Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:37 am on 4 September 2016 Permalink | Balas  

    Isa anak Allah? 

    al quranIsa anak Allah?

    A=Muslim B=Kristen

    Malam 1.

    Ketuhanan Yesus

    A: Sejak kapan Saudara beragama Kristen?

    B: Sejak saya dilahirkan.

    A: Apakah Saudara benar-benar mempelajari bahwa agama Kristen itu suatu agama yang paling benar?

    B: Ya, memang saya menyadari.

    A: Apakah Saudara berkeyakinan bahwa Kitab Injil itu suci?

    B: Ya, saya yakin sekali.

    A: Dari siapakah pengertian Saudara bahwa Bibel itu dari Tuhan Yang Maha Suci?

    B: Guru saya menerangkan bahwa Bibel adalah Kitab Suci berisi pengajaran Tuhan Yesus, yang dicatat oleh Rasul-Rasul Matius, Lukas, Yohanes dan Rasul Markus.

    A: Apakah yang dimaksud suci pada Bibel itu mempunyai arti bahwa Bibel bersih daripada kesalahan-kesalahan?

    B: Betul demikian. Tetapi kesalahan yang bagaimana yang Bapak maksudkan?

    A: Misalnya pada suatu saat ada orang mengabarkan pada Saudara si A sakit, sedangkan orang lain memberitahukan bahwa pada saat itu si A tidak sakit. Kedua berita itu apakah benar semuanya atau salah semuanya, atau salah satunya yang benar?

    B: Diantara keduanya itu tentu salah satu yang benar atau keduanya salah dan mustahil kedua-duanya benar.

    A: Satu misal lain, si A mempunyai 3 orang anak dan orang lain mengatakan si A mempunyai 10 anak. Apakah dua perkataan itu benar semuanya atau salah semuanya atau salah satu yang benar?

    B: Tidak mungkin benar semuanya, melainkan salah satunya yang benar atau salah semuanya.

    A: Kalau saya mengatakan benar semuanya, bagaimana pendapat saudara?

    B: Itu adalah mustahil, karena ternyata ada perselisihan di antara keduanya.

    A: Andaikata ada suatu kitab suci, akan tetapi ayat-ayat di dalamnya di antara yang satu dengan yang lain terdapat perselisihan, apakah kitab itu akan dinamakan kitab suci?

    B: Tentu bukan kitab suci, karena yang dinamakan kitab suci itu adalah ilham (wahyu) dari Tuhan, yang mustahil terdapat kesalahan atau perselisihan.

    A: Jadi kalau begitu bukan kitab suci lagi?

    B: Betul, kesuciannya telah batal.

    A: Kalau demikian, tentu isinya tidak dapat dipercaya, kesuciannya atau kebenarannya, karena di antara ayat-ayatnya terdapat perselisihan.

    B: Yang jelas di antara ayat-ayatnya pasti bukan dari Tuhan, atau sudah dicampuradukkan dengan karangan manusia, sehingga kesuciannya ternoda. Ringkasnya sudah tidak suci lagi.

    A: Kalau misalnya Bibel terdapat selisih antara satu ayat dengan ayat lain apakah Saudara masih berkeyakinan Bibel itu kitab suci?

    B: Saya tidak yakin kalau Kitab Bibel tidak suci. Terkecuali kalau ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan ayat-ayatnya berselisih antara yang satu dengan yang lain, yang dapat menimbulkan keraguan saya tentang kesuciannya. Menurut penelitian Bapak, apakah ayat-ayat Bibel ada yang berselisih?

    A: Ya, banyak yang berselisih.

    B: Di Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru?

    A: Dua-duanya terdapat beberapa perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain.

    B: Di bab apa dan pasal serta ayat berapa?

    A: Supaya berurutan saya atur dalam beberapa pasal: Pertama soal Ketuhanan Yesus, karena soal Ketuhanan adalah termasuk kepercayaan pokok pada tiap-tiap agama. Jadi soal ini perlu sekali didahulukan. Sesudah itu kita berpindah kepada soal yang lain yang berhubungan dengan soal agama Kristen yang termaktub dalam Kitab Bibel. Bagaimana pendapat Saudara?

    B: Baik, saya menyetujui pendapat Bapak. Siapa Sajakah “Anak Allah” Itu?

    A: Sekarang saya ingin bertanya, apakah alasan Saudara bahwa Yesus menjadi anak Tuhan?

    B: Dalam “Matius” pasal 3 ayat 17 menyebutkan demikian : “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. KepadaNya Aku berkenan”. Juga di Lukas pasal 4 ayat 41, bahwa “Yesus itu Anak Allah.”

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 5 ayat 9.

    B: Baik, Dalam pasal dan ayat itu menyebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah”.

    A: Berdasarkan ayat tersebut, yang dimaksudkan “Anak Allah” itu ialah orang yang dihormati seperti Nabi. Kalau Yesus dianggap anak Allah, maka semua orang yang mendamaikan manusia pun menjadi anak-anak Allah juga. Jadi bukan Yesus saja Anak Allah tetapi ada terlalu banyak.

    B: Dalam “Yohanes” pasal 14 ayat 9 disebutkan: “Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa”, dan di ayat 10 disebutkan: “Tiadakah engkau percaya bahwa Aku ini di dalam Bapa, dan Bapa pun di dalam Aku? Segala perkataan yang Aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal di dalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu.” Tritunggal atau 15Tunggal?

    A: Baiklah. Silahkan Saudara periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 23.

    B: Baik, di pasal ini disebutkan bahwa: “Aku di dalam mereka itu, dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan.”

    A: Perhatikan di ayat ini ada tersusun kata “Aku di dalam mereka”. Kata “mereka” di ayat ini ialah sahabat Yesus. Sedang yang dimaksudkan dengan “Aku” ialah Yesus. Jadi kata “Aku” beserta mereka artinya Yesus beserta sahabat-sahabatnya. Jadi Tuhan itu beserta Yesus dan para sahabatnya. Kalau Saudara percaya hal kesatuan Yesus dengan Bapa maka Saudara pun harus percaya tentang kesatuan Bapa itu dengan semua sahabat Yesus yang berjumlah 12 orang itu. Jadi bukan Yesus dan Roh Suci saja yang menjadi satu dengan Tuhan, melainkan harus ditambah 12 orang lagi. Ini namanya persatuan Tuhan atau Tuhan persatuan bukan hanya Tritunggal tetapi 15tunggal. Jadi berdasarkan perselisihan ayat-ayat tersebut, yang manakah yang benar? Tiga menjadi Tunggal atau 15 menjadi Tunggal? Ayat manakah yang akan Saudara yakini, yang tiga menjadi tunggal ataukah yang 15 itu? Allah itu Esa (Tunggal)

    B: Tunggu dulu Pak, ini agak membingungkan saya.

    A: Tentu akan lebih membingungkan Saudara kalau saya tunjukkan ayat yang lain. Silahkan periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 3.

    B: Baik, di sini menyebutkan “Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa dan Yesus kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    A: Di ayat ini menyebutkan Tuhan adalah Esa. Dalam Kamus bahasa Indonesia oleh E. St. Harahap, cetakan ke II disebutkan bahwa Esa itu berarti satu, pertama (tunggal) dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Yesus Kristus adalah Pesuruh Allah (Utusan/Rasul). Kalau demikian, manakah yang benar? Di satu ayat menyebutkan Tuhan dengan Yesus menjadi satu, di lain ayat 15 menjadi satu dan yang lain lagi Tuhan itu Tunggal, sedangkan di ayat itu pula menyebutkan bahwa Yesus itu pesuruh Allah, bukan Tuhan. Menurut pengakuan Saudara suatu kitab suci yang kandungan ayat-ayatnya bertentangan antara yang satu dengan yang lain tentu sulit sekali dipercaya kesuciannya, karena yang disebut suci itu bersih dari kekeliruan dan perselisihan.

    B: Masih adakah ayat yang menyebutkan demikian?

    A: Ayat yang bagaimana yang Saudara maksudkan?

    B: Ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), bukan tiga menjadi satu.

    A: Silahkan buka di “Ulangan” pasal 4 ayat 35.

    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka kepadamulah ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itulah Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

    A: Jelas di dalam Bibel sendiri menerangkan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal.

    B: Tetapi itu di dalam Kitab Perjanjian Lama. Apakah terdapat juga di Perjanjian Baru?

    A: Saudara minta di Perjanjian Baru, baiklah. Silahkan Saudara buka Markus pasal 12 ayat 29.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan “Maka jawab Yesus kepadanya, hukum yang terutama ialah: Dengarlah olehmu hai Israel, adapun Allah Tuhan kita ialah Tuhan yang Esa.”

    A: Periksa lagi di Perjanjian Lama di “Ulangan” pasal 6 ayat 4.

    B: Baik, di sini disebutkan: “Dengarlah olehmu hai Israel, sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya.”

    A: Apakah belum jelas bahwa Bibel sendiri yang menjadi kitab sucinya orang Kristen menyebutkan seterang-terangnya bahwa Tuhan itu tunggal, bukan tiga menjadi satu atau satu menjadi tiga. Taruh kata di Bibel ada ayat yang menyebutkan Tuhan itu tiga menjadi satu, saya ingin bertanya yang manakah di antara kedua ayat itu yang benar, yang Tunggalkah atau yang tiga menjadi Tunggal? Jadi salah satu dari dua ayat tersebut pasti ada yang benar, karena sudah jelas dua ayat itu tidak sama. Kalau salah satu atau dua-duanya salah, maka kandungan kitab suci itu ada yang salah, jadi bukan kitab suci namanya.

    B: Betul, salah satu pasti salah atau kedua-duanya salah.

    A: Kalau demikian apakah dapat diyakini kebenarannya sebagai kitab suci, kalau kitab suci itu mengandung kesalahan atau tidak benar isinya?

    B: Ya, yang disebut kitab suci itu harus bersih dari kesalahan-kesalahan kalau tidak demikian maka batallah kesucian kitab suci itu.

    Apakah Yesus Bersatu dengan Allah?

    A: Menurut kepercayaan Saudara, apakah Yesus bersatu dengan Allah?

    B: Ya demikian.

    A: Kalau demikian tentu Yesus adalah selalu bersama Allah dan Allah selalu bersama Yesus.

    B: Betul demikian sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” 10, 30 yang bunyinya sebagai berikut: “Aku dan Bapa itu satu adanya”. Demikian juga Roh Suci, sebab Roh Suci itu menjadi satu dengan Yesus, sebagaimana tersebut dalam Injil, ialah setelah Yesus berumur 30 tahun turun Roh Suci kepadanya dan dibaptiskan oleh pembaptis yaitu Yohanes. Jadi jelas bahwa Yesus, Roh Suci, Tuhan adalah Tunggal. Eli, Eli, Lama Sabakhtani … (Ya Tuhan, Ya Tuhan, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?)

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 27 ayat 46.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Maka sekira-kira pukul tiga itu berserulah Yesus dengan suara yang nyaring katanya: “Eli, Eli, lama sabakhtani”, artinya: “Ya Tuhan, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku.”

    A: Berdasarkan seruan Yesus di ayat itu, jelas bahwa Yesus tidak bersatu dengan Tuhan, yakni Tuhan meninggalkan Yesus, waktu akan disalibkan. Mestinya kalau Tuhan menjadi satu dengan Yesus, di saat itulah saat tepat untuk menolong Yesus, tetapi kenyataannya Tuhan tidak bersatu dengan Yesus sehingga Yesus sendiri minta tolong.

    B: Tetapi Yesus itu hidupnya memang untuk disalib guna menebus dosa manusia.

    A: Kalau hidupnya Yesus memang untuk disalib, mengapa Yesus tidak bersedia dan menolak untuk disalib? Buktinya ia berseru dengan suara nyaring minta tolong pada Tuhan agar ia terlepas dari disalibkan. Dengan kata lain Yesus tidak bersedia selaku penebus dosa.

    B: Betul, saya lantas tidak mengerti mengapa ayat-ayat Bibel ada yang simpang siur.

    Apakah Manusia-Manusia yang Menyalibkan Yesus Itu Dilaknat atau Mendapat Pahala?

    A: Dari sebab itulah mengapa Saudara menyembah Yesus selaku Tuhan yang tidak berkuasa menyelamatkan dirinya sendiri, malah minta tolong. Pantaskah ada Tuhan demikian? Dan saya lanjutkan pertanyaan, apakah manusia-manusia yang menyalibkan Yesus itu dilaknat?

    B: Pasti dilaknat.

    A: Mestinya tidak dilaknat, malah Yesus harus berterima kasih kepada mereka yang menyalibkan dia, bahkan mereka itu seharusnya mendapatkan ganjaran, karena menurut keterangan Saudara, kehidupan Yesus itu harus disalib untuk menebus dosa-dosa. Jika tidak ada manusia yang bersedia menyalibkan Yesus, maka dosa-dosa manusia tentu tidak ada yang menebusnya. Jadi manusia-manusia yang telah menyalib Yesus itu berjasa kepada Yesus dan penganut-penganut Kristen. Akan tetapi mereka yang sudah terbukti berjasa itu malah dilaknat. Mestinya mereka itu masuk surga dan dipuji-puji atas jasanya.

    B: Ini memang tidak masuk akal atau sekurang-kurangnya memang sulit dimengerti, akan tetapi Roh Tuhan bersatu dengan Yesus itu tidak mustahil sebagaimana banyak manusia yang kesurupan hantu, jin, malaikat atau makhluk-makhluk halus lainnya sehingga tindakan tindakan dan perbuatannya menurut kehendak makhluk halus tersebut. Demikian juga ada yang kemasukan Roh Suci seperti roh malaikat sehingga tindakan-tindakan dan perbuatannya adalah suci.

    A: Kalau demikian baiklah saya bikin pertanyaan: Manusia yang bersatu (kesurupan) jin itu apakah dia disebut jin?

    B: Tidak.

    A: Yesus yang bersatu (menerima) Roh Tuhan itu apakah ia disebut Tuhan?

    B: Mestinya tidak juga.

    A: Seharusnya begitu. Jadi jelas bahwa Yesus yang menerima Roh Ketuhanan tentunya bukan Tuhan. Manusia yang menerima wahyu Tuhan itu bukan Tuhan melainkan adalah utusan (pesuruh) Tuhan. Sesuai dengan pengakuan Yesus sendiri sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” pasal 17 ayat 3 yang berbunyi: “Supaya mereka itu mengenal Engkau. Allah Yang Maha Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    B: Saya lantas tambah tidak mengerti tentang Ketuhanan Yesus itu.

    A: Menurut keterangan Saudara tadi, bahwa manusia yang bersatu dengan (kesurupan) makhluk halus seperti roh-roh, jin dan malaikat, maka tindakan dan perbuatannya pasti menurut kehendak atau menyerupai perbuatan makhluk-makhluk halus itu.

    B: Benar begitu.

    A: Kalau demikian maka Yesus yang Saudara akui bersatu dengan Tuhan mestinya tindakan-tindakan dan perbuatannya menyerupai perbuatan Tuhan.

    B: Mestinya begitu.

    A: Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Tuhan tidak tidur tetapi Yesus tidur, Tuhan tidak makan tetapi Yesus makan, Tuhan tidak sakit tetapi Yesus sakit, Tuhan tidak menyembah kepada siapa pun tetapi Yesus menyembah Tuhan. Tuhan tidak mati tetapi Yesus mati, walaupun menurut i’tikat Kristen hidup kembali, tetapi ia mati. Yesus Tidak Mengetahui Yang Gaib

    B: Menurut anggapan orang Kristen salah satu yang mneyebabkan Yesus bersatu dengan Tuhan, karena ia mengetahui yang gaib.

    A: Kalau begitu silahkan buka “Markus” pasal 13 ayat 31, 32.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Sesungguhnya langit dan bumi akan lenyap tetapi perkataan-Ku kekal. Tetapi akan harinya atau ketikanya itu tidak diketahui oleh seorang jua pun, baik segala malaikat yang di sorga pun tidak, Anak itu pun tidak, hanyalah Bapa saja.”

    A: Jelas di Bibel sendiri tertulis, Yesus sendiri mengaku tidak ada yang tahu kapan hari kiamat, melainkan hanya Tuhan sendiri. Jadi tegas Yesus sendiri tidak mengetahui waktunya hari kiamat, yang termasuk suatu yang gaib. Yang tidak tahu itu pasti bukan Tuhan.

    Siapa Anak Sulung Allah?

    B: Tetapi Yesus menyebutkan dirinya di ayat ini dengan kata: “Anak”, yang berarti ia anak Tuhan.

    A: Silahkan buka “Matius” pasal 1 ayat 16.

    B: Baik, di situ disebutkan: “dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria, ialah yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.”

    A: Jelas bahwa yang diperanakkan itu pasti bukan Tuhan sebagaimana tersebut dalam ayat tersebut. Silahkan periksa lagi “Keluaran” pasal 4 ayat 22.

    B: Baik, di situ disebutkan: “Maka pada masa itu hendaklah katamu kepada Fir’aun demikian: “Inilah firman Tuhan: Bahwa Israil itulah anak-Ku laki-laki, yaitu anak-Ku yang sulung”.

    A: Di ayat ini disebutkan bahwa Israil adalah anak Tuhan yang sulung, sedangkan Yesus tidak disebutkan anak yang ke berapa. Silahkan buka lagi “Yeremia” pasal 31 ayat 9.

    B: Ayat ini menyebutkan, “Akulah Bapak bagi Israil, dan Afraim itulah anak yang sulung.”

    A: Jelas sekali bahwa berdasarkan Bibel sendiri anak Tuhan itu banyak, bukan Yesus saja, padahal sebenarnya yang dimaksudkan dengan “Anak” dalam ayat itu ialah mereka yang dikasihi oleh Tuhan, termasuk Yesus jadi bukan anak yang sebenarnya.

    B: Tetapi dalam “Matius” pasal 1 ayat 18, menyebutkan sebagai berikut: “Adapun kelahiran Yesus Kristus demikian adanya: Tatkala Maria, yaitu ibunya, bertunangan dengan Yusuf, sebelum keduanya bersetubuh, maka nyatalah Maria itu hamil daripada Roh Kudus. Roh Kudus artinya Roh Tuhan. Oleh karenanya maka Yesus itu adalah anak Tuhan, sebagaimana juga di “Matius” pasal 1 ayat 20 menyebutkan: “Yusuf bermimpi seorang malaikat, Tuhan berkata: “Hai Yusuf, anak Daud, janganlah engkau kuatir menerima Maria itu menjadi istrimu karena kandungan itu terbitnya daripada Roh Kudus.” Apa Maksud Roh Kudus dalam Bible?

    A: Kalau begitu silahkan buka: “Kisah Rasul” pasal 6 ayat 5.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Maka perkataan ini diperkenankan oleh sekalian orang banyak itu, lalu memilih Stephanus, yaitu seorang yang penuh dengan iman, dan Roh Kudus, dan lagi Philippus, dan Prokhorus dan Nikanor dan Simion dan Parmenas dan Nikolaus yaitu mualaf asalnya dari negeri Antiochia.

    A: Jadi berdasarkan ayat Bibel sendiri menunjukkan bahwa Roh Kudus itu bukan pada Yesus saja. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu Roh Suci, atau Roh Kesucian yang maksudnya roh yang bersih dari roh-roh kotor, bukan seperti roh setan atau hantu. Sebagaimana halnya para Nabi lainnya dengan roh sucinya. Menurut Al Qur’an, Roh Kudus (roh suci) itu berarti “Jibril”. Di Bibel sendiri menyebutkan bahwa para nabi yang terdahulu adalah Kudus.

    B: Di Bibel pasal berapa menyebutkan demikian?

    A: Silahlan periksa surat Petrus yang kedua pasal 3 ayat 2.

    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu ingat perkataan yang sudah disabdakan dahulu oleh nabi yang kudus dan akan hukum Tuhan lagi juru selamat, dengan jalan rasul-rasul yang disuruhkan kepadamu”.

    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Roh Kudus itu bukan Tuhan dengan kata lain bahwa Yesus dalam kandungan Maria itu bukan Tuhan atau Roh Tuhan, melainkan adalah roh bersih, suci, dengan izin atau perintah Allah yang dikaruniakan kepada hamba yang dikehendakinya. Lebih jelas harap Saudara periksa dalam “Kisah Rasul”, pasal 5 ayat 32.

    B: Ayat tersebut menyebutkan: “Dan kami inilah saksi atas segala perkara itu, ” demikian juga Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada sekalian orang yang menurut Dia.”

    A: Silahkan periksa lagi dalam “Lukas” pasal 1 ayat 41.

    B: Pasal ini menyebutkan bahwa: “Maka berlakulah tatkala Elisabet mendengar salam Maria itu, meloncatlah kanak-kanak yang di dalam rahimnya itu dan Elisabet penuh Roh Kudus.

    A: Sudah jelas sekali bahwa arti Roh Kudus adalah Roh Suci yang dikaruniakan oleh Allah kepada siapa pun yang dikehendakinya. Kalau sekiranya Roh Kudus itu diartikan dengan Allah atau Roh Allah maka bukan Yesus saja menjadi Tuhan atau anak Tuhan, melainkan segala orang yang taat kepada Tuhan, para Nabi dan Elisabet (istri Zakaria) pun mestinya Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menghidupkan Orang Mati (Atas Kehendak Allah)

    B: Yesus dianggap Tuhan oleh karena ia mempunyai Roh Ketuhanan, terbukti dengan pangkat Ketuhanannya sehingga ia dapat menghidupkan orang mati. Inilah kesamaan Allah dengan Yesus.

    A: Kalau begitu, silahkan periksa di “Kitab Raja-raja yang kedua” pasal 13 ayat 21.

    B: Baik, di sini ada menyebutkan: “Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya seorang Anu, tiba-tiba terlihat mereka itu suatu pasukan lalu dicampakkannya orang mati itu ke dalam kubur Elisa, maka baru orang mati itu dimasukkan ke dalamnya dan kena mayat Elisa itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri”.

    [Elisa = Ilyas, dalam Islam, pent.]

    A: Di sini menyebutkan malah tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Jadi bukan Yesus saja dapat menghidupkan orang mati bahkan tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Yang berarti tulang-tulang Elisa adalah tulang-tulang ketuhanan. Kalau Yesus di waktu hidupnya dapat menghidupkan orang mati, akan tetapi Elisa di waktu tak bernyawa, malah hanya dengan tulang-tulangnya, yang di dalam kubur dapat menghidupkan orang mati. Kalau perbuatan Yesus dikatakan ajaib maka Elisa lebih ajaib dari pada Yesus. Jadi seharusnya Elisa pun dianggap Tuhan juga. Periksa lagi di “Kitab Raja-Raja yang pertama” pasal 17 ayat 22.

    B: Ya, di sini menyebutkan: “Maka didengar akan Do’a Elisa itu, lalu kembalilah nyata kanak-kanak itu ke dalamnya sehingga hiduplah ia pula”.

    A: Kalau secara adil, seharusnya Elisa dianggap Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Orang Buta (Atas Kehendak Allah)

    B: Tetapi Yesus dapat menyembuhkan orang buta sehingga melihat.

    A: Kalau begitu periksa “Kitab Raja-Raja yang kedua” pasal 6 ayat 17 dan 30.

    B: Ya di pasal itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang buta, sehingga dapat melihat.

    A: Kalau begitu, Elisa pun harus dianggap Tuhan juga, karena menyamai Yesus dan menyamai sifat Tuhan.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Penyakit Lepra (Atas Kehendak Allah)

    B: Sekali lagi Yesus dapat menyembuhkan penyakit lepra (penyakit kusta)

    A: Silahkan periksa kitab “Raja-Raja yang kedua” pasal 5 ayat 10 dan 11.

    B: Baik, di pasal dan ayat itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang sakit kusta bernama Naaman.

    A: Jadi Elisa pun dapat menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta malah dapat menghidupkan orang mati. Mengapa tidak diangkat juga menjadi Tuhan?

    B: Akan tetapi pasal kejadian Yesus tanpa pencampuran laki-laki dengan istrinya. Inilah kelebihan rohnya Yesus daripada rohnya Elisa.

    A: Asal kejadian Nabi Adam tanpa bapak dan ibu. Mengapa Adam tidak dianggap Tuhan? Juga Hawa asal kejadiannya tanpa ibu, ia pun bisa dianggap juga Tuhan Wanita.

    B: Tetapi Adam dan Hawa kedua-duanya berdosa.

    A: Kalau begitu Yesus pun berdosa, karena Yesus keturunan Maria, sedang Maria keturunan Adam dan Hawa. Yesus sendiri pernah dibawa oleh Iblis ke puncak gunung. Pantaskah Tuhan dibawa oleh Iblis?

    B: Di mana cerita itu disebutkan? Yesus Dibawa Iblis ke Puncak Gunung

    A: Di Bibel. Silahkan Saudara periksa “Lukas” pasal 4 ayat 5.

    B: Baik, di situ menyebutkan: “Maka Iblis pun membawa dia ke puncak gunung.”

    A: Nah, suatu kejadian aneh, Tuhan dibawa iblis yang berarti ia tunduk kepada kemauan iblis.

    B: Walaupun demikian Yesus tetap suci daripada dosa.

    A: Para Nabi lainnya pun suci daripada dosa. Akan tetapi mereka tidak menganggap dirinya selaku Tuhan, malah Yesus sendiri pun tidak juga mengaku Tuhan, sedangkan pengikut-pengikutnya mempertuhankan dia.

    B: Tidak demikian, nabi-nabi berbuat dosa, tetapi Yesus tidak.

    A: Nabi-nabi yang berbuat dosa atau kesalahan itu telah bertobat, lalu diberi ampun oleh Tuhan, sebagaimana juga Yesus pernah minta ampun dan diberi ampun oleh Tuhan. Mereka para Nabi diberi ampun, artinya dosanya telah habis karenanya, lalu mereka disebut bersih dari dosa dan kesalahan-kesalahan.

    Yesus pun Berdosa

    B: Di manakah menyebutkan bahwa Yesus merasa ia minta ampun kepada Tuhan?

    A: Silahkan Saudara periksa sendiri di “Matius” pasal 6 ayat 12.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan ampunilah kiranya kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami.

    A: Jelas Yesus sendiri meminta ampun akan kesalahannya. Jadi dia pernah berbuat kesalahan.

    B: Tetapi di ayat ini juga ada menyebutkan bahwa Yesus suka memberikan ampun semua kesalahan orang kepadanya.

    A: Kalau hanya begitu, kitapun bisa. Kitapun bersedia memberikan ampun kepada orang-orang yang berbuat kesalahan kepada kita.

    Misteri Malkisedik

    B: Tetapi tidak ada manusia selain Adam yang dilahirkan ke dunia ini tanpa bapak, melainkan Yesus saja. Jadi masih dapat dibenarkan kalau Yesus disebut “Putera Tuhan” atau “Tuhan Anak”.

    A: Kalau misalnya ada seorang manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu, maka orang itu pasti akan diakui oleh Saudara bahwa ia lebih berhak menduduki jabatan Tuhan daripada Yesus dilahirkan tanpa bapak saja.

    B: Tetapi dalam sejarah manusia belum pernah ada, dan mustahil adanya.

    A: Kalau kiranya ada, maka yang manakah di antara keduanya yang lebih tinggi derajat Ketuhanannya antara Yesus yang dilahirkan hanya tanpa bapak saja dengan manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu?

    B: Menurut akal tentunya manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu itu lebih tinggi derajat ketuhanannya. Oleh karena ia dilahirkan lebih ajaib keadaannya daripada kelahiran Yesus.

    A: Benarkah demikian pendapat Saudara?

    B: Ya, saya akui, manusia yang demikian lebih ajaib daripada Yesus, akan tetapi saya minta supaya Bapak tunjukkan di Kitab, dan Bapak harus mengambil dari Kitab yang terkenal, bukan dari buku-buku dongengan atau ceritera-ceritera khayalan saja.

    A: Supaya lekas beres urusan ini, silahkan Saudara periksa di Kitab Bibel atau Injil, Kitab Suci Saudara sendiri.

    B: Di Bab dan pasal berapakah ada menyebutkan?

    A: Silahkan Saudara periksa di “Ibrani” pasal 7 ayat 1, 2 dan 3.

    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan seperti berikut: “Adapun Malkisedik itu, yaitu raja di Salem dan Imam Allah taala, yang sudah berjumpa dengan Ibrahim tatkala Ibrahim kembali daripada menewaskan raja-raja, lalu diberkatinya Ibrahim”. “Kepadanya juga Ibrahim sudah memberi bahagian sepuluh Esa. Makna Malkisedik itu kalau diterjemahkan, pertama-tama artinya raja keadilan, kemudian pula raja di Salem, yaitu raja damai”. Yang tiada berbapak dan tiada beribu dan tiada bersilsilah, dan tiada berawal…”.

    A: Cukup, Saudara telah membaca di kitab suci Saudara sendiri, bahwa Malkisedik seorang raja di Salem tanpa bapak dan ibu, malah tiada silsilahnya. Sesuai dengan pendapat Saudara, apakah cerita yang disebutkan dalam kitab suci Saudara ini berupa dongengan atau cerita-cerita khayalan? Kalau dikatakan dongeng atau cerita khayalan, maka apakah Saudara akan terima kalau ada yang mengatakan bahwa kitab suci Saudara ada mengandung cerita-cerita khayalan atau dongengan yang dibuat-buat? Dan kalau Saudara masih mempertahankan kesucian kitab Saudara itu mengapakah Saudara tidak mengangkat Malkisedik menjabat Tuhan juga, malah jabatan ketuhanannya tentunya lebih tinggi daripada Yesus. Dan berpegang dengan pendirian Saudara sendiri bahwa kelahiran Malkisedik itu lebih ajaib dari Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan tanpa bapak sedangkan Malkisedik dilahirkan tanpa bapak dan ibu. Selain itu Malkisedik masih mempunyai kelebihan lagi daripada Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan dengan bersilsilah, yaitu dari Maria, sedangkan menurut Bibel sendiri Malkisedik dilahirkan tanpa silsilah sama sekali. Apakah Saudara masih akan mempertahankan ketuhanan Yesus…?

    B: Saya lantas tidak mengerti dan menjadi bingung!

    A: Tidak mengerti itu tidak apa-apa, dan bingung sebenarnya tidak apa-apa, karena kalau sudah mengerti rasa bingung akan lenyap dengan sendirinya.

    B: Ya, saya membenarkan keterangan Bapak. Tetapi dalam Kitab Injil Johanes pasal 1 ayat 1 dan 2 menyebutkan: “Maka pada mulanya ada itu Kalam, maka Kalam itu serta dengan Allah, dan Kalam itu Allah. Ia itu pada mulanya serta dengan Allah. Kata “Ia” di ayat ini maksudnya ialah “Yesus”. Jadi Yesus beserta dengan Allah.

    A: Dalam susunan ayat tersebut di atas ada kata penghubung ialah: “serta” atau beserta. Kalau ada orang berkata “Si Salim dengan si Amin”, maka susunan kalimat ini semua orang dapat mengerti bahwa si Salim tetap si Salim bukan si Amin jadi berdasarkan ayat Bibel yang Saudara baca dengan susunan “Ia” (Yesus) beserta Allah, langsung dapat dimengerti bahwa Yesus bukan Allah, dan Allah bukan Yesus. Jelaslah bahwa Yesus tidak sama dengan Allah, dengan kata lain kata Yesus bukan Tuhan. Dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Kalam itu Allah. Padahal Kalam itu bukan Allah dan Allah bukan Kalam. Jadi Allah dan Kalam pun lain.

    B: Bagaimana kalau Yesus disebut saja anak Tuhan?

    A: Saya sudah jelaskan tentang itu pada Saudara dalam pembicaraan kita yang lalu. Dan Saudara telah mengakui kebenaran keterangan saya. Sekarang saya tambah, Kalau Tuhan itu beranak, baik anaknya berupa manusia seperti Yesus atau lainnya, maka ke-Esa-an Tuhan sudah ternoda karenanya. Sedang kita pun tidak mungkin menodai ke-Esa-an Tuhan.

    B: Tetapi dalam kitab: “Wahyu” pasal 22 ayat 13 menyebutkan: “Maka Aku inilah Alif dan Ya, yang terdahulu dan yang kemudian. Yang Awal dan Yang Akhir”.

    A: Rangkaian perkataan itu bukan perkataan Yesus sendiri, melainkan firman Allah kepada Yesus. Bukti kebenaran perkataan saya ini silahkan Saudara periksa di Kitab “Wahyu” tersebut pasal 21 ayat 6.

    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku: “Sudahlah genap; Aku inilah Alif dan Ya, yaitu Yang Awal dan Yang Akhir”.

    A: Jelas di ayat itu menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku” Siapakah yang berfirman kepadaku (kepada Yesus) di ayat ini?

    B: Tentu Allah yang berfirman.

    A: Jadi yang berfirman Aku inilah Alif dan Ya, Yang Awal dan Yang Akhir, bukan perkataan Yesus sendiri, tetapi firman Allah kepada Yesus.

    B: Di Johanes pasal 8 ayat 58 Yesus berkata: “Sebelumnya Ibrahim aku sudah ada”. Jadi bisa dianggap Yesus itu permulaan.

    A: Kalau Yesus dikatakan “Permulaan”, maka diapun tidak benar. Karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Walaupun ia dikatakan hidup lagi. Dan orang sudah mati itu tidak bisa dikatakan: “seorang yang terkemudian” dan kalau Yesus itu hidup lagi, tidak bisa dikatakan: “Permulaan” bukan pula “Yang Terkemudian” bukan “Yang Awal” maupun “Yang Akhir”.

    B: Saya lantas makin tidak mengerti, malah tambah membingungkan saya karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Yang pada mulanya tidak ada, tidak bisa disebut: “Permulaan”. Kalau Yesus diperanakkan, mustahil bisa disebut “Permulaan”. dan kalau Yesus pernah mati, mustahil bisa disebut “Yang Terkemudian”

    A: Supaya lebih jelas kepada Saudara maka saya hadapkan pertanyaan: Andaikata Yesus itu disebut “Permulaan” maka apa dengan dasar inikah Saudara mengakui Yesus itu Tuhan?

    B: Ya, betul begitu.

    A: Kalau demikian, bagaimanakah anggapan Saudara, kalau sekiranya dalam kitab suci Saudara ada menyebutkan bahwa ada seseorang manusia Yesus, yang tidak ada permulaannya dan tidak ada kesudahannya. Apakah manusia itu akan diakui Tuhan juga oleh Saudara?

    B: Di pasal manakah menyebutkan demikian.

    A: Sebelum saya tunjukkan, apakah Saudara masih tetap berpendirian akan mengakui Tuhan kepada seorang yang tidak ada permulaan dan kesudahannya, sebagaimana Saudara bertuhan kepada Yesus?

    B: Kalau betul ada, tentu saya bimbang atau sekurang-kurangnya meragukan saya atas kebenaran Yesus selaku Tuhan.

    A: Mestinya Saudara mengakui Tuhan dua-duanya, dengan lain kata disamping Yesus ada lagi Tuhan Tambahan.

    B: Ya, bisa juga begitu. Akan tetapi tentu saja keyakinan saya lantas tambah tidak karuan. Di pasal manakah ada menyebutkan ada seorang manusia yang tidak ada permulaan dan kesudahannya.

    A: Saya telah katakan di kitab suci Saudara sendiri. Silahkan buka Ibrani pasal 7 ayat 2 dan 3.

    B: Baik, seperti tadi sudah saya bacakan sampai baris pertama ayat ketiga dari pasal tersebut sebagai berikut: “Malkisedik yang tiada berbapa dan tiada beribu dan tiada bersilsilah dan tiada berawal dan berkesudahan hidupnya, melainkan ia diserupakan Anak Allah, maka kekallah ia selama-salamanya”.

    A: Bagaimana perasaan Saudara dengan susunan ayat ini. Berdasarkan ayat ini bukan Yesus saja yang menjadi permulaan tetapi juga Malkisedik.

    B: Keyakinan saya memang jadi bimbang terhadap Ketuhanan Yesus.

    A: Bimbang atau tidaknya terserah Saudara, yang jelas tidak ada niat sama sekali untuk mengajak Saudara meninggalkan agama Kristen. Yang penting adalah rembukan dan penelitian semata-mata. Meneliti dan menganalisa terhadap sesuatu adalah hak semua orang, asalkan penelitian itu benar-benar tidak mengganggu ketentraman umum.

    B: Terimakasih, dan saya masih akan bertanya lagi pada Bapak, maklumlah saya ini sedang mencari kepuasan yang dapat menimbulkan keyakinan saya dalam memeluk agama.

    A: Silahkan Saudara bertanya, keyakinan itu timbul setelah menyelidiki dan meneliti dengan kepuasan. Di dalam agama Islam tidak ada paksaan. Yang penting menyampaikan (da’wah), tidak lebih dari itu. Teruskanlah pertanyaan Saudara.

    B: Setelah kita bersoal jawab tentang Ketuhanan Yesus timbullah keraguan dalam hati saya, namun apakah Bapak masih bersedia menunjukkan ayat-ayat Bibel yang menyatakan bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan?

    A: Walau telah saya tunjukkan ayat-ayat Bibel sendiri, tentang pengakuan Yesus sendiri bahwa Tuhan itu Tunggal, namun demi pengharapan Saudara akan saya penuhi juga. Akan tetapi apakah tidak sebaiknya kita lanjutkan besok malam saja oleh karena waktu sudah malam (Jam 12.25).

    B: Ya, terima kasih, besok malam saja kita lanjutkan.

    Bersambung.

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 3 September 2016 Permalink | Balas  

    Pemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an 

    quranPemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an

    Oleh Hedi Rachdiana

    Tulisan ini tidak bermaksud lain, ini sekedar bahan renungan. Benarkah Nabi (N).Isa bisa menghidupkan orang mati?, Berdasarkan tafsir Qur’an Suci terjemahan dari The Holy Qur’an, antara lain disebutkan sebagai berikut:

    Sepintas Tentang Maryam (Bunda Maria)

    Maryam diserahkan ke rumah suci sejak umur 3 sampai umur 12 tahun. Ia adalah termasuk golongan Pendeta yang saleh, ayahnya bernama Imran, dan Ia diasuh oleh N. Zakaria.

    Injil Lukas 1:26-27 menjelaskan, bahwa Maryam menerima khabar baik tentang kelahiran Isa (Yesus), setelah beliau menikah dengan Yusuf (bukan Nabi Yusuf) melalui suatu undian, hal ini dilakukan mengingat Maryam sejak kecil berada di rumah suci, hanya dengan cara ini beliau dapat dilepaskan untuk menikah.

    Memang sejarah Maryam dan N.Isa diselubungi kegelapan, namun dengan turunnya Qur’an mengumumkan kedudukan mereka sebenarnya sebagai hamba Tuhan yang tulus dan sekaligus menolak pandangan ekstrim, yakni pandangan kaum Yahudi bahwa Isa dikandung dalam dosa dan anak haram hasil hubungan gelap Maryam dengan Panther, dan pandangan kaum Nasrani sebagai anak Tuhan penebus dosa.

    Ketika Maryam dikhabarkan akan melahirkan seorang putera, beliau belum diberitahukan tentang pernikahannya, sehingga beliau berkata `pria belum pernah menyentuhku’, namun beliau pun mendapatkan jawabannya sendiri bahwa anak pasti akan lahir dengan jalan Allah membuat keadaan begitu rupa. Kata-kata ini bukanlah berarti bahwa beliau akan mengandung secara tidak wajar (kun fayakun lahir tanpa ayah), karena Maryam pun mempunyai anak lagi.

    Sepintas Tentang Nabi Isa (Yesus)

    N.Isa mempunyai sebutan lain yaitu Al-Masih atau Ibnu Maryam, makna Al-Masih lebih tepat disebut julukan, karena mempunyai arti orang yang suka bepergian, bepergian ini sudah merupakan kebiasaan beliau untuk berda’wah. Isa (bahasa Arab), bahasa Ibraninya Yosyua dan bahasa Yunaninya Yesus.

    Qur’an tak menyebut-nyebut suami Maryam (ayah N.Isa), hal ini mirip dengan peristiwa N.Musa. Oleh karena itu, tak disebutnya ayah N.Musa kita sepakat tidak mempersoalkan status N.Musa, dan N.Isa pun bukan berarti tidak mem-punyai ayah. Kasus ini dimungkinkan karena Maryam jauh lebih terkenal daripada Yusuf ayah N.Isa tersebut.

    “Eli, Eli, lama sabbahtani” (Tuhanku, Tuhanku mengapa Engkau tinggalkan aku), N.Isa berdo’a dengan menangis ketika disalib dan ditusuk lambungnya, ini menandakan beliau tidak ada bedanya dengan manusia biasa, mengeluarkan darah dan sakit. Beliau tidak mati konyol di palang salib, melainkan mendapat pertolongan Allah dengan cara disamarkan (ada seorang dari golongan musuhnya yang mirip beliau), beliau disembunyikan muridnya di suatu makam, berkat do’anya beliau selamat dan sembuh.

    Beliau tidak naik ke langit dan akan dibangkitkan pada hari kiamat, beliau pergi ke Galilea beserta 2 orang muridnya, mengungsi ke tempat aman dari kejaran Yahudi, beliau meninggal/dimakamkan di Kasmir yang lebih dikenal dengan nama Yuz Asaf. N.Isa tidak meninggal dalam usia 33 tahun, juga bukan lahir pada tanggal 25 Desember, melainkan hidup sampai usia 120 tahun dan meninggal secara wajar.

    N.Isa dapat bicara selagi buaian dan sesudah tua, ini hanya menunjukan tamsil/ibarat bahwa keadaan beliau akan mengalami perubahan dari bayi menjadi tua. Hendaklah direnungkan bahwa ciri- ciri ucapan beliau ialah bahwa beliau selalu berbicara dengan tamsil, marilah kita simak tentang tamsil-tamsil di bawah ini:

    Tentang Pembuatan Seekor Burung dari Tanah dan Meniupnya hingga Hidup

    Mustahil secara logika, namun mudah dipahami secara tamsil, karena derajat nabi itu jauh lebih tinggi daripada pembuat mainan burung, di lain pihak hak mencipta tidak diberikan kepada siapapun selain Allah SWT sendiri.

    N.Isa meniupkan ruh dalam manusia, artinya beliau meningkatkan derajat manusia di atas orang-orang yang condong ke duniawi, dan para murid beliau yang awalnya hina (tamsil dimisalkan tanah) setelah mendapat ajaran beliau ibarat burung terbang untuk menyebarkan kebenaran.

    Tentang Penyembuhan Orang Sakit (Buta)

    Tidak mustahil secara logika, namun hendaklah dipahami bahwa N.Isa adalah akhli menyembuhkan penyakit rohani bukan penyakit jasmani. Jadi menurut keterangan, buta di sini bukanlah buta mata lahirnya, melainkan buta hatinya, lihatlah kembali tafsir Qur’an (pada ayat- ayat lainnya) yang membicarakan tentang orang buta dan tuli.

    Tentang Menghidupkan Orang Mati

    Mustahil, karena Qur’an menerangkan sejelasnya-jelasnya bahwa orang mati tidak akan kembali lagi ke dunia, Qur’an Surat 39:42 menerangkan bahwa “Allah mencabut jiwa (manusia) pada waktu matinya, dan yang tak mati pada waktu tidurnya lalu ia menahan (jiwa) yang ia pastikan mati, dan ia kirim kembali (jiwa) yang lain, sampai waktu yang ditentukan”, atau Qur’an Surat 23:100 yang menerangkan bahwa “Dan di belakang mereka adalah tabir (barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan”.

    Ada 3 golongan manusia yang disebut-sebut dalam Qur’an sebagai yang dihidupkan kembali, yakni:

    -Orang yang kodratnya seperti tanah (tak ubahnya seperti keadaan tanah yakni mati dan hina), lalu berserah diri kepada perilaku nabi dan akhirnya terbang tinggi ke ruang angkasa rohani yang mulia. -Orang yang sakit rohaninya lalu diobati dan sembuh. -Orang yang sungguh-sungguh mati dan dihidupkan lagi rohaninya

    Wabillahi taufik wal hidayah,

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 2 September 2016 Permalink | Balas  

    Untuk Yang Slalu Setia 

    cincinUntuk Yang Slalu Setia

    Hari itu di pemakaman, siang begitu terik dan menyengat. Para pelayat yang kebanyakan berbaju hitam memadati lokasi pemakaman. Di antara begitu banyak orang, wanita cantik itu berdiri mengenakan pakaian dan kerudung berwarna putih, ekspresi tenang terlihat di raut wajah yang tersaput kesedihan.

    Pada saat penguburan berlangsung, sebelum jenazah dimasukkan ke liang lahat, wanita itu mendekati jenazah yang terbungkus kain kafan kemudian mencium bagian kening jenazah dan membisikkan kata-kata tak terdengar dengan perasaan dan suasana yang sulit kulukiskan. Aku melihat keharuan di antara para pelayat menyaksikan adegan itu.

    Wanita itu adalah istri dari laki-laki yang pada hari itu dikubur. Setelah acara penguburan selesai satu persatu pelayat mengucapkan kalimat duka cita kepada wanita tersebut yang menyambut ucapan itu dengan senyuman manis dan kesedihan yang telah hilang dari wajahnya, seolah-olah pada saat yang seharusnya menyedihkan itu dia merasa bahagia.

    Kudekati wanita itu.

    “Kak, yang sabar ya, insya Allah abang diterima dengan baik di sisi-Nya,” ujarku perlahan. Dia menatapku dengan senyuman tanpa kata-kata. Rasa penasaran menyeruak dalam hatiku melihat ekspresinya. Tapi perasaan itu tidak kuungkapkan.

    Beberapa hari setelah pemakaman itu, aku datang ke rumah wanita itu. Kudapati ia sedang mengurus kembang mawar putih seperti apa yang sering dilakukannya. Kusapa dia dengan wajar, “Assalaamu’alaikum, sedang sibuk kak?” tanyaku

    “Wa’alaikusallam… Oh adik, ayo duduk dulu,” jawabnya seraya membereskan perlengkapan tanaman.

    “Saya mengganggu kak?” tanyaku lagi,

    “Kenapa harus mengganggu dik, ini kakak sedang menyiapkan bunga untuk dzikir nanti malam,” jawabnya.

    Sesaat setelah jawaban terakhir suasana hening terjadi di antara kami. Dengan hati-hati kuajukan perasaan yang selama beberapa hari mengganjal di hatiku. “Kak, apakah kakak tidak merasa sedih dengan kepergian abang?” tanyaku.

    Dia menatapku dan berkata, “Kenapa adik bertanya seperti itu?”

    Aku tidak segera menjawab karena takut dia tersinggung, dan, “Karena kakak justru terlihat bahagia menurut adik, kakak tersenyum pada saat pemakaman dan bahkan tidak mencucurkan airmata pada saat kepergian abang,” ujarku.

    Dia menatapku lagi dan menghela nafas panjang. “Apakah kesedihan selalu berwujud air mata?” Sebuah pertanyaan yang tidak sanggup kujawab. Kemudian dia meneruskan kembali perkataanya. “Kami telah bersama sekian lama, sebagai seorang wanita aku sangat kehilangan laki-laki yang kucintai, tapi aku juga seorang istri yang memiliki kewajiban terhadap seorang suami. Dan kegoisanku sebagai seorang wanita harus hilang ketika berhadapan dengan tugasku sebagai seorang istri,” katanya tenang.

    “Maksud kakak?” aku tambah penasaran.

    “Sebuah kesedihan tidak harus berwujud air mata, kadang kesedihan juga berwujud senyum dan tawa. Kakak sedih sebagai seorang wanita tapi bahagia sebagai seorang istri. Abang adalah seorang laki-laki yang baik, yang tidak hanya selalu memberikan pujian dan rayuan tapi juga teguran. Dia selalu mendidik kakak sepanjang hidupnya. Abang mengajarkan kakak banyak hal. Dulu abang selalu mengatakan sayang pada kakak setiap hari bahkan dalam keadaan kami tengah bertengkar. Kadang ketika kami tidak saling menyapa karena marah, abang menyelipkan kata sayang pada kakak di pakaian yang kakak gunakan. Ketika kakak bertanya kenapa? abang menjawab, karena abang tidak ingin kakak tidak mengetahui bahwa abang menyayangi kakak dalam kondisi apapun, abang ingin kakak tau bahwa ia menyayangi kakak. Jawaban itu masih kakak ingat sampai sekarang. Wanita mana yang tidak sedih kehilangan laki-laki yang begitu menyayanginya? Tapi …”

    Dia menghentikan kata-katanya.

    “Tapi apa kak?” kejarku.

    ” Tapi sebagai seorang istri, kakak tidak boleh menangis,” katanya tersenyum.

    “Kenapa?” tanyaku tidak sabar. Perlahan kulihat matanya menerawang.

    “Sebagai seorang istri, kakak tidak ingin abang pergi dengan melihat kakak sedih, sepanjang hidupnya dia bukan hanya laki-laki tapi juga seorang suami dan guru bagi kakak. Dia tidak melarang kakak bersedih, tapi dia selalu melarang kakak meratap, kata abang, Allah tidak suka melihat hamba yang cengeng, dunia ini hanya sementara dan untuk apa ditangisi.”

    Wanita itu melanjutkan, “pada satu malam setelah kami sholat malam berjamaah, abang menangis, tangis yang tidak pernah kakak lupakan, abang berkata pada kakak bahwa jika suatu saat di antara kami meninggal lebih dahulu, masing-masing tidak boleh menangis, karena siapa pun yang pergi akan merasa tidak tenang dan sedih, sebagai seorang istri, kakak wajib menuruti kata-kata abang.”

    “Pemakaman bukanlah akhir dari kehidupan tapi adalah awal dari perjalanan, kematian adalah pintu gerbang dari keabadian. Saat di dunia ini kakak mencintai abang dan kita selalu ingin berada bersama dengan orang yang kita cintai, abang adalah orang baik. Dalam perjalanan waktu abang lah yang pertama kali dicintai Allah dan diminta untuk menemui-Nya, abang selalu mengatakan bahwa baginya Allah SWT adalah sang Kekasih dan abang selalu mengajarkan kakak untuk mencintai-Nya. Saat seorang Kekasih memanggil apakah kita harus bersedih? Abang bahagia dengan kepergiannya. Dalam syahadatnya abang tersenyum dan sungguh egois jika kakak sedih melihat abang bahagia,” sambungnya.

    Tanpa memberikan kesempatan untuk aku berkata, serangkaian kata terus mengalir dari wanita itu,

    “Kakak bahagia melihat abang bahagia dan kakak ingin pada saat terakhir kakak melihat abang, kakak ingin abang tau bahwa baik abang di dunia maupun di akhirat kakak mencintainya dan berterima kasih pada abang karena abang telah meninggalkan sebuah harta yang sangat berharga untuk kakak yaitu cinta pada Allah SWT. Dulu abang pernah mengatakan pada kakak jika kita tidak bisa bersama di dunia ini kakak tidak perlu bersedih karena sebagai suami istri, kakak dan abang akan bertemu dan bersama di akhirat nanti bahkan di surga selama kami masih berada dalam jalan Allah. Dan abang telah memulai perjalanannya dengan baik, doakanlah kakak ya dik semoga kakak bisa memulai perjalanan itu dengan baik pula. Kakak sayang abang dan kakak ingin bertemu abang lagi.”

    Kali ini kulihat kakak tersenyum dan dalam keheningan taman aku tak mampu berkata-kata lagi.

    ***

    Kiriman Jingga

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 1 September 2016 Permalink | Balas  

    Puasanya Ikan Salem Merah 

    salem merahPuasanya Ikan Salem Merah

    Puasanya ikan salem merah adalah puasa alami, yang menggambarkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan sebagai contoh keunikan ragam kehidupan hayati yang ada di alam sekitar kita.

    Pada masa awal hidupnya ikan salem merah hidup di air tawar. Lalu setelah dewasa, mereka bermigrasi ke lautan luas. Ikan salem merah menghabiskan sebagian hidupnya di laut, sekitar 4- 7 tahun. Ketika ikan salem merah cukup dewasa untuk berpijah mereka akan berkumpul bersama di suatu tempat di lautan. Setelah berkumpul dalam jumlah puluhan ribu, mereka akan membagi dirinya berdasarkan spesies masing-masing, dan bersama-sama kembali ke sungai tempat menetasnya dahulu. Mereka kerap harus melompati air terjun dan berbagai kesulitan lainnya, yang jaraknya bisa sejauh 1.600 kilometer dari tempat mereka hidup di lautan. Dengan rintangan yang sangat besar, ikan salem merah terus berusaha keras melawan arus sungai yang deras, dengan berbagai macam halangan kayu-kayu, batu-batu kali, kemungkinan dimangsa predator atau jatuh ke jaring nelayan. [lm: ikan ini sangat lezat dagingnya, sering dibuat juga sebagai ikan kalengan]

    Perjalanan ini terkadang membutuhkan waktu beberapa bulan lamanya. Yang mengagumkan, bahwa sejak awal perjalanan panjang ini mereka sudah mulai berpuasa. Berdasarkan penelitian para ahli, ternyata lama puasa para ikan inilah yang berguna sebagai standar naluriah untuk menuntun mereka mengenali sungai mana para ikan itu berasal. Juga kandungan lemak yang cukup tinggi pada ikan salem merah ternyata bermanfaat sebagai cadangan makanan selama migrasi balik ini. Luput dari para pemangsa dan nelayan, akhirnya dengan tubuh penuh luka dan kelelahan para ikan ini bisa mencapai hulu sungai tempat mereka ditetaskan pertama kali. Subhanallah…Maha Besar Allah !!!.

    Ketika mereka tiba di hulu sungai inilah, mereka akan otomatis bekerjasama antara pasangan jantan dan betina. Dengan sirip kecil dibelakang sirip punggungnya yang besar mereka menggali lubang kedalaman sekitar 45 cm, sebagai tempat penetasan calon telur-telur ikan. Untuk penggalian ini diperlukan waktu beberapa minggu lamanya

    Jika telah siap, sang betina akan meletakkan telur-telur yang berjumlah ribuan, dan sang jantan mengeluarkan sperma untuk membuahi telur-telur betinanya. Setelah proses ini selesai, sang calon ibu ikan akan menutup lubang tempat telur ini dengan lumpur yang cukup tebal. Kemudian pasangan ikan ini akan tetap berenang-renang di sekitar lubang telur, menunggu beberapa waktu hingga telur-telur ini menetas.

