bahawa untuk mendapat doa yang dimakbulkan, adab-adab atau peraturan berdoa mestilah dipelihara oleh setiap orang yang berdoa. Jika seseorang memohon sesuatu kepada seorang raja, dia akan menjaga adab-adab dan peraturan-peraturannya dari berbagai-bagai segi, maka berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentulah lebih patut lagi dia menjaga adab dan tatacara berdoa agar doa yang dipanjatkan akan dimakbulkan. Di antara tuntutan-tuntutan dan etika di dalam berdoa itu ialah:

    1. Memelihara sumber rezeki seperti makanan, minuman dan pakaian daripada sumber yang haram sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik (suci bersih daripada segala kekurangan), Dia (Allah) tidak menerima kecuali yang baik (halal), dan Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Maka Dia (Allah) berfirman: “Wahai para rasul makanlah dari benda-benda yang baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal salih; sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mu’minun: 51) Dan Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah daripada benda-benda yang baik (halal) yang telah Kami berikan kepada kamu” (Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah menyebutkan berkenaan seorang lelaki yang melakukan perjalanan yang jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu, dia menadahkan tangannya ke langit sambil (berkata): “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku (berdoa), (padahal) makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram,bagaimana doanya itu hendak dimakbulkan?”

    (Hadits riwayat Muslim)

    1. Berwudhu dan memulakan serta mengakhiri doa dengan menyebut dan memuji-muji nama Allah serta memberi selawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Daripada Abu Musa Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Aku datang masuk ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Baginda di atas katil yang ditenun dengan tali dan di atasnya hamparan. Tenunan tali pada katil itu membekas pada punggung dan kedua lambung Baginda, lalu aku memberitahu kepada Baginda akan berita kami dan berita Abu Amir (yang terbunuh di dalam peperangan Awthas) yang berkata (kepadaku): “Katakanlah kepada Nabi, mintakanlah keampunan untukku” Lalu Baginda minta diambilkan air maka Baginda pun berwudhu. Kemudian Baginda mengangkat kedua tangannya lalu berdoa: “Ya Allah! Ampunilah Ubaid Abu Amir.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Doa adalah zikir (mengingati) kepada Allah. Berdasarkan ini diriwayatkan daripada Muhajir Bin Qunfudz Radhiallahu ‘anhu ang maksudnya :

    “Sesungguhnya dia (Muhajir bin Qunfudz) datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Nabi membuang air kecil. Maka dia memberi salam kepada Baginda, maka tidak dijawab oleh Baginda sehinggalah Baginda berwudhu kemudian memberikan alasan kepadanya dengan bersabda: “Sesungguhnya aku benci menyebut nama Allah Azza wa Jalla kecuali aku di dalam keadaan bersih (daripada hadats kecil).”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Adapun menyebut dan memuji-muji Allah terutama dengan nama-nama Al-Asma’ Al-Husna dan memberi selawat dan salam kepada Nabi, dijelaskan di dalam surah Al-A’raf ayat 180 yang tafsirnya :

    “Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu.”

    Daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata:

    “Setiap doa itu terhalang sehinggalah diucapkan selawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    (Hadits riwayat Ad-Dailami)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 26 August 2016 Permalink | Balas  

    Kebaikan Itu Menentramkan Hati 

    niat baikKebaikan Itu Menentramkan Hati

    Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Karena orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka ini akan merasakan ‘makna’ nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga mereka selalu berlapang dada, tenang, tenteram dan damai.

    Ketika kita diliputi kegundahan dan sedih, berbuat baiklah terhadap sesama. Memberi sedekah kepada yang papa, menolong mereka yang terzhalimi, meringankan beban sesama yang menderita, memberi makan sesama yang kelaparan, menjenguk orang sakit dan membantu orang yang terkena musibah. Niscaya kita akan mendapatkan kedamaian dan ketentraman di hati. Kita akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan kita.

    Kebaikan itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Kebajikan itu terasa bagai obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih. Menebar senyum yang manis dan tulus adalah sedekah jariah. Seperti tersirat dalam tuntunan akhlak, “……meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri.” [Al-Hadits]

    Kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri kita dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong dan meringankan beban sesama. Insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan dari semua sisinya : rasa, warna dan hakekatnya.

    “Dan bukan karena sesuatu nikmat-pemberian di sisinya dari seorang yang akan dibalasnya. Tetapi ia mengharapkan karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasaan-ridha.” [QS 92 -Al Lail]

    Dikutip dari ‘La Tahzan’ -Jangan Bersedih! – DR. ‘Aidh al-Qarni

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 25 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al Baqarah 

    baqorohFadhilat Surah Al Baqarah

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    Imam al-Baihaqi dari Imam Shalshal berkata: “Barangsiapa membaca surat baqarah maka dipakaikan kepada mahkota di Syurga.”

    Imam Ibnu Zanjawai dari Imam Wahab ibn Munabih mengatakan: “Barangsiapa membaca Surat Baqarah dan Ali Imran pada malam Jumat maka baginya nur cahaya membentang antara Arsy dan dasar bumi.”

    Abu Mas’ud Albadri ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah, maka cukuplah baginya dari hal-hal yang membencikan. Dan menurut sebahagian pendapat: sama dengan bersembahyang malam).”

    Ibnu Abbas ra. bercerita: Pada suatu ketika Jibrail berada di sisi Nabi SAW. tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: ini sebuah pintu di langit, pada hari ini dibuka, dan turun seorang malaikat, memberi salam dan berkata: “Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah kepadamu, dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, iaitu:Fatihul kitab dan akhir surah Al-Baqarah. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya, melainkan pasti permintaanmu di beri.”

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 24 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Yasin 

    yasin1to9Fadhilat Surah Yasin

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    At-Tirmizi mengikhraj hadis dari Anas RA dari Nabi SAW, beliau bersabda:

    “Sungguh bagi tiap sesuatu adalah jantung sedang jantung al-Quran adalah surah Yasin; maka Allah mencatat untuknya sebab bacaan surah Yasin tersebut senilai bacaan al-Quran sepuluh kali.”

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barangsiapa mengamalkan bacaan surah Yasin setiap malam lalu ia meninggal maka ia mati Syahid.”

    “Barangsiapa membaca surah Yasin pada malam hari maka di pagi hari ia terampun dosanya.”

