Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:32 am on 5 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (8) 

    quranHikayat Iblis (8)

    “Berapa kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Sepuluh macam” , jawab Iblis. “Apa saja itu wahai mahluk terkutuk ? “, tanya Rasulullah SAW. Iblis pun menjawab :

    “Saya meminta-Nya agar saya bisa berserikat dengan anak-cucu Adam dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Allah mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka”. (QS.Al-Isra”:64).

    Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

    Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki”. (QS.Al-Isra”:64). Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Saya memohon agar saya punya Al-Qur”an, maka syair adalah Al-Qur”anku. Saya memohon agar saya punya adzan, maka terompet adalah penggilan adzanku. Saya memohon kepada-Nya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok Al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku. Itulah maksud firman Allah SWT :

    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS.Al-Isra”:27) “.

    (bersambung)

     
    • Ibnu Putra 4:08 pm on 5 Agustus 2016 Permalink

      Kang, mohon dicek ke sahih-an kisah diatas kang…. saya takut kalau ternyata tidak sahih akan memberatkan akang nanti di akhirat…

      nuhun

    • erva kurniawan 8:52 am on 26 Agustus 2016 Permalink

      Terima kasih Pak Ibnu Putra

      Mohon kebijakan para pembaca untuk memilah artikel/ bacaan yang sesuai, seandainya ada keraguan agar tidak dijalankan, kami disini juga mendapatkan dari sumber lain

      Wallahu a’lam bish-shawab

  • erva kurniawan 1:26 am on 4 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (7) 

    quran34Hikayat Iblis (7)

    “Siapa yang paling celaka menurut engkau ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang-orang yang kikir”, jawab Iblis.

    “Apa yang paling menyita pekerjaanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Majelis orang-orang alim”, jawab Iblis

    “Bagaimana cara engkau makan ? “, tanya Rasulullah SAW. “Dengan tangan kiriku dan jari-jemariku”, jawab Iblis.

    “Dimana engkau mencari tempat berteduh untuk anak-anakmu diwaktu panas ?”, tanya Rasulullah SAW. “Dibawah kuku manusia”, jawab Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 3 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (6) 

    quran_tasbih_01Hikayat Iblis (6)

    “Wahai mahluk yang terkutuk, apa yang mengakibatkan punggungmu patah ? “, tanya Rasulullah SAW. “Suara ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah SWT “ , jawab Iblis.

    “Apa yang membuat hatimu panas ? “, tanya Rasulullah SAW. “Banyak beristighfar kepada Allah, baik di malam hari maupun di siang hari”, jawab Iblis.

    “Apa yang membuatmu merasa malu dan hina ? “, tanya Rasulullah SAW. “Sedekah secara rahasia”, jawab Iblis.

    “Apa yang menjadikan matamu buta ? “, tanya Rasulullah SAW. “Shalat diwaktu sahur”, jawab Iblis.

    “Apa yang dapat mengendalikan kepalamu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Memperbanyak sholat berjamaah”, tutur Iblis.

    “Siapa orang yang paling membahagiakanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang sengaja meninggalkan shalat”, tutur Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 2 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (5) 

    quranHikayat Iblis (5)

    Kemudian Rasulullah SAW meneruskan pertanyaannya, “Wahai mahluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu ? “. “Orang-orang yang suka makan riba”, jawab Iblis.

    “Lalu siapa teman dekatmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang berzina”, jawab Iblis.

    “Siapa teman tidurmu ?”, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang mabuk “, jawab Iblis.

    “Siapa tamumu ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Pencuri”, jawab Iblis.

    “Siapa utusanmu ? “,tanya Rasulullah SAW. “Tukang sihir “, jawab Iblis.

    “Apa yang menyenangkan pandangan matamu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang bersumpah dengan talak”, jawab Iblis.

    “Siapa kekasihmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang meninggalkan shalat Jum’at “, jawab Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 1 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (4) 

    quran 1Hikayat Iblis (4)  

    “Siapa menurut engkau hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis itu ? “ tanya Rasulullah SAW.

    Iblis menjawab dengan panjang lebar, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar (harta) adalah belum bisa murni karena Allah SWT. Apabila saya melihat seseorang sudah tidak menyukai dirham dan dinar, serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adalah orang yang mukhlis karena Allah, lalu saya tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian, sedangkan hatinya selalu bergantung pada kesenangan-kesenangan duniawi, maka ia akan lebih taat kepadaku daripada orang-orang yang telah saya jelaskan kepadamu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu termasuk dosa yang paling besar ?, apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta kedudukan adalah termasuk dosa yang paling besar ?, apakah engkau tidak tahu, saya memiliki tujuh puluh ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuhpuluh ribu setan. Diantara mereka ada yang sudah saya tugaskan untuk menggoda ulama, ada yang saya tugaskan untuk menggoda para pemuda, ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak masalah, sedangkan anak-anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya. Diantara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekun beribadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang zuhud. Mereka keluar-masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke pintu lain, sehingga mereka berhasil dengan menggunakan cara apapun. Saya ambil dari mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah kepada Allah dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Barshish seorang rahib (pendeta) yang berbuat ikhlas karena Allah selama tujuh puluh tahun, sehingga dengan doanya ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang sakit. Akan tetapi saya tidak berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seoarng perempuan, membunuh orang dan mati dalam kondisi kafir ?. Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya dengan firman-Nya : “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia : “Kafirlah kamu” , maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, “sesungguhnya aku cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam”. (QS.Al-Hasyr:16). Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari saya, saya adalah yang berbohong pertamakali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barangsiapa bersumpah atasnama Allah dengan berbohong maka ia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan atasnama Allah, “Bahwa saya akan memberi nasihat kepada kalian berdua”. Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah penyejuk mataku dan kesenanganku. Barangsiapa bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hampir tidak akan bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istrinya akan menjadi haram. Kemudian dari pasangan tersebut menghasilkan keturunan sampai hari Kiamat nanti yang semuanya hasil dari anak-anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka hanya gara-gara satu ucapan. Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara ummatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak menjalankan shalat maka saya selalu berada padanya dan menggangu sembari berkata kepadanya, “Masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan” sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat diluar waktunya. Akibatnya dengan shlat yang dikerjakan diluar waktunya itu akan dipukul di kepalanya. Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang dari setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu saya masih kalah, maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan shalat. Ketika dalam shlatnya saya berkata kepadnya, “Lihatlah ke kanan dan ke kiri “. Akhirnya ia melihat. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya, kemudian saya menghadap didepan matanya sembari berkata, “engkau telah melakukan apa yang tidak akan menjadi baik selamanya”. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan shalat tersebut. Kalau dalam shalat ia sanggup mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian, maka saya perintahkan untuk tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan sholat seperti ayam yang mencocok benih-benih untuk dimakan dan segera meninggalkannya. Kalau ia sanggup mengalahkan saya, dan shalat berjamaah, maka saya kalungkan rantai dilehernya. Ketika ia sedang ruku” saya tarik kepalanya keatas sebelum imam bangun dari ruku” dan saya turunkan sebelum imam turun. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang melakukan sholat seperti itu, maka batal shalatnya, dan di hari Kiamat nanti Allah akan menyalin kepalanya dengan kepala keledai. Kalau dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perintahkan meremas-remas jari-jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang shalat, karenanya ia termasuk orang-orang yang bertasbih kepadaku padahal ia sedang shalat. Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka saya tiup hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang shalat. Kalau ia tidak menutupi mulutnya dengan tangannya maka setan masuk kedalam perutnya, sehingga ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu mendengar dan taat kepadaku. Bagaimana ummatmu bisa bahagia wahai muhammad, sementara saya memerintah orang-orang miskin untuk meninggalkan shalat, dan saya berkata kepadanya, “Shalat bukanlah kewajiban kalian, shlata hanya kewajiban orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah”. Saya pun berkata kepada orang yang sakit, “Tinggalkan shalat, karena shalat bukanlah kewajibanmu. Shalat hanyalah kewajiban orang-orang yang diberi nikmat kesehatan. Sebab Allah sudah berfirman, “…dan tidak apa-apa bagi seorang yang sedang sakit…”(QS.An-Nur:61). Kalau engkau sudah sembuh baru melakukan shalat. Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan meninggalkan shlat ketika sedang sakit, maka ia akan bertemu Allah dengan dimurkai. Wahai Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendaknya engkau memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad, apakah engkau masih juga merasa gembira terhadap ummatmu, sementara saya bisa memurtadkan seperenam dari ummatmu untuk keluar dari Islam ?”.

    (bersambung)

     

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 31 July 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (3) 

    alquranHikayat Iblis (3)

    Lalu bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Ia sewaktu Jahiliyyah saja tidak pernah taat kepadaku, apalagi sewaktu dalam Islam “, tutur iblis.

    “Bagaimana dengan Umar bin Khaththab ? “,tanya Rasulullah SAW. “Demi Allah SWT , setiap kali saya bertemu dengannya, mesti akan lari darinya “, jawab iblis.

    “Bagaimana dengan Utsman ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Saya merasa malu terhdap orang yang para malaikat saja malu kepadanya “, jawab iblis.

    “Lalu bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib ? “,tanya Rasulullah SAW.

    “Andaikan saya bisa selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya, ia meninggalkanku dan saya pun meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu samasekali “, tutur iblis.

    “Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan ummatku bahagia dan mencelakakanmu sampai pada waktu yang ditentukan “, tutur Rasulullah SAW.

    “Tidak dan tidak mungkin, dimana ummatmu bisa bahagia sementara saya senantiasa hidup dan tidak mati sampai pada waktu yang telah ditentukan. Lalu bagaimana engkau bisa bahagia terhadap ummtmu, sementara saya bisa masuk kepada mereka melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hari mereka dibangkitkan kembali (Kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa membaca Al-Qur’an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis (murni) “, tutur iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 30 July 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (2) 

    quranHikayat Iblis (2)

    Rasulullah SAW mulai melemparkan pertanyaan kepada iblis, “Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka coba ceritakan kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci ? “.

    Iblis menjawab dengan jujur, “ Engkau, wahai Muhammad, adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu “.

    “Lalu siapa lagi yang palimg engkau benci ? “, tanya Rasulullah SAW. “Seorang pemuda yang bertakwa dimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah SWT “, jawab iblis.

    “Siapa lagi ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang alim yang wara’ (menjaga diri dari syubhat) lagi sabar“, jawab iblis.

    “Siapa lagi ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (hadats besar, kecil, dan najis) “, tutur iblis.

    “Siapa lagi ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya kepada siapapun dan juga tidak pernah mengeluhkan penderitaan yang dialaminya”, jawab iblis.

    “Lalu dari mana engkau tahu kalau ia bersabar ? “,tanya Rasulullah SAW. “Wahai Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaannya kepada mahluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah SWT tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar “, jelas iblis.

    “Lalu siapa lagi wahai iblis ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Orang kaya yang bersyukur”, tutur iblis. “Lalu apa yang bisa memberi tahu kepadamu, bahwa ia bersyukur ? “,tanya Rasulullah SAW.

    “Bila saya melihatnya ia mengambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada tempatnya”, tutur iblis.

    “Bagaimana kondisimu apabila ummatku menjalankan shalat ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Wahai Muhammad, saya langsung merasa gelisah dan gemetar “, jawab iblis.

    “Mengapa wahai mahluk yang terkutuk ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Sesunguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah SWT sekali sujud, maka Allah SWT akan mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali.  Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila mereka membaca Al-Qur’an, maka saya akan meleleh (mencair) seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila mereka bersedekah maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu memotong saya menjadi dua “ jawab iblis.

    “Mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis) ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan ; Dengan sedekah itu, Allah SWT akan menurunkan keberkahan dalam hartanya, menjadikan ia disenangi dikalangan mahluk-Nya, dengan sedekah itu pula Allah SWT akan menjadikan suatu penghalang antara neraka dengannya dan akan menghindarkan segala bencana dan penyakit “, tutur iblis menjelaskan.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 29 July 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (1) 

    al quranHikayat Iblis (1)

    Segala puji hanya milik Tuhan Semesta Alam. Shalawat dan salam sejahtera semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi yang Ummi, Muhammad SAW, dan kepada keluarganya serta sahabatnya yang mulia.

    Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal r.a., dari Ibnu Abbas r.a. yang berkisah :

    Kami bersama Rasulullah SAW dirumah salah seorang sahabat Anshar, dimana saat itu kami ditengah-tengah jamaah.

    Lalu ada suara orang memanggil dari luar, “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku”. Rasulullah SAW bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu ?”.

    Mereka menjawab, “Tentu Alllah SWT dan Rasul-Nya lebih tahu”.

    Lalu Rasulullah SAW menjelaskan, “ini adalah iblis yang terkutuk –semoga Allah senantiasa melaknatnya”.

    Kemudian Umar r.a. meminta izin kepada Rasulullah sembari berkata, “YA Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya ?”.

    Beliau Nabi SAW menjawab, “bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk mahluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah diketahui (hari Kiamat) ?. Akan tetapi sekarang silahkan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintahkan untuk datang kesini, maka pahamilah apa yang diucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian.” .

    Ibnu Abbas berkata : Kemudian dibukakan pintu, lalu ia masuk ditengah-tengah kami. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah ke atas (tidak ke samping). Sedangkan kepalanya seperti gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau.

    Ia datang sambil memberi salam. “Assalamu’alaika ya Muhammad, Assalamu’alaikum ya jamaa’atal-muslimim. “ kata iblis.

    Nabi SAW menjawab, “Assalamu lillah ya la’iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai mahluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluan tersebut wahai iblis ? “.

    “Wahai Muhammad, saya datang kesini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang kesini karena terpaksa “, tutur iblis.

    “Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini wahai mahluk terkutuk ?’ tanya Rasulullah SAW.

    Iblis menjawab, “ Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan Yang Maha Agung, dimana utusan itu berkata kepadaku, “ Sesungguhnya Allah SWT memerintahmu untuk datang kepada Muhammad SAW sementara engkau adalah mahluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak-cucu Adam AS, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad SAW dengan jujur. Maka demi Kebesaran dan Keagungan Allah SWT, jika engkau menjawab dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah SWT jadikan debu yang bakal dihempaskan oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang “ . Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawab dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang bakal saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku “ .

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 28 July 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al – Fatihah & Al-Kursi 

    al-fatihahFadhilat Surah Al – Fatihah & Al-Kursi

    (Patut diketahui : Untuk menyegarkan hati)

    “Fatihatul kitab (surah al fatihah) adalah ubat bagi segala racun”

    Untuk Penawar Racun & Kala Jengking

    Isilah gelas dengan sedikit air yang dicampur dengan sedikit garam. Bacakanlah surah al Fatihah 7 kali pada air di dalam gelas itu. Kemudian berilah orang yang disengat lipan itu minum dan usapkanlah sedikit di bahagian sengatan tadi. Insyaallah dengan ikhtiar itu racun yang ada di dalam badan akan menjadi tawar sehingga cepat sembuh kembali.

    Untuk Menghilangkan Sifat Lupa

    Tulislah surah al Fatihah pada bekas air seperti gelas, piring, dan lain-lain) yang bersih lagi suci. Lalu tuangkanlah air ke dalamnya supaya tulisan itu terhapus. Kemudian berilah minum kepada orang yang selalu pelupa. Insya Allah usaha ini akan berhasil dengan kesabaran.

    Untuk Penyembuhan Segala Penyakit

    Ambillah sebaldi air lalu dibacakan surah ini kepada air itu sebanyak 40 kali. Kemudian basuhlah kedua tangan, kedua kaki, muka,kepala dan seluruh anggota badan sampai rata dengan air itu. Insya Allah dengan ikhtiar ini, penyakit yang dialami akan sembuh. Lakukanlah berkali-kali.

    Untuk Penyembuhan Penyakit Mata

    Bacalah surah ini 41 kali sehabis sembahyang subuh kepada orang yang sakit mata. Kemudian usapkanlah ke mata pesakit dengan sedikit air ludah iaitu selepas membaca al Fatihah. Insya Allah akan sembuh dengan berkah yang ada pada surah al Fatihah ini.

    ayat-kursiFadhilat  Al-Kursi

    1. Orang yang membaca ayat al-Kursi selepas memyempurnakan solat fardhu akan dipelihara oleh Allah sehingga solat berikutnya.
    2. Allah swt akan menghantar dua malaikat untuk memelihara orang yang membaca ayat al-Kursi ketika berada di tempat pembaringan sehingga waktu subuh.
    3. Orang yang membaca ayat al-Kursi selepas solat fardhu akan memelihara keluarga, juga rumah-rumahnya yang berhampiran dengannya. Boleh juga dimaksudkan terpelihara daripada binatang yang mudharat, bencana alam, kebakaran, dan jahat angkara manusia. Maka Rasulullah s.a.w menyuruh setiap arang agar melakukan sesuatu perbuatan dengan menyebut nama Allah oleh kerana iblis dan syaitan tidak berupaya mengangkat atau membuka sesuatu yang di tutup dengan meyebut nama Allah.
    4. Allah tidak menegah mereka yang membaca ayat al-Kursi selepas solat fardhu masuk dalam syurga.
    5. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan membaca ayat al-Kursi, maka Allah utuskan tujuh puluh ribu malaikat kepadanya, mereka memohon keampunan dan mendoakan baginya.
    6. Barang siapa membacanya nescaya Allah mengutuskan malaikat untuk menulis kebaikannya dan menghapuskan keburukannya dari detik itu sampai esok hari.
    7. Barang siapa membacanya, Allah akan mengendalikan pengambilan rohnya dan ia adalah seperti orang yang berperang bersama nabi Allah sehingga mati syahid.
    8. Barang siapa yang membacanya ketika dalam kesempitan atau kesusahan, Allah akan menolongnya
     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (4/4) 

    puasa 4Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (4/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa-Puasa Yang Dimakruhkan

    Puasa-puasa yang dimakruhkan itu ialah:

    Puasa Hari Jumaat Atau Hari Sabtu Atau Hari Ahad Semata-Mata

    Adalah makruh berpuasa pada hari Jumaat satu satunya sahaja tanpa di sambung sebelum atau sesudahnya dengan puasa yang lain. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Jangan kamu berpuasa pada hari Jumaat sahaja.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Tetapi jika digabungkan puasa hari jumaat itu dengan satu hari puasa yang lain sama ada di sebelumnya atau sesudahnya, maka tidaklah dihukumkan makruh. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    Maksudnya: “Jangan berpuasa salah seorang daripada kamu pada hari Jumaat melainkan (dia berpuasa) sehari sebelumnya atau selepasnya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Adapun dihukumkan makruh hanya berpuasa sehari semata-mata pada hari Sabtu karena hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Busr daripada saudara perempuannya sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Jangan kamu berpuasa pada hari Sabtu melainkan apa yang telah difardhukan Allah ke atas kamu. Jika seorang daripada kamu tidak mendapati (pada hari itu apa-apa makanan) melainkan satu kulit anggur atau ranting pokok, maka hendaklah dia memamahnya. (supaya kamu tidak dinamakan berpuasa pada hari itu)”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Maka oleh karena itu juga dimakruhkan hanya berpuasa sehari semata-mata pada hari Ahad karena hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Nasrani. Diriwayatkan oleh An-Nasa‘i bahwa hari-hari yang paling banyak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan puasa ialah hari Sabtu dan Ahad (dengan bergabung), dan baginda bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Sabtu dan Ahad adalah dua hari raya bagi orang-orang musyrik dan aku suka supaya aku menyalahi mereka.” (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/603 dan Tuhfah Al-Muhtaj 3/458)

    Jika dilakukan puasa dua hari tersebut (Sabtu dan Ahad) bersama-sama atau didahului puasa hari Sabtu itu dengan berpuasa pada hari Jumaat atau disambung puasa hari Ahad itu dengan berpuasa pada hari Isnin, maka tidaklah dihukumkan makruh karena sedemikian itu tidak diagungkan oleh mana-mana kaum.

    Dihukumkan makruh berpuasa sehari semata-mata pada tiga hari tersebut (Jumaat, Sabtu dan Ahad) apabila tidak ada sebab lain yang dianjurkan untuk berpuasa. Apabila ada sebab lain yang menganjurkan untuk berpuasa seperti bertepatan hari tersebut dengan puasa hari Arafah, ‘Asyura’ atau hari tersebut bertepatan dengan puasa orang yang melakukan puasa Nabi Daud (berpuasa sehari dan berbuka sehari) atau ia melakukan puasa pada hari tersebut karena puasa qadha atau nazar, tidaklah dihukumkan makruh. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

    Maksudnya: “Jangan kamu mengkhususkan pada malam Jumaat untuk mendirikan sembahyang (malam) daripada malam-malam yang lain, dan jangan kamu mengkhususkan pada hari Jumaat untuk berpuasa daripada hari-hari yang lain kecuali satu puasa yang (kebetulan bertepatan) seorang di antara kamu berpuasa (pada hari itu).” (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/603, Fath Al-‘Allam 4/165 dan Syarh Shahih Muslim 4274)

    (Hadits riwayat Muslim)

    Puasa Sepanjang Tahun  Selain Dua Hari Raya  Dan Hari-Hari Tasyriq

    Adalah makruh hukumnya berpuasa sepanjang tahun selain dua hari raya dan hari-hari Tasyriq bagi sesiapa yang takut akan kemudaratan atau terabai hak sama ada yang wajib atau yang sunat. Diriwayatkan daripada ‘Atha bahwa Al-‘Abbas, seorang ahli syair mengkhabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Maksudnya: “Telah sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya aku terus menerus berpuasa dan mengerjakan sembahyang malam. Sama ada baginda mengutus seseorang kepadaku (untuk berjumpa baginda) atau aku sendiri yang menemui baginda. Maka baginda bersabda: “Benarkah adanya dikhabarkan bahwa engkau berpuasa dan tidak berbuka dan engkau mengerjakan sembahyanag malam dan tidak tidur? Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan dirikanlah sembahyang malam dan tidurlah, sesungguhnya bagi dua matamu ke atasmu mempunyai bahagian hak dan sesungguhnya bagi dirimu dan keluargamu ke atasmu mempunyai bahagian hak” Dia berkata: “Sesungguhnya aku mempunyai kekuatan untuk mengerjakan sedemikian” Baginda bersabda: Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam” Dia berkata: “Bagaimana (puasa Nabi Daud ‘alaihissalam)?” Baginda bersabda: “Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari dan dia tidak lari apabila bertemu musuh (tetap segar dalam menghadapi musuh di medan pertempuran) Dia berkata: “Aku harus bagaimana (dalam hal ini) wahai Nabi Allah?” ‘Atha berkata: “Aku tidak mengetahui bagaimana disebut perihal puasa sepanjang masa”. Nabi bersabda sebanyak dua kali: “Tidak dianggap berpuasa sesiapa yang berpuasa sepanjang masa.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Tetapi bagi sesiapa yang tidak takut akan kemudaratan dan perkara-perkara yang boleh membawa kepada pengabaian hak-hak, tidaklah dihukumkan makruh berpuasa bahkan disunatkan. (Lihat Mugni Al-Muhtaj 1/603 dan Fath Al-Allam 4/165)

    Puasa Yang Diharamkan

    Puasa yang diharamkan itu ialah:

    Puasa pada hari raya Aidilfitri, Aidiladha dan hari-hari Tasyriq

    Adalah diharamkan berpuasa pada hari raya Aidilfitri dan hari raya Aidiladha dan pada hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Zulhijjah). Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegah berpuasa dua hari yaitu hari raya Adha dan hari raya fitri.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Manakala daripada Nubaisyah Al-Hadzali berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari makan dan minum (bukan hari berpuasa).”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Puasa pada hari Syak dan hari-hari separuh yang kedua bulan Sya‘ban

    Adalah haram berpuasa sunat pada hari Syak yaitu pada 30 haribulan Sya‘ban yang tersebar berita di kalangan orang bahwa anak bulan Ramadan telah dilihat, akan tetapi tidak disabitkan oleh hakim (pemerintah) karena tidak dipersaksikan penglihatan anak bulan itu oleh seorang yang adil atau ianya dipersaksikan oleh dua orang kanak-kanak atau beberapa orang perempuan atau seorang hamba atau seorang fasik. Jika tidak ada tersebar berita tersebut maka tidaklah dikatakan pada hari itu adalah hari Syak bahkan ia adalah termasuk hari-hari daripada bulan Sya‘ban. Begitu juga adalah diharamkan berpuasa sunat pada hari-hari separuh yang kedua bulan Sya‘ban (16 hingga 30 Sya‘ban) tanpa ada sebab. Diriwayatkan daripada ‘Ammar bin Yasir berkata: (Lihat I‘anah Ath-Thalibin 2/309 dan Al-Qamus Al-Fiqhi 201)

    Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang syak padanya manusia (hari Syak) maka sesungguhnya dia telah menderhakai Abu Al-Qasim Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Manakala diriwayatkan pula daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Apabila telah masuk separuh bulan Sya‘ban maka janganlah kamu berpuasa.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Jika seseorang itu berpuasa pada hari Syak atau pada separuh kedua bulan Sya‘ban dengan ada sebab seperti puasa qadha, nazar dan kaffarah atau kebetulan bertepatan hari syak itu dengan puasa yang pada adatnya dia berpuasa seperti puasa hari Isnin dan Khamis dan puasa sehari dan berbuka sehari atau dia telah berpuasa pada 15 Sya‘ban dan berterusan puasanya itu tanpa berbuka hingga ke hari Syak, maka baginya dibolehkan berpuasa pada hari Syak dan separuh kedua bulan Sya‘ban itu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: (Lihat I‘anah Ath-Thalibin 2/309 dan Fath Al-‘Allam 4/151-152)

    Maksudnya: “Jangan kamu dahului bulan Ramadan itu dengan berpuasa sehari dan juga dua hari melainkan puasa seseorang yang (kebetulan bertepatan) dia berpuasa (pada adatnya hari itu).

    (Hadits riwayat Muslim)

    Puasa seorang isteri tanpa keizinan suaminya yang berada di dalam negeri

    Adalah haram bagi seorang isteri berpuasa sunat atau puasa qadha muwassa‘ (yang mempunyai masa yang panjang lagi untuk diqadha) tanpa keizinan suaminya yang berada di dalam negeri. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Lihat Tuhfah Al-Muhtaj 3/461)

    Maksudnya: “Janganlah seorang perempuan (isteri) berpuasa sedangkan suami ada (di dalam negeri) melainkan dengan keizinan suami; dan janganlah dia mengizinkan (orang lain) masuk rumah suami sedangkan suami ada, melainkan dengan keizinan suami; dan apa pun yang dia nafkahkan dari hasil kerja suami tanpa perintah suami, maka separuh pahala itu adalah bagi suami.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Demikianlah disebutkan puasa-puasa yang sunat, makruh dan haram. Di antaranya ada yang dihubungkan hukumnya sama ada sunat, makruh dan haram dengan bersempenakan hari-hari tertentu dan ada pula dihubungkan hukumnya sama ada sunat, makruh dan haram dengan keadaan diri orang yang berpuasa. Semoga ia akan menjadi panduan dan rujukan ringkas dalam mengerjakan ibadah puasa-puasa sunat sepanjang tahun.

    —– Selesai —-

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 26 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (3/4) 

    puasa-4

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (3/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    PUASA HARI-HARI HITAM

    Puasa hari-hari hitam ialah puasa sunat yang dilakukan pada hari yang ke 28, 29 dan 30 setiap bulan. Dinamakan hari-hari tersebut dengan hari-hari hitam kerana kegelapan malam-malamnya pada waktu itu disebabkan ketiadaan bulan. Maka dengan berpuasa pada tiga hari tersebut itu sebagai permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya menghilangkan kegelapan pada malam-malam itu.

    Adalah wajar juga berpuasa pada hari ke 27 di samping berpuasa pada hari-hari ke 28, 29 dan 30 sebagai langkah berhati-hati dan keluar daripada perselisihan pendapat ulama yang mengatakan bahwa hari yang ke 27 itu adalah awal bagi hari yang ke 28.

    Jika perkiraan bulan hanya 29 hari yaitu tidak genap hingga 30 hari, maka diganti satu hari puasa yang kurang itu pada hari yang pertama bulan yang baru bagi menggenapkan bilangan puasa itu sebanyak tiga hari yang perkiraannya bermula daripada hari yang ke 28.

    PUASA HARI SENIN DAN KAMIS

    Puasa hari Senin dan Kamis ialah puasa yang disunatkan pada hari-hari tersebut di setiap minggu. Adapun hikmat disunatkan berpuasa pada hari Senin dan Kamis itu ialah ada hubungkait dengan amal perbuatan manusia di dalam satu minggu. Diriwayatkan daripada Usamah bin Zaid berkata:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam (melakukan) puasa pada hari Senin dan Kamis, dan ditanya (Baginda) akan (sebab) sedemikian itu, baginda bersabda: “Sesungguhnya amalan manusia itu ditunjukkan (dibentangkan) pada hari Senin dan Kamis.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Dalam hadits yang lain pula, diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Ditunjukkan amalan (anak adam) itu pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka supaya ditunjukkan amalanku itu pada hal aku sedang berpuasa.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Tersebut di dalam Kitab I’anah Ath-Thalibin bahwa berpuasa pada hari Senin adalah lebih afdhal daripada berpuasa pada hari Kamis kerana keistimewaan yang berlaku pada hari tersebut. Di antaranya sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:

    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) akan perihal berpuasa pada hari Senin, Baginda bersabda: “Itulah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan ke atasku (perutusan) pada hari itu.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    PUASA DI BULAN-BULAN HARAM

    Di antara bulan yang disunatkan berpuasa ialah di bulan-bulan haram. Bulan-bulan haram adalah terdiri daripada bulan Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Diriwayatkan daripada Mujibah Al-Bahiliyyah daripada ayahnya atau bapa saudaranya berkata:

    Maksudnya: “Sesungguhnya dia pernah mengadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian setelah dia pergi selepas setahun, dia menghadap Baginda sedang perihal dan bentuk (badannya) sudah berubah. Lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau mengenaliku?” Baginda bersabda: “Siapa awak?” Dia berkata: “Saya adalah Al-Bahili yang datang mengadap engkau pada tahun lalu” Baginda bersabda: “Apa yang telah membuatmu berubah padahal engkau dahulu mempunyai bentuk (badan) yang bagus?” Dia berkata: “Saya tidak makan makanan kecuali di malam hari sejak berpisah denganmu” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa engkau menyiksa dirimu?” Selanjutnya baginda bersabda: “Berpuasalah pada bulan Sabar (Ramadan) dan sehari setiap bulan” Dia berkata: “Tambahkan lagi untukku, sesungguhnya saya masih kuat” Baginda bersabda: “Berpuasalah dua hari (setiap bulan)” Dia berkata: “Tambahkan lagi untukku” Baginda bersabda: “Berpuasalah tiga hari (setiap bulan)” Dia berkata: “Tambahkan lagi untukku” Baginda bersabda: “Berpuasalah pada bulan-bulan haram (Zulkaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab) dan tinggalkanlah! Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah! Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah! Sambil baginda bersabda itu baginda memberi isyarat dengan tiga jari, digenggamnya keras kemudian dilepaskannya.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Berkata Imam Nawawi: “Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan meninggalkan (setelah tiga hari) kerana menjadi kesusahan ke atasnya memperbanyakkan puasa sebagaimana tersebut di awal hadits. Adapun bagi sesiapa yang tidak menjadi kesusahan ke atasnya, maka berpuasa seluruhnya (di bulan-bulan haram) adalah satu fadhilat.” (Lihat Kitab Al-Majmu’ 6/438, I’anah Ath-Thalibin 2/307)

    Dinamakan bulan-bulan ini dengan nama bulan-bulan haram kerana dahulu orang-orang Arab menghormati dan mengagungkannya serta mengharamkan di dalam bulan-bulan tersebut pembunuhan sehinggakan jika salah seorang daripada mereka bertemu orang yang telah membunuh bapanya atau anaknya atau saudaranya di bulan-bulan ini, orang yang membunuh itu tidak akan diganggu.

    Adapun bulan yang terlebih afdhal untuk mengerjakan puasa di antara bulan-bulan haram itu ialah bulan Muharram. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

    Maksudnya: Puasa yang afdhal sekali selepas puasa di bulan Ramadan ialah (puasa) di bulan Allah yaitu bulan Muharram, dan sembahyang yang afdhal sekali selepas sembahyang fardhu ialah sembahyang sunat malam.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Adapun jawaban yang disebutkan oleh para ulama, kenapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak melakukan puasa-puasa sunat di bulan Sya’ban daripada bulan Muharram sedangkan bulan Muharram adalah bulan yang lebih afdhal untuk mengerjakan puasa selepas bulan Ramadan sebagaimana yang tersebut di dalam hadits, ialah:

    1. Kemungkinan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui kelebihan bulan Muharram itu ketika di akhir hayat baginda dan tidak sempat mengerjakannya.
    2. Kemungkinan kebetulan pada waktu itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat keuzuran daripada musafir atau sakit atau sebagainya yang menghalang baginda daripada memperbanyakkan puasa di bulan Muharram itu. (Lihat Kitab Al-Majmu’ 6/439 dan Syarh Shahih Muslim 4/295)

    PUASA DI BULAN SYAABAN

    Adalah disunatkan berpuasa di bulan Sya’ban sebagaimana yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sehingga kami mengatakan baginda tidak berbuka, dan baginda berbuka sehingga kami mengatakan baginda tidak berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa satu bulan kecuali pada bulan Ramadan dan saya tidak pernah melihat baginda berpuasa lebih banyak daripadanya pada bulan Sya’ban.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan berpuasa pada bulan ini adalah disebabkan oleh beberapa perkara sebagaimana yang diriwayatkan daripada Usamah bin Zaid berkata:

    Maksudnya: “Wahai Rasulullah! Aku belum pernah melihat engkau berpuasa satu bulan daripada bulan-bulan sebagaimana (banyaknya) engkau berpuasa di bulan Sya’ban” Baginda bersabda: “Sedemikian itu kerana bulan Sya’ban, bulan yang manusia lalai (kerana terletak) di antara bulan Rajab dan bulan Ramadan, dan Ia adalah bulan dimana diangkat padanya amalan-amalan manusia kepada Allah Rabbul ‘Alamin, maka aku suka supaya diangkat amalanku sedang aku di dalam keadaan berpuasa.”

    (Hadits riwayat An-Nasa’i)

    Bersambung

     

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 25 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (2/4) 

    puasa 4Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (2/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa hari ‘Asyura’, Tasu’a’ dan kesebelas Muharram

    Puasa hari ‘Asyura’ ialah puasa sunat pada hari kesepuluh bulan Muharram.

    Diriwayatkan daripada Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhuma berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Ini adalah hari ‘Ayura’ dan tidak diwajibkan ke atas kamu berpuasa sedangkan aku berpuasa. Maka barangsiapa yang hendak berpuasa maka berpuasalah dia dan barangsiapa mahu (tidak berpuasa) maka berbukalah dia (boleh tidak berpuasa).” (Hadits riwayat Bukhari) Hikmat berpuasa pada hari ‘Asyura’ sebagaimana yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Maksudnya: “(Tatkala) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Madinah, baginda melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’. Baginda bersabda: “Apakah ini?” Mereka menjawab: “Hari yang baik, ini adalah hari yang mana Allah menyelamatkan Bani Israil daripada musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu” Nabi bersabda: “Aku lebih berhak dengan Musa daripada kamu” Lalu Baginda berpuasa dan memerintahkan berpuasa (pada hari itu.)” (Hadits riwayat Bukhari) Kelebihan berpuasa di hari ‘Asyura’ sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:

    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang berpuasa pada hari ‘Asyura’? Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu.” (Hadits riwayat Muslim) Adalah disunatkan juga di samping berpuasa pada hari ‘Asyura’, berpuasa pada hari Tasu’a’ iaitu hari yang kesembilan bulan Muharram berdasarkan riwayat daripada Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Maksudnya: “Dahulu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan Baginda memerintahkan (para sahabatnya) untuk melakukan puasa itu, mereka berkata: “Wahai Rasulullah! (Bukankah) sesungguhnya hari ‘Asyura’ itu hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila pada tahun yang akan datang, insya Allah kita akan berpuasa pada hari yang kesembilan” Berkata Abdullah bin Abbas: “Belum sempat menjelang tahun hadapan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah pun wafat.” (Hadits riwayat Muslim) Para ulama menyebutkan bahawa hikmat disunatkan berpuasa pada hari Tasu’a’ (sembilan Muharram) itu dari berbagai-bagai aspek:

    1. Bagi menyalahi atau membezakan amalam orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura’ (Sepuluh Muharram) sahaja. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Berpuasalah kamu pada hari ‘Asyura’ dan buatlah perbezaan padanya (dari) orang Yahudi (dengan) berpuasa sehari sebelumnya atau sehari selepasnya.” (Hadits riwayat Ahmad)

    1. Bagi maksud berhati-hati berpuasa pada hari ‘Asyura’ kerana kemungkinan berlaku kesilapan kekurangan dalam pengiraan anak bulan. Maka dengan itu hari kesembilan Muharram itu dalam pengiraan adalah hari yang kesepuluh Muharram yang sebenarnya.
    2. Bagi maksud menyambung puasa hari ‘Asyura’ dengan satu hari puasa yang lain kerana tegahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa satu hari satu-satunya sahaja seperti berpuasa pada hari Jumaat. Walaupun begitu, tidaklah menjadi apa-apa jika hanya berpuasa sehari sahaja pada hari ‘Asyura’. (lihat I’anah Ath-Thalibin 2/301) Oleh kerana itu disunatkan juga, jika berpuasa pada hari ‘Asyura’ tanpa berpuasa pada hari Tasu’a’, supaya berpuasa pada hari kesebelas Muharram. Bahkan Imam Syafi’e Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan di dalam Kitab Al-Umm dan Al-Imla’ disunatkan berpuasa tiga hari tersebut iaitu hari kesembilan (Tasu’a’), kesepuluh (‘Asyura’) dan kesebelas bulan Muharram.

    Puasa Nabi Daud

    Puasa Nabi Daud ialah puasa yang dikerjakan berselang seling dengan berpuasa sehari dan berbuka sehari. Ia adalah puasa sunat yang afdhal sekali di antara puasa-puasa sunat sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/604)

    Maksudnya: “Sembahyang yang paling disukai oleh Allah ialah sembahyang Nabi Daud ‘Alaihissalam dan puasa yang paling disukai oleh Allah ialah puasa Nabi Daud. Adalah Baginda (Nabi Daud) itu tidur di separuh malam, mendirikan ibadat sembahyang di sepertiga malam, tidur (kembali) di seperenam malam, berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (Hadits riwayat Bukhari) Dalam sebuah hadith lain yang bersumber daripada Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma juga bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

    Maksudnya: “Maka berpuasalah engkau (Abdullah bin ‘Amr) sehari dan berbuka sehari (berikutnya), yang sedemikian itu adalah puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam dan ia adalah puasa sunat yang terafdhal sekali. Maka aku berkata (Abdullah bin ‘Amr): “Sesungguhnya aku mampu lebih dari sedemikian itu” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada yang lebih afdhal dari yang sedemikian itu.” (Hadits riwayat Bukhari)

    Puasa hari-hari putih

    Puasa hari putih itu ialah puasa sunat sebanyak tiga hari di setiap bulan. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

    Maksudnya: “Telah berwasiat kepada ku Khalili Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tiga perkara, berpuasa tiga hari di setiap bulan, sembahyang Dhuha dua rakaat dan sembahyang Witir sebelum aku tidur.” (Hadits riwayat Bukhari)

    Puasa Putih ini dilakukan pada hari ke 13, 14 dan 15 di setiap bulan dan dinamakan hari-hari tersebut hari putih kerana bulan pada malam itu penuhh dan putih terang. Daripada Abu Dzarr Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Wahai Abu Dzarr! Apabila engkau berpuasa tiga hari daripada sebulan, maka berpuasalah pada 13, 14 dan 15 haribulan.” (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Adalah wajar juga berpuasa pada hari ke 12 di samping berpuasa pada hari-hari yang ke 13, 14, dan 15 sebagai langkah berhati-hati dan keluar daripada perselisihan pendapat ulama yang mengatakan bahawa hari yang ke 12 itu adalah awal bagi hari yang ke 13. Dikecualikan berpuasa pada hari yang ke 13 Zulhijjah kerana ia adalah terdiri daripada hari-hari Tasyriq yang diharamkan berpuasa dan digantikan hari tersebut pada hari ke 16 Zulhijjah . Adapun kelebihan berpuasa di hari-hari putih sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Dzarr Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Barangsiapa berpuasa daripada tiap-tiap bulan sebanyak tiga hari, maka sedemikian itu (menyamai) puasa selama setahun.” (Hadits riwayat Tirmidzi) Ini adalah berdasarkan bahawa satu kebajikan itu menyamai sepuluh kebajikan. Dengan berpuasa 3 hari setiap bulan maka ia sebanding berpuasa sebanyak 30 hari dan begitulah seterusnya.

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 24 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (1/4) 

    puasa 4Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (1/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa adalah ibadat yang berkesan sekali dalam mengendalikan hawa nafsu sekaligus dapat menyinari hati dan mendidik seluruh anggota sehingga ke martabat taqwa, kerana puasa yang sebenar-benarnya bukan hanya menahan perut dan kemaluan serta mengecap keinginan syahwat bahkan mengekang pancaindera daripada melakukan perkara-perkara dosa dan haram. Akhirnya berpuasa hati dari segala cita-cita yang kotor dan pemikiran keduniaan yang boleh memesongkan perhatian selain Allah.

    Dari segi ganjaran puasa, bahawa tidak ada satu amal ibadat pun yang tidak ditentukan dan dibataskan ganjaran pahalanya selain dari ibadat puasa. Sesungguhnya ganjaran pahala orang yang melakukan ibadat puasa tidak ditetapkan dengan satu jumlah dan tidak pula dihadkan dengan satu had tertentu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hinggalah ke 700 kali ganda. Allah berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku memberikan balasan (pahala) kepadanya, (kerana) dia (orang yang berpuasa) telah meniggalkan syahwat dan makan minumnya kerana Aku.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Hadits ini menerangkan bahawa segala amalan manusia itu dihadkan atau dibatasi oleh Allah ganjarannya daripada sepuluh sampai 700 kali ganda, tetapi tentang puasa tidaklah sedemikian. Dalam erti kata lain tidak dibataskan ganjarannya oleh angka atau jumlah yang tertentu, bahkan terserah kepada Allah yang Maha Kaya memberikan pembalasan yang setimpal dengannya. Ini tidak lain tidak bukan adalah menggambarkan bahawa betapa besarnya dan istimewanya ibadat puasa di sisi Allah.

    Lebih daripada itu lagi, Allah Subhanahu wa ta’ala menyediakan sebuah pintu di dalam Syurga yang dikhususkanNya bagi orang yang berpuasa untuk memasukinya di hari Kiamat nanti sebagaimana diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya di dalam syurga terdapat satu pintu yang disebut Ar-Rayyan yang mana pada hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya (dan) tidak seorangpun selain mereka memasukinya. Dikatakan: “Dimanakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun berdiri (untuk memasukinya), tidak ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk dari padanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa sehari pada jalan Allah nescaya Allah akan menjauhkan mukanya dari api neraka (sejauh perjalanan) 70 tahun.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Di dalam Islam di samping puasa fardhu yang diwajibkan di bulan Ramadan, ada disyariatkan juga puasa-puasa sunat yang dikerjakan di luar bulan Ramadan. Puasa sunat mempunyai beberapa perbezaan daripada puasa fardhu yang dikerjakan di bulan Ramadan dari berbagai-bagai segi. Di antaranya:

    Orang yang dalam mengerjakan puasa sunat atau lain-lain perkara yang sunat seperti sembahyang kecuali haji dan umrah adalah harus baginya memutuskan (tidak wajib menyempurnakan) puasanya itu berdasarkan sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Orang yang dalam berpuasa sunat itu adalah raja bagi dirinya, jika dia mahu dia berpuasa dan jika dia mahu dia berbuka.”

    (Hadits riwayat Imam Ahmad)

    Akan tetapi adalah dihukumkan makruh jika dia memutuskan puasa sunatnya itu tanpa ada sesuatu keuzuran bagi keluar daripada perselisihan pendapat yang mengatakan wajib disempurnakan apabila seorang itu telah masuk mengerjakan puasa sunat berdasarkan zahir firman Allah di dalam surah Muhammad ayat 33:

    Tafsirnya: “Dan janganlah kamu batalkan amalan-amalan kamu.”

    Jika dia keluar dari puasanya itu dengan sebab ada sesuatu keuzuran seperti menolong tetamu yang merasa keberatan untuk dijamu makan secara bersendirian maka tidaklah dihukumkan makruh bahkan disunatkan baginya berbuka. Namun berpuasa adalah lebih afdhal jika tidak ada keberatan atau kesukaran dari mana-mana pihak untuk menjamu makanan. Maka dengan itu, orang yang berbuka puasa tanpa ada keuzuran, tidak ada pahala bagi puasanya itu manakala orang yang berbuka puasa kerana ada sebab keuzuran dikurniakan pahala bagi puasanya itu walaupun ianya tidak sempurna dilakukan. (Lihat Tuhfah Al-Muhtaj 3/460)

    Adalah disunatkan juga bagi orang yang mengerjakan puasa sunat jika dia memutuskannya sama ada disebabkan keuzuran atau pun tidak, supaya mengqadha puasanya itu sebagai mengambil kira pendapat yang mengatakan wajib mengqadhanya kerana menyempurnakannya adalah wajib disisi mereka iaitu imam-imam yang tiga (Imam Hanafi, Maliki dan Hambali Rahimahumullah). (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/604 dan Fath Al-’Allam 4/167)

    1. Tidak disyaratkan berniat di malam hari dalam mengerjakan puasa-puasa sunat kerana akhir waktu untuk berniat bagi puasa-puasa sunat itu adalah sebelum tergelincir matahari (waktu zuhur) berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku pada satu hari: “Wahai Aisyah! Adakah di sisi kamu sesuatu (untuk dimakan)?” Aisyah berkata, aku berkata: “Wahai Rasulullah! Tidak ada di sisi kita sesuatu pun (untuk dimakan)” Baginda bersabda: “(Jika begitu) maka aku berpuasa.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Begitu juga tidak disyaratkan dalam mengerjakan puasa-puasa sunat di dalam berniat menta’yin (menentukan jenis puasa seperti puasa hari isnin, Arafah, ‘Asyura’ dan sebagainya). Ia sah dilakukan dengan berniat mutlaq sahaja seperti katanya:

    Artinya: “Sahaja aku berpuasa”

    Imam Nawawi berkata: “Adalah wajar supaya disyaratkan ta’yin di dalam puasa yang beriringan seperti puasa hari Arafah, ‘Asyura’, puasa hari-hari Putih, Enam Syawal dan sebagainya sebagaimana disyaratkan sedemikian itu di dalam Sembahyang sunat rawatib.”

    (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/572, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 28/87-88 dan I’anah Ath-Thalibin 2/252)

    PUASA-PUASA SUNAT ITU IALAH : PUASA ENAM

    Puasa enam ialah puasa sunat yang dikerjakan sebanyak enam hari di dalam bulan Syawal. Ia boleh dikerjakan berselang seli di dalam bulan Syawal, tetapi mengerjakannya berturut-turut selepas hari raya adalah terlebih afdhal. Diriwayatkan daripada Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, adalah (puasanya itu) seperti puasa sepanjang tahun.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Mengerjakan puasa sunat sebanyak enam hari di bulan Syawal di samping mengerjakan puasa fardhu di bulan Ramadan diibaratkan seperti berpuasa di sepanjang tahun berdasarkan perkiraan setiap kebajikan itu dibalas dengan sepuluh kali ganda. Oleh itu disamakan berpuasa di bulan Ramadan selama 29 atau 30 hari dengan 300 hari atau sepuluh bulan berpuasa dan puasa enam di bulan Syawal itu disamakan dengan 60 hari atau dua bulan berpuasa. Maka dengan itu genaplah ia setahun. Ini diperkuatkan lagi dengan sebuah hadits riwayat daripada Tsauban bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Berpuasa sebulan (di bulan Ramadan itu disamakan) dengan sepuluh bulan berpuasa dan berpuasa enam hari selepasnya (dibulan Syawal disamakan) dengan dua bulan berpuasa, maka yang sedemikian itu (jika dicampurkan menjadi) genap setahun.”

    (Hadits riwayat Ad-Darimi)

    PUASA HARI ARAFAH

    Puasa hari Arafah ialah puasa sunat pada hari kesembilan Zulhijjah yang disunatkan kepada orang-orang yang tidak melakukan ibadat haji. Kelebihan berpuasa pada hari itu menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:

    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang berpuasa di hari Arafah? Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Manakala bagi orang-orang yang melakukan ibadat haji pula adalah disunatkan untuk tidak berpuasa pada hari Arafah dan adalah menyalahi perkara yang utama jika mereka berpuasa juga pada hari itu berdasarkan apa yang diriwayatkan daripada Ummu Al-Fadhl binte Al-Harits berkata:

    Maksudnya: “Bahawa beberapa orang di sisinya di hari Arafah membicarakan puasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (di hari Arafah). Sebahagian mereka ada yang mengatakan bahawa Baginda berpuasa dan sebahagian mereka ada yang mengatakan bahawa Baginda tidak berpuasa. Maka aku hantar kepada Baginda segelas susu yang pada ketika itu Baginda berada di atas untanya, lalu Baginda meminumnya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Disunatkan juga berpuasa pada hari ke 8 Zulhijjah di samping berpuasa pada hari Arafah (9 Zulhijjah) sebagai langkah berhati-hati yang mana kemungkinan pada hari ke 8 Zulhijjah itu adalah hari yang ke 9 Zulhijjah (Hari Arafah). Bahkan adalah disunatkan berpuasa lapan hari iaitu dari hari yang pertama bulan Zulhijjah hingga ke hari yang ke lapan sama ada bagi orang yang mengerjakan haji atau tidak mengerjakan haji, bersama-sama dengan hari Arafah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai oleh Allah untuk dilakukan ibadah kepadaNya daripada sepuluh hari di bulan Zulhijjah, dimana satu hari berpuasa daripadanya (sebanding) dengan puasa satu tahun dan mendirikan ibadah satu malam daripadanya (sebanding) dengan mendirikan ibadah pada lailatulqadar.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan daripada Hunaidah bin Khalid, daripada isterinya, daripada setengah isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah melakukan puasa sembilan hari di awal bulan Zulhijjah, di hari ‘Asyura’ dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang berikutnya.”

    (Hadits riwayat An-Nasa’i)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 23 July 2016 Permalink | Balas  

    Etika Kita Singgah Sejenak 

    bekerjaEtika Kita Singgah Sejenak

    KH Abdullah Gymnastiar

    Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjan- jikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya. Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota “A” dan anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!

    Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana. Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang menerpa. Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai- sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang diminta.

    Nah, ketahuilah bahwa kota “A” itu tiada lain adalah akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.

    Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah menjajikan surga Jannatun Na’im – padahal apapun yang dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun – dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan “kekecewaannya” melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah, dengan berfirman, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai?” (Q.S. Ar Ruum 30: 7)

    “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui,” demikian firmanNya pula. (Q.S. Al Ankabuut 29: 64)

    Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak yang “mengecewakan” seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang dititipkan Alloh kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta, waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau singgah sejenak saja.

    Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun untuk ini Alloh Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan rizkinya. Dengan catatan, sepanjang “ongkos” tersebut tidak dhamburkan sia-sia. Alloh memampirkan kita di dunia ini seraya tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti, maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa Alloh akan mencukupi kita dengan limpahan karunianya.

    Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti bahwa semua yang dititipkan Alloh itu sebenarnya untuk bekal pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki) padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke mana pun.

    Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Jadi, jaminan dari Alloh untuk kehidupan dunia ini sebenarnya ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan ikhtiarnya.

    Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh Alloh dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, “Ini rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat dan keberkahan.

    Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

    Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah dikumpul-kumpulkannya dipakainya untuk pergi melancong kemana saja yang dia suka.

    Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia! Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang, maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama, maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan siapapun yang menghargai.

    Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia, pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja. Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya. Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa. Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata, malainkan Allohlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak dapat tak ada masalah karena Alloh tidak akan pernah lupa memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah dicatat oleh Alloh. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang gagal.

    Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita semua itu tidak ada apa-apanya karena Allohlah sebagai penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justeru menjadi ujian bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena Alloh saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita, sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.

    Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu karena itu berarti Alloh memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur, sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian manusia .

    Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu sederhana? Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya. Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini, maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!

    Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah Alloh berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi) janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashas 28: 77).

    Maka itu semata-mata dimaksudkan agar kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan Alloh kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati di akhirat.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 22 July 2016 Permalink | Balas  

    Sombong Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan 

    sombongSombong Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan

    Sombong atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar -ketiganya hampir semakna-, merupakan suatu kondisi seseorang di mana ia merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh i’jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.

    Maka tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempur-naan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.

    Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa,  yaitu:

    1. Sombong dengan Ilmu

    Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, namun malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasakan dirinyalah yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka. Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

    Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya:

    Pertama, Ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukanlah ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan semakin membuat ia kenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya. Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong, sebagai-mana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala ,

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Faathir : 28)

    Ke dua, Al-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai    orang alim yang tak terkalahkan ilmu-nya. Selayaknya ia lebih dahulu memperbaiki hati dan jiwanya, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu menjadi benar dan lurus. Karena merupakan karakteristik khas dari ilmu, bahwasanya ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan dengan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.

    Orang, apabila telah hobi mengumbar omongan, bantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.

    1. Sombong dengan Amal Ibadah

    Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki, -atau paling tidak membuat kesan-, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.

    Sebagian ahli ibadah apabila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka terkadang mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu atau, “Kamu pasti masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan-ucapan tersebut dimurkai Allah, yang justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka.

    1. Sombong dengan Keturunan (Nasab)

    Barangsiapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu.

    Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah berikut ini,

    “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). (QS. 32:7-8)

    Inilah nasab manusia yang sebe-narnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang terdekat ada-lah nuthfah alias air mani. Jika demi-kian keadaannya, maka tak selayaknya seseorang sombong dan merasa tinggi dengan nasabnya.

    1. Sombong dengan Kecantikan/Ketampanan

    Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama.

    Seharusnya orang yang sombong dengan kecantikannya ini banyak menengok ke dalam hatinya. Untuk apa anggota tubuh yang indah, namun hati dan perangai buruk, padahal tubuh secantik apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak tersisa.

    Belum lagi kalau orang mau merenungi, bahwa selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak untuk mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya dengan mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang dapat menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya  Allah rasa sombong yang ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.

    1. Sombong dengan Harta

    Yaitu dengan memandang rendah orang fakir dan bersikap congkak terhadap mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor luar, dalam arti bukan merupa-kan potensi pribadi orang yang bersang-kutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga apabila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.

    1. Sombong dengan Kekuatan dan Kegagahan

    Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.

    Orang yang mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.

    1. Sombong dengan Banyaknya Keluarga, Kerabat atau Pengikut.

    Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Dan setiap  orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagai-mana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebih-an dirinya?

    Pengaruh Kesombongan

    Kesombongan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan, dan pengaruh-pengaruh tersebut tampak dalam gerak-gerik anggota badan, cara berjalan, berdiri, duduk, berbicara dan diamnya seseorang.

    Di antara pengaruh-pengaruh yang tampak dari sikap kesombongan adalah:

    1. Orang yang sombong kalau toh mau berjalan bersama-sama orang lain, maka ia selalu minta paling depan dan semua orang harus ada di belakangnya. Konon Abdur Rahman bin Aufz, kalau sedang berjalan bersama para pembantunya, maka tidak ketahuan ada disebelah mana, ia tidak pernah menonjolkan diri harus berada paling depan supaya semua orang melihatnya.
    2. Orang sombong jika berada di suatu majlis, biasanya minta diistimewakan, diperlakukan lain daripada yang lain. Kemudian ia akan sangat senang kalau semua orang mendengarkan yang ia katakan dan sangat benci kalau ada orang lain mengalihkan pembicaraan kepada selainnya. Maunya semua orang harus membenarkan dan menerima apa yang ia katakan.
    3. Termasuk pengaruh sifat sombong adalah memalingkan muka dari sesama muslim, atau melihat dengan pandangan sinis dan merendahkan.
    4. Kesombongan juga berpengaruh bagi seseorang dalam ucapan, gaya bicara dan nada intonasinya. Bahkan terkadang mencerminkan ketidaksopanan, misalnya seorang murid atau mahasiswa menghardik gurunya, karena ia merasa anak seorang pejabat atau tokoh.
    5. Kesombongan juga akan mempe-ngaruhi gaya jalan seseorang, misalnya sambil membusungkan dadanya, atau berjalan dengan dibuat-buat agar menarik perhatian orang lain. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman,

    “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. 17:37)

    1. Kesombongan juga berpengaruh di dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya orang yang dalam hatinya ada kesombongan akan enggan mengerjakan pekerjaan rumah, walau hanya sepele. Hal ini berbeda dengan sikap tawadhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah n. Aisyah x meriwayatkan, bahwa Rasul Allah Subhannahu wa Ta’ala biasa membantu istri beliau.
    2. Merupakan pengaruh kesombongan juga, bahwasanya ia membuat seseorang enggan membawakan barang atau sesuatu ke rumahnya, meskipun bukan hal yang berat, misalnya saja barang belanjaan. Ali RA berkata, “Seseorang tidak akan berkurang kesempurnaannya dengan membawakan sesuatu untuk keluarganya.”
    3. Kesombongan juga mempengaruhi gaya berpakaian seseorang, yaitu ia berpakaian dengan tujuan pamer dan supaya terkenal, atau dengan pakaian yang melanggar ketentuan syar’i, seperti isbal (memanjangkan celana di bawah mata kaki) bagi laki-laki.
    4. Orang yang sombong biasanya sangat senang apabila ia datang, lalu orang-orang berdiri untuk menghormat-nya. Padahal para shahabat apabila datang Rasulullahsaw kepada mereka, maka mereka tidak berdiri untuk beliau, hal ini dikarenakan mereka tahu, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membenci hal itu.
    5. Orang yang dalam hatinya ada kesombongan tidak akan mau mengunjungi orang lain, tidak mau mengucapkan salam lebih dahulu, minta supaya diprioritaskan dan tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain.
    6. Kesombongan juga akan mengakibatkan seseorang tidak memandang adanya hak orang lain pada dirinya. Sementara itu ia beranggapan, bahwa ia memiliki hak yang banyak atas selainnya.

    Diringkas dari : Kutaib, “Al-Kibr”, Zahir bin Muhammad Asy-Syahri. (Sumber Al-sofwah)

     
  • erva kurniawan 10:07 am on 21 July 2016 Permalink | Balas  

    Sepuluh Peringatan Bagi Wanita Salehah 

    wanita sholehahSepuluh Peringatan Bagi Wanita Salehah

    Bismillahir rahmanir rahiem

    1. Laknat Allah ke atas wanita yang marah kepada suaminya. (HR Dailami)
    2. Seorang wanita yang mati sedangkan suaminya ridha kepadanya, maka dia akan memasuki sorga. (HR Ibnu Majah)
    3. Seorang wanita yang meminta kepada suaminya untuk diceraikannya, maka diharamkan bau sorga baginya. (HR Tirmizi)
    4. Se-baik2 wanita adalah dia yang membuat suaminya merasa bahagia apabila memandangnya; apabila menyuruhnya dia mentaatinya; dan dia tidak memusuhinya dalam perkara dirinya dan hartanya dengan melakukan apa yang tidak disukainya. (HR Baihaqi)
    5. Permisalan seorang wanita yang memakai wangi2-an di tengah2 orang lain (seperti laki2 yang bukan mahram) adalah seperti kegelapan pada hari kiamat; Tidak ada cahaya baginya. (Mishkat)
    6. Apabila suami memanggil istrinya ke tempat tidur dan dia menolaknya yang menyebabkan suami tidur dalam keadaan tidak ridho (kepada istrinya) maka para malaikat melaknatnya hingga pagi hari. (HR Bukhari)
    7. Ada tiga jenis manusia yang shalatnya tidak diterima dan juga amalannya tidak akan naik (ke langit), (salah satu daripadanya adalah) seorang wanita yang suaminya murka kepadanya. (HR Baihaqi)
    8. Jikalau aku diperintahkan agar seseorang sujud kepada orang yang lain, maka aku sudah memerintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya. (HR Ahmad)
    9. Jika suami memerintahkan istrinya untuk mengangkut batu dari gunung kuning kepada gunung putih (misalnya dari suatu gunung ke gunung yang lain), maka adalah lebih baik baginya untuk melakukannya. (HR Ahmad)
    10. Barangsiapa yang telah diberikan empat perkara, sesungguhnya ia sudah diberikan dunia dan akhirat: hati yang bersyukur, lidah yang senantiasa berzikir, badan yang senantiasa bersabar dalam kesulitan, dan istri yang tidak mengkhianati suaminya, baik mengenai dirinya maupun hartanya. (Mishkat)
     
  • erva kurniawan 3:33 pm on 11 July 2016 Permalink | Balas  

    Sejarah Yahudi 

    PALESTINIANS-ISRAEL/SWAPSEJARAH YAHUDI

    oleh Harun Yahya

    Seperti telah ditunjukkan di awal, semua tanah Palestina, khususnya Yerusalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Allah yang diutus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.

    Menurut studi sejarah yang didasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya, dan sejumlah kecil manusia yang mengikutinya pertama kali pindah ke Palestina, yang dikenal kemudian sebagai Kanaan, pada abad kesembilan belas sebelum Masehi. Tafsir Al-Qur’an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot). Al-Qur’an menyebutkan perpindahan ini sebagai berikut:

    Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (Qur’an, 21:69-71)

    Daerah ini, yang digambarkan sebagai “tanah yang telah Kami berkati,” diterangkan dalam berbagai keterangan Al-Qur’an yang mengacu kepada tanah Palestina.

