Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 2:14 am on 26 February 2015 Permalink | Balas  

    puasa 2Hari-Hari yang Dilarang Puasa

    arsip fiqh

    Hari-hari yang dilarang puasa meliputi sebagai berikut.

    1. Dua Hari Raya

    Para ulama telah sepakat (ijma’) atas haramnya berpuasa pada kedua hari raya, baik puasa fardu maupun puasa sunnah, berdasakan hadis Umar ra, “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang puasa pada kedua hari ini. Adapun hari raya Idul fitri, ia merupakan hari berbuka dari puasamu, sedang hari raya Idul adha maka makanlah hasil kurbanmu.” (HR Ahmad dan imam empat)

    1. Hari-Hari Tasyriq

    Haram berpuasa pada hari-hari tasyriq, yaitu tiga hari berturut-turut setelah hari raya Idul adha (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijah), berdasakan riwayat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzaifah berkeliling kota Mina untuk menyampaikan, Janganlah kamu berpuasa pada hari ini karena ia merupakan hari makan minum dan berzikir kepada Allah.” (HR Ahmad dengan sanad yang jayyid).

    1. Berpuasa pada Hari Jumat secara Khusus

    Hari Jumat merupakan hari raya mingguan bagi umat Islam. Oleh sebab itu, agama melarang berpuasa pada hari itu. Akan tetapi, jumhur (sebagian besar ulama) berpendapat bahwa larangan itu berarti makruh,bukan menunjukkan haram, kecuali jika seseorang berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya atau sesuai dengan kebiasaannya atau secara kebetulan bertepatan pada hari Arafah (9 Dzulhijah) atau hari Asyura (10 Muharam), maka tidaklah makruh berpuasa pada hari Jumat itu.

    Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah saw masuk ke rumah Juwairiyah binti Harits pada hari Jumat sedang ia sedang berpuasa. Lalu Nabi bertanya kepadanya, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” Dia menjawab, “Tidak”, dan besok apakah engkau bermaksud ingin berpuasa? “Tidak,” jawabnya. Kemudian Nabi bertanya lagi, dia menjawab tidak pula. “Kalau begitu, berbukalah sekarang!” (HR Ahmad dan Nasa’i dengan sanad yang jayyid).

    Diriwayatkan pula dai Amir al-Asy’ari, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya hariJumat itu merupakan hari rayamu, karena itu janganlah kamu berpuasa pada hari itu, kecuali jika kamu berpuasa sebelum atau sesudahnya!” (HR al-Bazar dengan sanad yang hasan).

    Ali ra berpesan: “Siapa yang hendak melakukan perbuatan sunnah di antaramu, hendaklah ia berpuasa pada hari Kamis dan jangan berpuasa pada hari Jumat, karena ia merupakan hari makan dan minum serta zikir.” HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang hasan.

    Menurut riwayat Bukhari dan Muslim yang diterima dari Jabir ra bahwa Nabi saw bersabda, “Janganlah kamu berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika disertai oleh satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya.” Dan menurut lafal Muslim: “Janganlah kamu mengkhususkan malam Jumat di antara malam-malam itu buat bangun beribadah, dan jangan kamu khususkan hari Jumat itu di antara hari-hari lain untuk berpuasa, kecuali bila bertepatan dengan puasa yang dilakukan oleh salah seorang di antaramu!”

    1. Berpuasa pada Hari Sabtu secara Khusus

    Larangan berpuasa pada hari ini didasarkan pada dalil yang telah dipadukan (al-Jam’u Bainal Adillah) dari dalil-dalil yang membolehkan puasa pada hari Sabtu dan dalil-dalil yang melarang puasa pada hari itu.

    Di antara dalil itu adalah hadis Busr seperti di bawah ini:

    Dari Busr as-Sulami dari saudara perempuannya, ash-Shamma’ bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu berpuasa pada hari Sabtu, kecuali karena diwajibkan kepada kamu. Dan seandainya seseorang di antaramu tidak menemukan kecuali kulit anggur atau bungkal kayu, hendaklah dimamahnya makanan itu!” (HR Ahmad, Ashhaabus Sunan, dan Hakim seraya mengatakan, hadis tesebut shahih menurut syarat Muslim).

    Turmudzi mengatakan, hadis tersebut Hasan, seraya berkata: “Dimakruhkan di sini maksudnya ialah jika seseorang mengkhususkan hari Sabtu untuk berpuasa, karena orang-orang Yahudi membesarkan hari Sabtu.”

    Dari Ummu Salamah dia berkata, “Nabi saw lebih banyak melakukan puasa pada hari-hari Sabtu dan Minggu daripada hari-hari yang lainnya dan beliau bersabda: ‘Kedua hari itu merupakan hari besar orang-orang musyrik, maka saya ingin berbeda dengan mereka’.” (HR Ahmad, Baihaqi, Hakim dan Ibnu Khuzaimah seraya keduanya yang terakhir ini menyatakan sah.

    Berdasarkan bermacam-macam hadis ini, Syekh Albani berpendapat: “Dari sini, maka tampaklah dengan jelas bahwa kedua macam ini membolehkan (puasa hari Sabtu). Maka, jika dilakukan kompromi antara hadis-hadis yang membolehkan dengan hadis ini (hadis yang melarang puasa hari Sabtu), bisa ditarik kesimpulan bahwa hadis ini (yang melarang) lebih didahulukan daripada hadis-hadis yang membolehkan. Demikian juga, sabda Nabi saw kepada Juwairiyah: “Apakah kamu akan berpuasa besok?” dan yang semakna dengan sabda ini adalah dalil yang membolehkan juga, maka tetap lebih mendahulukan hadis yang melarang daripada Sabda Nabi saw kepada Juwairiyah ini.”

    1. Berpuasa pada Hari yang Diragukan

    Dari Ammar bin Yasir ra berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukannya, berarti ia telah durhaka kepada Abul Qasim (Muhammad saw).” (HR Ash-Habus Sunan).

    Menurut Turmudzi, hadis ini hasan lagi shahih dan menjadi amalan bagi kebanyakan ulama. Hadis itu juga merupakan pendapat Sufyan Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah ibnu Mubarok, Syafi’i, Ahmad, serta Ishak.

    Kebanyakan mereka berpendapat, jika hari yang dipuasakannya itu termasuk bulan Ramadhan, hendaklah ia mengqadha satu hari sebagai gantinya. Dan jika ia berpuasa pada hari itu karena kebetulan bertepatan dengan kebiasaannya, maka hukumnya boleh tanpa dimakruhkan.

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Janganlah kamu mendahului puasa Ramadhan itu dengan sehari dua hari, kecuali jika bertepatan dengan hari yang biasa dipuasakan, maka bolehlah kamu berpuasa pada hari itu.” (HR al-Jamaah).

    1. Berpuasa Sepanjang Masa

    Hal ini berdasarkan hadis:

    “Tidaklah berpuasa, orang yang berpuasa sepanjang masa.” (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

    Solusi dari larangan ini adalah hendaknya seseorang berpuasa dengan puasa Daud as, yaitu sehari puasa dan sehari berbuka.

    ***

    Referensi:

    1. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
    2. Tamamul Minnah, Muhammad Nashiruddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 2:37 am on 25 February 2015 Permalink | Balas  

    kejujuranKejujuran Dalam Bekerja

    Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

    Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, Allahuma shalli ‘ala Muhammad wa’ala aalihi washahbihii ajmai’iin. Saudaraku yang baik, semoga Allah memberi kenikmatan harga diri melebihi rasa nikmat kepada harta, pangkat dan jabatan. Karena ada orang yang mobilnya berharga, rumahnya berharga, namun dirinya, pribadinya tidak mempunyai harga diri. Oleh karena itu, jika kita bekerja tidak cukup hanya agar mendapatkan harta. Harta, jauh sebelum kita lahir pun sudah ditetapkan. Yang harus kita pikirkan adalah, bagaimana kesibukan bekerja menjadi amal shalih bagi kita.

    Ketika kita memandang hidup di dunia, kita memang harus bekerja sekuat tenaga. Kita harus sadar andai hari esok kita meninggalkan dunia ini. Rasulullah saw juga telah menyebutkan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan mempersiapkan diri menghadapinya. Sehingga, setiap waktu jaga niat kita, dan lakukan yang terbaik. Insya Allah, dunia akhirat akan kita raih.

    Dalam bekerja, walaupun banyak aturan yang diberlakukan, jika tidak dengan hati, tetap saja akan timbul banyak masalah. Rasulullah saw, lebih dari empat belas abad yang lalu telah mengajarkan konsep “Al Amin” . setelah iman, prioritas pertama kita adalah membangun kredibilitas diri. Efeknya adalah akan timbul komitmen. Hal inilah yang dilakukan Rasulullah saw dalam berda’wah. Kredibilitas diri beliau sangat mengagumkan, sehingga banyak yang tertarik, komitmen kepada Islam.

    Menurut Rasulullah saw, minimal ada tiga sebab sehingga seseorang dapat disebut kredibel, yaitu: pertama, jujur, terpercaya sampai mati. Orang yang jujur itu adalah orang yang merdeka, tidak takut dengan siapapun, ia bebas mengatakan, berbuat hal yang benar. Sedang, orang yang yang banyak berbuat dustanya, dalam hidupnya ia seperti terpenjara. Dan, dalam bekerja, memiliki modal bukanlah hal utama, yang terpenting adalah modal kejujuran. Jika kita jujur, insya Allah pasti akan banyak yang percaya untuk meminjamkan modalnya kepada kita.

    Kedua, orang yang kredibel juga adalah orang yang cakap. Orang-orang akan puas dengan apa yang dikerjakannya. Begitupun Rasulullah saw, semua orang yang bertemu beliau puas, janjinya ditepati, jujur, amanah. Seharusnya kita senantiasa dapat menambah keilmuan tentang pekerjan yang kita geluti, agar kualitas amal yang kita berikan kian meningkat.

    Ketiga, kredibilitas juga diperoleh jika kita pandai berinovasi, kreatif. Zaman terus berubah, orang-orang bergerak maju ke depan. Andai kita tidak berubah, lambat bergerak, kita akan tertinggal, terpinggirkan oleh orang yang kreatif, dan inovatif. Apalagi, setiap orang pasti senang dengan hal- hal yang baru. Untuk itulah, kita sekuat tenaga mengembangkan diri, terus menambah ilmu, agar dapat berbuat kreatif, inovatif bagi ummat.

    Sumber : manajemenqolbu.com

    Kiriman: Astrina Yuliawati

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 24 February 2015 Permalink | Balas  

    puasa-4Fiqh Puasa

    Arsip Fiqh

    Puasa adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa, sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

    Rukun Puasa

    Orang yang berpuasa harus melakukan dua hal:

    • Niat, yaitu berkehendak dalam hati untuk melakukan ibadah puasa. Niat adalah perbuatan hati dan bukan aktivitas lisan. Karenanya sekedar melafalkan niat tanpa kehendak dalam hati bukanlah dinamakan niat. Adapaun waktu niat puasa adalah sebelum terbit fajar jika puasa tersebut adalah fardlu{wajib).

    Rasulullah bersabda: “Barang siapa tidak tidak meniatkan puasa sejak malam hari maka tidaklah sah puasanya.” (HR. Tirmidzi). Sedangkan untuk puasa sunnah, niatnya boleh dilakukan pada pagi hari, dengan syarat ia belum makan atau minum apapun. Ini berdasarkan hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya beliau berkata: “Suatu hari Rasulullah mendatangiku dan bertanya: Apakah engkau mempunyai makanan?. Aku menjawab: tidak. Kemudian beliau berkata: Kalau begitu aku berpuasa saja.” (HR. Muslim)

    • Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari tenggelam.

    Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

    1. Makan dan minum dengan sengaja. Adapun yang tidak disengaja maka tidak membatalkan puasa. Rasulullah bersabda: “Barang siapa lupa, kemudian ia makan dan minum padahal ia sedang berpuasa maka hendaknya ia menyempurnakan puasanya. Itu berarti Allahlah yang menjamunya dengan makanan dan minuman.” (HR. Bukhari Muslim)
    2. Memuntahkan isi perut dengan sengaja. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang muntah-muntah tanpa sengaja padahal ia sedang berpuasa maka tidaklah ia wajib mengqodho puasanya (karena tidak batal), tapi barang siapa sengaja muntah maka ia haris mengqodho puasanya.”
    3. Berhubungan badan dengan sengaja, baik dengan mengeluarkan air mani ataupun tidak.
    4. Onani dan masturbasi. Adapun keluarnya air mani dengan tanpa disengaja -mimpi misalnya- maka itu tidak membatalkan puasa.
    5. Memasukkan sesuatu dalam rongga badan (perut, rahim, dll), baik itu melalui mulut, hidung, alat kelamin ataupun dubur. Baik yang dimasukkan itu adalah makanan atau bukan.
    6. Haid dan nifas. Sebab puasa orang yang sedang haid dan nifas adalah tidak sah. Maka dengan datangnya haid dan nifas tersebut pada saat puasa maka dengan sendirinya batallah puasanya.
    7. Sebab gila akan menghilangkan akal seseorang, padahal tidak sah puasa orang yang tidak berakal.
    8. Sebab di antara syarat sah puasa seseorang adalah Islam. Maka dengan keluarnya ia dari Islam maka batallah puasanya.

    Barang siapa yang melanggar salah satu dari delapan hal ini maka puasanya batal dan ia harus mengganti pusa yang batal tersebut pada hari yang lain sebanyak puasa yang batal tersebut. Namun ada perlakuan khusus terhadap orang yang batal puasanya karena berhubungan badan. Sebab ia terbebani dua hal, yaitu mengqodho puasanya dan kaffarah. Bentuk kaffarah ini adalah memerdekakan budak jika ia mampu. Bila tidak maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika puasa dua bulan berturut-turut inipun tidak mampu, maka ia harus memberi makan kepada 60 orang miskin.

    Yang Boleh Dilakukan Saat Berpuasa

    Ada beberapa hal yang sebenarnya boleh dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa, namun ada sementara orang yang menganggapnya tidak boleh. Diantaranya adalah:

    1. Berkumur pada saat berwudhu, asalkan tidak berlebih-lebihan.
    2. Bersiwak atau menggosok gigi. Tentunya jika tidak berlebih-lebihan juga.
    3. Bepergian, walaupun ia tahu bahwa itu akan mengharuskannya untuk berbuka.
    4. Suntik, jika memang sakit sakit yang ia derita mengharuskannya untuk itu. Namun jika itu sekedar dimaksudkan agar ia lebih kuat maka tidak boleh.
    5. Menelan ludahnya sendiri walaupun banyak.

    Sunnah-Sunnah Dalam Berpuasa

    1. Makan sahur. Rasulullah bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya sahur itu mengandung keberkahan.” (HR. Bukhari Muslim)
    2. Mengakhirkan makan sahur pada akhir malam. Rasulullah bersabda: “Orang-orang akan tetap dalam kondisi yang baik selama mereka mau mensegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur.” (HR. Ahmad)
    3. Mensegerakan berbuka jika waktunya telah tiba walaupun hanya dengan seteguk air putih. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau juga bersabda: “Orang-orang akan tetap dalam kondisi yang baik selama mereka mau mensegerakan berbuka.” (HR. Bukhari Muslim)
    4. Berdoa ketika berbuka dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah, yang artinya: “Yaa Allah, karena Engkaulah kami berpuasa, dan dengan rizqi-Mu lah kami berbuka. Maka terimalah (puasa) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR. Abu Dawud)
    5. Berbuka dengan kurma atau air. Karena merupakan kebiasaan Rasulullah, beliau sebelum sholat maghrib berbuka terlebih dahulu dengan kurma segar. Jika tak ada, maka dengan kurma kering. Bila itupun tak ada maka dengan beberapa teguk air. (HR. Aththabrani)

    Keutamaan Puasa

    Puasa mempunyai banyak keutamaan. Diantaranya digambarkan dalam beberapa hadis Rasulullah berikut ini:

    1. “Puasa adalah perisai dari api neraka, sebagaimana perisai yang melindungi dirimu pada peperangan.” (HR. Ahmad
    2. “Barang siapa berpuasa karena Allah, maka dengan tiap satu hari puasanya Allah akan menjauhkannya dari api neraka sebanyak tujuh puluh kharif.” (HR. Bukhari Muslim)
    3. “Waktu berbuka bagi orang yang berpuasa adalah saat-saat dimana doanya tidak akan ditolak (oleh Allah).” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)
    4. “Sesungguhnya disurga itu ada pintu yang bernama Arrayyan. Melalui pintu inilah orang-orang yang berpuasa masu k (dalam surga) pada hari kiamat. Selain mereka tak ada yang masuk melalui pintu itu. Saat itu ada yang menyeru: “Mana orang-orang yang rajin berpuasa?”, maka mereka berdiri dan hanya mereka yang memasuki (surga) melalui pintu itu. Setelah mereka masuk, ditutuplah pintu tersebut dan tak ada lagi yang masuk melaluinya selain mereka.” (HR. Bukhari Muslim)

    (Ahmad ulil Amin)

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 23 February 2015 Permalink | Balas  

    syarat wajib syafaatSyafa’at dan Macam-Macamnya

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Kata as-syafa’ah diambil dari kata as-syaf’u yang artinya adalah lawan dari kata al-witru (ganjil), yaitu menjadikan yang ganjil menjadi genap (as-syaf’u), seperti anda menjadikan satu menjadi dua dan tiga menjadi empat. Demikian menurut arti “lughawinya”.

    Adapun menurut istilah, syafa’at adalah penengah (perantara) bagi yang lain dengan mendatangkan suatu kemanfaatan atau menolak suatu kemudharatan. Maksudnya, syafi’ (pemberi syafa’at) itu berada di anata masyfu’ lahu (yang diberi syafa’at) dan masyfu’ ilaih (syafa’at yang diberikan) sebagai wasithah (perantara) untuk mendatangkan keuntungan (manfaat) bagi masyfu’ lahu atau menolak mudharat darinya.

    Syafa’at Itu Ada Dua Macam.

    Pertama: Syafa’at Tsabitah Shahihah (yang tetap dan benar), yaitu yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya atau yang ditetapkan oleh RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafa’at ini hanya bagi ‘Ahlut Tauhid wal Ikhlas’, karena Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi : “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagian dengan mendapatkan syafa’at baginda ?” Beliau menjawab: “Orang yang mengatakan Laa ilaaha illallah secara ikhlas (murni) dari kalbunya”.

    Syafa’at ini bisa diperoleh dengan adanya tiga syarat.

    1. Pertama: Keridhaan Allah terhadap yang memberi syafa’at (syafi’)
    2. Kedua: Keridhaan Allah terhadap yang diberi syafa’at (masyfu’ lahu)
    3. Ketiga: Izin Allah Ta’ala bagi syafi’ untuk memberi syafa’at.

    Syarat-syarat ini secara mujmal terdapat dalam firman Allah Ta’ala.

    “Artinya: Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya)” [An-Najm : 26]

    Kemudian diperinci oleh firmanNya.

    “Artinya: Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya” [Al-Baqarah : 255]

    “Artinya: Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya dan Dia telah meridhai perkataanNya” [Thaha : 109]

    “Artinya: Mereka tidak bisa memberi syafa’at kecuali kepada orang yang diridhai oleh Allah” [Al-Anbiya : 28]

    Ketiga syarat ini harus ada untuk bisa memperoleh suatu syafa’at.

    Selanjutnya para ulama -Rahimahullah- membagi syafa’at ini menjadi dua.

    1. Pertama: Syafa’at ‘Ammah (syafa’at yang bersifat umum). Arti umum disini bahwa Allah Ta’ala mengizinkan siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hambaNya yang shalih untuk memberikan syafa’at kepada orang yang juga diizinkan oleh Allah untuk memperoleh syafa’at. Syafa’at semacam ini bisa didapatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau dari para Nabi yang lain, shidiqqin, syuhada’ dan shalihin. Yaitu bisa berupa syafa’at kepada penghuni naar dari kalangan orang beriman yang bermaksiat agar mereka bisa keluar dari neraka.
    2. Kedua: Syafa’ah Khasshah (syafa’at yang bersifat khusus). Syafa’at ini khusus dimiliki oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan syafa’at yang paling agung. Syafa’at yang paling agung ini adalah syafa’at pada hari kiamat ketika manusia tertimpa kesedihan dan kesukaran yang tidak mampu mereka pikul, kemudian mereka meminta orang yang bisa memohonkan syafa’at kepada Allah Azza wa Jalla untuk menyelamatkan mereka dari keadaan yang demikian itu.

    Mereka datang kepada Adam, kemudian kepada Nuh, kemudian Ibrahim, Musa dan Isa –‘alaihimus salam–, namun mereka semua tidak bisa memberi syafa’at, sehingga akhirnya meminta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliaupun bangkit untuk memohonkan syafa’at di sisi Allah Azza wa Jalla untuk menyelamatkan hamba-hambaNya dari keadaan seperti ini. Allah mengabulkan do’a beliau dan menerima syafa’atnya. Ini merupakan termasuk Al-maqam Al-Mahmud (tempat yang terpuji) yang telah dijanjikan oleh Allah dan firmanNya.

    “Artinya : Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu ; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” [Al-Isra’ : 79]

    Diantara syafa’at khusus dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syafa’at beliau terhadap ahlul jannah untuk masuk jannah. Karena ahlul jannah itu ketika melewati shirath, mereka diberhentikan di atas jembatan antara jannah dan naar, lalu hati mereka satu sama lain disucikan sehingga menjadi suci, kemudian barulah diizinkan masuk jannah dan dibukakan untuk mereka pintunya dengan syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Kedua: Syafa’ah Bathilah (syafa’at yang batil). Yaitu syafa’at yang tidak akan bisa memberi manfaat. Itulah syafa’at yang jadi anggapan orang-orang musyrik berupa syafa’at dari ilah-ilah mereka yang dianggap bisa menyelamatkan mereka di sisi Allah Azza wa Jalla. Syafa’at ini sama sekali tidak akan memberikan manfaat kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya: Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at” [Al-Muddatsir : 48]

    Itu karena Allah tidak ridha terhadap kemusyrikan orang-orang musyrik tersebut dan tidak mungkin mengizinkan kepada siapapun untuk mensyafa’ati mereka, karena tiada syafa’at kecuali bagi orang-orang yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla. Allah tidak ridha akan kekufuran bagi hamba-hambaNya dan tidak menyukai kerusakan. Ketergantungan orang-orang musyrik terhadap ilah-ilah mereka yang mereka ibadahi serta mengatakan : “(Mereka adalah para pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah), adalah ketergantungan yang batil yang tidak bermanfaat”. Bahkan hal ini tidak akan menambah mereka di sisi Allah melainkan kejauhan. Orang-orang musyrik mengharap syafa’at dari berhala-berhala mereka dengan cara yang batil, yaitu dengan mengibadahi berhala-berhala ini, yang merupakan kebodohan mereka yang berupa usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan sesuatu yang justru malah semakin menjauhkan mereka dari Allah.

    ***

    Disalin dari buku Fatawa ‘Anil Iman wa Arkanihi edisi Indonesia Soal Jawab Masalah Iman Dan Tauhid, At-Tibyan hal 47-52 [Sumber http://www.almanhaj.or.id%5D

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 22 February 2015 Permalink | Balas  

    akalAkal

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Allah menciptakan manusia beserta akal. Dengan akal-lah akhirnya manusia dapat berpikir sehingga berkembang dan terus berkembang untuk mencapai suatu peradaban yang tinggi. Gedung-gedung menjulang tinggi, mobil yang beraneka rupa, pesawat dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara, sampai dengan komputer yang ada didepan kita saat ini, itu semua ada karena manusia bisa berpikir menggunakan akalnya, karena Allah memang sudah menggariskan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

    Namun sebagai mahluk Allah maka akal manusia tentunya akan mempunyai batas, dimana pada batas titik tertentu akhirnya manusia tak dapat berpikir lagi.

    Sebatas Mana Manusia Bisa Berpikir?

    Baik kita lihat ilustrasi dan dialog berikut ini; Ada seorang anak kecil yang bernama Feisya ia diperintahkannya Ibunya untuk memasak secangkir air diatas kompor dengan menggunakan panci terbuka untuk keperluan membuat air kopi , sayangnya setelah ia memasak air ia tinggal main sampai kelupaan karena saking asyiknya bercanda, maka setelah beberapa lama dan pada jam tertentu air habis, untunglah pada saat itu ibu anak ini melihat, ia segera memanggil anaknya dan ingin sekali menghukumnya, namun karena si ibu ini bijak akhirnya ia urungkan niatnya, sebagai gantinyan dia ingin menguji kecerdasan IQ dan SQ anaknya, maka dan terjadilah dialog berikut ini (si anak ngeyel tapi sedikit cerdas) ; IBU : Nak kamu sudah berbuat salah, tapi Ibu tidak akan menghukum kamu kalo kamu bisa jawab pertanyaan ibu?

    FEISYA : Baik bu, terimakasih

    IBU : Kenapa airnya habis?

    FEISYA : Karena menguap

    IBU : Kenapa menguap?

    FEISYA : Kerena suhunya tinggi

    IBU : Kenapa suhunya tinggi?

    FEISYA : Karena dipanaskan?

    IBU : Kenapa sih kalo dipanaskan airnya menguap?

    FEISYA : yach karena suhunya tinggi?

    IBU : Ehmm baiklah.. Kenapa kalo suhunya tinggi kok bisa menguap?

    FEISYA : Aduh ibu ini. (sedikit nyengir ) yach karena terjadi pemanasan

    IBU : Lho kok kamu gini? Jangan mbulet deh.

    FEISYA : Lha, memangnya kenapa?

    IBU : Kamu itu jawabnya kok muter-muter sih.

    FEISYA : Lha memang begitu khan

    Yach begitulah dialog tersebut., argumen si anak ini memang benar adanya, tapi sayang argumen hanyalah argumen yang dinalarkan oleh ‘anak tersebut’ (baca: manusia) yang tidak membawa ke maha-dasyatan sang pencipta-Nya. Padahal si Ibu bermaksud agar anaknya mengerti bahwa disitu ada hikmah yang bisa diambil atas kekuasaan Allah.

    Akhirnya sadarlah si Ibu tersebut bahwa dialog dengan anaknya tidaklah berguna karena anaknya masih kecil belum mengerti sama sekali tapi si Ibu cukup bangga dengan IQ anaknya.

    PENJELASAN

    Air yang dipanaskan pada suhu tertentu memang akan menguap, tetapi mengapa harus menguap bukannya membeku atau mengembun atau berubah menjadi batu. Disinilah batas manusia sudah tidak bisa berpikir lagi, disinilah letak kekuasaan sang Pencipata, bahwa disitu sudah terjadi KETENTUAN ALLAH Pada akhirnya manusia hanya bisa mengambil hikmah dari kejadian “Penguapan Air karena pemanasan” yang berubah menjadi ilmu pengetahuan. Karena dengan ketentuan Allah inilah akhirnya terjadi penelitan yang akhirnya membawa manusia untuk merubahnya menjadi teknologi tinggi, membuat ketel uap yang untuk bisa menggerakkan kereta api, atau menggerakkan turbin untuk sumber tenaga listrik dan terus berkembang sampai bisa mencipatakan mobil dan lain sebagainya. Masih banyak contoh kasus lain yang takkan mungkin bisa dihitung Ilmu-ilmu Allah ini……

    “MAHA SUCI ALLAH DENGAN SEGALAM MAHA KEBESARANNYA”

    Selanjutnya marilah kita lihat lagi ketentuan Allah yang lain. Kalau di atas yang kita kaji adalah sebagai contoh dalam dunia ilmu pengetahuan yang mungkin tidak begitu jelas digamblangkan oleh Allah dalam Al’Quran (mohon maaf kalau ada salah, karena keterbatasan ilmu dan mohon koreksi bila keliru), karena manusia bisa belajar sendiri dengan berinteraksi dengan alamnya.

    Nah sekarang marilah kita kaji ketentuan Allah untuk mengatur hamba-Nya (manusia) sebagai mahluk sosial , kita ambil contoh saja dalam pengaturan pembayaran Zakat atau Harta Warisan.

    Dalam Al’Quran telah ditentukan bagaimana pembayaran zakat tersebut harus dilakukan, kepada siapa, berapa besarnya dan seterusnya.

    Juga pembagian harta warisan anak laki-laki sekian, anak perempuan sekian, istri sekian dan seterusnya.

    Kalau manusia kritis mungkin ada yang bertanya kok Tuhan mengatur sedemikan rupa? Kenapa sih kok ada Zakat? Khan uang ini saya cari sendiri? Kok harus ada yang dizakatin? Kok nggak pake bayar ‘pajak’ aja? Khan manusia bisa ngatur saja dengan ‘pajak’? Kenapa sih kok pembagian harta warisan laki-laki lebih banyak dari pada perempuan? Khan laki perempuan sama saja? Bukannya manusia dikasih akal? Bukannya manusia mahluk paling sempurna? Dan seterusnya dan seterusnya.

    Yach sekali lagi manusia adalah hanya mahluk Allah, semuanya itu tidak bisa dijawab hanya dengan akal saja yang terbatas, melainkan akan bisa dijawab dengan akal dan keimanannya terhadap sang Khalik, karena ketentuan-ketentuan Allah memang demikanlah adanya.

    Kita dituntun oleh Nabi Muhammad bagaimna memahami ajaran-ajaran atau ayat-ayat Allah baik lewat hadist maupun dengan dicontohkan secara langsung oleh nabi kita.

    Pada akhirnya memang manusia bisa berpikir untuk mengambil hikmah dari ketentuan-ketentuan Allah tersebut.

    Bahwa dengan zakat manusia sadar bahwa harta adalah hanya milik Allah, bahwa dengan zakat akan timbul hubungan sosial antara si miskin dan si kaya, bahwa dengan zakat akan terjadi pemerataan, bahwa kenapa laki-laki lebih besar karena ia harus menanggung anak istrinya dan seterusnya dan seterusnya.

    Sebagai mahluk sosial Allah tahu bahwa tanpa aturan yang Dia buat kehidupan manusia dibumi sebagai khalifah akan ‘tidak sempurna’ sebagaimana yang diharapkan oleh manusia itu sendiri. Maka MAHA SUCI ALLAH telah menurunkan Al Qur’an melalui utusan-Nya Nabi besar Muhammad SAW sebagai ‘nabi’ yang terakhir untuk memeberikan petunjuk sekaligus menjadi panutan untuk memperbaiki akhlak manusia.

    “MAHA SUCI ALLAH DENGAN SEGALAM MAHA KEBESARANNYA”

    Demikanlah Islam sebagai Agama yang telah diridhoi Allah, Islam adalah solusi buat manusia penghuni bumi, karena Islam adalah Rahmatan Lil Allamin.

    Mohon ma’af bila ada yang salah. Tolong rekan-rekan dapat mengoreksi kalo ada yang salah. Akhirnya kepada Allah aku mohon Ampun.

    ***

    Asnurul Isroqmi (AI) Ayah Azmi & Isma

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 21 February 2015 Permalink | Balas  

    ribaDampak Riba Terhadap Pribadi dan Masyarakat

    Disusun Oleh: Zaenal Abidin, Lc

    Hakikat Riba

    Riba, menurut bahasa artinya bertambah dan tumbuh; sebagaimana firman Allah: Dan kamu lihat bumi itu kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Al Hajj:5).

    Sedangkan menurut istilah, artinya suatu transaksi yang memberi syarat tambahan atau suatu kegiatan akad yang mengambil untung atas modal dasar tanpa melalui proses transaksi yang sah menurut syariat. Atau mengambil untung tanpa memberi imbalan kepada pihak lain, ketika melakukan transaksi ribawi. Begitu juga setiap bentuk transaksi yang diharamkan oleh agama, bisa disebut sebagai riba.

    Oleh sebab itu, orang yang mengembangkan hartanya dengan cara riba disebut murabbi, karena dia melipatgandakan hartanya yang ada pada orang lain melalui utang-piutang, simpan-pinjam atau tukar- menukar. Baik keuntungan tersebut diperoleh dari selisih tukar-menukar, atau karena masa tenggang yang diberikan kepada peminjam.

    Macam-Macam Riba

    Riba, terbagi menjadi dua macam. Yaitu riba fadhl dan riba nasi’ah.

    Pertama, riba fadhl. Ialah jual-beli satu jenis barang dari barang-barang ribawi dengan barang sejenisnya, dengan nilai (harga) lebih. Misalnya, jual-beli satu kwintal gandum dengan satu seperempat kwintal gandum sejenisnya, atau jual-beli satu sha’ kurma dengan satu setengah sha’ kurma, atau jual- beli satu ons perak dengan satu ons perak ditambah satu dirham.

    Kedua, riba nasi’ah. Terbagi menjadi dua:

    • Riba jahiliyah. Jenis riba ini diharamkan oleh Allah dalam firmanNya, artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipat ganda. (QS Ali Imran:130).

    Hakekat riba nasi’ah ini, misalnya si A mempunyai piutang pada si B dan akan dibayar pada waktu yang telah disepakati. Setelah jatuh waktu yang telah ditentukan, si A bilang kepada si B, ‘Kamu melunasi hutangmu atau aku beri tenggang waktu dengan uang tambahan.’ Jika si B tidak melunasi hutang pada waktunya, si A meminta uang tambahan dan memberi tenggang waktu lagi. Begitulah seterusnya, hingga akhirnya dalam beberapa waktu hutang si B menumpuk berlipat dari hutang awalnya

    • Riba nasi’ah, yaitu jual beli barang-barang ribawi. Misalnya, emas perak atau gandum atau sya’ir (sejenis) gandum, atau kurma dengan barang-barang ribawi lainnya secara tertunda. Contoh: seseorang menjual satu kwintal kurma dengan satu kwintal gandum hingga waktu-waktu tertentu, atau ia menjual sepuluh dinar emas dengan seratus dua puluh dirham perak hingga waktu-waktu tertentu.

    Barang-Barang Pokok Riba

    Barang-barang pokok riba ada enam. Yaitu: emas, perak, gandum, sya’ir (sejenis gandum), kurma dan garam. Rasulullah bersabda, artinya: Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir (sejenis gandum), kurma dengan kurma, dan garam dengan garam. Ukurannya sama dari tangan ke tangan (kontan). Jika jenis-jenisnya tidak sama, maka juallah sesuka kalian asalkan secara kontan. (HR Muslim).

    Para ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan para imam, mengqiyaskan apa saja yang mempunyai makna dan ilat dengan keenam jenis di atas, dari apa saja yang bisa ditakar, ditimbang, dimakan dan disimpan. Misalnya: seluruh biji-bijian, minyak, madu dan daging.

    Sa’id bin Al Musayyib Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Tidak ada riba, kecuali pada apa yang bisa ditakar dan ditimbang dari apa saja yang bisa dimakan dan diminum.?”

    Riba Dalam Timbangan Syariat

    Riba hukumnya haram, sebagaimana telah dijelaskan dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam .

    Allah berfirman, artinya:”Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan, lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb mereka lalu berhenti, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu; dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah:275).

    Allah berfirman, artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal shalih, mendirikan shalat dan membayar zakat, mereka mendapat pahala dari sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. (QS Al Baqarah:276-277).

    Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa Dia menghapuskan dan melenyapkan riba dari pelakunya, baik secara total maupun menghilangkan keberkahan hartanya, sehingga tidak bermanfaat. Bahkan Dia memandangnya tidak ada. Pada hari kiamat nanti, Allah akan menyiksanya. Sebagaimana firman Allah, artinya: Dan sesuatu riba yang kamu berikan, agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. (QS Ar Rum:39).

    Dari Ali dan Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda, artinya: Allah melaknat pemakan riba, yang mewakili transaksi riba, dua saksinya dan orang yang menuliskannya. (HR Bukhari).

    Satu dirham riba yang dimakan seseorang dengan sepengetahuannya itu, lebih berat dosanya daripada tiga puluh enam berbuat zina. (Diriwayatkan Ahmad dengan sanad shahih).

    Riba mempunyai tujuh puluh pintu. Pintu yang paling ringan ialah seorang laki-laki menikahi ibunya. (HR Hakim dan ia men-shahihkannya).

    Rasulullah bersabda, Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran. Para sahabat bertanya,’Apakah ke tujuh perkara itu, wahai Rasulullah’? Beliau menjawab,’Yaitu syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu-menahu tentangnya. (HR Bukhari dan Muslim).

    Hikmah Diharamkan Riba

    Diantara hikmah diharamkannya riba, selain hikmah-hikmah umum secara menyeluruh berkaitan dengan perintah-perintah syar’i, yaitu: menguji keimanan seorang muslim, hikmah-hikmah umum lainnya ialah:

    Pertama, melindungi harta seorang muslim agar tidak dimakan dengan bathil.

    Kedua, mendorog kaum muslimin untuk menginvestasikan hartanya pada usaha-usaha yang bersih dari penipuan, menjauhi hal-hal yang bisa menimbulkan kesulitan dan kemarahan diantara kaum muslimin, misalnya: dengan cocok tanam, industri bisnis yang benar dan lain sebagainya.

    Ketiga, menutup pintu permusuhan diantara kaum muslimin.

    Keempat, menjauhkan kaum muslimin dari kebinasaan. Karena pemakan riba sebagai orang yang zhalim. Dan akibat dari kezhaliman ialah kesusahan, Allah berfirman, artinya: Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezhaliman kalian akan menimpa diri kalian sendiri. (QS Yunus:23).

    Rasulullah bersabda, artinya: Takutlah kalian kepada kezhaliman, karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah kalian terhadap sifat kikir, karena kikir membawa orang-orang sebelum kalian saling menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan kepada mereka. (HR Muslim).

    Kelima, membuka pintu-pintu kebaikan bagi kaum muslimin sebagai bekal untuk akhiratnya. Misalnya dengan memberi pinjaman kepada saudaranya seiman tanpa minta uang tambahan atas hutangnya, memberi kemudahan dan menyayanginya untuk mendapat pahala di akhirat.

    Dampak Negatif Riba Bagi Pribadi dan Masyarakat

    Riba merupakan usaha kotor dan haram. Merupakan hasil usaha yang tecela dan tidak ada berkahnya, bahkan hanya mendatangkan malapetaka dan bahaya bagi siapa saja yang ikut serta dan membantu mensukseskan segala transaksi riba; baik pemberi modal, peminjam, penulis dan saksi. Memberi bantuan harta dan tenaga dalam rangka melancarkan transaksi, menyewakan gedung, peralatan kantor dan transportasi untuk proses kelancaran transaksi, atau memberi motivasi dan rekomendasi bagi para pelaku riba. Atau melakukan pembelaan terhadap mereka dalam kasus hukum, melindungi dan mengamankan mereka. Atau seluruh tindakan yang bersifat mendukung, melancarkan dan mensukseskan transaksi riba yang terkutuk serta sarat dengan tindakan aniaya. Maka, secara langsung atau tidak, mereka telah menyatakan perang dengan Allah dan RasulNya.

    Seluruh bentuk transaksi riba akan membawa akibat buruk, dosa besar, malapetaka dan menjerumuskan para pelakunya kepada jurang kenistaan, serta mendatangkan bahaya bagi pribadi dan masyarakat, baik di dunia dan akhirat.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,’Keharaman riba lebih berat dibanding perjudian. Karena pengembang riba mendapat imbalan secara jelas dari orang yang kesusahan. Adapun penjudi bisa mendapatkan keuntungan (dan) bisa tidak. Dan riba merupakan kezhaliman yang nyata, karena eksploitasi dan penindasan orang kaya atas orang miskin.’

    Adapun bahaya dan dampak negatif riba terhadap pribadi dan masyarakat, baik dari sisi agama, dunia dan akhirat sebagai berikut:

    Pertama. Sebagai bentuk maksiat kepada Allah dan RasulNya.

    Tidak diragukan, bahwa orang yang melakukan atau membantu transaksi riba secara terang-terangan, ia telah menentang ajaran yang dibawa Rasulullah. Padahal Allah berfirman, artinya: Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. ( An Nur 63).

    Rasulullah juga bersabda, Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. (Rasulullah) ditanya,’ Siapakah yang tidak mau, wahai Rasulullah’? (Rasulullah menjawab),’Barangsiapa yang mentaatiku akan masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka ia tidak mau masuk surga. (HR Bukhari).

    Allah berfirman, artinya: Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS An Nisa:14).

    Kedua. Sedekah dari harta riba ditolak

    Karena riba merupakan hasil usaha kotor dan haram, maka Allah tidak menerimanya sebagai barang sedekah. Allah berfirman, artinya: Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk, lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. (QS Al Baqarah:267).

    Dalam hadits yang shahih Nabi bersabda, Allah itu bersih dan tidak menerima, kecuali yang bersih.

    Ketiga. Allah tidak mengabulkan doa pemakan riba.

    Harta yang haram -termasuk riba- bisa menjadi penghalang doa sehingga tertolak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Bersih; tidak menerima, kecuali yang bersih. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman, seperti Allah memerintahkan kepada para nabi. Maka Allah berfirman: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Mukminun:51) dan Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu. (QS Al Baqarah:172).

    Kemudian beliau menuturkan tentang orang yang bepergian jauh, pakaiannya compang-camping dan rambutnya acak-acakan, sementara ia menengadahkan tangan ke atas langit, ‘Ya rabbi, ya Rabbi,’ sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram; bagaimana doanya dikabulkan? (HR Muslim).

    Keempat. Hilangnya keberkahan umur dan penghasilan.

    Dalilnya firman Allah, artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. (QS Al Baqarah:276).

    Ayat di atas menjadi pukulan berat bagi orang yang terkait dengan transaksi riba dalam berbagai sisi. Allah memusnahkan harta kekayaan yang berasal dari riba dengan berbagai cara, baik disebabkan kebakaran, banjir, pencurian, atau peraturan yang zhalim hingga menguras harta kekayaan mereka dengan paksa dan hina. Bahkan boleh jadi, Allah memusnahkan seluruh kekayaan ribawi.

    Berapa banyak orang kaya berubah menjadi jatuh miskin dan melarat, karena akibat dari harta riba, sebagaimana sabda Nabi: Tidaklah orang memperbanyak kekayaan dari riba, melainkan akibat akhirnya akan mengalami bangkrut dan melarat. (HR Ibnu Majah).

    Kelima. Riba membuat hati menjadi keras dan jauh dari kebaikan

    Kaum rentenir susah sekali berbuat kebaikan kepada sesama manusia dengan harta kekayaannya. Mereka memiliki hati yang keras. Dan tidak mungkin mengeluarkan harta kekayaan, kecuali dengan faidah yang bersyarat. Sementara itu mereka melupakan kebaikan yang akan diterimanya di akhirat. Allah berfirman, artinya: Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (QS Al Baqarah:86).

    Keenam. Terhalang dari harta yang bersih dan halal.

    Allah berfirman, artinya: Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. (QS An Nisa’:160-161).

    Dua ayat di atas menjelaskan, bahwa orang-orang Yahudi dihalangi dari harta yang halal dan bersih, akibat mereka memakan harta riba dan memakan harta orang dengan cara yang batil. Maka orang-orang yang memakan riba dan harta orang secara batil mendapatkan malapetaka, seperti yang telah menimpa kaum Yahudi Bani Israil. Berapa banyak pada zaman sekarang, orang yang kaya-raya, namun selalu hidup dirundung kepedihan, kenistaan, kegelisahan dan kebakhilan; ditambah lagi terkena berbagai penyakit berbahaya dan sulit disembuhkan. Bahkan harta kekayaan mereka lebih banyak tersedot untuk aktifitas haram dan negatif.

    Ketujuh. Riba, suatu transaksi yang sarat dengan Kezhaliman.

    Lembaga riba atau orang-orang yang melakukan transaksi riba, telah berbuat kezhaliman berulang- kali. Sejak awal hingga akhir transaksi, mereka meminta tambahan atau bunga. Dan ketika peminjam tidak mampu mengembalikan, mereka menambah kelipatan bunga sebagai jaminan tenggang waktu yang diberikan kepadanya. Maka bunga pinjaman akan menjadi berlipat ganda dalam waktu sekejap, sehingga bisa menjadikan seluruh harta kekayaan peminjam habis tersita untuk menutup kelipatan dari bunga pinjaman. Kemudian para peminjam ditinggalkan, bagaikan tulang yang tidak berdaging dan laksana badan tidak bernyawa lagi. Maka bila kondisinya seperti itu, Allah telah mengancam dalam firmanNya, artinya: Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Alah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS Ibrahim:42).

    Dan Nabi bersabda, Jagalah dirimu dari kezhaliman, karena perbuatan zhalim adalah kegelapan pada hari kiamat. (HR Muslim).

    Kedelapan. Riba membuat bisnis menjadi lesu, kurang bergairah dan tidak produktif.

    Dalam pandangan petualang bisnis atau dalam berniaga, mereka sangat spekulatif. Bisa untung dan bisa juga rugi, bahkan bangkrut. Sementara mental petualang riba hanya berfikir untung tanpa mengenal rugi, walaupun orang lain dirugikan. Oleh karena itu, mereka mengambil jalan pintas untuk mengeruk keuntungan secara cepat melalui transaksi simpan-pinjam, utang-piutang atau transaksi yang menghasilkan untung pasti, yaitu riba atau tukar-menukar barang yang sama dengan harga lebih, atau menyimpan uang di lembaga keuangan atau bank-bank konvensional. Adapun untuk usaha bisnis dan perniagaan jarang tertarik, karena sangat beresiko kerugian.

    Kesembilan. Sistim riba menjadi penyebab utama bangkrutnya negara atau masyarakat.

    Realita berbicara, bahwa banyak negara mengalami krisis ekonomi dan keamanannya tidak stabil akibat dari penerapan sistim riba ini. Karena tamak terhadap keuntungan yang berlipat ganda membuat para petualang riba memindahkan simpanan mereka ke negara-negara lain yang memiliki ekonomi kuat dan berpengaruh di dunia ekonomi dan politik. Sehingga negara-negara tersebut mampu mengendalikan ekonomi dunia dengan mudah. Adapun keuangan negara-negara lainnya tersendat, karena terkuras habis ditransfer ke negara-negara kuat dari sisi ekonomi dan politik. Maka terjadilah resesi dan krisis ekonomi berkepanjangan.