    “Siapa saja, orang muslim, tatkala akan meninggal di bacakan surah Yasin maka turunlah untuk setiap satu huruf sepuluh malaikat; mereka berdiri berbaris di hadratnya memohonkan rahmat dan keampunan untuknya, pula menyaksikan di mandikan jenazah, menghantarnya, mennyembahyangkannya juga ikut hadir di dalam pemakamnya.

    Dan siapa sahaja, orang islam, membaca surah Yasin ketika sakratulmaut tidak hendak mengambil rohnya sehingga kehadiran Malaikat  Ridwan dengan membawa seteguk minuman Syurga dan di minumkan kepadanya di atas pembaringannya dan dirasakan kesegarannya ketika di ambil nyawanya juga kesegaran kelak di dalam kubur dan ia tidak memerlukan telaga para nabi, hingga masuk Syurga ia selalu merasakan kesegaran.”

    Dari Yahya ibn Katsir, katanya: “Sampai kepadaku bahawa sesiapa membaca surah Yasin di waktu pagi hari maka ia selalu di dalam kegembiran hingga petang hari dan siapa membacanya diwaktu petang hari maka ia selalu dalam kegembiraan hingga pagi hari.”

    Dengan isnad sahih diriwayatkan dari Au akar dan Ibnu Abbas RA maksudnya” Barangsiapa membaca surah Yasin, sampai pada ayat “Iz JAA aHal mursaluun” berdoa memohon kepada Allah, maka dikabulkan permohonannya.

    Di Dalam hadis di sebutkan:

    “Surah Yasin itu di baca untuk maksud apa saja.”

     
  • erva kurniawan 2:40 am on 23 August 2016 Permalink | Balas  

    Kebaikan Itu Sangat Mudah Dilakukan 

    tetes-airKebaikan Itu Sangat Mudah Dilakukan

    Ketika itu satu jam menjelang shalat Zhuhur di Masjidil Haram cuaca sangatlah terik. Tiba-tiba seorang lelaki yang sudah sangat tua berdiri dan memberikan air dingin kepada orang-orang yang hadir dan beri’tikaf di tempat itu. Tangan kanannya memegang sebuah gelas, dan tangan kirinya memegang yang sebuah lagi. Dia memberi minum jamaah dengan air zam-zam. Setelah seseorang selesai minum maka dia mengambil air dan kembali memberi minum kepada yang lain. Betapa banyak orang yang ia beri minum. Keringatnya mengucur deras sedangkan orang-orang hanya menunggu giliran mendapatkan air minum dari orang tua tadi. Semangat, kesabaran dan kecintaannya kepada kebaikan, serta wajahnya yang selalu menebar senyum saat memberi minum sangatlah mengagumkan.

    Ternyata kebaikan itu sangat mudah dilakukan oleh siapa saja yang oleh Allah dimudahkan untuk melakukannya. Allah memiliki simpanan kebaikan yang banyak sekali, yang akan mengaruniakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah mengalirkan keutamaan kepada orang-orang yang baik yang senang melakukan kebaikan kepada sesama dan tidak senang melihat keburukan menimpa sesama.

    Abu Bakar siap menempuh semua bahaya pada saat hijrah untuk melindungi Rasulullah. Abu Ubaidah tidak tidur malam di tengah tentaranya yang nyenyak tertidur. Umar bin al-Khaththab keliling kota Madinah pada saat penduduk Madinah sedang terlelap tidur. Pada musim paceklik, Umar hanya bisa membolak- balikan badan karena lapar, sebab makanannya sendiri ia bagikan kepada rakyatnya. Hatim rela tidur dalam keadaan lapar asal tamu-tamunya kenyang. Ibnul Mubarak memberi makanan kepada orang lain padahal ia sendiri dalam keadaan puasa.

    “Mereka memberi makan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tawanan” [AL Insaan: 76:8 ]

    Demikian seperti diceritakan oleh DR. ‘Aidh al-Qarni dalam bukunya La Tahzan.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 22 August 2016 Permalink | Balas  

    Aku Anak Pelacur 

    ibu-anak-siluetAku Anak Pelacur

    Pernahkan Anda dihina, dicibirkan ato dijadikan gunjingan, bahkan selalu dipojokan, karena profesi dari ortu? Hal ini pasti akan Anda rasakan, apabila Anda dilahirkan dari rahim seorang pelacur, sundal, lonte, PSK, perek, atau nama lain apa sajalah yang dapat mewakili sebutan seorang penjaja tubuh dan cinta. Aku memang anak seorang pelacur, walaupun aku sendiri tidak ingin menjadi anak pelacur. Bila aku boleh memilih, pasti aku akan memilih mempunyai orang tua yang baik-baik, lahir dari suatu perkawinan yang sah. Tapi, apakah aku punya pilihan? Hidup memang sebuah pilihan, tetapi tidak untuk memilih dari siapa manusia dilahirkan.

    Orang sekampung memperlakukan kami sekeluarga seperti juga penderita penyakit AIDS. Bukan hanya dicibirkan saja, tetapi dalam keadaan apapun juga aku selalu disalahkan. Cemohan dan hinaan sebagai anak pelacur melekat di tubuhku sejak kecil. Apabila aku bertengkar dengan anak tetangga, pasti aku yang selalu disalahkan dengan cemohan, “pantas saja anak ini nakal sebab ibunya juga seorang pelacur. Betapa pedih dan sakitnya hatiku mendengar hinaan seperti itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Apakah seorang anak pelacur harus selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus dikaitkan dengan pekerjaan ibu? Hinaan ini bukannya hanya berlaku dirumah saja, tetapi disekolahan atau dimanapun juga aku berada.

    Apabila aku menceritakan kesedihanku kepada Ibu, Ibu hanya bisa membelai kepalaku dengan lembut, sambil turun air matanya berlinang, karena ia bisa turut merasakan betapa pedihnya penderitaanku. Walaupun aku tidak dididik menjadi anak soleh, tetapi Ibu selalu berharap agar anaknya bisa menjadi seorang wanita karir yang berpendidikan, ia tidak ingin aku terjerumus, sehingga mengikuti jejaknya. Nasehat Ibuku selalu terngiang dikupingku: “Janganlah tiru jejak kehidupan emak yang suram ini. Cukup hanya emak yang terperosok dalam kegelapan, hidup dalam kehinaan, tak punya harga diri.”

    Aku tidak pernah mengenal ayahku, sedangkan Ibu sendiripun tak mengerti siapa bapak sahnya. Ibu menjadi pekerja seks sebab dia tidak mempunyai apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang pekerja seks bukan pilihan ibu, tapi sebuah keterpaksaan. Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan meninggalkan pekerjaan itu, karena kehidupan serba kekurangan inilah yang memaksanya menjalani profesi terkutuk. Dan aku tetap mengasihi Ibuku seperti juga layaknya anak-anak lain mengasihi Ibunya, aku tidak pernah merasa jijik ataupun muak terhadap Ibuku, apakah ini salah? Walaupun demikian aku selalu berdoa, apapun yang akan terjadi didalam kehidupanku, aku tidak ingin anakku mengalami nasib yang sama dengan mendapatkan Ibu seorang pelacur.

    Tetapi rupanya takdir dan jalan kehidupan seseorang itu bukanlah pilihan sendiri, suatu hari aku di perkosa oleh para pemuda sekampung, karena mereka menilai apabila Ibunya seorang pelacur pasti anaknyapun sudah tidak perawan lagi, padahal usiaku baru saja 15 tahun. Betapa sakitnya badanku terlebih lagi hati dan perasaanku, sehingga aku mulai merasa jijik terhadap diriku sendiri, aku sudah menilai diriku kotor dan hina, walaupun ini bukannya keinginanku melainkan karena hasil dari pemerkosaan para pemuda yang menilai aku sama seperti Ibuku. Apakah dalam hal ini aku bisa menyalahkan Ibuku?

    Hancurlah sudah harapanku maupun harapan Ibuku untuk menjadikan aku beda daripada Ibuku. Karena satu-satunya mahkota kehidupanku telah direnggut dengan paksa, mahkota yang menjadikan diriku lebih terhormat dibanding dengan Ibuku di mata masyarakat. Sesuatu yang diharapkan dapat menghapus citra jelek anak seorang pelacur telah hilang dalam waktu satu malam. Apakah Tuhan telah mentakdirkan aku untuk mengikuti jejak Ibuku menjadi seorang pelacur? Apakah Tuhan telah merencanakan bertambahnya seorang pelacur di muka bumi ini dengan hancurnya kebanggaan hidupku? Dan apakah Tuhan masih mau mengangkatku dari lembah kegelapan hidup yang selama ini mengikuti ke mana langkahku pergi?

    Malapetaka yang menimpa diriku ini diketahui oleh orang sekampung. Apakah ada rasa iba atau prihatian akan kejadian yang menimpa diriku, boro-boro bahkan aku semakin dipojokan oleh mereka, mereka menilai apa yang terjadi dengan diriku itu hal yang sewajarnya sebagai hukuman karma atas dosa ibuku. Hal ini membuat harga diriku semakin jatuh, aku merasa malu, sehingga jangankan pergi ke sekolah keluar rumah pun aku merasa malu.

    Dua bulan kemudian sejak kejadian yang mengenaskan tersebut Dokter menyatakan bahwa aku hamil. Kehamilan yang sama sekali tidak kuinginkan, kehamilan karena peristiwa tragis itu. Diperkosa.

    Anakku akan lahir sebagai anak haram, walaupun ia memang tidak berdosa, tapi dia pasti akan menanggung segala beban yang tidak seharusnya ditanggung olehnya kelak. Seperti halnya aku yang tak tahu siapa bapakku, hal seperti itu pulalah yang akan dialaminya nanti, dikucilkan, dicela, dijauhi, seperti halnya yang terjadi dengan diriku.

    Tak ada seorang anakpun yang mau lahir sebagai anak haram. Aku juga tak mau dia menderita, karena mungkin jika dia boleh memilih, dia pasti akan memilih untuk tidak dilahirkan. Karena kelahirannnya tidaklah diinginkan terutama oleh masyarakat yang serba munafik ini.

    Apakah masih ada masa depan untuku, setelah lahirnya bayi tersebut? Apakah aku akan mampu mengasihi bayi yang tak berdosa tersebut, seperti layaknya seorang Ibu mengasihi anaknya?

    Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi, usiaku masih muda belia, pendidikanpun tidak kumiliki, sehingga rupanya aku sudah ditakdirkan untuk mengikuti jejak dari Ibuku! Tetapi dilain pihak aku tidak ingin bayi ini nanti mengalami nasib yang sama seperti yang juga pernah kualami sampai saat ini. Mungkin jalan satu-satunya yang terbaik ialah memilih agar bayi ini tidak dilahirkan, seperti juga apa yang dianjurkan oleh emak! Apakah Tuhan itu benar-benar mengasihi umat-Nya? Apakah masih ada masa depan untukku maupun untuk bayiku?

    Apakah mungkin takdir yang sedang kualami ini merupakan hukum karma, karena prilaku dari emak? Apakah aku bisa menyalahkan emak ataupun membencinya, karena aib yang menimpa diriku ini?

    Sehingga tersirat dalam pikiranku mungkin ada baiknya untuk bunuh diri saja, sehingga dengan demikian, anak yang tak berdosa inipun tidak perlu dilahirkan dan akupun tidak perlu mengikuti jejak dari emak, mungkin inilah keinginan Tuhan dariku untuk mati dalam usia 15 tahun.

    Dari Rita (Bukan nama sebenarnya)

    Mungkin ada pembaca yg bersedia memberikan saran untuk Rita yang merasa sedang berada di jalan kehidupan yang buntu.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 21 August 2016 Permalink | Balas  

    Melubangi Kapal 

    kapalMelubangi Kapal

    Setiap perbuatan yang melanggar hukum syarak adalah kemaksiatan. Dan setiap kemaksiatan pasti akan merugikan diri orang yang berbuat dan membahayakan diri orang lain. Perbuatan maksiat itu ibarat perbuatan melubangi kapal. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : “Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah SWT adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah perahu. Lalu mereka mebagi tempat duduknya masing-masing, ada yang dibagian atas dan sebagian lagi dibagian bawah. Bila ada orang dibagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk dibagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah itu berkata, ‘seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak menggangu orang lain yang di atas. Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa”. (HR.Bukhari).

    Peminum khamr, pezina, pencuri, penjudi, koruptor, pelaku kolusi, pelaku ketidakadilan, dan pelanggar hukum syarak lainnya, atau tidak menerapkannya secara utuh, jelas itu sebuah kemaksiatan. Dampak perbuatan itu akan dirasakan oleh orang lain.

    Maraknya tindak kriminal dan asusila, banjir yang melanda berbagai wilayah, kekeringan dan kebakaran hutan baru-baru ini, adalah sebagian contoh akibat kesalahan manusia. Boleh jadi hanya sebagian manusia melakukan kemaksiatan itu, tetapi banyak yang tidak berdosa (ikut) menanggungnya.

    Islam tidak mengenal sikap individualis atau cuek bebek terhadap orang lain dan lingkungannya. Sikap individualis pada dasarnya akan membiarkan orang lain bebas berbuat (melanggar batas hukum Allah SWT). Tetapi sebaliknya, Islam mewajibkan Amar Makruf Nahi Mungkar, sehingga setiap jiwa tidak menanggung derita dunia dan akherat karena sebuah kemaksiatan seseorang.

    Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya ; “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang orang-orang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(QS.An-Anfaal:25).

    Menjaga batas-batas hukum Allah atau ber-Amar Makruf Nahi Mungkar sehingga “kapal” kehidupan bermasyarakat tidak tenggelam karena tidak seorang pun melubanginya, adalah perkara yang teramat penting. Lebih penting daripada sekedar berdiam diri dan khusyuk berdoa dihadapan Allah SWT. Karena Rasulullah SAW bersabda : “Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat diantaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik diantaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doanya tidak akan dikabulkan”.(HR.Al-Bazzar & Thabrani).

    (dikutip dari kolom Hikmah-Republika).

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 20 August 2016 Permalink | Balas  

    Kiamat Kelak : Dimanakah Tempat Kita ?. 

    muhammad 2Kiamat Kelak : Dimanakah Tempat Kita ?.

    Rasulullah SAW ditanya : “Bagaimana menurut Rasulullah SAW tentang seseorang yang mencintai suatu kaum /seseorang, padahal ia belum pernah bertemu dengan mereka itu? “.

    Rasulullah SAW menjawab : “Seseorang akan selalu bersama dengan orang yang dia cintai”. (hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

    Jika seseorang mencintai yang lain atas dasar karena Allah SWT, meskipun tidak pernah bertemu dengan yang dicintainya itu, maka dia akan tercatat bersama-sama dengan golongan Allah SWT.

    Seorang Muslim yang mencintai Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta seluruh pengikutnya, maka pada hari Kiamat kelak dia akan berada bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta seluruh pengikutnya itu.

    Sebaliknya jika seorang Muslim lebih mencintai kaum dari golongan kafir (Ahli Kitab dan kaum Munafik) daripada mencintai saudara sesama Muslim (para pengikut Rasulullah SAW), maka pada hari Kiamat kelak dia akan berada bersama golongan kafir dari para Ahli Kitab dan kaum Munafik itu.

    Wallahualambisawab.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 19 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (3/3) 

    itikafI’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Manakala isteri yang berniat i’tikaf dengan nazar tanpa izin suami, maka suami boleh melarang isteri daripada melakukannya i’tikaf itu. Jika isteri meneruskan i’tikafnya itu, maka bagi suami berhak melarang atau menegah daripada meneruskan i’tikaf tersebut. Sebaliknya jika isteri diizinkan oleh suami melakukan i’tikaf tersebut sama ada dengan ditentukan masa i’tikaf atau sebaliknya dan i’tikaf itu disyaratkan dengan berturut-turut maka tidak harus bagi suami menegah isteri daripada berbuat demikian. Kerana penentuan masa tidak harus diakhirkan dan syarat berturut-turut itu tidak harus diselang-selikan. Demikian juga tidak harus membatalkan ibadah wajib ketika melakukan ibadah tanpa uzur.

    Menurut pendapat al-ashah, jika isteri mendapat izin melakukan i’tikaf tanpa menentukan masanya dan tidak disyaratkan berturut-turut, maka suami boleh menegah isterinya melakukan i’tikaf tersebut.

    Perkara Yang Harus Dilakukan Oleh Orang Yang Beri’tikaf

    Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmuk (6/514-517) telah menyebutkan perkara-perkara yang harus dilakukan oleh orang yang beri’tikaf, iaitu:

    1. Harus bagi orang yang beri’tikaf itu bersuci, mandi dan menghias diri. Di samping itu dia mestilah menjaga kebersihan masjid. Sesungguhnya telah sabit bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala sedang beri’tikaf di masjid telah menghulurkan kepalanya kepada isterinya ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha yang berada di dalam biliknya untuk disikatkan kepala Baginda pada hal isteri Baginda pada waktu itu sedang haid, sebagaimana dalam satu riwayat disebutkan:

    Maksudnya: “Sesungguhnya ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghulurkan kepala Baginda kepadaku tatkala Baginda dalam masjid untuk disikat dan Baginda tidak akan masuk ke rumah kecuali ada keperluan ketika Baginda beri’tikaf”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis yang lain ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghulurkan kepalanya sedang aku di dalam bilik ku dan menyikat rambut Baginda. Ketika itu aku dalam haid”.

    (Hadis riwayat Muslim)

    1. Harus bagi lelaki dan perempuan memakai bau-bauan dan memakai pakaian yang indah atau berharga. Imam As-Syafi’e berkata dalam kitab Al-Mukhtasar (Al-Majmuk: 6/515):

    Maksudnya: “Tidak mengapa orang yang beri’tikaf sama ada lelaki dan perempuan memakai pakaian (yang indah), makan dan memakai wangian”.

    Walau bagaimanapun bagi perempuan tidak diharuskan berbuat demikian sekiranya di masjid tersebut ada lelaki yang kemungkinan akan tercium bau-bauan yang dipakai itu.

    1. Harus bagi orang yang beri’tikaf itu melakukan akad nikah di dalam masjid.
    2. Harus membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan sebarang ilmu pengetahuan. Menurut Imam As-Syafi’e dan para pengikutnya bahawa perkara sedemikian itu lebih afdhal daripada melakukan sembahyang-sembahyang sunat (nafilah) kerana mempelajari ilmu itu fardhu kifayah.
    3. Sekiranya yang beri’tikaf itu berhajat kepada berjual beli, maka harus baginya berakad jual beli di masjid tanpa berlebihan seperti membawa bersama barang yang diakadkannya itu. Jika berlaku sedemikian hukumnya adalah makruh.
    4. Tidak harus melakukan sesuatu pekerjaan di dalam masjid kecuali kerana hajat seperti menjahit atau menampal kain yang koyak ataupun memperbaiki sesuatu yang ditakuti rosak.
    5. Harus bagi orang yang beri’tikaf makan minum di dalam masjid dengan mengambil kira akan menjaga kebersihan masjid dan tidak mencemarkannya.

    NB : Harus = bahasa Indonesia artinya boleh, Tidak Harus = Tidak Boleh.

    Perkara Yang Membatalkan I’tikaf

    Perkara-perkara yang membatalkan i’tikaf itu ialah:

    1. Bersetubuh sama ada keluar air mani atau sebaliknya, sekalipun ia dilakukan di luar masjid atau ketika keluar qadha hajat atau sebagainya yang mengharuskan dia keluar masjid. Kecuali bagi i’tikaf sunat tidaklah membatalkan i’tikaf dan ia di lakukan di luar masjid. Begitu juga tidak membatalkannya bagi orang yang lupa dan jahil mengenai haramnya bersetubuh ketika dalam i’tikaf. (Mughni Al-Muhtaj: 1/452 dan Al-Majmuk: 6/512)
    2. Keluar mani tanpa bersetubuh dengan cara berseronok-seronok hingga menaikkan syahwat dengan ikhtiarnya. Oleh itu haram bagi orang yang beri’tikaf melakukan sesuatu yang boleh membangkitkan syahwat sehingga membawa kepada persetubuhan. Inilah juga pendapat Ar-Rafi’e yang mengatakan bahawa pendapat al-ashah di sisi jumhur ulama ialah apabila perbuatan berseronok-seronok itu menyebabkan keluar air mani maka batallah i’tikaf itu, jika sebaliknya maka tidaklah membatalkannya. (Al-Majmuk: 512-513 dan Mughni Al-Muhtaj: 1/452)
    3. Gila dan pitam yang berpanjangan. (Al-Majmuk: 6/504-505)
    4. Murtad dan mabuk. (Al-Majmuk: 6/506)
    5. Keluar haid dan nifas. Jika seseorang wanita dating haid atau nifas maka batal i’tikafnya. (Al-Majmuk: 6/507)

    Penutup

    Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahawa ibadah i’tikaf merupakan ibadah badaniyah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sepanjang hidup Baginda. Ini menandakan akan besarnya ganjaran dan pahala yang diberikan kepada orang yang melakukan.

    Apatah lagi, i’tikaf yang disertakan dengan puasa, seseorang itu akan bertambah hampir kepada Allah kerana tujuan i’tikaf itu adalah pembersihan hati dan jiwa dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhkan diri daripada kegiatan atau aktiviti-aktiviti keduniaan. Oleh kerana itu untuk mencapai matlamat itu dianjurkan orang yang beri’tikaf  memperbanyak sembahyang sunat, berzikir kepada Allah, berdoa meminta ampun (istighfar), mengucapkan selawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atau membaca Al-Qur’an di samping bacaan-bacaan lain yang boleh mendekatkan diri kepada Allah.

    ==== selesai ====

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 18 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (2/3) 

    itikaf 2I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Mengikut qaul jadid pula, seorang perempuan tidak sah beri’tikaf di masjid rumahnya (bilik khas sembahyang di dalam rumah) sebab ia bukan masjid, buktinya ialah masjid rumah tidak dilarang orang yang berjemaah duduk di dalamnya untuk melakukan perkara-perkara yang dilarang di dalam masjid seperti berhenti bagi orang yang junub di dalam masjid dan sebagainya. Di samping itu isteri-isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga melakukan i’tikaf di dalam masjid. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/366)

    Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’eyah, (Al-Majmu’: 6/473)  seseorang yang bernazar untuk beri’tikaf di dalam mana-mana masjid selain daripada Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa, maka nazar itu adalah harus bahkan dia boleh melakukannya di mana-mana masjid kecuali jika dia bernazar untuk beri’tikaf di dalam salah sebuah daripada  tiga masjid (yaitu Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa), maka dia wajib beri’tikaf di dalam masjid yang ditentukan itu. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Umar Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :

    “Sesungguhnya ‘Umar bin Al-Khattab telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau berkata: “Aku telah bernazar pada ketika zaman  Jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjid Al-Haram?”

    Baginda menjawab dan bersabda: “Laksanakanlah nazar engkau”

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Kesimpulannya ulama mazhab Maliki dan Syafi’e mengharuskan i’tikaf di mana-mana masjid, sementara ulama mazhab Hanafi dan Hanbali mensyaratkannya di masjid Jami’. Manakala jumhur ulama tidak mengharuskan i’tikaf di masjid rumah (bilik khas sembahyang di dalam rumah) sedangkan ulama mazhab Hanafi pula mengharuskan demikian kepada orang perempuan. (Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu: 699-700)

    1. Al-lubthu yaitu berhenti di dalam masjid. Menurut pendapat ashah ulama Syafi’e disyaratkan tempoh berhenti itu panjang sedikit daripada masa thuma’ninah di dalam sembahyang sama ada dalam keadaan berdiri, duduk atau sambil berjalan di ruangan masjid. Tidak memadai sekadar thuma’ninah atau kurang daripada itu. Bahkan lama berhenti itu tidak ditentukan masanya sehinggakan berniat nazar i’tikaf bagi tempuh sebentar atau selama satu jam, sah i’tikaf tersebut. Menurut Imam Syafi’e afdhal berniat i’tikaf selama satu hari bagi mengelakkan daripada khilaf (percanggahan ulama).

    Sunat berniat i’tikaf untuk mendapatkan pahala bagi orang yang melintas (lalu) dalam masjid seperti masuk dari pintu dan keluar dari pintu lain dan sebagainya, dan tidak memadai i’tikaf itu bagi orang lalu dalam masjid tanpa niat.

    1. Niat: Ketika hendak memulakan i’tikaf disyarat berniat i’tikaf. Ia tidak sah dilakukan tanpa niat sama seperti sembahyang dan ibadah-ibadah lain karena niat itu adalah ibadah sama ada ibadat itu berbentuk wajib seperti nazar atau selainnya. Matan Kitab Al-Minhaj menyebutkan bahawa disyaratkan niat ketika memulakan i’tikaf dan begitu juga ketika melakukan i’tikaf nazar (wajib). Ini bertujuan untuk membezakan dengan i’tikaf sunat, sebagaimana dinyatakan oleh Khatib As-Syarbini pengarang kitab Mughni Al-Muhtaj. (1/453)

    Menurut Imam An-Nawawi pula, memadai i’tikaf jika seseorang berniat i’tikaf secara mutlaq (tidak menentukan masa i’tikaf) sekalipun lamanya satu hari atau satu bulan. Dalam kes tidak menentukan masa i’tikaf ini, jika dia keluar daripada masjid kemudian masuk semula ke dalam masjid, hendaklah dia memperbaharui niat i’tikafnya sekalipun keluar karena qadha hajat atau sebagainya. Kecuali ketika dia keluar untuk mengqadha hajat itu dia berazam untuk masuk semula, tidaklah perlu memperbaharui niatnya. (al-Majmuk: 6/487 dan Mughni Al-Muhtaj:1/453)

    Bagi i’tikaf yang ditentukan masanya seperti berniat i’tikaf sunat selama satu hari atau satu bulan atau berniat nazar selama beberapa hari (tidak ditentukan masanya) dan tidak pula disyaratkan berturut-turut, dalam perkara ini menurut qaul ashah, tidak wajib memperbaharui niat jika seseorang itu hendak keluar bagi tujuan qadha hajat dan masuk semula ke dalam masjid. Kecuali bagi tujuan yang lain (selain qadha hajat) sekalipun masanya itu panjang atau sekejap, disyaratkan memperbaharui niat i’tikaf itu. (Al-Majmuk: 6/487 dan Mughni Al-Muhtaj:1/453)

    Begitu juga bagi i’tikaf nazar beberapa hari dengan berturut-turut, jika dia keluar masjid sehingga memutus hari berturut-turut itu  dengan tujuan yang lain (selain qadha hajat atau mandi junub karena bermimpi) disyaratkan baginya memperbaharui niat. Akan tetapi, jika dia keluar bagi tujuan qadha hajat atau mandi junub karena bermimpi tanpa memutus hari berturut-turut tersebut, tidaklah wajib memperbaharui niatnya. (Al-Majmuk: 6/487-488 dan Mughni Al-Muhtaj: 1/454)

    Puasa Bagi Orang Yang Beri’tikaf

    Menurut Imam Syafi’e dalam qaul jadid dan para pengikutnya bahawa harus juga melakukan i’tikaf itu tanpa berpuasa, akan tetapi afdhal melakukan i’tikaf itu dengan berpuasa. I’tikaf juga sah di waktu malam sahaja dan pada hari-hari Tasyriq dan hari raya. Walau bagaimanapun menurut kebanyakan ulama Syafi’e puasa bukanlah syarat bagi sahnya i’tikaf.

    Jika seseorang itu bernazar melakukan i’tikaf satu hari atau lebih dengan berpuasa, maka memadailah dia melakukan i’tikaf dengan puasa tanpa khilaf (percanggahan) ulama dan tidak diasingkan puasa itu daripada i’tikaf. Begitulah juga sebaliknya. Manakala jika seseorang itu bernazar i’tikaf dan puasa atau bernazar i’tikaf dengan berpuasa, bolehkah kedua-duanya disatukan? Menurut pendapat yang ashah di kalangan mazhab Syafi’e memadai keduanya disatukan dan itulah pendapat jumhur dan nash daripada perkataan Imam As-Syafi’e. (Al-Majmuk: 6/475-477) Bahkan wajib disatukan sebagaimana disebut dalam matan kitab Mughni Al-Muhtaj (1/453)

    I’tikaf Bersyarat

    Seseorang yang bernazar untuk melakukan i’tikaf selama beberapa hari dan disyaratkan dalam nazarnya itu bahawa dia akan keluar sekiranya dihinggapi penyakit atau karena menziarahi pesakit atau keluar karena mencari ilmu, maka sah syarat-syaratnya itu. Oleh itu dia dibolehkan keluar melakukan perkara-perkara yang disyaratkan dalam nazarnya tetapi hendaklah dia bersegera kembali beri’tikaf sebaik sahaja kerja-kerja itu selesai. Sekiranya dia lambat kembali tanpa uzur, batal i’tikafnya dan dia hendaklah memulai semula i’tikafnya dan wajib memperbaharui niat i’tikaf tersebut. (Al-Majmuk: 6/520 & 488)

    Hukum Mengenai Perempuan Yang Beri’tikaf

    Perempuan sah melakukan i’tikaf sebagaimana para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. Untuk jelasnya beberapa hukum mengenai perempuan yang beri’tikaf sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Majmuk (Al-Majmuk: 6/470-471) :

    1. Tidak sah dan tidak harus seorang perempuan beri’tikaf tanpa izin daripada suami. Jika isteri bernazar untuk melakukan i’tikaf dengan kebenaran suami, sebagai contoh ia ditentukan selama 2 hari, menurut Imam An-Nawawi harus bagi isteri tersebut masuk ke masjid tanpa memerlukan izin daripada suami, karena kebenaran nazar itu adalah izin untuk masuk ke masjid. Jika nazar tersebut tidak ditentukan dengan masa, maka tidak harus bagi isteri masuk ke masjid tanpa izin suami.
    2. Jika seorang isteri masuk masjid melakukan i’tikaf sunat tanpa izin suami atau sebaliknya, maka harus bagi suami melarang meneruskan i’tikaf itu tanpa khilaf (percanggahan ulama).
     
  • erva kurniawan 1:56 am on 17 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (1/3) 

    itikaf3I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    I’tikaf ialah suatu ibadah yang mempunyai kelebihan dan hikmat tertentu. Di antaranya membersihkan hati daripada sifat-sifat yang tercela, menyerahkan diri sepenuhnya beribadah kepada Allah demi memohon darjat yang tinggi, menjauhkan diri daripada kesibukan dunia yang menghalang daripada mendekatkan diri kepadaNya.

    Maksud asal pensyariatan i’tikaf itu ialah menanti sembahyang untuk berjemaah. Diibaratkan orang yang beri’tikaf itu seperti Malaikat yang tidak melakukan dosa kepada Allah, melakukan segala apa yang disuruh dan bertasbih malam dan siang. (Al-Mausu’ah Al-Feqhiyyah: 5/207)

    I’tikaf tidak terikat dengan waktu bahkan sunat beri’tikaf pada setiap waktu, sama ada di bulan Ramadhan mahupun di bulan-bulan lain. Cuma ia lebih dituntut dan afdhal, jika dilakukan pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan kerana fadhilat beri’tikaf pada bulan tersebut lebih banyak dibandingkan waktu-waktu pada bulan-bulan lain.

    Pengertian I’tikaf

    I’tikaf dari segi bahasa bermaksud diam dan duduk berhenti pada sesuatu tempat, tidak kira sama ada tempat itu baik atau sebaliknya. Manakala menurut pengertian syarak i’tikaf bermaksud duduk di dalam masjid oleh seseorang yang tertentu dengan niat. (Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuh: 2/693)

    Tuntutan I’tikaf

    I’tikaf disyariatkan dalam Islam melalui Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ ulama.

    Di antara dalil-dalil yang menunjukkan tentang tuntutan i’tikaf itu sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang tafsirnya :

    “Dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beri’tikaf di dalam masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukumNya kepada sekalian manusia supaya mereka bertaqwa”.

    (Surah Al-Baqarah: 187)

    Allah berfirman di dalam ayat yang lain yang tafsirnya :

    “Dan ingatlah ketika Kami jadikan Rumah Suci (Baitullah) itu tempat tumpuan bagi umat manusia (untuk beribadat Haji) dan tempat yang aman; dan jadikanlah oleh kamu Maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim) itu tempat sembahyang. Dan Kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il (dengan berfirman): “Bersihkanlah RumahKu (Ka’bah dan Masjid Al-Haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf, dan orang-orang yang beri’tikaf (yang tetap tinggal padanya), dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”.

    (Surah Al-Baqarah: 125)

    Dalil daripada As-Sunnah pula ialah hadis riwayat Ibnu ‘Umar, Anas dan ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhum yang maksudnya :

    “Daripada ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma telah berkata: “Sesungguhnya Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan”.

    (Hadis Riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis yang lain yang maksudnya :

    “Daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha iaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Baginda melakukan amalan i’tikaf tersebut sehingga Baginda wafat. Kemudian para isteri Baginda meneruskan amalan i’tikaf selepas itu”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Ulama sepakat mengenai pandangan Az-Zuhri yang mengatakan: “Sungguh aneh manusia, bagaimana boleh mereka meninggalkan i’tikaf. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu tetapi Baginda tidak pernah meninggalkan i’tikaf sehingga wafat”. I’tikaf juga pernah terdapat di dalam syariat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (Al-Fiqh wa Adillatuhu: 2/694) sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il (dengan berfirman): “Bersihkanlah RumahKu (ka’bah dan Masjid Al-Haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf dan orang-orang yang beri’tikaf (yang tetap tinggal padanya) dan oang-orang yang ruku’ dan sujud”.

    (Surah Al- Baqarah: 125)

    Hukum Dan Waktu I’tikaf

    Hukum i’tikaf adalah sunat muakkad. Ia dilakukan pada setiap waktu sama ada dalam bulan Ramadhan ataupun pada bulan-bulan lain. Afdhal melakukan i’tikaf itu pada sepuluh hari yang terakhir daripada bulan Ramadhan (Nihayah Al-Muhtaj: 3/214) sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Menurut Imam As-Syafi’e dan para pengikutnya, bagi orang yang ingin mendapatkan pahala sunnah (mengikut perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan i’tikaf 10 terakhir bulan Ramadhan) sayugialah dia masuk masjid dengan niat i’tikaf sebelum masuk matahari hari ke 20 (malam ke 21) Ramadhan dan keluar daripada masjid pada malam hari raya selepas masuk matahari. Malahan lebih afdhal lagi jika dia kekal di dalam masjid hingga malam hari raya dan sembahyang hari raya serta keluar pada hari raya tersebut. (Raudhah: 2/255 dan Al-Majmuk: 6/469)

    Bagi sesiapa yang beri’tikaf sehari semalam atau lebih hendaklah memulakan i’tikaf itu (di masjid) sebelum matahari terbenam dan keluar daripada masjid setelah masuk matahari hari berikutnya. (Al-Majmuk: 6/483)

    Kategori I’tikaf

    I’tikaf terbahagi kepada dua iaitu i’tikaf sunat dan i’tikaf wajib. I’tikaf sunat ialah berniat i’tikaf sunat kerana Allah Ta’ala sama ada dengan masa sebentar (lahzah), satu hari, satu hari satu malam atau sebagainya. Manakala i’tikaf wajib hanya dengan cara bernazar untuk melakukannya sebagaimana pendapat jumhur ulama mengenainya. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah: 5/208)

    Rukun I’tikaf

    Rukun I’tikaf ada empat perkara:

    1. Mu’takif iaitu orang yang mengerjakan i’tikaf. Syarat bagi orang yang beri’tikaf itu hendaklah beragama Islam, berakal, suci daripada junub, haid dan nifas. I’tikaf itu sah dilakukan oleh lelaki, perempuan dan kanak-kanak mumayyiz.
    2. Mu’takiffun fihi iaitu tempat melakukan i’tikaf. Tempat i’tikaf disyaratkan di dalam masjid kerana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, isteri dan para sahabat Baginda hanya beri’tikaf di dalam masjid. Tidak ada perbezaan dari segi hukum, beri’tikaf di dalam masjid, sama ada di atas bumbung (suthuh), beranda dan halaman (ruhbah) masjid. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/464 dan Nihayah Al-Muhtaj: 3/216) Imam As-Syafi’e dan pengikutnya bersepakat mengenai menara masjid yang terletak di halaman masjid yang dinaiki oleh bilal dan lainnya juga tidak membatalkan i’tikaf. (Al-Majmu’: 6/494-496)

    Menurut pengarang kitab Tuhfah beri’tikaf adalah lebih utama dilakukan di Masjid Jami’ (masjid tempat mendirikan sembahyang Jumaat dan sembahyang berjemaah) berbanding dengan masjid lain. Ini adalah untuk mengelak daripada bercanggah (khilaf) dengan pendapat yang mewajibkannya. Lagipun berjemaah di masjid Jami’ lebih ramai dan tidak perlu lagi keluar untuk bersembahyang Jumaat. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/465).

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 16 August 2016 Permalink | Balas  

    Taubatnya Malik Bin Dinar 

    taubat (1)Taubatnya Malik Bin Dinar

    Diriwayatkan dari Mali bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : “Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya.

    Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.

    Ketika malam dipertengahan bulan Sya’ban dan itu di malam Jum’at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya’. Maka akau bermimpi seakan-akean qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.

    Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan,

    Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata :

    “Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu”. Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku :

    “Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu”,

    Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku,

    “Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!”, aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan,

    “Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa”. Menangislah syaikh itu seraya berkata, “Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu”

    Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.

    Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : “Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!” Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular).

    Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :

    “Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya”. Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :

    “Ayahku, demi Allah!” Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.

    Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : “Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”. (QS. Al-Hadid : 16).

    Maka aku menangis dan berkata : “Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur’an”, maka dia berkata :

    “Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur’an darimu”, aku berkata :

    “Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku”, dia menjawab :

    “Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka”, akau berkata :

    “Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu”, dia menjawab : “Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu”, aku berkata :

    “Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?”, dia menjawab : “Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa’at pada kalian”. (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).

    Berkata Malik : “Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah”.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 15 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al Baqarah 

    baqorohFadhilat Surah Al Baqarah

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan akan kebesaran Al-Qur’an)

    Imam al-Baihaqi dari Imam Shalshal berkata: “Barangsiapa membaca surat baqarah maka dipakaikan kepada mahkota di Syurga.”

    Imam Ibnu Zanjawai dari Imam Wahab ibn Munabih mengatakan: “Barangsiapa membaca Surat Baqarah dan Ali Imran pada malam Jumat maka baginya nur cahaya membentang antara Arsy dan dasar bumi.”

    Abu Mas’ud Albadri ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah, maka cukuplah baginya dari hal-hal yang membencikan. Dan menurut sebahagian pendapat: sama dengan bersembahyang malam.”

    Ibnu Abbas ra. bercerita: Pada suatu ketika Jibril berada di sisi Nabi SAW. tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: ini sebuah pintu di langit, pada hari ini dibuka, dan turun seorang malaikat, memberi salam dan berkata:”Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah kepadamu, dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, iaitu:Fatihul kitab dan akhir surah Al-Baqarah. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya, melainkan pasti permintaanmu di beri.”

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 14 August 2016 Permalink | Balas  

    Dosa 

    Taubat 1DOSA

    Dosa (Dzanb) ialah meninggalkan sesuatu yang diperintahkan-Nya atau mengerjakan sesuatu yang dilarang-Nya, baik itu berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

    Sesuatu yang harus diperhatikan dan sangat mengkhawatirkan ialah sebagian kaum muslimin meremehkan dosa, mereka tidak segan-segan melakukannya, berbuat maksiat kepada Allah SWT baik secra sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.

    Dalam Islam, dikenal adanya dosa kecil (Shaghair) dan dosa besar (Kabair). Suatu dosa kecil dapat menjadi dosa besar apabila peluang untuk melakukannya sangat kecil dan tidak ada pendorongnya untuk melakukan dosa itu, meremehkan dosa yang telah dilakukannya, serta tidak memperdulikan rasa takutnya kepada Allah SWT. Sesudah itu dia akan mengajukan alasan ini dan itu, perintah Allah SWT diabaikan, tidak memperhatikannya dan perasaannya tidak tegerak oleh ancaman serta siksa Allah SWT. Setiap kali dosa dipandang besar oleh seorang hamba, maka dosa itu dianggap kecil disisi Allah SWT. Setiap kali dosa itu dianggap remeh oleh seorang hamaba, maka dosa itu menjadi besar disisi Allah SWT.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi : “Demi ‘Izzah-Ku dan demi ke-Agungan-Ku, Aku tidak mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada seorang hamba-Ku. Bila ia merasa aman dari-Ku ketika didunia, maka Aku jadikan ia ketakutan pada hari Kiamat. Dan apabila ia takut kepada-Ku ketika didunia, maka Aku jadikan ia aman pada hari Kiamat. Dan Allah memperingatkanmu terhadap-Nya dan Allah Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya”.

    Abu Hurairah ra. mengatakan bahwasanya Rasulullah SAW, bersabda, : “Setiap ummatku akan mendapat ampunan, kecuali muhajirun ‘orang-orang yang melakukannya terang-terangan’ . Diantara yang terhitung muhajirun ialah apabila ada orang berbuat dosa di malam hari dan Allah SWT telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi ia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat ini dan itu’. Allah SWT telah menutupi perbuatannya di malam hari, tetapi paginya ia membuka apa yang telah ditutup oleh Allah SWT”. (HR.Bukhari-Muslim).

    Ibnu Abil-‘Izz Rahimahullah pernah berkata, ” Bila dosa besar diiringi dengan rasa malu, takut, dan perasaan berat menanggungnya akan menjadi ringan. Sedangkan dosa kecil yang tidak diiringi dengan sedikitpun rasa malu, tidak perduli, tidak takut dan meremehkannya, maka akan menjadi dosa besar”.

    Asad bin Musa menyebutkan didalam kitab Az-Zuhd bahwa Abu Ayyub Al-Anshari pernah berkata, “Sungguh ada orang yang berbuat kebaikan, lalu ia percaya akan masuk surga karenanya. Sehingga ia melupakan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Akhirnya ia bertemu Allah SWT dalam keadaan dipenuhi dengan dosa-dosa itu. Sebaliknya, ada orang yang berbuat kesalahan, lalu terus menerus menyesalinya, sampai ia bertemu Allah SWT dalam keadaan bersih”.

    Ibnu Mas’ud ra. pernah berkata, “Sesungguhnya orang Mukmin melihat dosa seperti ia berada di lereng gunung dan takut kalau-kalau gunung itu menimpanya. Sedangkan orang jahat melihat dosa seperti melihat seekor lalat yang hinggap dihidungnya. maka ia dengan mudah mengibaskannya begitu saja “.

    Anas bin Malik ra. pernah berkata, “Sesungguhnya kalian sekarang melakukan perbuatan yang kalian lihat lebih kecil dari sehelai rambut, Tetapi pada zaman rasulullah SAW kami menganggapnya dosa besar yang membinasakan”.

    Sekarang pada zaman ini, bahkan suatu perbuatan dosa sudah dianggap bukan sebagai perbuatan dosa, dengan jumawa kita berani berdalih kepada Allah SWT bahwa kriteria dosa haruslah mengikuti perkembangan zaman. Sesungguhnya segala pahala dan azab hanya dari sisi-Nya, dan ingatlah azab-Nya sungguh sangat pedih. Wallahualambisawab.

    ***

    Kiriman Sahabat: Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 13 August 2016 Permalink | Balas  

    Siapakah Kafir Itu? 

    kafir1Siapakah Kafir Itu?

    “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam, padahal Al-Masih (sendiri) berkata : ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun “. (QS.Al-Maidah:72).

    “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya baiasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kep