    Sebelum Ibrahim AS, bangsa Kanaan (Palestina) tadinya adalah penyembah berhala. Ibrahim meyakinkan mereka untuk meninggalkan kekafirannya dan mengakui satu Tuhan. Menurut sumber-sumber sejarah, beliau mendirikan rumah untuk istrinya Hajar dan putranya Isma’il (Ishmael) di Mekah dan sekitarnya, sementara istrinya yang lain Sarah, dan putra keduanya Ishaq (Isaac) tetap di Kanaan. Seperti itu pulalah, Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendirikan rumah untuk beberapa putranya di sekitar Baitul Haram, yang menurut penjelasan Al-Qur’an bertempat di lembah Mekah.

    Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qur’an, 14:37)

    Akan tetapi, putra Ishaq Ya’kub (Jacob) pindah ke Mesir selama putranya Yusuf (Joseph) diberi tugas kenegaraan. (Putra-putra Ya’kub juga dikenang sebagai “Bani Israil.”) Setelah dibebaskannya Yusuf dari penjara dan penunjukan dirinya sebagai kepala bendahara Mesir, Bani Israel hidup dengan damai dan aman di Mesir.

    Suatu kali, keadaan mereka berubah setelah berlalunya waktu, dan Firaun memperlakukan mereka dengan kekejaman yang dahsyat. Allah menjadikan Musa (Moses) nabi-Nya selama masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Ia pergi ke Firaun, memintanya untuk meninggalkan keyakinan kafirnya dan menyerahkan diri kepada Allah, dan membebaskan Bani Israil yang disebut juga orang-orang Israel. Namun Firaun seorang tiran yang kejam dan bengis. Ia memperbudak Bani Israil, mempekerjakan mereka hingga hampir mati, dan kemudian memerintahkan dibunuhnya anak-anak lelaki. Meneruskan kekejamannya, ia memberi tanggapan penuh kebencian kepada Musa. Untuk mencegah pengikut-pengikutnya, yang sebenarnya adalah tukang-tukang sihirnya dari mempercayai Musa, ia mengancam memenggal tangan dan kakinya secara bersilangan.

    Menyusul wafatnya Nabi Yusuf (Joseph), Bani Israel mengalami kekejaman tak terperikan di tangan Firaun.

    Meskipun Firaun menolak permintaannya, Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur’an, Musa memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan:

    Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (Qur’an, 5:21)

    Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara. Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israil meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.

    Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qur’an, 48:26)

    Karena kemerosotan akhlaknya, kerajaan Israel mulai memudar dan ditempati oleh berbagai orang-orang penyembah berhala, dan bangsa Israel, yang juga dikenal sebagai Yahudi pada saat itu, diperbudak kembali. Ketika Palestina dikuasai oleh Kerajaaan Romawi, Nabi ‘Isa (Jesus) AS datang dan sekali lagi mengajak Bani Israel untuk meninggalkan kesombongannya, takhayulnya, dan pengkhianatannya, dan hidup menurut agama Allah. Sangat sedikit orang Yahudi yang meyakininya; sebagian besar Bani Israel mengingkarinya. Dan, seperti disebutkan Al-Qur’an, mereka itu yang: “: telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al-Qur’an, 5:78) Setelah berlalunya waktu, Allah mempertemukan orang-orang Yahudi dengan bangsa Romawi, yang mengusir mereka semua keluar dari Palestina.

    Tujuan penjelasan yang panjang lebar ini adalah untuk menunjukkan bahwa pendapat dasar Zionis bahwa “Palestina adalah tanah Allah yang dijanjikan untuk orang-orang Yahudi” tidaklah benar. Pokok permasalahan ini akan dibahas secara lebih rinci dalam bab tentang Zionisme.

    Zionisme menerjemahkan pandangan tentang “orang-orang terpilih” dan “tanah terjanji” dari sudut pandang kebangsaannya. Menurut pernyataan ini, setiap orang yang berasal dari Yahudi itu “terpilih” dan memiliki “tanah terjanji.” Padahal, ras tidak ada nilainya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang rasnya.

    Al-Qur’an juga menekankan kenyataan ini. Allah menyatakan bahwa warisan Ibrahim bukanlah orang-orang Yahudi yang bangga sebagai “anak-anak Ibrahim,” melainkan orang-orang Islam yang hidup menurut agama ini:

    Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Qur’an, 3:68)

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 19 June 2016 Permalink | Balas  

    Penggunaan Akal Yang Tercela 

    akalPenggunaan Akal Yang Tercela

    Oleh : Imam Asy-Syatibi

    Penggunaan akal dikatakan tercela bila tanpa menggunakan dasar dan tidak bersandar pada Al-Kitab dan Sunnah. Jadi, akal (dijadikan) sebagai penentu dalam (penetapan) syari’at. Bila seseorang menempatkan akalnya seperti itu, maka dia telah terjebak dalam perbuatan bid’ah. Karena semua bid’ah itu hanyalah merupakan pendapat akal belaka yang tidak berdasar dalil sama sekali. Oleh karena itulah setiap bid’ah selalu dinisbatkan kepada sesuatu kesesatan.

    Dalam hadist shahih dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda :

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja dari manusia setelah memberikannya kepada mereka. Akan tetapi Allah mencabut ilmu tersebut dari mereka dengan mematikan ulama berserta ilmu mereka, lalu tinggallah orang-orang jahil yang dimintai fatwa, kemudian mereka pun berfatwa dengan pendapat akal mereka, maka (jadilah) mereka itu tersesat lagi menyesatkan.”1)

    Perbedaan Ulama tentang Penggunaan Akal

    Sebagian ulama berkata bahwa penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal yang menyelisihi Sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli bid’ah. Akan tetapi hal itu ada dalam masalah akidah saja, seperti ajaran Jahm2) dan semua ajaran ahli kalam lainnya. Karena mereka menggunakan pendapat akal mereka semata untuk membantah hadist-hadist Rasulullah yang shahih; bahkan, untuk membantah ayat Al-Qur’an yang telah jelas penunjukan hukumnya.

    Sebagian yang lain mengatakan bahwa penggunaan akal yang tercela dan rusak adalah penggunaan akal untuk membuat perkara-perkara yang bid’ah atau yang semisalnya. Karena memang dari semua bid’ah itu kembalinya kepada pendewaan akal dan penyimpangan dari syari’at. Pendapat inilah yang kuat. Karena dalil-dalil yang telah kita sebutkan dimuka tidak menunjukkan satu macam bid’ah saja, tapi justru menunjuk kepada semua bentuk bid’ah yang telah terjadi dan yang akan terjadi sampai hari kiamat, baik masalah ushul maupun masalah furu’.

    Sebagian yang lain lagi mengatakan penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal untuk menentukan hukum-hukum agama untuk masalah istihsan dan asumsi-asumsi, sibuk membahas permasalahan-permasalahan yang rumit yang sering mengelirukan, mengembalikan sebagian permasalahan furu’ dan kasus-kasus yang muncul antara satu dengan yang lain berdasarkan qiyas tanpa mengembalikan kepada kaidah-kaidah ushul serta meneliti sisi kelemahan dan kelayakan cara tersebut. Akal pun digunakan sebagai pemegang peranan dalam membahas permasalahan tersebut. Dibahas dan diperbincangkannya permasalahan tersebut secara terperinci sebelum kasusnya sendiri terjadi dengan mengandalkan akal berdasar perkiraan-perkiraan. Mereka yang berpendapat demikian berkata: “Karena menyibukkan diri dan larut dengan cara-cara semacam itu berarti menafikkan Sunnah, mendorong kejahilan orang terhadap Sunnah, meninggalkan keharusan berdasar Sunnah tersebut; juga dengan Kitabullah.”

    Pendapat diatas sejalan dengan pendapat sebelumnya. Kerena pendapat diatas melarang menggunakan akal meskipun tidak tercela. Hal itu karena terlalu sibuk dengan penggunaan akal akan mengarahkan diri kepada pendapat yang tercela, yaitu membuang Sunnah dan mencukupkan diri dengan akal. Dan kalau sudah begitu maka akan sejalan dengan pendapat sebelumnya. Karena di antara kebiasaan syari’at bahwa apabila melarang keras sesuatu berarti melarang pula hal-hal yang mendukungnya. Tidaklah kita mengetahui adanya sabda Rasulullah:

    “Yang halal itu jelas; yang haram pun juga jelas. Diantara kedua nya ada perkara-perkara syubhat3).”4)

    Demikian pula, dalam syari’at terdapat kaidah Saddudz Dzari’ah, yaitu menahan diri dari hal yang dibolehkan karena dikhawatirkan akan mengiring kepada hal yang tidak dibolehkan. Dan semakin besar daya rusak suatu perkara yang dilarang tersebut, maka akan semakin diperketat upaya pencegahannya.

    Sebagai kesimpulannya adalah bahwa penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal yang berdasar atas kebodohan, mengikuti hawa nafsu tanpa mau merujuk kepada syari’at. Dan termasuk penggunaan akal yang tercela pula, segala jalan yang mengiring kepada penurutan hawa nafsu meski pada asalnya jalan tersebut baik lantaran kembali kepada kaidah syar’i.

    Footnote:

    1). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Hadist no. 100, dan 7307)

    2). Jahm bin Shafwan adalah pendiri kelompok Jahmiyyah yang di antara ajarannya adalah menolak nama-nama dan sifat-sifat Allah, pent.

    3). Syubhat artinya tidak ada kejelasan halal dan haramnya, pent.

    4). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Hadist no. 2051) dan ini adalah lafal yang dia riwayatkan, dan Muslim (Hadist no. 1599) dari An-Nu’man bin Basyir.

    ***

    Ringkasan Al-I’tisham Imam Asy-Syatibi, “Membedah Seluk Beluk Bid’ah”, karya Syaikh Abdul Qadir As-Saqqaf, Bab 2 “Tercelanya bid’ah dan akibat buruk yang akan diperoleh para pelakunya” hal: 54.

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 19 June 2016 Permalink | Balas  

    Setelah Ada Hadits Shahih, Tidak Boleh Mengatakan Mengapa 

    tanyaSetelah Ada Hadits Shahih, Tidak Boleh Mengatakan Mengapa

    Oleh : Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi

    Diriwayatkan dari Utsman bin Umar, ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Imam Malik untuk bertanya kepadanya tentang suatu masalah, maka Imam Malik berkata kepada laki-laki itu : ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bagini dan begitu’, lalu laki-laki itu berkata : ‘Bagaimana pendapatmu ?’. Maka Imam Malik menjawab dengan firman Allah.

    “Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. [An-Nuur : 63]

    Diriwayatkan dari Ibnu Wahb, ia berkata : Imam Malik mengatakan : “Suatu fatwa yang telah difatwakan kepada manusia maka tak satupun manusia boleh mengatakan : “Mengapa engkau berfatwa seperti ini”, melainkan cukup bagi mereka saat itu untuk mengetahui riwayat dan mereka rela dengan riwayat (hadits) itu”.

    Diriwayatkan dari Ishaq bin Isa, ia berkata : Aku mendengar Malik bin Anas mencela perdebatan dalam perkara agama, ia mengatakan : “Setiap kali datang kepada kami seseorang yang lebih pandai berdebat dari pada orang lain, maka kami membantah dengan apa yang dibawa malaikat Jibril ‘Alaihis Salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Diriwayatkan dari Ibnu Al-Mubarak, ia berkata : “Hendaknya yang engkau jadikan sandaran adalah atsar, dan ambillah dari fikiran apa yang dapat menafsirkan hadits itu untukmu”..

    Diriwayatkan dari Yahya bin Dharis, ia berkata : Aku menyaksikan Sufyan ketika datang kepadanya seorang laki-laki, lalu laki-laki itu berkata : “Apa tuntutanmu kepada Abu Hanifah ?” Sufyan berkata : “Memangnya ada apa dengan dia, sesungguhnya aku telah mendengarnya berkata : “Aku berpegang kepada Kitabullah, jika tidak aku temui, maka aku akan berpegang pada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak ada aku temui dalam Kitabullah dan tidak pula dalam Sunnah Rasul, maka aku berpegang pada pendapat para sahabat beliau, aku akan mengambil pendapat di antara mereka yang aku kehendaki dan aku akan meninggalkan pendapat diantara mereka yang aku hendaki. Sedangkan jika perkara itu berakhir pada Ibrahim, Asy-Sya’bi, Ibnu Sirin, Al-Hasan, Atha, Ibnu Al-Musayyab dan beberapa orang lainnya yang berijtihad maka saya akan berijtihad pula sebagaimana mereka berijtihad”.

    Diriwayatkan dari Ar-Rabi’, ia berkata : Pada suatu hari Imam Syafi’i meriwayatkan suatu hadits, maka berkatalah seorang laki-laki kepadanya : “Apakah engkau berpegang pada ini wahai Abu Abdullah?”, maka berkata Imam Syafi’i : “Jika diriwayatkan kepadaku suatu hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku tidak berpegang kepadanya, maka aku bersaksi kepada kalian bahwa akalku telah hilang”.

    Diriwayatkan dari Ar-Rabi’, ia berkata : Aku mendengar Imam Syafi’i berkata : “Jika kalian dapatkan dalam kitabku (tulisanku) sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berpeganglah kalian kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah apa yang telah aku ucapkan”.

    Diriwayatkan dari Mujtahid, tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-(Nya)”. [An-Nisaa : 59].

    Ia berkata : “Kepada Allah artinya adalah kepada Kitabullah, sedangkan kepada Rasul artinya adalah kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ad-Darimi, dari Abu Dzar, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar kita tidak dikalahkan dalam memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan agar kita mengajarkan As-Sunnah kepada manusia”.

    Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Pelajarilah As-Sunnah, ilmu fara’idh dan ilmu membaca sebagaimana kalian mempelajari Al-Qur’an”.

    Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia berkata : “Wahai menusia sekalian hendaklah kalian mempelajari ilmu itu sebelum ilmu itu diangkat, karena diangkatnya ilmu adalah dengan dimatikannya para ahli ilmu (para ulama). Jauhilah oleh kalian perbuatan baru (bid’ah), dan hendaklah kalian berpegang pada yang lama (As-Sunnah), karena sesungguhnya pada akhir kehidupan umat ini akan ada golongan-golongan manusia yang mana mereka menduga bahwa mereka menyeru kepada Kitabullah tetapi sebenarnya mereka telah meninggalkan Kitabullah di belakang punggung mereka”. [Hadist Riwayat Darimi]

    [Disalin dari buku Miftahul Jannah fii Al-Ihtijaj bi As-Sunnah, edisi Indonesia KUNCI SURGA Menjadikan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Hujjah oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi terbitan Darul Haq, hal. 108-111 penerjemah Amir Hamzah Fachruddin]

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 18 June 2016 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan 

    ramadhan8Meninggalkan Puasa Ramadan

    Orang-Orang Yang Diwajibkan Kaffarah

    ULAMA sepakat mengenai kewajipan kaffarah bagi orang-orang yang berbuka puasa dengan melakukan persetubuhan (jimak) sama ada dengan perempuan atau binatang dengan sengaja tanpa dipaksa atau dengan maksud melanggar kehormatan dalam bulan puasa, atau bukan kerana yang diharuskan berbuka puasa. Kaffarah kerana persetubuhan tersebut ialah memerdekakan seorang hamba. Jika dia tidak mendapatkannya, maka hendaklah dia puasa dua bulan berturut-turut dan jika dia tidak berdaya maka dia memberi makan enam puluh orang miskin.

    Dalil kaffarah ini telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiallahuanhu yang bermaksud, “Ketika kami duduk bersama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah datang seorang lelaki kepada Baginda lalu berkata : “Binasalah aku!” Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Kenapa dengan engkau?” Lelaki itu menjawab : “Aku telah menyetubuhi isteriku sedang aku berpuasa (Ramadan).” Lalu Nabi bersabda : “Adakah engkau berdaya memerdekakan seorang hamba?” Lelaki itu menjawab : “Tidak”. Lalu bersabda Nabi: “Adakah engkau berupaya menunaikan puasa dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab : “Tidak.” Bersabda Nabi : “Adakah engkau berdaya memberi makan enam puluh orang miskin?” Lelaki itu menjawab : “Tidak.” (Abu Hurairah) berkata : “Ketika kami duduk telah dibawakan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan serumpun tamar. “Lalu Baginda bersabda: Ambil (tamar) ini dan sedekahkan ….” (Hadis riwayat Al-Bukhari).

    Membatalkan puasa dengan jimak atau persetubuhan yang berlaku pada siang hari bulan Ramadan adalah haram. Akan tetapi tidak wajib kaffarah jika berlaku jimak pada bulan-bulan yang lain selain bulan Ramadan seperti ketika melakukan puasa sunat, nazar, qada atau puasa kaffarah. Perkara ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya :

    “Dihalalkan bagi kamu, pada malam hari puasa, bercampur (bersetubuh) dengan isteri-isteri kamu. Isteri-isteri kamu itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahasanya kamu mengkhianati diri sendiri, lalu Dia menerima taubat kamu dan memaafkan kamu. Maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu; dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) daripada benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (Maghrib); dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukum-Nya kepada sekalian manusia supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah : 187).

    Apabila seorang lelaki atau perempuan berbuka dengan melakukan jimak dengan sengaja, maka batal puasa dan berdosa. Begitu juga ke atasnya wajib qada puasa dan kaffarah bersama ta’zir. Jika keadaan ini berlaku kepada suami dan isteri, siapakah yang dikenakan kaffarah? Ulama berbeza pendapat tentang siapakah yang dikenakan kaffarah sama ada suami atau isteri atau kedua-duanya sekali. Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’e, kaffarah hanya wajib ke atas suami sahaja.

    Jika berlaku jimak itu dua hari atau lebih dalam bulan Ramadan, ulama sepakat bagi setiap hari dikenakan kaffarah. Manakala bagi yang melakukan jimak beberapa kalli dalam satu hari atau pada hari yang sama, dia hanya dikenakan satu kaffarah.

    Jika berlaku jimak dalam keadaan musafir yang diharuskan, puasa terbatal dan tidak wajib kaffarah dengan jimak tersebut. Begitu juga jika dia menyangka (dzann) matahari telah masuk dan berlaku jimak, sedangkan hari masih siang (belum masuk matahari), dihukumkan tiada kaffarah kerana dia tidak bermaksud untuk melakukan yang dilarang. Manakala jika dia syak di siang hari, sama ada berniat puasa di malam hari atau sebaliknya, kemudian berlaku jimak dalam keadaan syak itu, lalu dia teringat bahawa dia telah berniat, maka batal puasanya dan tidak wajib kaffarah. Begitu juga tidak wajib kaffarah jika jimak itu berlaku setelah terbatal puasa oleh perkara-perkara lain seperti makan, minum dan sebagainya.

    Berdasarkan kepada penjelasan di atas, bahawa ibadat puasa itu wajib ditunaikan kecuali bagi orang-orang yang ditentukan oleh syarak mempunyai kelonggaran-kelonggaran tertentu. Kelonggaran-kelonggaran tersebut bertujuan supaya tidak membebankan umat Islam melaksanakan tanggungjawab dan kewajipan.

    Namun ibadat puasa yang ditinggalkan sama ada dengan sebab keuzuran syari atau tanpa sebab munasabah, Islam telah mewajibkan ke atas mereka qada atau fidyah ataupun kaffarah.

    Oleh yang demikian mana-mana orang yang wajib ke atasnya kaffarah atau fidyah hendaklah mengambil perhatian tentang perkara ini. Sementara yang wajib qada pula tidak akan melengah-lengahkan atau menunda-nunda qadanya sehingga masuk Ramadan yang akan datang.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 17 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (4) 

    ramadhan 2Permasalahan Puasa Ramadan (4)

    4. Puasa Dalam Perjalanan

    Pada kelazimannya di musim Ramadhan ini lah ramai masyarakat kita mengambil kesempatan untuk membuat perjalanan jauh seperti belayar ke luar negara untuk menziarahi sanak saudara, menunaikan umrah untuk mengambil ganjaran pahalanya yang besar di bulan mubarak ini dan juga ada yang membeli belah untuk keperluan di Hari Raya atau sebagainya. Tidak kurang pula mereka yang berada di luar negara khasnya para pelajar akan balik bercuti ke tanah air untuk sama-sama menyambut Ramadhan dan berhari raya bersama-sama kaum keluaga.

    Pada dasarnya ibadah puasa itu tidak diwajibkan ke atas orang yang dalam perjalanan (musafir). Ini karena musafir itu adalah merupakan salah satu keuzuran syar’ie yang menyebabkan beberapa kewajipan yang berbentuk ‘azimah diangkat dari mereka. Firman Allah Subhanhu wa Ta’ala :

    Tafsirnya: “Maka barang siapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.

    (Surah Al-Baqarah: 184)

    Ada juga hadis-hadis Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan tentang keharusan perkara ini. Antaranya ialah hadis yang diriwayatkan daripada Saiyidatuna ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya : “Sesungguhnya Hamzah bin ‘Amr Al-Aslamiy berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam : “Adakah mesti aku berpuasa di dalam musafir?” (Walhal) adalah Hamzah itu seorang yang banyak mengerjakan ibadah puasa. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika engkau hendak berpuasa berpuasalah dan jika engkau hendak berbuka, berbukalah.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Walau bagaimanapun tidak semua orang musafir itu diberikan rukhshah berbuka puasa. Mereka yang diberikan kelonggaran itu hanya orang yang memenuhi syarat-syarat berikut :

    a). Perjalanannya mestilah mencapai atau melebihi jarak yang dibolehkan mengqashar sembahyang. Yaitu jarak dari tempat ia memulakan perjalanannya ke tempat yang ditujunya itu mestilah tidak kurang dari dua marhalah yaitu kira-kira 89 (delapan puluh sembilan) kilometer.

    b). Perjalanan itu ialah perjalanan yang diharuskan oleh hukum syara’ bukan perjalanan yang melibatkan perkara maksiat.

    Perjalanan yang Tidak Membebankan

    Adakah perjalanan yang tidak membebankan orang yang bermusafir seperti yang berlaku di zaman yang serba canggih ini boleh dianggap sebagai uzur syar’ie yang mana si musafir ini boleh mengambil rukhshah berbuka?

    Mengikut apa yang telah dijelaskan oleh ayat al-Qur’an di atas bahwa musafir itu adalah merupakan satu keuzuran syar’ie tanpa memperincikan sama ada perjalanan yang dilakukan itu perjalanan yang mendatangkan beban kepayahan ataupun tidak.

    Menurut apa yang telah diperjelaskan oleh Imam As-Syaf’ie dan Ashhabnya Rahimahullah keharusan berbuka puasa itu lebih kepada wujudnya kepayahan sepertimana yang disebutkan:

    Maksudnya: “ Jika dengan berpuasa akan memudharatkannya maka berbuka itu afdhal dan jika sebaliknya maka berpuasa itu lebih afdhal.” (Kitab Al-Majmuk, 6:265)

    Ini bererti apa jua jenis pengangkutan yang digunakan untuk bermusafir maka dia adalah diharuskan dan berhak untuk mengambil rukhshah berbuka mengikut syarat yang telah dijelaskan. Akan tetapi berpuasa itu adalah lebih utama (afdhal) jika tidak memudharatkan dirinya sebagimana yang telah dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’ie dan Ashhab beliau Rahimahumullah.

    Bila Diharuskan Mengambil Rukhshah Berbuka

    Syarat lain yang membawa kepada keharusan berbuka ketika musafir itu ialah orang berkenaan memulakan perjalanan sebelum terbit fajar shadiq. Maksud memulakan perjalanan di sini ialah apabila dia melewati sempadan atau perbatasan kampong tempat tinggalnya.

    Jika dia melewati tempat tersebut selepas terbitnya fajar shadiq maka kewajipan puasa itu dituntut ke atasnya dan tidak harus baginya berbuka kecuali ada sesuatu kesusahan yang menyebabkan dia tidak berkuasa meneruskan puasanya. Dalam keadaan ini dia diharuskan berbuka karena tidak berkemampuan berpuasa atau khuatir akan memudharatkan dirinya bukan karena perjalanan (safar).

    Tetapi jika dia singgah di sesuatu tempat bukan dengan niat bermuqim maka dia diharuskan berbuka walau pun selepas terbit fajar shadiq ia keluar untuk meneruskan perjalanannya karena ia masih dihukumkan sebagai orang musafir.

    Wajib Mengqadha Puasa Yang Ditinggalkan.

    Walaupun orang yang musafir itu diharuskan berbuka puasa semasa dalam perjalanan tetapi dia masih diwajibkan menqadha hari-hari puasa yang di tinggalkan itu tanpa membayar fidyah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.

    (Surah Al-Baqarah: 184)

    Sekiranya perjalanan itu menuju negeri yang lambat kelihatan anak bulan Ramadhan yang menyebabkan penduduk negeri tersebut terkemudian menunaikan puasa Ramadhannya dari negeri asalnya maka dia dikehendaki berpuasa bersama-sama dengan penduduk negeri itu menurut pendapat yang ashah sekalipun ia telah berpuasa tiga puluh hari penuh.

    Begitu juga halnya jika ia membuat perjalanan menuju negeri yang lebih awal kelihatan anak bulan, apabila dia sampai di sana penduduknya telah menyambut hari raya, maka ketika itu dia diwajibkan berbuka (berhari raya bersama mereka) dan haram baginya berpuasa. Walaupun bilangan puasanya pada waktu mereka menyambut hari raya itu kurang dari sebulan penuh pada perkiraannya.

    Sekiranya jumlah puasanya sebanyak dua puluh lapan hari ia akan berhari raya pada hari yang kedua puluh sembilan mengikut negeri tersebut, tetapi dalam keadaan ini dia dikenakan mengqadha sebanyak sehari untuk mencukupkan sebulan karena satu bulan itu sekurang-kurangnya adalah sebanyak dua puluh sembilan hari. Berlainan pula halnya jika ia sudah berpuasa sebanyak dua puluh sembilan hari maka ia tidak perlu mengqadha karena bilangan dua puluh sembilan hari itu adalah bilangan sebulan yang paling minima. (Kitab Mughni Al-Muhtaj 1:422-423)

    Hukum Menahan Diri (Imsak) Bagi Orang Musafir

    Jika dia sampai ke negeri tempat dia hendak bermuqim dalam keadaan dia berbuka atau tidak berpuasa maka adalah disunatkan ke atasnya imsak yaitu menahan diri bagi menghormati waktu. Imsak itu tidak wajib ke atasnya karena ia berbuka atas sebab keuzuran syar’ie yaitu musafir. Walau bagaimanapun dalam mazhab Hanafi pula mewajibkan imsak ke atasnya.

    Walaupun imsak itu hanya sunat keatasnya tetapi jika dia makan sesuatu hendaklah bukan dikhalayak orang ramai yang tidak mengetahui keuzuran itu karena ditakuti akan menimbulkan tohmahan dan hukuman.

    Jika orang yang musafir itu sampai ke tempat yang ditujunya dalam keadaan ia berpuasa maka dia mesti menyempurnakan puasanya itu. (Kitab Al-Majmuk 6:267/ I’anah Al-Thalibin 2:269)

    Waktu Berbuka Dalam Perjalanan

    Menurut hukum syara’ waktu berbuka puasa itu ialah apabila tenggelam matahari (waktu Maghrib). Soalnya bagaimana halnya jika perjalanan menggunakan kapal terbang yang pada kebisaannya matahari akan masih lagi wujud pada penglihatan penumpang walaupun ia sudah hilang (tenggelam) bagi mereka yang berada di bumi.

    Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ada menjelaskan:

    Tafsirnya: “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (Maghrib)”

    (Surah Al-Baqarah:187)

    Sementara itu hadis Baginda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu ‘anhu katanya:

    Maksudnya: “Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu perjalanan di bulan Ramadhan. Ketika matahari telah terbenam Baginda bersabda: “Hai Fulan ! Turunlah, dan siapkan makan kita !” Jawab orang itu, “ Hari masih siang, ya Rasullullah!” Sabda Rasulullah , “Turunlah dan siapkan makan kita!” kata Abdullah,, “Orang itu pun segera turun, lalu dia menyiapkan makanan dan menyajikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, dan Baginda langsung minum. Kemudian Baginda bersabda sambil menunjuk dengan tangannya : “Apabila matahari telah terbenam di sana, dan malam telah datang di sini , maka orang puasa sudah boleh berbuka”.

    (Hadis Muttafaq ‘alaihi)

    Maka berpandukan ayat al-Quran dan hadis di atas, jika seseorang itu berpuasa lalu belayar dengan menaiki kapal terbang dan ia sedang berada di udara waktu berbukanya ialah apabila matahari itu hilang dari penglihatannya. Tidak sah puasanya jika ia berbuka selagi matahari ternampak olehnya walaupun negeri dari tempat ia memulakan perjalanan itu sudah tiba saatnya untuk berbuka.

    Sebagaimana yang berlaku bagi mereka yang menuju ke arah Timur, maka waktu siangnya adalah pendek berbanding dengan mereka yang menuju ke arah Barat waktu siangnya adalah panjang. Oleh yang demikian apa yang diambil kira sekarang bagi orang yang berpuasa itu ialah dengan terbenamnya matahari daripada penglihatannya, walau dimana ia berada ketika itu, dan bukan dikira dengan waktu tempatan yang dilaluinya atau waktu negerinya sendiri yang ditinggalkannya.

    Sekiranya puasa sepanjang hari itu menyusahkannya, maka baginya terdapat kelonggaran yang mengharuskannya berbuka, sebaliknya jika tidak menyusahkan dan dia dapat menyempurnakan puasanya itu, maka yang afdhal teruskan dan sempurnakan puasanya itu.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 16 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (3) 

    ramadhan 2Permasalahan Puasa Ramadan (3)

    III. Perempuan Hamil dan Perempuan Yang Menyusukan Anak

    Fungsi ibadah yang disyariatkan kepada manusia itu ialah untuk mengukur dan membuktikan ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Selain itu ia juga berperanan sebagai jalan yang menghampirkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak kira ibadah itu wajib atau pun sunat. Perkara ini dijelaskan dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya ialah syurga ‘adn (tempat tinggal yang tetap), yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; kekallah mereka di dalamnya selama-lamanya; Allah redha akan mereka dan mereka pun redha (serta bersyukur) akan nikmat pemberian-Nya. Balasan yang demikian itu untuk orang-orang yang takut (melanggar perintah) Tuhannya.

    (Surah al-Baiyinah: 7-8)

    Adalah janggal sekali pendapat yang mendakwa bahwa ibadah-ibadah seperti sembahyang, puasa, haji, zakat dan sebagainya itu sebagai suatu bebanan yang menyeksa manusia. Tuduhan ini dengan tegas ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara ugama”

    (Surah al-Haj: 78)

    Kita telah pun diajar tentang tahap (darajah) hukum-hukum ibadah yang disyariatkan itu dan perlu diambil penuh perhatian ialah ibadah-ibadah yang wajib. Ibadah seumpama ini jika kita tinggalkan dengan tiada keuzuran akan berdosa.

    Walaupun demikian, Islam sebagai agama yang mulia dan agama yang diperakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah pun menggariskan tentang kewajipan manusia dalam melaksanakan ibadah-ibadah wajib itu. Sekalipun sesuatu ibadah itu wajib dilaksanakan namun tahap kewajipan melaksanakannya adalah mengikut kadar yang termampu oleh manusia. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya”

    (Surah al-Baqarah: 286)

    Ayat di atas juga dengan jelasnya menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bersifat Rahim yaitu amat pengasihani. Begitulah cantiknya syariat Islam itu. Walaupun demikian hakikatnya, tetapi tidak bererti kita bersikap cuai atau mengambil ringan tentang hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh syariat Islam itu. Kecuaian atau sikap mengambil ringan soal hukum-hukum Islam boleh membawa kepada berleluasnya kepada perkara mungkar dan maksiat yang akhirnya meleburkan iman dan taqwa manusia.

    Berbalik kepada kelonggaran atau keringanan yang diberikan oleh syariat Islam itu, maka bagaimanakah hukum dan kewajipan berpuasa terhadap perempuan hamil atau menyusukan anak?

    Seperti yang kita jelaskan sebelum ini puasa itu wajib ke atas orang-orang Islam yang mukallaf. Ini bererti perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak itu termasuk di bawah hukum di atas. Hamil itu boleh terjadi atas jalan pernikahan dan tanpa pernikahan. Menyusukan anak pula, boleh terjadi karena menyusukan anak sendiri atau anak orang lain. Perempuan yang menyusukan anak ini disebut dalam bahasa Arab sebagai Murdhi’.

    Menurut hukum syara’ perempuan yang hamil sekalipun hasil dari perzinaan dan perempuan yang menyusukan anak damit (murdhi’) walaupun anak damit itu kepunyaan orang lain disebabkan menderma atau diupah, adalah diharuskan bagi mereka untuk berbuka puasa semata-mata karena dua perkara tersebut.

    Sekalipun demikian, persoalan lain yang timbul, apakah hukum yang berbangkit dari berbuka puasa itu? Adakah diwajibkan ke atas mereka qadha atau lain hukum mengenainya?

    Dalam hal ini para fuqaha telah merumuskan hukum-hukum mengenainya. Rumusan hukum dan perbincangan mereka lebih tertumpu kepada perkara-perkara yang menyebabkan mereka berbuka puasa.

    Tetapi jika mereka berbuka puasa karena takut akan kemudaratan kepada anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan itu sahaja, maka wajib ke atas mereka membayar fidyah dan juga qadha pada tiap-tiap hari puasa yang ditinggalkannya itu.

    Jika mereka berbuka puasa karena takut akan timbul kemudaratan atas diri mereka atau kedua-duanya yaitu takut ke atas diri mereka dan anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan, maka wajib ke atas mereka mengqadha puasa yang ditinggalkan itu tanpa wajib mengeluarkan fidyah.

    Jika perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak (murdhi’) itu sedang dalam musafir ataupun sakit, lalu mereka berbuka puasa dengan berniat rukhshah (kelonggaran) atas sebab musafir atau sakit, bukan karena takut akan kemudaratan kepada anaknya, maka diwajibkan ke atas mereka mengqadha puasa itu tanpa membayar fidyah di hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika musafir itu.

    Dalam keadaan musafir atau sakit, jika hamil atau yang menyusukan anak (murdhi’) berbuka karena takut akan kemudaratan anaknya dan bukan berbukanya itu atas rukhshah musafir atau sakit, menurut pendapat yang ashah dia juga tidak diwajibkan membayar fidyah. Sebagaimana tidak diwajibkan membayar kaffarah kepada orang musafir yang sampai ke kediamannya ketika siang hari puasa, lalu dia melakukan persetubuhan di siang hari itu bersama isterinya yang tidak berpuasa disebabkan baru bersih dari haidh atau nifas di siang hari itu juga. (Al-Majmuk: 6/272&375)

    Berkait dengan hukum ini, ingin juga dijelaskan apakah dia fidyah karena meninggalkan puasa itu? Kepada siapakah ia diserahkan dan bagaimanakah melaksanakannya?

    Fidyah ialah denda atau tebusan yang dikenakan kepada orang Islam yang melakukan beberapa kesalahan tertentu dalam ibadah. Ia juga merujuk kepada menebus ibadah (karena uzur dan disyariatkan), dengan memberi sedekah kepada fakir miskin berupa makanan yang mengenyangkan.(Ensiklopedia Islam 3:264)

    Adapun makna fidyah dalam hal puasa ialah bayaran denda karena tidak berpuasa Ramadhan dengan sebab-sebab tertentu atau karena melambat-lambatkan mengqadha puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya.

    Jenis fidyah itu ialah sama seperti jenis zakat fitrah yaitu makanan asasi dan yang mengenyangkan bagi sesebuah negeri seperti beras. Kadar yang patut dikeluarkan ialah satu mudd (secupak) yaitu kira-kira lima belas tahil beras bersamaan 566.85 gram.

    Pihak yang berhak menerima fidyah itu ialah orang-orang fakir dan miskin sahaja. Fidyah itu boleh diberi dengan lebih dari satu cupak kepada seorang miskin berlainan dengan kaffarah, karena ia hendaklah satu cupak sahaja kepada setiap seorang miskin hingga enam puluh orang yaitu tidak boleh dua cupak untuk satu orang miskin bagi membayar kaffarah.

    Membayar fidyah itu diharuskan selepas terbit fajar di hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena keuzuran seperti orang yang sakit yang tiada harapan untuk sembuh, orang yang terlalu tua yang tiada berdaya untuk puasa dan perempuan yang hamil dan murdhi’. Walau bagaimana pun diharuskan juga mengeluarkan fidyah itu sebelum terbit fajar bagi hari yang dikeluarkan fidyah itu dan diharuskan juga mengeluarkan fidyah terlebih dahulu sebelum berbuka, akan tetapi hanyalah satu fidyah sahaja di hari berbukanya itu dan tidak harus mendahuluinya bagi hari kedua dia berbuka puasa. Begitu juga tidak diharuskan membayar fidyah sebelum masuk bulan Ramadhan.(Raudah At-Thalibin: 2/385)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 15 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (2) 

    ramadanPermasalahan Puasa Ramadan (2)

    2. Wajib Menahan Diri (Imsak)

    Apabila masuknya bulan Ramadhan masih terdengar di media-media elektronik seperti radio dan televisyen yang menyiarkan berita tentang orang Islam yang didenda oleh mahkamah kadhi karena tidak berpuasa dan makan atau minum di khalayak ramai. Fenomena ini menggambarkan bahwa masih ada sebilangan kecil daripada masyarakat kita yang tidak menghiraukan kewajipan berpuasa tersebut, sedangkan ketika itu dia mukallaf dan tiada sesuatu yang menghalangnya daripada berpuasa. Ada pula di antara mereka yang senghaja berbuat demikian malahan berbangga-bangga dengan tidak berpuasa, seolah-olah kewajipan itu tidak ada bagi mereka. Perbuatan ini wajib kita perbetulkan dari terus berleluasa.

    Menurut ketentuan hukum syara’, orang-orang yang meninggalkan puasa dengan senghaja itu sangat berat balasannya. Perbuatan tersebut termasuk dalam kategori dosa besar malahan menjadi kerugian yang tidak boleh ditukar ganti sebagaimana digambarkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

    Maksudnya: “Barangsiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (keringanan) dan tidak juga karena sakit, dia tidak akan dapat melunaskan (mengganti) puasa yang ditinggalkannya itu, sekalipun dia berpuasa seumur hidup”

    (Hadis riwayat Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasa’ie, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

    Maksudnya: “Sesungguhnya di dalam syurga terdapat pintu yang disebut Rayyan, yang mana pada hari qiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya. Dikatakan: “Di manakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk daripadanya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun yang masuk daripadanya.”

    (Hadis Muttafaq ‘Alaihi)

    Hadis di atas menerangkan bahwa orang-orang yang berpuasa itu akan diberi keistimewaan khas dimana mereka berhak untuk masuk syurga melalui pintu al-Rayyan. Amat rugilah orang-orang yang tidak mengerjakan ibadah puasa itu karena tiada hak untuk masuk syurga melalui pintu tersebut.

    Apa yang lebih dikhuatiri ialah orang-orang yang tidak berpuasa itu beranggapan bahwa puasa itu tidak perlu dikerjakan karena ia hanya suatu budaya yang menyeksa manusia. Menurut ijma’ ulama, barangsiapa yang mengingkari fardhu puasa Ramadhan atau merasa ragu-ragu akan fardhunya maka dia adalah terkeluar daripada agama Islam yaitu murtad wal’iyadzubillah.

    Daripada hadis-hadis dan ijma’ ulama yang disebutkan di atas jelas kepada kita bahwa terdapat ancaman dan peringatan kepada mereka yang mengabaikan puasa bulan Ramadhan. Oleh itu janganlah kita mengambil ringan akan perkara ini dengan mengabaikan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena azab Allah Subhanahu wa Ta’ala amat pedih.

    Membincangkan tentang orang yang berbuka puasa tanpa keuzuran ini selain daripada menerima ancaman dan balasan seperti yang disebutkan di atas, mereka ini juga dipertanggungjawabkan untuk memenuhi kehendak hukum-hukum syara’ yang diwajibkan ke atas mereka. Antaranya ialah menahan diri (imsak) daripada perkara-perkara yang dilarang ketika berpuasa.

    Menurut para fuqaha’, orang-orang yang berbuka puasa dengan senghaja tanpa keuzuran yang dibenarkan oleh hukum syara’ itu wajib imsak yaitu menahan diri daripada makan dan minum dan perkara-perkara yang membatalkan puasa.

    Imsak juga diwajibkan ke atas orang yang berbuka puasa Ramadhan bukan disebabkan keuzuran seperti orang yang lupa berniat atau makan di waktu yang disangkakannya masih belum terbit fajar sedangkan ketika itu fajar sudah terbit. Diwajibkan ke atas mereka imsak karena menghormati waktu puasa.

    Manakala bagi orang yang berbuka puasa disebabkan keuzurannya seperti orang yang sakit apabila dia sembuh dan orang yang musafir apabila dia sampai ke tempat kediamannya pada waktu siang Ramadhan, hukum imsak atau menahan diri itu adalah sunat.

    Sunat imsak bagi orang yang gila bila dia sedar, orang kafir apabila masuk Islam, kanak-kanak apabila dia baligh dan perempuan yang haidh atau nifas apabila dia bersih di siang hari Ramadhan.

    Menurut pengarang Hasyiyah I’anah at-Thalibin terdapat dua kaedah mengenai perkara imsak ini. Kaedah yang pertama ialah bahwa setiap seseorang yang diharuskan baginya berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka tidak diwajibkan baginya imsak bahkan disunatkan saja. Kaedah yang kedua yaitu bagi orang yang tidak diharuskan berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka diwajibkan baginya imsak.

    Demikianlah ketentuan hukum yang perlu kita fahami tentang kewajipan mengerjakan ibadah puasa dan hukum yang berkaitan dengannya. Semoga dengan mengetahui hukum-hukum tersebut akan menambahkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 14 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (1) 

    ramadhanPermasalahan Puasa Ramadan (1)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa bulan Ramadhan adalah di antara ibadat-ibadat yang disyariatkan kepada umat Islam yang mempunyai berbagai hikmat dan kemaslahatan, baik dari segi kerohanian mahupun jasmani bahkan juga dari segi kemasyarakatan.

    Bulan Ramadhan juga adalah merupakan tetamu agung umat Islam, bulan yang membawa keampunan, rahmat, kebajikan dan berkat. Kita patut merebut peluang yang ada dan mendapatkan kelebihan setiap ibadat yang dilakukan di dalamnya. Di samping itu juga kita hendaklah mempersiapkan diri dengan hukum-hakam puasa Ramadhan yang dituntut di dalam syara’, seperti memperdalami pengetahuan terhadap rukun-rukun dan perkara-perkara yang akan membatalkan puasa. Antara beberapa permasalahan penting yang kita perlu ketahui dengan lebih mantap ialah:

    1. Bagaimana Melaksanakan Niat Puasa

    Bila membincangkan soal ibadat perkara yang penting diambil perhatian ialah niat. Tanpa niat ia tidak akan menjadi ibadat yang sah. Inilah yang dimakskudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda baginda:

    “Sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah dengan niat.”

    (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’iy dan Ibnu Majah)

    Niat adalah salah satu dari tiga rukun puasa. Ia diwajibkan sama ada puasa itu puasa wajib atau puasa sunat. Jika orang yang berpuasa itu meninggalkan niat puasa walaupun dia tidak mengetahui (jahil), maka puasa itu tidak sah.

    Menurut al-Imam as-Suyuthi di dalam kitabnya, niat itu tempatnya di hati (al-Asybah wan-Nazhair:23). Manakala menurut pengarang Hasyiyah I’anah at-Thalibin, sunat dilafazkan niat itu dengan lidah bagi membantu dalam hati seperti mana niat ibadat-ibadat yang lain.

    Berdasarkan hadis di atas, kita dapat memahami bahawa puasa itu mesti ada niat yang khusus. Tidak memadai niat puasa itu dengan hanya makan sahur karena mengelakkan lapar atau lemah ketika berpuasa. Niat puasa itu juga tidak memadai dengan hanya menahan dirinya daripada sesuatu yang membatalkan puasa karena takut kedatangan fajar di mana orang berpuasa tidak dibenarkan melakukannya. Dari itu perbuatan seperti di atas hendaklah disertai dengan niat untuk mengerjakan puasa atau paling tidak ada lintasan di hati untuk berpuasa. (I’anah at-Thalibin: 2/248-249)

    Menurut Ibnu Katsir keadaan puasa orang-orang yang terdahulu (ahli kitab), jika tidak sampai waktu berbuka mereka boleh makan dan minum sehingga terbit fajar selama mana seseorang itu belum tidur. Ini berbeza dengan keadaan puasa orang Islam di mana mereka boleh makan dan minum termasuklah menggauli isteri sebelum terbit fajar sekalipun sesudah tidur. Puasa tidak batal dengan melakukan perkara-perkara tersebut. Begitu juga dengan niat puasa. Niat itu tidak akan terbatal dengan melakukan perkara-perkara di atas dan kita tidak perlu memperbaharui niat berkenaan.

    Manakala perempuan haidh atau nifas yang berniat selepas terbenam matahari ketika belum kering darahnya untuk berpuasa ke esokan harinya, lalu darahnya kering sebelum terbit fajar maka sah puasanya dengan niatnya itu dan tidak perlu memperbaharui niatnya, walaupun perempuan itu belum mandi hadats selepas terbit fajar.

    Begitulah juga bagi mereka yang melakukan persetubuhan di malam hari puasa, apabila dia berniat di malam itu dan belum mandi junub (hadats besar) di siang hari, adalah sah puasa dengan niatnya itu.

    Waktu berniat puasa Ramadhan itu ialah setelah terbenam matahari dan sebelum terbit fajar shadiq. Jika niat itu dilakukan setelah terbit fajar atau sebaya dengan terbit fajar puasa adalah tidak sah. Inilah yang dikatakan oleh para ulama bahawa niat itu mesti di waktu malam (tabyit), sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar shadiq maka tidak ada puasa baginya.”

    (Hadis riwayat Baihaqi dan Al-Daraquthni)

    Manakala bagi puasa-puasa sunat pula, masa berniat itu mulai terbenam matahari hingga sebelum tergelincir matahari pada hari berikutnya selagi dia belum melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa dari terbit fajar shadiq pada hari tersebut, sebagaimana di dalam hadis yang diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya: “Bersabda Rasullullah kepadaku pada satu hari: “Wahai ‘Aisyah, adakah di sisi kamu sesuatu (untuk dimakan)?” Maka aku (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasullullah tidak ada di sisi kita sesuatupun (untuk dimakan).” Berkata (Rasullullah): “Maka (kalau begitu) sesungguhnya aku seorang yang berpuasa.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Adapun sekurang-kurang lafaz niat puasa Ramadhan itu ialah:

    Artinya: “Niat aku puasa Ramadhan.”

    Manakala niat yang lengkap pula ialah:

    Artinya: “Niat aku puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan pada tahun ini karena Allah Ta’ala.”

    Niat puasa itu wajib dilakukan pada tiap-tiap malam di dalam hati dan sunat dilafazkan, karena ibadat puasa itu adalah ibadat berasingan yang masuk waktunya dengan terbit fajar shadiq dan keluar waktunya dengan terbenam matahari. Ia dikira sehari sehari. Apabila rosak satu hari puasa itu, ia tidak merosakkan puasa yang terdahulu dan yang terkemudian.

    Berniat pada tiap-tiap malam ini khusus bagi puasa wajib saja, yaitu puasa bulan Ramadhan, nazar, kaffarah, qadha dan fidyah haji. Masa berniat itu mulai terbenam matahari hinggalah sebelum terbit fajar shadiq.

    Di samping kita wajib berniat pada tiap-tiap hari, kita juga digalakkan untuk berniat dengan niat satu bulan penuh, itupun hanya di awal bulan Ramadhan saja. Tujuannya ialah untuk berjaga-jaga kalau-kalau kita terlupa berniat pada malam-malam berikutnya dengan bertaqlid kepada mazhab Imam Malik. Maka dengan adanya kita berniat sebulan itu akan menampung niat pada hari yang kita lupa itu. Akan tetapi niat tersebut tidak akan dikira niat sebulan jika ia diniatkan setelah berlalu satu Ramadhan. Contohnya orang yang berpuasa itu berniat dengan niat puasa sebulan pada hari kedua puasa, maka niat tersebut tidak sah.

    Maka dalam hal ini, perkara penting yang mesti kita ambil perhatian ialah kita wajib berniat puasa pada tiap-tiap malam, dan sebaiknya kita juga berniat puasa sebulan pada permulaan Ramadhan sebagai langkah berjaga-jaga kalau-kalau ada hari kita terlupa berniat.

    Ini berarti niat pada tiap-tiap malam itu tidak boleh kita tinggalkan dengan senghaja karena sudah berniat puasa sebulan adalah tidak memadai dan tidak sah puasa selain puasa hari pertama Ramadhan jika ia dikerjakan dengan hanya berniat satu bulan saja tanpa disertai dengan niat puasa setiap hari.

    Lafaz niat sebulan puasa itu ialah:

    “Saja aku puasa bulan Ramadan seluruhnya pada tahun ini karena  Allah Taala”.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 13 June 2016 Permalink | Balas  

    Berhenti Menjadi Pengemis 

    pengemisBerhenti Menjadi Pengemis

    Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata “maaf” kepada pengemis yang ke sekian.

    Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.

    Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku. Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

    Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.

    “Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?” tanya Diding

    Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.

    “Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?” terang Diding.

    Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, “Maksudnya… yang seratus ribu itu hanya pinjaman?”

    “Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu meminta-minta lagi,” katanya.

    Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain.

    Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gado-gado, pikirku.

    ***

    Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado-gado itu. Selain untuk mengisi perutnya -dengan tetap membayar- ia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gado-gado itu.

    Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gado-gado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. “Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat.”

    Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab. Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti meminta-minta.

    Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya.

     
  • erva kurniawan 8:36 pm on 12 June 2016 Permalink | Balas  

    Ramadhan Yang Spesial 

    ramadan1Ramadhan Yang Spesial

    Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

    Alhamdullilaahhirrabil aa’lamin Allahuma Shalli ‘Ala Muhammad Wa’ala aliihi Washahbihii Ajma’in ‘Amma Ba’du.

    Semoga Allah yang Mengenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah dibalik kejadian apapun yang menimpa dan semoga Allah membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita.

    Yaa, ayyuhal ladziina aamanuu khutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquun, artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS: Al Baqarah :183)

    Ayyaamam ma’duudaatin fa man kaana minkum marii dhan au’alaa safarin fa ‘iddatum min ayyaamin ukhara wa ‘alal ladziina yuthiiquunahuu fidyatun tha’aamu miskiinin fa man tathawwa’a khairan fa huwa khairul lahuu wa an tashuumuu khairul lahuu wa an tashuumuu khirul lakum in kuntum ta’lamuun, artinya: “yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan,lalu ia berbuka maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya jika mereka tidak berpuasa, membayar fidyah (yaitu) memberi makan seorang miskin; dan barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS:AlBaqarah 184)

    Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah maka diampuni dosanya yang terdahulu (H.R. Bukhari)

    Saudara-saudaraku,Allah menciptakan kita bukan untuk kehinaan ataupun kecelakaan, tetapi justru untuk kemuliaan dan kebahagiaan kita di dunia dan akherat. Tidak ada kezaliman dari Allah, manusia sengsara dan celaka pasti karena dia mendzalimi dirinya sendiri, setiap hari Allah sudah menciptakan waktu-waktu yang sangat spesial diantaranya adalah sepertiga malam terakhir. Barangsiapa yang melakukan sesuatu yang spesial pada waktu yang spesial niscaya dia diperlakukan spesial pula oleh Allah.

    Orang yang bangun malam, tahajud dengan benar dan istiqomah maka ahli tahajud dijamin akan memiliki kedudukan yang terpuji dalam pandangan Allah dan dibuat terpuji dalam pandangan orang yang beriman , dia juga akan memiliki kata-kata yang mempunyai kekuatan, mungkin kata-katanya sederhana tapi oleh Allah diberikan tenaga sehingga mepunyai daya sentuh, daya hujam, daya gugah dan daya rubah, juga akan diberi jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dan maqbul doanya.

    Saudaraku,setiap minggu ada hari yang spesial yaitu hari jumat, Rasullulah saw pun spesial penampilannya pada hari jumat, amalannya ditingkatkan dengan amalan-amalan yang utama, Allah pun menjaminnya dengan gugurnya dosa dari jumat-ke jumat, dan dalam satu tahun Allah menciptakan bulan spesial, bulan yang penuh barokah, bulan yang benar-benar beda dengan bulan yang lain, hari demi harinya berbeda, jam demi jamnya berbeda, detik demi detik berbeda ,begitu spesial !. dan siapapun yang memperlakukan detik demi detik di bulan Ramadhan dengan perilaku spesial niscaya dia akan spesial dalam pandangan Allah, siapakah yang spesial dalam pandangan Allah ?

    Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum artinya “Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu” (QS : Alhujurat/49:13).

    Orang yang paling dekat dengan Allah adalah yang berpredikat taqwa dan Ramadhan la’allakum tattaquun adalah salah satu sarana menjadi orang yang spesial dalam pandangan Allah.

    Lihatlah kalau kita dispesialkan oleh orang tua, belum meminta sudah dicukupi, selalu dijaga, kebutuhan kita dipenuhi, ketika kita meminta diberi, ada yang menganiaya dilindungi ,itu baru manusia, Bagaimana kalau kedudukan seorang hamba yang spesial Dalam pandangan Allah Yang Maha Tahu segala kebutuhan dan harapan kita.

    Maaf, makanya sebodoh-bodoh manusia adalah manusia yang melewatkan waktunya di bulan Ramadhan dan dia tidak mendapat apapun. Oleh karena itu program kita di bulan Ramadhan ini : kita tidak melakukan apapun kecuali yang spesial terbaik dalam pandangan Allah.

    Karena ini waktu spesial,maka kita bertekad tidak boleh melihat apapun kecuali yang spesial, mata kita hanya melihat sesuatu yang Insya Allah membersihkan hati, mata ini harus menjadi penambah ilmu, mata ini menjadi penambah dzikir kita kepada Allah.

    Apakah boleh melihat TV ?,tentu saja boleh tapi lihatlah hanya acara yang spesial yang bisa mengembangkan iman kita dan membuat kita kagum kepada Allah. Mata dan telinga ini adalah karunia Allah maka mata dan telinga ini hanya akan melihat dan mendengar yang spesial di bulan yang spesial pula, Subhanalloh.

    Jangan membicarakan aib orang lain,ingat kita hanya mau mendengar sesuatu yang membuat diri kita semakin dekat dengan Allah, daripada membicarakan keburukan orang akan lebih baik jika kita membicarakan kebaikan-kebaikan orang lain supaya bisa kita tiru. Jangan mendengarkan obrolan yang sia-sia, apakah boleh mendengarkan lagu ? tentu saja boleh tapi dengarkanlah lagu yang dapat menjadi amal, bicara boleh kalau bicara kebaikan “fal yaqul khairan auliyashmut” saya tidak akan berkata kecuali kata-kata terbaik. Tidak akan berkomentar kecuali komentar terbaik. Jangan ada komentar negatif, karena sekali bicara didengar oleh Allah dan dicatat oleh malaikat.

    Jangan ada lintasan hati, kepada orang yang beriman kecuali lintasan yang baik saja.

    “Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tanibuu katsiiram minazh zhanni inna ba’dhazh zhanni itsmuw wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba’dhukum ba’dhan a yuhibbu ahadukum ay ya’kula lahma akhiihi maitan fa karihtumuuhu wat taqullaaha innallaaha tawwaabur rahiim” Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari keburukan orang dan janganlah sebagian kamu menggunjing atas sebagian yang lain. Adakah di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang mati? Maka kamu membenci (memakannya ). Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang (QS.: Al Hujurat/49:12)

    Usahakanlah di bulan Ramadhan ini jangan sampai banyak keinginan duniawi, kita harus shaum dari buruk sangka, kita harus memiliki keinginan untuk memperbanyak amal ; untuk membagikan pakaian, makanan, parcel. Bershadaqahlah juga misalnya dengan senyum, membersihkan masjid, mendoakan yang lain.

    Ramadhan adalah bulan tawadhu’, siapapun yang menjadikan waktu Ramadhan ini penuh spesial ia akan berusaha untuk akrab dengan Al Quran dan shalatnya diperbaiki, hanya orang yang mau melakukan yang spesial, yang khusus, yang terbaik, di bulan ini, maka dialah yang menjadi orang yang spesial di sisi Allah Swt.Amiin

    Di bulan ramadhan ini yang terpenting sesudah meningkatkan ibadah seperti : sholat dan membaca Alquran yaitu meningkatkan akhlak,akhlak itu yaitu merespons kejadian apapun dengan sikap terbaik kita. Itulah yang mudah-mudahan menjadikan Ramadhan ini kita menjadi manusia terbaik dalam pandangan Allah Swt. Wallahu’alam.

    http://.www.manajemenqolbu.com

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 2 June 2016 Permalink | Balas  

    Bersiaplah! Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (2/2) 

    Bersiaplah! Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (2/2)

    1. Mendalami Perkara Dilarang dan Yang Disunatkan Ketika Puasa

    Setiap muslim hendaklah mengetahui perkara-perkara yang dilarang ketika puasa serta menjaga adab-adabnya, agar puasa itu diterima Allah Subhanahu wa Ta”ala dan sempurna pula perlaksanaannya. Demikian juga, setiap muslim hendaklah mengetahui perkara-perkara yang disunatkan ketika berpuasa agar mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda serta mendapat rahmat Allah Subhanahu wa Ta”ala. Antara perkara-perkara yang sepatutnya bahkan wajib diketahui yaitu:

    i. Adab-Adab Puasa

    Antara adab-adab yang perlu dijaga ketika seseorang menjalani ibadat puasa yaitu:

    1. Menutup pandangan daripada melihat perkara-perkara yang diharamkan oleh syara” dan daripada melihat perkara-perkara yang boleh melalaikan hati daripada mengingati Allah Ta”ala.
    2. Menutup telinga daripada mendengar perkara-perkara yang diharamkan supaya tidak tergolong ke dalam golongan orang-orang yang suka mendengar berita bohong.
    3. Menjaga lidah daripada mengeluarkan kata-kata yang tidak berfaedah seperti berbual-bual kosong, lebih-lebih lagi yang dituntut supaya menjaga lidah daripada mengeluarkan kata-kata yang diharamkan, seperti mengumpat, berdusta, memfitnah, berbantah-bantah karena perkelahian, bersumpah bohong dan yang seumpamanya.
    4. Memelihara seluruh anggota yang lain seperti tangan, kaki dan sebagainya daripada melakukan perkara-perkara yang tidak berfaedah dan yang diharamkan.

    ii. Perkara-Perkara Sunat Ketika Puasa

    Terdapat beberapa perkara yang sunat dilakukan oleh orang berpuasa, antaranya yaitu:

    1. Sunat bagi orang yang hendak mengerjakan puasa itu bersahur dengan sesuatu makanan walaupun dengan sebiji kurma ataupun seteguk air, karena bersahur itu mengandungi keberkatan. Antara keberkatannya yaitu, dapat membantu seseorang menyiapkan ketahanan dirinya dari segi fizikal untuk mengerjakan ibadat puasa di siang hari, ia juga dapat membantu mengisi keperluan rohaninya dengan merebut peluang untuk bertahajjud, berzikir, beristighfâr dan berdoa pada waktu sahur.
    2. Sunat melambatkan sahur sehingga hampir waktu fajar iaitu kira-kira pada kadar membaca lima puluh atau enam puluh ayat sebelum terbit fajar. Antara tujuannya yaitu untuk memendekkan masa menahan diri daripada kelaparan dan daripada melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa.
    3. Sunat bagi orang yang berpuasa menyegerakan berbuka puasa terlebih dahulu sebelum dia mengerjakan sembahyang Maghrib iaitu sunat berbuka puasa dengan tiga biji kurma basah (ruthab). Jika tidak ada, memadai dengan kurma kering (tamar) dan jika tidak ada, memadai dengan beberapa teguk air. Sesudah selesai menunaikan sembahyang Maghrib baharulah menikmati juadah yang lain.
    4. Sunat bagi orang yang berpuasa itu sentiasa membasahkan bibirnya dengan berzikir dan berdoa sepanjang hari dia menjalani ibadat puasa, lebih-lebih lagi yang dituntut ketika waktu berbuka puasa karena doa orang berpuasa ketika dia berbuka sangat mustajab dan tidak tertolak.
    5. Memperbanyakkan membaca al-Qur”an. Al-Imam an-Nawawi menegaskan di dalam kitabnya al-Azkâr bahawa hari-hari yang terbaik membaca al-Qur”an yaitu pada hari Jumaat, Isnin, Khamis, hari “Arafah (9 Zulhijjah), sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah dan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, kemudian bulan terbaik adalah bulan Ramadhan.

    Oleh itu, di bulan Ramadhan inilah kesempatan yang paling berharga yang sepatutnya digunakan dengan sebaik-baik mungkin untuk memperbanyakkan membaca Al-Qur”an, sama ada secara bertadarus ataupun secara berseorangan.

    1. Memperbanyakkan sedekah di bulan Ramadhan. Karena Nabi Shallallahu “alaihi wasallam adalah orang yang paling pemurah dan dermawan, lebih-lebih lagi ketika bulan Ramadhan. Antara lain fungsi sedekah di bulan Ramadhan itu yaitu untuk menutupi atau menampal apa-apa jua kecacatan atau kekurangan pada puasa seseorang.

    iii. Perkara-Perkara Membatalkan Puasa

    1. Perempuan yang datang haidh atau nifas ketika dia sedang berpuasa, maka batal puasa tersebut dan wajib diqadha.
    2. Makan dan minum dengan senghaja di siang hari bulan Ramadhan. Perbuatan sedemikian haram hukumnya dan wajib diqadha puasa tersebut.
    3. Muntah dengan senghaja. Iaitu melakukan sesuatu yang menyebabkan dia muntah seperti menjolok-jolokkan lidahnya ke langit-langit kemudian dia muntah dengan sebab perbuatannya itu.
    4. Mengeluarkan air mani dengan sengaja sama ada dengan menggunakan tangan, menyentuh, menggesel, dengan sebab berpeluk-peluk, bercium-cium atau seumpamanya.
    5. Orang yang sedang berpuasa menjadi gila dengan tiba-tiba, sekalipun gilanya itu hanya dalam tempoh seketika. Orang gila tersebut tidak diwajibkan qadha puasanya.
    6. Orang yang sedang berpuasa yang hilang akal seperti pitam, pengsan atau mabuk sepanjang hari iaitu daripada terbit fajar sehinggalah terbenam matahari. Puasa orang tersebut batal dan wajib diqadha. Jika dia sedar dalam tempoh tersebut walau hanya sesaat, maka sah puasanya.
    7. Orang yang sedang berpuasa apabila murtad (keluar dari agama Islam), walaupun sekejap, maka batal puasanya dan wajib qadha apabila dia kembali semula kepada Islam.
    8. Orang yang sedang berpuasa apabila bersetubuh pada siang hari dengan sengaja dengan memasukkan hasyafah atau kadarnya pada qubul atau dubur manusia atau binatang, maka batal puasa orang yang melakukan persetubuhan itu dan wajib dia mengqadha puasanya serta menunaikan kaffârah. Begitu juga kepada orang yang disetubuhi adalah batal juga puasanya, tetapi wajib dia mengqadhanya saja tanpa kaffârah. Kaffârah karena persetubuhan tersebut yaitu memerdekakan seorang hamba. Jika tidak memperolehinya, maka hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut dan jika tidak berdaya hendaklah memberi makan enam puluh orang miskin.
    9. Memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga dengan sengaja melalui lubang yang terbuka dari bahagian tubuh manusia.

    Maksud dengan benda di sini yaitu apa-apa saja benda walaupun sedikit, sama ada yang boleh dimakan seperti sebiji lenga atau yang tidak boleh dimakan seperti sebutir pasir. Tidak termasuk maksud benda itu yaitu rasa, warna atau bau.

    Yang dimaksudkan dengan “lubang yang terbuka” itu yaitu tempat masuk atau keluar sesuatu, sama ada lubang itu semula jadi adanya seperti mulut, hidung dan sebagainya atau yang baru wujud seperti perut atau kepala yang ditebuk.

    Adapun maksud “sengaja” itu pula yaitu dilakukan oleh dirinya sendiri atau dilakukan oleh orang lain dengan keizinannya.

    Manakala maksud “rongga” pula yaitu apa-apa saja yang dinamakan rongga sama ada rongga itu mempunyai kuasa memproses makanan atau ubat ataupun tidak seperti rongga otak, kerongkong atau rongga mulut, rongga hidung, rongga telinga, perut, dubur, faraj, pundi-pundi kencing, lubang tempat keluar air kencing lelaki dan lubang tempat keluar air susu (al-ihlil).

    Penutup

    Berpuasa bukan hanya memelihara dan menjaga perkara-perkara yang boleh membatalkan puasa, akan tetapi lebih jauh daripada itu yaitu menjaga perkara-perkara yang boleh mendatangkan haram kepada mana-mana anggota tubuh badan. Oleh karena itu kita telah diperingatkan bahawa berapa banyak orang puasa yang tidak dapat apa-apa pahala melain lapar dan dahaga.

    Bulan Ramadhan adalah musim mengaut untung dan laba besar, karena ganjaran pahala ibadat – sembahyang umpamanya – dilipat gandakan sehingga menjadi 70 kali lipat, bahkan pahala puasa itu sendiri hanya Allah saja yang mengetahuinya.

    Ketika berpuasa elakkan perkara-perkara yang boleh melalaikan atau menyebabkan susut nilai amalan di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi 10 terakhir di bulan yang mulia itu, yang di dalamnya ada satu hari yang lebih baik daripada 1000 bulan. Kalau hendak berbelanja karena hari raya  bukan membazir atau memboros berbelanjalah dari sekarang. Supaya masa-masa di bulan Ramadhan hanya akan dipenuhi dengan amal ibadat.

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 1 June 2016 Permalink | Balas  

    Menyambut Ramadhan dengan Ziarah Kubur 

    berdoa di kuburan waliMenyambut Ramadhan dengan Ziarah Kubur

    Jalaluddin Rakhmat

    Sebagian kaum muslim Indonesia, dari dulu sampai sekarang, biasa menyambut bulan Ramadhan dengan acara ziarah ke kubur. Orang Jawa menyebutnya nyadran, sementara orang Sunda menyebutnya nadran. Dalam acara itu, mereka berkunjung ke pusara orang tua atau karib kerabat yang telah mendahului mereka menghadap Allah swt. Belakangan ada sebagian di antara kita yang memandang ziarah kubur sebagai perbuatan yang tidak diajarkan Islam, tetapi diadopsi dari ajaran leluhur. Betulkah pendapat itu? Apakah ziarah kubur merupakan sunnah yang dianjurkan Nabi saw ataukah bid’ah, hal baru yang dibuat-buat kemudian hari? Apa dasar-dasar ziarah dalam Al-Quran dan Sunnah?.

    Ziarah ke kuburan dapat terdiri dari tiga macam. Kesatu, ziarah orang-orang mulia yang masih hidup kepada orang-orang mulia yang telah meninggal. Misalnya para ulama yang mengunjungi pusara ulama lainnya. Di dalam hadis-hadis kita temukan bahwa kebiasaan orang- orang mulia untuk berziarah ke kuburan orang-orang mulia lainnya dicontohkan oleh Rasulullah saw. Menurut hadis-hadis sahih yang sampai kepada kita, diriwayatkan ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan isra-mikraj, beliau berziarah ke kuburan para nabi dengan diantarkan malaikat Jibril. Jibril memerintahkan Nabi turun dari Buraq dan melakukan salat di samping kuburan setiap nabi.

    Dari peristiwa itu juga Nabi mengajarkan adab ziarah, Beliau turun dari kendaraannya dan menunaikan salat di dekat kuburan dengan penuh kerendahan hati, lalu berdoa di depan kuburan. Hadis yang meriwayatkan ziarahnya Rasulullah ke kuburan para nabi terdapat dalam semua kitab hadis yang berkenaan dengan peristiwa Isra.

    Di dalam hadis yang diriwayatkan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, disebutkan bahwa Fathimah ra setiap hari Jumat berziarah ke kuburan Hamzah, pamannya yang syahid pada Perang Uhud. Waktu Fathimah mengunjungi makam Hamzah, Rasulullah tidak pernah melarangnya bahkan beliau menganjurkannya. Setelah Rasulullah saw meninggal dunia, setiap hari Fathimah berziarah ke pusara ayahnya. Setiap hari ia menangis dan berdoa agar ia dapat segera menyusul ayahnya.

    Tentang Sayyidah Fathimah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Fathimah itu adalah bagian dari diriku. Siapa yang membuat marah Fathimah, ia membuat marah aku; dan siapa yang menyakiti Fathimah, ia menyakiti aku (Shahih Bukhari). Aisyah juga pernah berkata bahwa tidak ada orang yang paling menyerupai Nabi, dalam hal wajah dan akhlaknya, selain Fathimah. Saya mengutip hadis-hadis itu untuk menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Fathimah juga merupakan perbuatan yang harus dicontoh. Tidak mungkin Fathimah yang dijamin kesuciannya dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 33 melakukan perbuatan tercela. Seperti halnya Fathimah yang setiap Jumat berziarah kepada Hamzah, kita juga harus secara rutin mengunjungi kuburan keluarga kita. Bila kita buka kitab-kitab tasawuf tentang amalan-amalan yang harus dilakukan setiap hari Jumat, salah satu di antaranya adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin. Demikian pula salah satu amalan dalam menyambut Ramadhan adalah berziarah ke kuburan kaum muslimin.

    Tradisi berziarah di antara orang-orang mulia itu dilanjutkan oleh para ulama besar berikutnya. Imam Syafii, misalnya, sering berziarah ke makam Abu Hanifah di Mekkah. Ketika Imam Syafii melakukan salat dalam kunjungannya ke makam Abu Hanifah, ia tinggalkan qunut pada salat subuhnya demi menghormati Abu Hanifah yang telah meninggal dunia (karena Abu Hanifah tidak menfatwakan tentang kewajiban qunut pada salat subuh). Imam Syafii memberikan sebuah contoh yang sangat indah, yang sayangnya tidak diteruskan oleh para pengikutnya; yakni, menghargai orang yang pendapatnyaberbeda, meskipun ia telah meninggal dunia.Setiap kali Imam Syafii berziarah ke makam Abu Hanifah, ia berdoa di depan makam itu dan bertawasul kepada Allah swt dengan perantaraan Abu Hanifah untuk memenuhi hajat-hajatnya. Imam Syafii meniru Rasulullah saw ketika berdoa di depan kuburan para nabi atas perintah Jibril as.

    Ketika Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib berhijrah ke Madinah, ia meninggal dunia. Rasulullah saw menguburkannya di Baqi. Saat pemakaman, Rasulullah saw turun ke kuburan Fathimah binti Asad dan berbaring di sisinya seraya memeluk ibu asuhnya itu. Lalu Rasulullah membaca doa tawasul: Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan bertawasul kepada nabi-nabi-Mu dan nabi-nabi yang Kau utus sebelum aku.

    Salah satu adab dalam berziarah adalah berdoa dan memulai doa kita dengan membaca tawasul yang singkat, seperti yang diajarkan Nabi saw di atas: Ya Allah aku bermohon kepada-Mu melalui tawasul kepada Nabi- Mu dan keluarganya, janganlah engkau azab mayit ini. Sebuah hadis menyebutkan, barang siapa yang berziarah ke kuburan dan membaca doa itu, Allah akan menganugrahkan perlindungan dari dahsyatnya hari kiamat.

    Jenis ziarah yang kedua, adalah ziarah orang-orang mulia kepada kuburan orang-orang biasa. Nabi saw sering berziarah ke kuburan kaum muslimin. Beliau sering berdoa di atas kuburan mereka seraya beristighfar memohonkan ampunan bagi para pendurhaka yang menjadi ahli kubur itu, sebagai bukti bahwa kedatangan Nabi adalah rahmatan lil ‘alamin.

    Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari menyebutkan: Rasulullah saw melewati dua kuburan. Lalu beliau berkata, “Kedua ahli kubur ini sedang diazab Tuhan, meskipun bukan karena dosa yang besar.” Rasulullah saw lalu meletakkan di atas kedua kuburan itu pelepah kurma yang masih hijau sambil berdoa. Rasulullah kemudian berkata, “Sesungguhnya kedua pelepah kurma itu, insya Allah, akan meringankan azab mereka sampai pelepah itu mengering.” Dengan berkah kehadiran Rasulullah ke kuburan itu, Tuhan meringankan azabnya.

    Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam Fathul Bâri, ketika membahas hadis ini menulis: “Ada kemungkinan, kuburan itu bukan kuburan kaum muslimin melainkan kuburan kaum kafir. Hal itu menunjukkan bolehnya berziarah ke kuburan orang kafir. Apa rahasianya meringankan azab untuk orang kafir itu? Rahasianya adalah ketika Rasulullah datang, Allah menurunkan rahmat-Nya, karena Nabi membaca zikir, menyebut asma Allah. Kedua pelepah kurma yang masih hijau itu sebetulnya selalu bertasbih selama mereka dalam keadaan basah.” Seluruh pepohonan dan tanaman bertasbih kepada Allah swt. Kedua pelepah kurma itu disimpan Nabi agar selalu bertasbih untuk meringankan azab para penghuni kubur. Sekiranya yang meninggal adalah orang Islam, maka manfaat dari doa Rasulullah itu akan berlipat ganda karena ia memperoleh syafaat Nabi saw. Nabi bersabda, “Syafaatku kukhususkan untuk orang- orang yang berbuat dosa besar dari kalangan umatku.”

    Semua keterangan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah yang teramat mulia juga mengunjungi kuburan mereka yang tidak mulia, bahkan para pendosa. Selain itu, Rasulullah mengunjungi kuburan kaum muslimin untuk memberikan penghormatan kepada mereka.

    Seperti dalam sebuah hadis riwayat Bukhari: Di zaman Nabi, hidup seorang perempuan kulit hitam yang pekerjaannya membersihkan masjid. Ketika ia meninggal dunia, kaum muslimin menshalatkan dan menguburkannya pada malam hari. Suatu saat, ketika Rasulullah mengunjungi pekuburan, beliau melewati kuburan perempuan itu. Wangi harum yang semerbak tercium oleh ruh Rasulullah yang suci. Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang menyertainya, “Kuburan siapakah ini?” “Ini adalah kuburan perempuan kulit hitam yang sering membersihkan masjid,” jawab para sahabat. Rasulullah lalu bertanya, “Mengapa kalian tidak memberitahu aku ketika kalian menguburkannya?” Kemudian Rasulullah salat di depan kuburan perempuan kulit hitam itu. Setelah salat, Rasulullah bertanya lagi, “Bagaimana perbuatannya ketika ia hidup?” Para sahabat menjawab, “Ia adalah perempuan yang baik.” “Apa pekerjaan yang dilakukannya?” Rasulullah masih bertanya. “Ia membersihkan masjid,” jawab para sahabat.

    Rasulullah saw tidak hanya mengunjungi kuburan perempuan kulit hitam itu, seorang budak belian yang pada masa itu sering diperlakukan dengan hina, tetapi beliau juga mensalatkan dan mendoakannya. Tuhan menyingkapkan tirai alam malakut kepada Nabi dan memperlihatkan perempuan itu sebagai orang yang mulia di alam barzakh, yang menyebarkan harum semerbak di sekitarnya.

    Sayyid Ismail bin Mahdi Al-Hasani, dalam Kitab Nafasur Rahmân, menulis: Hendaknya orang-orang yang mulia sering berkunjung ke orang- orang yang kurang mulia di antara mereka. Walaupun mereka adalah para ahli kasyaf. Dengan berkunjung ke kuburan, mereka dapat melihat keadaan orang-orang yang dikubur sehingga mereka dapat mendoakan kebaikan bagi para ahli kubur itu.

    Saya teringat sebuah kisah ketika seorang yang salih pergi mengunjungi pekuburan kaum muslimin. Setelah mengucapkan salam, orang salih itu lalu berdoa. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan para penghuni kubur di sekitarnya. Usai berdoa, tiba-tiba ia mendapati dirinya berada di sebuah taman yang sangat indah. Ia menyusuri setapak jalan yang membawanya ke istana yang megah. Di tempat itu duduk seseorang di atas tahta yang gemerlapan. Puluhan khadam melayaninya. Wajahnya ceria dan gembira. Namun tiba-tiba wajah yang cerah itu berubah muram. Ia melihat dari salah satu sudut tamannya berdatangan rombongan lebah dengan dengungan yang amat nyaring. Orang di atas tahta lalu menjulurkan lidahnya untuk disengat kawanan lebah itu. Serangga-serangga itu pun lalu merubungi lidah orang itu sampai pingsan. Setelah itu, kawanan lebah pun menghilang. Ketika orang itu tersadar, wajahnya menjadi ceria gembira seperti sedia kala. Namun lebah-lebah itu datang lagi dan peristiwa yang sama terulang kembali.

    Orang salih yang melihat semua ini keheranan, “Apa yang terjadi dengan dirimu?” tanyanya. “Dahulu, ketika aku masih hidup, alhamdulillah, aku banyak beramal salih. Aku sering membantu orang- orang yang kekurangan, aku tak meninggalkan ibadatku di hari-hari yang mulia, dan aku pun berziarah ke Masjidil Haram. Tapi satu saat, aku jatuh cinta pada anak perempuan tetanggaku. Aku melamarnya namun orang tuanya tak menerima lamaranku. Karena jengkel, kusebarkan berita pada orang banyak bahwa sebenarnya perempuan itu telah menikah diam-diam.Karena berita yang kusebarkan, sampai sekarang perempuan itu tak menemukan jodohnya. Tak ada seorang pun yang melamarnya. Aku lalu meninggal dunia.

    Setiap kali perempuan itu menangis menyesali nasibnya, Tuhan mengirimkan kawanan lebah itu untuk menyiksa diriku. Aku bermohon kepada-Nya agar dilepaskan dari azab ini, tapi Tuhan berkata bahwa aku tak bisa dilepaskan dari azab ini sebelum perempuan itu memaafkanku dan sebelum ia menemukan jodohnya. Tapi aku telah mati dan tak bisa meminta maaf kepadanya. Aku lalu bertawasul dengan perantara Imam Ali kw. Imam Ali berkata, “Nanti akan datang kepadamu seorang salih, sampaikan pesanmu kepadanya.” Kini engkau telah datang kepadaku. Tolong sampaikan permohonan maafku kepada perempuan itu dan keluarganya dan tolong bantu mencarikan jodoh bagi dirinya. Hanya dengan itulah aku bisa selamat dari azab ini.”

    Orang yang salih itu berziarah sehingga Tuhan menyingkapkan tirai malakut kepadanya. Ia mampu melihat keadaan ahli kubur yang diziarahinya. Kisah ini menunjukkan bahwa ziarah orang salih ke kuburan adalah sebuah amal yang utama walaupun kuburan itu adalah kuburan orang awam, orang kebanyakan. Ziarah tidak hanya dilakukan kepada orang-orang yang salih tetapi juga kepada orang-orang yang biasa.

    Contoh lain dari ziarah orang yang mulia kepada orang yang tidak semulia dia adalah kebiasaan Rasulullah saw untuk berkunjung ke kuburan para syuhada Perang Uhud. Banyak di antara para jamaah haji Indonesia yang ketika berangkat ke Madinah tak mengunjungi kuburan para syuhada Perang Uhud itu. Bahkan kepada Rasulullah pun mereka tak berziarah padahal Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mengunjungiku setelah aku mati sama seperti mengunjungiku ketika aku hidup.” Rasulullah juga bersabda, “Siapa yang naik haji, pergi ke Masjidil Haram, tapi tak mengunjungi aku, ia telah melecehkan aku.” Dalam hadis yang lain Rasulullah berkata, “Barang siapa yang berziarah padaku, aku pastikan syafaatku baginya.”

    Ketika kita meninggal, di malam pertama kesendirian kita, perasaan sedih, cemas, dan takut yang luar biasa akan menyergap kita di alam Barzakh. Malam itu adalah saat yang paling menakutkan bagi ahli kubur. Di waktu itu, sebagian ahli kubur akan mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan dikunjungi Rasulullah saw yang mulia. Mereka yang beruntung itu adalah mereka yang pernah berziarah ke kuburan Rasulullah saw.

    Jenis ziarah yang ketiga adalah ziarah dari kaum muslimin yang awam kepada kaum muslimin awam lainnya. Inilah ziarah yang biasa kita lakukan kepada orang tua, karib kerabat, dan saudara-saudara kita. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang diterima dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, “Sering berkunjung kepada kuburan itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat dan kepada maut. Hadis ini juga dimuat oleh Al-Turmudzi dalam shahih-nya.

    Ziarah kubur adalah sunnah Rasulullah saw. Ziarah juga adalah cara kita untuk mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita. Al- Quran mencontohkan doa itu: Tuhanku ampunilah orang-orang yang telah mendahului kami dalam keimanan. (QS. Al-Hasyr:10). Itulah perintah Al-Quran agar kita mendoakan orang-orang yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Doa itu kita baca ketika berziarah ke kubur.

    Perintah ziarah kubur ditujukan baik bagi lelaki maupun perempuan. Bila ziarah kubur itu memiliki pahala dan keutamaan yang amat besar, maka melarang perempuan untuk berziarah akan menyebabkan mereka kehilangan amal salih dan syafaat Rasulullah saw. Islam tidak memberikan ajaran yang diskriminatif; yang hanya menguntungkan kaum lelaki saja.

    Sebagian pendapat yang mengharamkan perempuan berziarah didasarkan kepada hadis dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, “Allah melaknat perempuan-perempuan yang berziarah ke kubur.” Bila dilakukan penelitian terhadap hadis ini akan ditemukan bahwa dari segi sanadnya, hadis ini tidak cukup kuat. Hadis ini pun bertentangan dengan hadis-hadis lain yang disepakati kesahihannya oleh semua orang, misalnya hadis yang menganjurkan bila kita berkunjung ke kuburan, kita mengucapkan salam kepada para ahli kubur. Hadis itu menceritakan Rasulullah yang mengajarkan bacaan salam bagi ahli kubur kepada Aisyah. Sekiranya perempuan yang berziarah kubur itu dilaknat, Rasulullah tidak akan mengajarkan bacaan salam itu kepada Aisyah, istrinya sendiri.

    Hadis yang lain meriwayatkan Rasulullah pernah menemukan seorang perempuan sedang berziarah sambil menangis. Rasulullah tidak melarang perempuan itu berziarah. Beliau hanya berkata, “Penghuni kubur itu sedang diazab padahal keluarganya sedang menangis.” Hadis ini lalu menimbulkan kesalahpahaman; bahwa mayit diazab karena tangisan keluarganya. Sampai suatu saat -setelah Rasulullah saw meninggal- Aisyah mendengar Abdullah Ibnu Umar berkata, “Mayit itu disiksa karena tangisan keluarganya.” Aisyah lalu berkata, “Semoga Allah menyayangi Abdullah Ibnu Umar. Ia tidak berbohong, ia hanya salah dengar.”

    Ziarah kubur bermanfaat bagi penziarah dan yang diziarahi. Rasulullah saw bersabda, “Ziarahilah orang-orang yang sudah mati di antara kamu karena mereka bergembira dengan ziarah yang kau lakukan. Dan hendaklah orang menyampaikan hajatnya di kuburan kedua orang tuanya setelah ia berdoa terlebih dahulu kepada mereka.” (Bihârul Anwâr, juz 10, hal. 97) Riwayat lain dari Dawud Al-Riqqi menyatakan: Aku bertanya kepada Abu Abdillah as, “Kalau ada seseorang berdoa di kuburan bapak, ibu, karib kerabat, atau yang bukan saudaranya, apakah itu ada manfaatnya?” Abu Abdillah menjawab, “Betul, itu bermanfaat. Kunjungan itu akan merupakan hadiah bagi mereka. Hadiah itu akan masuk kepada mereka sama seperti kalian memberikan hadiah bagi sesama kalian.”

    Salah satu adab ziarah adalah berbicara kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari mengisahkan suatu peristiwa setelah Perang Uhud. Rasulullah mengajak bicara kepada para jenazah syuhada Uhud, “Apakah kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Rasulullah kepada kalian itu benar?” Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulallah, kau ajak bicara orang yang mati padahal dia tak mendengarmu.” Rasulullah saw menjawab, “Hai Umar, engkau tidak lebih mendengar dari mereka.” Para ahli kubur mendengar ucapan kita sama seperti orang yang masih hidup. Salam yang kita ucapkan kepada para ahli kubur pun pada hakikatnya adalah mengajak mereka bicara: Salam bagi kalian, hai penghuni kampung ini. Kalian telah mendahului kami dan insya Allah, kami akan menyusul kalian.

    Satu saat, Imam Ali kw melewati pekuburan. Ia mengajak bicara para ahli kubur, “Hai, penghuni kampung yang penuh kesepian. Hai, penghuni kubur yang penuh kegelapan. Hai, mereka yang bergelimang debu. Hai, mereka yang terasing dari kampung halamannya. Hai, mereka yang dalam kesendirian dan ketakutan. Kalian telah mendahului kami dan kami pasti akan menyusul kalian. Adapun rumah-rumah kalian telah dihuni oleh orang lain. Suami-suami dan istri-istri kalian telah menikah lagi dengan orang lain. Harta-harta kalian telah dibagi- bagikan. Ini berita kami untuk kalian, lalu bagaimana berita kalian untuk kami?” Imam Ali lalu menengok sahabat-sahabatnya dan berkata, “Kalaulah mereka itu diberi izin untuk berbicara, mereka akan menjawab pertanyaan kita dengan ucapan: Sesungguhnya bekal yang paling baik untuk alam kubur itu adalah takwa.”

    Adab yang sebaiknya kita amalkan ketika ziarah ke kubur adalah mengucapkan salam seperti di atas. Lalu ketika kita sampai di kuburan, letakkan tangan kita di atas kuburan seraya membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Qadr tujuh kali, surat Al-Ikhlas sebelas kali, Ayat Kursi, serta membaca bagian awal dan akhir dari surat Al- Baqarah. Bila kita masih mempunyai waktu, bacalah surat Yasin di kuburan itu. Setelah itu bacalah doa.

    Bila waktu kita sedikit, kita dapat cukup membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Al-Nas masing-masing satu kali saja. Setelah itu lalu membaca doa tawasul kepada Nabi Muhammad dan keluarganya agar mayit itu tidak diazab Allah swt.

    ***

    Ditranskrip oleh Ilman Fauzi dari ceramah Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad, tanggal 19 Nopember 2000, di Masjid Al-Munawwarah, Bandung.

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 1 June 2016 Permalink | Balas  

    Bersiaplah! Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (1/2) 

    Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HBersiaplah!  Bulan Ramadhan Sebentar Lagi (1/2)

    Kedatangan bulan Ramadhan adalah merupakan rahmat bagi setiap orang yang beriman. Di bulan ini dibukakan segala pintu-pintu langit, pintu-pintu syurga dan pintu-pintu rahmat. Setiap amal kebajikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Doa mudah dikabulkan dan pintu pengampunan terbuka luas bagi setiap orang yang beriman dan orang-orang yang kembali ke jalan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

    Sebagai seorang yang beriman, sudah setentunya tidak ingin terlepas segala peluang yang ada. Lebih-lebih lagi di bulan ini banyak keistimewaan dan ganjaran pahalanya. Untuk itu Irsyad Hukum kali ini mengingatkan supaya sama-samalah kita mempersiapkan diri sebelum menempuh kehadiran bulan Ramadhan, iaitu dengan mendalami perkara yang dilarang dan yang disunatkan ketika melaksanakan puasa serta kewajipan-kewajipan lain yang perlu dilunaskan sebelum kedatangannya.

    Persiapan Sebelum Menjelang Ramadhan

    Persiapan kita sebelum menjelangnya bulan Ramadhan antaranya:

    1. Merasa Gembira Dan Berdoa

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggembirakan para sahabatnya sempena menyambut ketibaan bulan Ramadhan ketika Baginda menyampaikan khutbah kepada para sahabat yang antara lain mengandungi beberapa panduan dan dorongan untuk memperbanyak amal ibadat dalam bulan Ramadhan. Panduan dan dorongan yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu membuatkan para sahabat merasa gembira menyambut ketibaan bulan Ramadhan yang mulia.

    Sehubungan dengan kegembiraan menyambut Ramadhan itu, at-Thabarani dan lain-lain meriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu, bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum tiba bulan Ramadhan, mulai daripada masuk bulan Rejab, Baginda sering berdoa. Antara doa Baginda ialah:

    Maksudnya: “Ya Allah, berilah keberkatan kepada kami di bulan Rajab dan Sya‘ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”

    1. Puasa Sunat

    Sebelum bulan Ramadhan, iaitu di bulan Sya‘ban, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan puasa sunat. Oleh itu memperbanyakkan puasa sunat di bulan Sya‘ban adalah sangat digalakkan kerana mencontohi amalan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kalau tidak dapat dibuat semuanya, maka janganlah ditinggalkan semua. Bukan sahaja bagi mengkecapi ganjaran pahala dan rahmat Allah Ta‘ala, bahkan bagi melatih diri berpuasa sebelum datangnya bulan Ramadhan.

    1. Mengqadha Puasa Wajib

    Puasa Ramadhan yang tertinggal tetap wajib diqadha pada bila-bila masa. Bulan Sya‘ban merupakan masa atau peluang terakhir buat tahun itu untuk mengqadha puasa Ramadhan yang tertinggal itu. Maksud peluang terakhir di sini ialah bagi mengelakkan membayar fidyah, kerana jika telah masuk bulan Ramadhan, sedangkan puasa Ramadhan tahun yang sebelumnya belum diqadha, maka di samping kewajipan mengqadhanya, wajib pula mengeluarkan fidyahnya.

    Bagi sesiapa yang masih belum mengqadha puasa Ramadhan tahun lepas, eloklah mengambil kesempatan mengqadhanya pada bulan Sya‘ban ini agar tidak terkena membayar fidyah.

    1. Membayar Fidyah

    Fidyah dalam hal puasa bererti bayaran denda kerana tidak berpuasa Ramadhan dengan sebab-sebab tertentu atau kerana melambat-lambatkan mengqadha puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya. Antara sebab-sebab wajib mengeluarkan fidyah puasa ialah:

    1. Tidak berupaya berpuasa, iaitu seseorang yang wajib berpuasa tetapi tidak sanggup lagi mengerjakannya disebabkan tua atau lemah. Sekiranya dia berpuasa, dia tidak akan dapat menanggung kepayahannya. Maka orang sedemikian wajib membayar fidyah sahaja dan tidak diwajibkan mengqadha puasanya.
    2. Orang yang sakit tidak ada harapan sembuh dan tidak berupaya melakukan puasa. Maka dia wajib membayar fidyah sahaja tanpa mengqadha puasanya. Sementara orang sakit yang ditakuti akan bertambah sakitnya jika dia berpuasa tetapi ada harapan untuk sembuh, maka tidak wajib baginya berpuasa. Tetapi apabila dia sembuh wajib ke atasnya mengqadha puasa yang ditinggalkannya itu tanpa membayar fidyah.

    iii. Perempuan hamil atau yang sedang menyusukan anak, iaitu jika sekiranya mereka berpuasa maka ditakuti akan mendatangkan mudarat kepada anak yang dikandung atau boleh mengurangkan air susu yang akan memberi kesan kurang baik kepada anak yang menyusu. Dalam hal ini, di samping mereka diwajibkan membayar fidyah, mereka juga wajib mengqadha puasanya. Namun jika dia berbuka kerana merasa takut akan kemudaratan dirinya sahaja atau takut akan kemudaratan dirinya dan juga anaknya, maka wajib dia mengqadha puasa sahaja tanpa membayar fidyah.

    Orang yang tidak mengqadha puasa Ramadhan pada tahun berkenaan sehingga masuk Ramadhan berikutnya tanpa uzur syar‘i. Di samping wajib ke atasnya membayar fidyah (satu cupak bagi sehari puasa), dia juga wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya itu. Kadar jumlah fidyah tersebut akan berganda (2 cupak bagi sehari puasa) jika ditangguhkan lagi sehingga datang tahun berikutnya. Demikianlah seterusnya, setahun ke setahun kadar jumlah fidyah akan berganda-ganda jika qadha puasa tidak ditunaikan.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 21 May 2016 Permalink | Balas  

    Tentang Sholat 

    sholat_jamaahTentang Sholat

    Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Disebutkan bahwa kelak di hari kiamat ada sekelompok manusia yang dikumpulkan dengan wajah seperti bintang, para malaikat bertanya, “Apakah amal kalian?”

    “Dahulu, bila mendengar Adzan, kami segera bersuci. Tidak ada yang menyibukkan kami selain itu,” jawab mereka.

    “Kalian pantas memperoleh karunia ini, masuklah ke dalam surga sesuai amal kalian.”

    Kemudian dikumpulkan sekelompok manusia dengan wajah seperti bulan, para malaikat bertanya, “Apakah sesungguhnya amal kalian?”

    “Dahulu, sebelum masuk waktu salat, kami telah berwudhu.”

    “Kalian pantas memperoleh karunia ini, masuklah ke dalam surga sesuai amal kalian.”

    Kemudian dikumpulkan pula sekelompok orang dengan wajah seperti matahari.

    “Apakah gerangan amal kalian?” tanya malaikat.

    “Dahulu, ketika adzan diserukan, kami sudah berada di mesjid.”

    “Kalian memiliki kedudukan paling tinggi dan paras paling elok. Masuklah ke dalam surga sesuai amal kalian!”

    Hadis-hadis yang menjelaskan keutamaan salat berjamaah tak terhitung jumlahnya. Oleh karena itu, saudara-saudaraku, rahimakumullaah, kumpulkan semangat kalian untuk melakukan salat berjamaah. Mintalah kepada Allah agar kalian tidak termasuk orang yang mengabaikan dan meremehkannya. Bersegeralah dan biasakanlah salat berjamaah, karena sesungguhnya salat berjamaah adalah laba dari orang-orang yang beruntung dalam perdagangan, keberhasilan dari orang-orang yang bertakwa dan berusaha keras, kegemaran orang-orang yang zuhud dan saleh, kebiasaan orang-orang yang berbahagia dan memperoleh hidayah, kesenangan para pencinta (muhibbin) yang terpilih, tujuan para penghulu kaum arifin, dan tujuan para ulama yang mengamalkan ilmunya. Mereka tidak mempedulikan segala sesuatu yang dapat memalingkan perhatian mereka dari keutamaan itu. Hati mereka selalu memendam kerinduan pada salat berjamaah, dan menyesal jika sampai tertinggal. Jika kesempatan untuk salat berjamaah terlewatkan, mereka diberi ucapan bela sungkawa sebagaimana orang yang tertimpa musibah. Mereka sangat sedih seperti pecinta yang dipisahkan dari kekasihnya. Hal-hal seperti ini sungguh asing di zaman ini. Lambang-lambang agama telah hilang, kefasikan dan maksiat merajalela. Kebohongan merebak kemana-mana. Sehingga orang yang santun (halim) pun menjadi bingung.

    Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang bersegera mengerjakan ketaatan, dan melazimkan diri untuk salat berjamaah. Sebab, salat adalah keuntungan yang tak ternilai, dan merupakan peringkat kesuksesan yang paling tinggi.

    Ya Allah, selamatkanlah kami dari semua hal yang menghinakan, tunjukkanlah kepada kami semua kebajikan, lipat gandakanlah bagi kami berbagai kebaikan, ampunilah kami dari dosa dan kesalahan, bahagiakan kami semasa hidup dan setelah kematian, wahai pemilik kebaikan, pengangkat kedudukan, Tuhan bumi dan langit sekalian. Limpahkan sholawat dan salam kepada sayidina Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat.

     

     
  • erva kurniawan 2:42 am on 20 May 2016 Permalink | Balas  

    Peringatan Malam Nishfu Sya’ban 

    malamPeringatan Malam Nishfu Sya’ban

    Sebagian umat Islam ada yang memperingati malam nisfhu Sya’ban (malam ke-15 bulan Sya’ban) dengan cara menyelenggarakan berbagai macam acara dan ibadah pada malam tersebut. Untuk mendapatkan keterangan yang jelas mengenai hal ini, maka edisi Al-Hujjah akan menengahkan sebuah ringkasan tulisan seorang ulama’ besar, Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz, ketua kibarul ulama’ dan panitia tetap riset dan fatwa Arab Saudi, yang kepadanyalah mayoritas ulama konteporer merujuk dalam berbagai persoalan pelik. Selamat mengikuti.

    Segala puji hanyalah milik Allah, yang telah menyempurnakan agamaNya kepada kita. Selawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad sallallahu ‘alahi wa sallam, penyeru kepada pintu tauhid dan pembawa rahmat.

    Amma ba’du.

    Allah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu dan telah Kucukupkan nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu sebagai agama bagimu” (Al-Maidah: 3).

    Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik jalan hidup adalah jalan hidup Muhammad, dan seburuk-buruk perkara (dalam agama) ialah yang diada-adakan(bid’ah), dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. Muslim).

    Dan masih banyak lagi ayat dan hadits senada yang menunjukkan bahwa Allah telah menyempurnakan Agama ini. Dia tidak mewafatkan Nabinya sallallahu ‘alahi wa sallam kecuali sesudah beliau telah menyampaikan risalah dan menjelaskan kepada ummat seluruh syari’at Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Beliau juga menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diada-adakan oleh orang sepeninggalnya (dalam masalah agama) dan dinisbatkan kepada ajaran Islam, baik berupa ucapan maupun perbuatan, semua adalah bid’ah yang tertolak, meskipun orang yang mengada-adakannya berniat baik.

    Para sahabat Rasullullah sallallahu ‘alahi wa sallam dan ulama’ yang datang setelah mereka mengetahui hal ini. Maka mereka mengingkari segala macam bid’ah dan memperingati kita agar menjauhinya.

    Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang adalah bid’ah peringatan malam nishfu Sya’ban sedang pengkhususan puasa pada hari tersebut. Padahal tidak ada satu dalilpun yang dapat dijadikan sandaran. Ada hadits-hadits tentang fadhilah (keutamaan) malan ini, akan tetapi dho’if (lemah), tidak boleh dijadikan sandaran. Sedangkan hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan sholat pada malam ini adalah maudhu’ (palsu).

    Memang ada beberapa riwayat tentang malam nisfu Sya’ban yang berasal dari sebagian salaf (pendahulu) penduduk Syam dan lainnya, tetapi pendapat yang dianut jumhur (mayoritas) ulama’ ialah peringatan malam nishfu Sya’ban adalah bid’ah dan hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaannya semua dho’if (lemah) dan sebagian lagi maudhu’ (palsu). Diantara ulama yang memperingatinya hal tersebut adalah Al-Hafizh Ibn Rajab dalam kitabnya Latha’iful Ma’aif dan ulama-ulama lainnya.

    Hadits-hadits dho’if hanya bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh dalil yang shohih. Adapun peringatan malam nishfu Sya’ban tidak ada hadits shohih yang mendasarinya, sehingga hadits-hadits dho’if itu tidak dapat dijadikan sebagai pendukungnya.

    Para ulama telah sepakat, bahwa wajib mengembalikan segala permasalahan yang diperselisihkan kepada Kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh kedua sumber ini atau salah satu darinya, maka wajib diikuti, dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan . Sedang apapun ibadah yang tidak disebut oleh keduanya adalah bid’ah, tidak boleh dikerjakan, apalagi mengajak untuk mengerjakannya atau memujinya. (QS. 4:59, 42:10, 3:31, 4:65).

    Tentang masalah nishfu Sya’ban Ibn Rajab dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif mengatakan: “Para tabi’in dari ahli Syam (sekarang Syiria. red) seperti Kholid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam nishfu Sya’ban, kemudian orang-orang berikutnya mengambil keutamaan dan pengagungan itu dari mereka. Dikatakan pula, bahwa mereka melakukan perbuatan demikian karena adanya cerita-cerita isra’illyat. Tatkala masalah ini menyebar ke berbagai negeri, berselisihlah kaum muslimin, ada yang menerima dan menyetujuinya, ada juga yang mengingkarinya. Golongan yang menerima adalah para ahli ibadah dari Bashrah dan kota lainnya. Sedangkan golongan yang mengingkarinya yaitu sebagian besar ulama’ hijaz, seperti Atha’ Ibn Abi Malaikah dan -menurut penukilan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam- para fuqoha’ (ahli fiqih) Madinah, ini juga merupakan para pengikut Imam Malik dan lainnya. Menurut mereka, semua perbuatan ini adalah bid’ah.

    Ibn Rajab selajutnya berkata, tidak ada suatu ketetapan apapun tentang masalah nishfu Sya’ban ini baik dari sallallahu ‘alahi wa sallam maupun dari para sahabat. Adapun pendapat imam Al-Auza’i tentang (dianjurkan) sholat malam nishfu Sya’ban, maka hal ini aneh dan lemah. Karena segala perbuatan, bila tidak ada dalil syar’i yang menetapkannya, maka tidak boleh bagi seorang muslim mengada-adakannya, baik itu dikerjakan secara individu maupun kolektif (berjama’ah), secara sembunyi maupun terang-terangan. Berdasarkan keumuman hadits Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam: “Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu tertolak.” (HR. Muslim) serta dalil-dalil lainnya yang mengingkari perbuatan bid’ah dan memperingatkan agar dijauhi.

    Imam Abu Bakar Ath-Thurthusyi rahimahullah dalam kitabnya Al-Hawadits wal Bida’ mengatakan: “Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah dari Zaid bin Aslam, katanya: “Kami tidak menjumpai seorangpun dari guru kamu dan ahli fiqih kami yang memperingati malam Nishfu Sya’ban, ataupun mengindahkan hadits Makhul. Merekapun tidak memandang adanya keutamaan pada tersebut dari malam-malam lainnya. Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwa Zaid An-Numairi menyatakan: “Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam nishfu Sya’ban menyamai pahala Lailatul Qadar.”Beliau serta menjawab: “Seandainya saya mendengarnya sedang ditangan saya ada tongkat, pasti saya pukul. Ziad adalah seorang pendongeng.” Al-Allamah Asy-Syaukani rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid Al-Majmu’ah berkata. Hadits “Wahai Ali siapa yang melakukan shalat pada malam nishfu Sya’ban sebanyak seratus rakaat, pada setiap rakaat ia membaca Al-Faatihah dan Qu huwallahu ahad sebanyak sepuluh kali, pada Allah memenuhi segala hajatnya.dst.” Hadits ini adalah Maudhu. Lafadznya yang menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya tidak diragukan lagi kelemahannya bagi orang yang berakal. Sanadnya pun Majhul (tidak dikenal). Telah diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, tetapi semuanya Maudhu, dan para periwayatnya adalah orang-orang yang tidak dikenal.”

    Dalam Kitab Al-Mukhtashar, Asy-Syaukani menyatakan: “Hadits yang menerangkan Shalat nishfu Sya’ban adalah bathil. Sedangkan hadits: “Jika datang malam nishfu Sya’ban maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya” yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Ali adalah Dha’if.”

    Dalam Kitab Al-La’ali dinyatakan, hadits: “Seratus rakaat pada malam nishfu Sya’ban dengan ikhlash pahalanya sepuluh kali lipat”, yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami adalah Maudhu dan mayoritas periwayatnya pada ketiga jalan hadits ini adalah orang-orang yang majhul dan dha’if. Kata Imam Syaukani: “Hadits yang menerangkan, dua belas rakaat dengan ikhlash pahalanya tiga puluh kali lipat dan hadits empat belas rakaat dst, adalah Maudhu.”

    Diantara para Fuqaha (alhi fiqh) ada yang tertipu dengan hadits-hadits diatas, seperti pengarang Ihya ‘Ulumuddin dan lainnya, juga sebagian ahli tafsir.

    Al-Hafidz Al-Iraqi menyatakan: “Hadits yang menerangkan tentang shalat nishfu Sya’ban adalah Maudhu dan pendustaan atas diri Rasullullah sallallahu ‘alahi wa sallam.

    Dalam Kitab Al-Majmu’, Imam An-Nawawi menyatakan: “Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib yang berjumlah dua belas rakaat dan dikerjakan antara maghrib dan isya pada malam jumat pertama bulan Rajab, serta shalat malam nishfu sya’ban yang berjumlah seratus rakaat adalah bid’ah yang mungkar, tidak boleh seseorang terperdaya oleh karena kedua shalat itu disebut dalam Kitab Qutul Qulub dan Ihya Ulumuddin, atau karena berdasarkan hadits yang disebutkan pada kedua kitab tersebut, sebab semuanya adalah bathil. Tidak boleh seseorang terperdaya oleh ulah sebagian tokoh, yang belum jelas baginya hukum kedua shalat ini, lalu mengarang dalam beberapa lembar kertas untuk menganjurkannya. Ini adalah tindakan menipu.”

    Masih banyak ucapan para ulama dalam hal ini. Kalau kita mau menukil semua tentu akan panjang sekali. Semoga apa yang kami sebutkan diatas cukup memuaskan bagi pencari kebenaran.

    Dari beberapa ayat Al-Qur’an, hadits dan pernyataan para ulama diatas, jelaslah bagi pencari kebenaran bahwa peringatan malam nishfu Sya’ban dengan shalat atau amalan lainnya, serta pengkhususan siang harinya dengan puasa itu semua adalah bid’ah yang mungkar menurut jumhur ulama, tidak ada dasar sandarannya dalam syari’at Islam, bahkan merupakan perbuatan yang diada-adakan, cukuplah bagi pencari kebenaran dalam masalah ini, juga masalah lainnya firman Allah: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.” (Al-Maidah: 3)

    Andaikata malam nishfu Sya’ban dikhususkan dengan acara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam memberikan petunjuk pada umatnya, atau beliau sendiri yang mengerjakannya. Dan jika hal itu memang pernah terjadi, niscara telah disampaikan oleh para sahabat kepada kita, mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia yang paling tulus setelah para nabi. Maka jelaslah, memperingati malam nisfu Sya’ban adalah bid’ah.

    Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita dan kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada sunnah dan menetapinya, serta mewaspadai hal-hal yang bertentangan dengannya. Sungguh dia Maha Mulia dan Maha Pemberi. Wallahu a’lam.

    ***

    Sumber bacaan: At-Tahdzir minal bida’

    Diambil dari : http://www.anshorussunnah.cjb.net

    Risalah No: 28 / Thn IV / 1422H

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 8 May 2016 Permalink | Balas  

    Memerintahkan Istri dan Anak untuk Sholat 

    shalat gaibMemerintahkan Istri dan Anak untuk Sholat

    Abu Hurairah RA berkata, “Memenuhi telinga anak cucu Adam dengan cairan timah panas lebih baik daripada jika ia mendengar adzan, namun tidak menjawab panggilannya.”

    Rasulullah SAW bersabda tentang tafsir firman Allah SWT: Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu.  (QS Ali-Imran, 3:133)

    Ampunan yang dimaksud adalah takbiratul ihram yang diucapkan seiring dengan takbiratul ihram imam.

    Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah memberi kalian taufik dan hidayah, sesungguhnya kalian wajib memerintahkan isteri dan anak-anak kalian untuk menunaikan dan memelihara salat, karena anggota keluarga kalian adalah amanat yang dititipkan Allah kepada kalian.  Allah SWT berfirman:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan rasul-Nya, dan janganlah kalian mengkhianati pula amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian sedangkan kalian mengetahui.”  (QS Al-Anfal, 8:27)

    Rasulullah SAW bersabda: “Allah, Allah (hati-hati) terhadap wanita, karena sesungguhnya mereka adalah amanat (yang dipercayakan Allah) kepada kalian.”

    Barang siapa tidak memerintahkan dan mengajar isterinya mengerjakan salat, maka ia telah mengkhianati Allah dan rasulNya.  Ia berhak disiksa dan diberi balasan paling buruk.  Ia termasuk ke dalam kelompok orang celaka yang disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW tentang lima orang yang dimurkai Allah, dan mereka akan menghuni neraka.  Salah satu di antara orang yang dimurkai Allah adalah orang yang tidak memerintahkan isteri dan anak-anaknya untuk mengerjakan salat.

    Seorang yang tercerahkan (munawwar) bermimpi melihat Rasulullah SAW bersabda, “Isteri-isteri keluarga fulan telah diceraikan.”  Kemudian beliau SAW menyebutkan nama kaum wanita yang meninggalkan salat.

    Mimpi ini sesuai dengan madzhab Imam Ahmad yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan salat telah kufur, dan akad nikahnya batal.  Camkanlah sabda Rasulullah SAW dalam mimpi itu, karena Rasulullah SAW pernah bersabda:

    “Barangsiapa melihatku dalam mimpi maka ia telah benar- benar melihatku, karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku.” (HR Bukhari, Muslim, Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

    Kebaikan apa yang bisa diharapkan oleh wanita yang tidak beragama, atau suami yang tidak memerintahkan isteri, anak dan saudara-saudaranya untuk mengerjakan salat?!  Isteri yang tidak mengerjakan salat dilaknat, dan tidak mendapatkan rahmat. Jika isteri tidak patuh kepada suami, maka hendaknya sang suami meninggalkannya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah dan rasul-Nya.  Wali wanita itu hendaknya membantu suaminya, jika tidak, maka ia pun akan masuk neraka, mendapat murka Allah, dan siksa yang pedih.  Oleh karena itu, saudara-saudaraku rahimakumullah, saling tolong-menolonglah dalam berbuat taat kepada Allah sehingga kalian dapat berbahagia, sukses dan selamat dari siksa-Nya.  Jangan kalian menganggap enteng masalah ini!  Demi Allah, hanya orang yang tidak mendapat kebaikan agama dan pantas memperoleh siksa sajalah orang-orang yang meremehkan masalah ini.  Allah SWT berfirman:

    “Dan tetaplah atas mereka keputusan siksa atas umat-umat terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (QS Fushilat, 41:25)

    Saudara-saudaraku, rahimakumullah, ketahuilah bahwa, karena pahala salat sangat besar, dan siksa bagi orang yang meninggalkannya amat pedih, maka nafsu merasa berat untuk mengerjakannya.  Allah berfirman:

    “Dan jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.  Dan sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”  (QS Al-Baqarah, 2:45)

    Allah juga telah berfirman kepada Nabi-Nya SAW:

    “Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.   (QS Thaaha, 20:132)

    Dalam salat terdapat unsur taklif ubudiyah (paksaan ibadah) untuk memenuhi haq rububiyyah (hak-hak ketuhanan).  Setiap orang hendaknya mengerjakan salat sesuai kemampuannya.

    Tingkat kesabaran orang awam adalah terletak pada kesediaannya untuk bersuci dan melaksanakan salat pada waktunya.  Perbuatan ini menjanjikan pahala yang besar dan kebaikan yang amat banyak.

    Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai amal yang paling utama, beliau menjawab: “Salat pada waktunya.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban)

    Sedangkan tingkat kesabaran orang khusus (khawash) adalah terletak pada pelaksanaan sunah-sunah salat dan usaha untuk memelihara hati agar tidak lalai sewaktu salat.

    Saudara-saudaraku, rahimakumullah, kerjakanlah salat di mesjid; biasakanlah salat berjamaah!  Hakim dalam kitab Al-Mustadrak meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW menyebutkan tiga orang yang dilaknat Allah, satu diantaranya adalah orang yang diseru oleh muadzin: Mari kerjakan salat,  namun ia tidak menjawab.

    Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud RA berkata:

    “Orang yang ingin bertemu dengan Allah sebagai muslim kelak di hari kiamat, hendaknya ia memelihara salat lima waktu ketika diseru untuk menunaikannya.  Karena, sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada nabi-Nya jalan-jalan petunjuk dan salat adalah salah satunya.  Andaikata kalian mengerjakan salat di rumah, sebagaimana kebiasaan orang yang meninggalkan salat berjamaah, berarti kalian meninggalkan sunah nabi kalian, dan jika kalian meninggalkan sunah nabi kalian, kalian akan tersesat.  (Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud disebutkan:  Maka kamu pasti akan kufur)  Dahulu, di masa nabi, tidak ada yang meninggalkan salat berjamaah kecuali orang munafik yang telah dikenal kemunafikannya.  Adakalanya seorang lelaki pergi ke mesjid dengan di papah oleh dua orang agar dapat mengerjakan salat.”  (Diriwayatkan Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Nasai dan Darimi)

    ***

    Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 7 May 2016 Permalink | Balas  

    Memelihara Sholat 

    sholat-2Memelihara Sholat

    Diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Barang siapa memelihara salat, Allah akan memuliakannya dengan lima hal:

    1. Dihindarkan dari kesempitan hidup.
    2. Diselamatkan dari siksa kubur.
    3. Dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan.
    4. Dapat melewati jembatan (shirath) secepat kilat.
    5. Dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.

    Dan barang siapa meremehkan salat, Allah akan menyiksanya dengan 15 siksaan, yaitu 6 siksaan dalam kehidupan di dunia, 3 siksaan ketika meninggal, 3 siksaan di alam kubur, dan 3 siksaan saat bertemu Tuhannya di mahsyar.

    Adapun 6 siksaan yang ditimpakan di dunia adalah:

    1. Dicabut keberkahan umurnya.
    2. Dihapus tanda kesalehan dari wajahnya.
    3. Tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang dilakukannya.
    4. Tidak diangkat ke langit doanya.
    5. Tidak memperoleh bagian doa kaum sholihin.
    6. Tidak beriman ketika ruh dicabut dari tubuhnya.

    Adapun 3 siksaan yang ditimpakan saat meninggal dunia ialah:

    1. Mati secara hina.
    2. Mati dalam keadaan lapar.
    3. Mati dalam keadaan haus. Andaikata diberi minum sebanyak lautan di bumi, ia tak akan merasa puas.

    Adapun 3 siksaan yang dilaksanakan di dalam kubur ialah:

    1. Kubur menghimpit orang itu hingga tulang-tulangnya berantakan.
    2. Kuburnya dibakar. Sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelejatan menahan panas.
    3. Dalam kubur ia diserahkan kepada seekor ular yang bernama As-Syuja’ul ‘Aqra’. Kedua mata ular itu berujud api dan kukunya berupa besi. Panjang kukunya adalah sepanjang satu hari perjalanan. Ia akan mengenalkan diri kepada si mayit, “Aku adalah As-Syuja’ul Aqra’,” suaranya menggeledek, “Aku diperintahkan Allah SWT untuk menyiksamu, karena kau mengundurkan salat subuh hingga terbit matahari, mengundurkan salat Dhuhur hingga Ashar, mengundurkan salat Ashar hingga Maghrib, mengundurkan salat Maghrib hingga Isya’, serta mengundurkan salat Isya hingga Subuh.”

    Setiap kali ular itu memukul, tubuh si mayit melesak 70 hasta10 ke dalam bumi. Ia disiksa di dalam kuburnya hingga hari kiamat. Di hari kiamat nanti pada wajahnya tertulis tiga baris kalimat: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak Allah, wahai orang yang dikhususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputusasalah kamu dari rahmat-Nya.

    Tiga siksaan yang dilakukan ketika bertemu dengan Tuhannya adalah:

    1. Ketika langit terbelah, malaikat menemuinya dengan membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya, kemudian memasukkan ujung rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadangkala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Sang malaikat berkata, “Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abbas RA berkata andaikata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.
    2. Allah tidak memandangnya.
    3. Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh siksa yang amat pedih.

    Diriwayatkan bahwa di neraka jahanam ada sebuah lembah yang bernama Lamlam. Lembah itu dihuni oleh ular-ular yang tubuhnya segemuk leher onta dan sepanjang perjalanan sebulan. Ia akan menggigit orang yang tidak mengerjakan salat, dan bisanya akan mendidih selama 70 tahun untuk melumatkan daging orang itu.

    Dalam berbagai hadis sebelumnya telah dijelaskan bahwa orang yang meninggalkan salat menjadi kafir dan musyrik, tidak mendapat jaminan dari Allah dan rasul-Nya, terhapus amalnya, dan ia menjadi kehilangan agama dan iman. Banyak sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka yang berpendapat demikian, mereka berkata bahwa barang siapa dengan sengaja meninggalkan salat hingga keluar dari waktunya, maka ia telah kafir dan darahnya halal. Kelompok sahabat yang berpendapat demikian adalah Umar, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, Ahmad bin Hambal, Ishak bin Rahawaih, Abdullah bin Mubarak, An-Nakhai, Hakam bin Uyainah, Abu Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Dawud At-Thoyalisi, Abu Bakar bin Abu Syaibah, Zuhair bin Harb dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa siapa saja meninggalkan salat, maka ia telah kufur, dan halal darahnya. Ibn Nashr mengatakan bahwa sejak zaman Nabi SAW orang-orang yang berilmu berpendapat, bahwa orang yang meninggalkan salat tanpa udzur hingga keluar waktunya, maka ia telah kufur.”

    Wahai saudara-saudaraku, kurasa hadis-hadis yang berkaitan dengan orang yang meninggalkan salat di atas telah cukup bagimu. Sebenarnya dengan berpaling dari Tuhannya saja orang itu sudah cukup merugi. Sebab, Allah telah menciptakan dan membentuk manusia dalam sebaik-baik bentuk, kemudian menumbuhkan, memelihara, memberinya makan dan minum, menunjukkan jalan keselamatan, dan memperingatkan dari tipu daya musuh-musuhnya. Bagaimana seorang hamba yang lemah dan hina ini bermaksiat kepada Tuhannya yang Maha Pemurah, dan kemudian menaati setan terkutuk yang menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran?! Sungguh celaka orang yang mengikuti dan memenuhi panggilan setan, melanggar perintah Tuan dan Majikannya yang selalu mengajak kepada kebaikan, Maha Kuasa untuk memberinya manfaat dan mencelakakannya. Alangkah buruk perbuatannya! Alangkah besar bencana yang menimpanya! Alangkah tidak menyenangkan pagi dan sore harinya. Alangkah buruk lahir dan batinnya.

    Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, semoga Allah merahmatimu, jika muadzin menyerukan adzan, bersegeralah untuk menaati Allah Yang Maha Pengasih. Waspadalah, jangan sampai setan melalaikan dan membuatmu malas dan menunda-nunda salatmu, karena sesungguhnya perbuatan itu akan menjadikanmu hina dan merugi.

    ***

    Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 6 May 2016 Permalink | Balas  

    Macam-Macam Ikhtilaf (Perbedaan) 

    BEDAMacam-Macam Ikhtilaf (Perbedaan)

    Oleh: Salim bin Shalih Al-Marfadi

    Para ulama telah meneliti dalil-dalil tentang ikhtilaf, sehingga nampak jelas bahwa ikhtilaf itu ada dua macam, masing-masing terdiri dari beberapa jenis.

    1. IKHTILAF TERCELA

    Jenis-jenisnya adalah sebagai berikut :

    [a]. Ikhtilaf yang kedua belah pihak dicela, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ikhtilafnya orang-orang Nashara.

    “Artinya : Maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat” [Al-Maidah : 14]

    Firman Allah dalam menerangkan ikhtilaf nya orang-orang Yahudi

    “Artinya : Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya” [Al-Maidah : 64]

    Demikian juga ikhtilaf nya ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan ahlul bid’ah dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Allah berfirman.

    “Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka” [Al-An’am : 159]

    Juga termasuk kedalam ikhtilaf jenis ini adalah ikhtilaf antara dua kelompok kaum muslim dalam masalah ikhtilaf tanawwu’ (fariatif) dan masing-masing mengingkari kebenaran yang dimiliki oleh kelompok lain.

    [b]. Ikhtilaf yang salah satu pihak dicela dan satu lagi dipuji (karena benar).

    Ini disebut dengan ikhtilaf tadhadh (kontradiktif) yaitu salah satu dari dua pendapat adalah haq dan yang satu lagi adalah bathil. Allah telah berfirman

    “Artinya : Akan tetapi mereka berselisih, maka ada diantara mereka yang beriman dan ada (pula)diantara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan” [Al-Baqarah : 253]

    Ini (ayat di atas) adalah pembeda antara al-haq (kebenaran) dengan kekufuran. Adapun pembeda antara al-haq (kebenaran) dengan bid’ah adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits iftiraq.

    “Artinya : Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 firqah (kelompok), kaum Nashara menjadi 72 firqah, dan ummat ini akan terpecah menjadi 73 firqah, semuanya (masuk) didalam neraka kecuali satu. Ditanyakan : “Siapakah dia wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “orang yang berada diatas jalan seperti jalan saya saat ini beserta para sahabatku” dalam sebagian riwayat : “dia adalah jama’ah” [Lihat “Silsilah Ash-Shahihah 204 Susunan Syaikh Nashiruddin Al-Albani]

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa semua firqah ini akan binasa, kecuali yang berada diatas manhaj salaf ash-shaleh. Imam Syathibi berkata : “Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam [illa waahidah] telah menjelaskan dengan sendirinya bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang. Seandainya kebenaran itu bermacam-macam, Rasul tidak akan mengucapkan ; [illa waahidah] dan juga dikarenakan bahwa ikhtilaf itu di-nafi (ditiadakan) dari syari’ah secara mutlak, karena syari’ah itu adalah hakim antara dua orang yang berikhtilaf. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya)”. [An-Nisaa : 59]

    Jenis ikhtilaf inilah yang dicela oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    1. IKHTILAF YANG BOLEH

    Ini juga ada dua macam yaitu :

    [a]. Iktilafnya dua orang mujtahid dalam perkara yang diperbolehkan ijtihad di dalamnya.

    Sesungguhnya termasuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat ini. Dia menjadikan dien (agama) ummat ini ringan dan tidak sulit. Dia juga telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hanifiyah (agama lurus) yang lapang. Allah berfirman.

    “Artinya : Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” [Al-Hajj : 78]

    Diantara rahmat ini adalah tidak memberikan beban dosa kepada seorang mujtahid yang salah bahkan ia mendapatkan pahala karena kesungguhannya dalam mencari hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman.

    “Artinya : Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu salah padanya” [Al-Ahzab : 5]

    Dari Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Apabila ada seorang hakim mengadili maka ia berijtihad, lalu ia benar (dalam ijtihadnya) maka ia mendapatkan dua pahala, apabila ia mengadili maka ia berijtihad, lalu ia salah maka ia mendapatkan satu pahala” [Hadits Riwayat Imam Bikhari]

    Sebagai penjelas terhadap apa yang telah lewat, saya katakan :”Banyak para ulama yang membagi masalah-masalah agama ini menjadi Ushul Kulliyah (pokok-pokok yang mendasar serta bersifat meliputi) dan Furu’ Juz’iyah (cabang-cabang yang bersifat parsial), masalah-masalah. Ushul (pokok) dan masalah-masalah ijtihad 1 baik dalam masalah ilmiyah ataupun amaliyah. Pendapat inilah yang ditempuh oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dan Imam Syathibi Rahimahullah. Syaikhul Islam berkata : “Akan tetapi yang benar, bahwa masalah yang besar (pokok) dari dua katagori itu adalah masalah ushul, sedangkan rinciannya adalah masalah furu”.

    Di dalam fatwa Lajnah Daimah terdapat pernyataan mereka (para ulama) bahwa : “Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki Ushul yang kokoh berdasarkan dalil-dalilnya, yang di atas Ushul tersebut mereka membangun furu’. Mereka berpedoman kepada masalah-masalah Ushul dalam mencari dalil terhadap masalah-masalah Juz’iyah dan dalam menerapkan hukum bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain”.

    Dari sini tampak jelas bagi kita bahwa permasalahan-permasalahan yang diperbolehkan berijtihad di dalamnya adalah masalah yang bersifat rinci (detail) dari masalah ilmiyah ataupun masalah amaliyah. Adapun masalah ushul (pokok) maka tidak boleh berijtihad didalamnya.

    Diantara contoh permasalahan yang besar (pokok) dalam kaitannya dengan khabariyah (masalah iman dan khabar wahyu) adalah : mengesakan Allah dengan segala hak-Nya, adanya para malaikat, jin, hari kebangkitan kembali, azab kubur, shirath (jembatan yang membentang di atas Jahanam untuk di lalui manusia di hari kiamat setelah hisab), dan persoalan-persoalan nyata lainnya yang disebut sebagai USHUL (persoalan ini tidak boleh diperselisihkan -ed). Adapun FURU’ dalam kaitannya dengan masalah khabariyah (masalah iman dan khabar wahyu) ialah setiap rincian (detail dari masalah-masalah ushul di atas -ed). Misalnya :Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya (ketika Mi’raj), apakah orang mati di kuburnya mendengar pembicaraan orang yang masih hidup, apakah sampai pahala amal orang yang masih hidup (selain do’a) kepada mayit ? dan lain-lainnya.