    Saat bayi-bayi ikan salem merah mendorong dirinya keluar dari lubang penetasan, sang orang tua ikan akan melihat anak-anaknya pertama dan untuk terakhir kalinya. Lalu matilah mereka, dalam keadaan berpuasa. Ikan-ikan yang mati ini akan mengapung di permukaan, kemudian berangsur turun ke dasar sungai, membusuk.

    Sebenarnya ini adalah bagian dari proses menjaga keseimbangan alam di dasar sungai.

    Mereka mati setelah meninggalkan sekelompok generasi baru, yang harus mengalami proses ‘kesulitan’ – kembali ke lautan.

    Kemudian setelah dewasa, anak-anak ikan salem merah ini akan mengulangi siklus yang sama seperti orangtuanya, dan mati dalam keadaan berpuasa.

    Subhanallah…Maha Besar Allah !!!

    Dwitra Zaky Reston

    Diambil dari tulisan Dr. `Abd Al-Hakam `Abd Al-Latif As-Sa`idi Lecturer of Entomology – Faculty of Agriculture – Al-Azhar University

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 31 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (5/5) 

    38berdoaTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (5/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Tuntutan dan etika di dalam berdoa, bukan hanya menghendaki kita berdoa untuk diri sendiri, akan tetapi ia juga menghendaki kita mendoakan untuk orang lain terutama kepada ibu bapa, zuriat keturunan, ahli keluarga, saudara mara, muslimin dan muslimat sama ada yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Doa yang seumpama ini banyak tersebut di dalam Al-Qur’an. Di antaranya ialah doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam di dalam surah Ibrahim ayat 41 yang tafsirnya :

    “Wahai Tuhan kami! Berilah keampunan bagiku dan bagi kedua ibu bapaku serta bagi orang-orang yang beriman, pada masa berlakunya hitungan amal dan pembalasan.”

    Ibu bapa adalah orang yang terutama sekali untuk didoakan oleh anak-anak sebagai membalas jasa keduanya memelihara dan mendidik di waktu kecil. Anjuran ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Isra’ ayat 24 yang tafsirnya :

    “Dan doakanlah (untuk mereka dengan berkata): “Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua (ibu bapaku) sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil.”

    Sesungguhnya doa anak-anak kepada kedua ibu bapa adalah besar manfaatnya, lebih-lebih lagi apabila keduanya telah meninggal dunia. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila seseorang meninggal dunia, terputus amalnya daripadanya melainkan daripada tiga (sumber); daripada sedekah jariah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak salih yang mendoakannya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat darjat seseorang hamba yang salih di dalam syurga, maka dia berkata: “Wahai Tuhanku! Dari mana saya memperoleh darjat ini?” Allah menjawab: “(Ianya) daripada doa permohonan keampunan yang dilakukan oleh anakmu.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Sebagaimana anak-anak dianjurkan berdoa untuk kedua ibu bapa, begitu juga ibu bapa adalah dianjurkan supaya mendoakan anak-anak mereka sebagaimana Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berdoa untuk anaknya yang tersebut di dalam surah Ash-Shaffat ayat 100 yang tafsirnya :

    “Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku anak yang tergolong daripada orang-orang yang salih.”

    Mendoakan orang lain lebih-lebih lagi orang yang tiada hadir dan tanpa pengetahuannya adalah lebih cepat dan mudah dikabulkan sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa yang paling cepat diterima ialah doa seseorang bagi seseorang yang lain yang tidak hadir.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Manakala daripada Ummu Ad-Darda’ berkata, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa seorang muslim bagi saudaranya yang tidak hadir adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang diwakilkan setiap kali dia berdoa bagi saudaranya itu. Malaikat yang diwakilkan itu pula berkata: “Amin, dan bagimu seumpama (yang didoakan).”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Imam Nawawi Rahimahullah Ta’ala berkata bahawa doa yang semacam ini mustajab karena keikhlasan orang yang mendoakan itu. Setengah ulama salaf apabila mereka hendak berdoa untuk diri mereka sendiri, mereka akan mendoakan juga saudara mereka yang muslim dengan doa yang seumpamanya karena cara doa seperti ini adalah mustajab, di samping mereka juga akan mendapat seumpama apa yang mereka doakan bagi saudara mereka yang muslim itu. (lihat Syarh Shahih Muslim 9/44)

    Oleh karena itu juga, adalah disunatkan meminta agar didoakan oleh orang-orang yang mempunyai kelebihan seperti orang-orang salih sekalipun dia (orang yang meminta didoakan itu) mempunyai kedudukan yang lebih baik daripada orang tersebut (orang yang diminta supaya mendoakan), berdasarkan riwayat daripada Ibnu Umar daripada Umar bin Al-Khaththab Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :

    “Sesungguhnya dia (Umar) meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan umrah. Lalu Nabi bersabda: “Wahai saudaraku! Sertakan kami di dalam doamu dan jangan engkau melupakan (untuk mendoakan) kami.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dari itu janganlah berdoa untuk diri sendiri sahaja, berdoalah untuk orang lain juga hatta kepada orang yang bukan berugama Islam sekalipun, tetapi dengan syarat bukan doa yang berbentuk permohonan keampunan bagi mereka, karena ianya dilarang sebagaimana firman Allah di dalam surah At-Taubah ayat 113 yang tafsirnya :

    “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka.”

    Doa yang diharuskan kepada orang yang bukan Islam ialah doa agar mereka mendapat hidayat, sihat tubuh badan dan seumpamanya yang layak disebutkan untuk orang yang bukan Islam sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar keburukan ke atas mereka” Orang-orang menyangka bahawa Baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: “Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Selain daripada itu juga yang berhubung dengan doa, setiap orang Islam hendaklah menghindari daripada menzalimi dan menganiayai orang lain sekalipun kepada orang yang berbuat maksiat karena doa orang yang dizalimi itu adalah sangat mustajab sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’az bin Jabal ketika Baginda mengutusnya ke Yaman yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang maksudnya :

    “Dan takutlah engkau akan doa orang yang dizalimi, sesungguhnya (doa orang yang dizalimi itu) tidak ada di antaranya dan di antara Allah pendinding.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan pula daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Doa orang yang dizalimi itu adalah mustajab, sekalipun dia adalah seorang yang berbuat maksiat, karena kemaksiatannya itu adalah tertanggung ke atas dirinya sendiri.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Akhirnya sebagai penutup, setiap orang Islam hendaklah memperbanyakkan doa. Berdoa adalah menunjukkan akan ingatan kepada Allah Yang Maha Berkuasa. Mengingat Allah hendaklah dilakukan di setiap masa sama ada di waktu senang atau susah. Begitulah juga dengan amalan dalam berdoa hendaklah dilakukan di setiap masa lebih-lebih lagi di waktu senang dan mewah, dengan itu apabila di waktu susah doa akan mudah diperkenankan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallah ‘anhu yang maksudnya:

    “Barangsiapa suka supaya dikabulkan doanya oleh Allah di waktu kesulitan dan kesusahan, maka hendaklah dia memperbanyakkan doa di waktu senang.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    —– SELESAI —-

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 30 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (4/5) 

    berdoa 1Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (4/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Di antara azan dan iqamah. Daripada Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa di antara azan dan iqamah tidak akan ditolak. Berkata para sahabat: “Maka apa yang patut kami katakan wahai Rasulullah (ketika itu)?” Nabi bersabda: “Pohonlah kepada Allah keafiatan di dunia dan di akhirat.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    vii) Ketika berhadapan dengan musuh di dalam peperangan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d As-Sa’idi bahawasanya dia berkata yang maksudnya :

    “Dua masa dibukakan keduannya pintu-pintu langit dan sedikit sekali doa orang yang berdoa ditolak; ketika panggilan untuk mendirikan sembahyang dan berhadapan dengan musuh dalam peperangan.”

    (Hadits riwayat Malik)

    viii) Ketika sujud di dalam sembahyang. Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sehampir-hampir seorang hamba kepada Tuhannya adalah (ketika) dia sujud, maka kamu perbanyakkanlah doa.”

    (Hadits riwayat Muslim An-Nasa’i, Abu Daud dan Ahmad)

    ix) Ketika mendengar kokokan ayam. Ini adalah berdasarkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

    “Apabila kamu mendengar kokokan ayam maka mohonlah kepada Allah daripada kelebihanNya, sesungguhnya ayam itu telah melihat malaikat dan apabila kamu mendengar pekikan suara keldai maka mohonlah perlindungan dengan Allah daripada syaitan, sesungguhnya keldai itu telah melihat syaitan.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Adapun sebab digalakkan berdoa pada waktu itu, adalah bagi mengharapkan pengaminan malaikat kepada doa yang dibacakan dan permohonan keampunan mereka kepada orang yang berdoa dan persaksian mereka terhadap keikhlasan orang yang berdoa. (Lihat Fath Al-Bari 6/508 dan Syarh Shahih Muslim 9/41)

    Oleh karena itu juga ketika mengucapkan amin pada surah Al-Fatihah di dalam sembahyang adalah saat dimakbulkan doa karena para malaikat turut juga mengaminkan pada ketika itu berdasarkan riwayat daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila imam mengucapkan amin maka hendaklah kamu mengucapkan amin, sesungguhnya sesiapa yang bertepatan aminnya dengan amin malaikat nescaya diampuni baginya apa yang terdahulu daripada dosanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

    x) Ketika waktu hujan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Dua ketika (di mana doa) tidak ditolak atau sedikit sekali yang ditolak: (iaitu) berdoa ketika azan dan ketika pertempuran sedang berkecamuk (dan dalam satu riwayat mengatakan) dan ketika hujan.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    xi) Ketika meminum air zam zam. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Air Zamzam itu menurut kehendak tujuan meminumnya. Jika engkau meminumnya untuk memohonkan kesembuhan dengannya nescaya Allah akan menyembuhkanmu dan jika engkau meminumnya untuk memohon perlindungan nescaya Allah akan melindungimu dan jika engkau meminumnya bagi melepaskan rasa dahagamu nescaya Allah akan melepaskannya dan jika engkau meminumnya bagi kekenyanganmu nescaya Allah akan mengenyangkanmu, ia (air Zamzam) itu adalah lekukan daripada pukulan malaikat Jibril dan minuman Nabi Ismail.”

    (Hadits riwayat Ad-Daraquthni dan Al-Hakim)

    xii) Ketika membaca Al-Quran terutama apabila khatam. Diriwayatkan daripada ‘Imran bin Hushain berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka bermohonlah (berdoa) kepada Allah dengan Al-Quran, sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Quran meminta (upah dan sedekah) kepada manusia dengan membacanya.”

    Hadits riwayat Tirmidzi)

    Diriwayatkan pula daripada Mujahid Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Telah diutus seseorang kepadaku dan dia berkata: “Sesungguhnya kami menjemputmu karena kami hendak mengkhatam Al-Quran dan sesungguhnya telah sampai kepada kami bahawa doa diperkabulkan ketika mengkhatam Al-Quran. Berkata Mujahid: “Maka mereka berdoa dengan beberapa doa (ketika khatam Al-Quran).”

    (Riwayat Ad-Darimi)

    xiii) Di tempat-tempat yang mulia karena keberkatannya dan kemuliaan yang dikurniakan oleh Allah seperti di Masjidilharam, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa. Para ulama berpendapat bahawa berdoa di tempat-tempat ini adalah mustajab karena melihat kepada keberkatan dan kemuliaannya di samping rahmat Allah yang luas di tempat-tempat tersebut. Diriwayatkan daripada Abu Darda’ Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Satu kali sembahyang di Masjidilharam adalah menyamai dengan seratus ribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di masjidku (Masjid An-Nabawi) menyamai dengan seribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di Baitulmaqdis menyamai dengan lima ratus kali sembahyang.”

    (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 29 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (3/5) 

    berdoa 3Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (3/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berterusan berdoa dan mengulang-ngulang doa sebanyak tiga kali dan tidak berputus asa serta tergesa-gesa menganggap doa tidak diperkabulkan. Diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya:

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang mengulang-ngulang di dalam berdoa.”

    (Hadits riwayat Baihaqi)

    Daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenangi supaya seseorang itu berdoa tiga-tiga kali dan beristighfar tiga-tiga kali.”

    (Hadits riwayat Abu Daud dan Ahmad)

    Manakala daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Dikabulkan (doa) salah seorang daripada kamu selama dia tidak tergesa-gesa iaitu dengan berkata: “Aku sudah berdoa (tetapi) tidak dikabulkan.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Tersebut di dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah ‘ala Al-Adzkar An-Nawawiyah, Makki menyebutkan bahawa jarak masa doa Nabi Zakaria ‘Alaihissalam memohon dikurniakan zuriat dengan berita gembira adalah 40 tahun. Begitu juga sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu ‘Athiyyah daripada Ibnu Jarir, Muhammad bin Ali dan Adh-Dhahhak bahawa doa Nabi Musa ‘Alaihissalam kepada Firaun tidak diperkenankan melainkan setelah 40 tahun berlalu.

    Sesungguhnya kadang-kadang doa belum diperkenankan kerana doa itu menjadi pahala yang disimpan di akhirat nanti dan adakalanya menjadi sebab dipalingkan seseorang itu daripada sesuatu keburukan dengan sebab doanya itu. Oleh itu adalah lebih baik terus menerus berdoa daripada merungut-rungut doa tidak dikabulkan. Daripada Abu Sa’id Al-Khudri berkata sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tiada seorang muslim berdoa dengan satu doa, bukan doa yang mengandungi dosa dan bukan doa yang memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengurniakan dengan doanya itu salah satu daripada tiga perkara: sama ada dipercepatkan (disegerakan) baginya doanya itu, atau disimpan baginya pahala doanya itu di akhirat (sebagai balasan), atau dihindarkan daripadanya sesuatu keburukan seumpamanya. Mereka berkata: “Kalau begitu baiklah kami memperbanyakkan doa”. Bersabda Nabi: “Allah lebih banyak menerima doa hamba-hambanya.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    1. Memilih dan mengutamakan waktu-waktu dan tempat-tempat atau ketika dimana doa mudah dan cepat dikabulkan. Di antaranya ialah:
    2. i) Di satu pertiga akhir waktu malam dan selepas menunaikan sembahyang fardu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun tiap-tiap malam ke langit dunia ketika tinggal satu pertiga akhir waktu malam berfirman: “Barangsiapa yang berdoa kepadaKu maka Aku akan mengabulkannya baginya, barangsiapa meminta kepadaKu maka Aku akan memberinya, barangsiapa memohon keampunanKu maka Aku mengampuninya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan daripada Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah ditanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Doa apakah yang lebih didengar (dikabulkan)?” Nabi bersabda: “(Doa tatkala) satu pertiga terakhir malam dan sesudah sembahyang fardu.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. ii) Malam Lailatulqadar. Firman Allah di dalam surah Al-Qadr ayat 3-5 yang tafsirnya :

    “Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikut). Sejahteralah malam (yang berkat itu) hingga terbit fajar.”

    Manakala diriwayatkan daripada Sayyidatina Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata yang maksudnya:

    “Aku berkata: “Wahai Rasulullah! Apa pendapatmu (katamu) jika aku mengetahui malam Lailatulqadar daripada mana-mana malam, apa yang hendak aku baca pada malam itu?” Nabi bersabda: “Engkau bacalah Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia, suka mengampuni maka ampunilah aku.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    iii) Hari Arafah. Diriwayatkan daripada ‘Amr bin Syuaib daripada bapanya daripada neneknya sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sebaik-sebaik doa ialah doa pada hari Arafah dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan ialah tiada tuhan melainkan Allah yang tunggal yang tiada sekutu bagiNya. BagiNya kekuasaan dan bagiNya puji-pujian dan Dia Maha Berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. iv) Bulan Ramadhan. Ini adalah kerana bulan Ramadan ialah bulan yang agung, bulan yang mulia lagi berkat serta dibukakan pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya telah datang kepada kamu Bulan Ramadan bulan yang diberkati, Allah memfardukan kepada kamu berpuasa di dalamnya. Dalam bulan Ramadan dibuka pintu-pintu syurga dan dikunci pintu-pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Tambahan lagi orang yang berpuasa itu tidak ditolak sebagaimana yang yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka: Orang yang berpuasa sehinggalah dia berbuka, imam (pemerintah) yang adil dan doa orang yang dizalimi.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. v) Hari dan malam Jumaat. Daripada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir berkata, telah bersabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sesungguhnya hari Jumaat itu adalah penghulu segala hari dan hari yang paling agung di sisi Allah dan ia (hari Jumaat) adalah lebih agung di sisi Allah dari Hari Raya Adha dan Hari Raya Fitri. Pada hari Jumaat itu terdapat lima peristiwa penting. (Iaitu) Allah mencipta Nabi Adam, Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, Allah mewafatkan Nabi Adam, pada hari itu ada satu waktu, bila seorang hamba memohon kepada Allah pasti Allah mengurniakannya selama mana dia tidak meminta yang haram dan pada hari itu juga terjadinya Hari Kiamat. Tiada satu malaikat Muqarrib, tidak juga langit, bumi, angin, gunung, dan lautan kecuali mereka itu merasa takut akan hari Jumaat.”

    (Hadits riwayat Ibnu Majah)

    Diriwayatkan pula daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila malam Jumaat, jika engkau berdaya bangun pada satu pertiga malam yang akhir, maka sesungguhnya padanya ada satu waktu yang dipersaksikan (oleh Allah dan para malaikat) dan doa pada waktu itu mustajab.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 28 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (2/5) 

    Doa masuk masjidTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (2/5)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berdoa dengan jalan bertawassul dengan amal saleh. Allah berfirman di dalam surah Al-Ma’idah ayat 35 yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang boleh menyampaikan kepadaNya (dengan mematuhi perintahNya dan meninggalkan laranganNya).”

    Manakala diriwayatkan daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda maksudnya :

    “Tiga orang keluar berjalan-jalan lalu mereka kehujanan, maka mereka masuk ke dalam sebuah gua yang terdapat di sebuah gunung. Lalu (apabila hendak keluar) mereka terhalang oleh satu batu besar. Nabi bersabda: “Lantas berkata sebahagian mereka (salah seorang) kepada yang lain: “Berdoalah kamu kepada Allah dengan amal salih yang paling baik yang telah kamu lakukan. Maka berdoa salah seorang daripada mereka: “Ya Allah! Sesungguhya aku mempunyai ibu bapa yang sangat tua. Dulu aku selalu keluar mengembala, kemudian aku datang untuk memerah susu, aku membawa air susu selanjutnya untuk aku berikan kepada ibu bapaku lalu keduanya minum, kemudian barulah aku beri minum anakku, keluargaku dan isteriku. Maka pada satu malam aku terhalang (memberi minum keduanya) karena aku datang (membawa susu) sedang keduanya sedang tidur. Nabi menyabdakan kata orang itu: “Aku (benci) tidak suka untuk membangunkan keduanya walaupun anak-anak menggeliat-geliat kelaparan di kakiku. Maka begitulah keadaan kebiasaanku dan kebiasaan mereka berdua sehingga terbit fajar. Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku telah melakukan sedemikian itu karena semata-semata untuk mendapatkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini yang dari situ kami boleh melihat langit”. Nabi bersabda: “Lalu dibebaskanlah mereka (dengan bergerak satu pertiga batu besar itu). Berdoa seorang lagi yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku dulu pernah mencintai seorang perempuan iaitu salah seorang anak perempuan bapa saudaraku sebagaimana cinta yang mendalam seorang lelaki kepada seorang perempuan. Perempuan itu mengatakan: “Engkau tidak akan memperoleh sedemikian itu daripadanya sehingga engkau memberinya seratus dinar” Lalu aku berusaha sehingga aku berhasil mengumpulkannya (wang sebanyak itu), maka ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia (wanita itu) berkata: “Bertakwalah engkau kepada Allah dan janganlah engkau merosakkan mahkota kegadisan kecuali dengan haknya”. Lalu aku berdiri dan meninggalkannya, maka jika engkau mengetahui bahawa aku melakukan sedemikian itu karena semata-mata mengharapkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini”. Nabi bersabda: “Maka Allah membebaskan mereka (dengan bergerak batu itu) dua pertiga”. Berdoa pula seorang yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku mengupah seorang pekerja dengan beberapa cupak gandum lalu aku memberinya dan dia menolak untuk mengambil (upahnya). Lalu aku senghaja mengambil dari beberapa cupak gandum itu lalu aku tanam sehingga aku belikan daripada hasilnya seekor lembu dan pengembalanya, kemudian dia datang seraya berkata: “Wahai Hamba Allah! Berikan (kepadaku) hak saya”. Maka aku berkata: “Pergilah engkau kepada lembu itu dan pengembalanya, sesungguhnya itu adalah milikmu”. Pekerja itu berkata: “Adakah engkau menghinaku?” Aku menjawab: “Aku tidak menghinamu tetapi memang lembu itu benar-benar milikmu.” Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku melakukan hal sedemikian itu karena semata-mata mendapatkan keredaanMu maka bebaskanlah kami”. Maka dibebaskanlah kitu daripada mereka.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    1. Berdoa menghadap ke kiblat dan mengangkat dua tangan sekira-kira nampak putih ketiak dan menyapu kedua tapak tangan ke muka setelah selesai. Daripada ‘Abbad bin Tamim Al-Mazini bahawa ia mendegar bapa saudaranya berkata maksudnya :

    “Pada satu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi keluar memohon dikurniakan hujan. Maka Baginda membelakangi orang sambil berdoa mengadap kiblat dan membalikkan selendangnya, kemudian baginda bersembahyang dua rakaat.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu ada kemuliaan dan sesungguhnya semulia-mulia majlis ialah majlis yang dihadapkan ke kiblat.”

    (Hadits riwayat Ath-Thabarani dan Al-Hakim)

    Diriwayatkan pula daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya sewaktu berdoa sehingga ternampak putih kedua ketiaknya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Daripada Umar bin Al-Khatthab Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda mengangkat kedua tangannya sewaktu berdoa, Baginda tidak akan menurunkan keduanya sehinggalah Baginda menyapukan keduanya ke mukanya.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan merasa penuh yakin akan diperkenankan. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu maksudnya :

    “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin diperkenankan dan ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai serta tidak sungguh-sungguh.”

    1. Berdoa disertai dengan kerendahan hati, khusyuk dengan jiwa yang tulus ikhlas,merendahkan suara di antara berbisik dan nyaring dan diiringi dengan perasaan takut azab Allah dan penuh harapan dengan limpah kurniaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah Al-A’raf ayat 55 tafsirnya :

    “Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan.”

    Perkara ini ditekankan juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sabdanya yang diriwayatkan daripada Abu Musa Al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu maksudnya :

    “Wahai Manusia! Berlembutlah kamu terhadap diri kamu sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang ghaib, sesungguhnya Dia bersama kamu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat yang berkat namaNya dan tinggi kebesaranNya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Di dalam surah Al-Anbiya’ ayat 90, Allah berfirman maksudnya :

    “Sesungguhnya mereka sentiasa berlumba-lumba dalam mengerjakan kebaikan, dan sentiasa berdoa kepada Kami dengan penuh harapan serta gerun takut dan mereka pula sentiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.”

    1. Tidak berdoa dengan sesuatu yang tidak selayaknya seperti perkara yang tidak munasabah dan mustahil. Maka oleh karena itu adalah lebih utama berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur yang datang daripada Al-Quran dan Sunnah dan para sahabat. Di samping doa-doa tersebut jauh daripada permohonan yang tidak selayaknya, doa-doa tersebut bersifat umum, menyeluruh dan padat. Daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata maksudnya :

    “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai doa yang menyeluruh maknanya dan dia tinggalkan selain daripada itu.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Oleh karena itu doa yang paling banyak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam baca sebagaimana yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Adalah doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbanyak sekali (Baginda baca ialah): “Ya Allah! Ya Tuhan kami! Kurniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharakanlah kami daripada azab api neraka.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 27 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (1/5) 

    ibu dan anak lelakinya berdoaTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (1/5)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berdoa merupakan salah satu daripada elemen yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia merupakan pengakuan hamba terhadap kekuasaan Allah yang mutlak terhadap segala yang berlaku, manakala dari segi yang lain pula ia adalah bentuk pengabdian seorang hamba kerana hadirnya perasaan berhajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berdasarkan ini, doa mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah dan Allah menyukai orang yang berdoa kepadaNya. Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam hadits yang lain pula, daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Mohonlah kebaikan/kelebihan daripada Allah kerana sesungguhnya Allah suka diminta kebaikan/kelebihan dan sebaik-baik ibadah adalah menunggu kelapangan (terlepas daripada kesusahan).”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Doa adalah penggerak dalaman yang memberikan kekuatan, keyakinan, harapan dan keberkatan dalam apa jua amal perbuatan. Maka tidak hairan di dalam Islam setiap langkah sesuatu perbuatan, ada doa-doanya tertentu yang digalakkan supaya diamalkan sama ada sebelum memulakan sesuatu perbuatan ataupun selepas melakukannya. Semua ini tidak lain, bagi menggalakkan orang-orang Islam agar sentiasa berdoa dan bagi menggambarkan bahawa berdoa itu adalah salah satu daripada keperluan yang penting di dalam mencari keberkatan, keredaan dan perlindungan Allah sepenuhnya pada mencapai segala apa yang dilakukan. Sebab itu orang yang enggan berdoa bukan sahaja dia telah menutup bagi dirinya berbagai-bagai pintu kebaikan, malah dia juga akan mendapat kemurkaan daripada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu yang maksdunya :

    “Sesungguhnya orang yang tidak meminta (berdoa) kepada Allah, Dia (Allah) marah kepadanya.”

    Kelebihan atau fadhilat doa itu amat besar dan banyak sekali. Melalui doa, keampunan dan rahmat diperolehi, dan melalui doa juga musibah dan kesusahan terhindar. Pendeknya, jika Allah menghendaki dan merestui doa hambanya, tiada ada satu daya kuasa pun yang dapat menghalangnya dan Allah tidak akan mensia-siakan keikhlasan orang yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman di dalam surah Al- Baqarah ayat 186 yang tafsirnya :

    “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): “Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik dan betul.”

    Imam Al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala berkata:

    “Jika ada orang bertanya, apa manfaat doa itu padahal qada (ketentuan Allah) tidak dapat dihindarkan. Ketahuilah bahawa qada juga boleh menghindarkan suatu bala dengan berdoa. Maka doa adalah menjadi sebab bagi tertolaknya suatu bala bencana dan adanya rahmat Allah sebagaimana juga halnya bahawa perisai adalah menjadi sebab bagi terhindarnya seseorang daripada senjata dan air menjadi sebab bagi tumbuhnya tumbuh-tumbuhan di muka bumi.”

    Perkara ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah di dalam surah Ar-Ra’d ayat 39 yang tafsirnya :

    “Allah menghapuskan apa jua yang dikehendakiNya dan Dia juga menetapkan apa jua yang dikehendakiNya. Dan (ingatlah) pada sisiNya ada ibu segala suratan.”

    Manakala daripada Salman Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Tidak tertolak qada itu melainkan oleh doa dan tidak bertambah di dalam umur itu melainkan oleh kebajikan.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam menghuraikan hadits di atas, pengarang kitab Bahr Al-Madzi membawakan masalah qadha mubram dan qadha mu’allaq tentang makna kedua-dua jenis qadha itu dan hubungannya dengan doa: “(Kata ulama) Qadha Mubram itu ialah suatu yang ditentukan Allah di dalam ilmunya tiada boleh diubah dan tiada boleh ditukar akan dia dan qadha mu’allaq itu seperti suatu perkara yang berta’liq sekiranya engkau berdoa nescaya diperkenankan apa-apa doamu dan jika sekiranya engkau berbuat kebaktian dan silaturrahim nescaya dipanjangkan umurmu dan sekiranya tiada diperbuat kebaktian dan tiada berdoa, maka tiadalah diperkenankan dan ditambah umur menurut dan bertentang dengan barang yang di dalam ilmuNya. Maka qadha mu’allaq itulah yang ditolak oleh doa.” (Lihat Bahr Al-Madzi 13-14/196)

    Adapun kelebihan orang yang berdoa itu sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan daripada Salman Al-Farisi yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah itu Hidup dan Maha Pemberi, Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya kepadaNya lalu Dia mengembalikan kedua tangannya (membalas doa orang itu) dalam keadaan kosong serta rugi.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Di dalam ayat dan hadits tersebut, jelas diterangkan bahawa apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, nescaya Allah akan mengabulkan doanya dan tidak akan membiarkan doanya itu kosong sahaja. Tetapi perlu diingat bahawa untuk mendapat doa yang dimakbulkan, adab-adab atau peraturan berdoa mestilah dipelihara oleh setiap orang yang berdoa. Jika seseorang memohon sesuatu kepada seorang raja, dia akan menjaga adab-adab dan peraturan-peraturannya dari berbagai-bagai segi, maka berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentulah lebih patut lagi dia menjaga adab dan tatacara berdoa agar doa yang dipanjatkan akan dimakbulkan. Di antara tuntutan-tuntutan dan etika di dalam berdoa itu ialah:

    1. Memelihara sumber rezeki seperti makanan, minuman dan pakaian daripada sumber yang haram sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik (suci bersih daripada segala kekurangan), Dia (Allah) tidak menerima kecuali yang baik (halal), dan Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Maka Dia (Allah) berfirman: “Wahai para rasul makanlah dari benda-benda yang baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal salih; sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mu’minun: 51) Dan Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah daripada benda-benda yang baik (halal) yang telah Kami berikan kepada kamu” (Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah menyebutkan berkenaan seorang lelaki yang melakukan perjalanan yang jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu, dia menadahkan tangannya ke langit sambil (berkata): “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku (berdoa), (padahal) makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram,bagaimana doanya itu hendak dimakbulkan?”

    (Hadits riwayat Muslim)

    1. Berwudhu dan memulakan serta mengakhiri doa dengan menyebut dan memuji-muji nama Allah serta memberi selawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Daripada Abu Musa Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Aku datang masuk ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Baginda di atas katil yang ditenun dengan tali dan di atasnya hamparan. Tenunan tali pada katil itu membekas pada punggung dan kedua lambung Baginda, lalu aku memberitahu kepada Baginda akan berita kami dan berita Abu Amir (yang terbunuh di dalam peperangan Awthas) yang berkata (kepadaku): “Katakanlah kepada Nabi, mintakanlah keampunan untukku” Lalu Baginda minta diambilkan air maka Baginda pun berwudhu. Kemudian Baginda mengangkat kedua tangannya lalu berdoa: “Ya Allah! Ampunilah Ubaid Abu Amir.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Doa adalah zikir (mengingati) kepada Allah. Berdasarkan ini diriwayatkan daripada Muhajir Bin Qunfudz Radhiallahu ‘anhu ang maksudnya :

    “Sesungguhnya dia (Muhajir bin Qunfudz) datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Nabi membuang air kecil. Maka dia memberi salam kepada Baginda, maka tidak dijawab oleh Baginda sehinggalah Baginda berwudhu kemudian memberikan alasan kepadanya dengan bersabda: “Sesungguhnya aku benci menyebut nama Allah Azza wa Jalla kecuali aku di dalam keadaan bersih (daripada hadats kecil).”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Adapun menyebut dan memuji-muji Allah terutama dengan nama-nama Al-Asma’ Al-Husna dan memberi selawat dan salam kepada Nabi, dijelaskan di dalam surah Al-A’raf ayat 180 yang tafsirnya :

    “Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu.”

    Daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata:

    “Setiap doa itu terhalang sehinggalah diucapkan selawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    (Hadits riwayat Ad-Dailami)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 26 August 2016 Permalink | Balas  

    Kebaikan Itu Menentramkan Hati 

    niat baikKebaikan Itu Menentramkan Hati

    Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Karena orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka ini akan merasakan ‘makna’ nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga mereka selalu berlapang dada, tenang, tenteram dan damai.

    Ketika kita diliputi kegundahan dan sedih, berbuat baiklah terhadap sesama. Memberi sedekah kepada yang papa, menolong mereka yang terzhalimi, meringankan beban sesama yang menderita, memberi makan sesama yang kelaparan, menjenguk orang sakit dan membantu orang yang terkena musibah. Niscaya kita akan mendapatkan kedamaian dan ketentraman di hati. Kita akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan kita.

    Kebaikan itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Kebajikan itu terasa bagai obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih. Menebar senyum yang manis dan tulus adalah sedekah jariah. Seperti tersirat dalam tuntunan akhlak, “……meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri.” [Al-Hadits]

    Kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri kita dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong dan meringankan beban sesama. Insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan dari semua sisinya : rasa, warna dan hakekatnya.

    “Dan bukan karena sesuatu nikmat-pemberian di sisinya dari seorang yang akan dibalasnya. Tetapi ia mengharapkan karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasaan-ridha.” [QS 92 -Al Lail]

    Dikutip dari ‘La Tahzan’ -Jangan Bersedih! – DR. ‘Aidh al-Qarni

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 25 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al Baqarah 

    baqorohFadhilat Surah Al Baqarah

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    Imam al-Baihaqi dari Imam Shalshal berkata: “Barangsiapa membaca surat baqarah maka dipakaikan kepada mahkota di Syurga.”

    Imam Ibnu Zanjawai dari Imam Wahab ibn Munabih mengatakan: “Barangsiapa membaca Surat Baqarah dan Ali Imran pada malam Jumat maka baginya nur cahaya membentang antara Arsy dan dasar bumi.”

    Abu Mas’ud Albadri ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah, maka cukuplah baginya dari hal-hal yang membencikan. Dan menurut sebahagian pendapat: sama dengan bersembahyang malam).”

    Ibnu Abbas ra. bercerita: Pada suatu ketika Jibrail berada di sisi Nabi SAW. tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: ini sebuah pintu di langit, pada hari ini dibuka, dan turun seorang malaikat, memberi salam dan berkata: “Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah kepadamu, dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, iaitu:Fatihul kitab dan akhir surah Al-Baqarah. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya, melainkan pasti permintaanmu di beri.”

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 24 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Yasin 

    yasin1to9Fadhilat Surah Yasin

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    At-Tirmizi mengikhraj hadis dari Anas RA dari Nabi SAW, beliau bersabda:

    “Sungguh bagi tiap sesuatu adalah jantung sedang jantung al-Quran adalah surah Yasin; maka Allah mencatat untuknya sebab bacaan surah Yasin tersebut senilai bacaan al-Quran sepuluh kali.”

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barangsiapa mengamalkan bacaan surah Yasin setiap malam lalu ia meninggal maka ia mati Syahid.”

    “Barangsiapa membaca surah Yasin pada malam hari maka di pagi hari ia terampun dosanya.”

    “Siapa saja, orang muslim, tatkala akan meninggal di bacakan surah Yasin maka turunlah untuk setiap satu huruf sepuluh malaikat; mereka berdiri berbaris di hadratnya memohonkan rahmat dan keampunan untuknya, pula menyaksikan di mandikan jenazah, menghantarnya, mennyembahyangkannya juga ikut hadir di dalam pemakamnya.

    Dan siapa sahaja, orang islam, membaca surah Yasin ketika sakratulmaut tidak hendak mengambil rohnya sehingga kehadiran Malaikat  Ridwan dengan membawa seteguk minuman Syurga dan di minumkan kepadanya di atas pembaringannya dan dirasakan kesegarannya ketika di ambil nyawanya juga kesegaran kelak di dalam kubur dan ia tidak memerlukan telaga para nabi, hingga masuk Syurga ia selalu merasakan kesegaran.”

    Dari Yahya ibn Katsir, katanya: “Sampai kepadaku bahawa sesiapa membaca surah Yasin di waktu pagi hari maka ia selalu di dalam kegembiran hingga petang hari dan siapa membacanya diwaktu petang hari maka ia selalu dalam kegembiraan hingga pagi hari.”

    Dengan isnad sahih diriwayatkan dari Au akar dan Ibnu Abbas RA maksudnya” Barangsiapa membaca surah Yasin, sampai pada ayat “Iz JAA aHal mursaluun” berdoa memohon kepada Allah, maka dikabulkan permohonannya.

    Di Dalam hadis di sebutkan:

    “Surah Yasin itu di baca untuk maksud apa saja.”

     
  • erva kurniawan 2:40 am on 23 August 2016 Permalink | Balas  

    Kebaikan Itu Sangat Mudah Dilakukan 

    tetes-airKebaikan Itu Sangat Mudah Dilakukan

    Ketika itu satu jam menjelang shalat Zhuhur di Masjidil Haram cuaca sangatlah terik. Tiba-tiba seorang lelaki yang sudah sangat tua berdiri dan memberikan air dingin kepada orang-orang yang hadir dan beri’tikaf di tempat itu. Tangan kanannya memegang sebuah gelas, dan tangan kirinya memegang yang sebuah lagi. Dia memberi minum jamaah dengan air zam-zam. Setelah seseorang selesai minum maka dia mengambil air dan kembali memberi minum kepada yang lain. Betapa banyak orang yang ia beri minum. Keringatnya mengucur deras sedangkan orang-orang hanya menunggu giliran mendapatkan air minum dari orang tua tadi. Semangat, kesabaran dan kecintaannya kepada kebaikan, serta wajahnya yang selalu menebar senyum saat memberi minum sangatlah mengagumkan.

    Ternyata kebaikan itu sangat mudah dilakukan oleh siapa saja yang oleh Allah dimudahkan untuk melakukannya. Allah memiliki simpanan kebaikan yang banyak sekali, yang akan mengaruniakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah mengalirkan keutamaan kepada orang-orang yang baik yang senang melakukan kebaikan kepada sesama dan tidak senang melihat keburukan menimpa sesama.

    Abu Bakar siap menempuh semua bahaya pada saat hijrah untuk melindungi Rasulullah. Abu Ubaidah tidak tidur malam di tengah tentaranya yang nyenyak tertidur. Umar bin al-Khaththab keliling kota Madinah pada saat penduduk Madinah sedang terlelap tidur. Pada musim paceklik, Umar hanya bisa membolak- balikan badan karena lapar, sebab makanannya sendiri ia bagikan kepada rakyatnya. Hatim rela tidur dalam keadaan lapar asal tamu-tamunya kenyang. Ibnul Mubarak memberi makanan kepada orang lain padahal ia sendiri dalam keadaan puasa.

    “Mereka memberi makan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tawanan” [AL Insaan: 76:8 ]

    Demikian seperti diceritakan oleh DR. ‘Aidh al-Qarni dalam bukunya La Tahzan.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 22 August 2016 Permalink | Balas  

    Aku Anak Pelacur 

    ibu-anak-siluetAku Anak Pelacur

    Pernahkan Anda dihina, dicibirkan ato dijadikan gunjingan, bahkan selalu dipojokan, karena profesi dari ortu? Hal ini pasti akan Anda rasakan, apabila Anda dilahirkan dari rahim seorang pelacur, sundal, lonte, PSK, perek, atau nama lain apa sajalah yang dapat mewakili sebutan seorang penjaja tubuh dan cinta. Aku memang anak seorang pelacur, walaupun aku sendiri tidak ingin menjadi anak pelacur. Bila aku boleh memilih, pasti aku akan memilih mempunyai orang tua yang baik-baik, lahir dari suatu perkawinan yang sah. Tapi, apakah aku punya pilihan? Hidup memang sebuah pilihan, tetapi tidak untuk memilih dari siapa manusia dilahirkan.

    Orang sekampung memperlakukan kami sekeluarga seperti juga penderita penyakit AIDS. Bukan hanya dicibirkan saja, tetapi dalam keadaan apapun juga aku selalu disalahkan. Cemohan dan hinaan sebagai anak pelacur melekat di tubuhku sejak kecil. Apabila aku bertengkar dengan anak tetangga, pasti aku yang selalu disalahkan dengan cemohan, “pantas saja anak ini nakal sebab ibunya juga seorang pelacur. Betapa pedih dan sakitnya hatiku mendengar hinaan seperti itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Apakah seorang anak pelacur harus selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus dikaitkan dengan pekerjaan ibu? Hinaan ini bukannya hanya berlaku dirumah saja, tetapi disekolahan atau dimanapun juga aku berada.

    Apabila aku menceritakan kesedihanku kepada Ibu, Ibu hanya bisa membelai kepalaku dengan lembut, sambil turun air matanya berlinang, karena ia bisa turut merasakan betapa pedihnya penderitaanku. Walaupun aku tidak dididik menjadi anak soleh, tetapi Ibu selalu berharap agar anaknya bisa menjadi seorang wanita karir yang berpendidikan, ia tidak ingin aku terjerumus, sehingga mengikuti jejaknya. Nasehat Ibuku selalu terngiang dikupingku: “Janganlah tiru jejak kehidupan emak yang suram ini. Cukup hanya emak yang terperosok dalam kegelapan, hidup dalam kehinaan, tak punya harga diri.”

    Aku tidak pernah mengenal ayahku, sedangkan Ibu sendiripun tak mengerti siapa bapak sahnya. Ibu menjadi pekerja seks sebab dia tidak mempunyai apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang pekerja seks bukan pilihan ibu, tapi sebuah keterpaksaan. Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan meninggalkan pekerjaan itu, karena kehidupan serba kekurangan inilah yang memaksanya menjalani profesi terkutuk. Dan aku tetap mengasihi Ibuku seperti juga layaknya anak-anak lain mengasihi Ibunya, aku tidak pernah merasa jijik ataupun muak terhadap Ibuku, apakah ini salah? Walaupun demikian aku selalu berdoa, apapun yang akan terjadi didalam kehidupanku, aku tidak ingin anakku mengalami nasib yang sama dengan mendapatkan Ibu seorang pelacur.

    Tetapi rupanya takdir dan jalan kehidupan seseorang itu bukanlah pilihan sendiri, suatu hari aku di perkosa oleh para pemuda sekampung, karena mereka menilai apabila Ibunya seorang pelacur pasti anaknyapun sudah tidak perawan lagi, padahal usiaku baru saja 15 tahun. Betapa sakitnya badanku terlebih lagi hati dan perasaanku, sehingga aku mulai merasa jijik terhadap diriku sendiri, aku sudah menilai diriku kotor dan hina, walaupun ini bukannya keinginanku melainkan karena hasil dari pemerkosaan para pemuda yang menilai aku sama seperti Ibuku. Apakah dalam hal ini aku bisa menyalahkan Ibuku?

    Hancurlah sudah harapanku maupun harapan Ibuku untuk menjadikan aku beda daripada Ibuku. Karena satu-satunya mahkota kehidupanku telah direnggut dengan paksa, mahkota yang menjadikan diriku lebih terhormat dibanding dengan Ibuku di mata masyarakat. Sesuatu yang diharapkan dapat menghapus citra jelek anak seorang pelacur telah hilang dalam waktu satu malam. Apakah Tuhan telah mentakdirkan aku untuk mengikuti jejak Ibuku menjadi seorang pelacur? Apakah Tuhan telah merencanakan bertambahnya seorang pelacur di muka bumi ini dengan hancurnya kebanggaan hidupku? Dan apakah Tuhan masih mau mengangkatku dari lembah kegelapan hidup yang selama ini mengikuti ke mana langkahku pergi?

    Malapetaka yang menimpa diriku ini diketahui oleh orang sekampung. Apakah ada rasa iba atau prihatian akan kejadian yang menimpa diriku, boro-boro bahkan aku semakin dipojokan oleh mereka, mereka menilai apa yang terjadi dengan diriku itu hal yang sewajarnya sebagai hukuman karma atas dosa ibuku. Hal ini membuat harga diriku semakin jatuh, aku merasa malu, sehingga jangankan pergi ke sekolah keluar rumah pun aku merasa malu.

    Dua bulan kemudian sejak kejadian yang mengenaskan tersebut Dokter menyatakan bahwa aku hamil. Kehamilan yang sama sekali tidak kuinginkan, kehamilan karena peristiwa tragis itu. Diperkosa.

    Anakku akan lahir sebagai anak haram, walaupun ia memang tidak berdosa, tapi dia pasti akan menanggung segala beban yang tidak seharusnya ditanggung olehnya kelak. Seperti halnya aku yang tak tahu siapa bapakku, hal seperti itu pulalah yang akan dialaminya nanti, dikucilkan, dicela, dijauhi, seperti halnya yang terjadi dengan diriku.

    Tak ada seorang anakpun yang mau lahir sebagai anak haram. Aku juga tak mau dia menderita, karena mungkin jika dia boleh memilih, dia pasti akan memilih untuk tidak dilahirkan. Karena kelahirannnya tidaklah diinginkan terutama oleh masyarakat yang serba munafik ini.

    Apakah masih ada masa depan untuku, setelah lahirnya bayi tersebut? Apakah aku akan mampu mengasihi bayi yang tak berdosa tersebut, seperti layaknya seorang Ibu mengasihi anaknya?

    Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi, usiaku masih muda belia, pendidikanpun tidak kumiliki, sehingga rupanya aku sudah ditakdirkan untuk mengikuti jejak dari Ibuku! Tetapi dilain pihak aku tidak ingin bayi ini nanti mengalami nasib yang sama seperti yang juga pernah kualami sampai saat ini. Mungkin jalan satu-satunya yang terbaik ialah memilih agar bayi ini tidak dilahirkan, seperti juga apa yang dianjurkan oleh emak! Apakah Tuhan itu benar-benar mengasihi umat-Nya? Apakah masih ada masa depan untukku maupun untuk bayiku?

    Apakah mungkin takdir yang sedang kualami ini merupakan hukum karma, karena prilaku dari emak? Apakah aku bisa menyalahkan emak ataupun membencinya, karena aib yang menimpa diriku ini?

    Sehingga tersirat dalam pikiranku mungkin ada baiknya untuk bunuh diri saja, sehingga dengan demikian, anak yang tak berdosa inipun tidak perlu dilahirkan dan akupun tidak perlu mengikuti jejak dari emak, mungkin inilah keinginan Tuhan dariku untuk mati dalam usia 15 tahun.

    Dari Rita (Bukan nama sebenarnya)

    Mungkin ada pembaca yg bersedia memberikan saran untuk Rita yang merasa sedang berada di jalan kehidupan yang buntu.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 21 August 2016 Permalink | Balas  

    Melubangi Kapal 

    kapalMelubangi Kapal

    Setiap perbuatan yang melanggar hukum syarak adalah kemaksiatan. Dan setiap kemaksiatan pasti akan merugikan diri orang yang berbuat dan membahayakan diri orang lain. Perbuatan maksiat itu ibarat perbuatan melubangi kapal. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : “Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah SWT adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah perahu. Lalu mereka mebagi tempat duduknya masing-masing, ada yang dibagian atas dan sebagian lagi dibagian bawah. Bila ada orang dibagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk dibagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah itu berkata, ‘seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak menggangu orang lain yang di atas. Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa”. (HR.Bukhari).

    Peminum khamr, pezina, pencuri, penjudi, koruptor, pelaku kolusi, pelaku ketidakadilan, dan pelanggar hukum syarak lainnya, atau tidak menerapkannya secara utuh, jelas itu sebuah kemaksiatan. Dampak perbuatan itu akan dirasakan oleh orang lain.

    Maraknya tindak kriminal dan asusila, banjir yang melanda berbagai wilayah, kekeringan dan kebakaran hutan baru-baru ini, adalah sebagian contoh akibat kesalahan manusia. Boleh jadi hanya sebagian manusia melakukan kemaksiatan itu, tetapi banyak yang tidak berdosa (ikut) menanggungnya.

    Islam tidak mengenal sikap individualis atau cuek bebek terhadap orang lain dan lingkungannya. Sikap individualis pada dasarnya akan membiarkan orang lain bebas berbuat (melanggar batas hukum Allah SWT). Tetapi sebaliknya, Islam mewajibkan Amar Makruf Nahi Mungkar, sehingga setiap jiwa tidak menanggung derita dunia dan akherat karena sebuah kemaksiatan seseorang.

    Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya ; “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang orang-orang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(QS.An-Anfaal:25).

    Menjaga batas-batas hukum Allah atau ber-Amar Makruf Nahi Mungkar sehingga “kapal” kehidupan bermasyarakat tidak tenggelam karena tidak seorang pun melubanginya, adalah perkara yang teramat penting. Lebih penting daripada sekedar berdiam diri dan khusyuk berdoa dihadapan Allah SWT. Karena Rasulullah SAW bersabda : “Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat diantaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik diantaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doanya tidak akan dikabulkan”.(HR.Al-Bazzar & Thabrani).

    (dikutip dari kolom Hikmah-Republika).

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 20 August 2016 Permalink | Balas  

    Kiamat Kelak : Dimanakah Tempat Kita ?. 

    muhammad 2Kiamat Kelak : Dimanakah Tempat Kita ?.

    Rasulullah SAW ditanya : “Bagaimana menurut Rasulullah SAW tentang seseorang yang mencintai suatu kaum /seseorang, padahal ia belum pernah bertemu dengan mereka itu? “.

    Rasulullah SAW menjawab : “Seseorang akan selalu bersama dengan orang yang dia cintai”. (hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

    Jika seseorang mencintai yang lain atas dasar karena Allah SWT, meskipun tidak pernah bertemu dengan yang dicintainya itu, maka dia akan tercatat bersama-sama dengan golongan Allah SWT.

    Seorang Muslim yang mencintai Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta seluruh pengikutnya, maka pada hari Kiamat kelak dia akan berada bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta seluruh pengikutnya itu.

    Sebaliknya jika seorang Muslim lebih mencintai kaum dari golongan kafir (Ahli Kitab dan kaum Munafik) daripada mencintai saudara sesama Muslim (para pengikut Rasulullah SAW), maka pada hari Kiamat kelak dia akan berada bersama golongan kafir dari para Ahli Kitab dan kaum Munafik itu.

    Wallahualambisawab.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 19 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (3/3) 

    itikafI’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Manakala isteri yang berniat i’tikaf dengan nazar tanpa izin suami, maka suami boleh melarang isteri daripada melakukannya i’tikaf itu. Jika isteri meneruskan i’tikafnya itu, maka bagi suami berhak melarang atau menegah daripada meneruskan i’tikaf tersebut. Sebaliknya jika isteri diizinkan oleh suami melakukan i’tikaf tersebut sama ada dengan ditentukan masa i’tikaf atau sebaliknya dan i’tikaf itu disyaratkan dengan berturut-turut maka tidak harus bagi suami menegah isteri daripada berbuat demikian. Kerana penentuan masa tidak harus diakhirkan dan syarat berturut-turut itu tidak harus diselang-selikan. Demikian juga tidak harus membatalkan ibadah wajib ketika melakukan ibadah tanpa uzur.

    Menurut pendapat al-ashah, jika isteri mendapat izin melakukan i’tikaf tanpa menentukan masanya dan tidak disyaratkan berturut-turut, maka suami boleh menegah isterinya melakukan i’tikaf tersebut.

    Perkara Yang Harus Dilakukan Oleh Orang Yang Beri’tikaf

    Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmuk (6/514-517) telah menyebutkan perkara-perkara yang harus dilakukan oleh orang yang beri’tikaf, iaitu:

    1. Harus bagi orang yang beri’tikaf itu bersuci, mandi dan menghias diri. Di samping itu dia mestilah menjaga kebersihan masjid. Sesungguhnya telah sabit bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala sedang beri’tikaf di masjid telah menghulurkan kepalanya kepada isterinya ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha yang berada di dalam biliknya untuk disikatkan kepala Baginda pada hal isteri Baginda pada waktu itu sedang haid, sebagaimana dalam satu riwayat disebutkan:

    Maksudnya: “Sesungguhnya ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghulurkan kepala Baginda kepadaku tatkala Baginda dalam masjid untuk disikat dan Baginda tidak akan masuk ke rumah kecuali ada keperluan ketika Baginda beri’tikaf”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis yang lain ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghulurkan kepalanya sedang aku di dalam bilik ku dan menyikat rambut Baginda. Ketika itu aku dalam haid”.

    (Hadis riwayat Muslim)

    1. Harus bagi lelaki dan perempuan memakai bau-bauan dan memakai pakaian yang indah atau berharga. Imam As-Syafi’e berkata dalam kitab Al-Mukhtasar (Al-Majmuk: 6/515):

    Maksudnya: “Tidak mengapa orang yang beri’tikaf sama ada lelaki dan perempuan memakai pakaian (yang indah), makan dan memakai wangian”.

    Walau bagaimanapun bagi perempuan tidak diharuskan berbuat demikian sekiranya di masjid tersebut ada lelaki yang kemungkinan akan tercium bau-bauan yang dipakai itu.

    1. Harus bagi orang yang beri’tikaf itu melakukan akad nikah di dalam masjid.
    2. Harus membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan sebarang ilmu pengetahuan. Menurut Imam As-Syafi’e dan para pengikutnya bahawa perkara sedemikian itu lebih afdhal daripada melakukan sembahyang-sembahyang sunat (nafilah) kerana mempelajari ilmu itu fardhu kifayah.
    3. Sekiranya yang beri’tikaf itu berhajat kepada berjual beli, maka harus baginya berakad jual beli di masjid tanpa berlebihan seperti membawa bersama barang yang diakadkannya itu. Jika berlaku sedemikian hukumnya adalah makruh.
    4. Tidak harus melakukan sesuatu pekerjaan di dalam masjid kecuali kerana hajat seperti menjahit atau menampal kain yang koyak ataupun memperbaiki sesuatu yang ditakuti rosak.
    5. Harus bagi orang yang beri’tikaf makan minum di dalam masjid dengan mengambil kira akan menjaga kebersihan masjid dan tidak mencemarkannya.

    NB : Harus = bahasa Indonesia artinya boleh, Tidak Harus = Tidak Boleh.

    Perkara Yang Membatalkan I’tikaf

    Perkara-perkara yang membatalkan i’tikaf itu ialah:

    1. Bersetubuh sama ada keluar air mani atau sebaliknya, sekalipun ia dilakukan di luar masjid atau ketika keluar qadha hajat atau sebagainya yang mengharuskan dia keluar masjid. Kecuali bagi i’tikaf sunat tidaklah membatalkan i’tikaf dan ia di lakukan di luar masjid. Begitu juga tidak membatalkannya bagi orang yang lupa dan jahil mengenai haramnya bersetubuh ketika dalam i’tikaf. (Mughni Al-Muhtaj: 1/452 dan Al-Majmuk: 6/512)
    2. Keluar mani tanpa bersetubuh dengan cara berseronok-seronok hingga menaikkan syahwat dengan ikhtiarnya. Oleh itu haram bagi orang yang beri’tikaf melakukan sesuatu yang boleh membangkitkan syahwat sehingga membawa kepada persetubuhan. Inilah juga pendapat Ar-Rafi’e yang mengatakan bahawa pendapat al-ashah di sisi jumhur ulama ialah apabila perbuatan berseronok-seronok itu menyebabkan keluar air mani maka batallah i’tikaf itu, jika sebaliknya maka tidaklah membatalkannya. (Al-Majmuk: 512-513 dan Mughni Al-Muhtaj: 1/452)
    3. Gila dan pitam yang berpanjangan. (Al-Majmuk: 6/504-505)
    4. Murtad dan mabuk. (Al-Majmuk: 6/506)
    5. Keluar haid dan nifas. Jika seseorang wanita dating haid atau nifas maka batal i’tikafnya. (Al-Majmuk: 6/507)

    Penutup

    Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahawa ibadah i’tikaf merupakan ibadah badaniyah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sepanjang hidup Baginda. Ini menandakan akan besarnya ganjaran dan pahala yang diberikan kepada orang yang melakukan.

    Apatah lagi, i’tikaf yang disertakan dengan puasa, seseorang itu akan bertambah hampir kepada Allah kerana tujuan i’tikaf itu adalah pembersihan hati dan jiwa dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhkan diri daripada kegiatan atau aktiviti-aktiviti keduniaan. Oleh kerana itu untuk mencapai matlamat itu dianjurkan orang yang beri’tikaf  memperbanyak sembahyang sunat, berzikir kepada Allah, berdoa meminta ampun (istighfar), mengucapkan selawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atau membaca Al-Qur’an di samping bacaan-bacaan lain yang boleh mendekatkan diri kepada Allah.

    ==== selesai ====

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 18 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (2/3) 

    itikaf 2I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Mengikut qaul jadid pula, seorang perempuan tidak sah beri’tikaf di masjid rumahnya (bilik khas sembahyang di dalam rumah) sebab ia bukan masjid, buktinya ialah masjid rumah tidak dilarang orang yang berjemaah duduk di dalamnya untuk melakukan perkara-perkara yang dilarang di dalam masjid seperti berhenti bagi orang yang junub di dalam masjid dan sebagainya. Di samping itu isteri-isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga melakukan i’tikaf di dalam masjid. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/366)

    Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’eyah, (Al-Majmu’: 6/473)  seseorang yang bernazar untuk beri’tikaf di dalam mana-mana masjid selain daripada Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa, maka nazar itu adalah harus bahkan dia boleh melakukannya di mana-mana masjid kecuali jika dia bernazar untuk beri’tikaf di dalam salah sebuah daripada  tiga masjid (yaitu Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa), maka dia wajib beri’tikaf di dalam masjid yang ditentukan itu. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Umar Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :

    “Sesungguhnya ‘Umar bin Al-Khattab telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau berkata: “Aku telah bernazar pada ketika zaman  Jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjid Al-Haram?”

    Baginda menjawab dan bersabda: “Laksanakanlah nazar engkau”

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Kesimpulannya ulama mazhab Maliki dan Syafi’e mengharuskan i’tikaf di mana-mana masjid, sementara ulama mazhab Hanafi dan Hanbali mensyaratkannya di masjid Jami’. Manakala jumhur ulama tidak mengharuskan i’tikaf di masjid rumah (bilik khas sembahyang di dalam rumah) sedangkan ulama mazhab Hanafi pula mengharuskan demikian kepada orang perempuan. (Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu: 699-700)

    1. Al-lubthu yaitu berhenti di dalam masjid. Menurut pendapat ashah ulama Syafi’e disyaratkan tempoh berhenti itu panjang sedikit daripada masa thuma’ninah di dalam sembahyang sama ada dalam keadaan berdiri, duduk atau sambil berjalan di ruangan masjid. Tidak memadai sekadar thuma’ninah atau kurang daripada itu. Bahkan lama berhenti itu tidak ditentukan masanya sehinggakan berniat nazar i’tikaf bagi tempuh sebentar atau selama satu jam, sah i’tikaf tersebut. Menurut Imam Syafi’e afdhal berniat i’tikaf selama satu hari bagi mengelakkan daripada khilaf (percanggahan ulama).

    Sunat berniat i’tikaf untuk mendapatkan pahala bagi orang yang melintas (lalu) dalam masjid seperti masuk dari pintu dan keluar dari pintu lain dan sebagainya, dan tidak memadai i’tikaf itu bagi orang lalu dalam masjid tanpa niat.

    1. Niat: Ketika hendak memulakan i’tikaf disyarat berniat i’tikaf. Ia tidak sah dilakukan tanpa niat sama seperti sembahyang dan ibadah-ibadah lain karena niat itu adalah ibadah sama ada ibadat itu berbentuk wajib seperti nazar atau selainnya. Matan Kitab Al-Minhaj menyebutkan bahawa disyaratkan niat ketika memulakan i’tikaf dan begitu juga ketika melakukan i’tikaf nazar (wajib). Ini bertujuan untuk membezakan dengan i’tikaf sunat, sebagaimana dinyatakan oleh Khatib As-Syarbini pengarang kitab Mughni Al-Muhtaj. (1/453)

    Menurut Imam An-Nawawi pula, memadai i’tikaf jika seseorang berniat i’tikaf secara mutlaq (tidak menentukan masa i’tikaf) sekalipun lamanya satu hari atau satu bulan. Dalam kes tidak menentukan masa i’tikaf ini, jika dia keluar daripada masjid kemudian masuk semula ke dalam masjid, hendaklah dia memperbaharui niat i’tikafnya sekalipun keluar karena qadha hajat atau sebagainya. Kecuali ketika dia keluar untuk mengqadha hajat itu dia berazam untuk masuk semula, tidaklah perlu memperbaharui niatnya. (al-Majmuk: 6/487 dan Mughni Al-Muhtaj:1/453)

    Bagi i’tikaf yang ditentukan masanya seperti berniat i’tikaf sunat selama satu hari atau satu bulan atau berniat nazar selama beberapa hari (tidak ditentukan masanya) dan tidak pula disyaratkan berturut-turut, dalam perkara ini menurut qaul ashah, tidak wajib memperbaharui niat jika seseorang itu hendak keluar bagi tujuan qadha hajat dan masuk semula ke dalam masjid. Kecuali bagi tujuan yang lain (selain qadha hajat) sekalipun masanya itu panjang atau sekejap, disyaratkan memperbaharui niat i’tikaf itu. (Al-Majmuk: 6/487 dan Mughni Al-Muhtaj:1/453)

    Begitu juga bagi i’tikaf nazar beberapa hari dengan berturut-turut, jika dia keluar masjid sehingga memutus hari berturut-turut itu  dengan tujuan yang lain (selain qadha hajat atau mandi junub karena bermimpi) disyaratkan baginya memperbaharui niat. Akan tetapi, jika dia keluar bagi tujuan qadha hajat atau mandi junub karena bermimpi tanpa memutus hari berturut-turut tersebut, tidaklah wajib memperbaharui niatnya. (Al-Majmuk: 6/487-488 dan Mughni Al-Muhtaj: 1/454)

    Puasa Bagi Orang Yang Beri’tikaf

    Menurut Imam Syafi’e dalam qaul jadid dan para pengikutnya bahawa harus juga melakukan i’tikaf itu tanpa berpuasa, akan tetapi afdhal melakukan i’tikaf itu dengan berpuasa. I’tikaf juga sah di waktu malam sahaja dan pada hari-hari Tasyriq dan hari raya. Walau bagaimanapun menurut kebanyakan ulama Syafi’e puasa bukanlah syarat bagi sahnya i’tikaf.

    Jika seseorang itu bernazar melakukan i’tikaf satu hari atau lebih dengan berpuasa, maka memadailah dia melakukan i’tikaf dengan puasa tanpa khilaf (percanggahan) ulama dan tidak diasingkan puasa itu daripada i’tikaf. Begitulah juga sebaliknya. Manakala jika seseorang itu bernazar i’tikaf dan puasa atau bernazar i’tikaf dengan berpuasa, bolehkah kedua-duanya disatukan? Menurut pendapat yang ashah di kalangan mazhab Syafi’e memadai keduanya disatukan dan itulah pendapat jumhur dan nash daripada perkataan Imam As-Syafi’e. (Al-Majmuk: 6/475-477) Bahkan wajib disatukan sebagaimana disebut dalam matan kitab Mughni Al-Muhtaj (1/453)

    I’tikaf Bersyarat

    Seseorang yang bernazar untuk melakukan i’tikaf selama beberapa hari dan disyaratkan dalam nazarnya itu bahawa dia akan keluar sekiranya dihinggapi penyakit atau karena menziarahi pesakit atau keluar karena mencari ilmu, maka sah syarat-syaratnya itu. Oleh itu dia dibolehkan keluar melakukan perkara-perkara yang disyaratkan dalam nazarnya tetapi hendaklah dia bersegera kembali beri’tikaf sebaik sahaja kerja-kerja itu selesai. Sekiranya dia lambat kembali tanpa uzur, batal i’tikafnya dan dia hendaklah memulai semula i’tikafnya dan wajib memperbaharui niat i’tikaf tersebut. (Al-Majmuk: 6/520 & 488)

    Hukum Mengenai Perempuan Yang Beri’tikaf

    Perempuan sah melakukan i’tikaf sebagaimana para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. Untuk jelasnya beberapa hukum mengenai perempuan yang beri’tikaf sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Majmuk (Al-Majmuk: 6/470-471) :

    1. Tidak sah dan tidak harus seorang perempuan beri’tikaf tanpa izin daripada suami. Jika isteri bernazar untuk melakukan i’tikaf dengan kebenaran suami, sebagai contoh ia ditentukan selama 2 hari, menurut Imam An-Nawawi harus bagi isteri tersebut masuk ke masjid tanpa memerlukan izin daripada suami, karena kebenaran nazar itu adalah izin untuk masuk ke masjid. Jika nazar tersebut tidak ditentukan dengan masa, maka tidak harus bagi isteri masuk ke masjid tanpa izin suami.
    2. Jika seorang isteri masuk masjid melakukan i’tikaf sunat tanpa izin suami atau sebaliknya, maka harus bagi suami melarang meneruskan i’tikaf itu tanpa khilaf (percanggahan ulama).
     
  • erva kurniawan 1:56 am on 17 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (1/3) 

    itikaf3I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    I’tikaf ialah suatu ibadah yang mempunyai kelebihan dan hikmat tertentu. Di antaranya membersihkan hati daripada sifat-sifat yang tercela, menyerahkan diri sepenuhnya beribadah kepada Allah demi memohon darjat yang tinggi, menjauhkan diri daripada kesibukan dunia yang menghalang daripada mendekatkan diri kepadaNya.

    Maksud asal pensyariatan i’tikaf itu ialah menanti sembahyang untuk berjemaah. Diibaratkan orang yang beri’tikaf itu seperti Malaikat yang tidak melakukan dosa kepada Allah, melakukan segala apa yang disuruh dan bertasbih malam dan siang. (Al-Mausu’ah Al-Feqhiyyah: 5/207)

    I’tikaf tidak terikat dengan waktu bahkan sunat beri’tikaf pada setiap waktu, sama ada di bulan Ramadhan mahupun di bulan-bulan lain. Cuma ia lebih dituntut dan afdhal, jika dilakukan pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan kerana fadhilat beri’tikaf pada bulan tersebut lebih banyak dibandingkan waktu-waktu pada bulan-bulan lain.

    Pengertian I’tikaf

    I’tikaf dari segi bahasa bermaksud diam dan duduk berhenti pada sesuatu tempat, tidak kira sama ada tempat itu baik atau sebaliknya. Manakala menurut pengertian syarak i’tikaf bermaksud duduk di dalam masjid oleh seseorang yang tertentu dengan niat. (Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuh: 2/693)

    Tuntutan I’tikaf

    I’tikaf disyariatkan dalam Islam melalui Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ ulama.

    Di antara dalil-dalil yang menunjukkan tentang tuntutan i’tikaf itu sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang tafsirnya :

    “Dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beri’tikaf di dalam masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukumNya kepada sekalian manusia supaya mereka bertaqwa”.

    (Surah Al-Baqarah: 187)

    Allah berfirman di dalam ayat yang lain yang tafsirnya :

    “Dan ingatlah ketika Kami jadikan Rumah Suci (Baitullah) itu tempat tumpuan bagi umat manusia (untuk beribadat Haji) dan tempat yang aman; dan jadikanlah oleh kamu Maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim) itu tempat sembahyang. Dan Kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il (dengan berfirman): “Bersihkanlah RumahKu (Ka’bah dan Masjid Al-Haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf, dan orang-orang yang beri’tikaf (yang tetap tinggal padanya), dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”.

    (Surah Al-Baqarah: 125)

    Dalil daripada As-Sunnah pula ialah hadis riwayat Ibnu ‘Umar, Anas dan ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhum yang maksudnya :

    “Daripada ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma telah berkata: “Sesungguhnya Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan”.

    (Hadis Riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis yang lain yang maksudnya :

    “Daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha iaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Baginda melakukan amalan i’tikaf tersebut sehingga Baginda wafat. Kemudian para isteri Baginda meneruskan amalan i’tikaf selepas itu”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Ulama sepakat mengenai pandangan Az-Zuhri yang mengatakan: “Sungguh aneh manusia, bagaimana boleh mereka meninggalkan i’tikaf. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu tetapi Baginda tidak pernah meninggalkan i’tikaf sehingga wafat”. I’tikaf juga pernah terdapat di dalam syariat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (Al-Fiqh wa Adillatuhu: 2/694) sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il (dengan berfirman): “Bersihkanlah RumahKu (ka’bah dan Masjid Al-Haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf dan orang-orang yang beri’tikaf (yang tetap tinggal padanya) dan oang-orang yang ruku’ dan sujud”.

    (Surah Al- Baqarah: 125)

    Hukum Dan Waktu I’tikaf

    Hukum i’tikaf adalah sunat muakkad. Ia dilakukan pada setiap waktu sama ada dalam bulan Ramadhan ataupun pada bulan-bulan lain. Afdhal melakukan i’tikaf itu pada sepuluh hari yang terakhir daripada bulan Ramadhan (Nihayah Al-Muhtaj: 3/214) sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Menurut Imam As-Syafi’e dan para pengikutnya, bagi orang yang ingin mendapatkan pahala sunnah (mengikut perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan i’tikaf 10 terakhir bulan Ramadhan) sayugialah dia masuk masjid dengan niat i’tikaf sebelum masuk matahari hari ke 20 (malam ke 21) Ramadhan dan keluar daripada masjid pada malam hari raya selepas masuk matahari. Malahan lebih afdhal lagi jika dia kekal di dalam masjid hingga malam hari raya dan sembahyang hari raya serta keluar pada hari raya tersebut. (Raudhah: 2/255 dan Al-Majmuk: 6/469)

    Bagi sesiapa yang beri’tikaf sehari semalam atau lebih hendaklah memulakan i’tikaf itu (di masjid) sebelum matahari terbenam dan keluar daripada masjid setelah masuk matahari hari berikutnya. (Al-Majmuk: 6/483)

    Kategori I’tikaf

    I’tikaf terbahagi kepada dua iaitu i’tikaf sunat dan i’tikaf wajib. I’tikaf sunat ialah berniat i’tikaf sunat kerana Allah Ta’ala sama ada dengan masa sebentar (lahzah), satu hari, satu hari satu malam atau sebagainya. Manakala i’tikaf wajib hanya dengan cara bernazar untuk melakukannya sebagaimana pendapat jumhur ulama mengenainya. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah: 5/208)

    Rukun I’tikaf

    Rukun I’tikaf ada empat perkara:

    1. Mu’takif iaitu orang yang mengerjakan i’tikaf. Syarat bagi orang yang beri’tikaf itu hendaklah beragama Islam, berakal, suci daripada junub, haid dan nifas. I’tikaf itu sah dilakukan oleh lelaki, perempuan dan kanak-kanak mumayyiz.
    2. Mu’takiffun fihi iaitu tempat melakukan i’tikaf. Tempat i’tikaf disyaratkan di dalam masjid kerana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, isteri dan para sahabat Baginda hanya beri’tikaf di dalam masjid. Tidak ada perbezaan dari segi hukum, beri’tikaf di dalam masjid, sama ada di atas bumbung (suthuh), beranda dan halaman (ruhbah) masjid. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/464 dan Nihayah Al-Muhtaj: 3/216) Imam As-Syafi’e dan pengikutnya bersepakat mengenai menara masjid yang terletak di halaman masjid yang dinaiki oleh bilal dan lainnya juga tidak membatalkan i’tikaf. (Al-Majmu’: 6/494-496)

    Menurut pengarang kitab Tuhfah beri’tikaf adalah lebih utama dilakukan di Masjid Jami’ (masjid tempat mendirikan sembahyang Jumaat dan sembahyang berjemaah) berbanding dengan masjid lain. Ini adalah untuk mengelak daripada bercanggah (khilaf) dengan pendapat yang mewajibkannya. Lagipun berjemaah di masjid Jami’ lebih ramai dan tidak perlu lagi keluar untuk bersembahyang Jumaat. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/465).

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 16 August 2016 Permalink | Balas  

    Taubatnya Malik Bin Dinar 

    taubat (1)Taubatnya Malik Bin Dinar

    Diriwayatkan dari Mali bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : “Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya.

    Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.

    Ketika malam dipertengahan bulan Sya’ban dan itu di malam Jum’at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya’. Maka akau bermimpi seakan-akean qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.

    Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan,

    Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata :

    “Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu”. Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku :

    “Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu”,

    Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku,

    “Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!”, aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan,

    “Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa”. Menangislah syaikh itu seraya berkata, “Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu”

    Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.

    Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : “Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!” Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular).

    Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :

    “Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya”. Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :

    “Ayahku, demi Allah!” Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.

    Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : “Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”. (QS. Al-Hadid : 16).

    Maka aku menangis dan berkata : “Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur’an”, maka dia berkata :

    “Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur’an darimu”, aku berkata :

    “Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku”, dia menjawab :

    “Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka”, akau berkata :

    “Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu”, dia menjawab : “Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu”, aku berkata :

    “Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?”, dia menjawab : “Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa’at pada kalian”. (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).

    Berkata Malik : “Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah”.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 15 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al Baqarah 

    baqorohFadhilat Surah Al Baqarah

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan akan kebesaran Al-Qur’an)

    Imam al-Baihaqi dari Imam Shalshal berkata: “Barangsiapa membaca surat baqarah maka dipakaikan kepada mahkota di Syurga.”

    Imam Ibnu Zanjawai dari Imam Wahab ibn Munabih mengatakan: “Barangsiapa membaca Surat Baqarah dan Ali Imran pada malam Jumat maka baginya nur cahaya membentang antara Arsy dan dasar bumi.”

    Abu Mas’ud Albadri ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah, maka cukuplah baginya dari hal-hal yang membencikan. Dan menurut sebahagian pendapat: sama dengan bersembahyang malam.”

    Ibnu Abbas ra. bercerita: Pada suatu ketika Jibril berada di sisi Nabi SAW. tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: ini sebuah pintu di langit, pada hari ini dibuka, dan turun seorang malaikat, memberi salam dan berkata:”Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah kepadamu, dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, iaitu:Fatihul kitab dan akhir surah Al-Baqarah. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya, melainkan pasti permintaanmu di beri.”

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 14 August 2016 Permalink | Balas  

    Dosa 

    Taubat 1DOSA

    Dosa (Dzanb) ialah meninggalkan sesuatu yang diperintahkan-Nya atau mengerjakan sesuatu yang dilarang-Nya, baik itu berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

    Sesuatu yang harus diperhatikan dan sangat mengkhawatirkan ialah sebagian kaum muslimin meremehkan dosa, mereka tidak segan-segan melakukannya, berbuat maksiat kepada Allah SWT baik secra sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.

    Dalam Islam, dikenal adanya dosa kecil (Shaghair) dan dosa besar (Kabair). Suatu dosa kecil dapat menjadi dosa besar apabila peluang untuk melakukannya sangat kecil dan tidak ada pendorongnya untuk melakukan dosa itu, meremehkan dosa yang telah dilakukannya, serta tidak memperdulikan rasa takutnya kepada Allah SWT. Sesudah itu dia akan mengajukan alasan ini dan itu, perintah Allah SWT diabaikan, tidak memperhatikannya dan perasaannya tidak tegerak oleh ancaman serta siksa Allah SWT. Setiap kali dosa dipandang besar oleh seorang hamba, maka dosa itu dianggap kecil disisi Allah SWT. Setiap kali dosa itu dianggap remeh oleh seorang hamaba, maka dosa itu menjadi besar disisi Allah SWT.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi : “Demi ‘Izzah-Ku dan demi ke-Agungan-Ku, Aku tidak mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada seorang hamba-Ku. Bila ia merasa aman dari-Ku ketika didunia, maka Aku jadikan ia ketakutan pada hari Kiamat. Dan apabila ia takut kepada-Ku ketika didunia, maka Aku jadikan ia aman pada hari Kiamat. Dan Allah memperingatkanmu terhadap-Nya dan Allah Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya”.

    Abu Hurairah ra. mengatakan bahwasanya Rasulullah SAW, bersabda, : “Setiap ummatku akan mendapat ampunan, kecuali muhajirun ‘orang-orang yang melakukannya terang-terangan’ . Diantara yang terhitung muhajirun ialah apabila ada orang berbuat dosa di malam hari dan Allah SWT telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi ia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat ini dan itu’. Allah SWT telah menutupi perbuatannya di malam hari, tetapi paginya ia membuka apa yang telah ditutup oleh Allah SWT”. (HR.Bukhari-Muslim).

    Ibnu Abil-‘Izz Rahimahullah pernah berkata, ” Bila dosa besar diiringi dengan rasa malu, takut, dan perasaan berat menanggungnya akan menjadi ringan. Sedangkan dosa kecil yang tidak diiringi dengan sedikitpun rasa malu, tidak perduli, tidak takut dan meremehkannya, maka akan menjadi dosa besar”.

    Asad bin Musa menyebutkan didalam kitab Az-Zuhd bahwa Abu Ayyub Al-Anshari pernah berkata, “Sungguh ada orang yang berbuat kebaikan, lalu ia percaya akan masuk surga karenanya. Sehingga ia melupakan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Akhirnya ia bertemu Allah SWT dalam keadaan dipenuhi dengan dosa-dosa itu. Sebaliknya, ada orang yang berbuat kesalahan, lalu terus menerus menyesalinya, sampai ia bertemu Allah SWT dalam keadaan bersih”.

    Ibnu Mas’ud ra. pernah berkata, “Sesungguhnya orang Mukmin melihat dosa seperti ia berada di lereng gunung dan takut kalau-kalau gunung itu menimpanya. Sedangkan orang jahat melihat dosa seperti melihat seekor lalat yang hinggap dihidungnya. maka ia dengan mudah mengibaskannya begitu saja “.

    Anas bin Malik ra. pernah berkata, “Sesungguhnya kalian sekarang melakukan perbuatan yang kalian lihat lebih kecil dari sehelai rambut, Tetapi pada zaman rasulullah SAW kami menganggapnya dosa besar yang membinasakan”.

    Sekarang pada zaman ini, bahkan suatu perbuatan dosa sudah dianggap bukan sebagai perbuatan dosa, dengan jumawa kita berani berdalih kepada Allah SWT bahwa kriteria dosa haruslah mengikuti perkembangan zaman. Sesungguhnya segala pahala dan azab hanya dari sisi-Nya, dan ingatlah azab-Nya sungguh sangat pedih. Wallahualambisawab.

    ***

    Kiriman Sahabat: Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 13 August 2016 Permalink | Balas  

    Siapakah Kafir Itu? 

    kafir1Siapakah Kafir Itu?

    “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam, padahal Al-Masih (sendiri) berkata : ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun “. (QS.Al-Maidah:72).

    “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya baiasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)”. (QS.Al-Maidah:75).

    “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (QS.Al-Maidah:77).

    “Hai Ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”. (QS.Al-Maidah:15).

    “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: ‘Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan’. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS.Al-Maidah:19).

    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir)”. (QS.An-Nisa:150).

    “merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”. (QS.An-Nisa:151).

    ***

    Kiriman Sahabat : Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 12 August 2016 Permalink | Balas  

    Sekilas Tentang ZINA. 

    zinaSekilas Tentang ZINA.

    Ahmad meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Umatku senantiasa dalam keadaan baik selagi ditengah mereka tidak menyebar perzinaan. Jika perzinaan menyebar ditengah mereka, maka Allah SWT segera akan menurunkan azab-Nya secara menyeluruh”.

    Ahmad mentakhrij dengan sanad yang rawi-rawinya tsiqat, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya : ” ‘Apa pendapatmu sekalian tentang zina ?’, meraka menjawab, ‘Keharaman yang diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya, dan ia haram hingga hari Kiamat’. Lalu beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya, ‘Seorang laki-laki menzinahi sepuluh wanita, lebih ringan hukumannya daripada dia menzinahi wanita tetangganya’ “.

    Ahmad, Abud-Dunya, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan dia menshahihkannya, dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata : “Jaminlah bagiku enam perkara dari dirimu sekalian, niscaya aku akan menjamin sorga bagimu, yaitu jujurlah jika kamu berbicara, penuhilah jika kamu berjanji, laksanakanlah jika kamu dipercaya, jagalah kemaluanmu, tundukanlah pandangan matamu dan kuasailah tanganmu”. Disebutkan didalam perkataan Nabi Muhammad SAW : “Lesbi adalah perzinaan diantara sesama wanita”, beliau juga berkata : “Tiga golongan yang Allah SWT tidak akan menerima dari mereka ucapan Syahadat La Illaha Illallah, yaitu laki-laki yang menaiki dan yang dinaiki (pelaku homoseksual), wanita yang menaiki dan yang dinaiki (lesbian), dan pemimpin yang lalim”.

    Al-Baihaqy meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Tatkala sedang mi’raj, aku melewati beberapa orang laki-laki yang kulitnya diguntingi dengan gunting dari api neraka. Aku bertanya, “Siapakah meraka ini wahai Jibril ? “. Jibril menjawab, “Orang-orang yang berhias untuk memamerkan perhiasannya”. Beliau berkata, “Kemudian aku melewati sumur yang baunya busuk, dan kudengar didalamnya ada suara yang keras. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu wahai saudaraku Jibril ?”. Jibril menjawab, “Para wanita yang berhias untuk memamerkan perhiasan dan melakukan sesuatu yang tidak halal baginya”.

    Kiriman: Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 11 August 2016 Permalink | Balas  

    Doa Kang Suto 

    Doa masuk masjidDoa Kang Suto

    (Tulisan M. Sobary)

    Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

    Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

    Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

    Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini? Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

    Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.”

    Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

    Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

    Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

    Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

    “Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

    “Ngain,” kata Kang Suto.

    “Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.

    Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

    “Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.

    “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”

    “Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.

    “Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

    Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

    Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

    “Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.”

    Kang Suto mengangguk-angguk.

    Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

    “Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.

    Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

    Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

    “Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

    Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 10 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Basmallah. 

    basmallah 3Fadhilat Basmallah.

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    Barangsiapa membaca Bismillah 21X ketika hendak tidur maka aman ia dari syaitan, kecurian, maut mendadak dan bala.

    Barangsiapa membaca Bismillah ketika hendak bersetubuh(jimak) maka anaknya kelak cerdas dan terbuka hatinya serta menjadi anak yang soleh dan baginya kebajikan sejumlah tarikan nafas anaknya itu.

    Barangsiapa membaca Bismillah 41X pada telinga orang pingsan maka ia akan segera siuman.

    Barangsiapa membaca Bismillah 313X dan selawat atas Nabi Muhammad S.A.W 100X pada hari Ahad di saat matahari terbit dengan menghadap ke kiblat maka Allah Taala memberi rezeki tanpa di duga bersamaan fadhal dan kemurahan Allah Taala.

    Barangsiapa membaca Bismillah 786X di tiupkan pada air lalu di minumkan kepada orang yang bebal selama tujuh hari di saat matahari terbit maka lenyaplah kebebalannya dan ia akan hafal apa yang di dengarnya.

    Barangsiapa membaca Bismillah 50X di hadapan orang zalim atau penguasa yang bengis maka ia akan tunduk atau ketakutan.

    Barangsiapa menulis Bismillah 101X di atas kertas lalu di letakan di sawah padinya maka sawahnya akan subur dan terpelihara dari bencana. Dan kalau di tulis pada kain kafan 70X maka mayat yang berselimut kafan itu akan aman dari bahaya Munkar dan Nakir juga ia terlindung dari siksa kubur.

    Tiada daripada seorang hamba yang berkata “bismillahirrohmanirrohim” melainkan hancur syaitan seperti hancur timah di atas api.

    Ibnu Jabir berkata, ketika turun “bismillahirrohmanirrohim” lari segala awan ke Masyrik dan berdiam segala angin dan bergerak gerak lautan dan menanti segala binatang mendengar dengan telinganya dan di rejam segala syaitan daripada langit dan bersumpah Allah dengan kebesaran Nya tiada di sebutkan namanya atas penyakit melainkan sembuh akan dia dan tiada di sebut akan dia atas suatu melainkan di berkatkan padanya.

    TERLINDUNG DARI SYAITAN, PENCURI DAN MATI MENDADAK.

    Jika di baca 21 kali sewaktu hendak tidur, maka Insya Allah dalam waktu semalam itu di jaga oleh Allah s.w.t. dari syaitan, pencuri dan mati mendadak.

    UNTUK MEREMEHKAN ORANG ZALIM.

    Jika anda baca 50 kali di hadapankan pada orang yang zalim maka orang itu di remehkan (di hinakan) oleh Allah s.w.t.

    SUPAYA TIDAK DI RUSAK JIN DAN SYAITAN.

    Jika di tulis sebanyak 101 kali, lalu di masukkan dalam botol dan di sumbat, kemudian di pendamkan di dalam (di tengah) sawah. Insya Allah sawah itu di selamatkan dari bahaya.

    ***

    Maroji’ : Jauhar Mauhub dan Hajat untuk Rawatan, Perlindung dan Doa.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 9 August 2016 Permalink | Balas  

    Surah Al-Ashr 

    al-ashrSurah Al-Ashr

    Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (3)

    Apakah Iman Itu ?

    Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.

    Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang  mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.

    Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.

    Amal Saleh

    Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.

    Dari sinilah tampak nilai iman bahwa ia adalah harakah gerakan, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.

    Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.

    Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar

    Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam atau Jama’ah Muslimah dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.

    Dari celah-celah lafal tawaashi saling menasihati dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat atau jama’ahyang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata tawaashi dalam Al-Qur`an.

    Kepemimpinan Kaum Muslimin

    Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang.

    Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.

    Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya .

    Pertama,  mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.

    **

    Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.

    Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.

    Dikutip dari buku: Tafsir Fi Zhilalil Qur’an

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 8 August 2016 Permalink | Balas  

    Dosa dan Etika 

    etikaDosa dan Etika

    Dikirim oleh: Rifky Pradana

    Seringkali timbul suatu pertanyaan, kapankah suatu perbuatan itu merupakan suatu dosa ?.

    Ketika kita tak mendasarkan perbuatan kita menurut persepsi hukum-hukum Allah SWT, tetapi mendasarkan perbuatan kita dengan hukum/norma/etika pada masyarakat lingkungan kita, maka bisa jadi ketika kita memakan makanan haram (daging babi/meminum minuman beralkohol/khamr), tak harus membuat kita menyembunyikan perbuatan kita itu dari orang banyak, dan tak membuat hati kita merasa malu atau nyesek. Padahal perbuatan itu menurut ketentuan hukum Allah SWT adalah dosa.

    Ketika para wanita mengenakan busana yang seksi (pusernya kelihatan, sebagai misal), justru merasa bangga dan memamerkannya kepada semua orang, tak jengah berjalan-jalan dikeramaian bahkan menjadi semakin bangga ketika seribu pasang mata memandang puser itu dengan penuh selera. Etika yang permisif tak melarang perbuatan itu, bahkan sudah menjadi mode busana modern bagi sebagian remaja kita, padahal menurut ketentuan hukum Allah SWT, perbuatan itu adalah dosa, karena memperlihatkan aurat wanita kepada yang bukan muhrimnya. Kemudian, dimanakah batas dosa atau tak doa itu ?, tak lain dan tak bukan hanyalah ketentuan hukum Allah SWT dalam kaitannya dengan Perintah-Nya dan Larangan-Nya, jika kita mengaku bahwa tak ada Ilah yang patut disembah kecuali Allah SWT dan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.

    Wallahualambisawab.

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 7 August 2016 Permalink | Balas  

    Teka Teki Imam Al-Ghazali 

    itikafTeka Teki Imam Al-Ghazali

    Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya ( Teka-Teki ) : Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita didunia ini?”

    Murid 1 = ” Orang tua ”

    Murid 2 ” Guru

    Murid 3 = ” Teman ”

    Murid 4 = ” Kaum kerabat

    Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”

    Murid 1 = ” Negeri Cina ”

    Murid 2 = ” Bulan”

    Murid 3 = ” Matahari ”

    Murid 4 = ” Bintang-bintang ”

    Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

    Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar didunia ini ?”

    Murid 1 = ” Gunung ”

    Murid 2 ” Matahari ”

    Murid 3 = ” Bumi ”

    Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita,jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling berat didunia

    Murid 1 = ” Baja”

    Murid 2 = ” Besi”

    Murid 3 = ” Gajah ”

    Imam Ghazali” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.”

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia ini ?”

    Murid 1 = ” Kapas”

    Murid 2 ” Angin ”

    Murid 3 = ” Debu ”

    Murid 4 = ” Daun-daun”

    Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT.

    Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat ”

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali didunia ini”

    Murid- Murid dengan serentak menjawab = “Pedang ”

    Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 6 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (9) 

    quran 2Hikayat Iblis (9)

    Rasulullah SAW berkata kepada Iblis, “Andaikan tidak setiap apa yang engkau ucapkan itu didukung oleh ayat-ayat dari Kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu”.

    Lalu Iblis berkata lagi, “Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam, sementara mereka tidak bisa melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku bisa mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku bisa berjalan kemanapun sesuai kemauan diriku dan dengan cara bagaimana pun. Kalau saya mau dalam sesaat pun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku. ‘Engkau bisa melakukan apa saja yang kau minta’. Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari Kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada orang yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari Kiamat”.

    Iblis melanjutkan lagi,

    “Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telingan seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan sjalat Atamah (Isya’). Andaikan tidak karenanya tentu manusia tidak akan tidur terlebih dahulu sebelum menjalankan shalat.

    Saya juga punya anak yang saya beri nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan (ibadah) dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan ditengah-tengah manusia, sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala. Sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Sebab setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala.

    Saya punya anak lagi yang bernama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang berada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang berkuthbah. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya”. Iblis melanjutkan lagi,

    “Setiap kali ada perempuan keluar mesti ada setan yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya.

    Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua setan itu kemudian berkata kepadanya, ‘Keluarkan tanganmu’. Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya”.

    Iblis melanjutkan lagi,

    “Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak bisa menyesatkan sedikit pun. Akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikan saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak membiarkan segelintir manusia pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan dua kalimat Syahadat, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya’. Tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa.

    Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak untuk memberikan hidayah sedikit pun kepada siapa saja. Akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanat dari Allah. Andaikan engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang kafir pun di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai argumentasi (Hujjah) Allah SWT terhadap mahluk-Nya. Sementara saya hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah sebagai orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya”

    Rasulullah SAW kemudian membacakan firman Allah SWT : “ Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi Rahmat oleh Tuhanmu’. (QS.Hud:118-119). Kemudian beliau Nabi SAW melanjutkan dengan firman Allah SWT : “ Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku”. (QS.Al-Ahzab:38).

    Lantas Rasulullah SAW berkata lagi kepada iblis, “ Wahai Abu Murrah (iblis), apakah engkau masih mungkin bertobat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk surga”.

    Iblis menjawab, “ Wahai Rasulullah, Ketentuan telah memutuskan dan Qalam pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari Kiamat nanti. Maka Maha Suci Allah Yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khathib para penduduk Surga, Dia telah memilih dan mengkhususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang celaka dan Khatib para penduduk Neraka. Saya adalah mahluk yang celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu, dan saya mengatakan sejujurnya “.

    Segala Puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, Awal dan Akhir, Dhahir dan Bathin. Dan semoga Shalawat dan Salam sejahtera tetap diberikan kepada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan para Nabi.

    (selesai) ::

    Dikutip dari Syajaratul-Kaun, doktrin tentang pribadi manusia pilihan, Muhammad SAW, yang ditulis oleh Asy-Syaikh Al-Akbar Muhyidin Ibnu Arabi (Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali Al-Hatimi Ath-Tha’i Al-Andalusia), 17 Ramadhan 560 H – 22 Rabi’uts-Tsani 638 H .

    ::

    Semoga bermanfaat buat kita semua, para pengikut Rasulullah SAW, manusia pilihan, tuan para Nabi dan Khathib para penduduk Surga. Semoga pula kita diberikan-Nya kemampuan dan ketebalan iman untuk mengiktu Al-Qur’an & Al-Hadits, kemudian dihari berbangkit nanti oleh Allah SWT, kita digolongkan didalam barisan dan kelompoknya Nabi Muhammad SAW. Amin. Akhirul kalam, afwan jika ada kekeliruan dan apabila menjadikan kurang berkenan.

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 5 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (8) 

    quranHikayat Iblis (8)

    “Berapa kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Sepuluh macam” , jawab Iblis. “Apa saja itu wahai mahluk terkutuk ? “, tanya Rasulullah SAW. Iblis pun menjawab :

    “Saya meminta-Nya agar saya bisa berserikat dengan anak-cucu Adam dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Allah mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka”. (QS.Al-Isra”:64).

    Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

    Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki”. (QS.Al-Isra”:64). Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Saya memohon agar saya punya Al-Qur”an, maka syair adalah Al-Qur”anku. Saya memohon agar saya punya adzan, maka terompet adalah penggilan adzanku. Saya memohon kepada-Nya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok Al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku. Itulah maksud firman Allah SWT :

    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS.Al-Isra”:27) “.

    (bersambung)

     
    • Ibnu Putra 4:08 pm on 5 Agustus 2016 Permalink

      Kang, mohon dicek ke sahih-an kisah diatas kang…. saya takut kalau ternyata tidak sahih akan memberatkan akang nanti di akhirat…

      nuhun

    • erva kurniawan 8:52 am on 26 Agustus 2016 Permalink

      Terima kasih Pak Ibnu Putra

      Mohon kebijakan para pembaca untuk memilah artikel/ bacaan yang sesuai, seandainya ada keraguan agar tidak dijalankan, kami disini juga mendapatkan dari sumber lain

      Wallahu a’lam bish-shawab

  • erva kurniawan 1:26 am on 4 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (7) 

    quran34Hikayat Iblis (7)

    “Siapa yang paling celaka menurut engkau ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang-orang yang kikir”, jawab Iblis.

    “Apa yang paling menyita pekerjaanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Majelis orang-orang alim”, jawab Iblis

    “Bagaimana cara engkau makan ? “, tanya Rasulullah SAW. “Dengan tangan kiriku dan jari-jemariku”, jawab Iblis.

    “Dimana engkau mencari tempat berteduh untuk anak-anakmu diwaktu panas ?”, tanya Rasulullah SAW. “Dibawah kuku manusia”, jawab Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 3 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (6) 

    quran_tasbih_01Hikayat Iblis (6)

    “Wahai mahluk yang terkutuk, apa yang mengakibatkan punggungmu patah ? “, tanya Rasulullah SAW. “Suara ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah SWT “ , jawab Iblis.

    “Apa yang membuat hatimu panas ? “, tanya Rasulullah SAW. “Banyak beristighfar kepada Allah, baik di malam hari maupun di siang hari”, jawab Iblis.

    “Apa yang membuatmu merasa malu dan hina ? “, tanya Rasulullah SAW. “Sedekah secara rahasia”, jawab Iblis.

    “Apa yang menjadikan matamu buta ? “, tanya Rasulullah SAW. “Shalat diwaktu sahur”, jawab Iblis.

    “Apa yang dapat mengendalikan kepalamu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Memperbanyak sholat berjamaah”, tutur Iblis.

    “Siapa orang yang paling membahagiakanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang sengaja meninggalkan shalat”, tutur Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 2 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (5) 

    quranHikayat Iblis (5)

    Kemudian Rasulullah SAW meneruskan pertanyaannya, “Wahai mahluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu ? “. “Orang-orang yang suka makan riba”, jawab Iblis.

    “Lalu siapa teman dekatmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang berzina”, jawab Iblis.

    “Siapa teman tidurmu ?”, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang mabuk “, jawab Iblis.

    “Siapa tamumu ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Pencuri”, jawab Iblis.

    “Siapa utusanmu ? “,tanya Rasulullah SAW. “Tukang sihir “, jawab Iblis.

    “Apa yang menyenangkan pandangan matamu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang bersumpah dengan talak”, jawab Iblis.

    “Siapa kekasihmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang meninggalkan shalat Jum’at “, jawab Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 1 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (4) 

    quran 1Hikayat Iblis (4)  

    “Siapa menurut engkau hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis itu ? “ tanya Rasulullah SAW.

    Iblis menjawab dengan panjang lebar, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar (harta) adalah belum bisa murni karena Allah SWT. Apabila saya melihat seseorang sudah tidak menyukai dirham dan dinar, serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adalah orang yang mukhlis karena Allah, lalu saya tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian, sedangkan hatinya selalu bergantung pada kesenangan-kesenangan duniawi, maka ia akan lebih taat kepadaku daripada orang-orang yang telah saya jelaskan kepadamu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu termasuk dosa yang paling besar ?, apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta kedudukan adalah termasuk dosa yang paling besar ?, apakah engkau tidak tahu, saya memiliki tujuh puluh ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuhpuluh ribu setan. Diantara mereka ada yang sudah saya tugaskan untuk menggoda ulama, ada yang saya tugaskan untuk menggoda para pemuda, ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak masalah, sedangkan anak-anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya. Diantara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekun beribadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang zuhud. Mereka keluar-masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke pintu lain, sehingga mereka berhasil dengan menggunakan cara apapun. Saya ambil dari mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah kepada Allah dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Barshish seorang rahib (pendeta) yang berbuat ikhlas karena Allah selama tujuh puluh tahun, sehingga dengan doanya ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang sakit. Akan tetapi saya tidak berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seoarng perempuan, membunuh orang dan mati dalam kondisi kafir ?. Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya dengan firman-Nya : “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia : “Kafirlah kamu” , maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, “sesungguhnya aku cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam”. (QS.Al-Hasyr:16). Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari saya, saya adalah yang berbohong pertamakali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barangsiapa bersumpah atasnama Allah dengan berbohong maka ia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan atasnama Allah, “Bahwa saya akan memberi nasihat kepada kalian berdua”. Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah penyejuk mataku dan kesenanganku. Barangsiapa bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hampir tidak akan bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istrinya akan menjadi haram. Kemudian dari pasangan tersebut menghasilkan keturunan sampai hari Kiamat nanti yang semuanya hasil dari anak-anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka hanya gara-gara satu ucapan. Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara ummatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak menjalankan shalat maka saya selalu berada padanya dan menggangu sembari berkata kepadanya, “Masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan” sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat diluar waktunya. Akibatnya dengan shlat yang dikerjakan diluar waktunya itu akan dipukul di kepalanya. Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang dari setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu saya masih kalah, maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan shalat. Ketika dalam shlatnya saya berkata kepadnya, “Lihatlah ke kanan dan ke kiri “. Akhirnya ia melihat. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya, kemudian saya menghadap didepan matanya sembari berkata, “engkau telah melakukan apa yang tidak akan menjadi baik selamanya”. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan shalat tersebut. Kalau dalam shalat ia sanggup mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian, maka saya perintahkan untuk tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan sholat seperti ayam yang mencocok benih-benih untuk dimakan dan segera meninggalkannya. Kalau ia sanggup mengalahkan saya, dan shalat berjamaah, maka saya kalungkan rantai dilehernya. Ketika ia sedang ruku” saya tarik kepalanya keatas sebelum imam bangun dari ruku” dan saya turunkan sebelum imam turun. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang melakukan sholat seperti itu, maka batal shalatnya, dan di hari Kiamat nanti Allah akan menyalin kepalanya dengan kepala keledai. Kalau dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perintahkan meremas-remas jari-jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang shalat, karenanya ia termasuk orang-orang yang bertasbih kepadaku padahal ia sedang shalat. Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka saya tiup hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang shalat. Kalau ia tidak menutupi mulutnya dengan tangannya maka setan masuk kedalam perutnya, sehingga ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu mendengar dan taat kepadaku. Bagaimana ummatmu bisa bahagia wahai muhammad, sementara saya memerintah orang-orang miskin untuk meninggalkan shalat, dan saya berkata kepadanya, “Shalat bukanlah kewajiban kalian, shlata hanya kewajiban orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah”. Saya pun berkata kepada orang yang sakit, “Tinggalkan shalat, karena shalat bukanlah kewajibanmu. Shalat hanyalah kewajiban orang-orang yang diberi nikmat kesehatan. Sebab Allah sudah berfirman, “…dan tidak apa-apa bagi seorang yang sedang sakit…”(QS.An-Nur:61). Kalau engkau sudah sembuh baru melakukan shalat. Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan meninggalkan shlat ketika sedang sakit, maka ia akan bertemu Allah dengan dimurkai. Wahai Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendaknya engkau memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad, apakah engkau masih juga merasa gembira terhadap ummatmu, sementara saya bisa memurtadkan seperenam dari ummatmu untuk keluar dari Islam ?”.

    (bersambung)

     

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 31 July 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (3) 

    alquranHikayat Iblis (3)

    Lalu bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Ia sewaktu Jahiliyyah saja tidak pernah taat kepadaku, apalagi sewaktu dalam Islam “, tutur iblis.

    “Bagaimana dengan Umar bin Khaththab ? “,tanya Rasulullah SAW. “Demi Allah SWT , setiap kali saya bertemu dengannya, mesti akan lari darinya “, jawab iblis.

    “Bagaimana dengan Utsman ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Saya merasa malu terhdap orang yang para malaikat saja malu kepadanya “, jawab iblis.

    “Lalu bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib ? “,tanya Rasulullah SAW.

    “Andaikan saya bisa selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya, ia meninggalkanku dan saya pun meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu samasekali “, tutur iblis.

    “Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan ummatku bahagia dan mencelakakanmu sampai pada waktu yang ditentukan “, tutur Rasulullah SAW.

    “Tidak dan tidak mungkin, dimana ummatmu bisa bahagia sementara saya senantiasa hidup dan tidak mati sampai pada waktu yang telah ditentukan. Lalu bagaimana engkau bisa bahagia terhadap ummtmu, sementara saya bisa masuk kepada mereka melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hari mereka dibangkitkan kembali (Kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa membaca Al-Qur’an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis (murni) “, tutur iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 30 July 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (2) 

    quranHikayat Iblis (2)

    Rasulullah SAW mulai melemparkan pertanyaan kepada iblis, “Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka coba ceritakan kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci ? “.

    Iblis menjawab dengan jujur, “ Engkau, wahai Muhammad, adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu “.

    “Lalu siapa lagi yang palimg engkau benci ? “, tanya Rasulullah SAW. “Seorang pemuda yang bertakwa dimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah SWT “, jawab iblis.

    “Siapa lagi ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang alim yang wara’ (menjaga diri dari syubhat) lagi sabar“, jawab iblis.

    “Siapa lagi ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (hadats besar, kecil, dan najis) “, tutur iblis.

    “Siapa lagi ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya kepada siapapun dan juga tidak pernah mengeluhkan penderitaan yang dialaminya”, jawab iblis.

    “Lalu dari mana engkau tahu kalau ia bersabar ? “,tanya Rasulullah SAW. “Wahai Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaannya kepada mahluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah SWT tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar “, jelas iblis.

    “Lalu siapa lagi wahai iblis ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Orang kaya yang bersyukur”, tutur iblis. “Lalu apa yang bisa memberi tahu kepadamu, bahwa ia bersyukur ? “,tanya Rasulullah SAW.

    “Bila saya melihatnya ia mengambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada tempatnya”, tutur iblis.

    “Bagaimana kondisimu apabila ummatku menjalankan shalat ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Wahai Muhammad, saya langsung merasa gelisah dan gemetar “, jawab iblis.

    “Mengapa wahai mahluk yang terkutuk ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Sesunguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah SWT sekali sujud, maka Allah SWT akan mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali.  Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila mereka membaca Al-Qur’an, maka saya akan meleleh (mencair) seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila mereka bersedekah maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu memotong saya menjadi dua “ jawab iblis.

    “Mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis) ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan ; Dengan sedekah itu, Allah SWT akan menurunkan keberkahan dalam hartanya, menjadikan ia disenangi dikalangan mahluk-Nya, dengan sedekah itu pula Allah SWT akan menjadikan suatu penghalang antara neraka dengannya dan akan menghindarkan segala bencana dan penyakit “, tutur iblis menjelaskan.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 29 July 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (1) 

    al quranHikayat Iblis (1)

    Segala puji hanya milik Tuhan Semesta Alam. Shalawat dan salam sejahtera semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi yang Ummi, Muhammad SAW, dan kepada keluarganya serta sahabatnya yang mulia.

    Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal r.a., dari Ibnu Abbas r.a. yang berkisah :

    Kami bersama Rasulullah SAW dirumah salah seorang sahabat Anshar, dimana saat itu kami ditengah-tengah jamaah.

    Lalu ada suara orang memanggil dari luar, “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku”. Rasulullah SAW bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu ?”.

    Mereka menjawab, “Tentu Alllah SWT dan Rasul-Nya lebih tahu”.

    Lalu Rasulullah SAW menjelaskan, “ini adalah iblis yang terkutuk –semoga Allah senantiasa melaknatnya”.

    Kemudian Umar r.a. meminta izin kepada Rasulullah sembari berkata, “YA Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya ?”.

    Beliau Nabi SAW menjawab, “bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk mahluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah diketahui (hari Kiamat) ?. Akan tetapi sekarang silahkan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintahkan untuk datang kesini, maka pahamilah apa yang diucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian.” .

    Ibnu Abbas berkata : Kemudian dibukakan pintu, lalu ia masuk ditengah-tengah kami. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah ke atas (tidak ke samping). Sedangkan kepalanya seperti gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau.

    Ia datang sambil memberi salam. “Assalamu’alaika ya Muhammad, Assalamu’alaikum ya jamaa’atal-muslimim. “ kata iblis.

    Nabi SAW menjawab, “Assalamu lillah ya la’iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai mahluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluan tersebut wahai iblis ? “.

    “Wahai Muhammad, saya datang kesini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang kesini karena terpaksa “, tutur iblis.

    “Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini wahai mahluk terkutuk ?’ tanya Rasulullah SAW.

    Iblis menjawab, “ Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan Yang Maha Agung, dimana utusan itu berkata kepadaku, “ Sesungguhnya Allah SWT memerintahmu untuk datang kepada Muhammad SAW sementara engkau adalah mahluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak-cucu Adam AS, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad SAW dengan jujur. Maka demi Kebesaran dan Keagungan Allah SWT, jika engkau menjawab dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah SWT jadikan debu yang bakal dihempaskan oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang “ . Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawab dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang bakal saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku “ .

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 28 July 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al – Fatihah & Al-Kursi 

    al-fatihahFadhilat Surah Al – Fatihah & Al-Kursi

    (Patut diketahui : Untuk menyegarkan hati)

    “Fatihatul kitab (surah al fatihah) adalah ubat bagi segala racun”

    Untuk Penawar Racun & Kala Jengking

    Isilah gelas dengan sedikit air yang dicampur dengan sedikit garam. Bacakanlah surah al Fatihah 7 kali pada air di dalam gelas itu. Kemudian berilah orang yang disengat lipan itu minum dan usapkanlah sedikit di bahagian sengatan tadi. Insyaallah dengan ikhtiar itu racun yang ada di dalam badan akan menjadi tawar sehingga cepat sembuh kembali.

    Untuk Menghilangkan Sifat Lupa

    Tulislah surah al Fatihah pada bekas air seperti gelas, piring, dan lain-lain) yang bersih lagi suci. Lalu tuangkanlah air ke dalamnya supaya tulisan itu terhapus. Kemudian berilah minum kepada orang yang selalu pelupa. Insya Allah usaha ini akan berhasil dengan kesabaran.

    Untuk Penyembuhan Segala Penyakit

    Ambillah sebaldi air lalu dibacakan surah ini kepada air itu sebanyak 40 kali. Kemudian basuhlah kedua tangan, kedua kaki, muka,kepala dan seluruh anggota badan sampai rata dengan air itu. Insya Allah dengan ikhtiar ini, penyakit yang dialami akan sembuh. Lakukanlah berkali-kali.

    Untuk Penyembuhan Penyakit Mata

    Bacalah surah ini 41 kali sehabis sembahyang subuh kepada orang yang sakit mata. Kemudian usapkanlah ke mata pesakit dengan sedikit air ludah iaitu selepas membaca al Fatihah. Insya Allah akan sembuh dengan berkah yang ada pada surah al Fatihah ini.

    ayat-kursiFadhilat  Al-Kursi

    1. Orang yang membaca ayat al-Kursi selepas memyempurnakan solat fardhu akan dipelihara oleh Allah sehingga solat berikutnya.
    2. Allah swt akan menghantar dua malaikat untuk memelihara orang yang membaca ayat al-Kursi ketika berada di tempat pembaringan sehingga waktu subuh.
    3. Orang yang membaca ayat al-Kursi selepas solat fardhu akan memelihara keluarga, juga rumah-rumahnya yang berhampiran dengannya. Boleh juga dimaksudkan terpelihara daripada binatang yang mudharat, bencana alam, kebakaran, dan jahat angkara manusia. Maka Rasulullah s.a.w menyuruh setiap arang agar melakukan sesuatu perbuatan dengan menyebut nama Allah oleh kerana iblis dan syaitan tidak berupaya mengangkat atau membuka sesuatu yang di tutup dengan meyebut nama Allah.
    4. Allah tidak menegah mereka yang membaca ayat al-Kursi selepas solat fardhu masuk dalam syurga.
    5. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan membaca ayat al-Kursi, maka Allah utuskan tujuh puluh ribu malaikat kepadanya, mereka memohon keampunan dan mendoakan baginya.
    6. Barang siapa membacanya nescaya Allah mengutuskan malaikat untuk menulis kebaikannya dan menghapuskan keburukannya dari detik itu sampai esok hari.
    7. Barang siapa membacanya, Allah akan mengendalikan pengambilan rohnya dan ia adalah seperti orang yang berperang bersama nabi Allah sehingga mati syahid.
    8. Barang siapa yang membacanya ketika dalam kesempitan atau kesusahan, Allah akan menolongnya
     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (4/4) 

    puasa 4Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (4/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa-Puasa Yang Dimakruhkan

    Puasa-puasa yang dimakruhkan itu ialah:

    Puasa Hari Jumaat Atau Hari Sabtu Atau Hari Ahad Semata-Mata

    Adalah makruh berpuasa pada hari Jumaat satu satunya sahaja tanpa di sambung sebelum atau sesudahnya dengan puasa yang lain. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Jangan kamu berpuasa pada hari Jumaat sahaja.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Tetapi jika digabungkan puasa hari jumaat itu dengan satu hari puasa yang lain sama ada di sebelumnya atau sesudahnya, maka tidaklah dihukumkan makruh. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    Maksudnya: “Jangan berpuasa salah seorang daripada kamu pada hari Jumaat melainkan (dia berpuasa) sehari sebelumnya atau selepasnya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Adapun dihukumkan makruh hanya berpuasa sehari semata-mata pada hari Sabtu karena hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Busr daripada saudara perempuannya sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Jangan kamu berpuasa pada hari Sabtu melainkan apa yang telah difardhukan Allah ke atas kamu. Jika seorang daripada kamu tidak mendapati (pada hari itu apa-apa makanan) melainkan satu kulit anggur atau ranting pokok, maka hendaklah dia memamahnya. (supaya kamu tidak dinamakan berpuasa pada hari itu)”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Maka oleh karena itu juga dimakruhkan hanya berpuasa sehari semata-mata pada hari Ahad karena hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Nasrani. Diriwayatkan oleh An-Nasa‘i bahwa hari-hari yang paling banyak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan puasa ialah hari Sabtu dan Ahad (dengan bergabung), dan baginda bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Sabtu dan Ahad adalah dua hari raya bagi orang-orang musyrik dan aku suka supaya aku menyalahi mereka.” (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/603 dan Tuhfah Al-Muhtaj 3/458)

    Jika dilakukan puasa dua hari tersebut (Sabtu dan Ahad) bersama-sama atau didahului puasa hari Sabtu itu dengan berpuasa pada hari Jumaat atau disambung puasa hari Ahad itu dengan berpuasa pada hari Isnin, maka tidaklah dihukumkan makruh karena sedemikian itu tidak diagungkan oleh mana-mana kaum.

    Dihukumkan makruh berpuasa sehari semata-mata pada tiga hari tersebut (Jumaat, Sabtu dan Ahad) apabila tidak ada sebab lain yang dianjurkan untuk berpuasa. Apabila ada sebab lain yang menganjurkan untuk berpuasa seperti bertepatan hari tersebut dengan puasa hari Arafah, ‘Asyura’ atau hari tersebut bertepatan dengan puasa orang yang melakukan puasa Nabi Daud (berpuasa sehari dan berbuka sehari) atau ia melakukan puasa pada hari tersebut karena puasa qadha atau nazar, tidaklah dihukumkan makruh. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

    Maksudnya: “Jangan kamu mengkhususkan pada malam Jumaat untuk mendirikan sembahyang (malam) daripada malam-malam yang lain, dan jangan kamu mengkhususkan pada hari Jumaat untuk berpuasa daripada hari-hari yang lain kecuali satu puasa yang (kebetulan bertepatan) seorang di antara kamu berpuasa (pada hari itu).” (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/603, Fath Al-‘Allam 4/165 dan Syarh Shahih Muslim 4274)

    (Hadits riwayat Muslim)

    Puasa Sepanjang Tahun  Selain Dua Hari Raya  Dan Hari-Hari Tasyriq

    Adalah makruh hukumnya berpuasa sepanjang tahun selain dua hari raya dan hari-hari Tasyriq bagi sesiapa yang takut akan kemudaratan atau terabai hak sama ada yang wajib atau yang sunat. Diriwayatkan daripada ‘Atha bahwa Al-‘Abbas, seorang ahli syair mengkhabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Maksudnya: “Telah sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya aku terus menerus berpuasa dan mengerjakan sembahyang malam. Sama ada baginda mengutus seseorang kepadaku (untuk berjumpa baginda) atau aku sendiri yang menemui baginda. Maka baginda bersabda: “Benarkah adanya dikhabarkan bahwa engkau berpuasa dan tidak berbuka dan engkau mengerjakan sembahyanag malam dan tidak tidur? Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan dirikanlah sembahyang malam dan tidurlah, sesungguhnya bagi dua matamu ke atasmu mempunyai bahagian hak dan sesungguhnya bagi dirimu dan keluargamu ke atasmu mempunyai bahagian hak” Dia berkata: “Sesungguhnya aku mempunyai kekuatan untuk mengerjakan sedemikian” Baginda bersabda: Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam” Dia berkata: “Bagaimana (puasa Nabi Daud ‘alaihissalam)?” Baginda bersabda: “Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari dan dia tidak lari apabila bertemu musuh (tetap segar dalam menghadapi musuh di medan pertempuran) Dia berkata: “Aku harus bagaimana (dalam hal ini) wahai Nabi Allah?” ‘Atha berkata: “Aku tidak mengetahui bagaimana disebut perihal puasa sepanjang masa”. Nabi bersabda sebanyak dua kali: “Tidak dianggap berpuasa sesiapa yang berpuasa sepanjang masa.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Tetapi bagi sesiapa yang tidak takut akan kemudaratan dan perkara-perkara yang boleh membawa kepada pengabaian hak-hak, tidaklah dihukumkan makruh berpuasa bahkan disunatkan. (Lihat Mugni Al-Muhtaj 1/603 dan Fath Al-Allam 4/165)

    Puasa Yang Diharamkan

    Puasa yang diharamkan itu ialah:

    Puasa pada hari raya Aidilfitri, Aidiladha dan hari-hari Tasyriq

    Adalah diharamkan berpuasa pada hari raya Aidilfitri dan hari raya Aidiladha dan pada hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Zulhijjah). Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegah berpuasa dua hari yaitu hari raya Adha dan hari raya fitri.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Manakala daripada Nubaisyah Al-Hadzali berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari makan dan minum (bukan hari berpuasa).”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Puasa pada hari Syak dan hari-hari separuh yang kedua bulan Sya‘ban

    Adalah haram berpuasa sunat pada hari Syak yaitu pada 30 haribulan Sya‘ban yang tersebar berita di kalangan orang bahwa anak bulan Ramadan telah dilihat, akan tetapi tidak disabitkan oleh hakim (pemerintah) karena tidak dipersaksikan penglihatan anak bulan itu oleh seorang yang adil atau ianya dipersaksikan oleh dua orang kanak-kanak atau beberapa orang perempuan atau seorang hamba atau seorang fasik. Jika tidak ada tersebar berita tersebut maka tidaklah dikatakan pada hari itu adalah hari Syak bahkan ia adalah termasuk hari-hari daripada bulan Sya‘ban. Begitu juga adalah diharamkan berpuasa sunat pada hari-hari separuh yang kedua bulan Sya‘ban (16 hingga 30 Sya‘ban) tanpa ada sebab. Diriwayatkan daripada ‘Ammar bin Yasir berkata: (Lihat I‘anah Ath-Thalibin 2/309 dan Al-Qamus Al-Fiqhi 201)

    Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang syak padanya manusia (hari Syak) maka sesungguhnya dia telah menderhakai Abu Al-Qasim Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Manakala diriwayatkan pula daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Apabila telah masuk separuh bulan Sya‘ban maka janganlah kamu berpuasa.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Jika seseorang itu berpuasa pada hari Syak atau pada separuh kedua bulan Sya‘ban dengan ada sebab seperti puasa qadha, nazar dan kaffarah atau kebetulan bertepatan hari syak itu dengan puasa yang pada adatnya dia berpuasa seperti puasa hari Isnin dan Khamis dan puasa sehari dan berbuka sehari atau dia telah berpuasa pada 15 Sya‘ban dan berterusan puasanya itu tanpa berbuka hingga ke hari Syak, maka baginya dibolehkan berpuasa pada hari Syak dan separuh kedua bulan Sya‘ban itu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: (Lihat I‘anah Ath-Thalibin 2/309 dan Fath Al-‘Allam 4/151-152)

    Maksudnya: “Jangan kamu dahului bulan Ramadan itu dengan berpuasa sehari dan juga dua hari melainkan puasa seseorang yang (kebetulan bertepatan) dia berpuasa (pada adatnya hari itu).

    (Hadits riwayat Muslim)

    Puasa seorang isteri tanpa keizinan suaminya yang berada di dalam negeri

    Adalah haram bagi seorang isteri berpuasa sunat atau puasa qadha muwassa‘ (yang mempunyai masa yang panjang lagi untuk diqadha) tanpa keizinan suaminya yang berada di dalam negeri. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Lihat Tuhfah Al-Muhtaj 3/461)

    Maksudnya: “Janganlah seorang perempuan (isteri) berpuasa sedangkan suami ada (di dalam negeri) melainkan dengan keizinan suami; dan janganlah dia mengizinkan (orang lain) masuk rumah suami sedangkan suami ada, melainkan dengan keizinan suami; dan apa pun yang dia nafkahkan dari hasil kerja suami tanpa perintah suami, maka separuh pahala itu adalah bagi suami.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Demikianlah disebutkan puasa-puasa yang sunat, makruh dan haram. Di antaranya ada yang dihubungkan hukumnya sama ada sunat, makruh dan haram dengan bersempenakan hari-hari tertentu dan ada pula dihubungkan hukumnya sama ada sunat, makruh dan haram dengan keadaan diri orang yang berpuasa. Semoga ia akan menjadi panduan dan rujukan ringkas dalam mengerjakan ibadah puasa-puasa sunat sepanjang tahun.

    —– Selesai —-

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 26 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (3/4) 

    puasa-4

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (3/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    PUASA HARI-HARI HITAM

    Puasa hari-hari hitam ialah puasa sunat yang dilakukan pada hari yang ke 28, 29 dan 30 setiap bulan. Dinamakan hari-hari tersebut dengan hari-hari hitam kerana kegelapan malam-malamnya pada waktu itu disebabkan ketiadaan bulan. Maka dengan berpuasa pada tiga hari tersebut itu sebagai permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya menghilangkan kegelapan pada malam-malam itu.

    Adalah wajar juga berpuasa pada hari ke 27 di samping berpuasa pada hari-hari ke 28, 29 dan 30 sebagai langkah berhati-hati dan keluar daripada perselisihan pendapat ulama yang mengatakan bahwa hari yang ke 27 itu adalah awal bagi hari yang ke 28.

    Jika perkiraan bulan hanya 29 hari yaitu tidak genap hingga 30 hari, maka diganti satu hari puasa yang kurang itu pada hari yang pertama bulan yang baru bagi menggenapkan bilangan puasa itu sebanyak tiga hari yang perkiraannya bermula daripada hari yang ke 28.

    PUASA HARI SENIN DAN KAMIS

    Puasa hari Senin dan Kamis ialah puasa yang disunatkan pada hari-hari tersebut di setiap minggu. Adapun hikmat disunatkan berpuasa pada hari Senin dan Kamis itu ialah ada hubungkait dengan amal perbuatan manusia di dalam satu minggu. Diriwayatkan daripada Usamah bin Zaid berkata:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam (melakukan) puasa pada hari Senin dan Kamis, dan ditanya (Baginda) akan (sebab) sedemikian itu, baginda bersabda: “Sesungguhnya amalan manusia itu ditunjukkan (dibentangkan) pada hari Senin dan Kamis.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Dalam hadits yang lain pula, diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Ditunjukkan amalan (anak adam) itu pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka supaya ditunjukkan amalanku itu pada hal aku sedang berpuasa.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Tersebut di dalam Kitab I’anah Ath-Thalibin bahwa berpuasa pada hari Senin adalah lebih afdhal daripada berpuasa pada hari Kamis kerana keistimewaan yang berlaku pada hari tersebut. Di antaranya sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:

    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) akan perihal berpuasa pada hari Senin, Baginda bersabda: “Itulah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan ke atasku (perutusan) pada hari itu.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    PUASA DI BULAN-BULAN HARAM

    Di antara bulan yang disunatkan berpuasa ialah di bulan-bulan haram. Bulan-bulan haram adalah terdiri daripada bulan Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Diriwayatkan daripada Mujibah Al-Bahiliyyah daripada ayahnya atau bapa saudaranya berkata:

    Maksudnya: “Sesungguhnya dia pernah mengadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian setelah dia pergi selepas setahun, dia menghadap Baginda sedang perihal dan bentuk (badannya) sudah berubah. Lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau mengenaliku?” Baginda bersabda: “Siapa awak?” Dia berkata: “Saya adalah Al-Bahili yang datang mengadap engkau pada tahun lalu” Baginda bersabda: “Apa yang telah membuatmu berubah padahal engkau dahulu mempunyai bentuk (badan) yang bagus?” Dia berkata: “Saya tidak makan makanan kecuali di malam hari sejak berpisah denganmu” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa engkau menyiksa dirimu?” Selanjutnya baginda bersabda: “Berpuasalah pada bulan Sabar (Ramadan) dan sehari setiap bulan” Dia berkata: “Tambahkan lagi untukku, sesungguhnya saya masih kuat” Baginda bersabda: “Berpuasalah dua hari (setiap bulan)” Dia berkata: “Tambahkan lagi untukku” Baginda bersabda: “Berpuasalah tiga hari (setiap bulan)” Dia berkata: “Tambahkan lagi untukku” Baginda bersabda: “Berpuasalah pada bulan-bulan haram (Zulkaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab) dan tinggalkanlah! Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah! Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah! Sambil baginda bersabda itu baginda memberi isyarat dengan tiga jari, digenggamnya keras kemudian dilepaskannya.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Berkata Imam Nawawi: “Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan meninggalkan (setelah tiga hari) kerana menjadi kesusahan ke atasnya memperbanyakkan puasa sebagaimana tersebut di awal hadits. Adapun bagi sesiapa yang tidak menjadi kesusahan ke atasnya, maka berpuasa seluruhnya (di bulan-bulan haram) adalah satu fadhilat.” (Lihat Kitab Al-Majmu’ 6/438, I’anah Ath-Thalibin 2/307)

    Dinamakan bulan-bulan ini dengan nama bulan-bulan haram kerana dahulu orang-orang Arab menghormati dan mengagungkannya serta mengharamkan di dalam bulan-bulan tersebut pembunuhan sehinggakan jika salah seorang daripada mereka bertemu orang yang telah membunuh bapanya atau anaknya atau saudaranya di bulan-bulan ini, orang yang membunuh itu tidak akan diganggu.

    Adapun bulan yang terlebih afdhal untuk mengerjakan puasa di antara bulan-bulan haram itu ialah bulan Muharram. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

    Maksudnya: Puasa yang afdhal sekali selepas puasa di bulan Ramadan ialah (puasa) di bulan Allah yaitu bulan Muharram, dan sembahyang yang afdhal sekali selepas sembahyang fardhu ialah sembahyang sunat malam.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Adapun jawaban yang disebutkan oleh para ulama, kenapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak melakukan puasa-puasa sunat di bulan Sya’ban daripada bulan Muharram sedangkan bulan Muharram adalah bulan yang lebih afdhal untuk mengerjakan puasa selepas bulan Ramadan sebagaimana yang tersebut di dalam hadits, ialah:

    1. Kemungkinan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui kelebihan bulan Muharram itu ketika di akhir hayat baginda dan tidak sempat mengerjakannya.
    2. Kemungkinan kebetulan pada waktu itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat keuzuran daripada musafir atau sakit atau sebagainya yang menghalang baginda daripada memperbanyakkan puasa di bulan Muharram itu. (Lihat Kitab Al-Majmu’ 6/439 dan Syarh Shahih Muslim 4/295)

    PUASA DI BULAN SYAABAN

    Adalah disunatkan berpuasa di bulan Sya’ban sebagaimana yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sehingga kami mengatakan baginda tidak berbuka, dan baginda berbuka sehingga kami mengatakan baginda tidak berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa satu bulan kecuali pada bulan Ramadan dan saya tidak pernah melihat baginda berpuasa lebih banyak daripadanya pada bulan Sya’ban.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan berpuasa pada bulan ini adalah disebabkan oleh beberapa perkara sebagaimana yang diriwayatkan daripada Usamah bin Zaid berkata:

    Maksudnya: “Wahai Rasulullah! Aku belum pernah melihat engkau berpuasa satu bulan daripada bulan-bulan sebagaimana (banyaknya) engkau berpuasa di bulan Sya’ban” Baginda bersabda: “Sedemikian itu kerana bulan Sya’ban, bulan yang manusia lalai (kerana terletak) di antara bulan Rajab dan bulan Ramadan, dan Ia adalah bulan dimana diangkat padanya amalan-amalan manusia kepada Allah Rabbul ‘Alamin, maka aku suka supaya diangkat amalanku sedang aku di dalam keadaan berpuasa.”

    (Hadits riwayat An-Nasa’i)

    Bersambung

     

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 25 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (2/4) 

    puasa 4Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (2/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa hari ‘Asyura’, Tasu’a’ dan kesebelas Muharram

    Puasa hari ‘Asyura’ ialah puasa sunat pada hari kesepuluh bulan Muharram.

    Diriwayatkan daripada Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhuma berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Ini adalah hari ‘Ayura’ dan tidak diwajibkan ke atas kamu berpuasa sedangkan aku berpuasa. Maka barangsiapa yang hendak berpuasa maka berpuasalah dia dan barangsiapa mahu (tidak berpuasa) maka berbukalah dia (boleh tidak berpuasa).” (Hadits riwayat Bukhari) Hikmat berpuasa pada hari ‘Asyura’ sebagaimana yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Maksudnya: “(Tatkala) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Madinah, baginda melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’. Baginda bersabda: “Apakah ini?” Mereka menjawab: “Hari yang baik, ini adalah hari yang mana Allah menyelamatkan Bani Israil daripada musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu” Nabi bersabda: “Aku lebih berhak dengan Musa daripada kamu” Lalu Baginda berpuasa dan memerintahkan berpuasa (pada hari itu.)” (Hadits riwayat Bukhari) Kelebihan berpuasa di hari ‘Asyura’ sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:

    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang berpuasa pada hari ‘Asyura’? Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu.” (Hadits riwayat Muslim) Adalah disunatkan juga di samping berpuasa pada hari ‘Asyura’, berpuasa pada hari Tasu’a’ iaitu hari yang kesembilan bulan Muharram berdasarkan riwayat daripada Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Maksudnya: “Dahulu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan Baginda memerintahkan (para sahabatnya) untuk melakukan puasa itu, mereka berkata: “Wahai Rasulullah! (Bukankah) sesungguhnya hari ‘Asyura’ itu hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila pada tahun yang akan datang, insya Allah kita akan berpuasa pada hari yang kesembilan” Berkata Abdullah bin Abbas: “Belum sempat menjelang tahun hadapan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah pun wafat.” (Hadits riwayat Muslim) Para ulama menyebutkan bahawa hikmat disunatkan berpuasa pada hari Tasu’a’ (sembilan Muharram) itu dari berbagai-bagai aspek:

    1. Bagi menyalahi atau membezakan amalam orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura’ (Sepuluh Muharram) sahaja. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Berpuasalah kamu pada hari ‘Asyura’ dan buatlah perbezaan padanya (dari) orang Yahudi (dengan) berpuasa sehari sebelumnya atau sehari selepasnya.” (Hadits riwayat Ahmad)

    1. Bagi maksud berhati-hati berpuasa pada hari ‘Asyura’ kerana kemungkinan berlaku kesilapan kekurangan dalam pengiraan anak bulan. Maka dengan itu hari kesembilan Muharram itu dalam pengiraan adalah hari yang kesepuluh Muharram yang sebenarnya.
    2. Bagi maksud menyambung puasa hari ‘Asyura’ dengan satu hari puasa yang lain kerana tegahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa satu hari satu-satunya sahaja seperti berpuasa pada hari Jumaat. Walaupun begitu, tidaklah menjadi apa-apa jika hanya berpuasa sehari sahaja pada hari ‘Asyura’. (lihat I’anah Ath-Thalibin 2/301) Oleh kerana itu disunatkan juga, jika berpuasa pada hari ‘Asyura’ tanpa berpuasa pada hari Tasu’a’, supaya berpuasa pada hari kesebelas Muharram. Bahkan Imam Syafi’e Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan di dalam Kitab Al-Umm dan Al-Imla’ disunatkan berpuasa tiga hari tersebut iaitu hari kesembilan (Tasu’a’), kesepuluh (‘Asyura’) dan kesebelas bulan Muharram.

    Puasa Nabi Daud

    Puasa Nabi Daud ialah puasa yang dikerjakan berselang seling dengan berpuasa sehari dan berbuka sehari. Ia adalah puasa sunat yang afdhal sekali di antara puasa-puasa sunat sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/604)

    Maksudnya: “Sembahyang yang paling disukai oleh Allah ialah sembahyang Nabi Daud ‘Alaihissalam dan puasa yang paling disukai oleh Allah ialah puasa Nabi Daud. Adalah Baginda (Nabi Daud) itu tidur di separuh malam, mendirikan ibadat sembahyang di sepertiga malam, tidur (kembali) di seperenam malam, berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (Hadits riwayat Bukhari) Dalam sebuah hadith lain yang bersumber daripada Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma juga bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

    Maksudnya: “Maka berpuasalah engkau (Abdullah bin ‘Amr) sehari dan berbuka sehari (berikutnya), yang sedemikian itu adalah puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam dan ia adalah puasa sunat yang terafdhal sekali. Maka aku berkata (Abdullah bin ‘Amr): “Sesungguhnya aku mampu lebih dari sedemikian itu” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada yang lebih afdhal dari yang sedemikian itu.” (Hadits riwayat Bukhari)

    Puasa hari-hari putih

    Puasa hari putih itu ialah puasa sunat sebanyak tiga hari di setiap bulan. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

    Maksudnya: “Telah berwasiat kepada ku Khalili Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tiga perkara, berpuasa tiga hari di setiap bulan, sembahyang Dhuha dua rakaat dan sembahyang Witir sebelum aku tidur.” (Hadits riwayat Bukhari)

    Puasa Putih ini dilakukan pada hari ke 13, 14 dan 15 di setiap bulan dan dinamakan hari-hari tersebut hari putih kerana bulan pada malam itu penuhh dan putih terang. Daripada Abu Dzarr Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Wahai Abu Dzarr! Apabila engkau berpuasa tiga hari daripada sebulan, maka berpuasalah pada 13, 14 dan 15 haribulan.” (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Adalah wajar juga berpuasa pada hari ke 12 di samping berpuasa pada hari-hari yang ke 13, 14, dan 15 sebagai langkah berhati-hati dan keluar daripada perselisihan pendapat ulama yang mengatakan bahawa hari yang ke 12 itu adalah awal bagi hari yang ke 13. Dikecualikan berpuasa pada hari yang ke 13 Zulhijjah kerana ia adalah terdiri daripada hari-hari Tasyriq yang diharamkan berpuasa dan digantikan hari tersebut pada hari ke 16 Zulhijjah . Adapun kelebihan berpuasa di hari-hari putih sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Dzarr Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Barangsiapa berpuasa daripada tiap-tiap bulan sebanyak tiga hari, maka sedemikian itu (menyamai) puasa selama setahun.” (Hadits riwayat Tirmidzi) Ini adalah berdasarkan bahawa satu kebajikan itu menyamai sepuluh kebajikan. Dengan berpuasa 3 hari setiap bulan maka ia sebanding berpuasa sebanyak 30 hari dan begitulah seterusnya.

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 24 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (1/4) 

    puasa 4Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (1/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa adalah ibadat yang berkesan sekali dalam mengendalikan hawa nafsu sekaligus dapat menyinari hati dan mendidik seluruh anggota sehingga ke martabat taqwa, kerana puasa yang sebenar-benarnya bukan hanya menahan perut dan kemaluan serta mengecap keinginan syahwat bahkan mengekang pancaindera daripada melakukan perkara-perkara dosa dan haram. Akhirnya berpuasa hati dari segala cita-cita yang kotor dan pemikiran keduniaan yang boleh memesongkan perhatian selain Allah.

    Dari segi ganjaran puasa, bahawa tidak ada satu amal ibadat pun yang tidak ditentukan dan dibataskan ganjaran pahalanya selain dari ibadat puasa. Sesungguhnya ganjaran pahala orang yang melakukan ibadat puasa tidak ditetapkan dengan satu jumlah dan tidak pula dihadkan dengan satu had tertentu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hinggalah ke 700 kali ganda. Allah berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku memberikan balasan (pahala) kepadanya, (kerana) dia (orang yang berpuasa) telah meniggalkan syahwat dan makan minumnya kerana Aku.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Hadits ini menerangkan bahawa segala amalan manusia itu dihadkan atau dibatasi oleh Allah ganjarannya daripada sepuluh sampai 700 kali ganda, tetapi tentang puasa tidaklah sedemikian. Dalam erti kata lain tidak dibataskan ganjarannya oleh angka atau jumlah yang tertentu, bahkan terserah kepada Allah yang Maha Kaya memberikan pembalasan yang setimpal dengannya. Ini tidak lain tidak bukan adalah menggambarkan bahawa betapa besarnya dan istimewanya ibadat puasa di sisi Allah.

    Lebih daripada itu lagi, Allah Subhanahu wa ta’ala menyediakan sebuah pintu di dalam Syurga yang dikhususkanNya bagi orang yang berpuasa untuk memasukinya di hari Kiamat nanti sebagaimana diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya di dalam syurga terdapat satu pintu yang disebut Ar-Rayyan yang mana pada hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya (dan) tidak seorangpun selain mereka memasukinya. Dikatakan: “Dimanakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun berdiri (untuk memasukinya), tidak ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk dari padanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa sehari pada jalan Allah nescaya Allah akan menjauhkan mukanya dari api neraka (sejauh perjalanan) 70 tahun.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Di dalam Islam di samping puasa fardhu yang diwajibkan di bulan Ramadan, ada disyariatkan juga puasa-puasa sunat yang dikerjakan di luar bulan Ramadan. Puasa sunat mempunyai beberapa perbezaan daripada puasa fardhu yang dikerjakan di bulan Ramadan dari berbagai-bagai segi. Di antaranya:

    Orang yang dalam mengerjakan puasa sunat atau lain-lain perkara yang sunat seperti sembahyang kecuali haji dan umrah adalah harus baginya memutuskan (tidak wajib menyempurnakan) puasanya itu berdasarkan sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Orang yang dalam berpuasa sunat itu adalah raja bagi dirinya, jika dia mahu dia berpuasa dan jika dia mahu dia berbuka.”

    (Hadits riwayat Imam Ahmad)

    Akan tetapi adalah dihukumkan makruh jika dia memutuskan puasa sunatnya itu tanpa ada sesuatu keuzuran bagi keluar daripada perselisihan pendapat yang mengatakan wajib disempurnakan apabila seorang itu telah masuk mengerjakan puasa sunat berdasarkan zahir firman Allah di dalam surah Muhammad ayat 33:

    Tafsirnya: “Dan janganlah kamu batalkan amalan-amalan kamu.”

    Jika dia keluar dari puasanya itu dengan sebab ada sesuatu keuzuran seperti menolong tetamu yang merasa keberatan untuk dijamu makan secara bersendirian maka tidaklah dihukumkan makruh bahkan disunatkan baginya berbuka. Namun berpuasa adalah lebih afdhal jika tidak ada keberatan atau kesukaran dari mana-mana pihak untuk menjamu makanan. Maka dengan itu, orang yang berbuka puasa tanpa ada keuzuran, tidak ada pahala bagi puasanya itu manakala orang yang berbuka puasa kerana ada sebab keuzuran dikurniakan pahala bagi puasanya itu walaupun ianya tidak sempurna dilakukan. (Lihat Tuhfah Al-Muhtaj 3/460)

    Adalah disunatkan juga bagi orang yang mengerjakan puasa sunat jika dia memutuskannya sama ada disebabkan keuzuran atau pun tidak, supaya mengqadha puasanya itu sebagai mengambil kira pendapat yang mengatakan wajib mengqadhanya kerana menyempurnakannya adalah wajib disisi mereka iaitu imam-imam yang tiga (Imam Hanafi, Maliki dan Hambali Rahimahumullah). (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/604 dan Fath Al-’Allam 4/167)

    1. Tidak disyaratkan berniat di malam hari dalam mengerjakan puasa-puasa sunat kerana akhir waktu untuk berniat bagi puasa-puasa sunat itu adalah sebelum tergelincir matahari (waktu zuhur) berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku pada satu hari: “Wahai Aisyah! Adakah di sisi kamu sesuatu (untuk dimakan)?” Aisyah berkata, aku berkata: “Wahai Rasulullah! Tidak ada di sisi kita sesuatu pun (untuk dimakan)” Baginda bersabda: “(Jika begitu) maka aku berpuasa.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Begitu juga tidak disyaratkan dalam mengerjakan puasa-puasa sunat di dalam berniat menta’yin (menentukan jenis puasa seperti puasa hari isnin, Arafah, ‘Asyura’ dan sebagainya). Ia sah dilakukan dengan berniat mutlaq sahaja seperti katanya:

    Artinya: “Sahaja aku berpuasa”

    Imam Nawawi berkata: “Adalah wajar supaya disyaratkan ta’yin di dalam puasa yang beriringan seperti puasa hari Arafah, ‘Asyura’, puasa hari-hari Putih, Enam Syawal dan sebagainya sebagaimana disyaratkan sedemikian itu di dalam Sembahyang sunat rawatib.”

    (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/572, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 28/87-88 dan I’anah Ath-Thalibin 2/252)

    PUASA-PUASA SUNAT ITU IALAH : PUASA ENAM

    Puasa enam ialah puasa sunat yang dikerjakan sebanyak enam hari di dalam bulan Syawal. Ia boleh dikerjakan berselang seli di dalam bulan Syawal, tetapi mengerjakannya berturut-turut selepas hari raya adalah terlebih afdhal. Diriwayatkan daripada Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, adalah (puasanya itu) seperti puasa sepanjang tahun.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Mengerjakan puasa sunat sebanyak enam hari di bulan Syawal di samping mengerjakan puasa fardhu di bulan Ramadan diibaratkan seperti berpuasa di sepanjang tahun berdasarkan perkiraan setiap kebajikan itu dibalas dengan sepuluh kali ganda. Oleh itu disamakan berpuasa di bulan Ramadan selama 29 atau 30 hari dengan 300 hari atau sepuluh bulan berpuasa dan puasa enam di bulan Syawal itu disamakan dengan 60 hari atau dua bulan berpuasa. Maka dengan itu genaplah ia setahun. Ini diperkuatkan lagi dengan sebuah hadits riwayat daripada Tsauban bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Berpuasa sebulan (di bulan Ramadan itu disamakan) dengan sepuluh bulan berpuasa dan berpuasa enam hari selepasnya (dibulan Syawal disamakan) dengan dua bulan berpuasa, maka yang sedemikian itu (jika dicampurkan menjadi) genap setahun.”

    (Hadits riwayat Ad-Darimi)

    PUASA HARI ARAFAH

    Puasa hari Arafah ialah puasa sunat pada hari kesembilan Zulhijjah yang disunatkan kepada orang-orang yang tidak melakukan ibadat haji. Kelebihan berpuasa pada hari itu menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:

    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang berpuasa di hari Arafah? Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Manakala bagi orang-orang yang melakukan ibadat haji pula adalah disunatkan untuk tidak berpuasa pada hari Arafah dan adalah menyalahi perkara yang utama jika mereka berpuasa juga pada hari itu berdasarkan apa yang diriwayatkan daripada Ummu Al-Fadhl binte Al-Harits berkata:

    Maksudnya: “Bahawa beberapa orang di sisinya di hari Arafah membicarakan puasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (di hari Arafah). Sebahagian mereka ada yang mengatakan bahawa Baginda berpuasa dan sebahagian mereka ada yang mengatakan bahawa Baginda tidak berpuasa. Maka aku hantar kepada Baginda segelas susu yang pada ketika itu Baginda berada di atas untanya, lalu Baginda meminumnya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Disunatkan juga berpuasa pada hari ke 8 Zulhijjah di samping berpuasa pada hari Arafah (9 Zulhijjah) sebagai langkah berhati-hati yang mana kemungkinan pada hari ke 8 Zulhijjah itu adalah hari yang ke 9 Zulhijjah (Hari Arafah). Bahkan adalah disunatkan berpuasa lapan hari iaitu dari hari yang pertama bulan Zulhijjah hingga ke hari yang ke lapan sama ada bagi orang yang mengerjakan haji atau tidak mengerjakan haji, bersama-sama dengan hari Arafah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai oleh Allah untuk dilakukan ibadah kepadaNya daripada sepuluh hari di bulan Zulhijjah, dimana satu hari berpuasa daripadanya (sebanding) dengan puasa satu tahun dan mendirikan ibadah satu malam daripadanya (sebanding) dengan mendirikan ibadah pada lailatulqadar.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan daripada Hunaidah bin Khalid, daripada isterinya, daripada setengah isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah melakukan puasa sembilan hari di awal bulan Zulhijjah, di hari ‘Asyura’ dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang berikutnya.”

    (Hadits riwayat An-Nasa’i)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 23 July 2016 Permalink | Balas  

    Etika Kita Singgah Sejenak 

    bekerjaEtika Kita Singgah Sejenak

    KH Abdullah Gymnastiar

    Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjan- jikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya. Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota “A” dan anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!

    Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana. Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang menerpa. Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai- sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang diminta.

    Nah, ketahuilah bahwa kota “A” itu tiada lain adalah akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.

    Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah menjajikan surga Jannatun Na’im – padahal apapun yang dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun – dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan “kekecewaannya” melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah, dengan berfirman, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai?” (Q.S. Ar Ruum 30: 7)

    “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui,” demikian firmanNya pula. (Q.S. Al Ankabuut 29: 64)

    Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak yang “mengecewakan” seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang dititipkan Alloh kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta, waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau singgah sejenak saja.

    Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun untuk ini Alloh Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan rizkinya. Dengan catatan, sepanjang “ongkos” tersebut tidak dhamburkan sia-sia. Alloh memampirkan kita di dunia ini seraya tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti, maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa Alloh akan mencukupi kita dengan limpahan karunianya.

    Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti bahwa semua yang dititipkan Alloh itu sebenarnya untuk bekal pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki) padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke mana pun.

    Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Jadi, jaminan dari Alloh untuk kehidupan dunia ini sebenarnya ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan ikhtiarnya.

    Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh Alloh dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, “Ini rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat dan keberkahan.

    Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

    Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah dikumpul-kumpulkannya dipakainya untuk pergi melancong kemana saja yang dia suka.

    Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia! Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang, maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama, maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan siapapun yang menghargai.

    Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia, pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja. Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya. Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa. Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata, malainkan Allohlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak dapat tak ada masalah karena Alloh tidak akan pernah lupa memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah dicatat oleh Alloh. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang gagal.

    Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita semua itu tidak ada apa-apanya karena Allohlah sebagai penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justeru menjadi ujian bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena Alloh saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita, sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.

    Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu karena itu berarti Alloh memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur, sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian manusia .

    Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu sederhana? Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya. Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini, maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!

    Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah Alloh berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi) janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashas 28: 77).

    Maka itu semata-mata dimaksudkan agar kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan Alloh kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati di akhirat.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 22 July 2016 Permalink | Balas  

    Sombong Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan 

    sombongSombong Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan

    Sombong atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar -ketiganya hampir semakna-, merupakan suatu kondisi seseorang di mana ia merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh i’jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.

    Maka tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempur-naan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.

    Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa,  yaitu:

    1. Sombong dengan Ilmu

    Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, namun malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasakan dirinyalah yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka. Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

    Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya:

    Pertama, Ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukanlah ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan semakin membuat ia kenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya. Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong, sebagai-mana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala ,

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Faathir : 28)

    Ke dua, Al-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai    orang alim yang tak terkalahkan ilmu-nya. Selayaknya ia lebih dahulu memperbaiki hati dan jiwanya, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu menjadi benar dan lurus. Karena merupakan karakteristik khas dari ilmu, bahwasanya ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan dengan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.

    Orang, apabila telah hobi mengumbar omongan, bantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.

    1. Sombong dengan Amal Ibadah

    Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki, -atau paling tidak membuat kesan-, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.

    Sebagian ahli ibadah apabila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka terkadang mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu atau, “Kamu pasti masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan-ucapan tersebut dimurkai Allah, yang justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka.

    1. Sombong dengan Keturunan (Nasab)

    Barangsiapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu.

    Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah berikut ini,

    “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). (QS. 32:7-8)

    Inilah nasab manusia yang sebe-narnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang terdekat ada-lah nuthfah alias air mani. Jika demi-kian keadaannya, maka tak selayaknya seseorang sombong dan merasa tinggi dengan nasabnya.

    1. Sombong dengan Kecantikan/Ketampanan

    Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama.

    Seharusnya orang yang sombong dengan kecantikannya ini banyak menengok ke dalam hatinya. Untuk apa anggota tubuh yang indah, namun hati dan perangai buruk, padahal tubuh secantik apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak tersisa.

    Belum lagi kalau orang mau merenungi, bahwa selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak untuk mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya dengan mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang dapat menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya  Allah rasa sombong yang ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.

    1. Sombong dengan Harta

    Yaitu dengan memandang rendah orang fakir dan bersikap congkak terhadap mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor luar, dalam arti bukan merupa-kan potensi pribadi orang yang bersang-kutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga apabila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.

    1. Sombong dengan Kekuatan dan Kegagahan

    Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.

    Orang yang mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.

    1. Sombong dengan Banyaknya Keluarga, Kerabat atau Pengikut.

    Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Dan setiap  orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagai-mana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebih-an dirinya?

    Pengaruh Kesombongan

    Kesombongan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan, dan pengaruh-pengaruh tersebut tampak dalam gerak-gerik anggota badan, cara berjalan, berdiri, duduk, berbicara dan diamnya seseorang.

    Di antara pengaruh-pengaruh yang tampak dari sikap kesombongan adalah:

    1. Orang yang sombong kalau toh mau berjalan bersama-sama orang lain, maka ia selalu minta paling depan dan semua orang harus ada di belakangnya. Konon Abdur Rahman bin Aufz, kalau sedang berjalan bersama para pembantunya, maka tidak ketahuan ada disebelah mana, ia tidak pernah menonjolkan diri harus berada paling depan supaya semua orang melihatnya.
    2. Orang sombong jika berada di suatu majlis, biasanya minta diistimewakan, diperlakukan lain daripada yang lain. Kemudian ia akan sangat senang kalau semua orang mendengarkan yang ia katakan dan sangat benci kalau ada orang lain mengalihkan pembicaraan kepada selainnya. Maunya semua orang harus membenarkan dan menerima apa yang ia katakan.
    3. Termasuk pengaruh sifat sombong adalah memalingkan muka dari sesama muslim, atau melihat dengan pandangan sinis dan merendahkan.
    4. Kesombongan juga berpengaruh bagi seseorang dalam ucapan, gaya bicara dan nada intonasinya. Bahkan terkadang mencerminkan ketidaksopanan, misalnya seorang murid atau mahasiswa menghardik gurunya, karena ia merasa anak seorang pejabat atau tokoh.
    5. Kesombongan juga akan mempe-ngaruhi gaya jalan seseorang, misalnya sambil membusungkan dadanya, atau berjalan dengan dibuat-buat agar menarik perhatian orang lain. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman,

    “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. 17:37)

    1. Kesombongan juga berpengaruh di dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya orang yang dalam hatinya ada kesombongan akan enggan mengerjakan pekerjaan rumah, walau hanya sepele. Hal ini berbeda dengan sikap tawadhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah n. Aisyah x meriwayatkan, bahwa Rasul Allah Subhannahu wa Ta’ala biasa membantu istri beliau.
    2. Merupakan pengaruh kesombongan juga, bahwasanya ia membuat seseorang enggan membawakan barang atau sesuatu ke rumahnya, meskipun bukan hal yang berat, misalnya saja barang belanjaan. Ali RA berkata, “Seseorang tidak akan berkurang kesempurnaannya dengan membawakan sesuatu untuk keluarganya.”
    3. Kesombongan juga mempengaruhi gaya berpakaian seseorang, yaitu ia berpakaian dengan tujuan pamer dan supaya terkenal, atau dengan pakaian yang melanggar ketentuan syar’i, seperti isbal (memanjangkan celana di bawah mata kaki) bagi laki-laki.
    4. Orang yang sombong biasanya sangat senang apabila ia datang, lalu orang-orang berdiri untuk menghormat-nya. Padahal para shahabat apabila datang Rasulullahsaw kepada mereka, maka mereka tidak berdiri untuk beliau, hal ini dikarenakan mereka tahu, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membenci hal itu.
    5. Orang yang dalam hatinya ada kesombongan tidak akan mau mengunjungi orang lain, tidak mau mengucapkan salam lebih dahulu, minta supaya diprioritaskan dan tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain.
    6. Kesombongan juga akan mengakibatkan seseorang tidak memandang adanya hak orang lain pada dirinya. Sementara itu ia beranggapan, bahwa ia memiliki hak yang banyak atas selainnya.

    Diringkas dari : Kutaib, “Al-Kibr”, Zahir bin Muhammad Asy-Syahri. (Sumber Al-sofwah)

     
  • erva kurniawan 10:07 am on 21 July 2016 Permalink | Balas  

    Sepuluh Peringatan Bagi Wanita Salehah 

    wanita sholehahSepuluh Peringatan Bagi Wanita Salehah

    Bismillahir rahmanir rahiem

    1. Laknat Allah ke atas wanita yang marah kepada suaminya. (HR Dailami)
    2. Seorang wanita yang mati sedangkan suaminya ridha kepadanya, maka dia akan memasuki sorga. (HR Ibnu Majah)
    3. Seorang wanita yang meminta kepada suaminya untuk diceraikannya, maka diharamkan bau sorga baginya. (HR Tirmizi)
    4. Se-baik2 wanita adalah dia yang membuat suaminya merasa bahagia apabila memandangnya; apabila menyuruhnya dia mentaatinya; dan dia tidak memusuhinya dalam perkara dirinya dan hartanya dengan melakukan apa yang tidak disukainya. (HR Baihaqi)
    5. Permisalan seorang wanita yang memakai wangi2-an di tengah2 orang lain (seperti laki2 yang bukan mahram) adalah seperti kegelapan pada hari kiamat; Tidak ada cahaya baginya. (Mishkat)
    6. Apabila suami memanggil istrinya ke tempat tidur dan dia menolaknya yang menyebabkan suami tidur dalam keadaan tidak ridho (kepada istrinya) maka para malaikat melaknatnya hingga pagi hari. (HR Bukhari)
    7. Ada tiga jenis manusia yang shalatnya tidak diterima dan juga amalannya tidak akan naik (ke langit), (salah satu daripadanya adalah) seorang wanita yang suaminya murka kepadanya. (HR Baihaqi)
    8. Jikalau aku diperintahkan agar seseorang sujud kepada orang yang lain, maka aku sudah memerintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya. (HR Ahmad)
    9. Jika suami memerintahkan istrinya untuk mengangkut batu dari gunung kuning kepada gunung putih (misalnya dari suatu gunung ke gunung yang lain), maka adalah lebih baik baginya untuk melakukannya. (HR Ahmad)
    10. Barangsiapa yang telah diberikan empat perkara, sesungguhnya ia sudah diberikan dunia dan akhirat: hati yang bersyukur, lidah yang senantiasa berzikir, badan yang senantiasa bersabar dalam kesulitan, dan istri yang tidak mengkhianati suaminya, baik mengenai dirinya maupun hartanya. (Mishkat)
     
  • erva kurniawan 3:33 pm on 11 July 2016 Permalink | Balas  

    Sejarah Yahudi 

    PALESTINIANS-ISRAEL/SWAPSEJARAH YAHUDI

    oleh Harun Yahya

    Seperti telah ditunjukkan di awal, semua tanah Palestina, khususnya Yerusalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Allah yang diutus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.

    Menurut studi sejarah yang didasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya, dan sejumlah kecil manusia yang mengikutinya pertama kali pindah ke Palestina, yang dikenal kemudian sebagai Kanaan, pada abad kesembilan belas sebelum Masehi. Tafsir Al-Qur’an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot). Al-Qur’an menyebutkan perpindahan ini sebagai berikut:

    Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (Qur’an, 21:69-71)

    Daerah ini, yang digambarkan sebagai “tanah yang telah Kami berkati,” diterangkan dalam berbagai keterangan Al-Qur’an yang mengacu kepada tanah Palestina.

    Sebelum Ibrahim AS, bangsa Kanaan (Palestina) tadinya adalah penyembah berhala. Ibrahim meyakinkan mereka untuk meninggalkan kekafirannya dan mengakui satu Tuhan. Menurut sumber-sumber sejarah, beliau mendirikan rumah untuk istrinya Hajar dan putranya Isma’il (Ishmael) di Mekah dan sekitarnya, sementara istrinya yang lain Sarah, dan putra keduanya Ishaq (Isaac) tetap di Kanaan. Seperti itu pulalah, Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendirikan rumah untuk beberapa putranya di sekitar Baitul Haram, yang menurut penjelasan Al-Qur’an bertempat di lembah Mekah.

    Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qur’an, 14:37)

    Akan tetapi, putra Ishaq Ya’kub (Jacob) pindah ke Mesir selama putranya Yusuf (Joseph) diberi tugas kenegaraan. (Putra-putra Ya’kub juga dikenang sebagai “Bani Israil.”) Setelah dibebaskannya Yusuf dari penjara dan penunjukan dirinya sebagai kepala bendahara Mesir, Bani Israel hidup dengan damai dan aman di Mesir.

    Suatu kali, keadaan mereka berubah setelah berlalunya waktu, dan Firaun memperlakukan mereka dengan kekejaman yang dahsyat. Allah menjadikan Musa (Moses) nabi-Nya selama masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Ia pergi ke Firaun, memintanya untuk meninggalkan keyakinan kafirnya dan menyerahkan diri kepada Allah, dan membebaskan Bani Israil yang disebut juga orang-orang Israel. Namun Firaun seorang tiran yang kejam dan bengis. Ia memperbudak Bani Israil, mempekerjakan mereka hingga hampir mati, dan kemudian memerintahkan dibunuhnya anak-anak lelaki. Meneruskan kekejamannya, ia memberi tanggapan penuh kebencian kepada Musa. Untuk mencegah pengikut-pengikutnya, yang sebenarnya adalah tukang-tukang sihirnya dari mempercayai Musa, ia mengancam memenggal tangan dan kakinya secara bersilangan.

    Menyusul wafatnya Nabi Yusuf (Joseph), Bani Israel mengalami kekejaman tak terperikan di tangan Firaun.

    Meskipun Firaun menolak permintaannya, Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur’an, Musa memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan:

    Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (Qur’an, 5:21)

    Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara. Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israil meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.

    Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qur’an, 48:26)

    Karena kemerosotan akhlaknya, kerajaan Israel mulai memudar dan ditempati oleh berbagai orang-orang penyembah berhala, dan bangsa Israel, yang juga dikenal sebagai Yahudi pada saat itu, diperbudak kembali. Ketika Palestina dikuasai oleh Kerajaaan Romawi, Nabi ‘Isa (Jesus) AS datang dan sekali lagi mengajak Bani Israel untuk meninggalkan kesombongannya, takhayulnya, dan pengkhianatannya, dan hidup menurut agama Allah. Sangat sedikit orang Yahudi yang meyakininya; sebagian besar Bani Israel mengingkarinya. Dan, seperti disebutkan Al-Qur’an, mereka itu yang: “: telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al-Qur’an, 5:78) Setelah berlalunya waktu, Allah mempertemukan orang-orang Yahudi dengan bangsa Romawi, yang mengusir mereka semua keluar dari Palestina.

    Tujuan penjelasan yang panjang lebar ini adalah untuk menunjukkan bahwa pendapat dasar Zionis bahwa “Palestina adalah tanah Allah yang dijanjikan untuk orang-orang Yahudi” tidaklah benar. Pokok permasalahan ini akan dibahas secara lebih rinci dalam bab tentang Zionisme.

    Zionisme menerjemahkan pandangan tentang “orang-orang terpilih” dan “tanah terjanji” dari sudut pandang kebangsaannya. Menurut pernyataan ini, setiap orang yang berasal dari Yahudi itu “terpilih” dan memiliki “tanah terjanji.” Padahal, ras tidak ada nilainya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang rasnya.

    Al-Qur’an juga menekankan kenyataan ini. Allah menyatakan bahwa warisan Ibrahim bukanlah orang-orang Yahudi yang bangga sebagai “anak-anak Ibrahim,” melainkan orang-orang Islam yang hidup menurut agama ini:

    Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Qur’an, 3:68)

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 19 June 2016 Permalink | Balas  

    Penggunaan Akal Yang Tercela 

    akalPenggunaan Akal Yang Tercela

    Oleh : Imam Asy-Syatibi

    Penggunaan akal dikatakan tercela bila tanpa menggunakan dasar dan tidak bersandar pada Al-Kitab dan Sunnah. Jadi, akal (dijadikan) sebagai penentu dalam (penetapan) syari’at. Bila seseorang menempatkan akalnya seperti itu, maka dia telah terjebak dalam perbuatan bid’ah. Karena semua bid’ah itu hanyalah merupakan pendapat akal belaka yang tidak berdasar dalil sama sekali. Oleh karena itulah setiap bid’ah selalu dinisbatkan kepada sesuatu kesesatan.

    Dalam hadist shahih dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda :

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja dari manusia setelah memberikannya kepada mereka. Akan tetapi Allah mencabut ilmu tersebut dari mereka dengan mematikan ulama berserta ilmu mereka, lalu tinggallah orang-orang jahil yang dimintai fatwa, kemudian mereka pun berfatwa dengan pendapat akal mereka, maka (jadilah) mereka itu tersesat lagi menyesatkan.”1)

    Perbedaan Ulama tentang Penggunaan Akal

    Sebagian ulama berkata bahwa penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal yang menyelisihi Sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli bid’ah. Akan tetapi hal itu ada dalam masalah akidah saja, seperti ajaran Jahm2) dan semua ajaran ahli kalam lainnya. Karena mereka menggunakan pendapat akal mereka semata untuk membantah hadist-hadist Rasulullah yang shahih; bahkan, untuk membantah ayat Al-Qur’an yang telah jelas penunjukan hukumnya.

    Sebagian yang lain mengatakan bahwa penggunaan akal yang tercela dan rusak adalah penggunaan akal untuk membuat perkara-perkara yang bid’ah atau yang semisalnya. Karena memang dari semua bid’ah itu kembalinya kepada pendewaan akal dan penyimpangan dari syari’at. Pendapat inilah yang kuat. Karena dalil-dalil yang telah kita sebutkan dimuka tidak menunjukkan satu macam bid’ah saja, tapi justru menunjuk kepada semua bentuk bid’ah yang telah terjadi dan yang akan terjadi sampai hari kiamat, baik masalah ushul maupun masalah furu’.

    Sebagian yang lain lagi mengatakan penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal untuk menentukan hukum-hukum agama untuk masalah istihsan dan asumsi-asumsi, sibuk membahas permasalahan-permasalahan yang rumit yang sering mengelirukan, mengembalikan sebagian permasalahan furu’ dan kasus-kasus yang muncul antara satu dengan yang lain berdasarkan qiyas tanpa mengembalikan kepada kaidah-kaidah ushul serta meneliti sisi kelemahan dan kelayakan cara tersebut. Akal pun digunakan sebagai pemegang peranan dalam membahas permasalahan tersebut. Dibahas dan diperbincangkannya permasalahan tersebut secara terperinci sebelum kasusnya sendiri terjadi dengan mengandalkan akal berdasar perkiraan-perkiraan. Mereka yang berpendapat demikian berkata: “Karena menyibukkan diri dan larut dengan cara-cara semacam itu berarti menafikkan Sunnah, mendorong kejahilan orang terhadap Sunnah, meninggalkan keharusan berdasar Sunnah tersebut; juga dengan Kitabullah.”

    Pendapat diatas sejalan dengan pendapat sebelumnya. Kerena pendapat diatas melarang menggunakan akal meskipun tidak tercela. Hal itu karena terlalu sibuk dengan penggunaan akal akan mengarahkan diri kepada pendapat yang tercela, yaitu membuang Sunnah dan mencukupkan diri dengan akal. Dan kalau sudah begitu maka akan sejalan dengan pendapat sebelumnya. Karena di antara kebiasaan syari’at bahwa apabila melarang keras sesuatu berarti melarang pula hal-hal yang mendukungnya. Tidaklah kita mengetahui adanya sabda Rasulullah:

    “Yang halal itu jelas; yang haram pun juga jelas. Diantara kedua nya ada perkara-perkara syubhat3).”4)

    Demikian pula, dalam syari’at terdapat kaidah Saddudz Dzari’ah, yaitu menahan diri dari hal yang dibolehkan karena dikhawatirkan akan mengiring kepada hal yang tidak dibolehkan. Dan semakin besar daya rusak suatu perkara yang dilarang tersebut, maka akan semakin diperketat upaya pencegahannya.

    Sebagai kesimpulannya adalah bahwa penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal yang berdasar atas kebodohan, mengikuti hawa nafsu tanpa mau merujuk kepada syari’at. Dan termasuk penggunaan akal yang tercela pula, segala jalan yang mengiring kepada penurutan hawa nafsu meski pada asalnya jalan tersebut baik lantaran kembali kepada kaidah syar’i.

    Footnote:

    1). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Hadist no. 100, dan 7307)

    2). Jahm bin Shafwan adalah pendiri kelompok Jahmiyyah yang di antara ajarannya adalah menolak nama-nama dan sifat-sifat Allah, pent.

    3). Syubhat artinya tidak ada kejelasan halal dan haramnya, pent.

    4). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Hadist no. 2051) dan ini adalah lafal yang dia riwayatkan, dan Muslim (Hadist no. 1599) dari An-Nu’man bin Basyir.

    ***

    Ringkasan Al-I’tisham Imam Asy-Syatibi, “Membedah Seluk Beluk Bid’ah”, karya Syaikh Abdul Qadir As-Saqqaf, Bab 2 “Tercelanya bid’ah dan akibat buruk yang akan diperoleh para pelakunya” hal: 54.

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 19 June 2016 Permalink | Balas  

    Setelah Ada Hadits Shahih, Tidak Boleh Mengatakan Mengapa 

    tanyaSetelah Ada Hadits Shahih, Tidak Boleh Mengatakan Mengapa

    Oleh : Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi

    Diriwayatkan dari Utsman bin Umar, ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Imam Malik untuk bertanya kepadanya tentang suatu masalah, maka Imam Malik berkata kepada laki-laki itu : ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bagini dan begitu’, lalu laki-laki itu berkata : ‘Bagaimana pendapatmu ?’. Maka Imam Malik menjawab dengan firman Allah.

    “Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. [An-Nuur : 63]

    Diriwayatkan dari Ibnu Wahb, ia berkata : Imam Malik mengatakan : “Suatu fatwa yang telah difatwakan kepada manusia maka tak satupun manusia boleh mengatakan : “Mengapa engkau berfatwa seperti ini”, melainkan cukup bagi mereka saat itu untuk mengetahui riwayat dan mereka rela dengan riwayat (hadits) itu”.

    Diriwayatkan dari Ishaq bin Isa, ia berkata : Aku mendengar Malik bin Anas mencela perdebatan dalam perkara agama, ia mengatakan : “Setiap kali datang kepada kami seseorang yang lebih pandai berdebat dari pada orang lain, maka kami membantah dengan apa yang dibawa malaikat Jibril ‘Alaihis Salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Diriwayatkan dari Ibnu Al-Mubarak, ia berkata : “Hendaknya yang engkau jadikan sandaran adalah atsar, dan ambillah dari fikiran apa yang dapat menafsirkan hadits itu untukmu”..

    Diriwayatkan dari Yahya bin Dharis, ia berkata : Aku menyaksikan Sufyan ketika datang kepadanya seorang laki-laki, lalu laki-laki itu berkata : “Apa tuntutanmu kepada Abu Hanifah ?” Sufyan berkata : “Memangnya ada apa dengan dia, sesungguhnya aku telah mendengarnya berkata : “Aku berpegang kepada Kitabullah, jika tidak aku temui, maka aku akan berpegang pada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak ada aku temui dalam Kitabullah dan tidak pula dalam Sunnah Rasul, maka aku berpegang pada pendapat para sahabat beliau, aku akan mengambil pendapat di antara mereka yang aku kehendaki dan aku akan meninggalkan pendapat diantara mereka yang aku hendaki. Sedangkan jika perkara itu berakhir pada Ibrahim, Asy-Sya’bi, Ibnu Sirin, Al-Hasan, Atha, Ibnu Al-Musayyab dan beberapa orang lainnya yang berijtihad maka saya akan berijtihad pula sebagaimana mereka berijtihad”.

    Diriwayatkan dari Ar-Rabi’, ia berkata : Pada suatu hari Imam Syafi’i meriwayatkan suatu hadits, maka berkatalah seorang laki-laki kepadanya : “Apakah engkau berpegang pada ini wahai Abu Abdullah?”, maka berkata Imam Syafi’i : “Jika diriwayatkan kepadaku suatu hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku tidak berpegang kepadanya, maka aku bersaksi kepada kalian bahwa akalku telah hilang”.

    Diriwayatkan dari Ar-Rabi’, ia berkata : Aku mendengar Imam Syafi’i berkata : “Jika kalian dapatkan dalam kitabku (tulisanku) sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berpeganglah kalian kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah apa yang telah aku ucapkan”.

    Diriwayatkan dari Mujtahid, tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-(Nya)”. [An-Nisaa : 59].

    Ia berkata : “Kepada Allah artinya adalah kepada Kitabullah, sedangkan kepada Rasul artinya adalah kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ad-Darimi, dari Abu Dzar, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar kita tidak dikalahkan dalam memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan agar kita mengajarkan As-Sunnah kepada manusia”.

    Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Pelajarilah As-Sunnah, ilmu fara’idh dan ilmu membaca sebagaimana kalian mempelajari Al-Qur’an”.

    Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia berkata : “Wahai menusia sekalian hendaklah kalian mempelajari ilmu itu sebelum ilmu itu diangkat, karena diangkatnya ilmu adalah dengan dimatikannya para ahli ilmu (para ulama). Jauhilah oleh kalian perbuatan baru (bid’ah), dan hendaklah kalian berpegang pada yang lama (As-Sunnah), karena sesungguhnya pada akhir kehidupan umat ini akan ada golongan-golongan manusia yang mana mereka menduga bahwa mereka menyeru kepada Kitabullah tetapi sebenarnya mereka telah meninggalkan Kitabullah di belakang punggung mereka”. [Hadist Riwayat Darimi]

    [Disalin dari buku Miftahul Jannah fii Al-Ihtijaj bi As-Sunnah, edisi Indonesia KUNCI SURGA Menjadikan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Hujjah oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi terbitan Darul Haq, hal. 108-111 penerjemah Amir Hamzah Fachruddin]

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 18 June 2016 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan 

    ramadhan8Meninggalkan Puasa Ramadan

    Orang-Orang Yang Diwajibkan Kaffarah

    ULAMA sepakat mengenai kewajipan kaffarah bagi orang-orang yang berbuka puasa dengan melakukan persetubuhan (jimak) sama ada dengan perempuan atau binatang dengan sengaja tanpa dipaksa atau dengan maksud melanggar kehormatan dalam bulan puasa, atau bukan kerana yang diharuskan berbuka puasa. Kaffarah kerana persetubuhan tersebut ialah memerdekakan seorang hamba. Jika dia tidak mendapatkannya, maka hendaklah dia puasa dua bulan berturut-turut dan jika dia tidak berdaya maka dia memberi makan enam puluh orang miskin.

    Dalil kaffarah ini telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiallahuanhu yang bermaksud, “Ketika kami duduk bersama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah datang seorang lelaki kepada Baginda lalu berkata : “Binasalah aku!” Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Kenapa dengan engkau?” Lelaki itu menjawab : “Aku telah menyetubuhi isteriku sedang aku berpuasa (Ramadan).” Lalu Nabi bersabda : “Adakah engkau berdaya memerdekakan seorang hamba?” Lelaki itu menjawab : “Tidak”. Lalu bersabda Nabi: “Adakah engkau berupaya menunaikan puasa dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab : “Tidak.” Bersabda Nabi : “Adakah engkau berdaya memberi makan enam puluh orang miskin?” Lelaki itu menjawab : “Tidak.” (Abu Hurairah) berkata : “Ketika kami duduk telah dibawakan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan serumpun tamar. “Lalu Baginda bersabda: Ambil (tamar) ini dan sedekahkan ….” (Hadis riwayat Al-Bukhari).

    Membatalkan puasa dengan jimak atau persetubuhan yang berlaku pada siang hari bulan Ramadan adalah haram. Akan tetapi tidak wajib kaffarah jika berlaku jimak pada bulan-bulan yang lain selain bulan Ramadan seperti ketika melakukan puasa sunat, nazar, qada atau puasa kaffarah. Perkara ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya :

    “Dihalalkan bagi kamu, pada malam hari puasa, bercampur (bersetubuh) dengan isteri-isteri kamu. Isteri-isteri kamu itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahasanya kamu mengkhianati diri sendiri, lalu Dia menerima taubat kamu dan memaafkan kamu. Maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu; dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) daripada benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (Maghrib); dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukum-Nya kepada sekalian manusia supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah : 187).

    Apabila seorang lelaki atau perempuan berbuka dengan melakukan jimak dengan sengaja, maka batal puasa dan berdosa. Begitu juga ke atasnya wajib qada puasa dan kaffarah bersama ta’zir. Jika keadaan ini berlaku kepada suami dan isteri, siapakah yang dikenakan kaffarah? Ulama berbeza pendapat tentang siapakah yang dikenakan kaffarah sama ada suami atau isteri atau kedua-duanya sekali. Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’e, kaffarah hanya wajib ke atas suami sahaja.

    Jika berlaku jimak itu dua hari atau lebih dalam bulan Ramadan, ulama sepakat bagi setiap hari dikenakan kaffarah. Manakala bagi yang melakukan jimak beberapa kalli dalam satu hari atau pada hari yang sama, dia hanya dikenakan satu kaffarah.

    Jika berlaku jimak dalam keadaan musafir yang diharuskan, puasa terbatal dan tidak wajib kaffarah dengan jimak tersebut. Begitu juga jika dia menyangka (dzann) matahari telah masuk dan berlaku jimak, sedangkan hari masih siang (belum masuk matahari), dihukumkan tiada kaffarah kerana dia tidak bermaksud untuk melakukan yang dilarang. Manakala jika dia syak di siang hari, sama ada berniat puasa di malam hari atau sebaliknya, kemudian berlaku jimak dalam keadaan syak itu, lalu dia teringat bahawa dia telah berniat, maka batal puasanya dan tidak wajib kaffarah. Begitu juga tidak wajib kaffarah jika jimak itu berlaku setelah terbatal puasa oleh perkara-perkara lain seperti makan, minum dan sebagainya.

    Berdasarkan kepada penjelasan di atas, bahawa ibadat puasa itu wajib ditunaikan kecuali bagi orang-orang yang ditentukan oleh syarak mempunyai kelonggaran-kelonggaran tertentu. Kelonggaran-kelonggaran tersebut bertujuan supaya tidak membebankan umat Islam melaksanakan tanggungjawab dan kewajipan.

    Namun ibadat puasa yang ditinggalkan sama ada dengan sebab keuzuran syari atau tanpa sebab munasabah, Islam telah mewajibkan ke atas mereka qada atau fidyah ataupun kaffarah.

    Oleh yang demikian mana-mana orang yang wajib ke atasnya kaffarah atau fidyah hendaklah mengambil perhatian tentang perkara ini. Sementara yang wajib qada pula tidak akan melengah-lengahkan atau menunda-nunda qadanya sehingga masuk Ramadan yang akan datang.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 17 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (4) 

    ramadhan 2Permasalahan Puasa Ramadan (4)

    4. Puasa Dalam Perjalanan

    Pada kelazimannya di musim Ramadhan ini lah ramai masyarakat kita mengambil kesempatan untuk membuat perjalanan jauh seperti belayar ke luar negara untuk menziarahi sanak saudara, menunaikan umrah untuk mengambil ganjaran pahalanya yang besar di bulan mubarak ini dan juga ada yang membeli belah untuk keperluan di Hari Raya atau sebagainya. Tidak kurang pula mereka yang berada di luar negara khasnya para pelajar akan balik bercuti ke tanah air untuk sama-sama menyambut Ramadhan dan berhari raya bersama-sama kaum keluaga.

    Pada dasarnya ibadah puasa itu tidak diwajibkan ke atas orang yang dalam perjalanan (musafir). Ini karena musafir itu adalah merupakan salah satu keuzuran syar’ie yang menyebabkan beberapa kewajipan yang berbentuk ‘azimah diangkat dari mereka. Firman Allah Subhanhu wa Ta’ala :

    Tafsirnya: “Maka barang siapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.

    (Surah Al-Baqarah: 184)

    Ada juga hadis-hadis Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan tentang keharusan perkara ini. Antaranya ialah hadis yang diriwayatkan daripada Saiyidatuna ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya : “Sesungguhnya Hamzah bin ‘Amr Al-Aslamiy berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam : “Adakah mesti aku berpuasa di dalam musafir?” (Walhal) adalah Hamzah itu seorang yang banyak mengerjakan ibadah puasa. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika engkau hendak berpuasa berpuasalah dan jika engkau hendak berbuka, berbukalah.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Walau bagaimanapun tidak semua orang musafir itu diberikan rukhshah berbuka puasa. Mereka yang diberikan kelonggaran itu hanya orang yang memenuhi syarat-syarat berikut :

    a). Perjalanannya mestilah mencapai atau melebihi jarak yang dibolehkan mengqashar sembahyang. Yaitu jarak dari tempat ia memulakan perjalanannya ke tempat yang ditujunya itu mestilah tidak kurang dari dua marhalah yaitu kira-kira 89 (delapan puluh sembilan) kilometer.

    b). Perjalanan itu ialah perjalanan yang diharuskan oleh hukum syara’ bukan perjalanan yang melibatkan perkara maksiat.

    Perjalanan yang Tidak Membebankan

    Adakah perjalanan yang tidak membebankan orang yang bermusafir seperti yang berlaku di zaman yang serba canggih ini boleh dianggap sebagai uzur syar’ie yang mana si musafir ini boleh mengambil rukhshah berbuka?

    Mengikut apa yang telah dijelaskan oleh ayat al-Qur’an di atas bahwa musafir itu adalah merupakan satu keuzuran syar’ie tanpa memperincikan sama ada perjalanan yang dilakukan itu perjalanan yang mendatangkan beban kepayahan ataupun tidak.

    Menurut apa yang telah diperjelaskan oleh Imam As-Syaf’ie dan Ashhabnya Rahimahullah keharusan berbuka puasa itu lebih kepada wujudnya kepayahan sepertimana yang disebutkan:

    Maksudnya: “ Jika dengan berpuasa akan memudharatkannya maka berbuka itu afdhal dan jika sebaliknya maka berpuasa itu lebih afdhal.” (Kitab Al-Majmuk, 6:265)

    Ini bererti apa jua jenis pengangkutan yang digunakan untuk bermusafir maka dia adalah diharuskan dan berhak untuk mengambil rukhshah berbuka mengikut syarat yang telah dijelaskan. Akan tetapi berpuasa itu adalah lebih utama (afdhal) jika tidak memudharatkan dirinya sebagimana yang telah dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’ie dan Ashhab beliau Rahimahumullah.

    Bila Diharuskan Mengambil Rukhshah Berbuka

    Syarat lain yang membawa kepada keharusan berbuka ketika musafir itu ialah orang berkenaan memulakan perjalanan sebelum terbit fajar shadiq. Maksud memulakan perjalanan di sini ialah apabila dia melewati sempadan atau perbatasan kampong tempat tinggalnya.

    Jika dia melewati tempat tersebut selepas terbitnya fajar shadiq maka kewajipan puasa itu dituntut ke atasnya dan tidak harus baginya berbuka kecuali ada sesuatu kesusahan yang menyebabkan dia tidak berkuasa meneruskan puasanya. Dalam keadaan ini dia diharuskan berbuka karena tidak berkemampuan berpuasa atau khuatir akan memudharatkan dirinya bukan karena perjalanan (safar).

    Tetapi jika dia singgah di sesuatu tempat bukan dengan niat bermuqim maka dia diharuskan berbuka walau pun selepas terbit fajar shadiq ia keluar untuk meneruskan perjalanannya karena ia masih dihukumkan sebagai orang musafir.

    Wajib Mengqadha Puasa Yang Ditinggalkan.

    Walaupun orang yang musafir itu diharuskan berbuka puasa semasa dalam perjalanan tetapi dia masih diwajibkan menqadha hari-hari puasa yang di tinggalkan itu tanpa membayar fidyah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.

    (Surah Al-Baqarah: 184)

    Sekiranya perjalanan itu menuju negeri yang lambat kelihatan anak bulan Ramadhan yang menyebabkan penduduk negeri tersebut terkemudian menunaikan puasa Ramadhannya dari negeri asalnya maka dia dikehendaki berpuasa bersama-sama dengan penduduk negeri itu menurut pendapat yang ashah sekalipun ia telah berpuasa tiga puluh hari penuh.

    Begitu juga halnya jika ia membuat perjalanan menuju negeri yang lebih awal kelihatan anak bulan, apabila dia sampai di sana penduduknya telah menyambut hari raya, maka ketika itu dia diwajibkan berbuka (berhari raya bersama mereka) dan haram baginya berpuasa. Walaupun bilangan puasanya pada waktu mereka menyambut hari raya itu kurang dari sebulan penuh pada perkiraannya.

    Sekiranya jumlah puasanya sebanyak dua puluh lapan hari ia akan berhari raya pada hari yang kedua puluh sembilan mengikut negeri tersebut, tetapi dalam keadaan ini dia dikenakan mengqadha sebanyak sehari untuk mencukupkan sebulan karena satu bulan itu sekurang-kurangnya adalah sebanyak dua puluh sembilan hari. Berlainan pula halnya jika ia sudah berpuasa sebanyak dua puluh sembilan hari maka ia tidak perlu mengqadha karena bilangan dua puluh sembilan hari itu adalah bilangan sebulan yang paling minima. (Kitab Mughni Al-Muhtaj 1:422-423)

    Hukum Menahan Diri (Imsak) Bagi Orang Musafir

    Jika dia sampai ke negeri tempat dia hendak bermuqim dalam keadaan dia berbuka atau tidak berpuasa maka adalah disunatkan ke atasnya imsak yaitu menahan diri bagi menghormati waktu. Imsak itu tidak wajib ke atasnya karena ia berbuka atas sebab keuzuran syar’ie yaitu musafir. Walau bagaimanapun dalam mazhab Hanafi pula mewajibkan imsak ke atasnya.

    Walaupun imsak itu hanya sunat keatasnya tetapi jika dia makan sesuatu hendaklah bukan dikhalayak orang ramai yang tidak mengetahui keuzuran itu karena ditakuti akan menimbulkan tohmahan dan hukuman.

    Jika orang yang musafir itu sampai ke tempat yang ditujunya dalam keadaan ia berpuasa maka dia mesti menyempurnakan puasanya itu. (Kitab Al-Majmuk 6:267/ I’anah Al-Thalibin 2:269)

    Waktu Berbuka Dalam Perjalanan

    Menurut hukum syara’ waktu berbuka puasa itu ialah apabila tenggelam matahari (waktu Maghrib). Soalnya bagaimana halnya jika perjalanan menggunakan kapal terbang yang pada kebisaannya matahari akan masih lagi wujud pada penglihatan penumpang walaupun ia sudah hilang (tenggelam) bagi mereka yang berada di bumi.

    Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ada menjelaskan:

    Tafsirnya: “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (Maghrib)”

    (Surah Al-Baqarah:187)

    Sementara itu hadis Baginda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu ‘anhu katanya:

    Maksudnya: “Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu perjalanan di bulan Ramadhan. Ketika matahari telah terbenam Baginda bersabda: “Hai Fulan ! Turunlah, dan siapkan makan kita !” Jawab orang itu, “ Hari masih siang, ya Rasullullah!” Sabda Rasulullah , “Turunlah dan siapkan makan kita!” kata Abdullah,, “Orang itu pun segera turun, lalu dia menyiapkan makanan dan menyajikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, dan Baginda langsung minum. Kemudian Baginda bersabda sambil menunjuk dengan tangannya : “Apabila matahari telah terbenam di sana, dan malam telah datang di sini , maka orang puasa sudah boleh berbuka”.

    (Hadis Muttafaq ‘alaihi)

    Maka berpandukan ayat al-Quran dan hadis di atas, jika seseorang itu berpuasa lalu belayar dengan menaiki kapal terbang dan ia sedang berada di udara waktu berbukanya ialah apabila matahari itu hilang dari penglihatannya. Tidak sah puasanya jika ia berbuka selagi matahari ternampak olehnya walaupun negeri dari tempat ia memulakan perjalanan itu sudah tiba saatnya untuk berbuka.

    Sebagaimana yang berlaku bagi mereka yang menuju ke arah Timur, maka waktu siangnya adalah pendek berbanding dengan mereka yang menuju ke arah Barat waktu siangnya adalah panjang. Oleh yang demikian apa yang diambil kira sekarang bagi orang yang berpuasa itu ialah dengan terbenamnya matahari daripada penglihatannya, walau dimana ia berada ketika itu, dan bukan dikira dengan waktu tempatan yang dilaluinya atau waktu negerinya sendiri yang ditinggalkannya.

    Sekiranya puasa sepanjang hari itu menyusahkannya, maka baginya terdapat kelonggaran yang mengharuskannya berbuka, sebaliknya jika tidak menyusahkan dan dia dapat menyempurnakan puasanya itu, maka yang afdhal teruskan dan sempurnakan puasanya itu.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 16 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (3) 

    ramadhan 2Permasalahan Puasa Ramadan (3)

    III. Perempuan Hamil dan Perempuan Yang Menyusukan Anak

    Fungsi ibadah yang disyariatkan kepada manusia itu ialah untuk mengukur dan membuktikan ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Selain itu ia juga berperanan sebagai jalan yang menghampirkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak kira ibadah itu wajib atau pun sunat. Perkara ini dijelaskan dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya ialah syurga ‘adn (tempat tinggal yang tetap), yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; kekallah mereka di dalamnya selama-lamanya; Allah redha akan mereka dan mereka pun redha (serta bersyukur) akan nikmat pemberian-Nya. Balasan yang demikian itu untuk orang-orang yang takut (melanggar perintah) Tuhannya.

    (Surah al-Baiyinah: 7-8)

    Adalah janggal sekali pendapat yang mendakwa bahwa ibadah-ibadah seperti sembahyang, puasa, haji, zakat dan sebagainya itu sebagai suatu bebanan yang menyeksa manusia. Tuduhan ini dengan tegas ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara ugama”

    (Surah al-Haj: 78)

    Kita telah pun diajar tentang tahap (darajah) hukum-hukum ibadah yang disyariatkan itu dan perlu diambil penuh perhatian ialah ibadah-ibadah yang wajib. Ibadah seumpama ini jika kita tinggalkan dengan tiada keuzuran akan berdosa.

    Walaupun demikian, Islam sebagai agama yang mulia dan agama yang diperakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah pun menggariskan tentang kewajipan manusia dalam melaksanakan ibadah-ibadah wajib itu. Sekalipun sesuatu ibadah itu wajib dilaksanakan namun tahap kewajipan melaksanakannya adalah mengikut kadar yang termampu oleh manusia. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya”

    (Surah al-Baqarah: 286)

    Ayat di atas juga dengan jelasnya menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bersifat Rahim yaitu amat pengasihani. Begitulah cantiknya syariat Islam itu. Walaupun demikian hakikatnya, tetapi tidak bererti kita bersikap cuai atau mengambil ringan tentang hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh syariat Islam itu. Kecuaian atau sikap mengambil ringan soal hukum-hukum Islam boleh membawa kepada berleluasnya kepada perkara mungkar dan maksiat yang akhirnya meleburkan iman dan taqwa manusia.

    Berbalik kepada kelonggaran atau keringanan yang diberikan oleh syariat Islam itu, maka bagaimanakah hukum dan kewajipan berpuasa terhadap perempuan hamil atau menyusukan anak?

    Seperti yang kita jelaskan sebelum ini puasa itu wajib ke atas orang-orang Islam yang mukallaf. Ini bererti perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak itu termasuk di bawah hukum di atas. Hamil itu boleh terjadi atas jalan pernikahan dan tanpa pernikahan. Menyusukan anak pula, boleh terjadi karena menyusukan anak sendiri atau anak orang lain. Perempuan yang menyusukan anak ini disebut dalam bahasa Arab sebagai Murdhi’.

    Menurut hukum syara’ perempuan yang hamil sekalipun hasil dari perzinaan dan perempuan yang menyusukan anak damit (murdhi’) walaupun anak damit itu kepunyaan orang lain disebabkan menderma atau diupah, adalah diharuskan bagi mereka untuk berbuka puasa semata-mata karena dua perkara tersebut.

    Sekalipun demikian, persoalan lain yang timbul, apakah hukum yang berbangkit dari berbuka puasa itu? Adakah diwajibkan ke atas mereka qadha atau lain hukum mengenainya?

    Dalam hal ini para fuqaha telah merumuskan hukum-hukum mengenainya. Rumusan hukum dan perbincangan mereka lebih tertumpu kepada perkara-perkara yang menyebabkan mereka berbuka puasa.

    Tetapi jika mereka berbuka puasa karena takut akan kemudaratan kepada anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan itu sahaja, maka wajib ke atas mereka membayar fidyah dan juga qadha pada tiap-tiap hari puasa yang ditinggalkannya itu.

    Jika mereka berbuka puasa karena takut akan timbul kemudaratan atas diri mereka atau kedua-duanya yaitu takut ke atas diri mereka dan anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan, maka wajib ke atas mereka mengqadha puasa yang ditinggalkan itu tanpa wajib mengeluarkan fidyah.

    Jika perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak (murdhi’) itu sedang dalam musafir ataupun sakit, lalu mereka berbuka puasa dengan berniat rukhshah (kelonggaran) atas sebab musafir atau sakit, bukan karena takut akan kemudaratan kepada anaknya, maka diwajibkan ke atas mereka mengqadha puasa itu tanpa membayar fidyah di hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika musafir itu.

    Dalam keadaan musafir atau sakit, jika hamil atau yang menyusukan anak (murdhi’) berbuka karena takut akan kemudaratan anaknya dan bukan berbukanya itu atas rukhshah musafir atau sakit, menurut pendapat yang ashah dia juga tidak diwajibkan membayar fidyah. Sebagaimana tidak diwajibkan membayar kaffarah kepada orang musafir yang sampai ke kediamannya ketika siang hari puasa, lalu dia melakukan persetubuhan di siang hari itu bersama isterinya yang tidak berpuasa disebabkan baru bersih dari haidh atau nifas di siang hari itu juga. (Al-Majmuk: 6/272&375)

    Berkait dengan hukum ini, ingin juga dijelaskan apakah dia fidyah karena meninggalkan puasa itu? Kepada siapakah ia diserahkan dan bagaimanakah melaksanakannya?

    Fidyah ialah denda atau tebusan yang dikenakan kepada orang Islam yang melakukan beberapa kesalahan tertentu dalam ibadah. Ia juga merujuk kepada menebus ibadah (karena uzur dan disyariatkan), dengan memberi sedekah kepada fakir miskin berupa makanan yang mengenyangkan.(Ensiklopedia Islam 3:264)

    Adapun makna fidyah dalam hal puasa ialah bayaran denda karena tidak berpuasa Ramadhan dengan sebab-sebab tertentu atau karena melambat-lambatkan mengqadha puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya.

    Jenis fidyah itu ialah sama seperti jenis zakat fitrah yaitu makanan asasi dan yang mengenyangkan bagi sesebuah negeri seperti beras. Kadar yang patut dikeluarkan ialah satu mudd (secupak) yaitu kira-kira lima belas tahil beras bersamaan 566.85 gram.

    Pihak yang berhak menerima fidyah itu ialah orang-orang fakir dan miskin sahaja. Fidyah itu boleh diberi dengan lebih dari satu cupak kepada seorang miskin berlainan dengan kaffarah, karena ia hendaklah satu cupak sahaja kepada setiap seorang miskin hingga enam puluh orang yaitu tidak boleh dua cupak untuk satu orang miskin bagi membayar kaffarah.

    Membayar fidyah itu diharuskan selepas terbit fajar di hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena keuzuran seperti orang yang sakit yang tiada harapan untuk sembuh, orang yang terlalu tua yang tiada berdaya untuk puasa dan perempuan yang hamil dan murdhi’. Walau bagaimana pun diharuskan juga mengeluarkan fidyah itu sebelum terbit fajar bagi hari yang dikeluarkan fidyah itu dan diharuskan juga mengeluarkan fidyah terlebih dahulu sebelum berbuka, akan tetapi hanyalah satu fidyah sahaja di hari berbukanya itu dan tidak harus mendahuluinya bagi hari kedua dia berbuka puasa. Begitu juga tidak diharuskan membayar fidyah sebelum masuk bulan Ramadhan.(Raudah At-Thalibin: 2/385)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 15 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (2) 

    ramadanPermasalahan Puasa Ramadan (2)

    2. Wajib Menahan Diri (Imsak)

    Apabila masuknya bulan Ramadhan masih terdengar di media-media elektronik seperti radio dan televisyen yang menyiarkan berita tentang orang Islam yang didenda oleh mahkamah kadhi karena tidak berpuasa dan makan atau minum di khalayak ramai. Fenomena ini menggambarkan bahwa masih ada sebilangan kecil daripada masyarakat kita yang tidak menghiraukan kewajipan berpuasa tersebut, sedangkan ketika itu dia mukallaf dan tiada sesuatu yang menghalangnya daripada berpuasa. Ada pula di antara mereka yang senghaja berbuat demikian malahan berbangga-bangga dengan tidak berpuasa, seolah-olah kewajipan itu tidak ada bagi mereka. Perbuatan ini wajib kita perbetulkan dari terus berleluasa.

    Menurut ketentuan hukum syara’, orang-orang yang meninggalkan puasa dengan senghaja itu sangat berat balasannya. Perbuatan tersebut termasuk dalam kategori dosa besar malahan menjadi kerugian yang tidak boleh ditukar ganti sebagaimana digambarkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

    Maksudnya: “Barangsiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (keringanan) dan tidak juga karena sakit, dia tidak akan dapat melunaskan (mengganti) puasa yang ditinggalkannya itu, sekalipun dia berpuasa seumur hidup”

    (Hadis riwayat Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasa’ie, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

    Maksudnya: “Sesungguhnya di dalam syurga terdapat pintu yang disebut Rayyan, yang mana pada hari qiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya. Dikatakan: “Di manakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk daripadanya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun yang masuk daripadanya.”

    (Hadis Muttafaq ‘Alaihi)

    Hadis di atas menerangkan bahwa orang-orang yang berpuasa itu akan diberi keistimewaan khas dimana mereka berhak untuk masuk syurga melalui pintu al-Rayyan. Amat rugilah orang-orang yang tidak mengerjakan ibadah puasa itu karena tiada hak untuk masuk syurga melalui pintu tersebut.

    Apa yang lebih dikhuatiri ialah orang-orang yang tidak berpuasa itu beranggapan bahwa puasa itu tidak perlu dikerjakan karena ia hanya suatu budaya yang menyeksa manusia. Menurut ijma’ ulama, barangsiapa yang mengingkari fardhu puasa Ramadhan atau merasa ragu-ragu akan fardhunya maka dia adalah terkeluar daripada agama Islam yaitu murtad wal’iyadzubillah.

    Daripada hadis-hadis dan ijma’ ulama yang disebutkan di atas jelas kepada kita bahwa terdapat ancaman dan peringatan kepada mereka yang mengabaikan puasa bulan Ramadhan. Oleh itu janganlah kita mengambil ringan akan perkara ini dengan mengabaikan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena azab Allah Subhanahu wa Ta’ala amat pedih.

    Membincangkan tentang orang yang berbuka puasa tanpa keuzuran ini selain daripada menerima ancaman dan balasan seperti yang disebutkan di atas, mereka ini juga dipertanggungjawabkan untuk memenuhi kehendak hukum-hukum syara’ yang diwajibkan ke atas mereka. Antaranya ialah menahan diri (imsak) daripada perkara-perkara yang dilarang ketika berpuasa.

    Menurut para fuqaha’, orang-orang yang berbuka puasa dengan senghaja tanpa keuzuran yang dibenarkan oleh hukum syara’ itu wajib imsak yaitu menahan diri daripada makan dan minum dan perkara-perkara yang membatalkan puasa.

    Imsak juga diwajibkan ke atas orang yang berbuka puasa Ramadhan bukan disebabkan keuzuran seperti orang yang lupa berniat atau makan di waktu yang disangkakannya masih belum terbit fajar sedangkan ketika itu fajar sudah terbit. Diwajibkan ke atas mereka imsak karena menghormati waktu puasa.

    Manakala bagi orang yang berbuka puasa disebabkan keuzurannya seperti orang yang sakit apabila dia sembuh dan orang yang musafir apabila dia sampai ke tempat kediamannya pada waktu siang Ramadhan, hukum imsak atau menahan diri itu adalah sunat.

    Sunat imsak bagi orang yang gila bila dia sedar, orang kafir apabila masuk Islam, kanak-kanak apabila dia baligh dan perempuan yang haidh atau nifas apabila dia bersih di siang hari Ramadhan.

    Menurut pengarang Hasyiyah I’anah at-Thalibin terdapat dua kaedah mengenai perkara imsak ini. Kaedah yang pertama ialah bahwa setiap seseorang yang diharuskan baginya berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka tidak diwajibkan baginya imsak bahkan disunatkan saja. Kaedah yang kedua yaitu bagi orang yang tidak diharuskan berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka diwajibkan baginya imsak.

    Demikianlah ketentuan hukum yang perlu kita fahami tentang kewajipan mengerjakan ibadah puasa dan hukum yang berkaitan dengannya. Semoga dengan mengetahui hukum-hukum tersebut akan menambahkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 14 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (1) 

    ramadhanPermasalahan Puasa Ramadan (1)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa bulan Ramadhan adalah di antara ibadat-ibadat yang disyariatkan kepada umat Islam yang mempunyai berbagai hikmat dan kemaslahatan, baik dari segi kerohanian mahupun jasmani bahkan juga dari segi kemasyarakatan.

    Bulan Ramadhan juga adalah merupakan tetamu agung umat Islam, bulan yang membawa keampunan, rahmat, kebajikan dan berkat. Kita patut merebut peluang yang ada dan mendapatkan kelebihan setiap ibadat yang dilakukan di dalamnya. Di samping itu juga kita hendaklah mempersiapkan diri dengan hukum-hakam puasa Ramadhan yang dituntut di dalam syara’, seperti memperdalami pengetahuan terhadap rukun-rukun dan perkara-perkara yang akan membatalkan puasa. Antara beberapa permasalahan penting yang kita perlu ketahui dengan lebih mantap ialah:

    1. Bagaimana Melaksanakan Niat Puasa

    Bila membincangkan soal ibadat perkara yang penting diambil perhatian ialah niat. Tanpa niat ia tidak akan menjadi ibadat yang sah. Inilah yang dimakskudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda baginda:

    “Sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah dengan niat.”

    (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’iy dan Ibnu Majah)

    Niat adalah salah satu dari tiga rukun puasa. Ia diwajibkan sama ada puasa itu puasa wajib atau puasa sunat. Jika orang yang berpuasa itu meninggalkan niat puasa walaupun dia tidak mengetahui (jahil), maka puasa itu tidak sah.

    Menurut al-Imam as-Suyuthi di dalam kitabnya, niat itu tempatnya di hati (al-Asybah wan-Nazhair:23). Manakala menurut pengarang Hasyiyah I’anah at-Thalibin, sunat dilafazkan niat itu dengan lidah bagi membantu dalam hati seperti mana niat ibadat-ibadat yang lain.

    Berdasarkan hadis di atas, kita dapat memahami bahawa puasa itu mesti ada niat yang khusus. Tidak memadai niat puasa itu dengan hanya makan sahur karena mengelakkan lapar atau lemah ketika berpuasa. Niat puasa itu juga tidak memadai dengan hanya menahan dirinya daripada sesuatu yang membatalkan puasa karena takut kedatangan fajar di mana orang berpuasa tidak dibenarkan melakukannya. Dari itu perbuatan seperti di atas hendaklah disertai dengan niat untuk mengerjakan puasa atau paling tidak ada lintasan di hati untuk berpuasa. (I’anah at-Thalibin: 2/248-249)

    Menurut Ibnu Katsir keadaan puasa orang-orang yang terdahulu (ahli kitab), jika tidak sampai waktu berbuka mereka boleh makan dan minum sehingga terbit fajar selama mana seseorang itu belum tidur. Ini berbeza dengan keadaan puasa orang Islam di mana mereka boleh makan dan minum termasuklah menggauli isteri sebelum terbit fajar sekalipun sesudah tidur. Puasa tidak batal dengan melakukan perkara-perkara tersebut. Begitu juga dengan niat puasa. Niat itu tidak akan terbatal dengan melakukan perkara-perkara di atas dan kita tidak perlu memperbaharui niat berkenaan.

    Manakala perempuan haidh atau nifas yang berniat selepas terbenam matahari ketika belum kering darahnya untuk berpuasa ke esokan harinya, lalu darahnya kering sebelum terbit fajar maka sah puasanya dengan niatnya itu dan tidak perlu memperbaharui niatnya, walaupun perempuan itu belum mandi hadats selepas terbit fajar.

    Begitulah juga bagi mereka yang melakukan persetubuhan di malam hari puasa, apabila dia berniat di malam itu dan belum mandi junub (hadats besar) di siang hari, adalah sah puasa dengan niatnya itu.

    Waktu berniat puasa Ramadhan itu ialah setelah terbenam matahari dan sebelum terbit fajar shadiq. Jika niat itu dilakukan setelah terbit fajar atau sebaya dengan terbit fajar puasa adalah tidak sah. Inilah yang dikatakan oleh para ulama bahawa niat itu mesti di waktu malam (tabyit), sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar shadiq maka tidak ada puasa baginya.”

    (Hadis riwayat Baihaqi dan Al-Daraquthni)

    Manakala bagi puasa-puasa sunat pula, masa berniat itu mulai terbenam matahari hingga sebelum tergelincir matahari pada hari berikutnya selagi dia belum melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa dari terbit fajar shadiq pada hari tersebut, sebagaimana di dalam hadis yang diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya: “Bersabda Rasullullah kepadaku pada satu hari: “Wahai ‘Aisyah, adakah di sisi kamu sesuatu (untuk dimakan)?” Maka aku (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasullullah tidak ada di sisi kita sesuatupun (untuk dimakan).” Berkata (Rasullullah): “Maka (kalau begitu) sesungguhnya aku seorang yang berpuasa.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Adapun sekurang-kurang lafaz niat puasa Ramadhan itu ialah:

    Artinya: “Niat aku puasa Ramadhan.”

    Manakala niat yang lengkap pula ialah:

    Artinya: “Niat aku puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan pada tahun ini karena Allah Ta’ala.”

    Niat puasa itu wajib dilakukan pada tiap-tiap malam di dalam hati dan sunat dilafazkan, karena ibadat puasa itu adalah ibadat berasingan yang masuk waktunya dengan terbit fajar shadiq dan keluar waktunya dengan terbenam matahari. Ia dikira sehari sehari. Apabila rosak satu hari puasa itu, ia tidak merosakkan puasa yang terdahulu dan yang terkemudian.

    Berniat pada tiap-tiap malam ini khusus bagi puasa wajib saja, yaitu puasa bulan Ramadhan, nazar, kaffarah, qadha dan fidyah haji. Masa berniat itu mulai terbenam matahari hinggalah sebelum terbit fajar shadiq.

    Di samping kita wajib berniat pada tiap-tiap hari, kita juga digalakkan untuk berniat dengan niat satu bulan penuh, itupun hanya di awal bulan Ramadhan saja. Tujuannya ialah untuk berjaga-jaga kalau-kalau kita terlupa berniat pada malam-malam berikutnya dengan bertaqlid kepada mazhab Imam Malik. Maka dengan adanya kita berniat sebulan itu akan menampung niat pada hari yang kita lupa itu. Akan tetapi niat tersebut tidak akan dikira niat sebulan jika ia diniatkan setelah berlalu satu Ramadhan. Contohnya orang yang berpuasa itu berniat dengan niat puasa sebulan pada hari kedua puasa, maka niat tersebut tidak sah.

    Maka dalam hal ini, perkara penting yang mesti kita ambil perhatian ialah kita wajib berniat puasa pada tiap-tiap malam, dan sebaiknya kita juga berniat puasa sebulan pada permulaan Ramadhan sebagai langkah berjaga-jaga kalau-kalau ada hari kita terlupa berniat.

    Ini berarti niat pada tiap-tiap malam itu tidak boleh kita tinggalkan dengan senghaja karena sudah berniat puasa sebulan adalah tidak memadai dan tidak sah puasa selain puasa hari pertama Ramadhan jika ia dikerjakan dengan hanya berniat satu bulan saja tanpa disertai dengan niat puasa setiap hari.

    Lafaz niat sebulan puasa itu ialah:

    “Saja aku puasa bulan Ramadan seluruhnya pada tahun ini karena  Allah Taala”.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 13 June 2016 Permalink | Balas  

    Berhenti Menjadi Pengemis 

    pengemisBerhenti Menjadi Pengemis

    Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata “maaf” kepada pengemis yang ke sekian.

    Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.

    Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku. Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

    Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.

    “Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?” tanya Diding

    Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.

    “Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?” terang Diding.

    Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, “Maksudnya… yang seratus ribu itu hanya pinjaman?”

    “Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu meminta-minta lagi,” katanya.

    Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain.

    Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gado-gado, pikirku.

    ***

    Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado-gado itu. Selain untuk mengisi perutnya -dengan tetap membayar- ia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gado-gado itu.

    Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gado-gado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. “Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat.”

    Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab. Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti meminta-minta.

    Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya.

     
  • erva kurniawan 8:36 pm on 12 June 2016 Permalink | Balas  

    Ramadhan Yang Spesial 

    ramadan1Ramadhan Yang Spesial

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Alhamdullilaahhirrabil aa’lamin Allahuma Shalli ‘Ala Muhammad Wa’ala aliihi Washahbihii Ajma’in ‘Amma Ba’du.

    Semoga Allah yang Mengenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah dibalik kejadian apapun yang menimpa dan semoga Allah membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita.

    Yaa, ayyuhal ladziina aamanuu khutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquun, artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS: Al Baqarah :183)

    Ayyaamam ma’duudaatin fa man kaana minkum marii dhan au’alaa safarin fa ‘iddatum min ayyaamin ukhara wa ‘alal ladziina yuthiiquunahuu fidyatun tha’aamu miskiinin fa man tathawwa’a khairan fa huwa khairul lahuu wa an tashuumuu khairul lahuu wa an tashuumuu khirul lakum in kuntum ta’lamuun, artinya: “yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan,lalu ia berbuka maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya jika mereka tidak berpuasa, membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin; dan barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS:AlBaqarah 184)

    Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah maka diampuni dosanya yang terdahulu (H.R. Bukhari)

    Saudara-saudaraku,Allah menciptakan kita bukan untuk kehinaan ataupun kecelakaan, tetapi justru untuk kemuliaan dan kebahagiaan kita di dunia dan akherat. Tidak ada kezaliman dari Allah, manusia sengsara dan celaka pasti karena dia mendzalimi dirinya sendiri, setiap hari Allah sudah menciptakan waktu-waktu yang sangat spesial diantaranya adalah sepertiga malam terakhir. Barangsiapa yang melakukan sesuatu yang spesial pada waktu yang spesial niscaya dia diperlakukan spesial pula oleh Allah.

    Orang yang bangun malam, tahajud dengan benar dan istiqomah maka ahli tahajud dijamin akan memiliki kedudukan yang terpuji dalam pandangan Allah dan dibuat terpuji dalam pandangan orang yang beriman , dia juga akan memiliki kata-kata yang mempunyai kekuatan, mungkin kata-katanya sederhana tapi oleh Allah diberikan tenaga sehingga mepunyai daya sentuh, daya hujam, daya gugah dan daya rubah, juga akan diberi jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan maqbul doanya.

    Saudaraku,setiap minggu ada hari yang spesial yaitu hari jumat, Rasullulah saw pun spesial penampilannya pada hari jumat, amalannya ditingkatkan dengan amalan-amalan yang utama, Allah pun menjaminnya dengan gugurnya dosa dari jumat-ke jumat, dan dalam satu tahun Allah menciptakan bulan spesial, bulan yang penuh barokah, bulan yang benar-benar beda dengan bulan yang lain, hari demi harinya berbeda, jam demi jamnya berbeda, detik demi detik berbeda ,begitu spesial !. dan siapapun yang memperlakukan detik demi detik di bulan Ramadhan dengan perilaku spesial niscaya dia akan spesial dalam pandangan Allah, siapakah yang spesial dalam pandangan Allah ?

    Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum artinya “Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu” (QS : Alhujurat/49:13).

    Orang yang paling dekat dengan Allah adalah yang berpredikat taqwa dan Ramadhan la’allakum tattaquun adalah salah satu sarana menjadi orang yang spesial dalam pandangan Allah.

    Lihatlah kalau kita dispesialkan oleh orang tua, belum meminta sudah dicukupi, selalu dijaga, kebutuhan kita dipenuhi, ketika kita meminta diberi, ada yang menganiaya dilindungi ,itu baru manusia, Bagaimana kalau kedudukan seorang hamba yang spesial Dalam pandangan Allah Yang Maha Tahu segala kebutuhan dan harapan kita.

    Maaf, makanya sebodoh-bodoh manusia adalah manusia yang melewatkan waktunya di bulan Ramadhan dan dia tidak mendapat apapun. Oleh karena itu program kita di bulan Ramadhan ini : kita tidak melakukan apapun kecuali yang spesial terbaik dalam pandangan Allah.

    Karena ini waktu spesial,maka kita bertekad tidak boleh melihat apapun kecuali yang spesial, mata kita hanya melihat sesuatu yang Insya Allah membersihkan hati, mata ini harus menjadi penambah ilmu, mata ini menjadi penambah dzikir kita kepada Allah.

    Apakah boleh melihat TV ?,tentu saja boleh tapi lihatlah hanya acara yang spesial yang bisa mengembangkan iman kita dan membuat kita kagum kepada Allah. Mata dan telinga ini adalah karunia Allah maka mata dan telinga ini hanya akan melihat dan mendengar yang spesial di bulan yang spesial pula, Subhanalloh.

    Jangan membicarakan aib orang lain,ingat kita hanya mau mendengar sesuatu yang membuat diri kita semakin dekat dengan Allah, daripada membicarakan keburukan orang akan lebih baik jika kita membicarakan kebaikan-kebaikan orang lain supaya bisa kita tiru. Jangan mendengarkan obrolan yang sia-sia, apakah boleh mendengarkan lagu ? tentu saja boleh tapi dengarkanlah lagu yang dapat menjadi amal, bicara boleh kalau bicara kebaikan “fal yaqul khairan auliyashmut” saya tidak akan berkata kecuali kata-kata terbaik. Tidak akan berkomentar kecuali komentar terbaik. Jangan ada komentar negatif, karena sekali bicara didengar oleh Allah dan dicatat oleh malaikat.

    Jangan ada lintasan hati, kepada orang yang beriman kecuali lintasan yang baik saja.

    “Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tanibuu katsiiram minazh zhanni inna ba’dhazh zhanni itsmuw wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba’dhukum ba’dhan a yuhibbu ahadukum ay ya’kula lahma akhiihi maitan fa karihtumuuhu wat taqullaaha innallaaha tawwaabur rahiim” Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari keburukan orang dan janganlah sebagian kamu menggunjing atas sebagian yang lain. Adakah di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang mati? Maka kamu membenci (memakannya ). Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang (QS.: Al Hujurat/49:12)

    Usahakanlah di bulan Ramadhan ini jangan sampai banyak keinginan duniawi, kita harus shaum dari buruk sangka, kita harus memiliki keinginan untuk memperbanyak amal ; untuk membagikan pakaian, makanan, parcel. Bershadaqahlah juga misalnya dengan senyum, membersihkan masjid, mendoakan yang lain.

    Ramadhan adalah bulan tawadhu’, siapapun yang menjadikan waktu Ramadhan ini penuh spesial ia akan berusaha untuk akrab dengan Al Quran dan shalatnya diperbaiki, hanya orang yang mau melakukan yang spesial, yang khusus, yang terbaik, di bulan ini, maka dialah yang menjadi orang yang spesial di sisi Allah Swt.Amiin

    Di bulan ramadhan ini yang terpenting sesudah meningkatkan ibadah seperti : sholat dan membaca Alquran yaitu meningkatkan akhlak,akhlak itu yaitu merespons kejadian apapun dengan sikap terbaik kita. Itulah yang mudah-mudahan menjadikan Ramadhan ini kita menjadi manusia terbaik dalam pandangan Allah Swt. Wallahu’alam.

    http://.www.manajemenqolbu.com

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 2 June 2016 Permalink | Balas  

    Bersiaplah! Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (2/2) 

    Bersiaplah! Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (2/2)

    1. Mendalami Perkara Dilarang dan Yang Disunatkan Ketika Puasa

    Setiap muslim hendaklah mengetahui perkara-perkara yang dilarang ketika puasa serta menjaga adab-adabnya, agar puasa itu diterima Allah Subhanahu wa Ta”ala dan sempurna pula perlaksanaannya. Demikian juga, setiap muslim hendaklah mengetahui perkara-perkara yang disunatkan ketika berpuasa agar mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda serta mendapat rahmat Allah Subhanahu wa Ta”ala. Antara perkara-perkara yang sepatutnya bahkan wajib diketahui yaitu:

    i. Adab-Adab Puasa

    Antara adab-adab yang perlu dijaga ketika seseorang menjalani ibadat puasa yaitu:

    1. Menutup pandangan daripada melihat perkara-perkara yang diharamkan oleh syara” dan daripada melihat perkara-perkara yang boleh melalaikan hati daripada mengingati Allah Ta”ala.
    2. Menutup telinga daripada mendengar perkara-perkara yang diharamkan supaya tidak tergolong ke dalam golongan orang-orang yang suka mendengar berita bohong.
    3. Menjaga lidah daripada mengeluarkan kata-kata yang tidak berfaedah seperti berbual-bual kosong, lebih-lebih lagi yang dituntut supaya menjaga lidah daripada mengeluarkan kata-kata yang diharamkan, seperti mengumpat, berdusta, memfitnah, berbantah-bantah karena perkelahian, bersumpah bohong dan yang seumpamanya.
    4. Memelihara seluruh anggota yang lain seperti tangan, kaki dan sebagainya daripada melakukan perkara-perkara yang tidak berfaedah dan yang diharamkan.

    ii. Perkara-Perkara Sunat Ketika Puasa

    Terdapat beberapa perkara yang sunat dilakukan oleh orang berpuasa, antaranya yaitu:

    1. Sunat bagi orang yang hendak mengerjakan puasa itu bersahur dengan sesuatu makanan walaupun dengan sebiji kurma ataupun seteguk air, karena bersahur itu mengandungi keberkatan. Antara keberkatannya yaitu, dapat membantu seseorang menyiapkan ketahanan dirinya dari segi fizikal untuk mengerjakan ibadat puasa di siang hari, ia juga dapat membantu mengisi keperluan rohaninya dengan merebut peluang untuk bertahajjud, berzikir, beristighfâr dan berdoa pada waktu sahur.
    2. Sunat melambatkan sahur sehingga hampir waktu fajar iaitu kira-kira pada kadar membaca lima puluh atau enam puluh ayat sebelum terbit fajar. Antara tujuannya yaitu untuk memendekkan masa menahan diri daripada kelaparan dan daripada melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa.
    3. Sunat bagi orang yang berpuasa menyegerakan berbuka puasa terlebih dahulu sebelum dia mengerjakan sembahyang Maghrib iaitu sunat berbuka puasa dengan tiga biji kurma basah (ruthab). Jika tidak ada, memadai dengan kurma kering (tamar) dan jika tidak ada, memadai dengan beberapa teguk air. Sesudah selesai menunaikan sembahyang Maghrib baharulah menikmati juadah yang lain.
    4. Sunat bagi orang yang berpuasa itu sentiasa membasahkan bibirnya dengan berzikir dan berdoa sepanjang hari dia menjalani ibadat puasa, lebih-lebih lagi yang dituntut ketika waktu berbuka puasa karena doa orang berpuasa ketika dia berbuka sangat mustajab dan tidak tertolak.
    5. Memperbanyakkan membaca al-Qur”an. Al-Imam an-Nawawi menegaskan di dalam kitabnya al-Azkâr bahawa hari-hari yang terbaik membaca al-Qur”an yaitu pada hari Jumaat, Isnin, Khamis, hari “Arafah (9 Zulhijjah), sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah dan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, kemudian bulan terbaik adalah bulan Ramadhan.

    Oleh itu, di bulan Ramadhan inilah kesempatan yang paling berharga yang sepatutnya digunakan dengan sebaik-baik mungkin untuk memperbanyakkan membaca Al-Qur”an, sama ada secara bertadarus ataupun secara berseorangan.

    1. Memperbanyakkan sedekah di bulan Ramadhan. Karena Nabi Shallallahu “alaihi wasallam adalah orang yang paling pemurah dan dermawan, lebih-lebih lagi ketika bulan Ramadhan. Antara lain fungsi sedekah di bulan Ramadhan itu yaitu untuk menutupi atau menampal apa-apa jua kecacatan atau kekurangan pada puasa seseorang.

    iii. Perkara-Perkara Membatalkan Puasa

    1. Perempuan yang datang haidh atau nifas ketika dia sedang berpuasa, maka batal puasa tersebut dan wajib diqadha.
    2. Makan dan minum dengan senghaja di siang hari bulan Ramadhan. Perbuatan sedemikian haram hukumnya dan wajib diqadha puasa tersebut.
    3. Muntah dengan senghaja. Iaitu melakukan sesuatu yang menyebabkan dia muntah seperti menjolok-jolokkan lidahnya ke langit-langit kemudian dia muntah dengan sebab perbuatannya itu.
    4. Mengeluarkan air mani dengan sengaja sama ada dengan menggunakan tangan, menyentuh, menggesel, dengan sebab berpeluk-peluk, bercium-cium atau seumpamanya.
    5. Orang yang sedang berpuasa menjadi gila dengan tiba-tiba, sekalipun gilanya itu hanya dalam tempoh seketika. Orang gila tersebut tidak diwajibkan qadha puasanya.
    6. Orang yang sedang berpuasa yang hilang akal seperti pitam, pengsan atau mabuk sepanjang hari iaitu daripada terbit fajar sehinggalah terbenam matahari. Puasa orang tersebut batal dan wajib diqadha. Jika dia sedar dalam tempoh tersebut walau hanya sesaat, maka sah puasanya.
    7. Orang yang sedang berpuasa apabila murtad (keluar dari agama Islam), walaupun sekejap, maka batal puasanya dan wajib qadha apabila dia kembali semula kepada Islam.
    8. Orang yang sedang berpuasa apabila bersetubuh pada siang hari dengan sengaja dengan memasukkan hasyafah atau kadarnya pada qubul atau dubur manusia atau binatang, maka batal puasa orang yang melakukan persetubuhan itu dan wajib dia mengqadha puasanya serta menunaikan kaffârah. Begitu juga kepada orang yang disetubuhi adalah batal juga puasanya, tetapi wajib dia mengqadhanya saja tanpa kaffârah. Kaffârah karena persetubuhan tersebut yaitu memerdekakan seorang hamba. Jika tidak memperolehinya, maka hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut dan jika tidak berdaya hendaklah memberi makan enam puluh orang miskin.
    9. Memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga dengan sengaja melalui lubang yang terbuka dari bahagian tubuh manusia.

    Maksud dengan benda di sini yaitu apa-apa saja benda walaupun sedikit, sama ada yang boleh dimakan seperti sebiji lenga atau yang tidak boleh dimakan seperti sebutir pasir. Tidak termasuk maksud benda itu yaitu rasa, warna atau bau.

    Yang dimaksudkan dengan “lubang yang terbuka” itu yaitu tempat masuk atau keluar sesuatu, sama ada lubang itu semula jadi adanya seperti mulut, hidung dan sebagainya atau yang baru wujud seperti perut atau kepala yang ditebuk.

    Adapun maksud “sengaja” itu pula yaitu dilakukan oleh dirinya sendiri atau dilakukan oleh orang lain dengan keizinannya.

    Manakala maksud “rongga” pula yaitu apa-apa saja yang dinamakan rongga sama ada rongga itu mempunyai kuasa memproses makanan atau ubat ataupun tidak seperti rongga otak, kerongkong atau rongga mulut, rongga hidung, rongga telinga, perut, dubur, faraj, pundi-pundi kencing, lubang tempat keluar air kencing lelaki dan lubang tempat keluar air susu (al-ihlil).

    Penutup

    Berpuasa bukan hanya memelihara dan menjaga perkara-perkara yang boleh membatalkan puasa, akan tetapi lebih jauh daripada itu yaitu menjaga perkara-perkara yang boleh mendatangkan haram kepada mana-mana anggota tubuh badan. Oleh karena itu kita telah diperingatkan bahawa berapa banyak orang puasa yang tidak dapat apa-apa pahala melain lapar dan dahaga.

    Bulan Ramadhan adalah musim mengaut untung dan laba besar, karena ganjaran pahala ibadat – sembahyang umpamanya – dilipat gandakan sehingga menjadi 70 kali lipat, bahkan pahala puasa itu sendiri hanya Allah saja yang mengetahuinya.

    Ketika berpuasa elakkan perkara-perkara yang boleh melalaikan atau menyebabkan susut nilai amalan di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi 10 terakhir di bulan yang mulia itu, yang di dalamnya ada satu hari yang lebih baik daripada 1000 bulan. Kalau hendak berbelanja karena hari raya  bukan membazir atau memboros berbelanjalah dari sekarang. Supaya masa-masa di bulan Ramadhan hanya akan dipenuhi dengan amal ibadat.

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 1 June 2016 Permalink | Balas  

    Menyambut Ramadhan dengan Ziarah Kubur 

    berdoa di kuburan waliMenyambut Ramadhan dengan Ziarah Kubur

    Jalaluddin Rakhmat

    Sebagian kaum muslim Indonesia, dari dulu sampai sekarang, biasa menyambut bulan Ramadhan dengan acara ziarah ke kubur. Orang Jawa menyebutnya nyadran, sementara orang Sunda menyebutnya nadran. Dalam acara itu, mereka berkunjung ke pusara orang tua atau karib kerabat yang telah mendahului mereka menghadap Allah swt. Belakangan ada sebagian di antara kita yang memandang ziarah kubur sebagai perbuatan yang tidak diajarkan Islam, tetapi diadopsi dari ajaran leluhur. Betulkah pendapat itu? Apakah ziarah kubur merupakan sunnah yang dianjurkan Nabi saw ataukah bid’ah, hal baru yang dibuat-buat kemudian hari? Apa dasar-dasar ziarah dalam Al-Quran dan Sunnah?.

    Ziarah ke kuburan dapat terdiri dari tiga macam. Kesatu, ziarah orang-orang mulia yang masih hidup kepada orang-orang mulia yang telah meninggal. Misalnya para ulama yang mengunjungi pusara ulama lainnya. Di dalam hadis-hadis kita temukan bahwa kebiasaan orang- orang mulia untuk berziarah ke kuburan orang-orang mulia lainnya dicontohkan oleh Rasulullah saw. Menurut hadis-hadis sahih yang sampai kepada kita, diriwayatkan ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan isra-mikraj, beliau berziarah ke kuburan para nabi dengan diantarkan malaikat Jibril. Jibril memerintahkan Nabi turun dari Buraq dan melakukan salat di samping kuburan setiap nabi.

    Dari peristiwa itu juga Nabi mengajarkan adab ziarah, Beliau turun dari kendaraannya dan menunaikan salat di dekat kuburan dengan penuh kerendahan hati, lalu berdoa di depan kuburan. Hadis yang meriwayatkan ziarahnya Rasulullah ke kuburan para nabi terdapat dalam semua kitab hadis yang berkenaan dengan peristiwa Isra.

    Di dalam hadis yang diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, disebutkan bahwa Fathimah ra setiap hari Jumat berziarah ke kuburan Hamzah, pamannya yang syahid pada Perang Uhud. Waktu Fathimah mengunjungi makam Hamzah, Rasulullah tidak pernah melarangnya bahkan beliau menganjurkannya. Setelah Rasulullah saw meninggal dunia, setiap hari Fathimah berziarah ke pusara ayahnya. Setiap hari ia menangis dan berdoa agar ia dapat segera menyusul ayahnya.

    Tentang Sayyidah Fathimah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Fathimah itu adalah bagian dari diriku. Siapa yang membuat marah Fathimah, ia membuat marah aku; dan siapa yang menyakiti Fathimah, ia menyakiti aku (Shahih Bukhari). Aisyah juga pernah berkata bahwa tidak ada orang yang paling menyerupai Nabi, dalam hal wajah dan akhlaknya, selain Fathimah. Saya mengutip hadis-hadis itu untuk menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Fathimah juga merupakan perbuatan yang harus dicontoh. Tidak mungkin Fathimah yang dijamin kesuciannya dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 33 melakukan perbuatan tercela. Seperti halnya Fathimah yang setiap Jumat berziarah kepada Hamzah, kita juga harus secara rutin mengunjungi kuburan keluarga kita. Bila kita buka kitab-kitab tasawuf tentang amalan-amalan yang harus dilakukan setiap hari Jumat, salah satu di antaranya adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin. Demikian pula salah satu amalan dalam menyambut Ramadhan adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin.

    Tradisi berziarah di antara orang-orang mulia itu dilanjutkan oleh para ulama besar berikutnya. Imam Syafii, misalnya, sering berziarah ke makam Abu Hanifah di Mekkah. Ketika Imam Syafii melakukan salat dalam kunjungannya ke makam Abu Hanifah, ia tinggalkan qunut pada salat subuhnya demi menghormati Abu Hanifah yang telah meninggal dunia (karena Abu Hanifah tidak menfatwakan tentang kewajiban qunut pada salat subuh). Imam Syafii memberikan sebuah contoh yang sangat indah, yang sayangnya tidak diteruskan oleh para pengikutnya; yakni, menghargai orang yang pendapatnyaberbeda, meskipun ia telah meninggal dunia.Setiap kali Imam Syafii berziarah ke makam Abu Hanifah, ia berdoa di depan makam itu dan bertawasul kepada Allah swt dengan perantaraan Abu Hanifah untuk memenuhi hajat-hajatnya. Imam Syafii meniru Rasulullah saw ketika berdoa di depan kuburan para nabi atas perintah Jibril as.

    Ketika Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib berhijrah ke Madinah, ia meninggal dunia. Rasulullah saw menguburkannya di Baqi. Saat pemakaman, Rasulullah saw turun ke kuburan Fathimah binti Asad dan berbaring di sisinya seraya memeluk ibu asuhnya itu. Lalu Rasulullah membaca doa tawasul: Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan bertawasul kepada nabi-nabi-Mu dan nabi-nabi yang Kau utus sebelum aku.

    Salah satu adab dalam berziarah adalah berdoa dan memulai doa kita dengan membaca tawasul yang singkat, seperti yang diajarkan Nabi saw di atas: Ya Allah aku bermohon kepada-Mu melalui tawasul kepada Nabi- Mu dan keluarganya, janganlah engkau azab mayit ini. Sebuah hadis menyebutkan, barang siapa yang berziarah ke kuburan dan membaca doa itu, Allah akan menganugrahkan perlindungan dari dahsyatnya hari kiamat.

    Jenis ziarah yang kedua, adalah ziarah orang-orang mulia kepada kuburan orang-orang biasa. Nabi saw sering berziarah ke kuburan kaum muslimin. Beliau sering berdoa di atas kuburan mereka seraya beristighfar memohonkan ampunan bagi para pendurhaka yang menjadi ahli kubur itu, sebagai bukti bahwa kedatangan Nabi adalah rahmatan lil ‘alamin.

    Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan: Rasulullah saw melewati dua kuburan. Lalu beliau berkata, “Kedua ahli kubur ini sedang diazab Tuhan, meskipun bukan karena dosa yang besar.” Rasulullah saw lalu meletakkan di atas kedua kuburan itu pelepah kurma yang masih hijau sambil berdoa. Rasulullah kemudian berkata, “Sesungguhnya kedua pelepah kurma itu, insya Allah, akan meringankan azab mereka sampai pelepah itu mengering.” Dengan berkah kehadiran Rasulullah ke kuburan itu, Tuhan meringankan azabnya.

    Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam Fathul Bâri, ketika membahas hadis ini menulis: “Ada kemungkinan, kuburan itu bukan kuburan kaum muslimin melainkan kuburan kaum kafir. Hal itu menunjukkan bolehnya berziarah ke kuburan orang kafir. Apa rahasianya meringankan azab untuk orang kafir itu? Rahasianya adalah ketika Rasulullah datang, Allah menurunkan rahmat-Nya, karena Nabi membaca zikir, menyebut asma Allah. Kedua pelepah kurma yang masih hijau itu sebetulnya selalu bertasbih selama mereka dalam keadaan basah.” Seluruh pepohonan dan tanaman bertasbih kepada Allah swt. Kedua pelepah kurma itu disimpan Nabi agar selalu bertasbih untuk meringankan azab para penghuni kubur. Sekiranya yang meninggal adalah orang Islam, maka manfaat dari doa Rasulullah itu akan berlipat ganda karena ia memperoleh syafaat Nabi saw. Nabi bersabda, “Syafaatku kukhususkan untuk orang- orang yang berbuat dosa besar dari kalangan umatku.”

    Semua keterangan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah yang teramat mulia juga mengunjungi kuburan mereka yang tidak mulia, bahkan para pendosa. Selain itu, Rasulullah mengunjungi kuburan kaum muslimin untuk memberikan penghormatan kepada mereka.

    Seperti dalam sebuah hadis riwayat Bukhari: Di zaman Nabi, hidup seorang perempuan kulit hitam yang pekerjaannya membersihkan masjid. Ketika ia meninggal dunia, kaum muslimin menshalatkan dan menguburkannya pada malam hari. Suatu saat, ketika Rasulullah mengunjungi pekuburan, beliau melewati kuburan perempuan itu. Wangi harum yang semerbak tercium oleh ruh Rasulullah yang suci. Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang menyertainya, “Kuburan siapakah ini?” “Ini adalah kuburan perempuan kulit hitam yang sering membersihkan masjid,” jawab para sahabat. Rasulullah lalu bertanya, “Mengapa kalian tidak memberitahu aku ketika kalian menguburkannya?” Kemudian Rasulullah salat di depan kuburan perempuan kulit hitam itu. Setelah salat, Rasulullah bertanya lagi, “Bagaimana perbuatannya ketika ia hidup?” Para sahabat menjawab, “Ia adalah perempuan yang baik.” “Apa pekerjaan yang dilakukannya?” Rasulullah masih bertanya. “Ia membersihkan masjid,” jawab para sahabat.

    Rasulullah saw tidak hanya mengunjungi kuburan perempuan kulit hitam itu, seorang budak belian yang pada masa itu sering diperlakukan dengan hina, tetapi beliau juga mensalatkan dan mendoakannya. Tuhan menyingkapkan tirai alam malakut kepada Nabi dan memperlihatkan perempuan itu sebagai orang yang mulia di alam barzakh, yang menyebarkan harum semerbak di sekitarnya.

    Sayyid Ismail bin Mahdi Al-Hasani, dalam Kitab Nafasur Rahmân, menulis: Hendaknya orang-orang yang mulia sering berkunjung ke orang- orang yang kurang mulia di antara mereka. Walaupun mereka adalah para ahli kasyaf. Dengan berkunjung ke kuburan, mereka dapat melihat keadaan orang-orang yang dikubur sehingga mereka dapat mendoakan kebaikan bagi para ahli kubur itu.

    Saya teringat sebuah kisah ketika seorang yang salih pergi mengunjungi pekuburan kaum muslimin. Setelah mengucapkan salam, orang salih itu lalu berdoa. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan para penghuni kubur di sekitarnya. Usai berdoa, tiba-tiba ia mendapati dirinya berada di sebuah taman yang sangat indah. Ia menyusuri setapak jalan yang membawanya ke istana yang megah. Di tempat itu duduk seseorang di atas tahta yang gemerlapan. Puluhan khadam melayaninya. Wajahnya ceria dan gembira. Namun tiba-tiba wajah yang cerah itu berubah muram. Ia melihat dari salah satu sudut tamannya berdatangan rombongan lebah dengan dengungan yang amat nyaring. Orang di atas tahta lalu menjulurkan lidahnya untuk disengat kawanan lebah itu. Serangga-serangga itu pun lalu merubungi lidah orang itu sampai pingsan. Setelah itu, kawanan lebah pun menghilang. Ketika orang itu tersadar, wajahnya menjadi ceria gembira seperti sedia kala. Namun lebah-lebah itu datang lagi dan peristiwa yang sama terulang kembali.

    Orang salih yang melihat semua ini keheranan, “Apa yang terjadi dengan dirimu?” tanyanya. “Dahulu, ketika aku masih hidup, alhamdulillah, aku banyak beramal salih. Aku sering membantu orang- orang yang kekurangan, aku tak meninggalkan ibadatku di hari-hari yang mulia, dan aku pun berziarah ke Masjidil Haram. Tapi satu saat, aku jatuh cinta pada anak perempuan tetanggaku. Aku melamarnya namun orang tuanya tak menerima lamaranku. Karena jengkel, kusebarkan berita pada orang banyak bahwa sebenarnya perempuan itu telah menikah diam-diam.Karena berita yang kusebarkan, sampai sekarang perempuan itu tak menemukan jodohnya. Tak ada seorang pun yang melamarnya. Aku lalu meninggal dunia.

    Setiap kali perempuan itu menangis menyesali nasibnya, Tuhan mengirimkan kawanan lebah itu untuk menyiksa diriku. Aku bermohon kepada-Nya agar dilepaskan dari azab ini, tapi Tuhan berkata bahwa aku tak bisa dilepaskan dari azab ini sebelum perempuan itu memaafkanku dan sebelum ia menemukan jodohnya. Tapi aku telah mati dan tak bisa meminta maaf kepadanya. Aku lalu bertawasul dengan perantara Imam Ali kw. Imam Ali berkata, “Nanti akan datang kepadamu seorang salih, sampaikan pesanmu kepadanya.” Kini engkau telah datang kepadaku. Tolong sampaikan permohonan maafku kepada perempuan itu dan keluarganya dan tolong bantu mencarikan jodoh bagi dirinya. Hanya dengan itulah aku bisa selamat dari azab ini.”

    Orang yang salih itu berziarah sehingga Tuhan menyingkapkan tirai malakut kepadanya. Ia mampu melihat keadaan ahli kubur yang diziarahinya. Kisah ini menunjukkan bahwa ziarah orang salih ke kuburan adalah sebuah amal yang utama walaupun kuburan itu adalah kuburan orang awam, orang kebanyakan. Ziarah tidak hanya dilakukan kepada orang-orang yang salih tetapi juga kepada orang-orang yang biasa.

    Contoh lain dari ziarah orang yang mulia kepada orang yang tidak semulia dia adalah kebiasaan Rasulullah saw untuk berkunjung ke kuburan para syuhada Perang Uhud. Banyak di antara para jamaah haji Indonesia yang ketika berangkat ke Madinah tak mengunjungi kuburan para syuhada Perang Uhud itu. Bahkan kepada Rasulullah pun mereka tak berziarah padahal Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mengunjungiku setelah aku mati sama seperti mengunjungiku ketika aku hidup.” Rasulullah juga bersabda, “Siapa yang naik haji, pergi ke Masjidil Haram, tapi tak mengunjungi aku, ia telah melecehkan aku.” Dalam hadis yang lain Rasulullah berkata, “Barang siapa yang berziarah padaku, aku pastikan syafaatku baginya.”

    Ketika kita meninggal, di malam pertama kesendirian kita, perasaan sedih, cemas, dan takut yang luar biasa akan menyergap kita di alam Barzakh. Malam itu adalah saat yang paling menakutkan bagi ahli kubur. Di waktu itu, sebagian ahli kubur akan mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan dikunjungi Rasulullah saw yang mulia. Mereka yang beruntung itu adalah mereka yang pernah berziarah ke kuburan Rasulullah saw.

    Jenis ziarah yang ketiga adalah ziarah dari kaum muslimin yang awam kepada kaum muslimin awam lainnya. Inilah ziarah yang biasa kita lakukan kepada orang tua, karib kerabat, dan saudara-saudara kita. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang diterima dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, “Sering berkunjung kepada kuburan itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat dan kepada maut. Hadis ini juga dimuat oleh Al-Turmudzi dalam shahih-nya.

    Ziarah kubur adalah sunnah Rasulullah saw. Ziarah juga adalah cara kita untuk mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita. Al- Quran mencontohkan doa itu: Tuhanku ampunilah orang-orang yang telah mendahului kami dalam keimanan. (QS. Al-Hasyr:10). Itulah perintah Al-Quran agar kita mendoakan orang-orang yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Doa itu kita baca ketika berziarah ke kubur.

    Perintah ziarah kubur ditujukan baik bagi lelaki maupun perempuan. Bila ziarah kubur itu memiliki pahala dan keutamaan yang amat besar, maka melarang perempuan untuk berziarah akan menyebabkan mereka kehilangan amal salih dan syafaat Rasulullah saw. Islam tidak memberikan ajaran yang diskriminatif; yang hanya menguntungkan kaum lelaki saja.

    Sebagian pendapat yang mengharamkan perempuan berziarah didasarkan kepada hadis dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, “Allah melaknat perempuan-perempuan yang berziarah ke kubur.” Bila dilakukan penelitian terhadap hadis ini akan ditemukan bahwa dari segi sanadnya, hadis ini tidak cukup kuat. Hadis ini pun bertentangan dengan hadis-hadis lain yang disepakati kesahihannya oleh semua orang, misalnya hadis yang menganjurkan bila kita berkunjung ke kuburan, kita mengucapkan salam kepada para ahli kubur. Hadis itu menceritakan Rasulullah yang mengajarkan bacaan salam bagi ahli kubur kepada Aisyah. Sekiranya perempuan yang berziarah kubur itu dilaknat, Rasulullah tidak akan mengajarkan bacaan salam itu kepada Aisyah, istrinya sendiri.

    Hadis yang lain meriwayatkan Rasulullah pernah menemukan seorang perempuan sedang berziarah sambil menangis. Rasulullah tidak melarang perempuan itu berziarah. Beliau hanya berkata, “Penghuni kubur itu sedang diazab padahal keluarganya sedang menangis.” Hadis ini lalu menimbulkan kesalahpahaman; bahwa mayit diazab karena tangisan keluarganya. Sampai suatu saat -setelah Rasulullah saw meninggal- Aisyah mendengar Abdullah Ibnu Umar berkata, “Mayit itu disiksa karena tangisan keluarganya.” Aisyah lalu berkata, “Semoga Allah menyayangi Abdullah Ibnu Umar. Ia tidak berbohong, ia hanya salah dengar.”

    Ziarah kubur bermanfaat bagi penziarah dan yang diziarahi. Rasulullah saw bersabda, “Ziarahilah orang-orang yang sudah mati di antara kamu karena mereka bergembira dengan ziarah yang kau lakukan. Dan hendaklah orang menyampaikan hajatnya di kuburan kedua orang tuanya setelah ia berdoa terlebih dahulu kepada mereka.” (Bihârul Anwâr, juz 10, hal. 97) Riwayat lain dari Dawud Al-Riqqi menyatakan: Aku bertanya kepada Abu Abdillah as, “Kalau ada seseorang berdoa di kuburan bapak, ibu, karib kerabat, atau yang bukan saudaranya, apakah itu ada manfaatnya?” Abu Abdillah menjawab, “Betul, itu bermanfaat. Kunjungan itu akan merupakan hadiah bagi mereka. Hadiah itu akan masuk kepada mereka sama seperti kalian memberikan hadiah bagi sesama kalian.”

    Salah satu adab ziarah adalah berbicara kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari mengisahkan suatu peristiwa setelah Perang Uhud. Rasulullah mengajak bicara kepada para jenazah syuhada Uhud, “Apakah kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Rasulullah kepada kalian itu benar?” Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulallah, kau ajak bicara orang yang mati padahal dia tak mendengarmu.” Rasulullah saw menjawab, “Hai Umar, engkau tidak lebih mendengar dari mereka.” Para ahli kubur mendengar ucapan kita sama seperti orang yang masih hidup. Salam yang kita ucapkan kepada para ahli kubur pun pada hakikatnya adalah mengajak mereka bicara: Salam bagi kalian, hai penghuni kampung ini. Kalian telah mendahului kami dan insya Allah, kami akan menyusul kalian.

    Satu saat, Imam Ali kw melewati pekuburan. Ia mengajak bicara para ahli kubur, “Hai, penghuni kampung yang penuh kesepian. Hai, penghuni kubur yang penuh kegelapan. Hai, mereka yang bergelimang debu. Hai, mereka yang terasing dari kampung halamannya. Hai, mereka yang dalam kesendirian dan ketakutan. Kalian telah mendahului kami dan kami pasti akan menyusul kalian. Adapun rumah-rumah kalian telah dihuni oleh orang lain. Suami-suami dan istri-istri kalian telah menikah lagi dengan orang lain. Harta-harta kalian telah dibagi- bagikan. Ini berita kami untuk kalian, lalu bagaimana berita kalian untuk kami?” Imam Ali lalu menengok sahabat-sahabatnya dan berkata, “Kalaulah mereka itu diberi izin untuk berbicara, mereka akan menjawab pertanyaan kita dengan ucapan: Sesungguhnya bekal yang paling baik untuk alam kubur itu adalah takwa.”

    Adab yang sebaiknya kita amalkan ketika ziarah ke kubur adalah mengucapkan salam seperti di atas. Lalu ketika kita sampai di kuburan, letakkan tangan kita di atas kuburan seraya membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Qadr tujuh kali, surat Al-Ikhlas sebelas kali, Ayat Kursi, serta membaca bagian awal dan akhir dari surat Al- Baqarah. Bila kita masih mempunyai waktu, bacalah surat Yasin di kuburan itu. Setelah itu bacalah doa.

    Bila waktu kita sedikit, kita dapat cukup membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Al-Nas masing-masing satu kali saja. Setelah itu lalu membaca doa tawasul kepada Nabi Muhammad dan keluarganya agar mayit itu tidak diazab Allah swt.

    ***

    Ditranskrip oleh Ilman Fauzi dari ceramah Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad, tanggal 19 Nopember 2000, di Masjid Al-Munawwarah, Bandung.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 1 June 2016 Permalink | Balas  

    Bersiaplah! Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (1/2) 

    Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HBersiaplah!  Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (1/2)

    Kedatangan bulan Ramadhan adalah merupakan rahmat bagi setiap orang yang beriman. Di bulan ini dibukakan segala pintu-pintu langit, pintu-pintu syurga dan pintu-pintu rahmat. Setiap amal kebajikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Doa mudah dikabulkan dan pintu pengampunan terbuka luas bagi setiap orang yang beriman dan orang-orang yang kembali ke jalan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

    Sebagai seorang yang beriman, sudah setentunya tidak ingin terlepas segala peluang yang ada. Lebih-lebih lagi di bulan ini banyak keistimewaan dan ganjaran pahalanya. Untuk itu Irsyad Hukum kali ini mengingatkan supaya sama-samalah kita mempersiapkan diri sebelum menempuh kehadiran bulan Ramadhan, iaitu dengan mendalami perkara yang dilarang dan yang disunatkan ketika melaksanakan puasa serta kewajipan-kewajipan lain yang perlu dilunaskan sebelum kedatangannya.

    Persiapan Sebelum Menjelang Ramadhan

    Persiapan kita sebelum menjelangnya bulan Ramadhan antaranya:

    1. Merasa Gembira Dan Berdoa

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggembirakan para sahabatnya sempena menyambut ketibaan bulan Ramadhan ketika Baginda menyampaikan khutbah kepada para sahabat yang antara lain mengandungi beberapa panduan dan dorongan untuk memperbanyak amal ibadat dalam bulan Ramadhan. Panduan dan dorongan yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu membuatkan para sahabat merasa gembira menyambut ketibaan bulan Ramadhan yang mulia.

    Sehubungan dengan kegembiraan menyambut Ramadhan itu, at-Thabarani dan lain-lain meriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tiba bulan Ramadhan, mulai daripada masuk bulan Rejab, Baginda sering berdoa. Antara doa Baginda ialah:

    Maksudnya: “Ya Allah, berilah keberkatan kepada kami di bulan Rajab dan Sya‘ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”

    1. Puasa Sunat

    Sebelum bulan Ramadhan, iaitu di bulan Sya‘ban, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan puasa sunat. Oleh itu memperbanyakkan puasa sunat di bulan Sya‘ban adalah sangat digalakkan kerana mencontohi amalan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kalau tidak dapat dibuat semuanya, maka janganlah ditinggalkan semua. Bukan sahaja bagi mengkecapi ganjaran pahala dan rahmat Allah Ta‘ala, bahkan bagi melatih diri berpuasa sebelum datangnya bulan Ramadhan.

    1. Mengqadha Puasa Wajib

    Puasa Ramadhan yang tertinggal tetap wajib diqadha pada bila-bila masa. Bulan Sya‘ban merupakan masa atau peluang terakhir buat tahun itu untuk mengqadha puasa Ramadhan yang tertinggal itu. Maksud peluang terakhir di sini ialah bagi mengelakkan membayar fidyah, kerana jika telah masuk bulan Ramadhan, sedangkan puasa Ramadhan tahun yang sebelumnya belum diqadha, maka di samping kewajipan mengqadhanya, wajib pula mengeluarkan fidyahnya.

    Bagi sesiapa yang masih belum mengqadha puasa Ramadhan tahun lepas, eloklah mengambil kesempatan mengqadhanya pada bulan Sya‘ban ini agar tidak terkena membayar fidyah.

    1. Membayar Fidyah

    Fidyah dalam hal puasa bererti bayaran denda kerana tidak berpuasa Ramadhan dengan sebab-sebab tertentu atau kerana melambat-lambatkan mengqadha puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya. Antara sebab-sebab wajib mengeluarkan fidyah puasa ialah:

    1. Tidak berupaya berpuasa, iaitu seseorang yang wajib berpuasa tetapi tidak sanggup lagi mengerjakannya disebabkan tua atau lemah. Sekiranya dia berpuasa, dia tidak akan dapat menanggung kepayahannya. Maka orang sedemikian wajib membayar fidyah sahaja dan tidak diwajibkan mengqadha puasanya.
    2. Orang yang sakit tidak ada harapan sembuh dan tidak berupaya melakukan puasa. Maka dia wajib membayar fidyah sahaja tanpa mengqadha puasanya. Sementara orang sakit yang ditakuti akan bertambah sakitnya jika dia berpuasa tetapi ada harapan untuk sembuh, maka tidak wajib baginya berpuasa. Tetapi apabila dia sembuh wajib ke atasnya mengqadha puasa yang ditinggalkannya itu tanpa membayar fidyah.

    iii. Perempuan hamil atau yang sedang menyusukan anak, iaitu jika sekiranya mereka berpuasa maka ditakuti akan mendatangkan mudarat kepada anak yang dikandung atau boleh mengurangkan air susu yang akan memberi kesan kurang baik kepada anak yang menyusu. Dalam hal ini, di samping mereka diwajibkan membayar fidyah, mereka juga wajib mengqadha puasanya. Namun jika dia berbuka kerana merasa takut akan kemudaratan dirinya sahaja atau takut akan kemudaratan dirinya dan juga anaknya, maka wajib dia mengqadha puasa sahaja tanpa membayar fidyah.

    Orang yang tidak mengqadha puasa Ramadhan pada tahun berkenaan sehingga masuk Ramadhan berikutnya tanpa uzur syar‘i. Di samping wajib ke atasnya membayar fidyah (satu cupak bagi sehari puasa), dia juga wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya itu. Kadar jumlah fidyah tersebut akan berganda (2 cupak bagi sehari puasa) jika ditangguhkan lagi sehingga datang tahun berikutnya. Demikianlah seterusnya, setahun ke setahun kadar jumlah fidyah akan berganda-ganda jika qadha puasa tidak ditunaikan.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 21 May 2016 Permalink | Balas  

    Tentang Sholat 

    sholat_jamaahTentang Sholat

    Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Disebutkan bahwa kelak di hari kiamat ada sekelompok manusia yang dikumpulkan dengan wajah seperti bintang, para malaikat bertanya, “Apakah amal kalian?”

    “Dahulu, bila mendengar Adzan, kami segera bersuci. Tidak ada yang menyibukkan kami selain itu,” jawab mereka.

    “Kalian pantas memperoleh karunia ini, masuklah ke dalam surga sesuai amal kalian.”

    Kemudian dikumpulkan sekelompok manusia dengan wajah seperti bulan, para malaikat bertanya, “Apakah sesungguhnya amal kalian?”

    “Dahulu, sebelum masuk waktu salat, kami telah berwudhu.”

    “Kalian pantas memperoleh karunia ini, masuklah ke dalam surga sesuai amal kalian.”

    Kemudian dikumpulkan pula sekelompok orang dengan wajah seperti matahari.

    “Apakah gerangan amal kalian?” tanya malaikat.

    “Dahulu, ketika adzan diserukan, kami sudah berada di mesjid.”

    “Kalian memiliki kedudukan paling tinggi dan paras paling elok. Masuklah ke dalam surga sesuai amal kalian!”

    Hadis-hadis yang menjelaskan keutamaan salat berjamaah tak terhitung jumlahnya. Oleh karena itu, saudara-saudaraku, rahimakumullaah, kumpulkan semangat kalian untuk melakukan salat berjamaah. Mintalah kepada Allah agar kalian tidak termasuk orang yang mengabaikan dan meremehkannya. Bersegeralah dan biasakanlah salat berjamaah, karena sesungguhnya salat berjamaah adalah laba dari orang-orang yang beruntung dalam perdagangan, keberhasilan dari orang-orang yang bertakwa dan berusaha keras, kegemaran orang-orang yang zuhud dan saleh, kebiasaan orang-orang yang berbahagia dan memperoleh hidayah, kesenangan para pencinta (muhibbin) yang terpilih, tujuan para penghulu kaum arifin, dan tujuan para ulama yang mengamalkan ilmunya. Mereka tidak mempedulikan segala sesuatu yang dapat memalingkan perhatian mereka dari keutamaan itu. Hati mereka selalu memendam kerinduan pada salat berjamaah, dan menyesal jika sampai tertinggal. Jika kesempatan untuk salat berjamaah terlewatkan, mereka diberi ucapan bela sungkawa sebagaimana orang yang tertimpa musibah. Mereka sangat sedih seperti pecinta yang dipisahkan dari kekasihnya. Hal-hal seperti ini sungguh asing di zaman ini. Lambang-lambang agama telah hilang, kefasikan dan maksiat merajalela. Kebohongan merebak kemana-mana. Sehingga orang yang santun (halim) pun menjadi bingung.

    Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bersegera mengerjakan ketaatan, dan melazimkan diri untuk salat berjamaah. Sebab, salat adalah keuntungan yang tak ternilai, dan merupakan peringkat kesuksesan yang paling tinggi.

    Ya Allah, selamatkanlah kami dari semua hal yang menghinakan, tunjukkanlah kepada kami semua kebajikan, lipat gandakanlah bagi kami berbagai kebaikan, ampunilah kami dari dosa dan kesalahan, bahagiakan kami semasa hidup dan setelah kematian, wahai pemilik kebaikan, pengangkat kedudukan, Tuhan bumi dan langit sekalian. Limpahkan sholawat dan salam kepada sayidina Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat.

     

     
  • erva kurniawan 2:42 am on 20 May 2016 Permalink | Balas  

    Peringatan Malam Nishfu Sya’ban 

    malamPeringatan Malam Nishfu Sya’ban

    Sebagian umat Islam ada yang memperingati malam nisfhu Sya’ban (malam ke-15 bulan Sya’ban) dengan cara menyelenggarakan berbagai macam acara dan ibadah pada malam tersebut. Untuk mendapatkan keterangan yang jelas mengenai hal ini, maka edisi Al-Hujjah akan menengahkan sebuah ringkasan tulisan seorang ulama’ besar, Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz, ketua kibarul ulama’ dan panitia tetap riset dan fatwa Arab Saudi, yang kepadanyalah mayoritas ulama konteporer merujuk dalam berbagai persoalan pelik. Selamat mengikuti.

    Segala puji hanyalah milik Allah, yang telah menyempurnakan agamaNya kepada kita. Selawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alahi wa sallam, penyeru kepada pintu tauhid dan pembawa rahmat.

    Amma ba’du.

    Allah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu dan telah Kucukupkan nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu sebagai agama bagimu” (Al-Maidah: 3).

    Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik jalan hidup adalah jalan hidup Muhammad, dan seburuk-buruk perkara (dalam agama) ialah yang diada-adakan(bid’ah), dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Muslim).

    Dan masih banyak lagi ayat dan hadits senada yang menunjukkan bahwa Allah telah menyempurnakan Agama ini. Dia tidak mewafatkan Nabinya sallallahu ‘alahi wa sallam kecuali sesudah beliau telah menyampaikan risalah dan menjelaskan kepada ummat seluruh syari’at Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Beliau juga menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diada-adakan oleh orang sepeninggalnya (dalam masalah agama) dan dinisbatkan kepada ajaran Islam, baik berupa ucapan maupun perbuatan, semua adalah bid’ah yang tertolak, meskipun orang yang mengada-adakannya berniat baik.

    Para sahabat Rasullullah sallallahu ‘alahi wa sallam dan ulama’ yang datang setelah mereka mengetahui hal ini. Maka mereka mengingkari segala macam bid’ah dan memperingati kita agar menjauhinya.

    Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang adalah bid’ah peringatan malam nishfu Sya’ban sedang pengkhususan puasa pada hari tersebut. Padahal tidak ada satu dalilpun yang dapat dijadikan sandaran. Ada hadits-hadits tentang fadhilah (keutamaan) malan ini, akan tetapi dho’if (lemah), tidak boleh dijadikan sandaran. Sedangkan hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan sholat pada malam ini adalah maudhu’ (palsu).

    Memang ada beberapa riwayat tentang malam nisfu Sya’ban yang berasal dari sebagian salaf (pendahulu) penduduk Syam dan lainnya, tetapi pendapat yang dianut jumhur (mayoritas) ulama’ ialah peringatan malam nishfu Sya’ban adalah bid’ah dan hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaannya semua dho’if (lemah) dan sebagian lagi maudhu’ (palsu). Diantara ulama yang memperingatinya hal tersebut adalah Al-Hafizh Ibn Rajab dalam kitabnya Latha’iful Ma’aif dan ulama-ulama lainnya.

    Hadits-hadits dho’if hanya bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh dalil yang shohih. Adapun peringatan malam nishfu Sya’ban tidak ada hadits shohih yang mendasarinya, sehingga hadits-hadits dho’if itu tidak dapat dijadikan sebagai pendukungnya.

    Para ulama telah sepakat, bahwa wajib mengembalikan segala permasalahan yang diperselisihkan kepada Kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh kedua sumber ini atau salah satu darinya, maka wajib diikuti, dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan . Sedang apapun ibadah yang tidak disebut oleh keduanya adalah bid’ah, tidak boleh dikerjakan, apalagi mengajak untuk mengerjakannya atau memujinya. (QS. 4:59, 42:10, 3:31, 4:65).

    Tentang masalah nishfu Sya’ban Ibn Rajab dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif mengatakan: “Para tabi’in dari ahli Syam (sekarang Syiria. red) seperti Kholid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam nishfu Sya’ban, kemudian orang-orang berikutnya mengambil keutamaan dan pengagungan itu dari mereka. Dikatakan pula, bahwa mereka melakukan perbuatan demikian karena adanya cerita-cerita isra’illyat. Tatkala masalah ini menyebar ke berbagai negeri, berselisihlah kaum muslimin, ada yang menerima dan menyetujuinya, ada juga yang mengingkarinya. Golongan yang menerima adalah para ahli ibadah dari Bashrah dan kota lainnya. Sedangkan golongan yang mengingkarinya yaitu sebagian besar ulama’ hijaz, seperti Atha’ Ibn Abi Malaikah dan -menurut penukilan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam- para fuqoha’ (ahli fiqih) Madinah, ini juga merupakan para pengikut Imam Malik dan lainnya. Menurut mereka, semua perbuatan ini adalah bid’ah.

    Ibn Rajab selajutnya berkata, tidak ada suatu ketetapan apapun tentang masalah nishfu Sya’ban ini baik dari sallallahu ‘alahi wa sallam maupun dari para sahabat. Adapun pendapat imam Al-Auza’i tentang (dianjurkan) sholat malam nishfu Sya’ban, maka hal ini aneh dan lemah. Karena segala perbuatan, bila tidak ada dalil syar’i yang menetapkannya, maka tidak boleh bagi seorang muslim mengada-adakannya, baik itu dikerjakan secara individu maupun kolektif (berjama’ah), secara sembunyi maupun terang-terangan. Berdasarkan keumuman hadits Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam: “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu tertolak.” (HR. Muslim) serta dalil-dalil lainnya yang mengingkari perbuatan bid’ah dan memperingatkan agar dijauhi.

    Imam Abu Bakar Ath-Thurthusyi rahimahullah dalam kitabnya Al-Hawadits wal Bida’ mengatakan: “Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari Zaid bin Aslam, katanya: “Kami tidak menjumpai seorangpun dari guru kamu dan ahli fiqih kami yang memperingati malam Nishfu Sya’ban, ataupun mengindahkan hadits Makhul. Merekapun tidak memandang adanya keutamaan pada tersebut dari malam-malam lainnya. Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwa Zaid An-Numairi menyatakan: “Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam nishfu Sya’ban menyamai pahala Lailatul Qadar.”Beliau serta menjawab: “Seandainya saya mendengarnya sedang ditangan saya ada tongkat, pasti saya pukul. Ziad adalah seorang pendongeng.” Al-Allamah Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid Al-Majmu’ah berkata. Hadits “Wahai Ali siapa yang melakukan shalat pada malam nishfu Sya’ban sebanyak seratus rakaat, pada setiap rakaat ia membaca Al-Faatihah dan Qu huwallahu ahad sebanyak sepuluh kali, pada Allah memenuhi segala hajatnya.dst.” Hadits ini adalah Maudhu. Lafadznya yang menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya tidak diragukan lagi kelemahannya bagi orang yang berakal. Sanadnya pun Majhul (tidak dikenal). Telah diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, tetapi semuanya Maudhu, dan para periwayatnya adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

    Dalam Kitab Al-Mukhtashar, Asy-Syaukani menyatakan: “Hadits yang menerangkan Shalat nishfu Sya’ban adalah bathil. Sedangkan hadits: “Jika datang malam nishfu Sya’ban maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya” yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Ali adalah Dha’if.”

    Dalam Kitab Al-La’ali dinyatakan, hadits: “Seratus rakaat pada malam nishfu Sya’ban dengan ikhlash pahalanya sepuluh kali lipat”, yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami adalah Maudhu dan mayoritas periwayatnya pada ketiga jalan hadits ini adalah orang-orang yang majhul dan dha’if. Kata Imam Syaukani: “Hadits yang menerangkan, dua belas rakaat dengan ikhlash pahalanya tiga puluh kali lipat dan hadits empat belas rakaat dst, adalah Maudhu.”

    Diantara para Fuqaha (alhi fiqh) ada yang tertipu dengan hadits-hadits diatas, seperti pengarang Ihya ‘Ulumuddin dan lainnya, juga sebagian ahli tafsir.

    Al-Hafidz Al-Iraqi menyatakan: “Hadits yang menerangkan tentang shalat nishfu Sya’ban adalah Maudhu dan pendustaan atas diri Rasullullah sallallahu ‘alahi wa sallam.

    Dalam Kitab Al-Majmu’, Imam An-Nawawi menyatakan: “Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib yang berjumlah dua belas rakaat dan dikerjakan antara maghrib dan isya pada malam jumat pertama bulan Rajab, serta shalat malam nishfu sya’ban yang berjumlah seratus rakaat adalah bid’ah yang mungkar, tidak boleh seseorang terperdaya oleh karena kedua shalat itu disebut dalam Kitab Qutul Qulub dan Ihya Ulumuddin, atau karena berdasarkan hadits yang disebutkan pada kedua kitab tersebut, sebab semuanya adalah bathil. Tidak boleh seseorang terperdaya oleh ulah sebagian tokoh, yang belum jelas baginya hukum kedua shalat ini, lalu mengarang dalam beberapa lembar kertas untuk menganjurkannya. Ini adalah tindakan menipu.”

    Masih banyak ucapan para ulama dalam hal ini. Kalau kita mau menukil semua tentu akan panjang sekali. Semoga apa yang kami sebutkan diatas cukup memuaskan bagi pencari kebenaran.

    Dari beberapa ayat Al-Qur’an, hadits dan pernyataan para ulama diatas, jelaslah bagi pencari kebenaran bahwa peringatan malam nishfu Sya’ban dengan shalat atau amalan lainnya, serta pengkhususan siang harinya dengan puasa itu semua adalah bid’ah yang mungkar menurut jumhur ulama, tidak ada dasar sandarannya dalam syari’at Islam, bahkan merupakan perbuatan yang diada-adakan, cukuplah bagi pencari kebenaran dalam masalah ini, juga masalah lainnya firman Allah: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.” (Al-Maidah: 3)

    Andaikata malam nishfu Sya’ban dikhususkan dengan acara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam memberikan petunjuk pada umatnya, atau beliau sendiri yang mengerjakannya. Dan jika hal itu memang pernah terjadi, niscara telah disampaikan oleh para sahabat kepada kita, mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia yang paling tulus setelah para nabi. Maka jelaslah, memperingati malam nisfu Sya’ban adalah bid’ah.

    Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita dan kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada sunnah dan menetapinya, serta mewaspadai hal-hal yang bertentangan dengannya. Sungguh dia Maha Mulia dan Maha Pemberi. Wallahu a’lam.

    ***

    Sumber bacaan: At-Tahdzir minal bida’

    Diambil dari : http://www.anshorussunnah.cjb.net

    Risalah No: 28 / Thn IV / 1422H

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 8 May 2016 Permalink | Balas  

    Memerintahkan Istri dan Anak untuk Sholat 

    shalat gaibMemerintahkan Istri dan Anak untuk Sholat

    Abu Hurairah RA berkata, “Memenuhi telinga anak cucu Adam dengan cairan timah panas lebih baik daripada jika ia mendengar adzan, namun tidak menjawab panggilannya.”

    Rasulullah SAW bersabda tentang tafsir firman Allah SWT: Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu.  (QS Ali-Imran, 3:133)

    Ampunan yang dimaksud adalah takbiratul ihram yang diucapkan seiring dengan takbiratul ihram imam.

    Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah memberi kalian taufik dan hidayah, sesungguhnya kalian wajib memerintahkan isteri dan anak-anak kalian untuk menunaikan dan memelihara salat, karena anggota keluarga kalian adalah amanat yang dititipkan Allah kepada kalian.  Allah SWT berfirman:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan rasul-Nya, dan janganlah kalian mengkhianati pula amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian sedangkan kalian mengetahui.”  (QS Al-Anfal, 8:27)

    Rasulullah SAW bersabda: “Allah, Allah (hati-hati) terhadap wanita, karena sesungguhnya mereka adalah amanat (yang dipercayakan Allah) kepada kalian.”

    Barang siapa tidak memerintahkan dan mengajar isterinya mengerjakan salat, maka ia telah mengkhianati Allah dan rasulNya.  Ia berhak disiksa dan diberi balasan paling buruk.  Ia termasuk ke dalam kelompok orang celaka yang disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW tentang lima orang yang dimurkai Allah, dan mereka akan menghuni neraka.  Salah satu di antara orang yang dimurkai Allah adalah orang yang tidak memerintahkan isteri dan anak-anaknya untuk mengerjakan salat.

    Seorang yang tercerahkan (munawwar) bermimpi melihat Rasulullah SAW bersabda, “Isteri-isteri keluarga fulan telah diceraikan.”  Kemudian beliau SAW menyebutkan nama kaum wanita yang meninggalkan salat.

    Mimpi ini sesuai dengan madzhab Imam Ahmad yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan salat telah kufur, dan akad nikahnya batal.  Camkanlah sabda Rasulullah SAW dalam mimpi itu, karena Rasulullah SAW pernah bersabda:

    “Barangsiapa melihatku dalam mimpi maka ia telah benar- benar melihatku, karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku.” (HR Bukhari, Muslim, Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

    Kebaikan apa yang bisa diharapkan oleh wanita yang tidak beragama, atau suami yang tidak memerintahkan isteri, anak dan saudara-saudaranya untuk mengerjakan salat?!  Isteri yang tidak mengerjakan salat dilaknat, dan tidak mendapatkan rahmat. Jika isteri tidak patuh kepada suami, maka hendaknya sang suami meninggalkannya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah dan rasul-Nya.  Wali wanita itu hendaknya membantu suaminya, jika tidak, maka ia pun akan masuk neraka, mendapat murka Allah, dan siksa yang pedih.  Oleh karena itu, saudara-saudaraku rahimakumullah, saling tolong-menolonglah dalam berbuat taat kepada Allah sehingga kalian dapat berbahagia, sukses dan selamat dari siksa-Nya.  Jangan kalian menganggap enteng masalah ini!  Demi Allah, hanya orang yang tidak mendapat kebaikan agama dan pantas memperoleh siksa sajalah orang-orang yang meremehkan masalah ini.  Allah SWT berfirman:

    “Dan tetaplah atas mereka keputusan siksa atas umat-umat terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (QS Fushilat, 41:25)

    Saudara-saudaraku, rahimakumullah, ketahuilah bahwa, karena pahala salat sangat besar, dan siksa bagi orang yang meninggalkannya amat pedih, maka nafsu merasa berat untuk mengerjakannya.  Allah berfirman:

    “Dan jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.  Dan sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”  (QS Al-Baqarah, 2:45)

    Allah juga telah berfirman kepada Nabi-Nya SAW:

    “Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.   (QS Thaaha, 20:132)

    Dalam salat terdapat unsur taklif ubudiyah (paksaan ibadah) untuk memenuhi haq rububiyyah (hak-hak ketuhanan).  Setiap orang hendaknya mengerjakan salat sesuai kemampuannya.

    Tingkat kesabaran orang awam adalah terletak pada kesediaannya untuk bersuci dan melaksanakan salat pada waktunya.  Perbuatan ini menjanjikan pahala yang besar dan kebaikan yang amat banyak.

    Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai amal yang paling utama, beliau menjawab: “Salat pada waktunya.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Sedangkan tingkat kesabaran orang khusus (khawash) adalah terletak pada pelaksanaan sunah-sunah salat dan usaha untuk memelihara hati agar tidak lalai sewaktu salat.

    Saudara-saudaraku, rahimakumullah, kerjakanlah salat di mesjid; biasakanlah salat berjamaah!  Hakim dalam kitab Al-Mustadrak meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW menyebutkan tiga orang yang dilaknat Allah, satu diantaranya adalah orang yang diseru oleh muadzin: Mari kerjakan salat,  namun ia tidak menjawab.

    Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud RA berkata:

    “Orang yang ingin bertemu dengan Allah sebagai muslim kelak di hari kiamat, hendaknya ia memelihara salat lima waktu ketika diseru untuk menunaikannya.  Karena, sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada nabi-Nya jalan-jalan petunjuk dan salat adalah salah satunya.  Andaikata kalian mengerjakan salat di rumah, sebagaimana kebiasaan orang yang meninggalkan salat berjamaah, berarti kalian meninggalkan sunah nabi kalian, dan jika kalian meninggalkan sunah nabi kalian, kalian akan tersesat.  (Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud disebutkan:  Maka kamu pasti akan kufur)  Dahulu, di masa nabi, tidak ada yang meninggalkan salat berjamaah kecuali orang munafik yang telah dikenal kemunafikannya.  Adakalanya seorang lelaki pergi ke mesjid dengan di papah oleh dua orang agar dapat mengerjakan salat.”  (Diriwayatkan Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Nasai dan Darimi)

    ***

    Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 7 May 2016 Permalink | Balas  

    Memelihara Sholat 

    sholat-2Memelihara Sholat

    Diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Barang siapa memelihara salat, Allah akan memuliakannya dengan lima hal:

    1. Dihindarkan dari kesempitan hidup.
    2. Diselamatkan dari siksa kubur.
    3. Dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan.
    4. Dapat melewati jembatan (shirath) secepat kilat.
    5. Dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.

    Dan barang siapa meremehkan salat, Allah akan menyiksanya dengan 15 siksaan, yaitu 6 siksaan dalam kehidupan di dunia, 3 siksaan ketika meninggal, 3 siksaan di alam kubur, dan 3 siksaan saat bertemu Tuhannya di mahsyar.

    Adapun 6 siksaan yang ditimpakan di dunia adalah:

    1. Dicabut keberkahan umurnya.
    2. Dihapus tanda kesalehan dari wajahnya.
    3. Tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya.
    4. Tidak diangkat ke langit doanya.
    5. Tidak memperoleh bagian doa kaum sholihin.
    6. Tidak beriman ketika ruh dicabut dari tubuhnya.

    Adapun 3 siksaan yang ditimpakan saat meninggal dunia ialah:

    1. Mati secara hina.
    2. Mati dalam keadaan lapar.
    3. Mati dalam keadaan haus. Andaikata diberi minum sebanyak lautan di bumi, ia tak akan merasa puas.

    Adapun 3 siksaan yang dilaksanakan di dalam kubur ialah:

    1. Kubur menghimpit orang itu hingga tulang-tulangnya berantakan.
    2. Kuburnya dibakar. Sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelejatan menahan panas.
    3. Dalam kubur ia diserahkan kepada seekor ular yang bernama As-Syuja’ul ‘Aqra’. Kedua mata ular itu berujud api dan kukunya berupa besi. Panjang kukunya adalah sepanjang satu hari perjalanan. Ia akan mengenalkan diri kepada si mayit, “Aku adalah As-Syuja’ul Aqra’,” suaranya menggeledek, “Aku diperintahkan Allah SWT untuk menyiksamu, karena kau mengundurkan salat subuh hingga terbit matahari, mengundurkan salat Dhuhur hingga Ashar, mengundurkan salat Ashar hingga Maghrib, mengundurkan salat Maghrib hingga Isya’, serta mengundurkan salat Isya hingga Subuh.”

    Setiap kali ular itu memukul, tubuh si mayit melesak 70 hasta10 ke dalam bumi. Ia disiksa di dalam kuburnya hingga hari kiamat. Di hari kiamat nanti pada wajahnya tertulis tiga baris kalimat: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak Allah, wahai orang yang dikhususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputusasalah kamu dari rahmat-Nya.

    Tiga siksaan yang dilakukan ketika bertemu dengan Tuhannya adalah:

    1. Ketika langit terbelah, malaikat menemuinya dengan membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya, kemudian memasukkan ujung rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadangkala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Sang malaikat berkata, “Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abbas RA berkata andaikata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.
    2. Allah tidak memandangnya.
    3. Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh siksa yang amat pedih.

    Diriwayatkan bahwa di neraka jahanam ada sebuah lembah yang bernama Lamlam. Lembah itu dihuni oleh ular-ular yang tubuhnya segemuk leher onta dan sepanjang perjalanan sebulan. Ia akan menggigit orang yang tidak mengerjakan salat, dan bisanya akan mendidih selama 70 tahun untuk melumatkan daging orang itu.

    Dalam berbagai hadis sebelumnya telah dijelaskan bahwa orang yang meninggalkan salat menjadi kafir dan musyrik, tidak mendapat jaminan dari Allah dan rasul-Nya, terhapus amalnya, dan ia menjadi kehilangan agama dan iman. Banyak sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka yang berpendapat demikian, mereka berkata bahwa barang siapa dengan sengaja meninggalkan salat hingga keluar dari waktunya, maka ia telah kafir dan darahnya halal. Kelompok sahabat yang berpendapat demikian adalah Umar, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Ahmad bin Hambal, Ishak bin Rahawaih, Abdullah bin Mubarak, An-Nakhai, Hakam bin Uyainah, Abu Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Dawud At-Thoyalisi, Abu Bakar bin Abu Syaibah, Zuhair bin Harb dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa siapa saja meninggalkan salat, maka ia telah kufur, dan halal darahnya. Ibn Nashr mengatakan bahwa sejak zaman Nabi SAW orang-orang yang berilmu berpendapat, bahwa orang yang meninggalkan salat tanpa udzur hingga keluar waktunya, maka ia telah kufur.”

    Wahai saudara-saudaraku, kurasa hadis-hadis yang berkaitan dengan orang yang meninggalkan salat di atas telah cukup bagimu. Sebenarnya dengan berpaling dari Tuhannya saja orang itu sudah cukup merugi. Sebab, Allah telah menciptakan dan membentuk manusia dalam sebaik-baik bentuk, kemudian menumbuhkan, memelihara, memberinya makan dan minum, menunjukkan jalan keselamatan, dan memperingatkan dari tipu daya musuh-musuhnya. Bagaimana seorang hamba yang lemah dan hina ini bermaksiat kepada Tuhannya yang Maha Pemurah, dan kemudian menaati setan terkutuk yang menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran?! Sungguh celaka orang yang mengikuti dan memenuhi panggilan setan, melanggar perintah Tuan dan Majikannya yang selalu mengajak kepada kebaikan, Maha Kuasa untuk memberinya manfaat dan mencelakakannya. Alangkah buruk perbuatannya! Alangkah besar bencana yang menimpanya! Alangkah tidak menyenangkan pagi dan sore harinya. Alangkah buruk lahir dan batinnya.

    Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, semoga Allah merahmatimu, jika muadzin menyerukan adzan, bersegeralah untuk menaati Allah Yang Maha Pengasih. Waspadalah, jangan sampai setan melalaikan dan membuatmu malas dan menunda-nunda salatmu, karena sesungguhnya perbuatan itu akan menjadikanmu hina dan merugi.

    ***

    Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 6 May 2016 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Ikhtilaf (Perbedaan) 

    BEDAMacam-Macam Ikhtilaf (Perbedaan)

    Oleh: Salim bin Shalih Al-Marfadi

    Para ulama telah meneliti dalil-dalil tentang ikhtilaf, sehingga nampak jelas bahwa ikhtilaf itu ada dua macam, masing-masing terdiri dari beberapa jenis.

    1. IKHTILAF TERCELA

    Jenis-jenisnya adalah sebagai berikut :

    [a]. Ikhtilaf yang kedua belah pihak dicela, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ikhtilafnya orang-orang Nashara.

    “Artinya : Maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat” [Al-Maidah : 14]

    Firman Allah dalam menerangkan ikhtilaf nya orang-orang Yahudi

    “Artinya : Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya” [Al-Maidah : 64]

    Demikian juga ikhtilaf nya ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan ahlul bid’ah dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Allah berfirman.

    “Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka” [Al-An’am : 159]

    Juga termasuk kedalam ikhtilaf jenis ini adalah ikhtilaf antara dua kelompok kaum muslim dalam masalah ikhtilaf tanawwu’ (fariatif) dan masing-masing mengingkari kebenaran yang dimiliki oleh kelompok lain.

    [b]. Ikhtilaf yang salah satu pihak dicela dan satu lagi dipuji (karena benar).

    Ini disebut dengan ikhtilaf tadhadh (kontradiktif) yaitu salah satu dari dua pendapat adalah haq dan yang satu lagi adalah bathil. Allah telah berfirman

    “Artinya : Akan tetapi mereka berselisih, maka ada diantara mereka yang beriman dan ada (pula)diantara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan” [Al-Baqarah : 253]

    Ini (ayat di atas) adalah pembeda antara al-haq (kebenaran) dengan kekufuran. Adapun pembeda antara al-haq (kebenaran) dengan bid’ah adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits iftiraq.

    “Artinya : Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 firqah (kelompok), kaum Nashara menjadi 72 firqah, dan ummat ini akan terpecah menjadi 73 firqah, semuanya (masuk) didalam neraka kecuali satu. Ditanyakan : “Siapakah dia wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “orang yang berada diatas jalan seperti jalan saya saat ini beserta para sahabatku” dalam sebagian riwayat : “dia adalah jama’ah” [Lihat “Silsilah Ash-Shahihah 204 Susunan Syaikh Nashiruddin Al-Albani]

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa semua firqah ini akan binasa, kecuali yang berada diatas manhaj salaf ash-shaleh. Imam Syathibi berkata : “Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam [illa waahidah] telah menjelaskan dengan sendirinya bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang. Seandainya kebenaran itu bermacam-macam, Rasul tidak akan mengucapkan ; [illa waahidah] dan juga dikarenakan bahwa ikhtilaf itu di-nafi (ditiadakan) dari syari’ah secara mutlak, karena syari’ah itu adalah hakim antara dua orang yang berikhtilaf. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya)”. [An-Nisaa : 59]

    Jenis ikhtilaf inilah yang dicela oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    1. IKHTILAF YANG BOLEH

    Ini juga ada dua macam yaitu :

    [a]. Iktilafnya dua orang mujtahid dalam perkara yang diperbolehkan ijtihad di dalamnya.

    Sesungguhnya termasuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat ini. Dia menjadikan dien (agama) ummat ini ringan dan tidak sulit. Dia juga telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hanifiyah (agama lurus) yang lapang. Allah berfirman.

    “Artinya : Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” [Al-Hajj : 78]

    Diantara rahmat ini adalah tidak memberikan beban dosa kepada seorang mujtahid yang salah bahkan ia mendapatkan pahala karena kesungguhannya dalam mencari hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman.

    “Artinya : Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu salah padanya” [Al-Ahzab : 5]

    Dari Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Apabila ada seorang hakim mengadili maka ia berijtihad, lalu ia benar (dalam ijtihadnya) maka ia mendapatkan dua pahala, apabila ia mengadili maka ia berijtihad, lalu ia salah maka ia mendapatkan satu pahala” [Hadits Riwayat Imam Bikhari]

    Sebagai penjelas terhadap apa yang telah lewat, saya katakan :”Banyak para ulama yang membagi masalah-masalah agama ini menjadi Ushul Kulliyah (pokok-pokok yang mendasar serta bersifat meliputi) dan Furu’ Juz’iyah (cabang-cabang yang bersifat parsial), masalah-masalah. Ushul (pokok) dan masalah-masalah ijtihad 1 baik dalam masalah ilmiyah ataupun amaliyah. Pendapat inilah yang ditempuh oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dan Imam Syathibi Rahimahullah. Syaikhul Islam berkata : “Akan tetapi yang benar, bahwa masalah yang besar (pokok) dari dua katagori itu adalah masalah ushul, sedangkan rinciannya adalah masalah furu”.

    Di dalam fatwa Lajnah Daimah terdapat pernyataan mereka (para ulama) bahwa : “Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki Ushul yang kokoh berdasarkan dalil-dalilnya, yang di atas Ushul tersebut mereka membangun furu’. Mereka berpedoman kepada masalah-masalah Ushul dalam mencari dalil terhadap masalah-masalah Juz’iyah dan dalam menerapkan hukum bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain”.

    Dari sini tampak jelas bagi kita bahwa permasalahan-permasalahan yang diperbolehkan berijtihad di dalamnya adalah masalah yang bersifat rinci (detail) dari masalah ilmiyah ataupun masalah amaliyah. Adapun masalah ushul (pokok) maka tidak boleh berijtihad didalamnya.

    Diantara contoh permasalahan yang besar (pokok) dalam kaitannya dengan khabariyah (masalah iman dan khabar wahyu) adalah : mengesakan Allah dengan segala hak-Nya, adanya para malaikat, jin, hari kebangkitan kembali, azab kubur, shirath (jembatan yang membentang di atas Jahanam untuk di lalui manusia di hari kiamat setelah hisab), dan persoalan-persoalan nyata lainnya yang disebut sebagai USHUL (persoalan ini tidak boleh diperselisihkan -ed). Adapun FURU’ dalam kaitannya dengan masalah khabariyah (masalah iman dan khabar wahyu) ialah setiap rincian (detail dari masalah-masalah ushul di atas -ed). Misalnya :Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya (ketika Mi’raj), apakah orang mati di kuburnya mendengar pembicaraan orang yang masih hidup, apakah sampai pahala amal orang yang masih hidup (selain do’a) kepada mayit ? dan lain-lainnya.

    Syaikhul Islam berkata : “Oleh karenanya para imam sepakat untuk membid’ahkan orang yang (pendapatnya) menyelisihi masalah-masalah ushul seperti ini. Berbeda dengan orang yang (pendapatnya) menyelisihi masalah-masalah ijtihad, yang peringkatnya belum sampai tingkat ushul dalam kemutawatiran sunnah mengenainya, seperti perselisihan mereka berkaitan dengan hukum seorang saksi, sumpah, pembagian (harta warisan), dalam undian, dan perkara-perkara lain yang tidak sampai derajat ushul”. [Majmu’ Fatawa IV/425]

    Sekalipun demikian, persoalannya tidaklah mutlak begitu yaitu dapat berijtihad untuk membid’ahkan siapa saja yang dikehendaki dengan hujjah ijtihad yang diperbolehkan. Oleh karena itu ada beberapa ketentuan untuk ijitihad ini, yaitu :

    [1] Hendaknya dalam masalah yang di ijtihad-kan, tidak ada dalil yang qath’iyuts tsubut (qath’i adanya sebagai dalil) dan qath’iyud-dalalah (qath’i penunjukannya/dalalahnya), sebab tidak boleh berijtihad dalam menentang nash. Saya buatkan satu contoh mengenainya dengan firman Allah. :”Artinya : Tetapi jika ia tidak menemukan (binanatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna” [Al-Baqarah : 196]. Ayat ini adalah dalil yang qath’iyus-tsubut (qath’i adanya/tetapnya sebagai dalil) karena ia termasuk Al-Qur’an al-Karim. Dan juga qath’iyud dalalah (qath’i penunjukkannya/dalalahnya) tentang wajibnya puasa sepuluh hari bagi orang yang tidak mendapatkan hewan kurban (denda) padahal ia ber-tamattu’ (mendahulukan umrah daripada haji).

    [2] Hendaknya dalil tentang permasalahan itu mengandung beberapa kemungkinan. Contoh yang bekaitan dengan dalil zhanniyuts-tsubut (dalil yang masih bersifat zhann.dipertanyakan keadaannya sebagai dalil), ialah pendapat sebagian ulama Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa mustahab (sunnah) hukumnya mengerak-gerakkan jari ketika tasyahhud. Sementara sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tambahan “menggerak-gerakkan (jari)” dalam hadits itu adalah syadz (bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat). Contoh yang berkaitan dengan dalil zhanniyud-dalalah (penunjukkannya sebagai dalil masih bersifat dugaan/dalalahnya tidak qath’i) ialah firman Allah. :”Artinya : Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru” [Al-Baqarah : 228]. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Al-Qar’u adalah suci, sementara yang lain berpendapat bahwa Al-Qar’u adalah haid. Kedua pendapat tersebut mempunyai kemungkinan benar-benar secara bahasa.

    [3] Hendaknya ijtihad yang dilakukan tidak dalam masalah yang telah ijma’ (disepakati) atau tidak dalam masalah yang telah baku sebagai manhaj ilmiyah Ahlu Sunnah.

    [4] Hendaknya hukum atas permasalahan itu bersumber dari seorang mujtahid yang telah memenuhi persyaratan ijtihad, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka tentang ushul fiqh.

    [5] Hendaknya kesimpulan hukum dibangun berdasarkan metode Ahlus Sunnah dalam cara pandang maupun cara mengambil dalil. Di antara metode itu adalah bahwa dalam pendapat yang di ijtihadkannya, memiliki pendahulu dari kalangan ulama umat ini yang telah dipersaksikan keilmuannya dalam masalah dien. Al-Hafidzh Ibnu Rajab dalam kitabnya “Fadhul Ilmi as-Salaf ‘ala al-Khalaf” berkata :”Adapun para imam dan Fuqaha’ Ahul Hadits, maka mereka akan mengikuti hadits shahih sebagaimana adanya apabila hadits itu diamalkan oleh para sahabat, orang-orang yang sesudah mereka atau sekelompok dari mereka, Adapun apa yang telah disepakati oleh mereka untuk ditinggalkan, maka ia tidak boleh diamalkan Umar bin Abdul Aziz berkata : Ambillah pendapat yang sesuai dengan (pendapat) orang-orang sebelum kalian (Salafus Shalih), sesungguhnya mereka lebih tahu dari pada kalian” [Lihat Tsalatsu Rasa’il, karya Al-Hafizh Ibnu Rajab, hal. 140, Tahqiq Muhammad Al-Ajami]

    Dari keterangan di atas, menjadi jelaslah macam ikhtilaf yang pertama dari ikhtilaf yang diperbolehkan.

    [b]. Ikhtilaf Tanawwu’

    Contohnya adalah ikhtilaf sahabat dalam masalah bacaan (Al-Qur’an) pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :”Saya mendengar seseorang membaca ayat yang saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya berbeda dengan orang itu, maka saya pegang tangannya lalu saya bahwa kehadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya laporkan hal itu kepada beliau, namun saya melihat tanda tidak suka pada wajah beliau, dan beliau bersabda.

    “Artinya : Kalian berdua bagus (bacaannya), jangan berselisih ! Sesungguhnya umat sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa”.

    Ulama yang paling baik menulis masalah ikhtilaf tanawwu ini dan menjelaskannya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yaitu ketika beliau berkata : “Ikhtilaf tanawwu’ ada beberapa macam, diantaranya adalah ikhtilaf yang masing-masing dari kedua perkataan (pendapat) atau perbuatan itu benar sesuai syari’at, seperti bacaan (Al-Qur’an) yang diperselisihkan itu dicegah oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Kalian berdua bagus/benar (bacaannya)”

    Misalnya lagi adalah ikhtilaf dalam macam-macam sifat adzan, iqamah, do’a iftitah, tasyahhud, shalat khauf, takbir ied, takbir jenazah dan lain-lain yang semuanya disyari’atkan, meskipun dikatakan bahwa sebagiannya lebih afdhal. Kemudian kita dapatkan banyak umat Islam yang terjerumus dalam ikhtilaf hingga menyebabkan terjadinya peperangan (pertengkaran) antar golongan diantara mereka. hanya karena masalah menggenapkan lafazh iqamah atau mengganjilkannya, atau masalah-masalah semisal lainnya. Ini adalah substansi keharaman itu sendiri. Sementara orang yang tidak sampai ketingkat ini (yaitu tingkat peperangan/pertengkaran), banyak diantaranya yang kedapatan fanatik terhadap salah satu cara (adzan, iqamahm dst) tersebut karena mengikuti hawa nafsu, dan berpaling dari cara lain, atau melarang cara lain yang sebenarnya masuk dalam salah satu cara. Hal yang tentu dilarang oleh Nabi.

    Diantara ikhtilaf tanawwu’ juga adalah ikhtilaf yang masing-masing dari dua pendapat mempunyai kesamaan makna namun redaksinya berbeda, sebagaiman banyak orang (Ulama) yang kadang berselisih dalam membahasakan ketentuan hukum-hukum had, shighah-shighah (bentuk-bentuk ) dalil, istilah tentang nama-nama sesuatu, pembagian-pembagian hukum dan lain-lain. Selanjutnya kebodohan atau kezhalimanlah yang akhirnya membawa pada sikap memuji terhadap salah satu dari dua pendapat tadi dan mencela yang lain.

    Diantaranya lagi adalah tentang sesuatu yang memiliki dua makna yang berbeda namun tidak saling berlawanan. Yang ini adalah perkataan benar, dan yang itu juga merupakan perkataan benar, sekalipun maknanya saling berbeda. Ini banyak sekali terjadi dalam perselisihan pendapat.

    Di antaranya lagi adalah ikhtilaf mengenai dua cara yang sama-sama disyari’atkan. Seseorang atau satu kelompok menempuh jalan ini, sedangkan yang lain menempuh jalan lain. Kedua-duanya baik dalam agama. Tetapi kebodohan atau kezalimanlah yang kemudian menggiring pada sikap mencela terhadap salah satu dari kedua jalan tersebut atau lebih mengutamakannya, tanpa dasar niat yang benar, atau tanpa dasar ilmu, atau tanpa dasar niat yang ikhlas dan tanpa dasar ilmu sekaligus” [Iqtidha’ Ash-Shiratth Al-Mustaqim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah I/132-134]

    Jika pertengkaran di antara sebagian kaum muslimin terjadi dalam ikhtilaf macam ini maka jadilah ikhtilaf itu tercela, sebagaimana yang telah jelas pada penjelasan yang telah lewat dan pada hadits Abdullah bin Mas’ud seputar ikhtilaf dalam qira’ah (bacaan Al-Qur’an). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Kalian berdua benar, jangan berselisih ! Sesungguhnya umat sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa”

    Syaikhul Islam berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ikhtilaf (perselisihan pendapat) yang masing-masing dari kedua belah pihak mengingkari/menolak kebenaran yang ada pada pihak lain, karena kedua orang sahabat yang berbeda bacaannya itu sama-sama benar dalam bacaannya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sebab (larangan) tersebut yaitu bahwa lantaran umat sebelum kita berselisih, maka kemudian mereka menjadi binasa karenanya.

    Oleh sebab itu ketika Hudzaifah melihat penduduk Syam dan Iraq berselisih mengenai bacaan huruf Al-Qur’an dengan perselisihan yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata kepada Utsman (bin Affan, Amirul Mukminin -ed) : “Perbaikilah umat ini, janganlah mereka berselisih dalam bacaan Al-Qur’an, sebagaimana umat sebelum mereka berselisih”.

    Jadi keterangan ini memberikan dua faedah :

    [1] Haramnya berselisih dalam masalah seperti ini.

    [2] Mengambil pelajaran dari umat sebelumnya dan berhat-hati jangan sampai menyerupai mereka.

    [Disalin dari Majalah Al-Ashalah tgl. 15 Dzul Hijjah 1416H, edisi 17/Th.III hal 78-89, karya Salim bin Shalih Al-Marfadi, dan dimuat Majalah As-Sunnah edisi 06/Tahun V/1422H/2001M hal. 25-29 penerjemah Ahmad Nusadi. Tulisan ini merupakan Bagian Kedua dari Tiga Tulisan.]

    ***

    Sumber : http://almanhaj.or.id/

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 5 May 2016 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Sholat 

    sholat1Meninggalkan Sholat

    Diriwayatkan bahwa di neraka jahanam ada suatu lembah yang bernama Wail.  Andaikan semua gunung yang ada di dunia dijatuhkan ke dalamnya, maka gunung-gunung itu akan meleleh karena panasnya yang sangat dahsyat.  Wail tersebut adalah tempat bagi orang-orang yang meremehkan dan suka mengakhirkan salat (hingga keluar dari waktunya).  Kecuali jika mereka bertaubat kepada Allah SWT, dan menyesali apa yang telah mereka lakukan.

    Diriwayatkan pula, bahwa seorang wanita Israil datang menemui Nabi Musa AS.

    “Wahai utusan Allah, Aku telah berbuat dosa, namun aku telah bertobat kepada Allah SWT.  Doakanlah agar Allah mengampuni dan menerima tobatku!” pinta wanita itu

    “Apakah sebenarnya dosamu itu?” tanya Nabi

    Musa AS.

    “Wahai nabiyullah, aku telah berzina, dan anak hasil perzinaan itu kubunuh.”

    “Enyahlah kau, wahai orang durhaka, jangan sampai api turun dari langit membakar kami karena perbuatan burukmu.”

    Wanita itu lalu keluar meninggalkan Nabi Musa dengan hati hancur.

    Malaikat Jibril AS lalu turun dan berkata, “Wahai Musa, tahukah kamu orang yang lebih buruk darinya?”

    “Orang yang meninggalkan salat,” jawab Musa AS.

    Seorang salaf menguburkan saudara perempuannya yang wafat.  Tanpa sepengetahuannya, kantong uangnya yang berisi beberapa dirham terjatuh ke liang kubur. Setibanya di rumah, ia baru menyadari bahwa kantong uangnya telah hilang.  Ia pun lalu kembali kekuburan. Saat itu para pelayat telah pulang. Ia mulai menggali kuburan yang masih baru itu. Belum berapa dalam galian itu, tiba-tiba menyemburlah kobaran api dari dalam kubur. Ia segera menutup kembali kuburan itu dengan tanah.  Dengan perasaan sedih, ia pulang ke rumah menemui ibunya.

    “Ibu, ceritakanlah apa yang dilakukan saudariku semasa hidupnya?”

    “Mengapa kau tanyakan hal ini?” tanya sang ibu penasaran.

    “Dari dalam kuburnya keluar kobaran api, Bu!”

    Mendengar ini, sang ibu menangis.

    “Anakku, dulu saudarimu sering melalaikan dan mengakhirkan salat hingga keluar dari waktunya,” jelas ibunya.

    Al-’Amiri, dalam kitabnya, Bahjah, setelah menyebutkan tata cara salat khauf, ia menulis, “Salat khauf ini merupakan dalil paling kuat yang menjelaskan bahwa tidak ada keringanan untuk meninggalkan atau merubah waktu salat dari yang telah ditentukan.  Sebab, jika boleh, tentu para mujahid yang memerangi musuh-musuh Islam bersama Rasulullah SAW lebih berhak melakukannya. Karena alasan inilah maka salat berbeda dengan semua ibadah yang lain. Kewajiban ibadah lain gugur jika ada udzur5.  Ibadah lain juga memiliki keringanan, bahkan kadang kala ada penggantinya6 (niyaabaat). Orang yang meninggalkan kewajiban-kewajiban lain tidak wajib dibunuh, tetapi orang yang meninggalkan salat karena malas, ia dapat dikenai hukum had, dibunuh, dan darahnya halal7. Kewajiban salat ini bergantung pada kekuatan akal, bukan pada kekuatan fisik. Dalilnya: Orang yang tidak mampu mengerjakan salat dengan berdiri, ia boleh mengerjakannya dengan duduk, jika tidak mampu duduk, ia boleh melakukannya dengan berbaring pada sisi kanan tubuh, jika tidak mampu, maka boleh dilakukan dengan telentang dan isyarat mata.  Karena semua inilah maka salat disamakan dengan iman yang tidak bisa hilang begitu saja.

    Rasulullah SAW bersabda: “Batas seorang hamba dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.”  (HR Muslim)

    “Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat, barang siapa meninggalkan salat maka ia telah kufur.”  (HR Turmudzi, dan menurutnya sahih)

    Andaikan ada seorang yang telah berihram; ia datang dari daerah yang sangat jauh; telah berusaha keras untuk mencapai Arofah sebelum terbitnya fajar malam Nahr; dan saat itu ia belum menunaikan salat Isya; sedangkan, apabila waktu yang tersisa digunakan untuk mengerjakan salat Isya, ia akan kehilangan hajinya, maka menurut para ulama, orang ini tidak boleh meninggalkan salat, dan tidak boleh pula mengerjakannya seperti salat khauf. Demikianlah menurut pendapat yang paling benar. Sebab, salat lebih utama daripada haji, dan waktu haji cukup luas, yakni sepanjang umur manusia.”

    Masyarakat sangat mencela orang yang tanpa udzur membatalkan puasa di bulan Ramadhan, namun mereka tidak mencela orang yang meninggalkan salat, padahal ancaman hukumannya lebih berat.  Mereka mencela orang yang meninggalkan salat Jumat, namun tidak mencela orang yang meninggalkan salat berjamaah, padahal kedua persoalan itu mempunyai kedudukan yang sama. Sepantasnya orang yang meninggalkan salat dijauhkan dari mesjid-mesjid kaum muslimin, dan diasingkan dari pertemuan-pertemuan mereka yang mulia, serta muwakalah8 dan munakahahnya9 dianggap hina.  Disamping itu, ia juga harus dinasihati dan diberi penjelasan bahwa perbuatannya itu amat buruk dan darahnya dapat menjadi mubah. Diharapkan dengan cara ini, ia menjadi sadar, dan kembali mengerjakan salat. Sesungguhnya dari Allahlah datangnya taufik.

    ***

    Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 4 May 2016 Permalink | Balas  

    Puasa Dan Hakekatnya 

    puasa 3Puasa Dan Hakekatnya

    Kewajiban berpuasa: Puasa telah diwajibkan bagi umat Islam, bahkan menjadi salah satu rukun Islam

    Firman Allah Swt antara lain (yang artinya): “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu untuk melakukan shiyam (puasa), sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. (QS.Al Baqarah ayat 183)

    “(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, (memberi makan lebih satu orang miskin) maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS.Al Baqarah ayat 184).

    (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS.Al Baqarah ayat 185).

    Rasulullah Saw.bersabda, ‘Allah Swt.berfirman: “Setiap kebaikan pahalanya akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.”

    Nabi Saw.bersabda (yang artinya) : “Setiap sesuatu itu mempunyai pintu dan pintu ibadah adalah puasa.”

    Keistimewaan-keistimewaan ibadah puasa ini dikarenakan oleh dua hal.

    Pertama, puasa dikembalikan pada sikap menahan diri, yaitu amal rahasia yang tidak diketahui oleh seorangpun selain Allah Ta’ala, tidak seperti salat, zakat dan lain-lain.

    Kedua, puasa adalah penaklukan musuh Allah Swt, karena setan adalah musuh. Musuh tidak akan menjadi kuat, kecuali dengan perantaraan keinginan nafsu syahwat, sementara rasa lapar dapat mematahkan semua keinginan nafsu yang dijadikan sarana bagi setan. Oleh karena itu Nabi Saw. bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya setan merasuki tubuh manusia dengan mengikuti jalan darah, maka sempitkanlah jalan setan dengan rasa laparatau berpuasa.”

    Itulah rahasia sabda Nabi Saw. (yang artinya) : “Apabila bulan Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Seorang penyeru (malaikat) berseru, “Hai siapa yang menginginkan kebaikan, kemarilah. Hai siapa yang menginginkan keburukan berhentilah.”

    Ketahuilah saudaraku, ditinjau dari ukurannya puasa terbagi menjadi tiga tingkatan. Demikian juga ditinjau dari segi rahasia-rahasia yang dikandungnya terbagi menjadi tiga tingkatan. Ukuran minimal puasa adalah bulan Ramadhan, karena itu suatu kewajiban mutlak bagi orang yang beragama islam, sedang ukuran maksimal puasa adalah puasa Nabi Dawud a.s. yaitu berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari, sepanjang tahun.

    Dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa puasa Dawud tersebut lebih baik daripada puasa Dahr (sepanjang tahun) dan merupakan puasa terbaik. Higmahnya yang terkandung disana adalah bahwa seseorang berpuasa sepanjang tahun (Dahr), maka puasa akan menjadi kebiasaan baginya. Dengan demikian ia tidak akan merasakan pengaruh puasa didalam dirinya, berupa kandungan jiwanya, kejernihan hatinya dan kelemahan syahwatnya. Karena nafsu hanya dapat dipengaruhi oleh sesuatu yang datang kepadanya, bukan sesuatu yang terbiasa dialaminya.

    Adapun puasa tingkat menengah adalah bila Anda berpuasa selama sepertiga tahun. Yaitu bila Anda berpuasa setiap hari Senin dan Kamis ditambah dengan puasa Ramadhan, berarti Anda telah berpuasa empat bulan empat hari, yaitu tambahan dari sepertiga. Akan tetapi harus terputus sehari (hari Senin atau hari Kamis) dari hari-hari tasyriq dan dua hari raya, itu berarti hanya perlu menambah tiga hari sebagai gantinya. Seyogyanya puasa Anda tidak kurang dari kadar ini, karena puasa ini terasa ringan pada jiwa, tetapi pahalanya banyak.

    Adapun tingkatan-tingkatan puasa dari segi rahasianya terbagi menjadi tiga derajat.

    Pertama, yang terendah adalah hanya terbatas pada tindakan diri dari perbuatan yang membatalkan puasa, tetapi tidak menahan anggota tubuhnya dari perbuatan tercela. Misalanya ghibah (ghosip), zina mata, zina tangan, telinga berbuat maksiat dsb. Ini adalah puasa umum (puasa orang awam) yang hanya berhenti dan puas dengan namanya saja. Apa yang didapat hanyalah rasa lapar, haus dan tidah berhubungan badan saja.

    Kedua, Anda menambahkan pada puasa itu pencegahan anggota tubuh dari perbuatan terlarang. Anda menghindarkan lisan dari ngobrol, ghibah (menggunjing), mata dari pandangan terlarang melihat artis-aartis yang telanjang di TV, telinga dari mendengarkan kata-kata yang tidak sopan, otak dari perbuatan menghayal, menghindarkan hati dari sifat iri, dengki, hasat, hasut, dendam, perut yang masih mau makan makanan haram, riba, subhat, tangan dari perbuatan usil, kaki dari mengantar ketempat maksiat walaupun tidak ikut melakukannya dan begitu pula anggota-anggota tubuh lainnya.

    Ketiga, Anda menambahkan pada puasa itu penghindaran hati dari pikiran (pada urusan duniawi (tinggalkan urusan duniawi), ingatlah akan kemana roh kita setelah kita meninggal dunia, roh kita akan hidup di alam kubur beribu-ribu tahun, bahkan jutaan tahun, belum di akhirat nanti yang kekal selamanya nah apa bekal kita untuk menghadap raja diraja penguasa jagat alam raya ini yaitu Allah Azza Wa Jalla, dan rasa was-was serta membatasinya hanya pada mengingat Allah Azza Wa Jalla. Ini adalah puasa paling khusus dan paling sempurna.

    Dan kunci final yang dapat menyempurnakan adalah berbuka dengan makanan halal, bukan makanan syubhat (yang diragukan kehalalannya), bukan hasil dari meminta-minta, bukan hasil pemberian orang yang hasil dari korupsi, hasil dari maling uang rakyat, dan makanlah (berbuka hanya sekedar makan untuk menjadikan badan kuat untuk beribadah selanjutnya (sholat tarwih, salat malam lainya, tahajut, shalart witir dsb tidak berlebihan menyantap makanan halal dengan tujuan menambal makan yang ditinggalkannya di siang hari, sehingga menggabungkan dua porsi makan sekaligus. Sebab hal ini akan menimbukan lambung penuh serta menguatnya syahwat. Ini di samping menghilangkan higmah dan faedah puasa juga menyebabkan rasa malas melakukan shalat tahajut. Bahkan bisa jadi tidak mampu bangun sebelum subuh. Semua itu merupakan kerugian dan mungkin tidak bisa ditutup oleh faedah puasa.

    PUASA SUNAH: Puasa 6 hari berturut-turut di bulan Syawal setelah puasa Ramandhon disambung puasa Syawal 6 hari, hari raya Idul Fitri dilarang puasa, jadi berselang satu hari saja. Manfaatnya dianggap puasa sepanjang masa. (HR.Muslim Buku II No. 1134).

    Artinya puasa 30 hari dibulan puasa, nilainya sama dengan 300 hari, karena setiap kali puasa 10 kali lipat nilainya, kalau ditambah 6 hari puasa dibulan syawal = 6 x 10= 60 hari, jadi sama berpuasa 360 hari dalam setahun, kalau tiap-tiap tahun berpuasa di bulan Ramandhon 30 hari dan dibulan syawal 6 hari, berarti puasa sepanjang masa.

    Puasa tiap-tiap bulan tiga hari, paling baik pada tgl 14, 15 & 16 pada bulan Qomariah, atau pada hari apa saja yang penting tiap-tiap bulan ada tiga hari puasa. Satu hari berpuasa nilainya sama dengan 10 hari, jadi kalau tiap-tiap bulan berpuasa 3 hari nilainya sama dengan berpuasa 30 hari, kalau tiap-tiap bulan berpuasa 3 hari, maka dianggap berpuasa sepanjang masa. (HR.Muslim & HR.Bukhari)

    Puasa pada tanggal 10 Asyura ( Muharam), pada tangggal tersebut ditenggelamkannya raja Fir’aun, atau hari raya orang-orang yahudi, Nabi Musa bersyukur atas ditenggelamkannya raja Fir’aun. Dan dimenangkannya orang yahudi, Nabi Muhammad SAW menghormati Nabi Musa AS. (HR.Muslim Buku II No. 1103)

    Puasa pada tanggal 8 & 9 Zulhijah atau hari Arafah. Manfaatnya dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang dihapus atau diampuni. (HR.Muslim Buku II No. 1131)

    Puasa pada bulan Sya’ban, hari dan tanggal terserah, puasalah sebanyak-banyaknya. (HR.Muslim Buku II No. 1125)

    Puasa Nabi Daud, satu hari puasa satu hari tidak puasa, terus menerus. (HR.Muslim Buku II No. 1128)

    Faedah (manfaat) puasa: Satu hari berpuasa, dijauhkan dari neraka 70,000 musim lamanya) HR.Muslim No. 1120.

    Bagi orang yang berpuasa dibukakkan pintu surga tersendiri oleh Allah Swt, karena puasa itu amalan yang langsung untuk Allah Swt.

    Dengan berpuasa mendidik kita untuk berdisiplin waktu, disiplin bekerja, jujur tidak berbohong, tidak korupsi (ghulul), tidak mencuri hak orang lain, mendidik mental kita untuk menjalankan, menunaikan segala perintah yang diwajibkan oleh agama maupun pemerintah dan menjauhkan segala perbuatan yang dilarang oleh agama maupun oleh pemerintah.

    Hasilnya kita akan selamat didunia sampai diakhirat dan anak cucu kita akan menemui kebahagia-an, karena kita sendiri secara langsung mendidik anak untuk berpuasa yang benar, yang sangat besar manfaatnya didunia maupun di akhirat nanti.

    Dengan ibadah berpuasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat takwa yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt. Insya Allah.

    Hakekat puasa: Puasa tidak hanya menahan lapar, haus dan kemaluan dari memenuhi syahwat, namun puasa harus bisa menjaga otak kita dari menghayal, (lisan kita dari berkata kotor, ghibah), pendengaran kita dari suara kotor, (mata kita dari pandangan yang haram, tv, film, sinetron), tangan kita dari colak-colek yang diharamkan, (hati kita dari sifat iri-dengki, hasat-hasut, sombong, membanggakan diri, ria), (kaki kita dari berjalan menuju tempat ghibah, maksiat dsb), serta anggota tubuh lainnya dari dosa-dosa kecil, seperti tersebut diatas pada nomor dua.. Lebih baik tidur daripada ngobrol yang tidak karuan, Perbanyaklah membaca : Al Qur’an, dzikrullah, baca buku-buku agama.

    Ada beberapa perkara yang merusak hakekat puasa antara lain: dusta, ghibah (menggunjing orang), namimah (mengadu domba), sumpah dusta (palsu), pandangan dengan syahwat, irihati, dengki, dendam, melihat gambar-gambar porno, melihat artis telanjang di tv dsb.

    Hari-hari yang tidak boleh berpuasa: Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, hari-hari Tasyrik (11, 12 & 13 Zulhijah) dan hari Jum’at kecuali hari Jum’at bulan Ramandhan. (HR.Muslim).

    Saudaraku, bila kita tidak berusaha untuk berpuasa dihari ini, entah dengan bekal apa nanti bila kita menghadap Sang Pencipta, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah Swt. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti, di hari pengadilan Tuhan nanti!! Allahu a’lam bishshawab.

    Semoga tulisan ini dapat menambah keimanan kita, ketakwaan kita, agar dapat menambah amal saleh kita, agar bisa menancap dihati kita yang paling dalam , semoga sampai diakhir hayat kita, sehingga kita mati dalam keadaan Khusnul Khotimah, dengan membawa amal saleh yang banyak, insya Allah. Bila ini benar tentunya datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bila ada yang salah ini datangnya dari saya sendi, semoga Allah SWT mengampuni saya. Allahu a’lam bish shawab. Alhamdulillaahirrabbil’alamiin. Sukarman.

    Barang siapa yang mau beramal shaleh, tolong tulisan ini diforward ke kawan atau sanak saudara kita.

    ***

    Sumber: Terjemah Al Qur’an, Hadits Shahih Imam Muslim dan Bukhori.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 3 May 2016 Permalink | Balas  

    Taqwa, Kafir, Munafiq 

    khusyuk_500Taqwa, Kafir, Munafiq

    Assalamu’alaykum Wr. Wb.

    Segala puji hanyalah bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW.

    Dalam surat Al-Baqarah ayat 2-16 Allah SWT menggolongkan manusia, dalam 3 golongan:

    1. Orang bertaqwa (QS. 2:2)

    Ciri-ciri dari orang yang bertaqwa diantaranya:

    • menjadikan Al-Quraan sebagai petunjuk (QS. 2: 2), (QS: 2:5)
    • beriman kepada yang gaib (QS. 2:3)
    • mendirikan shalat (QS. 2:3)
    • menginfaqkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah SWT kepada mereka (QS. 2:3)
    • beriman kepada kitab-kitab Allah SWT (QS. 2:4)
    • meyakini adanya hari pembalasan/akhirat (Qs. 2:4)

    Konsekwensi dari ketaqwaan: menjadi orang yang beruntung. (QS.2:5)

    1. Orang kafir (Qs. 2:6)

    Ciri-ciri orang-orang kafir, diantaranya:

    • tidak mau menerima peringatan (QS. 2: 6)

    Konsekwensi dari kekafiran:

    • jalan untuk memproleh petunjuk telah ditutup oleh Allah SWT. (QS. 2:7)
    • siksa yang amat berat dari Allah SWT (Qs. 2:7)
    1. Orang Munafiq (QS. 2:8)

    Ciri-ciri orang-orang munafiq, diantaranya:

    • iman hanya sampai di lisan saja. (QS. 2:8)
    • banyak retorika dengan tujuan ingin mengelabui Allah SWT dan orang-orang beriman (QS. 2:9) padahal yang di tipu adalah diri sendiri tapi tidak menyadarinya
    • pendusta (Qs. 2:10)
    • jika dikatakan jangan berbuat kerusakan mereka mengatakan sedang mengadakan perbaikan. (QS. 2:11) dalam kondisi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang melakukan kerusakan (QS. 2:12)
    • jika mendapat seruaan untuk beriman malah mengolok-olok dengan mengatakan bodoh (QS. 2:13)
    • jika bertemu orang beriman mereka mengatakan “beriman” tapi ketika kembali kepada kelompoknya mereka  mengatakan cuma main-main saja. (Qs. 2;14)
    • orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk (QS. 2:16)

    Konsekwensi dari kemunafiqan:

    • ditambah penyakit dalam hatinya oleh Allah SWT (QS. 2:10)
    • Allah SWT akan membiarkan mereka dalam “kebingungan”nya (QS. 2:15)
    • Siksa yang pedih (QS. 2:10)

    Wallahua’lam

    Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

    ***

    Munanggar Fahmi

     
  • erva kurniawan 2:37 am on 2 May 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Sya’ban 

    Sya'banFadhilat Sya’ban

    (1 Sya’ban 1437 H jatuh pada Minggu 8 Mei 2016 M)

    1. Telah memberitahu kepada kami Abdullah bin Yusuf Telah memberitahu kami Malik daripada Abi An-Nadhri daripada Abi Salamah daripada Sayyidatina ‘Aishah telah berkata : Rasulullah S.A.W berpuasa sehingga kita mengatakan dia tidak berbuka dan baginda S.A.W berbuka sehingga kami berkata dia tidak berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat Rassulullah S.A.W menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat baginda S.A.W banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban.

    (Diriwayatkan oleh imam Bukhari di dalam sohihnya dan imam Muslim di dalam sohihnya)

    1. Telah memberitahu kami Muaz bin Fudhalah telah memberitahu kami Hisham daripada Yahya daripada Abi Salamah sesungguhnya sayyidatina ‘Aishah telah memberitahunya dengan berkata : Nabi S.A.W tidak banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban, dan baginda S.A.W telah berpuasa sebulan penuh pada bulan Sya’ban. Dan adalah baginda S.A.W bersabda : Lakukanlah amalan yang mana kamu mampu membuatnya maka sesungguhnya Allah tidak membebankan (mewajibkan) kamu sehingga kamu merasa berat dengan beban. Dan apa yang disukai oleh Rasulullah S.A.W adalah sembahyang(sunat) yang senantiasa dikerjakan sekalipun sedikit. Dan adalah baginda S.A.W apabila mendirikan sembahyang maka baginda S.A.W senantiasa berterusan di dalam berbuat demikian.

    (Diriwayatkan oleh imam Bukhari di dalam sohihnya dan imam Muslim di dalam sohihnya)

    1. Telah memberitahu kami Sufian bin ‘Uyainah daripada Ibn Abi Labid daripada Abi Salamah telah berkata : Aku telah bertanya Sayyidatina ‘Aishah tentang puasa Rasulullah S.A.W maka dia menjawab : Adalah baginda S.A.W berpuasa sehingga kami berkata : Sesungguhnya baginda S.A.W telah berpuasa dan baginda s.A.W berbuka sehingga kami mengatakan : Telah baginda S.A.W berbuka. Aku tidak pernah melihat baginda S.A.W berpuasa dari sebulan sahaja lebih banyak daripada puasa baginda S.A.W pada bulan Sya’ban. Kadang-kadang baginda S.A.W berpuasa Sya’ban sebulan penuh dan kadang-kadang baginda S.A.W berpuasa sedikit daripadanya.

    (Diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam sohihnya)

    1. Telah memberitahuku Muawiyah bin Soleh daripada Abdullah bin Abi Qais sesungguhnya dia telah mendengar Sayyidatina ‘Aishah berkata : Bulan yang disukai oleh Rasulullah S.A.W yang mana baginda S.A.W berpuasa padanya adalah bulan Sya’ban kemudian disambung puasa pada bulan Ramadhan.

    ( Hadis ini sanadnya Hasan dan diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasaei, Ibn Khuzaimah, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi)

    1. Telah memberitahuku Al-Maqburi daripada Abu Hurairah daripada Usamah bin Zaid telah berkata: Aku telah berkata : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kau telah melihat engkau berpuasa pada bulan yang mana aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan yang mana engkau puasa padanya. Bertanya Rasulullah S.A.W : Bulan apa? Aku berkata: Sya’ban bulan diantara Rejab dan Ramadhan yang mana melupakan manusia mengenainya(diangkat kepadaNya) segala amalan semua hamba maka aku lebih suka amalanku tidak diangkat melainkan bersamanya aku berpuasa. Maka aku berkata lagi: Aku melihat engkau berpuasa pada hari Isnin dan Khamis dan tidak mengabaikan kedua-dua hari itu.Sabda baginda S.A.W : Sesungguhnya segala amalan semua hamba akan diangkat pada kedua-dua hari itu maka aku lebih suka tidak diangkat amalanku melainkan bersamanya aku berpuasa.

    (Hadis ini sanadnya Hasan dan telah dikeluarkan oleh An-Nasaei, Imam Ahmad dan imam Al-Baihaqi)

    ================

    Hide message history

    maraji :

    1. Fathul Bari syarah sohih Bukhari oleh Ibnu Hajar jilid 4 cetakan Maktabah Al-Risalah Al-Hadisah
    2. Syarah Sohih Muslim oleh imam An-Nawawi jilid 15/16 cetakan Darul Makrifah
    3. Kitab Fadahailul Auqat oleh Abi Bakar bin Al-Husin Al-Baihaqi di kaji oleh Adnan Abdul Rahman Majid Al-Qaisi cetakan Maktabah Al-Manarah Makah Mukarramah.
     
  • erva kurniawan 1:28 am on 1 May 2016 Permalink | Balas  

    Keistimewaan Bulan Sya’ban 

    Sya'banKeistimewaan Bulan Sya’ban

    Ada beberapa keistimewaan bulan Sya’ban di dalam Islam, antara lain :

    1. Bulan di mana amalan diangkat kepada Allah swt.
    2. Dikeluarkan oleh Bukhary dan Muslim : Daripada Aisyah sesungguhnya beliau telah berkata : “Tidak pernah Rasulullah saw berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban (selain dari Ramadhan) kerana sesungguhnya Baginda berpuasa penuh sebulan” seperti sabda Baginda “Lakukan amalan apa yang mampu oleh kamu karena sesungguhnya Allah tidak pernah jemu sehingga kamu sendiri merasa jemu”
    3. Usamah bin Zaid berkata: “Aku telah bertanya kepada Rasulullah saw :Ya Rasulullah, aku tidak pernah menyaksikan seumpama puasamu di bulan Sya’ban di dalam bulan-bulan lain. Rasulullah telah bersabda: “Itulah bulan di mana manusia lalai mengenainya iaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di mana segala amalan diangkat kepada Tuhan pemilik sekalian alam. Maka aku amat suka sekiranya amalanku diangkat sedang aku berpuasa.”
    4. Pertengahan Sya’ban: keampunan dan keredhaan.
    5. Dari Aishah , sabda Rasulullah :”Ya, Aishah sesungguhnya ialah bulan di mana malaikat maut menghapuskan nama orang yang akan diambil rohnya di sepanjang tahun itu maka aku amat suka sekiranya beliau tidak mengambil rohku melainkan dalam bulan Sya’ban.”.

    Ini adalah karena di dalam bulan Sya’ban tersebut akan dilakukan pemansuhan nama-nama orang yang akan diambil namanya di sepanjang tahun tersebut. Maka orang2 yang diambil rohnya di sepanjang tahun itu dihapuskan namanya dan dipindahkan dalam barisan orang2 yang akan mati pada tahun tersebut.

    1. Daripada Anas , Nabi saw bersabda : “Puasa Sya’ban sebagai menghormati (memperbesarkan kedatangan) bulan Ramadan.”
    2. Aishah telah berkata: “Bulan yang paling disukai oleh Rasulullah saw ialah bulan Sya’ban kemudian diteruskan dengan Ramadhan”.
    3. Abdullah r.a. berkata, Rasulullah telah bersabda :”barangsiapa yang berpuasa pada hari senin terakhir di dalam bulan Sya’ban akan diampunkan dosanya”.
    4. Kelebihan malam pertengahan Sya’ban (lailatul bara’ah): keampunan Allah- qiamullail dan puasa di siang hari. Daripada Ali bin Abi Talib, Rasullah bersabda :” sesungguhnya Allah turun pada pertengahan Sya’ban ke langit dunia maka dia mengampuni setiap muslim melainkan orang mushrik, orang yang memutuskan silaturrahim yang berbuat fitnah dan wanita yang tidak menjaga kemaluannya”.
    5. Umar bin Abd Aziz telah menulis:”hendaklah kamu memerhatikan empat malam di dalam satu tahun kerana sesungguhnya Allah swt telah membuka rahmatnya dengan seluas2nya yaitu malam pertama Rejab, malam pertengahan Sya’ban, malam Aidilfitri dan malam Aidil adha”.
    6. Sabda nabi saw: Sesungguhnya doa di malam ini tidak ditolak sama sekali.
    7. Ulama menganjurkan agar dibacakan Surah Yassin 3 kali. Bacaan pertama diniatkan untuk memohon panjang umur, bacaan kedua untuk memohon mengangkat bala dan ketiga agar merasa cukup – tidak meminta2 dari makhluk, dan doa dibacakan selepas setiap bacaan Surah Yassin
    8. Istighfar dan taubat:

    Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: “Syaa’ban adalah bulanku, Rejab adalah bulan Allah dan Ramadhan bulan umatku dan Sha’ban adalah bulan ditukarnya kejahatan dengan kebaikan dan Ramadan adalah pembersih segala dosa”.

    1. Dari Anas bin Malik: Nabi saw bersabda: kelebihan Rejab di atas bulan2 lain adalah umpama kelebihan Al-Quran keatas lain2 perkataan, kelebihan sya’ban ke atas lain2 bulan adalah umpama kelebihanku di atas lain2 nabi dan kelebihan ramadan ke atas lain2 bulan adalah seumpama kelebihan Allah ke atas sekalian makhluk.
    2. Mengeluarkan sadaqah dan membaca Al-Quran

    Dari Anas b Malik: Sahabat2 Rasulullah saw, apabila mereka melihat anak bulan di permulaan sya’ban mereka akan mendambakan diri dengan membaca al-Quran, umat Islam mengeluarkan zakat kepada fakir miskin …

    1. Salawat ke atas Nabi: Allah swt berfirman dalam al-Ahzab 56 : “Sesungguhnya allah bersalawat ke atas nabi, wahai orang2 yang beriman, bersalawat ke atasnya dengan salawat yang banyak”.

    Daripada Abdullah bin Amru b As , Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang bersalawat kepadaku sekali maka allah akan bersalawat ke atasnya sepuluh kali

    1. Sujud dan doa di malam pertengahan Sya’ban:

    Aishah telah berkata: Apabila tiba malam pertengahan bulan Sya’ban (nisfu syaaban) Rasulullah saw telah meninggalkan tempat tidur sehinggakan aku menyangka bahwa baginda saw telah pergi mendatangi isteri2nya yang lain maka aku bangun mencarinya di dalam rumah. Sedang aku meraba-raba terpeganglah olehku kedua kaki Rasulullah yg ketika itu sedang sujud . Maka aku telah menghafal doa yang dibaca ketika sujud baginda :

    “Telah sujud kepadamu kegelapan malam dan diriku ini , telah beriman kepadamu sanubariku, aku mengiktirafi akan nikmat2 yang telah engkau kurniakan, aku mengiktirafi dosa2ku kepadamu, aku telah menzalimi diriku sendiri (dengan melakukan maksiat) maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa2 melainkan engkau, aku berlindung dengan keampunanmu dari azabmu dan aku berlindung dengan keredhaanmu dari kemurkaanmu dan aku berlindung denganmu saja, tiada upaya aku menghitung pujian untukmu, engkau adalah sepertimana engkau memuji dirimu sendiri.”

    Rasulullah bersabda : Pelajarilah dan ajarilah ia (doa itu) karena sesungguhnya Jibrail telah memerintahkanku supaya menyebutnya dalam sujudku.

    1. Sabda Rasulullah : Di malam ini dituliskan nama setiap bayi yang akan dilahirkan dan orang yang akan mati sepanjang tahun ini, pada malam ini diturunkan rezeki2 mereka pada malam ini diangkat amalan2 dan perbuatan2 hamba2.
    2. Sholat malam dan bacaan surah pendek : Rasulullah telah bersembahyang dengan memendekkan qiamnya dan membaca surah al-Fatihah dan surah2 yang ringkas lagi ringan kemudian beliau sujud hingga pertengahan malam. Kemudian baginda bagun di dalam rakaat kedua membaca surah2 sekitar surah2 tadi juga. Sujud baginda di rakaat ini sehingga ke fajar.
    3. Dari Abu Hurairah, sabda Rasulullah: Jibrail telah datang kepadaku pada malam pertengahan sya’ban dan berkata kepadaku : ‘Ya Muhammad ! Tongakkanlah kepalamu ke arah langit. Aku bertanya apakah malam ini? Jawab Jibrail, pada malam ini Allah membukakan tiga ratus pintu2 dari pintu2 rahmat dan mengampunkan orang yang tidak mempersekutukannya, melainkan ahli sihir, ahli nujum, pemabuk arak, orang yang tetap mengambil riba dan tetap melakukan zina adalah karena sekalian mereka itu tidak akan diampunkan sehinggalah mereka bertaubat.
    4. Perbanyakkanlah beristighfar/taubat lantaran malam tersebut dipenuhi dengan keampunan dan rahmat Allah. Mohonlah juga keampunan untuk kedua ibu bapa dan sekalian muslim yang masih hidup ataupun yang telah mati.
    5. Sya’ban sebagai lailatul bara’ah Baraah = kelepasan. 1. Kelepasan dari azab ar-Rahman. 2. Kelepasan Wali2 Allah dari dibiarkan oleh Allah swt.

    Sabda Rasulullah: Apabila tiba malam pertengahan Syaaban Allah akan memerhatikan makhluknya dengan pemerhatian yang penuh. Maka Allah akan mengampunkan orang2 yang beriman, membiarkan org2 kafir, meninggalkan orang2 yang berkhianat sehingga mereka bertaubat kepada Allah.

    1. Dikatakan bahwa malaikat juga mempunyai hari raya di langit sebagaimana manusia mempunyai hari raya di atas bumi. Maka hari raya malaikat ialah malam lailatul baraah dan lailatul qadar. Hari raya malaikat pada waktu malam karena mereka tidak tidur.

    ===================

    Sumber : Dipetik dari ‘Kelebihan bulan dan hari’ oleh Abu Khairy al-Latifi

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 1 May 2016 Permalink | Balas  

    Risalah : Wasiat Tentang Sholat (2/8) 

    sholat-subuhRisalah : Wasiat Tentang Sholat (2/8)

    Dikutip dari Majmû’ Washôyâ, Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Rasulullah SAW bersabda: Langit merintih dan memang ia pantas merintih, karena pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (salat) kepada Allah Azza Wa Jalla.  (HR Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

    Orang yang meninggalkan salat karena dilalaikan oleh urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya.  Ia dibenci oleh Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka jahim, atau kembali ke neraka hawiyah, dilaknat oleh Allah, dan terusir dari bumi dan langit.  Ia melelahkan malaikat pencatat keburukan.  Tempat tinggal dan tempat kembalinya menjadi sempit.  Ia dilaknat dan dicaci-maki oleh rumahnya.  Pakaian yang menempel di tubuhnya mengumpatnya: Wahai musuh Allah, andaikan Allah tidak menundukkan aku untukmu aku tak akan sudi menempel ditubuhmu!  Kamu memakan rezeki Allah namun mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah digariskan-Nya!

    Dengarkanlah nasihatku tentang nasib orang yang meninggalkan salat, baik semasa hidup maupun setelah meninggal.  Sesungguhnya Allah merahmati orang yang mendengarkan nasihat kemudian memperhatikan dan mengamalkannya.

    Allah SWT berfirman: Sesungguhnya salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman. (QS An-Nisa`, 4:103)

    Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Setelah Isya’ aku bersama Umar bin Khottob RA pergi ke rumah Abu Bakar AsShiddiq RA untuk suatu keperluan.  Sewaktu melewati pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan.  Kami pun terhenyak dan berhenti sejenak.  Kami dengar beliau menangis dan meratap.

    “Ahh…, andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap salat.  Ahh…, aku sungguh menyesali umatku.’

    “Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,’ kata Umar RA.

    Umar kemudian mengetuk pintu. “Siapa?’ tanya Aisyah RA. “Aku bersama Abu Hurairah.’

    Kami meminta izin untuk masuk dan ia mengizinkannya.  Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya:

    “Duhai Tuhanku, Engkau adalah Waliku bagi umatku, maka perlakukan mereka sesuai sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”

    “Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.  Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?”

    “Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah sehabis mengerjakan salat di mesjid, Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu,” kemudian ia berkata, “Bacalah!’

    “Apa yang harus kubaca?”

    “Bacalah: Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS Maryam, 19:59)

    “Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan salat?’

    “Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan salat, mengakhirkan salat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu.  Bagi mereka satu dinar lebih berharga daripada salat.”

    Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA.

    Allah SWT berfirman: “Mereka tidak berhak memperoleh syafaat kecuali orang yang telah mengikat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih.”  (QS Maryam, 19:87)

    Dalam menafsirkan ayat di atas Rasulullah SAW bersabda bahwa yang dimaksud dengan mengikat perjanjian adalah mengerjakan salat lima waktu.

    Rasulullah SAW bersabda: Setelah tauhid, Allah tidak mewajibkan kepada hamba-Nya suatu (amalan) yang lebih Ia sukai daripada salat.  Andaikan Allah lebih mencintai suatu (amalan) selain salat, tentu para malaikat-Nya — yang di antara mereka ada yang ruku’, sujud, berdiri dan duduk — akan beribadah kepada-Nya dengan (amalan) itu.

    Dikatakan bahwa di langit terdapat sejumlah malaikat yang selalu mengerjakan salat.  Mereka dijuluki sebagai pembantu Allah Yang Maha Pengasih (khoddaamur Rahman).  Para malaikat itu membanggakan salatnya kepada malaikat-malaikat yang lain.

    Juga dikatakan bahwa jika seorang mukmin mengerjakan salat dua rakaat, maka 10 shof malaikat, yang setiap shofnya terdiri dari 10.000 malaikat, akan merasa takjub melihatnya.  Demikianlah Allah membanggakan orang yang salat kepada 100.000 malaikat.

    Orang yang mengerjakan salat adalah makhluk pilihan Allah, pewaris surga-Nya, akan selamat dari negeri kemurkaan dan terhindar dari kutukan-Nya.  Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang khusyu’ dalam salat.

    Abu Darda` berkata, “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berdzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan salat.”

    Diriwayatkan pula bahwa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah adalah salat.  Jika salat seseorang cacat, maka seluruh amalnya akan ditolak.

    Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk salat, karena Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.”

    Atha’ Al-Khurasaniy berkata, “Sekali saja seorang hamba bersujud kepada Allah di suatu tempat di bumi, maka tempat itu akan menjadi saksinya kelak di hari kiamat.  Dan ketika meninggal dunia tempat sujud itu akan menangisinya.”

    Rasulullah SAW bersabda:”Salat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama. (HR Baihaqi).

    Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (HR Bazzar dari Abu Darda`)

    “Barang siapa bertemu Allah sedang ia mengabaikan salat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikan kebaikannya.”  (HR Thabrani)

    “Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka terlepas sudah darinya jaminan Muhammad.”  (HR Ahmad dan Baihaqi)

    “Allah telah mewajibkan salat lima waktu kepada hambaNya.  Barang siapa menunaikan salat pada waktunya, maka di hari kiamat, salat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya.  Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpul-kan bersama firaun dan Haman.” (HR Ibnu Hibban dan Ahmad).

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 30 April 2016 Permalink | Balas  

    Risalah : Wasiat Tentang Sholat (1/8) 

    siluet sholatRisalah : Wasiat Tentang Sholat (1/8)

    Dikutip dari Majmû’ Washôyâ, Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Segala puji bagi Allah yang Baqa1 dan Qidam2, Yang Maha Pemurah, penolak segala bencana, dan pemberi berbagai karunia.  Ia menciptakan kita dari tiada, dan memelihara kita sejak dalam kegelapan rahim kemudian menuntun kita ke jalan yang paling benar.

    Segala puji bagi Allah.  Betapa banyak nikmat telah Ia berikan kepada kita!  Betapa banyak kebaikan telah Ia curahkan kepada kita, kemudian Ia memberi kita pahala atas kebaikan-Nya itu dan melipat- gandakannya!  Dan betapa banyak cela dan aib kita telah disembunyikan dan dirahasiakanNya.

    Sesungguhnya pujian yang kusampaikan ini adalah nikmat terbesar yang Ia berikan kepadaku. Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.  Kesaksian yang akan membentengi diriku dari segala kesulitan saat di Mahsyar3 nanti.  Dan aku juga bersaksi, bahwa sesungguhnya Sayidina Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, manusia yang paling utama dalam memikul risalah dan segenap bebannya.  Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam kepadanya, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang menempuh jalan petunjuknya, serta mereka yang nasabnya bersambung kepadanya selama mereka masih menyadari nikmat Allah, serta merasa malu dan berinabah kepada-Nya.

    Amma Ba’du

    Ketika kusadari bahwa diriku dan sebagian besar penduduk kotaku merasa malas untuk salat, tidak mau salat berjamaah, tidak berlomba-lomba untuk beramal saleh, tidak mendekatkan diri kepada Allah, dan suka memboroskan waktu dalam kebatilan yang membingungkan akal sehat manusia, maka aku ingin memberikan peringatan sesuai dengan pengetahuan yang telah diajarkan Allah Yang Maha Tahu dan Mengerti.

    Kuakui bahwa diriku penuh kekurangan, namun nasihat ini kusampaikan dengan harapan Allah akan menyadarkan dan membukakan pintu kepada siapa pun yang mau mendengarnya, sehingga ia bersedia mencurahkan segenap tenaganya untuk mempersiapkan diri menghadapi hari hisab, memahami keagungan nikmat Allah, memohon ampun dan berinabah kepada-Nya.

    Segala puji bagi Allah.  Betapa banyak nikmat telah Ia berikan kepada kita.  Betapa banyak kebaikan telah Ia karuniakan kepada kita.  Betapa banyak keburukan telah Ia hindarkan dari kita.  Alangkah beruntung orang yang menjawab panggilan-Nya.  Betapa celaka orang yang berpaling dari pintu-Nya lalu bermaksiat kepada-Nya.  Alangkah besar musibah yang ia alami!  Alangkah jelas kerugian yang akan ia derita di hari ketika Allah menampakkan semua yang ia sembunyikan dan rahasiakan, saat kaki dan tangannya menjadi saksi atas semua keburukan yang telah dilakukannya.

    Hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya.  Setiap orang dari mereka pada hari itu memiliki urusan yang sangat menyibukkannya.

    (QS Abasa, 80:34-37)

    Hari yang penuh dengan tangis dan air mata karena keburukan yang selama ini disembunyikan, ditampakkan oleh Allah di hadapan seluruh makhluk yang menghuni bumi dan langit.  Hari saat manusia di hadapkan kepada Allah Yang Maha Perkasa.  Hari ketika alasan tak lagi berguna.

    Saudara-saudaraku, kinilah saat berbekal bagi musafir yang berjalan menuju akhirat.  Inilah saat untuk meraih keuntungan bagi orang yang melakukan perdagangan.  Bersiap-siaplah untuk pindah, karena tidak ada jalan untuk menetap di tempat ini.  Bagaimana mungkin kita terus menetap di sini!?  Bukankah telah kalian lihat orang-orang tua kalian satu demi satu meninggalkan dunia.  Apakah orang yang menyaksikan semua ini masih menginginkan bukti lagi?!  Bersegeralah sebelum hari yang panjang menyambut kalian, sebelum kalian beristirahat di tempat yang sangat buruk, sebelum kalian menangis dan meratap menghadapi bencana besar, hisab yang berat, perhitungan dari hal-hal yang paling kecil sampai pada yang paling penting.  Saat itu kalian akan mendapati amal baik kalian, dan menyesali segala yang telah kalian sia-siakan.  Di hari itu penyesalan tidak bermanfaat; alasan tidak didengar.  Karena itu, manfaatkanlah waktu yang singkat ini.  Bangkitlah, bulatkan tekad kalian, curahkan segenap tenaga, dan perbaikilah semua yang telah kalian telantarkan.

    Saudara-saudara rahimakumullah, ketahuilah bahwa sesungguhnya bencana yang dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian masyarakat pada salat lima waktu, salat Jumat dan salat jamaah, padahal semua itu adalah ibadah-ibadah yang dengannya Allah meninggikan derajat dan menghapuskan dosa-dosa maksiat.  Dan salat adalah cara ibadah seluruh penghuni bumi dan langit

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 29 April 2016 Permalink | Balas  

    Ghibah (Mengumpat) 

    ghibahGhibah (Mengumpat)

    Kita dilarang ghibah (mengumpat). Seperti firman Allah:

    “Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya.” (al-Hujurat: 12)

    Rasulullah s.a.w. berkehendak akan mempertajam pengertian ayat tersebut kepada sahabat-sahabatnya yang dimulai dengan cara tanya-jawab, sebagaimana tersebut di bawah ini:

    “Bertanyalah Nabi kepada mereka: Tahukah kamu apakah yang disebut ghibah itu? Mereka menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Maka jawab Nabi, yaitu: Kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak menyukainya. Kemudian Nabi ditanya: Bagaimana jika pada saudaraku itu terdapat apa yang saya katakan tadi? Rasulullah s.a.w. menjawab: Jika padanya terdapat apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu mengumpat dia, dan jika tidak seperti apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu telah menuduh dia.” (Riwayat Muslim, Abu Daud, Tarmizi dan Nasa’i)

    Manusia tidak suka kalau bentuknya, perangainya, nasabnya dan ciri-cirinya itu dibicarakan. Seperti tersebut dalam hadis berikut ini:

    “Dari Aisyah ia berkata: saya pernah berkata kepada Nabi: kiranya engkau cukup (puas) dengan Shafiyah begini dan begini, yakni dia itu pendek, maka jawab Nabi: Sungguh engkau telah berkata suatu perkataan yang andaikata engkau campur dengan air laut niscaya akan bercampur.” (Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Baihaqi)

    Ghibah adalah keinginan untuk menghancurkan orang, suatu keinginan untuk menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain, sedang mereka itu tidak ada di hadapannya. Ini menunjukkan kelicikannya, sebab sama dengan menusuk dari belakang. Sikap semacam ini salah satu bentuk daripada penghancuran. Sebab pengumpatan ini berarti melawan orang yang tidak berdaya.

    Ghibah disebut juga suatu ajakan merusak, sebab sedikit sekali orang yang lidahnya dapat selamat dari cela dan cerca.

    Oleh karena itu tidak mengherankan, apabila al-Quran melukiskannya dalam bentuk tersendiri yang cukup dapat menggetarkan hati dan menumbuhkan perasaan.

    Firman Allah:

    “Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya; apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai saudaranya padahal mereka tidak menyukainya?!” (al-Hujurat: 12)

    Setiap manusia pasti tidak suka makan daging manusia.

    Maka bagaimana lagi kalau daging saudaranya? Dan bagaimana lagi kalau daging itu telah menjadi bangkai?

    Nabi memperoleh pelukisan al-Quran ini ke dalam fikiran dan mendasar di dalam hati setiap ada kesempatan untuk itu.

    Ibnu Mas’ud pernah berkata:

    “Kami pernah berada di tempat Nabi s.a.w., tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri meninggalkan majlis, kemudian ada seorang laki-laki lain mengumpatnya sesudah dia tidak ada, maka kata Nabi kepada laki-laki ini: Berselilitlah kamu! Orang tersebut bertanya: Mengapa saya harus berselilit sedangkan saya tidak makan daging? Maka kata Nabi: Sesungguhnya engkau telah makan daging saudaramu.” (Riwayat Thabarani dan rawi-rawinya rawi-rawi Bukhari)

    Dan diriwayatkan pula oleh Jabir, ia berkata:

    “Kami pernah di tempat Nabi s.a.w. kemudian menghembuslah angin berbau busuk. Lalu bertanyalah Nabi: Tahukah kamu angin apa ini? Ini adalah angin (bau) nya orang-orang yang mengumpat arang-orang mu’min.” (Riwayat Ahmad dan rawi-rawinya kepercayaan)

    Batas Perkenan Ghibah

    Seluruh nas ini menunjukkan kesucian kehormatan pribadi manusia dalam Islam. Akan tetapi ada beberapa hal yang oleh ulama-ulama Islam dikecualikan, tidak termasuk ghibah yang diharamkan. Tetapi hanya berlaku di saat darurat.

    Diantara yang dikecualikan, yaitu seorang yang dianiaya melaporkan halnya orang yang menganiaya, kemudian dia menyebutkan kejahatan yang dilakukannya. Dalam hal ini Islam memberikan rukhshah untuk mengadukannya.

    Firman Allah:

    “Allah tidak suka kepada perkataan jelek yang diperdengarkan, kecuali (dari) orang yang teraniaya, dan adalah Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (an-Nisa’: 148)

    Kadang-kadang ada seseorang bertanya tentang pribadi orang lain karena ada maksud mengadakan hubungan dagang, atau akan mengawinkan anak gadisnya atau untuk menyerahkan suatu urusan yang sangat penting kepadanya.

    Di sini ada suatu kontradiksi antara suatu keharusan untuk mengikhlaskan diri kepada agama, dan kewajiban melindungi kehormatan orang yang tidak di hadapannya. Akan tetapi kewajiban pertama justru lebih penting dan suci. Untuk itu kewajiban pertama harus didahulukan daripada kewajiban kedua.

    Dalam sebuah kisah dituturkan, bahwa Fatimah binti Qais pernah menyampaikan kepada Nabi tentang maksud dua orang yang akan meminangnya. Maka jawab Nabi kepadanya: “Sesungguhnya dia (yang pertama) sangat miskin tidak mempunyai uang, dan Nabi menerangkan tentang yang kedua, bahwa dia itu tidak mau meletakkan tongkatnya dari pundaknya, yakni: dia sering memukul perempuan.”

    Dan termasuk yang dikecualikan juga yaitu: karena bertanya, minta tolong untuk mengubah suatu kemungkaran terhadap seseorang yang mempunyai nama, gelar atau sifat yang tidak baik tetapi dia hanya dikenal dengan nama-nama tersebut. Misalnya: A’raj (pincang), A’masy (rabun) dan anak si Anu.

    Termasuk yang dikecualikan juga, yaitu menerangkan cacatnya saksi dan rawi-rawi hadis.32

    Definisi umum tentang bentuk-bentuk pengecualian ini ada dua:

    Karena ada suatu kepentingan.

    Karena suatu niat.

    Karena suatu kepentingan

    Jadi kalau tidak ada kepentingan yang mengharuskan membicarakan seorang yang tidak hadir dengan sesuatu yang tidak disukainya, maka tidak boleh memasuki daerah larangan ini. Dan jika kepentingan itu dapat ditempuh dengan sindiran, maka tidak boleh berterang-terangan atau menyampaikan secara terbuka. Dalam hal ini tidak boleh memakai takhshish (pengecualian) tersebut.

    Misalnya seorang yang sedang minta pendapat apabila memungkinkan untuk mengatakan: “bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berbuat begini dan begini,” maka dia tidak boleh mengatakan: “bagaimana pendapatmu tentang si Anu bin si Anu.”

    Semua ini dengan syarat tidak akan membicarakan sesuatu di luar apa yang ada. Kalau tidak, berarti suatu dosa dan haram.

    Karena suatu niat

    Adanya suatu niat di balik ini semua, merupakan suatu pemisahan. Sebab pribadi manusia itu sendiri yang lebih mengetahui dorongan hatinya daripada orang lain. Maka niatlah yang dapat membedakan antara perbuatan zalim dan mengobati, antara minta pendapat dengan menyiar-nyiarkan, antara ghibah dengan mengoreksi dan antara nasehat dengan memasyhurkan. Sedang seorang mu’min, seperti dikatakan oleh suatu pendapat, adalah yang lebih berhak untuk melindungi dirinya daripada raja yang kejam dan kawan yang bakhil.

    Hukum Islam menetapkan, bahwa seorang pendengar adalah rekan pengumpat. Oleh karena itu dia harus menolong saudaranya yang di umpat itu dan berkewajiban menjauhkannya. Seperti yang diungkapkan oleh hadis Rasulullah sa,w.:

    “Barangsiapa menjauhkan seseorang dari mengumpat diri saudaranya, maka adalah suatu kepastian dari Allah, bahwa Allah akan membebaskan dia dari Neraka.” (Riwayat Ahmad dengan sanad hasan)

    “Barangsiapa menghalang-halangi seseorang dari mengumpat harga diri saudaranya, maka Allah akan menghalang-halangi dirinya dari api neraka, kelak di hari kiamat.” (Riwayat Tarmizi dengan sanad hasan)

    Barangsiapa tidak mempunyai keinginan ini dan tidak mampu menghalang-halangi mulut-mulut yang suka menyerang kehormatan saudaranya itu, maka kewajiban yang paling minim, yaitu dia harus meninggalkan tempat tersebut dan membelokkan kaum tersebut, sehingga mereka masuk ke dalam pembicaraan lain. Kalau tidak, maka yang tepat dia dapat dikategorikan dengan firman Allah:

    “Sesungguhnya kamu, kalau demikian adalah sama dengan mereka” (an-Nisa’: 140)

    Mengadu Domba

    Ketujuh: Kalau ghibah dalam Islam disebut sebagai suatu dosa, maka ada suatu perbuatan yang lebih berat lagi, yaitu mengadu domba (namimah). Yaitu memindahkan omongan seseorang kepada orang yang dibicarakan itu dengan suatu tujuan untuk menimbulkan permusuhan antara sesama manusia, mengotori kejernihan pergaulan dan atau menambah keruhnya pergaulan.

    Al-Quran menurunkan ayat yang mencela perbuatan hina ini sejak permulaan perioda Makkah. Firman Allah:

    “Dan jangan kamu tunduk kepada orang yang suka sumpah yang hina, yang suka mencela orang, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba.” (al-Qalam: 10-11)

    Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Tidak masuk sorga orang-orang yang suka mengadu domba.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Qattat, kadang-kadang disebut juga nammam, yaitu seorang berkumpul bersama orang banyak yang sedang membicarakan suatu pembicaraan, kemudian dia menghasut mereka.

    Dan qattat itu sendiri, yaitu seseorang yang memperdengarkan sesuatu kepada orang banyak padahal mereka tidak mengetahuinya, kemudian dia menghasut mereka itu.

    Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Sejelek-jelek hamba Allah yaitu orang-orang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba, yang memecah-belah antara kekasih, yang suka mencari-cari cacat orang-orang yang baik.” (Riwayat Ahmad)

    Islam, dalam rangka memadamkan pertengkaran dan mendamaikan pertentangan, membolehkan kepada juru pendamai itu untuk merahasiakan omongan tidak baik yang dia ketahui dari omongan seseorang tentang diri orang lain. Dan boleh juga dia menambah omongan baik yang tidak didengarnya. Seperti yang dikatakan Nabi dalam hadisnya:

    “Tidak termasuk dusta orang yang mendamaikan antara dua orang, kemudian dia berkata baik atau menambah suatu omongan baik.”

    Islam sangat membenci orang-orang yang suka mendengarkan omongan jelek, kemudian cepat-cepat memindahkan omongan itu dengan menambah-nambah untuk memperdaya atau karena senang adanya kehancuran dan kerusakan.

    Manusia semacam ini tidak mau membatasi diri sampai kepada apa yang didengar itu saja, sebab keinginan untuk menghancurkan itulah yang mendorongnya menambah omongan yang mereka dengar. Dan jika mereka tidak mendengar, mereka berdusta.

    Kata seorang penyair:

    Kalau mereka mendengar kebaikan, disembunyikan

    Dan kalau mendengarkan kejelekan, disiarkan

    tetapi jika tidak mendengar apa-apa, ia berdusta.

    Ada seorang laki-laki masuk ke tempat Umar bin Abdul Aziz, kemudian membicarakan tentang hal seseorang yang tidak disukainya. Maka berkatalah Umar kepada si laki-laki tersebut; kalau boleh kami akan menyelidiki permasalahanmu itu. Tetapi jika kamu berdusta, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat ini:

    “Jika datang kepadamu seorang fasik dengan membawa suatu berita, maka selidikilah.” (al-Hujurat: 6)

    Dan jika kamu benar, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat:

    “Orang yang suka mencela, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba.” (al-Qalam: 11)

    Tetapi kalau kamu suka, saya akan memberi pengampunan. Maka jawab orang laki-laki tersebut: pengampunan saja ya amirul mu’minin, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 28 April 2016 Permalink | Balas  

    Mendamaikan Persengketaan 

    takwaMendamaikan Persengketaan

    Kalau cuaca pertengkaran itu telah cerah kembali sesuai dengan keharusan bersaudara, maka bagi masyarakat Islam mempunyai kewajiban lain. Sebab sepanjang pengertian masyarakat Islam yaitu suatu masyarakat yang saling saling membantu dan saling menolong. Oleh karena itu tidak boleh sementara orang melihat saudaranya bertengkar dan saling membunuh, kemudian dia berdiri sebagai penonton, dan membiarkan api bertambah menyala dan kebakaran makin meluas. Bahkan setiap orang yang arif dan bijaksana serta ada kemampuan, harus terjun ke gelanggang guna mendamaikan persengketaan itu dengan niat semata-mata mencari kebenaran dan jauh dari pengaruh hawa nafsu. Seperti apa yang difirmankan Allah:

    “… maka adakanlah perdamaian di antara saudara-saudaramu, dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (al-Hujurat: 10)

    Dalam salah satu hadisnya Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan tentang keutamaan mendamaikan ini, serta bahayanya pertentangan dan perpisahan. Sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Maukah kamu saya tunjukkan suatu perbuatan yang lebih utama daripada tingkatan keutamaan sembahyang, puasa dan sedekah? Mereka menjawab: Baiklah ya Rasulullah! Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.: yaitu mendamaikan persengketaan yang sedang terjadi; sebab kerusakan karena persengketaan berarti menggundul, saya tidak mengatakan menggundul rambut, tetapi menggundul agama.” (Riwayat Tarmizi dan lain-lain)

    Jangan Ada Suatu Golongan Memperolokkan Golongan Lain

    Dalam ayat-ayat yang telah kami sebutkan terdahulu terdapat sejumlah hal yang dilarang oleh Allah, demi melindungi persaudaraan dan kehormatan manusia.

    Larangan pertama. tentang memperolokkan orang lain. Oleh karena itu tidak halal seorang muslim yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memperolokkan orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan perolokannya. Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang neraca kebajikan di sisi Allah. Justru itu Allah mengatakan: “Jangan ada suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan jangan pula perempuan memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan.”

    Yang dinamakan baik dalam pandangan Allah, yaitu: iman, ikhlas dan mengadakan kontak yang baik dengan Allah. Bukan dinilai dari rupa, badan, pangkat dan kekayaan.

    Dalam hadisnya Rasulullah s.a.w. mengatakan:

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan kekayaan kamu, tetapi Allah melihat hati kamu dan amal kamu.” (Riwayat Muslim)

    Bolehkah seorang laki-laki atau perempuan diperolokkan karena suatu cacat di badannya, perangainya atau karena kemiskinannya?

    Dalam sebuah riwayat diceriterakan, bahwa Ibnu Mas’ud pernah membuka betisnya dan nampak kecil sekali. Maka tertawalah sebagian orang. Lantas Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas’ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud.” (Riwayat Thayalisi dan Ahmad)

    Al-Quran juga menghikayatkan tentang orang-orang musyrik yang memperolok orang-orang mu’min, lebih-lebih mereka yang lemah –seperti Bilal dan ‘Amman– kelak di hari kiamat, neraca menjadi terbalik, yang mengolok-olok menjadi yang diolok-olok dan ditertawakan,

    Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang durhaka itu mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melalui mereka, mereka berlirik-lirikan. Dan apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan suka cita. Dan apabila mereka melihat mereka itu, mereka berkata: ‘Sungguh mereka itu orang-orang yang sesat.’ Padahal mereka itu tidak diutus untuk menjadi pengawal atas mereka. Oleh karena itu pada hari ini orang-orang mu’min akan mentertawakan orang-orang kafir itu.” (al-Muthaffifin 29-34)

    Ayat ini31 dengan tegas dan jelas menyebutkan dilarangnya perempuan mengolok-olok orang lain, padahal perempuan sudah tercakup dalam kandungan kata kaum. Ini menunjukkan, bahwa pengolok-olokan sementara perempuan terhadap yang lain, termasuk hal yang biasa terjadi di kalangan mereka.

    Jangan Mencela Diri-Diri Kamu

    Larangan kedua: Tentang lumzun, yang menurut arti lughawi berarti: al-wakhzu (tusukan) dan ath-tha’nu (tikaman). Sedang lumzun yang dimaksud di sini ialah: ‘aib (cacat). Jadi seolah-olah orang yang mencela orang lain, berarti menusuk orang tersebut dengan ketajaman pedangnya, atau menikam dengan hujung tombaknya.

    Penafsiran ini tepat sekali. Bahkan kadang-kadang tikaman lidah justru lebih hebat. Seperti kata seorang penyair:

    Luka karena tombak masih dapat diobati, Tetapi luka karena lidah berat untuk diperbaiki.

    Bentuk larangan dalam ayat ini mempunyai suatu isyarat yang indah sekali.

    Ayat tersebut mengatakan: laa talmizu anfusakum (jangan kamu mencela diri-diri kamu). Ini tidak berarti satu sama lain saling cela-mencela. Tetapi al-Quran menuturkan dengan jama’atul mu’minin, yang seolah-olah mereka itu satu tubuh. Sebab mereka itu secara keseluruhannya saling membantu dan menolong. Jadi barangsiapa mencela saudaranya, berarti sama dengan mencela dirinya sendiri. Karena dia itu dari dan untuk saudaranya.

    Jangan Memberi Gelar dengan Gelar-Gelar yang Tidak Baik

    Ketiga: Termasuk mencela yang diharamkan, ialah: memberi gelar dengan beberapa gelar yang tidak baik, yaitu suatu panggilan yang tidak layak dan tidak menyenangkan yang membawa kepada suatu bentuk penghinaan dan celaan.

    Tidak layak seorang manusia berbuat jahat kepada kawannya. Dipanggilnya kawannya itu dengan gelar yang tidak menyenangkan bahkan menjengkelkan. Ini bisa menyebabkan berubahnya hati dan permusuhan sesama kawan serta menghilangkan jiwa kesopanan dan perasaan yang tinggi.

    Su’uzh-Zhan (Berburuk Sangka)

    Keempat: Islam menghendaki untuk menegakkan masyarakatnya dengan penuh kejernihan hati dan rasa percaya yang timbal balik; bukan penuh ragu dan bimbang, menuduh dan bersangka-sangka,

    Untuk itu, maka datanglah ayat al-Quran membawakan keempat sikap yang diharamkan ini, demi melindungi kehormatan orang lain. Maka berfirmanlah Allah:

    “Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak menyangka, karena sesungguhnya sebagian sangkaan itu berdosa.” (al-Hujurat: 12)

    Sangkaan yang berdosa, yaitu sangkaan yang buruk.

    Oleh karena itu tidak halal seorang muslim berburuk sangka terhadap saudaranya, tanpa suatu alasan dan bukti yang jelas. Sebab manusia secara umum pada asalnya bersih. Oleh karena itu prasangka-prasangka tidak layak diketengahkan dalam arena kebersihan ini justru untuk menuduh. Sabda Nabi: “Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta omongan.” (Riwayat Bukhari)

    Manusia karena kelemahan sifat kemanusiaannya, tidak dapat menerima prasangka dan tuduhan oleh sebagian manusia, lebih-lebih terhadap orang-orang yang tidak ada hubungan baik.

    Oleh karena itu sikap yang harus ditempuh, dia harus tidak menerima tuduhan itu dan berjalan mengikuti suara nafsu tersebut.

    Inilah makna hadis Nabi yang mengatakan: “Kalau kamu akan menyangka, maka jangan kamu nyatakan.” (Riwayat Thabarani)

    Tajassus (Memata-matai)

    Kelima: Tidak adanya kepercayaan terhadap orang lain, menyebabkan seseorang untuk melakukan perbuatan batin yang disebut su’uzh-zhan dan melakukan perbuatan badan yang berbentuk tajassus. Sedang Islam bertujuan menegakkan masyarakatnya dalam situasi bersih lahir dan batin. Oleh karena itu larangan bertajassus ini dibarengi dengan larangan su’uzh-zhan (berburuk sangka). Dan banyak sekali su’uzh-zhan ini terjadi karena adanya tajassus.

    Setiap manusia mempunyai kehormatan diri yang tidak boleh dinodai dengan tajassus dan diselidiki cacat-cacatnya, sekalipun dia berbuat dosa, selama dilakukan dengan bersembunyi.

    Abul Haitsam sekretaris Uqbah bin ‘Amir –salah seorang sahabat Nabi– berkata: saya pernah berkata kepada Uqbah: saya mempunyai tetangga yang suka minum arak dan akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Maka kata Uqbah: Jangan! Tetapi nasehatilah mereka itu dan peringatkanlah. Abul Haitsam menjawab: Sudah saya larang tetapi mereka tidak mau berhenti, dan tetap akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Uqbah berkata: Celaka kamu! Jangan! Sebab saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. berkata:

    “Barangsiapa menutupi suatu cacat, maka seolah-olah ia telah menghidupkan anak yang ditanam hidup-hidup dalam kuburnya.” (Riwayat Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Hibban)

    Rasulullah s.a.w. menilai, bahwa menyelidiki cacat orang lain itu termasuk perbuatan orang munafik yang mengatakan beriman dengan lidahnya tetapi hatinya membenci. Kelak mereka akan dibebani dosa yang berat di hadapan Allah.

    Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah s.a.w, pernah naik mimbar kemudian menyeru dengan suara yang keras:

    “Hai semua orang yang telah menyatakan beriman dengan lidahnya tetapi iman itu belum sampai ke dalam hatinya! Janganlah kamu menyakiti orang-orang Islam dan jangan kamu menyelidiki cacat-cacat mereka. Sebab barangsiapa menyelidiki cacat saudara muslim, maka Allah pun akan menyelidiki cacatnya sendiri; dan barangsiapa yang oleh Allah diselidiki cacatnya, maka Ia akan nampakkan kendatipun dalam perjalanan yang jauh.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

    Maka demi melindungi kehormatan orang lain, Rasulullah s.a.w. mengharamkan dengan keras seseorang mengintip rumah orang lain tanpa izin; dan ia membenarkan pemilik rumah untuk melukainya. Seperti sabda Nabi:

    “Barangsiapa mengintip rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka halal buat mereka untuk menusuk matanya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Diharamkan juga mendengar-dengarkan omongan mereka tanpa sepengetahuan dan perkenannya. Sabda Nabi:

    “Barangsiapa mendengar-dengarkan omongan suatu kaum; sedang mereka itu tidak suka, maka kelak di hari kiamat kedua telinganya akan dituangi cairan timah.” (Riwayat Bukhari)

    Al-Quran mewajibkan kepada setiap muslim yang berkunjung ke rumah kawan, supaya jangan masuk lebih dahulu, sehingga ia minta izin dan memberi salam kepada penghuninya.

    Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu masuk rumah selain rumah-rumah kamu sendiri, sehingga kamu minta izin lebih dahulu dan memberi salam kepada pemiliknya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, supaya kamu ingat. Maka jika kamu tidak menjumpai seorang pun dalam rumah itu, maka jangan kamu masuk, sehingga kamu diberi izin. Dan jika dikatakan kepadamu: kembalilah! Maka kembalilah kamu. Yang demikian itu lebih bersih buat kamu, dan Allah Maha Menge tahui apa saja yang kamu kerjakan.” (an-Nur: 27-28)

    Di dalam hadis Nabi, juga dikatakan: “Barangsiapa membuka tabir kemudian dia masukkan pandangannya sebelum diizinkan, maka sungguh dia telah melanggar suatu hukum yang tidak halal baginya untuk dikerjakan.” (Riwayat Ahmad dan Tarmizi)

    Nas-nas larangan tentang tajassus dan menyelidiki cacat orang lain ini meliputi hakim dan yang terhukum, seperti yang diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah dari Rasulullah s.a.w. ia bersabda:

    “Sesungguhnya kamu jika menyelidiki carat orang lain, berarti kamu telah merusak mereka atau setidak-tidaknya hampir- merusak mereka itu.” (Riwayat Abu Daud dan ibnu Hibban)

    Abu Umamah meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w., ia bersabda: “Sesungguhnya seorang kepala apabila mencari keraguraguan terhadap orang lain, maka ia telah merusak mereka.” (Riwayat Abu Daud)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 27 April 2016 Permalink | Balas  

    Aku Sangat Bangga Menjadi Anak Ayah 

    siluet-anak-dan-ayahAku Sangat Bangga Menjadi Anak Ayah

    Aku bukan orang yang suka menguping percakapan orang lain. Tapi pada suatu malam, sewaktu aku melintasi halaman rumah kami, aku ternyata melakukannya. Istriku, Zahra, sedang berbicara pada putra kami selagi ia duduk di dapur.

    Jadi, aku berhenti untuk mendengarkan diluar pintu belakang. Sepertinya Zahra mendengar beberapa teman anakku menyombongkan pekerjaan ayah mereka.

    Bahwa ayah mereka semuanya adalah para eksekutif hebat “.. lalu mereka bertanya pada putra kami.

    “Ayahmu memiliki karier bagus macam apa ?”, mulailah mereka bertanya.

    Putra kami menggumam perlahan sambil memalingkan muka, “Ia hanya seorang buruh.”

    Istriku yang baik menunggu sampai mereka semua pulang, lalu memanggil masuk putra kecil kami.

    Kata Zahra, “Ibu ingin bicara padamu, Nak,” seraya mencium pipinya yang berlesung pipit.

    “Kamu bilang , ayah hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu benar, Nak. Tapi ibu ragu, apakah kamu tahu apa arti yang sebenarnya. Jadi Ibu akan menjelaskan padamu, Nak.”

    “Dalam seluruh industri yang membuat negeri kita hebat. Dalam semua toko dan warung dan truk yang menarik muatan setiap hari”..

    “Setiap kali kamu melihat rumah baru dibangun, ingatlah, anakku. Diperlukan buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu !”

    “Memang benar”..para eksekutif hebat punya meja bagus dan selalu rapi sepanjang hari. Mereka merencanakan proyek besar untuk diselesaikan”..dan mengirim memo untuk disampaikan. Tapi untuk mengubah impian mereka menjadi kenyataan, ingatlah ini, anakku. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu !”

    “Kalau semua bos meninggalkan meja mereka dan libur selama setahun, roda industri masih bisa berjalan, berputar dengan cepat. Jika orang seperti ayahmu berhenti bekerja, industri itu tak bisa berjalan. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu !”

    Aku menelan air mata dan berdehem saat memasuki pintu.

    Mata putra kecilku berbinar gembira saat ia melihatku. Ia melompat dari lantai dan langsung memelukku sambil berkata, “Ayah, aku sangat bangga menjadi anak ayah”..karena ayah adalah 1 dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar.”

    For my Zahra,

    Miss u so much!

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 26 April 2016 Permalink | Balas  

    Berzina Seribu Kali 

    taubat (1)Berzina Seribu Kali

    Pada suatu senja yang lengang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya.Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.

    Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik.

    “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa.

    Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

    Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu sayapun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

    Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi !…” teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

    Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobatdari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?”

    Nabi Musa terperanjat. Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. “Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” ” Ada !” jawab Jibril dengan tegas

    “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran.

    “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina” Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

    Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sholat itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

    Dalam hadist Nabi SAW disebutkan: Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang memmbakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

    Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui. Subhanakallahumma wabihamdika asyadu’ala ilaha illa anta, astagfiruka wa’atubuilaik. Wassalam

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 25 April 2016 Permalink | Balas  

    Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat 

    Taubat 1Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat

    Ulasan: Habib Abdullah Al-Haddad

    Penyesalan 

    Penyesalan adalah lenyapnya segala keinginan untuk melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan Allah murka, misalnya: melakukan kemaksiatan atau melalaikan kewajiban. Perubahan keadaan hati ini diiringi dengan perasaan sedih dan duka.

    Penyesalan kadang kala timbul karena terlalu banyak melakukan perbuatan yang mubah, atau karena kurang banyak melaksanakan perbuatan-perbuatan sunah (nawâfil) yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah. Penyesalan sejati (sidq) akan mendorong seseorang untuk berubah dari sikap yang penuh dengan ketidaksempurnaan (taqshîr/incapacity) menjadi sikap yang penuh dengan ketekunan (tasymîr). Jika proses penyesalan berlangsung dengan benar, maka hampir seluruh persyaratan tobat terpenuhi. Karena itulah Rasulullah saw bersabda, “Penyesalan adalah tobat.” (HR Ibnu Majah dari Ibnu Mas‘ud)

    Orang yang menyesali perbuatannya yang tercela, tetapi selalu mengulangnya kembali, maka penyesalannya sia-sia belaka.

    Istighfar 

    Istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah.  Dan ampunan Allah adalah tirai (sitr) penutup segala dosa. Jika Allah dengan kemurahan-Nya mengampuni kesalahan manusia, maka Ia tidak akan mencemarkan maupun menyiksanya, baik di dunia maupun di akhirat1.

    Jenis ampunan yang paling mulia adalah tirai yang oleh Allah dijadikan pendinding antara makhluk dengan dosa-dosanya, sehingga seakan-akan ia tidak berdosa sama sekali. Dalam bahasa kenabian tirai itu disebut ‘ishmah2, sedangkan bagi wali disebut hifdh (penjagaan).

    Allah menujukan firman-Nya kepada pemimpin yang ma’shûm, Rasulullah saw:

    Mohon ampunlah bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin.  (QS Muhammad, 47:19)

    Agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. (QS Al Fath, 48:2)

    Kita semua telah maklum, bahwa Rasulullah saw tidak pernah berbuat dosa. Dalam ayat tadi Allah mengingatkan Rasullullah saw atas nikmat ishmah (perlindungan) dari hal-hal yang dapat menjauhkan beliau dari Allah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah untuk berdoa memohonkan ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat.  Sebab doa berarti syukur, dan syukur merupakan cara untuk mendapatkan tambahan nikmat.

    “Jika kalian bersyukur pasti Aku akan menambah (kenikmatan) kepada kalian.” (QS Ibrâhim, 14:7)

    Wallôhu a’lam.

    Tobat 

    Langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang murîd dalam perjalanannya menuju Allah adalah tobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT atas segala dosa-dosanya. Jika ditangannya masih ada hak orang yang dahulu pernah dizaliminya, hendaknya segera ia kembalikan. Namun, jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka hendaknya ia meminta agar orang itu menghalalkannya. Sebab, seseorang yang masih memegang hak-hak orang lain, tidak mungkin dapat mendekatkan diri kepada Al-Haq (Allah)

    Syarat sahnya tobat adalah sidqun nadam (penyesalan sungguh-sungguh) atas segala dosa dengan diiringi tekad kuat untuk tidak mengulang kembali perbuatan buruk itu seumur hidup. Barang siapa bertobat dari suatu dosa, namun ia selalu mengulang kembali perbuatannya, atau bertekad untuk melakukannya kembali, maka tobatnya tidak sah.

    Seorang murîd hendaknya selalu mengakui bahwa ia tidak dapat menunaikan hak-hak Tuhannya dengan sempurna. Setiap kali ia merasa sedih atas segala kekurangannya, dan hatinya luluh karena menyadari kenyataan itu, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah saat itu bersamanya.

    Allah SWT telah berfirman (dalam sebuah hadis qudsi): “Aku bersama orang-orang yang hatinya luluh karena Ku.”

    Tobat (Nafâisul Uluwiyyah, hal. 30)

    Barang siapa bertobat dari suatu dosa, tetapi kemudian mengulang kembali perbuatannya, maka tobatnya yang terdahulu tidak gugur. Namun ia harus bertobat lagi. Ini adalah salah satu kemurahan Allah bagi kita semua. Segala puji bagi Allah. Kita tidak akan mampu memuji-Nya sebanyak pujian-Nya kepada diri-Nya sendiri.

    Dalam suatu hadis disebutkan:

    Sesungguhnya Allah SWT membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di siang hari. Dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di malam hari. Sesungguhnya di sebelah barat ada pintu yang lebarnya sejauh 40 hari perjalanan matahari. Pintu itu selalu terbuka untuk tobat hingga matahari terbit dari arah barat (kiamat). Dan sesungguhnya Allah SWT selalu menerima tobat seorang hamba sebelum ghorghoroh.

    Ghorghoroh adalah keadaan sekarat, yakni ketika ruh telah sampai ke tenggorokan.

    Dari uraian di atas dapat kamu ketahui hukum dan kedudukan tobat dalam agama.

    Orang yang hendak bertobat dari perbuatan zalim yang pernah ia lakukan, maka ia harus mengembalikan barang yang ia ambil jika ia menzalimi harta seseorang, dan ia harus menjalani hukum qishash dan minta dihalalkan jika ia menzalimi diri atau kehormatannya. Tetapi, jika ia sama sekali tidak dapat memenuhi persyaratan ini, maka hendaknya ia berbuat semampunya, kemudian dengan mengharap kemurahan Allah, hendaknya ia berdoa agar kelak di akhirat orang-orang yang pernah ia zalimi meridhoinya.

    Jika ia meninggalkan kewajiban-kewajibannya, misalnya: salat, puasa dan zakat, maka ia wajib mengqodhonya. Qodho itu boleh dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuannya. Jangan sampai ia mempersulit dirinya, tetapi ia juga tidak boleh meremehkannya, karena syariat agama ini terdiri dari aturan-aturan yang kokoh.

    Rasulullah saw bersabda:

    “Aku diutus membawa agama yang penuh toleransi.”  (HR Ahmad)

    “Permudahlah jangan mempersulit; berilah kabar gembira jangan buat mereka lari.”  (HR Bukhari)

    Seorang salaf yang saleh telah cukup lama memohon kepada Allah SWT untuk memberinya tobat nasuha, namun ia tidak melihat tanda-tanda pengabulan doanya. Ia merasa heran, tetapi kemudian bermimpi.  Dalam mimpinya, seseorang berkata kepadanya, “Apakah kamu pikir yang kamu pinta itu sebuah persoalan yang mudah. Sadarkah kamu bahwa kamu telah meminta untuk dicintai Allah SWT?  Tidak pernahkah kamu mendengar firman-Nya:

    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah, 2:222)

    Semoga Allah memberi kita tobat nasuha dalam keadaan sehat wal afiat dan mengakhiri usia kita dalam husnul khôtimah.

    Catatan kaki

    1.Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman: “Aku Maha Mulia lagi Maha besar, tidak pantas bagi-Ku bila Aku menutupi dosa seorang Muslim di dunia ini lalu Aku membeberkannya (di hari kiamat).  Aku selalu mengampuni hamba-Ku selagi ia meminta ampun kepada-Ku.” (HR Hakim dari Hasan)

    2.Penjagaan dan pemeliharaan Allah SWT dari perbuatan dosa dan kesalahan.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 April 2016 Permalink | Balas  

    Hikmah Diharamkannya Riba 

    ribaHikmah Diharamkannya Riba

    Islam dalam memperkeras persoalan haramnya riba, semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlaknya, masyarakatnya maupun perekonomiannya.

    Kiranya cukup untuk mengetahui hikmahnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam ar-Razi dalam tafsirnya sebagai berikut:

    1. Riba adalah suatu perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti. Sebab orang yang meminjamkan uang 1 dirham dengan 2 dirham, misalnya, maka dia dapat tambahan satu dirham tanpa imbalan ganti. Sedang harta orang lain itu merupakan standard hidup dan mempunyai kehormatan yang sangat besar, seperti apa yang disebut dalam hadis Nabi:

    “Bahwa kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya.”

    Oleh karena itu mengambil harta kawannya tanpa ganti, sudah pasti haramnya.

    1. Bergantung kepada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan mengentengkan persoalan mencari penghidupan, sehingga hampir-hampir dia tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Sedang hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat dan satu hal yang tidak dapat disangkal lagi, bahwa kemaslahatan dunia seratus persen ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.

    (Tidak diragukan lagi, bahwa hikmah ini pasti dapat diterima, dipandang dari segi perekonomian).

    1. Riba akan menyebabkan terputusnya sikap yang baik (ma’ruf) antara sesama manusia dalam bidang pinjam-meminjam. Sebab kalau riba itu diharamkan, maka seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka sudah pasti kebutuhan orang akan menganggap berat dengan diambilnya uang satu dirham dengan diharuskannya mengembalikan dua dirham. Justru itu, maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan.

    (Ini suatu alasan yang dapat diterima, dipandang dari segi ethik).

    1. Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Sedang tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah.

    (Ini ditinjau dari segi sosial).

    Ini semua dapat diartikan, bahwa riba terdapat unsur pemerasan terhadap orang yang lemah demi kepentingan orang kuat (exploitasion de l’home par l’hom) dengan suatu kesimpulan: yang kaya bertambah kaya, sedang yang miskin tetap miskin. Hal mana akan mengarah kepada membesarkan satu kelas masyarakat atas pembiayaan kelas lain, yang memungkinkan akan menimbulkan golongan sakit hati dan pendengki; dan akan berakibat berkobarnya api terpentangan di antara anggota masyarakat serta membawa kepada pemberontakan oleh golongan ekstrimis dan kaum subversi.

    Sejarah pun telah mencatat betapa bahayanya riba dan si tukang riba terhadap politik, hukum dan keamanan nasional dan internasional.

    Pemberi Riba dan Penulisnya

    Pemakan riba ialah pihak pemberi piutang yang memiliki uang dan meminjamkan uangnya itu kepada peminjam dengan rente yang lebih dari pokok. Orang yang semacam ini tidak diragukan lagi akan mendapat laknat Allah, dan laknat seluruh manusia. Akan tetapi Islam, dalam tradisinya tentang masalah haram, tidak hanya membatasi dosa itu hanya kepada yang makan riba, bahkan terlibat dalam dosa orang yang memberikan riba itu, yaitu yang berhutang dan memberinya rente kepada piutang. Begitu juga penulis dan dua orang saksinya. Seperti yang dinyatakan dalam hadis Nabi:

    “Allah akan melaknat pemakan riba, yang memberi makan, dua orang saksinya dan jurutulisnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Tetapi apabila di situ ada suatu keharusan yang tidak dapat dihindari dan mengharuskan kepada si peminjam untuk memberinya rente, maka waktu itu dosanya hanya terkena kepada si pengambil rente saja.

    Namun dalam hal ini diperlukan beberapa syarat:

    Adanya suatu keadaan dharurat yang benar-benar, bukan hanya sekedar ingin kesempurnaan kebutuhan. Sedang apa yang disebut dharurat, yaitu satu hal yang tidak mungkin dapat dihindari, apabila terhalang, akan membawa kebinasaan. Seperti makanan pokok, pakaian pelindung dan berobat yang mesti dilakukan.

    Kemudian perkenan ini hanya sekedar dapat menutupi kebutuhan, tidak boleh lebih. Maka barangsiapa yang kiranya cukup dengan $9,- (9 pounds) misalnya, tidak halal hutang $10,-.

    Dari segi lain, dia harus terus berusaha mencari jalan untuk dapat lolos dari kesulitan ekonominya. Dan rekan-rekan seagamanya pun harus membantu dia untuk mengatasi problemanya itu. Jika tidak ada jalan lain kecuali dengan meminjam dengan riba, maka barulah dia boleh melakukan, tetapi tidak boleh dengan kesengajaan dan melewati batas. Sebab Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang.

    Dia berbuat begitu, tetapi harus dengan perasaan tidak senang. Begitulah sehingga Allah memberikan jalan keluar kepadanya.

    Rasulullah Selalu Minta Perlindungan pada Allah dari Berhutang

    Satu hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim tentang hukum agamanya, yaitu agama menyuruh supaya dia berlaku lurus dan sederhana dalam hidup dan kehidupannya.

    Firman Allah:

    “Dan jangan kamu berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan.” (al-An’am: 141)

    “Jangan kamu boros, karena sesungguhnya orang yang boros adalah kawan syaitan.” (al-Isra’: 26-27)

    Kalau al-Quran menuntut kepada orang-orang mu’min supaya menginfaqkan harta kekayaannya, maka al-Quran tidak menuntut kepada mereka melainkan supaya menginfaqkan sebagian harta, bukan semuanya. Sebab siapa yang mendermakan sebagian hartanya, maka sedikit sekali dia akan berkekurangan,

    Dengan kesederhanaan ini maka seorang muslim tidak lagi perlu berhutang, lebih-lebih Nabi sendiri tidak suka seorang muslim membiasakan berhutang. Sebab hutang dalam pandangan seorang muslim yang baik, adalah merupakan kesusahan di malam hari dan suatu penghinaan di siang hari. Justru itu Nabi selalu minta perlindungan kepada Allah dari berhutang. Doa Nabi itu sebagai berikut:

    “Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadamu dari terlanda hutang dan dalam kekuasaan orang lain.” (RiwayatAbu Daud)

    Dan ia bersabda pula:

    “Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan hutang. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya: Apakah engkau menyamakan kufur dengan hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Ya!” (Riwayat Nasa’i dan Hakim)

    Dan kebanyakan doa yang dibaca di dalam sembahyangnya ialah:

    “Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi.” (Riwayat Bukhari)

    Ia menjelaskan, bahwa dalam hutang itu ada suatu bahaya besar terhadap budipekerti seseorang.

    Beliau tidak mau menyembahyangi janazah, apabila diketahui bahwa waktu meninggalnya itu dia masih mempunyai tanggungan hutang padahal dia tidak dapat melunasinya, sebagai usaha untuk menakut-nakuti orang lain dari akibat hutang. Sehingga apabila dia mendapat ghanimah, maka beliau sendiri yang menyelesaikan hutangnya itu.

    Dan sabdanya:

    “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya melainkan hutang.” (Riwayat Muslim)

    Berdasar penjelasan ini, maka seorang muslim tidak boleh berhutang kecuali karena sangat perlu. Dan kalaupun dia terpaksa harus berhutang, samasekali tidak boleh melepaskan niat untuk membayar. Sebab dalam hadis Rasulullah s.a.w. disebutkan:

    “Barangsiapa hutang uang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan Niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia.” (Riwayat Bukhari)

    Kalau seorang muslim tidak dibolehkan hutang tanpa rente, padahal hutang adalah mubah, kecuali karena dharurat, dan didesak oleh suatu keperluan, maka bagaimana lagi kalau hutangnya itu bersyarat harus dibayar dengan rente?!

    Menjual Kredit dengan Menaikkan Harga

    Termasuk yang perlu untuk disebutkan di sini, yaitu sebagaimana diperkenankan seorang muslim membeli secara kontan, maka begitu juga dia diperkenankan menangguhkan pembayarannya itu sampai pada batas tertentu, sesuai dengan perjanjian.

    Rasulullah s.a.w. sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo, untuk nafkah keluarganya. Begitu juga beliau pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi.

    Sekarang apabila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka sementara fuqaha’ ada yang mengharamkannya dengan dasar, bahwa tambahan harga itu justru berhubung masalah waktu. Kalau begitu sama dengan riba.

    Tetapi jumhurul ulama membolehkan, karena pada asalnya boleh, dan nas yang mengharamkannya tidak ada; dan tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram.

    Imam Syaukani berkata: “Ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat.”

    Salam

    Sebalik di atas, yaitu seorang muslim dibenarkan membayar uang lebih dahulu untuk barang yang akan diterimanya kemudian.

    Cara semacam ini dalam fiqih Islam disebut salam.

    lni salah satu macam mu’amalah yang waktu itu biasa berlaku di Madinah. Akan tetapi Nabi Muhammad s.a.w. ikut mencampuri persoalan tersebut dengan memberikan beberapa pedoman dan persyaratan, untuk disesuaikan dengan tuntunan syariat Islam.

    Ibnu Abbas meriwayatkan: bahwa ketika Rasulullah s.a.w. tiba di Madinah, orang-orang pada menjalankan pengikat untuk buah-buahan dalam jangka waktu setahun dan dua tahun Kemudain Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Barangsiapa mencengkerami buah-buahan, maka cengkeramilah dengan suatu takaran tertentu, dan timbangan tertentu pada batas waktu tertentu.” (Riwayat Jam’ah)

    Dengan membatas takaran, timbangan dan jangka waktu ini, maka akan hilanglah pertentangan dan kesamaran. Tetapi di samping itu mereka juga mengadakan ikatan untuk jenis buah korma yang masih di pohon, maka dilarangnyalah hal itu oleh Nabi s.a.w. karena terdapat unsur-unsur kesamaran. Sebab kadang-kadang potion korma itu akan terserang hama sehingga tidak bisa berbuah.

    Jadi bentuk yang paling selamat dan aman dalam mu’amalah seperti ini, yaitu tidak bersyarat dengan jenis kormanya atau jenis gandumnya, tetapi yang penting ialah syarat takaran dan timbangan.

    Tetapi kalau di situ terdapat unsur-unsur pemerkosaan (exploitation) yang terang-terangan oleh pihak pemilik kebun, sehingga karena didorong oleh keperluan, terpaksa si pemberi ikatan harus menerima perjanjian tersebut, maka waktu itu dapat dihukumi haram.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993