Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:38 am on 6 February 2015 Permalink | Balas  

    godaan setanKelicikan Setan

    Rencana setan untuk mengancam keikhlasan orang-orang beriman yang akan terus ada hingga hari pembalasan, dimulai sejak masa Adam a.s.. Ia mendekati Adam a.s. dengan strategi yang licik dan menipu serta mencoba membuatnya melihat kebaikan sebagai kejelekan dan kejelekan terlihat baik.

    Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur`an, setan berhasil membujuk Adam a.s. dan pasangannya untuk tidak mengindahkan larangan Allah. Jadi, setan membuat mereka dikeluarkan dari surga. Peristiwa ini dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Qur`an sebagai berikut.

    “Dan Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'” (al-Baqarah [2]: 35)

    “Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?'” (Thaahaa [20]: 120)

    “Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, ‘Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya, saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.’ Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu, ‘Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’” (al-A’raaf [7]: 20-22)

    Setan tidak secara terang-terangan mengatakan kepada Adam dan Hawa untuk menentang perintah Allah. Bila dilakukan terang-terangan, tak ada satu pun mukmin yang mengikutinya. Jadi, ia merencanakan alasan lain yang lebih persuasif. Setan mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan menjadi malaikat dan hidup abadi jika mereka memakan buah pohon terlarang itu. Agar kebohongannya lebih meyakinkan, ia bahkan berani bersumpah atas nama Allah. Al-Qur`an memperingatkan para mukmin sejati agar melawan kelicikan yang dilakukan oleh setan ini.

    “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya, ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raaf [7]: 27)

    Mereka yang dibimbing oleh Al-Qur`an benar-benar dipersiapkan untuk melawan masalah-masalah yang tidak berdasar, keinginan yang semu, dan muslihat setan yang menipu. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thagut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah,” (an-Nisaa` [4]: 76)

    Strategi yang dilancarkan setan sebenarnya lemah dan hanya terdiri atas tipuan yang palsu, para mukmin sejati mamahami bahwa bisikan tersebut berasal dari setan. Mereka segera memohon perlindungan kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat

    “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya, orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf [7]: 200-201)

    Segera setelah mendapatkan perlindungan dari Allah, mereka dapat mengartikan peristiwa tersebut dengan cahaya Al-Qur`an. Mereka mendapatkan pemahaman yang menolong mereka untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Karena itulah, tuduhan setan yang sesat tergagalkan karena iman yang kuat dalam diri mukmin yang sejati.

    Demikian pulalah, seperti yang digarisbawahi Al-Qur`an dalam ayat berikut, setan memainkan peranan kosong pada diri mukmin sejati yang meletakkan keyakinan dan iman mereka kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Pelindung mereka.

    “Sesungguhnya, hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga.” (al-Israa` [17]: 65)

    Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur`an, setan dapat memengaruhi mereka yang dikuasai olehnya dan mereka yang menjadikan hal lain sebagai tuhan selain Allah.

    “Sesungguhnya, setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (an-Nahl [16]: 99-100)

    Dinyatakan bahwa setan tidak dapat memengaruhi hamba-hamba yang tulus dan suci,

    “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.‘” (al-Hijr [15]: 39-40)

    Karena alasan inilah, mukmin yang ikhlas dan benar tidak perlu takut menghadapi kelicikan dan tipu daya jebakan yang dibuat oleh setan, karena mereka tahu pasti bahwa setan tidak memiliki kekuatan atas mereka. Mereka hanya takut kepada Allah. Mereka yang takut kepada setan adalah mereka yang berteman dengannya dan terperosok ke dalam perangkapnya. Hal ini diungkapkan di dalam Al-Qur`an,

    “Sesungguhnya, mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran [3]: 175)

    Di dalam Al-Qur`an, Allah menyatakan bahwa setan akan meningkatkan usahanya untuk menanamkan keinginan-keinginan palsu dan penyimpangan di hati setiap manusia, termasuk hati para nabi. Ini adalah semacam cobaan yang diciptakan Allah untuk membedakan antara mereka yang memiliki penyakit di hatinya dan mereka yang beriman dengan tulus ikhlas.

    Mereka yang mendapatkan kesucian dan memiliki pengetahuan tidak dapat dipengaruhi oleh keinginan-keinginan palsu setan. Mereka benar-benar memahami bahwa setan tidak memiliki kekuatan sendiri. Ia sebenarnya diciptakan dan dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. Setan tidaklah berkuasa untuk menyesatkan orang-orang beriman, menghalangi keikhlasan mereka, atau membawa mereka ke jalan yang sesat tanpa seizin Allah.

    Ketika setan berusaha untuk menempatkan keinginan-keinginan palsu di dalam hati mereka, seorang muslim percaya bahwa Al-Qu`an tidak diragukan lagi merupakan sebuah keberkahan yang nyata dari Allah sebagai penguat. Kebenaran ini ditunjukkan oleh ayat,

    “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat, dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur`an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (al-Hajj [22]: 52-54)

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 5 February 2015 Permalink | Balas  

    sholat-jenazah-21Sunah-Sunah Shalat Jenazah

    arsip fiqh

    Sunah-sunah Shalat jenazah adalah sebagai berikut.

    1. Membaca doa pujian setelah takbir pertama menurut ulama Hanafi.
    2. Membaca isti’adzah sebelum membaca Al-Fatihah menurut ulama Syafi’i.
    3. Mengangkat tangan pada takbir pertama, dan setiap kali takbir menurut ulama Syafi’i.
    4. Membaca shalawat atas Nabi saw menurut ulama Hanafi dan Maliki, sedang menurut ulama yang lain hukumnya adalah fardhu (rukun).
    5. Berdo’a untuk mayit menurut ulama hanafi, dan menurut ulama yang lain hukumnya fardhu. Namun yang sunnah adalah dengan do’a yang ma’tsur (bersumber dari Nabi saw).

    Di antara doa-doa tersebut di atas adalah seperti yang termaktub dalam hadis-hadis berikut ini:

    1. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasululah saw mendoakan jenazah dengan mengucapkan, “Allahumma anta rabbuhaa wa anta khalaqtahaa wa anta razaqtahaa wa anta hadaitahaa lil Islaam wa anta qabadhta ruuhahaa wa anta a’lamu bisirrihaa wa’alaaniyyatihaa, ji’naa syufaa’a lahu, faghfirlahu dzanbahu.” (Ya Allah, Engkaulah Tuhan jenazah ini, Engkau telah menciptakannya, memberinya rizki, menunjukkannya kepada Islam dan telah mencabut nyawanya. Dan Engkau pulalah yang mengetahui keadaannya yang tersembunyi dan yang nyata. Kami datang untuk memohonkan syafa’at [pertolongan] baginya. Maka ampunilah dosa-dosanya). (HR Ahmad dan Abu Daud).
    2. Dari Wa’ilah bin Asqa’ berkata, Nabi saw menyalatkan jenazah salah seorang kaum muslimin bersama kami, maka saya mendengar beliau mengucapkan, “Allahumma inna fulaanabna fulaan fi dzimmatika wahabli jawaarika faqihi min fitnatil qobri wa’adzaabin naari wa anta ahlul wafaa’i wal haqqi, Allahumma faghfirlahu warhamhu fainnaka antal ghafuurur rahiimu.” (Ya Allah, sesungguhnya Fulan bin Fulan berada dalam jaminan dan tali pelindungan-Mu. Maka lindungilah ia dari fitnah (bencana) kubur dan siksa neraka. Engkaulah yang Maha memenuhi janji dan memiliki kebenaran. Ya Allah, ampuni dan kasihanilah ia, karena Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih). (HR Ahmad dan Abu Daud).
    3. Dari Auf bin Malik berkata, saya mendengar Rasulullah saw ketika menyalatkan jenazah mengucapkan, “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fu’anhu wa’aafihi wa akrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu waghsilhu bi maain watsaljin wabarodin wanaqqihi minalkhathaaya kamaa yunaqqotstsaubul abyadhu minad danasi waabdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wazaujan khairan min zaujihi waqihi fitnatal qabri wa’adzaaban naari.” (Ya Allah, ampuni dan kasinahilah ia, maafkan dan sejahterahkanlah ia, hormatilah kedatangannya, lapangkanlah tempat kediamannya, dan bersihkanlah ia dengan air, es dan embun, serta bersihkanlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Juga gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada rumahnya dahulu, gantilah keluarganya dengan yang lebih baik daripada keluarganya dulu, dan ganti pula istrinya dengan yang lebih baik daripada istrinya yang dulu. Dan peliharalah ia dari petaka kubur dan siksa neraka). (HR Muslim)
    4. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah menyalatkan jenazah, lalu mengucapkan, “Allohummaghfir lihayyinaa wamayyitinaa washaghirinaa wakabirinaa wadzakarinaa wauntsaanaa wasyaahidinaa waghaibinaa. Allahumma man ahyaitahu minnaa faahyihi alal islaam waman tawaffaitahu minnaa fatawaffahu ‘alal iimaan. Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa tudhillanaa ba’dahu.” (Ya Allah, ampunilah kami yang hidup dan yang mati, yang kecil dan yang besar, laki-laki dan perempuan, yang hadir dan yang tidak hadir. Ya Allah, barangsiapa yang Engkau hidupkan di antara kami hendaklah Engaku hidupkan secara Islam, dan barangsiapa yang Engkau matikan di antara kami, maka matikanlah dalam iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami mendapatkan pahalanya dan jangan pula sesatkan kami sepeninggalnya). (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan).
    5. Dari Abu Hurairah ra bahwa ia ditanya, “Bagaimana cara kamu menyalatkan jenazah? dia menjawab: saya mengantarkannya dari rumah keluarganya, dan bila sudah diletakkan (untuk diShalatkan), maka saya mengucapkan takbir, memuji kepada Allah, dan membaca shalawat kepada Nabi saw, kemudian membaca: “Allahumma innahu ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika kaana yusyhidu anlaa ilaaha illa anta wa anna muhammadan ‘abduka wa rasuuluka wa anta a’lamu bihi. Allahumma inkaana muhsinaan fazid fi ihsaanihi wa inkaana musii’an fatajawaz ‘an sayyiaatihi. Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu.” (Ya Allah, sesungguhnya ia adalah hamba-Mu dan putra hamba-Mu yang laki-laki dan perempuan. Ia mengakui bahwa tiada tuhan selain Engkau dan Muhammad adalah hamba dan pesuruh-Mu, dan Engkau lebih mengetahuinya. Ya Allah, jika dia telah berbuat kebajikan, maka tambahlah kebajikannya, sebaliknya, jika ia berbuat buruk, maka maafkanlah kesalahan-kesalahannya. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami mendapat pahalanya dan jangan pula Engkau timpakan fitnah kepada kami sepeninggalnya). (HR Malik).

    Orang yang Shalat jenazah boleh mengucapkan doa sesukanya dari doa-doa tersebut, dan jika digabung semuanya, maka hal itu lebih baik. Jika jenazahnya itu perempuan, maka kata ganti laki-laki (dhamir mudzakkar hu/hi) hendaklah diganti dengan kata ganti perempuan/dhamir muannats, yakni haa, tetapi tidak boleh mengatakan zaujan khairon min zaujihaa (… dan gantilah suaminya dengan suami yang lebih baik daripada suaminya dahulu).

    Apabila mayatnya itu anak kecil, maka ucapkanlah:

    “Allahummaj’alhu farathan liabawaihi wasalafan wadzukhran wa’idzatan wa’tibaaran wasyafii’an watsaqqil bihi mawaazinahuma waafrighis shabra ‘ala quluubihiima walaa taftinhumaa ba’dahu walaa tahrimhumaa ajrohu wa’alhiqhu bishaalihi salafil mu’minin.” (Ya Allah, jadikanlah ia bagi kedua orang tuanya sebagai titipan, pendahululan, simpanan, nasihat, pelajaran dan pemberi syafaat, beratkanlah dengannya timbangan amal mereka, curahkanlah kesabaran di hati mereka, janganlah Engkau timbulkan fitnah pada mereka sepeninggalnya, dan janganlah halangi mereka mendapat pahalanya, serta pertemukanlah ia dengan kaum beriman terdahulu yang saleh).

    • Imam hendaklah berdiri di tempat yang lurus dengan kepala mayat atau bahunya jika mayat itu laki-laki atau bagian tengah mayat perempuan.

    Dari Anas ra, ia menyalatkan jenazah orang lelaki, maka ia berdiri dekat kepalanya. Setelah jenazah itu diangkat, dibawalah ke hadapannya jenazah seorang perempuan, lalu ia menyalatkannya pula tetapi ia berdiri di (dekat bagian) tengahnya. Kemudian, ditanyakan kepadanya, ‘Apakah memang demikian posisi berdiri Rasulullah saw terhadap jenazah orang laki-laki dan perempuan itu, seperti yang anda lakukan?’ Anas menjawab: ‘Benar demikian’.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi seraya menyatakannya sebagai hadis hasan).

    • Shaf (barisan) Shalat jenazah hendaknya dijadikan tiga shaf.

    Dari Malik bin Hubairah, Rasulullah saw bersabda, “Tiada seorang mukmin yang meninggal dunia lalu diShalatkan oleh sejumlah kaum muslimin yang mencapai tiga shaf, melainkan diampunilah dosanya.” Karena itu, jika yang hendak menyalatkan jenazah itu sedikit, maka Malik bin Hubairoh berusaha menjadikan mereka dalam tiga shaf. (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan. Hadis ini dianggap hasan oleh Timidzi, dan shahih oleh Hakim).

    Dianjurkan memperbanyak jumlah orang yang menyalatkan jenazah, berdasarkan hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Tidaklah seorang mayat yang diShalatkan oleh sekelompok kaum muslimin berjumlah seratus orang dan semuanya memohonkan syafaat untuknya, melainkan pemohonan mereka itu dikabulkan.” (HR Ahmad, Muslim, dan Timidzi)

    Dari Ibnu Abbas berkata, dia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tiada seseorang yang meninggal dunia lalu jenazahnya diShalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, melainkan Allah memberi syafaat baginya.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

    • Membaca doa setelah takbir keempat seperti berikut:

    “Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfirillahumma lanaa walahu” (Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari pahalanya, janganlah Engkau fitnah kami sepeninggalnya, serta ampunilah, ya Allah, kami dan dia).

    Makmum Masbuq dalam Shalat Jenazah

    Barangsiapa tertinggal sesuatu dalam Shalat jenazah hendaklah mengerjakannya (menyelesaikannya) sesudah imam mengucapkan salam menurut cara seperti biasa, sekalipun jenazah telah diangkat tanpa menunggu masbuq. Namun, menurut ulama Hanafi, jika jenazah telah diangkat tanpa menunggu makmum masbuq itu, hendaklah ia hanya membaca takbir-takbir saja tanpa harus membaca sesuatu apa pun lagi dan kemudian mengucapkan salam sebelum jenazah diangkat. Sebab, yang menjadi rukun menurut mereka hanyalah membaca takbir dan selainnya adalah sunnah. Dan makruh hukumnya melaksanakan Shalat jenazah di dalam masjid, sekalipun jenazah berada di luar masjid, sebagaimana dimakruhkan pula memasukkannya ke dalam masjid bukan untuk diShalatkan. Namun, ulama Syafi’i berpendapat sunnah menyalatkan jenazah di dalam masjid. Sedang menurut ulama Hanbali, hukumnya mubah (boleh) jika tidak dikhawatirkan akan mengotori masjid, dan bila akan mengotorinya maka hukumnya haram.

    Yang Paling Berhak Menjadi Imam Shalat Jenazah

    Ulama Hanafi dan Hanbali berpendapat, yang harus didahulukan menjadi imam Shalat jenazah adalah sultan (kepala negara) jika hadir, wakilnya menurut ulama Hanafi atau waliyyul amri (penguasa, gubernur) di kota.

    Namun, menurut ulama Syafi’i dan Hanbali, yang harus didahulukan adalah ayah, kakek, dan seterusnya sampai ke atas, lalu anak dan seterusnya dalam garis lurus ke bawah, dan kemudian saudara, sesuai dengan urutan mereka dalam menjadi wali. Ulama Maliki juga sependapat dengan mereka dalam mendahulukan kelompok kerabat ini di saat tidak terdapat sultan atau wakilnya.

    Jika si mayat telah berwasiat agar ia diShalatkan oleh seseorang, maka orang itulah yang paling berhak didahulukan. Dan di antara orang yang harus didahulukan adalah imam masjid, sebab ketika masih hidup ia telah menyukainya sebagai imam.

    ***

    Sumber: As-Shalaatu ‘alal Madzaahibil Arba’ah, Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 4 February 2015 Permalink | Balas  

    sholat-jenazah-1Shalat Jenazah

    arsip fiqh

    Shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah bagi semua orang muslim yang hidup. Jika telah dikerjakan, oleh satu orang sekalipun, maka gugurlah kewajibannya dari yang lain.

    Shalat ini mempunyai beberapa syarat, rukun, dan sunnah serta keutamaan sebagaimana akan kami sebutkan.

    Dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda, “Barangsiapa mengantarkan jenazah dan menyalatkannya, maka ia mendapat pahala satu qirat dan barangsiapa mengantarkannya sampai selesai penguburannya, maka ia mendapat pahala dua qirat. Satu qirat terkecil itu sama dengan Gunung Uhud.” (HR Jamaah).

    Dari Khabbab ra, ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa pergi mengantar jenazah dari rumah duka dan menyalatkannya lalu mengantarnya sampai dikuburkan, maka ia mendapat pahala dua qirath, dan setiap qirathnya sama dengan Gunung Uhud. Dan barangsiapa menyalatkannya lalu pulang, maka ia hanya memperoleh sebesar Gunung Uhud.” (HR Muslim).

    Syarat-Syarat Shalat Jenazah

    1. Jenazah harus orang muslim.

    Karenanya, orang kafir haram diShalatkan berdasarkan firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At-Taubah: 84).

    1. Jenazah harus berada di tempat.

    Ulama Syafi’i dan Hanbali tidak mensyaratkannya, karena itu boleh menyalatkan jenazah yang tidak berada di tempat di mana Shalat diselenggarakan. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Pada hari raja Najasyi wafat, Nabi saw mengumumkan kematiannya kepada orang-orang dan mengajak mereka pergi ke mushalla, kemudian ia membariskannya lalu mengerjakan Shalat (jenazah) dengan takbir empat kali.” (HR Jamaah).

    1. Jenazah telah disucikan. Karena itu, ia tidak boleh diShalatkan sebelum dimandikan atau ditayamumkan jika sulit memandikannya.
    2. Jenazah berada di depan orang yang menyalatkannya. Maka, Shalat tidak sah apabila jenazah diletakkan di belakang mereka. Namun, menurut ulama Maliki, yang wajib ialah kehadiran jenazah, sedang meletakkan di depan itu hukumnya sunnah.
    3. Jenazah harus diletakkan di atas tanah. Maka, tidak sah menyalatkan jenazah yang sedang diangkut di atas hewan atau kendaraan atau sedang dipikul orang. Tetapi, menurut ulama Syafi’i, boleh menyalatkannya sekalipun ia dibawa atau dipikul orang.
    4. Jenazah bukanlah syahid yang gugur dalam pertempuran melawan orang kafir. Karenanya, orang mati syahid haram diShalatkan karena haram dimandikannya.

    Dari Jabir ra, “Nabi saw memerintahkan agar para syuhada yang gugur dalam perang Uhud dikuburkan berikut darahnya, tidak dimandikan dan tidak pula diShalatkan.” (HR Bukhari).

    Dari Anas ra, “Para syuhada itu tidak dimandikan, mereka dikubur dengan darah mereka tanpa diShalatkan lagi.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

    Menurut ulama Hanafi, orang yang mati syahid itu tidak boleh dimandikan tetapi wajib diShalatkan, berdasarkan hadis dari ‘Uqbah bin Amir: “Pada suatu hari Nabi saw keluar rumah lalu menyalatkan para syuhada Uhud seperti halnya menyalatkan mayat biasa setelah delapan tahun. Beliau seakan-akan sedang berpamitan kepada orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR Bukhari).

    Dari Abu Malik al-Ghiffari berkata, “Sebanyak sembilan orang yang gugur dalam perang Uhud, dan Hamzah sebagai orang kesepuluh dibawa ke hadapan Rasulullah saw lalu diShalatkan oleh beliau, kemudian dibawa pergi. Setelah itu didatangkan lagi sembilan orang sedang Hamzah masih berada di tempat semula, dan beliau pun menyalatkannya semua.” (HR Baihaqi dan menurutnya hadis ini merupakan hadis paling shahih dalam masalah ini, tetapi ia hadis mursal).

    1. Bagian tubuh mayat yang ada, yang diShalatkan itu, haruslah merupakan bagian terbesar.

    Bayi yang lahir prematur (keguguran) jika dilahirkan dalam keadaan menangis (hidup) wajib diShalatkan. Hal ini berdasarkan keterangan dari Jabir, Nabi bersabda:

    “Jika bayi yang baru lahir itu menangis, ia harus diShalatkan dan mendapatkan pusaka.” (HR Ashhabus Sunnan kecuali Abu Daud).

    Tetapi, jika di saat lahir tidak menangis, karena sudah mati dalam kandungan ibunya, maka ia tidak boleh diShalatkan. Namun, menurut ulama Hanbali, jika sewaktu dalam perut ibunya telah ditiupkan ruh dan setelah itu mati, maka ketika lahir ia harus diShalatklan. Hal ini berdasarkan hadis yang diterima dari Mughirah bin Syu’bah, Nabi bersabda:

    “Bayi keguguran itu harus diShalatkan, dan kedua orang tuanya supaya didoakan mendapat ampunan dan rahmat.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

    Adapun syarat-syarat yang berkaitan dengan orang yang menyalatkan jenazah adalah sama dengan syarat-syarat Shalat biasa, yakni niat, bersuci, menghadap kiblat, menutup aurat, dan lain sebagainya.

    Rukun-Rukun Shalat Jenazah

    Shalat Jenazah mempunyai beberapa rukun, yang dengannya terwujudlah hakikat Shalat itu. Bila salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi, maka Shalat itu tidak sah menurut hukum syara’. Rukun-rukun tersebut adalah:

    1. Niat. Namun, menurut ulama Hanafi dan Hanbali, niat adalah syarat, bukan rukun.
    2. Membaca takbir empat kali. Setiap takbir itu sama nilainya dengan satu rakaat. hal itu berdasarkan hadis Jabir ra, “Nabi saw menyalatkan Najasyi, maka beliau bertakbir empat kali.”
    3. Berdiri bagi yang mampu. Apabila Shalat ini dilakukan dengan duduk tanpa udzur, maka Shalatnya tidak sah.
    4. Membaca Al-Fatihah sesudah takbir pertama, berdasarkan sabda Rasul, “Tiada Shalat itu sah bagi yang tidak membaca surah Al-fatihah.” (HR Jama’ah). Dan, berdasarkan pula keterangan dari Thalhah bin Abdullah bahwa ia pernah mengerjakan Shalat Jenazah bersama Ibnu Abbas dengan membaca surah Al-Fatihah, lalu Ibnu Abbas berkata, bahwa hal itu adalah sunnah rasul saw. (HR Bukhari dan Timidzi).

    Ulama Hanafi berpendapat, makruh hukumnya membaca Al-Fatihah ini. Ulama Hanafi pun sependapat dengan mereka dinisbahkan bagi makmum kecuali jika dimaksudkan sebagai doa, tetapi jika dimaksudkan sebagai bacaan maka hukumnya tetap makruh.

    1. Membaca shalawat kepada Nabi saw setelah takbir kedua. Sekurang-kurangnya adalah Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Namun, yang lebih sempurna ialah membaca shalawat ibrahimiyah.
    2. Berdoa untuk mayit sesudah takbir ketiga, berdasakan hadis Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

    “Jika kamu menyalatkan mayit, maka berdoalah dengan ikhlas untuknya.” (HR Abu Daud, Baihaqi, dan Ibnu Hibban seraya menyatakannya sebagai hadis sahih).

    Berdoa boleh dilakukan dengan doa apa saja, sekalipun hanya sedikit, dan paling sedikit adalah, “Allahummaghfir lahu warhamhu” (Ya Allah, ampunilah ia dan rahmatilah). Tetapi, yang paling utama ialah doa yang bersumber dari Rasul. Sedangkan berdoa menurut ulama Maliki adalah wajib sesudah tiap takbir.

    1. Mengucapkan salam sesudah takbir keempat. Tetapi, menurut ulama Hanafi, salam adalah wajib, bukan rukun, sebagaimana pada Shalat-Shalat yang lain.

    ***

    Sumber: As-Shalatu ‘alal Mazahibil Arba’ah, Abdul Qodir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 3 February 2015 Permalink | Balas  

    gerhanaShalat Gerhana (Matahari dan Bulan)

    arsip fiqih

    Shalat Gerhana termasuk salah satu Shalat sunnah muakkad (yang sangat dianjurkan) sebagaimana halnya Shalat malam (qiyamullail), Shalat ‘idain dan Shalat sunnah yang lain. Hanya saja, Shalat ini kurang mendapat perhatian secara luas dari kalangan kaum muslimin, berbeda dengan Shalat ‘idain. Hal ini barangkali lebih disebabkan karena mereka pada umumnya belum mengetahui sejauh mana Shalat ini dianjurkan oleh syariat. Oleh karena itu, pada edisi ini kami mencoba menurunkan kajian ini untuk memberikan gambaran kepada umat Islam agar mereka bisa memanfaatkan kesempatan itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, munculnya gerhana tersebut memang semata-mata merupakan bukti dari kekuasaan Allah SWT.

    Dalil-Dalil Dianjurkannya Shalat Gerhana

    1. Dari al-Mughirah bin Syu’bah ra berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw di saat Ibrahim (putra Nabi saw) meninggal, lalu orang-orang saling berkata, ‘Gerhana matahari terjadi karena meninggalnya Ibrahim’. Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, tidak terjadi gerhana pada keduanya sebab kematian seseorang atau kehidupannya. Karena itu, berdo’alah kepada Allah SWT dan lakukanlah Shalat sampai matahari itu terang kembali’.” (Muttafaq Alaihi).

    Redaksi hadis tersebut menggunakan kata ‘inkasafat’, apakah kata itu khusus untuk matahari atau juga untuk bulan? Dalam hal ini ulama berbeda pendapat, namun berdasarkan dalil yang tsabit (ada) bahwa apabila terjadi gerhana matahari maupun bulan, tetap disunnahkan untuk melakukan Shalat gerhana.

    Kemudian, Imam Nawawi berkata, “Ulama telah bersepakat bahwa Shalat gerhana itu hukumnya sunnah. Sedangkan menurut jumhurul ulama, disunnahkan melakukannya dengan berjamaah, sementara menurut al-Iraqiyyun (ulama-ulama Irak) disunnahkan melakukannya dengan sendiri-sendiri (munfarid).

    1. Dari Abu Bakarah ra, “Maka Shalatlah dan berdoalah sampai (matahari/bulan) itu terang kembali kepadamu.” (HR al-Bukhari).

    Tehnik Pelaksanaan Shalat Gerhana

    Shalat gerhana berbeda dengan Shalat yang lain, baik sunnah maupun fardhu. Jika Shalat ‘Idain itu dengan dua rakaat dan 12 takbir (7 takbir untuk rakaat pertama dan 5 takbir untuk rakaat kedua), maka Shalat gerhana itu dengan dua rakaat, namun dengan berdiri 4 kali, membaca Al-Fatihah dan surah 4 kali serta ruku’ 4 kali. Untuk lebih jelasnya perhatikan hadis-hadis di bawah ini:

    1. Dari Aisyah ra, “Nabi saw mengeraskan bacaannya pada Shalat gerhana matahari, lalu beliau Shalat empat rakaat dalam dua rakaat dan empat kali sujud”. Muttafaq Alaihi dan ini menurut lafal Muslim, sedangkan menurut riwayat Muslim, “… lalu Nabi saw mengutus seorang Bilal (orang yang memberitahukan Shalat) yang mengumandangkan ‘as-sholaatu jaami’ah’ (Shalat itu dikerjakan dengan jama’ah).”

    Berdasarkan hadis ini, pada Shalat gerhana matahari itu disunnahkan mengeraskan bacaan. Meski demikian, dalam hal ini ada empat pendapat:

    Pertama, mengeraskan bacaan secara mutlak, baik pada Shalat gerhana matahari maupun pada Shalat gerhana bulan. Dalilnya adalah hadis ini dan hadis yang lain. Pendapat ini adalah pendapatnya madzhab Ahmad bin Hanbal, Ishaq, Abu Yusuf dan Muhammad asy-Syaibani (keduanya temannya Abu Hanifah), Ibnu Khuzaimah, Ibnu al-Mundzir dan yang lain.

    Kedua, melirihkan bacaan secara mutlak, berdasarkan hadis Ibnu Abbas ra, “Bahwa Nabi saw berdiri sangat lama sepanjang surah Al-Baqarah. Imam al-Bukhari mengomentari dari Ibnu Abbas bahwa dia berdiri di samping Nabi saw dalam Shalat gerhana matahari lalu dia tidak mendengarkan satu huruf pun dari Nabi saw.

    Ketiga, seseorang bebas memilih antara keras dan pelan karena adanya kedua perintah tersebut dari Nabi saw.

    Keempat, melirihkan bacaan pada gerhana matahari dan mengeraskan bacaan pada gerhana bulan. Ini pendapat Imam empat, berdasarkan hadis Ibnu Abbas dan karena diqiyaskan dengan Shalat lima waktu.

    1. Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, kemudian Rasulullah saw melakukan Shalat lalu berdiri sangat lama sepanjang surah Al-Baqarah, kemudian ruku’ dengan sangat lama, lalu bangun kemudian berdiri sangat lama, akan tetapi agak pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ dengan sangat lama, akan tetapi agak pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud. Kemudian, berdiri sangat lama, akan tetapi agak pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ sangat lama, tetapi agak pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian bangun lalu berdiri dengan sangat lama, tapi agak pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’ dengan sangat lama, tapi agak pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian mengangkat kepalanya lalu sujud, kemudian salam dan matahari telah terang kembali kemudian Nabi saw berkhotbah kepada manusia.” Muttafaq Alaihi, dan lafal hadisnya dari al-Bukhari.

    Menurut riwayat Muslim, “Nabi saw Shalat delapan rakaat dalam empat sujud ketika terjadi gerhana matahari.”

    Angin Bertiup Sangat Kencang

    Bila angin itu bertiup kencang, maka di sunnahkan membaca doa sebagaimana yang dilakukan Nabi saw seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra di bawah ini:

    Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Tidaklah angin itu bertiup sama sekali kecuali Nabi saw duduk di atas kedua lututnya dan berdoa: ‘Ya Allah jadikanlah angin itu sebagai rahmat dan jangan Engkau jadikan sebagai azab (siksa)’. ” (HR asy-Syafi’i dan at-Thabarani).

    Apabila Terjadi Gempa

    Dari Ibnu Abbas ra, dia Shalat dua rakaat dan masing-masing rakaat tiga kali ruku’ seraya berkata, “Seperti inilah Shalat karena terjadinya (bencana) tanda-tanda kekuasaan Allah (alam ).” (HR al-Baihaqi), dan asy-Syafi’i menyebutkan dari Ali ra seperti hadis itu, bukan potongan hadis yang terakhirnya.

    Asy-Syafi’i dan yang lain berpendapat, dalam Shalat tersebut tidak disunnahkan berjamaah dan apabila seseorang melakukannya dengan sendirian, maka itu baik. Beliau beralasan, karena tidak diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau perintah agar melakukannya dengan jamaah kecuali dalam Shalat gerhana matahari dan bulan.

    ***

    Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 2 February 2015 Permalink | Balas  

    shalat-tarawih-puasa-pertama_fullShalat ‘Idain (Shalat Dua Hari Raya)

    arsip fiqih

    Termasuk Shalat-Shalat sunnah berikutnya adalah Shalat ‘Idain (Idul Fitri dan Idul Adha). Shalat ini disyari’atkan pada tahun pertama dari hijrah Rasulullah saw. Hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan). Shalat tersebut disunnahkan berjama’ah bagi laki-laki dan perempuan. Selain itu, disunnahkan pula dikerjakan di lapangan, kecuali ada udzur (halangan) seperti hujan, maka di sunnahkan dikerjakan di masjid. Adapun waktunya, untuk Shalat Idul Fitri yaitu dimulai apabila matahari telah naik dua penggalah sampai tergelincirnya matahari, dan untuk Shalat Idul Adha yaitu dimulai apabila matahari telah naik sepenggalah sampai tergelincirnya matahari.

    Teknik Pelaksanaannya

    1. Dilaksanakan dengan dua rakaat, dua belas takbir, yakni takbir pada rakaat pertama tujuh takbir dan takbir pada rakaat kedua lima takbir serta tidak didahului dengan Shalat sunnah qabliyah dan tidak diakhiri pula dengan sunnah ba’diyah. Hal ini sesuai dengan hadis dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi saw bertakbir pada Shalat ‘id dengan dua belas takbir, tujuh takbir untuk rakaat pertama dan lima takbir untuk rakaat kedua seraya tidak melakukan Shalat sebelumnya dan sesudahnya. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
    2. Tidak diawali dengan adzan dan iqamah, sesuai dengan hadis yang artinya, “Tidaklah diserukan adzan pada Shalat idul fitri dan idul adha.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dari Atha’ ra berkata, “Aku diberitahu oleh Jabir bahwa pada Shalat idul fitri itu tidak diserukan adzan, baik sebelum atau sesudah imam keluar, tidak pula iqamah, panggilan atau apa pun juga. Tegasnya, pada hari itu tidak ada panggilan apa-apa atau iqamah.” (HR Muslim).

    1. Dilaksanakan sebelum khotbah, berdasarkan hadis Ibnu Umar ra yang berkata yang artinya, “Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar melakukan Shalat dua hari raya sebelum khotbah.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

    Berdasarkan Ijma’, khotbah Shalat dua hari raya itu tidak wajib. Hal yang mendasari hukum tersebut adalah hadis Abdullah bin as-Saaib berkata, “Aku Shalat Id bersama Rasulullah saw, tatkala beliau selesai melaksanakan Shalatnya, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kami berkhotbah, barangsiapa ingin duduk untuk berkhotbah, maka duduklah dan barangsiapa ingin pergi (tidak berkhotbah), maka pergilah’.” (HR an-Nasaa’i, Ibnu Majah, dan Abu Daud)

    Hal-Hal yang Disunnahkan Berkaitan dengan Shalat Id

    1. Dalam melaksanakan Shalat Id, bagi imam -setelah membaca Al-Fatihah- disunnahkan membaca Surah Qaaf pada rakaat pertama dan surah Iqtarabat pada rakaat kedua sesuai dengan hadis yang riwayatkan oleh Imam Muslim. Jika ia tidak mampu membaca kedua surah tersebut, maka disunnahkan baginya -setelah membaca Al-Fatihah- membaca surah al-‘A’la (Sabbihis) pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiah pada rakaat kedua.
    2. Setiap orang -baik imam maupun makmum- yang ingin melaksanakan Shalat Id, maka disunnahkan baginya untuk menempuh jalan yang berbeda ketika pergi dan pulangnya. Hal ini sesuai dengan hadis dari Jabir ra yang berkata, “Rasulullah saw apabila berada pada hari raya, maka beliau menempuh jalan yang berbeda (untuk melaksanakan Shalat Id).” (HR al-Bukhari)

    Kemudian, hikmah apa yang terkandung dalam kesunnahan ini? Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat:

    Pertama, agar bisa memberikan salam kepada dua penduduk yang berada di sekitar dua jalan tersebut.

    Kedua, agar penduduk yang berada di sekitar dua jalan itu mendapat keberkahan orang yang melakukan Shalat id.