    Kesepuluh. Penjajahan ekonomi secara sistimatis.

    Pengembangan keuangan dan ekonomi melalui sistim riba merupakan penjajahan ekonomi secara sistimatis dan terselubung. Banyak negara-negara maju pasca perang dunia memberi pinjaman kepada negara-negara berkembang, baik kepada negara Islam atau negara sekuler. Sehingga dalam waktu sekejap, kekayaan negara-negara tersebut terkuras habis oleh negara-negara pemilik dana besar, baik melalui pinjaman lunak atau yang lainnya. Ketika negara-negara debitur yang lemah hendak mencoba mempertahankan harga diri dan eksistensinya, maka negara-negara pemilik modal alias petualang riba, langsung dengan mudah ikut campur-tangan urusan dalam negeri, dengan alasan pemulihan krisis ekonomi, pemantauan dana pinjaman, pengawasan moneter dan penyehatan perbankan. Dengan mudah mereka mengatur berbagai bentuk kebijakan ekonomi dan politik negara tersebut. Maka, tanpa terasa negara-negera miskin tersebut hidup terjajah dan tidak berdaya di bawah tekanan negara-negara pemilik modal. Bahkan negara-negara pemilik modal dengan seenak perutnya melakukan berbagai bentuk intervensi ekonomi dan politik dalam negeri.

    Banyak negera-negara berkembang dililit hutang dan tidak bisa mengembalikan pinjaman luar negeri, sebagai bukti nyata terhadap bahaya dan dampak negatif sistim ekonomi ribawi.

    Kesebelas. Sistim ekonomi riba membelenggu rakyat.

    Dari berbagai sisi, sistim ekonomi riba menjerat nasib rakyat. Karena pada akhirnya kekayaan dan keuangan akan menumpuk dan dikuasai oleh beberapa gelintir orang saja, sehingga perekonomian rakyat terguncang dan tidak berdaya. Sebagian besar orang hanya bekerja siang-malam dan memeras keringat, membanting tulang hanya sekedar bisa menutup dan mengembalikan pinjaman riba. Sementara itu, sekelompok kecil hanya ongkang-ongkang kaki mampu meraup kekayaan yang melimpah ruah dan mereka menari-nari, bersenang-senang di atas kepedihan dan penderitaan orang lain. Mereka tega dan semena-mena tanpa rasa kasihan, serta tidak mengenal aturan dan perikemanusian memeras kekayaan orang lain.

    Keduabelas. Riba termasuk perkara yang menghancurkan.

    Riba termasuk dosa besar yang menjerumuskan pelakunya di dunia dalam kenistaan dan di akhirat di neraka. Nabi bersabda, Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran. Para sahabat bertanya,’Apakah ketujuh perkara itu, wahai Rasulullah’? Beliau menjawab,’Yaitu syirik kepada Allah, sihir, membunuh yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu-menahu tentangnya.’ (HR Bukhari dan Muslim).

    Dalam hadits di atas Allah mengelompokkan dosa pemakan riba dengan dosa syirik. Maka, hal itu menunjukkan bahaya riba dan akibat buruk yang akan diperoleh seseorang yang melakukan transaksi riba.

    Ketigabelas. Petualang riba mengobarkan perang dengan Allah dan RasulNya.

    Siapapun yang mengobarkan peperangan dengan Allah dan RasulNya, ia tidak akan mampu mengalahka. Maka, kekuatan apa yang bisa menghadapi gempuran Allah dan RasulNya? Allah berfirman mengancam orang-orang pemakan riba, artinya: Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu. (QS Al Baqarah:279).

    Demikian itu akibat dari petualangan dan transaksi mereka terhadap harta riba. Akibat kekalahan mereka dalam peperangan tersebut, maka harta kekayaan mereka habis terbakar atau tenggelam, jiwa dan raga mereka hancur dan jatuh sakit, hidup mereka dirundung stres berat akibat kerugian yang mereka derita. Bahkan kehidupan serba ada, menjadi berbalik menjadi penuh kekurangan dan penderitaan.

    Keempatbelas. Memakan riba mendatangkan kutukan Allah dan RasulNya.

    Allah dan RasulNya mengutuk orang-orang yang berserikat dalam transaksi riba, baik dalam bentuk memakan, membantu dan menjadi saksi transaksi riba. Disebutkan dalam hadits riwayat Jabir bin Abdullah berkata, bahwa Rasulullah mengutuk orang yang memakan riba, memberi riba, penulisnya, dan dua orang yang menjadi saksi dan mereka semuanya sama. (HR Muslim).

    Yang dimaksud dengan memakan riba, ialah semua bentuk pemenuhan kebutuhan hidup yang melalui jalur riba. Teks hadits menggunakan ungkapan makan, karena pada umumnya mereka melakukan transaksi riba untuk memenuhi kebutuhan makan.

    Adapun penulis dan dua orang saksi terkena kutukan, karena mereka membantu kelancaran transaksi riba, baik bantuan tersebut diberikan secara suka rela atau dengan upah. Jika sanksi keras itu diberikan kepada orang yang hanya melakukan sekali transaksi, bagaimana dengan orang yang bertahun-tahun memberi pinjaman atau memakan riba, atau menjadi penulis dan saksi dalam urusan riba, membantu dan berserikat dalam urusan riba’!

    Kelimabelas. Memakan riba menjadi sebab utama su’ul khatimah.

    Kebanyakan pemakan riba meninggal dalam keadaan su’ul khatimah. Sebab -mungkin saja- hingga menjelang ajal tiba, ia tetap mengembangkan hartanya dengan cara riba, sehingga ia meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah dan RasulNya dan berbuat zhalim kepada hamba Allah. Maka tidak ada tempat yang paling layak, kecuali negara Jahannam. Begitu juga, dia meninggalkan harta kekayaan haram untuk ahli warisnya, sehingga mereka juga menanggung dosa dan keburukan harta haram tersebut. Orang yang memakan riba dalam bahaya besar, karena bisa jadi dosa riba membuat imannya lemah pada saat menjelang kematian.

    Dari Abu Bakar Al Warraq dari Abu Hanifah berkata,’Kebanyakan iman seseorang lepas ketika menjelang ajal tiba.’ Kemudian Abu Bakar berkata,’Setelah saya amati, tidak ada dosa yang bisa membuat keimanan lemah dibanding perbuatan zhalim kepada sesama manusia.’

    Sudah bukan rahasia lagi, bahwa melakukan transaksi riba merupakan tindakan yang paling zhalim terhadap sesama manusia, dosa yang dianggap paling melampaui batas, karena disejajarkan dengan pembunuhan. Sabda Nabi: Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian. (HR Muslim).

    Pemakan riba, setelah meninggal dunia berada di dalam sungai darah. Sebagaimana disabdakan Nabi,’Saya tadi malam melihat dalam mimpi, dua orang membawaku ke bumi yang suci, lalu kami pergi hingga datang di sungai darah, lalu ada orang yang berdiri di tengah sungai tersebut. Dan di pinggir sungai ada seseorang, yang di tangannya membawa batu. Lalu menghadap kepada orang yang ada di tengah sungai. Ketika orang yang ada di tengah sungai keluar, maka orang tersebut melempar batu hingga ia kembali ke tempat semula. Dan setiap ia ingin keluar, maka orang tersebut meleparnya hingga kembali ke tempat semula.’ Dan di akhir hadits, Nabi ditanya,’Siapa orang yang di tengah sungai darah itu?’ Beliau bersabda,’Orang yang saya lihat di tengah sungai darah ialah pemakan riba.’ (HR Bukhari dan Fathul Bari 12/439).

    Keenambelas. Pemakan riba bangkit pada hari kiamat seperti orang gila atau kesurupan.

    Demikian itu sebagai balasan hina dan sanksi keji yang akan dirasakan oleh setiap pemakan riba pada hari kiamat ketika dibangkitkan dari alam kubur, sebagaimana firman Allah, artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba. (QS Al Baqarah:275).

    Said bin Jubair berkata,’Pada hari kiamat, pemakan riba dibangkitkan seperti orang gila karena kesurupan.’

    Dhahak berkata,’Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan memakan riba, maka dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan seperti orang kesurupan karena gangguan syetan.’

    Ketahuilah wahai saudaraku seiman. Bahwa Allah mengakhiri ayat-ayat yang melarang riba dan perintah untuk meninggalkan riba dengan firmanNya, artinya: Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS Al Baqarah:281).

    Ibnu Katsir berkata,’Antara turunnya ayat ini dengan kematian Rasulullah berselang tiga puluh satu hari.’

    Ayat di atas merupakan wasiat Rabbani yang terakhir dalam Al Qur’an, dan sekaligus ayat yang terakhir turun sebagai mauizhah bagi semua hamba. Berisi wasiat tentang ketakwaan kepada Allah dan peringatan tentang cepatnya keduniaan dan harta kekayaan hilang lenyap, serta semua pasti akan menghadap Allah, kembali ke alam akhirat. Masing-masing mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang telah diperbuat.

    Rujukan:

    • Kamus Al Mu’jamul Wasith.
    • Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
    • Mukhtashar Fikih Islami, Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri.
    • Al Wajiz Fi Fiqhus Sunnah wal Kitab, Abdul Azhim Al Khalafi.
    • Al Mulakhasul Fiqhi, Syaikh Salih bin Fauzan Al Fauzan.
    • Minhajul Muslim, Abu Bakar Al Jazairi.
    • Fathul Bari, Ibnu Hajar.
    • Syarah Shahih Muslim, An Nawawi.
    • Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd.
     
  • erva kurniawan 2:43 am on 20 February 2015 Permalink | Balas  

    asmaul-husnaDOA – DOA dengan ASMAUL HUSNA

    arsip fiqh

    1. Yaa Allaahu anta robbunaa laa ilaaha illaa anta
    • Ya Allah, Engkau Tuhan kami, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau
    1. Yaa Rahmaanu narjuu rohmatak
    • Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, kami mengharap kasih sayang-Mu.
    1. Yaa Rahiimu irhamnaa
    • Ya Tuhan yang Maha Penyayang, kasih dan sayangilah kami.
    1. Yaa Maaliku A’thinaa min mulkika
    • Ya Tuhan yang Maha Raja (mempunyai kekuasaan), berikanlah kepada kami dari kekuasaan-Mu.
    1. Yaa Qudduusu Qaddis Fithratanaa
    • Ya Tuhan yang Maha Suci, sucikanlah fitrah kejadian kami
    1. Yaa salaamu sallima min aafaatid dunyaa wa’adzaabil aakhirah
    • Ya Tuhan Pemberi selamat, selamatkanlah kami dari fitnah bencana dunia dan siksa di akherat.
    1. Yaa mukminu aaminaa wa-aamin ahlanaa wabaladanaa
    • Ya Tuhan yang memberi keamanan, berikanlah kami keamanan, keluarga kami dan negeri kami.
    1. Ya Muhaiminu haimin auraatinaa wa-ajsaadanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Melindungi, lindungilah cacat dan jasad kami.
    1. Yaa Aziizu Azziznaa bil’ilmi walkaroomah
    • Ya Tuhan Yang Maha Mulia, muliakanlah kami dengan ilmu pengetahuan dan kemuliaan.
    1. Yaa Jabbaaru hab lanaa min jabaruutika
    • Ya Tuhan Yang Maha Perkasa, berikanlah kepada kami dari keperkasaan-Mu.
    1. Yaa Mutakabbiru bifadhlika ij’alnaa kubaraa
    • Ya Tuhan Yang Maha Megah, dengan anugerah-Mu jadikanlah kami orang yang megah.
    1. Yaa Khooliqu hassin kholqonaa wahassin khuluqonaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menciptakan/Menjadikan, baguskanlah kejadian kami dan baguskanlah akhlak kami.
    1. Yaa Baari’u abri’naa minasy syirki walmaradhi walfitnati
    • Ya Tuhan yang Maha Membebaskan, bebaskan kami dari syirik, penyakit, dan fitnah.
    1. Yaa Mushawwiruu shawirnaa ilaa ahsanil kholqi walhaali
    • Ya Tuhan yang Maha Membentuk, bentuklah kami menjadi sebaik-baiknya makhluk dan sebaik-baik keadaan.
    1. Ya Ghoffaaru ighfir lanaa dzunuubanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Pengampun , ampunilah dosa-dosa kami.
    1. Yaa Qohhaaru iqhar aduwwanaa ilal istislami
    • Ya Tuhan Yang Maha Memaksa, paksalah musuh kami untuk tunduk/menyerah
    1. Ya Wahhaabu Hab lanaa dzurriyatan thayyibah
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi, berikanlah kepada kami anak keturunan yang baik
    1. Ya Rozzaaqu urzuqnaa halaalan thoyyiban waasi’aa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi rezeki, berikanlah rezki yang halal, bergizi dan banyak
    1. Yaa Fattaahu iftah lanaa abwaabal khoiri
    • Ya Tuhan yang Maha Membuka, bukakanlah buat kami semua pintu kebaikan.
    1. Yaa aliimu a’limnaa maa laa na’lam
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengetahui, beritahukanlah kepada kami apa yang kami tidak mengetahuinya.
    1. Yaa Qoobidhu idzaa jaa’a ajalunaa faqbidh ruuhanaa fii husnil khotimah
    • Ya Tuhan Yang Maha Mencabut, jika telah sampai ajal kami, cabutlah ruh kami dalam keadaan khusnul khotimah.
    1. Yaa baasithu ubsuth yadaaka alainaa bil athiyyah
    • Ya Tuhan Yang Maha Meluaskan, luaskan kekuasaan-Mu kepada kami dengan penuh pemberian.
    1. Ya khoofidhu ihkfidh man zholamanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menjatuhkan, jatuhkanlah orang yang menzalimi kami.
    1. Ya roofi’u irfa darojaatinaa.
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengangkat, angkatlah derajat kami.
    1. Ya Mu’izzu aatinaa izzataka.
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi kemuliaan, limpahkanlah kemulaiaan-Mu kepada kami.
    1. Yaa mudzillu dzallilman adzallanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menghinakan, hinakanlah orang yang menghina kami.
    1. Yaa samii’u isma syakwatanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Mendengar. dengarkanlah pengaduan kami.
    1. Yaa bashiiru abshir hasanaatinaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Melihat, lihatlah semua amal kebaikan kami.
    1. Yaa hakamu uhkum manhasada alainaa wa ghosysyanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menetapkan hukum, hukumlah orang-orang yang dengki dan curang kepada kami.
    1. Yaa adlu i’dil man rahimanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menetapkan keadilan, berikan keadilan kepada orang yang sayang kepada kami.
    1. Yaa khobiiru ihyinaa hayaatal khubaroo
    • Ya Tuhan Yang Maha Waspada, jadikanlah hidup kami seperti kehidupan orang-orang yang selalu waspada (ahli peneliti).
    1. Yaa haliimu bilhilmi zayyinnaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Penyantun, hiasilah hidup kami dengan sikap penyantun.
    1. Yaa lathiifu ulthuf binaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Halus, bersikaplah halus kepada kami.
    1. Yaa azhiimu ahyinaa hayaatal uzhomaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Agung, hidupkanlah kami sebagaimana kehidupan orang-orang yang agung.
    1. Yaa ghofuuru ighfir lanaa waisrofanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, ampunilah dosa kami dan keteledoran kami.
    1. Ya syakuruu a’innaa ‘alaa syukrika
    • Ya Tuhan Yang Maha Menerima syukur, berikanlah kami kemampuan untuk selalu bersyukur kepada-Mu.
    1. Ya aliyyu uluwwaka nastaghiitsu
    • Ya Tuhan Yang Maha Tinggi, kami mengharap ketinggian dari-Mu
    1. Yaa kabiiru ij’alnaa kubarooa
    • Ya Tuhan Yang Maha Besar, jadikanlah kami orang yang besar.
    1. Yaa hafiizhuu ihfazhnaa min fitnatid dunya wasuuihaa
    • Ya Allah Yang Maha memelihara, peliharalah kami dari fitnah dunia dan kejahatannya
    1. Yaa muqiitu a’thinaa quwwataka laa haula walaa quwaata illabika
    • Ya Allah Tuhan Yang Maha Memberi kekuatan, berikanlah kami kekuatan, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Engkau.
    1. Yaa Hasiibu haasibnaa hisaaban yasiiroo
    • Ya Tuhan Yang Maha Menghisab, hisablah kami nanti dengan hisaban yang ringan.
    1. Yaa jaliilu ahyinaa hayaatal ajillaal.
    • Ya Tuhan Yang Maha Luhur, hidupkanlah kami seperti orang-orang yang mempunyai keluhuran
    1. Ya kariimu akrimnaa bittaqwaa

    *Ya Tuhan Yang Maha Mulia, muliakanlah kami dengan ketaqwaan

    1. Ya roqiibu ahyinna tahta riqoobatik
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengamati geark-gerik, hidupkanlah kami selalu dalam pengamatan-Mu
    1. Ya mujiibu ajib da’watanaa waqdhi hawaaijanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengabulkan, kabulkanlah do’a dan ajakan kami, luluskanlah semua keperluan kami
    1. Yaa waasi’u urzuqnaa rizqon waasi’aa wawassi shuduuronaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Meluaskan, berikanlah kami rizki yang luas dan luaskanlah dada kami.
    1. Yaa hakiimu ahyinaa hayaatal hukamaai
    • Ya Tuhan Yang Maha Bijaksana, hidupkanlah kami sebagaimana kehidupan orang-orang yang bijaksana.
    1. Yaa waduudu wuddaka ista’tsarnaa wa alhimma mawaddatan warohmah
    • Ya Tuhan Yang Maha Mencintai, hanya cintamu kami mementingkan, dan ilhamkanlah kepada kami rasa cinta dan kasih sayang.
    1. Ya majiidu a’thinaa majdaka
    • Ya Tuhan Yang Maha Mulia, berikanlah kepada kami kemuliaan-Mu
    1. Yaa baa’itsu ib’atsnaa ma’asysyuhadaai washshoolihiin
    • Ya Tuhan Yang maha Membangkitkan, bangkitkanlah kami bersama orang-orang yang syahid dan orang yang shaleh.
    1. Yaa Syaahiidu isyhad bi annaa muslimuun
    • Ya Tuhan Yang Maha Menyaksikan, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada-Mu (Muslimin)
    1. Yaa Haqqu dullanaa haqqon wa’thi kulla dzii haqqin haqqoo
    • Ya Allah Tuhan Yang Maha Haq, tunjukilah kami kepada yang haq dan berikanlah hak pada setiap orang yang mempunyai haq
    1. Yaa wakiilu alaika tawakkalnaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memelihara penyerahan, kepada-Mu kami serahkan urusan kami
    1. Yaa Qowiyyu biquwwatika fanshurnaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Kuat, dengan kekuatan-Mu tolonglah kami.
    1. Yaa matiinu umtun imaananaa watsabbit aqdaamanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Kokoh, kokohkanlah iman kami dan mantapkan pendirian kami.
    1. Yaa Waliyyu ahyinaa hayaatal auliyaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Melindungi, hidupkanlah kami seperti hamba-hamba-Mu yang mendapat perlindungan (para wali)
    1. Yaa haniidu urzuqnaa isyatan hamiidah
    • Ya Tuhan Yang Maha Terpuji, limpahkan kepada kami kehidupan yang terpuji.
    1. Yaa muhshii ahshinaamin zumrotil muwahhidiin
    • Ya Tuhan Yang Maha Menghitung, hitunglah kami termasuk orang-orang yang meng-Esakan Engkau
    1. Yaa mubdi’u bismika ibtada’naa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memulai, dengan nama-Mu kami memulai.
    1. Yaa mu’iidu a’id maa ghooba annaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengembalikan, kembalikanlah semua yang hilang dari kami
    1. Yaa muhyii laka nuhyii fahayyina bissalaam
    • Ya Tuhan Yang Maha Menghidupkan, karena Engkau kami hidup, hidupkanlah kami dengan penuh keselamatan
    1. Yaa mumiitu amitna alaa diinil Islaam
    • Ya Tuhan Yang Maha Mematikan, matikanlah kami tetap dalam keadaan Islam
    1. Yaa Hayyu ahyi wanammi sa’yanaa wasyarikatana waziro’atana..
    • Ya Tuhan Yang Maha Hidup , hidupkanlah dan kembangkanlah usaha kami, perusahaan kami dan tanaman kami
    1. Ya Qoyyuumu aqimnaa bil istiqoomah
    • Ya Tuhan Yang Maha Tegak, tegakkanlah kami dengan konsisten
    1. Yaa waajidu aujid maadhoo’a annaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Mewujudkan / Menemukan, ketemukanlah semua yang hilang dari kami.
    1. Yaa maajidu aatinaa majdaka
    • Ya Tuhan Yang Maha Mulia, berikanlah kepada kami kemuliaan-Mu
    1. Yaa waahidu wahhid tafarruqonaa wajma’syamlanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Esa/Menyatukan, persatukanlah perpecahan kami dan kumpulkanlah keberantakan kami.
    1. Yaa shomadu ilaika shomadnaa
    • Ya Tuhan yang tergantung kepada-Nya segala sesuatu, hanya kepada-Mu kami bergantung.
    1. Yaa qodiiru biqudrotika anjib min zhahrina zhurriyyatan thoyyibah
    • Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan kekuasaan-Mu lahirkanlah dari tulnag pungung kami anak keturunan yang baik.
    1. Yaa muqtadiru iqtadirlana zaujan wakhoiron kullahu
    • Ya Tuhan Yang Maha Menentukan, tentukanlah untuk kami istri dan semua kebaikannya.
    1. Ya mukoddimu qoddim hawaaijanaa fiddun-ya wal aakhiroh
    • Ya Tuhan Yang Maha Mendahulukan, dahulukan keperluan kami di dunia dan di akherat.
    1. Yaa muakhkhiru akhkhirhayaatana bishusnil khootimah.
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengakhirkan, akhirkanlah hidup kami dengan

    husnul khotimah.

    1. Yaa awwalu adkhilnal jannta ma’al awwalin
    • Ya Tuhan Yang Maha Pertama, masukkanlah kami ke dalam syurga bersama orang-orang yang pertama masuk syurga
    1. Yaa aakhiru ij’al aakhiro ‘umrinaa khoirohu.
    • Ya Tuhan Yang Maha Akhir, jadikanlah kebaikan pada akhir umur kami.
    1. Ya zhoohiru azhhiril haqqo ‘alainaa warzuqnattibaa’ah
    • Ya Tuhan Yang Maha Nyata, tampakkanlah kepada kebenaran , berikan kami kesanggupan untuk mengikutinya.
    1. Yaa baathinu abthin ‘uyuubanaa wastur ‘aurootinaa.
    • Ya Tuhan Yang Maha Menyembunyikan, sembunyikanlah cacat kami dan tutuplah rahasia kami.
    1. Yaa waali anta waali amrinaa faasri’ nushrotaka lanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menguasai, Engkau adalah Penguasa urusan kami, maka segerakanlah pertolongan-Mu kepada kami.
    1. Yaa muta’aali a’li kalimataka wakhdzul man khodzalanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Terpelihara dari semua kekurangan (Maha Luhur), luhurkan/peliharalah kalimat-Mu dan hinakan orang yang merendahkan kami.
    1. Yaa barru ashib barroka alainaa waahyinaa ma’al barorotil kiroom.
    • Ya Tuhan Yang Maha Dermawan, limpahkan kedermawanan-Mu kepada kami dan hidupkanlah kami bersama orang-orang yang dermawan lagi mulia.
    1. Yaa tawwaabu taqobbal taubatanaa wataqobbal ma’dzi-rotanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menerima taubat, terimalah taubat kami dan uzur kami.
    1. Yaa afuwwu fa’fu annaa khothooyaanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memaafkan , maafkanlah semua kesalahan kami
    1. Ya rouufu anzil alainaa ro’fataka
    • Ya Tuhan Yang Maha Pengasih, turunkanlah kepada kami kasih/kelembutan-Mu
    1. Yaa Maalikal mulki aati mulkaka man tasyaa-u minnaa
    • Ya Tuhan Yang Memiliki Kerajaan/Kekuasaan, berikan

    kerajaan/kekuasaan-Mu kepada siapa yang Engkau kehendaki dari kami.

    1. Yaa Muntaqimu laa tantaqim ‘alaina bidzunuubinaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Menyiksa, janganlah kami disiksa lantaran dosa-dosa kami.
    1. Yaa dzal jalaali wal ikroom akrimnaa bil ijlaali wattaqwaa
    • Ya Tuhan Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan, muliakanlah kami dengan keagungan dan ketaqwaan.
    1. Yaa Muqsithu tsabbit lanaa qisthon wazil ‘anna zhulman
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengadili, tetapkanlah kepada kami keadilan dan hilangkan dari kami kezaliman.
    1. Yaa Jaami’u ijma’naa ma’ash shoolihiin.
    • Ya Tuhan Yang Maha Mengumpulkan, kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang sholeh.
    1. Yaa Ghoniyyu aghninaa bihalaalika ‘an haroomik
    • Ya Tuhan Yang Maha Kaya, berikanlah kepada kami kekayaan yang halal dan jauh dari keharaman.
    1. Yaa Munghnii bini’matika aghninaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi Kekayaan, dengan nikmat-Mu berikanlah kami kekayaan.
    1. Yaa Maani’u imna’ daairotas suu-i taduuru ‘alainaa.
    • Ya Tuhan Yang Maha Menolak, tolaklah putaran kejahatan yang mengancam kami.
    1. Yaa Dhoorru la tushib dhorroka wadhorro man yadhurru ‘alainaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi Bahaya, jangan timpakan kepada kami bahaya-Mu dan bahaya orang yang akan membahayakan kami.
    1. Yaa Naafi’u infa’ lanaa maa ‘allamtanaa wamaa rozaqtanaa
    • Ya Tuhan Yang Maha Membri Manfaat, berikan kemanfaatan atas apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami dan kemanfaatan rizki yang Engkau berikan kepada kami.
    1. Yaa Nuuru nawwir quluubanaa bihidaayatika
    • Ya Tuhan Yang Maha Bercahaya, sinarilah kami dengan petunjukmu.
    1. Yaa Haadii ihdinash shirothol mustaqim.
    • Ya Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.
    1. Yaa Badii’u ibda’ lanaa hayatan badii’ah
    • Ya Tuhan Yang Maha Pencipta Keindahan, ciptakanlah kepada kami kehidupan yang indah.
    1. Yaa Baaqii abqi ni’matakal latii an’amta ‘alainaa.
    • Ya Tuhan Yang Maha Kekal, kekalkanlah nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.
    1. Yaa Waaritsu ij’alnaa min waratsati jannatin na’iim.
    • Ya Tuhan Yang Maha Pewaris, jadikanlah kami orang yang akan mewarisi syurga kenikmatan.
    1. Yaa Rasyiidu alhimna rusydaka waahyinaa raasyidiin.
    • Ya Tuhan Yang Maha Cendekiawan, limpahkanlah kecendekiawaan-Mu dan hidupkanlah kami sebagai orang-orang cendekia.
    1. Yaa Shabuuru ij’alnaa shaabiriina
    • Ya Tuhan Yang Maha Penyabar, jadikanlah kami orang-orang yang selalu bersabar.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
    • Uleetha88 3:06 pm on 22 Februari 2015 Permalink

      persis seperti yang ada di buku “Do’a para wali Allah by K.H Mawardi Labay El -Sulthani” diterbitkan Anggota IKAPI Al-Mawardi Prima. LIke this ^_^

  • erva kurniawan 1:46 am on 19 February 2015 Permalink | Balas  

    dzikir 2Zikir Antara Mengingat dan Menyebut Nama Allah

    arsip fiqh

    Menurut kamus (Arab), zikir berasal dari lafal zakara – yadzkuru – dzikr, bisa berarti: mensucikan dan memuji (Allah); ingat, mengingat, peringatan; menutur; menyebut; dan melafalkan. Di dalam Al-Quran –yang juga disebut Adz-Dzikr– kita dapat menjumpai lafal itu, di dalam berbagai bentuknya (masdar, fi’il madhi, amar, mudhari’, dan sebagainya) lebih dari 200 kali dengan berbagai maknanya termasuk makna istilahi seperti dalam pembicaraan kita sekarang ini.

    Jadi menilik asal maknanya, zikir itu memang bisa berarti “mengingat Allah”. Karena itu, menurut ulama, zikir bisa dilakukan dengan hati (“mengingat”), bisa pula dengan lisan (“menyebut-nyebut”).

    Di surah 3. Ali-Imran 191 antara lain Allah berfirman: “Mereka yang mengingat Allah diwaktu beridiri, duduk dan berbaring…”

    Di surah 4. An-Nisaa: 103, antara lain Allah berfirman: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat, ingatlah di waktu berdiri, duduk, maupun berbaring….”

    Di dalam hadis shahih riwayat at-Turmudzi dari shahabat Abdullah bin Busr r.a. katanya:

    “Ya rasulullah ajaran-ajaran Islam telah banyak padaku, maka beritahukanlah aku sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan. Rasulullah Saw. pun menjawab: ‘Biarkanlah lisanmu terus basah dengan menyebut Allah.'”

    Hadis lain juga riwayat at-Turmudzi dari shahabat Jabir r.a. dia berkata:

    “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikr yang paling utama adalah Laa ilaaha illallaah”

    Namun demikian zikir yang afdhol adalah zikir yang dilakukan sekaligus dengan lisan dan hati. Misalnya lisan menyebut “Laa ilaaha illallaah” dan hati mengesakan-Nya. Lisan menyebut “Subhaanallaah”, hati mensucikan-Nya. Dan seterusnya. Banyak berzikir kepada Allah, yang sering dipuji dan diperintahkan oleh Allah dalam kitab suci-Nya (seperti

    -di surah 8. Al-Anfaal: 45: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

    -di surah 33. Al-Ahzab 35: “…orang laki-laki maupun perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.”

    -di surah 62. Al-Jumu’ah 10: “Apabila telah kamu tunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”)

    dengan demikian, adalah banyak “menyebut-nyebut” dan sekaligus “mengingat” Allah.

    Karena itu, Imam ‘Athaa, seorang faqih dan ahli hadis, mengatakan, orang yang melaksanakan salat lima waktu secara benar sudah termasuk ke dalam firman Allah yang memuji:

    “Wadzdzaakiriinallaaha katsiira wadzdzaakiraati..”

    “Orang laki-laki maupun perempuan yang banyak berdzikir”.

    Bahkan beliau juga menyatakan bahwa majelis-majelis yang membicarakan halal-haram, seperti bagaimana seharusnya melakukan jual-beli, salat, puasa, nikah-cerai, haji, dan sebagainya adalah majelis-majelis zikir. Saiid bin Jabir r.a. dan ulama lainnya malah menyatakan bahwa keutamaan zikir tidak terbatas pada membaca tasbih (mensucikan Allah), tahlil (mengesakan Allah), tahmid (memuji Allah), takbir(mengagungkan Allah), dan sebagainya. Tapi siapa pun yang yang melakukan amal perbuatan karena Allah dengan ketaatan kepada-Nya, dia adalah orang yang berzikir. (Lebih lanjut bacalah “Hilyat al-Abraar wa Syi’aar al-Akhyaar” halaman 4-8).

    Zikir Menggunakan Tasbih

    Tasbih yang dalam bahasa Arab disebut subhah atau misbahah, dalam bentuknya yang sekarang (untaian manik-manik), memang merupakan produk “baru”. Sesuai namanya, tasbih digunakan untuk menghitung bacaan tasbih (Subhaanallah), tahlil (Laa ilaaha illallaah), dan sebagainya.

    Pada zaman Rasulullah Saw. untuk menghitung bacaan dalam berdzikir digunakan jari-jari tangan , kerikil-kerikil, biji-biji kurma, atau tali-tali yang disimpul-simpul. Seperti diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah, Abu Daud, at-Turmudzi, an-Nasai, shahabat Ibn Umar berkata:

    “Pernah kulihat Nabi Saw. menghitung bacaan tasbih dengan tangan kanannya”

    Rasulullah Saw. juga pernah menganjurkan para wanita untuk bertasbih dan bertahlil serta menghitungnya dengan jari-jari, sebagaimana hadis dikeluarkan oleh Ibn Syaibah, Abu Daud, at-Turmudzi, dan al-Hakim sebagai berikut:

    “Wajib atas kalian untuk membaca tasbih, tahlil, dan tahdis. Dan ikatlah (hitunglah bacaan-bacaan itu) dengan jari-jemari, karena sesungguhnya jari-jari itu akan ditanya untuk diperiksa. Janganlah kalian lalai, (jikalau kalian lalai) pasti dilupakan dari rahmat (Allah).”

    Shahabat Abu Hurairah r.a. bila bertasbih menggunakan tali yang disimpul-simpul konon sampai seribu simpul. Shahabat Sa’d bin Abi Waqqaash r.a. diriwayatkan kalau bertasbih menggunakan kerikil-kerikil atau biji-biji kurma. Demikian pula Shahabat Abu Dzarr dan beberapa shahabat lainnya.

    Sedangkan tasbih dalam bentuknya yang sekarang hanyalah merupakan perkembangan alat-alat bantu tersebut.

    Memang ada sementara ulama yang berpendapat bahwa menggunakan jari-jemari lebih utama daripada menggunakan tasbih. Pendapat ini didasarkan atas hadis Ibn Umar yang sudah disebutkan di atas.

    Namun dari segi maknanya (untuk sarana menghitung), saya pikir kedua cara itu tidak berbeda. Dari sisi lain, selain untuk menghitung tasbih dan tahlil, sebenarnya tasbih mempunyai manfaat utamanya bagi kita yang sibuk di zaman sibuk ini. Dengan membawa tasbih, seperti kebiasaan orang-orang Timur Tengah (di sana tasbih merupakan asesori macam cincin dan kacamata saja), sebenarnya kita bisa selalu atau sewaktu-waktu diingatkan untuk berdzikir mengingat Allah.

    Artinya, setiap kali kita diingatkan bahwa yang ada di tangan kita adalah alat untuk berdzikir, maka besar kemungkinan kita pun lalu berdzikir.

    Wallaahu A’lam. Dan selamat berzikir.

    ***

    sumber : “Fiqih Keseharian”  KH. A. Mustofa Bisri

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 18 February 2015 Permalink | Balas  

    dzikirZikir dan Doa

    Arsip fiqh

    Tidak ada ibadah yang lebih utama bagi lidah setelah membaca Alquran selain zikrullah (mengingat Allah dengan zikir) dan menyampaikan segala kebutuhan melalui doa yang tulus kepada-Nya.

    Berikut ini adalah dalil-dalil tentang keutamaan berzikir.

    Allah SWT berfirman yang artinya, “Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian.” (Al-Baqarah: 152).

    “Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (Ali Imran: 191).

    Nabi saw. bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla berfirman, “Aku beserta hamba-hamba-Ku selagi dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak-gerak menyebut-Ku.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

    Dalam hadis lain beliau bersabda, “Tidaklah segolongan orang mengingat Allah, malainkan para malaikat menghormati mereka, rahmat menyelubungi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah mengingat mereka bersama orang-orang yang ada di sisi-Nya.” (HR Muslim dan At-Tirmizi).

    Hadis-hadis lain yang serupa dengan ini banyak sekali, yang biasanya disebutkan dalam masalah amal-amal yang utama.

    Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda, “Tidaklah segolongan orang duduk-duduk di suatu majelis, lalu mereka buyar tanpa mengingat Allah Azza wa-Jalla, melainkan mereka itu buyar seperti bangkai-bangkai himar, dan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat.” (HR Abu Daud, Ibnus-Sunni, dan Al-Hakim).

    Dalam hadis lain disebutkan, “Tidaklah segolongan orang duduk-duduk di suatu majelis, sedang mereka tidak mengingat Allah Azza wa-Jalla dan tidak berselawat kepada Nabi saw., melainkan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

    Tentang keutamaan doa, Abu Hurairah r.a. telah meriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang mulia atas Allah Azza wa-Jalla selain dari doa.” (HR At-Tirmizi, Ibnu majah, Ibnu Hibban, Ahmad, dan Al-Baghawi).

    Dalam hadis lain disebutkan, “Ibadah yang paling utama adalah doa.” (HR Bukhari, sanadnya ada kelemahan).

    “Siapa yang tidak mau meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya.” (HR Bukhari, Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baghawi).

    “Mintalah kepada Allah kemurahan-Nya, karena Allah itu suka jika dimintai.” (HR Tirmizi).

    Ada beberapa adab yang harus diperhatikan saat berdoa, yaitu mencari waktu yang mulia, seperti hari Arafah untuk putaran satu tahun, pada bulan Ramadan untuk putaran satu bulan, pada hari Jumat untuk putaran satu minggu, pada waktu-waktu sahur untuk putaran setiap hari. Waktu mulia lainnya adalah antara azan dan iqamat, seusai salat fardu, saat turun hujan lebat, saat berperang fisabilillah, saat khatam Alquran, saat sujud, saat berbuka puasa, saat hati sedang khusu dan takut. Yang pasti, kemuliaan waktu-waktu ini kembali kepada kemuliaan keadaannya. Waktu sahur merupakan saat hati sedang bersih dan kosong, waktu sujud karena dalam hina.

    Adab berdoa lainnya adalah harus menghadap ke arah kiblat, mengangkat kedua tangan (pada selain salat wajib lima waktu ed.), dan hendaknya mengucapkan doa secara pelan-pelan.

    Adab yang lain, hendaknya dimulai dengan zikir kepada Allah, kemudian mengucapkan selawat kepada Nabi saw., dan tidak memaksakan kalimat-kalimat yang bersajak dalam doa. Adab bedoa lainnya yang termasuk adab batin dan merupakan dasar pengabulan adalah tobat.

    ***

    Sumber: Diadaptasi dari Minhajul Qashidin: Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk terjemahan dari Mukhtasyar Minhajul Qashidin, Al-Imam asy-Syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisy

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 7:30 am on 17 February 2015 Permalink | Balas  

    shalat gaibShalat Gaib

    Arsip fiqh

    Dalil-dalil tentang Shalat gaib di antaranya adalah sebagai berikut.

    1. Dari Jabir dan Umar: “Bahwa Nabi saw. telah menyalatkan Ashhamah Najasyi, lalu takbir empat kali.” (SR Bukhari, muslim dan Ibnu Majah).
    2. Dari Jaabir: Sabda Rasulullah saw., “Telah mati pada hari ini seorang yang saleh dari bangsa Habasyi, lantaran itu marilah kamu Shalatkan atasnya,” maka kami pun beratur di belakangnya, lalu Rasulullah saw. menyalatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).
    3. Dari Imraan bin Hushain, telah bersabda rasulullah saw., “Bahwasanya saudara kamu Najasyi telah mati, lantaran itu bediri dan Shalatkan atasnya, maka kami pun berdiri lelu membuat shaf sebagaimana dibuat bagi Shalat mayit dan kita Shalatkan atasnya sebagaimana diShalatkan atas mayit.” (SR Nasai dan Tirmizi).
    4. Dari Ibnu Abbas, “Rasulullah saw. pernah pergi ke satu kuburan yang baru, lalu ia Shalatkan atasnya, dan sahabatnya bershaf di belakangnya, dan ia takbir empat kali.” (HSR Bukhari dan Muslim).
    5. Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi saw. pernah menyalatkan atas satu mayit sesudah tiga hari.” (R Daraquthni).
    6. Dari Ibnu Abbas, “Bahwasanya Nabi saw. pernah menyalatkan atas satu kubur sesudah sebulan.” (R Daraquthni).
    7. Dari Abi Hurairah r.a., bahwasanya seorang perempuan hitam (atau seorang muda) yang biasa menyapu masjid tidak kelihatan kepada Rasulullah saw., lalu Rasulullah menanyakan dia, maka sahabat-sahabatnya menjawab, “Ia sudah mati.” Sabda Rasulullah, “Mengapakah kamu tidak beri tahu kepadak? Lalu, Rasulullah berkata, Tunjukan kepadaku kuburannya, lalu mereka tunjukkan, lantas Rasulullah menyalatkan atasnya.” (SR Bukhari, Muslim, dan yang lainnya). Dan, masih banyak lagi.

    Imam Syafii, Imam Ahmad bin Hambal, dan kebanyakan ulama yang dahulu membolehkan orang atau sekelompok orang Shalat gaib. Kata Imam Ibnu Hazm, “Tidak diriwayatkan walaupun dari seorang sahabat, tentang melarang hal itu.”

    Kata Hafizh Ibnu Hajar, “Sebagian dari ahli ilmu berkata, ‘Boleh diShalatkan gaib pada hari matinya atau sesudah dua tiga hari. Tetapi, tidak boleh kalau sudah lama’.”

    Dalil bagi Imam Syafii dan yang sependapat dengannya ialah karena hadis yang ada itu membolehkan Shalat gaib dengan tidak mensyaratkan apa-apa. Imam Al-Khaththabi berkata, “Tidak boleh diShalatkan gaib, melainkan atas orang yang mati di negeri yang tidak ada siapa-siapa menyalatkan dia di situ.” Dalilnya, dari Hudzaifah bin Asid, bahwasanya Nabi saw. telah bersabda, “Sesungguhnya saudara kamu telah mati di luar negeri kamu. Lantaran itu, berdirilah kamu dan Shalatkanlah dia.”

    (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Thabrani).

    Sementara mazhab Imam Hanafi dan Maliki berlainan pendapat dan berkata,

    “Tidak sekali-kali disyariatkan, yakni tidak sekali-kali disuruh oleh agama supaya kita menyalatkan mayit yang gaib.”

    Kesimpulan

    1. Boleh suatu jamaah Shalat gaib walaupun mungkin sudah ada yang menyalatkannya.
    2. Tidak bidah berdasarkan hadis yang tidak menyaratkan apa-apa.

    ***

    Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 16 February 2015 Permalink | Balas  

    itikaf 2Seseorang Dapat Menghadapi Kematian di Mana Pun dan Kapan Pun

    Memikirkan kematian dan mendefinisikan kebenaran ini adalah hal penting yang perlu dipertimbangkan jika seseorang ingin selalu berlaku ikhlas dan penuh kesadaran. Seseorang yang ikhlas beriman pada keberadaan Allah dan hari akhir, ia mengetahui dengan jelas bahwa Allah tidak hanya mengendalikan kehidupannya, tetapi juga kematiannya.

    Tak ada satu pun yang dapat menunda ataupun mempercepat kematiannya. Kematian akan datang saat Allah mengizinkan dan dalam kondisi yang Ia ridhai. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat, “Tiap-tiap umat mempuyai batas waktunya; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sedikit pun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (al-A’raaf [7]: 34).

    Seseorang yang menyadari kebenaran ini, bersikap atas dasar pikiran yang jernih, karena ia tahu bahwa ia dapat berhadapan dengan kematian kapan saja. Sebagaimana telah disebutkan, kematian tentu saja akan datang dengan izin Allah. Kematian tidak bergantung pada umur dan usia seseorang ataupun apakah ia melakukan perbuatan yang berbahaya atau tidak. Dengan izin Allah, kecelakaan yang tiba-tiba, penyakit yang tidak terantisipasi, atau bahkan penyebab yang sangat kecil sekalipun dapat membawa seseorang pada akhir kehidupannya.

    Siapa pun yang mampu memahami arti kematian dalam berbagai seginya, ia menyadari bahwa dirinya dapat bertemu dengan kematian di mana pun dan kapan pun. Kehidupannya dapat berakhir dengan tiba-tiba. Karena memahami hal tersebut, ia selalu berbuat ikhlas dan berusaha sebaik mungkin menggunakan kebijaksanaan, hati nurani, dan kemampuannya.

    Ia bertindak dengan penuh kesadaran bahwa bahkan dalam waktu selanjutnya, ia dapat menemukan dirinya harus menghitung amalannya di hadapan Allah. Jadi, kapan pun, ia bisa saja menempati surga ataupun neraka. Ia menghabiskan hidupnya di dunia ini dengan iman dan keikhlasan, seperti ia pernah melihat surga atau neraka saja. Ia juga memastikan bahwa semua itu adalah nyata dan dekat. Ia melewati setiap waktu dengan rasa takut yang mendalam kepada Allah, seperti pernah bertemu malaikat maut yang datang untuk mengambil nyawanya.

    Ia merasa buku yang berisi amalannya terbuka dan ia merasa seperti saat menanti keputusan apakah ia akan dikirim ke surga atau ke neraka. Ia menuntun sikapnya dengan selalu mengingat akan dekat dan pedihnya siksaan api neraka. Ia selalu memelihara rasa takut akan jatuh ke dalam derita itu selamanya.

    Di sisi lain, ia juga berharap terbebas dari neraka dan hidup abadi si surga sebagai hamba yang ditemani oleh Allah. Ia bertindak dengan mengetahui pasti bahwa alasan-alasan yang sia-sia seperti, “saya tidak tahu”, “saya tidak mengerti”, “saya tidak sadar”, “saya lupa”, “saya bingung seperti orang-orang yang tidak sadar”, “saya tidak bertanggung jawab”, “saya mengikuti setan”, atau “saya kira Allah pasti memaafkan saya”, “saya melakukan tugas-tugas agama saya dan saya kira itu cukup”, semua itu sia-sia jika diucapkan di hadapan Allah di hari pembalasan.

    Sungguh, kesadaran muncul dalam hati nurani yang kuat, pemahaman yang kokoh, kebijaksanaan yang unggul, dan keikhlasan yang konsisten. Karena seseorang mengetahui bahwa datangnya kematian hanyalah masalah waktu, ia tidak pernah berhenti melakukan perbuatan baik apa pun. Ia tidak pernah menangguhkannya, bermalas-malasan, dan selalu antusias dalam kondisi apa pun. Ia menyadari bahwa kehidupannya tidak cukup panjang untuk melakukan perbuatan yang ia coba realisasikan dalam waktu dekat, beberapa jam atau hari ke depan. Ia menyadari bahwa ia bisa saja menyesal di hari akhir karena perbuatan-perbuatan yang belum terselesaikan dan tertunda itu.

