Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:14 am on 26 April 2016 Permalink | Balas  

    Berzina Seribu Kali 

    taubat (1)Berzina Seribu Kali

    Pada suatu senja yang lengang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya.Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.

    Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik.

    “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa.

    Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

    Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu sayapun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

    Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi !…” teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

    Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobatdari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?”

    Nabi Musa terperanjat. Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. “Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” ” Ada !” jawab Jibril dengan tegas

    “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran.

    “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina” Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

    Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sholat itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

    Dalam hadist Nabi SAW disebutkan: Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang memmbakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

    Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui. Subhanakallahumma wabihamdika asyadu’ala ilaha illa anta, astagfiruka wa’atubuilaik. Wassalam

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 25 April 2016 Permalink | Balas  

    Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat 

    Taubat 1Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat

    Ulasan: Habib Abdullah Al-Haddad

    Penyesalan 

    Penyesalan adalah lenyapnya segala keinginan untuk melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan Allah murka, misalnya: melakukan kemaksiatan atau melalaikan kewajiban. Perubahan keadaan hati ini diiringi dengan perasaan sedih dan duka.

    Penyesalan kadang kala timbul karena terlalu banyak melakukan perbuatan yang mubah, atau karena kurang banyak melaksanakan perbuatan-perbuatan sunah (nawâfil) yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah. Penyesalan sejati (sidq) akan mendorong seseorang untuk berubah dari sikap yang penuh dengan ketidaksempurnaan (taqshîr/incapacity) menjadi sikap yang penuh dengan ketekunan (tasymîr). Jika proses penyesalan berlangsung dengan benar, maka hampir seluruh persyaratan tobat terpenuhi. Karena itulah Rasulullah saw bersabda, “Penyesalan adalah tobat.” (HR Ibnu Majah dari Ibnu Mas‘ud)

    Orang yang menyesali perbuatannya yang tercela, tetapi selalu mengulangnya kembali, maka penyesalannya sia-sia belaka.

    Istighfar 

    Istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah.  Dan ampunan Allah adalah tirai (sitr) penutup segala dosa. Jika Allah dengan kemurahan-Nya mengampuni kesalahan manusia, maka Ia tidak akan mencemarkan maupun menyiksanya, baik di dunia maupun di akhirat1.

    Jenis ampunan yang paling mulia adalah tirai yang oleh Allah dijadikan pendinding antara makhluk dengan dosa-dosanya, sehingga seakan-akan ia tidak berdosa sama sekali. Dalam bahasa kenabian tirai itu disebut ‘ishmah2, sedangkan bagi wali disebut hifdh (penjagaan).

    Allah menujukan firman-Nya kepada pemimpin yang ma’shûm, Rasulullah saw:

    Mohon ampunlah bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin.  (QS Muhammad, 47:19)

    Agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. (QS Al Fath, 48:2)

    Kita semua telah maklum, bahwa Rasulullah saw tidak pernah berbuat dosa. Dalam ayat tadi Allah mengingatkan Rasullullah saw atas nikmat ishmah (perlindungan) dari hal-hal yang dapat menjauhkan beliau dari Allah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah untuk berdoa memohonkan ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat.  Sebab doa berarti syukur, dan syukur merupakan cara untuk mendapatkan tambahan nikmat.

    “Jika kalian bersyukur pasti Aku akan menambah (kenikmatan) kepada kalian.” (QS Ibrâhim, 14:7)

    Wallôhu a’lam.

    Tobat 

    Langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang murîd dalam perjalanannya menuju Allah adalah tobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT atas segala dosa-dosanya. Jika ditangannya masih ada hak orang yang dahulu pernah dizaliminya, hendaknya segera ia kembalikan. Namun, jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka hendaknya ia meminta agar orang itu menghalalkannya. Sebab, seseorang yang masih memegang hak-hak orang lain, tidak mungkin dapat mendekatkan diri kepada Al-Haq (Allah)

    Syarat sahnya tobat adalah sidqun nadam (penyesalan sungguh-sungguh) atas segala dosa dengan diiringi tekad kuat untuk tidak mengulang kembali perbuatan buruk itu seumur hidup. Barang siapa bertobat dari suatu dosa, namun ia selalu mengulang kembali perbuatannya, atau bertekad untuk melakukannya kembali, maka tobatnya tidak sah.

    Seorang murîd hendaknya selalu mengakui bahwa ia tidak dapat menunaikan hak-hak Tuhannya dengan sempurna. Setiap kali ia merasa sedih atas segala kekurangannya, dan hatinya luluh karena menyadari kenyataan itu, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah saat itu bersamanya.

    Allah SWT telah berfirman (dalam sebuah hadis qudsi): “Aku bersama orang-orang yang hatinya luluh karena Ku.”

    Tobat (Nafâisul Uluwiyyah, hal. 30)

    Barang siapa bertobat dari suatu dosa, tetapi kemudian mengulang kembali perbuatannya, maka tobatnya yang terdahulu tidak gugur. Namun ia harus bertobat lagi. Ini adalah salah satu kemurahan Allah bagi kita semua. Segala puji bagi Allah. Kita tidak akan mampu memuji-Nya sebanyak pujian-Nya kepada diri-Nya sendiri.

    Dalam suatu hadis disebutkan:

    Sesungguhnya Allah SWT membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di siang hari. Dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di malam hari. Sesungguhnya di sebelah barat ada pintu yang lebarnya sejauh 40 hari perjalanan matahari. Pintu itu selalu terbuka untuk tobat hingga matahari terbit dari arah barat (kiamat). Dan sesungguhnya Allah SWT selalu menerima tobat seorang hamba sebelum ghorghoroh.

    Ghorghoroh adalah keadaan sekarat, yakni ketika ruh telah sampai ke tenggorokan.

    Dari uraian di atas dapat kamu ketahui hukum dan kedudukan tobat dalam agama.

    Orang yang hendak bertobat dari perbuatan zalim yang pernah ia lakukan, maka ia harus mengembalikan barang yang ia ambil jika ia menzalimi harta seseorang, dan ia harus menjalani hukum qishash dan minta dihalalkan jika ia menzalimi diri atau kehormatannya. Tetapi, jika ia sama sekali tidak dapat memenuhi persyaratan ini, maka hendaknya ia berbuat semampunya, kemudian dengan mengharap kemurahan Allah, hendaknya ia berdoa agar kelak di akhirat orang-orang yang pernah ia zalimi meridhoinya.

    Jika ia meninggalkan kewajiban-kewajibannya, misalnya: salat, puasa dan zakat, maka ia wajib mengqodhonya. Qodho itu boleh dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuannya. Jangan sampai ia mempersulit dirinya, tetapi ia juga tidak boleh meremehkannya, karena syariat agama ini terdiri dari aturan-aturan yang kokoh.

    Rasulullah saw bersabda:

    “Aku diutus membawa agama yang penuh toleransi.”  (HR Ahmad)

    “Permudahlah jangan mempersulit; berilah kabar gembira jangan buat mereka lari.”  (HR Bukhari)

    Seorang salaf yang saleh telah cukup lama memohon kepada Allah SWT untuk memberinya tobat nasuha, namun ia tidak melihat tanda-tanda pengabulan doanya. Ia merasa heran, tetapi kemudian bermimpi.  Dalam mimpinya, seseorang berkata kepadanya, “Apakah kamu pikir yang kamu pinta itu sebuah persoalan yang mudah. Sadarkah kamu bahwa kamu telah meminta untuk dicintai Allah SWT?  Tidak pernahkah kamu mendengar firman-Nya:

    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah, 2:222)

    Semoga Allah memberi kita tobat nasuha dalam keadaan sehat wal afiat dan mengakhiri usia kita dalam husnul khôtimah.

    Catatan kaki

    1.Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman: “Aku Maha Mulia lagi Maha besar, tidak pantas bagi-Ku bila Aku menutupi dosa seorang Muslim di dunia ini lalu Aku membeberkannya (di hari kiamat).  Aku selalu mengampuni hamba-Ku selagi ia meminta ampun kepada-Ku.” (HR Hakim dari Hasan)

    2.Penjagaan dan pemeliharaan Allah SWT dari perbuatan dosa dan kesalahan.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 April 2016 Permalink | Balas  

    Hikmah Diharamkannya Riba 

    ribaHikmah Diharamkannya Riba

    Islam dalam memperkeras persoalan haramnya riba, semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlaknya, masyarakatnya maupun perekonomiannya.

    Kiranya cukup untuk mengetahui hikmahnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam ar-Razi dalam tafsirnya sebagai berikut:

    1. Riba adalah suatu perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti. Sebab orang yang meminjamkan uang 1 dirham dengan 2 dirham, misalnya, maka dia dapat tambahan satu dirham tanpa imbalan ganti. Sedang harta orang lain itu merupakan standard hidup dan mempunyai kehormatan yang sangat besar, seperti apa yang disebut dalam hadis Nabi:

    “Bahwa kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya.”

    Oleh karena itu mengambil harta kawannya tanpa ganti, sudah pasti haramnya.

    1. Bergantung kepada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan mengentengkan persoalan mencari penghidupan, sehingga hampir-hampir dia tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Sedang hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat dan satu hal yang tidak dapat disangkal lagi, bahwa kemaslahatan dunia seratus persen ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.

    (Tidak diragukan lagi, bahwa hikmah ini pasti dapat diterima, dipandang dari segi perekonomian).

    1. Riba akan menyebabkan terputusnya sikap yang baik (ma’ruf) antara sesama manusia dalam bidang pinjam-meminjam. Sebab kalau riba itu diharamkan, maka seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka sudah pasti kebutuhan orang akan menganggap berat dengan diambilnya uang satu dirham dengan diharuskannya mengembalikan dua dirham. Justru itu, maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan.

    (Ini suatu alasan yang dapat diterima, dipandang dari segi ethik).

    1. Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Sedang tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah.

    (Ini ditinjau dari segi sosial).

    Ini semua dapat diartikan, bahwa riba terdapat unsur pemerasan terhadap orang yang lemah demi kepentingan orang kuat (exploitasion de l’home par l’hom) dengan suatu kesimpulan: yang kaya bertambah kaya, sedang yang miskin tetap miskin. Hal mana akan mengarah kepada membesarkan satu kelas masyarakat atas pembiayaan kelas lain, yang memungkinkan akan menimbulkan golongan sakit hati dan pendengki; dan akan berakibat berkobarnya api terpentangan di antara anggota masyarakat serta membawa kepada pemberontakan oleh golongan ekstrimis dan kaum subversi.

    Sejarah pun telah mencatat betapa bahayanya riba dan si tukang riba terhadap politik, hukum dan keamanan nasional dan internasional.

    Pemberi Riba dan Penulisnya

    Pemakan riba ialah pihak pemberi piutang yang memiliki uang dan meminjamkan uangnya itu kepada peminjam dengan rente yang lebih dari pokok. Orang yang semacam ini tidak diragukan lagi akan mendapat laknat Allah, dan laknat seluruh manusia. Akan tetapi Islam, dalam tradisinya tentang masalah haram, tidak hanya membatasi dosa itu hanya kepada yang makan riba, bahkan terlibat dalam dosa orang yang memberikan riba itu, yaitu yang berhutang dan memberinya rente kepada piutang. Begitu juga penulis dan dua orang saksinya. Seperti yang dinyatakan dalam hadis Nabi:

    “Allah akan melaknat pemakan riba, yang memberi makan, dua orang saksinya dan jurutulisnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Tetapi apabila di situ ada suatu keharusan yang tidak dapat dihindari dan mengharuskan kepada si peminjam untuk memberinya rente, maka waktu itu dosanya hanya terkena kepada si pengambil rente saja.

    Namun dalam hal ini diperlukan beberapa syarat:

    Adanya suatu keadaan dharurat yang benar-benar, bukan hanya sekedar ingin kesempurnaan kebutuhan. Sedang apa yang disebut dharurat, yaitu satu hal yang tidak mungkin dapat dihindari, apabila terhalang, akan membawa kebinasaan. Seperti makanan pokok, pakaian pelindung dan berobat yang mesti dilakukan.

    Kemudian perkenan ini hanya sekedar dapat menutupi kebutuhan, tidak boleh lebih. Maka barangsiapa yang kiranya cukup dengan $9,- (9 pounds) misalnya, tidak halal hutang $10,-.

    Dari segi lain, dia harus terus berusaha mencari jalan untuk dapat lolos dari kesulitan ekonominya. Dan rekan-rekan seagamanya pun harus membantu dia untuk mengatasi problemanya itu. Jika tidak ada jalan lain kecuali dengan meminjam dengan riba, maka barulah dia boleh melakukan, tetapi tidak boleh dengan kesengajaan dan melewati batas. Sebab Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang.

    Dia berbuat begitu, tetapi harus dengan perasaan tidak senang. Begitulah sehingga Allah memberikan jalan keluar kepadanya.

    Rasulullah Selalu Minta Perlindungan pada Allah dari Berhutang

    Satu hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim tentang hukum agamanya, yaitu agama menyuruh supaya dia berlaku lurus dan sederhana dalam hidup dan kehidupannya.

    Firman Allah:

    “Dan jangan kamu berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan.” (al-An’am: 141)

    “Jangan kamu boros, karena sesungguhnya orang yang boros adalah kawan syaitan.” (al-Isra’: 26-27)

    Kalau al-Quran menuntut kepada orang-orang mu’min supaya menginfaqkan harta kekayaannya, maka al-Quran tidak menuntut kepada mereka melainkan supaya menginfaqkan sebagian harta, bukan semuanya. Sebab siapa yang mendermakan sebagian hartanya, maka sedikit sekali dia akan berkekurangan,

    Dengan kesederhanaan ini maka seorang muslim tidak lagi perlu berhutang, lebih-lebih Nabi sendiri tidak suka seorang muslim membiasakan berhutang. Sebab hutang dalam pandangan seorang muslim yang baik, adalah merupakan kesusahan di malam hari dan suatu penghinaan di siang hari. Justru itu Nabi selalu minta perlindungan kepada Allah dari berhutang. Doa Nabi itu sebagai berikut:

    “Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadamu dari terlanda hutang dan dalam kekuasaan orang lain.” (RiwayatAbu Daud)

    Dan ia bersabda pula:

    “Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan hutang. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya: Apakah engkau menyamakan kufur dengan hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Ya!” (Riwayat Nasa’i dan Hakim)

    Dan kebanyakan doa yang dibaca di dalam sembahyangnya ialah:

    “Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi.” (Riwayat Bukhari)

    Ia menjelaskan, bahwa dalam hutang itu ada suatu bahaya besar terhadap budipekerti seseorang.

    Beliau tidak mau menyembahyangi janazah, apabila diketahui bahwa waktu meninggalnya itu dia masih mempunyai tanggungan hutang padahal dia tidak dapat melunasinya, sebagai usaha untuk menakut-nakuti orang lain dari akibat hutang. Sehingga apabila dia mendapat ghanimah, maka beliau sendiri yang menyelesaikan hutangnya itu.

    Dan sabdanya:

    “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya melainkan hutang.” (Riwayat Muslim)

    Berdasar penjelasan ini, maka seorang muslim tidak boleh berhutang kecuali karena sangat perlu. Dan kalaupun dia terpaksa harus berhutang, samasekali tidak boleh melepaskan niat untuk membayar. Sebab dalam hadis Rasulullah s.a.w. disebutkan:

    “Barangsiapa hutang uang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan Niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia.” (Riwayat Bukhari)

    Kalau seorang muslim tidak dibolehkan hutang tanpa rente, padahal hutang adalah mubah, kecuali karena dharurat, dan didesak oleh suatu keperluan, maka bagaimana lagi kalau hutangnya itu bersyarat harus dibayar dengan rente?!

    Menjual Kredit dengan Menaikkan Harga

    Termasuk yang perlu untuk disebutkan di sini, yaitu sebagaimana diperkenankan seorang muslim membeli secara kontan, maka begitu juga dia diperkenankan menangguhkan pembayarannya itu sampai pada batas tertentu, sesuai dengan perjanjian.

    Rasulullah s.a.w. sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo, untuk nafkah keluarganya. Begitu juga beliau pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi.

    Sekarang apabila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka sementara fuqaha’ ada yang mengharamkannya dengan dasar, bahwa tambahan harga itu justru berhubung masalah waktu. Kalau begitu sama dengan riba.

    Tetapi jumhurul ulama membolehkan, karena pada asalnya boleh, dan nas yang mengharamkannya tidak ada; dan tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram.

    Imam Syaukani berkata: “Ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat.”

    Salam

    Sebalik di atas, yaitu seorang muslim dibenarkan membayar uang lebih dahulu untuk barang yang akan diterimanya kemudian.

    Cara semacam ini dalam fiqih Islam disebut salam.

    lni salah satu macam mu’amalah yang waktu itu biasa berlaku di Madinah. Akan tetapi Nabi Muhammad s.a.w. ikut mencampuri persoalan tersebut dengan memberikan beberapa pedoman dan persyaratan, untuk disesuaikan dengan tuntunan syariat Islam.

    Ibnu Abbas meriwayatkan: bahwa ketika Rasulullah s.a.w. tiba di Madinah, orang-orang pada menjalankan pengikat untuk buah-buahan dalam jangka waktu setahun dan dua tahun Kemudain Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Barangsiapa mencengkerami buah-buahan, maka cengkeramilah dengan suatu takaran tertentu, dan timbangan tertentu pada batas waktu tertentu.” (Riwayat Jam’ah)

    Dengan membatas takaran, timbangan dan jangka waktu ini, maka akan hilanglah pertentangan dan kesamaran. Tetapi di samping itu mereka juga mengadakan ikatan untuk jenis buah korma yang masih di pohon, maka dilarangnyalah hal itu oleh Nabi s.a.w. karena terdapat unsur-unsur kesamaran. Sebab kadang-kadang potion korma itu akan terserang hama sehingga tidak bisa berbuah.

    Jadi bentuk yang paling selamat dan aman dalam mu’amalah seperti ini, yaitu tidak bersyarat dengan jenis kormanya atau jenis gandumnya, tetapi yang penting ialah syarat takaran dan timbangan.

    Tetapi kalau di situ terdapat unsur-unsur pemerkosaan (exploitation) yang terang-terangan oleh pihak pemilik kebun, sehingga karena didorong oleh keperluan, terpaksa si pemberi ikatan harus menerima perjanjian tersebut, maka waktu itu dapat dihukumi haram.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 23 April 2016 Permalink | Balas  

    Hakikat Shalat 

    sholat-berjamaahHakikat Shalat

    Pada bulan Rajab ini, umat Islam memperingati peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Salah satu hikmah Isra Mi’raj yang terpenting adalah kewajiban shalat bagi setiap Muslim lima kali sehari semalam. Shalat merupakan ibadah yang paling fundamental dalam Islam. Ia bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi (seharusnya) merupakan kebutuhan manusia secara spiritualitas. Shalat berasal dari kata shalla-yushalli-shalat-shilat, yang berarti hubungan. Dalam konteks sufisme, shalat berarti adanya keterjalinan atau hubungan vertikal antara makhluk dan Khalik, antara hamba dan Tuhannya. Shalat merupakan wahana untuk mendekatkan diri pada Tuhan, ber-taqarrub kepada Allah SWT, penguasa jagat raya ini. Oleh karena itu, seorang Mukmin yang benar-benar shalat, jiwanya tenang dan pikirannya lapang. Pernah suatu kali Imam Hasan bin Ali ditanya orang, ”Mengapa orang yang melaksanakan shalat itu wajahnya berseri dan jiwanya tenteram?” Imam Hasan bin Ali menjelaskan, ”Karena mereka berdialog (munajat) pada Tuhannya.

    ” Shalat juga merupakan identitas bagi seorang Muslim. Nabi SAW bersabda, ”Perbedaan antara kami dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkannya, maka ia sudah kufur nikmat.” (HR Baihaqi). Dalam hadis lain dikatakan, ”Shalat itu tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat berarti mendirikan agama dan siapa yang meninggalkannya berarti ikut meruntuhkan agama.” (HR Turmudzi). Begitu pentingnya kewajiban shalat bagi seorang Muslim, sehingga tidak ada alasan apa pun yang dibenarkan untuk meninggalkan shalat, hingga ia sendiri malah dishalatkan. Pengecualian khusus hanya berlaku untuk wanita Muslimah yang sedang menstruasi. Dalam menunaikan shalat, setiap Muslim dianjurkan untuk berjamaah. Ini mengandung makna tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam. Persaudaraan yang didasarkan oleh ikatan religius, ukhuwah Islamiyah, untuk menebarkan kebenaran dan kemaslahatan bagi umat manusia. Rasa persamaan juga dipupuk dalam shalat berjamaah.

    Shalat berjamaah mengandung asas equality before law, persamaan di hadapan hukum. Siapa yang datang ke masjid lebih awal berhak menempati shaf pertama, tanpa memandang jabatan dan posisi seseorang. Dengan demikian, nilai-nilai demokrasi sebenarnya sudah ditanamkan pula di masjid melalui ibadah shalat yang dilakukan secara berjamaah. Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (Al-Ankabut: 45). Seorang Muslim yang benar-benar shalat jiwanya tenang dan hati pun tenteram. Karena, orang yang shalat selalu merasa dalam pengawasan Allah. Oleh karena itu, perbuatan keji dan munkar seperti praktik KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme), penipuan, penggelapan, dan manipulasi, mestinya dapat dicegah dalam masyarakat yang shalatnya baik. Ini semua bisa terjadi karena masyarakat akan selalu merasa berada dalam kontrol dan pengawasan Ilahi. Wallahu a’lam. (RioL)

    Shalat Bukan Sekadar Ritual

    Umat Islam tidak diwajibkan “melaksanakan” shalat, tetapi harus “mendirikan” shalat. Shalat tidak hanya sekadar gerakan dan bacaan yang sifarnya ritual-individual, tetapi harus berdampak pada perilaku sehari-hari. Bahwa shalat merupakan “tiang agama” (imaduddin), dan yang tidak melaksanakannya berarti meruntuhkan agamanya, kita sudah sama-sama mafhum. Demikian pula bahwasanya shalat dapat mencegah diri pelakunya dari perbuatan keji dan munkar (QS. 29: 45).

    Masalahnya sekarang, mengapa tidak sedikit seorang Muslim yang rajin melaksanakan shalat, tetapi perbuatan keji dan munkar tetap saja dilakukannya. Tentang hal ini, Nabi SAW pernah menyatakan, orang itu bukannya semakin dekat pada Allah SWT melainkan semakin jauh (bu’da).

    Bisa jadi, shalat yang tidak membuat seseorang menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar adalah shalat yang dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban dan “asal jadi”. Kekhusyukan dan kesempurnaannya kurang diperhatikan. Atau karena shalat yang dilakukannya tidak berlandaskan keikhlasan melainkan riya, ingin dipuji orang, atau bermotif duniawi. Firman Allah SWT: Celakalah orang-orang yang shalat; yaitu orang yang lalai dalam shalatnya dan mereka yang riya (dalam shalatnya) (QS. 107:5-6).

    Shalat bukanlah sekadar melaksanakan gerakan dan bacaan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seorang Muslim bukan hanya dituntut “melaksanakan” shalat, tetapi “mendirikan” shalat (aqama shalah). Artinya, shalat tidak hanya sekadar gerak badan dan bacaan (ritual-individual), tetapi harus pula tercermin dalam perilaku sehari-hari (shalat sosial). Semua pengakuan Allah SWT sebagai Tuhan, Muhammad SAW sebagai Rasul, harus terbuktikan dalam perilaku, berupa ketaatan terhadap semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

    Shalat adalah simbol kepasrahan seorang Muslim pada Allah SWT. Shalat menjadi simbol keislaman seseorang, karena hakikat Islam sendiri adalah “penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah,” sebagaimana makna asal kata “Islam,” aslama, yakni menyerahkan diri.

    Ketika memulai shalat dengan takbir, sambil mengangkat kedua tangan, itu menjadi simbol pengakuan keagungan Allah SWT. Tujuan hakiki dari shalat sendiri, menurut Ensiklopedi Islam, adalah pengakuan hati bahwa Allah SWT sebagai pencipta adalah agung dan pernyataan patuh pada-Nya. Bagi seseorang yang telah melakukan shalat dengan penuh rasa takwa dan keimanan, hubungannya dengan Allah SWT akan kuat, istiqamah dalam beribadah pada-Nya, dan menjaga ketentuan-ketentuan yang digariskan-Nya.

    Shalat harus dilaksanakan secara khusyuk. Artinya, secara sungguh-sungguh, ikhlas karena Allah SWT, tertib bacaan dan gerakannya, dan tidak lalai, tidak menunda-nunda, dan pikiran tidak ke mana-nama selagi shalat. Salah satu kunci mencapai kekhusyukan dalam shalat adalah mengerti apa yang diucapkan selama shalat, mulai dari bacaan takbir hingga salam. Artinya, mengerti dan memahami arti dari bacaan shalat. Jika kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan, sama halnya dengan mengigau. Kita tidak menyadari apa yang tengah diucapkan.

    Karena itu, bagi kita yang belum mengerti atau mengetahui satu per satu arti dan makna bacaan shalat, mulai dari takbir, doa iftitah, surat Al-Fatihah, bacaan ruku’, sujud, tahiyat, hingga salam, belum terlambat kiranya memulai untuk mencari tahu dan memahaminya.

    Shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan pokok dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat juga merupakan mediator untuk mendapatkan pertolongan dan ampunan Allah SWT, serta ketenangan jiwa (QS. 2:45). Shalat pun merupakan sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan (QS Al-Mukminun: 1, Al-Ma’arij: 19).

    Apalagi shalat wajib lima kali dalam sehari semalam itu merupakan penghapus dosa sebagaimana air yang dipakai mandi dapat menghapuskan daki yang ada di badan (HR Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, An-Nasai, dari Abu Hurairah).

    Dengan shalat akan tercipta hubungan yang amat dekat dengan Allah SWT (taqarrub), sehingga terasa adanya pengawasan dari-Nya terhadap segala perilaku kita, yang pada gilirannya akan memberikan ketenangan dalam jiwa sekaligus mencegah terjadinya kelalaian yang dapat memalingkan dari ketaatan pada-Nya (QS. 51:56)

    Tiada perintah Allah SWT yang seketat shalat. Ibadah ini wajib dilaksanakan setiap Muslim dalam kondisi apa pun, selama nyawa masih menyatu dalam raga. Tidak mampu berdiri, boleh sambil duduk. Tidak mampu sambil duduk, silakan sambil berbaring. Tidak heran, menurut hadis Nabi SAW, amal pertama yang akan dihisab di akhirat nanti adalah shalat. Jika shalatnya baik, tanpa cela, maka akan baik pula seluruh amal; jika shalatnya jelek, maka akan buruk pulalah seluruh amal.

    Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang tidak saja memenuhi syarat dan rukun, ditambah kekhusyukan dalam pelaksanaannya, tetapi juga berdampak pada kebaikan perilaku sehari-hari. Seluruh bacaan dan gerakan shalat, jika direnungkan, menyimbolkan sekaligus mencerminkan perilaku yang seharusnya dilakukan seorang Muslim dalam kehidupannya.

    Takbir –sebagai pembuka shalat– menunjukkan sebuah pengakuan dan sikap dasar, dalam kehidupan seorang Muslim hanya Allah yang Mahabesar, sehingga hanya Dia pula yang ditaati, ditakuti, dan dipuji. Pengabdian, permohonan, dan penyandaran hidup hanya kepada Allah semata.

    Gerakan-gerakan shalat seperti ruku’, i’tidal, sujud, dan tahiyat merupakan simbol penghormatan hakiki kepada Allah. Tatkala sujud, kepala kita disejajarkan dengan tanah. Setidaknya hal itu bermakna, di hadapan Allah manusia dengan tanah sama-sama makhluk. Maka tak pantas jika kita berlaku angkuh, gila hormat, dan sebagainya, sebab pujian dan penghormatan hakiki hanya pantas diberikan kepada Allah SWT.

    Shalat ditutup dengan salam, sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika menutup shalat itu kita mendoakan orang di sekitar kita agar diberi keselamatan dan keberkatan. Bacaan dan gerakan itu bermakna, seorang Muslim hendaknya menebar keselamatan dan kedamaian kepada sesama, bukan menebar benih kecelakaan, kerusuhan, atau permusuhan. “Jika engkau bertemu saudaramu (sesama Muslim), sampaikan salam kepadanya” (HR Abu Daud). Dalam hadits lain Nabi SAW menegaskan, “Seorang Muslim adalah dia yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

    Muslim sejati tidak akan mengganggu orang lain dengan perkataan kotornya, umpatannya, atau ucapan-ucapan yang menyakitkan hati. Ia pun tidak akan mencelakakan orang lain dengan ulahnya. Muslim sejati senantiasa menghadirkan kemaslahatan dan manfaat bagi orang lain, bukan menjadi “trouble maker” atau pembawa bencana dan kesulitan bagi orang lain. “Sebaik-baik manusia ialah orang dapat memberi manfaat kepada manusia lain,” demikian sabda Nabi SAW dalam sebuah wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib. Wallahu a’lam.

    ***

    Kiriman Sahabat Agus Nadi

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 22 April 2016 Permalink | Balas  

    Melepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haid 

    wuduMelepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haid

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu-Syaikh

    Menurut dalil yang lebih kuat adalah tidak ada kewajiban melepaskan ikatan rambut ketika hendak mandi bagi wanita yang telah selesai haidh, sebagaimana tidak adanya kewajiban tersebut untuk mandi junub. Hanya saja, memang terdapat dalil-dalil yang mensyari’atkan untuk melepaskan ikatan rambut ketika mandi haidh, akan tetapi perintah yang terdapat dalam dalil-dalil ini bukan menunjukkan hal yang wajib berdasarkan dari hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha.

    “Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengikat rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?” dan dalam riwayat lain : “dan untuk mandi haid?”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air atas kepalamu sebanyak tiga kali, ….” [Hadits Riwayat Muslim]

    Ini adalah pendapat yang dipilih oleh pengarang kitab Al-Inshaf dan Az-Zarkasyi, sedangkan dalam mandi junub maka hukum melepaskan ikatan rambut bagi wanita tidaklah sunnah (mandub). Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata : “Apakah aku harus memerintah mereka untuk memotong rambut itu ?”

    Kesimpulannya adalah :

    Melepaskan ikatan rambut tidaklah disyari’atkan saat mandi junub akan tetapi hal itu ditekankan dan dianjurkan saat mandi haidh. Penekanan ini pun berbeda-beda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah, berdasarkan keringanan dan kesulitan melepaskan ikatannya.

    [Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/61]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia

    Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, hal.21-22 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 21 April 2016 Permalink | Balas  

    Sifat Mandi Junub dan Perbedaannya dengan Mandi Haid 

    wuduSifat Mandi Junub dan Perbedaannya dengan Mandi Haid

    Oleh: Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’

    Tidak ada perbedaan bagi pria dan wanita dalam hal sifat mandi junub, dan masing-masing tidak perlu melepaskan ikatan rambutnya akan tetapi cukup baginya untuk menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga tuang kemudian setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhnya berdasarkan hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Sesungguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepala saya, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?”.

    Rasulullah menjawab :

    “Artinya : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, maka (dengan demikian) kamu telah bersuci” [Hadits Riwayat Muslim].

    Jika di atas kepala seorang lelaki maupun wanita terdapat ikatan atau pewarna rambut atau sesuatu lainnya yang dapat menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala, maka wajib dihilangkan, akan tetapi jika itu ringan dan tidak menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala maka tidak wajib dihilangkan.

    Adapun mandinya wanita setelah haidh, para ulama berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya melepaskan ikatan rambutnya untuk mandinya. Yang benar, bahwa ia tidak harus melepaskan ikatan rambutnya untuk mandi tersebut, hal ini berdasarkan beberapa riwayat hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan Muslim bahwa ia (Ummu Salamah) berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Sesunguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?”

    Rasulullah menjawab:

    “Artinya : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, (dengan demikian) maka kamu telah bersuci”.

    Riwayat hadits Nabi ini adalah merupakan dalil yang menunjukkan tidak adanya kewajiban untuk melepaskan ikatan rambut untuk mandi junub atau untuk mandi haidh, akan tetapi sebaiknya ikatan rambut itu dilepas saat mandi haidh sebagai sikap waspada dan untuk keluar dari perselisihan pendapat serta memadukan dalil-dalil dalam hal ini.

    [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’, 5/320]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, hal. 20-21 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 20 April 2016 Permalink | Balas  

    Mandi Junub Merangkap Mandi Jum’at Atau Merangkap Mandi Haid Dan Mandi Nifas 

    wuduMandi Junub Merangkap Mandi Jum’at Atau Merangkap Mandi Haid Dan Mandi Nifas

    Oleh: Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’

    Barangsiapa yang diwajibkan baginya untuk melaksanakan satu mandi wajib atau lebih, maka cukup baginya melaksanakan satu kali mandi wajib yang merangkap mandi-mandi wajib lainnya, dengan syarat dalam mandi itu ia meniatkan untuk menghapuskan kewajiban-kewajiban mandi lainnya, dan juga berniat untuk dibolehkannya shalat dan lainnya seperti Thawaf dan ibadah-ibadah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaiihi wa sallam.

    “Artinya : Setiap perbuatan itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan bagian sesuai dengan yang diniatkannya”. [Muttafaqun ‘Alaih]

    Karena yang hendak dicapai dari mandi hari Jum’at bisa sekaligus tercapai dengan mandi junub jika bertetapan harinya.

    [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 5/328]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 30 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    Sumber : http://almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 19 April 2016 Permalink | Balas  

    Bolehkah Wanita Haidh Berdiam Di Masjid 

    wanita 1Bolehkah Wanita Haidh Berdiam Di Masjid

    Haram bagi wanita haidh untuk berdiam di masjid berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haidh dan orang yang sedang junub”

    Diriwayatkan oleh Abu Daud, dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya.

    “Artinya : Sesungguhnya Masjid tidak halal bagi wanita haidh dan orang yang sedang junub”

    Diriwayatkan oleh Ibnu Majah

    Dibolehkan bagi wanita haidh untuk berjalan melintasi masjid tanpa berdiam di masjid itu, berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata : Rasulullah bersabda.

    “Artinya : (Wahai Aisyah) Ambilkanlah untukku alas duduk dari masjid”, maka aku berkata : “Sesungguhnya aku sedang haidh”, maka beliau bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya haidhmu bukan di tanganmu (bukan kehendakmu)”

    Diriwayatkan oleh seluruh perawi hadits kecuali Al-Bukhari.

    Dan dibolehkan bagi wanita untuk membaca dzikir-dzikir yang masyru’, seperti membaca tahlil (Laa Ilaaha Illallah), takbir (Allahu Akbar), tasbih (Subhanallah) dan do’a-do’a lainnya yang bersumber dari wirid-wirid yang disyari’atkan di waktu pagi, sore, ketika tidur serta bangun dari tidur, juga boleh bagi wanita haidh untuk membaca kitab-kitab ilmiah seperti tafsir, hadits dan fiqh.

    [At-Tanbiyat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, halaman 14]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 156-157 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    ***

    Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=208&bagian=0

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 18 April 2016 Permalink | Balas  

    Gratis 

    nasehat ibundaGratis

    Pada suatu sore, putri kecil kami menghampiri Ibunya di dapur yang sedang menyiapkan makan malam. Ia menyerahkan selembar kertas yang sudah ditulisinya. Setelah istriku, Zahra, mengeringkan tangannya pada celemek, ia membacanya. Dan inilah tulisan putri kecil kami pada kertas tsb :

    Untuk membersihkan kamar minggu ini = Rp. 7,500.00

    Untuk pergi ke warung menggantikan Ibu = Rp. 3,000.00

    Untuk menjaga adik waktu Ibu belanja = Rp. 3,500.00

    Untuk membuang sampah = Rp. 4,500.00

    Untuk rapor yang bagus = Rp. 10,000.00

    Untuk membersihkan dan menyapu halaman = Rp. 20,000.00

    Jumlah Hutang Rp. 48,500.00

    Zahra memandang putri kecil kami yang berdiri di situ dengan penuh harap, dan aku bisa melihat berbagai kenangan terkilas dalam pikiran istriku. Jadi, ia mengambil pena, membalikkan kertas, dan inilah yang ditulisnya.

    Untuk 9 bulan ketika Ibu mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut Ibu, Gratis. Untuk semua malam ketika Ibu menemani, mengobati dan mendoakan kamu, Gratis. Untuk semua saat susah dan semua airmata yang kamu sebabkan selama ini, Gratis. Kalau dijumlahkan semua, harga cinta Ibu adalah, Gratis, Anakku.

    Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan utk rasa cemas di waktu yang akan datang, Gratis. Untuk mainan, makanan, baju dan juga menyeka hidungmu, Gratis. Dan kalau kamu jumlahkan semuanya, harga cinta sejati Ibu adalah Gratis, Anakku.

    Ketika putri kecil kami selesai membaca yang ditulis Ibunya, air matanya berlinang. Ia menatap Ibunya dan berkata, “Bu, saya sayang sekali sama Ibu.”

    Kemudian ia mengambil pena dan menulis dengan huruf besar “LUNAS”.”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 17 April 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Berdagang 

    Penjual-tempeHalal dan Haram Berdagang

    Mempermainkan Harga

    Islam memberikan kebebasan pasar, dan menyerahkannya kepada hukum naluri yang kiranya dapat melaksanakan fungsinya selaras dengan penawaran dan permintaan. Justru itu kita lihat Rasulullah s.a.w. ketika sedang naiknya harga, beliau diminta oleh orang banyak supaya menentukan harga, maka jawab Rasulullah s.a.w.:

    “Allahlah yang menentukan harga, yang mencabut, yang meluaskan dan yang memberi rezeki. Saya mengharap ingin bertemu Allah sedang tidak ada seorang pun di antara kamu yang meminta saya supaya berbuat zalim baik terhadap darah maupun harta benda.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi, Ibnu Majah, ad-Darimi dan Abu Ya’la)

    Rasulullah s.a.w. menegaskan dalam hadis tersebut, bahwa ikut campur dalam masalah pribadi orang lain tanpa suatu kepentingan yang mengharuskan, berarti suatu perbuatan zalim, di mana beliau ingin bertemu Allah dalam keadaan bersih samasekali dari pengaruh-pengaruh zalim itu.

    Akan tetapi jika keadaan pasar itu tidak normal, misalnya ada penimbunan oleh sementara pedagang, dan adanya permainan harga oleh para pedagang, maka waktu itu kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan perorangan. Dalam situasi demikian kita dibolehkan menetapkan harga demi memenuhi kepentingan masyarakat dan demi menjaga dari perbuatan kesewenang-wenangan dan demi mengurangi keserakahan mereka itu. Begitulah menurut ketetapan prinsip hukum.

    Dengan demikian, apa yang dimaksud oleh hadis di atas, bukan berarti mutlak dilarang menetapkan harga, sekalipun dengan maksud demi menghilangkan bahaya dan menghalang setiap perbuatan zalim. Bahkan menurut pendapat para ahli, bahwa menetapkan harga itu ada yang bersifat zalim dan terlarang, dan ada pula yang bijaksana dan halal.

    Oleh karenanya, jika penetapan harga itu mengandung unsur-unsur kezaliman dan pemaksaan yang tidak betul; yaitu dengan menetapkan suatu harga yang tidak dapat diterima, atau melarang sesuatu yang oleh Allah dibenarkan, maka jelas penetapan harga semacam itu hukumnya haram.

    Tetapi jika penetapan harga itu penuh dengan keadilan, misalnya dipaksanya mereka untuk menunaikan kewajiban membayar harga mitsil dan melarang mereka menambah dari harga mitsil, maka hal ini dipandang halal, bahkan hukumnya wajib.

    Dalam bagian pertama, masuk apa yang disebut oleh hadis di atas. Jadi kalau orang-orang menjual barang dagangannya menurut cara yang lazim tanpa ada sikap-sikap zalim dari mereka, kemudian harga naik, mungkin karena sedikitnya barang atau karena banyaknya orang yang membutuhkan, sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan, maka naiknya harga semacam itu kita serahkan kepada Allah. Tetapi kalau orang-orang dipaksa menjual barangnya dengan harga tertentu, ini namanya suatu pemaksaan yang tidak dapat dibenarkan.

    Adapun dalam bagian kedua, yaitu misalnya si penjual tidak mau menjual barangnya, padahal sangat dibutuhkan orang banyak, melainkan dengan tambahan harga yang ditentukan, maka di sinilah timbulnya suatu keharusan memaksa mereka untuk menjual barangnya itu dengan harga mitsil.6

    Pengertian menetapkan harga dalam hal ini hanyalah suatu pemaksaan untuk menjualnya dengan harga mitsil, dan suatu penetapan dengan cara yang adil sebagai memenuhi perintah Allah.7

    Penimbun Dilaknat

    Sekalipun Islam memberikan kebebasan kepada setiap orang dalam menjual, membeli dan yang menjadi keinginan hatinya, tetapi Islam menentang dengan keras sifat ananiyah (egois) yang mendorong sementara orang dan ketamakan pribadi untuk menumpuk kekayaan atas biaya orang lain dan memperkaya pribadi, kendati dari bahan baku yang menjadi kebutuhan rakyat.

    Untuk itu Rasulullah s.a.w. melarang menimbun dengan ungkapan yang sangat keras.

    Sabda Rasul:

    “Barangsiapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka sungguh Allah tidak lagi perlu kepadanya.” (Riwayat Ahmad, Hakim, Ibnu Abu Syaibah dan Bazzar)

    Dan sabdanya pula:

    “Tidak akan menimbun kecuali orang berbuat dosa.” (Riwayat Muslim)

    Perkataan khathiun (orang yang berbuat dosa) bukan kata yang ringan. Perkataan ini yang dibawakan oleh al-Quran untuk mensifati orang-orang yang sombong dan angkuh, seperti Fir’aun, Haaman dan konco-konconya. Al-Quran itu mengatakan:

    “Sesungguhnya Fir’aun dan Haaman dan bala tenteranya, adalah orang-orang yang berbuat salah/dosa.” (al-Qashash: 8)

    Rasulullah s.a.w. menegaskan tentang kepribadian dan ananiyah orang yang suka menimbun itu sebagai berikut:

    “Sejelek-jelek manusia ialah orang yang suka menimbun; jika dia mendengar harga murah, merasa kecewa; dan jika mendengar harga naik, merasa gembira.” (hadis ini dibawakan oleh Razin dalam Jami’nya)

    Dan sabdanya pula:

    “Saudagar itu diberi rezeki, sedang yang menimbun dilaknat.” (Riwayat Ibnu Majah dan Hakim)

    Ini semua bisa terjadi, karena seorang pedagang bisa mengambil keuntungan dengan dua macam jalan:

    Dengan jalan menimbun barang untuk dijual dengan harga yang lebih tinggi, di saat orang-orang sedang mencari dan tidak mendapatkannya, kemudian datanglah orang yang sangat membutuhkan dan dia sanggup membayar berapa saja yang diminta, kendati sangat tinggi dan melewati batas.

    Dengan jalan memperdagangkan sesuatu barang, kemudian dijualnya dengan keuntungan yang sedikit. Kemudian ia membawa dagangan lain dalam waktu dekat dan dia beroleh keuntungan pula. Kemudian dia berdagang lainnya pula dan beroleh untung lagi. Begitulah seterusnya.

    Mencari keuntungan dengan jalan kedua ini lebih dapat membawa kemaslahatan dan lebih banyak mendapatkan barakah serta si pemiliknya sendiri –insya Allah– akan beroleh rezeki, sebagaimana spirit yang diberikan oleh Nabi s.a.w.

    Di antara hadis-hadis penting yang berkenaan dengan masalah penimbunan dan permainan harga ini, ialah hadis yang diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar salah seorang sahabat Nabi. Ketika dia sedang menderita sakit keras, didatangi oleh Abdullah bin Ziad –salah seorang gubernur dinasti Umaiyah– untuk menjenguknya. Waktu itu Abdullah bertanya kepada Ma’qil: Hai Ma’qil: Apakah kamu menduga, bahwa aku ini seorang yang memeras darah haram? Ia menjawab: Tidak. Ia bertanya lagi: Apakah kamu pernah melihat aku ikut campur dalam masalah harga orang-orang Islam? Ia menjawab: Saya tidak pernah melihat. Kemudian Ma’qil berkata: Dudukkan aku! Mereka pun kemudian mendudukkannya, lantas ia berkata: Dengarkanlah, hai Abdullah! Saya akan menceriterakan kepadamu tentang sesuatu yang pernah saya dengar dari Rasulullah s.a.w., bukan sekali dua kali.

    Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda demikian:

    “Barangsiapa ikut campur tentang harga-harga orang-orang Islam supaya menaikkannya sehingga mereka keberatan, maka adalah menjadi ketentuan Allah untuk mendudukkan dia itu pada api yang sangat besar nanti di hari kiamat.” Kemudian Abdullah bertanya: “Engkau benar-benar mendengar hal itu dari Rasulullah s.a.w.?!” Ma’qil menjawab: “Bukan sekali dua kali.” (Riwayat Ahmad dan Thabarani)

    Dari nas-nas hadis tersebut dan mafhumnya, para ulama beristimbat (menetapkan suatu hukum), bahwa diharamkannya menimbun adalah dengan dua syarat:

    Dilakukan di suatu negara di mana penduduk negara itu akan menderita sebab adanya penimbunan.

    Dengan maksud untuk menaikkkan harga sehingga orang-orang merasa payah, supaya dia beroleh keuntungan yang berlipat-ganda.

    Mencampuri Kebebasan Pasar dengan Memalsu

    Dapat dipersamakan dengan menimbun yang dilarang oleh Rasulullah s.a.w., yaitu: seorang kota menjualkan barang milik orang dusun. Bentuknya –sebagai yang dikatakan oleh para ulama– adalah sebagai berikut: Ada seorang yang masih asing di tempat itu membawa barang dagangan yang sangat dibutuhkan orang banyak untuk dijual menurut harga yang lazim pada waktu itu. Kemudian datanglah seorang kota (penduduk kota tersebut) dan ia berkata: Serahkanlah barangmu itu kepada saya, biarkan sementara di sini untuk saya jualkan dengan harga yang tinggi. Padahal seandainya si orang dusun itu sendiri yang menjualnya, sudah barang tentu lebih murah dan dapat memberi manfaat pada kedua daerah dan dia sendiri akan mendapat untung juga.

    Bentuk semacam ini, waktu itu sudah biasa terjadi di masyarakat, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Anas r.a.:

    “Kami dilarang orang kota menjualkan barang orang dusun, sekalipun dia itu saudara kandungnya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dengan demikian, mereka bisa belajar: bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan dari kepentingan pribadi.

    Sabda Nabi:

    “Tidak boleh orang kota menjualkan untuk orang dusun; biarkanlah manusia, Allah akan memberikan rezeki kepada mereka itu masing-masing.” (Riwayat Muslim)

    Dari kata-kata Nabi yang singkat biarkanlah manusia, Allah akan memberikan rezeki kepada mereka itu masing-masing kita dapat membuat satu rumusan sebagai prinsip yang sangat penting dalam dunia perdagangan, yaitu: kiranya masalah pasar, harga dan pertukarannya dibiarkan mengikuti selera fitrah dan faktor-faktor tabi’i, tanpa dicampuri oleh suatu pemalsuan dari sementara orang.

    Ibnu Abbas pernah ditanya tentang maksud orang kota tidak boleh menjualkan untuk orang dusun, kemudian ia berkata: yaitu orang kota tidak menjadi makelar untuk orang dusun,

    Pengertiannya, kalau orang kota itu menunjukkan harga dan memberi nasehat serta memberitahukan tentang keadaan pasar, tanpa ada maksud mencari keuntungan seperti yang biasa dilakukan oleh makelar-makelar itu, maka hal semacam ini tidaklah berdosa. Karena dia memberi nasehat demi mencari keridhaan Allah. Sedang nasehat adalah salah satu bagian dari agama, bahkan agama itu sendiri seluruhnya adalah nasehat. Seperti kata Nabi:

    “Agama itu adalah nasehat” (Riwayat Muslim)

    Dan dalam hadis yang lain beliau bersabda:

    “Apabila salah seorang di antara kamu minta nasehat kepada saudaranya, maka nasehatilah dia.” (Riwayat Ahmad)

    Makelar secara umum bermaksud mencari keuntungan, yang kadang-kadang dia lupa terhadap kepentingan umum.

    Makelar Itu Sendiri Hukumnya Halal

    Makelar untuk orang luar daerah tidak berdosa. Sebab makelar semacam ini salah satu bentuk penunjuk jalan dan perantara antara penjual dengan pembeli, dan banyak memperlancar keluarnya barang dan mendatangkan keuntungan antara kedua belah pihak.

    Makelar atau katakanlah perantara dalam perdagangan, di zaman kita ini sangat penting artinya dibandingkan dengan masa-masa yang telah lalu, karena terikatnya perhubungan perdagangan antara importer dan produser, antara pedagang kolektif dan antara pedagang perorangan. Sehingga makelar dalam hal ini berperanan yang sangat penting sekali.

    Tidak ada salahnya kalau makelar itu mendapatkan upah kontan berupa uang, atau secara prosentase dari keuntungan atau apa saja yang mereka sepakati bersama.

    Al-Bukhari mengatakan dalam kitab Sahihnya: Bahwa Ibnu Sirin, ‘Atha’, Ibrahim dan al-Hasan menganggap tidak salah kalau makelar itu mengambil upah. Dan begitu juga Ibnu Abbas, ia berkata: Tidak ada salahnya kalau pedagang itu berkata kepada makelar: ‘Juallah bajuku ini dengan harga sekian. Adapun lebihnya (jika ada untungnya) maka buat kamu.’ Dan Ibnu Sirin juga berkata: Apabila pedagang berkata kepada makelar: ‘Jualkanlah barangku ini dengan harga sekian, sedang keuntungannya untuk kamu.’ Atau ia berkata: ‘Keuntungannya bagi dua.’, maka hal semacam itu dipandang tidak berdosa. Sebab Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda sebagai berikut:

    “Orang Islam itu tergantung pada syarat (perjanjian) mereka sendiri.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Hakim dan lain-lain)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 16 April 2016 Permalink | Balas  

    Tathayyur (Merasa Sial) 

    takwaTathayyur (Merasa Sial)

    Merasa sial karena sesuatu, tempat, waktu, seseorang dan sebagainya adalah termasuk ramalan yang sangat laku di pasaran, secara berkelompok atau perorangan.

    Di zaman dahulu pernah juga terjadi demikian, misalnya tentang kaum Nabi Saleh, mereka ini berkata kepadanya:

    “Kami merasa sial sebab kamu dan orang-orang yang bersamamu.” (an-Naml: 47)

    Fir’aun dan kaumnya apabila ditimpa suatu musibah, mereka menganggap kesialannya itu karena Musa dan orang-orang yang bersamanya.1

    Dan banyak pula orang-orang kafir yang sesat itu kalau mendapat bala’ dari Allah, mereka kemudian berkata kepada para juru da’wah dan Rasul:

    “Kami merasa sial sebab kamu semua.” (Yasin:18)

    Tetapi para Rasul itu kemudian menjawab:

    “Kesialanmu itu sebab kamu sendiri.” (Yasin: 19)

    Yakni sebab-sebab kesialanmu itu ada pada kamu sendiri, yaitu lantaran kamu kufur, ingkar dan memusuhi Allah dan RasulNya.

    Orang-orang Arab jahiliah dalam segi ini mempunyai doa yang panjang dan bermacam-macam kepercayaan. Sehingga datanglah Islam kemudian dihapusnya dan mereka dikembalikan untuk mengikuti jalan fikiran yang lurus.

    Rasulullah merangkaikan ramalan dan sihir dalam satu susunan, seperti sabdanya:

    “Bukan dari golongan kami siapa yang merasa sial, atau minta diramalkan kesialannya, atau menenung, atau minta ditenungkan, atau mensihir, atau minta disihirkan.” (Riwayat Thabarani)

    Dan sabdanya pula:

    “Membuat garis di tanah, menganggap sial karena alamat dan melempar kerikil karena ada suatu kepercayaan, adalah termasuk menyembah selain Allah.” (Riwayat Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Hibban)

    Tathayyur, satu hal yang berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan atau suatu kenyataan yang benar. Tathayyur, hanya berjalan mengikuti kelemahan dan membenarkan dugaan yang salah (waham). Kalau tidak demikian, apa artinya seorang yang berakal percaya mendapat sial karena seseorang, atau karena tempat, karena dengkurnya suara burung, geraknya mata atau terdengarnya suatu perkataan?!

    Apabila nalurinya manusia itu ada kelemahan, maka akan mengalir pada dirinya suatu anggapan sial karena sesuatu. Seharusnya dia tidak mau menerima kelemahan ini. Lebih-lebih apabila dia sudah sampai pada fase bekerja dan pelaksanaan.

    Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Ada tiga perkara yang tidak akan bisa selamat satupun, yaitu: menuduh, tathayyur dan hasud. Oleh karena itu kalau kamu menuduh jangan kamu nyatakan, dan kalau merasa sial jangan surut (jangan kamu gagalkan pekerjaanmu), dan kalau kamu hasud, jangan lanjutkan.” (Riwayat Thabarani)

    Oleh karena ketiga perkara ini hanya semata-mata perasaan yang tidak berpengaruh pada suatu sikap dan perbuatan, maka dimaafkannya oleh Allah.

    Dan diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Tathayyur (merasa sial) adalah syirik.” 3 kali.

    Dan Ibnu Mas’ud sendiri berkata: ” …tetapi Allah akan menghilangkannya dengan tawakkal.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

    Apa yang dimaksudkan oleh Ibnu Mas’ud itu, ialah: setiap orang di antara kita ini ada perasaan-perasaan seperti itu, tetapi perasaan semacam ini akan hilang lenyap dari hati orang yang selalu tawakkal dan tidak membiarkan perasaannya itu tinggal dalam hati.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 15 April 2016 Permalink | Balas  

    Sultan Agung Hanyakrakusumo 

    sultan agungSultan Agung Hanyakrakusumo

    Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu HanyakraKusumo, adalah raja pada dinasti Mataram setelah Panembahan Senopati (1584-1601) dan Panembahan Hanyakrawati (1601-1613). Pada pemerintahannya (1613-1646) pernah melakukan penyerangan terhadap VOC yang berkedudukan di Batavia, yaitu pada tahun 1628 dan 1629.

    Dalam sejarah babad mataram, Sultan Agung digambarkan sebagai seorang raja yang piawai dalam menjalankan roda tata negara dan kebudayaan. Dalam merumuskan upaya pengembangan kebudayaan Jawa, Sultan Agung dengan piawai merumuskan strategi konvergensi ajaran agama Islam kedalam budaya masyarakat mataram yang sebelumnya telah mengenal tradisi yang bersumber pada agama Hindu dan Budha.

    Sultan Agung pada tahun 1633 memberlakukan sistem perhitungan tahun model baru (tahun Jawa) menggantikan sistem perhitungan tahun Saka. Perubahan sistem perhitungan tahun ini sangat strategis, karena berarti seluruh penulisan serat babad maupun penanggalan yang akan dijadikan acuan masyarakatnya akan mengacu kepada sistem perhitungan model baru tersebut. Sistem Perhitungan kalender tahun Jawa ini mengacu dan menyesuaikan dengan sistem perhitungan kelender tahun Hijriah, sehingga ini merupakan kelanjutan proses Islamisasi tradisi dan kebudayaan Jawa yang telah dimulai semenjak pemerintahan Kerajaan Islam Demak Bintoro.

    Kalender tahun Saka merupakan warisan zaman Hindu-Budha. Sama seperti tahun Masehi, tahun Saka juga memakai dasar perhitungan Solair / Syamsiah yaitu mengikuti peredaran bumi mengitari matahari. Sedangkan tahun Jawa yang diberlakukan Sultan Agung adalah mengacu pada dasar perhitungan yang dipakai pada tahun Hijriyah. Pada sistem penanggalan Hijriyah maupun tahun jawa memakai sistem kalender berdasarkan sistem Lunair / Komariyah, yaitu berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi.

    Pada saat pemberlakuan kalender Jawa tersebut , tahun Saka telah berjalan sampai tahun 1554, Dalam tahun Jawa hasil rekayasa Sultan Agung tahun itu tetap diteruskan menjadi 1955 tahun Jawa. Padahal pada hakikatnya sistem perhitungan tahun saka sama sekali jauh berbeda dengan tahun Jawa yang mengacu kepada sistem perhitungan tahun Hijriah. Disinilah letak kepiawaian Sultan Agung, merombak secara revolusioner sistem penanggalan dengan mengganti system tahun Saka dengan tahun Jawa yang mengacu kepada sistem Hijriah tanpa membuat gejolak yang berarti pada masyarakatnya.

    Perubahan dan pemberlakuan itu terjadi pada tanggal 1 Suro tahun Alip 1555 Jawa atau 1 Muharam tahun 1043 Hijriyah atau 8 Juli 1633 Masehi. Disamping itu Sultan Agung juga mengembangkan seni kaligrafi tulisan Arab, melanjutkan lagi tradisi Sekaten yang diselengarakan bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari alat media dakwah kepada masyarakatnya.

    Kisah diatas hanyalah sebagian kecil dari ribuan kisah tentang pasang surutnya sejarah dakwah dan syiar Islam di negeri ini. Datang sejak abad pertama Hijriyah, pada masa Khulafaur Rasyidin memerintah, disebutkan bahwa Islam telah mulai masuk ke Indonesia. Sejarah panjang dakwah serta syiar yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita sejak zaman Samudera Pasai sampai ke masa Wali Songo dan diteruskan sampai hari ini oleh pejuang Islam, selayaknya patut kita syukuri. Para pendahulu kita dengan kearifannya telah berhasil setapak demi setapak menanamkan Islam dalam ranah Tauhid, Akhlak, Sosial, Ekonomi, Budaya , dan Politik di masyarakat negeri ini. Tak dapat dipungkiri bahwa Islam telah menjadi inpirasi dan memberikan warna dalam perjalanan dinamika bangsa kita ini. Mereka telah membangun pondasi, kini pun kita punya pijakan yang kuat untuk meneruskannya. Kearifan mereka dalam berdakwah adalah salah satu hal yang dapat kita jadikan contoh dan bahan perenungan, agar tak sia-sia daya upaya yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita.

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 14 April 2016 Permalink | Balas  

    Armageddon: Pertempuran Akhir Zaman 

    Reciting-QuranArmageddon: Pertempuran Akhir Zaman

    Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia.

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka. Sehingga, bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau kayu, kemudian batu atau kayu itu berkata, “Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon Gharqad (yang tidak berbuat demikian) karena ia termasuk pohon Yahudi.”

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batu pun akan berbicara, “Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!”

    Dua hadits di atas merupakan gambaran tentang episode akhir dari Armageddon. Armageddon yang merupakan peperangan di akhir zaman akan menggilas seluruh kekuatan Yahudi dan negara Israel serta sekutu-sekutunya di seluruh dunia. Betapa hebatnya pertempuran itu, sampai-sampai batu dan kayu ikut berbicara menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. Kitab mereka sendiri juga mengatakan hal tersebut. Bibel pasal Yehezkiel (7 : 15) berjudul Kesudahan Yerusalem menyebutkan, “Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barangsiapa (Yahudi) yang di luar kota akan mati karena pedang, dan barangsiapa (Yahudi) yang di dalam kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar.”

    Hal ini dipertegas dalam Bibel kitab Yehezkiel pasal 6 ayat 11 – 14, “Beginilah firman Tuhan Allah, “Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah, “Awas!” Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan, dan penyakit sampar. Yang jauh akan mati karena sampar, yang dekat akan rebah karena pedang, dan yang terluput serta terpelihara akan mati karena kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanahnya, di mana saja mereka diam akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi sepi mulai dari padang gurun sampai Ribla”

    Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia. Di kalangan kaum muslimin juga dijumpai istilah tersebut, yaitu al-Majidun “kemuliaan” yaitu “Perang Kemuliaan”. Hal ini ditemukan dalam beberapa manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah.

    Armageddon adalah nama sebuah gunung di Palestina/Israel. Arti dari Armageddon sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti Gunung (Har dalam bahasa Ibrani/Hebrew) dan Mageddon = Magiddo adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Kota Magiddo terletak di pegunungan Samaria, di mana gunung ini membentang dari Magiddo di utara sampai ke Hebron di selatan.

    Di dunia Barat, Armageddon telah menjadi diskursus yang cukup urgen hingga sekarang. Mereka menggambarkan Armageddon sebagai peristiwa jatuhnya meteor raksasa ke bumi. Padahal, hal itu sangat jauh dari apa yang dimaksud dengan Armageddon itu sendiri. Peristiwa jatuhnya meteor ke bumi hanyalah salah satu episode dalam Armageddon.

    Lantas apa hakikat sebenarnya tentang Armageddon? Sebagai jawaban singkat, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar di akhir zaman yang dimulai dari Magiddo, sebuah kota di Israel di pegunungan Samaria. Nabi Muhammad saw. Menyebut Peperangan Akhir Zaman ini sebagai Al-Malhamah al-Kubro, suatu huru-hara besar yang belum pernah ada tandingannya, yang merupakan arena penampakan Kuasa Allah untuk membungkam kesombongan orang-orang kafir.

    Pada episode akhir zaman nanti, Isa Putra Maryam akan turun untuk menghakimi orang Yahudi atau Israel, yaitu orang-orang Yahudi keturunan Samiri si penyembah sapi, serta semua yang menjadi pendukungnya (Rum/Romawi). Mereka bersama pendukung-pendukungnya akan berkumpulkan di gunung Magiddo. Di sinilah Dajjal si Pendusta Besar berperan dalam terwujudnya Pertempuran Akhir Zaman. Di tengah-tengah pertempuran itu, Allah kirimkan “Hantaman yang Keras” (al-Bathsyah al-Kubro) yang menghantam tepat bala tentara Rum dan Israel. Sehingga, mereka terbunuh dengan hebatnya. Puncak dari pertempuran itu, Allah menurunkan Isa Putra Maryam (Yesus) untuk membunuh Dajjal dan pengikutnya.

    Peperangan Armageddon ini mempunyai rentang waktu yang lama. Sehingga, menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan poros kaum muslimin yang dipimpim oleh Al-Mahdi. Di tengah-tengah berkecambuknya perang ini, turunlah pertolongan Allah kepada kaum muslimin yaitu dengan diturunkannya Isa Almasih Putra Maryam Perawan Suci. Isa akan turun di menara putih di timur Damaskus ketika menjelang fajar. Kemudian Isa masuk ke markas kaum muslimin dan ikut dalam barisan shalat subuh. Setelah itu ia bersama Al-Mahdi akan memimpin kaum muslimin menyerbu seluruh markas kaum kafir, bahkan berhasil membunuh Dajjal dan seluruh orang kafir.

    Tempat Berlangsungnya Armageddon

    Terdapat banyak istilah tentang Armageddon, Rasulullah menyebutnya sebagai Al-Malhamah al-Kubra “pertempuran besar yang tidak ada tandingannya”. Istilah yang lainnya seperti Hari Jabal di Palestina. Istilah-istilah yang lainnya muncul berdasarkan nama tempatnya yaitu Samaria, Bukit al-Quds (Yerusalem), Tanah Isra dan Mikraj, Al-Jabal al-Majid (Majidu asy-Syam), Lembah Yosafat, dan Lembah Penentuan. Nama-nama tempat itu secara geografis adalah sama, yaitu dalam satu tempat/kawasan di Israel dan8 sekitarnya, meliputi juga Libanon bagian selatan yang berhadapan dengan kota Magiddo, bagian barat Yordania, serta bagian selatan Suriah (dataran tinggi Golan).

    Tanda-Tanda Dekatnya ARMAGEDDON

    Dari berbagai sumber/literatur, terdapat beberapa tanda sebagai isyarat dekatnya Armageddon.

    • Kembalinya/mengumpulnya Bani Israel ke Tanah Palestina.
    • Memuncaknya kedurhakaan Israel, dengan Ariel menjadi pemimpinnya.
    • Munculnya gerakan Intifadah (gerakan aksi lempar batu oleh anak-anak Palestina kepada Israel).
    • Munculnya Imam Mahdi untuk menghentikan kedurhakaan Israel

    ***

    Dikutip dari buku;Armagedon:Peperangan Akhir zaman

    Penulis : Ir.Wisnu Sasongko

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 13 April 2016 Permalink | Balas  

    Nishfu Syaban 

    malam nishfu syabanNishfu Syaban

    Keutamaan, Bacaan do’a & Cara Melaksanakannya

    (malam 15 Sya’ban 1425 H Insya Alloh jatuh pada hari Rabu 29 September 2004 M, Amalan ini boleh juga dilakukan di malam 13 atau 14, afdholnya di malam 15)

    • Malam Nishfu Sya’ban dan Keutamaannya
    • Doa yang Dibaca Berikut Artinya
    • Cara Melaksanakan Doa Nishfu Sya’ban

    Malam Nishfu Sya’ban dan Keutamaannya

    Bulan Sya’ban adalah bulan yang diapit oleh dua bulan yang sangat mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab merupakan salah satu dari 4 bulan haram: bulan-bulan yang dihormati. Allah berfirman agar kita tidak menganiaya diri kita dengan berbuat maksiat di bulan-bulan haram, sebab melakukan maksiat di bulan haram lebih berat tanggung jawabnya kelak di akhirat.

    Adapun keutamaan bulan Ramadhan sangat banyak,

    di antaranya:

    1 ) ibadah wajib di bulan itu seperti 70 ibadah wajib di bulan lain,

    2 ) amalan sunah dibulan itu senilai amalan wajib di bulan lain,

    3 ) pada bulan itu Quran diturunkan, dan

    4) terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan, dll.

     

    Keutamaan yang banyak dari kedua bulan ini seakan menenggelamkan kelebihan bulan Sya’ban. Padahal, bulan Sya’ban juga memiliki keutamaan:

    Diriwayatkan kepadaku bahwa Usamah bin Zaid berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya’ban.” Kata Nabi, “Bulan itu sering dilupakan orang karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan (dan dilaporkan) kepada Tuhan Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa.”

    (HR Ahmad dan Nasai – dlm. Figh Sunah Abu Dawud).

    Adapun keutamaan bulan Sya’ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-hadis berikut:

    HADIS PERTAMA

    Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata:

    “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

    HADIS KEDUA

    Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

    HADIS KETIGA

    Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x),  demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.”

    (HR Ibnu Majah).

    Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban, marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon sebanyak- banyaknya kepada Allah.

    Doa yang Dibaca Berikut Artinya

    (Ditulis latin kurang lebih sbb : Allohumma Ya zal manni wala yumannu ‘alaih, Ya zal jalali wal ikrom, Ya zat-thauli wal in ‘am, La ilaha illa anta zhohrol lajin, wajarol mustajirin, wa amanal kho-ifin, Allohumma in-kunta katabtani ‘indaka fi ummil kitab, syafiyyan aw mahruman, aw mathrudan, aw muqottaron ‘alayya fir-rizqi, fa amhullohumma fi fadhlika syaqowati, waharmani, wathordi, wa iqtaro rizqi, wa asbitni ‘indaka fi ummil kitabi sa’idan, marzuqon, muwaffaqol khoyrot, fainnaka qulta, waqawlukal haq, fi kitabikal munzal, ‘ala lisani nabiyyikal mursal, {Yamhulloha ma yasya’u wayusbitu wa’dahu ummul kitab} Allohumma bit-tajallil a’dzom, fi laylatin-nishfhu min syahri sya’banal mukarrom, allati yufroqu fiha kullu amrin hakimin wayubrom, an aksyafa ‘anna minal bala-i ma na’lamu wama laa na’lam, wama anta bihi a’lam, innaka antal a-‘azzul akrom, washollallohu ‘ala syayyidina muhammadin, wa ‘ala alihi washohbihi wasallam, walhamdulillahi robbil ‘alamin).

    Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah, yang memiliki anugerah dan tidak dianugerahi, wahai yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, yang memiliki karunia dan kenikmatan, tiada Tuhan melainkan Engkau, Engkau tempat berlindung, tempat memohon pertolongan, dan tempat aman bagi orang yang ketakutan, Ya Allah, jika telah Engkau tuliskan nasibku dalam Ummul kitab sebagai orang yang sengsara, atau orang yang diharamkan mendapat kenikmatan, atau orang yang ditolak, atau orang yang disempitkan rezekinya, maka demi kemurahan-Mu, hapuskanlah ya Allah, kesengsaraanku, keterhalanganku dari nikmat, ketertolakkanku, dan kesempitan rezekiku, kemudian tetapkanlah aku di dalam Ummul Kitab yang ada di sisi-Mu sebagai orang yang bahagia, mendapat rezeki cukup, memperoleh taufiq untuk melakukan segala kebaikan, Sesungguhnya Engkau telah berfirman, dan firman-Mu lah yang benar, di dalam kitab-Mu yang diturunkan kepada nabi-Mu yang diutus, yaitu: “Allah (berkuasa utk) menghapus dan menetapkan yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya Ummul kitab” Ya Allah, dengan tajallimu yang Maha agung pada malam Nishfu Sya’ban yang mulia ini, yang di dalamnya dipisahkan dan dikukuhkan semua persoalan penting, aku mohon agar dihindarkan dari malapetaka yang aku ketahui, atau yang tidak aku ketahui, atau yang lebih Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau Maha Luhur dan Mulia. Semoga sholawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, dan segenap puji bagi-Mu ya Allah, Pemelihara sekalian alam.

    Cara Melaksanakan Doa Nishfu Sya’ban

    Cara melaksanakan ibadah di malam Nishfu Sya’ban ini berbeda-beda. Di bawah ini adalah cara yang dilakukan di Mesjid Riyadh, atau cara yang diajarkan oleh Habib Abubakar Alatas, syeikhnya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Muallif Simtud Duror.

    Salatlah Maghrib berjama’ah, dan selesaikan semua doa dan wirid, kemudian salatlah sunah ba’diah Maghrib

    Berikut adalah rangkaian ibadah nishfu sya’ban:

    PERTAMA

    Salatlah sunah awwabin 2 rakaat  niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin   lillaahi ta’aalaa  bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah  pada rokaat pertama dan kedua

    • setelah salam, bacalah fatihah dan yaa siin dengan   niat agar dipanjangkan umur dalam ketaatan kepada Allah al-faatihah wa yaa siin biniyyati thuulil ‘umr ma-‘at  taufiiq li thoo-‘atillaah

    KEDUA

    • salatlah sunah awwabin 2 rakaat  niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin  illaahi ta’aalaa  bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah  pada rokaat pertama dan kedua
    • setelah salam bacalah fatihah dan yaa siin dengan  niat agar diselamatkan dari segala mara bahaya  al-faatihah wa yaa siin biniyyatil hifzh wal ‘ishmati  minal aafaat wal ‘aahaat

    KETIGA

    • salatlah sunah awwabin 2 rakaat  niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin  lillaahi ta’aalaa  bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah  pada rokaat pertama dan kedua
    • setelah salam, bacalah fatihah dan yaa siin dengan  niat agar dapat berdikari tanpa membutuhkan  bantuan dari sesama makhluk Allah dan agar  meninggal dalam husnul khotimah  al-faatihah wa yaa siin biniyyatil istighnaa`  ‘anin naas wa husnul khootimah.

    (Akhir dari ibadah ini akan bersamaan dengan masuknya waktu Isya).

    Sholat ini hendaknya dilakukan secara berjamaah dengan istri, anak, pembantu, tetangga, di mesjid dll. Pada salat awwabin imam hanya membaca jahr (dengan suara keras) surat al-faatihah saja.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 12 April 2016 Permalink | Balas  

    Pujian dan Celaan 

    berdoa1Pujian dan Celaan

    Pujian dan celaan adalah bagian dari romantika hidup manusia. Hari ini seseorang memuji kita, tetapi besoknya mungkin mencela kita. Bagi muslim yang bertauhid, pujian dan celaan dianggap sama saja, senantiasa ia kaitkan dengan Ridha Allah SWT.

    Setiap manusia pada dasarnya memiliki perasaan takut dicela, ini termasuk ciri manusia, sama dengan rasa malu (muru’ah). Rasa ini jika dibiarkan dalam cengkeraman nafsu akan menyebabkan mata hati menjadi buta dan tuli dalam menempatkan rasa ini pada porsi yang sebenarnya. Penyebab dari hal ini antara lain adalah :

    1. Rasa sakit hati apabila merasakan adanya kekurangan dalam diri.
    2. Tidak memahami hakikat celaan dan pujian.
    3. Tidak mampu menguasai hati dalam menempatkan rasa malu.

    Seyogyanya kita memahami dan menimbang hal dibawah ini dengan hati yang bersih dan akal yang jernih :

    1. Jika celaan itu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bersyukurlah atas celaan itu, karena berarti mengingatkan akan kesalahan kita, anggaplah celaan itu Rahmat Allah SWT untuk membenahi yang kesalahan itu.
    2. Jika celaan itu tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bersyukurlah atas celaan itu karena berarti dosa kita semakin berkurang dan kebaikan kita semakin bertambah.
    3. Terkadang rasa takut dicela dan dihina ini dapat menyesatkan dan menjerumuskan kita, karena kita tak lagi waspada terhadap kesalahan diri kita dan menutup kebenaran menghampiri diri kita.
    4. Bersyukurlah bahwa celaan itu “hanya” datang dari orang saja, hanyalah dalam pandangan dan perasaan duniawi saja. Merupakan malapetaka jika celaan itu datangnya dari Allah SWT.
    5. Jangan sekali-kali bertahan demi gengsi dengan mencampakkan kebenaran dan menyokong kebatilan. Karena terkadang dalam celaan itu terkandung pula kebenaran.

    Demikian sedikit kutipan tausiah yang pernah saya dengar dari seorang ustadz yang suka tahlilan, semoga ada manfaatnya.

    ***

    Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 11 April 2016 Permalink | Balas  

    Bulan Sya’ban: Persediaan Di Ambang Ramadhan 

    malam nishfu syabanBulan Sya’ban: Persediaan Di Ambang Ramadhan

    Setiap bulan dalam sepanjang tahun mengikut kiraan taqwim Hijriyyah mempunyai kelebihan tertentu dan keistimewaan beribadat di dalamnya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala menciptakan hari atau bulan itu ada yang baik dan ada yang lebih baik. Sebagaimana yang disebutkan oleh hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai kelebihan bulan Muharram, Rejab, Sya‘ban, Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah sebagai bulan-bulan yang istimewa. Begitu juga dengan hari-hari tertentu seperti Juma‘at, Khamis dan Isnin mempunyai pelbagai fadhilat.

    Bulan Sya‘ban Dan Galakkan Beribadat Di Dalamnya

    Sekarang kita berada di bulan Sya‘ban. Bulan Sya‘ban juga mempunyai keistimewaan tersendiri di dalam Islam. Keadaan ini samalah juga dengan bulan-bulan yang lain yang mempunyai fadhilat tersendiri, sehingga menyebabkan kehadirannya sentiasa ditunggu-tunggu oleh mereka yang ahli ibadat sebagai masa mengait pahala.

    Bulan Sya‘ban adalah antara bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di mana Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam akan lebih banyak berpuasa di bulan ini. Pernah diriwayatkan bahawa Baginda tidak pernah berpuasa sunat dalam sebulan, lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya‘ban.

    Dalam makna yang lain Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan puasa sunat di bulan Sya‘ban dibandingkan bulan-bulan yang lain. Oleh kerana itu amatlah dituntut bagi umat Islam mencontohi apa yang dilakukan oleh Baginda itu kerana selain memperbanyak amal kebajikan di bulan ini, ia juga merupakan suatu latihan rohani ke arah mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

    Amalan-Amalan Sunat Pada Bulan Sya‘ban

    Keistimewaan bulan ini bahawa amalan seluruh manusia diangkat untuk dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, maka sewajarnyalah sepanjang bulan ini diisikan dengan amal ibadah dan kebajikan. Maka antara amalan yang digalakkan pada bulan Sya‘ban adalah:

    1. Memperbanyak puasa sunat.

    Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih gemar berpuasa sunat dalam bulan Sya‘ban berbanding dengan bulan-bulan yang lain.

    1. Bertaubat dan beristiqhfar

    Taubat ialah pembersihan rohani kerana taubat itu menjadi tuntutan dalam agama supaya setiap diri individu yang sememangnya tidak ma‘shum ini melakukan taubat pada setiap masa dan ketika. Tegasnya hukum taubat itu adalah wajib dari segi syara‘. Walau bagaimanapun sebenar-benar taubat itu ialah yang dikatakan taubat nasuha.

    Taubat nasuha tidak akan tercapai tanpa mendatangkan terlebih dahulu syarat-syarat yang ditentukan. Umpamanya jika dosa itu antara hamba dengan Tuhan:

    1. Hendaklah dia meninggalkan dosa atau maksiat itu.
    2. Hendaklah dia benar-benar menyesali dan merasa dukacita atas perbuatan maksiatnya itu.
    3. Hendaklah dia berjanji dan berazam untuk tidak akan kembali mengulangi melakukannya.

    Manakala jika dosa itu bersangkut paut dengan hak orang lain, maka selain syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan di atas, ditambah lagi satu syarat iaitu hendaklah membersihkan dirinya daripada hak orang itu atau orang yang melakukan dosa itu memohon maaf kepada orang berkenaan.

    Selain daripada itu, peranan taubat itu sendiri tidak terhenti setakat membersihkan diri daripada segala dosa dan maksiat. Lebih daripada itu ia juga merupakan suatu cara untuk kita sentiasa berlindung diri kepada Allah subhanahu wa Ta‘ala memohon keberkatan ketika kita memulakan dan membuat sesuatu pekerjaan yang berfaedah dan mengharapkan kurnia, taufiq serta diselamatkan daripada ditimpa musibah, kesusahan, kesulitan dan sebagainya.

    Adapun istighfar itu pula ialah pernyataan memohon ampun kepada Allah daripada semua dosa. Lafaz istighfar itu di antaranya ialahأستغفر الله العظيم (Astaghfirullohal ‘adzim) berarti: “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”.

    1. Memperbanyak zikir dan berdoa

    Zikir ialah ucapan yang dilakukan dengan lidah atau mengingati Allah dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mempersucikan Allah dan membersihkanNya dari sifat-sifat yang tidak layak untukNya.

    Terdapat banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang memerintahkan agar manusia mengambil berat tentang zikir. Banyak faedah yang diperolehi hasil daripada berzikir. Antaranya ialah:

    1. Menenangkan hati:

    Ini bersesuaian dengan janji Allah Subhanahu wa Ta‘ala bahawa orang-orang yang beriman itu tenang hati mereka dengan zikrullah. Ini kerana berzikir (mengingati Allah) itu mententeramkan hati manusia.

    1. Kawalan Diri dan Perlindungan Malaikat:

    Seseorang itu merasa terkawal kerana Allah sentiasa menyertainya di mana sahaja dia berada. Akibatnya paling minimal dia takut hendak berbuat maksiat dan bersedia pula untuk melakukan ketaatan.

    Bahkan dia juga mendapat kawalan sepenuhnya daripada malaikat. Bagi orang yang sekadar duduk di majlis zikir sekalipun tidak bersama berzikir akan mendapat juga rahmat Allah dan kawalan malaikat.

    iii. Terpelihara Daripada Godaan dan Pujukan Syaitan.

    1. Meningkatkan Rasa Kecintaan Kepada Allah:

    Untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah, mestilah memahami dan menghayati bacaan tasbih, doa dan istighfar yang diucapkan itu.

    Antara keistemewaan amalan zikir itu pula ialah:

    1. Zikir boleh dilaksanakan bila-bila masa walaupun sedang melakukan pekerjaan tanpa terikat dengan waktu. Ia juga boleh dilaksanakan dalam keadaan duduk, tidur, berdiri dan baring.
    2. Boleh dilaksanakan walaupun dalam keadaan berhadas sama ada hadas kecil mahu pun hadas besar. Walau bagaimanapun makruh berzikir secara lisan ketika berada di dalam tandas.

    Begitu juga dengan perkara doa. Doa boleh dilakukan tanpa mengira tempat dan masa. Doa ialah memohon sesuatu hajat atau perlindungan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan cara merendahkan diri dan tawadhu‘ kepadaNya.

    Selain daripada itu banyak lagi amal kebajikan yang boleh dilaksanakan di bulan Sya‘ban ini sebagai persiapan menyambut kedatangan Ramadhan seperti memperbanyakkan selawat atas junjungan besar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersembahyang sunat terutama di waktu malam, banyak bersedekah dan sebagainya. Maka rebutlah peluang dan kelebihan yang ada di bulan Sya‘ban ini untuk mempertingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, mengapa Baginda melebihkan berpuasa sunat di bulan Sya‘ban berbanding bulan-bulan yang lain? Baginda bersabda:

    Artinya: “Bulan itu (Sya‘ban) yang berada di antara Rejab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku di angkat ketika aku berpuasa”. (Hadis riwayat an-Nasaie)

    Kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban

    Adapun kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban itu telah disebutkan di dalam hadis shahih daripada Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Allah menjenguk datang kepada semua makhlukNya di Malam Nisfu Sya‘ban, maka diampunkan dosa sekalian makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan.” (Hadis riwayat Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban)

    Di Malam Nisfu Sya‘ban juga, adalah di antara malam-malam yang dikabulkan doa. Berkata Imam asy-Syafi‘e dalam kitabnya al-Umm: “Telah sampai pada kami bahawa dikatakan: sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam iaitu: pada malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya ‘Aidil fitri, malam pertama di bulan Rejab dan malam nisfu Sya‘ban.”

    Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban

    Nisfu Sya‘ban ialah hari ke lima belas daripada bulan Sya‘ban. Malam Nisfu Sya‘ban merupakan malam yang penuh rahmat dan pengampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Kenyataan ini dapat direnung kepada hadis yang diriwayatkan oleh Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu di atas.

    Adapun cara menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban sebagaimana yang dilakukan sekarang ini tidak berlaku pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan zaman para sahabat. Akan tetapi ia berlaku pada zaman tabi‘in dari penduduk Syam. Menyebut al-Qasthalani dalam kitabnya al-Mawahib al-Ladunniyah, bahawa para tabi‘in daripada penduduk Syam seperti Khalid bin Ma‘dan dan Makhul, mereka beribadat dengan bersungguh-sungguh pada Malam Nisfu Sya‘ban. Maka dengan perbuatan mereka itu, mengikutlah orang ramai pada membesarkan malam tersebut.

    Para tabi‘in tersebut menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan dua cara:

    1. Sebahagian mereka hadir beramai-ramai ke masjid dan berjaga di waktu malam (qiamullail) untuk bersembahyang sunat dengan memakai harum-haruman, bercelak mata dan berpakaian yang terbaik.
    2. Sebahagiannya lagi melakukannya dengan cara bersendirian. Mereka menghidupkan malam tersebut dengan beribadat seperti sembahyang sunat dan berdoa dengan cara bersendirian.

    Ada pun cara kita sekarang ini menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan membaca Al-Qur’an seperti membaca surah Yasin, berzikir dan berdoa dengan berhimpun di masjid-masjid atau rumah-rumah persendirian sama ada secara berjemaah atau perseorangan adalah tidak jauh berbeza dengan apa yang dilakukan oleh para tabi‘in itu.

    Amalan-Amalan Bid‘ah Dalam Bulan Sya‘ban

    Dalam keghairahan kita menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban itu dengan berbagai cara ibadat, kita perlu berhati-hati agar tidak melakukan perkara-perkara bid‘ah.

    Di antara perkara bid‘ah itu ialah bersembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang ini sebenarnya tiada tsabit dalam ajaran Islam. Imam an-Nawawi dan Imam Ibnu Hajar telah menafikan adanya sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban kerana suatu sembahyang itu disyariatkan cukup dengan sandarannya sama ada dari nash Al-Qur’an atau pun hadis.

    Jika seseorang itu masih juga ingin untuk melakukan sembahyang, maka sayugialah dia mengerjakan sembahyang-sembahyang sunat yang lain seperti sunat Awwabin (di antara waktu maghrib dan Isya’), sembahyang tahajjud, akhirnya sembahyang witir atau sembahyang sunat muthlaq bukan sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang sunat muthlaq ini boleh dikerjakan pada bila-bila masa sahaja sama ada pada Malam Nisfu Sya‘ban atau pada malam-malam yang lain.

    Adalah mendukacitakan pada malam yang penuh berkat dan keampunan itu, wujud perkara-perkara yang tidak selari dengan syara‘, iaitu adanya orang yang membuat hiburan atau mengadakan konsert pada Malam Nisfu Sya‘ban. Apatah lagi jika hiburan atau permainan yang diadakan itu melibatkan ramai orang Islam sehingga terlepas untuk merebut peluang beribadat dan berdoa pada malam tersebut. Perbuatan seumpama ini setentunya menyumbang kepada maksiat.

    Sesunguhnya bulan Sya‘ban itu adalah bulan di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak berpuasa sunat dibandingkan pada bulan-bulan yang lain, iaitu sebagai persiapan dan persediaan untuk menghadapi bulan Ramadhan. Amalan Baginda itu sewajarnya dicontohi oleh sekalian umat Islam disamping bulan Sya‘ban itu sendiri mempunyai kelebihan yang tersendiri seperti Malam Nisfu Sya‘ban.

    === selesai ===

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 10 April 2016 Permalink | Balas  

    Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu 

    wudhuApakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu?”.

    Jawaban.

    Yang benar adalah bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu kecuali jika keluar sesuatu dari kemaluannya, hal ini berdasarkan riwayat shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya :

    “Rasullah mencium salah seorang istrinya lalu beliau melaksanakan shalat tanpa mengulang wudhu beliau”.

    Karena pada dasarnya tidak ada sesuatu apapun yang membatalkan wudhu hingga terdapat dalil yang jelas dan shahih yang menyatakan bahwa hal itu membatalkan wudhu, dan karena si pria dianggap telah menyempurnakan wudhunya sesuai dengan dalil syar’i. Sesuatu yang telah ditetapkan dalil syar’i tidak bisa dibantah kecuali dengan dalil syar’i pula.

    Jika ditanyakan bagaimana dengan firman Allah yang berbunyi :

    “aw-laamastumu an-nisaa’a” artinya : “atau menyentuh perempuan” [An-Nisaa : 45, Al-Ma’idah : 6]

    Maka jawabnya adalah : Yang dimaksud dengan menyentuh dalam ayat ini adalah bersetubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih dari Ibnu Abbas.

    [Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Utsaimin 4/201]

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita-1, hal 18-19 Darul Haq]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=875&bagian=0

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 9 April 2016 Permalink | Balas  

    Bersama Kesulitan Ada Kemudahan 

    Reciting-QuranBersama Kesulitan Ada Kemudahan

    Wahai manusia, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah bergadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu, dalam kesesatan akan datang petunjuk, dalam kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan terang benderang.

    Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemengangan (kepada rasul-Nya) atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. (QS Al Maidah : 52)

    Sampaikan kabar gembira pada malam hari, bahwa sang fajar pasti akan datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah, kepada orang yang dilanda kesusahan bahwa pertolongan akan datang secepar kelebatan cahaya dan kedipan mata, kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan segera tiba.

    Saat Anda melihat hamparang padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebuh yang rimbun penuh hijau dedaunan.

    Ketika Anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa tali itu akan segera putus.

    Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.

    Kobaran api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Dan itu karena pertolongan Ilahi membuka ‘jendela’ seraya berkata : “Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim (QS : Al-Anbiya : 69).

    Lautan luas tak kuasa menenggelamkan Kalimur Rahman (Musa a.s). Itu tak lain karena suara agung kala itu bertitah : “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk padaku (QS : Asy Syu’ara : 62).

    Ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi Muhammad S.A.W  yang ma’shum mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga rasa aman, tenteram, dan tenang pun datang menyelimuti Abu Bakar.

    Mereka yang terpaku pada waktu mereka yang terbatas dan pada kondisi mereka yang (mungkin) sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan, dan keputusasaan dalam hidup mereka. Itu, karena mereka hanya menatap dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah mereka saja. Padahal mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir, dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar rumahnya.

    Maka dari itu, janganlah pernah merasa terhimpit sejengkal pun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapa pun hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang silih berganti. Meski demikian, yang ghaib akan tetap tersembunyi, dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru, setelah itu semua, tetapi sesungguhnya setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.

    Sumber : La Thazan oleh Dr. ‘Aidh Al-qarni

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 8 April 2016 Permalink | Balas  

    Ayah, Ibu, Jangan Murtadkan Anakmu! 

    nasehat-quran1Ayah, Ibu, Jangan Murtadkan Anakmu!

    “Aku ingin anakku nantinya bisa jadi penyanyi terkenal,” ujar seorang ibu muda dalam suatu obrolan di sebuah acara perpisahan anak-anak kelas III SMP di gedung cukup mewah di bilangan Jakarta. Kebetulan saat itu sedang ditampilkan acara hiburan yang diisi oleh sumbangan alunan suara merdu anaknya. “Kalo’ aku sih, anakku ingin aku masukkan ke sekolah modelling biar bisa jadi peragawati terkenal,” timpal ibu lainnya tak kalah sengit. Walhasil obrolan ibu-ibu yang ikut mengiring anak-anak mereka pada acara perpisahan sekolah, tak jauh dari seputar obsesi para ibu kalangan elit itu terhadap anak-anak mereka.

    Obsesi orangtua terhadap anak, memang tak dilarang dalam Islam. Selama obsesi itu merupakan wujud kasih sayang orangtua terhadap anak-anak mereka. Agar anak-anak mereka menjadi orang yang berhasil dalam karir, mandiri (baik secara materi maupun sikap mental), mendapat pendamping hidup yang baik, terpandang di masyarakatnya, serta tetap berbakti pada orangtua. Bagaimana soal berbakti kepada Tuhan? Ini juga hal yang sering tak dilupakan sebagai bagian obsesi para ortu terhadap anak-anak mereka. Biasanya satu paket, agar anak berbakti kepada orangtua dan agamanya.

    Namun sayangnya unsur terakhir ini, kerap cuma sebagai embel-embel formalitas dari bangunan obsesi para ortu yang diangankan pada anak-anak mereka. Tindak lanjut dari obsesi terakhir ini, sayangnya macet cuma sampai pada tataran angan-angan. Dalam bentuk implementasi, bak “jauh panggang dari api” alias berbanding terbalik.

    Ilustrasi di awal tulisan ini, mungkin bisa jadi contoh. Bagaimana tergiurnya seorang ibu pada predikat sukses duniawi yang kelak bisa disandang anak, tanpa mempedulikan apakah itu selaras dengan harapan Tuhan? Padahal hakikatnya, kita bukanlah the real owner dari anak-anak yang kita miliki. Kita hanya ditugasi Allah ‘Azza wa Jalla, Pemilik Sesungguhnya Seluruh Anak-Anak Manusia, cuma sebagai fasilitator yang harus bisa mengantarkan anak-anak kita kembali kepada Pemiliknya dalam keadaan orisinal (asli) sebagaimana dulu dia dilahirkan. Dalam bahasa imannya, anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci), karena itu ia harus kita kembalikan pada Pemiliknya juga dalam kondisi fitrah.

    Al Qur’an menegaskan hal itu. “Dan (ingatlah) ketika Robb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas jiwa-jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab; “Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap kesaksian ini.” (Surat Al A’raf 172).

    Setiap anak Adam yang terdiri dari beragam warna, beragam bahasa, beragam kultur, dan akhirnya berhimpun dalam berbagai suku bangsa di dunia itu, hakikatnya lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla). Ini merupakan warisan Robbani sekaligus modal dasar yang paling kokoh yang akan menentukan eksistensi kemanusiaan setiap insan. Bagaimana nilai-nilai keyakinan yang diajarkan anak, miliu tempatnya hidup, serta sistem pembinaan karakter yang diterapkan terhadap dirinya, kelak yang akan menentukan akan menjadi seperti apa anak di kemudian hari. Apakah anak tetap dalam fitrahnya, atau apakah bahkan ia kelak menjadi penentang fitrah yang dimilikinya?

    Karena itu Nabi mulia saw menegaskan, “Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitah. Maka orangtuanyalah yang kemudian berperan dalam merubah fitrahnya, apakah ia kelak menjadi Yahudi, menjadi Majusi, atau menjadi Nasrani.” (hadits shahih).

    Hadits di atas tidak menyebutkan, si anak bisa berubah menjadi Islam. Karena Islam (fitrah) itu sesungguhnya telah menyatu (inherent) dalam diri setiap anak yang lahir. Maka tugas para orangtua yang diamanati anak-anak yang fitrah itu oleh Allah swt, sesungguhnya adalah tetap mengasuh mereka dalam sistem dan pola yang fitrah. Dengan kata lain, anak-anak itu sebetulnya telah disediakan oleh Penciptanya suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka. Sehingga hanya dengan sistem itu anak-anak dijamin tak akan berubah fitrahnya hingga ia menghadap Tuhannya. Kita -para orangtua- yang seharusnya berperan mengarahkan, menempatkan, dan menjaga si anak agar tetap berada pada koridor sistem fitrah itu, yang tak lain adalah dienul Islam.

    Hanya sistem (dien) Islam yang bisa mengakomadasi, menumbuhkan, mengembangkan, serta mengokohkan potensi fitrah setiap manusia. Karena Islam adalah agama yang diciptakan oleh Pencipta sekaligus Pemilik manusia itu sendiri. Perintah itu dengan gamblang dituangkan dalam firmanNya yang agung; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia manusia tidak mengetahuinya.” (Ar Ruum: 30)

    Lantaran itulah para orangtua berperan mengenalkan, menggiring, dan menempatkan anak-anak agar dia hidup dalam habitat sistem fitrah itu (dienul Islam) secara permanen. Anak tak boleh sedikitpun disusupkan nilai-nilai asing pada aspek manapun, yang dapat merusak potensi fitrahnya. Sebaliknya orangtua berkewajiban menempa kepribadian anak berdasarkan petunjuk sistem fitrah itu, agar potensi fitrah anak menjadi sesuatu yang dominan muncul ke permukaan kepribadiannya. Sebab hanya manusia yang memiliki kepribadian fitrah yang akan bisa memelihara eksistensi kehormatan dirinya.

    Tentu saja keliru asumsi yang mengatakan, mengajarkan Islam pada anak, cuma urusan sholat, puasa, dan bersedekah. Namun dia tidak mendidiknya agar anak berpakaian sopan dan menutup aurat (bagi anak-anak perempuan). Dia tidak menciptakan atmosfer Islami di dalam rumah tangganya. Atau bahkan dia membiarkan anak-anaknya bebas mengikuti trend budaya Barat, baik dari segi pergaulan, selera hiburan, selera berpakaian, dan lain sebagainya. Atau juga dia membebaskan anaknya memilih jalan hidup yang bertentangan dengan Islam.

    Akan lebih keliru lagi misalnya, jika ada orangtua menginginkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihat, tapi menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah Kristen misalnya. Atau anak-anak kita biarkan bergaul dalam lingkungan komunitas atheistik/materialistik yang menganut paham pergaulan bebas. Komunitas yang menganggap semua agama sama, semua agama baik, surga tidak bisa diklaim hanya sebagai milik orang-orang Islam belaka. Jelas ini tidak kondusif bagi perkembangan fitrah anak. Bahkan sangat membahayakan fitrahnya.

    Jika kita tidak asuh anak-anak kita dalam asuhan sistem dan nilai-nilai yang Islami, jangan salahkan jika mereka kelak di kemudian hari menjadi orang-orang nyeleneh. Orang-orang yang tidak tau malu mempertontonkan aurat, Orang-orang yang menjadi pemuja ideologi Barat. Orang-orang yang sesungguhnya telah menjadi murtad (keluar dari Islam), na’udzubillah min dzalik.

    Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mau mendengar suara fitrah anak-anak kita. Agar kita tidak memaksakan kehendak dan obsesi kita yang barangkali justru akan memurtadkan mereka. Coba dengar baik-baik suara fitrah mereka: “Ayah, ibu, jangan murtadkan anakmu!” Wallahu a’lam.

    (ERA/VIT)

    http://www.swara.net/id/view_headline.php?ID=2205

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 7 April 2016 Permalink | Balas  

    Mencari Berkah di Bulan Rajab 

    rajab-logoMencari Berkah di Bulan Rajab

    Assalamu a’alaikum wr. wb.

    Sebentar lagi kita akan berada dalam bulan baru. Baru dalam pengertian, karena bulan itu lain dengan enam bulan sebelumnya yang telah kita lalui. Yaitu bulan Rajab, satu dari empat bulan yang dinyatakan sebagai bulan haram. Dinyatakan sebagai bulan haram yang berarti harus dihormati, karena bulan-bulan itu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lain, seperti hal-hal yang semestinya dihalalkan pada bulan yang lain, pada bulan tersebut diharamkan.

    Di antara Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh bulan haram tersebut ialah, larangan berbuat kezaliman (aniaya) pada bulan itu.

    Dalam al-Qur’an al-Karim, (al-Taubah : 36) disebutkan, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. Dalam ayat ini jelas sekali, adanya larangan berbuat aniaya pada bulan haram.

    Yang dimaksud dengan bulan haram ialah empat bulan seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam shahihnya dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Bakrah ra, bahwasanya Nabi saw berkhutbah ketika Hajjatul-wada’. Dalam khutbahnya beliau bersabda, “Sesungguhnya masa telah berputar seperti sediakala pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun, dua belas bulan. Empat di antaranya bulan-bulan haram (yang dimuliakan). Yang tiga berturut-turut, yaitu Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Muharram serta (yang keempat) Rajabnya Mudlar yang diapit oleh Jumada dan Sya’ban”.

    Mungkin ada yang bertanya, apakah dengan adanya larangan berbuat aniaya pada bulan haram, berarti pada bulan-bulan selainnya larangan-larangan itu diperbolehkan? Kita jawab, tetap tidak diperbolehkan.

    Para ahli tafsir menginterpretasikan aniaya dalam ayat tersebut dengan kemaksiatan, yang berarti pada bulan haram dilarang berbuat mengerjakan hal-hal yang dilarang oleh agama, karena dosanya semakin besar dari pada bulan selainnya. Demikian ini menandakan bahwa empat bulan terebut mendapat keistimewaan dengan adanya larangan berbuat aniaya pada bulan itu, meski sebenarnya berbuat aniaya tetap dihukumi haram sepanjang waktu. Hal ini untuk menjelaskan bahwa berbuat aniaya pada bulan tersebut lebih besar dosanya daripada bulan-bulan selainnya.

    Dalam kitab al-Asrar al-Muhammadiyyah, disebutkan bahwa, jika Allah SWT senang kepada seorang hamba-Nya maka akan mempotensikannya pada bulan-bulan yang utama dengan amalan-amalan saleh dan kebajikan, dan jika Dia membencinya, maka Allah akan mencerai-beraikan keinginannya serta mempotensikannya dalam perbuatan yang tidak baik, memperkeras dalam siksaannya, dan lebih-lebih dengan menghalang-halanginya untuk mendapatkan berkah pada waktu-waktu yang utama. Karena waktu-waktu yang utama merupakan musim berbagai kebajikan dan tampat-tempat yang besar sekali dimungkinkan mendatangkan laba dan keuntungan yang teramat banyak. Jika seorang pedagang melalaikan musim perdagangan (pasaran), ia tidak akan beruntung, dan jika ia melalaikan waktu-waktu yang utama, maka ia tidak akan sukses.

    Menurut Syeikh Isma’il Haqqi al-Barusawi, ulama shufi dan mufassir berkebangsaan Turki pada abad kedua belas hijri, Allah SWT berhak menentukan sebagian perkara yang serupa (dengan selainnya) dengan kemuliaan yang tidak Dia berikan kepada yang lainnya. Seperti Dia memberi hari Jum’at dan hari ‘Arafah dengan suatu kehormatan yang tidak Dia berikan kepada hari-hari yang lain dengan diberlakukannya ibadah tertentu pada kedua hari tersebut daripada hari-hari yang lain. Dia juga memberikan kemuliaan bulan Ramadlan dengan kemuliaan yang tidak Dia berikan pada bulan-bulan yang lain. Dia juga memberikan sebagian waktu siang dan malam dengan kewajiban melaksanakan shalat yang tidak Dia berikan kepada yang lainnya.

    Dia memberikan kemuliaan pada sebagian tempat-tempat dan negeri-negeri dengan tambahan kemuliaan dan kehormatan seperti negeri haram (tanah haram) dan masjidil-haram. Dengan demikian maka tidak ada keanehan jika Dia menentukan sebagian bulan dengan tambahan kemuliaan; di mana perbuatan-perbuatan haram pada bulan-bulan tersebut dosanya lebih besar dan lebih keras daripada ketika dikerjakan di bulan-bulan yang lain, pada bulan itu Dia melipatgandakan perbuatan-perbuatan buruk dengan memperbanyak siksaan-siksaan-Nya serta melipatgandakan amalan-amalan kebajikan dengan memperbanyak pahalanya.

    Allah memberikan keutamaan pada waktu-waktu tertentu daripada waktu-waktu yang lain, agar supaya jiwa dan hati hamba-hamba-Nya berlomba-lomba untuk mengejarnya dan menghormatinya, ruh-ruh mereka menjadi rindu untuk menghidupkannya dengan amal shaleh yang berupa ibadah dengan janji-janji keutamaan yang digemarinya.

    Menurut beliau, pemberian pahala yang berlipat ganda pada bulan-bulan tersebut semata-mata kemurahan ilahy dan anugerah rabbani. (Tafsir Ruh al-Bayan III/423).

    Di antara keistimewaan bulan-bulan haram dari pada bulan-bulan selainnya ialah disunatkannya berpuasa pada bulan-bulan tersebut. Termasuk bulan Rajab yang akan kita hadapi nanti. Berpuasa pada bulan haram pahalanya lebih besar daripada bulan-bulan selainnya terkecuali bulan Ramadan.

    Al-Imam al-Nawawi dalam Raudlah al-Thalibin (II/254) menyatakan, “Bulan-bulan yang paling utama untuk dipuasai setelah bulan Ramadlan ialah bulan-bulan haram; Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah, Muharram dan Rajab”.

    Menurut al-Imam Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani, dalil yang menunjuk pada kesunatan berpuasa Rajab diambil zhahirnya hadits Usamah yang berbunyi, “Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia antara Rajab dan Ramadlan”. “Zhahirnya hadits ini menunjukkan bahwa masyarakat (pada waktu itu) lalai untuk menta’zimi Sya’ban dengan berpuasa sebagaimana mereka menta’zimi Rajab dan Ramadlan”. (Nail al-Awthar Syarh Muntaqa al-Akhbar II/316).

    Sedangkan dalil secara khusus yang menunjukkan pada keutamaan beribadah pada bulan Rajab secara khusus menurut al-Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani tidak ada dalil yang shahih yang pantas dijadikan hujjah, sebagaimana yang tertera dalam kitab beliau Tabyin al-‘Ajab bima Warada fi Fadll Rajab.

    Di sini mungkin ada yang perlu dijelaskan, bahwa meskipun pada bulan-bulan haram disunatkan melakukan amalan-amalan yang shaleh, pada bulan Rajab tidak boleh melakukan shalat sunat yang disebut dengan shalat ragha’ib. Shalat ini termasuk jenisnya shalat yang bid’ah. Dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, al-Malaibari berkata, “Termasuk bid’ah yang tercela dan pelakunya akan mendapatkan dosa serta para penguasa harus melarangnya ialah shalar ragha’ib sebanyak dua belas raka’at pada malam jum’at pertama di bulan Rajab yang waktunya antara shalat maghrib dan ‘isyak. Hadits-haditsnya termasuk hadits palsu, maudlu’ dan bathil dan jangan tertipu dengan orang yang menyebutkannya”. (I’anah al-Thalibin I/270).

    Nah, untuk menjiwai dan menyemangati bulan Rajab ini, kalangan nahdiyin di desa-desa ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban membaca doa yang berupa, Allaahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya’baana wa ballighnaa ramadlaan. Doa ini dibaca oleh Nabi saw ketika memasuki bulan Rajab, seperti diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan lain-lain (baca: Kitab Fadlail Syahr Rajab hal: 45).

    Wallahu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 6 April 2016 Permalink | Balas  

    PELAJARAN DARI ISRA’ – MI’RAJ : KEUTAMAAN SHOLAT 

    shalat gaibPELAJARAN DARI ISRA’ – MI’RAJ : KEUTAMAAN SHOLAT

    RAJAB adalah bulan yang terkenal sebagai bulan yang memiliki banyak kelebihan. Bulan ini merupakan bulan yang mulia dan dalam bulan ini kita disuruh agar memperbanyak amal ibadah seperti berpuasa dan membersihkan hati dengan memperbanyak zikir dan istighfar. Bulan Rajab juga merupakan bulan yang banyak berlaku perisitwa besar dalam sejarah Islam. Salah satu peristiwa tersebut ialah peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia akan memperingati dan merayakankan hari tersebut dengan pelbagai acara, seperti mengadakan majlis-majlis keagamaan berupa ceramah-ceramah mengenai peristiwa Israk dan Mikraj dan pengajaran yang boleh diambil melalui peristiwa tersebut.

    Israk dan Mikraj berlaku pada 27 Rejab. Peristiwa ini merupakan mukjizat yang menjadi lambang keagungan dan penghormatan bagi Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Berbagai peristiwa yang dialami oleh Baginda dalam perjalanan Israk dan Mikraj. Dalam peristiwa tersebut Allah Subhanahu Wataala telah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam akan kekuasan dan kebesaran Allah Subhanahu Wataala dan di balik kejadian-kejadian yang diperlihatkan itu mengandung pengajaran dan peringatan kepada umat manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surah Al-Israa’ ayat 1 yang artinya :

    “Maha Suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Al-Haram (di Mekah) ke Masjid Al-Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.”

    Salah satu perkara penting yang terjadi dalam malam Israk dan Mikraj ialah Sholat lima waktu difardukan kepada umat Islam. Hal ini menunjukkan kepada kita betapa penting dan tingginya nilai Sholat itu di sisi Allah Subhanahu WaTaala. Perintah kewajiban ini nyata berbeda dari kesemua perkara-perkara wajib yang lain seperti zakat, puasa dan haji yang disyari’atkan melalui wahyu dari Alalh Subhanahu Wataala kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dengan perantaraan Malaikat Jibril Alaihissalam. Kewajiban Sholat lima waktu diterima oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam secara langsung dari Allah Subhanahu Wataala.

    Dalam Islam, Sholat merupakan ibadah yang mendekatkan kita kepada Allah Taala. Apabila kita mengerjakan Sholat, seolah-olah kita sedang berbicara dengan Allah Taala dan Sholat juga adalah salah satu cara kita menunjukkan rasa syukur kepada Allah Taala atas segala nikmat yang telah dikurniakan kepada kita. Ibadah Sholat juga adalah sebagai simbol pengabdian manusia kepada Penciptanya yang Maha Agung. Firman Allah Taala dalam Surah Adz-Dzaariyaat ayat 56 yang artinya:

    “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (beribadah kepada Allah).”

    Kewajiban Sholat fardu berbeda dari ibadat-ibadat wajib yang lain. Islam amat menitik-beratkan Sholat. Tidak seperti puasa, zakat dan haji yang kefarduannya boleh digugurkan atas sebab-sebab keuzuran syara’. Berlainan sekali dengan Sholat. Adapun Sholat itu wajib dikerjakan walau di mana dan dalam keadaan apapun. Jika seseorang itu sakit dan tidak mampu berdiri, Sholat boleh dilakukan dalam keadaan duduk, bahkan juga berbaring. Jika seseorang itu dalam keadaan musafir, dia boleh mengerjakan Sholat dengan dua cara, baik secara jamak ataupun qasar. Ini menunjukkan kepada kita betapa tingginya nilai Sholat itu. Selain itu, Sholat juga merupakan perkara pertama yang akan dihisab di akhirat nanti, kerana Sholat adalah pokok utama dalam semua amalan yang dikerjakan oleh manusia. Dengan Sholat dapat menghalang seseorang itu daripada melakukan maksiat dan Sholat juga sentiasa mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu Wataala.

    Kembali kita kepada peristiwa yang berlaku di malam Israk dan Mikraj. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam telah diperlihatkan gambaran yang akan berlaku kepada orang-orang yang mengingkari perintah Allah Subhanahu Wataala. Pada malam itu, Baginda telah menyaksikan suatu kaum yang mana kepala mereka dipukul dengan batu sehingga pecah dan dikumpulkan kembali dan kemudian dipukul dan dipalu lagi dengan batu. Perkara ini berlaku berulang-ulang tanpa henti. Lalu Baginda bertanya mengenai perkara tersebut kepada Malaikat Jibril apakah maksud peristiwa tersebut, lalu Malaikat Jibril menjawab, bahwa itu adalah mereka yang otaknya malas untuk menunaikan Sholat fardu. Begitulah dahsyatnya gambaran balasan yang bakal diterima oleh orang-orang yang enggan mengerjakan Sholat.

    Menurut riwayat, dikatakan pada mulanya Allah Subhanahu Wataala mewajibkan Sholat kepada umat Muhammad sebanyak lima puluh kali sehari semalam dan Nabi Muhammad menjunjung perintah tersebut pada awalnya. Namun dalam perjalanan pulang, Baginda telah berjumpa dengan Nabi Musa Alaihissalam yang menyarankan agar Rasulullah kembali kepada Allah Taala untuk memohon keringanan. Peristiwa turun naik Baginda ini berlaku berkali-kali sehinggalah Sholat yang diwajibkan itu menjadi lima waktu sehari semalam. Peristiwa ini seharusnya menjadi i’tibar kepada kita umat Islam agar mensyukuri nikmat yang dikurniakan oleh Allah Taala. Peristiwa tersebut memperlihatkan kepada kita betapa Maha Rahman dan Rahimnya Allah Subhanahu Wataala. Namun apa yang terjadi sekarang, walaupun Sholat fardu telah dikurangkan menjadi lima waktu sehari semalam, masih banyak umat Islam yang lalai menunaikannya. Bahkan ada segolongan umat Islam yang langsung tidak menunaikan Sholat dengan berbagai alasan yang dicipta sendiri.

    Sehubungan dengan itu, berkenaan dengan bulan Rajab yang mulia ini, marilah kita sama-sama menghayati kembali pengajaran yang kita peroleh dari peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Sama-samalah kita memperbanyak amalan di bulan yang mulia ini dan yang penting sekali agar menjaga dan memperbaiki Sholat kita. Semoga Sholat kita diterima oleh Allah dan kita juga berdoa semoga dengan ini kita memperolehi hidayah dan keredaan Allah Subhanahu Wataala dan terhindar dari azab api Neraka pada hari akhirat kelak.

    Firman Allah Taala dalam Surah Al-Hajj ayat 7, yang artinyanya :

    “Hari orang-orang yang beriman! Rukuklah kamu, sujudlah kamu dan sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhan kamu dan kamu perbuatlah kebaikan, semoga kamu mendapat kemenangan.”

    wallohu a’lam bish-shawab,-

     
  • erva kurniawan 9:36 am on 5 April 2016 Permalink | Balas  

    Yang Lalu Biar Berlalu 

    siluet waktuYang Lalu Biar Berlalu

    Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad, dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

    Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ruang penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam penjara pengacuhan selamanya, atau diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

    Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam,  selamatkan diri Anda dari bayangan masa lampau! Adakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, air susu ke payudara ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingat keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakarann emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatikan, dan sekaligus menakutkan.

    Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang demikian sangat brharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

    Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu. Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikan : ”Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya”. Dan konon kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini : ”Mengapa engkau tidak menarik gerobak?” “Aku benci khayalan,” jawab keledai.

    Adalah bencana besar manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.

    Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikit pun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka dari itu, janganlah pernah melawan sunnah kehidupan.

    ***

    Sumber : La Thazan oleh Dr. ‘Aidh Al-qarni

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 28 March 2016 Permalink | Balas  

    Alasan yang Mendorong Keluarga Berencana 

    keluargaAlasan yang Mendorong Keluarga Berencana

    Di antara sekian banyak alasan yang mendorong dilakukannya keluarga berencana, yaitu:

    Pertama: Mengkawatirkan terhadap kehidupan atau kesehatan si ibu apabila hamil atau melahirkan anak, setelah dilakukan suatu penelitian dan cheking oleh dokter yang dapat dipercaya. Karena firman Allah:

    “Jangan kamu mencampakkan diri-diri kamu ke dalam kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

    Dan firman-Nya pula:

    “Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah maha belaskasih kepadamu.” (an-Nisa’: 28)

    Kedua: Kawatir akan terjadinya bahaya pada urusan dunia yang kadang-kadang bisa mempersukar beribadah, sehingga menyebabkan orang mau menerima barang yang haram dan mengerjakan yang terlarang, justru untuk kepentingan anak-anaknya. Sedang Allah telah berfirman:

    “Allah berkehendak untuk memberikan kemudahan kepadamu, bukan berkehendak untuk memberi kesukaran kepadamu.” (al-Baqarah: 185)

    “Allah tidak berkehendak untuk menjadikan suatu kesukaran kepadamu.” (al-Maidah: 6)

    Termasuk yang mengkawatirkan anak, ialah tentang kesehatan dan pendidikannya.

    Usamah bin Zaid meriwayatkan:

    “Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi s.a.w. kemudian ia berkata: ya Rasulullah! Sesungguhnya saya melakukan azl pada isteriku. Kemudian Nabi bertanya: mengapa kamu berbuat begitu? Si laki-laki tersebut menjawab: karena saya merasa kasihan terhadap anaknya, atau ia berkata: anak-anaknya. Lantas Nabi bersabda: seandainya hal itu berbahaya, niscaya akan membahayakan bangsa Persi dan Rum.” (Riwayat Muslim)

    Seolah-olah Nabi mengetahui bahwa situasi individu, yang dialami oleh si laki-laki tersebut, tidaklah berbahaya untuk seluruh bangsa, dengan dasar bangsa Persi dan Rum tidak mengalami bahaya apa-apa, padahal mereka biasa melakukan persetubuhan waktu hamil dan menyusui, sedang waktu itu kedua bangsa ini merupakan bangsa yang terkuat di dunia.

    Ketiga: Keharusan melakukan azl yang biasa terkenal dalam syara’ ialah karena mengkawatirkan kondisi perempuan yang sedang menyusui kalau hamil dan melahirkan anak baru.

    Nabi menamakan bersetubuh sewaktu perempuan masih menyusui, dengan ghilah atau ghail, karena penghamilan itu dapat merusak air susu dan melemahkan anak. Dan dinamakannya ghilah atau ghail karena suatu bentuk kriminalitas yang sangat rahasia terhadap anak yang sedang disusui. Oleh karena itu sikap seperti ini dapat dipersamakan dengan pembunuhan misterius (rahasia).

    Nabi Muhammad s.a.w. selalu berusaha demi kesejahteraan ummatnya. Untuk itu ia perintahkan kepada ummatnya ini supaya berbuat apa yang kiranya membawa maslahah dan melarang yang kiranya membawa bahaya. Di antara usahanya ialah beliau bersabda:

    “Jangan kamu membunuh anak-anakmu dengan rahasia, sebab ghail itu biasa dikerjakan orang Persi kemudian merobohkannya.” (Riwayat Abu Daud)

    Tetapi beliau sendiri tidak memperkeras larangannya ini sampai ke tingkat haram, sebab beliau juga banyak memperhatikan keadaan bangsa yang kuat di zamannya yang melakukan ghilah, tetapi tidak membahayakan. Dengan demikian bahaya di sini satu hal yang tidak dapat dielakkan, sebab ada juga seorang suami yang kawatir berbuat zina kalau larangan menyetubuhi isteri yang sedang menyusui itu dikukuhkan. Sedang masa menyusui itu kadang-kadang berlangsung selama dua tahun bagi orang yang hendak menyempurnakan penyusuan.

    Untuk itu semua, Rasulullah s.a,w. bersabda:

    “Sungguh saya bermaksud akan melarang ghilah, kemudian saya lihat orang-orang Persi dan Rum melakukannya, tetapi ternyata tidak membahayakan anaknya sedikitpun.” (Riwayat Muslim)

    Ibnul Qayim dalam menerangkan hubungan antara hadis ini dengan hadis sebelumnya, mengatakan sebagai berikut: “Nabi s.a.w. memberitakan pada salah satu segi: bahwa ghail itu berarti memperlakukan anak seperti orang-orang Persi mengadu kudanya, dan ini salah satu macam yang menyebabkan bahaya tetapi sifatnya bukan membunuh dan merusak anak, sekalipun kadang-kadang membawa bahaya anak kecil. Oleh karena itu Nabi s.a.w. membimbing mereka supaya meninggalkan ghail kendati bukan melarangnya. Kemudian beliau berazam untuk melarangnya guna membendung bahaya yang mungkin menimpa anak yang masih menyusu. Akan tetapi menutup pintu bahaya ini tidak dapat menghindari mafsadah yang juga mungkin terjadi sebagai akibat tertahannya jima’ selama dalam menyusui, lebih-lebih orang-orang yang masih berusia muda dan syahwatnya sangat keras, yang tidak dapat diatasi melainkan dengan menyetubuhi isterinya. Itulah sebabnya beliau mengetahui, bahwa maslahah dalam masalah ini lebih kuat daripada menolak mafsadah. Kemudian beliau melihat dua bangsa yang besar dan kuat (Romawi dan Persi) di mana mereka itu juga mengerjakan ghilah dan justru karena kekuatannya itu, mereka samasekali tidak ada rasa kawatir apa yang mungkin terjadi sebab ghilah. Oleh karena itulah beliau tidak jadi melarangnya.

    Di zaman kita ini sudah ada beberapa alat kontrasepsi yang dapat dipastikan kemaslahatannya, dan justru maslahah itulah yang dituju oleh Nabi Muhammad s.a.w., yaitu melindungi anak yang masih menyusu dari mara-bahaya termasuk menjauhi mafsadah yang lain pula, yaitu: tidak bersetubuh dengan isterinya selama menyusui, di mana hal itu sangat memberatkan sekali.

    Dengan dasar inilah, kita dapat mengira-ngirakan jarak yang pantas antara dua anak, yaitu sekitar 30 atau 33 bulan, bagi mereka yang ingin menyempurnakan susuan.

    Imam Ahmad dan lain-lain mengikrarkan, bahwa hal yang demikian itu diperkenankan apabila isteri mengizinkannya, karena dialah yang lebih berhak terhadap anak, di samping dia pula yang berhak untuk bersenang-senang.

    Sedang Umar Ibnul-Khattab, dalam salah satu riwayat berpendapat, bahwa azl itu dilarang, kecuali dengan seizin isteri.

    Demikianlah perhatian Islam terhadap hak-hak perempuan, di mana waktu itu dunia tidak mengenal dan tidak mengakuinya.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:47 am on 27 March 2016 Permalink | Balas  

    Keluarga Berencana 

    siluet keluarga 2Keluarga Berencana

    Tidak syak lagi, bahwa tujuan pokok perkawinan ialah demi kelangsungan jenis manusia. Sedang kelangsungan jenis manusia ini hanya mungkin dengan berlangsungnya keturunan. Islam sendiri sangat suka terhadap banyaknya keturunan dan memberkati setiap anak, baik laki-laki ataupun perempuan. Namun di balik itu Islam juga memberi perkenan (rukhshah) kepada setiap muslim untuk mengatur keturunannya itu apabila didorong oleh alasan yang kuat.

    Cara yang masyhur yang biasa dilakukan oleh orang di zaman Nabi untuk menyetop kehamilan atau memperkecil, yaitu azl (mengeluarkan mani di luar rahim ketika terasa akan keluar).

    Para sahabat banyak yang melakukan azl ketika Nabi masih hidup dan wahyupun masih terus turun, yaitu seperti yang tersebut dalam riwayat di bawah ini:

    “Dari Jabir r.a. ia berkata: kami biasa melakukan azl di masa Nabi s.a. w. sedang al-Ouran masih terus turun.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Di riwayat lain ia berkata:

    “Kami biasa melakukan azl di zaman Nabi s.a.w. maka setelah hal demikian itu sampai kepada Nabi, beliau tidak melarang kami.” (Riwayat Muslim)

    Diriwayatkan juga, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lantas ia berkata:

    “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya mempunyai seorang hamba perempuan (jariyah) dan saya melakukan azl daripadanya, karena saya tidak suka kalau dia hamil dan saya ingin seperti apa yang biasa diinginkan oleh umumnya orang laki-laki, sedang orang-orang Yahudi berceritera: bahwa azl itu sama dengan pembunuhan yang kecil. Maka bersabdalah Nabi s.a.w.: dusta orang-orang Yahudi itu! Kalau Allah berkehendak untuk menjadikannya (hamil), kamu tidak akan sanggup mengelakkannya.” (Riwayat Ashabussunan)

    Yang dimaksud oleh Nabi, bahwa persetubuhan dengan azl itu, kadang-kadang ada setetes mani masuk yang menyebabkan kehamilan sedang dia tidak mengetahuinya.

    Di zaman pemerintahan Umar, dalam satu majlis orang-orang banyak berbincang masafah azl. Kemudian ada salah seorang laki-laki yang berkata: bahwa orang-orang Yahudi beranggapan, azl itu berarti pembunuhan yang kecil. Kemudian Ali r.a. ber kata: “Tidak dinamakan pembunuhan, sehingga mani itu berjalan tujuh tahap, yaitu: mula-mula sari tanah, kemudian menjadi nuthfah (mani), kemudian menjadi darah yang membeku, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian daging itu dilengkapi dengan tulang-belulang, kemudian dililiti dengan daging dan terakhir menjadi manusia.” Lantas Umar menjawab: betul engkau, ya Ali! Semoga Allah memanjangkan umurmu!

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:05 am on 26 March 2016 Permalink | Balas  

    Hubungan Suami dan Isteri 

    siluet keluarga 2Hubungan Suami-Isteri

    Al-QURAN menganggap penting untuk menampilkan masalah tujuan kejiwaan dari perkawinan, dan tujuan itu justru dijadikan standar membina kehidupan berumahtangga. Tujuan ini untuk melukiskan ketenteraman nafsu seksual dengan memperoleh keragaman cinta antara suami-isteri, memperluas dunia kasih-sayang antara dua keluarga, lebih meratanya perasaan cinta kasih yang meliputi kedua orang tua sampai kepada anak-anak.

    Inilah arti yang terkandung dalam firman Allah yang mengatakan:

    “Di antara tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, yaitu Ia menjadikan untuk kamu jodoh-jodoh dari diri-diri kamu sendiri supaya kamu menjadi tenteram dengan jodoh itu, dan Ia menjadikan antara kamu cinta dan kasih-sayang, sesungguhnya yang demikian itu sungguh sebagai bukti-bukti bagi orang yang mau berfikir.” (ar-Rum: 21)

    Jalinan Perasaan Antara Suami-Isteri

    Tetapi al-Ouran juga tidak melupakan segi perasaan dan hubungan badaniah antara suami-isteri. Untuk itu maka al-Quran memberikan bimbingan ke arah yang lebih lurus yang dapat menyalurkan kepentingan naluri dan menghindari yang tidak diinginkan.

    Dalam riwayat diceriterakan, bahwa orang-orang Yahudi dan Majusi terlalu berlebih-lebihan dalam menjauhi isterinya ketika datang bulan; kebalikan dari orang-orang Nasrani, yang menyetubuhi isterinya ketika datang bulan. Mereka samasekali tidak menghiraukan masalah datang bulan itu. Dan orang-orang jahiliah samasekali tidak mau makan, minum, duduk-duduk dan tinggal serumah dengan isterinya yang kebetulan datang bulan, seperti yang dikerjakan oleh orang Yahudi dan Majusi.

    Justru itu sementara orang-orang Islam bertanya kepada Nabi, apa yang sebenarnya dihalalkan dan apa pula yang diharamkan buat mereka, ketika isterinya itu datang bulan. Maka turunlah ayat yang berbunyi:

    “Dan mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haidh, maka jawablah: bahwa dia itu berbahaya. Oleh karena itu jauhilah perempuan ketika haidh, dan jangan kamu dekati mereka sehingga mereka suci, dan apabila sudah suci, maka bolehlah kamu hampiri mereka itu sebagaimana Allah perintahkan kepadamu, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang taubat dan orang-orang yang bersih.” (al-Baqarah: 222)

    Sementara orang Arab ada yang memahami arti menjauhi perempuan ketika haidh itu berarti tidak boleh tinggal bersama mereka, justru itu Nabi Muhammad s.a.w. kemudian menjelaskan kepada mereka maksud daripada ayat tersebut, dengan sabdanya sebagai berikut.

    “Saya hanya perintahkan kepadamu supaya kamu tidak menyetubuhi mereka ketika mereka itu dalam keadaan haidh; dan saya tidak menyuruh kamu untuk mengusir mereka dari rumah seperti yang dilakukan oleh orang ajam. Ketika orang-orang Yahudi mendengar penjelasan ini, kemudian mereka berkata: si laki-laki ini (Nabi Muhammad) bermaksud tidak akan membiarkan sedikitpun dari urusan kita, melainkan ia selalu menyalahinya.”

    Dengan demikian tidak salah seorang muslim bersenang-senang dengan isterinya ketika dalam keadaan haidh, asalkan menjauhi tempat yang berbahaya itu.

    Di sini Islam tetap berdiri –sebagaimana statusnya semula– yaitu penengah antara dua golongan yang ekstrimis, di satu pihak sangat ekstrim dalam menjauhi perempuan yang sedang datang bulan sampai harus mengusirnya dari rumah; sedang di pihak lain memberikan kebebasan sampai kepada menyetubuhinya pun tidak salah.

    Ilmu kesehatan modern telah menyingkapkan, bahwa darah haidh (menstrubatio) satu peristiwa pancaran zat-zat racun yang membahayakan tubuh apabila zat itu masih melekat pada badan.

    Ilmu pengetahuan itu telah menyingkap juga rahasia dilarangnya menyetubuhi perempuan ketika haidh. Sebab kalau anggota kelamin itu dalam keadaan tertahan sedang urat-urat dalam keadaan terganggu karena mengalirnya kelenjar-kelenjar dalam, maka waktu persetubuhan (coitus) sangat membahayakan kelenjar-kelenjar tersebut, bahkan kadang-kadang dapat menahan melelehnya darah haidh. Dan ini banyak sekali membawa kegoncangan urat saraf dan kadang-kadang bisa menjadi sebab peradangan pada alat kelamin itu.15

    Jangan Bersetubuh di Dubur

    Dalam hubungannya dengan masalah persetubuhan, Allah s.w.t. menurunkan ayat yang berbunyi sebagai berikut:

    “Isteri-isteri kamu bagaikan ladang buat kamu, oleh karena itu datangilah ladangmu itu sesukamu, dan sediakanlah untuk diri-diri kamu, dan takutlah kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya kamu akan bertemu Allah, dan gembirakanlah (Muhammad) orang-orang mu’min.” (al-Baqarah: 223)

    Turunnya ayat ini mengandung sebab dan hikmah yang besar sebagaimana yang disebutkan oleh seorang ulama India Waliullah ad-Dahlawy: “Orang Yahudi mempersempit gaya persetubuhan tanpa dasar hukum syara’, sedang orang-orang Anshar dan berikutnya mengikuti cara-cara mereka itu. Mereka berpendapat: bahwa apabila seorang laki-laki menyetubuhi isterinya pada farjinya dari belakang, maka anaknya akan lahir juling. Kemudian turunlah ayat ini: maka datangilah ladangmu itu sesukamu, yakni dari jalan depan maupun dari belakang selama diarahkan untuk satu tujuan, yaitu kemaluan atau farji. Hal ini dipandang tidak apa-apa, karena ada hubungannya dengan masalah kepentingan kebudayaan dan kecenderungan. Sedang setiap orang tahu kemaslahatan pribadinya. Oleh karena cara-cara Yahudi di atas hanya sekedar bikin-bikinan mereka, maka patutlah kalau dihapuskan.”16

    Bukan menjadi tugas agama memberi batas kepada seorang laki-laki tentang gaya dan cara bersetubuh. Agama hanya mementingkan supaya si suami selalu takut kepada Allah, dan supaya dia tahu bahwa dia akan bertemu Allah. Untuk itu jauhilah dubur, sebab dubur adalah tempat yang membahayakan dan kotor. Menyetubuhi isteri pada dubur dapat dipersamakan dengan liwath (homoseks). Justru itu sudah seharusnya agama melarangnya. Untuk itu pula Rasulullah s.a.w, pernah bersabda:

    “Jangan Kamu setubuhi isterimu di duburnya.” (Riwayat Ahmad, Tarmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Dan tentang masalah menyetubuhi isteri di duburnya ini, beliau mengatakan juga:

    “Bahwa dia itu termasuk liwath yang kecil.” (Riwayat Ahmad dan Nasa’i)

    Ada seorang perempuan Anshar bertanya kepada Nabi tentang menyetubuhi perempuan di farjinya tetapi lewat belakang, maka Nabi membacakan ayat:

    “Isteri-isterimu adalah ladang buat kamu, karena itu datangilah ladangmu itu sesukamu.” (al-Baqarah: 223) — (Riwayat Ahmad)

    Umar pernah juga bertanya kepada Nabi:

    “Ya Rasulullah! Celaka aku. Nabi bertanya: apa yang mencelakakan kamu? Ia menjawab: tadi malam saya memutar kakiku –satu sindiran tentang bersetubuh dari belakang– maka Nabi tidak menjawab, hingga turun ayat (al-Baqarah: 223) lantas beliau berkata kepada Umar: boleh kamu bersetubuh dari depan dan boleh juga dari belakang, tetapi hindari di waktu haidh dan dubur.” (Riwayat Ahmad dan Tarmizi)

    Menjaga Rahasia Isteri

    Al-Quran memuji perempuan-perempuan shalihah dengan firmannya sebagai berikut:

    “Perempuan-perempuan yang shalihah itu ialah perempuan-perempuan yang taat yang memelihara (perkara-perkara) yang tersembunyi dengan cara yang dipeliharakan Allah.” (an-Nisa’: 34)

    Di antara sekian banyak perkara yang tersembunyi yang harus dipelihara oleh suami-isteri ialah tentang masalah persetubuhan. Suami-isteri dilarang menceriterakan kepada rekan-rekannya dalam pertemuan-pertemuan.

    Dalam salah satu hadisnya Rasulullah bersabda:

    “Sesungguhnya di antara sejelek-jelek manusia dalam pandangan Allah nanti di hari kiamat, ialah seorang laki-laki yang menyetubuhi isterinya dan isteripun melakukan persetubuhan, kemudian dia menyiar-nyiarkan rahasianya.” (Riwayat Muslim dan Abu Daud)

    “Dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi s.a.w. pernah sembahyang bersama kami, setelah salam beliau menghadapkan mukanya ke hadapan kami, kemudian bersabda: berhati-hatilah terhadap majlis-majlis kamu! Apakah di antara kamu ada seorang laki-laki yang menyetubuhi isterinya dengan menutup pintu dan melabuhkan korden, kemudian dia keluar dan berceritera, bahwa aku telah berbuat dengan isteriku begini dan begini? Kemudian mereka pada diam semua … Lantas ia menghadap kepada perempuan-perempuan dan menanyakan: apakah di antara kamu ada yang bercerita begitu? Tiba-tiba ada seorang gadis memukul-mukul salah satu tulang lututnya sampai lama sekali supaya diperhatikan oleh Nabi dan supaya beliau mendengarkan omongannya. Si gadis itu berkata: Demi Allah kaum laki-laki berceritera dan perempuan perempuan juga berceritera! Lantas Nabi bertanya: tahukah kamu seperti apa yang mereka lakukan itu? Sesungguhnya orang yang berbuat demikian tak ubahnya dengan syaitan laki-laki dan syaitan perempuan satu sama lain saling bertemu di jalan kemudian melakukan persetubuhan, sedang orang lain banyak yang melihatnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Bazzar)

    Kiranya perbandingan ini cukup menjauhkan seorang muslim dari berbuat yang sebodoh itu yang tidak bernilai. Seorang muslim kiranya tidak suka kalau dirinya menjadi syaitan atau sama dengan syaitan.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:45 am on 25 March 2016 Permalink | Balas  

    Hikmah Dibolehkannya Poligami 

    poligami2Hikmah Dibolehkannya Poligami

    Islam adalah hukum Allah yang terakhir yang dibawa oleh Nabi yang terakhir pula. Oleh karena itu layak kalau ia datang dengan membawa undang-undang yang komplit, abadi dan universal. Berlaku untuk semua daerah, semua masa dan semua manusia.

    Islam tidak membuat hukum yang hanya berlaku untuk orang kota dan melupakan orang desa, untuk daerah dingin dan melupakan daerah panas, untuk satu masa tertentu dan melupakan masa-masa lainnya serta generasi mendatang.

    Islam telah menentukan keperluan perorangan dan masyarakat, dan menentukan ukuran kepentingan dan kemaslahatan manusia seluruhnya. Di antara manusia ada yang ingin mendapat keturunan tetapi sayang isterinya mandul atau sakit sehingga tidak mempunyai anak. Bukankah suatu kehormatan bagi si isteri dan keutamaan bagi si suami kalau dia kawin lagi dengan seorang wanita tanpa mencerai isteri pertama dengan memenuhi hak-haknya?

    Sementara ada juga laki-laki yang mempunyai nafsu seks yang luarbiasa, tetapi isterinya hanya dingin saja atau sakit, atau masa haidhnya itu terlalu panjang dan sebagainya, sedang si laki-laki tidak dapat menahan nafsunya lebih banyak seperti orang perempuan. Apakah dalam situasi seperti itu si laki-laki tersebut tidak boleh kawin dengan perempuan lain yang halal sebagai tempat mencari kawan tidur?

    Dan ada kalanya jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki, lebih-lebih karena akibat dari peperangan yang hanya diikuti oleh laki-laki dan pemuda-pemuda. Maka di sini poligami merupakan suatu kemaslahatan buat masyarakat dan perempuan itu sendiri, sehingga dengan demikian mereka akan merupakan manusia yang bergharizah yang tidak hidup sepanjang umur berdiam di rumah, tidak kawin dan tidak dapat melaksanakan hidup berumahtangga yang di dalamnya terdapat suatu ketenteraman, kecintaan, perlindungan, nikmatnya sebagai ibu dan keibuan sesuai pula dengan panggilan fitrah.

    Ada tiga kemungkinan yang bakal terjadi sebagai akibat banyaknya laki-laki yang mampu kawin, yaitu:

    • Mungkin orang-orang perempuan itu akan hidup sepanjang umur dalam kepahitan hidup.
    • Mungkin mereka akan melepaskan kendalinya dengan menggunakan obat-obat dan alat-alat kontrasepsi untuk dapat bermain-main dengan laki-laki yang haram.
    • Atau mungkin mereka mau dikawini oleh laki-laki yang sudah beristeri yang kiranya mampu memberi nafkah dan dapat bergaul dengan baik.

    Tidak diragukan lagi, bahwa kemungkinan ketiga adalah satu-satunya jalan yang paling bijaksana dan obat mujarrab. Dan inilah hukum yang dipakai oleh Islam, sedang “Siapakah hukumnya yang lebih baik selain hukum Allah untuk orang-orang yang mau beriman?” (al-Maidah: 50)

    Inilah sistem poligami yang banyak ditentang oleh orang-orang Kristen Barat yang dijadikan alat untuk menyerang kaum Muslimin, di mana mereka sendiri membenarkan laki-lakinya untuk bermain dengan perempuan-perempuan cabul, tanpa suatu ikatan dan perhitungan, betapapun tidak dibenarkan oleh undang-undang dan moral. Poligami liar dan tidak bermoral ini akan menimbulkan perempuan dan keluarga yang liar dan tidak bermoral juga. Kalau begitu manakah dua golongan tersebut yang lebih kukuh dan lebih baik?

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:47 am on 24 March 2016 Permalink | Balas  

    Puasa (Sunnah) Yang Dianjurkan Islam 

    puasa 4Puasa (Sunnah) Yang Dianjurkan Islam

    Ketika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu,maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang Rasulullah saw sendiri biasa melakukan puasa pada hari-hari tersebut.

    1. Enam Hari pada Bulan Syawal

    Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis kecuali Bukhari, Nasa’i dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa selama satu tahun (sepanjang masa).”

    Puasa tersebut menurut Imam Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut dan tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i, lebih utama melakukannya secara berturut-turut, yaitu setelah hari raya.

    2. Puasa tanggal 9 Dzul Hijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan Haji

    Kesunnahan berpuasa pada tanggal tersebut didasarkan pada hadis-hadis:

    Dari Abu Qatadah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang telah berlalu dan satun tahun yang akan datang.” (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi).

    Dari Hafshah ra, dia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw, yaitu puasa Asyura, puasa sepertiga bulan (yakni bulan Dzul Hijjah), puasa tiga hari dari tiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan Nasa’i).

    Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari Arafah, hari Kurban dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam dan hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.” HR Khamsah (lima imam hadis) kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh Tirmidzi.

    Dari Ummu Fadhal, dia berkata, “Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi saw di Arafah, lalu Nabi saw saya kirimi susu. Kemudian Nabi saw meminumnya, sedang ketika itu beliau berkhotbah di depan umat manusia di Arafah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Puasa Bulan Muharrom dan Sangat Dianjurkan pada Tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura)

    Hal ini berdasarkan pada hadis-hadis:

    Dari Abu Hurairah ra dia berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Salat apa yang lebih utama setelah salat fardhu?’ Nabi menjawab, ‘Salat di tengah malam’. Mereka bertanya lagi, ‘Puasa apa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?’ Nabi menjawab, ‘Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan Muharrom’.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

    Dari Muawiyah bin Abu Sufyan ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Hari ini adalah hari ‘Asyura dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Sekarang, saya berpuasa, maka siapa yang mau, silahkan puasa dan siapa yang tidak mau, maka silahkan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dari Aisyah ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa jahiliyah, Rasulullah juga biasa mempuasakannya. Dan tatkala datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa dan siapa yang ingin meninggalkannya, hendaklah ia berbuka’.” (Muttafaq alaihi).

    Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Nabi saw datang ke Madinah lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka Nabi bertanya, ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, hari ‘Asyura’ itu hari baik, hari Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa saw dan Bani Israel dari musuh mereka sehingga Musa as berpuasa pada hari itu. Kemudian, Nabi saw bersabda, ‘Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu’, lalu Nabi saw berpuasa pada hari itu dan menganjurkan orang agar berpuasa pada hari itu. ” (Muttafaq alaihi).

    Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ itu diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikan sebagai hari raya. Maka, Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah pada hari itu.” (Muttafaq alaihi).

    Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani,” maka Nabi saw bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharrom).” Ibnu Abbas ra berkata, “Maka belum lagi datang tahun depan, Rasulullah saw sudah wafat.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura’ itu ada tiga tingkat: tingkat pertama, berpuasa selama tiga hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Tingkat ketiga, berpuasa hanya pada hari kesepuluh saja.

    4. Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya’ban

    Hal ini berdasarkan hadis:

    Dari Aisyah ra berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan tidak satu bulan pun yang Nabi saw banyak melakukan puasa di dalamnya daripada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dari Usamah bin Zaid ra berkata, Aku berkata, “Ya Rasulullah saw , tidak satu bulan yang Anda banyak melakukan puasa daripada bulan Sya’ban !” Nabi menjawab: “Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan Rabbul ‘Alamin. Maka, saya ingin amal saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa.” (HR Nasa’i dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah).

    5. Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis

    Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw lebih sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu orang-orang bertanya kepadanya mengenai sebab puasa tersebut, lalu Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya amalan-amalan itu dipersembahkan pada setiap Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan, maka Allah berfirman, “Tangguhkanlah kedua orang (yang bermusuhan ) itu!” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    Dalam sahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya orang mengenai berpuasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu hari kelahiranku dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.” (HR Muslim).

    6. Berpuasa Tiga Hari Setiap Bulan

    Dari Abu Dzarr al-Ghiffari ra berkata, “Kami diperintah Rasulullah saw untuk melakukan puasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu hari-hari terang bulan, yakni tanggal 13, 14 dan 15, sembari Rasul saw bersabda, ‘Puasa tersebut seperti puasa setahun (sepanjang masa)’.” (HR Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    7. Berpuasa Selang-seling (Seperti Puasa Daud)

    Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Daud. Ia tidur seperdua (separoh) malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Tamamul Minnah, Muhammad Nashirudddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 23 March 2016 Permalink | Balas  

    Bolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (2/2) 

    Bolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Persoalan ini ditimbulkan karena terdapat dakwaan bahwa sembahyang jama’ karena perjalanan itu boleh dilakukan dari rumah yaitu sejak dari rumah lagi yaitu sebelum memulakan perjalanan (safar).

    Dakwaan ini berdasarkan riwayat daripada Anas Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya (sebagaimana yang diterjemahkan oleh pendokong pendapat di atas): “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak belayar (musafir) sebelum tergelincir matahari Baginda mengakhirkan sembahyang Zuhur kepada waktu ‘Asar, kemudian Baginda pun turun (memulakan perjalanan). Maka Baginda menghimpunkan di antara kedua sembahyang itu (sembahyang Zuhur dan ‘Asar).

    Jika tergelincir matahari sebelum Baginda belayar (musafir) Baginda mengerjakan sembahyang Zuhur dan ‘Asar, kemudian Baginda pun menunggang (memulakan perjalanan).”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Apa yang dapat difahami bahwa pendapat ini ternyata kurang tepat dan tersasar dari pemahaman yang betul terhadap dalil yang dibawakan.

    Alasan yang dapat dikemukakan untuk menolak pendapat di atas:

    1. Apabila kita petik sebahagian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas, yaitu:

    Maksudnya: “Jika tergelincir matahari sebelum Baginda membuat perjalanan Baginda mengerjakan sembahyang Zuhur dan ‘Asar, kemudian Baginda pun menunggang (memulakan perjalanan).”

    Tidak dinafikan sungguhpun pada zahirnya hadits di atas memberi maksud Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ sembahyang Zuhur dan ‘Asar dengan  cara jama’ taqdim semasa Baginda berada di rumah sebelum membuat perjalanan, akan tetapi perlu difahami bahwa perkara ini berlaku ketika Baginda sedang dalam perjalanan, ketika Baginda singgah di suatu tempat untuk menunaikan sembahyang secara jama’ sebelum meneruskan perjalanan seterusnya.

    Perkara ini disokong oleh beberapa riwayat yang lain seperti hadits yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda dalam perjalanan, lalu matahari tergelincir, Baginda pun menunaikan sembahyang Zuhur dan ‘Asar secara jama’, kemudian barulah Baginda meneruskan perjalanan.”

    (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Ismaili, dan dikatakan shahih oleh Ibnu Hajr)

    Hadits ini lebih jelas menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ sembahyang sebelum memulakan perjalanan adalah ketika Baginda sedang dalam perjalanan.

    Diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

     

    Maksudnya: “Tidakkah aku khabarkan kepada kamu tentang sembahyang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Apabila matahari tergelincir dan pada ketika itu Baginda berada di rumah (tempat Baginda menginap ketika dalam perjalanan), maka Baginda akan menyegerakan sembahyang fardhu ‘Asar ke dalam waktu Zuhur, lalu menjama’ (menghimpunkan) keduanya (sembahyang Zuhur dan ‘Asar) pada waktu tergelincir matahari (waktu Zuhur).

    (Hadits riwayat Al-Baihaqi dengan sanad yang baik)

    Dijelaskan di dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementerian Waqaf Dan Hal Ehwal Islam, Kuwait bahwa maksud perkataan “(pada ketika itu Baginda berada di rumah) di dalam hadits di atas adalah bermaksud” (tempat Baginda menginap ketika dalam perjalanan). (Jld. 15, m.s. 287)

    Di dalam riwayat yang lain lagi daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda berhenti di sebuah rumah ketika dalam perjalanan dan Baginda berkenan (suka) kepada rumah tersebut, maka Baginda menempatinya sehinggalah Baginda menjama’ sembahyang Zuhur dengan ‘Asar, kemudia Baginda meneruskan perjalanan.

    Jika rumah tidak tersedia untuk Baginda, Baginda akan meneruskan perjalanan, maka Baginda pun berjalan dan mengakhirkan sembahyang Zuhur sehingga Baginda datang ke sebuah rumah, di mana di rumah itu Baginda hendak menjama’ sembahyang Zuhur dengan ‘Asar.”

    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dan periwayat-periwayatnya adalah dipercayai yakni thiqah)

    Berdasarkan riwayat-riwayat yang dikemukakan di atas, jelas menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sembahyang jama’ adalah ketika Baginda singgah di suatu tempat atau di sebuah rumah ketika dalam perjalanan, bukannya sebelum memulakan perjalanan. Atau dengan lain perkataan, Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ sembahyang ketika Baginda sudah dalam keadaan musafir, bukannya dalam keadaan bermukim.

    1. Seorang itu hanya dikatakan musafir sebaik-baik saja dia melewati (keluar) daripada sempadan perkampungan atau kota atau bandar di mana dia tinggal. Jadi, bagaimana boleh seorang itu diharuskan menjama’ sembahyang ketika dia masih berada di rumahnya sebelum keluar belayar karena rukhshah perjalanan, sedangkan ketika itu dia belum lagi di katakan sebagai musafir?

    Majelis Ilmiah Dan Fatwa, Arab Saudi yang diketuai oleh Bekas Mufti Arab Saudi, Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’ala pernah dihadapkan persoalan mengenai dengan seorang yang hendak membuat perjalanan, adakah diharuskan baginya menjama’ tanpa mengqashar sembahyang fardhu Zuhur dengan ‘Asar sedang pada ketika itu dia masih lagi di rumah (belum lagi keluar rumah untuk memulakan perjalanan)?

    Majelis tersebut menjawab: “Tidak harus bagi sesiapa yang berniat untuk membuat perjalanan menjama’ sembahyang ‘Asar dengan Zuhur atau menjama’ sembahyang Isya’ dengan Maghrib selama mana dia masih lagi berada di rumah dan belum lagi memulakan perjalanan, karena tidak terdapat sebab yang mengharuskan dia menjama’ sembahyang yaitu perjalanan. Bahkan rukhshah atau kelonggaran mengqashar dan menjama’ itu adalah bermula apabila dia meninggalkan kediaman negerinya.”

    Penutup

    Berdasarkan perbincangan yang lalu, jelas bahwa orang yang hendak membuat perjalanan dan bercadang untuk menjama’ sembahyang karena rukhshah perjalanan, tidak boleh menjama’ sembahyangnya ketika dia masih lagi belum memulai perjalanan atau ketika dia masih lagi berada di rumah kediamannya, karena perjalanannya hanya dikira apabila dia keluar dari tempat tinggalnya.

    ====selesai ====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 22 March 2016 Permalink | Balas  

    Bolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (1/2) 

    sholatBolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (1/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Keistimewaan yang disebut sebagai rukhshah yang dikurniakan bagi orang yang melakukan perjalanan yaitu keharusan menjama’ atau menghimpunkan dua waktu sembahyang dan dikerjakan dalam satu waktu.

    Sebagian dalil yang disandarkan bagi menjelaskan ketetapan hukum harus menjama’ sembahyang ketika dalam perjalanan, diriwayatkan daripada Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda membuat perjalanan sebelum matahari tergelincir Baginda akan melewatkan sembahyang Zuhur kepada waktu ‘Asar, kemudian menjama’ (menghimpunkan) kedua-dua sembahyang tersebut. Dan jika matahari sudah tergelincir Baginda akan menunaikan sembahyang Zuhur terlebih dahulu, kemudian Baginda memulakan perjalanan.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Melalui riwayat Anas juga, beliau berkata:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda hendak menghimpunkan dua sembahyang ketika dalam perjalanan Baginda akan mengakhirkan sembahyang Zuhur sehinggalah masuk awal waktu sembayang ‘Asar, kemudian Baginda menjama’ (menghimpunkan) kedua-dua sembahyang tersebut.” (Hadits riwayat Muslim)

    Bagaimana cara yang lebih utama dalam menjama’ sembahyang?

    Kebanyakan para ulama termasuk para ulama mazhab Syafi’e mengatakan bahwa harus menjama’ atau menghimpunkan sembahyang fardhu Zuhur dengan ‘Asar, dan dikerjakan di dalam salah satu waktu sembahyang tersebut, sebagaimana juga harus menjama’ sembahyang fardhu Maghrib dengan ‘Isya, dan dikerjakan di dalam salah satu waktu sembahyang tersebut ketika seseorang itu dalam perjalanan yang jauh.

    Sembahyang jama’ itu terdapat dua cara yaitu jama’ taqdim dan jama’ ta’khir. Jika sembahyang fardhu Zuhur dan ‘Asar yang dijama’ itu dikerjakan di dalam waktu Zuhur ataupun sembahyang fardhu Maghrib dan ‘Isya’ yang dijama’ itu dikerjakan dalam waktu Maghrib maka itu dinamakan jama’ taqdim. Jika sembahyang fardhu Zuhur dan ‘Asar yang dijama’ itu dikerjakan di dalam waktu ‘Asar ataupun sembahyang fardhu Maghrib dan ‘Isya’ yang dijama’ itu dikerjakan dalam waktu ‘Isya’ maka itu dinamakan jama’ ta’khir.

    Persoalannya, bagaimana cara yang lebih baik dikerjakan, adakah dengan cara jama’ taqdim atau jama’ ta’khir?

    Para ulama menggariskan bahwa seseorang yang dalam perjalanan itu jika dia singgah atau berhenti sejenak di suatu tempat, dan pada ketika itu waktu sembahyang Zuhur atau sembahyang Maghrib sudah masuk, maka adalah lebih utama baginya menunaikan sembahyang dengan jama’ taqdim, yaitu menghimpunkan sembahyang ‘Asar ke dalam waktu Zuhur atau menghimpunkan sembahyang ‘Isya ke dalam waktu Maghrib.

    Sebaliknya, jika waktu sembahyang Zuhur atau sembahyang Maghrib telah masuk dan dia pada waktu itu dalam perjalanan maka adalah lebih utama baginya menunaikan sembahyang dengan jama’ ta’khir, yaitu menghimpunkan sembahyang Zuhur ke dalam waktu ‘Asar atau menghimpunkan sembahyang Maghrib ke dalam waktu ‘Isya’.

    Ini adalah berdasarkan apa yang diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

    Maksudnya: “Tidakkah aku khabarkan kepada kamu tentang sembahyang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Apabila matahari tergelincir dan pada ketika itu Baginda berada di rumah (tempat Baginda menginap ketika dalam perjalanan), maka Baginda akan menyegerakan sembahyang fardhu ‘Asar ke dalam waktu Zuhur, lalu menjama’ (menghimpunkan) keduanya (sembahyang Zuhur dan ‘Asar) pada waktu tergelincir matahari (waktu Zuhur).

    Apabila Baginda membuat perjalanan sebelum tergelincir matahari, maka Baginda akan mengakhirkan sembahyang Zuhur ke dalam waktu ‘Asar, lalu menjama’(menghimpunkan) keduanya (sembahyang Zuhur dan ‘Asar) pada waktu ‘Asar.” (Hadits riwayat Al-Baihaqi dengan sanad yang baik)

    Bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 21 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (2/2) 

    sholatSholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Tuntutan Menunaikan Sembahyang Dengan Berdiri

    Melakukan sembahyang bagi mereka yang berupaya dengan cara berdiri adalah merupakan rukun dalam sembahyang fardhu. Sementara bagi mereka yang tidak mampu berdiri, maka mereka boleh melakukannya dengan cara duduk sebagaimana kelonggaran yang diberikan kepada orang sakit yang tidak mampu menunaikannya dengan cara berdiri.

    Maksud ‘tidak mampu berdiri’ bukan hanya bermaksud dalam arti kata lemah tidak dapat berdiri, bahkan termasuk juga karena takut kecelakaan berlaku ke atas dirinya, takut akan jatuh tenggelam ke dalam air, takut mendatangkan kesusahan yang berat, pening kepala atau takut akan menambahkan lagi kesakitan yang dialaminya. (Mughni al-Muhtaj 1:214)

    Oleh itu, para penumpang pesawat terbang yang mempunyai keuzuran seperti yang tersebut di atas adalah harus (boleh) mendirikan sembahyang fardhu sambil duduk.

    Menurut Dr. Ahmad asy-Syarbashi dalam kitabnya Yas’alunaka Fiddin wal Hayah bahawa melakukan sembahyang sama ada berdiri atau duduk ketika berada di dalam pesawat terbang hukumnya adalah harus (boleh), tanpa semestinya berpusing menghadap kiblat ketika sedang melakukan sembahyang itu, selama mana melakukannya itu merupakan satu kepayahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran.” (Surah al-Baqarah, ayat 185)

    Beberapa Pilihan Bagi Penumpang Pesawat terbang Dalam Melaksanakan Ibadah Sembahyang

    Memandangkan perjalanan merupakan salah satu sebab yang diiktiraf oleh syara’ bagi mengharuskan seseorang mengambil keringanan atau rukhshah, maka diharuskan baginya melakukan sembahyang secara jama’ (mengerjakan dua fardhu sembahyang dalam satu waktu) dan diharuskan juga baginya mengqashar (memendekkan empat raka’at menjadi dua raka’at)

    Orang yang musafir dengan menggunakan pesawat terbang boleh menjama’ sembahyang secara jama’ taqdim sebelum pesawat terbang bertolak yaitu semasa berada di lapangan terbang lagi karena pada masa itu dia sudah dihukumkan musafir sekiranya kawasan lapangan terbang itu tidak termasuk kampong orang yang musafir itu atau di mana-mana tempat di luar kawasan perkampungannya yang mudah baginya.

    Pilihan lain ialah jika pesawat terbang yang dinaikinya itu singgah atau transit di suatu tempat, jika ada kemudahan baginya melakukan sembahyang maka bolehlah dia melakukannya sama ada secara jama’ taqdim atau jama’ ta’khir yaitu bergantung kepada waktu sembahyang di tempat berkenaan itu. Ataupun orang musafir itu melakukan sembahyang jama’ ta’khir apabila sampai ke tujuannya, selama masa perjalanannya masih berjalan yakni belum selesai selama tiga hari (tidak termasuk hari sampai dan hari bertolak).

    Walau bagaimanapun pilihan seperti ini hanya dapat dimanfaatkan oleh penumpang pesawat terbang apabila perjalanan mengambil masa melibatkan dua waktu fardhu sembahyang yang boleh di jama’ yaitu zuhur dan ‘asar atau maghrib dan isya’ saja. Akan tetapi jika sembahyang ditunaikan dalam pesawat terbang secara jama’ dan qasar, inipun harus dan boleh juga.

    Cara Menunaikan Sembahyang Di Pesawat terbang

    Hasil uraian di atas dapat disimpulkan, cara yang dapat dipraktekkan untuk menunaikan sembahyang di dalam pesawat terbang adalah sebagai berikut:

    1) Penumpang hendaklah berusaha mencari tempat untuk menunaikan sembahyang dengan bertanya kepada anak kapal. Sekiranya ruang itu masih digunakan karena kerja-kerja kabin, maka hendaklah ditunggu sehingga kerja-kerja itu selesai atau berkurangan.

    2) Bagi mereka yang tidak berupaya menunaikannya dengan berdiri disebabkan keadaan tidak memungkinkan seperti pening kepala atau disebabkan cuaca yang menyebabkan keadaan pesawat tidak stabil, maka diharuskan menunaikannnya sambil duduk sama ada fardhu atau sunat.

    3) Jika penumpang tidak memperolehi tempat sembahyang yang sesuai, maka tunaikanlah sembahyang itu di tempat duduknya. Ketika hendak sujud hendaklah ditundukkan lebih rendah dari ruku’nya. Perlu diingat supaya tidak mengabaikan tuntutan menghadap kiblat.

    Walau bagaimanapun, jika sekiranya bersembahyang dengan duduk dia dapat menghadap kiblat berbanding dengan melakukannya dengan berdiri tanpa menghadap kiblat, maka adalah wajib dia bersembahyang duduk.

    Semoga panduan yang dijelaskan ini akan memudahkan setiap orang untuk menjalankan ibadatnya khususnya ibadat sembahyang. Apa yang penting, lakukanlah atau tunaikanlah perintah syara’ sekuat yang termampu, dan jangan sekali-kali melalaikan atau meninggalkannya sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Oleh itu apabila aku mencegah kamu terhadap sesuatu maka hindarkanlah ia, dan apabila aku memerintahkan kamu untuk melakukan sesuatu maka tunaikanlah ia semampumu.”

    (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    ====SELESAI====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 20 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (1/2) 

    sholatSholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (1/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Ibadat sembahyang merupakan salah satu komponen dalam rukun Islam yang lima. Kewajiban melaksanakannya memang jelas dan tidak diragukan lagi. Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak memperuntukkan tentang kewajiban menunaikannya ke atas setiap orang yang mukallaf. Firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya sembahyang itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Surah an-Nisa, ayat 103)

    Diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Serulah mereka (penduduk Yaman) kepada kesaksian bahwa tiada tuhan yang disembah melainkan Allah dan sesungguhnya aku adalah Pesuruh Allah. Maka apabila mereka taat untuk berbuat demikian beritahu kepada mereka sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan ke atas mereka sembahyang lima waktu pada setiap siang dan malam.

    Apabila mereka taat untuk berbuat demikian beritahu kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan zakat ke atas mereka pada harta-harta mereka, di mana zakat itu di ambil daripada orang-orang kaya di kalangan mereka dan diberikan kepada golongan fakir di kalangan mereka.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    Kedudukan sembahyang itu sangat tinggi, sangat penting dan sangat istimewa. Ini dapat dilihat dari segi bagaimana disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu secara langsung kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa perantaraan Jibril pada malam ketika Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam dimi’rajkan. Ini menunjukkan betapa penting dan tersendirinya ibadat sembahyang itu. Oleh itu menunaikannya amatlah dituntut. Ia tidak dapat ditinggalkan walau di mana dan dalam apa jua keadaan sekalipun, baik ketika sakit, musafir dan dalam ketakutan akibat peperangan.

    Bahkan jika sekiranya seseorang itu tidak berupaya menunaikannya dalam keadaan berdiri, dia diberi kelonggaran oleh syara’ menunaikannya dalam keadaan duduk. Jika dengan cara duduk masih tidak berupaya, dengan cara berbaring. Jika berbaring pun tidak berupaya, memadailah dengan isyarat atau ditunaikan sekadar keupayaannya, selama mana dia masih dalam lingkungan orang mukallaf.

    Tuntutan memelihara waktu-waktu sembahyang itu jelas diperuntukkan di dalam al-Qur’an melalui firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Kamu peliharalah (kerjakanlah dengan tetap dan sempurna pada waktunya) segala sembahyang fardhu, khasnya sembahyang wushtha (sembahyang ‘asar), dan berdirilah karena Allah (dalam sembahyang kamu) dengan taat dan khusyu’.”

    (Surah al-Baqarah, ayat 238)

    Oleh itu, bukan sewenang-wenang atau mudahnya untuk meninggalkan dan mencuaikan waktu sembahyang. Hanya orang yang mempunyai keuzuran tertentu yang diiktiraf oleh syara’ saja yang tidak diwajibkan mendirikan sembahyang, seperti perempuan yang sedang haidh dan nifas. Sementara itu, hukum syara’ juga memberikan keringanan atau rukhshah kepada orang yang dalam perjalanan menjama’ dan mengqashar sembahyang fardhu.

    Sungguhpun perjalanan dianggap sebagai suatu aktiviti perjalanan yang meletihkan dan mendatangkan kesukaran sehinggakan ianya diiktiraf oleh syara’ sebagai salah satu sebab bagi seseorang itu mendapat beberapa keringanan atau rukhshah akan tetapi tidak bermakna ianya merupakan suatu alasan untuk mendapat keringanan untuk tidak menunaikan sembahyang. Sembahyang tetap wajib dan mesti ditunaikan pada waktunya. Cuma cara menunaikannya terdapat sedikit perbedaan berbanding dengan keadaan biasa demi untuk memudahkan dan meraikan keperluan atau hajat orang yang bermusafir.

    Hukum Mendirikan Sembahyang Di Dalam Pesawat terbang

    Bagi orang yang membuat perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang ibadat sembahyang boleh ditunaikan di pesawat terbang, sungguhpun pada ketika itu dia sedang berada di udara. Sembahyang itu adalah sah dan tidak perlu diulang atau diqadha sekiranya ditunaikan dengan menepati rukun dan syarat-syaratnya.

    Pesawat terbang adalah juga seperti lain-lain kendaraan di air seperti kapal laut, sampan, dan kendaraan di darat seperti kereta api, bas atau binatang tunggangan. Melaksanakan sembahyang dalam pesawat terbang adalah sama saja seperti melakukannya dengan kendaraan lain.

    Dalam menerangkan kedudukan orang yang menunaikan sembahyang di atas kendaraan al-Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan pandangan para ulama dalam mazhab Syafi’e: “Sekiranya seseorang itu bersembahyang fardhu di atas kapal, maka tidak harus (tidak boleh) baginya meninggalkan rukun berdiri (yakni tidak harus / tidak boleh sembahyang duduk) sedangkan dia berkuasa untuk berdiri, sama seperti keadaan bersembahyang di darat. Pendapat ini juga dikatakan oleh Imam Malik dan Imam Ahmad. Menurut Imam Abu Hanifah: “Harus/boleh (meninggalkan rukun berdiri itu sekiranya kapal itu sedang bergerak).”

    Para ulama mazhab Syafi’e seterusnya berkata: “Sekiranya ada keuzuran seperti kepala pusing (mabuk laut) dan sebagainya, maka harus menunaikan sembahyang fardhu sambil duduk, karena dia dianggap sebagai orang yang uzur (yang tidak mampu sembahyang berdiri). Sekiranya angin bertiup sehingga beralih haluan kapal itu lalu terpaling wajahnya daripada arah qiblat, maka wajib mengembalikannya ke arah kiblat dan meneruskan sembahyangnya. Berbeda halnya sekiranya dia melakukannya di darat dan dipalingkan oleh seseorang daripada kiblat dengan paksa maka batal sembahyangnya.”(Al-Majmuk, 3: 222)

    Asy-Syeikh Abdullah Abdur Rahman Bafdhal al-Hadhrami menjelaskan di dalam kitabnya Busyra al-Karim, sekiranya orang musafir itu menunaikan sembahyangnya di tempat tidur (seperti katil, tilam dan sebagainya) atau kapal laut maka hendaklah dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, dan hendaklah menghadap kiblat.” (Busyra al-Karim: 1:206)

    Walau bagaimanapun apabila melihat kepada keadaan pesawat terbang dari segi ruang kawasannya yang sempit dan terbatas, ditambah lagi dengan kepadatan penumpang, maka keadaan seperti ini tidak memungkinkan atau sangat sukar khususnya penumpang kelas ekonomi melaksanakan tuntutan-tuntutan seperti yang dijelaskan oleh para ulama di atas.

    Tuntutan Menghadap Kiblat Ketika Sembahyang

    Menghadap kiblat merupakan syarat sah sembahyang. Tuntutan menghadap kiblat telah diperuntukkan di dalam al-Qur’an serta hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan sembahyang), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah).”  (Surah al-Baqarah, ayat 150)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila engkau hendak melakukan sembahyang maka hendaklah engkau menyempurnakan wudhumu kemudian menghadaplah ke arah kiblat.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Oleh itu, menghadap kiblat bagi sembahyang fardhu itu adalah wajib, karena ia termasuk di dalam syarat-syarat sah sembahyang. Namun dalam keadaan tertentu diharuskan tidak menghadap kiblat, yaitu semasa dalam ketakutan seperti dalam peperangan, sama ada sembahyang fardhu atau sunat, dan sembahyang sunat ketika dalam perjalanan yang bukan maksiat yang susah baginya menghadap kiblat.

    Sementara itu, menghadap kiblat bagi sembahyang fardhu di dalam perjalanan hukumnya adalah wajib. Ini adalah berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada Jabir bin Abdillah beliau berkata yang maksudnya :

    “Pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersembahyang (sunat) di atas tunggangan Baginda di mana saja tunggangan itu menuju arah, tetapi apabila Baginda hendak menunaikan sembahyang fardhu Baginda turun lalu menghadap kiblat.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Menyentuh perkara sembahyang di dalam pesawat terbang, sekiranya seseorang penumpang itu tidak dapat menghadap kiblat disebabkan terdapat keuzuran atau kesukaran seperti tiada ruangan untuk bersembahyang melainkan tempat duduknya, sedangkan dia wajib menunaikan sembahyang pada waktu itu, dan jika tidak ditunaikan akan luput waktunya, maka bolehlah menunaikan sembahyang itu sekalipun tanpa menghadap kiblat demi menghormati waktu. Akan tetapi wajib dia mengulangi atau mengqadha sembahyang itu.

    Dalam hal ini al-Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan pandangan ulama mazhab Syafi’e: “Kalau sekiranya waktu sembahyang fardhu telah masuk sedangkan mereka dalam perjalanan dan mereka kawatir sekiranya mereka turun (daripada tunggangan mereka) untuk bersembahyang di atas bumi niscaya mereka tertinggal daripada rakan-rakan mereka atau takut akan berlaku sesuatu ke atas dirinya atau hartanya, maka dalam hal ini tidak harus (tidak boleh) meninggalkan sembahyang itu dan meluputkannya daripada waktunya.  Bahkan hendaklah dia bersembahyang di atas tunggangan bagi menghormati waktu dan wajib mengulangi sembahyang itu karena ia merupakan keuzuran yang jarang berlaku.” (Al-Majmuk 3:222)

    bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 19 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Bagi Orang Sakit (2/2) 

    shalat orang sakitSholat Bagi Orang Sakit (2/2)

    Cara-Cara Isyarat Dalam Sembahyang

    Orang yang tidak mampu mengerjakan sembahyang dalam keadaan berdiri, duduk, rukuk dan sujud atau kesemuanya dan tidak mampu untuk melakukannya dengan kadar yang terdaya, maka dia harus melakukannya dengan menggunakan isyarat. Akan tetapi dengan apakah isyarat itu dilakukan?

    Apabila seseorang itu berniat kepada isyarat ” ima’ ” (tunduk saat rukuk dan sujud), maka wajiblah dia berisyarat dengan kepala. Jika tidak mampu melakukan isyarat dengan kepala, maka hendaklah dengan mata. Jika tidak terdaya juga, maka hendaklah dengan hati. Lama mana orang itu masih berakal niscaya kewajipan sembahyang masih tetap dituntut ke atasnya. (Majmuk: 4/207, Hasyiyatan Qalyubi ‘Umairah: 1/166)

    Cara Dan Keadaan Sembahyang Bagi Keuzuran Yang Seketika

    Kadang-kadang keuzuran itu hanya berlaku seketika sahaja. Contohnya orang sakit yang tidak bedaya untuk berdiri lalu dia mengerjakan sembahyang secara duduk, setelah berlalu seketika, kesakitan yang menyebabkan dia tidak boleh berdiri itu telah pun pulih semula dalam waktunya sembahyang, maka dalam hal ini hendaklah dia berdiri. Begitulah juga jika dia sembahyang berbaring lalu dia mampu untuk sembahyang berdiri atau untuk sembahyang duduk, maka hendaklah dia berdiri atau duduk. Tetapi jika dia mampu kedua-duanya yaitu berdiri dan duduk, maka hendaklah dia berdiri.

    Jika dia mengerjakan sembahyang dengan berdiri lalu dalam sembahyangnya itu dia mendapat keuzuran untuk berdiri, maka haruslah dia sembahyang duduk. Begitulah juga jika dia bersembahyang duduk lalu dalam sembahyangnya itu dia tidak mampu untuk duduk dan berdiri, maka haruslah dia sembahyang berbaring secara merusuk sebelah kanan seperti mayat berbaring di liang lahat.

    Sebagaimana penjelasan di atas, apabila datang atau hilang keuzuran seseorang itu pada melakukan rukun fi’li dalam waktu sembahyangnya, maka wajiblah dia mengubah atau beredar (meninggalkan) kepada yang terdaya olehnya. Untuk melaksanakan cara-caranya tertakluk kepada beberapa keadaan:

    1. Dalam keadaan seseorang yang sihat melakukan rukun fi’li sembahyang, tiba-tiba terjadi ke atasnya keuzuran ketika dalam membaca sebagian surah Al-Fatihah, maka dalam hal ini harus dia melakukan daripada keadaan yang dia tidak upaya kepada yang terdaya olehnya ketika dia membaca surah Al-Fatihah itu. Seperti ketika dia membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan berdiri lalu disebabkan sakit dia pun terus duduk atau pun ketika itu dia bersembahyang duduk lalu disebabkan sakit terus dia berbaring, maka wajiblah dia meneruskan bacaan Al-Fatihahnya dalam waktu dia bergerak itu.
    2. Sebaliknya dalam keadaan seseorang yang ada keuzuran, apabila dia mengerjakan sembahyang dengan duduk atau berbaring, tiba-tiba sembuh atau hilang keuzurannya itu ketika membaca sebagian surah Al-Fatihah, maka dalam hal ini hendaklah dia terus bergerak ke kedudukan yang ia terdaya, yaitu jika dia bersembahyang duduk lalu mampu untuk berdiri, maka hendaklah dia berdiri terlebih dahulu barulah membaca baki surah Al-Fatihah yang belum selesai itu. Jika dia membacanya dalam keadaan pergerakannya untuk bangkit, maka tidak dikira bacaannya itu.

    Apabila seseorang itu membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan dia bersembahyang duduk atau baring lalu hilang keuzurannya itu selepas membaca surah tersebut dan sebelum dia melakukan rukuk, lalu dia mampu untuk berdiri, maka hendaklah dia berdiri terlebih dahulu kemudian barulah melakukan rukuk. Disunatkan sebelum dia melakukan rukuk itu, mengulangi bacaan surah Al-Fatihah itu sekali lagi.

    Jika seseorang itu bersembahyang duduk lalu hilang keuzurannya ketika dia melakukan rukuk dalam keadaan duduk, dan hilangnya itu sebelum thuma’ninah (berhenti sejenak). Maka dalam hal ini, dia terus berdiri dalam keadaan rukuk dan jangan berdiri tegak. Adalah batal sembahyangnya jika dia berdiri tegak terlebih dahulu kemudian baru dia melakukan rukuk. Ini karena jika dia berdiri tegak terlebih dahulu, niscaya dia menambah rukun fi’li sembahyang yaitu berdiri.

    Manakala jika hilang keuzurannya itu selepas thuma’ninah, maka sempurnalah sudah rukuknya dan wajib pula dia berdiri dalam keadaan i’tidal kemudian barulah dia sujud (tanpa rukuk). Akan tetapi jika dia melakukan sekali lagi rukuk, maka batal sembahyangnya. Karena dia menambah lagi satu rukun fi’li sembahyang yaitu rukuk.

    Adapun jika hilang keuzurannya itu sebelum dia membaca surah Al-Fatihah, maka hendaklah dia bergerak terlebih dahulu ke kedudukan yang dia terdaya yaitu jika dia bersembahyang duduk lalu mampu untuk berdiri, maka hendaklah dia berdiri terlebih dahulu kemudian barulah membaca surah Al-Fatihah. (Majmuk: 4/207-208)

    Seseorang yang ada keuzuran untuk berdiri, tetapi dia tidak mampu untuk berdiri pada kadar yang lama. Yaitu dia hanya mampu untuk berdiri sekadar sempat untuk membaca surah Al-Fatihah sahaja dan jika dia membaca surah lain selepas itu, niscaya dia tidak terdaya lagi untuk berdiri. Dalam hal yang demikian, afdhal baginya membaca surah Al-Fatihah sahaja tanpa membaca surah lain selepas Al-Fatihah itu. Ini karena menjaga rukun sembahyang (berdiri) itu adalah lebih utama. Adapun jika dia lemah untuk berdiri ketika dia sedang membaca surah lain, maka harus dia duduk dan janganlah memutuskan bacaan surah yang lain itu. (Majmuk: 4/204)

    Dalam Sembahyang Berjemaah

    Sekiranya seseorang itu mengerjakan sembahyang berjemaah dalam keadaan berdiri dan sebagiannya lagi dalam keadaan duduk karena tidak mampu untuk berdiri terlalu lama, padahal dia mampu untuk berdiri sepenuhnya jika dia mengerjakan sembahyang bersendirian, maka afdhal dia mengerjakan sembahyang bersendirian bagi menjaga rukun fi’li sembahyang yaitu berdiri. Karena berdiri itu wajib dalam sembahyang sedangkan sembahyang berjemaah itu sunat, maka lebih utamalah dia mengerjakan sembahyang bersendirian bagi menjaga rukun fi’li yaitu berdiri.

    Walaupun demikian sekiranya dia mengerjakan sembahyang berjemaah juga dalam keadaan berdiri dan sebagiannya lagi dalam keadaan duduk karena tidak mampu untuk berdiri terlalu lama, maka tidaklah batal sembahyangnya yang demikian itu. (Majmuk: 4/203-204)

    Imam Orang Yang Mendapat Keuzuran

    Menurut pendapat Imam As-Syafie, harus (boleh) bagi orang yang mampu untuk berdiri (orang yang tidak keuzuran pada membuat rukun fi’li sembahyang) berimamkan orang yang bersembahyang duduk. Begitu juga harus (boleh) bagi orang yang bersembahyang duduk berimamkan orang yang bersembahyang merusuk (seperti kedudukan mayat di liang lahat). Dan orang yang mampu melakukan rukuk dan sujud berimamkan orang yang berisyarat pada melakukan rukuk dan sujud.

    Sekalipun demikian, apabila orang yang sihat melakukan rukun-rukun fi’li itu mengikuti imam yang ada keuzuran dalam melakukan rukun-rukun tersebut, maka tidak harus (tidak boleh) bagi makmum yang sihat itu menyamai perbuatan imam yang ada keuzuran pada meninggalkan rukun fi’li sembahyang seperti berdiri, duduk, rukuk atau sujud. Sebagai contoh, imam yang bersembahyang duduk disebabkan ada keuzuran dan makmum yang mampu berdiri, tidak boleh duduk sebagaimana imam tersebut duduk.

    Keharusan (kebolehan) ini telah pun disebutkan dalam beberapa buah hadis, di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha beliau berkata:

    Maksudnya:

    “Ketika sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah berat, datang Bilal untuk memberitahu Baginda untuk mengerjakan sembahyang.

    Maka Baginda bersabda: “Suruhlah Abu Bakar agar mengimami orang ramai.”

    Saya (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang penyedih dan jika dia berdiri mengambil tempatmu (sembahyang), niscaya tidak akan terdengar oleh orang ramai. Kenapa engkau tidak menyuruh ‘Umar saja?”

    Baginda bersabda: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami sembahyang.”

    Maka saya pun mengatakan kepada Hafshah agar dia mengatakan kepada Baginda, kataku kepadanya: “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang penyedih dan jika dia berdiri mengambil tempatmu (sembahyang), niscaya tidak akan terdengar oleh orang ramai, kenapa engkau tidak menyuruh ‘Umar saja?”

    Baginda bersabda: “Sesungguhnya kamu adalah (macam) sahabat-sahabat Yusuf. Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami sembahyang.”

    Ketika (Abu Bakar) sudah masuk sembahyang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merasakan dirinya pulih sedikit. Maka Baginda bangun dengan bantuan dua orang lelaki dan kaki Baginda mengheret ke tanah sehingga masuk ke masjid. Ketika Abu Bakar mendengar bahwa Baginda datang, dia mencuba untuk berundur tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat kepadanya untuk tetap sembahyang. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Abu Bakar bersembahyang berdiri dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersembahyang duduk. Abu Bakar mengikuti sembahyang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang ramai mengikuti sembahyang Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Menurut pendapat Imam As-Syafie lagi, sunat dan afdhal bagi imam yang tidak mampu untuk berdiri meminta ganti (istikhlaf) kepada makmum yang berkemampuan untuk berdiri. (Majmuk: 4/161)

    Penutup

    Sebagaimana penjelasan di atas, bahwa sembahyang lima waktu adalah kewajipan yang tidak boleh ditinggalkan. Selagi seseorang itu berakal kewajipan sembahyang tetap dituntut sekalipun dalam keuzuran atau masyaqqah atau sakit, dikerjakannya juga mengikut keupayaannya.

    Oleh yang demikian itu, kerjakanlah sembahyang fardhu lima waktu dengan penuh keimanan dan ketaqwaan, karena mengerjakannya adalah suatu kejayaan yang besar. Manakala meninggalkannya pula adalah berdosa besar dan hukumannya amat berat sehingga orang itu boleh dibunuh jika dia enggan mendirikan sembahyang dan tidak mahu bertaubat. Di antara kelebihan sembahyang selain yang dinyatakan terdahulu ialah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Artinya:

    “Sembahyang lima waktu itu telah diwajibkan Allah ke atas hambaNya, maka sesiapa melaksanakannya, sedangkan dia tidak pernah mensia-siakan daripadanya sesuatu pun karena meringankan kewajiban itu, niscaya baginya di sisi Allah suatu perjanjian untuk memasukkannya ke syurga. Dan sesiapa yang tidak melaksanakannya maka tidak ada baginya di sisi Allah suatu perjanjian. Jika Dia mahu, di azabnya, dan jika Dia mahu, di masukkannya ke syurga.”

    (Hadis riwayat Abu Daud, Nasa’i, Malik dan Ibnu Hibban)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 18 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Bagi Orang Sakit (1/2) 

    shalat orang sakitSholat Bagi Orang Sakit (1/2)

    Sembahyang fardhu lima waktu sehari semalam wajib dikerjakan. Ganjaran dan fadhilatnya adalah amat besar sekali. Demikian juga sebaliknya, meninggalkan sembahyang itu akan dibalas dan dihukum dengan hukuman yang sangat berat.

    Sembahyang itu adalah merupakan tiang agama. Sembahyang juga merupakan kepala bagi segala pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan awal permulaan bagi ketaatan hamba terhadap Tuhannya.

    Banyak terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan hikmat dan kelebihan sembahyang lima waktu itu. Sepertimana juga banyak peringatan yang mengancam tentang barang siapa yang leka atau lalai mengerjakan sembahyang, lebih-lebih lagi yang meninggalkannya.

    Kelebihan dan hikmat mendirikan sembahyang itu di antaranya ialah:

    1. Dapat menghindarkan diri seseorang daripada melakukan kejahatan dan kemungkaran.
    2. Boleh menghapuskan dosa, sebagaimana air menghilangkan kotoran.

    iii. Barang siapa menjaga sembahyang lima waktu dengan sempurna thaharahnya dan menjaga waktu-waktu sembahyang, maka baginya cahaya dan kejayaan pada Hari Qiamat kelak. Tetapi jika sebaliknya niscaya berhimpunlah dia pada Hari Qiamat bersama-sama Qarun, Firaun, Haman dan Ubai bin Khalaf.

    1. Sembahyang adalah merupakan kunci syurga.
    2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji untuk memasukkan ke syurga terhadap hambaNya yang mengerjakan sembahyang lima waktu yang tidak melalaikan atau meringan-ringankannya.

    Sementara orang yang meninggalkannya pula adalah berdosa besar serta mendapat balasan dan hukuman yang sangat berat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: (Setelah melihat orang-orang yang bersalah itu, mereka berkata): “Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka saqar?” Orang-orang yang bersalah itu menjawab: “Kami tidak termasuk dalam kumpulan orang-orang yang mengerjakan sembahyang.”

    (Surah Al-Muddatstsir: 42-43)

    Bagi orang yang lalai pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “(kalau orang yang demikian dikira dari bilangan orang-orang yang mendustakan agama), maka kecelakaan besar bagi orang-orang ahli sembahyang, (yaitu) mereka yang berkeadaan lalai daripada menyempurnakan sembahyangnya.”

    (Surah Al-Ma’un: 4-5)

    Oleh yang demikian, janganlah sekali-kali diabaikan kewajipan sembahyang itu. Karena ia merupakan unsur asas kekukuhan agama, apabila hilang unsur asas ini niscaya akan binasalah agama.

    Tuntutan menunaikan sembahyang itu adalah berterusan selama mana akal fikiran sedar dan waras sekalipun dalam keadaan sakit, tidak ada kelonggaran untuk meninggalkannya. Maka berhubung dengan perkara ini, persoalan yang ingin kita jelaskan di sini ialah bagaimana cara orang sakit mengerjakan sembahyang.

    Sembahyang Orang Sakit

    Orang yang sakit tidak terlepas daripada tuntutan wajib sembahyang fardhu. Dia tetap dituntut mengerjakannya dengan apa jua yang mampu olehnya tanpa meninggalkan sebarang rukun fi’li sembahyang kecuali dalam keuzuran. Mengenai gambaran keuzuran itu akan dijelaskan berikut ini.

    Tidak Mampu Untuk Berdiri

    Berdiri dalam sembahyang fardhu itu adalah salah satu rukun sembahyang yang mesti dilakukan. Akan tetapi jika seorang mukallaf itu tidak mampu untuk berdiri maka haruslah (bolehlah) dia bersembahyang duduk. Manakala yang tidak mampu duduk dan berdiri maka haruslah (bolehlah) dia bersembahyang secara baring. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Sembahyanglah dengan cara berdiri, jika engkau tidak mampu maka dengan cara duduk, dan jika engkau tidak mampu (dengan cara duduk) maka dengan cara berbaring (sembahyang merusuk).” (Hadis riwayat Bukhari)

    Apabila seseorang mukallaf itu tidak mampu sembahyang berdiri disebabkan keuzuran yang bersangatan, seperti mengalami masyaqqah (kesukaran), takut menambahkan lagi kesakitan jika dia berdiri, takut tenggelam apabila berdiri di atas perahu, takut jatuh karena pening kepala atau seumpamanya, maka haruslah dia bersembahyang duduk, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas.

    Orang sakit yang tidak mampu sembahyang berdiri itu tidak perlu lagi mengulangi semula sembahyang tersebut sesudah hilang keuzuran dan masyaqqahnya selepas itu. Mengenai pahala bagi orang sakit itu tidaklah berkurangan, bahkan sama saja pahalanya jika dia sembahyang berdiri. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Apabila seseorang itu sakit atau musafir, maka ditulis baginya (pahala) sama seperti apa yang dikerjakannya sewaktu bermuqim dan semasa sehat.” (Hadis riwayat Bukhari)

    Sembahyang Sunat Tanpa Berdiri

    Namun dalam soal berdiri ini, para fuqaha tidak berselisih pendapat mengenai keharusan (membolehkan) sembahyang sunat dilakukan dalam keadaan duduk, walaupun orang itu dapat berdiri. Walaupun begitu sembahyang sunat dengan berdiri itu adalah lebih afdhal dan mendapat pahala yang besar berbanding dengan sembahyang duduk atau berbaring. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Barang siapa yang sembahyang berdiri, maka itulah yang lebih utama. Dan Barang siapa yang sembahyang duduk, maka baginya separuh pahala daripada pahala sembahyang berdiri. Dan Barang siapa yang sembahyang tidur (berbaring merusuk), maka baginya separuh pahala daripada sembahyang duduk.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Cara Sembahyang Duduk

    Keadaan dan cara duduk bagi orang yang tidak mampu berdiri dalam sembahyang fardhu atau mampu untuk berdiri dalam sembahyang sunat tetapi melakukannya dengan duduk, tidaklah ditentukan cara dan keadaan duduknya itu. Bahkan adalah memadai dengan kesemua cara dan keadaan duduk itu, akan tetapi makruh dengan duduk iq’a (bertinggung).

    Manakala duduk bagi menggantikan berdiri:

    Mengikut qaul yang ashah adalah afdhal duduk dengan keadaan iftirasy (seperti duduk ketika tahiyyah awal) karena duduk iftirasy itu adalah salah satu duduk ibadat, maka ianya lebih awla (utama).

    Sementara qaul yang kedua, afdhal duduk dalam keadaan mutarabbi’an (duduk bersila). Cara sedemikian ini ialah bagi menggantikan cara sembahyang berdiri, oleh yang demikian hendaklah dibezakan duduk menggantikan berdiri itu daripada duduk-duduk yang lainnya yaitu duduk dengan bersila.

    Adapun cara duduk ketika hendak melakukan tahiyyah awal, tahiyyah akhir dan duduk antara dua sujud dalam sembahyang duduk, adalah afdhal dan sunat dilakukan dengan duduk yang sama sebagaimana sembahyang orang sehat. Yaitu duduk tawarruk bagi tahiyyah akhir dan duduk iftirasy bagi duduk antara dua sujud dan tahiyyah awal.

    Cara Rukuk Dan Sujud Dalam Sembahyang Duduk

    Rukuk dan sujud merupakan salah satu daripada rukun sembahyang, sebagimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Rukuklah kamu dan sujudlah kamu.” (Surah Al-Hajj: 77)

    Adapun cara rukuk orang yang bersembahyang duduk, ialah sekurang-kurangnya dengan membongkokkan badan sedikit bersetentangan dengan kedua-dua lututnya. Manakala cara yang sempurna adalah dengan membongkokkan badan melebihi daripada kadar di atas hingga berbetulan ke tempat sujud. Dan cara sujudnya pula sama seperti sujud biasa.

    Apabila orang yang bersembahyang duduk itu tidak mampu juga melakukan rukuk dan sujud dalam keadaan duduk seperti cara-cara yang dijelaskan di atas, maka hendaklah dia berbuat yang mampu olehnya dengan cara membongkok seberapa yang boleh. Tetapi hendaklah sujudnya itu lebih rendah daripada rukuknya bagi membezakan antara sujud dan rukuk, dan melakukannya wajib bagi mereka yang mampu membezakannya.

    Jika orang yang bersembahyang duduk itu tidak mampu juga untuk melakukan rukuk dan sujud dengan seberapa yang boleh, maka dia hendaklah melakukan rukuk dan sujud tersebut dalam keadaan duduk itu secara isyarat. (Majmuk: 4/201-203) Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Dan jika aku memerintahkan kamu untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah ia dengan apa yang kamu mampu.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Demikianlah cara dan keadaan bagi mereka yang melakukan sembahyang duduk disebabkan ada keuzuran yang bersangatan untuk berdiri.

    Tidak Dapat Rukuk Dan Sujud

    Apabila seseorang itu tidak mampu melakukan rukuk dan sujud karena ada keuzuran yang bersangatan, tetapi dia mampu untuk berdiri dan duduk, maka dalam keadaan ini wajiblah dia bersembahyang dalam keadaan berdiri dan tidak sah jika dia bersembahyang dalam keadaan duduk.

    Cara rukuk dan sujud bagi orang yang tidak mampu melakukannya, hendaklah dalam keadaan dia rukuk, dia membongkokkan badannya sekadar yang mampu. Sementara ketika sujud, maka cara sujudnya adalah dalam keadaan badannya membongkok dengan kedudukan lebih rendah daripada rukuknya, bagi membezakan kedua-duanya.

    Jika dia mampu untuk melakukan rukuk, tetapi tidak mampu untuk sujud, maka dalam hal ini tertakluk pada tiga keadaan dan ianya serupa dengan keadaan rukuk dan sujud dalam sembahyang duduk:

    Apabila dia mampu untuk melakukan sekurang-kurang kadar had rukuk dan tidak pula melebihi daripada kadar itu, maka bolehlah dia melakukan perbuatan yang serupa bagi rukuk dan sujud dengan membongkokkan badan dengan kadar yang dia mampu itu (kadar had sekurang-kurang rukuk).

    Adapun jika dia mampu untuk melakukan kadar had rukuk yang sempurna dan tidak melebihi daripada kadar itu, maka bolehlah juga dia melakukan perbuatan yang serupa bagi rukuk dan sujud dengan membongkokkan badan dengan kadar yang dia mampu itu (kadar had sempurna rukuk). Akan tetapi janganlah dia melakukan rukuk itu kurang daripada kadar had sempurna rukuk sedangkan dia mampu untuk melakukannya, supaya tidak menghilangkan perbuatan yang sunat bagi rukuk (kadar had sempurna rukuk).

    Jika dia mampu untuk melakukan rukuk dengan melebihi kadar had sempurna rukuk, maka hendaklah dia melakukan rukuk dengan tidak melebihi kadar had sempurna itu. Manakala sujudnya pula hendaklah melebihi daripada kadar had sempurna rukuk itu. Ini karena membezakan antara kedua-dua perbuatan tersebut (membongkok karena rukuk dan membongkok karena sujud).

    Adapun bagi orang yang tidak mampu untuk membongkokkan badannya bagi menggantikan perbuatan rukuk dan sujud, maka hendaklah dia melakukannya dengan menundukkan leher dan kepala. Jika tidak termampu juga dengan demikian itu maka hendaklah melakukannya dengan isyarat. (Hasyiyatan Qalyubi ‘Umairah: 1/165, Majmuk: 4/204)

    Tidak Mampu Untuk Berdiri Dan Duduk

    Dalam keadaan masyaqqah dan keuzuran yang menyebabkan seseorang itu tidak dapat mengerjakan sembahyang dengan berdiri dan duduk, maka harus (boleh) baginya mengerjakan sembahyang dengan cara berbaring, yaitu disunatkan berbaring pada rusuk sebelah kanan dan menghadapkan muka dan badannya ke arah kiblat seperti keadaan mayat di liang lahad.

    Adapun jika dia berbaring pada rusuk sebelah kiri, adalah makruh perbuatannya itu selagi dia mampu untuk berbaring pada rusuk sebelah kanan. Walau bagaimanapun sembahyangnya dalam keadaan sedemikian adalah sah. Jika terdapat keuzuran (tidak mampu) sembahyang berbaring di sebelah rusuk kanan, maka wajiblah dia berbaring di sebelah rusuk kiri dengan menghadapkan muka dan badannya ke arah kiblat.

    Jikalau menjadi kesukaran juga dalam melakukan kedua-dua keadaan ini, maka haruslah dia mengerjakan sembahyang baring secara menelentang dengan menghadapkan muka serta telapak kakinya ke arah kiblat. Bagi orang yang sembahyang dalam keadaan ini, hendaklah diletakkan sesuatu di bawah kepalanya seperti bantal supaya dapat meninggikan mukanya bagi menghadap kiblat bukannya menghadap ke arah langit. (I’anah At-Thalibin: 1/160-161, Hasyiyatan Qalyubi ‘Umairah: 1/166)

    Orang sakit yang tidak mampu menghadap kiblat seperti orang yang lumpuh anggota badan yang terlentang di atas katil (tempat tidur) sedangkan dia tidak menghadap ke arah kiblat. Jika tiada ada orang yang dapat menolong untuk memalingkannya agar dapat menghadap kiblat sama ada orang tersebut diupah atau sebagainya, maka haruslah (bolehlah) dia bersembahyang dalam keadaannya itu walaupun tidak menghadap kiblat. Akan tetapi diwajibkan baginya untuk mengulangi sembahyang tersebut. (Majmuk: 3/223)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 17 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at Bagi Perempuan (2/2) : 

    melempar_jumrahSholat Jum’at Bagi Perempuan (2/2) :

    Wajibkah Bersembahyang Zuhur Setelah Menunaikan Jum’at?

    Apabila seorang perempuan bersembahyang Jum’at, sah sembayangnya itu dan memadai sebagai ganti kepada sembahyang zuhur. Perkara ini disebutkan oleh kebanyakkan ulama Syafi’eyah seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Haitami, Abu Ishaq as-Syirazi, Syeikh al-Qalyubi dan Syeikh ‘Umairah Rahimahumullah ajma’in dan lain-lain.

    Berkata Imam an-Nawawi Rahimahullah dalam al-Minhaj:

    Maksudnya: “orang yang sah menunaikan sembahyang zuhur maka sah  sembahyang Jum’atnya” (Minhaj at-Thalibin: 1/264)

    Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah menjelaskan perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullah yaitu “orang yang sah menunaikan sembahyang zuhur” bermaksud orang yang tidak wajib ke atasnya sembahyang Jum’at seperti perempuan, maka sah Jum’atnya jika ia menunaikan sembahyang Jum’at itu. (Tuhfah al-Muhtaj: 1/330)

    Menurut Syeikh ar-Ramli Rahimahullah yang mashur dengan gelaran as-Syafi’e as-Syaghir (Syafi’e Kecil) yang meninggal pada tahun 1004 Hijrah ketika mengulas perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullah di atas yaitu perkataan “sah sembahyang Jum’atnya” bermaksud memadailah sembahyang Jum’at itu (sebagai ganti sembahyang zuhur). (Nihayah al-Muhtaj: 2/288)

    As-Syeikh Abu Ishaq as-Syirazi Rahimahullah mengatakan:

    Maksudnya: “Dan orang yang tidak wajib Jum’at atasnya mempunyai pilihan antara melakukan sembahyang zuhur dan sembahyang Jum’at. Maka jika ia telah melakukan sembahyang Jum’at memadailah apa yang ia lakukannya (sembahyang Jum’at) itu daripada sembahyang Zuhur”. (Al-Muhazzab: 1/360)

    Imam an-Nawawi Rahimahullah pula menjelaskan perkataan as-Syeikh Abu Ishaq as-Syirazi Rahimahullah di atas bahwa orang-orang yang diberi kelonggaran (ma’dzur) seperti hamba, perempuan, orang yang musafir dan seumpamanya adalah wajib ke atas mereka menunaikan sembahyang zuhur. Jika ditunaikan sembahyang zuhur tersebut adalah dihukumkan sah. Manakala jika ditinggalkan sembahyang zuhur itu dan mereka menunaikan sembahyang Jum’at memadailah bagi mereka menurut ijma’ ulama. (al-Majmu’: 4/415)

    Menurut Syeikh Qalyubi Rahimahullah pula, orang yang tidak wajib ke atasnya sembahyang Jum’at ialah kanak-kanak, hamba, perempuan dan orang yang musafir. Adalah sah sembahyang Jum’at itu jika dilakukannya dan memadailah sembahyang Jum’at itu sebagai ganti sembahyang zuhur. (Hasyiatan: Qalyubi wa ‘Umairah: 1/310-311)

    Mufti Hadralmaut dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin berkata: “Harus bagi sesiapa yang tidak wajib mengerjakan Jum’at seperti hamba, orang yang musafir dan perempuan sembahyang fardhu Jum’at ganti sembahyang fardhu zuhur dan Jum’at itu memadailah sebagai ganti fardhu zuhur … Begitulah sebagaimana fatwa daripada Ibnu Hajar….” (Bughyah al-Mustarsyidin: 78-79)

    Allahyarham Pehin Datu Seri Maharaja Dato Seri Utama Dr Awang Haji  Ismail bin Umar Abd Aziz ketika menjadi Mufti Kerajaan Negara Brunei Darussalam telah menfatwakan mengenai kedudukan perempuan yang telah menunaikan sembahyang Jum’at, adakah perlu lagi bersembahyang zuhur? Beliau menjawab: “Boleh dan harus bagi perempuan sembahyang Jum’at di masjid dan sah Jum’at perempuan itu dan memadailah Jum’atnya jadi ganti sembahyang zuhurnya yakni tiada wajib dan tiada sah bagi perempuan sembahyang zuhur setelah ia sembahyang Jum’at itu….. bagaimana yang disebutkan oleh Mufti Hadralmaut di dalam kitabnya Bughyah al-Mustarsyidin” (Fatwa Mufti Kerajaan: 20/78)

    Jawatankuasa Tetap Penyelidikan Ilmiyah dan Fatwa yang berpusat di Riyadh yang diketuai oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz memfatwakan kedudukan seorang perempuan yang mendirikan sembahyang Jum’at, adakah gugur tuntutan sembahyang zuhur ke atasnya? Jawatankuasa itu menjawab: “Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang Jum’at dengan berjemaah Jum’at, memadailah Jum’at itu daripada sembahyang zuhur dan tidak harus baginya bersembahyang zuhur lagi pada hari itu…” (Soalan Empat daripada Fatwa No: 5553-Fatawa al-Lujnah ad-Daimah li al-Buhus al-Ilmiyah wa al-fatwa: Jld 7/337)

    Berdasarkan perkataan ulama-ulama as-Syafi’eyah dan fatwa-fatwa yang dikeluarkan di atas, maka bagi perempuan yang menunaikan sembahyang Jum’at itu tidak wajib ke atasnya menunaikan sembahyang zuhur. Karena gugurnya  tuntutan Jum’at ke atas mereka itu adalah sebagai takhfif (keringanan). Memadailah sembahyang Jum’at itu sebagai ganti daripada sembahyang zuhur. Bahkan tidak sah mengerjakan sembahyang zuhur setelah dia menunaikan sembahyang Jum’at

    Adakah Dituntut  Perempuan Bersembahyang Jum’at?

    Sembahyang Jum’at tidak wajib ke atas perempuan berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Walau bagaimanapun perempuan tidak dilarang untuk menunaikan sembahyang tersebut. Menurut kebanyakan ulama, apabila seorang perempuan menunaikan sembahyang Jum’at maka ia tidak wajib melakukan sembahyang zuhur pada hari tersebut. Persoalannya adakah afdhal dan dituntut seorang perempuan itu keluar ke masjid untuk menunaikan sembahyang Jum’at atau ia duduk di rumah mengerjakan sembahyang zuhur?

    Menurut Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah (Tuhfah al-Muhtaj: 1/275) bahwa perempuan lebih afdhal berjemaah di rumah sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhu katanya: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kamu tegah perempuan-perempuan kamu pergi ke masjid sedangkan di rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka” (Hadis riwayat Abu Daud)

    Dalam perkara perempuan keluar ke masjid menunaikan sembahyang Jum’at menurut kitab al-Majmu’, perempuan-perempuan sama ada muda atau tua yang boleh merangsang nafsu adalah makruh pergi ke masjid kecuali sebaliknya. (al-Majmu’: 4/415)  Dengan perkataan yang lain menurut Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah adalah makruh bagi perempuan berjema’ah ke masjid jika perempuan itu boleh merangsang nafsu sekalipun dengan hanya mamakai pakaian harian (pakaian yang tidak cantik) atau perempuan itu tidak merangsang nafsu tetapi dia berhias-hias atau berharum-harum. Lebih-lebih lagi haram hukumnya jika ditakuti akan berlaku fitnah  ke atasnya. (Tuhfah al-Muhtaj: 1/275)

    Manakala menurut al-Bandaniji pula adalah dituntut (mustahab) bagi perempuan tua pergi ke masjid menunaikan sembahyang Jum’at sebagaimana katanya:

    Maksudnya: “Adalah disunatkan (mustahab) bagi perempaun  tua hadir menunaikan sembahyang Jum’at (ke masjid) dan makruh bagi perempuan muda hadir pada semua sembahyang yang berhimpun (bercampur) dengan lelaki kecuali pada sembahyang hari raya” (Al-Majmu’: 4/405)

    Penutup

    Perempuan adalah termasuk di dalam orang-orang yang diberikan takhfif (keringanan) untuk tidak menunaikan sembahyang Jum’at berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan penjelasan para ulama mengenainya. Walau bagaimanapun, perempuan tidak dilarang untuk menunaikannya dan bagi perempuan yang menunaikan sembahyang Jum’at maka tidaklah wajib atasnya menunaikan sembahyang fardhu zuhur pada hari tersebut dan memadailah sembahyang Jum’at itu sebagai ganti sembahyang zuhur.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 16 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at Bagi Perempuan (1/2) : 

    shalat-tarawih-puasa-pertama_fullSholat Jum’at Bagi Perempuan (1/2) :

    Wajibkah Lagi Melakukan Sembahyang Dzuhur

    Sembahyang Jum’at adalah sembahyang dua raka’at dalam waktu Zuhur pada hari Jum’at dan didahulukan dengan dua khutbah. Sembahyang Jum’at adalah fardhu ‘ain atas orang lelaki yang mukallaf, berakal lagi merdeka, sehat dan tidak di dalam pelayaran.

    Menurut kitab Tuhfah al-Muhtaj, Mughni al-Muhtaj dan Hasyiah Qalyubi sembahyang Jum’at difardhukan di Mekkah al-Mukarramah sebelum Hijrah. Walau bagaimanapun, ia tidak dilaksanakan karena agama Islam masih belum tersebar luas dan jumlah umat Islam pula tidak mencukupi dan sedikit. Orang yang pertama mendirikan sembahyang Jum’at di Madinah al-Munawwarah sebelum Hijrah adalah As’ad bin Zararah iaitu dengan izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tuhfah al-Muhtaj: 1/329, Mughni al-Muhtaj: 1/414, Hasyiah Qalyubi: 1/310)

    Sembahyang Jum’at pertama dalam Islam yang ditunaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah di Madinah al-Munawwarah. Peristiwa itu berlaku selepas Hijrah. (Fada’il al-Jum’ah, Dr.Muhammad Zahir Asadullah, hlm 73)

    Dalil Pensyari’atan Sembahyang Jum’at

    Hukum sembahyang Jum’at adalah fardhu ‘ain apabila cukup syarat-syarat wajib dan syarat-syarat sah sembahyang Jum’at itu. Dalil yang menjelaskan kefardhuannya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan (bang) untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jum’at, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jum’at) dan tinggalkanlah berjual beli (pada ketika itu); yang demikian adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenar)” (Surah Jumu’ah: 9)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan tentang kewajipan sembahyang Jum’at itu dalam banyak hadis-hadis Baginda. Antaranya adalah:

    Maksudnya: “Daripada Hafsah Radhiallahu ‘anha iaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pergi (bersembahyang) Jum’at itu wajib ke atas setiap orang yang bermimpi (baligh)” (Hadis riwayat an-Nasa’i)

    Dalam hadis Baginda yang lain:

    Maksudnya: “Daripada Tariq bin Syihab, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda: “Sembahyang Jum’at itu hak yang wajib ke atas setiap orang Islam dengan cara berjemaah kecuali empat: Hamba yang dimiliki atau perempuan atau kanak-kanak atau orang sakit”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    Kedudukan Perempuan Bersembahyang Jum’at

    Berkata Imam as-Syafi’e Rahimahullah dalam kitab al-Umm:

     

    Maksudnya: “Tidak (wajib) ke atas orang yang belum baligh, orang perempuan dan hamba menunaikan sembahyang Jum’at”. (al-Um: 1/218)

    Menurut kitab al-Minhaj karangan Imam An-Nawawi Rahimahullah bahwa syara’ telah menentukan wajib fardhu ‘ain sembahyang Jum’at itu ke atas setiap orang Islam yang mukallaf, merdeka, lelaki, orang yang muqim, yang tidak sakit dan seumpamanya. (Minhaj at-Thalibin: 1/263) Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah ketika menjelaskan perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullah bahwa tidak wajib Jum’at ke atas orang yang tidak mukallaf, perempuan, khuntsa, orang musafir dan orang sakit sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Daripada Tariq bin Syihab, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda: “Sembahyang Jum’at itu hak yang wajib ke atas setiap orang Islam dengan cara berjemaah kecuali empat: Hamba yang dimiliki atau perempuan atau kanak-kanak atau orang sakit”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    Hadis di atas diriwayatkan juga oleh ad-Darqutni dalam kitabnya as-Sunan, al-Baihaqi dalam kitabnya al-Kabir dan al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak. Imam an-Nawawi Rahimahullah menshahihkan hadis di atas dalam kitab al-Majmu’ karena bertepatan dengan syarat Imam al-Bukhari dan Muslim. Begitu juga al-Hafiz dalam kitab al-Talkhis mengatakan hadis di atas dishahihkan oleh ramai orang. (Minhaj at-Thalibin: 1/263 dalam nota kaki)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 15 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at (2/2) 

    melempar_jumrahSholat Jum’at (2/2)

    Orang-orang yang meninggal dunia pada hari Jum’at juga akan mendapat rahmat dan aman daripada segala azab kubur, perkara ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Sesiapa yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, dia akan dicop dengan cop iman dan terpelihara daripada siksa kubur.” (Hadis riwayat Al-Baihaqi)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengkhabarkan bahwa ganjaran pahala yang besar kepada orang-orang yang pergi berjemaah ke masjid termasuk untuk menunaikan sembahyang Jum’at, sabda Baginda yang maksudnya :

    “Apabila seseorang berwudhu lalu dia memperelokkan wudhunya kemudian dia keluar (pergi) ke masjid, dia tidak keluar kecuali untuk menunaikan sembahyang, tidak dia melangkah satu langkah kecuali ditinggikan satu darjat baginya dan dihapuskan baginya satu kesalahan, apabila dia bersembahyang Malaikat senantiasa memohonkan rahmat ke atasnya selama mana dia masih di tempat sembahyang dan belum berhadas, Malaikat memohonkan: “Wahai Allah berilah rahmat ke atasnya, wahai Allah sayangilah dia!” (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis ini mengandungi beberapa perkara yang penting. Pertama ganjaran pahala yang besar akan diperolehi oleh orang-orang yang pergi berjemaah di masjid dengan sedia berwudhu lalu pergi ke masjid untuk bersembahyang. Maka setiap langkahnya akan dikira sebagai penghapus dosa-dosanya dan menaikkan darjatnya. Para Malaikat juga sentiasa memohonkan keampunan dan rahmat kepada orang-orang sedemikian. Kedua, orang yang berwudhu di rumah itu menggambarkan bahwa mereka sentiasa menjaga ketepatan waktu sembahyang karena telah bersedia lebih awal lagi.

    Oleh yang demikian hari Jum’at adalah hari yang mengandungi banyak kelebihan dan kebesaran yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Hadiri Jumat Lebih Awal

    Sesungguhnya kita dituntut agar menepati waktu sembahyang dan dilarang melengahkannya. Ini karena bukan sahaja menepati waktu sembahyang itu merupakan tuntutan agama malahan orang yang menepati waktu sembahyang itu akan mendapat ganjaran yang besar. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Orang-orang yang bersembahyang pada waktunya dan menyempurnakan wudhunya, menyempurnakan (tegak) berdirinya, menyempurnakan khusyu’nya, ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang itupun naik (ke langit) dalam keadaan putih dan cemerlang. Sembahyang itupun berkata: “Semoga Allah menjaga dirimu sebagaimana engkau menjaga aku (memperelokkan kelakuan sembahyang itu)”. Tetapi sesiapa yang bersembahyang tidak dalam waktunya yang ditentukan dan tidak pula memperelokkan wudhunya, khusyu’nya, ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang itupun naik (ke langit) dalam keadaan hitam legam sambil berkata: “Semoga Allah mensia-siakan dirimu sebagaimana engkau mensia-siakan aku”. Sehinggakan setelah sembahyang itu berada di suatu tempat sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, lalu iapun dilipatkan sebagaimana dilipatnya baju yang koyak-koyak kemudian dipukulkanlah ke mukanya”. (Hadis riwayat Al-Thabarani)

    Ulama Syafe’i juga sepakat mengatakan bahwa sunat (mustahab) menghadirkan diri lebih awal ke masjid pada hari Jum’at. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang kelebihan orang-orang yang menghadirkan diri lebih awal ke masjid pada hari Jum’at, Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Apabila datang hari Jum’at, maka setiap pintu masjid ada Malaikat yang mencatat orang-orang yang masuk mengikut urutannya. Apabila imam telah duduk (di atas mimbar), para Malaikat menutup buku catatan mereka dan datang untuk mendengarkan zikir (khutbah). Perumpamaan orang yang hadir ke masjid lebih awal adalah bagaikan orang yang menyembelih hadyi (korban) seekor unta, kemudian seperti menyembelih seekor sapi, kemudian seperti menyembelih seekor kambing, kemudian seperti menyembelih seekor ayam, kemudian seperti orang yang memberikan sedekah sebiji telur”. (Hadis riwayat Muslim)

    Berdasarkan hadis-hadis di atas jelas kepada kita bahwa orang yang meghadirkan diri ke masjid lebih awal pada hari Jum’at adalah sangat dituntut dan mempunyai ganjaran dan balasan yang besar. Sembahyang tepat pada waktunya juga dianggap sebagai memelihara sembahyang karena jika dilenggahkan waktu sembahyang tersebut, kemungkinan akan tertinggal atau terlepas waktu yang ditentukan itu.

    Malah Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menjelaskan bahwa antara sifat-sifat orang yang mendapat kebahagiaan itu adalah orang-orang yang tetap mengerjakan sembahyang pada waktunya dengan cara yang sempurna. FirmanNya yang tafsirnya :

    “Dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya”  (Surah Al-Mukminun: 9)

    Kesimpulannya, sembahyang dengan khusyu’ dan tawadhu’ serta menjaga dan memelihara waktu adalah satu kewajiban. Maka adalah disunatkan kepada orang yang wajib atasnya sembahyang Jum’àt supaya menghadirkan diri lebih awal ke masjid bagi mengelak daripada terlepas pahala atau fadilat datang awal ke masjid seperti mana maksud hadis di atas.

    Lambat hadir yang mendatangkan kerugian itu termasuklah hadir setelah imam naik ke atas mimbar untuk membaca khutbah. Hal ini telah diceritakan dalam hadis di atas yang menyebutkan yang maksudnya :

    “Apabila imam telah duduk (di atas mimbar) para Malaikat menutup buku catatan mereka dan datang untuk mendengarkan zikir (khutbah)”.

    Ini bererti para Malaikat yang khusus bertugas mencatat kelebihan hadir awal ke masjid pada hari Jum’at itu menghentikan catatannya karena hendak sama-sama mendengar khutbah. Orang yang sedemikian hanya akan tersenarai dalam orang-orang yang hadir Jum’at sahaja, tetapi tidak tersenarai dari orang-orang yang mendapat kelebihan yang seolah-olah berkorban seekor unta atau sapi seperti yang disebut dalam hadis di atas.

    Dari itu sayugadalah kita datang awal ke masjid pada hari Jum’at itu dan ketika dalam perjalanan menuju ke Masjid hendaklah dengan khusyu’ dan merendah diri. Apabila sampai di masjid jangan lupa berniat iktikaf ketika hendak masuk ke masjid. Dengan datang awal itu juga kita berkesempatan melakukan perkara-perkara sunat yang lain seperti sembahyang sunat Tahiyyat al-Masjid, membaca Al-Qur’an, beristighfar, berzikir dan berdoa, karena pada hari Jum’at itu mempunyai kelebihan dan kebesaran yang banyak dan ganjaran yang berlipat ganda.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
    • jengnoe 6:17 am on 15 Maret 2016 Permalink

      BR, Nurul A Fachruddin

      Mobile/WA : +62 82188250606 BBM : 5CEFB053 Line : jengnulu

      >

  • erva kurniawan 1:15 am on 14 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at (1/2) 

    sholat-jumatSholat Jum’at (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Tujuan hidup manusia adalah untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kebahagiaan itu pula akan dijamin datang apabila manusia mahu melaksanakan perintah dan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Antara perintah dan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib ditunaikan adalah sembahyang. Hal ini dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya yang tafsirnya :

    “Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu’ dalam sembahyangnya; Dan mereka yang mejauhkan diri daripada perbuatan dan perkataan yang sia-sia”. (Surah Al-Mukminun: 1-3)

    Berdasarkan ayat di atas, jelaslah kepada kita bahwa kebahagiaan dan kemenangan hidup itu hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman, orang-orang yang menjaga sembahyangnya dan orang-orang yang menjauhkan dirinya daripada perbuatan sia-sia.

    Sembahyang merupakan salah satu daripada rukun Islam dan merupakan suatu ibadat yang sangat penting dalam Islam. Malah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskannya dalam sabda Baginda yang maksudnya :

    “Mahukah kamu Aku memberitahukan bahwa dasar (punca) segala urusan, tiangnya dan puncaknya? Aku menjawab: “Ya! Wahai Rasulullah”, lalu Baginda bersabda: “Dasar (puncak) segala urusan adalah Islam (dua kalimah shahadat) dan tiangnya adalah sembahyang dan puncaknya adalah jihad”. (Hadis riwayat Al-Tirmizi)

    Dengan demikian sembahyang merupakan suatu suruhan yang wajib ditunaikan oleh setiap orang Islam. Orang yang menunaikan sembahyang ini akan diberi ganjaran pahala karena mematuhi suruhan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Hidupnya sentiasa mendapat nikmat dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam syurga bersama-sama dengan orang-orang soleh.

    Kewajiban Sembahyang Jum’at

    Sembahyang Jum’at adalah salah satu diantara kewajiban yang termaklum berdasarkan al-Qur’an dan Al-Sunnah, orang-orang yang mengingkarinya dihukumkan kufur.

    Al-Qur’an menjelaskan mengenai kewajiban sembahyang Jum’at, Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jum’at, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jum’at) dan tinggalkanlah berjual beli (pada saat itu); yang demikian adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenarnya)”. (Surah Al-Jum’at: 9)

    Berdasarkan ayat ini dan ayat-ayat berikutnya, Allah Subahanhu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam bersegera ke tempat sembahyang Jum’at (masjid) sebaik-baik sahaja mendengar seruan azan serta meninggalkan kerja masing-masing seperti berjual beli dan kerja-kerja lain, untuk pergi ke masjid mendengar khutbah dan mengerjakan sembahyang Jum’at. Setelah selesai sembahyang, mereka digalakkan meneruskan usahanya mencari rezeki sambil banyak mengingati Allah dalam segala keadaan. Mereka yang mematuhi ajaran Allah yang demikian itu akan beroleh kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mejelaskan mengenai kewajiban sembahyang Jum’at tersebut berdasarkan sabda Baginda yang maksudnya :

    “Sembahyang Jum’at adalah hak yang wajib ke atas setiap orang Islam dengan (mengadakannya) secara berjemaah kecuali empat iaitu seorang hamba, perempuan, kanak-kanak dan orang sakit”. (Hadis riwayat Abu Daud dan Al-Hakim)

    Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan hari Jum’at sebagai hari besar mingguan bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam serta memerintahkan mengadakan satu sembahyang yang khas menandakan kebesaran hari Jum’at, bagi menggantikan sembahyang Zuhur.

    Kelebihan Hari Jum’at

    Di antara kebesaran dan kelebihan hari Jum’at itu adalah penghulu segala hari. Pada hari Jum’at telah dijadikan bapak segala manusia iaitu Adam ‘alaihissalam. Pada hari itu juga diberikan satu saat di mana segala doa dan permintaan akan dikabulkan kecuali perkara-perkara yang maksiat sebagaimana Rasulullah bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya hari Jum’at adalah penghulu segala hari dan hari yang paling besar di sisi Allah Subhanhu wa Ta ‘ala iaitu hari yang lebih besar daripada hari raya Adha dan hari raya Fitrah, pada hari Jum’at itu terdapat lima kejadian iaitu hari yang dijadikan Adam ‘alaihissalam dan Baginda di turunkan daripada syurga ke muka bumi, dan pada hari itu juga wafatnya Adam ‘alaihissalam, dan Allah mengurniakan satu saat di mana doa-doa dikabulkan kecuali doa-doa maksiat, dan hari Jum’at juga akan terjadinya hari Kiamat”. (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Hari Jum’at juga adalah hari pengampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Islam baik yang masih hidup mahupun yang telah meninggal dunia. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kelebihan orang yang berwudhu di rumahnya kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang Jum’at dalam sabda Baginda yang maksudnya :

    “Sesiapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia (pergi ke masjid) untuk menunaikan Jum’at, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah dibacakan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jum’at itu dan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari lagi. Dan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu (ketika khutbah) telah berbuat sia-sia”. (Hadis riwayat Muslim)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 March 2016 Permalink | Balas  

    Waktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (3/3) 

    dilarang sholatWaktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (3/3)

    Sembahyang Dhuhur Sebelum Imam Selesai Menunaikan Sembahyang Jumat

    Antara waktu yang boleh dikira sebagai waktu yang terlarang menunaikan sembahyang adalah pada waktu imam belum selesai mendirikan sembahyang Jumat. Akan tetapi hukum ini khusus bagi sembahyang fardhu Dhuhur dan bagi orang yang meninggalkan sembahyang Jumat dengan sengaja tanpa uzur syara’.

    Imam an-Nawawi menjelaskan pendapat Ash-hab Syafi’ieyah (Ulama-ulama mazhab Syaf’ie) bahwa bagi sesiapa yang diwajibkan ke atasnya menunaikan sembahyang fardhu Jumat, maka tidak harus menunaikan sembahyang Dhuhur sebelum lagi dia terluput sembahyang Jumat itu tanpa ada sebarang khilaf mengenainya kerana yang dituntut ke atasnya adalah fardhu Jumat. Jika dia menunaikan sembahyang Dhuhur sebelum lagi luput dan imam belum lagi selesai menunaikan sembahyang Jumat itu, maka menurut qaul jadid sembahyang Dhuhurnya itu adalah tidak shah. Para Ash-hab juga sepakat bahwa pendapat yang shahih adalah batal sembahyang Dhuhurnya itu. (Lihat Al-Majmu’:4/416)

    Bahkan, menta’khir sembahyang Dhuhur sehingga selesai solat Jumat itu adalah disunatkan ke atas orang yang mempunyai keuzuran seperti orang sakit yang berkemungkinan akan hilang uzurnya itu sebelum lagi imam selesai mendirikan solat Jumat, misalnya dia sembuh atau pulih sehingga benar-benar putus harapannya bahwa dia tidak akan sempat hadir untuk mengikuti sembahyang Jumat. Kadar waktu itu menurut pendapat yang ashah adalah ketika imam mengangkat belakangnya untuk bangun daripada rukuknya pada rakaat yang kedua. (Lihat mughni al-Muhtaj: 1/279)

    Adakah Harus Mengerjakan Sembahyang Sunat Setelah Mengerjakan Sembahyang Witr?

    Sengaja ditimbulkan masalah ini kerana adanya kekeliruan orang ramai tentang hukum mengerjakan sembahyang sunat selepas Witr, adakah diharuskan ataupun sebaliknya. Perkara ini berpunca kerana hadis yang menyarankan untuk menjadikan sembahyang yang terakhir itu adalah sembahyang sunat Witr.

    Keraguan ini menimbulkan masalah bagaimanakah halnya dengan orang yang telah mengerjakan Witr berjemaah di masjid bersama-sama Imam khususnya ketika bulan Ramadhan. Sehinggakan ada jamaah yang balik meninggalkan masjid sesudah sempurna solat Tarawih supaya dapat mengerjakan solat-solat sunat yang lain seperti solat Tasbih dan Tahajjud dan selepas itu barulah melakukan solat witr pada penghujung malam. Ada juga yang tidak melakukan Tahajjud kerana menyangka jika telah malakukan solat Witr tidak diharuskan menunaikan solat sunat lainnya. Dan ada pula yang melakukan dua witr pada satu malam iatu sekali berjemaah bersama imam di masjid dan mengulanginya sekali lagi setelah dia bersembahyang Tahajjud.

    Sebenarnya sebagaimana yang diperkatakan oleh ulama fiqh khususnya dalam mazhab Syafi’e seperti Imam An-Nawawi bahwa apabila seseorang itu telah mengerjakan sembahyang witir, kemudian dia hendak mengerjakan sembahyang sunat yang lainnya seperti sunat tahajjud, hukumnya adalah harus dan tidak makruh perbuatannya itu. Akan tetapi adakah dibolehkan mengulang sembahyang witirnya itu? Dalam hal ini, sembahyang witirnya yang awal (yang telah dilakukannya) itu tidak terhapus. Oleh yang demikian janganlah diulangi sembahyang witirnya itu, tetapi bolehlah dia mengerjakan apa saja sembahyang yang syaf’an (genap) jika dia mahu. (Al-Majmu’: 4/22,32)

    Perbuatan mengulangi witr dalam satu malam itu adalah dilarang. Sebuah riwayat daripada Thalq bin ‘Ali daripada ayahnya, katanya yang maksudnya :

    “Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiada dua witir dalam satu malam.”

    (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

    Pengecualian Larangan Bersembahyang Pada Waktu-Waktu Larangan Itu

    Dalam mazhab Syafi’i larangan bersembahyang pada waktu-waktu tersebut dikecualikan dalam keadaan-keadaan berikut:

    1.Hari Jumaat

    Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu bahwa mengerjakan sembahyang ketika matahari tegak (rembang) adalah makruh tahrim. Bagaimanapun ia dikecualikan pada hari Jumaat. Perkara ini dijelaskan di dalam sebuah hadis daripada Qatadah daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya yang maksudnya:

    “Bahwasanya Baginda membenci sembahyang pada tengah hari (rembang) kecuali pada hari Jumaat, dan Baginda bersabda: “Sesunguhnya neraka Jahannam dimarakkan (pada saat itu) melainkan pada hari Jumaat”.

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Pengkhususan itu pula adalah umum untuk orang yang hadir ke masjid atau tidak. Berkata Al-Khatib Asy-Syarbini:

    Ertinya:

    “Dan pada pendapat yang ashah adalah harus bersembahyang pada waktu ini (waktu matahari tegak) sama ada dia hadir sembahyang Jumat ataupun tidak”

    (Mughni al-Muhtaj:1/128)

    1. Tanah Haram Mekah

    Mengerjakan apa saja jenis sembahyang di tanah suci Mekah adalah diharuskan tanpa mengira sebarang waktu sekalipun pada waktu yang terlarang. Pendapat ini adalah yang shahih di dalam mazhab Syafi’ie dan disokong dengan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sabda Baginda yang maksudnya :

    “Wahai Bani Abdi Manaf, jangan kamu melarang seseorang tawaf di rumah ini (Baitullah) dan bersembahyang pada bila-bila waktu yang dia sukai, malam atau siang”

    (Hadis riwayat At-Tirmidzi)

    Lagipun bersembahyang di tanah haram Mekah ada tambahan kelebihan atau fadhilat, maka harus mengerjakan sembahyang di sana dalam apa-apa jua keadaan. (Mughni al-Muhtaj: 1/130)

    Penutup

    Berdasarkan keterangan dan penjelasan yang dibawakan di atas bahwa ada beberapa ibadah khususnya sembahyang yang ada ketikanya ia ditegah untuk dilakukan. Bahkan jika dilakukan sembahyang itu adalah tidak shah. Oleh itu haruslah dijaga dan difahami waktu dan keadaan yang ditegah melakukan ibadah sembahyang pada ketika itu supaya terjamin kesempurnaan ibadah sembahyang kita serta diredhai dan diterima oleh Allah Subhanhu wa Ta’ala.

    ==== SELESAI ====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 12 March 2016 Permalink | Balas  

    Waktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (2/3) 

    dilarang sholatWaktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (2/3)

    Apakah Dia Sembahyang-Sembahyang Yang Dilarang Melakukannya itu?

    Sembahyang-sembahyang yang ditegah melakukannya pada waktu-waktu yang lima  ialah sembahyang sunat Muthlaq yaitu sembahyang yang tiada mempunyai sebarang sebab seperti sembahyang sunat Tasbih dan juga sembahyang yang bersebab tetapi sebabnya itu terkemudian. Sembahyang yang sebabnya terkemudian itu ialah seperti sembahyang sunat Ihram dan sembahyang sunat Istikharah. Sebab sembahyang sunat Ihram itu adalah karena memakai Ihram, ia hanya berlaku setelah melaksanakan sembahyang Ihram dan Istikharah  itu pula karena  membuat suatu perkara itu dimulakan selepas sembahyang Istikharah.

    Adapun sembahyang yang sebabnya terdahulu daripada sembahyangnya ataupun beriringan, maka harus dikerjakan pada waktu-waktu tegahan itu, tidak makruh dan tidak haram.  Misal sembahyang-sembahyang berkenaan ialah seperti sembahyang qadha sama ada fardhu atau sunat, sembahyang Janazah, sembahyang Istisqa’, sembahyang gerhana, sembahyang sunat yang dinazarkan, sembahyang Hari Raya, sembahyang Dhoha, sembahyang sunat Thawaf, sembahyang sunat Wudhu, sembahyang sunat Tahiyatul Masjid, sujud Tilawah dan sujud Syukr dan lain-lain solat yang sebabnya terdahulu.

    Sembahyang-sembahyang ini harus untuk dilakukan pada lima-lima waktu dilarang melakukan sembahyang itu berdasarkan hadis Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Ijma’ para ulama.

    Menurut sebuah riwayat mengenai dengan peristiwa taubat Ka’ab bin Malik bahawa dia telah melakukan sujud syukur selepas sembahyang fardhu Subuh sebelum lagi terbit matahari.

    Menurut sebuah hadis lagi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Bilal yang maksudnya :

    Maksudnya: “Wahai Bilal! Cuba kau ceritakan kepadaku apakah perkerjaan yang paling kau harapkan daripada perkerjaan-perkerjaan yang telah kamu lakukan dalam Islam. Sesungguhnya aku mendengar bunyi kasut engkau di hadapanku di syurga?” Bilal berkata: “Aku tidak melakukan suatu perkerjaan yang paling aku harapkan selain aku tidak pernah bersuci sama ada malam atau siang kecuali untuk bersembahyang dengannya, sembahyang yang ditentukan oleh Allah untukku(sembahyang sunat)”  (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Hadis di atas menjelaskan bahawa sujud syukur harus dilakukan pada waktu yang terlarang. Begitu juga dengan sembahyang sunat wudhu setelah bersuci dengan mengambil wudhu sebagaimana yang diamalkan oleh Bilal Radhiallahu ‘anhu tidak mengira siang atau malam. Ini karena sebab sembahyang sunat wudhu dan sujud syukur itu adalah sebab yang terdahulu bukan terkemudian. Begitulah juga halnya dengan sembahyang-sembahyang lain yang mempunyai sebab yang terdahulu.

    Hikmah Pengharaman Sembahyang Pada Waktu-Waktu Berkenaan    

    Larangan mengerjakan sembahyang pada waktu-waktu berkenaan mempunyai hikmat yang tersendiri.

    Waktu ketika matahari terbit, maka terbitnya matahari itu adalah di antara dua tanduk syaitan, lalu orang kafir bersembahyang untuknya. Waktu ketika matahari tegak (rembang) pula, ketika itulah neraka Jahannam dimarakkan dan pintu-pintunya dibuka dan waktu ketika matahari hendak terbenam, maka terbenamnya matahari itu adalah di antara dua tanduk syaitan maka orang kafir bersembahyang untuknya. Perkara ini ada dijelaskan di dalam hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam antaranya hadis daripada Abdullah ash-Shunabiji bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Ketika matahari terbit akan disertai oleh syaitan. Jika matahari telah naik, maka syaitan akan meninggalkannya. Apabila  matahari tepat berada di tengah (waktu istiwa) maka syaitan akan menyertainya, tetapi jika matahari telah gelincir, maka syaitan akan menjauhinya. Apabila matahari hampir terbenam pula, maka syaitan akan menyertainya dan jika matahari telah terbenam, maka syaitan akan menjauhinya. Di waktu-waktu itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang mengerjakan sembahyang”. (Hadis riwayat An-Nasaie)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    “Maka sesungguhnya neraka Jahannam di nyalakan pada waktu tengah hari( yaitu ketika matahari berada ditengah-tengah)”. (Hadis riwayat An-Nasaie)

    Adapun hikmah melarang sembahyang sunat selepas sembahyang Subuh dan Asar bukanlah disebabkan sesuatu yang wujud dalam waktu itu, sebab dari segi hukum waktu itu dihabiskan dengan kewajipan waktu, yang lebih baik daripada sunat yang sebenarnya. .(Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh:1/520)

    Lain-Lain Waktu Yang Dilarang Melakukan Sembahyang

    Selain daripada waktu-waktu tegahan bersembahyang sebagaimana yang diperjelaskan di atas ada juga beberapa waktu dan keadaan yang juga dilarang sama ada hukumnya makruh atau haram sebagaimana yang akan dihuraikan dibawah ini.

    1.Ketika hendak didirikan sembahyang fardhu.

    Makruh memulakan sembahyang  sunat selepas muadzdzin memulakan iqamah sembahyang, sama ada sembahyang itu sembahyang sunat rawatib, seperti sembahyang sunat Subuh, Zuhur dan lain-lain. Sama ada dia meyakini yang dia akan sempat mendapat satu rakaat bersama-sama imam atau tidak.(Lihat Al-Majmu:4/62)

    Dalil pendapat ini hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,  Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Apabila sembahyang didirikan, maka tidak boleh dilakukan sembahyang kecuali sembahyang fardhu.” (Hadis riwayat Imam Muslim)

    Adapun hikmah larangan bersembahyang sunat selepas iqamah dilaungkan ialah supaya seseorang itu sempat bersembahyang fardhu bersama-sama dengan imam dari awalnya, yaitu dia boleh memulakan sembahyang beriringan dengan imam. Jika dia sibuk dengan sembahyang sunat, dia akan luput takbiratul ihram bersama-sama imam. Begitu juga dia akan luput beberapa amalan sembahyang yang menyempurnakan fardhu. Fardhu adalah lebih utama dijaga supaya sempurna. Hikmah lain pula ialah adanya larangan daripada menyalahi imam. (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh: 1 / 532 .)

    2.Ketika Khatib Berada Di Atas Mimbar

    Sebaik saja imam duduk di atas mimbar, maka ditegah dan dilarang daripada melakukan sembahyang. Tegahan ini adalah khusus kepada mereka yang telah sedia ada hadir di masjid sedang imam telahpun duduk di atas mimbar.

    Berkata imam An-Nawawi yang maknanya :

    “Berkata Ash-hab Syafi’ieyah: Apabila imam duduk di atas mimbar adalah ditegah untuk memulakan sembahyang sunat, mereka menaqal bahawa telah ijma’ ulama dalam perkara ini. Dan berkata Pengarang al-Hawi: Apabila imam duduk di atas mimbar adalah haram ke atas orang yang berada di dalam masjid untuk memulakan sembahyang sunat, jika waktu itu dia sedang di dalam sembahyang hendaklah dia duduk (berhenti)”(Al-Majmu’: 4/472).

    Haram mendirikan sembahyang sama ada sembahyang itu sembahyang fardhu atau sunat sekalipun qadha sembahyang itu wajib disegerakan. Umapamanya orang yang meninggalkan sembahyang Subuh tanpa sebarang uzur, maka haram dia melakukan qadha Subuh itu sejak dari waktu duduknya imam itu sekalipun sebelum dia membacakan khutbah. Atau sekalipun dia yakin yang dia boleh selesai dan sempat mengikuti permulaan khutbah, sebagaimana yang telah dii’timadkan oleh al-Ramli dalam Fatawanya. (Fathul ‘Allam 3/111).

    Jika dilakukannya sembahyang pada ketika itu, maka tidaklah sah sembahyangnya walaupun pada ketika imam itu membacakan doa untuk sultan ataupun ketika mengucapkan taraddhi (mengucapakan Radhiallahu ‘anh apabila disebut nama-nama para sahabat) karena semua itu dikira ada hubungannya dengan khutbah Jumu’ah. (Fathul ‘Allam:3/111)

    Berkata Ibnu Hajar di dalam Tuhfahnya yang maknanya : “Tidak shah (sembahyang fardhu seperti sembahyang qadha yang baru dia teringat ketika itu sekalipun wajib disegerakannya atau sembahyang sunat) dan juga tidak shah thawaf dan sujud tilawah atau syukur menurut yang zhahir pada keduanya (thawaf dan sujud tilawah atau sujud syukur) sebab mengambil illah para ulama mengapa diharamkan sembahyang (selepas imam  duduk di atas mimbar) karena perbuatan itu adalah menghindar atau berpaling daripada (mendengar) khutbah secara keseluruhan”

    (Hawasyi Syarwani wa Ibn Qasim ‘ala at-Tuhfah:2/457)

    Sepertimana diharamkan mendirikan sembahyang pada waktu tersebut, adalah juga diharamkan memanjangkan sembahyangnya. Maka, sesiapa yang pada ketika  itu (ketika  imam duduk di atas mimbar)  dia sedang sembahyang, maka  wajib dia mentakhfif (meringankan atau menyingkatkan) sembahyangnya itu.(Fathul ‘Allam:3/112)

    Maksud mentakhfifkan sembahyang itu ialah memadai melakukan perkara-perkara yang rukun dan wajib dalam sembahyang sahaja. Ada juga pendapat lain yang mendifinisikan bahawa maksud takhfif itu ialah meninggalkan tathwil (memanjangkan) menurut ‘urf (kebiasaan) dan ini adalah pendapat yang awjah sepertimana dalam syarah ar Ramli. Menurut pandapat ini adalah makruh menambah daripada apa yang  wajib sebagaimana yang dikatakan oleh al-Kurdi sebagai menjaga pendapat yang pertama itu. (Fathul ‘Allam:3/113)

    As-Saiyid Abu Bakr menyebutkan sebagaimana yang dinaqalnya daripada perkataan Ibn Qasim bahawa sayugianya jika dia memulakan sembahyang fardhu sebelum imam (khatib) duduk di atas mimbar, dan khatib itu duduk sedang dia masih di dalam sembahyangnya, jika sembahyangnya itu tinggal dua rakaat maka harus dia melakukannya (menyempurnakannya) dan wajib dia mentakhfif. Jika banyak (lebih daripada dua rakaat), maka ditegah melakukannya dan wajib dia memberhentikannya atau menukarkannya menjadi sembahyang sunat dan memadailah  melakukannya dua rakaat  di samping wajib mentakfifkannya. (Fathul ‘Allam:3/113)

    Adapun orang yang baru memasuki masjid sedang imam telah duduk atau berada di atas mimbar membaca khutbah, maka harus yakni sunat selagi tidak ditakuti akan luput bertakbiratul ihram bersama-sama imam sebelum dia duduk. Begitu juga orang telah duduk karena lupa atau jahil tetapi belum  panjang jarak masanya disunatkan  bersembahyang sunat dua rakaat dengan niat tahyiyatul masjid. (Hawasyi Syarwani wa Ibn Qasim ‘ala at-Tuhfah:2/457)

    Pada pendapat mazhab Hanafi dan mazhab Maliki pula, makruh hukumnya melakukan sembahyang tahiyatul masjid pada ketika itu sebagaimana yang dijelaskan oleh pengarang Rahmatul Ummah.(Fathul ‘Allam:3/113).

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 11 March 2016 Permalink | Balas  

    Waktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (1/3) 

    dilarang sholatWaktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Umat Islam memang disarankan untuk sentiasa memperbanyak melakukan sebahyang-sembahyang sunat. Sembahyang-sembahyang sunat itu sebenarnya berperanan menampal segala kekurangan yang dilakukan ketika malakukan sembahyang-sembahyang Fardhu.

    Dengan memperbanyak melakukan ibadah sembahyang, seseorang hamba akan sentiasa berada dekat dengan Khaliqnya kerana sembahyang itu penghubung di antara manusia dengan Allah.

    Rasulullah Sahallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “ (Kedudukan) yang paling dekat di antara hamba dan Tuhannya ialah ketika dia sujud (di dalam sembahyangnya) maka perbanyakkanlah doa”. (Hadis riwayat Imam Muslim)

    Sembahyang-sembahyang sunat itu ada yang telah ditetapkan waktu dan ada pula sembahyang-sembahyang sunat yang tidak terhad waktunya iaitu boleh dilakukan bila-bila masa sama ada pada waktu malam atau siang. Di antara sembahyang sembahyang sunat itu ada hubungannya dengan sembahyang fardhu seperti sembahyang sunat qabliyah dan ba’diyah. Ada juga sembahyang sunat yang disunatkan melakukannya kerana waktu yang tertentu seperti sembahyang Dhoha dan ada di antara sembahyang sunat yang dilakukan oleh sebab tertentu seperti sembahyang gerhana matahari, gerhana bulan, kerana memulakan pelayaran atau balik dari pelayaran, hinggalah kepada sembahyang mutlak yang bukan bersebab dan berwaktu separeti sembahyang sunat Tasbih dan lainnya.

    Begitu banyak sekali sembahyang-sembahyang sunat yang dianjurkan kepada kita melakukannya, yang patut kita ambil kesempatan atau peluang memanfaatkannya.

    Akan tetapi ada beberapa waktu dan keadaan yang dilarang kita melakukan sembahyang-sembahyang berkenaan. Walaupun secara umumnya, yang dilarang itu ialah sembahyang-sembahyang sunat pada waktu-waktu tertentu, namun ada juga kalanya sembahyang fardhu.

    Bilakah waktu dan keadaan yang dimaksudkan itu? Apakah hukum melakukan sembahyang pada waktu-waktu berkenaan, adakah haram atau makruh sahaja? Adakah sembahyang itu sah atau sebaliknya? Apa-apa dia sembahyang yang ditegah melakukannya itu? Maka Irsyad hukum kali ini akan menghuraikannya.

    Bilakah Waktu-Waktu Yang Dilarang Menunaikan Sembahyang?

    Sebagai mana dijelaskan oleh para ulama feqh berdasarkan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa waktu-waktu tertentu yang ditegah melakukan sembahyang adalah seperti berikut:

    1. Bermula dari terbit matahari sehingga matahari naik tinggi kira-kira kadar satu tombak. Satu tombak itu adalah kira-kira kadarnya tujuh hasta paras ketinggian orang biasa dan satu hasta pula ialah kira-kira menyemai dengan lapan belas inci.
    2. Waktu Istiwa iaitu waktu matahari berada di tengah-tengah langit sehingga gelincir matahari atau condong ke bawah .(Kecuali waktu istiwa pada hari Jumaat)
    3. Waktu ketika matahari berwarna kekuning-kuningan sehingga tenggelam keseluruhan bulatan matahari itu di ufuk.

    Ketiga-tiga waktu ini ada disebutkan di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani katanya yang maksudnya :

    “Tiga waktu yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami bersembahyang dan mengkebumikan mayat, iatu ketika matahari naik sehingga tinggi, ketika matahari tegak (terpacak) sehingga gelincir dan ketika matahari hampir terbenam sehingga ia terbenam”

    (Hadis riwayat Imam Muslim)

    Hadis di atas melarang bersembahyang dan mengkebumikan mayat pada ketiga-tiga waktu berkekenaan.

    1. Selepas sembahyang fardhu Subuh iaitu bagi orang yang telah menunaikan sembahyang Subuh sehingga terbit matahari.
    2. Selepas sembahyang fardhu ‘Asar sehingga terbenamnya matahari.

    Diterangkan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri yang mengatakan bahawa dia telah mendengar Rasulullah Sahallalahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tidak ada sembahyang selepas Subuh sehingga terbit matahari dan tidak ada sembahyang selepas Asar sehinggalah matahari terbenam”. (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Hukum Menunaikan Sembahyang Pada Waktu-Waktu Tersebut

    Menurut pendapat yang mu’tamad dalam mazhab Syafi’ie bahawa hukum melakukan sembahyang pada waktu-waktu yang tersebut itu adalah makruh tahrim. (Mughni al-Muhtaj :1/128, Fathul ‘Allam: 3/114,Fiqh al-Islami wa Adillatuh:1/520 )

    Makruh tahrim sebagai mana yang dijelaskan oleh pengarang Hasyiyah I’anah Thalibin dan pengarang Fathul ‘Allam ialah hukum yang sabit dengan dalil yang zhanni dan boleh dibuat takwilan (andaian), berbeza dengan haram yang mana ia sabit dengan dalil qath’ie yang tidak boleh dibuat takwilan sama ada dalil itu daripada kitab atau sunnah atau ijma’ ataupun qiyas.(I’anah Tahalibin:1/197, Fathul ‘Allam: 3/114)

    Ada juga pendapat ulama yang mengatakan bahawa hukumnya adalah makruh tanzih. Walau bagaimanapun sembahyang itu tetap tidak shah sebagaimana kata Al-Khatib Asy-Syarbini yang maknanya :

    “Dan tidak shah sembahyang itu jika kita berpendapat bahawasanya hukumnya adalah makruh tahrim, dan begitu juga pada pendapat yang mengatakan bahawa hukumnya adalah karahah tanzih menurut pendapat yang ashah”

    (Mughni al-Muhtaj:1/129)

    Menyenghajakan Mengakhirkan Sembahyang Untuk Dilakukan Pada Waktu-Waktu Makruh

    Berkata pengarang Fathul Mu’in yang maknanya :

    “Maka jika seseorang itu bermaksud (menyenghajakan untuk mengakhirkan) sembahyang yang bukan empunya waktu di dalam waktu makruh (mengerjakan sembahyang) kerana waktu itu adalah waktu makruh (sebagaimana yang telah diketahuinya) maka hukumnya adalah haram secara mutlak dan sembahyang itu tidak shah walaupun (mengqadha) sembahyang yang telah luput waktunya sekalipun wajib di qadha dengan segera kerana dia telah menentang hukum syara’”

    (I’anah at-Thalibin:1/199-200)

    Berlainan halnya jika tujuan mengakhirkannya pada waktu makruh itu oleh sebab yang tertentu iaitu bukan dengan niat melakukannya pada waktu itu kerana waktu itu adalah waktu makruh seperti mengerjakan sembahyang Janazah selepas sembahyang Asar kerana bertujuan supaya ramai jamaah bersembahyang, maka itu adalah diharuskan .(Lihat Hasyiah I’anah Thalibin:1/200)

    Tidak termasuk di dalam larangan itu bagi sembahyang yang empunya waktu seperti mengakhirkan sembahyang Asar sehingga matahari kekuning-kuningan.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 10 March 2016 Permalink | Balas  

    Aurat Perempuan 

    wanita sholehahAurat Perempuan

    Dari uraian terdahulu, kita tahu bahwa semua bagian tubuh yang tidak boleh dinampakkan, adalah aurat. Oleh karena itu dia harus menutupinya dan haram dibuka.

    Aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki lain atau perempuan yang tidak seagama, yaitu seluruh badannya, kecuali muka dan dua tapak tangan. Demikian menurut pendapat yang kami anggap lebih kuat. Karena dibolehkannya membuka kedua anggota tersebut –seperti kata ar-Razi– adalah karena ada suatu kepentingan untuk bekerja, mengambil dan memberi. Oleh karena itu orang perempuan diperintah untuk menutupi anggota yang tidak harus dibuka dan diberi rukhsah untuk membuka anggota yang biasa terbuka dan mengharuskan dibuka, justru syariat Islam adalah suatu syariat yang toleran.

    Ar-Razi selanjutnya berkata: “Oleh karena membuka muka dan kedua tapak tangan itu hampir suatu keharusan, maka tidak salah kalau para ulama juga bersepakat, bahwa kedua anggota tersebut bukan aurat.”

    Adapun kaki, karena terbukanya itu bukan suatu keharusan, maka tidak salah juga kalau mereka itu berbeda pendapat (ikhtilaf), apakah dia itu termasuk aurat atau tidak?

    Sedang aurat orang perempuan dalam hubungannya dengan duabelas orang seperti yang disebut dalam ayat an-Nur itu, terbatas pada perhiasan (zinah) yang tidak tersembunyi, yaitu telinga, leher, rambut, dada, tangan dan betis. Menampakkan anggota-anggota ini kepada duabelas orang tersebut diperkenankan oleh Islam. Selain itu misalnya punggung, kemaluan dan paha tidak boleh diperlihatkan baik kepada perempuan atau laki-laki kecuali terhadap suami.

    Pemahaman terhadap ayat ini lebih mendekati kepada kebenaran daripada pendapat sementara ulama yang mengatakan, bahwa aurat perempuan dalam hubungannya dengan mahram hanyalah antara pusar dan lutut. Begitu juga dalam hubungannya dengan sesama perempuan. Bahkan apa yang dimaksud oleh ayat tersebut yang kiranya lebih mendekati kepada pendapat sebagian ulama, yaitu: “Bahwa aurat perempuan terhadap mahramnya ialah anggota yang tidak tampak ketika melayani. Sedang apa yang biasa tampak ketika bekerja di rumah, mahram-mahram itu boleh melihatnya.”

    Justru itu Allah memerintahkan kepada perempuan-perempuan mu’minah hendaknya mereka itu memakai jilbab ketika keluar rumah, supaya berbeda dengan perempuan-perempuan kafir dan perempuan-perempuan lacur. Untuk itu pula Allah perintahkan kepada Nabi-Nya supaya menyampaikan pengumuman Allah ini kepada ummatnya; yang berbunyi sebagai berikut:

    “Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min semua hendaklah mereka menghulurkan jilbab-jilbab mereka atas (muka-muka) mereka. Yang demikian itu lebih mendekati mereka untuk dikenal supaya mereka tidak diganggu.” (al-Ahzab: 59)

    Jilbab, yaitu pakaian yang lebarnya semacam baju kurung untuk dipakai perempuan guna menutupi badannya.

    Sebagian perempuan jahiliah apabila keluar rumah, mereka menampakkan sebagian kecantikannya, misalnya dada, leher dan rambut, sehingga mereka ini diganggu oleh laki-laki fasik dan yang suka iseng, kemudian turunlah ayat di atas yang memerintahkan kepada orang-orang perempuan mu’minah untuk menghulurkan jilbabnya itu sehingga sedikitpun bagian-bagian tubuhnya yang biasa membawa fitnah itu tidak tampak. Dengan demikian secara lahiriah mereka itu dikenal sebagai wanita yang terpelihara (afifah) yang tidak mungkin diganggu oleh orang-orang yang suka iseng atau orang-orang munafik.

    Jadi jelasnya, bahwa ayat tersebut memberikan illah (alasan) perintahnya itu karena kawatir perempuan-perempuan muslimah itu diganggu oleh orang-orang fasik dan menjadi perhatian orang-orang yang suka iseng. Bukan ketakutan yang timbul dari perempuan itu sendiri atau karena tidak percaya kepada mereka, sebagaimana anggapan sementara orang, sebab perempuan yang suka menampakkan perhiasannya, yang berjalan dengan penuh bergaya (in action) dan bicaranya dibuat-buat, sering membuat perhatian orang laki-laki dan membikin sasaran orang-orang yang suka iseng.

    Ini cocok dengan firman Allah yang mengatakan:

    “Janganlah perempuan-perempuan itu berlaku lemah dengan perkataannya, sebab akan menaruh harapan orang yang dalam hatinya ada penyakit.” (al-Ahzab: 32)

    Islam memperkeras persoalan menutup aurat dan menjaga perempuan muslimah. Hanya sedikit sekali perempuan diberinya rukhsah (keringanan), misalnya perempuan-perempuan yang sudah tua.

    Firman Allah:

    “Dan perempuan-perempuan yang sudah putus haidhnya dan tidak ada harapan untuk kawin lagi, maka tidak berdosa baginya untuk melepas pakaiannya, asalkan tidak menampak-nampakkan perhiasannya. Tetapi kalau mereka menjaga diri akan lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (an-Nur: 60)

    Yang dimaksud al-qawa’id (perempuan-perempuan yang duduk), yaitu perempuan-perempuan yang sudah tidak haidh dan tidak beranak lagi karena sudah tua. Justru itu mereka sudah tidak ada keinginan untuk kawin dan sudah tidak suka kepada laki-laki, begitu juga laki-laki itu sendiri sudah tidak suka kepada mereka.

    Untuk mereka ini, Allah memberikan kelonggaran dan tidak menganggap suatu perbuatan dosa, jika mereka itu menanggalkan sebagian pakaian luar yang biasa tampak, seperti baju kurung, kebaya, kudung dan sebagainya.

    Al-Quran memberikan batas rukhsah ini dengan kata: tidak menampak-nampakkan perhiasannya, yakni tidak bermaksud menanggalkan pakaiannya itu untuk menunjuk-nunjukkan. Akan tetapi kelonggaran ini diberikan jika memang mereka itu memerlukan.

    Berdasar rukhsah ini, maka kiranya yang lebih afdhal dan lebih baik hendaknya mereka tetap menjaga diri dengan selalu mengenakan pakaian-pakaian tersebut, untuk mencari kesempurnaan dan supaya terhindar dari segala syubhat. Karena itu Allah mengatakan dan kalau mereka itu menjaga diri adalah lebih baik bagi mereka.

    Perempuan Masuk Pemandian

    Demi perhatian Islam terhadap masalah pemeliharaan aurat, maka Rasulullah s.a.w. melarang perempuan-perempuan masuk pemandian umum dan telanjang di hadapan perempuan-perempuan lain yang memungkinkan sifat-sifat badannya itu akan menjadi pembicaraan dalam majlis-majlis dan oleh mulut-mulut yang usil.

    Begitu juga Rasulullah s.a.w. melarang laki-laki masuk pemandian kecuali dengan memakai kain yang dapat menutupi badannya dari pandangan mata orang lain. Sebagaimana tersebut dalam riwayat di bawah ini:

    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan masuk pemandian kecuali dengan memakai kain. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan memasukkan (membiarkan masuk) isterinya ke pemandian.” (Riwayat Nasa’i Tarmizi ia hasankan; dan Hakim ia berkata: hadis ini diriwayatkan dengan rawi-rawi Muslim) – lihat Targhib.

    “Dari Aisyah r.a., ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melarang perempuan-perempuan masuk pemandian, kemudian ia membolehkan laki-laki masuk pemandian dengan memakai kain.” (Riwayat Abu Daud — dan ia tidak melemahkan dan lafaz ini terdapat dalam sunannya — juga diriwayatkan oleh Tarmizi dan Ibnu Majah, dan dalam sanadnya ada seorang yang tidak terkenal) – lihat Targhib.

    Dikecualikan perempuan yang masuk pemandian guna berobat karena sakit yang dideritanya atau karena nifas dan sebagainya. Karena ada suatu riwayat dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah mengatakan perihal pemandian sebagai berikut:

    “Janganlah seorang laki-laki masuk pemandian kecuali dengan memakai kain, dan hendaklah mereka itu melarang perempuan-perempuan masuk pemandian kecuali karena sakit atau nifas.” (Riwayat Ibnu Majah, Abu Daud – tetapi dalam sanadnya ada seorang yang bernama Abdurrahman bin Ziadah bin An’am al-Afriqi)

    Dalam hadis ini ada sedikit kelemahan, tetapi berdasar kaidah-kaidah syara’ sehubungan dengan masalah rukhshah untuk orang yang sakit dan demi memudahkan mereka untuk beribadah dan menunaikan kewajiban-kewajiban, maka semua itu dapat memperkuat dan menunjang hadis tersebut. Diperkuat juga dengan kaidah yang sudah masyhur, bahwa sesuatu yang diharamkan karena membendung bahaya, bisa menjadi mubah justru ada kepentingan yang sangat dan demi kemaslahatan.

    Dan dikuatkan juga oleh hadis riwayat Ibnu Abbas yang menerangkan, bahwa Rasuluilah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Berhati-hatilah kamu terhadap rumah yang disebut pemandian. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah! Sesungguhnya dia itu dapat menghilangkan kotoran dan berguna bagi orang yang sakit. Maka jawab Nabi: (Bolehlah kamu masuk) tetapi barangsiapa yang masuk hendaknya memakai tutup.” (Riwayat Hakim dan ia berkata: Sahih dengan sanad Muslim)

    Oleh karena itu kalau seorang perempuan masuk pemandian tanpa ada uzur yang mengharuskan, maka berarti dia telah berbuat yang haram dan akan mendapat ancaman Rasulullah s.a.w. Dalam Hadisnya yang diriwayatkan dari jalan Abu Malik al-Hudzali, bahwa beberapa orang perempuan dari Himasha atau dari Syam masuk ke rumah Aisyah kemudian ia berkata: Apakah kamu ini perempuan-perempuan yang memasukkan anak-anak perempuanmu ke pemandian? Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Tidak seorang pun perempuan yang melepas pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia merobek tabir antara dia dengan Tuhannya.” (Riwayat Tarmizi – dan lafaz ini baginya, dan ia berkata: hadis ini hasan. Juga diriwayatkan oleh Abu Daud dan Hakim; dan ia berkata: rawi-rawinya adalah rawi-rawi Bukhari dan Muslim) – lihat Targhib.

    “Dari Ummu Salamah, sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: Siapapun perempuan yang melepas pakaiannya bukan di rumahnya sendiri, maka Allah akan merobek daripadanya tabirnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Ya’Ia, Thabarani dan Hakim) – lihat Targhib.

    Kalau demikian kerasnya Islam dalam persoalan perempuan yang masuk pemandian, yaitu sebuah bangunan yang berdinding empat yang hanya dimasuki orang-orang perempuan, maka bagaimana lagi hukumnya orang-orang perempuan cabul yang mau menampakkan auratnya di hadapan laki-laki yang suka iseng dan ditampakkan tubuhnya itu di pinggir laut yang menjadi sasaran semua mata yang sedang lapar dan membangkitkan gharizah yang menggelora?

    Dan kalau perempuan-perempuan tersebut telah merobek-robek dinding antara dia dan Tuhannya, maka suami-suaminya yang membiarkan mereka ini bersekutu dalam dosa, karena mereka adalah yang tertanggungjawab kalau benar-benar mereka mengetahuinya.

    Menampak-nampakkan Perhiasan adalah Haram

    Seorang muslimah mempunyai budi yang dapat membedakan dari perempuan kafir atau perempuan jahiliah. Budi perempuan muslimah ialah pandai menjaga diri, tunduk, terhormat dan pemalu.

    Berbeda dengan perempuan jahiliah, moralnya senang menunjuk-nunjukkan perhiasannya (tabarruj) dan suka menarik laki-laki.

    Arti tabarruj yang sebenarnya ialah: membuka dan menampakkan sesuatu untuk dilihat mata. Mahligai disebut buruj seperti ayat yang mengatakan burujim musyyadah, tempat perjalanan bintang juga disebut buruj, karena tingginya dan tampak jelas oleh orang-orang yang melihatnya.

    Zamakhsyari berkata: “Bahwa tabarruj itu ialah memaksa diri untuk membuka sesuatu yang seharusnya disembunyikan.” Seperti kata orang Arab: safinatun barij (perahu yang tidak pakai atap).

    Namun tabarruj dalam ayat di atas adalah khusus untuk perempuan terhadap laki-laki lain, yaitu mereka nampakkan perhiasannya dan kecantikannya.

    Dalam mengertikan tabarruj ini, Zamakhsyari menggunakan unsur baru, yaitu: takalluf (memaksa) dan qashad (sengaja) untuk menampakkan sesuatu perhiasan yang seharusnya disembunyikan. Sesuatu yang harus disembunyikan itu ada kalanya suatu tempat di badan, atau gerakan anggota, atau cara berkata dan berjalan, atau perhiasan yang biasa dipakai berhias oleh orang-orang perempuan dan lain-lain.

    Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang.

    Ahli-ahli tafsir dalam menafsirkan ayat yang mengatakan:

    “Dan tinggallah kamu (hai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kamu dan jangan kamu menampak-nampakkan perhiasanmu seperti orang jahiliah dahulu.” (Ahzab: 33)

    sebagai berikut:

    Yujahid berkata: Perempuan ke luar dan berjalan di hadapan laki-laki.

    Qatadah berkata: Perempuan yang cara berjalannya dibikin-bikin dan menunjuk-nunjukkan.

    Muqatil berkata: Yang dimaksud tabarruj, yaitu melepas kudung dari kepala dan tidak diikatnya, sehingga kalung, kriul dan lehernya tampak semua.

    Cara-cara di atas adalah macam-macam daripada tabarruj di zaman jahiliah dahulu, yaitu: bercampur bebas dengan laki-laki, berjalan dengan melenggang, kudung dan sebagainya tetapi dengan suatu mode yang dapat tampak keelokan tubuh dan perhiasannya.

    Jahiliah pada zaman kita sekarang ini ada beberapa bentuk dan macam tabarruj yang kalau diukur dengan tabarruj jahiliah, maka tabarruj jahiliah itu masih dianggap sebagai suatu macam pemeliharaan.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 9 March 2016 Permalink | Balas  

    Haram Melihat Aurat 

    wanita sholehahHaram Melihat Aurat

    Di antara yang harus ditundukkannya pandangan, ialah kepada aurat. Karena Rasulullah s.a.w. telah melarangnya sekalipun antara laki-laki dengan laki-laki atau antara perempuan dengan perempuan baik dengan syahwat ataupun tidak.

    Sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Seseorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan begitu juga perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain, dan tidak boleh seorang laki-laki bercampur dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan begitu juga perempuan dengan perempuan lain bercampur dalam satu pakaian.”1 (Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

    Aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat oleh laki-laki lain atau aurat perempuan yang tidak boleh dilihat oleh perempuan lain, yaitu antara pusar dan lutut, sebagaimana yang diterangkan dalam Hadis Nabi. Tetapi sementara ulama, seperti Ibnu Hazm dan sebagian ulama Maliki berpendapat, bahwa paha itu bukan aurat.

    Sedang aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki lain ialah seluruh badannya kecuali muka dan dua tapak tangan. Adapun yang dalam hubungannya dengan mahramnya seperti ayah dan saudara, maka seperti apa yang akan diterangkan dalam Hadis yang membicarakan masalah menampakkan perhiasan.

    Ada yang tidak boleh dilihat, tidak juga boleh disentuh, baik dengan anggota-anggota badan yang lain.

    Semua aurat yang haram dilihat seperti yang kami sebutkan di atas, baik dilihat ataupun disentuh, adalah dengan syarat dalam keadaan normal (tidak terpaksa dan tidak memerlukan). Tetapi jika dalam keadaan terpaksa seperti untuk mengobati, maka haram tersebut bisa hilang. Tetapi bolehnya melihat itu dengan syarat tidak akan menimbulkan fitnah dan tidak ada syahwat. Kalau ada fitnah atau syahwat, maka kebolehan tersebut bisa hilang juga justru untuk menutup pintu bahaya.

    Batas dibolehkannya Melihat Aurat Laki-Laki atau Perempuan

    Dan keterangan yang kami sebutkan di atas, jelas bahwa perempuan melihat laki-laki tidak pada auratnya, yaitu di bagian atas pusar dan di bawah lutut, hukumnya mubah, selama tidak diikuti dengan syahwat atau tidak dikawatirkan akan menimbulkan fitnah. Sebab Rasulullah sendiri pernah memberikan izin kepada Aisyah untuk menyaksikan orang-orang Habasyi yang sedang mengadakan permainan di masjid Madinah sampai lama sekali sehingga dia bosan dan pergi.

    Yang seperti ini ialah seorang laki-laki melihat perempuan tidak kepada auratnya, yaitu di bagian muka dan dua tapak tangan, hukumnya mubah selama tidak diikuti dengan syahwat atau tidak dikawatirkan menimbulkan fitnah.

    Aisyah meriwayatkan, bahwa saudaranya yaitu Asma’ binti Abubakar pernah masuk di rumah Nabi dengan berpakaian jarang sehingga tampak kulitnya. Kemudian beliau berpaling dan mengatakan:

    “Hai Asma’! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya itu, melainkan ini dan ini — sambil ia menunjuk muka dan dua tapak tangannya.” (Riwayat Abu Daud)

    Dalam hadis ini ada kelemahan, tetapi diperkuat dengan hadis-hadis lain yang membolehkan melihat muka dan dua tapak tangan ketika diyakinkan tidak akan membawa fitnah.

    Ringkasnya, bahwa melihat biasa bukan kepada aurat baik terhadap laki-laki atau perempuan, selama tidak berulang dan menjurus yang pada umumnya untuk kemesraan dan tidak membawa fitnah, hukumnya tetap halal.

    Salah satu kelapangan Islam, yaitu: Dia membolehkan melihat yang sifatnya mendadak pada bagian yang seharusnya tidak boleh, seperti tersebut dalam riwayat di bawah ini:

    “Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah s.a. w. tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi: Palingkanlah pandanganmu itu!” (Riwayat Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tarmizi) — yakni: Jangan kamu ulangi melihat untuk kedua kalinya.

    Perhiasan Perempuan yang Boleh Tampak dan yang Tidak Boleh

    Ini ada hubungannya dengan masalah menundukkan pandangan yang oleh dua ayat di surah an-Nur 30-31, Allah perintahkan kepada laki-laki dan perempuan.

    Adapun yang khusus buat orang perempuan dalam ayat kedua (ayat 31) yaitu:

    1. a) Firman Allah:

    “Janganlah orang-orang perempuan menampakkan perhiasannya, melainkan apa yang biasa tampak daripadanya.”

    Yang dimaksud perhiasan perempuan, yaitu apa saja yang dipakai berhias dan untuk mempercantik tubuh, baik berbentuk ciptaan asli seperti wajah, rambut dan potongan tubuh, ataupun buatan seperti pakaian, perhiasan, make-up dan sebagainya.

    Dalam ayat di atas Allah memerintahkan kepada orang-orang perempuan supaya menyembunyikan perhiasan tersebut dan melarang untuk dinampak-nampakkan. Allah tidak memberikan pengecualian, melainkan apa yang bisa tampak. Oleh karena itu para ulama kemudian berbeda pendapat tentang arti apa yang biasa tampak itu dan ukurannya. Apakah artinya: apa yang tampak karena terpaksa tanpa disengaja, misalnya terbuka karena ditiup angin; ataukah apa yang biasa tampak dan memang dia itu asalnya tampak?

    Kebanyakan ulama salaf berpendapat menurut arti kedua, Misalnya Ibnu Abbas, ia berkata dalam menafsirkan apa yang tampak itu ialah: celak dan cincin.

    Yang berpendapat seperti ini ialah sahabat Anas. Sedang bolehnya dilihat celak dan cincin, berarti boleh dilihatnya kedua tempatnya, yaitu muka dan kedua tapak tangan. Demikianlah apa yang ditegaskan oleh Said bin Jubair, ‘Atha’, Auza’i dan lain-lain.

    Sedang Aisyah, Qatadah dan lain-lain menisbatkan dua gelang termasuk perhiasan yang boleh dilihat. Dengan demikian, maka sebagian lengan ada yang dikecualikan. Tetapi tentang batasnya dari pergelangan sampai siku, masih diperselisihkan.

    Di samping satu kelonggaran ini, ada juga yang mempersempit, misalnya: Abdullah bin Mas’ud dan Nakha’i. Kedua beliau ini menafsirkan perhiasan yang boleh tampak, yaitu selendang dan pakaian yang biasa tampak, yang tidak mungkin disembunyikan.

    Tetapi pendapat yang kami anggap lebih kuat (rajih), yaitu dibatasinya pengertian apa yang tampak itu pada wajah dan dua tapak tangan serta perhiasan yang biasa tampak dengan tidak ada maksud kesombongan dan berlebih-lebihan, seperti celak di mata dan cincin pada tangan. Begitulah seperti apa yang ditegaskan oleh sekelompok sahabat dan tabi’in.3

    Ini tidak sama dengan make-up dan cat-cat yang biasa dipakai oleh perempuan-perempuan zaman sekarang untuk mengecat pipi dan bibir serta kuku. Make-up ini semua termasuk berlebih-lebihan yang sangat tidak baik, yang tidak boleh dipakai kecuali di dalam rumah. Sebab perempuan-perempuan sekarang memakai itu semua di luar rumah, adalah untuk menarik perhatian laki-laki. Jadi jelas hukumnya adalah haram.

    Sedang penafsiran apa yang tampak dengan pakaian dan selendang yang biasa di luar, tidak dapat diterima. Sebab itu termasuk hal yang lumrah (tabi’i) yang tidak bisa dibayangkan untuk dilarangnya sehingga perlu dikecualikan. Termasuk juga terbukanya perhiasan karena angin dan sebagainya yang boleh dianggap darurat. Sebab dalam keadaan darurat, bukan suatu yang dibuat-buat. Jadi baik dikecualikan ataupun tidak, sama saja. Sedang yang cepat diterima akal apa yang dimaksud istimewa (pengecualian) adalah suatu rukhsah (keringanan) dan justru untuk mengentengkan kepada perempuan dalam menampakkan sesuatu yang mungkin disembunyikan; dan ma’qul sekali (bisa diterima akal) kalau dia itu adalah muka dan dua tapak tangan.

    Adanya kelonggaran pada muka dan dua telapak tangan, adalah justru menutupi kedua anggota badan tersebut termasuk suatu hal yang cukup memberatkan perempuan, lebih-lebih kalau mereka perlu bepergian atau keluar yang sangat menghajatkan, misalnya dia orang yang tidak mampu. Dia perlu usaha untuk mencari nafkah buat anak anaknya, atau dia harus membantu suaminya. Mengharuskan perempuan supaya memakai cadar dan menutup kedua tangannya adalah termasuk menyakitkan dan menyusahkan perempuan.

    Imam Qurthubi berkata: “Kalau menurut ghalibnya muka dan dua tapak tangan itu dinampakkan, baik menurut adat ataupun dalam ibadat, seperti waktu sembahyang dan haji, maka layak kiranya kalau pengecualian itu kembalinya kepada kedua anggota tersebut. Dalil yang kuat untuk pentafsiran ini ialah hadis riwayat Abu Daud dari jalan Aisyah r.a., bahwa Asma’ binti Abubakar pernah masuk ke rumah Nabi s.a.w. dengan berpakaian tipis, kemudian Nabi memalingkan mukanya sambil ia berkata: “Hai Asma’! Sesungguhnya perempuan apabila sudah datang waktu haidhnya (sudah baligh) tidak patut dinampakkan badannya, kecuali ini dan ini — sambil ia menunjuk muka dan dua tapak tangannya.”

    Sedang firman Allah yang mengatakan: “Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki supaya menundukkan pandangan” itu memberikan suatu isyarat, bahwa muka perempuan itu tidak tertutup. Seandainya seluruh tubuh perempuan itu tertutup termasuk mukanya, niscaya tidak ada perintah menundukkan sebagian pandangan, sebab di situ tidak ada yang perlu dilihat sehingga memerlukan menundukkan pandangan.

    Namun, kiranya sesempurna mungkin seorang muslimah harus bersungguh-sungguh untuk menyembunyikan perhiasannya, termasuk wajahnya itu sendiri kalau mungkin, demi menjaga meluasnya kerusakan dan banyaknya kefasikan di zaman kita sekarang ini. Lebih-lebih kalau perempuan tersebut mempunyai paras yang cantik yang sangat dikawatirkan akan menimbulkan fitnah.

    1. b) Firman Allah:

    “Hendaknya mereka itu melabuhkan kudungnya sampai ke dadanya.” (an-Nur: 31)

    Pengertian khumur (kudung), yaitu semua alat yang dapat dipakai untuk menutup kepala. Sedang apa yang disebut juyub kata jama’ (bentuk plural) dari kata jaibun, yaitu belahan dada yang terbuka, tidak tertutup oleh pakaian/baju.

    Setiap perempuan muslimah harus menutup kepalanya dengan kudung dan menutup belahan dadanya itu dengan apapun yang memungkinkan, termasuk juga lehernya, sehingga sedikitpun tempat-tempat yang membawa fitnah ini tidak terbuka yang memungkinkan dilihat oleh orang-orang yang suka beraksi dan iseng.

    1. c) Firman Allah:

    “Dan hendaknya mereka itu tidak menampak-nampakkan perhiasannya terhadap suami atau ayahnya.” (an-Nur: 31)

    Pengarahan ini tertuju kepada perempuan-perempuan mu’minah, dimana mereka dilarang keras membuka atau menampakkan perhiasannya yang seharusnya disembunyikan, misalnya: perhiasan telinga (anting-anting), perhiasan rambut (tusuk); perhiasan leher (kalung), perhiasan dada (belahan dadanya) dan perhiasan kaki (betis dan gelang kaki). Semuanya ini tidak boleh dinampakkan kepada laki-laki lain. Mereka hanya boleh melihat muka dan kedua tapak tangan yang memang ada rukhsah untuk dinampakkan.

    Larangan ini dikecualikan untuk 12 orang:

    1. Suami. Yakni si suami boleh melihat isterinya apapun ia suka. Ini ditegaskan juga oleh hadis Nabi yang mengatakan:

    “Peliharalah auratmu, kecuali terhadap isterimu.”

    1. Ayah. Termasuk juga datuk, baik dari pihak ayah ataupun ibu.
    2. Ayah mertua. Karena mereka ini sudah dianggap sebagai ayah sendiri dalam hubungannya dengan isteri.
    3. Anak-anak laki-lakinya. Termasuk juga cucu, baik dari anak laki-laki ataupun dari anak perempuan.
    4. Anak-anaknya suami. Karena ada suatu keharusan untuk bergaul dengan mereka itu, ditambah lagi, bahwa si isteri waktu itu sudah menduduki sebagai ibu bagi anak-anak tersebut.4
    5. Saudara laki-laki, baik sekandung, sebapa atau seibu.
    6. Keponakan. Karena mereka ini selamanya tidak boleh dikawin.
    7. Sesama perempuan, baik yang ada kaitannya dengan nasab ataupun orang lain yang seagama. Sebab perempuan kafir tidak boleh melihat perhiasan perempuan muslimah, kecuali perhiasan yang boleh dilihat oleh laki-laki. Demikianlah menurut pendapat yang rajih.
    8. Hamba sahaya. Sebab mereka ini oleh Islam dianggap sebagai anggota keluarga. Tetapi sebagian ulama ada yang berpendapat: Khusus buat hamba perempuan (amah), bukan hamba laki-laki.
    9. Keponakan dari saudara perempuan. Karena mereka ini haram dikawin untuk selamanya.
    10. Bujang/orang-orang yang ikut serumah yang tidak ada rasa bersyahwat. Mereka ini ialah buruh atau orang-orang yang ikut perempuan tersebut yang sudah tidak bersyahwat lagi karena masalah kondisi badan ataupun rasio. Jadi yang terpenting di sini ialah: adanya dua sifat, yaitu mengikut dan tidak bersyahwat.
    11. Anak-anak kecil yang tidak mungkin bersyahwat ketika melihat aurat perempuan. Mereka ini ialah anak-anak yang masih belum merasa bersyahwat. Kalau kita perhatikan dari kalimat ini, anak-anak yang sudah bergelora syahwatnya, maka orang perempuan tidak boleh menampakkan perhiasannya kepada mereka, sekalipun anak-anak tersebut masih belum baligh.

    Dalam ayat ini tidak disebut-sebut masalah paman, baik dari pihak ayah (‘aam) atau dari pihak ibu (khal), karena mereka ini sekedudukan dengan ayah, seperti yang diterangkan dalam hadis Nabi:

    “Pamannya seseorang adalah seperti ayahnya sendiri.” (Riwayat Muslim)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 8 March 2016 Permalink | Balas  

    MENGAKHIRKAN WAKTU SHOLAT (2/2) 

    siluet sholatMENGAKHIRKAN WAKTU SHOLAT (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Melambatkan Sembahyang Tanpa Melewati Tempoh Waktunya

    Persoalan yang timbul, apakah ini dibenarkan oleh hukum syara’?

    Persoalan seperti ini ada hubung-kaitnya dengan perkara perintah dan azam.

    Allah Ta’ala telah memerintahkan melakukan perkara-perkara yang wajib, seperti taat kepadaNya dengan melakukan apa saja perintah seperti sembahyang fardhu bila tiba waktunya, mengeluarkan zakat bila tiba waktunya, puasa Ramadhan bila tiba waktunya, menghormati al-Qur’an pada bila-bila masa, patuh kepada Nabi setiap saat, patuh kepada ibu bapa dan banyak lagi. Allah juga memerintahkan supaya meninggalkan semua laranganNya, seperti tidak berdusta, tidak mencuri, tidak khianat, tidak melihat aurat perempuan ajnabi, tidak makan riba, tidak minum arak, tidak menerima rasuah sepanjang masa dan banyak lagi.

    Semua perintah dan larangan Allah Ta’ala wajib dipatuhi oleh setiap orang mukallaf, tidak boleh dilanggar, tidak boleh dicuaikan dan semuanya wajib dilakukan apabila kewajipannya muncul jika ia berkaitan dengan waktu seperti sembahyang fardhu dan puasa Ramadhan, dan setiap saat atau terus menerus seperti tidak melihat aurat ajnabi pada bila-bila masa.

    Sehubungan dengan ini, para ulama usul fiqh menjelaskan bahawa sebaik saja seseorang itu mukallaf, maka dia wajib berazam iaitu berniat atau memutuskan dalam hati akan mematuhi semua perintah dan larangan Allah Ta’ala.  Azam jenis ini disebut ‘azam am’, kerana ia berkait dengan apa saja jenis kewajipan yang wajib dilakukannya apabila tiba waktu melakukan atau meninggalkannya sepanjang hidupnya.

    Selanjutnya mereka menjelaskan bahawa selain ‘azam am’ terdapat satu lagi jenis azam iaitu ‘azam khas’.  Azam ini berkait dengan tibanya waktu untuk melakukan sesuatu yang wajib di dalam waktunya.  Misalnya, jika sudah masuk malam Hari Raya Puasa bermakna wajiblah terus mengeluarkan zakat fitrah atau menangguhkan sehingga sebelum habis tempohnya, tetapi wajib ada azam untuk itu. Sebagai misalan lagi, jika masuk waktu sembahyang fardhu, maka wajiblah terus melakukannya atau menangguhkannya sehingga sebelum habis waktunya, tetapi wajib ada azam di awal waktu untuk melakukannya.  Inilah yang dikatakan azam khas.

    Mereka berkata bahawa kewajipan azam ini ialah untuk tidak dianggap cuai (lalai)dan supaya tidak berdosa jika terjadi uzur syar’i sebelum sempat melakukannya.

    Apabila Masuk Waktu Wajib Berazam

    Berdasarkan analisis ulama fikah dan ulama ushul, apabila masuk waktu sembahyang fardhu, wajiblah dilakukan salah satu dari dua perkara:

    1. Terus menunaikannya, atau
    2. Membuat azam dalam hati akan menunaikannya dalam waktunya.

    Al-’Allamah as-Sayyid Muhammad Abdullah al-Jurdani Rahimahullah Ta’ala menjelaskan di dalam kitabnya Fath al-’Allam: ‘Sebaik saja masuk waktu (sembahyang fardhu), wajiblah dilakukan salah satu dua perkara; sama ada melakukannya terus ataupun berazam melakukannya dalam waktunya. Jika kewajipan ini tidak dilakukan dan tidak berazam akan melakukannya dalam waktunya, maka dia berdosa.’ (Fath al-’Allam, 2:89).

    Jika perkara pertama dilakukan, bermakna kewajipan telah selesai dan pahala sudah menanti. Sekiranya setelah itu dia meninggal, tidak ada lagi dosa mengenainya.

    Jika perkara kedua yang dilakukan (berazam), bermakna kewajipan belum tertunai dan pahalanya belum diperolehi. Sekiranya dia meninggal atau ada halangan yang menghalang melakukannya, seperti datang haidh, beranak, pengsan, hilang akal dan lain-lain uzur syar’i sehinggalah habis waktunya, maka dia tidak berdosa kerana adanya azam.

    Al-’Allamah as-Sayyid Muhammad Abdullah al-Jurdani Rahimahullah Ta’ala juga menjelaskan: ‘Jika seseorang itu bermaksud melambatkannya daripada awal waktu dan melakukannya dalam waktunya, adalah harus, tetapi dengan syarat pada saat itu dia wajib berazam melakukannya sebelum habis waktunya mengikut pendapat yang ashah, di mana sekiranya dia mati dalam waktu itu setelah berazam tetapi belum sempat melakukannya dan waktunya masih cukup untuk melakukannya, maka dia tidak berdosa. Berbeza jika dia tidak melakukan azam tersebut, dimana sekiranya dia mati dalam waktu kewajipan itu sebelum sempat melakukannya, dia adalah berdosa.’ (Fath al-’Allam: 2,88).

    Kesimpulan

    Setiap orang mukallaf wajib melakukan semua perintah Allah dan meninggalkan segala laranganNya. Apabila tiba waktu sembahyang wajiblah dia terus menunaikannya, atau paling tidak, dia hendaklah membuat azam akan melakukannya dalam waktunya.  Azam ini dinamakan azam khas.

    Jika dia telah membuat azam,  kemudian timbul uzur syar’i yang menyebabkan tidak lagi dapat melakukannya dalam waktunya, seperti datang haid, lupa, sakit tenat atau meninggal, maka tidaklah dia berdosa.

    Sebaliknya, jika dia belum melakukannya apabila waktunya tiba dan tidak pula membuat azam, kemudian timbul uzur syar’i yang menyebabkan tidak lagi dapat melakukannya dalam waktunya, seperti datang haid, sakit tenat atau meninggal, maka yang demikian itu akan mendatangkan dosa kepadanya.

    Bagi seorang mukallaf yang ditimpa uzur syar’i, seperti datang haidh, terlupa, sakit tenat setelah masuk waktu dan belum sempat menunaikan sembahyang fardhu sehinggalah habis tempoh waktunya, maka sembahyang berkenaan wajiblah diqadha setelah hilang keuzurannya itu, sama ada telah berazam atau sebaliknya.

    ====SELESAI===

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 7 March 2016 Permalink | Balas  

    MENGAKHIRKAN WAKTU SHOLAT (1/2) 

    siluet sholatMENGAKHIRKAN WAKTU SHOLAT (1/2)

     

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Syariat sembahyang merupakan di antara sebesar-besar tuntutan Islam yang wajib dilaksanakan, kerana sembahyang itu merupakan tiang agama dan asas Islam yang lima yang paling penting sesudah dua kalimah syahadat. Oleh itu, wajib bagi setiap orang Islam mengambil berat dan memelihara dengan menunaikannya tepat pada waktu yang ditetapkan tanpa mencuaikannya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “Peliharalah kamu (kerjakanlah dengan tetap dan sempurna pada waktunya) segala sembahyang fardhu, khasnya sembahyang wustha (sembahyang Asar), dan berdirilah kerana Allah (dalam sembahyang kamu) dengan taat dan khusyu‘.” (Surah Al-Baqarah, ayat 238)

    Orang-orang yang memelihara sembahyang mereka itu pula diklasifikasikan di kalangan orang-orang yang berjaya. Firman Allah Ta‘ala:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu‘ dalam sembahyangnya; dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia; dan mereka yang berusaha membersihkan hartanya (dengan menunaikan zakat harta itu); dan mereka yang menjaga kehormatannya, kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya, maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela; kemudian, sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas; dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya; dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya.” (Surah Al-Mukminuun, ayat 1-9)

    Menyegerakan Sembahyang Di Awal Waktu

    Di antara ciri-ciri orang yang memelihara sembahyang itu ialah menyegerakan menunaikannya di awal waktu, iaitu sebagai menzahirkan kecintaannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan membuktikan tentang kesungguhan dirinya untuk mencari keredhaan Allah Ta‘ala. Maka tidak hairanlah orang yang menyegerakan sembahyang itu akan mendapat pahala yang besar.

    Gesaan menyegerakan mendirikan sembahyang di awal waktu telah sabit di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda ditanya yang maksudnya:

    Apakah amalan-amalan paling afdhal? Lalu Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sembahyang pada awal waktunya.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi)

    Di dalam riwayat yang lain, Abdullah bin Mas‘ud berkata yang maksudnya :

    “Saya telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah amalan yang lebih disukai oleh Allah Ta‘ala?” Sabda Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sembahyang pada waktunya.”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan An-Nasai’e)

    Al-Imam Asy-Syafie Radhiallahu ‘anhu berkata: “Awal waktu sembahyang itu adalah lebih afdhal. Di antara hujjah yang menyokong kelebihan awal waktu berbanding dengan akhir waktu itu ialah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar Radhiallahu ‘anhuma memilih awal waktu. (Sudah tentu) mereka tidak akan memilih melainkan apa yang lebih utama, dan mereka tidak akan meninggalkan apa yang utama. Adalah mereka itu sembahyang pada awal waktu.”

    Demikian beberapa hujjah yang memberi petunjuk tentang keutamaan menyegerakan sembahyang di awal waktu.

    Bilakah tempoh masa yang dikatakan di awal waktu itu?

    Tempoh masa yang dikatakan awal waktu itu ialah bermula daripada masuk waktu sembahyang fardhu sehinggalah berlalu satu tempoh masa kadarnya cukup untuk melakukan perkara-perkara berikut:

    1)   Makan sekira-kira boleh kenyang, iaitu kenyang pada mengikut pandangan syara‘.

    2)   Memakai pakaian.

    3)   Qadha hajat.

    4)  Membersihkan diri, iaitu menghilangkan kotoran, mandi dan berwudhu’ atau bertayammum.

    5)   Azan dan iqamah.

    6)  Menunaikan sembahyang fardhu dan sunat qabliyyah dan ba‘diyyah. (Mughni al-Muhtaj, 1:123, Fath al-‘Alam, 2:209, 216)

    Sebaliknya, haram melambat-lambatkan mendirikan sembahyang sehinga ke suatu waktu yang tidak cukup masa untuk memenuhi semua rukun yang fardhu dalam sembahyang. Andainya memulai pekerjaan sembahyang pada ketika itu, maka tidak harus baginya melakukan perkara-perkara yang sunat, bahkan seseorang itu wajib melakukan perkara-perkara yang wajib sahaja dan berniat sembahyang tunai (أداءً), kiranya baki waktu yang tinggal hanya cukup satu rakaat sahaja.

    Adapun kalau seseorang itu memulai mendirikan sembahyang, sedang tempoh waktu sembahyang yang masih berbaki hanya cukup untuk memenuhi fardhu-fardhunya sahaja, maka harus baginya melakukan tuntutan sunat dalam sembahyang, bahkan inilah yang afdhal menurut pendapat yang mu‘tamad sebagaimana dalam kitab an-Nihayah, sekalipun akan terkeluar sembahyang atau sebahagiannnya daripada waktunya.

    Wajib Muwassa‘  Dan Mudhaiyaq

    Para ulama ushul fiqh menjelaskan bahawa apabila Allah Ta‘ala memerintahkan melakukan satu-satu ibadat dalam satu jangka tempoh tertentu, maka hal ini perlu ditinjau dan dianalisis. Jika ibadat berkenaan meliputi keseluruhan waktu atau tempoh yang diperuntukkan untuknya, seperti puasa bulan Ramadhan, maka kewajipan melakukannya melibatkan keseluruhan waktunya itu.  Oleh sebab itu wajiblah dilakukan ibadat berkenaan sebaik saja waktunya tiba sehingga berakhir tempoh waktu kewajipan itu. Perintah wajib jenis ini disebut sebagai wajib mudhaiyaq.

    Jenis perintah wajib ini tidak ada ruang melambat atau menangguhkannya, kerana apabila dilambatkan daripada waktunya bermakna telah mengeluarkannya daripada waktunya dan ini tidak boleh berlaku. Jika hal ini berlaku, bukan dinamakan melambatkan lagi, tetapi meninggalkan perintah wajib. Jadi, perintah jenis ini tidak ada istilah melambatkan, dan yang ada ialah sama ada menunaikan atau meninggalkan kewajipan.

    Tetapi sekiranya ibadat itu mempunyai tempoh waktu yang panjang dan tempoh melaksanakan perintah ibadat itu tidak meliputi seluruh waktu yang ditetapkan, seperti perintah ibadat sembahyang, maka perintah wajib seperti ini dikatakan sebagai wajib muwassa‘.

    Jenis perintah wajib kedua ini, jika tidak ditunaikan pada awal waktu, sedangkan kewajipan sudah bermula di awal waktu, akan tetapi dilakukan masih dalam tempoh waktunya yang luas itu, maka inilah dikatakan sebagai melambat-lambatkan.

    Sebagai contoh, sembahyang zuhur wajib dilakukan apabila waktunya masuk. Waktu yang ditetapkan melakukan kewajipan sembahyang fardhu zuhur ini misalnya 3 jam  bermula jam 12.00 tengah hari sehingga jam 3.22 petang.

    Apabila tepat jam 12.00 tengah hari, orang yang berkewajipan terus istinja’, berwudu’, menutup aurat (berpakaian), azan, sembahyang sunat rawatib 2 raka’at atau 4 raka’at, iqamah, kemudian barulah menunaikan perintah wajib, iaitu sembahyang fardhu Zuhur. Tindakan seperti ini dinamakan telah menunaikan perintah wajib.

    Walaupun tidak terus melakukan fardhunya yang asas sebaik saja masuk waktu, perbuatan itu telah dinamakan menyahut atau menunaikan kewajipan, kerana perbuatan istinja’, berwudhu’, menutup aurat, azan, sembahyang sunat qabliah, dan iqamah, merupakan satu tuntutan sunat dan kesempurnaan fardhu. Kesemua perbuatan ini berakhir jam 12.30 tengah hari dan mengambil masa lebih kurang selama 30 minit.

    Dari keterangan dan contoh di atas dapatlah diketahui bahawa pengertian melambatkan, iaitu tidak melakukan kewajipan sebaik saja tiba waktu kewajipan, tetapi lewat melakukannya sebelum tempoh waktunya berakhir.

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 6 March 2016 Permalink | Balas  

    Berlindung di balik KESALAHAN orang lain 

    IstighfarBerlindung di balik KESALAHAN orang lain

    Bismillahirrahmanirrahiim

    Assalamu’alaikum warahhmatullahi wabarakatuhu,

    Entah mungkin sudah menjadi hoby atau kebiasaan bagi sebagian kalangan kita bahwa ketika kita ingin agar perbuatan yang kita lakukan mendapatkan “PEMBENARAN” maka dengan mudahnya kita berlindung di balik “KESALAHAN” yang di perbuat oleh orang lain. Seperti seorang muslimah yang tidak berhijab, ketika ia ditanya “Mengapa tidak berhijab?”, maka dengan entengnya, ia menjawab: “Lho itu yang anaknya ULAMA saja nggak berhijab, itu yang anaknya “Kyai Haji” saja nggak berhijab, itu yang anaknya TOKOH yang paling di idolakan oleh sebagian besar masyarakat muslim saja nggak berhijab. Jika mereka saja boleh nggak berhijab, lalu mengapa saya yang cuman orang biasa-biasa saja nggak boleh untuk tidak berhijab?”

    Jika demikian cara kita beragama, maka niscaya RUSAK-lah agama kita!

    Kita selalu menjadikan KESALAHAN yang diperbuat oleh orang lain sebagai “HUJAH” untuk PEMBENARAN atas KESALAHAN yang kita lakukan.

    Saudaraku, ketahuilah bahwa sesungguhnya apa yang pada saat ini terjadi di masyarakat bukanlah HUJAH bagi kita untuk MEMBENARKAN kesalahan yang kita lakukan.

    Saudaraku, kita tidak boleh menggunakan apa yang terjadi di masyarakat sebagai dalil PEMBENAR tindakan kita. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman (artinya):

    Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al An’aam 6:116)

    Saudaraku, ketahuilah bahwa sesungguhnya Al Qur’an dan As Sunnah-lah pegangan kita. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman (artinya):

    Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzaab 33:36)

    Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya): “Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan terpisah sampai keduanya mendatangiku di telaga (syurga)”. (HR. Hakim).

     

    Oleh sebab itu, Duhai Saudaraku, janganlah kita berlindung di balik KESALAHAN yang di lakukan oleh orang atau negara lain sebagai PEMBENAR atas KESALAHAN yang kita lakukan. Tetaplah berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah agar kita SELAMAT dari kesesatan.

    Seperti juga kita tidak dapat berlindung di balik KESALAHAN atau yang kita duga sebagai KESALAHAN yang di lakukan oleh orang ARAB sebagai PEMBENAR atas KESALAHAN yang kita lakukan.

    Saudaraku, ketahuilah bahwa KESALAHAN yang mungkin dilakukan oleh orang ARAB maka itu adalah TANGGUNG JAWAB orang ARAB sendiri dan bukan tanggung jawab kita. Saya justru salut terhadap ULAMA-ULAMA ARAB yang dengan gigih dan penuh kesabaran, dengan ijin Allah, berhasil sedikit demi sedikit mengurangi KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN dan juga BID’AH-BID’AH yang terjadi di ARAB sana. Memang benar bahwa mungkin masih terdapat KEMUNGKARAN ataupun BID’AH yang terjadi disana, akan tetapi itu adalah tugas ULAMA di sana untuk menasehatinya dan bukan tugas kita. Dan sejauh yang saya ketahui mereka (ULAMA-ULAMA ARAB) sudah bekerja keras untuk menasehati UMARA dan juga ORANG-ORANG ARAB agar selalu menepati kesabaran dan kebenaran. Semoga Allah meridhoi apa yang telah mereka lakukan.

    Sekarang tugas kita adalah dengan memohon petunjuk kepada Allah Subhana wa Ta’ala, kita berdakwah dengan cara yang ma’ruf agar segalah KEMUNGKARAN dan BID’AH yang mungkin ada disekitar kita ini dapat berkurang sedikit demi sedikit.

    ALLAHU A’LAM.

    HANYA ALLAH SAJALAH YANG KUASA MEMBERIKAN PETUNJUK.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,

    ***

    Kiriman: Hamba Allah

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 5 March 2016 Permalink | Balas  

    Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (3/3) 

    sujud 2Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Sujud Tilawah Di Luar Sembahyang

    Sepertimana yang telah dijelaskan bahawa sujud tilawah itu sunat juga dilakukan di luar sembahyang iaitu setelah selesai menghabiskan bacaan ayat sajdah atau mendengarnya, jika hendak melakukan sujud tilawah hendaklah berniat sujud tilawah kemudian bertakbir iftitah seperti takbiratul ihram dalam sembahyang.

    Niat sujud tilawah ini adalah wajib bersandarkan kepada hadis Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam :

    Maksudnya: “Sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah dengan niat”

    Begitu juga dengan takbir iftitah hukumnya adalah wajib kerana ia adalah merupakan syarat sujud tilawah itu menurut pendapat al-ashah.

    Di samping berniat di dalam hati ia juga disunatkan melafazkan niatnya itu, seperti:

    Ertinya:“Sahaja aku melakukan sujud tilawah kerana Allah Ta‘ala”

    Kemudian itu bertakbir sekali lagi untuk melakukan sujud tanpa mengangkat tangannya. Apabila hendak bangun dari sujud adalah disunatkan ketika mengangkat kepalanya dengan bertakbir.

    Adalah disunatkan menurut pendapat al- shahih memanjangkan bacaan takbir yang kedua ketika hendak sujud sehingga ia meletakkan dahinya ke tempat sujud, dan juga bagi takbir yang ke tiga ketika bangkit dari sujud sehingga duduk semula.(Al-Majmuk 3/561)

    Setelah ia bangun dari sujud maka disudahi dengan salam iaitu dalam keadaan dia duduk tanpa bertasyahhud. Salam menurut pendapat al-azhar adalah wajib kerana ia merupakan syarat sebagaimana di dalam kitab Syarah Al-Minhaj.

    Kesimpulannya perkara yang dituntut yang juga merupakan rukun sujud tilawah bagi yang melakukannya bukan di dalam sembahyang ialah niat sujud, takbir seperti yang dilakukan ketika hendak mengangkat takbir untuk menunaikan sembahyang, sujud dan juga salam.

    Perlu diingat bahawa untuk melakukan sujud tilawah di luar sembahyang ini tidak disunatkan bangun dari duduk untuk berdiri (qiam) kemudian melaksanakan sujud, bahkan memadailah hanya dalam keadaan duduk. Sementara itu jika dia dalam keadaan berdiri maka dilakukan takbiratul ihram dalam keadaan berdirinya itu kemudian membaca takbir dan sujud.(At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Quran 118)

    Bacaan Atau Zikir  Ketika Sujud Tilawah

    Adalah sunat hukumnya membaca zikir ketika di dalam sujud tilawah. Di antara zikir yang di galakkan itu ialah:

    “Sajada wajhi lillazi kholaqohu wa showwarohu wasyaqqo sam’ahu wabashorohu bihawlihi waquwwatihi fatabarokallohu ahsanul kholiqin”

    Ertinya: “Telah sujud wajahku kepada (Allah,Zat) yang Menciptakannya, yang Membentuknya dan yang Membuka pendengarannya serta penglihatannya dengan daya dan kekuatanNya maka Maha berkat (serta maha tinggilah kelebihan) Allah sebaik-baik Pencipta”

    Dan zikir yang lain sebagaimana yang di sebut dalam hadis Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    “Allohummaktub li biha ‘indaka ajron waj’alha zakhron, wadho’an-na biha wizron waiqbalha minni kama qiblatiha min ‘ibadika daud”

    Maksudnya : “Ya Allah tuliskan bagi ku dengan sujud ini pahala dan jadikanlah sujud ini berharga di sisiMu dan hindarkanlah daripadaku dosa dengannya terimalah ia daripadaku sepertimana Engkau menerima sujud hambaMu Daud”

    (Hadis riwayat Al-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad yang hasan)

    Sementara itu Al-Ustaz Ismail Al-Dharir di dalam tafsirnya menaqalkan bahawa Imam Asy-Syafi‘ie memilih untuk diucapkan di dalam sujud tersebut :

    “Subhana robbana in kana wa’du robbana lamaf’ula”

    Ertinya: “Maha suci tuhan kami, sungguh janji Tuhan kami tetap terlaksana”

    Walau bagaimanapun adalah harus (boleh) dibawakan zikir yang biasa digunakan di dalam sujud sembahyang.

    Menurut Imam Al-Qalyubiy bahawa sujud tilawah atau sujud syukur itu boleh diganti dengan zikir berikut bagi orang yang tidak melakukan sujud walaupun ia suci dari hadas (dalam keadaan berwudhu) seperti ucapan:

    “Subhanalloh walhamdulillah wala ilaha illalloh, wallohu akbar”

    Ertinya:“Maha suci Allah dan segala puji-pujian bagiNya, tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Allah itu Maha Besar”.

    Dibaca zikir tersebut sebanyak empat kali kerana ia boleh menggantikan tempat tahiyatul masjid.(Al-Fiqhu Al-Islami Wa Adillatuhu 1136)

    Apa Dia Sujud Syukur Itu ?

    Sujud syukur ialah sujud untuk menyatakan terima kasih atas nikmat yang dilimpahkan Allah Subhanahu wa Ta‘ala atau atas terhindarnya seseorang dari malapetaka.

    Hukum Sujud Syukur

    Jumhur ulama berpendapat bahawa sujud syukur itu adalah sunat berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abdur Rahman bin Auf katanya yang maksudnya :

    “Sewaktu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju ke dalam bangunan-bangunan tinggi lalu memasukinya. Kemudian Baginda menghadap kiblat dan sujud, dan memanjangkan sujud Baginda. Kemudian Baginda mengangkat kepalanya seraya bersabda: “Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan memberi khabar gembira kepadaku. Jibril berkata:“Sesungguhnya Allah mengatakan kepada engkau: “Siapa yang memberi selawat ke atas engkau Aku akan memberi selawat kepadanya dan siapa yang memberi salam kepada engkau, Aku akan memberi salam kepadanya” Lalu saya bersujud sebagai tanda syukur kepada Allah”.

    (Hadis riwayat Imam Ahmad)

    Dalam hadis yang lain pula yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya bahawa Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam jika sampai kepada Baginda sesuatu perkara yang menggembirakannya, Baginda akan melakukan sujud.(Syarah Al-Minhaj)

    Sujud syukur di dalam mazhab Asy-Syafi‘ie tidak boleh dilakukan di dalam sembahyang. Ianya hanya sunat dilakukan di luar sembahyang ketika seseorang mendapat limpahan rahmat daripada Allah atau terhindar daripada malapetaka.

    Di antara sujud yang dikategorikan sebagai sujud syukur ialah sujud selepas membaca ayat 25 daripada surah Shad iaitu:

    Tafsirnya: “Maka Kami mengampuni kesalahannya. Sesungguhnya dia dekat dari Kami dan mempunyai tempat kembali yang baik”.

    Dari itu sujud kerana ayat ini tidak boleh dibuat di dalam sembahyang kerana sujud pada ayat di atas adalah atas dasar syukur dan sujud syukur tidak boleh dilakukan di dalam sembahyang. Jika dia sujud maka batallah sembahyangnya menurut pandapat al-ashah, kecualilah jika ia tidak mengetahuinya atau ia terlupa.

    Bagaimana Sujud Syukur Dilaksanakan ?

    Sujud syukur dilaksanakan sama halnya seperti melakukan sujud tilawah ketika ia dilakukan di luar sembahyang iaitu berniat untuk melakukan sujud syukur,takbir,sujud dan juga salam.

    Syarat-syarat sahnya juga sama seperti syarat-syarat yang terkandung di dalam sujud tilawah iaitu suci dari hadas kecil dan besar, menutup aurat dan menghadap kiblat.

    Dari segi zikir yang sunat dibaca ketika sujud syukur ini adalah sama seperti zikir-zikir yang telah dijelaskan di dalam sujud tilawah.

    Begitulah cara Islam mengajarkan kita bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta‘ala atau terlepas daripada bala. Di samping sunat melaksanakan sujud syukur disunatkan juga bersedekah dan melakukan sembahyang sunat syukur. (Mughni Al-Muhtaj 1/219). Menurut Al-Khawarizmi pula, jika ia menggantikan tempat sujud itu dengan bersedekah atau sembahyang dua rakaat maka itu adalah yang lebih baik.

    Menurut Imam Al-Ramli bahawa sujud syukur itu terluput waktunya jika jarak di antara sujud itu dan sebabnya terlalu lama.

    Penutup     

    Sujud tilawah dan sujud syukur seperti yang dijelaskan di atas merupakan satu ibadat yang tuntutannya adalah sunat. Cara melakukannya pun mudah tetapi nilainya tinggi di sisi Allah sepertimana yang dijelaskan oleh hadis Baginda tentang kelebihan sujud tilawah. Dari itu, sayugialah diingatkan supaya jangan dilepaskan peluang melakukan ibadat sujud ini, walaupun ia hanya merupakan tuntutan sunat tetapi dengan melakukannya bererti kita menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan dan tidak mengabaikan ajaran Islam.

    ==== SELESAI ====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 4 March 2016 Permalink | Balas  

    Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (2/3) 

    sujud 2Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Hukum Sujud Tilawah

    Sujud tilawah

    adalah sunat menurut pendapat jumhur ulama. Manakala Imam Abu Hanifah (Imam mazhab Hanafi) berkata bahawa sujud tilawah itu wajib sama ada ke atas pendengar atau pembaca.

    Hukum sunat ini bersandarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim) daripada Ibnu Umar katanya yang maksudnya :

    “Bahawasanya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam telah membaca al-Qur’an, lalu Baginda membaca satu surah yang di dalamnya ada ayat ‘sajdah’, maka Baginda pun bersujud lalu kami pun sujud bersama-sama Baginda sehingga sesetengah daripada kami tidak mendapati tempat untuk meletakkan dahinya”.

    Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu tentang fadhilat melakukan sujud tilawah, Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Apabila anak Adam itu membaca ayat al-Quran yang menuntut untuk sujud, syaitan akan mengasingkan dirinya lalu menangis dan berkata:” “Celakalah! Anak Adam telah diperintahkan untuk sujud ia pun sujud, maka baginya balasan syurga, dan aku diperintahkan untuk sujud maka aku enggan, maka balasan bagiku adalah neraka.

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Ayat-Ayat Sajdah Di Dalam Al-Quran

    Ayat-ayat yang disunatkan sujud setelah membacanya, menurut mazhab Asy-Syaf‘ie, adalah seperti berikut:

    1. Ayat ke 206 dari surah Al -A’raf.
    2. Ayat ke 15 dari surah Al- Ra’d.
    3. Ayat ke 50 dari surah Al- Nahl.
    4. Ayat ke 109 dari surah Al- Isra’.
    5. Ayat ke 58 dari surah Maryam.
    6. Ayat ke 17 dari surah Al- Haj.
    7. Ayat ke 77 dari surah Al- Haj.
    8. Ayat ke 60 dari surah Al -Furqan.
    9. Ayat ke 25 hingga 26 dari surah Al- Naml.
    10. Ayat ke 15 dari surah Al -Sajdah.
    11. Ayat ke 38 dari surah Fusshilat.
    12. Ayat ke 62 dari surah Al- Najm.
    13. Ayat pertama dari surah Al- Insyiqaq.
    14. Ayat ke 21 dari surah Al -Insyiqaq.
    15. Ayat ke 19 dari Al- ‘Alaq

    Untuk mengenali ayat-ayat sajdah itu pada kebiasaannya, di dalam mushhaf ditanda dengan garis dan di penghujung ayat itu ditanda dengan tanda yang berbentuk seakan-akan dom masjid sementara itu di bidainya tertulis perkataan sajdah.

    Adapun hikmah pengkhususan sujud pada tempat-tempat atau ayat-ayat yang tersebut di atas kerana ayat-ayat tersebut adalah merupakan pujian bagi mereka yang bersujud dan celaan bagi yang tidak bersujud sama ada secara terang-terangan ataupun secara isyarat sebagaimana yang dinaqalkan oleh Imam Al-Qalyubiy perkataan Ibnu Hajar.(Al-Hasyiyatan 1/235).

    Bila Waktu Sunat Sujud Tilawah Itu Dilakukan ?

    Sujud tilawah itu sunat dilakukan apabila ayat sajdah itu dibaca di luar sembahyang bukan pada waktu-waktu yang makruh menunaikan sembahyang sama ada ia bertujuan untuk melakukan sujud atau tidak.

    Begitu juga sunat melakukan sujud tilawah ketika dalam sembahyang jika dibacakan ayat sajdah tersebut. Tetapi tidak disunatkan melakukan sujud tilawah jika membaca ayat sajdah itu semata-mata bertujuan (qasad) untuk melakukan sujud, kecuali jika ia membacanya pada sembahyang fardhu Subuh pada hari Jumaat adalah sunat ia melakukan sujud tilawah sekalipun ia bertujuan membacanya untuk sujud.

    Berdasarkan keterangan di atas tidak sunat melakukan sujud pada waktu makruh menunaikan sembahyang sekalipun ayat sajdah dibaca di luar sembahyang begitu juga ketika dalam dalam sembahyang dengan tujuan membaca ayat sajdah itu untuk melakukan sujud. Bahkan jika dibaca dalam sembahyang dengan qasad sujud tilawah lalu dia bersujud maka batallah sembahyangnya itu.

    Hukum Membaca Ayat Sajdah

    Jika ayat sajdah itu dibaca pada waktu yang dimakruhkan menunaikan sembahyang bukan untuk tujuan sujud, tidaklah dilarang membacanya tetapi tidak disunatkan bersujud padanya, namun jika dia bersujud juga tidaklah batal sujudnya itu. Begitu juga jika dibaca ayat sajdah pada waktu makruh tersebut dengan tujuan melakukan sujud tilawah selepas waktu makruh maka tidaklah disunatkan sujud dan hukum bacaannya pada ketika itu pula adalah makruh.

    Berlainan halnya jika dibaca pada waktu makruh atau sebelumnya dengan maksud untuk sujud pada waktu makruh maka dihukumkan bacaannya itu haram dan sujud tersebut adalah batal dan tidak dikira.(Al-Hasyiyatan 1/235)

    Syarat-Syarat Sujud Tilawah

    Di dalam kitab Al-Majmuk menurut Ashhab Syafi‘ieyah bahawa hukum sujud tilawah itu sama seperti hukum sembahyang sunat dari segi syarat-syarat sahnya sujud itu, syarat-syarat itu adalah seperti berikut:

    (i) Bersih daripada hadas kecil atau besar dan juga bersih daripada najis sama ada pada tubuh badan, pakaian dan juga tempat.

    (ii) Orang yang hendak melakukan sujud tilawah itu juga di kehendaki dalam keadaan menutup aurat.

    (iii) Untuk melakukannya hendaklah menghadap kiblat.

    (iv) Hendaklah masuk waktunya ketika melakukan sujud itu. Adapun masuknya waktu sujud itu ialah sejurus sahaja ia selesai mambaca atau mendengar keseluruhan ayat sajdah. Jika sekiranya ia bersujud sebelum lagi habis ayat itu di bacanya atau didengarnya maka sujud tilawah itu tidak sah dan tidak memadai.

    Sujud Tilawah Di Dalam Sembahyang

    Cara untuk melaksanakan sujud tilawah itu ada dua keadaan iaitu ketika dalam keadaan bersembahyang dan di luar sembahyang.

    Sujud tilawah

    boleh dilakukan di dalam sembahyang, bahkan hukumnya adalah sunat, sama ada sembahyang itu dilakukan secara persendirian atau berjemaah. Kedudukan makmum pula untuk melakukan sujud tilawah itu, bergantung kepada imam. Jika imam bersujud kerana ayat sajdah iaitu ayat yang menuntut sujud, maka wajib ke atas makmum mengikuti perbuatan imam dengan melakukan sujud itu kerana jika tidak, maka batallah sembahyangnya.

    Sebaliknya jika imam tidak melakukannya maka makmum adalah tidak dikehendaki untuk melakukan sujud. Jika dilakukannya juga, maka sembahyangnya menjadi batal. Akan tetapi harus (boleh) dan sunat hukumnya bagi makmum melakukan sujud tilawah selepas selesai memberi salam dengan syarat jarak di antara sujud dan salam itu tidak lama.

    Jika sekiranya makmum tidak mengetahui bahawa imam telah melakukan sujud tilawah sehinggalah imam mengangkat kepalanya daripada sujud, maka tidaklah batal sembahyang makmum itu. Dia dimaafkan kerana tertinggalnya daripada perbuatan imamnya itu dan juga tidak dikehendaki melakukan sujud.

    Sujud tilawah

    adalah sunat dilakukan di dalam sembahyang sama ada pada sembahyang yang dinyaringkan bacaan (jahar) atau pada sembahyang yang dibaca secara suara perlahan (sir). Walau bagaimanapun bagi sembahyang yang tidak disunatkan menyaringkan suara, sujud tilawah itu sunat dibuat oleh imam setelah dia selesai menunaikan sembahyang supaya tidak menimbulkan kekeliruan di kalangan makmum. (Nihayah Al-Muhtaj 2/100)

    Diambil daripada illah di atas (sembahyang yang dibaca secara suara perlahan) maka begitu juga halnya pada sembahyang yang disunatkan menyaringkan suara (jahar), sunat (mustahab) bagi imam melakukan sujud tilawah setelah selesai sembahyang, jika (diketahui) jarak di antara imam dan makmum itu jauh sehingga dia tidak mendengar bacaan imam atau tidak dapat melihat perbuatan imam atau diselangi oleh dinding dan sebagainya bagi mengelakkan kekeliruan para makmum. (Nihayah Al-Muhtaj 2/100)

    Adapun cara melakukannya ketika di dalam sembahyang hendaklah dia sujud dengan disunatkan dia bertakbir tanpa mengangkat tangannya kerana tangan tidak diangkat ketika hendak melakukan sujud di dalam sembahyang.

    Selepas sujud iaitu bangun dari sujud tersebut untuk bangkit semula meneruskan sembahyangnya, maka disunatkan ia bertakbir. Dia tidak wajib berniat untuk menunaikan sujud tilawah di dalam sembahyang kerana ia sudah terkandung di dalam niat sembahyang (iaitu dengan terkandungnya niat sujud itu kerana bacaannya) sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Khatib.(Al-Hasyiyatan1/238) Tetapi jika ia berniat juga hendaklah jangan di lafazkan kerana dengan lafaz itu boleh menyebabkan sembahyangnya itu terbatal.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 3 March 2016 Permalink | Balas  

    Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (1/3) 

    sujud 2Sujud Tilawah Dan Sujud Syukur (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Rahmat Allah sangat luas meliputi tiap-tiap sesuatu. Kerana itulah juga peluang untuk mendapatkan ganjaran pahala adalah sangat banyak dan terbuka luas dengan melakukan ibadat wajib ataupun sunat, sehingga setengah-setengah ibadat itu kerjanya sedikit, tetapi ganjaran pahalanya sangat banyak, tidak terkira. Itulah rahmat Allah kepada hambaNya. Oleh yang demikian sayugia jangan dilepaskan peluang untuk beribadat, sementara umur dan kesempatan masih ada.

    Berhubung dengan ibadat wajib, kita tidak ada pilihan. Ia mesti di tunaikan, jika ditinggalkan adalah berdosa. Adakalanya diturunkan balasan azab di dunia lagi sebelum diperkirakan di akhirat. Lebih jauh dari itu, sesiapa yang mengingkari hukum sesuatu yang diwajibkan yang disepakati ulama tentang wajibnya itu terkeluarlah ia daripada agama Islam iaitu menjadi murtad, wal‘iyadzubillah.

    Manakala dalam ibadat sunat pula walaupun ia merupakan ibadat pilihan, namun jangan dilepaskan peluang untuk melaksanakannya. Kerana dengan melaksanakannya bererti kita telah menghidupkan sunnah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seterusnya kita tergolong daripada orang-orang yang mencintai Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Mengamalkan apa jua perkara ibadat itu ianya perlu bersandarkan kepada kehendak syara‘ dari segi rukun, syarat dan caranya supaya apa yang kita lakukan itu tepat dan betul menurut apa yang syara‘ kehendaki semoga diterima Allah amalan kita itu dan seterusya mendapat ganjaran yang dijanjikanNya.

    Adapun di antara cara mengabdikan diri kepadaNya ialah dengan melakukan sujud. Sujud itu ada ketikanya dihukumkan wajib seperti sujud dalam sembahyang kerana ia merupakan rukun. Tidak sah sembahyang jika ditinggalkan dengan senghaja. Ada pula ketikanya sujud itu hukumnya sunat seperti sujud sahwi, sujud tilawah dan sujud syukur.

    Banyak hadis yang mengkhabarkan kepada kita akan kelebihan sujud ini. Di antara hadis- hadis itu adalah seperti berikut:

    Nabi bersabda kepada Tsauban maula Baginda yang maksudnya :

    “Engkau perbanyakkanlah bersujud kerana Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud kerana Allah, Allah akan mengangkat darjatmu dengan sujudmu itu dan akan menghapuskan dosamu dengan sebab sujudmu itu”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Sabda Baginda lagi yang ditakhrijkan oleh Imam Muslim yang maksudnya :

    “Sesunguhnya saat yang paling hampir di antara hamba dan Allah Ta‘ala pada masa ia sedang bersujud”.

    Memandangkan kepada kepentingan sujud bagi kita dan tinggi nilainya di sisi Allah maka Irsyad Hukum kali ini akan menghuraikan beberapa panduan mengenai dengan melaksanakan sujud tilawah dan sujud syukur.

    Apakah Sujud Tilawah Itu?

    Sujud tilawah ialah sujud kerana membaca atau mendengar ayat al-Qur‘an yang disunatkan padanya sujud.

    Ini bermakna sujud tilawah itu merupakan di antara adab-adab ketika membaca al-Qur‘an. Di samping sujud tilawah ketika membaca atau mendengar ayat ‘sajdah’, ada juga tuntutan-tuntutan lain yang sunat dilakukan ketika kita membaca al-Quran umpamanya:

    1. Apabila membaca ayat yang mengandungi rahmat Allah maka disunatkan memohon rahmat Nya seperti mengucapkan:

    “Allohumaghfirli warhamni”

    Ertinya: “Ya Allah, ampuni aku dan rahmatilah aku”

    1. Apabila membaca ayat yang mengandungi azab atau siksaan maka disunatkan pula memohon perlindungan daripada azab Allah dengan mengucapkan zikir seperti berikut:

    “Allohumma a’izni minan-naar”

    Ertinya: “Ya Allah, lindungilah aku daripada azab api neraka”

    1. Apabila membaca ayat tasbih iaitu yang mengandungi pujian kepada Allah umpamanya ayat “sabbihis marobbikal a’la” adalah disunatkan bertasbih seperti mengucapkan:

    (subhanalloh)

    Ertinya: “Maha suci Allah”

    1. Ketika membaca ayat 40 dari surah Al-Qiyamah “alaisa zalika biqodirin ‘alaa ay-yuhyal mauta” dan ayat terakhir daripada surah Al-Tin “alaisallohu biahkamil hakimin” adalah disunatkan membaca setelah itu dengan zikir:

    “Bala wa ana ‘ala zalika minasy-syahidin”

    Ertinya: “Ya, Benar! Saya adalah dari kalangan orang yang menjadi saksi ke atas perkara itu (Allah itu berkuasa menghidupkan orang yang mati, iaitu jawapan bagi ayat “alaisa zalika biqodirin ‘alaa ay-yuhyal mauta” / Allah itu adalah hakim yang paling adil , iaitu jawapan bagi ayat “alaisallohu biahkamil hakimin”

    1. Apabila membaca ayat 50 Surah Al-Mursalat “Fabiayyi hadisim-ba’dahu yu’minun” adalah di sunatkan untuk menyebut selepas itu dengan zikir:

    “amanna bil-lah”

    Ertinya: “Kami beriman dengan Allah”

    Semua perkara di atas sunat dilakukan oleh setiap pembaca al-Quran, termasuk imam dan juga orang yang bersembahyang secara bersendirian kerana mendengar bacaannya sendiri. Begitu juga makmum sunat ke atasnya berbuat demikian kerana mendengar bacaan imamnya atau bacaannya sendiri. Zikir-zikir kerana ayat tertentu itu adalah dibaca secara jahar (dinyaringkan) sama ada imam, makmum dan juga orang bersembahyang secara bersendirian pada sembahyang yang disunatkan menyaringkan bacaan padanya.

    Perlu juga diambil perhatian bahawa lafaz zikir itu apabila di dalam sembahyang mestilah diucapkan dengan bahasa Arab dan tidak harus (tidak boleh) bahkan batal sembahyang jika dilafazkan dengan bahasa Melayu atau lainnya selain daripada bahasa Arab.

    Jika perkara-perkara yang tersebut di atas ditinggalkan, tidaklah ia membatalkan sembahyang serta tidak dituntut untuk melakukan sujud sahwi kerana ia hanyalah merupakan sunat hai‘at.

    Begitu juga sunat hukumnya mengucapkan zikir-zikir tersebut di atas ketika di luar sembahyang apabila mendengar ayat-ayat yang telah dijelaskan tadi.

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 2 March 2016 Permalink | Balas  

    Orang Beragama atau Orang Baik? 

    niat baikOrang Beragama atau Orang Baik?

    Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan, sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan tenang.

    Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita cantik. ”Masuklah ke dalam pondok,” katanya kepada wanita itu, ”Peluklah ia dan katakan ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang’?”

    Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disarankan oleh si nenek. Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya.

    Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah. ”Percuma saya memberi makan orang itu selama 20 tahun,” serunya. ”Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun sekurang- kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.”

    Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang.

    Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya. Seorang kawan yang rajin shalat lima waktu baru-baru ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen. Seorang kawan yang berjilbab rapih ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya.

    Lantas dimana letak kesalahannya? Saya kira persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia.

    Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen (inside-out). Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara hidup (way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).

    Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang tiada taranya. Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.

    Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu. Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan di Indonesia, bertemu dengan polisi disana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan: Bobby.

    Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di London. Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya, sayapun perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik, beberapa hari kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian London yang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor kepolisian setempat.

    Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya, saya memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, ”Ambil saja kembalinya.” Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu saya untuk menemukannya.

    Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang yang ”beragama” seharusnya juga menjadi orang yang baik. Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.

    Sumber: Orang Beragama atau Orang Baik? oleh Arvan Pradiansyah, direktur pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) & penulis buku Life is Beautiful

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 1 March 2016 Permalink | Balas  

    Jangan Dekat-dekat pada Zina 

    airmata 2Jangan Dekat-Dekat pada Zina

    Tidak mengherankan kalau seluruh agama Samawi mengharamkan dan memberantas perzinaan. Terakhir ialah Islam yang dengan keras melarang perzinaan serta memberikan ultimatum yang sangat tajam. Karena perzinaan itu dapat mengaburkan masalah keturunan, merusak keturunan, menghancurkan rumahtangga, meretakkan perhubungan, meluasnya penyakit kelamin, kejahatan nafsu dan merosotnya akhlak. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikatakan Allah:

    “Jangan kamu dekat-dekat pada perzinaan, karena sesungguhnya dia itu perbuatan yang kotor dan cara yang sangat tidak baik.” (al-Isra’: 32)

    Islam, sebagaimana kita maklumi, apabila mengharamkan sesuatu, maka ditutupnyalah jalan-jalan yang akan membawa kepada perbuatan haram itu, serta mengharamkan cara apa saja serta seluruh pendahuluannya yang mungkin dapat membawa kepada perbuatan haram itu.

    Justru itu pula, maka apa saja yang dapat membangkitkan seks dan membuka pintu fitnah baik oleh laki-laki atau perempuan, serta mendorong orang untuk berbuat yang keji atau paling tidak mendekatkan perbuatan yang keji itu, atau yang memberikan jalan-jalan untuk berbuat yang keji, maka Islam melarangnya demi untuk menutup jalan berbuat haram dan menjaga daripada perbuatan yang merusak.

    Pergaulan Bebas adalah Haram

    Di antara jalan-jalan yang diharamkan Islam ialah: Bersendirian dengan seorang perempuan lain. Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya yang insya Allah nanti akan kami bicarakan selanjutnya.

    Ini bukan berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya.

    Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut:

    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad)

    “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.”

    Imam Qurthubi dalam menafsirkan firman Allah yang berkenaan dengan isteri-isteri Nabi, yaitu yang tersebut dalam surah al-Ahzab ayat 53, yang artinya: “Apabila kamu minta sesuatu (makanan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Karena yang demikian itu lebih dapat membersihkan hati-hati kamu dan hati-hati mereka itu,” mengatakan: maksudnya perasaan-perasaan yang timbul dari orang laki-laki terhadap orang perempuan, dan perasaan-perasaan perempuan terhadap laki-laki. Yakni cara seperti itu lebih ampuh untuk meniadakan perasaan-perasaan bimbang dan lebih dapat menjauhkan dari tuduhan yang bukan-bukan dan lebih positif untuk melindungi keluarga.

    Ini berarti, bahwa manusia tidak boleh percaya pada diri sendiri dalam hubungannya dengan masalah bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya. Oleh karena itu menjauhi hal tersebut akan lebih baik dan lebih dapat melindungi serta lebih sempurna penjagaannya.

    Secara khusus, Rasulullah memperingatkan juga seorang laki-laki yang bersendirian dengan ipar. Sebab sering terjadi, karena dianggap sudah terbiasa dan memperingan hal tersebut di kalangan keluarga, maka kadang-kadang membawa akibat yang tidak baik. Karena bersendirian dengan keluarga itu bahayanya lebih hebat daripada dengan orang lain, dan fitnah pun lebih kuat. Sebab memungkinkan dia dapat masuk tempat perempuan tersebut tanpa ada yang menegur. Berbeda sekali dengan orang lain.

    Yang sama dengan ini ialah keluarga perempuan yang bukan mahramnya seperti kemanakannya baik dari pihak ayah atau ibu. Dia tidak boleh berkhalwat dengan mereka ini. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Hindarilah keluar-masuk rumah seorang perempuan. Kemudian ada seorang laki-laki dari sahabat Anshar bertanya: Ya Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang ipar? Maka jawab Nabi: Bersendirian dengan ipar itu sama dengan menjumpai mati.” (Riwayat Bukhari)

    Yang dimaksud ipar, yaitu keluarga isteri/keluarga suami. Yakni, bahwa berkhalwat (bersendirian) dengan ipar membawa bahaya dan kehancuran, yaitu hancurnya agama, karena terjadinya perbuatan maksiat; dan hancurnya seorang perempuan dengan dicerai oleh suaminya apabila sampai terjadi cemburu, serta membawa kehancuran hubungan sosial apabila salah satu keluarganya itu ada yang berburuk sangka kepadanya.

    Bahayanya ini bukan hanya sekedar kepada instink manusia dan perasaan-perasaan yang ditimbulkan saja, tetapi akan mengancam eksistensi rumahtangga dan kehidupan suami-isteri serta rahasia kedua belah pihak yang dibawa-bawa oleh lidah-lidah usil atau keinginan-keinginan untuk merusak rumahtangga orang.

    Justru itu pula, Ibnul Atsir dalam menafsirkan perkataan ipar adalah sama dengan mati itu mengatakan sebagai berikut: Perkataan tersebut biasa dikatakan oleh orang-orang Arab seperti mengatakan singa itu sama dengan mati, raja itu sama dengan api, yakni bertemu dengan singa dan raja sama dengan bertemu mati dan api.

    Jadi berkhalwat dengan ipar lebih hebat bahayanya daripada berkhalwat dengan orang lain. Sebab kemungkinan dia dapat berbuat baik yang banyak kepada si ipar tersebut dan akhirnya memberatkan kepada suami yang di luar kemampuan suami, pergaulan yang tidak baik atau lainnya, Sebab seorang suami tidak merasa kikuk untuk melihat dalamnya ipar dengan keluar-masuk rumah ipar tersebut.

    Melihat Jenis Lain dengan Bersyahwat

    Di antara sesuatu yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang perempuan memandang laki-laki. Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina. Seperti kata seorang syair kuno:

    Semua peristiwa, asalnya karena pandangan

    Kebanyakan orang masuk neraka adalah karena dosa kecil

    Permulaannya pandangan, kemudian senyum, lantas beri salam

    Kemudian berbicara, lalu berjanji; dan sesudah itu bertemu.

    Oleh karena itulah Allah menjuruskan perintahnya kepada orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan supaya menundukkan pandangannya, diiringi dengan perintah untuk memelihara kemaluannya.

    Firman Allah:

    “Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya; karena yang demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha meneliti terhadap apa-apa yang kamu kerjakan. Dan katakanlah kepada orang-orang mu’min perempuan: hendaknya mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan jangan menampak-nampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak daripadanya, dan hendaknya mereka itu melabuhkan tudung sampai ke dadanya, dan jangan menampakkan perhiasannya kecuali kepada suaminya atau kepada ayahnya atau kepada mertuanya atau kepada anak-anak laki-lakinya atau kepada anak-anak suaminya, atau kepada saudaranya atau anak-anak saudara laki-lakinya (keponakan) atau anak-anak saudara perempuannya atau kepada sesama perempuan atau kepada hamba sahayanya atau orang-orang yang mengikut (bujang) yang tidak mempunyai keinginan, yaitu orang laki-laki atau anak yang tidak suka memperhatikan aurat perempuan dan jangan memukul-mukulkan kakinya supaya diketahui apa-apa yang mereka rahasiakan dari perhiasannya.” (an-Nur: 30-31)

    Dalam dua ayat ini ada beberapa pengarahan. Dua diantaranya berlaku untuk laki-laki dan perempuan, yaitu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sedang yang lain khusus untuk perempuan.

    Dan kalau diperhatikan pula, bahwa dua ayat tersebut memerintahkan menundukkan sebagian pandangan dengan menggunakan min tetapi dalam hal menjaga kemaluan, Allah tidak mengatakan wa yahfadhu min furujihim (dan menjaga sebagian kemaluan) seperti halnya dalam menundukkan pandangan yang dikatakan di situ yaghudh-dhu min absharihim. Ini berarti kemaluan itu harus dijaga seluruhnya tidak ada apa yang disebut toleransi sedikitpun. Berbeda dengan masalah pandangan yang Allah masih memberi kelonggaran walaupun sedikit, guna mengurangi kesulitan dan melindungi kemasalahatan, sebagaimana yang akan kita ketahui nanti. Dan apa yang dimaksud menundukkan pandangan itu bukan berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan tundukkanlah sebagian suaramu (Luqman 19). Di sini tidak berarti kita harus membungkam mulut sehingga tidak berbicara.

    Tetapi apa yang dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau laki-laki yang beraksi.

    Pandangan yang terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan pandangannya kepada yang dilihatnya itu.

    Oleh karena itu pesan Rasulullah kepada Sayyidina Ali:

    “Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

    Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu perbuatan zina mata.

    Sabda beliau:

    “Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat.” (Riwayat Bukhari)

    Dinamakannya berzina, karena memandang itu salah satu bentuk bersenang-senang dan memuaskan gharizah seksual dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh syara’. Penegasan Rasulullah ini ada persamaannya dengan apa yang tersebut dalam Injil, dimana al-Masih pernah mengatakan sebagai berikut: Orang-orang sebelummu berkata: “Jangan berzinal” Tetapi aku berkata: “Barangsiapa melihat dengan dua matanya, maka ia berzina.”

    Pandangan yang menggiurkan ini bukan saja membahayakan kemurnian budi, bahkan akan merusak kestabilan berfikir dan ketenteraman hati.

    Salah seorang penyair mengatakan:

    “Apabila engkau melepaskan pandanganmu untuk mencari kepuasan hati. Pada satu saat pandangan-pandangan itu akan menyusahkanmu jua. Engkau tidak mampu melihat semua yang kau lihat. Tetapi untuk sebagainya maka engkau tidak bisa tahan.”

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 29 February 2016 Permalink | Balas  

    Pedoman dalam Bekerja 

    kerjaPedoman dalam Bekerja

    Adapun dalam hadis, Rasulullah s.a.w. menyerukan supaya kita berdagang. Anjuran ini garis-garis ketentuannya diperkuat dengan sabda, perbuatan dan taqrirnya.

    Dalam beberapa perkataannya yang sangat bijaksana itu kita dapat mendengarkan sebagai berikut:

    “Pedagang yang beramanat dan dapat dipercaya, akan bersama orang-orang yang mati syahid nanti di hari kiamat.” (Riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim)

    “Pedagang yang dapat dipercaya dan beramanat, akan bersama para Nabi, orang-orang yang dapat dipercaya dan orang-orang yang mati syahid.” (Riwayat al-Hakim dan Tarmizi dengan sanad hasan)

    Kita tidak heran kalau Rasulullah menyejajarkan kedudukan pedagang yang dapat dipercaya dengan kedudukan seorang mujahid dan orang-orang yang mati syahid di jalan Allah, sebab sebagaimana kita ketahui dalam percaturan hidup, bahwa apa yang disebut jihad bukan hanya terbatas dalam medan perang semata-mata tetapi meliputi lapangan ekonomi juga.

    Seorang pedagang dijanji suatu kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah serta pahala yang besar nanti di akhirat karena perdagangan itu pada umumnya diliputi oleh perasaan tamak dan mencari keuntungan yang besar dengan jalan apapun. Harta dapat melahirkan harta dan suatu keuntungan membangkitkan untuk mencapai keuntungan yang lebih banyak lagi. Justru itu barangsiapa berdiri di atas dasar-dasar yang benar dan amanat, maka berarti dia sebagai seorang pejuang yang mencapai kemenangan dalam pertempuran melawan hawa nafsu. Justru itu pula dia akan memperoleh kedudukan sebagai mujahidin.

    Urusan dagang sering menenggelamkan orang dalam angka dan menghitung-hitung modal dan keuntungan, sehingga di zaman Nabi pernah terjadi suatu peristiwa ada kafilah yang membawa perdagangan datang, padahal Nabi sedang berkhutbah sehingga para hadirin yang sedang mendengarkan khutbah itu menjadi kacau dan akhirnya mereka bubar menuju kepada kafilah tersebut.

    Waktu itulah kemudian turun ayat yang berbunyi sebagai berikut:

    “Apabila mereka melihat suatu perdagangan atau bunyi-bunyian, mereka lari ke tempat tersebut dan engkau ditinggalkan berdiri. Oleh karena itu katakanlah (kepada mereka) bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada bunyi-bunyian dan perdagangan itu dan Allah sebaik-baik Zat yang memberi rezeki.” (al-Jumu’ah: 11)

    Oleh karenanya, barangsiapa yang mampu bertahan pada prinsip ini, disertai dengan iman yang kuat, jiwanya penuh taqwa kepada Allah dan lidahnya komat-kamit berzikrullah, maka layak dia akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin dan syuhada’.

    Dari fi’liyah (perbuatan) Rasulullah sendiri kiranya cukup bukti bagi kita untuk mengetahui sampai di mana kedudukan perdagangan itu, bahwa di samping beliau sangat memperhatikan segi-segi mental spiritual sehingga didirikannya masjid di Madinah demi untuk bertaqwa dan mencari keridhaan Allah dengan tujuan sebagai jami’ tempat beribadah, institut, lembaga da’wah dan pusat pemerintahan, maka Rasulullah memperhatikan pula segi-segi perekonomian. Untuk itu maka didirikannya pasar Islam yang langsung berorientasi pada syariat Islam, bukan pasar yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi seperti halnya pasar Qainuqa’ dulu.

    Pasar Islam ini langsung diawasi oleh Rasulullah sendiri. Beliau sendiri yang mentertibkan subjek-subjeknya dan beliau pula yang langsung mengurus dengan memberi bimbingan-bimbingan dan pengarahan-pengarahan. Sehingga dengan demikian tidak ada penipuan, pengurangan timbangan, penimbunan, cukong-cukong dan lain-lain yang insya Allah hadis-hadis yang menerangkan hal itu akan kami tuturkan di bab Mu’amalat nanti dalam fasal halal dan haram tentang kehidupan secara umum bagi setiap muslim.

    Dalam sejarah perjalanan para sahabat Nabi, kita dapati juga, bahwa di antara mereka itu ada yang bekerja sebagai pedagang, pertukangan, petani dan sebagainya.

    Rasulullah berada di tengah-tengah mereka di mana ayat-ayat al-Quran itu selalu turun kepadanya, beliau berbicara kepada mereka dengan bahasa langit, dan Malaikat Jibril senantiasa datang kepadanya dengan membawa wahyu dari Allah. Semua sahabatnya mencintai beliau dengan tulus ikhlas, tidak seorang pun yang ingin meninggalkan beliau walaupun hanya sekejap mata.

    Oleh karena itu, maka kita jumpai seluruh sahabatnya masing-masing bekerja seperti apa yang dikerjakan Nabi, ada yang mengurus korma dan tanaman-tanaman, ada yang berusaha mencari pencaharian dan perusahaan. Dan yang tidak tahu tentang ajaran Nabi, berusaha sekuat tenaga untuk menanyakan kepada rekan-rekannya yang lain. Untuk itu mereka diperintahkan siapa yang mengetahui supaya menyampaikan kepada yang tidak tahu.

    Sahabat Anshar pada umumnya ahli pertanian, sedang sahabat Muhajirin pada umumnya ahli dalam perdagangan dan menempa dalam pasar. Misalnya Abdurrahman bin ‘Auf seorang muhajirin pernah disodori oleh rekannya Saad bin ar-Rabi’ salah seorang Anshar separuh kekayaan dan rumahnya serta disuruhnya memilih dari salah seorang isterinya supaya dapat melindungi kehormatan kawannya itu. Abdurrahman kemudian berkata kepada Saad: Semoga Allah memberi barakah kepadamu terhadap hartamu dan isterimu, saya tidak perlu kepadanya. Selanjutnya kata Abdurrahman: Apakah di sini ada pasar yang bisa dipakai berdagang? Jawab Saad: Ya ada, yaitu pasar Bani Qainuqa’. Maka besok paginya Abdurrahman pergi ke pasar membawa keju dan samin. Dia jual-beli di sana. Begitulah seterusnya, akhirnya dia menjadi seorang pedagang muslim yang kayaraya, sampai dia meninggal, kekayaannya masih bertumpuk-tumpuk.

    Abubakar juga bekerja sebagai pedagang, sehingga pada waktu akan dilantik sebagai khalifah beliau sedang bersiap-siap akan ke pasar. Begitu juga Umar, Usman dan lain-lain.

    Pendirian Gereja Tentang Masalah Dagang

    Begitulah masyarakat Islam dalam menghadapi dunianya dalam naungan agamanya, mereka berdagang, juga membeli. Tetapi perdagangan dan jual-belinya itu tidak sampai melupakan berzikrullah. Dimana waktu itu orang-orang di abad-abad pertengahan kebanyakannya di bawah kekuasaan raja-raja dan negara-negara Eropah Kristen masih bimbang dalam menghadapi pertentangan yang hebat antara fikiran-fikiran apa yang disebut penyelamatan yakni menyelamatkan diri dari dosa yang menyelubunginya. Fikiran ini bertentangan dengan fikiran Aklirus yang menganjurkan berusaha dan berdagang di satu pihak, dan di pihak lain adanya perkataan yang berkumandang, bahwa celakalah manusia yang berani menantang ajaran pemimpin-pemimpin agama (rijaluddin) dan sibuk dengan urusan pencaharian, perusahaan dan perdagangan. Dikatakannya juga, bahwa dosa bukan hanya suatu kejelekan yang pelakunya akan dibalas sesuai dengan banyaknya dosa yang dilakukan, tetapi dosa, seperti yang biasa dikatakan, yaitu dosa abadi dan laknat di bumi dan langit dalam kehidupan di dunia dan akhirat nanti,

    Untuk itu seorang Uskup bernama Agustine mengatakan: “Kesungguhan dalam urusan perdagangan pada hakikatnya suatu dosa, karena dapat memalingkan orang dari ingat kepada Allah,”

    Yang lain pun berkata: “Seseorang yang membeli sesuatu kemudian pulang dan menjualnya lagi dengan tidak ada imbangan yang harus dia lakukannya, maka orang tersebut akan termasuk golongan pedagang yang menjauhkan sorga dan kesuciannya.”

    Pendapat-pendapat ini tidak lebih hanya latah terhadap ajaran-ajaran Paulus yang mengatakan: Bahwa seorang penganut Masehi tidak layak menentang kawannya yang lain dengan suatu pertentangan yang mematikan. Untuk itu, maka tidak ada perdagangan yang berkembang di kalangan orang-orang Masehi.”

    Perdagangan yang Dilarang

    Islam pada prinsipnya tidak melarang perdagangan, kecuali ada unsur-unsur kezaliman, penipuan, penindasan dan mengarah kepada sesuatu yang dilarang oleh Islam. Misalnya memperdagangkan arak, babi, narkotik, berhala, patung dan sebagainya yang sudah jelas oleh Islam diharamkan, baik memakannya, mengerjakannya atau memanfaatkannya.

    Semua pekerjaan yang diperoleh dengan jalan haram adalah suatu dosa. Dan setiap daging yang tumbuh dari dosa (haram), maka nerakalah tempatnya. Orang yang memperdagangkan barang-barang haram ini tidak dapat diselamatkan karena kebenaran dan kejujurannya. Sebab pokok perdagangannya itu sendiri sudah mungkar yang ditentang dan tidak dibenarkan oleh Islam dengan jalan apapun.

    Ini tidak termasuk orang yang memperdagangkan emas dan sutera, karena kedua bahan tersebut halal buat orang-orang perempuan. Justru itu mereka ini kelak di hari kiamat tidak akan dibangkitkan dalam golongan pendurhaka yang ditempatkan di neraka Jahim.

    Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. keluar ke tempat sembahyang, tiba-tiba dilihatnya banyak manusia yang sedang berjual-beli. Kemudian Rasulullah memanggil mereka: Hai para pedagang! … Mereka pun lantas menjawab dan mengangkat kepala dan pandangannya. Maka kata Rasulullah:

    “Sesungguhnya pedagang kelak di hari kiamat akan dibangkitkan sebagai pendurhaka, kecuali orang yang takut kepada Allah, baik dan jujur.” (Riwayat Tarmizi, Ibnu Majah dan Hakim. Kata Tarmizi: hadis ini hasan sahih)

    Dari Watsilah bin al-Asqa’ ia berkata: “Rasulullah pernah keluar menuju kami –sedang kami adalah golongan pedagang– maka kata beliau: ‘Hai para pedagang, hati-hati kamu jangan sampai berdusta.'” (Riwayat Thabarani)

    Untuk itu seorang pedagang harus berhati-hati, jangan sekali-kali dia berdusta, karena dusta itu merupakan bahaya (lampu merah) bagi pedagang. Dan dusta itu sendiri dapat membawa kepada perbuatan jahat, sedang kejahatan itu dapat membawa kepada neraka.

    Di samping itu hindari pula banyak sumpah, khususnya sumpah dusta, sebab Nabi Muliammad s.a.w. pernah bersabda:

    “Tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat Allah nanti di hari kiamat dan tidak akan dibersihkan, serta baginya adalah siksaan yang pedih, salah satu di antaranya ialah: Orang yang menyerahkan barang dagangannya (kepada pembeli) karena sumpah dusta.” (Riwayat Muslim)

    “Dari Abu Said ia berkata: Ada seorang Arab gunung berjalan membawa seekor kambing, kemudian saya bertanya kepadanya: Apa kambing itu akan kamu jual dengan tiga dirham? Ia menjawab: Demi Allah tidak! Tetapi tiba-tiba dia jual dengan tiga dirham juga. Saya utarakan hal itu kepada Nabi, maka kata Nabi: Dia telah menjual akhiratnya dengan dunianya.” (Riwayat Ibnu Hibban)

    Di samping itu si pedagang harus menjauhi penipuan, sebab orang yang menipu itu dapat keluar dari lingkungan umat Islam.

    Hindari pula pengurangan timbangan dan takaran, sebab mengurangi timbangan dan takaran itu membawa celaka, seperti firman Allah: Wailul lil muthaffifin (celakalah orang-orang yang mengurangi takaran).

    Dan hindari pulalah dari penimbunan, sehingga Allah dan RasulNya tidak akan membiarkan dia begitu saja.

    Terakhir, hindarilah perbuatan riba. Karena sesungguhnya Allah akan menghancurkannya.

    Seperti tersebut dalam hadis yang mengatakan:

    “Satu dirham uang riba dimakan oleh seseorang, sedangkan dia tahu (bahwa uang tersebut adalah uang riba), akan lebih berat (siksaannya) daripada tigapuluh enam kali berzina.”37 (R iwayat Ahmad)

    Penjelasan satu persatu persoalannya ini, insya Allah akan kami terangkan nanti di bab Mu’amalat.

    Bekerja Sebagai Pegawai

    Seorang muslim boleh saja bekerja mencari rezeki dengan jalan menjadi pegawai, baik itu pegawai negeri atau swasta, selama dia mampu memikul pekerjaannya dan dapat menunaikan kewajiban. Tetapi di samping itu seorang muslim tidak boleh mencalonkan dirinya untuk suatu pekerjaan yang bukan ahlinya, lebih-lebih menduduki jabatan hakim.

    Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Siallah Amir, siallah kepala dan siallah kasir. Sungguh ada beberapa kaum yang menginginkan kulit-kulitnya itu bergantung di bintang yang tinggi, kemudian mereka akan diulurkan antara langit dan bumi, karena sesungguhnya mereka itu tidak pernah menguasai suatu pekerjaan.” (Riwayat Ibnu Hibban dan al-Hakim, ia sahkan sanadnya)

    Abu Dzar pernah juga meminta kepada Nabi untuk diberi suatu jabatan, maka oleh Nabi ditepuknya pundak Abu Dzar sambil beliau bersabda:

    “Hai Abu Dzar! Engkau orang lemah, kekuasaan adalah suatu amanat dan kelak di hari kiamat akan menyusahkan dan menyesalkan, kecuali orang yang dapat menguasainya karena haknya dan melaksanakan apa yang menjadi tugasnya.” (Riwayat Muslim)

    Dan sabda Rasulullah juga tentang masalah hakim sebagai berikut:

    “Hakim itu ada tiga macam: Satu di sorga dan dua di neraka. Yang di sorga, yaitu seorang hakim yang tahu kebenaran dan ia menghukum dengan kebenaran itu. (2) Seorang laki-laki yang tahu kebenaran tetapi dia menyimpang dari kebenaran itu, maka dia berada di neraka. (3) Seorang laki-laki yang menghukum manusia dengan membabi-buta (bodoh), maka dia di neraka.” (Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Ibnu Majah)

    Jadi sebaiknya seorang muslim tidak perlu ambisi kepada kedudukan-kedudukan yang besar dan berusaha di belakang kedudukan itu sekalipun dia ada kemampuan. Sebab kalau kedudukannya itu dijadikan pelindung, maka kedudukannya itu sendiri akan menghambat dia. Dan barangsiapa mengarahkan setiap tujuannya itu untuk show di permukaan bumi ini, maka dia tidak akan peroleh taufik dari lanqit.

    Telah bersabada Rasulullah s.a.w. kepadaku:

    “Hai Abdurrahman! Jangan kamu minta untuk menjadi kepala, karena kalau kamu diberinya padahal kamu tidak minta, maka kamu akan diberi pertolongan, tetapi jika kamu diberinya itu lantaran minta, maka kamu akan dibebaninya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    “Dari Anas, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: Barangsiapa mencari penyelesaian suatu hukum tetapi dia minta supaya dibela, maka hal itu akan dibebankan kepada dirinya. Dan barangsiapa dipaksakannya, maka Allah akan mengutus Malaikat supaya meluruskannya.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

    Ini, kalau dia tidak tahu, bahwa orang lain tidak akan mampu mengatasi kekosongan itu dan apabila dia tidak tampil niscaya kemaslahatan akan berantakan dan retak tali persoalan. Kalau dia tahu hanya dialah yang mampu, maka dia boleh bersikap seperti apa yang dikisahkan al-Quran kepada kita tentang Nabiullah Yusuf a.s. dimana ia berkata kepada tuannya:

    “Jadikanlah aku untuk mengurus perbendaharaan (gudang) bumi, karena sesungguhnya aku orang yang sangat menjaga dan mengetahui.” (Yusuf: 55)

    Demikianlah tata-tertib Islam dalam mengatur masalah mencari pekerjaan-pekerjaan yang bersifat politis dan sebagainya.

    Kepegawaian yang Diharamkan

    Diperbolehkannya bekerja sebagai pegawai seperti yang kami katakan di atas, diikat dengan suatu syarat tidak menjadi pegawai yang membahayakan kaum muslimin. Oleh karena itu seorang muslim tidak halal bekerja sebagai pegawai atau prajurit dalam ketenteraan yang memerangi kaum muslimin atau bekerja sebagai pegawai dalam suatu pabrik yang memproduksi senjata untuk memerangi kaum muslimin. Dan tidak boleh seorang muslim bekerja sebagai pegawai suatu lembaga yang melawan Islam dan memerangi umatnya. Termasuk juga pegawai yang membantu kepada perbuatan zalim dan haram, seperti pekerjaan yang meribakan uang, tempat arak, tempat dansa atau di tempat-tempat permainan yang kosong dan sebagainya.

    Mereka ini semua tidak dapat dibebaskan dari dosa. Tidak berarti mereka tidak bersekutu dan tidak berbuat haram. Sebab seperti prinsip-prinsip yang telah kami kemukakan sebelumnya, bahwa menolong perbuatan haram berarti haram. Justru itulah Rasulullah s.a.w. melaknat juru tulis riba dan dua orang saksinya sebagaimana dilaknatnya orang yang makan riba. Pembuat dan pelayan yang menuangkan arak dilaknat seperti dilaknat orang yang minum.

    Ini semua berlaku dalam keadaan yang tidak terpaksa (normal) dimana seorang muslim harus memasukinya demi mencari rezeki. Kalau ternyata dalam keadaan yang memaksa, maka dapat dinilai menurut keperluannya itu, yaitu menjadi makruh dengan syarat dia harus tetap berusaha untuk mencari pekerjaan lain yang halal dan jauh dari dosa-dosa.

    Setiap muslim harus menjaga dirinya dari hal-hal yang masih syubhat, dimana syubhat itu dapat menipiskan agama dan melemahkan keyakinan, betapapun besarnya gaji dan berharganya pekerjaan tersebut.

    Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu, beralih kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (Riwayat Ahmad. Tarmizi, Nasa’i, Ibnu Hibban dalam sahihnya dan Hakim, Tarmizi berkata: hadis ini hasan sahih).

    Dan sabdanya pula:

    “Seseorang tidak akan mencapai derajat muttaqin (orang-orang yang taqwa) sehingga ia meninggalkan sesuatu yang mubah karena takut kepada berbuat sesuatu yang dilarang.” (Riwayat Tarmizi)

    Pedoman Secara Umum Tentang Bekerja

    Pedoman secara umum tentang masalah kerja, yaitu Islam tidak membolehkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja mencari uang sesuka hatinya dan dengan jalan apapun yang dimaksud. Tetapi Islam memberikan kepada mereka suatu garis pemisah antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam mencari perbekalan hidup, dengan menitikberatkan juga kepada masalah kemaslahatan umum. Garis pemisah ini berdiri di atas landasan yang bersifat kulli (menyeluruh) yang mengatakan: “Bahwa semua jalan untuk berusaha mencari uang yang tidak menghasilkan manfaat kepada seseorang kecuali dengan menjatuhkan orang lain, adalah tidak dibenarkan. Dan semua jalan yang saling mendatangkan manfaat antara individu-individu dengan saling rela-merelakan dan adil, adalah dibenarkan.”

    Prinsip ini telah ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya:

    “Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu memakan harta-harta saudaramu dengan cara yang batil, kecuali harta itu diperoleh dengan jalan dagang yang ada saling kerelaan dari antara kamu. Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah maha belas-kasih kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan sikap permusuhan dan penganiayaan, maka kelak akan Kami masukkan dia ke dalam api neraka.” (an-Nisa’:29-30)

    Ayat ini memberikan syarat boleh dilangsungkannya perdagangan dengan dua hal:

    1. Perdagangan itu harus dilakukan atas dasar saling rela antara kedua belah pihak.
    2. Tidak boleh bermanfaat untuk satu pihak dengan merugikan pihak lain.

    Syarat kedua ini dapat kita ambil dari kata-kata dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu.

    Perkataan ini ditafsirkan oleh ahli-ahli tafsir dalam dua pengertian yang masing-masing sesuai dengan proporsinya:

    Arti pertama: Satu sama lain tidak boleh bunuh membunuh.

    Arti kedua: Kamu tidak boleh membunuh diri diri kamu dengan tangan-tangan kamu sendiri.

    Walhasil ayat ini memberikan pengertian, bahwa setiap orang tidak boleh merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri (vested interest). Sebab hal demikian, seolah-olah dia menghisap darahnya dan membuka jalan kehancuran untuk dirinya sendiri. Misalnya mencuri, menyuap, berjudi, menipu, mengaburkan, mengelabui, riba dan lain-lain pekerjaan yang diperoleh dengan jalan yang tidak dibenarkan.

    Tetapi apabila sebagian itu diperoleh atas dasar saling suka sama suka, maka syarat yang terpenting jangan kamu membunuh diri kamu itu tidak ada

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 28 February 2016 Permalink | Balas  

    Terlupa Dalam Sholat (2/2) 

    sholat-berjamaahTerlupa Dalam Sholat (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Contoh-Contoh Lupa Sunat Sembahyang

    Sunat-sunat sembahyang itu terbahagi kepada dua:

    1. Sunat ab’ad. Iaitu perkara sunat yang perlu ditampung dengan sujud sahwi apabila ditinggalkan.
    2. Sunat hai’at. Iaitu perkara sunat yang tidak perlu ditampung dengan sujud sahwi apabila ditinggalkan.

    Sunat-sunat ab’ad itu terdiri daripada:

    1. Tasyahhud awal dan duduknya.
    2. Qunut subuh dan qunut witir, dan berdirinya.
    3. Shalawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tasyahhud awal.
    4. Shalawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika qunut.
    5. Shalawat ke atas keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tasyahhud akhir.
    6. Shalawat ke atas keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika qunut.

    Sunat-sunat hai’at pula ialah selain perkara sunat yang disebutkan di atas, antaranya seperti berikut:

    1. Mengangkat kedua belah tangan ketika takbiratulihram, ketika hendak rukuk, ketika bangkit daripada rukuk dan ketika bangkit daripada tasyahhud awal.
    2. Membaca doa iftitah.
    3. Membaca at-ta’auuz sebelum surah al-Fatihah.
    4. Membaca ayat atau surah daripada al-Qur’an selepas al-Fatihah pada dua rakaat permulaan.
    5. Melafazkan takbir ketika takbir intiqalat (takbir perpindahan daripada satu rukun ke satu rukun yang lain.
    6. Membaca tasbih ketika rukuk dan sujud.

    Berbalik pada permasalahan apabila seseorang terlupa untuk melakukan sunat-sunat sembahyang, apakah yang perlu dilakukan jika menghadapi keadaan ini? Berikut adalah beberapa contoh lupa sunat sembahyang dan cara penyelesaiannya.

    1. Lupa Melakukan Sunat Hai’at

    Jika perkara-perkara sunat hai’at ditinggalkan dengan senghaja atau tertinggal dengan sebab lupa, maka sembahyang itu tidak batal, malah tidak disunatkan sujud sahwi. Jika dilakukan juga sujud sahwi itu, sedang dia tahu perbuatan itu salah serta melakukannya dengan senghaja, maka batal sembahyangnya. Lain pula halnya, jika dia tidak mengetahui perkara itu salah atau dilakukannya kerana terlupa, maka tidak batal sembahyang tersebut

    1. Lupa Melakukan Sunat Ab’ad

    Apabila terlupa atau senghaja meninggalkan sunat ab’ad walau tertinggal lebih daripada satu,  maka sunat dilakukan sujud sahwi sebelum memberi salam.

    Umpamanya tertinggal tasyahhud awal, walaupun hanya sebahagian daripada tasyahhud awal itu seperti tertinggal huruf  (WAU) dalam ayat , (WA ANNA MUHAMMADAR-ROSULULLOH) maka disunatkan sujud sahwi sebelum memberi salam.

    Demikian juga qunut subuh atau qunut witir (tidak termasuk qunut nazilah). Jika tertinggal walau hanya satu huruf seperti tertinggal huruf  (FA’) dalam ayat , (FAINNAKA TAQDHI WALA YUQDHO ‘ALAIK) maka disunatkan sujud sahwi.

    1. Ingat Sebelum Sampai Pada Rukun Sembahyang

    Adapun jika teringat sunat ab’ad yang tertinggal itu sebelum intishab (had berdiri yang memadai untuk membaca al-Fatihah) atau sebelum sempurna sujud (iaitu sebelum meletakkan kesemua tujuh anggota sujud), maka sunat kembali untuk melakukan sunat ab’ad yang tertinggal itu.

    Umpamanya seseorang lupa melakukan tasyahhud awal kemudian dia bangkit untuk berdiri, lalu teringat sebelum intishab, maka sunat baginya kembali untuk melakukan tasyahhud awal. Jika bangkitnya itu lebih hampir kepada berdiri berbanding dengan duduk, maka sunat dilakukan sujud sahwi kerana dia melakukan perbuatan yang bukan dalam susunan sembahyang. Adapun jika bangkitnya itu lebih hampir kepada duduk berbanding dengan berdiri ataupun sama kedudukannya, maka tidak disunatkan sujud sahwi.

    Demikian juga halnya jika seseorang teringgal qunut kemudian dia menuju untuk melakukan sujud, lalu teringat sebelum sampai melakukan sujud dengan sempurna, maka sunat kembali untuk melakukan qunut yang tertinggal. Jika perbuatannya menuju kepada sujud itu sampai kepada sekurang-kurang had rukuk (bongkok badan sehingga kedua tapak tangan sampai kepada lutut), maka sunat baginya melakukan sujud sahwi kerana dia telah menambah satu rukuk.

    1. Ingat Setelah Sampai Pada Rukun Sembahyang

    Apabila teringat sunat ab’ad yang tertinggal itu setelah intishab atau sujud, maka tidak boleh kembali pada melakukan sunat ab’ad tersebut. Jika dia kembali pada melakukannya sedangkan dia tahu perbuatan itu salah ataupun senghaja melakukannya, maka batal sembahyangnya itu. Di akhir rakaat pula, sunat sujud sahwi sebelum memberi salam.

    Umpamanya seseorang lupa melakukan tasyahhud awal kemudian teringat setelah dia sampai intishab (berdiri tegak), maka tidak boleh lagi dia kembali pada melakukan tasyahhud awal. Jika dia kembali pada melakukan tasyahhud itu, maka batal sembahyangnya. Lain halnya jika dia kembali pada tasyahhud tersebut dengan sebab lupa atau tidak mengetahui akan kesalahan perbuatan itu, maka tidak batal sembahyangnya.

    Demikian juga dalam keadaan terlupa membaca qunut. Apabila teringat selepas sempurna sujud, maka tidak boleh lagi kembali pada melakukan qunut tersebut.

    1. Syak Pada Meninggalkan Sunat Ab’ad

    Jika seseorang syak pada meninggalkan sunat ab’ad, maka sunat sujud sahwi sebelum memberi salam, kerana pada asalnya dia tidak melakukan sunat ab’ad.

    Umpamanya terjadi syak pada seseorang, adakah dia telah membaca qunut ataupun tidak, atau adakah dia telah melakukan tasyahhud awal ataupun tidak, maka sunat baginya sujud sahwi.

    1. Peranan Makmum Apabila Imam Terlupa Sunat Ab’ad

    Apabila imam tertinggal sunat ab’ad kemudian teringat sebelum intishab atau sujud, lalu imam kembali melakukan yang tertinggal itu, maka wajib makmum mengikutinya walaupun makmum itu sudah intishab atau sujud. Jika makmum tidak kembali untuk mengikuti imamnya, maka batal sembahyangnya jika dia tidak berniat mufaraqah.

    Umpamanya imam tertinggal tasyahhud awal kemudian teringat sebelum imam intishab (berdiri tegak), lalu imam kembali duduk untuk melakukan tasyahhud tersebut, maka makmum wajib mengikuti imamnya itu walaupun makmum tersebut sudah sampai pada intishab.

    Adapun jika imam tertinggal tasyahhud awal kemudian teringat setelah imam intishab, lalu imam kembali pada melakukuan tasyahhud tersebut, maka makmum tidak boleh mengikuti imamnya itu. Ini kerana jika imam itu salah ataupun senghaja kembali pada melakukan tasyahhud awal, maka sembahyang imam itu batal dan makmum tidak boleh mengikuti imam yang batal sembahyangnya. Maka dalam hal ini ada dua cara yang boleh dilakukan oleh makmum. Pertama, hendaklah makmum itu mufaraqah (berpisah daripada mengikuti imam). Ataupun yang kedua, makmum menunggu imamnya dengan sangkaan imam itu kembali kepada tasyahhud awal disebabkan terlupa.

    Jika dalam hal imam kembali pada tasyahhud awal setelah imam intishab, lalu makmum pun mengikuti imamnya kembali pada tasyahhud tersebut, maka batal sembahyang makmum itu. Lain halnya jika makmum itu terlupa ataupun tidak tahu perbuatan itu salah, maka tidak batal sembahyangnya.

    Jika makmum yang terlupa melakukan tasyahhud awal lalu makmum itu berdiri intishab sedangkan imam duduk melakukan tasyahhud awal, maka makmum wajib kembali untuk mengikuti imamnya.

    Cara Mengerjakan Sujud Sahwi

    Sujud sahwi hukumnya adalah sunat apabila meninggalkan perkara yang disuruh dalam sembahyang ataupun membuat perkara yang dilarang sama ada ketika sembahyang fardhu ataupun sembahyang sunat melainkan ketika sembahyang jenazah.

    Cara melakukan sujud sahwi itu ialah dengan dua kali sujud dan sekali duduk antara dua sujud tersebut. Sujud sahwi itu dilakukan sebelum memberi salam. Segala yang diwajibkan dan disunatkan dalam sujud sahwi itu serupa dengan sujud dan duduk antara dua sujud di dalam sembahyang. Hanya ada pendapat mengatakan zikir yang dibaca dalam kedua-dua sujud sahwi itu ialah. (SUBHANA MAN-LA YANAMU WALA YAS-HU). Ini kerana zikir tersebut lebih sesuai dengan keadaannya iaitu lupa.

    Wajib berniat sujud sahwi, iaitu mengqasadkan dalam hati sujud sahwi beriringan ketika hendak melakukan sujud tanpa melafazkan niat tersebut. Jika dilafazkan niat itu maka batal sembahyang.

    Dengan penjelasan-penjelasan mengenai keadaan-keadaan lupa dalam sembahyang dan cara menyelesaikannya, mudah-mudahan akan menambahkan maklumat kita tentang sembahyang dan seterusnya sembahyang kita akan dilakukan dengan lebih sempurna.

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 27 February 2016 Permalink | Balas  

    Terlupa Dalam Sholat (1/2) 

    sholat 3Terlupa Dalam Sholat (1/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Memang tidak dinafikan bahawa lupa itu sering terjadi pada manusia. Dalam pandangan Islam orang yang lupa, tersilap dan dipaksa melakukan perkara dosa adalah dimaafkan. Sebagaimana tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh  Ibnu ‘Abbas daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Allah menggugurkan (dosa) daripada umatku  kerana tersilap, lupa dan yang dipaksa ke atasnya.”

    (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Lupa itu berlaku dalam semua perkara termasuk lupa  dalam sembahyang. Umpamanya terlupa melakukan syarat, rukun atau sunat sembahyang. Untuk lebih jelasnya, dihuraikan beberapa contoh-contoh lupa dalam sembahyang dan cara penyelesaiannya.

    Contoh-Contoh Lupa Syarat Sembahyang

    Syarat sembahyang adalah perkara yang mesti dilakukan sebelum mengerjakan sembahyang dan ia berterusan sehingga selesai sembahyang. Sembahyang tidak akan sah jika syarat-syarat sembahyang itu tidak ditunaikan terlebih dahulu. Syarat sembahyang itu ada lima, iaitu mengetahui waktu sembahyang, menghadap kiblat, menutup aurat, suci daripada hadas dan suci daripada najis.

    Antara contoh-contoh lupa melakukan syarat sembahyang itu seperti seseorang yang terlupa untuk bersuci daripada hadas kecil atau hadas besar. Jika teringat dan yakin yang dia tidak berwudhu atau tidak mandi wajib, maka sembahyang yang dikerjakan dalam keadaannya yang tidak suci itu adalah tidak sah. Walau bagaimanapun dia mendapat pahala atas qashadnya (niatnya) tetapi bukan mendapat pahala atas perbuatan sembahyangnya.

    Demikian juga jika dia memakai pakaian yang bernajis disebabkan lupa, sedang dia telah mengerjakan sembahyang dengan pakaian itu. Apabila teringat dan yakin yang dia memakai pakaian yang bernajis, maka tidak sah sembahyang tersebut. Oleh yang demikian hendaklah dia mengerjakan sembahyang itu semula dengan memakai pakaian yang suci daripada najis.

    Apabila seseorang tidak mengetahui sehingga dia meninggal dunia bahawa pakaian yang dipakainya ketika mengerjakan sembahyang itu ada najis, maka menurut fatwa al-Baghawi, diharapkan daripada kemurahan Allah agar tidak diambil kira. Ini kerana Allah menggugurkan dosa bagi orang yang tersilap, terlupa atau dipaksa.

    Jika terjadi syak pada diri seseorang itu sama ada dia telah berwudhu ataupun tidak, maka tidak sah sembahyangnya kerana dia syak pada asal bersuci sedang asalnya dia tidak bersuci. Adapun jika dia syak sama ada wudhunya batal ataupun tidak, maka sembahyangnya itu sah kerana dia syak pada batalnya wudhu sedangkan pada asalnya wudhunya itu masih ada.

    Contoh-Contoh Lupa Rukun Sembahyang

    Rukun-rukun sembahyang itu terbahagi kepada tiga bahagian:

    1. Rukun qalbi: Rukun yang bersangkut paut dengan hati iaiu niat.
    2. Rukun qauli: Rukun yang bersangkut paut dengan perkataan, seperti takbiratulihram dan membaca surah al-Fatihah.

    iii. Rukun fi’li: Rukun yang bersangkut paut dengan perbuatan, seperti berdiri, rukuk dan sujud.

    Perkara yang sering terjadi dalam sembahyang ialah lupa melakukan tertib sembahyang, sama ada tertib di antara rukun atau tertib di antara sunat-sunat sembahyang. Tertib di antara sunat sembahyang tidak termasuk dalam rukun sembahyang, akan tetapi hanya menjadi syarat untuk dikira sebagai sunat dan bukan menjadi syarat sah sembahyang. Seperti mendahulukan membaca at-ta’auuz  sebelum membaca iftitah, maka dalam hal ini at-ta’auuz itu diulang semula selepas membaca iftitah, kerana at-ta’auuz sebelum itu tidak dikira sebagai sunat, disebabkan ia dibaca bukan pada tempatnya. Demikian juga halnya tertib di antara sunat sembahyang dan rukun sembahyang, seperti mendahulukan membaca surah al-Qur’an sebelum membaca surah al-Fatihah.

    Sementara tertib di antara rukun sembahyang pula adalah termasuk rukun sembahyang. Jika tidak dilakukan tertib itu dengan senghaja umpamanya didahulukan rukun fi’li seperti sujud sebelum rukuk atau rukuk sebelum membaca surah al-Fatihah atau mendahulukan rukun qauli iaitu memberi salam sebelum sujud, maka sembahyang itu batal kerana mempermain-mainkannya.

    Adapun jika didahulukan rukun qauli dengan senghaja (selain memberi salam) sebelum rukun fi’li seperti mendahulukan membaca tasyahhud sebelum sujud ataupun didahulukan rukun qauli sebelum rukun qauli yang lain seperti mendahulukan shalawat sebelum membaca tasyahhud, maka tidaklah batal sembahyang itu akan tetapi hendaklah diulang semula bacaan yang didahulukannya itu (shalawat) kerana ia dibaca bukan pada tempatnya dan tanpa diulang semula yang kena dahului itu (tasyahhud).

    Bagaimana pula keadaannya jika terlupa melakukan rukun sembahyang kemudian teringat rukun yang tertinggal itu ketika dalam sembahyang ataupun sesudah selesai sembahyang. Oleh itu, eloklah disebutkan beberapa contoh-contoh lupa melakukan tertib di antara rukun sembahyang seperti berikut:

    1. Ingat Rukun Yang Tertinggal Sebelum Sampai Pada Rukun Sepertinya Di Rakaat Berikutnya

    Apabila tertinggal rukun sembahyang kemudian ingat ataupun terjadi syak sebelum sampai pada rukun sepertinya di rakaat berikutnya, maka hendaklah dilakukan dengan segera rukun yang tertinggal atau yang disyaki itu. Apa yang dilakukannya selepas rukun yang tertinggal atau yang disyaki itu adalah tidak dikira. Sebelum salam sunat melakukan sujud sahwi, kerana setiap perkara yang boleh membatalkan sembahyang jika dilakukan dengan senghaja adalah disunatkan sujud sahwi.

    Sebagai contoh hal di atas, imam atau munfarid (sembahyang seorang diri) yang lupa membaca surah al-Fatihah, kemudian teringat ketika sedang rukuk. Maka hendaklah dia berdiri semula dengan segera untuk membaca surah al-Fatihah dan rukuknya sebelum itu tidak dikira. Jika dia tidak bangkit dengan segera setelah menyedarinya, maka batal sembahyang itu.

    Imam atau munfarid yang lupa melakukan rukuk, kemudian teringat ketika sedang sujud. Maka hendaklah dia berdiri tegak semula dengan segera untuk melakukan rukuk. Manakala sujudnya sebelum itu tidak dikira.

    Demikian juga halnya jika timbul syak ketika rukuk sama ada dia telah membaca surah al-Fatihah atau tidak, maka hendaklah dia segera bangkit untuk membaca surah al-Fatihah. Jika dia menunggu walau seketika untuk mengingati perkara yang disyakinya itu, maka batallah sembahyangnya. Berbeza halnya jika terjadi syak ketika sedang qiyam (berdiri), syak sama ada dia telah membaca surah al-Fatihah atau tidak. Maka dalam hal ini, bolehlah dia menunggu untuk mengingati perkara yang disyakinya itu.

    1. Ingat Rukun Yang Tertinggal Setelah Sampai Pada Rukun Sepertinya Di Rakaat Berikutnya

    Apabila tertinggal rukun sembahyang kemudian ingat ataupun terjadi syak setelah sampai pada rukun sepertinya (seperti yang tertinggal atau yang disyaki itu), maka memadailah rukun sepertinya itu menjadi ganti kepada rukun yang tertinggal atau yang disyaki itu. Kemudian hendaklah dilakukan baki sembahyang sehingga sempurna rukun dan rakaatnya, kerana perbuatan di antara rukun yang tertinggal dan rukun sepertinya itu tidak dikira. Sebelum memberi salam disunatkan sujud sahwi.

    Untuk jelasnya, imam atau munfarid (sembahyang seorang diri) tertinggal rukuk di rakaat pertama kemudian ingat ataupun terjadi syak ketika rukuk di rakaat kedua, maka memadailah rukuk rakaat kedua itu sebagai ganti rukuk rakaat pertama yang tertinggal atau yang disyaki itu. Apa yang dilakukan antara rukuk rakaat pertama dan rukuk rakaat kedua adalah tidak dikira. Kemudian lakukanlah baki sembahyang sehingga sempurna segala rukun dan rakaat sembahyang itu.

    1. Ingat Rukun Yang Tertinggal Sesudah Memberi Salam

    Ingat rukun yang tertinggal sesudah memberi salam, maka dalam hal ini hendaklah dilihat kadar panjang atau pendeknya masa di antara sesudah memberi salam dan waktu ingat. Hendaklah dilihat juga jenis rukun yang tertinggal itu, sama ada ia niat dan takbiratulihram atau rukun selain keduanya. Jika yang tertinggal itu niat dan takbiratulihram, maka hendaklah diulang semula daripada awal sembahyang itu.

    Adapun jika rukun yang tertinggal itu selain daripada niat dan takbiratulihram serta jangka masa di antara salam dan ingat itu pendek, dan dia tidak terkena najis serta tidak banyak berkata-kata, maka lakukanlah baki rukun yang tertinggal itu tanpa mengulang semula sembahyang. Hal ini telah digambarkan dalam sebuah hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sembahyang bersama kami sama ada sembahyang zohor atau asar. (Pada rakaat kedua) Baginda memberi salam. Berkata Zulyadain kepada Baginda: “Apakah sembahyang dikurangkan wahai Rasulullah?”

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada sahabat-sahabat Baginda: “Adakah benar apa yang dikatakannya itu?”

    Mereka berkata: “Ya!” Maka Baginda menyambung sembahyang dua rakaat yang lain kemudian sujud dua kali (sujud sahwi).”

    (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Kadar jangka masa panjang dan pendek itu adalah mengikut ‘uruf. Diiktibarkan kadar masa pendek itu seperti apa yang dinukil tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada khabar Zulyadain. Dalam khabar Zulyadain itu menggambarkan Baginda bangkit dan pergi ke suatu penjuru masjid, lalu ditanya oleh Zulyadain dan pertanyaan Baginda kepada sahabat serta jawapan mereka. Sementara  kadar masa panjang pula ialah apa yang melebihi daripada kadar masa yang digambarkan dalam khabar Zulyadain tersebut.

    Menurut al-Buwaithi dan Abu Ishaq, bahawa kadar jangka masa panjang itu ialah apa yang melebihi kadar masa serakaat. Sementara menurut Abu Hurairah, bahawa kadar jangka masa panjang itu ialah kadar sembahyang yang sedang dilakukan sama ada dua, tiga atau empat rakaat.

    1. Makmum Terlupa Rukun Sembahyang

    Apabila makmum teringat atau syak meninggalkan surah al-Fatihah sebelum dia melakukan rukuk dan selepas imam telah rukuk, maka hendaklah makmum membaca surah al-Fatihah itu dahulu kemudian bersegera mengikuti imamnya. Dalam hal ini makmum itu dimaafkan terkebelakang daripada imamnya sebanyak tiga rukun yang panjang.

    Sementara jika makmum itu teringat atau syak meninggalkan surah al-Fatihah selepas dia dan imam melakukan rukuk, maka janganlah makmum kembali berdiri untuk membaca surah al-Fatihah. Akan tetapi hendaklah dia mengikuti imamnya dan menambah serakaat selepas imam memberi salam.

    Adapun jika makmum itu teringat atau syak meninggalkan rukun sembahyang selain surah al-Fatihah, maka janganlah dilakukan yang tertinggal itu, bahkan hendaklah dia mengikuti imamnya dan menambah serakaat selepas imam memberi salam.

    Jika makmum itu teringat meninggalkan niat dan takbiratulihram, maka batal sembahyangnya. Demikian juga jika terjadi syak meninggalkan niat dan takbiratulihram dan berpanjangan syaknya sehingga berlalu satu rukun, maka batal sembahyangnya.

    Dalam hal hukum sunat melakukan sujud sahwi pula, tidak disunatkan sujud sahwi jika makmum terlupa sesuatu rukun yang ditinggalkannya ketika mengikuti imam. Ini kerana imam yang suci daripada hadas menanggung kekurangan makmum. Lain pula halnya jika makmum itu terlupa sesuatu rukun selepas salam imam, maka pada ketika itu imam tidak lagi menanggung makmumnya kerana sudah terputus qudwah (ikutan) itu.

    Berlainan halnya apabila terjadi pada makmum syak dan berterusan syaknya itu sehingga selesai mengikuti imam, maka disunatkan bagi makmum itu melakukan sujud sahwi selepas disempurnakannya rukun yang disyakinya itu. Ini kerana imam tidak lagi menanggung syaknya itu bahkan dia sendiri yang menanggungnya.

    1. Peranan Makmum Apabila Imam Terlupa Rukun Sembahyang

    Apabila imam terlupa melakukan perbuatan rukun sembahyang, maka sunat bagi makmum lelaki mengingati imam dengan bertasbih seperti katanya:  (SUBHANALLOH) atau seumpamanya dengan suara yang jahr (nyaring). Bagi makmum perempuan pula sunat menepuk tangannya iaitu menepuk zahir tapak tangan kanan dengan batin tapak tangan kiri atau sebaliknya. Menurut ulama Syafi’eyah, jangan menepuk tangan dengan kedua-dua batin tapak tangan (bertepuk tangan), jika dilakukan demikian itu dengan niat bermain-main maka batal sembahyangnya.

    Jika imam itu teringat rukun yang tertinggal setelah makmum mengingatinya, maka hendaklah imam itu melakukan rukun tersebut. Akan tetapi jika imam itu yakin pada dirinya tidak menambah atau mengurangi rukun sembahyang, maka hendaklah dia beramal dengan keyakinan dirinya tanpa mengikut teguran makmumnya walaupun bilangan makmum itu ramai.

    Dalam keadaan ini, apabila imam meninggalkan dengan senghaja atau lupa untuk melakukan perbuatan rukun sembahyang seperti imam lupa sujud kemudian dia terus berdiri dan tidak kembali kepada yang terlupa itu (sujud), maka tidak boleh makmum itu mengikuti imamnya akan tetapi hendaklah dia berniat mufaraqah (berpisah daripada mengikuti imam) dan makmum menyempurnakan sembahyangnya itu dengan sembahyang seorang diri.

    1. Lupa Atau Syak Bilangan Rakaat

    Seseorang yang syak bilangan rakaat ketika dalam sembahyang, umpamanya adakah dia telah melakukan tiga atau empat rakaat? Maka dalam keadaan ini hendaklah dia mengambil bilangan rakaat yang sedikit. Kemudian melakukan baki sembahyang lalu sujud sahwi sebelum salam.

    Jika teringat pada rakaat yang disyakinya itu sebelum masuk pada rakaat yang lain, maka tidak disunatkan sujud sahwi. Umpamanya di rakaat ketiga terjadi syak pada dirinya sama ada dia telah melakukan tiga atau empat rakaat. Kemudian ia teringat dalam rakaat ketiga itu bahawa dia telah melakukan tiga rakaat. Maka dalam keadaan ini tidaklah disunatkan sujud sahwi. Akan tetapi jika dia teringat sesudah sampai melakukan rakaat keempat, maka hendaklah dia melakukan sujud sahwi sebelum salam.

    Adapun jika terjadi syak selepas memberi salam, sama ada syak pada bilangan rakaat sembahyang ataupun rukun yang lainnya maka tidaklah syak itu memberi kesan apa-apa terhadapnya.

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 2:39 am on 26 February 2016 Permalink | Balas  

    Bekerja dengan Jalan Bercocok-Tanam 

    menanam-pohonBekerja dengan Jalan Bercocok-Tanam

    Di dalam al-Quran Allah menyebutkan tentang masalah mencari rezeki beberapa pokok yang harus ditepati demi suksesnya bercocok-tanam itu.

    Pertama Allah menyebutkan, bahwa bumi ini disediakan Allah untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan memproduksi. Untuk itu Ia jadikan bumi ini serba mudah dan dihamparkan, sebagai suatu nikmat yang harus diingat dan disyukuri.

    Firman Allah:

    “Allah menjadikan bumi ini untuk kamu dengan terhampar supaya kamu menjalani jalan-jalan besarnya.” (Nuh: 19-20)

    “Bumi ini diletakkan Allah untuk umat manusia, di dalamnya penuh dengan buah-buahan dan korma yang mempunyai kelopak-kelopak, biji-bijian yang mempunyai kulit dan berbau harum. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahman: 10-13)

    Yang kedua, Allah menyebutkan tentang air, Ia mudahkannya, dengan diturunkannya melalui jalan hujan dan mengalir di sungai-sungai, kemudian dengan air itu dihidupkanlah bumi yang tadinya mati.

    Firman Allah:

    “Dialah zat yang menurunkan air dari langit, maka dengan air itu kami keluarkan tumbuh-tumbuhan dari tiap-tiap sesuatu, maka kami keluarkan daripadanya pohon yang hijau yang daripadanya kami keluarkan biji-bijian yang bersusun-susun.” (al-An’am: 99)

    “Hendaklah manusia mau melihat makanannya. Kami curahkan air dengan deras, kemudian kami hancurkan bumi dengan sungguh-sungguh hancur kemudian kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur dan sayur-mayur.” (‘Abasa: 24-28)

    Selanjutnya tentang angin yang dilepas Allah dengan membawa kegembiraan, di antaranya dapat menggiring awan dan mengkawinkan tumbuh-tumbuhan. Ini semua tersebut dalam firman Allah:

    “Dan bumi Kami hamparkannya dan Kami tancapkan di atasnya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya dari tiap-tiap sesuatu yang ditimbang. Dan Kami jadikan untuk kamu padanya sumber-sumber penghidupan dan orang-orang yang kamu tidak bisa memberi rezeki kepadanya. Dan tidak ada sesuatu benda melainkan di sisi Kamilah perbendaharaannya, dan Kami tidak menurunkan dia melainkan dengan ukuran tertentu. Dan Kami lepaskan angin untuk mengkawinkan, kemudian Kami turunkan air hujan dari langit, kemudian Kami siram kamu dengan air itu padahal bukanlah kamu yang mempunyai perbendaharaan air itu.” (al-Hijr: 19-22)

    Seluruh ayat-ayat ini merupakan peringatan Allah kepada umat manusia tentang nikmatnya bercocok-tanam serta mudahnya jalan-jalan untuk bercocok-tanam itu. Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman atau menaburkan benih, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan dia itu baginya merupakan sedekah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan sabdanya pula yang artinya sebagai berikut:

    “Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan merupakan sedekah baginya, dan apa yang dicuri juga merupakan sedekah baginya dan tidak juga dikurangi oleh seseorang melainkan dia itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.” (Riwayat Muslim)

    Penegasan hadis tersebut, bahwa pahalanya akan terus berlangsung selama tanaman atau benih yang ditaburkan itu dimakan atau dimanfaatkan, sekalipun yang menanam dan yang menaburkannya itu telah meninggal dunia; dan sekalipun tanaman-tanaman itu telah pindah ke tangan orang lain.

    Para ulama berpendapat: “Dalam keleluasaan kemurahan Allah, bahwa Ia memberi pahala sesudah seseorang itu meninggal dunia sebagaimana waktu dia masih hidup, yaitu berlaku pada enam golongan: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mau mendoakan orang tuanya, tanaman, biji yang ditaburkan dan binatang (kendaraan) yang disediakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.”

    Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang bertemu Abu Darda’ ketika itu dia menanam pohon pala. Kemudian orang laki-laki itu bertanya kepada Abu Darda’: Hai Abu Darda’! Mengapa engkau tanam pohon ini, padahal engkau sudah sangat tua, sedang pohon ini tidak akan berbuah kecuali sekian tahun lamanya. Maka Abu Darda’ menjawab: Bukankah aku yang akan memetik pahalanya di samping untuk makanan orang lain?

    Salah seorang sahabat Nabi ada yang mengatakan:

    “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. membisikkan pada telingaku ini, yaitu: Barangsiapa menanam sebuah pohon kemudian dengan tekun memeliharanya dan mengurusinya hingga berbuah, maka sesungguhnya baginya pada tiap-tiap sesuatu yang dimakan dari buahnya merupakan sedekah di sisi Allah.” (Riwayat Ahmad)

    Dari hadis-hadis ini para ulama berpendapat, bahwa bercocok-tanam (bertani) adalah pekerjaan yang paling baik. Tetapi yang lain berpendapat: Bahwa pertukangan atau pekerjaan tangan merupakan pekerjaan yang paling mulia. Sedang yang lain berpendapat: Daganglah yang paling baik. Sementara ahli penyelidik dan pentashih berpendapat:

    Seharusnya kesemuanya itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan. Kalau masalah bahan makanan yang memang sangat dibutuhkan, maka bercocok-tanam adalah pekerjaan yang lebih utama, karena dapat membantu orang banyak. Kalau yang sangat dibutuhkan itu barang-barang perdagangan karena terputusnya jalan-jalan misalnya, maka berdagang adalah yang lebih utama. Dan kalau yang dibutuhkan itu soal-soal kerajinan/pekerjaan tangan, maka pekerjaan tangan itu adalah lebih utama.33

    Perincian yang terakhir ini kiranya selaras dengan keutamaan pengetahuan ekonomi modern.

    Bercocok-Tanam yang Diharamkan

    Setiap tumbuh-tumbuhan yang diharamkan memakannya atau yang tidak boleh dipergunakan kecuali dalam keadaan darurat, maka tumbuh-tumbuhan tersebut haram ditanam, misalnya: hasyisy (ganja) dan sebagainya.

    Begitu juga tembakau kalau kita berpendapat merokok itu haram, dan inilah yang rajih, maka menanamnya berarti haram. Dan kalau berpendapat makruh, maka menanamnya pun makruh juga.

    Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk menanam sesuatu yang haram untuk dijual kepada orang selain Islam: Sebab selamanya seorang muslim tidak boleh berbuat haram. Oleh karena itu seorang muslim tidak diperkenankan memelihara babi untuk dijual kepada orang Kristen. Dasar ini sebagaimana telah sama-sama kita maklumi, bagaimana Islam mengharamkan menjual anggur yang sudah jelas halalnya itu kepada orang yang diketahui, bahwa anggur tersebut akan dibuat arak.

    Perusahaan dan Mata-Pencaharian

    Islam menekankan umatnya supaya bercocok tanam dan mengangkat ke derajat yang tinggi serta memberikan pahala kepada pelakunya. Tetapi di balik itu Islam sangat benci kalau umatnya itu membatasi aktivitasnya hanya pada bidang pertanian atau terbatas bergelimang di dasar laut.

    Islam tidak senang umatnya menganggap cukup dalam bertani saja dan mengikuti ekor lembu. Ini dapat mengurangi keperluan umat yang sekaligus dihadapkan kepada suatu bahaya. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan, bahwa cara semacam itu merupakan sumber bencana dan bahaya serta kehinaan yang meliliti umat. Kenyataan ini dapat dibenarkan oleh keadaan.

    Untuk itu maka Rasululiah s.a.w. telah menyabdakan:

    “Apabila kamu jual-beli dengan lenah34 dan kamu berpegang pada ekor-ekor sapi, dan senang bercocok-tanam serta meninggalkan jihad, maka Allah akan memberikan suatu kehinaan atas kamu yang tidak dapat dilepaskan dia, sehingga kamu kembali kepada ajaran agamamu.” (Riwayat Abu Daud)

    Kalau begitu, maka sudah seharusnya disamping bercocok-tanam ada juga perusahaan dan mata-pencaharian lain yang kiranya dapat memenuhi unsur-unsur penghidupan yang baik dan standard umat yang tinggi dan bebas, serta negara yang kuat dan kaya-raya.

    Mata-pencaharian dan perusahaan-perusahaan ini bukan hanya dipandang mubah oleh Islam, bahkan sesuai dengan penegasan para ulama dipandangnya sebagai fardhu kifayah’ dengan pengertian, bahwa masyarakat Islami harus memperbanyak dari kalangan umatnya orang-orang yang berpengetahuan, memperbanyak perusahaan dan mata-pencaharian yang kiranya dapat mencukupi kebutuhan masyarakat itu dan dapat mengatasi segala urusannya. Maka apabila terjadi suatu kekosongan baik dari segi pengetahuan ataupun perusahaan dan tidak ada yang mengurusnya, maka seluruh masyarakat Islam itu akan berdosa, khususnya ulil amri (kepala exekutif) dan ahlul hili wal aqdi (lembaga legislatif).

    Imam Ghazali berkata: “Adapun yang termasuk fardhu kifayah, yaitu semua ilmu yang sangat diperlukan sebagai standard untuk mengurusi persoalan-persoalan duniawiah, seperti ilmu kedokteran, karena dia itu amat dibutuhkan demi menjaga kestabilan badani dan seperti ilmu hisab sebagai yang sangat dibutuhkan untuk urusan mu’amalat, pembagian wasiat, waris, dan lain-lain.

    Ilmu-ilmu ini kalau sesuatu negara itu kekosongan orang-orang yang mengerti urusan tersebut, maka seluruh penduduk negeri tersebut berdosa. Tetapi kalau ada seorang yang bekerja untuk persoalan ini, sudah dianggap cukup dan gugurlah kewajiban itu dari yang lain.

    Justru itu tidak mengherankan kalau kita katakan: Bahwa ilmu kedokteran (kesehatan) dan hisab termasuk fardhu kifayah. Begitu juga pokok perindustrian seperti ilmu pertanian, pertenunan dan siasah bahkan ilmu bekam dan klermaker termasuk juga fardhu kifayah. Sebab kalau suatu negara kefakiman ahli bekam, niscaya kebinasaan mengancam, yang berarti pula mereka menyerahkan dirinya kepada kebinasaan. Padahal Zat yang menurunkan penyakit, Dia juga menurunkan obatnya dan Ia membimbing umat manusia untuk menggunakan obat-obatan tersebut dan telah juga dipersiapkan cara-cara untuk menemukannya. Oleh karena itu kita tidak boleh mencampakkan diri kepada kebinasaan dengan cara meremehkan persoalan tersebut.”35

    Al-Quran telah mengisyaratkan supaya memperbanyak bidang-bidang perindustrian dengan disebutnya sebagai nikmat kurnia Allah. Misalnya firman Allah yang menceriterakan tentang Nabi Daud:

    “Dan Kami lunakkan besi baginya. Hendaklah kamu membuat baju besi yang panjang dan ukurlah dalam lubangnya.” (Saba’: 10- 11)

    “Dan Kami ajar dia untuk membuat pakaian buat kamu untuk menjaga kamu dari bahayamu, apakah kamu mau berterimakasih?” al-Anbiya’: 80)

    Kemudian tentang Nabi Sulaiman, Allah berfirman juga:

    “Dan Kami alirkan kepadanya mata air tembaga, dan dari antara jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya, dan barangsiapa yang berpaling di antara mereka dari perintah Kami, maka akan Kami rasakan dia dari siksaan api yang, menyala. Para jin itu bekerja untuk Sulaiman menurut apa yang ia inginkan, misalnya gedung-gedung yang tinggi, patung patung dan piring-piring model kolam dan kuali yang tetap. Kerjakanlah hai keluarga Daud dengan penuh kesyukuran.” (Saba’: 12-13)

    Dan tentang Dzul Qarnain dengan bendungan raksasanya (great wall) itu, Allah berfirman:

    “Dia berkata: Apa yang Tuhanku tetapkan aku padanya lebih baik. Oleh karena itu bantulah aku dengan sungguh-sungguh, maka akan kubuat satu bendungan (pembatas) antara kamu dan mereka. Bawalah kepadaku kepingan-kepingan besi sehingga apabila sudah sama antara dua gunung itu, ia pun berkata: Tiuplah. Sehingga apabila ia telah jadikan api, maka ia berkata: Bawalah kepadaku akan kutuangi tembaga di atasnya. Dengan demikian maka mereka tidak dapat mendakinya dan tidak dapat melubanginya.” (al-Kahfi: 95-97)

    Selanjutnya tentang kisah Nabi Nuh dengan cara membuat perahunya, dimana Allah memberikan isyarat betapa besarnya perahunya itu bagaikan gunung yang akan mengarungi laut.

    Maka firman Allah:

    “Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah adanya perahu di laut bagaikan gunung.” (as-Syura: 32)

    Dalam beberapa surah, Allah banyak menyebutkan tentang masalah cara-cara berburu dengan segala macam bentuk dan jenisnya, sejak dari cara berburu ikan dan binatang-binatang laut sampai kepada berburu binatang darat. Disebutkan juga bagaimana cara menyelam untuk mengeluarkan lulu’ (mutiara), marjan dan sebagainya.

    Lebih dari itu semua, al-Quran telah menyadarkan manusia akan nilai daripada besi yang belum pernah dibicarakan oleh kitab-kitab agama sebelumnya. Maka setelah Allah menyebutkan tentang diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab, kemudian Allah berfirman:

    “Dan kami turunkan besi, yang padanya ada kekuatan yang sangat dan bermanfaat buat manusia.” (al-Hadid: 25)

    Oleh karena itu tidak mengherankan, kalau surah yang membicarakan masalah besi ini disebut juga surah al-Hadid (besi).

    Seluruh perusahaan dan mata-pencaharian yang dapat menutupi kebutuhan masyarakat atau yang dapat mendatangkan manfaat yang nyata, maka semua itu termasuk amal saleh apabila semua itu dilakukan dengan ikhlas dan dilaksanakan menurut perintah agama.

    Islam menganggap tinggi beberapa pekerjaan yang kadang-kadang oleh manusia dinilai sangat rendah, misalnya menggembala kambing yang biasa diabaikan oleh manusia. Malah mereka tidak mau menilainya sebagai pekerjaan yang baik. Namun Rasulullah s.a.w. tetap berkata:

    “Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan dia itu menggembala kambing. Waktu para sahabat mendengar perkataan itu, mereka kemudian bertanya: Dan engkau, ya Rasulullah? Jawab Nabi: Ya! Saya juga menggembala kambing dengan upah beberapa karat, milik penduduk Makkah.” (Riwayat Bukhari)

    Muhammad sebagai utusan Allah dan penutup sekalian Nabi, juga menggembala kambing, dan itupun bukan kambingnya sendiri tetapi ia menggembala dengan upah milik sebagian penduduk Makkah. Diterangkannya ini kepada umatnya untuk mengajar mereka, bahwa kebesaran justru dimiliki oleh orang-orang yang suka bekerja, bukan oleh orang yang suka berfoya-foya dan penganggur.

    Al-Quran pun mengkisahkan kepada kita tentang kisah Nabi Musa a.s., bahwa dia juga bekerja sebagai buruh bagi seorang yang sangat tua. Dia bekerja sebagai buruh selama 8 tahun sebagai persyaratan untuk dikawinkan dengan salah seorang puterinya. Nabi Musa dinilai orang tua tersebut sebagai pekerja yang baik dan buruh yang terpuji. Maka benarlah dugaan puteri orang tua itu, di mana salah satunya ada yang berkata: “Hai, ayah! Ambillah buruh dia itu, karena sebaik-baik orang yang engkau ambil buruh haruslah orang yang kuat dan terpercaya.” (al-Qashash: 26).

    Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa Daud bekerja sebagai tukang besi untuk membuat baju besi. Adam bekerja sebagai petani, Nuh sebagai tukang kayu, Idris sebagai klermaker sedang Musa sebagai penggembala kambing. (Riwayat Hakim).

    Untuk itulah setiap muslim harus menyiapkan diri untuk mencari pencaharian, sebab tidak seorang nabi pun kecuali bekerja dalam salah satu lapangan pencaharian.

    Nabi Muhammad s.a.w. dalam salah satu hadisnya mengatakan:

    “Tidak makan seseorang satu makanan sedikitpun yang lebih baik, melainkan dia makan atas usahanya sendiri,dan Nabi Daud makan dari hasil pekerjaanya sendiri.” (Riwayat Bukhari)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 25 February 2016 Permalink | Balas  

    Bekerja dan Usaha 

    kerja kerasBekerja dan Usaha

    FIRMAN Allah:

    “Dialah zat yang menjadikan bumi ini mudah buat kamu. Oleh karena itu berjalanlah di permukaannya dan makanlah dari rezekinya.” (al-Mulk: 15)

    Ayat ini merupakan mabda’ (prinsip) Islam. Bumi ini oleh Allah diserahkan kepada manusia dan dimudahkannya. Justru itu manusia harus memanfaatkan nikmat yang baik ini serta berusaha di seluruh seginya untuk mencari anugerah Allah itu.

    Diamnya Orang yang Mampu Bekerja adalah Haram

    Setiap muslim tidak halal bermalas-malas bekerja untuk mencari rezeki dengan dalih karena sibuk beribadah atau tawakkal kepada Allah, sebab langit ini tidak akan mencurahkan hujan emas dan perak.

    Tidak halal juga seorang muslim hanya menggantungkan dirinya kepada sedekah orang, padahal dia masih mampu berusaha untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri dan keluarga serta tanggungannya. Untuk itu Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Sedekah tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan sempurna.” (Riwayat Tarmizi)

    Dan yang sangat ditentang oleh Nabi serta diharamkannya terhadap diri seorang muslim, yaitu meminta-minta kepada orang lain dengan mencucurkan keringatnya. Hal mana dapat menurunkan harga diri dan karamahnya padahal dia bukan terpaksa harus minta-minta.

    Kepada orang yang suka minta-minta padahal tidak begitu memerlukan, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Orang yang minta-minta padahal tidak begitu memerlukan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api.” (Riwayat Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya)

    Dan sabdanya pula:

    “Barangsiapa meminta-minta pada orang lain untuk menambah kekayaan hartanya tanpa sesuatu yang menghajatkan, maka berarti dia menampar mukanya sampai hari kiamat, dan batu dari neraka yang membara itu dimakannya. Oleh karena itu siapa yang mau, persedikitlah dan siapa yang mau berbanyaklah.” (Riwayat Tarmizi)

    Dan sabdanya pula:

    “Senantiasa minta-minta itu dilakukan oleh seseorang di antara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong daging.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Suara yang keras ini dicanangkan oleh Rasulullah, demi melindungi harga diri seorang muslim dan supaya seorang muslim membiasakan hidup yang suci serta percaya pada diri sendiri dan jauh dari menggantungkan diri pada orang lain.

    Bilakah Minta-Minta Itu Diperkenankan?

    Namun Rasulullah s.a.w. masih juga memberikan suatu pembatas justru karena ada suatu kepentingan yang mendesak. Oleh karena itu barangsiapa sangat memerlukan untuk meminta-minta atau mohon bantuan dari pemerintah dan juga kepada perorangan, maka waktu itu tidaklah dia berdoa untuk mengajukan permintaan.

    Karena ada sabda Nabi:

    “Sesungguhnya meminta-minta itu sama dengan luka-luka, yang dengan meminta-minta itu berarti seseorang melukai mukanya sendiri, oleh karena itu barangsiapa mau tetapkanlah luka itu pada mukanya, dan barangsiapa mau tinggalkanlah, kecuali meminta kepada sultan atau meminta untuk suatu urusan yang tidak didapat dengan jalan lain.” (Riwayat Abu, Daud dan Nasa’i)

    Qabishah bin al-Mukhariq berkata:

    “Saya menanggung suatu beban yang berat, kemudian saya datang kepada Nabi untuk meminta-minta, maka jawab Nabi: Tinggallah di sini sehingga ada sedekah datang kepada saya, maka akan saya perintahkan sedekah itu untuk diberikan kepadamu. Lantas ia pun berkata: Hai Qabishah! Sesungguhnya minta-minta itu tidak halal, melainkan bagi salah satu dari tiga orang: (1) Seorang laki-laki yang menanggung beban yang berat, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia dapat mengatasinya kemudian sesudah itu dia berhenti. (2) Seorang laki-laki yang ditimpa suatu bahaya yang membinasakan hartanya, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia mendapatkan suatu standard untuk hidup. (3) Seorang laki-laki yang ditimpa suatu kemiskinan sehingga ada tiga dari orang-orang pandai dari kaumnya mengatakan: Sungguh si anu itu ditimpa suatu kemiskinan, maka halallah baginya meminta-minta sehingga dia mendapatkan suatu standard hidup. Selain itu, meminta-minta hai Qabishah, adalah haram, yang melakukannya berarti makan barang haram.” (Riwayat Muslim, Abu Daud dan Nasa’i)

    Jaga Harga Diri dengan Bekerja

    Nabi menghapuskan semua fikiran yang menganggap hina terhadap orang yang bekerja, bahkan beliau mengajar sahabat-sahabatnya untuk menjaga harga diri dengan bekerja apapun yang mungkin, serta dipandang rendah orang yang hanya menggantungkan dirinya kepada bantuan orang lain.

    Maka sabda Nabi:

    “Sungguh seseorang yang membawa tali, kemudian ia membawa seikat kayu di punggungnya lantas dijualnya, maka dengan itu Allah menjaga dirinya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka yang diminta itu memberi atau menolaknya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Untuk itu setiap muslim dibolehkan bekerja, baik dengan jalan bercocok-tanam, berdagang, mendirikan pabrik, pekerjaan apapun atau menjadi pegawai, selama pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak dilakukan dengan jalan haram, atau membantu perbuatan haram atau bersekutu dengan haram.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:34 am on 24 February 2016 Permalink | Balas  

    Memelihara Anjing 

    anjingMemelihara Anjing Tanpa Ada Keperluan

    Termasuk yang dilarang oleh Nabi ialah memelihara anjing di dalam rumah tanpa ada suatu keperluan.

    Banyak kita ketahui, ada beberapa orang yang berlebih-lebihan dalam memberikan makan anjingnya, sedang kepada manusia mereka sangat pelit. Ada pula yang kita saksikan orang-orang yang tidak cukup membiayai anjingnya itu dengan hartanya untuk melatih anjing, bahkan seluruh hatinya dicurahkan kepada anjing itu, sedang dia acuh tak acuh terhadap kerabatnya dan melupakan tetangga dan saudaranya.

    Adanya anjing dalam rumah seorang muslim memungkinkan terdapatnya najis pada bejana dan sebagainya karena jilatan anjing itu.

    Dimana Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

    “Apabila anjing menjilat dalam bejana kamu, maka cucilah dia tujuh kali, salah satu di antaranya dengan tanah. ” (Riwayat Bukhari)

    Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa hikmah dilarangnya memelihara anjing di rumah ialah: Kalau anjing itu menyalak dapat menakutkan tetamu yang datang, bisa membuat lari orang-orang yang datang akan meminta dan dapat mengganggu orang yang sedang jalan.

    Rasulullah s.a.w. pernah mengatakan:

    “Malaikat Jibril datang kepadaku, kemudian ia berkata kepadaku sebagai berikut: Tadi malam saya datang kepadamu, tidak ada satupun yang menghalang-halangi aku untuk masuk kecuali karena di pintu rumahmu ada patung dan di dalamnya ada korden yang bergambar, dan di dalam rumah itu ada pula anjing. Oleh karena itu perintahkanlah supaya kepala patung itu dipotong untuk dijadikan seperti keadaan pohon dan perintahkanlah pula supaya korden itu dipotong untuk dijadikan dua bantal yang diduduki, dan diperintahkanlah anjing itu supaya dikeluarkan (Riwayat Abu Daud, Nasa’I, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

    Anjing yang dilarang dalam hadis ini hanyalah anjing yang dipelihara tanpa ada keperluan.

    Memelihara Anjing Pemburu dan Penjaga, Hukumnya Mubah

    Adapun anjing yang dipelihara karena ada kepentingan, misalnya untuk berburu, menjaga tanaman, menjaga binatang dan sebagainya dapat dikecualikan dari hukum ini. Sebab dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan lain-lain, Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Barangsiapa memelihara anjing, selain anjing pemburu atau penjaga tanaman dan binatang, maka pahalanya akan berkurang setiap hari satu qirat.” (Riwayat Jamaah)

    Berdasar hadis tersebut, sebagian ahli fiqih berpendapat, bahwa larangan memelihara anjing itu hanya makruh, bukan haram, sebab kalau sesuatu yang haram samasekali tidak boleh diambil/dikerjakan baik pahalanya itu berkurang atau tidak.

    Dilarangnya memelihara anjing dalam rumah, bukan berarti kita bersikap keras terhadap anjing atau kita diperintah untuk membunuhnya. Sebab Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Andaikata anjing-anjing itu bukan umat seperti umat-umat yang lain, niscaya saya perintahkan untuk dibunuh.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

    Dengan hadis tersebut Nabi mengisyaratkan kepada suatu pengertian yang besar dan realita yang tinggi sekali nilainya seperti halnya yang ditegaskan juga oleh al-Quran:

    “Tidak ada satupun binatang di bumi dan burung yang terbang dengan dua sayapnya, melainkan suatu umat seperti kamu juga.” (al-An’am: 38)

    Rasulullah pernah juga mengkisahkan kepada para sahabatnya tentang seorang laki-laki yang menjumpai anjing di padang pasir, anjing itu menyalak-nyalak sambil makan debu karena kehausan. Lantas orang laki-laki tersebut menuju sebuah sumur dan melepas sepatunya kemudian dipenuhi air, lantas minumlah anjing tersebut dengan puas.

    Setelah itu Nabi bersabda:

    “Karena itu Allah berterimakasih kepada orang yang memberi pertolongan itu serta mengampuni dosanya.” (Riwayat Bukhari)

    Pengetahuan Ilmu Modern Tentang Memelihara Anjing

    Barangkali akan kita jumpai di tempat-tempat kita ini beberapa orang yang sedang asyik terhadap Barat, sehingga mereka menganggap Barat itu mempunyai kehalusan budi dan perikeimanusiaan yang tinggi serta menaruh kasih-sayang kepada semua binatang yang hidup. Mereka menganggapnya, bahwa Islam itu bersikap keras terhadap binatang yang dapat dipercaya, tunduk dan beramanat.

    Kepada mereka ini akan kami bawakan suatu artikel ilmiah yang sangat berharga sekali, ditulis oleh seorang sarjana spesialis dari Jerman. Artikel tersebut menjelaskan betapa bahayanya yang akan ditimbulkan karena memelihara anjing. Ia mengatakan: “Bertambahnya musibah yang diderita umat manusia pada tahun terakhir yang disebabkan oleh anjing, memaksa kita untuk memperhatikan secara khusus tentang betapa bahaya yang nampak sekali yang disebabkan oleh anjing, lebih-lebih situasinya bukan terbatas karena memelihara itu, tetapi sampai kepada bermain-main dan menciumi serta mengusap-usap anjing dengan tangan oleh anak-anak kecil dan orang-orang dewasa. Bahkan banyak sekali anjing-anjing itu menjilat bekas bekas makanan yang ada di piring orang tempat menyimpan makanan dan minuman manusia.”

    Kebiasaan-kebiasaan jelek yang kami sebutkan di atas akan sangat bertentangan dengan perasaan yang sehat dan tidak mungkin dapat diterima oleh kesopanan manusia. Lebih lebih persoalan ini sangat kontradiksi dengan kebersihan dan kesehatan. Tetapi kami tidak akan membicarakan persoalan ini ditinjau dari segi tersebut, karena telah menyimpang dari pokok persoalan yang sedang dibahas dalam studi ilmiah ini. Biarlah itu kita serahkan kepada masalah pendidikan budi-pekarti dan pendidikan jiwa untuk menentukannya.

    Di sini akan kita tinjau dari segi kesehatan –dan itulah yang kami anggap sangat urgen dalam pembahasan ini– sebab bahaya yang sangat mengancam kesehatan manusia dan kehidupannya yang disebabkan memelihara anjing tidak boleh dianggap remeh. Banyak orang yang terpaksa harus mengorbankan uang yang tidak sedikit karena digigit oleh anjing, apabila cacing pita anjing itu justru yang menyebabkan penyakit yang berkepanjangan. Bahkan tidak kurang juga penderita yang akhirnya menemui ajalnya.

    Cacing ini bentuknya sangat kecil sekali, dan disebut cacing pita anjing. Cacing ini akan tampak pada diri manusia dalam bentuk jerawat. Cacing ini terdapat juga pada binatang-binatang lain terutama babi, tetapi pertumbuhannya tidak secepat cacing pita anjing. Terdapat juga pada anak-anak anjing hutan dan serigala, tetapi jarang ada pada kucing.

    Cacing pita anjing ini berbeda sangat dengan cacing-cacing pita lainnya, dan sangat kecil sekali, sehingga hampir-hampir tidak dapat dilihat, dan tidak dikira dia itu hidup kecuali setelah beberapa tahun lamanya

    Selanjutnya Dr. Graard Pentsmar menulis artikel tersebut berkata: Perkembangan tumbuhnya cacing pita anjing ini dalam ilmu hewan ada beberapa keanehan tersendiri, misalnya satu telur dapat menumbuhkan kepala-kepala cacing pita yang banyak sekali dengan membawa bisul-bisul (jerawat) yang timbul karena cacing tersebut. Telur-telur ini akan memungkinkan untuk menumbuhkan jerawat-jerawat yang berbeda-beda pula. Demikianlah, bahwa kepala-kepala cacing yang ditumbuhkan karena bisul-bisul itu akan berubah menjadi cacing-cacing pita lagi yang dapat terbentuk dengan sempurna dan berkembang dalam usus-usus anjing.

    Cacing-cacing ini tidak dapat tumbuh pada diri manusia dan hewan, melainkan berupa jerawat-jerawat dan bisul-bisul baru yang satu lama lain sangat berbeda dengan cacing pita itu sendiri. Bisul yang terdapat pada binatang tidak bisa lebih dari sebesar kepal, dan itupun sebenarnya sangat jarang sekali. Justru itu kalau diperhatikan, bahwa timbangan hati akan bisa bertambah yang kadang-kadang tambahnya itu mencapai 5 sampai 10 kali dari berat hati biasa. Tetapi bisul yang ada pada manusia bisa mencapai sebesar kepal tangan atau sebesar kepala anak kecil dan penuh dengan nanah yang beratnya 10 sampai 20 kati.

    Kebanyakan bisul ini menyerang hati manusia dan akan nampak dalam bentuknya yang berbeda-beda, tetapi, kebanyakan kemudian pindah pada paru-paru, lengan, limpa dan anggota yang lain. Semua ini dapat berubah bentuk maupun keadaannya dengan perubahan yang besar sekali, sehingga dalam waktu relatif pendek sukar untuk dapat dibedakan dari yang biasa.

    Walhasil, bahwa bisul ini kalau sampai timbul sangat mengancam kesehatan dan hidupnya si penderita dan berat untuk kita bisa mengetahui perkembangan sejarah hidupnya, membiaknya dan membentuknya. Sampai hari ini belum ada jalan untuk mengobatinya. Cuma kadang-kadang cacing-cacing ini akan mati dengan sendirinya dan kadang-kadang justru bahan-bahan yang tidak dapat diterima oleh tubuh itu sendiri yang bekerja untuk membinasakan kuman-kuman tersebut. Menurut penyelidikan yang mutakhir, bahwa tubuh manusia yang dalam keadaan seperti ini justru menjadi bahan obat untuk melawan kuman tersebut serta mematikan bekerjanya racun.

    Dan yang sangat menyedihkan, bahwa matinya cacing-cacing itu jarang sekali tidak meninggalkan pengaruh dan menimbulkan bahaya, dibandingkan dengan lainnya. Lebih-lebih cara untuk memberantas penyakit ini dengan jalan kimia tidak lagi berguna. Satu-satunya jalan ialah dengan operasi. Lama tidak dioperasi si penderita tidak akan dapat lolos dari mara-bahaya. Yakni pengobatan cara lain tidak lagi berguna.

    Sebab-sebab ini semua, memaksa kita untuk berbuat cara-cara yang mungkin guna memberantas penyakit yang sangat berbahaya demi melindungi manusia dari bahaya yang datangnya misterius itu.

    Prof. Dr. Nawalr dalam analisanya tentang bangkai di Jerman, mengatakan: Bahwa di Jerman penderitaan yang dialami oleh umat manusia yang disebabkan bisul cacing pita anjing tidak kurang dari 1% atau lebih. Sedang negara-negara lain yang diserang penyakit ini, yaitu di bagian selatan Nederland, Daimasia, Krim, Islandia, Tenggara Australia, propinsi Frisland di negeri Belanda dimana anjing-anjing selalu dipakai untuk menarik, maka penderitaan yang ditimbulkan karena cacing pita tidak kurang dari 12%. Sedang di Islandia sendiri antara 43% penduduk negara tersebut yang menderita karena bisul cacing pita.

    Kalau kita sudah tahu betapa kerugian yang akan menimbulkan makanan manusia yang ditimbulkan oleh binatang yang membahayakan ini sampai kepada bahaya yang mengancam kesehatan manusia karena adanya cacing pita itu, maka tidak seorang pun yang akan menentang, bahwa menjauhkan binatang ini adalah termasuk salah satu keharusan, demi menjaga dan melindungi makanan rakyat. Lebih-lebih segi-segi yang mungkin dapat menyelamatkannya hingga kini masih sangat mengkawatirkan. Dari saat ke saat, wabah ini akan menular.

    Jalan yang paling ampuh untuk memberantas wabah ini ialah kita harus bekerja dengan giat untuk mengurung cacing pita ini hanya pada anjing dan dijaga jangan sampai tersebar luas. Hal ini kita tempuh, justru kita tidak lagi mampu untuk melarang orang jangan memelihara anjing samasekali … Dan jangan dilupakan juga kita harus mengobati anjing itu sendiri, yaitu dengan jalan menghilangkan cacing pitanya yang terdapat dalam usus-ususnya itu. Caranya ialah mengoperasi anjing-anjing tersebut, dan ini telah biasa dilakukan terhadap anjing pelacak dan penjaga.

    Dan demi menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup manusia, dapat juga kiranya dijaga dengan teliti sekali, jangan bermain-main dan berdekat-dekat dengan anjing. Begitu pula anak-anak supaya tidak membiasakan bergaul dengan anjing, jangan biarkan tangannya dijilat anjing dan jangan diperkenankan anjing-anjing itu tinggal di tempat bermainnya anak-anak. Sebab sangat disesalkan, sering kita lihat ada beberapa anjing yang berkeliaran di tempat-tempat olahraga anak-anak.

    Disamping itu harus disediakan pula bejana-bejana khusus untuk makanan anjing. Jangan dibiarkan anjing-anjing itu menjilat piring-piring yang biasa dipakai makan manusia. Jangan pula dibiarkan anjing-anjing itu keluar-masuk di kedai-kedai makanan, pasar-pasar umum, warung-warung dan sebagainya. Dan semua orang pun harus mengambil bagian khusus untuk menghindarkan anjing dari apa saja yang bersentuhan dengan makanan dan minuman manusia.

    Dengan demikian, maka kita pun tahu betapa Nabi Muhammad melarang kita untuk bergaul dengan anjing dan memperingatkan kita jangan sampai bejana-bejana kita itu dijilat oleh anjing serta melarang memelihara anjing, kecuali karena diperlukan. Betapa pula sesuainya ajaran Muhammad dengan pengetahuan modern dan ilmu kedokteran yang mutakhir!

    Dalam hal ini kami tidak akan memperpanjang perkataan, kiranya cukup apa yang dikatakan al-Quran:

    “Muhammad tidak berbicara yang keluar dari hawa nafsunya. Tidak lain yang dikatakan itu melainkan wahyu yang diwahyukan.” (an-Najm: 3-4)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 23 February 2016 Permalink | Balas  

    Gambar yang Terhina adalah Halal 

    kesetGambar yang Terhina adalah Halal

    Setiap perubahan dalam masalah gambar yang tidak mungkin diagung-agungkan sampai kepada yang paling hina, dapat pindah dari lingkungan makruh kepada lingkungan halal. Dalam hal ini ada sebuah hadis yang menerangkan, bahwa Jibril a.s. pernah minta izin kepada Nabi untuk masuk rumahnya, kemudian kata Nabi kepada Jibril:

    “Masuklah! Tetapi Jibril menjawab: Bagaimana saya masuk, sedang di dalam rumahmu itu ada korden yang penuh gambar! Tetapi kalau kamu tetap akan memakainya, maka putuskanlah kepalanya atau potonglah untuk dibuat bantal atau buatlah tikar.” (Riwayat Nasa’i Ban Ibnu Hibban)

    Oleh karena itulah ketika Aisyah melihat ada tanda kemarahan dalam wajah Nabi karena ada korden yang banyak gambarnya itu, maka korden tersebut dipotong dan dipakai dua sandaran, karena gambar tersebut sudah terhina dan jauh daripada menyamai gambar-gambar yang diagung-agungkan.

    Beberapa ulama salaf pun ada yang memakai gambar yang terhina itu, dan mereka menganggap bukan suatu dosa. Misalnya Urwah, dia bersandar pada sandaran yang ada gambarnya, di antaranya gambar burung dan orang laki-laki. Kemudian Ikrimah berkata: Mereka itu memakruhkan gambar yang didirikan (patung) sedang yang diinjak kaki, misalnya di lantai, bantal dan sebagainya, mereka menganggap tidak apa-apa.

    Photografi

    Satu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa semua persoalan gambar dan menggambar, yang dimaksud ialah gambar-gambar yang dipahat atau dilukis, seperti yang telah kami sebutkan di alas.

    Adapun masalah gambar yang diambil dengan menggunakan sinar matahari atau yang kini dikenal dengan nama fotografi, maka ini adalah masalah baru yang belum pernah terjadi di zaman Rasulullah s.a.w. dan ulama-ulama salaf. Oleh karena itu apakah hal ini dapat dipersamakan dangan hadis-hadis yang membicarakan masalah melukis dan pelukisnya seperti tersebut di atas?

    Orang-orang yang berpendirian, bahwa haramnya gambar itu terbatas pada yang berjasad (patung), maka foto bagi mereka bukan apa-apa, lebih-lebih kalau tidak sebadan penuh. Tetapi bagi orang yang berpendapat lain, apakah foto semacam ini dapat dikiaskan dengan gambar yang dilukis dengan menggunakan kuas? Atau apakah barangkali illat (alasan) yang telah ditegaskan dalam hadis masalah pelukis, yaitu diharamkannya melukis lantaran menandingi ciptaan Allah –tidak dapat diterapkan pada fotografi ini? Sedang menurut ahli-ahli usul-fiqih kalau illatnya itu tidak ada, yang dihukum pun (ma’lulnya) tidak ada.

    Jelasnya persoalan ini adalah seperti apa yang pernah difatwakan oleh Syekh Muhammad Bakhit, Mufti Mesir: “Bahwa fotografi itu adalah merupakan penahanan bayangan dengan suatu alat yang telah dikenal oleh ahli-ahli teknik (tustel). Cara semacam ini sedikitpun tidak ada larangannya.

    Karena larangan menggambar, yaitu mengadakan gambar yang semula tidak ada dan belum dibuat sebelumnya yang bisa menandingi (makhluk) ciptaan Allah. Sedang pengertian semacam ini tidak terdapat pada gambar yang diambil dengan alat (tustel).”

    Sekalipun ada sementara orang yang ketat sekali dalam persoalan gambar dengan segala macam bentuknya, dan menganggap makruh sampai pun terhadap fotografi, tetapi satu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa mereka pun akan memberikan rukhshah terhadap hal-hal yang bersifat darurat karena sangat dibutuhkannya, atau karena suatu maslahat yang mengharuskan, misalnya kartu penduduk, paspor, foto-foto yang dipakai alat penerangan yang di situ sedikitpun tidak ada tanda-tanda pengagungan. atau hal yang bersifat merusak aqidah. Foto dalam persoalan ini lebih dibutuhkan daripada melukis dalam pakaian-pakaian yang oleh Rasulullah sendiri sudah dikecualikannya.

    Subjek Gambar

    Yang sudah pasti, bahwa subjek gambar mempunyai pengaruh soal haram dan halalnya. Misalnya gambar yang subjeknya itu menyalahi aqidah dan syariat serta tata kesopanan agama, semua orang Islam mengharamkannya.

    Oleh karena itu gambar-gambar perempuan telanjang, setengah telanjang, ditampakkannya bagian-bagian anggota khas wanita dan tempat-tempat yang membawa fitnah, dan digambar dalam tempat-tempat yang cukup membangkitkan syahwat dan menggairahkan kehidupan duniawi sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah, surat-surat khabar dan bioskop, semuanya itu tidak diragukan lagi tentang haramnya baik yang menggambar, yang menyiarkan ataupun yang memasangnya di rumah-rumah, kantor-kantor, toko-toko dan digantung di dinding-dinding. Termasuk juga haramnya kesengajaan untuk memperhatikan gambar-gambar tersebut.

    Termasuk yang sama dengan ini ialah gambar-gambar orang kafir, orang zalim dan orang-orang fasik yang oleh orang Islam harus diberantas dan dibenci dengan semata-mata mencari keridhaan Allah. Setiap muslim tidak halal melukis atau menggambar pemimpin-pemimpin yang anti Tuhan, atau pemimpin yang menyekutukan Allah dengan sapi, api atau lainnya, misalnya orang-orang Yahudi, Nasrani yang ingkar akan kenabian Muhammad, atau pemimpin yang beragama Islam tetapi tidak mau berhukum dengan hukum Allah; atau orang-orang yang gemar menyiarkan kecabulan dan kerusakan dalam masyarakat seperti bintang-bintang film dan biduan-biduan.

    Termasuk haram juga ialah gambar-gambar yang dapat dinilai sebagai menyekutukan Allah atau lambang-lambang sementara agama yang samasekali tidak diterima oleh Islam, gambar berhala, salib dan sebagainya.

    Barangkali seperai dan bantal-bantal di zaman Nabi banyak yang memuat gambar-gambar semacam ini. Oleh karena itu dalam riwayat Bukhari diterangkan; bahwa Nabi tidak membiarkan salib di rumahnya, kecuali dipatahkan.

    Ibnu Abbas meriwayatkan:

    “Sesungguhnya Rasulullah s.a. w. pada waktu tahun penaklukan Makkah melihat patung-patung di dalam Baitullah, maka ia tidak mau masuk sehingga ia menyuruh, kemudian dihancurkan.” (Riwayat Bukhari).

    Tidak diragukan lagi, bahwa patung-patung yang dimaksud adalah patung yang dapat dinilai sebagai berhala orang-orang musyrik Makkah dan lambang kesesatan mereka di zaman-zaman dahulu.

    Ali bin Abu Talib juga berkata:

    “Rasulullah s.a.w. dalam (melawat) suatu jenazah ia bersabda: Siapakah di kalangan kamu yang akan pergi ke Madinah, maka jangan biarkan di sana satupun berhala kecuali harus kamu hancurkan, dan jangan ada satupun kubur (yang bercungkup) melainkan harus kamu ratakan dia, dan jangan ada satupun gambar kecuali harus kamu hapus dia? Kemudian ada seorang laki-laki berkata: Saya! Ya, Rasulullah! Lantas ia memanggil penduduk Madinah, dan pergilah si laki-laki tersebut. Kemudian ia kembali dan berkata: Saya tidak akan membiarkan satupun berhala kecuali saya hancurkan dia, dan tidak akan ada satupun kuburan (yang bercungkup) kecuali saya ratakan dia dan tidak ada satupun gambar kecuali saya hapus dia. Kemudian Rasulullah bersabda: Barangsiapa kembali kepada salah satu dari yang tersebut maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w.” (Riwayat Ahmad; dan berkata Munziri: Isya Allah sanadnya baik)

    Barangkali tidak lain gambar-gambar/patung-patung yang diperintahkan Rasulullah s.a.w. untuk dihancurkan itu, melainkan karena patung-patung tersebut adalah lambang kemusyrikan jahiliah yang oleh Rasulullah sangat dihajatkan kota Madinah supaya bersih dari pengaruh-pengaruhnya. Justru itulah, kembali kepada hal-hal di atas berarti dinyatakan kufur terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

    Kesimpulan Hukum Gambar dan Yang Menggambar

    Dapat kami simpulkan hukum masalah gambar dan yang menggambar sebagai berikut:

    Macam-macam gambar yang sangat diharamkan ialah gambar-gambar yang disembah selain Allah, seperti Isa al-Masih dalam agama Kristen. Gambar seperti ini dapat membawa pelukisnya menjadi kufur, kalau dia lakukan hal itu dengan pengetahuan dan kesengajaan.

    Begitu juga pemahat-pemahat patung, dosanya akan sangat besar apabila dimaksudkan untuk diagung-agungkan dengan cara apapun. Termasuk juga terlibat dalam dosa, orang-orang yang bersekutu dalam hal tersebut.

    Termasuk dosa juga, orang-orang yang melukis sesuatu yang tidak disembah, tetapi bertujuan untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat mencipta jenis baru dan membuat seperti pembuatan Allah. Kalau begitu keadaannya dia bisa menjadi kufur. Dan ini tergantung kepada niat si pelukisnya itu sendiri.

    Di bawah lagi patung-patung yang tidak disembah, tetapi termasuk yang diagung-agungkan, seperti patung raja-raja, kepala negara, para pemimpin dan sebagainya yang dianggap keabadian mereka itu dengan didirikan monumen-monumen yang dibangun di lapangan-lapangan dan sebagainya. Dosanya sama saja, baik patung itu satu badan penuh atau setengah badan.

    Di bawahnya lagi ialah patung-patung binatang dengan tidak ada maksud untuk disucikan atau diagung-agungkan, dikecualikan patung mainan anak-anak dan yang tersebut dari bahan makanan seperti manisan dan sebagainya.

    Selanjutnya ialah gambar-gambar di pagan yang oleh pelukisnya atau pemiliknya sengaja diagung-agungkan seperti gambar para penguasa dan pemimpin, lebih-lebih kalau gambar-gambar itu dipancangkan dan digantung. Lebih kuat lagi haramnya apabila yang digambar itu orang-orang zalim, ahli-ahli fasik dan golongan anti Tuhan. Mengagungkan mereka ini berarti telah meruntuhkan Islam.

    Di bawah itu ialah gambar binatang-binatang dengan tidak ada maksud diagung-agungkan, tetapi dianggap suatu manifestasi pemborosan. Misalnya gambar gambar di dinding dan sebagainya. Ini hanya masuk yang dimakruhkan.

    Adapun gambar-gambar pemandangan, misalnya pohon-pohonan, korma, lautan, perahu, gunung dan sebagainya, maka ini tidak dosa samasekali baik si pelukisnya ataupun yang menyimpannya, selama gambar-gambar tersebut tidak melupakan ibadah dan tidak sampai kepada pemborosan. Kalau sampai demikian, hukumnya makruh.

    Adapun fotografi, pada prinsipnya mubah, selama tidak mengandung objek yang diharamkan, seperti disucikan oleh pemiliknya secara keagamaan atau disanjung-sanjung secara keduniaan. Lebih-lebih kalau yang disanjung-sanjung itu justru orang-orang kafir dan ahli-ahli fasik, misalnya golongan penyembah berhala, komunis dan seniman-seniman yang telah menyimpang.

    Terakhir, apabila patung dan gambar yang diharamkan itu bentuknya diuubah atau direndahkan (dalam bentuk gambar), maka dapat pindah dari lingkungan haram menjadi halal. Seperti gambar-gambar di lantai yang biasa diinjak oleh kaki dan sandal.

     

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 22 February 2016 Permalink | Balas  

    Saf-Saf Sholat (3/3) 

    shalat gaibSaf-Saf Sholat (3/3)

    Berada Di Belakang Saf Seorang Diri

    Adalah makruh hukumnya jika seorang makmum itu berada seorang diri di belakang saf sedangkan di hadapannya masih ada ruang yang kosong. Oleh itu disunatkan baginya mengisi tempat kosong itu. Akan tetapi jika di hadapan makmum itu tiada ruangan kecuali di belakang saf sahaja, maka mengikut pendapat yang shahih, di antaranya Syeikh Abu Hamid dan selainnya daripada nash Syafie, adalah disunatkan bagi makmum yang berada seorang diri di belakang saf itu menarik seorang daripada makmum yang berada di hadapannya. Disunatkan juga bagi makmum yang ditarik ke belakang itu bekerjasama iaitu berundur ke saf belakang bersama-sama dengan makmum yang seorang diri itu, demi untuk kesempurnaan saf dan mengelakkan juga daripada pendapat ulama lain yang mengatakan bahawa berada seorang diri di belakang saf itu batal sembahyang sebagaimana mereka berpegang kepada sebuah hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Tidak ada sembahyang bagi makmum seorang diri yang di belakang saf”. (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Akan tetapi mengikut ashhab bahawa hujah atau dalil mereka berdasarkan hadis itu adalah bermaksud bahawa tiada sempurna sembahyang bagi seorang yang di belakang saf, bukannya bermaksud tidak sah sembahyang. Dan takwil atau maksud hadis yang dinyatakan oleh ashhab ini adalah yang wadhih iaitu jelas. Mengikut pendapat Syeikh Abu Hamid dan selainnya lagi bahawa tidak boleh bagi makmum yang seorang diri itu menarik makmum di hadapannya melainkan sesudah dia mengangkat takbirratul ihram. Dalam keadaan di atas iaitu jika seorang makmum berada seorang diri di belakang saf adalah tidak membatalkan sembahyang hanya makruh hukumnya. (Majmuk 4/189-190)

    Kanak-Kanak Berada Dalam Saf Lelaki Dewasa

    Apa yang ingin dijelaskan di sini ialah mengenai hukum kanak-kanak lelaki yang belum baligh dan belum berkhatan berada di dalam saf orang lelaki dewasa. Adakah kehadiran mereka itu merosakkan saf atau fadhilat sembahyang berjemaah dan adakah boleh dikeluarkan mereka itu dari saf tersebut supaya diisikan tempatnya itu oleh lelaki dewasa?

    Dalam kumpulan fatwa Imam Ibnu Hajar, menurut qaul yang muktamad, bahawa kanak-kanak lelaki apabila mereka mendahului orang-orang yang baligh ke saf yang pertama, tiada harus (tidak boleh) bagi orang-orang yang baligh itu mengeluarkan mereka dari saf yang pertama itu, karena kanak-kanak lelaki itu adalah jenis orang lelaki.

    Seterusnya Ibnu Hajar menerangkan bahawa bukanlah maksud kanak-kanak lelaki datang dahulu itu sebagai kehadiran mereka terlebih dahulu ke masjid daripada orang dewasa tetapi maksudnya mereka hanya mendahului pada saf yang pertama sekalipun sebelum didirikan sembahyang. Maka pada ketika itu tidaklah boleh diketepikan kanak-kanak lelaki dari saf mereka untuk diberikan kepada lelaki dewasa.

    Daripada perkataan Imam Ibnu Hajar di atas ini, apabila kanak-kanak lelaki datang ke masjid dan dia telah duduk di dalam mana-mana saf sembahyang dengan tujuan hendak sembahyang mengikut imam, sama ada sembahyang Jumaat atau sebagainya, maka orang dewasa tidak boleh mengalih dan mengeluarkan kanak-kanak lelaki tersebut dari saf-saf mereka itu.

    Adapun hukum kanak-kanak lelaki yang belum berkhatan yang tidak diketahui adakah dia membersihkan qulfahnya (kulupnya) atau tidak, apabila dia berada dalam saf tersebut, adakah ianya merosakkan saf dan adakah sedemikian itu menghilangkan fadhilat pahala berjemaah, berkata Al-Imam Al-Sayyid Abdullah bin ‘Umar bin Abu Bakar bin Yahya di dalam kitab Bughyah Al-Mustarsyidin:

    “Jika ada di dalam saf sesiapa yang tidak sah sembahyangnya seperti ada najis padanya, atau ada lahn (seperti tidak betul bacaan Fatihahnya) atau ada pada saf yang di hadapan orang yang berkeadaan sedemikian, maka tiadalah luput fadhilat (tidak hilang kelebihan pahala) berjemaah ke atas orang-orang yang berdiri di belakang mereka, sekalipun lebih jauh saf mereka dari saf orang yang sah sembahyangnya, sekadar boleh muat seorang berdiri pada masalah yang pertama (iaitu ada najis padanya atau ada lahn) dan lebih jauh dari tiga hasta pada masalah yang kedua (iaitu ada pada saf yang di hadapan orang yang berkeadaan sedemikian). Kecuali, jika orang-orang yang berada pada saf-saf di belakang itu mengetahui akan batal sembahyang orang yang tersebut itu dan sembahyangnya itu tidak sah pada pendapat ulama yang sah bertaklid padanya dan mereka berkuasa mengeluarkan orang-orang yang tidak sah sembahyang mereka itu dari saf-saf mereka dengan tiada takut (apa-apa kemudaratan) ke atas diri atau harta atau nama (apabila mereka mengeluarkan orang-orang yang tidak sah sembahyang mereka dari saf-saf mereka itu). Karena fadhilat pahala berjemaah boleh diperolehi dengan mengikut seorang imam yang mana makmum tidak mengetahui imam itu berhadas (padahal dia berhadas). Adalah lebih utama tidak mengetahui akan batal sembahyang orang-orang yang dia tidak ada sangkut paut di antaranya dan di antara orang yang batal sembahyangnya itu, dan karena berjauh-jauh (dari satu saf kepada satu saf) dengan ada suatu keuzuran seperti panas (seperti di Masjid Al-Haram ada saf jauh-jauh dan putus karena panas terik matahari pada tempat-tempat lapang), tidak meluputkan fadhilat berjemaah. Maka begitu juga di sini (makmum yang batal sembahyangnya berada dalam saf-saf sembahyang) dan karena dia berhak di tempat itu dengan sebab dia telah datang dahulu serta taklidnya yang mengatakan sah sembahyang dan begitu juga jika dia tidak bertaklid (kepada mana-mana ulama) di atas asas bahawa orang awam itu tiada mempunyai mazhab.

    Maka dari itu diketahui, bahawa barangsiapa telah berada di dalam saf, tidak harus (tidak boleh) diketepikan dia itu dari safnya, melainkan jika diketahui sembahyangnya batal dengan ijma’ ulama, atau dia beriktikad bahawa sembahyang orang itu rosak ketika dia mengerjakan sembahyangnya itu.”

    Maka jika didapati kanak-kanak lelaki yang dibawa oleh bapanya duduk dalam mana-mana saf sembahyang dan tidak diketahui kanak-kanak itu sudah berkhatan atau belum, dan tidak diketahui sama ada dia telah membersihkan qulfahnya (kulupnya) atau belum, maka menurut pendapat atau fatwa Al-’Allamah Al-Sayyid Abdullah bin Yahya yang di atas ini perkara itu tidak meluputkan fadhilat sembahyang berjemaah dan sah sembahyang orang yang berada dekat dengan kanak-kanak itu di dalam saf-saf itu.

    Penutup

    Melalui penjelasan mengenai adab-adab dan permasalahan kedudukan makmum dan imam di dalam saf sembahyang, sayugialah diharapkan kepada kita semua untuk memenuhi tuntutan atau galakan syara’ di dalam permasalahan saf-saf sembahyang. Demi mendapatkan pahala dan fadhilat berjemaah yang lebih sempurna.

    Oleh yang demikian, diharapkan kepada para jemaah agar memberi kerjasama dalam menyempurnakan saf-saf sembahyang seperti memberi ruangan kepada makmum yang hendak masuk ke saf mereka, memberi isyarat kepada makmum yang lain supaya meluruskan atau memenuhi saf yang kosong dan sebagainya. Begitu juga, imam-imam disunatkan agar menyuruh atau menyeru para makmum untuk membetulkan dan menyempurnakan saf-saf mereka.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan di dalam sebuah hadis Baginda bahawa mendirikan atau meluruskan saf itu adalah sebahagian daripada kesempurnaan dan keelokan sembahyang berjemaah.

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 1:46 am on 21 February 2016 Permalink | Balas  

    Saf-Saf Sholat (2/3) 

    shalat gaibSaf-Saf Sholat (2/3)

    Kelebihan Saf Pertama

    Dalam beberapa hadis ada menyebutkan kelebihan atau fadhilat saf yang pertama itu, di mana jika mereka mengetahui akan kelebihannya, nescaya mereka akan berebut-rebut untuk mendapatkannya sehingga terpaksa diadakan undian. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Andaikata mereka tahu apa yang ada di dalam saf yang depan, nescaya akan di adakan undian”. (Hadis riwayat Muslim)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    “Andaikata orang-orang tahu apa yang terdapat di dalam azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara berundi di antara mereka, pasti mereka mahu mengundinya. Andaikata mereka tahu apa yang terdapat di dalam hal melakukan sembahyang, pasti mereka berlumba-lumba mendapatkannya. Andaikata mereka tahu apa yang terdapat di dalam sembahyang Isya dan Subuh, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dalam hadis yang lain sabda Baginda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya mengucapkan selawat (selawat Allah: rahmat dan selawat malaikat: istighfar) terhadap makmum-makmum di baris pertama”. (Hadis riwayat Abu Daud dan Nasa’i)

    Sepakat para fuqaha bahawa saf yang afdhal atau lebih utama bagi lelaki sama ada bersama mereka kanak-kanak atau perempuan adalah saf yang pertama. Begitu juga bagi perempuan yang tidak bersama mereka makmum lelaki atau berjemaah bersama dengan lelaki tetapi ada penghalang atau tabir antara keduanya, maka yang afdhalnya di saf yang pertama. Akan tetapi jika perempuan itu berjemaah bersama dengan lelaki tanpa ada penghalang atau tabir, maka yang afdhal atau lebih utama bagi perempuan itu saf yang terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sebaik-baik saf bagi lelaki adalah saf yang pertama, dan sejelik-jeliknya ialah saf yang terakhir. Sebaik-baik saf bagi wanita adalah saf yang paling belakang, dan sejelik-jeliknya ialah saf yang pertama”.  (Hadis riwayat Muslim)

    Di antara kelebihan-kelebihan yang ada di dalam saf juga ialah mengambil tempat dalam kedudukan di sebelah kanan imam lebih afdhal atau utama daripada kedudukan sebelah kiri imam. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya mengucapkan selawat kepada makmum di saf-saf kanan”. (Hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Kedudukan Imam dan Makmum

    Makmum hendaklah berada di belakang imam. Adalah batal sembahyang makmun itu jika dia berada di hadapan imam. Manakala jika imam dan makmun dalam kedudukan yang sama maka tidaklah batal sembahyang mereka, akan tetapi hukumnya adalah makruh.

    Disunatkan juga agar kedudukan atau tempat imam tidaklah tinggi dibandingkan dengan kedudukan makmumnya, begitu juga sebaliknya iaitu kedudukan makmum tidaklah tinggi dibandingkan dengan kedudukan imam, melainkan jika imam itu bertujuan untuk mengajar makmumnya perbuatan sembahyang atau makmum itu bertujuan untuk menyampaikan takbir imam kepada makmum yang lain. Dalam keadaan ini, makmum tersebut adalah digalakkan untuk meninggikan tempat kedudukannya. (Majmuk 4/190-191, 4/186-187)

    Di antara adab-adabnya juga ialah imam disunatkan berada di antara tengah-tengah saf makmum yang berada di belakang. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Jadikanlah kedudukan imam itu berdiri di tengah-tengah dan penuhilah celah-celah saf (yang kosong)”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    Kedudukan Makmum Tunggal Dalam Saf Sembahyang

    Apabila sembahyang jemaah itu hanya dengan seorang makmum, maka disunatkan baginya berada di sebelah kanan imam, tetapi hendaklah ke belakang sedikit daripada imam. Manakala jika makmum berada di sebelah kiri atau di belakang imam, disunatkan baginya untuk berpindah ke sebelah kanan dengan menjaga daripada perkara-perkara yang membatalkan sembahyang seperti bergerak lebih daripada tiga kali berturut-turut. Walau bagaimanapun, hanya makruh hukumnya jika dia terus berada di kiri atau di belakang imam. Jika makmum itu tidak juga berpindah disebabkan jahil atau sebagainya, maka disunatkan bagi imam itu memindahkan makmum atau memindahkan dirinya supaya berada di depan sebelah kiri makmum, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radiallahu ‘anhuma katanya yang maksudnya :

    “Pada suatu malam saya tidur di rumah Maimunah dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wasallam berada di sana malam itu. Beliau berwudhu dan berdiri untuk sembahyang. Saya bersamanya dan berdiri di sebelah kirinya tetapi beliau memindahkan saya ke sebelah kanannya”. (Hadis riwayat Bukhari)

    Kehadiran Makmum Kedua Ketika Imam Sedang Sembahyang

    Apabila makmum yang lain baru datang (masbuk) walaupun kanak-kanak, sedangkan makmum yang pertama berada di sebelah kanan imam dalam keadaan mereka berdiri, maka dalam hal ini, kedudukannya adalah mengikut keadaan tertentu:

    Pertama, jika di hadapan imam itu luas dan di belakang makmum sempit, maka imam hendaklah bergerak ke hadapan. Manakala jika sebaliknya iaitu luas di belakang makmum dan sempit di hadapan imam, maka hendaklah makmum itu tadi berundur ke belakang.

    Kedua, jika kedua-dua tempat itu luas, maka yang afdhalnya mengikut pendapat yang shahih makmum hendaklah berundur ke belakang dan imam tidak perlu berpindah ke depan kerana mereka mengikut imam. Manakala jika makmum kedua itu datang dalam keadaan mereka duduk atau sujud, maka tidak boleh mereka bergerak ke belakang atau ke hadapan sehinggalah sesudah mereka berdiri semula.

    Dalam semua keadaan ini, jika mereka menyalahi aturan saf yang telah ditentukan, seperti seorang makmum berdiri di sebelah kiri atau belakang imam atau dua orang makmum berdiri di sebelah kanan atau kiri imam dan di antara kedua mereka ada yang berdiri di belakang dan seorang lagi berdiri di sebelah kanan imam atau sebagainya, adalah sah juga sembahyang mereka dan tidak perlu lagi diulang ataupun melakukan sujud sahwi, tetapi makruh hukumnya mereka melakukan kesalahan tersebut. (Majmuk 4/184-185)

    Dalam keadaan jemaah yang ramai pula, yang dihadiri oleh orang yang baligh, kanak-kanak lelaki, khuntsa dan perempuan, disunatkan lelaki yang baligh itu berada di saf hadapan kemudian diikuti oleh kanak-kanak, khuntsa (orang-orang yang tidak diketahui jantinanya adakah lelaki atau perempuan kerana memiliki alat kemaluan lelaki dan perempuan atau tidak memiliki alat kemaluan lelaki dan perempuan) dan baharulah jemaah perempuan di saf yang terakhir. Manakala jika dihadiri oleh ramai jemaah lelaki, seorang kanak-kanak lelaki, seorang khuntsa dan seorang perempuan, maka jemaah lelaki berada di saf hadapan bersama-sama dengan kanak-kanak tersebut kemudian diikuti di belakang mereka khuntsa seorang diri dan baharulah jemaah perempuan berdiri seorang diri di belakang khuntsa. Jika makmum terdiri daripada seorang kanak-kanak lelaki, seorang khuntsa dan seorang perempuan, maka kanak-kanak itu berdiri di sebelah kanan imam kemudian diikuti oleh khuntsa di belakang kanak-kanak itu dan di belakang khuntsa diikuti pula oleh jemaah perempuan.

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 20 February 2016 Permalink | Balas  

    Saf-Saf Sholat (1/3) 

    shalat gaibSaf-Saf Sholat (1/3)

    Pengertian saf dari segi bahasa adalah barisan yang lurus daripada setiap sesuatu, seperti saf dalam sembahyang jemaah, peperangan dan sebagainya. Manakala pengertiannya dari segi istilah pula tidak lari maknanya dengan pengertian dari segi bahasa. Apa yang ingin dijelaskan di sini penjelasan mengenai masalah-masalah saf dalam sembahyang berjemaah.

    Saf Dalam Sembahyang Jemaah

    Jumhur ulama berpendapat bahawa disunatkan bagi makmum meluruskan saf-saf mereka ketika bersembahyang jemaah supaya janganlah ada sebahagian jemaah terkehadapan atau terkebelakang daripada jemaah yang lainnya sehingga menyebabkan tidak sama dan tidak lurus saf mereka. Ketika makmum berdiri, mereka hendaklah meluruskan saf dalam keadaan berdekatkan bahu dengan bahu, kaki dengan kaki dan tumit dengan tumit makmum yang lainnya sehingga tidak ada ruang yang kosong dan renggang. Maka dalam hal ini, imam adalah disunatkan menyuruh makmumnya meluruskan saf-saf mereka sebagaimana yang sering kita dengar sebelum imam mendirikan sembahyang, kerana meluruskan saf itu termasuk dalam kesempurnaan dan keelokan sembahyang. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Luruskanlah saf-saf kamu, kerana sesungguhnya meluruskan saf itu termasuk kesempurnaan sembahyang”. (Hadis riwayat Muslim)

    Sabda Baginda lagi yang maksudnya :

    “Luruskanlah saf di dalam sembahyang, kerana meluruskan saf itu termasuk keelokan sembahyang”. (Hadis riwayat Muslim)

    Mengikut pendapat sebahagian ulama seperti Ibnu Hajar dan sebahagian ulama hadis bahawa meluruskan saf itu hukumnya wajib. Barangsiapa yang melampaui batas (barisan) adalah haram hukumnya, kerana suruhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis Baginda supaya meluruskan saf adalah menunjukkan perintah wajib. Hal ini jelas diterangkan dengan adanya ancaman mengenainya melalui sebuah hadis yang memerintahkan taswiyyah (meluruskan saf). Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sungguh kamu mahu meluruskan saf-saf kamu atau Allah akan menggantikan di antara wajah-wajah kamu”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dalam kitab Syarah Shahih Muslim ada menyatakan pendapat-pendapat atau qaul mengenai maksud hadis di atas. Di antaranya pendapat yang mengatakan bahawa maksud “Allah akan menggantikan di antara wajah-wajah kamu” ialah mengubah atau menukarkan shurah atau bentuk rupanya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Allah menjadikan bentuk rupanya dengan bentuk keledai”. (Hadis riwayat Bukhari)

    Pendapat yang azhhar bagi maksud hadis di atas itu, ialah terjadi di antara mereka (orang yang tidak meluruskan saf) permusuhan, kebencian dan perselisihan lubuk hati. (Syarah Shahih Muslim 3/131)

    Walau bagaimanapun menurut Ibnu Hajar tidak meluruskan saf dalam sembahyang jemaah itu tidaklah membatalkan sembahyang. (Al-Mausu’ah Al-Feqhiah 27/35-36)

     Keutamaan Memenuhi Saf Pertama

    Telah sepakat para fuqaha adalah sunat bagi para jemaah untuk memenuhi saf yang pertama terlebih dahulu sehingga tidak ada ruang yang kosong atau renggang. Kemudian baharulah diikuti dengan saf yang kedua dan seterusnya, berdasarkan hadis-hadis yang shahih menyentuh perkara ini. Di antaranya, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sempurnakanlah oleh kamu saf yang depan (saf yang pertama), kemudian saf-saf berikutnya, maka saf yang kurang itu (disebabkan sedikit makmum) hendaklah (saf yang kurang itu berada) di saf bahagian belakang”.

    (Hadis riwayat Abu Daud dan Nasa’i)

    Oleh yang demikian tidak digalakkan ke atas jemaah untuk mendirikan saf yang kedua atau berikutnya melainkan selepas sempurnanya saf yang pertama atau berikutnya. Dalam erti kata lain, jangan dibiarkan saf yang di hadapan makmum itu kosong atau renggang, bahkan disunatkan ke atas mereka mengisinya.

    Adalah disunatkan juga ke atas makmum yang berada di hadapan memberi ruangan kepada makmum yang hendak masuk ke saf tersebut selagi ada ruang baginya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Luruskanlah oleh kamu saf-saf dan sejajarkanlah di antara bahu-bahu kamu, tutupi celah-celah dan berlaku lembutlah ketika memegang tangan saudaramu (waktu merapatkan saf), dan janganlah kamu biarkan celah-celah (yang kosong) itu untuk syaitan. Barangsiapa menghubungkan saf, maka Allah menghubungkannya (dengan rahmatNya) dan barangsiapa memutuskan saf, maka Allah memutuskannya (daripada rahmat dan pertolonganNya)”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    ***

    Kiriman Arland

     
  • erva kurniawan 2:10 am on 19 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Perhiasan 

    perhiasan-emasHalal dan Haram Perhiasan

    Hikmah Diharamkannya Emas dan Sutera Terhadap Laki-Laki

    Di haramkannya dua perkara tersebut terhadap laki-laki, Islam bermaksud kepada suatu tujuan pendidikan moral yang tinggi; sebab Islam sebagai agama perjuangan dan kekuatan, harus selalu melindungi sifat keperwiraan laki-laki dari segala macam bentuk kelemahan, kejatuhan dan kemerosotan. Seorang laki-laki yang oleh Allah telah diberi keistimewaan susunan anggotanya yang tidak seperti susunan keanggotaan wanita, tidak layak kalau dia meniru wanita-wanita ayu yang melebihkan pakaiannya sampai ke tanah dan suka bermegah-megah dengan perhiasan dan pakaian.

    Dibalik itu ada suatu tujuan sosial. Yakni, bahwa diharamkannya emas dan sutera bagi laki-laki adalah salah satu bagian daripada program Islam dalam rangka memberantas hidup bermewah-mewahan. Hidup bermewah-mewahan dalam pandangan al-Quran adalah sama dengan suatu kemerosotan yang akan menghancurkan sesuatu umat. Hidup bermewah-mewahan adalah merupakan manifestasi kejahatan sosial, dimana segolongan kecil bermewah-mewahan dengan cincin emas atas biaya golongan banyak yang hidup miskin lagi papa. Sesudah itu dilanjutkan dengan suatu sikap permusuhan terhadap setiap ajakan yang baik dan memperbaiki.

    Dalam hat ini al-Quran telah menyatakan:

    “Dan apabila kami hendak menghancurkan suatu desa, maka kami perbanyak orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan, kemudian mereka itu berbuat fasik di desa tersebut, maka akan terbuktilah atas desa tersebut suatu ketetapan, kemudian kami hancurkan desa tersebut dengan sehancur-hancurnya.” (al-Isra’: 16)

    Dan firman Allah pula:

    “Kami tidak mengutus di suatu desa, seorang pun utusan (Nabi) melainkan akan berkatalah orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan itu. Sesungguhnya kami tidak percaya terhadap kerasulanmu itu.” (Saba’: 34)

    Untuk menerapkan jiwa al-Quran ini, maka Nabi Muhammad s.a.w. telah mengharamkan seluruh bentuk kemewahan dengan segala macam manifestasinya dalam kehidupan seorang muslim.

    Sebagaimana diharamkannya emas dan sutera terhadap laki-laki, maka begitu juga diharamkan untuk semua laki-laki dan perempuan menggunakan bejana emas dan perak. Sebagaimana akan tersebut nanti.

    Dan di balik itu semua, dapat pula ditinjau dari segi ekonomi, bahwa emas adalah standard uang internasional. Oleh karena itu tidak patut kalau bejana atau perhiasan buat orang laki-laki.

    Hikmah Dibolehkannya Untuk Wanita

    Dikecualikannya kaum wanita dari hukum ini adalah untuk memenuhi perasaan, sesuai dengan tuntutan sifat kewanitaannya dan kecenderungan fitrahnya kepada suka berhias; tetapi dengan syarat tidak boleh berhias yang dapat menarik kaum pria dan membangkitkan syahwat.

    Untuk itu, maka dalam hadis Nabi diterangkan:

    “Siapa saja perempuan yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka perempuan tersebut dianggap berzina, dan tiap-tiap mata ada zinanya.” (Riwayat Nasai, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

    Dan firman Allah yang mengatakan:

    “Janganlah perempuan-perempuan itu memukul-mukulkan kakinya di tanah, supaya diketahui apa yang mereka sembunyikan dari perhiasannya.” (an-Nur: 31)

    Pakaian Wanita Islam

    Islam mengharamkan perempuan memakai pakaian yang membentuk dan tipis sehingga nampak kulitnya. Termasuk diantaranya ialah pakaian yang dapat mempertajam bagian-bagian tubuh, khususnya tempat-tempat yang membawa fitnah, seperti: buah dada, paha, dan sebagainya.

    Dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: (l) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam); (2) Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan bisa masuk sorga, dan tidak akan mencium bau sorga, padahal bau sorga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (Riwayat Muslim, Babul Libas)

    Mereka dikatakan berpakaian, karena memang mereka itu melilitkan pakaian pada tubuhnya, tetapi pada hakikatnya pakaiannya itu tidak berfungsi menutup aurat, karena itu mereka dikatakan telanjang, karena pakaiannya terlalu tipis sehingga dapat memperlihatkan kulit tubuh, seperti kebanyakan pakaian perempuan sekarang ini.

    Bukhtun adalah salah satu macam daripada unta yang mempunyai kelasa (punuk) besar; rambut orang-orang perempuan seperti punuk unta tersebut karena rambutnya ditarik ke atas.

    Dibalik keghaiban ini, seolah-olah Rasulullah melihat apa yang terjadi di zaman sekarang ini yang kini diwujudkan dalam bentuk penataan rambut, dengan berbagai macam mode dalam salon-salon khusus, yang biasa disebut salon kecantikan, dimana banyak sekali laki-laki yang bekerja pada pekerjaan tersebut dengan upah yang sangat tinggi.

    Tidak cukup sampai di situ saja, banyak pula perempuan yang merasa kurang puas dengan rambut asli pemberian Allah. Untuk itu mereka belinya rambut palsu yang disambung dengan rambutnya yang asli, supaya nampak lebih menyenangkan dan lebih cantik, sehingga dengan demikian dia akan menjadi perempuan yang menarik dan memikat hati.

    Satu hal yang sangat mengherankan, justru persoalan ini sekarang sering dikaitkan dengan masalah penjajahan politik dan kejatuhan moral, dan ini dapat dibuktikan oleh suatu kenyataan yang terjadi, dimana para penjajah politik itu dalam usahanya untuk menguasai rakyat sering menggunakan sesuatu yang dapat membangkitkan syahwat dan untuk dapat mengalihkan pandangan manusia, dengan diberinya kesenangan yang kiranya dengan kesenangannya itu manusia tidak lagi mau memperhatikan persoalannya yang lebih umum.

    Laki-Laki Menyerupai Perempuan dan Perempuan Menyerupai Laki-Laki

    Rasulullah s.a.w. pernah mengumumkan, bahwa perempuan dilarang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki dilarang memakai pakaian perempuan.15 Disamping itu beliau melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.16 Termasuk diantaranya, ialah tentang bicaranya, geraknya, cara berjalannya, pakaiannya, dan sebagainya.

    Sejahat-jahat bencana yang akan mengancam kehidupan manusia dan masyarakat, ialah karena sikap yang abnormal dan menentang tabiat. Sedang tabiat ada dua: tabiat laki-laki dan tabiat perempuan. Masing-masing mempunyai keistimewaan tersendiri. Maka jika ada laki-laki yang berlagak seperti perempuan dan perempuan bergaya seperti laki-laki, maka ini berarti suatu sikap yang tidak normal dan meluncur ke bawah.

    Rasulullah s.a.w. pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambutnya juga oleh Malaikat, diantaranya ialah laki-laki yang memang oleh Allah dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan; dan yang kedua, yaitu perempuan yang memang dicipta oleh Allah sebagai perempuan betul-betul, tetapi kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai orang laki-laki (Hadis Riwayat Thabarani). Justru itu pulalah, maka Rasulullah s.a.w. melarang laki-laki memakai pakaian yang dicelup dengan ‘ashfar (zat warna berwarna kuning yang biasa dipakai untuk mencelup pakaian-pakaian wanita di zaman itu).

    Ali r.a. mengatakan:

    “Rasulullah s. a. w. pernah melarang aku memakai cincin emas dan pakaian sutera dan pakaian yang dicelup dengan ‘ashfar” (Hadis Riwayat Thabarani)

    Ibnu Umar pun pernah meriwayatkan:

    “Bahwa Rasulullah s.a.w. pernah melihat aku memakai dua pakaian yang dicelup dengan ‘ashfar, maka sabda Nabi: ‘Ini adalah pakaian orang-orang kafir, oleh karena itu jangan kamu pakai dia.'”

    Pakaian Untuk Berfoya-foya dan Kesombongan

    Ketentuan secara umum dalam hubungannya dengan masalah menikmati hal-hal yang baik, yang berupa makanan, minuman ataupun pakaian, yaitu tidak boleh berlebih-lebihan dan untuk kesombongan.

    Berlebih-lebihan, yaitu melewati batas ketentuan dalam menikmati yang halal. Dan yang disebut kesombongan, yaitu erat sekali hubungannya dengan masalah niat, dan hati manusia itu berkait dengan masalah yang zahir. Dengan demikian apa yang disebut kesombongan itu ialah bermaksud untuk bermegah-megah dan menunjuk-nunjukkan serta menyombongkan diri terhadap orang lain. Padahal Allah samasekali tidak suka terhadap orang yang sombong.

    Seperti firmanNya:

    “Allah tidak suka kepada setiap orang yang angkuh dan sombong.” (al-Hadid: 23)

    Dan Rasulullah s.a.w. juga bersabda:

    “Barangsiapa melabuhkan kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya nanti di hari kiamat.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Kemudian agar setiap muslim dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan kesombongan, maka Rasulullah s.a.w. melarang berpakaian yang berlebih-lebihan, dimana hal tersebut akan dapat menimbulkan perasaan angkuh, membanggakan diri pada orang lain dengan bentuk-bentuk lahiriah yang kosong itu.

    Di dalam hadisnya, Rasulullah s.a.w. bersabda sebagai berikut,

    “Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan nanti di hari kiamat.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah dengan sanad yang dipercaya)

    Ada seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang pakaian apa yang harus dipakainya? Maka jawab Ibnu Umar: “yaitu pakaian yang kiranya kamu tidak akan dihina oleh orang-orang bodoh dan tidak dicela oleh kaum filsuf.” (Riwayat Thabarani)

    Berlebih-Lebihan Dalam Berhias dengan Mengubah Ciptaan Allah

    Islam menentang sikap berlebih-lebihan dalam berhias sampai kepada suatu batas yang menjurus kepada suatu sikap mengubah ciptaan Allah yang oleh al-Quran dinilai, bahwa mengubah ciptaan Allah itu sebagai salah satu ajakan syaitan kepada pengikut-pengikutnya, dimana syaitan akan berkata kepada pengikutnya itu sebagai berikut:

    “Sungguh akan kami pengaruhi mereka itu, sehingga mereka mau mengubah ciptaan Allah.” (an-Nisa’: 119)

    Tatoo, Kikir Gigi dan Operasi Kecantikan Hukumnya Haram

    Mentatoo badan dan mengikir gigi adalah perbuatan yang dilaknat oleh Rasulullah s.a.w., seperti tersebut dalam hadisnya:

    “Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang mentatoo dan minta ditatoo, dan yang mengikir gigi dan yang minta dikikir giginya.” (Riwayat Thabarani)

    Tatoo, yaitu memberi tanda pada muka dan kedua tangan dengan warna biru dalam bentuk ukiran. Sebagian orang-orang Arab, khususnya kaum perempuan, mentatoo sebagian besar badannya. Bahkan sementara pengikut-pengikut agama membuatnya tatoo dalam bentuk persembahan dan lambang-lambang agama mereka, misalnya orang-orang Kristen melukis salib di tangan dan dada mereka.

    Perbuatan-perbuatan yang rusak ini dilakukan dengan menyiksa dan menyakiti badan, yaitu dengan menusuk-nusukkan jarum pada badan orang yang ditatoo itu.

    Semua ini menyebabkan laknat, baik terhadap yang mentatoo ataupun orang yang minta ditatoo.

    Dan yang disebut mengikir gigi, yaitu merapikan dan memendekkan gigi. Biasanya dilakukan oleh perempuan. Karena itu Rasulullah melaknat perempuan-perempuan yang mengerjakan perbuatan ini (tukang kikir) dan minta supaya dikikir.

    Kalau ada laki-laki yang berbuat demikian, maka dia akan lebih berhak mendapat laknat.

    Termasuk diharamkan seperti halnya mengikir gigi, yaitu menjarangkan gigi. Dalam hal ini Rasulullah pernah melaknatnya, yaitu seperti tersebut dalam hadisnya:

    “Dilaknat perempuan-perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang mengubah ciptaan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Yang disebut al-Falaj, yaitu meletakkan sesuatu di sela-sela gigi, supaya nampak agak sedikit jarang. Di antara perempuan memang ada yang oleh Allah dicipta demikian, tetapi ada juga yang tidak begitu. Kemudian dia meletakkan sesuatu di sela-sela gigi yang berhimpitan itu, supaya giginya menjadi jarang. Perbuatan ini dianggap mengelabui orang lain dan berlebih-lebihan dalam berhias yang samasekali bertentangan dengan jiwa Islam yang sebenarnya.

    Dari hadis-hadis yang telah kita sebutkan di atas, maka kita dapat mengetahui tentang hukum operasi kecantikan seperti yang terkenal sekarang karena perputaran kebudayaan badan dan syahwat, yakni kebudayaan Barat materialistis, sehingga banyak sekali perempuan dan laki-laki yang mengorbankan uangnya beratus bahkan beribu-ribu untuk mengubah bentuk hidung, payudara atau yang lain. Semua ini termasuk yang dilaknat Allah dan RasulNya, karena di dalamnya terkandung penyiksaan dan perubahan bentuk ciptaan Allah tanpa ada suatu sebab yang mengharuskan untuk berbuat demikian, melainkan hanya untuk pemborosan dalam hal-hal yang bersifat show dan lebih mengutamakan pada bentuk, bukan inti; lebih mementingkan jasmani daripada rohani.

    Adapun kalau ternyata orang tersebut mempunyai cacat yang kiranya akan dapat menjijikkan pandangan, misalnya karena ada daging tambah yang dapat menimbulkan sakit secara perasaan ataupun secara kejiwaan kalau daging lebih itu dibiarkan, maka waktu itu tidak berdosa orang untuk berobat selama untuk tujuan demi menghilangkan penyakit yang bersarang dan mengancam hidupnya. Karena Allah tidak menjadikan agama buat kita ini dengan penuh kesukaran.

    Barangkali yang memperkuat permasalahan tersebut di atas, yaitu tentang hadis “dilaknat perempuan-perempuan yang menjarangkan giginya supaya cantik” seperti tersebut di atas. Dari hadis itu pula dapat difahamkan, bahwa yang tercela itu ialah perempuan yang mengerjakan hal tersebut semata-mata untuk tujuan keindahan dan kecantikan yang dusta. Tetapi kalau hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan penyakit atau bahaya yang mengancam, maka sedikitpun tidak ada halangan. Wallahu a’lam!

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 18 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Pakaian dan Perhiasan 

    perhiasan-emasHalal dan Haram Pakaian dan Perhiasan

    ISLAM memperkenankan kepada setiap muslim, bahkan menyuruh supaya geraknya baik, elok dipandang dan hidupnya teratur dengan rapi untuk menikmati perhiasan dan pakaian yang telah dicipta Allah.

    Adapun tujuan pakaian dalam pandangan Islam ada dua macam; yaitu, guna menutup aurat dan berhias. Ini adalah merupakan pemberian Allah kepada umat manusia seluruhnya, di mana Allah telah menyediakan pakaian dan perhiasan, kiranya mereka mau mengaturnya sendiri.

    Maka berfirmanlah Allah s.w.t.:

    “Hai anak-cucu Adam! Sungguh Kami telah menurunkan untuk kamu pakaian yang dapat menutupi aurat-auratmu dan untuk perhiasan.” (al-A’raf: 26)

    Barangsiapa yang mengabaikan salah satu dari dua perkara di atas, yaitu berpakaian untuk menutup aurat atau berhias, maka sebenarnya orang tersebut telah menyimpang dari ajaran Islam dan mengikuti jejak syaitan. Inilah rahasia dua seruan yang dicanangkan Allah kepada umat manusia, sesudah Allah mengumandangkan seruanNya yang terdahulu itu, dimana dalam dua seruanNya itu Allah melarang keras kepada mereka telanjang dan tidak mau berhias, yang justru keduanya itu hanya mengikuti jejak syaitan belaka.

    Untuk itulah maka Allah berfirman:

    “Hai anak-cucu Adam! Jangan sampai kamu dapat diperdayakan oleh syaitan, sebagaimana mereka telah dapat mengeluarkan kedua orang tuamu (Adam dan Hawa) dari sorga, mereka dapat menanggalkan pakaian kedua orang tuamu itu supaya kelihatan kedua auratnya.” (al-A’raf: 27)

    “Hai anak-cucu Adam! Pakailah perhiasanmu di tiap-tiap masjid dan makanlah dan minumlah tetapi jangan berlebih-lebihan (boros).” (al-A’raf: 31)

    Islam mewajibkan kepada setiap muslim supaya menutup aurat, dimana setiap manusia yang berbudaya sesuai dengan fitrahnya akan malu kalau auratnya itu terbuka. Sehingga dengan, demikian akan berbedalah manusia dari binatang yang telanjang.

    Seruan Islam untuk menutup aurat ini berlaku bagi setiap manusia, kendati dia seorang diri terpencil dari masyarakat, sehingga kesopanannya itu merupakan kesopanan yang dijiwai oleh agama dan moral yang tinggi.

    Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari datuknya menceriterakan, kata datuknya itu:

    “Ya, Rasulullah! Aurat kami untuk apa harus kami pakai, dan apa yang harus kami tinggalkan? Jawab Nabi. ‘Jagalah auratmu itu kecuali terhadap isterimu atau hamba sahayamu.’ Aku bertanya lagi: ‘Ya, Rasulullah! Bagaimana kalau suatu kaum itu bergaul satu sama lain?’ Jawab Nabi, ‘Kalau kamu dapat supaya tidak seorang pun yang melihatnya, maka janganlah dia melihat.’ Aku bertanya lagi: ‘Bagaimana kalau kami sendirian?’ Jawab Nabi, ‘Allah tabaraka wa Ta’ala, lebih berhak (seseorang) malu kepadaNya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi, Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi)

    Islam Agama Bersih dan Cantik

    Sebelum Islam mencenderung kepada masalah perhiasan dan gerak yang baik, terlebih dahulu Islam mengerahkan kecenderungannya yang lebih besar kepada masalah kebersihan adalah merupakan dasar pokok bagi setiap perhiasan yang baik dan pemandangan yang elok.

    Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda sebagai berikut:

    “Menjadi bersihlah kamu, karena sesungguhnya Islam itu bersih.” (Riwayat Ibnu Hibban)

    Dan sabdanya pula:

    “Kebersihan itu dapat mengajak orang kepada iman. Sedang iman itu akan bersama pemiliknya ke sorga.” (Riwayat Thabarani)

    Rasulullah s.a.w. sangat menekankan tentang masalah kebersihan pakaian, badan, rumah dan jalan-jalan. Dan lebih serius lagi, yaitu tentang kebersihan gigi, tangan dan kepala.

    Ini bukan suatu hal yang mengherankan, karena Islam telah meletakkan suci (bersih) sebagai kunci bagi peribadatannya yang tertinggi yaitu shalat. Oleh karena itu tidak akan diterima sembahyangnya seorang muslim sehingga badannya bersih, pakaiannya bersih dan tempat yang dipakai pun dalam keadaan bersih. Ini belum termasuk kebersihan yang diwajibkan terhadap seluruh badan atau pada anggota badan. Kebersihan yang wajib ini dalam Islam dilakukan dengan mandi dan wudhu’.

    Kalau suasana bangsa Arab itu dikelilingi oleh suasana pedesaan padang pasir di mana orang-orangnya atau kebanyakan mereka itu telah merekat dengan meremehkan urusan kebersihan dan berhias, maka Nabi Muhammad s.a.w. waktu itu memberikan beberapa bimbingan yang cukup dapat membangkitkan, serta nasehat-nasehat yang jitu, sehingga mereka naik dari sifat-sifat primitif menjadi bangsa modern dan dari bangsa yang sangat kotor menjadi bangsa yang cukup necis.

    Pernah ada seorang laki-laki datang kepada Nabi, rambut dan jenggotnya morat-marit tidak terurus, kemudian Nabi mengisyaratkan, seolah-olah memerintah supaya rambutnya itu diperbaiki, maka orang tersebut kemudian memperbaikinya, dan setelah itu dia kembali lagi menghadap Nabi.

    Maka kata Nabi:

    “Bukankah ini lebih baik daripada dia datang sedang rambut kepalanya morat-marit seperti syaitan?” (Riwayat Malik)

    Dan pernah juga Nabi melihat seorang laki-laki yang kepalanya kotor sekali.

    Maka sabda Nabi:

    “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu yang dengan itu dia dapat meluruskan rambutnya?”

    Pernah juga Nabi melihat seorang yang pakaiannya kotor sekali, maka apa kata Nabi:

    “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dipakai mencuci pakaiannya?” (Riwayat Abu Daud)

    Dan pernah ada seorang laki-laki datang kepada Nabi, pakaiannya sangat menjijikkan, maka tanya Nabi kepadanya:

    “Apakah kamu mempunyai uang?” Orang tersebut menjawab: “Ya! saya punya” Nabi bertanya lagi. “Dari mana uang itu?” Orang itupun kemudian menjawab: “Dari setiap harta yang Allah berikan kepadaku.” Maka kata Nabi: “Kalau Allah memberimu harta, maka sungguh Dia (lebih senang) menyaksikan bekas nikmatNya yang diberikan kepadamu dan bekas kedermawananNya itu.” (Riwayat Nasa’i)

    Masalah kebersihan ini lebih ditekankan lagi pada hari-hari berkumpul, misalnya: Pada hari Jum’at dan Hari raya. Dalam hal ini Nabi pun pernah bersabda:

    “Sebaiknyalah salah seorang di antara kamu –jika ada rezeki– memakai dua pakaian untuk hari Jum’at, selain pakaian kerja.” (Riwayat Abu Daud)

    Emas dan Sutera Asli Haram Untuk Orang Laki-Laki

    Kalau Islam telah memberikan perkenan bahkan menyerukan kepada umatnya supaya berhias dan menentang keras kepada siapa yang mengharamkannya, yaitu seperti yang dikatakan Allah dalam al-Quran:

    “Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hambaNya dan begitu juga rezeki-rezeki yang baik (halal)?” (al-A’raf: 32)

    Maka dibalik itu Islam telah mengharamkan kepada orang laki-laki dua macam perhiasan, di mana kedua perhiasan tersebut justru paling manis buat kaum wanita. Dua macam perhiasan itu ialah:

    1. Berhias dengan emas.
    2. Memakai kain sutera asli.

    Ali bin Abu Talib r.a. berkata:

    “Rasulullah s.a.w. mengambil sutera, ia letakkan di sebelah kanannya, dan ia mengambil emas kemudian diletakkan di sebelah kirinya, lantas ia berkata: Kedua ini haram buat orang laki-laki dari umatku.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

    Tetapi Ibnu Majah menambah:

    “halal buat orang-orang perempuan.”

    Dan Saiyidina Umar pernah juga berkata:

    “Aku pernah mendengar Rasulullah s.a. w. bersabda: ‘Jangan kamu memakai sutera, karena barangsiapa memakai di dunia, nanti di akhirat tidak lagi memakainya.'” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan tentang masalah pakaian sutera Nabi pun pernah juga bersabda:

    “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang yang (nanti di akhirat) tidak ada sedikitpun bagian baginya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan tentang masalah emas, Nabi s.a.w. pernah melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, kemudian oleh Nabi dicabutnya cincin itu dan dibuang ke tanah.

    Kemudian beliau bersabda:

    “Salah seorang diantara kamu ini sengaja mengambil bara api kemudian ia letakkan di tangannya. Setelah Rasulullah pergi, kepada si laki-laki tersebut dikatakan: ‘Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah.’ Maka jawabnya: ‘Tidak! Demi Allah, saya tidak mengambil cincin yang telah dibuang oleh Rasulullah.'” (Riwayat Muslim)

    Dan seperti cincin, menurut apa yang kami saksikan di kalangan orang-orang kaya, yaitu mereka memakai pena emas, jam emas, gelang emas, kaling rokok emas, mulut(?)/gigi emas dan seterusnya.

    Adapun memakai cincin perak, buat orang laki-laki jelas telah dihalalkan oleh Rasulullah s.a.w., sebagaimana tersebut dalam hadis riwayat Bukhari, bahwa Rasulullah sendiri memakai cicin perak, yang kemudian cincin itu pindah ke tangan Abubakar, kemudian pindah ke tangan Umar dan terakhir pindah ke tangan Usman sehingga akhirnya jatuh ke sumur Aris (di Quba’).

    Tentang logam-logam yang lain seperti besi dan sebagainya tidak ada satupun nas yang mengharamkannya, bahkan yang ada adalah sebaliknya, yaitu Rasulullah s.a.w. pernah menyuruh kepada seorang laki-laki yang hendak kawin dengan sabdanya:

    “Berilah (si perempuan itu) mas kawin, walaupun dengan satu cincin dari besi.” (Riwayat Bukhari)

    Dari hadis inilah, maka Imam Bukhari beristidlal untuk menetapkan halalnya memakai cincin besi.

    Memakai pakaian sutera dapat diberikan keringanan (rukhshah) apabila ada suatu keperluan yang berhubungan dengan masalah kesehatan, yaitu sebagaimana Rasulullah pernah mengizinkan Abdur-Rahman bin ‘Auf dan az-Zubair bin Awwam untuk memakai sutera karena ada luka di bagian badannya.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 17 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Memelihara Rambut 

    rambutwarna280Halal dan Haram Memelihara Rambut

    Menipiskan Alis

    Salah satu cara berhias yang berlebih-lebihan yang diharamkan Islam, yaitu mencukur rambut alis mata untuk ditinggikan atau disamakan. Dalam hal ini Rasulullah pernah melaknatnya, seperti tersebut dalam hadis:

    “Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan-perempuan yang mencukur alisnya atau minta dicukurkan alisnya.” (Riwayat Abu Daud, dengan sanad yang hasan. Demikian menurut apa yang tersebut dalam Fathul Baari)

    Sedang dalam Bukhari disebut:

    Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan-perempuan yang minta dicukur alisnya.

    Lebih diharamkan lagi, jika mencukur alis itu dikerjakan sebagai simbol bagi perempuan-perempuan cabul.

    Sementara ulama madzhab Hanbali berpendapat, bahwa perempuan diperkenankan mencukur rambut dahinya, mengukir, memberikan cat merah (make up) dan meruncingkan ujung matanya, apabila dengan seizin suami, karena hal tersebut termasuk berhias.

    Tetapi oleh Imam Nawawi diperketat, bahwa mencukur rambut dahi itu samasekali tidak boleh. Dan dibantahnya dengan membawakan riwayat yang tersebut dalam Sunan Abu Daud: Bahwa yang disebut namishah (mencukur alis) sehingga tipis sekali. Dengan demikian tidak termasuk menghias muka dengan menghilangkan bulu-bulunya.

    Imam Thabari meriwayatkan dari isterinya Abu Ishak, bahwa satu ketika dia pernah ke rumah Aisyah, sedang isteri Abu Ishak adalah waktu itu masih gadis nan jelita. Kemudian dia bertanya: Bagaimana hukumnya perempuan yang menghias mukanya untuk kepentingan suaminya? Maka jawab Aisyah: Hilangkanlah kejelekan-kejelekan yang ada pada kamu itu sedapat mungkin.

    Menyambung Rambut

    Termasuk perhiasan perempuan yang terlarang ialah menyambung rambut dengan rambut lain, baik rambut itu asli atau imitasi seperti yang terkenal sekarang ini dengan nama wig.

    Imam Bukhari meriwayatkan dari jalan Aisyah, Asma’, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Abu Hurairah sebagai berikut:

    “Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang menyambung rambut atau minta disambungkan rambutnya.”

    Bagi laki-laki lebih diharamkan lagi, baik dia itu bekerja sebagai tukang menyambung seperti yang dikenal sekarang tukang rias ataupun dia minta disambungkan rambutnya, jenis perempuan-perempuan wadam (laki-laki banci) seperti sekarang ini.

    Persoalan ini oleh Rasulullah s.a.w, diperkeras sekali dan digiatkan untuk memberantasnya. Sampai pun terhadap perempuan yang rambutnya gugur karena sakit misalnya, atau perempuan yang hendak menjadi pengantin untuk bermalam pertama dengan suaminya, tetap tidak boleh rambutnya itu disambung.

    Aisyah meriwayatkan:

    “Seorang perempuan Anshar telah kawin, dan sesungguhnya dia sakit sehingga gugurlah rambutnya, kemudian keluarganya bermaksud untuk menyambung rambutnya, tetapi sebelumnya mereka bertanya dulu kepada Nabi, maka jawab Nabi: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya.” (Riwayat Bukhari)

    Asma’ juga pernah meriwayatkan:

    “Ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi s.a.w.: Ya Rasulullah, sesungguhnya anak saya terkena suatu penyakit sehingga gugurlah rambutnya, dan saya akan kawinkan dia apakah boleh saya sambung rambutnya? Jawab Nabi: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan rambutnya.” (Riwayat Bukhari)

    Said bin al-Musayib meriwayatkan:

    “Muawiyah datang ke Madinah dan ini merupakan kedatangannya yang paling akhir di Madinah, kemudian ia bercakap-cakap dengan kami. Lantas Muawiyah mengeluarkan satu ikat rambut dan ia berkata: Saya tidak pernah melihat seorangpun yang mengerjakan seperti ini kecuali orang-orang Yahudi, dimana Rasulullah s.a.w. sendiri menamakan ini suatu dosa yakni perempuan yang menyambung rambut (adalah dosa).”

    Dalam satu riwayat dikatakan, bahwa Muawiyah berkata kepada penduduk Madinah:

    “Di mana ulama-ulamamu? Saya pernah mendengar sendiri Rasulullah s.a.w. bersabda: Sungguh Bani Israel rusak karena perempuan-perempuannya memakai ini (cemara).” (Riwayat Bukhari)

    Rasulullah menamakan perbuatan ini zuur (dosa) berarti memberikan suatu isyarat akan hikmah diharamkannya hal tersebut. Sebab hal ini tak ubahnya dengan suatu penipuan, memalsu dan mengelabui. Sedang Islam benci sekali terhadap perbuatan menipu; dan samasekali antipati terhadap orang yang menipu dalam seluruh lapangan muamalah, baik yang menyangkut masalah material ataupun moral. Kata Rasulullah s.a.w.:

    “Barangsiapa menipu kami, bukanlah dari golongan kami.” (Riwayat Jamaah sahabat)

    Al-Khaththabi berkata: Adanya ancaman yang begitu keras dalam persoalan-persoalan ini, karena di dalamnya terkandung suatu penipuan. Oleh karena itu seandainya berhias seperti itu dibolehkan, niscaya cukup sebagai jembatan untuk bolehnya berbuat bermacam-macam penipuan. Di samping itu memang ada unsur perombakan terhadap ciptaan Allah. Ini sesuai dengan isyarat hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang mengatakan “… perempuan-perempuan yang merombak ciptaan Allah.”

    Yang dimaksud oleh hadis-hadis tersebut di atas, yaitu menyambung rambut dengan rambut, baik rambut yang dimaksud itu rambut asli ataupun imitasi. Dan ini pulalah yang dimaksud dengan memalsu dan mengelabui. Adapun kalau dia sambung dengan kain atau benang dan sabagainya, tidak masuk dalam larangan ini. Dan dalam hal inf Said bin Jabir pernah mengatakan:

    “Tidak mengapa kamu memakai benang.”

    Yang dimaksud [tulisan Arab] di sini ialah benang sutera atau wool yang biasa dipakai untuk menganyam rambut (jw. kelabang), dimana perempuan selalu memakainya untuk menyambung rambut. Tentang kebolehan memakai benang ini telah dikatakan juga oleh Imam Ahmad.21

    Semir Rambut

    Termasuk dalam masalah perhiasan, yaitu menyemir rambut kepala atau jenggot yang sudah beruban.

    Sehubungan dengan masalah ini ada satu riwayat yang menerangkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut dan merombaknya, dengan suatu anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan ahli-ahli Zuhud yang berlebih-lebihan itu. Namun Rasulullah s.a.w. melarang taqlid pada suatu kaum dan mengikuti jejak mereka, agar selamanya kepribadian umat Islam itu berbeda, lahir dan batin. Untuk itulah maka dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. mengatakan:

    “Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak mau menyemir rambut, karena itu berbedalah kamu dengan mereka.” (Riwayat Bukhari)

    Perintah di sini mengandung arti sunnat, sebagaimana biasa dikerjakan oleh para sahabat, misalnya Abubakar dan Umar. Sedang yang lain tidak melakukannya, seperti Ali, Ubai bin Kaab dan Anas.

    Tetapi warna apakah semir yang dibolehkan itu? Dengan warna hitam dan yang lainkah atau harus menjauhi warna hitam? Namun yang jelas, bagi orang yang sudah tua, ubannya sudah merata baik di kepalanya ataupun jenggotnya, tidak layak menyemir dengan warna hitam. Oleh karena itu tatkala Abubakar membawa ayahnya Abu Kuhafah ke hadapan Nabi pada hari penaklukan Makkah, sedang Nabi melihat rambutnya bagaikan pohon tsaghamah yang serba putih buahnya maupun bunganya.

    Untuk itu, maka bersabdalah Nabi:

    “Ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam.” (Riwayat Muslim)

    Adapun orang yang tidak seumur dengan Abu Kuhafah (yakni belum begitu tua), tidaklah berdosa apabila menyemir rambutnya itu dengan warna hitam. Dalam hal ini az-Zuhri pernah berkata: “Kami menyemir rambut dengan warna hitam apabila wajah masih nampak muda, tetapi kalau wajah sudah mengerut dan gigi pun telah goyah, kami tinggalkan warna hitam tersebut.”

    Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain.

    Sedang dari kalangan para ulama ada yang berpendapat tidak boleh warna hitam kecuali dalam keadaan perang supaya dapat menakutkan musuh, kalau mereka melihat tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda.

    Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar mengatakan:

    “Sebaik-baik bahan yang dipakai untuk menyemir uban ialah pohon inai dan katam.” (Riwayat Tarmizi dan Ashabussunan)

    Inai berwarna merah, sedang katam sebuah pohon yang tumbuh di zaman Rasulullah s.a.w. yang mengeluarkan zat berwarna hitam kemerah-merahan.

    Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Abubakar menyemir rambutnya dengan inai dan katam, sedang Umar hanya dengan inai saja.

    Memelihara Jenggot

    Termasuk yang urgen dalam permasalahan kita ini, ialah tentang memelihara jenggot. Untuk ini Ibnu Umar telah meriwayatkan dari Nabi s.a.w. yang mengatakan sebagai berikut:

    “Berbedalah kamu dengan orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis.” (Riwayat Bukhari)

    Perkataan i’fa (pelihara) dalam riwayat lain diartikan tarkuha wa ibqaauha (tinggalkanlah dan tetapkanlah).

    Hadis ini menerangkan alasan diperintahkannya untuk memelihara jenggot dan mencukur kumis, yaitu supaya berbeda dengan orang-orang musyrik. Sedang yang dimaksud orang-orang musyrik di sini ialah orang-orang Majusi penyembah api, dimana mereka itu biasa menggunting jenggotnya, bahkan ada yang mencukurnya.

    Perintah Rasulullah ini mengandung pendidikan untuk umat Islam supaya mereka mempunyai kepribadian tersendiri serta berbeda dengan orang kafir lahir dan batin, yang tersembunyi maupun yang tampak. Lebih-lebih dalam hal mencukur jenggot ini ada unsur-unsur menentang fitrah dan menyerupai orang perempuan. Sebab jenggot adalah lambang kesempurnaan laki-laki dan tanda-tanda yang membedakan dengan jenis lain.

    Namun demikian, bukan berarti samasekali tidak boleh memotong jenggot dimana kadang-kadang jenggot itu kalau dibiarkan bisa panjang yang menjijikkan yang dapat mengganggu pemiliknya. Untuk itulah maka jenggot yang demikian boleh diambil/digunting kebawah maupun kesamping, sebagaimana tersebut dalam hadis rlwayat Tarmizi. Hal ini pernah juga dikerjakan oleh sementara ulama salaf, seperti kata Iyadh: “Mencukur, menggunting dan mencabut jenggot dimakruhkan. Tetapi kalau diambil dari panjangnya atau ke sampingnya apabila ternyata jenggot itu besar (tebal), maka itu satu hal yang baik.”

    Dan Abu Syamah juga berkata: “Terdapat suatu kaum yang biasa mencukur jenggotnya. Berita yang terkenal, bahwa yang berbuat demikian itu ialah orang-orang Majusi, bahwa mereka itu biasa mencukur jenggotnya.”

    Kami berpendapat: Bahwa kebanyakan orang-orang Islam yang mencukur jenggotnya itu lantaran mereka meniru musuh-musuh mereka dan kaum penjajah negeri mereka dan orang-orang Yahudi dan Kristen. Sebagaimana kelazimannya, bahwa orang-orang yang kalah senantiasa meniru orang yang menang. Mereka melakukan hal itu jelas telah lupa kepada perintah Rasulullah yang menyuruh supaya mereka berbeda dengan orang-orang kafir. Di samping itu mereka telah lupa pula terhadap larangan Nabi tentang menyerupai orang kafir, seperti yang tersebut dalam hadisnya yang mengatakan:

    “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu termasuk golongan mereka.” (Riwayat Abu Dawud)

    Kebanyakan ahli-ahli fiqih yang berpendapat tentang haramnya mencukur jenggot itu berdalil perintah Rasul di atas. Sedang tiap-tiap perintah asalnya menunjukkan pada wajib, lebih-lebih Rasulullah sendiri telah memberikan alasan perintahnya itu supaya kita berbeda dengan orang-orang kafir. Dan berbeda dengan orang kafir itu sendiri hukumnya wajib pula.

    Tidak seorang pun ulama salaf yang meninggalkan kewajiban ini. Tetapi sementara ulama-ulama sekarang ada yang membolehkan mencukur jenggot karena terpengaruh oleh keadaan dan memang karena bencana yang telah meluas. Mereka ini berpendapat, bahwa memelihara jenggot itu termasuk perbuatan Rasulullah yang bersifat duniawiah, bukan termasuk persoalan syara’ yang harus ditaati. Tetapi yang benar, bahwa memelihara jenggot itu bukan sekedar fi’liyah Nabi, bahkan ditegaskan pula dengan perintah dan disertai alasan supaya berbeda dengan orang kafir,

    Ibnu Taimiyah menegaskan, bahwa berbeda dengan orang kafir adalah suatu hal yang oleh syara’ ditekankan. Dan menyerupai orang kafir dalam lahiriahnya dapat menimbulkan perasaan kasih dalam hatinya, sebagaimana perasaan kasih dalam batin dapat menimbulkan perasaan dalam lahir. Ini sudah dibuktikan sendiri oleh suatu kenyataan dan diperoleh berdasarkan suatu percobaan.

    Selanjutnya ia berkata: Al-Quran, Hadis dan Ijma’ sudah menegaskan terhadap perintah supaya berbeda dengan orang kafir dan dilarang menyerupai mereka secara keseluruhannya. Apa saja yang kiranya menimbulkan kerusakan walaupun agak tersembunyi, maka sudah dapat dikaitkan dengan suatu hukum dan dapat dinyatakan haram. Maka dalam hal menyerupai orang kafir pada lahiriahnya sudah merupakan sebab untuk menyerupai akhlak dan perbuatannya yang tercela, bahkan akan bisa berpengaruh pada kepercayaan. Pengaruhnya ini memang tidak dapat dikonkritkan, dan kejelekan yang ditimbulkan akibat dari sikap menyerupai itu sendiri kadang-kadang tidak begitu jelas, bahkan kadang-kadang sukar dibuktikan. Tetapi setiap hal yang menjadi sebab timbulnya suatu kerusakan, syara’ menganggapnya suatu hal yang haram.25

    Dari keterangan-keterangan di atas dapat kita simpulkan, bahwa masalah mencukur jenggot ini ada tiga pendapat:

    Pendapat pertama: Hukumnya haram. Yang berpendapat demikian, ialah Ibnu Taimiyah dan lain-lain.

    Pendapat kedua: Makruh. Yang berpendapat demikian ialah Iyadh, sebagaimana tersebut dalam Fathul Bari. Sedang ulama lain tidak ada yang berpendapat demikian.

    Pendapat ketiga: Mubah. Yang berpendapat demikian sementara ulama sekarang.

    Tetapi barangkali yang agak moderat dan bersikap tengah-tengah yaitu pendapat yang menyatakan makruh. Sebab tiap-tiap perintah tidak selamanya menunjukkan pada wajib, sekalipun dalam hal ini Nabi telah memberikan alasannya supaya berbeda dengan orang kafir. Perbandingan yang lebih mendekati kepada persoalan ini ialah tentang perintah menyemir rambut supaya berbeda dengan orang Yahudi dan Kristen. Tetapi sebagian sahabat ada yang tidak mengerjakannya. Oleh karena itu perintah tersebut sekedar menunjukkan sunnat.

    Betul tidak ada seorang pun ulama salaf yang mencukur jenggot, tetapi barangkali saja karena mereka tidak begitu memerlukan, karena memelihara jenggot waktu itu sudah menjadi kebiasaan mereka

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:44 pm on 16 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Dalam Rumah 

    rumah21Halal dan Haram Dalam Rumah

    RUMAH adalah tempat yang dipakai seseorang untuk melindungi kebiasaan-kebiasaan tabiat dan dapat melepaskan diri dari ikatan-ikatan masyarakat sehingga dengan demikian tubuh ini bisa istirahat dan jiwa bisa tenang.

    Untuk itulah Allah berfirman dalam hubungannya dengan mengetengahkan kenikmatannya kepada manusia:

    “Allah menjadikan untuk kamu rumah-rumah kamu sebagai tempat ketenangan.” (an-Nahl: 80)

    Rasulullah s.a.w. senang sekali rumah yang luas, dan dimasukkan sebagai unsur kebahagiaan duniawi.

    Maka sabdanya:

    “Empat hal yang membawa kebahagiaan, yaitu perempuan salehah, rumah yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang enak.” (Riwayat Ibnu Hibban)

    Dan doa yang sering diucapkan Nabi ialah:

    “Ya Allah! Ampunilah dosaku, luaskanlah rumahku, berilah barakah dalam rezekiku! Kemudian beliau ditanya: Mengapa doa ini yang banyak engkau baca, ya Rasulullah? Maka jawab Nabi: Apa ada sesuatu yang lain yang kamu cintai?” (Riwayat Nasa’i dan Ibnu Sunni)

    Rasulullah juga memerintahkan supaya rumah-rumah kita itu bersih, agar nampak syiar Islam yang diantaranya ialah bersih, dan agar merupakan tanda yang dapat membedakan seorang muslim dengan orang lain yang menurut penilaian agamanya, bahwa kotor itu merupakan salah satu wasilah untuk berkorban kepada Allah.

    Sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Sesungguhnya Allah itu baik, Dia suka kepada yang baik. Dia juga bersih, suka kepada yang bersih. Dia juga mulia, suka kepada yang mulia. Dia juga dermawan, sangat suka kepada yang dermawan. Oleh karena itu bersihkanlah halaman rumahmu, jangan kamu menyerupai orang-orang Yahudi.” (Riwayat Tarmizi)

    Lambang-Lambang Kemewahan dan Kemusyrikan

    Seorang muslim tidak dilarang untuk menghias rumahnya dengan karangan bunga yang warna-warni, dan ukiran-ukiran serta hiasan yang halal.

    Sebab Allah telah berfirman:

    “Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah ia keluarkan untuk hamba-hambanya?” (al-A’raf: 32)

    Betul seorang muslim tidak berdosa untuk menghias rumahnya, pakaiannya, sandalnya dan sebagainya.

    Sebab Rasulullah pernah juga bersabda:

    “Tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya ada seberat zarrah daripada kesombongan. Kemudian ada seorang laki-laki yang bertanya: Ya Rasulullah! Seseorang itu biasa senang kalau pakaiannya itu baik dan sandalnya pun baik pula, apakah itu termasuk sombong? Jawab Nabi. Sesungguhnya Allah itu baik, Ia suka kepada yang baik.” (Riwayat Muslim)

    Dan di satu riwayat disebutkan:

    “Ada seorang laki-laki ganteng datang kepada Nabi, kemudian ia bertanya: Saya ini sangat suka kepada keindahan, dan saya sendiri telah diberi keindahan itu sebagaimana engkau lihat, sehingga aku tidak suka kalau ada seseorang yang mau mengatasi aku dengan menyamai sandalnya, apakah ini termasuk sombong ya Rasulullah? Jawab Nabi.”Tidak!” Sebab yang disebut sombong ialah menolak kebenaran dan menghina orang lain.” (Riwayat Abu Daud)

    Namun demikian, Islam tidak suka kepada berlebih-lebihan dalam segala hal. Dan Nabi sendiri tidak senang seorang muslim yang rumahnya itu penuh dengan lambang-lambang kemewahan dan berlebih-lebihan yang sangat dicela oleh al-Quran, atau rumahnya itu ada lambang-lambang kemusyrikan yang sangat ditentang oleh Agama Tauhid dengan segala macam senjata yang mungkin.

    Bejana Emas dan Perak

    Untuk itulah, maka Islam mengharamkan membuat bejana dari emas atau perak dan seperei-seperei sutera murni dalam rumah seorang muslim. Nabi sendiri memberikan ancaman keras terhadap orang yang cenderung kepada cara-cara ini.

    Kata Ummu Salamah ummul mu’minin:

    “Sesungguhnya orang yang makan dan minum dengan bejana emas dan perak, maka akan gemercik suara api neraka dalam perutnya.” (Riwayat Muslim)

    Dan Huzaifah juga pernah mengatakan:

    “Rasulullah melarang kami minum dengan bejana emas dan perak atau kita makan dengannya, dan melarang memakai pakaian sutera tipis dan sutera tebal serta dilarang kita duduk di atasnya. Kemudian Nabi bersabda pula: Kain ini untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan untuk kamu nanti di akhirat.” (Riwayat Bukhari)

    Jadi kalau kita dilarang memakainya, berarti haram juga membuatnya untuk hiasan.

    Diharamkan bejana emas/perak dan seperei-seperei sutera itu, berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Sedang hikmahnya agama mengharamkan hal-hal tersebut dengan suatu tujuan untuk membersihkan rumah dari unsur-unsur kemewahan/berlebih-lebihan.

    Tepat sekali apa yang dikatakan Ibnu Qudamah: hal tersebut di atas berlaku sama antara laki-laki dan perempuan karena umumnya hadis, dan karena alasan diharamkannya justru karena berlebih-lebihan dan kesombongan serta dapat memecahkan perasaan hati orang-orang fakir. Pengertian seperti ini meliputi kedua belah pihak. Adapun dibolehkannya perempuan berhias dengan emas dan sutera adalah demi kepentingan suami, bukan untuk orang lain.

    Kalau ditanyakan: Andaikata alasan diharamkannya itu seperti yang tersebut di atas, niscaya mutiara dan sebagainya adalah juga diharamkan karena harganya lebih tinggi? Untuk masalah ini akan kami jawab sebagai berikut: Mutiara (yakut) itu tidak begitu dikenal di kalangan orang miskin, oleh karena itu tidak dapat memecahkan perasaan hati mereka jika orang-orang kaya itu menjadikan benda ini sebagai hiasan, walaupun sesudah itu mereka menjadi kenal dengan yakut. Dan justru jarangnya yakut itu sendiri menyebabkan tidak ada orang kaya yang memakainya sebagai hiasan, sehingga dengan demikian tidak perlu lagi diharamkan walaupun ada perbedaan harga yang sangat menyolok.

    Ditinjau dari segi ekonomi, seperti yang telah kami sebutkan juga dalam hikmah diharamkannya emas untuk orang laki-laki, maka di bab ini hikmah tersebut akan lebih nampak dan lebih jelas. Sebab emas dan perak merupakan standard uang internasional yang oleh Allah dijadikan sebagai ukuran harga uang dan sebagai standard yang akan menentukan harga itu dengan adil serta memudahkan peredaran uang di kalangan orang banyak. Maka atas bimbingan Allah kepada umat manusia untuk menggunakan uang sebagai nikmat yang diberikan kepada mereka, uang tersebut harus diedarkan di kalangan orang banyak, jangan ditahan di rumah dalam bentuk uang yang tersimpan, atau dihilangkan dalam bentuk bejana dan alat-alat perhiasan lainnya.

    Betapa indahnya pula apa yang dikatakan Imam Ghazali dalam Syukur Nikmat didalam bukunya Ihya’. Ia mengatakan sebagai berikut: “Siapapun yang menjadikan dirham dan dinar sebagai bejana dari emas dan perak, berarti dia telah kufur nikmah (tidak tahu berterimakasih), dan dia lebih jahat daripada menyimpannya. Karena hal seperti ini sama halnya dengan orang yang memaksa kepala negara untuk bekerja sebagai tukang tenun dan tukang sapu tanpa upah, atau untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh manusia-manusia rendahan. Jadi menahan harta, lebih rendah dari itu semua. Sebab perkakas dari tanah, besi, timah dan tembaga menduduki fungsi emas dan perak sebagai alat untuk menjaga makanan supaya tidak rusak. Karena fungsi bejana pada hakikatnya adalah guna menjaga makanan. Maka tanpa uang alat-alat dari tanah dan besi itu tidak dapat memenuhi apa yang dimaksud.

    Jelasnya, barangsiapa yang kurang faham persoalan ini, kiranya cukup memahami terjemahan Tuhan dalam hal tersebut yang dilukiskan dalam bentuk ungkapannya: “barangsiapa minum dengan bejana emas atau perak, maka seolah-olah suara api neraka itu gemercik dalam perutnya.”

    Bentuk larangan ini jangan diartikan mempersempit gerak umat Islam dalam rumahtangga, sebab dalam masalah halal yang baik, mempunyai lapangan yang sangat luas. Berapa banyak bejana dari perunggu, dari kaca, dari tanah, dari tembaga dan dari tambang-tambang lain yang lebih bagus. Berapa banyak pula seperai dan bantal dari katun dan kapuk yang lebih indah daripada bahan lain!

    Islam Mengharamkan Patung

    Islam mengharamkan dalam rumahtangga Islam meliputi masalah patung. Sebab adanya patung dalam suatu rumah, menyebabkan Malaikat akan jauh dari rumah itu, padahal Malaikat akan membawa rahmat dan keridhaan Allah untuk isi rumah tersebut.

    Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya ada patung.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Ulama-ulama berkata: Malaikat tidak mau masuk rumah yang ada patungnya, karena pemiliknya itu menyerupai orang kafir, dimana mereka biasa meletakkan patung dalam rumah-rumah mereka untuk diagungkan. Untuk itulah Malaikat tidak suka dan mereka tidak mau masuk bahkan menjauh dari rumah tersebut.

    Oleh karenanya, Islam melarang keras seorang muslim bekerja sebagai tukang pemahat patung, sekalipun dia membuat patung itu untuk orang lain.

    Sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat, yaitu orang-orang yang menggambar gambar-gambar ini. Dalam satu riwayat dikatakan: Orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan Rasulullah s.a.w. memberitahukan juga dengan sabdanya:

    “Barangsiapa membuat gambar (patung) nanti di hari kiamat dia akan dipaksa untuk meniupkan roh padanya; padahal dia selamanya tidak akan bisa meniupkan roh itu.” (Riwayat Bukhari)

    Maksud daripada hadis ini, bahwa dia akan dituntut untuk menghidupkan patung tersebut.

    Perintah ini sebenarnya hanya suatu penghinaan dan mematahkan, sebab dia tidak mungkin dapat

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:19 am on 15 February 2016 Permalink | Balas  

    Lukisan dan Ukiran 

    siluet bukuLukisan dan Ukiran

    Demikianlah pendirian Islam terhadap gambar yang bertubuh, yakni yang sekarang dikenal dengan patung atau monumen. Tetapi bagaimanakah hukumnya gambar-gambar dan lukisan-lukisan seni yang dilukis di lembaran-lembaran, seperti kertas, pakaian, dinding, lantai, uang dan sebagainya itu?

    Jawabnya: Bahwa hukumnya tidak jelas, kecuali kita harus melihat gambar itu sendiri untuk tujuan apa? Di mana dia itu diletakkan? Bagaimana diperbuatnya? Dan apa tujuan pelukisnya itu?

    Kalau lukisan seni itu berbentuk sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar al-Masih bagi orang-orang Kristen atau sapi bagi orang-orang Hindu dan sebagainya, maka bagi si pelukisnya untuk tujuan-tujuan di atas, tidak lain dia adalah menyiarkan kekufuran dan kesesatan. Dalam hal ini berlakulah baginya ancaman Nabi yang begitu keras:

    “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat ialah orang-orang yang menggambar.” (Riwayat Muslim)

    Imam Thabari berkata: “Yang dimaksud dalam hadis ini, yaitu orang-orang yang menggambar sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan dia mengetahui dan sengaja. Orang yang berbuat demikian adalah kufur. Tetapi kalau tidak ada maksud seperti di atas, maka dia tergolong orang yang berdosa sebab menggambar saja.”

    Yang seperti ini ialah orang yang menggantungkan gambar-gambar tersebut untuk dikuduskan. Perbuatan seperti ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, kecuali kalau agama Islam itu dibuang di belakang punggungnya.

    Dan yang lebih mendekati persoalan ini ialah orang yang melukis sesuatu yang tidak biasa disembah, tetapi dengan maksud untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat membuat dan menciptakan jenis terbaru seperti ciptaan Allah. Orang yang melukis dengan tujuan seperti itu jelas telah keluar dari agama Tauhid. Terhadap orang ini berlakulah hadis Nabi yang mengatakan:

    “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya ialah orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” (Riwayat Muslim)

    Persoalan ini tergantung pada niat si pelukisnya itu sendiri.

    Barangkali hadis ini dapat diperkuat dengan hadis yang mengatakan:

    “Siapakah orang yang lebih berbuat zalim selain orang yang bekerja membuat seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat biji atau zarrah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Allah mengungkapkan firmanNya di sini dengan kata-kata “dzahaba yakhluqu kakhalqi” (dia bekerja untuk membuat seperti pembuatanku), ini menunjukkan adanya suatu kesengajaan untuk menandingi dan menentang kekhususan Allah dalam ciptaannya dan keindahannya. Oleh karena itu Allah menentang mereka supaya membuat sebutir zarrah. Ia memberikan isyarat, bahwa mereka itu benar-benar bersengaja untuk maksud tersebut. Justru itu Allah akan membalas mereka itu nanti dan mengatakan kepada mereka: “Hidupkan apa yang kamu cipta itu!” Mereka dipaksa untuk meniupkan roh ke dalam lukisannya itu, padahal dia tidak akan mampu.

    Termasuk gambar/lukisan yang diharamkan, yaitu gambar/lukisan yang dikuduskan (disucikan) oleh pemiliknya secara keagamaan atau diagung-agungkan secara keduniaan.

    Untuk yang pertama: Seperti gambar-gambar Malaikat dan para Nabi, misalnya Nabi Ibrahim, Ishak, Musa dan sebagainya. Gambar-gambar ini biasa dikuduskan oleh orang-orang Nasrani, dan kemudian sementara orang-orang Islam ada yang menirunya, yaitu dengan melukiskan Ali, Fatimah dan lain-lain.

    Sedang untuk yang kedua: Seperti gambar raja-raja, pemimpin-pemimpin dan seniman-seniman. Ini dosanya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan yang pertama tadi. Tetapi akan meningkat dosanya, apabila yang dilukis itu orang-orang kafir, orang-orang yang zalim atau orang-orang yang fasik. Misalnya para hakim yang menghukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang mengajak umat untuk berpegang kepada selain agama Allah atau seniman-seniman yang mengagung-agungkan kebatilan dan menyiar-nyiarkan kecabulan di kalangan umat.

    Kebanyakan gambar-gambar/lukisan-lukisan di zaman Nabi dan sesudahnya, adalah lukisan-lukisan yang disucikan dan diagung-agungkan. Sebab pada umumnya lukisan-lukisan itu adalah buatan Rum dan Parsi (Nasrani dan Majusi). Oleh karena itu tidak dapat melepaskan pengaruhnya terhadap pengkultusan kepada pemimpin-pemimpin agama dan negara.

    Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Abu Dhuha pernah berkata sebagai berikut: Saya dan Masruq berada di sebuah rumah yang di situ ada beberapa patung. Kemudian Masruq berkata kepadaku: Apakah ini patung Kaisar? Saya jawab: Tidak! Ini adalah patung Maryam.

    Masruq bertanya demikian, karena menurut anggapannya, bahwa lukisan itu buatan Majusi dimana mereka biasa melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Tetapi akhirnya ketahuan, bahwa patung tersebut adalah buatan orang Nasrani.

    Dalam kisah ini Masruq kemudian berkata: Saya pernah mendengar Ibnu Mas’ud menceriterakan apa yang ia dengar dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah, ialah para pelukis.”

    Selain gambar-gambar di atas, yaitu misalnya dia menggambar/melukis makhluk-makhluk yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, laut, gunung, matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Maka hal ini sedikitpun tidak berdosa dan tidak ada pertentangan samasekali di kalangan para ulama.

    Tetapi gambar-gambar yang bernyawa kalau tidak ada unsur-unsur larangan seperti tersebut di atas, yaitu bukan untuk disucikan dan diagung-agungkan dan bukan pula untuk maksud menyaingi ciptaan Allah, maka menurut hemat saya tidak haram. Dasar daripada pendapat ini adalah hadis sahih, antara lain:

    “Dari Bisir bin Said dari Zaid bin Khalid dari Abu Talhah sahabat Nabi, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar.” (Riwayat Muslim)

    Bisir berkata: Sesudah itu Zaid mengadukan. Kemudian kami jenguk dia, tiba-tiba di pintu rumah Zaid ada gambarnya. Lantas aku bertanya kepada Ubaidillah al-Khaulani anak tiri Maimunah isteri Nabi: Apakah Zaid belum pernah memberitahumu tentang gambar pada hari pertama? Kemudian Ubaidillah berkata: Apakah kamu tidak pernah mendengar dia ketika ia berkata: “Kecuali gambar di pakaian.”

    Tarmizi meriwayatkan dengan sanadnya dari Utbah, bahwa dia pernah masuk di rumah Abu Talhah al-Ansari untuk menjenguknya, tiba-tiba di situ ada Sahal bin Hanif. Kemudian Abu Talhah menyuruh orang supaya mencabut seprei yang di bawahnya (karena ada gambarnya). Sahal lantas bertanya kepada Abu Talhah: Mengapa kau cabut dia? Abu Talhah menjawab: Karena ada gambarnya, dimana hal tersebut telah dikatakan oleh Nabi yang barangkali engkau telah mengetahuinya. Sahal kemudian bertanya lagi: Apakah beliau (Nabi) tidak pernah berkata: “Kecuali gambar yang ada di pakaian?” Abu Talhah kemudian menjawab: Betul! Tetapi itu lebih menyenangkan hatiku.” (Kata Tarmizi: hadis ini hasan sahih)

    Tidakkah dua hadis di atas sudah cukup untuk menunjukkan, bahwa gambar yang dilarang itu ialah yang berjasad atau yang biasa kita istilahkan dengan patung? Adapun gambar-gambar ataupun lukisan-lukisan di papan, pakaian, lantai, tembok dan sebagainya tidak ada satupun nas sahih yang melarangnya.

    Betul di situ ada beberapa hadis sahih yang menerangkan bahwa Nabi menampakkan ketidak-sukaannya, tetapi itu sekedar makruh saja. Karena di situ ada unsur-unsur menyerupai orang-orang yang bermewah-mewah dan penggemar barang-barang rendahan.

    Imam Muslim meriwayatkan dari jalan Zaid bin Khalid al-Juhani dari Abu Talhah al-Ansari, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Saya (Zaid) kemudian bertanya kepada Aisyah: Sesungguhnya ini (Abu Talhah) memberitahuku, bahwa Rasulullah s.a.w. telah bersabda. Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung. Apakah engkau juga demikian? Maka kata Aisyah: Tidak! Tetapi saya akan menceriterakan kepadamu apa yang pernah saya lihat Nabi kerjakan, yaitu: Saya lihat Nabi keluar dalam salah satu peperangan, kemudian saya membuat seprei korden (yang ada gambarnya) untuk saya pakai menutup pintu. Setelah Nabi datang, ia melihat korden tersebut. Saya lihat tanda marah pada wajahnya, lantas dicabutnya korden tersebut sehingga disobek atau dipotong sambil ia berkata: Sesungguhnya Allahi tidak menyuruh kita untuk memberi pakaian kepada batu dan tanah. Kata Aisyah selanjutnya: Kemudian kain itu saya potong daripadanya untuk dua bantal dan saya penuhi dengan kulit buah-buahan, tetapi Rasulullah sama sekali tidak mencela saya terhadap yang demikian itu.” (Riwayat Muslim)

    Hadis tersebut tidak lebih hanya menunjukkan makruh tanzih karena memberikan pakaian kepada dinding dengan korden yang bergambar.

    Imam Nawawi berkata: hadis tersebut tidak menunjukkan haram, karena hakikat perkataan sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita itu tidak dapat dipakai untuk menunjukkan wajib, sunnat atau haram.

    Yang semakna dengan ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari jalan Aisyah pula, ia berkata:

    “Saya mempunyai tabir padanya ada gambar burung, sedang setiap orang yang masuk akan menghadapnya (akan melihatnya), kemudian Nabi berkata kepadaku: Pindahkanlah ini, karena setiap saya masuk dan melihatnya maka saya ingat dunia.”(Riwayat Muslim)

    Dalam hadis ini Rasulullah s.a.w. tidak menyuruh Aisyah supaya memotongnya, tetapi beliau hanya menyuruh memindahkan ke tempat lain. Ini menunjukkan ketidaksukaan Nabi melihat, bahwa di hadapannya ada gambar tersebut yang dapat mengingatkan kebiasaan dunia dengan seluruh aneka keindahannya itu; lebih-lebih beliau selalu sembahyang sunnat di rumah. Sebab seprai-seprai dan korden-korden yang bergambar sering memalingkan hati daripada kekhusyu’an dan pemusatan menghadap untuk bermunajat kepada Allah. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalan Anas, ia mengatakan: Bahwa korden Aisyah dipakai untuk menutupi samping rumahnya, kemudian Nabi menyuruh dia dengan sabdanya:

    “Singkirkanlah korden itu dariku, karena gambar-gambarnya selalu tampak dalam sembahyangku.” (Riwayat Bukhari)

    Dengan demikian jelas, bahwa Nabi sendiri membenarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung dan sebagainya.

    Dari hadis-hadis itu pula, sementara ulama salaf berpendapat: “Bahwa gambar yang dilarang itu hanyalah yang ada bayangannya, adapun yang tidak ada bayangannya tidak menqapa.”27

    Pendapat ini diperkuat oleh hadis Qudsi yang mengatakan: “Siapakah yang terlebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat seperti ciptaanKu? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah, cobalah mereka membuat beras belanda!” (Riwayat Bukhari).

    Ciptaan Allah sebagaimana kita lihat, bukan terlukis di atas dataran tetapi berbentuk dan berjisim, sebagaimana Dia katakan:

    “Dialah Zat yang membentuk kamu di dalam rahim bagaimanapun Ia suka.” (ali-Imran: 6)

    Tidak ada yang menentang pendapat ini selain hadis yang diriwayatkan Aisyah, dalam salah satu riwayat Bukhari dan Muslim, yang berbunyi sebagai berikut:

    “Sesungguhnya Aisyah membeli bantal yang ada gambar-gambarnya, maka setelah Nabi melihatnya ia berdiri di depan pintu, tidak mau masuk. Setelah Aisyah melihat ada tanda kemarahan di wajah Nabi, maka Aisyah bertanya: Apakah saya harus bertobat kepada Allah dan RasulNya, apa salah saya? Jawab Nabi: Mengapa bantal itu begitu macam? Jawab Aisyah: Saya beli bantal ini untuk engkau pakai duduk dan dipakai bantal. Maka jawab Rasulullah pula: Yang membuat gambar-gambar ini nanti akan disiksa, dan akan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang kamu buat itu. Lantas Nabi melanjutkan pembicaraannya: Sesungguhnya rumah yang ada gambarnya tidak akan dimasuki Malaikat. Dan Imam Muslim menambah dalam salah satu riwayat Aisyah, ia (Aisyah) mengatakan: Kemudian bantal itu saya jadikan dua buah untuk bersandar, dimana Nabi biasa bersandar dengan dua sandaran tersebut di rumah. Yakni Aisyah membelah bantal tersebut digunakan untuk dua sandaran.” (Riwayat Muslim)

    Akan tetapi hadis ini, nampaknya, bertentangan dengan sejumlah hal-hal sebagai berikut:

    1) Dalam riwayat yang berbeda-beda nampak bertentangan. Sebagian menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. menggunakan tabir/korden yang bergambar yang kemudian dipotong-potong dan dipakai bantal. Sedang sebagian lagi menunjukkan, bahwa beliau samasekali tidak menggunakannya.

    2) Sebagian riwayat-riwayat itu hanya sekedar menunjukkan makruh. Sedang kemakruhannya itu karena korden tembok itu bergambar yang dapat menggambarkan semacam berlebih-lebihan yang ia (Rasulullah) tidak senang. Oleh karena itu dalam Riwayat Muslim, ia berkata: ”Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian pada batu dan tanah.”

    3) Hadis Muslim yang diriwayatkan oleh Aisyah itu sendiri menggambarkan di rumahnya ada tabir/korden yang bergambar burung. Kemudian Nabi menyuruh dipindahkan, dengan kata-katanya: “Pindahkanlah, karena saya kalau melihatnya selalu ingat dunia!” Ini tidak menunjukkan kepada haram secara mutlak.

    4) Bertentangan dengan hadis qiram (tabir) yang ada di rumah Aisyah juga, kemudian oleh Nabi disuruhnya menyingkirkan, sebab gambar-gambarnya itu selalu tampak dalam shalat. Sehingga kata al-Hafidh: “Hadis ini dengan hadis di atas sukar sekali dikompromikan (jama’), sebab hadis ini menunjukkan Nabi membenarkannya, dan beliau shalat sedang tabir tersebut tetap terpampang, sehingga beliau perintahkan Aisyah untuk menyingkirkannya, karena melihat gambar-gambar tersebut dalam shalat dan dapat mengingatkan yang bukan-bukan, bukan semata-mata karena gambarnya itu.

    Akhirnya al-Hafidh berusaha untuk menjama’ hadis-hadis tersebut sebagai berikut: hadis pertama, karena terdapat gambar binatang bernyawa sedang hadis kedua gambar selain binatang … Akan tetapi inipun bertentangan pula dengan hadis qiram yang jelas di situ bergambar burung.

    5) Bertentangan dengan hadis Abu Talhah al-Ansari yang mengecualikan gambar dalam pakaian. Karena itu Imam Qurthubi berpendapat: “Dua hadis itu dapat dijama’ sebagai berikut: hadis Aisyah dapat diartikan makruh, sedang hadis Abu Talhah menunjukkan mubah secara mutlak yang sama sekali tidak menafikan makruh di atas.” Pendapat ini dibenarkan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar.

    6) Rawi hadis namruqah (bantal) ada seorang bernama al-Qasim bin Muhammad bin Abubakar, keponakan Aisyah sendiri, ia membolehkan gambar yang tidak ada bayangannya, yaitu seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Aun, ia berkata: “Saya masuk di rumah al-Qasim di Makkah sebelah atas, saya lihat di rumahnya itu ada korden yang ada gambar trenggiling dan burung garuda.”28

    Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata; Barangkali al-Qasim berpegang pada keumuman hadis Nabi yang mengatakan kecuali gambar dalam pakaian dan seolah-olah dia memahami keingkaran Nabi terhadap Aisyah yang menggantungkan korden yang bergambar dan menutupi dinding. Faham ini diperkuat dengan hadisnya yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh kita supaya memberi pakaian batu dan tanah.” Sedang al-Qasim adalah salah seorang ahli fiqih Madinah yang tujuh, dia juga termasuk orang pilihan pada zaman itu, dia pula rawi hadis namruqah itu. Maka jika dia tidak memaham rukhsakh terhadap korden yang dia pasang itu, niscaya dia tidak akan menggunakannya.

    Tetapi di samping itu tampaknya ada kemungkinan yang tampak pada hadis-hadis yang berkenaan dengan masalah gambar dan pelukisnya, yaitu bahwa Rasulullah s.a.w. memperkeras persoalan ini pada periode pertama dari kerasulannya, dimana waktu itu kaum muslimin baru saja meninggalkan syirik dan menyembah berhala serta mengagung-agungkan patung. Tetapi setelah aqidah tauhid itu mendalam kedalam jiwa dan akar-akarnya telah menghunjam kedalam hati dan pikiran, maka beliau memberi perkenan (rukhshah) dalam hal gambar yang tidak berjasad, yang hanya sekedar ukiran dan lukisan. Kalau tidak begitu, niscaya beliau tidak suka adanya tabir/korden yang bergambar di dalam rumahnya; dan ia pun tidak akan memberikan perkecualian tentang lukisan dalam pakaian, termasuk juga dalam kertas dan dinding.

    Ath-Thahawi, salah seorang dari ulama madzhab Hanafi berpendapat: Syara’ melarang semua gambar pada permulaan waktu, termasuk lukisan pada pakaian, karena mereka baru saja meninggalkan menyembah patung. Oleh karena itu secara keseluruhan gambar dilarang. Tetapi setelah larangan itu berlangsung lama, kemudian dibolehkan gambar yang ada pada pakaian karena suatu darurat. Syara’ pun kemudian membolehkan gambar yang tidak berjasad karena sudah dianggap orang-orang bodoh tidak lagi mengagungkannya, sedang yang berjasad tetap dilarang.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 14 February 2016 Permalink | Balas  

    Hikmah Diharamkannya Patung 

    siluet patungHikmah Diharamkannya Patung

    1) Di antara rahasia diharamkannya patung ini, walaupun dia itu bukan satu-satunya sebab, seperti anggapan sementara orang yaitu untuk membela kemurnian Tauhid, dan supaya jauh dari menyamai orang-orang musyrik yang menyembah berhala-berhala mereka yang dibuatnya oleh tangan-tangan mereka sendiri, kemudian dikuduskan dan mereka berdiri di hadapannya dengan penuh khusyu’.

    Kesungguhan Islam untuk melindungi Tauhid dari setiap macam penyerupaan syirik telah mencapai puncaknya. Islam dalam ikhtiarnya ini dan kesungguhannya itu senantiasa berada di jalan yang benar. Sebab sudah pernah terjadi di kalangan umat-umat terdahulu, dimana mereka itu membuat patung orang-orang yang saleh mereka yang telah meninggal dunia kemudian disebut-sebutnya nama mereka itu. Lama-kelamaan dan dengan sedikit demi sedikit orang-orang saleh yang telah dilukiskan dalam bentuk patung itu dikuduskan, sehingga akhirnya dijadikan sebagai Tuhan yang disembah selain Allah; diharapkan, dan ditakuti serta diminta barakahnya. Hal ini pernah terjadi pada kaum Wud, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

    Tidak heran kalau dalam suatu agama yang dasar-dasar syariatnya itu selalu menutup pintu kerusakan, bahwa akan ditutup seluruh lubang yang mungkin akan dimasuki oleh syirik yang sudah terang maupun yang masih samar untuk menyusup ke dalam otak dan hati, atau jalan-jalan yang akan dilalui oleh penyerupaan kaum penyembah berhala dan pengikut-pengikut agama yang suka berlebih-lebihan. Lebih-lebih Islam itu sendiri bukan undang-undang manusia yang ditujukan untuk satu generasi atau dua generasi, tetapi suatu undang-undang untuk seluruh umat manusia di seantero dunia ini sampai hari kiamat nanti. Sebab sesuatu yang kini masih belum diterima oleh suatu lingkungan, tetapi kadang-kadang dapat diterima oleh lingkungan lain; dan sesuatu yang kini dianggap ganjil dan mustahil, tetapi di satu saat akan menjadi suatu kenyataan, entah kapan waktunya, dekat atau jauh.

    2) Rahasia diharamkannya patung bagi pemahatnya, sebab seorang pelukis yang sedang memahat patung itu akan diliputi perasaan sok, sehingga seolah-olah dia dapat menciptakan suatu makhluk yang tadinya belum ada atau dia dapat membuat jenis baru yang bisa hidup yang terbuat dari tanah.

    Sudah sering terjadi seorang pemahat patung dalam waktu yang relatif lama, maka setelah patung itu dapat dirampungkan lantas dia berdiri di hadapan patung tersebut dengan mengaguminya, sehingga seolah-olah dia berbicara dengan patung tersebut dengan penuh kesombongan: Hai patung! Bicaralah!

    Untuk itulah maka Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Sesungguhnya orang-orang yang membuat patung-patung ini nanti di hari kiamat akan disiksa dan dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah patung yang kamu buat itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan dalam hadis Qudsi, Allah s.w.t. berfirman pula:

    “Siapakah orang yang lebih menganiaya selain orang yang bekerja untuk membuat sesuatu seperti pembuatanku? Oleh karena itu cobalah mereka membuat zarrah (benda yang kecil), cobalah mereka membuat sebutir beras belanda.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    3) Orang-orang yang berbicara dalam persoalan seni ini tidak berhenti dalam suatu batas tertentu saja, tetapi mereka malah melukis (memahat) wanita-wanita telanjang atau setengah telanjang. Mereka juga melukis (dan juga memahat) lambang-lambang kemusyrikandan syiar-syiar agama lainnya, seperti salib, berhala dan lain-lain yang pada prinsipnya tidak dapat diterima oleh Islam.

    4) Lebih dari itu semua, bahwa patung-patung itu selalu menjadi kemegahan orang-orang yang berlebihan, mereka penuhinya istana-istana mereka dengan patung-patung, kamar-kamar mereka dihias dengan patung dan, mereka buatnya seni-seni pahat (patung) dari berbagai lambang.

    Kalau agama Islam dengan gigih memberantas seluruh bentuk kemewahan dengan segala kemegahan dan macamnya, yang terdiri dari emas dan perak, maka tidak terlalu jauh kalau agama ini mengharamkan patung-patung itu, sebagai lambang kemegahan, dalam rumah-rumah orang Islam.

    Bimbingan Islam dalam Mengabadikan Orang Besar

    Barangkali akan ada orang berkata: Apakah tidak memenuhi suatu maksud umat untuk mengembalikan sebagian keindahan yang pernah dicapai oleh orang-orang besar kita yang telah berhasil mengisi lembaran sejarah yang berharga itu, lantas para pembesar itu diabadikan dalam bentuk patung agar menjadi peringatan generasi berikutnya terhadap jasa-jasa dan keunggulan yang pernah mereka capai; sebab peringatan bangsa itu sering dilupakan dan pertukaran malam dan siang itu sendiri sebenarnya yang membawa lupa?

    Untuk menjawab persoalan ini, perlu dijelaskan, bahwa Islam samasekali tidak suka berlebih-lebihan dalam menghargai seseorang, betapapun tingginya kedudukan orang tersebut, baik mereka yang masih hidup ataupun yang sudah mati.

    Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Jangan kamu menghormat aku seperti orang-orang Nasrani menghormati Isa bin Maryam, tetapi katakanlah, bahwa Muhammad itu hamba Allah dan RasulNya.” (Riwayat Bukhari dan lain-lain)

    Mereka bermaksud akan berdiri apabila melihat Nabi, sebagai suatu penghormatan kepadanya dan untuk mengagungkan kedudukannya.

    Cara semacam itu dilarang oleh Nabi dengan sabdanya:

    “Jangan kamu berdiri seperti orang-orang ajam (selain Arab) yang berdiri untuk menghormat satu sama lain.” (Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Beliau pun memberikan suatu peringatan kepada umatnya, sikap yang berlebih-lebihan terhadap kedudukan Nabi sesudah beliau mati, maka bersabdalah Nabi sebagai berikut:

    “Jangan kamu menjadikan kuburku ini sebagai tempat hariraya.” (Riwayat Abu Daud)

    Dan dalam doanya kepada Tuhannya beliau mengatakan:

    “Ya Allah! Jangan engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah.” (Riwayat Malik)

    Ada beberapa orang datang kepada Nabi s.a.w., mereka itu memanggil Nabi dengan kata-katanya:

    “Hai orang baik kami dan anak orang baik kami, hai tuan kami dan anak tuan kami.”

    Mendengar panggilan seperti itu, Nabi kemudian menegurnya dengan sabdanya sebagai berikut:

    “Hai manusia! Ucapkanlah seperti ucapanmu biasa atau hampir seperti ucapanmu yang biasa itu, jangan kamu dapat diperdayakan oleh syaitan. Saya adalah Muhammad, hamba Allah dan pesuruhNya. Saya tidak suka kamu mengangkat aku lebih dari kedudukanku yang telah Allah tempatkan aku.” (Riwayat Nasa’i)

    Agama ini (baca Islam) pendiriannya dalam masalah menghormat orang, tidak suka seseorang itu diangkat-angkat seperti berhala yang didirikan dengan biaya beribu-ribu supaya orang-orang memberikan penghormatan kepadanya.

    Banyak sekali material yang dimasukkan oleh penganjur-penganjur kebesaran dan jurukunci tempat-tempat bersejarah melalui pintu orang-orang atau pengikut dan ekornya yang telah mampu mendirikan berhala ini. Dengan begitu, maka pada hakikatnya mereka ini telah menyesatkan rakyat dengan menggunakan orang-orang besar yang jujur itu.

    Keabadian hakiki yang dikenal di kalangan umat Islam hanyalah Allah yang mengetahui segala yang rahasia dan tersembunyi, yang tidak sesat dan tidak lupa. Sedang kebanyakan para pembesar yang namanya diabadikan di sisi Allah adalah orang-orang yang tidak begitu dikenal oleh manusia. Hal ini justru karena Allah suka kepada orang-orang yang baik, taqwa dan tidak perlu menampak-nampakkan kepada orang lain. Mereka ini apabila datang tidak dikenal, dan apabila pergi tidak dicari.

    Sekalipun keabadian itu sangat perlu bagi manusia, tetapi tidak mesti dengan didirikannya patung untuk orang-orang besar yang perlu diabadikan itu. Cara untuk mengabadikan yang dibenarkan oleh Islam ialah mengabadikan mereka itu ke dalam hati dan lisan, yaitu dengan menyebut kesuksesan perjuangan mereka dan peninggalan-peninggalan yang baik-baik yang ditinggalkan untuk generasi sesudah mereka. Dengan demikian mereka itu akan selalu menjadi sebutan orang-orang belakangan.

    Rasulullah s.a.w. sendiri dan begitu juga para khalifah dan pemuka-pemuka Islam lainnya, tidak ada yang diabadikan dengan berbentuk materi dan patung-patung yang terbuat dari batu yang dipahat.

    Keabadian mereka itu semata-mata adalah karena sifat-sifat baiknya (manaqibnya) yang diceriterakan oleh orang-orang dulu (salaf) kepada orang-orang belakangan (khalaf) dan yang diceriterakan oleh orang-orang tua kepada anak-anaknya. Sifat beliau itu tertanam dalam hati, selalu disebut dalam lisan, selalu mengumandang di majlis dan klub-klub serta memenuhi hati, walaupun tanpa diwujudkan dengan patung dan gambar.

    Rukhsah Dalam Permainan Anak-Anak

    Kalau macam daripada patung itu tidak dimaksudkan untuk diagung-agungkan dan tidak berlebih-lebihan serta tidak ada suatu unsur larangan di atas, maka dalam hal ini Islam tidak akan bersempit dada dan tidak menganggap hal tersebut suatu dosa. Misalnya permainan anak-anak berupa pengantin-pengantinan, kucing-kucingan, dan binatang-binatang lainnya. Patung-patung ini semua hanya sekedar pelukisan untuk permainan dan menghibur anak-anak.

    Oleh karena itu kata Aisyah:

    “Aku biasa bermain-main dengan anak-anakan perempuan (boneka perempuan) di sisi Rasulullah s.a.w. dan kawan-kawanku datang kepadaku, kemudian mereka menyembunyikan boneka-boneka tersebut karena takut kepada Rasulullah s.a.w., tetapi Rasulullah s.a.w. malah senang dengan kedatangan kawan-kawanku itu, kemudian mereka bermain-main bersama aku.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dan dalam salah satu riwayat diterangkan:

    “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada suatu hari bertanya kepada Aisyah: Apa ini? Jawab Aisyah: Ini anak-anak perempuanku (boneka perempuanku); kemudian Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di tengahnya itu? Jawab Aisyah: Kuda. Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di atasnya itu? Jawab Aisyah: Itu dua sayapnya. Kata Rasulullah: Apa ada kuda yang bersayap? Jawab Aisyah: Belumkah engkau mendengar, bahwa Sulaiman bin Daud a.s. mempunyai kuda yang mempunyai beberapa sayap? Kemudian Rasulullah tertawa sehingga nampak gigi gerahamnya.” (Riwayat Abu Daud)

    Yang dimaksud anak-anak perempuan di sini ialah boneka pengantin yang biasa dipakai permainan oleh anak-anak kecil. Sedang Aisyah waktu itu masih sangat muda.

    Imam Syaukani mengatakan: hadis ini menunjukkan, bahwa anak-anak kecil boleh bermain-main dengan boneka (patung). Tetapi Imam Malik melarang laki-laki yang akan membelikan boneka untuk anak perempuannya. Dan Qadhi Iyadh berpendapat bahwa anak-anak perempuan bermain-main dengan boneka perempuan itu suatu rukhsah (keringanan).

    Termasuk sama dengan permainan anak-anak, yaitu patung-patungan yang terbuat dari kue-kue dan dijual pada hari besar (hari raya) dan sebagainya kemudian tidak lama kue-kue tersebut dimakannya.

    Patung yang Tidak Sempurna dan Cacat

    Di dalam hadis disebutkan, bahwa Jibril a.s. tidak mau masuk rumah Rasulullah s.a.w. karena di pintu rumahnya ada sebuah patung. Hari berikutnya pun tidak mau masuk, sehingga ia mengatakan kepada Nabi Muhammad:

    “Perintahkanlah supaya memotong kepala patung itu. Maka dipotonglah dia sehingga menjadi seperti keadaan pohon.” (Riwayat Abu Daud, Nasai, Tarmizi dan Ibnu Hibban)

    Dari hadis ini segolongan ulama ada yang berpendapat diharamkannya gambar itu apabila dalam keadaan sempurna, tetapi kalau salah satu anggotanya itu tidak ada yang kiranya tanpa anggota tersebut tidak mungkin dapat hidup, maka membuat patung seperti itu hukumnya mubah,

    Tetapi menurut tinjauan yang benar berdasar permintaan Jibril untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti keadaan pohon, bahwa yang mu’tabar (diakui) di sini bukan karena tidak berpengaruhnya sesuatu anggota yang kurang itu terhadap hidupnya patung tersebut, atau patung itu pasti akan mati jika tanpa anggota tersebut. Namun yang jelas, patung tersebut harus dicacat supaya tidak terjadi suatu kemungkinan untuk diagungkannya setelah anggotanya tidak ada.

    Cuma suatu hal yang tidak diragukan lagi, jika direnungkan dan kita insafi, bahwa patung separuh badan yang dibangun di kota guna mengabadikan para raja dan orang-orang besar, haramnya lebih tegas daripada patung kecil satu badan penuh yang hanya sekedar untuk hiasan rumah

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 13 February 2016 Permalink | Balas  

    Ibadah Yang Lebih Baik 

    shalat-khusyuIbadah Yang Lebih Baik

    Kisah Rabi’ah Al-Adawiyah, wanita sufi

    Ketika Rabi’ah ditanya tentang hakikat imannya, ia menjawab, “Aku tidak beribadah kepada Allah karena takut kepadaNya. Sehingga aku serupa saja dengan budak/pelayan yang buruk yang bekerja dengan rasa takut terhadap majikannya.

    Aku beribadah bukan karena mengharapkan surga sehingga aku serupa dengan budak yang buruk yang diberi sesuatu untuk pekerjaannya.

    Tetapi aku beribadah kepada Allah karena cinta dan rinduku kepada-Nya.”

    Kisah seorang Arab badui

    Seorang arab badui memasuki memasuki masjid lalu shalat. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a memandangnya dengan penuh perhatian.

    Seusai orang itu shalat, sambil memegang cambuk, Ali r.a. mendekatinya dan menyuruhnya mengulangi shalatnya. Sang badui lalu memperbagus shalatnya dengan kesempurnaan, khusyu’ dan thuma’ninah.

    Seusai shalat, Ali bin Abi Thalib r.a. bertanya : “Shalat mana yang lebih baik, yang pertama atau yang kedua?”

    Orang badui itu menjawab dengan polos, “Tentu saja yang pertama, sebab aku melakukannya untuk Allah, sedangkan shalat yang kedua karena aku takut kena cambuk Amirul Mukminin.

    ***

    L.Meilany

     
  • erva kurniawan 1:18 am on 12 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 9 

    narkobaHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 9

    Narkotik

    Al-KHAMRU maa khaamaral aqla (arak ialah semua bahan yang dapat menutupi akal), suatu ungkapan yang pernah dikatakan oleh Umar Ibnul-Khattab dari atas mimbar Rasulullah s.a.w. Kalimat ini memberikan pengertian yang tajam sekali tentang apa yang dimaksud arak itu. Sehingga dengan demikian tidak banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dan kesamaran.

    Demikianlah, maka setiap yang dapat mengganggu fikiran dan mengeluarkan akal dari tabiatnya yang sebenarnya, adalah disebut arak yang dengan tegas telah diharamkan Allah dan Rasul sampai hari kiamat nanti.

    Dari itu pula, semua bahan yang kini dikenal dengan nama narkotik, seperti ganja, marijuana dan sebagainya yang sudah terkenal pengaruhnya terhadap perasaan dan akal fikiran, sehingga yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh, dapat melupakan suatu kenyataan, dapat mengkhayal yang tidak akan terjadi dan orang bisa tenggelam dalam mimpi dan lamunan yang bukan-bukan. Orang yang minum bahan ini dapat melupakan dirinya, agamanya dan dunianya serta tenggelam dalam lembah khayal.

    Ini, belum lagi apa yang akan terjadi pada tubuh manusia, bahwa narkotik dapat melumpuhkan anggota tubuh manusia dan menurunkan kesehatan.

    Lebih dari itu, narkotik dapat mengganggu kemurnian jiwa, dan menghancurkan moral, meruntuhkan iradah dan melemahkan perasaan untuk melaksanakan kewajiban yang oleh pecandu-pecandu dijadikan sebagai alat untuk meracuni tubuh masyarakat.

    Dibalik itu semua, narkotik dapat menghabiskan uang dan merobohkan rumahtangga. Uang yang dipakai untuk membeli bahan tersebut adalah standard rumahtangga yang mungkin juga oleh pecandu-pecandu narkotik akan diambilnya dari harta standard hidup anak-anaknya; dan mungkin juga dia akan berbelok ke suatu jalan yang tidak baik justru untuk mengambil keuntungan dari penjualan narkotik.

    Kalau di atas telah kita sebutkan bahwa perbuatan haram itu dapat membawa kepada keburukan dan bahaya, maka bagi kita sudah cukup jelas tentang haramnya bahan yang amat jelek ini, yang tidak diragukan lagi bahayanya terhadap kesehatan, jiwa, moral, masyarakat dan perekonomian.

    Haramnya narkotik ini telah disepakati oleh ahli-ahli fiqih yang pada zamannya dikenal dengan nama alkhabaits (yang jelek-jelek).

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam tinjauannya, mengatakan: “Ganja (hasyisy) adalah bahan yang haram, baik orang yang merasakan itu mabuk ataupun tidak … Hasyisy ini selalu dipakai oleh orang-orang jahat, karena di dalamnya mengandung unsur-unsur yang memabukkan dan menyenangkan. Biasanya dicampur dengan minuman-minuman yang memabukkan.

    Bedanya hasyisy dengan arak, bahwa arak dapat menimbulkan suatu reaksi dan pertentangan. Tetapi hasyisy dapat menimbulkan suatu krisis dan kelemahan. Justru itu dia dapat merusak fikiran dan membuka pintu syahwat serta hilangnya perasaan semangat (ghirah). Justru itu dia lebih berbahaya daripada minuman keras.

    Ini sudah pernah terjadi di kalangan orang-orang Tartar.

    Dan bagi yang merasakannya, sedikit ataupun banyak didera 80 atau 40 kali.

    Barangsiapa yang dengan terang-terangan merasakan hasyisy ini dia akan ditempatkan sebagaimana halnya orang yang terang-terangan minum arak, dan dalam beberapa hal lebih buruk daripada arak. Untuk itu dia akan dikenakan hukuman sebagaimana hukuman yang berlaku bagi peminum arak.”

    Kata Ibnu Taimiyah selanjutnya: “Menurut kaidah syara’, semua barang haram yang dapat mengganggu jiwa seperti arak, zina dan sebagainya dikenakan hukum had (hukuman tindak kriminal), sedang yang tidak mengganggu jiwa seperti makan bangkai dikenakan tindakan ta’zir.11 Sedang hasyisy termasuk bahan yang barangsiapa merasakannya berat untuk mau berhenti. Hukum haramnya telah ditegaskan dalam al-Quran dan Sunnah terhadap orang yang merasakannya sebagaimana makan makanan lainnya.”12

    Setiap yang Berbahaya Dimakan atau Diminum, Tetap Haram

    Di sini ada suatu kaidah yang menyeluruh dan telah diakuinya dalam syariat Islam, yaitu bahwa setiap muslim tidak diperkenankan makan atau minum sesuatu yang dapat membunuh, lambat ataupun cepat, misalnya racun dengan segala macamnya; atau sesuatu yang membahayakan termasuk makan atau minum yang terlalu banyak yang menyebabkan sakit. Sebab seorang muslim itu bukan menjadi milik dirinya sendiri, tetapi dia adalah milik agama dan umatnya. Hidupnya, kesehatannya, hartanya dan seluruh nikmat yang diberikan Allah kepadanya adalah sebagai barang titipan (amanat). Oleh karena itu dia tidak boleh meneledorkan amanat itu.

    Firman Allah:

    “Janganlah kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah Maha Belas-kasih kepadamu.” (an-Nisa’: 29)

    “Jangan kamu mencampakkan diri-diri kamu kepada kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

    Dan Rasulullah s.a.w. pun bersabda:

    “Tidak boleh membuat bahaya dan membalas bahaya.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)

    Sesuai dengan kaidah ini, maka kami berpendapat: sesungguhnya rokok (tembakau) selama hal itu dinyatakan membahayakan, maka menghisap rokok hukumnya adalah haram. Lebih-lebih kalau dokter spesialis sudah menetapkan hal tersebut kepada seseorang tertentu.

    Kalaupun toh ditakdirkan tidak jelas bahayanya terhadap kesehatan seseorang, tetapi yang jelas adalah membuang-buang uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, baik untuk agama ataupun untuk urusan dunia. Sedang dalam hadisnya dengan tegas Rasulullah s.a.w. melarang membuang-buang harta.

    Larangan ini dapat diperkuat lagi, kalau ternyata harta tersebut amat dibutuhkan untuk dirinya sendiri, atau keluarganya

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 11 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 8 

    miras arakHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 8

    1. Tinggalkan Tempat Persidangan Arak

    Berdasar sunnah Nabi, orang Islam diharuskan meninggalkan tempat persidangan arak, termasuk juga berduduk-duduk dengan orang yang sedang minum arak.

    Diriwayatkan dari Umar r.a. bahwa dia pernah mendengar Rasulullah s,a.w. bersabda:

    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada suatu hidangan yang padanya diedarkan arak.” (Riwayat Ahmad)

    Setiap muslim diperintah untuk menghentikan kemungkaran kalau menyaksikannya. Tetapi kalau tidak mampu dia harus menyingkir dan menjaga masyarakat dan keluarganya.

    Dalam salah satu kisah diceriterakan, bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mendera orang-orang yang minum arak dan yang ikut menyaksikan persidangan mereka itu, sekalipun orang yang menyaksikan itu tidak turut minum bersama mereka.

    Dan diriwayatkan pula, bahwa pernah ada suatu kaum yang diadukan kepadanya karena minum arak, kemudian beliau memerintahkan agar semuanya didera. Lantas ada orang yang berkata: ‘Bahwa di antara mereka itu ada yang berpuasa.’ Maka jawab Umar: ‘Dera dulu dia!’

    Apakah kamu tidak mendengarkan firman Allah yang mengatakan;

    “Sungguh Allah telah menurunkan kepadamu dalam al-Ouran, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah ditentangnya dan diejeknya. Oleh karena itu jangan kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka itu tenggelam dalam omongan lain, sebab sesungguhnya kamu kalau demikian keadaannya adalah sama dengan mereka.” (an-Nisa’: 140)

    1. Khamar Adalah Penyakit Bukan Obat

    Dengan nas-nas yang jelas, maka Islam dengan gigih memberantas arak dan menjauhkan umat Islam dari arak, serta dibuatnya suatu pagar antara umat Islam dan arak itu. Tidak ada satupun pintu yang terbuka, betapapun sempitnya pintu itu, buat meraihnya.

    Tidak seorang Islam pun yang diperkenankan minum arak walaupun hanya sedikit. Tidak juga diperkenankan untuk menjual, membeli, menghadiahkan ataupun membuatnya. Disamping itu tidak pula diperkenankan menyimpan di tokonya atau di rumahnya. Termasuk juga dilarang menghidangkan arak dalam perayaan-perayaan, baik kepada orang Islam ataupun kepada orang lain. Juga dilarang mencampurkan arak pada makanan ataupun minuman.

    Tinggal ada satu segi yang sering oleh sementara orang ditanyakan, yaitu tentang arak dipakai untuk berobat Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah menjawab kepada orang yang bertanya tentang hukum arak. Lantas Nabi menjawab: Dilarang! Kata laki-laki itu kemudian: “Innama nashna’uha liddawa’ (kami hanya pakai untuk berobat).

    Maka jawab Nabi selanjutnya:

    “Arak itu bukan obat, tetapi penyakit.” (Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

    Dan sabdanya pula:

    Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan untuk kamu bahwa tiap penyakit ada obatnya, oleh karena itu berobatlah, tetapi jangan berobat dengan yang haram.” (Riwayat Abu Daud)

    Dan Ibnu Mas’ud pernah juga mengatakan perihal minuman yang memabukkan: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu dengan sesuatu yang Ia haramkan atas kamu.” (Riwayat Bukhari).

    Memang tidak mengherankan kalau Islam melarang berobat dengan arak dan benda-benda lain yang diharamkannya, sebab diharamkannya sesuatu, sesuai dengan analisa Ibnul Qayim, mengharuskan untuk dijauhi selamanya dengan jalan apapun. Maka kalau arak itu boleh dipakai untuk berobat, berarti ada suatu anjuran supaya mencintai dan menggunakan arak itu. Ini jelas berlawanan dengan apa yang dimaksud oleh syara’.

    Selanjutnya kata Ibnul Qayim: Membolehkan berobat dengan arak, lebih-lebih bagi jiwa yang ada kecenderungan terhadap arak, akan cukup menarik orang untuk meminumnya demi memenuhi selera dan untuk bersenang-senang, terutama orang yang mengerti akan manfaatnya arak dan dianggapnya dapat menghilangkan sakitnya, maka pasti dia akan menggunakan arak guna kesembuhan penyakitnya itu.

    Sebenarnya obat-obat yang haram itu tidak lebih hanya kira-kira saja dapat menyembuhkan.

    Ibnul Qayim memperingatkan juga yang ditinjau dari segi kejiwaan, ia mengatakan: “Bahwa syaratnya sembuh dari penyakit haruslah berobat yang dapat diterima akal, dan yakin akan manfaatnya obat itu serta adanya barakah kesembuhan yang dibuatnya oleh Allah. Sedang dalam hal ini telah dimaklumi, bahwa setiap muslim sudah berkeyakinan akan haramnya arak, yang karena keyakinannya ini dapat mencegah orang Islam untuk mempercayai kemanfaatan dan barakahnya arak itu, dan tidak bisa jadi seorang muslim dengan keyakinannya semacam itu untuk berhusnundz-dzan (beranggapan baik) terhadap arak dan dianggapnya sebagai obat yang dapat diterima akal. Bahkan makin tingginya iman seseorang, makin besar pula kebenciannya terhadap arak dan makin tidak baik keyakinannya terhadap arak itu. Sebab kepribadian seorang muslim harus membenci arak. Kalau demikian halnya, arak adalah penyakit, bukan obat.”

    Walaupun demikian, kalau sampai terjadi keadaan darurat, maka darurat itu dalam pandangan syariat Islam ada hukumnya tersendiri.

    Oleh karena itu, kalau seandainya arak atau obat yang dicampur dengan arak itu dapat dinyatakan sebagai obat untuk sesuatu penyakit yang sangat mengancam kehidupan manusia, dimana tidak ada obat lainnya kecuali arak, dan saya sendiri percaya hal itu tidak akan terjadi, dan setelah mendapat pengesahan dari dokter muslim yang mahir dalam ilmu kedokteran dan mempunyai jiwa semangat (ghirah) terhadap agama, maka dalam keadaan demikian berdasar kaidah agama yang selalu membuat kemudahan dan menghilangkan beban yang berat, maka berobat dengan arak tidaklah dilarang, dengan syarat dalam batas seminimal mungkin.

    Sesuai dengan firman Allah:

    “Barangsiapa terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-An’am: 145)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 10 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 7 

    arakHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 7

    Khamar (Arak)

    KHAMAR adalah bahan yang mengandung alkohol yang memabukkan.

    Untuk lebih jelasnya, di sini akan kami sebutkan beberapa bahaya khamar terhadap pribadi seseorang, baik akalnya, tubuhnya, agamanya dan dunianya. Akan kami jelaskan juga betapa bahayanya terhadap rumahtangga ditinjau dari segi pemeliharaannya maupun pengurusannya terhadap isteri dan anak-anak. Dan akan kami bentangkan juga betapa mengancamnya arak terhadap masyarakat dan bangsa dalam existensinya, baik yang berupa moral maupun etika.

    Sungguh benar apa yang dikatakan oleh salah seorang penyelidik, bahwa tidak ada bahaya yang lebih parah yang diderita manusia, selain bahaya arak. Kalau diadakan penyelidikan secara teliti di rumah-rumah sakit, bahwa kebanyakan orang yang gila dan mendapat gangguan saraf adalah disebabkan arak. Dan kebanyakan orang yang bunuh diri ataupun yang membunuh kawannya adalah disebabkan arak. Termasuk juga kebanyakan orang yang mengadukan dirinya karena diliputi oleh suasana kegelisahan, orang yang membawa dirinya kepada lembah kebangkrutan dan menghabiskan hak miliknya, adalah disebabkan oleh arak.

    Begitulah, kalau terus diadakan suatu penelitian yang cermat, niscaya akan mencapai batas klimaks yang sangat mengerikan yang kita jumpai, bahwa nasehat-nasehat, kecil sekali artinya.

    Orang-orang Arab dalam masa kejahilannya selalu disilaukan untuk minum khamar dan menjadi pencandu arak. Ini dapat dibuktikan dalam bahasa mereka yang tidak kurang dari 100 hama dibuatnya untuk mensifati khamar itu. Dalam syair-syairnya mereka puji khamar itu, termasuk sloki-slokinya, pertemuan-pertemuannya dan sebagainya.

    Setelah Islam datang, dibuatnyalah rencana pendidikan yang sangat bijaksana sekali, yaitu dengan bertahap khamar itu dilarang. Pertama kali yang dilakukan, yaitu dengan melarang mereka untuk mengerjakan sembahyang dalam keadaan mabuk, kemudian meningkatkan dengan diterangkan bahayanya sekalipun manfaatnya juga ada, dan terakhir baru Allah turunkan ayat secara menyeluruh dan tegas, yaitu sebagaimana firmanNya:

    “Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala, dan undian adalah kotor dari perbuatan syaitan. Oleh karena itu jauhilah dia supaya kamu bahagia. Syaitan hanya bermaksud untuk mendatangkan permusuhan dan kebencian di antara kamu disebabkan khamar dan judi, serta menghalangi kamu ingat kepada Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mau berhenti?” (al-Maidah: 90-91)

    Dalam kedua ayat tersebut Allah mempertegas diharamkannya arak dan judi yang diiringi pula dengan menyebut berhala dan undian dengan dinilainya sebagai perbuatan najis (kotor). Kata-kata His (kotor, najis) ini tidak pernah dipakai dalam al-Quran, kecuali terhadap hal yang memang sangat kotor dan jelek.

    Khamar dan judi adalah berasal dari perbuatan syaitan, sedang syaitan hanya gemar berbuat yang tidak baik dan mungkar. Justru itulah al-Quran menyerukan kepada umat Islam untuk menjauhi kedua perbuatan itu sebagai jalan untuk menuju kepada kebagiaan.

    Selanjutnya al-Quran menjelaskan juga tentang bahaya arak dan judi dalam masyarakat, yang di antaranya dapat mematahkan orang untuk mengerjakan sembahyang dan menimbulkan permusuhan dan kebencian. Sedang bahayanya dalam jiwa, yaitu dapat menghalang untuk menunaikan kewajiban-kewajiban agama, diantaranya ialah zikrullah dan sembahyang.

    Terakhir al-Quran menyerukan supaya kita berhenti dari minum arak dan bermain judi. Seruannya diungkapkan dengan kata-kata yang tajam sekali, yaitu dengan kata-kata: fahal antum muntahun? (apakah kamu tidak mau berhenti?).

    Jawab seorang mu’min terhadap seruan ini: “Ya, kami telah berhenti, ya Allah!”

    Orang-orang mu’min membuat suatu keanehan sesudah turunnya ayat tersebut, yaitu ada seorang laki-laki yang sedang membawa sloki penuh arak, sebagiannya telah diminum, tinggal sebagian lagi yang sisa. Setelah ayat tersebut sampai kepadanya, gelas tersebut dilepaskan dan araknya dituang ke tanah.

    Banyak sekali negara-negara yang mengakui bahaya arak ini, baik terhadap pribadi, rumah tangga ataupun tanah air. Sementara ada yang berusaha untuk memberantasnya dengan menggunakan kekuatan undang-undang dan kekuasaan, seperti Amerika, tetapi akhirnya mereka gagal. Tidak dapat seperti yang pernah dicapai oleh Islam di dalam memberantas dan menghilangkan arak ini.

    Dari kalangan kepala-kepala gereja bertentangan dalam menilai bagaimana pandangan Kristen terhadap masalah arak, justru karena di Injil ditegaskan: “Bahwa arak yang sedikit itu baik buat perut.”

    Kalau omongan itu betul, niscaya yang sedikit itu perlu dihentikan, sebab minum arak sedikit, dapat membawa kepada banyak. Gelas pertama akan disambut dengan gelas kedua dan begitulah seterusnya sehingga akhirnya menjadi terbiasa.

    1. Setiap Yang Memabukkan Berarti Arak

    Pertama kali yang dicanangkan Nabi Muhammad s.a.w. tentang masalah arak, yaitu beliau tidak memandangnya dari segi bahan yang dipakai untuk membuat arak itu, tetapi beliau memandang dari segi pengaruh yang ditimbulkan, yaitu memabukkan. Oleh karena itu bahan apapun yang nyata-nyata memabukkan berarti dia itu arak, betapapun merek dan nama yang dipergunakan oleh manusia; dan bahan apapun yang dipakai. Oleh sebab itu Beer dan sebagainya dapat dihukumi haram.

    Rasulullah s.a.w. pernah ditanya tentang minuman yang terbuat dari madu, atau dari gandum dan sya’ir yang diperas sehingga menjadi keras. Nabi Muhammad sesuai dengan sifatnya berbicara pendek tetapi padat, maka didalam menjawab pertanyaan tersebut beliau sampaikan dengan kalimat yang pendek juga, tetapi padat:

    “Semua yang memabukkan berarti arak, dan setiap arak adalah haram.” (Riwayat Muslim)

    Dan Umar pun mengumumkan pula dari atas mimbar Nabi, “Bahwa yang dinamakan arak ialah apa-apa yang dapat menutupi fikiran.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

    1. Minum Sedikit

    Untuk kesekian kalinya Islam tetap bersikap tegas terhadap masalah arak. Tidak lagi dipandang kadar minumannya, sedikit atau banyak. Kiranya arak telah cukup dapat menggelincirkan kaki manusia. Oleh karena itu sedikitpun tidak boleh disentuh.

    Justru itu pula Rasulullah s.a.w. pernah menegaskan:

    “Minuman apapun kalau banyaknya itu memabukkan, maka sedikitnya pun adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)

    “Minuman apapun kalau sebanyak furq6 itu memabukkan, maka sepenuh tapak tangan adalah haram.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)

    1. Memperdagangkan Arak

    Rasulullah tidak menganggap sudah cukup dengan mengharamkan minum arak, sedikit ataupun banyak, bahkan memperdagangkan pun tetap diharamkan, sekalipun dengan orang di luar Islam. Oleh karena itu tidak halal hukumnya seorang Islam mengimport arak, atau memproduser arak, atau membuka warung arak, atau bekerja di tempat penjualan arak.

    Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah melaknatnya, yaitu seperti tersebut dalam riwayat di bawah ini:

    “Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

    Setelah ayat al-Quran surah al-Maidah (90-91) itu turun, Rasulullah s.a.w. kemudian bersabda:

    “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan arak, maka barangsiapa yang telah mengetahui ayat ini dan dia masih mempunyai arak walaupun sedikit, jangan minum dan jangan menjualnya.” (Riwayat Muslim)

    Rawi hadis tersebut menjelaskan, bahwa para sahabat kemudian mencegat orang-orang yang masih menyimpan arak di jalan-jalan Madinah lantas dituangnya ke tanah.

    Sebagai cara untuk membendung jalan yang akan membawa kepada perbuatan yang haram (saddud dzara’ik), maka seorang muslim dilarang menjual anggur kepada orang yang sudah diketahui, bahwa anggur itu akan dibuat arak. Karena dalam salah satu hadis dikatakan:

    “Barangsiapa menahan anggurnya pada musim-musim memetiknya, kemudian dijual kepada seorang Yahudi atau Nasrani atau kepada tukang membuat arak, maka sungguh jelas dia akan masuk neraka.” (Riwayat Thabarani)

    1. Seorang Muslim Tidak Boleh Menghadiahkan Arak

    Kalau menjual dan memakan harga arak itu diharamkan bagi seorang muslim, maka menghadiahkannya walaupun tanpa ganti, kepada seorang Yahudi, Nasrani atau yang lain, tetap haram juga.

    Seorang muslim tidak boleh menghadiahkan atau menerima hadiah arak. Sebab seorang muslim adalah baik, dia tidak boleh menerima kecuali yang baik pula.

    Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang memberi hadiah satu guci arak kepada Nabi s.a.w., kemudian Nabi memberitahu bahwa arak telah diharamkan Allah. Orang laki-laki itu bertanya:

    Rajul: Bolehkah saya jual?

    Nabi: Zat yang mengharamkan meminumnya, mengharamkannya juga menjualnya.

    Rajul: Bagaimana kalau saya hadiahkan raja kepada orang Yahudi?

    Nabi: Sesungguhnya Allah yang telah mengharamkan arak, mengharamkan juga untuk dihadiahkan kepada orang Yahudi.

    Rajul: Habis, apa yang harus saya perbuat?

    Nabi: Tuang saja di selokan air. (Al-Humaidi dalam musnadnya)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 9 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 6 

    pemburuHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 6

    Kalau Binatang Itu Didapati Sudah Mati

    Kadang-kadang terjadi, seorang pemburu melepaskan panahnya mengenai seekor binatang, tetapi binatang tersebut menghilang, beberapa saat, kemudian dijumpainya sudah mati. Hal ini bisa jadi sudah berjalan beberapa hari lamanya.

    Dalam persoalan ini, binatang tersebut bisa menjadi halal dengan beberapa syarat:

    1) Bahwa binatang tersebut tidak jatuh ke dalam air.

    Seperti yang dikatakan oleh Nabi s.a.w.:

    “Kalau kamu melemparkan panahmu, maka jika kamu dapati binatang itu sudah mati, makanlah, kecuali apabila binatang tersebut kamu dapati jatuh ke dalam air, maka kamu tidak tahu: apakah air itu yang menyebabkan binatang tersebut mati ataukah panahmu?” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    2) Tidak terdapat tanda-tanda mati karena bekas panah orang lain yang menjadi sebab matinya binatang tersebut.

    Seperti apa yang pernah ditanyakan Adi bin Hatim kepada Rasulullah s.a.w.:

    “Ya Rasulullah! Saya melempar binatang, kemudian saya dapati pada binatang tersebut ada bekas panahku yang kemarin, apakah boleh dimakan? Maka jawab Nabi, ‘Kalau kamu yakin, bahwa panahmulah yang membunuhnya dan tidak ada bekas (digigit) binatang buas, maka makanlah.'” (Riwayat Tarmizi)

    3) Binatang tersebut belum sampai busuk; sebab menurut tabiat yang wajar akan menganggap kotor dan jijik terhadap binatang yang sudah busuk, lebih-lebih kalau hal itu dimungkinkan akan membawa bahaya.

    Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada Abu Tsa’labah al-Khasyani sebagai berikut:

    “Kalau kamu melemparkan panahmu, kemudian binatang itu menghilang sampai tiga hari dan kamu dapati sudah mati, maka makanlah selama binatang tersebut belum busuk.” (Riwayat Tarmizi)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 8 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 5 

    ayam4Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 5

    1. Menyembelih Sebagai Syarat Halalnya Binatang

    Binatang-binatang darat yang halal dimakan itu ada dua macam:

    • Binatang-binatang tersebut mungkin untuk ditangkap, seperti unta, sapi, kambing dan binatang-binatang jinak lainnya, misalnya binatang-binatang peliharaan dan burung-burung yang dipelihara di rumah-rumah.
    • Binatang-binatang yang tidak dapat ditangkap.

    Untuk binatang-binatang yang mungkin ditangkap seperti tersebut di atas, supaya dapat dimakan, Islam memberikan persyaratan harus disembelih menurut aturan syara’.

    1. Syarat-Syarat Penyembelihan Menurut Syara’

    Penyembelihan menurut syara’ yang dimaksud, hanya bisa sempurna jika terpenuhinya syarat-syarat sebagai berikut:

    1). Binatang tersebut harus disembelih atau ditusuk (nahr) dengan suatu alat yang tajam yang dapat mengalirkan darah dan mencabut nyawa binatang tersebut, baik alat itu berupa batu ataupun kayu.

    ‘Adi bin Hatim ath-Thai pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: “Ya Rasulullah! Kami berburu dan menangkap seekor binatang, tetapi waktu itu kami tidak mempunyai pisau, hanya batu tajam dan belahan tongkat yang kami miliki, dapatkah itu kami pakai untuk menyembelih?” Maka jawab Nabi:

    “Alirkanlah darahnya dengan apa saja yang kamu suka, dan sebutlah nama Allah atasnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasal, Ibnu Majah, Hakim dan Ibnu Hibban)

    2). Penyembelihan atau penusukan (nahr) itu harus dilakukan di leher binatang tersebut, yaitu: bahwa kematian binatang tersebut justru sebagai akibat dari terputusnya urat nadi atau kerongkongannya.

    Penyembelihan yang paling sempurna, yaitu terputusnya kerongkongan, tenggorokan dan urat nadi.

    Persyaratan ini dapat gugur apabila penyembelihan itu ternyata tidak dapat dilakukan pada tempatnya yang khas, misalnya karena binatang tersebut jatuh dalam sumur, sedang kepalanya berada di bawah yang tidak mungkin lehernya itu dapat dipotong; atau karena binatang tersebut menentang sifat kejinakannya. Waktu itu boleh diperlakukan seperti buronan, yang cukup dilukai dengan alat yang tajam di bagian manapun yang mungkin.

    Raafi’ bin Khadij menceriterakan:

    “Kami pernah bersama Nabi dalam suatu bepergian, kemudian ada seekor unta milik orang kampung melarikan diri, sedang mereka tidak mempunyai kuda, untuk mengejar, maka ada seorang laki-laki yang melemparnya dengan panah. Kemudian bersabdalah Nabi: ‘Binatang ini mempunyai sifat primitif seperti primitifnya binatang biadab (liar), oleh karena itu apa saja yang dapat dikerjakan, kerjakanlah; begitulah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    3). Tidak disebut selain asma’ Allah; dan ini sudah disepakati oleh semua ulama. Sebab orang-orang jahiliah bertaqarrub kepada Tuhan dan berhalanya dengan cara menyembelih binatang, yang ada kalanya mereka sebut berhala-berhala itu ketika menyembelih, dan ada kalanya penyembelihannya itu diperuntukkan kepada sesuatu berhala tertentu. Untuk itulah maka al-Quran melarangnya, yaitu sebagaimana disebutkan dalam firmannya:

    “Dan binatang yang disembelih karena selain Allah … dan binatang yang disembelih untuk berhala.” (al-Maidah: 3)

    4). Harus disebutnya nama Allah (membaca bismillah) ketika menyembelih. Ini menurut zahir nas al-Quran yang mengatakan:

    “Makanlah dari apa-apa yang disebut asma’ Allah atasnya, jika kamu benar-benar beriman kepada ayat-ayatNya.” (al-An’am: 118)

    “Dan janganlah kamu makan dari apa-apa yang tidak disebut asma’ Allah atasnya, karena sesungguhnya dia itu suatu kedurhakaan.” (al-An’am: 121)

    Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut asma’ Allah atasnya, maka makanlah dia.” (Riwayat Bukhari)

    Di antara yang memperkuat persyaratan ini, ialah beberapa hadis shahih yang mengharuskan menyebut asma’ Allah ketika melepaskan panah atau anjing berburu, sebagaimana akan diterangkan nanti.

    Sementara ulama ada juga yang berpendapat, bahwa menyebut asma’ Allah itu sudah menjadi suatu keharusan, akan tetapi tidak harus ketika menyembelihnya itu. Bisa juga dilakukan ketika makan. Sebab kalau ketika makan itu telah disebutnya asma’ Allah bukanlah berarti dia makan sesuatu yang disembelih dengan tidak disebut asma’ Allah. Karena sesuai dengan ceritera Aisyah, bahwa ada beberapa orang yang baru masuk Islam menanyakan kepada Rasulullah:

    “Sesungguhnya suatu kaum memberi kami daging, tetapi kami tidak tahu apakah mereka itu menyebut asma’ Allah atau tidak? Dan apakah kami boleh makan daripadanya atau tidak? Maka jawab Nabi: ‘Sebutlah asma’ Allah dan makanlah.'” (Riwayat Bukhari)

    1. Rahasia Penyembelihan dan Hikmahnya

    Rahasia penyembelihan, menurut yang kami ketahui, yaitu melepaskan nyawa binatang dengan jalan yang paling mudah, yang kiranya meringankan dan tidak menyakiti. Untuk itu maka disyaratkan alat yang dipakai harus tajam, supaya lebih cepat memberi pengaruh.

    Di samping itu dipersyaratkan juga, bahwa penyembelihan itu harus dilakukan pada leher, karena tempat ini yang lebih dekat untuk memisahkan hidup binatang dan lebih mudah.

    Dan dilarang menyembelih binatang dengan menggunakan gigi dan kuku, karena penyembelihan dengan alat-alat tersebut dapat menyakiti binatang. Pada umumnya alat-alat tersebut hanya bersifat mencekik.

    Nabi memerintahkan, supaya pisau yang dipakai itu tajam dan dengan cara yang sopan.

    Sabda Nabi:

    “Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik kepada sesuatu. Oleh karena itu jika kamu membunuh, maka perbaikilah cara membunuhnya, dan apabila kamu menyembelih maka perbaikilah cara menyembelihnya dan tajamkanlah pisaunya serta mudahkanlah penyembelihannya itu.” (Riwayat Muslim)

    Di antara bentuk kebaikan ialah seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah memerintahkan supaya pisaunya itu yang tajam.

    Sabda Nabi:

    “Apabila salah seorang di antara kamu memotong (binatang), maka sempurnakanlah.” (Riwayat Ibnu Majah)

    Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa ada seorang yang membaringkan seekor kambing sambil ia mengasah pisaunya, maka kata Nabi:

    “Apakah kamu akan membunuhnya, sesudah dia menjadi bangkai? Mengapa tidak kamu asah pisaumu itu sebelum binatang tersebut kamu baringkan?” (Riwayat Hakim)

    Umar Ibnul-Khattab pernah juga melihat seorang laki-laki yang mengikat kaki seekor kambing dan diseretnya untuk disembelih, maka kata Umar: ‘Sial kamu! Giringlah dia kepada mati dengan suatu cara yang baik.’ (Riwayat Abdurrazzaq).

    Begitulah kita dapati pemikiran secara umum dalam permasalahan ini, yaitu yang pada pokoknya harus menaruh belas-kasih kepada binatang dan meringankan dia dari segala penderitaan dengan segala cara yang mungkin.

    Orang-orang jahiliah dahulu suka memotong kelasa unta (bhs Jawa, punuk) dan jembel kambing dalam keadaan hidup. Cara semacam itu adalah menyiksa binatang. Oleh karena itu Rasulullah s.a.w. kemudian menghalangi maksud mereka dan mengharamkan memanfaatkan binatang dengan cara semacam itu.

    Maka kata Nabi:

    “Daging yang dipotong dari binatang dalam keadaan hidup, berarti bangkai.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi dan Hakim)

    1. Hikmah Menyebut Asma’ Allah Waktu Menyembelih

    Perintah untuk menyebut asma’ Allah ketika menyembelih terkandung rahasia yang halus sekali, yang kiranya perlu untuk direnungkan dan diperhatikan:

    Ditinjau dari segi perbedaannya dengan orang musyrik. Bahwa orang-orang musyrik dan orang-orang jahiliah selalu menyebut nama-nama tuhan dan berhala mereka ketika menyembelih. Kalau orang-orang musyrik berbuat demikian, mengapa orang mu’min tidak menyebut nama Tuhannya?

    Segi kedua, yaitu bahwa binatang dan manusia sama-sama makhluk Allah yang hidup dan bernyawa. Oleh karena itu mengapa manusia akan mentang-mentang begitu saja mencabutnya binatang tersebut, tanpa minta izin kepada penciptanya yang juga mencipta seluruh isi bumi ini? Justru itu menyebut asma’ Allah di sini merupakan suatu pemberitahuan izin Allah, yang seolah-olah manusia itu mengatakan: Aku berbuat ini bukan karena untuk memusuhi makhluk Allah, bukan pula untuk merendahkannya, tetapi adalah justru dengan nama Allah kami sembelih binatang itu dan dengan nama Allah juga kami berburu dan dengan namaNya juga kami makan.

    1. Sembelihan Ahli Kitab

    Kita tahu bagaimana Islam memperkeras persoalan penyembelihan dan menganggap penting persoalan ini. Hal ini adalah justru karena orang-orang musyrik Arab dan pengikut-pengikut agama lain telah menjadikan penyembelihan termasuk persoalan ibadah, bahkan masuk persoalan keyakinan dan pokok kepercayaan agama. Oleh karena itu menyembelih, mereka jadikan sebagai sesuatu cara untuk berbakti kepada tuhannya, maka disembelihnya binatang untuk berhala atau dengan menyebut nama tuhannya. Kemudian datanglah Islam menghapus cara-cara ini dan mewajibkan untuk tidak menyebut kecuali asma’ Allah, serta mengharamkan binatang yang disembelih untuk berhala dan dengan menyebut nama berhala.

    Kemudian setelah ahli kitab yang semula adalah bertauhid itu telah banyak dipengaruhi oleh perasaan-perasaan syirik dan samasekali tidak melepaskan dari kesyirikanriya yang dulu-dulu, sehingga sementara orang Islam menganggap, bahwa mereka tidak bisa lagi bergaul dan bertemu dengan mereka sebagaimana halnya terhadap orang-orang musyrik lainnya, maka Allah memberikan perkenan (rukhsah) kepada mereka untuk makan makanan ahli kitab sebagaimana halnya dalam persoalan-persoalan perkawinan. Hal ini ditegaskan Allah dalam firmanNya yang merupakan ayat terakhir, yaitu:

    “Hari ini dihalalkan yang baik-baik buat kamu dan begitu juga makanan orang-orang yang pernah diberi kitab (ahli kitab) adalah halal buat kamu, dan sebaliknya makananmu halal buat mereka.” (al-Maidah: 5)

    Maksud ayat di atas secara ringkas: bahwa hari ini semua yang baik, halal buat kamu, karena itu tidak ada lagi apa yang disebut: Bahirah, saibah, washilah dan ham. Dan makanan ahli kitab pun halal buat kamu sesuai dengan hukum asal dimana samasekali Allah tidak mengharamkannya, dan sebaliknya makananmu pun halal buat mereka. Jadi kamu boleh makan binatang yang disembelih dan diburu oleh ahli kitab, dan sebaliknya kamu boleh memberi makan ahli kitab dengan binatang yang kamu sembelih atau yang kamu buru.

    Islam bersifat keras terhadap orang musyrik tetapi terhadap ahli kitab sangat lunak dan mempermudah, karena mereka ini lebih dekat kepada orang mu’min, sebab sama-sama mengakui wahyu Allah, mengakui kenabian dan pokok-pokok agama secara global. Justru itu pula kita dianjurkan untuk menaruh mawaddah terhadap mereka, boleh makan makanan mereka, boleh kawin dengan perempuan-perempuan mereka dan bergaul dengan baik bersama mereka. Sebab kalau mereka itu sudah bergaul dengan kita dan memeluk Islam dengan penuh keyakinan dan kesadaran, mereka pun akan tahu bahwa agama kita itu justru agama mereka juga dalam pengertian yang lebih tinggi, lebih sempurna bentuk-bentuknya dan lebih bersih lembaran-lembarannya dari segala macam bid’ah, kebatilan dan persekutuan.

    Perkataan makanan ahli kitab adalah suatu ungkapan yang bersifat umum, meliputi seluruh macam makanan: sembelihannya, biji-bijiannya dan sebagainya. Semua ini halal buat kita, selama barang-barang tersebut tidak termasuk kategori haram, karena zatnya seperti darah, bangkai dan daging babi. Semua ini tidak boleh kita makan dengan ijma’ ulama, baik barang-barang tersebut makanan ahli kitab ataupun milik orang muslim.

    Sampai di sini selesailah pembicaraan kita tentang masalah binatang yang halal dan haram. Sekarang tinggal yang perlu untuk diterangkan kepada orang-orang Islam beberapa masalah yang sangat urgen, yaitu:

    6.1. Binatang yang Disembelih Untuk Gereja dan Hari-Hari Besar

    1. Masalah pertama: Apabila tidak terdengar suara dari ahli kitab itu sebutan nama selain Allah, misalnya: Nama al-Masih dan Uzair ketika menyembelih, maka makanannya tersebut tetap halal buat orang Islam. Tetapi kalau sampai terdengar suara penyebutan nama selain Allah, maka dari kalangan ahli fiqih ada yang mengharamkannya karena termasuk apa yang disebut uhilla lighairillah (yang disembelih bukan karena Allah). Tetapi sementara ada juga yang berpendapat halal.

    Abu Darda’ pernah ditanya tentang kambing yang disembelih untuk suatu gereja yang disebut jurjas, binatang itu mereka hadiahkan buat gereja tersebut, apakah boleh kita makan? Maka jawab Abu Darda’: “Boleh.” Sebab mereka itu adalah ahli kitab yang makanannya sudah jelas halal buat kita, dan sebaliknya makanan kita pun halal buat mereka. Kemudian dia suruh memakannya.6

    Imam Malik pernah ditanya tentang sembelihan ahli kitab untuk hari-hari besar dan gereja mereka, maka kata Imam Malik: Aku memakruhkannya dan aku tidak menganggapnya haram.

    Imam Malik memakruhkannya, karena termasuk dalam kategori wara’ (berhati-hati supaya tidak jatuh ke dalam maksiat) karena kawatir kalau-kalau dia itu termasuk ke dalam apa yang disebut binatang yang disembelih bukan karena Allah. Dan ia tidak mengharamkan, karena arti dan maksud apa yang disembelih bukan karena Allah itu menurut pendapatnya, sepanjang yang dinisbatkan kepada ahli kitab, yaitu yang disembelih untuk bertaqarrub kepada Tuhan sedang mereka (ahli kitab) itu sendiri tidak memakannya. Dan apa yang disembelih dan dimakan adalah termasuk makanan mereka, sedang dalam hal ini Allah telah menegaskan: “Bahwa makanan ahli kitab itu halal buat kamu.”

    6.2. Sembelihan yang Dilakukan Oleh Ahli Kitab dengan Tenaga Listrik dan Sebagainya

    1. Masalah kedua: Apakah penyembelihan mereka itu dipersyaratkan seperti penyembelihan kita juga, yaitu dengan pisau yang tajam dan dilakukan pada leher binatang?

    Kebanyakan para ulama berpendapat demikian. Tetapi menurut fatwa pengikut-pengikut madzhab Imam Malik, bahwa yang demikian itu tidak termasuk persyaratan.

    Al-Qadhi Ibnu Arabi berkata ketika menafsiri ayat 5 surah al-Maidah itu sebagai berikut: Ini suatu dalil yang tegas, bahwa binatang buruan dan makanan ahli kitab itu adalah termasuk makan yang baik-baik (thayyibaat) yang telah dihalalkan Allah dengan mutlak. Allah mengulang-ulanginya itu hanyalah bermaksud untuk menghilangkan keragu-raguan pertentangan-pertentangan yang timbul dari perasaan-perasaan yang salah, yang memang sering menimbulkan suatu pertentangan dan memperpanjang omongan.

    Saya pernah ditanya tentang seorang Kristen yang membelit leher ayam kemudian dimasaknya, apakah itu boleh dimakan atau diambil sebagian daripadanya sebagai makanan? Maka jawab saya: Boleh dimakan, karena dia itu termasuk makanannya dan makanan pendeta dan pastor, sekalipun ini menurut kita tidak termasuk penyembelihan, namun Allah telah menghalalkan makanan mereka itu secara mutlak. Makanan apapun yang dibenarkan oleh agama mereka berarti halal buat kita, kecuali yang memang oleh Allah telah didustakan.

    Ulama-ulama kita pernah berkata: Mereka telah menyerahkan perempuan-perempuan mereka kepada kita untuk dikawin dan halal kita setubuhi, mengapa penyembelihannya tidak boleh kita makan, sedang makan tidak sama dengan setubuh, halal dan haramnya.

    Demikian pendapat Ibnul-Arabi.

    Kemudian di tempat lain ia berkata lagi: Mereka tidak makan yang bukan karena disembelih, misalnya dengan dicekik dan dipukul kepalanya (dengan tidak bermaksud menyembelih, karena itu binatang tersebut termasuk bangkai yang haram).

    Kedua pendapat beliau ini tidak bertentangan, sebab yang dimaksud ialah: Apa yang mereka anggap sebagai penyembelihan, berarti halal buat kita sekalipun menurut kita sembelihannya itu tidak benar. Dan apa yang mereka anggap itu bukan sembelihan, tidaklah halal buat kita.

    Dengan demikian, menurut mafhum musytarak apa yang disebut penyembelihan, yaitu bermaksud menyabung nyawa binatang dengan niat untuk halalnya memakan binatang tersebut.

    Ini adalah pendapat ulama-ulama Malikiyah.

    Dengan bercermin kepada apa yang telah kami sebutkan di atas, maka kita dapat mengetahui hukumnya daging-daging yang diimport dari negara-negara yang penduduknya majoritas ahli kitab, seperti ayam, corned sapi, yang semua itu kadang-kadang disembelih dengan menggunakan tenaga elektronik dan sebagainya. Selama binatang-binatang tersebut oleh mereka dianggapnya sebagai sembelihan, maka jelas halal buat kita, sesuai dengan umumnya ayat.

    Adapun daging-daging yang diimport dari negara-negara Komunis, tidak boleh kita makan. Sebab mereka itu bukan ahli kitab, bahkan mereka adalah kufur dan anti kepada semua agama dan menentang Allah serta seluruh risalahnya.

    6.3. Penyembelihan Orang Majusi dan Sebagainya

    Para ulama berbeda pendapat tentang penyembelihan orang Majusi. Kebanyakan mereka berpendapat tidak boleh memakannya karena mereka termasuk orang musyrik.

    Sedang yang lain berpendapat halal karena Nabi s.a.w. pernah bersabda:

    “Perlakukanlah mereka itu seperti perlakuan terhadap ahli kitab.” (Riwayat Malik dan Syafi’i)

    Dan Nabi sendiri pernah menerima upeti dari Majusi Hajar. (Riwayat Bukhari).

    Oleh karena itu, Ibnu Hazim berkata di bab penyembelihan dalam kitabnya Muhalla: “Mereka itu adalah ahli kitab, oleh karena itu mereka dihukumi seperti hukum yang berlaku untuk ahli kitab dalam segala hal.” (Lihat juz 7: 456).7

    Dan shabiun (penyembah binatang) oleh Abu Hanifah dianggap sebagai ahli kitab juga.8

    6.4. Kaidah: “Apa Yang Ghaib Bagi Kita, Jangan Kita Tanyakan”

    Tidak menjadi kewajiban seorang muslim untuk menanyakan hal-hal yang tidak disaksikan, misalnya: Bagaimana cara penyembelihannya? Terpenuhi syaratnya atau tidak? Disebut asma’ Allah atau tidak? Bahkan apapun yang tidak kita saksikan sendiri tentang penyembelihannya baik dilakukan oleh seorang muslim, walaupun dia bodoh dan fasik, ataupun oleh ahli kitab, semuanya adalah halal buat kita.

    Sebab, seperti apa yang telah kita sebutkan di atas, yaitu ada suatu kaum yang bertanya kepada Nabi: “Bahwa ada satu kaum yang memberinya daging, tetapi kita tidak tahu apakah disebut asma’ Allah atau tidak. Maka jawab Nabi: Sebutlah asma’ Allah atasnya dan makanlah,” (Riwayat Bukhari).

    Berdasar hadis ini para ulama berpendapat, bahwa semua perbuatan dan pengeluaran selalu dihukumi sah dan baik, kecuali ada dalil (bukti) yang menunjukkan rusakan batalnya perbuatan tersebut.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:42 am on 7 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 4 

    ikan laut segarHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 4

    Binatang Laut dan Darat

    Binatang, dilihat dari segi tempatnya ada dua macam: Binatang laut dan binatang darat.

    1. Binatang laut yaitu semua binatang yang hidupnya di dalam air

    Binatang ini semua halal, didapat dalam keadaan bagaimanapun, apakah waktu diambilnya itu masih dalam keadaan hidup ataupun sudah bangkai, terapung atau tidak. Binatang-binatang tersebut berupa ikan ataupun yang lain, seperti: anjing laut, babi laut dan sebagainya.

    Bagi yang mengambilnya tidak lagi perlu diperbincangkan, apakah dia seorang muslim ataupun orang kafir. Dalam hal ini Allah memberikan keleluasaan kepada hamba-hambaNya dengan memberikan perkenan (mubah) untuk makan semua binatang laut, tidak ada satupun yang diharamkan dan tidak ada satupun persyaratan untuk menyembelihnya seperti yang berlaku pada binatang lainnya. Bahkan Allah menyerahkan bulat-bulat kepada manusia untuk mengambil dan menjadikannya sebagai modal kekayaan menurut kebutuhannya dengan usaha semaksimal mungkin untuk tidak menyiksanya.

    Firman Allah:

    “Dialah Zat yang memudahkan laut supaya kamu makan daripadanya daging yang lembut.” (an-Nahl: 14)

    “Dihalalkan buat kamu binatang buronan laut dan makanannya sebagai perbekalan buat kamu dan untuk orang-orang yang belayar.” (al-Maidah: 96)

    Di sini Allah menyampaikan secara umum, tidak ada satupun yang dikhususkan, sedang Allah tidak akan lupa (wamakana rabbuka nasiyan).

    1. Binatang darat yang haram

    Tentang binatang darat, al-Quran tidak jelas menentukan yang haram, melainkan babi, darah, bangkai dan yang disembelih bukan karena Allah, sebagaimana telah disebutkan dalam beberapa ayat terdahulu, dengan susunan yang terbatas pada empat macam dan diperinci menjadi 10 macam.

    Tetapi di samping itu al-Quran juga mengatakan:

    “Dan Allah mengharamkan atas mereka yang kotor-kotor.” (al-A’raf: 157)

    Yang disebut Khabaits (yang kotor-kotor), yaitu semua yang dianggap kotor oleh perasaan manusia secara umum, kendati beberapa prinsip mungkin menganggap tidak kotor. Justru itu Rasulullah dalam hadisnya melarang makan keledai kota pada hari Khaibar.

    Hadisnya itu berbunyi sebagai berikut:

    “Rasulullah s.a.w. melarang makan daging keledai kota pada hari perang Khaibar.”4 (Riwayat Bukhari)

    Dan untuk itu diriwayatkan bahwa Rasulullah melarang binatang yang bertaring dan burung yang berkuku mencengkeram:

    “Rasulullah melarang makan semua binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku mencengkeram.” (Riwayat Bukhari)

    Yang dimaksud Binatang Was (siba’), yaitu binatang yang menangkap binatang lainnya dan memakan dengan bengis, seperti singa, serigala dan lain-lain. Dan apa yang dimaksud dengan burung yang berkuku (dzi mikhlabin minath-thairi), yaitu yang kukunya itu dapat melukai, seperti burung elang, rajawali, ruak-ruak bangkai dan burung yang sejenis dengan elang.

    Ibnu Abbas berpendapat, bahwa binatang yang haram dimakan itu hanya empat seperti yang tersebut dalam ayat. Seolah-olah beliau menganggap hadis-hadis di atas dan lain-lain sebagai mengatakan makruh, bukan haram. Atau mungkin karena hadis-hadis tersebut tidak sampai kepadanya.

    Ibnu Abbas juga pernah berkata: “Bahwa orang-orang jahiliah pernah makan sesuatu dan meninggalkan sesuatu karena dipandang kotor. Kemudian Allah mengutus nabiNya dan menurunkan kitabNya. Di situlah menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Oleh karena itu, apa yang dihalalkan, berarti halal, dan apa yang diharamkan, berarti haram, sedang yang didiamkan berarti dimaafkan (halal). Kemudian ia membaca ayat:

    “Katakanlah! Saya tidak mendapatkan sesuatu yang diwahyukan kepadaku tentang makanan yang diharamkan bagi orang yang mau makan kecuali …” (al-An’am: 145)5

    Berdasar ayat ini, Ibnu Abbas berpendapat bahwa daging keledai kota itu halal.

    Pendapat Ibnu Abbas ini diikuti oleh Imam Malik, dimana beliau tidak menganggap haram terhadap binatang-binatang buas dan sebagainya, tetapi ia hanya menganggap makruh.

    Yang sudah pasti, bahwa penyembelihan secara syara’ tidak mempengaruhi halalnya binatang-binatang yang haram itu, tetapi mempengaruhi terhadap sucinya kulit sehingga tidak perlu lagi disamak.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 6:00 pm on 6 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 3 

    logo-halalHalal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 3

    1. Keadaan Darurat dan Pengecualiannya

    Semua binatang yang diharamkan sebagaimana tersebut di atas, adalah berlaku ketika dalam keadaan normal. Adapun ketika dalam keadaan darurat, maka hukumnya tersendiri, yaitu Halal.

    Firman Allah:

    “Allah telah menerangkan kepadamu apa-apa yang Ia telah haramkan atas kamu, kecuali kamu dalam keadaan terpaksa.” (al-An’am: 119)

    Dan di ayat lain, setelah Allah menyebut tentang haramnya bangkai, darah dan sebagainya kemudian diikutinya dengan mengatakan:

    “Barangsiapa terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tidak ada dosa atasnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah: 173)

    Darurat yang sudah disepakati oleh semua ulama, yaitu darurat dalam masalah makanan, karena ditahan oleh kelaparan. Sementara ulama memberikan batas darurat itu berjalan sehari-semalam, sedang dia tidak mendapatkan makanan kecuali barang-barang yang diharamkan itu. Waktu itu dia boleh makan sekedarnya sesuai dengan dorongan darurat itu dan guna menjaga dari bahaya.

    Imam Malik memberikan suatu pembatas, yaitu sekedar kenyang, dan boleh menyimpannya sehingga mendapat makanan yang lain.

    Ahli fiqih yang lain berpendapat: dia tidak boleh makan, melainkan sekedar dapat mempertahankan sisa hidupnya.

    Barangkali di sinilah jelasnya apa yang dimaksud dalam firman Allah Ghaira baghin wala ‘adin (dengan tidak sengaja dan melewati batas) itu.

    Perkataan ghairah baghin maksudnya: Tidak mencari-cari alasan karena untuk memenuhi keinginan (seleranya). Sedang yang dimaksud dengan wala ‘adin, yaitu: Tidak melewati batas ketentuan darurat. Sedang apa yang dimaksud dengan daruratnya lapar, yaitu seperti yang dijelaskan Allah dalam firmannya, dengan tegas Ia mengatakan:

    “Dan barangsiapa yang terpaksa pada (waktu) kelaparan dengan tidak sengaja untuk berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih. ” (al-Maidah: 3)

    1. Daruratnya Berobat

    Daruratnya berobat, yaitu ketergantungan sembuhnya suatu penyakit pada memakan sesuatu dari barang-barang yang diharamkan itu. Dalam hal ini para ulama fiqih berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat, berobat itu tidak dianggap sebagai darurat yang sangat memaksa seperti halnya makan. Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadis Nabi yang mengatakan:

    “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu dengan sesuatu yang Ia haramkan atas kamu.” (Riwayat Bukhari)

    Sementara mereka ada juga yang menganggap keadaan seperti itu sebagai keadaan darurat, sehingga dianggapnya berobat itu seperti makan, dengan alasan bahwa kedua-duanya itu sebagai suatu keharusan kelangsungan hidup. Dalil yang dipakai oleh golongan yang membolehkan makan haram karena berobat yang sangat memaksakan itu, ialah hadis Nabi yang sehubungan dengan perkenan beliau untuk memakai sutera kepada Abdur-Rahman bin Auf dan az-Zubair bin Awwam yang justru karena penyakit yang diderita oleh kedua orang tersebut, padahal memakai sutera pada dasarnya adalah terlarang dan diancam.2

    Barangkali pendapat inilah yang lebih mendekati kepada jiwa Islam yang selalu melindungi kehidupan manusia dalam seluruh perundang-undangan dan rekomendasinya.

    Tetapi perkenan (rukhsah) dalam menggunakan obat yang haram itu harus dipenuhinya syarat-syarat sebagai berikut:

    1. Terdapat bahaya yang mengancam kehidupan manusia jika tidak berobat.
    2. Tidak ada obat lain yang halal sebagai ganti Obat yang haram itu.
    3. Adanya suatu pernyataan dari seorang dokter muslim yang dapat dipercaya, baik pemeriksaannya maupun agamanya (i’tikad baiknya).

    Kami katakan demikian sesuai dengan apa yang kami ketahui, dari realita yang ada dari hasil penyelidikan dokter-dokter yang terpercava, bahwa tidak ada darurat yang membolehkan makan barang-barang yang haram seperti obat. Tetapi kami menetapkan suatu prinsip di atas adalah sekedar ikhtiyat’ (bersiap-siap dan berhati-hati) yang sangat berguna bagi setiap muslim, yang kadang-kadang dia berada di suatu tempat yang di situ tidak ada obat kecuali yany haram.

    1. Perseorangan Tidak Boleh Dianggap Darurat Kalau Dia Berada Dalam Masyarakat yang di Situ Ada Sesuatu yang Dapat Mengatasi Keterpaksaannya Itu

    Tidak termasuk syarat darurat hanya karena seseorang itu tidak mempunyai makanan, bahkan tidak termasuk darurat yang membolehkan seseorang makan makanan yang haram, apabila di masyarakatnya itu ada orang, muslim atau kafir, yang masih mempunyai sisa makanan yang kiranya dapat dipakai untuk mengatasi keterpaksaannya itu. Karena prinsip masyarakat Islam adalah harus ada perasaan saling bertanggungjawab dan saling bantu-membantu dan bersatu padu bagaikan satu tubuh atau bangunan yang satu sama lain saling kuat-menguatkan.

    Salah satu hasil tinjauan yang sangat bernilai oleh para ahli fiqih Islam terhadap masalah solidaritas sosial, yaitu seperti yang pernah dikatakan oleh Ibnu Hazm: “Bahwa tidak halal bagi seorang muslim yang dalam keadaan terpaksa untuk makan bangkai atau babi, sedangkan dia masih mendapatkan makanan dari kelebihan kawannya yang muslim ataupun kafir zimmi. Karena suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang yang mempunyai makanan, yaitu memberikan makanan tersebut kepada rekannya yang sedang kelaparan.

    Kalau betul keadaannya demikian, dia tidak dapat dikategorikan terpaksa yang boleh makan bangkai dan babi. Dan dia boleh memerangi keadaan seperti itu. Kalau dia terbunuh dalam persengketaan itu, si pembunuhnya dikenakan hukuman qisas, dan kalau yang menahan uangnya itu sampai terbunuh, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, karena dia menahan hak orang. Dia akan dapat digolongkan sebagai bughat (orang-orang yang zalim).

    Seperti firman Allah:

    “Kalau salah satunya berbuat zalim kepada yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat zalim itu sehingga mereka mau kembali kepada hukum Allah.” (al-Hujurat: 9)

    Orang yang menentang suatu perbuatan baik adalah orang berbuat jahat kepada kawannya yang mempunyai hak. Justru itulah Abubakar as-Siddiq memerangi orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 5 February 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 2 

    Halal dan Haram dalam Islam: Makanan dan Minuman – 2

    1. Daging Babi

    3) Yang ketiga ialah daging babi. Naluri manusia yang baik sudah barang tentu tidak akan menyukainya, karena makanan-makanan babi itu yang kotor-kotor dan najis. Ilmu kedokteran sekarang ini mengakui, bahwa makan daging babi itu sangat berbahaya untuk seluruh daerah, lebih-lebih di daerah panas. Ini diperoleh berdasarkan penyelidikan ilmiah, bahwa makan daging babi itu salah satu sebab timbulnya cacing pita yang sangat berbahaya. Dan barangkali pengetahuan modern berikutnya akan lebih banyak dapat menyingkap rahasia haramnya babi ini daripada hari kini. Maka tepatlah apa yang ditegaskan Allah:

    “Dan Allah mengharamkan atas mereka yang kotor-kotor.” (al-A’raf: 156)

    Sementara ahli penyelidik berpendapat, bahwa membiasakan makan daging babi dapat melemahkan perasaan cemburu terhadap hal-hal yang terlarang.

    1. Binatang Yang Disembelih Bukan Karena Allah

    4) Yang keempat ialah binatang yang disembelih bukan karena Allah, yaitu binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, misalnya nama berhala Kaum penyembah berhala (watsaniyyin) dahulu apabila hendak menyembelih binatang, mereka sebut nama-nama berhala mereka seperti Laata dan Uzza. Ini berarti suatu taqarrub kepada selain Allah dan menyembah kepada selain asma’ Allah yang Maha Besar.

    Jadi sebab (illah) diharamkannya binatang yang disembelih bukan karena Allah di sini ialah semata-mata illah agama, dengan tujuan untuk melindungi aqidah tauhid, kemurnian aqidah dan memberantas kemusyrikan dengan segala macam manifestasi berhalanya dalam seluruh lapangan.

    Allah yang menjadikan manusia, yang menyerahkan semua di bumi ini kepada manusia dan yang menjinakkan binatang untuk manusia, telah memberikan perkenan kepada manusia untuk mengalirkan darah binatang tersebut guna memenuhi kepentingan manusia dengan menyebut asma’Nya ketika menyembelih. Dengan demikian, menyebut asma’ Allah ketika itu berarti suatu pengakuan, bahwa Dialah yang menjadikan binatang yang hidup ini, dan kini telah memberi perkenan untuk menyembelihnya.

    Oleh karena itu, menyebut selain nama Allah ketika menyembelih berarti meniadakan perkenan ini dan dia berhak menerima larangan memakan binatang yang disembelih itu.

    1. Macam-Macam Bangkai

    Empat macam binatang yang disebutkan di atas adalah masih terlalu global (mujmal), dan kemudian diperinci dalam surah al-Maidah menjadi 10 macam, seperti yang telah kami sebutkan di atas dalam pembicaraan tentang bangkai, yang perinciannya adalah sebagai berikut:

    1. Al-Munkhaniqah, yaitu binatang yang mati karena dicekik, baik dengan cara menghimpit leher binatang tersebut ataupun meletakkan kepala binatang pada tempat yang sempit dan sebagainya sehingga binatang tersebut mati.
    2. Al-Mauqudzah, yaitu binatang yang mati karena dipukul dengan tongkat dan sebagainya.
    3. Al-Mutaraddiyah, yaitu binatang yang jatuh dari tempat yang tinggi sehingga mati. Yang seperti ini ialah binatang yang jatuh dalam sumur.
    4. An-Nathihah, yaitu binatang yang baku hantam antara satu dengan lain, sehingga mati.
    5. Maa akalas sabu, yaitu binatang yang disergap oleh binatang buas dengan dimakan sebagian dagingnya sehingga mati.

    Sesudah menyebutkan lima macam binatang (No. 5 sampai dengan 9) ini kemudian Allah menyatakan “Kecuali binatang yang kamu sembelih,” yakni apabila binatang-binatang tersebut kamu dapati masih hidup, maka sembelihlah. Jadi binatang-binatang tersebut menjadi halal kalau kamu sembelih dan sebagainya sebagaimana yang akan kita bicarakan di bab berikutnya.

    Untuk mengetahui kebenaran apa yang telah disebutkan di atas tentang halalnya binatang tersebut kalau masih ada sisa umur, yaitu cukup dengan memperhatikan apa yang dikatakan oleh Ali r,a. Kata Ali: “Kalau kamu masih sempat menyembelih binatang-binatang yang jatuh dari atas, yang dipukul dan yang berbaku hantam itu…, karena masih bergerak (kaki muka) atau kakinya, maka makanlah.” Dan kata Dhahhak: “Orang-orang jahiliah dahulu pernah makan binatang-binatang tersebut, kemudian Allah mengharamkannya kecuali kalau sempat disembelih. Jika dijumpai binatang-binatang tersebut masih bergerak kakinya, ekornya atau kerlingan matanya dan kemudian sempat disembelih, maka halallah dia.”1

    1. Hikmah Diharamkannya Macam-Macam Binatang di Atas

    Hikmah diharamkannya macam-macam bangkai binatang seperti tertera di atas agak kurang begitu tampak di sini. Tetapi hikmah yang lebih kuat, ialah: bahwa Allah s.w.t. mengetahui akan perlunya manusia kepada binatang, kasih sayangnya dan pemeliharaannya. Oleh karena itu tidak pantas kalau manusia dibiarkan begitu saja dengan sesukanya untuk mencekik dan menyiksa binatang dengan memukul hingga mati seperti yang biasa dilakukan oleh penggembala-penggembala yang keras hati, khususnya bagi mereka yang diupah, dan mereka yang suka mengadu binatang, misalnya mengadu antara dua kerbau, dua kambing sehingga matilah binatang-binatang tersebut atau hampir-hampir mati.

    Dari ini, maka para ulama ahli fiqih menetapkan haramnya binatang yang mati karena beradu, sekalipun terluka karena tanduk dan darahnya mengalir dari tempat penyembelihannya. Sebab maksud diharamkannya di sini, menurut apa yang saya ketahui, yaitu sebagai hukuman bagi orang yang membiarkan binatang-binatang tersebut beradu sehingga satu sama lain bunuh-membunuh. Maka diharamkannya binatang tersebut adalah merupakan suatu hukuman yang paling tepat. Adapun binatang yang disergap (dimakan) oleh binatang buas, didalamnya –dan yang terpokok– terdapat unsur penghargaan bagi manusia dan kebersihan dari sisa makanan binatang buas. Dimana hal ini biasa dilakukan orang-orang jahiliah, yaitu mereka makan sisa-sisa daging yang dimakan binatang buas, seperti kambing, unta, sapi dan sebagainya, kemudian hal tersebut diharamkan Allah buat orang-orang mu’min.

    1. Binatang yang Disembelih Untuk Berhala

    10) Perincian yang ke10 dari macam-macam binatang yang haram, yaitu: Yang disembelih untuk berhala (maa dzubiha alan nusub). Nushub sama dengan Manshub artinya: yang ditegakkan. Maksudnya yaitu berhala atau batu yang ditegakkan sebagai tanda suatu penyembahan selain Allah. Tanda-tanda ini berada di sekitar Ka’bah.

    Orang-orang jahiliah biasa menyembelih binatang untuk dihadiahkan kepada berhala-berhala tersebut dengan maksud bertaqarrub kepada Tuhannya.

    Binatang-binatang yang disembelih untuk maksud di atas termasuk salah satu macam yang disembelih bukan karena Allah.

    Baik yang disembelih bukan karena Allah ataupun yang disembelih untuk berhala, kedua-duanya adalah suatu pengagungan terhadap berhala (thaghut). Bedanya ialah: bahwa binatang yang disembelih bukan karena Allah itu, kadang-kadang disembelih untuk sesuatu patung, tetapi binatang itu sendiri jauh dari patung tersebut dan jauh dari berhala (nushub), tetapi di situ disebutnya nama thaghut (berhala). Adapun binatang yang disembelih untuk berhala, yaitu mesti binatang tersebut disembelih di dekat patung tersebut dan tidak mesti dengan menyebut nama selain Allah.

    Karena berhala-berhala dan patung-patung itu berada di sekitar Ka’bah, sedang sementara orang beranggapan, bahwa menyembelih untuk dihadiahkan kepada berhala-berhala tersebut berarti suatu penghormatan kepada Baitullah, maka anggapan seperti itu oleh al-Quran dihilangkannya dan ditetapkanlah haramnya binatang tersebut dengan nas yang tegas dan jelas, sekalipun itu difahami dari kalimat maa uhilla lighairillah (apa-apa yang disembelih bukan karena Allah).

    1. Ikan dan Belalang Dapat Dikecualikan dari Bangkai

    Ada dua binatang yang dikecualikan oleh syariat Islam dari kategori bangkai, yaitu belalang, ikan dan sebagainya dari macam binatang yang hidup di dalam air.

    Rasulullah s.a.w. ketika ditanya tentang masalah air laut, beliau menjawab:

    “Laut itu airnya suci dan bangkainya halal.” (Riwayat Ahmad dan ahli sunnah)

    Dan firman Allah yang mengatakan:

    “Dihalalkan bagi kamu binatang buruan laut dan makanannya.” (al-Maidah. 96)

    Umar berkata: Yang dimaksud shaiduhu, yaitu semua binatang yang diburu; sedang yang dimaksud tha’amuhu (makanannya), yaitu barang yang dicarinya.

    Dan kata Ibnu Abbas pula, bahwa yang dimaksud thaamuhu, yaitu bangkainya.

    Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah diceriterakan, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah mengirimkan suatu angkatan, kemudian mereka itu mendapatkan seekor ikan besar yang sudah menjadi bangkai. lkan itu kemudian dimakannya selama 20 hari lebih. Setelah mereka tiba di Madinah, diceriterakanlah hal tersebut kepada Nabi, maka jawab Nabi:

    “Makanlah rezeki yang telah Allah keluarkan untuk kamu itu, berilah aku kalau kamu ada sisa. Lantas salah seorang diantara mereka ada yang memberinya sedikit. Kemudian Nabi memakannya.” (Riwayat Bukhari)

    Yang termasuk dalam kategori ikan yaitu belalang. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. memberikan suatu perkenan untuk dimakannya walaupun sudah menjadi bangkai, karena satu hal yang tidak mungkin untuk menyembelihnya.

    Ibnu Abi Aufa mengatakan:

    “Kami pernah berperang bersama Nabi tujuh kali peperangan, kami makan belalang bersama beliau.” (Riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah)

    1. Memanfaatkan Kulit Tulang dan Rambut Bangkai

    Yang dimaksud haramnya bangkai, hanyalah soal memakannya. Adapun memanfaatkan kulitnya, tanduknya, tulangnya atau rambutnya tidaklah terlarang. Bahkan satu hal yang terpuji, karena barang-barang tersebut masih mungkin digunakan. Oleh karena itu tidak boleh disia-siakan.

    Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, bahwa salah seorang hamba Maimunah yang telah dimerdekakan (maulah) pernah diberi hadiah seekor kambing, kemudian kambing itu mati dan secara kebetulan Rasulullah berjalan melihat bangkai kambing tersebut, maka bersabdalah beliau:

    “Mengapa tidak kamu ambil kulitnya, kemudian kamu samak dan memanfaatkan?” Para sahabat menjawab: “Itu kan bangkai!” Maka jawab Rasulullah: “Yang diharamkan itu hanyalah memakannya.” (Riwayat Jama’ah, kecuali Ibnu Majah)

    Rasulullah s.a.w. menerangkan cara untuk membersihkannya, yaitu dengan jalan disamak.

    Sabda beliau:

    “Menyamak kulit binatang itu berarti penyembelihannya.” (Riwayat Abu Daud dan Nasal)

    Yakni, bahwa menyamak kulit itu sama dengan menyembelih untuk menjadikan kambing tersebut menjadi halal.

    Dalam salah satu riwayat disebutkan:

    “Menyamak kulit bangkai itu dapat menghilangkan kotorannya.” (Riwayat al-Hakim)

    Dan diriwayatkan pula, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Kulit apa saja kalau sudah disamak, maka sungguh menjadi suci/bersih.” (Riwayat Muslim dan lain-lain)

    Kulit yang disebut dalam hadis-hadis ini adalah umum, meliputi kulit anjing dan kulit babi. Yang berpendapat demikian ialah madzhab Dhahiri, Abu Yusuf dan diperkuat oleh Imam Syaukani.

    Kata Saudah Umul Mu’minin: “Kami mempunyai kambing, kemudian kambing itu mati, lantas kami samak kulitnya dan kami pakai untuk menyimpan korma supaya menjadi manis, dan akhirnya kami jadikan suatu girbah (suatu tempat yang terbuat dari kulit binatang yang biasa dipakai oleh orang Arab zaman dahulu untuk mengambil air dan sebagainya).” (Riwayat Bukhari).

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993