    Ketiga, agar orang yang mempunyai keperluan dengan penduduk yang berada di sekitar dua jalan itu bisa memenuhinya.

    Keempat, untuk menampakkan syiar Islam di jalan-jalan, penjuru-penjuru dan gang-gang.

    Kelima, untuk membangkitkan kemarahan orang-orang munafik ketika mereka melihat Izzah (kemulyaan) Islam, syiarnya dan orang-orang Islam yang merayakan hari kemenangan itu.

    Keenam, untuk memperbanyak kesaksian tempat. Karena, setiap orang yang pergi ke masjid atau ke tempat Shalat, maka salah satu langkahnya akan mengangkat derajatnya dan langkahnya yang lain akan merontokkan kesalahannya sampai dia pulang ke rumahnya.

    Ketujuh, inilah pendapat yang paling benar bahwa hikmah tersebut tidaklah bisa diukur dengan kasad mata dan panca indera. Dan, perlu diketahui bahwa sahabat Ibnu Umar ra karena begitu perhatiannya terhadap sunnah, beliau bertakbir dari rumahnya sampai ke tempat Shalat.

    1. Setiap orang yang pergi untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri, maka sebelumnya dia disunnahkan agar makan terlebih dahulu. Akan tetapi, apabila dia pergi untuk melaksanakan Shalat Idul Adha, maka dia disunnahkan menunda makannya sampai selesai melaksanakan Shalat Idul Adha berdasarkan hadis dari Anas ra yang berkata, “Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw tidak berangkat ke tempat Shalat sebelum memakan beberapa korma dengan jumlah yang ganjil.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

    Dari Buraidah ra berkata, “Nabi saw tidak berangkat untuk Shalat Idul Fitri sebelum makan terlebih dahulu dan tidak makan untuk Shalat Idul Adha sampai beliau pulang.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

    1. Disunnahkan berjalan kaki menuju ke tempat Shalat Id/masjid. Hal ini berdasarkan hadis Ali ra yang artinya, “Termasuk sunnah adalah Anda keluar menuju tempat Shalat Id/masjid dengan berjalan kaki.” (HR at-Tirmidzi seraya menganggapnya sebagai hadis hasan).
    2. Disunnahkan mandi, memakai wangi-wangian dan mengenakan pakaian yang terbaik. Dalilnya adalah hadis dari Ibnu Abbas ra yang berkata, “Pada hari Id Rasulullah saw memakai burdah merah.”
    3. Disunnahkan mengajak para gadis dan wanita-wanita yang haidh agar menghadiri Shalat Id. Akan tetapi, untuk para wanita yang sedang haidh hendaknya menjauhi tempat Shalat. Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu ‘Athiyah ra yang berkata, “Kami diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita yang haidh pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu, juga do’a kaum muslimin. Hanya saja, supaya wanita-wanita yang haidh itu menjauhi tempat Shalat.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    ***

    Referensi:

    1. Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ni
    2. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
    3. Tamamul Minnah fit Ta’liq Ala Fiqhis Sunnah, Muhammad Nashiruddin al-bani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 1 February 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatShalat Sunnah Dhuha

    arsip fiqih

    Salah satu di antara sekian banyak Shalat sunnah -setelah Shalat sunnah tahajjud/qiyamul lail- adalah Shalat dhuha. Ia merupakan Shalat sunnah yang sering dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah sendiri melakukannya sampai delapan raka’at. Mengenai keutamaannya, waktunya, hukumnya dan jumlah rakaatnya, akan diuraikan sebagai berrikut.

    Keutamaannya

    Dari Abu Dzarr ra, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah masing-masing di antara kalian setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badannya. Maka, setiap bacaan tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (laa Ilaha illallahu) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang keburukan adalah sedekah dan sebagai ganti dari semua itu, cukuplah mengerjakan dua rakaat Shalat dhuha.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud).

    Dari Abu Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dalam tubuh manusia itu terdapat tiga ratus enam puluh ruas tulang. Ia diharuskan bersedekah untuk tiap ruas itu.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang kuat melaksanakan itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Menutup dahak di masjid dengan tanah atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah, atau sekiranya mampu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua rakaat Shalat dhuha.”

    Imam as-Syaukani berkata, “Dua hadis di atas menunjukkan betapa besar keutamaan Shalat Dhuha, betapa tinggi kedudukannya serta betapa kuatnya syariat dalam menganjurkannya. Dua rakat Shalat dhuha dapat menggantikan tiga ratus enam puluh kali sedekah. Oleh sebab itu, hendaknya dilangsungkan terus menerus. Selain itu, hadis tersebut memberikan petunjuk agar kita memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, menyuruh kebaikan, melarang keburukan, menutup dahak di masjid, menyingkirkan setiap gangguan di jalan dan lain-lain kebaikan. Dengan demikian, terpenuhilah sedekah-sedekah yang diharuskan kepada setiap orang pada tiap harinya.”

    Dari Abu Hurairah ra berkata, “Kekasihku Nabi saw berwasiat kepadaku dengan tiga hal, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua rakaat Shalat Dhuha dan melakukan witir sebelum tidur.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    Dari Anas ra berkata, “Saya melihat Rasulullah saw di waktu bepergian, melakukan Shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat. Setelah selesai beliau bersabda, ‘Saya tadi Shalat dengan penuh harapan dan diliputi kecemasan. Saya mohon kepada Tuhan tiga hal, lalu diberi dua dan ditolak satu. Saya mohon supaya umatku jangan diuji dengan paceklik dan ini dikabulkan, saya mohon pula agar umatku tidak dapat dikalahkan musuh-musuhnya dan ini pun dikabulkan, lalu saya mohon agar umatku jangan sampai berpecah-belah menjadi beberapa golongan dan ini ditolak-Nya’.” (HR Ahmad, an-Nasa’i, al-Hakim, dan Ibnu Khuzaimah dan menurut keduanya (yang terakhir) hadis tersebut sahih).

    Waktunya

    Permulaan waktu Shalat Dhuha adalah di waktu matahari sudah naik kira-kira sepenggalah, dan berakhir ketika matahari sudah zawal (bergeser ke arah barat). Akan tetapi, disunnahkan mengundurkan Shalat Dhuha sampai matahari agak tinggi dan panas agak terik. Hal ini berdasarkan hadis nabi saw di bawah ini:

    Dari zaid bin Arqam berkata, Nabi saw keluar menuju tempat ahli Quba’, ketika itu mereka sedang melakukan Shalat Dhuha, lalu beliau bersabda, “Shalat Awwabin (orang-orang yang kembali kepada Allah SWT) itu sewaktu anak-anak onta telah bangkit karena kepanasan waktu Dhuha.” (HR Ahmad, Muslim dan at-Tirmidzi).

    Hukumnya

    Shalat Dhuha itu adalah ibadah yang disunnahkan. Karena itu, barangsiapa menginginkan pahalanya sebaiknya ia melakukannya. Dan, barangsiapa tidak menginginkan pahalanya, tidak ada halangan bagi dia untuk meninggalkannya. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id, dia berkata:

    “Rasulullah saw melakukan Shalat Dhuha, sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Akan tetapi, kalau beliau sudah meninggalkannya, sampai-sampai kita mengira bahwa beliau tidak pernah melakukannya.” (HR at-Tirmidzi dan dia menganggapnya sebagai hadis hasan).

    Bahkan, Imam Ibnu al-Qayyim sempat menghimpun pendapat-pendapat ulama mengenai disyariatkannya Shalat Dhuha, dan pendapat-pendapat tersebut ada enam: pertama, sunnah (mustahabbah) yang dianjurkan. Kedua, tidak disyari’atkan kecuali karena ada sebab. Ketiga, tidak dianjurkan sama sekali. Keempat, dianjurkan melakukannya sewaktu-waktu dan meninggalkannya sewaktu-waktu serta tidak melanggengkannya. Kelima, dianjurkan melakukannya di rumah-rumah. Keenam, Shalat tersebut bid’ah. Namun, pendapat yang rajih (kuat) dari kesekian pendapat tersebut adalah bahwa Shalat Dhuha itu sunnah yang mustahabbah (dianjurkan) sebagaimana pendapat yang telah ditetapkan oleh Ibnu Daqiq al-‘Id.

    Jumlah Rakaatnya

    Sedikit-dikitnya adalah dua rakaat, sebagaimana tersebut dalam hadis Abu Dzarr, dan sebanyak-banyaknya yang dikerjakan oleh Rasulullah saw adalah delapan raka’at, sedang menurut yang disabdakannya adalah dua belas rakaat. Akan tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada batasan bilangan rakaat Shalat Dhuha. Ini adalah pendapat Abu Ja’far at-Thabari, Hulaimi dan Ruyani dari golongan mazhab Syafi’i. Dalam syarah at-Tirmidzi, al-‘Iraqi berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang pun, baik dari golongan sahabat maupun tabi’in yang membatasinya hanya sampai dua belas rakaat.” Demikian pula yang dikatakan as-Suyuthi, Sa’id bin Manshur sewaktu ditanya ‘Apakah sahabat Rasulullah saw juga mengerjakan Shalat itu?’, ia menjawab, ‘ya, di antara mereka ada yang mengerjakannya sebanyak dua belas rakaat, ada yang empat rakaat dan ada pula yang terus menerus mengerjakannya sampai tengah hari’.”

    Diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa ada seorang yang bertanya kepada Aswad bin Yazid, “Berapa rakaatkah saya harus mengerjakan Shalat Dhuha?” ia menjawab, “Sesuka hatimu.”

    Dari Ummu Hani’ berkata, “bahwa Nabi saw mengerjakan Shalat Dhuha sebanyak delapan rakaat dan tiap dua rakaat bersalam.” (HR Abu Daud dengan sanad yang sahih).

    Dari Aisyah berkata, “Nabi saw mengerjakan Shalat Dhuha empat rakaat dan menambah beberapa sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT.”

    Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw masuk ke rumahku, lalu melakukan Shalat Dhuha delapan rakaat.” (HR Ibnu Hibban dalam sahihnya).

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, Muhammad bin Isma’il as-Shan’ani

    Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 31 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatShalat-Shalat Sunnah

    arsip fiqih

    Shalat-Shalat sunnah sangat banyak, yaitu Shalat sunnah rawatib (Shalat sunnah yang mengiringi Shalat fardhu), Shalat witir, Shalat dua hari raya, Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan, Shalat istisqa’, Shalat malam (tahajjud), Shalat dhuha, Shalat Tarawih dll.

    Dianjurkannya Shalat-Shalat sunnah tersebut tidak lain hanya semata-mata untuk menyempurnakan kekurangan yang ada pada Shalat fardhu yang telah dilakukan seorang muslim dan untuk meningkatkan pendekatan diri kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Tamim ad-Daari, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Yang pertama kali dihisab oleh Allah SWT dari seorang hamba adalah Shalatnya. Jika Shalatnya sempurna (benar dan baik), maka ditulislah pahala sempurna untuknya dan apabila dia tidak menyempurnakan Shalat tersebut (melakukannya dengan benar dan baik), maka Allah SWT berfirman kepada para malaikatnya: ‘Lihatlah, apakah kalian menemukan Shalat sunnah yang dilakukan hambaku untuk menyempurnakan Shalat fardhunya’?” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

    Kemudian, Shalat-Shalat sunnah tersebut dikategorikan menjadi dua bagian: mutlaq dan muqayyad. Untuk sunnah mutlaq, cukuplah seseorang berniat Shalat saja. Imam Nawawi berkata, “Seseorang yang melakukan Shalat sunnah dan tidak menyebutkan berapa raka’at yang akan dilakukannya dalam Shalatnya itu, bolehlah ia melakukan satu raka’at lalu bersalam dan boleh pula menambahnya menjadi dua, tiga, seratus, seribu raka’at dan seterusnya. Apabila seseorang Shalat sunnah dengan bilangan raka’at yang tidak diketahuinya, lalu bersalam, maka hal itu pun sah pula tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Demikianlah yang telah disepakati oleh golongan kami (madzhab syafi’i) dan dijelaskan pula oleh Imam Syafi’i dalam kitab ‘al-Imla’.

    Imam Baihaqi meriwayatkan dengan isnadnya bahwa Abu Dzarr ra melakukan Shalat dengan raka’at yang banyak, dan setelah salam ditegur oleh Ahnaf bin Qais ra seraya berkata, “Tahukah anda bilangan raka’at dalam Shalat tadi, apakah genap atau ganjil?” Ia menjawab: “Jikalau saya tidak mengetahui berapa jumlah raka’atnya, maka cukuplah Allah mengetahuinya. Sebab, saya pernah mendengar kekasihku Abu al-Qasim (Nabi Muhammad saw) bersabda, (sampai di sini Abu Dzarr menangis, kemudian dia melanjutkan pembicaraannya saya pernah mendengar kekasihku Abu al-Qasim bersabda) “Tiada seorang hamba pun yang bersujud kepada Allah satu kali, melainkan dia mesti diangkat oleh Allah sederajat dan satu dosanya dihapuskan oleh Allah berkat sujud itu.” (HR Darimi dalam musnadnya dengan sanad yang sahih, dan hanya ada seorang yang oleh para ahli hadis diperselisihkan mengenai ‘adalah-nya (yakni dia tidak fasik).

    Adapun Shalat-Shalat sunnah Muqayyad itu terbagi atas dua macam:

    1. yang disyariatkan sebagai Shalat-Shalat sunnah yang mengikuti Shalat fardhu (Shalat sunnah rawatib),
    2. yang disyariatkan bukan sebagai Shalat sunnah yang mengikuti Shalat-Shalat fardhu seperti Shalat dhuha, Shalat witir, Shalat malam (tahajjud), Shalat gerhana bulan dan matahari, Shalat istisqa’, dan lain-lain.

    Selanjutnya, di bawah ini akan dijelaskan uraiannya mengenai gambaran Shalat-Shalat sunnah tersebut.

    Shalat Malam (qiyamul lail/Shalat tahajjud)

    Keutamaan Shalat Malam

    Shalat malam adalah Shalat yang paling baik setelah Shalat fardhu. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw:

    Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik Shalat setelah Shalat fardhu adalah Shalat (di tengah) malam.” (HR Muslim).

    Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash ra berkata, Rasulullah saw berkata kepadaku, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan yang pernah melakukan Shalat malam kemudian meninggalkannya.” (Muttafaq ‘Alaihi).

    Salman al-Farisi berkata, Rasulullah saw bersabda, “Kerjakanlah Shalat malam, sebab itu adalah kebiasaan orang-orang yang saleh sebelum kamu; jalan mendekatkan diri kepada Tuhan; penebus kejelekan-kejelekanmu; pencegah dosa serta penghalau penyakit dari tubuh.”

    Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan dari sebagian malam itu gunakanlah untuk bertahajjud sebagai Shalat sunnah bagimu, semoga Tuhanmu akan membangkitkanmu pada kedudukan yang terpuji.” (Al-Isra': 79).

    “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih ialah mereka yang berjalan di bumi dengan merendahkan diri dan apabila diganggu oleh pembicaraan orang-orang bodoh, mereka hanya menjawab dengan ucapan yang baik. Mereka itu semalam-malam beribadah kepada Tuhan, baik dengan sujud maupun dengan berdiri.” (Al-Furqan: 63-64).

    “Sesungguhnya yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami itu ialah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka segera tunduk sambil bersujud serta mensucikan dan memuji Tuhan, dan lagi tidak sombong. Mereka selalu merenggangkan ikat pinggangnya dari tempat tidur (tidak banyak tidur) karena berdo’a kepada Tuhan yang timbul karena rasa takut serta mengharap, juga suka bersedekah dari apa-apa yang Kami rizkikan kepada mereka. Maka tiada seorang pun yang mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka yakni berupa segala sesuatu yang menggembirakan pandangan. Itulah balasan amal perbuatan mereka.”

    (As-Sajdah: 16).

    Etika-Etika Melakukan Shalat Malam

    1. Di waktu akan tidur, hendaklah ia berniat hendak bangun untuk melakukan Shalat tahajjud (qiyamul lail).

    Dari Abu ad-Darda’ bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa akan tidur dan berniat hendak melakukan Shalat malam, kemudian terlanjur terus tertidur hingga pagi, maka dicatatlah niatnya itu sebagai satu pahala, sedang tidurnya itu dianggap sebagai karunia Tuhan yang diberikan padanya.” (HR an-Nasa’i dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih).

    2.Berusaha menghilangkan kantuk dari mukanya di saat bangun, kemudian bersugi lalu melihat ke langit sambil berdoa’a: “Alhamdulillahi alladzi ahyaana ba’dama amaatana wailahin nusyuur” (Segal puji bagi Allah yang telah menghidupkan saya kembali sesudah mematikan saya dan kepada-Nya pula tempat kembali).

    1. Sebaiknya Shalat malam itu dimulai dengan melakukan Shalat dua rakaat yang ringan (agak cepat), dan selanjutnya boleh melakukan Shalat sesuka hati. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw di bawah ini:

    Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw itu apabila bangun malam untuk melakukan Shalat, beliau memulainya dengan melakukan Shalat dua rakaat yang ringan (agak cepat).” (HR Muslim).

    Dan sesuai dengan hadis di bawah ini juga:

    “Apabila salah seorang di antara kalian bangun malam, maka hendaknya memulai Shalatnya dengan dua rakaat yang ringan (agak cepat).” (HR Muslim)

    1. Apabila dia telah bangun, hendaknya dia membangunkan istrinya.

    Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: “Mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat kepada seorang laki-laki yang bangun malam untuk Shalat lalu membangunkan pula istrinya, apabila istrinya itu menolak, hendaknya ia memercikkan air pada wajahnya. Dan mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada seorang istri yang bangun malam untuk melakukan Shalat, lalu dia membangunkan pula suaminya, dan apabila suaminya itu menolak, hendaknya dia memercikkan air pada wajahnya.” (HR Abu Daud dan yang lain dengan sanad yang sahih).

    Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Apabila seseorang itu membangunkan istrinya pada waktu malam, lalu keduanya Shalat dua rakaat, maka tercatatlah mereka dalam golongan orang-orang yang selalu berdzikir.” (HR Abu Daud dan yang lain dengan sanad yang sahih).

    1. Hendaklah melakukan Shalat dulu dan kembali tidur bila terasa mengantuk sampai hilang rasa kantuknya.

    Dari Aisyah ra, Nabi saw bersabda, “Apabila seseorang dari kalian bangun malam untuk Shalat, kemudian terasa berat membaca Alquran hingga tidak disadarinya apa yang sedang dibacanya itu, maka sebaiknya dia tidur lagi.” (HR Muslim).

    Pada suatu malam, Rasulullah saw masuk ke dalam masjid, tampak di situ ada tali yang terbentang di antara dua tiang, beliau lalu bertanya, “Apakah ini?” Orang-orang menjawab, “Itu kepunyaan Zainab, jikalau dia lelah atau mengantuk, maka ia tidur di situ.” Kemudian Nabi saw pun bersabda, “Lepaskanlah tali itu! seseorang itu hendaknya Shalat selagi dia segar, dan jikalau dia telah lelah atau mengantuk, sebaiknya dia tidur.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    1. Hendaknya jangan memberatkan diri. Jadi, hendaknya Shalat malam itu dilakukan dengan tekun dan jangan sampai meninggalkannya, kecuali dalam keadaan terpaksa.

    Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Kerjakanlah semua amal itu sekedar kekuatanmu. Demi Allah, Allah itu tidak akan jemu memberikan pahala sampai engkau sekalian jemu beramal.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    Diriwayatkan pula dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw pernah ditanya: “Amal perbuatan manakah yang disukai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Yang konstan (terus-menerus) sekalipun sedikit.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

    Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra, “Amalan Rasulullah saw itu terus-menerus, yakni jikalau beliau mengerjakan sesuatu lalu ditetapi.”

    Waktu Shalat Malam

    Shalat malam itu dapat dikerjakan di permulaan, di pertengahan atau di penghabisan malam, asalkan sesudah melaksanakan Shalat isya’.

    Dalam menguraikan gambaran Shalat Rasulullah saw Anas ra berkata, “Kapan saja kami ingin melihat Nabi saw berShalat malam, di saat itu pasti kami dapat melihatnya. Dan kapan saja kami ingin melihat tidur Rasululah saw, di saat itu pula kami dapat melihatnya. Apabila beliau berpuasa, terus dilakukannya sampai-sampai kami akan mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka. Akan tetapi, jikalau beliau sudah berbuka, sampai-sampai kita akan berkata bahwa beliau tidak pernah berpuasa.” (HR Ahmad, al-Bukhari dan an-Nasa’i).

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Tahajjud Rasulullah saw tidak ada ketentuan waktunya, hanyalah semata-mata di mana ada kelapangan.”

    Waktu Shalat Malam yang Paling Baik

    Sebaik-baik waktu untuk Shalat malam itu adalah sepertiga malam yang terakhir. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis berikut ini:

    1. Dari Abu Hurairah ra bahwa rasulullah saw bersabda, “Tuhan kita Azza wa Jalla turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Pada saat itu Allah SWT berfirman ‘Siapa yang berdo’a kepada-Ku, pasti Aku kabulkan, siapa yang memohon kepada-Ku pasti Aku berikan (permohonannya) dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni.” (HR al-Jama’ah).
    2. Dari ‘Amr bin al-‘Ash berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sedekat-dekat hamba kepada Allah SWT adalah pada tengah malam yang terakhir. Apabila engkau bisa termasuk golongan orang-orang yang berdzikir kepada Allah pada sa’at itu, maka lakukanlah.” (HR al-Hakim seraya berkata, hadis ini sesuai dengan syarat hadis Muslim, an-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah).
    3. Abu Muslim berkata kepada Abu Dzarr, “Pada saat manakah Shalat malam itu lebih utama?” Abu Dzarr menjawab, “Saya pernah menanyakan demikian kepada Rasulullah saw, maka jawabnya, ‘Pada tengah malam yang terakhir, tetapi sedikit sekali orang yang suka melakukannya’.” (HR Ahmad dengan sanad yang baik).
    4. Dari Abdullah bin ‘Amr ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Puasa yang paling disukai Allah ialah puasa Nabi Daud dan Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud as. Beliau itu tidur pada tengah malam, Shalat malam pada sepertiganya lalu tidur lagi pada seperenamnya, sedang beliau itu berpuasa sehari dan berbuka sehari pula.” (HR al-Jama’ah selain at-Tirmidzi).

    ***

    Referensi:

    1. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
    2. Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:33 am on 30 January 2015 Permalink | Balas  

    berdoa-2Bacaan Zikir Setelah Shalat

    arsip fiqih

    Seseorang dituntut agar melaksanakan Shalat seperti Shalatnya Nabi sesuai dengan sabdanya, “Sholluu Kamaa Roatumuuni Usholli” (Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sedang Shalat). Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan zikir jika telah selesai Shalat, maka kita juga mengerjakannya, meskipun tidak mampu selengkap beliau.

    Zikir-zikir yang di baca Nabi saw setiap selesai Shalat banyak sekali, baik yang diriwayatkan dengan sanad yang dhaif/lemah ataupun yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih (kuat). Adapun zikir-zikir yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih itu di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Membaca ‘Istighfar’ (Astaghfirullah/Aku mohon ampunan kepada Allah 3 kali dan membaca, ‘Allahumma antas salaam waminkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroomi’ (Ya Allah Engkaulah Dzat Yang Selamat dari kekurangan dan cacat dan dari Engkaulah keselamatan itu, Maha Suci Engkau wahai Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Sempurna).

    Hal itu sesuai dengan hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Tsauban ra, dia berkata, “Rasulullah saw apabila selesai Shalat membaca Istighfar 3 kali dan membaca, ‘Allahumma antas salaam waminkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroomi’.” (Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Selamat dari kekurangan dan cacat dan dari Engkaulah keselamatan itu, Maha Suci Engkau wahai Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Sempurna).

    1. Membaca zikir ini: “Laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodiir” (Tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa Allah, Tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) dan membaca, “Allahumma laa maani’a limaa ‘a’thaita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.”

    Hal itu sesuai dengan hadis dari al-Mughirah bin Syu’bah ra, bahwasanya Nabi saw membaca zikir setiap selesai Shalat fardhu, “Laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli sya’in qodiir” (Tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa Allah, Tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) “Allahumma laa maani’a limaa ‘a’thaita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu’ (Ya Allah tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kekayaan orang yang kaya itu tidak akan bisa menyelamatkan dia dari siksa-Mu)” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    1. Membaca Tasbih 33 kali, Tahmid 33 kali dan Takbir 33 kali, lalu pada hitungan keseratus membaca, “Laa ilaha illallohu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qadiir.”

    Hal itu sesuai dengan hadis dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca tasbih (Subhaanallahi) 33 kali, tahmid (Alhamdulillahi) 33 kali dan takbir (Allahu Akbar 33 kali) setiap selesai Shalat, hitungan tersebut berjumlah 99, dan dia membaca pada hitugan keseratus ‘Laa ilaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli sya’in qodiir’ (Tiada Tuhan selain Allah, Maha Esa Allah, Tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka diampunilah segala dosa-dosanya, sekalipun sebanyak buih air laut.” (HR Muslim, dan pada riwayat yang lain, takbir tersebut sebanyak 34 kali)

    1. Membaca zikir/do’a seperti yang diriwayatkan Sa’d bin Abi Waqqash untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kekikiran, sifat penakut, umur yang hina/pikun, fitnah dunia dan fitnah kubur.

    Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra, bahwa Rasulullah saw memohon perlindungan kepada Allah setiap kali selesai Shalat dengan bacaan “Allahumma inni a’udzu bika minal bukhli (Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekikiran) wa a’udzu bika minal jubni (dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari sifat penakut) wa a’udzu bika min an urodda ilaa ardzalil umri (dan aku memohon perlindungan kepada-Mu agar tidak dikembalikan kepada umur yang hina/pikun) wa a’udzu bika min fitnatid dunya (dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari fitnah yang ada di dunia ini) wa a’udzu bika min adzaabil qobri (dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur).” (HR al-Bukhari).

    1. Membaca zikir/doa, “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika’.

    Hal ini sesuai dengan hadis Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah saw berkata kepadanya, “Aku berwasiat kepadamu wahai Muadz, janganlah Engkau benar-benar meninggalkan setiap kali selesai Shalat membaca, ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika’ (Ya Allah anugerahkanlah pertolongan kepadaku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik kepada-Mu).” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa’i dengan sanad yang kuat).

    1. Membaca ayat Kursi, yaitu surah Al-Baqarah ayat 255, “Allahu laa Ilaaha Illa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhu sinatuw walaa nauum, lahuu maa fis samaawaati wamaa fil ardhi, mandzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illa bi idznihi, ya’lamu maa baiina aidiihim wamaa kholfahum, walaa yuhiithuuna bisyain min ‘ilmihi illa bimaa syaa’a, wasi’a kursiyyuhus samaawati wal ardho wa laa yauduhu hifdzuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adziim’ (Allah, tidak ada Tuhan [yang berhak disembah] melainkan Dia, Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus [makhluk-Nya], tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar).

    Hal itu sesuai dengan hadis dari Umamah ra, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi setiap kali selesai Shalat, maka tidak akan menghalangi dia masuk surga kecuali dia tidak mati (maksudnya, dia pasti masuk surga).” (HR an-Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, at-Thabarani menambahkannya ‘qulhuwallahu ahad’ (yakni dan membaca surah Al-Ikhlash) ).

    ***

    Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Isma’il ash-Shan’ani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:30 am on 29 January 2015 Permalink | Balas  

    sujud1Sujud Sahwi

    Arsip Fiqh

    Sujud sahwi ialah sujud yang dilakukan orang yang shalat sebanyak dua kali untuk menutup kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat yang disebabkan lupa.

    Sebab-sebab sujud sahwi ada tiga: karena kelebihan, karena kekurangan, dan karena keragu-raguan.

    Sujud Sahwi karena Kelebihan

    Barangsiapa lupa dalam shalatnya kemudian menambah ruku’, atau sujud, maka dia harus sujud dua kali sesudah menyelesaikan shalatnya dan salamnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

    “Dari Ibnu Mas’ud radhiallaahu anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat Dhuhur lima rakaat, kemudian beliau ditanya, ‘Apakah shalat Dhuhur ditambah rakaatnya?’ Beliau balik bertanya, ‘Apa itu?’ Para sahabat menjelaskan, ‘Anda shalat lima rakaat’. Kemudian beliau pun sujud dua kali setelah salam. Dalam riwayat lain disebutkan, beliau melipat kedua kakinya dan menghadap kiblat kemudian sujud dua kali, kemudian salam.” (Muttafaq ‘alaih)

    Salam sebelum shalat selesai berarti termasuk kelebihan dalam shalat, sebab ia telah menambah salam di pertengahan pelaksanaan shalat. Barangsiapa mengalami hal itu dalam keadaan lupa, lalu dia ingat beberapa saat setelahnya, maka dia harus menyempurnakan shalatnya kemudian salam, setelah itu dia sujud sahwi, kemudian salam lagi. Dalilnya adalah hadis Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu berikut.

    “Dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat Duhur atau Asar bersama para sahabat. Beliau salam setelah shalat dua rakaat, kemudian orang-orang yang bergegas keluar dari pintu masjid berkata, ‘Shalat telah diqashar (dikurangi)?’ Nabi pun berdiri untuk bersandar pada sebuah kayu, sepertinya beliau marah. Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan bertanya kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda lupa atau memang shalat telah diqashar?’ Nabi berkata, ‘Aku tidak lupa dan shalat pun tidak diqashar.’ Laki-laki itu kembali berkata, ‘Kalau begitu Anda memang lupa wahai Rasulullah.’ Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, ‘Benarkah apa yang dikatakannya?’ Mereka pun mengatakan, ‘Benar.’ Maka majulah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, selanjutnya beliau shalat untuk melengkapi kekurangan tadi, kemudian salam, lalu sujud dua kali, dan salam lagi.” (Muttafaq ‘alaih)

    Sujud Sahwi karena Kekurangan

    Barangsiapa lupa dalam shalatnya, kemudian ia meninggalkan salah satu sunnah muakkadah (yaitu yang termasuk katagori hal-hal wajib dalam shalat), maka ia harus sujud sahwi sebelum salam, seperti misalnya kelupaan melakukan tasyahud awal dan dia tidak ingat sama sekali, atau dia ingat setelah berdiri tegak dengan sempurna, maka dia tidak perlu duduk kembali, cukup baginya sujud sahwi sebelum salam. Dalilnya ialah hadis berikut.

    “Dari Abdullah bin Buhainah radhiallaahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat Duhur bersama mereka, beliau langsung berdiri setelah dua rakaat pertama dan tidak duduk. Para jamaah pun tetap mengikuti beliau sampai beliau selesai menyempurnakan shalat, orang-orang pun menunggu salam beliau, akan tetapi beliau malah bertakbir padahal beliau dalam keadaan duduk (tasyahhud akhir), kemudian beliau sujud dua kali sebelum salam, lalu salam.” (Muttafaq ‘alaih)

    Sujud Sahwi karena Keragu-raguan

    Yaitu ragu-ragu antara dua hal (tidak pasti yang mana yang terjadi). Keragu-raguan terdapat dalam dua hal, yaitu antara kelebihan atau kekurangan. Umpamanya, seseorang ragu apakah dia sudah shalat tiga rakaat atau empat rakaat.

    Keraguan ini ada dua macam:

    1. Seseorang lebih cenderung kepada satu hal, baik kelebihan atau kurang, maka dia harus menurutkan mengambil sikap kepada yang lebih ia yakini, kemudian dia melakukan sujud sahwi setelah salam. Dalilnya hadis berikut.

    “Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kamu ada yang ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah lebih memilih kepada yang paling mendekati kebenaran, kemudian menyempurnakan shalatnya, lalu melakukan salam, selanjutnya sujud dua kali.” (Muttafaq ‘alaih)

    1. Ragu-ragu antara dua hal, dan tidak condong pada salah satunya, tidak kepada kelebihan dalam pelaksanaan shalat dan tidak pula pada kekurangan. Maka, dia harus mengambil sikap kepada hal yang sudah pasti akan kebenarannya, yaitu jumlah rakaat yang lebih sedikit. Kemudian menutupi kekurangan tersebut, lalu sujud dua kali sebelum salam, ini berdasarkan hadits berikut.

    “Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallaahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, dia tidak tahu berapa rakaat yang sudah ia lakukan, tigakah atau empat, maka hendaknya ia meninggalkan keraguan itu dan mengambil apa yang ia yakini, kemudian ia sujud dua kali sebelum salam. Jika ia telah shalat lima rakaat, maka hal itu menggenapkan pelaksanaan shalatnya, dan jika ia shalat sempurna empat rakaat, maka hal itu merupakan penghinaan (pengecewaan) terhadap setan.” (HR Muslim)

    Ringkasnya, bahwa sujud sahwi itu adakalanya sebelum salam dan adakalanya sesudah salam. Adapun sujud sahwi yang dilakukan setelah salam ialah pada dua kondisi:

    1. Apabila karena kelebihan (dalam pelaksanaan shalat).
    2. Apabila karena ragu antara dua kemungkinan, tapi ada kecondongan pada salah satunya.

    Adapun sujud sahwi yang dilakukan sebelum salam, juga pada dua kondisi:

    1. Apabila dikarenakan kurang (dalam pelaksanaan shalat).
    2. Apabila dikarenakan ragu antara dua kemungkinan dan tidak merasa lebih berat kepada salah satunya.

    Hal-Hal Penting Berkenaan dengan Sujud Sahwi

     

    1. Apabila seseorang meninggalkan salah satu rukun shalat, dan yang tertinggal itu adalah takbiratul ihram, maka shalatnya tidak terhitung, baik hal itu terjadi secara sengaja ataupun karena lupa, karena shalatnya tidak sah.
    2. Jika yang tertinggal itu selain takbiratul ihram, dan ditinggalkan secara sengaja, maka batallah shalatnya.
    3. Jika tertinggal secara tidak sengaja, dan dia sudah berada pada rukun yang ketinggalan tersebut pada rakaat kedua, maka rakaat yang ketinggalan rukunnya dianggap tidak ada, dan dia ganti dengan rakaat yang berikutnya. Dan, jika ia belum sampai pada rakaat kedua, maka ia wajib kembali kepada rukun yang ketinggalan tersebut, kemudian dia kerjakan rukun itu, begitu pula apa-apa yang setelah itu. Pada kedua hal ini, wajib dia melakukan sujud sahwi setelah salam atau sebelumnya.
    4. Apabila sujud sahwi dilakukan setelah salam, maka harus pula melakukan salam sekali lagi.
    5. Apabila seseorang yang melakukan shalat meninggalkan sunnah muakkadah (hal-hal yang wajib dalam shalat) secara sengaja, maka batallah shalatnya. Jika ketinggalan karena lupa, kemudian dia ingat sebelum beranjak dari sunnah muakkadah tersebut, maka hendaklah dia melaksanakannya dan tidak ada konsekuensi apa-apa. Jika ia ingat setelah melewatinya tetapi belum sampai kepada rukun berikutnya, hendaklah dia kembali untuk melaksanakan rukun tersebut. Kemudian, dia sempurnakan shalatnya serta melakukan salam. Selanjutnya, sujud sahwi kemudian salam lagi. Jika ia ingat setelah sampai kepada rukun yang berikutnya, maka sunnah muakkadah itu gugur dan dia tidak perlu kembali kepadanya untuk melakukannya, akan tetapi terus melaksanakan shalatnya kemudian sujud sahwi sebelum salam seperti kami sebutkan di atas pada masalah tasyahud awal.

    ***

    Sumber: Tuntunan Shalat Menurut Alquran & As-Sunnah, Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 28 January 2015 Permalink | Balas  

    gerakan-shalatKhusyu’ Dalam Sholat 2

    Hadis-Hadis yang Menganjurkan Seseorang agar Berlaku Khusyu’ dalam Shalatnya (Bagian II)

    Arsip Fiqh

    1. Seseorang yang sedang Shalat hendaknya tidak meludah. Jika terpaksa meludah, maka jangan meludah di depannya atau di samping kanannya, akan tetapi hendaknya meludah di samping kirinya. Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Anas ra di bawah ini.

    Dari Anas ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berada dalam Shalat, maka sesungguhnya dia sedang bermunajat (berkonsultasi) dengan Tuhannya. Oleh karena itu, janganlah dia benar-benar meludah di depannya atau di samping kanannya. Akan tetapi, (hendaknya meludah) di samping kirinya di bawah kakinya.” (HR Bukhari).

    Berdasarkan hadis tersebut dapat dipahami bahwa meludah ke arah kiblat (di depan orang yang Shalat) dan ke samping kanan pada waktu Shalat itu dilarang. Namun, ada beberapa hadis yang menegaskan bahwa larangan tersebut bukan hanya pada waktu Shalat. Akan tetapi, larangan tersebut mutlak, baik pada waktu Shalat maupun di luar waktu Shalat. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id ra, bahwa Rasulullah saw melihat dahak yang lengket di dinding masjid, lalu Rasulullah saw mengambil kerikil kemudian menggosok-gosoknya seraya bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berdahak, maka janganlah berdahak di depan wajahnya atau di samping kanannya, akan tetapi, berdahaklah di samping kirinya atau di bawah kakinya yang kiri.” (HR Bukhari dan Muslim).

    Bahkan, tegas Imam an-Nawawi, larangan tersebut bukan hanya di dalam Shalat, tetapi juga di luar Shalat dan bukan hanya di dalam masjid, tapi juga di luar masjid. Pendapat Imam an-Nawawi ini di dukung oleh berbagai hadis, di antaranya:

    Dari Hudzaifah ra, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa meludah di arah Qiblat, maka dia datang pada hari kiamat sedangkan ludahnya berada di antara kedua matanya.” (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

    Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda, “Orang yang berdahak (meludah di arah Qiblat) akan dibangkitkan oleh Allah SWT pada hari kiamat sedangkan dahak (ludah)nya berada pada wajahnya.” (HR Ibnu Khuzaimah).

    Dari as-Saaib bin Khallad, seseorang Shalat menjadi imam bagi sekelompok orang (kaum) lalu dia meludah ke arah kiblat, manakala dia selesai melakukan Shalat Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah (pantas) dia Shalat (menjadi imam) bagi kamu.” (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban).

    Hikmah Dilarangnya Meludah ke Arah Qiblat dan di Sebelah Kanan

    Setiap perintah dan larangan yang diperintahkan dan dilarang oleh Syara’ untuk kita, hampir bisa dipastikan bahwa di balik perintah atau larangan itu terdapat hikmah yang terkandung. Hikmah-hikmah tersebut ada yang bisa dilihat, dirasio, dan ada yang bisa dirasakan langsung oleh manusia. Tetapi, ada juga yang tidak bisa dirasio, tidak bisa dilihat, apalagi dirasakan manusia sekarang ini. Karena, ia termasuk bagian dari hikmah yang tidak bisa dirasio (Ghairu Ma’qulatil Ma’na). Hikmah-hikmah yang semacam ini biasanya terdapat pada masalah Ibadah Mahdhah. Adapun hikmah-hikmah yang bisa dirasio dan dilihat (Ma’qulatil Ma’na), maka biasanya hal ini terdapat pada masalah Mu’amalat (ibadah ghairu mahdhah).

    Masalah meludah ke arah kiblat dan di sebelah kanan, termasuk masalah Ibadah. Karenanya, tidak bisa ditebak begitu saja mengenai hikmah yang terkandung di dalamnya. Meski demikian, para ulama tetap mencoba berusaha mencari hikmah dengan berdalih beberapa atsar sahabat yang sampai kepada mereka. Di antara atsar-atsar tersebut adalah sebagai berikut:

    Atsar yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Hudzaifah, “…dan tidak pula meludah di samping kanannya, karena, malaikat pencatat amal kebaikan berada di samping kanannya.”

    Atsar yang dikeluarkan oleh at-Thabarani dari Umamah, “Karena dia berdiri di hadapan Allah, sedangkan malaikat berada di samping kanannya dan qarinnya (syetan) berada disamping kirinya.”

    Jadi, apabila atsar-atsar tersebut tsabit (betul-betul disampaikan oleh para sahabat tersebut), maka meludah ke arah sebelah kiri akan mengenai syetan. Sedangkan malaikat yang berada di samping kirinya tidak akan terkena ludah tersebut atau dia pindah ke sebelah kanan pada waktu seseorang sedang Shalat. Wallahu a’lam.

    1. Hendaknya menjauhkan hal-hal yang bisa mengganggu Shalatnya, seperti kain-kain yang bergambar, suara-suara radio atau TV yang bisa mengaburkan konsentrasinya. Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Anas ra.

    Dari Anas ra berkata, Aisyah ra mempunyai kain satir (penghalang) tipis yang digunakan menutup sebelah rumahnya, lalu Nabi saw bersabda kepadanya, “Jauhkan kain satirmu ini dari aku, karena gambar-gambarnya selalu menghalang-halangiku dalam Shalatku.” (HR Bukhari).

    1. Hendaknya tidak melihat ke atas ketika Shalat.

    Dari Jabir bin Samurah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sungguh akan habis (binasa) orang-orang yang melihat ke atas ketika Shalat atau penglihatan-penglihatan mereka tidak akan kembali kepada mereka.” (HR Muslim).

    Menurut Imam an-Nawawi dalam ‘Syarah Muslim’ bahwa hadis tersebut mengandung larangan keras dan ancaman keras bagi orang yang melihat ke atas ketika Shalat dan larangan tersebut menunjukkan haram. Bahkan, Imam Ibnu Hazm mengatakan, batal Shalatnya orang yang melakukan hal itu.

    1. Menjauhkan makanan dari tempat Shalat dan tidak sedang menahan buang air kecil dan buang air besar.

    Dari Aisyah ra berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada Shalat (itu sempurna) jika dilakukan di hadapan makanan dan tidak pula sempurna jika dilakukan ketika sedang menahan buang air besar dan air kecil.” (HR Muslim)

    Namun, apabila dia khawatir akan lewatnya waktu Shalat jika harus mendahulukan buang air besar atau buang air kecil atas melakukan Shalat, maka dia harus mendahulukan Shalat, dan Shalatnya tetap sah, tetapi makruh. Wallahu a’lamu.

    1. Hindarilah menguap dalam Shalat. Jika terpaksa melakukanya, maka tahanlah sedemikian rupa dengan menutupkan telapak tangan ke dalam mulut.

    Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Menguap itu termasuk perbuatan syetan, apabila salah seorang di antara kalian melakukannya, hendaknya dia menahannya sedemikian rupa sesuai dengan kemampuan.” (HR Muslim dan Tirmidzi seraya menambahkan: ‘pada waktu Shalat’)

    “Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya dia meletakkan tangannya pada mulutnya, karena syetan akan masuk bersamaan dengan menguap.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan yang lain).

    Menguap dikatakan termasuk perbuatan syetan, karena dia keluar akibat kekenyangan atau kemalasan, dan kedua perbuatan ini termasuk hal-hal yang disukai syetan. Wallahu a’lam.

    Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 27 January 2015 Permalink | Balas  

    shalat orang sakitTata Cara Shalat Orang Sakit

    Arsip Fiqh

    Cara-cara Shalat bagi orang yang sakit secara garis besar adalah sebagai berikut.

    Orang yang sakit wajib melaksanakan Shalat fardhu dengan berdiri, sekalipun bersandar ke dinding atau ke tiang atau dengan tongkat.

    Jika tidak sanggup Shalat berdiri, hendaklah ia Shalat dengan duduk. Lalu, pada waktu berdiri dan ruku’ sebaiknya duduk bersila, sedangkan pada waktu sujud, sebaiknya dia duduk iftirasy (seperti duduk ketika tasyahhud awal).

    Jika tidak sanggup Shalat sambil duduk, boleh Shalat sambil berbaring, bertumpu pada sisi badan menghadap kiblat. Dan bertumpu pada sisi kanan lebih utama daripada sisi kiri. Jika tidak memungkinkan untuk menghadap kiblat, boleh menghadap ke mana saja dan tidak perlu mengulangi Shalatnya.

    Jika tidak sanggup Shalat berbaring, boleh Shalat sambil terlentang dengan menghadapkan kedua kaki ke kiblat. Dan, yang lebih utama yaitu dengan mengangkat kepala untuk menghadap kiblat. Jika tidak bisa menghadapkan kedua kakinya ke kiblat, dibolehkan Shalat menghadap ke mana saja.

    Orang sakit wajib melaksanakan ruku’ dan sujud, jika tidak sanggup, cukup dengan membungkukkan badan pada ruku’ dan sujud, dan ketika sujud hendaknya lebih rendah dari ruku’. Dan jika sanggup ruku’ saja dan tidak sanggup sujud, dia boleh ruku’ saja dan menundukkan kepala saat sujud. Demikian pula sebaliknya, jika dia sanggup sujud saja dan tidak sanggup ruku’, dia boleh sujud saja dan ketika ruku’ dia menundukkan kepala.

    Isyarat dengan mata (memejamkan mata) ketika ruku’ dan dengan memejamkan lebih kuat ketika sujud. Adapun isyarat dengan telunjuk, seperti yang dilakukan beberapa orang sakit, itu tidak betul dan penulis tidak pernah tahu dalil-dalilnya, baik dalil dari Alquran maupun as-sunnah, dan tidak pula dari perkataan para ulama.

    Jika tidak sanggup juga Shalat dengan menggerakkan kepala dan isyarat mata, hendaklah ia Shalat dengan hatinya, dia berniat ruku’, sujud dan berdiri serta duduk. Masing-masing orang akan diganjar sesuai dengan niatnya.

    Orang yang sakit wajib melaksanakan semua kewajiban Shalat tepat pada waktunya menurut kemampuannya. Jika termasuk orang yang kesulitan berwudhu, dia boleh menjamak Shalatnya seperti layaknya seorang musafir.

    Jika dia sulit untuk Shalat pada waktunya, boleh menjamak antara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya, baik jamak taqdim maupun jamak takhir, sesuai dengan kemampuannya. Kalau dia mau, dia boleh memajukan Shalat Asharnya digabung dengan Dhuhur, atau mengakhirkan Dhuhurnya digabung dengan Ashar di waktu Ashar. Jika mau, boleh juga dia memajukan Shalat Isya untuk digabung dengan Shalat Maghrib di waktu Maghrib atau sebaliknya. Adapun Shalat Subuh, maka tidak boleh dijamak dengan Shalat yang sebelumnya atau sesudahnya karena waktunya terpisah dari waktu Shalat sebelumnya dan Shalat sesudahnya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan dirikanlah Shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam, dan (dirikanlah pula) Shalat Subuh. Sesungguhnya Shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al-Isra': 78)

    Sumber: Diadaptasi dari Tuntunan Shalat Menurut Alquran dan Hadis, Syekh Abdurrahman Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 2:23 am on 26 January 2015 Permalink | Balas  

    sholat 1Khusyu’ Dalam Sholat 1

    Arsip Fiqh

    Secara Lughah (Etimologi), khusyu’ berarti rendah diri atau mendekati rendah diri. Menurut pengertian ini, khusyu’ itu terdapat pada suara, penglihatan, ketenangan dan kerendah-dirian. Sedangkan pengertian khusyu’ menurut syara’ (terminologi) adalah rendah diri. Rendah diri ini kadang-kadang berada dalam hati dan kadang-kadang berasal dari anggota tubuh seperti diam.

    Adapun dalil yang menguatkan bahwa khusyu’ itu pekerjaan hati adalah hadis Ali ra, “Khusyu’ itu berada dalam hati” (HR. al-Hakim), hadis: “Sekiranya sanubari hati orang ini khusyu, niscaya anggota tubuhnya menjadi khusyu”, dan hadis do’a mohon perlindungan: “….dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari sanubari hati yang tidak khusyu.”

    Apakah khusyu’ dalam Shalat itu wajib?

    Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat. Menurut al-Ghozali khusyu’ itu wajib. Beliau menguraikan argumentasinya secara panjang lebar -untuk menguatkan pendapatnya- dalam kitab ‘Ihyaa’ Ulumuddin’. Akan tetapi, menurut Jumhur Ulama’, khusyu’ itu tidak wajib. Bahkan, Imam an-Nawawi mengklaim adanya Ijma’ yang tidak mewajibkan khusyu’.

    Hadis-Hadis yang Menganjurkan Seseorang agar Berlaku Khusyu’ dalam Shalatnya.

    1. Dari Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah saw melarang seseorang meletakkan tangannya pada lambungnya” (HR. al-Bukhari dan Muslim, sedangkan redaksi (lafal) hadis berasal dari Imam Muslim (wallafdzu li Muslimin).

    Maksud dari larangan hadis tersebut adalah hendaknya seseorang tidak meletakkan tangan, baik yang kiri maupun yang kanan, pada lambungnya ketika dia sedang melakukan Shalat, sebagaimana penjelasan yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani terhadap hadis tersebut.

    Kemudian, apa hikmah dari larangan itu? Maka dalam hal ini Rasulullah saw menjelaskannya dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah ra, “Bahwa hal itu adalah pekerjaan orang Yahudi dalam Shalat mereka” (HR. al-Bukhari). Sebab, umat Islam itu dilarang keras untuk menyerupai orang-orang Yahudi dalam semua gerak-gerik mereka.

    1. Dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila hidangan makan malam telah disiapkan, maka mulailah menyantap makanan itu sebelum anda Shalat Maghrib” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hadis tersebut menurut Jumhur Ulama’ menunjukkan sunnahnya mendahulukan makan malam atas Shalat. Karena, hal itu akan bisa mengarahkan seseorang berkonsentrasi dalam Shalatnya. Bahkan, menurut ulama yang lain, agar sanubari hati itu tidak tergoda dengan makanan yang sudah tersediakan tersebut.

    Di samping itu, ada beberapa atsar sahabat yang menjelaskan tentang ta’lil (sebab-musabab) dilarangnya mendahulukan Shalat ketika makanan sudah dihidangkan. Di antaranya adalah atsar yang dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, “Bahwa keduanya pernah sedang makan, sementara didapur api (kompor)nya masih terdapat daging yang sedang dibakar, lalu sahabat yang melakukan adzan tersebut ingin melakukan iqamah untuk Shalat, tiba-tiba Ibnu Abbas berkata kepadanya: ‘Jangan terburu-buru’, kita tidak melakukan Shalat selama dalam hati kita masih ingat sesuatu (makanan).” Dalam riwayat yang lain disebutkan: “Supaya (makanan itu) tidak memalingkan perhatian kita dalam Shalat.” Disebutkan pula dari Hasan bin Ali ra bahwa dia berkata, “Makan malam sebelum Shalat itu bisa menghilangkan (meredam) jiwa yang suka mencela (an-Nafs al-Lawwaamah).” (HR. Ibnu Abu Syaibah)

    Jika waktu Shalat tinggal sedikit, apakah disunnahkan pula mendahulukan makan atas Shalat?

    Kesunnahan seperti itu dilakukan apabila waktu Shalat masing panjang. Namun, jika waktu Shalat tinggal sedikit, maka menurut Jumhur Ulama’, dia mendahulukan Shalat atas makan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga waktu Shalat agar tidak lewat.

    Kandungan Hadist

    Dari hadis no. 2 di atas, bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut:

    • Hadirnya makanan seperti itu bisa menjadi uzur untuk meninggalkan Shalat jama’ah. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa apabila hidangan makan malamnya telah disiapkan dan dia mendengar bacaan Imam dalam Shalat, maka dia tidak berdiri (untuk melakukan Shalat) sampai dia selesai makan.
    • Hal-hal selain makanan bisa dianalogikan (diqiyaskan) dengan makanan selama mempunyai ilat (sebab) yang sama yaitu apabila dia mengakhirkan melakukan sesuatu itu, hatinya menjadi terganggu ketika Shalat. Maka, sebaiknya melakukan sesuatu itu sebelum Shalat.

    Dan di sini yang perlu diperhatikan betul adalah bahwa sesuatu itu telah diperbolehkan secara tegas bahkan dianjurkan oleh Syara’ (Allah dan Rasul-Nya). Akan tetapi, apabila sesuatu itu tidak dianjurkan oleh Syara’, maka mendahulukan Shalat lebih baik daripada melakukan atau melanjutkan sesuatu itu. Contohnya adalah menonton sinetron, berbincang-bincang dengan kawan atau kerabatnya. Karena itu, mendahulukan Shalat lebih baik daripada menonton sinetron atau mengobrol lebih dahulu dengan kawan atau kerabatnya, baik waktu Shalat tinggal sedikit atau masih panjang.

    1. Dari Aisyah ra berkata, “saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang menoleh dalam Shalat?” Kemudian Rasul saw menjawab: “Menoleh itu adalah suatu keteledoran seseorang akibat ulah syetan dalam Shalat seorang hamba” (HR. al-Bukhari)

    Menurut riwayat at-Tirmidzi dan menshahihkannya: “Janganlah anda menoleh dalam Shalat, karena itu adalah kebinasaan (dalam agama). Apabila anda harus melakukannya, maka lakukanlah dalam Shalat sunnah”

    Seseorang yang sedang melakukan Shalat, dimakruhkan menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena pada dasarnya, dia sedang menghadap Tuhannya. Sementara itu, syetan selalu mengintip dan mencari-cari kelengahan orang itu. Jika seseorang dalam Shalatnya menoleh ke kiri dan ke kanan, berarti dia telah masuk perangkap syetan.

    Menurut Jumhur Ulama’, menoleh itu dimakruhkan, karena bisa mengurangi khusyu’ Shalat. Namun, apabila menolehnya itu sampai memalingkan dadanya atau seluruh lehernya dari kiblat, maka hal itu bukan lagi makruh, melainkan bisa membatalkan Shalat. Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Dzar, “Allah SWT selalu menghadap kepada seorang hamba dalam Shalatnya, selama dia tidak menoleh, apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun ‘pergi’ .” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

    ***

    Sumber: Subulus Salaam, Muhammad bin Ismail as-Shan’ani

    Al-Islam — Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 2:22 am on 25 January 2015 Permalink | Balas  

    Shalat Jum’at

    Arsip Fiqh

    Berikut ini adalah kajian singkat tentang shalat Jumat.

    Hukum Shalat Jum’at

    Shalat Jum’at hukumnya wajib bagi kaum lelaki yang telah memenuhi syarat, yaitu sebanyak dua rakaat. Adapun dalil tentangnya adalah sebagai berikut.

    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumuah: 9)

    “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR Muslim)

    “Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) shalat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jum’at.” (HR Muslim)

    “Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR Abu Daud dan al-Hakim, hadis sahih)

    Para ulama telah sepakat bahwa shalat Jum’at itu wajib hukumnya.

    Keutamaan Hari Jum’at

    Hari Jum’at adalah hari yang penuh keberkahan, mempunyai kedudukan yang agung, dan merupakan hari yang paling utama. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi Kiamat…. Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian shalat dan memohon segala keperluannya kepada Allah, niscaya akan dikabulkan.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan lainnya, hadis sahih).

    Hal-Hal yang Disunnahkan serta Beberapa Adab Hari Jum’at

    1. Mandi, Berpakaian yang Rapi, Memakai Wangi-wangian, dan Bersiwak

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Mandi hari Jum’at itu wajib bagi tiap muslim yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Mandi, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jum’at dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh.” (Muttafaq ‘alaih).

    “Apa yang menghalangi salah seorang di antara kamu jika dia mempunyai kesempatan untuk memakai dua pakaian (baju dan sarung) selain pakaian kerjanya pada hari Jum’at.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah, sahih).

    “Hak setiap muslim adalah siwak, mandi Jum’at dan memakai minyak wangi dari rumah jika ada.” (HR Bazzar, sahih).

    1. Lebih Awal Pergi ke Masjid untuk Shalat Jum’at

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khotbah.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Melakukan Shalat-Shalat Sunnah di Masjid Sebelum Shalat Jum’at Selama Imam Belum Datang

    Apabila imam telah datang, maka berhenti dari itu, kecuali shalat tahiyyatul masjid tetap boleh dikerjakan, meskipun imam sedang berkhotbah, tetapi hendaknya dipercepat.

    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia shalat yang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar.” (HR Bukhari)

    1. Makruh Melangkahi Pundak-Pundak Orang yang Sedang Duduk dan Memisahkan (Menggeser) Mereka

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ketika beliau melihat seseorang yang melangkahi pundak orang-orang.

    “Duduklah, sesungguhnya kamu telah mengganggu orang lain, lagi pula kamu datang terlambat.” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai, hadis shahih)

    “… Dan tidak memisahkan antara dua orang… niscaya akan diampuni segala dosanya dari Jum’at (itu) ke Jum’at berikutnya.”

    1. Berhenti dari Segala Pembicaraan dan Perbuatan Sia-Sia apabila Imam telah Datang

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Apabila kamu berkata kepada temanmu ‘diamlah’, ketika imam sedang berkhutbah pada hari Jum’at, maka sesungguhnya kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaq ‘alaih).

    1. Diharamkan Transaksi Jual Beli ketika Azan Sudah Mulai Berkumandang

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka segeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” (al-Jumu’ah: 9)

    1. Hendaklah Memperbanyak Membaca Shalawat serta Salam kepada Rasulullah pada Malam Jum’at dan Siang Harinya

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu.” (HR Hakim dan Baihaqi).

    “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at, maka barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR Baihaqi, hadis hasan).

    1. Disunnahkan Membaca Surat Al-Kahfi

    “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jum’at itu.” (HR Hakim dan Baihaqi, hadis sahih)

    Bersungguh-sungguh dalam Berdoa untuk Mendapatkan Waktu yang Mustajab

    “Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR Muslim).

    Saat istijabah itu ialah pada akhir waktu hari Jum’at. Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Hari Jum’at terdiri dari dua belas waktu, di antaranya ada waktu di mana tidak seorang hamba muslim pun yang meminta kepada Allah suatu permintaan terkecuali akan diberikan kepadanya, maka hendaklah kalian mencarinya pada waktu terakhir, yaitu setelah Ashar.” (HR Abu Daud, Nasai dan Hakim, hadis sahih).

    Dalam hadis lain disebutkan:

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ‘Sebaik-baik hari, di mana matahari terbit di dalamnya adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula taubatnya diterima, pada hari itu pula dia wafat, pada hari itu pula kiamat akan terjadi dan tidak ada makhluk yang melata di muka bumi kecuali menunggu hari Kiamat itu dari waktu Subuh hari Jum’at sampai terbit matahari karena takut pada hari Kiamat, terkecuali jin dan manusia. Di dalamnya ada satu saat yang apabila seorang hamba muslim menemuinya, sedang dia dalam keadaan shalat dan memohon kepada Allah suatu kebutuhan, niscaya akan dikabulkan permohonannya’. Ka’b berkata, ‘Yang demikian itu hanya ada satu hari dalam setahun?’ Aku berkata, ‘Bahkan pada setiap hari Jum’at’. Berkata Abu Hurairah, ‘Maka Ka’b membaca Taurat, kemudian berkata, ‘Benarlah perkataan Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Kemudian aku bertemu Abdullah Ibnu Salam, lalu aku ceritakan apa yang menjadi pembicaraanku dengan Ka’b, maka dia berkata, ‘Aku telah mengetahui kapan saat itu’. Abu Hurairah berkata, ‘Aku katakan kepadanya, ‘Beritahukan kepadaku hal itu’. Abdullah bin Salam berkata, ‘Waktunya adalah saat terakhir dari hari Jum’at’, Aku katakan kepadanya, ‘Bagaimana mungkin padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidak seorang hamba muslim pun yang mendapatinya sedang ia dalam keadaan shalat, dan pada waktu itu (setelah Ashar) tidak boleh shalat. Berkatalah Abdullah bin Salam, ‘Bukankah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Barangsiapa duduk pada suatu tempat sambil menunggu (waktu) shalat, maka dia dianggap dalam keadaan shalat sampai dia melaksanakan shalat’, Aku katakan, ‘Ya’. Dia berkata, ‘Itulah maksudnya’.” (HR Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai, hadis sahih).

    Dikatakan pula bahwa saat tersebut adalah sejak duduknya imam di atas mimbar hingga usainya pelaksanaan shalat.

    Syarat-Syarat Kewajiban Shalat Jum’at

    Shalat Jumat diwajibkan atas setiap muslim, laki-laki yang merdeka, sudah mukallaf, sehat badan serta muqim (bukan dalam keadaan musafir). Ini berdasarkan hadis Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam:

    “Shalat Jum’at itu wajib atas setiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah, terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR Abu Daud dan Hakim, hadis sahih).

    Adapun bagi orang yang musafir, maka tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at, sebab Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam pernah melakukan perjalanan untuk menunaikan haji, dan bertempur, namun tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau melaksanakan shalat Jum’at.

    Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Amirul Mukminin Umar Ibnul Khattab Radhiallaahu anhu melihat seseorang yang terlihat akan melakukan perjalanan, kemudian beliau mendengar ucapannya, “Seandainya hari ini bukan hari Jum’at, niscaya aku akan bepergian.” Maka Khalifah Umar berkata, “Silakan Anda pergi, sesungguhnya shalat Jum’at itu tidak menghalangimu dari bepergian.”

    Syarat-Syarat Sahnya Shalat Jum’at

    Untuk sahnya shalat Jum’at itu ada beberapa syarat, yaitu sebagai berikut:

    1. Dilaksanakan di suatu perkampungan atau kota, karena di zaman Rasulullah tidak pernah melaksanakan, kecuali di perkampungan atau di kota. Beliau Shallallaahu alaihi wa sallam juga tidak pernah menyuruh penduduk dusun (orang pedalaman) untuk melaksanakannya. Dan, tidak pernah disebutkan bahwa ketika bepergian beliau melaksanakan shalat Jum’at.
    2. Meliputi dua khotbah. Ini berdasarkan pada perbuatan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan kebiasaan beliau (dalam melaksanakannya). Juga dikarenakan khotbah merupakan salah satu manfaat yang sangat besar dari pelaksanaan shalat Jum’at. Karena, ia mengandung zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, peringatan terhadap kaum muslimin, serta nasihat bagi mereka.

    Tata Cara Shalat Jum’at

    Adapun tata cara pelaksanaan shalat Jum’at, yaitu imam naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari, kemudian memberi salam. Apabila ia sudah duduk, maka muazin melaksanakan azan sebagaimana halnya azan Dhuhur. Selesai azan, berdirilah imam untuk melaksanakan khotbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta membaca shalawat kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Kemudian, memberikan nasihat kepada para jamaah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan, serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta ancaman-ancaman-Nya. Kemudian duduk sebentar, lalu memulai khotbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepada-Nya. Kemudian melanjutkan khotbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khotbah pertama dan dengan suara yang layaknya seperti suara seorang komandan pasukan perang, sampai selesai tanpa perlu berpanjang lebar, kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya, muazin melaksanakan iqamah untuk melaksanakan shalat. Kemudian shalat berjamaah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan, dan sebaiknya surat yang dibaca pada rakaat pertama setelah al-Fatihah adalah surat Al-A’la dan pada rakaat kedua surat Al-Ghasyiah, atau pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah surat Al-Jumu’ah dan pada rakaat kedua surat Al-Munafiqun. Akan tetapi, jika imam membaca surat yang lain juga tidak apa-apa.

    Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jum’at

    Dianjurkan shalat sunnah sebelum pelaksanaan shalat Jum’at semampunya sampai imam naik ke mimbar, karena pada waktu itu tidak dianjurkan lagi shalat sunnah, kecuali shalat tahiyatul masjid bagi orang yang (terlambat) masuk ke dalam masjid. Dalam hal ini shalat tetap boleh dilaksanakan sekalipun imam sedang berkhotbah, dengan catatan mempercepat pelaksanaannya sebagaimana diterangkan di atas.

    Adapun setelah shalat Jum’at, maka disunnahkan shalat empat rakaat atau dua rakaat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Sallallaahu alaihi wa sallam :

    “Barangsiapa di antara kamu ingin shalat setelah Jum’at, maka hendaklah shalat empat rakaat.” (HR Muslim).

    Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma disebutkan:

    “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam shalat setelah shalat Jum’at dua rakaat di rumah beliau.” (Muttafaq ‘alaih).

    Sebagai pengamalan hadis-hadis ini, sebagian ulama mengatakan bahwa seorang muslim apabila ingin shalat sunnah setelah Jum’at di masjid, maka dia shalat empat rakaat dan apabila dia shalat di rumah, maka dia shalat dua rakaat.

    ***

    Referensi:

    Subulus Salaam, as-Son’ani

    Riyadhus Sholihin, an-Nawawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 24 January 2015 Permalink | Balas  

    hamilHak Kesehatan Reproduksi Perempuan dalam Al-Qur’an

    Oleh: KH. Husein Muhammad

    Sejak awal, al-Qur’an sudah mewasiatkan untuk berbuat baik kepada orang tua, terutama kepada ibu. Penekanan akan penghormatan kepada ibu karena ibulah yang memang mengalami kesusahan terutama ketika mengandung dan melahirkan. Hal tersebut seperti dinyatakan al-Qur’an : “Kami wasiatkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tua, karena ibunya telah mengandungnya dengan penuh kesusahan di atas kesusahan dan menyusuinya selama dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu, dan hanya kepada-Ku kamu akan kembali”. (QS. Luqman, 31: 412).

    Ayat di atas terkait dengan kesehatan reproduksi perempuan yang juga merupakan bagian dari hak-hak perempuan. Dan seperti diketahui bersama bahwa hak-hak perempuan adalah bagian dari hak-hak asasi manusia. Dari sini, menjelaskan persoalan kesehatan reproduksi dan hak-hak reproduksi perempuan menjadi sangat penting untuk dibicarakan di kalangan masyarakat luas, karena membicarakan ini berarti membedah juga persoalan-persoalan kemanusiaan. Ironisnya, dalam banyak kenyataan selama ini, perempuan masih belum sepenuhnya mendapatkan hak dan perlakuan sebagaimana yang dinikmati laki-laki. Kaum perempuan masih dipinggirkan dan dinomorduakan. Pada saat yang sama mereka juga harus melakukan tugas dan kerja berganda untuk menghidupi rumah tangganya (suami dan anak-anaknya). Kenyataan ini dapat kita saksikan di mana-mana terutama di desa-desa dan di kampung-kampung. Peristiwa-peristiwa sosial juga memperlihatkan kepada kita tidak sedikit kaum perempuan yang diperlakukan secara kejam (baca; kekerasan).

    Kekerasan terhadap perempuan terus berlangsung sampai hari ini di mana-mana dalam bentuk yang bermacam-macam; fisikal, mental, dan seksual. Keadaan ini pada gilirannya menimbulkan akibat-akibat yang parah dan membahayakan bagi fungsi-fungsi reproduksi dan bagi tubuh mereka. Sebuah laporan internasional menyebutkan bahwa setiap tahun lebih dari setengah juta perempuan mati karena sebab-sebab yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan. Tujuh puluh ribu perempuan meninggal karena pengguguran atau keguguran. Tujuh juta bayi meninggal setiap tahun karena ibunya secara fisik belum siap melahirkan atau kurang mendapatkan perawatan obsterik yang memadai (Lihat; Hak-hak Asasi Perempuan, Sebuah Panduan Konvensi-Konvensi Utama PBB Tentang Hak Asasi Perempuan, Yayasan Jurnal Perempuan, 2001)

    Data-data ini menjelaskan betapa rapuh rentannya kesehatan reproduksi perempuan. Dan ini berkaitan sangat erat dengan hak-hak reproduksi perempuan. Inti dari semua persoalan perempuan pada akhirnya berujung pada hak-hak perempuan yang berjalan secara timpang. Posisi perempuan secara sosial masih ditempatkan pada kondisi dan situasi yang tidak berdaya dan berada pada kekuasaan yang serba bersifat laki-laki (Patriarkhi)

    Berkaitan dengan hak reproduksi perempuan dan Islam, berikut penulis akan mencoba memaparkan pandangan al-Quran tentang hak reproduksi perempuan yang secara metodologis dijabarkan melalui tafsir fiqh, yaitu membandingkan penafsiran para ulama dari al-Qur’an dengan kaidah ushul fiqh untuk menimbang suatu masalah yang dalam hal ini berkaitan dengan reproduksi perempuan.

    Hak menikmati hubungan seksual

    Manusia di samping makhluk berakal, ia juga makhluk seksual. Seks adalah naluri yang ada di dalam dirinya. Dalam Islam, semua naluri kemanusiaan mendapatkan tempat yang berharga dan terhormat. Naluri seksual harus disalurkan dan tidak boleh dikekang. Pengekangan naluri akan menimbulkan dampak-dampak negatif, bukan hanya terhadap tubuh, tetapi juga akal dan jiwa.

    Nikah atau kawin pada dasarnya adalah hubungan seksual (persetubuhan). Dalam terminologi social nikah dirumuskan secara berbeda-beda sesuai dengan perspektif dan kecenderungan masing-masing orang. Sebagian orang menyebut nikah sebagai penyatuan laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang disahkan oleh hukum. Dalam fiqh, mayoritas ahli fiqh mendefinisikan nikah sebagai hak laki-laki atas tubuh perempuan untuk tujuan penikmatan seksual.Meskipun dengan bahasa yang berbeda-beda tetapi ada kesepakatan mayoritas ulama mazhab empat yang mendefinisikan nikah sebagai akad yang memberikan kepemilikian kepada laki-laki untuk memperoleh kesenangan dari tubuh seorang perempuan, karena mereka sepakat bahwa pemiliki kesenangan seksual adalah laki-laki1

    Islam hadir untuk menyelamatkan dan membebaskan kaum perempuan dari kehidupan yang menyiksa. Al-Qur’an memberikan kepada kaum perempuan hak-hak yang sama dengan laki-laki. Mereka (perempuan) memiliki hak atas laki-laki dengan baik2 . Karena itu bertitik tolak dari pandangan ini kita bisa merumuskan nikah sebagai suatu perjanjian hukum yang memberikan hak seksual kepada laki-laki dan perempuan untuk tujuan-tujuan yang dikehendaki bersama.

    Hak menolak hubungan seksual

    Berdasarkan asas keadilan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan, persoalan hubungan hubungan seksual sesungguhnya dapat berlaku terhadap suami ketika dia menolak melayani keinginan seks istrinya. Ibnu Abbas pernah mengatakan “aku suka berdandan untuk istriku seperti aku suka dia berdandan untukku”3 Ucapan ini mengandung arti bahwa suami dan istri perlu saling memberi dan menerima dalam suasana hati yang menggairahkan.

    Hak menolak kehamilan

    Hamil pada satu sisi merupakan harapan yang membahagiakan isteri, tetapi boleh jadi pada sisi yang lain merupakan peristiwa yang tidak dikehendaki. Terlepas apakah kehamilan itu dikehendaki atau tidak, akan tetapi al-Qur’an menyatakan bahwa perempuan yang hamil selalu berada dalam kondisi yang sangat berat dan melemahkan. Tingkat kelemahan itu akan semakin besar menjelang saat melahirkan. Prof. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOg menyebutkan sejumlah masalah gangguan kesehatan yang dialami perempuan yang hamil, antara lain morning sickness (sakit pada pagi hari), hipersalivasi (pengeluaran air liur), kram betis, varises, sinkope (pingsan) dan kaki bengkak4

    Sementara itu melahirkan bagi perempuan merupakan saat-saat paling kritis dalam kehidupannya. Resiko kematian seakan-akan benar-benar ada di hadapan matanya disebabkan banyak hal. Resiko yang diakibatkan oleh kehamilan dan melahirkan hanya dapat dirasakan oleh perempuan pemilik alat reproduksi. Resiko-resiko tersebut yang paling sering terdengar adalah pendarahan dan keguguran. Alangkah sangat bijaknya pernyataan Nabi SAW yang menyatakan “Kesyahidan itu ada tujuh, selain terbunuh dalam perang sabilillah; orang yang mati karena keracunan lambungnya, yang tenggelam dalam air, yang pinggangnya terserang virus, yang terkena lepra, yang terbakar api, yang tertimbun bangunan dan perempuan yang mati karena melahirkan”. (Hadits riwayat Abu Dawud, an-Nasai, Ibn Majah dan Ibn Hibban, lihat: al-Mundziri, at-Targhib wa at-Tarhib min al-Hadits asy-Syarif, II/335). Dalam hal ini Nabi memberikan jaminan surga bagi perempuan yang mati karena melahirkan. Kedudukannya di hadapan Tuhan disamakan dengan prajurit di medan perang melawan musuh. Pernyataan Nabi tersebut tidak lain merupakan penghargaan yang tinggi bagi perjuangan perempuan yang mati karena melahirkan. Akan tetapi ada anggapan sebagian orang bahwa karena kematian syahid merupakan pahala yang besar dan ada jaminan masuk sorga, maka mereka kadang tidak perlu merasa harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh. Ini jelas merupakan anggapan yang sangat konyol. Hasil penelitian para ahli kependudukan dan kesehatan reproduksi perempuan menunjukkan bahwa komplikasi kehamilan dan persalinan benar-benar merupakan pembunuh utama kaum perempuan usia subur. Keadaan inilah yang menjadikan Indonesia menduduki rangking pertama di Asia Tenggara dan keempat di Asia Pasifik.

    Mengingat hal ini, maka adalah sangat masuk akal dan sudah seharusnya mendapat pertimbangan kita semua terutama para suami jika perempuan mempunyai hak atau pilihan menolak untuk hamil. Demikian juga dalam menentukan jumlah anak yang diinginkannya. Tidak seorangpun mengingkari bahwa di dalam perut perempuanlah kandungan itu cikal-bakal manusia berada dan meskipun ada peran laki-laki bagi proses pembuahan, tetapi perempuanlah yang merasakan segala persoalannya. Walaupun terdapat kontroversi mengenai siapa yang memiliki hak atas anak tetapi mayoritas ahli fiqh menyatakan bahwa anak adalah hak ayah dan ibunya secara bersama-sama, karena keberadaannya merupakan hasil kerjasama keduanya. Oleh karena itu untuk memutuskan kapan mempunyai anak dan berapa anak yang diinginkannya seharusnya juga menjadi hak istri, dan harus dibicarakan secara bersama-sama. Dan dari sini juga memungkinkan meningkatkan daya tahan para istri atau para ibu sehingga kerentanan pada masa kehamilan dan melahirkan bisa diperkecil sehingga kematian karenanya juga bisa diminimalisir. Penolakan istri untuk hamil dapat dilakukan melalui cara-cara dan alat-alat sebagaimana diatur dalam program Keluarga Berencana. Ia dapat menggunakan cara pantang berkala, Azl (senggama terputus) atau dengan alat-alat kontrasepsi lain yang disediakan. Dan dalam hal penggunanaan alat-alat kontrasepsi ini istri juga berhak menentukan sendiri alat yang sesuai dengan kondisinya. Untuk hal ini adalah logis jika dia juga berhak untuk mendapatkan keterangan dan penjelasan yang jujur dari pihak-pihak yang ahli mengenainya, seperti dokter atau petugas kesehatan. Apabila dia tidak memiliki pengetahuan mengenai alat-alat kontrasepsi yang sesuai dengan tubuhnya, maka adalah kewajiban dokter atau petugas yang ditunjuk bagi keperluan untuk memberikan yang terbaik baginya.

    Hak Aborsi

    Tetapi penggunaan kontrasepsi dan cara-cara lain untuk meniadakan kehamilan tidak dengan serta merta menjamin bahwa dia tidak akan hamil. Keputusan menghidupkan (hamil) atau tidak (mematikan) merupakan urusan Tuhan. Kehamilan yang tidak dikehendaki karena berbagai factor mungkin saja terjadi, bahkan dewasa ini sering terjadi. Dalam keadaan demikian, dapatkah dia menggugurkan kandungannya?

    Pada prinsipnya Islam mengharamkan segala bentuk perusakan, pelukaan dan pembunuhan terhadap manusia. Nabi dalam salah satu sabdanya mengatakan : “Janganlah membuat kerusakan (hal yang membahayakan) atas diri sendiri dan atas orang lain”.

    Dalam ayat al-Qur’an juga dinyatakan: “janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali karena kebenaran”. Akan tetapi dalam kehidupan kita seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Pada persoalan pengguguran kandungan, misalnya ada dua pilihan yang sama-sama berat. Menggugurkan janin dalam kandungan dapat berarti membunuh jiwa yang sudah hidup, tetapi membiarkannya terus hidup di dalam perutnya karena alasan tertentu boleh jadi mengakibatkan penderitaan atau bahkan kematian ibu.

    Terhadap persoalan ini fiqh sesungguhnya menawarkan sejumlah pilihan. Pertama-tama para ulama fiqh sepakat bahwa aborsi tidak boleh dilakukan sesudah janin berusia 120 hari (empat bulan). Kandungan berusia 120 hari itu dalam pandangan mereka sudah merupakan wujud manusia hidup dengan segala kelengkapannya, karena itu ia adalah benar-benar manusia. Dalam banyak pandangan pengguguran kandungan pada usia janin ini sebenarnya tidak bisa disebut sebagai aborsi tetapi pembunuhan. Sementara aborsi sebelum usia tersebut para ahli Islam mempunyai pandangan yang sangat plural atau beragam. Para ulama mendasarkan pandangannya terhadap hal ini pada surah al Mukminun ayat 12-14 yang artinya “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah, kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik”

    Ayat ini menyebutkan fase-fase pembentukan manusia dalam tiga kategori : nutfah, ‘alaqah, dan mudghah. Pendirian paling longgar dikemukakan oleh al Hashkafi bermazhab Hanafi. Aborsi, menurutnya, dapat dilakukan sebelum usia kandungan 120 hari, karena suatu alasan atau tidak.Al Karabisi dari Mazhab Syafi’I, seperti dikutip al Ramli dalam Nihayah al Muhtaj, hanya membenarkan aborsi ketika masih berupa nutfah (zygote). Pendirian paling ketat dikemukakan oleh al-Ghazali dari mazhab Syafi’i. Ia mengharamkan aborsi sejak terjadinya pembuahan. Pednapat ini dikemukakan juga oleh mayoritas mazhab Maliki, Ibnu Hazm al Zhahiri dan sebagian Syi’ah.5

    Sepanjang yang dapat ditelusuri dari literature fiqh aborsi, atau isqath al haml, dan ijhadh menurut bahasa fiqh, maka dapat dikemukakan sebuah kesepakatan ulama, tanpa melihat usia kandungannya, bahwa aborsi dapat dilakukan sepanjang pembiaran janin di dalam perut ibu sampai dengan kelahirannya dipastikan akan membahayakan dan mengancam hidup ibu, dan kepastian ini didasarkan atas pertimbangan medis oleh dokter ahli. Pandangan ini memperlihatkan bahwa pertimbangan keselamatan ibu lebih diutamakan ketimbang kematian janin. Dalam pandangan fiqh kematian janin memiliki risiko lebih ringan dibanding risiko kematian ibu, karena ibu adalah asal dari janin atau bayi. Eksistensinya telah nyata. Ibu juga memiliki sejumlah kewajiban. Sementara janin atau bayi dalam kandungan, meskipun mungkin telah eksis, tetapi ia tidak mewakili kewajiban terhadap orang lain “jika terjadi dilemma, maka korbankan yang paling ringan risikonya”. 6

    Pandangan para ahli fiqh tentang motif aborsi di atas tampaknya masih terbatas pada indikasi media dan kesehatan belaka. Motif-motif lain seperti indikasi sosial, ekonomi, politik dan psikologis belum mendapatkan uraian panjang lebar. Tetapi sesungguhnya menarik ketika kita mengamati bahwa sebagian ulama mazhab hanafi membolehkan aborsi, meskipun bukan karena suatu alasan (bi ‘udzr aw bi ghair udzr).

    Akhirnya, satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hubungannya dengan relasi-relasi kemanusiaan, termasuk di dalamnya relasi berdasarkan gender ialah bahwa Islam merupakan agama keadilan, agama yang menolak segala bentuk diskriminasi dan segala bentuk kekerasan. Ia lahir untuk menegakkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang luhur. Kepadanyalah seluruh konstruksi pemikiran, konsep dan aturan kehidupan seharusnya dirumuskan oleh kaum muslimin untuk kemudian diamalkan atau diaplikasikan dalam kehidupan sosial mereka.

    ***

    1 Abd. Rahman Al Jaziri, Al-fiqh ‘ala Mazahib al Arba’ah, IV, h.2

    2 H.R Abu Daud dan Tirmizi, dalam “sunan Abi Daud I hal. 61, “Sunan al Tirmizi”, hal. 190

    3 Ucapan Ibnu Abbas ini selalu dtemukan dalam literature tafsir dalam kaitannya dengan penafsiran atas Q.S Al-Baqarah 228 ” Dan mereka (perempuan/istri) berhak mendapatkan perlakuan yang baik seperti kewajiban dia (memperlakukan suaminya)

    4 Ida Bagus Gde Manuaba, Memahami Kesehatan reproduksi wanita, Penerbit Arcan, hal. 87

    5 Lihat, al Ghazali ” Ihya Ulum al Din”, II halaman 51, Ibnu Rusyd. “Bidayah al Mujtahid”, II halaman 348, Ibnu Hazm, “Al Muhalla”, XI, halaman 35-40, Jad al Haq dalam “Ahkam al syar’iyyah al Islamiyah fi masail al Thibbiyah”, halaman 139

    6 Al Suyuthi, “Al Asybah wa al Nazhair”, halaman 62

     
  • erva kurniawan 2:06 am on 23 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatSunah-Sunah Salat

    Arsip Fiqh

    Salat mempunyai beberapa sunah yang dianjurkan untuk kita kerjakan sehingga menambah banyak pahala kita. Sunah-sunah tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

    1. Mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu atau sejajar dengan kuping pada keadaan sebagai berikut:
    • ketika bertakbiratul ihram,
    • ketika rukuk,
    • ketika bangkit dari rukuk,
    • ketika berdiri setelah rakaat kedua ke rakaat ketiga.

    Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Umar ra, “Bahwasanya Nabi saw apabila beliau melaksanakan salat, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua bahu beliau, kemudian membaca takbir. Apabila beliau ingin rukuk, beliau pun mengangkat kedua tangannya seperti itu, dan begitu pula kalau beliau bangkit dari rukuk.” (Muttafaq ‘alaih)

    Adapun ketika berdiri untuk rakaat ketiga, hal ini berdasarkan apa yang dilakukan Ibnu Umar, karena beliau apabila berdiri dari rakaat kedua beliau mengangkat kedua tangannya. (HR Bukhari secara mauquf, al Hafiz Ibnu Hajar berkata, “Dan riwayat ini dihukumi marfu.” Ibnu Umar menisbatkan hal tersebut kepada Nabi saw.

    1. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada atau di bawah dada dan di atas pusar. Hal ini berdasarkan perkataan Sahl bin Sa’d ra, “Orang-orang (di masa Nabi saw) disuruh untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam salat.” (HR Bukhari secara mauquf. al Hafiz Ibnu Hajar berkata, ”Riwayat ini dihukumi marfu.”)

    Dan berdasarkan hadis Wail bin Hijr ra, “Saya pernah salat bersama Nabi saw, kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri di atas dadanya.” (HR Ibnu Huzaimah, sahih)

    1. Membaca doa iftitah. Ada beberapa contoh doa iftitah, di antaranya:

    (Catatan: Bagi siapa saja yang masih pemula (belum bisa) dalam membaca ayat-ayat atau doa-doa untuk amalan ibadah, sebaiknya mencari tahu langsung kepada seorang guru yang dapat menunjukkan aturan-aturan cara membunyikan bahasa atau istilah Alquran dan Hadis. Hal ini bermaksud agar tidak terjadi salah pengucapan (makhraj) dan salah pengertian terhadap suatu doa atau ayat Alquran. Yang lebih penting lagi karena kita dituntut untuk mengikuti petunjuk yang ada).

    1. Membaca istiazah (A’udzubillaahiminasy syaithoonirojiim) pada rakaat pertama dan membaca basmalah pada tiap-tiap rakaat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Maka apabila kamu membaca Alquran, maka hendaklah kamu memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)
    2. Membaca amin (aamiin) setelah membaca surat Al-Fatihah. Hal ini disunahkan kepada setiap orang yang salat, baik sebagai imam maupun makmum atau salat sendirian. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw, “Apabila imam membaca amin, maka ucapkanlah pula olehmu. Maka sesungguhnya barangsiapa yang bacaan aminnya berbarengan dengan aminnya malaikat, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dari sahabat Wa’il bin Hijr, “Saya mendengar Rasulullah membaca Ghairil maghdubi ‘alaihim waladdoolliin, lalu beliau ucapkan “aamiin” dengan suara panjang. (HR Ahmad dan Abu Daud, dinilai baik oleh Tirmizi) .

    1. Membaca ayat setelah membaca surat Al-Fatihah. Dalam hal ini cukup dengan satu surat atau beberapa ayat Alquran pada dua rakaat salat Subuh dan dua rakaat pertama pada salat Duhur, Asar, Magrib dan Isya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw, “Rasulullah saw ketika salat Duhur membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) dan dua surat pada dua rakaat pertama, dan beliau membaca Ummul Kitab saja pada dua rakaat berikutnya dan terkadang beliau perdengarkan ayat (yang dibacanya) kepada para sahabat.” (Muttafaq ‘alaih)
    2. Mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat pada waktu salat jahriah (yang dikeraskan bacaannya) dan merendahkan suara pada salat yang dipelankan bacaannya (sirriah). Yaitu mengeraskan suara pada dua rakaat yang pertama pada shalat Magrib dan Isya dan pada kedua rakaat shalat Subuh. Dan merendahkan suara pada yang lainnya. Ini semuanya dalam pelaksanaan shalat fardu, dan ini dicontohkan (tsabit) dan populer dari Rasulullah saw, baik secara perkataan maupun perbuatan. Adapun pada salat sunah, maka dianjurkan untuk merendahkan suara apabila dilaksanakan pada siang hari dan disunahkan mengeraskan suara jika salat sunah itu dilaksanakan pada waktu malam hari, terkecuali apabila takut mengganggu orang lain dengan bacaannya itu, maka disunahkan baginya untuk merendahkan suara ketika itu.
    3. Memanjangkan bacaan pada salat Subuh, membaca dengan bacaan yang sedang pada shalat Duhur, Ashar dan Isya, dan disunahkan memendekkan bacaan pada salat Magrib. Hal ini berdasarkan hadis berikut.

    “Dari Sulaiman bin Yasar, dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, ‘Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip salatnya dengan salat Rasulullah daripada si Fulan –seorang imam di Madinah.’ Sulaiman berkata, ‘Kemudian aku salat di belakang orang tersebut, dia memperpanjang bacaan pada dua rakaat pertama salat Duhur dan mempercepat pada dua rakaat berikutnya. Mempercepat bacaan surat dalam salat Asar. Dan pada dua rakaat pertama salat Magrib ia membaca surat mufasal (1) yang pendek, sedang pada dua rakaat pertama shalat Isya ia membaca surat mufasal yang sedang, selanjutnya pada shalat Subuh ia membaca surat-surat mufasal yang panjang’.” (HR Ahmad dan Nasai, sahih)

    1. Cara duduk yang diriwayatkan (tsabit) dari Rasulullah saw dalam salat adalah duduk bertumpu pada paha kiri (iftirasy) pada semua posisi duduk dan semua tasyahud selain tasyahud akhir. Apabila ada dua tasyahud dalam salat itu, maka dia harus duduk tawaruk pada tasyahud akhir. Hal ini berdasarkan perkataan Abu Hamid as Sa’idi di hadapan para sahabat. Ketika ia menerangkan salat Rasulullah saw, di antaranya menyebutkan, “Maka apabila beliau duduk setelah dua rakaat, beliau duduk di atas kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki kanan, dan apabila beliau duduk pada rakaat akhir, beliau majukan kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki yang satunya, dan beliau duduk di lantai.” (HR Bukhari)

    Iftirasy: Yaitu duduk di atas kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki kanan.

    Tawaruk (tawarruk): Yaitu meletakkan telapak kaki kiri di bawah betis kanan, kemudian mendudukkan pantat di alas/lantai dan menegakkan telapak kaki kanan.

    Keterangan: Rasulullah saw, apabila duduk tasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri dan tangan kanannya di atas paha kanan, kemudian beliau menelunjukkan dengan jari telunjuk (HR Muslim). Dan beliau tidak melebihkan pandangannya dari telunjuk itu. (HR Abu Daud, sahih)

    1. Berdoa pada waktu sujud. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:

    “Ketahuilah! Sesungguhnya aku dilarang membaca Alquran ketika rukuk dan sujud. Adapun yang dilakukan pada waktu sujud maka hendaklah kamu membesarkan Rabbmu dan pada waktu sujud maka hendaklah kamu bersungguh-sungguh berdoa, niscaya dikabulkan doamu.” (HR Muslim)

    1. Membaca selawat untuk Nabi saw pada waktu tasyahud akhir. Tetapi, menurut ulama mazab Hanbali dan Syafi’i, membaca selawat ini fardu, sedangkan yang sunah adalah selawat untuk keluarga nabi.

    Dari Ka’b bin ‘Ujrah, ia berkata, “Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, kami telah tahu bagaimana cara mengucapkan salam kepada Anda. Sekarang bagaimana pula cara memberi selawat bagi Anda?’ Ia menjawab, ‘Katakanlah:

    “Alloohumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, kamaa sallaita ‘alaa aali Ibraahiima, innaka hamiidun majiid. Alloohumma baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarokta ‘alaa aali Ibroohiima, innaka hamiidun majiid.”

    “Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau berikan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berkatilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana telah Engkau berkati keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.” (Hadis Jamaah)

    1. Berdoa setelah selesai dari membaca tasyahud dan membaca salawat untuk Nabi dengan doa yang dicontohkan Rasulullah saw. Di antara doa tersebut adalah:

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Jika salah seorang di antaramu telah selesai membaca tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, dengan membaca:

    “Alloohumma inni a’uuzu bika min ‘azaabi jahannam, wa min ‘azaabil qabri, wa min fitnatil mahyaaa wal mamaati, wa min syarri fitnatil masiihid dajjaal.”

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahanam, dari siksa kubur, dari bencana kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan bencana Dajjal si penipu.” (HR Muslim)

    Dari Ali, ia berkata, “Bila Rasulullah mengerjakan salat, maka ucapan terakhir yang dibacanya di antara tasyahud dan salam ialah:

    “Alloohummaghfir lii maa qoddamtu, wa maa akhkhortu, wa maa asrortu, ma maa a’lantu, wa ma asroftu, wa maa anta a’lamu bihii minnii, antal muqoddimu, wa antal mu’akhkhiru, laa ilaaha illaa anta.”

    “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang terdahulu maupun yang kemudian, yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, apa-apa yang aku berlebihan dan segala apa yang Engkau sendiri lebih mengetahuinya daripadaku. Engkaulah yang memajukan dan Engkau pula yang mengakhirkan. Tiada tuhan melainkan Engkau.” (HR Muslim)

    1. Mengucapkan salam ke sebelah kiri. Namun ulama Hanbali berpendapat, mengucapkan salam dua kali: ke sebelah kanan dan kiri adalah fardu.
    2. Menoleh sewaktu mengucapkan salam ke sebelah kanan dan kiri hingga dapat terlihat pipinya dari belakang.

    “Bahwasanya Rasulullah saw melakukan salam ke kanan dan ke kiri sehingga terlihat putihnya pipi beliau.” (HR Muslim)

    1. Beberapa dzikir dan do’a setelah salam. Telah diriwayatkan beberapa dzikir dan do’a setelah salam dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam yang disunnahkan untuk dibaca. Di sini akan kami pilihkan beberapa dzikir dan do’a, di antaranya:

    Dari Tsauban ra, ia berkata, Rasulullah saw apabila selesai salat, beliau membaca istigfar tiga kali (1) dan membaca: “Alloohumma antas salaam waminkas salaam tabarokta yaa dzaljalaali wal Ikroom.”

    “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari Mulah kesejahteraan, Maha Suci Engkau wahai Rabb Yang Maha Agung dan Maha Mulia.” (HR Muslim)

    Dari Mu’adz bin Jabal , bahwasanya Nabi saw pada suatu hari memegang tangannya, kemudian bersabda, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintai kamu, aku berpesan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah kamu tinggalkan setelah selesai salat membaca doa:

    “Allohumma a’inni ‘ala dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibaadatika.”

    “Ya Allah, tolonglah aku di dalam berzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepadamu.” (HR Imam Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

    Dari Mughirah bin Syu’bah , bahwasanya Rasulullah saw membaca pada tiap selesai salat fardu:

    “Laailaaha illallohu wahdahu laa syarikalah, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodiir. Allohumma laa maani’a lima a’thoita walaa mu’thia limaa mana’ta walaa yanfa’u dzaljaddi minkal Jaddu.”

    “Tiada sesembahan yang hak melainkan Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nyalah kerajaan dan pujian, sedang Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tidak ada yang mampu mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Dan tidaklah berguna kekuasaan seseorang dari ancaman siksa-Mu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda, “Siapa yang membaca tasbih (Subhaanallooh) 33 kali dan tahmid (Alhamdulillaah) 33 kali serta takbir (Alloohuakbar) 33 kali (jumlahnya menjadi 99), kemudian menggenapkan hitungan keseratus dengan bacaan:

    “Laailaaha illallohu wahdahu laa syarikalahu lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qodiir.”

    “Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian, sedang Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka ia akan diampuni kesalahan-kesalahannya sekalipun sebanyak buih di lautan.” (HR Muslim)

    “Dari Abu Umamah , bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi pada tiap-tiap selesai salat, maka tidak ada lagi yang menghalanginya untuk masuk surga hanya saja dia akan meninggal dunia.” (HR Nasai, Ibnu Hibban, ath Thabrani, sahih)

    Dari Sa’d bin Abi Waqqas, bahwasanya dia mengajari anak-anaknya beberapa bacaan sebagaimana halnya ketika seorang guru mengajari anak-anak menulis, dan dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca bacaan-bacaan tersebut pada tiap-tiap selesai salat, yaitu:

    “Allohumma inni a’udzu bika minal bukhli wal jubni wa a’udzu bika min fitnatil mahyaa wamin ‘adzabil qobri.”

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan pengecut. Aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak dijadikan pikun. Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah (cobaan) dunia dan dari siksa kubur.” (HR Bukhari)

    Referensi:

    Diadaptasi dari Tuntunan Salat Menurut Alquran & As-Sunah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

    Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir Ar-Rahbawi

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 22 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatHal-Hal yang Membatalkan Shalat

    Arsip Fiqh

    Shalat seseorang akan batal apabila ia melakukan salah satu di antara hal-hal berikut ini.

    1. Keluar angin dari dubur maupun qubul (kemaluan depan maupun belakang)
    2. Makan dan minum dengan sengaja.

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya di dalam shalat itu ada kesibukkan tertentu.” (Muttafaq ‘alaih). Ijma ulama juga mengatakan demikian.

    1. Berbicara dengan sengaja, bukan untuk kepentingan pelaksanaan shalat.

    Dari Zaid bin Arqam ra, ia berkata, “Dahulu kami berbicara di waktu shalat, salah seorang dari kami berbicara kepada temannya yang berada di sampingnya sampai turun ayat: ‘Dan hendaklah kamu berdiri karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’, maka kami pun diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara.” (Muttafaq ‘alaih)

    Rasulullah saw juga telah bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas ada di dalamnya percakapan manusia sedikit pun.” (HR Muslim)

    Adapun pembicaraan yang maksudnya untuk membetulkan pelaksanaan shalat, maka hal itu diperbolehkan seperti membetulkan bacaan (Alquran) imam, atau imam setelah memberi salam kemudian bertanya apakah shalat-nya sudah sempurna, apabila ada yang menjawab belum, maka dia harus menyempurnakannya. Hal ini pernah terjadi pada Rasulullah saw, kemudian Dzul Yadain bertanya kepada beliau, “Apakah Anda lupa ataukah sengaja mengqashar shalat, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Aku tidak lupa dan aku pun tidak bermaksud meng-qashar shalat.” Dzul Yadain berkata, “Kalau begitu Anda telah lupa wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apakah yang dikatakan Dzul Yadain itu betul?” Para sahabat menjawab, “Benar.” Maka beliau pun menambah shalatnya dua rakaat lagi, kemudian melakukan sujud sahwi dua kali. (Muttafaq ‘alaih)

    1. Meninggalkan salah satu rukun shalat atau syarat shalat yang telah disebutkan di muka, apabila hal itu tidak ia ganti/sempurnakan di tengah pelaksanaan shalat atau sesudah selesai shalat beberapa saat. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw terhadap orang yang shalatnya tidak tepat.

    “Kembalilah kamu melaksanakan shalat, sesungguhnya kamu belum melaksanakan shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

    Orang itu telah meninggalkan tuma’ninah dan i’tidal. Padahal, kedua hal itu termasuk rukun shalat.

    1. Banyak melakukan gerakan, karena hal itu bertentangan dengan pelaksanaan ibadah dan membuat hati dan anggota tubuh sibuk dengan urusan selain ibadah. Adapun gerakan yang sekadarnya saja, seperti memberi isyarat untuk menjawab salam, membetulkan pakaian, menggaruk badan dengan tangan, dan yang semisalnya, maka hal itu tidaklah membatalkan shalat.
    2. Tertawa sampai terbahak-bahak. Para ulama sepakat mengenai batalnya shalat yang disebabkan tertawa seperti itu. Adapun tersenyum, maka kebanyakan ulama menganggap bahwa hal itu tidaklah merusak shalat seseorang.
    3. Tidak berurutan dalam pelaksanaan shalat, seperti mengerjakan shalat Isya sebelum mengerjakan shalat Maghrib, maka shalat Isya itu batal sehingga dia shalat Maghrib dahulu, baru kemudian shalat Isya, karena berurutan dalam melaksanakan shalat-shalat itu adalah wajib, dan begitulah perintah pelaksanaan shalat itu.
    4. Kelupaan yang fatal, seperti menambah shalat menjadi dua kali lipat, umpamanya shalat Isya delapan rakaat, karena perbuatan tersebut merupakan indikasi yang jelas bahwa ia tidak khusyu, padahal hal itu merupakan ruhnya shalat.
    5. Seorang makmum dengan sengaja mendahului imam dalam mengerjakan satu rukun penuh. Misalnya, ia mengerjakan rukuk dan terus bangkit sebelum imam rukuk. Hal itu apabila dilakukan tanpa sengaja, maka ia harus kembali mengikuti imam dan shalatnya tidak batal.
    6. Mengucapkan salam dengan sengaja sebelum selesai shalat. Jika mengucapkannya tanpa disengaja karena ia yakin bahwa shalat yang sedang dikerjakannya itu selesai, maka shalatnya tidak batal jika ia tidak melakukan perbuatan yang banyak dan tidak pula berkata banyak serta belum berselang lama menurut pendapat umum. Ulama menetapkan, ukuran lama di sini ialah sekadar waktu yang diperlukan untuk melakukan shalat dua rakaat ringan. Jika ketentuan ini tidak terpenuhi, maka batallah shalatnya.

    Referensi:

    • Tuntunan Shalat Menurut Alquran & As-Sunnah, Syekh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin
    • Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir ar Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 21 January 2015 Permalink | Balas  

    sombongSifat Ujub

    Salah seorang ulama salaf pernah berkata: “Seorang yang ujub akan tertimpa dua kehinaan, akan terbongkar kesalahan-kesalahannya dan akan jatuh martabatnya di mata manusia.”

    Salah seorang ahli hikmah berkata: “Ada seorang yang terkena penyakit ujub, akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan karena saking ujubnya terhadap diri sendiri. Ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari orang itu, ketika ia berusaha jual mahal dengan kemampuan dirinya, maka Imam Syafi’i pun membantahnya seraya berseru di hadapan khalayak ramai: “Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri secara berlebihan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjatuhkan martabatnya.”

    Definisi Ujub

    Orang yang terkena penyakit ujub akan memandang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan mengang-gapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits: “Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya.” (HR. Al-Bukhari)

    Bisyr Al-Hafi mendefenisikan ujub sebagai berikut: “Yaitu menganggap hanya amalanmu saja yang banyak dan memandang remeh amalan orang lain.”

    Barangkali gejala paling dominan yang tampak pada orang yang terkena penyakit ujub adalah sikap suka melanggar hak dan menyepelekan orang lain.

    Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut: “Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara’ dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya!”

    Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: “Saya tidak akan mencari cara lain.” Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub? Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa seorang lelaki berkata: “Allah tidak akan mengampuni si Fulan! Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berfirman:

    “Siapakah yang lancang bersumpah atas namaKu bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalanmu!” (HR. Muslim)

    Amal shalih itu ibarat sinar dan cahaya yang terkadang padam bila dihembus angin ujub!

    Sebab-Sebab Ujub

    1. Faktor Lingkungan dan Keturunan

    Yaitu keluarga dan lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang dipuji, selalu menganggap diri suci dll.

    1. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan

    Sanjungan berlebihan tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan, seba-gaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits. Sering kita temui sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat yang dipuji lupa diri. Masalah ini akan kami bahas lebih lanjut pada bab berikut.

    1. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub.

    Tidak syak lagi bahwa setiap orang akan melatahi tingkah laku temannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri bersabda:

    “Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    Teman akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang.

    1. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

    Begitu banyak nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberinya nikmat itu. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ujub, ia membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan kepada kita kisah Qarun;

    “Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (Al-Qashash: 78)

    1. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam Menguasainya dan Belum Terbina Dengan Sempurna

    Demi Allah, pada hari ini kita banyak mengeluhkan problematika ini, yang telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah ‘sudah dipetik sebelum matang’. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia. Yang lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat sebagai seorang ulama padahal ia tidak memiliki ilmu sama sekali. Lalu ia berkomentar tentang banyak permasalahan, yang terkadang ia sendiri jahil tentang hal itu. Namun ironinya terkadang kita turut menyokong hal seperti ini. Yaitu dengan memperkenalkannya kepada khalayak umum. Padahal sekarang ini, masyarakat umum itu ibaratnya seperti orang yang menganggap emas seluruh yang berwarna kuning. Kadangkala mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya, atau seorang sastrawan yang lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara membabi buta mereka mengambil segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali meskipun orang itu mengelak seraya berkata: “Aku tidak tahu!”

    Perlu diketahui bahwa bermain-main dengan sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada bermain-main dengan api. Misalnya beberapa orang yang bersepakat untuk memunculkan salah satu di antara mereka menjadi tokoh yang terpandang di tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan acara penobatannya dan membuat-buat gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun. Niscaya pada suatu hari akan tersingkap kebobrokannya. Mengapa!? Sebab perbuatan seperti itu berarti bermain-main dengan pemikiran. Sepintas lalu apa yang mereka ucapkan mungkin benar, namun lambat laun masyarakat akan tahu bahwa mereka telah tertipu!

    1. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)

    Sekiranya seorang insan benar-benar merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai tumbuh menjadi manusia sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ujub. Ia pasti meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dihindarkan dari penyakit ujub sejauh-jauhnya. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang ditujukan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:

    “Hai orang yang pongah dalam keangkuhannya.

    Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina. Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala? Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!

    Hidung beringus sementara telinga baunya tengik. Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur. Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah, tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.”

    Penyair ini mengingatkan kita pada asal muasal penciptaan manusia dan keadaan diri mereka serta kesu-dahan hidup mereka. Maka apakah yang mendorong mereka berlagak sombong? Pada awalnya ia berasal dari setetes mani hina, kemudian akan menjadi bangkai yang kotor sedangkan semasa hidupnya ke sana ke mari membawa kotoran.

    1. Berbangga-bangga Dengan Nasab dan Keturunan

    Seorang insan terkadang memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia menganggap dirinya lebih utama dari si Fulan dan Fulan. Ia tidak mau mendatangi si Fulan sekalipun berkepentingan. Dan tidak mau mendengarkan ucapan si Fulan. Tidak syak lagi, ini merupakan penyebab utama datangnya penyakit ujub.

    Dalam sebuah kisah pada zaman kekhalifahan Umar radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ketika Jabalah bin Al-Aiham memeluk Islam, ia mengunjungi Baitullah Al-Haram. Sewaktu tengah melakukan thawaf, tanpa sengaja seorang Arab badui menginjak kainnya. Tatkala mengetahui seorang Arab badui telah menginjak kainnya, Jabalah langsung melayangkan tangannya memukul si Arab badui tadi hingga terluka hidungnya. Si Arab badui itu pun melapor kepada Umar radhiyallahu ‘anhu mengadukan tindakan Jabalah tadi. Umar radhiyallahu ‘anhu pun memanggil Jabalah lalu berkata kepadanya: “Engkau harus diqishash wahai Jabalah!” Jabalah membalas: “Apakah engkau menjatuhkan hukum qishash atasku? Aku ini seorang bangsawan sedangkan ia (Arab badui) orang pasaran!” Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Islam telah menyamaratakan antara kalian berdua di hadapan hukum!”

    Tidakkah engkau ketahui bahwa: Islam telah meninggikan derajat Salman seorang pemuda Parsi. Dan menghinakan kedudukan Abu Lahab karena syirik yang dilakukannya.

    Ketika Jabalah tidak mendapatkan dalih untuk melepaskan diri dari hukuman, ia pun berkata: “Berikan aku waktu untuk berpikir!” Ternyata Jabalah melarikan diri pada malam hari. Diriwayatkan bahwa Jabalah ini akhirnya murtad dari agama Islam, lalu ia menyesali perbuatannya itu. Wal ‘iyadzubillah

    1. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan Menghormati

    Barangkali inilah hikmahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sahabat-sahabat beliau untuk berdiri menyambut beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka.” (HR. At-Tirmidzi, beliau katakan: hadits ini hasan)

    Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu)

    1. Lengah Terhadap Akibat yang Timbul dari Penyakit Ujub

    Sekiranya seorang insan menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti dirinya dan menyadari bahwa ujub itu adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia tidak akan kuasa bersikap ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

    ”Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia.” Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?” Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) awal hadits berbunyi: “Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).

    Dampak ujub

    1. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
    2. Dijauhkan dari pertolongan Allah. Allah Subahanahu Wata’ala berfirman:

    “Orang-orang yang berjihad (untuk mencari keri-dhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut: 69)

    1. Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan.

    Bila cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub akan berteriak: ‘Oii teman-teman, carilah keselamatan masing-masing!’ Berbeda halnya dengan orang-orang yang teguh di atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala , mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

    Siapakah yang mampu lari dari hari kematian? Bukankah hari kematian hari yang telah ditetapkan? Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya. Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?

    1. Dibenci dan dijauhi orang-orang. Tentu saja, seseorang akan diperlakukan sebagaimana ia memperla-kukan orang lain. Jika ia memperlakukan orang lain dengan baik, niscaya orang lain akan membalas lebih baik kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An-Nisa’: 86)

    Namun seseorang kerap kali meremehkan orang lain, ia menganggap orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Tentu saja tidak ada orang yang senang kepadanya. Sebagaimana kata pepatah ‘Jika engkau menyepelekan orang lain, ingatlah! Orang lain juga akan menyepelekanmu’

    1. Azab dan pembalasan cepat ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam sebuah hadits dise-butkan:

    “Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari)

    Hukuman ini dirasakannya di dunia akibat sifat ujub. Seandainya ia lolos dari hukuman tersebut di du-nia, yang jelas amalnya pasti terhapus. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan tentang seorang yang bersumpah atas nama Allah bahwa si Fulan tidak akan diampuni, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni si Fulan dan menghapus amalnya sendiri.

    Dengan begitu kita harus berhati-hati dari sifat ujub ini, dan hendaknya kita memberikan nasihat kepada orang-orang yang terkena penyakit ujub ini, yaitu orang-orang yang menganggap hebat amal mereka dan menyepelekan amal orang lain.

    ***

    Kiriman Abah Naufal

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 20 January 2015 Permalink | Balas  

    gerakan-shalatRukun-Rukun Salat

    Arsip Fiqh

    Salat mempunyai rukun-rukun yang apabila salah satunya ditinggalkan, maka batallah salat tersebut. Berikut ini penjelasannya secara terperinci tentang rukun-rukun salat.

    Berniat

    Yaitu niat di hati untuk melaksanakan salat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Muttafaq ‘alaih)

    Niat itu dilakukan bersamaan dengan melaksanakan takbiratul ihram dan mengangkat kedua tangan.

    Membaca Takbiratul Ihram

    Yaitu dengan lafazh (ucapan): “Allaahuakbar.”

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Kunci salat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu salat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan salat adalah salam.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi, dan lainnya: hadits shahih)

    Berdiri (bagi yang sanggup ketika melaksanakan salat wajib)

    Hal ini berdasarkan firman Allah saw, “Peliharalah segala salat(mu) dan (peliharalah) salat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyu’.” (QS Al-Baqarah: 238)

    Sabda Rasulullah saw kepada Imran bin Hushain, “Salatlah kamu dengan berdiri; apabila tidak mampu, maka dengan duduk; dan jika tidak mampu juga, maka salatlah dengan berbaring ke samping.” (HR Al-Bukhari)

    Membaca Surat Al-Fatihah Tiap Rakaat SalatFardu dan Salat Sunah

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.” (HR Bukhari)

    Ruku’

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS Al-Hajj: 77)

    Juga berdasarkan sabda Nabi saw kepada seseorang yang tidak benar shalatnya: ” … kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan ruku’.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bangkit dari Ruku’

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw terhadap seseorang yang salah dalam salatnya: ” … kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

    I’tidal (berdiri setelah bangkit dari ruku’)

    Hal ini berdasarkan hadits tersebut di atas tadi dan berdasarkan hadits lain yang berbunyi: “Allah tidak akan melihat kepada salat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR Ahmad, dengan isnad shahih)

    Sujud

    Hal ini berdasarkan firman Allah SWT yang telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam sujud.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bangkit dari Sujud

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:  “Kemudian bangkitlah sehingga kamu duduk dengan tuma’ninah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Duduk di antara Dua Sujud

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:

    “Allah tidak akan melihat kepada shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya.” (HR Ahmad, dengan isnad shahih)

    Tuma’ninah Ketika Ruku’, Sujud, Berdiri, dan Duduk

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw kepada seseorang yang salah dalam melaksanakan shalatnya: “Sampai kamu merasakan tuma’ninah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Tuma’ninah tersebut beliau tegaskan kepadanya pada saat ruku’, sujud, dan duduk, sedangkan i’tidal pada saat berdiri. Hakikat tuma’ninah itu ialah bahwa orang yang ruku’, sujud, duduk, atau berdiri itu berdiam sejenak, sekadar waktu yang cukup untuk membaca satu kali setelah semua anggota tubuhnya berdiam. Adapun selebihnya dari itu adalah sunah hukumnya.

    Membaca Tasyahud Akhir Serta Duduk

    Adapun tasyahhud akhir itu, maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud ra yang bunyinya: “Dahulu kami membaca di dalam salat sebelum diwajibkan membaca tasyahhud adalah, ‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril dan Mikail.’

    Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca:

    “Segala penghormatan, salawat dan kalimat yang baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan hamba-hamba yang salih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi, dengan sanad shahih)

    “Apabila salah seorang di antara kamu duduk (tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala penghormatan, salawat dan kalimat-kalimat yang baik bagi Allah’.” (HR Abu Daud, An-Nasai dan yang lainnya, hadits ini shahih dan diriwayatkan pula dalam dalam “Shahih Bukhari dan Shahih Muslim”)

    Adapun duduk untuk tasyahud itu termasuk rukun juga karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun.

    Membaca Salam

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Pembuka salat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu salat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )

    Melakukan Rukun-Rukun Salat Secara Berurutan

    Oleh karena itu, janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram dan janganlah ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat.” (HR Bukhari)

    Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun salat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah saw, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah salatnya.

    Keterangan:

    Untuk mengetahui dengan jelas do’a-do’a dalam salat, hendaknya bagi para pembaca merujuk kepada orang-orang yang mengerti benar dalam pelaksanaan salat, atau bisa melalui buku yang menulis tentang salat secara lengkap.

    Di sini, Al-Islam tidak atau belum merasa perlu untuk mencantumkan do’a-do’a dalam salat karena hal ini dapat pembaca mencari sendiri dengan mudah. Al-Islam untuk sementara ini lebih menekankan kepada bagaimana memahami syariat dan cara pelaksanaannya.

    ***

    Sumber: Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 19 January 2015 Permalink | Balas  

    gerakan-shalatSyarat-Syarat Shalat

    Arsip Fiqh

    Berikut ini akan dibahas kajian tentang syarat-syarat yang harus terpenuhi sebelum shalat (terkecuali niat, yaitu syarat yang ke delapan, maka yang lebih utama dilaksanakan bersamaan dengan takbir). Wajib bagi orang yang shalat untuk memenuhi syarat-syarat itu. Apabila ada salah satu syarat yang ditinggalkan, maka shalatnya batal.

    Adapun syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:

    Islam

    Tidak sah dan tidak diterima shalat yang dilakukan oleh orang yang masih kafir; begitu pula halnya semua amalan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu untuk memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (QS At-Taubah: 17)

    Berakal Sehat

    Maka, tidaklah wajib shalat bagi orang gila, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari’at) yaitu: orang yang tidur sampai dia terjaga; anak kecil sampai dia baligh; dan orang yang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    Baligh

    Maka, tidaklah wajib shalat itu bagi anak kecil sampai dia baligh, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Akan tetapi, anak kecil itu hendaknya diperintahkan untuk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun dan shalatnya itu sunnah baginya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

    Suci Dari Hadats Kecil dan Hadats Besar

    Hadats kecil ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS Al-Maidah: 6)

    Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci.” (HR. Muslim)

    Suci Badan, Pakaian dan Tempat Untuk Shalat

    Adapun dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah, “Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (QS Al-Muddatstsir: 4)

    Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kami diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari)

    Masuk Waktu Shalat

    Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisa': 103)

    Maksudnya, shalat itu mempunyai waktu tertentu. Malaikat Jibril pun pernah turun untuk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu, kemudian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam: “Di antara keduanya itu adalah waktu shalat.”

    Menutup Aurat

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS Al-A’raf: 31)

    Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah.

    Niat

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Menghadap Kiblat

    Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS Al-Baqarah: 144)

    ***

    Sumber: Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:24 am on 18 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet bicaraPengaruh Perbuatan Baik dan Ucapan Yang Baik

    Manusia senantiasa mencari lingkungan yang tenang tempat mereka dapat hidup dengan aman, gembira, dan membina persahabatan. Meskipun mereka merindukan keadaan yang demikian itu, mereka tidak pernah melakukan usaha untuk menyuburkan nilai-nilai tersebut, tetapi sebaliknya, mereka sendirilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dan kesengsaraan. Sering kali orang mengharapkan agar orang lain memberikan ketenangan, kedamaian, dan bersikap bersahabat. Hal ini berlaku dalam hubungan keluarga, hubungan antarpegawai di perusahaan, hubungan kemasyarakatan, maupun persoalan internasional. Namun, untuk membina persahabatan dan menciptakan kedamaian dan keamanan dibutuhkan sikap mau mengorbankan diri. Konflik dan keresahan tidak dapat dihindari jika orang-orang hanya bersikukuh pada ucapannya, jika mereka hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa bersedia melakukan kompromi atau pengorbanan. Bagaimanapun, orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak bersikap seperti itu. Orang-orang yang beriman tidak mementingkan diri sendiri, suka memaafkan, dan sabar. Bahkan ketika mereka dizalimi, mereka bersedia mengabaikan hak-hak mereka. Mereka menganggap bahwa kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan orang lain lebih penting dibandingkan dengan kepentingan pribadi mereka, dan mereka menunjukkan sikap yang santun. Ini merupakan sifat mulia yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman:

    “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.s. Fushshilat: 34-5).

    “Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. an-Nahl: 125).

    Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, sebagai balasan atas perbuatan baiknya bagi orang-orang yang beriman, Allah mengubah musuh mereka menjadi “teman yang setia”. Ini merupakan salah satu rahasia Allah. Bagaimanapun juga, hati manusia berada di tangan Allah. Dia mengubah hati dan pikiran siapa saja yang Dia kehendaki.

    Dalam ayat lainnya, Allah mengingatkan kita tentang pengaruh ucapan yang baik dan lemah lembut. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar mendatangi Fir’aun dengan lemah lembut. Meskipun Fir’aun itu zalim, congkak, dan kejam, Allah memerintahkan rasul-Nya agar berbicara kepadanya dengan lemah lembut. Allah menjelaskan alasannya dalam al-Qur’an:

    “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaha: 43-4).

    Ayat-ayat ini memberitahukan kepada orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus mereka terapkan terhadap orang-orang kafir, musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang sombong. Tentu saja ini mendorong kepada kesabaran, kemauan, kesopanan, dan kebijakan. Allah telah mengungkapkan sebuah rahasia bahwa Dia akan menjadikan perbuatan orang-orang beriman itu akan menghasilkan manfaat dan akan mengubah musuh-musuh menjadi teman jika mereka menaati perintah-Nya dan menjalankan akhlak yang baik.

    Wallohu a’alam bis-shawab,-

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 17 January 2015 Permalink | Balas  

    ayo-sedekahTujuan Membelanjakan Harta di Jalan Allah

    Salah satu amal ibadah yang terpenting yang dapat membersihkan kotoran kebendaan dan keruhanian, dan sebagai latihan bagi ruhani sehingga seseorang dapat mencapai derajat akhlak yang tinggi sehingga Allah akan ridha kepadanya adalah membelanjakan harta di jalan Allah. Allah telah berfirman kepada Nabi saw. agar mengambil zakat dari harta benda orang-orang beriman untuk membersihkan dan menyucikan harta tersebut.

    “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (Q.s. at-Taubah: 103).

    Meskipun demikian, perbuatan membelanjakan harta yang dapat membersihkan dan menyucikan orang-orang adalah jika dilakukan berdasarkan ketentuan yang telah disebutkan dalam al-Qur’an. Orang-orang beranggapan bahwa mereka telah menunaikan tugas mereka ketika mereka memberikan sejumlah uang yang sangat sedikit yang diberikan kepada pengemis, memberikan pakaian bekas kepada orang miskin, atau memberi makan kepada orang yang lapar. Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang akan memperoleh pahala dari Allah jika niatnya untuk mencari ridha Allah. Namun sesungguhnya ada batas-batas yang telah ditentukan dalam al-Qur’an. Misalnya, Allah memerintahkan manusia agar menginfakkan apa saja yang melebihi keperluannya:

    “Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (Q.s. al-Baqarah: 219).

    Manusia hanya memerlukan sedikit saja untuk memenuhi keperluan hidupnya di dunia. Harta benda yang di luar keperluan seseorang adalah harta yang berlebih. Yang terpenting bukan jumlah yang diberikan, tetapi apakah ia memberikannya dengan ikhlas atau tidak. Allah mengetahui segala sesuatu dan Dia telah memberi hati nurani kepada manusia untuk menetapkan hal-hal yang sesungguhnya tidak diperlukan. Menginfakkan harta benda merupakan bentuk ibadah yang mudah bagi orang-orang yang tidak dihinggapi ketamakan terhadap dunia dan yang tidak mengejar dunia, tetapi merindukan akhirat. Allah telah memerintahkan kita untuk menginfakkan sebagian dari harta kita untuk menjauhkan cinta dunia. Menginfakkan harta benda merupakan sarana untuk membersihkan diri dari sifat tamak. Tidak diragukan lagi bahwa bentuk ibadah ini sangat penting bagi orang-orang yang beriman dalam kaitannya dengan perhitungan di akhirat. Rasulullah saw. juga bersabda bahwa orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah akan dirahmati Allah:

    “Dua manusia akan dirahmati: Yang pertama adalah orang yang diberi oleh Allah al-Qur’an dan ia hidup berdasarkan al-Qur’an itu. Ia menganggap halal apa saja yang dihalalkan, dan menganggap haram apa saja yang diharamkan. Yang lain adalah orang yang diberi harta oleh Allah, dan harta itu dibelanjakannya kepada sanak keluarga dan dibelanjakan di jalan Allah.

    Manusia Harus Memberikan Apa yang Ia Cintai kepada Orang Miskin

    Orang sering kali cenderung memberikan sesuatu jika sesuatu yang diberikan itu tidak merugikan kepentingannya. Misalnya, ketika seseorang memberikan harta bendanya kepada orang miskin, sering kali ia memberikan sesuatu yang tidak lagi diperlukannya dan tidak disukainya, sudah ketinggalan mode, atau tidak layak pakai. Tampaknya orang merasa berat untuk memberikan harta benda yang dicintainya, padahal sesungguhnya kedermawanan seperti ini sangat penting untuk membersihkan diri dan agar mencintai amal kebajikan. Ini merupakan rahasia penting yang diungkapkan Allah kepada umat manusia. Allah telah menyatakan bahwa tidak ada cara lain untuk mencapai kebajikan bagi manusia kecuali melalui:

    “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Q.s. Ali Imran: 92).

    “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.s. al-Baqarah: 267).

    Membelanjakan Harta di Jalan Allah sebagai Sarana Agar Dekat Dengan-Nya

    Bagi orang yang beriman, tidak ada sesuatu pun yang lebih dirindukan daripada memperoleh keridhaan Allah dan dicintai oleh-Nya. Orang yang beriman berusaha mencari asbab untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam hidupnya. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

    Sebagai sebuah rahasia dan berita gembira bagi orang-orang beriman, Allah mengungkapkan dalam al-Qur’an bahwa apa yang dibelanjakan akan menjadi asbab untuk mencapai kedekatan dengan-Nya. Dengan demikian bagi orang yang beriman, memberikan apa yang ia cintai dan yang melebihi keperluannya kepada orang-orang miskin tidaklah sulit, tetapi merupakan kesempatan berharga untuk membuktikan bahwa ia adalah orang yang taat dan cinta kepada Allah. Tentang hal ini Allah menyatakan sebagai berikut:

    “Dan diantara orang-orang Arab Badui ada orang yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, dan memandang apa yang dinafkahkannya itu sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. at-Taubah: 99).

    Apa Saja yang Dinafkahkan di Jalan Allah akan Memperoleh Balasan yang Baik

    Rahasia lain yang diungkapkan tentang membelanjakan harta seseorang di jalan Allah menurut al-Qur’an adalah, bahwa apa saja yang dinafkahkannya itu pasti akan memperoleh balasan. Ini merupakan janji Allah. Orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah tanpa takut akan menjadi miskin, akan memperoleh rahmat yang menakjubkan dalam kehidupan mereka. Apa saja yang dibelanjakan di jalan Allah akan diganjar sepenuhnya. Sebagian ayat yang menceritakan janji tersebut adalah sebagai berikut:

    “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka pahalanya itu untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Baqarah: 272).

    “Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Anfal: 60).

    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.s. Saba': 39).

    Orang-orang yang beriman hanya mengharapkan keridhaan Allah dan surga ketika mereka memberikan harta mereka; tetapi sebagai rahasia yang diungkapkan oleh Allah, apa saja yang mereka nafkahkan akan dikembalikan lagi kepada mereka. Pengembalian ini merupakan rahmat di dunia, dan di atas segalanya, Allah menyediakan surga bagi orang-orang yang beriman. Dalam pada itu, berkebalikan dengan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Allah akan mengurangi rezeki orang-orang yang bakhil dalam menafkahkan kekayaan mereka, atau orang yang suka mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak dan mengabaikan batasan-batasan Allah. Salah satu ayat yang berkaitan dengan masalah ini menceritakan tentang keadaan orang-orang yang memakan riba:

    “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Q.s. al-Baqarah: 276).

    Allah memberitahukan tentang keberuntungan yang akan didapatkan oleh orang-orang yang memberikan harta mereka sebagai berikut:

    “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 261).

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakitinya, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

    “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265).

    Dalam setiap ayat tersebut terdapat rahasia yang diungkapkan Allah kepada orang-orang yang beriman dalam al-Qur’an. Orang-orang yang beriman memberikan harta benda mereka hanya untuk mencari keridhaan dan rahmat Allah dan surga-Nya. Namun, menyadari tentang rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an, mereka juga mengharapkan rahmat dan karunia Allah. Semakin banyak mereka memberikan hartanya di jalan Allah, dan semakin mereka memperhatikan apa yang diharamkan dan yang dihalalkan, Allah akan semakin menambah kekayaan mereka, tugas-tugas mereka dijadikan mudah, dan Allah memberikan kesempatan yang semakin banyak untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah. Setiap orang beriman yang bertakwa kepada Allah dan dalam hatinya tidak ada kekhawatiran terhadap masa depan, ia akan memahami rahasia ini dalam kehidupannya.

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 16 January 2015 Permalink | Balas  

    shalatShalat Berjamaah

    Arsip Fiqh

    Hukum Shalat Berjamaah

    Shalat berjamaah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada uzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadis-hadis yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya adalah sebagai berikut.

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Telah datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’ Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara azan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)’.” (HR Muslim).

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka itu mengetahui pahala kedua shalat tersebut, pasti mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Aku pernah berniat memerintahkan shalat agar didirikan kemudian akan kuperintahkan salah seorang untuk mengimami shalat, lalu aku bersama beberapa orang sambil membawa beberapa ikat kayu bakar mendatangi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat berjamaah, dan aku akan bakar rumah-rumah mereka itu.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Abu Darda Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah berkumpul tiga orang, baik di suatu desa maupun di dusun, kemudian disana tidak dilaksanakan shalat berjamaah, terkecuali syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu senantiasa bersama jamaah (golongan yang banyak), karena sesungguhnya srigala hanya akan memangsa domba yang jauh terpisah (dari rombongannya”. (HR Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan lainnya, hadis hasan).

    Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa mendengar panggilan azan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, terkecuali karena uzur (yang dibenarkan dalam agama).” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan lainnya, hadis sahih).

    Dari Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam mengajari kami sunnah-sunnah (jalan-jalan petunjuk dan kebenaran) dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikumandangkan azan di dalamnya.” (HR Muslim).

    Keutamaan Shalat Berjamaah

    Shalat berjamaah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar. Banyak sekali hadis-hadis yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

    Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Shalat berjamaah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ‘Shalat seseorang dengan berjamaah lebih besar pahalanya sebanyak 25 atau 27 derajat daripada shalat di rumahnya atau di pasar (maksudnya shalat sendirian). Hal itu dikarenakan apabila salah seorang di antara kamu telah berwudu dengan baik kemudian pergi ke masjid, tidak ada yang menggerakkan untuk itu kecuali karena dia ingin shalat, maka tidak satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali dengannya dinaikkan satu derajat baginya dan dihapuskan satu kesalahan darinya sampai dia memasuki masjid. Dan apabila dia masuk masjid, maka ia terhitung shalat selama shalat menjadi penyebab baginya untuk tetap berada di dalam masjid itu, dan malaikat pun mengucapkan shalawat kepada salah seorang dari kamu selama dia duduk di tempat shalatnya. Para malaikat berkata, ‘Ya Allah, berilah rahmat kepadanya, ampunilah dia dan terimalah taubatnya.’ Selama ia tidak berbuat hal yang mengganggu dan tetap berada dalam keadaan suci.” (Muttafaq ‘alaih).

    Shalat berjamaah bisa dilaksanakan dengan seorang makmum dan seorang imam, sekalipun salah seorang di antaranya adalah anak kecil atau perempuan. Semakin banyak jumlah jamaah dalam shalat semakin disukai oleh Allah Subhanahu wa Taala.

    Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhuma, ia berkata, “Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimunah (salah satu istri Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam), kemudian Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam bangun untuk shalat malam, maka aku pun ikut bangun untuk shalat bersamanya, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di samping kanannya.” (Muttafaq ‘alaih).

    Dari Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiallaahu anhuma, keduanya berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa bangun di waktu malam hari kemudian dia membangunkan isterinya, kemudian mereka berdua shalat berjamaah, maka mereka berdua akan dicatat sebagai orang yang selalu berdzikir kepada Allah.” (HR Abu Daud dan al-Hakim, hadis sahih).

    Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiallaahu anhu, “Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid sedangkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam sudah shalat bersama para sahabatnya, maka beliau pun bersabda, ‘Siapa yang mau bersedekah untuk orang ini, dan menemaninya shalat.’ Lalu berdirilah salah seorang dari mereka kemudian dia shalat bersamanya.” (HR Abu Daud dan at-Tirmidzi, hadis sahih).

    Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallaahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Shalat seseorang bersama orang lain (berdua) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang ditemani oleh dua orang lain (bertiga) lebih besar pahalanya dan lebih menyucikan daripada shalat dengan ditemani satu orang (berdua), dan semakin banyak (jumlah jamaah) semakin disukai oleh Allah Taala.” (HR Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai, hadis hasan).

    ***

    Kiriman Sahabat Arland

     
  • erva kurniawan 1:15 am on 15 January 2015 Permalink | Balas  

    air mataPetuah bagi Ahli Maksiat

    Suatu saat seorang ahli hikmah, Ibrahim bin Adham didatangi orang yang mengaku ahli maksiat. Ia mengutarakan niatnya untuk keluar dari kubangan dunia hitam. Ibrahim bin Adham memberikan nasihatnya, seraya berkata,

    “Jika ingin menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka tak mengapa kamu meneruskan kesukaanmu berbuat maksiat.”

    Mendengar perkataan Ibrahim, ahli maksiat dengan penasaran bertanya, “Ya, Abu Ishaq (panggilan Ibrahim bin Adham) apa syaratnya?”

    Ibrahim bin Adham berkata, “Pertama, jika ingin melakukan maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan rezeki-Nya.”

    “Lalu, aku harus makan dari mana? Bukankah semua yang di bumi ini rezeki Allah?” kata sang ahli maksiat penuh keheranan.

    Ibrahim bin Adham berkata lagi, “Ya, kalau sudah menyadarinya, masih pantaskah kamu memakan rezeki-Nya, sedangkan kamu melanggar perintah-perintah-Nya. Kemudian syarat kedua, kalau ingin bermaksiat kepada-Nya, maka jangan tinggal di bumi-Nya.”

    “Ya, Abu Ishaq, kalau demikian, aku tinggal di mana? Bukankah semua bumi dan isinya ini kepunyaan Allah?” kata lelaki itu.

    “Ya Abdullah, renungkanlah olehmu, apakah masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sedangkan kamu masih hendak melanggar perintah-Nya?” kata Ibrahim.

    “Ya, benar,” tutur lelaki itu tertunduk pasrah,

    Ibrahim bin Adham kembali berkata, “Syarat ketiga, kalau ingin juga bermaksiat, mau makan rezeki-Nya dan tingal di bumi-Nya, maka carilah suatu tempat yang tersembunyi dan tidak dilihat-Nya.”

    “Ya, Abu Ishaq, mana mungkin Allah SWT tidak melihat kita?” ujarnya.

    Sang ahli maksiat pun terdiam merenungkan petuah-petuah Ibrahim. Lalu ia kembali bertanya, “Ya, Abu Ishaq, kini apa lagi syarat keempat?”

    “Kalau malaikat datang hendak mencabut ruhmu, katakanlah, ‘Undurlah kematianku. Aku ingin bertaubat dan melakukan amal shalih’,” kata Ibrahim.

    “Ya Abu Ishaq, mana mungkin malaikat maut akan mengabulkan permintaanku itu,” jawab lelaki itu. “Baiklah, ya Abu Ishaq. Sekarang syarat kelimanya apa lagi?” tanyanya lagi.

    “Kalau malaikat Zabaniyah hendak membawamu ke neraka di hari kiamat, janganlah kamu mau ikut bersamanya!”

    “Ya, Abu Ishaq, jelas mereka (malaikat Zabaniyah) tidak mungkin membiarkan aku menolak kehendak-Nya,” ujar lelaki itu.

    “Kalau demikian, jalan apa lagi yang dapat menyelamatkan dirimu ya Abdullah?” tanya Ibrahim bin Adham.

    “Ya Abu Ishaq, cukuplah! Cukup! Jangan engkau teruskan lagi. Mulai detik ini aku beristighfar dan bertaubat pada Allah,” ujar lelaki itu sambil menangis penuh penyesalan.

    ***

    Affan Madjrie (sabili)

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 14 January 2015 Permalink | Balas  

    korupsiHukum Ghulul

    Oleh: Azhari

    Pengertian, kriteria dan hukumnya

    Harta Ghulul adalah harta yang diperoleh oleh pejabat (pemerintah atau swasta) melalui kecurangan atau tidak syar’i, baik yang diambil harta negara maupun masyarakat.

    Barangsiapa yang berbuat curang, pada hari kiamat ia akan datang membawa hasil kecurangannya (Ali-Imran 161).

    Harta ghulul terdiri dari 4 macam:

    1. Suap (risywah)

    Setiap harta yang diberikan kepada pejabat atas suatu kepentingan, padahal semestinya urusan tersebut tanpa pembayaran.

    1. Hadiah (hibah)

    Hadiah yang diberikan kepada pejabat (mirip suap) agar memperoleh penghargaan, penilaian istimewa atau keuntungan dikemudian hari.

    Rasulullah mengangkat Ibnu Utabiyah untuk menarik zakat Bani Sulaim. Setelah kembali dan menghadap Rasulullah, Ibnu Utabiyah berkata: “Ini untuk engkau dan ini adalah hadiah yang diberikan orang kepada saya, lalu Rasulullah bersabda:

    Ini adalah (harta) untuk anda, dan ini (harta yang) dihadiahkan kepadaku. (Jika memang benar itu hadiah) apakah tidak sebaiknya ia duduk saja dirumah bapak atau ibunya, lalu (lihat) apakah hadiah itu akan diberikan kepadanya atau tidak?. Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, tidak akan ia membawa sesuatu melainkan dihari Kiamat nanti ia akan memikul (kesalahannya) diatas pundaknya (HR Bukhari No. 1922). 2)

    1. Komisi (‘amulah)

    Harta yang diperoleh hasil balas jasa transaksi antara pejabat dengan supplier pemerintah.

    1. Korupsi

    Mengambil harta negara yang bukan haknya atau melakukan mark-up suatu project pemerintah.

    Semua harta ini (4 jenis diatas) haram diambil dan harus dikembalikan kepada pemiliknya, penyuap, penerima suap dan perantaranya harus dihukum. 9)

    Rasulullah saw melaknat penyuap, penerima suap dan orang yang menyaksikan penyuapan (HR Imam Ahmad).

    Dengan demikian dapat dipahami bahwa jika seseorang untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan telah dibayar maka apapun selain itu bukan menjadi haknya dan haram mengambilnya. Begitu juga, jika dia memanfaatkan harta perusahaan atau negara untuk kepentingan pribadinya, dalam hal ini ia telah mengambil sesuatu yang bukan haknya secara bathil dan haram hukumnya. Misal, seorang karyawan menerima souvenir sebuah pulpen, parcel diakhir tahun, amplop yang berisi uang atau uang komisi yang biasanya langsung ditransfer, mengambil harta perusahaan/negara, melakukan mark-up suatu transaksi, dan lain-lain.

    Siapa saja yang kami beri tugas melakukan sesuatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rizki (gaji) maka yang diambil olehnya selain itu adalah kecurangan (HR Abu Dawud).

    Lantas bagaimana dengan pejabat (eksekutif, legislatif dan yudikatif) yang menerima hadiah agar diterimanya laporan pertanggung-jawaban Gubernur, agar tidak diusiknya kecurangan pengusaha, agar tidak terlalu kritis kepada pemerintah (daerah maupun pusat), agar dipermudahnya membuka usaha, diperlancarnya semua urusan dipemerintahan, dan lain sebagainya. Baik hadiah tersebut berupa uang (transfer atau amplop), rumah, kavling tanah, mobil, TV dan barang lainnya, semua ini harta haram dan keharamannya berlaku bagi penerima suap, sipenyuap dan perantaranya.

    Sungguh pedih siksa Allah bagi kasus suap ini, jika hasil suap itu untuk memenuhi kebutuhan makanan, maka daging yang berasal dari hasil suap akan dibakar oleh api neraka. Jika hasil suap itu digunakan untuk membeli harta benda, maka harta itu harus dibopong dipundaknya diakhirat nanti. 8) Jika mereka menerimanya berupa kavling tanah maka sungguh tidak terbayangkan jika harus membopong kavling tanah dipundak mereka. Na’udzubillah.

    Setiap daging yang tumbuh dari usaha yang haram maka neraka lebih pantas baginya (HR Ahmad).

    Bahwa Rasulullah saw pernah mengangkatnya sebagai petugas pengumpul zakat. Beliau bersabda: “Wahai Abu Mas’ud, berangkatlah, semoga pada hari kiamat kelak aku tidak akan mendapatimu datang dalam keadaan punggungmu memikul seekor unta shadaqah yang meringkik-ringkik yang engkau curangi. Aku mejawab: “Jika demikian aku tidak jadi berangkat”. Beliau menjawab: “Aku tidak memaksamu” (HR Abu Dawud).

    Bagaimana pula, jika harta suap tersebut dinikmati oleh keluarganya. Ia-pun tetap harus mempertanggung jawabkan apa yang dimakan dan digunakan oleh keluarganya, keluarganya tidak berdosa jika mereka tidak tahu bahwa itu harta haram tetapi ikut berdosa jika tahu bahwa itu harta haram (dosa atas menikmati harta haram bukan dosa sebagai penerima suap). 8) Bagaimana pula jika harta itu diinfaqkan kepada mesjid, fakir miskin, panti Asuhan, dan lain-lain, hal ini tetap harus dipertanggung-jawabkan. Dan Allah tidak menghargai bagusnya niat dan mulianya tujuan, jika cara kerjanya diharamkan, menafkahkan harta haram tidak sah menurut Islam. 7) Sungguh suatu kedzaliman menafkahi anak istri atau memberi infaq kepada fakir miskin dengan harta haram.

    Dan, sembahlah selain Dia (Allah) sesuka kamu, katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah mereka yang merugikan dirinya dan keluarganya pada hari kiamat. Bukankah yang demikian itu merupakan kerugian yang nyata (Az-Zumar 15).

    Sesungguhnya Allah itu thayib (baik), tidak menerima (suatu amal) kecuali yang baik (halal) (HR Muslim).

    Allah melarang kita untuk mencampur-adukkan antara yang haq (memberi nafkah atau infaq) dengan yang bathil (menggunakan harta haram).

    Dan janganlah kamu campur-adukkan antara yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui (Al-Baqarah 42).

    Walhasil, agar berhati-hati dalam mencari nafkah dan lebih baik berhenti sejenak memastikan harta itu halal atau haram sebelum mengambilnya. Dan mulailah dari hal-hal yang kecil dahulu semisal apakah pulpen kantor yang kita pakai digunakan juga untuk kepentingan pribadi?, apakah pulsa HP yang dibayar kantor digunakan juga untuk kepentingan pribadi?, apakah masih menerima souvenir indah (pulpen, jam meja, kalkulatror, dan lain-lain) dari Supplier (klien)?, apakah masih menerima parcel akhir tahun dari supplier?, dan lain-lain. Sehingga jika menerima yang lebih besar berupa suap atau komisi akan mantap untuk menolaknya. Begitulah orang yang bertaqwa, sangat berhati-hati melangkah bagaikan berjalan diatas batu yang tajam.

    Pembuktian dan sanksinya

    Hukum pembuktian dalam Islam sama halnya dengan hukum syara’ yang lain, merupakan hukum yang digali dari dalil yang bersifat rinci. Hukum pembuktian kadang-kadang terjadi pada kasus pidana (‘uqubat), kadang terjadi pula pada kasus-kasus perdata (mu’amalat).

    Bukti itu ada empat dalam Islam, yakni: pengakuan, sumpah, kesaksian dan dokumen-dokumen tertulis. Sedangkan indikasi (qarinah) tidak termasuk bukti.

    Pengakuan

    Pengakuan dari pelaku bahwa ia telah mengambil harta ghulul dan seorang Qadhi harus meneliti kebenaran pengakuannya itu, seperti halnya Rasulullah meneliti pengakuan zina oleh Al-Aslami (apakah engkau menyetubuhinya?, apakah seperti anak celak masuk kedalam celak?, apakah seperti timba masuk kedalam sumur? – HR Abu Dawud dan Daruquthni). Hal ini untuk memastikan bahwa ia benar-benar telah melakukannya.

    Sumpah

    Hal ini merupakan kelanjutan dari pengakuan , ia harus bersumpah atas perbuatan tersebut benar-benar telah dilakukannya. Sumpah ini atas permintaan Qadhi,

    Sumpah itu wajib didasarkan pada niat orang yang meminta (HR Muslim).

    Kesaksian

    Dalam banyak ayat dan hadits dijelaskan bahwa pada umumnya kasus ‘uqubat dan mu’amalat dengan menghadirkan 2 orang saksi laki-laki, seperti: kasus jual beli (Al-Baqarah 282), wasiat (Al-Maidah 106), Talak dan rujuk (Ath-Thalaq 2), temuan luaqathah (HR Imam Ahmad), dan lain-lain, kecuali kasus zina dengan 4 orang saksi. Sedangkan jika tidak ada saksi laki-laki maka dapat diganti dengan 2 orang saksi wanita.

    Kesaksian inipun harus disaksikan langsung oleh pemberi saksi (al-mu’ayanah), melalui panca indranya. Dan dilakukan dihadapan Qadhi pada sidang pengadilan, diluar pengadilan tidak syah.

    Dokumen

    Dokumen-dokumen yang ditanda-tangani oleh pemiliknya sendiri baik dihadapan instansi resmi maupun tidak, dokumen ini merupakan pengakuan tertulis dan tidak berbeda dengan pengakuan lisan. Begitu juga dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh Badan resmi dapat dijadikan bukti dipengadilan, salinan (copy) dokumen tidak dapat dijadikan bukti selama belum ada pengesahan dari Badan yang mengeluarkan. 9)

    Hukuman sanksi (‘uqubat) terdiri dari 4 macam: had, qishash, ta’zir dan mukhallafat. Sedangkan sanksi (‘uqubat) bagi pelaku ghulul adalah ta’zir (bukan had), karena harta yang dicuri merupakan harta yang syubhat (harta negara/baitul mal) dan merupakan harta milik umum, sama halnya anak mencuri harta bapaknya, istri mencuri harta suaminya maka tidak dikenai had tetapi ta’zir. Ta’zir adalah pelanggaran atas hukum syara’ (wajib dan haram), tetapi belum ditetapkan kadar sanksinya secara syar’i maka diserahkan kepada penguasa (qadhi/khalifah) untuk menetapkan sanksinya.

    Sanksi ta’zir bisa berupa hukuman mati, jilid (cambuk), penjara, pengasingan, dan lain-lain. dan sanksi ini merupakan penebus dosa bagi pelakunya, disamping itu sanksi ini sebagai pencegah agar masyarakat tidak melakukan hal yang sama. Tetapi sebelum sanksi ta’zir dilakukan maka harta ghulul harus dikembalikan terlebih dahulu kepada pemiliknya. Jika barangnya telah rusak/cacat/berkurang maka harus dikembalikan dengan barang lain yang senilai harganya.

    Barangsiapa menemukan barangnya terdapat pada seorang laki-laki maka ia yang paling berhak terhadap barang tersebut, dan orang yang menjualnya harus mengembalikan barang jualannya itu (HR Abu Dawud).

    Dalam hal ini putusan Qadhi tidak mengubah hakikat hukum syari’at, yakni tidak dapat merubah haram menjadi halal atau sebaliknya. Hakim hanya dapat menghukumi apa yang dapat dilihat, didengar dan disaksiikan para saksi, dan Qadhi manusia biasa yang bisa saja salah.Jika keputusannya salah maka Qadhi memperoleh satu pahala, sedangkan dosanya ditanggung oleh penipunya. 1)

    Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain diantara kalian dengan cara bathil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui (Al-Baqarah 188).

    Wallahua’lam,

    Maraji’:

    1. Tafsir Ibnu Katsir
    2. Tafsir Fi zhilalil Quran oleh Sayyid Quthb
    3. Shahih Bukhari
    4. Hukum pembuktian dalam Islam (Ahkamul bayyinat) oleh Ahmad ad-Da’ur
    5. Sistem sanksi dalam Islam (Nidzamul ‘uqubat) oleh Abdurrahman al-Maliki
    6. Halal haram dalam Islam oleh DR Yusuf Qaradhawi
    7. Anatomi masyarakat Islam oleh DR Yusuf Qaradhawi
    8. Halal dan haram oleh Mutawalli Sya’rawi
    9. Sistem keuangan dinegara Khilafah (Al-amwal fi daulah al-Khilafah) oleh Abdul Qadim Zallum
     
  • erva kurniawan 1:11 am on 13 January 2015 Permalink | Balas  

    Rahasia Mengapa Allah Menghapus Perbuatan Buruk Orang orang… 

    ampunRahasia Mengapa Allah Menghapus Perbuatan Buruk

    Orang-orang beriman bercita-cita memperoleh keridhaan, kasih sayang, dan surga Allah. Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa sehingga manusia melakukan banyak kesalahan dan memiliki banyak kelemahan. Allah Yang Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Pengasih dan Penyayang memberitahukan kita bahwa Dia akan menghapus perbuatan buruk dari hamba-Nya yang ikhlas dan akan memberikan kepada mereka pemeriksaan yang mudah:

    “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira.” (Q.s. al-Insyiqaq: 7-9).

    Tentu saja Allah tidak mengubah perbuatan buruk setiap orang menjadi kebaikan. Adapun sifat orang-orang beriman yang perbuatan buruknya dihapus Allah dan diampuni-Nya diberitahukan dalam al-Qur’an.

    Orang-orang yang Menjauhi Dosa-dosa Besar

    Dalam sebuah ayat Allah menyatakan:

    “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (Q.s. an-Nisa': 31).

    Orang-orang yang beriman yang mengetahui fakta ini berbuat dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan batas-batas yang ditetapkan Allah, dan mereka menghindari hal-hal yang dilarang. Jika mereka melakukan kesalahan karena kealpaannya, mereka segera berpaling kepada Allah, bertobat, dan memohon ampunan.

    Allah memberitahukan kita dalam al-Qur’an tentang hamba-hamba-Nya yang tobatnya akan diterima. Dalam hal ini, jika kita mengetahui perintah Allah, namun dengan sengaja kita melakukan dosa dan berkata, “Tidak apa-apa, apa pun yang terjadi saya akan diampuni.” Perkataan ini benar-benar menunjukkan cara berpikir yang salah, karena Allah mengampuni perbuatan dosa hamba-hamba-Nya yang dilakukan karena kealpaan dan ia segera bertobat dan tidak berniat mengulanginya lagi:

    “Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketidaktahuan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertobat sekarang.’ Dan tidak pula orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (Q.s. an-Nisa': 17-8).

    Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, menjauhi perbuatan dosa dengan sungguh-sungguh sangatlah penting jika seseorang ingin perbuatan-perbuatan buruknya dihapuskan, dan jika tidak menginginkan penyesalan pada hari pengadilan kelak. Dalam pada itu, seorang beriman yang melakukan suatu dosa, hendaknya secepatnya memohon ampun kepada Allah.

     

    Orang-orang yang Sibuk Mengerjakan Amal Saleh

    Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi perbuatan buruk orang-orang yang beramal saleh. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:

    “Pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taghabun: 9).

    “Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu kejahatan mereka diganti dengan Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Furqan: 70).

    Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan untuk mencari karunia Allah adalah “amal saleh”. Misalnya, perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia, memperingatkan seseorang yang tidak mau bertawakal kepada Allah atas takdirnya, menjauhi seseorang dari menggunjing, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih, memperluas wawasan dengan membaca dan belajar, berbicara dengan sopan, mengingatkan orang tentang akhirat, merawat orang sakit, menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada yang lebih tua, mencari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain, mencegah kejahatan dengan kebaikan dan kesabaran, semua itu merupakan amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah.

    Orang-orang yang menginginkan agar kesalahannya diampuni dan diganti dengan kebaikan di akhirat, hendaknya selalu melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah. Untuk tujuan itu, hendaknya kita selalu ingat perhitungan pada Hari Pengadilan. Tentunya menjadi jelas bagaimanakah seseorang seharusnya berbuat, misalnya jika ia diletakkan di depan api neraka, kemudian kepadanya diperlihatkan perbuatan-perbuatan buruknya yang telah ia kerjakan semasa hidupnya, kemudian diingatkan bahwa ia seharusnya berbuat benar agar diampuni.

    Seseorang yang melihat api neraka, yang mendengar keputusasaan, penyesalan, dan keluh kesah para penghuni neraka yang mengalami siksaan yang pedih, dan yang menyaksikan siksa neraka dengan matanya, tentu saja akan melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah dan akan berusaha dengan sekuat tenaganya. Orang ini akan mengerjakan shalat tepat pada waktunya, melakukan amal saleh, tidak akan pernah lalai, tidak pernah berani melakukan perbuatan yang kurang diridhai Allah, jika ia mengetahui bahwa ada perbuatan lainnya yang lebih diridhai-Nya. Karena neraka yang ada di sisinya akan selalu mengingatkannya tentang kehidupan yang kekal abadi dan siksaan Allah. Ia akan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya. Ia akan berhati-hati dalam menjaga shalatnya. Sehingga, dalam kehidupan di dunia ini, perbuatan buruk bagi orang-orang yang melakukan amal saleh, takut kepada Allah dan hari pengadilan, bagaikan orang yang melihat neraka lalu dikembalikan ke dunia, atau bagaikan mereka selalu melihat api neraka di sisinya sehingga ia segera melakukan kebaikan. Orang-orang yang beriman ini merasa yakin tentang akhirat dan mereka sangat takut dengan azab Allah dan berusaha menjauhinya.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 12 January 2015 Permalink | Balas  

    sholat 4Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Shalat

    Arsip Fiqh

    Hal-hal yang dimakruhkan di dalam shalat adalah sebagai berikut.

    1. Menengadahkan pandangan ke atas. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Apa yang membuat orang-orang itu mengangkat penglihatan mereka ke langit dalam shalat mereka? Hendaklah mereka berhenti dari hal itu atau (kalau tidak), niscaya akan tersambar penglihatan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dengan makna yang sama)
    2. Meletakkan tangan di pinggang. Hal ini berdasarkan larangan Rasulullah saw meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. (Muttafaq ‘alaih)
    3. Menoleh atau melirik, terkecuali apabila diperlukan. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah ra. Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang seseorang yang menoleh dalam keadaan shalat, beliau menjawab,

    “Itu adalah pencurian yang dilakukan setan dari shalat seorang hamba.” (HR Bukhari dan Abu Daud)

    1. Melakukan pekerjaan yang sia-sia, serta segala perbuatan yang membuat orang lalai dalam shalatnya atau menghilangkan kekhusyuan shalatnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Hendaklah kamu tenang dalam melaksanakan shalat.” (HR Muslim)
    2. Menaikkan rambut yang terurai atau melipatkan lengah baju yang terulur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan dan tidak boleh melipat baju atau menaikkan rambut (yang terulur).” (Muttafaq ‘alaih)
    3. Menyapu kerikil yang ada di tempat sujud (dengan tangan) dan meratakan tanah lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw, “Dari Mu’aiqib, ia berkata, ‘Rasulullah saw menyebutkan tentang menyapu di masjid (ketika shalat), maksudnya menyapu kerikil (dengan telapak tangan). Beliau bersabda, ‘Apabila memang harus berbuat begitu, maka hendaklah sekali saja’.” (HR Muslim)

    Dari Mu’aiqib pula, bahwa Rasulullah saw bersabda tentang seseorang yang meratakan tanah pada tempat sujudnya (dengan telapak tangan), beliau bersabda, “Kalau kamu melakukannya, maka hendaklah sekali saja.” (Muttafaq ‘alaih)

    1. Mengulurkan/menjulurkan pakaian sampai mengenai lantai dan menutup mulut (tanpa alasan).

    Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah saw melarang mengulurkan/menjulurkan pakaian sampai mengenai lantai dalam shalat dan menutup mulut.” (HR Abu Daud, Tirmizi dan lainnya, hadis hasan)

    Adapun jika menutup mulut karena suatu hal, seperti menguap ataupun yang lainnya maka hal tersebut dibolehkan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.

    1. Shalat di hadapan makanan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan.” (HR Muslim)
    2. Shalat sambil menahan buang air kecil atau besar dan sebagainya yang mengganggu ketenangan hati. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Tidak sempurna shalat (yang dikerjakan setelah) makanan dihidangkan dan shalat seseorang yang menahan buang air kecil dan besar.” (HR Muslim)
    3. Shalat ketika sudah terlalu mengantuk. Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu ada yang mengantuk dalam keadaan shalat, maka hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Maka sesungguhnya apabila salah seorang di antara kamu ada yang shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak akan tahu apa yang ia lakukan, barangkali ia bermaksud minta ampun kepada Allah, ternyata dia malah mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)
    4. Berpanca atau mengait-ngaitkan jari-jari tangan. Hal ini karena Nabi saw pernah melihat seorang laki-laki mengait-ngaitkan jari-jemarinya diwaktu shalat yang kemudian dilepaskan oleh beliau. (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)
    5. Melihat sesuatu yang dapat melalaikan hati. Diriwayatkan dari Aisyah bahwasannya dia berkata bahwa Rasulullah saw shalat dengan memakai kain (baju) yang terbuat dari bulu wol bergaris-garis, lalu beliau bersabda, “Garis-garis baju ini membuat lalai. Karena itu, bawalah baju ini kepada Abu Jahm dan tukarkanlah dengan baju bulu yang kasar dan polos. (HR Syaikhan/Bukhari-Muslim)

    Referensi:

    • Tuntunan Shalat Menurut Alquran & As-Sunah, Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin
    • Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir ar-Rahbawi

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 11 January 2015 Permalink | Balas  

    wudhu-4Wajah Orang-Orang Beriman Bercahaya, dan Wajah Orang-Orang Kafir Diliputi Kehinaan

    Salah satu rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa keimanan dan kekufuran tercermin di wajah dan kulit manusia. Di beberapa ayat, Allah memberitahukan bahwa terdapat cahaya di wajah orang-orang beriman, sedangkan wajah orang-orang kafir diliputi kehinaan:

    “Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu (Q.s. asy-Syura: 45).

    “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan ada tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan memperoleh balasan yang setimpal dan mereka diliputi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari azab Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. Yunus: 26-7).

    Sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat tersebut, wajah orang-orang kafir diliputi oleh kehinaan. Sebaliknya, wajah orang-orang beriman bercahaya. Allah menyatakan bahwa mereka dikenal karena adanya bekas sujud pada wajah mereka:

    “Muhammad itu adalah Utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (Q.s. al-Fath: 29).

    Dalam ayat-ayat lainnya, Allah memberitahukan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang yang berdosa dikenali dari wajah mereka:

    “Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.” (Q.s. ar-Rahman: 41).

    “Dan kalau kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Q.s. Muhammad: 30).

    Keajaiban dan rahasia penting yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah adanya perubahan fisik yang terjadi pada wajah seseorang. Hal itu tergantung pada keimanan dan dosa seseorang. Keadaan ruhani menghasilkan pengaruh fisik pada tubuh, sekalipun bentuknya tetap sama, namun ekspresi wajah dapat berubah, yakni wajahnya diliputi kegelapan atau cahaya. Jika Allah menghendaki, orang yang beriman dapat melihat keajaiban ini yang ditunjukkan kepada orang-orang.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:57 am on 10 January 2015 Permalink | Balas  

    al-quran 3Balasan Berakidah Islam

    Seorang yang berakidah Islam akam mendapatkan balasan dari keimanannya berupa kenikmatan dan kesenangan di Dunia, dan diakhirat. Hal ini merupakan janji Allah swt kepada kaum muslim. Kenikmatan dan kesenangan itu adalah sesutu yang pasti akan didapatkan oleh seorang muslim sebagai buah dari keimanannya kepada Allah swt, baik diharapkannya ataupun tidak diharapkannya. Akan tetapi keimanan itu harus senantiasa disertai dengan pelaksanaan segala konsekuensinya.

    A. Kenikmatan dan Kesenangan di Dunia

    1. Menjadi Golongan Terbaik dan Mulia

    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS Ali Imran 110

    “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” QS Ali Imran 139

    1. Jaminan Ketenangan dan Selalu Berani Bertindak

    “Katakanlah:”Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Alloh bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” QS At Taubah 51

    1. Jaminan Kecukupan rizki dan Menjadi Pewaris Bumi

    “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” QS Ath Thalaq 2-3

    “Dan sungguh telah kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) lauh Mahfudz, bahwasanya bumi ini diwariskan untuk hamba-hambaKu yang saleh” QS Al Anbiya 105

    “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” QS Al A’raf 96

    1. Kepuasan Akal

    Apabila jalan keimanan untuk mencapai akidah Islam yang hakiki telah dilalui dengan jalan berpikir yang cemerlang maka seorang muslim akan merasa terpuaskan akalnya. Dia akan tunduk dengan jawaban yang dipikirkannya secara cemerlang atas jawaban 3 pertanyaan yang mendasar (uqdatul kubro) pada manusia, dengan jawaban yang memuaskan dan shahih.

    1. Kemenangan atas Orang kafir

    “Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia menjadikan orang-orang yang sebelum mereka, telah berkuasa?” QS An Nuur :55

    “Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslim memerangi yahudi, kemudian kaum muslim memerangi mereka sampai akhirnya orang-orang yahudi (berlarian) berlindung di balik batu dan pepeohonan. Lalu batu dan pepohonan itu berkata, “wahai muslim?, wahai hamba Allah?, ini ada orang yahudi bersembunyi dibelakangku, kemari, dan bunuhlah dia.” HR Bukhari dan Muslim

    Masih banyak lagi ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rosulullah saw, yang memaparkan janji-janji Allah swt yang akan diperoleh kaum muslim di dunia. Akan tetapi tentu saja syarat pertama memperoleh segala kenikmatan dan kesenangan di dunia, oleh sebab dia seorang muslim, adalah memegang teguh keimanan terhadap akidah Islam. Rosulullah saw juga tidak berpangku tangan dalam urusan memberi nafkah untuk dirinya dan keluarganya, beliau juga sempat mencari kayu bakar pada saat akan memasak makanan dengan para sahabat, bahkan juga pernah dapur rumahnya tidak ada yang dimasak selama 3 hari berturut-turut.

    Semuanya itu adalah bukti bahwa seorang muslim akan senantisa mendapatkan kemenangan, kesenangan, kenikmatan di dunia ini selama mereka senantiasa menunaikan kausalitas pekerjaan tersebut. Bukankah mudah bagi Nabi saw untuk hanya menyuruh para malaikat menghancurkan musuh-musuhnya, mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya, bahkan kehidupan yang nikmat dan kesenangan dapat diraihnya laksana hidup di dalam istana yang megah dan mewah? Akan tetapi Rosulullah saw menunaikan aspek kausalitas dalam setiap perbuatannya. Adanya kesulitan, kesusahan, kesedihan, dan kesengsaraan yang sempat ditemui oleh seorang muslim bukanlah berarti segala kenikmatan dan kesenangan yang dijanjikan Allah swt itu dusta belaka. Walaupun sudah memegang teguh keimanan kepada akidah Islam. Akan tetapi bisa saja karena dirinya tidak memenuhi kausalitas perbuatan di dunia ini, atau Allah swt berkehendak mengujinya dan akan memberikan kenikmatan dan kesenangan itu diperolehnya di akhirat kelak. Hal ini membutuhkan kewaspadaan bagi seorang muslim, apabila seluruh aspek kausalitas telah dijaga dan ditunaikannya, maka segala apapun hasilnya adalah baik baginya. Walaupun kesengsaraan dan kesusahan merupakan hasil dari perbuatan tersebut, dia akan tetap merasa menang dan bahagia karena berarti kenikmatan di akhirat akan segera didapatinya. Namun bila aspek kausalitas tidak dijaga dan ditunaikannya, maka kehancuran akan didapatinya. Lebih lagi bila dia menggantungkan harapan kepada Allah swt tetapi kausalitas tidak ditunaikan maka di dunia akan menuai kehancuran dan di akhirat tidak akan mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan yang diharapkan.

    B. Kepastian Surga dan Kenikmatannya di Akhirat

    “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” QS. Ali Imran: 133

    “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” QS.Al Araf :50

    “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” QS.Maryam: 63

    “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa, dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” QS.Al Baqarah:25

    Dan masih banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menceritakan tentang kenikmatan surga yang disediakan bagi orang yang berakidah Islam Wallahu alam bish showab.

    ***

    Kiriman Sahabat Rachmat Kurnia

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 9 January 2015 Permalink | Balas  

    sabar (1)Terdapat Kebaikan Dalam Setiap Peristiwa

    Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak menyenangkan terdapat kebaikan di dalamnya:

    “Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.s. an-Nisa': 19).

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 216).

    Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat. Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan seluruh harta benda mereka. Mereka tetap bersyukur kepada Allah yang telah mengkaruniakan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda. Untuk itu, mereka bersyukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan keindahan untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderitaan yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memerlukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang. Dengan bertawakal sepenuhnya kepada Allah dan dengan menunjukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.

    Manusia harus mencari kebaikan dan keindahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misalnya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Seseorang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapannya pada masa depan. Bagaimanapun, hendaknya ia mengetahui bahwa terdapat kebaikan dalam kegagalannya ini. Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barangkali Allah menghendaki dirinya agar terhindar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menempatkan berbagai rahmat dalam setiap peristiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.

    Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.

    Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, “Seandainya saya tidak melakukan…” atau “Seandainya saya tidak berkata …,” dan sebagainya. Kesalahan, kekurangan, atau peristiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak menguntungkan, pada hakikatnya di dalamnya terdapat rahmat dan masing-masing merupakan ujian. Allah memberikan pelajaran penting dan mengingatkan manusia tentang tujuan penciptaan pada setiap orang. Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nuraninya, tidak ada kesalahan atau penderitaan, yang ada adalah pelajaran, peringatan, dan hikmah dari Allah. Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melakukan mawas diri, bahkan keimanannya menjadi lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.

    Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang mengenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami, tetapi yang dimintai tanggung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan ketakutan yang menghinggapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelaskan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “Kami berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati’.” (Q.s. al-Baqarah: 38).

    “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Q.s. Yunus: 62-4).

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:34 am on 8 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatKeutamaan Shalat

    Arsip Fiqh

    Shalat adalah ibadah yang utama dan berpahala sangat besar. Banyak hadits-hadits yang menerangkan hal itu, akan tetapi dalam kesempatan ini kita cukup menyebutkan beberapa, di antaranya sebagai berikut:

    1. Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang amal yang paling utama dalam hal shalat, beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” (Muttafaq ‘alaih)
    2. Sabda Rasulullah SAW, “Bagaimana pendapat kamu sekalian, seandainya di depan pintu masuk rumah salah seorang di antara kamu ada sebuah sungai, kemudian ia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari; apakah masih ada kotoran yang melekat di badannya?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotoran di badannya.” Bersabda Rasulullah SAW, “Maka begitu pulalah perumpamaan shalat lima kali sehari semalam; dengan shalat itu, Allah akan menghapus semua dosa.” (Muttafaq ‘alaih)
    3. Sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada seorang muslim pun yang ketika shalat fardhu telah tiba, kemudian dia berwudhu’ dengan baik dan memperbagus kekhusyu’annya (dalam shalat) serta ruku’nya, terkecuali hal itu merupakan penghapus dosanya yang telah lalu, selama dia tidak melakukan dosa besar, dan hal itu berlaku sepanjang tahun itu.” (HR. Muslim)
    4. Sabda Rasulullah SAW, “Pokok segala perkara itu adalah Al-Islam; dan tonggak Islam itu adalah shalat; dan puncak Islam itu adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya: hadits shahih)

    ***

    Referensi: Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.

    Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 7 January 2015 Permalink | Balas  

    tawakalRahasia Berserah Diri dan Bertawakal Kepada Allah

    Berserah diri kepada Allah merupakan ciri khusus yang dimiliki orang-orang mukmin, yang memiliki keimanan yang mendalam, yang mampu melihat kekuasaan Allah, dan yang dekat dengan-Nya. Terdapat rahasia penting dan kenikmatan jika kita berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan dirinya dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Allah telah menciptakan semua makhluk, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa – masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri dan takdirnya sendiri-sendiri. Matahari, bulan, lautan, danau, pohon, bunga, seekor semut kecil, sehelai daun yang jatuh, debu yang ada di bangku, batu yang menyebabkan kita tersandung, baju yang kita beli sepuluh tahun yang lalu, buah persik di lemari es, ibu anda, teman kepala sekolah anda, diri anda – pendek kata segala sesuatunya, takdirnya telah ditetapkan oleh Allah jutaan tahun yang lalu. Takdir segala sesuatu telah tersimpan dalam sebuah kitab yang dalam al-Qur’an disebut sebagai ‘Lauhul-Mahfuzh’. Saat kematian, saat jatuhnya sebuah daun, saat buah persik dalam peti es membusuk, dan batu yang menyebabkan kita tersandung – pendek kata semua peristiwa, yang remeh maupun yang penting – semuanya tersimpan dalam kitab ini.

    Orang-orang yang beriman meyakini takdir ini dan mereka mengetahui bahwa takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang terbaik bagi mereka. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupan mereka, mereka selalu berserah diri kepada Allah. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah menciptakan semua peristiwa ini sesuai dengan tujuan ilahiyah, dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh Allah. Misalnya, terserang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam, menghadapi tuduhan palsu padahal ia tidak bersalah, atau menghadapi peristiwa yang sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman, juga tidak menimbulkan rasa takut dalam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja yang telah diciptakan Allah untuk mereka. Orang-orang beriman menghadapi dengan kegembiraan keadaan apa saja, keadaan yang pada umumnya bagi orang-orang kafir menyebabkan perasaan ngeri dan putus asa. Hal itu karena rencana yang paling mengerikan sekalipun, sesungguhnya telah direncanakan oleh Allah untuk menguji mereka. Orang-orang yang menghadapi semuanya ini dengan sabar dan bertawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan, mereka akan dicintai dan diridhai Allah. Mereka akan memperoleh surga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada Tuhan mereka. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.s. Ali ‘Imran: 159)

    Rasulullah saw. juga menyatakan hal ini, beliau bersabda:

    “Tidaklah beriman seorang hamba Allah hingga ia percaya kepada takdir yang baik dan buruk, dan mengetahui bahwa ia tidak dapat menolak apa saja yang menimpanya (baik dan buruk), dan ia tidak dapat terkena apa saja yang dijauhkan darinya (baik dan buruk).”

    Masalah lainnya yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang bertawakal kepada Allah adalah tentang “melakukan tindakan”. Al-Qur’an memberitahukan kita tentang berbagai tindakan yang dapat dilakukan orang-orang yang beriman dalam berbagai keadaan. Dalam ayat-ayat lainnya, Allah juga menjelaskan rahasia bahwa tindakan-tindakan tersebut yang diterima sebagai ibadah kepada Allah, tidak dapat mengubah takdir. Nabi Ya’qub a.s. menasihati putranya agar melakukan beberapa tindakan ketika memasuki kota , tetapi setelah itu beliau diingatkan agar bertawakal kepada Allah. Inilah ayat yang membicarakan masalah tersebut:

    “Dan Ya’qub berkata, ‘Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan, namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri’.” (Q.s. Yusuf: 67).

    Sebagaimana dapat dilihat pada ucapan Nabi Ya’qub, orang-orang yang beriman tentu saja juga mengambil tindakan berjaga-jaga, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengubah takdir Allah yang dikehendaki untuk mereka. Misalnya, seseorang harus mengikuti aturan lalu lintas dan tidak mengemudi dengan sembarangan. Ini merupakan tindakan yang penting dan merupakan sebuah bentuk ibadah demi keselamatan diri sendiri dan orang lain. Namun, jika Allah menghendaki bahwa orang itu meninggal karena kecelakaan mobil, maka tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah kematiannya. Terkadang tindakan pencegahan atau suatu perbuatan tampaknya dapat menghindari orang itu dari kematian. Atau mungkin seseorang dapat melakukan keputusan penting yang dapat mengubah jalan hidupnya, atau seseorang dapat sembuh dari penyakitnya yang mematikan dengan menunjukkan kekuatannya dan daya tahannya. Namun, semua peristiwa ini terjadi karena Allah telah menetapkan yang demikian itu. Sebagian orang salah menafsirkan peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai “mengatasi takdir seseorang” atau “mengubah takdir seseorang”. Tetapi, tak seorang pun, bahkan orang yang sangat kuat sekalipun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Tak seorang manusia pun yang memiliki kekuatan seperti itu. Sebaliknya, setiap makhluk sangat lemah dibandingkan dengan ketetapan Allah. Adanya fakta bahwa sebagian orang tidak menerima kenyataan ini tetap tidak mengubah kebenaran. Sesungguhnya, orang yang menolak takdir juga telah ditetapkan demikian. Karena itulah orang-orang yang menghindari kematian atau penyakit, atau mengubah jalannya kehidupan, mereka mengalami peristiwa seperti ini karena Allah telah menetapkannya. Allah menceritakan hal ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.s. al-Hadid: 22-3).

    Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, peristiwa apa pun yang terjadi telah ditetapkan sebelumnya dan tertulis dalam Lauh Mahfuzh. Untuk itulah Allah menyatakan kepada manusia supaya tidak berduka cita terhadap apa yang luput darinya. Misalnya, seseorang yang kehilangan semua harta bendanya dalam sebuah kebakaran atau mengalami kerugian dalam perdagangannya, semua ini memang sudah ditetapkan. Dengan demikian mustahil baginya untuk menghindari atau mencegah kejadian tersebut. Jadi tidak ada gunanya jika merasa berduka cita atas kehilangan tersebut. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai kejadian yang telah ditetapkan untuk mereka. Orang-orang yang bertawakal kepada Allah ketika mereka menghadapi peristiwa seperti itu, Allah akan ridha dan cinta kepadanya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak bertawakal kepada Allah akan selalu mengalami kesulitan, keresahan, ketidakbahagiaan dalam kehidupan mereka di dunia ini, dan akan memperoleh azab yang kekal abadi di akhirat kelak. Dengan demikian sangat jelas bahwa bertawakal kepada Allah akan membuahkan keberuntungan dan ketenangan di dunia dan di akhirat. Dengan menyingkap rahasia-rahasia ini kepada orang-orang yang beriman, Allah membebaskan mereka dari berbagai kesulitan dan menjadikan ujian dalam kehidupan di dunia ini mudah bagi mereka.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 3:02 am on 6 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet sholatKewajiban Mendirikan Shalat

    Arsip Fiqh

    Shalat hukumnya fardhu (wajib) bagi setiap orang yang beriman yang telah memenuhi syarat, baik laki-laki maupun perempuan. Shalat dibebankan kepada setiap kaum muslimin dan tidak boleh meninggalkannya, kecuali bagi orang gila, anak kecil yang belum baligh, dan wanita yang sedang haid atau nifas.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mendirikan shalat, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’anul Karim di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Maka dirikanlah shalat itu, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q. S. An-Nisa': 103)

    “Peliharalah segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar).” (Q. S. Al-Baqarah: 238)

    Dari Abdullah bin ‘Amr, pada suatu hari Rasulullah SAW menyebut-nyebut tentang shalat, sabdanya, “Barangsiapa menjaganya, maka shalat itu – baginya- menjadi cahaya, bukti keterangan dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak mengindahkannya, ia tidak akan memperoleh cahaya, bukti keterangan dan keselamatan, sedang di hari kiamat ia akan bersama Karun, Fir’aun, Haman, dan Ubai bin Khalaf.” (HR. Ahmad, Tabarani, dan Ibn Hibban dengan sanad yang cukup baik)

    Rasulullah SAW menempatkan shalat sebagai rukun yang kedua di antara rukun-rukun Islam yang lima, sebagaimana sabdanya yang berbunyi, “Islam itu dibangun berdasarkan rukun yang lima; yaitu: Bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan Nabi Muhammad itu utusanNya, mendirikan shalat, membayar zakat, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

    “Pangkal segala hal adalah Islam. Sedangkan tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah berjuang di jalan Allah.” (HR. Tirmizi, dari Mu’az bin Jabal. Ia berkata, “Hadits ini adalah hasan sahih.”)

    Orang yang meninggalakan shalat karena menentang dan mengingkarinya adalah suatu kekafiran dan keluar dari agama Islam, sedangkan yang melalaikannya dihukumi sebagai orang fasik.

    Allah SWT berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka pengganti yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Q. S. Maryam: 59)

    Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda, “Batas antara seseorang dengan kekeafiran ialah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ashab As-Sunan selain Nasa’i)

    Dari Ibn Abbas, dari Nabi SAW, ia berkata,”Buhul tali Islam dan kaidah-kaidah agama itu ada tiga, di atas ketiganyalah Islam didirikan. Barangsiapa meninggalkan salah satu di antaranya, maka ia adalah kafir yang halal darahnya. (Ketiganya) itu ialah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, mengerjakan shalat fardu, dan puasa Ramadhan.” (Hadits Abu Ya’la dengan sanad yang baik)

    Dari Ibn Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, mengerjakan shalat dan membayar zakat. Jika mereka telah memenuhi semuanya, berarti mereka telah menjaga darah dan hartanya dari aku, kecuali berdasarkan ketentuan-ketentuan Islam. Sedangkan perhitungannya terserah kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Shalat adalah juga wasiat terakhir yang diamanatkan Rasulullah SAW kepada umatnya menjelang akhir hayatnya. Pada saat-saat hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir beliau bersabda, “Jagalah shalat, jagalah shalat, juga hamba sahayamu!” (HR. Abu Daud dari Ali dan Ibn Majah dari Anas)

    Referensi:

    1. Al-Qur’an Al-Karim dan Al-Hadits Kutubus-Sittah.
    2. Diadaptasi dari “Tuntunan Shalat Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah,” Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.
    3. Al-Adzkaarun Nawawiyyah, Muhyiddin Abi Zakaria bin Syaraf An-Nawawi.
    4. Fiqhus-Sunnah, Sayyid Sabiq.
    5. Shalat Empat Mazhab, ‘Abdul Qadir Ar-Rahbawi.
     
  • erva kurniawan 2:58 am on 5 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet bicaraLisan-Lisan Berbahaya

    “Bukankah ditelungkupkannya wajah-wajah manusia di neraka adalah akibat ucapan lisan-lisan mereka?” Demikian Rasulullah menjawab pertanyaan shahabat Mu’adz bin Jabal tentang apakah manusia disiksa lantaran perkataan yang mereka ucapkan.

    Pintu Gerbang

    Benar, lisan adalah nikmat yang luar biasa dari Allah. Namun ia juga menjadi pintu fitnah yang besar. Meski tampak ringan dan sepele, kata-kata yang keluar dari lisan kita mungkin akan berakibat fatal. Menimbulkan kerusakan hebat di dunia atau menjerumuskan pelakunya ke neraka yang menyala-nyala. Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatu yang membuat seseorang lebih lama mendekam di penjara selain karena lidahnya.”

    Sedang Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan sebuah perkataan yang menjerumuskannya ke neraka dengan jarak sejauh timur dan barat.” (HR. al Bukhariy, Muslim dan Ahmad )

    Begitu besar bahaya dan madharat yang ditimbulkan oleh lisan, sehingga menjaganya agar tidak tergelincir dalam kesalahan hendaknya mendapat perhatian yang serius. Menahannya dari perkataan-perkataan yang tidak berguna dan membatasinya untuk hanya membicarakan hal-hal yang terpuji. Rasulullah bahkan menjanjikan jannah (syurga) bagi siapa saja yang bisa menjamin lisannya untuk kebaikan. Beliau bersabda,

    “Barangsiapa yang bisa menjamin bagiku apa yang ada di antara dua tulang dagu (lisan)nya dan dua kaki (kemaluan)nya, maka aku menjamin jannah baginya.” HR. al Bukhariy, Ahmad dan at Tirmidzi.

    Diam dan Bicara

    Syetan tahu, bahwa lisan merupakan pintu yang sangat menjanjikan dalam rangka menyesatkan manusia. Tabiat manusia yang menyukai kebatilan –sehingga dosa lisan terasa manis-, memudahkan para syetan melancarkan serangan mereka. Mereka akan berusaha agar manusia mengatakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan mendatangkan madharat. Juga agar manusia tidak memanfaatkan lisan mereka untuk kebaikan.

    Dua hal yang menjadi sasaran mereka dalam menggoda manusia melalui pintu lisan ini. Yang pertama adalah agar manusia mengucapkan kebatilan (at takallum bil bathil), sedang yang kedua adalah agar manusia diam dari kebenaran (as sukut ‘anil haq). Dan syetan tidak peduli dari sasaran yang mana mereka akan menembakkan godaan.

    Untuk mencapai tujuan tersebut, syetan akan berusaha semaksimal mungkin mengajak manusia berkata-kata tanpa ilmu, tidak memberi manfaat dan mendatangkan madharat. Juga mencegah manusia agar jangan sampai mengucapkan perkataan yang bermanfaat, seperti dzikir, istighfar, tilawah Al Qur’an, menasihati sesama dalam kebenaran serta berbicara atas dasar ilmu.

    Syetan akan menjadikan manusia sebagai pasukan mereka dalam menimbulkan kerusakan di muka bumi. Mereka hiasi perkataan-perkataan batil hingga tampak menarik dan indah. Atau menakut-nakuti manusia dengan beratnya risiko yang akan mereka tanggung jika sibuk menyerukan kebenaran. Mereka akan menjadikan manusia sebagai syetan bisu atau syetan bicara, sebagaimana perkataan seorang alim, “Manusia yang berbicara batil adalah syetan berbicara, sedang manusia yang diam dari al haq adalah syetan bisu.”

    Pilihan Sulit

    Dari target syetan di atas, pembicaraan tentang lisan menjadi rumit. Berbicara atau diam ternyata sama-sama berpotensi menjadi tentara syetan. Padahal tidak ada pilihan bagi lisan selain dua hal itu, diam atau bicara. Dan tidak ada pilihan ketiga.Berbicara keliru menjadi syetan bicara, sedang diam yang keliru juga menjadi syetan bisu yang bisa jadi lebih berbahaya. Bukankah diamnya kaum muslimin pada saat harus menyerukan kebenaran atau banyaknya kemaksiatan yang merajalela bisa sangat berbahaya? Mungkin, syetan akan lebih diuntungkan dengan keadaan begini.

    Bagaimana?

    Jalan keluar dari kerumitan ini hanyalah dengan dua pilihan; berbicara yang benar atau diam yang benar. Masing-masing menjadi pilihan yang tepat menurut keadaan yang menuntutnya. Diam saat harus diam dan berbicara saat harus berbicara.

    Kita harus berusaha menjaga lisan agar tidak tergelincir kepada pembicaraan yang tidak bermanfaat. Mencampuri urusan orang lain, berbicara kosong yang tidak perlu, membicarakan kebatilan, bercanda berlebihan, dan berdusta adalah bentuk-bentuk penyelewengan lisan. Juga termasuk di antaranya adalah perkataan-perkataan keji semisal; menggunjing (ghibah), mengejek, mengolok-olok, mencela, mengumpat, mengadu domba dan yang lain.

    Akal harus senantiasa terjaga dari godaan berbicara yang tidak perlu, terbuangnya waktu dan tenaga dengan sia-sia, juga kerugian lain yang kan menimpa. Tentu saja tidak lupa menyibukkan lisan dengan hal-hal bermanfaat seperti wirid, dzikir, tilawah Al Qur’an, berdakwah, berbicara dengan ilmu dan yang lain. Benarlah Rasulullah yang bersabda,

    “Iman seorang hamba tidak akan istiqamah hingga istiqamah hatinya. Dan hatinya tidak akan istiqamah hingga istiqamah lisannya.” HR. Ahmad.

    Resapi pula perkataan shahabat Abu Darda’, “Aktifkanlah dua telingamu daripada lisanmu. Karena engkau diberi dua telinga dan satu mulut, agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara!”

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 4 January 2015 Permalink | Balas  

    siluet bicaraLidah Tak Bertulang

    Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

    Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

    Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

    Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

    Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya. Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

    Rasulullah SAW bersabda:“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

    Rasulullah SAW bersabda:Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah ra)

    Al-Imam An-Nawawi ra mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

    Al-Imam Asy-Syafi’i ra mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

    Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi ra mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

    Keutamaan Menjaga Lisan

    Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

    1. Anas bin Malik ra: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”
    2. Abu Ad-Darda’ ra: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
    3. Al-Fudhail ra: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
    4. Sufyan Ats-Tsauri ra: “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”
    5. Al-Ahnaf bin Qais ra: “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
    6. Abu Hatim ra: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
    7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”
    8. Mu’arrifh Al-‘Ijli ra: “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”

    (Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

    Buah Menjaga Lisan

    Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

    1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)
    2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

    Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah SAW ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

    “(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

    Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

    1. Mendapat jaminan dari Rasulullah SAW untuk masuk ke surga.

    Rasulullah bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d ra:

    “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

    Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah , Rasulullah bersabda:

    “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

    1. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

    Rasulullah SAAW bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah ra:

    “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)

    Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

    Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

    Wallahu a’lam

     
  • erva kurniawan 2:47 am on 3 January 2015 Permalink | Balas  

    korupsiKorupsi itu Sebuah Pilihan?

    Oleh: Dr Hasanudin, Dosen di Universitas Tanjungpura; visiting researcher di Kumamoto University, Jepang

    BANYAK upaya untuk menjelaskan sebab-sebab maraknya korupsi di Indonesia. Salah satu yang sering kita dengar bahwa korupsi itu terjadi akibat rendahnya gaji pegawai negeri. Gaji yang rendah itu tak cukup untuk menopang kehidupan seorang pegawai negeri secara layak, sehingga mereka melakukan korupsi untuk menutupi kekurangannya. Karena itu, membenahi kesejahteraan pegawai negeri adalah sebuah langkah utama dan pertama yang harus diambil pemerintah untuk memerangi korupsi.

    Tak ada yang salah dalam cara berpikir seperti itu, setidaknya secara makro. Hanya saja, cara berpikir seperti itu punya efek sampingan yang cukup berbahaya, yaitu sikap apologis dari pelaku korupsi, terutama bila disosialisasikan dengan cara yang keliru. Kita ketahui bahwa korupsi demikian parah menggerogoti birokrasi kita di semua jenjang dan telah berlangsung sangat lama. Akibatnya korupsi sudah sangat akrab bagi sebagain besar pelaku birokrasi. Lalu, sejauh ini tak pernah ada gerakan yang benar-benar serius untuk memerangi korupsi, sehingga kampanye antikorupsi nyaris tak pernah dilaksanakan. Akibat kurangnya sosialisasi, banyak pihak yang tak lagi bisa membedakan dengan jelas tindakan apa saja yang masuk dalam kategori korupsi.

    Dalam situasi yang demikian itu, analisis rendahnya gaji sebagai sebab korupsi adalah sebuah apologi yang tepat. Bila hal ini disosialisasikan secara luas, banyak orang akan mendapatkan bahan bakar untuk kendaraan apologinya. Artinya, akan banyak orang berpikir bahwa korupsi adalah sebuah pintu darurat selama pemerintah belum mampu menjamin kesejahteraan mereka. Padahal rendahnya gaji sebagai sebab korupsi adalah sesuatu yang masih bisa diperdebatkan. Perlu diperhatikan bahwa para pelaku korupsi itu tidak sekadar mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, tapi jauh melebihi hal itu.

    Meratanya korupsi di semua bidang dan tingkatan adalah sumber apologi lain. Banyak orang mengeluh bahwa dia terpaksa ikut terlibat korupsi karena semua orang terlibat. Keterlibatan semua orang itu membuat dia harus pula mengikutinya kalau tidak ingin dikucilkan atau bahkan dimusuhi. Namun, sebenarnya banyak juga yang lebih ringan pertimbangannya, kalau semua orang terlibat, mengapa pula saya perlu mengambil posisi ‘bodoh’ dengan tidak ikut terlibat. Dua jenis pemikiran apologis ini membuat korupsi itu jadi sebuah lingkaran setan.

    Sikap apologis mungkin sebuah karakter dasar manusia. Manusia cenderung mencari pembenaran atas tindakannya dengan berbagai cara. Apologi itu bisa bersifat verbal, yaitu dengan mengungkapkannya ke orang-orang di sekitarnya. Atau nonverbal, yaitu dengan mengumandangkannya di dalam hati. Tujuannya untuk meyakinkan diri sendiri dan mendapat pengakuan bahwa tindakan yang dia lakukan tidak salah. Kalaupun disadari bahwa tindakan itu salah, apologi itu diharapkan mengurangi kadar kesalahan itu.

    Mustofa Bisri dalam sebuah tulisannya sekitar sepuluh tahun lalu di sebuah media telah menjabarkan karakter apologis ini dengan bahasa yang unik. Argumen yang sahih untuk membenarkan sesuatu (tindakan), menurut Mustofa, biasa disebut dalil. Sedangkan alasan yang tidak kuat dan dicari-cari disebut dalih. Dua kata ini hanya berbeda pada huruf terakhirnya dan memiliki makna yang mirip, tapi sangat berbeda secara substantif. Pemikiran apologis tidak pernah bersandarkan pada dalil, melainkan pada dalih.

    ***

    Dalam bahasa Stephen Convey yang dijabarkan dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People para pemikir apologis ini disebut sebagai orang yang berada dalam ‘lingkaran kepedulian’. Dalam lingkaran ini orang percaya bahwa dia tidak bebas, dan sangat ditentukan oleh faktor-faktor di luar dirinya. Dan mereka akan berusaha mengumpulkan bukti-bukti untuk mendukung kepercayaannya itu. Mereka merasa jadi korban dan tidak bisa mengontrol dirinya, serta menyalahkan pihak lain atas masalah yang dia hadapi.

    Masih menurut Convey, setiap kali kita berpikir bahwa masalahnya ada ‘di luar sana’, cara berpikir itulah masalah terbesarnya. Dengan begitu kita telah membiarkan diri kita dikontrol oleh elemen-elemen di luar kita. Dan, kita tidak akan pernah berubah selama situasi di luar sana tidak berubah, padahal kita sendiri juga tidak punya kuasa untuk mengubah sesuatu yang di luar tadi.

    Pendekatan proaktif yang disarankan Convey adalah dengan melakukan perubahan dari dalam ke luar. Kita harus menjadi berbeda, dan dengan menjadi berbeda kita bahkan bisa membebaskan diri dari faktor ‘di luar sana’ yang mengontrol diri kita. Bahkan pada tingkat yang lebih tinggi kita bisa memengaruhi serta mengubahnya. Jadi, yang pertama harus berubah adalah diri kita sendiri, lalu perubahan dalam diri kita itu kita perluas lingkupnya ke orang-orang di sekitar kita, dan seterusnya. Di sini kita kemudian telah melakukan perpindahan paradigma ke ‘lingkaran pengaruh’.

    Dengan konsep proaktif ini kita bisa membebaskan diri. Kalau kita selama ini telah terjerat dalam perilaku korupsi, maka kita bisa mulai berhenti dengan keyakinan bahwa sebab utama perilaku korup kita adalah diri kita sendiri, bukan gaji kita yang rendah. Kita harus mulai meyakinkan diri kita bahwa ada banyak cara selain korupsi untuk mengatasi ketidakmampuan gaji kita dalam mencukupi kebutuhan kita. Kita bisa mencontoh orang-orang bersih di sekitar kita, yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk ditemui.

    Upaya memberantas korupsi dengan pendekatan hukum sejauh ini tidak menunjukkan hasil yang memadai karena tidak pernah dilakukan secara serius. Demikian pula pendekatan top-down. Kedua pendekatan ini memerlukan seorang pemimpin yang tidak saja bersih, tapi juga sangat kuat. Sayangnya, dalam waktu dekat ini sosok pemimpin yang demikian itu sukar diharapkan untuk muncul. Karena itu, pendekatan budaya dengan pola bottom-up menjadi sangat penting. Dan, pemikiran proaktif tadi adalah sebuah kunci dalam gerakan budaya ini.

    Pemikiran ini mungkin akan dinilai normatif, naif, atau utopis. Tetapi, kiranya hal ini jauh lebih baik daripada terus-menerus memasok bahan bakar pemikiran apologis seperti diungkap di muka.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 6:43 pm on 2 January 2015 Permalink | Balas  

    syukurAllah Menambahkan Nikmatnya Kepada Orang-Orang Yang Bersyukur

    Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggunakan tangannya hingga kemampuan berbicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat memerlukan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah. Mereka menganggap bahwa segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mereka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasihnya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya dengan mengabaikan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya di sepanjang hidupnya. Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

    “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl: 18).

    Meskipun kenyataannya demikian, kebanyakan manusia tidak mampu mensyukuri kenikmatan yang telah mereka terima. Adapun penyebabnya diceritakan dalam al-Qur’an: Setan, yang berjanji akan menyesatkan manusia dari jalan Allah, berkata bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Pernyataan setan yang mendurhakai Allah ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:

    “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya’.” (Q.s. al-A’raf: 17-8).

    Dalam pada itu, orang-orang yang beriman karena menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri oleh orang-orang yang beriman. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikaruniakan kepada mereka, dan mereka mencintai keimanan dan membenci kekufuran. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran dan dimasukkan dalam golongan orang-orang beriman. Pemandangan yang indah, urusan yang mudah, keinginan yang tercapai, berita-berita yang menggembirakan, perbuatan yang terpuji, dan nikmat-nikmat lainnya, semua ini menjadikan orang-orang beriman berpaling kepada Allah, bersyukur kepada-Nya yang telah menunjukkan rahmat dan kasih sayang-Nya.

    Sebagai balasan atas kesyukurannya, sebuah pahala menunggu orang-orang yang beriman. Ini merupakan rahasia lain yang dinyatakan dalam al-Qur’an; Allah menambah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Misalnya, bahkan Allah memberikan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak lagi kepada orang-orang yang bersyukur kepada Allah atas kesehatan dan kekuatan yang mereka miliki. Bahkan Allah mengaruniakan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak kepada orang-orang yang mensyukuri ilmu dan kekayaan tersebut. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang ikhlas yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah dan mereka ridha dengan karunia tersebut, dan mereka menjadikan Allah sebagai pelindung mereka. Allah menceritakan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

    “Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)

    Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah. Rasulullah saw. juga menyebutkan masalah ini, beliau saw. bersabda:

    “Jika Allah memberikan harta kepadamu, maka akan tampak kegembiraan pada dirimu dengan nikmat dan karunia Allah itu.

    Dalam pada itu, seorang kafir atau orang yang tidak mensyukuri nikmat hanya akan melihat cacat dan kekurangan, bahkan pada lingkungan yang sangat indah, sehingga ia akan merasa tidak berbahagia dan tidak puas, maka Allah menjadikan orang-orang seperti ini hanya menjumpai berbagai peristiwa dan pemandangan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi Allah menampakkan lebih banyak nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati nurani.

    Bahwa Allah menambah kenikmatan kepada orang-orang yang bersyukur, ini juga merupakan salah satu rahasia dari al-Qur’an. Bagaimanapun harus kita camkan dalam hati bahwa keikhlasan merupakan prasyarat agar dapat mensyukuri nikmat. Jika seseorang menunjukkan rasa syukurnya tanpa berpaling dengan ikhlas kepada Allah dan tanpa menghayati rahmat dan kasih sayang Allah yang tiada batas, tetapi rasa syukurnya itu hanya untuk menarik perhatian orang, tentu saja ini merupakan ketidakikhlasan yang parah. Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati dan mengetahui ketidakikhlasannya tersebut. Orang-orang yang memiliki niat yang tidak ikhlas bisa saja menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati dari orang lain. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah. Orang-orang seperti itu bisa saja mensyukuri nikmat ketika tidak menghadapi penderitaan. Tetapi pada saat-saat berada dalam kesulitan, mungkin mereka akan mengingkari nikmat.

    Perlu diperhatikan, bahwa orang-orang mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah sekalipun mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit. Seseorang yang melihat dari luar mungkin melihat berkurangnya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut. Misalnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menguji manusia dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyukur, mereka berharap bahwa Allah akan memberi pahala kepada mereka berupa surga sebagai pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut. Mereka mengetahui bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya. Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam menghadapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka. Dengan demikian, ciri-ciri orang yang beriman adalah tetap menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

    ***

    Dari Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 1 January 2015 Permalink | Balas  

    allahTakut Kepada Allah

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Sesungguhnya mereka itu tiada lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku saja jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 175)

    “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah (saja), maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Bara’ah/At-Taubah: 18)

    “Dan diantara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, tetapi apabila ia mendapat perlakuan yang menyakitkan karena (imannya kepada) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai adzab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (Al-Ankabut: 10)

    Diriwayatkan hadits marfu’ dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu:

    “Sesungguhnya termasuk lemahnya keyakinan apabila kamu mencari kerelaan manusia dengan kemurkaan Allah, memuji mereka atas rezeki Allah yang diberikan lewat mereka, dan mencela mereka atas sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu lewat mereka. Sesungguhnya rezeki Allah itu tidak dapat didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak dan tidak pula dapat digagalkan oleh kebencian orang yang membenci.”

    Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

    “Barangsiapa berusaha mendapatkan ridha Allah sekalipun dengan resiko kemarahan manusia, maka Allah me-ridhai-nya dan menjadikan manusia ridha kepadanya. Dan barangsiapa berusaha mendapatkan ridha manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia murka pula kepadanya.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)

    Kandungan tulisan ini:

    1. Tafsiran ayat dalam surah Ali Imran. Ayat ini menunjukkan bahwa khauf (takut) termasuk ibadah yang harus ditujukan kepada Allah semata-mata, dan diantara tanda kesempurnaan iman ialah tiada merasa takut kepada siapapun selain kepada Allah saja.
    2. Tafsiran ayat dalam surah Bara’ah/At-Taubah. Ayat ini menunjukkan bahwa memurnikan rasa takut kepada Allah adalah wajib, sebagaimana shalat, zakat, dan kewajiban lainnya.
    3. Tafsiran ayat dalam surah Al-Ankabut. Ayat ini menunjukkan bahwa merasa takut akan perlakuan buruk dan menyakitkan dari manusia dikarenakan iman kepada Allah adalah termasuk takut kepada selain Allah; dan menunjukkan pula kewajiban bersabar dalam berpegang teguh pada jalan Allah.
    4. Keyakinan bisa menjadi lemah dan bisa menjadi kuat.
    5. Tanda lemahnya keyakinan, antara lain: tiga perkara yang disebutkan dalam hadits dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu.
    6. Memurnikan rasa takut kepada Allah termasuk kewajiban.
    7. Pahala bagi orang yang mengamalkannya.
    8. Ancaman bagi orang yang tidak mengamalkannya.

    ***

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : http://www.assunnah.or.id

    Kiriman Sahabat: Ayah Raihan

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 31 December 2014 Permalink | Balas  

    Malam-Tahun-BaruHakikat Pergantian Tahun Baru

    K.H. Rahmat ‘Abdullah (Ketua Yayasan IQRO Bekasi)

    Jika kita merenungi peristiwa pergantian tahun dan perhitungan waktu, terdapat perbedaan sangat mencolok antara manusia dan makhluk lainnya. Dengan akal yang Allah berikan mereka menghitung pergerakan benda-benda angkasa yang tertib dan pasti. Dengan naluri ingin tahu yang Allah tanamkan, mereka menjelajah tanpa lelah. Kepastian gerak dan ketertiban pola edar tata surya mengilhami mereka untuk dapat membuat catatan waktu, sejarah, dan peristiwa. Muncullah kalender atau almanak (Arab: almanakh, almunakh, artinya musim, iklim, cuaca). Ada kronometer, dari jam pasir, jam bayang-bayang sampai jam quartz dan kinetik.

    Kemudian sesuatu berubah. Mereka membanggakan catatan prasejarah yang mereka bikin-bikin sampai zaman kini. Orang berbangga dengan apa yang mereka sebut pertambahan umur dalam ulang tahun, walaupun sebenarnya yang terjadi adalah perkurangan umur. Secara umum orang merayakan tahun baru Masehi, 1 Januari-sebuah kebiasaan kaum Nasrani yang di abad-abad lalu menjajah negeri-negeri Muslim. Bahkan secara resmi juga presiden mengumumkan pergantian tahun (orang Jayakarta (Jakarta) menyebutnya Tahun Baru Blande).

    Bagi seorang Muslim yang baik, bukan pergantian tahun itu yang penting, tetapi pergantian malam dan siang. Allah menjadikannya sebagai tanda kekuasaannya. Merenunginya berarti memenuhi sebagian sifat ulil albab dan hamba yang bersyukur (QS. 3;190-191/25;62). “Ia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur”.

    Dulu orang membanggakan kaum sufi sebagai ‘putra harinya’. Sudah seharusnya tiap orang menjadi putra harinya, bahkan putra jamnya, menit, dan detiknya. Artinya ia selalu mengaktualisasi dirinya bukan pada musim-musim tahunan atau momentum-momentum, tetapi pada setiap saat dalam kehidupannya serta menjalaninya dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab.

    Terkadang kita sukar memahami gaya hidup orang lain, sebagaimana mereka pun susah memahami gaya hidup kita. Kita tidak mengerti mengapa mereka memakai busana minim, yang dalam sejarahnya adalah busana perempuan nakal. Mereka pergi ke pesta-pesta pekanan atau ulang tahun dengan wangian kelas mahal dan mobil mewah tanpa merasa minder bahwa semua itu pinjaman dari ortu. Bagaimana kalau itu hasil KKN? Siapa sih yang nyuruh tiup lilin? Kalau tidak, bagaimana akibatnya? Mengapa harus pergi berpasang-pasangan? Mengapa itu disebut modern? Apakah dengan pesta liar yang dianggap modern itu mereka langsung bisa bikin satelit, komputer, robot, dan memecahkan masalah-masalah iptek?

    Evaluasi diri tahun yang lalu Konon, di antara bahan ‘penyesalan’ orang-orang saleh di hari kiamat adalah adanya waktu kosong dalam kehidupan mereka. Tentu saja, mereka tidak mengisinya dengan maksiat. Namun, melihat betapa keberuntungan besar yang disediakan bagi mereka yang memanfaatkan seluruh hidup untuk kepentingan ibadah, jelas ‘penyesalan’ itu menjadi wajar.

    Bagaimana Rasulullah SAW. memanfaatkan waktunya secara efisien? Bayangkan, sepanjang sembilan tahun di Madinah, kaum Quraisy melancarkan tak kurang dari 62 kali gempuran besar dan kecil. 27 ghazwah, pertempuran menghadapi mereka yang dipimpinnya langsung. 35 kali sariyah, yang dipimpin para kader sahabat. Artinya, bila ada kata jeda mungkin hanya satu sampai satu setengah bulan. Banyak hadis sahih menginformasikan Rasulullah masih sempat berlomba jalan dengan istrinya. Ada saatnya beliau merangkak dengan anak-anak bermain ceria dipunggungnya. Ada saatnya beliau bercengkerama dengan rakyat jelata. Ini di luar aktivitas memimpin persidangan politik, persidangan kasus-kasus rumah tangga, kriminal, perdata, menyiapkan para calon hakim, diplomat, guru, ulama, tentara, ahli syura, dll.

    Banyak orang hidup dengan usia panjang, kadang seratus tahun. Namun, biografinya ditulis cukup dalam tiga baris: “Bapak Fulan, lahir tanggal sekian, wafat tanggal sekian”. Terukir apik di batu nisan. Sebaliknya Rasulullah SAW dengan usia 63 tahun qamariyah, sampai sekarang kajian tentang beliau masih terus berlanjut, dari berbagai aspek kehidupan dan kepemimpinannya.

    Kenyataan ini menuntut kita untuk mengaudit diri setiap hari: bagaimana caranya agar modal usia yang sudah dijatah tidak terjadi defisit, bahkan sebaliknya, dan keuntungan besar yang selalu diperoleh. Ini memang sulit, karena hal yang sering kali dihindari adalah menghitung diri sendiri. Memang getir rasanya melihat kesalahan-kesalahan diri, tetapi semua ini harus dilakukan. Dan camkanlah dalam hati untuk satu hal ini: bahwa dalam pesta ulang tahun atau dalam perhitungan usia, ada pengelabuan setan. Sesungguhnya bukan umur yang bertambah, melainkan jumlah yang sudah dilewati. Jatah sisanya semakin berkurang.

    Menyikapi hedonisme remaja masa kini Salah jika menganggap remaja saja yang doyan hura-hura. Semua dimulai dari biangnya: bapak dan ibu. Kondisi semacam ini tampaknya sudah terkonsep, dari sikap keseharian sampai cara penyambutan tahun baru, semua mencerminkan dangkalnya nilai-nilai akidah sebagian besar umat.

    Semua ini memang telah didesain dengan rapi. Dengarlah khotbah sanjungan dan ucapan terima kasih atas nama gereja yang disampaikan oleh pendeta Dr. Zwemmer di bukit Zaitun tahun 1935. Ia menekankan hal yang lebih penting daripada menyebarkan Bibel, yaitu memunculkan generasi umat Islam yang:

    1. tak mengenal Islam
    2. tidak bangga dengan Islam
    3. terputus dengan sejarah dan keagungan masa lalu pendahulu mereka
    4. hidup santai, hura-hura, serba boleh
    5. kalau tidak pindah agama, juga tidak bermutu dalam Islam
    6. lemah dan akhirnya mudah dikuasai dan didikte

    Hal yang sama bisa kita lihat dalam dokumen Protokolat Hukama’ Yahudi yang berisi sejumlah rencana busuk mereka terhadap umat Islam.

    Menjadi remaja seutuhnya Tidak adil menyalahkan remaja secara keseluruhan. Mereka hanyalah produk yang lahir dan tumbuh dalam suatu iklim. Generasi yang lemah, manja dan punya ketergantungan tinggi, lahir dan dibesarkan dalam gelimang utang luar negeri yang mencekik leher, mengundang korupsi dan menjerat umat pada jaring-jaring rentenir mancanegara. Sejarah telah membuktikan bahwa lingkungan dan keluarga adalah tempat terbaik pulangnya remaja mengadukan keluh dan mencari jawaban bagi persoalan-persoalannya.

    Remaja yang bertanggung jawab akan sangat prihatin melihat angka empat juta dalam kasus narkoba. Ia akan menjaga dengan sungguh-sungguh dirinya dan rekan-rekannya untuk tidak menambah jumlah itu. Ia tahu di bahunya dipercayakan nasib umat dan bangsa ini. Ia sadar memegang amanah kepercayaan, harapan, biaya pendidikan dan tunjangan orang tuanya. Ia memilih pahit daripada berkhianat kepada akidahnya. Di era kebangkitan ia harus punya target mengenal Islam secara benar, ikut dakwah secara proporsional, dan berprestasi sebagaimana layaknya seorang remaja. Target-target setahun ke depan Mungkin sangat klise untuk mengatakan: tampil ke depan meraih sukses. Coba duduklah dengan tenang, bayangkan ratusan ribu kader dari kelompok pemikiran yang tidak punya komitmen dengan Islam dan dakwah Islam, bahkan tidak dengan kepentingan bangsanya. Dengan terjun bebas atau dengan beasiswa, mereka berhasil mereguk ilmu sepuas-puasnya dan menduduki posisi-posisi kunci di negeri ini. Kepada siapa tanah air ini akan diserahkan? Sukses tidak selalu ditandai dengan NEM tinggi, karena remaja mungkin berprofesi sebagai pelajar atau putus sekolah karena sebab-sebab tertentu. Intinya kemandirian dan kesiapan menghadapi hari esok.

    Bila duduk di kelas tertinggi, konsentrasinya pada sukses belajar. Itu cukup sebagai bahasa fakta bagi dakwah yang cerdas dan memberdayakan, agar tidak ada lagi orang berceloteh tentang aktivis yang selalu gagal dalam studi. Bila berada di kelas pertama atau kedua, harus dirancang agar menghasilkan kontribusi yang jelas, terencana, dan terproyeksi

     
  • erva kurniawan 1:28 am on 30 December 2014 Permalink | Balas  

    wanita bertaubatIstimewanya Wanita Islam

    Kaum feminis bilang susah jadi Wanita Islam, lihat saja peraturan dibawah ini :

    1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
    2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
    3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
    4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
    5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
    6. Wanita wajib taat kpada suaminya tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
    7. talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
    8. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

    Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

    Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?

    Itulah bandingannya dengan seorang wanita. Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya.

    Bukankah ibu adalah seorang wanita?

    Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

    Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

    Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

    Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki ini: Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

    Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat suaminya dan menjaga kehormatannya.

    Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

    Masya ALLAH .. demikian sayangnya ALLAH pada wanita .. kan?

    Jazakumullah Khoiron Khatsiro..

    ***

    Kiriman Sahabat: Indra Subni

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 29 December 2014 Permalink | Balas  

    tidurEtika Tidur dan Bangun

    1. Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur.

    Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah SWT dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya.

    1. Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah “Bahwasanya Rasulullah tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat”.(Muttafaq `alaih)
    2. Disunnatkan berwudhu’ sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan.

    Al-Bara’ bin `Azib menuturkan : Rasulullah bersabda:”Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan..” Dan tidak mengapa berbalik ke sebelah kiri nantinya.

    1. Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya..” Di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali”. (Muttafaq `alaih).
    2. Makruh tidur tengkurap.

    Abu Dzar menuturkan :”Nabi pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda : “Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka”. (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

    1. Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi telah bersabda: “Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya”. (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).
    2. Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur.

    Dari Jabir diriwayatkan bahwa sesung-guhnya Rasulullah r telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman”. (Muttafaq’alaih).

    1. Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.
    2. Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah ,

    seperti : Allaahumma qinii yauma tab’atsu ‘ibaadaka “Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)

    Dan membaca: Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya ” Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.” (HR. Al Bukhari)

    1. Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dengan do`a berikut ini : ” A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri ‘ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna.”

    Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku”. (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)

    1. Hendaknya apabila bangun tidur membaca : “Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba’da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru” “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (HR. Al-Bukhari)

    ***

    ” Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari ” Penerbit : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan Judul Asli : Adabu Al-Muslimi fi Al-Yaumi wa Al-Lailati Penulis : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Penerjemah : Musthofa ‘Aini, Lc

    Kirimah Sahabat: Abah Naufal.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 28 December 2014 Permalink | Balas  

    tafakurTafakur “Fitnah”

    Ada banyak cara menjadi dewasa. Kadang begitu mudah, semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembar halaman. Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain.

    Tapi tak jarang, kita harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan sadar. Kita harus melewati sungai fitnah yang berarus jeram. Membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar. Bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa.

    Ada yang berhasil, tapi banyak pula yang gugur di tengah jalan. Orang- orang yang berhasil menjadi lebih arif sikapnya. Lebih dalam kemampuannya. Lebih luas pemahamannya. Dan lebih terbuka menerima segala. Sedangkan mereka yang gagal, telah menjadi gusar, bahkan gusar mereka melebihi sebelum fitnah datang. Sumbu emosi mereka lebih pendek dan mudah terbakar. Mereka telah gagal melanjutkan perjalanan menuju kearifan dan kedewasaan.

    Sesungguhnya, perjalanan masih sangatlah panjang. Tapi mana mungkin ditempuh dalam keadaan papah. Tak mungkin perjalanan diselesaikan tanpa kemampuan menangkap hikmah, menyerap ilmu, apalagi berjalan tanpa ma’rifat kepada-Nya. Hati yang gentar pada fitnah, benak yang gusar pada fitnah, akal yang buntu karena fitnah, akan membuat kaki kita terantuk-antuk batu dalam setiap langkah. Lalu kita akan menyerah sebelum perjalanan usai dan purna.

    Fitnah selalu ada. Semakin tinggi tingkat kearifan, maka semakin besar pula fitnah menghantam. Selayaknya fitnah harus kita jadikan ukuran. Jika waktu lalu, cobaan yang datang untuk kita selesaikan sama dengan cobaan yang kita hadapi sekarang, sungguh tak ada peningkatan apapun yang kita dapatkan.

    Ketakutan memang sering menggalikan liang kubur untuk akal sehat yang kita perlukan. Rasa gentar pun sering mengabarkan jalan semu yang menyesatkan. Jangan lari ketika fitnah datang. Jangan pula berpaling ketika cobaan menghadang. Lewati saja. Tembus saja. Sejatinya, fitnah dan cobaan adalah pintu-pintu menuju kedewasaan.

    Selama kita berpegang teguh pada tali Allah, sungguh, tak ada yang perlu ditakutkan. Sepanjang kita tak berma’syiat kepada pencipta alam, tidak perlu pula takut tak gentar.

    Tapi sebaliknya, jika kita berma’syiat kepada Allah, maka semua yang kita alami adalah awal dari kehancuran. Satu-satunya penyebab paling absolut sebuah kebinasaan adalah, karena kita berma’syiat kepada Allah. Jika sudah demikian, ketakutan akan mengepungmu. Kegalauan akan menelikung setiap langkahmu. Dan perjalanan begitu berat. Tak ada jalan lain jika sudah begitu; cepat bertaubat atau tenggelam dalam sesat.

    Dari Sahabat: Herry Nurdi

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 27 December 2014 Permalink | Balas  

    wanita sholehahAurat dan Jilbab

    Arsip Fiqh

    Rasulullah bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

    Wanita-wanita yang digambarkan Rasul dalam hadis di atas sekarang banyak sekali kita lihat. Bahkan itu sudah menjadi sesuatu yang mentradisi dan dianggap lumrah. Mereka adalah wanita-wanita yang memakai pakaian tapi telanjang. Sebab pakaian yang mereka kenakan tak dapat menutupi apa yang Allah perintahkan untuk ditutupi.

    Budaya barat adalah penyebab fenomena ini. Sebab pakaian yang “tak layak” tersebut bukanlah merupakan budaya masyarakat Islam dan tidak pula dikenal dalam tradisi masyarakat kita. Namun itu adalah hal baru yang lantas diterima tanpa dikritisi. Tidak pula itu diuji dengan pertanyaan, bolehkah ini menurut agama, atau baikkah ini bagi kita dan pertanyaan lain yang senada. Boleh jadi karena perasaan rendah diri yang akut dan silau terhadap kemajuan barat dalam beberapa hal akhirnya banyak di antara kita yang menerima budaya barat dengan mata tertutup (atau sengaja menutup mata).

    Namun di sana kita juga melihat fajar yang mulai terbit. Kesadaran untuk kembali kepada budaya kita sendiri (baca: budaya berpakaian islami) mulai tumbuh. Betapa sekarang kita banyak melihat indahnya kibaran jilbab di mana-mana. Di kampus, di sekolah, di pasar dan bahkan di terminal-terminal. Malah di beberapa negara barat (Inggris dan Jerman misalnya) muslimah-muslimah pemakai jilbab tak lagi sulit ditemukan.

    Jelasnya saat ini sudah tak ada lagi larangan untuk mengenakan busana dan pakaian yang menutup aurat. Permasalahannya, apakah jaminan kebebasan ini kemudian segera disambut oleh para muslimah kita dengan segera kembali mengenakan pakaian takwa itu atau tidak. Yang pasti alasan dilarang oleh si ini dan si itu kini tak berlaku lagi.

    Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya

    Aurat wanita yang tak boleh terlihat di hadapan laki-laki lain (selain suami dan mahramnya) adalah seluruh anggota badannya kecuali wajah dan telapak tangan. Yang menjadi dasar hal ini adalah:

    1. Al-Qur’an surat Annur:

    “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab)nya ke dadanya…’”

    Keterangan :

    Ayat ini menegaskan empat hal:

    1. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh Allah.
    2. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.
    3. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak. Para ulama mengatakan bahwa ayat ini juga menunjukkan akan haramnya menampakkan anggota badan tempat perhiasan tersebut. Sebab jika perhiasannya saja dilarang untuk ditampakkan apalagi tempat perhiasan itu berada. Sekarang marilah kita perhatikan penafsiran para sahabat dan ulama terhadap kata “…kecuali yang biasa nampak…” dalam ayat tersebut. Menurut Ibnu Umar RA. yang biasa nampak adalah wajah dan telapak tangan. Begitu pula menurut ‘Atho,’ Imam Auzai dan Ibnu Abbas RA. Hanya saja beliau (Ibnu Abbas) menambahkan cincin dalam golongan ini. Ibnu Mas’ud RA. mengatakan maksud kata tersebut adalah pakaian dan jilbab. Said bin Jubair RA. mengatakan maksudnya adalah pakaian dan wajah. Dari penafsiran para sahabat dan para ulama ini jelaslah bahwa yang boleh tampak dari tubuh seorang wanita adalah wajah dan kedua telapak tangan. Selebihnya hanyalah pakaian luarnya saja.
    4. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab. Ini menunjukkan bahwa kepala dan dada adalah juga termasuk aurat yang harus ditutup. Berarti tidak cukup hanya dengan menutupkan jilbab pada kepala saja dan ujungnya diikatkan ke belakang. Tapi ujung jilbab tersebut harus dibiarkan terjuntai menutupi dada.
    5. Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata: “Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

    Keterangan :

    Hadis ini menunjukkan dua hal:

    1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
    2. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

    Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya.

    Selain kedua dalil di atas masih ada dalil-dalil lain yang menegaskan akan kewajiban menutup aurat ini:

    1. Dari Al-Qur’an:
    2. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu” (Qs. Al-Ahzab: 33).

    Keterangan:

    Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup. Fenomena mengumbar aurat ini adalah merupakan perilaku jahiliyyah. Bahkan diriwayatkan bahwa ritual haji pada zaman jahiliyyah mengharuskan seseorang thawaf mengelilingi ka’bah dalam keadaan bugil tanpa memandang apakah itu lelaki atau perempuan.

    Konteks ayat di atas adalah ditujukan untuk istri-istri Rasulullah. Namun keumuman ayat ini mencakup seluruh wanita muslimah. Kaidah ilmu ushul fiqh mengatakan: “Yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafadz sebuah dalil dan bukan kekhususan sebab munculnya dalil tersebut (al ibratu bi umumil lafdzi la bikhususis sabab).

    1. “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Ahzab: 59).

    Keterangan:

    Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.

    1. Hadis Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda:

    “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

    Keterangan:

    Hadis ini menjelaskan tentang ancaman bagi wanita-wanita yang membuka dan memamerkan auratnya. Yaitu siksaan api neraka. Ini menunjukkan bahwa pamer aurat dan “buka-bukaan” adalah dosa besar. Sebab perbuatan-perbuatan yang dilaknat oleh Allah atau Rasul-Nya dan yang diancam dengan sangsi duniawi (qishas, rajam, potong tangan dll) atau azab neraka adalah dosa besar.

    Syarat Pakaian Penutup Aurat Wanita

    Pada dasarnya seluruh bahan, model dan bentuk pakaian boleh dipakai, asalkan memenuhi syarat-syarat berikut

    1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
    2. Tidak tipis dan tidak transparan
    3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh (tidak ketat)
    4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.
    5. Tidak berwarna dan bermotif terlalu menyolok.Sebab pakaian yang menyolok akan mengundang perhatian laki-laki. Dengan alasan ini pula maka membunyikan (menggemerincingkan) perhiasan yang dipakai tidak diperbolehkan walaupun itu tersembunyi di balik pakaian.

    Wallahu a’lam bi ashshowab

    (Ulil Amin).

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 26 December 2014 Permalink | Balas  

    tidurTatapan Penuh Cinta

    Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur? Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

    Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

    Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda. Hmm…kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.

    Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu : Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya. Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selau saja nampak besar. Secara ajaib Allah Subhanahuwataala mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.

    Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia berkata: “betapa lelahnya aku hari ini”. Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.

    Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah, ditambah kalo istri kita juga bekerja demi bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.

    Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua. Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka “orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya, selamanya………………

    ***

    Kiriman Sahabat

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 25 December 2014 Permalink | Balas  

    ujian aAlahMenyikapi Ujian Allah SWT

    “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah : 155)

    Ketika manusia sedang diuji Allah SWT, seringkali ia merasa seolah-olah ujian yang diterimanya adalah yang paling berat. Tidak ada yang lebih berat cobaannya selain yang terjadi pada dirinya. Untuk menghilangkan persepsi semacam itu, ketika Allah memberikan ujian kepada orang-orang mukmin, Allah SWT melafadzkan bisyai’in yang artinya sedikit. Ini dimaksudkan agar bagaimanapun besarnya ujian Allah yang diberikan kepada orang-orang beriman, masih lebih kecil bila dibandingkan dengan adzab Allah kepada orang kafir di dunia atau akhirat.

    Allah bukannya tidak mampu memberi pahala kepada orang yang beriman tanpa mengujinya? Tentu saja mampu. Tetapi mengapa harus ada ujian berupa ketakutan, kelaparan dan sebagainya? Maksud ujian yang Allah berikan adalah untuk mengetahui mana dari hambaNya yang layak untuk berdakwah dan berjihad di jalan Allah dan mana yang tidak. Oleh karena itu, ketika kita mendapat hidayah dari Allah dengan menjadi seorang da’i, itu pada dasarnya adalah penghargaan dari Allah. Dengan menganggapnya sebagai penghargaan, kita tidak mudah merasakan kelelahan, pusing dan jauh dari segala keluh kesah. Memang dalam perjalanan dakwah ada rintangan dan ujian, tetapi itulah seninya berdakwah.

    Ujian yang diberikan Allah kepada para hambaNya di muka bumi ini dibagi dalam empat katagori, yaitu :

    1. Ujian merupakan realitas kemanusiaan.

    Setiap manusia pasti di uji. Kita sebagai manusia jangan sampai takut diuji, karena ujian itu pasti kita alami.

    1. Ujian merupakan realitas keimanan.

    Kalau seorang manusia biasa saja pasti diuji oleh Allah, apalagi sebagai seorang mukmin. Pada dasarnya harus ada ujian untuk mengetahui kebenaran keimanan seorang mukmin. Kadang-kadang ada orang yang merasakan keimananya sudah benar lantaran hidupnya mulus-mulus saja tanpa pernah mengalami ujian. Orang seperti ini seharusnya justru bertanya tentang kebenaran imannya, kok hidupnya santai dan mulus-mulus saja. Hal ini karena Allah menyatakan “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta ” (QS Al-Ankabut : 2-3).

    1. Ujian merupakan realitas dakwah.

    Sebenarnya secara otomatis seorang mukmin adalah seorang da’i. Jadi kalau seorang mukmin saja pasti diuji, apalagi seorang dai yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan umat.

    1. Ujian merupakan standarisasi keimanan.

    ini artinya semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, akan semakin tinggi ujiannya, semaikin tinggi ujian Allah dan lulus, maka semakin tinggi pula keimannya.

    Berbahagialah orang yang sering mendapatkan cobaan/ujian dari Allah SWT karena dengan hal itu peluang untuk meningkatkan derajat keimanannya akan semakin besar. Mudah-mudahan segala ujian yang kita terima mampu dilewati dengan sabar dan tawakal, tanpa keluh kesah, sehingga mengantarkan kita menjadi orang yang meraih kemenangan.

    ***

    (Diambil dari uraian Dr. Ahzami Sami’un Jazuli, kiriman sdr. Andria)

     
  • erva kurniawan 2:46 am on 24 December 2014 Permalink | Balas  

    berapa-lama-kita-dikuburTerkena Api di Alam Kubur

    Diceritakan dari Ibnu Hajar bahwa serombongan orang dari kalangan Tabi’in pergi berziarah ke rumah Abu Sinan. Baru sebentar mereka di rumah itu, Abu Sinan mengajak mereka untuk berziarah ke rumah tetangganya.

    “Mari ikut saya ke rumah tetangga saya untuk mengucapkan ta’ziah atas kematian saudaranya.” kata Abu Sinan kepada tamunya.

    Sesampainya di sana, mereka mendapati saudara si mati senantiasa menangis karena terlalu sedih. Para tamu telah berusaha menghibur dan membujuknya agar jangan menangis, tapi tidak berhasil. “Apakah kamu tidak tahu bahwa kematian itu suatu perkara yang mesti dijalani oleh setiap orang?” tanya para tetamu.

    “Itu aku tahu. Akan tetapi aku sangat sedih karena memikirkan siksa yang telah menimpa saudaraku itu.” jawabnya.

    “Apakah engkau mengetahui perkara yang ghaib?”

    “Tidak. Akan tetapi ketika aku menguburkannya dan meratakan tanah di atasnya telah terjadi sesuatu yang menakutkan. Ketika itu orang-orang telah pulang, tapi aku masih duduk di atas kuburnya. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kubur “Ah….ah….Mereka tinggalkan aku seorang diri menanggung siksa. Padahal aku mengerjakan puasa dan solat”.

    Jeritan itu betul-betul membuatku menangis karena kasihan. Aku coba menggali kuburnya semula karena ingin tahu apa yang sudah terjadi di dalamnya. Ternyata kuburan itu telah penuh dengan api dan di leher si mayat ada rantai dari api. Karena kasihan kepada saudara, aku cuba untuk melepaskan rantai itu dari lehernya. Sesaat aku ulurkan tangan untuk membukanya, tanganku terbakar.”

    Lelaki itu menunjukkan tangannya yang masih hitam dan mengelupas kulitnya karena bekas terkana api dari dalam kubur kepada para tamu. Dia meneruskan ceritanya: “Lalu aku menimbun kubur itu seperti semula dan pulang dengan segera. Bagaimana kami tidak akan menangis apabila mengingati keadaan itu?”

    “Apa yang biasa dilakukan oleh saudaramu ketika di dunia?” tanya teman-teman Abu Sinan.

    “Dia tidak mengeluarkan zakat hartanya.” jawabnya.

    “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka sebagai karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

    ***

    (Diambil dari Kisah-kisah Islam)

    haris.satriawan@ifs.co.id

     
  • erva kurniawan 2:20 am on 23 December 2014 Permalink | Balas  

    BERMULA DARI KITA 

    Dakwah-Islam1Bermula Dari Kita

    Dwi Nopitasari

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Suatu hari ketika jam istirahat kerja di kantor, ada seorang sahabat yang menegur saya atas ucapan dan perbuatan yang dirasa tidak sesuai dengan apa yang pernah saya lontarkan kepada orang lain. Astagfirullah ! Ya Allah ampunkan hambamu yang lemah ini, betapa saya mengingatkan orang lain sementara saya sendiri melakukannya.

    Hal ini menjadi bahan perenungan saya untuk hari-hari selanjutnya. Sebagai manusia biasa dengan didasari oleh sifat ego, terkadang kita nggak sadar dan terlalu cepat untuk memvonis seseorang atas kesalahannya, bahkan langsung berburuk sangka terhadap orang tersebut. Tanpa kita mencoba berpikir atau melihat dari sisi-sisi lain kenapa sampai si Fulan melakukan hal demikian. Sementara mungkin di lain waktu tanpa kita sadari hal yang sama akan kita lakukan sendiri.

    Berungtunglah kalau ada sahabat-sahabat kita yang mau dan berani memberi kritikan dan saran untuk perbaikan diri kita, sebelum kita terlena dalam sifat uzub dan ria serta tenggelam dalam lautan kesombongan. Sayapun jadi teringat akan sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dalam hadist tersebut Allah Ta’ala berfirman :

    “Kebesaran (Kesombongan) adalah pakain-KU dan Keagungan adalah sarung-KU. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lemparkan dia ke neraka (jahanam).”

    Dalam bermuhasabah sayapun jadi berpikir, sangatlah buruk pabila sifat sombong kita biarkan menggerogoti hati, karena bisa merusak amal kebaikan kita.Sehingga tidaklah heran, jika Nabi SAW. mencela perbuatan sombong dan membanggakan diri. Sebagaimana Sabdanya :

    “Sesungguhnya Allah SWT. telah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendahkan hati sehingga tidak ada lagi orang yang saling membanggakan diri terhadap orang lain ” (HR Muslim).

    Kejadian diatas menjadi pelajaran buat saya, bahwa sebelum kita mengubah orang lain kepada akhlak yang utama, mulailah terlebih dahulu dengan diri sendiri. Adalah aib bagi seorang manusia bila ia telah mengajari atau mendidik orang lain sedangkan dirinya sendiri masih perlu dididik dan diajari hal yang sama. Allah SWT. berfirman : “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab. Tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah : 44)

    Sungguh menjadi panutan bagi kita pula kalau Imam Hasan Basri terkenal di jamannya dulu bukan semata-mata karena beliau mengeksploitasi diri agar populer di masyarakat, melainkan terkenal otomatis akibat keluasan pengetahuan dan pemahaman ilmu agamanya serta kehalusan dan keluhuran budi pekertinya. Beliau seorang Ulama yang mumpuni tapi tawadhu’ rendah hati. Dapat dipahami jika setiap fatwa yang dikeluarkannya selalu dianut dan dipahami oleh masyarakatnya.

    Karena kredibiltasnya sebagai ulama yang hebat dan memikat hati inilah, maka para budak ( hamba sahaya) sempat berulangkali meminta bantuannya agar dalam khotbah Jumat, mengangkat topik nasib mereka, kaum sahaya, berulangkali permintaan serupa diajukan oleh para sahaya, berulangkali pula Iman Hasan Basri ternyata tak mengabulkan dan merealisirnya. Dari Jumat ke Jumat beliau tak pernah menyinggung segala masalah yang terkait dengan perbudakan. Sikap sang Imam Hasan Basri tadi tentu menimbulkan tanda tanya bin keanehan di hati para budak yang jamaah dalam Shalat Jumat.

    Ada apa gerangan? Mengapa Kyai Hasan Basri tak mampu memperjuangkan nasib kami? Bukankah Islam secara substansial mengarahkan ajaran pada penghapusan perbudakan? itulah segudang pertanyaan yang bergelayut dalam benak masing-masing hamba sahaya. Barulah pada suatu hari, setelah lama berselang, Imam Hasan Basri tiba-tiba mengangkat tema yang lama didamba kaum sahaya. Hasan Basri mengungkapkan nasib nestapa kaum sahaya yang perlu dibebaskan dari berbagai rantai dan belenggu perbudakan.

    Selesai Shalat Jumat, para budak kontan mengerumuni sang Ulama, menyalami, lantas berkata kepada beliau “Kenapa baru sekarang engkau mengungkapkan permasalahan kami, wahai Iman Hasan Basri?”

    Beliau menjawab, “Maafkan aku wahai saudaraku, Aku memang ingin menyampaikan persoalan kalian itu. Tapi, bagaimana mungkin aku sampaikan pesan kalian, sesuatu yang aku sendiri belum pernah melakukan? Ketika telah datang rizqi dan dari risky itulah aku bisa membebaskan seorang budak, barulah aku berani mendakwahkan dan menyerukan perbaikan nasib kalian.”

    Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang berani mendakwahkan dan atau menyerukan setelah dirinya terlebih dahulu memberikan contoh perbuatan. Itulah sikap dan ucapan seorang ulama yang konsisten antara ucapan dan perbuatan.

    Sangatlah sejalan dengan apa yang dikatakan Imam Ali, “Barangsiapa menjadi pemimpin, hendaklah ia mulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain, dan mendidik dengan perilaku lebih dulu sebelum dengan lisan.(pen.- mungkin kita kasih contoh lewat perilaku/sikap kita terlebih dahulu, baru lewat lisan). Pengajar dan pendidik diri sendiri lebih berhak mendapatkan keagungan daripada pendidik dan pengajar untuk orang lain.” (Berarti semuanya bermula dari kita).

    “Pada hari kiamat seorang dihadapkan dan dilempar ke neraka. Orang-orang bertanya, ” Hai Fulan, mengapa kamu masuk neraka sedang kamu dahulu adalah orang yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah perbuatan mungkar? ” Orang tersebut menjawab, ” Ya benar, dahulu aku menyuruh berbuat makruf, sedang aku sendiri tidak melakukannya. Aku mencegah orang lain berbuat mungkar sedang aku sendiri melakukannya.” (HR. Muslim)

    Wassalam

    Siti Nurjanah

     
  • erva kurniawan 2:21 am on 22 December 2014 Permalink | Balas  

    ibu dan  anakBunga Untuk Ibu

    Ibu pernah memintaku membersihkan lantai sesaat setelah aku menumpahkan bubur saat sarapan pagi. Tapi, bukan sapu atau kain lap pel yang kuambil ke belakang, karena aku malah berlari keluar melalaui pintu belakang untuk menyusul teman-teman bermain. Hal yang hampir sama juga kulakukan, saat ibu berharap aku menyapu halaman bekas aku dan teman-teman bermain dan mengotori halaman dengan sobekan kertas. Meski beberapa teman melirikkan matanya agar aku segera menuruti ibu, tapi yang kulakukan justru tak menggubris perintahnya dan selekas mungkin mengajak teman-teman bermain di tempat lain.

    Di waktu lain, ibu berpesan agar aku segera pulang setelah pulang sekolah. Namun seperti biasa, aku selalu mampir ke tempat-tempat biasa aku bermain, dan mengatakan kepada ibu bahwa terlalu banyak aktifitas di sekolah yang harus aku ikuti, demi memperkaya pengalaman dan ketrampilan. Sesekali, aku juga mengelabui ibu dengan tuntutan uang ini-itu dari sekolah yang wajib dibayar selain uang SPP. Kupikir, mungkin ibuku bodoh sehingga selalu mempercayai setiap permintaan uang tersebut yang sesungguhnya selalu kugunakan untuk mentraktir teman-temanku, sekedar untuk menunjukkan kelas sosial dan ‘sogokan’ agar aku bisa diterima oleh teman-teman. Meski setelah itu kuketahui, bahwa tidak jarang ibu berhutang untuk menutupi semua ‘biaya’ itu berharap agar aku bisa menjadi anak yang cerdas, trampil dan bisa diandalkan, aku masih tetap tak menyesal.

    Kemarin, ibu berharap aku mau membantunya melakukan beberapa pekerjaan rumah yang lumayan berat karena ibu saat itu tak sanggup melakukan semuanya. Ibuku tengah sakit. Tapi aku malah tak mempedulikannya, karena kupikir tak semestinya aku melakukan semua tugas rumah tangga itu. Akhirnya, dalam keadaan sakit, dengan nafas yang tersengal, ibu sendiri yang mengerjakannya, sementara aku tetap asik dengan urusan dan mainanku.

    Hari ini, ada sekuntum bunga persembahan dariku yang pasti tak ada harganya dari semua pengorbanan ibu. Tak membalas semua cintanya, tak membayar jerihnya, tak menghilangkan semua luka dan kecewanya, tak meringankan bebannya, tak menghentikan tangisnya, tak membasuh setitikpun peluhnya, bahkan tak menyembuhkan sakitnya, apalagi mengembalikan ibu kepadaku. Karena ibu, yang penuh cinta dan kasih terhadap anaknya ini, kini terbujur lurus dihadapanku. Kupikir, karena aku tak mencintainya dengan segala perilaku burukku terhadap ibu, Allah lebih mencintainya dan mengambilnya dariku.

    Maafkan aku ibu. Kuharap ibu tahu, bunga cintaku tak pernah luruh

    ***

    (Diambil dari artikel kiriman Bayu Gautama, http://www.eramuslim.com)

     
  • erva kurniawan 2:37 am on 21 December 2014 Permalink | Balas  

    Anak 

    keluarga-muslimANAK

    Cerpen Chairil Gibran Ramadhan

    Satu per satu anakku, setelah menikah, pergi meninggalkanku. Sementara aku, sejak suamiku meninggal tiga bulan lalu, tetap tinggal di rumah besar kami di Tebet bersama dua orang perempuan yang sudah 22 tahun bekerja padaku, seorang sopir sekaligus tukang kebun, serta seorang keponakan suamiku yang kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang.

    Suamiku sudah menyiapkan rumah untuk anak-anak kami, yang disewakannya kepada orang-orang. Setelah mereka menikah barulah ia memberikan kunci rumah-rumah itu. Ia membelinya saat memiliki jabatan tinggi di sebuah departemen dan memperoleh ‘uang lain-lain’ dari orang-orang yang mengharapkan langkahnya tidak terhalang sebutir kerikil pun. Ia melakukannya karena ingin anak-anaknya mengenang dia sebagai ayah yang bertanggung jawab.

    Suamiku meninggal akibat gagal jantung setelah 12 tahun pensiun. Sehari sebelumnya ia sempat berbicara kepadaku, telah merasa lengkap menjadi ayah karena melihat semua kejadian terhadap anak-anaknya: lahir, besar, bersekolah, menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, bekerja, menikah, tinggal di rumah-rumah yang diberikannya, dan memiliki anak. Ia dimakamkan di sebuah pemakaman luas sesuai yang pernah ia pesankan.

    Hingga kini aku merasa ia masih ada di dalam rumah kami. Menjelang jam tujuh pagi, lima sore, sembilan malam, aku masih selalu pergi ke dapur, membuatkan secangkir teh manis untuknya. Anakku yang nomor satu rupanya mendapat cerita ini dari keponakan suamiku yang tinggal bersamaku. Maka tadi sore ia datang dan meminta aku tinggal di rumah besarnya di Ciputat.

    Berkali-kali aku menolak, tentu karena aku merasa kasihan pada mendiang suamiku, tapi ia tetap berkeras seperti ayahnya. Ia mengatakan akan lebih mudah baginya untuk memantau dan mengurusku jika aku tinggal bersamanya.

    “Di kamar besar yang lain Mama bisa meletakkan semua buku milik Mama. Kalau tetap di sini Mama akan terus bersedih. Biarlah rumah ini Suci yang menjaga dan mengurusnya bersama Mbak Tar, Mbak Mi, dan Bang Ali.” Akhirnya aku menyetujui saja.

    Malam hari aku sering menangis mengingat suamiku. Sementara anak-anakku, selama dua bulan aku di sini, tidak pernah ada yang datang. Dan anakku yang nomor satu jarang sekali bertemu denganku. Ia pergi pagi ketika aku masih mengaji di kamar, dan pulang begitu malam ketika aku sudah tertidur. Dalam seminggu mungkin aku hanya bertemu dengannya dua atau tiga kali. Bahkan bisa tidak sama sekali.

    Aku sering mengingat masa ketika mereka kecil. Waktu itu setiap hari aku bisa bertemu mereka. Lalu ketika mereka masuk perguruan tinggi dan bekerja, aku pun mulai jarang bertemu. Lalu ketika mereka menikah dan tinggal di rumah-rumah yang diberikan suamiku, memiliki anak dan sibuk dengan istri atau suaminya, aku sudah tidak banyak berharap mereka akan mudah kutemui.

    Sekarang apa yang aku dapat? Sebuah senyuman dan sapaan setiap pagi hari pun tidak. Terlebih kata terima kasih atas jerih-payahku melahirkan, mendidik, membesarkan, dan menyenangkan mereka. Aku tidak bermaksud meminta balasan. Tetapi bagaimanapun menurutku mereka seharusnya tahu diri dan tahu berterimakasih. Padahal sejak mereka kecil aku dan suamiku selalu mengajarkan untuk tidak melupakan kebaikan seseorang.

    Anakku yang nomor satu, hari ini memutuskan mengirimku ke sebuah panti jompo, setelah istri dan ketiga anaknya sering mengeluhkan aku yang selalu menangis tengah malam ketika aku teringat suamiku, karena katanya mengganggu tidur mereka. Dua minggu lalu ia mengundang adik-adiknya datang. Ketika semua berkumpul, kecuali anakku yang nomor empat yang tinggal di Australia, ia memberitahukan keinginannya. “Lagipula Mama tidak mungkin kita biarkan kembali ke Tebet. Terlalu banyak kenangan tentang Papa di sana yang bisa membuat Mama sedih.” Dua bulan lagi umurku 68 tahun.

    Setelah satu tahun aku di tinggal sini, hanya Lebaran lalu saja anak-anakku datang. Sementara si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku, hampir setiap akhir pekan menjengukku.

    Hari itu semua anakku datang bersama suami, istri, dan anak-anak mereka. Hanya yang nomor empat tidak datang, karena katanya uang jutaan rupiah untuk membeli tiket pesawat bagi tiga orang ke Jakarta lebih baik disimpannya di bank. Ia hanya mengirim kartu Lebaran disertai tulisan dan tanda tangannya.

    Sedangkan cucu pertamaku memilih pergi ke rumah kekasihnya. Katanya karena ia segan. Ingat, segan. Segan bertemu neneknya. Padahal dahulu aku yang sering membersihkan kotorannya dan mengganti popok bila ia datang ke rumahku bersama orangtuanya. Lalu hingga kini tidak pernah lagi mereka datang.

    Hanya anakku yang nomor satu yang selalu mengirim ini dan itu kepadaku, biasanya berupa buku-buku terbaru psikologi, filsafat, sejarah, sastra, agama, sosial, seni, budaya, tentu saja, melalui sopirnya.

    Setiap pukul 04.30 aku bangun, mandi dengan air hangat yang keluar dari pancuran di bath-tub, sholat subuh, dan mengaji. Di sini kami seperti di rumah sendiri. Bangun jam berapa saja kami berkeinginan. Sarapan dan makan pun bebas memilih. Anak-anak telah membayar sangat tinggi untuk menitipkanku di sini. Aku jadi teringat masa ketika indekos ketika aku belajar psikologi. Hanya kini aku tidak tinggal bersama gadis-gadis cantik dan tidak untuk menuntut ilmu apa-apa. Hanya menunggu ajal.

    Tepat pukul 06.00 kami yang sudah bangun dianjurkan berkumpul di halaman depan untuk berolahraga. Cukup tiga puluh menit sekadar untuk meregangkan otot-otot tua kami. Setelah itu kami diminta untuk membersihkan diri, mandi pagi lagi kalau mau. Pukul 08.00 biasanya kami akan berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Mereka yang bangun terlambat dan tidak ingin berolahraga dan tidak ingin sarapan di ruang makan, bisa meminta petugas mengantarkan sarapannya ke kamar.

    Setelah itu hingga pukul 16.00 kami dipersilakan melakukan kegiatan apa saja sesuai keinginan: merajut, melukis, menulis surat untuk anak-anak kami, bermain catur, berkebun, membaca, menonton TV, mendengar radio, berbincang-bincang dengan teman-teman lain, atau tidur siang. Dan setiap pukul 16.30 kami biasanya akan duduk-duduk di teras panti sambil menikmati secangkir teh manis dan kue-kue kecil.

    Setelah itu kami diminta untuk mandi sore. Pukul 19.00 kami kembali berkumpul di ruang makan. Malam ini aku menikmati segelas air teh manis hangat, nasi putih, perkedel kentang, dan semur ikan bandeng dengan kuah kental kesukaanku. Hari ini tepat tiga tahun aku masuk panti.

    Aku, karena sejak muda mempunyai kegemaran membaca, setiap hari selalu hanya membaca. Apa saja aku baca. Majalah berita, koran pagi, tabloid perempuan, dan majalah perempuan yang dilanggani panti, tidak pernah kulewatkan, juga buku-buku di perpustakaan. Selama lima tahun di sini, aku sudah membaca semua buku yang ada di sana, dan tentu saja puluhan lainnya kiriman anakku yang nomor satu.

    Hari ini aku membaca sebuah buku filsafat. Sudah dua hari aku membacanya, dan tampaknya hari ini pun belum akan selesai. Padahal ketika muda dahulu satu buku tebal kubaca hanya dalam waktu satu hari, dan buku sedang cukup setengah hari saja. Setelah tua aku menjadi mudah letih dan mengantuk. Kemarin aku sulit sekali meneruskan buku itu. Aku tiba-tiba saja kembali memikirkan suamiku dan juga umurku yang sudah semakin tua. Aku tahu aku tidak akan lama lagi di sini. Teman-teman sebayaku semasa di perguruan tinggi, sudah banyak yang tiada.

    Dulu aku memiliki ratusan buku yang kubeli sejak umurku belasan tahun. Sebelum tinggal di sini, aku ingat jumlahnya sekitar 524 buah. Tersimpan rapi di perpustakaan pribadi di rumahku. Aku percaya anakku yang nomor tujuh akan menjaga buku-buku itu. Kebetulan ia mempunyai kegemaran yang sama denganku, meski sebenarnya keenam anakku yang lain, serta suamiku, juga memiliki kegemaran yang sama. Hanya saja karena ia yang paling banyak menghabiskan waktu bersamaku maka aku percaya ia akan menjaganya. Ketika masih tinggal bersamaku hampir setiap awal bulan ia menemaniku pergi ke toko buku, membeli buku-buku kegemaranku. Kebetulan aku paling menyukai buku psikologi, karena ilmu itulah yang mampu membuatku tertarik masuk ke sebuah fakultas hingga menyelesaikannya.

    Tetapi sudah sepuluh tahun ini aku tidak melakukannya. Meski berkeinginan, namun semuanya kini hanya ada di dalam angan-angan dan kenangan-kenanganku. Untunglah anakku yang nomor satu selalu mengirimkan buku-buku kegemaranku terbaru. Jadi aku tidak terlalu mengharapkan buku-buku di perpustakaan panti yang hanya beberapa puluh saja. Ketika minggu kedua tinggal di sini pernah kutanyakan kepada petugas, mereka hanya menjawab, “Uang panti tidak cukup, Nyonya.”

    “Bukankah anak-anak kami sudah membayar sangat tinggi untuk menitipkan kami di sini? Jadi bagaimana mungkin tidak cukup?” “Saya hanya petugas, Nyonya. Urusan uang ketua yayasan yang mengatur. Lagipula Bapak pernah mengatakan orang-orang tua di sini tidak terlalu suka membaca.”

    “Begitu? Bagaimana dia tahu?”

    “Bapak memang jarang datang ke sini, Nyonya. Maklumlah usaha Bapak tidak hanya panti ini.”

    “Saya punya banyak buku di rumah. Boleh saya menyumbangkannya?”

    “Dengan senang hati, Nyonya. Dengan senang hati.”

    Tetapi ternyata anakku yang nomor tujuh tidak memperbolehkannya. Di telepon ia mengatakan buku-buku itu terlalu berharga karena ada yang sudah berumur puluhan tahun dan sudah tidak beredar di pasaran. Ketika kukatakan buku-buku itu akan lebih berharga jika dibaca orang lain, ia tetap tidak memperbolehkannya. Katanya karena ia membaca pula buku-buku itu. “Lagipula anggaplah sebagai warisan yang Mama berikan untukku.” Anak-anakku, mereka tidak pernah puas hanya menerima.

    Dua hari lalu umurku 79 tahun. Aku tahu tidak akan lama lagi di sini. Hingga malam, ketujuh anakku tidak ada satu pun datang atau sekedar menelepon. Hanya datang si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku.

    Baru hari ini anakku yang nomor satu mengirim kado berisi selimut tebal dan kartu ucapan buatan pabrik. Kado itu diantar seorang sopirnya. Ingat, sopir. Dia tidak bisa datang, kata sopirnya, karena sibuk bekerja. Ingat, sibuk. Sekali lagi ingat, sibuk. Padahal dahulu ketika masih tinggal bersamaku, aku selalu menyiapkan masakan istimewa buatanku di hari ulang tahun mereka dan merayakannya bersama-sama.

    Bila tahu akan seperti ini, demi Tuhan, aku tidak bersedia melahirkan mereka. Dan aku tahu, suamiku, pasti menyesal telah menghidupi mereka. Ya!

    ***

    Chairil Gibran Ramadhan adalah cerpenis kelahiran Jakarta. Ia banyak mengangkat ‘dunia Betawi’ ke dalam cerpen-cerpennya yang bergaya realistik dan dipublikasikan di berbagai media massa.

     
  • erva kurniawan 1:54 am on 20 December 2014 Permalink | Balas  

    WaktuJangan Ambil Kembali Nikmatmu

    Hah! Aku memekik seraya membuang selimut. Kupastikan jam yang terpampang di dinding. Lemes. Pukul lima lewat tiga puluh lima menit, segera kuambil hp lalu kutekan nomor telepon tempat kerjaku. Begitu kudengar suara dari seberang telepon, segera saja aku minta maaf dan mengatakan akan datang terlambat. Tanpa ba bi bu lagi, kuputar kran air di wastafel, lalu gosok gigi dan mencuci muka. Kusisir rambut sekenanya lalu kuambil kunci sepeda dan melesatlah dengan kecepatan tinggi. Terkadang lampu merah pun kuterobos saja, bagiku hanyalah segera sampai di tempat kerja tanpa terlambat lebih lama. Keseringan begini lama-lama bisa dikubi nih.

    Hal seperti ini, bukan yang pertama bagiku. Apalagi sewaktu di tanah air. Hanya bedanya kalau di tanah air, hampir semua temanku juga begitu. Jadinya, terlambat pun masih bisa dimaklum. Di negeri ini, orang sangat menghargai waktu. Kalau kita terlambat tidak ada alasan yang bisa kita kemukakan. Gak ada alasan jalanan macet lah, bis nya datang terlambat lah atau nani nani toka. Orang sini akan bilang iiwake… yah cuma alasan kita doang.

    Saat saya duduk menghadap layar komputer, tanpa sengaja mata saya tertumbuk pada satu tulisan, “Sholatlah, sebelum engkau di sholatkan”. Saya tercenung sejenak, teringat sholat saya yang sering tidak tepat waktu. Apalagi sholat shubuh, banyak sekali alasannya untuk segera bangun padahal alarm di HP melengking-lengking. Dan biasanya pada dini hari bunyi email masuk dari milis KEMIS, sebuah kelompok pengajian di Sizuoka, cukup memekakan telinga. Kubuka isinya, “Sholat yuk”… ajakan untuk tahajjud. Tapi dahsyatnya, kenapa setelah dibaca mata ini semakin mengantuk. “Sebentar deh, masih ada waktu kan? Daripada kecepetan bangun entar subuhnya kebablasan,” gumamku sendiri. Akhirnya tertidur dan begitu mata terbuka, matahari telah bersinar dengan secerah-cerahnya seakan ia tersenyum meledekku. Tentu saja segera kuambil air wudlu dan sholat.

    Tapi sepertinya aku tak pernah jera dengan kondisi ini. Tidak seperti ketakutanku saat terlambat datang ke tempat kerja, yang dengan wajah memohon aku meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangnya lagi. Hari-hari berikutnya, aku selalu datang sepuluh menit sebelumnya ke tempat kerja. Tapi untuk urusan sholat, yang sering tak tepat waktu bahkan, jarang sekali aku menyesalinya. Bahkan untuk bertobat dan jera untuk mengulanginya pun, rasanya jarang sekali kulakukan. Aku paham sekali hal ini salah. Mungkin sholat bagiku bukan suatu kebutuhan, yah sekedar gugur kewajibanlah.

    Apakah memang aku sudah kebal dengan kebaikan hingga sulit untuk berubah atau Allah sudah mendiamkanku hingga terus berlarut-larut hingga kutemukan sendiri kealpaanku selama ini? Tanpa terasa air mata menitik di kedua pipiku. Ya Allah, jangan tinggalkan hamba-Mu ini. Jangan Engkau tarik kembali kenikmatan yang penah Engkau beri. Sungguh hamba bertobat. Tak akan ku sia-siakan lagi waktu untuk bermasyuk denganMu. Ampuni hamba-Mu ya Karim..

    ***

    Kiriman: haris.satriawan@ifs.co.id

     
  • erva kurniawan 1:39 am on 19 December 2014 Permalink | Balas  

    sabar (1)Termasuk Iman Kepada Allah: Sabar Atas Segala Takdirnya

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

    Firman Allah Ta’ala (artinya):

    “Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

    ‘Alqamah (‘Alqamah bin Qais bin ‘Abdullah bin Malik An-Nakha’i. Salah seorang tokoh dari ulama tabi’in. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Meninggal th. 62 H / 681M) menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan:

    “Yaitu: orang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Ada dua perkara masih dilakukan orang, padahal kedua-duanya adalah kufur, yaitu: mencela keturunan dan meratapi orang mati.”

    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah.”

    Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya maka Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia; sedang apabila Allah menghendaki keburukan pada seorang hamba-Nya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diuji-Nya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.” (Hadits hasan, menurut At-Tirmidzi)

    Kandungan tulisan ini:

    1. Tafsiran ayat dalam surah At-Taghabun. Ayat ini menunjukkan keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah; dan menunjukkan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.
    2. Sabar terhadap segala cobaan termasuk iman kepada Allah.
    3. Disebutkan hukum tentang perbuatan mencela keturunan.
    4. Ancaman keras terhadap orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian dan menyeru dengan seruan jahiliyah (karena meratapi orang mati).
    5. Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya.
    6. Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya.
    7. Tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
    8. Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah.
    9. Pahala bagi orang yang ridha atas cobaannya.

    ***

    Kiriman: Ayah Raihan

    Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

    Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

    Sumber : http://www.assunnah.or.id

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 730 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: