Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:29 am on 7 December 2016 Permalink | Balas  

    Masjid Raya Baituarrahman 

    masjid-baitul-rahmanMasjid Raya Baituarrahman

    Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, adalah keindahan dan keelokan arsitektur.  Sejarah dan masa depan sepertinya sedang bercakap-cakap di masjid itu  sekarang. Masjid dengan tiang 280 buah ini, adalah saksi perjalanan sejarah  Aceh. Terakhir menjadi saksi tsunami yang dahsyat itu. Rekaman video amatir  tentang tsunami yang ditayangkan Metro TV hari-hari terakhir ini,  memperlihatkan kepada kita bahwa tsunami yang ganas itu, tiba-tiba seperti  orang kepayahan begitu mendekati masjid.

    Karenanya mereka yang lari ke masjid selamat dari terjangan gelombang yang  mengamuk. Jika orang India bangga dengan Taj Mahal, orang Aceh bangga dengan  masjid mereka: Baiturrahman. Inilah masjid sejarah dan saksi bisu perjalanan  Islam di Nusantara. Saksi bisu perjuangan rakyat Aceh. Menurut sejumlah  literatur, masjid ini dibangun pertama kali pada 1292 M atau 691 H, oleh  Sultan Alaidin Mahmud Syah I, cucu Sultan Alaidin Johan Syah. Namun ada yang  menyebut, usianya jauh lebih muda, karena dibangun di zaman Sultan Iskandar  Muda (1607-1636).

    Namun, pendapat yang terakhir diimbuhi pendapat lain, bahwa Iskandar Muda  hanya melakukan perbaikan-perbaikan. Baiturrahman pernah dipakai untuk  musyawarah bersejarah. Misalnya pada 22 Maret 1873, sebuah pertemuan yang  diprakarsai Sultan Alaidin Mahmud, Aceh menolak kehadiran Belanda. Seminggu  kemudian, Belanda pun memaklumkan perang untuk Aceh.

    Bulan berikutnya, Kutaradja pun diserang dari laut oleh Belanda. Pimpinan  perang, Mayjen Kohler mengepung Masjid Baiturrahman karena menurut intel  Belanda, dari masjid itulah perlawanan digerakkan. Malah saking kesalnya,  Belanda sempat membakar masjid itu hingga dua kali. Meski dibakar, tapi  bangunan masjid secara keseluruhan tetap bisa diselamatkan.

    Pejuang-pejuang Aceh bahu membahu memadamkan api yang berkobar. Belanda  membakar masjid ini pertama kali 10 April 1873, tatkala serangan cepat dan  besar-besaran mereka lakukan terhadap pejuang Aceh. Karena tak bisa merebut,  Belanda pun membakarnya. Pejuang Aceh kemudian berusaha merebut kembali masjid  yang menjadi simbol Islam di negeri tersebut.

    Menurut buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia (1999) upaya itu dilakukan  pada 14 April 1873. Menurut Abdul Baqir Zein penulis buku ini, dalam  pertempuran tersebut Belanda mengalami kerugian yang sangat besar. Mayjen  Kohler tewas berikut delapan perwira lainnya dan 397 orang prajurit, 405 orang  luka-luka, termasuk 23 orang perwira.

    Masjid ini kembali dibakar Belanda pada 6 Januari 1874. Kali ini Belanda  membakar ibukota. Api berkobar di mana-mana. Tak pelak, masjid bersejarah ini  habis terkabar. Selain itu, dua masjid lainnya juga habis dibakar Belanda,  yaitu Masjid Baitul Musyahadah, dan Masjid Baiturrahim. Rakyat Aceh  benar-benar berkabung. Sejak itu Belanda mengibarkan benderanya di Tanah  Rencong.

    Aceh benar-benar terluka karena perangai Belanda. Belanda mencium hal itu.  Maka 9 Oktober 1879, masjid ini direhabilitasi berat kembali oleh Gubernur  Militer Aceh Jenderal K Van Der Heijden. Peletakan batu pertama dilakukan oleh  Teungku Kadhi Malikul Adil. Masjid selesai dikerjakan pada 1881 dengan satu  kubah.

    Pada 1935 masjid diperluas dengan tambahan dua kubah pada kedua sisi. Tahun  1957 dibangun lagi dua kubah di belakang dan selesai 1967. Karena itulah  Masjid Baiturrahman yang Anda lihat sekarang memiliki lima kubah dan dua  menara. Bagi warga kota Banda Aceh, Masjid Baiturrahman adalah simpul kota.  Masjid ini menjadi bangunan paling mewah di sana. Sepanjang malam bermandikan  pendaran cahaya listrik. Lampu merkurinya, berkilau disapu angin.

    Tak lengkap kalau ke Aceh, jika tidak mampir atau shalat di masjid ini. Jika  masuk ke dalam, kesejukan dengan cepat menjalari tubuh kita. Masjid yang bisa  menampung 10 ribu sampai 13 ribu jamaah itu. Bagi anak-anak masjid ini,  sekaligus dijadikan lokasi bermain seusai mengaji di TPA masjid yang sama.  Anak-anak Aceh mendapat “bimbingan” karena kehadiran masjid cantik tersebut di  tengah-tengah mereka.

    Ketika gelombang tsunami menyapu kota Banda Aceh, masjid ini selamat. Umat  Islam meyakini bahwa sebagai Rumah Tuhan, masjid memang senantiasa selamat  dari musibah. Pemulihan Aceh, untuk pertama kali ditandai dengan  dibersihkannya masjid itu. Shalat Jumat pertama seusai tsunami di Masjid  Baiturrahman, menjadi sangat religius dan menjadi tonggak sejarah bagi Aceh  untuk melangkah ke depan.

    (khairul jasmi)

    republika.co.id

    Iklan
     
  • erva kurniawan 1:26 am on 6 December 2016 Permalink | Balas  

    Menunaikan Haji Dengan Berhutang 

    hajiMenunaikan Haji Dengan Berhutang

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Ibadat haji adalah merupakan salah satu daripada rukun Islam yang lima. Ia diwajibkan ke atas setiap orang Islam yang memenuhi syarat-syarat wajib haji. Antara syarat-syarat wajib haji itu ialah istitha’ah. Istitha’ah bererti berkuasa atau ada kemampuan.

    Istitha’ah (berkuasa) mengerjakan haji itu ada dua bahagian iaitu:

    1. Berkuasa pergi melaksanakan haji dengan dirinya sendiri.
    2. Berkuasa menunaikan haji dengan perantaraan orang lain.

    Apa yang menarik perhatian kita untuk ditonjolkan dalam perbincangan ini mengenai kedua-dua jenis istitha’ah di atas ialah berkenaan “berkuasa pergi melaksanakan haji dengan dirinya sendiri.”

    Menurut para ulama, berkuasa mengerjakan haji dengan dirinya sendiri itu mempunyai syarat-syarat tertentu iaitu:

    1. Mempunyai perbelanjaan yang cukup untuk dirinya semasa dalam perjalanan pergi dan balik serta semasa melaksanakan fardhu haji, dan juga sara/biaya hidup bagi orang yang wajib dibelanjainya semasa dalam pelayarannya, serta perbelanjaannya itu melebihi dari hutangnya.
    2. Mempunyai kenderaan seperti kapal terbang, kapal laut, bas dan seumpamanya sama ada miliknya sendiri atau dia mampu menyewanya dengan sewaan biasa menurut tempat dan masa.

    Syarat mempunyai kenderaan bagi yang hendak mengerjakan haji itu hanya dikenakan kepada orang yang jauh tempat tinggalnya daripada Mekkah iaitu sejauh dua marhalah atau lebih iaitu jarak jauh yang membolehkan sembahyang diqashar. Kedua-dua syarat iaitu bekalan dan kenderaan itu disebut dalam hadits riwayat Ibnu ‘Umar dengan katanya:

    Maksudnya: “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata (bertanya): “Ya Rasulullah, apakah yang mewajibkan haji itu?

    Baginda bersabda: “Bekalan dan kenderaan”.

    (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

    Berdasarkan hadis di atas, dapat difahami bahawa orang yang tidak mempunyai bekalan dan kenderaan itu belum diwajibkan ke atasnya mengerjakan haji.

    Menurut Ibnu Hajar, tidak wajib di atas orang Islam mencari bekalan dan kenderaan untuk pergi haji dengan cara meminta-minta kepada orang lain atau menerima pemberian daripada orang lain atau dengan cara berhutang, kecuali dia mendapat bekalan dan seumpamanya itu daripada harta yang sedia ada di tangannya.

    Bagi orang yang memiliki belanja yang melebihi dari keperluan dirinya dan tanggunggannya sepanjang pemergiaannya untuk mengerjakan haji maka haji adalah wajib ke atas orang tersebut. Demikianlah sebaliknya sekiranya belanja tersebut tidak melebihi keperluan diri dan tanggunggannya maka tiadalah wajib haji ke atasnya.

    Adapun orang yang memiliki harta yang memberi hasil kepadanya dan hasil tersebut tidak melebihi kadar keperluan diri dan tanggunggannya, seperti tanah atau rumah sewa dan seumpamanya, tetapi apabila dijual harta berkenaan, hasil jualan tersebut akan membolehkan dia mengerjakan haji dan melebihi keperluan tanggunggannya sepanjang pemergian haji, maka menurut qaul yang ashah dalam mazhab Syafi’e haji adalah wajib ke atas orang tersebut.

    Walau bagaimanapun tidak wajib menjual rumah tempat kediamannya dan perkakas rumah untuk mengerjakan haji, pada fikiran kita termasuk juga tidak menjual tanah, kerana semua perkara itu adalah merupakan keperluan yang sangat dihajati (dharuri). Malahan ia mesti diberikan prioriti sebagai perkara asas untuk membolehkan seseorang menjalani kehidupan.

    Oleh itu Islam tidak membebankan umatnya untuk menunaikan haji jika belum berkemampuan dan cukup syarat-syaratnya.

    Orang Berhutang Untuk Mengerjakan Haji

    Apa yang kadang-kadang berlaku, walaupun mengerjakan haji itu wajib terdapat sebahagian orang memaksa dirinya berhutang untuk tujuan tersebut. Berhutang itu mengandungi risiko yang tinggi yang boleh menyusahkan bukan sahaja di dunia bahkan juga di akhirat.

    Antara hadits yang memperkatakan masalah hutang dan orang yang berhutang sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Malik:

    Maksudnya: “Dan jauhkanlah diri kamu dari hutang, kerana sesungguhnya (hutang itu) awalnya adalah dukacita dan akhirnya pula mengambil harta orang dengan tiada mengembalikannya.”

    (Hadis riwayat Malik)

    Dalam hadis yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Roh seseorang mukmin itu tergantung-gantung dengan hutangnya sehinggalah hutangnya itu dibayar.”

    (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

    Di dalam sebuah atsar diriwayatkan daripada Tariq, beliau berkata:

    Maksudnya: “Aku pernah mendengar Ibnu Abi Awfa (salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) ditanya berkenaan seorang laki-laki yang berhutang untuk pergi menunaikan haji, beliau berkata: “Mohonlah rezeki kepada Allah dan jangan berhutang.”

    (Dikeluarkan oleh al-Baihaqi)

    Imam an-Nawawi menjelaskan pendapat para ulama mazhab Syafi’e bahawa sekalipun orang yang memberi hutang itu rela supaya hutang itu dibayar semula pada tempoh selepas menunaikan haji, haji tetap tidak wajib ke atas orang yang berhutang itu. (Al-Majmu’ : 7/56)

    Agama Islam adalah agama yang mudah dan tidak menyusahkan. Dalam hal mengerjakan haji para ulama telah menjelaskan syarat-syarat tertentu yang amat padat, kemas dan ringkas berdasarkan al-Qur’an, hadis dan ijma’. Jika syarat-syarat itu tidak dapat dipenuhi oleh seseorang, maka haji tidak wajib baginya, walaupun haji itu salah satu daripada rukun Islam. Ini membuktikan bahawa agama Islam itu agama rahmat dan tidak menyusahkan umatnya.

    Oleh yang demikian, bagi orang yang ingin mengerjakan haji yang wajib ke atasnya, tidaklah perlu menyusahkan dirinya dengan berhutang. Lebih-lebih lagi bagi haji yang dikerjakan itu kali kedua atau seterusnya. Berhutang kerana tujuan ini adalah dilarang oleh agama kerana hutang itu akan menjadi bebanan dan menyusahkannya sebagaimana yang disebut oleh hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam.

    wallohu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 11:18 am on 5 December 2016 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Wajah 

    topeng_homeBelajar Dari Wajah

    Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Menarik sekali jika kita terus-menerus belajar tentang fenomena apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah wajah. Wajah? Ya, wajah. Wajah bukan hanya masalah bentuk, yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.  Ketika pagi menyingsing misalnya, tekadkan dalam diri, ”Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa ? Wajah yang paling menggelisahkan itu bagaimana?” Karena, pasti hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.

    Saat berjumpa dengan orang, kita bisa belajar ilmu tentang wajah, karena setiap wajah memberikan dampak yang berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Menakutkan? Mengapa? Apakah karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil, tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

    Aa pernah berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram. Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya… sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air menyegarkan pada siang hari.

    Kalau hari ini kita berhasil menemukan wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahu mengapa dia bisa memiliki wajah seperti itu. Tentu kita akan menaruh hormat kepada dia. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya tampak sekali ia ingin membahagiakan siapa pun yang menatapnya. Sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap raut wajah yang berlawanan? Wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Ini pun perlu kita pelajari.

    Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan dan menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak menenteramkan. Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah ini?  Memang, ada di antara hamba-hamba Allah yang bibirnya didesain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.  Bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, agar lebih ikhlas lagi.

    Karena senyum bukan sekadar mengangkat ujung bibir saja, tapi yang utama adalah keinginan membahagiakan orang lain. Rasulullah SAW memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang ditemuinya sehingga orang itu merasa puas. Diriwayatkan, bila ada orang yang menyapanya, Rasul menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama, sesuai kadar kemampuannya.

    Walhasil, ketika Rasul berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang itu senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang dan bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang ia contohkan. Hal itu berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

    Kemuramdurjaan, ketidakenakan, dan kegelisahan itu muncul karena kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita sebagai yang paling utama. Makanya, kita sering melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh dan daya pancar yang kuat.

    Karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah. Tentu bukan untuk meremehkan, tapi mengambil teladan wajah yang baik dan menghindari yang tidak baik. Lalu praktikkan dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, belajarlah untuk mengutamakan orang lain, walaupun hanya sesaat saja. Wallahu a’lam.

    ***

    KH Abdullah Gymnastiar

    http://www.republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 21 November 2016 Permalink | Balas  

    Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya 

    imanTermasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya): “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan: “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu: “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    • Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    • Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    • Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    • Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    • Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    • Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    • Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    • Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    • Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : assunnah.or.id

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 20 November 2016 Permalink | Balas  

    Dalam Alkohol Ada Tinat al-Khabal 

    miras arakDalam Alkohol Ada Tinat al-Khabal

    Rasulullah menyamakan alkohol dengan keringat yang berasal dari penghuni neraka. Seorang pedagang asal Yaman pada suatu hari bertanya kepada Rasulullah. Dia bertanya tentang kebiasaan masyarakat di tempat tinggalnya yang suka minum minuman keras terbuat dari bahan padi-padian yang disebutnya mizr. Rasul menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan pula,”Apakah minuman itu memabukkan?”

    Dan setelah dijawab “ya” oleh pedagang tadi, maka Rasul pun bersabda,”Setiap yang memabukkan sangatlah dilarang. Allah sudah membuat ketentuan bahwa bagi mereka yang meminum minuman memabukkan, maka di dalam minumannya itu akan berisi tinat al-khabal.”

    Orang tadi kembali bertanya apa yang dimaksudkan tinat al-khabal dan Rasulullah menjawab.”Itu merupakan keringat yang berasal dari penghuni neraka.” Begitulah peringatan Rasulullah terhadap mereka yang suka meminum minuman memabukkan. Sebagai hukumannya nanti di akherat, orang-orang itu akan diberi minuman racun dari asawida (sejenis ular hitam yang sangat berbisa) yang menyebabkan seluruh kulit serta daging di wajahnya luntur.

    Selain itu, Allah SWT pun tidak akan menerima segala amalan ibadah puasa, shalat dan haji dari seorang peminum alkohol atau yang menjual alkohol hingga dia benar-benar bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

    Abdullah bin Umar menyatakan, Rasulullah pernah bersabda, “Jangan duduk di dekat seorang peminum khamr, atau menjenguknya kala dia sakit, dan jangan pula menghadiri pemakamannya. Orang yang suka minum minuman keras akan muncul di hari akhir dengan wajah berwarna hitam dan lidahnya miring ke samping. Maka setiap yang melihat wajah seperti itu akan langsung mengetahui bahwa mereka peminum.”

    Demikian pula Wa’il al-Hadrami berkata bahwa Tariq bin Suwaid pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang minuman anggur yang hanya dia pergunakan sebagai obat. Muslim lantas meriwayatkan Rasulullah bersabda, “Itu bukan obat tapi penyakit.” Jabir juga menyatakan tentang pesan Rasul,”Dalam jumlah yang banyak, itu (minuman keras) akan memabukkan, adapun dalam jumlah sedikit tetap dilarang.”

    Larangan agama Islam agar umat menjauhi meminum khamr bukan tanpa dasar maupun alasan. Di tinjau dari segala sisi, tidak ada yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh apabila seseorang menjadi pencandu minuman alkohol. Yang ada hanyalah kemudaratan.

    Allah SWT dalam Alquran jauh-jauh hari sudah mengingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termauk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah [3]:90)

    Dan, peringatan itu benar adanya. Di jaman serba modern ini, ditengarai alkohol merupakan penyebab nomor satu kecelakaan lalu lintas dan ketidak harmonisan rumah tangga. Negara adidaya Amerika Serikat (AS) punya catatan buruk mengenai hal ini. Selama tahun 1996, dari 17.126 jiwa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, 3.732 berhubungan dengan alkohol.

    Masih ada lagi dampak negatif alkohol. Penelitian menunjukkan, setiap konsumsi 2-3 gelas alkohol per hari, pada akhirnya dapat menganggu fungsi jantung. Studi lain bahkan menyatakan alkohol bisa menimbulkan efek negatif terhadap fisik bayi yang baru lahir.

    Berdasarkan hasil penelitian American Medical Association (AMA) tahun 1988, menyebutkan bahwa angka 100 ribu kematian serta uang berjumlah 85,8 miliar dolar berkaitan langsung dengan akibat alkohol, dengan 25 hingga 40 persen ruang inap rumah sakit berisikan pasien penyakit komplikasi karena alkohol. Jumlah tersebut masih lebih besar dari akibat obat-obatan terlarang dan rokok, walau digabung sekalipun.

    AMA juga melaporkan, faktor gaya hidup dan problem sosial telah menghabiskan biaya 171 miliar dolar anggaran kesehatan negara. Dr Daniel Johnson Jr, juru bicara AMA, mengatakan setiap tahunnya miliaran dolar harus disisihkan untuk perawatan akibat kekerasan, penyalahgunaan narkoba, rokok, serta alkohol.

    Data statistik AMA menyebut dari tahun 1988 hingga 1996, tercatat 500 ribu kasus kematian lantaran dampak merokok dan biaya perawatan mencapai 22 miliar dolar. Angka 100 ribu kematian dan 85,8 miliar dolar bagi kasus alkohol, dan penyalahgunaan narkoba menghabiskan dana 58,3 miliar dolar guna rehabilitasi dan perawatan.

    Meski sudah terpampang angka-angka semacam itu, tak hanya di AS tapi juga dibanyak negara, kasus akibat alkohol tidak lantas menyusut. Kini di sejumlah negara, memang batasan usia untuk boleh minum alkohol ditambah menjadi 21 tahun. Tapi terbukti hal tersebut tidak dapat memecahkan persoalan.

    Fakta membuktikan, banyaknya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan peminum remaja. Ironisnya, hukum pun seolah tak berdaya untuk menekan angka-angka tadi. Lantas apa yang harus dilakukan masyarakat, dan umat, agar bisa terhindar dari bahaya kecanduan alkohol? Tumbuhkan kesadaran di dalam diri untuk menjauhi alkohol dan efek negatifnya. Masing-masing individu juga harus memelihara kesehatan diri serta yang tua memberikan suri tauladan kepada yang muda. Gampang saja, kan?

    ***

    (yus/berbagai sumber )

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 19 November 2016 Permalink | Balas  

    Air Zamzam (2/2) 

    zam-zamAir Zamzam (2/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Adab Meminum Air Zamzam

    Adab ketika minum air zamzam itu sebagaimana yang disebutkan oleh sebahagian Fuqaha adalah termasuk dalam hukum sunat, antaranya:

    1. Menghadap kiblat.
    2. Menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum minum.
    3. Bernafas sebanyak tiga kali ketika minum dan ketika bernafas itu hendaklah di luar bekas atau gelas itu (yakni tidak minum dengan sekali teguk sehingga habis, bahkan minum dengan berhenti sebanyak tiga kali).
    4. Minum sehingga kenyang, karena orang munafiq tidak meminumnya sehingga kenyang.
    5. Mengucapkan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah selesai minum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Majah:

    Maksudnya: “Daripada Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abu Bakr katanya: “Ketika aku duduk di sisi Ibnu ‘Abbas datang seorang lelaki kepadanya, lalu berkata Ibnu ‘Abbas: “Dari mana engkau datang?”

    Lelaki itu berkata: “Dari perigi zamzam.”

    Ibnu ‘Abbas berkata: “Apakah engkau minum dari perigi itu sebagaimana yang sepatutnya.”

    Lelaki itu berkata: “Bagaimana?”

    Ibnu ‘Abbas berkata: “Apabila engkau minum air zamzam, maka menghadaplah ke kiblat, sebut nama Allah dan bernafaslah tiga kali (waktu minum). Minumlah air zamzam sehingga kenyang dan jika sudah selesai maka pujilah Allah ‘azza wajalla. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tanda yang membezakan antara kita dengan orang-orang munafiq, sesungguhnya mereka tidak minum air zamzam itu sehingga kenyang.”

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Antara adabnya lagi:

    1. Setiap kali mengambil nafas ketika minum air zamzam, melihat ke arah Kaabah.
    2. Sunat masuk ke tempat perigi zamzam dan melihatnya. Kemudian menggunakan timba yang ada di sana lalu meminumnya serta memercikkan air zamzam itu ke kepala, muka dan dada.
    3. Memperbanyakkan doa ketika minum dan mengharapkan kebaikan di dunia dan akhirat. Sunat dibaca seperti di bawah ini:

    Artinya: “Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya telah sampai kepadaku NabiMu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu diminum untuk keperluan apa saja.” Dan aku meminumnya supaya…..”

    Sesudah membaca seperti di atas, berdoalah lagi untuk memohon kebaikan di dunia dan akhirat, kemudian membaca bismillah, lalu minum dan mengambil nafas sebanyak tiga kali. ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiallallahu ‘anhuma berdoa ketika minum air zamzam:

    Artinya: “Ya Allah Ya Tuhanku, aku mohon padaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan sembuh daripada segala penyakit.”

    Untuk memohon keampunan atau kesembuhan daripada penyakit, bacalah doa seperti di bawah:

    Artinya: “Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya telah sampai kepadaku bahawa RasulMu Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu diminum untuk keperluan apa saja.” Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku meminumnya supaya Engkau ampuni dosaku, Ya Allah ampunilah aku. Ya Allah Ya Tuhanku, sesungguhnya aku meminumnya supaya Engkau sembuhkan sakitku, Ya Allah sembuhkanlah aku.”

    Selain berdoa untuk kepentingan diri sendiri bagi memohon kebaikan di dunia dan akhirat, memohon juga untuk orang lain seperti anak atau sanak saudara misalnya, akan tercapai permohonan itu juga jika dia meminum air zamzam tersebut dengan niat yang betul.

    Memindahkan Air Zamzam

    Memindahkan air zamzam daripada Makkah atau tanah haram kepada tanah halal atau keluar daripada Makkah adalah harus. Daripada ‘Urwah bin Az-Zubair katanya:

    Maksudnya: “Sesungguhnya ‘Aisyah membawa air zamzam dan dikhabarkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan yang demikian itu.”

    (Hadis riwayat Al-Baihaqi)

    Penggunaan Air Zamzam Selain Untuk Diminum

    Beristinja’ (bersuci daripada dua jalan qubul dan dubur), menurut Al-Khatib dan Ibnu Hajar, makruh beristinja’ dengan menggunakan air zamzam. Sementara pendapat Syaikhuna adalah khilaful Awla (bertentangan dengan yang lebih utama). Karena air zamzam itu mempunyai kehormatan. Menurut Al-Bulqini, air zamzam itu lebih afdhal daripada air Kawtsar.

    Termasuklah dalam hukum makruh dan khilaful awla di atas, air yang keluar daripada jari-jari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, air Kawtsar dan air yang dirampas.

    Dikatakan juga, sesiapa beristinja’ dengan air zamzam, nescaya dia akan mewarisi penyakit bawasir. Jika dia beristinja’ juga dengan air zamzam tersebut, maka dengan air itu dia suci (dia dapat membersihkan najisnya).

    Harus menggunakan air zamzam itu untuk mandi dan berwudhu. Adapun menggunakan air zamzam bagi memandikan mayat hendaklah dielakkan.

    Berjual Beli Dengan Air Zamzam

    Setakat ini kita belum jumpa keterangan khusus mengenai hukum jual beli air zamzam itu. Bagaimanapun berdasarkan kaedah:

    Artinya: “Asal suatu perkara itu adalah harus, sehingga ada dalil syara’ yang mengharamkannya.”

    Maka berdasarkan kaedah ini, harus air zamzam itu diperdagangkan atau dijual dan dibeli.

    Demikianlah beberapa penjelasan mengenai air zamzam dan kelebihannya, rahasia serta manfaat yang boleh kita perolehi. Di samping itu juga, ia adalah sebagai tanda kebesaran Allah di mana air zamzam itu masih dapat kita nikmati dan tidak kering sampai saat ini.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 18 November 2016 Permalink | Balas  

    Air Zamzam (1/2) 

    zamzam1Air Zamzam (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Zamzam ialah nama sebuah telaga yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram yang dahulunya bersebelahan dengan makam Hambali, tetapi sekarang ini makam ini tiada lagi dan tidak jauh dari bangunan Kaabah di Makkah kira-kira tiga puluh lapan hasta letaknya daripada Kaabah Musyarrafah atau lebih tepat lagi bersetentang dengan Hajarul Aswad yang terletak di bahagian penjuru tenggara Kaabah. Telaga ini sangat dalam dan besar walaupun kelihatan kecil di permukaannya. Buktinya ialah airnya tidak pernah kering walaupun ramai dan setiap masa orang menggunakannya. Telaga ini berdindingkan simen dan berbumbungkan marmar yang bertatah indah dan berwarna-warni, tingginya 1.5 meter dan luasnya kira-kira tiga meter.

    Air zamzam digunakan untuk minum dan wudhu dan boleh juga dijadikan sebagai penawar (jikalau diniatkan sedemikian) dan ia boleh mencerahkan pandangan jikalau dimasukkan ke dalam mata karena airnya sangat hening dan bersih. Air zamzam dianggap air yang suci dan berkat. Penduduk di Makkah sentiasa berbuka puasa dengan air zamzam atau dengan buah kurma sebagai mengikut sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hampir setiap orang yang menunaikan fardhu haji ke Makkah tidak lupa membawa pulang air zamzam, khususnya orang yang datang dari sebelah timur untuk diagihkan kepada kaum keluarga.

    Dinamakan air itu sebagai zamzam karena terlalu banyak air tersebut. Sebagaimana kita maklumi air itu sudah wujud pada zaman Nabi Isma’il ‘alaihissalam sehinggalah sekarang. Betapa besarnya kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Sejarah Air Zamzam

    Zamzam adalah sebuah perigi Nabi Isma’il ‘alaihissalam. Menurut para ahli sejarah, kisah air zamzam itu bermula dari peristiwa yang dialami oleh Siti Hajar dan anaknya Isma’il ‘alaihissalam. Mereka berdua ditinggalkan oleh suaminya Ibrahim ‘alaihissalam di suatu tempat yang sepi dan tandus. Di tempat itu tidak ada air untuk diminum, tidak ada makanan untuk dimakan dan tidak ada orang untuk meminta pertolongan.

    Setelah bekalan mereka habis, Isma’il pun menangis karena lapar dan dahaga. Melihat keadaan anaknya sedemikian, Siti Hajar pun pergi mencari air. Dia berjalan menuju ke Bukit Safa dan Marwah kira-kira lima ratus meter jarak antara kedua bukit tersebut, dengan harapan menemui kafilah pedagang yang membawa air. Setelah berulang-alik sebanyak tujuh kali antara dua bukit itu, namun Siti Hajar tidak menemui sesiapa pun.

    Berkata Ibnu ‘Abbas: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka itulah sa’ie manusia (orang haji dan umrah) antara keduanya (Safa dan Marwah).”

    Apabila Siti Hajar naik ke Bukit Marwah, dia terdengar suatu suara lalu dia berkata di dalam hati: “Sesungguhnya aku mendengarmu, jika engkau dapat memberi pertolongan, maka tolonglah kami.” Tiba-tiba dia ternampak Malaikat di samping anaknya Isma’il. Malaikat itu pun menggali tanah dengan tumit atau sayapnya sehingga terpancutlah air yaitu air zamzam.

    Setelah beberapa tahun berlalu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam datang menemui mereka berdua. Pada waktu inilah, Baginda mendirikan rumah suci (Ka’bah). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya rumah ibadat yang mula-mula dibina untuk manusia (beribadat kepada Tuhannya) ialah Baitullah yang di Makkah, yang berkat dan (dijadikan) petunjuk hidayat bagi umat manusia. Di situ ada tanda-tanda keterangan yang nyata (yang menunjukkan kemuliaannya, di antaranya ialah) Makam Nabi Ibrahim. Dan siapa yang masuk ke dalamnya aman tenteramlah dia. Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadah Haji dengan mengujungi Baitullah, yaitu sesiapa yang mampu dan berkuasa sampai kepadanya. Dan sesiapa yang kufur (ingkar akan kewajipan ibadah haji itu), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak berhajatkan sesuatu pun) daripada sekalian makhluk.”

    (Surah Ali ‘Imran: 96-97)

    Ketika Makkah didiami oleh kaum Jurhum (kabilah daripada Syam) dengan kemajuan dan kemewahan hidup mereka sehingga tidak mengendahkan kehormatan Ka’abah tersebut. Menurut ahli sejarah, kaum Jurhum memakan harta Ka’abah dan melakukan perkara dosa besar sehinggalah perigi zamzam itu kering kontang dan lama kelamaan ia tertimbus dan tidak diketahui lagi kedudukannya.

    Setelah pemerintahan daerah itu dipegang oleh Abdul Muthallib (nenek Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam). Suatu ketika beliau telah bermimpi mendapat petunjuk untuk menggali perigi zamzam itu, lalu dia mengarahkan orang lain untuk menggali perigi tersebut sehinggalah kedudukan perigi itu ditemui.

    Hukum Meminum Air Zamzam

    Para Fuqaha bersepakat bahawa sunat bagi orang-orang yang mengerjakan ibadah Haji dan Umrah minum air zamzam, karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam minum air zamzam tersebut.

    Berdasarkan nas asy-Syafi’eyah, bahawa air zamzam itu sunat diminum dalam apa keadaan sekalipun. Hukum sunat itu tidak hanya khusus selepas mengerjakan tawaf, bahkan ia sunat diminum bagi setiap orang walaupun bukan pada waktu mengerjakan ibadah haji atau umrah. Disebutkan dalam hadis Jabir bin ‘Abdullah katanya:

    Maksudnya: “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Air zamzam itu diminum untuk keperluan apa saja.”

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Dalam erti kata yang lain, jika ia meminumnya dengan maksud menghilangkan rasa haus, maka Allah akan menghilangkan rasa hausnya, jika ia meminumnya untuk menghilangkan rasa lapar, maka Allah akan mengenyangkannya, dan jika ia meminumnya untuk menyembuhkan penyakit, maka Allah akan menyembuhkan penyakitnya.

    Kelebihan Air Zamzam

    Banyak kelebihan yang terdapat pada air zamzam itu, sebagaimana disebutkan di dalam hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, antara kelebihan itu:

    Ada keberkatan padanya, boleh mengenyangkan seperti makanan dan sebagai penawar penyakit. Disebutkan dalam hadis Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang air zamzam:

    Maksudnya: “Sesungguhnya air zamzam itu penuh berkat, sesungguhnya ia makanan yang mengenyangkan.” Dan Abu Daud Ath-Thayalisi menambah dalam musnadnya: “Dan penyembuh penyakit.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Perihal air zamzam menjadi penawar penyakit itu, banyak disebut mengenainya, antaranya:

    Maksudnya: “Daripada Abu Jamrah Adh-Dhuba’ie katanya: “Aku duduk bersama Ibnu ‘Abbas di Makkah, lalu aku terkena demam panas. Berkata Ibnu ‘Abbas: “Dinginkanlah panasmu itu dengan air zamzam, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demam panas itu daripada bahang neraka jahannam, maka dinginkanlah ia dengan air, (atau sabda Baginda: “Dengan air zamzam” , si Hammam syak).

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Kisah seorang perempuan Maghribi yang disembuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada penyakit kanser dengan meminum air zamzam. Di mana doktor menyatakan, bahawa dia tidak ada harapan untuk hidup dalam masa tiga bulan. Perempuan itu pun pergi menunaikan umrah, beri’tikaf di Masjidil Haram, minum air zamzam sepuas-puasnya dan menghabiskan masanya dengan bersembahyang, membaca al-Qur’an dan berdoa. Setelah beberapa hari bintik-bintik merah yang tumbuh di badannya sudah tiada lagi, lalu dia menemui doktor dengan menerima keputusan bahawa penyakitnya sudah sembuh.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dibersihkan dadanya dengan air zamzam bagi menguatkan Baginda melihat Malakut langit dan bumi, syurga dan neraka. Dengan ini, ada keistimewaan dalam air zamzam itu yaitu menguatkan hati dan menghilangkan ketakutan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Dibukalah atap rumahku ketika aku berada di Makkah. Lalu turun Jibril membelah dadaku, kemudian dicucinya dengan air zamzam. Setelah itu dia (Jibril) membawa mangkuk besar dari emas yang penuh dengan hikmat dan keimanan, lalu ditumpahkannya ke dalam dadaku kemudian ditutupnya kembali dadaku. Setelah itu dia menarik tanganku lalu membawaku naik ke langit dunia (dimi’irajkan).”

    bersambung

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 17 November 2016 Permalink | Balas  

    Telaah Kitab: Persoalan Seputar Mazhab 

    mazhabTelaah Kitab: Persoalan Seputar Mazhab

    Oleh: M. Shiddiq Al-Jawi

    Pengantar Redaksi:

    Umat Islam sering menghadapi beberapa persoalan dan pertanyaan di seputar mazhab (fikih), misalnya: bagaimana sejarah lahirnya mazhab; apakah bermazhab itu dibolehkan atau tidak; bagaimanakah bermazhab secara benar; apakah Hizbut Tahrir suatu mazhab atau bukan?

    Tulisan ini bertujuan menjawab beberapa persoalan seputar mazhab tersebut. Maka dari itu, di sini akan ditelaah kitab Asy-Syakhshiyah Al-Islâmiyyah Jilid I karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994) serta beberapa referensi lain yang terkait.

    Pengertian Mazhab

    Mazhab menurut bahasa Arab adalah isim makan (kata benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I’ânah ath-Thalibin, I/12). Jadi, mazhab itu secara bahasa artinya, “tempat pergi”, yaitu jalan (ath-tharîq) (Abdullah, 1995: 197; Nahrawi, 1994: 208).

    Sedangkan menurut istilah ushul fiqih, mazhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam, yang digali dari dalil-dalil syariat yang rinci serta berbagai kaidah (qawâ’id) dan landasan (ushûl) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh (Nahrawi, 1994: 208; Abdullah, 1995: 197). Menurut Muhammad Husain Abdullah (1995:197), istilah mazhab mencakup dua hal: (1) sekumpulan hukum-hukum Islam yang digali seorang imam mujtahid; (2) ushul fikih yang menjadi jalan (tharîq) yang ditempuh mujtahid itu untuk menggali hukum-hukum Islam dari dalil-dalilnya yang rinci.

    Dengan demikian, kendatipun mazhab itu manifestasinya berupa hukum-hukum syariat (fikih), harus dipahami bahwa mazhab itu sesungguhnya juga mencakup ushul fikih yang menjadi metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) untuk melahirkan hukum-hukum tersebut. Artinya, jika kita mengatakan mazhab Syafi’i, itu artinya adalah, fikih dan ushul fikih menurut Imam Syafi’i. (Nahrawi, 1994: 208).

    Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan dua unsur mazhab ini dengan berkata, “Setiap mazhab dari berbagai mazhab yang ada mempunyai metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) dan pendapat tertentu dalam hukum-hukum syariat.” (Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, II/395).

    Lahirnya Mazhab

    Berbagai mazhab fikih lahir pada masa keemasan fikih, yaitu dari abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-4 H dalam rentang waktu 250 tahun di bawah Khilafah Abbasiyah yang berkuasa sejak tahun 132 H (Al-Hashari, 1991: 209; Khallaf, 1985:46; Mahmashani, 1981: 35). Pada masa ini, tercatat telah lahir paling tidak 13 mazhab fikih (di kalangan Sunni) dengan para imamnya masing-masing, yaitu: Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H), Abu Hanifah (w. 150 H), al-Auza’i (w. 157 H), Sufyan ats-Tsauri (w. 160 H), al-Laits bin Sa’ad (w. 175 H), Malik bin Anas (w. 179 H), Sufyan bin Uyainah (w. 198 H), asy-Syafi’i (w. 204 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Dawud azh-Zhahiri (w. 270 H), Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H), Abu Tsaur (w. 240 H), dan Ibn Jarir ath-Thabari (w. 310 H) (Lihat: al-’Alwani, 1987: 88; as-Sayis, 1997: 146).

    Bagaimana mazhab-mazhab itu lahir di tengah masyarakat dalam kurun sejarah saat itu? Seperti dijelaskan Nahrawi (1994: 164-168), terdapat berbagai faktor dalam masyarakat yang mendorong aktivitas keilmuan yang pada akhirnya melahirkan berbagai mazhab fikih, antara lain:

    Pertama, kestabilan politik dan kesejahteraan ekonomi.

    Kedua, kesungguhan para ulama dan fukaha.

    Ketiga, perhatian para khalifah terhadap fikih dan fukaha.

    Keempat, pembukuan ilmu-ilmu (tadwîn al-’ulûm). Pada masa ini telah dilakukan pembukuan berbagai cabang ilmu seperti hadis, fikih, dan tafsir yang memudahkan tersedianya rujukan untuk mengembangkan ilmu fikih.

    Kelima, adanya berbagai perdebatan dan diskusi (munâzharât) di antara ulama. Ini merupakan faktor terbesar yang merangsang perkembangan ilmu fikih (Nahrawi, 1994: 164-168. Lihat juga: Al-Hudhari Bik, 1981: 174-182; Khallaf, 1985: 46-48; Al-Hashari, 1991: 209-213).

    Terbentuknya Mazhab

    Bagaimana terbentuknya mazhab-mazhab itu sendiri? Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994: 386), berbagai mazhab itu terbentuk karena adanya perbedaan (ikhtilâf) dalam masalah ushûl maupun furû’ sebagai dampak adanya berbagai diskusi (munâzharât) di kalangan ulama. Ushul terkait dengan metode penggalian (tharîqah al-istinbâth), sedangkan furû’ terkait dengan hukum-hukum syariat yang digali berdasarkan metode istinbâth tersebut.

    Lebih jauh An-Nabhani menerangkan bagaimana dapat terjadi perbedaan metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) hukum tersebut. Ini disebabkan adanya perbedaan dalam 3 (tiga) hal, yaitu: (1) perbedaan dalam sumber hukum (mashdar al-ahkâm); (2) perbedaan dalam cara memahami nash; (3) perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash (An-Nabhani, 1994: 387-392). Penjelasannya sebagai berikut:

    Mengenai perbedaan sumber hukum, hal itu terjadi karena ulama berbeda pendapat dalam 4 (empat) perkara berikut, yaitu:

    1. Metode mempercayai as-Sunnah serta kriteria untuk menguatkan satu riwayat atas riwayat lainnya. Para mujtahidin Irak (Abu Hanifah dan para sahabatnya), misalnya, berhujjah dengan sunnah mutawâtirah dan sunnah masyhûrah; sedangkan para mujtahidin Madinah (Malik dan sahabat-sahabatnya) berhujjah dengan sunnah yang diamalkan penduduk Madinah. (Khallaf, 1985: 57-58).
    2. Fatwa sahabat dan kedudukannya. Abu Hanifah, misalnya, mengambil fatwa sahabat dari sahabat siapa pun tanpa berpegang dengan seorang sahabat, serta tidak memperbolehkan menyimpang dari fatwa sahabat secara keseluruhan. Sebaliknya, Syafi’i memandang fatwa sahabat sebagai ijtihad individual sehingga boleh mengambilnya dan boleh pula berfatwa yang menyelisihi keseluruhannya. (Khallaf, 1985: 58-59).
    3. Kehujjahan Qiyas. Sebagian mujtahidin seperti ulama Zhahiriyah mengingkari kehujahan Qiyas sebagai sumber hukum, sedangkan mujtahidin lainnya menerima Qiyas sebagai sumber hukum sesudah al-Quran, as-Sunnah, dan Ijma. (Khallaf, 1985: 59).
    4. Subyek dan hakikat kehujjahan Ijma. Para mujtahidin berbeda pendapat mengenai subyek (pelaku) Ijma dan hakikat kehujjahannya. Sebagian memandang Ijma Sahabat sajalah yang menjadi hujjah. Yang lain berpendapat, Ijma Ahlul Bait-lah yang menjadi hujah. Yang lainnya lagi menyatakan, Ijma Ahlul Madinah saja yang menjadi hujah. Mengenai hakikat kehujjahan Ijma, sebagian menganggap Ijma menjadi hujjah karena merupakan titik temu pendapat (ijtimâ’ ar-ra’yi); yang lainnya menganggap hakikat kehujjahan Ijma bukan karena merupakan titik temu pendapat, tetapi karena menyingkapkan adanya dalil dari as-Sunnah. (An-Nabhani, 1994: 388-389).

    Mengenai perbedaan dalam cara memahami nash, sebagian mujtahidin membatasi makna nash syariat hanya pada yang tersurat dalam nash saja. Mereka disebut Ahl al-Hadîts (fukaha Hijaz). Sebagian mujtahidin lainnya tidak membatasi maknanya pada nash yang tersurat, tetapi memberikan makna tambahan yang dapat dipahami akal (ma’qûl). Mereka disebut Ahl ar-Ra’yi (fukaha Irak). Dalam masalah zakat fitrah, misalnya, para fukaha Hijaz berpegang dengan lahiriah nash, yakni mewajibkan satu sha’ makanan secara tertentu dan tidak membolehkan menggantinya dengan harganya. Sebaliknya, fukaha Irak menganggap yang menjadi tujuan adalah memberikan kecukupan kepada kaum fakir (ighnâ’ al-faqîr), sehingga mereka membolehkan berzakat fitrah dengan harganya, yang senilai satu sha’ (1 sha’= 2,176 kg takaran gandum). (Khallaf, 1985: 61; Az-Zuhaili, 1996: 909-911).

    Mengenai perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash, hal ini terpulang pada perbedaan dalam memahami cara pengungkapan makna dalam bahasa Arab (uslûb al-lughah al-’arabiyah). Sebagian ulama, misalnya, menganggap bahwa nash itu dapat dipahami menurut manthûq (ungkapan eksplisit)-nya dan juga menurut mafhûm mukhâlafah (pengertian implisit yang berkebalikan dari makna eksplisit)-nya. Sebagian ulama lainnya hanya berpegang pada makna manthûq dari nash dan menolak mengambil mafhûm mukhâlafah dari nash. (Khallaf, 1985: 64).

    Tentang Bermazhab

    Bolehkan kita bertaklid (mengikuti) mazhab tertentu? Menjawab pertanyaan ini, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994:232) menyatakan, sesungguhnya Allah Swt. tidak memerintahkan kita mengikuti seorang mujtahid, seorang imam, ataupun suatu mazhab. Yang diperintahkan Allah Swt. kepada kita adalah mengikuti hukum syariat dan mengamalkannya. Itu berarti, kita tidak diperintahkan kecuali mengambil apa saja yang dibawa Rasulullah saw. kepada kita dan meninggalkan apa saja yang dilarangnya atas kita. (QS al-Hasyr [59]: 7).

    Karena itu, An-Nabhani menandaskan, secara syar’î kita tidak dibenarkan kecuali mengikuti hukum-hukum Allah; tidak dibenarkan kita mengikuti pribadi-pribadi tertentu. (An-Nabhani, 1994: 232).

    Akan tetapi, fakta menunjukkan, tidak semua orang mempunyai kemampuan menggali hukum syariat sendiri secara langsung dari sumber-sumbernya (Al-Quran dan as-Sunnah). Karena itu, di tengah-tengah umat kemudian banyak yang bertaklid pada hukum-hukum yang digali oleh seorang mujtahid. Mereka pun menjadikan mujtahid itu sebagai imam mereka dan menjadikan hukum-hukum hasil ijtihadnya sebagai mazhab mereka (An-Nabhani, 1994: 232). Persoalannya, apakah bermazhab ini sesuatu yang dibenarkan syariat Islam?

    An-Nabhani menjawab, hal itu bergantung pada persepsi umat terhadap masalah ini. Jika mereka berpaham bahwa yang mereka ikuti adalah hukum-hukum syariat yang digali oleh seorang mujtahid maka bermazhab adalah sesuatu yang sahih dalam pandangan syariat Islam. Sebaliknya, jika umat berpaham bahwa yang mereka ikuti adalah pribadi mujtahid (syakhsh al-mujtahid), bukan hukum hasil ijtihad mujtahid itu, maka bermazhab seperti ini adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan syariat Islam (An-Nabhani, 1994: 232).

    Walhasil, para pengikut mazhab wajib memperhatikan hal ini dengan sangat seksama; sekali lagi, sangat seksama, yaitu bahwa yang mereka ikuti hanyalah hukum syariat yang digali oleh mujtahid, bukan pribadi mujtahid yang bersangkutan. Kalau seseorang bermazhab Syafi’i, misalnya, maka wajiblah dia mempunyai persepsi, bahwa yang dia ikuti bukanlah Imam Syafi’i sebagai pribadi (taqlîd asy-syaksh), melainkan hukum syariat yang digali oleh Imam Syafi’i (taqlîd al-ahkâm). Jika persepsinya tidak demikian, maka para pengikut mazhab pada Hari Kiamat kelak akan ditanya oleh Allah Azza wa Jalla, mengapa mereka meninggalkan hukum Allah dan mengikuti pribadi-pribadi yang statusnya juga sesama hamba-Nya seperti halnya para pengikut mazhab itu? (An-Nabhani, 1994: 232 & 394).

    Bermazhab Secara Benar

    Para pengikut mazhab, di samping wajib mempunyai persepsi yang benar tentang bermazhab (seperti diuraikan sebelumnya), wajib memahami setidaknya 2 (dua) prinsip penting lainnya dalam bermazhab (Abdullah, 1995: 372), yaitu:

    Pertama, wajib atas muqallid suatu mazhab untuk tidak fanatik (ta’âshub) terhadap mazhab yang diikutinya (Ibn Humaid, 1995: 54). Tidaklah benar, ketika Syaikh Abu Hasan Abdullah al-Karkhi (w. 340 H), seorang ulama mazhab Hanafi, berkata secara fanatik, “Setiap ayat al-Quran atau hadis yang menyalahi ketetapan mazhab kita bisa ditakwilkan atau dihapus (mansûkh).” (Abdul Jalil Isa, 1982: 74).

    Karena itu, jika terbukti mazhab yang diikutinya salah dalam suatu masalah, dan pendapat yang benar (shawâb) ada dalam mazhab lain, maka wajib baginya untuk mengikuti pendapat yang benar itu menurut dugaan kuatnya. Para imam mazhab sendiri mengajarkan agar kita tidak bersikap fanatik. Ibnu Abdil Barr meriwayatkan, bahwa Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Idzâ shaha al-hadîts fahuwa madzhabî (Jika suatu hadis/pendapat telah dipandang sahih maka itulah mazhabku).” (Al-Bayanuni, 1994: 90).

    Al-Hakim dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan, bahwa Imam Syafi’i pernah mengatakan hal yang sama. Dalam satu riwayat, Imam Syafi’i juga pernah berkata, “Jika kamu melihat ucapanku menyalahi hadis, amalkanlah hadis tersebut dan lemparkanlah pendapatku ke tembok.” (Al-Dahlawi, 1989: 112).

    Kedua, sesungguhnya perbedaan pendapat (khilâfiyah) di kalangan mazhab-mazhab adalah sesuatu yang sehat dan alamiah, bukan sesuatu yang janggal atau menyimpang dari Islam, sebagaimana sangkaan sebagian pihak. Sebab, kemampuan akal manusia berbeda-beda, sebagaimana nash-nash syariat juga berpotensi memunculkan perbedaan pemahaman. Perbedaan ijtihad di kalangan sahabat telah terjadi sejak zaman Rasulullah saw. Beliau pun membenarkan hal tersebut dengan taqrîr-nya. (Abdullah, 1995: 373).

    Hizbut Tahrir Sebuah Mazhab?

    Satu persoalan yang juga menarik adalah, apakah Hizbut Tahrir itu suatu mazhab atau bukan? Jawabnya, Hizbut Tahrir bukanlah sebuah mazhab, melainkan sebuah partai politik yang berideologi Islam. Hizbut Tahrir adalah sebuah kelompok yang berdiri di atas dasar ideologi Islam yang diyakini para anggotanya, yang diperjuangkan untuk menjadi pengatur interaksi masyarakat dalam segala aspek kehidupan.

    Disebutkan dalam kitab Hizbut Tahrir (1995: 22) bab Keanggotaan Hizbut Tahrir, bahwa Hizbut Tahrir adalah partai bagi seluruh kaum Muslim tanpa melihat lagi faktor kebangsaan, warna kulit, dan mazhab mereka, karena Hizbut Tahrir memandang mereka semua dengan pandangan Islam. (Lihat: Hizbut Tahrir, 1995: 22).

    Namun demikian, jika umat Islam menaruh kepercayaan (tsiqah) kepada kualitas keilmuan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, radhiyallâhu ‘anhu, pendiri Hizbut Tahrir, maka dimungkinkan akan dapat terwujud mazhab An-Nabhani—bukan mazhab Hizbut Tahrir—pada masa mendatang. Sebab, beliau adalah mujtahid mutlak yang memiliki metode istinbâth (ushul fikih) tersendiri dan meng-istinbâth hukum-hukum syariat berdasarkan ushul fikih tersebut. Ihsan Sammarah dalam kitabnya Mafhûm Al-’Adalah Al-Ijtima’iyah (1991: 267) berkata, “Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang mujtahid yang mengikuti metode para fukaha dan mujtahidin, namun beliau tidak mengikuti satu mazhab dari mazhab-mazhab yang telah dikenal. Sebaliknya, beliau mengadopsi ushul fikih yang khas bagi beliau dan menggali hukum-hukum syariat berdasarkan ushul fikih tersebut.”

    Wallâhu a’lam.

    Daftar Pustaka

    1. Abdullah, M. Husain. 1995. Al-Wadhîh fî Ushûl sl-Fiqh. Beirut: Darul Bayariq.
    2. Ad-Dahlawi, Syah Waliyullah. 1989. Lahirnya Mazhab-Mazhab Fiqh (Al-Inshâf fî Bayân Asbâb al-Ikhtilâf). Terjemahan oleh Mujiyo Nurkholis. Bandung: CV Rosda.
    3. Al-’Alwani, Thaha Jabir. 1987. Adâb Al-Ikhtilâf fî al-Islâm. Washington: Al-Ma’had Al-’Alami li Al-Fikr Al-Islami (IIIT).
    4. Al-Bakri, As-Sayyid. T.t. I’ânah ath-Thâlibîn. Jld. I. Semarang: Maktabah wa Mathba’ah Toha Putera.
    5. Al-Bayanuni, M. Abul Fath. 1994. Studi Tentang Sebab-Sebab Perbedaan Mazhab (Dirâsât fî al-Ikhtilâfât al-Fiqhiyah). Terjemahan oleh Zaid Husein Al-Hamid. Surabaya: Mutiara Ilmu.
    6. Al-Hashari, Ahmad. 1991. Târîkh al-Fiqh al-Islami Nasy’atuhu, Mashâdiruhu, Adwâruhu, Madârisuhu. Beirut: Darul Jil.
    7. An-Nabhani, Taqiyuddin. 1994. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah. Jld. I. Beirut: Darul Ummah
    8. As-Sayis, M. Ali. 1997. Fiqih Ijtihad Pertumbuhan dan Perkembangannya (Nasy’ah al-Fiqh al-Ijtihâdi wa Athwâruhu). Terjemahan oleh M. Muzamil. Solo: CV Pustaka Mantiq.
    9. Az-Zuhaili, Wahbah. 1996. Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu. Jld. II. Beirut: Darul Fikr.
    10. Bik, M. Al-Hudhari. 1981. Târîkh Tasyrî’ al-Islâmi. T.tp.: Maktabah Dar Ihya’ al-Kutub al-’Arabiyah.
    11. Ibn Humaid, Shalih Abdullah. 1995. Adab Berselisih Pendapat (Adab al-Khilâf). Terjemahan oleh Abdul Rosyad Shiddiq. Solo: Khazanah Ilmu.
    12. Isa, Abdul Jalil. 1982. Masalah-Masalah Keagamaan Yang Tidak Boleh Diperselisihkan Antar Sesama Umat Islam (Mâ Lâ Yajûzu fîhi al-Khilâf bayna al-Muslimîn). Terjemahan oleh M. Tolchah Mansoer & Masyhur Amin. Bandung: PT Alma’arif.
    13. Khallaf, Abdul Wahhab. 1985. Ikhtisar Sejarah Hukum Islam (Khulâshah Târîkh at-Tasyrî’ al-Islâmî). Terjemahan oleh Zahri Hamid & Parto Djumeno. Yogyakarta: Dua Dimensi.
    14. Mahmashani, Subhi. 1981. Filsafat Hukum Dalam Islam (Falsafah at-Tasyrî’ fî al-Islâm). Terjemahan oleh Ahmad Sudjono. Bandung: PT Alma’arif.
    15. Nahrawi, Ahmad. 1994. Al-Imâm asy-Syâfi’i fî Mazhabayhi al-Qadîm wa al-Jadîd. Kairo: Darul Kutub.
    16. Sammarah, Ihsan. 1991. Mafhûm al-’Adalah al-Ijtimâ’yah fî al-Fikri al-Islâmî al- Mu’âshir. Beirut: Dar An-Nahdhah Al-Islamiyah.
     
  • erva kurniawan 1:21 am on 16 November 2016 Permalink | Balas  

    Mensyukuri Nikmat Melalui Aqiqah 

    kambing-aqiqahMensyukuri Nikmat Melalui Aqiqah

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Para ulama telah berselisih pendapat dalam mengertikan aqiqah. Dari segi bahasa terdapat empat pendapat yang diberikan yaitu:

    1. Aqiqah ialah rambut yang di atas kepala anak ketika dia dilahirkan.
    2. Perkataan aqiqah diambil daripada kata dasar ‘al-‘aqq’ yang membawa erti memutuskan (al-qath’).
    3. Aqiqah adalah perbuatan menyembelih itu sendiri. Hujahnya, bahwa makna asal ‘al-‘aqq’ itu adalah dari perkataan ‘al-qath” (memutus atau memotong).
    4. Mengandungi makna kedua-duanya sekali yaitu dengan makna rambut dan menyembelih, dan ini merupakan pendapat yang lebih baik dipegang.

    Manakala dari segi syara’ pula, aqiqah ialah binatang ternakan yang berkaki empat yang disembelih ketika hendak mencukur rambut di kepala anak yang baru dilahirkan, sama ada disembelih pada hari ketujuh atau selepasnya.

    Hukum Aqiqah Dan Tujuannya

    Jumhur ulama mengatakan bahwa hukum aqiqah itu adalah sunat muakkadah yaitu sunat yang sangat digalakkan oleh Islam. Dasar kepada tuntutan ini ialah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Anak-anak tergadai (terikat) dengan aqiqahnya, disembelih (aqiqah) untuknya pada hari ketujuh (kelahirannya) dan diberi namanya serta dicukur rambutnya.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Terdapat dua pendapat dalam menghuraikan maksud “anak-anak tergadai dengan aqiqahnya”. Pendapat pertama mengatakan bahwa jika tidak diaqiqahkan, anak itu akan terbantut atau terhalang pertumbuhannya, tidak seperti anak- anak lain yang diaqiqahkan. Pendapat kedua mengatakan bahwa maksudnya ialah anak itu tidak akan memberi syafaat kepada kedua ibu bapanya pada Hari Kiamat kelak jika dia tidak diaqiqahkan. Pendapat kedua ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, dan pendapat ini adalah pendapat yang terbaik.

    Keguguran anak yang sudah bernyawa (ditiupkan roh) juga dituntut supaya dibuatkan aqiqah untuknya.

    Aqiqah dituntut oleh Islam bukan saja bertujuan untuk menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bagi mencari keredaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga dituntut bagi melahirkan kesyukuran ibu bapa kepada Allah di atas anugerah cahaya mata atau zuriat keturunannya. Di samping itu, ia juga merupakan latihan untuk umat Islam dalam melakukan sedikit pengorbanan.

    Selain daripada itu, pelaksanaan aqiqah juga adalah bagi melahirkan kegembiraan ibu bapa di atas nikmat yang besar itu. Adalah dianggap kurang sopan kepada ibu bapa yang telah dikurniakan nikmat yang begitu besar, tidak bersyukur kepada Allah dengan melaksanakan aqiqah itu, sedangkan dia mempunyai kemampuan dari segi kewangan dan kelapangan.

    Orang Yang Berhak Melakukan Aqiqah

    Orang yang disunatkan membuat aqiqah untuk anak yang baru dilahirkan itu ialah orang yang wajib memberi nafkah kepada anak tersebut yaitu bapa atau ibunya sekalipun mereka itu orang fakir atau papa.

    Aqiqah tidak boleh dilakukan oleh orang yang tidak wajib ke atasnya memberi nafkah kepada anak tersebut melainkan dengan izin daripada orang yang wajib memberi nafkah (bapa atau ibunya).

    Belanja untuk aqiqah itu hendaklah diambil dari wang atau harta bapa atau ibu itu sendiri dan tidak boleh diambil dari harta anak yang hendak diaqiqahkan karena aqiqah adalah tabarru’ (sedekah). Jika diambil dari wang atau harta anak, aqiqah yang dibuat itu tidak sah dan ibu bapa tersebut wajib menggantinya.

    Bagi ibu bapa yang berkemampuan, hukum sunat melakukan aqiqah untuk anak mereka itu berkekalan sehinggalah anaknya itu baligh atau cukup umur. Jika anak itu sudah baligh tetapi tiada dibuat aqiqah untuknya, maka sunat ke atasnya melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

    Adapun yang dimaksudkan dengan berkemampuan yang merupakan syarat untuk melakukan aqiqah itu ialah orang yang hendak melakukan aqiqah itu mempunyai wang belanja yang lebih untuk dirinya dan orang-orang yang di bawah tanggungannya sebelum berlalu jangka masa terpanjang bagi perempuan bernifas yaitu enam puluh hari. Jika kemampuannya itu wujud selepas berlalu masa tersebut (sebelum itu dia tidak mampu, kemudian selepas enam puluh hari baharulah dia mampu), maka tidaklah disunatkan ke atasnya beraqiqah.

    Al-Syeikh Muhammad Al-Khathib Al-Syarbini di dalam kitabnya Mughni Al-Muhtâj mengatakan bahwa jika wali anak tersebut tidak mampu untuk beraqiqah sebaik saja anak itu dilahirkan, kemudian dia mampu sebelum umur anak itu genap tujuh hari, maka sunat ke atas wali itu beraqiqah untuk anaknya itu.

    Jika kemampuannya itu ada selepas hari ketujuh dari hari kelahiran anaknya dalam masa isterinya sudah melalui semaksima hari-hari nifasnya (enam puluh hari), maka kebanyakan ulama muta’akhirîn berpendapat tidak disunatkan ke atasnya aqiqah.

    Adapun jika kemampuan itu wujud selepas hari ketujuh dari hari kelahiran anaknya sedang isterinya masih dalam nifas, maka dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat Yusuf Al-Ardabili di dalam kitabnya Al-Anwâr li A’mâli Al-Abrâr, beliau mentarjîhkan (lebih cenderung kepada) pendapat yang mengatakan sunat ke atasnya aqiqah.

    Dalam arti kata lain, jika wali itu tidak mampu sehingga habis masa nifas isterinya, maka gugurlah daripadanya hukum sunat melakukan aqiqah.

    Dalam masalah menentukan hukum melakukan aqiqah untuk anak zina pula, menurut Ibnu Hajar sebagaimana tersebut dalam kitabnya Tuhfah Al-Muhtâj bahwa hukumnya adalah sunat ke atas ibunya melakukan aqiqah untuk anak zinanya itu, akan tetapi hendaklah dilakukan aqiqah itu secara sembunyi-sembunyi (tidak dizahirkan).

    Masa Aqiqah

    Aqiqah sunat dilakukan sebaik-baik saja anak dilahirkan dan berterusan sehinggalah anak itu baligh. Ini adalah pendapat yang paling râjih. Apabila anak itu sudah baligh, gugurlah hukum sunat itu daripada walinya dan ketika itu hukum sunat berpindah ke atas anak itu sendiri dalam melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

    Walaupun masa yang disunatkan untuk beraqiqah itu panjang, tetapi yang afdhalnya hendaklah dilakukan pada hari ketujuh dari hari kelahirannya. Termasuk dalam kiraan tujuh hari itu, hari anak itu dilahirkan. Jika anak itu dilahirkan pada waktu siang sebelum terbenam matahari, maka hari itu dikira satu hari. Sebaliknya jika dia dilahirkan pada waktu malam, maka malam dia dilahirkan itu tidak dikira sebagai satu hari, bahkan kiraan tujuh hari itu bermula dari hari selepasnya (siang berikutnya).

    Jika tidak sempat disembelih aqiqah pada hari ketujuh, digalakkan disembelih pada hari yang keempat belas dari hari kelahiran anaknya, jika tidak sempat pada hari tersebut, disembelih pada hari yang kedua puluh satu. Begitulah seterusnya, boleh dilakukan selepas itu setiap kali berlalu tujuh hari yang berikutnya, seperti pada hari yang kedua puluh lapan, tiga puluh lima dan seterusnya.

    Di dalam kitab Kifâyah Al-Akhyâr ada menyebutkan bahwa masa untuk menyembelih aqiqah (bagi yang mampu) itu hendaklah jangan melebihi tempoh sehingga kering darah nifas ibu yang bersalin. Jika tidak dilakukan aqiqah setelah kering darah nifas ibunya, maka bolehlah dilakukan selepas itu, tetapi sepatutnya janganlah terlewat sehingga anak itu berhenti menyusu (dalam tempoh dua tahun dari tarikh lahir). Jika tidak dilakukan juga, maka bolehlah dilakukan selepas itu, tetapi janganlah terlewat sehingga anak itu berumur tujuh tahun. Jika tidak dilakukan juga sehingga anak itu berumur tujuh tahun, boleh lagi dilakukan selepas itu, tetapi hendaknya sebelum anak itu sampai umur (baligh). Jika anak itu telah sampai umur baligh, maka pada masa itu diberi pilihan kepada anak tersebut melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri.

    Masa yang afdhal untuk menyembelih aqiqah itu ialah setelah terbit matahari, dan semasa penyembelihan itu dilakukan hendaklah dibaca:

    Artinya: “Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar (kerajaanNya), ya Allah, mohon kurniakan selawat, rahmat dan kebesaran kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabat Baginda, ya Allah, ini aqiqah si Polan.”

    Semasa menyembelih itu juga disyaratkan berniat dengan niat bahwa binatang yang disembelih itu adalah untuk aqiqah.

    Bilangan Binatang Yang Hendak Disembelih

    Bagi anak lelaki, yang afdhalnya disunatkan menyembelih dua ekor kambing yang sama keadaan keduanya (besarnya). Manakala bagi anak perempuan, memadai dengan seekor kambing saja. Ini berdasarkan kepada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Sayyidatina ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh kami beraqiqah untuk anak lelaki dengan (menyembelih) dua ekor kambing dan untuk anak perempuan dengan (menyembelih) seekor kambing.”

    (Hadits riwayat Ibnu Majah)

    Jika tidak mampu menyembelih dua ekor kambing untuk anak lelaki, maka memadailah dengan seekor kambing atau satu pertujuh dari seekor unta atau dari seekor lembu atau kerbau saja, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri membuat aqiqah untuk cucunda Baginda, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain dengan menyembelih seekor kambing bagi tiap-tiap seorang.

    Bagi anak yang khuntsâ yaitu anak yang mempunyai dua kemaluan pula, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan bilangan binatang aqiqah yang hendak disembelih untuknya. Ibnu Hajar berpendapat bahwa anak khuntsâ sama seperti anak perempuan yaitu memadai disembelih seekor kambing saja. Manakala Imam Al-Ramli mengatakan bahwa bagi anak khuntsâ disunatkan disembelih dua ekor kambing, sama seperti anak lelaki.

    Pada perkara membuat aqiqah itu, yang lebih afdhal ialah dengan tujuh ekor kambing, kemudian seekor unta, kemudian dengan seekor lembu atau kerbau, kemudian dengan seekor kibasy, kemudian dengan seekor kambing, kemudian dengan satu pertujuh unta dan seterusnya dengan satu pertujuh lembu atau kerbau.

    Oleh karena itu, jika seseorang itu mempunyai harta yang banyak, yang paling afdhal sekali, dituntut supaya dia beraqiqah bagi seorang anak dengan tujuh ekor kambing atau dengan seekor unta atau seekor lembu.

    Binatang Aqiqah Dan Dagingnya

    Binatang yang sah disembelih untuk aqiqah sama seperti binatang-binatang yang sah dibuat korban yaitu binatang ternakan berkaki empat seperti unta, lembu, kerbau, kambing, biri-biri dan kibasy yang telah sampai umurnya dan sihat badannya, tidak berpenyakit dan tidak ada sebarang kecacatan yang boleh mengurangkan daging atau lemaknya atau mengurangkan anggota-anggota yang boleh dimakan.

    Oleh Karena itu, binatang yang sangat kurus, yang kudung, yang patah kaki atau pincang, yang buta, yang terpotong telinga atau seumpamanya, tidak sah dibuat aqiqah.

    Manakala daging aqiqah digalakkan supaya tidak disedekahkan dalam keadaan mentah, bahkan disunatkan dimasak dengan sedikit rasa manis.Tujuannya ialah untuk menaruh harapan baik (optimis) terhadap keelokan perangai dan budi pekerti anak yang diaqiqahkan.

    Kemudian daging yang dimasak itu diberi makan kepada fakir miskin, sama ada dengan dihantar masakan itu ke rumah-rumah mereka atau dijemput mereka hadir makan ke rumah tempat beraqiqah, tetapi jika dihantar masakan itu ke rumah-rumah mereka adalah lebih afdhal.

    Adapun kaki hingga ke pangkal paha kambing tersebut adalah dikecualikan dari dimasak yaitu dibiarkan ia mentah, dan disunatkan disedekahkan kaki kanannya kepada bidan yang menyambut kelahiran anak tersebut. Ini karena Sayyidatina Fatimah Radhiallahu ‘anha, puteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri melakukan demikian dengan suruhan Baginda.

    Sementara itu, orang yang beraqiqah digalakkan memakan sebagian kecil daripada daging binatang yang diaqiqahkan selama mana aqiqahnya itu bukan aqiqah wajib (aqiqah nazar).

    Begitu juga daging aqiqah itu harus dihadiahkan kepada orang kaya, dan dia memiliki apa yang dihadiahkan kepadanya itu, dengan maksud bahwa dia boleh memakannya atau menjualnya.

    Akan tetapi daging aqiqah haram diberikan kepada orang kafir dan juga haram dijual.

    Semasa memotong daging disunatkan supaya jangan dipecah-pecah atau dikerat-kerat tulang binatang yang diaqiqah itu, bahkan dikehendaki supaya diasing-asingkan tulang-tulang itu antara satu sama lain melalui sendi-sendinya saja, ini bertujuan untuk mengambil sempena baik supaya tulang anak-anak nanti tidak pecah dan tidak patah sebagaimana tidak pecah dan tidak patahnya tulang-tulang binatang aqiqahnya. Kalau sekiranya tulang-tulang binatang aqiqah itu dipecah-pecah atau dipotong-potong dan dikerat sebagaimana yang biasa dilakukan kepada binatang sembelihan biasa, maka tidaklah menjadi makruh, akan tetapi hanyalah menyalahi yang utama (khilâf al-awlâ).

    Sebagai kesimpulan, aqiqah merupakan ibadat yang antara lain sebagai tanda mensyukuri nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, oleh itu adalah perlu ianya dilakukan menurut sebagaimana yang digariskan oleh syara’.

    Wallohu a’lam bish-shawab.

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 15 November 2016 Permalink | Balas  

    Abul Wafa Muhammad Al Buzjani Peletak Dasar Rumus Trigonometri 

    abul-wafa-muhammad-al-buzjaniAbul Wafa Muhammad Al Buzjani Peletak Dasar Rumus Trigonometri

    Laporan: YUS/BERBAGAI SUMBER

    Masa kejayaan Islam tempo dulu antara lain ditandai dengan maraknya tradisi  ilmu pengetahuan. Para sarjana Muslim, khususnya yang berada di Baghdad dan  Andalusia, memainkan peran cukup penting bagi tumbuh berkembangnya ilmu  kedokteran, matematika, kimia, dan bidang ilmu lain yang sekarang berkembang.  Selama berabad-abad sarjana-sarjana Muslim tadi menuangkan buah pikiran dan  hasil penelitian ke dalam kitab-kitab pengetahuan untuk kemudian menjadi  rujukan ilmu pengetahuan modern. Kini, dunia telah dapat mengambil manfaat  dari pengembangan ilmu yang dirintis oleh para ilmuwan serta sarjana Muslim.

    Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail al-Buzjani, merupakan  satu di antara sekian banyak ilmuwan Muslim yang turut mewarnai khazanah  pengetahuan masa lalu. Dia tercatat sebagai seorang ahli di bidang ilmu  matematika dan astronomi. Kota kecil bernama Buzjan, Nishapur, adalah tempat  kelahiran ilmuwan besar ini, tepatnya tahun 940 M. Sejak masih kecil,  kecerdasannya sudah mulai nampak dan hal tersebut ditunjang dengan minatnya  yang besar di bidang ilmu alam. Masa sekolahnya dihabiskan di kota  kelahirannya itu.

    Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, Abul Wafa lantas  memutuskan untuk meneruskan ke jenjang lebih tinggi di ibukota Baghdad tahun  959 M. Di sana, dia pun belajar ilmu matematika. Sejarah mencatat, di kota  inilah Abul Wafa kemudian menghabiskan masa hidupnya. Tradisi dan iklim  keilmuan Baghdad benar-benar amat kondusif bagi perkembangan pemikiran Abul  Wafa. Berkat bimbingan sejumlah ilmuwan terkemuka masa itu, tak berapa lama  dia pun menjelma menjadi seorang pemuda yang memiliki otak cemerlang.

    Dia pun lantas banyak membantu para ilmuwan serta pula secara pribadi  mengembangkan beberapa teori penting di bidang matematika, utamanya geometri  dan trigonometri. Di bidang ilmu geometri, Abul Wafa memberikan kontribusi  signifikan bagipemecahan soal-soal geometri dengan menggunakan kompas;  konstruksi ekuivalen untuk semua bidang, polyhedral umum; konstruksi hexagon  setengah sisi dari segitiga sama kaki; konstruksi parabola dari titik dan  solusi geometri bagi persamaan.

    Konstruksi bangunan trigonometri versi Abul Wafa hingga kini diakui sangat  besar kemanfaatannya. Dia adalah yang pertama menunjukkan adanya teori relatif  segitiga parabola. Tak hanya itu, dia juga mengembangkan metode baru tentang  konstruksi segi empat serta perbaikan nilai sinus 30 dengan memakai delapan  desimal. Abul Wafa pun mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) =  1 – cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2)

    Di samping itu, Abul Wafa membuat studi khusus menyangkut teori tangen dan  tabel penghitungan tangen. Dia memperkenalkan secan dan cosecan untuk pertama  kalinya, berhasil mengetahui relasi antara garis-garis trigonometri yang mana  berguna untuk memetakannya serta pula meletakkan dasar bagi keberlanjutan  studi teori conic. Abul Wafa bukan cuma ahli matematika, namun juga piawai  dalam bidang ilmu astronomi. Beberapa tahun dihabiskannya untuk mempelajari  perbedaan pergerakan bulan dan menemukan “variasi”. Dia pun tercatat sebagai  salah satu dari penerjemah bahasa Arab dan komentator karya-karya Yunani.

    Banyak buku dan karya ilmiah telah dihasilkannya dan mencakup banyak bidang  ilmu. Namun tak banyak karyanya yang tertinggal hingga saat ini. Sejumlah  karyanya hilang, sedang yang masih ada, sudah dimodifikasi. Kontribusinya  dalam bentuk karya ilmiah antara lain dalam bentuk kitab Ilm al-Hisab (Buku  Praktis Aritmatika), Al-Kitab Al-Kamil (Buku Lengkap), dan Kitab al-Handsa  (Geometri Terapan). Abul Wafa pun banyak menuangkan karya tulisnya di jurnal  ilmiah Euclid, Diophantos dan al-Khawarizmi, tetapi sayangnya banyak yang  telah hilang.

    Kendati demikian, sumbangsihnya bagi teori trigonometri amatlah signifikan  terutama pengembangan pada rumus tangen, penemuan awal terhadap rumus secan  dan cosecan. Maka dari itu, sejumlah besar rumus trigomometri tak bisa  dilepaskan dari nama Abul Wafa. Seperti disebutkan dalam Alquran maupun hadis,  agama Islam menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa belajar dan  mengembangkan ilmu pengetahuan. Inilah yang dihayati oleh sang ilmuwan Muslim,  Abul Wafa Muhammad hingga segenap kehidupannya dia abdikan demi kemajuan ilmu.  Dia meninggal di Baghdad tahun 997 M.

    ***

    republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 14 November 2016 Permalink | Balas  

    Riya Penghapus Amal 

    adab-sedekahRiya Penghapus Amal

    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:

    ”Sesungguhnya orang yang pertama akan diadili oleh Allah adalah seorang yang mati syahid (di mata manusia), maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatnya dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Maka ia menjawab, ”Sungguh aku telah berperang karena Engkau, sehingga aku mati syahid.” Maka Allah berfirman, ”Engkau dusta. Akan tetapi, engkau berperang supaya dikatakan pemberani, dan pujian itu telah engkau dapatkan,” kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka.

    Kemudian orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, maka orang ini didatangkan (menghadap Allah), maka diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, ”Sesungguhnya aku telah mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur’an karena Engkau.” Maka Allah berfirman, ”Engkau berdusta, akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan ‘alim dan membaca Al-Qur’an supaya dikatakan qarri’, dan pujian itu telah engkau dapatkan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka.

    Kemudian orang yang diberi keluasan rizki oleh Allah, maka Allah memberikan kepadanya berbagai macam harta. Maka orang ini didatangkan (menghadap Allah). Diberitahukan kepadanya nikmat-nikmatNya, dan iapun mengetahuinya. Maka Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang telah engkau lakukan di dalam nikmat tersebut?” Orang ini menjawab, ”Tidaklah aku meninggalkan satu jalan yang Engkau cintai atau diinfakkan di dalamnya, kecuali aku menginfakkan di jalan tersebut karena Engkau,” maka Allah berfirman, ”Engkau dusta, akan tetapi engkau berinfak supaya dikatakan dermawan, dan pujian itu telah dikatakan.” Kemudian orang ini diperintahkan agar dicampakkan wajahnya ke dalam api neraka. (HR Muslim)

    Apa yang menyebabkan tiga orang ini dicampakkan Allah ke dalam neraka jahannam? Bukankah mereka telah melakukan amalan-amalan yang mulia? Bukankah mereka telah bersusah payah melakukannya? Tiada lain karena mereka melakukan semua itu bukan karena Allah, tapi karena ingin dipandang oleh manusia.

    Jihad di Jalan Allah

    Jihad, merupakan amalan yang mulia, bahkan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam,

    ”Dan puncak agama adalah jihad fi sabilillah.” (HR Tirmidzi)

    Dan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

    ”Dan janganlah kamu mengatakan bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al-Baqarah: 154)

    Dan masih banyak lagi ayat maupun hadits yang menjelaskan keutamaan jihad dan orang yang mati syahid. Akan tetapi, tatkala amalan yang agung ini dicampuri dengan perbuatan riya’, maka hilanglah pahalanya. Dari sini, maka kita perlu mengetahui yang disebut dengan jihad fi sabilillah dan ciri-cirinya.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalan sahabat Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata: Seorang Badui datang kepada Rasulullah dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, seseorang berperang karena harta rampasan, seseorang berperang karena ingin terkenal, dan seseorang berperang agar dilihat oleh manusia. Siapakah yang di jalan Allah?” Maka Rasulullah menjawab,

    ”Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia berada di jalan Allah. (muttafaqun ‘alaih).

    Inilah jihad yang sebenarnya, yaitu tidak ada tujuan lain, kecuali dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

    Mencari dan Mengajarkan Ilmu serta Membaca Al-Qur’an

    Selanjutnya diantara orang yang pertama akan dihakimi oleh Allah adalah seseorang yang mencari ilmu dan mengajarkannya, serta orang yang membaca Al-Qur’an. Tiga amalan ini merupakan amalan yang sangat mulia dan banyak pahalanya. Akan tetapi, tatkala tiga amalan tersebut bukan karena Allah semata, maka menjadi hilanglah pahalanya, bahkan pelakunya diancam oleh Allah dengan neraka. Dalam sabdanya, Rasulullah mengancam seseorang yang mencari ilmu bukan karena Allah,

    ”Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang dengannya diharapkan wajah Allah, kemudian dia tidak mempelajarinya, kecuali karena ingin mendapatkan dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga dan pada hari kiamat. (HR Abu Dawud).

    Berinfaq di Jalan Allah

    Adapun orang yang ketiga adalah orang yang berinfak. Banyak ayat-ayat maupun hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan berinfak. Di antaranya firman Allah:

    ”Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia-Nya, lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah: 261)

    Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

    ”Baransiapa yang bersedekah dengan seukuran buah kurma dari hasil usaha yang halal -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-, maka Allah akan menerima dengan tangan kanannya, kemudian akan mengembangkan (shadaqah tersebut) untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang diantara kalian mengembangkan anak kudanya, sehingga menjadi seukuran gunung uhud (muttafaqun alaih).

    Ini merupakan keutamaan besar yang Allah berikan kepada orang-orang yang mau bersedekah. Akan tetapi, apabila seseorang menginfakkan hartanya bukan karena Allah, yang karena ingin mendapatkan pujian manusia, maka didapat bukan pahala, tetapi siksa dari Allah.

    Khatimah

    Hadits yang disebutkan di atas menunjukkan pentingnya masalah ikhlas dalam beribadah, dan menunjukkan betapa berbahayanya perbuatan riya’, hingga dapat menghapus amalan yang dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, riya’ termasuk perbuatan yang sangat ditakutkan Rasullah, sebagaimana sabda Beliau shalallahu alaihi wa salam:

    ”Sesungguhnya yang paling aku takutkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil. Beliau ditanya tentangnya, maka Beliau mejawab, yaitu riya’ (HR Ahmad).

    Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga memerintahkan kepada umatnya agar selalu meminta perlindungan Allah dari perbuatan syirik, baik yang besar maupun yang kecil. Ketahuilah, bahwa ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah seseorang. Allah tidak akan menerima ibadah seseorang, kecuali jika hanya diberikan kepada Allah.

    Semoga amalan Allah melindungi kita dari perbuatan riya’ dan menjadikan kita sebagai orang yang ikhlas. Aamiin

    Sumber: Bonus Khutbah Jum’at Majalah As Sunnah Edisi 02/VII/1424 H – 2004 M

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 13 November 2016 Permalink | Balas  

    Tata Cara Penyembelihan Kurban 

    kambing-kurban-300x225Tata Cara Penyembelihan Kurban

    Oleh Shidiq Hasan Khan

    Kata Pengantar

    Sehubungan dengan hadirnya bulan Dzul Hijjah, maka pada sajian kali ini kami angkat permasalahan tentang Tata Cara Penyembelihan Kurban, yang diterjemahkan dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, dan dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M.

    1. Disyaria’tkan bagi setiap Keluarga

    Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata:”Artinya: Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarganya. 1) (Dikeluarkan Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dan di shahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah 2) dengan sanad shahih).

    Dan dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Artinya: Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pada setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah) 3). (Di dalam sanadnya terdapat Abu Ramlah dan namanya adalah ‘Amir. Al-Khaththabi berkata: majhul) 4)

    Jumhur berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah, bukan wajib. Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Malik. Dan (beliau) berkata: “Saya tidak menyukai seseorang yang kuat (sanggup) untuk membelinya (binatang kurban) lalu dia meninggalkannya.” 5) Dan demikian pula Imam Syafi’i berpendapat.

    Adapun Rabi’ah dan Al-Auza’i dan Abu Hanifah dan Al-Laits, dan sebagian pengikut Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya wajib terhadap yang mampu. Demikian pula yang diceritakan dari Imam Malik dan An-Nakha’iy. 6)

    Orang-orang yang berpendapat akan wajibnya (berkurban) berpegang pada hadits:”Artinya:Tiap-tiap ahli bait (keluarga) harus ada sembelihan (udhiyah). “Yaitu hadits yang terdahulu, dan juga hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah serta di dishahihkan Al-Hakim. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fath-Al-Bari berkata:”Para perawinya tsiqah (terpercaya) namun diperselisihkan marfu’ dan mauquf-nya. Tetapi lebih benar (jika dikatakan) mauquf.

    Dikatakan Imam Thahawi dan lainnya, 7) berkata: “Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Artinya: Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan (untuk berkurban) lalu dia tidak berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”

    Diantara dalil yang mewajibkan (berkurban) adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.”8)Dan perintah menunjukkan wajib. Dikatakan pula bahwa yang dimaksudkan adalah mengkhususkan penyembelihan hanya untuk Rabb, bukan untuk patung-patung.9)

    Diantaranya juga adalah hadits Jundub bin Sufyan Al-Bajaly dalam shahihain 10) dan lainnya, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum dia shalat maka hendaklah dia menyembelih sekali lagi sebagai gantinya. Dan barang siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat, maka hendaklah dia menyembelih dengan (menyebut) nama Allah.”Dan disebutkan dari hadits Jabir semisalnya. 11)

    Berdasarkan dengan hadits:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang yang tidak berkurban dari umatnya dengan seekor gibas.” 12)Sebagaimana terdapat pada hadits Jabir yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dikeluarkan semisalnya oleh Ahmad dan At-Thabrani dan Al-Bazzar dari hadits Abu Rafi’ dengan sanad yang hasan. Jumhur berpendapat untuk menjadikan hadits ini sebagai qarinah (keterangan) yang memalingkan dalil-dalil yang mewajibkan.

    Tidak diragukan lagi bahwa (keduanya) mungkin untuk dijamak (gabung). Yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban untuk orang-orang yang tidak memiliki (tidak mampu menyembelih) sembelihan dari umatnya, sebagaimana dijamaknya hadits:”Artinya: Orang yang tidak menyembelih dari umatnya. “Dengan hadits, “Artinya: Atas setiap keluarga ada kurban.”

    Adapun hadits:”Artinya: Aku diperintahkan berkurban dan tidak diwajibkan atas kalian.” 13)Dan yang semisal hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena pada sanad-sanadnya ada yang tertuduh berdusta dan ada yang dha’if sekali.

    1. Kurban Dilakukan Paling Sedikit Seekor Kambing

    Berdasarkan hadits yang terdahulu. Al-Mahally berkata:”onta dan sapi cukup untuk tujuh orang. Sedangkan seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka (dengan seekor kambing itu) mencukupi untuk keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap orang diantara tujuh orang yang ikut serta dalam penyembelihan onta dan sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dengan satu kurban) bagi setiap keluarga, dan sunnah ‘ain (setiap orang) bagi yang tidak memiliki rumah (keluarga).

    Menurut (ulama) Hanafiah, seekor kambing tidak mencukupi melainkan untuk seorang saja. Sedangkan sapi dan onta tidak mencukupi melainkan untuk tiap tujuh orang. Mereka tidak membedakan antara yang berkeluarga dan tidak. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas orang-orang yang kaya. Dan tidaklah orang tersebut dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali orang yang memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tersebut kepada keluarganya dengan maksud bahwa mereka membantunya dalam berkurban dan mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa’atnya.14)

    Dan dibenarkan mengikutsertakan tujuh orang pada satu onta atau sapi, meskipun mereka adalah dari keluarga yang berbeda-beda. Ini merupakan pedapat para ulama. Dan mereka mengqiyaskan kurban tersebut dengan al-hadyu. 15)

    Dan tidak ada kurban untuk janin (belum lahir). Ini adalah perkataan ulama. 16)

    1. Waktunya Setelah Melaksanakan Shalat Iedul Kurban

    Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Artinya: Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaklah menyembelih sekali lagi sebagai gantinya, dan siapa yang belum menyembelih hingga kami selesai shalat maka menyembelihlah dengan bismillah.”

    Terdapat dalam Shahihain 17) Dan di dalam shahihain dari hadits Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Siapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia mengulangi.” 18)

    Berkata Ibnul Qayyim: “Dan tidak ada pendapat seseorang dengan adanya (perkataan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditanya oleh Abu Burdah bin Niyar tentang seekor kambing yang disembelihnya pada hari Ied, lalu beliau berkata:”Artinya: Apakah (dilakukan) sebelum shalat? Dia menjawab: Ya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Itu adalah kambing daging (yakni bukan kambing kurban).” (Al-Hadits)

    Ibnu Qayyim berkata: “Hadits ini shahih dan jelas menunjukkan bahwa sembelihan sebelum shalat tidak dianggap (kurban), sama saja apakah telah masuk waktunya atau belum. Inilah yang kita jadikan pegangan secara qath’i (pasti) dan tidak diperbolehkan (berpendapat) yang lainnya. Dan pada riwayat tersebut terdapat penjelasan bahwa yang dijadikan patokan (berkurban) adalah shalatnya Imam.”

    1. Akhir Waktunya Adalah Di Akhir Hari-hari Tasyriq

    Berdasarkan hadits Jubair bin Mut’im dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:”Artinya: Pada setiap hari-hari tasyriq ada sembelihan.” 20) (Dikeluarkan Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dan Al-Baihaqi. Dan terdapat jalan lain yang menguatkan antara satu dengan riwayat yang lainnya. Dan juga diriwayatkan dari hadits Jabir dan lainnya. Dan ini diriwayatkan segolongan dari shahabat. Dan perselisihan dalam perkara ini adalah ma’ruf).

    Di dalam Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar:”Artinya: Al-Adha (berkurban) dua hari setelah dari Adha. 21)Demikian pula dari Ali bin Abi Thalib. Dan ini pendapat Al-Hanafiah dan madzhab Syafi’iyah bahwa akhir waktunya sampai terbenamnya matahari dari akhir hari-hari tasyriq berdasarkan hadits Imam Al-Hakim yang menunjukan hal tersebut.22)

    1. Sembelihan yang Terbaik adalah yang Paling Gemuk.

    Berdasarkan hadits Abu Rafi’:”Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berkurban, membeli dua gibas yang gemuk” 23) (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad Hasan).

    Dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abu Umamah bin Sahl berkata:”Artinya: Adalah kami menggemukkan hewan kurban di Madinah dan kaum Muslimin menggemukkan (hewan kurbannya).” 24)

    Saya katakan, bahwa kurban yang paling afdhal (utama) adalah gibas (domba jantan) yang bertanduk. Sebagaimana yang terdapat pada suatu hadits dari Ubadah bin Ash-Shamit dalam riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Al-Baihaqi secara marfu’ dengan lafadzh:”Artinya: Sebaik-baik hewan kurban adalah domba jantan yang bertanduk.” 25) (Dan juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah dan di dalam sanadnya terdapat ‘Ufair bin Mi’dan dan dia Dha’if.26)

    Al-Udhiyah (sembelihan kurban) yang dimaksud bukanlah Al-Hadyu. Dan terdapat pula nash pada riwayat Al-Udhiyah, maka nash wajib didahulukan dari qiyas (mengqiyaskan udhiyah dengan Al-Hadyu), dan hadits: “Domba jantan yang bertanduk.” adalah nash diantara perselisihan ini.

    Apabila dikhususkan berkurban dengan domba berdasarkan zhahir hadits, dan bila meliputi yang lainnya, maka termasuk yang dikebiri. Tetapi yang utama tidaklah dikhususkan dengan hewan yang dikebiri. Adapun penyembelihan kurban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hewan yang dikebiri tidak menunjukkan lebih afdhal dari yang lainnya, namun yang ditujuk pada riwayat tersebut bahwa berkurban dengan hewan yang dikebiri adalah boleh. 27)

    1. Tidak Mencukupi Kurban Ada yang di bawah Al-Jadz’u 28)

    Berdasarkan hadits Jabir dalam riwayat Muslim dan selainnya berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Janganlah engkau menyembelih melainkan musinnah (kambing yang telah berumur dua tahun) kecuali bila kalian kesulitan maka sembelihlah Jadz’u (kambing yang telah berumur satu tahun).29)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada, “Artinya: Sebaik-baik sembelihan adalah kambing Jadz’u.” 30)

    Dikeluarkan pula oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan At-Thabrani dari hadits Ummu Bilal binti Hilal dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Boleh berkurban dengan kambing Jadz’u.” 31)

    Di dalam shahihain dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, “Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagi hewan kurban pada para shahabatnya, dan ‘Uqbah mendapatlan Jadz’ah. Lalu saya bertanya: Wahai Rasulullah, saya mendapatkan Jadz’u. Lalu beliau menjawab: Berkurbanlah dengannya.” 32)

    Jumhur berpendapat bahwa boleh berkurban dengan kambing Jadz’u. Dan barang siapa yang beranggapan bahwa kambing tidak memenuhi kecuali untuk satu atau tiga orang saja, atau beranggapan bahwa selainnya lebih utama maka hendaklah membawakan dalil. Dan tidaklah cukup menggunakan hadits Al-Hadyu sebab itu adalah bab yang lain. 33)

    1. Dan Tidak Mencukupi Selain Dari Ma’zun

    Berdasarkan hadits Abu Burdah dalam shahihain dan lainnya bahwa dia berkata, “Artinya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai hewan ternak ma’zun jadz’u (Sejenis Kambing Yang Kurang Dua Tahun). Lalu beliau berkata: Sembelihlah, dan tidak boleh untuk selainmu.” 34)

    Adapun yang diriwayatkan dalam Shahihain dan lainnya dari hadits ‘Uqbah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu yang tersisa adalah ‘Atud (anak ma’az). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu, lalu beliau menjawab: “Artinya: Berkurbanlah engkau dengan ini.”Al-‘Atud adalah anak ma’az yang umurnya sampai setahun.

    Dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa ‘Uqbah berkata:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kepada para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu tersisa ‘atud. Maka beliau berkata:”Artinya: Berkurbanlah engkau dengannya dan tidak ada rukhsah (keringanan) terhadap seseorang setelah engkau.” 35)

    Sedangkan Al-Imam An-Nawawy menukil kesepakatan bahwa tidak mencukupi Jadz’u dari ma’az. 36)

    Saya (Shidiq Hasan Khan) katakan:”Mereka sepakat bahwa tidak boleh ada onta, sapi dan ma’az kurang dari dua tahun. Dan kambing Jadz’u boleh menurut mereka dan tidak boleh hewan yang terpotong telinganya. Namun Abu Hanifah berkata: “Apabila yang terpotong itu kurang dari separuh, maka boleh.” 37)

    1. Hewan Kurban Tidak Buta Sebelah, Sakit, Pincang dan Kurus, Hilang Setengah Tanduk atau Telinganya.

    Berdasarkan hadits Al-Barra 38) dalam riwayat Ahmad dan Ahlu Sunan serta dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Empat yang tidak diperbolehkan dalam berkurban,(hewan kurban) buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas bengkoknya dan tidak sanggup berjalan, dan yang tidak mempunyai lemak (kurus).” (Dalam riwayat lain dengan lafazh-lafazh Al-Ajfaa’/kurus pengganti Al-Kasiirah)

    Dan dikeluarkan oleh Ahmad, Ahlu Sunan dan dishahihkan At-Tirmidzi dari hadist Ali, berkata:”Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang berkurban dengan hewan yang terpotong setengah dari telinganya.” 39)

    Qatadah berkata:”Al-‘Adhab, adalah (yang terpotong) setengah dan lebih dari itu.” Dan di keluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim dan Bukhari dalam tarikhnya, berkata, “Artinya: Hanyasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari Mushfarah, Al-Musta’shalah, Al-Bakhqaa’, Al-Musyaya’ah dan Al-Kasiirah. Al-Mushafarah adalah yang dihilangkan telinganya dari pangkalnya. Al-Musta’shalah adalah yang hilang tanduknya dari pangkalnya, Al-Bukhqa’ adalah yang hilang penglihatannya dan Al-Musyaya’ah adalah yang tidak dapat mengikuti kelompok kambing karena kurus dan lemahnya, dan Al-Kasiirah adalah yang tidak berlemak.” 40)

    Penafsiran ini adalah asal riwayat, dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits. Adapun hewan kurban yang kehilangan pantat, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Sa’id, berkata:”Artinya: Saya membeli seekor domba untuk berkurban, lalu srigala menganiyayanya dan mengambil pantatnya. Lalu aku tanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda: Berkurbanlah dengannya.” 41) (Di dalam sanadnya terdapat Jabir Al-Ju’fy dan dia sangat lemah)42)

    1. Bersedekah dari Udhiyah, Memakan dan Menyimpan Dagingnya

    Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Artinya: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Makanlah, simpanlah dan bersedekahlah.” (Diriwayatkan dalam shahihain 43) dan dalam bab ini terdapat beberapa hadits)

    10.Menyembelih di Mushalla (tanah lapang yang digunakan untuk Shalat Ied) Lebih Utama.

    Untuk menampakkan syi’ar agama, berdasarkan hadist Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya: Bahwa beliau menyembelih dan berkurban di Mushala.” 44) (Diriwayatkan oleh Bukhari)

    1. Bagi yang Memiliki Kurban, jangan Memotong Rambut dan Kukunya setelah Masuknya 10 Dzul Hijjah hingga Dia Berkurban.

    Berdasarkan hadits Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya: Apabila engkau melihat bulan Dzul Hijjah dan salah seorang kalian hendak berkurban, maka hendaklah dia menahan diri dari rambut dan kukunya.”

    Dan didalam lafazh Muslim dan lainnya, “Artinya: Barangsiapa yang punya sembelihan untuk disembelih, maka apabila memasuki bulan Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) dari rambut dan kukunya hingga dia berkurban.” 46)

    Dan para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Sa’id bin Al-Musayyib, Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian pendukung Syafi’i berpendapat, bahwa diharamkan mengambil (memangkas/memotong) rambut dan kukunya sampai dia (menyembelih) berkurban pada waktu udhiyah. Imam Syafi’i dan murid-muridnya berkata: “Makruh tanzih.” Al-Mahdi menukil dalam kitab Al-Bahr dari Syafi’i dan selainnya, bahwa meninggalkan mencukur dan memendekkan rambut bagi orang yang hendak berkurban adalah disukai. Berkata Abu Hanifah: Tidak Makruh. 47)

    Wallahu a’lam

    Fote Note.

    1. Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi, kitab Al-Adhahi V/8/1541 dalam Tuhfah-Al-Ahwadzi, dan Ibnu Majah, kitab Al-Adhahi bab Orang yang menyembelih seekor kambing untuk keluarganya II/3147. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih AT-Tirmidzi II/1216, dan Shahih Ibnu Majah II/2546.
    2. Di dalam kitab Ar-Raudhatun Nadiyah tertulis “syariihah” dengan hurup syin. Ini adalah salah, yang benar adalah “Sariihah” dengan hurup siin, seperti yang terdapat pada kitab Sunan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah II/2547 dengan lafadz : Keluargaku membawaku kepada sikap meremehkan setelah aku tahu bahwa itu termasuk sunnah. Ketika itu penghuni rumah menyembelih kurban dengan satu dan dua ekor kambing, dan sekarang tetangga kami menuduh kami bakhil.
    3. Berkata Al-Jauhary : Berkata Al-Ashmi’iy : Terdapat 4 bahasa dalam penyebutan Udhiyah dan Idhiyah …. dst (-disingkat) (Lihat Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi VIII/13, hal. 93 Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut-Lebanon.
    4. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani : Tidak dikenal …. (Lihat : Taqrib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, No. 3130 hl. 479, pentahqiq : Abul Asybaal Shaghir Ahmad Syaqif Al-Baqistani, penerbit : Daarul ‘Ashimah, Al-Mamla kah Al-‘Arabiyah As-Su’udiyah).
    5. Muwatha ‘ Imam Malik, Juz II, hal. 38, Syarh Muwatha’ Tanwir Al-Hawaalik, pen. Daarul Kutub Al-Ilmiyah.
    6. Lihat perselisihan para ulama dan ahli dalil mereka dalam kitab : Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rasyd I/314 dan Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Dr. Wahbad Al-juhaili, Juz III/595-597. cet. Darul fikr.
    7. Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan li at Turats. Dan beliau juga berkata dalam Bulughul Maram : Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab : Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al- Mubarakfuri, cet. Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tidak menunjukkan wajib menurut jumhur. Wallahu a’lam.
    8. Al-Qur’an Surat Al-Kautsar: 2
    9. Kedua tafsiran ini disyaratkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, namun Ibnu Katsir merajihkan maknanya menyembelih hewan kurban, wallahu a’laam. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, hal. 559-560 cet. Al-Maktabah At-tijariyah, Makkah)

    10.Riwayat Bukhari kitab Al-Adhahiy, bab : Man Dzabaha qobla as-shalah a’aada, X/12 No. 5562, dan Muslim kitab Al- Adhahi, bab : Waqtuha : XIII/35 No. 1960, Syarh Nawawi. Dan Lafazh ini adalah Lafzh Muslim.

    11.Saya belum mendapatkan ada yang semakna dengan hadits tersebut. Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Azib seperti dalam Shahihain dan kitab-kitab Sunan.

    12.Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bab : maa jaa’a anna asy-syah al-wahidah tujzi’u’an ahlil bait : V No. 1541 dalan At-Tuhfah dan Abu Dawud bab : Fisy-syaah Yuhadhahhi Biha ‘An Jama’ah, No. 2810, dan dishahihkan Al-Albani dalam shahih Abu-Dawud : II/2436, dan Irwa’ al-ghalil, IV/1138.

    13.Dijelaskan oleh Ibnu Hajar Asqalani dalam Fath Al-Bari X/6, dan kitab beliau Al-Khasa-is fi Takhrij Ahadits Ar-Rafi’. dan demikian juga Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar V/126.

    14.Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317.

    15.Al-Hadyu yang disembelih di tanah haram dari hewan ternak, dalam Al-Qur’an. (Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith : 978)

    16.Adapun berkurban bagi anak kecil yang belum baligh, menurut Hanafiah dan Malikiyah : Disukai berkurban dari harta walinya, dan tidak disukai menurut madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. (Al-Fath Al-Islami, oleh Wahbah Al-Jihaili III/604)

    Fote Note. 17. Lihat No. 10

    1. Riwayat Bukhari, kitab Al-Adhahi, bab : Man dzahaba qubla as-shalah a’aada X/12/5561 dengan Fath Al-Bari. Dan Muslim, kitab Al-Adhahi, bab : Waqtuha XIII/35/No. 1962, dengan Syarh Nawawi, ini merupakan potongan hadits yang panjang.
    2. Riwayat Muslim, bab : Waqt a-Adhahi XIII/35?no. 1961 dan lainnya. 20. Hadit ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad IV/82 dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam tahqih Zaadul Maad oleh Ibnul Qayyim, dan beliau menyebutkan beberapa jalan dari riwayat ini. (Lihat Zaadul Maad II/318 cetakan Muasasah Risalah).

    21 Riwayat Imam Malik di dalam Al-Muwatha’, kitab Adh-Dhahaya, bab Adh-Dhahiyatu ‘amma fil batnil mar’ah wa dzikir ayyamil adhaa II/38, At-Tanwir, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar.

    22 Perselisihan ulama dalam hal ini ma’ruf, lihat Subulus Salam IV/92. cet. Daarul Fikr.

    23 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya VI hal 391,dari Abu ‘Amir dari Zuhair dari Abdullah bin Muhammad dari Ali bin Husain dari Abu Rafi’, bahwa Rasulullah bila hendak berkurban, membeli dua domba yang gemuk, ber- tanduk, dan sangat putih…” al-hadits. Pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abdullah bin Muhammad bin Uqail, perawi ini dibicarakan oleh para ulama (Lihat : Tahdzibu At-Tahdzib VI/13). Berkata Al-Hafidz : Shaduq, dalam haditsnya ada kelemahan dan dikatakan pula : berubah pada akhir (hayat)nya. (Taqrib At-Tahdzib 3617).

    24 Dikeluarkan oleh Bukhari dalam shahihnya secara ta’liq X/7 bab: Udhiyatun Nabi bi kabsyaini aqranain. Dan atsar ini disambung sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam Mustakhrij dari jalan Ahmad bin Hanbal dari Ubbad bin Al-‘Awwam ber- kata : Mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id Al-Anshari dari lafadznya : Adalah kaum muslimin salah seorang mereka membeli kurban, lalu menggemukkan (mengebiri)nya dan menyembelihnya pada akhir Dzul Hijjah. (Fath al Bari).

    25 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab : Karahiyatul Mughalah fil kafan III/3156, dari Ubadah bin Ash-Shamit. Dan Diriwa- yatkan pula oleh yang lainnya. Hadits ini di dha’ifkan Al-Abani dalam Dha’if al-Jami’ ash-Shagir No. 2881.

    26 Ibnu Hajar mengatakan : dha’if (Taqrib at-Tahdzib, No. 4660) tahqiq Abul Asybaal Al-Baakistani.

    27 Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : Setelah menyebutkan beberapa riwayat : Padanya terdapat dalil bolehnya mengebiri dalam berkurban, dan sebagian ahli ilmu membencinya karena mengurangi anggota badan. Namun ini bukanlah cacat karena mengebiri menjadikan dagingnya baik, dengan menghilangkan bau busuk. (Fath al-Bari X/12).

    28 Al-Jadz’u, berkata Al-Hafidz : Yaitu sifat bagi umur tertentu dari hewan ternak. Maka dari kambing adalah yang ber- umur satu tahun menurut jumhur. Dan dikatakan pula, kurang dari itu. Kemudian berbeda pendapat dalam penetuan- nya. Dikatakan : berumur 6 bulan dan ada yang berkata 8 bulan dan dikatakan pula 10 bulan. At-Tirmidzi menukilkan dari Waki’ bahwa yang dimaksud adalah 6 atau 7 bulan (Fath al-Bari X/7). Berkata An-Nawawi : Al-Jadzu’ dari kambing adalah yang berumur setahun penuh. Ini yang shahih menurut madzhab kami. Ini yang paling masyhur menurut ahli bahasa dan lainnya (Syarh Muslim XIII/100). Dan Al-Hafidz berkata pula : Al-Jadz’u dari Ma’az adalah berumur masuk pada tahun kedua, sapi (lembu) berumur 3 tahun penuh dan onta berumur lima tahun (Fath al-Bari X/7). Adh-Dha’n, berkata Ibnul Atsir dalam An-Nihayah : Adh-Dhawa’in : Jamak dari dha’inah, yaitu kambing yang berbeda dengan Ma’z (An-Nihayah fi gharibil hadits, III/69, cet. Al-Maktabah Al-Islamiyah). Di sini saya menyebut Dha’n dengan kam- bing sebagai pembeda dengan ma’z (di Jawa, maz itu disebut sebagai kambing jawa).

    29 Riwayat Muslim, bab sinnul Udhiyah XIII/35/1963, Syarh Nawawi. Dan Ibnu Majah, bab : maa Tafzi’u minal adhahi No. 3141. Namin hadits ini di dha’ifkan oleh syaikh Al-Albani karena pada sanadnya terdapat perawi yang bernama Abu Zuhair dan ia mudallis, riwayatnya tidak diterima kecuali bila menjelaskan bahwa dia mendengar dari syaikhnya Lihat penjelasan panjang di Dha’if Ibnu Majah No. 676, hal 248, dan Irwa’ul Ghallil 1145, Silsilah Hadits Dha’ifah juz I halaman 91. Al-Musinnah : adalah gigi seri dari tiap sesuatu, berupa onta, lembu, kambing dan lainnya. (Syarh Nawawi XIII/99).

    30 Hadits ini di Dha’ifkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1143 dan silsilah hadits dha’ifah I/64.

    31 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab :maa Tajzi’u minal adhahi II/7/No. 3139 dan lainnya. Hadist ini di dha’ifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Ibnu Majah No. 3139.

    32 Bukhari, bab : Qismatul Imam Al-Adhahi bainan naas X/2/No. 5547, Al-Fath dan Muslim, bab : Sinnul Udhiyah XIII/2/No. 1965, An-Nawawi.

    33 Al-Hadyu adalah apa yang disembelih menuju tanah haram dari binatang ternak. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 196 (Mu’jam Al-Wasith 978).

    Fote Note 34 Diriwayatkan oleh Bukhari X/8/No. 5556, Muslim XIII/35/1961, Syarh Nawawi

    35 Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunnan Al-Kubra IX/270 No. 19062 dan sanadnya shahih. Atud adalah anak dari ma’z. Berkata Ibnu Baththa: Al-‘Atul adalah Al-Jadz’u dari ma’z berumur lima bulan (Fath al-Bari X/14)

    36 Lihat Syarh Muslim An-Nawawi, juz XIII hal. 99

    37 Lihat Al-Ifsah ‘an ma’anish shihah, oleh Abul Mudzhfir, I/308 cet. Muassasah As-Sa’idiyan di Riyadh 38 Diriwayatkan oleh seluruh kitab sunan dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil IV/1149

    39 Sayikh Al-Alabni mengatakan bahwa hadits ini mungkar, lihat Irwa’ul Ghalil IV/1149

    40 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab;maa yukrahi min adh-dhahaya V/No. 2800 dan ini lafazhnya, dan riwayat ini didhaifkan oleh Al-Albani dalam dha’if Abu Dawud No. 599 hal. 274

    41 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab manisy syifaraa udhiyah shahihah faashabaha ‘indahu syaiun, No. 3146 hadits ini di dhaifkan oleh Al-Albani No. 679 dalam dhaif Ibnu Majah

    42 Namanya Jabir bin Yazid bin Al-Harits Al-Ju’fy, Abu Abdillah Al-Kuufi, dha’if rafidhi (Taqrib At-Tahdzib, No. 886)

    43 Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bab : An-Nahyu ‘an luhum al-adhahy ba’da tsalats , juz XII No. 197 dari ‘Aisyah sedangkan dalam riwayat Bukhari, saya tidak menemukan hadits dari ‘Aisyah, yang ada adalah dari Salamah bin Al-Akwa X/No. 5569, dengan yang bebeda, wallahu ‘alam.

    44 Bukhari, bab : Al-Adhaa wan nahr bil mushala . X/No. 5552. Al-Fath

    45 HR Muslim, bab . Nahyu Murid At-Tadhiyah an ya’khudza min sya’rihi wa adzfaarihi stai’an XIII/No. 1977 dari Ummu Salamah.

    46 Riwayat Muslim, hadits berikutnya setelah hadits No. catatan kaki No. 45 pada shahih muslim

    47 Nailul Authar, Al-Imam ASy-Syaukani, jilid V. hal. 128 cet. Syarikah maktabah wa matba’ah, Mustafa Al-Baby Al-Halaby, tanpa tahun.

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 12 November 2016 Permalink | Balas  

    Kesengsaraan Dalam Neraka 

    taubatKesengsaraan Dalam Neraka

    Allah telah menciptakan bagi manusia untuk diakhirat nanti dua tempat tinggal, yaitu “SURGA” dan “NERAKA”. Masing-masingnya akan dihuni oleh penghuni-penghuni yang telah ditentukan baginya.

    Yang akan menjadi penghuni surga antara lain ialah manusia-manusia yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, menjalankan segala perintah agama dan menjauhkan / menjahui segala larangan agama.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya niscaya Ia (Allah) masukkan dia kedalam surga“. (QS. An Nisa’ ayat 13).

    Atau manusia-manusia yang beriman dan beramal saleh, sebagaimana firman Allah SWT: “Dan beri kabar gembiralah orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwasanya bagi mereka adalah surga” (QS.Al Baqarah: 25).

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang taqwa disisi Tuhan mereka adalah surga na’im“. (QS. Al Qalm ayat 34

    Yang menjadi penghuni neraka antara lain ialah:

    Manusia-manusia yang “Fasiq”, yaitu antara lain orang-orang Islam yang tidak melaksanakan perintah Allah atau mengerjakan larangan Allah, sebagaimana difirmankan Allah: “Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak ke luar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) kedalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya”. (QS. As Sajadah ayat 20). Bahkan kamu menganggapnya enteng (pen).

    Orang-orang “Munafiq”, yaitu orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan mulutnya, dengan pengakuannya, (KTP-nya) dan mungkin juga mengerjakan sebahagian ajaran Islam, mengerti ajaran Islam namun tidak mendirikan shalat, shalatnya hari Jum’at saja, tidak membayar zakat, tetapi hatinya anti Islam, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka“. (QS. An Nisa’ ayat 145).

    Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tempat mereka di dalam neraka Jahanam; mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk“. (QS. Al Bayinah ayat 6). Lebih hina dari binatang (pen).

    Orang-orang Islam bisa pula jadi musyrik tersebut, seperti orang-orang Islam yang menggantungkan azimat di lehernya, ditangannya, dikakinya atau dirumahnya, ke kuburan para wali minta berkah, perdukunan, dsb. Tentang menggantungkan azimat itu syirik, Nabi Muhammad SAW menyabdakan sebagai berikut: “Sesungguhnya jampi-jampi, azimat dan sihir adalah syirik”. (Hadits Riwayat: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim). Jadi orang-orang yang fasiq, munafiq, musyrik, berselingkuh, korupsi, maling, musyrik, yang melanggar larangan agama, yang melalaikan sholatnya, juga menjadi penghuni neraka.

    Kesengsaraan yang akan dialami oleh manuasia di dalam neraka antara lain:

    1. Tempatnya berdesak-desakan, sebab walaupun isinya sudah penuh sesak, namun akan ditambahi terus. Firman Allah SWT: “Pada hari Kami bertanya kepada neraka jahanam: Apakah engkau sudah penuh sesak? Neraka jahanam menjawab: Masih adakah tambahan ? (QS.Qaf ayat 30)
    2. Makanannya dari pohon zaqqum, yaitu sebangsa pohon yang tumbuh di neraka, yang amat jelek dan rasanya sangat pahit, sampai dalam perut seperti minyak atau air yang mendidih. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. Ia (pohon zaqqum) sebagai kotoran minyak yang mendidih didalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas”. QS. Ad Dukhaan ( Kabut) ayat 43 -44, 45 dan 46.

    Buah pohon zaqqum makanan ahli neraka. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas“. QS. Ash Shaaffaat ayat 63, 64, 65, 66, dan 67.

    Allah berfirman: “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada pula makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa. (Qs-Al Haaqqah (69) ayat 25 s/d 37).

    1. Minumanya air mendidih dan air nanah. Firman Allah SWT: “Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah“. QS.An Naba’ ayat 24 & 25.

    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi dengan air seperti besi mendidih menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek”. (QS.Al Kahfi ayat 29).

    1. Pakaiannya dari api. Firman Allah SWT: “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka“. QS. Al Hajj (Haji) ayat 19 & 20.
    2. Dikelilingi oleh api. Firman Allah SWT: “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api diatas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan dari api. Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku“. QS. Az Zumar ayat 16
    3. Tidak akan mati dan tidak pula akan hidup. Firman Allah SWT: ” Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya (peringatan), yaitu orang yang celaka yang terpanggang di dalam api yang amat besar (neraka). Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup“. QS.Al A’laa ayat 11, 12 dan 13.
    4. Setiap kali kulitnya sudah hangus akan diganti lagi dengan kulit yang baru. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami panggang mereka kedalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. An Nisaa’ ayat 56.
    5. Tertutup sama sekali dari rahmat Allah. Firman Allah SWT: “Sekali-kali tidak, maksudnya sekali-kali tidak seperti apa yang mereka katakan, bahwa mereka dekat pada sisi Tuhan. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan kepada mereka: Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan“. QS.Al Muthaffiffiin ayat 15, 16 & 17. (Kamu sepelekan, kamu anggap enteng, kamu remehkan, kamu anggap keciil-pen).
    6. Sehingga sewaktu mereka meminta kepada penghuni surga sedikit air, penghuni surga menjawab: Allah mengharamkannya atas kamu. Firman Allah SWT: “Penghuni neraka berseru kepada penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah di rezikikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. QS.Al A’raaf ayat 50.
    7. Azab mereka yang paling ringan ialah bersandal dari api. Tetapi begitu dipakai (di injak) otak pemakainya menjadi mendidih. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Seringan-ringan azab bagi manusia ( di neraka) ialah memakai sandal dan ikatannya dari api, mendididh otaknya karenanya, sebagai mendidihnya air di dalam kuali, ia tidak melihat ada orang lain yang (dianggapnya) lebih berat azabnya dari dia, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

    Itulah yang kami dapat kutibkan dari kitab Al Qur’an, bisa dicek langsung ke Al Qur’an, Al Qur’an adalah kitab Allah yang paling sempurna dan mutlak kebenarannya. Yang tersebut diatas sebahagian dari kesengsaraan yang akan diderita oleh penghuni-penghuni neraka. Tetapi walaupun demikian sudah sangat mengerikan sekali. Oleh sebab itu seharusnya hal ini mendorong kita untuk menghindarinya dengan segala kemampuan yang kita miliki.

    Kalau kiranya kita sudah terlanjur mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan membawa kita ke dalam neraka tersebut, seperti perbuatan syirik (musyrik) menyekutukan Allah, membunuh orang atau menyuruh membunuh orang yang dilarang untuk dibunuh, berzina, melacur, berselingkuh, berghibah (ghosib), korupsi, ingkar janji, berdusta, berbohong, memakan yang diharamkan dimakan, fasiq, kafir, munafiq, riya, sihir, dsb yang dilarang oleh agama, maka hendaklah kita cepat-cepat bertaubat nasuha (bertaubat atas perbuatannya dan berjanji tidak akan diulanginya lagi), memperbaiki iman dan beramal saleh sebanyak-banyaknya. Karena kalau kita sudah taubat, iman sudah baik dan amal saleh sudah banyak, maka dosa-dosa kita yang lalu itu akan diampuni oleh Allah dan diganti oleh Allah dengan kebaikan, sungguh Allah itu Maha (Amat) Pengampun dan Maha (amat besar sekali) kasih sayang-Nya kepada kita, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

    Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang tidak menyeru Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan jalan yang benar dan tidak berzina dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian itu ia akan bertemu dosa (neraka). Dilipat gandakan baginya azab pada hari kiaamat dan ia kekal di dalamnya dengan sangat hina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan beraamal saleh, maka Allah akan menggantikan kejahatan-kejahatan mereka itu dengan kebaikan-kebaikan, karena Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. QS. Al Furqan ayat 68 s/d. 70.

    Marilah kita berdo’a, semoga Allah SWT senantiasa selalu membimbing kita kejalan yang diridhoi-Nya, kejalan yang benar dan semoga Allah memberi kekuatan iman kita untuk menjauhkan dari segala perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya dan agar kita senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dengan hati yang tulus, yang ikhlas, ridho, jadikan hidup ini sebagai ibadah, agar kita semua terhindar dari siksa neraka, dan mendapat surga yang telah dijanjikan-Nya. Insya Allah, Amien ya Rabbal ‘alamiin.

    ***

    Kiriman Sahabat Indra Subhni

     
  • erva kurniawan 8:35 am on 11 November 2016 Permalink | Balas  

    Keutamaan Sabar Menghadapi Cobaan 

    sabar (1)KEUTAMAAN SABAR MENGHADAPI COBAAN

    Majdi As-Sayyid Ibrahim

    Kata Pengantar.

    Insya Allah untuk Masalah-47 s/d Masalah-50, kami akan mengangkat seruan-seruan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditujukan kepada wanita-wanita Mukminah, baik berupa peringatan ataupun berupa perintah-perintah yang dikhususkan bagi mereka. Dan artikel-artikel tersebut kami ambil dari buku 50 Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi Wanita, oleh Majdi As-Sayyid Ibrahim, terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan kelima.

    KEUTAMAAN SABAR MENGHADAPI COBAAN

    “Artinya : Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”.(Isnadnya Shahih, ditakhrij Abu Daud, hadits nomor 3092).

    Wahai Ukhti Mukminah .! Sudah barang tentu engkau akan menghadapi cobaan di dalam kehidupan dunia ini. Boleh jadi cobaan itu menimpa langsung pada dirimu atau suamimu atau anakmu ataupun anggota keluarga yang lain. Tetapi justru disitulah akan tampak kadar imanmu. Allah menurunkan cobaan kepadamu, agar Dia bisa menguji imanmu, apakah engkau akan sabar ataukah engkau akan marah-marah, dan adakah engkau ridha terhadap takdir Allah?

    Wasiat yang ada dihadapanmu ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menasihati Ummu Al-Ala’ Radhiyallahu anha, seraya menjelaskan kepadanya bahwa orang mukmin itu diuji Rabb-nya agar Dia bisa menghapus kesalahan dan dosa-dosanya.

    Selagi engkau memperhatikan kandungan Kitab Allah, tentu engkau akan mendapatkan bahwa yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan mengambil nasihat darinya adalah orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah.

    “Artinya : Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur”. (Asy-Syura : 32-33)

    Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan menyanjung mereka. Firman-Nya.

    “Artinya : Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah : 177).

    Engkau juga akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana firman-Nya.

    “Artinya : Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (Ali Imran : 146).

    Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.

    “Artinya : Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (An-Nahl : 96).

    “Artinya : Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az-Zumar : 10).

    Bahkan engkau akan mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.

    “Artinya : Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan) :’Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Ar-Ra’d : 23-24).

    Benar. Semua ini merupakan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Lalu kenapa tidak ? Sedangkan orang mukmin selalu dalam keadaan yang baik ?.

    Dari Shuhaib radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya”. (Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud).

    Engkau harus tahu bahwa Allah mengujimu menurut bobot iman yang engkau miliki. Apabila bobot imanmu berat, Allah akan memberikan cobaan yang lebih keras. Apabila ada kelemahan dalam agamamu, maka cobaan yang diberikan kepadamu juga lebih ringan. Perhatikalah riwayat ini.

    “Artinya : Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya”. (Isnadnya shahih, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023, Ad-Darimy 2/320, Ahmad 1/172).

    “Artinya : Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas ditanganku di atas selimut. Lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimu’. Beliau berkata :’Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?. Beliau menjawab.’Para nabi. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?. Beliau menjawab.’Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan”. (Ditakhrij Ibnu Majah, hadits nomor 4024, Al-Hakim 4/307, di shahihkan Adz-Dzahaby).

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

    “Artinya : Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun”. (Isnadnya Hasan, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 2510. Dia menyatakan, ini hadits hasan shahih, Ahmad 2/287, Al-Hakim 1/346, dishahihkan Adz-Dzahaby).

    Selagi engkau bertanya :”Mengapa orang mukmin tidak menjadi terbebas karena keutamaannya di sisi Rabb.?”.

    Dapat kami jawab :”Sebab Rabb kita hendak membersihan orang Mukmin dari segala maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta kecuali dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya. Inilah yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ummul ‘Ala dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata.”Aku memasuki tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang sangat keras’.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.”Benar. Sesungguhnya aku demam layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam”.

    Abdullah bin Mas’ud berkata.”Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi engkau ?”

    Beliau menjawab. “Benar”. Kemudian beliau berkata.”Tidaklah seorang muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya”. (Ditakhrij Al-Bukhari, 7/149. Muslim 16/127).

    Dari Abi Sa’id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

    “Artinya : Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130.)

    Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman, sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. “Kehidupan yang paling baik ialah apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran”. Maka andaikata engkau mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit. Perhatikanlah riwayat berikut ini.

    “Artinya : Dari Atha’ bin Abu Rabbah, dia berkata. “Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. ‘Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga .?. Aku menjawab. ‘Ya’. Dia (Ibnu Abbas) berkata. “Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata.’Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku. Beliau berkata.’Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah sorga. Dan, apabila engkau menghendaki bisa berdo’a sendiri kepada Allah hingga Dia memberimu afiat’. Lalu wanita itu berkata. ‘Aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi. ‘Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo’alah kepada Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka’. Maka beliau pun berdoa bagi wanita tersebut”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/150. Muslim 16/131)

    Perhatikanlah, ternyata wanita itu memilih untuk bersabar menghadapi penyakitnya dan dia pun masuk sorga. Begitulah yang mestinya engkau ketahui, bahwa sabar menghadapi cobaan dunia akan mewariskan sorga. Diantara jenis kesabaran menghadapi cobaan ialah kesabaran wanita muslimah karena diuji kebutaan oleh Rabb-nya. Disini pahalanya jauh lebih besar.

    Dari Anas bin Malik, dia berkata.”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

    “Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman.’Apabila Aku menguji hamba-Ku (dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya itu dengan sorga”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/151 dalam Ath-Thibb. Menurut Al-Hafidz di dalam Al-Fath, yang dimaksud habibatain adalah dua hal yang dicintai. Sebab itu kedua mata merupakan anggota badan manusia yang paling dicintai. Sebab dengan tidak adanya kedua mata, penglihatannya menjadi hilang, sehingga dia tidak dapat melihat kebaikan sehingga membuatnya senang. dan tidak dapat melihat keburukan sehingga dia bisa menghindarinya).

    Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu. Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya.”Bagaimana mungkin engkau mengadukan yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu .?”

    Sebagian orang Salaf yang shalih berkata :”Barangsiapa yang mengadukan musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya”.

    Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.

    Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. “Empat hal termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan (merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit”.

    Ukhti Muslimah ! Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : “Asy-Syaibany pernah berkata.’Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata.’Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman. Maka dia memegang tanganku seraya berkata.’Wahai anak saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan. Kalau dia seorang teman, berarti engkau berduka dan tidak bisa memberimu manfaat. Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. Lihatlah salah satu mataku ini,’sambil menunjuk ke arah matanya’, demi Allah, dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Yusuf) :”Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”. Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do’a”. (Al-Aqdud-Farid, 2/282).

    Abud-Darda’ Radhiyallahu anhu berkata. “Apabila Allah telah menetapkan suatu takdir,maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai takdir-Nya”. (Az-Zuhd, Ibnul Mubarak, hal. 125).

    Perbaharuilah imanmu dengan lafazh la ilaha illallah dan carilah pahala di sisi Allah karena cobaan yang menimpamu. Janganlah sekali-kali engkau katakan :”Andaikan saja hal ini tidak terjadi”, tatkala menghadapi takdir Allah. Sesungguhnya tida ada taufik kecuali dari sisi Allah.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 7 November 2016 Permalink | Balas  

    Belajar Dari Keledai 

    keledaiBelajar Dari Keledai

    Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

    Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

    Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu

    Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati teri sumur dan melarikan diri !

    Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari ‘sumur’ (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari ‘sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

    Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ‘sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah ! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!! ”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 6 November 2016 Permalink | Balas  

    Segeralah Bertaubat 

    TaubatSegeralah Bertaubat

    Muhammad Haryono

    Assalaamu’alaikum Wr Wb

    Dalam renungan ini kita akan mengkaji sebuah ayat yang apabila iblis mendengarnya ia akan segera menangis dan menyesal. Sebuah ayat yang menyenangkan hati orang yang berdosa yang telah bertaubat, ajakan bagi orang yang lalai dan berlebih-lebihan agar segera berhenti dari perbuatan maksiatnya itu. Mari kita bersama-sama membaca ayat tersebut (yang artinya):

    “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali-‘Imraan: 135-136)

    Saudaraku yang tercinta, siapa di antara kita yang tidak pernah berbuat dosa? Siapa di antara kita yang tidak pernah bersalah terhadap Rabbnya? Dan apakah engkau mengira kesalahan-kesalahan kita hanya kita sendiri yang melakukannya dan belum pernah dilakukan orang lain? Sama sekali tidak. Sehari pun kita tidak bisa seperti malaikat yang sama sekali tidak pernah berbuat maksiat terhadap Allah subhaanahu wa ta’ala dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Akan tetapi kita adalah manusia yang sangat mungkin berbuat kesalahan.

    Setiap hamba Allah yang shalih yang pernah engkau temui pastilah ia pernah berbuat kesalahan dan dosa. Ibnu Mas’ud radhiyalahu ‘anhu berkata kepada para sahabatnya yang mengikutinya,

    “Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku tentulah kalian akan melempariku dengan batu.”

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menggantikanmu dengan suatu kaum yang berbuat dosa, hingga mereka memohon ampunan dan Allah mengampuni mereka.” (H.R. Muslim)

    Kita tidak luput dari kesalahan-kesalahan tersebut, bahkan kita tidak bakal terhindar darinya. Karena itu, marilah kita usir setan dengan istighfar yang bersumber dari hati kita atas kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita yang telah lalu.

    Marilah kita perbaiki taubat kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hendaknya taubat kita benar-benar bersumber dari hati yang bersih, hingga sesuai dengan firman Allah (yang artinya):

    “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni diri kami dan tidak memberi rahmat kepada kami niscaya kami pasti termasuk orang-orang yang merugi.”( Al-A’raaf: 23)

    dan seorang penyair berkata,  “Wahai Dzat yang tempat bertumpu segala harapan dan tempat berlindung dari segala yang menakutkan, manusia tidak mampu membetulkan tulang yang Engkau patahkan dan tidak kuasa meretakkan tulang yang Engkau betulkan.”

    Ketahuilah wahai orang yang dijaga oleh Allah, bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah terpelihara dari dosa, masih bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla dan memohon ampunan-Nya dalam sehari lebih dari seratus kali. Diriwayatkan dari Ibnu “Umar radhiyallahu ‘anhumaa ia berkata, “Terhitung Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebelum berdiri dari majelis, beliau mengucapkan seratus kali .”Yaa Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Pengampun.”(H.R. Tirmidzi, hasan shahih).

    Sedangkan kalian wahai orang yang telah berlebihan dalam berbuat dosa dan maksiat, hingga sebagian dari kalian menganggap bahwasannya Allah tidak menerima taubatnya apabila ia bertaubat, saya katakan kepada kalian, jangan khawatir, pintu taubat masih terbuka untuk kalian semua.

    Saya katakan ini kepada kalian dari lubuk hati yang mengharapkan kebaikan atas diri kalian dan orang-orang semacam kalian. Dengarkanlah, Allah subhaanahu wa ta’ala telah menyeru kepadamu dalam firman-Nya (yang artinya):

    “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputu asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu dan berserahdirilah kepada-Nya.” (Az-zumar: 53-54),  justru ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala senang dengan taubatmu.

    “Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya di kala bertaubat daripada salah seorang di antara kalian yang sedang naik kudanya di tanah yang tandus. Kemudian kuda itu melarikan diri dengan membawa perbekalannya, berupa makanan dan minumannya sehinga ia berputus asa. Kemuian ia mendatangi sebuah pohon dan merebahkan dirinya di bawah naungan pohon dan sudah dihinggapi putus asa memikiran kudanya. Di saat kalut seperti itu, tiba-tiba kudanya sudah berdiri di hadapannya. Dengan segera ia mengambil tali kekang kudanya, dan dengan gembira ia berkata,” Yaa Allah Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu”, ia salah ucap karena kegembiraannya yang meluap.”(H.R. Bukhari dan Muslim).

    Suatu hari ada seseorang yang datang kepada Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam dan bertanya kepada beliau, “Bagaimana jika seseorang melakukan semua perbuatan dosa tanpa satu pun dosa yang belum pernah ia lakukan, apakah ia masih bisa mendapat pengampunan? Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam balik bertanya, “Sudahkah engkau masuk Islam?” Orang itu menjawab, “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya.  Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Mulailah engkau mengerjakan berbagai kebajikan dan meninggalkan segala kejahatan, niscaya Allah akan menjadikan semua itu sebagai kebajikan bagimu.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah kesalahan dan kejahatan saya diampuni?” Beliau menjawab , “Ya!” Orang itu segera bertakbir berulang-ulang hingga ia meninggalkan Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam. *)

    Wahai orang yang fakir di hadapan Tuhan, meski engkau kaya di duniamu, apalagi yang engkau inginkan setelah datangnya kabar gembira ini? Kembalilah kepada Tuhanmu, karena kembali kepada Tuhan itu lebih terpuji bagimu di dunia maupun di akherat. Di dunia mendapatkan ketenangan hati, kelapangan dan kemudahan rezeki.

    “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

    Bila ia tidak mendapatkan rezeki berbentuk harta , ia akan mendapatkan rezeki berbentuk bertambahnya keimanan. Sedang di akherat, ia mendapatkan:

    “Surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka. Di dalamnya mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di Surga itu. Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya lagi sebaya umurnya. Inilah yang dijanjikan kepadamu pada hari hisab. Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya.” (Shaad: 50-54).

    Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:  “Wahai para hambaku, kalian semua tersesat kecuali yang aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Aku akan beri petunjuk.” (H.R.Muslim).

    Saudaraku,–semoga Allah menerima taubat kita renungkan cerita berikut ini. Ambillah hikmah dan pelajaran daripadanya, tetapi sebelumnya renungkanlah ayat berikut ini (yang artinya):  “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Al-Hadid: 16).

    Saya pernah bertemu dengan seorang Syaikh yang shalih dan jujur, beliau ini berkata kepadaku, “Di samping kami ada sebuah keluarga kecil, di antara anggota keluarganya ada seorang pemuda yang usianya baru mencapai sekitar duapuluh tahun. Ia sangat menyenangi lagu-lagu hingga ia jatuh cinta dengan seorang penyanyi perempuan.

    Saya seringkali menasihatinya bila ada kesempatan. Kadang-kadang saya menakut-nakutinya dengan siksa Neraka, bila saya selesai menasihatinya, kadang air matanya mengalir, bahkan kadang-kadang menangis, lalu ia berjanji untuk tidak melakukan perbuatannya itu. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian ia mengingkari janjinya.”

    Pada suatu malam, saya ceritakan kepadanya tenang Surga dan siksa Neraka, kemudian ia menangis sekeras-kerasnya hingga saya merasa kasihan kepadanya. Seorang penyair berkata,

    “Mataku berlinang, menangisi diriku yang telah bermaksiat kepada Tuhan, siapa yang lebih berhak dari diriku dengan bersedih hati dari berbagai dosa yang terputus ujungnya kau tak kuasa menghalangi maksiat dan dirimu tak takut terhadap Tuhanmu kau bertaubat di pagi hari dan kau batalkan di sore hari kau batalkan janji-Nya dari waktu ke waktu seakan-akan Allah tidak melihatnya.”

    Saya merasa kali ini nasihat saya akan mampu mempengaruhinya, maka saya katakan kepadanya,” Kemarikan tanganmu!”, Ia pun memberikan tangannya kepada saya, dan saya katakan kepadanya, “ Berjanjilah kepada Allah kemudian kepadaku untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu!”, Ia pun berkata , “Saya berjanji kepada Allah kemudian kepada anda untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu.”

    Pada pagi harinya ia datang kepada saya sambil membawa kaset-kaset lagu dan berkata kepada saya, “Ambillah kaset-kaset ini dan bakarlah, hancurkanlah atau terserah mau anda apakan, yang penting, bebaskan saya dari kaset-kaset ini, bebaskanlah saya dari penyakit hati yang telah melalaikan saya dari shalat dan mengingat Rabb bumi dan langit.” Saya pun berkata, “Maha suci Dzat yang membalikkan hati, katakan apa yang terjadi?”

    Anak muda itu pun berkata kepada saya, “Setelah saya meninggalkanmu tadi malam, saya langsung pulang ke rumah lalu tidur. Dalam tidur itu saya bermimpi berjalan di sebuah pantai. Tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang teman yang berkata kepada saya, “Apakah engkau suka seorang wanita Fulanah?”, Saya pun menjawab, “Ya!”, Ia berkata , “Ia di sana sedang menyanyi.”, Saya pun segera berlari, berlari dan berlari karena ingin segera melihatnya, karena saya sangat mencintainya, ketika saya sudah kelelahan, saya sampai dan melihatnya sedang menyanyi. Saya sangat terkesan dengan wanita itu dan suaranya.

    Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya merasakan sebuah tangan yang memegang pundak saya, saya pun menoleh, yang terlihat adalah sebuah wajah yang bersinar seperti bulan purnama, dihiasi jenggot yang indah, tampak pada wajahnya cahaya kebaikan. Ia membacakan sebuah ayat kepadaku (yang artinya),

    “Maka apakah orang yang berjalan di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (Al-Mulk: 22).

    Dia mengulang-ngulang ayat tersebut dengan suara merdu, dan mulai menangis hingga saya terpengaruh olehnya, maka mulailah saya menangis sambil mengulang-ngulang ayat itu, tiba-tiba saya terbangun sembari mengulang-ngulang ayat tersebut. Saya pun menangis kemudian ibu saya masuk. Sewaktu melihat saya menangis seperti itu ia pun terpengaruh dan ikut menangis bersama saya.

    Syaikh berkata, “Setelah itu, anak muda tadi menjadi sangat benci dengan nyanyian dan mulai menyenangi membaca Al-Qur’an dan menikmatinya, saya bisa melihatnya dari air matanya yang mengalir dari kedua matanya ketika membaca membaca Al-Qur’an.”

    Saudaraku catatlah baik-baik kisah taubat ini dengan pena kerinduan dan tinta air mata, berusahalah selalu mengutamakan untuk rendah hati menuju pintu ketenangan, mohonlah peningkatannya, terkadang permintaan itu dikabulkan. Menangislah atas segala dosa maupun sedikit syukur.

    Maka ketahuilah bahwa seseorang itu mungkin saja berbuat dosa, namun ia akhirnya masuk Surga karena dosanya itu. Tahukah engkau, bagaiman hal itu bisa terjadi? Yang demikian itu bisa saja terjadi karena ia melakukan suatu perbuatan dosa, namun ia menyesali, menangis karena perbuatan itu, dan ia malu terhadap Rabbnya, menundukkan kepala di hadapan Rabbnya dengan hati yang hancur. Dosa sedemikian inilah yang menjadikan kebahagian seorang hamba dan keberuntungannya, bahkan bisa jadi lebih bermanfaat dari berbagai macam kebajikan, karena taubatnya dari dosa ini telah menjadikannya masuk Surga.

    Wahai pendamba Surga, wahai orang yang takut akan siksa Neraka, inilah sekelompok cerita orang yang telah bertaubat, adakah engkau akan berjalan di belakang mereka?. Inilah sekumpulan orang-orang yang telah bertaubat, adakah hatimu juga bersama mereka?. Inilah orang yang memohon ampunan yang air matanya mengalir di wajah-wajah mereka, adakah wajahmu juga basah oleh air mata yang menjadikanmu segolongan dengan mereka?

    Saudaraku, ini adalah ajakan yang jujur dari Allah ‘azza wa jalla, yang telah berfirman (yang artinya),

    “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nuur: 31).

    Sesuatu yang harus saya peringatkan juga kepada kalian, sebenarnya tidak ada manfaatnya bagi kalian untuk menghibur kesedihan kalian ini dengan cara mendengar lagu-lagu, atau melihat pertandingan sepak bola yang kadang kalah kadang menang, atau jalan-jalan keluar rumah, apalagi mencari kesenangan dengan perbuatan haram, sama sekali tidak ada manfaatnya, saudaraku itu bukanlah caramu. Itu cara-cara orang yang telah Allah ceritakan tentang mereka dalam ayat-Nya,

    “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan Neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

    Saudaraku, engkau jauh masih lebih baik dari mereka!, engkau diciptakan di dunia ini untuk suatu perkara yang agung, engkau dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang besar. Seorang penyair berkata,

    “Mereka telah mempersiapkan untukmu suatu perkara, jika engkau pintar, maka jauhkan dirimu dari kesia-siaan.”

    Saudaraku,

    Jika tujuanmu sekarang tak lain dan tak bukan adalah keridhaan Yang Maha Esa dan Maha Perkasa, maka lihatlah kepada amal perbuatanmu, apakah amalmu itu menjadikan Rabbmu meridhaimu atau tidak? Jika keinginanmu sekarang adalah Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, maka perhatikanlah apa yang telah engkau lakukan untuk menjadikanmu masuk Surga?

    Renungkanlah dengan jujur dan ketahuilah bahwasannya mungkin saja engkau tidur dan tidak akan bangun lagi, atau mungkin saja engkau keluar dari rumahmu dan engkau tidak kembali lagi, atau kau kenakan pakaian yang tidak akan pernah kau buka lagi. Maka keadaan seperti apa yang engkau inginkan di saat engkau harus meninggalkan duniamu?

    Saudarakau,

    Pada akhir renungan ini, saya ungkapkan kepadamu apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

    “Sesungguhnya Allah membuka tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat kejahatan pada siang hari mau bertaubat, dan Dia membuka tangan-Nya pada siang hari, agar orang yang berbuat kejahatan pada malam hari mau bertaubat.” (H.R. Muslim) *) Akan tetapi ia mengamalkan syahadat dengan semua konsekuensinya, tidak sekedar mengucapkan dengan lisannya saja. hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazaar dan Ath-Thabraani terdapat dalam kitab At-Targhib wa Tarhib karya Al-Mundziri.  Wassalaamu’alaikum Wr Wb

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 5 November 2016 Permalink | Balas  

    Menggerakan Jari Saat Tasyahud 

    tahiyatMenggerakan Jari Saat Tasyahud

    Sunnah hukumnya mengangkat jari telunjuk dan menggerakannya saat tasyahud dalam shalat. Sebagaimana hadist Nabi Saw: “kemudian beliau mengangkat telunjuknya dan saya melihat beliau menggerakannya dan berdoa”(HR: Ahmad).

    Imam Baihaqi berkata : “Mungkin saja yang dimaksud ‘menggerakan’ dengan isyarat dengan telunjuk’ tidak berarti menggerakan berkali-kali, sesuai dengan hadist riwayat Ibnu Zubair: bahwa Nabi SAW memberi isyarat dengan jarinya jika membaca do’a dan tidak menggerakannya”(HR:Abu Dawud dengan isnad shohih).

    Dari hadist tersebut, dan hadist lainnya, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama tentang menggerakan jari telunjuk saat tasyahud:

    1. Ulama Al syafi’i berpendapat bahwa memberi Isyarat jari telunjuk hanya sekali saat mengucapkan “illalah”yang terdapat dalam tasyahud.
    2. Ulama Hanafi berpendapat mengangkat jari telunjuk ketika lafadz nafi atau” laa” dan meletakannya kembali saat membaca “illalah”(itsbat).
    3. Ulama Malik berpendapat mengerakannya kekiri dan kekanan hingga selesai shalat.
    4. Ulama Hambali berpendapat; memberi isyarat setiap kali mengucap lafadz Jalalah (allah) sebagai isyarat tauhid, dan tidak menggerak-gerakannya.

    ***

    (Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah)

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 4 November 2016 Permalink | Balas  

    Anak Sebagai Amanah dan Lahan Tafakur 

    ibu dan anak lelakinya berdoaAnak Sebagai Amanah dan Lahan Tafakur

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Kondisi bangsa kita yang sedang sakit ini adalah sebuah cerminan bahwa keluarga-keluarga yang membentuk bangsa kita ini kurang sehat karena siapapun yang menjadi penyebab rusaknya negeri ini dulunya pasti anak-anak yang sempat dididik dalam sebuah keluarga.

    Dua hal yang bisa kita ambil hikmah mengapa negeri kita diuji seperti ini. Pertama, nila-nilai yang berlaku di keluarga-keluarga yang ada di bangsa kita tidak tepat. Kedua, sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini juga belum tepat, sehingga harus dievaluasi ulang.

    Menyalahkan, mengutuk dan mencaci tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Kalau kita belum bisa mengubah negara, marilah kita mulai dari mengubah keluarga kita. Peran anak bagi orang tua adalah sebagai amanah, cobaan, lahan tafakur, investasi pahala, dan indikator kesuksesan dunia akhirat.

    Pertama anak itu adalah amanah, bukan milik kita. Milik Allah segala yang ada di langit dan di bumi, termasuk anak-anak kita. Kita jangankan membuat anak, menggambar anak saja belum tentu sanggup, bahkan membuat satu helai saja rambut tidak sanggup. Bagusnya jangan membuat sombong dan kekurangannya jangan membuat minder, kemudian melihat anak orang lain jangan iri, karena semuanya milik Allah.

    Umurnya Allah yang menentukan. Mati-matian kita ingin anak panjang umur, kita tak berdaya kalau pemiliknya akan mengambil. Walaupun penguasa negara, tak dapat menguasainya kalau Allah tak menghendaki. Yang penting bagi kita adalah menyikapi amanah ini dengan sebaik- baiknya.

    Kedua, anak sebagai cobaan (sudah diuraikan minggu kemarin). Ketiga, anak sebagai lahan tafakkur. Alangkah bahagianya jikalau Allah mengaruniakan kepada kita hati yang bening. Gelas bening yang berisi air bening, jika ada satu butir debu saja di dalamnya, maka kita mudah melihatnya. Begitu pula orang tua yang memiliki hati yang bersih, kalau melakukan kesalahan, maka ia bisa merasakannya, tidak sibuk menyalahkan anak, tetapi sibuk mengevaluasi diri.

    Alangkah beruntungnya orang yang berhati bersih, seperti gelas bening yang di dalamnya ada cahaya. Selain bisa menerangi seisi gelas, juga bisa menerangi sekitarnya. Kalau kita ingin selalu mendapatkan ilmu, maka rahasianya adalah bersihkan hati kita.

    Begitupula orang tua yang berhati bersih, setiap kejadian apapun senantiasa menjadi ilmu yang merupakan cahaya bagi dirinya dan sekitarnya. Ilmu tidak datang dari orang yang lebih tua saja, bahkan bisa datang dari anak-anak kecil.

    Betapa banyak yang bisa kita tafakuri dari perilaku anak-anak kita. Mereka jangan hanya dijadikan objek untuk mengekspresikan harapan kita kepada mereka, tetapi perilaku mereka pun harus menjadi pelajaran bagi kita. Banyak yang bisa kita renungkan dari sikap anak kecil itu, baik sisi positif maupun negatifnya.

    Pertama, anak kecil itu tidak panik dengan rezekinya, tetapi mengapa setelah dewasa banyak yang menjadi licik bahkan ada yang korupsi. Kita tidak usah risau dengan rezeki. Yang harus dirisaukan itu benar tidaknya cara kita menjemput rezeki kita.

    Kedua, anak kecil itu memiliki semangat pantang menyerah. Ketika anak belajar berjalan, dia jatuh bangkit. Tidak ada anak yang menyerah, hingga akhirnya bisa berjalan. Ini ilmu buat kita. Kegagalan itu bukan jatuh, tetapi kegagalan yang sebenarnya adalah kalau kita tidak pernah mau berbuat. Ketiga, anak kecil itu pemaaf. Mereka begitu mudah untuk memaafkan dan berdamai, tetapi mengapa banyak orang yang semakin tua semakin pendendam.

    Keempat, polos (apa adanya). Anak kecil itu tidak banyak beban dalam hidupnya karena mereka jujur sehingga merdeka hidupnya. Kita banyak menderita dalam hidup ini karena sering ingin kelihatan lebih baik dari kenyataan yang sebenarnya, sehingga malah menimbulkan masalah baru. Selain itu, kita juga bisa menafakuri kelakuan jelek anak-anak kita untuk melihat apakah kita kekanak-kanakan atau tidak. Ada beberapa perilaku anak kecil yang jangan ditiru, misalkan anak kecil itu senang pamer. Ini banyak yang terbawa sampai tua.

    Anak kecil juga suka memaksa dan ingin menang sendiri. Kalau mempunyai keinginan harus diikuti, jika tidak maka ia akan memaksanya tanpa mempedulikan apapun.

    Menurut pengakuan beberapa koruptor kecil-kecilan mereka melakukannya karena dipaksa oleh istrinya. Ini perilaku anak kecil. Ya Allah, muliakan bangsa ini dengan Engkau muliakan keluarga- keluarganya. Cahayai rumah tangga bangsa ini dengan cahaya hidayah- Mu. Jadikan bangsa ini bangsa rahmatan lil alamiin, bukti dari kebenaran agama-Mu.

    ***

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 3 November 2016 Permalink | Balas  

    Anak Sebagai Investasi 

    nasehat ibundaAnak Sebagai Investasi

    Oleh : KH Abdullah Gimnastiar

    Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam telah meninggal dunia (mati) maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah (yang ia berikan) atau ilmu yang ia manfaatkan kebaikan) atau anak shalih yang mendoakan dirinya.” (HR Muslim) Artinya anak itu adalah investasi. Anak-anak keturunan kita itu adalah bagian dari keselamatan dunia akhirat kita. Karenanya kita harus serius menanamkan keshalihan pada anak-anak kita.

    Kalau kita ingin menikmati masa depan kita, maka berapapun pengeluaran yang dikeluarkan untuk mendidik anak agar menjadi shalih, untuk belajar, sekolah dan lainnya, itu bukan biaya, melainkan investasi (modal) yang akan mendatangkan keuntungan suatu saat kelak.

    Saya pernah bertanya pada seseorang yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Ia menjawab, “Karena sebentar lagi perdagangan bebas, kita perlu mempunyai anak-anak yang memiliki visi ke depan untuk mengarungi era globalisasi.”

    Kemudian saya bertanya lagi, “Bagaimana kondisi ibadahnya di sana?”

    “Nanti saja kalau dia kembali ke Indonesia akan diperbaiki lagi.”

    “Bagaimana kalau sebelum lulus kuliah sudah diambil nyawanya oleh Allah? Apakah dia siap untuk pulang ke akhirat?”

    Belum tentu anak kita panjang umur. Berapa banyak anak yang mendahului orang tuanya pulang ke akhirat. Mereka jangan hanya dipersiapkan agar bisa hidup kaya di dunia saja, tetapi juga harus dipersiapkan agar bisa pulang dengan selamat, hidup mulia di akhirat.

    Dari Umar bin Khattab ketika ditanya (semoga Allah ridha kepadanya), “Ya Umar, apakah sama pahalanya jika saya mengurus orang tua seperti orang tua mengurus saya di waktu kecil?”

    “Tidak.”

    “Mengapa tidak?”

    “Karena orang tua mengurus kamu supaya kamu panjang umur.” Setelah kita meninggal, mudah-mudahan anak-anak kita yang mengurus, menyalatkan dan mengiringi jasad kita. Setelah kita dikubur, mudah- mudahan mereka sering mendoakan kita dalam munajat-munajatnya.

    Kasihan orang tua yang anaknya tidak tahu agama, sehingga tidak mengerti bagaimana mengurus jasad ibu bapaknya, tidak tahu shalat jenazah, dan setelah dikubur tidak mengerti bagaimana mendoakan orang tuanya.

    Warisan dipakai maksiat, vila dipakai zina, sehingga hancur dan perih orang tuanya. Tidak sedikit orang yang hidupnya terlunta-lunta di dunia karena anaknya, di akhirat tersiksa pula.

    Jangan sampai orang tua belum meninggal, anak-anak sudah menghitung warisannya. Bahkan ada anak yang mengurus orang tuanya yang sudah jompo, tetapi dalam benaknya, “Kenapa lama sekali sakitnya?” karena dia membutuhkan warisannya. Ini anak yang tidak shalih. Naudzubillahi min dzalik.

    Oleh karena itu, mengurus anak itu jangan pernah hanya dengan sisa waktu, tenaga, dan pikira. Bayangkan jika membangun investasi dengan sesuatu yang serba sisa. Berembuklah dengan istri bagaimana mengupayakan agar anak-anak kita menjadi hamba Allah yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

    Para pemimpin sekarang adalah anak hasil investasi keluarga-keluarga beberapa puluh tahun yang lalu, sedangkan anak-anak sekarang merupakan investasi untuk para pemimpin masa depan. Karenanya jika kita merindukan kebangkitan bangsa ini, maka harus diawali dengan kebangkitan dari keluarga-keluarga di rumah.

    Jika sang anak menjadi pemimpin, tentu tata nilai yang ditanamkan dalam keluarganya yang akan digunakannya kelak. Jika pada masa kecilnya tata nilai yang didapatkan di rumahnya hanya sibuk memamerkan harta kekayaan, maka jangan heran kalau setelah menjadi pemimpin dia hanya sibuk meraup harta.

    Sekarang investasi apa yang akan ditanamkan terhadap anak-anak kita di rumah? Kita perlu mengubah tata nilai seperti itu dengan melatih anak-anak kita agar hidup bersahaja, mencari uang sebanyak mungkin untuk dishadaqahkan. Sehingga setelah dewasa, dia makin kaya, makin banyak orang yang tertolong. Dia makin berkuasa, makin banyak orang yang terangkat martabatnya. Dia makin berani, makin banyak orang yang terlindungi karena keberaniannya.

    Ya Allah, titipkan kepada kami anak-anak keturunan yang lebih baik dari pada kami, yang menjadi jalan kebahagiaan dan keselamatan bagi dunia akhirat kami. Lindungi kami dari keturunan yang durhaka dan durjana.

    ***

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 2 November 2016 Permalink | Balas  

    Pengertian Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. 

    Lemah ImanPengertian Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

    [Iman dapat bertambah atau berkurang]

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :

    [1] Ikrar dengan hati.

    [2] Pengucapan dengan lisan.

    [3] Pengamalan dengan anggota badan

    Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

    “Arrtinya : Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab :’Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. [Al-Baqarah : 260]

    Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat di dalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka ; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

    Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

    Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

    Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

    Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. [Al-Mudatstsir : 31]

    “Artinya : Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :’Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’. Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. [At-Taubah : 124-125]

    Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

    Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah ? Ada beberapa sebab, di antaranya.

    [1] Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya dari pada yang lain.

    [2] Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman. :

    “Artinya : Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” [Adz-Dzariyat : 20-21].

    Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.

    [3] Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir -umpamanya- akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.

    Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu :

    [1] Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.

    [2] Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.

    [3] Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :”Artinya : Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. [Al-Hadits].

    [4] Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimannya dari sisi yang satu ini.

    [Disalin dari kitab Soal Jawab Masalah Iman dan Tauhid terbitan At-Tibyan Solo]

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 1 November 2016 Permalink | Balas  

    Berdzikir 

    dzikir 2Berdzikir

    Sawaluddin Ukkas

    Dzikir atau mengingat Allah, ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta’ala, memuji dan menyanjungNya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran dan keagungan serta sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang telah dimilikiNya.

    1. Allah telah menitahkan kita agar banyak berdzikir,

    Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman! Berdzikir kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah padaNya diwaktu pagi maupun petang.” (Al Ahzab 41 -42)

    1. Allah menyatakan bahwa Ia akan mengingat orang yang ingat atau berdzikir kepadaNya :

    Firman Allah, “Berdzikirlah kamu kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu” (Al Baqarah 152).

    Dan dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Allah berfirman :

    “Aku ini adalah menurut dugaan hambaKu, dan Aku menyertainya dimana saja ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir atau ingat padaKu dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hatiKu dan dan kalau mengingatKu di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepadaKu sejengkal, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sehasta, dan jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku akan mendekatkan diriKu kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepadaKu secara berjalan kaki, Aku akan datang padanya dengan berlari”.

    1. Allah SWT, telah menetapkan ahli dzikir itu sebagai golongan istimewa dan terkemuka.

    Sabda Rasulullah saw. : “Telah majulah orang-orang yang istimewa !” Tanya mereka : “Siapakah orang-orang yang istimewa itu ?” Ujarnya : “Mereka ialah orang-orang yang berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun wanita”. (Hadits riwayat : Muslim)

    1. Orang-orang yang berdzikir itulah pada hakikatnya orang-orang yang hidup.

    Diterima dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda : “Perumpamaan orang-orang yang dzikir kepada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati !” (Riwayat Bukhari).

    1. Berdzikir merupakan pokok pangkal amal-amal saleh, maka barang siapa diberi taufik untuk melakukannya, ia telah diberi kesempatan untuk menjadi wali Allah. Oleh sebab itulah Rasul saw selalu dzikir kepada Allah setiap saatnya, dan pernah berpesan kepada seorang laki-laki yang mengatakan kepadanya ” Mengenai syari’at-syariat Islam telah banyak anda sebutkan padaku. Sekarang sebutkan pula padaku sesuatu yang harus aku pegang teguh !”

    Maka ujar Nabi saw : “Mulutmu tidak akan kering disebabkan dzikir kepada Allah”. dan kepada sahabat-sahabatnya dipesankan : “Maukan kamu saya tunjukkan yang lebih utama dan lebih suci di sisi Tuhanmu, lebih meningkatkan derajatmu dan lebih berharga dari menafkahkan emas dan perak, bahkan lebih baik dari menghadapi menghadapi musuhmu dimana kamu akan berusaha akan menebas leher mereka, sebaliknya mereka berusaha akan menebas lehermu?” “Mau”, wahai Rasulullah”, ujar mereka. Maka sabdanya : “Yaitu berdzikir kepada Allah !”

    (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, juga oleh Hakim yang menyatakan isnadnya sah).

    1. Ia juga merupakan jalan kebebasan, yakni dari siksa.

    Diterima dari Mu’adz ra. bahwa Nabi saw. bersabda : ” Tidak satupun amal yang dikerjakan oleh anak cucu Adam, yang lebih membebaskan dari siksa Allah dari pada dzikir kepada Allah ‘azza wajallah”. (Riwaya Ahmad).

    Sumber : Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 31 October 2016 Permalink | Balas  

    Adab Berjalan Ke Masjid Dan Bacaan Sewaktu Masuk Dan Keluarnya 

    Di-pintu-masuk-masjidAdab Berjalan Ke Masjid Dan Bacaan Sewaktu Masuk Dan Keluarnya

    Adab berjalan ke masjid

    Dari Abu Qatadah Radhiallahu’anhu : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah selesai shalat, ia bertanya : “Ada apa dengan kamu tadi (berisik) ?”. Mereka menjawab : “Kami terburu-buru untuk turut (jama’ah)”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Janganlah kamu berbuat begitu !. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah !” [Hadits Shahih Riwayat : Bukhari, Muslim dan Ahmad]

    Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila kamu mendengar qamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah”. [Hadits Riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad]

    Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum :

    [1]. Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat apabila mendatangi tempat shalat (masjid).

    [2]. Kita dilarang tergesa-gesa/terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun qamat telah dikumandangkan.

    [3]. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama’ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama’ah.

    [4]. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/nasehat) kepada para jama’ah (ma’mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain.

    [5]. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat imam waktu itu. (ruku’ ketika imam ruku’, sujud ketika imam sujud, atau duduk tahiyat ahir ketika imam sedang tahiyat ahir, ed)

    [6]. Setelah imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan.

    Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat”. [Hadits Shahih Riwayat : Muslim].

    Bacaan ketika masuk dan keluar masjid

    dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu, “….Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : “ALLAHUMMAJ ‘AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : “(Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapakanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya”. [Hadits Riwayat : Muslim dan Abu Dawud]

    Dari Abi Humaid Radhiallahu’anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu’anhu, bahwasanya Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : “ALLAHUMMAF TAHLII ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”. Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : “ALLAHUMMA INNI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu) “.[Hadits Shahih Riwayat : Muslim, Ahmad dan Nasa’i].

    Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallm, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : “AUDZU BILLAHIL ‘AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL QADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tiada yang mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do’a di atas), syaithanpun berkata : Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya” [Hadits Shaih Riwayat Abu Dawud]

    (adapun yang masyhur di kalangan kaum muslim Indonesia adalah hadits ke dua di atas, dari Abi Humaid Radhiallahu’anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu’anhu, ed)

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam – Jakarta]

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 30 October 2016 Permalink | Balas  

    Doa Ketika Bersin dan Menguap 

    masih-ngantuk-mak_1650_lDoa Ketika Bersin dan Menguap

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dari Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : ” Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menyukai bersin dan membenci menguap. Jika salah seoarang dari kalian bersin, maka hendaklah ia menucapkan Alhamdulillah. Bagi kaum muslimin yang mendengar pujian tersebut hendaknya mengatakan ‘Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu rahmat)’, sedangkan menguap merupakan pekerjaan setan. Jika salah seorang dari kalian hendak menguap, maka sebisa mungkin hendaklah ia tahan. Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian menguap, maka setan akan mentertawakannya.”

    Masih dalam riwayat Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dan saudaranya atau orang yang bersamanya mengatakan kepadanya ‘Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan rahmat-Nya kepadamu)’. Jika salah seorang mengucapkan ‘Yarhamukallah’, maka orang yang bersin tersebut hendaklah menjawab ‘Yahdiikumullah wayushlih baalakum (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikanmu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).”

    Kedua hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari Radhiallahu anhu dalam kitabnya.

    Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu anhu mendengar Rasululah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “JIka salah seorang dari kalian bersin, maka hendaklah ia membaca ‘Alhamdulillah’, dan hendaklah kalian bertasymit (mengucapkan Yarhamukallah). Jika yang bersin tidak mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka janganlah kalian bertasymit.” (HR Muslim)

    ***

    Sumber : Doa-doa Rasulullah oleh Ibnu Taimiyah dengan muhaqqiq (peneliti) syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.

     
  • erva kurniawan 9:32 am on 29 October 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Dokter Membuka Aurat Wanita Dan Berkhalwat Dengannya Untuk Berobat 

    periksa dokterHukum Dokter Membuka Aurat Wanita Dan Berkhalwat Dengannya Untuk Berobat

    Apabila tidak ditemukan seorang dokter wanita yang diperlukan maka diperbolehkan baginya untuk berobat kepada dokter laki-laki, dan hal ini lebih mirip dengan keadaan darurat tetapi harus tetap terikat dengan aturan-aturan yang jelas. Oleh karena itu, para ahli fiqih berkata, keadaan darurat memperbolehkan untuk melakukan suatu hal sesuai dengan sekedar kebutuhan. Maka seorang dokter laki-laki tidak diperbolehkan untuk melihat atau memegang aurat pasien wanitanya yang tidak dibutuhkan untuk dilihatnya ataupun dipegang, dan wajib pula bagi wanita tersebut untuk menutup segala sesuatu yang tidak diperlukan untuk dibuka ketika berobat.

    Meski wanita dihukumi sebagai aurat, sesungguhnya aurat wanita bermacam-macam tingkatannya. Di antaranya ada aurat berat dan ada aurat yang lebih ringan darinya. Demikian pula sakit yang diderita oleh wanita, ada sakit yang berbahaya yang tidak boleh ditunda pengobatannya dan ada pula penyakit biasa yang tidak berbahaya apabila pengobatannya ditunda hingga mahramnya hadir untuk menemaninya berobat. Sebagaimana wanita juga bermacam-macam, di antara mereka ada wanita yang sudah tua dan wanita muda yang cantik serta ada pula pertengahan antara keduanya. Di antara mereka ada yang datang dalam keadaan tersiksa oleh penyakitnya dan juga di antara mereka ada yang datang ke rumah sakit tanpa terlihat pengaruh sakitnya. Di antara mereka ada yang dibius lokal atau keseluruhan, dan ada yang cukup diberi pil-pil dan semisalnya. Setiap individu dari mereka ada hukumnya tersendiri.

    Atas dasar semua itu maka berdua-duan dengan wnaita selain mahram adalah haram secara syara’ meskipun bagi dokter laki-laki yang mengobatinya berdasarkan hadits :

    “Artinya : Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan”.

    Maka harus hadir seseorang bersama keduanya baik suaminya ataupun salah satu mahramnya yang laki-laki. Dan apabila tidak bisa menghadirkan kerabat dekat yang wanita sedangkan sakitnya membahayakannya dan pengobatannya tidak biasa ditunda-tunda lagi, maka paling tidak harus dengan kehadiran seorang perawat wanita untuk menjaga agar tidak terjadi ‘khalwat’ yang terlarang.

    Adapun soal tentang hukum aurat anak perempuan yang masih kecil, maka seorang anak perempuan apabila belum berumur tujuh tahun dihukumi tidak mempunyai aurat. Apabila telah mencapai umur tujuh tahun maka ia mempunyai aurat sebagaimana dijelaskan oleh para ahli fiqih meskipun auratnya berbeda dengan aurat wanita yang lebih tua umurnya.

    Kapan Diperbolehkan Membuka Aurat

    Aurat hanya boleh dibuka karena adanya penyakit yang membahayakan. Adapun ungkapan : “Boleh membuka aurat untuk pengobatan” artinya boleh hingga aurat yang berat hanya saja aurat yang berat ini hanya diperbolehkan untuk dibuka dengan sebab suatu penyakit yang sangat berbahaya dan ditakutkan bisa menyebabkan meninggal atau semakin parahnya penyakit tersebut. Adapun sakit yang ringan, menurut saya tidak termasuk dalam ungkapan tersebut. Yang dimaksudkan disini adalah melihat aurat wanita dan laki-laki, dengan catatan bahwa yang diperbolehkan melihat aurat wanita hanyalah kaum wanita sendiri.

    Memang pada dasarnya aurat wanita tetap dianggap sebagai aurat di hadapan wanita lain, akan tetapi lebih ringan dibandingkan dengan di hadapan lelaki, karena penyebab timbulnya fitnah tidak ada dalam diri wanita apabila melihat pada aurat wanita lain.

    Maksud dari pengobatan di sini adalah pengobatan dari suatu penyakit. Sedangkan untuk tujuan menambah kekuatan, -dan dalam masalah ini banyak orang terlalaikan-, maka misalnya seorang lelaki membuka paha lelaki lain karena sakit yang ringan atau untuk tujuan menambah kekuatan, merupakan suatu kerusakan dan kejahatan yang besar. Ini telah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh manusia, tetapi ini adalah kebiasaan yang dilarang oleh syara’, meski banyak dilakukan oleh manusia.

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita -3, hal 190-193, Darul Haq]

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 28 October 2016 Permalink | Balas  

    Aku Dimakamkan Hari Ini 

    mayat2Aku Dimakamkan Hari Ini  

     

    Perlahan, tubuhku ditutup tanah,

    perlahan, semua pergi meninggalkanku,

    masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka

    aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,

    sendiri, menunggu keputusan…

     

    Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,

    Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,

    Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,

    rekan bisnis, atau orang-orang lain,

    aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

    Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,

    Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,

    Tangan kananku menghibur mereka,

    kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,

    tetapi aku tetap sendiri, disini,

    menunggu perhitungan …

     

    Menyesal sudah tak mungkin,

    Tobat tak lagi dianggap,

    dan ma’af pun tak bakal didengar,

    aku benar-benar harus sendiri…

     

    Tuhanku,

    (entah dari mana kekuatan itu datang,

    setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),

    jika kau beri aku satu lagi kesempatan,

    jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,

    beberapa hari saja…

     

    Aku harus berkeliling, memohon ma’af pada mereka,

    yang selama ini telah merasakan zalimku,

    yang selama ini sengsara karena aku,

    yang tertindas dalam kuasaku.

    yang selama ini telah aku sakiti hati nya

    yang selama ini telah aku bohongi

     

    Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,

    yang kukumpulkan dengan wajah gembira,

    yang kukuras dari sumber yang tak jelas,

    yang kumakan, bahkan yang kutelan.

    Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu

    Dan Tuhan,

    beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,

    untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,

    teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,

    maafkan aku ayah dan ibu ,

    mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu

    beri juga aku waktu,

    untuk berkumpul dengan istri dan anakku,

    untuk sungguh sungguh beramal soleh ,

    Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,

    bersama mereka …

    begitu sesal diri ini

    karena hari hari telah berlalu tanpa makna

    penuh kesia sia an

    kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya

    sama sekali mengapa ku sia sia saja ,

    waktu hidup yg hanya sekali itu

    andai ku bisa putar ulang waktu itu …

     

    Aku dimakamkan hari ini,

    dan semua menjadi tak terma’afkan,

    dan semua menjadi terlambat,

    dan aku harus sendiri,

    untuk waktu yang tak terbayangkan …

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 27 October 2016 Permalink | Balas  

    Menyikapi Masalah Dalam Hidup 

    AIRMATAMenyikapi Masalah Dalam Hidup

    Segala puji hanya milik Allah, pencipta, pemelihara, dan pemilik seluruh makhluk-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

    Semoga diri ini selalu sadar dan ingat bahwa ajal dapat menjemput kapan dan dimana saja kita berada sehingga kita dapat selalu mempersiapkan bekal untuk akhirat. Alangkah indahnya hidup ini bila kita selalu menghadapinya dengan semangat dan optimisme tinggi. Dengan semangat dan optimisme yang tinggi akan mendorong kita untuk selalu mempersembahkan karya terbaik untuk dunia ini.

    Kesempatan yang Allah berikan selama kita hidup hendaknya tidak kita sia-siakan. Dalam hidup, kita pasti akan menghadapi masalah. Suatu masalah akan mendatangi siapapun kita. Baik kaya maupun miskin, tua maupun muda, pria maupun wanita, pejabat maupun pelayan, orang pintar maupun bodoh, akan menghadapi masalah. Oleh sebab itu langkah yang paling tepat dalam menyikapinya adalah dengan menghadapi dan berusaha untuk menyelesaikannya tanpa pernah putus asa karena seorang muslim tidak boleh berputus asa dalam mengharap rahmat Allah.

    Akan sangat merugikan diri kita sendiri bila kita takut untuk menhadapinya dan hanya berusaha menghindar. Hal itu hanya akan membuat kita capek karena sudah pasti,

    pertama tidak akan menyelesaikan masalah dan kedua, kita malah mungkin akan bertemu dengan masalah baru. Masalah yang timbulpun silih berganti seakan tak ada habisnya. Pada hakikatnya masalah yang timbul bukanlah beban melainkan tantangan yang akan mendewasakan kita dalam berpikir dan bersikap sehingga kita bisa semakin bijaksana dalam menyikapi hidup ini. Oleh sebab itu ada tiga langkah yang sebaiknya kita lakukan ketika menemuinya yaitu

    Pertama, menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas, tidak dengan mengeluh atau berusaha mencari kambing hitam karena hal itu menandakan kekerdilan jiwa kita.

    Kedua, menghadapi dengan sabar dan tabah, tidak dengan terburu-buru, emosi, serta putus asa, karena hal ini menandakan lemahnya jiwa kita.

    Dan yang ketiga, menyelesaikannya dengan pikiran yang jernih, tidak dengan nafsu, karena hal ini menandakan tidak bijaknya jiwa kita. Disamping itu ada baiknya jika kita senantiasa berdoa agar Allah senantiasa memberi petunjuk serta kemudahan bagi kita dalam menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.

    Semua permasalahan pada hakikatnya berasal dari Allah, maka sudah sepatutnya kita bertawakkal pada-Nya setelah kita berusaha secara optimal untuk menyelesaikannya. Dan tak kalah pentingnya bagi kita untuk memahami dan meyakini bahwa apapun yang Allah takdirkan bagi kita maka itulah yang terbaik karena sesuai firman Allah yang berbunyi ” boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ( Al Baqarah : 216 )”.

    Wallahu ‘Alam bisshowab

    ***

    Kiriman Sahabat Joko P

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 26 October 2016 Permalink | Balas  

    Sakit Sebagai Kafarat 

    sakitSakit Sebagai Kafarat

    Oleh : Fajar Kurnianto

    Hidup tak selalu berjalan lurus, menyenangkan, dan membahagiakan. Suatu saat manusia akan mengalami siklus yang membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Dan, karena siklus inilah, Allah SWT menuntut umat manusia untuk menghadapinya dengan baik, sesuai dengan petunjuk-Nya. Dengan siklus kehidupan ini juga, umat manusia sesungguhya diuji, apakah tetap tegar dan optimistis, ataukah putus asa.

    Sakit adalah salah satunya. Tak selamanya manusia berada dalam kondisi sehat, yang memungkinkannya dapat melakukan apa saja. Suatu waktu ia pasti akan didera oleh satu hal yang membuatnya harus terbaring tak berdaya di atas ranjang, atau salah satu anggota badannya tidak berfungsi dengan baik. Pada kondisi seperti ini, godaan untuk berkeluh kesah dan putus asa akan selalu menyerangnya setiap saat, karena orang sakit potensial untuk putus asa.

    Sakit sesungguhnya adalah batu ujian bagi seorang Mukmin. Sakit bukanlah adzab yang dilimpahkan karena kebencian Allah, tapi justru itu adalah bagian dari kasih dan perhatian Allah SWT yang begitu besar kepada orang beriman. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya seorang yang beriman ketika didera musibah sakit, kemudian Allah menyembuhkannya, maka itu adalah kafarat (penghapus) bagi dosa-dosa yang ia lakukan sebelumnya. Ia sekaligus menjadi pesan berharga untuk menghadapi masa yang akan datang.” (HR Abu Dawud).

    Mengapa Allah menghapus dosa-dosa orang Mukmin yang sedang sakit? Ada dua hal yang menjadi alasannya. Pertama, faktor kesabaran, ketabahan, dan optimisme seorang Mukmin. Sakit justru adalah ujian kesabaran yang mesti dihadapi dengan sikap lapang dada dan besar hati. Dalam beberapa ayat Alquran, Allah SWT sering menyitir bahwa Dia akan selalu menyertai orang- orang yang sabar dalam menerima ujian, tak terkecuali sakit ini. ”Sesungguhnya Allah akan selalu menyertai orang-orang yang sabar.” (QS 2: 153).

    Kebersamaan Allah dengan Mukmin yang sakit adalah rahmat yang tiada terkira. Maka, biarpun rasa sakitnya teramat parah, namun karena ia merasa bahwa Allah selalu menyertainya, maka hampir-hampir tidak merasakan. Yang ada hanyalah kedamaian dan ketenteraman berada selalu di sisi-Nya.

    Kedua, faktor kesadaran yang timbul akibat sakit tersebut. Sakit sesungguhnya adalah waktu bagi seseorang untuk merenung dan mengingat-ingat segala perbuatan yang dilakukan sebelumnya. Seorang Mukmin yang sakit akan menjadikan sakit itu justru sebagai ladang introspeksi diri, sejauh mana ia melakukan segala perintah Allah SWT atau menjauhi larangan-Nya, pada saat ia belum sakit. Sakit sekaligus menjadi pesan bahwa manusia sejatinya adalah mahluk lemah yang tidak dapat berbuat apa-apa. Sakit yang diderita adalah bentuk konkretnya.

    Dengan demikian, orang yang sakit seharusnya menyadari bahwa sakit justru merupakan karunia tak terkira baginya. Karena, dengan demikian, berarti Allah SWT masih peduli dan perhatian padanya. Kafarat dosa tentu adalah salah satu bagian dari itu. Di balik itu tersimpan pesan yang lebih besar: Allah SWT sesungguhnya sedang meninggikan derajat seorang Mukmin yang sedang sakit. Wallahu a’lam.

     
  • erva kurniawan 2:04 am on 25 October 2016 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tidak Rindu (Bagian 3) 

    bidadariSiapa Yang Tidak Rindu (Bagian 3)

    Ketika Bidadari Turun Ke Bumi

    mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya.

    Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya ?

    Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah. Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?

    Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu?

    Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?

    Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.

    Ia menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.

    Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan riya.

    Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.

    Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah

    Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.

    Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. “Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah”. (HR. Muslim)

    Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholihah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini.

    Ya Allah, jadikanlah aku orang yang senantiasa dikelilingi oleh bidadari-bidadari bumi. Agar kelak di syurga aku tidak canggung lagi.

    (Dinukil dari buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 October 2016 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tidak Rindu (Bagian 2) 

    bidadariSiapa Yang Tidak Rindu (Bagian 2)

    Bidadari yang Cantik Jelita Menurut Pengabaran Al-Qur’an

    Allah mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Payudaranya sudah tumbuh sempurna, bentuknya bulat dan tidak menggelantung ke bawah. Yang seperti ini merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Allah mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah Radhiallahu anha pernah berkata, “warna puith adalah separoh keindahan.” Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata,

    Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan, laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan, dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut, Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat

    Al-‘In jama’ dari aina’, artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Allah mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lag cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman-Nya,

    “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (Al-Baqarah:25)

    Artinya. mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. MEreka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair,

    Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar, jika kau ingin cinta kita selalu mekar

    Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Hal ini menunjukkan kenikmatan bercinta dan bersetubuh dengan perawan daripada bersetubuh dengan wanita janda.

    Aisyah Radhiallahu anha, pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallau Alaihi wa Sallam, “Wahai rasulullah, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?”

    Beliau menjawab,”Di tempat yan belum dijadikan tempat gembalaan.”(Ditakhrij Muslim)

    Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, “Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)

    Jika ada yang berkata, “kenikmatan itu justru tidak begitu terasa nikmat saat mengadakan hubungan pertama kali bagi perawan, yang berbeda dengan wanita janda.” Hal ini bisa dijawab sebagai berikut:

    Pertama, yang dimaksudkan kenikmatan bersetubuh dengan perawan ialah karena wanita perawan belum pernah merasakannya dengan lelaki lain sebelumnya, sehingga cintanya lebih tertanam di dalam hati dan dapat menjaga kelanggengan hubungan, Ini ditilik dari keadaan wanita. Jika ditilik dari keadaan suami, maka ia merasa mendapat kebun yang masih asli, tidak pernah dijamah orang lain sebelumnya. Allah telah mengisyaratkan pengertian ini di dalam firmanNya,

    “Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (Ar-Rahman:74)

    Setelah itu kenikmatan persetubuhan masih tetap terasa seperti keadaan yang masih perawan.

    Kedua, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat, bahwa setiap kali penghuni surga menyetubuhi seorang wanita dalam keadaan perawan, maka wanita itu kembali menjadi perawan seperti keadaan sebelumya. Jadi, setiap kali dia menyetubuhinya, maka wanita itu tetap dalam keadaan sebelumnya. Jadi, setiap kali dia menyetubuhinya, maka wanita itu tetap dalam keadaan perawan.

    Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-‘Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.

    Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-‘Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebagay dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Allah menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi, adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.

    ***

    (bersambung)

    [dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu), karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, terbitan Darul Falah]

     
  • erva kurniawan 1:58 am on 23 October 2016 Permalink | Balas  

    Siapa Yang Tidak Rindu (Bagian 1) 

    bidadariSiapa Yang Tidak Rindu (Bagian 1)

    Bidadari yang Cantik Jelita Menurut Pengabaran Al-Qur’an

    Allah telah memberikan sifat-sifat terindah kepada bidadari-bidadari surga. Mereka diberi pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu.

    Ath-Thabarany menuturkan, kami diberi tahu Bakr bin Sahl Ad-Dimyaty, kami diberitahu Amru bin Hisyam Al-Biruny, kami diberitahu Sulaiman bin Abu Karimah, dari Hisyam bin Hassan, dari Al-Hassan, dari ibunya, dari Ummu Salamah Radhiallahuanha, dia berkata, “Saya berkata,’Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”

    Beliau menjawab,”Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”

    Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.”(Al-Waqi’ah:23)

    Beliau menjawab,”Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

    Saya berkata lagi,”Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman :70)

    Beliau menjawab,”Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”

    Saya berkata lagi,”Jelaskan padaku firman Allah, “seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shafat:49)

    Beliau menjawab,”Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”

    Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah :37)

    Beliau menjawab,” Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

    Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli ?”

    Beliau menjawab,”Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari bermata jeli, seperti apa yang tampak daripada yang tidak tampak.”

    Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

    Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa mereka dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya kulit bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kunigan, sanggulnya mutiara dan sisinya terbuat dari emas. Mereka berkata, Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya’.”

    Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita diantar kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka masuk surgapula. Siapakah diantara laki-laki itu yang menjadi suaminya di surga?”

    Beliau menjawab,”Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih siapa diantara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata,’Wahai Rabbku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai ummu Salamah, akhlka yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

    (disebutkan dalam catatan kaki buku Raudhatul Muhibbin (terbitan darul falah), halaman 201 :”Pengarang (Ibnul Qoyyim) menyebutkan hadits ini di dalam bukunya Hadil Arwah. Di sana dia memberi catatan : Sulaiman bin Abu Karamah menyendiri dalam riwayat ini. Abu Hatim menganggapnya dha’if. Menurut Ibnu Ady, mayoritas hadits-haditsnya adalah mungkar dan saya tidak melihat orang-orang dahulu membicarakannya. Kemudian dia menyebutkan hadits ini dari jalannya seraya berkata, “Hanya sanad inilah yang diketahui..”)

    ***

    (bersambung)

    [dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu), karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, terbitan Darul Falah]

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 22 October 2016 Permalink | Balas  

    Kesehatan di dalam Alquran dan Hadits 

    nasehat-quran1Kesehatan di dalam Alquran dan Hadits

    SAYAP LALAT MENGANDUNG OBAT.

    Apabila lalat masuk ke dalam minuman kamu, hendaklah ditenggelamkannya, kemudian dibuang lalat itu, karena sesungguhnya salah satu sayapnya mengandung penyakit dan yang satu lagi mengandung obat. (HSB 1463)

    MATI KARENA SAKIT PERUT ITU MATI SYAHID.

    Nabi SAW berkata: “Yang disebut mati syahid itu ada lima macam:

    1. Orang mati kena tikam.
    2. Orang mati karena sakit perut.
    3. Orang mati karena tenggelam.
    4. Orang mati ditimpa tanah longsor.
    5. Orang mati fi sabilillah (berjuang menegakkan agama)

    BAYI LAHIR MEMEKIK DAN MENANGIS KARENA DISENTUH SETAN.

    Rasulullah bersabda: “setiap anak Adam yang baru lahir disentuh setan ketika lahirnya itu, lalu ia memekik menangis karenanya, selain Maryam dan anaknya”. (HSB 1493)

    KENCING UNTA AGAR DIMINUM SEBAGAI OBAT.

    Nabi menyuruh mereka, orang-orang yang sakit-sakitan, mencari unta betina yang sedang menyusui, dan menyuruh pula mereka minum air kencing dan susu unta itu. (HSB 154)

    ORANG PEREMPUAN JUGA MENGELUARKAN MANI.

    Ummu Salamah: “Ya Rasulullah ! Apakah orang perempuan keluar mani jugakah ?” Jawab Rasulullah: “Ya, betul ! Taribat Yaminuk, mengapa engkau sebodoh itu ? Kalau tidak kenapa anaknya serupa dia”. (HSB 92)

    ALLAH MENGAJARKAN BAHWA PEREMPUAN MENGELUARKAN MANI.

    “Air mani laki-laki berwarna putih, dan air mani perempuan berwarna kekuning-kuningan. Apabila keduanya bertemu maka jika mani laki-laki lebih unggul dari mani perempuan akan lahir anak laki-laki. Dan jika mani perempuan yang lebih unggul dari mani laki-laki, akan lahir anak perempuan dengan izin Allah” “Sesungguhnya aku pernah ditanya orang seperti apa yang ditanyakan itu. Mulanya aku belum tahu apa-apa mengenai masalah itu, tetapi Allah mengajarkannya kepadaku” (HSM 262)

    ANAK SERUPA BAPAK ATAU SERUPA IBU?

    Jika airnya mendahului air istri, anak serupa bapaknya. Jika air ibunya mendahului air bapak, anak serupa ibu. (HSB 1465)

    BAU BUSUK MULUT ORANG BERPUASA LEBIH HARUM DARI KESTURI

    Aku ini puasa. Demi Allah yang diri Muhammad berada di genggamanNya, sesungguhnya bau busuk orang puasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi. (HSB 935)

    MANUSIA DISIPTAKAN.

    1. Manusia diciptakan dari tanah kering (Qs 55:14)
    2. Manusia diciptakan dari tanah liat (Qs 37:11)
    3. Manusia diciptakan dari air mani (Qs 35:11)
    4. Manusia diciptakan dari segumpal darah (Qs 40:67)
    5. Manusia diciptakan dari air terpancar (Qs 86:6)
    6. Manusia diciptakan dari setetes mani (Qs 80:19)
    7. Manusia diciptakan dari setitik air (Qs 36:77)
    8. Manusia diciptakan dari saripati air (Qs 32:8)

    LUBANG HIDUNG TEMPAT BERMALAM SETAN.

    Nabi bersabda: “Apabila di antara kamu bangun dari tidur, lalu berwuduk, maka hendaklah menyemburkan air dari hidung tiga kali, karena sesungguhnya setan bermalas di lubang hidung” (HSB 1458)

    KUPING ORANG TIDAK SHALAT MALAM TEMPAT KENCING SETAN.

    Abdullah berkata:”.. seorang laki-laki yang senantiasa tidur sampai subuh dan tidak pernah shalat malam”. Nabi bersabda: “Kupingnya telah dikencingi setan” (HSB 601)

    KUAP ITU DARI SETAN

    Nabi bersabda: “Allah mencintai bersin dan membenci kuap. Karena itu kalau bersin lalu ia memuji Allah, …kuap itu dari setan kalau ia mengucapkan “wah !”, maka setan tertawa”. (HSB 1911)

    MIMPI BURUK ITU DARI SETAN.

    Nabi bersabda: “Mimpi yang baik dari Tuhan, dan mimpi yang buruk dari setan” (HSB 1457)

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 21 October 2016 Permalink | Balas  

    Karir Wanita Dan Wanita Karir 

    wanita sholehahKarir Wanita Dan Wanita Karir

    Diskursus tentang karir wanita dan wanita karir dewasa ini semakin hangat, terutama di negeri ini dan mendapatkan dukungan serta perhatian serius dari berbagai kalangan, khususnya yang menamakan diri mereka kaum Feminis dan pemerhati wanita.

    Mereka selalu mengangkat tema “pengungkungan” Islam terhadap wanita dan mempromosikan motto emansipasi dan persamaan hak di segala bidang tanpa kecuali atau yang belakangan lebih dikenal dengan sebutan kesetaraan gender. Banyak wanita muslimah terkecoh olehnya, terutama mereka yang tidak memiliki basic keagamaan yang kuat dan memadai.

    Karena merupakan masalah yang urgen dan berimplikasi serius, maka tulisan kita kali ini mengangkat tema tersebut.

    Semoga tulisan ini menggugah wanita-wanita muslimah untuk kembali kepada fithrah mereka. Amien.

    Kondisi Wanita di Dunia Barat

    1. Dari sisi historis, terjunnya kaum wanita ke lapangan untuk bekerja dan berkarir semata-mata karena unsur keterpaksaan. Ada dua hal penting yang melatarbelakanginya :

    Pertama, terjadinya revolusi industri mengundang arus urbanisasi kaum petani pedesaan, tergiur untuk mengadu nasib di perkotaan, karena himpitan sistem kapitalis yang melahirkan tuan-tuan tanah yang rakus. Berangkat ke perkotaan, mereka berharap menda-patkan kehidupan yang lebih layak namun realitanya, justru semakin sengsara. Mereka mendapat upah yang rendah.

    Ke dua, kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah yang rakus  sengaja mengguna-kan momen terjunnya kaum wanita dan anak-anak, dengan lebih memberikan porsi kepada mereka di lapangan pekerjaan, karena mau diupah lebih murah daripada kaum lelaki, meskipun dalam jam kerja yang panjang.

    1. Kehidupan yang dialami oleh wanita di Barat yang demikian mengenaskan, sehingga menggerakkan nurani sekelompok pakar untuk membentuk sebuah organisasi kewanitaan yang diberi nama Humanitarian Movement yang bertujuan untuk membatasi eksploitasi kaum kapitalis terhadap para buruh, khususnya dari kalangan anak-anak. Organisasi ini berhasil mengupayakan undang-undang perlindungan anak, akan tetapi tidak demikian halnya dengan kaum wanita. Mereka tetap saja dihisap darahnya oleh kaum kapitalis tersebut.
    2. Hingga saat ini pun, kedudukan wanita karir di Barat belum terangkat dan masih saja mengenaskan, meskipun sudah mendapatkan sebagian hak mereka. Di antara indikasinya, mendapatkan upah lebih kecil daripada kaum laki-laki, keharusan membayar mahar kepada laki-laki bila ingin menikah, keharusan menanggung beban penghidupan keluarga bersama sang suami, dan lain sebagainya.

    Beberapa Dampak Negatif dari Terjunnya Wanita untuk Berkarir

    Di antara dampak-dampak negatif tersebut adalah:

    1. Penelitian kedokteran di lapangan (dunia Barat) menunjukkan telah terjadi perubahan yang amat signifikan terhadap bentuk tubuh wanita karir secara biologis, sehingga menyebabkannya kehilangan naluri kewanitaan, tetapi tidak berubah jenis kelamin menjadi laki-laki. Jenis wanita sema-cam ini dijuluki sebagai jenis kelamin ke tiga. Menurut data statistik, kebanyakan penyebab kemandulan para istri yang bekerja sebagai wanita-wanita karir tersebut bukan karena penyakit yang biasa dialami oleh anggota badan, tetapi lebih diakibatkan oleh ulah wanita di masyarakat Eropa yang secara total, baik dari aspek materil, pemikiran maupun biologis lari dari fithrahnya (yakni sifat keibuan). Penyebab lainnya adalah upaya mereka untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Hal inilah yang secara perlahan melenyapkan sifat keibuan mereka, banyaknya terjadi kemandulan serta mandegnya ASI sebagai akibat perbauran dengan kaum laki-laki.
    2. Di Barat, muncul fenomena yang mengkhawatirkan sekali akibat terjunnya kaum wanita sebagai wanita karir, yaitu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak kecil berupa pukulan yang keras, sehingga dapat mengakibatkan mereka meninggal dunia, gila atau cacat fisik. Majalah-majalah yang beredar di sana menyebutkan nama penyakit baru ini dengan sebutan Battered Baby Syn (penyakit anak yang dipukul). Majalah Hexagon dalam volume No. 5 tahun 1978 menyebutkan bahwa banyak sekali rumah sakit-rumah sakit di Eropa dan Amerika yang menampung anak-anak kecil yang dipukul secara keras oleh ibu-ibu mereka atau terkadang oleh bapak-bapak mereka.
    3. DR. Ahmad Al-Barr mengatakan, “Pada tahun 1967, lebih dari 6500 anak kecil yang dirawat di beberapa rumah sakit di Inggris yang berakhir dengan meninggal sekitar 20% dari mereka, sedangkan sisanya mengalami cacat fisik dan mental secara akut. Ada lagi, sekitar ratusan orang yang mengalami kebutaan dan lainnya ketulian setiap tahunnya, ada yang mengalami cacat fisik, ediot dan lumpuh akibat pukulan keras”.
    4. Para wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga tidak dapat memberikan pelayanan secara kontinyu terhadap anak-anak mereka yang masih kecil, karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk karir mereka.
    5. Berkurangnya angka kelahiran, sehingga pemerintah negara tersebut saat ini menggalakkan kampanye memperbanyak anak dan memberikan penghargaan bagi keluarga yang memiliki banyak anak. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kondisi yang ada di dunia Islam.

    Saksi Mereka Berbicara

    1. Seorang Filosof bidang ekonomi, Joel Simon berkata, “Mereka (para wanita) telah direkrut oleh pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka”.
    2. Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan polling seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita. Dari hasil polling tersebut didapat kesimpulan: “Bahwa sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65% dari mereka lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka”.

    Karir Wanita dalam Perspektif Islam

    Allah Ta’ala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerja-an yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak.

    Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang,  pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana disitir di dalam Al-Qur’an , “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua  orang ibu bapanya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS. Luqman: 14).

    Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak, tetapi harus dia tanggung juga. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga mengurangi staminanya.

    Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.

    Dienul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya.

    Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu (‘iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati, maka nafkahnya dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita.

    Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut.

    Selain itu, bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin.

    Solusi Islam Terhadap Diskursus Karir Wanita

    Ada kondisi yang teramat mendesak yang menyebabkan seorang wanita terpaksa bekerja ke luar rumah dengan persyaratan sebagai berikut:

    • Disetujui oleh kedua orangtuanya atau wakilnya atau suaminya, sebab persetujuannya adalah wajib secara agama dan qadla’ (hukum).
    • Pekerjaan tersebut terhindar dari ikhtilath (berbaur dengan bukan mahram), khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan laki-laki asing; Sebab ada dampak negatif yang besar. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan seorang wanita, kecuali bila bersama laki-laki (yang merupakan) mahramnya”. (HR. Bukhari).
    • Menutupi seluruh tubuhnya di hadapan laki-laki asing dan menjauhi semua hal yang berindikasi fitnah, baik di dalam berpakaian, berhias atau pun berwangi-wangian (menggunakan parfum). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapapun wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar menuju masjid, maka shalatnya tidak diterima hingga ia mandi.” (HR. Ibnu Majah). Dalam riwayat lain : “Siapapun wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar, lalu melewati sekelompok kaum lelaki agar mereka mencium baunya maka wanita itu adalah seorang pezina.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi)
    • Komitmen dengan akhlaq Islami dan hendaknya menampakkan keseriusan dan sungguh-sungguh di dalam berbicara, alias tidak dibuat-buat dan sengaja melunak-lunakkan suara, sebagaimana Firman Allah subhanhu wata’ala terhadap umumul mukminin junjungan kita, “Hai istri-istri Nabi, kalian tidak sama dengan siapapun perempuan lain jika kaian benar-benar bertaqwa, maka janganlah kamu tunduk (lembut, merendahkan suara) dalam berbicara sehingga orang-orang yang hatinya berpenyakit punya hasrat tidak baik (kepada kalian), tetapi katakanlah (kepada laki-laki) perkataan yang lugas.” .(Al-Ahzab: 32)
    • Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at dan kodratnya seperti dalam bidang pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.

    Penutup

    Sudah waktunya kita memahami betapa agungnya dien ini di dalam setiap produk hukumnya, berpegang teguh dengannya, menjadikannya sebagai hukum yang berlaku terhadap semua aturan di dalam kehidupan kita serta berkeyakinan secara penuh, bahwa ia akan selalu cocok dan sesuai di dalam setiap masa dan tempat.

    ***

    Saudaraku, setiap Muslim punya kewajiban untuk menyampaikan ajaran Islam. Kesempatan kita untuk berdakwah saat ini adalah :

    Anda sampaikan artikel ini kepada Saudara kita yang belum mengetahuinya.

    Sumber : http://groups.yahoo.com/group/salafiyyin/message/11

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 20 October 2016 Permalink | Balas  

    Mak Eroh, Wanita Besi dari Tasikmalaya 

    mak-erohMak Eroh, Wanita Besi dari Tasikmalaya

    BANYAK tokoh wanita hebat yang lahir di Indonesia ini, mulai dari zaman penjajahan, hingga perjuangan kemerdekaan, seperti RA Kartini, Tjut Nyak Dien, atau pahlawan wanita Sunda, Dewi Sartika.

    Dari sekian wanita super yang akan selalu dikenang masyarakat tersebut, terselip satu nama wanita dari Kabupaten Tasikmalaya, yakni Mak Eroh. Wanita yang meninggal pada 18 Oktober 2004 di usianya yang ke-68 tahun tersebut dikenal namanya pada 1988.

    Setahun kemudian, United Nations Environment Program dari PBB memberikan penghargaan lingkungan, Global 500. Sebagai penghormatan, Pemkab Tasikmalaya pun membangun monumen Mak Eroh bersama pahlawan lingkungan lainnya, Abdul Rodjak.

    Apa yang dilakukan Mak Eroh memang cukup mencengangkan dunia. Warga Desa Pasirkadu Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya berhasil membuat saluran air sepanjang 4.500 meter yang mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Proyek raksasa itu dapat diselesaikan dengan bantuan para muda desa, dalam waktu 2,5 tahun.

    Tekad kuat Mak Eroh untuk membuat saluran air ini awalnya didasari oleh sulitnya warga desa dalam mendapatkan air, baik untuk keperluan rumah tangga maupun pertanian.

    Kekeringan membuat Desa Pasirkadu jauh dari kesejahteraan. Awalnya, Mak Eroh memiliki gagasan untuk membuat saluran air sepanjang 50 meter yang dapat menghubungkan Desa Pasirkadu dengan Sungai Cilutung. Kerja kerasnya dimulai pada Juni 1985, namun gagasannya hanya menjadi bahan tertawaan warga sekitar. Namun dia tidak mundur. Dengan bermodalkan 20 pahat, 20 martil, 20 linggis, 20 belincong, plus cangkul yang dibeli dari hasil menjual perhiasan, Mak Eroh memulai misinya.

    Dengan peralatan sederhana itu, istri dari Emuh ini menggantungkan badannya hanya dengan bermodalkan seutas tali rotan, lalu dengan gesitnya memapras bukit cadas. Setelah bekerja keras selama 45 hari tanpa henti, Mak Eroh pun berhasil membuat saluran sepanjang 50 meter. Dia pun melaporkan hasil kerjanya kepada ketua RT setempat.

    Saat itu, warga nyaris tidak percaya dengan hasil kerja wanita yang tak lulus SD tersebut. Setelah Mak Eroh memberikan cara membabat bukit cadas, 19 pemuda tergerak hatinya untuk membantu, namun 8 di antaranya berhenti setelah 8 hari.

    Dengan kerja keras dan kegigihan, misi tersebut membuahkan hasil saluran dengan lebar 1 meter dan berkedalaman 0.25 meter yang menghubungkan Sungai Cilutung dengan Desa Pasirkadu.

    Dari hasil kerja kerasnya itu, sawah seluas 60 hektare dapat dialiri air Sungai Cilutung. Bukan hanya di Desa Pasirkadu, dua desa tetangga di Kecamatan Cisayong dan Indihiang pun mendapatkan berkah dengan limpahan air. Dengan kerja kerasnya, ibu dari Tohariah, Rohanah, dan Mesaroh tersebut telah menghidupi puluhan keluarga dan juga menolong puluhan anak-anak dari kebodohan.

    Pembuatan saluran air untuk keperluan pertanian, sebenarnya tugas pemerintah. Namun Mak Eroh tidak pernah berpikir untuk menuntut pemerintah menyediakan irigasi, namun berusaha sendiri menciptakan saluran air yang mengelilingi Gunung Galunggung tersebut.

    Mak Eroh sendiri tak pernah menyangka akan menerima Kalpataru, yang kini disimpan di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Dia pun tak pernah mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya.

    Bahkan saat ajal menjemput, Mak Eroh bersama suaminya tetap hidup seadanya tanpa mendapat imbalan dari jerih payahnya. Dia justru masih memikirkan masyarakat di usia senjanya saat itu. Dia berharap pemerintah mau mengusahakan pipa paralon untuk saluran air ke desanya. Dia juga berharap ada pembangunan masjid di kampungnya. Sebab, masjid terdekat berjarak dua kilometer dari rumahnya.

    Setelah meninggal, tak banyak lagi yang mengenal Mak Eroh. Sisa-sisa nama besarnya hanya terdengar saat pemerintah menggelar acara peringatan Hari Lingkungan Hidup. Sisanya, dia kembali terlupakan..

    Yang jelas, Mak Eroh telah memberikan inspirasi kepada kita bahwa alam bisa dipergunakan, namun kita jangan lupa melestarikannya. Perjalanan hidup Mak Eroh pun mengajarkan kepada kita bahwa kerja keras dan kegigihan dapat membuahkan hasil yang luar biasa. “Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda”. (*)

    Diposkan oleh Deni mulyana sasmita

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 19 October 2016 Permalink | Balas  

    Beribadah dengan Benar 

    Reciting-QuranBeribadah dengan Benar

    Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

    Hidup ini mau kemana? Kita hanya mampir sebentar di dunia ini dan pasti akan mati. Lalu hendak dibawa kemana hidup yang hanya sekali- kalinya ini? Jawabannya adalah bahwa hanya Allahlah tujuan kita. Tujuan hidup kita ini hanyalah untuk mengabdikan diri (beribadah) kepada Allah. Firman-Nya: “Tidaklah sekali-kali Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdikan hidupnya kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat [51]: 56).

    Dalam 7B (kiat menjadi sukses), rahasia yang pertama adalah beribadah dengan benar. Mengapa harus beribadah?

    Ibadah adalah fondasi. Tanpa ibadah, hidup bagaikan bangunan tanpa fondasi, pasti akan roboh. Tanpa ibadah yang tanggguh, sukses dunia akhirat hanyalah mimpi.

    Beribadah dengan benar artinya membangun fondasi yang semakin memperjelas visi hidup ini mau dibawa kemana. Karena dengan beribadah maka akan semakin memperjelas bahwa Allah adalah Khalik (Yang Menciptakan), sedangkan kita adalah makhluk (yang diciptakan). Allah yang disembah, sedangkan kita yang menyembah-Nya. Allah yang memerintah (berkuasa), sedangkan kita yang diperintah-Nya.

    Allah menciptakan dunia kemudian menciptakan makhluk. Makhluk diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, sedangkan dunia berikut isinya diciptakan hanyalah sebagai sarana agar kita bisa berkarya dan berbekal pulang untuk menghadap Allah.

    Artinya dunia berikut isinya diciptakan hanyalah untuk melayani kita supaya kita bisa mengabdikan diri kepada Allah.

    Orang yang tidak mengerti bahwa dunia ini hanyalah sebagai pelayan baginya, maka posisinya akan menjadi terbalik, justru dia yang akan diperbudak oleh dunia yaitu harta, pangkat, gelar, jabatan, dan syahwat. Bayangkan, pelayannya menjadi majikannya. Dia dihinakan oleh hambanya sendiri. Itulah yang menyebabkan kerusakan dan keterpurukan manusia. Kemudian Allah menciptakan Nabi Muhammad SAW agar kita bisa meneladani bagaimana cara beribadah dengan benar.

    Oleh karena itu, siapapun yang ingin sukses, belajarlah lebih banyak tentang bagaimana beribadah dengan benar. Cari ilmunya, segera praktikkan, dan istiqomahkan. Kemudian ajaklah istri dan anak beribadah dengan tangguh karena tidak akan ada yang menolong selain Allah.

    Shalat, dzikir, shaum, dan ibadah lainnya itu adalah perangkat yang membuat fondasi kesuksesan. Tetapi ibadah tidak hanya itu saja, melainkan segala aktivitas yang dijalankan dengan niat yang lurus karena Allah dan ikhtiar di jalan yang disukai Allah itu adalah ibadah. Misalnya dalam bekerja, orang-orang yang bekerjanya tidak diniatkan untuk beribadah tidak akan tahu orientasi hidup ini akan dibawa kemana, sehingga kesibukannya hanya mencari uang.

    Karenanya kalau bekerja, niatkan untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan cara yang disukai Allah. Tugas kita adalah bagaimana kita sibuk bekerja sehingga menjadi amal kebajikan, bukan karena harta, tetapi karena kerja adalah ladang amal. Harta sudah dibagikan sebelum kita tiba di dunia ini.

    Ciri orang yang beribadah dengan benar di antaranya adalah akhlaknya akan lebih terjaga, perbuatannya akan terpelihara dari kezaliman terhadap orang lain, dan emosinya akan lebih stabil.

    Kemudian ciri lainnya adalah qolbunya akan tenteram, pikirannya akan jernih, prestasinya mudah diraih, ide dan gagasannya akan ditolong oleh Allah.

    Misalnya, jika sedang rapat datang waktu shalat, maka utamakanlah shalat karena yang paling penting dari rapat itu justru bagaimana agar bisa ditolong oleh Allah.

    Kalau kita melalaikan shalat, maka keputusan yang diambil belum tentu tepat karena benar menurut kita belum tentu benar menurut Allah. Tetapi dengan mengutamakan ibadah, mudah-mudahan Allah menuntun kita menemukan jalan keluar walaupun berhadapan dengan banyak masalah.

    Hanya Allahlah satu-satunya yang menguasai langit dan bumi, kita semua dalam genggaman Allah.

    Jadi, mimpi negeri kita akan bangkit kalau rakyat dan para pemimpinnya menganggap remeh ibadah.

    Mimpi kita memiliki aparat dan tentara yang kita idolakan, kalau kepada Allah tidak takut. Kalau tentara mempunyai senjata doa, maka akan bisa meluluhkan hati musuh sehingga menjadi shalih. Zaman Rasulullah banyak musuh yang terkulai hatinya bukan dengan senjata perang, tapi dengan senjata doa.

    Mimpi kita mempunyai keputusan negara yang baik kalau para pengambil keputusannya tidak baik ibadahnya. Apa yang bisa dilakukan hanya oleh manusia seperti kita kalau tidak dibimbing dan ditolong oleh Allah Yang Mahatahu dan Menguasai segala sesuatu.

    Terlalu sombong bagi kita hidup tidak mengenal ibadah. Ciri kesombongan dan ketakaburan seseorang dilihat dari keengganannya beribadah.

    Maka, selamat berjuang saudaraku. Jadilah ahli ibadah yang istiqomah dan ikhlas.

    Sumber : http://republika.co.id

     
  • erva kurniawan 7:55 am on 18 October 2016 Permalink | Balas  

    Di bawah lutut, Di atas mata kaki !! 

    isbalDi bawah lutut, Di atas mata kaki !!

    Adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mentaati beliau dengan melaksanakan perintahnya serta menjauhi larangannya dan membenarkan berita yang dibawa beliau.Tanda bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah terus komitmen melaksanakan simbol – simbol islam dalam bentuk perintah, larangan, ucapan, keyakinan, maupun amalan. Diantaranya adalah membiarkan jenggot dan memendekkan pakaian sebatas mata kaki yang itu semua dilakukan karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengharapkan pahala-Nya.

    Larangan Berbuat Isbal

    Isbal adalah menurunkan pakaian di bawah mata kaki baik itu berupa celana ataupun sarung. Mereka yang melakukan perbuatan Isbal pada pakaian bahkan sampai terseret di tanah, itu adalah perbuatan yang mengandung bahaya yang besar, kalau kesandung gimana? Bisa jadi celananya cepat sobek dan lusuh.

    Selain itu karena menentang perintah Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan apa yang dilarang Allah dan Rasulnya adalah sikap menentang, pelakunya akan mendapat ancaman yang keras. Firman Allah Azza wa Jalla dalam surat An – Nisaa:115 : “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti selain jalannya Sabilil Mukminin (para shahabat) maka kami biarkan dia tenggelam dalam kesesatan dan kami masukkan ke neraka jahannam. Dan itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.”

    dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat.”(Hr Bukhari dan lainnya)

    Pengertian sombong adalah sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam:”Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (Riwayat Muslim di dalam hadits yang panjang)

    Dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabada: “Isbal berlaku pada sarung, gamis dan serban. Siapa yang menurunkan pakaiannya sedikit saja karena sombong, tidak akan dilihat Allah di Hari Kiamat.” (Hr Abu Daud, Nasa’I dan Ibnu Majah. Hadits shahih).

    Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari:”Apa saja yang berada di bawah mata kaki berupa sarung maka tempatnya di neraka.”

    Diriwayatkan oleh Imam Malik dan Abu Daud dengan sanad yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sarung seorang mukmin sebatas kedua betisnya. Tidak mengapa bila dia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada di bawah mata kaki tempatnya di neraka.”

    Isbal jika dilakukan karena tidak sombong dan angkuh apakah itu juga diharamkan?

    Isbal tidak boleh dilakukan (haram) secara mutlak bagi pria apakah itu karena sombong atau tidak. Berdasarkan keumuman nash hadits yang diriwayatkan Bukhari dalam shahihnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Apa yang dibawah mata kaki berupa sarung, maka tempatnya adalah di neraka.”

    Dari Abu Dzarr radliyallahu ‘anhu, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada 3 golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak dilihat (dengan pandangan rahmat) dan tidak dibersihkan dari dosa serta mereka akan mendapat azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya)

    Dari sini jelas bahwa Larangan isbal bersifat umum dan mutlak (apakah itu karena sombong /tidak) dan tidak boleh menganggap larangan isbal hanya karena sombong saja. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan semua perbuatan isbal termasuk kesombongan, karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: “Jauhilah olehmu Isbal, karena dia termasuk perbuatan sombong.” (Hr Abu daud, dan tirmidzi dengan sanad yang shahih)

    PENUTUP

    Renungkanlah firman Allah Azza Wa Jalla dalam surat Al-Hasyr:7

    “Apa yang diberikan rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah,dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

    Semoga Allah memberi manfaat kepada saya dan Anda sekalian melalui Hidayah Kitab-Nya dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kemudian mengikutinya. Wallahu ta’ala a’lam .

    ***

    Sumber : Risalah kecil Bolehkah memanjangkan celana sampai di bawah mata kaki bagi muslim ? Oleh : Abu Abdirrahman Hamzah Al Atsari

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 12 October 2016 Permalink | Balas  

    Tuhan Yang Populer 

    harta karunTuhan Yang Populer

    Harta Atau Duit Sebagai Ilah

    Tuhan lain atau “tuhan tandingan”, yang paling populer di zaman modern ini ialah duit, karena ternyata memang duit ini termasuk “ilah” yang paling berkuasa di dunia ini. Di kalangan orang Amerika terkenal istilah “The Almighty Dollar” (Dollar yang maha kuasa). Memang telah ternyata di dunia, bahwa hampir semua yang ada di dalam hidup ini dapat diperoleh dengan duit, bahkan dalam banyak hal harga diri manusia pun bisa dibeli dengan duit.

    Cobalah lihat sekitar kita sekarang ini, hampir semuanya ada “harga”-nya, jadi bisa “dibeli” dengan duit. Manusia tidak malu lagi melakukan apa saja demi untuk mendapat duit, pada hal malu itu salah satu bahagian terpenting dari iman. Betapa banyak orang yang sampai hati menggadaikan negeri dan bangsanya sendiri demi mendapat duit. Memanglah “tuhan” yang berbentuk duit ini sangat banyak menentukan jalan kehidupan manusia di zaman modern ini.

    Pada mulanya manusia menciptakan duit hanyalah sebagai alat tukar untuk memudahkan serta mempercepat terjadinya perniagaan. Maka duit bisa ditukarkan dengan barang-barang atau jasa dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, duit juga disebut sebagai “harta cair” (liquid commodity). Kemudian, fungsi duit sebagai alat tukar ini menjadi demikian efektifnya, sehingga di zaman ini, terutama di negeri-negeri yang berlandaskan materialisme dan kapitalisme, duit juga dipakai sebagai alat ukur bagi status seseorang di dalam masyarakat.

    Kekuasaan, pengaruh, bahkan nilai pribadi seseorang diukur dengan jumlah kekayaan (asset)-nya. Prestasi pribadi seseorang pun telah diukur dengan umur semuda berapa ia menjadi jutawan. Semakin muda seseorang mendapat duit sejumlah sejuta dollar dianggap semakin tinggi nilai pribadinya.

    Umpamanya, ketika penulis sedang mengetik naskah edisi baru ini (di Ames, Iowa, USA, awal Ramadhan 1406/ May 1986), di dalam siaran TV diumumkan, bahwa Michael Jackson mendapat piagam kehormatan tertinggi (Golden Award) sebagai “seniman” penyanyi termuda (di bawah 30 tahun) yang terhebat, karena ia berhasil mendapat kontrak sejumlah 15 juta dollar untuk menyanyikan lagu “Pepsi Cola” di dalam siaran-siaran TV dan radio selama tiga tahun. Jadi ia berpenghasilan 5 juta dollar setahun dalam masa tiga tahun mendatang ini; kira-kira 20 x gaji presiden Amerika Serikat (Ronald Reagen) pada masa yang sama. Kehidupan dan gaya hidup orang-orang yang banyak duit ini di USA sengaja ditonjolkan melalui program yang periodik di TV (The Lifestyles of the Rich and Famous).

    Takhta Sebagai Ilah

    “Tuhan tandingan” kedua yang paling populer ialah pangkat atau takhta, karena pangkat ini erat sekali hubungannya dengan duit tadi, terutama di negeri-negeri yang sedang berkembang. Pangkat atau takhta bisa dengan mudah dipakai sebagai alat untuk mendapat duit atau harta, terutama di negeri-negeri di mana kebanyakan rakyatnya masih berwatak “nrimo”, karena belum terdidik dan belum cerdas. Apalagi, kalau di negeri itu kadar kebebasan mengeluarkan pendapat, baik secara lisan maupun tulisan, masih rendah.

    Di negeri-negeri yang rakyatnya sudah cerdas, dan kebebasan mengeluarkan pendapat terjamin penuh oleh undang-undang, memang peranan pangkat dan kedudukan tidak mudah, bahkan tidak mungkin dipakai untuk mendapatkan duit/harta. Oleh karena itu, orang-orang yang ikut aktif di dalam perebutan kedudukan yang bersifat politis di negeri- negeri yang sudah maju ini biasanya orang-orang yang sudah kaya lebih dahulu. Mendiang presiden Kennedy, umpamanya, menolak pembayaran gajinya sebagai presiden yang jumlahnya ketika itu 125 ribu dollar setahun, karena ia sudah jutawan sebelum jadi presiden. Ia merebut kedudukan kepresidenan dengan mengalahkan Nixon, ketika itu, karena dorongan rasa patriotiknya, atau mungkin juga demi menjunjung tinggi nama dan kehormatan keluarganya, namun bukan karena menginginkan kekayaan yang mungkin diperoleh dari kepresidenan itu.

    Jadi, nyata benar bedanya dengan bekas presiden Marcos dan isterinya Imelda, umpamanya, yang telah menjadi kaya raya akibat kedudukannya, karena itu mereka telah bersikeras terus mempertahankan kedudukan itu, walaupun rakyat sudah menyatakan ketidak-senangan mereka kepadanya. Hal ini bisa terjadi di negeri Marcos, karena kecerdasan dan kebebasan rakyatnya masih jauh di bawah kecerdasan dan kebebasan rakyat Amerika Serikat.

    Contoh-contoh seperti Marcos dan Imelda ini banyak sekali terjadi di negeri-negeri yang sedang berkembang, seperti Tahiti dengan Duvalier-nya, Iran dengan mendiang Syah-nya, dan lain-lain…! Suatu hal yang sangat menarik, karena berhubungan dengan masalah ini, ialah, bahwa Al-Qur’an sudah mengajarkan kepada para Muslim yang benar-benar bertawhid (beriman) agar mereka memilih pemimpin, selain Allah dan Rasul-Nya, hanyalah “orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan membayarkan zakat seraya tundak hanya kepada Allah.” Ayat selengkapnya berbunyi:

    “Sungguh, pemimpinmu (yang sejati) hanyalah Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan MEMBAYARKAN ZAKAT, seraya tunduk (patuh kepada Allah).” (Q.5:55)

    Bukankah yang diwajibkan membayar zakat ini ialah orang yang kaya, atau paling tidak orang yang sudah berkecukupan. Orang yang miskin, dan karena itu tidak mampu membayarkan zakat, walaupun sudah ta’at melakukan sembahyang, belum memenuhi syarat untuk dipilih sebagai pemimpin. Akan terlalu berat baginya mengatasi keinginan melepaskan diri dari tekanan kemiskinan itu, sehingga mungkin ia akan lebih mudah tergoda untuk memperkaya dirinya dahulu, sebelum atau sambil menjalankan tugasnya sebagai pemimpin itu.

    Sungguh, sangat tinggi hikmah yang terkandung di dalam ayat ini, terutama mengenai masalah memilih atau menentukan pemimpin. Sangat sayang, bahwa kebanyakan ummat Islam pada saat ini belum sempat mencapai tingkat kecerdasan yang memadai untuk memahami dan menghayati kandungan ayat suci ini. Oleh karena itu, ummat ini belum juga berhasil memilih pemimpin mereka sesuai dengan kandungan ajaran Allah ini. Akibatnya, ummat Islam belum mampu mencapai tingkat kemerdekaan (tawhid) yang minimal menurut standard yang dikehendaki al-Qur’an. Benar juga kiranya, jika ada yang mengatakan, bahwa “al-Qur’an masih terlalu tinggi bagi kebanyakan ummat Islam pada masa ini”. Dengan perkataan lain, ummat Islam pada masa ini masih terlalu rendah mutunya, sehingga belum pantas untuk menerima al-Qur’an yang mulia itu.

    Oleh karena itu, kita tak perlu heran jika nilai-nilai dasar dan pokok yang diajarkan di dalam al-Qur’an masih lebih mudah terlihat dipraktekkan di negeri-negeri, yang justru mayoritas penduduknya resmi belum beragama Islam.

    Syahwat Sebagai Ilah

    Tuhan ketiga yang paling populer pada setiap zaman ialah syahwat (sex). Demi memenuhi keinginan akan sex ini banyak orang yang tega melakukan apa saja yang dia rasa perlu. Orang yang sudah terlanjur mempertuhankan sex tidak akan bisa lagi melihat batas-batas kewajaran, sehingga ia akan melakukan apa saja demi kepuasan sex-nya.

    Contoh-contoh dalam sejarah mengenai hal ini cukup banyak, sehingga Allah mewahyukan riwayat yang sangat rinci tentang nabi Yusuf yang telah berjaya menaklukkan godaan sex ini. Nabi Yusuf dipujikan dalam al-Qur’an sebagai seorang yang telah berhasil menentukan pilihan yang tepat ketika dihadapkan dengan alternatif: pilih hidayah iman atau kemerdekaan. Beliau memilih ni’mat Allah yang pertama, yaitu hidayah iman. Dengan mengorbankan kemerdekaannya beliau memilih masuk penjara daripada mengorbankan imannya dengan tunduk kepada godaan keinginan syahwat isteri menteri, majikan beliau.

    “Dia (Yusuf) berkata: “Hai Tuhanku! Penjara itu lebih kusukai dari pada mengikuti keinginan (syahwat) mereka, dan jika tidak Engkau jauhkan dari padaku tipu daya mereka, niscaya aku pun akan tergoda oleh mereka, sehingga aku menjadi orang-orang yang jahil.” (Q. 12:33). Dari ayat ini jelas betapa hebat tekanan sex pada seseorang yang sehat dan masih remaja seperti Yusuf ketika digoda oleh isteri majikan beliau yang cantik jelita, namun dengan tawhid yang mantap beliau tidak sampai terjatuh ke lembah kehinaan.

    Sajak “Aku” nya Chairil Anwar yang sudah dikoreksi kiranya dapat dipakai untuk melukiskan pribadi Yusuf AS ini sebagai berikut:

    AKU

    Bila sampai waktuku

    ‘Kumau tak seorang ‘kan merayu

    Tidak juga ‘kau.

    Tak perlu sedu sedan itu

    Aku ini hamba Allah

    Dari gumpalan darah

    Merah

    Biar peluru menembus kulitku

    ‘Ku ‘kan terus mengabdi

    Mengabdi dan mengabdi

    Hanya kepada-Mu

    Ilahi Rabbi

    ***

    Sumber : Kuliah Tauhid

    Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc, Ph.D. Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN) Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB Bandung

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 11 October 2016 Permalink | Balas  

    Memberikan Pujian 

    bungaMemberikan Pujian

    Sumber: Indonesia Business Online

    Oleh: Arvan Pradiansyah

    Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, “Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang.”

    Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, “Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi saya.”

    Setiap manusia, apapun latar belakang nya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

    Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.

    Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus. Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

    Seorang kawan pernah mengatakan, “Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk.”

    “Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?” saya balik bertanya.

    “Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!”

    Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain? Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.

    Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita menci ntai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.

    Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre.

    Cinta adalah bukan “cinta karena”, tetapi “cinta walaupun”. Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.

    Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya ta npa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah “cinta walaupun”. Walaupun  Anda mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positiforang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.

    Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia  berkata, “Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!”

    Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, “Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!”

    Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.

    Kesalahan ketiga, disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label:orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang “segar dan baru”. Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.

    Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi — bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.

    Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

    Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir,  satpam, penjaga toko maupun petugas di jalan tol.

    Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya dengan doa, “Hati-hati di jalan Pak!” Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya  mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

    Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyu kur. Yang lebih penting, membuat orang merasa dimanusiakan.

    **

    Penulis adalah dosen FISIP Universitas Indonesia dan konsultan di Dunamis-Franklincovey Indonesia.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 10 October 2016 Permalink | Balas  

    Cukupkah Hanya Al-Qur’an Semata ( Membedah Faham Qur’aniyyin ) 

    Reciting-QuranCukupkah Hanya Al-Qur’an Semata ( Membedah Faham Qur’aniyyin )

    Hendaknya seseorang segera memohon ampun kepada Allah jika ia memiliki keyakinan sebagaimana yang didengungkan oleh Abdullah Chakrawaali dalam majalah Isyaatul Qur’an III \ h. 49, ia berkata : ” Sesungguhnya Al-Majid (Al-Qur’an ) telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam agama ini dengan terperinci dan terjelaskan dari semua aspeknya . Maka apa butuhnya kita terhadap wahyu yang khafi (tidak tertulis) dan kepada As-Sunnah ?? ” Ucapan seperti ini adalah racun yang disuntikkan oleh kaum salibis untuk meruntuhkan islam . Anehnya, orang-orang yang berpikiran seperti ini menamakan diri mereka Qur’aniyyin (ahlul qur’an) . Sidang pembaca yang budiman , saatnya antum melihat bagaimana sikap Al-Qur’an sendiri terhadap mereka. Ikutilah untaian wacana berikut ini, untuk mengetahui kedudukan As-Sunnah , dan mengetahui pula penyimpangan pola pikir yang berusaha menggeser As-sunnah sebagai sumber hukum.

    Kedudukan As-Sunnah Dalam Islam

    Allah berfirman :” Maka demi tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [Qs.An-nisa 65].

    Ketahuilah bahwa sesungguhnya menjadikan Rasulullah sebagai hakim dalam keadaan beliau tidak ada ditengah kita saat ini, berarti mewajibkan kita menjadikan peninggalan beliau yakni As-Sunnah sebagai hakim.

    Dalam ayat lain Allah berfirman :” jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia pada Allah dan rasulnya,.”[Qs. An-nisaa 59]

    Telah sepakat ahli tafsir, bahwa yang dimaksud dengan kembali kepada Allah dan rasulnya ialah kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Ini juga menunjukkan bahwa As-Sunnah juga memiliki kedudukan sebagai penentu hukum dalam islam bersama-sama dengan Al-Qur’an, dan kedudukan ini tidak dapat dipisahkan.

    Maka berdasarkan dua ayat diatas, tidak halal seorang muslim berkata cukuplah Al-Qur’an saja bagiku, dan aku tidak butuh kepada buku-buku hadits

    As-Sunnah sebagai penafsir Al-Qur’an

    Terdapat banyak contoh yang nyata dalam masalah ini. Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam sebuah risalahnya yang berjudul ” manzilatus sunnah fil-Islam” menafsirkan kata Al-Bayan [menerangkan] dalam ayat : “keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab. Dan kami turunkan kepada kamu al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” [Qs : An-Nahl 44].

    Beliau [syaikh Al-Albani] berkata : Al-bayan adalah penjelasan lafadz , kalimat atau ayat yang membutuhan penjelasan, yang demikian ini dikarenakan banyak terdapat ayat-ayat yang mujmal (masih global), ammah (umum), atau mutlak. Maka As-sunnah menjelaskan yang global, mengkhususkan yang umum, dan membatasi yang mutlak.

    Penjelasan tersebut terjadi dengan As-Sunnah yaitu perkataan, perbuatan beliau atau persetujuan Rasulullah terhadap perbuatan para sahabatnya.

    Beberapa contoh nyata

    • Firman Allah :”pencuri laki-laki dan perempuan, potonglah tangan mereka..” [Qs : Al-maidah : 38]. Kata pencuri dalam ayat tersebut bersifat mutlak, demikian juga kata tangan. Maka As-Sunnah datang membatasi kata yang pertama pencuri yaitu mereka yang mencuri lebih dari atau sama dengan ¼ dinar. Ini berarti pencuri tidak dipotong tangannya jika nilai curiannya kurang dari ¼ dinar . hal ini berdasarkan hadist Rasulullah :”tidak dipotong tangan kecuali dalam curian yang mencapai ¼ dinar atau lebih..” [ HR. Bukhari-Muslim]. As-Sunnah menerangkan maksud tangan dalam ayat tersebut dengan perbuatan Rasulullah perbuatan sahabatnya, dan kesepakatan mereka bahwa mereka dahulu memotong tangan pencuri sebatas pergelangan tangan mereka sebagaimana telah diketahui dalam kitab-kitab hadits.
    • Demikian pula ketika As-Sunnah menerangkan kata tayammum ” usaplah pada wajah-wajah dan tangan mereka.” [Qs. al-maidah :6]. Maksud tangan dalam ayat disini adalah telapak tangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah : tayammum itu mengusap wajah dan kedua telapak tangan [HR : bukhari-muslim]
    • Demikian pula firman Allah : “katakanlah : ‘siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik ?’ katakanlah :’semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) dihari kiamat. Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui”. [Qs. Al-A’raff : 32]. Disini As-Sunnah menerangkan bahwa ada perhiasan yang haram. Rasulullah bersabda : “kedua benda ini (sutera dan Emas) haram bagi para lelaki ummatku dan halal bagi para wanitanya” [HR. hakim dan dia menshahihkannya].

    Penyimpangan Qur’aniyyin [Ingkar Sunnah]

    Dewasa ini telah muncul suatu kelompok yang menamakan dirinya Qur’aniyyin (pengikut Qur’an) namun pada hakekatnya mereka bukan pengikut Qur’an bahkan sekaligus mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan nafsu dan akal-akalan mereka tampa mencari keterangan tafsirnya dari sunnah yang shahih. Mereka menganggap as-sunnah bukanlah wahyu yang turun dari Allah. Padahal Allah berfirman :” dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat” [Qs : An-Najm : 3-5].

    Lihatlah bagaimana Al-Qur’an membantah mereka. Mereka juga menganggap al-Qur’an telah cukup sehingga tidak butuh kepada As-Sunnah padahal dalam surat An-nahl :44 Allah menjelaskan bahwa Rasulullah diperintahkan menjelaskan Al-Qur’an, tentu saja penjelasan Rasulullah terhadap Al-Qur’an adalah As-sunnah itu sendiri. Sungguh benar apa yang diungkapkan pepatah :

    “setiap orang menngaku menjadi kekasih Laila, hanya saja Laila tidak mengakui mereka sebagai kekasih”.

    Mereka Qur’aniyyin mengaku menjadi pengikut Al-Qur’an, akan tetapi Al-Qur’an tidak mengakui mereka sebagai pengikut.

    Berita Dari Rasulullah Tentang Mereka

    Rasulullah bersabda tentang mereka, para pengingkar sunnah, yang mengaku pengikut Al-Qur’an): ” sungguh sebentar lagi kalian akan melihat seseorang yang duduk di singgasananya, kemudian datang kepadanya urusanku (sunnahku) baik yang berisi larangan atau perintah, maka dia berkata : “aku tidak tahu ! semua yang kami dapatkan dalam kitab Allah itulah yang kami ikuti [ HR. At-Tirmidzi, lihat maanzilatus sunnah oleh syaikh Al-Albani]. Dalam riwayat lain dia berkata : apa yang kami dapatkan dalam kitabullah pengharaamannya, akan kami haramkan.” Maka Rasululah bersabda : ” ketahuilah bahwasanya aku diberi Al-Qur’an dan yang semisalnya bersamanya (yakni As-sunnah) [ HR. Ahmad 4/131 dan Abu Daaud 5/11)

    Dalaam riwayat lain Rasulullah bersabda : “Ketahuilah bahwa apa yang dilarang oleh Rasul maka itulah yang dilarang oleh Allah.”

    Tidak cukup hanya dengan Al-Qur’an semata.

    Berkata syaikh Al-Albani setelah membawakan riwayat-riwayat hadits diatas : ” hadits shahih diatas menjelaskan dengan tegas bahwa syari’at islam bukannya Al-Qur’an saja, melainkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barang siapa hanya berpegang paa salah satunya, berarti sama dengan tidak berpegang dengan keduanya, karena Al-Qur’an memerintahkan untuk berpegang dengan As-Sunnah demikian pula sebaliknya [manzilatus sunnah fil Islam, cet. Darus Salafiyyah 1404 H. ]

    Belajar dari sahabat dalam menyikapi pola fikir Qur’aniyyin

    Dalam satu riwayat yang shahih dari Ibnu mas’ud, datang seorang wanita kepadanya kemudian berkata : “kamukan orangnya yang berkata bahwa Allah melaknat namishat (wanita yang mencabut rambut alis) dan Mutamishat (wanita yang minta dicabutkan) dan Wasyimat (wanita yag mentato), Ibnu Mas’ud berkata : ya, benar. Aku telah membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir tetapi aku tidak menemukan apa yang kamu katakan. Maka ibnu mas’ud berkata : ‘jika kamu betul-betul membacanya maka kamu akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca : “apa yang disampaikan oleh rasul ambillah dan apa yang dilarang oleh rasul maka tinggalkanlah ” [QS. Al-Hasyr :7], aku telah mendengar rasulullah bersabda : “allah melaknat namishat ” [ HR. Bukhari-Muslim]

    Betapa indahnya kaidah-kaidah ilmiah yang dijabarkan melalui dialog yang lembut tersebut

    Wallahu a’lam

    Sumber “Risalah dakwah al-hujjah”

     
  • erva kurniawan 1:02 am on 9 October 2016 Permalink | Balas  

    Daya Rusak Sebuah Hadits Palsu 

    berhenti-sebarkan-hadith-palsuDaya Rusak Sebuah Hadits Palsu

    Berkata sebagian kaum Muslimin : “Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa ketempat yang sejuk.” Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: “Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat” Benarkah ungkapan ini? benarkah Rasulullah mengucapkan hadits tersebut?

    Apa kata Muhadditsin tentang hadits tersebut??

    Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata: “Hadits tersebut tidak ada asalnya”. [Adh-Dha’ifah :II \ 76-85]

    Imam As-Subki berkata: “Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu).”

    Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: “ini adalah hadits bathil dan kebohongan.” [Ushul Al-Bida’]

    Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama.

    Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits: “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzhab.”

    Bagaimanakah daya rusak hadits palsu tersebut terhadap Islam ??

    1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam

    Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan berkata: “Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing , biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan menuju Allah, janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda: ” perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat.”

    Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman Allah dalam:

    Ø Surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya; “Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.”

    Ø Surat Ar-Rum ayat 31-32: ” Jangan kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

    Ø Surat Hud ayat: 118-119: ” Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.”

    Dan kita diperintah Allah Subhanahuwata’ala untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah Subhhanahu wata’ala dalam surat Al-An’am ayat: 153 yang artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: ” Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

    1. Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi sandaran kebenaran dan hakim

    Syaikh Al-Albani berkata: “Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits.” [Adh-Dha’ifah: I/76]

    Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam ketika mengadu kepada-Nya: “Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [QS. Al-Furqan:30]. Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat.

    1. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang lainnya.

    ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-’Imran ayat:110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

    1. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta.

    Rasulullah bersabda : “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka” [Riwayat Bukhari-Muslim]. Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah, demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan.

    1. Meninggalkan perintah Allah

    Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan oleh dua wahyu, maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman : “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa:59]

    1. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam

    Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya “ushul bida” mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman :”Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” [Al-Anfal: 46]

    . . . . kepada mereka ! ! !

    Tukang mengada-ada

    Simaklah firman Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

    “Seandainya dia [Muhammad] mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami [Allah], niscaya benar-benar Kami pegang ia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya”

    [QS. Al-Haqqah : 44 – 46]

    Mereka. . .!!!

    Tukang mengada-ada atas nama Allah dan Rasul-Nya.Para pembuat hadist palsu yang telah mendahului Allah dalam Syari’at.Para penebar hadist-hadist dusta yang telah mengotori Sunnah yang suci.

    Tidakkah mereka takut akan ayat di atas ? ?

    Mereka bukan Rasul sebagaimana Allah telah mengangkat Muhammad sebagai Rasul. Mereka bukan kekasih Allah sebagaimana Ia telah menjadikan Muhammad sebagai kekasih-Nya. Bukan pula mereka orang-orang yang disucikan oleh Allah sebagaimana Allah telah mensucikan Muhammad dari dosa.

    Sungguh Allah telah mengancam keras Kekasih-Nya dalam ayat tersebut dengan berfirman: “Kami potongan tali urat jantungnya”

    Lalu apakah MEREKA merasa aman ???

    Al-Hafidz Abul Khathab bin Dihyah berkata : “Jagalah dirimu wahai hamba-hamba Allah dari kebohongan orang yang meriwayatkan kepadamu hadist yang dikemukakan untuk memaparakn kebaikan. Sebab melakukan kebaikan harus berdasarkan syari’at dari Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam. Jika ternyata dia bohong maka dia keluar dari yang disyari’atkan dan berkhidmat kepada Syaithan karena dia menggunakan hadist atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berdasarkan keterangan dari Allah.” [Ma jaa fi Syahri Sya’ban, dinukil darinya oleh Abu Syamah dalam “Al-Baits :127”]

    Maraji’:

    Ushul bida’ [Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid]

    Sifatush shalaty An-Naby Shallallahu’alaihi wa sallam [Syaikh Muhammad Nasyaruddin Al-Albani] dan sumber-sumber lainnya

    Sumber: Risalah dakwah al-hujjah

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 8 October 2016 Permalink | Balas  

    Happy Ending 

    mari-berdoaHappy Ending

    Al-Hasyr (59) : 18 – “Hai orang – orang yang beriman , bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“.

    Tidak ada manusia didunia ini yang mengharapkan kesuraman masa depan, semua menginginkan masa depan yang baik, yang ceria, bisa membagakan dan membahagiakan  semua orang. Impian kita melambung jauh tentang harapan atau cita cita yang didambakan.

    Bahkan sejak kecil kita sering ditanya tentang cita cita kita.

    Suram atau ceria semua tergantung dari usaha yang kita lakukan, sebesar apa usaha yang telah kita lakukan, seberapa banyak usaha yang kita perbuat untuk mengejar impian tersebut, semua tergantung pada diri kita sendiri.

    Dua Periode

    Ada dua periode cita-cita yang harus kita jalankan :

    1. Periode Jangka Pendek (short time)
    2. Periode Jangka Panjang (long time)

    Periode Jangka Pendek. Di periode inilah sekarang kita sedang beraktivitas, periode ini berlangsung sampai ajal menjemput kita. Disebut periode jangka pendek karena tempatnya di dunia. (berasal dari kata danna – yadunnu – dunuwwan/dunyaanan, yang berarti ; sebentar, pendek atau sesaat.) .

    Periode Jangka Panjang. Periode inilah satu saat nanti kita akan hadapi, karena ini merupakan periode terakhir yaitu periode akhirat. Disinilah masa depan kita ditentukan, ceria atau suram.

    Dua periode ini saling berkaitan, kesuksesan masa depan di jangka panjang sangat ditentukan bagaimana kita berusaha pada periode di jangka pendek. Bukankah do’a yang sering kita panjatkan selalu menginginkan kesuksesan didunia dan akhirat. Sukses jangka pendek dan jangka panjang.

    Tiga Hal

    Prinsip hidup manusia itu tidak selalu terdaftar dalam keinginan, untuk itulah sangat dibutuhkan simpanan atau tabungan agar masa depan di periode jangka panjang berhasil dengan ceria.

    Ada tiga hal, yang wajib kita punya untuk menggapai masa depan sesuai perintah surat 59:18 tersebut, agar akhir hidup kita nanti bisa happy ending :

    1. Iman ( dipupuk, disiram, dirawat dan dijaga)
    2. Ilmu (untuk keperluan dunia dan akhirat sangat diperlukan ilmu)
    3. Amal / Praktik.

    Kita hidup selalu berhadapan dengan dua periode tersebut, sukses atau tidak, tergantung sejauhmana kita melakukannya.

    Semoga kita bisa happy ending diakhir hayat ini, tentunya dengan berusaha, bekerja, berkarya dengan amal nyata diperiode jangka pendek ini. Insya Allah.

    ***

    Kiriman Sahabat Muhammad Ali

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 7 October 2016 Permalink | Balas  

    Tiga Komponen Gizi 

    itikaf2Tiga Komponen Gizi

    “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (at-Tiin: 4).

    Manusia adalah mahluk yang paling mulia dalam penciptaannya, namun semua manusia ternyata menjadi perugi kecuali orang yang beriman.

    Kehidupan manusia akan menjadi pincang (tidak seimbang) manakala tidak adanya tiga komponen gizi, yang sangat diperlukan dalam menjalani aktivitas sehari hari.

    Tiga kompenen gizi tersebut adalah :

    1. JASAD

    Lemah tidaknya tubuh kita, tergantung sejauhmana supply yang diberikan kedalam jasad kita. Suppy untuk jasad ini adalah makanan, sakit atau tidaknya tubuh tergantung dari apa yang kita makan, untuk itulah sangat diperlukan makanan yang baik lagi halal (5:88). Dan jangan pula memakan secara berlebihan (7:31), karena inilah awal sebuah kepincangan.

    Bahkan Rasul SAW pernah bersabda yang diriwayatkan Abu Dawud, sabda beliau ; “Makanlah selagi lapar dan berhentilah sebelum kenyang’.

    Selain makanan yang diperlukan oleh jasad ini adalah Riyadoh (Berolahraga), bukankah mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada yang lemah. Berolahraga sangat baik untuk menunjang kesehatan badan kita.

    1. AKAL

    Sabda Rasul kepada Ali ra. : “Yang pertama-tama diciptakan oleh Allah adalah akal”.

    Perbedaan manusia dengan hewan terletak pada akal, dengan akal kita bisa membedakan mana yang baik dan buruk.

    Makanan akal ini adalah ilmu pengetahuan, dengan berilmu seseorang mempunyai kekuatan/kelebihan. Karena memang beda orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui. Oleh karena itulah isi akal ini dengan ilmu yang dapat membuat kita bermanfaat buat orang lain. Allah meninggikan derajat dan memuliakan orang yang berilmu. Akal inilah alat untuk berikhtiar dalam segala aspek.

    1. RUHANI

    Dalam buku Tarbiyah Ruhiyah karya DR.Ali Abdul Halim Mahmud, Ruh adalah nama bagi nafsu yang dengannya mengalir kehidupan, gerakan, upaya mencari kebaikan, dan upaya menghindarkan keburukan dari dalam diri manusia.

    “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku “ (Yusuf : 53). Menurut Imam al-Ghazali, Ruh itu berupa eksistensi yang lembut yang sumbernya adalah lubang didalam organ hati.

    Makanan kebutuhan ruhani adalah nilai-nilai yang mendekatkan dengan Allah SWT, seperti wirid, zikir, dll. Pun melaksanakan berbagai kewajiban dengan menghadirkan hati.

    “Ketahuilah sesungguhnya didalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang bila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuhynya, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati/qolbu.” (HR.Tarmidzi,Abu Dawud,an-Nasa’I, dan Ibnu Majah).

    Jasad, akal, dan ruhani saling berkolerasi, tidak bisa terpisahkan dalam tubuh manusia. Apabila satu saja tidak terpenuhi kebutuhan supply makanannya, maka kehidupan manusia akan mengalami kepincangan/tidak seimbang.

     

    Kiriman Sahabat Muhammad Ali

     
    • Toko Herbal Madu Ungaran 11:24 am on 21 Oktober 2016 Permalink

      Masya ALLOH begitu luas ilmu ALLOH dan tidak sepantasnya kita menyombongkan diri dengan apa yang kita miliki. Dan jagalah tubuh ini dengan ketaatan dan menjauhkan diri dari larangan. Hidupkan lah Sunnah cintai dan amalkan insya ALLOH hidup sehat akan didapatkan

  • erva kurniawan 1:23 am on 6 October 2016 Permalink | Balas  

    Putri Qara 

    siluet-masjid-nabawiPutri Qara

    Diceritakan bahwa Putri Qara adalah istri saudagar kaya Amenhotep, berasal dari keluarga sederhana, tapi pintar, bijaksana dan berbudi pekerti yang baik. Karena ia berasal dari keluarga yang lebih miskin dibanding dengan suaminya, ia sering diperlakukan dengan tidak selayaknya, sampai suatu hari ia dan suaminya pergi ke desa nelayan dan melihat ada seorang nelayan yang miskin dan istrinya. Nelayan tersebut sangat miskin dan bahkan untuk membeli jala yang baru untuk mengganti jalanya yang robek pun ia tidak mampu. Istri nelayan tersebut adalah orang yang pemboros, malas dan suka berjudi, seluruh penghasilan suaminya digunakannya untuk berfoya-foya.

    Melihat kenyataan seperti itu, Putri Qara berkata kepada suaminya, bahwa seharusnya istri nelayan tersebut membantu memperbaiki jala suaminya.

    Amenhotep, menentang pendapat istrinya, mereka berdebat, sehingga Amenhotep marah dan kemudian memanggil nelayan miskin tersebut.

    Amenhotep menukarkan Putri Qara dengan istri nelayan tersebut.

    Putri Qara sedih karena terhina, suaminya memperlakukan seolah-olah dia adalah barang yang bisa dipertukarkan semaunya. Sang nelayan tertegun dan tidak berani membantah, karena Amenhotep terkenal kejam dan sadis karena kekayaannya.

    Putri Qara rajin membantu suaminya yang baru dalam bekerja. Karena kepandaian dan kebijaksanaan Putri Qara, lambat laun sang nelayan menjadi kaya. Sampai suatu ketika ada seorang tua dengan baju compang-camping dan tidak terurus datang ke rumah Putri Qara, pelayan dirumah tersebut mengenalinya sebagai Amenhotep. Amenhotep kemudian melepas terompahnya dan meletakkan di meja kecil di sudut rumah Putri Qara. Oleh pelayan, terompah tersebut diberikan pada Putri Qara dan menceritakan kondisi pemiliknya, sang Putri mengenali terompah tersebut dan memerintahkan pelayannya untuk memberikan pada Amenhotep baju baru, terompah baru dan 3 keping uang emas ditambah pesan : aku tidak diwarisi kekayaan tetapi budi pekerti, kebijaksanaa dan kemauan untuk bekerja.

    Amenhotep menerima pemberian itu dengan penyesalan akan tindakannya di masa lalu, karena egonya dia menukar istrinya yang baik dan bijaksana dengan seorang wanita yang hanya bisa menghamburkan harta suaminya.

    Cerita tersebut sederhana, tapi menyentuh karena ternyata begitu besar pengaruh seorang istri untuk suaminya.

    Oleh karenanya, hai wanita dampingi dan dukunglah pria dengan bijaksana, dan hai pria perlakukanlah wanita dengan penuh kasih, karena pada setiap pria yang sukses pasti terdapat seorang wanita yang mendukungnya dengan bijaksana.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
    • seputarpesantren 11:34 am on 9 Oktober 2016 Permalink

      Selamat mencari atau menjadi istri yg baik

  • erva kurniawan 1:40 am on 5 October 2016 Permalink | Balas  

    Bersyukur: Fakta Tentang Nikmat Atas Manusia 

    syukurBersyukur: Fakta Tentang Nikmat Atas Manusia

    Inilah fakta tentang nikmat yang dikaruniakan Allah SWT:

    “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS-14:7)

    “Menambah” berarti memberi sesuatu yang baru kepada sesuatu yang lain yang serupa dan sudah lebih dahulu ada.

    Bersyukur = Nikmat + Nikmat

    “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS-14:34)

    Bersyukur = Nikmat+Nikmat

    Bersyukur+Bersyukur = Nikmat+Nikmat+Nikmat

    Bersyukur+Bersyukur+Bersyukur = Nikmat+Nikmat+Nikmat+Nikmat

    Bersyukur+Bersyukur+Bersyukur+Bersyukur = Nikmat+Nikmat+Nikmat+Nikmat+Nikmat

    n = n + 1 ?

    Subhanallah! Ilmu matematika pun tidak bisa menghitungnya!

    Dan jika manusia tidak bersyukur, nikmat itu tidak hilang karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang:

    Bersyukur = Nikmat + Nikmat

    0 = 1 + 0 ?

    Subhanallah! Bahkan ilmu matematika sekalipun memang tidak bisa menghitungnya!

    Seseorang yang memiliki pengetahuan matematika akan mengatakan bahwa persamaan di atas adalah salah. Semestinya, jika kita menambahkan “bersyukur” di sisi kiri, maka akan ada “bersyukur” lain yang juga ditambahkan di sisi kanan. Itu benar secara matematis, tapi begitulah manusia, manusia dengan matematikanya:

    “Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”

    … jika manusia “bersyukur”, niscaya “nikmat”-lah yang akan bertambah. Itulah yang sesungguhnya.

    ***

    Maroji: Abdullah FS

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 4 October 2016 Permalink | Balas  

    Simpanan Bagi Hasil Di Bank 

    ribaSimpanan Bagi Hasil Di Bank

    Oleh: Mike Rini, dikutip dari Danareksa.com

    Apakah Anda termasuk orang yang percaya bahwa uang bisa didapat dengan sekejap mata tanpa usaha yang berarti ? Saya tidak. Saya orang yang tidak pernah percaya bahwa uang bisa didapat dengan sekejap mata. Tapi keyakinan saya tersebut ternyata bisa dipatahkan, tepatnya tahun 1998 jamannya masih krisis moneter. Saya tidak akan pernah lupa hari-hari dimana saya bisa mendapatkan uang dengan begitu mudahnya, bahkan tanpa usaha yang berarti sama sekali. Yang saya lakukan saat itu hanya mendepositokan uang saya di sebuah bank. Bayangkan dari uang sebesar Rp 100 juta yang saya depositokan, sim salabim ! satu bulan kemudian berubah menjadi Rp 140 juta !

    Jadi timbul pertanyaan, apa yang dilakukan bank tersebut sehingga bisa sebegitu hebatnya membayar bunga deposito sebesar itu. Saya tidak penah tahu kemana uang yang saya simpan dibank tersebut diinvestasikan, namun tidak lama setelahnya jawabannya datang dengan berita likuidasi bank-bank. Termasuk bank saya, hanya saja depositonya sudah saya cairkan dahulu, dan untuk kedua kalinya saya lagi-lagi beruntung. Beberapa teman-temannya yang dananya nyangkut di bank tersebut, harus menunggu berhari-hari dan mengantri dalam antrian yang sangat panjang untuk bisa mengambil dana mereka kembali. Bank-lah pihak yang paling merugi, bukan saja merugi tapi bangkrut total sampai harus ditutup. Kewajiban pembayaran bunga yang luar biasa ekstrim saat itu telah menamatkan riwayat bank tempat saya menabung bertahun-tahun.

    Bayangkan jika Anda yang berada di posisi penghutang seperti kasus bank tadi (dan seringnya memang begitu bukan ?). Kewajiban cicilan kredit rumah, kredit mobil atau kartu kredit yang tiba-tiba membengkak karena bunganya meroket dan semakin parah jika Anda terlambat membayar, bisa membuat Anda bangkrut. Begitulah keajaiban dari sistem bunga berbunga, bisa sangat menguntungkan di satu pihak namun merugikan pihak lain.

    Kenyataan ini telah membuktikan bahwa kelangsungan hidup bank konvensional selalu terganggu oleh gejolak suku bunga. Dari sinilah muncul kebutuhan akan adanya suatu sistem perbankan yang tidak berbasis bunga. Menjawab kebutuhan itu sistem perbankan syariah yang berbasis bagi hasil, konon lebih tangguh dari sistem perbankan konvensional. Namun jika dilihat dari kacamata kita sebagai nasabah, apakah menguntungkan jika kita menyimpan uang di bank syariah ? Setelah sekian lama terbiasa dengan sistem bunga bank konvensional, bisakah sistem bank syariah memberikan keuntungan yang lebih besar kepada nasabahnya ? “Tak kenal maka tak sayang”, bagi kita yang sudah terbiasa dengan sistem bunga pada bank konvensional, mungkin merasa ragu-ragu dengan sistem bagi hasil bank syariah. Namun terlepas dari berbagai keraguan tadi, alangkah baiknya kita menuntaskan rasa penasaran kita dengan mempelajari produk-produk simpanan di bank syariah.

    Perbedaan Bank Konvensional Dengan Bank Syariah

    Bank syariah adalah bank yang beroperasi berdasarkan syariah atau prinsip agama Islam. Sesuai dengan prinsip Islam yang melarang sistem bunga atau riba yang memberatkan, maka bank syariah beroperasi berdasarkan kemitraan pada semua aktivitas bisnis atas dasar kesetaraan dan keadilan. Perbedaan yang mendasar antara bank syariah dengan bank konvensional, antara lain :

    Perbedaan Falsafah

    Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank kovensional justru kebalikannya. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Dengan demikian sebenarnya semua jenis transaksi perniagaan melalu bank syariah diperbolehkan asalkan tidak mengandung unsur bunga (riba). Riba secara sederhana berarti sistem bunga berbunga atau compound interest dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya kewajiban salah satu pihak seperti efek bola salju pada cerita di awal artikel ini. Sangat menguntungkan saya tapi berakibat fatal untuk banknya. Riba, sangat berpotensi untuk mengakibatkan keuntungan besar disuatu pihak namun kerugian besar dipihak lain, atau malah ke dua-duanya.

    Konsep Pengelolaan Dana Nasabah

    Dalam sistem bank syariah dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan maupun investasi. Cara titipan dan investasi jelas berbeda dengan deposito pada bank konvensional dimana deposito merupakan upaya mem- bungakan uang. Konsep dana titipan berarti kapan saja si nasabah membutuhkan, maka bank syariah harus dapat memenuhinya, akibatnya dana titipan menjadi sangat likuid. Likuiditas yang tinggi inilah membuat dana titipan kurang memenuhi syarat suatu investasi yang membutuhkan pengendapan dana. Karena pengendapan dananya tidak lama alias cuma titipan maka bank boleh saja tidak memberikan imbal hasil. Sedangkan jika dana nasabah tersebut diinvestasikan, maka karena konsep investasi adalah usaha yang menanggung risiko, artinya setiap kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari usaha yang dilaksanakan, didalamnya terdapat pula risiko untuk menerima kerugian, maka antara nasabah dan banknya sama-sama saling berbagi baik keuntungan maupun risiko.

    Sesuai dengan fungsi bank sebagai intermediary yaitu lembaga keuangan penyalur dana nasabah penyimpan kepada nasabah peminjam, dana nasabah yang terkumpul dengan cara titipan atau investasi tadi kemudian, dimanfaatkan atau disalurkan ke dalam traksaksi perniagaan yang diperbolehkan pada sistem syariah. Hasil keuntungan dari pemanfaatan dana nasabah yang disalurkan ke dalam berbagai usaha itulah yang akan dibagikan kepada nasabah. Hasil usaha semakin tingi maka semakin besar pula keuntungan yang dibagikan bank kepada dan nasabahnya. Namun jika keuntungannya kecil otomatis semakin kecil pula keuntungan yang dibagikan bank kepada nasabahnya. Jadi konsep bagi hasil hanya bisa berjalan jika dana nasabah di bank di investasikan terlebih dahulu kedalam usaha, barulah keuntungan usahanya dibagikan. Berbeda dengan simpanan nasabah di bank konvensional, tidak peduli apakah simpanan tersebut di salurkan ke dalam usaha atau tidak, bank tetap wajib membayar bunganya.

    Dengan demikian sistem bagi hasil membuat besar kecilnya keuntungan yang diterima nasabah mengikuti besar kecilnya keuntungan bank syariah. Semakin besar keuntungan bank syariah semakin besar pula keuntungan nasabahnya. Berbeda dengan bank konvensional, keuntungan banknya tidak dibagikan kepada nasabahnya. Tidak peduli berapapun jumlah keuntungan bank konvesional, nasabah hanya dibayar sejumlah prosentase dari dana yang disimpannya saja.

    Kewajiban Mengelola Zakat

    Bank syariah diwajibkan menjadi pengelola zakat yaitu dalam arti wajib membayar zakat, menghimpun, mengadministrasikannya dan mendistribusikannya. Hal ini merupakan fungsi dan peran yang melekat pada bank syariah untuk memobilisasi dana-dana sosial (zakat. Infak, sedekah)

    Struktur Organisasi

    Di dalam struktur organisasi suatu bank syariah diharuskan adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS). DPS bertugas mengawasi segala aktifitas bank agar selalu sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. DPS ini dibawahi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Berdasarkan laporan dari DPS pada masing-masing lembaga keuangan syariah, DSN dapat memberikan teguran jika lembaga yang bersangkutan menyimpang. DSN juga dapat mengajukan rekomendasi kepada lembaga yang memiliki otoritas seperti Bank Indonesia dan Departemen Keuangan untuk memberikan sangsi.

    Bagaimana Kita Menyimpan Uang Di Bank Syariah

    Sebelumnya kita sudah sangat mengenal tabungan, giro dan deposito dari bank konvensional. Pada ke tiga produk bank ini maka setiap bulanya bank berjanji akan membayar sejumlah bunga. Di bank syariah juga mempunyai produk simpanan berupa tabungan, giro dan deposito hanya sebagai nasabah kita tidak menerima pembayaran bunga. Di bank syarah ada 2 cara yang bisa dipilih orang untuk menyimpan uangnya,yaitu :

    Titipan / Wadiah

    Menitip adalah memberikan kekuasaan kepada orang lain untuk menjaga hartanya/ barangnya. Dengan demikian cara titipan melibatkan adanya orang yang menitipkan (nasabah), pihak yang dititipi (bank syariah), barang yang dititipkan (dana nasabah). Menitipkan sebenarnya bukan usaha perniagaan yang lazim, kecuali penerima titipan menetapkan keharusan membayar biaya penitipan atau administrasi bagi penitip. Maka Titipan bisa memenuhi syarat perniagaan yang lazim. Artinya bank harus menjaga dan bertanggung jawab terhadap barang yang dititipkan karena sudah dibayar biaya administrasinya. Rekening giro di bank syariah dikelola dengan sistem titipan sehingga biasa dikenal dengan Giro Wadiah, karena pada dasarnya rekening giro adalah dana masyarakat di bank untuk tujuan pembayaran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat. Artinya giro hanyalah merupakan dana titipan nasabah, bukan dana yang diinvestasikan. Namun dana nasabah pada giro bisa dimanfaatkan oleh bank selama masih mengendap, tetapi kapanpun nasabah ingin menariknya bank wajib membayarnya. Sebagai imbalan dari titipan yang dimanfaatkan oleh bank syariah, nasabah dapat menerima imbal jasa berupa bonus. Namun bonus ini tidak diperjanjikan di depan melainkan tergantung dari kebijakan bank yang dikaitkan dengan pendapatn bank. Rekening tabungan harian yang memberlakukan ketentuan dapat ditarik setiap saat juga dikelola dengan cara titipan, karena sifatnya mirip dengan giro hanya berbeda mekanisme penarikannya.

    Investasi / Mudharabah

    adalah suatu bentuk perniagaan dimana pemilik modal (nasabah) menyetorkan modalnya kepada pengelola (bank) untuk diusahakan dengan keuntungan akan dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan dari kedua belah pihak. Sedangkan kerugian, jika ada akan ditanggung oleh si pemilik modal. Dengan demikian cara investasi melibatkan pemilik modal (nasabah), pengelola modal (bank), modal (dana) harus jelas berapa jumlahnya, jangka waktu pengelolaan modal, jenis pekerjaan atau proyek yang di biayai, porsi bagi hasil keuntungan. Deposito di bank syariah dikelola dengan cara investasi atau mudarobah, sehingga biasa dikenal dengan Deposito Mudharabah. Bank Syariah tidak membayar bunga deposito kepada deposan tetapi membayar bagi hasil keuntungan yang ditetapkan dengan nisbah. Beberapa jenis tabungan berjangka juga dikelola dengan cara mudharobah misalnya tabungan pendidikan dan tabungan hari tua, tabungan haji, tabungan berjangka ini biasa dikenal istilah Tabungan Pendidikan Mudharabah, Tabungan Haji. Tabungan-tabungan tersebut tidak dapat ditarik oleh pemilik dana sebelum jatuh tempo sehingga memenuhi syarat untuk diinvestasikan

    Bagaimana Nasabah Mendapat Keuntungan

    Jika bank konvensional membayar bunga kepada nasabahnya, maka bank syariah membayar bagi hasil keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Kesepakatan bagi hasil ini ditetapkan dengan suatu angka ratio bagi hasil atau nisbah. Nisbah antara bank dengan nasabahnya ditentukan di awal, misalnya ditentukan porsi masing-masing pihak 60:40, yang berarti atas hasil usaha yang diperolah akan didisitribusikan sebesar 60% bagi nasabah dan 40% bagi bank. Angka nisbah ini dengan mudah Anda dapatkan informasinya dengan bertanya ke customer service atau datang langsung dan melihat papan display ” Perhitugan dan Distribusi Bagi Hasil” yang ada di cabang bank syariah.

    Apakah Simpanan Nasabah di Bank Syariah Dijamin Pemerintah Dalam hal jaminan pemerintak terhadap dana pihak ke tiga di bank, maka bank syariah mempunyai kedudukan yang sama sama dengan bank konvensional. Dana nasabah di bank syariah tetap dijamin pemerintah sesuai dengan ketentuan jaminan pemerintah bagi dana nasabah di bank.

    Salam Mike Rini Perencana Keuangan

     
    • MATRAS MOBIL 10:29 am on 8 Oktober 2016 Permalink

      harus bertanya pada yang ahli dalam hal ini mengenai riba.. thanks artikelnya..

    • seputarpesantren 7:30 pm on 12 Oktober 2016 Permalink

      Selamat berekonomi syariah

  • erva kurniawan 1:21 am on 3 October 2016 Permalink | Balas  

    Pohon Tua 

    menanam-pohonPohon Tua

    Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang.

    Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

    Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

    Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu.

    Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. “Pohon yang sangat berguna,” begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.

    Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan.

    Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya.

    Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

    Sang pohon pun bersedih. “Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?” begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. “Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?” Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.

    Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.

    “Cittt…cericirit…cittt” Ah suara apa itu?

    Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.

    “Cittt…cericirit…cittt,” suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu… dua… tiga… dan empat anak burung lahir ke dunia. “Ah, doaku di jawab-Nya,” begitu seru sang pohon.

    Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana.

    Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. “Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini”, gumam sang pohon dengan berbinar.

    Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya.

    Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

    ***

    Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita.

    Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

    Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati.

    Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

    Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 2 October 2016 Permalink | Balas  

    Telaga hati 

    kayu tumbang di telaga warnaTelaga hati

    Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

    “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak tua itu.

    “Asin. Asin sekali,” jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

    Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau.

    Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu.

    “Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.”

    Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, “Bagaimana rasanya?”

    “Segar,” sahut sang pemuda.

    “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” tanya Beliau lagi.

    “Tidak,” jawab si anak muda.

    Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

    Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan.

    Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

    Beliau melanjutkan nasehatnya.

    “Hatimu adalah wadah itu.

    Perasaanmu adalah tempat itu.

    Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.

    Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 1 October 2016 Permalink | Balas  

    Kewajiban Mengeluarkan Zakat 

    zakatKewajiban Mengeluarkan Zakat

    (Disarikan oleh Ikhwan Abidin dari Kitab az-Zakat karangan Dr. Yusuf al-Qorodhowi)

    Para ulama telah sepakat bahwa zakat wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim, yang merdeka, akil balig dan hartanya telah mencapai nisab.

    Dengan kata lain syarat-syarat orang yang mengeluarkan zakat antara lain :

    • Merdeka (bukan budak).
    • Akil dan Balig.
    • Harta yang dizakati itu sudah mencapai nisab.
    • Melewati masa setahun (haul)

    Mereka juga telah bersepakat bahwa zakat tidak diwajibkan kepada orang-orang non-Muslim, karena kewajiban ini merupakan cabang sekaligus rukun Islam sedangkan diri mereka berada di luar wilayah Islam, maka mereka tidak terkena beban kewajiban ini.

    Jika zakat tidak diwajibkan kepada orang-orang non-Muslim, maka ia juga tidak sah dilakukan oleh mereka sebagai suatu bentuk ibadah yang dapat mendatangkan pahala dari Allah karena hilangnya syarat yang pertama untuk diterima oleh Allah yaitu Islam.

    Allah berfirman  dalam al-Qur’an S. al-Furqon : 23

    “Dan Kami hadapi segala amal (kebajikan) yang telah mereka perbuat, lalu Kami jadikan amal-amal (kebajikan) itu (seperti) debu yang diterbangkan.” 

    Kenapa Zakat tidak diwajibkan kepada orang-orang non-Islam ?

    Untuk menjawab pertanyaan ini perlu kiranya memahami dua hakekat berikut ini.

    1-    Sesungguhnya zakat adalah kewajiban sosial dan suatu kewajiban pada harta  yang harus ditunaikan untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Ia juga merupakan bentuk pajak yang diwajibkan oleh Allah kepada orang-orang yang mampu untuk diberikan kepada orang-orang miskin.

    2-    Hakekat zakat adalah salah satu bentuk ibadah dalam Islam dan salah satu dari lima rukun Islam. Keadaannya sama persis dengan kalimat syahadat, mendirikan sholat, berpuasa di bulan Romadhon dan haji ke Baitullah.

    Hakekat kedua ini didominasi oleh warna dan celupan agama yang sangat kental sehingga menjadikannya salah satu bentuk ritual Islam yang terbesar di mana tidak diperbolehkan melaksanakannya melainkan orang-orang yang sudah masuk Islam saja.

    Harta-harta yang Wajib Dizakati

    Al-Qur’an tidak menetapkan secara rinci harta-harta yang wajib dizakati, bagaimana syarat-syaratnya dan kadar zakatnya. Al-Qur’an hanya menyebutkannya secara global seperti emas, perak[1], tanaman dan buah-buahan[2], usaha[3], yang diambil dari bumi seperti tambang[4] dan lain-lain. Penjelasan secara rinci diberikan oleh as-Sunnah yang merupakan sumber tasyri’ kedua dalam ajaran Islam.

    Perlu kiranya ditegaskan di sini bahwa yang dimaksud dengan harta yang dikenai kewajiban zakat adalah harta konkrit atau substansi, bukan manfaat yang dimiliki oleh substansi itu.

    Syarat-syarat harta yang dizakati

    Jika  segala sesuatu yang dimiliki manusia dan mempunyai “nilai” disebut harta, maka apakah semua harta harus dizakati berapapun jumlahnya ? Sesungguhnya Islam datang dengan membawa keadilan dan kemudahan, karena itu kewajiban zakat tidak mungkin ditetapkan dengan mengenyampingkan prinsip keadilan dan kemudahan.  Harta yang wajib dizakati memiliki sejumlah syarat yang akan dijelaskan secara rinci di bawah ini.

    1. Kepemilikan yang sempurna.

    Sebenarnya harta itu adalah milik Allah, Dialah penciptanya dan Pemberinya[5] kepada sekalian manusia. Meskipun demikian Allah yang Maha Mulia menyandarkan kepemilikan harta kepada manusia sebagai penghormatan kepada hambaNya, keutamaan dari padaNya dan ujian terhadap mereka apakah mereka mau bersyukur atau kufur.[6]

    Maksud kepemilikan yang sempurna di sini adalah “kekuasaan atau legalitas yang dapat memberikan hak kepada yang memilikinya untuk menggunakan barang itu dan memanfaatkan semua kegunaan yang dapat diperoleh dari padanya secara terus menerus dan terbatas hanya kepadanya”.

    Dengan perkataan lain kesempurnaan kepemilikan mensyaratkan harta tersebut dimiliki  dan dikuasai oleh pemiliknya, tidak berkaitan dengan selain pemiliknya, dapat dipergunakan sekehendaknya dan segala manfaatnya dapat dinikmatinya.

    1. Tumbuh atau berkembang

    Harta yang dizakati harus dapat tumbuh dan berkembang atau berpotensi untuk tumbuh dan berkembang. Dalam bahasa ekonominya harta itu harus dapat menghasilkan keuntungan (profit), pendapatan (income) dan economic rent jika disewakan. Dengan mengacu kepada syarat ini maka harta yang sifatnya tidak dapat tumbuh atau berkembang dikecualikan dari kewajiban zakat seperti rumah dengan segala perabotnya, alat-alat kerajinan, kendaraan dan lain-lain.

    Mengingat bahwa illat (alasan) harta yang harus dizakati itu terletak pada kemampuannya untuk dapat tumbuh dan berkembang, maka semua harta yang memiliki sifat demikian terkena kewajiban zakat sekalipun tidak ditetapkan oleh Rasululah SAW tetapi tetap terkena keumuman ayat-ayat al-Qur’an.

    Sebagian fukoha terutama dhohiriyah berpendapat bahwa harta yang harus dizakati itu hanya yang telah ditetapkan secara rinci oleh Rasulullah SAW yaitu sapi, unta, kambing, gandum, sya’ir[7], kurma, anggur, emas dan perak. Di luar dari itu, menurut golongan ini,  tidak dikenakan kewajiban zakat.

    Sebagian fukoha lainnya terutama Hanafiyah meluaskan wilayah kewajiban zakat hingga meliputi semua harta yang tumbuh atau berkembang. Abu Hanifah mewajibkan zakat pada setiap yang dikeluarkan  oleh perut bumi yang maksud penanamannya untuk menghasilkan pendapatan dan bahkan ia tidak mensyaratkan nisab.[8]

    Alasan-alasan kewajiban zakat lebih dari delapan jenis barang seperti yang disebutkan oleh hadis-hadis.

    • Keumuman ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi SAW bahwa dalam setiap harta terdapat kewajiban yang harus ditunaikan yaitu zakat tanpa merinci lebih lanjut jenis-jenis harta, lihat ad-Dzariyat : 19; at-Taubah : 103.
    • Setiap orang kaya perlu membersihkan dan mensucikan dirinya dari penyakit-penyakit bakhil, kikir dan egoisme dengan cara mengeluarkan sebagian hartanya berupa zakat. Orang kaya di sini tidak terbatas pada mereka yang memiliki kekayaan berupa unta, sapi, kambing, kurma, gandum, anggur, emas dan perak saja; tetapi siapa saja yang kaya, tanpa memandang jenis harta yang menyusun kekayaannya itu. Adalah tidak masuk akal bahwa mereka yang harus mensucikan jiwanya dari penyakit-penyakit kotor itu hanya terbatas pada mereka yang memiliki kekayaan dari delapan jenis kekayaan itu saja. Sementara yang memiliki kekayaan selain dari itu tidak diperlukan untuk mencsucikan dirinya.
    • Setiap harta perlu disucikan karena ada kemungkinan terkontaminasi oleh unsur-unsur syubhat atau haram sewaktu diusahakan atau diperoleh. Pensucian ini dilakukan lewat zakat sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar :

    “Sesungguhnya Allah mewajibkan zakat sebagai pencuci bagi harta”. Al-Hadis.

    Tidaklah masuk akal bahwa pensucian ini terbatas pada delapan jenis harta   yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW.

    • Pembagian harta zakat kepada delapan golongan tidak mungkin hanya menjadi kewajiban orang-orang kaya yang memiliki kekayaan dari delapan jenis harta tersebut. Sementara itu syariah membiarkan dan tidak mewajibkan kepada pemilik ribuan hektar perkebunan, pemilik pabrik besar, pemilik real estate, kaum profesional yang kadang-kadang dalam sehari penghasilan mereka lebih banyak dari pada petani setahun. Jika kewajiban mengeluarkan zakat hanya pada pemilik delapan jenis harta ini, lalu di manakah keadilan Islam ?
    • Benar bahwa tidak ada qiyas dalam ibadah, tetapi zakat itu tidak ibadah murni. Ia memiliki sifat muamalah dan ia adalah bagian dari sistem keuangan publik Islam. Karena itu qiyas yang benar dapat diterapkan pada zakat.
    • Harta yang dimiliki oleh kaum Muslimin memang harus dihormati tetapi dalam harta itu ada juga hak Allah dan hak sosial yaitu mereka yang membutuhkan seperti kaum fakir dan miskin. Hak ini secara tegas dinyatakan oleh Allah, karena itu tidak boleh diabaikan.
    1. Mencapai Nisab

    Islam tidak mewajibkan zakat pada harta benda dengan mengabaikan banyaknya atau jumlahnya, tetapi mensyaratkan harta itu mencapai ukuran tertentu yang disebut nisab untuk dapat dikenakan kewajiban mengeluarkan zakat. Jadi nisab adalah batasan minimal dari harta untuk dikenakan zakat atasnya. Misalnya unta 5 dan  kambing 40, perak 200 dirham dan hasil-hasil pertanian seperti biji-bijian dan buah-buahan 5 wasaq. Kalau jumlahnya di bawah itu, tidak dikenai kewajiban zakat.

    Hikmah nisab sebagai syarat mengeluarkan zakat adalah bahwa zakat merupakan suatu bentuk pajak yang diambil dari golongan kaya untuk diberikan kepada golongan miskin sebagai suatu bentuk pertolongan. Jika zakat diwajibkan kepada semua orang termasuk orang miskin – karena meniadakan persyaratan nisab – maka di sini  tidak ada arti pertolongan.

    Karena itulah Rasulullah SAW bersabda :

    “Tidak ada kewajiban zakat melainkan di atas nisab (keperluan)”

    1. Kelebihan di atas kebutuhan pokok (primer)

    Syarat ini sebenarnya ikutan dari syarat ketiga atau nisab. Ini bermakna bahwa jumlah harta yang mencapai nisab tersebut sudah di luar dari kebutuhan pokok orang yang akan mengeluarkan zakat.

    Dalam bahasa ekonomi harta yang dizakati itu telah dikurangi pengeluaran untuk konsumsi seperti makan, minum, pakaian, pengeluaran rutin untuk BBM, listrik, air, perabot rumah, nafkah untuk mereka yang tertanggung seperti anak, orang-orang tua, pembantu, buku dan sejenisnya.

    Persyaratan ini penting karena dengan begitu akan terwujud arti kaya dan kenikmatan  serta terealisasikan pelaksaanaan zakat dengan hati yang tulus dan rela.

    Dalil syarat ini antara lain diambil dari ayat al-Qur’an dan beberapa hadis Nabi.

    “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad tentang) apa yang (harus) mereka infakkan (zakatkan). Katakanlah (yang wajib dizakatkan itu) adalah kelebihan (dari kebutuhan).Al-baqoroh : 219.

    “Tidak ada (kewajiban) berzakat kecuali bagi harta yang melebihi nisab”. H. R. Bukhori secara muallaq.

    1. Bebas dari beban utang.

    Harta yang sudah dikurangi kebutuhan pokok dan pengeluaran rutin masih perlu diperiksa lagi sebelum dizakati. Pemeriksaan atau perhitungan ini untuk memastikan apakah harta itu sudah bersih (netto) atau masih kotor (bruto). Dalam perhitungan zakat, utang masih menjadi item yang mesti dikurangkan dari harta bersih.

    Jika si pemilik yang akan mengeluarkan zakat itu masih memiliki beban utang yang jumlahnya sama dengan nisabnya atau mengurangi jumlah nisabnya, maka ia belum terkena kewajiban untuk mengeluarkan zakat. Ia lebih wajib untuk melunasi utang-utangnya dari pada mengeluarkan zakat.

    “Barang siapa yang memiliki beban utang hendaklah melunasi utangnya dan membayar zakat dari sisa hartanya”. H. R Malik dalam Muwattho’

    1. Berlalunya masa setahun (haul)

    Pengertian haul di sini adalah bahwa harta yang ada di tangan si pemilik harus melalui masa dua belas bulan qomariyah. Namun syarat ini hanya berlaku bagi zakat dari binatang ternak, uang dan barang-barang perniagaan atau dalam bahasa ekonominya barang-barang modal.

    Adapun zakat dari tanaman, buah-buahan, madu dan barang tambang, yang dalam bahasa ekonominya di sebut zakat pendapatan dan profesi (income atau profession) tidak ada persyaratan harus berlalu masa setahun.

    Ibnu Rusyd mengatakan dalam bukunya Bidayatul Mujtahid vol 2, hal. 261-262:”Jumhur fukoha mensyaratkan kewajiban zakat pada emas, perak dan ternak dengan haul karena hal demikian telah dipraktekkan oleh para kholifah yang empat, karena sudah tersiar di kalangan para sahabat dan dipraktekkan di kalangan mereka, dan karena keyakinan mereka bahwa praktek yang sudah tersebar dan tidak ada yang khilaf ini tidak mungkin terjadi melainkan memang telah ditetapkan oleh Nabi”.

    ***

    [1] Lihat, at-Taubah : 34.

    [2] Lihat al-An’am : 141.

    [3] Lihat, al-Baqoroh : 276.

    [4] Idem.

    [5] Allah mengingatkan hakekat ini agar manusia tidak tertipu oleh status kepemilikan yang mereka nikmati di dunia. Berbagai gaya bahasa dipakai oleh Allah dalam al-Qur’an untuk menegaskan bahwa pemilik segala harta benda itu sebenarnya Allah SWT lihat, misalnya, S. An-Nur : 33; al-Baqoroh : 254; Al Imron : 180. Status kepemilikan manusia terhadap harta hanyalah sebagai wakil atau orang yang diberi amanah, lihat al-Hadid : 7.

    [6] Banyak ayat al-Qur’an yang menyandarkan kepemilikan harta kepada manusia misalnya dalam S. al-Munafiqun : 9; at-Taghobun : 15; al-Humazah : 3 dan lain-lain. Bahkan karena sifat kelembutan dan kemuliaan Allah terhadap hambaNya sampai-sampai Ia menggunakan kata-kata “meminjam” dan “membeli” dari harta dan jiwa hambaNya padahal itu semua milikNya, lihat al-Baqoroh : 245; al-Hadid : 11; at-Taubah : 111 dan lain-lain.

    [7] Sejenis gandum.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 30 September 2016 Permalink | Balas  

    Bapak… aku ingin sekolah 

    anak_dhuafaBapak, Aku Ingin Sekolah

    Segelas air putih terletak di meja kayu. Lelaki itu mengangkatnya untuk terakhir kali. Diteguk habis. Sejak kemarin siang belum ada satu butir nasipun yang singgah di perutnya. Hanya air putih. Itupun hanya air sumur di belakang. Kata orang air itu kotor. Tidak layak untuk diminum.

    Tapi apakah orang masih bisa berpikir kesehatan, higienis atau tidak, ketika tidak ada lagi pilihan? Tadi pagi dia hanya memanasi air itu dengan alat pemanas kecil yang diperolehnya beberapa waktu lalu dari seseorang.

    Dipandangnya gelas kosong. Baginya hanya minum air masih bisa bertahan.

    Bagaimana dengan dua anak dan istrinya? Dihela nafas panjang. Sejak kemarin persediaan beras sudah habis. Mau hutang pada tetangga sudah tidak mungkin lagi. Sudah banyak tetangga yang dimintai tolong untuk meminjaminya uang atau beras. Satupun belum ada yang dia bayar. Dia malu bila harus datang lagi ke salah satu dari mereka untuk meminjam uang atau beras.

    Lelaki itu berjalan keluar. Berdiri diambang pintu rumah kontrakkan.

    Sebuah pintu yang sempit dari sebuah kamar ukuran 3X4. Inilah rumahnya.

    Satu dari sekian deretan rumah petak. Dilihatnya beberapa anak bersiap-siap berangkat ke sekolah. Maria, anaknya yang tertua masih duduk di kelas II SD. Dia baru selesai mandi di kamar mandi umum.

    Sebentar lagi dia akan berangkat ke sekolah juga. Lelaki itu menghela nafas kembali. Apakah Maria akan bolos sekolah lagi? Keluh hatinya.

    Kemarin Maria sudah bolos 3 hari. Bukan karena sakit atau malas, melainkan tidak ada uang saku untuk naik angkot. Sekali jalan dia harus bayar Rp 1000.

    Kalau pergi pulang sudah Rp 2000. Darimana dia dapat uang Rp 2000?

    Sekolah Maria cukup jauh. Dulu dia sengaja menyekolahkan Maria di sekolah ini, sebab dia ingin anaknya memperoleh pendidikan yang bermutu. Ketika masih bekerja semua bisa diatasi. Setelah tidak bekerja dia sudah dua kali memohon keringanan dari kepala sekolah, sekarang Maria tinggal membayar separo dari uang sekolahnya semula. Namun ini masih sangat terasa berat sekali. Sekarang sudah 2 bulan Maria belum membayar uang sekolah.

    Pernah dia meminta bantuan pada seseorang ternyata tidak diberi, melainkan mendapatkan jawaban yang sangat menyakitkan hati. Dengan angkuh dia mengatakan kalau memang tidak mempunyai uang mengapa disekolahkan disana?

    Siapakah yang tahu bahwa dia akan ter PHK? Siapakah yang tidak ingin menyekolahkan anaknya di tempatnya. Sekali lagi lelaki itu menghembuskan nafas kesal. Dia kesal pada diri sendiri.

    Mengapa tidak bisa menemukan pekerjaan? Sudah hampir 6 bulan dia menganggur. Semula dia bekerja di sebuah perusahaan yang cukup baik. Tapi karena pemimpinnya korupsi, maka perusahaan menjadi bangkrut. Semua karyawan di PHK tanpa pesangon. Mau menuntut pada pemilik perusahaan tampaknya tidak mungkin sebab dia sekarang masuk dalam penjara. Hartanya disita. Dia dituduh menggelapkan uang milik seseorang dan terjerat hutang di sebuah bank.

    Selama 6 bulan ini sudah banyak kertas lamaran dibuat. Sudah banyak perusahaan dimasukinya, tapi semua jawabannya sama. Tidak ada lowongan atau yang lebih agak halus tunggu panggilan. Satu demi satu apa yang dimilikinya dari hasil bekerja sekian tahun telah dijualnya. Rumah dari kontrakan satu rumah menjadi sebuah kamar. Makan pun kini sudah semakin susah. Setiap hari hanya berpikir kepada siapa dia akan hutang lagi?

    Dilihatnya matahari yang cerah menyinari genting yang berjajar rapat.

    Apakah kalau dia pulang ke daerah asal semua akan beres? Apakah disana ada pekerjaan? Bukankah dia sampai merantau ke kota sebab di daerahnya tidak ada lagi yang bisa dijadikan peganggan untuk hidup? Orang tuanya hanya mewariskan sepetak tanah gersang yang sangat minim hasilnya. Di desa dia akan semakin tidak berdaya. Belum lagi pendidikan anak-anaknya. Pasti disana tidak akan terjamin.

    Lelaki itu terus termenung di depan pintu. Mau kemana lagi hari ini?

    Apakah yang bisa dimakan hari ini? Dia melihat Maria sudah berpakaian seragam. Hatinya pedih kalau melihat Maria dengan pakaian seragam dan siap berangkat sekolah. “Lebih baik kamu tidak masuk saja hari ini.” Kata lelaki itu sambil menatap Maria. “Aku malu diolok-olok temanku kalau aku bolos sekolah.” Maria mulai menangis minta sekolah. Hati lelaki itu bagai diremas. Hancur luluh. Semua kata tercekat ditenggorokan.

    Maria semakin keras menangis. Dia ngotot mau sekolah sebab malu diejek teman-teman di kampung dan di sekolah. Istrinya datang dari sumur. Dia marah ketika mendengar Maria menangis. Maria yang sudah sedih hati semakin sedih. Tangisnya semakin keras. Istrinya merasa tidak didengarkan maka dia mulai berteriak-teriak agar Maria berhenti menangis. Lelaki itu hanya mampu terdiam di ambang pintu. Teriakan istrinya dan tangis Maria seperti dua besi yang menjepit kepalanya sehingga mau pecah.

    Semua tidak salah. Istrinya pun jengkel akan situasi hidup yang membuat tegang. Maria yang belum faham dengan kesulitan orang tuanya hanya mampu menangis. Kamar menjadi ribut. Istrinya mulai mengomel panjang lebar.

    Suaranya keras menusuk jiwa. Lelaki itu hanya membisu. Di dekatinya Maria dan digendong keluar.

    Dia tidak ingin anaknya semakin disakiti dengan perkataan istrinya.

    Permintaan Maria sangat wajar. Dia ingin berangkat sekolah. Dia tidak meminta apa-apa selain sekolah. Maria dan adiknya memang anak yang baik.

    Mereka tidak pernah menuntut. Makan hanya dengan nasi dan garampun mereka diam saja, meski banyak temannya makan nasi dengan lauk dan sayur. Mereka jarang sekali meminta jajan. Mereka seolah faham dengan aneka kesulitan yang dialami oleh orang tuanya. Kini dia menangis sebab sudah tidak tahan diolok-olok temannya sebagai pemalas yang suka membolos. Namun dia tidak mungkin menerangkan pada Maria tentang kesulitan hidupnya.

    Maria terus menangis dalam gendongan. Dia meronta-ronta ingin turun dan berangkat ke sekolah. Lelaki itu berjalan ke tetangga siapa tahu masih ada orang yang berbaik hati mau memberi pinjaman uang Rp 2000 untuk ongkos angkot. Seorang tetangga akhirnya menyodorkan dua lembar ribuan. Maka dengan segala bujuk rayu akhirnya Maria mau diam dan bersiap ke sekolah.

    Namun dia belum makan. Di rumah hanya ada air putih dari sumur. Apakah dia akan kuat belajar sampai siang nanti?

    Ingin sekali lelaki itu berteriak untuk melepaskan beban di hatinya. Dia bisa gila melihat semua ini setiap hari. Bukan dia malas. Dia punya ijasah SMA.

    Dia sudah berusaha mencari pekerjaan meski hanya kuli bangunan. Namun pada jaman seperti ini, sebuah lowongan sudah dinanti sekian ratus pengangguran.

    Faktor usia dan ijasah membuatnya selalu kalah bersaing.

    Lelaki itu melambaikan tangan pada Maria yang berlari menuju jalan besar untuk mencegat angkot. Lelaki itu berjalan gontai menuju rumahnya yang kecil. Sayup-sayup dia mendengar seorang sedang membacakan berita di radio.

    Dengan jelas sekali dia mendengar bahwa terdakwa penggelapan uang negara sebesar 40 M dibebaskan. Ingin rasanya mengambil batu dan melempar radio itu. Ini sepertinya sebuah penghinaan pada kaum miskin.

    40 M bukan uang yang sedikit. Dan mereka mengatasnamakan rakyat menggunakan uang itu untuk memperkaya diri. Memang suara kelaparan dan kegelisahan yang muncul dari dalam dirinya belum menggema di masyarakat. Namun apakah dia diberi ruang dan kesempatan untuk bersuara? Kalau toh sudah bersuara apakah akan membuka hati para koruptor? Apakah ada rasa peduli dari mereka?.

    Lelaki itu hanya salah satu dari jutaan masyarakat yang hidup jauh dibawah garis kemiskinan. Dia hanya bagian sebuah masyarakat yang sering dihina oleh sikap orang berkuasa yang dengan wewenang-wenang menggunakan uang rakyat demi kepentingan pribadi. Lelaki itu berjalan gontai. Perutnya sudah sangat lapar. Dia harus keluar untuk mencari pekerjaan. Masihkah ada pintu terbuka untukku sehingga aku bisa menyekolahkan anak-anakku? Siang semakin terik membakar hati yang gersang…

    Jika Anda tergerak dengan tulisan diatas, kirimkan hal ini kepada kerabat-kerabat Anda, dan tidak ada salahnya juga kita mau menengok dan memberikan bantuan kepada orang-orang disekeliling kita yang mungkin mempunyai pengalaman yang hampir mirip dengan tulisan diatas.

    Have nice day &

    Best Regards

    ***

    Kiriman Sahabat Tri Lestari

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 29 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (14) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (14)

    Zakat Harta Haram

    1. Harta haram adalah semua harta yang secara hukum syariat dilarang dimiliki atau memanfaatkannya, baik haram karena bendanya mengandung mudarat atau kotoran seperti mayit dan minuman keras, atau haram karena faktor luar, seperti adanya kesalahan dalam cara pengalihan milik, seperti mengambil sesuatu dari pemiliknya tanpa izin (merampok), mengambil dari pemilik dengan cara yang tidak dibenarkan hukum, meskipun dengan kerelaan pemiliknya, seperti transaksi riba dan sogok.
    2. Pemegang harta haram yang mendapat harta dengan cara yang tidak beres, tidak dianggap pemilik barang tersebut selama-lamanya. Dia diwajibkan mengembalikannya kepada pemilik aslinya atau kepada ahli warisnya jika diketahui.
    • Jika tidak diketahui lagi, dia diwajibkan mendermakan harta tersebut kepada kepentingan sosial dengan meniatkan bahwa derma tersebut adalah atas nama pemilik aslinya.
    • Jika ia mendapatkan harta haram itu sebagai upah dari pekerjaan yang diharamkan maka ia harus mendermakannya untuk kepentingan sosial dan tidak boleh dikembalikan kepada orang yang memberinya.
    • Harta haram tidak dikembalikan kepada pemilik semula, selama dia masih tetap melakukan transaksi yang tidak legal tersebut, seperti harta yang diperoleh dari transaksi riba, akan tetapi diharuskan mendermakannya kepada kepentingan sosial.
    • Bila terdapat kesulitan dalam mengembalikan harta, pemegangnya diwajibkan mengembalikan nilainya kepada pemiliknya semula jika diketahui, bila tidak, maka nilai tersebut didermakan kepada kepentingan sosial dengan meniatkan derma tersebut atas nama pemilik semula.
    1. Harta yang haram karena zatnya sendiri, tidak wajib dibayar zakatnya, karena menurut hukum tidak dianggap harta yang berharga. Untuk menyelesaikannya harus dilalui cara-cara yang dibenarkan dalam agama.
    • Pemegang harta yang haram karena terdapat ketidakberesan dalam cara mendapatkannya tidak wajib membayar zakatnya, karena tidak memenuhi kriteria “dimiliki dengan sempurna” yang merupakan syarat wajib zakat. Bila sudah kembali kepada pemiliknya semula, yang bersangkutan wajib membayar zakatnya untuk satu tahun yang telah lalu, walaupun hilangnya sudah berlalu beberapa tahun. Hal ini sesuai dengan pendapat yang lebih kuat.
    • Pemegang harta haram yang tidak mengembalikannya kepada pemilik aslinya, kemudian membayarkan sejumlah zakat dari harta tersebut, masih tetap berdosa menyimpan dan menggunakan sisa harta tersebut dan tetap diwajibkan mengembalikan keseluruhannya kepada pemiliknya selama diketahui, bila tidak, maka dia diwajibkan mendermakan sisanya. Adapun harta yang dibayarkan itu tidak dinamakan zakat.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 28 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (13) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (13)

    Zakat Perusahaan Dagang Dan Industri

    1. Zakat perusahaan industri disamakan dengan perdagangan dengan pertimbangan sama-sama subjek hukum abstrak dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
    • Adanya peraturan yang mengharuskan pembayaran zakat perusahaan tersebut.
    • Aturan Dasar perusahaan memuat hal tersebut.
    • Dewan Umum mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan hal itu.
    • Kerelaan para pemegang saham menyerahkan pengeluaran zakat sahamnya kepada dewan direksi perusahaan.

    Pendapat ini berdasarkan prinsip usaha bersama yang diterangkan dalam hadis Nabi saw. tentang zakat binatang ternak yang penerapannya digeneralisasikan oleh beberapa mazhab fikih dan yang disetujui pula dalam Muktamar Zakat I. Sebaiknya perusahaan yang bersangkutan itulah yang membayar zakat dalam keempat kondisi yang disebutkan di atas. Jika tidak, maka perusahaan harus menghitung seluruh zakat kekayaannya kemudian memasukkan ke dalam anggaran tahunan catatan yang menerangkan nilai zakat setiap saham untuk mempermudah pemegang saham mengetahui berapa zakat sahamnya.

    1. Perusahaan yang bersangkutan menghitung zakat kekayaannya dengan cara yang sama seperti zakat individu biasa.

    Sehingga masing-masing jenis kekayaan dikeluarkan zakatnya sesuai dengan volume yang ditentukan baik berupa uang, hewan ternak, hasil pertanian, komoditas atau pun yang lainnya.

    Namun perlu diketahui bahwa saham yang dimiliki oleh negara, badan wakaf, lembaga zakat atau yayasan sosial lainnya, tidak wajib dizakati.

    Zakat Pendapatan Dan Propesi

    Hasil pendapatan ialah harta yang menjadi milik si pembayar zakat yang sebelumnya tidak dia miliki. Jika seorang pembayar zakat telah memiliki suatu harta yang mencukupi nisab kemudian sebelum sampai haul dia mendapatkan harta dari jenis yang sama, seperti keuntungan dagang atau produksi hewan ternak, maka harta yang didapatkan tersebut digabung dengan modal pokok saat sampai haulnya, kemudian dizakati, baik harta yang didapat berasal dari pertumbuhan dan penambahan dari modal pokok atau bukan.

    Pendapat ini diadopsi dari pendapat mazhab Hanafi, dalam upaya menghindari kesulitan akibat dari berpencarnya harta yang wajib dizakati, perbedaan waktu pembayaran zakat dan untuk memudahkan mengetahui volume zakat dari setiap bagian dari harta miliknya. Jika pendapatan tersebut berasal dari jenis yang berbeda, bukan sejenis modal pokok, seperti dia memiliki uang kemudian dia mendapatkan penghasilan hewan ternak, maka penghasilan ini tidak digabungkan untuk melengkapi nisab modal pokok, jika masih kurang dan tidak digabungkan ke haul modal pokok tersebut, jika haulnya belum lengkap tetapi haulnya dimulai di saat ia memperoleh pendapatan tersebut dan telah sampai nisab.

    Hasil pendapatan yang diperoleh dari selain pertambahan modal pokok atau karena sebab lain, tetapi jenisnya sama dengan jenis harta pokok, seperti upah dan gaji (berupa uang), semuanya digabung dengan kekayaan pokok milik si wajib zakat untuk melengkapi nisab dan haul, kemudian dizakati.

    Bagi orang yang ingin kehati-hatian, dapat mengalkulasikan jumlah yang diperkirakan akan melebihi kebutuhan keluarganya satu tahun, kemudian membayar zakatnya, (dalam catatan). Artinya mempercepat pembayaran zakat sebelum haul, dengan syarat nanti dia akan tetap mengalkulasikan hartanya di akhir haul, berapa yang wajib dizakati secara real, kemudian membayar kekurangannya. Jika ternyata lebih, maka lebihnya menjadi sedekah suka rela.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 27 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (12) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (12)

    Bagaimana Seorang Pedagang Menaksir Aset Dagangnya?

    Setiap pedagang harus menaksir kekayaan niaganya dengan harga pasaran yang berlaku ketika itu baik lebih rendah dari harga pembelian atau pun lebih tinggi karena harga saat itulah yang dijadikan standar. Yang dimaksud dengan harga pasaran ialah harga penjualan pada saat kewajiban zakat itu tiba.

    Di sini tidak diterapkan prinsip akuntansi lama yang memperhitungkan biaya atau harga pasaran yang lebih murah karena hal itu hanya berlaku dalam usaha bersama di mana para partner yang berserikat berhak memilih apakah akan menghitung seluruh keuntungan untuk dibagikan atau akan menyisihkan sebagiannya dengan cara memilih biaya atau harga pasar yang lebih rendah. Sedangkan zakat bukan hak si pembayar zakat namun hak mustahik di antara delapan golongan masyarakat yang telah ditentukan. Dari situ, maka harus diyakinkan bahwa kewajiban itu dibayarkan dengan memperhitungkan harga pasaran yang telah mencakup biaya produksi dan keuntungan yang dikandungnya.

    Apabila harga pasaran lebih rendah dari biaya produksi, maka untuk mencegah kerugian si pembayar zakat, harta perniagaan itu ditaksir dengan harga grosir meskipun nanti akan dijual secara grosir atau eceran sebagaimana yang diputuskan oleh Lembaga Fikih di Mekah.

    Mengeluarkan Zakat Dalam Bentuk Barang Atau Harganya

    Pada dasarnya zakat komoditas dagang, dibayar dalam bentuk uang berdasarkan harga yang berlaku pada waktu kewajiban zakat itu tiba, bukan berupa barang. Pendapat ini berdasarkan riwayat dari Umar bin Khatthab r.a. yang berkata kepada Hammas, “Bayarlah zakat hartamu!” Hammas menjawab, “Saya hanya memiliki beberapa buah kantong kulit.” Umar menyuruh, “Taksir harganya lalu bayar zakatnya.” Pendapat ini lebih berguna bagi kaum fakir supaya mereka dapat memenuhi hajat hidupnya yang bermacam-macam.

    Walau demikian, boleh mengeluarkan zakat dalam bentuk barang untuk mempermudah dan meringankan si pembayar zakat ketika kondisi perdagangan sedang lesu atau arus likuidasi lemah, dengan syarat barang tersebut harus dapat dimanfaatkan oleh kaum miskin.

    Piutang Pedagang Di Tangan Orang Lain

    Piutang seperti ini dibagi ke dalam dua bagian .

    1. Piutang yang diharapkan dapat dilunasi:

    Yaitu piutang yang berada pada seorang yang mengaku berutang dan mampu melunasinya atau mengingkari utang tersebut namun terdapat bukti dan dalil jika seandainya perkara itu dihadapkan ke pengadilan niscaya si pedagang akan berhasil memenangkannya. Piutang ini dikenal dengan istilah piutang baik. Piutang seperti ini harus dibayar zakatnya setiap tahun oleh pedagang atau pun perusahaan.

    1. Piutang yang tidak diharapkan dapat dilunasi:

    Yaitu piutang yang ada di tangan orang yang mengingkari utangnya dan tidak terdapat bukti apa pun. Atau piutang yang terdapat pada seseorang yang mengakui dirinya berutang tetapi senantiasa menunda pembayaran atau dalam keadaan kesulitan keuangan sehingga tidak mampu melunasinya. Piutang ini dikenal dengan istilah piutang yang diragukan dapat dilunasi. Piutang yang seperti ini tidak wajib dizakati oleh pedagang atau pun perusahaan kecuali setelah benar-benar diterima, ketika itu, wajib dizakati untuk satu tahun, walaupun sudah berada di tangan si pengutang beberapa tahun lamanya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 26 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (11) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (11)

    Definisi Komoditas Dagang

    Yang dimaksud dengan komoditas dagang ialah seluruh barang yang dibeli dengan tujuan untuk diperdagangkan, baik dengan cara mengimpor dari luar negeri atau dibeli dari pasar setempat. Komoditas itu bisa berupa real estate, bahan makanan, bahan pertanian, hewan ternak dan lain sebagainya, baik dilakukan oleh perseorangan atau beberapa orang dalam sebuah usaha bersama.

    Perbedaan Antara Barang Milik Pribadi Dan Komoditas Dagang

    Yang dimaksud dengan barang milik pribadi ialah semua barang yang dibeli untuk digunakan secara pribadi, bukan untuk diperdagangkan yang dalam ilmu akuntansi dinamakan aset tetap, yaitu yang dibeli oleh seorang pedagang atau pengusaha dengan niat untuk ditahan sebagai alat produksi, seperti mesin, bangunan, mobil, peralatan, areal tanah, perabotan, gudang, rak pajang, meja dan perlengkapan kantor dan lain-lain yang tidak untuk diperjualbelikan. Seluruh benda-benda itu merupakan aset yang tidak wajib dizakati dan tidak termasuk harta zakat.

    Sedangkan komoditas dagang adalah barang-barang yang sengaja dipersiapkan untuk diperjualbelikan yang di dalam istilah akuntansi dinamakan dengan aset berkembang. Yaitu segala sesuatu yang dibeli oleh seorang pedagang atau pengusaha dengan niat untuk diperdagangkan. Seperti barang dagangan, alat-alat, mobil, tanah dan lain-lain. Semua komoditas itu harus dizakati bila telah memenuhi syarat wajibnya.

    Syarat Wajib Zakat Komoditas Dagang

    Syarat wajib zakat komoditas dagang sama dengan syarat wajib zakat kekayaan uang ditambah dua syarat lain yaitu usaha dan niat.

    1. Usaha, yaitu memiliki komoditas dagang dengan cara transaksi pertukaran.

    Baik melalui transaksi pembelian kontan atau barter, atau dengan utang biasa dan berjangka. Seperti seorang wanita yang memperoleh suatu komoditas sebagai mahar kawin atau pengganti khuluk.

    Tetapi bila komoditas itu diperoleh dengan cara warisan, hibah, menarik kembali barang yang cacat atau memanfaatkan tanah yang dimiliki untuk pertanian, maka berarti ia tidak menzakatinya sebagai komoditas dagang namun sebagai barang-barang ekploitasi karena diperoleh tidak dengan proses pertukaran.

    1. Niat, yaitu dengan merencanakan akan memperdagangkan komoditas yang telah diperoleh.

    Berdagang ialah menjual komoditas yang telah dibeli dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Agar niat dapat dianggap sah harus dikukuhkan ketika pertama kali membeli suatu komoditas. Seandainya seseorang membeli sebuah mobil dengan niat untuk pemakaian pribadi tetapi akan dijual juga bila mendatangkan keuntungan, maka mobil itu tidak termasuk komoditas dagang yang wajib dizakati. Berbeda dengan seandainya ia membeli beberapa unit mobil dengan niat diperdagangkan dan untuk mencari laba lalu salah satu dipakai sendiri, maka mobil tersebut tetap sebagai komoditas dagang yang wajib dizakati, karena yang dijadikan tolak ukur adalah niat pertama ketika membeli.

    Dengan demikian segala barang yang dibeli dengan niat untuk dimanfaatkan sendiri, tidak bisa dianggap sebagai komoditas dagang hanya karena ingin menjual jika mendatangkan laba. Segala barang yang diniatkan untuk diniagakan tidak akan berubah menjadi barang milik pribadi hanya karena digunakan untuk pemakaian sendiri sewaktu-waktu.

    Namun bila seorang telah membeli suatu barang dengan niat untuk diperdagangkan kemudian sebelum dijual ia merubah niat dan memanfaatkannya buat kepentingan pribadi, maka niat itu telah cukup untuk merubah status barang di atas dari komoditas dagang menjadi barang milik pribadi sehingga tidak wajib dizakati. Begitu juga sebaliknya, jika ia membeli sebuah barang untuk dipakai sendiri kemudian berubah niat untuk diniagakan, maka barang itu wajib dizakati.

    Termasuk komoditas dagang yang wajib dizakati adalah laba yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan berikut :

    1. Praktek jual beli dengan tujuan mencari keuntungan yang mencakup proyek-proyek perdagangan baik berupa usaha individual atau pun mudarabah, atau perusahaan pribadi atau pun perseroan dan lain sebagainya.
    2. Praktek mediasi antara pedagang, seperti para broker dan makelar yang mendapatkan komisi.
    3. Praktek tukar-menukar mata uang dan berbagai macam bentuk investasi.

    Cara Membayar Zakat Komoditas Dagang

    Apabila waktu pembayaran zakat telah tiba, maka wajib bagi seorang pedagang muslim atau pemilik suatu perusahaan menginventarisir aset usahanya yang berupa komoditas dagang lalu menggabungkannya dengan kekayaan uang lain, baik yang dikembangkan dalam perniagaan maupun tidak, ditambah dengan piutang-piutang yang kemungkinan besar dapat dilunasi lalu dikurangi utang-utang yang harus dilunasi kepada pihak lain kemudian sisanya dizakati sebesar 2,5% (lihat kembali: haul sebagai syarat wajib zakat).

    Dalam masalah ini Imam Abu Ubaid telah meriwayatkan pendapat Maimun bin Mahran sebagai berikut: “(Bila telah tiba waktu pembayaran zakat, maka hitunglah kekayaan uang dan barang perniagaan yang kamu miliki kemudian taksir seluruhnya dalam bentuk uang setelah ditambah dengan piutang yang ada dan dikurangi dengan utang yang harus dilunasi kemudian zakatilah sisanya).”

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 25 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (10) 

    Management Dan Audit Zakat (10)

    Pengauditan Zakat Berbagai Jenis Pendapatan (Kalkulasi Untung Rugi)

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Daftar pendapatan adalah salah satu daftar keuangan yang dibuat oleh akuntan di akhir setiap priode atau secara umum pada akhir tahun anggaran. Daftar ini disebut dengan kalkulasi untung rugi. Daftar ini mencakup semua pemasukan dan pengeluaran yang terjadi pada priode tahun anggaran. Dengan daftar ini dapat diproyeksikan jumlah keuntungan atau kerugian yang akan dialami perusahaan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Semua pemasukan harus ditaksir harganya dengan benar sesuai dengan aturan kegiatan yang dibenarkan hukum Islam. Di antara hal yang perlu diperhatikan adalah halal haramnya pemasukan tersebut. Bila pemasukan mencakup harta yang haram atau kotor, maka wajib disisihkan terlebih dahulu. Demikian juga dengan perbelanjaan harus ditaksir dengan baik dan benar sesuai dengan aturan yang dibolehkan dalam hukum Islam. Di antara hal-hal yang perlu diperhatikan adalah perbelanjaan yang tidak mubazir, tidak mewah dan tidak berlebih-lebihan. Zakat tidak terpengaruh secara langsung dengan point-point daftar pendapatan tetapi barang-barang zakat akan terpengaruh akibat tagihan-tagihan yang harus dipotong dari pendapatan. Hal ini akan lebih jelas pada penjelasan berikut.

    1. Pengauditan zakat pendapatan.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Pemasukan adalah gelombang dana yang masuk kepada perusahaan dalam tahun anggaran tertentu yang berpengaruh besar terhadap barang-barang modal. Di antara point-point pemasukan adalah; hasil penjualan, hasil penyewaan barang tak bergerak, penghasilan investasi dan komisi. Semua ini diatur menurut kaidah hak milik dalam konsep akuntansi konvensional.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Pemasukan dalam barang-barang zakat termasuk penambahan agen dan debitor atau penambahan jumlah uang di bank atau di kas. Dana ini tidak digabungkan dengan barang-barang zakat, sehingga tidak kena zakat dua kali.

    1. Pengauditan zakat perbelanjaan (umum).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan perbelanjaan adalah semua jenis biaya yang dibayarkan untuk memperlancar jalannya kegiatan perusahaan, seperti gaji, sewa, transportasi, pengangkutan dll. Perbelanjaan dapat dibagi kepada:

    • Perbelanjaan langsung, seperti biaya-biaya produksi
    • Perbelanjaan tidak langsung, seperti biaya pemasaran dan biaya administratif.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Perbelanjaan ini tergolong biaya jasa, tidak ada hubungan sama sekali dengan benda barang produksi, oleh sebab itu tidak termasuk dalam barang-barang zakat. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam kalkulasi zakat atas kegiatan yang sedang dalam penyelesaian atau barang yang masih dalam proses produksi. Di segi lain, sewaktu membayar biaya-biaya ini terkadang mengalami pemotongan dari barang-barang zakat, oleh sebab itu tidak dapat dipotong lagi dari barang zakat, sehingga tidak terjadi dua kali pemotongan yang mengakibatkan penurunan volume zakat yang dibayar.

    1. Pengauditan zakat keuntungan yang telah diterima.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Hasil yang diperoleh dari deposito, tabungan investasi dan sebagainya dianggap pemasukan yang dapat dilihat dalam daftar pemasukan atau dalam kalkulasi untung rugi. Dalam sistem akuntansi konvensional tidak dibedakan antara pemasukan yang halal dan pemasukan yang haram, oleh sebab itu semuanya digabungkan dalam satu paket.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Islam menganggap bahwa penghasilan yang diperoleh dari deposito dan rekening investasi adalah riba yang diharamkan oleh Alquran dan hadis. Penghasilan seperti ini dianggap hasil usaha kotor yang harus disingkirkan dan harus segera didermakan kepada kegiatan kebajikan, kecuali untuk pencetakan Alquran dan pembangunan mesjid. Harta ini tidak boleh dimasukkan ke dalam hak milik si wajib zakat. Paling boleh dibayarkan sejumlah zakatnya saja, malah sebagian besar ulama berpendapat tidak boleh dizakati sama sekali, karena Allah bersih, tidak menerima yang kotor-kotor. Bila harta seperti ini masuk ke dalam barang-barang zakat, harus segera disingkirkan dengan mendermakannya kepada kegiatan-kegiatan kebajikan sosial, sedangkan yang tersisa dibayarkan zakatnya.

    Fatwa Komite Fikih Islam, Organisasi Konperensi Islam, Jeddah

    1. Zakat Utang (Keputusan No. 1 Tahun 2)

    Setelah memperhatikan dan mendiskusikan masalah zakat utang dari berbagai seginya, Komite menyatakan sbb :

    • Tidak ada teks dalam Alquran atau hadis Nabi saw. yang menjelaskan masalah zakat utang.
    • Banyak dijumpai info klasik dari para sahabat dan tabiin r.a. yang menjelaskan tentang cara pembayaran zakat utang
    • Persepsi tentang zakat utang terdapat perbedaan di kalangan mazhab-mazhab keislaman.
    • Perbedaan tersebut barang kali didasari oleh perbedaan persepsi tentang kaidah penyebutan istilah “pendapatan” terhadap sejumlah uang yang mungkin diperoleh sebagai pembayaran utang.

    Bila debitor berkecukupan dan selalu membayar utang tepat waktu, maka zakat utang wajib dibayar oleh pemberi piutang setiap tahun.

    Bila debitor tergolong orang susah atau suka menunda-nunda pembayaran utang, maka zakat utang wajib dibayar oleh pemberi piutang setelah memenuhi kurun waktu satu tahun (haul) dari saat penerimaan bayaran,.

    1. Zakat Barang Tidak Bergerak Dan Tanah (non-pertanian) Sewaan (keputusan No.2 Tahun 2)

    Setelah membaca kajian yang dibuat tentang (zakat barang tidak bergerak dan tanah non-pertanian sewaan), dan setelah mendiskisukan permasalah secara detil, Komite memutuskan sbb:

    • Tidak diperoleh teks yang jelas yang mewajibkan pembayaran zakat atas barang tidak bergerak dan tanah sewaan.
    • Demikian juga tidak diperoleh teks yang jelas yang mewajibkan pembayaran segera zakat hasil barang tidak bergerak dan sewa tanah non-pertanian. Oleh sebab itu, Komite memutuskan :

    Zakat tidak diwajibkan atas modal barang tidak bergerak dan tanah sewaan

    Zakat hanya diwajibkan atas penghasilannya sebesar 2,5 % setelah cukup haul terhitung dari saat penerimaannya dengan mempertimbangkan syarat-syarat dan penghalang lainnya.

    3. Zakat Aset Perusahaan (Keputusan No. 3 Tahun 3)

    Setelah memperhatikan kajadian tentang zakat modal perusahaan, Komite memutuskan sbb :

    • Saham perusahaan wajib dizakati oleh pemilik saham. Perusahaan dapat bertindak sebagai wakil pemilik saham untuk menyalurkan zakatnya atas nama mereka.
    • Dewan manejerial dapat menyalurkan zakat saham perusahaan bagaikan subjek hukum konkrit membayar zakatnya, dengan artian bahwa semua saham yang terdapat dalam perusahaan tertentu dianggap bagaikan sebuah harta milik seorang. Dengan demikian wajib dibayar zakatnya sesuai dengan jenis harta, nisab, volume zakatnya dan ketentuan lain dalam zakat harta pribadi. Hal ini diputuskan atas kaidah “harta campuran” yang menurut sebagian ulama boleh digeneralisasikan terhadap semua jenis harta. Saham yang tidak dikenakan zakat, harus dipotong, termasuk saham tabungan umum, wakaf, badan kebajikan dan saham non-muslim.
    • Bila perusahaan tidak membayar zakat sahamnya, maka para pemegang saham wajib membayar zakat sahamnya masing-masing. Bila pemilik saham memperoleh keterangan tentang pembayaran zakat sahamnya pada perusahaan tersebut, maka berarti kewajiban zakatnya telah selesai, sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Bila pemegang saham tidak mendapatkan keterangan tersebut, maka dilihat niat pemegang saham tersebut, kalau niatnya sewaktu mendepositkan saham hanya untuk memperoleh penghasilan tahunan dari deposit tersebut, maka dia membayar zakatnya atas dasar zakat eksploitasi, yaitu sebesar 2,5 % dari keuntungan (di luar modal) dengan mempertimbangkan haul terhitung dari saat penerimaan keuntungan tersebut dan syarat serta penghalang lainnya. Hal ini sesuai dengan keputusan Komite Fikih Islam pada sidang tahun kedua tentang zakat barang tidak bergerak dan tanah non-pertanian sewaan.

     

    Bila pemilik saham mendepositkan modalnya dengan maksud dagang, maka ia wajib membayar zakatnya atas dasar modal perdagangan, ia wajib membayar sebesar 2,5 % dari modal dan keuntungan setelah cukup haul yang nilainya dihitung atas dasar harga pasaran sedang berjalan atau penentuan seorang ahli.

    • Bila seorang pemilik saham menjual sahamnya di tengah-tengah haul, dia diharuskan menggabungkan harga saham tersebut dengan harta kekayaannya yang lain, seterusnya membayar zakatnya sekalian, bila haulnya sempurna. Pembeli diharuskan membayar zakat saham yang baru di beli tersebut sesuai ketentuan di atas.
    1. Penyaluran Zakat

    Penginvestasian zakat dalam proyek-proyek yang menguntungkan

    Setelah membaca dan mendengarkan pendapat peserta dan tenaga ahli tentang kajian yang dibuat seputar penginvestasian zakat dalam proyek-proyek yang menguntungkan bukan atas nama pribadi mustahik, Komite memutuskan sbb:

    Secara prinsip dobolehkan menginvestasikan zakat dalam proyek-proyek investasi yang menguntungkan bukan atas nama mustahak zakat atau atas nama pihak resmi yang bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat dengan catatan : proyek ini dilakukan setelah memenuhi semua kebutuhan pokok para mustahak dan terdapat jaminan yang cukup bonafid untuk menghindari terjadinya kemungkinan kerugian.

    1. Mustahik Zakat

    Penyaluran zakat kepada Dana Solidaritas Islam.

    Setelah membaca nota penjelasan tentang Dana Solidaritas Islam dan aktifitasnya yang disampaikan pada Seminar Dewan Zakat III serta kajian yang dibuat seputar penyaluran zakat kepada Dana Solidaritas Islam, Komite menghimbau :

    Dalam upaya membantu Dana Solidaritas Islam merealisir targetnya (sesuai dengan AD) dan memperhatikan keputusan Pertemuan Puncak Islam II yang menyebutkan pendirian Dana ini dengan pembiayaannya dari sumbangan negara-negara anggota, mengingat bahwa sebagian anggota tidak mengirimkan sumbangannya secara rutin, maka Komite menghimbau seluruh negara-negara anggota dan yayasan-yayasan keislaman lainnya untuk memberikan bantuan dana kepada yayasan di atas guna dapat merealisir target mulianya dalam melayani kepentingan ummat Islam.

    Memutuskan :

    Pertama. Tidak diperkenankan menyalurkan uang zakat untuk membantu aktifitas Dana Solidaritas Islam, karena hal tersebut akan menghambat mustahak zakat lainnya yang tertera dalam Alquran mendapatkan hak mereka.

    Kedua. Dana Solidaritas Islam seharusnya meminta keagenan baik dari pribadi-pribadi, instansi-instansi untuk menyalurkan zakat harta mereka kepada mustahak yang legal dengan syarat-syarat sbb :

    • Masing-masing wakil dan pemberi wakil memenuhi kriteria resmi.
    • Dana Solidaritas memasukkan masalah ini ke dalam AD & ART dan tujuan organisasinya serta mengadakan revisi seperlunya agar dapat melakukan kegiatan seperti dimaksud.
    • Dana Solidaritas membuat kotak khusus penampungan zakat sehingga tidak bercampur dengan dana lain yang dapat dipergunakan di luar mustahak zakat seperti kepentingan umum dll.
    • Dana Solidaritas tidak diperkenankan menggunakan dana zakat untuk keperluan administrasi, gaji pegawai dan pengeluaran lainnya yang tidak termasuk dalam mustahak zakat yang delapan.
    • Dalam menyalurkan zakat, Dana Solidaritas harus memperhatikan syarat-syarat yang ditentukan untuk mustahak zakat yang delapan.
    • Dana Solidaritas harus konsekwen menyalurkan zakat tersebut secepat mungkin, paling lama satu tahun, agar mustahak dapat mempergunakannya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 24 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (9) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (9)

    Pengauditan Zakat Hak Milik

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan hak milik adalah hak milik bersih pemegang saham (pemilik perusahaan) yaitu perbedaan antara total nilai barang-barang modal dikurangi dengan total tagihan-tagihan dan potongan-potongan. Ini dapat digambarkan dalam persamaan berikut:

    Hak milik = barang-barang modal – (tagihan dan potongan).

    Hak milik dapat mencakup point-point berikut:

    1. Modal
    2. Biaya-biaya persediaan (cadangan)
    3. Keuntungan yang belum dibagi-bagikan

    Definisinya menurut hukum Islam:

    Hak milik disebut juga dengan tanggungan keuangan bersih. Materi ini telah dibicarakan oleh pakar fikih secara panjang lebar dalam buku-buku fikih, bab modal.

    Point-point hak milik di atas akan dijelaskan berikut, baik dari segi definisi, cara kalkulasinya menurut sistem akuntansi konvensional berikut cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam dari kaca mata pengauditan zakat.

    1. Pengauditan zakat saham (modal)

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang diinvestasikan oleh pemegang saham dalam suatu perusahaan modal yang terdiri dari banyak saham. Setiap saham dianggap sebagai satu kuota dari modal perusahaan secara keseluruhan. Saham tersebut adalah berbentuk nilai nominal yang harus dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Modal yang harus dibayar adalah merupakan hak milik pemegang saham yang terlihat dalam bentuk nilai nominal yang harus dibayar masing-masing. Modal ini adalah merupakan sumber pendanaan perusahaan untuk jangka panjang yang secara hukum tidak dianggap sebagai utang atas perusahaan, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Pengauditan zakat biaya-biaya cadangan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang disisihkan dari penghasilan bersih yang dapat didistribusikan untuk menunjang kondisi perusahaan atau untuk pendanaan kegiatannya di masa mendatang ataupun untuk mengimplementasikan peraturan pemerintah.

    Di antara contoh cadangan tersebut adalah sbb:

    • Cadangan untuk suatu peraturan yang bersifat mengikat
    • Cadangan untuk peraturan yang bersifat opsional
    • Cadangan untuk penggantian barang-barang modal
    • Cadangan untuk modal dasar.

    Dalam pelaksanaan biaya-biaya cadangan ini harus diperhatikan aturan-aturan pelaksanaan dan kaidah-kaidah akuntansi yang berlaku umum. Biaya-biaya ini akan nampak dalam daftar keuangan pusat pada point hak milik.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Biaya-biaya cadangan ini dianggap sebagai hak milik para pemegang saham, karena bersumber dari keuntungan yang sudah merupakan hak mereka, sesuai dengan jumlah aset yang tertulis dalam daftar. Biaya-biya cadangan ini tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena termasuk keuntungan yang disisihkan untuk para pemegang saham, pemilik perusahaan atau untuk perusahaan itu sendiri, oleh sebab itu tidak termasuk dalam ikatan-ikatan yang harus dibayar.

    1. Pengauditan zakat modal tambahan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dibayar oleh para pemegang saham sebagai penambahan saham baru. Jumlah ini dapat terlihat dari perbedaan antara nilai saham nominal dengan nilai saham sewaktu pencatatan. Dana ini diperlakukan sebagai dana cadangan modal dan kadang-kadang dianggap sebagai hak milik.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini dianggap sebagai dana cadangan, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Pengauditan zakat keuntungan yang belum didistribusikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dihasilkan oleh perusahaan pada tahun-tahun yang lalu, karena satu dan lain hal belum didistribusikan kepada pemegang saham. Pengauditannya dilakukan setelah dewan umum menyetujui pelaksanaan kegiatan pembagian keuntungan yang dibuat sepengetahuan ketua dewan direksi perusahaan modal tersebut.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana yang belum didistribusikan dianggap sebagai hak milik para pemegang saham yang tidak bisa dipotong dari barang-barang zakat, karena dari segi pemilikan tidak berbeda dari dana cadangan.

    1. Pengauditan zakat kerugian yang belum didistribusikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah kerugian yang terjadi dalam priode anggaran tahun berjalan atau tahun-tahun sebelumnya, karena satu dan lain hal belum didistribusikan kepada para pemegang saham.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    • Kerugian yang belum didistribusikan dianggap pengurangan terhadap hak milik.
    • Kerugian ini tidak mempengaruhi barang-barang zakat dalam point-point daftar pendapatan (kalkulasi untung rugi).
     
  • erva kurniawan 1:03 am on 23 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (8) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (8)

    Pengauditan Zakat Dari Alokasi

    Alokasi biaya tak terduga adalah sejumlah dana yang disisihkan dari pendapatan di akhir tahun anggaran. Dana tersebut diperuntukkan buat menutupi penyusutan barang-barang modal atau untuk pembayaran tagihan dari perusahaan lain yang belum dapat ditentukan sebelumnya.

    Ada beberapa macam alokasi untuk biaya tak terduga, di antaranya:

    1. Alokasi biaya penyusutan atau kerusakan barang-barang modal.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah biaya yang disisihkan dari pendapatan setiap tahun anggaran untuk menutupi penyusutan barang-barang modal guna kelangsungan pemakaiannya, kelangsungan pekerjaan, meraih keuntungan dan untuk membantu penggantian atau perbaikannya.

    Cara menaksir nilainya dilakukan dengan berbagai teknis akuntansi yang sesuai dengan keadaan dan kondisi barang itu.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Dalam hukum Islam, alokasi ini tidak termasuk kebutuhan yang perlu dipotong dari barang-barang zakat, karena barang-barang modal tersebut tidak termasuk barang yang dizakati.

    1. Alokasi biaya sarana usaha yang sedang beroperasi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah biaya yang disisihkan dari pendapatan untuk menutupi perbedaan antara harga registrasi dan harga sekarang. Hal ini dilakukan sebagai aplikasi dari kaidah kehati-hatian.

    Penaksiran harga dilakukan atas dasar biaya terendah antara pemakaian standar biaya atau standar harga pasar. Di antara contoh alokasi seperti ini adalah :

    • Alokasi biaya untuk menutupi penurunan harga mata uang.
    • Alokasi biaya untuk menutupi penurunan harga barang tak bergerak yang dibuat sebagai modal dagang.
    • Alokasi biaya untuk menutupi utang-utang yang diragukan kebenarannya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Mengingat bahwa cara menentukan nilai barang-barang modal yang sedang beroperasi (aktif) untuk tujuan zakat dilakukan atas dasar harga pasaran, maka potongan semacam ini tidak termasuk kebutuhan yang harus dipotong dari barang-barang zakat.

    Namun bila harga barang-barang yang sedang beroperasi tersebut ditaksir (karena satu dan lain hal) atas dasar harga registrasi dan ternyata lebih besar dari harga pasaran, maka alokasi semacam ini dapat dikeluarkan (dipotong) dari barang-barang zakat.

    1. Alokasi biaya untuk menutupi ikatan dengan pihak lain yang belum ditentukan sebelumnya.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah keterikatan perusahaan dengan pihak lain yang belum ditentukan secara pasti sebelumnya. Contohnya; alokasi biaya mengakhiri masa kerja pegawai (pensiun dan PHK), alokasi biaya liburan, alokasi pembayaran pajak, alokasi pembayaran denda-denda dll.

    Nilai alokasi biaya ini ditaksir oleh tenaga ahli sesuai dengan volume kewajiban keuangan, kontrak, aturan-aturan dan ketentuan yang dilakukan dengan pihak lain. Nilai alokasi ini dianggap sebagai beban yang harus dipikul perusahaan dan selalu muncul dalam kalkulasi untung rugi.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Kewajiban-kewajiban keuangan seperti ini harus diperhitungkan nilainya dengan teliti dan detil tanpa berlebih-lebihan, sehingga tidak beralih menjadi anggaran persediaan (cadangan) rahasia. Nilai ini dianggap sebagai utang yang telah jatuh tempo yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila ternyata terdapat penaksiran yang berlebihan, maka perbedaan perhitungan tersebut harus ditarik kembali. Bila dalam kalkulasi tersebut terdapat bunga (denda keterlambatan) atas pembayaran tagihan yang sudah diperhitungkan sebelumnya, maka bunga tersebut tidak termasuk utang yang wajib dibayar, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari penghasilan barang-barang zakat tetapi yang dapat dipotong hanyalah tagihan-tagihan yang telah jatuh tempo (mesti dibayar).

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 22 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (7) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (7)

    Pengauditan Zakat Hasil Tagihan

    Yang dimaksud dengan tagihan adalah kewajiban materi yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain, tagihan-tagihan seperti ini sering juga disebut dengan istilah potongan-potongan. Di antara jenis-jenis tagihan adalah, kredit jangka pendek, kredit jangka panjang, utang-utang, surat tanda pembayaran, rekening bank, penarikan, pembayaran yang telah jatuh tempo, pemasukan yang telah diterima terlebih dahulu, pajak-pajak tahun berjalan, deposit yang telah dibayarkan oleh pihak lain dll.

    Berikut ini akan disajikan definisi dan penaksiran nilai unit-unit di atas menurut sistem akuntansi konvensional berikut cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam apakah dipotong dari barang-barang zakat atau tidak.

    1. Tagihan jangka panjang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua kewajiban-kewajiban materi yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain yang tidak dituntut pengembaliannya kecuali setelah berlalu satu tahun atau lebih dari tahun anggaran yang sedang berjalan, seperti kredit jangka panjang, rekening dan surat pembayaran jangka panjang. Cara menaksir nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak termasuk penghasilannya bila belum dibayarkan secara tersendiri. Tagihan-tagihan seperti ini dapat dilihat dalam daftar hak milik atau daftar tagihan-tagihan yang sedang beroperasi (aktif).

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Secara umum nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak. Ketentuan hukum tentang tagihan ini berbeda-beda sesuai dengan sistem pengoperasiannya:

    • Bila cicilan tahun berjalan dari tagihan jangka panjang tersebut dipergunakan untuk pendanaan barang-barang yang sedang beroperasi, maka semuanya dipotong dari barang-barang zakat, kalau perusahaan tersebut tidak memiliki kekayaan lain yang melebihi dari kebutuhan pokok yang dapat menutupi semua tagihan tahun berjalan tersebut.
    • Bila cicilan jangka panjang tersebut dipergunakan untuk pendanaan barang-barang modal tetap, maka cicilan tahun berjalan dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila jatuh temponya terjadi setelah berakhirnya tahun anggaran, maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    Secara umum dapat dikatakan bahwa semua tagihan-tagihan tahun berjalan dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Tagihan-tagihan bergerak.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo yang harus dilunasi dalam waktu singkat, kurang dari satu tahun, seperti utang dan surat tanda pembayaran dll. Berikut ini akan disampaikan keterangan detil:

    • Utang-utang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo yang harus dilunasi dalam waktu singkat, kurang dari satu tahun. Tagihan ini timbul akibat pembelian barang dan keperluan produksi lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam kontrak di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai utang-utang ditaksir berdasarkan nilai yang tercatat dalam kontrak. Utang-utang ini dianggap merupakan tagihan tahun berjalan yang boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    • Surat-surat tanda pembayaran (giral pembayaran).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Surat-surat pembayaran dibuat sesuai dengan obligasi atau rekening yang ada. Surat pembayaran ini merupakan hak suplier barang atau jasa dari sebuah perusahaan. Surat pembayaran ini biasanya harus dapat dicairkan dalam tempo yang singkat, kurang dari satu tahun. Cara penaksiran nilainya adalah berdasarkan aset yang tercatat di dalam daftar di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai surat pembayaran ditaksir atas dasar nilai yang tercatat di dalam daftar. Surat pembayaran ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila tagihan tersebut mempunyai keuntungan karena penundaan, maka tidak dapat dipotongkan, karena keuntungan tersebut tidak diakui dalam hukum.

    1. Kredit bank.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dipinjam oleh perusahaan dari bank yang harus dikembalikan dalam tempo yang singkat, tidak melebihi dari satu tahun. Cara penaksiran nilai kredit bank ini dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam daftar pada akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Tagihan tahun berjalan ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak dan dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila kredit tersebut mempunyai keuntungan, maka tidak boleh dipotongkan dari barang-barang zakat, karena keuntungan tersebut tidak diakui dalam agama.

    1. Pembayaran di muka

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua pengeluaran yang dikeluarkan pada tahun berjalan sedangkan penagihannya baru dapat dilakukan pada tahun anggaran mendatang. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam kontrak di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Pembayaran di muka ditaksir nilainya atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak dan dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena dianggap tagihan tahun berjalan.

    1. Penghasilan yang telah diterima terlebih dahulu (penerimaan di muka).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang telah diterima secara praktis pada tahun anggaran berjalan pada hal dana tersebut berhubungan dengan transaksi tahun mendatang. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, karena dana tersebut dianggap sebagai kewajiban perusahaan terhadap pihak lain sebagai imbalan dari kontrak transaksi barang produksi atau jasa yang akan dipersembahkan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, tanpa ditambah atau dikurangi. Adapun ketentuan hukumnya, terdapat perbedaan sesuai dengan tempo yang diberlakukan:

    • Bila penghasilan yang telah diterima tersebut adalah imbalan dari harga barang yang belum diserahkan (barang tersebut tidak termasuk dalam barang-barang zakat), maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat, akan tetapi bila barang tersebut sudah termasuk dalam daftar barang-barang yang dizakati, maka boleh dipotong dari barang-barang zakat.
    • Bila penghasilan yang telah diterima tersebut termasuk cicilan pertama dari jasa yang belum dilakukan, maka cicilan tersebut dianggap utang kepada orang lain, oleh sebab itu dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena cicilan tersebut tidak terdapat pemiliknya yang pasti dimana ada kemungkinan kontrak tersebut dibatalkan kemudian hari.
    1. Hak-hak orang lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua hak-hak yang wajib dibayarkan kepada pihak lain, seperti tagihan pajak, asuransi sosial dll. Hak-hak seperti ini dianggap sebagai kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilainya yang tercatat dalam kontrak yang dalam banyak hal dapat bertambah dengan keuntungan atau berkurang akibat denda keterlambatan pembayaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, tanpa penambahan dan pengurangan. Hak-hak orang lain seperti ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Keuntungan yang telah direncanakan pendistribusiannya.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah usul pendistribusian materi yang telah diumumkan oleh Dewan Direksi sebuah perusahaan, akan tetapi usul tersebut belum mendapat persetujuan dari sidang umum pemegang saham, sehingga kegiatan pendistribusian belum dapat dilakukan secara praktis. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar jumlah yang disebutkan dalam usul Dewan Direksi yang dapat dilihat dalam anggaran keuangan pada point keuntungan yang telah diusulkan pendistribusiannya.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir sesuai dengan nilai yang tercatat dalam kontrak yang dapat dilihat dalam kalkulasi pembagian keuntungan. Dana ini tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena belum mendapat persetujuan dari sidang umum pemegang saham, sehingga belum dapat dianggap hak dari para pemegang saham.

    1. Keuntungan transaksi spekulasi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional Yang dimaksud dengan istilah ini adalah keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan dari transaksi spekulasi sampai akhir tahun anggaran. Keuntungan ini dibagi antara pemilik modal dan pelaksana sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Zakat usaha spekulasi wajib dibayar oleh pemilik harta, sedangkan bagian pelaksana (pekerja) dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Deposit.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah kewajiban yang wajib dibayar kepada pihak lain sebagai jaminan atau perjanjian untuk melaksanakan sebuah kegiatan tertentu. Penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercantum dalam daftar. Dana ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila tagihan tersebut tidak diharuskan pembayarannya pada tahun berjalan, maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat tahun berjalan, akan tetapi akan dipotong pada saat jatuh tempo.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 21 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (6) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (6)

    Pengauditan Zakat Atas Barang Bergerak

    Yaitu aset yang dimiliki untuk dikelola dalam bentuk usaha jual beli sehingga menghasilkan keuntungan dan tidak digunakan untuk menghasilkan income (disewa) sebagaimana halnya dengan aset tetap.

    Di antara jenis aset bergerak ialah stok barang yang masih digudangkan (barang yang telah di akhir masa temponya, piutang, kwitansi penerimaan, asuransi pada pihak lain, perjanjian dengan pihak lain, cicilan kontrak yang telah dibayarkan terlebih dahulu, pendapatan yang telah pasti, deposito dan saldo rekening berjalan yang ada di   bank serta kekayaan uang yang telah ada).

    Selanjutnya akan diterangkan definisi dan cara penghitungannya menurut sistem akuntansi konvensional serta hukum syariatnya dari sudut pandang zakat harta.

    1. Barang-barang yang telah selesai diproduksi (barang jadi).

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah barang-barang yang diperuntukkan buat jual beli yang dimiliki perusahaan di akhir tahun anggaran. Istilah populer untuk pengertian di atas adalah barang-barang jadi.

    Barang-barang jadi dapat berbentuk materi dan non-materi.

    Dalam sistem kalkulasinya diperlakukan sama yaitu dengan menentukan harga yang paling rendah antára harga pasaran dan harga modal dengan membuat alokasi dana untuk penurunan harga, kedaluarsaan atau kekurang lancaran. Bila harga pasaran ternyata lebih rendah, dibuat juga alokasi dana untuk menanggulangi penurunan harga.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Untuk barang-barang yang dibeli untuk dijual kembali, cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga pasar, bila dijual eceran, maka ditentukan menurut harga eceran, bila dijual grosiran, ditentukan menurut harga grosiran.

    Harga tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya sesuai dengan fatwa Simposium Masalaè Zakat Kontemporer I tahun 1409 H/ 1994 M. Untuk barang-barang yang diproduk langsung oleh perusahaan untuk dijual, maka penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan bakunya bçrikut dengan harga bahan tambahcn lain yang materinya kelihatan, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    Mengenai alokasi dana yang disåbutkan di atas, tidak dapat diterima dalam pengalkulasian zakat yang berdasar atas harga pasaran, namun bila dilakukan pengalkulasian atas dasar harga modal sedangkan harga pasaran ternyata lebih rendah, maka alokasi dana untuk penurunan harga dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    Barang-barang non materi mempunyai ketentuan hukum dan diperlakukan sama dengan barang-barang materi.

    1. Barang-barang yang sedang dalam proses produksi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang masih dalam proses pembuatan dan belum siap. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar biaya produksi yang terdiri dari:

    harga bahan baku, biaya-biaya lain seperti upah dan gaji pegawai, pengeluaran produksi baik secara langsung ataupun tidak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan baku dan bahan-bahan tambahan lainnya (yang nampak dalam produksi saja) kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Bahan baku utama.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Bahan baku utama adalah semua bahan baku utama yang masuk ke dalam produksi. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga bahan yang terdiri dari harga pembelian bahan ditambah dengan semua pengeluaran dari pengangkutan sampai penggudangan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Bahan baku utama dapat dibagi dua bagian:

    • Bahan baku asli dan utama. Bahan ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.
    • Bahan baku yang larut. Seperti bahan pencuci, pengepakan dll. Bahan ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat, karena tidak termasuk barang-barang perdagangan.
    1. Suku cadang modal tetap.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam bidang ini semua suku cadang alat-alat dan perlengkapan yang dipergunakan dalam kegiatan produksi, bukan untuk tujuan dagang. Unit-unit ini kadang-kadang dapat terlihat dalam kelompok barang-barang tetap, kadang-kadang dalam kelompok barang-barang khusus. Cara penaksiran harganya dilakukan atas dasar harga produksi setelah dikeluarkan dana alokasi untuk suku cadang yang kedaluarsa.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Unit ini dianggap termasuk dalam kelompok barang-barang modal tetap, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat.

    1. Suku cadang yang diperuntukkan untuk dagang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua jenis suku cadang yang masih dalam stok dengan tujuan untuk diperjual belikan, oleh sebab itu unit ini diperlakukan sebagai barang-komoditi dagang.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Barang-barang yang masih dalam perjalanan.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah dibeli, dibayar harganya dan sedang dalam proses pengangkutan tetapi belum sampai di gudang pembeli sampai akhir tahun anggaran. Penaksiran nilai barang-barang seperti ini adalah berdasarkan harga beli ditambah dengan biaya-biaya lain.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan harga pasaran di saat dan tempat pembelian, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya. Bila barang-barang dibeli atas dasar dokumen kredit, maka harga yang tertera dalam dokumen kredit tersebut sebelum dibayar tunai adalah merupakan nilai barang yang kelak akan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Barang-barang yang dialihkan kepada pihak lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah diserahkan oleh pemilik kepada diler (agen) untuk dijual. Penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga modal.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran di tempat barang, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya yang dimiliki si wajib zakat.

    1. Piutang (tagihan atas pihak lain).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua tagihan atas pihak lain, sebagi imbalan dari harga barang, transaksi, jasa atau tagihan lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga bersih yang dapat ditagih. Jumlah ini termasuk ke dalam kelompok alokasi piutang yang pengembaliannya diragukan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Piutang dapat dibagi tiga macam:

    • Piutang yang kemungkinan besar dapat ditagih. Piutang seperti ini digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat yang nilainya ditaksir atas nilai nominal.
    • Piutang yang tidak diharap dapat ditagih. Piutang seperti ini tidak digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat. Zakatnya baru dibayar ketika menerimanya dan hanya untuk tahun berjalan saja, walaupun piutang tersebut telah berlalu beberapa tahun.
    • Piutang yang dianggap gugur. Piutang seperti ini tidak diharap dapat ditagih lagi, oleh sebab itu tidak wajib dibayar zakatnya.

    Mengenai alokasi piutang yang penagihannya diragukan, boleh dipotong dari barang-barang zakat, bila telah digabungkan sebelumnya, bila piutang tersebut belum digabungkan ke dalam barang-barang zakat, maka tidak perlu dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Obligasi penerimaan (surat tanda terima).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah surat-surat berharga yang berlaku dalam kegiatan dagang akan tetapi waktu pencairannya belum sampai, seperti surat-surat obligasi, rekening dll. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran sekarang.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Surat-surat seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan nilai nominal dari surat-surat berharga tersebut, tanpa menambahkan bunga. Bila surat-surat berharga tersebut berasal dari harga barang yang telah dijual dengan pembayaran kemudian, maka selisih harga antara harga tunai dengan harga kemudian dimasukkan ke dalam harga dan diperlakukan sebagai piutang berjangka lama dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Deposit yang berada di tangan pihak lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk ke dalam unit ini semua uang yang ditahan oleh pihak lain sebagai deposit (jaminan) atas kelangsungan transaksi, janji-janji atau komitmen perusahaan untuk melakukan sesuatu kegiatan yang tertera dalam suatu kontrak. Cara penaksiran nilainya adalah berdasarkan nilai nominal yang tercatat dalam kontrak/ kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Deposit yang merupakan jaminan suatu transaksi seperti ini dianggap sebagai hak milik bersyarat, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat kecuali ketika penerimaannya dan hanya dibayar untuk tahun berjalan saja walaupun deposit tersebut telah berlangsung beberapa tahun. Dengan demikian, maka deposit hanya dianggap sebagai barang zakat untuk tahun penerimaannya saja.

    1. Cicilan yang dibayar terlebih dahulu.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua dana yang dibayarkan terlebih dahulu kepada langganan, seperti pemborong, industri dan semacamnya untuk dapat melancarkan kegiatan kerjanya yang sedang dalam proses. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai nominal yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana semacam ini dianggap telah keluar dari tangan pemilik pertama dan telah menjadi milik bersyarat sesuai dengan kontrak yang telah ditanda tangani ke dua belah pihak. Oleh sebab itu dana ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat lagi.

    1. Biaya yang dibayarkan terlebih dahulu.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan terlebih dahulu pada tahun anggaran berjalan untuk pengeluaran tahun anggaran berikut, seperti sewa gedung dan asuransi untuk tahun berikut yang dibayar terlebih dahulu. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana seperti ini tidak dikenakan zakat lagi, karena telah keluar dari tangan pemilik pertama dan menjadi dana bersyarat yang dapat dimanfaatkan kemudian hari.

    1. Penghasilan yang sudah jatuh tempo.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua penghasilan/ pemasukan yang mempunyai tempo pada tahun anggaran berjalan akan tetapi belum ditagih sampai akhir tahun, seperti penghasilan investasi dan sewa yang telah jatuh tempo. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini dianggap sebagai piutang, oleh sebab itu ketentuan hukumnya sama dengan ketentuan hukum tentang piutang. Bila piutang tersebut tergolong piutang yang diharap dapat ditagih, maka digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya, bila termasuk dalam piutang yang tidak diharap dapat ditagih, maka tidak dikenakan kewajiban zakat sampai diterima secara praktis.

    1. Dokumen kredit untuk pembayaran barang dagang (LC).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini, semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Dokumen kredit untuk pembelian barang-barang konsumsi atau sumber pencaharian.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut. Dana ini tidak dikenakan zakat.

    1. Dana surat jaminan (LG).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan kepada pihak bank untuk menutupi surat jaminan yang disampaikan kepada pihak lain, di mana pihak bank memberikan jaminannya bahwa pemilik dana akan melaksanakan transaksi atau kontrak yang telah ditanda tangani. Bila ternyata pihak pemilik dana tidak menepati kontrak atau transaksinya, maka dana yang dibayarkan tersebut akan dicairkan untuk pihak pelanggan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai surat jaminan ditaksir atas dasar nilai yang memang benar-benar telah dibayarkan kepada pihak counterpart. Dana ini tidak dikenakan zakat, karena merupakan milik bersyarat yang belum terlaksana. Bila nilai surat jaminan tersebut ditarik kembali, maka dana tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya dan dibayarkan zakatnya untuk tahun berjalan saja.

    1. Deposito bank.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang didepositkan di bank, baik dalam bentuk rekening berjalan, rekening investasi atau jenis lain. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam daftar setelah dicocokkan dengan daftar rekening yang dikeluarkan oleh pihak bank.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini digabungkan dengan nilai barang-barang zakat, tanpa memasukkan keuntungan yang bersifat riba, karena keuntungan riba tersebut harus didermakan kepada pihak kebajikan dan kegiatan sosial di luar pembangunan mesjid dan pencetakan Alquran. Adapun penghasilan yang tidak bersifat riba (halal), harus digabungkan dengan modal pokok dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Uang kas.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang disimpan di kas perusahaan, baik dalam bentuk emas, perak, obligasi, surat berharga ataupun dalam bentuk mata uang kertas. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai uangnya di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Penaksirannya dilakukan atas dasar nilainya di saat tercapainya haul, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Pembayaran terlebih dahulu biaya kegiatan yang akan menghasilkan kemudian.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana-dana yang telah dibayarkan oleh sebuah perusahaan terlebih dahulu dan kelak akan menghasilkan pemasukan beberapa tahun kemudian, seperti biaya iklan, biaya pendirian perusahaan, biaya-biaya sebelum beroperasi yang biasanya berkisar antara 3 s/d 5 tahun. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar modal setelah dipotong alokasi konsumsi.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana seperti ini tidak dikenakan zakat, karena berkaitan dengan penggunaan dan pengoperasian, begitu juga konsumsi yang telah dialokasikan tidak dipotong dari barang-barang zakat.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 20 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (5) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (5)

    Pengauditan Zakat Dari Proyek Yang Sedang Dalam Taraf Pelaksanaan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua proyek pembangunan yang masih dan sedang dilaksanakan dan belum selesai, seperti proyek pembangunan gedung, proyek reparasi dan lain-lain. Barang-barang tersebut bila telah selesai bisa dimasukkan dalam aset tetap atau pun aset beredar sesuai dengan tujuan proyek tersebut. Proyek itu ditaksir berdasarkan biaya pembangunannya sejak tanggal penetapan anggaran termasuk harga tanah, desain arsitekturnya, izin bangunan, bahan material dan gaji buruh. Aset itu tidak bisa dipakai kecuali setelah selesai dan mulai dipergunakan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Bila proyek itu dibuat untuk dipergunakan dalam operasi, maka tidak wajib dizakati. Namun bila diniatkan untuk dijadikan komoditas dagang, maka penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran tanah dan bahan bakunya saja kemudian digabungkan dengan barang-barang lain yang harus dizakatkan.

    Pengauditan Zakat Dari Investasi Jangka Panjang

    Yang dimaksud dengan istilah ini ialah segala kekayaan yang diinvestasikan ke dalam berbagai macam aset. Hal ini dilakukan oleh suatu perusahaan jika ia memiliki surplus anggaran untuk membiayai kegiatan pokoknya. Tujuan investasi ini adalah untuk menghasilkan income ataupun dengan tujuan niaga.

    Investasi jangka panjang dapat berupa:

    • Investasi surat-surat obligasi.
    • Investasi real estate.

    Penaksiran akuntansi dan hukum syariatnya berbeda sesuai dengan jenisnya.

    Investasi saham

    Definisi dan cara penghitungan akuntansi konvensional:

    Saham adalah bagian dari modal suatu perusahaan di mana seorang pemegang saham itu termasuk pemilik aset perusahaan. Sebuah saham memiliki beberapa macam nilai/harga:

    Harga nominal:

    Yaitu harga yang ditentukan pertama kali ketika dikeluarkan.

    Harga pasaran:

    Yaitu harga yang ditentukan berdasarkan kondisi permintaan dan persediaan di bursa obligasi yang ditaksir atas dasar harga yang terkecil apakah produksi ataukah pasar dengan menyediakan dana penurunan harga saham jika harga pasarannya lebih rendah daripada harga belinya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Saham-saham itu ditaksir dengan harga pasarannya ketika akan dizakatkan. Jika perusahaan yang mengeluarkan saham itu bergerak dalam bidang yang halal maka sahamnya boleh dimiliki namun jika bidangnya itu haram maka diharamkan pula pemilikan sahamnya.

    Cara pembayaran zakatnya:

    Jika perusahaan yang mengeluarkan saham itu telah membayarkan zakatnya, maka tidak ada lagi kewajiban zakat atas pemilik saham. Tetapi jika belum maka si pemilik harus menzakatkannya sesuai dengan tujuan apa ia memiliki saham tersebut.

    1. Investasi saham untuk tujuan menghasilkan income.

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvensionalnya:

    Yaitu investasi berupa saham yang dimiliki dengan tujuan untuk mengembangkan kekayaan dan memberikan kemasukan yang dinamakan juga dengan istilah investasi jangka panjang. Investasi itu bisa masuk dalam kelompok aset tetap dan aset beredar yang ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga beli (harga tercatat) atau pun harga pasarannya dan harus disediakan dana penurunan harga saham bila harga pasarannya lebih rendah daripada harga tercatatnya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    • Bila pemilik saham dapat mengetahui nilai setiap saham dari aset zakat perusahaan yang mengeluarkannya, maka ia harus mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.
    • Jika tidak diketahui, maka ia harus menggabungkan income yang dihasilkan dari saham itu dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan kemudian membayarkan zakatnya sebesar 2,5%.

    Catatan:

    Penghitungan dalam pembayaran zakat didasarkan atas harga pasarannya sehingga dana yang dialokasikan untuk penurunan harga obligasi itu tidak diambil dari aset-aset yang harus dizakatkan.

    1. Investasi berupa saham untuk tujuan niaga.

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvesional:

    Yaitu investasi berupa saham yang dibeli untuk tujuan diperdagangkan atau dijual kembali agar menghasilkan keuntungan. Saham yang seperti ini ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga tercatat atau pun harga pasarannya dengan menyediakan dana apabila harga pasarannya itu lebih rendah daripada harga tercatatnya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    • Investasi saham yang diperdagangkan ini ditaksir dengan harga pasaran ketika telah tiba haulnya dan digabungkan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan.
    1. Investasi dalam bentuk saham anak perusahaan (untuk menghasilkan income)

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvensionalnya:

    Yang dimaksud dengan anak perusahaan ialah perusahaan yang secara langsung atau pun tidak langsung dimiliki oleh perusahaan induknya lebih dari 50% sahamnya yang mempunyai hak suara. Saham ini ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga beli atau pun harga pasarannya dengan menyediakan dana jika harga pasarannya lebih rendah daripada harga tercatatnya (produksinya).

    Penghitungan zakat dan hukum syariatnya:

    Zakat anak perusahaan itu dihitung secara terpisah kemudian ditentukan berapa besarkah jatah perusahaan induknya berdasarkan besar saham yang dimiliki. Incomenya digabungkan dengan aset lain milik perusahaan induk yang harus dizakatkan bila anak perusahaannya belum membayarkan zakatnya secara langsung.

    1. Investasi berupa saham perusahaan asosiasi.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Perusahaan assosiasi ialah yang tidak merupakan anak perusahaan. Investasi berupa saham perusahaan seperti ini dianggap termasuk investasi jangka panjang. Investasi ini dihitung berdasarkan harga terendah di antara harga beli dan pasarannya dengan menyediakan dana bila harga pasaran lebih rendah daripada harga tercatatnya (produksi).

    Penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Pada investasi seperti ini diterapkan hukum yang sama dengan investasi saham dengan tujuan menghasilkan income di mana dana penurunan harganya tidak diambil dari aset yang harus dizakatkan.
    1. Investasi dalam saham perusahaan yang dibeli.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensionalnya:

    Terkadang suatu perusahaan itu diberikan wewenang untuk membeli sahamnya dari bursa obligasi dalam batas tertentu berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum. Tujuannya adalah untuk diperdagangkan bukan untuk menghasilkan income di mana saham tersebut akan dijual kembali ketika perusahaan itu membutuhkan dana likuidasi. Saham itu dihitung dengan harga pembeliannya.

    Penghitungan dan hukum syariatnya:

    Dihitung berdasarkan harga pasaran yang berlaku ketika haulnya tiba lalu disatukan dengan aset lain yang harus dizakatkan.

    1. Investasi berupa efek.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensionalnya:

    Efek merupakan alat keuangan yang dikeluarkan bagi pemegangnya yang menjadi hubungan utang-piutang dan mengandung suku bunga yang harus dibayarkan pada waktu tertentu. Pihak debitor (yang mengeluarkan efek) berkewajiban membayar suku bunga itu di samping jumlah asli uang yang dipinjam (harga efek) pada saat jatuh temponya. Efek itu dihitung dengan harga beli ditambah diskon ataupun dikurangi pertambahan harga. Bila efek itu beredar di pasaran maka dihitung berdasarkan harga yang terendah dengan menyediakan dana penurunan harganya bila harga pasaran lebih rendah daripada harga belinya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Efek itu dihitung dengan harga nominalnya. Haram bertransaksi dengan efek karena mengandung suku bunga riba yang diharamkan oleh syariat Islam namun si pemilik harus membayarkan zakat dari harga belinya dan digabungkan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan. Sedangkan suku bunga yang dihasilkan dari efek itu harus didermakan untuk kepentingan sosial selain pembangunan mesjid dan mencetak Alquran untuk menghindari penghasilan haram.
    1. Investasi dalam obligasi kas negara.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Sebagian pemerintah suatu negara meminjam modal dari pasar domestiknya dengan cara mengeluarkan surat obligasi berbunga yang dikenal dengan istilah obligasi kas negara. Obligasi tidak berbeda dengan obligasi yang lain yang dihitung berdasarkan harga belinya yang disesuaikan pemotongan harga sejak tanggal pembelian.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Obligasi kas negara ini dinilai dengan harga nominal ketika pertama kali dikeluarkan. Diharamkan melakukan transaksi dengan obligasi kas negara ini karena mengandung suku bunga riba dan diterapkan padanya hukum-hukum syariat yang berlaku terhadap surat obligasi lain secara umum.
    1. Investasi dalam real estate dengan tujuan menghasilkan pemasukan (income).

    Definisi dan cara penghitungan akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah di atas ialah kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk berbagai macam real estate seperti areal tanah dan gedung/bangunan yang dimiliki untuk tujuan menghasilkan pemasukan.

    Kekayaan investasi itu dinilai berdasarkan kaedah dasar akuntansi yaitu harga yang terendah di antara harga beli atau harga pasarannya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Investasi di atas tidak dikenakan kewajiban zakat pada bendanya tetapi pada income bersihnya yang disatukan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan lalu dibayarkan zakat seluruhnya sebesar 2,5%.
    1. Investasi dalam real estate dengan tujuan niaga.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Yaitu harta kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk areal tanah dan bangunan/gedung atau berbagai macam real estate lainnya yang dimiliki untuk tujuan niaga.

    Investasi di atas dinilai berdasarkan harga terendah di antara harga beli atau pun harga pasarannya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Dinilai berdasarkan harga pasarannya lalu disatukan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 19 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (4) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (4)

    Klasifikasi Harta Dalam Fikih Islam Dan Hubungannya Dengan Pengauditan Zakat

    Harta kekayaan dalam fikih Islam dapat diklasifikasikan kepada:

    1. Uang, alat penukar dalam suatu transaksi yang sekaligus merupakan harga suatu barang. Uang dapat dibagi dua bagian, masing-masing:
    • Mata uang mutlak, seperti emas dan perak.
    • Mata uang terbatas, seperti uang kertas (kartal dan giral) dan uang logam.

    2. Barang, yaitu harta yang dapat dimanfaatkan sesuai fungsinya. Barang ini dapat dibagi dua bagian, sbb:

    • Barang yang dipakai, yaitu barang-barang yang dimiliki untuk tujuan pemanfaatannya dalam berbagai jenis kegiatan, seperti alat-alat bangunan, binatang ternak. Barang-barang seperti ini mirip dengan barang-barang eksploitasi (barang-barang yang tidak bergerak).
    • Modal perdagangan, yaitu barang yang diperuntukkan buat diperjual belikan, yaitu barang-barang yang dapat ditransaksikan yang dibeli atau diproduksi untuk tujuan dagang. Modal perdagangan ini disebut juga dengan istilah modal aktif (modal yang sedang beroperasi).

    3. Binatang ternak, yaitu unta, sapi, kambing dan semacamnya. Binatang ternak dapat dibagi tiga bagian, masing-masing:

    • Binatang perahan atau bibit.
    • Binatang pekerja, yaitu binatang yang dimiliki untuk dieksploitasi.
    • Binatang ternak dagangan.

    4. Tanam-tanaman dan buah-buahan, yaitu hasil pertanian. Kekayaan ini dapat dibagi dua, masing-masing:

    • Pertanian yang diairi dengan alat irigasi bermodal
    • Pertanian yang diairi dengan air hujan, tanpa modal.

    Penjelasan lebih lanjut sekitar kewajiban zakat hasil pertanian akan disampaikan kemudian.

    Pengauditan Zakat Dari Aset Tidak Bergerak

    Yang dimaksud dengan modal tetap adalah semua barang modal yang dipakai untuk jangka panjang, seperti areal tanah, gedung, furniture, mobil dan sebagainya yang dimiliki tanpa niat memperjual belikannya. Barang modal ini dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu:

    • Aset tetap yang diperuntukkan buat pemakaian dan pengoperasian.
    • Modal tetap yang dipergunakan untuk menarik keuntungan.

    Berikut ini disampaikan definisi dan cara menaksir nilainya dalam sistem akuntansi konvensional, kemudian sistem penaksiran nilai dan ketentuan hukum Islam tentang kewajiban zakat dari kekayaan di atas:

    1. Aset tetap material yang diperuntukkan buat pemakaian dan operasi

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Aset tetap adalah semua barang yang dimiliki untuk tujuan pemakaian tidak untuk diperjualbelikan dan mencari keuntungan secara langsung. Contoh, real estate, alat-alat pertukangan, mobil, furniture, perlengkapan dsb. Cara menaksir nilainya adalah atas dasar harga beli dikurangi penurunan nilai (depresiasi) karena pemakaian yang terus-menerus.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini tidak dikenakan kewajiban zakat karena tidak termasuk harta yang harus dizakatkan. Demikian juga dana yang dialokasikan untuk biaya pemakaiannya tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Aset tetap material yang menghasilkan keuntungan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah benda kekayaan yang dimiliki dengan niat untuk menghasilkan keuntungan, seperti real estate, mobil yang disewakan. Cara menaksir nilainya adalah atas dasar harga pembelian dikurangi penurunan harga karena pemakaian yang terus-menerus.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Benda-benda seperti di atas tidak terkena kewajiban zakat. Yang dikenakan zakat adalah hasil bersih penyewaannya yang harus digabungkan dengan kekayaan si pembayar zakat yang lainnya. Volume zakatnya adalah 2,5% sesuai dengan pendapat yang lebih kuat yang diputuskan oleh Lembaga Fikih Islam Jeddah.

    1. Aset tetap abstrak untuk dipakai dan dioperasikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua hak milik abstrak yang dapat dimanfaatkan dan membantu dalam operasi di berbagai bidang usaha, seperti hak cipta, hak cetak, hak merek dagang dan sebagainya.

    Cara menaksir nilainya adalah dengan menaksir harga (biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh hak tersebut) ditambah dengan biaya-biaya keperluan lainnya, dikurangi dengan alokasi dana pemakaian.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Modal seperti ini tidak dikenakan kewajiban zakat karena berkaitan dengan aset tetap lainnya yang ditujukan untuk membantu jalannya operasi usaha. Bila niat memilikinya untuk diperdagangkan, maka cara kalkulasinya adalah dengan menaksir harga pasarnya kemudian dizakati seperti barang-barang perdagangan.

    1. Aset tetap abstrak yang menghasilkan income.

    Yaitu hak-hak abstrak yang dimiliki untuk menghasilkan suatu income, seperti hak mengarang dan hak cipta yang disewakan dalam masa tertentu dengan imbalan tertentu pula.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Hak-hak tersebut tidak dikenakan kewajiban zakat namun hasil bersih kemasukannya digabungkan dengan harta zakat lainnya dan dizakatkan sebesar 2,5%.

    Penjelasan tentang aset tetap:

    1. Dana yang dialokasikan untuk biaya pemakaian aset tetap adalah merupakan penurunan harga yang terjadi akibat pemakaian dan berkurangnya masa validitas barang tersebut. Pengurangan nilai tahunan itu dihitung berdasarkan berbagai macam sistem akuntansi.

    Hukumnya: Anggaran dana ini tidak termasuk dana yang boleh dipotong/diambil dari harta-harta zakat lainnya karena asetnya tidak termasuk barang yang wajib dizakatkan.

    1. Suku bunga pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai/membeli aset tetap: Sebagian para ahli akuntan berpendapat bahwa suku bunga itu disatukan dengan harga beli aset tersebut.

    Adapun hukum syariatnya: Suku bunga tersebut dianggap termasuk riba yang jika telah dibayarkan maka berarti telah keluar dari harta yang harus dizakati. Tetapi jika belum dibayar maka tidak boleh dipotong dari harta yang harus dizakatkan karena suku bunga tersebut tidak termasuk utang yang harus dilunasi dalam pandangan syariat meskipun telah disepakati dan mempunyai kekuatan hukum.

    1. Dana yang dialokasikan untuk perawatan dan pemeliharaan barang-barang aset tetap yang dipakai sewaktu-waktu.

    Hukum syariatnya adalah tidak boleh dipotong/diambil dari harta yang harus dizakatkan karena memang kenyataannya belum dikeluarkan.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 18 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (3) 

    Management Dan Audit Zakat (3)

    Kaidah Pengauditan Dan Penyaluran Zakat

    Ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penentuan, penaksiran dan pembuatan laporan zakat. Prinsip-prinsip tersebut digali dari sumber-sumber hukum Islam dan dari ilmu akuntansi sehingga antara kedua sumber di atas tidak ada kontradiksi.

    Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah :

    1. Prinsip haul

    Fikih Islam menganggap satu tahun kamariah (hijriah) adalah tenggang waktu yang sudah cukup untuk pengembangan suatu harta. Oleh sebab itu para mukallaf wajib mengalkulasikan harta kekayaan yang dimilikinya dengan harga pasaran, bila telah cukup satu tahun kamariah.

    Dalam kitab Syarhus Shagir dapat dibaca sebagai berikut:

    (Taksirlah harta kekayaanmu per jenis setiap tahun atas dasar harga di kala itu (harga pasaran) dengan harga yang adil dan pembelian yang baik).

    Prinsip ini tidak diaplikasikan untuk zakat hasil pertanian, buah-buahan, hasil tambang dan barang galian. Dalam kaitan ini Imam Syafii mengatakan “haul adalah salah satu syarat wajib zakat, bila haul tidak cukup walaupun sebentar, harta tidak kena kewajiban zakat.

    Haul ini merupakan syarat wajib zakat untuk harta kekayaan selain biji-bijian, barang tambang dan barang galian”. Ulama-ulama mazhab Maliki mengatakan, “Haul merupakan salah satu syarat wajib zakat kecuali kekayaan tambang, barang galian dan tanam-tanaman.”

    1. Prinsip independensi tahun anggaran

    Sesuai dengan prinsip haul diatas, pengauditan zakat harus berdasar pada prinsip independensi tahun anggaran. Hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Rusyd sbb: “Harta yang dibelanjakan sebelum cukup haul (sebentar atau lama), kemudian mengalami kerusakan, maka harta itu tidak kena kewajiban zakat, yang kena kewajiban adalah harta yang masih tertinggal jika masih memenuhi nisab dan telah cukup haul. Adapun harta yang kena kewajiban zakat yang dibelanjakan setelah haul (sebentar atau lama), masih tetap kena kewajiban zakat berikut dengan harta kekayaan yang masih tinggal.”

    1. Prinsip berkembang, baik real atau pun estimasi

    Pengauditan zakat berdasar pada prinsip harta yang dapat berkembang baik secara real atau estimasi, baik barang tersebut dicairkan di pertengahan haul atau tidak, baik perkembangan tersebut berlaku kontinu atau terputus-putus.

    Dr. Syauki Ismail Sahata menjelaskan hal ini sebagai berikut: “Laba dalam akuntansi Islam adalah perkembangan harta yang berlaku dalam haul, baik harta tersebut dicairkan menjadi uang atau masih tetap sebagai mana adanya, karena tidak terjadi transaksi jual beli. Dalam kedua kondisinya dapat dilihat adanya keuntungan, sedangkan transaksi jual beli fungsinya tidak lebih hanya sekedar pengalihan bentuk harta dari bentuk aslinya kepada bentuk lain yang dapat menampakkan realita keuntungan.

    Oleh sebab itu bila sudah saatnya acara kalkulasi, tidak perlu ditunggu sampai nilai itu terjadi dalam bentuk realita, karena yang menjadi pertimbangan dalam penaksiran nilai adalah terjadinya keuntungan bukan munculnya suatu keuntungan yang ditandai dengan transaksi jual beli, karena jual beli tidak berfungsi membuat keuntungan, tetapi hanya memunculkan keuntungan.”

    1. Prinsip kemampuan biaya

    Pengauditan zakat harus memperhatikan kemampuan biaya dari seorang wajib zakat, prinsip ini lebih dikenal dalam fikih Islam dengan istilah nisab zakat.

    Dalam Alquran prinsip ini banyak disebut, antara lain firman Allah yang artinya: “Kamu akan ditanya tentang harta yang akan dibelanjakan, katakanlah harta yang melebihi kebutuhan.” (Q.S. Al-Baqarah:219) Hasan Basyri menafsirkan ayat di atas dengan, “Jangan bayarkan hartamu, kemudian kamu duduk meminta-minta.”

    Prinsip ini lebih jelas lagi dari penjelasan Rasulullah saw kepada seorang yang datang menanya, “Mulailah dari dirimu, bayarkan sedekah kepada dirimu, jika masih ada sisa belanja keluargamu, bersedekahlah kepada keluarga dekatmu, bila masih lebih, bersedekahlah kepada .. dst.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

    Prinsip ini diterapkan dalam fikih Islam adalah dengan target untuk tidak memaksa umat Islam di satu pihak dan menganjurkan mereka untuk selalu meningkatkan produksi di pihak lain. Ukuran kemampuan biaya dalam kalkulasi zakat mempunyai nilai unifikasi yaitu 20 Dinar atau 200 Dirham untuk kekayaan uang.

    1. Prinsip zakat dipungut dari penghasilan bersih (neto) dan jumlah kotor (bruto) sesuai dengan bentuk dan jenis harta kekayaan yang ada

    Sebagai implementasi dari prinsip kemampuan biaya, zakat harus berdasar pada prinsip pemotongan utang-utang yang telah jatuh tempo dan biaya-biaya lainnya dari total penghasilan atau kekayaan, sebagai upaya untuk meringankan beban ummat Islam.

    Dalil hukum dari prinsip ini cukup banyak, di antaranya adalah nukilan Abu Ubaid dari ulama lain “bila hartamu telah cukup haul, lihatlah harta-harta kekayaanmu, baik uang atau barang-barang yang dapat dijual, seterusnya taksirlah harganya dengan uang. Bila kamu mempunyai piutang dari orang yang dapat diharapkan pembayarannya, hitunglah bersama dengan kekayaan itu. Bila kamu mempunyai utang, potonglah dari hartamu, seterusnya bayarlah zakat sisa kekayaanmu itu”.

    Data ini menunjukkan bahwa utang-utang dipotong dari barang-barang zakat sebelum diadakan kalkulasi. Hal ini persis dengan nukilan dari seorang ulama klasik yang mengatakan, “Bayarlah utang-utang dan pajak-pajakmu, jika sisanya masih mencukupi 5 watsaq, bayarlah zakatnya.” (Yahya bin Adam Al-Qurasyi, Kitab Al-Kharaj, hal. 59)

    Di pihak lain Rasulullah saw. selalu memesankan kepada pegawai yang ditugaskan mengadakan penaksiran harta kekayaan pertanian dan buah-buahan untuk menentukan dan menaksir barang-barang yang wajib zakat, beliau mengatakan, “Bila kamu mengadakan penaksiran, ambillah dan sisakan sepertiga atau seperempat.” (H.R. Ahmad)

    Dari penjelasan di atas jelas bahwa kalkulasi zakat mempertimbangkan betul-betul utang-utang dan biaya-biaya yang diperlukan untuk memperoleh suatu penghasilan berikut dengan kondisi personil dan kekeluargaan si wajib zakat.

    1. Prinsip penggabungan harta kekayaan

    Ketika mengadakan pengumpulan dan penentuan harta-harta yang wajib zakat, harus diperhatikan semua harta kekayaan yang dimiliki oleh si wajib zakat, baik yang terdapat di dalam negeri atau di luar negeri. Dalam hal ini semua harta kekayaan harus digabungkan menjadi satu, kemudian dipotong dengan utang-utang dan biaya-biaya lain, seterusnya dibayar zakat dari barang-barang yang tersisa bila masih mencukupi nisab.

    Ibnu Qayim menjelaskan prinsip ini sbb: “Barang perdagangan yang telah mencukupi haul yang terdapat di dalam negeri (tempat barang), walaupun sudah dikirimkan ke negara lain, nilainya harus ditaksir bersama-sama dengan barang barang lain ketika menaksir zakatnya walaupun jenis barang itu berbeda-beda.”

    1. Prinsip penaksiran harga dilakukan berdasarkan harga pasaran

    Akuntansi Islam dalam menaksir barang-barang zakat di akhir tahun selalu berdasar pada prinsip penaksiran nilai barang dengan harga pasaran.

    Dalam sebuah nukilan dari Jabir bin Zaid, beliau mengatakan, “Taksirlah barang itu sesuai dengan harganya di saat zakat sudah wajib (akhir haul) kemudian bayarlah zakatnya.” Data ini mengandung suatu arti bahwa penaksiran harga suatu barang untuk tujuan pembayaran zakat harus dilakukan berdasarkan harga di akhir haul.

    Prinsip ini didukung oleh mayoritas pakar fikih. Dalam sebuah nukilan dari Maimun bin Mahran dia mengatakan: (Bila hartamu telah cukup haul, lihatlah harta-bendamu yang lain, baik uang ataupun barang yang dapat diperjual belikan, kemudian taksirlah harganya dengan uang, bila kamu mempunyai piutang atas orang yang mampu, hitunglah bersama-sama, bila kamu mempunyai utang potonglah dari harta tersebut seterusnya bayarlah zakat sisanya).

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 17 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (2) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (2)

    Penentuan Volume Yang Diterima Mustahik

    Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat ulama fikih sebagai berikut:

    1. Untuk masing-masing golongan mustahik zakat dialokasikan sebesar seperdelapan (1/8 atau 12,5%) dari total harta zakat yang terkumpul. Jika dana yang telah dialokasikan bagi suatu golongan itu tidak mencukupi, maka dapat diambil dari sisa dana yang dialokasikan untuk golongan mustahik lain. Bila tidak ada juga maka diambil dari sumber lain kas negara atau dengan cara mewajibkan pajak baru untuk menutupi kekurangan itu atas mereka yang kaya sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
    2. Bagi setiap golongan mustahik zakat dialokasikan dana sesuai dengan kebutuhannya tanpa terikat dengan seperdelapannya. Bila harta zakat yang terkumpul itu tidak mencukupi maka diambil dari sumber lain kas negara atau dengan cara mewajibkan pungutan baru atas harta orang-orang yang kaya untuk menutupi kekurang itu dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syariat Islam.

    Proses Pengauditan Zakat

    Prosedur pengauditan zakat dapat disimpulkan dalam point-point berikut:

    1. Menentukan tanggal haul, yaitu tanggal mulainya dihitung zakat. Tanggal ini berbeda-beda sesuai dengan kondisi si wajib zakat, kecuali dalam hal zakat hasil pertanian, buah-buahan, barang tambang dan barang galian serta kekayaan laut yang harus dibayar zakatnya di saat panen atau mendapatkan hasil.
    2. Menentukan dan menaksir harta kekayaan si wajib zakat serta penjelasan tentang kekayaan yang kena kewajiban zakat (barang-barang zakat).
    3. Menentukan dan menaksir jumlah tagihan tahun berjalan atau tagihan yang telah jatuh tempo yang akan menjadi potongan dari barang-barang zakat.
    4. Menyisihkan tagihan tahun berjalan dan tagihan yang telah jatuh tempo untuk menentukan barang-barang zakat.
    5. Menentukan nisab zakat sesuai dengan jenis barang-barang zakat yang ada.
    6. Membandingkan antara total barang-barang yang wajib zakat dengan nisab zakat (antara point no. 4 dengan point no. 5) untuk mengetahui apakah barang-barang zakat tersebut kena kewajiban zakat atau tidak. Bila barang-barang zakat tersebut telah mencapai nisab, zakatnya ditarik.
    7. Menentukan volume (rate) zakat yang akan dibayar dari barang-barang zakat. Volume ini ada kalanya :

    2,5% untuk zakat uang, perdagangan, eksploitasi, hasil usaha, harta perolehan demikian juga zakat hasil tambang menurut mayoritas ulama.

    5% untuk zakat hasil pertanian dan buah-buahan yang diairi dengan irigasi dan alat-alat yang menelan biaya.

    10% untuk zakat hasil pertanian dan buah-buahan yang diairi dengan air hujan yang tidak menelan biaya.

    20% untuk zakat barang galian.

    8. Mengalkulasikan jumlah zakat yang harus dibayar dengan mengalikan volume zakat.

    9. Membebankan kewajiban zakat sbb:

    • Perorangan atau perusahaan pribadi, memikul semua jumlah zakat secara pribadi.
    • Perusahaan partnership, jumlah zakat dibagi kepada semua partner sesuai dengan persentase kuota masing-masing dalam modal perusahaan. Dengan demikian akan dapat diketahui kewajiban masing-masing partner.
    • Perusahaan sero (saham), jumlah zakat dibagi-bagi sesuai dengan jumlah sero, untuk menentukan jumlah zakat yang merupakan beban masing-masing sero, kemudian dikalkulasikan dengan jumlah sero yang dimiliki masing-masing pemegang saham, untuk mengetahui jumlah zakat yang merupakan kewajiban masing-masing pesero.

    10. Menyalurkan zakat kepada mustahak yang ada sesuai dengan aturan yang ditentukan dalam fikih zakat.

    11. Membuat laporan tentang jumlah zakat dan cara penyalurannya yang dibuat dalam bentuk list dan laporan keuangan dengan berbagai bentuknya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 16 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (1) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (1)

    Pengertian Pengauditan Zakat

    Pengauditan (kalkulasi) zakat banyak berkaitan dengan penentuan dan penaksiran volume zakat, ketentuan penyalurannya kepada para mustahak serta penjelasan masing-masing point di atas sesuai dengan aturan yang berlaku dalam fikih zakat.

    Tugas pengauditan zakat terdiri dari:

    1. Mengumpulkan, menentukan dan menaksir nilai barang-barang zakat.
    2. Mengumpulkan, menentukan dan menaksir nilai potongan-potongan dari zakat.
    3. Menghitung volume zakat dan jumlah yang wajib dibayar.
    4. Memberikan penjelasan tentang penyaluran zakat kepada para mustahik.
    5. Membuat catatan tentang sumber dan mustahik zakat secara priodik.

    Penentuan Mustahik Zakat

    Allah swt. telah menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat sebagai berikut:

    1. Fakir
    2. Miskin
    3. Amil zakat
    4. Mualaf
    5. Budak
    6. Orang yang berutang
    7. Orang yang berjuang fisabilillah
    8. Ibnu sabil

    Kaidah Pengauditan Zakat

    Pemerintah atau pihak yang mendapat wewenang dari Pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat dapat mempergunakan kaidah-kaidah berikut:

    Kaidah pokok penyaluran zakat harta.

    Allah swt telah menentukan mustahik zakat lewat firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 60 yang berarti, “(Zakat hanya disalurkan kepada fakir, miskin, amil, muallaf, memerdekaan budak, orang yang berutang, fi sabilillah dan ibn sabil. Hal tersebut merupakan kewajiban dari Allah swt, sesungguhnya Allah maha tahu lagi maha bijaksana).”

    Atas dasar ini, pemerintah tidak diperkenankan menyalurkan hasil pemungutan zakat kepada pihak lain di luar mustahik yang delapan di atas. Di sini terdapat sebuah kaidah umum, bahwa pemerintah dalam melakukan pengalokasian harus mempertimbangkan kemaslahatan umat Islam semampunya.

    Dalam kaitan ini pemerintah menghadapi beberapa masalah yang perlu dijelaskan, yaitu;

    Bagaimana mendistribusikan zakat kepada mustahik yang delapan?

    Dalam hal ini, para pakar fikih telah membuat beberapa kaidah yang dapat membantu Pemerintah dalam menyalurkan zakat, di antaranya adalah sbb:

    A. Alokasi atas dasar kecukupan dan keperluan.

    Sebagian ulama fikih berpendapat bahwa pengalokasian zakat kepada mustahik yang delapan haruslah berdasarkan tingkat kecukupan dan keperluannya masing-masing.

    Dengan menerapkan kaidah ini maka akan terdapat surplus pada harta zakat seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab, Usman bin Affan dan Umar bin Abdul Aziz. Jika hal itu terjadi maka didistribusikan kembali sehingga dapat mewujudkan kemaslahan kaum muslimin seluruhnya. Atau mungkin juga akan mengalami defisit (kekurangan) di mana pada saat itu pemerintah boleh menarik pungutan tambahan dari orang-orang yang kaya dengan syarat tertentu sebagai berikut:

    1. Kebutuhan yang sangat mendesak di samping tidak adanya sumber lain.
    2. Mendistribusikan pungutan tambahan tersebut dengan cara yang adil.
    3. Harus disalurkan demi kemaslahan umat Islam.
    4. Mendapat restu dari tokoh-tokoh masyarakat Islam.

    B. Berdasarkan harta zakat yang terkumpul.

    Sebagian ulama fikih berpendapat harta zakat yang terkumpul itu dialokasikan kepada mustahik yang delapan sesuai dengan kondisi masing-masing. Kaidah ini akan mengakibatkan masing-masing mustahik tidak menerima zakat yang dapat mencukupi kebutuhannya dan menjadi wewenang pemerintah dalam mempertimbangkan mustahik mana saja yang lebih berhak daripada yang lain. Setiap kaidah yang disimpulkan dari sumber syariat Islam ini dapat diterapkan tergantung pada pendapatan zakat dan kondisi yang stabil.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 15 September 2016 Permalink | Balas  

    Pernahkah Terpikir Atau Ini Saja Cukup ? 

    mushola-malPernahkah Terpikir Atau Ini Saja Cukup ?

    Seorang warga negara asing yang baru bertugas di Indonesia sempat terheran-heran. Setiap dia parkir di basement kantornya dia melihat sebuah ruangan yang di dalamnya ada orang-orang sedang berdiri, ada yang duduk, ada yang sedang ‘berjajar-berbaris’. Hal yang sama dia temukan juga di tempat parkir di banyak mall-mall di Jakarta.

    Karena penasaran dia bertanya pada temannya yang telah lama bertugas di Indonesia. Dia sangat terkejut ketika tahu bahwa ruangan itu adalah tempat ibadah (musholla). Dan orang-orang yang ada di dalam itu sedang sholat. Dan dia lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa tidak ada tempat sholat di kantornya selain di basement tadi.

    Ketika rapat di kantornya, dia menyinggung masalah ini. Dia berkata, bagaimana Anda bisa bekerja dengan baik untuk bertemu dengan klien kita, jika untuk bertemu dengan Tuhan saja Anda tidak pernah memikirkan tempat yang layak? Bukankah seharusnya tempat ibadah menjadi prioritas di kantor ini? Mulai saat ini ruangan tempat kita rapat, kita jadikan tempat anda untuk bertemu dengan Tuhan Anda!

    Ironis memang , kita yang mengaku negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tidak pernah memikirkan tempat sholat di kantor kita. Kita akan protes keras kalau ruangan kita kecil, sempit dan kotor tapi kita tidak pernah protes jika untuk sholat kita harus berada diruangan yang ala kadarnya sekedar tempat disudut-sudut kantor yang sedikit kosong. Untuk berjamaah, sujud dan rukuk saja sulit.

    Bukti nyata yang lain adalah hampir seluruh mushola di kantor pemerintah, swasta, mal, terminal hanyalah tempat yang keberadaannya dipikirkan belakangan. Bahkan banyak kantor yang tidak memiliki tempat sholat dengan alasan tidak ada tempat lagi. Namun gudang-gudang, pantry dan (maaf) toilet selalu mejadi prioritas utama. Jika kita berkesempatan jalan-jalan di mal, terminal atau tempat umum lainnya cobalah cari musholla , 99,999 % kalau Anda temukan pasti ada di basement, dekat toilet umum dan di ruangan yang untuk mencarinya perlu perjuangan!. Dengan kondisi yang ‘jorok’ dan bau.

    Lalu dengan enaknya dan cueknya kita berdoa agar rejeki yang kita dapat semoga barokah dan manfaat? Padahal kita tidak pernah memikirkan tempat dimana barokah dan manfaat itu akan dicurahkan oleh Allah? Ironis!.

    Wallahua’lam

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 14 September 2016 Permalink | Balas  

    Kembalikan Keranjang Itu! 

    ibu dan anak lelakinya berdoaKembalikan Keranjang Itu!

    Suatu kali ada sepasang suami istri yang hidup serumah dengan ayah sang suami. Orang tua ini sangat rewel karena cepat tersinggung dan tak henti-hentinya mengeluh. Akhirnya suami istri itu memutuskan untuk mengenyahkannya. Sang suami memasukkan orang tua itu ke dalam keranjang yang dipanggul di bahunya. Ketika ia sedang bersiap-siap meninggalkan rumah, anak laki-lakinya yang baru berusia sepuluh tahun muncul dan bertanya, “Ayah, kakek hendak dibawa ke mana?”

    Sang Ayah menjawab bahwa ia bermaksud membawa kakek anak itu ke gunung agar ia bisa belajar hidup sendiri. Anak itu terdiam, namun pada waktu ayahnya sudah berlalu, ia berteriak, “Ayah, jangan lupa membawa keranjangnya pulang.”

    Ayahnya merasa aneh, sehingga ia berhenti dan bertanya mengapa. Anak itu menjawab, “Aku memerlukannya untuk membawa ayah nanti kalau ayah sudah tua.”

    Orang itu segera membatalkan niatnya membawa ayahnya ke gunung. Sejak saat itu suami istri itu memperhatikan orang tua sang suami dengan penuh kasih sayang dan memenuhi semua kebutuhannya.

    Jika anak hidup dengan saling pengertian, ia belajar menjadi sabar

    Jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri

    Jika anak hidup dengan pujian, ia belajar menghargai

    Jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar menjadi adil

    Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar memiliki kepercayaan

    Jika anak hidup dalam dukungan, ia belajar menyukai dirinya sendiri

    Jika anak diterima dan hidup dalam persahabatan, ia belajar menemukan cinta di dunia

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 13 September 2016 Permalink | Balas  

    Menjaga Kehormatan Diri 

    itikaf 2Menjaga Kehormatan Diri

    Oleh : Abdullah Gymnastiar

    Semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk membaca potensi yang telah Allah berikan. Menggali dan mengembangkan diri kita dengan baik sehingga hidup yang sekali-kalinya ini tidak menjadi beban bagi orang lain, bahkan hidup terhormat karena bisa meringankan beban orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya.

    Saudaraku, kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan kta. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri.

    Benar, dalam  hidup ini kita pasti membutuhkan orang  lain. Itu pasti! Tapi menikmati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia. Menjadi manusia mandiri adalah manusia yang akan memiliki harga diri. Mandiri adalah sumber percaya diri. Mandiri membuat kita lebih tenteram diri. Bangsa mandiri adalah bangsa yang akan mempunyai harga diri.

    Dalam Al Quran ditegaskan, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu gigih mengubah nasibnya sendiri. Kita diberi kemampuan oleh Allah untuk mengubah nasib kita. Berarti kemampuan kita mandiri untuk mengarungi hidup ini merupakan kunci yang diberikan Allah untuk sukses dunia dan insya Allah di akhirat kelak.

    Keuntungan mandiri kita akan punya wibawa sendiri. Sehebat-hebat peminta-minta pasti tidak akan punya wibawa. Misal, seorang aparat yang berpenampilan gagah tetapi gemar melakukan pungutan yang tak semestinya pasti akan jatuh wibawanya.

    Keuntungan lain, kita makin percaya diri dalam menghadapi hidup ini. Orang-orang yang terlatih menghadapi masalah sendiri akan berbeda  semangatnya dalam mengarungi hidup ini dibanding orang yang selalu bersandar kepada orang lain. Sebab, kalau kita bersandar kepada selain Allah, kita akan takut sandarannya hilang. Maka orang-orang yang mandiri cenderung lebih tenang dan lebih tenteram dalam menghadapi hidup ini. Selain dia siap mengarungi, dia juga akan memiliki mental yang mantap. Ingat! Mandiri itu adalah sikap mental

    Lantas dari mana kita mengawali menjadi mandiri? Pertama, mandiri diawali dafi mental. Harus memiliki tekad yang kuat, “Saya harus menjadi manusia terhormat, tidak boleh menjadi benalu!”. Dulu, pernah ada seorang anak kecil yang terseranng demam. Ketika itu dia tidak banyak bicara. Dia ambil gayung dan washlap. Lalu naik ke tempat tidur, menarik selimut, dan mengompres dirinya sendiri. Tiap orang kagum, kecil-kecil sudah mandiri,. Subhanallah, belum juga tamat sekolah sudah dihormati.

    Kisah lain, ada pengalaman pada suatu kesempatan saya berada di Madinah, tepatnya di masjid Nabawi. Saya melihat ada seorang laki-laki tuna netra, telinganya ditutup kapas, dan raut wajahnya sederhana. Dia duduk di atas tikar yang lusuh dan di depannya ada  beberapa botol minyak wangi. Kala itu kami tergerak untuk memberinya sedekah. Namun apa yang terjadi, ia menolak jika diberi uang sebagai sedekah. Ia hanya mau menerima uang jika saya membeli minyak wanginya. Dan itu pun hanya mau menerima setara dengan harga minyak wangi yang dibeli, tidak mau dilebihkan. Subhanallah, sungguh pun memiliki keterbatasan fisik, ternyata beliau pantang meminta-minta.

    Jadi jiwa mandiri ini benar-benar harus ditanamkan sejak kecil. Kita harus mulai merindukan anak-anak kita tumbuh tidak sekedar menjadi pekerja, namun menjadi orang yang mampu menciptakan pekerjaan. Ini penting, karena begitu banyak potensi pada bangsa ini yang tak tergali. Namun ini tentu tidak berarti bahwa mereka yang bekerja pada orang lain tidak mandiri. Para karyawan, buruh, atau pekerja lainnya jelas merupakan sosok yang mandiri. Sebab penekanannya adalah kesungguhan berikhtiar agar tidak menjadi beban orang lain.

    Kedua, kita harus memiliki keberanian mencoba dan memikul resiko. Jadi kemandirian itu hanya milik pemberani. Orang yang bermental mandiri tidak akan menganggap kesulitan sebagai kesulitan, melainkan sebagai tantangan dan peluang. Kalau kita tidak berani mencoba, itulah gagal. Kalau sudah dicoba jatuh. Itu biasa.

    Kegagalan itu tidak pernah terjadi pada orang-orang yang mencoba. Yang gagal itu yang tak pernah mencoba. Bahkan pengalaman bangkrut juga dapat menjadi keuntungan. Artinya, dari kebangkrutan itulah dia akan belajar memperbaiki lagi usahanya, pengalaman itu dapat membuatnya lebih waspada dan lebih semangat agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Tidak ada kata gagal dalam bisnis, yang gagal itu yang tidak berani mencoba.

    Kunci ketiga bila ingin mandiri adalah tingkat keyakinan kepada Allah. Kita  harus yakin, Allah yang menciptakan kita, Allah yang memberikan rezeki. Manusia tak mempunyai apa-apa kecuali yang Allah titipkan. Barang siapa serius menggebu untuk taat kepada Allah, Allah berjanji akan diberi jalan keluar dari setiap kesulitannya.

    Saudaraku, di antara kunci menjaga harga diri, marilah kita hindari merasa nikmat mendapatkan sesuatu. Tapi nikmatilah diri kita ketika memberikan sesuatu. Jangan merasa kaya dengan banyak orang yang memberi, tapi merasalah bahagia ketika kita bisa banyak memberi.

    Terakhir, semoga  jerih payah kita membuahkan rezeki yang melimpah, sehingga bisa menolong orang yang membutuhkan. Hendaklah niat kita tidak hanya untuk kepentingan sendiri dan keluarga saja, tetapi saudah melebar untuk kepentingan umat. Subhanallah! Hendaklah kita  tidak termasuk orang-orang yang ragu untuk mewakafkan diri bagi kepentingan agama Allah. “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS Al Fatihah 5-6)

    Wallahu a’lam

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 September 2016 Permalink | Balas  

    Implikasi Risywah (Budaya Suap) Di Tengah Masyarakat 

    Implikasi Risywah (Budaya Suap) Di Tengah Masyarakat

    Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Pertanyaan.

    Syaikh Abdul Azi bin Baz ditanya : Bagaimana jadinya kondisi suatu masyarakat ketika budaya suap menyebar di tengah mereka.?

    Jawaban.

    Tidak dapat disangkal lagi bahwa munculnya berbagai perbuatan maksiat akan menyebabkan keretakan dalam hubungan masyarakat, terputusnya tali kasih sayang diantara individu-individunya dan timbulnya kebencian, permusuhan serta tidak saling tolong menolong dalam berbuat kebajikan. Di antara impikasi paling buruk dari merajalelanya budaya suap dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya di dalam lingkungan masyarakat adalah muculnya dan tersebarnya prilaku-prilaku nista, lenyapnya prilaku-prilkaku utama (akhlaq yang baik) dan sebagian anggota masyarakat suka menganiaya sebagian yang lainnya. Hal ini sebagai akibat dari pelecehan terhadap hak-hak melalui perbuatan suap, mencuri, khianat, kecurangan di dalam mu’amalat, kesaksian palsu dan jenis-jenis kezhaliman dan perbuatan melampui batas semisalnya.

    Semua jenis-jenis ini adalah tindakan kejahatan yang paling buruk. Ia termasuk salah satu dari sebab-sebab mendapatkan kemurkaan Allah, timbulnya kebencian dan permusuhan antar sesama Muslim dan sebab-sebab terjadinya adzab menyeluruh lainnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Sesungguhnya bila manusia telah melihat kemungkaran lantas tidak mengingkarinya, maka telah dekatklah Allah meratakan adzabNya terhadap mereka”

    [Hadits Riwayat Imam Ahmad (1,17,30,54) dengan sanad Shahih dari Abu Bakar As-Shidiq Radhiyallahu ‘anhu, dan Abu Daud, kitab Al-Malahim (4338), At-Tirmidzi, kitab At-Tafsir (3057) dan Ibnu Majah, kitab Al-Fitan (4005) semisalnya]

    [Kitab Ad-Da’wah dari fatwa Syaikh Ibnu Baz]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 3 Darul Haq]

    Sumber” almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 11 September 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Syari’at Terhadap Suap 

    korupsiHukum Syari’at Terhadap Suap

    Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Pertanyaan.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukum syari’at terhadap risywah (suap) ?

    Jawaban.

    Risywah (suap) haram hukumnya berdasarkan nash (teks syari’at) dan ijma’ (kesepakatan para ulama). Ia adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang Hakim dan selainnya untuk melencengkan dari al-haq dan memberikan putusan yang berpihak kepada pemberinya sesuai dengan keinginan nafsunya.

    Dalam hal ini, terdapat hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau : “Artinya : Melaknat penyuap dan orang yang disuap” [Hadits Riwayat Abu Dawud, kitab Al-Aqdiiyah 3580, At-Tirmidzi, kitab Al-Ahkam 1337 dan Ibnu Majah, kitab Al-Ahkam 2313]

    Terdapat riwayat yang lain, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat Ar-Ra’isy juga [1]. Yakni, perantara antara keduanya. Dan, tidak dapat diragukan lagi bahwa dia berdosa dan berhak mendapatkan cacian, celaan dan siksaan karena membantu di dalam melakukan perbuatan dosa dan melampui batas, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertawaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya” [Al-Ma’idah : 2]

    [Kitab Ad-Da’wah, Juz I ,hal 156 dari Fatwa Syaikh Ibn Baz]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 5-6 Darul Haq]

    ***

    Foote Note.

    [1] Hadits Riwayat Ahmad 21893, Al-Bazzar 1353, Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 1415, Al-Haitsamiy berkata di dalam Majma’ Az-Zawa’id (IV : 199), “Di dalam riwayat tersebut terdapat Abul Haththab, seorang yang tidak diketahui identitasnya (anonym)”.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 10 September 2016 Permalink | Balas  

    Jejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an 

    gua hiroJejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an

    Gua Hira-Jabal Nur termasuk obyek wisata di Mekah. Gua ini sangat terkenal dalam sejarah Islam, karena di dalam gua itulah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam diangkat menjadi rasul, di situ pula turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama [Al ‘Alaq 1-5]. Gua kecil ini terletak di puncak gunung Jabal Nur, di bagian utara Mekah, sekitar 5 km dari Masjidil-Haram, di sebelah kiri perjalanan menuju Arafah. Tinggi puncak Jabal Nur sekitar 200 m. Bentuk gunung ini terlihat berdiri tajam. Disekelilingnya terdapat sejumlah gunung, bukit batu dan jurang.

    Bentuk Gua Hira agak memanjang, terletak di belakang 2 batu raksasa yang sangat dalam dan sempit, tidak dapat dilalui lebih dari satu orang. Di dalam gua hanya bisa didiami sekitar 5 orang saja, dan sekedar cukup untuk tidur 3 orang berdampingan. Tinggi gua hanya sebatas orang berdiri, atau sekitar 2 meter. Seandainya tidak ada bangunan yang tinggi di Masjidil-Haram, dari mulut gua bagian belakang dapat dilihat Ka’bah (Masjidil Haram). Meskipun dalam syariat berhaji tidak ditemukan perintah untuk mendatangi Gua Hira, namun pada musim haji banyak jamaah haji menyempatkan diri untuk naik ke Jabal Nur, menyaksikan Gua Hira. Di kawasan gunung ini tidak ditemui tanaman sedikitpun juga. Gersang. Hanya terdiri dari batu-batu besar. Mendaki puncak Gua Hira membutuhkan waktu paling tidak 2 jam. Keadaan di puncaknya sangat sunyi dan senyap hingga terasa menakutkan.

    Beberapa tahun sebelum dan setelah menikah dengan Khadijah binti Khuwalid, Rasulullah telah menjadikan Gua Hira sebagai tempat menyepi untuk ber tafakur, mengasingkan diri dari berbagai kerusakan moral penduduk Mekah. Selama itu Beliau juga bekerja membantu para jamaah haji yang datang ke Ka’bah dengan menyediakan air minum buat mereka. Namun Beliau tidak pernah beribadah menurut kepercayaan orang Arab kala itu, menyembah berhala yang ada di Ka’bah. Rasulullah sering memisahkan diri dari keramaian untuk menemukan jalan keluar- cara agar masyarakat tidak menyembah berhala.

    Di gua ini menjelang usia 40, Rasulullah yang selalu bertafakur, beribadah menurut agama Ibrahim selama berjam-jam bahkan berhari-hari hanya dengan membawa bekal makan dan minum secukupnya. Beliau pulang hanya untuk mengambil perbekalan dan kembali lagi ke gua. Sepanjang bulan Ramadhan digunakan Beliau untuk beribadah. Pada malam 17 Ramadhan 41H atau 6 Agustus 610, Beliau melihat “cahaya” terang benderang memenuhi ruangan gua. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul dihadapan Beliau menyampaikan wahyu Allah Yang Maha Tinggi, yang pertama, Al ‘Alaq (1-5) Setelah itu dengan perasaan takut dan gelisah, Beliau bergegas pulang dan berkata pada Khadijah : “Selimutilah Aku, selimutilah Aku.” Khadijah menyelimuti dan mendampingi Beliau hingga hilang rasa takutnya. Setelah mendengar kisah yang sangat ganjil dialami suaminya di Gua Hira, Khadijah segera menemui Waraqah bin Naufal, anak paman Khadijah, seorang pemeluk agama Nasrani di jaman Jahiliyah. Waraqah pandai menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani. Melalui dia, Muhammad tahu bawa Dirinya akan diangkat menjadi Nabi dan Rasul sebagaimana Nabi Musa, menerima wahyu Allah Yang Maha Tinggi melalui Jibril.

    Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam ketika itu berusia sekitar 40 tahun. Beliau telah dipilih Allah Yang Maha Tinggi sebagai Rasul. Rasul terakhir yang membawa manusia dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang.

     

    Kiriman Sahabat Meilany

     
  • erva kurniawan 2:18 am on 9 September 2016 Permalink | Balas  

    Prasangka Baik 

    prasangkaPrasangka Baik

    Ulasan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi

    Duhai… alangkah indahnya husnuzhzhon (prasangka baik). Dengan prasangka baik kita bisa menangkap asrôr (rahasia-rahasia) makhluk tanpa mereka sadari. Namun kini ikatan (rowâbith) telah lepas, dan kita hanya memandang basyariah (sisi lahiriah) saja. Jika seseorang melihat orang lain melakukan maksiat, ia lalu berprasangka buruk kepadanya. Serahkanlah urusan makhluk kepada Kholiq (Allah), jika mau Dia akan menyiksanya; jika mau Dia akan mengampuninya.

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik, bagi siapa pun yang Dia kehendaki.” (QS An-Nisa, 4:48)

    Bisa jadi dia termasuk orang yang diampuni Allah sesuai kehendak-Nya. Syeikh Ibn Arabi berkata, “Andaikata aku melihat seseorang bermaksiat kepada Allah, kemudian dia menghilang sejenak dari pandanganku, aku akan meyakini bahwa ia seorang wali Allah. Sebab, mungkin ia telah bertobat, dan Allah kemudian menerima tobatnya dan memilihnya.”

    Tidak ada seorang pun dapat mencegah Allah membuka pintu pengampunan. Allah selalu membuka pintu pengampunan lebar-lebar untuk manusia. Seseorang boleh jadi kafir, tapi sesaat kemudian telah jadi wali. Berprasangka baiklah kepada manusia. Jika kau ingin meneliti, maka telitilah dirimu sendiri. Curigailah dirimu sendiri, meskipun ia sedang berbuat ketaatan.

    Waspadailah tipu muslihat, yang ditimbulkan rasa lapar dan kenyang. Boleh jadi perut yang lapar, lebih buruk dari yang kenyang.

    Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

    Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada sebaik-baik akhlak, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkkan kepada sebaik-baik akhlak selain Engkau. Dan singkirkan dariku akhlak yang tercela, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menyingkirkannya dariku selain Engkau.

    Dikatakan bahwa tasawuf adalah akhlak. Barang siapa mengunggulimu dalam akhlak, maka ia telah mengunggulimu dalam tasawuf. Ibrahim bin Adham berkata, “Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan sepanjang hidupku seperti dalam dua kejadian ini:

    Pertama, sewaktu aku menumpang perahu dan seluruh penumpang menjadikanku sebagai bahan olok-olok mereka. Dalam pandangan mereka aku sangat hina.

    Aku lalu mengucapkan Alhamdulillâh.

    Kedua, ketika aku sedang berbaring, tiba-tiba datang seekor anjing mengencingiku.”

    Kita diterpa kemerosotan akhlak, dan penyebabnya adalah nafs yang sangat kuat. Semoga Allah mensucikan nafs kita. Sungguh beruntung orang yang mensucikan (jiwa)-nya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.(QS Asy-Samsy, 91:9-10)

    Para ulama tidak menuliskan contoh-contoh akhlak mulia, kecuali untuk diamalkan. Perangilah nafs-mu sekuat tenaga agar dapat berperilaku dengan akhlak As-Sayidul Ma’shûm (Nabi saw). Kita butuh obat, karena penyakit telah terlalu banyak.

    Wahai Penyembuh, sembuhkanlah. Wahai Yang memperbaiki, perbaikilah. (L:315)

    (Sekilas tentang Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Putera Riyadi)

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 8 September 2016 Permalink | Balas  

    Memandang Sisi yang Baik 

    amalan baikMemandang Sisi yang Baik

    Ulasan Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Seorang hamba dituntut untuk meminta kepada Tuhannya agar dapat melihat kebaikan-kebaikan para makhluk-Nya, juga agar dapat menutupi aib-aib mereka.

    Jika ia telah menyaksikan kebaikan-kebaikan mereka, maka ia akan berprasangka baik (husnuddhon) kepada mereka. Jika ternyata ia belum melaksanakan kebajikan yang telah mereka lakukan , maka hendaknya ia berusaha dengan sungguh-sungguh, dan bertawajjuh kepada Allah agar Ia menganugerahkan kebaikan-kebaikan itu kepadanya, karena ia tidak akan memperoleh apa pun kecuali dengan pertolongan Tuhannya. Dengan berbuat demikian, Allah akan memudahkan dan menyampaikannya pada kebaikan tersebut. Karena barang siapa memohon pertolongan kepada Allah,niscaya ia akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

    “Kalian semua sesat kecuali yang telah Kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, nanti Aku akan memberi petunjuk kepada.” (HR Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, baihaqi dan Darimi)

    Jika kebaikan yang ia miliki ternyata lebih baik dan lebih sempurna, maka hendaknya ia meminta agar Allah menambah kebaikannya, bersyukur atas taufik yang diberikan Allah kepadanya, dan bersyukur karena Allah telah mengkhususkannya untuk memperoleh kebaikan itu. Jika ia berbuat demikian, ia akan memperoleh kebaikan tambahan.

    Jangan sampai kebaikan itu membuatnya merasa ujub (berbangga diri). Jangan sampai ia memandang dirinya lebih baik dari yang lain, jangan sampai karunia yang diberikan Allah kepadanya menimbulkan perasaan sombong. Karena, sesungguhnya dirinya dan juga orang lain berada dalam tawanan kekuasaan dan kehendak Allah. Ia seharusnya merasa takut jika suatu waktu Allah mencabut kebaikan-kebaikannya kemudian memberikannya kepada orang-orang lain, dan sebagai gantinya, ia melaksanakan keburukan-keburukan mereka.

    Jika Allah menunjukkan keburukan seseorang, maka ia dituntut untuk berakhlak dengan akhlak Tuhannya Yang Maha Pengasih, yakni mengasihi mereka dan menutupi aib-aibnya. Karena sesungguhnya keburukan yang Allah tampakkan adalah rahasia yang dipercayakan Allah kepadanya dengan tujuan agar ia dapat menyimpan rahasia itu, kemudian dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut memberikan nasihat kepada orang itu, atau melalui sindiran, atau dengan cara lain yang baik sebagaimana teguran Rasulullah SAW kepada para sahabatnya:

    “Mengapa sekelompok orang berbuat demikian, hendaknya mereka menghentikan perbuatannya.” (C:13)

    (Salatnya Para Wali, Nûrun Lil Qulûb Yudhî`, Putera Riyadi)

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 7 September 2016 Permalink | Balas  

    Memahami Hawa Nafsu 

    amalan baikMemahami Hawa Nafsu

    Ulasan Al-Habib Muhammad bin Abdullah bin Syeikh Alaydrus

    Ketika seorang hamba melihat dengan akalnya tanpa terpengaruh oleh hawa, maka segala sesuatu akan tampak sebagaimana hakikatnya. Namun jarang yang dapat melihat dengan cara demikian, karena hawa terlalu menguasai nafs, dan nafs sangat sulit untuk melepaskan diri dari kekuasaan hawa. Bahkan karena demikian tersembunyi dan sulit dipahami, maka manusia tidak dapat merasakan kehadiran hawa. Hanya orang-orang yang berakal unggul (superior) yang dapat mengetahui keberadaan hawa dalam nafs-nya.

    Hawa adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawa. Oleh karena itu, jauhilah hawa dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawa akan menodai agama dan murûah -mu, sebagaimana dikatakan dalam syair:

    Jika kau ikuti hawa, ia akan menuntunmu menuju semua perbuatan yang tercela bagimu.

    Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu temukan bahwa hawa-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawa merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawa bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu, dan akan hilang akal sehatnya. Oleh karena itu, seorang yang pandai harus menyadari hal ini dan berusaha mematikan hawa-nya dengan mujâhadah dan mukhôlafah (penentangan).

    Hakikat hawa adalah kecenderungan pada sesuatu yang batil. Hawa adalah perilaku dan tabiat nafs. Semua kecenderungan nafs pada kebatilan disebut hawa.

    Hawa terbagi dua:

    Pertama, ajakan-ajakan syahwat yang terdapat dalam diri seseorang, misalnya berbagai hal di atas, yang menipu dan menguasai nafs serta diperebutkan oleh manusia. Ajakan-ajakan syahwat tersebut hina dan buruk, karena itulah orang-orang yang memiliki murûah menjauhinya demi menjaga agama, menyucikan murûah, melindungi kehormatan, dan menjaga akal mereka. Orang-orang berakal, jika menghadapi tipu daya hawa dan penentangan nafsu, mereka tetap kokoh, tidak goyah.

    Mereka mempertimbangkan akibatnya dengan hati-hati dan tidak gegabah. Lain halnya dengan orang-orang yang akal dan jiwanya lemah, mereka akan dikuasai nafs hingga tak dapat berkutik. Hawa akan menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela.

    Namun karena hatinya telah buta, hanyut dimabuk hawa, mereka tidak menyadari berbagai keburukan yang telah dilakukannya.

    Kedua, hawa yang timbul ketika seseorang marah (ghodhob). Hawa jenis ini merupakan jenis hawa yang paling buruk. Sebab hawa yang timbul ketika seseorang sedang marah (ghodhob) bersifat memaksa dan sulit diajak kompromi. Hanya kaum ksatria (abthôl), orang-orang yang berakal sehatlah yang mampu mengetahui keberadaan hawa ini.

    Jenis hawa yang lain adalah (perasaan) yang timbul ketika seseorang bersikap sombong (kibr) dan congkak. Jenis hawa ini juga buruk, merusak agama dan menghancurkan amal. Namun pengaruh buruknya lebih ringan dibandingkan dengan hawa yang timbul ketika marah. Hawa yang timbul ketika marah menggoncangkan nafs dan menghilangkan akal sehatnya. Nafs menjadi bodoh.

    Ketahuilah, marah adalah jenis hawa yang paling berat. Para abdâl pilihan memperoleh kedudukan di sisi Allah karena mereka benar-benar menjauhi semua jenis hawa. Sebab, semua jenis hawa adalah buruk. Para ashâbul Haq Ta’âlâ selalu berpijak pada kebenaran. Sebab, kebenaran adalah lawan kebatilan.

    Mereka sadar bahwa seberapa besar mereka mendekati hawa, maka sebesar itu pula mereka menjadi jauh dari Allah. Karena itu dalam semua perilakunya (makan, tidur, berbicara, dan lain-lain) mereka hanya melakukannya sebatas kebutuhan (dharûri) saja. Dalam pandangan mereka segala sesuatu yang melebihi batas kebutuhan merupakan bagian dari hawa.

    (Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

    Catatan:

    Muruah: Usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang dianggap baik oleh masyarakat dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk olehnya, misalnya duduk-duduk di pinggir jalan, dll.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 6 September 2016 Permalink | Balas  

    Penjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan 

    zakatPenjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Berikut ini penjelasan tentang zakat gaji/penghasilan dari profesi

    (Dari Buku Panduan Zakat Praktis karya Drs. H. Hasan Rifa’i Al Faridly-Dewan Syariah Dompet Dhuafa Republika)

    Dasar hukum :

    Firman Allah SWT :

    ‘Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian’ (Q.S. Adz-Dzariyat : 19)

    ‘…………..Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya ……..’ (Q.S. Al Hadid : 7)

    ‘Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik ……..’ (Q.S. Al Baqarah : 267)

    Hadits Nabi SAW :

    Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan (H.R. Thabrani)

    Hasil Profesi :

    Hasil profesi (pegawai negeri, pegawai swasta, konsultan, dokter, notaris dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu-jaman Rasulullah). Oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan zakat. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan yang mendapat porsi pembahasan yang sangat  memadai dan detail.

    Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapat dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin di antara mereka (sesuai dengan ketentuan syara’/syariat). Dengan dmeikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat.

    Akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarga) nya, maka ia menjadi mustahiq (orang yang menerima zakat), sedang jika hasilnya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit, maka bagiannya tidak wajib zakat.

    Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

    Ketentuan Zakat Penghasilan (Profesi) :

    Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dikategorikan berdasarkan qiyas/analogi atas kemiripan (syabbah) terhadap karakteristik harta zakat yang ada, yaitu :

    1. Model memperoleh harta penghasilan/profesi mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat diqiyaskan ke dalam zakat pertanian berdasarkan nishab (653 kg gabah kering giling atau setara dengan 552 kg beras) dan waktu pengeluaran zakatnya (setiap kali panen – untuk zakat penghasilan setiap terima gaji bulanan atau disetahunkan).
    2. Model harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang, sehingga harta ini dapat dianalogikan ke dalam zakat harta (kelompok harta simpanan/kekayaan wajib zakat berupa uang simpanan, emas, perak, surat berharga) berdasarkan kadar zakat yang harus dibayarkan (2,5%). Dengan demikian hasil profesi/gaji seseorang jika telah memenuhi ketentuan wajib zakat, maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

    Hikmah Zakat :

    Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, transendental dan horisontal. Oleh sebab itu, zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, yaitu :

    1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa dan lemah papa, untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah SWT.
    2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri manusia yang biasa timbul di kala ia melihat orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, jika mewah. Sedang ia sendiri tak punya apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
    3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia, menjadi murah hati, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi) dan mengikis sifat bakhil (kikir) dan serakah yang menjadi tabiat manusia sehingga dapat merasakan ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah dan tuntutan kewajiban kemasyarakatan.
    4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri di atas prinsip-prinsip : Ummatan Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, hak dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Takaful Ijtimai (tanggung jawab bersama).
    5. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), kesimbangan dalam kepemilikan harta (social ownership) dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
    6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah.
    7. Dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seorang dengan lainnya rukun, damai dan harmonis yang dapat menciptakan situasi yang tenteram dan aman lahir dan batin. Dalam masyarakat seperti itu akan tumbuh lagi bahaya komunisme (Atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab, dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme sudah dijawab. Akhirnya sesuai janji Allah, akan tercipta sebuah masyarakat baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    Jazakumullah Khairan Katsiran

    Fendy

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 5 September 2016 Permalink | Balas  

    Isa anak Allah? (Bagian 2) 

    nasehat-quran1Isa anak Allah?

    A=Muslim B=Kristen

    Malam 2.

    Yesus Adalah Utusan (Rasul) Tuhan

    A: Sebagaimana kita telah rembuk kemarin malam, apakah akan dilanjutkan juga musyawarah kita ini?

    B: Memang demikian, karena kedatangan kami kemari khususnya untuk melanjutkan pertemuan kita kemarin malam.

    A: Kalau tidak khilaf, pembicaraan kita masih berkisar dalam soal ketuhanan Yesus dalam Bibel.

    B: Betul begitu. Kemarin malam saya mengharapkan agar Bapak menunjukkan ayat-ayat dalam Kitab Injil apakah Yesus itu Tuhan atau bukan.

    A: Kemarin malam telah saya tunjukkan. Agar berurutan sebaiknya kita ulangi lagi ayat-ayat Injil tersebut, lalu akan saya tunjukkan lagi ayat-ayatnya yang lain, setujukah Saudara pendapat saya ini?

    B: Memang sebaiknya begitu, agar berurutan dan bertambah jelas, baiklah diulangi lagi.

    A: Silahkan Buka Matius pasal 1 ayat 16.

    B: Baik, dalam pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria ialah yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus”.

    A: Di sini jelas, ayat ini menyebutkan sendiri, bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria. Jadi Yesus adalah anak manusia, bukan anak Tuhan, sebagaimana telah saya terangkan dalam pertemuan pertama. Makna: “Yesus” dan “Kristus”

    B: Ya, pada pertemuan pertama Bapak telah terangkan dan saya telah mengerti. Menurut pendapat Bapak, apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan kata: “Yesus dan Kristus”.

    A: Apakah Saudara belum mengetahui arti daripada dua buah kata tersebut?

    B: Saya mengerti. Tetapi hanya untuk mencocokkan saja dengan penafsiran Bapak.

    A: Baik, Yesus adalah bahasa Yunani, yang berarti: “Melepaskan”, melepaskan manusia daripada dosa.

    B: Dari manakah adanya keterangan bahwa Yesus itu berarti melepaskan dosa?

    A: Sebetulnya susunan pertanyaan itu timbul dari saya. Tetapi saya mengerti mungkin Saudara akan menguji saya tentang Injil, walaupun begitu saya penuhi juga pengharapan Saudara. Silahkan periksa di Matius pasal 1 ayat 21.

    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka ia akan beranakkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau namakan Dia, Yesus, karena ialah yang akan melepaskan kaumnya daripada segala dosanya”.

    A: Itulah ayatnya, Arti Kristus ialah Almasih, Sang Sabda, Adil, Ratu Salem dan ada beberapa lagi artinya yang lain: Kata Almasih dalam Injil bahasa Inggris disebut: “Christ the Lord” di dalam Injil bahasa Arab disebut: “Almasih Ar-Robb”. Kata “Lord dan Robb” artinya tuanku, paduka tuan, dan ada juga dengan arti Tuhan, dan lain-lain lagi. Akan tetapi karena Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan melainkan utusanNya bagaimana tersebut dalam Kitab Injil Johanes pasal 17 ayat 23, dan ia diperanakkan oleh manusia, sebagaimana tersebut dalam Injil Matius pasal 1 ayat 16 dan 21, malah ia sendiri yang berkata dan mengakui bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), sebagaimana disebutkan dalam Injil Markus, pasal 12 ayat 29 dan di ayat-ayat Injil yang lain-lain, maka berdasarkan pengakuan Yesus itu, jelas Yesus itu bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan.

    B: Benar yang Bapak maksudkan itu.

    Sekali lagi: Tuhan itu Esa (Tunggal)

    A: Selanjutnya harap periksa lagi di Markus pasal 12 ayat 29.

    B: Di sini menyebutkan: “Maka jawab Yesus kepadanya: “Hukum yang terutama inilah: dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan Kita, ialah Tuhan Yang Esa”.

    A: Jelas bahwa Tuhan itu Esa, artinya satu, Tunggal, jadi Yesus bukan Tuhan sebagaimana telah saya terangkan.

    B: Ya, sudah Bapak terangkan kemarin malam.

    A: Periksa lagi Ulangan pasal 4 ayat 35.

    B: Di sini menyebutkan: “Maka kepadamulah Ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itu Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

    A: Kitab Injil Saudara sendiri yang menyebutkan dan Yesus sendiri yang menyampaikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa. Jadi tegas sekali Yesus sendiri tidak mengaku menjadi Tuhan. Ini pun telah saya terangkan pada pertemuan kita kemarin malam.

    B: Ya, saya sudah mengerti dan menerimanya.

    A: Periksa lagi di Ulangan pasal 6 ayat 4.

    B: Di Ulangan pasal dan ayat tersebut menyebutkan demikian: “Dengarlah olehmu hai Israil! Sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya”.

    A: Jelas di Kitab Injil sendiri menyebutkan Allah itu Esa, Tunggal. Yesus telah mengakui sendiri bahwa dia bukan Tuhan. Bagaimana pendapat Saudara? Kaum Kristen mengatakan Yesus itu Tuhan, sedangkan Yesus sendiri menolak disebut dirinya Tuhan.

    B: Ya, saya tidak mengerti dan tambah bingung.

    A: Biarlah tidak apa-apa. Marilah kita teruskan lagi. Periksa di Matius pasal 27 ayat 1.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Setelah hari siang, maka segala kepala iman dan orang tua-tua kaumpun berundinglah atas hal Yesus, supaya dibunuh Dia”.

    A: Kalau betul Yesus itu Tuhan, mustahil ada manusia merencanakan untuk membunuh Dia. Silahkan buka lagi di Matius pasal 26 ayat 38.

    B: Di ayat ini ada menyebutkan: “Kemudian kata Yesus kepada mereka itu: “Hatiku amat sangat berdukacita, hampir mati rasaku; tinggallah kamu di sini dan berjagalah sertaku”.

    A: Di ayat ini menyebutkan bahwa Yesus amat sangat berduka cita pantaskah ada Tuhan berduka cita? Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan. Periksa lagi di Lukas pasal 2 ayat 11.

    B: Baik di ayat ini menyebutkan: “Sebab pada hari ini sudah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan itu di dalam negeri Daud”.

    A: Wajarkah Tuhan dilahirkan oleh manusia (Maria)? Terus periksa di Johanes pasal 5 ayat 30. Tuhan Tidak Berkuasa Berbuat Sekehendaknya?

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Maka aku tidak boleh berbuat satu apa dari mauku sendiri, seperti aku dengar begitu aku hukumkan, dan hukumku itu adil adanya, karena tidak aku coba turut mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus aku”.

    A: Ayat itu Yesus sendiri yang berkata bahwa ia tidak berkuasa berbuat sekehendaknya. Wajarkah Tuhan tidak berkuasa berbuat sekehendaknya? Di ayat itu pun Yesus mengaku sendiri bahwa kehendaknya itu menurut kehendak Tuhan yang mengutus dia. Kalau Yesus betul Tuhan, tentu tidak dapat diperintah oleh siapa pun. Di ayat ini juga Yesus mengaku, bahwa dia bukan Tuhan melainkan diutus oleh Tuhan. Yang diutus itu tentu bukan Tuhan.

    B: Kalau berdasarkan ayat tersebut, memang benar keterangan Bapak.

    A: Kalau begitu jelas bahwa: 1. Yesus datang ke dunia ini bukan kemauannya sendiri tetapi utusan Tuhan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Tuhan telah mengutus nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain. 2. Yesus menghidupkan orang mati bukan maunya sendiri melainkan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Ilyas [Ilyas = Elisa, pent.] dapat menghidupkan orang mati. 3. Yesus dapat menyembuhkan penyakit kusta (lepra), bukan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Tuhan sebagaimana Ilyas dapat menyembuhkan penyakit lepra.

    Keterangan saya ini berdasarkan pengakuan Yesus sendiri di ayat tadi bahwa “tidak aku coba mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus Aku”.

    Apakah Saudara memerlukan lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan pengakuan Yesus sendiri bahwa Ia bukan Tuhan?

    B: Buat saya masih memerlukan lagi, bukankah telah saya sampaikan kepada Bapak, bahwa saya ingin mencari kepuasan dalam meneliti ajaran-ajaran agama, terutama dalam hal Ketuhanan yang hakiki. Tetapi saya ingin bertanya, dan maaf sebelumnya, bagaimanakah Bapak bisa hafal di luar kepala tentang ayat-ayat Bibel, dan keistimewaan Bapak ini saya merasa kagum.

    A: Itu adalah petunjuk Tuhan. Alhamdulillah saya memang mempelajari bermacam agama, akhirnya saya bertambah yakin akan kebenaran agama Islam. Kalau Saudara merasa kagum kepada saya, maka saya pun lebih merasa kagum lagi kepada Saudara selaku pemeluk agama Kristen berhasrat meneliti ajaran-ajaran agamanya. Juga dengan bantuan Bapak Markam ini. Baiklah kita lanjutkan, periksa lagi di Ulangan pasal 4 ayat 39. “Laa ilaaha illa Allaah” = “Tidak ada Tuhan melainkan Allah” dalam Bible

    B: Baik, di pasal dan ayat ini disebutkan sebagai berikut: “Maka sekarang ketahuilah olehmu dan perhatikanlah ini baik-baik, bahwa Tuhan itulah Allah, baik di langit yang di atas, baik di bumi yang di bawah, dan kecuali Ia tiadalah lain lagi.”

    A: Tegas sekali, di Kitab Injil sendiri yang menyebutkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Yesus sendiri pula yang berkata bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Jadi Yesus pun bukan Tuhan. Ayat ini tentu tidak dapat diputar-putar lagi. Kalau ada penganut agama Kristen mengakui Yesus itu Tuhan, maka pengakuannya bertentangan dengan kitab sucinya sendiri, dan bertentangan pula dengan ajaran Yesus.

    B: Tetapi dalam Injil Johanes pasal 10 ayat 38 ada menyebutkan: “Supaya kamu dapat tahu dan percaya, yang Bapa ada di dalam aku, dan aku ada di dalam Bapa”. Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam Yesus, maksudnya Tuhan dan Yesus itu satu adanya atau singkatnya bahwa Yesus pun Tuhan. Juga dalam Johanes pasal 14 ayat 11 ada menyebutkan: “Percayalah yang aku ini dalam Bapa, dan Bapa dalam aku”.

    A: Kalau Saudara berpegang dengan ayat tersebut, bahwa Yesus itu Tuhan, maka Saudara harus mengakui juga bahwa Tuhan itu Yesus dan Yesus itu Tuhan.

    B: Tidak demikian, tetapi Yesus dan Tuhan itu satu.

    A: Kalau begitu, saya ingin bertanya: “Di ayat itu ada dua rangkaian kata ialah “Yesus dan Tuhan”. Siapakah yang lebih berkuasa di antara keduanya. Tuhan Bapakah atau Yesus?

    B: Tentu Tuhan Bapa. “Bapaku itu lebih dari aku … “, ” … Dia yang MENGUTUS aku” Yesus adalah UTUSAN (RASUL) Allah

    A: Kalau masih ada yang lebih berkuasa dari Yesus, maka Yesus tentu bukan Tuhan, lebih jelas periksa di Injil Johanes pasal 14 ayat 28.

    B: Baik, di ayat ini ada menyebutkan: “Kamu sudah dengar aku bilang, yang aku pergi serta datang kembali sama kamu. Coba kamu cinta sama aku, hati, sebab aku sudah bilang: “Yang aku pergi sama Bapa, karena Bapaku itu lebih dari aku”.

    [Karena kalimat di atas agak membingungkan, berikut adalah kutipan dari “Al-Kitab

    Terjemahan Baru”, pent.] [“Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapaku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.”]

    [dan versi “Al-Kitab Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari”, pent.: Kalian sudah mendengar Aku berkata, ‘Aku akan pergi, tetapi Aku akan datang kembali kepadamu’. Kalau kalian mengasihi Aku, kalian akan senang Aku pergi kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar daripadaku.]

    A: Di ayat ini Yesus sendiri mengatakan: “Bapaku itu lebih dari aku”, ini menunjukkan bahwa, kalau Yesus itu Tuhan, maka ialah Tuhan yang tidak sempurna, oleh karena masih ada yang melebihi tingkatnya. Yang tidak sempurna itu tentu bukan Tuhan. Harap Saudara periksa lagi di Injil Johanes pasal 12 ayat 45.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Dan barang siapa yang melihat aku, dia melihat sama Dia yang mengutus aku”.

    A: Pantaskah Tuhan diutus? Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa ada Tuhan yang di utus? Maksud ayat tersebut siapa yang melihat Yesus, seolah-olah ia melihat Tuhan yang mengutus Yesus. Jadi perkataan Yesus di atas menunjukkan bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Makna: “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa”

    B: Saya belum meneliti maksud ayat di Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 yang menyebutkan bahwa “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa” seperti yang telah saya bacakan tadi. Akan tetapi dalam ayat ini saya berpendapat ada dua macam penafsiran: 1. Yesus adalah Tuhan. 2. Berdasarkan Injil Johanes pasal 12 ayat 45 yang kita baca itu menyebutkan, Yesus itu adalah utusan Tuhan. Utusan di sini maksudnya selaku Tuhan ia menyampaikan sendiri ajarannya kepada manusia.

    A: Ayat itu bukan berarti mempunyai dua macam penafsiran, tetapi di antara dua ayat tersebut yakni di Johanes pasal 10 ayat 38, dan pasal 14 ayat 11 dan Johanes pasal 12 ayat 45 itu adalah bertentangan. Di satu ayat ditafsirkan Yesus itu Tuhan, dan di ayat lain disebutkan bahwa Yesus itu utusan Tuhan. Jadi di dalam Injil sendiri terdapat ayat-ayatnya antara yang satu dengan yang lain bertentangan. Kita perlu ingat kembali pada pembicaraan kita semula kalau ada kitab suci yang isinya berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, maka apakah kitab suci itu masih akan dipertahankan kesuciannya…?

    B: Betul, kita telah bicarakan hal itu pada pertemuan yang lalu.

    A: Andaikan Saudara masih juga mempertahankan ketuhanan Yesus dengan berdasarkan ayat Bibel yang menyebutkan: “Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus” sebagaimana tersebut dalam Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 itu, maka Saudara pun akan dijawab oleh Kitab Injil Saudara sendiri, bahwa penafsiran Saudara itu tidak benar.

    B: Di manakah menyebutkan demikian?

    A: Silahkan Saudara periksa di Injil Johanes pasal 17 ayat 21. Sekali lagi: Yesus hanyalah UTUSAN (RASUL) Tuhan

    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya semua jadi satu, ia Bapa! seperti Bapa dalam saya dan saya dalam Bapa dan supaya dia orang jadi satu dalam kita, biar dunia percaya Bapa sudah mengutus saya”.

    A: Jelas di ayat ini kalau Yesus sendiri berkata bahwa Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus dan muridnya pun ada dalam Bapa. Kalau begitu harus Saudara akui bahwa murid-murid Yesus pun Tuhan juga.

    B: Kalau begitu bagaimana arti yang sebenarnya ayat itu menurut Bapak?

    A: Kalimat: “Bapa dalam saya” dan muridnya jadi satu dengan kita (Allah dan Yesus) di ayat tersebut maksudnya, supaya Yesus senantiasa tidak melupakan Allah (Bapa) demikian juga muridnya tidak melupakan Yesus dan Allah (Bapa). Dan di akhir ayat tersebut Yesus berkata “biar dunia percaya yang Bapa mengutus saya”. Rangkaian kata-kata ini tegas sekali Yesus mengakui bahwa ia bukan Anak Allah, melainkan utusannya, dan teruskan Saudara baca di Johanes pasal 17 ayat 23.

    B: Baik, ayat tersebut menyebutkan: “Saya dalam dia orang, dan Bapa dalam saya, supaya dunia boleh tahu yang Bapa sudah mengutus saya”.

    A: Apakah susunan ayat tersebut belum jelas bahwa Yesus sendiri yang berkata dan mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Apakah Saudara masih belum puas tentang ayat-ayat Injil yang menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan, karena saya anggap telah cukup banyak tunjukkan kepada Saudara.

    B: Sebagaimana telah saya sampaikan kepada Bapak, saya ingin kepuasan. Sebetulnya keterangan-keterangan Bapak telah memuaskan saya, namun demikian kalau masih ada ayat-ayatnya lagi harap Bapak tunjukkan. Sekali lagi: “Laa ilaaha illa Allaah” dalam Bible

    A: Baik saya penuhi pengharapan Saudara silahkan Saudara periksa di kitab Samuel yang kedua pasal 7 ayat 22.

    B: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Maka sebab itu besarlah Engkau, ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan Engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami”.

    A: Di ayat ini jelas bahwa Yesus sendiri menghadapkan kata-katanya kepada Allah, bahwa tiada yang dapat disamakan dengan Allah. Jadi Yesus sendiri mengakui bahwa dirinya tidak sama dengan Tuhan, dengan kata lain ia bukan Tuhan dan di tengah-tengah ayat itu Yesus sendiri berkata: “Tiada Allah melainkan engkau”. Jadi Yesus termasuk yang lain, yakni ia bukan Tuhan Allah. Rangkaian ayat tersebut, Yesus sendiri yang berkata bahwa, “tiada Tuhan melainkan Allah”. Mengapa kaum Kristen mengangkat Yesus selaku Tuhan? Silahkan periksa lagi Injil Yahya pasal 17 ayat 8.

    B: Baik, sebutan ayat tersebut adalah sebagai berikut: “Karena segala firman yang telah Engkau firmankan kepadaku, itulah aku sampaikan kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetahui dengan sesungguhnya bahwa aku datang dari ada-Mu, dan lagi mereka itu percaya bahwa Engkau yang menyuruh aku.

    A: Di ayat ini Yesus sendiri berkata bahwa ia menerima firman dari Allah. Kalau Yesus Tuhan, tentunya tidak membutuhkan firman dari siapa pun juga. Di akhir ayat itu juga Yesus sendiri berkata bahwa “Engkaulah yang menyuruh aku”. Jadi Yesus itu bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan, sebagaimana nabi-nabi dan utusan-utusan Allah yang lain-lain juga. Teruskan Saudara periksa Injil Matius pasal 26 ayat 2.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Kamu memang mengetahui bahwa dua hari lagi akan ada hari raya Paskah, dan Anak manusia akan diserahkan supaya ia disalibkan”.

    A: Yang dimaksud dengan anak manusia di ayat itu ialah Yesus sendiri. Jadi jelas Yesus mengakui bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Lanjutkan periksa Injil Matius pasal 5 ayat 45. Sekali lagi: makna “Anak Allah” dalam Bible

    B: Baik, ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga…”

    A: Cukup sampai di situ. Di ayat ini Saudara saksikan sendiri, bahwa Yesus sendiri yang berkata kepada murid-muridnya, supaya kamu menjadi anak-anak bapamu yang di surga; yakni apabila murid-muridnya taat atas perintah-perintah Tuhan, menurut Yesus mereka akan jadi anak Tuhan juga. Berdasarkan ayat Bibel tersebut tentunya Anak Tuhan akan menjadi banyak jumlahnya, bukan Yesus saja.

    B: Tetapi di Injil Johanes pasal 1 ayat 34 menyebutkan: “Maka aku sudah melihat itu, serta bersaksi yang dia inilah Anak Allah”. Juga di Injil Matius pasal 3 ayat 17 menyebutkan: “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan” Di Injil Lukas pasal 1 ayat 32 juga menyebutkan: “Maka ia akan menjadi besar, dan ia akan dikatakan Anak Allah Yang Maha Tinggi, maka Allah, Tuhan kita akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, nenek moyangnya itu”. Di Ibrani pasal 4 ayat 14 menyebutkan: “Sedangkan ada kepada kita seorang Imam Maha Besar yang sudah melintas segala langit, yaitu Yesus Anak Allah, maka hendaklah kita memegang pengakuan itu”. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan bahwa Yesus Anak Allah. Kalau Bapak memerlukan akan saya tunjukkan ayat-ayatnya.

    A: Saya mengerti, bahwa ayat-ayat Bibel yang menyebutkan Yesus Anak Allah sebagaimana tersebut di:

    Matius: Pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63 dan Pasal 16 ayat 17.

    Johanes: Pasal 3 ayat 16, pasal 1 ayat 34 dan 40, pasal 17 ayat 1, pasal 19 ayat 7, pasal 16 ayat 27 dan ayat 30, pasal 15 ayat 23 dan beberapa ayat lainnya di Johanes.

    Rum: Pasal 1 ayat 9, pasal 5 ayat 10, pasal 8 ayat 3, pasal 29 ayat 32.

    Galitiah: Pasal 1 ayat 16, pasal 4 ayat 4 dan 6.

    Lukas: Pasal 1 ayat 32 dan 35, pasal 3 ayat 22, pasal 4 ayat 3 dan 9, pasal 4 ayat 43 dan 41.

    Ibrani: Pasal 1 ayat 2, 5 dan 8, pasal 3 ayat 6, pasal 4 ayat 14, pasal 5 ayat 5 dan 8.

    Matius: pasal 2 ayat 15, pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3 dan ayat 6, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63, pasal 16 ayat 17.

    Korintus: Pasal 1 ayat 9.

    Dan masih ada beberapa ayat lain di Kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tetapi maksudnya bukan Anak Allah yang sebenarnya, karena Yesus sendiri mengaku di Kitab Injil bahwa ia adalah utusan Allah, bukan Anak Allah. Dan ia sendiri berkata: “anak manusia” bukan anak Tuhan, Jadi jumlah ayat-ayat di Kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tidak menjamin kebenarannya bahwa ia Anak Allah betul-betul, sebagaimana kita sering mendengar ucapan-ucapan “Anak Kapal” “Anak Sekolah” tidak berarti bahwa kapal dan sekolah itu beranak, melainkan mempunyai arti bahwa orang itu selalu terikat oleh peraturan-peraturan kapal dan pelajaran-pelajaran di sekolah. Periksa lagi Yahya pasal 5 ayat 30.

    B: Ayat tersebut demikian bunyinya: “Suatu pun tidak aku dapat berbuat menurut kehendakku sendiri melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana yang aku dengar, dan hukumku itu adil adanya, karena bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku.

    A: Di sini jelas sekiranya Yesus itu Tuhan, tentu dapat berbuat sekehendaknya sendiri. Tetapi di Bibel sendiri menyebutkan bahwa perbuatan Yesus itu adalah kehendak Tuhan. Dan sekiranya Yesus itu Tuhan, tentunya tidak ada yang mengutus. Mustahil Tuhan menjadi utusan Tuhan, atau dengan lain kata “Utusan Tuhan itu adalah Tuhan”. Bisakah terjadi demikian?

    B: Sudah jelas dan terima kasih.

    A: Silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Seorang pun tiada naik ke surga, kecuali ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia”.

    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Yesus sendiri adalah anak manusia, bukan anak Tuhan.

    B: Betul berdasarkan ayat tersebut Yesus adalah anak manusia.

    A: Periksa lagi di Matius pasal 27 ayat 30.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Maka mereka itupun meludahi dia, serta mengambil buluh itu memalu kepalanya”.

    A: Kalau Yesus itu betul Tuhan, bagaimana Tuhan bisa diludahi dan diperolok-olokkan? Mengapa ada Tuhan yang begitu lemah? Sesuai dengan pengharapan Saudara supaya puas dengan soal ketuhanan Yesus menurut Bibel dan perkataan Yesus sendiri ada menyebutkan Ia bukan Tuhan, sekali lagi periksa di Matius pasal 21 ayat 18 dan 19.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Pada pagi-pagi harinya, apabila Ia kembali ke negeri itu, ia merasa lapar”. Serta dipandangnya sepohon ara di sisi jalan, pergilah ia ke situ dan didapatinya suatu apa pun tiada di pohon itu, melainkan daun sahaja. Lalu berkatalah ia kepadanya: Janganlah jadi buah daripadamu lagi selama-lamanya. Maka dengan seketika itu juga layulah pohon ara itu”.

    A: Kalau Yesus itu Tuhan tentu ia tidak akan mengutuk pohon itu supaya tidak berbuah melainkan ia akan menciptakan buah pada pohon itu dengan kekuasaannya selaku Tuhan. Akan tetapi pohon yang tidak berbuat kesalahan apa-apa kepada Yesus dan pohon yang tidak tahu apa-apa itu malah dikutuk oleh Yesus. Wajarkah Tuhan mengutuk makhluk yang tidak bersalah? Padahal kalau betul Yesus itu Tuhan tentu ia berkuasa menciptakan pohon itu supaya mengeluarkan buahnya seketika itu juga, tidak lalu mengutuknya.

    B: Bapak hafal betul tentang ayat-ayat di Kitab Injil, jadi sudah jelas berdasarkan ayat-ayat Injil yang Bapak sebutkan dan dikuatkan lagi dengan beberapa ayat lainnya, nyatalah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan.

    A: Persoalan Yesus anak Tuhan itu telah kita bicarakan pada pertemuan pertama, dan sudah dibereskan oleh Injil sendiri yang menyebutkan bahwa selain Yesus masih banyak lagi beberapa manusia yang harus diakui anak Tuhan, dan seharusnya mereka itu diakui juga oleh golongan Kristen, menjabat anak tuhan, bukan Yesus saja, karena berdasarkan Kitab Injil sendiri anak Tuhan itu banyak.

    B: Ya betul kita telah bicarakan tentang itu. Siapakah “Anak SULUNG Allah” yang sebenarnya dari “Anak SULUNG”-“Anak SULUNG” yang disebutkan dalam Bible?

    A: Supaya lebih Jelas, baiklah saya ulangi, di Injil ada menyebutkan bahwa: 1. Daud anak Allah yang sulung (Mazmur, pasal 89 ayat 27) 2. Yakub (Israil) adalah anak Allah yang Sulung (Keluaran pasal 4 ayat 22 dan 23) 3. Afraim adalah anak Allah yang Sulung (Yeremia pasal 31 ayat 9) Jadi Daud anak Allah yang sulung, Yakub anak Allah yang sulung, dan Afraim juga anak Allah yang sulung. Ketiga-tiganya atau kesemuanya adalah anak sulung. Yang manakah yang betul-betul sulung? Apakah ayat ini benar semuanya atau salah semuanya? Karena itu saya jelaskan bahwa anak Allah yang tersebut dalam Bibel itu, tidak berarti anak Allah yang sebenarnya melainkan maksudnya ialah kekasih Allah, atau mereka yang taat kepada perintah-perintah tuhan.

    B: Saya sudah mengerti, terima kasih. Makna: “Anak” dan “Bapa” dalam Bible

    A: Tetapi Saudara mungkin belum mengerti betul tentang arti “Anak dan Bapa” dalam bahasa Ibrani, atau susunan bahasa yang terpakai dalam Bibel.

    B: Kalau begitu bagaimanakah arti yang sebenarnya?

    A: Dalam bahasa Ibrani kata “Bapa” itu dipakai buat Tuhan, sedangkan kata “anak” dipakai buat mereka yang dihormati, seperti para Nabi dan para Rasul.

    B: Dasar apakah yang dipergunakan oleh Bapak tentang keterangan itu?

    A: Saya sudah sebutkan pada pertemuan yang pertama ialah tersebut dalam Injil Matius.

    B: Saya tidak ingat, di pasal dan ayat berapa?

    A: Silahkan buka Matius, pasal 5 ayat 9.

    B: Baik, di sini disebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang karena mereka itu akan disebut anak Allah”.

    A: Jelas siapa saja mendamaikan manusia akan disebut akan menjabat “anak Allah” kalau begitu anak Allah itu ratusan, ribuan malah mungkin jutaan orang, jadi bukan Yesus saja.

    ***

    Wallahualam..

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 4 September 2016 Permalink | Balas  

    Isa anak Allah? 

    al quranIsa anak Allah?

    A=Muslim B=Kristen

    Malam 1.

    Ketuhanan Yesus

    A: Sejak kapan Saudara beragama Kristen?

    B: Sejak saya dilahirkan.

    A: Apakah Saudara benar-benar mempelajari bahwa agama Kristen itu suatu agama yang paling benar?

    B: Ya, memang saya menyadari.

    A: Apakah Saudara berkeyakinan bahwa Kitab Injil itu suci?

    B: Ya, saya yakin sekali.

    A: Dari siapakah pengertian Saudara bahwa Bibel itu dari Tuhan Yang Maha Suci?

    B: Guru saya menerangkan bahwa Bibel adalah Kitab Suci berisi pengajaran Tuhan Yesus, yang dicatat oleh Rasul-Rasul Matius, Lukas, Yohanes dan Rasul Markus.

    A: Apakah yang dimaksud suci pada Bibel itu mempunyai arti bahwa Bibel bersih daripada kesalahan-kesalahan?

    B: Betul demikian. Tetapi kesalahan yang bagaimana yang Bapak maksudkan?

    A: Misalnya pada suatu saat ada orang mengabarkan pada Saudara si A sakit, sedangkan orang lain memberitahukan bahwa pada saat itu si A tidak sakit. Kedua berita itu apakah benar semuanya atau salah semuanya, atau salah satunya yang benar?

    B: Diantara keduanya itu tentu salah satu yang benar atau keduanya salah dan mustahil kedua-duanya benar.

    A: Satu misal lain, si A mempunyai 3 orang anak dan orang lain mengatakan si A mempunyai 10 anak. Apakah dua perkataan itu benar semuanya atau salah semuanya atau salah satu yang benar?

    B: Tidak mungkin benar semuanya, melainkan salah satunya yang benar atau salah semuanya.

    A: Kalau saya mengatakan benar semuanya, bagaimana pendapat saudara?

    B: Itu adalah mustahil, karena ternyata ada perselisihan di antara keduanya.

    A: Andaikata ada suatu kitab suci, akan tetapi ayat-ayat di dalamnya di antara yang satu dengan yang lain terdapat perselisihan, apakah kitab itu akan dinamakan kitab suci?

    B: Tentu bukan kitab suci, karena yang dinamakan kitab suci itu adalah ilham (wahyu) dari Tuhan, yang mustahil terdapat kesalahan atau perselisihan.

    A: Jadi kalau begitu bukan kitab suci lagi?

    B: Betul, kesuciannya telah batal.

    A: Kalau demikian, tentu isinya tidak dapat dipercaya, kesuciannya atau kebenarannya, karena di antara ayat-ayatnya terdapat perselisihan.

    B: Yang jelas di antara ayat-ayatnya pasti bukan dari Tuhan, atau sudah dicampuradukkan dengan karangan manusia, sehingga kesuciannya ternoda. Ringkasnya sudah tidak suci lagi.

    A: Kalau misalnya Bibel terdapat selisih antara satu ayat dengan ayat lain apakah Saudara masih berkeyakinan Bibel itu kitab suci?

    B: Saya tidak yakin kalau Kitab Bibel tidak suci. Terkecuali kalau ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan ayat-ayatnya berselisih antara yang satu dengan yang lain, yang dapat menimbulkan keraguan saya tentang kesuciannya. Menurut penelitian Bapak, apakah ayat-ayat Bibel ada yang berselisih?

    A: Ya, banyak yang berselisih.

    B: Di Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru?

    A: Dua-duanya terdapat beberapa perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain.

    B: Di bab apa dan pasal serta ayat berapa?

    A: Supaya berurutan saya atur dalam beberapa pasal: Pertama soal Ketuhanan Yesus, karena soal Ketuhanan adalah termasuk kepercayaan pokok pada tiap-tiap agama. Jadi soal ini perlu sekali didahulukan. Sesudah itu kita berpindah kepada soal yang lain yang berhubungan dengan soal agama Kristen yang termaktub dalam Kitab Bibel. Bagaimana pendapat Saudara?

    B: Baik, saya menyetujui pendapat Bapak. Siapa Sajakah “Anak Allah” Itu?

    A: Sekarang saya ingin bertanya, apakah alasan Saudara bahwa Yesus menjadi anak Tuhan?

    B: Dalam “Matius” pasal 3 ayat 17 menyebutkan demikian : “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. KepadaNya Aku berkenan”. Juga di Lukas pasal 4 ayat 41, bahwa “Yesus itu Anak Allah.”

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 5 ayat 9.

    B: Baik, Dalam pasal dan ayat itu menyebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah”.

    A: Berdasarkan ayat tersebut, yang dimaksudkan “Anak Allah” itu ialah orang yang dihormati seperti Nabi. Kalau Yesus dianggap anak Allah, maka semua orang yang mendamaikan manusia pun menjadi anak-anak Allah juga. Jadi bukan Yesus saja Anak Allah tetapi ada terlalu banyak.

    B: Dalam “Yohanes” pasal 14 ayat 9 disebutkan: “Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa”, dan di ayat 10 disebutkan: “Tiadakah engkau percaya bahwa Aku ini di dalam Bapa, dan Bapa pun di dalam Aku? Segala perkataan yang Aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal di dalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu.” Tritunggal atau 15Tunggal?

    A: Baiklah. Silahkan Saudara periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 23.

    B: Baik, di pasal ini disebutkan bahwa: “Aku di dalam mereka itu, dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan.”

    A: Perhatikan di ayat ini ada tersusun kata “Aku di dalam mereka”. Kata “mereka” di ayat ini ialah sahabat Yesus. Sedang yang dimaksudkan dengan “Aku” ialah Yesus. Jadi kata “Aku” beserta mereka artinya Yesus beserta sahabat-sahabatnya. Jadi Tuhan itu beserta Yesus dan para sahabatnya. Kalau Saudara percaya hal kesatuan Yesus dengan Bapa maka Saudara pun harus percaya tentang kesatuan Bapa itu dengan semua sahabat Yesus yang berjumlah 12 orang itu. Jadi bukan Yesus dan Roh Suci saja yang menjadi satu dengan Tuhan, melainkan harus ditambah 12 orang lagi. Ini namanya persatuan Tuhan atau Tuhan persatuan bukan hanya Tritunggal tetapi 15tunggal. Jadi berdasarkan perselisihan ayat-ayat tersebut, yang manakah yang benar? Tiga menjadi Tunggal atau 15 menjadi Tunggal? Ayat manakah yang akan Saudara yakini, yang tiga menjadi tunggal ataukah yang 15 itu? Allah itu Esa (Tunggal)

    B: Tunggu dulu Pak, ini agak membingungkan saya.

    A: Tentu akan lebih membingungkan Saudara kalau saya tunjukkan ayat yang lain. Silahkan periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 3.

    B: Baik, di sini menyebutkan “Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa dan Yesus kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    A: Di ayat ini menyebutkan Tuhan adalah Esa. Dalam Kamus bahasa Indonesia oleh E. St. Harahap, cetakan ke II disebutkan bahwa Esa itu berarti satu, pertama (tunggal) dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Yesus Kristus adalah Pesuruh Allah (Utusan/Rasul). Kalau demikian, manakah yang benar? Di satu ayat menyebutkan Tuhan dengan Yesus menjadi satu, di lain ayat 15 menjadi satu dan yang lain lagi Tuhan itu Tunggal, sedangkan di ayat itu pula menyebutkan bahwa Yesus itu pesuruh Allah, bukan Tuhan. Menurut pengakuan Saudara suatu kitab suci yang kandungan ayat-ayatnya bertentangan antara yang satu dengan yang lain tentu sulit sekali dipercaya kesuciannya, karena yang disebut suci itu bersih dari kekeliruan dan perselisihan.

    B: Masih adakah ayat yang menyebutkan demikian?

    A: Ayat yang bagaimana yang Saudara maksudkan?

    B: Ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), bukan tiga menjadi satu.

    A: Silahkan buka di “Ulangan” pasal 4 ayat 35.

    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka kepadamulah ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itulah Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

    A: Jelas di dalam Bibel sendiri menerangkan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal.

    B: Tetapi itu di dalam Kitab Perjanjian Lama. Apakah terdapat juga di Perjanjian Baru?

    A: Saudara minta di Perjanjian Baru, baiklah. Silahkan Saudara buka Markus pasal 12 ayat 29.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan “Maka jawab Yesus kepadanya, hukum yang terutama ialah: Dengarlah olehmu hai Israel, adapun Allah Tuhan kita ialah Tuhan yang Esa.”

    A: Periksa lagi di Perjanjian Lama di “Ulangan” pasal 6 ayat 4.

    B: Baik, di sini disebutkan: “Dengarlah olehmu hai Israel, sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya.”

    A: Apakah belum jelas bahwa Bibel sendiri yang menjadi kitab sucinya orang Kristen menyebutkan seterang-terangnya bahwa Tuhan itu tunggal, bukan tiga menjadi satu atau satu menjadi tiga. Taruh kata di Bibel ada ayat yang menyebutkan Tuhan itu tiga menjadi satu, saya ingin bertanya yang manakah di antara kedua ayat itu yang benar, yang Tunggalkah atau yang tiga menjadi Tunggal? Jadi salah satu dari dua ayat tersebut pasti ada yang benar, karena sudah jelas dua ayat itu tidak sama. Kalau salah satu atau dua-duanya salah, maka kandungan kitab suci itu ada yang salah, jadi bukan kitab suci namanya.

    B: Betul, salah satu pasti salah atau kedua-duanya salah.

    A: Kalau demikian apakah dapat diyakini kebenarannya sebagai kitab suci, kalau kitab suci itu mengandung kesalahan atau tidak benar isinya?

    B: Ya, yang disebut kitab suci itu harus bersih dari kesalahan-kesalahan kalau tidak demikian maka batallah kesucian kitab suci itu.

    Apakah Yesus Bersatu dengan Allah?

    A: Menurut kepercayaan Saudara, apakah Yesus bersatu dengan Allah?

    B: Ya demikian.

    A: Kalau demikian tentu Yesus adalah selalu bersama Allah dan Allah selalu bersama Yesus.

    B: Betul demikian sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” 10, 30 yang bunyinya sebagai berikut: “Aku dan Bapa itu satu adanya”. Demikian juga Roh Suci, sebab Roh Suci itu menjadi satu dengan Yesus, sebagaimana tersebut dalam Injil, ialah setelah Yesus berumur 30 tahun turun Roh Suci kepadanya dan dibaptiskan oleh pembaptis yaitu Yohanes. Jadi jelas bahwa Yesus, Roh Suci, Tuhan adalah Tunggal. Eli, Eli, Lama Sabakhtani … (Ya Tuhan, Ya Tuhan, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?)

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 27 ayat 46.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Maka sekira-kira pukul tiga itu berserulah Yesus dengan suara yang nyaring katanya: “Eli, Eli, lama sabakhtani”, artinya: “Ya Tuhan, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku.”

    A: Berdasarkan seruan Yesus di ayat itu, jelas bahwa Yesus tidak bersatu dengan Tuhan, yakni Tuhan meninggalkan Yesus, waktu akan disalibkan. Mestinya kalau Tuhan menjadi satu dengan Yesus, di saat itulah saat tepat untuk menolong Yesus, tetapi kenyataannya Tuhan tidak bersatu dengan Yesus sehingga Yesus sendiri minta tolong.

    B: Tetapi Yesus itu hidupnya memang untuk disalib guna menebus dosa manusia.

    A: Kalau hidupnya Yesus memang untuk disalib, mengapa Yesus tidak bersedia dan menolak untuk disalib? Buktinya ia berseru dengan suara nyaring minta tolong pada Tuhan agar ia terlepas dari disalibkan. Dengan kata lain Yesus tidak bersedia selaku penebus dosa.

    B: Betul, saya lantas tidak mengerti mengapa ayat-ayat Bibel ada yang simpang siur.

    Apakah Manusia-Manusia yang Menyalibkan Yesus Itu Dilaknat atau Mendapat Pahala?

    A: Dari sebab itulah mengapa Saudara menyembah Yesus selaku Tuhan yang tidak berkuasa menyelamatkan dirinya sendiri, malah minta tolong. Pantaskah ada Tuhan demikian? Dan saya lanjutkan pertanyaan, apakah manusia-manusia yang menyalibkan Yesus itu dilaknat?

    B: Pasti dilaknat.

    A: Mestinya tidak dilaknat, malah Yesus harus berterima kasih kepada mereka yang menyalibkan dia, bahkan mereka itu seharusnya mendapatkan ganjaran, karena menurut keterangan Saudara, kehidupan Yesus itu harus disalib untuk menebus dosa-dosa. Jika tidak ada manusia yang bersedia menyalibkan Yesus, maka dosa-dosa manusia tentu tidak ada yang menebusnya. Jadi manusia-manusia yang telah menyalib Yesus itu berjasa kepada Yesus dan penganut-penganut Kristen. Akan tetapi mereka yang sudah terbukti berjasa itu malah dilaknat. Mestinya mereka itu masuk surga dan dipuji-puji atas jasanya.

    B: Ini memang tidak masuk akal atau sekurang-kurangnya memang sulit dimengerti, akan tetapi Roh Tuhan bersatu dengan Yesus itu tidak mustahil sebagaimana banyak manusia yang kesurupan hantu, jin, malaikat atau makhluk-makhluk halus lainnya sehingga tindakan tindakan dan perbuatannya menurut kehendak makhluk halus tersebut. Demikian juga ada yang kemasukan Roh Suci seperti roh malaikat sehingga tindakan-tindakan dan perbuatannya adalah suci.

    A: Kalau demikian baiklah saya bikin pertanyaan: Manusia yang bersatu (kesurupan) jin itu apakah dia disebut jin?

    B: Tidak.

    A: Yesus yang bersatu (menerima) Roh Tuhan itu apakah ia disebut Tuhan?

    B: Mestinya tidak juga.

    A: Seharusnya begitu. Jadi jelas bahwa Yesus yang menerima Roh Ketuhanan tentunya bukan Tuhan. Manusia yang menerima wahyu Tuhan itu bukan Tuhan melainkan adalah utusan (pesuruh) Tuhan. Sesuai dengan pengakuan Yesus sendiri sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” pasal 17 ayat 3 yang berbunyi: “Supaya mereka itu mengenal Engkau. Allah Yang Maha Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    B: Saya lantas tambah tidak mengerti tentang Ketuhanan Yesus itu.

    A: Menurut keterangan Saudara tadi, bahwa manusia yang bersatu dengan (kesurupan) makhluk halus seperti roh-roh, jin dan malaikat, maka tindakan dan perbuatannya pasti menurut kehendak atau menyerupai perbuatan makhluk-makhluk halus itu.

    B: Benar begitu.

    A: Kalau demikian maka Yesus yang Saudara akui bersatu dengan Tuhan mestinya tindakan-tindakan dan perbuatannya menyerupai perbuatan Tuhan.

    B: Mestinya begitu.

    A: Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Tuhan tidak tidur tetapi Yesus tidur, Tuhan tidak makan tetapi Yesus makan, Tuhan tidak sakit tetapi Yesus sakit, Tuhan tidak menyembah kepada siapa pun tetapi Yesus menyembah Tuhan. Tuhan tidak mati tetapi Yesus mati, walaupun menurut i’tikat Kristen hidup kembali, tetapi ia mati. Yesus Tidak Mengetahui Yang Gaib

    B: Menurut anggapan orang Kristen salah satu yang mneyebabkan Yesus bersatu dengan Tuhan, karena ia mengetahui yang gaib.

    A: Kalau begitu silahkan buka “Markus” pasal 13 ayat 31, 32.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Sesungguhnya langit dan bumi akan lenyap tetapi perkataan-Ku kekal. Tetapi akan harinya atau ketikanya itu tidak diketahui oleh seorang jua pun, baik segala malaikat yang di sorga pun tidak, Anak itu pun tidak, hanyalah Bapa saja.”

    A: Jelas di Bibel sendiri tertulis, Yesus sendiri mengaku tidak ada yang tahu kapan hari kiamat, melainkan hanya Tuhan sendiri. Jadi tegas Yesus sendiri tidak mengetahui waktunya hari kiamat, yang termasuk suatu yang gaib. Yang tidak tahu itu pasti bukan Tuhan.

    Siapa Anak Sulung Allah?

    B: Tetapi Yesus menyebutkan dirinya di ayat ini dengan kata: “Anak”, yang berarti ia anak Tuhan.

    A: Silahkan buka “Matius” pasal 1 ayat 16.

    B: Baik, di situ disebutkan: “dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria, ialah yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.”

    A: Jelas bahwa yang diperanakkan itu pasti bukan Tuhan sebagaimana tersebut dalam ayat tersebut. Silahkan periksa lagi “Keluaran” pasal 4 ayat 22.

    B: Baik, di situ disebutkan: “Maka pada masa itu hendaklah katamu kepada Fir’aun demikian: “Inilah firman Tuhan: Bahwa Israil itulah anak-Ku laki-laki, yaitu anak-Ku yang sulung”.

    A: Di ayat ini disebutkan bahwa Israil adalah anak Tuhan yang sulung, sedangkan Yesus tidak disebutkan anak yang ke berapa. Silahkan buka lagi “Yeremia” pasal 31 ayat 9.

    B: Ayat ini menyebutkan, “Akulah Bapak bagi Israil, dan Afraim itulah anak yang sulung.”

    A: Jelas sekali bahwa berdasarkan Bibel sendiri anak Tuhan itu banyak, bukan Yesus saja, padahal sebenarnya yang dimaksudkan dengan “Anak” dalam ayat itu ialah mereka yang dikasihi oleh Tuhan, termasuk Yesus jadi bukan anak yang sebenarnya.

    B: Tetapi dalam “Matius” pasal 1 ayat 18, menyebutkan sebagai berikut: “Adapun kelahiran Yesus Kristus demikian adanya: Tatkala Maria, yaitu ibunya, bertunangan dengan Yusuf, sebelum keduanya bersetubuh, maka nyatalah Maria itu hamil daripada Roh Kudus. Roh Kudus artinya Roh Tuhan. Oleh karenanya maka Yesus itu adalah anak Tuhan, sebagaimana juga di “Matius” pasal 1 ayat 20 menyebutkan: “Yusuf bermimpi seorang malaikat, Tuhan berkata: “Hai Yusuf, anak Daud, janganlah engkau kuatir menerima Maria itu menjadi istrimu karena kandungan itu terbitnya daripada Roh Kudus.” Apa Maksud Roh Kudus dalam Bible?

    A: Kalau begitu silahkan buka: “Kisah Rasul” pasal 6 ayat 5.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Maka perkataan ini diperkenankan oleh sekalian orang banyak itu, lalu memilih Stephanus, yaitu seorang yang penuh dengan iman, dan Roh Kudus, dan lagi Philippus, dan Prokhorus dan Nikanor dan Simion dan Parmenas dan Nikolaus yaitu mualaf asalnya dari negeri Antiochia.

    A: Jadi berdasarkan ayat Bibel sendiri menunjukkan bahwa Roh Kudus itu bukan pada Yesus saja. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu Roh Suci, atau Roh Kesucian yang maksudnya roh yang bersih dari roh-roh kotor, bukan seperti roh setan atau hantu. Sebagaimana halnya para Nabi lainnya dengan roh sucinya. Menurut Al Qur’an, Roh Kudus (roh suci) itu berarti “Jibril”. Di Bibel sendiri menyebutkan bahwa para nabi yang terdahulu adalah Kudus.

    B: Di Bibel pasal berapa menyebutkan demikian?

    A: Silahlan periksa surat Petrus yang kedua pasal 3 ayat 2.

    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu ingat perkataan yang sudah disabdakan dahulu oleh nabi yang kudus dan akan hukum Tuhan lagi juru selamat, dengan jalan rasul-rasul yang disuruhkan kepadamu”.

    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Roh Kudus itu bukan Tuhan dengan kata lain bahwa Yesus dalam kandungan Maria itu bukan Tuhan atau Roh Tuhan, melainkan adalah roh bersih, suci, dengan izin atau perintah Allah yang dikaruniakan kepada hamba yang dikehendakinya. Lebih jelas harap Saudara periksa dalam “Kisah Rasul”, pasal 5 ayat 32.

    B: Ayat tersebut menyebutkan: “Dan kami inilah saksi atas segala perkara itu, ” demikian juga Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada sekalian orang yang menurut Dia.”

    A: Silahkan periksa lagi dalam “Lukas” pasal 1 ayat 41.

    B: Pasal ini menyebutkan bahwa: “Maka berlakulah tatkala Elisabet mendengar salam Maria itu, meloncatlah kanak-kanak yang di dalam rahimnya itu dan Elisabet penuh Roh Kudus.

    A: Sudah jelas sekali bahwa arti Roh Kudus adalah Roh Suci yang dikaruniakan oleh Allah kepada siapa pun yang dikehendakinya. Kalau sekiranya Roh Kudus itu diartikan dengan Allah atau Roh Allah maka bukan Yesus saja menjadi Tuhan atau anak Tuhan, melainkan segala orang yang taat kepada Tuhan, para Nabi dan Elisabet (istri Zakaria) pun mestinya Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menghidupkan Orang Mati (Atas Kehendak Allah)

    B: Yesus dianggap Tuhan oleh karena ia mempunyai Roh Ketuhanan, terbukti dengan pangkat Ketuhanannya sehingga ia dapat menghidupkan orang mati. Inilah kesamaan Allah dengan Yesus.

    A: Kalau begitu, silahkan periksa di “Kitab Raja-raja yang kedua” pasal 13 ayat 21.

    B: Baik, di sini ada menyebutkan: “Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya seorang Anu, tiba-tiba terlihat mereka itu suatu pasukan lalu dicampakkannya orang mati itu ke dalam kubur Elisa, maka baru orang mati itu dimasukkan ke dalamnya dan kena mayat Elisa itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri”.

    [Elisa = Ilyas, dalam Islam, pent.]

    A: Di sini menyebutkan malah tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Jadi bukan Yesus saja dapat menghidupkan orang mati bahkan tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Yang berarti tulang-tulang Elisa adalah tulang-tulang ketuhanan. Kalau Yesus di waktu hidupnya dapat menghidupkan orang mati, akan tetapi Elisa di waktu tak bernyawa, malah hanya dengan tulang-tulangnya, yang di dalam kubur dapat menghidupkan orang mati. Kalau perbuatan Yesus dikatakan ajaib maka Elisa lebih ajaib dari pada Yesus. Jadi seharusnya Elisa pun dianggap Tuhan juga. Periksa lagi di “Kitab Raja-Raja yang pertama” pasal 17 ayat 22.

    B: Ya, di sini menyebutkan: “Maka didengar akan Do’a Elisa itu, lalu kembalilah nyata kanak-kanak itu ke dalamnya sehingga hiduplah ia pula”.

    A: Kalau secara adil, seharusnya Elisa dianggap Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Orang Buta (Atas Kehendak Allah)

    B: Tetapi Yesus dapat menyembuhkan orang buta sehingga melihat.

    A: Kalau begitu periksa “Kitab Raja-Raja yang kedua” pasal 6 ayat 17 dan 30.

    B: Ya di pasal itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang buta, sehingga dapat melihat.

    A: Kalau begitu, Elisa pun harus dianggap Tuhan juga, karena menyamai Yesus dan menyamai sifat Tuhan.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Penyakit Lepra (Atas Kehendak Allah)

    B: Sekali lagi Yesus dapat menyembuhkan penyakit lepra (penyakit kusta)

    A: Silahkan periksa kitab “Raja-Raja yang kedua” pasal 5 ayat 10 dan 11.</