    Ia tahu bahwa ia harus berbuat sesuai dengan pemahaman seperti para nabi. Ia berusaha untuk tidak menyesal di hari akhir dan mengatakan, “Saya telah melakukan amal saleh, menolong banyak orang, bersikap dengan akhlaq yang mulia, dan memimpin orang-orang saleh dan orang-orang muslim. Saya harus mengabdikan diri saya lebih kokoh kepada Allah, berusaha lebih gigih untuk mengabarkan manusia akan akhlaq Islam, mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari kesalahan dan dosa, tidak menunda kesiapan untuk hari akhir daripada terbawa oleh kehidupan duniawi, saat saya memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu dari mereka yang telah sukses.”

    Karena ia bisa saja menghadapi kematian begitu cepat, semakin baik perbuatan yang dilakukannya dengan ikhlas, semakin menguntungkan apa yang ia dapat. Ia menyadari bahwa bersikap ragu-ragu, malas untuk melakukan sesuatu, atau memilih alternatif yang kurang baik akan menyebabkan dirinya sangat menyesal di hari akhir. Kesadaran dan keikhlasannya yang mendalam bersinar dalam kondisi apa pun. Ia mengadopsi sikap yang tulus dalam pendekatannya kepada Allah dan dalam rasa hormat, kasih sayang dan ketulusannya kepada orang-orang muslim, akhlaq yang baik, pengorbanan diri, kerja keras, pengabdian dan do’anya yang ia berikan dengan kekayaan, kata-kata, antusiasme, dan tenaganya.

    Seseorang hanya dapat berharap untuk mendapatkan pemahaman keikhlasan yang mulia jika ia hidup dengan terus memikirkan kematian. Dalam risalahnya, Badiuzzaman Said Nursi menekankan perlunya memikirkan kematian.

    “Hai sahabatku dalam pelayanan Al-Qu`an! Salah satu cara yang paling efektif untuk mendapatkan dan memelihara keikhlasan adalah memikirkan kematian. Benar, karena ambisi duniawi yang merusak keikhlasan dan membawa seseorang pada kemunafikan dan dunia, maka perenungan akan kematian yang menyebabkan kemuakan pada kemunafikan dan hal itu akan mengantarkan kita pada keikhlasan. Yaitu, untuk memikirkan kematian dan menyadari bahwa dunia ini adalah sementara, dan dengan demikian, kita terselamatkan dari tipuan-tipuan jiwa. Benar, melalui petunjuk ayat Al-Qur`an dan orang-orang yang benar, ‘Setiap jiwa akan mati,‘ (Ali Imran [3]: 185) mereka membuat perenungan akan kematian menjadi penting bagi perjalanan spiritual dan menghilangkan ilusi keabadian dan sumber ambisi duniawi. Mereka membayangkan dirinya sebagai orang mati dan ditempatkan di dalam kubur. Melalui pemikiran yang panjang, jiwa yang diperintah oleh kejahatan disedihkan dan dipengaruhi oleh khayalan yang demikian dan sampai pada tingkat memberikan semua ambisi dan harapan jiwanya. Ada sejumlah keuntungan dalam perenungan ini. Hadits, “Sering-seringlah mengingat kematian yang menghilangkan kesenangan dan membuatnya begitu pahit,” mengajarkan perenungan ini.

    Bagaimanapun juga, karena jalan kita bukanlah jalan sufi, melainkan jalan realitas, kita tidak mendorong untuk melakukan perenungan dalam khayalan dan hipotesis seperti yang dilakukan kaum sufi. Jalan yang demikian, bagaimanapun, tidak sesuai dengan realitas (kenyataan). Jalan kita bukanlah untuk membawa masa depan ke masa kini dengan memikirkan akhir hidup kita, melainkan memikirkan masa depan dari masa kini dalam penghormatan akan realitas dan menatap masa depan. Benar, dengan tidak membutuhkan khayalan atau gambaran, seseorang dapat melihat jenazahnya, buah pohon kehidupannya yang singkat. Dengan cara seperti ini, seseorang dapat melihat pada kematiannya, dan jika ia lihat lebih jauh, ia akan melihat kematian abad ini, dan jika ia lihat lebih jauh lagi dengan mengamati kematian dunia ini, ia akan membuka jalan menuju keikhlasan yang sempurna. (Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-21)

    Dengan kalimat di atas, Badiuzzaman menyarankan kepada kita untuk mengevaluasi kematian dengan kejernihan dan kematangan pikiran, layaknya kita telah dimasukkan ke dalam kubur, melihat kematian dan penguburan diri sendiri, serta mengamati kematian dunia dari akhirat. Ia juga menekankan kenyataan bahwa memikirkan kematian dapat menjadi cara yang penting untuk memurnikan seseorang dari segala macam kelemahan moral dan bertingkah laku tepat dalam kehidupan dunia ini.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:23 am on 15 February 2015 Permalink | Balas  

    itikaf2Memikirkan Kematian dan Hari Pembalasan

    Sebagian orang salah menilai arti kematian. Mereka mengira kematian adalah terminal akhir, merupakan akhir dari karunia kehidupan dunia ini, dan membuat mereka mengucapkan kata perpisahan kepada kehidupan. Ia mengira dirinya tidak akan pernah kembali dan sirna ditelan bumi. Pemikiran-pemikiran seperti ini berawal dari kegagalannya memahami keberadaan Allah dengan sebenar-benarnya, seperti alasan penciptaan diri mereka sendiri dan penciptaan kehidupan dunia ini. Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah ujian untuk menentukan tujuan kehidupan sebenarnya setelah mereka mati. Mereka menganggap dunia ini sebagai kenyataan dan hari akhir sebagai khayalan. Karena alasan ini, mereka mengira kematianlah yang mengakhiri kehidupan dunia dan memulai kehidupan dunia yang lain sebagai terminal akhir.

    Karena anggapan tersebut, “kematian” atau bahkan “memikirkan kematian” adalah hal yang menakutkan dan mengganggu. Mereka percaya bahwa mereka tidak akan menemukan kesenangan apa pun dalam kehidupan duniawi ini dan semua keceriaan akan hilang jika mereka memikirkan kematian. Maka dari itu, mereka ingin mendapatkan kesenangan yang paling besar atas karunia kehidupan di bumi ini dan mereka ingin lebih menikmati kehidupan ini dengan mengabaikan kematian.

    Akan tetapi, apakah seseorang berpikir tentang kematian ataupun tidak, pada akhirnya hasilnya tidak berubah. Sebagaima disebutkan di dalam ayat yang dikutip di bawah ini, setiap manusia pasti akan bertemu dengan kematian,

    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya, kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.'” (al-Jumu’ah [62]: 8)

    Karena itulah, cara yang bijaksana adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal yang tak dapat dielakkan ini, bukan mengabaikannya dalam keingkaran dan kelalaian. Jika seseorang mengarahkan hidupnya untuk mendapatkan keridhaan Allah, kematian tidak akan merugikan dan mengancam dirinya.

    Sebaliknya, kematian akan menjadi jalan baginya untuk memulai kehidupan abadi yang lebih mulia. Jika orang ini berpaling kepada Allah dengan hati yang ikhlas, kematian tidak akan menyakitkan, tanpa menghiraukan artinya. Di dalam Al-Qur`an, Allah menujukkan malaikat yang, “… mencabut (nyawa) dengan keras, dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut.” (an-Naazi’aat [79]: 1-2) Karena itulah, jika seseorang beriman dan ikhlas, kematian tidak akan menjadi akhir yang menyakitkan baginya.

    Di sisi lain, berpikir tentang kematian adalah cara penting yang memungkinkan seseorang menemukan kesenangan dan kebahagiaan yang besar dari berkah kehidupan ini. Menurut yang disalah artikan oleh orang banyak, kematian itu menghapus kesenangan dunia ini, padahal seseorang dapat menikmati berkah kehidupan dengan baik hanya jika ia memahami bahwa semua itu semata hanyalah sementara.

    Dalam salah satu haditsnya, Nabi saw. telah menandai pentingnya berpikir tentang kematian,

    “Banyaklah mengingat kematian karena ia membersihkan seseorang dari dunia dan membebaskannya dari dosa.” (Ahmad Diya’al-Din al-Kamushkhanawi, Ramuz al-Ahadith, Vol. 1, 80/16.)

    Selain itu, kematian bukanlah akhir kehidupan, bukan akhir karunia ataupun kesenangan, seperti yang cenderung diyakini orang awam. Sebaliknya, kematian adalah awal dari kehidupan sebenarnya; merupakan transisi menuju dunia yang sebenarnya, di mana manusia akan hidup abadi sesuai dengan pilihan-pilihan yang mereka buat selama mereka hidup di dunia.

    Jika seseorang menghargai kebesaran Allah dan hidup dengan pengetahuan akan hal ini, ia akan menghabiskan kehidupan abadinya di surga. Bagaimanapun juga, jika ia telah membenamkan dirinya dalam kehidupan dunia ini dan melupakan kematian dan hari pembalasan, tempat tinggal abadinya adalah neraka. Mereka tidak ingin memikirkan kematian sementara di bumi ini, tetapi ia pasti bertemu dengan takdirnya.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:12 am on 14 February 2015 Permalink | Balas  

    taubatMemahami Bahwa Kehidupan Dunia Ini Adalah Sementara

    Di seluruh dunia, setiap manusia tanpa terkecuali, membicarakan atau paling tidak memikirkan satu tema pada satu titik dalam kehidupan mereka: berumur panjang dan menghindari kematian sebisa mungkin. Hingga saat ini, para ilmuwan telah melakukan usaha-usaha yang serius selama berabad-abad dan telah berusaha menemukan formula-formula untuk membuat manusia hidup lebih lama. Bagaimanapun juga, hingga saat ini, tak ada kemajuan apa pun yang dicapai. Karena itu, dengan ayat, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (al-Anbiyaa` [21]: 34-35) Allah mengatakan kepada kita bahwa setiap manusia diciptakan tidak abadi (akan mati). Sebuah kenyataan yang setiap kita pasti akan hadapi pada waktu yang telah ditentukan.

    Tanpa mengabaikan kenyataan bahwa manusia enggan memikirkan atau menerima realitas kematian, kenyataan bahwa manusia akan mati adalah sebuah kebenaran mutlak. Dalam hal apa pun, kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan sementara sifatnya. Setiap orang diturunkan ke dunia ini untuk diuji dalam rentang waktu berkisar antara tujuh belas sampai tujuh puluh tahun. Karena itulah, akan menjadi sebuah kesalahan yang besar bagi seseorang untuk mendasarkan rencana hidupnya hanya untuk dunia, untuk menerima persinggahan yang sebentar ini sebagai kehidupan sejatinya, dan untuk melupakan akhirat di mana ia akan hidup selamanya.

    Kenyataan ini terlihat begitu jelas dan mudah hingga semua kita bisa memahaminya dengan cepat. Akan tetapi, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat, “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk [67]: 2) Allah memperindah dunia ini untuk menciptakan kondisi di mana di dalamnya manusia akan diuji. Manusia seharusnya tidak tertipu oleh kenyataan bahwa sebagian orang berlomba-lomba satu sama lain untuk memaksimalkan kesenangan hidup di dunia ini. Hal ini karena–seperti yang ditunjukkan oleh Al-Qur`an–mereka yang hidup dalam kelalaian, tidak dapat menganggap sebuah kelompok kecuali bila mereka memiliki sifat-sifat yang dikehendakinya. Mereka yang berusaha untuk mengumpulkan dan menimbun harta kekayaan, mengorbankan kepercayaan mereka untuk mendapatkan kekuasaan.

    Mereka yang memainkan peran sebagai orang yang ingin mendapatkan penghargaan atau penerimaan dari orang lain, sebenarnya mencari cita-cita yang khayali. Menganggap bahwa kehidupan dunia ini adalah nyata dan mengejar keuntungan serta balasan duniawi tanpa harapan, adalah ketidaklogisan, kelucuan, dan kehinaan, seperti menyalahkan adegan dari sebuah sandiwara nyata.

    Bagaimanapun juga, haruslah diingat bahwa yang tertipu itu bukan hanya mereka yang mengabdikan dirinya pada kehidupan dunia ini, melainkan juga mereka yang berusaha mendapatkan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia ini diciptakan sebagai berkah bagi manusia. Sementara mereka di dunia, manusia harus memakainya sebaik mungkin atas segala pesonanya dan menikmati anugerahnya yang berlimpah. Akan tetapi, kita tidak boleh mengidealkan dan tidak juga mengejar anugerah ini dengan keinginan atau ambisi yang berlebihan. Ia harus menjadikannya alat untuk hidup sesuai dengan agama dalam sikap sebaik mungkin, untuk menghargai Allah, dan bersyukur setelah menyadari bahwa semua itu dilimpahkan Allah kepadanya. Berbuat sesuai dengan alasan-alasan seperti, “Saya dapat membawa hidup saya dalam keridhaan Allah dan menggunakan keuntungan-keuntungan duniawi ini sebaik-baiknya,” akan menjadi pola pikir yang merusak keikhlasan seseorang.

    Di dalam ayat berikut, mengacu pada para nabi-Nya, Allah mengingatkan umat manusia bahwa tingkah laku mereka yang hanya mengingat hari akhir saja adalah yang terbaik dalam kebaikan bersama Allah.

    “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya, Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlaq yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Shaad [38]: 45-47)

    Meskipun demikian, Allah melimpahkan anugerah duniawi yang luar biasa atas mereka yang dengan ikhlas berpaling kepada-Nya dan menginginkan hari akhirat. Jadi, seseorang yang mengambil jarak dengan keikhlasan dengan mengatakan, “Biarkan aku memiliki dunia ini dan akhirat,” pada akhirnya akan kehilangan kedua-duanya. Orang yang selalu hanya mencari akhirat akan mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat.

    Demikian pula, Badiuzzaman Said Nursi berkata, “Rahasianya adalah keikhlasan. Kesenangan dunia yang sementara ini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang tidak berhasil mendapatkan kemurnian spiritual. Jadi, perbuatan yang dilakukan oleh mereka untuk hari akhirat dipengaruhi oleh kesenangan-kesenangan tersebut, dan keikhlasan mereka ternodai. Karena hal-hal yang bersifat duniawiah, kesenangan tidak dapat dicari bersama dengan perbuatan untuk mendapatkan balasan duniawi lainnya. Jika demikian, keikhlasan akan terancam.” (1)

    Ia menggaris-bawahi bahwa tujuan untuk mendapatkan dua keuntungan dunia dan akhirat muncul dari jiwa yang kurang terdidik. Pemikiran demikian mengurangi keikhlasan dan mencegah seseorang dari melakukan amal saleh untuk hari akhirat.

    Dalam karyanya yang lain, Said Nursi mencatat bahwa hanya mereka “yang menganggap bahwa dunia adalah rumah persinggahan” yang dapat berharap untuk mendapatkan kehidupan terbaik dan paling berbahagia. Karena itu, pola pikir demikian membawa seseorang pada keridhaan Allah dan untuk berbuat ikhlas.

    “Saya melihat bahwa orang yang paling beruntung di dunia ini adalah dia yang melihat dunia ini sebagai rumah persinggahan militer, menyerahkan dirinya, dan bersikap sebaik mungkin. Dengan berpikir demikian, ia dapat meningkat cepat pada tingkatan keridhaan Allah, tingkatan tertinggi. Karena, orang tidak akan memberikan harga intan untuk sesuatu yang senilai dengan kaca yang bisa pecah. Ia akan menjalani hidupnya dengan lurus dan penuh kebahagiaan. Benar, materi yang ada di dunia ini adalah seperti serpihan kaca yang hancur, sedangkan materi yang abadi di akhirat memiliki nilai intan yang sempurna. Keingintahuan yang besar, rasa cinta yang hebat, keserakahan yang parah, keinginan yang keras, dan emosi-emosi lainnya yang kuat dalam naluri manusia diberikan untuk mendapatkan hal-hal yang ada di akhirat. Menjadikan emosi-emosi yang kuat terhadap hal-hal duniawi yang bersifat sementara ini sebagai tujuan, berarti memberikan harga intan yang abadi untuk serpihan kaca yang hancur.” (2)

    Dalam istilah ini, Badiuzzaman membandingkan kehidupan dunia ini sebagai sebuah botol yang mudah pecah, sedangkan hari akhirat sebagai intan. Siapa pun yang berbuat tidak ikhlas, dengan larut dalam kehidupan dunia ini, akan kehilangan balasan yang amat menyenangkan, seperti orang yang mengorbankan intan untuk sebuah botol kaca yang tak bernilai.

    Di sisi lain, orang yang memahami bahwa dunia ini adalah rumah persinggahan, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama dan akan mendesak dirinya untuk berusaha sekuatnya di dunia ini untuk akhirat.

    ***

    (1)-Badiuzzaman Said Nursi, Emirdag Lahikasi (Surat-Surat Emirdag), Vol. 1, hlm 86.

    (2)-Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan Surat, Surat Ke-9

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 13 February 2015 Permalink | Balas  

    sujud-shalat-di-masjidSalat Witir di dalam dan di luar Ramadhan

    arsip fiqh

    Kata witir atau witrun semula berarti ganjil. Allah disebut witrun karena Ia Esa, Tunggal. “Berwitir” bisa berarti “mengganjili”, artinya menambah yang genap (dua, misalnya) menjadi ganjil. Di malam bulan Ramadhan, setelah kita melakukan salat tarawih 20 atau delapan rakaat (genap), kita lalu “mewitirinya”, dengan salat “ganjil” tiga rakaat.

    Salat witir diisyaratkan tidak hanya di malam-malam bulan Ramadhan saja. Ia adalah salat yang sangat penting setelah salat Fardu. Bahkan menurut Imam Abu Hanifah, salat Witir itu wajib berdasarkan sabda Nabi Saw.:

    “Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla menambah atas kamu satu salat, maka kerjakanlah itu pada waktu Isya dan Subuh: salat Witir..” (HR. Ahmad dan Tahbrani)

    Namanya “tambahan”, tentulah merupakan sesuatu yang sejenis dengan yang ditambahi. Jika yang ditambahi wajib, maka tambahan itu pun wajib. Lagi pula Nabi bersabda: “Kejakanlah” berarti perintah.

    Di samping itu, Imam Abu Hanifah juga berdalil dengan hadis:

    “Salat Witir itu haq, maka barangsiapa yang tidak berwitir maka ia tidak termasuk golonganku” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin Buraidah r.a)

    Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan yang lain, salat Witir itu tidak wajib, tapi sunnah muakkadah, sunnah yang dikukuhkan. Yang dianjurkan dan ditekankan Nabi Saw. Sayyidina Ali r.a. berkata: ‘Salat Wtir itu tidak wajib sebagaimana salat-salat fardu kalian, tapi Rasulullah Saw. berwitir (melakukan salat Witir) dan bersabda:

    “Wahai ahli (keluarga) Al-Qur’an, berwitirlah kalian; sesungguhnya Allah itu Witir (Esa, Tunggal) dan menyukai yang witir (ganjil).” (HR. Abu Dawud)

    Salat Witri itu, menurut Hanafi, tiga rakaat dengan satu salam dan pada rakaat ketiga selalu ada qunutnya. Sedang menurut Syafi’i, salat Witir itu sempurnanya, minimal tiga rakaat dengan dua salat (2+1) dan hanya berqunut pada akhir Ramadhan saja.

    ***

    Sumber : Fiqh Keseharian Oleh KH. A. Mustofa Bisri

    Kiriman Sahabat Arland

     
    • cheepan04 12:44 pm on 13 Februari 2015 Permalink

      Asslm’alaikum.. kalo shalat witir dilakukan 1 rakaat, boleh kah? syukron

  • erva kurniawan 1:26 am on 12 February 2015 Permalink | Balas  

    makanan1Kriteria Makanan Haram

    arsip fiqh

    1. Makanan apa saja yang diharamkan di Quran?
    2. Apakah pada dasarnya semua makan di dunia ini halal?
    3. Kriteria apa saja yang bisa menyebabkan makanan jadi haram?

    Pertanyaan ini berkaitan dengan makanan, minuman, obat-obatan dan zat yang dikonsumsi oleh manusia saat ini ternyata banyak diantaranya lebih banyak efek buruk daripada manfaatnya.

    Makanan yang haram itu terbagi menjadi dua macam.

    Pertama adalah yang haram secara pisiknya atau zatnya. Kedua adalah yang haram karena nilai atau cara mendapatkannya.

    Yang diharamkan secara pisik, ada dua macam, yaitu yang diharamkan secara eksplisit dimana nama makanan itu disebutkan keharamannya secara tegas. Dan yang satunya makanan itu tidak disebutkan bendanya hanya disebutkan kriterianya saja. Sehingga wajar bila ada ketidak-samaan dalam penafsiran atau interpretasinya.

    Sedangkan yang diharamkan secara nilai adalah makanan yang secara pisik hukum asalnya halal, tetapi berhubung didapat dengan cara yang haram, maka hukum memakannya pun ikut haram.

    Untuk itu berikut ini kami jelaskan katerangan masing-masingnya.

    1. Makanan Yang Haram Karena Zatnya

    Pada dasarnya semua makanan yang dikenal manusia adalah halal untuk dimakan. Ini adalah hukum asal, yaitu semuanya halal. Kecuali bila disebutkan oleh Allah SWT sebagai makanan yang diharamkan, baik disebutkan secara eksplisit atau yang disebutkan kriterianya saja.

    Makanan yang diharamkan secara eksplisit

    Yang dimaksud adalah yang disebutkan keharamannya dengan nash yang qathy, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Makanan itu bisa berupa bahan nabati, hewani atau lainnya. Diantaranya adalah :

    • Khamar

    Umumnya di masa itu, khamar terbuat dari perasan anggur, kurma, gandum dan makanan lainnya yang telah berubah bentuknya menjadi memabukkan. Allah SWT telah mengharamkan khamar di dalam Al-Quran Al-Karim secara eksplisit dan jelas sekali. Diantaranya adalah berikut ini :

    Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah : 90).

    • Bangkai, darah, babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas atau yang disembelih untuk berhala. Dalilnya adalah ayat Al-Qur’an berikut ini :

    Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala. Dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah kefasikan” (QS.Al-Maidah : 3)

    • Bagian anggota tubuh hewan yang dipotong dari tubuh saat masih hidup.

    Kecuali bila bagian tubuh itu adalah tanduk, bulu, susu atau kukunya. Jadi misalnya ada hewan masih hidup lalu pahanya dipotong untuk dimakan, maka potongan paha itu haram. Dalilnya adalah hadits berikut :

    Sesuatu yang dipotong dari hewan yang masih hidup maka potongan itu adalah bangkai. (HR. Abu Daud dan Tirmizy dan dihasankannya).

    • Himar dan bighal termasuk yang diharamkan untuk dimakan dagingnya.

    Keduanya diharamkan oleh nash sharih dimana Rasulullah SAW melarang untuk memakannya ketika pada saat perang Khaibar sebagaimana hadits riwayat Al-Hakim dari Jabir bin Abdillah. Kedudukan hadits itu adalah shahih menurut syarat muslim.

    Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini :

    Dari Jabir bin Abdullah ra berkata bahwa Rasulullah SAW telah melarang kita pada hari Khaibar untuk memakan bighal dan himar, tetapi tidak melarang kuda. (HR. Al-Hakim)

    • Hewan Buas

    Yaitu hewan yang memiliki taring dan digunakan untuk berburu mangsanya. Seperti anjing, kucing, singa, macan, srigala, beruang, musang dan sejenisnya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :

    Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Memakan hewan yang punya taring (buas) adalah haram”.

    Sedangkan hewan liar yang tidak punya taring seperti kijang, banteng liar, keledai liar atau unta liar semuanya adalah halal dimakan secara ijma umat islam. Karena semua itu dianggap hewan yang baik.

    • Hewan yang bertaring dimana dia menggunakan taringnya itu untuk berburu atau mengoyak mangsanya :

    Dari Abu Tsa’labah Al-Khunasyi Ra sesungguhnya Rasululloh SAW telah bersabda: “Setiap bintang buas yang memiliki taring, maka memakannya adalah haram”(HR. HR. Muslim 1932, Ahmad 4/194, Tirmidzi 1477, Nasa’i 7/201, Ibnu Majah 3232)

    • Burung yang memiliki cakar

    Seperti elang, rajawali, basyiq (sparrow-Ing), burung garuda dan sejenisnya. Semua itu hukumnya haram bagi semua mazhab dan makruh yang bernilai haram bagi Al-Hanafiyah. Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW :

    Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW melarang untuk memakan hewan yang memiliki taring diantara hewan buas dan yang memiliki cakar dari jenis burung (HR. Muslim).

    Yang dimaksud memiliki cakar adalah bukan semata-mata punya kuku, namun di kalangan bangsa arab maksudnya adalah jenis burung yang buas yang menggunakan cakar untuk berburu. Sedangkan ayam, merpati dan burung-beurng penyanyi lainnya yang tidak berburu dengan cakarnya tidak termasuk yang diharamkan. Meski secara zahir mereka punya cakar tapi sebenarnya bukan cakar tapi ceker.

    Kecuali Al-Malikiyah dari riwayat yang masyhur bahwa semua jenis burung itu mubah. Namun pendapat ini tidak mewakili seluruh kalangan Al-Malikiyah.

    • Pemakan bangkai

    Para fuqaha dari kalangan Al-Hanafiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa burung pemakan bangkai termasuk dalam kategori yang diharamkan. Misalnya burung Nasar meski secara tidak termasuk burung yang bercakar

    • Anjing

    Anjing diharamkan untuk dimakan selain karena najis mughallazah juga karena dia adalah binatang khabits (kotor). Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW :

    Anjing itu binatang kotor dan harganya pun kotor. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizy dan dishahihkan).

    • Hewan yang makan kotoran manusia

    Meski hewan itu asal hukumnya halal seperti sapi, unta atau kambing, namun bila dalam perilakunya memakan tahi atau kotoran, maka dihukumi haram. Dalilnya adalah hdits Rasulullah SAW berikut :

    Rasulullah SAW melarang untuk memakan daging himar dan al-jallalah (hewan yang makan kotoran) yaitu haram menungganginya dan memakan dagingnya. HR. Abu Daud, Ahmad dan Nasai)

    Kecuali bila hewan itu berhenti dari memakan kotoran manusia / binatang dalam waktu tertentu dan memakan makana umumnnya. Maka bila telah ada tenggang waktu tertentu, dagingnya halal kembali.

    Makanan yang diharamkan secara implisit

    Maksudnya bahwa para ulama berusaha memberikan interpretasi berdasarkan kriterai pengharaman yang ada, meski secara satu-per-satu tidak disebutkan keharamannya di dalam Al-Quran Al-Karim atau sunnah, sehingga lebih merupakan pengharaman berdasarkan Ijtihad para ulama.

    Perlu untuk dipahami bahwa yang dimaksud dengan ijtihad di sini bukan berarti hasil pemikiran ulama yang tidak berdasar dalil sama sekali.

    Yang dimaksud dengan ijtihad di sini adalah pendapat para ulama berkaitan dengan persoalan makanan yang dalilnya masih dipertentangkan ataupun kedudukan makanan yang dipersoalkan masih samar. Sehingga dalam penetapannya menggunakan qaidah-qaidah umum atau analogi qiyas.

    Dalam menetapkan keharaman suatu jenis makanan atau minuman yang tidak dijelaskan secara tegas oleh nash baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah ini, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak yang kompenten dengan hal yang dipermasalahkan. Dengan demikian hal tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab para ahli syariah semata, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh umat yang memiliki pengetahuan tentangnya.

    Dengan adanya interpretasi seperti ini, memang bisa mengakibatkan berbedanya hukum yang ditetapkan oleh masing-masing mazhab dan juga masing-masing ulama. Misalnya, sebagian ulama semacam kalangan fuqaha Asy-Syafi’iyah mengharamkan hewan yang bermadharat yang menimpa badan atau akal. Contohnya antara lain adalah :

    • Hewan yang beracun seperti lipan, kalajengking, ular berbisa, lebah dan sejenisnya. Termasuk apa yang dihasilkan dari hewan itu bila beracun dan sejenisnya.

    Dalilnya adalah firman Allah SWT :

    Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.(HR. An-Nisa : 29)

    Sementara kalangan Al-Malikiyah menghalalkannya. Hal tersebut karena para ulama Al-Malikiyah lebih mengacu kepada nash. Dan selama tidak ada nash yang secara eksplisit menyebutkannya haram, maka tidak boleh diharamkan. Mereka menjelaskan bahwa keharaman hewan yang beracun ini terbatas kepada mereka yang memang bisa keracunan atau memberi mudharat. Karena ada jenis hewan yang memang punya racun namun justru racunnya itu bermanfaat buat pengobatan manusia. Dan tentu saja dalam hal ini tidak diharamkan.

    • Hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya

    Ada beberap jenis hewan tertentu yang diperintahkan untuk membunuhnya. Misalnya kodok, tikus, gagak dan sejenisnya yang hukumnya haram dimakan menurut jumhur ulama selain Al-Malikiyah. Dasarnya adalah larangan Rasulullah SAW untuk membunuhnya. Seandainya halal hukumnya, tidak mungkin ada larangan untuk membunuhnya.

    Namun kalangan Al-Malikiyah seperti biasa membolehkan makan kodok dan sejenisnya dengan dasar selama tidak ada nash yang melarangnya, maka makanan itu pada dasarnya halal.

    • Makanan / minuman yang memabukkan

    Beragam jenis minuman keras adalah haram, meski namanya tidak disebutkan satu persatu dalam Al-Quran Al-Karim atau sunnah, karena kriterianya adalah segala yang memabukkan itu bila sedikit pun tetap haram. Termasuk di dalam kriteria ini adalah ganja, opium, madat, narkoba, zat-zat aditiv dan drugs.

    1. Makanan Yang Haram Karena nilainya atau cara mendapatkannya

    Maksudnya bahwa bila makanan tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka termasuk yang dikategorikan sebagai makanan haram walaupun wujudnya adalah halal. Oleh karena itu, makanan yang diperoleh melalu transaksi riba, korupsi, kolusi dan lain-lainnya dikategorikan sebagai makanan haram.

    Dasarnya adalah ayat Al-Quran Al-Karim berikut ini :

    “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan kamu membawa harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 188).

    “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan [memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih” (HR. An-Nisa : 161)

    Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa makna ayat ini (Al-baqoroh : 188) adalah : “Janganlah sebagian dari kalian memakan harta yang lainnya dengan cara yang tidak benar. Masuk dalam kategori ini :

    • Harta hasil perjudian,
    • Hasil penipuan
    • Hasil perampasan
    • Hasil Korupsi
    • Hasil Manipulasi
    • Hasil Money Loundring dan segala tindakan yang tidak disukai oleh pemilik harta.
    • Atau harta yang diharamkan oleh syara’ meskipun pemiliknya merasa senang dengannya seperti : hasil perzinahan, perdukunan, jual beli khomer dan lain-lain”.

    Wallahu A`lam Bish-shawab,

    ***

    Sumber : syariahonline.com

     

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 11 February 2015 Permalink | Balas  

    daging-putih2Daging Apa Saja Yang Haram

    arsip fiqh

    Daging Hewan Amfibi (yang hidup di dua alam).

    Umumnya ulama memang mengharamkan kita untuk memakan hewan yang hidup di dua alam, meski pendapat itu tidak sepenuhnya disepakati.

    Para ulama dari kalangan Al-Hanabilah berpedapat bahwa semua hewan laut yang bisa hidup di darat tidak halal dimakan kecuali dengan jalan menyembelihnya. Seperti burung air, kura-kura dan anjing laut. Kecuali bila hewan itu tidak punya darah seperti kepiting.

    Kepiting menurut Imam Ahmad bin Hanbal boleh dimakan karena sebagai binatang laut yang bisa hidup di darat, kepiting tidak punya darah, sehingga tidak butuh disembelih. Sedangkan bila hewan dua alam itu punya darah, maka untuk memakannya wajib dengan cara menyembelihnya.

    Silahkan periksa kitab Al-Mughni jilid 8 halaman 606 dan kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 6 halaman 202.

    Daging Harimau, ular, buaya, beruang, orang utan/monyet, komodo, kalajengking.

    Sedangkan harimau, buaya, ular, beruang, komodo adalah termasuk jenis hewan buas pemakan daging. Sehingga secara tegas bisa dimasukkan ke dalam kelompok hewan yang haram dimakan dagingnya.

    Yaitu hewan yang memiliki taring dan digunakan untuk berburu mangsanya. Seperti anjing, kucing, singa, macan, srigala, beruang, musang dan sejenisnya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :

    Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Memakan hewan yang punya taring (buas) adalah haram”.

    Begitu juga kalajengking yang berbisa dan beracun, bukan termasuk jenis yang halal dimakan. Contohnya lainnya adalah lipan, ular berbisa, lebah dan sejenisnya. Termasuk apa yang dihasilkan dari hewan itu bila beracun.

    Dalilnya adalah firman Allah SWT : Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.

    Namun Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah menjelaskan bahwa keharaman hewan yang beracun ini terbatas kepada mereka yang memang bisa keracunan atau memberi mudharat. Karena ada jenis hewan yang memang punya racun namun justru racunnya itu bermanfaat buat pengobatan manusia. Dan tentu saja dalam hal ini tidak diharamkan.

    Sedangkan hewan liar yang tidak punya taring seperti kijang, banteng liar, keledai liar atau unta liar semuanya adalah halal dimakan secara ijma umat islam. Karena semua itu dianggap hewan yang baik.

    Belalang, jerapah, gajah, kuda dan kelelawar.

    Sedangkan jerapah, gajah dan kuda adalah termasuk hewan jinak yang pada dasarnya tidak ada larangan untuk memakannya. Meski ada juga yang melarangnya berdasarkan bahwa hewan seperti kuda itu lebih bermanfaat bila ditunggangi dan bukan disembelih.

    Sedangkan belalang termasuk binantang halal dimakan sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW bersabda,”Telah dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dua darah adalah hati dan limpa. (HR. )

    Wallahu a`lam bishshowab.

    ***

    sumber : syariahonline.com

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 10 February 2015 Permalink | Balas  

    sholat 1Mengqadha Shalat

    arsip fiqh

    Shalat fardhu atau Shalat lima waktu wajib dilaksanakan tepat pada waktunya, berdasarkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa': 103).

    Oleh karena itu, barangsiapa mengakhirkannya dari waktu yang telah ditentukan tanpa ada halangan (uzur), maka ia berdosa. Tetapi, jika dia mengakhirkannya karena suatu halangan, tidaklah berdosa. Halangan-halangan itu ada yang dapat menggugurkan kewajiban Shalat sama sekali dan ada pula yang tidak menggugurkannya sebagaimana akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan berikut.

    Hal-Hal yang Menggugurkan Shalat

    Ada sejumlah halangan atau uzur yang dapat menggugurkan Shalat dari seseorang, yaitu :

    1. Haid dan Nifas

    Wanita yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan menunaikan Shalat. Juga tidak wajib mengqadha Shalat-Shalat yang ditinggalkan di saat haid dan nifas tersebut, sekalipun dia harus mengqadha puasa. Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw kepada Fatimah binti Abi Hubaisy, “Jika tenyata darah yang keluar itu haid, maka hentikanlah Shalat.”

    1. Gila

    Kewajiban Shalat itu gugur dari orang gila yang terus-menerus. Namun, orang gila yang kumat-kumatan, ketika sadar wajib mengerjakan Shalat. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Beban taklif itu diangkat (oleh Allah) dari tiga golongan: orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai ia baligh, dan orang gila sampai dia sadar kembali.” (HR Ahmad, Ashabus Sunan, dan Hakim).

    1. Pingsan.

    Kewajiban Shalat akan gugur dari orang yang pingsan jika pingsannya berlangsung dalam dua waktu Shalat yang bisa dijamak, seperti seseorang pingsan sebelum masuk waktu Dzuhur sampai dengan matahari terbenam.

    1. Murtad

    Seseorang yang murtad (keluar dari Islam) kemudian masuk Islam kembali, maka hukumnya sama dengan orang kafir asli, yakni dia tidak wajib mengqadha Shalat. Tetapi, menurut ulama Syafi’i ia wajib mengqadha semua Shalat yang ia tinggalkan ketika murtad sebagai hukuman kepadanya.

    Hal-Hal yang Membolehkan Mengakhirkan Shalat

    Adapun halangan yang membolehkan seseorang mengakhirkan Shalat dari waktunya, dan tidak berdosa karenanya ialah tidur, lupa, dan lalai. Diterima dari Abu Qatadah, para sahabat menceritakan kepada Rasulullah saw perihal tidur mereka yang menyebabkan tertunda Shalatnya, maka Rasul bersabda, “Sesungguhnya tidaklah termasuk keteledoran karena tidur, tetapi keteledoran itu di waktu terjaga. Karena itu, jika seseorang di antaramu lupa Shalat atau tertidur hingga meninggalkan Shalat, hendaklah ia melakukannya bila telah ingat atau sadar kembali.” (HR Nasa’i dan Timidzi seraya menyatakannya sebagai hadis yang sahih).

    Dari Anas ra, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa lupa mengerjakan Shalat, hendaklah mengerjakannya bila telah ingat, dan selain itu tidak ada kewajiban kaffarat yang lain.” (HR al-Khamsah/lima imam hadis).

    Dalam sebuah riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “Bila seseorang di antaramu tertidur hingga meninggalkan Shalat atau lupa mengerjakannya, hendaknya ia mengerjakannya jika telah ingat, karena Allah berfirman, ‘dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku’.” (Thaha: 14).

    Dari Abu Qatadah ra, “Pada suatu malam kami bepergian bersama Rasulullah saw, salah seorang di antara kami berkata, ‘Tidakkah lebih baik kita beristirahat ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Saya khawatir kalian akan tertidur sehingga meninggalkan Shalat’. Bilal berkata, ‘Saya akan membangunkan kalian,’ Kemudian tidurlah semuanya. Sementara itu, Bilal menyandarkan punggungnya pada kendaraannya dan nampaknya ia tidak kuat menahan kantuk hingga akhirnya ia tertidur. Kemudian Nabi saw bangun di saat matahari telah naik tinggi, maka beliau bersabda, ‘Hai Bilal mana janjimu?’ Sungguh, saya tak pernah mengalami seperti ini’, jawab Bilal. Nabi bersabda lagi, ‘Allah mencabut roh-roh kalian kapan saja Dia mau, Dia akan mengembalikannya kepadamu kapan saja Dia mau. Hai Bilal, berdirilah dan serukanlah azan Shalat untuk orang banyak’. Kemudian, beliau berwudhu. Ketika matahari telah tinggi dan bersinar terang beliau Shalat dengan berjama’ah bersama mereka.” (HR al-Khamsah, dan redaksi ini adalah redaksi Bukhari dan Nasa’i). Menurut riwayat Ahmad orang-orang berkata, “Ya Rasulullah, tidakkah sebaiknya Shalat ini kita kerjakan besok pada waktunya?” Rasul menjawab, “Bukankah Allah telah melarangmu melakukan riba lalu akan menerimanya darimu?”

    Mengqadha Shalat wajib dilakukan dengan segera, baik Shalat itu tertinggal karena sesuatu uzur yang tidak menggugurkan kewajibannya ataupun tanpa uzur sama sekali, dan qadha ini tidak boleh ditunda-tunda kecuali ada halangan mendesak seperti bekerja untuk mencari rezeki dan menuntut ilmu yang wajib ‘ain baginya, begitu juga makan dan tidur. Dengan hanya mengqadha Shalat bukan berarti seseorang telah bebas dari dosa (karena menunda Shalat tanpa uzur), tetapi ia masih harus bertaubat, sebagaimana taubat tidak bisa menggugurkan kewajiban Shalat, namun harus disertai mengqadha pula. Hal ini karena salah satu syarat bertaubat adalah menghilangkan perbuatan dosa, sedang orang yang bertaubat tanpa mengqadha belum berarti ia telah menghilangkan perbuatan dosa tersebut.

    Termasuk salah satu hal yang tidak mengharuskan qadha dengan segera adalah sibuk melakukan Shalat sunnah. Tetapi, bagi orang yang berkewajiban qadha, sebaiknya ia tidak mengerjakan Shalat sunnah dulu selain Shalat sunnah Subuh, Maghrib, dan Witir, dan sebagai ganti dari Shalat sunnah rawatib yang lain, hendaklah ia mengerjakan qadha Shalat.

    Mengqadha Shalat boleh dilakukan setiap saat, kecuali pada tiga waktu yang dilarang Shalat, yaitu ketika matahari terbit, matahari berada tepat di tengah langit (waktu istiwa’), dan ketika matahari terbenam. Juga dalam satu waktu boleh mengqadha beberapa Shalat yang tertinggal, sebab pengertian qadha adalah melakukan Shalat yang telah lewat waktunya.

    Cara Mengerjakan Shalat Qadha

    Barangsiapa tertinggal mengerjakan Shalat, maka wajib mengqadhanya sesuai dengan cara dan sifat-sifat Shalat yang tertinggal itu. Jika seorang musafir yang menempuh jarak qashar tertinggal Shalat yang empat rakaat, ia mengqadhanya dua rakaat, sekalipun dikerjakan di rumah. Tetapi, menurut ulama Syafi’i dan Hanbali, dalam keadaan terakhir ini, ia mengqadhanya empat rakaat, sebab hukum asal Shalat adalah itmam (menyempurnakan Shalat empat rakaat). Karena itu, ketika di rumah, Shalat dengan itmamlah yang harus dikerjakan. Sebaliknya, jika seorang mukmin tidak dalam perjalanan (di rumah) tertinggal Shalat yang empat rakaat, maka ia harus mengqadhanya empat rakaat pula sekalipun dikerjakan dalam perjalanan. Demikian juga, jika ia tertinggal Shalat sirriyyah (yang bacaannya pelan) seperti Dzuhur, maka di waktu mengqadhanya harus secara sirri pula, sekalipun dikerjakan di malam hari. Sebaliknya, jika ia tertinggal Shalat Jahrriyyah (yang bacaannya keras) seperti Shalat Subuh, maka mengqadhanya pun harus keras pula, sekalipun dikerjakan di siang hari. Akan tetapi, menurut ulama Syafi’i yang menjadi patokan adalah waktu di mana qadha itu dilaksanakan. Jadi, seandainya qadha itu dilaksanakan pada malam hari, maka bacaannya harus dikeraskan, sekalipun yang diqadha itu Shalat sirriyyah. Dan sebaliknya, jika di siang hari maka bacaan Shalat harus dipelankan walaupun yang diqadhanya itu Shalat jahriyyah.

    Dalam mengqadha Shalat yang tertinggal (Shalat faa’itah) hendaknya diperhatikan tertib urutannya satu dengan yang lain. Qadha Shalat Subuh dikerjakan sebelum qadha Dzuhur, dan qadha Dzuhur sebelum Shalat Ashar. Di samping itu, hendaklah diperhatikan pula urutan Shalat faa’itah dengan Shalat pada waktunya (Shalat haadhirah). Maka, apabila Shalat faa’itah itu kurang dari lima waktu atau hanya lima waktu, Shalat haadhirah tidak boleh dikerjakan dulu sebelum Shalat faa’itah dikerjakan dengan tertib, selama tidak dikhawatirkan habisnya waktu Shalat haadhirah.

    Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Ketika Perang Khandaq kaum musyrikin terlalu menyibukkan Rasulullah sampai-sampai empat Shalat tertinggal, dan waktu pun telah larut malam sejalan dengan kehendak Allah. Kemudian, beliau menyuruh Bilal untuk menyerukan azan. Bilal pun menyerukannya lalu membacakan iqamah, maka beliau Shalat Dzuhur, lalu berdiri lagi dan mengerjakan Ashar, berdiri lagi mengerjakan Shalat Maghrib, kemudian berdiri lagi untuk mengerjakan Shalat Isya’.” (HR Tirmidzi dan Nasa’i. Peristiwa ini terjadi sebelum ada perintah Shalat Khauf).

    Ulama Hanafi berpendapat, jika seseorang setelah mengerjakan Shalat haadhirah teringat akan Shalat faa’itah yang belum dikerjakannya, batallah Shalat haadhirahnya. Orang itu harus mengerjakan Shalat faa’itah dulu dan setelah itu mengulangi Shalat haadhirah. Namun, menurut ulama yang lain, ia tidak harus mengulangi Shalat haadhirah. Sedang menurut ulama Maliki, sunnah mengulangi lagi Shalat haadhirah setelah mengerjakan faa’itah.

    Jika Shalat faa’itah itu enam waktu atau lebih, maka dalam mengerjakannya tidah harus tertib, boleh dikerjakan sebelum Shalat haadhirah ataupun sesudahnya.

    Barangsiapa tertinggal sejumlah Shalat, tetapi ia lupa atau tidak tahu persis berapa jumlahnya, maka ia harus mengerjakan qadha sampai merasa yakin bahwa kewajibannya telah terpenuhi.

    ***

    Sumber: As-Shalaatu ‘Alal Madzahibil ‘Arba’ah, Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:02 am on 9 February 2015 Permalink | Balas  

    sholat-dhuhaShalat dalam Perjalanan

    arsip fiqih

    Shalat dalam perjalan itu memiliki ketentuan-ketentuan tersendiri, kami sebutkan sebagai berikut.

    1. Mengqashar Shalat yang Empat Raka’at

    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak ada salahnya bila kamu mengqashar Shalat, kalau kamu khawatir akan diganggu oleh orang-orang kafir.” (QS Annisa’ 101)

    Alasan karena khawatir gangguan buat dibolehkannya mengqashar itu, di sini tidak dipakai, berdasarkan keterangan dari Ya’la bin Umaiyah, katanya:

    Saya bertanya kepada Umar bin Khattab, “Bagaimana pendapat Anda tentang mengqashar Shalat, berhubung firman Allah, ‘Kalau kamu khawatir akan diganggu oleh orang-orang kafir’.” Jawab Umar, “Hal yang kamu kemukakan itu juga menjadi pertanyaa bagi saya, hingga saya sampaikan kepada Rasulullah saw, maka beliau bersabda, ‘Itu merupakan sedekah yang dikurniakan Allah kepadamu semua, maka terimalah sedekah itu’!” (HR Jama’ah).

    Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jureir dari Abu Munib al-Jarsy, bahwa pada suatu ketika Ibnu ‘Umar ditanya perihal firman Allah yang tersebut di atas, berhubung sekarang keadaan sudah aman dan tak perlu khawatir kepada siapa pun. Apakah masih boleh mengqashar Shalat? Ujar Ibnu Umar: “Cukuplah bagimu Rasulullah saw menjadi teladan yang sebaik-baiknya.”

    Dan dari Aisyah katanya: “Mula-mula Shalat itu diwajibkan dua dua raka’at di Mekah. Setelah Rasulullah saw pindah ke Madinah, yang dua raka’at itu ditambah dua lagi, kecuali Maghrib karena ia merupakan witirnya siang, begitu pula Shalat Fajar atau Shubuh karena bacaaannya panjang. Maka jikalau beliau bepergian, beliau pun Shalat sebagaimana yang dulu-dulu, yakni yang difardukan di Mekah. (Riwayat Ahmad, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah, serta perawi-perawinya dapat dipercaya).

    Ibnul Qoyyim berkata: “Jikalau bepergian, Rasulullah saw selalu mengqashar Shalat yang empat raka’at dan mengerjakannya hanya dua-dua raka’at, sampai beliau kembali ke Madinah. Tidak ditemukan keterangan yang kuat bahwa beliau tetap melakukan empat raka’at. Hal itu tidak menjadi perselisihan bagi imam-imam, walau mereka berlainan pendapat tentang hukum mengqashar. ‘Umar, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar dan Jabir menetapkan bahwa hukumnya wajib, dan hal ini juga dianut oleh mazhab Hanafi. Maliki menetapkannya sebagai sunnah muakkad. Dan lebih ta’kid lagi dari Shalat berjamaah, sehingga apabila seorang musafir tidak mendapatkan kawan sesama musafir untuk berjama’ah, hendaklah ia Shalat secara perorangan dengan mengqashar, dan makruh baginya mencukupkan empat raka’at dan bermakmum kepada orang mukim. Menurut golongan Hambali, mengqashar itu hukumnya jaiz atau boleh saja, hanya lebih baik daripada menyempurnakan. Demikian juga pendapat golongan Syafi’i, kalau memang sudah mencapai jarak boleh mengqashar.

    1. Jarak Bolehnya Mengqashar

    Menurut ayat tersebut di atas dapat diambil keterangan bahwa pada setiap bepergian, pendeknya apa yang dikatakan menurut bahasa bepergian, biar jauh ataupun dekat, boleh dilakukan mengqashar itu. Selain itu boleh pula dilakukan jama’ serta berbuka, yakni tidak melakukan puasa wajib. Tidak sebuah hadits pun yang menyebutkan batas jauh atau dekatnya bepergian itu. Ibnul Mundzi dan ulama yang lain menyebutkan lebih dari dua puluh pendapat tentang masalah ini. Di sini akan kita cantumkan yang lebih kuat, yaitu:

    Ahmad, Muslim, Abu Daud, dan Baihaqi meriwayatkan dari Yahya bin Yazid, katanya:

    “Saya bertanya kepada Anas bin Malik perihal mengqashar Shalat. Ujarnya: ‘Rasulullah saw bersembahyang dua raka’at kalau sudah keluar sejauh tiga mil atau tiga farsakh’.”

    Hafidz Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab al-Fath, bahwa inilah hadits yang paling sah dan paling tegas menjelaskan jarak bepergian yang dibolehkan mengqashar itu.”

    Keragu-raguan soal mil atau farsakh dapat diberi penjelasan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudry, katanya:

    “Apabila Rasulullah saw bepergian sejauh satu farsakh, maka beliau mengqashar Shalat.” (Diriwayatkan oleh Said bin Manshur dan disebutkan oleh Hafidz dalam at-Talkhis dan ia mendiamkan hadits ini sebagai tanda pengakuannya).

    Sebagaimana diketahui satu farsakh itu sama dengan tiga mil. Maka hadits Abu Said ini cukup menghilangkan keragu-raguan yang terdapat dalam hadits Anas dan menyatakan bahwa Rasulullah saw telah melakukan qashar jika beliau bepergian dalam jarak sedikit-dikitnya sejauh tiga mil. Satu farsakh adalah 5541 meter sedang satu mil 1748 meter.

    Adapula yang mengatakan bahwa sedikitnya jarak mengqashar itu adalah satu mil, hadits yang menjadi alasannya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan isnad yang sah dari Ibnu Umar. Pendapat inilah yang dianut oleh Ibnu Hazm. Dan sebagai alasan tidak boleh mengqashar bila kurang dari 1 mil, dikemukakannya bahwa Nabi saw pergi ke Baqi’ untuk menguburkan orang-orang yang meninggal dan keluar ke suatu padang untuk membuang hajat, tapi Shalatnya tidak diqasharnya. Adapun syarat yang dikemukakan oleh ahli fiqh bahwa boleh mengqashar itu hanyalah pada perjalanan jauh, dengan jarak sekurangnya dua atau tiga marhalah –ada dua pendapat–, maka untuk menolaknya cukuplah uraian yang dikemukakan oleh Imam Abu Kasim al-Kharqy dalam buku al-Mughni, katanya: “Saya tak dapat menemukan alasan dalam pendapat imam-imam itu, sebab keterangan-keterangan dari para sahabat juga saling bertentangan hingga karenanya tak dapat dipakai sebagai hujjah atau dalil. Dan sebagai diketahui, pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas menyalahi pendapat mereka, dan umpama menyetujuinya tetapi ucapan para sahabat itu taklah dapat diambil alasan di depan ucapan Nabi dan perbuatan beliau. Dengan demikian, tak dapatlah diterima ukuran jauh yang mereka sebutkan itu disebabkan dua hal. Pertama, karena menyalahi sunah Nabi saw yang tersebut dulu, dan kedua karena lahirnya firman Allah Ta’ala membolehkan qashar bagi orang yang dalam perjalanan sebagai berikut: “Apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tak ada salahnya bila kamu mengqashar sholat.”

    Syarat karena takut sudah dapat dihilangkan karena hadits Ya’la bin Umaiyah. Maka tinggallah lahir ayat itu yang mencakup segala macam bepergian, pendeknya asal sudah disebut bepergian.

    Mengenai sabda Nabi saw yang membolehkan seorang musafir itu mengusap khuf atau sepatunya selama tiga hari, maka hadits itu hanya menyatakan lama bolehnya menyapu, hingga tak mungkin diterapkan dalam masalah ini, sebab soalnya berlainan. Lagi pula bepergian jarak dekat dapat saja ditempuh dalam tiga hari. Sedang ini oleh Nabi saw masih dinamakan bepergian juga, sebagaimana sabda beliau: “Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian bepergian selama sehari perjalanan kecuali dengan muhrimnya.”

    Kedua, menetapkan batas ukuran itu tidaklah dapat hanya dengan pendapat manusia semata tanpa dasar atau persamaan yang dapat dikiaskan. Maka alasan yang kuat berada di pihak orang yang membolehkan qashar bagi setiap musafir, kecuali bila ijma’ menentangnya.

    1. Tempat Dibolehkanya Mengqashar

    Jumhur ulama berpendapat bahwa mengqashar Shalat itu dapat dimulai setelah meninggalkan kota dan keluar dari daerah lingkungan. Ini merupakan syarat dan seorang musafir diharuskan lagi mencukupkan Shalatnya, baru kalau ia sudah memasuki rumah pertama di daerahnya itu. Berkata Ibnul Mundzir: “Saya tidak menemukan sebuah keteranganpun bahwa Nabi saw mengqashar dalam bepergian kecuali setelah keluar dari Madinah.”

    Anas berkata: “Saya sholat dhuhur bersama Rasulullah saw di Madinah empat raka’at dan Dzul Hulaifah dua raka’at.” (Riwayat Jama’ah).

    Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa seorang yang telah berniat hendak bepergian sudah boleh mengqashar Shalatnya, walaupun ia masih berada di rumahnya.

    1. Kapan Seorang Musafir Mencukupkan Shalatnya

    Seorang musafir itu boleh terus mengqashar Shalatnya, selama ia masih dalam bepergian. Jika ia bermukim di suatu tempat karena suatu keperluan yang hendak diselesaikannya, maka ia tetap boleh mengqashar, sebab masih terhitung dalam bepegian, walaupun bermukimnya di sana sampai bertahun-tahun lamanya. Adapun kalau ia bermaksud hendak bermukim di sana dalam waktu tertentu, maka menurut pendapat yang terkuat yang dipilih Ibnul Qoyyim, bermukimnya itu belum lagi menghilangkan hukum bepergian, baik lama atau sebentar, selama ia tidak berniat hendak menjadi penduduk tetap di sana itu. Dalam hal ini para ulama mempunyai berbagai-bagai pendapat dan diringkas oleh Ibnul Qoyyim sambil memperkuat pendapatnya sendiri sebagai berikut:

    “Rasulullah saw bemukim di Tabuk selama dua puluh hari dan terus-menerus mengqashar Shalat dan tidak pernah mengatakan kepada ummatnya supaya tiada seorang pun mengqashar Shalat bila lebih lama bermukim dari waktu itu, hanya kebetulan saja lama bermukim Nabi saw itu dua puluh hari. Bermukim dalam waktu sedang bepergian tak dapat dianggap sudah keluar dari hukum bepergian, baik lama atau sebentar, asal saja ia tidak bermaksud hendak menetap di sana sebagai penduduk. Di kalangan ulama-ulama salaf dan khalaf, banyak terdapat pertikaian mengenai masalah ini. Dalam shahih Bukhari dari Ibnu ‘Abbas katanya: “Nabi saw bermukim dalam salah satu perjalanannya selama sembilan belas hari dan selalu Shalat dua raka’at. Maka kami pun kalau bermukim dalam perjalanan selama sembilan belas hari, kami akan tetap mengqashar dan kalau lebih dari itu, akan kami cukupkan.”

    Menurut lahirnya ucapan Ahmad, yang dimaksud oleh Ibnu Abbas itu adalah bermukimnya Nabi saw di Mekah di waktu kota itu dibebaskan. Tetapi, sebenarnya bermukimnya di Mekah itu lamanya delapan belas hari, sebab beliau akan melanjutkan perjalanan ke Hunain dan di sana tidak bermaksud akan bermukim. Inilah bermukimnya Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas itu. Ada pula yang mengatakan bahwa maksud Ibnu Abbas ialah ketika bermukimnya Nabi saw di Tabuk, sebagai yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah katanya:

    “Nabi saw bermukim di Tabuk selama dua puluh hari dan selalu mengqashar Shalatnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya).

    Mishwar bin Mahramah berkata: “Kami bermukim dengan Sa’ad di salah satu desa di wilayah Syam selama empat puluh hari. Selama itu Sa’ad tetap mengqashar, tetapi kami mencukupkan.” Nafi berkata: “Abdullah bin Umar bermukim di Azerbaijan enam bulan dan tetap Shalat dua raka’at ketika tertahan oleh salju waktu memasukinya.” Hafash bin Ubaidullah mengatakan bahwa Anas bin Malik bermukim di Syam dua tahun dan terus Shalat sebagai seorang musafir. Dan menurut Anas, para sahabat Nabi saw bermukim di Ramhurmuz selama tujuh bulan dan tetap mengqashar Shalat, sedang menurut Hasan, ia bermukim dengan Abdurrahman bin Samurah di Kabul selama dua tahun, dan Abdurrahman terus mengqashar tetapi tidak menjama’. Kemudian Ibrahim mengatakan pula bahwa para sahabat pernah bermukim di Rai selama satu tahun atau lebih dan di Sajistan selama dua tahun. Nah, inilah dia petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah saw dan dicontohkan oleh para sahabatnya dan memang itulah yang benar. Adapun pendapat orang-orang itu, di antaranya ialah yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bahwa jika seorang berniat hendak bermukim selama empat hari, maka harus mencukupkan Shalatnya, dan kalau kurang masih boleh mengqashar. Mengenai hadits Nabi saw dan perbuatan para sahabat itu mereka menafsirkannya bahwa baik Nabi saw maupun para sahabat, tidak bermaksud akan bermukim, tetapi mereka selalu mengatakan: “Hari ini atau esok kita akan pergi.”

    Tetapi dalam hal ini ada satu hal yang harus menjadi perhatian, yaitu bahwa Rasulullah saw membebaskan kota Mekah –sebuah kota yang sudah sama dimaklumi keadaannya– dan bermukim di sana adalah dengan tujuan hendak mengokohkan asas-asas keislaman serta menghancurkan sendi-sendi kemusyrikan dan mempersiapkan segala sesuatu bagi orang Arab sekelilingnya. Pekerjaan seberat itu tentulah memerlukan waktu berhari-hari dan tidak cukup hanya sehari dua saja. Demikian pula waktu di Tabuk untuk menantikan kedatangan musuh, karena antara Tabuk dan tempat kediaman musuh jaraknya bermil-mil. Nabi saw tentu maklum, bahwa untuk maksud tersebut tidak cukup waktu empat hari saja. Demikian pula ketika Umar bermukim di Azerbaijan selama enam bulan dan tetap mengqashar sebab terhalang oleh salju. Teranglah sudah bahwa salju itu tidak akan cair hingga jalan akan terbuka didalam waktu empat hari. Juga Anas yang bermukim di Syam selama dua tahun serta sahabat-sahabat yang bermukim di Ramhurmuz tujuh bulan dengan tetap mengqashar, tentulah mereka mengerti bahwa mengepung musuh dan berperang itu tidak cukup dalam waktu empat hari pula.

    Sahabat-sahabat Imam Ahmad mengatakan dalam pada itu, bahwa kalau bermukim untuk berjihad atau dipenjarakan oleh pihak penguasa atau sebab sakit, maka boleh mengqashar, baik bermukim itu menurut taksiran akan berjalan lama atau sebentar. Ini memang suatu pendapat yang benar. Tetapi anehnya, mereka mengemukakan pula suatu syarat yang sama sekali tidak berasal dari kitabullah, dari sunah Nabi atau ijma’ dan tidak pula dari amal perbuatan salah seorang sahabat. Kata mereka syaratnya itu ialah bahwa dalam takaran itu hendaknya ada kemungkinan bahwa urusan itu akan dapat selesai dalam waktu yang tidak menghapus hukuman bepergian, yakni dalam waktu yang kurang dari empat hari.

    Sekarang baiklah kita ajukan suatu pertanyaan pada mereka. Dari manakah tuan-tuan peroleh syarat tersebut, padahal Nabi saw sendiri, ketika beliau bemukim lebih dari empat puluh hari, dan tetap mengqashar Shalat, baik di Mekah maupun di Tabuk, tak pernah mengatakan suatu apa pun dan tak pula menerangkan bahwa beliau tidak bermaksud akan bermukim lebih dari empat hari, padahal beliau mengetahui bahwa perbuatan beliau akan menjadi contoh dan teladan bagi umat, dan bahwa mereka akan mengqashar pula di waktu mukim? Ternyata tidak sepatah katapun keluar dari mulut beliau yang melarang qashar bila bermukim lebih dari empat hari itu, padahal penjelasan mengenai ini amat diperlukan sekali. Begitu pula halnya perbuatan para sahabat di belakang yang mengikut Nabi saw tidak pula mereka mengatakan suatu apa kepada orang-orang yang mengqashar bersama mereka.

    Mengenai pendapat Malik dan Syafi’i, kedua imam ini mengatakan bahwa jika seorang berniat hendak mukim lebih dari empat hari, harus mencukupkan Shalat, dan kalau kurang boleh mengqashar. Abu Hanifah ra berpendapat, jika berniat mukim lima belas hari, harus mencukupkan dan kalau kurang boleh mengqashar. Ini juga merupakan pendapat al-Laits bin Sa’ad dan menurut riwayat, juga dianut oleh tiga orang sahabat, yaitu Umar, Abdullah bin Umar dan Ibnu Abbas. Sa’id Ibnul Musayyib mengatakan jika seorang bermukim selama empat hari, hendaklah ia mencukupkan Shalatnya empat raka’at. Tetapi ada juga riwayat yang mengatakan bahwa pendapat Ibnul Musayyib ini sama seperti Mazhab Abu Hanifah. Menurut Ali bin Abi Thalib ra jika bermukim sepuluh hari, harus mencukupkan. Ini ada juga yang meriwayatkan sebagai pendapat Ibnu Abbas. Dalam pada itu Hasan mengatakan bahwa boleh terus mengqashar selama seseorang belum kembali ke tempatnya semula, sementara Aisyah berkata bahwa dibolehkan selama belum lagi meletakkan perbekalan dan wadahnya. Tetapi para imam yang empat ra bersepakat bahwa kalau bermukimnya seseorang itu karena ada sesuatu keperluan yang harus diselesaikan dan selama menunggu itu ia mengatakan: “Saya akan pulang hari ini atau esok,” maka selama itu ia boleh tetap mengqashar. Hanya dalam salah satu pendapat Imam Syafi’i, bahwa kalau keadaannya seperti demikian, maka dibolehkannya mengqashar itu terbatas tujuh belas atau delapan belas hari, dan jika lebih dari itu, maka harus mencukupkan. Dalam hal ini Ibnul Mundzir mengatakan dalam satu penyelidikannya, bahwa para ahli telah ijma’ bahwa seorang musafir itu dibolehkan tetap mengqashar selama ia tidak bermaksud akan terus menetap di sana, walaupun bermukimnya itu berlangsung selama waktu bertahun-tahun.

    1. Shalat Sunah dalam Perjalanan

    Jumhur ulama berpendapat bahwa mengerjakan Shalat sunah, bagi orang yang boleh mengqashar karena bepergian itu tidaklah makruh sekali-kali baik berupa sunnah rawatib maupun lainnya.

    Dalam riwayat Bukhori dan Muslim diceritakan: “Bahwa Rasulullah saw mandi di rumah Ummu Hani sewaktu Mekah dibebaskan, lalu Shalat delapan raka’at.”

    Dan dari Abdillah bin Umar diriwayatkan: “Bahwa Nabi saw Shalat di atas punggung kendaraannya menghadap ke arah yang ditujunya dengan memberi isyarat dengan kepalanya.”

    Berkata Hasan: “Para sahabat Nabi saw juga Shalat sunah dalam bepergian, baik sebelum atau sesudah Shalat fardhu.” Tetapi Ibnu Umar dll berpendapat bahwa Shalat sunah sewaktu bepergian, baik sebelum atau sesudah Shalat fardhu itu tidak disyareatkan, kecuali Shalat ditengah malam. Bahkan sewaktu pada suatu hari dilihat Ibnu Umar ada orang yang sholat sunah setelah Shalat fardhu dalam perjalanan, maka katanya: “Seandainya saya hendak Shalat sunah, tentulah saya akan mencukupkan Shalat fardhuku –tidak mengqashar– Hai sahabat, saya sering mengiringkan Rasulullah saw dan saya lihat tak pernah beliau melakukan lebih dari dua raka’at sampai wafatnya. Saya juga mengiringkan Abu Bakar, maka Shalatnya juga tidak berlebih dari dua raka’at. Demikian halnya Umar dan Utsman. Lalu dibacakanlah ayat yang artinya: “Sesungguhnya dalam perilaku Rasulullah saw itu , contoh sebaik-baiknya bagi kamu.” (Riwayat Bukhori).

    Kedua maksud hadits di atas, yakni apa yang diriwayatkan oleh Hasan dan yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, dikompromikan oleh Ibnu Qudama, bahwa hadits Hasan menunjukan tak ada salahnya bila dilakukan, sedang hadits Ibnu Umar tak ada salahnya pula bila ditinggalkan.

    ***

    Sumber: Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 8 February 2015 Permalink | Balas  

    shalatShalat Jamak

    arsip fiqih

    Jamak adalah menggabungkan dua Shalat dalam satu waktu, yaitu menggabungkan Shalat Dzuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’, baik secara taqdim maupun ta’khir. Adapun untuk Shalat Subuh tetap harus dikerjakan pada waktunya.

    Hal demikian ini jika didapatkan salah satu keadaan berikut:

    1. Menjamak di Arafah secara taqdim, begitu juga di Muzdalifah.

    Hal ini berdasarkan hadis dari Abdullah bin Mas’ud seraya berkata, “Demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, Rasulullah saw tidak pernah mengerjakan satu Shalat pun kecuali tepat pada waktunya selain dua Shalat yang beliau jamak (gabung), yakni Dzuhur dengan Ashar di Arafah dan Maghrib dengan Isya’ di Muzdalifah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Berdasarkan hadis ini, ulama Hanafi berpendapat, menjamak Shalat itu hanya boleh dilakukan dalam dua hal ini, yakni di Arafah dan di Muzdalifah. Dan ini pun harus dilakukan dengan berjamaah dengan imam (pemimpin) kaum muslimin atau wakilnya. Di luar ini tidak diperkenankan menjamak, baik dalam perjalanan maupun ketika berada di rumah.

    1. Menjamak dalam perjalanan.

    Menjamak dua Shalat dalam perjalanan, baik taqdim maupun ta’khir pada salah satu dari kedua waktu Shalat itu boleh dilakukan, dengan syarat-syarat sebagai berikut:

    • Perjalanan tersebut merupakan perjalanan yang diperbolehkan mengqashar. Akan tetapi, menurut ulama Maliki, boleh menjamak Shalat dalam setiap perjalanan sekalipun tidak mencapai jarak qashar.
    • Berturut-turut dalam mengerjakan kedua Shalat yang dijamak, sehingga antara keduanya itu tidak berselang lama. Yakni, lebih kurang selama dua rakaat cepat, tetapi di antara kedua Shalat itu diperbolehkan bersuci, azan dan iqamah. Ketentuan atau syarat ini hanya berlaku bagi jamak taqdim, tidak bagi jamak ta’khir.
    • Kedua Shalat dilakukan secara tertib, yakni dimulai dengan Shalat pertama (Zuhur atau Maghrib).
    • Niat menjama’ dalam Shalat pertama. Misalnya, “Saya Shalat Zuhur secara qashar dan digabungkan dengan Ashar.”
    • Perjalanan masih berlangsung. Seandainya terhenti atau kendaraan yang dinaikinya telah sampai dan melewati tempat di mana qashar dibolehkan, maka Shalat kedua tidak boleh dijamaktaqdimkan dengan Shalat pertama, bila Shalat kedua itu belum dikerjakan. Tetapi, menurut ulama Syafi’i, jika telah bertakbir untuk Shalat kedua lalu perjalanannya terhenti, maka jamak (taqdim) boleh dilakukan dan Shalat yang telah diniatkan dijamak itu tetap diteruskan. Dan jika Shalat pertama telah diakhirkan ke waktu Shalat kedua, tetapi sebelum mengerjakan kedua Shalat perjalanan sudah sampai, maka Shalat pertama menjadi qadha dan dia tidak berdosa karena pengakhiran ini.

    Dari Muadz bin Jabal, “Pada waktu perang Tabuk Nabi saw menjamak Shalat Dzuhur dengan Ashar sebelum berangkat jika matahari sudah tergelincir, tetapi bila berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan Shalat Dzuhur itu sampai berhenti untuk melakukan Shalat Ashar. Demikian juga dalam Shalat Maghrib. Jika matahari telah terbenam sebelum berangkat, dijamaklah (taqdim) Magrib dengan Isya’. Tetapi, jika berangkat sebelum matahari terbenam, maka Maghrib diakhirkannya sampai dengan waktu Isya’, lalu ia dijamak dengan Shalat Isya’.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi seraya menyatakannya sebagai hadis hasan).

    Dari Muadz ra berkata, “Kami berangkat bersama Nabi saw dalam perang Tabuk, maka beliau mengerjakan Shalat Dzuhur dan Ashar secara jamak, dan Magrib dengan Isya’ secara jamak pula.” (HR Muslim).

    1. Menjamak di saat hujan turun, atau disebabkan adanya salju atau embun. Ulama Maliki dan Hanbali menambahkan, juga karena banyaknya lumpur di malam yang sangat gelap. Ulama Hanbali menambahkan pula, di saat udara sangat dingin dan banyak salju.

    Dalam keadaan seperti itu menjamak Shalat dibolehkan dengan ketentuan sebagai berikut:

    • Hanya boleh menjamak taqdim Shalat Maghrib dengan Isya’ saja. Tetapi, menurut ulama Hanbali, boleh juga secara ta’khir, yakni Shalat Maghrib diakhirkan sampai tiba waktu Isya’. Dan ulama Syafi’i membolehkan pula menjamak Zuhur dengan Ashar secara taqdim.
    • Hujan terus turun ketika menunaikan Shalat.
    • Shalat jamak dikerjakan dengan berjamaah di masjid, kecuali menurut ulama Hanbali yang membolehkan menjamak sekalipun dikerjakan sendirian di rumah.
    • Imam harus niat menjadi imam dan Shalat dengan berjamaah, karena berjamaah merupakan salah satu syaratnya.
    • Kedua Shalat dikerjakan berturut-turut, sehingga antara keduanya tidak terpisah dengan waktu lama, tetapi boleh membacakan iqamah untuk Shalat kedua.
    • Kedua Shalat dikerjakan secara tertib, dimulai dengan Shalat Maghrib terlebih dahulu dan baru kemudian Shalat Isya’.

    Hal itu berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Termasuk sunnah Rasul saw ialah menjamak Shalat Maghrib dengan Isya’ apabila hari hujan lebat.” (HR Asram dalam sunannya).

    Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Nabi saw menjamak Shalat Maghrib dengan Isya’ di suatu malam yang turun hujan lebat. (HR Bukhari).

    Dari Ibnu Abbas berkata, “Nabi saw mengerjakan Shalat di Madinah sebanyak tujuh dan delapan rakaat, Zuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’.” Abu Ayyub berkata: “Barangkali pada malam yang hujan?” Ibnu Abbas menjawab: “Ya, barangkali.” (HR Sittah [enam imam hadis]).

    1. Menjamak karena sakit atau udzur.

    Dibolehkan menjamak sebab sakit atau uzur menurut ulama Hanbali dan Maliki, demikian juga menurut al-Mutawalli dari golongan Syafi’i. Tetapi, menurut ulama Maliki, jamak di sini hanya dalam bentuknya saja (jamak formalitas), dalam arti Shalat pertama diakhirkan hingga akhir waktu dan Shalat kedua dimajukan hingga awal waktu. Sehingga seakan-akan kedua Shalat itu dijama’.

    Ulama Hanbali memperluas kebolehan menjamak ini, hingga menurut mereka, boleh juga bagi orang yang berhalangan (uzur) seperti wanita yang mengeluarkan darah istihadhah, orang beser kencing dan sebagainya, bagi orang yang khawatir terjadi bahaya bagi jiwa, harta atau kehormatannya, juga bagi orang yang takut mendapat kesulitan dalam mata pencahariannya sekiranya ia meninggalkan jamak dan bagi wanita yang sedang menyusui bila sukar baginya untuk mencuci kain setiap hendak Shalat. Semua halangan semacam itu, menurut ulama Hanbali memperbolehkan menjamak Shalat. Demikian itu berdasarkan keterangan dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Rasulullah saw pernah menjamak Shalat Zuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya’ tanpa ada alasan ketakutan atau turun hujan. Ditanyakan kepada Ibnu Abbas: ‘Apa maksud Nabi saw berbuat demikian itu?’ Ibnu Abbas menjawab, maksudnya, agar tidak memberatkan umatnya.” (HR Muslim).

    Shalat dalam Kendaraan

    Mengerjakan Shalat dalam kapal dan sebagainya menurut cara yang mungkin dilakukan adalah sah dan gugurlah kewajiban menghadap kiblat. Karena, yang menjadi kiblatnya adalah arah ke mana kapal atau kendaraan itu melaju. Namun, di saat takbiratul ihram tetap di tuntut menghadap kiblat. Dan jika tidak dapat mengerjakan ruku’ dan sujud seperti biasa, hendaklah Shalat dengan isyarat.

    Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah saw ditanya tentang Shalat di atas kapal, maka jawabnya: ‘Shalatlah di sana sambil berdiri, kecuali jika kamu takut tenggelam’!” (HR Daaraquthni dan Hakim menurut syarat Bukhari dan Muslim)

    ***

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Shalat Empat Madzhab, Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 7 February 2015 Permalink | Balas  

    khusyuk_500Shalat Sunnah Rawatib

    Arsip Fiqh

    Sesungguhnya di balik disyariatkannya Shalat sunnah terdapat hikmah-hikmah yang agung dan rahasia yang sangat banyak, di antaranya untuk menambah kebajikan dan meninggikan derajat seseorang. Shalat sunah juga berfungsi sebagai penutup segala kekurangan dalam pelaksanaan Shalat fardu. Shalat sunah juga mempunyai keutamaan yang agung, kedudukan yang tinggi yang tidak terdapat pada ibadah-ibadah lainnya, serta hikmah-hikmah yang lain.

    Dari Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami, pelayan Rasulullah saw, berkata, “Aku pernah menginap bersama Rasulullah saw, kemudian aku membawakan air wudu untuk beliau serta kebutuhannya yang lain. Beliau bersabda, ‘Mintalah kepadaku’, maka aku katakan kepada beliau, ‘Aku minta agar bisa bersamamu di Surga’, beliau bersabda, ‘Ataukah permintaan yang lain?’ Aku katakan, ‘Itu saja’. Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, bantulah aku atas dirimu dengan banyak bersujud (Shalat)’.” (HR Muslim).

    Dari Abu Hurairah ra , ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali di hisab (diperhitungkan) pada hari Kiamat nanti adalah Shalatnya, apabila Shalatnya baik, maka sungguh dia telah beruntung dan selamat, dan jika Shalatnya rusak, maka dia akan kecewa dan merugi. Apabila Shalat fardunya kurang sempurna, maka Allah berfirman, ‘Apakah hamba-Ku ini mempunyai Shalat sunnah? Maka tutuplah kekurangan Shalat fardu itu dengan Shalat sunnahnya.’ Kemudian, begitu pula dengan amalan-amalan lainnya yang kurang’.” (HR Abu Daud, Tirmizi, dan lainnya, hadis sahih).

    Pembagian Shalat-Shalat Sunnah

    Shalat sunnah terbagi menjadi dua, yaitu Shalat sunnah mutlak dan Shalat sunnah muqayyad. Shalat sunnah mutlak itu dilakukan hanya dengan niat Shalat sunnah saja tanpa dikaitkan dengan yang lain. Adapun Shalat sunnah muqayyad, di antaranya ada yang disyariatkan sebagai penyerta Shalat fardu, yaitu yang biasa disebut dengan Shalat sunnah rawatib: mencakup Shalat sunnah Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Ada juga Shalat Dhuha, Shalat ‘Idain, Shalat Kusuf dan Khusuf, Shalat Hajah, Shalat Istikharah, dan Shalat-Shalat sunnah yang lain.

    Adapun Shalat sunnah rawatib (Shalat-Shalat sunnah yang mengiringi Shalat fardhu, baik sebelum maupun sesudahnya), maka Shalat tersebut ada 18 rakaat.

    Pertama, qobliyah Dzuhur empat rakaat, dengan dua kali salam. Adapun ba’diyah Dzuhur empat rakaat, juga dengan dua kali salam.

    Kedua, qobliyah Ashar empat rakaat, dengan dua kali salam. Adapun ba’diyahnya tidak ada. Karena, Shalat sunat setelah Shalat Asar tidak diperbolehkan, kecuali Shalat yang mempunyai sebab tertentu, seperti Shalat sunnah Tahiyatul Masjid, Shalat Jenazah, Shalat sunnah Wudhu, dan lain-lain. Shalat-Shalat tersebut boleh dilakukan setelah Ashar karena mempunyai sebab-sebab khusus.

    Ketiga, qobliyah Maghrib dua rakaat, dengan satu kali salam. Demikian pula Shalat ba’diyahnya, yaitu dua rakaat dengan satu kali salam.

    Keempat, qobliyah Isya empat rakaat, dengan dua kali salam. Untuk ba’diyahnya cukup dua rakaat dengan satu kali salam.

    Kelima, qobliyah Subuh dua rakaat, dengan satu kali salam. Seperti halnya Shalat Asar, maka dalam Shalat Subuh ini tidak ada Shalat ba’diyahnya. Bahkan, setelah Shalat Subuh–sebagaimana setelah Shalat Asar–diharamkan pula melakukan Shalat sunnah apa pun, kecuali Shalat sunnah yang mempunyi sebab tertentu (dzaatus sabab).

    Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

    Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba muslim melaksanakan Shalat sunnah (bukan fardhu) karena Allah, sebanyak dua belas rakaat setiap harinya, kecuali Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga’.” (HR Muslim).

    Penjelasan tentang Sunnah Rawatib

    Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa Shalat dalam sehari semalam dua belas rakaat, akan dibangun untuknya rumah di Surga, yaitu empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum Shalat Subuh’.” (HR Tirmidzi, ia mengatakan, hadis ini hasan sahih).

    Dari Ibnu Umar ra dia berkata, “Aku Shalat bersama Rasulullah saw dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Jum’at, dua rakaat sesudah Maghrib, dan dua rakaat sesudah Isya’.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Abdullah bin Mughaffal ra , ia berkata, “Bersabda Rasulullah saw, ‘Di antara dua azan itu ada Shalat, di antara dua azan itu ada Shalat, di antara dua azan itu ada Shalat’. Kemudian, pada ucapannya yang ketiga beliau menambahkan: ‘bagi yang mau’.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang menjaga empat rakaat sebelum Dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah mengharamkannya dari api Neraka’.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan hadis ini hasan sahih).

    Dari Ibnu Umar ra, bahwa Nabi saw bersabda, “Semoga Allah memberi rahmat bagi orang yang Shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR Abu Daud dan Tirmizi, ia mengatakan, hadis ini hasan).

    Shalat Witir

    Shalat-Shalat sunnah yang kita sebutkan di atas merupakan Shalat sunnah rawatib yang sangat ditekankan. Selain itu, ada juga Shalat sunnah mu’akkadah yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja, salah satunya adalah Shalat witir, yaitu Shalat sunnah yang waktunya dari setelah Isya hingga menjelang Subuh.

    ***

    Sumber: Diadaptasi dari Tuntutan Shalat Menurut Alquran dan Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin

     

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 6 February 2015 Permalink | Balas  

    godaan setanKelicikan Setan

    Rencana setan untuk mengancam keikhlasan orang-orang beriman yang akan terus ada hingga hari pembalasan, dimulai sejak masa Adam a.s.. Ia mendekati Adam a.s. dengan strategi yang licik dan menipu serta mencoba membuatnya melihat kebaikan sebagai kejelekan dan kejelekan terlihat baik.

    Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur`an, setan berhasil membujuk Adam a.s. dan pasangannya untuk tidak mengindahkan larangan Allah. Jadi, setan membuat mereka dikeluarkan dari surga. Peristiwa ini dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Qur`an sebagai berikut.

    “Dan Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'” (al-Baqarah [2]: 35)

    “Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?'” (Thaahaa [20]: 120)

    “Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, ‘Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya, saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.’ Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, ‘Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’” (al-A’raaf [7]: 20-22)

    Setan tidak secara terang-terangan mengatakan kepada Adam dan Hawa untuk menentang perintah Allah. Bila dilakukan terang-terangan, tak ada satu pun mukmin yang mengikutinya. Jadi, ia merencanakan alasan lain yang lebih persuasif. Setan mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan menjadi malaikat dan hidup abadi jika mereka memakan buah pohon terlarang itu. Agar kebohongannya lebih meyakinkan, ia bahkan berani bersumpah atas nama Allah. Al-Qur`an memperingatkan para mukmin sejati agar melawan kelicikan yang dilakukan oleh setan ini.

    “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya, ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raaf [7]: 27)

    Mereka yang dibimbing oleh Al-Qur`an benar-benar dipersiapkan untuk melawan masalah-masalah yang tidak berdasar, keinginan yang semu, dan muslihat setan yang menipu. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thagut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah,” (an-Nisaa` [4]: 76)

    Strategi yang dilancarkan setan sebenarnya lemah dan hanya terdiri atas tipuan yang palsu, para mukmin sejati mamahami bahwa bisikan tersebut berasal dari setan. Mereka segera memohon perlindungan kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat

    “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya, orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf [7]: 200-201)

    Segera setelah mendapatkan perlindungan dari Allah, mereka dapat mengartikan peristiwa tersebut dengan cahaya Al-Qur`an. Mereka mendapatkan pemahaman yang menolong mereka untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Karena itulah, tuduhan setan yang sesat tergagalkan karena iman yang kuat dalam diri mukmin yang sejati.

    Demikian pulalah, seperti yang digarisbawahi Al-Qur`an dalam ayat berikut, setan memainkan peranan kosong pada diri mukmin sejati yang meletakkan keyakinan dan iman mereka kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Pelindung mereka.

    “Sesungguhnya, hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga.” (al-Israa` [17]: 65)

    Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur`an, setan dapat memengaruhi mereka yang dikuasai olehnya dan mereka yang menjadikan hal lain sebagai tuhan selain Allah.

    “Sesungguhnya, setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (an-Nahl [16]: 99-100)

    Dinyatakan bahwa setan tidak dapat memengaruhi hamba-hamba yang tulus dan suci,

    “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.‘” (al-Hijr [15]: 39-40)

    Karena alasan inilah, mukmin yang ikhlas dan benar tidak perlu takut menghadapi kelicikan dan tipu daya jebakan yang dibuat oleh setan, karena mereka tahu pasti bahwa setan tidak memiliki kekuatan atas mereka. Mereka hanya takut kepada Allah. Mereka yang takut kepada setan adalah mereka yang berteman dengannya dan terperosok ke dalam perangkapnya. Hal ini diungkapkan di dalam Al-Qur`an,

    “Sesungguhnya, mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran [3]: 175)

    Di dalam Al-Qur`an, Allah menyatakan bahwa setan akan meningkatkan usahanya untuk menanamkan keinginan-keinginan palsu dan penyimpangan di hati setiap manusia, termasuk hati para nabi. Ini adalah semacam cobaan yang diciptakan Allah untuk membedakan antara mereka yang memiliki penyakit di hatinya dan mereka yang beriman dengan tulus ikhlas.

    Mereka yang mendapatkan kesucian dan memiliki pengetahuan tidak dapat dipengaruhi oleh keinginan-keinginan palsu setan. Mereka benar-benar memahami bahwa setan tidak memiliki kekuatan sendiri. Ia sebenarnya diciptakan dan dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. Setan tidaklah berkuasa untuk menyesatkan orang-orang beriman, menghalangi keikhlasan mereka, atau membawa mereka ke jalan yang sesat tanpa seizin Allah.

    Ketika setan berusaha untuk menempatkan keinginan-keinginan palsu di dalam hati mereka, seorang muslim percaya bahwa Al-Qu`an tidak diragukan lagi merupakan sebuah keberkahan yang nyata dari Allah sebagai penguat. Kebenaran ini ditunjukkan oleh ayat,

    “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur`an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (al-Hajj [22]: 52-54)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 5 February 2015 Permalink | Balas  

    sholat-jenazah-21Sunah-Sunah Shalat Jenazah

    arsip fiqh

    Sunah-sunah Shalat jenazah adalah sebagai berikut.

    1. Membaca doa pujian setelah takbir pertama menurut ulama Hanafi.
    2. Membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Fatihah menurut ulama Syafi’i.
    3. Mengangkat tangan pada takbir pertama, dan setiap kali takbir menurut ulama Syafi’i.
    4. Membaca shalawat atas Nabi saw menurut ulama Hanafi dan Maliki, sedang menurut ulama yang lain hukumnya adalah fardhu (rukun).
    5. Berdo’a untuk mayit menurut ulama hanafi, dan menurut ulama yang lain hukumnya fardhu. Namun yang sunnah adalah dengan do’a yang ma’tsur (bersumber dari Nabi saw).

    Di antara doa-doa tersebut di atas adalah seperti yang termaktub dalam hadis-hadis berikut ini:

    1. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasululah saw mendoakan jenazah dengan mengucapkan, “Allahumma anta rabbuhaa wa anta khalaqtahaa wa anta razaqtahaa wa anta hadaitahaa lil Islaam wa anta qabadhta ruuhahaa wa anta a’lamu bisirrihaa wa’alaaniyyatihaa, ji’naa syufaa’a lahu, faghfirlahu dzanbahu.” (Ya Allah, Engkaulah Tuhan jenazah ini, Engkau telah menciptakannya, memberinya rizki, menunjukkannya kepada Islam dan telah mencabut nyawanya. Dan Engkau pulalah yang mengetahui keadaannya yang tersembunyi dan yang nyata. Kami datang untuk memohonkan syafa’at [pertolongan] baginya. Maka ampunilah dosa-dosanya). (HR Ahmad dan Abu Daud).
    2. Dari Wa’ilah bin Asqa’ berkata, Nabi saw menyalatkan jenazah salah seorang kaum muslimin bersama kami, maka saya mendengar beliau mengucapkan, “Allahumma inna fulaanabna fulaan fi dzimmatika wahabli jawaarika faqihi min fitnatil qobri wa’adzaabin naari wa anta ahlul wafaa’i wal haqqi, Allahumma faghfirlahu warhamhu fainnaka antal ghafuurur rahiimu.” (Ya Allah, sesungguhnya Fulan bin Fulan berada dalam jaminan dan tali pelindungan-Mu. Maka lindungilah ia dari fitnah (bencana) kubur dan siksa neraka. Engkaulah yang Maha memenuhi janji dan memiliki kebenaran. Ya Allah, ampuni dan kasihanilah ia, karena Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih). (HR Ahmad dan Abu Daud).
    3. Dari Auf bin Malik berkata, saya mendengar Rasulullah saw ketika menyalatkan jenazah mengucapkan, “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fu’anhu wa’aafihi wa akrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu waghsilhu bi maain watsaljin wabarodin wanaqqihi minalkhathaaya kamaa yunaqqotstsaubul abyadhu minad danasi waabdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wazaujan khairan min zaujihi waqihi fitnatal qabri wa’adzaaban naari.” (Ya Allah, ampuni dan kasinahilah ia, maafkan dan sejahterahkanlah ia, hormatilah kedatangannya, lapangkanlah tempat kediamannya, dan bersihkanlah ia dengan air, es dan embun, serta bersihkanlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Juga gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada rumahnya dahulu, gantilah keluarganya dengan yang lebih baik daripada keluarganya dulu, dan ganti pula istrinya dengan yang lebih baik daripada istrinya yang dulu. Dan peliharalah ia dari petaka kubur dan siksa neraka). (HR Muslim)
    4. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah menyalatkan jenazah, lalu mengucapkan, “Allohummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa washaghirinaa wakabirinaa wadzakarinaa wauntsaanaa wasyaahidinaa waghaibinaa. Allahumma man ahyaitahu minnaa faahyihi alal islaam waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaan. Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa tudhillanaa ba’dahu.” (Ya Allah, ampunilah kami yang hidup dan yang mati, yang kecil dan yang besar, laki-laki dan perempuan, yang hadir dan yang tidak hadir. Ya Allah, barangsiapa yang Engkau hidupkan di antara kami hendaklah Engaku hidupkan secara Islam, dan barangsiapa yang Engkau matikan di antara kami, maka matikanlah dalam iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami mendapatkan pahalanya dan jangan pula sesatkan kami sepeninggalnya). (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan).
    5. Dari Abu Hurairah ra bahwa ia ditanya, “Bagaimana cara kamu menyalatkan jenazah? dia menjawab: saya mengantarkannya dari rumah keluarganya, dan bila sudah diletakkan (untuk diShalatkan), maka saya mengucapkan takbir, memuji kepada Allah, dan membaca shalawat kepada Nabi saw, kemudian membaca: “Allahumma innahu ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika kaana yusyhidu anlaa ilaaha illa anta wa anna muhammadan ‘abduka wa rasuuluka wa anta a’lamu bihi. Allahumma inkaana muhsinaan fazid fi ihsaanihi wa inkaana musii’an fatajawaz ‘an sayyiaatihi. Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu.” (Ya Allah, sesungguhnya ia adalah hamba-Mu dan putra hamba-Mu yang laki-laki dan perempuan. Ia mengakui bahwa tiada tuhan selain Engkau dan Muhammad adalah hamba dan pesuruh-Mu, dan Engkau lebih mengetahuinya. Ya Allah, jika dia telah berbuat kebajikan, maka tambahlah kebajikannya, sebaliknya, jika ia berbuat buruk, maka maafkanlah kesalahan-kesalahannya. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami mendapat pahalanya dan jangan pula Engkau timpakan fitnah kepada kami sepeninggalnya). (HR Malik).

    Orang yang Shalat jenazah boleh mengucapkan doa sesukanya dari doa-doa tersebut, dan jika digabung semuanya, maka hal itu lebih baik. Jika jenazahnya itu perempuan, maka kata ganti laki-laki (dhamir mudzakkar hu/hi) hendaklah diganti dengan kata ganti perempuan/dhamir muannats, yakni haa, tetapi tidak boleh mengatakan zaujan khairon min zaujihaa (… dan gantilah suaminya dengan suami yang lebih baik daripada suaminya dahulu).

    Apabila mayatnya itu anak kecil, maka ucapkanlah:

    “Allahummaj’alhu farathan liabawaihi wasalafan wadzukhran wa’idzatan wa’tibaaran wasyafii’an watsaqqil bihi mawaazinahuma waafrighis shabra ‘ala quluubihiima walaa taftinhumaa ba’dahu walaa tahrimhumaa ajrohu wa’alhiqhu bishaalihi salafil mu’minin.” (Ya Allah, jadikanlah ia bagi kedua orang tuanya sebagai titipan, pendahululan, simpanan, nasihat, pelajaran dan pemberi syafaat, beratkanlah dengannya timbangan amal mereka, curahkanlah kesabaran di hati mereka, janganlah Engkau timbulkan fitnah pada mereka sepeninggalnya, dan janganlah halangi mereka mendapat pahalanya, serta pertemukanlah ia dengan kaum beriman terdahulu yang saleh).