    Syaikhul Islam berkata : “Oleh karenanya para imam sepakat untuk membid’ahkan orang yang (pendapatnya) menyelisihi masalah-masalah ushul seperti ini. Berbeda dengan orang yang (pendapatnya) menyelisihi masalah-masalah ijtihad, yang peringkatnya belum sampai tingkat ushul dalam kemutawatiran sunnah mengenainya, seperti perselisihan mereka berkaitan dengan hukum seorang saksi, sumpah, pembagian (harta warisan), dalam undian, dan perkara-perkara lain yang tidak sampai derajat ushul”. [Majmu’ Fatawa IV/425]

    Sekalipun demikian, persoalannya tidaklah mutlak begitu yaitu dapat berijtihad untuk membid’ahkan siapa saja yang dikehendaki dengan hujjah ijtihad yang diperbolehkan. Oleh karena itu ada beberapa ketentuan untuk ijitihad ini, yaitu :

    [1] Hendaknya dalam masalah yang di ijtihad-kan, tidak ada dalil yang qath’iyuts tsubut (qath’i adanya sebagai dalil) dan qath’iyud-dalalah (qath’i penunjukannya/dalalahnya), sebab tidak boleh berijtihad dalam menentang nash. Saya buatkan satu contoh mengenainya dengan firman Allah. :”Artinya : Tetapi jika ia tidak menemukan (binanatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna” [Al-Baqarah : 196]. Ayat ini adalah dalil yang qath’iyus-tsubut (qath’i adanya/tetapnya sebagai dalil) karena ia termasuk Al-Qur’an al-Karim. Dan juga qath’iyud dalalah (qath’i penunjukkannya/dalalahnya) tentang wajibnya puasa sepuluh hari bagi orang yang tidak mendapatkan hewan kurban (denda) padahal ia ber-tamattu’ (mendahulukan umrah daripada haji).

    [2] Hendaknya dalil tentang permasalahan itu mengandung beberapa kemungkinan. Contoh yang bekaitan dengan dalil zhanniyuts-tsubut (dalil yang masih bersifat zhann.dipertanyakan keadaannya sebagai dalil), ialah pendapat sebagian ulama Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa mustahab (sunnah) hukumnya mengerak-gerakkan jari ketika tasyahhud. Sementara sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa tambahan “menggerak-gerakkan (jari)” dalam hadits itu adalah syadz (bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat). Contoh yang berkaitan dengan dalil zhanniyud-dalalah (penunjukkannya sebagai dalil masih bersifat dugaan/dalalahnya tidak qath’i) ialah firman Allah. :”Artinya : Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru” [Al-Baqarah : 228]. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Al-Qar’u adalah suci, sementara yang lain berpendapat bahwa Al-Qar’u adalah haid. Kedua pendapat tersebut mempunyai kemungkinan benar-benar secara bahasa.

    [3] Hendaknya ijtihad yang dilakukan tidak dalam masalah yang telah ijma’ (disepakati) atau tidak dalam masalah yang telah baku sebagai manhaj ilmiyah Ahlu Sunnah.

    [4] Hendaknya hukum atas permasalahan itu bersumber dari seorang mujtahid yang telah memenuhi persyaratan ijtihad, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka tentang ushul fiqh.

    [5] Hendaknya kesimpulan hukum dibangun berdasarkan metode Ahlus Sunnah dalam cara pandang maupun cara mengambil dalil. Di antara metode itu adalah bahwa dalam pendapat yang di ijtihadkannya, memiliki pendahulu dari kalangan ulama umat ini yang telah dipersaksikan keilmuannya dalam masalah dien. Al-Hafidzh Ibnu Rajab dalam kitabnya “Fadhul Ilmi as-Salaf ‘ala al-Khalaf” berkata :”Adapun para imam dan Fuqaha’ Ahul Hadits, maka mereka akan mengikuti hadits shahih sebagaimana adanya apabila hadits itu diamalkan oleh para sahabat, orang-orang yang sesudah mereka atau sekelompok dari mereka, Adapun apa yang telah disepakati oleh mereka untuk ditinggalkan, maka ia tidak boleh diamalkan Umar bin Abdul Aziz berkata : Ambillah pendapat yang sesuai dengan (pendapat) orang-orang sebelum kalian (Salafus Shalih), sesungguhnya mereka lebih tahu dari pada kalian” [Lihat Tsalatsu Rasa’il, karya Al-Hafizh Ibnu Rajab, hal. 140, Tahqiq Muhammad Al-Ajami]

    Dari keterangan di atas, menjadi jelaslah macam ikhtilaf yang pertama dari ikhtilaf yang diperbolehkan.

    [b]. Ikhtilaf Tanawwu’

    Contohnya adalah ikhtilaf sahabat dalam masalah bacaan (Al-Qur’an) pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :”Saya mendengar seseorang membaca ayat yang saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya berbeda dengan orang itu, maka saya pegang tangannya lalu saya bahwa kehadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya laporkan hal itu kepada beliau, namun saya melihat tanda tidak suka pada wajah beliau, dan beliau bersabda.

    “Artinya : Kalian berdua bagus (bacaannya), jangan berselisih ! Sesungguhnya umat sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa”.

    Ulama yang paling baik menulis masalah ikhtilaf tanawwu ini dan menjelaskannya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yaitu ketika beliau berkata : “Ikhtilaf tanawwu’ ada beberapa macam, diantaranya adalah ikhtilaf yang masing-masing dari kedua perkataan (pendapat) atau perbuatan itu benar sesuai syari’at, seperti bacaan (Al-Qur’an) yang diperselisihkan itu dicegah oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Kalian berdua bagus/benar (bacaannya)”

    Misalnya lagi adalah ikhtilaf dalam macam-macam sifat adzan, iqamah, do’a iftitah, tasyahhud, shalat khauf, takbir ied, takbir jenazah dan lain-lain yang semuanya disyari’atkan, meskipun dikatakan bahwa sebagiannya lebih afdhal. Kemudian kita dapatkan banyak umat Islam yang terjerumus dalam ikhtilaf hingga menyebabkan terjadinya peperangan (pertengkaran) antar golongan diantara mereka. hanya karena masalah menggenapkan lafazh iqamah atau mengganjilkannya, atau masalah-masalah semisal lainnya. Ini adalah substansi keharaman itu sendiri. Sementara orang yang tidak sampai ketingkat ini (yaitu tingkat peperangan/pertengkaran), banyak diantaranya yang kedapatan fanatik terhadap salah satu cara (adzan, iqamahm dst) tersebut karena mengikuti hawa nafsu, dan berpaling dari cara lain, atau melarang cara lain yang sebenarnya masuk dalam salah satu cara. Hal yang tentu dilarang oleh Nabi.

    Diantara ikhtilaf tanawwu’ juga adalah ikhtilaf yang masing-masing dari dua pendapat mempunyai kesamaan makna namun redaksinya berbeda, sebagaiman banyak orang (Ulama) yang kadang berselisih dalam membahasakan ketentuan hukum-hukum had, shighah-shighah (bentuk-bentuk ) dalil, istilah tentang nama-nama sesuatu, pembagian-pembagian hukum dan lain-lain. Selanjutnya kebodohan atau kezhalimanlah yang akhirnya membawa pada sikap memuji terhadap salah satu dari dua pendapat tadi dan mencela yang lain.

    Diantaranya lagi adalah tentang sesuatu yang memiliki dua makna yang berbeda namun tidak saling berlawanan. Yang ini adalah perkataan benar, dan yang itu juga merupakan perkataan benar, sekalipun maknanya saling berbeda. Ini banyak sekali terjadi dalam perselisihan pendapat.

    Di antaranya lagi adalah ikhtilaf mengenai dua cara yang sama-sama disyari’atkan. Seseorang atau satu kelompok menempuh jalan ini, sedangkan yang lain menempuh jalan lain. Kedua-duanya baik dalam agama. Tetapi kebodohan atau kezalimanlah yang kemudian menggiring pada sikap mencela terhadap salah satu dari kedua jalan tersebut atau lebih mengutamakannya, tanpa dasar niat yang benar, atau tanpa dasar ilmu, atau tanpa dasar niat yang ikhlas dan tanpa dasar ilmu sekaligus” [Iqtidha’ Ash-Shiratth Al-Mustaqim, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah I/132-134]

    Jika pertengkaran di antara sebagian kaum muslimin terjadi dalam ikhtilaf macam ini maka jadilah ikhtilaf itu tercela, sebagaimana yang telah jelas pada penjelasan yang telah lewat dan pada hadits Abdullah bin Mas’ud seputar ikhtilaf dalam qira’ah (bacaan Al-Qur’an). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Kalian berdua benar, jangan berselisih ! Sesungguhnya umat sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa”

    Syaikhul Islam berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ikhtilaf (perselisihan pendapat) yang masing-masing dari kedua belah pihak mengingkari/menolak kebenaran yang ada pada pihak lain, karena kedua orang sahabat yang berbeda bacaannya itu sama-sama benar dalam bacaannya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sebab (larangan) tersebut yaitu bahwa lantaran umat sebelum kita berselisih, maka kemudian mereka menjadi binasa karenanya.

    Oleh sebab itu ketika Hudzaifah melihat penduduk Syam dan Iraq berselisih mengenai bacaan huruf Al-Qur’an dengan perselisihan yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata kepada Utsman (bin Affan, Amirul Mukminin -ed) : “Perbaikilah umat ini, janganlah mereka berselisih dalam bacaan Al-Qur’an, sebagaimana umat sebelum mereka berselisih”.

    Jadi keterangan ini memberikan dua faedah :

    [1] Haramnya berselisih dalam masalah seperti ini.

    [2] Mengambil pelajaran dari umat sebelumnya dan berhat-hati jangan sampai menyerupai mereka.

    [Disalin dari Majalah Al-Ashalah tgl. 15 Dzul Hijjah 1416H, edisi 17/Th.III hal 78-89, karya Salim bin Shalih Al-Marfadi, dan dimuat Majalah As-Sunnah edisi 06/Tahun V/1422H/2001M hal. 25-29 penerjemah Ahmad Nusadi. Tulisan ini merupakan Bagian Kedua dari Tiga Tulisan.]

    ***

    Sumber : http://almanhaj.or.id/

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 5 May 2016 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Sholat 

    sholat1Meninggalkan Sholat

    Diriwayatkan bahwa di neraka jahanam ada suatu lembah yang bernama Wail.  Andaikan semua gunung yang ada di dunia dijatuhkan ke dalamnya, maka gunung-gunung itu akan meleleh karena panasnya yang sangat dahsyat.  Wail tersebut adalah tempat bagi orang-orang yang meremehkan dan suka mengakhirkan salat (hingga keluar dari waktunya).  Kecuali jika mereka bertaubat kepada Allah SWT, dan menyesali apa yang telah mereka lakukan.

    Diriwayatkan pula, bahwa seorang wanita Israil datang menemui Nabi Musa AS.

    “Wahai utusan Allah, Aku telah berbuat dosa, namun aku telah bertobat kepada Allah SWT.  Doakanlah agar Allah mengampuni dan menerima tobatku!” pinta wanita itu

    “Apakah sebenarnya dosamu itu?” tanya Nabi

    Musa AS.

    “Wahai nabiyullah, aku telah berzina, dan anak hasil perzinaan itu kubunuh.”

    “Enyahlah kau, wahai orang durhaka, jangan sampai api turun dari langit membakar kami karena perbuatan burukmu.”

    Wanita itu lalu keluar meninggalkan Nabi Musa dengan hati hancur.

    Malaikat Jibril AS lalu turun dan berkata, “Wahai Musa, tahukah kamu orang yang lebih buruk darinya?”

    “Orang yang meninggalkan salat,” jawab Musa AS.

    Seorang salaf menguburkan saudara perempuannya yang wafat.  Tanpa sepengetahuannya, kantong uangnya yang berisi beberapa dirham terjatuh ke liang kubur. Setibanya di rumah, ia baru menyadari bahwa kantong uangnya telah hilang.  Ia pun lalu kembali kekuburan. Saat itu para pelayat telah pulang. Ia mulai menggali kuburan yang masih baru itu. Belum berapa dalam galian itu, tiba-tiba menyemburlah kobaran api dari dalam kubur. Ia segera menutup kembali kuburan itu dengan tanah.  Dengan perasaan sedih, ia pulang ke rumah menemui ibunya.

    “Ibu, ceritakanlah apa yang dilakukan saudariku semasa hidupnya?”

    “Mengapa kau tanyakan hal ini?” tanya sang ibu penasaran.

    “Dari dalam kuburnya keluar kobaran api, Bu!”

    Mendengar ini, sang ibu menangis.

    “Anakku, dulu saudarimu sering melalaikan dan mengakhirkan salat hingga keluar dari waktunya,” jelas ibunya.

    Al-’Amiri, dalam kitabnya, Bahjah, setelah menyebutkan tata cara salat khauf, ia menulis, “Salat khauf ini merupakan dalil paling kuat yang menjelaskan bahwa tidak ada keringanan untuk meninggalkan atau merubah waktu salat dari yang telah ditentukan.  Sebab, jika boleh, tentu para mujahid yang memerangi musuh-musuh Islam bersama Rasulullah SAW lebih berhak melakukannya. Karena alasan inilah maka salat berbeda dengan semua ibadah yang lain. Kewajiban ibadah lain gugur jika ada udzur5.  Ibadah lain juga memiliki keringanan, bahkan kadang kala ada penggantinya6 (niyaabaat). Orang yang meninggalkan kewajiban-kewajiban lain tidak wajib dibunuh, tetapi orang yang meninggalkan salat karena malas, ia dapat dikenai hukum had, dibunuh, dan darahnya halal7. Kewajiban salat ini bergantung pada kekuatan akal, bukan pada kekuatan fisik. Dalilnya: Orang yang tidak mampu mengerjakan salat dengan berdiri, ia boleh mengerjakannya dengan duduk, jika tidak mampu duduk, ia boleh melakukannya dengan berbaring pada sisi kanan tubuh, jika tidak mampu, maka boleh dilakukan dengan telentang dan isyarat mata.  Karena semua inilah maka salat disamakan dengan iman yang tidak bisa hilang begitu saja.

    Rasulullah SAW bersabda: “Batas seorang hamba dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.”  (HR Muslim)

    “Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat, barang siapa meninggalkan salat maka ia telah kufur.”  (HR Turmudzi, dan menurutnya sahih)

    Andaikan ada seorang yang telah berihram; ia datang dari daerah yang sangat jauh; telah berusaha keras untuk mencapai Arofah sebelum terbitnya fajar malam Nahr; dan saat itu ia belum menunaikan salat Isya; sedangkan, apabila waktu yang tersisa digunakan untuk mengerjakan salat Isya, ia akan kehilangan hajinya, maka menurut para ulama, orang ini tidak boleh meninggalkan salat, dan tidak boleh pula mengerjakannya seperti salat khauf. Demikianlah menurut pendapat yang paling benar. Sebab, salat lebih utama daripada haji, dan waktu haji cukup luas, yakni sepanjang umur manusia.”

    Masyarakat sangat mencela orang yang tanpa udzur membatalkan puasa di bulan Ramadhan, namun mereka tidak mencela orang yang meninggalkan salat, padahal ancaman hukumannya lebih berat.  Mereka mencela orang yang meninggalkan salat Jumat, namun tidak mencela orang yang meninggalkan salat berjamaah, padahal kedua persoalan itu mempunyai kedudukan yang sama. Sepantasnya orang yang meninggalkan salat dijauhkan dari mesjid-mesjid kaum muslimin, dan diasingkan dari pertemuan-pertemuan mereka yang mulia, serta muwakalah8 dan munakahahnya9 dianggap hina.  Disamping itu, ia juga harus dinasihati dan diberi penjelasan bahwa perbuatannya itu amat buruk dan darahnya dapat menjadi mubah. Diharapkan dengan cara ini, ia menjadi sadar, dan kembali mengerjakan salat. Sesungguhnya dari Allahlah datangnya taufik.

    ***

    Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 4 May 2016 Permalink | Balas  

    Puasa Dan Hakekatnya 

    puasa 3Puasa Dan Hakekatnya

    Kewajiban berpuasa: Puasa telah diwajibkan bagi umat Islam, bahkan menjadi salah satu rukun Islam

    Firman Allah Swt antara lain (yang artinya): “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu untuk melakukan shiyam (puasa), sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. (QS.Al Baqarah ayat 183)

    “(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, (memberi makan lebih satu orang miskin) maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS.Al Baqarah ayat 184).

    (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS.Al Baqarah ayat 185).

    Rasulullah Saw.bersabda, ‘Allah Swt.berfirman: “Setiap kebaikan pahalanya akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.”

    Nabi Saw.bersabda (yang artinya) : “Setiap sesuatu itu mempunyai pintu dan pintu ibadah adalah puasa.”

    Keistimewaan-keistimewaan ibadah puasa ini dikarenakan oleh dua hal.

    Pertama, puasa dikembalikan pada sikap menahan diri, yaitu amal rahasia yang tidak diketahui oleh seorangpun selain Allah Ta’ala, tidak seperti salat, zakat dan lain-lain.

    Kedua, puasa adalah penaklukan musuh Allah Swt, karena setan adalah musuh. Musuh tidak akan menjadi kuat, kecuali dengan perantaraan keinginan nafsu syahwat, sementara rasa lapar dapat mematahkan semua keinginan nafsu yang dijadikan sarana bagi setan. Oleh karena itu Nabi Saw. bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya setan merasuki tubuh manusia dengan mengikuti jalan darah, maka sempitkanlah jalan setan dengan rasa laparatau berpuasa.”

    Itulah rahasia sabda Nabi Saw. (yang artinya) : “Apabila bulan Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu. Seorang penyeru (malaikat) berseru, “Hai siapa yang menginginkan kebaikan, kemarilah. Hai siapa yang menginginkan keburukan berhentilah.”

    Ketahuilah saudaraku, ditinjau dari ukurannya puasa terbagi menjadi tiga tingkatan. Demikian juga ditinjau dari segi rahasia-rahasia yang dikandungnya terbagi menjadi tiga tingkatan. Ukuran minimal puasa adalah bulan Ramadhan, karena itu suatu kewajiban mutlak bagi orang yang beragama islam, sedang ukuran maksimal puasa adalah puasa Nabi Dawud a.s. yaitu berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari, sepanjang tahun.

    Dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa puasa Dawud tersebut lebih baik daripada puasa Dahr (sepanjang tahun) dan merupakan puasa terbaik. Higmahnya yang terkandung disana adalah bahwa seseorang berpuasa sepanjang tahun (Dahr), maka puasa akan menjadi kebiasaan baginya. Dengan demikian ia tidak akan merasakan pengaruh puasa didalam dirinya, berupa kandungan jiwanya, kejernihan hatinya dan kelemahan syahwatnya. Karena nafsu hanya dapat dipengaruhi oleh sesuatu yang datang kepadanya, bukan sesuatu yang terbiasa dialaminya.

    Adapun puasa tingkat menengah adalah bila Anda berpuasa selama sepertiga tahun. Yaitu bila Anda berpuasa setiap hari Senin dan Kamis ditambah dengan puasa Ramadhan, berarti Anda telah berpuasa empat bulan empat hari, yaitu tambahan dari sepertiga. Akan tetapi harus terputus sehari (hari Senin atau hari Kamis) dari hari-hari tasyriq dan dua hari raya, itu berarti hanya perlu menambah tiga hari sebagai gantinya. Seyogyanya puasa Anda tidak kurang dari kadar ini, karena puasa ini terasa ringan pada jiwa, tetapi pahalanya banyak.

    Adapun tingkatan-tingkatan puasa dari segi rahasianya terbagi menjadi tiga derajat.

    Pertama, yang terendah adalah hanya terbatas pada tindakan diri dari perbuatan yang membatalkan puasa, tetapi tidak menahan anggota tubuhnya dari perbuatan tercela. Misalanya ghibah (ghosip), zina mata, zina tangan, telinga berbuat maksiat dsb. Ini adalah puasa umum (puasa orang awam) yang hanya berhenti dan puas dengan namanya saja. Apa yang didapat hanyalah rasa lapar, haus dan tidah berhubungan badan saja.

    Kedua, Anda menambahkan pada puasa itu pencegahan anggota tubuh dari perbuatan terlarang. Anda menghindarkan lisan dari ngobrol, ghibah (menggunjing), mata dari pandangan terlarang melihat artis-aartis yang telanjang di TV, telinga dari mendengarkan kata-kata yang tidak sopan, otak dari perbuatan menghayal, menghindarkan hati dari sifat iri, dengki, hasat, hasut, dendam, perut yang masih mau makan makanan haram, riba, subhat, tangan dari perbuatan usil, kaki dari mengantar ketempat maksiat walaupun tidak ikut melakukannya dan begitu pula anggota-anggota tubuh lainnya.

    Ketiga, Anda menambahkan pada puasa itu penghindaran hati dari pikiran (pada urusan duniawi (tinggalkan urusan duniawi), ingatlah akan kemana roh kita setelah kita meninggal dunia, roh kita akan hidup di alam kubur beribu-ribu tahun, bahkan jutaan tahun, belum di akhirat nanti yang kekal selamanya nah apa bekal kita untuk menghadap raja diraja penguasa jagat alam raya ini yaitu Allah Azza Wa Jalla, dan rasa was-was serta membatasinya hanya pada mengingat Allah Azza Wa Jalla. Ini adalah puasa paling khusus dan paling sempurna.

    Dan kunci final yang dapat menyempurnakan adalah berbuka dengan makanan halal, bukan makanan syubhat (yang diragukan kehalalannya), bukan hasil dari meminta-minta, bukan hasil pemberian orang yang hasil dari korupsi, hasil dari maling uang rakyat, dan makanlah (berbuka hanya sekedar makan untuk menjadikan badan kuat untuk beribadah selanjutnya (sholat tarwih, salat malam lainya, tahajut, shalart witir dsb tidak berlebihan menyantap makanan halal dengan tujuan menambal makan yang ditinggalkannya di siang hari, sehingga menggabungkan dua porsi makan sekaligus. Sebab hal ini akan menimbukan lambung penuh serta menguatnya syahwat. Ini di samping menghilangkan higmah dan faedah puasa juga menyebabkan rasa malas melakukan shalat tahajut. Bahkan bisa jadi tidak mampu bangun sebelum subuh. Semua itu merupakan kerugian dan mungkin tidak bisa ditutup oleh faedah puasa.

    PUASA SUNAH: Puasa 6 hari berturut-turut di bulan Syawal setelah puasa Ramandhon disambung puasa Syawal 6 hari, hari raya Idul Fitri dilarang puasa, jadi berselang satu hari saja. Manfaatnya dianggap puasa sepanjang masa. (HR.Muslim Buku II No. 1134).

    Artinya puasa 30 hari dibulan puasa, nilainya sama dengan 300 hari, karena setiap kali puasa 10 kali lipat nilainya, kalau ditambah 6 hari puasa dibulan syawal = 6 x 10= 60 hari, jadi sama berpuasa 360 hari dalam setahun, kalau tiap-tiap tahun berpuasa di bulan Ramandhon 30 hari dan dibulan syawal 6 hari, berarti puasa sepanjang masa.

    Puasa tiap-tiap bulan tiga hari, paling baik pada tgl 14, 15 & 16 pada bulan Qomariah, atau pada hari apa saja yang penting tiap-tiap bulan ada tiga hari puasa. Satu hari berpuasa nilainya sama dengan 10 hari, jadi kalau tiap-tiap bulan berpuasa 3 hari nilainya sama dengan berpuasa 30 hari, kalau tiap-tiap bulan berpuasa 3 hari, maka dianggap berpuasa sepanjang masa. (HR.Muslim & HR.Bukhari)

    Puasa pada tanggal 10 Asyura ( Muharam), pada tangggal tersebut ditenggelamkannya raja Fir’aun, atau hari raya orang-orang yahudi, Nabi Musa bersyukur atas ditenggelamkannya raja Fir’aun. Dan dimenangkannya orang yahudi, Nabi Muhammad SAW menghormati Nabi Musa AS. (HR.Muslim Buku II No. 1103)

    Puasa pada tanggal 8 & 9 Zulhijah atau hari Arafah. Manfaatnya dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang dihapus atau diampuni. (HR.Muslim Buku II No. 1131)

    Puasa pada bulan Sya’ban, hari dan tanggal terserah, puasalah sebanyak-banyaknya. (HR.Muslim Buku II No. 1125)

    Puasa Nabi Daud, satu hari puasa satu hari tidak puasa, terus menerus. (HR.Muslim Buku II No. 1128)

    Faedah (manfaat) puasa: Satu hari berpuasa, dijauhkan dari neraka 70,000 musim lamanya) HR.Muslim No. 1120.

    Bagi orang yang berpuasa dibukakkan pintu surga tersendiri oleh Allah Swt, karena puasa itu amalan yang langsung untuk Allah Swt.

    Dengan berpuasa mendidik kita untuk berdisiplin waktu, disiplin bekerja, jujur tidak berbohong, tidak korupsi (ghulul), tidak mencuri hak orang lain, mendidik mental kita untuk menjalankan, menunaikan segala perintah yang diwajibkan oleh agama maupun pemerintah dan menjauhkan segala perbuatan yang dilarang oleh agama maupun oleh pemerintah.

    Hasilnya kita akan selamat didunia sampai diakhirat dan anak cucu kita akan menemui kebahagia-an, karena kita sendiri secara langsung mendidik anak untuk berpuasa yang benar, yang sangat besar manfaatnya didunia maupun di akhirat nanti.

    Dengan ibadah berpuasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat takwa yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt. Insya Allah.

    Hakekat puasa: Puasa tidak hanya menahan lapar, haus dan kemaluan dari memenuhi syahwat, namun puasa harus bisa menjaga otak kita dari menghayal, (lisan kita dari berkata kotor, ghibah), pendengaran kita dari suara kotor, (mata kita dari pandangan yang haram, tv, film, sinetron), tangan kita dari colak-colek yang diharamkan, (hati kita dari sifat iri-dengki, hasat-hasut, sombong, membanggakan diri, ria), (kaki kita dari berjalan menuju tempat ghibah, maksiat dsb), serta anggota tubuh lainnya dari dosa-dosa kecil, seperti tersebut diatas pada nomor dua.. Lebih baik tidur daripada ngobrol yang tidak karuan, Perbanyaklah membaca : Al Qur’an, dzikrullah, baca buku-buku agama.

    Ada beberapa perkara yang merusak hakekat puasa antara lain: dusta, ghibah (menggunjing orang), namimah (mengadu domba), sumpah dusta (palsu), pandangan dengan syahwat, irihati, dengki, dendam, melihat gambar-gambar porno, melihat artis telanjang di tv dsb.

    Hari-hari yang tidak boleh berpuasa: Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, hari-hari Tasyrik (11, 12 & 13 Zulhijah) dan hari Jum’at kecuali hari Jum’at bulan Ramandhan. (HR.Muslim).

    Saudaraku, bila kita tidak berusaha untuk berpuasa dihari ini, entah dengan bekal apa nanti bila kita menghadap Sang Pencipta, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah Swt. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti, di hari pengadilan Tuhan nanti!! Allahu a’lam bishshawab.

    Semoga tulisan ini dapat menambah keimanan kita, ketakwaan kita, agar dapat menambah amal saleh kita, agar bisa menancap dihati kita yang paling dalam , semoga sampai diakhir hayat kita, sehingga kita mati dalam keadaan Khusnul Khotimah, dengan membawa amal saleh yang banyak, insya Allah. Bila ini benar tentunya datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bila ada yang salah ini datangnya dari saya sendi, semoga Allah SWT mengampuni saya. Allahu a’lam bish shawab. Alhamdulillaahirrabbil’alamiin. Sukarman.

    Barang siapa yang mau beramal shaleh, tolong tulisan ini diforward ke kawan atau sanak saudara kita.

    ***

    Sumber: Terjemah Al Qur’an, Hadits Shahih Imam Muslim dan Bukhori.

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 3 May 2016 Permalink | Balas  

    Taqwa, Kafir, Munafiq 

    khusyuk_500Taqwa, Kafir, Munafiq

    Assalamu’alaykum Wr. Wb.

    Segala puji hanyalah bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW.

    Dalam surat Al-Baqarah ayat 2-16 Allah SWT menggolongkan manusia, dalam 3 golongan:

    1. Orang bertaqwa (QS. 2:2)

    Ciri-ciri dari orang yang bertaqwa diantaranya:

    • menjadikan Al-Quraan sebagai petunjuk (QS. 2: 2), (QS: 2:5)
    • beriman kepada yang gaib (QS. 2:3)
    • mendirikan shalat (QS. 2:3)
    • menginfaqkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah SWT kepada mereka (QS. 2:3)
    • beriman kepada kitab-kitab Allah SWT (QS. 2:4)
    • meyakini adanya hari pembalasan/akhirat (Qs. 2:4)

    Konsekwensi dari ketaqwaan: menjadi orang yang beruntung. (QS.2:5)

    1. Orang kafir (Qs. 2:6)

    Ciri-ciri orang-orang kafir, diantaranya:

    • tidak mau menerima peringatan (QS. 2: 6)

    Konsekwensi dari kekafiran:

    • jalan untuk memproleh petunjuk telah ditutup oleh Allah SWT. (QS. 2:7)
    • siksa yang amat berat dari Allah SWT (Qs. 2:7)
    1. Orang Munafiq (QS. 2:8)

    Ciri-ciri orang-orang munafiq, diantaranya:

    • iman hanya sampai di lisan saja. (QS. 2:8)
    • banyak retorika dengan tujuan ingin mengelabui Allah SWT dan orang-orang beriman (QS. 2:9) padahal yang di tipu adalah diri sendiri tapi tidak menyadarinya
    • pendusta (Qs. 2:10)
    • jika dikatakan jangan berbuat kerusakan mereka mengatakan sedang mengadakan perbaikan. (QS. 2:11) dalam kondisi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang melakukan kerusakan (QS. 2:12)
    • jika mendapat seruaan untuk beriman malah mengolok-olok dengan mengatakan bodoh (QS. 2:13)
    • jika bertemu orang beriman mereka mengatakan “beriman” tapi ketika kembali kepada kelompoknya mereka  mengatakan cuma main-main saja. (Qs. 2;14)
    • orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk (QS. 2:16)

    Konsekwensi dari kemunafiqan:

    • ditambah penyakit dalam hatinya oleh Allah SWT (QS. 2:10)
    • Allah SWT akan membiarkan mereka dalam “kebingungan”nya (QS. 2:15)
    • Siksa yang pedih (QS. 2:10)

    Wallahua’lam

    Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

    ***

    Munanggar Fahmi

     
  • erva kurniawan 2:37 am on 2 May 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Sya’ban 

    Sya'banFadhilat Sya’ban

    (1 Sya’ban 1437 H jatuh pada Minggu 8 Mei 2016 M)

    1. Telah memberitahu kepada kami Abdullah bin Yusuf Telah memberitahu kami Malik daripada Abi An-Nadhri daripada Abi Salamah daripada Sayyidatina ‘Aishah telah berkata : Rasulullah S.A.W berpuasa sehingga kita mengatakan dia tidak berbuka dan baginda S.A.W berbuka sehingga kami berkata dia tidak berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat Rassulullah S.A.W menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat baginda S.A.W banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban.

    (Diriwayatkan oleh imam Bukhari di dalam sohihnya dan imam Muslim di dalam sohihnya)

    1. Telah memberitahu kami Muaz bin Fudhalah telah memberitahu kami Hisham daripada Yahya daripada Abi Salamah sesungguhnya sayyidatina ‘Aishah telah memberitahunya dengan berkata : Nabi S.A.W tidak banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban, dan baginda S.A.W telah berpuasa sebulan penuh pada bulan Sya’ban. Dan adalah baginda S.A.W bersabda : Lakukanlah amalan yang mana kamu mampu membuatnya maka sesungguhnya Allah tidak membebankan (mewajibkan) kamu sehingga kamu merasa berat dengan beban. Dan apa yang disukai oleh Rasulullah S.A.W adalah sembahyang(sunat) yang senantiasa dikerjakan sekalipun sedikit. Dan adalah baginda S.A.W apabila mendirikan sembahyang maka baginda S.A.W senantiasa berterusan di dalam berbuat demikian.

    (Diriwayatkan oleh imam Bukhari di dalam sohihnya dan imam Muslim di dalam sohihnya)

    1. Telah memberitahu kami Sufian bin ‘Uyainah daripada Ibn Abi Labid daripada Abi Salamah telah berkata : Aku telah bertanya Sayyidatina ‘Aishah tentang puasa Rasulullah S.A.W maka dia menjawab : Adalah baginda S.A.W berpuasa sehingga kami berkata : Sesungguhnya baginda S.A.W telah berpuasa dan baginda s.A.W berbuka sehingga kami mengatakan : Telah baginda S.A.W berbuka. Aku tidak pernah melihat baginda S.A.W berpuasa dari sebulan sahaja lebih banyak daripada puasa baginda S.A.W pada bulan Sya’ban. Kadang-kadang baginda S.A.W berpuasa Sya’ban sebulan penuh dan kadang-kadang baginda S.A.W berpuasa sedikit daripadanya.

    (Diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam sohihnya)

    1. Telah memberitahuku Muawiyah bin Soleh daripada Abdullah bin Abi Qais sesungguhnya dia telah mendengar Sayyidatina ‘Aishah berkata : Bulan yang disukai oleh Rasulullah S.A.W yang mana baginda S.A.W berpuasa padanya adalah bulan Sya’ban kemudian disambung puasa pada bulan Ramadhan.

    ( Hadis ini sanadnya Hasan dan diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasaei, Ibn Khuzaimah, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi)

    1. Telah memberitahuku Al-Maqburi daripada Abu Hurairah daripada Usamah bin Zaid telah berkata: Aku telah berkata : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kau telah melihat engkau berpuasa pada bulan yang mana aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan yang mana engkau puasa padanya. Bertanya Rasulullah S.A.W : Bulan apa? Aku berkata: Sya’ban bulan diantara Rejab dan Ramadhan yang mana melupakan manusia mengenainya(diangkat kepadaNya) segala amalan semua hamba maka aku lebih suka amalanku tidak diangkat melainkan bersamanya aku berpuasa. Maka aku berkata lagi: Aku melihat engkau berpuasa pada hari Isnin dan Khamis dan tidak mengabaikan kedua-dua hari itu.Sabda baginda S.A.W : Sesungguhnya segala amalan semua hamba akan diangkat pada kedua-dua hari itu maka aku lebih suka tidak diangkat amalanku melainkan bersamanya aku berpuasa.

    (Hadis ini sanadnya Hasan dan telah dikeluarkan oleh An-Nasaei, Imam Ahmad dan imam Al-Baihaqi)

    ================

    Hide message history

    maraji :

    1. Fathul Bari syarah sohih Bukhari oleh Ibnu Hajar jilid 4 cetakan Maktabah Al-Risalah Al-Hadisah
    2. Syarah Sohih Muslim oleh imam An-Nawawi jilid 15/16 cetakan Darul Makrifah
    3. Kitab Fadahailul Auqat oleh Abi Bakar bin Al-Husin Al-Baihaqi di kaji oleh Adnan Abdul Rahman Majid Al-Qaisi cetakan Maktabah Al-Manarah Makah Mukarramah.
     
  • erva kurniawan 1:28 am on 1 May 2016 Permalink | Balas  

    Keistimewaan Bulan Sya’ban 

    Sya'banKeistimewaan Bulan Sya’ban

    Ada beberapa keistimewaan bulan Sya’ban di dalam Islam, antara lain :

    1. Bulan di mana amalan diangkat kepada Allah swt.
    2. Dikeluarkan oleh Bukhary dan Muslim : Daripada Aisyah sesungguhnya beliau telah berkata : “Tidak pernah Rasulullah saw berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban (selain dari Ramadhan) kerana sesungguhnya Baginda berpuasa penuh sebulan” seperti sabda Baginda “Lakukan amalan apa yang mampu oleh kamu karena sesungguhnya Allah tidak pernah jemu sehingga kamu sendiri merasa jemu”
    3. Usamah bin Zaid berkata: “Aku telah bertanya kepada Rasulullah saw :Ya Rasulullah, aku tidak pernah menyaksikan seumpama puasamu di bulan Sya’ban di dalam bulan-bulan lain. Rasulullah telah bersabda: “Itulah bulan di mana manusia lalai mengenainya iaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di mana segala amalan diangkat kepada Tuhan pemilik sekalian alam. Maka aku amat suka sekiranya amalanku diangkat sedang aku berpuasa.”
    4. Pertengahan Sya’ban: keampunan dan keredhaan.
    5. Dari Aishah , sabda Rasulullah :”Ya, Aishah sesungguhnya ialah bulan di mana malaikat maut menghapuskan nama orang yang akan diambil rohnya di sepanjang tahun itu maka aku amat suka sekiranya beliau tidak mengambil rohku melainkan dalam bulan Sya’ban.”.

    Ini adalah karena di dalam bulan Sya’ban tersebut akan dilakukan pemansuhan nama-nama orang yang akan diambil namanya di sepanjang tahun tersebut. Maka orang2 yang diambil rohnya di sepanjang tahun itu dihapuskan namanya dan dipindahkan dalam barisan orang2 yang akan mati pada tahun tersebut.

    1. Daripada Anas , Nabi saw bersabda : “Puasa Sya’ban sebagai menghormati (memperbesarkan kedatangan) bulan Ramadan.”
    2. Aishah telah berkata: “Bulan yang paling disukai oleh Rasulullah saw ialah bulan Sya’ban kemudian diteruskan dengan Ramadhan”.
    3. Abdullah r.a. berkata, Rasulullah telah bersabda :”barangsiapa yang berpuasa pada hari senin terakhir di dalam bulan Sya’ban akan diampunkan dosanya”.
    4. Kelebihan malam pertengahan Sya’ban (lailatul bara’ah): keampunan Allah- qiamullail dan puasa di siang hari. Daripada Ali bin Abi Talib, Rasullah bersabda :” sesungguhnya Allah turun pada pertengahan Sya’ban ke langit dunia maka dia mengampuni setiap muslim melainkan orang mushrik, orang yang memutuskan silaturrahim yang berbuat fitnah dan wanita yang tidak menjaga kemaluannya”.
    5. Umar bin Abd Aziz telah menulis:”hendaklah kamu memerhatikan empat malam di dalam satu tahun kerana sesungguhnya Allah swt telah membuka rahmatnya dengan seluas2nya yaitu malam pertama Rejab, malam pertengahan Sya’ban, malam Aidilfitri dan malam Aidil adha”.
    6. Sabda nabi saw: Sesungguhnya doa di malam ini tidak ditolak sama sekali.
    7. Ulama menganjurkan agar dibacakan Surah Yassin 3 kali. Bacaan pertama diniatkan untuk memohon panjang umur, bacaan kedua untuk memohon mengangkat bala dan ketiga agar merasa cukup – tidak meminta2 dari makhluk, dan doa dibacakan selepas setiap bacaan Surah Yassin
    8. Istighfar dan taubat:

    Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: “Syaa’ban adalah bulanku, Rejab adalah bulan Allah dan Ramadhan bulan umatku dan Sha’ban adalah bulan ditukarnya kejahatan dengan kebaikan dan Ramadan adalah pembersih segala dosa”.

    1. Dari Anas bin Malik: Nabi saw bersabda: kelebihan Rejab di atas bulan2 lain adalah umpama kelebihan Al-Quran keatas lain2 perkataan, kelebihan sya’ban ke atas lain2 bulan adalah umpama kelebihanku di atas lain2 nabi dan kelebihan ramadan ke atas lain2 bulan adalah seumpama kelebihan Allah ke atas sekalian makhluk.
    2. Mengeluarkan sadaqah dan membaca Al-Quran

    Dari Anas b Malik: Sahabat2 Rasulullah saw, apabila mereka melihat anak bulan di permulaan sya’ban mereka akan mendambakan diri dengan membaca al-Quran, umat Islam mengeluarkan zakat kepada fakir miskin …

    1. Salawat ke atas Nabi: Allah swt berfirman dalam al-Ahzab 56 : “Sesungguhnya allah bersalawat ke atas nabi, wahai orang2 yang beriman, bersalawat ke atasnya dengan salawat yang banyak”.

    Daripada Abdullah bin Amru b As , Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang bersalawat kepadaku sekali maka allah akan bersalawat ke atasnya sepuluh kali

    1. Sujud dan doa di malam pertengahan Sya’ban:

    Aishah telah berkata: Apabila tiba malam pertengahan bulan Sya’ban (nisfu syaaban) Rasulullah saw telah meninggalkan tempat tidur sehinggakan aku menyangka bahwa baginda saw telah pergi mendatangi isteri2nya yang lain maka aku bangun mencarinya di dalam rumah. Sedang aku meraba-raba terpeganglah olehku kedua kaki Rasulullah yg ketika itu sedang sujud . Maka aku telah menghafal doa yang dibaca ketika sujud baginda :

    “Telah sujud kepadamu kegelapan malam dan diriku ini , telah beriman kepadamu sanubariku, aku mengiktirafi akan nikmat2 yang telah engkau kurniakan, aku mengiktirafi dosa2ku kepadamu, aku telah menzalimi diriku sendiri (dengan melakukan maksiat) maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa2 melainkan engkau, aku berlindung dengan keampunanmu dari azabmu dan aku berlindung dengan keredhaanmu dari kemurkaanmu dan aku berlindung denganmu saja, tiada upaya aku menghitung pujian untukmu, engkau adalah sepertimana engkau memuji dirimu sendiri.”

    Rasulullah bersabda : Pelajarilah dan ajarilah ia (doa itu) karena sesungguhnya Jibrail telah memerintahkanku supaya menyebutnya dalam sujudku.

    1. Sabda Rasulullah : Di malam ini dituliskan nama setiap bayi yang akan dilahirkan dan orang yang akan mati sepanjang tahun ini, pada malam ini diturunkan rezeki2 mereka pada malam ini diangkat amalan2 dan perbuatan2 hamba2.
    2. Sholat malam dan bacaan surah pendek : Rasulullah telah bersembahyang dengan memendekkan qiamnya dan membaca surah al-Fatihah dan surah2 yang ringkas lagi ringan kemudian beliau sujud hingga pertengahan malam. Kemudian baginda bagun di dalam rakaat kedua membaca surah2 sekitar surah2 tadi juga. Sujud baginda di rakaat ini sehingga ke fajar.
    3. Dari Abu Hurairah, sabda Rasulullah: Jibrail telah datang kepadaku pada malam pertengahan sya’ban dan berkata kepadaku : ‘Ya Muhammad ! Tongakkanlah kepalamu ke arah langit. Aku bertanya apakah malam ini? Jawab Jibrail, pada malam ini Allah membukakan tiga ratus pintu2 dari pintu2 rahmat dan mengampunkan orang yang tidak mempersekutukannya, melainkan ahli sihir, ahli nujum, pemabuk arak, orang yang tetap mengambil riba dan tetap melakukan zina adalah karena sekalian mereka itu tidak akan diampunkan sehinggalah mereka bertaubat.
    4. Perbanyakkanlah beristighfar/taubat lantaran malam tersebut dipenuhi dengan keampunan dan rahmat Allah. Mohonlah juga keampunan untuk kedua ibu bapa dan sekalian muslim yang masih hidup ataupun yang telah mati.
    5. Sya’ban sebagai lailatul bara’ah Baraah = kelepasan. 1. Kelepasan dari azab ar-Rahman. 2. Kelepasan Wali2 Allah dari dibiarkan oleh Allah swt.

    Sabda Rasulullah: Apabila tiba malam pertengahan Syaaban Allah akan memerhatikan makhluknya dengan pemerhatian yang penuh. Maka Allah akan mengampunkan orang2 yang beriman, membiarkan org2 kafir, meninggalkan orang2 yang berkhianat sehingga mereka bertaubat kepada Allah.

    1. Dikatakan bahwa malaikat juga mempunyai hari raya di langit sebagaimana manusia mempunyai hari raya di atas bumi. Maka hari raya malaikat ialah malam lailatul baraah dan lailatul qadar. Hari raya malaikat pada waktu malam karena mereka tidak tidur.

    ===================

    Sumber : Dipetik dari ‘Kelebihan bulan dan hari’ oleh Abu Khairy al-Latifi

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 1 May 2016 Permalink | Balas  

    Risalah : Wasiat Tentang Sholat (2/8) 

    sholat-subuhRisalah : Wasiat Tentang Sholat (2/8)

    Dikutip dari Majmû’ Washôyâ, Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Rasulullah SAW bersabda: Langit merintih dan memang ia pantas merintih, karena pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (salat) kepada Allah Azza Wa Jalla.  (HR Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

    Orang yang meninggalkan salat karena dilalaikan oleh urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya.  Ia dibenci oleh Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka jahim, atau kembali ke neraka hawiyah, dilaknat oleh Allah, dan terusir dari bumi dan langit.  Ia melelahkan malaikat pencatat keburukan.  Tempat tinggal dan tempat kembalinya menjadi sempit.  Ia dilaknat dan dicaci-maki oleh rumahnya.  Pakaian yang menempel di tubuhnya mengumpatnya: Wahai musuh Allah, andaikan Allah tidak menundukkan aku untukmu aku tak akan sudi menempel ditubuhmu!  Kamu memakan rezeki Allah namun mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah digariskan-Nya!

    Dengarkanlah nasihatku tentang nasib orang yang meninggalkan salat, baik semasa hidup maupun setelah meninggal.  Sesungguhnya Allah merahmati orang yang mendengarkan nasihat kemudian memperhatikan dan mengamalkannya.

    Allah SWT berfirman: Sesungguhnya salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman. (QS An-Nisa`, 4:103)

    Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Setelah Isya’ aku bersama Umar bin Khottob RA pergi ke rumah Abu Bakar AsShiddiq RA untuk suatu keperluan.  Sewaktu melewati pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan.  Kami pun terhenyak dan berhenti sejenak.  Kami dengar beliau menangis dan meratap.

    “Ahh…, andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap salat.  Ahh…, aku sungguh menyesali umatku.’

    “Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,’ kata Umar RA.

    Umar kemudian mengetuk pintu. “Siapa?’ tanya Aisyah RA. “Aku bersama Abu Hurairah.’

    Kami meminta izin untuk masuk dan ia mengizinkannya.  Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya:

    “Duhai Tuhanku, Engkau adalah Waliku bagi umatku, maka perlakukan mereka sesuai sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”

    “Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.  Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?”

    “Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah sehabis mengerjakan salat di mesjid, Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu,” kemudian ia berkata, “Bacalah!’

    “Apa yang harus kubaca?”

    “Bacalah: Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS Maryam, 19:59)

    “Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan salat?’

    “Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan salat, mengakhirkan salat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu.  Bagi mereka satu dinar lebih berharga daripada salat.”

    Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA.

    Allah SWT berfirman: “Mereka tidak berhak memperoleh syafaat kecuali orang yang telah mengikat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih.”  (QS Maryam, 19:87)

    Dalam menafsirkan ayat di atas Rasulullah SAW bersabda bahwa yang dimaksud dengan mengikat perjanjian adalah mengerjakan salat lima waktu.

    Rasulullah SAW bersabda: Setelah tauhid, Allah tidak mewajibkan kepada hamba-Nya suatu (amalan) yang lebih Ia sukai daripada salat.  Andaikan Allah lebih mencintai suatu (amalan) selain salat, tentu para malaikat-Nya — yang di antara mereka ada yang ruku’, sujud, berdiri dan duduk — akan beribadah kepada-Nya dengan (amalan) itu.

    Dikatakan bahwa di langit terdapat sejumlah malaikat yang selalu mengerjakan salat.  Mereka dijuluki sebagai pembantu Allah Yang Maha Pengasih (khoddaamur Rahman).  Para malaikat itu membanggakan salatnya kepada malaikat-malaikat yang lain.

    Juga dikatakan bahwa jika seorang mukmin mengerjakan salat dua rakaat, maka 10 shof malaikat, yang setiap shofnya terdiri dari 10.000 malaikat, akan merasa takjub melihatnya.  Demikianlah Allah membanggakan orang yang salat kepada 100.000 malaikat.

    Orang yang mengerjakan salat adalah makhluk pilihan Allah, pewaris surga-Nya, akan selamat dari negeri kemurkaan dan terhindar dari kutukan-Nya.  Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang khusyu’ dalam salat.

    Abu Darda` berkata, “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berdzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan salat.”

    Diriwayatkan pula bahwa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah adalah salat.  Jika salat seseorang cacat, maka seluruh amalnya akan ditolak.

    Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk salat, karena Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.”

    Atha’ Al-Khurasaniy berkata, “Sekali saja seorang hamba bersujud kepada Allah di suatu tempat di bumi, maka tempat itu akan menjadi saksinya kelak di hari kiamat.  Dan ketika meninggal dunia tempat sujud itu akan menangisinya.”

    Rasulullah SAW bersabda:”Salat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama. (HR Baihaqi).

    Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (HR Bazzar dari Abu Darda`)

    “Barang siapa bertemu Allah sedang ia mengabaikan salat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikan kebaikannya.”  (HR Thabrani)

    “Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka terlepas sudah darinya jaminan Muhammad.”  (HR Ahmad dan Baihaqi)

    “Allah telah mewajibkan salat lima waktu kepada hambaNya.  Barang siapa menunaikan salat pada waktunya, maka di hari kiamat, salat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya.  Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpul-kan bersama firaun dan Haman.” (HR Ibnu Hibban dan Ahmad).

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 30 April 2016 Permalink | Balas  

    Risalah : Wasiat Tentang Sholat (1/8) 

    siluet sholatRisalah : Wasiat Tentang Sholat (1/8)

    Dikutip dari Majmû’ Washôyâ, Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Segala puji bagi Allah yang Baqa1 dan Qidam2, Yang Maha Pemurah, penolak segala bencana, dan pemberi berbagai karunia.  Ia menciptakan kita dari tiada, dan memelihara kita sejak dalam kegelapan rahim kemudian menuntun kita ke jalan yang paling benar.

    Segala puji bagi Allah.  Betapa banyak nikmat telah Ia berikan kepada kita!  Betapa banyak kebaikan telah Ia curahkan kepada kita, kemudian Ia memberi kita pahala atas kebaikan-Nya itu dan melipat- gandakannya!  Dan betapa banyak cela dan aib kita telah disembunyikan dan dirahasiakanNya.

    Sesungguhnya pujian yang kusampaikan ini adalah nikmat terbesar yang Ia berikan kepadaku. Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.  Kesaksian yang akan membentengi diriku dari segala kesulitan saat di Mahsyar3 nanti.  Dan aku juga bersaksi, bahwa sesungguhnya Sayidina Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, manusia yang paling utama dalam memikul risalah dan segenap bebannya.  Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam kepadanya, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang menempuh jalan petunjuknya, serta mereka yang nasabnya bersambung kepadanya selama mereka masih menyadari nikmat Allah, serta merasa malu dan berinabah kepada-Nya.

    Amma Ba’du

    Ketika kusadari bahwa diriku dan sebagian besar penduduk kotaku merasa malas untuk salat, tidak mau salat berjamaah, tidak berlomba-lomba untuk beramal saleh, tidak mendekatkan diri kepada Allah, dan suka memboroskan waktu dalam kebatilan yang membingungkan akal sehat manusia, maka aku ingin memberikan peringatan sesuai dengan pengetahuan yang telah diajarkan Allah Yang Maha Tahu dan Mengerti.

    Kuakui bahwa diriku penuh kekurangan, namun nasihat ini kusampaikan dengan harapan Allah akan menyadarkan dan membukakan pintu kepada siapa pun yang mau mendengarnya, sehingga ia bersedia mencurahkan segenap tenaganya untuk mempersiapkan diri menghadapi hari hisab, memahami keagungan nikmat Allah, memohon ampun dan berinabah kepada-Nya.

    Segala puji bagi Allah.  Betapa banyak nikmat telah Ia berikan kepada kita.  Betapa banyak kebaikan telah Ia karuniakan kepada kita.  Betapa banyak keburukan telah Ia hindarkan dari kita.  Alangkah beruntung orang yang menjawab panggilan-Nya.  Betapa celaka orang yang berpaling dari pintu-Nya lalu bermaksiat kepada-Nya.  Alangkah besar musibah yang ia alami!  Alangkah jelas kerugian yang akan ia derita di hari ketika Allah menampakkan semua yang ia sembunyikan dan rahasiakan, saat kaki dan tangannya menjadi saksi atas semua keburukan yang telah dilakukannya.

    Hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya.  Setiap orang dari mereka pada hari itu memiliki urusan yang sangat menyibukkannya.

    (QS Abasa, 80:34-37)

    Hari yang penuh dengan tangis dan air mata karena keburukan yang selama ini disembunyikan, ditampakkan oleh Allah di hadapan seluruh makhluk yang menghuni bumi dan langit.  Hari saat manusia di hadapkan kepada Allah Yang Maha Perkasa.  Hari ketika alasan tak lagi berguna.

    Saudara-saudaraku, kinilah saat berbekal bagi musafir yang berjalan menuju akhirat.  Inilah saat untuk meraih keuntungan bagi orang yang melakukan perdagangan.  Bersiap-siaplah untuk pindah, karena tidak ada jalan untuk menetap di tempat ini.  Bagaimana mungkin kita terus menetap di sini!?  Bukankah telah kalian lihat orang-orang tua kalian satu demi satu meninggalkan dunia.  Apakah orang yang menyaksikan semua ini masih menginginkan bukti lagi?!  Bersegeralah sebelum hari yang panjang menyambut kalian, sebelum kalian beristirahat di tempat yang sangat buruk, sebelum kalian menangis dan meratap menghadapi bencana besar, hisab yang berat, perhitungan dari hal-hal yang paling kecil sampai pada yang paling penting.  Saat itu kalian akan mendapati amal baik kalian, dan menyesali segala yang telah kalian sia-siakan.  Di hari itu penyesalan tidak bermanfaat; alasan tidak didengar.  Karena itu, manfaatkanlah waktu yang singkat ini.  Bangkitlah, bulatkan tekad kalian, curahkan segenap tenaga, dan perbaikilah semua yang telah kalian telantarkan.

    Saudara-saudara rahimakumullah, ketahuilah bahwa sesungguhnya bencana yang dahsyat, perbuatan yang paling buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian masyarakat pada salat lima waktu, salat Jumat dan salat jamaah, padahal semua itu adalah ibadah-ibadah yang dengannya Allah meninggikan derajat dan menghapuskan dosa-dosa maksiat.  Dan salat adalah cara ibadah seluruh penghuni bumi dan langit

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 29 April 2016 Permalink | Balas  

    Ghibah (Mengumpat) 

    ghibahGhibah (Mengumpat)

    Kita dilarang ghibah (mengumpat). Seperti firman Allah:

    “Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya.” (al-Hujurat: 12)

    Rasulullah s.a.w. berkehendak akan mempertajam pengertian ayat tersebut kepada sahabat-sahabatnya yang dimulai dengan cara tanya-jawab, sebagaimana tersebut di bawah ini:

    “Bertanyalah Nabi kepada mereka: Tahukah kamu apakah yang disebut ghibah itu? Mereka menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Maka jawab Nabi, yaitu: Kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak menyukainya. Kemudian Nabi ditanya: Bagaimana jika pada saudaraku itu terdapat apa yang saya katakan tadi? Rasulullah s.a.w. menjawab: Jika padanya terdapat apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu mengumpat dia, dan jika tidak seperti apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu telah menuduh dia.” (Riwayat Muslim, Abu Daud, Tarmizi dan Nasa’i)

    Manusia tidak suka kalau bentuknya, perangainya, nasabnya dan ciri-cirinya itu dibicarakan. Seperti tersebut dalam hadis berikut ini:

    “Dari Aisyah ia berkata: saya pernah berkata kepada Nabi: kiranya engkau cukup (puas) dengan Shafiyah begini dan begini, yakni dia itu pendek, maka jawab Nabi: Sungguh engkau telah berkata suatu perkataan yang andaikata engkau campur dengan air laut niscaya akan bercampur.” (Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Baihaqi)

    Ghibah adalah keinginan untuk menghancurkan orang, suatu keinginan untuk menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain, sedang mereka itu tidak ada di hadapannya. Ini menunjukkan kelicikannya, sebab sama dengan menusuk dari belakang. Sikap semacam ini salah satu bentuk daripada penghancuran. Sebab pengumpatan ini berarti melawan orang yang tidak berdaya.

    Ghibah disebut juga suatu ajakan merusak, sebab sedikit sekali orang yang lidahnya dapat selamat dari cela dan cerca.

    Oleh karena itu tidak mengherankan, apabila al-Quran melukiskannya dalam bentuk tersendiri yang cukup dapat menggetarkan hati dan menumbuhkan perasaan.

    Firman Allah:

    “Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya; apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai saudaranya padahal mereka tidak menyukainya?!” (al-Hujurat: 12)

    Setiap manusia pasti tidak suka makan daging manusia.

    Maka bagaimana lagi kalau daging saudaranya? Dan bagaimana lagi kalau daging itu telah menjadi bangkai?

    Nabi memperoleh pelukisan al-Quran ini ke dalam fikiran dan mendasar di dalam hati setiap ada kesempatan untuk itu.

    Ibnu Mas’ud pernah berkata:

    “Kami pernah berada di tempat Nabi s.a.w., tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri meninggalkan majlis, kemudian ada seorang laki-laki lain mengumpatnya sesudah dia tidak ada, maka kata Nabi kepada laki-laki ini: Berselilitlah kamu! Orang tersebut bertanya: Mengapa saya harus berselilit sedangkan saya tidak makan daging? Maka kata Nabi: Sesungguhnya engkau telah makan daging saudaramu.” (Riwayat Thabarani dan rawi-rawinya rawi-rawi Bukhari)

    Dan diriwayatkan pula oleh Jabir, ia berkata:

    “Kami pernah di tempat Nabi s.a.w. kemudian menghembuslah angin berbau busuk. Lalu bertanyalah Nabi: Tahukah kamu angin apa ini? Ini adalah angin (bau) nya orang-orang yang mengumpat arang-orang mu’min.” (Riwayat Ahmad dan rawi-rawinya kepercayaan)

    Batas Perkenan Ghibah

    Seluruh nas ini menunjukkan kesucian kehormatan pribadi manusia dalam Islam. Akan tetapi ada beberapa hal yang oleh ulama-ulama Islam dikecualikan, tidak termasuk ghibah yang diharamkan. Tetapi hanya berlaku di saat darurat.

    Diantara yang dikecualikan, yaitu seorang yang dianiaya melaporkan halnya orang yang menganiaya, kemudian dia menyebutkan kejahatan yang dilakukannya. Dalam hal ini Islam memberikan rukhshah untuk mengadukannya.

    Firman Allah:

    “Allah tidak suka kepada perkataan jelek yang diperdengarkan, kecuali (dari) orang yang teraniaya, dan adalah Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (an-Nisa’: 148)

    Kadang-kadang ada seseorang bertanya tentang pribadi orang lain karena ada maksud mengadakan hubungan dagang, atau akan mengawinkan anak gadisnya atau untuk menyerahkan suatu urusan yang sangat penting kepadanya.

    Di sini ada suatu kontradiksi antara suatu keharusan untuk mengikhlaskan diri kepada agama, dan kewajiban melindungi kehormatan orang yang tidak di hadapannya. Akan tetapi kewajiban pertama justru lebih penting dan suci. Untuk itu kewajiban pertama harus didahulukan daripada kewajiban kedua.

    Dalam sebuah kisah dituturkan, bahwa Fatimah binti Qais pernah menyampaikan kepada Nabi tentang maksud dua orang yang akan meminangnya. Maka jawab Nabi kepadanya: “Sesungguhnya dia (yang pertama) sangat miskin tidak mempunyai uang, dan Nabi menerangkan tentang yang kedua, bahwa dia itu tidak mau meletakkan tongkatnya dari pundaknya, yakni: dia sering memukul perempuan.”

    Dan termasuk yang dikecualikan juga yaitu: karena bertanya, minta tolong untuk mengubah suatu kemungkaran terhadap seseorang yang mempunyai nama, gelar atau sifat yang tidak baik tetapi dia hanya dikenal dengan nama-nama tersebut. Misalnya: A’raj (pincang), A’masy (rabun) dan anak si Anu.

    Termasuk yang dikecualikan juga, yaitu menerangkan cacatnya saksi dan rawi-rawi hadis.32

    Definisi umum tentang bentuk-bentuk pengecualian ini ada dua:

    Karena ada suatu kepentingan.

    Karena suatu niat.

    Karena suatu kepentingan

    Jadi kalau tidak ada kepentingan yang mengharuskan membicarakan seorang yang tidak hadir dengan sesuatu yang tidak disukainya, maka tidak boleh memasuki daerah larangan ini. Dan jika kepentingan itu dapat ditempuh dengan sindiran, maka tidak boleh berterang-terangan atau menyampaikan secara terbuka. Dalam hal ini tidak boleh memakai takhshish (pengecualian) tersebut.

    Misalnya seorang yang sedang minta pendapat apabila memungkinkan untuk mengatakan: “bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berbuat begini dan begini,” maka dia tidak boleh mengatakan: “bagaimana pendapatmu tentang si Anu bin si Anu.”

    Semua ini dengan syarat tidak akan membicarakan sesuatu di luar apa yang ada. Kalau tidak, berarti suatu dosa dan haram.

    Karena suatu niat

    Adanya suatu niat di balik ini semua, merupakan suatu pemisahan. Sebab pribadi manusia itu sendiri yang lebih mengetahui dorongan hatinya daripada orang lain. Maka niatlah yang dapat membedakan antara perbuatan zalim dan mengobati, antara minta pendapat dengan menyiar-nyiarkan, antara ghibah dengan mengoreksi dan antara nasehat dengan memasyhurkan. Sedang seorang mu’min, seperti dikatakan oleh suatu pendapat, adalah yang lebih berhak untuk melindungi dirinya daripada raja yang kejam dan kawan yang bakhil.

    Hukum Islam menetapkan, bahwa seorang pendengar adalah rekan pengumpat. Oleh karena itu dia harus menolong saudaranya yang di umpat itu dan berkewajiban menjauhkannya. Seperti yang diungkapkan oleh hadis Rasulullah sa,w.:

    “Barangsiapa menjauhkan seseorang dari mengumpat diri saudaranya, maka adalah suatu kepastian dari Allah, bahwa Allah akan membebaskan dia dari Neraka.” (Riwayat Ahmad dengan sanad hasan)

    “Barangsiapa menghalang-halangi seseorang dari mengumpat harga diri saudaranya, maka Allah akan menghalang-halangi dirinya dari api neraka, kelak di hari kiamat.” (Riwayat Tarmizi dengan sanad hasan)

    Barangsiapa tidak mempunyai keinginan ini dan tidak mampu menghalang-halangi mulut-mulut yang suka menyerang kehormatan saudaranya itu, maka kewajiban yang paling minim, yaitu dia harus meninggalkan tempat tersebut dan membelokkan kaum tersebut, sehingga mereka masuk ke dalam pembicaraan lain. Kalau tidak, maka yang tepat dia dapat dikategorikan dengan firman Allah:

    “Sesungguhnya kamu, kalau demikian adalah sama dengan mereka” (an-Nisa’: 140)

    Mengadu Domba

    Ketujuh: Kalau ghibah dalam Islam disebut sebagai suatu dosa, maka ada suatu perbuatan yang lebih berat lagi, yaitu mengadu domba (namimah). Yaitu memindahkan omongan seseorang kepada orang yang dibicarakan itu dengan suatu tujuan untuk menimbulkan permusuhan antara sesama manusia, mengotori kejernihan pergaulan dan atau menambah keruhnya pergaulan.

    Al-Quran menurunkan ayat yang mencela perbuatan hina ini sejak permulaan perioda Makkah. Firman Allah:

    “Dan jangan kamu tunduk kepada orang yang suka sumpah yang hina, yang suka mencela orang, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba.” (al-Qalam: 10-11)

    Dan sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Tidak masuk sorga orang-orang yang suka mengadu domba.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Qattat, kadang-kadang disebut juga nammam, yaitu seorang berkumpul bersama orang banyak yang sedang membicarakan suatu pembicaraan, kemudian dia menghasut mereka.

    Dan qattat itu sendiri, yaitu seseorang yang memperdengarkan sesuatu kepada orang banyak padahal mereka tidak mengetahuinya, kemudian dia menghasut mereka itu.

    Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Sejelek-jelek hamba Allah yaitu orang-orang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba, yang memecah-belah antara kekasih, yang suka mencari-cari cacat orang-orang yang baik.” (Riwayat Ahmad)

    Islam, dalam rangka memadamkan pertengkaran dan mendamaikan pertentangan, membolehkan kepada juru pendamai itu untuk merahasiakan omongan tidak baik yang dia ketahui dari omongan seseorang tentang diri orang lain. Dan boleh juga dia menambah omongan baik yang tidak didengarnya. Seperti yang dikatakan Nabi dalam hadisnya:

    “Tidak termasuk dusta orang yang mendamaikan antara dua orang, kemudian dia berkata baik atau menambah suatu omongan baik.”

    Islam sangat membenci orang-orang yang suka mendengarkan omongan jelek, kemudian cepat-cepat memindahkan omongan itu dengan menambah-nambah untuk memperdaya atau karena senang adanya kehancuran dan kerusakan.

    Manusia semacam ini tidak mau membatasi diri sampai kepada apa yang didengar itu saja, sebab keinginan untuk menghancurkan itulah yang mendorongnya menambah omongan yang mereka dengar. Dan jika mereka tidak mendengar, mereka berdusta.

    Kata seorang penyair:

    Kalau mereka mendengar kebaikan, disembunyikan

    Dan kalau mendengarkan kejelekan, disiarkan

    tetapi jika tidak mendengar apa-apa, ia berdusta.

    Ada seorang laki-laki masuk ke tempat Umar bin Abdul Aziz, kemudian membicarakan tentang hal seseorang yang tidak disukainya. Maka berkatalah Umar kepada si laki-laki tersebut; kalau boleh kami akan menyelidiki permasalahanmu itu. Tetapi jika kamu berdusta, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat ini:

    “Jika datang kepadamu seorang fasik dengan membawa suatu berita, maka selidikilah.” (al-Hujurat: 6)

    Dan jika kamu benar, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat:

    “Orang yang suka mencela, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba.” (al-Qalam: 11)

    Tetapi kalau kamu suka, saya akan memberi pengampunan. Maka jawab orang laki-laki tersebut: pengampunan saja ya amirul mu’minin, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 28 April 2016 Permalink | Balas  

    Mendamaikan Persengketaan 

    takwaMendamaikan Persengketaan

    Kalau cuaca pertengkaran itu telah cerah kembali sesuai dengan keharusan bersaudara, maka bagi masyarakat Islam mempunyai kewajiban lain. Sebab sepanjang pengertian masyarakat Islam yaitu suatu masyarakat yang saling saling membantu dan saling menolong. Oleh karena itu tidak boleh sementara orang melihat saudaranya bertengkar dan saling membunuh, kemudian dia berdiri sebagai penonton, dan membiarkan api bertambah menyala dan kebakaran makin meluas. Bahkan setiap orang yang arif dan bijaksana serta ada kemampuan, harus terjun ke gelanggang guna mendamaikan persengketaan itu dengan niat semata-mata mencari kebenaran dan jauh dari pengaruh hawa nafsu. Seperti apa yang difirmankan Allah:

    “… maka adakanlah perdamaian di antara saudara-saudaramu, dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (al-Hujurat: 10)

    Dalam salah satu hadisnya Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan tentang keutamaan mendamaikan ini, serta bahayanya pertentangan dan perpisahan. Sabda Rasulullah s.a.w.:

    “Maukah kamu saya tunjukkan suatu perbuatan yang lebih utama daripada tingkatan keutamaan sembahyang, puasa dan sedekah? Mereka menjawab: Baiklah ya Rasulullah! Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.: yaitu mendamaikan persengketaan yang sedang terjadi; sebab kerusakan karena persengketaan berarti menggundul, saya tidak mengatakan menggundul rambut, tetapi menggundul agama.” (Riwayat Tarmizi dan lain-lain)

    Jangan Ada Suatu Golongan Memperolokkan Golongan Lain

    Dalam ayat-ayat yang telah kami sebutkan terdahulu terdapat sejumlah hal yang dilarang oleh Allah, demi melindungi persaudaraan dan kehormatan manusia.

    Larangan pertama. tentang memperolokkan orang lain. Oleh karena itu tidak halal seorang muslim yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memperolokkan orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan perolokannya. Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang neraca kebajikan di sisi Allah. Justru itu Allah mengatakan: “Jangan ada suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan jangan pula perempuan memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan.”

    Yang dinamakan baik dalam pandangan Allah, yaitu: iman, ikhlas dan mengadakan kontak yang baik dengan Allah. Bukan dinilai dari rupa, badan, pangkat dan kekayaan.

    Dalam hadisnya Rasulullah s.a.w. mengatakan:

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan kekayaan kamu, tetapi Allah melihat hati kamu dan amal kamu.” (Riwayat Muslim)

    Bolehkah seorang laki-laki atau perempuan diperolokkan karena suatu cacat di badannya, perangainya atau karena kemiskinannya?

    Dalam sebuah riwayat diceriterakan, bahwa Ibnu Mas’ud pernah membuka betisnya dan nampak kecil sekali. Maka tertawalah sebagian orang. Lantas Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas’ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud.” (Riwayat Thayalisi dan Ahmad)

    Al-Quran juga menghikayatkan tentang orang-orang musyrik yang memperolok orang-orang mu’min, lebih-lebih mereka yang lemah –seperti Bilal dan ‘Amman– kelak di hari kiamat, neraca menjadi terbalik, yang mengolok-olok menjadi yang diolok-olok dan ditertawakan,

    Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang durhaka itu mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melalui mereka, mereka berlirik-lirikan. Dan apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan suka cita. Dan apabila mereka melihat mereka itu, mereka berkata: ‘Sungguh mereka itu orang-orang yang sesat.’ Padahal mereka itu tidak diutus untuk menjadi pengawal atas mereka. Oleh karena itu pada hari ini orang-orang mu’min akan mentertawakan orang-orang kafir itu.” (al-Muthaffifin 29-34)

    Ayat ini31 dengan tegas dan jelas menyebutkan dilarangnya perempuan mengolok-olok orang lain, padahal perempuan sudah tercakup dalam kandungan kata kaum. Ini menunjukkan, bahwa pengolok-olokan sementara perempuan terhadap yang lain, termasuk hal yang biasa terjadi di kalangan mereka.

    Jangan Mencela Diri-Diri Kamu

    Larangan kedua: Tentang lumzun, yang menurut arti lughawi berarti: al-wakhzu (tusukan) dan ath-tha’nu (tikaman). Sedang lumzun yang dimaksud di sini ialah: ‘aib (cacat). Jadi seolah-olah orang yang mencela orang lain, berarti menusuk orang tersebut dengan ketajaman pedangnya, atau menikam dengan hujung tombaknya.

    Penafsiran ini tepat sekali. Bahkan kadang-kadang tikaman lidah justru lebih hebat. Seperti kata seorang penyair:

    Luka karena tombak masih dapat diobati, Tetapi luka karena lidah berat untuk diperbaiki.

    Bentuk larangan dalam ayat ini mempunyai suatu isyarat yang indah sekali.

    Ayat tersebut mengatakan: laa talmizu anfusakum (jangan kamu mencela diri-diri kamu). Ini tidak berarti satu sama lain saling cela-mencela. Tetapi al-Quran menuturkan dengan jama’atul mu’minin, yang seolah-olah mereka itu satu tubuh. Sebab mereka itu secara keseluruhannya saling membantu dan menolong. Jadi barangsiapa mencela saudaranya, berarti sama dengan mencela dirinya sendiri. Karena dia itu dari dan untuk saudaranya.

    Jangan Memberi Gelar dengan Gelar-Gelar yang Tidak Baik

    Ketiga: Termasuk mencela yang diharamkan, ialah: memberi gelar dengan beberapa gelar yang tidak baik, yaitu suatu panggilan yang tidak layak dan tidak menyenangkan yang membawa kepada suatu bentuk penghinaan dan celaan.

    Tidak layak seorang manusia berbuat jahat kepada kawannya. Dipanggilnya kawannya itu dengan gelar yang tidak menyenangkan bahkan menjengkelkan. Ini bisa menyebabkan berubahnya hati dan permusuhan sesama kawan serta menghilangkan jiwa kesopanan dan perasaan yang tinggi.

    Su’uzh-Zhan (Berburuk Sangka)

    Keempat: Islam menghendaki untuk menegakkan masyarakatnya dengan penuh kejernihan hati dan rasa percaya yang timbal balik; bukan penuh ragu dan bimbang, menuduh dan bersangka-sangka,

    Untuk itu, maka datanglah ayat al-Quran membawakan keempat sikap yang diharamkan ini, demi melindungi kehormatan orang lain. Maka berfirmanlah Allah:

    “Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak menyangka, karena sesungguhnya sebagian sangkaan itu berdosa.” (al-Hujurat: 12)

    Sangkaan yang berdosa, yaitu sangkaan yang buruk.

    Oleh karena itu tidak halal seorang muslim berburuk sangka terhadap saudaranya, tanpa suatu alasan dan bukti yang jelas. Sebab manusia secara umum pada asalnya bersih. Oleh karena itu prasangka-prasangka tidak layak diketengahkan dalam arena kebersihan ini justru untuk menuduh. Sabda Nabi: “Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta omongan.” (Riwayat Bukhari)

    Manusia karena kelemahan sifat kemanusiaannya, tidak dapat menerima prasangka dan tuduhan oleh sebagian manusia, lebih-lebih terhadap orang-orang yang tidak ada hubungan baik.

    Oleh karena itu sikap yang harus ditempuh, dia harus tidak menerima tuduhan itu dan berjalan mengikuti suara nafsu tersebut.

    Inilah makna hadis Nabi yang mengatakan: “Kalau kamu akan menyangka, maka jangan kamu nyatakan.” (Riwayat Thabarani)

    Tajassus (Memata-matai)

    Kelima: Tidak adanya kepercayaan terhadap orang lain, menyebabkan seseorang untuk melakukan perbuatan batin yang disebut su’uzh-zhan dan melakukan perbuatan badan yang berbentuk tajassus. Sedang Islam bertujuan menegakkan masyarakatnya dalam situasi bersih lahir dan batin. Oleh karena itu larangan bertajassus ini dibarengi dengan larangan su’uzh-zhan (berburuk sangka). Dan banyak sekali su’uzh-zhan ini terjadi karena adanya tajassus.

    Setiap manusia mempunyai kehormatan diri yang tidak boleh dinodai dengan tajassus dan diselidiki cacat-cacatnya, sekalipun dia berbuat dosa, selama dilakukan dengan bersembunyi.

    Abul Haitsam sekretaris Uqbah bin ‘Amir –salah seorang sahabat Nabi– berkata: saya pernah berkata kepada Uqbah: saya mempunyai tetangga yang suka minum arak dan akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Maka kata Uqbah: Jangan! Tetapi nasehatilah mereka itu dan peringatkanlah. Abul Haitsam menjawab: Sudah saya larang tetapi mereka tidak mau berhenti, dan tetap akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Uqbah berkata: Celaka kamu! Jangan! Sebab saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. berkata:

    “Barangsiapa menutupi suatu cacat, maka seolah-olah ia telah menghidupkan anak yang ditanam hidup-hidup dalam kuburnya.” (Riwayat Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Hibban)

    Rasulullah s.a.w. menilai, bahwa menyelidiki cacat orang lain itu termasuk perbuatan orang munafik yang mengatakan beriman dengan lidahnya tetapi hatinya membenci. Kelak mereka akan dibebani dosa yang berat di hadapan Allah.

    Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah s.a.w, pernah naik mimbar kemudian menyeru dengan suara yang keras:

    “Hai semua orang yang telah menyatakan beriman dengan lidahnya tetapi iman itu belum sampai ke dalam hatinya! Janganlah kamu menyakiti orang-orang Islam dan jangan kamu menyelidiki cacat-cacat mereka. Sebab barangsiapa menyelidiki cacat saudara muslim, maka Allah pun akan menyelidiki cacatnya sendiri; dan barangsiapa yang oleh Allah diselidiki cacatnya, maka Ia akan nampakkan kendatipun dalam perjalanan yang jauh.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

    Maka demi melindungi kehormatan orang lain, Rasulullah s.a.w. mengharamkan dengan keras seseorang mengintip rumah orang lain tanpa izin; dan ia membenarkan pemilik rumah untuk melukainya. Seperti sabda Nabi:

    “Barangsiapa mengintip rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka halal buat mereka untuk menusuk matanya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Diharamkan juga mendengar-dengarkan omongan mereka tanpa sepengetahuan dan perkenannya. Sabda Nabi:

    “Barangsiapa mendengar-dengarkan omongan suatu kaum; sedang mereka itu tidak suka, maka kelak di hari kiamat kedua telinganya akan dituangi cairan timah.” (Riwayat Bukhari)

    Al-Quran mewajibkan kepada setiap muslim yang berkunjung ke rumah kawan, supaya jangan masuk lebih dahulu, sehingga ia minta izin dan memberi salam kepada penghuninya.

    Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu masuk rumah selain rumah-rumah kamu sendiri, sehingga kamu minta izin lebih dahulu dan memberi salam kepada pemiliknya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, supaya kamu ingat. Maka jika kamu tidak menjumpai seorang pun dalam rumah itu, maka jangan kamu masuk, sehingga kamu diberi izin. Dan jika dikatakan kepadamu: kembalilah! Maka kembalilah kamu. Yang demikian itu lebih bersih buat kamu, dan Allah Maha Menge tahui apa saja yang kamu kerjakan.” (an-Nur: 27-28)

    Di dalam hadis Nabi, juga dikatakan: “Barangsiapa membuka tabir kemudian dia masukkan pandangannya sebelum diizinkan, maka sungguh dia telah melanggar suatu hukum yang tidak halal baginya untuk dikerjakan.” (Riwayat Ahmad dan Tarmizi)

    Nas-nas larangan tentang tajassus dan menyelidiki cacat orang lain ini meliputi hakim dan yang terhukum, seperti yang diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah dari Rasulullah s.a.w. ia bersabda:

    “Sesungguhnya kamu jika menyelidiki carat orang lain, berarti kamu telah merusak mereka atau setidak-tidaknya hampir- merusak mereka itu.” (Riwayat Abu Daud dan ibnu Hibban)

    Abu Umamah meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w., ia bersabda: “Sesungguhnya seorang kepala apabila mencari keraguraguan terhadap orang lain, maka ia telah merusak mereka.” (Riwayat Abu Daud)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 27 April 2016 Permalink | Balas  

    Aku Sangat Bangga Menjadi Anak Ayah 

    siluet-anak-dan-ayahAku Sangat Bangga Menjadi Anak Ayah

    Aku bukan orang yang suka menguping percakapan orang lain. Tapi pada suatu malam, sewaktu aku melintasi halaman rumah kami, aku ternyata melakukannya. Istriku, Zahra, sedang berbicara pada putra kami selagi ia duduk di dapur.

    Jadi, aku berhenti untuk mendengarkan diluar pintu belakang. Sepertinya Zahra mendengar beberapa teman anakku menyombongkan pekerjaan ayah mereka.

    Bahwa ayah mereka semuanya adalah para eksekutif hebat “.. lalu mereka bertanya pada putra kami.

    “Ayahmu memiliki karier bagus macam apa ?”, mulailah mereka bertanya.

    Putra kami menggumam perlahan sambil memalingkan muka, “Ia hanya seorang buruh.”

    Istriku yang baik menunggu sampai mereka semua pulang, lalu memanggil masuk putra kecil kami.

    Kata Zahra, “Ibu ingin bicara padamu, Nak,” seraya mencium pipinya yang berlesung pipit.

    “Kamu bilang , ayah hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu benar, Nak. Tapi ibu ragu, apakah kamu tahu apa arti yang sebenarnya. Jadi Ibu akan menjelaskan padamu, Nak.”

    “Dalam seluruh industri yang membuat negeri kita hebat. Dalam semua toko dan warung dan truk yang menarik muatan setiap hari”..

    “Setiap kali kamu melihat rumah baru dibangun, ingatlah, anakku. Diperlukan buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu !”

    “Memang benar”..para eksekutif hebat punya meja bagus dan selalu rapi sepanjang hari. Mereka merencanakan proyek besar untuk diselesaikan”..dan mengirim memo untuk disampaikan. Tapi untuk mengubah impian mereka menjadi kenyataan, ingatlah ini, anakku. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu !”

    “Kalau semua bos meninggalkan meja mereka dan libur selama setahun, roda industri masih bisa berjalan, berputar dengan cepat. Jika orang seperti ayahmu berhenti bekerja, industri itu tak bisa berjalan. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu !”

    Aku menelan air mata dan berdehem saat memasuki pintu.

    Mata putra kecilku berbinar gembira saat ia melihatku. Ia melompat dari lantai dan langsung memelukku sambil berkata, “Ayah, aku sangat bangga menjadi anak ayah”..karena ayah adalah 1 dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar.”

    For my Zahra,

    Miss u so much!

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 26 April 2016 Permalink | Balas  

    Berzina Seribu Kali 

    taubat (1)Berzina Seribu Kali

    Pada suatu senja yang lengang, terlihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam dukacita yang mencekam. Kerudungnya menangkup rapat hampir seluruh wajahnya.Tanpa rias muka atau perhiasan menempel di tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yang ramping dan roman mukanya yang ayu, tidak dapat menghapus kesan kepedihan yang tengah meruyak hidupnya. Ia melangkah terseret-seret mendekati kediaman rumah Nabi Musa a.s. Diketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan uluk salam. Maka terdengarlah ucapan dari dalam “Silakan masuk”.

    Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk. Air matanya berderai tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya. Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya.” Apakah dosamu wahai wanita ayu?” tanya Nabi Musa as terkejut. “Saya takut mengatakannya.” jawab wanita cantik.

    “Katakanlah jangan ragu-ragu!” desak Nabi Musa.

    Maka perempuan itupun terpatah bercerita, “Saya ……telah berzina.” Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.

    Perempuan itu meneruskan, “Dari perzinaan itu sayapun……lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya……. cekik lehernya sampai……tewas”, ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

    Nabi musa berapi-api matanya. Dengan muka berang ia menghardik Perempuan bejad, enyah kamu dari sini! Agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi !…” teriak Nabi Musa sambil memalingkan mata karena jijik.

    Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari dalam rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. Bahkan ia tak tahu mau di bawa kemana lagi kaki-kakinya. Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana pula manusia lain bakal menerimanya? Terbayang olehnya betapa besar dosanya, betapa jahat perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, “Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobatdari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?”

    Nabi Musa terperanjat. Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?” Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril. “Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?” ” Ada !” jawab Jibril dengan tegas

    “Dosa apakah itu?” tanya Musa kian penasaran.

    “Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina” Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.

    Nabi Musa menyadari, orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sholat itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya. Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan seolah-olah menganggap Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah hamba-Nya. Sedang orang yang bertobat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada di jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

    Dalam hadist Nabi SAW disebutkan: Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang memmbakar 70 buah Al-Qur’an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka’bah. Dalam hadist yang lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadanya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakherat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. Demikianlah kisah Nabi Musa dan wanita pezina dan dua hadist Nabi, mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita dan timbul niat untuk melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah.

    Tolong sebarkan kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahui. Subhanakallahumma wabihamdika asyadu’ala ilaha illa anta, astagfiruka wa’atubuilaik. Wassalam

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 25 April 2016 Permalink | Balas  

    Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat 

    Taubat 1Risalah : Penyesalan, Istighfar, dan Tobat

    Ulasan: Habib Abdullah Al-Haddad

    Penyesalan 

    Penyesalan adalah lenyapnya segala keinginan untuk melakukan perbuatan yang dapat menyebabkan Allah murka, misalnya: melakukan kemaksiatan atau melalaikan kewajiban. Perubahan keadaan hati ini diiringi dengan perasaan sedih dan duka.

    Penyesalan kadang kala timbul karena terlalu banyak melakukan perbuatan yang mubah, atau karena kurang banyak melaksanakan perbuatan-perbuatan sunah (nawâfil) yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah. Penyesalan sejati (sidq) akan mendorong seseorang untuk berubah dari sikap yang penuh dengan ketidaksempurnaan (taqshîr/incapacity) menjadi sikap yang penuh dengan ketekunan (tasymîr). Jika proses penyesalan berlangsung dengan benar, maka hampir seluruh persyaratan tobat terpenuhi. Karena itulah Rasulullah saw bersabda, “Penyesalan adalah tobat.” (HR Ibnu Majah dari Ibnu Mas‘ud)

    Orang yang menyesali perbuatannya yang tercela, tetapi selalu mengulangnya kembali, maka penyesalannya sia-sia belaka.

    Istighfar 

    Istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah.  Dan ampunan Allah adalah tirai (sitr) penutup segala dosa. Jika Allah dengan kemurahan-Nya mengampuni kesalahan manusia, maka Ia tidak akan mencemarkan maupun menyiksanya, baik di dunia maupun di akhirat1.

    Jenis ampunan yang paling mulia adalah tirai yang oleh Allah dijadikan pendinding antara makhluk dengan dosa-dosanya, sehingga seakan-akan ia tidak berdosa sama sekali. Dalam bahasa kenabian tirai itu disebut ‘ishmah2, sedangkan bagi wali disebut hifdh (penjagaan).

    Allah menujukan firman-Nya kepada pemimpin yang ma’shûm, Rasulullah saw:

    Mohon ampunlah bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin.  (QS Muhammad, 47:19)

    Agar Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. (QS Al Fath, 48:2)

    Kita semua telah maklum, bahwa Rasulullah saw tidak pernah berbuat dosa. Dalam ayat tadi Allah mengingatkan Rasullullah saw atas nikmat ishmah (perlindungan) dari hal-hal yang dapat menjauhkan beliau dari Allah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah untuk berdoa memohonkan ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat.  Sebab doa berarti syukur, dan syukur merupakan cara untuk mendapatkan tambahan nikmat.

    “Jika kalian bersyukur pasti Aku akan menambah (kenikmatan) kepada kalian.” (QS Ibrâhim, 14:7)

    Wallôhu a’lam.

    Tobat 

    Langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang murîd dalam perjalanannya menuju Allah adalah tobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT atas segala dosa-dosanya. Jika ditangannya masih ada hak orang yang dahulu pernah dizaliminya, hendaknya segera ia kembalikan. Namun, jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka hendaknya ia meminta agar orang itu menghalalkannya. Sebab, seseorang yang masih memegang hak-hak orang lain, tidak mungkin dapat mendekatkan diri kepada Al-Haq (Allah)

    Syarat sahnya tobat adalah sidqun nadam (penyesalan sungguh-sungguh) atas segala dosa dengan diiringi tekad kuat untuk tidak mengulang kembali perbuatan buruk itu seumur hidup. Barang siapa bertobat dari suatu dosa, namun ia selalu mengulang kembali perbuatannya, atau bertekad untuk melakukannya kembali, maka tobatnya tidak sah.

    Seorang murîd hendaknya selalu mengakui bahwa ia tidak dapat menunaikan hak-hak Tuhannya dengan sempurna. Setiap kali ia merasa sedih atas segala kekurangannya, dan hatinya luluh karena menyadari kenyataan itu, maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah saat itu bersamanya.

    Allah SWT telah berfirman (dalam sebuah hadis qudsi): “Aku bersama orang-orang yang hatinya luluh karena Ku.”

    Tobat (Nafâisul Uluwiyyah, hal. 30)

    Barang siapa bertobat dari suatu dosa, tetapi kemudian mengulang kembali perbuatannya, maka tobatnya yang terdahulu tidak gugur. Namun ia harus bertobat lagi. Ini adalah salah satu kemurahan Allah bagi kita semua. Segala puji bagi Allah. Kita tidak akan mampu memuji-Nya sebanyak pujian-Nya kepada diri-Nya sendiri.

    Dalam suatu hadis disebutkan:

    Sesungguhnya Allah SWT membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di siang hari. Dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima tobat orang yang berbuat buruk di malam hari. Sesungguhnya di sebelah barat ada pintu yang lebarnya sejauh 40 hari perjalanan matahari. Pintu itu selalu terbuka untuk tobat hingga matahari terbit dari arah barat (kiamat). Dan sesungguhnya Allah SWT selalu menerima tobat seorang hamba sebelum ghorghoroh.

    Ghorghoroh adalah keadaan sekarat, yakni ketika ruh telah sampai ke tenggorokan.

    Dari uraian di atas dapat kamu ketahui hukum dan kedudukan tobat dalam agama.

    Orang yang hendak bertobat dari perbuatan zalim yang pernah ia lakukan, maka ia harus mengembalikan barang yang ia ambil jika ia menzalimi harta seseorang, dan ia harus menjalani hukum qishash dan minta dihalalkan jika ia menzalimi diri atau kehormatannya. Tetapi, jika ia sama sekali tidak dapat memenuhi persyaratan ini, maka hendaknya ia berbuat semampunya, kemudian dengan mengharap kemurahan Allah, hendaknya ia berdoa agar kelak di akhirat orang-orang yang pernah ia zalimi meridhoinya.

    Jika ia meninggalkan kewajiban-kewajibannya, misalnya: salat, puasa dan zakat, maka ia wajib mengqodhonya. Qodho itu boleh dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuannya. Jangan sampai ia mempersulit dirinya, tetapi ia juga tidak boleh meremehkannya, karena syariat agama ini terdiri dari aturan-aturan yang kokoh.

    Rasulullah saw bersabda:

    “Aku diutus membawa agama yang penuh toleransi.”  (HR Ahmad)

    “Permudahlah jangan mempersulit; berilah kabar gembira jangan buat mereka lari.”  (HR Bukhari)

    Seorang salaf yang saleh telah cukup lama memohon kepada Allah SWT untuk memberinya tobat nasuha, namun ia tidak melihat tanda-tanda pengabulan doanya. Ia merasa heran, tetapi kemudian bermimpi.  Dalam mimpinya, seseorang berkata kepadanya, “Apakah kamu pikir yang kamu pinta itu sebuah persoalan yang mudah. Sadarkah kamu bahwa kamu telah meminta untuk dicintai Allah SWT?  Tidak pernahkah kamu mendengar firman-Nya:

    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah, 2:222)

    Semoga Allah memberi kita tobat nasuha dalam keadaan sehat wal afiat dan mengakhiri usia kita dalam husnul khôtimah.

    Catatan kaki

    1.Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman: “Aku Maha Mulia lagi Maha besar, tidak pantas bagi-Ku bila Aku menutupi dosa seorang Muslim di dunia ini lalu Aku membeberkannya (di hari kiamat).  Aku selalu mengampuni hamba-Ku selagi ia meminta ampun kepada-Ku.” (HR Hakim dari Hasan)

    2.Penjagaan dan pemeliharaan Allah SWT dari perbuatan dosa dan kesalahan.

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 24 April 2016 Permalink | Balas  

    Hikmah Diharamkannya Riba 

    ribaHikmah Diharamkannya Riba

    Islam dalam memperkeras persoalan haramnya riba, semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlaknya, masyarakatnya maupun perekonomiannya.

    Kiranya cukup untuk mengetahui hikmahnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam ar-Razi dalam tafsirnya sebagai berikut:

    1. Riba adalah suatu perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti. Sebab orang yang meminjamkan uang 1 dirham dengan 2 dirham, misalnya, maka dia dapat tambahan satu dirham tanpa imbalan ganti. Sedang harta orang lain itu merupakan standard hidup dan mempunyai kehormatan yang sangat besar, seperti apa yang disebut dalam hadis Nabi:

    “Bahwa kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya.”

    Oleh karena itu mengambil harta kawannya tanpa ganti, sudah pasti haramnya.

    1. Bergantung kepada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan mengentengkan persoalan mencari penghidupan, sehingga hampir-hampir dia tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Sedang hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat dan satu hal yang tidak dapat disangkal lagi, bahwa kemaslahatan dunia seratus persen ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.

    (Tidak diragukan lagi, bahwa hikmah ini pasti dapat diterima, dipandang dari segi perekonomian).

    1. Riba akan menyebabkan terputusnya sikap yang baik (ma’ruf) antara sesama manusia dalam bidang pinjam-meminjam. Sebab kalau riba itu diharamkan, maka seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka sudah pasti kebutuhan orang akan menganggap berat dengan diambilnya uang satu dirham dengan diharuskannya mengembalikan dua dirham. Justru itu, maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan.

    (Ini suatu alasan yang dapat diterima, dipandang dari segi ethik).

    1. Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Sedang tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah.

    (Ini ditinjau dari segi sosial).

    Ini semua dapat diartikan, bahwa riba terdapat unsur pemerasan terhadap orang yang lemah demi kepentingan orang kuat (exploitasion de l’home par l’hom) dengan suatu kesimpulan: yang kaya bertambah kaya, sedang yang miskin tetap miskin. Hal mana akan mengarah kepada membesarkan satu kelas masyarakat atas pembiayaan kelas lain, yang memungkinkan akan menimbulkan golongan sakit hati dan pendengki; dan akan berakibat berkobarnya api terpentangan di antara anggota masyarakat serta membawa kepada pemberontakan oleh golongan ekstrimis dan kaum subversi.

    Sejarah pun telah mencatat betapa bahayanya riba dan si tukang riba terhadap politik, hukum dan keamanan nasional dan internasional.

    Pemberi Riba dan Penulisnya

    Pemakan riba ialah pihak pemberi piutang yang memiliki uang dan meminjamkan uangnya itu kepada peminjam dengan rente yang lebih dari pokok. Orang yang semacam ini tidak diragukan lagi akan mendapat laknat Allah, dan laknat seluruh manusia. Akan tetapi Islam, dalam tradisinya tentang masalah haram, tidak hanya membatasi dosa itu hanya kepada yang makan riba, bahkan terlibat dalam dosa orang yang memberikan riba itu, yaitu yang berhutang dan memberinya rente kepada piutang. Begitu juga penulis dan dua orang saksinya. Seperti yang dinyatakan dalam hadis Nabi:

    “Allah akan melaknat pemakan riba, yang memberi makan, dua orang saksinya dan jurutulisnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Tetapi apabila di situ ada suatu keharusan yang tidak dapat dihindari dan mengharuskan kepada si peminjam untuk memberinya rente, maka waktu itu dosanya hanya terkena kepada si pengambil rente saja.

    Namun dalam hal ini diperlukan beberapa syarat:

    Adanya suatu keadaan dharurat yang benar-benar, bukan hanya sekedar ingin kesempurnaan kebutuhan. Sedang apa yang disebut dharurat, yaitu satu hal yang tidak mungkin dapat dihindari, apabila terhalang, akan membawa kebinasaan. Seperti makanan pokok, pakaian pelindung dan berobat yang mesti dilakukan.

    Kemudian perkenan ini hanya sekedar dapat menutupi kebutuhan, tidak boleh lebih. Maka barangsiapa yang kiranya cukup dengan $9,- (9 pounds) misalnya, tidak halal hutang $10,-.

    Dari segi lain, dia harus terus berusaha mencari jalan untuk dapat lolos dari kesulitan ekonominya. Dan rekan-rekan seagamanya pun harus membantu dia untuk mengatasi problemanya itu. Jika tidak ada jalan lain kecuali dengan meminjam dengan riba, maka barulah dia boleh melakukan, tetapi tidak boleh dengan kesengajaan dan melewati batas. Sebab Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang.

    Dia berbuat begitu, tetapi harus dengan perasaan tidak senang. Begitulah sehingga Allah memberikan jalan keluar kepadanya.

    Rasulullah Selalu Minta Perlindungan pada Allah dari Berhutang

    Satu hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim tentang hukum agamanya, yaitu agama menyuruh supaya dia berlaku lurus dan sederhana dalam hidup dan kehidupannya.

    Firman Allah:

    “Dan jangan kamu berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan.” (al-An’am: 141)

    “Jangan kamu boros, karena sesungguhnya orang yang boros adalah kawan syaitan.” (al-Isra’: 26-27)

    Kalau al-Quran menuntut kepada orang-orang mu’min supaya menginfaqkan harta kekayaannya, maka al-Quran tidak menuntut kepada mereka melainkan supaya menginfaqkan sebagian harta, bukan semuanya. Sebab siapa yang mendermakan sebagian hartanya, maka sedikit sekali dia akan berkekurangan,

    Dengan kesederhanaan ini maka seorang muslim tidak lagi perlu berhutang, lebih-lebih Nabi sendiri tidak suka seorang muslim membiasakan berhutang. Sebab hutang dalam pandangan seorang muslim yang baik, adalah merupakan kesusahan di malam hari dan suatu penghinaan di siang hari. Justru itu Nabi selalu minta perlindungan kepada Allah dari berhutang. Doa Nabi itu sebagai berikut:

    “Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadamu dari terlanda hutang dan dalam kekuasaan orang lain.” (RiwayatAbu Daud)

    Dan ia bersabda pula:

    “Aku berlindung diri kepada Allah dari kekufuran dan hutang. Kemudian ada seorang laki-laki bertanya: Apakah engkau menyamakan kufur dengan hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Ya!” (Riwayat Nasa’i dan Hakim)

    Dan kebanyakan doa yang dibaca di dalam sembahyangnya ialah:

    “Ya Tuhanku! Aku berlindung diri kepadaMu dari berbuat dosa dan hutang. Kemudian ia ditanya: Mengapa Engkau banyak minta perlindungan dari hutang ya Rasulullah? Ia menjawab: Karena seseorang kalau berhutang, apabila berbicara berdusta dan apabila berjanji menyalahi.” (Riwayat Bukhari)

    Ia menjelaskan, bahwa dalam hutang itu ada suatu bahaya besar terhadap budipekerti seseorang.

    Beliau tidak mau menyembahyangi janazah, apabila diketahui bahwa waktu meninggalnya itu dia masih mempunyai tanggungan hutang padahal dia tidak dapat melunasinya, sebagai usaha untuk menakut-nakuti orang lain dari akibat hutang. Sehingga apabila dia mendapat ghanimah, maka beliau sendiri yang menyelesaikan hutangnya itu.

    Dan sabdanya:

    “Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya melainkan hutang.” (Riwayat Muslim)

    Berdasar penjelasan ini, maka seorang muslim tidak boleh berhutang kecuali karena sangat perlu. Dan kalaupun dia terpaksa harus berhutang, samasekali tidak boleh melepaskan niat untuk membayar. Sebab dalam hadis Rasulullah s.a.w. disebutkan:

    “Barangsiapa hutang uang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan Niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia.” (Riwayat Bukhari)

    Kalau seorang muslim tidak dibolehkan hutang tanpa rente, padahal hutang adalah mubah, kecuali karena dharurat, dan didesak oleh suatu keperluan, maka bagaimana lagi kalau hutangnya itu bersyarat harus dibayar dengan rente?!

    Menjual Kredit dengan Menaikkan Harga

    Termasuk yang perlu untuk disebutkan di sini, yaitu sebagaimana diperkenankan seorang muslim membeli secara kontan, maka begitu juga dia diperkenankan menangguhkan pembayarannya itu sampai pada batas tertentu, sesuai dengan perjanjian.

    Rasulullah s.a.w. sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo, untuk nafkah keluarganya. Begitu juga beliau pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi.

    Sekarang apabila si penjual itu menaikkan harga karena temponya, sebagaimana yang kini biasa dilakukan oleh para pedagang yang menjual dengan kredit, maka sementara fuqaha’ ada yang mengharamkannya dengan dasar, bahwa tambahan harga itu justru berhubung masalah waktu. Kalau begitu sama dengan riba.

    Tetapi jumhurul ulama membolehkan, karena pada asalnya boleh, dan nas yang mengharamkannya tidak ada; dan tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram.

    Imam Syaukani berkata: “Ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat.”

    Salam

    Sebalik di atas, yaitu seorang muslim dibenarkan membayar uang lebih dahulu untuk barang yang akan diterimanya kemudian.

    Cara semacam ini dalam fiqih Islam disebut salam.

    lni salah satu macam mu’amalah yang waktu itu biasa berlaku di Madinah. Akan tetapi Nabi Muhammad s.a.w. ikut mencampuri persoalan tersebut dengan memberikan beberapa pedoman dan persyaratan, untuk disesuaikan dengan tuntunan syariat Islam.

    Ibnu Abbas meriwayatkan: bahwa ketika Rasulullah s.a.w. tiba di Madinah, orang-orang pada menjalankan pengikat untuk buah-buahan dalam jangka waktu setahun dan dua tahun Kemudain Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Barangsiapa mencengkerami buah-buahan, maka cengkeramilah dengan suatu takaran tertentu, dan timbangan tertentu pada batas waktu tertentu.” (Riwayat Jam’ah)

    Dengan membatas takaran, timbangan dan jangka waktu ini, maka akan hilanglah pertentangan dan kesamaran. Tetapi di samping itu mereka juga mengadakan ikatan untuk jenis buah korma yang masih di pohon, maka dilarangnyalah hal itu oleh Nabi s.a.w. karena terdapat unsur-unsur kesamaran. Sebab kadang-kadang potion korma itu akan terserang hama sehingga tidak bisa berbuah.

    Jadi bentuk yang paling selamat dan aman dalam mu’amalah seperti ini, yaitu tidak bersyarat dengan jenis kormanya atau jenis gandumnya, tetapi yang penting ialah syarat takaran dan timbangan.

    Tetapi kalau di situ terdapat unsur-unsur pemerkosaan (exploitation) yang terang-terangan oleh pihak pemilik kebun, sehingga karena didorong oleh keperluan, terpaksa si pemberi ikatan harus menerima perjanjian tersebut, maka waktu itu dapat dihukumi haram.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 23 April 2016 Permalink | Balas  

    Hakikat Shalat 

    sholat-berjamaahHakikat Shalat

    Pada bulan Rajab ini, umat Islam memperingati peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Salah satu hikmah Isra Mi’raj yang terpenting adalah kewajiban shalat bagi setiap Muslim lima kali sehari semalam. Shalat merupakan ibadah yang paling fundamental dalam Islam. Ia bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi (seharusnya) merupakan kebutuhan manusia secara spiritualitas. Shalat berasal dari kata shalla-yushalli-shalat-shilat, yang berarti hubungan. Dalam konteks sufisme, shalat berarti adanya keterjalinan atau hubungan vertikal antara makhluk dan Khalik, antara hamba dan Tuhannya. Shalat merupakan wahana untuk mendekatkan diri pada Tuhan, ber-taqarrub kepada Allah SWT, penguasa jagat raya ini. Oleh karena itu, seorang Mukmin yang benar-benar shalat, jiwanya tenang dan pikirannya lapang. Pernah suatu kali Imam Hasan bin Ali ditanya orang, ”Mengapa orang yang melaksanakan shalat itu wajahnya berseri dan jiwanya tenteram?” Imam Hasan bin Ali menjelaskan, ”Karena mereka berdialog (munajat) pada Tuhannya.

    ” Shalat juga merupakan identitas bagi seorang Muslim. Nabi SAW bersabda, ”Perbedaan antara kami dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkannya, maka ia sudah kufur nikmat.” (HR Baihaqi). Dalam hadis lain dikatakan, ”Shalat itu tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat berarti mendirikan agama dan siapa yang meninggalkannya berarti ikut meruntuhkan agama.” (HR Turmudzi). Begitu pentingnya kewajiban shalat bagi seorang Muslim, sehingga tidak ada alasan apa pun yang dibenarkan untuk meninggalkan shalat, hingga ia sendiri malah dishalatkan. Pengecualian khusus hanya berlaku untuk wanita Muslimah yang sedang menstruasi. Dalam menunaikan shalat, setiap Muslim dianjurkan untuk berjamaah. Ini mengandung makna tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam. Persaudaraan yang didasarkan oleh ikatan religius, ukhuwah Islamiyah, untuk menebarkan kebenaran dan kemaslahatan bagi umat manusia. Rasa persamaan juga dipupuk dalam shalat berjamaah.

    Shalat berjamaah mengandung asas equality before law, persamaan di hadapan hukum. Siapa yang datang ke masjid lebih awal berhak menempati shaf pertama, tanpa memandang jabatan dan posisi seseorang. Dengan demikian, nilai-nilai demokrasi sebenarnya sudah ditanamkan pula di masjid melalui ibadah shalat yang dilakukan secara berjamaah. Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (Al-Ankabut: 45). Seorang Muslim yang benar-benar shalat jiwanya tenang dan hati pun tenteram. Karena, orang yang shalat selalu merasa dalam pengawasan Allah. Oleh karena itu, perbuatan keji dan munkar seperti praktik KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme), penipuan, penggelapan, dan manipulasi, mestinya dapat dicegah dalam masyarakat yang shalatnya baik. Ini semua bisa terjadi karena masyarakat akan selalu merasa berada dalam kontrol dan pengawasan Ilahi. Wallahu a’lam. (RioL)

    Shalat Bukan Sekadar Ritual

    Umat Islam tidak diwajibkan “melaksanakan” shalat, tetapi harus “mendirikan” shalat. Shalat tidak hanya sekadar gerakan dan bacaan yang sifarnya ritual-individual, tetapi harus berdampak pada perilaku sehari-hari. Bahwa shalat merupakan “tiang agama” (imaduddin), dan yang tidak melaksanakannya berarti meruntuhkan agamanya, kita sudah sama-sama mafhum. Demikian pula bahwasanya shalat dapat mencegah diri pelakunya dari perbuatan keji dan munkar (QS. 29: 45).

    Masalahnya sekarang, mengapa tidak sedikit seorang Muslim yang rajin melaksanakan shalat, tetapi perbuatan keji dan munkar tetap saja dilakukannya. Tentang hal ini, Nabi SAW pernah menyatakan, orang itu bukannya semakin dekat pada Allah SWT melainkan semakin jauh (bu’da).

    Bisa jadi, shalat yang tidak membuat seseorang menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar adalah shalat yang dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban dan “asal jadi”. Kekhusyukan dan kesempurnaannya kurang diperhatikan. Atau karena shalat yang dilakukannya tidak berlandaskan keikhlasan melainkan riya, ingin dipuji orang, atau bermotif duniawi. Firman Allah SWT: Celakalah orang-orang yang shalat; yaitu orang yang lalai dalam shalatnya dan mereka yang riya (dalam shalatnya) (QS. 107:5-6).

    Shalat bukanlah sekadar melaksanakan gerakan dan bacaan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seorang Muslim bukan hanya dituntut “melaksanakan” shalat, tetapi “mendirikan” shalat (aqama shalah). Artinya, shalat tidak hanya sekadar gerak badan dan bacaan (ritual-individual), tetapi harus pula tercermin dalam perilaku sehari-hari (shalat sosial). Semua pengakuan Allah SWT sebagai Tuhan, Muhammad SAW sebagai Rasul, harus terbuktikan dalam perilaku, berupa ketaatan terhadap semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

    Shalat adalah simbol kepasrahan seorang Muslim pada Allah SWT. Shalat menjadi simbol keislaman seseorang, karena hakikat Islam sendiri adalah “penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah,” sebagaimana makna asal kata “Islam,” aslama, yakni menyerahkan diri.

    Ketika memulai shalat dengan takbir, sambil mengangkat kedua tangan, itu menjadi simbol pengakuan keagungan Allah SWT. Tujuan hakiki dari shalat sendiri, menurut Ensiklopedi Islam, adalah pengakuan hati bahwa Allah SWT sebagai pencipta adalah agung dan pernyataan patuh pada-Nya. Bagi seseorang yang telah melakukan shalat dengan penuh rasa takwa dan keimanan, hubungannya dengan Allah SWT akan kuat, istiqamah dalam beribadah pada-Nya, dan menjaga ketentuan-ketentuan yang digariskan-Nya.

    Shalat harus dilaksanakan secara khusyuk. Artinya, secara sungguh-sungguh, ikhlas karena Allah SWT, tertib bacaan dan gerakannya, dan tidak lalai, tidak menunda-nunda, dan pikiran tidak ke mana-nama selagi shalat. Salah satu kunci mencapai kekhusyukan dalam shalat adalah mengerti apa yang diucapkan selama shalat, mulai dari bacaan takbir hingga salam. Artinya, mengerti dan memahami arti dari bacaan shalat. Jika kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan, sama halnya dengan mengigau. Kita tidak menyadari apa yang tengah diucapkan.

    Karena itu, bagi kita yang belum mengerti atau mengetahui satu per satu arti dan makna bacaan shalat, mulai dari takbir, doa iftitah, surat Al-Fatihah, bacaan ruku’, sujud, tahiyat, hingga salam, belum terlambat kiranya memulai untuk mencari tahu dan memahaminya.

    Shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan pokok dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat juga merupakan mediator untuk mendapatkan pertolongan dan ampunan Allah SWT, serta ketenangan jiwa (QS. 2:45). Shalat pun merupakan sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan (QS Al-Mukminun: 1, Al-Ma’arij: 19).

    Apalagi shalat wajib lima kali dalam sehari semalam itu merupakan penghapus dosa sebagaimana air yang dipakai mandi dapat menghapuskan daki yang ada di badan (HR Bukhari, Muslim, At-Turmudzi, An-Nasai, dari Abu Hurairah).

    Dengan shalat akan tercipta hubungan yang amat dekat dengan Allah SWT (taqarrub), sehingga terasa adanya pengawasan dari-Nya terhadap segala perilaku kita, yang pada gilirannya akan memberikan ketenangan dalam jiwa sekaligus mencegah terjadinya kelalaian yang dapat memalingkan dari ketaatan pada-Nya (QS. 51:56)

    Tiada perintah Allah SWT yang seketat shalat. Ibadah ini wajib dilaksanakan setiap Muslim dalam kondisi apa pun, selama nyawa masih menyatu dalam raga. Tidak mampu berdiri, boleh sambil duduk. Tidak mampu sambil duduk, silakan sambil berbaring. Tidak heran, menurut hadis Nabi SAW, amal pertama yang akan dihisab di akhirat nanti adalah shalat. Jika shalatnya baik, tanpa cela, maka akan baik pula seluruh amal; jika shalatnya jelek, maka akan buruk pulalah seluruh amal.

    Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang tidak saja memenuhi syarat dan rukun, ditambah kekhusyukan dalam pelaksanaannya, tetapi juga berdampak pada kebaikan perilaku sehari-hari. Seluruh bacaan dan gerakan shalat, jika direnungkan, menyimbolkan sekaligus mencerminkan perilaku yang seharusnya dilakukan seorang Muslim dalam kehidupannya.

    Takbir –sebagai pembuka shalat– menunjukkan sebuah pengakuan dan sikap dasar, dalam kehidupan seorang Muslim hanya Allah yang Mahabesar, sehingga hanya Dia pula yang ditaati, ditakuti, dan dipuji. Pengabdian, permohonan, dan penyandaran hidup hanya kepada Allah semata.

    Gerakan-gerakan shalat seperti ruku’, i’tidal, sujud, dan tahiyat merupakan simbol penghormatan hakiki kepada Allah. Tatkala sujud, kepala kita disejajarkan dengan tanah. Setidaknya hal itu bermakna, di hadapan Allah manusia dengan tanah sama-sama makhluk. Maka tak pantas jika kita berlaku angkuh, gila hormat, dan sebagainya, sebab pujian dan penghormatan hakiki hanya pantas diberikan kepada Allah SWT.

    Shalat ditutup dengan salam, sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika menutup shalat itu kita mendoakan orang di sekitar kita agar diberi keselamatan dan keberkatan. Bacaan dan gerakan itu bermakna, seorang Muslim hendaknya menebar keselamatan dan kedamaian kepada sesama, bukan menebar benih kecelakaan, kerusuhan, atau permusuhan. “Jika engkau bertemu saudaramu (sesama Muslim), sampaikan salam kepadanya” (HR Abu Daud). Dalam hadits lain Nabi SAW menegaskan, “Seorang Muslim adalah dia yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

    Muslim sejati tidak akan mengganggu orang lain dengan perkataan kotornya, umpatannya, atau ucapan-ucapan yang menyakitkan hati. Ia pun tidak akan mencelakakan orang lain dengan ulahnya. Muslim sejati senantiasa menghadirkan kemaslahatan dan manfaat bagi orang lain, bukan menjadi “trouble maker” atau pembawa bencana dan kesulitan bagi orang lain. “Sebaik-baik manusia ialah orang dapat memberi manfaat kepada manusia lain,” demikian sabda Nabi SAW dalam sebuah wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib. Wallahu a’lam.

    ***

    Kiriman Sahabat Agus Nadi

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 22 April 2016 Permalink | Balas  

    Melepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haid 

    wuduMelepaskan Ikatan Rambut Untuk Mandi Haid

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu-Syaikh

    Menurut dalil yang lebih kuat adalah tidak ada kewajiban melepaskan ikatan rambut ketika hendak mandi bagi wanita yang telah selesai haidh, sebagaimana tidak adanya kewajiban tersebut untuk mandi junub. Hanya saja, memang terdapat dalil-dalil yang mensyari’atkan untuk melepaskan ikatan rambut ketika mandi haidh, akan tetapi perintah yang terdapat dalam dalil-dalil ini bukan menunjukkan hal yang wajib berdasarkan dari hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha.

    “Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengikat rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?” dan dalam riwayat lain : “dan untuk mandi haid?”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air atas kepalamu sebanyak tiga kali, ….” [Hadits Riwayat Muslim]

    Ini adalah pendapat yang dipilih oleh pengarang kitab Al-Inshaf dan Az-Zarkasyi, sedangkan dalam mandi junub maka hukum melepaskan ikatan rambut bagi wanita tidaklah sunnah (mandub). Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata : “Apakah aku harus memerintah mereka untuk memotong rambut itu ?”

    Kesimpulannya adalah :

    Melepaskan ikatan rambut tidaklah disyari’atkan saat mandi junub akan tetapi hal itu ditekankan dan dianjurkan saat mandi haidh. Penekanan ini pun berbeda-beda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah, berdasarkan keringanan dan kesulitan melepaskan ikatannya.

    [Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/61]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia

    Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, hal.21-22 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 21 April 2016 Permalink | Balas  

    Sifat Mandi Junub dan Perbedaannya dengan Mandi Haid 

    wuduSifat Mandi Junub dan Perbedaannya dengan Mandi Haid

    Oleh: Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’

    Tidak ada perbedaan bagi pria dan wanita dalam hal sifat mandi junub, dan masing-masing tidak perlu melepaskan ikatan rambutnya akan tetapi cukup baginya untuk menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga tuang kemudian setelah itu menyiramkan air ke seluruh tubuhnya berdasarkan hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Sesungguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepala saya, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?”.

    Rasulullah menjawab :

    “Artinya : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, maka (dengan demikian) kamu telah bersuci” [Hadits Riwayat Muslim].

    Jika di atas kepala seorang lelaki maupun wanita terdapat ikatan atau pewarna rambut atau sesuatu lainnya yang dapat menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala, maka wajib dihilangkan, akan tetapi jika itu ringan dan tidak menghalangi mengalirnya air ke kulit kepala maka tidak wajib dihilangkan.

    Adapun mandinya wanita setelah haidh, para ulama berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya melepaskan ikatan rambutnya untuk mandinya. Yang benar, bahwa ia tidak harus melepaskan ikatan rambutnya untuk mandi tersebut, hal ini berdasarkan beberapa riwayat hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan Muslim bahwa ia (Ummu Salamah) berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Sesunguhnya saya seorang wanita yang mengikat gulungan rambut kepalaku, apakah saya harus melepaskan ikatan rambut itu untuk mandi junub ?”

    Rasulullah menjawab:

    “Artinya : Tidak, akan tetapi cukup bagimu untuk menuangkan air sebanyak tiga kali di atas kepalamu, kemudian kamu sirami seluruh tubuhmu dengan air, (dengan demikian) maka kamu telah bersuci”.

    Riwayat hadits Nabi ini adalah merupakan dalil yang menunjukkan tidak adanya kewajiban untuk melepaskan ikatan rambut untuk mandi junub atau untuk mandi haidh, akan tetapi sebaiknya ikatan rambut itu dilepas saat mandi haidh sebagai sikap waspada dan untuk keluar dari perselisihan pendapat serta memadukan dalil-dalil dalam hal ini.

    [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’, 5/320]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, hal. 20-21 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 20 April 2016 Permalink | Balas  

    Mandi Junub Merangkap Mandi Jum’at Atau Merangkap Mandi Haid Dan Mandi Nifas 

    wuduMandi Junub Merangkap Mandi Jum’at Atau Merangkap Mandi Haid Dan Mandi Nifas

    Oleh: Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’

    Barangsiapa yang diwajibkan baginya untuk melaksanakan satu mandi wajib atau lebih, maka cukup baginya melaksanakan satu kali mandi wajib yang merangkap mandi-mandi wajib lainnya, dengan syarat dalam mandi itu ia meniatkan untuk menghapuskan kewajiban-kewajiban mandi lainnya, dan juga berniat untuk dibolehkannya shalat dan lainnya seperti Thawaf dan ibadah-ibadah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaiihi wa sallam.

    “Artinya : Setiap perbuatan itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan bagian sesuai dengan yang diniatkannya”. [Muttafaqun ‘Alaih]

    Karena yang hendak dicapai dari mandi hari Jum’at bisa sekaligus tercapai dengan mandi junub jika bertetapan harinya.

    [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 5/328]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 30 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    Sumber : http://almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 19 April 2016 Permalink | Balas  

    Bolehkah Wanita Haidh Berdiam Di Masjid 

    wanita 1Bolehkah Wanita Haidh Berdiam Di Masjid

    Haram bagi wanita haidh untuk berdiam di masjid berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haidh dan orang yang sedang junub”

    Diriwayatkan oleh Abu Daud, dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya.

    “Artinya : Sesungguhnya Masjid tidak halal bagi wanita haidh dan orang yang sedang junub”

    Diriwayatkan oleh Ibnu Majah

    Dibolehkan bagi wanita haidh untuk berjalan melintasi masjid tanpa berdiam di masjid itu, berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata : Rasulullah bersabda.

    “Artinya : (Wahai Aisyah) Ambilkanlah untukku alas duduk dari masjid”, maka aku berkata : “Sesungguhnya aku sedang haidh”, maka beliau bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya haidhmu bukan di tanganmu (bukan kehendakmu)”

    Diriwayatkan oleh seluruh perawi hadits kecuali Al-Bukhari.

    Dan dibolehkan bagi wanita untuk membaca dzikir-dzikir yang masyru’, seperti membaca tahlil (Laa Ilaaha Illallah), takbir (Allahu Akbar), tasbih (Subhanallah) dan do’a-do’a lainnya yang bersumber dari wirid-wirid yang disyari’atkan di waktu pagi, sore, ketika tidur serta bangun dari tidur, juga boleh bagi wanita haidh untuk membaca kitab-kitab ilmiah seperti tafsir, hadits dan fiqh.

    [At-Tanbiyat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, halaman 14]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal. 156-157 penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

    ***

    Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=208&bagian=0

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 18 April 2016 Permalink | Balas  

    Gratis 

    nasehat ibundaGratis

    Pada suatu sore, putri kecil kami menghampiri Ibunya di dapur yang sedang menyiapkan makan malam. Ia menyerahkan selembar kertas yang sudah ditulisinya. Setelah istriku, Zahra, mengeringkan tangannya pada celemek, ia membacanya. Dan inilah tulisan putri kecil kami pada kertas tsb :

    Untuk membersihkan kamar minggu ini = Rp. 7,500.00

    Untuk pergi ke warung menggantikan Ibu = Rp. 3,000.00

    Untuk menjaga adik waktu Ibu belanja = Rp. 3,500.00

    Untuk membuang sampah = Rp. 4,500.00

    Untuk rapor yang bagus = Rp. 10,000.00

    Untuk membersihkan dan menyapu halaman = Rp. 20,000.00

    Jumlah Hutang Rp. 48,500.00

    Zahra memandang putri kecil kami yang berdiri di situ dengan penuh harap, dan aku bisa melihat berbagai kenangan terkilas dalam pikiran istriku. Jadi, ia mengambil pena, membalikkan kertas, dan inilah yang ditulisnya.

    Untuk 9 bulan ketika Ibu mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut Ibu, Gratis. Untuk semua malam ketika Ibu menemani, mengobati dan mendoakan kamu, Gratis. Untuk semua saat susah dan semua airmata yang kamu sebabkan selama ini, Gratis. Kalau dijumlahkan semua, harga cinta Ibu adalah, Gratis, Anakku.

    Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan utk rasa cemas di waktu yang akan datang, Gratis. Untuk mainan, makanan, baju dan juga menyeka hidungmu, Gratis. Dan kalau kamu jumlahkan semuanya, harga cinta sejati Ibu adalah Gratis, Anakku.

    Ketika putri kecil kami selesai membaca yang ditulis Ibunya, air matanya berlinang. Ia menatap Ibunya dan berkata, “Bu, saya sayang sekali sama Ibu.”

    Kemudian ia mengambil pena dan menulis dengan huruf besar “LUNAS”.”

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 17 April 2016 Permalink | Balas  

    Halal dan Haram Berdagang 

    Penjual-tempeHalal dan Haram Berdagang

    Mempermainkan Harga

    Islam memberikan kebebasan pasar, dan menyerahkannya kepada hukum naluri yang kiranya dapat melaksanakan fungsinya selaras dengan penawaran dan permintaan. Justru itu kita lihat Rasulullah s.a.w. ketika sedang naiknya harga, beliau diminta oleh orang banyak supaya menentukan harga, maka jawab Rasulullah s.a.w.:

    “Allahlah yang menentukan harga, yang mencabut, yang meluaskan dan yang memberi rezeki. Saya mengharap ingin bertemu Allah sedang tidak ada seorang pun di antara kamu yang meminta saya supaya berbuat zalim baik terhadap darah maupun harta benda.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Tarmizi, Ibnu Majah, ad-Darimi dan Abu Ya’la)

    Rasulullah s.a.w. menegaskan dalam hadis tersebut, bahwa ikut campur dalam masalah pribadi orang lain tanpa suatu kepentingan yang mengharuskan, berarti suatu perbuatan zalim, di mana beliau ingin bertemu Allah dalam keadaan bersih samasekali dari pengaruh-pengaruh zalim itu.

    Akan tetapi jika keadaan pasar itu tidak normal, misalnya ada penimbunan oleh sementara pedagang, dan adanya permainan harga oleh para pedagang, maka waktu itu kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan perorangan. Dalam situasi demikian kita dibolehkan menetapkan harga demi memenuhi kepentingan masyarakat dan demi menjaga dari perbuatan kesewenang-wenangan dan demi mengurangi keserakahan mereka itu. Begitulah menurut ketetapan prinsip hukum.

    Dengan demikian, apa yang dimaksud oleh hadis di atas, bukan berarti mutlak dilarang menetapkan harga, sekalipun dengan maksud demi menghilangkan bahaya dan menghalang setiap perbuatan zalim. Bahkan menurut pendapat para ahli, bahwa menetapkan harga itu ada yang bersifat zalim dan terlarang, dan ada pula yang bijaksana dan halal.

    Oleh karenanya, jika penetapan harga itu mengandung unsur-unsur kezaliman dan pemaksaan yang tidak betul; yaitu dengan menetapkan suatu harga yang tidak dapat diterima, atau melarang sesuatu yang oleh Allah dibenarkan, maka jelas penetapan harga semacam itu hukumnya haram.

    Tetapi jika penetapan harga itu penuh dengan keadilan, misalnya dipaksanya mereka untuk menunaikan kewajiban membayar harga mitsil dan melarang mereka menambah dari harga mitsil, maka hal ini dipandang halal, bahkan hukumnya wajib.

    Dalam bagian pertama, masuk apa yang disebut oleh hadis di atas. Jadi kalau orang-orang menjual barang dagangannya menurut cara yang lazim tanpa ada sikap-sikap zalim dari mereka, kemudian harga naik, mungkin karena sedikitnya barang atau karena banyaknya orang yang membutuhkan, sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan, maka naiknya harga semacam itu kita serahkan kepada Allah. Tetapi kalau orang-orang dipaksa menjual barangnya dengan harga tertentu, ini namanya suatu pemaksaan yang tidak dapat dibenarkan.

    Adapun dalam bagian kedua, yaitu misalnya si penjual tidak mau menjual barangnya, padahal sangat dibutuhkan orang banyak, melainkan dengan tambahan harga yang ditentukan, maka di sinilah timbulnya suatu keharusan memaksa mereka untuk menjual barangnya itu dengan harga mitsil.6

    Pengertian menetapkan harga dalam hal ini hanyalah suatu pemaksaan untuk menjualnya dengan harga mitsil, dan suatu penetapan dengan cara yang adil sebagai memenuhi perintah Allah.7

    Penimbun Dilaknat

    Sekalipun Islam memberikan kebebasan kepada setiap orang dalam menjual, membeli dan yang menjadi keinginan hatinya, tetapi Islam menentang dengan keras sifat ananiyah (egois) yang mendorong sementara orang dan ketamakan pribadi untuk menumpuk kekayaan atas biaya orang lain dan memperkaya pribadi, kendati dari bahan baku yang menjadi kebutuhan rakyat.

    Untuk itu Rasulullah s.a.w. melarang menimbun dengan ungkapan yang sangat keras.

    Sabda Rasul:

    “Barangsiapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka sungguh Allah tidak lagi perlu kepadanya.” (Riwayat Ahmad, Hakim, Ibnu Abu Syaibah dan Bazzar)

    Dan sabdanya pula:

    “Tidak akan menimbun kecuali orang berbuat dosa.” (Riwayat Muslim)

    Perkataan khathiun (orang yang berbuat dosa) bukan kata yang ringan. Perkataan ini yang dibawakan oleh al-Quran untuk mensifati orang-orang yang sombong dan angkuh, seperti Fir’aun, Haaman dan konco-konconya. Al-Quran itu mengatakan:

    “Sesungguhnya Fir’aun dan Haaman dan bala tenteranya, adalah orang-orang yang berbuat salah/dosa.” (al-Qashash: 8)

    Rasulullah s.a.w. menegaskan tentang kepribadian dan ananiyah orang yang suka menimbun itu sebagai berikut:

    “Sejelek-jelek manusia ialah orang yang suka menimbun; jika dia mendengar harga murah, merasa kecewa; dan jika mendengar harga naik, merasa gembira.” (hadis ini dibawakan oleh Razin dalam Jami’nya)

    Dan sabdanya pula:

    “Saudagar itu diberi rezeki, sedang yang menimbun dilaknat.” (Riwayat Ibnu Majah dan Hakim)

    Ini semua bisa terjadi, karena seorang pedagang bisa mengambil keuntungan dengan dua macam jalan:

    Dengan jalan menimbun barang untuk dijual dengan harga yang lebih tinggi, di saat orang-orang sedang mencari dan tidak mendapatkannya, kemudian datanglah orang yang sangat membutuhkan dan dia sanggup membayar berapa saja yang diminta, kendati sangat tinggi dan melewati batas.

    Dengan jalan memperdagangkan sesuatu barang, kemudian dijualnya dengan keuntungan yang sedikit. Kemudian ia membawa dagangan lain dalam waktu dekat dan dia beroleh keuntungan pula. Kemudian dia berdagang lainnya pula dan beroleh untung lagi. Begitulah seterusnya.

    Mencari keuntungan dengan jalan kedua ini lebih dapat membawa kemaslahatan dan lebih banyak mendapatkan barakah serta si pemiliknya sendiri –insya Allah– akan beroleh rezeki, sebagaimana spirit yang diberikan oleh Nabi s.a.w.

    Di antara hadis-hadis penting yang berkenaan dengan masalah penimbunan dan permainan harga ini, ialah hadis yang diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar salah seorang sahabat Nabi. Ketika dia sedang menderita sakit keras, didatangi oleh Abdullah bin Ziad –salah seorang gubernur dinasti Umaiyah– untuk menjenguknya. Waktu itu Abdullah bertanya kepada Ma’qil: Hai Ma’qil: Apakah kamu menduga, bahwa aku ini seorang yang memeras darah haram? Ia menjawab: Tidak. Ia bertanya lagi: Apakah kamu pernah melihat aku ikut campur dalam masalah harga orang-orang Islam? Ia menjawab: Saya tidak pernah melihat. Kemudian Ma’qil berkata: Dudukkan aku! Mereka pun kemudian mendudukkannya, lantas ia berkata: Dengarkanlah, hai Abdullah! Saya akan menceriterakan kepadamu tentang sesuatu yang pernah saya dengar dari Rasulullah s.a.w., bukan sekali dua kali.

    Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda demikian:

    “Barangsiapa ikut campur tentang harga-harga orang-orang Islam supaya menaikkannya sehingga mereka keberatan, maka adalah menjadi ketentuan Allah untuk mendudukkan dia itu pada api yang sangat besar nanti di hari kiamat.” Kemudian Abdullah bertanya: “Engkau benar-benar mendengar hal itu dari Rasulullah s.a.w.?!” Ma’qil menjawab: “Bukan sekali dua kali.” (Riwayat Ahmad dan Thabarani)

    Dari nas-nas hadis tersebut dan mafhumnya, para ulama beristimbat (menetapkan suatu hukum), bahwa diharamkannya menimbun adalah dengan dua syarat:

    Dilakukan di suatu negara di mana penduduk negara itu akan menderita sebab adanya penimbunan.

    Dengan maksud untuk menaikkkan harga sehingga orang-orang merasa payah, supaya dia beroleh keuntungan yang berlipat-ganda.

    Mencampuri Kebebasan Pasar dengan Memalsu

    Dapat dipersamakan dengan menimbun yang dilarang oleh Rasulullah s.a.w., yaitu: seorang kota menjualkan barang milik orang dusun. Bentuknya –sebagai yang dikatakan oleh para ulama– adalah sebagai berikut: Ada seorang yang masih asing di tempat itu membawa barang dagangan yang sangat dibutuhkan orang banyak untuk dijual menurut harga yang lazim pada waktu itu. Kemudian datanglah seorang kota (penduduk kota tersebut) dan ia berkata: Serahkanlah barangmu itu kepada saya, biarkan sementara di sini untuk saya jualkan dengan harga yang tinggi. Padahal seandainya si orang dusun itu sendiri yang menjualnya, sudah barang tentu lebih murah dan dapat memberi manfaat pada kedua daerah dan dia sendiri akan mendapat untung juga.

    Bentuk semacam ini, waktu itu sudah biasa terjadi di masyarakat, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Anas r.a.:

    “Kami dilarang orang kota menjualkan barang orang dusun, sekalipun dia itu saudara kandungnya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Dengan demikian, mereka bisa belajar: bahwa kemaslahatan umum harus lebih diutamakan dari kepentingan pribadi.

    Sabda Nabi:

    “Tidak boleh orang kota menjualkan untuk orang dusun; biarkanlah manusia, Allah akan memberikan rezeki kepada mereka itu masing-masing.” (Riwayat Muslim)

    Dari kata-kata Nabi yang singkat biarkanlah manusia, Allah akan memberikan rezeki kepada mereka itu masing-masing kita dapat membuat satu rumusan sebagai prinsip yang sangat penting dalam dunia perdagangan, yaitu: kiranya masalah pasar, harga dan pertukarannya dibiarkan mengikuti selera fitrah dan faktor-faktor tabi’i, tanpa dicampuri oleh suatu pemalsuan dari sementara orang.

    Ibnu Abbas pernah ditanya tentang maksud orang kota tidak boleh menjualkan untuk orang dusun, kemudian ia berkata: yaitu orang kota tidak menjadi makelar untuk orang dusun,

    Pengertiannya, kalau orang kota itu menunjukkan harga dan memberi nasehat serta memberitahukan tentang keadaan pasar, tanpa ada maksud mencari keuntungan seperti yang biasa dilakukan oleh makelar-makelar itu, maka hal semacam ini tidaklah berdosa. Karena dia memberi nasehat demi mencari keridhaan Allah. Sedang nasehat adalah salah satu bagian dari agama, bahkan agama itu sendiri seluruhnya adalah nasehat. Seperti kata Nabi:

    “Agama itu adalah nasehat” (Riwayat Muslim)

    Dan dalam hadis yang lain beliau bersabda:

    “Apabila salah seorang di antara kamu minta nasehat kepada saudaranya, maka nasehatilah dia.” (Riwayat Ahmad)

    Makelar secara umum bermaksud mencari keuntungan, yang kadang-kadang dia lupa terhadap kepentingan umum.

    Makelar Itu Sendiri Hukumnya Halal

    Makelar untuk orang luar daerah tidak berdosa. Sebab makelar semacam ini salah satu bentuk penunjuk jalan dan perantara antara penjual dengan pembeli, dan banyak memperlancar keluarnya barang dan mendatangkan keuntungan antara kedua belah pihak.

    Makelar atau katakanlah perantara dalam perdagangan, di zaman kita ini sangat penting artinya dibandingkan dengan masa-masa yang telah lalu, karena terikatnya perhubungan perdagangan antara importer dan produser, antara pedagang kolektif dan antara pedagang perorangan. Sehingga makelar dalam hal ini berperanan yang sangat penting sekali.

    Tidak ada salahnya kalau makelar itu mendapatkan upah kontan berupa uang, atau secara prosentase dari keuntungan atau apa saja yang mereka sepakati bersama.

    Al-Bukhari mengatakan dalam kitab Sahihnya: Bahwa Ibnu Sirin, ‘Atha’, Ibrahim dan al-Hasan menganggap tidak salah kalau makelar itu mengambil upah. Dan begitu juga Ibnu Abbas, ia berkata: Tidak ada salahnya kalau pedagang itu berkata kepada makelar: ‘Juallah bajuku ini dengan harga sekian. Adapun lebihnya (jika ada untungnya) maka buat kamu.’ Dan Ibnu Sirin juga berkata: Apabila pedagang berkata kepada makelar: ‘Jualkanlah barangku ini dengan harga sekian, sedang keuntungannya untuk kamu.’ Atau ia berkata: ‘Keuntungannya bagi dua.’, maka hal semacam itu dipandang tidak berdosa. Sebab Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda sebagai berikut:

    “Orang Islam itu tergantung pada syarat (perjanjian) mereka sendiri.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Hakim dan lain-lain)

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 16 April 2016 Permalink | Balas  

    Tathayyur (Merasa Sial) 

    takwaTathayyur (Merasa Sial)

    Merasa sial karena sesuatu, tempat, waktu, seseorang dan sebagainya adalah termasuk ramalan yang sangat laku di pasaran, secara berkelompok atau perorangan.

    Di zaman dahulu pernah juga terjadi demikian, misalnya tentang kaum Nabi Saleh, mereka ini berkata kepadanya:

    “Kami merasa sial sebab kamu dan orang-orang yang bersamamu.” (an-Naml: 47)

    Fir’aun dan kaumnya apabila ditimpa suatu musibah, mereka menganggap kesialannya itu karena Musa dan orang-orang yang bersamanya.1

    Dan banyak pula orang-orang kafir yang sesat itu kalau mendapat bala’ dari Allah, mereka kemudian berkata kepada para juru da’wah dan Rasul:

    “Kami merasa sial sebab kamu semua.” (Yasin:18)

    Tetapi para Rasul itu kemudian menjawab:

    “Kesialanmu itu sebab kamu sendiri.” (Yasin: 19)

    Yakni sebab-sebab kesialanmu itu ada pada kamu sendiri, yaitu lantaran kamu kufur, ingkar dan memusuhi Allah dan RasulNya.

    Orang-orang Arab jahiliah dalam segi ini mempunyai doa yang panjang dan bermacam-macam kepercayaan. Sehingga datanglah Islam kemudian dihapusnya dan mereka dikembalikan untuk mengikuti jalan fikiran yang lurus.

    Rasulullah merangkaikan ramalan dan sihir dalam satu susunan, seperti sabdanya:

    “Bukan dari golongan kami siapa yang merasa sial, atau minta diramalkan kesialannya, atau menenung, atau minta ditenungkan, atau mensihir, atau minta disihirkan.” (Riwayat Thabarani)

    Dan sabdanya pula:

    “Membuat garis di tanah, menganggap sial karena alamat dan melempar kerikil karena ada suatu kepercayaan, adalah termasuk menyembah selain Allah.” (Riwayat Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Hibban)

    Tathayyur, satu hal yang berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan atau suatu kenyataan yang benar. Tathayyur, hanya berjalan mengikuti kelemahan dan membenarkan dugaan yang salah (waham). Kalau tidak demikian, apa artinya seorang yang berakal percaya mendapat sial karena seseorang, atau karena tempat, karena dengkurnya suara burung, geraknya mata atau terdengarnya suatu perkataan?!

    Apabila nalurinya manusia itu ada kelemahan, maka akan mengalir pada dirinya suatu anggapan sial karena sesuatu. Seharusnya dia tidak mau menerima kelemahan ini. Lebih-lebih apabila dia sudah sampai pada fase bekerja dan pelaksanaan.

    Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

    “Ada tiga perkara yang tidak akan bisa selamat satupun, yaitu: menuduh, tathayyur dan hasud. Oleh karena itu kalau kamu menuduh jangan kamu nyatakan, dan kalau merasa sial jangan surut (jangan kamu gagalkan pekerjaanmu), dan kalau kamu hasud, jangan lanjutkan.” (Riwayat Thabarani)

    Oleh karena ketiga perkara ini hanya semata-mata perasaan yang tidak berpengaruh pada suatu sikap dan perbuatan, maka dimaafkannya oleh Allah.

    Dan diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah s.a.w. bersabda:

    “Tathayyur (merasa sial) adalah syirik.” 3 kali.

    Dan Ibnu Mas’ud sendiri berkata: ” …tetapi Allah akan menghilangkannya dengan tawakkal.” (Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

    Apa yang dimaksudkan oleh Ibnu Mas’ud itu, ialah: setiap orang di antara kita ini ada perasaan-perasaan seperti itu, tetapi perasaan semacam ini akan hilang lenyap dari hati orang yang selalu tawakkal dan tidak membiarkan perasaannya itu tinggal dalam hati.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 15 April 2016 Permalink | Balas  

    Sultan Agung Hanyakrakusumo 

    sultan agungSultan Agung Hanyakrakusumo

    Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu HanyakraKusumo, adalah raja pada dinasti Mataram setelah Panembahan Senopati (1584-1601) dan Panembahan Hanyakrawati (1601-1613). Pada pemerintahannya (1613-1646) pernah melakukan penyerangan terhadap VOC yang berkedudukan di Batavia, yaitu pada tahun 1628 dan 1629.

    Dalam sejarah babad mataram, Sultan Agung digambarkan sebagai seorang raja yang piawai dalam menjalankan roda tata negara dan kebudayaan. Dalam merumuskan upaya pengembangan kebudayaan Jawa, Sultan Agung dengan piawai merumuskan strategi konvergensi ajaran agama Islam kedalam budaya masyarakat mataram yang sebelumnya telah mengenal tradisi yang bersumber pada agama Hindu dan Budha.

    Sultan Agung pada tahun 1633 memberlakukan sistem perhitungan tahun model baru (tahun Jawa) menggantikan sistem perhitungan tahun Saka. Perubahan sistem perhitungan tahun ini sangat strategis, karena berarti seluruh penulisan serat babad maupun penanggalan yang akan dijadikan acuan masyarakatnya akan mengacu kepada sistem perhitungan model baru tersebut. Sistem Perhitungan kalender tahun Jawa ini mengacu dan menyesuaikan dengan sistem perhitungan kelender tahun Hijriah, sehingga ini merupakan kelanjutan proses Islamisasi tradisi dan kebudayaan Jawa yang telah dimulai semenjak pemerintahan Kerajaan Islam Demak Bintoro.

    Kalender tahun Saka merupakan warisan zaman Hindu-Budha. Sama seperti tahun Masehi, tahun Saka juga memakai dasar perhitungan Solair / Syamsiah yaitu mengikuti peredaran bumi mengitari matahari. Sedangkan tahun Jawa yang diberlakukan Sultan Agung adalah mengacu pada dasar perhitungan yang dipakai pada tahun Hijriyah. Pada sistem penanggalan Hijriyah maupun tahun jawa memakai sistem kalender berdasarkan sistem Lunair / Komariyah, yaitu berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi.

    Pada saat pemberlakuan kalender Jawa tersebut , tahun Saka telah berjalan sampai tahun 1554, Dalam tahun Jawa hasil rekayasa Sultan Agung tahun itu tetap diteruskan menjadi 1955 tahun Jawa. Padahal pada hakikatnya sistem perhitungan tahun saka sama sekali jauh berbeda dengan tahun Jawa yang mengacu kepada sistem perhitungan tahun Hijriah. Disinilah letak kepiawaian Sultan Agung, merombak secara revolusioner sistem penanggalan dengan mengganti system tahun Saka dengan tahun Jawa yang mengacu kepada sistem Hijriah tanpa membuat gejolak yang berarti pada masyarakatnya.

    Perubahan dan pemberlakuan itu terjadi pada tanggal 1 Suro tahun Alip 1555 Jawa atau 1 Muharam tahun 1043 Hijriyah atau 8 Juli 1633 Masehi. Disamping itu Sultan Agung juga mengembangkan seni kaligrafi tulisan Arab, melanjutkan lagi tradisi Sekaten yang diselengarakan bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari alat media dakwah kepada masyarakatnya.

    Kisah diatas hanyalah sebagian kecil dari ribuan kisah tentang pasang surutnya sejarah dakwah dan syiar Islam di negeri ini. Datang sejak abad pertama Hijriyah, pada masa Khulafaur Rasyidin memerintah, disebutkan bahwa Islam telah mulai masuk ke Indonesia. Sejarah panjang dakwah serta syiar yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita sejak zaman Samudera Pasai sampai ke masa Wali Songo dan diteruskan sampai hari ini oleh pejuang Islam, selayaknya patut kita syukuri. Para pendahulu kita dengan kearifannya telah berhasil setapak demi setapak menanamkan Islam dalam ranah Tauhid, Akhlak, Sosial, Ekonomi, Budaya , dan Politik di masyarakat negeri ini. Tak dapat dipungkiri bahwa Islam telah menjadi inpirasi dan memberikan warna dalam perjalanan dinamika bangsa kita ini. Mereka telah membangun pondasi, kini pun kita punya pijakan yang kuat untuk meneruskannya. Kearifan mereka dalam berdakwah adalah salah satu hal yang dapat kita jadikan contoh dan bahan perenungan, agar tak sia-sia daya upaya yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita.

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 14 April 2016 Permalink | Balas  

    Armageddon: Pertempuran Akhir Zaman 

    Reciting-QuranArmageddon: Pertempuran Akhir Zaman

    Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia.

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka. Sehingga, bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau kayu, kemudian batu atau kayu itu berkata, “Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon Gharqad (yang tidak berbuat demikian) karena ia termasuk pohon Yahudi.”

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Kalian akan diperangi oleh bangsa Yahudi. Lalu, kalian diberi kemenangan atas mereka, sampai-sampai batu pun akan berbicara, “Hai muslim, ini seorang Yahudi di balikku, bunuhlah ia!”

    Dua hadits di atas merupakan gambaran tentang episode akhir dari Armageddon. Armageddon yang merupakan peperangan di akhir zaman akan menggilas seluruh kekuatan Yahudi dan negara Israel serta sekutu-sekutunya di seluruh dunia. Betapa hebatnya pertempuran itu, sampai-sampai batu dan kayu ikut berbicara menunjukkan tempat persembunyian Yahudi. Kitab mereka sendiri juga mengatakan hal tersebut. Bibel pasal Yehezkiel (7 : 15) berjudul Kesudahan Yerusalem menyebutkan, “Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barangsiapa (Yahudi) yang di luar kota akan mati karena pedang, dan barangsiapa (Yahudi) yang di dalam kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar.”

    Hal ini dipertegas dalam Bibel kitab Yehezkiel pasal 6 ayat 11 – 14, “Beginilah firman Tuhan Allah, “Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke tanah dan serukanlah, “Awas!” Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang keji dan jahat, mereka akan rebah mati karena pedang, kelaparan, dan penyakit sampar. Yang jauh akan mati karena sampar, yang dekat akan rebah karena pedang, dan yang terluput serta terpelihara akan mati karena kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanahnya, di mana saja mereka diam akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi sepi mulai dari padang gurun sampai Ribla”

    Istilah Armageddon sebenarnya berasal dari bahasa Yunani. Istilah ini kemudian di kalangan orang Barat telah menjadi sinonim dalam pembahasan tentang hari akhir dunia. Di kalangan kaum muslimin juga dijumpai istilah tersebut, yaitu al-Majidun “kemuliaan” yaitu “Perang Kemuliaan”. Hal ini ditemukan dalam beberapa manuskrip yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan Islam di Timur Tengah.

    Armageddon adalah nama sebuah gunung di Palestina/Israel. Arti dari Armageddon sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Ar berarti Gunung (Har dalam bahasa Ibrani/Hebrew) dan Mageddon = Magiddo adalah nama kota kuno di wilayah Israel sebelah utara. Kota Magiddo terletak di pegunungan Samaria, di mana gunung ini membentang dari Magiddo di utara sampai ke Hebron di selatan.

    Di dunia Barat, Armageddon telah menjadi diskursus yang cukup urgen hingga sekarang. Mereka menggambarkan Armageddon sebagai peristiwa jatuhnya meteor raksasa ke bumi. Padahal, hal itu sangat jauh dari apa yang dimaksud dengan Armageddon itu sendiri. Peristiwa jatuhnya meteor ke bumi hanyalah salah satu episode dalam Armageddon.

    Lantas apa hakikat sebenarnya tentang Armageddon? Sebagai jawaban singkat, Armageddon adalah peristiwa besar di akhir zaman, yaitu perang dunia terbesar di akhir zaman yang dimulai dari Magiddo, sebuah kota di Israel di pegunungan Samaria. Nabi Muhammad saw. Menyebut Peperangan Akhir Zaman ini sebagai Al-Malhamah al-Kubro, suatu huru-hara besar yang belum pernah ada tandingannya, yang merupakan arena penampakan Kuasa Allah untuk membungkam kesombongan orang-orang kafir.

    Pada episode akhir zaman nanti, Isa Putra Maryam akan turun untuk menghakimi orang Yahudi atau Israel, yaitu orang-orang Yahudi keturunan Samiri si penyembah sapi, serta semua yang menjadi pendukungnya (Rum/Romawi). Mereka bersama pendukung-pendukungnya akan berkumpulkan di gunung Magiddo. Di sinilah Dajjal si Pendusta Besar berperan dalam terwujudnya Pertempuran Akhir Zaman. Di tengah-tengah pertempuran itu, Allah kirimkan “Hantaman yang Keras” (al-Bathsyah al-Kubro) yang menghantam tepat bala tentara Rum dan Israel. Sehingga, mereka terbunuh dengan hebatnya. Puncak dari pertempuran itu, Allah menurunkan Isa Putra Maryam (Yesus) untuk membunuh Dajjal dan pengikutnya.

    Peperangan Armageddon ini mempunyai rentang waktu yang lama. Sehingga, menyeret semua negara ke dalam dua poros, yaitu poros kaum kafir yang dipimpin oleh Dajjal dan poros kaum muslimin yang dipimpim oleh Al-Mahdi. Di tengah-tengah berkecambuknya perang ini, turunlah pertolongan Allah kepada kaum muslimin yaitu dengan diturunkannya Isa Almasih Putra Maryam Perawan Suci. Isa akan turun di menara putih di timur Damaskus ketika menjelang fajar. Kemudian Isa masuk ke markas kaum muslimin dan ikut dalam barisan shalat subuh. Setelah itu ia bersama Al-Mahdi akan memimpin kaum muslimin menyerbu seluruh markas kaum kafir, bahkan berhasil membunuh Dajjal dan seluruh orang kafir.

    Tempat Berlangsungnya Armageddon

    Terdapat banyak istilah tentang Armageddon, Rasulullah menyebutnya sebagai Al-Malhamah al-Kubra “pertempuran besar yang tidak ada tandingannya”. Istilah yang lainnya seperti Hari Jabal di Palestina. Istilah-istilah yang lainnya muncul berdasarkan nama tempatnya yaitu Samaria, Bukit al-Quds (Yerusalem), Tanah Isra dan Mikraj, Al-Jabal al-Majid (Majidu asy-Syam), Lembah Yosafat, dan Lembah Penentuan. Nama-nama tempat itu secara geografis adalah sama, yaitu dalam satu tempat/kawasan di Israel dan8 sekitarnya, meliputi juga Libanon bagian selatan yang berhadapan dengan kota Magiddo, bagian barat Yordania, serta bagian selatan Suriah (dataran tinggi Golan).

    Tanda-Tanda Dekatnya ARMAGEDDON

    Dari berbagai sumber/literatur, terdapat beberapa tanda sebagai isyarat dekatnya Armageddon.

    • Kembalinya/mengumpulnya Bani Israel ke Tanah Palestina.
    • Memuncaknya kedurhakaan Israel, dengan Ariel menjadi pemimpinnya.
    • Munculnya gerakan Intifadah (gerakan aksi lempar batu oleh anak-anak Palestina kepada Israel).
    • Munculnya Imam Mahdi untuk menghentikan kedurhakaan Israel

    ***

    Dikutip dari buku;Armagedon:Peperangan Akhir zaman

    Penulis : Ir.Wisnu Sasongko

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 13 April 2016 Permalink | Balas  

    Nishfu Syaban 

    malam nishfu syabanNishfu Syaban

    Keutamaan, Bacaan do’a & Cara Melaksanakannya

    (malam 15 Sya’ban 1425 H Insya Alloh jatuh pada hari Rabu 29 September 2004 M, Amalan ini boleh juga dilakukan di malam 13 atau 14, afdholnya di malam 15)

    • Malam Nishfu Sya’ban dan Keutamaannya
    • Doa yang Dibaca Berikut Artinya
    • Cara Melaksanakan Doa Nishfu Sya’ban

    Malam Nishfu Sya’ban dan Keutamaannya

    Bulan Sya’ban adalah bulan yang diapit oleh dua bulan yang sangat mulia, yaitu Rajab dan Ramadhan. Bulan Rajab merupakan salah satu dari 4 bulan haram: bulan-bulan yang dihormati. Allah berfirman agar kita tidak menganiaya diri kita dengan berbuat maksiat di bulan-bulan haram, sebab melakukan maksiat di bulan haram lebih berat tanggung jawabnya kelak di akhirat.

    Adapun keutamaan bulan Ramadhan sangat banyak,

    di antaranya:

    1 ) ibadah wajib di bulan itu seperti 70 ibadah wajib di bulan lain,

    2 ) amalan sunah dibulan itu senilai amalan wajib di bulan lain,

    3 ) pada bulan itu Quran diturunkan, dan

    4) terdapat malam yang lebih mulia dari seribu bulan, dll.

     

    Keutamaan yang banyak dari kedua bulan ini seakan menenggelamkan kelebihan bulan Sya’ban. Padahal, bulan Sya’ban juga memiliki keutamaan:

    Diriwayatkan kepadaku bahwa Usamah bin Zaid berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku belum pernah melihat engkau berpuasa di bulan lain lebih banyak dari puasamu di bulan Sya’ban.” Kata Nabi, “Bulan itu sering dilupakan orang karena diapit oleh bulan Rajab dan Ramadhan, padahal pada bulan itu, diangkat amalan-amalan (dan dilaporkan) kepada Tuhan Rabbil Alamin. Karenanya, aku ingin agar sewaktu amalanku dibawa naik, aku sedang berpuasa.”

    (HR Ahmad dan Nasai – dlm. Figh Sunah Abu Dawud).

    Adapun keutamaan bulan Sya’ban lainnya akan lebih jelas lagi dalam hadis-hadis berikut:

    HADIS PERTAMA

    Aisyah RA bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di Baqi’ sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata:

    “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” (HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah)

    HADIS KEDUA

    Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah)

    HADIS KETIGA

    Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, adakah yang begini (2x),  demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.”

    (HR Ibnu Majah).

    Demikianlah keutamaan dan kelebihan malam Nishfu Sya’ban, marilah kita manfaatkan malam yang mulia ini untuk mendekatkan diri dan memohon sebanyak- banyaknya kepada Allah.

    Doa yang Dibaca Berikut Artinya

    (Ditulis latin kurang lebih sbb : Allohumma Ya zal manni wala yumannu ‘alaih, Ya zal jalali wal ikrom, Ya zat-thauli wal in ‘am, La ilaha illa anta zhohrol lajin, wajarol mustajirin, wa amanal kho-ifin, Allohumma in-kunta katabtani ‘indaka fi ummil kitab, syafiyyan aw mahruman, aw mathrudan, aw muqottaron ‘alayya fir-rizqi, fa amhullohumma fi fadhlika syaqowati, waharmani, wathordi, wa iqtaro rizqi, wa asbitni ‘indaka fi ummil kitabi sa’idan, marzuqon, muwaffaqol khoyrot, fainnaka qulta, waqawlukal haq, fi kitabikal munzal, ‘ala lisani nabiyyikal mursal, {Yamhulloha ma yasya’u wayusbitu wa’dahu ummul kitab} Allohumma bit-tajallil a’dzom, fi laylatin-nishfhu min syahri sya’banal mukarrom, allati yufroqu fiha kullu amrin hakimin wayubrom, an aksyafa ‘anna minal bala-i ma na’lamu wama laa na’lam, wama anta bihi a’lam, innaka antal a-‘azzul akrom, washollallohu ‘ala syayyidina muhammadin, wa ‘ala alihi washohbihi wasallam, walhamdulillahi robbil ‘alamin).

    Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah, yang memiliki anugerah dan tidak dianugerahi, wahai yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, yang memiliki karunia dan kenikmatan, tiada Tuhan melainkan Engkau, Engkau tempat berlindung, tempat memohon pertolongan, dan tempat aman bagi orang yang ketakutan, Ya Allah, jika telah Engkau tuliskan nasibku dalam Ummul kitab sebagai orang yang sengsara, atau orang yang diharamkan mendapat kenikmatan, atau orang yang ditolak, atau orang yang disempitkan rezekinya, maka demi kemurahan-Mu, hapuskanlah ya Allah, kesengsaraanku, keterhalanganku dari nikmat, ketertolakkanku, dan kesempitan rezekiku, kemudian tetapkanlah aku di dalam Ummul Kitab yang ada di sisi-Mu sebagai orang yang bahagia, mendapat rezeki cukup, memperoleh taufiq untuk melakukan segala kebaikan, Sesungguhnya Engkau telah berfirman, dan firman-Mu lah yang benar, di dalam kitab-Mu yang diturunkan kepada nabi-Mu yang diutus, yaitu: “Allah (berkuasa utk) menghapus dan menetapkan yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya Ummul kitab” Ya Allah, dengan tajallimu yang Maha agung pada malam Nishfu Sya’ban yang mulia ini, yang di dalamnya dipisahkan dan dikukuhkan semua persoalan penting, aku mohon agar dihindarkan dari malapetaka yang aku ketahui, atau yang tidak aku ketahui, atau yang lebih Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau Maha Luhur dan Mulia. Semoga sholawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, dan segenap puji bagi-Mu ya Allah, Pemelihara sekalian alam.

    Cara Melaksanakan Doa Nishfu Sya’ban

    Cara melaksanakan ibadah di malam Nishfu Sya’ban ini berbeda-beda. Di bawah ini adalah cara yang dilakukan di Mesjid Riyadh, atau cara yang diajarkan oleh Habib Abubakar Alatas, syeikhnya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Muallif Simtud Duror.

    Salatlah Maghrib berjama’ah, dan selesaikan semua doa dan wirid, kemudian salatlah sunah ba’diah Maghrib

    Berikut adalah rangkaian ibadah nishfu sya’ban:

    PERTAMA

    Salatlah sunah awwabin 2 rakaat  niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin   lillaahi ta’aalaa  bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah  pada rokaat pertama dan kedua

    • setelah salam, bacalah fatihah dan yaa siin dengan   niat agar dipanjangkan umur dalam ketaatan kepada Allah al-faatihah wa yaa siin biniyyati thuulil ‘umr ma-‘at  taufiiq li thoo-‘atillaah

    KEDUA

    • salatlah sunah awwabin 2 rakaat  niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin  illaahi ta’aalaa  bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah  pada rokaat pertama dan kedua
    • setelah salam bacalah fatihah dan yaa siin dengan  niat agar diselamatkan dari segala mara bahaya  al-faatihah wa yaa siin biniyyatil hifzh wal ‘ishmati  minal aafaat wal ‘aahaat

    KETIGA

    • salatlah sunah awwabin 2 rakaat  niatnya: ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin  lillaahi ta’aalaa  bacalah surat al-ikhlash 6x setelah fatihah  pada rokaat pertama dan kedua
    • setelah salam, bacalah fatihah dan yaa siin dengan  niat agar dapat berdikari tanpa membutuhkan  bantuan dari sesama makhluk Allah dan agar  meninggal dalam husnul khotimah  al-faatihah wa yaa siin biniyyatil istighnaa`  ‘anin naas wa husnul khootimah.

    (Akhir dari ibadah ini akan bersamaan dengan masuknya waktu Isya).

    Sholat ini hendaknya dilakukan secara berjamaah dengan istri, anak, pembantu, tetangga, di mesjid dll. Pada salat awwabin imam hanya membaca jahr (dengan suara keras) surat al-faatihah saja.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 12 April 2016 Permalink | Balas  

    Pujian dan Celaan 

    berdoa1Pujian dan Celaan

    Pujian dan celaan adalah bagian dari romantika hidup manusia. Hari ini seseorang memuji kita, tetapi besoknya mungkin mencela kita. Bagi muslim yang bertauhid, pujian dan celaan dianggap sama saja, senantiasa ia kaitkan dengan Ridha Allah SWT.

    Setiap manusia pada dasarnya memiliki perasaan takut dicela, ini termasuk ciri manusia, sama dengan rasa malu (muru’ah). Rasa ini jika dibiarkan dalam cengkeraman nafsu akan menyebabkan mata hati menjadi buta dan tuli dalam menempatkan rasa ini pada porsi yang sebenarnya. Penyebab dari hal ini antara lain adalah :

    1. Rasa sakit hati apabila merasakan adanya kekurangan dalam diri.
    2. Tidak memahami hakikat celaan dan pujian.
    3. Tidak mampu menguasai hati dalam menempatkan rasa malu.

    Seyogyanya kita memahami dan menimbang hal dibawah ini dengan hati yang bersih dan akal yang jernih :

    1. Jika celaan itu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bersyukurlah atas celaan itu, karena berarti mengingatkan akan kesalahan kita, anggaplah celaan itu Rahmat Allah SWT untuk membenahi yang kesalahan itu.
    2. Jika celaan itu tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bersyukurlah atas celaan itu karena berarti dosa kita semakin berkurang dan kebaikan kita semakin bertambah.
    3. Terkadang rasa takut dicela dan dihina ini dapat menyesatkan dan menjerumuskan kita, karena kita tak lagi waspada terhadap kesalahan diri kita dan menutup kebenaran menghampiri diri kita.
    4. Bersyukurlah bahwa celaan itu “hanya” datang dari orang saja, hanyalah dalam pandangan dan perasaan duniawi saja. Merupakan malapetaka jika celaan itu datangnya dari Allah SWT.
    5. Jangan sekali-kali bertahan demi gengsi dengan mencampakkan kebenaran dan menyokong kebatilan. Karena terkadang dalam celaan itu terkandung pula kebenaran.

    Demikian sedikit kutipan tausiah yang pernah saya dengar dari seorang ustadz yang suka tahlilan, semoga ada manfaatnya.

    ***

    Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 11 April 2016 Permalink | Balas  

    Bulan Sya’ban: Persediaan Di Ambang Ramadhan 

    malam nishfu syabanBulan Sya’ban: Persediaan Di Ambang Ramadhan

    Setiap bulan dalam sepanjang tahun mengikut kiraan taqwim Hijriyyah mempunyai kelebihan tertentu dan keistimewaan beribadat di dalamnya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala menciptakan hari atau bulan itu ada yang baik dan ada yang lebih baik. Sebagaimana yang disebutkan oleh hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai kelebihan bulan Muharram, Rejab, Sya‘ban, Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah sebagai bulan-bulan yang istimewa. Begitu juga dengan hari-hari tertentu seperti Juma‘at, Khamis dan Isnin mempunyai pelbagai fadhilat.

    Bulan Sya‘ban Dan Galakkan Beribadat Di Dalamnya

    Sekarang kita berada di bulan Sya‘ban. Bulan Sya‘ban juga mempunyai keistimewaan tersendiri di dalam Islam. Keadaan ini samalah juga dengan bulan-bulan yang lain yang mempunyai fadhilat tersendiri, sehingga menyebabkan kehadirannya sentiasa ditunggu-tunggu oleh mereka yang ahli ibadat sebagai masa mengait pahala.

    Bulan Sya‘ban adalah antara bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di mana Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam akan lebih banyak berpuasa di bulan ini. Pernah diriwayatkan bahawa Baginda tidak pernah berpuasa sunat dalam sebulan, lebih banyak daripada puasanya di bulan Sya‘ban.

    Dalam makna yang lain Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan puasa sunat di bulan Sya‘ban dibandingkan bulan-bulan yang lain. Oleh kerana itu amatlah dituntut bagi umat Islam mencontohi apa yang dilakukan oleh Baginda itu kerana selain memperbanyak amal kebajikan di bulan ini, ia juga merupakan suatu latihan rohani ke arah mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

    Amalan-Amalan Sunat Pada Bulan Sya‘ban

    Keistimewaan bulan ini bahawa amalan seluruh manusia diangkat untuk dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala, maka sewajarnyalah sepanjang bulan ini diisikan dengan amal ibadah dan kebajikan. Maka antara amalan yang digalakkan pada bulan Sya‘ban adalah:

    1. Memperbanyak puasa sunat.

    Bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih gemar berpuasa sunat dalam bulan Sya‘ban berbanding dengan bulan-bulan yang lain.

    1. Bertaubat dan beristiqhfar

    Taubat ialah pembersihan rohani kerana taubat itu menjadi tuntutan dalam agama supaya setiap diri individu yang sememangnya tidak ma‘shum ini melakukan taubat pada setiap masa dan ketika. Tegasnya hukum taubat itu adalah wajib dari segi syara‘. Walau bagaimanapun sebenar-benar taubat itu ialah yang dikatakan taubat nasuha.

    Taubat nasuha tidak akan tercapai tanpa mendatangkan terlebih dahulu syarat-syarat yang ditentukan. Umpamanya jika dosa itu antara hamba dengan Tuhan:

    1. Hendaklah dia meninggalkan dosa atau maksiat itu.
    2. Hendaklah dia benar-benar menyesali dan merasa dukacita atas perbuatan maksiatnya itu.
    3. Hendaklah dia berjanji dan berazam untuk tidak akan kembali mengulangi melakukannya.

    Manakala jika dosa itu bersangkut paut dengan hak orang lain, maka selain syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan di atas, ditambah lagi satu syarat iaitu hendaklah membersihkan dirinya daripada hak orang itu atau orang yang melakukan dosa itu memohon maaf kepada orang berkenaan.

    Selain daripada itu, peranan taubat itu sendiri tidak terhenti setakat membersihkan diri daripada segala dosa dan maksiat. Lebih daripada itu ia juga merupakan suatu cara untuk kita sentiasa berlindung diri kepada Allah subhanahu wa Ta‘ala memohon keberkatan ketika kita memulakan dan membuat sesuatu pekerjaan yang berfaedah dan mengharapkan kurnia, taufiq serta diselamatkan daripada ditimpa musibah, kesusahan, kesulitan dan sebagainya.

    Adapun istighfar itu pula ialah pernyataan memohon ampun kepada Allah daripada semua dosa. Lafaz istighfar itu di antaranya ialahأستغفر الله العظيم (Astaghfirullohal ‘adzim) berarti: “Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung”.

    1. Memperbanyak zikir dan berdoa

    Zikir ialah ucapan yang dilakukan dengan lidah atau mengingati Allah dengan hati, dengan ucapan atau ingatan yang mempersucikan Allah dan membersihkanNya dari sifat-sifat yang tidak layak untukNya.

    Terdapat banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang memerintahkan agar manusia mengambil berat tentang zikir. Banyak faedah yang diperolehi hasil daripada berzikir. Antaranya ialah:

    1. Menenangkan hati:

    Ini bersesuaian dengan janji Allah Subhanahu wa Ta‘ala bahawa orang-orang yang beriman itu tenang hati mereka dengan zikrullah. Ini kerana berzikir (mengingati Allah) itu mententeramkan hati manusia.

    1. Kawalan Diri dan Perlindungan Malaikat:

    Seseorang itu merasa terkawal kerana Allah sentiasa menyertainya di mana sahaja dia berada. Akibatnya paling minimal dia takut hendak berbuat maksiat dan bersedia pula untuk melakukan ketaatan.

    Bahkan dia juga mendapat kawalan sepenuhnya daripada malaikat. Bagi orang yang sekadar duduk di majlis zikir sekalipun tidak bersama berzikir akan mendapat juga rahmat Allah dan kawalan malaikat.

    iii. Terpelihara Daripada Godaan dan Pujukan Syaitan.

    1. Meningkatkan Rasa Kecintaan Kepada Allah:

    Untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah, mestilah memahami dan menghayati bacaan tasbih, doa dan istighfar yang diucapkan itu.

    Antara keistemewaan amalan zikir itu pula ialah:

    1. Zikir boleh dilaksanakan bila-bila masa walaupun sedang melakukan pekerjaan tanpa terikat dengan waktu. Ia juga boleh dilaksanakan dalam keadaan duduk, tidur, berdiri dan baring.
    2. Boleh dilaksanakan walaupun dalam keadaan berhadas sama ada hadas kecil mahu pun hadas besar. Walau bagaimanapun makruh berzikir secara lisan ketika berada di dalam tandas.

    Begitu juga dengan perkara doa. Doa boleh dilakukan tanpa mengira tempat dan masa. Doa ialah memohon sesuatu hajat atau perlindungan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan cara merendahkan diri dan tawadhu‘ kepadaNya.

    Selain daripada itu banyak lagi amal kebajikan yang boleh dilaksanakan di bulan Sya‘ban ini sebagai persiapan menyambut kedatangan Ramadhan seperti memperbanyakkan selawat atas junjungan besar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersembahyang sunat terutama di waktu malam, banyak bersedekah dan sebagainya. Maka rebutlah peluang dan kelebihan yang ada di bulan Sya‘ban ini untuk mempertingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, mengapa Baginda melebihkan berpuasa sunat di bulan Sya‘ban berbanding bulan-bulan yang lain? Baginda bersabda:

    Artinya: “Bulan itu (Sya‘ban) yang berada di antara Rejab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku di angkat ketika aku berpuasa”. (Hadis riwayat an-Nasaie)

    Kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban

    Adapun kelebihan Malam Nisfu Sya‘ban itu telah disebutkan di dalam hadis shahih daripada Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Allah menjenguk datang kepada semua makhlukNya di Malam Nisfu Sya‘ban, maka diampunkan dosa sekalian makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan.” (Hadis riwayat Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban)

    Di Malam Nisfu Sya‘ban juga, adalah di antara malam-malam yang dikabulkan doa. Berkata Imam asy-Syafi‘e dalam kitabnya al-Umm: “Telah sampai pada kami bahawa dikatakan: sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam iaitu: pada malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya ‘Aidil fitri, malam pertama di bulan Rejab dan malam nisfu Sya‘ban.”

    Menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban

    Nisfu Sya‘ban ialah hari ke lima belas daripada bulan Sya‘ban. Malam Nisfu Sya‘ban merupakan malam yang penuh rahmat dan pengampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Kenyataan ini dapat direnung kepada hadis yang diriwayatkan oleh Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu di atas.

    Adapun cara menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban sebagaimana yang dilakukan sekarang ini tidak berlaku pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan zaman para sahabat. Akan tetapi ia berlaku pada zaman tabi‘in dari penduduk Syam. Menyebut al-Qasthalani dalam kitabnya al-Mawahib al-Ladunniyah, bahawa para tabi‘in daripada penduduk Syam seperti Khalid bin Ma‘dan dan Makhul, mereka beribadat dengan bersungguh-sungguh pada Malam Nisfu Sya‘ban. Maka dengan perbuatan mereka itu, mengikutlah orang ramai pada membesarkan malam tersebut.

    Para tabi‘in tersebut menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan dua cara:

    1. Sebahagian mereka hadir beramai-ramai ke masjid dan berjaga di waktu malam (qiamullail) untuk bersembahyang sunat dengan memakai harum-haruman, bercelak mata dan berpakaian yang terbaik.
    2. Sebahagiannya lagi melakukannya dengan cara bersendirian. Mereka menghidupkan malam tersebut dengan beribadat seperti sembahyang sunat dan berdoa dengan cara bersendirian.

    Ada pun cara kita sekarang ini menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban dengan membaca Al-Qur’an seperti membaca surah Yasin, berzikir dan berdoa dengan berhimpun di masjid-masjid atau rumah-rumah persendirian sama ada secara berjemaah atau perseorangan adalah tidak jauh berbeza dengan apa yang dilakukan oleh para tabi‘in itu.

    Amalan-Amalan Bid‘ah Dalam Bulan Sya‘ban

    Dalam keghairahan kita menghidupkan Malam Nisfu Sya‘ban itu dengan berbagai cara ibadat, kita perlu berhati-hati agar tidak melakukan perkara-perkara bid‘ah.

    Di antara perkara bid‘ah itu ialah bersembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang ini sebenarnya tiada tsabit dalam ajaran Islam. Imam an-Nawawi dan Imam Ibnu Hajar telah menafikan adanya sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban kerana suatu sembahyang itu disyariatkan cukup dengan sandarannya sama ada dari nash Al-Qur’an atau pun hadis.

    Jika seseorang itu masih juga ingin untuk melakukan sembahyang, maka sayugialah dia mengerjakan sembahyang-sembahyang sunat yang lain seperti sunat Awwabin (di antara waktu maghrib dan Isya’), sembahyang tahajjud, akhirnya sembahyang witir atau sembahyang sunat muthlaq bukan sembahyang sunat Nisfu Sya‘ban. Sembahyang sunat muthlaq ini boleh dikerjakan pada bila-bila masa sahaja sama ada pada Malam Nisfu Sya‘ban atau pada malam-malam yang lain.

    Adalah mendukacitakan pada malam yang penuh berkat dan keampunan itu, wujud perkara-perkara yang tidak selari dengan syara‘, iaitu adanya orang yang membuat hiburan atau mengadakan konsert pada Malam Nisfu Sya‘ban. Apatah lagi jika hiburan atau permainan yang diadakan itu melibatkan ramai orang Islam sehingga terlepas untuk merebut peluang beribadat dan berdoa pada malam tersebut. Perbuatan seumpama ini setentunya menyumbang kepada maksiat.

    Sesunguhnya bulan Sya‘ban itu adalah bulan di mana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak berpuasa sunat dibandingkan pada bulan-bulan yang lain, iaitu sebagai persiapan dan persediaan untuk menghadapi bulan Ramadhan. Amalan Baginda itu sewajarnya dicontohi oleh sekalian umat Islam disamping bulan Sya‘ban itu sendiri mempunyai kelebihan yang tersendiri seperti Malam Nisfu Sya‘ban.

    === selesai ===

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 10 April 2016 Permalink | Balas  

    Apakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu 

    wudhuApakah Menyentuh Wanita Membatalkan Wudhu

    Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan.

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Apakah menyentuh wanita membatalkan wudhu?”.

    Jawaban.

    Yang benar adalah bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu kecuali jika keluar sesuatu dari kemaluannya, hal ini berdasarkan riwayat shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya :

    “Rasullah mencium salah seorang istrinya lalu beliau melaksanakan shalat tanpa mengulang wudhu beliau”.

    Karena pada dasarnya tidak ada sesuatu apapun yang membatalkan wudhu hingga terdapat dalil yang jelas dan shahih yang menyatakan bahwa hal itu membatalkan wudhu, dan karena si pria dianggap telah menyempurnakan wudhunya sesuai dengan dalil syar’i. Sesuatu yang telah ditetapkan dalil syar’i tidak bisa dibantah kecuali dengan dalil syar’i pula.

    Jika ditanyakan bagaimana dengan firman Allah yang berbunyi :

    “aw-laamastumu an-nisaa’a” artinya : “atau menyentuh perempuan” [An-Nisaa : 45, Al-Ma’idah : 6]

    Maka jawabnya adalah : Yang dimaksud dengan menyentuh dalam ayat ini adalah bersetubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih dari Ibnu Abbas.

    [Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Utsaimin 4/201]

    ***

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita-1, hal 18-19 Darul Haq]

    Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=875&bagian=0

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 9 April 2016 Permalink | Balas  

    Bersama Kesulitan Ada Kemudahan 

    Reciting-QuranBersama Kesulitan Ada Kemudahan

    Wahai manusia, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah bergadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu, dalam kesesatan akan datang petunjuk, dalam kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan terang benderang.

    Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemengangan (kepada rasul-Nya) atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. (QS Al Maidah : 52)

    Sampaikan kabar gembira pada malam hari, bahwa sang fajar pasti akan datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah, kepada orang yang dilanda kesusahan bahwa pertolongan akan datang secepar kelebatan cahaya dan kedipan mata, kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan segera tiba.

    Saat Anda melihat hamparang padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebuh yang rimbun penuh hijau dedaunan.

    Ketika Anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa tali itu akan segera putus.

    Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.

    Kobaran api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Dan itu karena pertolongan Ilahi membuka ‘jendela’ seraya berkata : “Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim (QS : Al-Anbiya : 69).

    Lautan luas tak kuasa menenggelamkan Kalimur Rahman (Musa a.s). Itu tak lain karena suara agung kala itu bertitah : “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk padaku (QS : Asy Syu’ara : 62).

    Ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi Muhammad S.A.W  yang ma’shum mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga rasa aman, tenteram, dan tenang pun datang menyelimuti Abu Bakar.

    Mereka yang terpaku pada waktu mereka yang terbatas dan pada kondisi mereka yang (mungkin) sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan, dan keputusasaan dalam hidup mereka. Itu, karena mereka hanya menatap dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah mereka saja. Padahal mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir, dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar rumahnya.

    Maka dari itu, janganlah pernah merasa terhimpit sejengkal pun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapa pun hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang silih berganti. Meski demikian, yang ghaib akan tetap tersembunyi, dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru, setelah itu semua, tetapi sesungguhnya setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.

    Sumber : La Thazan oleh Dr. ‘Aidh Al-qarni

     
  • erva kurniawan 1:22 am on 8 April 2016 Permalink | Balas  

    Ayah, Ibu, Jangan Murtadkan Anakmu! 

    nasehat-quran1Ayah, Ibu, Jangan Murtadkan Anakmu!

    “Aku ingin anakku nantinya bisa jadi penyanyi terkenal,” ujar seorang ibu muda dalam suatu obrolan di sebuah acara perpisahan anak-anak kelas III SMP di gedung cukup mewah di bilangan Jakarta. Kebetulan saat itu sedang ditampilkan acara hiburan yang diisi oleh sumbangan alunan suara merdu anaknya. “Kalo’ aku sih, anakku ingin aku masukkan ke sekolah modelling biar bisa jadi peragawati terkenal,” timpal ibu lainnya tak kalah sengit. Walhasil obrolan ibu-ibu yang ikut mengiring anak-anak mereka pada acara perpisahan sekolah, tak jauh dari seputar obsesi para ibu kalangan elit itu terhadap anak-anak mereka.

    Obsesi orangtua terhadap anak, memang tak dilarang dalam Islam. Selama obsesi itu merupakan wujud kasih sayang orangtua terhadap anak-anak mereka. Agar anak-anak mereka menjadi orang yang berhasil dalam karir, mandiri (baik secara materi maupun sikap mental), mendapat pendamping hidup yang baik, terpandang di masyarakatnya, serta tetap berbakti pada orangtua. Bagaimana soal berbakti kepada Tuhan? Ini juga hal yang sering tak dilupakan sebagai bagian obsesi para ortu terhadap anak-anak mereka. Biasanya satu paket, agar anak berbakti kepada orangtua dan agamanya.

    Namun sayangnya unsur terakhir ini, kerap cuma sebagai embel-embel formalitas dari bangunan obsesi para ortu yang diangankan pada anak-anak mereka. Tindak lanjut dari obsesi terakhir ini, sayangnya macet cuma sampai pada tataran angan-angan. Dalam bentuk implementasi, bak “jauh panggang dari api” alias berbanding terbalik.

    Ilustrasi di awal tulisan ini, mungkin bisa jadi contoh. Bagaimana tergiurnya seorang ibu pada predikat sukses duniawi yang kelak bisa disandang anak, tanpa mempedulikan apakah itu selaras dengan harapan Tuhan? Padahal hakikatnya, kita bukanlah the real owner dari anak-anak yang kita miliki. Kita hanya ditugasi Allah ‘Azza wa Jalla, Pemilik Sesungguhnya Seluruh Anak-Anak Manusia, cuma sebagai fasilitator yang harus bisa mengantarkan anak-anak kita kembali kepada Pemiliknya dalam keadaan orisinal (asli) sebagaimana dulu dia dilahirkan. Dalam bahasa imannya, anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci), karena itu ia harus kita kembalikan pada Pemiliknya juga dalam kondisi fitrah.

    Al Qur’an menegaskan hal itu. “Dan (ingatlah) ketika Robb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas jiwa-jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab; “Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap kesaksian ini.” (Surat Al A’raf 172).

    Setiap anak Adam yang terdiri dari beragam warna, beragam bahasa, beragam kultur, dan akhirnya berhimpun dalam berbagai suku bangsa di dunia itu, hakikatnya lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla). Ini merupakan warisan Robbani sekaligus modal dasar yang paling kokoh yang akan menentukan eksistensi kemanusiaan setiap insan. Bagaimana nilai-nilai keyakinan yang diajarkan anak, miliu tempatnya hidup, serta sistem pembinaan karakter yang diterapkan terhadap dirinya, kelak yang akan menentukan akan menjadi seperti apa anak di kemudian hari. Apakah anak tetap dalam fitrahnya, atau apakah bahkan ia kelak menjadi penentang fitrah yang dimilikinya?

    Karena itu Nabi mulia saw menegaskan, “Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitah. Maka orangtuanyalah yang kemudian berperan dalam merubah fitrahnya, apakah ia kelak menjadi Yahudi, menjadi Majusi, atau menjadi Nasrani.” (hadits shahih).

    Hadits di atas tidak menyebutkan, si anak bisa berubah menjadi Islam. Karena Islam (fitrah) itu sesungguhnya telah menyatu (inherent) dalam diri setiap anak yang lahir. Maka tugas para orangtua yang diamanati anak-anak yang fitrah itu oleh Allah swt, sesungguhnya adalah tetap mengasuh mereka dalam sistem dan pola yang fitrah. Dengan kata lain, anak-anak itu sebetulnya telah disediakan oleh Penciptanya suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka. Sehingga hanya dengan sistem itu anak-anak dijamin tak akan berubah fitrahnya hingga ia menghadap Tuhannya. Kita -para orangtua- yang seharusnya berperan mengarahkan, menempatkan, dan menjaga si anak agar tetap berada pada koridor sistem fitrah itu, yang tak lain adalah dienul Islam.

    Hanya sistem (dien) Islam yang bisa mengakomadasi, menumbuhkan, mengembangkan, serta mengokohkan potensi fitrah setiap manusia. Karena Islam adalah agama yang diciptakan oleh Pencipta sekaligus Pemilik manusia itu sendiri. Perintah itu dengan gamblang dituangkan dalam firmanNya yang agung; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia manusia tidak mengetahuinya.” (Ar Ruum: 30)

    Lantaran itulah para orangtua berperan mengenalkan, menggiring, dan menempatkan anak-anak agar dia hidup dalam habitat sistem fitrah itu (dienul Islam) secara permanen. Anak tak boleh sedikitpun disusupkan nilai-nilai asing pada aspek manapun, yang dapat merusak potensi fitrahnya. Sebaliknya orangtua berkewajiban menempa kepribadian anak berdasarkan petunjuk sistem fitrah itu, agar potensi fitrah anak menjadi sesuatu yang dominan muncul ke permukaan kepribadiannya. Sebab hanya manusia yang memiliki kepribadian fitrah yang akan bisa memelihara eksistensi kehormatan dirinya.

    Tentu saja keliru asumsi yang mengatakan, mengajarkan Islam pada anak, cuma urusan sholat, puasa, dan bersedekah. Namun dia tidak mendidiknya agar anak berpakaian sopan dan menutup aurat (bagi anak-anak perempuan). Dia tidak menciptakan atmosfer Islami di dalam rumah tangganya. Atau bahkan dia membiarkan anak-anaknya bebas mengikuti trend budaya Barat, baik dari segi pergaulan, selera hiburan, selera berpakaian, dan lain sebagainya. Atau juga dia membebaskan anaknya memilih jalan hidup yang bertentangan dengan Islam.

    Akan lebih keliru lagi misalnya, jika ada orangtua menginginkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihat, tapi menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah Kristen misalnya. Atau anak-anak kita biarkan bergaul dalam lingkungan komunitas atheistik/materialistik yang menganut paham pergaulan bebas. Komunitas yang menganggap semua agama sama, semua agama baik, surga tidak bisa diklaim hanya sebagai milik orang-orang Islam belaka. Jelas ini tidak kondusif bagi perkembangan fitrah anak. Bahkan sangat membahayakan fitrahnya.

    Jika kita tidak asuh anak-anak kita dalam asuhan sistem dan nilai-nilai yang Islami, jangan salahkan jika mereka kelak di kemudian hari menjadi orang-orang nyeleneh. Orang-orang yang tidak tau malu mempertontonkan aurat, Orang-orang yang menjadi pemuja ideologi Barat. Orang-orang yang sesungguhnya telah menjadi murtad (keluar dari Islam), na’udzubillah min dzalik.

    Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mau mendengar suara fitrah anak-anak kita. Agar kita tidak memaksakan kehendak dan obsesi kita yang barangkali justru akan memurtadkan mereka. Coba dengar baik-baik suara fitrah mereka: “Ayah, ibu, jangan murtadkan anakmu!” Wallahu a’lam.

    (ERA/VIT)

    http://www.swara.net/id/view_headline.php?ID=2205

     
  • erva kurniawan 1:51 am on 7 April 2016 Permalink | Balas  

    Mencari Berkah di Bulan Rajab 

    rajab-logoMencari Berkah di Bulan Rajab

    Assalamu a’alaikum wr. wb.

    Sebentar lagi kita akan berada dalam bulan baru. Baru dalam pengertian, karena bulan itu lain dengan enam bulan sebelumnya yang telah kita lalui. Yaitu bulan Rajab, satu dari empat bulan yang dinyatakan sebagai bulan haram. Dinyatakan sebagai bulan haram yang berarti harus dihormati, karena bulan-bulan itu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lain, seperti hal-hal yang semestinya dihalalkan pada bulan yang lain, pada bulan tersebut diharamkan.

    Di antara Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh bulan haram tersebut ialah, larangan berbuat kezaliman (aniaya) pada bulan itu.

    Dalam al-Qur’an al-Karim, (al-Taubah : 36) disebutkan, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. Dalam ayat ini jelas sekali, adanya larangan berbuat aniaya pada bulan haram.

    Yang dimaksud dengan bulan haram ialah empat bulan seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam shahihnya dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Bakrah ra, bahwasanya Nabi saw berkhutbah ketika Hajjatul-wada’. Dalam khutbahnya beliau bersabda, “Sesungguhnya masa telah berputar seperti sediakala pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun, dua belas bulan. Empat di antaranya bulan-bulan haram (yang dimuliakan). Yang tiga berturut-turut, yaitu Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah dan Muharram serta (yang keempat) Rajabnya Mudlar yang diapit oleh Jumada dan Sya’ban”.

    Mungkin ada yang bertanya, apakah dengan adanya larangan berbuat aniaya pada bulan haram, berarti pada bulan-bulan selainnya larangan-larangan itu diperbolehkan? Kita jawab, tetap tidak diperbolehkan.

    Para ahli tafsir menginterpretasikan aniaya dalam ayat tersebut dengan kemaksiatan, yang berarti pada bulan haram dilarang berbuat mengerjakan hal-hal yang dilarang oleh agama, karena dosanya semakin besar dari pada bulan selainnya. Demikian ini menandakan bahwa empat bulan terebut mendapat keistimewaan dengan adanya larangan berbuat aniaya pada bulan itu, meski sebenarnya berbuat aniaya tetap dihukumi haram sepanjang waktu. Hal ini untuk menjelaskan bahwa berbuat aniaya pada bulan tersebut lebih besar dosanya daripada bulan-bulan selainnya.

    Dalam kitab al-Asrar al-Muhammadiyyah, disebutkan bahwa, jika Allah SWT senang kepada seorang hamba-Nya maka akan mempotensikannya pada bulan-bulan yang utama dengan amalan-amalan saleh dan kebajikan, dan jika Dia membencinya, maka Allah akan mencerai-beraikan keinginannya serta mempotensikannya dalam perbuatan yang tidak baik, memperkeras dalam siksaannya, dan lebih-lebih dengan menghalang-halanginya untuk mendapatkan berkah pada waktu-waktu yang utama. Karena waktu-waktu yang utama merupakan musim berbagai kebajikan dan tampat-tempat yang besar sekali dimungkinkan mendatangkan laba dan keuntungan yang teramat banyak. Jika seorang pedagang melalaikan musim perdagangan (pasaran), ia tidak akan beruntung, dan jika ia melalaikan waktu-waktu yang utama, maka ia tidak akan sukses.

    Menurut Syeikh Isma’il Haqqi al-Barusawi, ulama shufi dan mufassir berkebangsaan Turki pada abad kedua belas hijri, Allah SWT berhak menentukan sebagian perkara yang serupa (dengan selainnya) dengan kemuliaan yang tidak Dia berikan kepada yang lainnya. Seperti Dia memberi hari Jum’at dan hari ‘Arafah dengan suatu kehormatan yang tidak Dia berikan kepada hari-hari yang lain dengan diberlakukannya ibadah tertentu pada kedua hari tersebut daripada hari-hari yang lain. Dia juga memberikan kemuliaan bulan Ramadlan dengan kemuliaan yang tidak Dia berikan pada bulan-bulan yang lain. Dia juga memberikan sebagian waktu siang dan malam dengan kewajiban melaksanakan shalat yang tidak Dia berikan kepada yang lainnya.

    Dia memberikan kemuliaan pada sebagian tempat-tempat dan negeri-negeri dengan tambahan kemuliaan dan kehormatan seperti negeri haram (tanah haram) dan masjidil-haram. Dengan demikian maka tidak ada keanehan jika Dia menentukan sebagian bulan dengan tambahan kemuliaan; di mana perbuatan-perbuatan haram pada bulan-bulan tersebut dosanya lebih besar dan lebih keras daripada ketika dikerjakan di bulan-bulan yang lain, pada bulan itu Dia melipatgandakan perbuatan-perbuatan buruk dengan memperbanyak siksaan-siksaan-Nya serta melipatgandakan amalan-amalan kebajikan dengan memperbanyak pahalanya.

    Allah memberikan keutamaan pada waktu-waktu tertentu daripada waktu-waktu yang lain, agar supaya jiwa dan hati hamba-hamba-Nya berlomba-lomba untuk mengejarnya dan menghormatinya, ruh-ruh mereka menjadi rindu untuk menghidupkannya dengan amal shaleh yang berupa ibadah dengan janji-janji keutamaan yang digemarinya.

    Menurut beliau, pemberian pahala yang berlipat ganda pada bulan-bulan tersebut semata-mata kemurahan ilahy dan anugerah rabbani. (Tafsir Ruh al-Bayan III/423).

    Di antara keistimewaan bulan-bulan haram dari pada bulan-bulan selainnya ialah disunatkannya berpuasa pada bulan-bulan tersebut. Termasuk bulan Rajab yang akan kita hadapi nanti. Berpuasa pada bulan haram pahalanya lebih besar daripada bulan-bulan selainnya terkecuali bulan Ramadan.

    Al-Imam al-Nawawi dalam Raudlah al-Thalibin (II/254) menyatakan, “Bulan-bulan yang paling utama untuk dipuasai setelah bulan Ramadlan ialah bulan-bulan haram; Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijjah, Muharram dan Rajab”.

    Menurut al-Imam Muhammad bin ‘Ali al-Syaukani, dalil yang menunjuk pada kesunatan berpuasa Rajab diambil zhahirnya hadits Usamah yang berbunyi, “Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia antara Rajab dan Ramadlan”. “Zhahirnya hadits ini menunjukkan bahwa masyarakat (pada waktu itu) lalai untuk menta’zimi Sya’ban dengan berpuasa sebagaimana mereka menta’zimi Rajab dan Ramadlan”. (Nail al-Awthar Syarh Muntaqa al-Akhbar II/316).

    Sedangkan dalil secara khusus yang menunjukkan pada keutamaan beribadah pada bulan Rajab secara khusus menurut al-Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani tidak ada dalil yang shahih yang pantas dijadikan hujjah, sebagaimana yang tertera dalam kitab beliau Tabyin al-‘Ajab bima Warada fi Fadll Rajab.

    Di sini mungkin ada yang perlu dijelaskan, bahwa meskipun pada bulan-bulan haram disunatkan melakukan amalan-amalan yang shaleh, pada bulan Rajab tidak boleh melakukan shalat sunat yang disebut dengan shalat ragha’ib. Shalat ini termasuk jenisnya shalat yang bid’ah. Dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, al-Malaibari berkata, “Termasuk bid’ah yang tercela dan pelakunya akan mendapatkan dosa serta para penguasa harus melarangnya ialah shalar ragha’ib sebanyak dua belas raka’at pada malam jum’at pertama di bulan Rajab yang waktunya antara shalat maghrib dan ‘isyak. Hadits-haditsnya termasuk hadits palsu, maudlu’ dan bathil dan jangan tertipu dengan orang yang menyebutkannya”. (I’anah al-Thalibin I/270).

    Nah, untuk menjiwai dan menyemangati bulan Rajab ini, kalangan nahdiyin di desa-desa ketika memasuki bulan Rajab dan Sya’ban membaca doa yang berupa, Allaahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya’baana wa ballighnaa ramadlaan. Doa ini dibaca oleh Nabi saw ketika memasuki bulan Rajab, seperti diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan lain-lain (baca: Kitab Fadlail Syahr Rajab hal: 45).

    Wallahu a’lam bish-shawab,-

    ***

    Arland

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 6 April 2016 Permalink | Balas  

    PELAJARAN DARI ISRA’ – MI’RAJ : KEUTAMAAN SHOLAT 

    shalat gaibPELAJARAN DARI ISRA’ – MI’RAJ : KEUTAMAAN SHOLAT

    RAJAB adalah bulan yang terkenal sebagai bulan yang memiliki banyak kelebihan. Bulan ini merupakan bulan yang mulia dan dalam bulan ini kita disuruh agar memperbanyak amal ibadah seperti berpuasa dan membersihkan hati dengan memperbanyak zikir dan istighfar. Bulan Rajab juga merupakan bulan yang banyak berlaku perisitwa besar dalam sejarah Islam. Salah satu peristiwa tersebut ialah peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia akan memperingati dan merayakankan hari tersebut dengan pelbagai acara, seperti mengadakan majlis-majlis keagamaan berupa ceramah-ceramah mengenai peristiwa Israk dan Mikraj dan pengajaran yang boleh diambil melalui peristiwa tersebut.

    Israk dan Mikraj berlaku pada 27 Rejab. Peristiwa ini merupakan mukjizat yang menjadi lambang keagungan dan penghormatan bagi Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Berbagai peristiwa yang dialami oleh Baginda dalam perjalanan Israk dan Mikraj. Dalam peristiwa tersebut Allah Subhanahu Wataala telah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam akan kekuasan dan kebesaran Allah Subhanahu Wataala dan di balik kejadian-kejadian yang diperlihatkan itu mengandung pengajaran dan peringatan kepada umat manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surah Al-Israa’ ayat 1 yang artinya :

    “Maha Suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Al-Haram (di Mekah) ke Masjid Al-Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.”

    Salah satu perkara penting yang terjadi dalam malam Israk dan Mikraj ialah Sholat lima waktu difardukan kepada umat Islam. Hal ini menunjukkan kepada kita betapa penting dan tingginya nilai Sholat itu di sisi Allah Subhanahu WaTaala. Perintah kewajiban ini nyata berbeda dari kesemua perkara-perkara wajib yang lain seperti zakat, puasa dan haji yang disyari’atkan melalui wahyu dari Alalh Subhanahu Wataala kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dengan perantaraan Malaikat Jibril Alaihissalam. Kewajiban Sholat lima waktu diterima oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam secara langsung dari Allah Subhanahu Wataala.

    Dalam Islam, Sholat merupakan ibadah yang mendekatkan kita kepada Allah Taala. Apabila kita mengerjakan Sholat, seolah-olah kita sedang berbicara dengan Allah Taala dan Sholat juga adalah salah satu cara kita menunjukkan rasa syukur kepada Allah Taala atas segala nikmat yang telah dikurniakan kepada kita. Ibadah Sholat juga adalah sebagai simbol pengabdian manusia kepada Penciptanya yang Maha Agung. Firman Allah Taala dalam Surah Adz-Dzaariyaat ayat 56 yang artinya:

    “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (beribadah kepada Allah).”

    Kewajiban Sholat fardu berbeda dari ibadat-ibadat wajib yang lain. Islam amat menitik-beratkan Sholat. Tidak seperti puasa, zakat dan haji yang kefarduannya boleh digugurkan atas sebab-sebab keuzuran syara’. Berlainan sekali dengan Sholat. Adapun Sholat itu wajib dikerjakan walau di mana dan dalam keadaan apapun. Jika seseorang itu sakit dan tidak mampu berdiri, Sholat boleh dilakukan dalam keadaan duduk, bahkan juga berbaring. Jika seseorang itu dalam keadaan musafir, dia boleh mengerjakan Sholat dengan dua cara, baik secara jamak ataupun qasar. Ini menunjukkan kepada kita betapa tingginya nilai Sholat itu. Selain itu, Sholat juga merupakan perkara pertama yang akan dihisab di akhirat nanti, kerana Sholat adalah pokok utama dalam semua amalan yang dikerjakan oleh manusia. Dengan Sholat dapat menghalang seseorang itu daripada melakukan maksiat dan Sholat juga sentiasa mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu Wataala.

    Kembali kita kepada peristiwa yang berlaku di malam Israk dan Mikraj. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam telah diperlihatkan gambaran yang akan berlaku kepada orang-orang yang mengingkari perintah Allah Subhanahu Wataala. Pada malam itu, Baginda telah menyaksikan suatu kaum yang mana kepala mereka dipukul dengan batu sehingga pecah dan dikumpulkan kembali dan kemudian dipukul dan dipalu lagi dengan batu. Perkara ini berlaku berulang-ulang tanpa henti. Lalu Baginda bertanya mengenai perkara tersebut kepada Malaikat Jibril apakah maksud peristiwa tersebut, lalu Malaikat Jibril menjawab, bahwa itu adalah mereka yang otaknya malas untuk menunaikan Sholat fardu. Begitulah dahsyatnya gambaran balasan yang bakal diterima oleh orang-orang yang enggan mengerjakan Sholat.

    Menurut riwayat, dikatakan pada mulanya Allah Subhanahu Wataala mewajibkan Sholat kepada umat Muhammad sebanyak lima puluh kali sehari semalam dan Nabi Muhammad menjunjung perintah tersebut pada awalnya. Namun dalam perjalanan pulang, Baginda telah berjumpa dengan Nabi Musa Alaihissalam yang menyarankan agar Rasulullah kembali kepada Allah Taala untuk memohon keringanan. Peristiwa turun naik Baginda ini berlaku berkali-kali sehinggalah Sholat yang diwajibkan itu menjadi lima waktu sehari semalam. Peristiwa ini seharusnya menjadi i’tibar kepada kita umat Islam agar mensyukuri nikmat yang dikurniakan oleh Allah Taala. Peristiwa tersebut memperlihatkan kepada kita betapa Maha Rahman dan Rahimnya Allah Subhanahu Wataala. Namun apa yang terjadi sekarang, walaupun Sholat fardu telah dikurangkan menjadi lima waktu sehari semalam, masih banyak umat Islam yang lalai menunaikannya. Bahkan ada segolongan umat Islam yang langsung tidak menunaikan Sholat dengan berbagai alasan yang dicipta sendiri.

    Sehubungan dengan itu, berkenaan dengan bulan Rajab yang mulia ini, marilah kita sama-sama menghayati kembali pengajaran yang kita peroleh dari peristiwa Israk dan Mikraj Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Sama-samalah kita memperbanyak amalan di bulan yang mulia ini dan yang penting sekali agar menjaga dan memperbaiki Sholat kita. Semoga Sholat kita diterima oleh Allah dan kita juga berdoa semoga dengan ini kita memperolehi hidayah dan keredaan Allah Subhanahu Wataala dan terhindar dari azab api Neraka pada hari akhirat kelak.

    Firman Allah Taala dalam Surah Al-Hajj ayat 7, yang artinyanya :

    “Hari orang-orang yang beriman! Rukuklah kamu, sujudlah kamu dan sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhan kamu dan kamu perbuatlah kebaikan, semoga kamu mendapat kemenangan.”

    wallohu a’lam bish-shawab,-

     
  • erva kurniawan 9:36 am on 5 April 2016 Permalink | Balas  

    Yang Lalu Biar Berlalu 

    siluet waktuYang Lalu Biar Berlalu

    Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad, dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

    Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ruang penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam penjara pengacuhan selamanya, atau diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

    Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam,  selamatkan diri Anda dari bayangan masa lampau! Adakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, air susu ke payudara ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingat keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakarann emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naif, ironis, memprihatikan, dan sekaligus menakutkan.

    Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang demikian sangat brharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

    Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu. Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikan : ”Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya”. Dan konon kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini : ”Mengapa engkau tidak menarik gerobak?” “Aku benci khayalan,” jawab keledai.

    Adalah bencana besar manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.

    Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikit pun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka dari itu, janganlah pernah melawan sunnah kehidupan.

    ***

    Sumber : La Thazan oleh Dr. ‘Aidh Al-qarni

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 28 March 2016 Permalink | Balas  

    Alasan yang Mendorong Keluarga Berencana 

    keluargaAlasan yang Mendorong Keluarga Berencana

    Di antara sekian banyak alasan yang mendorong dilakukannya keluarga berencana, yaitu:

    Pertama: Mengkawatirkan terhadap kehidupan atau kesehatan si ibu apabila hamil atau melahirkan anak, setelah dilakukan suatu penelitian dan cheking oleh dokter yang dapat dipercaya. Karena firman Allah:

    “Jangan kamu mencampakkan diri-diri kamu ke dalam kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

    Dan firman-Nya pula:

    “Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah maha belaskasih kepadamu.” (an-Nisa’: 28)

    Kedua: Kawatir akan terjadinya bahaya pada urusan dunia yang kadang-kadang bisa mempersukar beribadah, sehingga menyebabkan orang mau menerima barang yang haram dan mengerjakan yang terlarang, justru untuk kepentingan anak-anaknya. Sedang Allah telah berfirman:

    “Allah berkehendak untuk memberikan kemudahan kepadamu, bukan berkehendak untuk memberi kesukaran kepadamu.” (al-Baqarah: 185)

    “Allah tidak berkehendak untuk menjadikan suatu kesukaran kepadamu.” (al-Maidah: 6)

    Termasuk yang mengkawatirkan anak, ialah tentang kesehatan dan pendidikannya.

    Usamah bin Zaid meriwayatkan:

    “Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi s.a.w. kemudian ia berkata: ya Rasulullah! Sesungguhnya saya melakukan azl pada isteriku. Kemudian Nabi bertanya: mengapa kamu berbuat begitu? Si laki-laki tersebut menjawab: karena saya merasa kasihan terhadap anaknya, atau ia berkata: anak-anaknya. Lantas Nabi bersabda: seandainya hal itu berbahaya, niscaya akan membahayakan bangsa Persi dan Rum.” (Riwayat Muslim)

    Seolah-olah Nabi mengetahui bahwa situasi individu, yang dialami oleh si laki-laki tersebut, tidaklah berbahaya untuk seluruh bangsa, dengan dasar bangsa Persi dan Rum tidak mengalami bahaya apa-apa, padahal mereka biasa melakukan persetubuhan waktu hamil dan menyusui, sedang waktu itu kedua bangsa ini merupakan bangsa yang terkuat di dunia.

    Ketiga: Keharusan melakukan azl yang biasa terkenal dalam syara’ ialah karena mengkawatirkan kondisi perempuan yang sedang menyusui kalau hamil dan melahirkan anak baru.

    Nabi menamakan bersetubuh sewaktu perempuan masih menyusui, dengan ghilah atau ghail, karena penghamilan itu dapat merusak air susu dan melemahkan anak. Dan dinamakannya ghilah atau ghail karena suatu bentuk kriminalitas yang sangat rahasia terhadap anak yang sedang disusui. Oleh karena itu sikap seperti ini dapat dipersamakan dengan pembunuhan misterius (rahasia).

    Nabi Muhammad s.a.w. selalu berusaha demi kesejahteraan ummatnya. Untuk itu ia perintahkan kepada ummatnya ini supaya berbuat apa yang kiranya membawa maslahah dan melarang yang kiranya membawa bahaya. Di antara usahanya ialah beliau bersabda:

    “Jangan kamu membunuh anak-anakmu dengan rahasia, sebab ghail itu biasa dikerjakan orang Persi kemudian merobohkannya.” (Riwayat Abu Daud)

    Tetapi beliau sendiri tidak memperkeras larangannya ini sampai ke tingkat haram, sebab beliau juga banyak memperhatikan keadaan bangsa yang kuat di zamannya yang melakukan ghilah, tetapi tidak membahayakan. Dengan demikian bahaya di sini satu hal yang tidak dapat dielakkan, sebab ada juga seorang suami yang kawatir berbuat zina kalau larangan menyetubuhi isteri yang sedang menyusui itu dikukuhkan. Sedang masa menyusui itu kadang-kadang berlangsung selama dua tahun bagi orang yang hendak menyempurnakan penyusuan.

    Untuk itu semua, Rasulullah s.a,w. bersabda:

    “Sungguh saya bermaksud akan melarang ghilah, kemudian saya lihat orang-orang Persi dan Rum melakukannya, tetapi ternyata tidak membahayakan anaknya sedikitpun.” (Riwayat Muslim)

    Ibnul Qayim dalam menerangkan hubungan antara hadis ini dengan hadis sebelumnya, mengatakan sebagai berikut: “Nabi s.a.w. memberitakan pada salah satu segi: bahwa ghail itu berarti memperlakukan anak seperti orang-orang Persi mengadu kudanya, dan ini salah satu macam yang menyebabkan bahaya tetapi sifatnya bukan membunuh dan merusak anak, sekalipun kadang-kadang membawa bahaya anak kecil. Oleh karena itu Nabi s.a.w. membimbing mereka supaya meninggalkan ghail kendati bukan melarangnya. Kemudian beliau berazam untuk melarangnya guna membendung bahaya yang mungkin menimpa anak yang masih menyusu. Akan tetapi menutup pintu bahaya ini tidak dapat menghindari mafsadah yang juga mungkin terjadi sebagai akibat tertahannya jima’ selama dalam menyusui, lebih-lebih orang-orang yang masih berusia muda dan syahwatnya sangat keras, yang tidak dapat diatasi melainkan dengan menyetubuhi isterinya. Itulah sebabnya beliau mengetahui, bahwa maslahah dalam masalah ini lebih kuat daripada menolak mafsadah. Kemudian beliau melihat dua bangsa yang besar dan kuat (Romawi dan Persi) di mana mereka itu juga mengerjakan ghilah dan justru karena kekuatannya itu, mereka samasekali tidak ada rasa kawatir apa yang mungkin terjadi sebab ghilah. Oleh karena itulah beliau tidak jadi melarangnya.

    Di zaman kita ini sudah ada beberapa alat kontrasepsi yang dapat dipastikan kemaslahatannya, dan justru maslahah itulah yang dituju oleh Nabi Muhammad s.a.w., yaitu melindungi anak yang masih menyusu dari mara-bahaya termasuk menjauhi mafsadah yang lain pula, yaitu: tidak bersetubuh dengan isterinya selama menyusui, di mana hal itu sangat memberatkan sekali.

    Dengan dasar inilah, kita dapat mengira-ngirakan jarak yang pantas antara dua anak, yaitu sekitar 30 atau 33 bulan, bagi mereka yang ingin menyempurnakan susuan.

    Imam Ahmad dan lain-lain mengikrarkan, bahwa hal yang demikian itu diperkenankan apabila isteri mengizinkannya, karena dialah yang lebih berhak terhadap anak, di samping dia pula yang berhak untuk bersenang-senang.

    Sedang Umar Ibnul-Khattab, dalam salah satu riwayat berpendapat, bahwa azl itu dilarang, kecuali dengan seizin isteri.

    Demikianlah perhatian Islam terhadap hak-hak perempuan, di mana waktu itu dunia tidak mengenal dan tidak mengakuinya.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:47 am on 27 March 2016 Permalink | Balas  

    Keluarga Berencana 

    siluet keluarga 2Keluarga Berencana

    Tidak syak lagi, bahwa tujuan pokok perkawinan ialah demi kelangsungan jenis manusia. Sedang kelangsungan jenis manusia ini hanya mungkin dengan berlangsungnya keturunan. Islam sendiri sangat suka terhadap banyaknya keturunan dan memberkati setiap anak, baik laki-laki ataupun perempuan. Namun di balik itu Islam juga memberi perkenan (rukhshah) kepada setiap muslim untuk mengatur keturunannya itu apabila didorong oleh alasan yang kuat.

    Cara yang masyhur yang biasa dilakukan oleh orang di zaman Nabi untuk menyetop kehamilan atau memperkecil, yaitu azl (mengeluarkan mani di luar rahim ketika terasa akan keluar).

    Para sahabat banyak yang melakukan azl ketika Nabi masih hidup dan wahyupun masih terus turun, yaitu seperti yang tersebut dalam riwayat di bawah ini:

    “Dari Jabir r.a. ia berkata: kami biasa melakukan azl di masa Nabi s.a. w. sedang al-Ouran masih terus turun.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Di riwayat lain ia berkata:

    “Kami biasa melakukan azl di zaman Nabi s.a.w. maka setelah hal demikian itu sampai kepada Nabi, beliau tidak melarang kami.” (Riwayat Muslim)

    Diriwayatkan juga, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lantas ia berkata:

    “Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya mempunyai seorang hamba perempuan (jariyah) dan saya melakukan azl daripadanya, karena saya tidak suka kalau dia hamil dan saya ingin seperti apa yang biasa diinginkan oleh umumnya orang laki-laki, sedang orang-orang Yahudi berceritera: bahwa azl itu sama dengan pembunuhan yang kecil. Maka bersabdalah Nabi s.a.w.: dusta orang-orang Yahudi itu! Kalau Allah berkehendak untuk menjadikannya (hamil), kamu tidak akan sanggup mengelakkannya.” (Riwayat Ashabussunan)

    Yang dimaksud oleh Nabi, bahwa persetubuhan dengan azl itu, kadang-kadang ada setetes mani masuk yang menyebabkan kehamilan sedang dia tidak mengetahuinya.

    Di zaman pemerintahan Umar, dalam satu majlis orang-orang banyak berbincang masafah azl. Kemudian ada salah seorang laki-laki yang berkata: bahwa orang-orang Yahudi beranggapan, azl itu berarti pembunuhan yang kecil. Kemudian Ali r.a. ber kata: “Tidak dinamakan pembunuhan, sehingga mani itu berjalan tujuh tahap, yaitu: mula-mula sari tanah, kemudian menjadi nuthfah (mani), kemudian menjadi darah yang membeku, kemudian menjadi segumpal daging, kemudian daging itu dilengkapi dengan tulang-belulang, kemudian dililiti dengan daging dan terakhir menjadi manusia.” Lantas Umar menjawab: betul engkau, ya Ali! Semoga Allah memanjangkan umurmu!

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:05 am on 26 March 2016 Permalink | Balas  

    Hubungan Suami dan Isteri 

    siluet keluarga 2Hubungan Suami-Isteri

    Al-QURAN menganggap penting untuk menampilkan masalah tujuan kejiwaan dari perkawinan, dan tujuan itu justru dijadikan standar membina kehidupan berumahtangga. Tujuan ini untuk melukiskan ketenteraman nafsu seksual dengan memperoleh keragaman cinta antara suami-isteri, memperluas dunia kasih-sayang antara dua keluarga, lebih meratanya perasaan cinta kasih yang meliputi kedua orang tua sampai kepada anak-anak.

    Inilah arti yang terkandung dalam firman Allah yang mengatakan:

    “Di antara tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, yaitu Ia menjadikan untuk kamu jodoh-jodoh dari diri-diri kamu sendiri supaya kamu menjadi tenteram dengan jodoh itu, dan Ia menjadikan antara kamu cinta dan kasih-sayang, sesungguhnya yang demikian itu sungguh sebagai bukti-bukti bagi orang yang mau berfikir.” (ar-Rum: 21)

    Jalinan Perasaan Antara Suami-Isteri

    Tetapi al-Ouran juga tidak melupakan segi perasaan dan hubungan badaniah antara suami-isteri. Untuk itu maka al-Quran memberikan bimbingan ke arah yang lebih lurus yang dapat menyalurkan kepentingan naluri dan menghindari yang tidak diinginkan.

    Dalam riwayat diceriterakan, bahwa orang-orang Yahudi dan Majusi terlalu berlebih-lebihan dalam menjauhi isterinya ketika datang bulan; kebalikan dari orang-orang Nasrani, yang menyetubuhi isterinya ketika datang bulan. Mereka samasekali tidak menghiraukan masalah datang bulan itu. Dan orang-orang jahiliah samasekali tidak mau makan, minum, duduk-duduk dan tinggal serumah dengan isterinya yang kebetulan datang bulan, seperti yang dikerjakan oleh orang Yahudi dan Majusi.

    Justru itu sementara orang-orang Islam bertanya kepada Nabi, apa yang sebenarnya dihalalkan dan apa pula yang diharamkan buat mereka, ketika isterinya itu datang bulan. Maka turunlah ayat yang berbunyi:

    “Dan mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haidh, maka jawablah: bahwa dia itu berbahaya. Oleh karena itu jauhilah perempuan ketika haidh, dan jangan kamu dekati mereka sehingga mereka suci, dan apabila sudah suci, maka bolehlah kamu hampiri mereka itu sebagaimana Allah perintahkan kepadamu, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang taubat dan orang-orang yang bersih.” (al-Baqarah: 222)

    Sementara orang Arab ada yang memahami arti menjauhi perempuan ketika haidh itu berarti tidak boleh tinggal bersama mereka, justru itu Nabi Muhammad s.a.w. kemudian menjelaskan kepada mereka maksud daripada ayat tersebut, dengan sabdanya sebagai berikut.

    “Saya hanya perintahkan kepadamu supaya kamu tidak menyetubuhi mereka ketika mereka itu dalam keadaan haidh; dan saya tidak menyuruh kamu untuk mengusir mereka dari rumah seperti yang dilakukan oleh orang ajam. Ketika orang-orang Yahudi mendengar penjelasan ini, kemudian mereka berkata: si laki-laki ini (Nabi Muhammad) bermaksud tidak akan membiarkan sedikitpun dari urusan kita, melainkan ia selalu menyalahinya.”

    Dengan demikian tidak salah seorang muslim bersenang-senang dengan isterinya ketika dalam keadaan haidh, asalkan menjauhi tempat yang berbahaya itu.

    Di sini Islam tetap berdiri –sebagaimana statusnya semula– yaitu penengah antara dua golongan yang ekstrimis, di satu pihak sangat ekstrim dalam menjauhi perempuan yang sedang datang bulan sampai harus mengusirnya dari rumah; sedang di pihak lain memberikan kebebasan sampai kepada menyetubuhinya pun tidak salah.

    Ilmu kesehatan modern telah menyingkapkan, bahwa darah haidh (menstrubatio) satu peristiwa pancaran zat-zat racun yang membahayakan tubuh apabila zat itu masih melekat pada badan.

    Ilmu pengetahuan itu telah menyingkap juga rahasia dilarangnya menyetubuhi perempuan ketika haidh. Sebab kalau anggota kelamin itu dalam keadaan tertahan sedang urat-urat dalam keadaan terganggu karena mengalirnya kelenjar-kelenjar dalam, maka waktu persetubuhan (coitus) sangat membahayakan kelenjar-kelenjar tersebut, bahkan kadang-kadang dapat menahan melelehnya darah haidh. Dan ini banyak sekali membawa kegoncangan urat saraf dan kadang-kadang bisa menjadi sebab peradangan pada alat kelamin itu.15

    Jangan Bersetubuh di Dubur

    Dalam hubungannya dengan masalah persetubuhan, Allah s.w.t. menurunkan ayat yang berbunyi sebagai berikut:

    “Isteri-isteri kamu bagaikan ladang buat kamu, oleh karena itu datangilah ladangmu itu sesukamu, dan sediakanlah untuk diri-diri kamu, dan takutlah kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya kamu akan bertemu Allah, dan gembirakanlah (Muhammad) orang-orang mu’min.” (al-Baqarah: 223)

    Turunnya ayat ini mengandung sebab dan hikmah yang besar sebagaimana yang disebutkan oleh seorang ulama India Waliullah ad-Dahlawy: “Orang Yahudi mempersempit gaya persetubuhan tanpa dasar hukum syara’, sedang orang-orang Anshar dan berikutnya mengikuti cara-cara mereka itu. Mereka berpendapat: bahwa apabila seorang laki-laki menyetubuhi isterinya pada farjinya dari belakang, maka anaknya akan lahir juling. Kemudian turunlah ayat ini: maka datangilah ladangmu itu sesukamu, yakni dari jalan depan maupun dari belakang selama diarahkan untuk satu tujuan, yaitu kemaluan atau farji. Hal ini dipandang tidak apa-apa, karena ada hubungannya dengan masalah kepentingan kebudayaan dan kecenderungan. Sedang setiap orang tahu kemaslahatan pribadinya. Oleh karena cara-cara Yahudi di atas hanya sekedar bikin-bikinan mereka, maka patutlah kalau dihapuskan.”16

    Bukan menjadi tugas agama memberi batas kepada seorang laki-laki tentang gaya dan cara bersetubuh. Agama hanya mementingkan supaya si suami selalu takut kepada Allah, dan supaya dia tahu bahwa dia akan bertemu Allah. Untuk itu jauhilah dubur, sebab dubur adalah tempat yang membahayakan dan kotor. Menyetubuhi isteri pada dubur dapat dipersamakan dengan liwath (homoseks). Justru itu sudah seharusnya agama melarangnya. Untuk itu pula Rasulullah s.a.w, pernah bersabda:

    “Jangan Kamu setubuhi isterimu di duburnya.” (Riwayat Ahmad, Tarmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Dan tentang masalah menyetubuhi isteri di duburnya ini, beliau mengatakan juga:

    “Bahwa dia itu termasuk liwath yang kecil.” (Riwayat Ahmad dan Nasa’i)

    Ada seorang perempuan Anshar bertanya kepada Nabi tentang menyetubuhi perempuan di farjinya tetapi lewat belakang, maka Nabi membacakan ayat:

    “Isteri-isterimu adalah ladang buat kamu, karena itu datangilah ladangmu itu sesukamu.” (al-Baqarah: 223) — (Riwayat Ahmad)

    Umar pernah juga bertanya kepada Nabi:

    “Ya Rasulullah! Celaka aku. Nabi bertanya: apa yang mencelakakan kamu? Ia menjawab: tadi malam saya memutar kakiku –satu sindiran tentang bersetubuh dari belakang– maka Nabi tidak menjawab, hingga turun ayat (al-Baqarah: 223) lantas beliau berkata kepada Umar: boleh kamu bersetubuh dari depan dan boleh juga dari belakang, tetapi hindari di waktu haidh dan dubur.” (Riwayat Ahmad dan Tarmizi)

    Menjaga Rahasia Isteri

    Al-Quran memuji perempuan-perempuan shalihah dengan firmannya sebagai berikut:

    “Perempuan-perempuan yang shalihah itu ialah perempuan-perempuan yang taat yang memelihara (perkara-perkara) yang tersembunyi dengan cara yang dipeliharakan Allah.” (an-Nisa’: 34)

    Di antara sekian banyak perkara yang tersembunyi yang harus dipelihara oleh suami-isteri ialah tentang masalah persetubuhan. Suami-isteri dilarang menceriterakan kepada rekan-rekannya dalam pertemuan-pertemuan.

    Dalam salah satu hadisnya Rasulullah bersabda:

    “Sesungguhnya di antara sejelek-jelek manusia dalam pandangan Allah nanti di hari kiamat, ialah seorang laki-laki yang menyetubuhi isterinya dan isteripun melakukan persetubuhan, kemudian dia menyiar-nyiarkan rahasianya.” (Riwayat Muslim dan Abu Daud)

    “Dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi s.a.w. pernah sembahyang bersama kami, setelah salam beliau menghadapkan mukanya ke hadapan kami, kemudian bersabda: berhati-hatilah terhadap majlis-majlis kamu! Apakah di antara kamu ada seorang laki-laki yang menyetubuhi isterinya dengan menutup pintu dan melabuhkan korden, kemudian dia keluar dan berceritera, bahwa aku telah berbuat dengan isteriku begini dan begini? Kemudian mereka pada diam semua … Lantas ia menghadap kepada perempuan-perempuan dan menanyakan: apakah di antara kamu ada yang bercerita begitu? Tiba-tiba ada seorang gadis memukul-mukul salah satu tulang lututnya sampai lama sekali supaya diperhatikan oleh Nabi dan supaya beliau mendengarkan omongannya. Si gadis itu berkata: Demi Allah kaum laki-laki berceritera dan perempuan perempuan juga berceritera! Lantas Nabi bertanya: tahukah kamu seperti apa yang mereka lakukan itu? Sesungguhnya orang yang berbuat demikian tak ubahnya dengan syaitan laki-laki dan syaitan perempuan satu sama lain saling bertemu di jalan kemudian melakukan persetubuhan, sedang orang lain banyak yang melihatnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Bazzar)

    Kiranya perbandingan ini cukup menjauhkan seorang muslim dari berbuat yang sebodoh itu yang tidak bernilai. Seorang muslim kiranya tidak suka kalau dirinya menjadi syaitan atau sama dengan syaitan.

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:45 am on 25 March 2016 Permalink | Balas  

    Hikmah Dibolehkannya Poligami 

    poligami2Hikmah Dibolehkannya Poligami

    Islam adalah hukum Allah yang terakhir yang dibawa oleh Nabi yang terakhir pula. Oleh karena itu layak kalau ia datang dengan membawa undang-undang yang komplit, abadi dan universal. Berlaku untuk semua daerah, semua masa dan semua manusia.

    Islam tidak membuat hukum yang hanya berlaku untuk orang kota dan melupakan orang desa, untuk daerah dingin dan melupakan daerah panas, untuk satu masa tertentu dan melupakan masa-masa lainnya serta generasi mendatang.

    Islam telah menentukan keperluan perorangan dan masyarakat, dan menentukan ukuran kepentingan dan kemaslahatan manusia seluruhnya. Di antara manusia ada yang ingin mendapat keturunan tetapi sayang isterinya mandul atau sakit sehingga tidak mempunyai anak. Bukankah suatu kehormatan bagi si isteri dan keutamaan bagi si suami kalau dia kawin lagi dengan seorang wanita tanpa mencerai isteri pertama dengan memenuhi hak-haknya?

    Sementara ada juga laki-laki yang mempunyai nafsu seks yang luarbiasa, tetapi isterinya hanya dingin saja atau sakit, atau masa haidhnya itu terlalu panjang dan sebagainya, sedang si laki-laki tidak dapat menahan nafsunya lebih banyak seperti orang perempuan. Apakah dalam situasi seperti itu si laki-laki tersebut tidak boleh kawin dengan perempuan lain yang halal sebagai tempat mencari kawan tidur?

    Dan ada kalanya jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki, lebih-lebih karena akibat dari peperangan yang hanya diikuti oleh laki-laki dan pemuda-pemuda. Maka di sini poligami merupakan suatu kemaslahatan buat masyarakat dan perempuan itu sendiri, sehingga dengan demikian mereka akan merupakan manusia yang bergharizah yang tidak hidup sepanjang umur berdiam di rumah, tidak kawin dan tidak dapat melaksanakan hidup berumahtangga yang di dalamnya terdapat suatu ketenteraman, kecintaan, perlindungan, nikmatnya sebagai ibu dan keibuan sesuai pula dengan panggilan fitrah.

    Ada tiga kemungkinan yang bakal terjadi sebagai akibat banyaknya laki-laki yang mampu kawin, yaitu:

    • Mungkin orang-orang perempuan itu akan hidup sepanjang umur dalam kepahitan hidup.
    • Mungkin mereka akan melepaskan kendalinya dengan menggunakan obat-obat dan alat-alat kontrasepsi untuk dapat bermain-main dengan laki-laki yang haram.
    • Atau mungkin mereka mau dikawini oleh laki-laki yang sudah beristeri yang kiranya mampu memberi nafkah dan dapat bergaul dengan baik.

    Tidak diragukan lagi, bahwa kemungkinan ketiga adalah satu-satunya jalan yang paling bijaksana dan obat mujarrab. Dan inilah hukum yang dipakai oleh Islam, sedang “Siapakah hukumnya yang lebih baik selain hukum Allah untuk orang-orang yang mau beriman?” (al-Maidah: 50)

    Inilah sistem poligami yang banyak ditentang oleh orang-orang Kristen Barat yang dijadikan alat untuk menyerang kaum Muslimin, di mana mereka sendiri membenarkan laki-lakinya untuk bermain dengan perempuan-perempuan cabul, tanpa suatu ikatan dan perhitungan, betapapun tidak dibenarkan oleh undang-undang dan moral. Poligami liar dan tidak bermoral ini akan menimbulkan perempuan dan keluarga yang liar dan tidak bermoral juga. Kalau begitu manakah dua golongan tersebut yang lebih kukuh dan lebih baik?

    ***

    Halal dan Haram dalam Islam

    Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi

    Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy

    Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

     
  • erva kurniawan 2:47 am on 24 March 2016 Permalink | Balas  

    Puasa (Sunnah) Yang Dianjurkan Islam 

    puasa 4Puasa (Sunnah) Yang Dianjurkan Islam

    Ketika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu,maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar melakukan puasa pada hari-hari tertentu yang Rasulullah saw sendiri biasa melakukan puasa pada hari-hari tersebut.

    1. Enam Hari pada Bulan Syawal

    Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh jamaah ahli hadis kecuali Bukhari, Nasa’i dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan lalu mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa selama satu tahun (sepanjang masa).”

    Puasa tersebut menurut Imam Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut dan tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i, lebih utama melakukannya secara berturut-turut, yaitu setelah hari raya.

    2. Puasa tanggal 9 Dzul Hijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan Haji

    Kesunnahan berpuasa pada tanggal tersebut didasarkan pada hadis-hadis:

    Dari Abu Qatadah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang telah berlalu dan satun tahun yang akan datang.” (HR Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi).

    Dari Hafshah ra, dia berkata, “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw, yaitu puasa Asyura, puasa sepertiga bulan (yakni bulan Dzul Hijjah), puasa tiga hari dari tiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad dan Nasa’i).

    Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hari Arafah, hari Kurban dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam dan hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum.” HR Khamsah (lima imam hadis) kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan sahih oleh Tirmidzi.

    Dari Ummu Fadhal, dia berkata, “Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi saw di Arafah, lalu Nabi saw saya kirimi susu. Kemudian Nabi saw meminumnya, sedang ketika itu beliau berkhotbah di depan umat manusia di Arafah.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Puasa Bulan Muharrom dan Sangat Dianjurkan pada Tanggal 9 dan 10 (Tasu’a dan ‘Asyura)

    Hal ini berdasarkan pada hadis-hadis:

    Dari Abu Hurairah ra dia berkata, “Rasulullah saw ditanya, ‘Salat apa yang lebih utama setelah salat fardhu?’ Nabi menjawab, ‘Salat di tengah malam’. Mereka bertanya lagi, ‘Puasa apa yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?’ Nabi menjawab, ‘Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan Muharrom’.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

    Dari Muawiyah bin Abu Sufyan ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Hari ini adalah hari ‘Asyura dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya. Sekarang, saya berpuasa, maka siapa yang mau, silahkan puasa dan siapa yang tidak mau, maka silahkan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dari Aisyah ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy di masa jahiliyah, Rasulullah juga biasa mempuasakannya. Dan tatkala datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda, ‘Siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa dan siapa yang ingin meninggalkannya, hendaklah ia berbuka’.” (Muttafaq alaihi).

    Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Nabi saw datang ke Madinah lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka Nabi bertanya, ‘Ada apa ini?’ Mereka menjawab, hari ‘Asyura’ itu hari baik, hari Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa saw dan Bani Israel dari musuh mereka sehingga Musa as berpuasa pada hari itu. Kemudian, Nabi saw bersabda, ‘Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu’, lalu Nabi saw berpuasa pada hari itu dan menganjurkan orang agar berpuasa pada hari itu. ” (Muttafaq alaihi).

    Dari Abu Musa al-Asy’ari ra, dia berkata, “Hari ‘Asyura’ itu diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikan sebagai hari raya. Maka, Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah pada hari itu.” (Muttafaq alaihi).

    Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani,” maka Nabi saw bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharrom).” Ibnu Abbas ra berkata, “Maka belum lagi datang tahun depan, Rasulullah saw sudah wafat.” (HR Muslim dan Abu Daud).

    Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura’ itu ada tiga tingkat: tingkat pertama, berpuasa selama tiga hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua, berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Tingkat ketiga, berpuasa hanya pada hari kesepuluh saja.

    4. Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya’ban

    Hal ini berdasarkan hadis:

    Dari Aisyah ra berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan tidak satu bulan pun yang Nabi saw banyak melakukan puasa di dalamnya daripada bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dari Usamah bin Zaid ra berkata, Aku berkata, “Ya Rasulullah saw , tidak satu bulan yang Anda banyak melakukan puasa daripada bulan Sya’ban !” Nabi menjawab: “Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah amal-amal manusia diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan Rabbul ‘Alamin. Maka, saya ingin amal saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa.” (HR Nasa’i dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah).

    5. Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis

    Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw lebih sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu orang-orang bertanya kepadanya mengenai sebab puasa tersebut, lalu Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya amalan-amalan itu dipersembahkan pada setiap Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan, maka Allah berfirman, “Tangguhkanlah kedua orang (yang bermusuhan ) itu!” (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

    Dalam sahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya orang mengenai berpuasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu hari kelahiranku dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.” (HR Muslim).

    6. Berpuasa Tiga Hari Setiap Bulan

    Dari Abu Dzarr al-Ghiffari ra berkata, “Kami diperintah Rasulullah saw untuk melakukan puasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu hari-hari terang bulan, yakni tanggal 13, 14 dan 15, sembari Rasul saw bersabda, ‘Puasa tersebut seperti puasa setahun (sepanjang masa)’.” (HR Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

    7. Berpuasa Selang-seling (Seperti Puasa Daud)

    Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Daud. Ia tidur seperdua (separoh) malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.”

    Referensi:

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Tamamul Minnah, Muhammad Nashirudddin al-Albani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 23 March 2016 Permalink | Balas  

    Bolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (2/2) 

    Bolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Persoalan ini ditimbulkan karena terdapat dakwaan bahwa sembahyang jama’ karena perjalanan itu boleh dilakukan dari rumah yaitu sejak dari rumah lagi yaitu sebelum memulakan perjalanan (safar).

    Dakwaan ini berdasarkan riwayat daripada Anas Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya (sebagaimana yang diterjemahkan oleh pendokong pendapat di atas): “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak belayar (musafir) sebelum tergelincir matahari Baginda mengakhirkan sembahyang Zuhur kepada waktu ‘Asar, kemudian Baginda pun turun (memulakan perjalanan). Maka Baginda menghimpunkan di antara kedua sembahyang itu (sembahyang Zuhur dan ‘Asar).

    Jika tergelincir matahari sebelum Baginda belayar (musafir) Baginda mengerjakan sembahyang Zuhur dan ‘Asar, kemudian Baginda pun menunggang (memulakan perjalanan).”

    (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Apa yang dapat difahami bahwa pendapat ini ternyata kurang tepat dan tersasar dari pemahaman yang betul terhadap dalil yang dibawakan.

    Alasan yang dapat dikemukakan untuk menolak pendapat di atas:

    1. Apabila kita petik sebahagian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas, yaitu:

    Maksudnya: “Jika tergelincir matahari sebelum Baginda membuat perjalanan Baginda mengerjakan sembahyang Zuhur dan ‘Asar, kemudian Baginda pun menunggang (memulakan perjalanan).”

    Tidak dinafikan sungguhpun pada zahirnya hadits di atas memberi maksud Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ sembahyang Zuhur dan ‘Asar dengan  cara jama’ taqdim semasa Baginda berada di rumah sebelum membuat perjalanan, akan tetapi perlu difahami bahwa perkara ini berlaku ketika Baginda sedang dalam perjalanan, ketika Baginda singgah di suatu tempat untuk menunaikan sembahyang secara jama’ sebelum meneruskan perjalanan seterusnya.

    Perkara ini disokong oleh beberapa riwayat yang lain seperti hadits yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda dalam perjalanan, lalu matahari tergelincir, Baginda pun menunaikan sembahyang Zuhur dan ‘Asar secara jama’, kemudian barulah Baginda meneruskan perjalanan.”

    (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Ismaili, dan dikatakan shahih oleh Ibnu Hajr)

    Hadits ini lebih jelas menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ sembahyang sebelum memulakan perjalanan adalah ketika Baginda sedang dalam perjalanan.

    Diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

     

    Maksudnya: “Tidakkah aku khabarkan kepada kamu tentang sembahyang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Apabila matahari tergelincir dan pada ketika itu Baginda berada di rumah (tempat Baginda menginap ketika dalam perjalanan), maka Baginda akan menyegerakan sembahyang fardhu ‘Asar ke dalam waktu Zuhur, lalu menjama’ (menghimpunkan) keduanya (sembahyang Zuhur dan ‘Asar) pada waktu tergelincir matahari (waktu Zuhur).

    (Hadits riwayat Al-Baihaqi dengan sanad yang baik)

    Dijelaskan di dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, terbitan Kementerian Waqaf Dan Hal Ehwal Islam, Kuwait bahwa maksud perkataan “(pada ketika itu Baginda berada di rumah) di dalam hadits di atas adalah bermaksud” (tempat Baginda menginap ketika dalam perjalanan). (Jld. 15, m.s. 287)

    Di dalam riwayat yang lain lagi daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda berhenti di sebuah rumah ketika dalam perjalanan dan Baginda berkenan (suka) kepada rumah tersebut, maka Baginda menempatinya sehinggalah Baginda menjama’ sembahyang Zuhur dengan ‘Asar, kemudia Baginda meneruskan perjalanan.

    Jika rumah tidak tersedia untuk Baginda, Baginda akan meneruskan perjalanan, maka Baginda pun berjalan dan mengakhirkan sembahyang Zuhur sehingga Baginda datang ke sebuah rumah, di mana di rumah itu Baginda hendak menjama’ sembahyang Zuhur dengan ‘Asar.”

    (Hadits dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dan periwayat-periwayatnya adalah dipercayai yakni thiqah)

    Berdasarkan riwayat-riwayat yang dikemukakan di atas, jelas menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sembahyang jama’ adalah ketika Baginda singgah di suatu tempat atau di sebuah rumah ketika dalam perjalanan, bukannya sebelum memulakan perjalanan. Atau dengan lain perkataan, Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ sembahyang ketika Baginda sudah dalam keadaan musafir, bukannya dalam keadaan bermukim.

    1. Seorang itu hanya dikatakan musafir sebaik-baik saja dia melewati (keluar) daripada sempadan perkampungan atau kota atau bandar di mana dia tinggal. Jadi, bagaimana boleh seorang itu diharuskan menjama’ sembahyang ketika dia masih berada di rumahnya sebelum keluar belayar karena rukhshah perjalanan, sedangkan ketika itu dia belum lagi di katakan sebagai musafir?

    Majelis Ilmiah Dan Fatwa, Arab Saudi yang diketuai oleh Bekas Mufti Arab Saudi, Abdul Aziz bin Baz Rahimahullahu Ta’ala pernah dihadapkan persoalan mengenai dengan seorang yang hendak membuat perjalanan, adakah diharuskan baginya menjama’ tanpa mengqashar sembahyang fardhu Zuhur dengan ‘Asar sedang pada ketika itu dia masih lagi di rumah (belum lagi keluar rumah untuk memulakan perjalanan)?

    Majelis tersebut menjawab: “Tidak harus bagi sesiapa yang berniat untuk membuat perjalanan menjama’ sembahyang ‘Asar dengan Zuhur atau menjama’ sembahyang Isya’ dengan Maghrib selama mana dia masih lagi berada di rumah dan belum lagi memulakan perjalanan, karena tidak terdapat sebab yang mengharuskan dia menjama’ sembahyang yaitu perjalanan. Bahkan rukhshah atau kelonggaran mengqashar dan menjama’ itu adalah bermula apabila dia meninggalkan kediaman negerinya.”

    Penutup

    Berdasarkan perbincangan yang lalu, jelas bahwa orang yang hendak membuat perjalanan dan bercadang untuk menjama’ sembahyang karena rukhshah perjalanan, tidak boleh menjama’ sembahyangnya ketika dia masih lagi belum memulai perjalanan atau ketika dia masih lagi berada di rumah kediamannya, karena perjalanannya hanya dikira apabila dia keluar dari tempat tinggalnya.

    ====selesai ====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 22 March 2016 Permalink | Balas  

    Bolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (1/2) 

    sholatBolehkah Sembahyang Jama’ Sebelum Melakukan Perjalanan (1/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Keistimewaan yang disebut sebagai rukhshah yang dikurniakan bagi orang yang melakukan perjalanan yaitu keharusan menjama’ atau menghimpunkan dua waktu sembahyang dan dikerjakan dalam satu waktu.

    Sebagian dalil yang disandarkan bagi menjelaskan ketetapan hukum harus menjama’ sembahyang ketika dalam perjalanan, diriwayatkan daripada Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda membuat perjalanan sebelum matahari tergelincir Baginda akan melewatkan sembahyang Zuhur kepada waktu ‘Asar, kemudian menjama’ (menghimpunkan) kedua-dua sembahyang tersebut. Dan jika matahari sudah tergelincir Baginda akan menunaikan sembahyang Zuhur terlebih dahulu, kemudian Baginda memulakan perjalanan.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

    Melalui riwayat Anas juga, beliau berkata:

    Maksudnya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda hendak menghimpunkan dua sembahyang ketika dalam perjalanan Baginda akan mengakhirkan sembahyang Zuhur sehinggalah masuk awal waktu sembayang ‘Asar, kemudian Baginda menjama’ (menghimpunkan) kedua-dua sembahyang tersebut.” (Hadits riwayat Muslim)

    Bagaimana cara yang lebih utama dalam menjama’ sembahyang?

    Kebanyakan para ulama termasuk para ulama mazhab Syafi’e mengatakan bahwa harus menjama’ atau menghimpunkan sembahyang fardhu Zuhur dengan ‘Asar, dan dikerjakan di dalam salah satu waktu sembahyang tersebut, sebagaimana juga harus menjama’ sembahyang fardhu Maghrib dengan ‘Isya, dan dikerjakan di dalam salah satu waktu sembahyang tersebut ketika seseorang itu dalam perjalanan yang jauh.

    Sembahyang jama’ itu terdapat dua cara yaitu jama’ taqdim dan jama’ ta’khir. Jika sembahyang fardhu Zuhur dan ‘Asar yang dijama’ itu dikerjakan di dalam waktu Zuhur ataupun sembahyang fardhu Maghrib dan ‘Isya’ yang dijama’ itu dikerjakan dalam waktu Maghrib maka itu dinamakan jama’ taqdim. Jika sembahyang fardhu Zuhur dan ‘Asar yang dijama’ itu dikerjakan di dalam waktu ‘Asar ataupun sembahyang fardhu Maghrib dan ‘Isya’ yang dijama’ itu dikerjakan dalam waktu ‘Isya’ maka itu dinamakan jama’ ta’khir.

    Persoalannya, bagaimana cara yang lebih baik dikerjakan, adakah dengan cara jama’ taqdim atau jama’ ta’khir?

    Para ulama menggariskan bahwa seseorang yang dalam perjalanan itu jika dia singgah atau berhenti sejenak di suatu tempat, dan pada ketika itu waktu sembahyang Zuhur atau sembahyang Maghrib sudah masuk, maka adalah lebih utama baginya menunaikan sembahyang dengan jama’ taqdim, yaitu menghimpunkan sembahyang ‘Asar ke dalam waktu Zuhur atau menghimpunkan sembahyang ‘Isya ke dalam waktu Maghrib.

    Sebaliknya, jika waktu sembahyang Zuhur atau sembahyang Maghrib telah masuk dan dia pada waktu itu dalam perjalanan maka adalah lebih utama baginya menunaikan sembahyang dengan jama’ ta’khir, yaitu menghimpunkan sembahyang Zuhur ke dalam waktu ‘Asar atau menghimpunkan sembahyang Maghrib ke dalam waktu ‘Isya’.

    Ini adalah berdasarkan apa yang diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma:

    Maksudnya: “Tidakkah aku khabarkan kepada kamu tentang sembahyang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Apabila matahari tergelincir dan pada ketika itu Baginda berada di rumah (tempat Baginda menginap ketika dalam perjalanan), maka Baginda akan menyegerakan sembahyang fardhu ‘Asar ke dalam waktu Zuhur, lalu menjama’ (menghimpunkan) keduanya (sembahyang Zuhur dan ‘Asar) pada waktu tergelincir matahari (waktu Zuhur).

    Apabila Baginda membuat perjalanan sebelum tergelincir matahari, maka Baginda akan mengakhirkan sembahyang Zuhur ke dalam waktu ‘Asar, lalu menjama’(menghimpunkan) keduanya (sembahyang Zuhur dan ‘Asar) pada waktu ‘Asar.” (Hadits riwayat Al-Baihaqi dengan sanad yang baik)

    Bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 21 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (2/2) 

    sholatSholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (2/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Tuntutan Menunaikan Sembahyang Dengan Berdiri

    Melakukan sembahyang bagi mereka yang berupaya dengan cara berdiri adalah merupakan rukun dalam sembahyang fardhu. Sementara bagi mereka yang tidak mampu berdiri, maka mereka boleh melakukannya dengan cara duduk sebagaimana kelonggaran yang diberikan kepada orang sakit yang tidak mampu menunaikannya dengan cara berdiri.

    Maksud ‘tidak mampu berdiri’ bukan hanya bermaksud dalam arti kata lemah tidak dapat berdiri, bahkan termasuk juga karena takut kecelakaan berlaku ke atas dirinya, takut akan jatuh tenggelam ke dalam air, takut mendatangkan kesusahan yang berat, pening kepala atau takut akan menambahkan lagi kesakitan yang dialaminya. (Mughni al-Muhtaj 1:214)

    Oleh itu, para penumpang pesawat terbang yang mempunyai keuzuran seperti yang tersebut di atas adalah harus (boleh) mendirikan sembahyang fardhu sambil duduk.

    Menurut Dr. Ahmad asy-Syarbashi dalam kitabnya Yas’alunaka Fiddin wal Hayah bahawa melakukan sembahyang sama ada berdiri atau duduk ketika berada di dalam pesawat terbang hukumnya adalah harus (boleh), tanpa semestinya berpusing menghadap kiblat ketika sedang melakukan sembahyang itu, selama mana melakukannya itu merupakan satu kepayahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan dan Dia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran.” (Surah al-Baqarah, ayat 185)

    Beberapa Pilihan Bagi Penumpang Pesawat terbang Dalam Melaksanakan Ibadah Sembahyang

    Memandangkan perjalanan merupakan salah satu sebab yang diiktiraf oleh syara’ bagi mengharuskan seseorang mengambil keringanan atau rukhshah, maka diharuskan baginya melakukan sembahyang secara jama’ (mengerjakan dua fardhu sembahyang dalam satu waktu) dan diharuskan juga baginya mengqashar (memendekkan empat raka’at menjadi dua raka’at)

    Orang yang musafir dengan menggunakan pesawat terbang boleh menjama’ sembahyang secara jama’ taqdim sebelum pesawat terbang bertolak yaitu semasa berada di lapangan terbang lagi karena pada masa itu dia sudah dihukumkan musafir sekiranya kawasan lapangan terbang itu tidak termasuk kampong orang yang musafir itu atau di mana-mana tempat di luar kawasan perkampungannya yang mudah baginya.

    Pilihan lain ialah jika pesawat terbang yang dinaikinya itu singgah atau transit di suatu tempat, jika ada kemudahan baginya melakukan sembahyang maka bolehlah dia melakukannya sama ada secara jama’ taqdim atau jama’ ta’khir yaitu bergantung kepada waktu sembahyang di tempat berkenaan itu. Ataupun orang musafir itu melakukan sembahyang jama’ ta’khir apabila sampai ke tujuannya, selama masa perjalanannya masih berjalan yakni belum selesai selama tiga hari (tidak termasuk hari sampai dan hari bertolak).

    Walau bagaimanapun pilihan seperti ini hanya dapat dimanfaatkan oleh penumpang pesawat terbang apabila perjalanan mengambil masa melibatkan dua waktu fardhu sembahyang yang boleh di jama’ yaitu zuhur dan ‘asar atau maghrib dan isya’ saja. Akan tetapi jika sembahyang ditunaikan dalam pesawat terbang secara jama’ dan qasar, inipun harus dan boleh juga.

    Cara Menunaikan Sembahyang Di Pesawat terbang

    Hasil uraian di atas dapat disimpulkan, cara yang dapat dipraktekkan untuk menunaikan sembahyang di dalam pesawat terbang adalah sebagai berikut:

    1) Penumpang hendaklah berusaha mencari tempat untuk menunaikan sembahyang dengan bertanya kepada anak kapal. Sekiranya ruang itu masih digunakan karena kerja-kerja kabin, maka hendaklah ditunggu sehingga kerja-kerja itu selesai atau berkurangan.

    2) Bagi mereka yang tidak berupaya menunaikannya dengan berdiri disebabkan keadaan tidak memungkinkan seperti pening kepala atau disebabkan cuaca yang menyebabkan keadaan pesawat tidak stabil, maka diharuskan menunaikannnya sambil duduk sama ada fardhu atau sunat.

    3) Jika penumpang tidak memperolehi tempat sembahyang yang sesuai, maka tunaikanlah sembahyang itu di tempat duduknya. Ketika hendak sujud hendaklah ditundukkan lebih rendah dari ruku’nya. Perlu diingat supaya tidak mengabaikan tuntutan menghadap kiblat.

    Walau bagaimanapun, jika sekiranya bersembahyang dengan duduk dia dapat menghadap kiblat berbanding dengan melakukannya dengan berdiri tanpa menghadap kiblat, maka adalah wajib dia bersembahyang duduk.

    Semoga panduan yang dijelaskan ini akan memudahkan setiap orang untuk menjalankan ibadatnya khususnya ibadat sembahyang. Apa yang penting, lakukanlah atau tunaikanlah perintah syara’ sekuat yang termampu, dan jangan sekali-kali melalaikan atau meninggalkannya sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Oleh itu apabila aku mencegah kamu terhadap sesuatu maka hindarkanlah ia, dan apabila aku memerintahkan kamu untuk melakukan sesuatu maka tunaikanlah ia semampumu.”

    (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    ====SELESAI====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 20 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (1/2) 

    sholatSholat Ketika Dalam Pesawat Terbang (1/2)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Ibadat sembahyang merupakan salah satu komponen dalam rukun Islam yang lima. Kewajiban melaksanakannya memang jelas dan tidak diragukan lagi. Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak memperuntukkan tentang kewajiban menunaikannya ke atas setiap orang yang mukallaf. Firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya sembahyang itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Surah an-Nisa, ayat 103)

    Diriwayatkan daripada Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Serulah mereka (penduduk Yaman) kepada kesaksian bahwa tiada tuhan yang disembah melainkan Allah dan sesungguhnya aku adalah Pesuruh Allah. Maka apabila mereka taat untuk berbuat demikian beritahu kepada mereka sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan ke atas mereka sembahyang lima waktu pada setiap siang dan malam.

    Apabila mereka taat untuk berbuat demikian beritahu kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan zakat ke atas mereka pada harta-harta mereka, di mana zakat itu di ambil daripada orang-orang kaya di kalangan mereka dan diberikan kepada golongan fakir di kalangan mereka.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

    Kedudukan sembahyang itu sangat tinggi, sangat penting dan sangat istimewa. Ini dapat dilihat dari segi bagaimana disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu secara langsung kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa perantaraan Jibril pada malam ketika Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam dimi’rajkan. Ini menunjukkan betapa penting dan tersendirinya ibadat sembahyang itu. Oleh itu menunaikannya amatlah dituntut. Ia tidak dapat ditinggalkan walau di mana dan dalam apa jua keadaan sekalipun, baik ketika sakit, musafir dan dalam ketakutan akibat peperangan.

    Bahkan jika sekiranya seseorang itu tidak berupaya menunaikannya dalam keadaan berdiri, dia diberi kelonggaran oleh syara’ menunaikannya dalam keadaan duduk. Jika dengan cara duduk masih tidak berupaya, dengan cara berbaring. Jika berbaring pun tidak berupaya, memadailah dengan isyarat atau ditunaikan sekadar keupayaannya, selama mana dia masih dalam lingkungan orang mukallaf.

    Tuntutan memelihara waktu-waktu sembahyang itu jelas diperuntukkan di dalam al-Qur’an melalui firman Allah Ta’ala:

    Tafsirnya: “Kamu peliharalah (kerjakanlah dengan tetap dan sempurna pada waktunya) segala sembahyang fardhu, khasnya sembahyang wushtha (sembahyang ‘asar), dan berdirilah karena Allah (dalam sembahyang kamu) dengan taat dan khusyu’.”

    (Surah al-Baqarah, ayat 238)

    Oleh itu, bukan sewenang-wenang atau mudahnya untuk meninggalkan dan mencuaikan waktu sembahyang. Hanya orang yang mempunyai keuzuran tertentu yang diiktiraf oleh syara’ saja yang tidak diwajibkan mendirikan sembahyang, seperti perempuan yang sedang haidh dan nifas. Sementara itu, hukum syara’ juga memberikan keringanan atau rukhshah kepada orang yang dalam perjalanan menjama’ dan mengqashar sembahyang fardhu.

    Sungguhpun perjalanan dianggap sebagai suatu aktiviti perjalanan yang meletihkan dan mendatangkan kesukaran sehinggakan ianya diiktiraf oleh syara’ sebagai salah satu sebab bagi seseorang itu mendapat beberapa keringanan atau rukhshah akan tetapi tidak bermakna ianya merupakan suatu alasan untuk mendapat keringanan untuk tidak menunaikan sembahyang. Sembahyang tetap wajib dan mesti ditunaikan pada waktunya. Cuma cara menunaikannya terdapat sedikit perbedaan berbanding dengan keadaan biasa demi untuk memudahkan dan meraikan keperluan atau hajat orang yang bermusafir.

    Hukum Mendirikan Sembahyang Di Dalam Pesawat terbang

    Bagi orang yang membuat perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang ibadat sembahyang boleh ditunaikan di pesawat terbang, sungguhpun pada ketika itu dia sedang berada di udara. Sembahyang itu adalah sah dan tidak perlu diulang atau diqadha sekiranya ditunaikan dengan menepati rukun dan syarat-syaratnya.

    Pesawat terbang adalah juga seperti lain-lain kendaraan di air seperti kapal laut, sampan, dan kendaraan di darat seperti kereta api, bas atau binatang tunggangan. Melaksanakan sembahyang dalam pesawat terbang adalah sama saja seperti melakukannya dengan kendaraan lain.

    Dalam menerangkan kedudukan orang yang menunaikan sembahyang di atas kendaraan al-Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan pandangan para ulama dalam mazhab Syafi’e: “Sekiranya seseorang itu bersembahyang fardhu di atas kapal, maka tidak harus (tidak boleh) baginya meninggalkan rukun berdiri (yakni tidak harus / tidak boleh sembahyang duduk) sedangkan dia berkuasa untuk berdiri, sama seperti keadaan bersembahyang di darat. Pendapat ini juga dikatakan oleh Imam Malik dan Imam Ahmad. Menurut Imam Abu Hanifah: “Harus/boleh (meninggalkan rukun berdiri itu sekiranya kapal itu sedang bergerak).”

    Para ulama mazhab Syafi’e seterusnya berkata: “Sekiranya ada keuzuran seperti kepala pusing (mabuk laut) dan sebagainya, maka harus menunaikan sembahyang fardhu sambil duduk, karena dia dianggap sebagai orang yang uzur (yang tidak mampu sembahyang berdiri). Sekiranya angin bertiup sehingga beralih haluan kapal itu lalu terpaling wajahnya daripada arah qiblat, maka wajib mengembalikannya ke arah kiblat dan meneruskan sembahyangnya. Berbeda halnya sekiranya dia melakukannya di darat dan dipalingkan oleh seseorang daripada kiblat dengan paksa maka batal sembahyangnya.”(Al-Majmuk, 3: 222)

    Asy-Syeikh Abdullah Abdur Rahman Bafdhal al-Hadhrami menjelaskan di dalam kitabnya Busyra al-Karim, sekiranya orang musafir itu menunaikan sembahyangnya di tempat tidur (seperti katil, tilam dan sebagainya) atau kapal laut maka hendaklah dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, dan hendaklah menghadap kiblat.” (Busyra al-Karim: 1:206)

    Walau bagaimanapun apabila melihat kepada keadaan pesawat terbang dari segi ruang kawasannya yang sempit dan terbatas, ditambah lagi dengan kepadatan penumpang, maka keadaan seperti ini tidak memungkinkan atau sangat sukar khususnya penumpang kelas ekonomi melaksanakan tuntutan-tuntutan seperti yang dijelaskan oleh para ulama di atas.

    Tuntutan Menghadap Kiblat Ketika Sembahyang

    Menghadap kiblat merupakan syarat sah sembahyang. Tuntutan menghadap kiblat telah diperuntukkan di dalam al-Qur’an serta hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan sembahyang), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah).”  (Surah al-Baqarah, ayat 150)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila engkau hendak melakukan sembahyang maka hendaklah engkau menyempurnakan wudhumu kemudian menghadaplah ke arah kiblat.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Oleh itu, menghadap kiblat bagi sembahyang fardhu itu adalah wajib, karena ia termasuk di dalam syarat-syarat sah sembahyang. Namun dalam keadaan tertentu diharuskan tidak menghadap kiblat, yaitu semasa dalam ketakutan seperti dalam peperangan, sama ada sembahyang fardhu atau sunat, dan sembahyang sunat ketika dalam perjalanan yang bukan maksiat yang susah baginya menghadap kiblat.

    Sementara itu, menghadap kiblat bagi sembahyang fardhu di dalam perjalanan hukumnya adalah wajib. Ini adalah berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada Jabir bin Abdillah beliau berkata yang maksudnya :

    “Pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersembahyang (sunat) di atas tunggangan Baginda di mana saja tunggangan itu menuju arah, tetapi apabila Baginda hendak menunaikan sembahyang fardhu Baginda turun lalu menghadap kiblat.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

    Menyentuh perkara sembahyang di dalam pesawat terbang, sekiranya seseorang penumpang itu tidak dapat menghadap kiblat disebabkan terdapat keuzuran atau kesukaran seperti tiada ruangan untuk bersembahyang melainkan tempat duduknya, sedangkan dia wajib menunaikan sembahyang pada waktu itu, dan jika tidak ditunaikan akan luput waktunya, maka bolehlah menunaikan sembahyang itu sekalipun tanpa menghadap kiblat demi menghormati waktu. Akan tetapi wajib dia mengulangi atau mengqadha sembahyang itu.

    Dalam hal ini al-Imam an-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan pandangan ulama mazhab Syafi’e: “Kalau sekiranya waktu sembahyang fardhu telah masuk sedangkan mereka dalam perjalanan dan mereka kawatir sekiranya mereka turun (daripada tunggangan mereka) untuk bersembahyang di atas bumi niscaya mereka tertinggal daripada rakan-rakan mereka atau takut akan berlaku sesuatu ke atas dirinya atau hartanya, maka dalam hal ini tidak harus (tidak boleh) meninggalkan sembahyang itu dan meluputkannya daripada waktunya.  Bahkan hendaklah dia bersembahyang di atas tunggangan bagi menghormati waktu dan wajib mengulangi sembahyang itu karena ia merupakan keuzuran yang jarang berlaku.” (Al-Majmuk 3:222)

    bersambung

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 19 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Bagi Orang Sakit (2/2) 

    shalat orang sakitSholat Bagi Orang Sakit (2/2)

    Cara-Cara Isyarat Dalam Sembahyang

    Orang yang tidak mampu mengerjakan sembahyang dalam keadaan berdiri, duduk, rukuk dan sujud atau kesemuanya dan tidak mampu untuk melakukannya dengan kadar yang terdaya, maka dia harus melakukannya dengan menggunakan isyarat. Akan tetapi dengan apakah isyarat itu dilakukan?

    Apabila seseorang itu berniat kepada isyarat ” ima’ ” (tunduk saat rukuk dan sujud), maka wajiblah dia berisyarat dengan kepala. Jika tidak mampu melakukan isyarat dengan kepala, maka hendaklah dengan mata. Jika tidak terdaya juga, maka hendaklah dengan hati. Lama mana orang itu masih berakal niscaya kewajipan sembahyang masih tetap dituntut ke atasnya. (Majmuk: 4/207, Hasyiyatan Qalyubi ‘Umairah: 1/166)

    Cara Dan Keadaan Sembahyang Bagi Keuzuran Yang Seketika

    Kadang-kadang keuzuran itu hanya berlaku seketika sahaja. Contohnya orang sakit yang tidak bedaya untuk berdiri lalu dia mengerjakan sembahyang secara duduk, setelah berlalu seketika, kesakitan yang menyebabkan dia tidak boleh berdiri itu telah pun pulih semula dalam waktunya sembahyang, maka dalam hal ini hendaklah dia berdiri. Begitulah juga jika dia sembahyang berbaring lalu dia mampu untuk sembahyang berdiri atau untuk sembahyang duduk, maka hendaklah dia berdiri atau duduk. Tetapi jika dia mampu kedua-duanya yaitu berdiri dan duduk, maka hendaklah dia berdiri.

    Jika dia mengerjakan sembahyang dengan berdiri lalu dalam sembahyangnya itu dia mendapat keuzuran untuk berdiri, maka haruslah dia sembahyang duduk. Begitulah juga jika dia bersembahyang duduk lalu dalam sembahyangnya itu dia tidak mampu untuk duduk dan berdiri, maka haruslah dia sembahyang berbaring secara merusuk sebelah kanan seperti mayat berbaring di liang lahat.

    Sebagaimana penjelasan di atas, apabila datang atau hilang keuzuran seseorang itu pada melakukan rukun fi’li dalam waktu sembahyangnya, maka wajiblah dia mengubah atau beredar (meninggalkan) kepada yang terdaya olehnya. Untuk melaksanakan cara-caranya tertakluk kepada beberapa keadaan:

    1. Dalam keadaan seseorang yang sihat melakukan rukun fi’li sembahyang, tiba-tiba terjadi ke atasnya keuzuran ketika dalam membaca sebagian surah Al-Fatihah, maka dalam hal ini harus dia melakukan daripada keadaan yang dia tidak upaya kepada yang terdaya olehnya ketika dia membaca surah Al-Fatihah itu. Seperti ketika dia membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan berdiri lalu disebabkan sakit dia pun terus duduk atau pun ketika itu dia bersembahyang duduk lalu disebabkan sakit terus dia berbaring, maka wajiblah dia meneruskan bacaan Al-Fatihahnya dalam waktu dia bergerak itu.
    2. Sebaliknya dalam keadaan seseorang yang ada keuzuran, apabila dia mengerjakan sembahyang dengan duduk atau berbaring, tiba-tiba sembuh atau hilang keuzurannya itu ketika membaca sebagian surah Al-Fatihah, maka dalam hal ini hendaklah dia terus bergerak ke kedudukan yang ia terdaya, yaitu jika dia bersembahyang duduk lalu mampu untuk berdiri, maka hendaklah dia berdiri terlebih dahulu barulah membaca baki surah Al-Fatihah yang belum selesai itu. Jika dia membacanya dalam keadaan pergerakannya untuk bangkit, maka tidak dikira bacaannya itu.

    Apabila seseorang itu membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan dia bersembahyang duduk atau baring lalu hilang keuzurannya itu selepas membaca surah tersebut dan sebelum dia melakukan rukuk, lalu dia mampu untuk berdiri, maka hendaklah dia berdiri terlebih dahulu kemudian barulah melakukan rukuk. Disunatkan sebelum dia melakukan rukuk itu, mengulangi bacaan surah Al-Fatihah itu sekali lagi.

    Jika seseorang itu bersembahyang duduk lalu hilang keuzurannya ketika dia melakukan rukuk dalam keadaan duduk, dan hilangnya itu sebelum thuma’ninah (berhenti sejenak). Maka dalam hal ini, dia terus berdiri dalam keadaan rukuk dan jangan berdiri tegak. Adalah batal sembahyangnya jika dia berdiri tegak terlebih dahulu kemudian baru dia melakukan rukuk. Ini karena jika dia berdiri tegak terlebih dahulu, niscaya dia menambah rukun fi’li sembahyang yaitu berdiri.

    Manakala jika hilang keuzurannya itu selepas thuma’ninah, maka sempurnalah sudah rukuknya dan wajib pula dia berdiri dalam keadaan i’tidal kemudian barulah dia sujud (tanpa rukuk). Akan tetapi jika dia melakukan sekali lagi rukuk, maka batal sembahyangnya. Karena dia menambah lagi satu rukun fi’li sembahyang yaitu rukuk.

    Adapun jika hilang keuzurannya itu sebelum dia membaca surah Al-Fatihah, maka hendaklah dia bergerak terlebih dahulu ke kedudukan yang dia terdaya yaitu jika dia bersembahyang duduk lalu mampu untuk berdiri, maka hendaklah dia berdiri terlebih dahulu kemudian barulah membaca surah Al-Fatihah. (Majmuk: 4/207-208)

    Seseorang yang ada keuzuran untuk berdiri, tetapi dia tidak mampu untuk berdiri pada kadar yang lama. Yaitu dia hanya mampu untuk berdiri sekadar sempat untuk membaca surah Al-Fatihah sahaja dan jika dia membaca surah lain selepas itu, niscaya dia tidak terdaya lagi untuk berdiri. Dalam hal yang demikian, afdhal baginya membaca surah Al-Fatihah sahaja tanpa membaca surah lain selepas Al-Fatihah itu. Ini karena menjaga rukun sembahyang (berdiri) itu adalah lebih utama. Adapun jika dia lemah untuk berdiri ketika dia sedang membaca surah lain, maka harus dia duduk dan janganlah memutuskan bacaan surah yang lain itu. (Majmuk: 4/204)

    Dalam Sembahyang Berjemaah

    Sekiranya seseorang itu mengerjakan sembahyang berjemaah dalam keadaan berdiri dan sebagiannya lagi dalam keadaan duduk karena tidak mampu untuk berdiri terlalu lama, padahal dia mampu untuk berdiri sepenuhnya jika dia mengerjakan sembahyang bersendirian, maka afdhal dia mengerjakan sembahyang bersendirian bagi menjaga rukun fi’li sembahyang yaitu berdiri. Karena berdiri itu wajib dalam sembahyang sedangkan sembahyang berjemaah itu sunat, maka lebih utamalah dia mengerjakan sembahyang bersendirian bagi menjaga rukun fi’li yaitu berdiri.

    Walaupun demikian sekiranya dia mengerjakan sembahyang berjemaah juga dalam keadaan berdiri dan sebagiannya lagi dalam keadaan duduk karena tidak mampu untuk berdiri terlalu lama, maka tidaklah batal sembahyangnya yang demikian itu. (Majmuk: 4/203-204)

    Imam Orang Yang Mendapat Keuzuran

    Menurut pendapat Imam As-Syafie, harus (boleh) bagi orang yang mampu untuk berdiri (orang yang tidak keuzuran pada membuat rukun fi’li sembahyang) berimamkan orang yang bersembahyang duduk. Begitu juga harus (boleh) bagi orang yang bersembahyang duduk berimamkan orang yang bersembahyang merusuk (seperti kedudukan mayat di liang lahat). Dan orang yang mampu melakukan rukuk dan sujud berimamkan orang yang berisyarat pada melakukan rukuk dan sujud.

    Sekalipun demikian, apabila orang yang sihat melakukan rukun-rukun fi’li itu mengikuti imam yang ada keuzuran dalam melakukan rukun-rukun tersebut, maka tidak harus (tidak boleh) bagi makmum yang sihat itu menyamai perbuatan imam yang ada keuzuran pada meninggalkan rukun fi’li sembahyang seperti berdiri, duduk, rukuk atau sujud. Sebagai contoh, imam yang bersembahyang duduk disebabkan ada keuzuran dan makmum yang mampu berdiri, tidak boleh duduk sebagaimana imam tersebut duduk.

    Keharusan (kebolehan) ini telah pun disebutkan dalam beberapa buah hadis, di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha beliau berkata:

    Maksudnya:

    “Ketika sakit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah berat, datang Bilal untuk memberitahu Baginda untuk mengerjakan sembahyang.

    Maka Baginda bersabda: “Suruhlah Abu Bakar agar mengimami orang ramai.”

    Saya (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang penyedih dan jika dia berdiri mengambil tempatmu (sembahyang), niscaya tidak akan terdengar oleh orang ramai. Kenapa engkau tidak menyuruh ‘Umar saja?”

    Baginda bersabda: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami sembahyang.”

    Maka saya pun mengatakan kepada Hafshah agar dia mengatakan kepada Baginda, kataku kepadanya: “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang penyedih dan jika dia berdiri mengambil tempatmu (sembahyang), niscaya tidak akan terdengar oleh orang ramai, kenapa engkau tidak menyuruh ‘Umar saja?”

    Baginda bersabda: “Sesungguhnya kamu adalah (macam) sahabat-sahabat Yusuf. Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami sembahyang.”

    Ketika (Abu Bakar) sudah masuk sembahyang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merasakan dirinya pulih sedikit. Maka Baginda bangun dengan bantuan dua orang lelaki dan kaki Baginda mengheret ke tanah sehingga masuk ke masjid. Ketika Abu Bakar mendengar bahwa Baginda datang, dia mencuba untuk berundur tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat kepadanya untuk tetap sembahyang. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Abu Bakar bersembahyang berdiri dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersembahyang duduk. Abu Bakar mengikuti sembahyang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang ramai mengikuti sembahyang Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Menurut pendapat Imam As-Syafie lagi, sunat dan afdhal bagi imam yang tidak mampu untuk berdiri meminta ganti (istikhlaf) kepada makmum yang berkemampuan untuk berdiri. (Majmuk: 4/161)

    Penutup

    Sebagaimana penjelasan di atas, bahwa sembahyang lima waktu adalah kewajipan yang tidak boleh ditinggalkan. Selagi seseorang itu berakal kewajipan sembahyang tetap dituntut sekalipun dalam keuzuran atau masyaqqah atau sakit, dikerjakannya juga mengikut keupayaannya.

    Oleh yang demikian itu, kerjakanlah sembahyang fardhu lima waktu dengan penuh keimanan dan ketaqwaan, karena mengerjakannya adalah suatu kejayaan yang besar. Manakala meninggalkannya pula adalah berdosa besar dan hukumannya amat berat sehingga orang itu boleh dibunuh jika dia enggan mendirikan sembahyang dan tidak mahu bertaubat. Di antara kelebihan sembahyang selain yang dinyatakan terdahulu ialah sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Artinya:

    “Sembahyang lima waktu itu telah diwajibkan Allah ke atas hambaNya, maka sesiapa melaksanakannya, sedangkan dia tidak pernah mensia-siakan daripadanya sesuatu pun karena meringankan kewajiban itu, niscaya baginya di sisi Allah suatu perjanjian untuk memasukkannya ke syurga. Dan sesiapa yang tidak melaksanakannya maka tidak ada baginya di sisi Allah suatu perjanjian. Jika Dia mahu, di azabnya, dan jika Dia mahu, di masukkannya ke syurga.”

    (Hadis riwayat Abu Daud, Nasa’i, Malik dan Ibnu Hibban)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:49 am on 18 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Bagi Orang Sakit (1/2) 

    shalat orang sakitSholat Bagi Orang Sakit (1/2)

    Sembahyang fardhu lima waktu sehari semalam wajib dikerjakan. Ganjaran dan fadhilatnya adalah amat besar sekali. Demikian juga sebaliknya, meninggalkan sembahyang itu akan dibalas dan dihukum dengan hukuman yang sangat berat.

    Sembahyang itu adalah merupakan tiang agama. Sembahyang juga merupakan kepala bagi segala pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan awal permulaan bagi ketaatan hamba terhadap Tuhannya.

    Banyak terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan hikmat dan kelebihan sembahyang lima waktu itu. Sepertimana juga banyak peringatan yang mengancam tentang barang siapa yang leka atau lalai mengerjakan sembahyang, lebih-lebih lagi yang meninggalkannya.

    Kelebihan dan hikmat mendirikan sembahyang itu di antaranya ialah:

    1. Dapat menghindarkan diri seseorang daripada melakukan kejahatan dan kemungkaran.
    2. Boleh menghapuskan dosa, sebagaimana air menghilangkan kotoran.

    iii. Barang siapa menjaga sembahyang lima waktu dengan sempurna thaharahnya dan menjaga waktu-waktu sembahyang, maka baginya cahaya dan kejayaan pada Hari Qiamat kelak. Tetapi jika sebaliknya niscaya berhimpunlah dia pada Hari Qiamat bersama-sama Qarun, Firaun, Haman dan Ubai bin Khalaf.

    1. Sembahyang adalah merupakan kunci syurga.
    2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji untuk memasukkan ke syurga terhadap hambaNya yang mengerjakan sembahyang lima waktu yang tidak melalaikan atau meringan-ringankannya.

    Sementara orang yang meninggalkannya pula adalah berdosa besar serta mendapat balasan dan hukuman yang sangat berat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: (Setelah melihat orang-orang yang bersalah itu, mereka berkata): “Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka saqar?” Orang-orang yang bersalah itu menjawab: “Kami tidak termasuk dalam kumpulan orang-orang yang mengerjakan sembahyang.”

    (Surah Al-Muddatstsir: 42-43)

    Bagi orang yang lalai pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “(kalau orang yang demikian dikira dari bilangan orang-orang yang mendustakan agama), maka kecelakaan besar bagi orang-orang ahli sembahyang, (yaitu) mereka yang berkeadaan lalai daripada menyempurnakan sembahyangnya.”

    (Surah Al-Ma’un: 4-5)

    Oleh yang demikian, janganlah sekali-kali diabaikan kewajipan sembahyang itu. Karena ia merupakan unsur asas kekukuhan agama, apabila hilang unsur asas ini niscaya akan binasalah agama.

    Tuntutan menunaikan sembahyang itu adalah berterusan selama mana akal fikiran sedar dan waras sekalipun dalam keadaan sakit, tidak ada kelonggaran untuk meninggalkannya. Maka berhubung dengan perkara ini, persoalan yang ingin kita jelaskan di sini ialah bagaimana cara orang sakit mengerjakan sembahyang.

    Sembahyang Orang Sakit

    Orang yang sakit tidak terlepas daripada tuntutan wajib sembahyang fardhu. Dia tetap dituntut mengerjakannya dengan apa jua yang mampu olehnya tanpa meninggalkan sebarang rukun fi’li sembahyang kecuali dalam keuzuran. Mengenai gambaran keuzuran itu akan dijelaskan berikut ini.

    Tidak Mampu Untuk Berdiri

    Berdiri dalam sembahyang fardhu itu adalah salah satu rukun sembahyang yang mesti dilakukan. Akan tetapi jika seorang mukallaf itu tidak mampu untuk berdiri maka haruslah (bolehlah) dia bersembahyang duduk. Manakala yang tidak mampu duduk dan berdiri maka haruslah (bolehlah) dia bersembahyang secara baring. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Sembahyanglah dengan cara berdiri, jika engkau tidak mampu maka dengan cara duduk, dan jika engkau tidak mampu (dengan cara duduk) maka dengan cara berbaring (sembahyang merusuk).” (Hadis riwayat Bukhari)

    Apabila seseorang mukallaf itu tidak mampu sembahyang berdiri disebabkan keuzuran yang bersangatan, seperti mengalami masyaqqah (kesukaran), takut menambahkan lagi kesakitan jika dia berdiri, takut tenggelam apabila berdiri di atas perahu, takut jatuh karena pening kepala atau seumpamanya, maka haruslah dia bersembahyang duduk, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas.

    Orang sakit yang tidak mampu sembahyang berdiri itu tidak perlu lagi mengulangi semula sembahyang tersebut sesudah hilang keuzuran dan masyaqqahnya selepas itu. Mengenai pahala bagi orang sakit itu tidaklah berkurangan, bahkan sama saja pahalanya jika dia sembahyang berdiri. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Apabila seseorang itu sakit atau musafir, maka ditulis baginya (pahala) sama seperti apa yang dikerjakannya sewaktu bermuqim dan semasa sehat.” (Hadis riwayat Bukhari)

    Sembahyang Sunat Tanpa Berdiri

    Namun dalam soal berdiri ini, para fuqaha tidak berselisih pendapat mengenai keharusan (membolehkan) sembahyang sunat dilakukan dalam keadaan duduk, walaupun orang itu dapat berdiri. Walaupun begitu sembahyang sunat dengan berdiri itu adalah lebih afdhal dan mendapat pahala yang besar berbanding dengan sembahyang duduk atau berbaring. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Barang siapa yang sembahyang berdiri, maka itulah yang lebih utama. Dan Barang siapa yang sembahyang duduk, maka baginya separuh pahala daripada pahala sembahyang berdiri. Dan Barang siapa yang sembahyang tidur (berbaring merusuk), maka baginya separuh pahala daripada sembahyang duduk.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Cara Sembahyang Duduk

    Keadaan dan cara duduk bagi orang yang tidak mampu berdiri dalam sembahyang fardhu atau mampu untuk berdiri dalam sembahyang sunat tetapi melakukannya dengan duduk, tidaklah ditentukan cara dan keadaan duduknya itu. Bahkan adalah memadai dengan kesemua cara dan keadaan duduk itu, akan tetapi makruh dengan duduk iq’a (bertinggung).

    Manakala duduk bagi menggantikan berdiri:

    Mengikut qaul yang ashah adalah afdhal duduk dengan keadaan iftirasy (seperti duduk ketika tahiyyah awal) karena duduk iftirasy itu adalah salah satu duduk ibadat, maka ianya lebih awla (utama).

    Sementara qaul yang kedua, afdhal duduk dalam keadaan mutarabbi’an (duduk bersila). Cara sedemikian ini ialah bagi menggantikan cara sembahyang berdiri, oleh yang demikian hendaklah dibezakan duduk menggantikan berdiri itu daripada duduk-duduk yang lainnya yaitu duduk dengan bersila.

    Adapun cara duduk ketika hendak melakukan tahiyyah awal, tahiyyah akhir dan duduk antara dua sujud dalam sembahyang duduk, adalah afdhal dan sunat dilakukan dengan duduk yang sama sebagaimana sembahyang orang sehat. Yaitu duduk tawarruk bagi tahiyyah akhir dan duduk iftirasy bagi duduk antara dua sujud dan tahiyyah awal.

    Cara Rukuk Dan Sujud Dalam Sembahyang Duduk

    Rukuk dan sujud merupakan salah satu daripada rukun sembahyang, sebagimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Rukuklah kamu dan sujudlah kamu.” (Surah Al-Hajj: 77)

    Adapun cara rukuk orang yang bersembahyang duduk, ialah sekurang-kurangnya dengan membongkokkan badan sedikit bersetentangan dengan kedua-dua lututnya. Manakala cara yang sempurna adalah dengan membongkokkan badan melebihi daripada kadar di atas hingga berbetulan ke tempat sujud. Dan cara sujudnya pula sama seperti sujud biasa.

    Apabila orang yang bersembahyang duduk itu tidak mampu juga melakukan rukuk dan sujud dalam keadaan duduk seperti cara-cara yang dijelaskan di atas, maka hendaklah dia berbuat yang mampu olehnya dengan cara membongkok seberapa yang boleh. Tetapi hendaklah sujudnya itu lebih rendah daripada rukuknya bagi membezakan antara sujud dan rukuk, dan melakukannya wajib bagi mereka yang mampu membezakannya.

    Jika orang yang bersembahyang duduk itu tidak mampu juga untuk melakukan rukuk dan sujud dengan seberapa yang boleh, maka dia hendaklah melakukan rukuk dan sujud tersebut dalam keadaan duduk itu secara isyarat. (Majmuk: 4/201-203) Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Dan jika aku memerintahkan kamu untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah ia dengan apa yang kamu mampu.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Demikianlah cara dan keadaan bagi mereka yang melakukan sembahyang duduk disebabkan ada keuzuran yang bersangatan untuk berdiri.

    Tidak Dapat Rukuk Dan Sujud

    Apabila seseorang itu tidak mampu melakukan rukuk dan sujud karena ada keuzuran yang bersangatan, tetapi dia mampu untuk berdiri dan duduk, maka dalam keadaan ini wajiblah dia bersembahyang dalam keadaan berdiri dan tidak sah jika dia bersembahyang dalam keadaan duduk.

    Cara rukuk dan sujud bagi orang yang tidak mampu melakukannya, hendaklah dalam keadaan dia rukuk, dia membongkokkan badannya sekadar yang mampu. Sementara ketika sujud, maka cara sujudnya adalah dalam keadaan badannya membongkok dengan kedudukan lebih rendah daripada rukuknya, bagi membezakan kedua-duanya.

    Jika dia mampu untuk melakukan rukuk, tetapi tidak mampu untuk sujud, maka dalam hal ini tertakluk pada tiga keadaan dan ianya serupa dengan keadaan rukuk dan sujud dalam sembahyang duduk:

    Apabila dia mampu untuk melakukan sekurang-kurang kadar had rukuk dan tidak pula melebihi daripada kadar itu, maka bolehlah dia melakukan perbuatan yang serupa bagi rukuk dan sujud dengan membongkokkan badan dengan kadar yang dia mampu itu (kadar had sekurang-kurang rukuk).

    Adapun jika dia mampu untuk melakukan kadar had rukuk yang sempurna dan tidak melebihi daripada kadar itu, maka bolehlah juga dia melakukan perbuatan yang serupa bagi rukuk dan sujud dengan membongkokkan badan dengan kadar yang dia mampu itu (kadar had sempurna rukuk). Akan tetapi janganlah dia melakukan rukuk itu kurang daripada kadar had sempurna rukuk sedangkan dia mampu untuk melakukannya, supaya tidak menghilangkan perbuatan yang sunat bagi rukuk (kadar had sempurna rukuk).

    Jika dia mampu untuk melakukan rukuk dengan melebihi kadar had sempurna rukuk, maka hendaklah dia melakukan rukuk dengan tidak melebihi kadar had sempurna itu. Manakala sujudnya pula hendaklah melebihi daripada kadar had sempurna rukuk itu. Ini karena membezakan antara kedua-dua perbuatan tersebut (membongkok karena rukuk dan membongkok karena sujud).

    Adapun bagi orang yang tidak mampu untuk membongkokkan badannya bagi menggantikan perbuatan rukuk dan sujud, maka hendaklah dia melakukannya dengan menundukkan leher dan kepala. Jika tidak termampu juga dengan demikian itu maka hendaklah melakukannya dengan isyarat. (Hasyiyatan Qalyubi ‘Umairah: 1/165, Majmuk: 4/204)

    Tidak Mampu Untuk Berdiri Dan Duduk

    Dalam keadaan masyaqqah dan keuzuran yang menyebabkan seseorang itu tidak dapat mengerjakan sembahyang dengan berdiri dan duduk, maka harus (boleh) baginya mengerjakan sembahyang dengan cara berbaring, yaitu disunatkan berbaring pada rusuk sebelah kanan dan menghadapkan muka dan badannya ke arah kiblat seperti keadaan mayat di liang lahad.

    Adapun jika dia berbaring pada rusuk sebelah kiri, adalah makruh perbuatannya itu selagi dia mampu untuk berbaring pada rusuk sebelah kanan. Walau bagaimanapun sembahyangnya dalam keadaan sedemikian adalah sah. Jika terdapat keuzuran (tidak mampu) sembahyang berbaring di sebelah rusuk kanan, maka wajiblah dia berbaring di sebelah rusuk kiri dengan menghadapkan muka dan badannya ke arah kiblat.

    Jikalau menjadi kesukaran juga dalam melakukan kedua-dua keadaan ini, maka haruslah dia mengerjakan sembahyang baring secara menelentang dengan menghadapkan muka serta telapak kakinya ke arah kiblat. Bagi orang yang sembahyang dalam keadaan ini, hendaklah diletakkan sesuatu di bawah kepalanya seperti bantal supaya dapat meninggikan mukanya bagi menghadap kiblat bukannya menghadap ke arah langit. (I’anah At-Thalibin: 1/160-161, Hasyiyatan Qalyubi ‘Umairah: 1/166)

    Orang sakit yang tidak mampu menghadap kiblat seperti orang yang lumpuh anggota badan yang terlentang di atas katil (tempat tidur) sedangkan dia tidak menghadap ke arah kiblat. Jika tiada ada orang yang dapat menolong untuk memalingkannya agar dapat menghadap kiblat sama ada orang tersebut diupah atau sebagainya, maka haruslah (bolehlah) dia bersembahyang dalam keadaannya itu walaupun tidak menghadap kiblat. Akan tetapi diwajibkan baginya untuk mengulangi sembahyang tersebut. (Majmuk: 3/223)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 17 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at Bagi Perempuan (2/2) : 

    melempar_jumrahSholat Jum’at Bagi Perempuan (2/2) :

    Wajibkah Bersembahyang Zuhur Setelah Menunaikan Jum’at?

    Apabila seorang perempuan bersembahyang Jum’at, sah sembayangnya itu dan memadai sebagai ganti kepada sembahyang zuhur. Perkara ini disebutkan oleh kebanyakkan ulama Syafi’eyah seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Haitami, Abu Ishaq as-Syirazi, Syeikh al-Qalyubi dan Syeikh ‘Umairah Rahimahumullah ajma’in dan lain-lain.

    Berkata Imam an-Nawawi Rahimahullah dalam al-Minhaj:

    Maksudnya: “orang yang sah menunaikan sembahyang zuhur maka sah  sembahyang Jum’atnya” (Minhaj at-Thalibin: 1/264)

    Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah menjelaskan perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullah yaitu “orang yang sah menunaikan sembahyang zuhur” bermaksud orang yang tidak wajib ke atasnya sembahyang Jum’at seperti perempuan, maka sah Jum’atnya jika ia menunaikan sembahyang Jum’at itu. (Tuhfah al-Muhtaj: 1/330)

    Menurut Syeikh ar-Ramli Rahimahullah yang mashur dengan gelaran as-Syafi’e as-Syaghir (Syafi’e Kecil) yang meninggal pada tahun 1004 Hijrah ketika mengulas perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullah di atas yaitu perkataan “sah sembahyang Jum’atnya” bermaksud memadailah sembahyang Jum’at itu (sebagai ganti sembahyang zuhur). (Nihayah al-Muhtaj: 2/288)

    As-Syeikh Abu Ishaq as-Syirazi Rahimahullah mengatakan:

    Maksudnya: “Dan orang yang tidak wajib Jum’at atasnya mempunyai pilihan antara melakukan sembahyang zuhur dan sembahyang Jum’at. Maka jika ia telah melakukan sembahyang Jum’at memadailah apa yang ia lakukannya (sembahyang Jum’at) itu daripada sembahyang Zuhur”. (Al-Muhazzab: 1/360)

    Imam an-Nawawi Rahimahullah pula menjelaskan perkataan as-Syeikh Abu Ishaq as-Syirazi Rahimahullah di atas bahwa orang-orang yang diberi kelonggaran (ma’dzur) seperti hamba, perempuan, orang yang musafir dan seumpamanya adalah wajib ke atas mereka menunaikan sembahyang zuhur. Jika ditunaikan sembahyang zuhur tersebut adalah dihukumkan sah. Manakala jika ditinggalkan sembahyang zuhur itu dan mereka menunaikan sembahyang Jum’at memadailah bagi mereka menurut ijma’ ulama. (al-Majmu’: 4/415)

    Menurut Syeikh Qalyubi Rahimahullah pula, orang yang tidak wajib ke atasnya sembahyang Jum’at ialah kanak-kanak, hamba, perempuan dan orang yang musafir. Adalah sah sembahyang Jum’at itu jika dilakukannya dan memadailah sembahyang Jum’at itu sebagai ganti sembahyang zuhur. (Hasyiatan: Qalyubi wa ‘Umairah: 1/310-311)

    Mufti Hadralmaut dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin berkata: “Harus bagi sesiapa yang tidak wajib mengerjakan Jum’at seperti hamba, orang yang musafir dan perempuan sembahyang fardhu Jum’at ganti sembahyang fardhu zuhur dan Jum’at itu memadailah sebagai ganti fardhu zuhur … Begitulah sebagaimana fatwa daripada Ibnu Hajar….” (Bughyah al-Mustarsyidin: 78-79)

    Allahyarham Pehin Datu Seri Maharaja Dato Seri Utama Dr Awang Haji  Ismail bin Umar Abd Aziz ketika menjadi Mufti Kerajaan Negara Brunei Darussalam telah menfatwakan mengenai kedudukan perempuan yang telah menunaikan sembahyang Jum’at, adakah perlu lagi bersembahyang zuhur? Beliau menjawab: “Boleh dan harus bagi perempuan sembahyang Jum’at di masjid dan sah Jum’at perempuan itu dan memadailah Jum’atnya jadi ganti sembahyang zuhurnya yakni tiada wajib dan tiada sah bagi perempuan sembahyang zuhur setelah ia sembahyang Jum’at itu….. bagaimana yang disebutkan oleh Mufti Hadralmaut di dalam kitabnya Bughyah al-Mustarsyidin” (Fatwa Mufti Kerajaan: 20/78)

    Jawatankuasa Tetap Penyelidikan Ilmiyah dan Fatwa yang berpusat di Riyadh yang diketuai oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz memfatwakan kedudukan seorang perempuan yang mendirikan sembahyang Jum’at, adakah gugur tuntutan sembahyang zuhur ke atasnya? Jawatankuasa itu menjawab: “Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang Jum’at dengan berjemaah Jum’at, memadailah Jum’at itu daripada sembahyang zuhur dan tidak harus baginya bersembahyang zuhur lagi pada hari itu…” (Soalan Empat daripada Fatwa No: 5553-Fatawa al-Lujnah ad-Daimah li al-Buhus al-Ilmiyah wa al-fatwa: Jld 7/337)

    Berdasarkan perkataan ulama-ulama as-Syafi’eyah dan fatwa-fatwa yang dikeluarkan di atas, maka bagi perempuan yang menunaikan sembahyang Jum’at itu tidak wajib ke atasnya menunaikan sembahyang zuhur. Karena gugurnya  tuntutan Jum’at ke atas mereka itu adalah sebagai takhfif (keringanan). Memadailah sembahyang Jum’at itu sebagai ganti daripada sembahyang zuhur. Bahkan tidak sah mengerjakan sembahyang zuhur setelah dia menunaikan sembahyang Jum’at

    Adakah Dituntut  Perempuan Bersembahyang Jum’at?

    Sembahyang Jum’at tidak wajib ke atas perempuan berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Walau bagaimanapun perempuan tidak dilarang untuk menunaikan sembahyang tersebut. Menurut kebanyakan ulama, apabila seorang perempuan menunaikan sembahyang Jum’at maka ia tidak wajib melakukan sembahyang zuhur pada hari tersebut. Persoalannya adakah afdhal dan dituntut seorang perempuan itu keluar ke masjid untuk menunaikan sembahyang Jum’at atau ia duduk di rumah mengerjakan sembahyang zuhur?

    Menurut Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah (Tuhfah al-Muhtaj: 1/275) bahwa perempuan lebih afdhal berjemaah di rumah sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhu katanya: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Janganlah kamu tegah perempuan-perempuan kamu pergi ke masjid sedangkan di rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka” (Hadis riwayat Abu Daud)

    Dalam perkara perempuan keluar ke masjid menunaikan sembahyang Jum’at menurut kitab al-Majmu’, perempuan-perempuan sama ada muda atau tua yang boleh merangsang nafsu adalah makruh pergi ke masjid kecuali sebaliknya. (al-Majmu’: 4/415)  Dengan perkataan yang lain menurut Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah adalah makruh bagi perempuan berjema’ah ke masjid jika perempuan itu boleh merangsang nafsu sekalipun dengan hanya mamakai pakaian harian (pakaian yang tidak cantik) atau perempuan itu tidak merangsang nafsu tetapi dia berhias-hias atau berharum-harum. Lebih-lebih lagi haram hukumnya jika ditakuti akan berlaku fitnah  ke atasnya. (Tuhfah al-Muhtaj: 1/275)

    Manakala menurut al-Bandaniji pula adalah dituntut (mustahab) bagi perempuan tua pergi ke masjid menunaikan sembahyang Jum’at sebagaimana katanya:

    Maksudnya: “Adalah disunatkan (mustahab) bagi perempaun  tua hadir menunaikan sembahyang Jum’at (ke masjid) dan makruh bagi perempuan muda hadir pada semua sembahyang yang berhimpun (bercampur) dengan lelaki kecuali pada sembahyang hari raya” (Al-Majmu’: 4/405)

    Penutup

    Perempuan adalah termasuk di dalam orang-orang yang diberikan takhfif (keringanan) untuk tidak menunaikan sembahyang Jum’at berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan penjelasan para ulama mengenainya. Walau bagaimanapun, perempuan tidak dilarang untuk menunaikannya dan bagi perempuan yang menunaikan sembahyang Jum’at maka tidaklah wajib atasnya menunaikan sembahyang fardhu zuhur pada hari tersebut dan memadailah sembahyang Jum’at itu sebagai ganti sembahyang zuhur.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 16 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at Bagi Perempuan (1/2) : 

    shalat-tarawih-puasa-pertama_fullSholat Jum’at Bagi Perempuan (1/2) :

    Wajibkah Lagi Melakukan Sembahyang Dzuhur

    Sembahyang Jum’at adalah sembahyang dua raka’at dalam waktu Zuhur pada hari Jum’at dan didahulukan dengan dua khutbah. Sembahyang Jum’at adalah fardhu ‘ain atas orang lelaki yang mukallaf, berakal lagi merdeka, sehat dan tidak di dalam pelayaran.

    Menurut kitab Tuhfah al-Muhtaj, Mughni al-Muhtaj dan Hasyiah Qalyubi sembahyang Jum’at difardhukan di Mekkah al-Mukarramah sebelum Hijrah. Walau bagaimanapun, ia tidak dilaksanakan karena agama Islam masih belum tersebar luas dan jumlah umat Islam pula tidak mencukupi dan sedikit. Orang yang pertama mendirikan sembahyang Jum’at di Madinah al-Munawwarah sebelum Hijrah adalah As’ad bin Zararah iaitu dengan izin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tuhfah al-Muhtaj: 1/329, Mughni al-Muhtaj: 1/414, Hasyiah Qalyubi: 1/310)

    Sembahyang Jum’at pertama dalam Islam yang ditunaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah di Madinah al-Munawwarah. Peristiwa itu berlaku selepas Hijrah. (Fada’il al-Jum’ah, Dr.Muhammad Zahir Asadullah, hlm 73)

    Dalil Pensyari’atan Sembahyang Jum’at

    Hukum sembahyang Jum’at adalah fardhu ‘ain apabila cukup syarat-syarat wajib dan syarat-syarat sah sembahyang Jum’at itu. Dalil yang menjelaskan kefardhuannya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Tafsirnya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan (bang) untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jum’at, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jum’at) dan tinggalkanlah berjual beli (pada ketika itu); yang demikian adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenar)” (Surah Jumu’ah: 9)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan tentang kewajipan sembahyang Jum’at itu dalam banyak hadis-hadis Baginda. Antaranya adalah:

    Maksudnya: “Daripada Hafsah Radhiallahu ‘anha iaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pergi (bersembahyang) Jum’at itu wajib ke atas setiap orang yang bermimpi (baligh)” (Hadis riwayat an-Nasa’i)

    Dalam hadis Baginda yang lain:

    Maksudnya: “Daripada Tariq bin Syihab, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda: “Sembahyang Jum’at itu hak yang wajib ke atas setiap orang Islam dengan cara berjemaah kecuali empat: Hamba yang dimiliki atau perempuan atau kanak-kanak atau orang sakit”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    Kedudukan Perempuan Bersembahyang Jum’at

    Berkata Imam as-Syafi’e Rahimahullah dalam kitab al-Umm:

     

    Maksudnya: “Tidak (wajib) ke atas orang yang belum baligh, orang perempuan dan hamba menunaikan sembahyang Jum’at”. (al-Um: 1/218)

    Menurut kitab al-Minhaj karangan Imam An-Nawawi Rahimahullah bahwa syara’ telah menentukan wajib fardhu ‘ain sembahyang Jum’at itu ke atas setiap orang Islam yang mukallaf, merdeka, lelaki, orang yang muqim, yang tidak sakit dan seumpamanya. (Minhaj at-Thalibin: 1/263) Ibnu Hajar al-Haitami Rahimahullah ketika menjelaskan perkataan Imam an-Nawawi Rahimahullah bahwa tidak wajib Jum’at ke atas orang yang tidak mukallaf, perempuan, khuntsa, orang musafir dan orang sakit sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Daripada Tariq bin Syihab, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Baginda bersabda: “Sembahyang Jum’at itu hak yang wajib ke atas setiap orang Islam dengan cara berjemaah kecuali empat: Hamba yang dimiliki atau perempuan atau kanak-kanak atau orang sakit”. (Hadis riwayat Abu Daud)

    Hadis di atas diriwayatkan juga oleh ad-Darqutni dalam kitabnya as-Sunan, al-Baihaqi dalam kitabnya al-Kabir dan al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak. Imam an-Nawawi Rahimahullah menshahihkan hadis di atas dalam kitab al-Majmu’ karena bertepatan dengan syarat Imam al-Bukhari dan Muslim. Begitu juga al-Hafiz dalam kitab al-Talkhis mengatakan hadis di atas dishahihkan oleh ramai orang. (Minhaj at-Thalibin: 1/263 dalam nota kaki)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 15 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at (2/2) 

    melempar_jumrahSholat Jum’at (2/2)

    Orang-orang yang meninggal dunia pada hari Jum’at juga akan mendapat rahmat dan aman daripada segala azab kubur, perkara ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Sesiapa yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, dia akan dicop dengan cop iman dan terpelihara daripada siksa kubur.” (Hadis riwayat Al-Baihaqi)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengkhabarkan bahwa ganjaran pahala yang besar kepada orang-orang yang pergi berjemaah ke masjid termasuk untuk menunaikan sembahyang Jum’at, sabda Baginda yang maksudnya :

    “Apabila seseorang berwudhu lalu dia memperelokkan wudhunya kemudian dia keluar (pergi) ke masjid, dia tidak keluar kecuali untuk menunaikan sembahyang, tidak dia melangkah satu langkah kecuali ditinggikan satu darjat baginya dan dihapuskan baginya satu kesalahan, apabila dia bersembahyang Malaikat senantiasa memohonkan rahmat ke atasnya selama mana dia masih di tempat sembahyang dan belum berhadas, Malaikat memohonkan: “Wahai Allah berilah rahmat ke atasnya, wahai Allah sayangilah dia!” (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis ini mengandungi beberapa perkara yang penting. Pertama ganjaran pahala yang besar akan diperolehi oleh orang-orang yang pergi berjemaah di masjid dengan sedia berwudhu lalu pergi ke masjid untuk bersembahyang. Maka setiap langkahnya akan dikira sebagai penghapus dosa-dosanya dan menaikkan darjatnya. Para Malaikat juga sentiasa memohonkan keampunan dan rahmat kepada orang-orang sedemikian. Kedua, orang yang berwudhu di rumah itu menggambarkan bahwa mereka sentiasa menjaga ketepatan waktu sembahyang karena telah bersedia lebih awal lagi.

    Oleh yang demikian hari Jum’at adalah hari yang mengandungi banyak kelebihan dan kebesaran yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Hadiri Jumat Lebih Awal

    Sesungguhnya kita dituntut agar menepati waktu sembahyang dan dilarang melengahkannya. Ini karena bukan sahaja menepati waktu sembahyang itu merupakan tuntutan agama malahan orang yang menepati waktu sembahyang itu akan mendapat ganjaran yang besar. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Orang-orang yang bersembahyang pada waktunya dan menyempurnakan wudhunya, menyempurnakan (tegak) berdirinya, menyempurnakan khusyu’nya, ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang itupun naik (ke langit) dalam keadaan putih dan cemerlang. Sembahyang itupun berkata: “Semoga Allah menjaga dirimu sebagaimana engkau menjaga aku (memperelokkan kelakuan sembahyang itu)”. Tetapi sesiapa yang bersembahyang tidak dalam waktunya yang ditentukan dan tidak pula memperelokkan wudhunya, khusyu’nya, ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang itupun naik (ke langit) dalam keadaan hitam legam sambil berkata: “Semoga Allah mensia-siakan dirimu sebagaimana engkau mensia-siakan aku”. Sehinggakan setelah sembahyang itu berada di suatu tempat sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, lalu iapun dilipatkan sebagaimana dilipatnya baju yang koyak-koyak kemudian dipukulkanlah ke mukanya”. (Hadis riwayat Al-Thabarani)

    Ulama Syafe’i juga sepakat mengatakan bahwa sunat (mustahab) menghadirkan diri lebih awal ke masjid pada hari Jum’at. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang kelebihan orang-orang yang menghadirkan diri lebih awal ke masjid pada hari Jum’at, Baginda bersabda yang maksudnya :

    “Apabila datang hari Jum’at, maka setiap pintu masjid ada Malaikat yang mencatat orang-orang yang masuk mengikut urutannya. Apabila imam telah duduk (di atas mimbar), para Malaikat menutup buku catatan mereka dan datang untuk mendengarkan zikir (khutbah). Perumpamaan orang yang hadir ke masjid lebih awal adalah bagaikan orang yang menyembelih hadyi (korban) seekor unta, kemudian seperti menyembelih seekor sapi, kemudian seperti menyembelih seekor kambing, kemudian seperti menyembelih seekor ayam, kemudian seperti orang yang memberikan sedekah sebiji telur”. (Hadis riwayat Muslim)

    Berdasarkan hadis-hadis di atas jelas kepada kita bahwa orang yang meghadirkan diri ke masjid lebih awal pada hari Jum’at adalah sangat dituntut dan mempunyai ganjaran dan balasan yang besar. Sembahyang tepat pada waktunya juga dianggap sebagai memelihara sembahyang karena jika dilenggahkan waktu sembahyang tersebut, kemungkinan akan tertinggal atau terlepas waktu yang ditentukan itu.

    Malah Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menjelaskan bahwa antara sifat-sifat orang yang mendapat kebahagiaan itu adalah orang-orang yang tetap mengerjakan sembahyang pada waktunya dengan cara yang sempurna. FirmanNya yang tafsirnya :

    “Dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya”  (Surah Al-Mukminun: 9)

    Kesimpulannya, sembahyang dengan khusyu’ dan tawadhu’ serta menjaga dan memelihara waktu adalah satu kewajiban. Maka adalah disunatkan kepada orang yang wajib atasnya sembahyang Jum’àt supaya menghadirkan diri lebih awal ke masjid bagi mengelak daripada terlepas pahala atau fadilat datang awal ke masjid seperti mana maksud hadis di atas.

    Lambat hadir yang mendatangkan kerugian itu termasuklah hadir setelah imam naik ke atas mimbar untuk membaca khutbah. Hal ini telah diceritakan dalam hadis di atas yang menyebutkan yang maksudnya :

    “Apabila imam telah duduk (di atas mimbar) para Malaikat menutup buku catatan mereka dan datang untuk mendengarkan zikir (khutbah)”.

    Ini bererti para Malaikat yang khusus bertugas mencatat kelebihan hadir awal ke masjid pada hari Jum’at itu menghentikan catatannya karena hendak sama-sama mendengar khutbah. Orang yang sedemikian hanya akan tersenarai dalam orang-orang yang hadir Jum’at sahaja, tetapi tidak tersenarai dari orang-orang yang mendapat kelebihan yang seolah-olah berkorban seekor unta atau sapi seperti yang disebut dalam hadis di atas.

    Dari itu sayugadalah kita datang awal ke masjid pada hari Jum’at itu dan ketika dalam perjalanan menuju ke Masjid hendaklah dengan khusyu’ dan merendah diri. Apabila sampai di masjid jangan lupa berniat iktikaf ketika hendak masuk ke masjid. Dengan datang awal itu juga kita berkesempatan melakukan perkara-perkara sunat yang lain seperti sembahyang sunat Tahiyyat al-Masjid, membaca Al-Qur’an, beristighfar, berzikir dan berdoa, karena pada hari Jum’at itu mempunyai kelebihan dan kebesaran yang banyak dan ganjaran yang berlipat ganda.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
    • jengnoe 6:17 am on 15 Maret 2016 Permalink

      BR, Nurul A Fachruddin

      Mobile/WA : +62 82188250606 BBM : 5CEFB053 Line : jengnulu

      >

  • erva kurniawan 1:15 am on 14 March 2016 Permalink | Balas  

    Sholat Jum’at (1/2) 

    sholat-jumatSholat Jum’at (1/2)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Tujuan hidup manusia adalah untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kebahagiaan itu pula akan dijamin datang apabila manusia mahu melaksanakan perintah dan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Antara perintah dan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib ditunaikan adalah sembahyang. Hal ini dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya yang tafsirnya :

    “Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman, iaitu mereka yang khusyu’ dalam sembahyangnya; Dan mereka yang mejauhkan diri daripada perbuatan dan perkataan yang sia-sia”. (Surah Al-Mukminun: 1-3)

    Berdasarkan ayat di atas, jelaslah kepada kita bahwa kebahagiaan dan kemenangan hidup itu hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman, orang-orang yang menjaga sembahyangnya dan orang-orang yang menjauhkan dirinya daripada perbuatan sia-sia.

    Sembahyang merupakan salah satu daripada rukun Islam dan merupakan suatu ibadat yang sangat penting dalam Islam. Malah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskannya dalam sabda Baginda yang maksudnya :

    “Mahukah kamu Aku memberitahukan bahwa dasar (punca) segala urusan, tiangnya dan puncaknya? Aku menjawab: “Ya! Wahai Rasulullah”, lalu Baginda bersabda: “Dasar (puncak) segala urusan adalah Islam (dua kalimah shahadat) dan tiangnya adalah sembahyang dan puncaknya adalah jihad”. (Hadis riwayat Al-Tirmizi)

    Dengan demikian sembahyang merupakan suatu suruhan yang wajib ditunaikan oleh setiap orang Islam. Orang yang menunaikan sembahyang ini akan diberi ganjaran pahala karena mematuhi suruhan Allah Subhanhu wa Ta’ala. Hidupnya sentiasa mendapat nikmat dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan di akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam syurga bersama-sama dengan orang-orang soleh.

    Kewajiban Sembahyang Jum’at

    Sembahyang Jum’at adalah salah satu diantara kewajiban yang termaklum berdasarkan al-Qur’an dan Al-Sunnah, orang-orang yang mengingkarinya dihukumkan kufur.

    Al-Qur’an menjelaskan mengenai kewajiban sembahyang Jum’at, Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan untuk mengerjakan sembahyang pada hari Jum’at, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang Jum’at) dan tinggalkanlah berjual beli (pada saat itu); yang demikian adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui (hakikat yang sebenarnya)”. (Surah Al-Jum’at: 9)

    Berdasarkan ayat ini dan ayat-ayat berikutnya, Allah Subahanhu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam bersegera ke tempat sembahyang Jum’at (masjid) sebaik-baik sahaja mendengar seruan azan serta meninggalkan kerja masing-masing seperti berjual beli dan kerja-kerja lain, untuk pergi ke masjid mendengar khutbah dan mengerjakan sembahyang Jum’at. Setelah selesai sembahyang, mereka digalakkan meneruskan usahanya mencari rezeki sambil banyak mengingati Allah dalam segala keadaan. Mereka yang mematuhi ajaran Allah yang demikian itu akan beroleh kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mejelaskan mengenai kewajiban sembahyang Jum’at tersebut berdasarkan sabda Baginda yang maksudnya :

    “Sembahyang Jum’at adalah hak yang wajib ke atas setiap orang Islam dengan (mengadakannya) secara berjemaah kecuali empat iaitu seorang hamba, perempuan, kanak-kanak dan orang sakit”. (Hadis riwayat Abu Daud dan Al-Hakim)

    Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan hari Jum’at sebagai hari besar mingguan bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam serta memerintahkan mengadakan satu sembahyang yang khas menandakan kebesaran hari Jum’at, bagi menggantikan sembahyang Zuhur.

    Kelebihan Hari Jum’at

    Di antara kebesaran dan kelebihan hari Jum’at itu adalah penghulu segala hari. Pada hari Jum’at telah dijadikan bapak segala manusia iaitu Adam ‘alaihissalam. Pada hari itu juga diberikan satu saat di mana segala doa dan permintaan akan dikabulkan kecuali perkara-perkara yang maksiat sebagaimana Rasulullah bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya hari Jum’at adalah penghulu segala hari dan hari yang paling besar di sisi Allah Subhanhu wa Ta ‘ala iaitu hari yang lebih besar daripada hari raya Adha dan hari raya Fitrah, pada hari Jum’at itu terdapat lima kejadian iaitu hari yang dijadikan Adam ‘alaihissalam dan Baginda di turunkan daripada syurga ke muka bumi, dan pada hari itu juga wafatnya Adam ‘alaihissalam, dan Allah mengurniakan satu saat di mana doa-doa dikabulkan kecuali doa-doa maksiat, dan hari Jum’at juga akan terjadinya hari Kiamat”. (Hadis riwayat Ibnu Majah)

    Hari Jum’at juga adalah hari pengampunan daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Islam baik yang masih hidup mahupun yang telah meninggal dunia. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kelebihan orang yang berwudhu di rumahnya kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang Jum’at dalam sabda Baginda yang maksudnya :

    “Sesiapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian dia (pergi ke masjid) untuk menunaikan Jum’at, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah dibacakan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jum’at itu dan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari lagi. Dan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu (ketika khutbah) telah berbuat sia-sia”. (Hadis riwayat Muslim)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 13 March 2016 Permalink | Balas  

    Waktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (3/3) 

    dilarang sholatWaktu-Waktu Yang Dilarang Melakukan Sholat (3/3)

    Sembahyang Dhuhur Sebelum Imam Selesai Menunaikan Sembahyang Jumat

    Antara waktu yang boleh dikira sebagai waktu yang terlarang menunaikan sembahyang adalah pada waktu imam belum selesai mendirikan sembahyang Jumat. Akan tetapi hukum ini khusus bagi sembahyang fardhu Dhuhur dan bagi orang yang meninggalkan sembahyang Jumat dengan sengaja tanpa uzur syara’.

    Imam an-Nawawi menjelaskan pendapat Ash-hab Syafi’ieyah (Ulama-ulama mazhab Syaf’ie) bahwa bagi sesiapa yang diwajibkan ke atasnya menunaikan sembahyang fardhu Jumat, maka tidak harus menunaikan sembahyang Dhuhur sebelum lagi dia terluput sembahyang Jumat itu tanpa ada sebarang khilaf mengenainya kerana yang dituntut ke atasnya adalah fardhu Jumat. Jika dia menunaikan sembahyang Dhuhur sebelum lagi luput dan imam belum lagi selesai menunaikan sembahyang Jumat itu, maka menurut qaul jadid sembahyang Dhuhurnya itu adalah tidak shah. Para Ash-hab juga sepakat bahwa pendapat yang shahih adalah batal sembahyang Dhuhurnya itu. (Lihat Al-Majmu’:4/416)

    Bahkan, menta’khir sembahyang Dhuhur sehingga selesai solat Jumat itu adalah disunatkan ke atas orang yang mempunyai keuzuran seperti orang sakit yang berkemungkinan akan hilang uzurnya itu sebelum lagi imam selesai mendirikan solat Jumat, misalnya dia sembuh atau pulih sehingga benar-benar putus harapannya bahwa dia tidak akan sempat hadir untuk mengikuti sembahyang Jumat. Kadar waktu itu menurut pendapat yang ashah adalah ketika imam mengangkat belakangnya untuk bangun daripada rukuknya pada rakaat yang kedua. (Lihat mughni al-Muhtaj: 1/279)

    Adakah Harus Mengerjakan Sembahyang Sunat Setelah Mengerjakan Sembahyang Witr?

    Sengaja ditimbulkan masalah ini kerana adanya kekeliruan orang ramai tentang hukum mengerjakan sembahyang sunat selepas Witr, adakah diharuskan ataupun sebaliknya. Perkara ini berpunca kerana hadis yang menyarankan untuk menjadikan sembahyang yang terakhir itu adalah sembahyang sunat Witr.

    Keraguan ini menimbulkan masalah bagaimanakah halnya dengan orang yang telah mengerjakan Witr berjemaah di masjid bersama-sama Imam khususnya ketika bulan Ramadhan. Sehinggakan ada jamaah yang balik meninggalkan masjid sesudah sempurna solat Tarawih supaya dapat mengerjakan solat-solat sunat yang lain seperti solat Tasbih dan Tahajjud dan selepas itu barulah melakukan solat witr pada penghujung malam. Ada juga yang tidak melakukan Tahajjud kerana menyangka jika telah malakukan solat Witr tidak diharuskan menunaikan solat sunat lainnya. Dan ada pula yang melakukan dua witr pada satu malam iatu sekali berjemaah bersama imam di masjid dan mengulanginya sekali lagi setelah dia bersembahyang Tahajjud.

    Sebenarnya sebagaimana yang diperkatakan oleh ulama fiqh khususnya dalam mazhab Syafi’e seperti Imam An-Nawawi bahwa apabila seseorang itu telah mengerjakan sembahyang witir, kemudian dia hendak mengerjakan sembahyang sunat yang lainnya seperti sunat tahajjud, hukumnya adalah harus dan tidak makruh perbuatannya itu. Akan tetapi adakah dibolehkan mengulang sembahyang witirnya itu? Dalam hal ini, sembahyang witirnya yang awal (yang telah dilakukannya) itu tidak terhapus. Oleh yang demikian janganlah diulangi sembahyang witirnya itu, tetapi bolehlah dia mengerjakan apa saja sembahyang yang syaf’an (genap) jika dia mahu. (Al-Majmu’: 4/22,32)

    Perbuatan mengulangi witr dalam satu malam itu adalah dilarang. Sebuah riwayat daripada Thalq bin ‘Ali daripada ayahnya, katanya yang maksudnya :

    “Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiada dua witir dalam satu malam.”

    (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

    Pengecualian Larangan Bersembahyang Pada Waktu-Waktu Larangan Itu

    Dalam mazhab Syafi’i larangan bersembahyang pada waktu-waktu tersebut dikecualikan dalam keadaan-keadaan berikut:

    1.Hari Jumaat

    Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu bahwa mengerjakan sembahyang ketika matahari tegak (rembang) adalah makruh tahrim. Bagaimanapun ia dikecualikan pada hari Jumaat. Perkara ini dijelaskan di dalam sebuah hadis daripada Qatadah daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya yang maksudnya:

    “Bahwasanya Baginda membenci sembahyang pada tengah hari (rembang) kecuali pada hari Jumaat, dan Baginda bersabda: “Sesunguhnya neraka Jahannam dimarakkan (pada saat itu) melainkan pada hari Jumaat”.

    (Hadis riwayat Abu Daud)

    Pengkhususan itu pula adalah umum untuk orang yang hadir ke masjid atau tidak. Berkata Al-Khatib Asy-Syarbini:

    Ertinya:

    “Dan pada pendapat yang ashah adalah harus bersembahyang pada waktu ini (waktu matahari tegak) sama ada dia hadir sembahyang Jumat ataupun tidak”

    (Mughni al-Muhtaj:1/128)

    1. Tanah Haram Mekah

    Mengerjakan apa saja jenis sembahyang di tanah suci Mekah adalah diharuskan tanpa mengira sebarang waktu sekalipun pada waktu yang terlarang. Pendapat ini adalah yang shahih di dalam mazhab Syafi’ie dan disokong dengan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sabda Baginda yang maksudnya :

    “Wahai Bani Abdi Manaf, jangan kamu melarang seseorang tawaf di rumah ini (Baitullah) dan bersembahyang pada bila-bila waktu yang dia sukai, malam atau siang”

    (Hadis riwayat At-Tirmidzi)

    Lagipun bersembahyang di tanah haram Mekah ada tambahan kelebihan atau fadhilat, maka harus mengerjakan sembahyang di sana dalam apa-apa jua keadaan. (Mughni al-Muhtaj: 1/130)

    Penutup

    Berdasarkan keterangan dan penjelasan yang dibawakan di atas bahwa ada beberapa ibadah khususnya sembahyang yang ada ketikanya ia ditegah untuk dilakukan. Bahkan jika dilakukan sembahyang itu adalah tidak shah. Oleh itu haruslah dijaga dan difahami waktu dan keadaan yang ditegah melakukan ibadah sembahyang pada ketika itu supaya terjamin kesempurnaan ibadah sembahyang kita serta diredhai dan diterima oleh Allah Subhanhu wa Ta’ala.

    ==== SELESAI ====

    ***

    Kiriman Sahabat Arland