    • Imam hendaklah berdiri di tempat yang lurus dengan kepala mayat atau bahunya jika mayat itu laki-laki atau bagian tengah mayat perempuan.

    Dari Anas ra, ia menyalatkan jenazah orang lelaki, maka ia berdiri dekat kepalanya. Setelah jenazah itu diangkat, dibawalah ke hadapannya jenazah seorang perempuan, lalu ia menyalatkannya pula tetapi ia berdiri di (dekat bagian) tengahnya. Kemudian, ditanyakan kepadanya, ‘Apakah memang demikian posisi berdiri Rasulullah saw terhadap jenazah orang laki-laki dan perempuan itu, seperti yang anda lakukan?’ Anas menjawab: ‘Benar demikian’.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi seraya menyatakannya sebagai hadis hasan).

    • Shaf (barisan) Shalat jenazah hendaknya dijadikan tiga shaf.

    Dari Malik bin Hubairah, Rasulullah saw bersabda, “Tiada seorang mukmin yang meninggal dunia lalu diShalatkan oleh sejumlah kaum muslimin yang mencapai tiga shaf, melainkan diampunilah dosanya.” Karena itu, jika yang hendak menyalatkan jenazah itu sedikit, maka Malik bin Hubairoh berusaha menjadikan mereka dalam tiga shaf. (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan. Hadis ini dianggap hasan oleh Timidzi, dan shahih oleh Hakim).

    Dianjurkan memperbanyak jumlah orang yang menyalatkan jenazah, berdasarkan hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Tidaklah seorang mayat yang diShalatkan oleh sekelompok kaum muslimin berjumlah seratus orang dan semuanya memohonkan syafaat untuknya, melainkan pemohonan mereka itu dikabulkan.” (HR Ahmad, Muslim, dan Timidzi)

    Dari Ibnu Abbas berkata, dia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tiada seseorang yang meninggal dunia lalu jenazahnya diShalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, melainkan Allah memberi syafaat baginya.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

    • Membaca doa setelah takbir keempat seperti berikut:

    “Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfirillahumma lanaa walahu” (Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, janganlah Engkau fitnah kami sepeninggalnya, serta ampunilah, ya Allah, kami dan dia).

    Makmum Masbuq dalam Shalat Jenazah

    Barangsiapa tertinggal sesuatu dalam Shalat jenazah hendaklah mengerjakannya (menyelesaikannya) sesudah imam mengucapkan salam menurut cara seperti biasa, sekalipun jenazah telah diangkat tanpa menunggu masbuq. Namun, menurut ulama Hanafi, jika jenazah telah diangkat tanpa menunggu makmum masbuq itu, hendaklah ia hanya membaca takbir-takbir saja tanpa harus membaca sesuatu apa pun lagi dan kemudian mengucapkan salam sebelum jenazah diangkat. Sebab, yang menjadi rukun menurut mereka hanyalah membaca takbir dan selainnya adalah sunnah. Dan makruh hukumnya melaksanakan Shalat jenazah di dalam masjid, sekalipun jenazah berada di luar masjid, sebagaimana dimakruhkan pula memasukkannya ke dalam masjid bukan untuk diShalatkan. Namun, ulama Syafi’i berpendapat sunnah menyalatkan jenazah di dalam masjid. Sedang menurut ulama Hanbali, hukumnya mubah (boleh) jika tidak dikhawatirkan akan mengotori masjid, dan bila akan mengotorinya maka hukumnya haram.

    Yang Paling Berhak Menjadi Imam Shalat Jenazah

    Ulama Hanafi dan Hanbali berpendapat, yang harus didahulukan menjadi imam Shalat jenazah adalah sultan (kepala negara) jika hadir, wakilnya menurut ulama Hanafi atau waliyyul amri (penguasa, gubernur) di kota.

    Namun, menurut ulama Syafi’i dan Hanbali, yang harus didahulukan adalah ayah, kakek, dan seterusnya sampai ke atas, lalu anak dan seterusnya dalam garis lurus ke bawah, dan kemudian saudara, sesuai dengan urutan mereka dalam menjadi wali. Ulama Maliki juga sependapat dengan mereka dalam mendahulukan kelompok kerabat ini di saat tidak terdapat sultan atau wakilnya.

    Jika si mayat telah berwasiat agar ia diShalatkan oleh seseorang, maka orang itulah yang paling berhak didahulukan. Dan di antara orang yang harus didahulukan adalah imam masjid, sebab ketika masih hidup ia telah menyukainya sebagai imam.

    ***

    Sumber: As-Shalaatu ‘alal Madzaahibil Arba’ah, Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 4 February 2015 Permalink | Balas  

    sholat-jenazah-1Shalat Jenazah

    arsip fiqh

    Shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah bagi semua orang muslim yang hidup. Jika telah dikerjakan, oleh satu orang sekalipun, maka gugurlah kewajibannya dari yang lain.

    Shalat ini mempunyai beberapa syarat, rukun, dan sunnah serta keutamaan sebagaimana akan kami sebutkan.

    Dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda, “Barangsiapa mengantarkan jenazah dan menyalatkannya, maka ia mendapat pahala satu qirat dan barangsiapa mengantarkannya sampai selesai penguburannya, maka ia mendapat pahala dua qirat. Satu qirat terkecil itu sama dengan Gunung Uhud.” (HR Jamaah).

    Dari Khabbab ra, ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa pergi mengantar jenazah dari rumah duka dan menyalatkannya lalu mengantarnya sampai dikuburkan, maka ia mendapat pahala dua qirath, dan setiap qirathnya sama dengan Gunung Uhud. Dan barangsiapa menyalatkannya lalu pulang, maka ia hanya memperoleh sebesar Gunung Uhud.” (HR Muslim).

    Syarat-Syarat Shalat Jenazah

    1. Jenazah harus orang muslim.

    Karenanya, orang kafir haram diShalatkan berdasarkan firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At-Taubah: 84).

    1. Jenazah harus berada di tempat.

    Ulama Syafi’i dan Hanbali tidak mensyaratkannya, karena itu boleh menyalatkan jenazah yang tidak berada di tempat di mana Shalat diselenggarakan. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Pada hari raja Najasyi wafat, Nabi saw mengumumkan kematiannya kepada orang-orang dan mengajak mereka pergi ke mushalla, kemudian ia membariskannya lalu mengerjakan Shalat (jenazah) dengan takbir empat kali.” (HR Jamaah).

    1. Jenazah telah disucikan. Karena itu, ia tidak boleh diShalatkan sebelum dimandikan atau ditayamumkan jika sulit memandikannya.
    2. Jenazah berada di depan orang yang menyalatkannya. Maka, Shalat tidak sah apabila jenazah diletakkan di belakang mereka. Namun, menurut ulama Maliki, yang wajib ialah kehadiran jenazah, sedang meletakkan di depan itu hukumnya sunnah.
    3. Jenazah harus diletakkan di atas tanah. Maka, tidak sah menyalatkan jenazah yang sedang diangkut di atas hewan atau kendaraan atau sedang dipikul orang. Tetapi, menurut ulama Syafi’i, boleh menyalatkannya sekalipun ia dibawa atau dipikul orang.
    4. Jenazah bukanlah syahid yang gugur dalam pertempuran melawan orang kafir. Karenanya, orang mati syahid haram diShalatkan karena haram dimandikannya.

    Dari Jabir ra, “Nabi saw memerintahkan agar para syuhada yang gugur dalam perang Uhud dikuburkan berikut darahnya, tidak dimandikan dan tidak pula diShalatkan.” (HR Bukhari).

    Dari Anas ra, “Para syuhada itu tidak dimandikan, mereka dikubur dengan darah mereka tanpa diShalatkan lagi.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

    Menurut ulama Hanafi, orang yang mati syahid itu tidak boleh dimandikan tetapi wajib diShalatkan, berdasarkan hadis dari ‘Uqbah bin Amir: “Pada suatu hari Nabi saw keluar rumah lalu menyalatkan para syuhada Uhud seperti halnya menyalatkan mayat biasa setelah delapan tahun. Beliau seakan-akan sedang berpamitan kepada orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR Bukhari).

    Dari Abu Malik al-Ghiffari berkata, “Sebanyak sembilan orang yang gugur dalam perang Uhud, dan Hamzah sebagai orang kesepuluh dibawa ke hadapan Rasulullah saw lalu diShalatkan oleh beliau, kemudian dibawa pergi. Setelah itu didatangkan lagi sembilan orang sedang Hamzah masih berada di tempat semula, dan beliau pun menyalatkannya semua.” (HR Baihaqi dan menurutnya hadis ini merupakan hadis paling shahih dalam masalah ini, tetapi ia hadis mursal).

    1. Bagian tubuh mayat yang ada, yang diShalatkan itu, haruslah merupakan bagian terbesar.

    Bayi yang lahir prematur (keguguran) jika dilahirkan dalam keadaan menangis (hidup) wajib diShalatkan. Hal ini berdasarkan keterangan dari Jabir, Nabi bersabda:

    “Jika bayi yang baru lahir itu menangis, ia harus diShalatkan dan mendapatkan pusaka.” (HR Ashhabus Sunnan kecuali Abu Daud).

    Tetapi, jika di saat lahir tidak menangis, karena sudah mati dalam kandungan ibunya, maka ia tidak boleh diShalatkan. Namun, menurut ulama Hanbali, jika sewaktu dalam perut ibunya telah ditiupkan ruh dan setelah itu mati, maka ketika lahir ia harus diShalatklan. Hal ini berdasarkan hadis yang diterima dari Mughirah bin Syu’bah, Nabi bersabda:

    “Bayi keguguran itu harus diShalatkan, dan kedua orang tuanya supaya didoakan mendapat ampunan dan rahmat.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

    Adapun syarat-syarat yang berkaitan dengan orang yang menyalatkan jenazah adalah sama dengan syarat-syarat Shalat biasa, yakni niat, bersuci, menghadap kiblat, menutup aurat, dan lain sebagainya.

    Rukun-Rukun Shalat Jenazah

    Shalat Jenazah mempunyai beberapa rukun, yang dengannya terwujudlah hakikat Shalat itu. Bila salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi, maka Shalat itu tidak sah menurut hukum syara’. Rukun-rukun tersebut adalah:

    1. Niat. Namun, menurut ulama Hanafi dan Hanbali, niat adalah syarat, bukan rukun.
    2. Membaca takbir empat kali. Setiap takbir itu sama nilainya dengan satu rakaat. hal itu berdasarkan hadis Jabir ra, “Nabi saw menyalatkan Najasyi, maka beliau bertakbir empat kali.”
    3. Berdiri bagi yang mampu. Apabila Shalat ini dilakukan dengan duduk tanpa udzur, maka Shalatnya tidak sah.
    4. Membaca Al-Fatihah sesudah takbir pertama, berdasarkan sabda Rasul, “Tiada Shalat itu sah bagi yang tidak membaca surah Al-fatihah.” (HR Jama’ah). Dan, berdasarkan pula keterangan dari Thalhah bin Abdullah bahwa ia pernah mengerjakan Shalat Jenazah bersama Ibnu Abbas dengan membaca surah Al-Fatihah, lalu Ibnu Abbas berkata, bahwa hal itu adalah sunnah rasul saw. (HR Bukhari dan Timidzi).

    Ulama Hanafi berpendapat, makruh hukumnya membaca Al-Fatihah ini. Ulama Hanafi pun sependapat dengan mereka dinisbahkan bagi makmum kecuali jika dimaksudkan sebagai doa, tetapi jika dimaksudkan sebagai bacaan maka hukumnya tetap makruh.

    1. Membaca shalawat kepada Nabi saw setelah takbir kedua. Sekurang-kurangnya adalah Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Namun, yang lebih sempurna ialah membaca shalawat ibrahimiyah.
    2. Berdoa untuk mayit sesudah takbir ketiga, berdasakan hadis Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

    “Jika kamu menyalatkan mayit, maka berdoalah dengan ikhlas untuknya.” (HR Abu Daud, Baihaqi, dan Ibnu Hibban seraya menyatakannya sebagai hadis sahih).

    Berdoa boleh dilakukan dengan doa apa saja, sekalipun hanya sedikit, dan paling sedikit adalah, “Allahummaghfir lahu warhamhu” (Ya Allah, ampunilah ia dan rahmatilah). Tetapi, yang paling utama ialah doa yang bersumber dari Rasul. Sedangkan berdoa menurut ulama Maliki adalah wajib sesudah tiap takbir.

    1. Mengucapkan salam sesudah takbir keempat. Tetapi, menurut ulama Hanafi, salam adalah wajib, bukan rukun, sebagaimana pada Shalat-Shalat yang lain.

    ***

    Sumber: As-Shalatu ‘alal Mazahibil Arba’ah, Abdul Qodir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 3 February 2015 Permalink | Balas  

    gerhanaShalat Gerhana (Matahari dan Bulan)

    arsip fiqih

    Shalat Gerhana termasuk salah satu Shalat sunnah muakkad (yang sangat dianjurkan) sebagaimana halnya Shalat malam (qiyamullail), Shalat ‘idain dan Shalat sunnah yang lain. Hanya saja, Shalat ini kurang mendapat perhatian secara luas dari kalangan kaum muslimin, berbeda dengan Shalat ‘idain. Hal ini barangkali lebih disebabkan karena mereka pada umumnya belum mengetahui sejauh mana Shalat ini dianjurkan oleh syariat. Oleh karena itu, pada edisi ini kami mencoba menurunkan kajian ini untuk memberikan gambaran kepada umat Islam agar mereka bisa memanfaatkan kesempatan itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, munculnya gerhana tersebut memang semata-mata merupakan bukti dari kekuasaan Allah SWT.

    Dalil-Dalil Dianjurkannya Shalat Gerhana

    1. Dari al-Mughirah bin Syu’bah ra berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw di saat Ibrahim (putra Nabi saw) meninggal, lalu orang-orang saling berkata, ‘Gerhana matahari terjadi karena meninggalnya Ibrahim’. Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, tidak terjadi gerhana pada keduanya sebab kematian seseorang atau kehidupannya. Karena itu, berdo’alah kepada Allah SWT dan lakukanlah Shalat sampai matahari itu terang kembali’.” (Muttafaq Alaihi).

    Redaksi hadis tersebut menggunakan kata ‘inkasafat’, apakah kata itu khusus untuk matahari atau juga untuk bulan? Dalam hal ini ulama berbeda pendapat, namun berdasarkan dalil yang tsabit (ada) bahwa apabila terjadi gerhana matahari maupun bulan, tetap disunnahkan untuk melakukan Shalat gerhana.

    Kemudian, Imam Nawawi berkata, “Ulama telah bersepakat bahwa Shalat gerhana itu hukumnya sunnah. Sedangkan menurut jumhurul ulama, disunnahkan melakukannya dengan berjamaah, sementara menurut al-Iraqiyyun (ulama-ulama Irak) disunnahkan melakukannya dengan sendiri-sendiri (munfarid).

    1. Dari Abu Bakarah ra, “Maka Shalatlah dan berdoalah sampai (matahari/bulan) itu terang kembali kepadamu.” (HR al-Bukhari).

    Tehnik Pelaksanaan Shalat Gerhana

    Shalat gerhana berbeda dengan Shalat yang lain, baik sunnah maupun fardhu. Jika Shalat ‘Idain itu dengan dua rakaat dan 12 takbir (7 takbir untuk rakaat pertama dan 5 takbir untuk rakaat kedua), maka Shalat gerhana itu dengan dua rakaat, namun dengan berdiri 4 kali, membaca Al-Fatihah dan surah 4 kali serta ruku’ 4 kali. Untuk lebih jelasnya perhatikan hadis-hadis di bawah ini:

    1. Dari Aisyah ra, “Nabi saw mengeraskan bacaannya pada Shalat gerhana matahari, lalu beliau Shalat empat rakaat dalam dua rakaat dan empat kali sujud”. Muttafaq Alaihi dan ini menurut lafal Muslim, sedangkan menurut riwayat Muslim, “… lalu Nabi saw mengutus seorang Bilal (orang yang memberitahukan Shalat) yang mengumandangkan ‘as-sholaatu jaami’ah’ (Shalat itu dikerjakan dengan jama’ah).”

    Berdasarkan hadis ini, pada Shalat gerhana matahari itu disunnahkan mengeraskan bacaan. Meski demikian, dalam hal ini ada empat pendapat:

    Pertama, mengeraskan bacaan secara mutlak, baik pada Shalat gerhana matahari maupun pada Shalat gerhana bulan. Dalilnya adalah hadis ini dan hadis yang lain. Pendapat ini adalah pendapatnya madzhab Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Yusuf dan Muhammad asy-Syaibani (keduanya temannya Abu Hanifah), Ibnu Khuzaimah, Ibnu al-Mundzir dan yang lain.

    Kedua, melirihkan bacaan secara mutlak, berdasarkan hadis Ibnu Abbas ra, “Bahwa Nabi saw berdiri sangat lama sepanjang surah Al-Baqarah. Imam al-Bukhari mengomentari dari Ibnu Abbas bahwa dia berdiri di samping Nabi saw dalam Shalat gerhana matahari lalu dia tidak mendengarkan satu huruf pun dari Nabi saw.

    Ketiga, seseorang bebas memilih antara keras dan pelan karena adanya kedua perintah tersebut dari Nabi saw.

    Keempat, melirihkan bacaan pada gerhana matahari dan mengeraskan bacaan pada gerhana bulan. Ini pendapat Imam empat, berdasarkan hadis Ibnu Abbas dan karena diqiyaskan dengan Shalat lima waktu.

    1. Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, kemudian Rasulullah saw melakukan Shalat lalu berdiri sangat lama sepanjang surah Al-Baqarah, kemudian ruku’ dengan sangat lama, lalu bangun kemudian berdiri sangat lama, akan tetapi agak pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ dengan sangat lama, akan tetapi agak pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud. Kemudian, berdiri sangat lama, akan tetapi agak pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ sangat lama, tetapi agak pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian bangun lalu berdiri dengan sangat lama, tapi agak pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ dengan sangat lama, tapi agak pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian mengangkat kepalanya lalu sujud, kemudian salam dan matahari telah terang kembali kemudian Nabi saw berkhotbah kepada manusia.” Muttafaq Alaihi, dan lafal hadisnya dari al-Bukhari.

    Menurut riwayat Muslim, “Nabi saw Shalat delapan rakaat dalam empat sujud ketika terjadi gerhana matahari.”

    Angin Bertiup Sangat Kencang

    Bila angin itu bertiup kencang, maka di sunnahkan membaca doa sebagaimana yang dilakukan Nabi saw seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra di bawah ini:

    Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Tidaklah angin itu bertiup sama sekali kecuali Nabi saw duduk di atas kedua lututnya dan berdoa: ‘Ya Allah jadikanlah angin itu sebagai rahmat dan jangan Engkau jadikan sebagai azab (siksa)’. ” (HR asy-Syafi’i dan at-Thabarani).

    Apabila Terjadi Gempa

    Dari Ibnu Abbas ra, dia Shalat dua rakaat dan masing-masing rakaat tiga kali ruku’ seraya berkata, “Seperti inilah Shalat karena terjadinya (bencana) tanda-tanda kekuasaan Allah (alam ).” (HR al-Baihaqi), dan asy-Syafi’i menyebutkan dari Ali ra seperti hadis itu, bukan potongan hadis yang terakhirnya.

    Asy-Syafi’i dan yang lain berpendapat, dalam Shalat tersebut tidak disunnahkan berjamaah dan apabila seseorang melakukannya dengan sendirian, maka itu baik. Beliau beralasan, karena tidak diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau perintah agar melakukannya dengan jamaah kecuali dalam Shalat gerhana matahari dan bulan.

    ***

    Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 2 February 2015 Permalink | Balas  

    shalat-tarawih-puasa-pertama_fullShalat ‘Idain (Shalat Dua Hari Raya)

    arsip fiqih

    Termasuk Shalat-Shalat sunnah berikutnya adalah Shalat ‘Idain (Idul Fitri dan Idul Adha). Shalat ini disyari’atkan pada tahun pertama dari hijrah Rasulullah saw. Hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan). Shalat tersebut disunnahkan berjama’ah bagi laki-laki dan perempuan. Selain itu, disunnahkan pula dikerjakan di lapangan, kecuali ada udzur (halangan) seperti hujan, maka di sunnahkan dikerjakan di masjid. Adapun waktunya, untuk Shalat Idul Fitri yaitu dimulai apabila matahari telah naik dua penggalah sampai tergelincirnya matahari, dan untuk Shalat Idul Adha yaitu dimulai apabila matahari telah naik sepenggalah sampai tergelincirnya matahari.

    Teknik Pelaksanaannya

    1. Dilaksanakan dengan dua rakaat, dua belas takbir, yakni takbir pada rakaat pertama tujuh takbir dan takbir pada rakaat kedua lima takbir serta tidak didahului dengan Shalat sunnah qabliyah dan tidak diakhiri pula dengan sunnah ba’diyah. Hal ini sesuai dengan hadis dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi saw bertakbir pada Shalat ‘id dengan dua belas takbir, tujuh takbir untuk rakaat pertama dan lima takbir untuk rakaat kedua seraya tidak melakukan Shalat sebelumnya dan sesudahnya. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
    2. Tidak diawali dengan adzan dan iqamah, sesuai dengan hadis yang artinya, “Tidaklah diserukan adzan pada Shalat idul fitri dan idul adha.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dari Atha’ ra berkata, “Aku diberitahu oleh Jabir bahwa pada Shalat idul fitri itu tidak diserukan adzan, baik sebelum atau sesudah imam keluar, tidak pula iqamah, panggilan atau apa pun juga. Tegasnya, pada hari itu tidak ada panggilan apa-apa atau iqamah.” (HR Muslim).

    1. Dilaksanakan sebelum khotbah, berdasarkan hadis Ibnu Umar ra yang berkata yang artinya, “Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar melakukan Shalat dua hari raya sebelum khotbah.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

    Berdasarkan Ijma’, khotbah Shalat dua hari raya itu tidak wajib. Hal yang mendasari hukum tersebut adalah hadis Abdullah bin as-Saaib berkata, “Aku Shalat Id bersama Rasulullah saw, tatkala beliau selesai melaksanakan Shalatnya, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kami berkhotbah, barangsiapa ingin duduk untuk berkhotbah, maka duduklah dan barangsiapa ingin pergi (tidak berkhotbah), maka pergilah’.” (HR an-Nasaa’i, Ibnu Majah, dan Abu Daud)

    Hal-Hal yang Disunnahkan Berkaitan dengan Shalat Id

    1. Dalam melaksanakan Shalat Id, bagi imam -setelah membaca Al-Fatihah- disunnahkan membaca Surah Qaaf pada rakaat pertama dan surah Iqtarabat pada rakaat kedua sesuai dengan hadis yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Jika ia tidak mampu membaca kedua surah tersebut, maka disunnahkan baginya -setelah membaca Al-Fatihah- membaca surah al-‘A’la (Sabbihis) pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiah pada rakaat kedua.
    2. Setiap orang -baik imam maupun makmum- yang ingin melaksanakan Shalat Id, maka disunnahkan baginya untuk menempuh jalan yang berbeda ketika pergi dan pulangnya. Hal ini sesuai dengan hadis dari Jabir ra yang berkata, “Rasulullah saw apabila berada pada hari raya, maka beliau menempuh jalan yang berbeda (untuk melaksanakan Shalat Id).” (HR al-Bukhari)

    Kemudian, hikmah apa yang terkandung dalam kesunnahan ini? Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat:

    Pertama, agar bisa memberikan salam kepada dua penduduk yang berada di sekitar dua jalan tersebut.

    Kedua, agar penduduk yang berada di sekitar dua jalan itu mendapat keberkahan orang yang melakukan Shalat id.

    Ketiga, agar orang yang mempunyai keperluan dengan penduduk yang berada di sekitar dua jalan itu bisa memenuhinya.

    Keempat, untuk menampakkan syiar Islam di jalan-jalan, penjuru-penjuru dan gang-gang.

    Kelima, untuk membangkitkan kemarahan orang-orang munafik ketika mereka melihat Izzah (kemulyaan) Islam, syiarnya dan orang-orang Islam yang merayakan hari kemenangan itu.

    Keenam, untuk memperbanyak kesaksian tempat. Karena, setiap orang yang pergi ke masjid atau ke tempat Shalat, maka salah satu langkahnya akan mengangkat derajatnya dan langkahnya yang lain akan merontokkan kesalahannya sampai dia pulang ke rumahnya.

    Ketujuh, inilah pendapat yang paling benar bahwa hikmah tersebut tidaklah bisa diukur dengan kasad mata dan panca indera. Dan, perlu diketahui bahwa sahabat Ibnu Umar ra karena begitu perhatiannya terhadap sunnah, beliau bertakbir dari rumahnya sampai ke tempat Shalat.

    1. Setiap orang yang pergi untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri, maka sebelumnya dia disunnahkan agar makan terlebih dahulu. Akan tetapi, apabila dia pergi untuk melaksanakan Shalat Idul Adha, maka dia disunnahkan menunda makannya sampai selesai melaksanakan Shalat Idul Adha berdasarkan hadis dari Anas ra yang berkata, “Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw tidak berangkat ke tempat Shalat sebelum memakan beberapa korma dengan jumlah yang ganjil.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

    Dari Buraidah ra berkata, “Nabi saw tidak berangkat untuk Shalat Idul Fitri sebelum makan terlebih dahulu dan tidak makan untuk Shalat Idul Adha sampai beliau pulang.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

    1. Disunnahkan berjalan kaki menuju ke tempat Shalat Id/masjid. Hal ini berdasarkan hadis Ali ra yang artinya, “Termasuk sunnah adalah Anda keluar menuju tempat Shalat Id/masjid dengan berjalan kaki.” (HR at-Tirmidzi seraya menganggapnya sebagai hadis hasan).
    2. Disunnahkan mandi, memakai wangi-wangian dan mengenakan pakaian yang terbaik. Dalilnya adalah hadis dari Ibnu Abbas ra yang berkata, “Pada hari Id Rasulullah saw memakai burdah merah.”
    3. Disunnahkan mengajak para gadis dan wanita-wanita yang haidh agar menghadiri Shalat Id. Akan tetapi, untuk para wanita yang sedang haidh hendaknya menjauhi tempat Shalat. Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu ‘Athiyah ra yang berkata, “Kami diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita yang haidh pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu, juga do’a kaum muslimin. Hanya saja, supaya wanita-wanita yang haidh itu menjauhi tempat Shalat.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    ***

    Referensi:

    1. Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ni
    2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
    3. Tamamul Minnah fit Ta’liq Ala Fiqhis Sunnah, Muhammad Nashiruddin al-bani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 1 February 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatShalat Sunnah Dhuha

    arsip fiqih

    Salah satu di antara sekian banyak Shalat sunnah -setelah Shalat sunnah tahajjud/qiyamul lail- adalah Shalat dhuha. Ia merupakan Shalat sunnah yang sering dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah sendiri melakukannya sampai delapan raka’at. Mengenai keutamaannya, waktunya, hukumnya dan jumlah rakaatnya, akan diuraikan sebagai berrikut.

    Keutamaannya

    Dari Abu Dzarr ra, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah masing-masing di antara kalian setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badannya. Maka, setiap bacaan tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (laa Ilaha illallahu) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang keburukan adalah sedekah dan sebagai ganti dari semua itu, cukuplah mengerjakan dua rakaat Shalat dhuha.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud).

    Dari Abu Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dalam tubuh manusia itu terdapat tiga ratus enam puluh ruas tulang. Ia diharuskan bersedekah untuk tiap ruas itu.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang kuat melaksanakan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Menutup dahak di masjid dengan tanah atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah, atau sekiranya mampu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua rakaat Shalat dhuha.”

    Imam as-Syaukani berkata, “Dua hadis di atas menunjukkan betapa besar keutamaan Shalat Dhuha, betapa tinggi kedudukannya serta betapa kuatnya syariat dalam menganjurkannya. Dua rakat Shalat dhuha dapat menggantikan tiga ratus enam puluh kali sedekah. Oleh sebab itu, hendaknya dilangsungkan terus menerus. Selain itu, hadis tersebut memberikan petunjuk agar kita memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, menyuruh kebaikan, melarang keburukan, menutup dahak di masjid, menyingkirkan setiap gangguan di jalan dan lain-lain kebaikan. Dengan demikian, terpenuhilah sedekah-sedekah yang diharuskan kepada setiap orang pada tiap harinya.”

    Dari Abu Hurairah ra berkata, “Kekasihku Nabi saw berwasiat kepadaku dengan tiga hal, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua rakaat Shalat Dhuha dan melakukan witir sebelum tidur.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    Dari Anas ra berkata, “Saya melihat Rasulullah saw di waktu bepergian, melakukan Shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat. Setelah selesai beliau bersabda, ‘Saya tadi Shalat dengan penuh harapan dan diliputi kecemasan. Saya mohon kepada Tuhan tiga hal, lalu diberi dua dan ditolak satu. Saya mohon supaya umatku jangan diuji dengan paceklik dan ini dikabulkan, saya mohon pula agar umatku tidak dapat dikalahkan musuh-musuhnya dan ini pun dikabulkan, lalu saya mohon agar umatku jangan sampai berpecah-belah menjadi beberapa golongan dan ini ditolak-Nya’.” (HR Ahmad, an-Nasa’i, al-Hakim, dan Ibnu Khuzaimah dan menurut keduanya (yang terakhir) hadis tersebut sahih).

    Waktunya

    Permulaan waktu Shalat Dhuha adalah di waktu matahari sudah naik kira-kira sepenggalah, dan berakhir ketika matahari sudah zawal (bergeser ke arah barat). Akan tetapi, disunnahkan mengundurkan Shalat Dhuha sampai matahari agak tinggi dan panas agak terik. Hal ini berdasarkan hadis nabi saw di bawah ini:

    Dari zaid bin Arqam berkata, Nabi saw keluar menuju tempat ahli Quba’, ketika itu mereka sedang melakukan Shalat Dhuha, lalu beliau bersabda, “Shalat Awwabin (orang-orang yang kembali kepada Allah SWT) itu sewaktu anak-anak onta telah bangkit karena kepanasan waktu Dhuha.” (HR Ahmad, Muslim dan at-Tirmidzi).

    Hukumnya

    Shalat Dhuha itu adalah ibadah yang disunnahkan. Karena itu, barangsiapa menginginkan pahalanya sebaiknya ia melakukannya. Dan, barangsiapa tidak menginginkan pahalanya, tidak ada halangan bagi dia untuk meninggalkannya. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id, dia berkata:

    “Rasulullah saw melakukan Shalat Dhuha, sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Akan tetapi, kalau beliau sudah meninggalkannya, sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah melakukannya.” (HR at-Tirmidzi dan dia menganggapnya sebagai hadis hasan).

    Bahkan, Imam Ibnu al-Qayyim sempat menghimpun pendapat-pendapat ulama mengenai disyariatkannya Shalat Dhuha, dan pendapat-pendapat tersebut ada enam: pertama, sunnah (mustahabbah) yang dianjurkan. Kedua, tidak disyari’atkan kecuali karena ada sebab. Ketiga, tidak dianjurkan sama sekali. Keempat, dianjurkan melakukannya sewaktu-waktu dan meninggalkannya sewaktu-waktu serta tidak melanggengkannya. Kelima, dianjurkan melakukannya di rumah-rumah. Keenam, Shalat tersebut bid’ah. Namun, pendapat yang rajih (kuat) dari kesekian pendapat tersebut adalah bahwa Shalat Dhuha itu sunnah yang mustahabbah (dianjurkan) sebagaimana pendapat yang telah ditetapkan oleh Ibnu Daqiq al-‘Id.

    Jumlah Rakaatnya

    Sedikit-dikitnya adalah dua rakaat, sebagaimana tersebut dalam hadis Abu Dzarr, dan sebanyak-banyaknya yang dikerjakan oleh Rasulullah saw adalah delapan raka’at, sedang menurut yang disabdakannya adalah dua belas rakaat. Akan tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada batasan bilangan rakaat Shalat Dhuha. Ini adalah pendapat Abu Ja’far at-Thabari, Hulaimi dan Ruyani dari golongan mazhab Syafi’i. Dalam syarah at-Tirmidzi, al-‘Iraqi berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang pun, baik dari golongan sahabat maupun tabi’in yang membatasinya hanya sampai dua belas rakaat.” Demikian pula yang dikatakan as-Suyuthi, Sa’id bin Manshur sewaktu ditanya ‘Apakah sahabat Rasulullah saw juga mengerjakan Shalat itu?’, ia menjawab, ‘ya, di antara mereka ada yang mengerjakannya sebanyak dua belas rakaat, ada yang empat rakaat dan ada pula yang terus menerus mengerjakannya sampai tengah hari’.”

    Diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa ada seorang yang bertanya kepada Aswad bin Yazid, “Berapa rakaatkah saya harus mengerjakan Shalat Dhuha?” ia menjawab, “Sesuka hatimu.”

    Dari Ummu Hani’ berkata, “bahwa Nabi saw mengerjakan Shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat dan tiap dua rakaat bersalam.” (HR Abu Daud dengan sanad yang sahih).

    Dari Aisyah berkata, “Nabi saw mengerjakan Shalat Dhuha empat rakaat dan menambah beberapa sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT.”

    Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw masuk ke rumahku, lalu melakukan Shalat Dhuha delapan rakaat.” (HR Ibnu Hibban dalam sahihnya).

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, Muhammad bin Isma’il as-Shan’ani

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 31 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatShalat-Shalat Sunnah

    arsip fiqih

    Shalat-Shalat sunnah sangat banyak, yaitu Shalat sunnah rawatib (Shalat sunnah yang mengiringi Shalat fardhu), Shalat witir, Shalat dua hari raya, Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan, Shalat istisqa’, Shalat malam (tahajjud), Shalat dhuha, Shalat Tarawih dll.

    Dianjurkannya Shalat-Shalat sunnah tersebut tidak lain hanya semata-mata untuk menyempurnakan kekurangan yang ada pada Shalat fardhu yang telah dilakukan seorang muslim dan untuk meningkatkan pendekatan diri kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Tamim ad-Daari, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Yang pertama kali dihisab oleh Allah SWT dari seorang hamba adalah Shalatnya. Jika Shalatnya sempurna (benar dan baik), maka ditulislah pahala sempurna untuknya dan apabila dia tidak menyempurnakan Shalat tersebut (melakukannya dengan benar dan baik), maka Allah SWT berfirman kepada para malaikatnya: ‘Lihatlah, apakah kalian menemukan Shalat sunnah yang dilakukan hambaku untuk menyempurnakan Shalat fardhunya’?” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

    Kemudian, Shalat-Shalat sunnah tersebut dikategorikan menjadi dua bagian: mutlaq dan muqayyad. Untuk sunnah mutlaq, cukuplah seseorang berniat Shalat saja. Imam Nawawi berkata, “Seseorang yang melakukan Shalat sunnah dan tidak menyebutkan berapa raka’at yang akan dilakukannya dalam Shalatnya itu, bolehlah ia melakukan satu raka’at lalu bersalam dan boleh pula menambahnya menjadi dua, tiga, seratus, seribu raka’at dan seterusnya. Apabila seseorang Shalat sunnah dengan bilangan raka’at yang tidak diketahuinya, lalu bersalam, maka hal itu pun sah pula tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Demikianlah yang telah disepakati oleh golongan kami (madzhab syafi’i) dan dijelaskan pula oleh Imam Syafi’i dalam kitab ‘al-Imla’.

    Imam Baihaqi meriwayatkan dengan isnadnya bahwa Abu Dzarr ra melakukan Shalat dengan raka’at yang banyak, dan setelah salam ditegur oleh Ahnaf bin Qais ra seraya berkata, “Tahukah anda bilangan raka’at dalam Shalat tadi, apakah genap atau ganjil?” Ia menjawab: “Jikalau saya tidak mengetahui berapa jumlah raka’atnya, maka cukuplah Allah mengetahuinya. Sebab, saya pernah mendengar kekasihku Abu al-Qasim (Nabi Muhammad saw) bersabda, (sampai di sini Abu Dzarr menangis, kemudian dia melanjutkan pembicaraannya saya pernah mendengar kekasihku Abu al-Qasim bersabda) “Tiada seorang hamba pun yang bersujud kepada Allah satu kali, melainkan dia mesti diangkat oleh Allah sederajat dan satu dosanya dihapuskan oleh Allah berkat sujud itu.” (HR Darimi dalam musnadnya dengan sanad yang sahih, dan hanya ada seorang yang oleh para ahli hadis diperselisihkan mengenai ‘adalah-nya (yakni dia tidak fasik).

    Adapun Shalat-Shalat sunnah Muqayyad itu terbagi atas dua macam:

    1. yang disyariatkan sebagai Shalat-Shalat sunnah yang mengikuti Shalat fardhu (Shalat sunnah rawatib),
    2. yang disyariatkan bukan sebagai Shalat sunnah yang mengikuti Shalat-Shalat fardhu seperti Shalat dhuha, Shalat witir, Shalat malam (tahajjud), Shalat gerhana bulan dan matahari, Shalat istisqa’, dan lain-lain.

    Selanjutnya, di bawah ini akan dijelaskan uraiannya mengenai gambaran Shalat-Shalat sunnah tersebut.

    Shalat Malam (qiyamul lail/Shalat tahajjud)

    Keutamaan Shalat Malam

    Shalat malam adalah Shalat yang paling baik setelah Shalat fardhu. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw:

    Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik Shalat setelah Shalat fardhu adalah Shalat (di tengah) malam.” (HR Muslim).

    Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash ra berkata, Rasulullah saw berkata kepadaku, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan yang pernah melakukan Shalat malam kemudian meninggalkannya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

    Salman al-Farisi berkata, Rasulullah saw bersabda, “Kerjakanlah Shalat malam, sebab itu adalah kebiasaan orang-orang yang saleh sebelum kamu; jalan mendekatkan diri kepada Tuhan; penebus kejelekan-kejelekanmu; pencegah dosa serta penghalau penyakit dari tubuh.”

    Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan dari sebagian malam itu gunakanlah untuk bertahajjud sebagai Shalat sunnah bagimu, semoga Tuhanmu akan membangkitkanmu pada kedudukan yang terpuji.” (Al-Isra': 79).

    “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih ialah mereka yang berjalan di bumi dengan merendahkan diri dan apabila diganggu oleh pembicaraan orang-orang bodoh, mereka hanya menjawab dengan ucapan yang baik. Mereka itu semalam-malam beribadah kepada Tuhan, baik dengan sujud maupun dengan berdiri.” (Al-Furqan: 63-64).

    “Sesungguhnya yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami itu ialah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka segera tunduk sambil bersujud serta mensucikan dan memuji Tuhan, dan lagi tidak sombong. Mereka selalu merenggangkan ikat pinggangnya dari tempat tidur (tidak banyak tidur) karena berdo’a kepada Tuhan yang timbul karena rasa takut serta mengharap, juga suka bersedekah dari apa-apa yang Kami rizkikan kepada mereka. Maka tiada seorang pun yang mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka yakni berupa segala sesuatu yang menggembirakan pandangan. Itulah balasan amal perbuatan mereka.”

    (As-Sajdah: 16).

    Etika-Etika Melakukan Shalat Malam

    1. Di waktu akan tidur, hendaklah ia berniat hendak bangun untuk melakukan Shalat tahajjud (qiyamul lail).

    Dari Abu ad-Darda’ bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa akan tidur dan berniat hendak melakukan Shalat malam, kemudian terlanjur terus tertidur hingga pagi, maka dicatatlah niatnya itu sebagai satu pahala, sedang tidurnya itu dianggap sebagai karunia Tuhan yang diberikan padanya.” (HR an-Nasa’i dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih).

    2.Berusaha menghilangkan kantuk dari mukanya di saat bangun, kemudian bersugi lalu melihat ke langit sambil berdoa’a: “Alhamdulillahi alladzi ahyaana ba’dama amaatana wailahin nusyuur” (Segal puji bagi Allah yang telah menghidupkan saya kembali sesudah mematikan saya dan kepada-Nya pula tempat kembali).

    1. Sebaiknya Shalat malam itu dimulai dengan melakukan Shalat dua rakaat yang ringan (agak cepat), dan selanjutnya boleh melakukan Shalat sesuka hati. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw di bawah ini:

    Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw itu apabila bangun malam untuk melakukan Shalat, beliau memulainya dengan melakukan Shalat dua rakaat yang ringan (agak cepat).” (HR Muslim).

    Dan sesuai dengan hadis di bawah ini juga:

    “Apabila salah seorang di antara kalian bangun malam, maka hendaknya memulai Shalatnya dengan dua rakaat yang ringan (agak cepat).” (HR Muslim)

    1. Apabila dia telah bangun, hendaknya dia membangunkan istrinya.

    Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: “Mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat kepada seorang laki-laki yang bangun malam untuk Shalat lalu membangunkan pula istrinya, apabila istrinya itu menolak, hendaknya ia memercikkan air pada wajahnya. Dan mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada seorang istri yang bangun malam untuk melakukan Shalat, lalu dia membangunkan pula suaminya, dan apabila suaminya itu menolak, hendaknya dia memercikkan air pada wajahnya.” (HR Abu Daud dan yang lain dengan sanad yang sahih).

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Apabila seseorang itu membangunkan istrinya pada waktu malam, lalu keduanya Shalat dua rakaat, maka tercatatlah mereka dalam golongan orang-orang yang selalu berdzikir.” (HR Abu Daud dan yang lain dengan sanad yang sahih).

    1. Hendaklah melakukan Shalat dulu dan kembali tidur bila terasa mengantuk sampai hilang rasa kantuknya.

    Dari Aisyah ra, Nabi saw bersabda, “Apabila seseorang dari kalian bangun malam untuk Shalat, kemudian terasa berat membaca Alquran hingga tidak disadarinya apa yang sedang dibacanya itu, maka sebaiknya dia tidur lagi.” (HR Muslim).

    Pada suatu malam, Rasulullah saw masuk ke dalam masjid, tampak di situ ada tali yang terbentang di antara dua tiang, beliau lalu bertanya, “Apakah ini?” Orang-orang menjawab, “Itu kepunyaan Zainab, jikalau dia lelah atau mengantuk, maka ia tidur di situ.” Kemudian Nabi saw pun bersabda, “Lepaskanlah tali itu! seseorang itu hendaknya Shalat selagi dia segar, dan jikalau dia telah lelah atau mengantuk, sebaiknya dia tidur.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    1. Hendaknya jangan memberatkan diri. Jadi, hendaknya Shalat malam itu dilakukan dengan tekun dan jangan sampai meninggalkannya, kecuali dalam keadaan terpaksa.

    Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Kerjakanlah semua amal itu sekedar kekuatanmu. Demi Allah, Allah itu tidak akan jemu memberikan pahala sampai engkau sekalian jemu beramal.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    Diriwayatkan pula dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw pernah ditanya: “Amal perbuatan manakah yang disukai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Yang konstan (terus-menerus) sekalipun sedikit.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

    Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra, “Amalan Rasulullah saw itu terus-menerus, yakni jikalau beliau mengerjakan sesuatu lalu ditetapi.”

    Waktu Shalat Malam

    Shalat malam itu dapat dikerjakan di permulaan, di pertengahan atau di penghabisan malam, asalkan sesudah melaksanakan Shalat isya’.

    Dalam menguraikan gambaran Shalat Rasulullah saw Anas ra berkata, “Kapan saja kami ingin melihat Nabi saw berShalat malam, di saat itu pasti kami dapat melihatnya. Dan kapan saja kami ingin melihat tidur Rasululah saw, di saat itu pula kami dapat melihatnya. Apabila beliau berpuasa, terus dilakukannya sampai-sampai kami akan mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka. Akan tetapi, jikalau beliau sudah berbuka, sampai-sampai kita akan berkata bahwa beliau tidak pernah berpuasa.” (HR Ahmad, al-Bukhari dan an-Nasa’i).

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Tahajjud Rasulullah saw tidak ada ketentuan waktunya, hanyalah semata-mata di mana ada kelapangan.”

    Waktu Shalat Malam yang Paling Baik

    Sebaik-baik waktu untuk Shalat malam itu adalah sepertiga malam yang terakhir. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis berikut ini:

    1. Dari Abu Hurairah ra bahwa rasulullah saw bersabda, “Tuhan kita Azza wa Jalla turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Pada saat itu Allah SWT berfirman ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, pasti Aku kabulkan, siapa yang memohon kepada-Ku pasti Aku berikan (permohonannya) dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni.” (HR al-Jama’ah).
    2. Dari ‘Amr bin al-‘Ash berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sedekat-dekat hamba kepada Allah SWT adalah pada tengah malam yang terakhir. Apabila engkau bisa termasuk golongan orang-orang yang berdzikir kepada Allah pada sa’at itu, maka lakukanlah.” (HR al-Hakim seraya berkata, hadis ini sesuai dengan syarat hadis Muslim, an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah).
    3. Abu Muslim berkata kepada Abu Dzarr, “Pada saat manakah Shalat malam itu lebih utama?” Abu Dzarr menjawab, “Saya pernah menanyakan demikian kepada Rasulullah saw, maka jawabnya, ‘Pada tengah malam yang terakhir, tetapi sedikit sekali orang yang suka melakukannya’.” (HR Ahmad dengan sanad yang baik).
    4. Dari Abdullah bin ‘Amr ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah ialah puasa Nabi Daud dan Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud as. Beliau itu tidur pada tengah malam, Shalat malam pada sepertiganya lalu tidur lagi pada seperenamnya, sedang beliau itu berpuasa sehari dan berbuka sehari pula.” (HR al-Jama’ah selain at-Tirmidzi).

    ***

    Referensi:

    1. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
    2. Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 30 January 2015 Permalink | Balas  

    berdoa-2Bacaan Zikir Setelah Shalat

    arsip fiqih

    Seseorang dituntut agar melaksanakan Shalat seperti Shalatnya Nabi sesuai dengan sabdanya, “Sholluu Kamaa Roatumuuni Usholli” (Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sedang Shalat). Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan zikir jika telah selesai Shalat, maka kita juga mengerjakannya, meskipun tidak mampu selengkap beliau.

    Zikir-zikir yang di baca Nabi saw setiap selesai Shalat banyak sekali, baik yang diriwayatkan dengan sanad yang dhaif/lemah ataupun yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih (kuat). Adapun zikir-zikir yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih itu di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Membaca ‘Istighfar’ (Astaghfirullah/Aku mohon ampunan kepada Allah 3 kali dan membaca, ‘Allahumma antas salaam waminkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroomi’ (Ya Allah Engkaulah Dzat Yang Selamat dari kekurangan dan cacat dan dari Engkaulah keselamatan itu, Maha Suci Engkau wahai Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Sempurna).

    Hal itu sesuai dengan hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Tsauban ra, dia berkata, “Rasulullah saw apabila selesai Shalat membaca Istighfar 3 kali dan membaca, ‘Allahumma antas salaam waminkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroomi’.” (Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Selamat dari kekurangan dan cacat dan dari Engkaulah keselamatan itu, Maha Suci Engkau wahai Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Sempurna).

    1. Membaca zikir ini: “Laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodiir” (Tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa Allah, Tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) dan membaca, “Allahumma laa maani’a limaa ‘a’thaita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.”

    Hal itu sesuai dengan hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah ra, bahwasanya Nabi saw membaca zikir setiap selesai Shalat fardhu, “Laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli sya’in qodiir” (Tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa Allah, Tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) “Allahumma laa maani’a limaa ‘a’thaita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu’ (Ya Allah tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kekayaan orang yang kaya itu tidak akan bisa menyelamatkan dia dari siksa-Mu)” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    1. Membaca Tasbih 33 kali, Tahmid 33 kali dan Takbir 33 kali, lalu pada hitungan keseratus membaca, “Laa ilaha illallohu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qadiir.”

    Hal itu sesuai dengan hadis dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca tasbih (Subhaanallahi) 33 kali, tahmid (Alhamdulillahi) 33 kali dan takbir (Allahu Akbar 33 kali) setiap selesai Shalat, hitungan tersebut berjumlah 99, dan dia membaca pada hitugan keseratus ‘Laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli sya’in qodiir’ (Tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa Allah, Tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka diampunilah segala dosa-dosanya, sekalipun sebanyak buih air laut.” (HR Muslim, dan pada riwayat yang lain, takbir tersebut sebanyak 34 kali)

    1. Membaca zikir/do’a seperti yang diriwayatkan Sa’d bin Abi Waqqash untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kekikiran, sifat penakut, umur yang hina/pikun, fitnah dunia dan fitnah kubur.

    Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra, bahwa Rasulullah saw memohon perlindungan kepada Allah setiap kali selesai Shalat dengan bacaan “Allahumma inni a’udzu bika minal bukhli (Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekikiran) wa a’udzu bika minal jubni (dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari sifat penakut) wa a’udzu bika min an urodda ilaa ardzalil umri (dan aku memohon perlindungan kepada-Mu agar tidak dikembalikan kepada umur yang hina/pikun) wa a’udzu bika min fitnatid dunya (dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari fitnah yang ada di dunia ini) wa a’udzu bika min adzaabil qobri (dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur).” (HR al-Bukhari).

    1. Membaca zikir/doa, “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika’.

    Hal ini sesuai dengan hadis Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah saw berkata kepadanya, “Aku berwasiat kepadamu wahai Muadz, janganlah Engkau benar-benar meninggalkan setiap kali selesai Shalat membaca, ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika’ (Ya Allah anugerahkanlah pertolongan kepadaku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik kepada-Mu).” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa’i dengan sanad yang kuat).

    1. Membaca ayat Kursi, yaitu surah Al-Baqarah ayat 255, “Allahu laa Ilaaha Illa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhu sinatuw walaa nauum, lahuu maa fis samaawaati wamaa fil ardhi, mandzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illa bi idznihi, ya’lamu maa baiina aidiihim wamaa kholfahum, walaa yuhiithuuna bisyain min ‘ilmihi illa bimaa syaa’a, wasi’a kursiyyuhus samaawati wal ardho wa laa yauduhu hifdzuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adziim’ (Allah, tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] melainkan Dia, Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus [makhluk-Nya], tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar).

    Hal itu sesuai dengan hadis dari Umamah ra, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi setiap kali selesai Shalat, maka tidak akan menghalangi dia masuk surga kecuali dia tidak mati (maksudnya, dia pasti masuk surga).” (HR an-Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, at-Thabarani menambahkannya ‘qulhuwallahu ahad’ (yakni dan membaca surah Al-Ikhlash) ).

    ***

    Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Isma’il ash-Shan’ani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 29 January 2015 Permalink | Balas  

    sujud1Sujud Sahwi

    Arsip Fiqh

    Sujud sahwi ialah sujud yang dilakukan orang yang shalat sebanyak dua kali untuk menutup kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat yang disebabkan lupa.

    Sebab-sebab sujud sahwi ada tiga: karena kelebihan, karena kekurangan, dan karena keragu-raguan.

    Sujud Sahwi karena Kelebihan

    Barangsiapa lupa dalam shalatnya kemudian menambah ruku’, atau sujud, maka dia harus sujud dua kali sesudah menyelesaikan shalatnya dan salamnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

    “Dari Ibnu Mas’ud radhiallaahu anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat Dhuhur lima rakaat, kemudian beliau ditanya, ‘Apakah shalat Dhuhur ditambah rakaatnya?’ Beliau balik bertanya, ‘Apa itu?’ Para sahabat menjelaskan, ‘Anda shalat lima rakaat’. Kemudian beliau pun sujud dua kali setelah salam. Dalam riwayat lain disebutkan, beliau melipat kedua kakinya dan menghadap kiblat kemudian sujud dua kali, kemudian salam.” (Muttafaq ‘alaih)

    Salam sebelum shalat selesai berarti termasuk kelebihan dalam shalat, sebab ia telah menambah salam di pertengahan pelaksanaan shalat. Barangsiapa mengalami hal itu dalam keadaan lupa, lalu dia ingat beberapa saat setelahnya, maka dia harus menyempurnakan shalatnya kemudian salam, setelah itu dia sujud sahwi, kemudian salam lagi. Dalilnya adalah hadis Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu berikut.

    “Dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat Duhur atau Asar bersama para sahabat. Beliau salam setelah shalat dua rakaat, kemudian orang-orang yang bergegas keluar dari pintu masjid berkata, ‘Shalat telah diqashar (dikurangi)?’ Nabi pun berdiri untuk bersandar pada sebuah kayu, sepertinya beliau marah. Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan bertanya kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa atau memang shalat telah diqashar?’ Nabi berkata, ‘Aku tidak lupa dan shalat pun tidak diqashar.’ Laki-laki itu kembali berkata, ‘Kalau begitu Anda memang lupa wahai Rasulullah.’ Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, ‘Benarkah apa yang dikatakannya?’ Mereka pun mengatakan, ‘Benar.’ Maka majulah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, selanjutnya beliau shalat untuk melengkapi kekurangan tadi, kemudian salam, lalu sujud dua kali, dan salam lagi.” (Muttafaq ‘alaih)

    Sujud Sahwi karena Kekurangan

    Barangsiapa lupa dalam shalatnya, kemudian ia meninggalkan salah satu sunnah muakkadah (yaitu yang termasuk katagori hal-hal wajib dalam shalat), maka ia harus sujud sahwi sebelum salam, seperti misalnya kelupaan melakukan tasyahud awal dan dia tidak ingat sama sekali, atau dia ingat setelah berdiri tegak dengan sempurna, maka dia tidak perlu duduk kembali, cukup baginya sujud sahwi sebelum salam. Dalilnya ialah hadis berikut.

    “Dari Abdullah bin Buhainah radhiallaahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat Duhur bersama mereka, beliau langsung berdiri setelah dua rakaat pertama dan tidak duduk. Para jamaah pun tetap mengikuti beliau sampai beliau selesai menyempurnakan shalat, orang-orang pun menunggu salam beliau, akan tetapi beliau malah bertakbir padahal beliau dalam keadaan duduk (tasyahhud akhir), kemudian beliau sujud dua kali sebelum salam, lalu salam.” (Muttafaq ‘alaih)

    Sujud Sahwi karena Keragu-raguan

    Yaitu ragu-ragu antara dua hal (tidak pasti yang mana yang terjadi). Keragu-raguan terdapat dalam dua hal, yaitu antara kelebihan atau kekurangan. Umpamanya, seseorang ragu apakah dia sudah shalat tiga rakaat atau empat rakaat.

    Keraguan ini ada dua macam:

    1. Seseorang lebih cenderung kepada satu hal, baik kelebihan atau kurang, maka dia harus menurutkan mengambil sikap kepada yang lebih ia yakini, kemudian dia melakukan sujud sahwi setelah salam. Dalilnya hadis berikut.

    “Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kamu ada yang ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah lebih memilih kepada yang paling mendekati kebenaran, kemudian menyempurnakan shalatnya, lalu melakukan salam, selanjutnya sujud dua kali.” (Muttafaq ‘alaih)

    1. Ragu-ragu antara dua hal, dan tidak condong pada salah satunya, tidak kepada kelebihan dalam pelaksanaan shalat dan tidak pula pada kekurangan. Maka, dia harus mengambil sikap kepada hal yang sudah pasti akan kebenarannya, yaitu jumlah rakaat yang lebih sedikit. Kemudian menutupi kekurangan tersebut, lalu sujud dua kali sebelum salam, ini berdasarkan hadits berikut.

    “Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, dia tidak tahu berapa rakaat yang sudah ia lakukan, tigakah atau empat, maka hendaknya ia meninggalkan keraguan itu dan mengambil apa yang ia yakini, kemudian ia sujud dua kali sebelum salam. Jika ia telah shalat lima rakaat, maka hal itu menggenapkan pelaksanaan shalatnya, dan jika ia shalat sempurna empat rakaat, maka hal itu merupakan penghinaan (pengecewaan) terhadap setan.” (HR Muslim)

    Ringkasnya, bahwa sujud sahwi itu adakalanya sebelum salam dan adakalanya sesudah salam. Adapun sujud sahwi yang dilakukan setelah salam ialah pada dua kondisi:

    1. Apabila karena kelebihan (dalam pelaksanaan shalat).
    2. Apabila karena ragu antara dua kemungkinan, tapi ada kecondongan pada salah satunya.

    Adapun sujud sahwi yang dilakukan sebelum salam, juga pada dua kondisi:

    1. Apabila dikarenakan kurang (dalam pelaksanaan shalat).
    2. Apabila dikarenakan ragu antara dua kemungkinan dan tidak merasa lebih berat kepada salah satunya.

    Hal-Hal Penting Berkenaan dengan Sujud Sahwi

     

    1. Apabila seseorang meninggalkan salah satu rukun shalat, dan yang tertinggal itu adalah takbiratul ihram, maka shalatnya tidak terhitung, baik hal itu terjadi secara sengaja ataupun karena lupa, karena shalatnya tidak sah.
    2. Jika yang tertinggal itu selain takbiratul ihram, dan ditinggalkan secara sengaja, maka batallah shalatnya.
    3. Jika tertinggal secara tidak sengaja, dan dia sudah berada pada rukun yang ketinggalan tersebut pada rakaat kedua, maka rakaat yang ketinggalan rukunnya dianggap tidak ada, dan dia ganti dengan rakaat yang berikutnya. Dan, jika ia belum sampai pada rakaat kedua, maka ia wajib kembali kepada rukun yang ketinggalan tersebut, kemudian dia kerjakan rukun itu, begitu pula apa-apa yang setelah itu. Pada kedua hal ini, wajib dia melakukan sujud sahwi setelah salam atau sebelumnya.
    4. Apabila sujud sahwi dilakukan setelah salam, maka harus pula melakukan salam sekali lagi.
    5. Apabila seseorang yang melakukan shalat meninggalkan sunnah muakkadah (hal-hal yang wajib dalam shalat) secara sengaja, maka batallah shalatnya. Jika ketinggalan karena lupa, kemudian dia ingat sebelum beranjak dari sunnah muakkadah tersebut, maka hendaklah dia melaksanakannya dan tidak ada konsekuensi apa-apa. Jika ia ingat setelah melewatinya tetapi belum sampai kepada rukun berikutnya, hendaklah dia kembali untuk melaksanakan rukun tersebut. Kemudian, dia sempurnakan shalatnya serta melakukan salam. Selanjutnya, sujud sahwi kemudian salam lagi. Jika ia ingat setelah sampai kepada rukun yang berikutnya, maka sunnah muakkadah itu gugur dan dia tidak perlu kembali kepadanya untuk melakukannya, akan tetapi terus melaksanakan shalatnya kemudian sujud sahwi sebelum salam seperti kami sebutkan di atas pada masalah tasyahud awal.

    ***

    Sumber: Tuntunan Shalat Menurut Alquran & As-Sunnah, Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 28 January 2015 Permalink | Balas  

    gerakan-shalatKhusyu’ Dalam Sholat 2

    Hadis-Hadis yang Menganjurkan Seseorang agar Berlaku Khusyu’ dalam Shalatnya (Bagian II)

    Arsip Fiqh

    1. Seseorang yang sedang Shalat hendaknya tidak meludah. Jika terpaksa meludah, maka jangan meludah di depannya atau di samping kanannya, akan tetapi hendaknya meludah di samping kirinya. Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Anas ra di bawah ini.

    Dari Anas ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berada dalam Shalat, maka sesungguhnya dia sedang bermunajat (berkonsultasi) dengan Tuhannya. Oleh karena itu, janganlah dia benar-benar meludah di depannya atau di samping kanannya. Akan tetapi, (hendaknya meludah) di samping kirinya di bawah kakinya.” (HR Bukhari).

    Berdasarkan hadis tersebut dapat dipahami bahwa meludah ke arah kiblat (di depan orang yang Shalat) dan ke samping kanan pada waktu Shalat itu dilarang. Namun, ada beberapa hadis yang menegaskan bahwa larangan tersebut bukan hanya pada waktu Shalat. Akan tetapi, larangan tersebut mutlak, baik pada waktu Shalat maupun di luar waktu Shalat. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id ra, bahwa Rasulullah saw melihat dahak yang lengket di dinding masjid, lalu Rasulullah saw mengambil kerikil kemudian menggosok-gosoknya seraya bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berdahak, maka janganlah berdahak di depan wajahnya atau di samping kanannya, akan tetapi, berdahaklah di samping kirinya atau di bawah kakinya yang kiri.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Bahkan, tegas Imam an-Nawawi, larangan tersebut bukan hanya di dalam Shalat, tetapi juga di luar Shalat dan bukan hanya di dalam masjid, tapi juga di luar masjid. Pendapat Imam an-Nawawi ini di dukung oleh berbagai hadis, di antaranya:

    Dari Hudzaifah ra, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa meludah di arah Qiblat, maka dia datang pada hari kiamat sedangkan ludahnya berada di antara kedua matanya.” (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

    Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda, “Orang yang berdahak (meludah di arah Qiblat) akan dibangkitkan oleh Allah SWT pada hari kiamat sedangkan dahak (ludah)nya berada pada wajahnya.” (HR Ibnu Khuzaimah).

    Dari as-Saaib bin Khallad, seseorang Shalat menjadi imam bagi sekelompok orang (kaum) lalu dia meludah ke arah kiblat, manakala dia selesai melakukan Shalat Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah (pantas) dia Shalat (menjadi imam) bagi kamu.” (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban).

    Hikmah Dilarangnya Meludah ke Arah Qiblat dan di Sebelah Kanan

    Setiap perintah dan larangan yang diperintahkan dan dilarang oleh Syara’ untuk kita, hampir bisa dipastikan bahwa di balik perintah atau larangan itu terdapat hikmah yang terkandung. Hikmah-hikmah tersebut ada yang bisa dilihat, dirasio, dan ada yang bisa dirasakan langsung oleh manusia. Tetapi, ada juga yang tidak bisa dirasio, tidak bisa dilihat, apalagi dirasakan manusia sekarang ini. Karena, ia termasuk bagian dari hikmah yang tidak bisa dirasio (Ghairu Ma’qulatil Ma’na). Hikmah-hikmah yang semacam ini biasanya terdapat pada masalah Ibadah Mahdhah. Adapun hikmah-hikmah yang bisa dirasio dan dilihat (Ma’qulatil Ma’na), maka biasanya hal ini terdapat pada masalah Mu’amalat (ibadah ghairu mahdhah).

    Masalah meludah ke arah kiblat dan di sebelah kanan, termasuk masalah Ibadah. Karenanya, tidak bisa ditebak begitu saja mengenai hikmah yang terkandung di dalamnya. Meski demikian, para ulama tetap mencoba berusaha mencari hikmah dengan berdalih beberapa atsar sahabat yang sampai kepada mereka. Di antara atsar-atsar tersebut adalah sebagai berikut:

    Atsar yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Hudzaifah, “…dan tidak pula meludah di samping kanannya, karena, malaikat pencatat amal kebaikan berada di samping kanannya.”

    Atsar yang dikeluarkan oleh at-Thabarani dari Umamah, “Karena dia berdiri di hadapan Allah, sedangkan malaikat berada di samping kanannya dan qarinnya (syetan) berada disamping kirinya.”

    Jadi, apabila atsar-atsar tersebut tsabit (betul-betul disampaikan oleh para sahabat tersebut), maka meludah ke arah sebelah kiri akan mengenai syetan. Sedangkan malaikat yang berada di samping kirinya tidak akan terkena ludah tersebut atau dia pindah ke sebelah kanan pada waktu seseorang sedang Shalat. Wallahu a’lam.

    1. Hendaknya menjauhkan hal-hal yang bisa mengganggu Shalatnya, seperti kain-kain yang bergambar, suara-suara radio atau TV yang bisa mengaburkan konsentrasinya. Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Anas ra.

    Dari Anas ra berkata, Aisyah ra mempunyai kain satir (penghalang) tipis yang digunakan menutup sebelah rumahnya, lalu Nabi saw bersabda kepadanya, “Jauhkan kain satirmu ini dari aku, karena gambar-gambarnya selalu menghalang-halangiku dalam Shalatku.” (HR Bukhari).

    1. Hendaknya tidak melihat ke atas ketika Shalat.

    Dari Jabir bin Samurah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sungguh akan habis (binasa) orang-orang yang melihat ke atas ketika Shalat atau penglihatan-penglihatan mereka tidak akan kembali kepada mereka.” (HR Muslim).

    Menurut Imam an-Nawawi dalam ‘Syarah Muslim’ bahwa hadis tersebut mengandung larangan keras dan ancaman keras bagi orang yang melihat ke atas ketika Shalat dan larangan tersebut menunjukkan haram. Bahkan, Imam Ibnu Hazm mengatakan, batal Shalatnya orang yang melakukan hal itu.

    1. Menjauhkan makanan dari tempat Shalat dan tidak sedang menahan buang air kecil dan buang air besar.

    Dari Aisyah ra berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada Shalat (itu sempurna) jika dilakukan di hadapan makanan dan tidak pula sempurna jika dilakukan ketika sedang menahan buang air besar dan air kecil.” (HR Muslim)

    Namun, apabila dia khawatir akan lewatnya waktu Shalat jika harus mendahulukan buang air besar atau buang air kecil atas melakukan Shalat, maka dia harus mendahulukan Shalat, dan Shalatnya tetap sah, tetapi makruh. Wallahu a’lamu.

    1. Hindarilah menguap dalam Shalat. Jika terpaksa melakukanya, maka tahanlah sedemikian rupa dengan menutupkan telapak tangan ke dalam mulut.

    Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Menguap itu termasuk perbuatan syetan, apabila salah seorang di antara kalian melakukannya, hendaknya dia menahannya sedemikian rupa sesuai dengan kemampuan.” (HR Muslim dan Tirmidzi seraya menambahkan: ‘pada waktu Shalat’)

    “Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya dia meletakkan tangannya pada mulutnya, karena syetan akan masuk bersamaan dengan menguap.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan yang lain).

    Menguap dikatakan termasuk perbuatan syetan, karena dia keluar akibat kekenyangan atau kemalasan, dan kedua perbuatan ini termasuk hal-hal yang disukai syetan. Wallahu a’lam.

    Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 27 January 2015 Permalink | Balas  

    shalat orang sakitTata Cara Shalat Orang Sakit

    Arsip Fiqh

    Cara-cara Shalat bagi orang yang sakit secara garis besar adalah sebagai berikut.

    Orang yang sakit wajib melaksanakan Shalat fardhu dengan berdiri, sekalipun bersandar ke dinding atau ke tiang atau dengan tongkat.

    Jika tidak sanggup Shalat berdiri, hendaklah ia Shalat dengan duduk. Lalu, pada waktu berdiri dan ruku’ sebaiknya duduk bersila, sedangkan pada waktu sujud, sebaiknya dia duduk iftirasy (seperti duduk ketika tasyahhud awal).

    Jika tidak sanggup Shalat sambil duduk, boleh Shalat sambil berbaring, bertumpu pada sisi badan menghadap kiblat. Dan bertumpu pada sisi kanan lebih utama daripada sisi kiri. Jika tidak memungkinkan untuk menghadap kiblat, boleh menghadap ke mana saja dan tidak perlu mengulangi Shalatnya.

    Jika tidak sanggup Shalat berbaring, boleh Shalat sambil terlentang dengan menghadapkan kedua kaki ke kiblat. Dan, yang lebih utama yaitu dengan mengangkat kepala untuk menghadap kiblat. Jika tidak bisa menghadapkan kedua kakinya ke kiblat, dibolehkan Shalat menghadap ke mana saja.

    Orang sakit wajib melaksanakan ruku’ dan sujud, jika tidak sanggup, cukup dengan membungkukkan badan pada ruku’ dan sujud, dan ketika sujud hendaknya lebih rendah dari ruku’. Dan jika sanggup ruku’ saja dan tidak sanggup sujud, dia boleh ruku’ saja dan menundukkan kepala saat sujud. Demikian pula sebaliknya, jika dia sanggup sujud saja dan tidak sanggup ruku’, dia boleh sujud saja dan ketika ruku’ dia menundukkan kepala.

    Isyarat dengan mata (memejamkan mata) ketika ruku’ dan dengan memejamkan lebih kuat ketika sujud. Adapun isyarat dengan telunjuk, seperti yang dilakukan beberapa orang sakit, itu tidak betul dan penulis tidak pernah tahu dalil-dalilnya, baik dalil dari Alquran maupun as-sunnah, dan tidak pula dari perkataan para ulama.

    Jika tidak sanggup juga Shalat dengan menggerakkan kepala dan isyarat mata, hendaklah ia Shalat dengan hatinya, dia berniat ruku’, sujud dan berdiri serta duduk. Masing-masing orang akan diganjar sesuai dengan niatnya.

    Orang yang sakit wajib melaksanakan semua kewajiban Shalat tepat pada waktunya menurut kemampuannya. Jika termasuk orang yang kesulitan berwudhu, dia boleh menjamak Shalatnya seperti layaknya seorang musafir.

    Jika dia sulit untuk Shalat pada waktunya, boleh menjamak antara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya, baik jamak taqdim maupun jamak takhir, sesuai dengan kemampuannya. Kalau dia mau, dia boleh memajukan Shalat Asharnya digabung dengan Dhuhur, atau mengakhirkan Dhuhurnya digabung dengan Ashar di waktu Ashar. Jika mau, boleh juga dia memajukan Shalat Isya untuk digabung dengan Shalat Maghrib di waktu Maghrib atau sebaliknya. Adapun Shalat Subuh, maka tidak boleh dijamak dengan Shalat yang sebelumnya atau sesudahnya karena waktunya terpisah dari waktu Shalat sebelumnya dan Shalat sesudahnya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan dirikanlah Shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam, dan (dirikanlah pula) Shalat Subuh. Sesungguhnya Shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al-Isra': 78)

    Sumber: Diadaptasi dari Tuntunan Shalat Menurut Alquran dan Hadis, Syekh Abdurrahman Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:23 am on 26 January 2015 Permalink | Balas  

    sholat 1Khusyu’ Dalam Sholat 1

    Arsip Fiqh

    Secara Lughah (Etimologi), khusyu’ berarti rendah diri atau mendekati rendah diri. Menurut pengertian ini, khusyu’ itu terdapat pada suara, penglihatan, ketenangan dan kerendah-dirian. Sedangkan pengertian khusyu’ menurut syara’ (terminologi) adalah rendah diri. Rendah diri ini kadang-kadang berada dalam hati dan kadang-kadang berasal dari anggota tubuh seperti diam.

    Adapun dalil yang menguatkan bahwa khusyu’ itu pekerjaan hati adalah hadis Ali ra, “Khusyu’ itu berada dalam hati” (HR. al-Hakim), hadis: “Sekiranya sanubari hati orang ini khusyu, niscaya anggota tubuhnya menjadi khusyu”, dan hadis do’a mohon perlindungan: “….dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari sanubari hati yang tidak khusyu.”

    Apakah khusyu’ dalam Shalat itu wajib?

    Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat. Menurut al-Ghozali khusyu’ itu wajib. Beliau menguraikan argumentasinya secara panjang lebar -untuk menguatkan pendapatnya- dalam kitab ‘Ihyaa’ Ulumuddin’. Akan tetapi, menurut Jumhur Ulama’, khusyu’ itu tidak wajib. Bahkan, Imam an-Nawawi mengklaim adanya Ijma’ yang tidak mewajibkan khusyu’.

    Hadis-Hadis yang Menganjurkan Seseorang agar Berlaku Khusyu’ dalam Shalatnya.

    1. Dari Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah saw melarang seseorang meletakkan tangannya pada lambungnya” (HR. al-Bukhari dan Muslim, sedangkan redaksi (lafal) hadis berasal dari Imam Muslim (wallafdzu li Muslimin).

    Maksud dari larangan hadis tersebut adalah hendaknya seseorang tidak meletakkan tangan, baik yang kiri maupun yang kanan, pada lambungnya ketika dia sedang melakukan Shalat, sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani terhadap hadis tersebut.

    Kemudian, apa hikmah dari larangan itu? Maka dalam hal ini Rasulullah saw menjelaskannya dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah ra, “Bahwa hal itu adalah pekerjaan orang Yahudi dalam Shalat mereka” (HR. al-Bukhari). Sebab, umat Islam itu dilarang keras untuk menyerupai orang-orang Yahudi dalam semua gerak-gerik mereka.

    1. Dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila hidangan makan malam telah disiapkan, maka mulailah menyantap makanan itu sebelum anda Shalat Maghrib” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hadis tersebut menurut Jumhur Ulama’ menunjukkan sunnahnya mendahulukan makan malam atas Shalat. Karena, hal itu akan bisa mengarahkan seseorang berkonsentrasi dalam Shalatnya. Bahkan, menurut ulama yang lain, agar sanubari hati itu tidak tergoda dengan makanan yang sudah tersediakan tersebut.

    Di samping itu, ada beberapa atsar sahabat yang menjelaskan tentang ta’lil (sebab-musabab) dilarangnya mendahulukan Shalat ketika makanan sudah dihidangkan. Di antaranya adalah atsar yang dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, “Bahwa keduanya pernah sedang makan, sementara didapur api (kompor)nya masih terdapat daging yang sedang dibakar, lalu sahabat yang melakukan adzan tersebut ingin melakukan iqamah untuk Shalat, tiba-tiba Ibnu Abbas berkata kepadanya: ‘Jangan terburu-buru’, kita tidak melakukan Shalat selama dalam hati kita masih ingat sesuatu (makanan).” Dalam riwayat yang lain disebutkan: “Supaya (makanan itu) tidak memalingkan perhatian kita dalam Shalat.” Disebutkan pula dari Hasan bin Ali ra bahwa dia berkata, “Makan malam sebelum Shalat itu bisa menghilangkan (meredam) jiwa yang suka mencela (an-Nafs al-Lawwaamah).” (HR. Ibnu Abu Syaibah)

    Jika waktu Shalat tinggal sedikit, apakah disunnahkan pula mendahulukan makan atas Shalat?

    Kesunnahan seperti itu dilakukan apabila waktu Shalat masing panjang. Namun, jika waktu Shalat tinggal sedikit, maka menurut Jumhur Ulama’, dia mendahulukan Shalat atas makan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga waktu Shalat agar tidak lewat.

    Kandungan Hadist

    Dari hadis no. 2 di atas, bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut:

    • Hadirnya makanan seperti itu bisa menjadi uzur untuk meninggalkan Shalat jama’ah. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa apabila hidangan makan malamnya telah disiapkan dan dia mendengar bacaan Imam dalam Shalat, maka dia tidak berdiri (untuk melakukan Shalat) sampai dia selesai makan.
    • Hal-hal selain makanan bisa dianalogikan (diqiyaskan) dengan makanan selama mempunyai ilat (sebab) yang sama yaitu apabila dia mengakhirkan melakukan sesuatu itu, hatinya menjadi terganggu ketika Shalat. Maka, sebaiknya melakukan sesuatu itu sebelum Shalat.

    Dan di sini yang perlu diperhatikan betul adalah bahwa sesuatu itu telah diperbolehkan secara tegas bahkan dianjurkan oleh Syara’ (Allah dan Rasul-Nya). Akan tetapi, apabila sesuatu itu tidak dianjurkan oleh Syara’, maka mendahulukan Shalat lebih baik daripada melakukan atau melanjutkan sesuatu itu. Contohnya adalah menonton sinetron, berbincang-bincang dengan kawan atau kerabatnya. Karena itu, mendahulukan Shalat lebih baik daripada menonton sinetron atau mengobrol lebih dahulu dengan kawan atau kerabatnya, baik waktu Shalat tinggal sedikit atau masih panjang.

    1. Dari Aisyah ra berkata, “saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang menoleh dalam Shalat?” Kemudian Rasul saw menjawab: “Menoleh itu adalah suatu keteledoran seseorang akibat ulah syetan dalam Shalat seorang hamba” (HR. al-Bukhari)

    Menurut riwayat at-Tirmidzi dan menshahihkannya: “Janganlah anda menoleh dalam Shalat, karena itu adalah kebinasaan (dalam agama). Apabila anda harus melakukannya, maka lakukanlah dalam Shalat sunnah”

    Seseorang yang sedang melakukan Shalat, dimakruhkan menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena pada dasarnya, dia sedang menghadap Tuhannya. Sementara itu, syetan selalu mengintip dan mencari-cari kelengahan orang itu. Jika seseorang dalam Shalatnya menoleh ke kiri dan ke kanan, berarti dia telah masuk perangkap syetan.

    Menurut Jumhur Ulama’, menoleh itu dimakruhkan, karena bisa mengurangi khusyu’ Shalat. Namun, apabila menolehnya itu sampai memalingkan dadanya atau seluruh lehernya dari kiblat, maka hal itu bukan lagi makruh, melainkan bisa membatalkan Shalat. Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Dzar, “Allah SWT selalu menghadap kepada seorang hamba dalam Shalatnya, selama dia tidak menoleh, apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun ‘pergi’ .” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

    ***

    Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

    Al-Islam — Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:22 am on 25 January 2015 Permalink | Balas  

    Shalat Jum’at

    Arsip Fiqh

    Berikut ini adalah kajian singkat tentang shalat Jumat.

    Hukum Shalat Jum’at

    Shalat Jum’at hukumnya wajib bagi kaum lelaki yang telah memenuhi syarat, yaitu sebanyak dua rakaat. Adapun dalil tentangnya adalah sebagai berikut.

    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumuah: 9)

    “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR Muslim)

    “Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) shalat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jum’at.” (HR Muslim)

    “Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR Abu Daud dan al-Hakim, hadis sahih)

    Para ulama telah sepakat bahwa shalat Jum’at itu wajib hukumnya.

    Keutamaan Hari Jum’at

    Hari Jum’at adalah hari yang penuh keberkahan, mempunyai kedudukan yang agung, dan merupakan hari yang paling utama. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi Kiamat…. Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian shalat dan memohon segala keperluannya kepada Allah, niscaya akan dikabulkan.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan lainnya, hadis sahih).

    Hal-Hal yang Disunnahkan serta Beberapa Adab Hari Jum’at

    1. Mandi, Berpakaian yang Rapi, Memakai Wangi-wangian, dan Bersiwak

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Mandi hari Jum’at itu wajib bagi tiap muslim yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Mandi, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jum’at dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Apa yang menghalangi salah seorang di antara kamu jika dia mempunyai kesempatan untuk memakai dua pakaian (baju dan sarung) selain pakaian kerjanya pada hari Jum’at.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah, sahih).

    “Hak setiap muslim adalah siwak, mandi Jum’at dan memakai minyak wangi dari rumah jika ada.” (HR Bazzar, sahih).

    1. Lebih Awal Pergi ke Masjid untuk Shalat Jum’at

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khotbah.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Melakukan Shalat-Shalat Sunnah di Masjid Sebelum Shalat Jum’at Selama Imam Belum Datang

    Apabila imam telah datang, maka berhenti dari itu, kecuali shalat tahiyyatul masjid tetap boleh dikerjakan, meskipun imam sedang berkhotbah, tetapi hendaknya dipercepat.

    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia shalat yang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar.” (HR Bukhari)

    1. Makruh Melangkahi Pundak-Pundak Orang yang Sedang Duduk dan Memisahkan (Menggeser) Mereka

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ketika beliau melihat seseorang yang melangkahi pundak orang-orang.

    “Duduklah, sesungguhnya kamu telah mengganggu orang lain, lagi pula kamu datang terlambat.” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai, hadis shahih)

    “… Dan tidak memisahkan antara dua orang… niscaya akan diampuni segala dosanya dari Jum’at (itu) ke Jum’at berikutnya.”

    1. Berhenti dari Segala Pembicaraan dan Perbuatan Sia-Sia apabila Imam telah Datang

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Apabila kamu berkata kepada temanmu ‘diamlah’, ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jum’at, maka sesungguhnya kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Diharamkan Transaksi Jual Beli ketika Azan Sudah Mulai Berkumandang

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka segeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (al-Jumu’ah: 9)

    1. Hendaklah Memperbanyak Membaca Shalawat serta Salam kepada Rasulullah pada Malam Jum’at dan Siang Harinya

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu.” (HR Hakim dan Baihaqi).

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at, maka barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Baihaqi, hadis hasan).

    1. Disunnahkan Membaca Surat Al-Kahfi

    “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jum’at itu.” (HR Hakim dan Baihaqi, hadis sahih)

    Bersungguh-sungguh dalam Berdoa untuk Mendapatkan Waktu yang Mustajab

    “Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR Muslim).

    Saat istijabah itu ialah pada akhir waktu hari Jum’at. Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Hari Jum’at terdiri dari dua belas waktu, di antaranya ada waktu di mana tidak seorang hamba muslim pun yang meminta kepada Allah suatu permintaan terkecuali akan diberikan kepadanya, maka hendaklah kalian mencarinya pada waktu terakhir, yaitu setelah Ashar.” (HR Abu Daud, Nasai dan Hakim, hadis sahih).

    Dalam hadis lain disebutkan:

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ‘Sebaik-baik hari, di mana matahari terbit di dalamnya adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula taubatnya diterima, pada hari itu pula dia wafat, pada hari itu pula kiamat akan terjadi dan tidak ada makhluk yang melata di muka bumi kecuali menunggu hari Kiamat itu dari waktu Subuh hari Jum’at sampai terbit matahari karena takut pada hari Kiamat, terkecuali jin dan manusia. Di dalamnya ada satu saat yang apabila seorang hamba muslim menemuinya, sedang dia dalam keadaan shalat dan memohon kepada Allah suatu kebutuhan, niscaya akan dikabulkan permohonannya’. Ka’b berkata, ‘Yang demikian itu hanya ada satu hari dalam setahun?’ Aku berkata, ‘Bahkan pada setiap hari Jum’at’. Berkata Abu Hurairah, ‘Maka Ka’b membaca Taurat, kemudian berkata, ‘Benarlah perkataan Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Kemudian aku bertemu Abdullah Ibnu Salam, lalu aku ceritakan apa yang menjadi pembicaraanku dengan Ka’b, maka dia berkata, ‘Aku telah mengetahui kapan saat itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Aku katakan kepadanya, ‘Beritahukan kepadaku hal itu’. Abdullah bin Salam berkata, ‘Waktunya adalah saat terakhir dari hari Jum’at’, Aku katakan kepadanya, ‘Bagaimana mungkin padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidak seorang hamba muslim pun yang mendapatinya sedang ia dalam keadaan shalat, dan pada waktu itu (setelah Ashar) tidak boleh shalat. Berkatalah Abdullah bin Salam, ‘Bukankah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Barangsiapa duduk pada suatu tempat sambil menunggu (waktu) shalat, maka dia dianggap dalam keadaan shalat sampai dia melaksanakan shalat’, Aku katakan, ‘Ya’. Dia berkata, ‘Itulah maksudnya’.” (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai, hadis sahih).

    Dikatakan pula bahwa saat tersebut adalah sejak duduknya imam di atas mimbar hingga usainya pelaksanaan shalat.

    Syarat-Syarat Kewajiban Shalat Jum’at

    Shalat Jumat diwajibkan atas setiap muslim, laki-laki yang merdeka, sudah mukallaf, sehat badan serta muqim (bukan dalam keadaan musafir). Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Shalat Jum’at itu wajib atas setiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR Abu Daud dan Hakim, hadis sahih).

    Adapun bagi orang yang musafir, maka tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at, sebab Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam pernah melakukan perjalanan untuk menunaikan haji, dan bertempur, namun tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau melaksanakan shalat Jum’at.

    Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab Radhiallaahu anhu melihat seseorang yang terlihat akan melakukan perjalanan, kemudian beliau mendengar ucapannya, “Seandainya hari ini bukan hari Jum’at, niscaya aku akan bepergian.” Maka Khalifah Umar berkata, “Silakan Anda pergi, sesungguhnya shalat Jum’at itu tidak menghalangimu dari bepergian.”

    Syarat-Syarat Sahnya Shalat Jum’at

    Untuk sahnya shalat Jum’at itu ada beberapa syarat, yaitu sebagai berikut:

    1. Dilaksanakan di suatu perkampungan atau kota, karena di zaman Rasulullah tidak pernah melaksanakan, kecuali di perkampungan atau di kota. Beliau Shallallaahu alaihi wa sallam juga tidak pernah menyuruh penduduk dusun (orang pedalaman) untuk melaksanakannya. Dan, tidak pernah disebutkan bahwa ketika bepergian beliau melaksanakan shalat Jum’at.
    2. Meliputi dua khotbah. Ini berdasarkan pada perbuatan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan kebiasaan beliau (dalam melaksanakannya). Juga dikarenakan khotbah merupakan salah satu manfaat yang sangat besar dari pelaksanaan shalat Jum’at. Karena, ia mengandung zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, peringatan terhadap kaum muslimin, serta nasihat bagi mereka.

    Tata Cara Shalat Jum’at

    Adapun tata cara pelaksanaan shalat Jum’at, yaitu imam naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari, kemudian memberi salam. Apabila ia sudah duduk, maka muazin melaksanakan azan sebagaimana halnya azan Dhuhur. Selesai azan, berdirilah imam untuk melaksanakan khotbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Kemudian, memberikan nasihat kepada para jamaah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan, serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta ancaman-ancaman-Nya. Kemudian duduk sebentar, lalu memulai khotbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepada-Nya. Kemudian melanjutkan khotbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khotbah pertama dan dengan suara yang layaknya seperti suara seorang komandan pasukan perang, sampai selesai tanpa perlu berpanjang lebar, kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya, muazin melaksanakan iqamah untuk melaksanakan shalat. Kemudian shalat berjamaah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan, dan sebaiknya surat yang dibaca pada rakaat pertama setelah al-Fatihah adalah surat Al-A’la dan pada rakaat kedua surat Al-Ghasyiah, atau pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah surat Al-Jumu’ah dan pada rakaat kedua surat Al-Munafiqun. Akan tetapi, jika imam membaca surat yang lain juga tidak apa-apa.

    Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jum’at

    Dianjurkan shalat sunnah sebelum pelaksanaan shalat Jum’at semampunya sampai imam naik ke mimbar, karena pada waktu itu tidak dianjurkan lagi shalat sunnah, kecuali shalat tahiyatul masjid bagi orang yang (terlambat) masuk ke dalam masjid. Dalam hal ini shalat tetap boleh dilaksanakan sekalipun imam sedang berkhotbah, dengan catatan mempercepat pelaksanaannya sebagaimana diterangkan di atas.

    Adapun setelah shalat Jum’at, maka disunnahkan shalat empat rakaat atau dua rakaat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Sallallaahu alaihi wa sallam :

    “Barangsiapa di antara kamu ingin shalat setelah Jum’at, maka hendaklah shalat empat rakaat.” (HR Muslim).

    Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma disebutkan:

    “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam shalat setelah shalat Jum’at dua rakaat di rumah beliau.” (Muttafaq ‘alaih).

    Sebagai pengamalan hadis-hadis ini, sebagian ulama mengatakan bahwa seorang muslim apabila ingin shalat sunnah setelah Jum’at di masjid, maka dia shalat empat rakaat dan apabila dia shalat di rumah, maka dia shalat dua rakaat.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 24 January 2015 Permalink | Balas  

    hamilHak Kesehatan Reproduksi Perempuan dalam Al-Qur’an

    Oleh: KH. Husein Muhammad

    Sejak awal, al-Qur’an sudah mewasiatkan untuk berbuat baik kepada orang tua, terutama kepada ibu. Penekanan akan penghormatan kepada ibu karena ibulah yang memang mengalami kesusahan terutama ketika mengandung dan melahirkan. Hal tersebut seperti dinyatakan al-Qur’an : “Kami wasiatkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tua, karena ibunya telah mengandungnya dengan penuh kesusahan di atas kesusahan dan menyusuinya selama dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu, dan hanya kepada-Ku kamu akan kembali”. (QS. Luqman, 31: 412).

    Ayat di atas terkait dengan kesehatan reproduksi perempuan yang juga merupakan bagian dari hak-hak perempuan. Dan seperti diketahui bersama bahwa hak-hak perempuan adalah bagian dari hak-hak asasi manusia. Dari sini, menjelaskan persoalan kesehatan reproduksi dan hak-hak reproduksi perempuan menjadi sangat penting untuk dibicarakan di kalangan masyarakat luas, karena membicarakan ini berarti membedah juga persoalan-persoalan kemanusiaan. Ironisnya, dalam banyak kenyataan selama ini, perempuan masih belum sepenuhnya mendapatkan hak dan perlakuan sebagaimana yang dinikmati laki-laki. Kaum perempuan masih dipinggirkan dan dinomorduakan. Pada saat yang sama mereka juga harus melakukan tugas dan kerja berganda untuk menghidupi rumah tangganya (suami dan anak-anaknya). Kenyataan ini dapat kita saksikan di mana-mana terutama di desa-desa dan di kampung-kampung. Peristiwa-peristiwa sosial juga memperlihatkan kepada kita tidak sedikit kaum perempuan yang diperlakukan secara kejam (baca; kekerasan).

    Kekerasan terhadap perempuan terus berlangsung sampai hari ini di mana-mana dalam bentuk yang bermacam-macam; fisikal, mental, dan seksual. Keadaan ini pada gilirannya menimbulkan akibat-akibat yang parah dan membahayakan bagi fungsi-fungsi reproduksi dan bagi tubuh mereka. Sebuah laporan internasional menyebutkan bahwa setiap tahun lebih dari setengah juta perempuan mati karena sebab-sebab yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan. Tujuh puluh ribu perempuan meninggal karena pengguguran atau keguguran. Tujuh juta bayi meninggal setiap tahun karena ibunya secara fisik belum siap melahirkan atau kurang mendapatkan perawatan obsterik yang memadai (Lihat; Hak-hak Asasi Perempuan, Sebuah Panduan Konvensi-Konvensi Utama PBB Tentang Hak Asasi Perempuan, Yayasan Jurnal Perempuan, 2001)

    Data-data ini menjelaskan betapa rapuh rentannya kesehatan reproduksi perempuan. Dan ini berkaitan sangat erat dengan hak-hak reproduksi perempuan. Inti dari semua persoalan perempuan pada akhirnya berujung pada hak-hak perempuan yang berjalan secara timpang. Posisi perempuan secara sosial masih ditempatkan pada kondisi dan situasi yang tidak berdaya dan berada pada kekuasaan yang serba bersifat laki-laki (Patriarkhi)

    Berkaitan dengan hak reproduksi perempuan dan Islam, berikut penulis akan mencoba memaparkan pandangan al-Quran tentang hak reproduksi perempuan yang secara metodologis dijabarkan melalui tafsir fiqh, yaitu membandingkan penafsiran para ulama dari al-Qur’an dengan kaidah ushul fiqh untuk menimbang suatu masalah yang dalam hal ini berkaitan dengan reproduksi perempuan.

    Hak menikmati hubungan seksual

    Manusia di samping makhluk berakal, ia juga makhluk seksual. Seks adalah naluri yang ada di dalam dirinya. Dalam Islam, semua naluri kemanusiaan mendapatkan tempat yang berharga dan terhormat. Naluri seksual harus disalurkan dan tidak boleh dikekang. Pengekangan naluri akan menimbulkan dampak-dampak negatif, bukan hanya terhadap tubuh, tetapi juga akal dan jiwa.

    Nikah atau kawin pada dasarnya adalah hubungan seksual (persetubuhan). Dalam terminologi social nikah dirumuskan secara berbeda-beda sesuai dengan perspektif dan kecenderungan masing-masing orang. Sebagian orang menyebut nikah sebagai penyatuan laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang disahkan oleh hukum. Dalam fiqh, mayoritas ahli fiqh mendefinisikan nikah sebagai hak laki-laki atas tubuh perempuan untuk tujuan penikmatan seksual.Meskipun dengan bahasa yang berbeda-beda tetapi ada kesepakatan mayoritas ulama mazhab empat yang mendefinisikan nikah sebagai akad yang memberikan kepemilikian kepada laki-laki untuk memperoleh kesenangan dari tubuh seorang perempuan, karena mereka sepakat bahwa pemiliki kesenangan seksual adalah laki-laki1

    Islam hadir untuk menyelamatkan dan membebaskan kaum perempuan dari kehidupan yang menyiksa. Al-Qur’an memberikan kepada kaum perempuan hak-hak yang sama dengan laki-laki. Mereka (perempuan) memiliki hak atas laki-laki dengan baik2 . Karena itu bertitik tolak dari pandangan ini kita bisa merumuskan nikah sebagai suatu perjanjian hukum yang memberikan hak seksual kepada laki-laki dan perempuan untuk tujuan-tujuan yang dikehendaki bersama.

    Hak menolak hubungan seksual

    Berdasarkan asas keadilan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan, persoalan hubungan hubungan seksual sesungguhnya dapat berlaku terhadap suami ketika dia menolak melayani keinginan seks istrinya. Ibnu Abbas pernah mengatakan “aku suka berdandan untuk istriku seperti aku suka dia berdandan untukku”3 Ucapan ini mengandung arti bahwa suami dan istri perlu saling memberi dan menerima dalam suasana hati yang menggairahkan.

    Hak menolak kehamilan

    Hamil pada satu sisi merupakan harapan yang membahagiakan isteri, tetapi boleh jadi pada sisi yang lain merupakan peristiwa yang tidak dikehendaki. Terlepas apakah kehamilan itu dikehendaki atau tidak, akan tetapi al-Qur’an menyatakan bahwa perempuan yang hamil selalu berada dalam kondisi yang sangat berat dan melemahkan. Tingkat kelemahan itu akan semakin besar menjelang saat melahirkan. Prof. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOg menyebutkan sejumlah masalah gangguan kesehatan yang dialami perempuan yang hamil, antara lain morning sickness (sakit pada pagi hari), hipersalivasi (pengeluaran air liur), kram betis, varises, sinkope (pingsan) dan kaki bengkak4

    Sementara itu melahirkan bagi perempuan merupakan saat-saat paling kritis dalam kehidupannya. Resiko kematian seakan-akan benar-benar ada di hadapan matanya disebabkan banyak hal. Resiko yang diakibatkan oleh kehamilan dan melahirkan hanya dapat dirasakan oleh perempuan pemilik alat reproduksi. Resiko-resiko tersebut yang paling sering terdengar adalah pendarahan dan keguguran. Alangkah sangat bijaknya pernyataan Nabi SAW yang menyatakan “Kesyahidan itu ada tujuh, selain terbunuh dalam perang sabilillah; orang yang mati karena keracunan lambungnya, yang tenggelam dalam air, yang pinggangnya terserang virus, yang terkena lepra, yang terbakar api, yang tertimbun bangunan dan perempuan yang mati karena melahirkan”. (Hadits riwayat Abu Dawud, an-Nasai, Ibn Majah dan Ibn Hibban, lihat: al-Mundziri, at-Targhib wa at-Tarhib min al-Hadits asy-Syarif, II/335). Dalam hal ini Nabi memberikan jaminan surga bagi perempuan yang mati karena melahirkan. Kedudukannya di hadapan Tuhan disamakan dengan prajurit di medan perang melawan musuh. Pernyataan Nabi tersebut tidak lain merupakan penghargaan yang tinggi bagi perjuangan perempuan yang mati karena melahirkan. Akan tetapi ada anggapan sebagian orang bahwa karena kematian syahid merupakan pahala yang besar dan ada jaminan masuk sorga, maka mereka kadang tidak perlu merasa harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh. Ini jelas merupakan anggapan yang sangat konyol. Hasil penelitian para ahli kependudukan dan kesehatan reproduksi perempuan menunjukkan bahwa komplikasi kehamilan dan persalinan benar-benar merupakan pembunuh utama kaum perempuan usia subur. Keadaan inilah yang menjadikan Indonesia menduduki rangking pertama di Asia Tenggara dan keempat di Asia Pasifik.

    Mengingat hal ini, maka adalah sangat masuk akal dan sudah seharusnya mendapat pertimbangan kita semua terutama para suami jika perempuan mempunyai hak atau pilihan menolak untuk hamil. Demikian juga dalam menentukan jumlah anak yang diinginkannya. Tidak seorangpun mengingkari bahwa di dalam perut perempuanlah kandungan itu cikal-bakal manusia berada dan meskipun ada peran laki-laki bagi proses pembuahan, tetapi perempuanlah yang merasakan segala persoalannya. Walaupun terdapat kontroversi mengenai siapa yang memiliki hak atas anak tetapi mayoritas ahli fiqh menyatakan bahwa anak adalah hak ayah dan ibunya secara bersama-sama, karena keberadaannya merupakan hasil kerjasama keduanya. Oleh karena itu untuk memutuskan kapan mempunyai anak dan berapa anak yang diinginkannya seharusnya juga menjadi hak istri, dan harus dibicarakan secara bersama-sama. Dan dari sini juga memungkinkan meningkatkan daya tahan para istri atau para ibu sehingga kerentanan pada masa kehamilan dan melahirkan bisa diperkecil sehingga kematian karenanya juga bisa diminimalisir. Penolakan istri untuk hamil dapat dilakukan melalui cara-cara dan alat-alat sebagaimana diatur dalam program Keluarga Berencana. Ia dapat menggunakan cara pantang berkala, Azl (senggama terputus) atau dengan alat-alat kontrasepsi lain yang disediakan. Dan dalam hal penggunanaan alat-alat kontrasepsi ini istri juga berhak menentukan sendiri alat yang sesuai dengan kondisinya. Untuk hal ini adalah logis jika dia juga berhak untuk mendapatkan keterangan dan penjelasan yang jujur dari pihak-pihak yang ahli mengenainya, seperti dokter atau petugas kesehatan. Apabila dia tidak memiliki pengetahuan mengenai alat-alat kontrasepsi yang sesuai dengan tubuhnya, maka adalah kewajiban dokter atau petugas yang ditunjuk bagi keperluan untuk memberikan yang terbaik baginya.

    Hak Aborsi

    Tetapi penggunaan kontrasepsi dan cara-cara lain untuk meniadakan kehamilan tidak dengan serta merta menjamin bahwa dia tidak akan hamil. Keputusan menghidupkan (hamil) atau tidak (mematikan) merupakan urusan Tuhan. Kehamilan yang tidak dikehendaki karena berbagai factor mungkin saja terjadi, bahkan dewasa ini sering terjadi. Dalam keadaan demikian, dapatkah dia menggugurkan kandungannya?

    Pada prinsipnya Islam mengharamkan segala bentuk perusakan, pelukaan dan pembunuhan terhadap manusia. Nabi dalam salah satu sabdanya mengatakan : “Janganlah membuat kerusakan (hal yang membahayakan) atas diri sendiri dan atas orang lain”.

    Dalam ayat al-Qur’an juga dinyatakan: “janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali karena kebenaran”. Akan tetapi dalam kehidupan kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Pada persoalan pengguguran kandungan, misalnya ada dua pilihan yang sama-sama berat. Menggugurkan janin dalam kandungan dapat berarti membunuh jiwa yang sudah hidup, tetapi membiarkannya terus hidup di dalam perutnya karena alasan tertentu boleh jadi mengakibatkan penderitaan atau bahkan kematian ibu.

    Terhadap persoalan ini fiqh sesungguhnya menawarkan sejumlah pilihan. Pertama-tama para ulama fiqh sepakat bahwa aborsi tidak boleh dilakukan sesudah janin berusia 120 hari (empat bulan). Kandungan berusia 120 hari itu dalam pandangan mereka sudah merupakan wujud manusia hidup dengan segala kelengkapannya, karena itu ia adalah benar-benar manusia. Dalam banyak pandangan pengguguran kandungan pada usia janin ini sebenarnya tidak bisa disebut sebagai aborsi tetapi pembunuhan. Sementara aborsi sebelum usia tersebut para ahli Islam mempunyai pandangan yang sangat plural atau beragam. Para ulama mendasarkan pandangannya terhadap hal ini pada surah al Mukminun ayat 12-14 yang artinya “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah, kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik”

    Ayat ini menyebutkan fase-fase pembentukan manusia dalam tiga kategori : nutfah, ‘alaqah, dan mudghah. Pendirian paling longgar dikemukakan oleh al Hashkafi bermazhab Hanafi. Aborsi, menurutnya, dapat dilakukan sebelum usia kandungan 120 hari, karena suatu alasan atau tidak.Al Karabisi dari Mazhab Syafi’I, seperti dikutip al Ramli dalam Nihayah al Muhtaj, hanya membenarkan aborsi ketika masih berupa nutfah (zygote). Pendirian paling ketat dikemukakan oleh al-Ghazali dari mazhab Syafi’i. Ia mengharamkan aborsi sejak terjadinya pembuahan. Pednapat ini dikemukakan juga oleh mayoritas mazhab Maliki, Ibnu Hazm al Zhahiri dan sebagian Syi’ah.5

    Sepanjang yang dapat ditelusuri dari literature fiqh aborsi, atau isqath al haml, dan ijhadh menurut bahasa fiqh, maka dapat dikemukakan sebuah kesepakatan ulama, tanpa melihat usia kandungannya, bahwa aborsi dapat dilakukan sepanjang pembiaran janin di dalam perut ibu sampai dengan kelahirannya dipastikan akan membahayakan dan mengancam hidup ibu, dan kepastian ini didasarkan atas pertimbangan medis oleh dokter ahli. Pandangan ini memperlihatkan bahwa pertimbangan keselamatan ibu lebih diutamakan ketimbang kematian janin. Dalam pandangan fiqh kematian janin memiliki risiko lebih ringan dibanding risiko kematian ibu, karena ibu adalah asal dari janin atau bayi. Eksistensinya telah nyata. Ibu juga memiliki sejumlah kewajiban. Sementara janin atau bayi dalam kandungan, meskipun mungkin telah eksis, tetapi ia tidak mewakili kewajiban terhadap orang lain “jika terjadi dilemma, maka korbankan yang paling ringan risikonya”. 6

    Pandangan para ahli fiqh tentang motif aborsi di atas tampaknya masih terbatas pada indikasi media dan kesehatan belaka. Motif-motif lain seperti indikasi sosial, ekonomi, politik dan psikologis belum mendapatkan uraian panjang lebar. Tetapi sesungguhnya menarik ketika kita mengamati bahwa sebagian ulama mazhab hanafi membolehkan aborsi, meskipun bukan karena suatu alasan (bi ‘udzr aw bi ghair udzr).

    Akhirnya, satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hubungannya dengan relasi-relasi kemanusiaan, termasuk di dalamnya relasi berdasarkan gender ialah bahwa Islam merupakan agama keadilan, agama yang menolak segala bentuk diskriminasi dan segala bentuk kekerasan. Ia lahir untuk menegakkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang luhur. Kepadanyalah seluruh konstruksi pemikiran, konsep dan aturan kehidupan seharusnya dirumuskan oleh kaum muslimin untuk kemudian diamalkan atau diaplikasikan dalam kehidupan sosial mereka.

    ***

    1 Abd. Rahman Al Jaziri, Al-fiqh ‘ala Mazahib al Arba’ah, IV, h.2

    2 H.R Abu Daud dan Tirmizi, dalam “sunan Abi Daud I hal. 61, “Sunan al Tirmizi”, hal. 190

    3 Ucapan Ibnu Abbas ini selalu dtemukan dalam literature tafsir dalam kaitannya dengan penafsiran atas Q.S Al-Baqarah 228 ” Dan mereka (perempuan/istri) berhak mendapatkan perlakuan yang baik seperti kewajiban dia (memperlakukan suaminya)

    4 Ida Bagus Gde Manuaba, Memahami Kesehatan reproduksi wanita, Penerbit Arcan, hal. 87

    5 Lihat, al Ghazali ” Ihya Ulum al Din”, II halaman 51, Ibnu Rusyd. “Bidayah al Mujtahid”, II halaman 348, Ibnu Hazm, “Al Muhalla”, XI, halaman 35-40, Jad al Haq dalam “Ahkam al syar’iyyah al Islamiyah fi masail al Thibbiyah”, halaman 139

    6 Al Suyuthi, “Al Asybah wa al Nazhair”, halaman 62

     
  • erva kurniawan 2:06 am on 23 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatSunah-Sunah Salat

    Arsip Fiqh

    Salat mempunyai beberapa sunah yang dianjurkan untuk kita kerjakan sehingga menambah banyak pahala kita. Sunah-sunah tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

    1. Mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu atau sejajar dengan kuping pada keadaan sebagai berikut:
    • ketika bertakbiratul ihram,
    • ketika rukuk,
    • ketika bangkit dari rukuk,
    • ketika berdiri setelah rakaat kedua ke rakaat ketiga.

    Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Umar ra, “Bahwasanya Nabi saw apabila beliau melaksanakan salat, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua bahu beliau, kemudian membaca takbir. Apabila beliau ingin rukuk, beliau pun mengangkat kedua tangannya seperti itu, dan begitu pula kalau beliau bangkit dari rukuk.” (Muttafaq ‘alaih)

    Adapun ketika berdiri untuk rakaat ketiga, hal ini berdasarkan apa yang dilakukan Ibnu Umar, karena beliau apabila berdiri dari rakaat kedua beliau mengangkat kedua tangannya. (HR Bukhari secara mauquf, al Hafiz Ibnu Hajar berkata, “Dan riwayat ini dihukumi marfu.” Ibnu Umar menisbatkan hal tersebut kepada Nabi saw.

    1. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada atau di bawah dada dan di atas pusar. Hal ini berdasarkan perkataan Sahl bin Sa’d ra, “Orang-orang (di masa Nabi saw) disuruh untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam salat.” (HR Bukhari secara mauquf. al Hafiz Ibnu Hajar berkata, ”Riwayat ini dihukumi marfu.”)

    Dan berdasarkan hadis Wail bin Hijr ra, “Saya pernah salat bersama Nabi saw, kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri di atas dadanya.” (HR Ibnu Huzaimah, sahih)

    1. Membaca doa iftitah. Ada beberapa contoh doa iftitah, di antaranya:

    (Catatan: Bagi siapa saja yang masih pemula (belum bisa) dalam membaca ayat-ayat atau doa-doa untuk amalan ibadah, sebaiknya mencari tahu langsung kepada seorang guru yang dapat menunjukkan aturan-aturan cara membunyikan bahasa atau istilah Alquran dan Hadis. Hal ini bermaksud agar tidak terjadi salah pengucapan (makhraj) dan salah pengertian terhadap suatu doa atau ayat Alquran. Yang lebih penting lagi karena kita dituntut untuk mengikuti petunjuk yang ada).

    1. Membaca istiazah (A’udzubillaahiminasy syaithoonirojiim) pada rakaat pertama dan membaca basmalah pada tiap-tiap rakaat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Maka apabila kamu membaca Alquran, maka hendaklah kamu memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)
    2. Membaca amin (aamiin) setelah membaca surat Al-Fatihah. Hal ini disunahkan kepada setiap orang yang salat, baik sebagai imam maupun makmum atau salat sendirian. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw, “Apabila imam membaca amin, maka ucapkanlah pula olehmu. Maka sesungguhnya barangsiapa yang bacaan aminnya berbarengan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dari sahabat Wa’il bin Hijr, “Saya mendengar Rasulullah membaca Ghairil maghdubi ‘alaihim waladdoolliin, lalu beliau ucapkan “aamiin” dengan suara panjang. (HR Ahmad dan Abu Daud, dinilai baik oleh Tirmizi) .

    1. Membaca ayat setelah membaca surat Al-Fatihah. Dalam hal ini cukup dengan satu surat atau beberapa ayat Alquran pada dua rakaat salat Subuh dan dua rakaat pertama pada salat Duhur, Asar, Magrib dan Isya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw, “Rasulullah saw ketika salat Duhur membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) dan dua surat pada dua rakaat pertama, dan beliau membaca Ummul Kitab saja pada dua rakaat berikutnya dan terkadang beliau perdengarkan ayat (yang dibacanya) kepada para sahabat.” (Muttafaq ‘alaih)
    2. Mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat pada waktu salat jahriah (yang dikeraskan bacaannya) dan merendahkan suara pada salat yang dipelankan bacaannya (sirriah). Yaitu mengeraskan suara pada dua rakaat yang pertama pada shalat Magrib dan Isya dan pada kedua rakaat shalat Subuh. Dan merendahkan suara pada yang lainnya. Ini semuanya dalam pelaksanaan shalat fardu, dan ini dicontohkan (tsabit) dan populer dari Rasulullah saw, baik secara perkataan maupun perbuatan. Adapun pada salat sunah, maka dianjurkan untuk merendahkan suara apabila dilaksanakan pada siang hari dan disunahkan mengeraskan suara jika salat sunah itu dilaksanakan pada waktu malam hari, terkecuali apabila takut mengganggu orang lain dengan bacaannya itu, maka disunahkan baginya untuk merendahkan suara ketika itu.
    3. Memanjangkan bacaan pada salat Subuh, membaca dengan bacaan yang sedang pada shalat Duhur, Ashar dan Isya, dan disunahkan memendekkan bacaan pada salat Magrib. Hal ini berdasarkan hadis berikut.

    “Dari Sulaiman bin Yasar, dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, ‘Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip salatnya dengan salat Rasulullah daripada si Fulan –seorang imam di Madinah.’ Sulaiman berkata, ‘Kemudian aku salat di belakang orang tersebut, dia memperpanjang bacaan pada dua rakaat pertama salat Duhur dan mempercepat pada dua rakaat berikutnya. Mempercepat bacaan surat dalam salat Asar. Dan pada dua rakaat pertama salat Magrib ia membaca surat mufasal (1) yang pendek, sedang pada dua rakaat pertama shalat Isya ia membaca surat mufasal yang sedang, selanjutnya pada shalat Subuh ia membaca surat-surat mufasal yang panjang’.” (HR Ahmad dan Nasai, sahih)

    1. Cara duduk yang diriwayatkan (tsabit) dari Rasulullah saw dalam salat adalah duduk bertumpu pada paha kiri (iftirasy) pada semua posisi duduk dan semua tasyahud selain tasyahud akhir. Apabila ada dua tasyahud dalam salat itu, maka dia harus duduk tawaruk pada tasyahud akhir. Hal ini berdasarkan perkataan Abu Hamid as Sa’idi di hadapan para sahabat. Ketika ia menerangkan salat Rasulullah saw, di antaranya menyebutkan, “Maka apabila beliau duduk setelah dua rakaat, beliau duduk di atas kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki kanan, dan apabila beliau duduk pada rakaat akhir, beliau majukan kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki yang satunya, dan beliau duduk di lantai.” (HR Bukhari)

    Iftirasy: Yaitu duduk di atas kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki kanan.

    Tawaruk (tawarruk): Yaitu meletakkan telapak kaki kiri di bawah betis kanan, kemudian mendudukkan pantat di alas/lantai dan menegakkan telapak kaki kanan.

    Keterangan: Rasulullah saw, apabila duduk tasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri dan tangan kanannya di atas paha kanan, kemudian beliau menelunjukkan dengan jari telunjuk (HR Muslim). Dan beliau tidak melebihkan pandangannya dari telunjuk itu. (HR Abu Daud, sahih)

    1. Berdoa pada waktu sujud. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:

    “Ketahuilah! Sesungguhnya aku dilarang membaca Alquran ketika rukuk dan sujud. Adapun yang dilakukan pada waktu sujud maka hendaklah kamu membesarkan Rabbmu dan pada waktu sujud maka hendaklah kamu bersungguh-sungguh berdoa, niscaya dikabulkan doamu.” (HR Muslim)

    1. Membaca selawat untuk Nabi saw pada waktu tasyahud akhir. Tetapi, menurut ulama mazab Hanbali dan Syafi’i, membaca selawat ini fardu, sedangkan yang sunah adalah selawat untuk keluarga nabi.

    Dari Ka’b bin ‘Ujrah, ia berkata, “Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, kami telah tahu bagaimana cara mengucapkan salam kepada Anda. Sekarang bagaimana pula cara memberi selawat bagi Anda?’ Ia menjawab, ‘Katakanlah:

    “Alloohumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, kamaa sallaita ‘alaa aali Ibraahiima, innaka hamiidun majiid. Alloohumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima, innaka hamiidun majiid.”

    “Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau berikan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berkatilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana telah Engkau berkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.” (Hadis Jamaah)

    1. Berdoa setelah selesai dari membaca tasyahud dan membaca salawat untuk Nabi dengan doa yang dicontohkan Rasulullah saw. Di antara doa tersebut adalah:

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang di antaramu telah selesai membaca tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, dengan membaca:

    “Alloohumma inni a’uuzu bika min ‘azaabi jahannam, wa min ‘azaabil qabri, wa min fitnatil mahyaaa wal mamaati, wa min syarri fitnatil masiihid dajjaal.”

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahanam, dari siksa kubur, dari bencana kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan bencana Dajjal si penipu.” (HR Muslim)

    Dari Ali, ia berkata, “Bila Rasulullah mengerjakan salat, maka ucapan terakhir yang dibacanya di antara tasyahud dan salam ialah:

    “Alloohummaghfir lii maa qoddamtu, wa maa akhkhortu, wa maa asrortu, ma maa a’lantu, wa ma asroftu, wa maa anta a’lamu bihii minnii, antal muqoddimu, wa antal mu’akhkhiru, laa ilaaha illaa anta.”

    “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang terdahulu maupun yang kemudian, yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, apa-apa yang aku berlebihan dan segala apa yang Engkau sendiri lebih mengetahuinya daripadaku. Engkaulah yang memajukan dan Engkau pula yang mengakhirkan. Tiada tuhan melainkan Engkau.” (HR Muslim)

    1. Mengucapkan salam ke sebelah kiri. Namun ulama Hanbali berpendapat, mengucapkan salam dua kali: ke sebelah kanan dan kiri adalah fardu.
    2. Menoleh sewaktu mengucapkan salam ke sebelah kanan dan kiri hingga dapat terlihat pipinya dari belakang.

    “Bahwasanya Rasulullah saw melakukan salam ke kanan dan ke kiri sehingga terlihat putihnya pipi beliau.” (HR Muslim)

    1. Beberapa dzikir dan do’a setelah salam. Telah diriwayatkan beberapa dzikir dan do’a setelah salam dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam yang disunnahkan untuk dibaca. Di sini akan kami pilihkan beberapa dzikir dan do’a, di antaranya:

    Dari Tsauban ra, ia berkata, Rasulullah saw apabila selesai salat, beliau membaca istigfar tiga kali (1) dan membaca: “Alloohumma antas salaam waminkas salaam tabarokta yaa dzaljalaali wal Ikroom.”

    “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari Mulah kesejahteraan, Maha Suci Engkau wahai Rabb Yang Maha Agung dan Maha Mulia.” (HR Muslim)

    Dari Mu’adz bin Jabal , bahwasanya Nabi saw pada suatu hari memegang tangannya, kemudian bersabda, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintai kamu, aku berpesan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah kamu tinggalkan setelah selesai salat membaca doa:

    “Allohumma a’inni ‘ala dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibaadatika.”

    “Ya Allah, tolonglah aku di dalam berzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepadamu.” (HR Imam Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

    Dari Mughirah bin Syu’bah , bahwasanya Rasulullah saw membaca pada tiap selesai salat fardu:

    “Laailaaha illallohu wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodiir. Allohumma laa maani’a lima a’thoita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzaljaddi minkal Jaddu.”

    “Tiada sesembahan yang hak melainkan Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan pujian, sedang Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang mampu mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Dan tidaklah berguna kekuasaan seseorang dari ancaman siksa-Mu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda, “Siapa yang membaca tasbih (Subhaanallooh) 33 kali dan tahmid (Alhamdulillaah) 33 kali serta takbir (Alloohuakbar) 33 kali (jumlahnya menjadi 99), kemudian menggenapkan hitungan keseratus dengan bacaan:

    “Laailaaha illallohu wahdahu laa syarikalahu lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodiir.”

    “Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian, sedang Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka ia akan diampuni kesalahan-kesalahannya sekalipun sebanyak buih di lautan.” (HR Muslim)

    “Dari Abu Umamah , bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi pada tiap-tiap selesai salat, maka tidak ada lagi yang menghalanginya untuk masuk surga hanya saja dia akan meninggal dunia.” (HR Nasai, Ibnu Hibban, ath Thabrani, sahih)

    Dari Sa’d bin Abi Waqqas, bahwasanya dia mengajari anak-anaknya beberapa bacaan sebagaimana halnya ketika seorang guru mengajari anak-anak menulis, dan dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca bacaan-bacaan tersebut pada tiap-tiap selesai salat, yaitu:

    “Allohumma inni a’udzu bika minal bukhli wal jubni wa a’udzu bika min fitnatil mahyaa wamin ‘adzabil qobri.”

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan pengecut. Aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak dijadikan pikun. Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah (cobaan) dunia dan dari siksa kubur.” (HR Bukhari)

    Referensi:

    Diadaptasi dari Tuntunan Salat Menurut Alquran & As-Sunah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

    Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir Ar-Rahbawi

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 22 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatHal-Hal yang Membatalkan Shalat

    Arsip Fiqh

    Shalat seseorang akan batal apabila ia melakukan salah satu di antara hal-hal berikut ini.

    1. Keluar angin dari dubur maupun qubul (kemaluan depan maupun belakang)
    2. Makan dan minum dengan sengaja.

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya di dalam shalat itu ada kesibukkan tertentu.” (Muttafaq ‘alaih). Ijma ulama juga mengatakan demikian.

    1. Berbicara dengan sengaja, bukan untuk kepentingan pelaksanaan shalat.

    Dari Zaid bin Arqam ra, ia berkata, “Dahulu kami berbicara di waktu shalat, salah seorang dari kami berbicara kepada temannya yang berada di sampingnya sampai turun ayat: ‘Dan hendaklah kamu berdiri karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’, maka kami pun diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara.” (Muttafaq ‘alaih)

    Rasulullah saw juga telah bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas ada di dalamnya percakapan manusia sedikit pun.” (HR Muslim)

    Adapun pembicaraan yang maksudnya untuk membetulkan pelaksanaan shalat, maka hal itu diperbolehkan seperti membetulkan bacaan (Alquran) imam, atau imam setelah memberi salam kemudian bertanya apakah shalat-nya sudah sempurna, apabila ada yang menjawab belum, maka dia harus menyempurnakannya. Hal ini pernah terjadi pada Rasulullah saw, kemudian Dzul Yadain bertanya kepada beliau, “Apakah Anda lupa ataukah sengaja mengqashar shalat, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Aku tidak lupa dan aku pun tidak bermaksud meng-qashar shalat.” Dzul Yadain berkata, “Kalau begitu Anda telah lupa wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apakah yang dikatakan Dzul Yadain itu betul?” Para sahabat menjawab, “Benar.” Maka beliau pun menambah shalatnya dua rakaat lagi, kemudian melakukan sujud sahwi dua kali. (Muttafaq ‘alaih)

    1. Meninggalkan salah satu rukun shalat atau syarat shalat yang telah disebutkan di muka, apabila hal itu tidak ia ganti/sempurnakan di tengah pelaksanaan shalat atau sesudah selesai shalat beberapa saat. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw terhadap orang yang shalatnya tidak tepat.

    “Kembalilah kamu melaksanakan shalat, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

    Orang itu telah meninggalkan tuma’ninah dan i’tidal. Padahal, kedua hal itu termasuk rukun shalat.

    1. Banyak melakukan gerakan, karena hal itu bertentangan dengan pelaksanaan ibadah dan membuat hati dan anggota tubuh sibuk dengan urusan selain ibadah. Adapun gerakan yang sekadarnya saja, seperti memberi isyarat untuk menjawab salam, membetulkan pakaian, menggaruk badan dengan tangan, dan yang semisalnya, maka hal itu tidaklah membatalkan shalat.
    2. Tertawa sampai terbahak-bahak. Para ulama sepakat mengenai batalnya shalat yang disebabkan tertawa seperti itu. Adapun tersenyum, maka kebanyakan ulama menganggap bahwa hal itu tidaklah merusak shalat seseorang.
    3. Tidak berurutan dalam pelaksanaan shalat, seperti mengerjakan shalat Isya sebelum mengerjakan shalat Maghrib, maka shalat Isya itu batal sehingga dia shalat Maghrib dahulu, baru kemudian shalat Isya, karena berurutan dalam melaksanakan shalat-shalat itu adalah wajib, dan begitulah perintah pelaksanaan shalat itu.
    4. Kelupaan yang fatal, seperti menambah shalat menjadi dua kali lipat, umpamanya shalat Isya delapan rakaat, karena perbuatan tersebut merupakan indikasi yang jelas bahwa ia tidak khusyu, padahal hal itu merupakan ruhnya shalat.
    5. Seorang makmum dengan sengaja mendahului imam dalam mengerjakan satu rukun penuh. Misalnya, ia mengerjakan rukuk dan terus bangkit sebelum imam rukuk. Hal itu apabila dilakukan tanpa sengaja, maka ia harus kembali mengikuti imam dan shalatnya tidak batal.
    6. Mengucapkan salam dengan sengaja sebelum selesai shalat. Jika mengucapkannya tanpa disengaja karena ia yakin bahwa shalat yang sedang dikerjakannya itu selesai, maka shalatnya tidak batal jika ia tidak melakukan perbuatan yang banyak dan tidak pula berkata banyak serta belum berselang lama menurut pendapat umum. Ulama menetapkan, ukuran lama di sini ialah sekadar waktu yang diperlukan untuk melakukan shalat dua rakaat ringan. Jika ketentuan ini tidak terpenuhi, maka batallah shalatnya.

    Referensi:

    • Tuntunan Shalat Menurut Alquran & As-Sunnah, Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin
    • Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir ar Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 21 January 2015 Permalink | Balas  

    sombongSifat Ujub

    Salah seorang ulama salaf pernah berkata: “Seorang yang ujub akan tertimpa dua kehinaan, akan terbongkar kesalahan-kesalahannya dan akan jatuh martabatnya di mata manusia.”

    Salah seorang ahli hikmah berkata: “Ada seorang yang terkena penyakit ujub, akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan karena saking ujubnya terhadap diri sendiri. Ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari orang itu, ketika ia berusaha jual mahal dengan kemampuan dirinya, maka Imam Syafi’i pun membantahnya seraya berseru di hadapan khalayak ramai: “Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri secara berlebihan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjatuhkan martabatnya.”

    Definisi Ujub

    Orang yang terkena penyakit ujub akan memandang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan mengang-gapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits: “Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya.” (HR. Al-Bukhari)

    Bisyr Al-Hafi mendefenisikan ujub sebagai berikut: “Yaitu menganggap hanya amalanmu saja yang banyak dan memandang remeh amalan orang lain.”

    Barangkali gejala paling dominan yang tampak pada orang yang terkena penyakit ujub adalah sikap suka melanggar hak dan menyepelekan orang lain.

    Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut: “Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara’ dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya!”

    Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: “Saya tidak akan mencari cara lain.” Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub? Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa seorang lelaki berkata: “Allah tidak akan mengampuni si Fulan! Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berfirman:

    “Siapakah yang lancang bersumpah atas namaKu bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalanmu!” (HR. Muslim)

    Amal shalih itu ibarat sinar dan cahaya yang terkadang padam bila dihembus angin ujub!

    Sebab-Sebab Ujub

    1. Faktor Lingkungan dan Keturunan

    Yaitu keluarga dan lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang dipuji, selalu menganggap diri suci dll.

    1. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan

    Sanjungan berlebihan tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan, seba-gaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits. Sering kita temui sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat yang dipuji lupa diri. Masalah ini akan kami bahas lebih lanjut pada bab berikut.

    1. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub.

    Tidak syak lagi bahwa setiap orang akan melatahi tingkah laku temannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri bersabda:

    “Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Teman akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang.

    1. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

    Begitu banyak nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberinya nikmat itu. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ujub, ia membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan kepada kita kisah Qarun;

    “Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (Al-Qashash: 78)

    1. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam Menguasainya dan Belum Terbina Dengan Sempurna

    Demi Allah, pada hari ini kita banyak mengeluhkan problematika ini, yang telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah ‘sudah dipetik sebelum matang’. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia. Yang lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat sebagai seorang ulama padahal ia tidak memiliki ilmu sama sekali. Lalu ia berkomentar tentang banyak permasalahan, yang terkadang ia sendiri jahil tentang hal itu. Namun ironinya terkadang kita turut menyokong hal seperti ini. Yaitu dengan memperkenalkannya kepada khalayak umum. Padahal sekarang ini, masyarakat umum itu ibaratnya seperti orang yang menganggap emas seluruh yang berwarna kuning. Kadangkala mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya, atau seorang sastrawan yang lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara membabi buta mereka mengambil segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali meskipun orang itu mengelak seraya berkata: “Aku tidak tahu!”

    Perlu diketahui bahwa bermain-main dengan sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada bermain-main dengan api. Misalnya beberapa orang yang bersepakat untuk memunculkan salah satu di antara mereka menjadi tokoh yang terpandang di tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan acara penobatannya dan membuat-buat gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun. Niscaya pada suatu hari akan tersingkap kebobrokannya. Mengapa!? Sebab perbuatan seperti itu berarti bermain-main dengan pemikiran. Sepintas lalu apa yang mereka ucapkan mungkin benar, namun lambat laun masyarakat akan tahu bahwa mereka telah tertipu!

    1. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)

    Sekiranya seorang insan benar-benar merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai tumbuh menjadi manusia sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ujub. Ia pasti meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dihindarkan dari penyakit ujub sejauh-jauhnya. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang ditujukan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:

    “Hai orang yang pongah dalam keangkuhannya.

    Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina. Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala? Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!

    Hidung beringus sementara telinga baunya tengik. Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur. Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah, tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.”

    Penyair ini mengingatkan kita pada asal muasal penciptaan manusia dan keadaan diri mereka serta kesu-dahan hidup mereka. Maka apakah yang mendorong mereka berlagak sombong? Pada awalnya ia berasal dari setetes mani hina, kemudian akan menjadi bangkai yang kotor sedangkan semasa hidupnya ke sana ke mari membawa kotoran.

    1. Berbangga-bangga Dengan Nasab dan Keturunan

    Seorang insan terkadang memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia menganggap dirinya lebih utama dari si Fulan dan Fulan. Ia tidak mau mendatangi si Fulan sekalipun berkepentingan. Dan tidak mau mendengarkan ucapan si Fulan. Tidak syak lagi, ini merupakan penyebab utama datangnya penyakit ujub.

    Dalam sebuah kisah pada zaman kekhalifahan Umar radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ketika Jabalah bin Al-Aiham memeluk Islam, ia mengunjungi Baitullah Al-Haram. Sewaktu tengah melakukan thawaf, tanpa sengaja seorang Arab badui menginjak kainnya. Tatkala mengetahui seorang Arab badui telah menginjak kainnya, Jabalah langsung melayangkan tangannya memukul si Arab badui tadi hingga terluka hidungnya. Si Arab badui itu pun melapor kepada Umar radhiyallahu ‘anhu mengadukan tindakan Jabalah tadi. Umar radhiyallahu ‘anhu pun memanggil Jabalah lalu berkata kepadanya: “Engkau harus diqishash wahai Jabalah!” Jabalah membalas: “Apakah engkau menjatuhkan hukum qishash atasku? Aku ini seorang bangsawan sedangkan ia (Arab badui) orang pasaran!” Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Islam telah menyamaratakan antara kalian berdua di hadapan hukum!”

    Tidakkah engkau ketahui bahwa: Islam telah meninggikan derajat Salman seorang pemuda Parsi. Dan menghinakan kedudukan Abu Lahab karena syirik yang dilakukannya.

    Ketika Jabalah tidak mendapatkan dalih untuk melepaskan diri dari hukuman, ia pun berkata: “Berikan aku waktu untuk berpikir!” Ternyata Jabalah melarikan diri pada malam hari. Diriwayatkan bahwa Jabalah ini akhirnya murtad dari agama Islam, lalu ia menyesali perbuatannya itu. Wal ‘iyadzubillah

    1. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan Menghormati

    Barangkali inilah hikmahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sahabat-sahabat beliau untuk berdiri menyambut beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka.” (HR. At-Tirmidzi, beliau katakan: hadits ini hasan)

    Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu)

    1. Lengah Terhadap Akibat yang Timbul dari Penyakit Ujub

    Sekiranya seorang insan menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti dirinya dan menyadari bahwa ujub itu adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia tidak akan kuasa bersikap ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

    ”Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia.” Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?” Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) awal hadits berbunyi: “Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).

    Dampak ujub

    1. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
    2. Dijauhkan dari pertolongan Allah. Allah Subahanahu Wata’ala berfirman:

    “Orang-orang yang berjihad (untuk mencari keri-dhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut: 69)

    1. Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan.

    Bila cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub akan berteriak: ‘Oii teman-teman, carilah keselamatan masing-masing!’ Berbeda halnya dengan orang-orang yang teguh di atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala , mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

    Siapakah yang mampu lari dari hari kematian? Bukankah hari kematian hari yang telah ditetapkan? Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya. Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?

    1. Dibenci dan dijauhi orang-orang. Tentu saja, seseorang akan diperlakukan sebagaimana ia memperla-kukan orang lain. Jika ia memperlakukan orang lain dengan baik, niscaya orang lain akan membalas lebih baik kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An-Nisa’: 86)

    Namun seseorang kerap kali meremehkan orang lain, ia menganggap orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Tentu saja tidak ada orang yang senang kepadanya. Sebagaimana kata pepatah ‘Jika engkau menyepelekan orang lain, ingatlah! Orang lain juga akan menyepelekanmu’

    1. Azab dan pembalasan cepat ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam sebuah hadits dise-butkan:

    “Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari)

    Hukuman ini dirasakannya di dunia akibat sifat ujub. Seandainya ia lolos dari hukuman tersebut di du-nia, yang jelas amalnya pasti terhapus. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan tentang seorang yang bersumpah atas nama Allah bahwa si Fulan tidak akan diampuni, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni si Fulan dan menghapus amalnya sendiri.

    Dengan begitu kita harus berhati-hati dari sifat ujub ini, dan hendaknya kita memberikan nasihat kepada orang-orang yang terkena penyakit ujub ini, yaitu orang-orang yang menganggap hebat amal mereka dan menyepelekan amal orang lain.

    ***

    Kiriman Abah Naufal

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 20 January 2015 Permalink | Balas  

    gerakan-shalatRukun-Rukun Salat

    Arsip Fiqh

    Salat mempunyai rukun-rukun yang apabila salah satunya ditinggalkan, maka batallah salat tersebut. Berikut ini penjelasannya secara terperinci tentang rukun-rukun salat.

    Berniat

    Yaitu niat di hati untuk melaksanakan salat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Muttafaq ‘alaih)

    Niat itu dilakukan bersamaan dengan melaksanakan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan.

    Membaca Takbiratul Ihram

    Yaitu dengan lafazh (ucapan): “Allaahuakbar.”

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Kunci salat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu salat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan salat adalah salam.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi, dan lainnya: hadits shahih)

    Berdiri (bagi yang sanggup ketika melaksanakan salat wajib)

    Hal ini berdasarkan firman Allah saw, “Peliharalah segala salat(mu) dan (peliharalah) salat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyu’.” (QS Al-Baqarah: 238)

    Sabda Rasulullah saw kepada Imran bin Hushain, “Salatlah kamu dengan berdiri; apabila tidak mampu, maka dengan duduk; dan jika tidak mampu juga, maka salatlah dengan berbaring ke samping.” (HR Al-Bukhari)

    Membaca Surat Al-Fatihah Tiap Rakaat SalatFardu dan Salat Sunah

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.” (HR Bukhari)

    Ruku’

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS Al-Hajj: 77)

    Juga berdasarkan sabda Nabi saw kepada seseorang yang tidak benar shalatnya: ” … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan ruku’.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bangkit dari Ruku’

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw terhadap seseorang yang salah dalam salatnya: ” … kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

    I’tidal (berdiri setelah bangkit dari ruku’)

    Hal ini berdasarkan hadits tersebut di atas tadi dan berdasarkan hadits lain yang berbunyi: “Allah tidak akan melihat kepada salat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR Ahmad, dengan isnad shahih)

    Sujud

    Hal ini berdasarkan firman Allah SWT yang telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam sujud.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bangkit dari Sujud

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:  “Kemudian bangkitlah sehingga kamu duduk dengan tuma’ninah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Duduk di antara Dua Sujud

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:

    “Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR Ahmad, dengan isnad shahih)

    Tuma’ninah Ketika Ruku’, Sujud, Berdiri, dan Duduk

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw kepada seseorang yang salah dalam melaksanakan shalatnya: “Sampai kamu merasakan tuma’ninah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Tuma’ninah tersebut beliau tegaskan kepadanya pada saat ruku’, sujud, dan duduk, sedangkan i’tidal pada saat berdiri. Hakikat tuma’ninah itu ialah bahwa orang yang ruku’, sujud, duduk, atau berdiri itu berdiam sejenak, sekadar waktu yang cukup untuk membaca satu kali setelah semua anggota tubuhnya berdiam. Adapun selebihnya dari itu adalah sunah hukumnya.

    Membaca Tasyahud Akhir Serta Duduk

    Adapun tasyahhud akhir itu, maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud ra yang bunyinya: “Dahulu kami membaca di dalam salat sebelum diwajibkan membaca tasyahhud adalah, ‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril dan Mikail.’

    Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca:

    “Segala penghormatan, salawat dan kalimat yang baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan hamba-hamba yang salih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi, dengan sanad shahih)

    “Apabila salah seorang di antara kamu duduk (tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala penghormatan, salawat dan kalimat-kalimat yang baik bagi Allah’.” (HR Abu Daud, An-Nasai dan yang lainnya, hadits ini shahih dan diriwayatkan pula dalam dalam “Shahih Bukhari dan Shahih Muslim”)

    Adapun duduk untuk tasyahud itu termasuk rukun juga karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun.

    Membaca Salam

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Pembuka salat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu salat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

    Melakukan Rukun-Rukun Salat Secara Berurutan

    Oleh karena itu, janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram dan janganlah ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat.” (HR Bukhari)

    Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun salat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah saw, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah salatnya.

    Keterangan:

    Untuk mengetahui dengan jelas do’a-do’a dalam salat, hendaknya bagi para pembaca merujuk kepada orang-orang yang mengerti benar dalam pelaksanaan salat, atau bisa melalui buku yang menulis tentang salat secara lengkap.

    Di sini, Al-Islam tidak atau belum merasa perlu untuk mencantumkan do’a-do’a dalam salat karena hal ini dapat pembaca mencari sendiri dengan mudah. Al-Islam untuk sementara ini lebih menekankan kepada bagaimana memahami syariat dan cara pelaksanaannya.

    ***

    Sumber: Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 19 January 2015 Permalink | Balas  

    gerakan-shalatSyarat-Syarat Shalat

    Arsip Fiqh

    Berikut ini akan dibahas kajian tentang syarat-syarat yang harus terpenuhi sebelum shalat (terkecuali niat, yaitu syarat yang ke delapan, maka yang lebih utama dilaksanakan bersamaan dengan takbir). Wajib bagi orang yang shalat untuk memenuhi syarat-syarat itu. Apabila ada salah satu syarat yang ditinggalkan, maka shalatnya batal.

    Adapun syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:

    Islam

    Tidak sah dan tidak diterima shalat yang dilakukan oleh orang yang masih kafir; begitu pula halnya semua amalan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu untuk memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (QS At-Taubah: 17)

    Berakal Sehat

    Maka, tidaklah wajib shalat bagi orang gila, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari’at) yaitu: orang yang tidur sampai dia terjaga; anak kecil sampai dia baligh; dan orang yang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    Baligh

    Maka, tidaklah wajib shalat itu bagi anak kecil sampai dia baligh, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Akan tetapi, anak kecil itu hendaknya diperintahkan untuk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun dan shalatnya itu sunnah baginya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    Suci Dari Hadats Kecil dan Hadats Besar

    Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS Al-Maidah: 6)

    Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci.” (HR. Muslim)

    Suci Badan, Pakaian dan Tempat Untuk Shalat

    Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah, “Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (QS Al-Muddatstsir: 4)

    Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kami diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari)

    Masuk Waktu Shalat

    Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa': 103)

    Maksudnya, shalat itu mempunyai waktu tertentu. Malaikat Jibril pun pernah turun untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemudian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam: “Di antara keduanya itu adalah waktu shalat.”

    Menutup Aurat

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS Al-A’raf: 31)

    Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah.

    Niat

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Menghadap Kiblat

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS Al-Baqarah: 144)

    ***

    Sumber: Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 18 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet bicaraPengaruh Perbuatan Baik dan Ucapan Yang Baik

    Manusia senantiasa mencari lingkungan yang tenang tempat mereka dapat hidup dengan aman, gembira, dan membina persahabatan. Meskipun mereka merindukan keadaan yang demikian itu, mereka tidak pernah melakukan usaha untuk menyuburkan nilai-nilai tersebut, tetapi sebaliknya, mereka sendirilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dan kesengsaraan. Sering kali orang mengharapkan agar orang lain memberikan ketenangan, kedamaian, dan bersikap bersahabat. Hal ini berlaku dalam hubungan keluarga, hubungan antarpegawai di perusahaan, hubungan kemasyarakatan, maupun persoalan internasional. Namun, untuk membina persahabatan dan menciptakan kedamaian dan keamanan dibutuhkan sikap mau mengorbankan diri. Konflik dan keresahan tidak dapat dihindari jika orang-orang hanya bersikukuh pada ucapannya, jika mereka hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa bersedia melakukan kompromi atau pengorbanan. Bagaimanapun, orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak bersikap seperti itu. Orang-orang yang beriman tidak mementingkan diri sendiri, suka memaafkan, dan sabar. Bahkan ketika mereka dizalimi, mereka bersedia mengabaikan hak-hak mereka. Mereka menganggap bahwa kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan orang lain lebih penting dibandingkan dengan kepentingan pribadi mereka, dan mereka menunjukkan sikap yang santun. Ini merupakan sifat mulia yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman:

    “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.s. Fushshilat: 34-5).

    “Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. an-Nahl: 125).

    Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, sebagai balasan atas perbuatan baiknya bagi orang-orang yang beriman, Allah mengubah musuh mereka menjadi “teman yang setia”. Ini merupakan salah satu rahasia Allah. Bagaimanapun juga, hati manusia berada di tangan Allah. Dia mengubah hati dan pikiran siapa saja yang Dia kehendaki.

    Dalam ayat lainnya, Allah mengingatkan kita tentang pengaruh ucapan yang baik dan lemah lembut. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar mendatangi Fir’aun dengan lemah lembut. Meskipun Fir’aun itu zalim, congkak, dan kejam, Allah memerintahkan rasul-Nya agar berbicara kepadanya dengan lemah lembut. Allah menjelaskan alasannya dalam al-Qur’an:

    “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaha: 43-4).

    Ayat-ayat ini memberitahukan kepada orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus mereka terapkan terhadap orang-orang kafir, musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang sombong. Tentu saja ini mendorong kepada kesabaran, kemauan, kesopanan, dan kebijakan. Allah telah mengungkapkan sebuah rahasia bahwa Dia akan menjadikan perbuatan orang-orang beriman itu akan menghasilkan manfaat dan akan mengubah musuh-musuh menjadi teman jika mereka menaati perintah-Nya dan menjalankan akhlak yang baik.

    Wallohu a’alam bis-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 17 January 2015 Permalink | Balas  

    ayo-sedekahTujuan Membelanjakan Harta di Jalan Allah

    Salah satu amal ibadah yang terpenting yang dapat membersihkan kotoran kebendaan dan keruhanian, dan sebagai latihan bagi ruhani sehingga seseorang dapat mencapai derajat akhlak yang tinggi sehingga Allah akan ridha kepadanya adalah membelanjakan harta di jalan Allah. Allah telah berfirman kepada Nabi saw. agar mengambil zakat dari harta benda orang-orang beriman untuk membersihkan dan menyucikan harta tersebut.

    “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (Q.s. at-Taubah: 103).

    Meskipun demikian, perbuatan membelanjakan harta yang dapat membersihkan dan menyucikan orang-orang adalah jika dilakukan berdasarkan ketentuan yang telah disebutkan dalam al-Qur’an. Orang-orang beranggapan bahwa mereka telah menunaikan tugas mereka ketika mereka memberikan sejumlah uang yang sangat sedikit yang diberikan kepada pengemis, memberikan pakaian bekas kepada orang miskin, atau memberi makan kepada orang yang lapar. Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang akan memperoleh pahala dari Allah jika niatnya untuk mencari ridha Allah. Namun sesungguhnya ada batas-batas yang telah ditentukan dalam al-Qur’an. Misalnya, Allah memerintahkan manusia agar menginfakkan apa saja yang melebihi keperluannya:

    “Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (Q.s. al-Baqarah: 219).

    Manusia hanya memerlukan sedikit saja untuk memenuhi keperluan hidupnya di dunia. Harta benda yang di luar keperluan seseorang adalah harta yang berlebih. Yang terpenting bukan jumlah yang diberikan, tetapi apakah ia memberikannya dengan ikhlas atau tidak. Allah mengetahui segala sesuatu dan Dia telah memberi hati nurani kepada manusia untuk menetapkan hal-hal yang sesungguhnya tidak diperlukan. Menginfakkan harta benda merupakan bentuk ibadah yang mudah bagi orang-orang yang tidak dihinggapi ketamakan terhadap dunia dan yang tidak mengejar dunia, tetapi merindukan akhirat. Allah telah memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian dari harta kita untuk menjauhkan cinta dunia. Menginfakkan harta benda merupakan sarana untuk membersihkan diri dari sifat tamak. Tidak diragukan lagi bahwa bentuk ibadah ini sangat penting bagi orang-orang yang beriman dalam kaitannya dengan perhitungan di akhirat. Rasulullah saw. juga bersabda bahwa orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah akan dirahmati Allah:

    “Dua manusia akan dirahmati: Yang pertama adalah orang yang diberi oleh Allah al-Qur’an dan ia hidup berdasarkan al-Qur’an itu. Ia menganggap halal apa saja yang dihalalkan, dan menganggap haram apa saja yang diharamkan. Yang lain adalah orang yang diberi harta oleh Allah, dan harta itu dibelanjakannya kepada sanak keluarga dan dibelanjakan di jalan Allah.

    Manusia Harus Memberikan Apa yang Ia Cintai kepada Orang Miskin

    Orang sering kali cenderung memberikan sesuatu jika sesuatu yang diberikan itu tidak merugikan kepentingannya. Misalnya, ketika seseorang memberikan harta bendanya kepada orang miskin, sering kali ia memberikan sesuatu yang tidak lagi diperlukannya dan tidak disukainya, sudah ketinggalan mode, atau tidak layak pakai. Tampaknya orang merasa berat untuk memberikan harta benda yang dicintainya, padahal sesungguhnya kedermawanan seperti ini sangat penting untuk membersihkan diri dan agar mencintai amal kebajikan. Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan Allah kepada umat manusia. Allah telah menyatakan bahwa tidak ada cara lain untuk mencapai kebajikan bagi manusia kecuali melalui:

    “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Q.s. Ali Imran: 92).

    “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.s. al-Baqarah: 267).

    Membelanjakan Harta di Jalan Allah sebagai Sarana Agar Dekat Dengan-Nya

    Bagi orang yang beriman, tidak ada sesuatu pun yang lebih dirindukan daripada memperoleh keridhaan Allah dan dicintai oleh-Nya. Orang yang beriman berusaha mencari asbab untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam hidupnya. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

    Sebagai sebuah rahasia dan berita gembira bagi orang-orang beriman, Allah mengungkapkan dalam al-Qur’an bahwa apa yang dibelanjakan akan menjadi asbab untuk mencapai kedekatan dengan-Nya. Dengan demikian bagi orang yang beriman, memberikan apa yang ia cintai dan yang melebihi keperluannya kepada orang-orang miskin tidaklah sulit, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang taat dan cinta kepada Allah. Tentang hal ini Allah menyatakan sebagai berikut:

    “Dan diantara orang-orang Arab Badui ada orang yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, dan memandang apa yang dinafkahkannya itu sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. at-Taubah: 99).

    Apa Saja yang Dinafkahkan di Jalan Allah akan Memperoleh Balasan yang Baik

    Rahasia lain yang diungkapkan tentang membelanjakan harta seseorang di jalan Allah menurut al-Qur’an adalah, bahwa apa saja yang dinafkahkannya itu pasti akan memperoleh balasan. Ini merupakan janji Allah. Orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah tanpa takut akan menjadi miskin, akan memperoleh rahmat yang menakjubkan dalam kehidupan mereka. Apa saja yang dibelanjakan di jalan Allah akan diganjar sepenuhnya. Sebagian ayat yang menceritakan janji tersebut adalah sebagai berikut:

    “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka pahalanya itu untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Baqarah: 272).

    “Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Anfal: 60).

    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.s. Saba': 39).

    Orang-orang yang beriman hanya mengharapkan keridhaan Allah dan surga ketika mereka memberikan harta mereka; tetapi sebagai rahasia yang diungkapkan oleh Allah, apa saja yang mereka nafkahkan akan dikembalikan lagi kepada mereka. Pengembalian ini merupakan rahmat di dunia, dan di atas segalanya, Allah menyediakan surga bagi orang-orang yang beriman. Dalam pada itu, berkebalikan dengan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Allah akan mengurangi rezeki orang-orang yang bakhil dalam menafkahkan kekayaan mereka, atau orang yang suka mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak dan mengabaikan batasan-batasan Allah. Salah satu ayat yang berkaitan dengan masalah ini menceritakan tentang keadaan orang-orang yang memakan riba:

    “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Q.s. al-Baqarah: 276).

    Allah memberitahukan tentang keberuntungan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang memberikan harta mereka sebagai berikut:

    “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 261).

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakitinya, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

    “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265).

    Dalam setiap ayat tersebut terdapat rahasia yang diungkapkan Allah kepada orang-orang yang beriman dalam al-Qur’an. Orang-orang yang beriman memberikan harta benda mereka hanya untuk mencari keridhaan dan rahmat Allah dan surga-Nya. Namun, menyadari tentang rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an, mereka juga mengharapkan rahmat dan karunia Allah. Semakin banyak mereka memberikan hartanya di jalan Allah, dan semakin mereka memperhatikan apa yang diharamkan dan yang dihalalkan, Allah akan semakin menambah kekayaan mereka, tugas-tugas mereka dijadikan mudah, dan Allah memberikan kesempatan yang semakin banyak untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah. Setiap orang beriman yang bertakwa kepada Allah dan dalam hatinya tidak ada kekhawatiran terhadap masa depan, ia akan memahami rahasia ini dalam kehidupannya.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 16 January 2015 Permalink | Balas  

    shalatShalat Berjamaah

    Arsip Fiqh

    Hukum Shalat Berjamaah

    Shalat berjamaah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada uzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadis-hadis yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya adalah sebagai berikut.

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Telah datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’ Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara azan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)’.” (HR Muslim).

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjamaah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Abu Darda Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian disana tidak dilaksanakan shalat berjamaah, terkecuali syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senantiasa bersama jamaah (golongan yang banyak), karena sesungguhnya srigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya”. (HR Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan lainnya, hadis hasan).

    Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa mendengar panggilan azan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, terkecuali karena uzur (yang dibenarkan dalam agama).” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan lainnya, hadis sahih).

    Dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikumandangkan azan di dalamnya.” (HR Muslim).

    Keutamaan Shalat Berjamaah

    Shalat berjamaah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar. Banyak sekali hadis-hadis yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

    Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Shalat berjamaah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ‘Shalat seseorang dengan berjamaah lebih besar pahalanya sebanyak 25 atau 27 derajat daripada shalat di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat sendirian). Hal itu dikarenakan apabila salah seorang di antara kamu telah berwudu dengan baik kemudian pergi ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya dinaikkan satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan apabila dia masuk masjid, maka ia terhitung shalat selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap berada di dalam masjid itu, dan malaikat pun mengucapkan shalawat kepada salah seorang dari kamu selama dia duduk di tempat shalatnya. Para malaikat berkata, ‘Ya Allah, berilah rahmat kepadanya, ampunilah dia dan terimalah taubatnya.’ Selama ia tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap berada dalam keadaan suci.” (Muttafaq ‘alaih).

    Shalat berjamaah bisa dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam, sekalipun salah seorang di antaranya adalah anak kecil atau perempuan. Semakin banyak jumlah jamaah dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhanahu wa Taala.

    Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhuma, ia berkata, “Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu istri Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam), kemudian Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping kanannya.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiallaahu anhuma, keduanya berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa bangun di waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat berjamaah, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah.” (HR Abu Daud dan al-Hakim, hadis sahih).

    Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiallaahu anhu, “Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam sudah shalat bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda, ‘Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya shalat.’ Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia shalat bersamanya.” (HR Abu Daud dan at-Tirmidzi, hadis sahih).

    Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang (berdua), dan semakin banyak (jumlah jamaah) semakin disukai oleh Allah Taala.” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai, hadis hasan).

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 15 January 2015 Permalink | Balas  

    air mataPetuah bagi Ahli Maksiat

    Suatu saat seorang ahli hikmah, Ibrahim bin Adham didatangi orang yang mengaku ahli maksiat. Ia mengutarakan niatnya untuk keluar dari kubangan dunia hitam. Ibrahim bin Adham memberikan nasihatnya, seraya berkata,

    “Jika ingin menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka tak mengapa kamu meneruskan kesukaanmu berbuat maksiat.”

    Mendengar perkataan Ibrahim, ahli maksiat dengan penasaran bertanya, “Ya, Abu Ishaq (panggilan Ibrahim bin Adham) apa syaratnya?”

    Ibrahim bin Adham berkata, “Pertama, jika ingin melakukan maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan rezeki-Nya.”

    “Lalu, aku harus makan dari mana? Bukankah semua yang di bumi ini rezeki Allah?” kata sang ahli maksiat penuh keheranan.

    Ibrahim bin Adham berkata lagi, “Ya, kalau sudah menyadarinya, masih pantaskah kamu memakan rezeki-Nya, sedangkan kamu melanggar perintah-perintah-Nya. Kemudian syarat kedua, kalau ingin bermaksiat kepada-Nya, maka jangan tinggal di bumi-Nya.”

    “Ya, Abu Ishaq, kalau demikian, aku tinggal di mana? Bukankah semua bumi dan isinya ini kepunyaan Allah?” kata lelaki itu.

    “Ya Abdullah, renungkanlah olehmu, apakah masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu masih hendak melanggar perintah-Nya?” kata Ibrahim.

    “Ya, benar,” tutur lelaki itu tertunduk pasrah,

    Ibrahim bin Adham kembali berkata, “Syarat ketiga, kalau ingin juga bermaksiat, mau makan rezeki-Nya dan tingal di bumi-Nya, maka carilah suatu tempat yang tersembunyi dan tidak dilihat-Nya.”

    “Ya, Abu Ishaq, mana mungkin Allah SWT tidak melihat kita?” ujarnya.

    Sang ahli maksiat pun terdiam merenungkan petuah-petuah Ibrahim. Lalu ia kembali bertanya, “Ya, Abu Ishaq, kini apa lagi syarat keempat?”

    “Kalau malaikat datang hendak mencabut ruhmu, katakanlah, ‘Undurlah kematianku. Aku ingin bertaubat dan melakukan amal shalih’,” kata Ibrahim.

    “Ya Abu Ishaq, mana mungkin malaikat maut akan mengabulkan permintaanku itu,” jawab lelaki itu. “Baiklah, ya Abu Ishaq. Sekarang syarat kelimanya apa lagi?” tanyanya lagi.

    “Kalau malaikat Zabaniyah hendak membawamu ke neraka di hari kiamat, janganlah kamu mau ikut bersamanya!”

    “Ya, Abu Ishaq, jelas mereka (malaikat Zabaniyah) tidak mungkin membiarkan aku menolak kehendak-Nya,” ujar lelaki itu.

    “Kalau demikian, jalan apa lagi yang dapat menyelamatkan dirimu ya Abdullah?” tanya Ibrahim bin Adham.

    “Ya Abu Ishaq, cukuplah! Cukup! Jangan engkau teruskan lagi. Mulai detik ini aku beristighfar dan bertaubat pada Allah,” ujar lelaki itu sambil menangis penuh penyesalan.

    ***

    Affan Madjrie (sabili)

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 14 January 2015 Permalink | Balas  

    korupsiHukum Ghulul

    Oleh: Azhari

    Pengertian, kriteria dan hukumnya

    Harta Ghulul adalah harta yang diperoleh oleh pejabat (pemerintah atau swasta) melalui kecurangan atau tidak syar’i, baik yang diambil harta negara maupun masyarakat.

    Barangsiapa yang berbuat curang, pada hari kiamat ia akan datang membawa hasil kecurangannya (Ali-Imran 161).

    Harta ghulul terdiri dari 4 macam:

    1. Suap (risywah)

    Setiap harta yang diberikan kepada pejabat atas suatu kepentingan, padahal semestinya urusan tersebut tanpa pembayaran.

    1. Hadiah (hibah)

    Hadiah yang diberikan kepada pejabat (mirip suap) agar memperoleh penghargaan, penilaian istimewa atau keuntungan dikemudian hari.

    Rasulullah mengangkat Ibnu Utabiyah untuk menarik zakat Bani Sulaim. Setelah kembali dan menghadap Rasulullah, Ibnu Utabiyah berkata: “Ini untuk engkau dan ini adalah hadiah yang diberikan orang kepada saya, lalu Rasulullah bersabda:

    Ini adalah (harta) untuk anda, dan ini (harta yang) dihadiahkan kepadaku. (Jika memang benar itu hadiah) apakah tidak sebaiknya ia duduk saja dirumah bapak atau ibunya, lalu (lihat) apakah hadiah itu akan diberikan kepadanya atau tidak?. Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, tidak akan ia membawa sesuatu melainkan dihari Kiamat nanti ia akan memikul (kesalahannya) diatas pundaknya (HR Bukhari No. 1922). 2)

    1. Komisi (‘amulah)

    Harta yang diperoleh hasil balas jasa transaksi antara pejabat dengan supplier pemerintah.

    1. Korupsi

    Mengambil harta negara yang bukan haknya atau melakukan mark-up suatu project pemerintah.

    Semua harta ini (4 jenis diatas) haram diambil dan harus dikembalikan kepada pemiliknya, penyuap, penerima suap dan perantaranya harus dihukum. 9)

    Rasulullah saw melaknat penyuap, penerima suap dan orang yang menyaksikan penyuapan (HR Imam Ahmad).

    Dengan demikian dapat dipahami bahwa jika seseorang untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan telah dibayar maka apapun selain itu bukan menjadi haknya dan haram mengambilnya. Begitu juga, jika dia memanfaatkan harta perusahaan atau negara untuk kepentingan pribadinya, dalam hal ini ia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya secara bathil dan haram hukumnya. Misal, seorang karyawan menerima souvenir sebuah pulpen, parcel diakhir tahun, amplop yang berisi uang atau uang komisi yang biasanya langsung ditransfer, mengambil harta perusahaan/negara, melakukan mark-up suatu transaksi, dan lain-lain.

    Siapa saja yang kami beri tugas melakukan sesuatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rizki (gaji) maka yang diambil olehnya selain itu adalah kecurangan (HR Abu Dawud).

    Lantas bagaimana dengan pejabat (eksekutif, legislatif dan yudikatif) yang menerima hadiah agar diterimanya laporan pertanggung-jawaban Gubernur, agar tidak diusiknya kecurangan pengusaha, agar tidak terlalu kritis kepada pemerintah (daerah maupun pusat), agar dipermudahnya membuka usaha, diperlancarnya semua urusan dipemerintahan, dan lain sebagainya. Baik hadiah tersebut berupa uang (transfer atau amplop), rumah, kavling tanah, mobil, TV dan barang lainnya, semua ini harta haram dan keharamannya berlaku bagi penerima suap, sipenyuap dan perantaranya.

    Sungguh pedih siksa Allah bagi kasus suap ini, jika hasil suap itu untuk memenuhi kebutuhan makanan, maka daging yang berasal dari hasil suap akan dibakar oleh api neraka. Jika hasil suap itu digunakan untuk membeli harta benda, maka harta itu harus dibopong dipundaknya diakhirat nanti. 8) Jika mereka menerimanya berupa kavling tanah maka sungguh tidak terbayangkan jika harus membopong kavling tanah dipundak mereka. Na’udzubillah.

    Setiap daging yang tumbuh dari usaha yang haram maka neraka lebih pantas baginya (HR Ahmad).

    Bahwa Rasulullah saw pernah mengangkatnya sebagai petugas pengumpul zakat. Beliau bersabda: “Wahai Abu Mas’ud, berangkatlah, semoga pada hari kiamat kelak aku tidak akan mendapatimu datang dalam keadaan punggungmu memikul seekor unta shadaqah yang meringkik-ringkik yang engkau curangi. Aku mejawab: “Jika demikian aku tidak jadi berangkat”. Beliau menjawab: “Aku tidak memaksamu” (HR Abu Dawud).

    Bagaimana pula, jika harta suap tersebut dinikmati oleh keluarganya. Ia-pun tetap harus mempertanggung jawabkan apa yang dimakan dan digunakan oleh keluarganya, keluarganya tidak berdosa jika mereka tidak tahu bahwa itu harta haram tetapi ikut berdosa jika tahu bahwa itu harta haram (dosa atas menikmati harta haram bukan dosa sebagai penerima suap). 8) Bagaimana pula jika harta itu diinfaqkan kepada mesjid, fakir miskin, panti Asuhan, dan lain-lain, hal ini tetap harus dipertanggung-jawabkan. Dan Allah tidak menghargai bagusnya niat dan mulianya tujuan, jika cara kerjanya diharamkan, menafkahkan harta haram tidak sah menurut Islam. 7) Sungguh suatu kedzaliman menafkahi anak istri atau memberi infaq kepada fakir miskin dengan harta haram.

    Dan, sembahlah selain Dia (Allah) sesuka kamu, katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah mereka yang merugikan dirinya dan keluarganya pada hari kiamat. Bukankah yang demikian itu merupakan kerugian yang nyata (Az-Zumar 15).

    Sesungguhnya Allah itu thayib (baik), tidak menerima (suatu amal) kecuali yang baik (halal) (HR Muslim).

    Allah melarang kita untuk mencampur-adukkan antara yang haq (memberi nafkah atau infaq) dengan yang bathil (menggunakan harta haram).

    Dan janganlah kamu campur-adukkan antara yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui (Al-Baqarah 42).

    Walhasil, agar berhati-hati dalam mencari nafkah dan lebih baik berhenti sejenak memastikan harta itu halal atau haram sebelum mengambilnya. Dan mulailah dari hal-hal yang kecil dahulu semisal apakah pulpen kantor yang kita pakai digunakan juga untuk kepentingan pribadi?, apakah pulsa HP yang dibayar kantor digunakan juga untuk kepentingan pribadi?, apakah masih menerima souvenir indah (pulpen, jam meja, kalkulatror, dan lain-lain) dari Supplier (klien)?, apakah masih menerima parcel akhir tahun dari supplier?, dan lain-lain. Sehingga jika menerima yang lebih besar berupa suap atau komisi akan mantap untuk menolaknya. Begitulah orang yang bertaqwa, sangat berhati-hati melangkah bagaikan berjalan diatas batu yang tajam.

    Pembuktian dan sanksinya

    Hukum pembuktian dalam Islam sama halnya dengan hukum syara’ yang lain, merupakan hukum yang digali dari dalil yang bersifat rinci. Hukum pembuktian kadang-kadang terjadi pada kasus pidana (‘uqubat), kadang terjadi pula pada kasus-kasus perdata (mu’amalat).

    Bukti itu ada empat dalam Islam, yakni: pengakuan, sumpah, kesaksian dan dokumen-dokumen tertulis. Sedangkan indikasi (qarinah) tidak termasuk bukti.

    Pengakuan

    Pengakuan dari pelaku bahwa ia telah mengambil harta ghulul dan seorang Qadhi harus meneliti kebenaran pengakuannya itu, seperti halnya Rasulullah meneliti pengakuan zina oleh Al-Aslami (apakah engkau menyetubuhinya?, apakah seperti anak celak masuk kedalam celak?, apakah seperti timba masuk kedalam sumur? – HR Abu Dawud dan Daruquthni). Hal ini untuk memastikan bahwa ia benar-benar telah melakukannya.

    Sumpah

    Hal ini merupakan kelanjutan dari pengakuan , ia harus bersumpah atas perbuatan tersebut benar-benar telah dilakukannya. Sumpah ini atas permintaan Qadhi,

    Sumpah itu wajib didasarkan pada niat orang yang meminta (HR Muslim).

    Kesaksian

    Dalam banyak ayat dan hadits dijelaskan bahwa pada umumnya kasus ‘uqubat dan mu’amalat dengan menghadirkan 2 orang saksi laki-laki, seperti: kasus jual beli (Al-Baqarah 282), wasiat (Al-Maidah 106), Talak dan rujuk (Ath-Thalaq 2), temuan luaqathah (HR Imam Ahmad), dan lain-lain, kecuali kasus zina dengan 4 orang saksi. Sedangkan jika tidak ada saksi laki-laki maka dapat diganti dengan 2 orang saksi wanita.

    Kesaksian inipun harus disaksikan langsung oleh pemberi saksi (al-mu’ayanah), melalui panca indranya. Dan dilakukan dihadapan Qadhi pada sidang pengadilan, diluar pengadilan tidak syah.

    Dokumen

    Dokumen-dokumen yang ditanda-tangani oleh pemiliknya sendiri baik dihadapan instansi resmi maupun tidak, dokumen ini merupakan pengakuan tertulis dan tidak berbeda dengan pengakuan lisan. Begitu juga dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh Badan resmi dapat dijadikan bukti dipengadilan, salinan (copy) dokumen tidak dapat dijadikan bukti selama belum ada pengesahan dari Badan yang mengeluarkan. 9)

    Hukuman sanksi (‘uqubat) terdiri dari 4 macam: had, qishash, ta’zir dan mukhallafat. Sedangkan sanksi (‘uqubat) bagi pelaku ghulul adalah ta’zir (bukan had), karena harta yang dicuri merupakan harta yang syubhat (harta negara/baitul mal) dan merupakan harta milik umum, sama halnya anak mencuri harta bapaknya, istri mencuri harta suaminya maka tidak dikenai had tetapi ta’zir. Ta’zir adalah pelanggaran atas hukum syara’ (wajib dan haram), tetapi belum ditetapkan kadar sanksinya secara syar’i maka diserahkan kepada penguasa (qadhi/khalifah) untuk menetapkan sanksinya.

    Sanksi ta’zir bisa berupa hukuman mati, jilid (cambuk), penjara, pengasingan, dan lain-lain. dan sanksi ini merupakan penebus dosa bagi pelakunya, disamping itu sanksi ini sebagai pencegah agar masyarakat tidak melakukan hal yang sama. Tetapi sebelum sanksi ta’zir dilakukan maka harta ghulul harus dikembalikan terlebih dahulu kepada pemiliknya. Jika barangnya telah rusak/cacat/berkurang maka harus dikembalikan dengan barang lain yang senilai harganya.

    Barangsiapa menemukan barangnya terdapat pada seorang laki-laki maka ia yang paling berhak terhadap barang tersebut, dan orang yang menjualnya harus mengembalikan barang jualannya itu (HR Abu Dawud).

    Dalam hal ini putusan Qadhi tidak mengubah hakikat hukum syari’at, yakni tidak dapat merubah haram menjadi halal atau sebaliknya. Hakim hanya dapat menghukumi apa yang dapat dilihat, didengar dan disaksiikan para saksi, dan Qadhi manusia biasa yang bisa saja salah.Jika keputusannya salah maka Qadhi memperoleh satu pahala, sedangkan dosanya ditanggung oleh penipunya. 1)

    Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain diantara kalian dengan cara bathil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui (Al-Baqarah 188).

    Wallahua’lam,

    Maraji’:

    1. Tafsir Ibnu Katsir
    2. Tafsir Fi zhilalil Quran oleh Sayyid Quthb
    3. Shahih Bukhari
    4. Hukum pembuktian dalam Islam (Ahkamul bayyinat) oleh Ahmad ad-Da’ur
    5. Sistem sanksi dalam Islam (Nidzamul ‘uqubat) oleh Abdurrahman al-Maliki
    6. Halal haram dalam Islam oleh DR Yusuf Qaradhawi
    7. Anatomi masyarakat Islam oleh DR Yusuf Qaradhawi
    8. Halal dan haram oleh Mutawalli Sya’rawi
    9. Sistem keuangan dinegara Khilafah (Al-amwal fi daulah al-Khilafah) oleh Abdul Qadim Zallum
     
  • erva kurniawan 1:11 am on 13 January 2015 Permalink | Balas  

    Rahasia Mengapa Allah Menghapus Perbuatan Buruk Orang orang… 

    ampunRahasia Mengapa Allah Menghapus Perbuatan Buruk

    Orang-orang beriman bercita-cita memperoleh keridhaan, kasih sayang, dan surga Allah. Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa sehingga manusia melakukan banyak kesalahan dan memiliki banyak kelemahan. Allah Yang Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Pengasih dan Penyayang memberitahukan kita bahwa Dia akan menghapus perbuatan buruk dari hamba-Nya yang ikhlas dan akan memberikan kepada mereka pemeriksaan yang mudah:

    “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira.” (Q.s. al-Insyiqaq: 7-9).

    Tentu saja Allah tidak mengubah perbuatan buruk setiap orang menjadi kebaikan. Adapun sifat orang-orang beriman yang perbuatan buruknya dihapus Allah dan diampuni-Nya diberitahukan dalam al-Qur’an.

    Orang-orang yang Menjauhi Dosa-dosa Besar

    Dalam sebuah ayat Allah menyatakan:

    “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (Q.s. an-Nisa': 31).

    Orang-orang yang beriman yang mengetahui fakta ini berbuat dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan batas-batas yang ditetapkan Allah, dan mereka menghindari hal-hal yang dilarang. Jika mereka melakukan kesalahan karena kealpaannya, mereka segera berpaling kepada Allah, bertobat, dan memohon ampunan.

    Allah memberitahukan kita dalam al-Qur’an tentang hamba-hamba-Nya yang tobatnya akan diterima. Dalam hal ini, jika kita mengetahui perintah Allah, namun dengan sengaja kita melakukan dosa dan berkata, “Tidak apa-apa, apa pun yang terjadi saya akan diampuni.” Perkataan ini benar-benar menunjukkan cara berpikir yang salah, karena Allah mengampuni perbuatan dosa hamba-hamba-Nya yang dilakukan karena kealpaan dan ia segera bertobat dan tidak berniat mengulanginya lagi:

    “Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketidaktahuan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak pula orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (Q.s. an-Nisa': 17-8).

    Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, menjauhi perbuatan dosa dengan sungguh-sungguh sangatlah penting jika seseorang ingin perbuatan-perbuatan buruknya dihapuskan, dan jika tidak menginginkan penyesalan pada hari pengadilan kelak. Dalam pada itu, seorang beriman yang melakukan suatu dosa, hendaknya secepatnya memohon ampun kepada Allah.

     

    Orang-orang yang Sibuk Mengerjakan Amal Saleh

    Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi perbuatan buruk orang-orang yang beramal saleh. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:

    “Pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taghabun: 9).

    “Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu kejahatan mereka diganti dengan Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Furqan: 70).

    Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan untuk mencari karunia Allah adalah “amal saleh”. Misalnya, perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia, memperingatkan seseorang yang tidak mau bertawakal kepada Allah atas takdirnya, menjauhi seseorang dari menggunjing, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih, memperluas wawasan dengan membaca dan belajar, berbicara dengan sopan, mengingatkan orang tentang akhirat, merawat orang sakit, menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada yang lebih tua, mencari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain, mencegah kejahatan dengan kebaikan dan kesabaran, semua itu merupakan amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah.

    Orang-orang yang menginginkan agar kesalahannya diampuni dan diganti dengan kebaikan di akhirat, hendaknya selalu melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah. Untuk tujuan itu, hendaknya kita selalu ingat perhitungan pada Hari Pengadilan. Tentunya menjadi jelas bagaimanakah seseorang seharusnya berbuat, misalnya jika ia diletakkan di depan api neraka, kemudian kepadanya diperlihatkan perbuatan-perbuatan buruknya yang telah ia kerjakan semasa hidupnya, kemudian diingatkan bahwa ia seharusnya berbuat benar agar diampuni.

    Seseorang yang melihat api neraka, yang mendengar keputusasaan, penyesalan, dan keluh kesah para penghuni neraka yang mengalami siksaan yang pedih, dan yang menyaksikan siksa neraka dengan matanya, tentu saja akan melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah dan akan berusaha dengan sekuat tenaganya. Orang ini akan mengerjakan shalat tepat pada waktunya, melakukan amal saleh, tidak akan pernah lalai, tidak pernah berani melakukan perbuatan yang kurang diridhai Allah, jika ia mengetahui bahwa ada perbuatan lainnya yang lebih diridhai-Nya. Karena neraka yang ada di sisinya akan selalu mengingatkannya tentang kehidupan yang kekal abadi dan siksaan Allah. Ia akan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya. Ia akan berhati-hati dalam menjaga shalatnya. Sehingga, dalam kehidupan di dunia ini, perbuatan buruk bagi orang-orang yang melakukan amal saleh, takut kepada Allah dan hari pengadilan, bagaikan orang yang melihat neraka lalu dikembalikan ke dunia, atau bagaikan mereka selalu melihat api neraka di sisinya sehingga ia segera melakukan kebaikan. Orang-orang yang beriman ini merasa yakin tentang akhirat dan mereka sangat takut dengan azab Allah dan berusaha menjauhinya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 12 January 2015 Permalink | Balas  

    sholat 4Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Shalat

    Arsip Fiqh

    Hal-hal yang dimakruhkan di dalam shalat adalah sebagai berikut.

    1. Menengadahkan pandangan ke atas. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka? Hendaklah mereka berhenti dari hal itu atau (kalau tidak), niscaya akan tersambar penglihatan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dengan makna yang sama)
    2. Meletakkan tangan di pinggang. Hal ini berdasarkan larangan Rasulullah saw meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. (Muttafaq ‘alaih)
    3. Menoleh atau melirik, terkecuali apabila diperlukan. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah ra. Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang seseorang yang menoleh dalam keadaan shalat, beliau menjawab,

    “Itu adalah pencurian yang dilakukan setan dari shalat seorang hamba.” (HR Bukhari dan Abu Daud)

    1. Melakukan pekerjaan yang sia-sia, serta segala perbuatan yang membuat orang lalai dalam shalatnya atau menghilangkan kekhusyuan shalatnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Hendaklah kamu tenang dalam melaksanakan shalat.” (HR Muslim)
    2. Menaikkan rambut yang terurai atau melipatkan lengah baju yang terulur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak boleh melipat baju atau menaikkan rambut (yang terulur).” (Muttafaq ‘alaih)
    3. Menyapu kerikil yang ada di tempat sujud (dengan tangan) dan meratakan tanah lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw, “Dari Mu’aiqib, ia berkata, ‘Rasulullah saw menyebutkan tentang menyapu di masjid (ketika shalat), maksudnya menyapu kerikil (dengan telapak tangan). Beliau bersabda, ‘Apabila memang harus berbuat begitu, maka hendaklah sekali saja’.” (HR Muslim)

    Dari Mu’aiqib pula, bahwa Rasulullah saw bersabda tentang seseorang yang meratakan tanah pada tempat sujudnya (dengan telapak tangan), beliau bersabda, “Kalau kamu melakukannya, maka hendaklah sekali saja.” (Muttafaq ‘alaih)

    1. Mengulurkan/menjulurkan pakaian sampai mengenai lantai dan menutup mulut (tanpa alasan).

    Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah saw melarang mengulurkan/menjulurkan pakaian sampai mengenai lantai dalam shalat dan menutup mulut.” (HR Abu Daud, Tirmizi dan lainnya, hadis hasan)

    Adapun jika menutup mulut karena suatu hal, seperti menguap ataupun yang lainnya maka hal tersebut dibolehkan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.

    1. Shalat di hadapan makanan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan.” (HR Muslim)
    2. Shalat sambil menahan buang air kecil atau besar dan sebagainya yang mengganggu ketenangan hati. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan dan shalat seseorang yang menahan buang air kecil dan besar.” (HR Muslim)
    3. Shalat ketika sudah terlalu mengantuk. Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu ada yang mengantuk dalam keadaan shalat, maka hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Maka sesungguhnya apabila salah seorang di antara kamu ada yang shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak akan tahu apa yang ia lakukan, barangkali ia bermaksud minta ampun kepada Allah, ternyata dia malah mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)
    4. Berpanca atau mengait-ngaitkan jari-jari tangan. Hal ini karena Nabi saw pernah melihat seorang laki-laki mengait-ngaitkan jari-jemarinya diwaktu shalat yang kemudian dilepaskan oleh beliau. (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)
    5. Melihat sesuatu yang dapat melalaikan hati. Diriwayatkan dari Aisyah bahwasannya dia berkata bahwa Rasulullah saw shalat dengan memakai kain (baju) yang terbuat dari bulu wol bergaris-garis, lalu beliau bersabda, “Garis-garis baju ini membuat lalai. Karena itu, bawalah baju ini kepada Abu Jahm dan tukarkanlah dengan baju bulu yang kasar dan polos. (HR Syaikhan/Bukhari-Muslim)

    Referensi:

    • Tuntunan Shalat Menurut Alquran & As-Sunah, Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin
    • Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 11 January 2015 Permalink | Balas  

    wudhu-4Wajah Orang-Orang Beriman Bercahaya, dan Wajah Orang-Orang Kafir Diliputi Kehinaan

    Salah satu rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa keimanan dan kekufuran tercermin di wajah dan kulit manusia. Di beberapa ayat, Allah memberitahukan bahwa terdapat cahaya di wajah orang-orang beriman, sedangkan wajah orang-orang kafir diliputi kehinaan:

    “Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu (Q.s. asy-Syura: 45).

    “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan ada tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan memperoleh balasan yang setimpal dan mereka diliputi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari azab Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. Yunus: 26-7).

    Sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat tersebut, wajah orang-orang kafir diliputi oleh kehinaan. Sebaliknya, wajah orang-orang beriman bercahaya. Allah menyatakan bahwa mereka dikenal karena adanya bekas sujud pada wajah mereka:

    “Muhammad itu adalah Utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (Q.s. al-Fath: 29).

    Dalam ayat-ayat lainnya, Allah memberitahukan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang yang berdosa dikenali dari wajah mereka:

    “Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.” (Q.s. ar-Rahman: 41).

    “Dan kalau kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Q.s. Muhammad: 30).

    Keajaiban dan rahasia penting yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah adanya perubahan fisik yang terjadi pada wajah seseorang. Hal itu tergantung pada keimanan dan dosa seseorang. Keadaan ruhani menghasilkan pengaruh fisik pada tubuh, sekalipun bentuknya tetap sama, namun ekspresi wajah dapat berubah, yakni wajahnya diliputi kegelapan atau cahaya. Jika Allah menghendaki, orang yang beriman dapat melihat keajaiban ini yang ditunjukkan kepada orang-orang.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 10 January 2015 Permalink | Balas  

    al-quran 3Balasan Berakidah Islam

    Seorang yang berakidah Islam akam mendapatkan balasan dari keimanannya berupa kenikmatan dan kesenangan di Dunia, dan diakhirat. Hal ini merupakan janji Allah swt kepada kaum muslim. Kenikmatan dan kesenangan itu adalah sesutu yang pasti akan didapatkan oleh seorang muslim sebagai buah dari keimanannya kepada Allah swt, baik diharapkannya ataupun tidak diharapkannya. Akan tetapi keimanan itu harus senantiasa disertai dengan pelaksanaan segala konsekuensinya.

    A. Kenikmatan dan Kesenangan di Dunia

    1. Menjadi Golongan Terbaik dan Mulia

    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS Ali Imran 110

    “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” QS Ali Imran 139

    1. Jaminan Ketenangan dan Selalu Berani Bertindak

    “Katakanlah:”Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Alloh bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” QS At Taubah 51

    1. Jaminan Kecukupan rizki dan Menjadi Pewaris Bumi

    “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” QS Ath Thalaq 2-3

    “Dan sungguh telah kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) lauh Mahfudz, bahwasanya bumi ini diwariskan untuk hamba-hambaKu yang saleh” QS Al Anbiya 105

    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” QS Al A’raf 96

    1. Kepuasan Akal

    Apabila jalan keimanan untuk mencapai akidah Islam yang hakiki telah dilalui dengan jalan berpikir yang cemerlang maka seorang muslim akan merasa terpuaskan akalnya. Dia akan tunduk dengan jawaban yang dipikirkannya secara cemerlang atas jawaban 3 pertanyaan yang mendasar (uqdatul kubro) pada manusia, dengan jawaban yang memuaskan dan shahih.

    1. Kemenangan atas Orang kafir

    “Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia menjadikan orang-orang yang sebelum mereka, telah berkuasa?” QS An Nuur :55

    “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslim memerangi yahudi, kemudian kaum muslim memerangi mereka sampai akhirnya orang-orang yahudi (berlarian) berlindung di balik batu dan pepeohonan. Lalu batu dan pepohonan itu berkata, “wahai muslim?, wahai hamba Allah?, ini ada orang yahudi bersembunyi dibelakangku, kemari, dan bunuhlah dia.” HR Bukhari dan Muslim

    Masih banyak lagi ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rosulullah saw, yang memaparkan janji-janji Allah swt yang akan diperoleh kaum muslim di dunia. Akan tetapi tentu saja syarat pertama memperoleh segala kenikmatan dan kesenangan di dunia, oleh sebab dia seorang muslim, adalah memegang teguh keimanan terhadap akidah Islam. Rosulullah saw juga tidak berpangku tangan dalam urusan memberi nafkah untuk dirinya dan keluarganya, beliau juga sempat mencari kayu bakar pada saat akan memasak makanan dengan para sahabat, bahkan juga pernah dapur rumahnya tidak ada yang dimasak selama 3 hari berturut-turut.

    Semuanya itu adalah bukti bahwa seorang muslim akan senantisa mendapatkan kemenangan, kesenangan, kenikmatan di dunia ini selama mereka senantiasa menunaikan kausalitas pekerjaan tersebut. Bukankah mudah bagi Nabi saw untuk hanya menyuruh para malaikat menghancurkan musuh-musuhnya, mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya, bahkan kehidupan yang nikmat dan kesenangan dapat diraihnya laksana hidup di dalam istana yang megah dan mewah? Akan tetapi Rosulullah saw menunaikan aspek kausalitas dalam setiap perbuatannya. Adanya kesulitan, kesusahan, kesedihan, dan kesengsaraan yang sempat ditemui oleh seorang muslim bukanlah berarti segala kenikmatan dan kesenangan yang dijanjikan Allah swt itu dusta belaka. Walaupun sudah memegang teguh keimanan kepada akidah Islam. Akan tetapi bisa saja karena dirinya tidak memenuhi kausalitas perbuatan di dunia ini, atau Allah swt berkehendak mengujinya dan akan memberikan kenikmatan dan kesenangan itu diperolehnya di akhirat kelak. Hal ini membutuhkan kewaspadaan bagi seorang muslim, apabila seluruh aspek kausalitas telah dijaga dan ditunaikannya, maka segala apapun hasilnya adalah baik baginya. Walaupun kesengsaraan dan kesusahan merupakan hasil dari perbuatan tersebut, dia akan tetap merasa menang dan bahagia karena berarti kenikmatan di akhirat akan segera didapatinya. Namun bila aspek kausalitas tidak dijaga dan ditunaikannya, maka kehancuran akan didapatinya. Lebih lagi bila dia menggantungkan harapan kepada Allah swt tetapi kausalitas tidak ditunaikan maka di dunia akan menuai kehancuran dan di akhirat tidak akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan yang diharapkan.

    B. Kepastian Surga dan Kenikmatannya di Akhirat

    “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” QS. Ali Imran: 133

    “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” QS.Al Araf :50

    “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” QS.Maryam: 63

    “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa, dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” QS.Al Baqarah:25

    Dan masih banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menceritakan tentang kenikmatan surga yang disediakan bagi orang yang berakidah Islam Wallahu alam bish showab.

    ***

    Kiriman Sahabat Rachmat Kurnia

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 9 January 2015 Permalink | Balas  

    sabar (1)Terdapat Kebaikan Dalam Setiap Peristiwa

    Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak menyenangkan terdapat kebaikan di dalamnya:

    “Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.s. an-Nisa': 19).

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 216).

    Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat. Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan seluruh harta benda mereka. Mereka tetap bersyukur kepada Allah yang telah mengkaruniakan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda. Untuk itu, mereka bersyukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan keindahan untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderitaan yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memerlukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang. Dengan bertawakal sepenuhnya kepada Allah dan dengan menunjukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.

    Manusia harus mencari kebaikan dan keindahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misalnya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Seseorang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapannya pada masa depan. Bagaimanapun, hendaknya ia mengetahui bahwa terdapat kebaikan dalam kegagalannya ini. Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barangkali Allah menghendaki dirinya agar terhindar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menempatkan berbagai rahmat dalam setiap peristiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.

    Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.

    Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, “Seandainya saya tidak melakukan…” atau “Seandainya saya tidak berkata …,” dan sebagainya. Kesalahan, kekurangan, atau peristiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak menguntungkan, pada hakikatnya di dalamnya terdapat rahmat dan masing-masing merupakan ujian. Allah memberikan pelajaran penting dan mengingatkan manusia tentang tujuan penciptaan pada setiap orang. Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nuraninya, tidak ada kesalahan atau penderitaan, yang ada adalah pelajaran, peringatan, dan hikmah dari Allah. Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melakukan mawas diri, bahkan keimanannya menjadi lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.

    Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang mengenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami, tetapi yang dimintai tanggung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan ketakutan yang menghinggapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelaskan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “Kami berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati’.” (Q.s. al-Baqarah: 38).

    “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Q.s. Yunus: 62-4).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 8 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatKeutamaan Shalat

    Arsip Fiqh

    Shalat adalah ibadah yang utama dan berpahala sangat besar. Banyak hadits-hadits yang menerangkan hal itu, akan tetapi dalam kesempatan ini kita cukup menyebutkan beberapa, di antaranya sebagai berikut:

    1. Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang amal yang paling utama dalam hal shalat, beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” (Muttafaq ‘alaih)
    2. Sabda Rasulullah SAW, “Bagaimana pendapat kamu sekalian, seandainya di depan pintu masuk rumah salah seorang di antara kamu ada sebuah sungai, kemudian ia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari; apakah masih ada kotoran yang melekat di badannya?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotoran di badannya.” Bersabda Rasulullah SAW, “Maka begitu pulalah perumpamaan shalat lima kali sehari semalam; dengan shalat itu, Allah akan menghapus semua dosa.” (Muttafaq ‘alaih)
    3. Sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada seorang muslim pun yang ketika shalat fardhu telah tiba, kemudian dia berwudhu’ dengan baik dan memperbagus kekhusyu’annya (dalam shalat) serta ruku’nya, terkecuali hal itu merupakan penghapus dosanya yang telah lalu, selama dia tidak melakukan dosa besar, dan hal itu berlaku sepanjang tahun itu.” (HR. Muslim)
    4. Sabda Rasulullah SAW, “Pokok segala perkara itu adalah Al-Islam; dan tonggak Islam itu adalah shalat; dan puncak Islam itu adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya: hadits shahih)

    ***

    Referensi: Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 738 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: