Updates from erva kurniawan Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • erva kurniawan 1:29 am on 29 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (14) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (14)

    Zakat Harta Haram

    1. Harta haram adalah semua harta yang secara hukum syariat dilarang dimiliki atau memanfaatkannya, baik haram karena bendanya mengandung mudarat atau kotoran seperti mayit dan minuman keras, atau haram karena faktor luar, seperti adanya kesalahan dalam cara pengalihan milik, seperti mengambil sesuatu dari pemiliknya tanpa izin (merampok), mengambil dari pemilik dengan cara yang tidak dibenarkan hukum, meskipun dengan kerelaan pemiliknya, seperti transaksi riba dan sogok.
    2. Pemegang harta haram yang mendapat harta dengan cara yang tidak beres, tidak dianggap pemilik barang tersebut selama-lamanya. Dia diwajibkan mengembalikannya kepada pemilik aslinya atau kepada ahli warisnya jika diketahui.
    • Jika tidak diketahui lagi, dia diwajibkan mendermakan harta tersebut kepada kepentingan sosial dengan meniatkan bahwa derma tersebut adalah atas nama pemilik aslinya.
    • Jika ia mendapatkan harta haram itu sebagai upah dari pekerjaan yang diharamkan maka ia harus mendermakannya untuk kepentingan sosial dan tidak boleh dikembalikan kepada orang yang memberinya.
    • Harta haram tidak dikembalikan kepada pemilik semula, selama dia masih tetap melakukan transaksi yang tidak legal tersebut, seperti harta yang diperoleh dari transaksi riba, akan tetapi diharuskan mendermakannya kepada kepentingan sosial.
    • Bila terdapat kesulitan dalam mengembalikan harta, pemegangnya diwajibkan mengembalikan nilainya kepada pemiliknya semula jika diketahui, bila tidak, maka nilai tersebut didermakan kepada kepentingan sosial dengan meniatkan derma tersebut atas nama pemilik semula.
    1. Harta yang haram karena zatnya sendiri, tidak wajib dibayar zakatnya, karena menurut hukum tidak dianggap harta yang berharga. Untuk menyelesaikannya harus dilalui cara-cara yang dibenarkan dalam agama.
    • Pemegang harta yang haram karena terdapat ketidakberesan dalam cara mendapatkannya tidak wajib membayar zakatnya, karena tidak memenuhi kriteria “dimiliki dengan sempurna” yang merupakan syarat wajib zakat. Bila sudah kembali kepada pemiliknya semula, yang bersangkutan wajib membayar zakatnya untuk satu tahun yang telah lalu, walaupun hilangnya sudah berlalu beberapa tahun. Hal ini sesuai dengan pendapat yang lebih kuat.
    • Pemegang harta haram yang tidak mengembalikannya kepada pemilik aslinya, kemudian membayarkan sejumlah zakat dari harta tersebut, masih tetap berdosa menyimpan dan menggunakan sisa harta tersebut dan tetap diwajibkan mengembalikan keseluruhannya kepada pemiliknya selama diketahui, bila tidak, maka dia diwajibkan mendermakan sisanya. Adapun harta yang dibayarkan itu tidak dinamakan zakat.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:21 am on 28 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (13) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (13)

    Zakat Perusahaan Dagang Dan Industri

    1. Zakat perusahaan industri disamakan dengan perdagangan dengan pertimbangan sama-sama subjek hukum abstrak dalam kondisi-kondisi sebagai berikut :
    • Adanya peraturan yang mengharuskan pembayaran zakat perusahaan tersebut.
    • Aturan Dasar perusahaan memuat hal tersebut.
    • Dewan Umum mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan hal itu.
    • Kerelaan para pemegang saham menyerahkan pengeluaran zakat sahamnya kepada dewan direksi perusahaan.

    Pendapat ini berdasarkan prinsip usaha bersama yang diterangkan dalam hadis Nabi saw. tentang zakat binatang ternak yang penerapannya digeneralisasikan oleh beberapa mazhab fikih dan yang disetujui pula dalam Muktamar Zakat I. Sebaiknya perusahaan yang bersangkutan itulah yang membayar zakat dalam keempat kondisi yang disebutkan di atas. Jika tidak, maka perusahaan harus menghitung seluruh zakat kekayaannya kemudian memasukkan ke dalam anggaran tahunan catatan yang menerangkan nilai zakat setiap saham untuk mempermudah pemegang saham mengetahui berapa zakat sahamnya.

    1. Perusahaan yang bersangkutan menghitung zakat kekayaannya dengan cara yang sama seperti zakat individu biasa.

    Sehingga masing-masing jenis kekayaan dikeluarkan zakatnya sesuai dengan volume yang ditentukan baik berupa uang, hewan ternak, hasil pertanian, komoditas atau pun yang lainnya.

    Namun perlu diketahui bahwa saham yang dimiliki oleh negara, badan wakaf, lembaga zakat atau yayasan sosial lainnya, tidak wajib dizakati.

    Zakat Pendapatan Dan Propesi

    Hasil pendapatan ialah harta yang menjadi milik si pembayar zakat yang sebelumnya tidak dia miliki. Jika seorang pembayar zakat telah memiliki suatu harta yang mencukupi nisab kemudian sebelum sampai haul dia mendapatkan harta dari jenis yang sama, seperti keuntungan dagang atau produksi hewan ternak, maka harta yang didapatkan tersebut digabung dengan modal pokok saat sampai haulnya, kemudian dizakati, baik harta yang didapat berasal dari pertumbuhan dan penambahan dari modal pokok atau bukan.

    Pendapat ini diadopsi dari pendapat mazhab Hanafi, dalam upaya menghindari kesulitan akibat dari berpencarnya harta yang wajib dizakati, perbedaan waktu pembayaran zakat dan untuk memudahkan mengetahui volume zakat dari setiap bagian dari harta miliknya. Jika pendapatan tersebut berasal dari jenis yang berbeda, bukan sejenis modal pokok, seperti dia memiliki uang kemudian dia mendapatkan penghasilan hewan ternak, maka penghasilan ini tidak digabungkan untuk melengkapi nisab modal pokok, jika masih kurang dan tidak digabungkan ke haul modal pokok tersebut, jika haulnya belum lengkap tetapi haulnya dimulai di saat ia memperoleh pendapatan tersebut dan telah sampai nisab.

    Hasil pendapatan yang diperoleh dari selain pertambahan modal pokok atau karena sebab lain, tetapi jenisnya sama dengan jenis harta pokok, seperti upah dan gaji (berupa uang), semuanya digabung dengan kekayaan pokok milik si wajib zakat untuk melengkapi nisab dan haul, kemudian dizakati.

    Bagi orang yang ingin kehati-hatian, dapat mengalkulasikan jumlah yang diperkirakan akan melebihi kebutuhan keluarganya satu tahun, kemudian membayar zakatnya, (dalam catatan). Artinya mempercepat pembayaran zakat sebelum haul, dengan syarat nanti dia akan tetap mengalkulasikan hartanya di akhir haul, berapa yang wajib dizakati secara real, kemudian membayar kekurangannya. Jika ternyata lebih, maka lebihnya menjadi sedekah suka rela.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 2:15 am on 27 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (12) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (12)

    Bagaimana Seorang Pedagang Menaksir Aset Dagangnya?

    Setiap pedagang harus menaksir kekayaan niaganya dengan harga pasaran yang berlaku ketika itu baik lebih rendah dari harga pembelian atau pun lebih tinggi karena harga saat itulah yang dijadikan standar. Yang dimaksud dengan harga pasaran ialah harga penjualan pada saat kewajiban zakat itu tiba.

    Di sini tidak diterapkan prinsip akuntansi lama yang memperhitungkan biaya atau harga pasaran yang lebih murah karena hal itu hanya berlaku dalam usaha bersama di mana para partner yang berserikat berhak memilih apakah akan menghitung seluruh keuntungan untuk dibagikan atau akan menyisihkan sebagiannya dengan cara memilih biaya atau harga pasar yang lebih rendah. Sedangkan zakat bukan hak si pembayar zakat namun hak mustahik di antara delapan golongan masyarakat yang telah ditentukan. Dari situ, maka harus diyakinkan bahwa kewajiban itu dibayarkan dengan memperhitungkan harga pasaran yang telah mencakup biaya produksi dan keuntungan yang dikandungnya.

    Apabila harga pasaran lebih rendah dari biaya produksi, maka untuk mencegah kerugian si pembayar zakat, harta perniagaan itu ditaksir dengan harga grosir meskipun nanti akan dijual secara grosir atau eceran sebagaimana yang diputuskan oleh Lembaga Fikih di Mekah.

    Mengeluarkan Zakat Dalam Bentuk Barang Atau Harganya

    Pada dasarnya zakat komoditas dagang, dibayar dalam bentuk uang berdasarkan harga yang berlaku pada waktu kewajiban zakat itu tiba, bukan berupa barang. Pendapat ini berdasarkan riwayat dari Umar bin Khatthab r.a. yang berkata kepada Hammas, “Bayarlah zakat hartamu!” Hammas menjawab, “Saya hanya memiliki beberapa buah kantong kulit.” Umar menyuruh, “Taksir harganya lalu bayar zakatnya.” Pendapat ini lebih berguna bagi kaum fakir supaya mereka dapat memenuhi hajat hidupnya yang bermacam-macam.

    Walau demikian, boleh mengeluarkan zakat dalam bentuk barang untuk mempermudah dan meringankan si pembayar zakat ketika kondisi perdagangan sedang lesu atau arus likuidasi lemah, dengan syarat barang tersebut harus dapat dimanfaatkan oleh kaum miskin.

    Piutang Pedagang Di Tangan Orang Lain

    Piutang seperti ini dibagi ke dalam dua bagian .

    1. Piutang yang diharapkan dapat dilunasi:

    Yaitu piutang yang berada pada seorang yang mengaku berutang dan mampu melunasinya atau mengingkari utang tersebut namun terdapat bukti dan dalil jika seandainya perkara itu dihadapkan ke pengadilan niscaya si pedagang akan berhasil memenangkannya. Piutang ini dikenal dengan istilah piutang baik. Piutang seperti ini harus dibayar zakatnya setiap tahun oleh pedagang atau pun perusahaan.

    1. Piutang yang tidak diharapkan dapat dilunasi:

    Yaitu piutang yang ada di tangan orang yang mengingkari utangnya dan tidak terdapat bukti apa pun. Atau piutang yang terdapat pada seseorang yang mengakui dirinya berutang tetapi senantiasa menunda pembayaran atau dalam keadaan kesulitan keuangan sehingga tidak mampu melunasinya. Piutang ini dikenal dengan istilah piutang yang diragukan dapat dilunasi. Piutang yang seperti ini tidak wajib dizakati oleh pedagang atau pun perusahaan kecuali setelah benar-benar diterima, ketika itu, wajib dizakati untuk satu tahun, walaupun sudah berada di tangan si pengutang beberapa tahun lamanya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:13 am on 26 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (11) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (11)

    Definisi Komoditas Dagang

    Yang dimaksud dengan komoditas dagang ialah seluruh barang yang dibeli dengan tujuan untuk diperdagangkan, baik dengan cara mengimpor dari luar negeri atau dibeli dari pasar setempat. Komoditas itu bisa berupa real estate, bahan makanan, bahan pertanian, hewan ternak dan lain sebagainya, baik dilakukan oleh perseorangan atau beberapa orang dalam sebuah usaha bersama.

    Perbedaan Antara Barang Milik Pribadi Dan Komoditas Dagang

    Yang dimaksud dengan barang milik pribadi ialah semua barang yang dibeli untuk digunakan secara pribadi, bukan untuk diperdagangkan yang dalam ilmu akuntansi dinamakan aset tetap, yaitu yang dibeli oleh seorang pedagang atau pengusaha dengan niat untuk ditahan sebagai alat produksi, seperti mesin, bangunan, mobil, peralatan, areal tanah, perabotan, gudang, rak pajang, meja dan perlengkapan kantor dan lain-lain yang tidak untuk diperjualbelikan. Seluruh benda-benda itu merupakan aset yang tidak wajib dizakati dan tidak termasuk harta zakat.

    Sedangkan komoditas dagang adalah barang-barang yang sengaja dipersiapkan untuk diperjualbelikan yang di dalam istilah akuntansi dinamakan dengan aset berkembang. Yaitu segala sesuatu yang dibeli oleh seorang pedagang atau pengusaha dengan niat untuk diperdagangkan. Seperti barang dagangan, alat-alat, mobil, tanah dan lain-lain. Semua komoditas itu harus dizakati bila telah memenuhi syarat wajibnya.

    Syarat Wajib Zakat Komoditas Dagang

    Syarat wajib zakat komoditas dagang sama dengan syarat wajib zakat kekayaan uang ditambah dua syarat lain yaitu usaha dan niat.

    1. Usaha, yaitu memiliki komoditas dagang dengan cara transaksi pertukaran.

    Baik melalui transaksi pembelian kontan atau barter, atau dengan utang biasa dan berjangka. Seperti seorang wanita yang memperoleh suatu komoditas sebagai mahar kawin atau pengganti khuluk.

    Tetapi bila komoditas itu diperoleh dengan cara warisan, hibah, menarik kembali barang yang cacat atau memanfaatkan tanah yang dimiliki untuk pertanian, maka berarti ia tidak menzakatinya sebagai komoditas dagang namun sebagai barang-barang ekploitasi karena diperoleh tidak dengan proses pertukaran.

    1. Niat, yaitu dengan merencanakan akan memperdagangkan komoditas yang telah diperoleh.

    Berdagang ialah menjual komoditas yang telah dibeli dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Agar niat dapat dianggap sah harus dikukuhkan ketika pertama kali membeli suatu komoditas. Seandainya seseorang membeli sebuah mobil dengan niat untuk pemakaian pribadi tetapi akan dijual juga bila mendatangkan keuntungan, maka mobil itu tidak termasuk komoditas dagang yang wajib dizakati. Berbeda dengan seandainya ia membeli beberapa unit mobil dengan niat diperdagangkan dan untuk mencari laba lalu salah satu dipakai sendiri, maka mobil tersebut tetap sebagai komoditas dagang yang wajib dizakati, karena yang dijadikan tolak ukur adalah niat pertama ketika membeli.

    Dengan demikian segala barang yang dibeli dengan niat untuk dimanfaatkan sendiri, tidak bisa dianggap sebagai komoditas dagang hanya karena ingin menjual jika mendatangkan laba. Segala barang yang diniatkan untuk diniagakan tidak akan berubah menjadi barang milik pribadi hanya karena digunakan untuk pemakaian sendiri sewaktu-waktu.

    Namun bila seorang telah membeli suatu barang dengan niat untuk diperdagangkan kemudian sebelum dijual ia merubah niat dan memanfaatkannya buat kepentingan pribadi, maka niat itu telah cukup untuk merubah status barang di atas dari komoditas dagang menjadi barang milik pribadi sehingga tidak wajib dizakati. Begitu juga sebaliknya, jika ia membeli sebuah barang untuk dipakai sendiri kemudian berubah niat untuk diniagakan, maka barang itu wajib dizakati.

    Termasuk komoditas dagang yang wajib dizakati adalah laba yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan berikut :

    1. Praktek jual beli dengan tujuan mencari keuntungan yang mencakup proyek-proyek perdagangan baik berupa usaha individual atau pun mudarabah, atau perusahaan pribadi atau pun perseroan dan lain sebagainya.
    2. Praktek mediasi antara pedagang, seperti para broker dan makelar yang mendapatkan komisi.
    3. Praktek tukar-menukar mata uang dan berbagai macam bentuk investasi.

    Cara Membayar Zakat Komoditas Dagang

    Apabila waktu pembayaran zakat telah tiba, maka wajib bagi seorang pedagang muslim atau pemilik suatu perusahaan menginventarisir aset usahanya yang berupa komoditas dagang lalu menggabungkannya dengan kekayaan uang lain, baik yang dikembangkan dalam perniagaan maupun tidak, ditambah dengan piutang-piutang yang kemungkinan besar dapat dilunasi lalu dikurangi utang-utang yang harus dilunasi kepada pihak lain kemudian sisanya dizakati sebesar 2,5% (lihat kembali: haul sebagai syarat wajib zakat).

    Dalam masalah ini Imam Abu Ubaid telah meriwayatkan pendapat Maimun bin Mahran sebagai berikut: “(Bila telah tiba waktu pembayaran zakat, maka hitunglah kekayaan uang dan barang perniagaan yang kamu miliki kemudian taksir seluruhnya dalam bentuk uang setelah ditambah dengan piutang yang ada dan dikurangi dengan utang yang harus dilunasi kemudian zakatilah sisanya).”

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 25 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (10) 

    Management Dan Audit Zakat (10)

    Pengauditan Zakat Berbagai Jenis Pendapatan (Kalkulasi Untung Rugi)

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Daftar pendapatan adalah salah satu daftar keuangan yang dibuat oleh akuntan di akhir setiap priode atau secara umum pada akhir tahun anggaran. Daftar ini disebut dengan kalkulasi untung rugi. Daftar ini mencakup semua pemasukan dan pengeluaran yang terjadi pada priode tahun anggaran. Dengan daftar ini dapat diproyeksikan jumlah keuntungan atau kerugian yang akan dialami perusahaan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Semua pemasukan harus ditaksir harganya dengan benar sesuai dengan aturan kegiatan yang dibenarkan hukum Islam. Di antara hal yang perlu diperhatikan adalah halal haramnya pemasukan tersebut. Bila pemasukan mencakup harta yang haram atau kotor, maka wajib disisihkan terlebih dahulu. Demikian juga dengan perbelanjaan harus ditaksir dengan baik dan benar sesuai dengan aturan yang dibolehkan dalam hukum Islam. Di antara hal-hal yang perlu diperhatikan adalah perbelanjaan yang tidak mubazir, tidak mewah dan tidak berlebih-lebihan. Zakat tidak terpengaruh secara langsung dengan point-point daftar pendapatan tetapi barang-barang zakat akan terpengaruh akibat tagihan-tagihan yang harus dipotong dari pendapatan. Hal ini akan lebih jelas pada penjelasan berikut.

    1. Pengauditan zakat pendapatan.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Pemasukan adalah gelombang dana yang masuk kepada perusahaan dalam tahun anggaran tertentu yang berpengaruh besar terhadap barang-barang modal. Di antara point-point pemasukan adalah; hasil penjualan, hasil penyewaan barang tak bergerak, penghasilan investasi dan komisi. Semua ini diatur menurut kaidah hak milik dalam konsep akuntansi konvensional.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Pemasukan dalam barang-barang zakat termasuk penambahan agen dan debitor atau penambahan jumlah uang di bank atau di kas. Dana ini tidak digabungkan dengan barang-barang zakat, sehingga tidak kena zakat dua kali.

    1. Pengauditan zakat perbelanjaan (umum).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan perbelanjaan adalah semua jenis biaya yang dibayarkan untuk memperlancar jalannya kegiatan perusahaan, seperti gaji, sewa, transportasi, pengangkutan dll. Perbelanjaan dapat dibagi kepada:

    • Perbelanjaan langsung, seperti biaya-biaya produksi
    • Perbelanjaan tidak langsung, seperti biaya pemasaran dan biaya administratif.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Perbelanjaan ini tergolong biaya jasa, tidak ada hubungan sama sekali dengan benda barang produksi, oleh sebab itu tidak termasuk dalam barang-barang zakat. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam kalkulasi zakat atas kegiatan yang sedang dalam penyelesaian atau barang yang masih dalam proses produksi. Di segi lain, sewaktu membayar biaya-biaya ini terkadang mengalami pemotongan dari barang-barang zakat, oleh sebab itu tidak dapat dipotong lagi dari barang zakat, sehingga tidak terjadi dua kali pemotongan yang mengakibatkan penurunan volume zakat yang dibayar.

    1. Pengauditan zakat keuntungan yang telah diterima.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Hasil yang diperoleh dari deposito, tabungan investasi dan sebagainya dianggap pemasukan yang dapat dilihat dalam daftar pemasukan atau dalam kalkulasi untung rugi. Dalam sistem akuntansi konvensional tidak dibedakan antara pemasukan yang halal dan pemasukan yang haram, oleh sebab itu semuanya digabungkan dalam satu paket.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Islam menganggap bahwa penghasilan yang diperoleh dari deposito dan rekening investasi adalah riba yang diharamkan oleh Alquran dan hadis. Penghasilan seperti ini dianggap hasil usaha kotor yang harus disingkirkan dan harus segera didermakan kepada kegiatan kebajikan, kecuali untuk pencetakan Alquran dan pembangunan mesjid. Harta ini tidak boleh dimasukkan ke dalam hak milik si wajib zakat. Paling boleh dibayarkan sejumlah zakatnya saja, malah sebagian besar ulama berpendapat tidak boleh dizakati sama sekali, karena Allah bersih, tidak menerima yang kotor-kotor. Bila harta seperti ini masuk ke dalam barang-barang zakat, harus segera disingkirkan dengan mendermakannya kepada kegiatan-kegiatan kebajikan sosial, sedangkan yang tersisa dibayarkan zakatnya.

    Fatwa Komite Fikih Islam, Organisasi Konperensi Islam, Jeddah

    1. Zakat Utang (Keputusan No. 1 Tahun 2)

    Setelah memperhatikan dan mendiskusikan masalah zakat utang dari berbagai seginya, Komite menyatakan sbb :

    • Tidak ada teks dalam Alquran atau hadis Nabi saw. yang menjelaskan masalah zakat utang.
    • Banyak dijumpai info klasik dari para sahabat dan tabiin r.a. yang menjelaskan tentang cara pembayaran zakat utang
    • Persepsi tentang zakat utang terdapat perbedaan di kalangan mazhab-mazhab keislaman.
    • Perbedaan tersebut barang kali didasari oleh perbedaan persepsi tentang kaidah penyebutan istilah “pendapatan” terhadap sejumlah uang yang mungkin diperoleh sebagai pembayaran utang.

    Bila debitor berkecukupan dan selalu membayar utang tepat waktu, maka zakat utang wajib dibayar oleh pemberi piutang setiap tahun.

    Bila debitor tergolong orang susah atau suka menunda-nunda pembayaran utang, maka zakat utang wajib dibayar oleh pemberi piutang setelah memenuhi kurun waktu satu tahun (haul) dari saat penerimaan bayaran,.

    1. Zakat Barang Tidak Bergerak Dan Tanah (non-pertanian) Sewaan (keputusan No.2 Tahun 2)

    Setelah membaca kajian yang dibuat tentang (zakat barang tidak bergerak dan tanah non-pertanian sewaan), dan setelah mendiskisukan permasalah secara detil, Komite memutuskan sbb:

    • Tidak diperoleh teks yang jelas yang mewajibkan pembayaran zakat atas barang tidak bergerak dan tanah sewaan.
    • Demikian juga tidak diperoleh teks yang jelas yang mewajibkan pembayaran segera zakat hasil barang tidak bergerak dan sewa tanah non-pertanian. Oleh sebab itu, Komite memutuskan :

    Zakat tidak diwajibkan atas modal barang tidak bergerak dan tanah sewaan

    Zakat hanya diwajibkan atas penghasilannya sebesar 2,5 % setelah cukup haul terhitung dari saat penerimaannya dengan mempertimbangkan syarat-syarat dan penghalang lainnya.

    3. Zakat Aset Perusahaan (Keputusan No. 3 Tahun 3)

    Setelah memperhatikan kajadian tentang zakat modal perusahaan, Komite memutuskan sbb :

    • Saham perusahaan wajib dizakati oleh pemilik saham. Perusahaan dapat bertindak sebagai wakil pemilik saham untuk menyalurkan zakatnya atas nama mereka.
    • Dewan manejerial dapat menyalurkan zakat saham perusahaan bagaikan subjek hukum konkrit membayar zakatnya, dengan artian bahwa semua saham yang terdapat dalam perusahaan tertentu dianggap bagaikan sebuah harta milik seorang. Dengan demikian wajib dibayar zakatnya sesuai dengan jenis harta, nisab, volume zakatnya dan ketentuan lain dalam zakat harta pribadi. Hal ini diputuskan atas kaidah “harta campuran” yang menurut sebagian ulama boleh digeneralisasikan terhadap semua jenis harta. Saham yang tidak dikenakan zakat, harus dipotong, termasuk saham tabungan umum, wakaf, badan kebajikan dan saham non-muslim.
    • Bila perusahaan tidak membayar zakat sahamnya, maka para pemegang saham wajib membayar zakat sahamnya masing-masing. Bila pemilik saham memperoleh keterangan tentang pembayaran zakat sahamnya pada perusahaan tersebut, maka berarti kewajiban zakatnya telah selesai, sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Bila pemegang saham tidak mendapatkan keterangan tersebut, maka dilihat niat pemegang saham tersebut, kalau niatnya sewaktu mendepositkan saham hanya untuk memperoleh penghasilan tahunan dari deposit tersebut, maka dia membayar zakatnya atas dasar zakat eksploitasi, yaitu sebesar 2,5 % dari keuntungan (di luar modal) dengan mempertimbangkan haul terhitung dari saat penerimaan keuntungan tersebut dan syarat serta penghalang lainnya. Hal ini sesuai dengan keputusan Komite Fikih Islam pada sidang tahun kedua tentang zakat barang tidak bergerak dan tanah non-pertanian sewaan.

     

    Bila pemilik saham mendepositkan modalnya dengan maksud dagang, maka ia wajib membayar zakatnya atas dasar modal perdagangan, ia wajib membayar sebesar 2,5 % dari modal dan keuntungan setelah cukup haul yang nilainya dihitung atas dasar harga pasaran sedang berjalan atau penentuan seorang ahli.

    • Bila seorang pemilik saham menjual sahamnya di tengah-tengah haul, dia diharuskan menggabungkan harga saham tersebut dengan harta kekayaannya yang lain, seterusnya membayar zakatnya sekalian, bila haulnya sempurna. Pembeli diharuskan membayar zakat saham yang baru di beli tersebut sesuai ketentuan di atas.
    1. Penyaluran Zakat

    Penginvestasian zakat dalam proyek-proyek yang menguntungkan

    Setelah membaca dan mendengarkan pendapat peserta dan tenaga ahli tentang kajian yang dibuat seputar penginvestasian zakat dalam proyek-proyek yang menguntungkan bukan atas nama pribadi mustahik, Komite memutuskan sbb:

    Secara prinsip dobolehkan menginvestasikan zakat dalam proyek-proyek investasi yang menguntungkan bukan atas nama mustahak zakat atau atas nama pihak resmi yang bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat dengan catatan : proyek ini dilakukan setelah memenuhi semua kebutuhan pokok para mustahak dan terdapat jaminan yang cukup bonafid untuk menghindari terjadinya kemungkinan kerugian.

    1. Mustahik Zakat

    Penyaluran zakat kepada Dana Solidaritas Islam.

    Setelah membaca nota penjelasan tentang Dana Solidaritas Islam dan aktifitasnya yang disampaikan pada Seminar Dewan Zakat III serta kajian yang dibuat seputar penyaluran zakat kepada Dana Solidaritas Islam, Komite menghimbau :

    Dalam upaya membantu Dana Solidaritas Islam merealisir targetnya (sesuai dengan AD) dan memperhatikan keputusan Pertemuan Puncak Islam II yang menyebutkan pendirian Dana ini dengan pembiayaannya dari sumbangan negara-negara anggota, mengingat bahwa sebagian anggota tidak mengirimkan sumbangannya secara rutin, maka Komite menghimbau seluruh negara-negara anggota dan yayasan-yayasan keislaman lainnya untuk memberikan bantuan dana kepada yayasan di atas guna dapat merealisir target mulianya dalam melayani kepentingan ummat Islam.

    Memutuskan :

    Pertama. Tidak diperkenankan menyalurkan uang zakat untuk membantu aktifitas Dana Solidaritas Islam, karena hal tersebut akan menghambat mustahak zakat lainnya yang tertera dalam Alquran mendapatkan hak mereka.

    Kedua. Dana Solidaritas Islam seharusnya meminta keagenan baik dari pribadi-pribadi, instansi-instansi untuk menyalurkan zakat harta mereka kepada mustahak yang legal dengan syarat-syarat sbb :

    • Masing-masing wakil dan pemberi wakil memenuhi kriteria resmi.
    • Dana Solidaritas memasukkan masalah ini ke dalam AD & ART dan tujuan organisasinya serta mengadakan revisi seperlunya agar dapat melakukan kegiatan seperti dimaksud.
    • Dana Solidaritas membuat kotak khusus penampungan zakat sehingga tidak bercampur dengan dana lain yang dapat dipergunakan di luar mustahak zakat seperti kepentingan umum dll.
    • Dana Solidaritas tidak diperkenankan menggunakan dana zakat untuk keperluan administrasi, gaji pegawai dan pengeluaran lainnya yang tidak termasuk dalam mustahak zakat yang delapan.
    • Dalam menyalurkan zakat, Dana Solidaritas harus memperhatikan syarat-syarat yang ditentukan untuk mustahak zakat yang delapan.
    • Dana Solidaritas harus konsekwen menyalurkan zakat tersebut secepat mungkin, paling lama satu tahun, agar mustahak dapat mempergunakannya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:05 am on 24 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (9) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (9)

    Pengauditan Zakat Hak Milik

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan hak milik adalah hak milik bersih pemegang saham (pemilik perusahaan) yaitu perbedaan antara total nilai barang-barang modal dikurangi dengan total tagihan-tagihan dan potongan-potongan. Ini dapat digambarkan dalam persamaan berikut:

    Hak milik = barang-barang modal – (tagihan dan potongan).

    Hak milik dapat mencakup point-point berikut:

    1. Modal
    2. Biaya-biaya persediaan (cadangan)
    3. Keuntungan yang belum dibagi-bagikan

    Definisinya menurut hukum Islam:

    Hak milik disebut juga dengan tanggungan keuangan bersih. Materi ini telah dibicarakan oleh pakar fikih secara panjang lebar dalam buku-buku fikih, bab modal.

    Point-point hak milik di atas akan dijelaskan berikut, baik dari segi definisi, cara kalkulasinya menurut sistem akuntansi konvensional berikut cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam dari kaca mata pengauditan zakat.

    1. Pengauditan zakat saham (modal)

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang diinvestasikan oleh pemegang saham dalam suatu perusahaan modal yang terdiri dari banyak saham. Setiap saham dianggap sebagai satu kuota dari modal perusahaan secara keseluruhan. Saham tersebut adalah berbentuk nilai nominal yang harus dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Modal yang harus dibayar adalah merupakan hak milik pemegang saham yang terlihat dalam bentuk nilai nominal yang harus dibayar masing-masing. Modal ini adalah merupakan sumber pendanaan perusahaan untuk jangka panjang yang secara hukum tidak dianggap sebagai utang atas perusahaan, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Pengauditan zakat biaya-biaya cadangan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang disisihkan dari penghasilan bersih yang dapat didistribusikan untuk menunjang kondisi perusahaan atau untuk pendanaan kegiatannya di masa mendatang ataupun untuk mengimplementasikan peraturan pemerintah.

    Di antara contoh cadangan tersebut adalah sbb:

    • Cadangan untuk suatu peraturan yang bersifat mengikat
    • Cadangan untuk peraturan yang bersifat opsional
    • Cadangan untuk penggantian barang-barang modal
    • Cadangan untuk modal dasar.

    Dalam pelaksanaan biaya-biaya cadangan ini harus diperhatikan aturan-aturan pelaksanaan dan kaidah-kaidah akuntansi yang berlaku umum. Biaya-biaya ini akan nampak dalam daftar keuangan pusat pada point hak milik.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Biaya-biaya cadangan ini dianggap sebagai hak milik para pemegang saham, karena bersumber dari keuntungan yang sudah merupakan hak mereka, sesuai dengan jumlah aset yang tertulis dalam daftar. Biaya-biya cadangan ini tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena termasuk keuntungan yang disisihkan untuk para pemegang saham, pemilik perusahaan atau untuk perusahaan itu sendiri, oleh sebab itu tidak termasuk dalam ikatan-ikatan yang harus dibayar.

    1. Pengauditan zakat modal tambahan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dibayar oleh para pemegang saham sebagai penambahan saham baru. Jumlah ini dapat terlihat dari perbedaan antara nilai saham nominal dengan nilai saham sewaktu pencatatan. Dana ini diperlakukan sebagai dana cadangan modal dan kadang-kadang dianggap sebagai hak milik.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini dianggap sebagai dana cadangan, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Pengauditan zakat keuntungan yang belum didistribusikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dihasilkan oleh perusahaan pada tahun-tahun yang lalu, karena satu dan lain hal belum didistribusikan kepada pemegang saham. Pengauditannya dilakukan setelah dewan umum menyetujui pelaksanaan kegiatan pembagian keuntungan yang dibuat sepengetahuan ketua dewan direksi perusahaan modal tersebut.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana yang belum didistribusikan dianggap sebagai hak milik para pemegang saham yang tidak bisa dipotong dari barang-barang zakat, karena dari segi pemilikan tidak berbeda dari dana cadangan.

    1. Pengauditan zakat kerugian yang belum didistribusikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah kerugian yang terjadi dalam priode anggaran tahun berjalan atau tahun-tahun sebelumnya, karena satu dan lain hal belum didistribusikan kepada para pemegang saham.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    • Kerugian yang belum didistribusikan dianggap pengurangan terhadap hak milik.
    • Kerugian ini tidak mempengaruhi barang-barang zakat dalam point-point daftar pendapatan (kalkulasi untung rugi).
     
  • erva kurniawan 1:03 am on 23 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (8) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (8)

    Pengauditan Zakat Dari Alokasi

    Alokasi biaya tak terduga adalah sejumlah dana yang disisihkan dari pendapatan di akhir tahun anggaran. Dana tersebut diperuntukkan buat menutupi penyusutan barang-barang modal atau untuk pembayaran tagihan dari perusahaan lain yang belum dapat ditentukan sebelumnya.

    Ada beberapa macam alokasi untuk biaya tak terduga, di antaranya:

    1. Alokasi biaya penyusutan atau kerusakan barang-barang modal.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah biaya yang disisihkan dari pendapatan setiap tahun anggaran untuk menutupi penyusutan barang-barang modal guna kelangsungan pemakaiannya, kelangsungan pekerjaan, meraih keuntungan dan untuk membantu penggantian atau perbaikannya.

    Cara menaksir nilainya dilakukan dengan berbagai teknis akuntansi yang sesuai dengan keadaan dan kondisi barang itu.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Dalam hukum Islam, alokasi ini tidak termasuk kebutuhan yang perlu dipotong dari barang-barang zakat, karena barang-barang modal tersebut tidak termasuk barang yang dizakati.

    1. Alokasi biaya sarana usaha yang sedang beroperasi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah biaya yang disisihkan dari pendapatan untuk menutupi perbedaan antara harga registrasi dan harga sekarang. Hal ini dilakukan sebagai aplikasi dari kaidah kehati-hatian.

    Penaksiran harga dilakukan atas dasar biaya terendah antara pemakaian standar biaya atau standar harga pasar. Di antara contoh alokasi seperti ini adalah :

    • Alokasi biaya untuk menutupi penurunan harga mata uang.
    • Alokasi biaya untuk menutupi penurunan harga barang tak bergerak yang dibuat sebagai modal dagang.
    • Alokasi biaya untuk menutupi utang-utang yang diragukan kebenarannya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Mengingat bahwa cara menentukan nilai barang-barang modal yang sedang beroperasi (aktif) untuk tujuan zakat dilakukan atas dasar harga pasaran, maka potongan semacam ini tidak termasuk kebutuhan yang harus dipotong dari barang-barang zakat.

    Namun bila harga barang-barang yang sedang beroperasi tersebut ditaksir (karena satu dan lain hal) atas dasar harga registrasi dan ternyata lebih besar dari harga pasaran, maka alokasi semacam ini dapat dikeluarkan (dipotong) dari barang-barang zakat.

    1. Alokasi biaya untuk menutupi ikatan dengan pihak lain yang belum ditentukan sebelumnya.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah keterikatan perusahaan dengan pihak lain yang belum ditentukan secara pasti sebelumnya. Contohnya; alokasi biaya mengakhiri masa kerja pegawai (pensiun dan PHK), alokasi biaya liburan, alokasi pembayaran pajak, alokasi pembayaran denda-denda dll.

    Nilai alokasi biaya ini ditaksir oleh tenaga ahli sesuai dengan volume kewajiban keuangan, kontrak, aturan-aturan dan ketentuan yang dilakukan dengan pihak lain. Nilai alokasi ini dianggap sebagai beban yang harus dipikul perusahaan dan selalu muncul dalam kalkulasi untung rugi.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Kewajiban-kewajiban keuangan seperti ini harus diperhitungkan nilainya dengan teliti dan detil tanpa berlebih-lebihan, sehingga tidak beralih menjadi anggaran persediaan (cadangan) rahasia. Nilai ini dianggap sebagai utang yang telah jatuh tempo yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila ternyata terdapat penaksiran yang berlebihan, maka perbedaan perhitungan tersebut harus ditarik kembali. Bila dalam kalkulasi tersebut terdapat bunga (denda keterlambatan) atas pembayaran tagihan yang sudah diperhitungkan sebelumnya, maka bunga tersebut tidak termasuk utang yang wajib dibayar, oleh sebab itu tidak dapat dipotong dari penghasilan barang-barang zakat tetapi yang dapat dipotong hanyalah tagihan-tagihan yang telah jatuh tempo (mesti dibayar).

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 22 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (7) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (7)

    Pengauditan Zakat Hasil Tagihan

    Yang dimaksud dengan tagihan adalah kewajiban materi yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain, tagihan-tagihan seperti ini sering juga disebut dengan istilah potongan-potongan. Di antara jenis-jenis tagihan adalah, kredit jangka pendek, kredit jangka panjang, utang-utang, surat tanda pembayaran, rekening bank, penarikan, pembayaran yang telah jatuh tempo, pemasukan yang telah diterima terlebih dahulu, pajak-pajak tahun berjalan, deposit yang telah dibayarkan oleh pihak lain dll.

    Berikut ini akan disajikan definisi dan penaksiran nilai unit-unit di atas menurut sistem akuntansi konvensional berikut cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam apakah dipotong dari barang-barang zakat atau tidak.

    1. Tagihan jangka panjang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua kewajiban-kewajiban materi yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain yang tidak dituntut pengembaliannya kecuali setelah berlalu satu tahun atau lebih dari tahun anggaran yang sedang berjalan, seperti kredit jangka panjang, rekening dan surat pembayaran jangka panjang. Cara menaksir nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak termasuk penghasilannya bila belum dibayarkan secara tersendiri. Tagihan-tagihan seperti ini dapat dilihat dalam daftar hak milik atau daftar tagihan-tagihan yang sedang beroperasi (aktif).

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Secara umum nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak. Ketentuan hukum tentang tagihan ini berbeda-beda sesuai dengan sistem pengoperasiannya:

    • Bila cicilan tahun berjalan dari tagihan jangka panjang tersebut dipergunakan untuk pendanaan barang-barang yang sedang beroperasi, maka semuanya dipotong dari barang-barang zakat, kalau perusahaan tersebut tidak memiliki kekayaan lain yang melebihi dari kebutuhan pokok yang dapat menutupi semua tagihan tahun berjalan tersebut.
    • Bila cicilan jangka panjang tersebut dipergunakan untuk pendanaan barang-barang modal tetap, maka cicilan tahun berjalan dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila jatuh temponya terjadi setelah berakhirnya tahun anggaran, maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    Secara umum dapat dikatakan bahwa semua tagihan-tagihan tahun berjalan dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Tagihan-tagihan bergerak.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo yang harus dilunasi dalam waktu singkat, kurang dari satu tahun, seperti utang dan surat tanda pembayaran dll. Berikut ini akan disampaikan keterangan detil:

    • Utang-utang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo yang harus dilunasi dalam waktu singkat, kurang dari satu tahun. Tagihan ini timbul akibat pembelian barang dan keperluan produksi lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam kontrak di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai utang-utang ditaksir berdasarkan nilai yang tercatat dalam kontrak. Utang-utang ini dianggap merupakan tagihan tahun berjalan yang boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    • Surat-surat tanda pembayaran (giral pembayaran).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Surat-surat pembayaran dibuat sesuai dengan obligasi atau rekening yang ada. Surat pembayaran ini merupakan hak suplier barang atau jasa dari sebuah perusahaan. Surat pembayaran ini biasanya harus dapat dicairkan dalam tempo yang singkat, kurang dari satu tahun. Cara penaksiran nilainya adalah berdasarkan aset yang tercatat di dalam daftar di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai surat pembayaran ditaksir atas dasar nilai yang tercatat di dalam daftar. Surat pembayaran ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila tagihan tersebut mempunyai keuntungan karena penundaan, maka tidak dapat dipotongkan, karena keuntungan tersebut tidak diakui dalam hukum.

    1. Kredit bank.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah sejumlah dana yang dipinjam oleh perusahaan dari bank yang harus dikembalikan dalam tempo yang singkat, tidak melebihi dari satu tahun. Cara penaksiran nilai kredit bank ini dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam daftar pada akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Tagihan tahun berjalan ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak dan dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila kredit tersebut mempunyai keuntungan, maka tidak boleh dipotongkan dari barang-barang zakat, karena keuntungan tersebut tidak diakui dalam agama.

    1. Pembayaran di muka

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua pengeluaran yang dikeluarkan pada tahun berjalan sedangkan penagihannya baru dapat dilakukan pada tahun anggaran mendatang. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar aset yang tercatat dalam kontrak di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Pembayaran di muka ditaksir nilainya atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak dan dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena dianggap tagihan tahun berjalan.

    1. Penghasilan yang telah diterima terlebih dahulu (penerimaan di muka).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang telah diterima secara praktis pada tahun anggaran berjalan pada hal dana tersebut berhubungan dengan transaksi tahun mendatang. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, karena dana tersebut dianggap sebagai kewajiban perusahaan terhadap pihak lain sebagai imbalan dari kontrak transaksi barang produksi atau jasa yang akan dipersembahkan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, tanpa ditambah atau dikurangi. Adapun ketentuan hukumnya, terdapat perbedaan sesuai dengan tempo yang diberlakukan:

    • Bila penghasilan yang telah diterima tersebut adalah imbalan dari harga barang yang belum diserahkan (barang tersebut tidak termasuk dalam barang-barang zakat), maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat, akan tetapi bila barang tersebut sudah termasuk dalam daftar barang-barang yang dizakati, maka boleh dipotong dari barang-barang zakat.
    • Bila penghasilan yang telah diterima tersebut termasuk cicilan pertama dari jasa yang belum dilakukan, maka cicilan tersebut dianggap utang kepada orang lain, oleh sebab itu dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena cicilan tersebut tidak terdapat pemiliknya yang pasti dimana ada kemungkinan kontrak tersebut dibatalkan kemudian hari.
    1. Hak-hak orang lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua hak-hak yang wajib dibayarkan kepada pihak lain, seperti tagihan pajak, asuransi sosial dll. Hak-hak seperti ini dianggap sebagai kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilainya yang tercatat dalam kontrak yang dalam banyak hal dapat bertambah dengan keuntungan atau berkurang akibat denda keterlambatan pembayaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak, tanpa penambahan dan pengurangan. Hak-hak orang lain seperti ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Keuntungan yang telah direncanakan pendistribusiannya.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah usul pendistribusian materi yang telah diumumkan oleh Dewan Direksi sebuah perusahaan, akan tetapi usul tersebut belum mendapat persetujuan dari sidang umum pemegang saham, sehingga kegiatan pendistribusian belum dapat dilakukan secara praktis. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar jumlah yang disebutkan dalam usul Dewan Direksi yang dapat dilihat dalam anggaran keuangan pada point keuntungan yang telah diusulkan pendistribusiannya.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir sesuai dengan nilai yang tercatat dalam kontrak yang dapat dilihat dalam kalkulasi pembagian keuntungan. Dana ini tidak dapat dipotong dari barang-barang zakat, karena belum mendapat persetujuan dari sidang umum pemegang saham, sehingga belum dapat dianggap hak dari para pemegang saham.

    1. Keuntungan transaksi spekulasi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional Yang dimaksud dengan istilah ini adalah keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan dari transaksi spekulasi sampai akhir tahun anggaran. Keuntungan ini dibagi antara pemilik modal dan pelaksana sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Zakat usaha spekulasi wajib dibayar oleh pemilik harta, sedangkan bagian pelaksana (pekerja) dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Deposit.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah kewajiban yang wajib dibayar kepada pihak lain sebagai jaminan atau perjanjian untuk melaksanakan sebuah kegiatan tertentu. Penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang tercantum dalam daftar. Dana ini dianggap sebagai tagihan tahun berjalan yang dapat dipotong dari barang-barang zakat. Bila tagihan tersebut tidak diharuskan pembayarannya pada tahun berjalan, maka tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat tahun berjalan, akan tetapi akan dipotong pada saat jatuh tempo.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 21 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (6) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (6)

    Pengauditan Zakat Atas Barang Bergerak

    Yaitu aset yang dimiliki untuk dikelola dalam bentuk usaha jual beli sehingga menghasilkan keuntungan dan tidak digunakan untuk menghasilkan income (disewa) sebagaimana halnya dengan aset tetap.

    Di antara jenis aset bergerak ialah stok barang yang masih digudangkan (barang yang telah di akhir masa temponya, piutang, kwitansi penerimaan, asuransi pada pihak lain, perjanjian dengan pihak lain, cicilan kontrak yang telah dibayarkan terlebih dahulu, pendapatan yang telah pasti, deposito dan saldo rekening berjalan yang ada di   bank serta kekayaan uang yang telah ada).

    Selanjutnya akan diterangkan definisi dan cara penghitungannya menurut sistem akuntansi konvensional serta hukum syariatnya dari sudut pandang zakat harta.

    1. Barang-barang yang telah selesai diproduksi (barang jadi).

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah barang-barang yang diperuntukkan buat jual beli yang dimiliki perusahaan di akhir tahun anggaran. Istilah populer untuk pengertian di atas adalah barang-barang jadi.

    Barang-barang jadi dapat berbentuk materi dan non-materi.

    Dalam sistem kalkulasinya diperlakukan sama yaitu dengan menentukan harga yang paling rendah antára harga pasaran dan harga modal dengan membuat alokasi dana untuk penurunan harga, kedaluarsaan atau kekurang lancaran. Bila harga pasaran ternyata lebih rendah, dibuat juga alokasi dana untuk menanggulangi penurunan harga.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Untuk barang-barang yang dibeli untuk dijual kembali, cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga pasar, bila dijual eceran, maka ditentukan menurut harga eceran, bila dijual grosiran, ditentukan menurut harga grosiran.

    Harga tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya sesuai dengan fatwa Simposium Masalaè Zakat Kontemporer I tahun 1409 H/ 1994 M. Untuk barang-barang yang diproduk langsung oleh perusahaan untuk dijual, maka penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan bakunya bçrikut dengan harga bahan tambahcn lain yang materinya kelihatan, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    Mengenai alokasi dana yang disåbutkan di atas, tidak dapat diterima dalam pengalkulasian zakat yang berdasar atas harga pasaran, namun bila dilakukan pengalkulasian atas dasar harga modal sedangkan harga pasaran ternyata lebih rendah, maka alokasi dana untuk penurunan harga dapat dipotong dari barang-barang zakat.

    Barang-barang non materi mempunyai ketentuan hukum dan diperlakukan sama dengan barang-barang materi.

    1. Barang-barang yang sedang dalam proses produksi.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang masih dalam proses pembuatan dan belum siap. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar biaya produksi yang terdiri dari:

    harga bahan baku, biaya-biaya lain seperti upah dan gaji pegawai, pengeluaran produksi baik secara langsung ataupun tidak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan baku dan bahan-bahan tambahan lainnya (yang nampak dalam produksi saja) kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Bahan baku utama.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Bahan baku utama adalah semua bahan baku utama yang masuk ke dalam produksi. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga bahan yang terdiri dari harga pembelian bahan ditambah dengan semua pengeluaran dari pengangkutan sampai penggudangan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Bahan baku utama dapat dibagi dua bagian:

    • Bahan baku asli dan utama. Bahan ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.
    • Bahan baku yang larut. Seperti bahan pencuci, pengepakan dll. Bahan ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat, karena tidak termasuk barang-barang perdagangan.
    1. Suku cadang modal tetap.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam bidang ini semua suku cadang alat-alat dan perlengkapan yang dipergunakan dalam kegiatan produksi, bukan untuk tujuan dagang. Unit-unit ini kadang-kadang dapat terlihat dalam kelompok barang-barang tetap, kadang-kadang dalam kelompok barang-barang khusus. Cara penaksiran harganya dilakukan atas dasar harga produksi setelah dikeluarkan dana alokasi untuk suku cadang yang kedaluarsa.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Unit ini dianggap termasuk dalam kelompok barang-barang modal tetap, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat.

    1. Suku cadang yang diperuntukkan untuk dagang.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua jenis suku cadang yang masih dalam stok dengan tujuan untuk diperjual belikan, oleh sebab itu unit ini diperlakukan sebagai barang-komoditi dagang.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Barang-barang yang masih dalam perjalanan.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah dibeli, dibayar harganya dan sedang dalam proses pengangkutan tetapi belum sampai di gudang pembeli sampai akhir tahun anggaran. Penaksiran nilai barang-barang seperti ini adalah berdasarkan harga beli ditambah dengan biaya-biaya lain.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan harga pasaran di saat dan tempat pembelian, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya. Bila barang-barang dibeli atas dasar dokumen kredit, maka harga yang tertera dalam dokumen kredit tersebut sebelum dibayar tunai adalah merupakan nilai barang yang kelak akan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Barang-barang yang dialihkan kepada pihak lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah diserahkan oleh pemilik kepada diler (agen) untuk dijual. Penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga modal.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran di tempat barang, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya yang dimiliki si wajib zakat.

    1. Piutang (tagihan atas pihak lain).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua tagihan atas pihak lain, sebagi imbalan dari harga barang, transaksi, jasa atau tagihan lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga bersih yang dapat ditagih. Jumlah ini termasuk ke dalam kelompok alokasi piutang yang pengembaliannya diragukan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Piutang dapat dibagi tiga macam:

    • Piutang yang kemungkinan besar dapat ditagih. Piutang seperti ini digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat yang nilainya ditaksir atas nilai nominal.
    • Piutang yang tidak diharap dapat ditagih. Piutang seperti ini tidak digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat. Zakatnya baru dibayar ketika menerimanya dan hanya untuk tahun berjalan saja, walaupun piutang tersebut telah berlalu beberapa tahun.
    • Piutang yang dianggap gugur. Piutang seperti ini tidak diharap dapat ditagih lagi, oleh sebab itu tidak wajib dibayar zakatnya.

    Mengenai alokasi piutang yang penagihannya diragukan, boleh dipotong dari barang-barang zakat, bila telah digabungkan sebelumnya, bila piutang tersebut belum digabungkan ke dalam barang-barang zakat, maka tidak perlu dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Obligasi penerimaan (surat tanda terima).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah surat-surat berharga yang berlaku dalam kegiatan dagang akan tetapi waktu pencairannya belum sampai, seperti surat-surat obligasi, rekening dll. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran sekarang.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Surat-surat seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan nilai nominal dari surat-surat berharga tersebut, tanpa menambahkan bunga. Bila surat-surat berharga tersebut berasal dari harga barang yang telah dijual dengan pembayaran kemudian, maka selisih harga antara harga tunai dengan harga kemudian dimasukkan ke dalam harga dan diperlakukan sebagai piutang berjangka lama dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Deposit yang berada di tangan pihak lain.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk ke dalam unit ini semua uang yang ditahan oleh pihak lain sebagai deposit (jaminan) atas kelangsungan transaksi, janji-janji atau komitmen perusahaan untuk melakukan sesuatu kegiatan yang tertera dalam suatu kontrak. Cara penaksiran nilainya adalah berdasarkan nilai nominal yang tercatat dalam kontrak/ kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Deposit yang merupakan jaminan suatu transaksi seperti ini dianggap sebagai hak milik bersyarat, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat kecuali ketika penerimaannya dan hanya dibayar untuk tahun berjalan saja walaupun deposit tersebut telah berlangsung beberapa tahun. Dengan demikian, maka deposit hanya dianggap sebagai barang zakat untuk tahun penerimaannya saja.

    1. Cicilan yang dibayar terlebih dahulu.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini semua dana yang dibayarkan terlebih dahulu kepada langganan, seperti pemborong, industri dan semacamnya untuk dapat melancarkan kegiatan kerjanya yang sedang dalam proses. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai nominal yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana semacam ini dianggap telah keluar dari tangan pemilik pertama dan telah menjadi milik bersyarat sesuai dengan kontrak yang telah ditanda tangani ke dua belah pihak. Oleh sebab itu dana ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat lagi.

    1. Biaya yang dibayarkan terlebih dahulu.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan terlebih dahulu pada tahun anggaran berjalan untuk pengeluaran tahun anggaran berikut, seperti sewa gedung dan asuransi untuk tahun berikut yang dibayar terlebih dahulu. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana seperti ini tidak dikenakan zakat lagi, karena telah keluar dari tangan pemilik pertama dan menjadi dana bersyarat yang dapat dimanfaatkan kemudian hari.

    1. Penghasilan yang sudah jatuh tempo.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua penghasilan/ pemasukan yang mempunyai tempo pada tahun anggaran berjalan akan tetapi belum ditagih sampai akhir tahun, seperti penghasilan investasi dan sewa yang telah jatuh tempo. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini dianggap sebagai piutang, oleh sebab itu ketentuan hukumnya sama dengan ketentuan hukum tentang piutang. Bila piutang tersebut tergolong piutang yang diharap dapat ditagih, maka digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya, bila termasuk dalam piutang yang tidak diharap dapat ditagih, maka tidak dikenakan kewajiban zakat sampai diterima secara praktis.

    1. Dokumen kredit untuk pembayaran barang dagang (LC).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Termasuk dalam unit ini, semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Dokumen kredit untuk pembelian barang-barang konsumsi atau sumber pencaharian.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

    Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut. Dana ini tidak dikenakan zakat.

    1. Dana surat jaminan (LG).

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan kepada pihak bank untuk menutupi surat jaminan yang disampaikan kepada pihak lain, di mana pihak bank memberikan jaminannya bahwa pemilik dana akan melaksanakan transaksi atau kontrak yang telah ditanda tangani. Bila ternyata pihak pemilik dana tidak menepati kontrak atau transaksinya, maka dana yang dibayarkan tersebut akan dicairkan untuk pihak pelanggan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Nilai surat jaminan ditaksir atas dasar nilai yang memang benar-benar telah dibayarkan kepada pihak counterpart. Dana ini tidak dikenakan zakat, karena merupakan milik bersyarat yang belum terlaksana. Bila nilai surat jaminan tersebut ditarik kembali, maka dana tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya dan dibayarkan zakatnya untuk tahun berjalan saja.

    1. Deposito bank.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang didepositkan di bank, baik dalam bentuk rekening berjalan, rekening investasi atau jenis lain. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam daftar setelah dicocokkan dengan daftar rekening yang dikeluarkan oleh pihak bank.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana ini digabungkan dengan nilai barang-barang zakat, tanpa memasukkan keuntungan yang bersifat riba, karena keuntungan riba tersebut harus didermakan kepada pihak kebajikan dan kegiatan sosial di luar pembangunan mesjid dan pencetakan Alquran. Adapun penghasilan yang tidak bersifat riba (halal), harus digabungkan dengan modal pokok dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Uang kas.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang disimpan di kas perusahaan, baik dalam bentuk emas, perak, obligasi, surat berharga ataupun dalam bentuk mata uang kertas. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai uangnya di akhir tahun anggaran.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Penaksirannya dilakukan atas dasar nilainya di saat tercapainya haul, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

    1. Pembayaran terlebih dahulu biaya kegiatan yang akan menghasilkan kemudian.

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana-dana yang telah dibayarkan oleh sebuah perusahaan terlebih dahulu dan kelak akan menghasilkan pemasukan beberapa tahun kemudian, seperti biaya iklan, biaya pendirian perusahaan, biaya-biaya sebelum beroperasi yang biasanya berkisar antara 3 s/d 5 tahun. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar modal setelah dipotong alokasi konsumsi.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Dana seperti ini tidak dikenakan zakat, karena berkaitan dengan penggunaan dan pengoperasian, begitu juga konsumsi yang telah dialokasikan tidak dipotong dari barang-barang zakat.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 20 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (5) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (5)

    Pengauditan Zakat Dari Proyek Yang Sedang Dalam Taraf Pelaksanaan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua proyek pembangunan yang masih dan sedang dilaksanakan dan belum selesai, seperti proyek pembangunan gedung, proyek reparasi dan lain-lain. Barang-barang tersebut bila telah selesai bisa dimasukkan dalam aset tetap atau pun aset beredar sesuai dengan tujuan proyek tersebut. Proyek itu ditaksir berdasarkan biaya pembangunannya sejak tanggal penetapan anggaran termasuk harga tanah, desain arsitekturnya, izin bangunan, bahan material dan gaji buruh. Aset itu tidak bisa dipakai kecuali setelah selesai dan mulai dipergunakan.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Bila proyek itu dibuat untuk dipergunakan dalam operasi, maka tidak wajib dizakati. Namun bila diniatkan untuk dijadikan komoditas dagang, maka penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran tanah dan bahan bakunya saja kemudian digabungkan dengan barang-barang lain yang harus dizakatkan.

    Pengauditan Zakat Dari Investasi Jangka Panjang

    Yang dimaksud dengan istilah ini ialah segala kekayaan yang diinvestasikan ke dalam berbagai macam aset. Hal ini dilakukan oleh suatu perusahaan jika ia memiliki surplus anggaran untuk membiayai kegiatan pokoknya. Tujuan investasi ini adalah untuk menghasilkan income ataupun dengan tujuan niaga.

    Investasi jangka panjang dapat berupa:

    • Investasi surat-surat obligasi.
    • Investasi real estate.

    Penaksiran akuntansi dan hukum syariatnya berbeda sesuai dengan jenisnya.

    Investasi saham

    Definisi dan cara penghitungan akuntansi konvensional:

    Saham adalah bagian dari modal suatu perusahaan di mana seorang pemegang saham itu termasuk pemilik aset perusahaan. Sebuah saham memiliki beberapa macam nilai/harga:

    Harga nominal:

    Yaitu harga yang ditentukan pertama kali ketika dikeluarkan.

    Harga pasaran:

    Yaitu harga yang ditentukan berdasarkan kondisi permintaan dan persediaan di bursa obligasi yang ditaksir atas dasar harga yang terkecil apakah produksi ataukah pasar dengan menyediakan dana penurunan harga saham jika harga pasarannya lebih rendah daripada harga belinya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Saham-saham itu ditaksir dengan harga pasarannya ketika akan dizakatkan. Jika perusahaan yang mengeluarkan saham itu bergerak dalam bidang yang halal maka sahamnya boleh dimiliki namun jika bidangnya itu haram maka diharamkan pula pemilikan sahamnya.

    Cara pembayaran zakatnya:

    Jika perusahaan yang mengeluarkan saham itu telah membayarkan zakatnya, maka tidak ada lagi kewajiban zakat atas pemilik saham. Tetapi jika belum maka si pemilik harus menzakatkannya sesuai dengan tujuan apa ia memiliki saham tersebut.

    1. Investasi saham untuk tujuan menghasilkan income.

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvensionalnya:

    Yaitu investasi berupa saham yang dimiliki dengan tujuan untuk mengembangkan kekayaan dan memberikan kemasukan yang dinamakan juga dengan istilah investasi jangka panjang. Investasi itu bisa masuk dalam kelompok aset tetap dan aset beredar yang ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga beli (harga tercatat) atau pun harga pasarannya dan harus disediakan dana penurunan harga saham bila harga pasarannya lebih rendah daripada harga tercatatnya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    • Bila pemilik saham dapat mengetahui nilai setiap saham dari aset zakat perusahaan yang mengeluarkannya, maka ia harus mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.
    • Jika tidak diketahui, maka ia harus menggabungkan income yang dihasilkan dari saham itu dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan kemudian membayarkan zakatnya sebesar 2,5%.

    Catatan:

    Penghitungan dalam pembayaran zakat didasarkan atas harga pasarannya sehingga dana yang dialokasikan untuk penurunan harga obligasi itu tidak diambil dari aset-aset yang harus dizakatkan.

    1. Investasi berupa saham untuk tujuan niaga.

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvesional:

    Yaitu investasi berupa saham yang dibeli untuk tujuan diperdagangkan atau dijual kembali agar menghasilkan keuntungan. Saham yang seperti ini ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga tercatat atau pun harga pasarannya dengan menyediakan dana apabila harga pasarannya itu lebih rendah daripada harga tercatatnya.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    • Investasi saham yang diperdagangkan ini ditaksir dengan harga pasaran ketika telah tiba haulnya dan digabungkan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan.
    1. Investasi dalam bentuk saham anak perusahaan (untuk menghasilkan income)

    Definisi dan penaksiran akuntansi konvensionalnya:

    Yang dimaksud dengan anak perusahaan ialah perusahaan yang secara langsung atau pun tidak langsung dimiliki oleh perusahaan induknya lebih dari 50% sahamnya yang mempunyai hak suara. Saham ini ditaksir berdasarkan harga terendah di antara harga beli atau pun harga pasarannya dengan menyediakan dana jika harga pasarannya lebih rendah daripada harga tercatatnya (produksinya).

    Penghitungan zakat dan hukum syariatnya:

    Zakat anak perusahaan itu dihitung secara terpisah kemudian ditentukan berapa besarkah jatah perusahaan induknya berdasarkan besar saham yang dimiliki. Incomenya digabungkan dengan aset lain milik perusahaan induk yang harus dizakatkan bila anak perusahaannya belum membayarkan zakatnya secara langsung.

    1. Investasi berupa saham perusahaan asosiasi.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Perusahaan assosiasi ialah yang tidak merupakan anak perusahaan. Investasi berupa saham perusahaan seperti ini dianggap termasuk investasi jangka panjang. Investasi ini dihitung berdasarkan harga terendah di antara harga beli dan pasarannya dengan menyediakan dana bila harga pasaran lebih rendah daripada harga tercatatnya (produksi).

    Penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Pada investasi seperti ini diterapkan hukum yang sama dengan investasi saham dengan tujuan menghasilkan income di mana dana penurunan harganya tidak diambil dari aset yang harus dizakatkan.
    1. Investasi dalam saham perusahaan yang dibeli.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensionalnya:

    Terkadang suatu perusahaan itu diberikan wewenang untuk membeli sahamnya dari bursa obligasi dalam batas tertentu berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum. Tujuannya adalah untuk diperdagangkan bukan untuk menghasilkan income di mana saham tersebut akan dijual kembali ketika perusahaan itu membutuhkan dana likuidasi. Saham itu dihitung dengan harga pembeliannya.

    Penghitungan dan hukum syariatnya:

    Dihitung berdasarkan harga pasaran yang berlaku ketika haulnya tiba lalu disatukan dengan aset lain yang harus dizakatkan.

    1. Investasi berupa efek.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensionalnya:

    Efek merupakan alat keuangan yang dikeluarkan bagi pemegangnya yang menjadi hubungan utang-piutang dan mengandung suku bunga yang harus dibayarkan pada waktu tertentu. Pihak debitor (yang mengeluarkan efek) berkewajiban membayar suku bunga itu di samping jumlah asli uang yang dipinjam (harga efek) pada saat jatuh temponya. Efek itu dihitung dengan harga beli ditambah diskon ataupun dikurangi pertambahan harga. Bila efek itu beredar di pasaran maka dihitung berdasarkan harga yang terendah dengan menyediakan dana penurunan harganya bila harga pasaran lebih rendah daripada harga belinya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Efek itu dihitung dengan harga nominalnya. Haram bertransaksi dengan efek karena mengandung suku bunga riba yang diharamkan oleh syariat Islam namun si pemilik harus membayarkan zakat dari harga belinya dan digabungkan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan. Sedangkan suku bunga yang dihasilkan dari efek itu harus didermakan untuk kepentingan sosial selain pembangunan mesjid dan mencetak Alquran untuk menghindari penghasilan haram.
    1. Investasi dalam obligasi kas negara.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Sebagian pemerintah suatu negara meminjam modal dari pasar domestiknya dengan cara mengeluarkan surat obligasi berbunga yang dikenal dengan istilah obligasi kas negara. Obligasi tidak berbeda dengan obligasi yang lain yang dihitung berdasarkan harga belinya yang disesuaikan pemotongan harga sejak tanggal pembelian.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Obligasi kas negara ini dinilai dengan harga nominal ketika pertama kali dikeluarkan. Diharamkan melakukan transaksi dengan obligasi kas negara ini karena mengandung suku bunga riba dan diterapkan padanya hukum-hukum syariat yang berlaku terhadap surat obligasi lain secara umum.
    1. Investasi dalam real estate dengan tujuan menghasilkan pemasukan (income).

    Definisi dan cara penghitungan akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah di atas ialah kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk berbagai macam real estate seperti areal tanah dan gedung/bangunan yang dimiliki untuk tujuan menghasilkan pemasukan.

    Kekayaan investasi itu dinilai berdasarkan kaedah dasar akuntansi yaitu harga yang terendah di antara harga beli atau harga pasarannya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Investasi di atas tidak dikenakan kewajiban zakat pada bendanya tetapi pada income bersihnya yang disatukan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan lalu dibayarkan zakat seluruhnya sebesar 2,5%.
    1. Investasi dalam real estate dengan tujuan niaga.

    Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

    Yaitu harta kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk areal tanah dan bangunan/gedung atau berbagai macam real estate lainnya yang dimiliki untuk tujuan niaga.

    Investasi di atas dinilai berdasarkan harga terendah di antara harga beli atau pun harga pasarannya.

    Cara penghitungan dan hukum syariatnya:

    • Dinilai berdasarkan harga pasarannya lalu disatukan dengan kekayaan lain yang harus dizakatkan.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 19 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (4) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (4)

    Klasifikasi Harta Dalam Fikih Islam Dan Hubungannya Dengan Pengauditan Zakat

    Harta kekayaan dalam fikih Islam dapat diklasifikasikan kepada:

    1. Uang, alat penukar dalam suatu transaksi yang sekaligus merupakan harga suatu barang. Uang dapat dibagi dua bagian, masing-masing:
    • Mata uang mutlak, seperti emas dan perak.
    • Mata uang terbatas, seperti uang kertas (kartal dan giral) dan uang logam.

    2. Barang, yaitu harta yang dapat dimanfaatkan sesuai fungsinya. Barang ini dapat dibagi dua bagian, sbb:

    • Barang yang dipakai, yaitu barang-barang yang dimiliki untuk tujuan pemanfaatannya dalam berbagai jenis kegiatan, seperti alat-alat bangunan, binatang ternak. Barang-barang seperti ini mirip dengan barang-barang eksploitasi (barang-barang yang tidak bergerak).
    • Modal perdagangan, yaitu barang yang diperuntukkan buat diperjual belikan, yaitu barang-barang yang dapat ditransaksikan yang dibeli atau diproduksi untuk tujuan dagang. Modal perdagangan ini disebut juga dengan istilah modal aktif (modal yang sedang beroperasi).

    3. Binatang ternak, yaitu unta, sapi, kambing dan semacamnya. Binatang ternak dapat dibagi tiga bagian, masing-masing:

    • Binatang perahan atau bibit.
    • Binatang pekerja, yaitu binatang yang dimiliki untuk dieksploitasi.
    • Binatang ternak dagangan.

    4. Tanam-tanaman dan buah-buahan, yaitu hasil pertanian. Kekayaan ini dapat dibagi dua, masing-masing:

    • Pertanian yang diairi dengan alat irigasi bermodal
    • Pertanian yang diairi dengan air hujan, tanpa modal.

    Penjelasan lebih lanjut sekitar kewajiban zakat hasil pertanian akan disampaikan kemudian.

    Pengauditan Zakat Dari Aset Tidak Bergerak

    Yang dimaksud dengan modal tetap adalah semua barang modal yang dipakai untuk jangka panjang, seperti areal tanah, gedung, furniture, mobil dan sebagainya yang dimiliki tanpa niat memperjual belikannya. Barang modal ini dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu:

    • Aset tetap yang diperuntukkan buat pemakaian dan pengoperasian.
    • Modal tetap yang dipergunakan untuk menarik keuntungan.

    Berikut ini disampaikan definisi dan cara menaksir nilainya dalam sistem akuntansi konvensional, kemudian sistem penaksiran nilai dan ketentuan hukum Islam tentang kewajiban zakat dari kekayaan di atas:

    1. Aset tetap material yang diperuntukkan buat pemakaian dan operasi

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Aset tetap adalah semua barang yang dimiliki untuk tujuan pemakaian tidak untuk diperjualbelikan dan mencari keuntungan secara langsung. Contoh, real estate, alat-alat pertukangan, mobil, furniture, perlengkapan dsb. Cara menaksir nilainya adalah atas dasar harga beli dikurangi penurunan nilai (depresiasi) karena pemakaian yang terus-menerus.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Barang-barang seperti ini tidak dikenakan kewajiban zakat karena tidak termasuk harta yang harus dizakatkan. Demikian juga dana yang dialokasikan untuk biaya pemakaiannya tidak boleh dipotong dari barang-barang zakat.

    1. Aset tetap material yang menghasilkan keuntungan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah benda kekayaan yang dimiliki dengan niat untuk menghasilkan keuntungan, seperti real estate, mobil yang disewakan. Cara menaksir nilainya adalah atas dasar harga pembelian dikurangi penurunan harga karena pemakaian yang terus-menerus.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Benda-benda seperti di atas tidak terkena kewajiban zakat. Yang dikenakan zakat adalah hasil bersih penyewaannya yang harus digabungkan dengan kekayaan si pembayar zakat yang lainnya. Volume zakatnya adalah 2,5% sesuai dengan pendapat yang lebih kuat yang diputuskan oleh Lembaga Fikih Islam Jeddah.

    1. Aset tetap abstrak untuk dipakai dan dioperasikan

    Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

    Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua hak milik abstrak yang dapat dimanfaatkan dan membantu dalam operasi di berbagai bidang usaha, seperti hak cipta, hak cetak, hak merek dagang dan sebagainya.

    Cara menaksir nilainya adalah dengan menaksir harga (biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh hak tersebut) ditambah dengan biaya-biaya keperluan lainnya, dikurangi dengan alokasi dana pemakaian.

    Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

    Modal seperti ini tidak dikenakan kewajiban zakat karena berkaitan dengan aset tetap lainnya yang ditujukan untuk membantu jalannya operasi usaha. Bila niat memilikinya untuk diperdagangkan, maka cara kalkulasinya adalah dengan menaksir harga pasarnya kemudian dizakati seperti barang-barang perdagangan.

    1. Aset tetap abstrak yang menghasilkan income.

    Yaitu hak-hak abstrak yang dimiliki untuk menghasilkan suatu income, seperti hak mengarang dan hak cipta yang disewakan dalam masa tertentu dengan imbalan tertentu pula.

    Penaksiran dan hukum syariatnya:

    Hak-hak tersebut tidak dikenakan kewajiban zakat namun hasil bersih kemasukannya digabungkan dengan harta zakat lainnya dan dizakatkan sebesar 2,5%.

    Penjelasan tentang aset tetap:

    1. Dana yang dialokasikan untuk biaya pemakaian aset tetap adalah merupakan penurunan harga yang terjadi akibat pemakaian dan berkurangnya masa validitas barang tersebut. Pengurangan nilai tahunan itu dihitung berdasarkan berbagai macam sistem akuntansi.

    Hukumnya: Anggaran dana ini tidak termasuk dana yang boleh dipotong/diambil dari harta-harta zakat lainnya karena asetnya tidak termasuk barang yang wajib dizakatkan.

    1. Suku bunga pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai/membeli aset tetap: Sebagian para ahli akuntan berpendapat bahwa suku bunga itu disatukan dengan harga beli aset tersebut.

    Adapun hukum syariatnya: Suku bunga tersebut dianggap termasuk riba yang jika telah dibayarkan maka berarti telah keluar dari harta yang harus dizakati. Tetapi jika belum dibayar maka tidak boleh dipotong dari harta yang harus dizakatkan karena suku bunga tersebut tidak termasuk utang yang harus dilunasi dalam pandangan syariat meskipun telah disepakati dan mempunyai kekuatan hukum.

    1. Dana yang dialokasikan untuk perawatan dan pemeliharaan barang-barang aset tetap yang dipakai sewaktu-waktu.

    Hukum syariatnya adalah tidak boleh dipotong/diambil dari harta yang harus dizakatkan karena memang kenyataannya belum dikeluarkan.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:40 am on 18 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (3) 

    Management Dan Audit Zakat (3)

    Kaidah Pengauditan Dan Penyaluran Zakat

    Ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam penentuan, penaksiran dan pembuatan laporan zakat. Prinsip-prinsip tersebut digali dari sumber-sumber hukum Islam dan dari ilmu akuntansi sehingga antara kedua sumber di atas tidak ada kontradiksi.

    Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah :

    1. Prinsip haul

    Fikih Islam menganggap satu tahun kamariah (hijriah) adalah tenggang waktu yang sudah cukup untuk pengembangan suatu harta. Oleh sebab itu para mukallaf wajib mengalkulasikan harta kekayaan yang dimilikinya dengan harga pasaran, bila telah cukup satu tahun kamariah.

    Dalam kitab Syarhus Shagir dapat dibaca sebagai berikut:

    (Taksirlah harta kekayaanmu per jenis setiap tahun atas dasar harga di kala itu (harga pasaran) dengan harga yang adil dan pembelian yang baik).

    Prinsip ini tidak diaplikasikan untuk zakat hasil pertanian, buah-buahan, hasil tambang dan barang galian. Dalam kaitan ini Imam Syafii mengatakan “haul adalah salah satu syarat wajib zakat, bila haul tidak cukup walaupun sebentar, harta tidak kena kewajiban zakat.

    Haul ini merupakan syarat wajib zakat untuk harta kekayaan selain biji-bijian, barang tambang dan barang galian”. Ulama-ulama mazhab Maliki mengatakan, “Haul merupakan salah satu syarat wajib zakat kecuali kekayaan tambang, barang galian dan tanam-tanaman.”

    1. Prinsip independensi tahun anggaran

    Sesuai dengan prinsip haul diatas, pengauditan zakat harus berdasar pada prinsip independensi tahun anggaran. Hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Rusyd sbb: “Harta yang dibelanjakan sebelum cukup haul (sebentar atau lama), kemudian mengalami kerusakan, maka harta itu tidak kena kewajiban zakat, yang kena kewajiban adalah harta yang masih tertinggal jika masih memenuhi nisab dan telah cukup haul. Adapun harta yang kena kewajiban zakat yang dibelanjakan setelah haul (sebentar atau lama), masih tetap kena kewajiban zakat berikut dengan harta kekayaan yang masih tinggal.”

    1. Prinsip berkembang, baik real atau pun estimasi

    Pengauditan zakat berdasar pada prinsip harta yang dapat berkembang baik secara real atau estimasi, baik barang tersebut dicairkan di pertengahan haul atau tidak, baik perkembangan tersebut berlaku kontinu atau terputus-putus.

    Dr. Syauki Ismail Sahata menjelaskan hal ini sebagai berikut: “Laba dalam akuntansi Islam adalah perkembangan harta yang berlaku dalam haul, baik harta tersebut dicairkan menjadi uang atau masih tetap sebagai mana adanya, karena tidak terjadi transaksi jual beli. Dalam kedua kondisinya dapat dilihat adanya keuntungan, sedangkan transaksi jual beli fungsinya tidak lebih hanya sekedar pengalihan bentuk harta dari bentuk aslinya kepada bentuk lain yang dapat menampakkan realita keuntungan.

    Oleh sebab itu bila sudah saatnya acara kalkulasi, tidak perlu ditunggu sampai nilai itu terjadi dalam bentuk realita, karena yang menjadi pertimbangan dalam penaksiran nilai adalah terjadinya keuntungan bukan munculnya suatu keuntungan yang ditandai dengan transaksi jual beli, karena jual beli tidak berfungsi membuat keuntungan, tetapi hanya memunculkan keuntungan.”

    1. Prinsip kemampuan biaya

    Pengauditan zakat harus memperhatikan kemampuan biaya dari seorang wajib zakat, prinsip ini lebih dikenal dalam fikih Islam dengan istilah nisab zakat.

    Dalam Alquran prinsip ini banyak disebut, antara lain firman Allah yang artinya: “Kamu akan ditanya tentang harta yang akan dibelanjakan, katakanlah harta yang melebihi kebutuhan.” (Q.S. Al-Baqarah:219) Hasan Basyri menafsirkan ayat di atas dengan, “Jangan bayarkan hartamu, kemudian kamu duduk meminta-minta.”

    Prinsip ini lebih jelas lagi dari penjelasan Rasulullah saw kepada seorang yang datang menanya, “Mulailah dari dirimu, bayarkan sedekah kepada dirimu, jika masih ada sisa belanja keluargamu, bersedekahlah kepada keluarga dekatmu, bila masih lebih, bersedekahlah kepada .. dst.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

    Prinsip ini diterapkan dalam fikih Islam adalah dengan target untuk tidak memaksa umat Islam di satu pihak dan menganjurkan mereka untuk selalu meningkatkan produksi di pihak lain. Ukuran kemampuan biaya dalam kalkulasi zakat mempunyai nilai unifikasi yaitu 20 Dinar atau 200 Dirham untuk kekayaan uang.

    1. Prinsip zakat dipungut dari penghasilan bersih (neto) dan jumlah kotor (bruto) sesuai dengan bentuk dan jenis harta kekayaan yang ada

    Sebagai implementasi dari prinsip kemampuan biaya, zakat harus berdasar pada prinsip pemotongan utang-utang yang telah jatuh tempo dan biaya-biaya lainnya dari total penghasilan atau kekayaan, sebagai upaya untuk meringankan beban ummat Islam.

    Dalil hukum dari prinsip ini cukup banyak, di antaranya adalah nukilan Abu Ubaid dari ulama lain “bila hartamu telah cukup haul, lihatlah harta-harta kekayaanmu, baik uang atau barang-barang yang dapat dijual, seterusnya taksirlah harganya dengan uang. Bila kamu mempunyai piutang dari orang yang dapat diharapkan pembayarannya, hitunglah bersama dengan kekayaan itu. Bila kamu mempunyai utang, potonglah dari hartamu, seterusnya bayarlah zakat sisa kekayaanmu itu”.

    Data ini menunjukkan bahwa utang-utang dipotong dari barang-barang zakat sebelum diadakan kalkulasi. Hal ini persis dengan nukilan dari seorang ulama klasik yang mengatakan, “Bayarlah utang-utang dan pajak-pajakmu, jika sisanya masih mencukupi 5 watsaq, bayarlah zakatnya.” (Yahya bin Adam Al-Qurasyi, Kitab Al-Kharaj, hal. 59)

    Di pihak lain Rasulullah saw. selalu memesankan kepada pegawai yang ditugaskan mengadakan penaksiran harta kekayaan pertanian dan buah-buahan untuk menentukan dan menaksir barang-barang yang wajib zakat, beliau mengatakan, “Bila kamu mengadakan penaksiran, ambillah dan sisakan sepertiga atau seperempat.” (H.R. Ahmad)

    Dari penjelasan di atas jelas bahwa kalkulasi zakat mempertimbangkan betul-betul utang-utang dan biaya-biaya yang diperlukan untuk memperoleh suatu penghasilan berikut dengan kondisi personil dan kekeluargaan si wajib zakat.

    1. Prinsip penggabungan harta kekayaan

    Ketika mengadakan pengumpulan dan penentuan harta-harta yang wajib zakat, harus diperhatikan semua harta kekayaan yang dimiliki oleh si wajib zakat, baik yang terdapat di dalam negeri atau di luar negeri. Dalam hal ini semua harta kekayaan harus digabungkan menjadi satu, kemudian dipotong dengan utang-utang dan biaya-biaya lain, seterusnya dibayar zakat dari barang-barang yang tersisa bila masih mencukupi nisab.

    Ibnu Qayim menjelaskan prinsip ini sbb: “Barang perdagangan yang telah mencukupi haul yang terdapat di dalam negeri (tempat barang), walaupun sudah dikirimkan ke negara lain, nilainya harus ditaksir bersama-sama dengan barang barang lain ketika menaksir zakatnya walaupun jenis barang itu berbeda-beda.”

    1. Prinsip penaksiran harga dilakukan berdasarkan harga pasaran

    Akuntansi Islam dalam menaksir barang-barang zakat di akhir tahun selalu berdasar pada prinsip penaksiran nilai barang dengan harga pasaran.

    Dalam sebuah nukilan dari Jabir bin Zaid, beliau mengatakan, “Taksirlah barang itu sesuai dengan harganya di saat zakat sudah wajib (akhir haul) kemudian bayarlah zakatnya.” Data ini mengandung suatu arti bahwa penaksiran harga suatu barang untuk tujuan pembayaran zakat harus dilakukan berdasarkan harga di akhir haul.

    Prinsip ini didukung oleh mayoritas pakar fikih. Dalam sebuah nukilan dari Maimun bin Mahran dia mengatakan: (Bila hartamu telah cukup haul, lihatlah harta-bendamu yang lain, baik uang ataupun barang yang dapat diperjual belikan, kemudian taksirlah harganya dengan uang, bila kamu mempunyai piutang atas orang yang mampu, hitunglah bersama-sama, bila kamu mempunyai utang potonglah dari harta tersebut seterusnya bayarlah zakat sisanya).

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 17 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (2) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (2)

    Penentuan Volume Yang Diterima Mustahik

    Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat ulama fikih sebagai berikut:

    1. Untuk masing-masing golongan mustahik zakat dialokasikan sebesar seperdelapan (1/8 atau 12,5%) dari total harta zakat yang terkumpul. Jika dana yang telah dialokasikan bagi suatu golongan itu tidak mencukupi, maka dapat diambil dari sisa dana yang dialokasikan untuk golongan mustahik lain. Bila tidak ada juga maka diambil dari sumber lain kas negara atau dengan cara mewajibkan pajak baru untuk menutupi kekurangan itu atas mereka yang kaya sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
    2. Bagi setiap golongan mustahik zakat dialokasikan dana sesuai dengan kebutuhannya tanpa terikat dengan seperdelapannya. Bila harta zakat yang terkumpul itu tidak mencukupi maka diambil dari sumber lain kas negara atau dengan cara mewajibkan pungutan baru atas harta orang-orang yang kaya untuk menutupi kekurang itu dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syariat Islam.

    Proses Pengauditan Zakat

    Prosedur pengauditan zakat dapat disimpulkan dalam point-point berikut:

    1. Menentukan tanggal haul, yaitu tanggal mulainya dihitung zakat. Tanggal ini berbeda-beda sesuai dengan kondisi si wajib zakat, kecuali dalam hal zakat hasil pertanian, buah-buahan, barang tambang dan barang galian serta kekayaan laut yang harus dibayar zakatnya di saat panen atau mendapatkan hasil.
    2. Menentukan dan menaksir harta kekayaan si wajib zakat serta penjelasan tentang kekayaan yang kena kewajiban zakat (barang-barang zakat).
    3. Menentukan dan menaksir jumlah tagihan tahun berjalan atau tagihan yang telah jatuh tempo yang akan menjadi potongan dari barang-barang zakat.
    4. Menyisihkan tagihan tahun berjalan dan tagihan yang telah jatuh tempo untuk menentukan barang-barang zakat.
    5. Menentukan nisab zakat sesuai dengan jenis barang-barang zakat yang ada.
    6. Membandingkan antara total barang-barang yang wajib zakat dengan nisab zakat (antara point no. 4 dengan point no. 5) untuk mengetahui apakah barang-barang zakat tersebut kena kewajiban zakat atau tidak. Bila barang-barang zakat tersebut telah mencapai nisab, zakatnya ditarik.
    7. Menentukan volume (rate) zakat yang akan dibayar dari barang-barang zakat. Volume ini ada kalanya :

    2,5% untuk zakat uang, perdagangan, eksploitasi, hasil usaha, harta perolehan demikian juga zakat hasil tambang menurut mayoritas ulama.

    5% untuk zakat hasil pertanian dan buah-buahan yang diairi dengan irigasi dan alat-alat yang menelan biaya.

    10% untuk zakat hasil pertanian dan buah-buahan yang diairi dengan air hujan yang tidak menelan biaya.

    20% untuk zakat barang galian.

    8. Mengalkulasikan jumlah zakat yang harus dibayar dengan mengalikan volume zakat.

    9. Membebankan kewajiban zakat sbb:

    • Perorangan atau perusahaan pribadi, memikul semua jumlah zakat secara pribadi.
    • Perusahaan partnership, jumlah zakat dibagi kepada semua partner sesuai dengan persentase kuota masing-masing dalam modal perusahaan. Dengan demikian akan dapat diketahui kewajiban masing-masing partner.
    • Perusahaan sero (saham), jumlah zakat dibagi-bagi sesuai dengan jumlah sero, untuk menentukan jumlah zakat yang merupakan beban masing-masing sero, kemudian dikalkulasikan dengan jumlah sero yang dimiliki masing-masing pemegang saham, untuk mengetahui jumlah zakat yang merupakan kewajiban masing-masing pesero.

    10. Menyalurkan zakat kepada mustahak yang ada sesuai dengan aturan yang ditentukan dalam fikih zakat.

    11. Membuat laporan tentang jumlah zakat dan cara penyalurannya yang dibuat dalam bentuk list dan laporan keuangan dengan berbagai bentuknya.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 16 September 2016 Permalink | Balas  

    Management Dan Audit Zakat (1) 

    zakatManagement Dan Audit Zakat (1)

    Pengertian Pengauditan Zakat

    Pengauditan (kalkulasi) zakat banyak berkaitan dengan penentuan dan penaksiran volume zakat, ketentuan penyalurannya kepada para mustahak serta penjelasan masing-masing point di atas sesuai dengan aturan yang berlaku dalam fikih zakat.

    Tugas pengauditan zakat terdiri dari:

    1. Mengumpulkan, menentukan dan menaksir nilai barang-barang zakat.
    2. Mengumpulkan, menentukan dan menaksir nilai potongan-potongan dari zakat.
    3. Menghitung volume zakat dan jumlah yang wajib dibayar.
    4. Memberikan penjelasan tentang penyaluran zakat kepada para mustahik.
    5. Membuat catatan tentang sumber dan mustahik zakat secara priodik.

    Penentuan Mustahik Zakat

    Allah swt. telah menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat sebagai berikut:

    1. Fakir
    2. Miskin
    3. Amil zakat
    4. Mualaf
    5. Budak
    6. Orang yang berutang
    7. Orang yang berjuang fisabilillah
    8. Ibnu sabil

    Kaidah Pengauditan Zakat

    Pemerintah atau pihak yang mendapat wewenang dari Pemerintah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat dapat mempergunakan kaidah-kaidah berikut:

    Kaidah pokok penyaluran zakat harta.

    Allah swt telah menentukan mustahik zakat lewat firman-Nya dalam surat At-Taubah ayat 60 yang berarti, “(Zakat hanya disalurkan kepada fakir, miskin, amil, muallaf, memerdekaan budak, orang yang berutang, fi sabilillah dan ibn sabil. Hal tersebut merupakan kewajiban dari Allah swt, sesungguhnya Allah maha tahu lagi maha bijaksana).”

    Atas dasar ini, pemerintah tidak diperkenankan menyalurkan hasil pemungutan zakat kepada pihak lain di luar mustahik yang delapan di atas. Di sini terdapat sebuah kaidah umum, bahwa pemerintah dalam melakukan pengalokasian harus mempertimbangkan kemaslahatan umat Islam semampunya.

    Dalam kaitan ini pemerintah menghadapi beberapa masalah yang perlu dijelaskan, yaitu;

    Bagaimana mendistribusikan zakat kepada mustahik yang delapan?

    Dalam hal ini, para pakar fikih telah membuat beberapa kaidah yang dapat membantu Pemerintah dalam menyalurkan zakat, di antaranya adalah sbb:

    A. Alokasi atas dasar kecukupan dan keperluan.

    Sebagian ulama fikih berpendapat bahwa pengalokasian zakat kepada mustahik yang delapan haruslah berdasarkan tingkat kecukupan dan keperluannya masing-masing.

    Dengan menerapkan kaidah ini maka akan terdapat surplus pada harta zakat seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab, Usman bin Affan dan Umar bin Abdul Aziz. Jika hal itu terjadi maka didistribusikan kembali sehingga dapat mewujudkan kemaslahan kaum muslimin seluruhnya. Atau mungkin juga akan mengalami defisit (kekurangan) di mana pada saat itu pemerintah boleh menarik pungutan tambahan dari orang-orang yang kaya dengan syarat tertentu sebagai berikut:

    1. Kebutuhan yang sangat mendesak di samping tidak adanya sumber lain.
    2. Mendistribusikan pungutan tambahan tersebut dengan cara yang adil.
    3. Harus disalurkan demi kemaslahan umat Islam.
    4. Mendapat restu dari tokoh-tokoh masyarakat Islam.

    B. Berdasarkan harta zakat yang terkumpul.

    Sebagian ulama fikih berpendapat harta zakat yang terkumpul itu dialokasikan kepada mustahik yang delapan sesuai dengan kondisi masing-masing. Kaidah ini akan mengakibatkan masing-masing mustahik tidak menerima zakat yang dapat mencukupi kebutuhannya dan menjadi wewenang pemerintah dalam mempertimbangkan mustahik mana saja yang lebih berhak daripada yang lain. Setiap kaidah yang disimpulkan dari sumber syariat Islam ini dapat diterapkan tergantung pada pendapatan zakat dan kondisi yang stabil.

    <<BERSAMBUNG>>

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 15 September 2016 Permalink | Balas  

    Pernahkah Terpikir Atau Ini Saja Cukup ? 

    mushola-malPernahkah Terpikir Atau Ini Saja Cukup ?

    Seorang warga negara asing yang baru bertugas di Indonesia sempat terheran-heran. Setiap dia parkir di basement kantornya dia melihat sebuah ruangan yang di dalamnya ada orang-orang sedang berdiri, ada yang duduk, ada yang sedang ‘berjajar-berbaris’. Hal yang sama dia temukan juga di tempat parkir di banyak mall-mall di Jakarta.

    Karena penasaran dia bertanya pada temannya yang telah lama bertugas di Indonesia. Dia sangat terkejut ketika tahu bahwa ruangan itu adalah tempat ibadah (musholla). Dan orang-orang yang ada di dalam itu sedang sholat. Dan dia lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa tidak ada tempat sholat di kantornya selain di basement tadi.

    Ketika rapat di kantornya, dia menyinggung masalah ini. Dia berkata, bagaimana Anda bisa bekerja dengan baik untuk bertemu dengan klien kita, jika untuk bertemu dengan Tuhan saja Anda tidak pernah memikirkan tempat yang layak? Bukankah seharusnya tempat ibadah menjadi prioritas di kantor ini? Mulai saat ini ruangan tempat kita rapat, kita jadikan tempat anda untuk bertemu dengan Tuhan Anda!

    Ironis memang , kita yang mengaku negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tidak pernah memikirkan tempat sholat di kantor kita. Kita akan protes keras kalau ruangan kita kecil, sempit dan kotor tapi kita tidak pernah protes jika untuk sholat kita harus berada diruangan yang ala kadarnya sekedar tempat disudut-sudut kantor yang sedikit kosong. Untuk berjamaah, sujud dan rukuk saja sulit.

    Bukti nyata yang lain adalah hampir seluruh mushola di kantor pemerintah, swasta, mal, terminal hanyalah tempat yang keberadaannya dipikirkan belakangan. Bahkan banyak kantor yang tidak memiliki tempat sholat dengan alasan tidak ada tempat lagi. Namun gudang-gudang, pantry dan (maaf) toilet selalu mejadi prioritas utama. Jika kita berkesempatan jalan-jalan di mal, terminal atau tempat umum lainnya cobalah cari musholla , 99,999 % kalau Anda temukan pasti ada di basement, dekat toilet umum dan di ruangan yang untuk mencarinya perlu perjuangan!. Dengan kondisi yang ‘jorok’ dan bau.

    Lalu dengan enaknya dan cueknya kita berdoa agar rejeki yang kita dapat semoga barokah dan manfaat? Padahal kita tidak pernah memikirkan tempat dimana barokah dan manfaat itu akan dicurahkan oleh Allah? Ironis!.

    Wallahua’lam

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 14 September 2016 Permalink | Balas  

    Kembalikan Keranjang Itu! 

    ibu dan anak lelakinya berdoaKembalikan Keranjang Itu!

    Suatu kali ada sepasang suami istri yang hidup serumah dengan ayah sang suami. Orang tua ini sangat rewel karena cepat tersinggung dan tak henti-hentinya mengeluh. Akhirnya suami istri itu memutuskan untuk mengenyahkannya. Sang suami memasukkan orang tua itu ke dalam keranjang yang dipanggul di bahunya. Ketika ia sedang bersiap-siap meninggalkan rumah, anak laki-lakinya yang baru berusia sepuluh tahun muncul dan bertanya, “Ayah, kakek hendak dibawa ke mana?”

    Sang Ayah menjawab bahwa ia bermaksud membawa kakek anak itu ke gunung agar ia bisa belajar hidup sendiri. Anak itu terdiam, namun pada waktu ayahnya sudah berlalu, ia berteriak, “Ayah, jangan lupa membawa keranjangnya pulang.”

    Ayahnya merasa aneh, sehingga ia berhenti dan bertanya mengapa. Anak itu menjawab, “Aku memerlukannya untuk membawa ayah nanti kalau ayah sudah tua.”

    Orang itu segera membatalkan niatnya membawa ayahnya ke gunung. Sejak saat itu suami istri itu memperhatikan orang tua sang suami dengan penuh kasih sayang dan memenuhi semua kebutuhannya.

    Jika anak hidup dengan saling pengertian, ia belajar menjadi sabar

    Jika anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri

    Jika anak hidup dengan pujian, ia belajar menghargai

    Jika anak hidup dengan kejujuran, ia belajar menjadi adil

    Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar memiliki kepercayaan

    Jika anak hidup dalam dukungan, ia belajar menyukai dirinya sendiri

    Jika anak diterima dan hidup dalam persahabatan, ia belajar menemukan cinta di dunia

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 13 September 2016 Permalink | Balas  

    Menjaga Kehormatan Diri 

    itikaf 2Menjaga Kehormatan Diri

    Oleh : Abdullah Gymnastiar

    Semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk membaca potensi yang telah Allah berikan. Menggali dan mengembangkan diri kita dengan baik sehingga hidup yang sekali-kalinya ini tidak menjadi beban bagi orang lain, bahkan hidup terhormat karena bisa meringankan beban orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya.

    Saudaraku, kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan kta. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri.

    Benar, dalam  hidup ini kita pasti membutuhkan orang  lain. Itu pasti! Tapi menikmati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia. Menjadi manusia mandiri adalah manusia yang akan memiliki harga diri. Mandiri adalah sumber percaya diri. Mandiri membuat kita lebih tenteram diri. Bangsa mandiri adalah bangsa yang akan mempunyai harga diri.

    Dalam Al Quran ditegaskan, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu gigih mengubah nasibnya sendiri. Kita diberi kemampuan oleh Allah untuk mengubah nasib kita. Berarti kemampuan kita mandiri untuk mengarungi hidup ini merupakan kunci yang diberikan Allah untuk sukses dunia dan insya Allah di akhirat kelak.

    Keuntungan mandiri kita akan punya wibawa sendiri. Sehebat-hebat peminta-minta pasti tidak akan punya wibawa. Misal, seorang aparat yang berpenampilan gagah tetapi gemar melakukan pungutan yang tak semestinya pasti akan jatuh wibawanya.

    Keuntungan lain, kita makin percaya diri dalam menghadapi hidup ini. Orang-orang yang terlatih menghadapi masalah sendiri akan berbeda  semangatnya dalam mengarungi hidup ini dibanding orang yang selalu bersandar kepada orang lain. Sebab, kalau kita bersandar kepada selain Allah, kita akan takut sandarannya hilang. Maka orang-orang yang mandiri cenderung lebih tenang dan lebih tenteram dalam menghadapi hidup ini. Selain dia siap mengarungi, dia juga akan memiliki mental yang mantap. Ingat! Mandiri itu adalah sikap mental

    Lantas dari mana kita mengawali menjadi mandiri? Pertama, mandiri diawali dafi mental. Harus memiliki tekad yang kuat, “Saya harus menjadi manusia terhormat, tidak boleh menjadi benalu!”. Dulu, pernah ada seorang anak kecil yang terseranng demam. Ketika itu dia tidak banyak bicara. Dia ambil gayung dan washlap. Lalu naik ke tempat tidur, menarik selimut, dan mengompres dirinya sendiri. Tiap orang kagum, kecil-kecil sudah mandiri,. Subhanallah, belum juga tamat sekolah sudah dihormati.

    Kisah lain, ada pengalaman pada suatu kesempatan saya berada di Madinah, tepatnya di masjid Nabawi. Saya melihat ada seorang laki-laki tuna netra, telinganya ditutup kapas, dan raut wajahnya sederhana. Dia duduk di atas tikar yang lusuh dan di depannya ada  beberapa botol minyak wangi. Kala itu kami tergerak untuk memberinya sedekah. Namun apa yang terjadi, ia menolak jika diberi uang sebagai sedekah. Ia hanya mau menerima uang jika saya membeli minyak wanginya. Dan itu pun hanya mau menerima setara dengan harga minyak wangi yang dibeli, tidak mau dilebihkan. Subhanallah, sungguh pun memiliki keterbatasan fisik, ternyata beliau pantang meminta-minta.

    Jadi jiwa mandiri ini benar-benar harus ditanamkan sejak kecil. Kita harus mulai merindukan anak-anak kita tumbuh tidak sekedar menjadi pekerja, namun menjadi orang yang mampu menciptakan pekerjaan. Ini penting, karena begitu banyak potensi pada bangsa ini yang tak tergali. Namun ini tentu tidak berarti bahwa mereka yang bekerja pada orang lain tidak mandiri. Para karyawan, buruh, atau pekerja lainnya jelas merupakan sosok yang mandiri. Sebab penekanannya adalah kesungguhan berikhtiar agar tidak menjadi beban orang lain.

    Kedua, kita harus memiliki keberanian mencoba dan memikul resiko. Jadi kemandirian itu hanya milik pemberani. Orang yang bermental mandiri tidak akan menganggap kesulitan sebagai kesulitan, melainkan sebagai tantangan dan peluang. Kalau kita tidak berani mencoba, itulah gagal. Kalau sudah dicoba jatuh. Itu biasa.

    Kegagalan itu tidak pernah terjadi pada orang-orang yang mencoba. Yang gagal itu yang tak pernah mencoba. Bahkan pengalaman bangkrut juga dapat menjadi keuntungan. Artinya, dari kebangkrutan itulah dia akan belajar memperbaiki lagi usahanya, pengalaman itu dapat membuatnya lebih waspada dan lebih semangat agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Tidak ada kata gagal dalam bisnis, yang gagal itu yang tidak berani mencoba.

    Kunci ketiga bila ingin mandiri adalah tingkat keyakinan kepada Allah. Kita  harus yakin, Allah yang menciptakan kita, Allah yang memberikan rezeki. Manusia tak mempunyai apa-apa kecuali yang Allah titipkan. Barang siapa serius menggebu untuk taat kepada Allah, Allah berjanji akan diberi jalan keluar dari setiap kesulitannya.

    Saudaraku, di antara kunci menjaga harga diri, marilah kita hindari merasa nikmat mendapatkan sesuatu. Tapi nikmatilah diri kita ketika memberikan sesuatu. Jangan merasa kaya dengan banyak orang yang memberi, tapi merasalah bahagia ketika kita bisa banyak memberi.

    Terakhir, semoga  jerih payah kita membuahkan rezeki yang melimpah, sehingga bisa menolong orang yang membutuhkan. Hendaklah niat kita tidak hanya untuk kepentingan sendiri dan keluarga saja, tetapi saudah melebar untuk kepentingan umat. Subhanallah! Hendaklah kita  tidak termasuk orang-orang yang ragu untuk mewakafkan diri bagi kepentingan agama Allah. “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS Al Fatihah 5-6)

    Wallahu a’lam

     
  • erva kurniawan 1:27 am on 12 September 2016 Permalink | Balas  

    Implikasi Risywah (Budaya Suap) Di Tengah Masyarakat 

    Implikasi Risywah (Budaya Suap) Di Tengah Masyarakat

    Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Pertanyaan.

    Syaikh Abdul Azi bin Baz ditanya : Bagaimana jadinya kondisi suatu masyarakat ketika budaya suap menyebar di tengah mereka.?

    Jawaban.

    Tidak dapat disangkal lagi bahwa munculnya berbagai perbuatan maksiat akan menyebabkan keretakan dalam hubungan masyarakat, terputusnya tali kasih sayang diantara individu-individunya dan timbulnya kebencian, permusuhan serta tidak saling tolong menolong dalam berbuat kebajikan. Di antara impikasi paling buruk dari merajalelanya budaya suap dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya di dalam lingkungan masyarakat adalah muculnya dan tersebarnya prilaku-prilaku nista, lenyapnya prilaku-prilkaku utama (akhlaq yang baik) dan sebagian anggota masyarakat suka menganiaya sebagian yang lainnya. Hal ini sebagai akibat dari pelecehan terhadap hak-hak melalui perbuatan suap, mencuri, khianat, kecurangan di dalam mu’amalat, kesaksian palsu dan jenis-jenis kezhaliman dan perbuatan melampui batas semisalnya.

    Semua jenis-jenis ini adalah tindakan kejahatan yang paling buruk. Ia termasuk salah satu dari sebab-sebab mendapatkan kemurkaan Allah, timbulnya kebencian dan permusuhan antar sesama Muslim dan sebab-sebab terjadinya adzab menyeluruh lainnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Sesungguhnya bila manusia telah melihat kemungkaran lantas tidak mengingkarinya, maka telah dekatklah Allah meratakan adzabNya terhadap mereka”

    [Hadits Riwayat Imam Ahmad (1,17,30,54) dengan sanad Shahih dari Abu Bakar As-Shidiq Radhiyallahu ‘anhu, dan Abu Daud, kitab Al-Malahim (4338), At-Tirmidzi, kitab At-Tafsir (3057) dan Ibnu Majah, kitab Al-Fitan (4005) semisalnya]

    [Kitab Ad-Da’wah dari fatwa Syaikh Ibnu Baz]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 3 Darul Haq]

    Sumber” almanhaj.or.id

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 11 September 2016 Permalink | Balas  

    Hukum Syari’at Terhadap Suap 

    korupsiHukum Syari’at Terhadap Suap

    Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Baz

    Pertanyaan.

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukum syari’at terhadap risywah (suap) ?

    Jawaban.

    Risywah (suap) haram hukumnya berdasarkan nash (teks syari’at) dan ijma’ (kesepakatan para ulama). Ia adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang Hakim dan selainnya untuk melencengkan dari al-haq dan memberikan putusan yang berpihak kepada pemberinya sesuai dengan keinginan nafsunya.

    Dalam hal ini, terdapat hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau : “Artinya : Melaknat penyuap dan orang yang disuap” [Hadits Riwayat Abu Dawud, kitab Al-Aqdiiyah 3580, At-Tirmidzi, kitab Al-Ahkam 1337 dan Ibnu Majah, kitab Al-Ahkam 2313]

    Terdapat riwayat yang lain, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat Ar-Ra’isy juga [1]. Yakni, perantara antara keduanya. Dan, tidak dapat diragukan lagi bahwa dia berdosa dan berhak mendapatkan cacian, celaan dan siksaan karena membantu di dalam melakukan perbuatan dosa dan melampui batas, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertawaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya” [Al-Ma’idah : 2]

    [Kitab Ad-Da’wah, Juz I ,hal 156 dari Fatwa Syaikh Ibn Baz]

    [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 5-6 Darul Haq]

    ***

    Foote Note.

    [1] Hadits Riwayat Ahmad 21893, Al-Bazzar 1353, Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 1415, Al-Haitsamiy berkata di dalam Majma’ Az-Zawa’id (IV : 199), “Di dalam riwayat tersebut terdapat Abul Haththab, seorang yang tidak diketahui identitasnya (anonym)”.

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 10 September 2016 Permalink | Balas  

    Jejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an 

    gua hiroJejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an

    Gua Hira-Jabal Nur termasuk obyek wisata di Mekah. Gua ini sangat terkenal dalam sejarah Islam, karena di dalam gua itulah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam diangkat menjadi rasul, di situ pula turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama [Al ‘Alaq 1-5]. Gua kecil ini terletak di puncak gunung Jabal Nur, di bagian utara Mekah, sekitar 5 km dari Masjidil-Haram, di sebelah kiri perjalanan menuju Arafah. Tinggi puncak Jabal Nur sekitar 200 m. Bentuk gunung ini terlihat berdiri tajam. Disekelilingnya terdapat sejumlah gunung, bukit batu dan jurang.

    Bentuk Gua Hira agak memanjang, terletak di belakang 2 batu raksasa yang sangat dalam dan sempit, tidak dapat dilalui lebih dari satu orang. Di dalam gua hanya bisa didiami sekitar 5 orang saja, dan sekedar cukup untuk tidur 3 orang berdampingan. Tinggi gua hanya sebatas orang berdiri, atau sekitar 2 meter. Seandainya tidak ada bangunan yang tinggi di Masjidil-Haram, dari mulut gua bagian belakang dapat dilihat Ka’bah (Masjidil Haram). Meskipun dalam syariat berhaji tidak ditemukan perintah untuk mendatangi Gua Hira, namun pada musim haji banyak jamaah haji menyempatkan diri untuk naik ke Jabal Nur, menyaksikan Gua Hira. Di kawasan gunung ini tidak ditemui tanaman sedikitpun juga. Gersang. Hanya terdiri dari batu-batu besar. Mendaki puncak Gua Hira membutuhkan waktu paling tidak 2 jam. Keadaan di puncaknya sangat sunyi dan senyap hingga terasa menakutkan.

    Beberapa tahun sebelum dan setelah menikah dengan Khadijah binti Khuwalid, Rasulullah telah menjadikan Gua Hira sebagai tempat menyepi untuk ber tafakur, mengasingkan diri dari berbagai kerusakan moral penduduk Mekah. Selama itu Beliau juga bekerja membantu para jamaah haji yang datang ke Ka’bah dengan menyediakan air minum buat mereka. Namun Beliau tidak pernah beribadah menurut kepercayaan orang Arab kala itu, menyembah berhala yang ada di Ka’bah. Rasulullah sering memisahkan diri dari keramaian untuk menemukan jalan keluar- cara agar masyarakat tidak menyembah berhala.

    Di gua ini menjelang usia 40, Rasulullah yang selalu bertafakur, beribadah menurut agama Ibrahim selama berjam-jam bahkan berhari-hari hanya dengan membawa bekal makan dan minum secukupnya. Beliau pulang hanya untuk mengambil perbekalan dan kembali lagi ke gua. Sepanjang bulan Ramadhan digunakan Beliau untuk beribadah. Pada malam 17 Ramadhan 41H atau 6 Agustus 610, Beliau melihat “cahaya” terang benderang memenuhi ruangan gua. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul dihadapan Beliau menyampaikan wahyu Allah Yang Maha Tinggi, yang pertama, Al ‘Alaq (1-5) Setelah itu dengan perasaan takut dan gelisah, Beliau bergegas pulang dan berkata pada Khadijah : “Selimutilah Aku, selimutilah Aku.” Khadijah menyelimuti dan mendampingi Beliau hingga hilang rasa takutnya. Setelah mendengar kisah yang sangat ganjil dialami suaminya di Gua Hira, Khadijah segera menemui Waraqah bin Naufal, anak paman Khadijah, seorang pemeluk agama Nasrani di jaman Jahiliyah. Waraqah pandai menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani. Melalui dia, Muhammad tahu bawa Dirinya akan diangkat menjadi Nabi dan Rasul sebagaimana Nabi Musa, menerima wahyu Allah Yang Maha Tinggi melalui Jibril.

    Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam ketika itu berusia sekitar 40 tahun. Beliau telah dipilih Allah Yang Maha Tinggi sebagai Rasul. Rasul terakhir yang membawa manusia dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang.

     

    Kiriman Sahabat Meilany

     
  • erva kurniawan 2:18 am on 9 September 2016 Permalink | Balas  

    Prasangka Baik 

    prasangkaPrasangka Baik

    Ulasan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi

    Duhai… alangkah indahnya husnuzhzhon (prasangka baik). Dengan prasangka baik kita bisa menangkap asrôr (rahasia-rahasia) makhluk tanpa mereka sadari. Namun kini ikatan (rowâbith) telah lepas, dan kita hanya memandang basyariah (sisi lahiriah) saja. Jika seseorang melihat orang lain melakukan maksiat, ia lalu berprasangka buruk kepadanya. Serahkanlah urusan makhluk kepada Kholiq (Allah), jika mau Dia akan menyiksanya; jika mau Dia akan mengampuninya.

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik, bagi siapa pun yang Dia kehendaki.” (QS An-Nisa, 4:48)

    Bisa jadi dia termasuk orang yang diampuni Allah sesuai kehendak-Nya. Syeikh Ibn Arabi berkata, “Andaikata aku melihat seseorang bermaksiat kepada Allah, kemudian dia menghilang sejenak dari pandanganku, aku akan meyakini bahwa ia seorang wali Allah. Sebab, mungkin ia telah bertobat, dan Allah kemudian menerima tobatnya dan memilihnya.”

    Tidak ada seorang pun dapat mencegah Allah membuka pintu pengampunan. Allah selalu membuka pintu pengampunan lebar-lebar untuk manusia. Seseorang boleh jadi kafir, tapi sesaat kemudian telah jadi wali. Berprasangka baiklah kepada manusia. Jika kau ingin meneliti, maka telitilah dirimu sendiri. Curigailah dirimu sendiri, meskipun ia sedang berbuat ketaatan.

    Waspadailah tipu muslihat, yang ditimbulkan rasa lapar dan kenyang. Boleh jadi perut yang lapar, lebih buruk dari yang kenyang.

    Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

    Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada sebaik-baik akhlak, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkkan kepada sebaik-baik akhlak selain Engkau. Dan singkirkan dariku akhlak yang tercela, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menyingkirkannya dariku selain Engkau.

    Dikatakan bahwa tasawuf adalah akhlak. Barang siapa mengunggulimu dalam akhlak, maka ia telah mengunggulimu dalam tasawuf. Ibrahim bin Adham berkata, “Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan sepanjang hidupku seperti dalam dua kejadian ini:

    Pertama, sewaktu aku menumpang perahu dan seluruh penumpang menjadikanku sebagai bahan olok-olok mereka. Dalam pandangan mereka aku sangat hina.

    Aku lalu mengucapkan Alhamdulillâh.

    Kedua, ketika aku sedang berbaring, tiba-tiba datang seekor anjing mengencingiku.”

    Kita diterpa kemerosotan akhlak, dan penyebabnya adalah nafs yang sangat kuat. Semoga Allah mensucikan nafs kita. Sungguh beruntung orang yang mensucikan (jiwa)-nya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.(QS Asy-Samsy, 91:9-10)

    Para ulama tidak menuliskan contoh-contoh akhlak mulia, kecuali untuk diamalkan. Perangilah nafs-mu sekuat tenaga agar dapat berperilaku dengan akhlak As-Sayidul Ma’shûm (Nabi saw). Kita butuh obat, karena penyakit telah terlalu banyak.

    Wahai Penyembuh, sembuhkanlah. Wahai Yang memperbaiki, perbaikilah. (L:315)

    (Sekilas tentang Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Putera Riyadi)

     
  • erva kurniawan 1:14 am on 8 September 2016 Permalink | Balas  

    Memandang Sisi yang Baik 

    amalan baikMemandang Sisi yang Baik

    Ulasan Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

    Seorang hamba dituntut untuk meminta kepada Tuhannya agar dapat melihat kebaikan-kebaikan para makhluk-Nya, juga agar dapat menutupi aib-aib mereka.

    Jika ia telah menyaksikan kebaikan-kebaikan mereka, maka ia akan berprasangka baik (husnuddhon) kepada mereka. Jika ternyata ia belum melaksanakan kebajikan yang telah mereka lakukan , maka hendaknya ia berusaha dengan sungguh-sungguh, dan bertawajjuh kepada Allah agar Ia menganugerahkan kebaikan-kebaikan itu kepadanya, karena ia tidak akan memperoleh apa pun kecuali dengan pertolongan Tuhannya. Dengan berbuat demikian, Allah akan memudahkan dan menyampaikannya pada kebaikan tersebut. Karena barang siapa memohon pertolongan kepada Allah,niscaya ia akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

    “Kalian semua sesat kecuali yang telah Kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, nanti Aku akan memberi petunjuk kepada.” (HR Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, baihaqi dan Darimi)

    Jika kebaikan yang ia miliki ternyata lebih baik dan lebih sempurna, maka hendaknya ia meminta agar Allah menambah kebaikannya, bersyukur atas taufik yang diberikan Allah kepadanya, dan bersyukur karena Allah telah mengkhususkannya untuk memperoleh kebaikan itu. Jika ia berbuat demikian, ia akan memperoleh kebaikan tambahan.

    Jangan sampai kebaikan itu membuatnya merasa ujub (berbangga diri). Jangan sampai ia memandang dirinya lebih baik dari yang lain, jangan sampai karunia yang diberikan Allah kepadanya menimbulkan perasaan sombong. Karena, sesungguhnya dirinya dan juga orang lain berada dalam tawanan kekuasaan dan kehendak Allah. Ia seharusnya merasa takut jika suatu waktu Allah mencabut kebaikan-kebaikannya kemudian memberikannya kepada orang-orang lain, dan sebagai gantinya, ia melaksanakan keburukan-keburukan mereka.

    Jika Allah menunjukkan keburukan seseorang, maka ia dituntut untuk berakhlak dengan akhlak Tuhannya Yang Maha Pengasih, yakni mengasihi mereka dan menutupi aib-aibnya. Karena sesungguhnya keburukan yang Allah tampakkan adalah rahasia yang dipercayakan Allah kepadanya dengan tujuan agar ia dapat menyimpan rahasia itu, kemudian dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut memberikan nasihat kepada orang itu, atau melalui sindiran, atau dengan cara lain yang baik sebagaimana teguran Rasulullah SAW kepada para sahabatnya:

    “Mengapa sekelompok orang berbuat demikian, hendaknya mereka menghentikan perbuatannya.” (C:13)

    (Salatnya Para Wali, Nûrun Lil Qulûb Yudhî`, Putera Riyadi)

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 7 September 2016 Permalink | Balas  

    Memahami Hawa Nafsu 

    amalan baikMemahami Hawa Nafsu

    Ulasan Al-Habib Muhammad bin Abdullah bin Syeikh Alaydrus

    Ketika seorang hamba melihat dengan akalnya tanpa terpengaruh oleh hawa, maka segala sesuatu akan tampak sebagaimana hakikatnya. Namun jarang yang dapat melihat dengan cara demikian, karena hawa terlalu menguasai nafs, dan nafs sangat sulit untuk melepaskan diri dari kekuasaan hawa. Bahkan karena demikian tersembunyi dan sulit dipahami, maka manusia tidak dapat merasakan kehadiran hawa. Hanya orang-orang yang berakal unggul (superior) yang dapat mengetahui keberadaan hawa dalam nafs-nya.

    Hawa adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawa. Oleh karena itu, jauhilah hawa dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawa akan menodai agama dan murûah -mu, sebagaimana dikatakan dalam syair:

    Jika kau ikuti hawa, ia akan menuntunmu menuju semua perbuatan yang tercela bagimu.

    Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu temukan bahwa hawa-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawa merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawa bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu, dan akan hilang akal sehatnya. Oleh karena itu, seorang yang pandai harus menyadari hal ini dan berusaha mematikan hawa-nya dengan mujâhadah dan mukhôlafah (penentangan).

    Hakikat hawa adalah kecenderungan pada sesuatu yang batil. Hawa adalah perilaku dan tabiat nafs. Semua kecenderungan nafs pada kebatilan disebut hawa.

    Hawa terbagi dua:

    Pertama, ajakan-ajakan syahwat yang terdapat dalam diri seseorang, misalnya berbagai hal di atas, yang menipu dan menguasai nafs serta diperebutkan oleh manusia. Ajakan-ajakan syahwat tersebut hina dan buruk, karena itulah orang-orang yang memiliki murûah menjauhinya demi menjaga agama, menyucikan murûah, melindungi kehormatan, dan menjaga akal mereka. Orang-orang berakal, jika menghadapi tipu daya hawa dan penentangan nafsu, mereka tetap kokoh, tidak goyah.

    Mereka mempertimbangkan akibatnya dengan hati-hati dan tidak gegabah. Lain halnya dengan orang-orang yang akal dan jiwanya lemah, mereka akan dikuasai nafs hingga tak dapat berkutik. Hawa akan menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela.

    Namun karena hatinya telah buta, hanyut dimabuk hawa, mereka tidak menyadari berbagai keburukan yang telah dilakukannya.

    Kedua, hawa yang timbul ketika seseorang marah (ghodhob). Hawa jenis ini merupakan jenis hawa yang paling buruk. Sebab hawa yang timbul ketika seseorang sedang marah (ghodhob) bersifat memaksa dan sulit diajak kompromi. Hanya kaum ksatria (abthôl), orang-orang yang berakal sehatlah yang mampu mengetahui keberadaan hawa ini.

    Jenis hawa yang lain adalah (perasaan) yang timbul ketika seseorang bersikap sombong (kibr) dan congkak. Jenis hawa ini juga buruk, merusak agama dan menghancurkan amal. Namun pengaruh buruknya lebih ringan dibandingkan dengan hawa yang timbul ketika marah. Hawa yang timbul ketika marah menggoncangkan nafs dan menghilangkan akal sehatnya. Nafs menjadi bodoh.

    Ketahuilah, marah adalah jenis hawa yang paling berat. Para abdâl pilihan memperoleh kedudukan di sisi Allah karena mereka benar-benar menjauhi semua jenis hawa. Sebab, semua jenis hawa adalah buruk. Para ashâbul Haq Ta’âlâ selalu berpijak pada kebenaran. Sebab, kebenaran adalah lawan kebatilan.

    Mereka sadar bahwa seberapa besar mereka mendekati hawa, maka sebesar itu pula mereka menjadi jauh dari Allah. Karena itu dalam semua perilakunya (makan, tidur, berbicara, dan lain-lain) mereka hanya melakukannya sebatas kebutuhan (dharûri) saja. Dalam pandangan mereka segala sesuatu yang melebihi batas kebutuhan merupakan bagian dari hawa.

    (Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

    Catatan:

    Muruah: Usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang dianggap baik oleh masyarakat dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk olehnya, misalnya duduk-duduk di pinggir jalan, dll.

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 6 September 2016 Permalink | Balas  

    Penjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan 

    zakatPenjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Berikut ini penjelasan tentang zakat gaji/penghasilan dari profesi

    (Dari Buku Panduan Zakat Praktis karya Drs. H. Hasan Rifa’i Al Faridly-Dewan Syariah Dompet Dhuafa Republika)

    Dasar hukum :

    Firman Allah SWT :

    ‘Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian’ (Q.S. Adz-Dzariyat : 19)

    ‘…………..Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya ……..’ (Q.S. Al Hadid : 7)

    ‘Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik ……..’ (Q.S. Al Baqarah : 267)

    Hadits Nabi SAW :

    Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan (H.R. Thabrani)

    Hasil Profesi :

    Hasil profesi (pegawai negeri, pegawai swasta, konsultan, dokter, notaris dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu-jaman Rasulullah). Oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan zakat. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan yang mendapat porsi pembahasan yang sangat  memadai dan detail.

    Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapat dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin di antara mereka (sesuai dengan ketentuan syara’/syariat). Dengan dmeikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat.

    Akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarga) nya, maka ia menjadi mustahiq (orang yang menerima zakat), sedang jika hasilnya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit, maka bagiannya tidak wajib zakat.

    Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

    Ketentuan Zakat Penghasilan (Profesi) :

    Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dikategorikan berdasarkan qiyas/analogi atas kemiripan (syabbah) terhadap karakteristik harta zakat yang ada, yaitu :

    1. Model memperoleh harta penghasilan/profesi mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat diqiyaskan ke dalam zakat pertanian berdasarkan nishab (653 kg gabah kering giling atau setara dengan 552 kg beras) dan waktu pengeluaran zakatnya (setiap kali panen – untuk zakat penghasilan setiap terima gaji bulanan atau disetahunkan).
    2. Model harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang, sehingga harta ini dapat dianalogikan ke dalam zakat harta (kelompok harta simpanan/kekayaan wajib zakat berupa uang simpanan, emas, perak, surat berharga) berdasarkan kadar zakat yang harus dibayarkan (2,5%). Dengan demikian hasil profesi/gaji seseorang jika telah memenuhi ketentuan wajib zakat, maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

    Hikmah Zakat :

    Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, transendental dan horisontal. Oleh sebab itu, zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, yaitu :

    1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa dan lemah papa, untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah SWT.
    2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri manusia yang biasa timbul di kala ia melihat orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, jika mewah. Sedang ia sendiri tak punya apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
    3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia, menjadi murah hati, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi) dan mengikis sifat bakhil (kikir) dan serakah yang menjadi tabiat manusia sehingga dapat merasakan ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah dan tuntutan kewajiban kemasyarakatan.
    4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri di atas prinsip-prinsip : Ummatan Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, hak dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Takaful Ijtimai (tanggung jawab bersama).
    5. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), kesimbangan dalam kepemilikan harta (social ownership) dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
    6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah.
    7. Dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seorang dengan lainnya rukun, damai dan harmonis yang dapat menciptakan situasi yang tenteram dan aman lahir dan batin. Dalam masyarakat seperti itu akan tumbuh lagi bahaya komunisme (Atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab, dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme sudah dijawab. Akhirnya sesuai janji Allah, akan tercipta sebuah masyarakat baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    Jazakumullah Khairan Katsiran

    Fendy

     
  • erva kurniawan 1:48 am on 5 September 2016 Permalink | Balas  

    Isa anak Allah? (Bagian 2) 

    nasehat-quran1Isa anak Allah?

    A=Muslim B=Kristen

    Malam 2.

    Yesus Adalah Utusan (Rasul) Tuhan

    A: Sebagaimana kita telah rembuk kemarin malam, apakah akan dilanjutkan juga musyawarah kita ini?

    B: Memang demikian, karena kedatangan kami kemari khususnya untuk melanjutkan pertemuan kita kemarin malam.

    A: Kalau tidak khilaf, pembicaraan kita masih berkisar dalam soal ketuhanan Yesus dalam Bibel.

    B: Betul begitu. Kemarin malam saya mengharapkan agar Bapak menunjukkan ayat-ayat dalam Kitab Injil apakah Yesus itu Tuhan atau bukan.

    A: Kemarin malam telah saya tunjukkan. Agar berurutan sebaiknya kita ulangi lagi ayat-ayat Injil tersebut, lalu akan saya tunjukkan lagi ayat-ayatnya yang lain, setujukah Saudara pendapat saya ini?

    B: Memang sebaiknya begitu, agar berurutan dan bertambah jelas, baiklah diulangi lagi.

    A: Silahkan Buka Matius pasal 1 ayat 16.

    B: Baik, dalam pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria ialah yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus”.

    A: Di sini jelas, ayat ini menyebutkan sendiri, bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria. Jadi Yesus adalah anak manusia, bukan anak Tuhan, sebagaimana telah saya terangkan dalam pertemuan pertama. Makna: “Yesus” dan “Kristus”

    B: Ya, pada pertemuan pertama Bapak telah terangkan dan saya telah mengerti. Menurut pendapat Bapak, apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan kata: “Yesus dan Kristus”.

    A: Apakah Saudara belum mengetahui arti daripada dua buah kata tersebut?

    B: Saya mengerti. Tetapi hanya untuk mencocokkan saja dengan penafsiran Bapak.

    A: Baik, Yesus adalah bahasa Yunani, yang berarti: “Melepaskan”, melepaskan manusia daripada dosa.

    B: Dari manakah adanya keterangan bahwa Yesus itu berarti melepaskan dosa?

    A: Sebetulnya susunan pertanyaan itu timbul dari saya. Tetapi saya mengerti mungkin Saudara akan menguji saya tentang Injil, walaupun begitu saya penuhi juga pengharapan Saudara. Silahkan periksa di Matius pasal 1 ayat 21.

    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka ia akan beranakkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau namakan Dia, Yesus, karena ialah yang akan melepaskan kaumnya daripada segala dosanya”.

    A: Itulah ayatnya, Arti Kristus ialah Almasih, Sang Sabda, Adil, Ratu Salem dan ada beberapa lagi artinya yang lain: Kata Almasih dalam Injil bahasa Inggris disebut: “Christ the Lord” di dalam Injil bahasa Arab disebut: “Almasih Ar-Robb”. Kata “Lord dan Robb” artinya tuanku, paduka tuan, dan ada juga dengan arti Tuhan, dan lain-lain lagi. Akan tetapi karena Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan melainkan utusanNya bagaimana tersebut dalam Kitab Injil Johanes pasal 17 ayat 23, dan ia diperanakkan oleh manusia, sebagaimana tersebut dalam Injil Matius pasal 1 ayat 16 dan 21, malah ia sendiri yang berkata dan mengakui bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), sebagaimana disebutkan dalam Injil Markus, pasal 12 ayat 29 dan di ayat-ayat Injil yang lain-lain, maka berdasarkan pengakuan Yesus itu, jelas Yesus itu bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan.

    B: Benar yang Bapak maksudkan itu.

    Sekali lagi: Tuhan itu Esa (Tunggal)

    A: Selanjutnya harap periksa lagi di Markus pasal 12 ayat 29.

    B: Di sini menyebutkan: “Maka jawab Yesus kepadanya: “Hukum yang terutama inilah: dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan Kita, ialah Tuhan Yang Esa”.

    A: Jelas bahwa Tuhan itu Esa, artinya satu, Tunggal, jadi Yesus bukan Tuhan sebagaimana telah saya terangkan.

    B: Ya, sudah Bapak terangkan kemarin malam.

    A: Periksa lagi Ulangan pasal 4 ayat 35.

    B: Di sini menyebutkan: “Maka kepadamulah Ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itu Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

    A: Kitab Injil Saudara sendiri yang menyebutkan dan Yesus sendiri yang menyampaikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa. Jadi tegas sekali Yesus sendiri tidak mengaku menjadi Tuhan. Ini pun telah saya terangkan pada pertemuan kita kemarin malam.

    B: Ya, saya sudah mengerti dan menerimanya.

    A: Periksa lagi di Ulangan pasal 6 ayat 4.

    B: Di Ulangan pasal dan ayat tersebut menyebutkan demikian: “Dengarlah olehmu hai Israil! Sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya”.

    A: Jelas di Kitab Injil sendiri menyebutkan Allah itu Esa, Tunggal. Yesus telah mengakui sendiri bahwa dia bukan Tuhan. Bagaimana pendapat Saudara? Kaum Kristen mengatakan Yesus itu Tuhan, sedangkan Yesus sendiri menolak disebut dirinya Tuhan.

    B: Ya, saya tidak mengerti dan tambah bingung.

    A: Biarlah tidak apa-apa. Marilah kita teruskan lagi. Periksa di Matius pasal 27 ayat 1.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Setelah hari siang, maka segala kepala iman dan orang tua-tua kaumpun berundinglah atas hal Yesus, supaya dibunuh Dia”.

    A: Kalau betul Yesus itu Tuhan, mustahil ada manusia merencanakan untuk membunuh Dia. Silahkan buka lagi di Matius pasal 26 ayat 38.

    B: Di ayat ini ada menyebutkan: “Kemudian kata Yesus kepada mereka itu: “Hatiku amat sangat berdukacita, hampir mati rasaku; tinggallah kamu di sini dan berjagalah sertaku”.

    A: Di ayat ini menyebutkan bahwa Yesus amat sangat berduka cita pantaskah ada Tuhan berduka cita? Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan. Periksa lagi di Lukas pasal 2 ayat 11.

    B: Baik di ayat ini menyebutkan: “Sebab pada hari ini sudah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan itu di dalam negeri Daud”.

    A: Wajarkah Tuhan dilahirkan oleh manusia (Maria)? Terus periksa di Johanes pasal 5 ayat 30. Tuhan Tidak Berkuasa Berbuat Sekehendaknya?

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Maka aku tidak boleh berbuat satu apa dari mauku sendiri, seperti aku dengar begitu aku hukumkan, dan hukumku itu adil adanya, karena tidak aku coba turut mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus aku”.

    A: Ayat itu Yesus sendiri yang berkata bahwa ia tidak berkuasa berbuat sekehendaknya. Wajarkah Tuhan tidak berkuasa berbuat sekehendaknya? Di ayat itu pun Yesus mengaku sendiri bahwa kehendaknya itu menurut kehendak Tuhan yang mengutus dia. Kalau Yesus betul Tuhan, tentu tidak dapat diperintah oleh siapa pun. Di ayat ini juga Yesus mengaku, bahwa dia bukan Tuhan melainkan diutus oleh Tuhan. Yang diutus itu tentu bukan Tuhan.

    B: Kalau berdasarkan ayat tersebut, memang benar keterangan Bapak.

    A: Kalau begitu jelas bahwa: 1. Yesus datang ke dunia ini bukan kemauannya sendiri tetapi utusan Tuhan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Tuhan telah mengutus nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain. 2. Yesus menghidupkan orang mati bukan maunya sendiri melainkan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Ilyas [Ilyas = Elisa, pent.] dapat menghidupkan orang mati. 3. Yesus dapat menyembuhkan penyakit kusta (lepra), bukan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Tuhan sebagaimana Ilyas dapat menyembuhkan penyakit lepra.

    Keterangan saya ini berdasarkan pengakuan Yesus sendiri di ayat tadi bahwa “tidak aku coba mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus Aku”.

    Apakah Saudara memerlukan lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan pengakuan Yesus sendiri bahwa Ia bukan Tuhan?

    B: Buat saya masih memerlukan lagi, bukankah telah saya sampaikan kepada Bapak, bahwa saya ingin mencari kepuasan dalam meneliti ajaran-ajaran agama, terutama dalam hal Ketuhanan yang hakiki. Tetapi saya ingin bertanya, dan maaf sebelumnya, bagaimanakah Bapak bisa hafal di luar kepala tentang ayat-ayat Bibel, dan keistimewaan Bapak ini saya merasa kagum.

    A: Itu adalah petunjuk Tuhan. Alhamdulillah saya memang mempelajari bermacam agama, akhirnya saya bertambah yakin akan kebenaran agama Islam. Kalau Saudara merasa kagum kepada saya, maka saya pun lebih merasa kagum lagi kepada Saudara selaku pemeluk agama Kristen berhasrat meneliti ajaran-ajaran agamanya. Juga dengan bantuan Bapak Markam ini. Baiklah kita lanjutkan, periksa lagi di Ulangan pasal 4 ayat 39. “Laa ilaaha illa Allaah” = “Tidak ada Tuhan melainkan Allah” dalam Bible

    B: Baik, di pasal dan ayat ini disebutkan sebagai berikut: “Maka sekarang ketahuilah olehmu dan perhatikanlah ini baik-baik, bahwa Tuhan itulah Allah, baik di langit yang di atas, baik di bumi yang di bawah, dan kecuali Ia tiadalah lain lagi.”

    A: Tegas sekali, di Kitab Injil sendiri yang menyebutkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Yesus sendiri pula yang berkata bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Jadi Yesus pun bukan Tuhan. Ayat ini tentu tidak dapat diputar-putar lagi. Kalau ada penganut agama Kristen mengakui Yesus itu Tuhan, maka pengakuannya bertentangan dengan kitab sucinya sendiri, dan bertentangan pula dengan ajaran Yesus.

    B: Tetapi dalam Injil Johanes pasal 10 ayat 38 ada menyebutkan: “Supaya kamu dapat tahu dan percaya, yang Bapa ada di dalam aku, dan aku ada di dalam Bapa”. Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam Yesus, maksudnya Tuhan dan Yesus itu satu adanya atau singkatnya bahwa Yesus pun Tuhan. Juga dalam Johanes pasal 14 ayat 11 ada menyebutkan: “Percayalah yang aku ini dalam Bapa, dan Bapa dalam aku”.

    A: Kalau Saudara berpegang dengan ayat tersebut, bahwa Yesus itu Tuhan, maka Saudara harus mengakui juga bahwa Tuhan itu Yesus dan Yesus itu Tuhan.

    B: Tidak demikian, tetapi Yesus dan Tuhan itu satu.

    A: Kalau begitu, saya ingin bertanya: “Di ayat itu ada dua rangkaian kata ialah “Yesus dan Tuhan”. Siapakah yang lebih berkuasa di antara keduanya. Tuhan Bapakah atau Yesus?

    B: Tentu Tuhan Bapa. “Bapaku itu lebih dari aku … “, ” … Dia yang MENGUTUS aku” Yesus adalah UTUSAN (RASUL) Allah

    A: Kalau masih ada yang lebih berkuasa dari Yesus, maka Yesus tentu bukan Tuhan, lebih jelas periksa di Injil Johanes pasal 14 ayat 28.

    B: Baik, di ayat ini ada menyebutkan: “Kamu sudah dengar aku bilang, yang aku pergi serta datang kembali sama kamu. Coba kamu cinta sama aku, hati, sebab aku sudah bilang: “Yang aku pergi sama Bapa, karena Bapaku itu lebih dari aku”.

    [Karena kalimat di atas agak membingungkan, berikut adalah kutipan dari “Al-Kitab

    Terjemahan Baru”, pent.] [“Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapaku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.”]

    [dan versi “Al-Kitab Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari”, pent.: Kalian sudah mendengar Aku berkata, ‘Aku akan pergi, tetapi Aku akan datang kembali kepadamu’. Kalau kalian mengasihi Aku, kalian akan senang Aku pergi kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar daripadaku.]

    A: Di ayat ini Yesus sendiri mengatakan: “Bapaku itu lebih dari aku”, ini menunjukkan bahwa, kalau Yesus itu Tuhan, maka ialah Tuhan yang tidak sempurna, oleh karena masih ada yang melebihi tingkatnya. Yang tidak sempurna itu tentu bukan Tuhan. Harap Saudara periksa lagi di Injil Johanes pasal 12 ayat 45.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Dan barang siapa yang melihat aku, dia melihat sama Dia yang mengutus aku”.

    A: Pantaskah Tuhan diutus? Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa ada Tuhan yang di utus? Maksud ayat tersebut siapa yang melihat Yesus, seolah-olah ia melihat Tuhan yang mengutus Yesus. Jadi perkataan Yesus di atas menunjukkan bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Makna: “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa”

    B: Saya belum meneliti maksud ayat di Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 yang menyebutkan bahwa “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa” seperti yang telah saya bacakan tadi. Akan tetapi dalam ayat ini saya berpendapat ada dua macam penafsiran: 1. Yesus adalah Tuhan. 2. Berdasarkan Injil Johanes pasal 12 ayat 45 yang kita baca itu menyebutkan, Yesus itu adalah utusan Tuhan. Utusan di sini maksudnya selaku Tuhan ia menyampaikan sendiri ajarannya kepada manusia.

    A: Ayat itu bukan berarti mempunyai dua macam penafsiran, tetapi di antara dua ayat tersebut yakni di Johanes pasal 10 ayat 38, dan pasal 14 ayat 11 dan Johanes pasal 12 ayat 45 itu adalah bertentangan. Di satu ayat ditafsirkan Yesus itu Tuhan, dan di ayat lain disebutkan bahwa Yesus itu utusan Tuhan. Jadi di dalam Injil sendiri terdapat ayat-ayatnya antara yang satu dengan yang lain bertentangan. Kita perlu ingat kembali pada pembicaraan kita semula kalau ada kitab suci yang isinya berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, maka apakah kitab suci itu masih akan dipertahankan kesuciannya…?

    B: Betul, kita telah bicarakan hal itu pada pertemuan yang lalu.

    A: Andaikan Saudara masih juga mempertahankan ketuhanan Yesus dengan berdasarkan ayat Bibel yang menyebutkan: “Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus” sebagaimana tersebut dalam Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 itu, maka Saudara pun akan dijawab oleh Kitab Injil Saudara sendiri, bahwa penafsiran Saudara itu tidak benar.

    B: Di manakah menyebutkan demikian?

    A: Silahkan Saudara periksa di Injil Johanes pasal 17 ayat 21. Sekali lagi: Yesus hanyalah UTUSAN (RASUL) Tuhan

    B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya semua jadi satu, ia Bapa! seperti Bapa dalam saya dan saya dalam Bapa dan supaya dia orang jadi satu dalam kita, biar dunia percaya Bapa sudah mengutus saya”.

    A: Jelas di ayat ini kalau Yesus sendiri berkata bahwa Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus dan muridnya pun ada dalam Bapa. Kalau begitu harus Saudara akui bahwa murid-murid Yesus pun Tuhan juga.

    B: Kalau begitu bagaimana arti yang sebenarnya ayat itu menurut Bapak?

    A: Kalimat: “Bapa dalam saya” dan muridnya jadi satu dengan kita (Allah dan Yesus) di ayat tersebut maksudnya, supaya Yesus senantiasa tidak melupakan Allah (Bapa) demikian juga muridnya tidak melupakan Yesus dan Allah (Bapa). Dan di akhir ayat tersebut Yesus berkata “biar dunia percaya yang Bapa mengutus saya”. Rangkaian kata-kata ini tegas sekali Yesus mengakui bahwa ia bukan Anak Allah, melainkan utusannya, dan teruskan Saudara baca di Johanes pasal 17 ayat 23.

    B: Baik, ayat tersebut menyebutkan: “Saya dalam dia orang, dan Bapa dalam saya, supaya dunia boleh tahu yang Bapa sudah mengutus saya”.

    A: Apakah susunan ayat tersebut belum jelas bahwa Yesus sendiri yang berkata dan mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Apakah Saudara masih belum puas tentang ayat-ayat Injil yang menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan, karena saya anggap telah cukup banyak tunjukkan kepada Saudara.

    B: Sebagaimana telah saya sampaikan kepada Bapak, saya ingin kepuasan. Sebetulnya keterangan-keterangan Bapak telah memuaskan saya, namun demikian kalau masih ada ayat-ayatnya lagi harap Bapak tunjukkan. Sekali lagi: “Laa ilaaha illa Allaah” dalam Bible

    A: Baik saya penuhi pengharapan Saudara silahkan Saudara periksa di kitab Samuel yang kedua pasal 7 ayat 22.

    B: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Maka sebab itu besarlah Engkau, ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan Engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami”.

    A: Di ayat ini jelas bahwa Yesus sendiri menghadapkan kata-katanya kepada Allah, bahwa tiada yang dapat disamakan dengan Allah. Jadi Yesus sendiri mengakui bahwa dirinya tidak sama dengan Tuhan, dengan kata lain ia bukan Tuhan dan di tengah-tengah ayat itu Yesus sendiri berkata: “Tiada Allah melainkan engkau”. Jadi Yesus termasuk yang lain, yakni ia bukan Tuhan Allah. Rangkaian ayat tersebut, Yesus sendiri yang berkata bahwa, “tiada Tuhan melainkan Allah”. Mengapa kaum Kristen mengangkat Yesus selaku Tuhan? Silahkan periksa lagi Injil Yahya pasal 17 ayat 8.

    B: Baik, sebutan ayat tersebut adalah sebagai berikut: “Karena segala firman yang telah Engkau firmankan kepadaku, itulah aku sampaikan kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetahui dengan sesungguhnya bahwa aku datang dari ada-Mu, dan lagi mereka itu percaya bahwa Engkau yang menyuruh aku.

    A: Di ayat ini Yesus sendiri berkata bahwa ia menerima firman dari Allah. Kalau Yesus Tuhan, tentunya tidak membutuhkan firman dari siapa pun juga. Di akhir ayat itu juga Yesus sendiri berkata bahwa “Engkaulah yang menyuruh aku”. Jadi Yesus itu bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan, sebagaimana nabi-nabi dan utusan-utusan Allah yang lain-lain juga. Teruskan Saudara periksa Injil Matius pasal 26 ayat 2.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Kamu memang mengetahui bahwa dua hari lagi akan ada hari raya Paskah, dan Anak manusia akan diserahkan supaya ia disalibkan”.

    A: Yang dimaksud dengan anak manusia di ayat itu ialah Yesus sendiri. Jadi jelas Yesus mengakui bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Lanjutkan periksa Injil Matius pasal 5 ayat 45. Sekali lagi: makna “Anak Allah” dalam Bible

    B: Baik, ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga…”

    A: Cukup sampai di situ. Di ayat ini Saudara saksikan sendiri, bahwa Yesus sendiri yang berkata kepada murid-muridnya, supaya kamu menjadi anak-anak bapamu yang di surga; yakni apabila murid-muridnya taat atas perintah-perintah Tuhan, menurut Yesus mereka akan jadi anak Tuhan juga. Berdasarkan ayat Bibel tersebut tentunya Anak Tuhan akan menjadi banyak jumlahnya, bukan Yesus saja.

    B: Tetapi di Injil Johanes pasal 1 ayat 34 menyebutkan: “Maka aku sudah melihat itu, serta bersaksi yang dia inilah Anak Allah”. Juga di Injil Matius pasal 3 ayat 17 menyebutkan: “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan” Di Injil Lukas pasal 1 ayat 32 juga menyebutkan: “Maka ia akan menjadi besar, dan ia akan dikatakan Anak Allah Yang Maha Tinggi, maka Allah, Tuhan kita akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, nenek moyangnya itu”. Di Ibrani pasal 4 ayat 14 menyebutkan: “Sedangkan ada kepada kita seorang Imam Maha Besar yang sudah melintas segala langit, yaitu Yesus Anak Allah, maka hendaklah kita memegang pengakuan itu”. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan bahwa Yesus Anak Allah. Kalau Bapak memerlukan akan saya tunjukkan ayat-ayatnya.

    A: Saya mengerti, bahwa ayat-ayat Bibel yang menyebutkan Yesus Anak Allah sebagaimana tersebut di:

    Matius: Pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63 dan Pasal 16 ayat 17.

    Johanes: Pasal 3 ayat 16, pasal 1 ayat 34 dan 40, pasal 17 ayat 1, pasal 19 ayat 7, pasal 16 ayat 27 dan ayat 30, pasal 15 ayat 23 dan beberapa ayat lainnya di Johanes.

    Rum: Pasal 1 ayat 9, pasal 5 ayat 10, pasal 8 ayat 3, pasal 29 ayat 32.

    Galitiah: Pasal 1 ayat 16, pasal 4 ayat 4 dan 6.

    Lukas: Pasal 1 ayat 32 dan 35, pasal 3 ayat 22, pasal 4 ayat 3 dan 9, pasal 4 ayat 43 dan 41.

    Ibrani: Pasal 1 ayat 2, 5 dan 8, pasal 3 ayat 6, pasal 4 ayat 14, pasal 5 ayat 5 dan 8.

    Matius: pasal 2 ayat 15, pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3 dan ayat 6, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63, pasal 16 ayat 17.

    Korintus: Pasal 1 ayat 9.

    Dan masih ada beberapa ayat lain di Kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tetapi maksudnya bukan Anak Allah yang sebenarnya, karena Yesus sendiri mengaku di Kitab Injil bahwa ia adalah utusan Allah, bukan Anak Allah. Dan ia sendiri berkata: “anak manusia” bukan anak Tuhan, Jadi jumlah ayat-ayat di Kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tidak menjamin kebenarannya bahwa ia Anak Allah betul-betul, sebagaimana kita sering mendengar ucapan-ucapan “Anak Kapal” “Anak Sekolah” tidak berarti bahwa kapal dan sekolah itu beranak, melainkan mempunyai arti bahwa orang itu selalu terikat oleh peraturan-peraturan kapal dan pelajaran-pelajaran di sekolah. Periksa lagi Yahya pasal 5 ayat 30.

    B: Ayat tersebut demikian bunyinya: “Suatu pun tidak aku dapat berbuat menurut kehendakku sendiri melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana yang aku dengar, dan hukumku itu adil adanya, karena bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku.

    A: Di sini jelas sekiranya Yesus itu Tuhan, tentu dapat berbuat sekehendaknya sendiri. Tetapi di Bibel sendiri menyebutkan bahwa perbuatan Yesus itu adalah kehendak Tuhan. Dan sekiranya Yesus itu Tuhan, tentunya tidak ada yang mengutus. Mustahil Tuhan menjadi utusan Tuhan, atau dengan lain kata “Utusan Tuhan itu adalah Tuhan”. Bisakah terjadi demikian?

    B: Sudah jelas dan terima kasih.

    A: Silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Seorang pun tiada naik ke surga, kecuali ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia”.

    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Yesus sendiri adalah anak manusia, bukan anak Tuhan.

    B: Betul berdasarkan ayat tersebut Yesus adalah anak manusia.

    A: Periksa lagi di Matius pasal 27 ayat 30.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Maka mereka itupun meludahi dia, serta mengambil buluh itu memalu kepalanya”.

    A: Kalau Yesus itu betul Tuhan, bagaimana Tuhan bisa diludahi dan diperolok-olokkan? Mengapa ada Tuhan yang begitu lemah? Sesuai dengan pengharapan Saudara supaya puas dengan soal ketuhanan Yesus menurut Bibel dan perkataan Yesus sendiri ada menyebutkan Ia bukan Tuhan, sekali lagi periksa di Matius pasal 21 ayat 18 dan 19.

    B: Baik, di sini menyebutkan: “Pada pagi-pagi harinya, apabila Ia kembali ke negeri itu, ia merasa lapar”. Serta dipandangnya sepohon ara di sisi jalan, pergilah ia ke situ dan didapatinya suatu apa pun tiada di pohon itu, melainkan daun sahaja. Lalu berkatalah ia kepadanya: Janganlah jadi buah daripadamu lagi selama-lamanya. Maka dengan seketika itu juga layulah pohon ara itu”.

    A: Kalau Yesus itu Tuhan tentu ia tidak akan mengutuk pohon itu supaya tidak berbuah melainkan ia akan menciptakan buah pada pohon itu dengan kekuasaannya selaku Tuhan. Akan tetapi pohon yang tidak berbuat kesalahan apa-apa kepada Yesus dan pohon yang tidak tahu apa-apa itu malah dikutuk oleh Yesus. Wajarkah Tuhan mengutuk makhluk yang tidak bersalah? Padahal kalau betul Yesus itu Tuhan tentu ia berkuasa menciptakan pohon itu supaya mengeluarkan buahnya seketika itu juga, tidak lalu mengutuknya.

    B: Bapak hafal betul tentang ayat-ayat di Kitab Injil, jadi sudah jelas berdasarkan ayat-ayat Injil yang Bapak sebutkan dan dikuatkan lagi dengan beberapa ayat lainnya, nyatalah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan.

    A: Persoalan Yesus anak Tuhan itu telah kita bicarakan pada pertemuan pertama, dan sudah dibereskan oleh Injil sendiri yang menyebutkan bahwa selain Yesus masih banyak lagi beberapa manusia yang harus diakui anak Tuhan, dan seharusnya mereka itu diakui juga oleh golongan Kristen, menjabat anak tuhan, bukan Yesus saja, karena berdasarkan Kitab Injil sendiri anak Tuhan itu banyak.

    B: Ya betul kita telah bicarakan tentang itu. Siapakah “Anak SULUNG Allah” yang sebenarnya dari “Anak SULUNG”-“Anak SULUNG” yang disebutkan dalam Bible?

    A: Supaya lebih Jelas, baiklah saya ulangi, di Injil ada menyebutkan bahwa: 1. Daud anak Allah yang sulung (Mazmur, pasal 89 ayat 27) 2. Yakub (Israil) adalah anak Allah yang Sulung (Keluaran pasal 4 ayat 22 dan 23) 3. Afraim adalah anak Allah yang Sulung (Yeremia pasal 31 ayat 9) Jadi Daud anak Allah yang sulung, Yakub anak Allah yang sulung, dan Afraim juga anak Allah yang sulung. Ketiga-tiganya atau kesemuanya adalah anak sulung. Yang manakah yang betul-betul sulung? Apakah ayat ini benar semuanya atau salah semuanya? Karena itu saya jelaskan bahwa anak Allah yang tersebut dalam Bibel itu, tidak berarti anak Allah yang sebenarnya melainkan maksudnya ialah kekasih Allah, atau mereka yang taat kepada perintah-perintah tuhan.

    B: Saya sudah mengerti, terima kasih. Makna: “Anak” dan “Bapa” dalam Bible

    A: Tetapi Saudara mungkin belum mengerti betul tentang arti “Anak dan Bapa” dalam bahasa Ibrani, atau susunan bahasa yang terpakai dalam Bibel.

    B: Kalau begitu bagaimanakah arti yang sebenarnya?

    A: Dalam bahasa Ibrani kata “Bapa” itu dipakai buat Tuhan, sedangkan kata “anak” dipakai buat mereka yang dihormati, seperti para Nabi dan para Rasul.

    B: Dasar apakah yang dipergunakan oleh Bapak tentang keterangan itu?

    A: Saya sudah sebutkan pada pertemuan yang pertama ialah tersebut dalam Injil Matius.

    B: Saya tidak ingat, di pasal dan ayat berapa?

    A: Silahkan buka Matius, pasal 5 ayat 9.

    B: Baik, di sini disebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang karena mereka itu akan disebut anak Allah”.

    A: Jelas siapa saja mendamaikan manusia akan disebut akan menjabat “anak Allah” kalau begitu anak Allah itu ratusan, ribuan malah mungkin jutaan orang, jadi bukan Yesus saja.

    ***

    Wallahualam..

     
  • erva kurniawan 1:37 am on 4 September 2016 Permalink | Balas  

    Isa anak Allah? 

    al quranIsa anak Allah?

    A=Muslim B=Kristen

    Malam 1.

    Ketuhanan Yesus

    A: Sejak kapan Saudara beragama Kristen?

    B: Sejak saya dilahirkan.

    A: Apakah Saudara benar-benar mempelajari bahwa agama Kristen itu suatu agama yang paling benar?

    B: Ya, memang saya menyadari.

    A: Apakah Saudara berkeyakinan bahwa Kitab Injil itu suci?

    B: Ya, saya yakin sekali.

    A: Dari siapakah pengertian Saudara bahwa Bibel itu dari Tuhan Yang Maha Suci?

    B: Guru saya menerangkan bahwa Bibel adalah Kitab Suci berisi pengajaran Tuhan Yesus, yang dicatat oleh Rasul-Rasul Matius, Lukas, Yohanes dan Rasul Markus.

    A: Apakah yang dimaksud suci pada Bibel itu mempunyai arti bahwa Bibel bersih daripada kesalahan-kesalahan?

    B: Betul demikian. Tetapi kesalahan yang bagaimana yang Bapak maksudkan?

    A: Misalnya pada suatu saat ada orang mengabarkan pada Saudara si A sakit, sedangkan orang lain memberitahukan bahwa pada saat itu si A tidak sakit. Kedua berita itu apakah benar semuanya atau salah semuanya, atau salah satunya yang benar?

    B: Diantara keduanya itu tentu salah satu yang benar atau keduanya salah dan mustahil kedua-duanya benar.

    A: Satu misal lain, si A mempunyai 3 orang anak dan orang lain mengatakan si A mempunyai 10 anak. Apakah dua perkataan itu benar semuanya atau salah semuanya atau salah satu yang benar?

    B: Tidak mungkin benar semuanya, melainkan salah satunya yang benar atau salah semuanya.

    A: Kalau saya mengatakan benar semuanya, bagaimana pendapat saudara?

    B: Itu adalah mustahil, karena ternyata ada perselisihan di antara keduanya.

    A: Andaikata ada suatu kitab suci, akan tetapi ayat-ayat di dalamnya di antara yang satu dengan yang lain terdapat perselisihan, apakah kitab itu akan dinamakan kitab suci?

    B: Tentu bukan kitab suci, karena yang dinamakan kitab suci itu adalah ilham (wahyu) dari Tuhan, yang mustahil terdapat kesalahan atau perselisihan.

    A: Jadi kalau begitu bukan kitab suci lagi?

    B: Betul, kesuciannya telah batal.

    A: Kalau demikian, tentu isinya tidak dapat dipercaya, kesuciannya atau kebenarannya, karena di antara ayat-ayatnya terdapat perselisihan.

    B: Yang jelas di antara ayat-ayatnya pasti bukan dari Tuhan, atau sudah dicampuradukkan dengan karangan manusia, sehingga kesuciannya ternoda. Ringkasnya sudah tidak suci lagi.

    A: Kalau misalnya Bibel terdapat selisih antara satu ayat dengan ayat lain apakah Saudara masih berkeyakinan Bibel itu kitab suci?

    B: Saya tidak yakin kalau Kitab Bibel tidak suci. Terkecuali kalau ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan ayat-ayatnya berselisih antara yang satu dengan yang lain, yang dapat menimbulkan keraguan saya tentang kesuciannya. Menurut penelitian Bapak, apakah ayat-ayat Bibel ada yang berselisih?

    A: Ya, banyak yang berselisih.

    B: Di Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru?

    A: Dua-duanya terdapat beberapa perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain.

    B: Di bab apa dan pasal serta ayat berapa?

    A: Supaya berurutan saya atur dalam beberapa pasal: Pertama soal Ketuhanan Yesus, karena soal Ketuhanan adalah termasuk kepercayaan pokok pada tiap-tiap agama. Jadi soal ini perlu sekali didahulukan. Sesudah itu kita berpindah kepada soal yang lain yang berhubungan dengan soal agama Kristen yang termaktub dalam Kitab Bibel. Bagaimana pendapat Saudara?

    B: Baik, saya menyetujui pendapat Bapak. Siapa Sajakah “Anak Allah” Itu?

    A: Sekarang saya ingin bertanya, apakah alasan Saudara bahwa Yesus menjadi anak Tuhan?

    B: Dalam “Matius” pasal 3 ayat 17 menyebutkan demikian : “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. KepadaNya Aku berkenan”. Juga di Lukas pasal 4 ayat 41, bahwa “Yesus itu Anak Allah.”

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 5 ayat 9.

    B: Baik, Dalam pasal dan ayat itu menyebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah”.

    A: Berdasarkan ayat tersebut, yang dimaksudkan “Anak Allah” itu ialah orang yang dihormati seperti Nabi. Kalau Yesus dianggap anak Allah, maka semua orang yang mendamaikan manusia pun menjadi anak-anak Allah juga. Jadi bukan Yesus saja Anak Allah tetapi ada terlalu banyak.

    B: Dalam “Yohanes” pasal 14 ayat 9 disebutkan: “Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa”, dan di ayat 10 disebutkan: “Tiadakah engkau percaya bahwa Aku ini di dalam Bapa, dan Bapa pun di dalam Aku? Segala perkataan yang Aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal di dalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu.” Tritunggal atau 15Tunggal?

    A: Baiklah. Silahkan Saudara periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 23.

    B: Baik, di pasal ini disebutkan bahwa: “Aku di dalam mereka itu, dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan.”

    A: Perhatikan di ayat ini ada tersusun kata “Aku di dalam mereka”. Kata “mereka” di ayat ini ialah sahabat Yesus. Sedang yang dimaksudkan dengan “Aku” ialah Yesus. Jadi kata “Aku” beserta mereka artinya Yesus beserta sahabat-sahabatnya. Jadi Tuhan itu beserta Yesus dan para sahabatnya. Kalau Saudara percaya hal kesatuan Yesus dengan Bapa maka Saudara pun harus percaya tentang kesatuan Bapa itu dengan semua sahabat Yesus yang berjumlah 12 orang itu. Jadi bukan Yesus dan Roh Suci saja yang menjadi satu dengan Tuhan, melainkan harus ditambah 12 orang lagi. Ini namanya persatuan Tuhan atau Tuhan persatuan bukan hanya Tritunggal tetapi 15tunggal. Jadi berdasarkan perselisihan ayat-ayat tersebut, yang manakah yang benar? Tiga menjadi Tunggal atau 15 menjadi Tunggal? Ayat manakah yang akan Saudara yakini, yang tiga menjadi tunggal ataukah yang 15 itu? Allah itu Esa (Tunggal)

    B: Tunggu dulu Pak, ini agak membingungkan saya.

    A: Tentu akan lebih membingungkan Saudara kalau saya tunjukkan ayat yang lain. Silahkan periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 3.

    B: Baik, di sini menyebutkan “Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa dan Yesus kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    A: Di ayat ini menyebutkan Tuhan adalah Esa. Dalam Kamus bahasa Indonesia oleh E. St. Harahap, cetakan ke II disebutkan bahwa Esa itu berarti satu, pertama (tunggal) dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Yesus Kristus adalah Pesuruh Allah (Utusan/Rasul). Kalau demikian, manakah yang benar? Di satu ayat menyebutkan Tuhan dengan Yesus menjadi satu, di lain ayat 15 menjadi satu dan yang lain lagi Tuhan itu Tunggal, sedangkan di ayat itu pula menyebutkan bahwa Yesus itu pesuruh Allah, bukan Tuhan. Menurut pengakuan Saudara suatu kitab suci yang kandungan ayat-ayatnya bertentangan antara yang satu dengan yang lain tentu sulit sekali dipercaya kesuciannya, karena yang disebut suci itu bersih dari kekeliruan dan perselisihan.

    B: Masih adakah ayat yang menyebutkan demikian?

    A: Ayat yang bagaimana yang Saudara maksudkan?

    B: Ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), bukan tiga menjadi satu.

    A: Silahkan buka di “Ulangan” pasal 4 ayat 35.

    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka kepadamulah ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itulah Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi”.

    A: Jelas di dalam Bibel sendiri menerangkan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal.

    B: Tetapi itu di dalam Kitab Perjanjian Lama. Apakah terdapat juga di Perjanjian Baru?

    A: Saudara minta di Perjanjian Baru, baiklah. Silahkan Saudara buka Markus pasal 12 ayat 29.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan “Maka jawab Yesus kepadanya, hukum yang terutama ialah: Dengarlah olehmu hai Israel, adapun Allah Tuhan kita ialah Tuhan yang Esa.”

    A: Periksa lagi di Perjanjian Lama di “Ulangan” pasal 6 ayat 4.

    B: Baik, di sini disebutkan: “Dengarlah olehmu hai Israel, sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya.”

    A: Apakah belum jelas bahwa Bibel sendiri yang menjadi kitab sucinya orang Kristen menyebutkan seterang-terangnya bahwa Tuhan itu tunggal, bukan tiga menjadi satu atau satu menjadi tiga. Taruh kata di Bibel ada ayat yang menyebutkan Tuhan itu tiga menjadi satu, saya ingin bertanya yang manakah di antara kedua ayat itu yang benar, yang Tunggalkah atau yang tiga menjadi Tunggal? Jadi salah satu dari dua ayat tersebut pasti ada yang benar, karena sudah jelas dua ayat itu tidak sama. Kalau salah satu atau dua-duanya salah, maka kandungan kitab suci itu ada yang salah, jadi bukan kitab suci namanya.

    B: Betul, salah satu pasti salah atau kedua-duanya salah.

    A: Kalau demikian apakah dapat diyakini kebenarannya sebagai kitab suci, kalau kitab suci itu mengandung kesalahan atau tidak benar isinya?

    B: Ya, yang disebut kitab suci itu harus bersih dari kesalahan-kesalahan kalau tidak demikian maka batallah kesucian kitab suci itu.

    Apakah Yesus Bersatu dengan Allah?

    A: Menurut kepercayaan Saudara, apakah Yesus bersatu dengan Allah?

    B: Ya demikian.

    A: Kalau demikian tentu Yesus adalah selalu bersama Allah dan Allah selalu bersama Yesus.

    B: Betul demikian sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” 10, 30 yang bunyinya sebagai berikut: “Aku dan Bapa itu satu adanya”. Demikian juga Roh Suci, sebab Roh Suci itu menjadi satu dengan Yesus, sebagaimana tersebut dalam Injil, ialah setelah Yesus berumur 30 tahun turun Roh Suci kepadanya dan dibaptiskan oleh pembaptis yaitu Yohanes. Jadi jelas bahwa Yesus, Roh Suci, Tuhan adalah Tunggal. Eli, Eli, Lama Sabakhtani … (Ya Tuhan, Ya Tuhan, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?)

    A: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 27 ayat 46.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Maka sekira-kira pukul tiga itu berserulah Yesus dengan suara yang nyaring katanya: “Eli, Eli, lama sabakhtani”, artinya: “Ya Tuhan, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku.”

    A: Berdasarkan seruan Yesus di ayat itu, jelas bahwa Yesus tidak bersatu dengan Tuhan, yakni Tuhan meninggalkan Yesus, waktu akan disalibkan. Mestinya kalau Tuhan menjadi satu dengan Yesus, di saat itulah saat tepat untuk menolong Yesus, tetapi kenyataannya Tuhan tidak bersatu dengan Yesus sehingga Yesus sendiri minta tolong.

    B: Tetapi Yesus itu hidupnya memang untuk disalib guna menebus dosa manusia.

    A: Kalau hidupnya Yesus memang untuk disalib, mengapa Yesus tidak bersedia dan menolak untuk disalib? Buktinya ia berseru dengan suara nyaring minta tolong pada Tuhan agar ia terlepas dari disalibkan. Dengan kata lain Yesus tidak bersedia selaku penebus dosa.

    B: Betul, saya lantas tidak mengerti mengapa ayat-ayat Bibel ada yang simpang siur.

    Apakah Manusia-Manusia yang Menyalibkan Yesus Itu Dilaknat atau Mendapat Pahala?

    A: Dari sebab itulah mengapa Saudara menyembah Yesus selaku Tuhan yang tidak berkuasa menyelamatkan dirinya sendiri, malah minta tolong. Pantaskah ada Tuhan demikian? Dan saya lanjutkan pertanyaan, apakah manusia-manusia yang menyalibkan Yesus itu dilaknat?

    B: Pasti dilaknat.

    A: Mestinya tidak dilaknat, malah Yesus harus berterima kasih kepada mereka yang menyalibkan dia, bahkan mereka itu seharusnya mendapatkan ganjaran, karena menurut keterangan Saudara, kehidupan Yesus itu harus disalib untuk menebus dosa-dosa. Jika tidak ada manusia yang bersedia menyalibkan Yesus, maka dosa-dosa manusia tentu tidak ada yang menebusnya. Jadi manusia-manusia yang telah menyalib Yesus itu berjasa kepada Yesus dan penganut-penganut Kristen. Akan tetapi mereka yang sudah terbukti berjasa itu malah dilaknat. Mestinya mereka itu masuk surga dan dipuji-puji atas jasanya.

    B: Ini memang tidak masuk akal atau sekurang-kurangnya memang sulit dimengerti, akan tetapi Roh Tuhan bersatu dengan Yesus itu tidak mustahil sebagaimana banyak manusia yang kesurupan hantu, jin, malaikat atau makhluk-makhluk halus lainnya sehingga tindakan tindakan dan perbuatannya menurut kehendak makhluk halus tersebut. Demikian juga ada yang kemasukan Roh Suci seperti roh malaikat sehingga tindakan-tindakan dan perbuatannya adalah suci.

    A: Kalau demikian baiklah saya bikin pertanyaan: Manusia yang bersatu (kesurupan) jin itu apakah dia disebut jin?

    B: Tidak.

    A: Yesus yang bersatu (menerima) Roh Tuhan itu apakah ia disebut Tuhan?

    B: Mestinya tidak juga.

    A: Seharusnya begitu. Jadi jelas bahwa Yesus yang menerima Roh Ketuhanan tentunya bukan Tuhan. Manusia yang menerima wahyu Tuhan itu bukan Tuhan melainkan adalah utusan (pesuruh) Tuhan. Sesuai dengan pengakuan Yesus sendiri sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” pasal 17 ayat 3 yang berbunyi: “Supaya mereka itu mengenal Engkau. Allah Yang Maha Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu”.

    B: Saya lantas tambah tidak mengerti tentang Ketuhanan Yesus itu.

    A: Menurut keterangan Saudara tadi, bahwa manusia yang bersatu dengan (kesurupan) makhluk halus seperti roh-roh, jin dan malaikat, maka tindakan dan perbuatannya pasti menurut kehendak atau menyerupai perbuatan makhluk-makhluk halus itu.

    B: Benar begitu.

    A: Kalau demikian maka Yesus yang Saudara akui bersatu dengan Tuhan mestinya tindakan-tindakan dan perbuatannya menyerupai perbuatan Tuhan.

    B: Mestinya begitu.

    A: Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Tuhan tidak tidur tetapi Yesus tidur, Tuhan tidak makan tetapi Yesus makan, Tuhan tidak sakit tetapi Yesus sakit, Tuhan tidak menyembah kepada siapa pun tetapi Yesus menyembah Tuhan. Tuhan tidak mati tetapi Yesus mati, walaupun menurut i’tikat Kristen hidup kembali, tetapi ia mati. Yesus Tidak Mengetahui Yang Gaib

    B: Menurut anggapan orang Kristen salah satu yang mneyebabkan Yesus bersatu dengan Tuhan, karena ia mengetahui yang gaib.

    A: Kalau begitu silahkan buka “Markus” pasal 13 ayat 31, 32.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Sesungguhnya langit dan bumi akan lenyap tetapi perkataan-Ku kekal. Tetapi akan harinya atau ketikanya itu tidak diketahui oleh seorang jua pun, baik segala malaikat yang di sorga pun tidak, Anak itu pun tidak, hanyalah Bapa saja.”

    A: Jelas di Bibel sendiri tertulis, Yesus sendiri mengaku tidak ada yang tahu kapan hari kiamat, melainkan hanya Tuhan sendiri. Jadi tegas Yesus sendiri tidak mengetahui waktunya hari kiamat, yang termasuk suatu yang gaib. Yang tidak tahu itu pasti bukan Tuhan.

    Siapa Anak Sulung Allah?

    B: Tetapi Yesus menyebutkan dirinya di ayat ini dengan kata: “Anak”, yang berarti ia anak Tuhan.

    A: Silahkan buka “Matius” pasal 1 ayat 16.

    B: Baik, di situ disebutkan: “dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria, ialah yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.”

    A: Jelas bahwa yang diperanakkan itu pasti bukan Tuhan sebagaimana tersebut dalam ayat tersebut. Silahkan periksa lagi “Keluaran” pasal 4 ayat 22.

    B: Baik, di situ disebutkan: “Maka pada masa itu hendaklah katamu kepada Fir’aun demikian: “Inilah firman Tuhan: Bahwa Israil itulah anak-Ku laki-laki, yaitu anak-Ku yang sulung”.

    A: Di ayat ini disebutkan bahwa Israil adalah anak Tuhan yang sulung, sedangkan Yesus tidak disebutkan anak yang ke berapa. Silahkan buka lagi “Yeremia” pasal 31 ayat 9.

    B: Ayat ini menyebutkan, “Akulah Bapak bagi Israil, dan Afraim itulah anak yang sulung.”

    A: Jelas sekali bahwa berdasarkan Bibel sendiri anak Tuhan itu banyak, bukan Yesus saja, padahal sebenarnya yang dimaksudkan dengan “Anak” dalam ayat itu ialah mereka yang dikasihi oleh Tuhan, termasuk Yesus jadi bukan anak yang sebenarnya.

    B: Tetapi dalam “Matius” pasal 1 ayat 18, menyebutkan sebagai berikut: “Adapun kelahiran Yesus Kristus demikian adanya: Tatkala Maria, yaitu ibunya, bertunangan dengan Yusuf, sebelum keduanya bersetubuh, maka nyatalah Maria itu hamil daripada Roh Kudus. Roh Kudus artinya Roh Tuhan. Oleh karenanya maka Yesus itu adalah anak Tuhan, sebagaimana juga di “Matius” pasal 1 ayat 20 menyebutkan: “Yusuf bermimpi seorang malaikat, Tuhan berkata: “Hai Yusuf, anak Daud, janganlah engkau kuatir menerima Maria itu menjadi istrimu karena kandungan itu terbitnya daripada Roh Kudus.” Apa Maksud Roh Kudus dalam Bible?

    A: Kalau begitu silahkan buka: “Kisah Rasul” pasal 6 ayat 5.

    B: Baik, ayat itu menyebutkan: “Maka perkataan ini diperkenankan oleh sekalian orang banyak itu, lalu memilih Stephanus, yaitu seorang yang penuh dengan iman, dan Roh Kudus, dan lagi Philippus, dan Prokhorus dan Nikanor dan Simion dan Parmenas dan Nikolaus yaitu mualaf asalnya dari negeri Antiochia.

    A: Jadi berdasarkan ayat Bibel sendiri menunjukkan bahwa Roh Kudus itu bukan pada Yesus saja. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu Roh Suci, atau Roh Kesucian yang maksudnya roh yang bersih dari roh-roh kotor, bukan seperti roh setan atau hantu. Sebagaimana halnya para Nabi lainnya dengan roh sucinya. Menurut Al Qur’an, Roh Kudus (roh suci) itu berarti “Jibril”. Di Bibel sendiri menyebutkan bahwa para nabi yang terdahulu adalah Kudus.

    B: Di Bibel pasal berapa menyebutkan demikian?

    A: Silahlan periksa surat Petrus yang kedua pasal 3 ayat 2.

    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu ingat perkataan yang sudah disabdakan dahulu oleh nabi yang kudus dan akan hukum Tuhan lagi juru selamat, dengan jalan rasul-rasul yang disuruhkan kepadamu”.

    A: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Roh Kudus itu bukan Tuhan dengan kata lain bahwa Yesus dalam kandungan Maria itu bukan Tuhan atau Roh Tuhan, melainkan adalah roh bersih, suci, dengan izin atau perintah Allah yang dikaruniakan kepada hamba yang dikehendakinya. Lebih jelas harap Saudara periksa dalam “Kisah Rasul”, pasal 5 ayat 32.

    B: Ayat tersebut menyebutkan: “Dan kami inilah saksi atas segala perkara itu, ” demikian juga Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada sekalian orang yang menurut Dia.”

    A: Silahkan periksa lagi dalam “Lukas” pasal 1 ayat 41.

    B: Pasal ini menyebutkan bahwa: “Maka berlakulah tatkala Elisabet mendengar salam Maria itu, meloncatlah kanak-kanak yang di dalam rahimnya itu dan Elisabet penuh Roh Kudus.

    A: Sudah jelas sekali bahwa arti Roh Kudus adalah Roh Suci yang dikaruniakan oleh Allah kepada siapa pun yang dikehendakinya. Kalau sekiranya Roh Kudus itu diartikan dengan Allah atau Roh Allah maka bukan Yesus saja menjadi Tuhan atau anak Tuhan, melainkan segala orang yang taat kepada Tuhan, para Nabi dan Elisabet (istri Zakaria) pun mestinya Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menghidupkan Orang Mati (Atas Kehendak Allah)

    B: Yesus dianggap Tuhan oleh karena ia mempunyai Roh Ketuhanan, terbukti dengan pangkat Ketuhanannya sehingga ia dapat menghidupkan orang mati. Inilah kesamaan Allah dengan Yesus.

    A: Kalau begitu, silahkan periksa di “Kitab Raja-raja yang kedua” pasal 13 ayat 21.

    B: Baik, di sini ada menyebutkan: “Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya seorang Anu, tiba-tiba terlihat mereka itu suatu pasukan lalu dicampakkannya orang mati itu ke dalam kubur Elisa, maka baru orang mati itu dimasukkan ke dalamnya dan kena mayat Elisa itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri”.

    [Elisa = Ilyas, dalam Islam, pent.]

    A: Di sini menyebutkan malah tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Jadi bukan Yesus saja dapat menghidupkan orang mati bahkan tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Yang berarti tulang-tulang Elisa adalah tulang-tulang ketuhanan. Kalau Yesus di waktu hidupnya dapat menghidupkan orang mati, akan tetapi Elisa di waktu tak bernyawa, malah hanya dengan tulang-tulangnya, yang di dalam kubur dapat menghidupkan orang mati. Kalau perbuatan Yesus dikatakan ajaib maka Elisa lebih ajaib dari pada Yesus. Jadi seharusnya Elisa pun dianggap Tuhan juga. Periksa lagi di “Kitab Raja-Raja yang pertama” pasal 17 ayat 22.

    B: Ya, di sini menyebutkan: “Maka didengar akan Do’a Elisa itu, lalu kembalilah nyata kanak-kanak itu ke dalamnya sehingga hiduplah ia pula”.

    A: Kalau secara adil, seharusnya Elisa dianggap Tuhan juga.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Orang Buta (Atas Kehendak Allah)

    B: Tetapi Yesus dapat menyembuhkan orang buta sehingga melihat.

    A: Kalau begitu periksa “Kitab Raja-Raja yang kedua” pasal 6 ayat 17 dan 30.

    B: Ya di pasal itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang buta, sehingga dapat melihat.

    A: Kalau begitu, Elisa pun harus dianggap Tuhan juga, karena menyamai Yesus dan menyamai sifat Tuhan.

    Kesamaan Yesus dan Elisa (Ilyas): Bisa Menyembuhkan Penyakit Lepra (Atas Kehendak Allah)

    B: Sekali lagi Yesus dapat menyembuhkan penyakit lepra (penyakit kusta)

    A: Silahkan periksa kitab “Raja-Raja yang kedua” pasal 5 ayat 10 dan 11.

    B: Baik, di pasal dan ayat itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang sakit kusta bernama Naaman.

    A: Jadi Elisa pun dapat menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta malah dapat menghidupkan orang mati. Mengapa tidak diangkat juga menjadi Tuhan?

    B: Akan tetapi pasal kejadian Yesus tanpa pencampuran laki-laki dengan istrinya. Inilah kelebihan rohnya Yesus daripada rohnya Elisa.

    A: Asal kejadian Nabi Adam tanpa bapak dan ibu. Mengapa Adam tidak dianggap Tuhan? Juga Hawa asal kejadiannya tanpa ibu, ia pun bisa dianggap juga Tuhan Wanita.

    B: Tetapi Adam dan Hawa kedua-duanya berdosa.

    A: Kalau begitu Yesus pun berdosa, karena Yesus keturunan Maria, sedang Maria keturunan Adam dan Hawa. Yesus sendiri pernah dibawa oleh Iblis ke puncak gunung. Pantaskah Tuhan dibawa oleh Iblis?

    B: Di mana cerita itu disebutkan? Yesus Dibawa Iblis ke Puncak Gunung

    A: Di Bibel. Silahkan Saudara periksa “Lukas” pasal 4 ayat 5.

    B: Baik, di situ menyebutkan: “Maka Iblis pun membawa dia ke puncak gunung.”

    A: Nah, suatu kejadian aneh, Tuhan dibawa iblis yang berarti ia tunduk kepada kemauan iblis.

    B: Walaupun demikian Yesus tetap suci daripada dosa.

    A: Para Nabi lainnya pun suci daripada dosa. Akan tetapi mereka tidak menganggap dirinya selaku Tuhan, malah Yesus sendiri pun tidak juga mengaku Tuhan, sedangkan pengikut-pengikutnya mempertuhankan dia.

    B: Tidak demikian, nabi-nabi berbuat dosa, tetapi Yesus tidak.

    A: Nabi-nabi yang berbuat dosa atau kesalahan itu telah bertobat, lalu diberi ampun oleh Tuhan, sebagaimana juga Yesus pernah minta ampun dan diberi ampun oleh Tuhan. Mereka para Nabi diberi ampun, artinya dosanya telah habis karenanya, lalu mereka disebut bersih dari dosa dan kesalahan-kesalahan.

    Yesus pun Berdosa

    B: Di manakah menyebutkan bahwa Yesus merasa ia minta ampun kepada Tuhan?

    A: Silahkan Saudara periksa sendiri di “Matius” pasal 6 ayat 12.

    B: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan ampunilah kiranya kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami.

    A: Jelas Yesus sendiri meminta ampun akan kesalahannya. Jadi dia pernah berbuat kesalahan.

    B: Tetapi di ayat ini juga ada menyebutkan bahwa Yesus suka memberikan ampun semua kesalahan orang kepadanya.

    A: Kalau hanya begitu, kitapun bisa. Kitapun bersedia memberikan ampun kepada orang-orang yang berbuat kesalahan kepada kita.

    Misteri Malkisedik

    B: Tetapi tidak ada manusia selain Adam yang dilahirkan ke dunia ini tanpa bapak, melainkan Yesus saja. Jadi masih dapat dibenarkan kalau Yesus disebut “Putera Tuhan” atau “Tuhan Anak”.

    A: Kalau misalnya ada seorang manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu, maka orang itu pasti akan diakui oleh Saudara bahwa ia lebih berhak menduduki jabatan Tuhan daripada Yesus dilahirkan tanpa bapak saja.

    B: Tetapi dalam sejarah manusia belum pernah ada, dan mustahil adanya.

    A: Kalau kiranya ada, maka yang manakah di antara keduanya yang lebih tinggi derajat Ketuhanannya antara Yesus yang dilahirkan hanya tanpa bapak saja dengan manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu?

    B: Menurut akal tentunya manusia yang dilahirkan tanpa bapak dan ibu itu lebih tinggi derajat ketuhanannya. Oleh karena ia dilahirkan lebih ajaib keadaannya daripada kelahiran Yesus.

    A: Benarkah demikian pendapat Saudara?

    B: Ya, saya akui, manusia yang demikian lebih ajaib daripada Yesus, akan tetapi saya minta supaya Bapak tunjukkan di Kitab, dan Bapak harus mengambil dari Kitab yang terkenal, bukan dari buku-buku dongengan atau ceritera-ceritera khayalan saja.

    A: Supaya lekas beres urusan ini, silahkan Saudara periksa di Kitab Bibel atau Injil, Kitab Suci Saudara sendiri.

    B: Di Bab dan pasal berapakah ada menyebutkan?

    A: Silahkan Saudara periksa di “Ibrani” pasal 7 ayat 1, 2 dan 3.

    B: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan seperti berikut: “Adapun Malkisedik itu, yaitu raja di Salem dan Imam Allah taala, yang sudah berjumpa dengan Ibrahim tatkala Ibrahim kembali daripada menewaskan raja-raja, lalu diberkatinya Ibrahim”. “Kepadanya juga Ibrahim sudah memberi bahagian sepuluh Esa. Makna Malkisedik itu kalau diterjemahkan, pertama-tama artinya raja keadilan, kemudian pula raja di Salem, yaitu raja damai”. Yang tiada berbapak dan tiada beribu dan tiada bersilsilah, dan tiada berawal…”.

    A: Cukup, Saudara telah membaca di kitab suci Saudara sendiri, bahwa Malkisedik seorang raja di Salem tanpa bapak dan ibu, malah tiada silsilahnya. Sesuai dengan pendapat Saudara, apakah cerita yang disebutkan dalam kitab suci Saudara ini berupa dongengan atau cerita-cerita khayalan? Kalau dikatakan dongeng atau cerita khayalan, maka apakah Saudara akan terima kalau ada yang mengatakan bahwa kitab suci Saudara ada mengandung cerita-cerita khayalan atau dongengan yang dibuat-buat? Dan kalau Saudara masih mempertahankan kesucian kitab Saudara itu mengapakah Saudara tidak mengangkat Malkisedik menjabat Tuhan juga, malah jabatan ketuhanannya tentunya lebih tinggi daripada Yesus. Dan berpegang dengan pendirian Saudara sendiri bahwa kelahiran Malkisedik itu lebih ajaib dari Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan tanpa bapak sedangkan Malkisedik dilahirkan tanpa bapak dan ibu. Selain itu Malkisedik masih mempunyai kelebihan lagi daripada Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan dengan bersilsilah, yaitu dari Maria, sedangkan menurut Bibel sendiri Malkisedik dilahirkan tanpa silsilah sama sekali. Apakah Saudara masih akan mempertahankan ketuhanan Yesus…?

    B: Saya lantas tidak mengerti dan menjadi bingung!

    A: Tidak mengerti itu tidak apa-apa, dan bingung sebenarnya tidak apa-apa, karena kalau sudah mengerti rasa bingung akan lenyap dengan sendirinya.

    B: Ya, saya membenarkan keterangan Bapak. Tetapi dalam Kitab Injil Johanes pasal 1 ayat 1 dan 2 menyebutkan: “Maka pada mulanya ada itu Kalam, maka Kalam itu serta dengan Allah, dan Kalam itu Allah. Ia itu pada mulanya serta dengan Allah. Kata “Ia” di ayat ini maksudnya ialah “Yesus”. Jadi Yesus beserta dengan Allah.

    A: Dalam susunan ayat tersebut di atas ada kata penghubung ialah: “serta” atau beserta. Kalau ada orang berkata “Si Salim dengan si Amin”, maka susunan kalimat ini semua orang dapat mengerti bahwa si Salim tetap si Salim bukan si Amin jadi berdasarkan ayat Bibel yang Saudara baca dengan susunan “Ia” (Yesus) beserta Allah, langsung dapat dimengerti bahwa Yesus bukan Allah, dan Allah bukan Yesus. Jelaslah bahwa Yesus tidak sama dengan Allah, dengan kata lain kata Yesus bukan Tuhan. Dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Kalam itu Allah. Padahal Kalam itu bukan Allah dan Allah bukan Kalam. Jadi Allah dan Kalam pun lain.

    B: Bagaimana kalau Yesus disebut saja anak Tuhan?

    A: Saya sudah jelaskan tentang itu pada Saudara dalam pembicaraan kita yang lalu. Dan Saudara telah mengakui kebenaran keterangan saya. Sekarang saya tambah, Kalau Tuhan itu beranak, baik anaknya berupa manusia seperti Yesus atau lainnya, maka ke-Esa-an Tuhan sudah ternoda karenanya. Sedang kita pun tidak mungkin menodai ke-Esa-an Tuhan.

    B: Tetapi dalam kitab: “Wahyu” pasal 22 ayat 13 menyebutkan: “Maka Aku inilah Alif dan Ya, yang terdahulu dan yang kemudian. Yang Awal dan Yang Akhir”.

    A: Rangkaian perkataan itu bukan perkataan Yesus sendiri, melainkan firman Allah kepada Yesus. Bukti kebenaran perkataan saya ini silahkan Saudara periksa di Kitab “Wahyu” tersebut pasal 21 ayat 6.

    B: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku: “Sudahlah genap; Aku inilah Alif dan Ya, yaitu Yang Awal dan Yang Akhir”.

    A: Jelas di ayat itu menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku” Siapakah yang berfirman kepadaku (kepada Yesus) di ayat ini?

    B: Tentu Allah yang berfirman.

    A: Jadi yang berfirman Aku inilah Alif dan Ya, Yang Awal dan Yang Akhir, bukan perkataan Yesus sendiri, tetapi firman Allah kepada Yesus.

    B: Di Johanes pasal 8 ayat 58 Yesus berkata: “Sebelumnya Ibrahim aku sudah ada”. Jadi bisa dianggap Yesus itu permulaan.

    A: Kalau Yesus dikatakan “Permulaan”, maka diapun tidak benar. Karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Walaupun ia dikatakan hidup lagi. Dan orang sudah mati itu tidak bisa dikatakan: “seorang yang terkemudian” dan kalau Yesus itu hidup lagi, tidak bisa dikatakan: “Permulaan” bukan pula “Yang Terkemudian” bukan “Yang Awal” maupun “Yang Akhir”.

    B: Saya lantas makin tidak mengerti, malah tambah membingungkan saya karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Yang pada mulanya tidak ada, tidak bisa disebut: “Permulaan”. Kalau Yesus diperanakkan, mustahil bisa disebut “Permulaan”. dan kalau Yesus pernah mati, mustahil bisa disebut “Yang Terkemudian”

    A: Supaya lebih jelas kepada Saudara maka saya hadapkan pertanyaan: Andaikata Yesus itu disebut “Permulaan” maka apa dengan dasar inikah Saudara mengakui Yesus itu Tuhan?

    B: Ya, betul begitu.

    A: Kalau demikian, bagaimanakah anggapan Saudara, kalau sekiranya dalam kitab suci Saudara ada menyebutkan bahwa ada seseorang manusia Yesus, yang tidak ada permulaannya dan tidak ada kesudahannya. Apakah manusia itu akan diakui Tuhan juga oleh Saudara?

    B: Di pasal manakah menyebutkan demikian.

    A: Sebelum saya tunjukkan, apakah Saudara masih tetap berpendirian akan mengakui Tuhan kepada seorang yang tidak ada permulaan dan kesudahannya, sebagaimana Saudara bertuhan kepada Yesus?

    B: Kalau betul ada, tentu saya bimbang atau sekurang-kurangnya meragukan saya atas kebenaran Yesus selaku Tuhan.

    A: Mestinya Saudara mengakui Tuhan dua-duanya, dengan lain kata disamping Yesus ada lagi Tuhan Tambahan.

    B: Ya, bisa juga begitu. Akan tetapi tentu saja keyakinan saya lantas tambah tidak karuan. Di pasal manakah ada menyebutkan ada seorang manusia yang tidak ada permulaan dan kesudahannya.

    A: Saya telah katakan di kitab suci Saudara sendiri. Silahkan buka Ibrani pasal 7 ayat 2 dan 3.

    B: Baik, seperti tadi sudah saya bacakan sampai baris pertama ayat ketiga dari pasal tersebut sebagai berikut: “Malkisedik yang tiada berbapa dan tiada beribu dan tiada bersilsilah dan tiada berawal dan berkesudahan hidupnya, melainkan ia diserupakan Anak Allah, maka kekallah ia selama-salamanya”.

    A: Bagaimana perasaan Saudara dengan susunan ayat ini. Berdasarkan ayat ini bukan Yesus saja yang menjadi permulaan tetapi juga Malkisedik.

    B: Keyakinan saya memang jadi bimbang terhadap Ketuhanan Yesus.

    A: Bimbang atau tidaknya terserah Saudara, yang jelas tidak ada niat sama sekali untuk mengajak Saudara meninggalkan agama Kristen. Yang penting adalah rembukan dan penelitian semata-mata. Meneliti dan menganalisa terhadap sesuatu adalah hak semua orang, asalkan penelitian itu benar-benar tidak mengganggu ketentraman umum.

    B: Terimakasih, dan saya masih akan bertanya lagi pada Bapak, maklumlah saya ini sedang mencari kepuasan yang dapat menimbulkan keyakinan saya dalam memeluk agama.

    A: Silahkan Saudara bertanya, keyakinan itu timbul setelah menyelidiki dan meneliti dengan kepuasan. Di dalam agama Islam tidak ada paksaan. Yang penting menyampaikan (da’wah), tidak lebih dari itu. Teruskanlah pertanyaan Saudara.

    B: Setelah kita bersoal jawab tentang Ketuhanan Yesus timbullah keraguan dalam hati saya, namun apakah Bapak masih bersedia menunjukkan ayat-ayat Bibel yang menyatakan bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan?

    A: Walau telah saya tunjukkan ayat-ayat Bibel sendiri, tentang pengakuan Yesus sendiri bahwa Tuhan itu Tunggal, namun demi pengharapan Saudara akan saya penuhi juga. Akan tetapi apakah tidak sebaiknya kita lanjutkan besok malam saja oleh karena waktu sudah malam (Jam 12.25).

    B: Ya, terima kasih, besok malam saja kita lanjutkan.

    Bersambung.

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 3 September 2016 Permalink | Balas  

    Pemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an 

    quranPemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an

    Oleh Hedi Rachdiana

    Tulisan ini tidak bermaksud lain, ini sekedar bahan renungan. Benarkah Nabi (N).Isa bisa menghidupkan orang mati?, Berdasarkan tafsir Qur’an Suci terjemahan dari The Holy Qur’an, antara lain disebutkan sebagai berikut:

    Sepintas Tentang Maryam (Bunda Maria)

    Maryam diserahkan ke rumah suci sejak umur 3 sampai umur 12 tahun. Ia adalah termasuk golongan Pendeta yang saleh, ayahnya bernama Imran, dan Ia diasuh oleh N. Zakaria.

    Injil Lukas 1:26-27 menjelaskan, bahwa Maryam menerima khabar baik tentang kelahiran Isa (Yesus), setelah beliau menikah dengan Yusuf (bukan Nabi Yusuf) melalui suatu undian, hal ini dilakukan mengingat Maryam sejak kecil berada di rumah suci, hanya dengan cara ini beliau dapat dilepaskan untuk menikah.

    Memang sejarah Maryam dan N.Isa diselubungi kegelapan, namun dengan turunnya Qur’an mengumumkan kedudukan mereka sebenarnya sebagai hamba Tuhan yang tulus dan sekaligus menolak pandangan ekstrim, yakni pandangan kaum Yahudi bahwa Isa dikandung dalam dosa dan anak haram hasil hubungan gelap Maryam dengan Panther, dan pandangan kaum Nasrani sebagai anak Tuhan penebus dosa.

    Ketika Maryam dikhabarkan akan melahirkan seorang putera, beliau belum diberitahukan tentang pernikahannya, sehingga beliau berkata `pria belum pernah menyentuhku’, namun beliau pun mendapatkan jawabannya sendiri bahwa anak pasti akan lahir dengan jalan Allah membuat keadaan begitu rupa. Kata-kata ini bukanlah berarti bahwa beliau akan mengandung secara tidak wajar (kun fayakun lahir tanpa ayah), karena Maryam pun mempunyai anak lagi.

    Sepintas Tentang Nabi Isa (Yesus)

    N.Isa mempunyai sebutan lain yaitu Al-Masih atau Ibnu Maryam, makna Al-Masih lebih tepat disebut julukan, karena mempunyai arti orang yang suka bepergian, bepergian ini sudah merupakan kebiasaan beliau untuk berda’wah. Isa (bahasa Arab), bahasa Ibraninya Yosyua dan bahasa Yunaninya Yesus.

    Qur’an tak menyebut-nyebut suami Maryam (ayah N.Isa), hal ini mirip dengan peristiwa N.Musa. Oleh karena itu, tak disebutnya ayah N.Musa kita sepakat tidak mempersoalkan status N.Musa, dan N.Isa pun bukan berarti tidak mem-punyai ayah. Kasus ini dimungkinkan karena Maryam jauh lebih terkenal daripada Yusuf ayah N.Isa tersebut.

    “Eli, Eli, lama sabbahtani” (Tuhanku, Tuhanku mengapa Engkau tinggalkan aku), N.Isa berdo’a dengan menangis ketika disalib dan ditusuk lambungnya, ini menandakan beliau tidak ada bedanya dengan manusia biasa, mengeluarkan darah dan sakit. Beliau tidak mati konyol di palang salib, melainkan mendapat pertolongan Allah dengan cara disamarkan (ada seorang dari golongan musuhnya yang mirip beliau), beliau disembunyikan muridnya di suatu makam, berkat do’anya beliau selamat dan sembuh.

    Beliau tidak naik ke langit dan akan dibangkitkan pada hari kiamat, beliau pergi ke Galilea beserta 2 orang muridnya, mengungsi ke tempat aman dari kejaran Yahudi, beliau meninggal/dimakamkan di Kasmir yang lebih dikenal dengan nama Yuz Asaf. N.Isa tidak meninggal dalam usia 33 tahun, juga bukan lahir pada tanggal 25 Desember, melainkan hidup sampai usia 120 tahun dan meninggal secara wajar.

    N.Isa dapat bicara selagi buaian dan sesudah tua, ini hanya menunjukan tamsil/ibarat bahwa keadaan beliau akan mengalami perubahan dari bayi menjadi tua. Hendaklah direnungkan bahwa ciri- ciri ucapan beliau ialah bahwa beliau selalu berbicara dengan tamsil, marilah kita simak tentang tamsil-tamsil di bawah ini:

    Tentang Pembuatan Seekor Burung dari Tanah dan Meniupnya hingga Hidup

    Mustahil secara logika, namun mudah dipahami secara tamsil, karena derajat nabi itu jauh lebih tinggi daripada pembuat mainan burung, di lain pihak hak mencipta tidak diberikan kepada siapapun selain Allah SWT sendiri.

    N.Isa meniupkan ruh dalam manusia, artinya beliau meningkatkan derajat manusia di atas orang-orang yang condong ke duniawi, dan para murid beliau yang awalnya hina (tamsil dimisalkan tanah) setelah mendapat ajaran beliau ibarat burung terbang untuk menyebarkan kebenaran.

    Tentang Penyembuhan Orang Sakit (Buta)

    Tidak mustahil secara logika, namun hendaklah dipahami bahwa N.Isa adalah akhli menyembuhkan penyakit rohani bukan penyakit jasmani. Jadi menurut keterangan, buta di sini bukanlah buta mata lahirnya, melainkan buta hatinya, lihatlah kembali tafsir Qur’an (pada ayat- ayat lainnya) yang membicarakan tentang orang buta dan tuli.

    Tentang Menghidupkan Orang Mati

    Mustahil, karena Qur’an menerangkan sejelasnya-jelasnya bahwa orang mati tidak akan kembali lagi ke dunia, Qur’an Surat 39:42 menerangkan bahwa “Allah mencabut jiwa (manusia) pada waktu matinya, dan yang tak mati pada waktu tidurnya lalu ia menahan (jiwa) yang ia pastikan mati, dan ia kirim kembali (jiwa) yang lain, sampai waktu yang ditentukan”, atau Qur’an Surat 23:100 yang menerangkan bahwa “Dan di belakang mereka adalah tabir (barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan”.

    Ada 3 golongan manusia yang disebut-sebut dalam Qur’an sebagai yang dihidupkan kembali, yakni:

    -Orang yang kodratnya seperti tanah (tak ubahnya seperti keadaan tanah yakni mati dan hina), lalu berserah diri kepada perilaku nabi dan akhirnya terbang tinggi ke ruang angkasa rohani yang mulia. -Orang yang sakit rohaninya lalu diobati dan sembuh. -Orang yang sungguh-sungguh mati dan dihidupkan lagi rohaninya

    Wabillahi taufik wal hidayah,

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 2 September 2016 Permalink | Balas  

    Untuk Yang Slalu Setia 

    cincinUntuk Yang Slalu Setia

    Hari itu di pemakaman, siang begitu terik dan menyengat. Para pelayat yang kebanyakan berbaju hitam memadati lokasi pemakaman. Di antara begitu banyak orang, wanita cantik itu berdiri mengenakan pakaian dan kerudung berwarna putih, ekspresi tenang terlihat di raut wajah yang tersaput kesedihan.

    Pada saat penguburan berlangsung, sebelum jenazah dimasukkan ke liang lahat, wanita itu mendekati jenazah yang terbungkus kain kafan kemudian mencium bagian kening jenazah dan membisikkan kata-kata tak terdengar dengan perasaan dan suasana yang sulit kulukiskan. Aku melihat keharuan di antara para pelayat menyaksikan adegan itu.

    Wanita itu adalah istri dari laki-laki yang pada hari itu dikubur. Setelah acara penguburan selesai satu persatu pelayat mengucapkan kalimat duka cita kepada wanita tersebut yang menyambut ucapan itu dengan senyuman manis dan kesedihan yang telah hilang dari wajahnya, seolah-olah pada saat yang seharusnya menyedihkan itu dia merasa bahagia.

    Kudekati wanita itu.

    “Kak, yang sabar ya, insya Allah abang diterima dengan baik di sisi-Nya,” ujarku perlahan. Dia menatapku dengan senyuman tanpa kata-kata. Rasa penasaran menyeruak dalam hatiku melihat ekspresinya. Tapi perasaan itu tidak kuungkapkan.

    Beberapa hari setelah pemakaman itu, aku datang ke rumah wanita itu. Kudapati ia sedang mengurus kembang mawar putih seperti apa yang sering dilakukannya. Kusapa dia dengan wajar, “Assalaamu’alaikum, sedang sibuk kak?” tanyaku

    “Wa’alaikusallam… Oh adik, ayo duduk dulu,” jawabnya seraya membereskan perlengkapan tanaman.

    “Saya mengganggu kak?” tanyaku lagi,

    “Kenapa harus mengganggu dik, ini kakak sedang menyiapkan bunga untuk dzikir nanti malam,” jawabnya.

    Sesaat setelah jawaban terakhir suasana hening terjadi di antara kami. Dengan hati-hati kuajukan perasaan yang selama beberapa hari mengganjal di hatiku. “Kak, apakah kakak tidak merasa sedih dengan kepergian abang?” tanyaku.

    Dia menatapku dan berkata, “Kenapa adik bertanya seperti itu?”

    Aku tidak segera menjawab karena takut dia tersinggung, dan, “Karena kakak justru terlihat bahagia menurut adik, kakak tersenyum pada saat pemakaman dan bahkan tidak mencucurkan airmata pada saat kepergian abang,” ujarku.

    Dia menatapku lagi dan menghela nafas panjang. “Apakah kesedihan selalu berwujud air mata?” Sebuah pertanyaan yang tidak sanggup kujawab. Kemudian dia meneruskan kembali perkataanya. “Kami telah bersama sekian lama, sebagai seorang wanita aku sangat kehilangan laki-laki yang kucintai, tapi aku juga seorang istri yang memiliki kewajiban terhadap seorang suami. Dan kegoisanku sebagai seorang wanita harus hilang ketika berhadapan dengan tugasku sebagai seorang istri,” katanya tenang.

    “Maksud kakak?” aku tambah penasaran.

    “Sebuah kesedihan tidak harus berwujud air mata, kadang kesedihan juga berwujud senyum dan tawa. Kakak sedih sebagai seorang wanita tapi bahagia sebagai seorang istri. Abang adalah seorang laki-laki yang baik, yang tidak hanya selalu memberikan pujian dan rayuan tapi juga teguran. Dia selalu mendidik kakak sepanjang hidupnya. Abang mengajarkan kakak banyak hal. Dulu abang selalu mengatakan sayang pada kakak setiap hari bahkan dalam keadaan kami tengah bertengkar. Kadang ketika kami tidak saling menyapa karena marah, abang menyelipkan kata sayang pada kakak di pakaian yang kakak gunakan. Ketika kakak bertanya kenapa? abang menjawab, karena abang tidak ingin kakak tidak mengetahui bahwa abang menyayangi kakak dalam kondisi apapun, abang ingin kakak tau bahwa ia menyayangi kakak. Jawaban itu masih kakak ingat sampai sekarang. Wanita mana yang tidak sedih kehilangan laki-laki yang begitu menyayanginya? Tapi …”

    Dia menghentikan kata-katanya.

    “Tapi apa kak?” kejarku.

    ” Tapi sebagai seorang istri, kakak tidak boleh menangis,” katanya tersenyum.

    “Kenapa?” tanyaku tidak sabar. Perlahan kulihat matanya menerawang.

    “Sebagai seorang istri, kakak tidak ingin abang pergi dengan melihat kakak sedih, sepanjang hidupnya dia bukan hanya laki-laki tapi juga seorang suami dan guru bagi kakak. Dia tidak melarang kakak bersedih, tapi dia selalu melarang kakak meratap, kata abang, Allah tidak suka melihat hamba yang cengeng, dunia ini hanya sementara dan untuk apa ditangisi.”

    Wanita itu melanjutkan, “pada satu malam setelah kami sholat malam berjamaah, abang menangis, tangis yang tidak pernah kakak lupakan, abang berkata pada kakak bahwa jika suatu saat di antara kami meninggal lebih dahulu, masing-masing tidak boleh menangis, karena siapa pun yang pergi akan merasa tidak tenang dan sedih, sebagai seorang istri, kakak wajib menuruti kata-kata abang.”

    “Pemakaman bukanlah akhir dari kehidupan tapi adalah awal dari perjalanan, kematian adalah pintu gerbang dari keabadian. Saat di dunia ini kakak mencintai abang dan kita selalu ingin berada bersama dengan orang yang kita cintai, abang adalah orang baik. Dalam perjalanan waktu abang lah yang pertama kali dicintai Allah dan diminta untuk menemui-Nya, abang selalu mengatakan bahwa baginya Allah SWT adalah sang Kekasih dan abang selalu mengajarkan kakak untuk mencintai-Nya. Saat seorang Kekasih memanggil apakah kita harus bersedih? Abang bahagia dengan kepergiannya. Dalam syahadatnya abang tersenyum dan sungguh egois jika kakak sedih melihat abang bahagia,” sambungnya.

    Tanpa memberikan kesempatan untuk aku berkata, serangkaian kata terus mengalir dari wanita itu,

    “Kakak bahagia melihat abang bahagia dan kakak ingin pada saat terakhir kakak melihat abang, kakak ingin abang tau bahwa baik abang di dunia maupun di akhirat kakak mencintainya dan berterima kasih pada abang karena abang telah meninggalkan sebuah harta yang sangat berharga untuk kakak yaitu cinta pada Allah SWT. Dulu abang pernah mengatakan pada kakak jika kita tidak bisa bersama di dunia ini kakak tidak perlu bersedih karena sebagai suami istri, kakak dan abang akan bertemu dan bersama di akhirat nanti bahkan di surga selama kami masih berada dalam jalan Allah. Dan abang telah memulai perjalanannya dengan baik, doakanlah kakak ya dik semoga kakak bisa memulai perjalanan itu dengan baik pula. Kakak sayang abang dan kakak ingin bertemu abang lagi.”

    Kali ini kulihat kakak tersenyum dan dalam keheningan taman aku tak mampu berkata-kata lagi.

    ***

    Kiriman Jingga

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 1 September 2016 Permalink | Balas  

    Puasanya Ikan Salem Merah 

    salem merahPuasanya Ikan Salem Merah

    Puasanya ikan salem merah adalah puasa alami, yang menggambarkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan sebagai contoh keunikan ragam kehidupan hayati yang ada di alam sekitar kita.

    Pada masa awal hidupnya ikan salem merah hidup di air tawar. Lalu setelah dewasa, mereka bermigrasi ke lautan luas. Ikan salem merah menghabiskan sebagian hidupnya di laut, sekitar 4- 7 tahun. Ketika ikan salem merah cukup dewasa untuk berpijah mereka akan berkumpul bersama di suatu tempat di lautan. Setelah berkumpul dalam jumlah puluhan ribu, mereka akan membagi dirinya berdasarkan spesies masing-masing, dan bersama-sama kembali ke sungai tempat menetasnya dahulu. Mereka kerap harus melompati air terjun dan berbagai kesulitan lainnya, yang jaraknya bisa sejauh 1.600 kilometer dari tempat mereka hidup di lautan. Dengan rintangan yang sangat besar, ikan salem merah terus berusaha keras melawan arus sungai yang deras, dengan berbagai macam halangan kayu-kayu, batu-batu kali, kemungkinan dimangsa predator atau jatuh ke jaring nelayan. [lm: ikan ini sangat lezat dagingnya, sering dibuat juga sebagai ikan kalengan]

    Perjalanan ini terkadang membutuhkan waktu beberapa bulan lamanya. Yang mengagumkan, bahwa sejak awal perjalanan panjang ini mereka sudah mulai berpuasa. Berdasarkan penelitian para ahli, ternyata lama puasa para ikan inilah yang berguna sebagai standar naluriah untuk menuntun mereka mengenali sungai mana para ikan itu berasal. Juga kandungan lemak yang cukup tinggi pada ikan salem merah ternyata bermanfaat sebagai cadangan makanan selama migrasi balik ini. Luput dari para pemangsa dan nelayan, akhirnya dengan tubuh penuh luka dan kelelahan para ikan ini bisa mencapai hulu sungai tempat mereka ditetaskan pertama kali. Subhanallah…Maha Besar Allah !!!.

    Ketika mereka tiba di hulu sungai inilah, mereka akan otomatis bekerjasama antara pasangan jantan dan betina. Dengan sirip kecil dibelakang sirip punggungnya yang besar mereka menggali lubang kedalaman sekitar 45 cm, sebagai tempat penetasan calon telur-telur ikan. Untuk penggalian ini diperlukan waktu beberapa minggu lamanya

    Jika telah siap, sang betina akan meletakkan telur-telur yang berjumlah ribuan, dan sang jantan mengeluarkan sperma untuk membuahi telur-telur betinanya. Setelah proses ini selesai, sang calon ibu ikan akan menutup lubang tempat telur ini dengan lumpur yang cukup tebal. Kemudian pasangan ikan ini akan tetap berenang-renang di sekitar lubang telur, menunggu beberapa waktu hingga telur-telur ini menetas.

    Saat bayi-bayi ikan salem merah mendorong dirinya keluar dari lubang penetasan, sang orang tua ikan akan melihat anak-anaknya pertama dan untuk terakhir kalinya. Lalu matilah mereka, dalam keadaan berpuasa. Ikan-ikan yang mati ini akan mengapung di permukaan, kemudian berangsur turun ke dasar sungai, membusuk.

    Sebenarnya ini adalah bagian dari proses menjaga keseimbangan alam di dasar sungai.

    Mereka mati setelah meninggalkan sekelompok generasi baru, yang harus mengalami proses ‘kesulitan’ – kembali ke lautan.

    Kemudian setelah dewasa, anak-anak ikan salem merah ini akan mengulangi siklus yang sama seperti orangtuanya, dan mati dalam keadaan berpuasa.

    Subhanallah…Maha Besar Allah !!!

    Dwitra Zaky Reston

    Diambil dari tulisan Dr. `Abd Al-Hakam `Abd Al-Latif As-Sa`idi Lecturer of Entomology – Faculty of Agriculture – Al-Azhar University

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 31 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (5/5) 

    38berdoaTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (5/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Tuntutan dan etika di dalam berdoa, bukan hanya menghendaki kita berdoa untuk diri sendiri, akan tetapi ia juga menghendaki kita mendoakan untuk orang lain terutama kepada ibu bapa, zuriat keturunan, ahli keluarga, saudara mara, muslimin dan muslimat sama ada yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Doa yang seumpama ini banyak tersebut di dalam Al-Qur’an. Di antaranya ialah doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam di dalam surah Ibrahim ayat 41 yang tafsirnya :

    “Wahai Tuhan kami! Berilah keampunan bagiku dan bagi kedua ibu bapaku serta bagi orang-orang yang beriman, pada masa berlakunya hitungan amal dan pembalasan.”

    Ibu bapa adalah orang yang terutama sekali untuk didoakan oleh anak-anak sebagai membalas jasa keduanya memelihara dan mendidik di waktu kecil. Anjuran ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Isra’ ayat 24 yang tafsirnya :

    “Dan doakanlah (untuk mereka dengan berkata): “Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua (ibu bapaku) sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil.”

    Sesungguhnya doa anak-anak kepada kedua ibu bapa adalah besar manfaatnya, lebih-lebih lagi apabila keduanya telah meninggal dunia. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila seseorang meninggal dunia, terputus amalnya daripadanya melainkan daripada tiga (sumber); daripada sedekah jariah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak salih yang mendoakannya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat darjat seseorang hamba yang salih di dalam syurga, maka dia berkata: “Wahai Tuhanku! Dari mana saya memperoleh darjat ini?” Allah menjawab: “(Ianya) daripada doa permohonan keampunan yang dilakukan oleh anakmu.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Sebagaimana anak-anak dianjurkan berdoa untuk kedua ibu bapa, begitu juga ibu bapa adalah dianjurkan supaya mendoakan anak-anak mereka sebagaimana Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berdoa untuk anaknya yang tersebut di dalam surah Ash-Shaffat ayat 100 yang tafsirnya :

    “Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku anak yang tergolong daripada orang-orang yang salih.”

    Mendoakan orang lain lebih-lebih lagi orang yang tiada hadir dan tanpa pengetahuannya adalah lebih cepat dan mudah dikabulkan sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa yang paling cepat diterima ialah doa seseorang bagi seseorang yang lain yang tidak hadir.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Manakala daripada Ummu Ad-Darda’ berkata, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa seorang muslim bagi saudaranya yang tidak hadir adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang diwakilkan setiap kali dia berdoa bagi saudaranya itu. Malaikat yang diwakilkan itu pula berkata: “Amin, dan bagimu seumpama (yang didoakan).”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Imam Nawawi Rahimahullah Ta’ala berkata bahawa doa yang semacam ini mustajab karena keikhlasan orang yang mendoakan itu. Setengah ulama salaf apabila mereka hendak berdoa untuk diri mereka sendiri, mereka akan mendoakan juga saudara mereka yang muslim dengan doa yang seumpamanya karena cara doa seperti ini adalah mustajab, di samping mereka juga akan mendapat seumpama apa yang mereka doakan bagi saudara mereka yang muslim itu. (lihat Syarh Shahih Muslim 9/44)

    Oleh karena itu juga, adalah disunatkan meminta agar didoakan oleh orang-orang yang mempunyai kelebihan seperti orang-orang salih sekalipun dia (orang yang meminta didoakan itu) mempunyai kedudukan yang lebih baik daripada orang tersebut (orang yang diminta supaya mendoakan), berdasarkan riwayat daripada Ibnu Umar daripada Umar bin Al-Khaththab Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :

    “Sesungguhnya dia (Umar) meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan umrah. Lalu Nabi bersabda: “Wahai saudaraku! Sertakan kami di dalam doamu dan jangan engkau melupakan (untuk mendoakan) kami.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dari itu janganlah berdoa untuk diri sendiri sahaja, berdoalah untuk orang lain juga hatta kepada orang yang bukan berugama Islam sekalipun, tetapi dengan syarat bukan doa yang berbentuk permohonan keampunan bagi mereka, karena ianya dilarang sebagaimana firman Allah di dalam surah At-Taubah ayat 113 yang tafsirnya :

    “Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka.”

    Doa yang diharuskan kepada orang yang bukan Islam ialah doa agar mereka mendapat hidayat, sihat tubuh badan dan seumpamanya yang layak disebutkan untuk orang yang bukan Islam sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar keburukan ke atas mereka” Orang-orang menyangka bahawa Baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: “Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Selain daripada itu juga yang berhubung dengan doa, setiap orang Islam hendaklah menghindari daripada menzalimi dan menganiayai orang lain sekalipun kepada orang yang berbuat maksiat karena doa orang yang dizalimi itu adalah sangat mustajab sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’az bin Jabal ketika Baginda mengutusnya ke Yaman yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang maksudnya :

    “Dan takutlah engkau akan doa orang yang dizalimi, sesungguhnya (doa orang yang dizalimi itu) tidak ada di antaranya dan di antara Allah pendinding.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan pula daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Doa orang yang dizalimi itu adalah mustajab, sekalipun dia adalah seorang yang berbuat maksiat, karena kemaksiatannya itu adalah tertanggung ke atas dirinya sendiri.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Akhirnya sebagai penutup, setiap orang Islam hendaklah memperbanyakkan doa. Berdoa adalah menunjukkan akan ingatan kepada Allah Yang Maha Berkuasa. Mengingat Allah hendaklah dilakukan di setiap masa sama ada di waktu senang atau susah. Begitulah juga dengan amalan dalam berdoa hendaklah dilakukan di setiap masa lebih-lebih lagi di waktu senang dan mewah, dengan itu apabila di waktu susah doa akan mudah diperkenankan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallah ‘anhu yang maksudnya:

    “Barangsiapa suka supaya dikabulkan doanya oleh Allah di waktu kesulitan dan kesusahan, maka hendaklah dia memperbanyakkan doa di waktu senang.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    —– SELESAI —-

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 30 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (4/5) 

    berdoa 1Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (4/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Di antara azan dan iqamah. Daripada Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Doa di antara azan dan iqamah tidak akan ditolak. Berkata para sahabat: “Maka apa yang patut kami katakan wahai Rasulullah (ketika itu)?” Nabi bersabda: “Pohonlah kepada Allah keafiatan di dunia dan di akhirat.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    vii) Ketika berhadapan dengan musuh di dalam peperangan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d As-Sa’idi bahawasanya dia berkata yang maksudnya :

    “Dua masa dibukakan keduannya pintu-pintu langit dan sedikit sekali doa orang yang berdoa ditolak; ketika panggilan untuk mendirikan sembahyang dan berhadapan dengan musuh dalam peperangan.”

    (Hadits riwayat Malik)

    viii) Ketika sujud di dalam sembahyang. Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sehampir-hampir seorang hamba kepada Tuhannya adalah (ketika) dia sujud, maka kamu perbanyakkanlah doa.”

    (Hadits riwayat Muslim An-Nasa’i, Abu Daud dan Ahmad)

    ix) Ketika mendengar kokokan ayam. Ini adalah berdasarkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

    “Apabila kamu mendengar kokokan ayam maka mohonlah kepada Allah daripada kelebihanNya, sesungguhnya ayam itu telah melihat malaikat dan apabila kamu mendengar pekikan suara keldai maka mohonlah perlindungan dengan Allah daripada syaitan, sesungguhnya keldai itu telah melihat syaitan.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Adapun sebab digalakkan berdoa pada waktu itu, adalah bagi mengharapkan pengaminan malaikat kepada doa yang dibacakan dan permohonan keampunan mereka kepada orang yang berdoa dan persaksian mereka terhadap keikhlasan orang yang berdoa. (Lihat Fath Al-Bari 6/508 dan Syarh Shahih Muslim 9/41)

    Oleh karena itu juga ketika mengucapkan amin pada surah Al-Fatihah di dalam sembahyang adalah saat dimakbulkan doa karena para malaikat turut juga mengaminkan pada ketika itu berdasarkan riwayat daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila imam mengucapkan amin maka hendaklah kamu mengucapkan amin, sesungguhnya sesiapa yang bertepatan aminnya dengan amin malaikat nescaya diampuni baginya apa yang terdahulu daripada dosanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

    x) Ketika waktu hujan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Dua ketika (di mana doa) tidak ditolak atau sedikit sekali yang ditolak: (iaitu) berdoa ketika azan dan ketika pertempuran sedang berkecamuk (dan dalam satu riwayat mengatakan) dan ketika hujan.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    xi) Ketika meminum air zam zam. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Air Zamzam itu menurut kehendak tujuan meminumnya. Jika engkau meminumnya untuk memohonkan kesembuhan dengannya nescaya Allah akan menyembuhkanmu dan jika engkau meminumnya untuk memohon perlindungan nescaya Allah akan melindungimu dan jika engkau meminumnya bagi melepaskan rasa dahagamu nescaya Allah akan melepaskannya dan jika engkau meminumnya bagi kekenyanganmu nescaya Allah akan mengenyangkanmu, ia (air Zamzam) itu adalah lekukan daripada pukulan malaikat Jibril dan minuman Nabi Ismail.”

    (Hadits riwayat Ad-Daraquthni dan Al-Hakim)

    xii) Ketika membaca Al-Quran terutama apabila khatam. Diriwayatkan daripada ‘Imran bin Hushain berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka bermohonlah (berdoa) kepada Allah dengan Al-Quran, sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Quran meminta (upah dan sedekah) kepada manusia dengan membacanya.”

    Hadits riwayat Tirmidzi)

    Diriwayatkan pula daripada Mujahid Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Telah diutus seseorang kepadaku dan dia berkata: “Sesungguhnya kami menjemputmu karena kami hendak mengkhatam Al-Quran dan sesungguhnya telah sampai kepada kami bahawa doa diperkabulkan ketika mengkhatam Al-Quran. Berkata Mujahid: “Maka mereka berdoa dengan beberapa doa (ketika khatam Al-Quran).”

    (Riwayat Ad-Darimi)

    xiii) Di tempat-tempat yang mulia karena keberkatannya dan kemuliaan yang dikurniakan oleh Allah seperti di Masjidilharam, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa. Para ulama berpendapat bahawa berdoa di tempat-tempat ini adalah mustajab karena melihat kepada keberkatan dan kemuliaannya di samping rahmat Allah yang luas di tempat-tempat tersebut. Diriwayatkan daripada Abu Darda’ Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Satu kali sembahyang di Masjidilharam adalah menyamai dengan seratus ribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di masjidku (Masjid An-Nabawi) menyamai dengan seribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di Baitulmaqdis menyamai dengan lima ratus kali sembahyang.”

    (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 29 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (3/5) 

    berdoa 3Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (3/5)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berterusan berdoa dan mengulang-ngulang doa sebanyak tiga kali dan tidak berputus asa serta tergesa-gesa menganggap doa tidak diperkabulkan. Diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya:

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang mengulang-ngulang di dalam berdoa.”

    (Hadits riwayat Baihaqi)

    Daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenangi supaya seseorang itu berdoa tiga-tiga kali dan beristighfar tiga-tiga kali.”

    (Hadits riwayat Abu Daud dan Ahmad)

    Manakala daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Dikabulkan (doa) salah seorang daripada kamu selama dia tidak tergesa-gesa iaitu dengan berkata: “Aku sudah berdoa (tetapi) tidak dikabulkan.”

    (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

    Tersebut di dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah ‘ala Al-Adzkar An-Nawawiyah, Makki menyebutkan bahawa jarak masa doa Nabi Zakaria ‘Alaihissalam memohon dikurniakan zuriat dengan berita gembira adalah 40 tahun. Begitu juga sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu ‘Athiyyah daripada Ibnu Jarir, Muhammad bin Ali dan Adh-Dhahhak bahawa doa Nabi Musa ‘Alaihissalam kepada Firaun tidak diperkenankan melainkan setelah 40 tahun berlalu.

    Sesungguhnya kadang-kadang doa belum diperkenankan kerana doa itu menjadi pahala yang disimpan di akhirat nanti dan adakalanya menjadi sebab dipalingkan seseorang itu daripada sesuatu keburukan dengan sebab doanya itu. Oleh itu adalah lebih baik terus menerus berdoa daripada merungut-rungut doa tidak dikabulkan. Daripada Abu Sa’id Al-Khudri berkata sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tiada seorang muslim berdoa dengan satu doa, bukan doa yang mengandungi dosa dan bukan doa yang memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengurniakan dengan doanya itu salah satu daripada tiga perkara: sama ada dipercepatkan (disegerakan) baginya doanya itu, atau disimpan baginya pahala doanya itu di akhirat (sebagai balasan), atau dihindarkan daripadanya sesuatu keburukan seumpamanya. Mereka berkata: “Kalau begitu baiklah kami memperbanyakkan doa”. Bersabda Nabi: “Allah lebih banyak menerima doa hamba-hambanya.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    1. Memilih dan mengutamakan waktu-waktu dan tempat-tempat atau ketika dimana doa mudah dan cepat dikabulkan. Di antaranya ialah:
    2. i) Di satu pertiga akhir waktu malam dan selepas menunaikan sembahyang fardu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun tiap-tiap malam ke langit dunia ketika tinggal satu pertiga akhir waktu malam berfirman: “Barangsiapa yang berdoa kepadaKu maka Aku akan mengabulkannya baginya, barangsiapa meminta kepadaKu maka Aku akan memberinya, barangsiapa memohon keampunanKu maka Aku mengampuninya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan daripada Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah ditanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Doa apakah yang lebih didengar (dikabulkan)?” Nabi bersabda: “(Doa tatkala) satu pertiga terakhir malam dan sesudah sembahyang fardu.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. ii) Malam Lailatulqadar. Firman Allah di dalam surah Al-Qadr ayat 3-5 yang tafsirnya :

    “Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikut). Sejahteralah malam (yang berkat itu) hingga terbit fajar.”

    Manakala diriwayatkan daripada Sayyidatina Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata yang maksudnya:

    “Aku berkata: “Wahai Rasulullah! Apa pendapatmu (katamu) jika aku mengetahui malam Lailatulqadar daripada mana-mana malam, apa yang hendak aku baca pada malam itu?” Nabi bersabda: “Engkau bacalah Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia, suka mengampuni maka ampunilah aku.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    iii) Hari Arafah. Diriwayatkan daripada ‘Amr bin Syuaib daripada bapanya daripada neneknya sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sebaik-sebaik doa ialah doa pada hari Arafah dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan ialah tiada tuhan melainkan Allah yang tunggal yang tiada sekutu bagiNya. BagiNya kekuasaan dan bagiNya puji-pujian dan Dia Maha Berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. iv) Bulan Ramadhan. Ini adalah kerana bulan Ramadan ialah bulan yang agung, bulan yang mulia lagi berkat serta dibukakan pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya telah datang kepada kamu Bulan Ramadan bulan yang diberkati, Allah memfardukan kepada kamu berpuasa di dalamnya. Dalam bulan Ramadan dibuka pintu-pintu syurga dan dikunci pintu-pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Tambahan lagi orang yang berpuasa itu tidak ditolak sebagaimana yang yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

    “Tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka: Orang yang berpuasa sehinggalah dia berbuka, imam (pemerintah) yang adil dan doa orang yang dizalimi.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. v) Hari dan malam Jumaat. Daripada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir berkata, telah bersabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Sesungguhnya hari Jumaat itu adalah penghulu segala hari dan hari yang paling agung di sisi Allah dan ia (hari Jumaat) adalah lebih agung di sisi Allah dari Hari Raya Adha dan Hari Raya Fitri. Pada hari Jumaat itu terdapat lima peristiwa penting. (Iaitu) Allah mencipta Nabi Adam, Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, Allah mewafatkan Nabi Adam, pada hari itu ada satu waktu, bila seorang hamba memohon kepada Allah pasti Allah mengurniakannya selama mana dia tidak meminta yang haram dan pada hari itu juga terjadinya Hari Kiamat. Tiada satu malaikat Muqarrib, tidak juga langit, bumi, angin, gunung, dan lautan kecuali mereka itu merasa takut akan hari Jumaat.”

    (Hadits riwayat Ibnu Majah)

    Diriwayatkan pula daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Apabila malam Jumaat, jika engkau berdaya bangun pada satu pertiga malam yang akhir, maka sesungguhnya padanya ada satu waktu yang dipersaksikan (oleh Allah dan para malaikat) dan doa pada waktu itu mustajab.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:55 am on 28 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (2/5) 

    Doa masuk masjidTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (2/5)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berdoa dengan jalan bertawassul dengan amal saleh. Allah berfirman di dalam surah Al-Ma’idah ayat 35 yang tafsirnya :

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang boleh menyampaikan kepadaNya (dengan mematuhi perintahNya dan meninggalkan laranganNya).”

    Manakala diriwayatkan daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda maksudnya :

    “Tiga orang keluar berjalan-jalan lalu mereka kehujanan, maka mereka masuk ke dalam sebuah gua yang terdapat di sebuah gunung. Lalu (apabila hendak keluar) mereka terhalang oleh satu batu besar. Nabi bersabda: “Lantas berkata sebahagian mereka (salah seorang) kepada yang lain: “Berdoalah kamu kepada Allah dengan amal salih yang paling baik yang telah kamu lakukan. Maka berdoa salah seorang daripada mereka: “Ya Allah! Sesungguhya aku mempunyai ibu bapa yang sangat tua. Dulu aku selalu keluar mengembala, kemudian aku datang untuk memerah susu, aku membawa air susu selanjutnya untuk aku berikan kepada ibu bapaku lalu keduanya minum, kemudian barulah aku beri minum anakku, keluargaku dan isteriku. Maka pada satu malam aku terhalang (memberi minum keduanya) karena aku datang (membawa susu) sedang keduanya sedang tidur. Nabi menyabdakan kata orang itu: “Aku (benci) tidak suka untuk membangunkan keduanya walaupun anak-anak menggeliat-geliat kelaparan di kakiku. Maka begitulah keadaan kebiasaanku dan kebiasaan mereka berdua sehingga terbit fajar. Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku telah melakukan sedemikian itu karena semata-semata untuk mendapatkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini yang dari situ kami boleh melihat langit”. Nabi bersabda: “Lalu dibebaskanlah mereka (dengan bergerak satu pertiga batu besar itu). Berdoa seorang lagi yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku dulu pernah mencintai seorang perempuan iaitu salah seorang anak perempuan bapa saudaraku sebagaimana cinta yang mendalam seorang lelaki kepada seorang perempuan. Perempuan itu mengatakan: “Engkau tidak akan memperoleh sedemikian itu daripadanya sehingga engkau memberinya seratus dinar” Lalu aku berusaha sehingga aku berhasil mengumpulkannya (wang sebanyak itu), maka ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia (wanita itu) berkata: “Bertakwalah engkau kepada Allah dan janganlah engkau merosakkan mahkota kegadisan kecuali dengan haknya”. Lalu aku berdiri dan meninggalkannya, maka jika engkau mengetahui bahawa aku melakukan sedemikian itu karena semata-mata mengharapkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini”. Nabi bersabda: “Maka Allah membebaskan mereka (dengan bergerak batu itu) dua pertiga”. Berdoa pula seorang yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku mengupah seorang pekerja dengan beberapa cupak gandum lalu aku memberinya dan dia menolak untuk mengambil (upahnya). Lalu aku senghaja mengambil dari beberapa cupak gandum itu lalu aku tanam sehingga aku belikan daripada hasilnya seekor lembu dan pengembalanya, kemudian dia datang seraya berkata: “Wahai Hamba Allah! Berikan (kepadaku) hak saya”. Maka aku berkata: “Pergilah engkau kepada lembu itu dan pengembalanya, sesungguhnya itu adalah milikmu”. Pekerja itu berkata: “Adakah engkau menghinaku?” Aku menjawab: “Aku tidak menghinamu tetapi memang lembu itu benar-benar milikmu.” Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku melakukan hal sedemikian itu karena semata-mata mendapatkan keredaanMu maka bebaskanlah kami”. Maka dibebaskanlah kitu daripada mereka.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    1. Berdoa menghadap ke kiblat dan mengangkat dua tangan sekira-kira nampak putih ketiak dan menyapu kedua tapak tangan ke muka setelah selesai. Daripada ‘Abbad bin Tamim Al-Mazini bahawa ia mendegar bapa saudaranya berkata maksudnya :

    “Pada satu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi keluar memohon dikurniakan hujan. Maka Baginda membelakangi orang sambil berdoa mengadap kiblat dan membalikkan selendangnya, kemudian baginda bersembahyang dua rakaat.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu ada kemuliaan dan sesungguhnya semulia-mulia majlis ialah majlis yang dihadapkan ke kiblat.”

    (Hadits riwayat Ath-Thabarani dan Al-Hakim)

    Diriwayatkan pula daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya sewaktu berdoa sehingga ternampak putih kedua ketiaknya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Daripada Umar bin Al-Khatthab Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda mengangkat kedua tangannya sewaktu berdoa, Baginda tidak akan menurunkan keduanya sehinggalah Baginda menyapukan keduanya ke mukanya.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    1. Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan merasa penuh yakin akan diperkenankan. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu maksudnya :

    “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin diperkenankan dan ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai serta tidak sungguh-sungguh.”

    1. Berdoa disertai dengan kerendahan hati, khusyuk dengan jiwa yang tulus ikhlas,merendahkan suara di antara berbisik dan nyaring dan diiringi dengan perasaan takut azab Allah dan penuh harapan dengan limpah kurniaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah Al-A’raf ayat 55 tafsirnya :

    “Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan.”

    Perkara ini ditekankan juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sabdanya yang diriwayatkan daripada Abu Musa Al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu maksudnya :

    “Wahai Manusia! Berlembutlah kamu terhadap diri kamu sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang ghaib, sesungguhnya Dia bersama kamu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat yang berkat namaNya dan tinggi kebesaranNya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Di dalam surah Al-Anbiya’ ayat 90, Allah berfirman maksudnya :

    “Sesungguhnya mereka sentiasa berlumba-lumba dalam mengerjakan kebaikan, dan sentiasa berdoa kepada Kami dengan penuh harapan serta gerun takut dan mereka pula sentiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.”

    1. Tidak berdoa dengan sesuatu yang tidak selayaknya seperti perkara yang tidak munasabah dan mustahil. Maka oleh karena itu adalah lebih utama berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur yang datang daripada Al-Quran dan Sunnah dan para sahabat. Di samping doa-doa tersebut jauh daripada permohonan yang tidak selayaknya, doa-doa tersebut bersifat umum, menyeluruh dan padat. Daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata maksudnya :

    “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai doa yang menyeluruh maknanya dan dia tinggalkan selain daripada itu.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Oleh karena itu doa yang paling banyak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam baca sebagaimana yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :

    “Adalah doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbanyak sekali (Baginda baca ialah): “Ya Allah! Ya Tuhan kami! Kurniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharakanlah kami daripada azab api neraka.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:52 am on 27 August 2016 Permalink | Balas  

    Tuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (1/5) 

    ibu dan anak lelakinya berdoaTuntunan dan Etika di Dalam Berdoa (1/5)

    (Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

    Berdoa merupakan salah satu daripada elemen yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia merupakan pengakuan hamba terhadap kekuasaan Allah yang mutlak terhadap segala yang berlaku, manakala dari segi yang lain pula ia adalah bentuk pengabdian seorang hamba kerana hadirnya perasaan berhajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berdasarkan ini, doa mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah dan Allah menyukai orang yang berdoa kepadaNya. Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam hadits yang lain pula, daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Mohonlah kebaikan/kelebihan daripada Allah kerana sesungguhnya Allah suka diminta kebaikan/kelebihan dan sebaik-baik ibadah adalah menunggu kelapangan (terlepas daripada kesusahan).”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Doa adalah penggerak dalaman yang memberikan kekuatan, keyakinan, harapan dan keberkatan dalam apa jua amal perbuatan. Maka tidak hairan di dalam Islam setiap langkah sesuatu perbuatan, ada doa-doanya tertentu yang digalakkan supaya diamalkan sama ada sebelum memulakan sesuatu perbuatan ataupun selepas melakukannya. Semua ini tidak lain, bagi menggalakkan orang-orang Islam agar sentiasa berdoa dan bagi menggambarkan bahawa berdoa itu adalah salah satu daripada keperluan yang penting di dalam mencari keberkatan, keredaan dan perlindungan Allah sepenuhnya pada mencapai segala apa yang dilakukan. Sebab itu orang yang enggan berdoa bukan sahaja dia telah menutup bagi dirinya berbagai-bagai pintu kebaikan, malah dia juga akan mendapat kemurkaan daripada Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu yang maksdunya :

    “Sesungguhnya orang yang tidak meminta (berdoa) kepada Allah, Dia (Allah) marah kepadanya.”

    Kelebihan atau fadhilat doa itu amat besar dan banyak sekali. Melalui doa, keampunan dan rahmat diperolehi, dan melalui doa juga musibah dan kesusahan terhindar. Pendeknya, jika Allah menghendaki dan merestui doa hambanya, tiada ada satu daya kuasa pun yang dapat menghalangnya dan Allah tidak akan mensia-siakan keikhlasan orang yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman di dalam surah Al- Baqarah ayat 186 yang tafsirnya :

    “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): “Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik dan betul.”

    Imam Al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala berkata:

    “Jika ada orang bertanya, apa manfaat doa itu padahal qada (ketentuan Allah) tidak dapat dihindarkan. Ketahuilah bahawa qada juga boleh menghindarkan suatu bala dengan berdoa. Maka doa adalah menjadi sebab bagi tertolaknya suatu bala bencana dan adanya rahmat Allah sebagaimana juga halnya bahawa perisai adalah menjadi sebab bagi terhindarnya seseorang daripada senjata dan air menjadi sebab bagi tumbuhnya tumbuh-tumbuhan di muka bumi.”

    Perkara ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah di dalam surah Ar-Ra’d ayat 39 yang tafsirnya :

    “Allah menghapuskan apa jua yang dikehendakiNya dan Dia juga menetapkan apa jua yang dikehendakiNya. Dan (ingatlah) pada sisiNya ada ibu segala suratan.”

    Manakala daripada Salman Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

    “Tidak tertolak qada itu melainkan oleh doa dan tidak bertambah di dalam umur itu melainkan oleh kebajikan.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam menghuraikan hadits di atas, pengarang kitab Bahr Al-Madzi membawakan masalah qadha mubram dan qadha mu’allaq tentang makna kedua-dua jenis qadha itu dan hubungannya dengan doa: “(Kata ulama) Qadha Mubram itu ialah suatu yang ditentukan Allah di dalam ilmunya tiada boleh diubah dan tiada boleh ditukar akan dia dan qadha mu’allaq itu seperti suatu perkara yang berta’liq sekiranya engkau berdoa nescaya diperkenankan apa-apa doamu dan jika sekiranya engkau berbuat kebaktian dan silaturrahim nescaya dipanjangkan umurmu dan sekiranya tiada diperbuat kebaktian dan tiada berdoa, maka tiadalah diperkenankan dan ditambah umur menurut dan bertentang dengan barang yang di dalam ilmuNya. Maka qadha mu’allaq itulah yang ditolak oleh doa.” (Lihat Bahr Al-Madzi 13-14/196)

    Adapun kelebihan orang yang berdoa itu sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan daripada Salman Al-Farisi yang maksudnya :

    “Sesungguhnya Allah itu Hidup dan Maha Pemberi, Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya kepadaNya lalu Dia mengembalikan kedua tangannya (membalas doa orang itu) dalam keadaan kosong serta rugi.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Di dalam ayat dan hadits tersebut, jelas diterangkan bahawa apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, nescaya Allah akan mengabulkan doanya dan tidak akan membiarkan doanya itu kosong sahaja. Tetapi perlu diingat bahawa untuk mendapat doa yang dimakbulkan, adab-adab atau peraturan berdoa mestilah dipelihara oleh setiap orang yang berdoa. Jika seseorang memohon sesuatu kepada seorang raja, dia akan menjaga adab-adab dan peraturan-peraturannya dari berbagai-bagai segi, maka berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentulah lebih patut lagi dia menjaga adab dan tatacara berdoa agar doa yang dipanjatkan akan dimakbulkan. Di antara tuntutan-tuntutan dan etika di dalam berdoa itu ialah:

    1. Memelihara sumber rezeki seperti makanan, minuman dan pakaian daripada sumber yang haram sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :

    “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik (suci bersih daripada segala kekurangan), Dia (Allah) tidak menerima kecuali yang baik (halal), dan Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul. Maka Dia (Allah) berfirman: “Wahai para rasul makanlah dari benda-benda yang baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal salih; sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mu’minun: 51) Dan Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah daripada benda-benda yang baik (halal) yang telah Kami berikan kepada kamu” (Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah menyebutkan berkenaan seorang lelaki yang melakukan perjalanan yang jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu, dia menadahkan tangannya ke langit sambil (berkata): “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku (berdoa), (padahal) makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram,bagaimana doanya itu hendak dimakbulkan?”

    (Hadits riwayat Muslim)

    1. Berwudhu dan memulakan serta mengakhiri doa dengan menyebut dan memuji-muji nama Allah serta memberi selawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Daripada Abu Musa Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :

    “Aku datang masuk ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Baginda di atas katil yang ditenun dengan tali dan di atasnya hamparan. Tenunan tali pada katil itu membekas pada punggung dan kedua lambung Baginda, lalu aku memberitahu kepada Baginda akan berita kami dan berita Abu Amir (yang terbunuh di dalam peperangan Awthas) yang berkata (kepadaku): “Katakanlah kepada Nabi, mintakanlah keampunan untukku” Lalu Baginda minta diambilkan air maka Baginda pun berwudhu. Kemudian Baginda mengangkat kedua tangannya lalu berdoa: “Ya Allah! Ampunilah Ubaid Abu Amir.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Doa adalah zikir (mengingati) kepada Allah. Berdasarkan ini diriwayatkan daripada Muhajir Bin Qunfudz Radhiallahu ‘anhu ang maksudnya :

    “Sesungguhnya dia (Muhajir bin Qunfudz) datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Nabi membuang air kecil. Maka dia memberi salam kepada Baginda, maka tidak dijawab oleh Baginda sehinggalah Baginda berwudhu kemudian memberikan alasan kepadanya dengan bersabda: “Sesungguhnya aku benci menyebut nama Allah Azza wa Jalla kecuali aku di dalam keadaan bersih (daripada hadats kecil).”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Adapun menyebut dan memuji-muji Allah terutama dengan nama-nama Al-Asma’ Al-Husna dan memberi selawat dan salam kepada Nabi, dijelaskan di dalam surah Al-A’raf ayat 180 yang tafsirnya :

    “Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu.”

    Daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata:

    “Setiap doa itu terhalang sehinggalah diucapkan selawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    (Hadits riwayat Ad-Dailami)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:41 am on 26 August 2016 Permalink | Balas  

    Kebaikan Itu Menentramkan Hati 

    niat baikKebaikan Itu Menentramkan Hati

    Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Karena orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka ini akan merasakan ‘makna’ nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga mereka selalu berlapang dada, tenang, tenteram dan damai.

    Ketika kita diliputi kegundahan dan sedih, berbuat baiklah terhadap sesama. Memberi sedekah kepada yang papa, menolong mereka yang terzhalimi, meringankan beban sesama yang menderita, memberi makan sesama yang kelaparan, menjenguk orang sakit dan membantu orang yang terkena musibah. Niscaya kita akan mendapatkan kedamaian dan ketentraman di hati. Kita akan merasakan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan kita.

    Kebaikan itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Kebajikan itu terasa bagai obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih. Menebar senyum yang manis dan tulus adalah sedekah jariah. Seperti tersirat dalam tuntunan akhlak, “……meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri.” [Al-Hadits]

    Kunjungilah taman-taman kebajikan, sibukkan diri kita dengan memberi, mengunjungi, membantu, menolong dan meringankan beban sesama. Insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan dari semua sisinya : rasa, warna dan hakekatnya.

    “Dan bukan karena sesuatu nikmat-pemberian di sisinya dari seorang yang akan dibalasnya. Tetapi ia mengharapkan karena mencari keridhaan Rabbnya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasaan-ridha.” [QS 92 -Al Lail]

    Dikutip dari ‘La Tahzan’ -Jangan Bersedih! – DR. ‘Aidh al-Qarni

     
  • erva kurniawan 2:41 am on 25 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al Baqarah 

    baqorohFadhilat Surah Al Baqarah

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    Imam al-Baihaqi dari Imam Shalshal berkata: “Barangsiapa membaca surat baqarah maka dipakaikan kepada mahkota di Syurga.”

    Imam Ibnu Zanjawai dari Imam Wahab ibn Munabih mengatakan: “Barangsiapa membaca Surat Baqarah dan Ali Imran pada malam Jumat maka baginya nur cahaya membentang antara Arsy dan dasar bumi.”

    Abu Mas’ud Albadri ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah, maka cukuplah baginya dari hal-hal yang membencikan. Dan menurut sebahagian pendapat: sama dengan bersembahyang malam).”

    Ibnu Abbas ra. bercerita: Pada suatu ketika Jibrail berada di sisi Nabi SAW. tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: ini sebuah pintu di langit, pada hari ini dibuka, dan turun seorang malaikat, memberi salam dan berkata: “Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah kepadamu, dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, iaitu:Fatihul kitab dan akhir surah Al-Baqarah. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya, melainkan pasti permintaanmu di beri.”

     
  • erva kurniawan 2:26 am on 24 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Yasin 

    yasin1to9Fadhilat Surah Yasin

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    At-Tirmizi mengikhraj hadis dari Anas RA dari Nabi SAW, beliau bersabda:

    “Sungguh bagi tiap sesuatu adalah jantung sedang jantung al-Quran adalah surah Yasin; maka Allah mencatat untuknya sebab bacaan surah Yasin tersebut senilai bacaan al-Quran sepuluh kali.”

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barangsiapa mengamalkan bacaan surah Yasin setiap malam lalu ia meninggal maka ia mati Syahid.”

    “Barangsiapa membaca surah Yasin pada malam hari maka di pagi hari ia terampun dosanya.”

    “Siapa saja, orang muslim, tatkala akan meninggal di bacakan surah Yasin maka turunlah untuk setiap satu huruf sepuluh malaikat; mereka berdiri berbaris di hadratnya memohonkan rahmat dan keampunan untuknya, pula menyaksikan di mandikan jenazah, menghantarnya, mennyembahyangkannya juga ikut hadir di dalam pemakamnya.

    Dan siapa sahaja, orang islam, membaca surah Yasin ketika sakratulmaut tidak hendak mengambil rohnya sehingga kehadiran Malaikat  Ridwan dengan membawa seteguk minuman Syurga dan di minumkan kepadanya di atas pembaringannya dan dirasakan kesegarannya ketika di ambil nyawanya juga kesegaran kelak di dalam kubur dan ia tidak memerlukan telaga para nabi, hingga masuk Syurga ia selalu merasakan kesegaran.”

    Dari Yahya ibn Katsir, katanya: “Sampai kepadaku bahawa sesiapa membaca surah Yasin di waktu pagi hari maka ia selalu di dalam kegembiran hingga petang hari dan siapa membacanya diwaktu petang hari maka ia selalu dalam kegembiraan hingga pagi hari.”

    Dengan isnad sahih diriwayatkan dari Au akar dan Ibnu Abbas RA maksudnya” Barangsiapa membaca surah Yasin, sampai pada ayat “Iz JAA aHal mursaluun” berdoa memohon kepada Allah, maka dikabulkan permohonannya.

    Di Dalam hadis di sebutkan:

    “Surah Yasin itu di baca untuk maksud apa saja.”

     
  • erva kurniawan 2:40 am on 23 August 2016 Permalink | Balas  

    Kebaikan Itu Sangat Mudah Dilakukan 

    tetes-airKebaikan Itu Sangat Mudah Dilakukan

    Ketika itu satu jam menjelang shalat Zhuhur di Masjidil Haram cuaca sangatlah terik. Tiba-tiba seorang lelaki yang sudah sangat tua berdiri dan memberikan air dingin kepada orang-orang yang hadir dan beri’tikaf di tempat itu. Tangan kanannya memegang sebuah gelas, dan tangan kirinya memegang yang sebuah lagi. Dia memberi minum jamaah dengan air zam-zam. Setelah seseorang selesai minum maka dia mengambil air dan kembali memberi minum kepada yang lain. Betapa banyak orang yang ia beri minum. Keringatnya mengucur deras sedangkan orang-orang hanya menunggu giliran mendapatkan air minum dari orang tua tadi. Semangat, kesabaran dan kecintaannya kepada kebaikan, serta wajahnya yang selalu menebar senyum saat memberi minum sangatlah mengagumkan.

    Ternyata kebaikan itu sangat mudah dilakukan oleh siapa saja yang oleh Allah dimudahkan untuk melakukannya. Allah memiliki simpanan kebaikan yang banyak sekali, yang akan mengaruniakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah mengalirkan keutamaan kepada orang-orang yang baik yang senang melakukan kebaikan kepada sesama dan tidak senang melihat keburukan menimpa sesama.

    Abu Bakar siap menempuh semua bahaya pada saat hijrah untuk melindungi Rasulullah. Abu Ubaidah tidak tidur malam di tengah tentaranya yang nyenyak tertidur. Umar bin al-Khaththab keliling kota Madinah pada saat penduduk Madinah sedang terlelap tidur. Pada musim paceklik, Umar hanya bisa membolak- balikan badan karena lapar, sebab makanannya sendiri ia bagikan kepada rakyatnya. Hatim rela tidur dalam keadaan lapar asal tamu-tamunya kenyang. Ibnul Mubarak memberi makanan kepada orang lain padahal ia sendiri dalam keadaan puasa.

    “Mereka memberi makan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tawanan” [AL Insaan: 76:8 ]

    Demikian seperti diceritakan oleh DR. ‘Aidh al-Qarni dalam bukunya La Tahzan.

     
  • erva kurniawan 1:10 am on 22 August 2016 Permalink | Balas  

    Aku Anak Pelacur 

    ibu-anak-siluetAku Anak Pelacur

    Pernahkan Anda dihina, dicibirkan ato dijadikan gunjingan, bahkan selalu dipojokan, karena profesi dari ortu? Hal ini pasti akan Anda rasakan, apabila Anda dilahirkan dari rahim seorang pelacur, sundal, lonte, PSK, perek, atau nama lain apa sajalah yang dapat mewakili sebutan seorang penjaja tubuh dan cinta. Aku memang anak seorang pelacur, walaupun aku sendiri tidak ingin menjadi anak pelacur. Bila aku boleh memilih, pasti aku akan memilih mempunyai orang tua yang baik-baik, lahir dari suatu perkawinan yang sah. Tapi, apakah aku punya pilihan? Hidup memang sebuah pilihan, tetapi tidak untuk memilih dari siapa manusia dilahirkan.

    Orang sekampung memperlakukan kami sekeluarga seperti juga penderita penyakit AIDS. Bukan hanya dicibirkan saja, tetapi dalam keadaan apapun juga aku selalu disalahkan. Cemohan dan hinaan sebagai anak pelacur melekat di tubuhku sejak kecil. Apabila aku bertengkar dengan anak tetangga, pasti aku yang selalu disalahkan dengan cemohan, “pantas saja anak ini nakal sebab ibunya juga seorang pelacur. Betapa pedih dan sakitnya hatiku mendengar hinaan seperti itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Apakah seorang anak pelacur harus selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus dikaitkan dengan pekerjaan ibu? Hinaan ini bukannya hanya berlaku dirumah saja, tetapi disekolahan atau dimanapun juga aku berada.

    Apabila aku menceritakan kesedihanku kepada Ibu, Ibu hanya bisa membelai kepalaku dengan lembut, sambil turun air matanya berlinang, karena ia bisa turut merasakan betapa pedihnya penderitaanku. Walaupun aku tidak dididik menjadi anak soleh, tetapi Ibu selalu berharap agar anaknya bisa menjadi seorang wanita karir yang berpendidikan, ia tidak ingin aku terjerumus, sehingga mengikuti jejaknya. Nasehat Ibuku selalu terngiang dikupingku: “Janganlah tiru jejak kehidupan emak yang suram ini. Cukup hanya emak yang terperosok dalam kegelapan, hidup dalam kehinaan, tak punya harga diri.”

    Aku tidak pernah mengenal ayahku, sedangkan Ibu sendiripun tak mengerti siapa bapak sahnya. Ibu menjadi pekerja seks sebab dia tidak mempunyai apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang pekerja seks bukan pilihan ibu, tapi sebuah keterpaksaan. Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan meninggalkan pekerjaan itu, karena kehidupan serba kekurangan inilah yang memaksanya menjalani profesi terkutuk. Dan aku tetap mengasihi Ibuku seperti juga layaknya anak-anak lain mengasihi Ibunya, aku tidak pernah merasa jijik ataupun muak terhadap Ibuku, apakah ini salah? Walaupun demikian aku selalu berdoa, apapun yang akan terjadi didalam kehidupanku, aku tidak ingin anakku mengalami nasib yang sama dengan mendapatkan Ibu seorang pelacur.

    Tetapi rupanya takdir dan jalan kehidupan seseorang itu bukanlah pilihan sendiri, suatu hari aku di perkosa oleh para pemuda sekampung, karena mereka menilai apabila Ibunya seorang pelacur pasti anaknyapun sudah tidak perawan lagi, padahal usiaku baru saja 15 tahun. Betapa sakitnya badanku terlebih lagi hati dan perasaanku, sehingga aku mulai merasa jijik terhadap diriku sendiri, aku sudah menilai diriku kotor dan hina, walaupun ini bukannya keinginanku melainkan karena hasil dari pemerkosaan para pemuda yang menilai aku sama seperti Ibuku. Apakah dalam hal ini aku bisa menyalahkan Ibuku?

    Hancurlah sudah harapanku maupun harapan Ibuku untuk menjadikan aku beda daripada Ibuku. Karena satu-satunya mahkota kehidupanku telah direnggut dengan paksa, mahkota yang menjadikan diriku lebih terhormat dibanding dengan Ibuku di mata masyarakat. Sesuatu yang diharapkan dapat menghapus citra jelek anak seorang pelacur telah hilang dalam waktu satu malam. Apakah Tuhan telah mentakdirkan aku untuk mengikuti jejak Ibuku menjadi seorang pelacur? Apakah Tuhan telah merencanakan bertambahnya seorang pelacur di muka bumi ini dengan hancurnya kebanggaan hidupku? Dan apakah Tuhan masih mau mengangkatku dari lembah kegelapan hidup yang selama ini mengikuti ke mana langkahku pergi?

    Malapetaka yang menimpa diriku ini diketahui oleh orang sekampung. Apakah ada rasa iba atau prihatian akan kejadian yang menimpa diriku, boro-boro bahkan aku semakin dipojokan oleh mereka, mereka menilai apa yang terjadi dengan diriku itu hal yang sewajarnya sebagai hukuman karma atas dosa ibuku. Hal ini membuat harga diriku semakin jatuh, aku merasa malu, sehingga jangankan pergi ke sekolah keluar rumah pun aku merasa malu.

    Dua bulan kemudian sejak kejadian yang mengenaskan tersebut Dokter menyatakan bahwa aku hamil. Kehamilan yang sama sekali tidak kuinginkan, kehamilan karena peristiwa tragis itu. Diperkosa.

    Anakku akan lahir sebagai anak haram, walaupun ia memang tidak berdosa, tapi dia pasti akan menanggung segala beban yang tidak seharusnya ditanggung olehnya kelak. Seperti halnya aku yang tak tahu siapa bapakku, hal seperti itu pulalah yang akan dialaminya nanti, dikucilkan, dicela, dijauhi, seperti halnya yang terjadi dengan diriku.

    Tak ada seorang anakpun yang mau lahir sebagai anak haram. Aku juga tak mau dia menderita, karena mungkin jika dia boleh memilih, dia pasti akan memilih untuk tidak dilahirkan. Karena kelahirannnya tidaklah diinginkan terutama oleh masyarakat yang serba munafik ini.

    Apakah masih ada masa depan untuku, setelah lahirnya bayi tersebut? Apakah aku akan mampu mengasihi bayi yang tak berdosa tersebut, seperti layaknya seorang Ibu mengasihi anaknya?

    Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi, usiaku masih muda belia, pendidikanpun tidak kumiliki, sehingga rupanya aku sudah ditakdirkan untuk mengikuti jejak dari Ibuku! Tetapi dilain pihak aku tidak ingin bayi ini nanti mengalami nasib yang sama seperti yang juga pernah kualami sampai saat ini. Mungkin jalan satu-satunya yang terbaik ialah memilih agar bayi ini tidak dilahirkan, seperti juga apa yang dianjurkan oleh emak! Apakah Tuhan itu benar-benar mengasihi umat-Nya? Apakah masih ada masa depan untukku maupun untuk bayiku?

    Apakah mungkin takdir yang sedang kualami ini merupakan hukum karma, karena prilaku dari emak? Apakah aku bisa menyalahkan emak ataupun membencinya, karena aib yang menimpa diriku ini?

    Sehingga tersirat dalam pikiranku mungkin ada baiknya untuk bunuh diri saja, sehingga dengan demikian, anak yang tak berdosa inipun tidak perlu dilahirkan dan akupun tidak perlu mengikuti jejak dari emak, mungkin inilah keinginan Tuhan dariku untuk mati dalam usia 15 tahun.

    Dari Rita (Bukan nama sebenarnya)

    Mungkin ada pembaca yg bersedia memberikan saran untuk Rita yang merasa sedang berada di jalan kehidupan yang buntu.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 21 August 2016 Permalink | Balas  

    Melubangi Kapal 

    kapalMelubangi Kapal

    Setiap perbuatan yang melanggar hukum syarak adalah kemaksiatan. Dan setiap kemaksiatan pasti akan merugikan diri orang yang berbuat dan membahayakan diri orang lain. Perbuatan maksiat itu ibarat perbuatan melubangi kapal. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : “Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah SWT adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah perahu. Lalu mereka mebagi tempat duduknya masing-masing, ada yang dibagian atas dan sebagian lagi dibagian bawah. Bila ada orang dibagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk dibagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah itu berkata, ‘seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak menggangu orang lain yang di atas. Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa”. (HR.Bukhari).

    Peminum khamr, pezina, pencuri, penjudi, koruptor, pelaku kolusi, pelaku ketidakadilan, dan pelanggar hukum syarak lainnya, atau tidak menerapkannya secara utuh, jelas itu sebuah kemaksiatan. Dampak perbuatan itu akan dirasakan oleh orang lain.

    Maraknya tindak kriminal dan asusila, banjir yang melanda berbagai wilayah, kekeringan dan kebakaran hutan baru-baru ini, adalah sebagian contoh akibat kesalahan manusia. Boleh jadi hanya sebagian manusia melakukan kemaksiatan itu, tetapi banyak yang tidak berdosa (ikut) menanggungnya.

    Islam tidak mengenal sikap individualis atau cuek bebek terhadap orang lain dan lingkungannya. Sikap individualis pada dasarnya akan membiarkan orang lain bebas berbuat (melanggar batas hukum Allah SWT). Tetapi sebaliknya, Islam mewajibkan Amar Makruf Nahi Mungkar, sehingga setiap jiwa tidak menanggung derita dunia dan akherat karena sebuah kemaksiatan seseorang.

    Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya ; “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang orang-orang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(QS.An-Anfaal:25).

    Menjaga batas-batas hukum Allah atau ber-Amar Makruf Nahi Mungkar sehingga “kapal” kehidupan bermasyarakat tidak tenggelam karena tidak seorang pun melubanginya, adalah perkara yang teramat penting. Lebih penting daripada sekedar berdiam diri dan khusyuk berdoa dihadapan Allah SWT. Karena Rasulullah SAW bersabda : “Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat diantaramu menguasai kalian. (Dan) Bila ada orang baik diantaramu berdoa (untuk keselamatan) maka doanya tidak akan dikabulkan”.(HR.Al-Bazzar & Thabrani).

    (dikutip dari kolom Hikmah-Republika).

     
  • erva kurniawan 1:06 am on 20 August 2016 Permalink | Balas  

    Kiamat Kelak : Dimanakah Tempat Kita ?. 

    muhammad 2Kiamat Kelak : Dimanakah Tempat Kita ?.

    Rasulullah SAW ditanya : “Bagaimana menurut Rasulullah SAW tentang seseorang yang mencintai suatu kaum /seseorang, padahal ia belum pernah bertemu dengan mereka itu? “.

    Rasulullah SAW menjawab : “Seseorang akan selalu bersama dengan orang yang dia cintai”. (hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

    Jika seseorang mencintai yang lain atas dasar karena Allah SWT, meskipun tidak pernah bertemu dengan yang dicintainya itu, maka dia akan tercatat bersama-sama dengan golongan Allah SWT.

    Seorang Muslim yang mencintai Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta seluruh pengikutnya, maka pada hari Kiamat kelak dia akan berada bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta seluruh pengikutnya itu.

    Sebaliknya jika seorang Muslim lebih mencintai kaum dari golongan kafir (Ahli Kitab dan kaum Munafik) daripada mencintai saudara sesama Muslim (para pengikut Rasulullah SAW), maka pada hari Kiamat kelak dia akan berada bersama golongan kafir dari para Ahli Kitab dan kaum Munafik itu.

    Wallahualambisawab.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 19 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (3/3) 

    itikafI’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (3/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Manakala isteri yang berniat i’tikaf dengan nazar tanpa izin suami, maka suami boleh melarang isteri daripada melakukannya i’tikaf itu. Jika isteri meneruskan i’tikafnya itu, maka bagi suami berhak melarang atau menegah daripada meneruskan i’tikaf tersebut. Sebaliknya jika isteri diizinkan oleh suami melakukan i’tikaf tersebut sama ada dengan ditentukan masa i’tikaf atau sebaliknya dan i’tikaf itu disyaratkan dengan berturut-turut maka tidak harus bagi suami menegah isteri daripada berbuat demikian. Kerana penentuan masa tidak harus diakhirkan dan syarat berturut-turut itu tidak harus diselang-selikan. Demikian juga tidak harus membatalkan ibadah wajib ketika melakukan ibadah tanpa uzur.

    Menurut pendapat al-ashah, jika isteri mendapat izin melakukan i’tikaf tanpa menentukan masanya dan tidak disyaratkan berturut-turut, maka suami boleh menegah isterinya melakukan i’tikaf tersebut.

    Perkara Yang Harus Dilakukan Oleh Orang Yang Beri’tikaf

    Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmuk (6/514-517) telah menyebutkan perkara-perkara yang harus dilakukan oleh orang yang beri’tikaf, iaitu:

    1. Harus bagi orang yang beri’tikaf itu bersuci, mandi dan menghias diri. Di samping itu dia mestilah menjaga kebersihan masjid. Sesungguhnya telah sabit bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala sedang beri’tikaf di masjid telah menghulurkan kepalanya kepada isterinya ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha yang berada di dalam biliknya untuk disikatkan kepala Baginda pada hal isteri Baginda pada waktu itu sedang haid, sebagaimana dalam satu riwayat disebutkan:

    Maksudnya: “Sesungguhnya ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghulurkan kepala Baginda kepadaku tatkala Baginda dalam masjid untuk disikat dan Baginda tidak akan masuk ke rumah kecuali ada keperluan ketika Baginda beri’tikaf”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis yang lain ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghulurkan kepalanya sedang aku di dalam bilik ku dan menyikat rambut Baginda. Ketika itu aku dalam haid”.

    (Hadis riwayat Muslim)

    1. Harus bagi lelaki dan perempuan memakai bau-bauan dan memakai pakaian yang indah atau berharga. Imam As-Syafi’e berkata dalam kitab Al-Mukhtasar (Al-Majmuk: 6/515):

    Maksudnya: “Tidak mengapa orang yang beri’tikaf sama ada lelaki dan perempuan memakai pakaian (yang indah), makan dan memakai wangian”.

    Walau bagaimanapun bagi perempuan tidak diharuskan berbuat demikian sekiranya di masjid tersebut ada lelaki yang kemungkinan akan tercium bau-bauan yang dipakai itu.

    1. Harus bagi orang yang beri’tikaf itu melakukan akad nikah di dalam masjid.
    2. Harus membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan sebarang ilmu pengetahuan. Menurut Imam As-Syafi’e dan para pengikutnya bahawa perkara sedemikian itu lebih afdhal daripada melakukan sembahyang-sembahyang sunat (nafilah) kerana mempelajari ilmu itu fardhu kifayah.
    3. Sekiranya yang beri’tikaf itu berhajat kepada berjual beli, maka harus baginya berakad jual beli di masjid tanpa berlebihan seperti membawa bersama barang yang diakadkannya itu. Jika berlaku sedemikian hukumnya adalah makruh.
    4. Tidak harus melakukan sesuatu pekerjaan di dalam masjid kecuali kerana hajat seperti menjahit atau menampal kain yang koyak ataupun memperbaiki sesuatu yang ditakuti rosak.
    5. Harus bagi orang yang beri’tikaf makan minum di dalam masjid dengan mengambil kira akan menjaga kebersihan masjid dan tidak mencemarkannya.

    NB : Harus = bahasa Indonesia artinya boleh, Tidak Harus = Tidak Boleh.

    Perkara Yang Membatalkan I’tikaf

    Perkara-perkara yang membatalkan i’tikaf itu ialah:

    1. Bersetubuh sama ada keluar air mani atau sebaliknya, sekalipun ia dilakukan di luar masjid atau ketika keluar qadha hajat atau sebagainya yang mengharuskan dia keluar masjid. Kecuali bagi i’tikaf sunat tidaklah membatalkan i’tikaf dan ia di lakukan di luar masjid. Begitu juga tidak membatalkannya bagi orang yang lupa dan jahil mengenai haramnya bersetubuh ketika dalam i’tikaf. (Mughni Al-Muhtaj: 1/452 dan Al-Majmuk: 6/512)
    2. Keluar mani tanpa bersetubuh dengan cara berseronok-seronok hingga menaikkan syahwat dengan ikhtiarnya. Oleh itu haram bagi orang yang beri’tikaf melakukan sesuatu yang boleh membangkitkan syahwat sehingga membawa kepada persetubuhan. Inilah juga pendapat Ar-Rafi’e yang mengatakan bahawa pendapat al-ashah di sisi jumhur ulama ialah apabila perbuatan berseronok-seronok itu menyebabkan keluar air mani maka batallah i’tikaf itu, jika sebaliknya maka tidaklah membatalkannya. (Al-Majmuk: 512-513 dan Mughni Al-Muhtaj: 1/452)
    3. Gila dan pitam yang berpanjangan. (Al-Majmuk: 6/504-505)
    4. Murtad dan mabuk. (Al-Majmuk: 6/506)
    5. Keluar haid dan nifas. Jika seseorang wanita dating haid atau nifas maka batal i’tikafnya. (Al-Majmuk: 6/507)

    Penutup

    Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahawa ibadah i’tikaf merupakan ibadah badaniyah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sepanjang hidup Baginda. Ini menandakan akan besarnya ganjaran dan pahala yang diberikan kepada orang yang melakukan.

    Apatah lagi, i’tikaf yang disertakan dengan puasa, seseorang itu akan bertambah hampir kepada Allah kerana tujuan i’tikaf itu adalah pembersihan hati dan jiwa dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhkan diri daripada kegiatan atau aktiviti-aktiviti keduniaan. Oleh kerana itu untuk mencapai matlamat itu dianjurkan orang yang beri’tikaf  memperbanyak sembahyang sunat, berzikir kepada Allah, berdoa meminta ampun (istighfar), mengucapkan selawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atau membaca Al-Qur’an di samping bacaan-bacaan lain yang boleh mendekatkan diri kepada Allah.

    ==== selesai ====

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 18 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (2/3) 

    itikaf 2I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (2/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Mengikut qaul jadid pula, seorang perempuan tidak sah beri’tikaf di masjid rumahnya (bilik khas sembahyang di dalam rumah) sebab ia bukan masjid, buktinya ialah masjid rumah tidak dilarang orang yang berjemaah duduk di dalamnya untuk melakukan perkara-perkara yang dilarang di dalam masjid seperti berhenti bagi orang yang junub di dalam masjid dan sebagainya. Di samping itu isteri-isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga melakukan i’tikaf di dalam masjid. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/366)

    Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’eyah, (Al-Majmu’: 6/473)  seseorang yang bernazar untuk beri’tikaf di dalam mana-mana masjid selain daripada Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa, maka nazar itu adalah harus bahkan dia boleh melakukannya di mana-mana masjid kecuali jika dia bernazar untuk beri’tikaf di dalam salah sebuah daripada  tiga masjid (yaitu Masjid Al-Haram, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa), maka dia wajib beri’tikaf di dalam masjid yang ditentukan itu. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Umar Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :

    “Sesungguhnya ‘Umar bin Al-Khattab telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau berkata: “Aku telah bernazar pada ketika zaman  Jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjid Al-Haram?”

    Baginda menjawab dan bersabda: “Laksanakanlah nazar engkau”

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Kesimpulannya ulama mazhab Maliki dan Syafi’e mengharuskan i’tikaf di mana-mana masjid, sementara ulama mazhab Hanafi dan Hanbali mensyaratkannya di masjid Jami’. Manakala jumhur ulama tidak mengharuskan i’tikaf di masjid rumah (bilik khas sembahyang di dalam rumah) sedangkan ulama mazhab Hanafi pula mengharuskan demikian kepada orang perempuan. (Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu: 699-700)

    1. Al-lubthu yaitu berhenti di dalam masjid. Menurut pendapat ashah ulama Syafi’e disyaratkan tempoh berhenti itu panjang sedikit daripada masa thuma’ninah di dalam sembahyang sama ada dalam keadaan berdiri, duduk atau sambil berjalan di ruangan masjid. Tidak memadai sekadar thuma’ninah atau kurang daripada itu. Bahkan lama berhenti itu tidak ditentukan masanya sehinggakan berniat nazar i’tikaf bagi tempuh sebentar atau selama satu jam, sah i’tikaf tersebut. Menurut Imam Syafi’e afdhal berniat i’tikaf selama satu hari bagi mengelakkan daripada khilaf (percanggahan ulama).

    Sunat berniat i’tikaf untuk mendapatkan pahala bagi orang yang melintas (lalu) dalam masjid seperti masuk dari pintu dan keluar dari pintu lain dan sebagainya, dan tidak memadai i’tikaf itu bagi orang lalu dalam masjid tanpa niat.

    1. Niat: Ketika hendak memulakan i’tikaf disyarat berniat i’tikaf. Ia tidak sah dilakukan tanpa niat sama seperti sembahyang dan ibadah-ibadah lain karena niat itu adalah ibadah sama ada ibadat itu berbentuk wajib seperti nazar atau selainnya. Matan Kitab Al-Minhaj menyebutkan bahawa disyaratkan niat ketika memulakan i’tikaf dan begitu juga ketika melakukan i’tikaf nazar (wajib). Ini bertujuan untuk membezakan dengan i’tikaf sunat, sebagaimana dinyatakan oleh Khatib As-Syarbini pengarang kitab Mughni Al-Muhtaj. (1/453)

    Menurut Imam An-Nawawi pula, memadai i’tikaf jika seseorang berniat i’tikaf secara mutlaq (tidak menentukan masa i’tikaf) sekalipun lamanya satu hari atau satu bulan. Dalam kes tidak menentukan masa i’tikaf ini, jika dia keluar daripada masjid kemudian masuk semula ke dalam masjid, hendaklah dia memperbaharui niat i’tikafnya sekalipun keluar karena qadha hajat atau sebagainya. Kecuali ketika dia keluar untuk mengqadha hajat itu dia berazam untuk masuk semula, tidaklah perlu memperbaharui niatnya. (al-Majmuk: 6/487 dan Mughni Al-Muhtaj:1/453)

    Bagi i’tikaf yang ditentukan masanya seperti berniat i’tikaf sunat selama satu hari atau satu bulan atau berniat nazar selama beberapa hari (tidak ditentukan masanya) dan tidak pula disyaratkan berturut-turut, dalam perkara ini menurut qaul ashah, tidak wajib memperbaharui niat jika seseorang itu hendak keluar bagi tujuan qadha hajat dan masuk semula ke dalam masjid. Kecuali bagi tujuan yang lain (selain qadha hajat) sekalipun masanya itu panjang atau sekejap, disyaratkan memperbaharui niat i’tikaf itu. (Al-Majmuk: 6/487 dan Mughni Al-Muhtaj:1/453)

    Begitu juga bagi i’tikaf nazar beberapa hari dengan berturut-turut, jika dia keluar masjid sehingga memutus hari berturut-turut itu  dengan tujuan yang lain (selain qadha hajat atau mandi junub karena bermimpi) disyaratkan baginya memperbaharui niat. Akan tetapi, jika dia keluar bagi tujuan qadha hajat atau mandi junub karena bermimpi tanpa memutus hari berturut-turut tersebut, tidaklah wajib memperbaharui niatnya. (Al-Majmuk: 6/487-488 dan Mughni Al-Muhtaj: 1/454)

    Puasa Bagi Orang Yang Beri’tikaf

    Menurut Imam Syafi’e dalam qaul jadid dan para pengikutnya bahawa harus juga melakukan i’tikaf itu tanpa berpuasa, akan tetapi afdhal melakukan i’tikaf itu dengan berpuasa. I’tikaf juga sah di waktu malam sahaja dan pada hari-hari Tasyriq dan hari raya. Walau bagaimanapun menurut kebanyakan ulama Syafi’e puasa bukanlah syarat bagi sahnya i’tikaf.

    Jika seseorang itu bernazar melakukan i’tikaf satu hari atau lebih dengan berpuasa, maka memadailah dia melakukan i’tikaf dengan puasa tanpa khilaf (percanggahan) ulama dan tidak diasingkan puasa itu daripada i’tikaf. Begitulah juga sebaliknya. Manakala jika seseorang itu bernazar i’tikaf dan puasa atau bernazar i’tikaf dengan berpuasa, bolehkah kedua-duanya disatukan? Menurut pendapat yang ashah di kalangan mazhab Syafi’e memadai keduanya disatukan dan itulah pendapat jumhur dan nash daripada perkataan Imam As-Syafi’e. (Al-Majmuk: 6/475-477) Bahkan wajib disatukan sebagaimana disebut dalam matan kitab Mughni Al-Muhtaj (1/453)

    I’tikaf Bersyarat

    Seseorang yang bernazar untuk melakukan i’tikaf selama beberapa hari dan disyaratkan dalam nazarnya itu bahawa dia akan keluar sekiranya dihinggapi penyakit atau karena menziarahi pesakit atau keluar karena mencari ilmu, maka sah syarat-syaratnya itu. Oleh itu dia dibolehkan keluar melakukan perkara-perkara yang disyaratkan dalam nazarnya tetapi hendaklah dia bersegera kembali beri’tikaf sebaik sahaja kerja-kerja itu selesai. Sekiranya dia lambat kembali tanpa uzur, batal i’tikafnya dan dia hendaklah memulai semula i’tikafnya dan wajib memperbaharui niat i’tikaf tersebut. (Al-Majmuk: 6/520 & 488)

    Hukum Mengenai Perempuan Yang Beri’tikaf

    Perempuan sah melakukan i’tikaf sebagaimana para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. Untuk jelasnya beberapa hukum mengenai perempuan yang beri’tikaf sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Majmuk (Al-Majmuk: 6/470-471) :

    1. Tidak sah dan tidak harus seorang perempuan beri’tikaf tanpa izin daripada suami. Jika isteri bernazar untuk melakukan i’tikaf dengan kebenaran suami, sebagai contoh ia ditentukan selama 2 hari, menurut Imam An-Nawawi harus bagi isteri tersebut masuk ke masjid tanpa memerlukan izin daripada suami, karena kebenaran nazar itu adalah izin untuk masuk ke masjid. Jika nazar tersebut tidak ditentukan dengan masa, maka tidak harus bagi isteri masuk ke masjid tanpa izin suami.
    2. Jika seorang isteri masuk masjid melakukan i’tikaf sunat tanpa izin suami atau sebaliknya, maka harus bagi suami melarang meneruskan i’tikaf itu tanpa khilaf (percanggahan ulama).
     
  • erva kurniawan 1:56 am on 17 August 2016 Permalink | Balas  

    I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (1/3) 

    itikaf3I’tikaf : Jalan Mencari Ketenangan (1/3)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    I’tikaf ialah suatu ibadah yang mempunyai kelebihan dan hikmat tertentu. Di antaranya membersihkan hati daripada sifat-sifat yang tercela, menyerahkan diri sepenuhnya beribadah kepada Allah demi memohon darjat yang tinggi, menjauhkan diri daripada kesibukan dunia yang menghalang daripada mendekatkan diri kepadaNya.

    Maksud asal pensyariatan i’tikaf itu ialah menanti sembahyang untuk berjemaah. Diibaratkan orang yang beri’tikaf itu seperti Malaikat yang tidak melakukan dosa kepada Allah, melakukan segala apa yang disuruh dan bertasbih malam dan siang. (Al-Mausu’ah Al-Feqhiyyah: 5/207)

    I’tikaf tidak terikat dengan waktu bahkan sunat beri’tikaf pada setiap waktu, sama ada di bulan Ramadhan mahupun di bulan-bulan lain. Cuma ia lebih dituntut dan afdhal, jika dilakukan pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan kerana fadhilat beri’tikaf pada bulan tersebut lebih banyak dibandingkan waktu-waktu pada bulan-bulan lain.

    Pengertian I’tikaf

    I’tikaf dari segi bahasa bermaksud diam dan duduk berhenti pada sesuatu tempat, tidak kira sama ada tempat itu baik atau sebaliknya. Manakala menurut pengertian syarak i’tikaf bermaksud duduk di dalam masjid oleh seseorang yang tertentu dengan niat. (Al-Fiqh Al-Islam Wa Adillatuh: 2/693)

    Tuntutan I’tikaf

    I’tikaf disyariatkan dalam Islam melalui Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ ulama.

    Di antara dalil-dalil yang menunjukkan tentang tuntutan i’tikaf itu sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang tafsirnya :

    “Dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beri’tikaf di dalam masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukumNya kepada sekalian manusia supaya mereka bertaqwa”.

    (Surah Al-Baqarah: 187)

    Allah berfirman di dalam ayat yang lain yang tafsirnya :

    “Dan ingatlah ketika Kami jadikan Rumah Suci (Baitullah) itu tempat tumpuan bagi umat manusia (untuk beribadat Haji) dan tempat yang aman; dan jadikanlah oleh kamu Maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim) itu tempat sembahyang. Dan Kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il (dengan berfirman): “Bersihkanlah RumahKu (Ka’bah dan Masjid Al-Haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf, dan orang-orang yang beri’tikaf (yang tetap tinggal padanya), dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”.

    (Surah Al-Baqarah: 125)

    Dalil daripada As-Sunnah pula ialah hadis riwayat Ibnu ‘Umar, Anas dan ‘Aisyah Radhiallahu ‘anhum yang maksudnya :

    “Daripada ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma telah berkata: “Sesungguhnya Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan”.

    (Hadis Riwayat Al-Bukhari)

    Dalam hadis yang lain yang maksudnya :

    “Daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha iaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Baginda melakukan amalan i’tikaf tersebut sehingga Baginda wafat. Kemudian para isteri Baginda meneruskan amalan i’tikaf selepas itu”.

    (Hadis riwayat Al-Bukhari)

    Ulama sepakat mengenai pandangan Az-Zuhri yang mengatakan: “Sungguh aneh manusia, bagaimana boleh mereka meninggalkan i’tikaf. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu tetapi Baginda tidak pernah meninggalkan i’tikaf sehingga wafat”. I’tikaf juga pernah terdapat di dalam syariat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (Al-Fiqh wa Adillatuhu: 2/694) sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala yang tafsirnya :

    “Dan kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il (dengan berfirman): “Bersihkanlah RumahKu (ka’bah dan Masjid Al-Haram dari segala perkara yang dilarang) untuk orang-orang yang bertawaf dan orang-orang yang beri’tikaf (yang tetap tinggal padanya) dan oang-orang yang ruku’ dan sujud”.

    (Surah Al- Baqarah: 125)

    Hukum Dan Waktu I’tikaf

    Hukum i’tikaf adalah sunat muakkad. Ia dilakukan pada setiap waktu sama ada dalam bulan Ramadhan ataupun pada bulan-bulan lain. Afdhal melakukan i’tikaf itu pada sepuluh hari yang terakhir daripada bulan Ramadhan (Nihayah Al-Muhtaj: 3/214) sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Menurut Imam As-Syafi’e dan para pengikutnya, bagi orang yang ingin mendapatkan pahala sunnah (mengikut perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan i’tikaf 10 terakhir bulan Ramadhan) sayugialah dia masuk masjid dengan niat i’tikaf sebelum masuk matahari hari ke 20 (malam ke 21) Ramadhan dan keluar daripada masjid pada malam hari raya selepas masuk matahari. Malahan lebih afdhal lagi jika dia kekal di dalam masjid hingga malam hari raya dan sembahyang hari raya serta keluar pada hari raya tersebut. (Raudhah: 2/255 dan Al-Majmuk: 6/469)

    Bagi sesiapa yang beri’tikaf sehari semalam atau lebih hendaklah memulakan i’tikaf itu (di masjid) sebelum matahari terbenam dan keluar daripada masjid setelah masuk matahari hari berikutnya. (Al-Majmuk: 6/483)

    Kategori I’tikaf

    I’tikaf terbahagi kepada dua iaitu i’tikaf sunat dan i’tikaf wajib. I’tikaf sunat ialah berniat i’tikaf sunat kerana Allah Ta’ala sama ada dengan masa sebentar (lahzah), satu hari, satu hari satu malam atau sebagainya. Manakala i’tikaf wajib hanya dengan cara bernazar untuk melakukannya sebagaimana pendapat jumhur ulama mengenainya. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah: 5/208)

    Rukun I’tikaf

    Rukun I’tikaf ada empat perkara:

    1. Mu’takif iaitu orang yang mengerjakan i’tikaf. Syarat bagi orang yang beri’tikaf itu hendaklah beragama Islam, berakal, suci daripada junub, haid dan nifas. I’tikaf itu sah dilakukan oleh lelaki, perempuan dan kanak-kanak mumayyiz.
    2. Mu’takiffun fihi iaitu tempat melakukan i’tikaf. Tempat i’tikaf disyaratkan di dalam masjid kerana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, isteri dan para sahabat Baginda hanya beri’tikaf di dalam masjid. Tidak ada perbezaan dari segi hukum, beri’tikaf di dalam masjid, sama ada di atas bumbung (suthuh), beranda dan halaman (ruhbah) masjid. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/464 dan Nihayah Al-Muhtaj: 3/216) Imam As-Syafi’e dan pengikutnya bersepakat mengenai menara masjid yang terletak di halaman masjid yang dinaiki oleh bilal dan lainnya juga tidak membatalkan i’tikaf. (Al-Majmu’: 6/494-496)

    Menurut pengarang kitab Tuhfah beri’tikaf adalah lebih utama dilakukan di Masjid Jami’ (masjid tempat mendirikan sembahyang Jumaat dan sembahyang berjemaah) berbanding dengan masjid lain. Ini adalah untuk mengelak daripada bercanggah (khilaf) dengan pendapat yang mewajibkannya. Lagipun berjemaah di masjid Jami’ lebih ramai dan tidak perlu lagi keluar untuk bersembahyang Jumaat. (Tuhfah Al-Muhtaj: 3/465).

     
  • erva kurniawan 1:29 am on 16 August 2016 Permalink | Balas  

    Taubatnya Malik Bin Dinar 

    taubat (1)Taubatnya Malik Bin Dinar

    Diriwayatkan dari Mali bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : “Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudian aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya.

    Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.

    Ketika malam dipertengahan bulan Sya’ban dan itu di malam Jum’at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya’. Maka akau bermimpi seakan-akean qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.

    Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan,

    Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata :

    “Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu”. Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku :

    “Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu”,

    Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku,

    “Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!”, aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan,

    “Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa”. Menangislah syaikh itu seraya berkata, “Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu”

    Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.

    Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : “Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!” Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular).

    Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :

    “Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya”. Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :

    “Ayahku, demi Allah!” Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.

    Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : “Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”. (QS. Al-Hadid : 16).

    Maka aku menangis dan berkata : “Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur’an”, maka dia berkata :

    “Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur’an darimu”, aku berkata :

    “Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku”, dia menjawab :

    “Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka”, akau berkata :

    “Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu”, dia menjawab : “Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu”, aku berkata :

    “Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?”, dia menjawab : “Kami adalah anak-anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa’at pada kalian”. (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).

    Berkata Malik : “Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah”.

     
  • erva kurniawan 1:38 am on 15 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al Baqarah 

    baqorohFadhilat Surah Al Baqarah

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan akan kebesaran Al-Qur’an)

    Imam al-Baihaqi dari Imam Shalshal berkata: “Barangsiapa membaca surat baqarah maka dipakaikan kepada mahkota di Syurga.”

    Imam Ibnu Zanjawai dari Imam Wahab ibn Munabih mengatakan: “Barangsiapa membaca Surat Baqarah dan Ali Imran pada malam Jumat maka baginya nur cahaya membentang antara Arsy dan dasar bumi.”

    Abu Mas’ud Albadri ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah, maka cukuplah baginya dari hal-hal yang membencikan. Dan menurut sebahagian pendapat: sama dengan bersembahyang malam.”

    Ibnu Abbas ra. bercerita: Pada suatu ketika Jibril berada di sisi Nabi SAW. tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: ini sebuah pintu di langit, pada hari ini dibuka, dan turun seorang malaikat, memberi salam dan berkata:”Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah kepadamu, dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu, iaitu:Fatihul kitab dan akhir surah Al-Baqarah. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya, melainkan pasti permintaanmu di beri.”

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 14 August 2016 Permalink | Balas  

    Dosa 

    Taubat 1DOSA

    Dosa (Dzanb) ialah meninggalkan sesuatu yang diperintahkan-Nya atau mengerjakan sesuatu yang dilarang-Nya, baik itu berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

    Sesuatu yang harus diperhatikan dan sangat mengkhawatirkan ialah sebagian kaum muslimin meremehkan dosa, mereka tidak segan-segan melakukannya, berbuat maksiat kepada Allah SWT baik secra sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.

    Dalam Islam, dikenal adanya dosa kecil (Shaghair) dan dosa besar (Kabair). Suatu dosa kecil dapat menjadi dosa besar apabila peluang untuk melakukannya sangat kecil dan tidak ada pendorongnya untuk melakukan dosa itu, meremehkan dosa yang telah dilakukannya, serta tidak memperdulikan rasa takutnya kepada Allah SWT. Sesudah itu dia akan mengajukan alasan ini dan itu, perintah Allah SWT diabaikan, tidak memperhatikannya dan perasaannya tidak tegerak oleh ancaman serta siksa Allah SWT. Setiap kali dosa dipandang besar oleh seorang hamba, maka dosa itu dianggap kecil disisi Allah SWT. Setiap kali dosa itu dianggap remeh oleh seorang hamaba, maka dosa itu menjadi besar disisi Allah SWT.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi : “Demi ‘Izzah-Ku dan demi ke-Agungan-Ku, Aku tidak mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada seorang hamba-Ku. Bila ia merasa aman dari-Ku ketika didunia, maka Aku jadikan ia ketakutan pada hari Kiamat. Dan apabila ia takut kepada-Ku ketika didunia, maka Aku jadikan ia aman pada hari Kiamat. Dan Allah memperingatkanmu terhadap-Nya dan Allah Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya”.

    Abu Hurairah ra. mengatakan bahwasanya Rasulullah SAW, bersabda, : “Setiap ummatku akan mendapat ampunan, kecuali muhajirun ‘orang-orang yang melakukannya terang-terangan’ . Diantara yang terhitung muhajirun ialah apabila ada orang berbuat dosa di malam hari dan Allah SWT telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi ia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku berbuat ini dan itu’. Allah SWT telah menutupi perbuatannya di malam hari, tetapi paginya ia membuka apa yang telah ditutup oleh Allah SWT”. (HR.Bukhari-Muslim).

    Ibnu Abil-‘Izz Rahimahullah pernah berkata, ” Bila dosa besar diiringi dengan rasa malu, takut, dan perasaan berat menanggungnya akan menjadi ringan. Sedangkan dosa kecil yang tidak diiringi dengan sedikitpun rasa malu, tidak perduli, tidak takut dan meremehkannya, maka akan menjadi dosa besar”.

    Asad bin Musa menyebutkan didalam kitab Az-Zuhd bahwa Abu Ayyub Al-Anshari pernah berkata, “Sungguh ada orang yang berbuat kebaikan, lalu ia percaya akan masuk surga karenanya. Sehingga ia melupakan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Akhirnya ia bertemu Allah SWT dalam keadaan dipenuhi dengan dosa-dosa itu. Sebaliknya, ada orang yang berbuat kesalahan, lalu terus menerus menyesalinya, sampai ia bertemu Allah SWT dalam keadaan bersih”.

    Ibnu Mas’ud ra. pernah berkata, “Sesungguhnya orang Mukmin melihat dosa seperti ia berada di lereng gunung dan takut kalau-kalau gunung itu menimpanya. Sedangkan orang jahat melihat dosa seperti melihat seekor lalat yang hinggap dihidungnya. maka ia dengan mudah mengibaskannya begitu saja “.

    Anas bin Malik ra. pernah berkata, “Sesungguhnya kalian sekarang melakukan perbuatan yang kalian lihat lebih kecil dari sehelai rambut, Tetapi pada zaman rasulullah SAW kami menganggapnya dosa besar yang membinasakan”.

    Sekarang pada zaman ini, bahkan suatu perbuatan dosa sudah dianggap bukan sebagai perbuatan dosa, dengan jumawa kita berani berdalih kepada Allah SWT bahwa kriteria dosa haruslah mengikuti perkembangan zaman. Sesungguhnya segala pahala dan azab hanya dari sisi-Nya, dan ingatlah azab-Nya sungguh sangat pedih. Wallahualambisawab.

    ***

    Kiriman Sahabat: Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:04 am on 13 August 2016 Permalink | Balas  

    Siapakah Kafir Itu? 

    kafir1Siapakah Kafir Itu?

    “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : ‘Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam, padahal Al-Masih (sendiri) berkata : ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun “. (QS.Al-Maidah:72).

    “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya baiasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)”. (QS.Al-Maidah:75).

    “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (QS.Al-Maidah:77).

    “Hai Ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”. (QS.Al-Maidah:15).

    “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: ‘Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan’. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS.Al-Maidah:19).

    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir)”. (QS.An-Nisa:150).

    “merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”. (QS.An-Nisa:151).

    ***

    Kiriman Sahabat : Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:00 am on 12 August 2016 Permalink | Balas  

    Sekilas Tentang ZINA. 

    zinaSekilas Tentang ZINA.

    Ahmad meriwayatkan dengan sanad hasan, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Umatku senantiasa dalam keadaan baik selagi ditengah mereka tidak menyebar perzinaan. Jika perzinaan menyebar ditengah mereka, maka Allah SWT segera akan menurunkan azab-Nya secara menyeluruh”.

    Ahmad mentakhrij dengan sanad yang rawi-rawinya tsiqat, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya : ” ‘Apa pendapatmu sekalian tentang zina ?’, meraka menjawab, ‘Keharaman yang diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya, dan ia haram hingga hari Kiamat’. Lalu beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya, ‘Seorang laki-laki menzinahi sepuluh wanita, lebih ringan hukumannya daripada dia menzinahi wanita tetangganya’ “.

    Ahmad, Abud-Dunya, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan dia menshahihkannya, dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata : “Jaminlah bagiku enam perkara dari dirimu sekalian, niscaya aku akan menjamin sorga bagimu, yaitu jujurlah jika kamu berbicara, penuhilah jika kamu berjanji, laksanakanlah jika kamu dipercaya, jagalah kemaluanmu, tundukanlah pandangan matamu dan kuasailah tanganmu”. Disebutkan didalam perkataan Nabi Muhammad SAW : “Lesbi adalah perzinaan diantara sesama wanita”, beliau juga berkata : “Tiga golongan yang Allah SWT tidak akan menerima dari mereka ucapan Syahadat La Illaha Illallah, yaitu laki-laki yang menaiki dan yang dinaiki (pelaku homoseksual), wanita yang menaiki dan yang dinaiki (lesbian), dan pemimpin yang lalim”.

    Al-Baihaqy meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Tatkala sedang mi’raj, aku melewati beberapa orang laki-laki yang kulitnya diguntingi dengan gunting dari api neraka. Aku bertanya, “Siapakah meraka ini wahai Jibril ? “. Jibril menjawab, “Orang-orang yang berhias untuk memamerkan perhiasannya”. Beliau berkata, “Kemudian aku melewati sumur yang baunya busuk, dan kudengar didalamnya ada suara yang keras. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka itu wahai saudaraku Jibril ?”. Jibril menjawab, “Para wanita yang berhias untuk memamerkan perhiasan dan melakukan sesuatu yang tidak halal baginya”.

    Kiriman: Rifky Pradana

     
  • erva kurniawan 1:17 am on 11 August 2016 Permalink | Balas  

    Doa Kang Suto 

    Doa masuk masjidDoa Kang Suto

    (Tulisan M. Sobary)

    Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

    Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

    Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

    Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini? Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

    Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.”

    Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

    Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

    Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

    Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

    “Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit.

    “Ngain,” kata Kang Suto.

    “Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad.

    Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

    “Al-kham-du …,” tuntun guru barunya.

    “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”

    “Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.

    “Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran.

    Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

    Ia tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah, minta pandangan keagamaan saya.

    “Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.”

    Kang Suto mengangguk-angguk.

    Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Beliau langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

    “Sira guru nyong,” (kau guruku) katanya, gembira.

    Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Dan saya pun tak berkeberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

    Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

    “Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini. Salahkah hamba, duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

    Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

     
  • erva kurniawan 1:59 am on 10 August 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Basmallah. 

    basmallah 3Fadhilat Basmallah.

    (Patut diketahui : untuk menambah keyakinan kebesaran Al-Qur’an)

    Barangsiapa membaca Bismillah 21X ketika hendak tidur maka aman ia dari syaitan, kecurian, maut mendadak dan bala.

    Barangsiapa membaca Bismillah ketika hendak bersetubuh(jimak) maka anaknya kelak cerdas dan terbuka hatinya serta menjadi anak yang soleh dan baginya kebajikan sejumlah tarikan nafas anaknya itu.

    Barangsiapa membaca Bismillah 41X pada telinga orang pingsan maka ia akan segera siuman.

    Barangsiapa membaca Bismillah 313X dan selawat atas Nabi Muhammad S.A.W 100X pada hari Ahad di saat matahari terbit dengan menghadap ke kiblat maka Allah Taala memberi rezeki tanpa di duga bersamaan fadhal dan kemurahan Allah Taala.

    Barangsiapa membaca Bismillah 786X di tiupkan pada air lalu di minumkan kepada orang yang bebal selama tujuh hari di saat matahari terbit maka lenyaplah kebebalannya dan ia akan hafal apa yang di dengarnya.

    Barangsiapa membaca Bismillah 50X di hadapan orang zalim atau penguasa yang bengis maka ia akan tunduk atau ketakutan.

    Barangsiapa menulis Bismillah 101X di atas kertas lalu di letakan di sawah padinya maka sawahnya akan subur dan terpelihara dari bencana. Dan kalau di tulis pada kain kafan 70X maka mayat yang berselimut kafan itu akan aman dari bahaya Munkar dan Nakir juga ia terlindung dari siksa kubur.

    Tiada daripada seorang hamba yang berkata “bismillahirrohmanirrohim” melainkan hancur syaitan seperti hancur timah di atas api.

    Ibnu Jabir berkata, ketika turun “bismillahirrohmanirrohim” lari segala awan ke Masyrik dan berdiam segala angin dan bergerak gerak lautan dan menanti segala binatang mendengar dengan telinganya dan di rejam segala syaitan daripada langit dan bersumpah Allah dengan kebesaran Nya tiada di sebutkan namanya atas penyakit melainkan sembuh akan dia dan tiada di sebut akan dia atas suatu melainkan di berkatkan padanya.

    TERLINDUNG DARI SYAITAN, PENCURI DAN MATI MENDADAK.

    Jika di baca 21 kali sewaktu hendak tidur, maka Insya Allah dalam waktu semalam itu di jaga oleh Allah s.w.t. dari syaitan, pencuri dan mati mendadak.

    UNTUK MEREMEHKAN ORANG ZALIM.

    Jika anda baca 50 kali di hadapankan pada orang yang zalim maka orang itu di remehkan (di hinakan) oleh Allah s.w.t.

    SUPAYA TIDAK DI RUSAK JIN DAN SYAITAN.

    Jika di tulis sebanyak 101 kali, lalu di masukkan dalam botol dan di sumbat, kemudian di pendamkan di dalam (di tengah) sawah. Insya Allah sawah itu di selamatkan dari bahaya.

    ***

    Maroji’ : Jauhar Mauhub dan Hajat untuk Rawatan, Perlindung dan Doa.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 9 August 2016 Permalink | Balas  

    Surah Al-Ashr 

    al-ashrSurah Al-Ashr

    Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (3)

    Apakah Iman Itu ?

    Kami tidak mendifinisikan iman di sini dengan definisi fiqih, akan tetapi kami membicarakan tentang tabiatnya dan nilainya dalam kehidupan.

    Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang  mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta. Oleh karena itu ia berhubungan dengan wujud yang berasal dari sumber itu, berhubungan dengan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini, dan berhubungan dengan kekuatan rasional.

    Dan rasa ketuhananlah yang membingkai arahan yang darinya manusia menerima pandangan-pandangannya, tata nilainya, timbangan-timbangannya, norma-normanya, syari’atnya, dan undang-undangnya, dan segala sesuatu yang menghubungkannya dengan Allah, dengan alam semesta, atau dengan sesama manusia. Dengan begitu maka tersingkirlah dari kehidupannya hawa nafsu dan kepentingan pribadi, dan digantikan dengan syari’at dan keadilan. Dan rasa ketuhanan ini akan meninggikan perasaan manusia beriman dengan nilai manhajnya, dan mengunggulkannya atas pola pandang jahiliah, tata nilai, dan norma-normanya, dan atas semua tata nilai yang dikembangkan dari ikatan-ikatan dunia nyata walaupun ia cuma seorang diri yang bersikap begitu. Karena ia menghadapi semuanya dengan pola pandang, tata nilai, dan norma-norma yang bersumber dari Allah secara langsung. Karena itu, apa yang dari Allah inilah yang lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih patut diikuti dan dihormati.

    Amal Saleh

    Amal saleh merupakan buah alami bagi iman, dan gerakan yang didorong oleh adanya hakikat iman yang mantap di dalam hati. Jadi, iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak, tidak mungkin hanya bersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang hidup di luar diri orang yang beriman. Apabila ia tidak bergerak dengan gerakan yang otomatis ini, maka iman itu palsu atau telah mati. Keadaannya seperti bunga yang tidak dapat menahan bau harumnya. Ia menjadi sumber otomatis. Kalau tidak, berarti ia tidak ada wujudnya.

    Dari sinilah tampak nilai iman bahwa ia adalah harakah gerakan, amal, pembangunan, dan pemakmuran yang menuju kepada Allah. Iman bukan sekadar lintasan, dan bukan sesuatu yang pasif yang tersimpan di dalam hati. Dan ia juga bukan sekadar niat-niat baik yang tidak terwujud dalam gerakan nyata. Dan ini adalah karakter Islam yang menonjol yang menjadi kekuatan pembangunan yang sangat besar di dalam kehidupan.

    Inilah pengertiannya, selama iman itu sebagai ikatan dengan manhaj Rabbani. Dan manhaj ini adalah gerakan yang konstan dan berkesinambungan di dalam wujud semesta, yang bersumber dari suatu perencanaan dan menuju kepada tujuan. Sedang panduan iman kepada manusia merupakan panduan untuk merealisasikan gerakan yang merupakan karakter semesta, yaitu gerakan yang baik, bersih, konstruktif, yang sesuai dengan manhaj yang bersumber dari Allah.

    Saling Menasihati untuk Menaati Kebenaran dan Bersabar

    Saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran ini terlukis dalam keberadaan umat Islam atau Jama’ah Muslimah dengan bentuknya yang khas, ikatannya yang istimewa, dan arahnya yang sama. Jama’ah yang merasakan keberadaannya sebagaimana mereka merasakan kewajibannya, mengerti hakikat sesuatu yang harus diutamakan, yang bersumber dari iman dan amal saleh, yang meliputi masalah kepemimpinan manusia di jalan iman dan amal saleh, lantas saling menasihati dengan nasihat yang dapat membangkitkan semangatnya untuk mengemban amanat terbesar ini.

    Dari celah-celah lafal tawaashi saling menasihati dengan maknanya, tabiatnya, dan hakikatnya, tampaklah potret umat atau jama’ahyang kompak dan saling bertanggung jawab. Umat pilihan, umat yang baik, umat yang penuh pengertian, umat yang bermutu di muka bumi dengan berpegang pada dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Ini merupakan gambaran paling tinggi dan paling indah bagi umat pilihan. Demikianlah yang dikehendaki Ilam terhadap umat Islam, ia menghendaki umat Islam sebagai umat terbaik, kuat, penuh pengertian, tanggap, sensitif trhadap kebenaran dan kebaikan, dan saling menasihati untuk mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran, yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, penuh solidaritas, tolong-menolong, dan penuh rasa persaudaraan, yang selalu disiram dengan kata tawaashi dalam Al-Qur`an.

    Kepemimpinan Kaum Muslimin

    Nah sekarang, kita lihat dari celah-celah dustur (aturan pokok) yang dilukiskan oleh Al-Qur`an bagi kehidupan golongan yang beruntung dan selamat dari kerugian ini, maka kita akan terperanjat karena melihat kerugian (pandangan, sikap dan praktik hidup yang merugikan) sedang mengepung manusia di semua tempat di muka bumi ini tanpa kecuali. Kita merasa ngeri terhadap kesia-siaan hidup yang dialami manusia ini di dunia sebelum di akhirat nanti. Kita meresa ngeri dengan melihat manusia sudah berpaling demikian jauh dari kebaikan yang dilimpahkan Allah kepada mereka, di samping telah hilangnya pemerintahan yang baik dan beriman yang menegakkan kebenaran di muka bumi ini. Demikianlah, sedang kaum muslimin sendiri atau orang-orang yang mengaku beragama Islam dengan pernyataan yang lembut telah begitu jauh dari kebaikan ini, dan jauh berpaling dari manhaj yang dipilihkan Allah buat mereka, jauh berpaling dari dustur yang disyariatkan-Nya bagi umat mereka, dan jauh dari jalan satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka dari kerugian dan kesia-siaan. Dan, kawasan tempat munculnya kebaikan ini pertama kali telah meninggalkan bendera yang dipancangkan oleh Allah ini, yaitu bendera iman, karena bergantung pada bendera-bendera kesukuan dan kebangsaan yang dengan bernaung di bawah kibarannya tidak diperoleh lagi kebaikan di dalam sejarahnya secara total. Ia tidak lagi mendapat sebutan di bumi dan di langit, sehingga datang Islam dan mengibarkan buat mereka bendera yang dinisbatkan kepada Allah ini, yang tiada sekutu bagi-Nya, bendra yang diberi nama dengan nama Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, yang diberi tanda dengan tanda Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Bendera yang di bawah kibarannya bangsa Arab mendapat kemenangan, memandu dan memimpin kemanusiaan dengan kepemimpinan yang baik, kokoh, tangkas, dan membawa keselamatan untuk pertama kali dalam sejarah mereka dan sejarah kemanusiaan yang panjang.

    Ustadz Abul Hasan an-Nadawi berkata, “Kaum muslimin telah lahir, dan memimpin dunia, dan melepaskan bangsa-bangsa yang tertipu dari kepemimpinan manusia yang mengeskploitasinya dan bertindak buruk terhadapnya, dan mereka memandu manusia untuk menempuh jalan kehidupan dengan cepat, seimbang, dan adil.

    Banyak sekali sifat yang mereka miliki yang menjadikan mereka layak memimpin bangsa-bangsa ini, dan dapat menjamin kebahagiaan dan keberuntungan mereka di bawah naungannya dan di bawah kepemimpinannya .

    Pertama,  mereka memiliki kitab dan syari’at yang diturunkan dari Tuhan. Maka mereka tidak membuat undang-undang dan syari’at berdasarkan keinginan hawa nafsu mereka, karena nafsu itu merupakan sumber kejahilan, kekeliruan, dan kezaliman. Kedua, mereka tidak mengendalikan pemerintahan dan kepemimpinan tanpa pendidikan akhlak dan membersihkan jiwanya. Ketiga, mereka bukan pelayan suku tertentu dan bukan utusan bangsa atau negeri tertentu, yang mengusahakan kemakmuran dan memenuhi kepentingannya saja, dan bukan hanya untuk mengamankan kelebihan dan keunggulannya atas bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Mereka hanya ditugaskan untuk membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah saja. Keempat, tidak akan dijumpai peradaban yang baik dan saleh kecuali bila dibimbing oleh keseimbangan beragama, moral, pikiran dengan fisik, yang dengannya manusia dapat dengan mudah mencapai kesempurnaan kemanusiaannya.

    **

    Inilah sebagian dari masa-masa bahagia yang dialami manusia di bawah naungan dustur Islami yang fondasinya telah dipasang oleh surah al-Ashr, di bawah bendera keimanan yang dikibarkan oleh jama’ah yang beriman, beramal saleh, saling menasihat untuk mentaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.

    Nah, ke manakah hilangnya semua itu sebagaimana yang dialami manusia sekarang di semua tempat? Mereka mengalami kerugian dalam peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Mereka buta dari kebaikan besar yang dulu dibawa oleh bangsa Arab untuk semua manusia ketika mereka mengarak panji-panji Islam dan hidup di bawah kepemimpinannya. Kemudian bendera itu diturunkan, dan tiba-tiba saja ia berada di belakang kafilah, dan kafilah itu berjalan menuju kepada kehampaan dan kerugian. Dan sesudah itu, semua bendera dan panji-panji menjadi milik syetan, tidak ada satu pun bendera untuk Allah. Semuanya untuk kebatilan, tidak ada satu pun bendera kebenaran. Semuanya untuk kebutaan dan kesesatan, tidak ada satu pun bendera petunjuk dan cahaya. Semuanya untuk kerugian, dan tidak ada satu pun bendera untuk keberuntungan. Sebenarnya, bendera dan panji-panji Allah senantiasa ada, ia menantikan tangan yang dapat mengangkat dan mengibarkannya, dan menantikan umat yang mau berjalan di bawah kibarannya menuju kepada kebaikan, petunjuk, kesalehan, dan kebahagiaan.

    Dikutip dari buku: Tafsir Fi Zhilalil Qur’an

     
  • erva kurniawan 1:20 am on 8 August 2016 Permalink | Balas  

    Dosa dan Etika 

    etikaDosa dan Etika

    Dikirim oleh: Rifky Pradana

    Seringkali timbul suatu pertanyaan, kapankah suatu perbuatan itu merupakan suatu dosa ?.

    Ketika kita tak mendasarkan perbuatan kita menurut persepsi hukum-hukum Allah SWT, tetapi mendasarkan perbuatan kita dengan hukum/norma/etika pada masyarakat lingkungan kita, maka bisa jadi ketika kita memakan makanan haram (daging babi/meminum minuman beralkohol/khamr), tak harus membuat kita menyembunyikan perbuatan kita itu dari orang banyak, dan tak membuat hati kita merasa malu atau nyesek. Padahal perbuatan itu menurut ketentuan hukum Allah SWT adalah dosa.

    Ketika para wanita mengenakan busana yang seksi (pusernya kelihatan, sebagai misal), justru merasa bangga dan memamerkannya kepada semua orang, tak jengah berjalan-jalan dikeramaian bahkan menjadi semakin bangga ketika seribu pasang mata memandang puser itu dengan penuh selera. Etika yang permisif tak melarang perbuatan itu, bahkan sudah menjadi mode busana modern bagi sebagian remaja kita, padahal menurut ketentuan hukum Allah SWT, perbuatan itu adalah dosa, karena memperlihatkan aurat wanita kepada yang bukan muhrimnya. Kemudian, dimanakah batas dosa atau tak doa itu ?, tak lain dan tak bukan hanyalah ketentuan hukum Allah SWT dalam kaitannya dengan Perintah-Nya dan Larangan-Nya, jika kita mengaku bahwa tak ada Ilah yang patut disembah kecuali Allah SWT dan mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.

    Wallahualambisawab.

     
  • erva kurniawan 1:36 am on 7 August 2016 Permalink | Balas  

    Teka Teki Imam Al-Ghazali 

    itikafTeka Teki Imam Al-Ghazali

    Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya ( Teka-Teki ) : Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita didunia ini?”

    Murid 1 = ” Orang tua ”

    Murid 2 ” Guru

    Murid 3 = ” Teman ”

    Murid 4 = ” Kaum kerabat

    Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”

    Murid 1 = ” Negeri Cina ”

    Murid 2 = ” Bulan”

    Murid 3 = ” Matahari ”

    Murid 4 = ” Bintang-bintang ”

    Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

    Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar didunia ini ?”

    Murid 1 = ” Gunung ”

    Murid 2 ” Matahari ”

    Murid 3 = ” Bumi ”

    Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita,jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling berat didunia

    Murid 1 = ” Baja”

    Murid 2 = ” Besi”

    Murid 3 = ” Gajah ”

    Imam Ghazali” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.”

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia ini ?”

    Murid 1 = ” Kapas”

    Murid 2 ” Angin ”

    Murid 3 = ” Debu ”

    Murid 4 = ” Daun-daun”

    Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT.

    Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat ”

    Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali didunia ini”

    Murid- Murid dengan serentak menjawab = “Pedang ”

    Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

     
  • erva kurniawan 1:31 am on 6 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (9) 

    quran 2Hikayat Iblis (9)

    Rasulullah SAW berkata kepada Iblis, “Andaikan tidak setiap apa yang engkau ucapkan itu didukung oleh ayat-ayat dari Kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu”.

    Lalu Iblis berkata lagi, “Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam, sementara mereka tidak bisa melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku bisa mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku bisa berjalan kemanapun sesuai kemauan diriku dan dengan cara bagaimana pun. Kalau saya mau dalam sesaat pun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku. ‘Engkau bisa melakukan apa saja yang kau minta’. Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari Kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada orang yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari Kiamat”.

    Iblis melanjutkan lagi,

    “Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telingan seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan sjalat Atamah (Isya’). Andaikan tidak karenanya tentu manusia tidak akan tidur terlebih dahulu sebelum menjalankan shalat.

    Saya juga punya anak yang saya beri nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan (ibadah) dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan ditengah-tengah manusia, sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala. Sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Sebab setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala.

    Saya punya anak lagi yang bernama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang berada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang berkuthbah. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya”. Iblis melanjutkan lagi,

    “Setiap kali ada perempuan keluar mesti ada setan yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya.

    Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua setan itu kemudian berkata kepadanya, ‘Keluarkan tanganmu’. Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya”.

    Iblis melanjutkan lagi,

    “Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak bisa menyesatkan sedikit pun. Akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikan saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak membiarkan segelintir manusia pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan dua kalimat Syahadat, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya’. Tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa.

    Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak untuk memberikan hidayah sedikit pun kepada siapa saja. Akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanat dari Allah. Andaikan engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang kafir pun di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai argumentasi (Hujjah) Allah SWT terhadap mahluk-Nya. Sementara saya hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah sebagai orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya”

    Rasulullah SAW kemudian membacakan firman Allah SWT : “ Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi Rahmat oleh Tuhanmu’. (QS.Hud:118-119). Kemudian beliau Nabi SAW melanjutkan dengan firman Allah SWT : “ Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku”. (QS.Al-Ahzab:38).

    Lantas Rasulullah SAW berkata lagi kepada iblis, “ Wahai Abu Murrah (iblis), apakah engkau masih mungkin bertobat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk surga”.

    Iblis menjawab, “ Wahai Rasulullah, Ketentuan telah memutuskan dan Qalam pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari Kiamat nanti. Maka Maha Suci Allah Yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khathib para penduduk Surga, Dia telah memilih dan mengkhususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang celaka dan Khatib para penduduk Neraka. Saya adalah mahluk yang celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu, dan saya mengatakan sejujurnya “.

    Segala Puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, Awal dan Akhir, Dhahir dan Bathin. Dan semoga Shalawat dan Salam sejahtera tetap diberikan kepada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan para Nabi.

    (selesai) ::

    Dikutip dari Syajaratul-Kaun, doktrin tentang pribadi manusia pilihan, Muhammad SAW, yang ditulis oleh Asy-Syaikh Al-Akbar Muhyidin Ibnu Arabi (Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali Al-Hatimi Ath-Tha’i Al-Andalusia), 17 Ramadhan 560 H – 22 Rabi’uts-Tsani 638 H .

    ::

    Semoga bermanfaat buat kita semua, para pengikut Rasulullah SAW, manusia pilihan, tuan para Nabi dan Khathib para penduduk Surga. Semoga pula kita diberikan-Nya kemampuan dan ketebalan iman untuk mengiktu Al-Qur’an & Al-Hadits, kemudian dihari berbangkit nanti oleh Allah SWT, kita digolongkan didalam barisan dan kelompoknya Nabi Muhammad SAW. Amin. Akhirul kalam, afwan jika ada kekeliruan dan apabila menjadikan kurang berkenan.

     
  • erva kurniawan 1:32 am on 5 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (8) 

    quranHikayat Iblis (8)

    “Berapa kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Sepuluh macam” , jawab Iblis. “Apa saja itu wahai mahluk terkutuk ? “, tanya Rasulullah SAW. Iblis pun menjawab :

    “Saya meminta-Nya agar saya bisa berserikat dengan anak-cucu Adam dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Allah mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka”. (QS.Al-Isra”:64).

    Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

    Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah SWT : “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki”. (QS.Al-Isra”:64). Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Saya memohon agar saya punya Al-Qur”an, maka syair adalah Al-Qur”anku. Saya memohon agar saya punya adzan, maka terompet adalah penggilan adzanku. Saya memohon kepada-Nya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok Al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku. Itulah maksud firman Allah SWT :

    “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS.Al-Isra”:27) “.

    (bersambung)

     
    • Ibnu Putra 4:08 pm on 5 Agustus 2016 Permalink

      Kang, mohon dicek ke sahih-an kisah diatas kang…. saya takut kalau ternyata tidak sahih akan memberatkan akang nanti di akhirat…

      nuhun

    • erva kurniawan 8:52 am on 26 Agustus 2016 Permalink

      Terima kasih Pak Ibnu Putra

      Mohon kebijakan para pembaca untuk memilah artikel/ bacaan yang sesuai, seandainya ada keraguan agar tidak dijalankan, kami disini juga mendapatkan dari sumber lain

      Wallahu a’lam bish-shawab

  • erva kurniawan 1:26 am on 4 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (7) 

    quran34Hikayat Iblis (7)

    “Siapa yang paling celaka menurut engkau ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang-orang yang kikir”, jawab Iblis.

    “Apa yang paling menyita pekerjaanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Majelis orang-orang alim”, jawab Iblis

    “Bagaimana cara engkau makan ? “, tanya Rasulullah SAW. “Dengan tangan kiriku dan jari-jemariku”, jawab Iblis.

    “Dimana engkau mencari tempat berteduh untuk anak-anakmu diwaktu panas ?”, tanya Rasulullah SAW. “Dibawah kuku manusia”, jawab Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 3 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (6) 

    quran_tasbih_01Hikayat Iblis (6)

    “Wahai mahluk yang terkutuk, apa yang mengakibatkan punggungmu patah ? “, tanya Rasulullah SAW. “Suara ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah SWT “ , jawab Iblis.

    “Apa yang membuat hatimu panas ? “, tanya Rasulullah SAW. “Banyak beristighfar kepada Allah, baik di malam hari maupun di siang hari”, jawab Iblis.

    “Apa yang membuatmu merasa malu dan hina ? “, tanya Rasulullah SAW. “Sedekah secara rahasia”, jawab Iblis.

    “Apa yang menjadikan matamu buta ? “, tanya Rasulullah SAW. “Shalat diwaktu sahur”, jawab Iblis.

    “Apa yang dapat mengendalikan kepalamu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Memperbanyak sholat berjamaah”, tutur Iblis.

    “Siapa orang yang paling membahagiakanmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang sengaja meninggalkan shalat”, tutur Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:47 am on 2 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (5) 

    quranHikayat Iblis (5)

    Kemudian Rasulullah SAW meneruskan pertanyaannya, “Wahai mahluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu ? “. “Orang-orang yang suka makan riba”, jawab Iblis.

    “Lalu siapa teman dekatmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang berzina”, jawab Iblis.

    “Siapa teman tidurmu ?”, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang mabuk “, jawab Iblis.

    “Siapa tamumu ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Pencuri”, jawab Iblis.

    “Siapa utusanmu ? “,tanya Rasulullah SAW. “Tukang sihir “, jawab Iblis.

    “Apa yang menyenangkan pandangan matamu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang bersumpah dengan talak”, jawab Iblis.

    “Siapa kekasihmu ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang meninggalkan shalat Jum’at “, jawab Iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:45 am on 1 August 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (4) 

    quran 1Hikayat Iblis (4)  

    “Siapa menurut engkau hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis itu ? “ tanya Rasulullah SAW.

    Iblis menjawab dengan panjang lebar, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar (harta) adalah belum bisa murni karena Allah SWT. Apabila saya melihat seseorang sudah tidak menyukai dirham dan dinar, serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adalah orang yang mukhlis karena Allah, lalu saya tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian, sedangkan hatinya selalu bergantung pada kesenangan-kesenangan duniawi, maka ia akan lebih taat kepadaku daripada orang-orang yang telah saya jelaskan kepadamu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu termasuk dosa yang paling besar ?, apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta kedudukan adalah termasuk dosa yang paling besar ?, apakah engkau tidak tahu, saya memiliki tujuh puluh ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuhpuluh ribu setan. Diantara mereka ada yang sudah saya tugaskan untuk menggoda ulama, ada yang saya tugaskan untuk menggoda para pemuda, ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak masalah, sedangkan anak-anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya. Diantara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekun beribadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang zuhud. Mereka keluar-masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke pintu lain, sehingga mereka berhasil dengan menggunakan cara apapun. Saya ambil dari mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah kepada Allah dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Barshish seorang rahib (pendeta) yang berbuat ikhlas karena Allah selama tujuh puluh tahun, sehingga dengan doanya ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang sakit. Akan tetapi saya tidak berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seoarng perempuan, membunuh orang dan mati dalam kondisi kafir ?. Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya dengan firman-Nya : “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia : “Kafirlah kamu” , maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, “sesungguhnya aku cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam”. (QS.Al-Hasyr:16). Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari saya, saya adalah yang berbohong pertamakali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barangsiapa bersumpah atasnama Allah dengan berbohong maka ia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan atasnama Allah, “Bahwa saya akan memberi nasihat kepada kalian berdua”. Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah penyejuk mataku dan kesenanganku. Barangsiapa bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hampir tidak akan bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istrinya akan menjadi haram. Kemudian dari pasangan tersebut menghasilkan keturunan sampai hari Kiamat nanti yang semuanya hasil dari anak-anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka hanya gara-gara satu ucapan. Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara ummatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak menjalankan shalat maka saya selalu berada padanya dan menggangu sembari berkata kepadanya, “Masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan” sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat diluar waktunya. Akibatnya dengan shlat yang dikerjakan diluar waktunya itu akan dipukul di kepalanya. Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang dari setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu saya masih kalah, maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan shalat. Ketika dalam shlatnya saya berkata kepadnya, “Lihatlah ke kanan dan ke kiri “. Akhirnya ia melihat. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya, kemudian saya menghadap didepan matanya sembari berkata, “engkau telah melakukan apa yang tidak akan menjadi baik selamanya”. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan shalat tersebut. Kalau dalam shalat ia sanggup mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian, maka saya perintahkan untuk tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan sholat seperti ayam yang mencocok benih-benih untuk dimakan dan segera meninggalkannya. Kalau ia sanggup mengalahkan saya, dan shalat berjamaah, maka saya kalungkan rantai dilehernya. Ketika ia sedang ruku” saya tarik kepalanya keatas sebelum imam bangun dari ruku” dan saya turunkan sebelum imam turun. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang melakukan sholat seperti itu, maka batal shalatnya, dan di hari Kiamat nanti Allah akan menyalin kepalanya dengan kepala keledai. Kalau dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perintahkan meremas-remas jari-jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang shalat, karenanya ia termasuk orang-orang yang bertasbih kepadaku padahal ia sedang shalat. Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka saya tiup hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang shalat. Kalau ia tidak menutupi mulutnya dengan tangannya maka setan masuk kedalam perutnya, sehingga ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu mendengar dan taat kepadaku. Bagaimana ummatmu bisa bahagia wahai muhammad, sementara saya memerintah orang-orang miskin untuk meninggalkan shalat, dan saya berkata kepadanya, “Shalat bukanlah kewajiban kalian, shlata hanya kewajiban orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah”. Saya pun berkata kepada orang yang sakit, “Tinggalkan shalat, karena shalat bukanlah kewajibanmu. Shalat hanyalah kewajiban orang-orang yang diberi nikmat kesehatan. Sebab Allah sudah berfirman, “…dan tidak apa-apa bagi seorang yang sedang sakit…”(QS.An-Nur:61). Kalau engkau sudah sembuh baru melakukan shalat. Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan meninggalkan shlat ketika sedang sakit, maka ia akan bertemu Allah dengan dimurkai. Wahai Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendaknya engkau memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad, apakah engkau masih juga merasa gembira terhadap ummatmu, sementara saya bisa memurtadkan seperenam dari ummatmu untuk keluar dari Islam ?”.

    (bersambung)

     

     
  • erva kurniawan 1:42 am on 31 July 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (3) 

    alquranHikayat Iblis (3)

    Lalu bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Ia sewaktu Jahiliyyah saja tidak pernah taat kepadaku, apalagi sewaktu dalam Islam “, tutur iblis.

    “Bagaimana dengan Umar bin Khaththab ? “,tanya Rasulullah SAW. “Demi Allah SWT , setiap kali saya bertemu dengannya, mesti akan lari darinya “, jawab iblis.

    “Bagaimana dengan Utsman ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Saya merasa malu terhdap orang yang para malaikat saja malu kepadanya “, jawab iblis.

    “Lalu bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib ? “,tanya Rasulullah SAW.

    “Andaikan saya bisa selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya, ia meninggalkanku dan saya pun meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu samasekali “, tutur iblis.

    “Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan ummatku bahagia dan mencelakakanmu sampai pada waktu yang ditentukan “, tutur Rasulullah SAW.

    “Tidak dan tidak mungkin, dimana ummatmu bisa bahagia sementara saya senantiasa hidup dan tidak mati sampai pada waktu yang telah ditentukan. Lalu bagaimana engkau bisa bahagia terhadap ummtmu, sementara saya bisa masuk kepada mereka melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hari mereka dibangkitkan kembali (Kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa membaca Al-Qur’an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis (murni) “, tutur iblis.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 30 July 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (2) 

    quranHikayat Iblis (2)

    Rasulullah SAW mulai melemparkan pertanyaan kepada iblis, “Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka coba ceritakan kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci ? “.

    Iblis menjawab dengan jujur, “ Engkau, wahai Muhammad, adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu “.

    “Lalu siapa lagi yang palimg engkau benci ? “, tanya Rasulullah SAW. “Seorang pemuda yang bertakwa dimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah SWT “, jawab iblis.

    “Siapa lagi ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang alim yang wara’ (menjaga diri dari syubhat) lagi sabar“, jawab iblis.

    “Siapa lagi ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (hadats besar, kecil, dan najis) “, tutur iblis.

    “Siapa lagi ? “, tanya Rasulullah SAW. “Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya kepada siapapun dan juga tidak pernah mengeluhkan penderitaan yang dialaminya”, jawab iblis.

    “Lalu dari mana engkau tahu kalau ia bersabar ? “,tanya Rasulullah SAW. “Wahai Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaannya kepada mahluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah SWT tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar “, jelas iblis.

    “Lalu siapa lagi wahai iblis ? “ , tanya Rasulullah SAW. “Orang kaya yang bersyukur”, tutur iblis. “Lalu apa yang bisa memberi tahu kepadamu, bahwa ia bersyukur ? “,tanya Rasulullah SAW.

    “Bila saya melihatnya ia mengambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada tempatnya”, tutur iblis.

    “Bagaimana kondisimu apabila ummatku menjalankan shalat ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Wahai Muhammad, saya langsung merasa gelisah dan gemetar “, jawab iblis.

    “Mengapa wahai mahluk yang terkutuk ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Sesunguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah SWT sekali sujud, maka Allah SWT akan mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali.  Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila mereka membaca Al-Qur’an, maka saya akan meleleh (mencair) seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila mereka bersedekah maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu memotong saya menjadi dua “ jawab iblis.

    “Mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis) ? “, tanya Rasulullah SAW.

    “Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan ; Dengan sedekah itu, Allah SWT akan menurunkan keberkahan dalam hartanya, menjadikan ia disenangi dikalangan mahluk-Nya, dengan sedekah itu pula Allah SWT akan menjadikan suatu penghalang antara neraka dengannya dan akan menghindarkan segala bencana dan penyakit “, tutur iblis menjelaskan.

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:35 am on 29 July 2016 Permalink | Balas  

    Hikayat Iblis (1) 

    al quranHikayat Iblis (1)

    Segala puji hanya milik Tuhan Semesta Alam. Shalawat dan salam sejahtera semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi yang Ummi, Muhammad SAW, dan kepada keluarganya serta sahabatnya yang mulia.

    Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal r.a., dari Ibnu Abbas r.a. yang berkisah :

    Kami bersama Rasulullah SAW dirumah salah seorang sahabat Anshar, dimana saat itu kami ditengah-tengah jamaah.

    Lalu ada suara orang memanggil dari luar, “Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku”. Rasulullah SAW bertanya kepada para jamaah, “Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu ?”.

    Mereka menjawab, “Tentu Alllah SWT dan Rasul-Nya lebih tahu”.

    Lalu Rasulullah SAW menjelaskan, “ini adalah iblis yang terkutuk –semoga Allah senantiasa melaknatnya”.

    Kemudian Umar r.a. meminta izin kepada Rasulullah sembari berkata, “YA Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya ?”.

    Beliau Nabi SAW menjawab, “bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk mahluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah diketahui (hari Kiamat) ?. Akan tetapi sekarang silahkan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintahkan untuk datang kesini, maka pahamilah apa yang diucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian.” .

    Ibnu Abbas berkata : Kemudian dibukakan pintu, lalu ia masuk ditengah-tengah kami. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah ke atas (tidak ke samping). Sedangkan kepalanya seperti gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau.

    Ia datang sambil memberi salam. “Assalamu’alaika ya Muhammad, Assalamu’alaikum ya jamaa’atal-muslimim. “ kata iblis.

    Nabi SAW menjawab, “Assalamu lillah ya la’iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai mahluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluan tersebut wahai iblis ? “.

    “Wahai Muhammad, saya datang kesini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang kesini karena terpaksa “, tutur iblis.

    “Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini wahai mahluk terkutuk ?’ tanya Rasulullah SAW.

    Iblis menjawab, “ Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan Yang Maha Agung, dimana utusan itu berkata kepadaku, “ Sesungguhnya Allah SWT memerintahmu untuk datang kepada Muhammad SAW sementara engkau adalah mahluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak-cucu Adam AS, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad SAW dengan jujur. Maka demi Kebesaran dan Keagungan Allah SWT, jika engkau menjawab dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah SWT jadikan debu yang bakal dihempaskan oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang “ . Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawab dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang bakal saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku “ .

    (bersambung)

     
  • erva kurniawan 1:25 am on 28 July 2016 Permalink | Balas  

    Fadhilat Surah Al – Fatihah & Al-Kursi 

    al-fatihahFadhilat Surah Al – Fatihah & Al-Kursi

    (Patut diketahui : Untuk menyegarkan hati)

    “Fatihatul kitab (surah al fatihah) adalah ubat bagi segala racun”

    Untuk Penawar Racun & Kala Jengking

    Isilah gelas dengan sedikit air yang dicampur dengan sedikit garam. Bacakanlah surah al Fatihah 7 kali pada air di dalam gelas itu. Kemudian berilah orang yang disengat lipan itu minum dan usapkanlah sedikit di bahagian sengatan tadi. Insyaallah dengan ikhtiar itu racun yang ada di dalam badan akan menjadi tawar sehingga cepat sembuh kembali.

    Untuk Menghilangkan Sifat Lupa

    Tulislah surah al Fatihah pada bekas air seperti gelas, piring, dan lain-lain) yang bersih lagi suci. Lalu tuangkanlah air ke dalamnya supaya tulisan itu terhapus. Kemudian berilah minum kepada orang yang selalu pelupa. Insya Allah usaha ini akan berhasil dengan kesabaran.

    Untuk Penyembuhan Segala Penyakit

    Ambillah sebaldi air lalu dibacakan surah ini kepada air itu sebanyak 40 kali. Kemudian basuhlah kedua tangan, kedua kaki, muka,kepala dan seluruh anggota badan sampai rata dengan air itu. Insya Allah dengan ikhtiar ini, penyakit yang dialami akan sembuh. Lakukanlah berkali-kali.

    Untuk Penyembuhan Penyakit Mata

    Bacalah surah ini 41 kali sehabis sembahyang subuh kepada orang yang sakit mata. Kemudian usapkanlah ke mata pesakit dengan sedikit air ludah iaitu selepas membaca al Fatihah. Insya Allah akan sembuh dengan berkah yang ada pada surah al Fatihah ini.

    ayat-kursiFadhilat  Al-Kursi

    1. Orang yang membaca ayat al-Kursi selepas memyempurnakan solat fardhu akan dipelihara oleh Allah sehingga solat berikutnya.
    2. Allah swt akan menghantar dua malaikat untuk memelihara orang yang membaca ayat al-Kursi ketika berada di tempat pembaringan sehingga waktu subuh.
    3. Orang yang membaca ayat al-Kursi selepas solat fardhu akan memelihara keluarga, juga rumah-rumahnya yang berhampiran dengannya. Boleh juga dimaksudkan terpelihara daripada binatang yang mudharat, bencana alam, kebakaran, dan jahat angkara manusia. Maka Rasulullah s.a.w menyuruh setiap arang agar melakukan sesuatu perbuatan dengan menyebut nama Allah oleh kerana iblis dan syaitan tidak berupaya mengangkat atau membuka sesuatu yang di tutup dengan meyebut nama Allah.
    4. Allah tidak menegah mereka yang membaca ayat al-Kursi selepas solat fardhu masuk dalam syurga.
    5. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan membaca ayat al-Kursi, maka Allah utuskan tujuh puluh ribu malaikat kepadanya, mereka memohon keampunan dan mendoakan baginya.
    6. Barang siapa membacanya nescaya Allah mengutuskan malaikat untuk menulis kebaikannya dan menghapuskan keburukannya dari detik itu sampai esok hari.
    7. Barang siapa membacanya, Allah akan mengendalikan pengambilan rohnya dan ia adalah seperti orang yang berperang bersama nabi Allah sehingga mati syahid.
    8. Barang siapa yang membacanya ketika dalam kesempitan atau kesusahan, Allah akan menolongnya
     
  • erva kurniawan 1:14 am on 27 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (4/4) 

    puasa 4Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (4/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa-Puasa Yang Dimakruhkan

    Puasa-puasa yang dimakruhkan itu ialah:

    Puasa Hari Jumaat Atau Hari Sabtu Atau Hari Ahad Semata-Mata

    Adalah makruh berpuasa pada hari Jumaat satu satunya sahaja tanpa di sambung sebelum atau sesudahnya dengan puasa yang lain. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Jangan kamu berpuasa pada hari Jumaat sahaja.”

    (Hadits riwayat Ahmad)

    Tetapi jika digabungkan puasa hari jumaat itu dengan satu hari puasa yang lain sama ada di sebelumnya atau sesudahnya, maka tidaklah dihukumkan makruh. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    Maksudnya: “Jangan berpuasa salah seorang daripada kamu pada hari Jumaat melainkan (dia berpuasa) sehari sebelumnya atau selepasnya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Adapun dihukumkan makruh hanya berpuasa sehari semata-mata pada hari Sabtu karena hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Busr daripada saudara perempuannya sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Jangan kamu berpuasa pada hari Sabtu melainkan apa yang telah difardhukan Allah ke atas kamu. Jika seorang daripada kamu tidak mendapati (pada hari itu apa-apa makanan) melainkan satu kulit anggur atau ranting pokok, maka hendaklah dia memamahnya. (supaya kamu tidak dinamakan berpuasa pada hari itu)”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Maka oleh karena itu juga dimakruhkan hanya berpuasa sehari semata-mata pada hari Ahad karena hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Nasrani. Diriwayatkan oleh An-Nasa‘i bahwa hari-hari yang paling banyak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan puasa ialah hari Sabtu dan Ahad (dengan bergabung), dan baginda bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Sabtu dan Ahad adalah dua hari raya bagi orang-orang musyrik dan aku suka supaya aku menyalahi mereka.” (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/603 dan Tuhfah Al-Muhtaj 3/458)

    Jika dilakukan puasa dua hari tersebut (Sabtu dan Ahad) bersama-sama atau didahului puasa hari Sabtu itu dengan berpuasa pada hari Jumaat atau disambung puasa hari Ahad itu dengan berpuasa pada hari Isnin, maka tidaklah dihukumkan makruh karena sedemikian itu tidak diagungkan oleh mana-mana kaum.

    Dihukumkan makruh berpuasa sehari semata-mata pada tiga hari tersebut (Jumaat, Sabtu dan Ahad) apabila tidak ada sebab lain yang dianjurkan untuk berpuasa. Apabila ada sebab lain yang menganjurkan untuk berpuasa seperti bertepatan hari tersebut dengan puasa hari Arafah, ‘Asyura’ atau hari tersebut bertepatan dengan puasa orang yang melakukan puasa Nabi Daud (berpuasa sehari dan berbuka sehari) atau ia melakukan puasa pada hari tersebut karena puasa qadha atau nazar, tidaklah dihukumkan makruh. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

    Maksudnya: “Jangan kamu mengkhususkan pada malam Jumaat untuk mendirikan sembahyang (malam) daripada malam-malam yang lain, dan jangan kamu mengkhususkan pada hari Jumaat untuk berpuasa daripada hari-hari yang lain kecuali satu puasa yang (kebetulan bertepatan) seorang di antara kamu berpuasa (pada hari itu).” (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/603, Fath Al-‘Allam 4/165 dan Syarh Shahih Muslim 4274)

    (Hadits riwayat Muslim)

    Puasa Sepanjang Tahun  Selain Dua Hari Raya  Dan Hari-Hari Tasyriq

    Adalah makruh hukumnya berpuasa sepanjang tahun selain dua hari raya dan hari-hari Tasyriq bagi sesiapa yang takut akan kemudaratan atau terabai hak sama ada yang wajib atau yang sunat. Diriwayatkan daripada ‘Atha bahwa Al-‘Abbas, seorang ahli syair mengkhabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Maksudnya: “Telah sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya aku terus menerus berpuasa dan mengerjakan sembahyang malam. Sama ada baginda mengutus seseorang kepadaku (untuk berjumpa baginda) atau aku sendiri yang menemui baginda. Maka baginda bersabda: “Benarkah adanya dikhabarkan bahwa engkau berpuasa dan tidak berbuka dan engkau mengerjakan sembahyanag malam dan tidak tidur? Puasalah sehari dan berbukalah sehari, dan dirikanlah sembahyang malam dan tidurlah, sesungguhnya bagi dua matamu ke atasmu mempunyai bahagian hak dan sesungguhnya bagi dirimu dan keluargamu ke atasmu mempunyai bahagian hak” Dia berkata: “Sesungguhnya aku mempunyai kekuatan untuk mengerjakan sedemikian” Baginda bersabda: Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam” Dia berkata: “Bagaimana (puasa Nabi Daud ‘alaihissalam)?” Baginda bersabda: “Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari dan dia tidak lari apabila bertemu musuh (tetap segar dalam menghadapi musuh di medan pertempuran) Dia berkata: “Aku harus bagaimana (dalam hal ini) wahai Nabi Allah?” ‘Atha berkata: “Aku tidak mengetahui bagaimana disebut perihal puasa sepanjang masa”. Nabi bersabda sebanyak dua kali: “Tidak dianggap berpuasa sesiapa yang berpuasa sepanjang masa.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Tetapi bagi sesiapa yang tidak takut akan kemudaratan dan perkara-perkara yang boleh membawa kepada pengabaian hak-hak, tidaklah dihukumkan makruh berpuasa bahkan disunatkan. (Lihat Mugni Al-Muhtaj 1/603 dan Fath Al-Allam 4/165)

    Puasa Yang Diharamkan

    Puasa yang diharamkan itu ialah:

    Puasa pada hari raya Aidilfitri, Aidiladha dan hari-hari Tasyriq

    Adalah diharamkan berpuasa pada hari raya Aidilfitri dan hari raya Aidiladha dan pada hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Zulhijjah). Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegah berpuasa dua hari yaitu hari raya Adha dan hari raya fitri.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Manakala daripada Nubaisyah Al-Hadzali berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari makan dan minum (bukan hari berpuasa).”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Puasa pada hari Syak dan hari-hari separuh yang kedua bulan Sya‘ban

    Adalah haram berpuasa sunat pada hari Syak yaitu pada 30 haribulan Sya‘ban yang tersebar berita di kalangan orang bahwa anak bulan Ramadan telah dilihat, akan tetapi tidak disabitkan oleh hakim (pemerintah) karena tidak dipersaksikan penglihatan anak bulan itu oleh seorang yang adil atau ianya dipersaksikan oleh dua orang kanak-kanak atau beberapa orang perempuan atau seorang hamba atau seorang fasik. Jika tidak ada tersebar berita tersebut maka tidaklah dikatakan pada hari itu adalah hari Syak bahkan ia adalah termasuk hari-hari daripada bulan Sya‘ban. Begitu juga adalah diharamkan berpuasa sunat pada hari-hari separuh yang kedua bulan Sya‘ban (16 hingga 30 Sya‘ban) tanpa ada sebab. Diriwayatkan daripada ‘Ammar bin Yasir berkata: (Lihat I‘anah Ath-Thalibin 2/309 dan Al-Qamus Al-Fiqhi 201)

    Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang syak padanya manusia (hari Syak) maka sesungguhnya dia telah menderhakai Abu Al-Qasim Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Manakala diriwayatkan pula daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Apabila telah masuk separuh bulan Sya‘ban maka janganlah kamu berpuasa.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Jika seseorang itu berpuasa pada hari Syak atau pada separuh kedua bulan Sya‘ban dengan ada sebab seperti puasa qadha, nazar dan kaffarah atau kebetulan bertepatan hari syak itu dengan puasa yang pada adatnya dia berpuasa seperti puasa hari Isnin dan Khamis dan puasa sehari dan berbuka sehari atau dia telah berpuasa pada 15 Sya‘ban dan berterusan puasanya itu tanpa berbuka hingga ke hari Syak, maka baginya dibolehkan berpuasa pada hari Syak dan separuh kedua bulan Sya‘ban itu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: (Lihat I‘anah Ath-Thalibin 2/309 dan Fath Al-‘Allam 4/151-152)

    Maksudnya: “Jangan kamu dahului bulan Ramadan itu dengan berpuasa sehari dan juga dua hari melainkan puasa seseorang yang (kebetulan bertepatan) dia berpuasa (pada adatnya hari itu).

    (Hadits riwayat Muslim)

    Puasa seorang isteri tanpa keizinan suaminya yang berada di dalam negeri

    Adalah haram bagi seorang isteri berpuasa sunat atau puasa qadha muwassa‘ (yang mempunyai masa yang panjang lagi untuk diqadha) tanpa keizinan suaminya yang berada di dalam negeri. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Lihat Tuhfah Al-Muhtaj 3/461)

    Maksudnya: “Janganlah seorang perempuan (isteri) berpuasa sedangkan suami ada (di dalam negeri) melainkan dengan keizinan suami; dan janganlah dia mengizinkan (orang lain) masuk rumah suami sedangkan suami ada, melainkan dengan keizinan suami; dan apa pun yang dia nafkahkan dari hasil kerja suami tanpa perintah suami, maka separuh pahala itu adalah bagi suami.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Demikianlah disebutkan puasa-puasa yang sunat, makruh dan haram. Di antaranya ada yang dihubungkan hukumnya sama ada sunat, makruh dan haram dengan bersempenakan hari-hari tertentu dan ada pula dihubungkan hukumnya sama ada sunat, makruh dan haram dengan keadaan diri orang yang berpuasa. Semoga ia akan menjadi panduan dan rujukan ringkas dalam mengerjakan ibadah puasa-puasa sunat sepanjang tahun.

    —– Selesai —-

     
  • erva kurniawan 1:11 am on 26 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (3/4) 

    puasa-4

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (3/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    PUASA HARI-HARI HITAM

    Puasa hari-hari hitam ialah puasa sunat yang dilakukan pada hari yang ke 28, 29 dan 30 setiap bulan. Dinamakan hari-hari tersebut dengan hari-hari hitam kerana kegelapan malam-malamnya pada waktu itu disebabkan ketiadaan bulan. Maka dengan berpuasa pada tiga hari tersebut itu sebagai permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya menghilangkan kegelapan pada malam-malam itu.

    Adalah wajar juga berpuasa pada hari ke 27 di samping berpuasa pada hari-hari ke 28, 29 dan 30 sebagai langkah berhati-hati dan keluar daripada perselisihan pendapat ulama yang mengatakan bahwa hari yang ke 27 itu adalah awal bagi hari yang ke 28.

    Jika perkiraan bulan hanya 29 hari yaitu tidak genap hingga 30 hari, maka diganti satu hari puasa yang kurang itu pada hari yang pertama bulan yang baru bagi menggenapkan bilangan puasa itu sebanyak tiga hari yang perkiraannya bermula daripada hari yang ke 28.

    PUASA HARI SENIN DAN KAMIS

    Puasa hari Senin dan Kamis ialah puasa yang disunatkan pada hari-hari tersebut di setiap minggu. Adapun hikmat disunatkan berpuasa pada hari Senin dan Kamis itu ialah ada hubungkait dengan amal perbuatan manusia di dalam satu minggu. Diriwayatkan daripada Usamah bin Zaid berkata:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Nabi Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam (melakukan) puasa pada hari Senin dan Kamis, dan ditanya (Baginda) akan (sebab) sedemikian itu, baginda bersabda: “Sesungguhnya amalan manusia itu ditunjukkan (dibentangkan) pada hari Senin dan Kamis.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Dalam hadits yang lain pula, diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Ditunjukkan amalan (anak adam) itu pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka supaya ditunjukkan amalanku itu pada hal aku sedang berpuasa.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Tersebut di dalam Kitab I’anah Ath-Thalibin bahwa berpuasa pada hari Senin adalah lebih afdhal daripada berpuasa pada hari Kamis kerana keistimewaan yang berlaku pada hari tersebut. Di antaranya sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:

    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) akan perihal berpuasa pada hari Senin, Baginda bersabda: “Itulah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan ke atasku (perutusan) pada hari itu.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    PUASA DI BULAN-BULAN HARAM

    Di antara bulan yang disunatkan berpuasa ialah di bulan-bulan haram. Bulan-bulan haram adalah terdiri daripada bulan Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Diriwayatkan daripada Mujibah Al-Bahiliyyah daripada ayahnya atau bapa saudaranya berkata:

    Maksudnya: “Sesungguhnya dia pernah mengadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian setelah dia pergi selepas setahun, dia menghadap Baginda sedang perihal dan bentuk (badannya) sudah berubah. Lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau mengenaliku?” Baginda bersabda: “Siapa awak?” Dia berkata: “Saya adalah Al-Bahili yang datang mengadap engkau pada tahun lalu” Baginda bersabda: “Apa yang telah membuatmu berubah padahal engkau dahulu mempunyai bentuk (badan) yang bagus?” Dia berkata: “Saya tidak makan makanan kecuali di malam hari sejak berpisah denganmu” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kenapa engkau menyiksa dirimu?” Selanjutnya baginda bersabda: “Berpuasalah pada bulan Sabar (Ramadan) dan sehari setiap bulan” Dia berkata: “Tambahkan lagi untukku, sesungguhnya saya masih kuat” Baginda bersabda: “Berpuasalah dua hari (setiap bulan)” Dia berkata: “Tambahkan lagi untukku” Baginda bersabda: “Berpuasalah tiga hari (setiap bulan)” Dia berkata: “Tambahkan lagi untukku” Baginda bersabda: “Berpuasalah pada bulan-bulan haram (Zulkaedah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab) dan tinggalkanlah! Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah! Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah! Sambil baginda bersabda itu baginda memberi isyarat dengan tiga jari, digenggamnya keras kemudian dilepaskannya.”

    (Hadits riwayat Abu Daud)

    Berkata Imam Nawawi: “Sesungguhnya Rasulullah memerintahkan meninggalkan (setelah tiga hari) kerana menjadi kesusahan ke atasnya memperbanyakkan puasa sebagaimana tersebut di awal hadits. Adapun bagi sesiapa yang tidak menjadi kesusahan ke atasnya, maka berpuasa seluruhnya (di bulan-bulan haram) adalah satu fadhilat.” (Lihat Kitab Al-Majmu’ 6/438, I’anah Ath-Thalibin 2/307)

    Dinamakan bulan-bulan ini dengan nama bulan-bulan haram kerana dahulu orang-orang Arab menghormati dan mengagungkannya serta mengharamkan di dalam bulan-bulan tersebut pembunuhan sehinggakan jika salah seorang daripada mereka bertemu orang yang telah membunuh bapanya atau anaknya atau saudaranya di bulan-bulan ini, orang yang membunuh itu tidak akan diganggu.

    Adapun bulan yang terlebih afdhal untuk mengerjakan puasa di antara bulan-bulan haram itu ialah bulan Muharram. Ini adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

    Maksudnya: Puasa yang afdhal sekali selepas puasa di bulan Ramadan ialah (puasa) di bulan Allah yaitu bulan Muharram, dan sembahyang yang afdhal sekali selepas sembahyang fardhu ialah sembahyang sunat malam.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Adapun jawaban yang disebutkan oleh para ulama, kenapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak melakukan puasa-puasa sunat di bulan Sya’ban daripada bulan Muharram sedangkan bulan Muharram adalah bulan yang lebih afdhal untuk mengerjakan puasa selepas bulan Ramadan sebagaimana yang tersebut di dalam hadits, ialah:

    1. Kemungkinan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui kelebihan bulan Muharram itu ketika di akhir hayat baginda dan tidak sempat mengerjakannya.
    2. Kemungkinan kebetulan pada waktu itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendapat keuzuran daripada musafir atau sakit atau sebagainya yang menghalang baginda daripada memperbanyakkan puasa di bulan Muharram itu. (Lihat Kitab Al-Majmu’ 6/439 dan Syarh Shahih Muslim 4/295)

    PUASA DI BULAN SYAABAN

    Adalah disunatkan berpuasa di bulan Sya’ban sebagaimana yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sehingga kami mengatakan baginda tidak berbuka, dan baginda berbuka sehingga kami mengatakan baginda tidak berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyempurnakan puasa satu bulan kecuali pada bulan Ramadan dan saya tidak pernah melihat baginda berpuasa lebih banyak daripadanya pada bulan Sya’ban.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyakkan berpuasa pada bulan ini adalah disebabkan oleh beberapa perkara sebagaimana yang diriwayatkan daripada Usamah bin Zaid berkata:

    Maksudnya: “Wahai Rasulullah! Aku belum pernah melihat engkau berpuasa satu bulan daripada bulan-bulan sebagaimana (banyaknya) engkau berpuasa di bulan Sya’ban” Baginda bersabda: “Sedemikian itu kerana bulan Sya’ban, bulan yang manusia lalai (kerana terletak) di antara bulan Rajab dan bulan Ramadan, dan Ia adalah bulan dimana diangkat padanya amalan-amalan manusia kepada Allah Rabbul ‘Alamin, maka aku suka supaya diangkat amalanku sedang aku di dalam keadaan berpuasa.”

    (Hadits riwayat An-Nasa’i)

    Bersambung

     

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 25 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (2/4) 

    puasa 4Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (2/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa hari ‘Asyura’, Tasu’a’ dan kesebelas Muharram

    Puasa hari ‘Asyura’ ialah puasa sunat pada hari kesepuluh bulan Muharram.

    Diriwayatkan daripada Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu ‘anhuma berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Ini adalah hari ‘Ayura’ dan tidak diwajibkan ke atas kamu berpuasa sedangkan aku berpuasa. Maka barangsiapa yang hendak berpuasa maka berpuasalah dia dan barangsiapa mahu (tidak berpuasa) maka berbukalah dia (boleh tidak berpuasa).” (Hadits riwayat Bukhari) Hikmat berpuasa pada hari ‘Asyura’ sebagaimana yang diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Maksudnya: “(Tatkala) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Madinah, baginda melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’. Baginda bersabda: “Apakah ini?” Mereka menjawab: “Hari yang baik, ini adalah hari yang mana Allah menyelamatkan Bani Israil daripada musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu” Nabi bersabda: “Aku lebih berhak dengan Musa daripada kamu” Lalu Baginda berpuasa dan memerintahkan berpuasa (pada hari itu.)” (Hadits riwayat Bukhari) Kelebihan berpuasa di hari ‘Asyura’ sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:

    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang berpuasa pada hari ‘Asyura’? Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu.” (Hadits riwayat Muslim) Adalah disunatkan juga di samping berpuasa pada hari ‘Asyura’, berpuasa pada hari Tasu’a’ iaitu hari yang kesembilan bulan Muharram berdasarkan riwayat daripada Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata:

    Maksudnya: “Dahulu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan Baginda memerintahkan (para sahabatnya) untuk melakukan puasa itu, mereka berkata: “Wahai Rasulullah! (Bukankah) sesungguhnya hari ‘Asyura’ itu hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila pada tahun yang akan datang, insya Allah kita akan berpuasa pada hari yang kesembilan” Berkata Abdullah bin Abbas: “Belum sempat menjelang tahun hadapan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah pun wafat.” (Hadits riwayat Muslim) Para ulama menyebutkan bahawa hikmat disunatkan berpuasa pada hari Tasu’a’ (sembilan Muharram) itu dari berbagai-bagai aspek:

    1. Bagi menyalahi atau membezakan amalam orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura’ (Sepuluh Muharram) sahaja. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Berpuasalah kamu pada hari ‘Asyura’ dan buatlah perbezaan padanya (dari) orang Yahudi (dengan) berpuasa sehari sebelumnya atau sehari selepasnya.” (Hadits riwayat Ahmad)

    1. Bagi maksud berhati-hati berpuasa pada hari ‘Asyura’ kerana kemungkinan berlaku kesilapan kekurangan dalam pengiraan anak bulan. Maka dengan itu hari kesembilan Muharram itu dalam pengiraan adalah hari yang kesepuluh Muharram yang sebenarnya.
    2. Bagi maksud menyambung puasa hari ‘Asyura’ dengan satu hari puasa yang lain kerana tegahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa satu hari satu-satunya sahaja seperti berpuasa pada hari Jumaat. Walaupun begitu, tidaklah menjadi apa-apa jika hanya berpuasa sehari sahaja pada hari ‘Asyura’. (lihat I’anah Ath-Thalibin 2/301) Oleh kerana itu disunatkan juga, jika berpuasa pada hari ‘Asyura’ tanpa berpuasa pada hari Tasu’a’, supaya berpuasa pada hari kesebelas Muharram. Bahkan Imam Syafi’e Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan di dalam Kitab Al-Umm dan Al-Imla’ disunatkan berpuasa tiga hari tersebut iaitu hari kesembilan (Tasu’a’), kesepuluh (‘Asyura’) dan kesebelas bulan Muharram.

    Puasa Nabi Daud

    Puasa Nabi Daud ialah puasa yang dikerjakan berselang seling dengan berpuasa sehari dan berbuka sehari. Ia adalah puasa sunat yang afdhal sekali di antara puasa-puasa sunat sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/604)

    Maksudnya: “Sembahyang yang paling disukai oleh Allah ialah sembahyang Nabi Daud ‘Alaihissalam dan puasa yang paling disukai oleh Allah ialah puasa Nabi Daud. Adalah Baginda (Nabi Daud) itu tidur di separuh malam, mendirikan ibadat sembahyang di sepertiga malam, tidur (kembali) di seperenam malam, berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (Hadits riwayat Bukhari) Dalam sebuah hadith lain yang bersumber daripada Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma juga bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

    Maksudnya: “Maka berpuasalah engkau (Abdullah bin ‘Amr) sehari dan berbuka sehari (berikutnya), yang sedemikian itu adalah puasa Nabi Daud ‘Alaihissalam dan ia adalah puasa sunat yang terafdhal sekali. Maka aku berkata (Abdullah bin ‘Amr): “Sesungguhnya aku mampu lebih dari sedemikian itu” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada yang lebih afdhal dari yang sedemikian itu.” (Hadits riwayat Bukhari)

    Puasa hari-hari putih

    Puasa hari putih itu ialah puasa sunat sebanyak tiga hari di setiap bulan. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata:

    Maksudnya: “Telah berwasiat kepada ku Khalili Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tiga perkara, berpuasa tiga hari di setiap bulan, sembahyang Dhuha dua rakaat dan sembahyang Witir sebelum aku tidur.” (Hadits riwayat Bukhari)

    Puasa Putih ini dilakukan pada hari ke 13, 14 dan 15 di setiap bulan dan dinamakan hari-hari tersebut hari putih kerana bulan pada malam itu penuhh dan putih terang. Daripada Abu Dzarr Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Wahai Abu Dzarr! Apabila engkau berpuasa tiga hari daripada sebulan, maka berpuasalah pada 13, 14 dan 15 haribulan.” (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Adalah wajar juga berpuasa pada hari ke 12 di samping berpuasa pada hari-hari yang ke 13, 14, dan 15 sebagai langkah berhati-hati dan keluar daripada perselisihan pendapat ulama yang mengatakan bahawa hari yang ke 12 itu adalah awal bagi hari yang ke 13. Dikecualikan berpuasa pada hari yang ke 13 Zulhijjah kerana ia adalah terdiri daripada hari-hari Tasyriq yang diharamkan berpuasa dan digantikan hari tersebut pada hari ke 16 Zulhijjah . Adapun kelebihan berpuasa di hari-hari putih sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abu Dzarr Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Barangsiapa berpuasa daripada tiap-tiap bulan sebanyak tiga hari, maka sedemikian itu (menyamai) puasa selama setahun.” (Hadits riwayat Tirmidzi) Ini adalah berdasarkan bahawa satu kebajikan itu menyamai sepuluh kebajikan. Dengan berpuasa 3 hari setiap bulan maka ia sebanding berpuasa sebanyak 30 hari dan begitulah seterusnya.

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:43 am on 24 July 2016 Permalink | Balas  

    Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (1/4) 

    puasa 4Puasa-Puasa Sunat Dan Hari-Hari Yang Diharamkan Dan Dimakruhkan Berpuasa (1/4)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu ‘Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa adalah ibadat yang berkesan sekali dalam mengendalikan hawa nafsu sekaligus dapat menyinari hati dan mendidik seluruh anggota sehingga ke martabat taqwa, kerana puasa yang sebenar-benarnya bukan hanya menahan perut dan kemaluan serta mengecap keinginan syahwat bahkan mengekang pancaindera daripada melakukan perkara-perkara dosa dan haram. Akhirnya berpuasa hati dari segala cita-cita yang kotor dan pemikiran keduniaan yang boleh memesongkan perhatian selain Allah.

    Dari segi ganjaran puasa, bahawa tidak ada satu amal ibadat pun yang tidak ditentukan dan dibataskan ganjaran pahalanya selain dari ibadat puasa. Sesungguhnya ganjaran pahala orang yang melakukan ibadat puasa tidak ditetapkan dengan satu jumlah dan tidak pula dihadkan dengan satu had tertentu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Segala amal kebajikan anak Adam itu dilipat-gandakan pahalanya kepada sepuluh hinggalah ke 700 kali ganda. Allah berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku memberikan balasan (pahala) kepadanya, (kerana) dia (orang yang berpuasa) telah meniggalkan syahwat dan makan minumnya kerana Aku.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Hadits ini menerangkan bahawa segala amalan manusia itu dihadkan atau dibatasi oleh Allah ganjarannya daripada sepuluh sampai 700 kali ganda, tetapi tentang puasa tidaklah sedemikian. Dalam erti kata lain tidak dibataskan ganjarannya oleh angka atau jumlah yang tertentu, bahkan terserah kepada Allah yang Maha Kaya memberikan pembalasan yang setimpal dengannya. Ini tidak lain tidak bukan adalah menggambarkan bahawa betapa besarnya dan istimewanya ibadat puasa di sisi Allah.

    Lebih daripada itu lagi, Allah Subhanahu wa ta’ala menyediakan sebuah pintu di dalam Syurga yang dikhususkanNya bagi orang yang berpuasa untuk memasukinya di hari Kiamat nanti sebagaimana diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Sesungguhnya di dalam syurga terdapat satu pintu yang disebut Ar-Rayyan yang mana pada hari Kiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya (dan) tidak seorangpun selain mereka memasukinya. Dikatakan: “Dimanakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka pun berdiri (untuk memasukinya), tidak ada seorangpun selain mereka yang memasukinya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk dari padanya.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa sehari pada jalan Allah nescaya Allah akan menjauhkan mukanya dari api neraka (sejauh perjalanan) 70 tahun.”

    (Hadits riwayat Bukhari)

    Di dalam Islam di samping puasa fardhu yang diwajibkan di bulan Ramadan, ada disyariatkan juga puasa-puasa sunat yang dikerjakan di luar bulan Ramadan. Puasa sunat mempunyai beberapa perbezaan daripada puasa fardhu yang dikerjakan di bulan Ramadan dari berbagai-bagai segi. Di antaranya:

    Orang yang dalam mengerjakan puasa sunat atau lain-lain perkara yang sunat seperti sembahyang kecuali haji dan umrah adalah harus baginya memutuskan (tidak wajib menyempurnakan) puasanya itu berdasarkan sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Orang yang dalam berpuasa sunat itu adalah raja bagi dirinya, jika dia mahu dia berpuasa dan jika dia mahu dia berbuka.”

    (Hadits riwayat Imam Ahmad)

    Akan tetapi adalah dihukumkan makruh jika dia memutuskan puasa sunatnya itu tanpa ada sesuatu keuzuran bagi keluar daripada perselisihan pendapat yang mengatakan wajib disempurnakan apabila seorang itu telah masuk mengerjakan puasa sunat berdasarkan zahir firman Allah di dalam surah Muhammad ayat 33:

    Tafsirnya: “Dan janganlah kamu batalkan amalan-amalan kamu.”

    Jika dia keluar dari puasanya itu dengan sebab ada sesuatu keuzuran seperti menolong tetamu yang merasa keberatan untuk dijamu makan secara bersendirian maka tidaklah dihukumkan makruh bahkan disunatkan baginya berbuka. Namun berpuasa adalah lebih afdhal jika tidak ada keberatan atau kesukaran dari mana-mana pihak untuk menjamu makanan. Maka dengan itu, orang yang berbuka puasa tanpa ada keuzuran, tidak ada pahala bagi puasanya itu manakala orang yang berbuka puasa kerana ada sebab keuzuran dikurniakan pahala bagi puasanya itu walaupun ianya tidak sempurna dilakukan. (Lihat Tuhfah Al-Muhtaj 3/460)

    Adalah disunatkan juga bagi orang yang mengerjakan puasa sunat jika dia memutuskannya sama ada disebabkan keuzuran atau pun tidak, supaya mengqadha puasanya itu sebagai mengambil kira pendapat yang mengatakan wajib mengqadhanya kerana menyempurnakannya adalah wajib disisi mereka iaitu imam-imam yang tiga (Imam Hanafi, Maliki dan Hambali Rahimahumullah). (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/604 dan Fath Al-’Allam 4/167)

    1. Tidak disyaratkan berniat di malam hari dalam mengerjakan puasa-puasa sunat kerana akhir waktu untuk berniat bagi puasa-puasa sunat itu adalah sebelum tergelincir matahari (waktu zuhur) berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:

    Maksudnya: “Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku pada satu hari: “Wahai Aisyah! Adakah di sisi kamu sesuatu (untuk dimakan)?” Aisyah berkata, aku berkata: “Wahai Rasulullah! Tidak ada di sisi kita sesuatu pun (untuk dimakan)” Baginda bersabda: “(Jika begitu) maka aku berpuasa.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Begitu juga tidak disyaratkan dalam mengerjakan puasa-puasa sunat di dalam berniat menta’yin (menentukan jenis puasa seperti puasa hari isnin, Arafah, ‘Asyura’ dan sebagainya). Ia sah dilakukan dengan berniat mutlaq sahaja seperti katanya:

    Artinya: “Sahaja aku berpuasa”

    Imam Nawawi berkata: “Adalah wajar supaya disyaratkan ta’yin di dalam puasa yang beriringan seperti puasa hari Arafah, ‘Asyura’, puasa hari-hari Putih, Enam Syawal dan sebagainya sebagaimana disyaratkan sedemikian itu di dalam Sembahyang sunat rawatib.”

    (Lihat Mughni Al-Muhtaj 1/572, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 28/87-88 dan I’anah Ath-Thalibin 2/252)

    PUASA-PUASA SUNAT ITU IALAH : PUASA ENAM

    Puasa enam ialah puasa sunat yang dikerjakan sebanyak enam hari di dalam bulan Syawal. Ia boleh dikerjakan berselang seli di dalam bulan Syawal, tetapi mengerjakannya berturut-turut selepas hari raya adalah terlebih afdhal. Diriwayatkan daripada Abu Ayyub Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, adalah (puasanya itu) seperti puasa sepanjang tahun.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Mengerjakan puasa sunat sebanyak enam hari di bulan Syawal di samping mengerjakan puasa fardhu di bulan Ramadan diibaratkan seperti berpuasa di sepanjang tahun berdasarkan perkiraan setiap kebajikan itu dibalas dengan sepuluh kali ganda. Oleh itu disamakan berpuasa di bulan Ramadan selama 29 atau 30 hari dengan 300 hari atau sepuluh bulan berpuasa dan puasa enam di bulan Syawal itu disamakan dengan 60 hari atau dua bulan berpuasa. Maka dengan itu genaplah ia setahun. Ini diperkuatkan lagi dengan sebuah hadits riwayat daripada Tsauban bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Berpuasa sebulan (di bulan Ramadan itu disamakan) dengan sepuluh bulan berpuasa dan berpuasa enam hari selepasnya (dibulan Syawal disamakan) dengan dua bulan berpuasa, maka yang sedemikian itu (jika dicampurkan menjadi) genap setahun.”

    (Hadits riwayat Ad-Darimi)

    PUASA HARI ARAFAH

    Puasa hari Arafah ialah puasa sunat pada hari kesembilan Zulhijjah yang disunatkan kepada orang-orang yang tidak melakukan ibadat haji. Kelebihan berpuasa pada hari itu menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lalu dan dosa setahun yang akan datang sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Qatadah Al-Anshari berkata:

    Maksudnya: “Dan ditanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang berpuasa di hari Arafah? Maka Baginda bersabda: “Ia menebus dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Manakala bagi orang-orang yang melakukan ibadat haji pula adalah disunatkan untuk tidak berpuasa pada hari Arafah dan adalah menyalahi perkara yang utama jika mereka berpuasa juga pada hari itu berdasarkan apa yang diriwayatkan daripada Ummu Al-Fadhl binte Al-Harits berkata:

    Maksudnya: “Bahawa beberapa orang di sisinya di hari Arafah membicarakan puasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (di hari Arafah). Sebahagian mereka ada yang mengatakan bahawa Baginda berpuasa dan sebahagian mereka ada yang mengatakan bahawa Baginda tidak berpuasa. Maka aku hantar kepada Baginda segelas susu yang pada ketika itu Baginda berada di atas untanya, lalu Baginda meminumnya.”

    (Hadits riwayat Muslim)

    Disunatkan juga berpuasa pada hari ke 8 Zulhijjah di samping berpuasa pada hari Arafah (9 Zulhijjah) sebagai langkah berhati-hati yang mana kemungkinan pada hari ke 8 Zulhijjah itu adalah hari yang ke 9 Zulhijjah (Hari Arafah). Bahkan adalah disunatkan berpuasa lapan hari iaitu dari hari yang pertama bulan Zulhijjah hingga ke hari yang ke lapan sama ada bagi orang yang mengerjakan haji atau tidak mengerjakan haji, bersama-sama dengan hari Arafah berdasarkan hadits yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    Maksudnya: “Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai oleh Allah untuk dilakukan ibadah kepadaNya daripada sepuluh hari di bulan Zulhijjah, dimana satu hari berpuasa daripadanya (sebanding) dengan puasa satu tahun dan mendirikan ibadah satu malam daripadanya (sebanding) dengan mendirikan ibadah pada lailatulqadar.”

    (Hadits riwayat Tirmidzi)

    Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan daripada Hunaidah bin Khalid, daripada isterinya, daripada setengah isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    Maksudnya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah melakukan puasa sembilan hari di awal bulan Zulhijjah, di hari ‘Asyura’ dan tiga hari di setiap bulan iaitu hari Isnin yang pertama dan dua hari Khamis yang berikutnya.”

    (Hadits riwayat An-Nasa’i)

    Bersambung

     
  • erva kurniawan 1:16 am on 23 July 2016 Permalink | Balas  

    Etika Kita Singgah Sejenak 

    bekerjaEtika Kita Singgah Sejenak

    KH Abdullah Gymnastiar

    Bayangkanlah bila suatu ketika ada seseorang yang menjan- jikan hadiah berupa sebuah rumah mewah lengkap dengan isinya. Begitu indah dan sempurnanya rumah itu, sehingga baru membayangkannya saja Anda sudah merasakan suatu kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri. Rumah itu terletak di kota “A” dan anda diminta untuk pergi sendiri ke sana. Diberinya anda sejumlah ongkos untuk bekal selama perjalanan hingga sampai tujuan. Tetapi di tengah perjalanan nanti Anda diminta singgah terlebih dahulu disebuah kampung. Ya, sekedar singgah sejenak!

    Sungguh termasuk orang yang malang apabila ketika sampai di kampung tersebut Anda malah terpana dan lalu menganggap kampung tersebut teramat indah. Melihat gubuk disangka istana. Melihat kolam kecil disangka danau. Bahkan melihat kue serabi anda sangka martabak spesial. Pendek kata, mata dan penilaian Anda menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang menerpa. Saking merasa senangnya Anda dengan kampung itu, sampai- sampai lupa dengan pesan semula bahwa anda hanya disuruh singgah sejenak saja. Anda tinggal berlama-lama di sana dan tentu saja ongkos pemberian yang cukup untuk sampai tujuan itu malah anda habiskan di kampung itu. Akibatnya, tidak usah heran ketika yang menyuruh dan memberi ongkos akan murka tatkala mengetahui Anda ternyata tidak pergi ke kota yang diminta.

    Nah, ketahuilah bahwa kota “A” itu tiada lain adalah akhirat, sedangkan kampung yang anda hanya disuruh singgah sejenak itu tak lain pula adalah kampung dunia ini.

    Salahkah apabila Dia Yang Mahabaik itu, yang telah menjajikan surga Jannatun Na’im – padahal apapun yang dijanjikanNya pasti ditepati dan tidak akan meleset sedikitpun – dan tak lupa pula memberi bekal perjalanan yang cukup berupa karunia nikmat rizki, tidak menyembunyikan “kekecewaannya” melihat tingkah laku kita yang tak pandai manjaga amanah, dengan berfirman, “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai?” (Q.S. Ar Ruum 30: 7)

    “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui,” demikian firmanNya pula. (Q.S. Al Ankabuut 29: 64)

    Kebanyakan di antara kita ternyata memang gemar bertindak yang “mengecewakan” seperti itu. Kampung dunia ini sebenarnya tidak ada apa-apanya, namun sebagian besar orang ternyata terpedaya oleh keindahan fatamorgananya. Padahal, semua yang dititipkan Alloh kepada kita, baik berupa otak, tenaga, harta, waktu, dan sebagainya, itu semua sebenarnya bukan untuk kampung dunia ini karena ia hanyalah tempat mampir atau singgah sejenak saja.

    Dunia tak lebih sekedar tempat transit belaka kendatipun untuk ini Alloh Azza wa Jalla pasti mencukupi kita dengan rizkinya. Dengan catatan, sepanjang “ongkos” tersebut tidak dhamburkan sia-sia. Alloh memampirkan kita di dunia ini seraya tahu persis akan segala apa yang kita butuhkan, lebih tahu daripada apa yang sebenarnya kita perlukan, kalau ongkos yang ada itu kita jadikan betul-betul untuk bekal kepulangan nanti, maka subhanallah, kita akan kaget bahwa betapa Alloh akan mencukupi kita dengan limpahan karunianya.

    Akan tetapi, sayang sebagian besar orang tidak mengerti bahwa semua yang dititipkan Alloh itu sebenarnya untuk bekal pulang, sehingga seluruh waktunya habis tandas hanya untuk mengejar-ngejar segala hal yang bersifat duniawi. Padahal tidak akan kemana-mana dunia ini. Bukankah ketika masih berada di rahim bundapun kita tetap diberi dunia (rizki) padahal toh kita tidak berdoa, tidak shalat tidak ikhtiar ke mana pun.

    Kita memang disuruh menyempurnakan ikhtiar, tetapi bukan semata-mata untuk mencari dunia. Ikhtiar kita secara sempurna pada hakikatnya untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Jadi, jaminan dari Alloh untuk kehidupan dunia ini sebenarnya ditujukan kepada orang yang bersungguh-sungguh menyempurnakan ikhtiarnya.

    Untuk bekal kehidupan dunia ini, rejeki itu oleh Alloh dibiarkan tergantung. Lalu, Dia seolah-olah berfirman, “Ini rejekimu, kalau engkau ikhtiar, akan kau dapatkan apa yang telah ditetapkan bagimu. Kalau ikhtiarnya di jalanKu, maka tidak hanya rejekimu yang kau dapati, tetapi pahalapun akan engkau peroleh. Itulah keberkatan untukmu; di dunia ternikmati, di akhiratpun jadi manfaat. Sebaliknya, bila ikhtiarmu itu di jalan yang Aku murkai, yakni niat maupun caranya tidak benar, maka tetaplah akan kau dapati apa yang telah menjadi bagianmu, hanya, berubah statusnya menjadi haram. Rejekinya tetap didapat tetapi tidak mengandung manfaat dan keberkahan.

    Memang, ada sebagian orang yang selama hidupnya begitu sibuknya banting tulang, seakan-akan takut tidak kebagian makan. Apa yang telah diperolehnya dikumpulkannya dengan seksama demi agar anak-anaknya terjamin masa depannya.

    Ada juga orang yang ketika hidup ini teramat sibuk merindukan penghargaan sehingga dia capek menata rumah, capek membeli ini itu, capek mematut-matut diri dengan motivasi semata-mata ingin dihargai orang. Disisi lain ada juga orang yang hidupnya hanya mencari kepuasan, sehingga uang yang telah dikumpul-kumpulkannya dipakainya untuk pergi melancong kemana saja yang dia suka.

    Bagi orang yang tahu hakikat kehidupan ini, maka pastilah yang dicarinya itu bukan dunia, melainkan Yang Memiliki Dunia! Kalau orang lain bekerja banting tulang untuk mencari uang, maka kita bekerja demi mencari Yang Membagikan Uang. Kalau orang lain belajar ingin mencari ilmu, maka kita belajar karena mencari Yang Memberi Ilmu. Kalau orang lain sibuk mengejar prestasi demi ingin dihargai dan dipuji sesama, maka kitapun sibuk mengejar prestasi demi mendapatkan penghargaan dan pujian dari yang Yang Maha Menggerakkan siapapun yang menghargai.

    Jadi jelas perbedaannya, Bagi orang yang tujuannya dunia, pasti kesibukannya hanya sebatas ingin mendapatkan itu saja. Sedangkan bagi yang tahu ilmunya, maka yang dicari itu langsung tembus kepada pemilik dan penguasa segala-galanya. Bagi sebagian orang, tatkala membutuhkan uang, tetapi uang itu tidak didapatkan, jelas yang muncul adalah rasa kecewa. Sebaliknya bagi kita, saat membutuhkan uang, maka kita berikhtiar sekuat tenaga bukan untuk mengejar uang semata, malainkan Allohlah yang kita kejar. Soal dapat atau tidak dapat tak ada masalah karena Alloh tidak akan pernah lupa memberikan karuniaNya. Kesibukan kita berikhtiar pasti sudah dicatat oleh Alloh. Tidak ada yang rugi, tidak ada pula yang gagal.

    Kalau orang bekerja karena ingin dihargai, maka bagi kita semua itu tidak ada apa-apanya karena Allohlah sebagai penguasa alam semesta yang menjadi tujuan segala perbuatan kita. Kadang-kadang penghargaan manusia justeru menjadi ujian bagi kita. Sebab manakala seseorang memuji kita, maka hakikatnya bukanlah karena kita layak dipuji, melainkan karena Alloh saja yang menutupi segala aib dan keburukan kita, sehingga orang menyangka kita ini layak dipuji.

    Bagi orang yang mengetahui rahasia di balik suatu kejadian, datangnya pujian itu akan membuatnya tambah malu karena itu berarti Alloh memperlihatkan sesuatu, bahkan tidak jarang pujian itu ternyata lebih baik dari kenyataan sebenarnya yang ada pada diri kita. Kalau kita mau jujur, sungguh tidak pantas dan tidak cocok pujian itu dialamatkan kepada kita. Karenanya, janganlah lekas terpana oleh pujian manusia .

    Mengapa ada orang yang bisa mendaki gunung walaupun dengan bekal dan alat seadanya? Mengapa ada orang yang berani menyeberangi lautan walaupun hanya dengan menggunakan perahu sederhana? Jawabnya, karena kekuatan terbesar adalah motivasinya. Demikian halnya kalau motivasi kita hanya sebatas dunia ini, maka tidak usah heran kalau dia akan mudah terpedaya. Akan tetapi, tidak akan pernah lelah kita mencari apapun juga karena yang kita tuju adalah Dia Yang Maha Perkasa!

    Walhasil, tampaknya wajib bagi siapapun menyadari bahwa dunia ini hanya tempat singgah sejenak belaka, kalaulah Alloh berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (Kebahagiaan) negeri akhirat, (tetapi) janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashas 28: 77).

    Maka itu semata-mata dimaksudkan agar kita pandai mensyukuri apapun yang telah dianugerahkan Alloh kepada kita selama hidup didunia ini. Adapun kebahagiaan dan kenikmatan yang kekal dan hakiki, itulah yang akan kita dapati di akhirat.

     
  • erva kurniawan 1:08 am on 22 July 2016 Permalink | Balas  

    Sombong Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan 

    sombongSombong Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan

    Sombong atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar -ketiganya hampir semakna-, merupakan suatu kondisi seseorang di mana ia merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh i’jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.

    Maka tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempur-naan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.

    Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa,  yaitu:

    1. Sombong dengan Ilmu

    Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, namun malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasakan dirinyalah yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka. Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

    Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya:

    Pertama, Ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukanlah ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan semakin membuat ia kenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya. Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong, sebagai-mana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala ,

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Faathir : 28)

    Ke dua, Al-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai    orang alim yang tak terkalahkan ilmu-nya. Selayaknya ia lebih dahulu memperbaiki hati dan jiwanya, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu menjadi benar dan lurus. Karena merupakan karakteristik khas dari ilmu, bahwasanya ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan dengan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.

    Orang, apabila telah hobi mengumbar omongan, bantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.

    1. Sombong dengan Amal Ibadah

    Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki, -atau paling tidak membuat kesan-, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.

    Sebagian ahli ibadah apabila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka terkadang mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu atau, “Kamu pasti masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan-ucapan tersebut dimurkai Allah, yang justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka.

    1. Sombong dengan Keturunan (Nasab)

    Barangsiapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu.

    Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah berikut ini,

    “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). (QS. 32:7-8)

    Inilah nasab manusia yang sebe-narnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang terdekat ada-lah nuthfah alias air mani. Jika demi-kian keadaannya, maka tak selayaknya seseorang sombong dan merasa tinggi dengan nasabnya.

    1. Sombong dengan Kecantikan/Ketampanan

    Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama.

    Seharusnya orang yang sombong dengan kecantikannya ini banyak menengok ke dalam hatinya. Untuk apa anggota tubuh yang indah, namun hati dan perangai buruk, padahal tubuh secantik apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak tersisa.

    Belum lagi kalau orang mau merenungi, bahwa selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak untuk mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya dengan mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang dapat menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya  Allah rasa sombong yang ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.

    1. Sombong dengan Harta

    Yaitu dengan memandang rendah orang fakir dan bersikap congkak terhadap mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor luar, dalam arti bukan merupa-kan potensi pribadi orang yang bersang-kutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga apabila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.

    1. Sombong dengan Kekuatan dan Kegagahan

    Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.

    Orang yang mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.

    1. Sombong dengan Banyaknya Keluarga, Kerabat atau Pengikut.

    Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Dan setiap  orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagai-mana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebih-an dirinya?

    Pengaruh Kesombongan

    Kesombongan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan, dan pengaruh-pengaruh tersebut tampak dalam gerak-gerik anggota badan, cara berjalan, berdiri, duduk, berbicara dan diamnya seseorang.

    Di antara pengaruh-pengaruh yang tampak dari sikap kesombongan adalah:

    1. Orang yang sombong kalau toh mau berjalan bersama-sama orang lain, maka ia selalu minta paling depan dan semua orang harus ada di belakangnya. Konon Abdur Rahman bin Aufz, kalau sedang berjalan bersama para pembantunya, maka tidak ketahuan ada disebelah mana, ia tidak pernah menonjolkan diri harus berada paling depan supaya semua orang melihatnya.
    2. Orang sombong jika berada di suatu majlis, biasanya minta diistimewakan, diperlakukan lain daripada yang lain. Kemudian ia akan sangat senang kalau semua orang mendengarkan yang ia katakan dan sangat benci kalau ada orang lain mengalihkan pembicaraan kepada selainnya. Maunya semua orang harus membenarkan dan menerima apa yang ia katakan.
    3. Termasuk pengaruh sifat sombong adalah memalingkan muka dari sesama muslim, atau melihat dengan pandangan sinis dan merendahkan.
    4. Kesombongan juga berpengaruh bagi seseorang dalam ucapan, gaya bicara dan nada intonasinya. Bahkan terkadang mencerminkan ketidaksopanan, misalnya seorang murid atau mahasiswa menghardik gurunya, karena ia merasa anak seorang pejabat atau tokoh.
    5. Kesombongan juga akan mempe-ngaruhi gaya jalan seseorang, misalnya sambil membusungkan dadanya, atau berjalan dengan dibuat-buat agar menarik perhatian orang lain. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah berfirman,

    “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. 17:37)

    1. Kesombongan juga berpengaruh di dalam kehidupan rumah tangga. Biasanya orang yang dalam hatinya ada kesombongan akan enggan mengerjakan pekerjaan rumah, walau hanya sepele. Hal ini berbeda dengan sikap tawadhu’ yang diajarkan oleh Rasulullah n. Aisyah x meriwayatkan, bahwa Rasul Allah Subhannahu wa Ta’ala biasa membantu istri beliau.
    2. Merupakan pengaruh kesombongan juga, bahwasanya ia membuat seseorang enggan membawakan barang atau sesuatu ke rumahnya, meskipun bukan hal yang berat, misalnya saja barang belanjaan. Ali RA berkata, “Seseorang tidak akan berkurang kesempurnaannya dengan membawakan sesuatu untuk keluarganya.”
    3. Kesombongan juga mempengaruhi gaya berpakaian seseorang, yaitu ia berpakaian dengan tujuan pamer dan supaya terkenal, atau dengan pakaian yang melanggar ketentuan syar’i, seperti isbal (memanjangkan celana di bawah mata kaki) bagi laki-laki.
    4. Orang yang sombong biasanya sangat senang apabila ia datang, lalu orang-orang berdiri untuk menghormat-nya. Padahal para shahabat apabila datang Rasulullahsaw kepada mereka, maka mereka tidak berdiri untuk beliau, hal ini dikarenakan mereka tahu, bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam membenci hal itu.
    5. Orang yang dalam hatinya ada kesombongan tidak akan mau mengunjungi orang lain, tidak mau mengucapkan salam lebih dahulu, minta supaya diprioritaskan dan tidak mau mendahulukan kepentingan orang lain.
    6. Kesombongan juga akan mengakibatkan seseorang tidak memandang adanya hak orang lain pada dirinya. Sementara itu ia beranggapan, bahwa ia memiliki hak yang banyak atas selainnya.

    Diringkas dari : Kutaib, “Al-Kibr”, Zahir bin Muhammad Asy-Syahri. (Sumber Al-sofwah)

     
  • erva kurniawan 10:07 am on 21 July 2016 Permalink | Balas  

    Sepuluh Peringatan Bagi Wanita Salehah 

    wanita sholehahSepuluh Peringatan Bagi Wanita Salehah

    Bismillahir rahmanir rahiem

    1. Laknat Allah ke atas wanita yang marah kepada suaminya. (HR Dailami)
    2. Seorang wanita yang mati sedangkan suaminya ridha kepadanya, maka dia akan memasuki sorga. (HR Ibnu Majah)
    3. Seorang wanita yang meminta kepada suaminya untuk diceraikannya, maka diharamkan bau sorga baginya. (HR Tirmizi)
    4. Se-baik2 wanita adalah dia yang membuat suaminya merasa bahagia apabila memandangnya; apabila menyuruhnya dia mentaatinya; dan dia tidak memusuhinya dalam perkara dirinya dan hartanya dengan melakukan apa yang tidak disukainya. (HR Baihaqi)
    5. Permisalan seorang wanita yang memakai wangi2-an di tengah2 orang lain (seperti laki2 yang bukan mahram) adalah seperti kegelapan pada hari kiamat; Tidak ada cahaya baginya. (Mishkat)
    6. Apabila suami memanggil istrinya ke tempat tidur dan dia menolaknya yang menyebabkan suami tidur dalam keadaan tidak ridho (kepada istrinya) maka para malaikat melaknatnya hingga pagi hari. (HR Bukhari)
    7. Ada tiga jenis manusia yang shalatnya tidak diterima dan juga amalannya tidak akan naik (ke langit), (salah satu daripadanya adalah) seorang wanita yang suaminya murka kepadanya. (HR Baihaqi)
    8. Jikalau aku diperintahkan agar seseorang sujud kepada orang yang lain, maka aku sudah memerintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya. (HR Ahmad)
    9. Jika suami memerintahkan istrinya untuk mengangkut batu dari gunung kuning kepada gunung putih (misalnya dari suatu gunung ke gunung yang lain), maka adalah lebih baik baginya untuk melakukannya. (HR Ahmad)
    10. Barangsiapa yang telah diberikan empat perkara, sesungguhnya ia sudah diberikan dunia dan akhirat: hati yang bersyukur, lidah yang senantiasa berzikir, badan yang senantiasa bersabar dalam kesulitan, dan istri yang tidak mengkhianati suaminya, baik mengenai dirinya maupun hartanya. (Mishkat)
     
  • erva kurniawan 3:33 pm on 11 July 2016 Permalink | Balas  

    Sejarah Yahudi 

    PALESTINIANS-ISRAEL/SWAPSEJARAH YAHUDI

    oleh Harun Yahya

    Seperti telah ditunjukkan di awal, semua tanah Palestina, khususnya Yerusalem, adalah suci untuk orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim. Alasannya adalah karena sebagian besar nabi-nabi Allah yang diutus untuk memperingatkan manusia menghabiskan sebagian atau seluruh kehidupannya di tanah ini.

    Menurut studi sejarah yang didasarkan atas penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, Nabi Ibrahim, putranya, dan sejumlah kecil manusia yang mengikutinya pertama kali pindah ke Palestina, yang dikenal kemudian sebagai Kanaan, pada abad kesembilan belas sebelum Masehi. Tafsir Al-Qur’an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot). Al-Qur’an menyebutkan perpindahan ini sebagai berikut:

    Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (Qur’an, 21:69-71)

    Daerah ini, yang digambarkan sebagai “tanah yang telah Kami berkati,” diterangkan dalam berbagai keterangan Al-Qur’an yang mengacu kepada tanah Palestina.

    Sebelum Ibrahim AS, bangsa Kanaan (Palestina) tadinya adalah penyembah berhala. Ibrahim meyakinkan mereka untuk meninggalkan kekafirannya dan mengakui satu Tuhan. Menurut sumber-sumber sejarah, beliau mendirikan rumah untuk istrinya Hajar dan putranya Isma’il (Ishmael) di Mekah dan sekitarnya, sementara istrinya yang lain Sarah, dan putra keduanya Ishaq (Isaac) tetap di Kanaan. Seperti itu pulalah, Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim mendirikan rumah untuk beberapa putranya di sekitar Baitul Haram, yang menurut penjelasan Al-Qur’an bertempat di lembah Mekah.

    Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qur’an, 14:37)

    Akan tetapi, putra Ishaq Ya’kub (Jacob) pindah ke Mesir selama putranya Yusuf (Joseph) diberi tugas kenegaraan. (Putra-putra Ya’kub juga dikenang sebagai “Bani Israil.”) Setelah dibebaskannya Yusuf dari penjara dan penunjukan dirinya sebagai kepala bendahara Mesir, Bani Israel hidup dengan damai dan aman di Mesir.

    Suatu kali, keadaan mereka berubah setelah berlalunya waktu, dan Firaun memperlakukan mereka dengan kekejaman yang dahsyat. Allah menjadikan Musa (Moses) nabi-Nya selama masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Ia pergi ke Firaun, memintanya untuk meninggalkan keyakinan kafirnya dan menyerahkan diri kepada Allah, dan membebaskan Bani Israil yang disebut juga orang-orang Israel. Namun Firaun seorang tiran yang kejam dan bengis. Ia memperbudak Bani Israil, mempekerjakan mereka hingga hampir mati, dan kemudian memerintahkan dibunuhnya anak-anak lelaki. Meneruskan kekejamannya, ia memberi tanggapan penuh kebencian kepada Musa. Untuk mencegah pengikut-pengikutnya, yang sebenarnya adalah tukang-tukang sihirnya dari mempercayai Musa, ia mengancam memenggal tangan dan kakinya secara bersilangan.

    Menyusul wafatnya Nabi Yusuf (Joseph), Bani Israel mengalami kekejaman tak terperikan di tangan Firaun.

    Meskipun Firaun menolak permintaannya, Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur’an, Musa memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan:

    Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (Qur’an, 5:21)

    Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara. Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israil meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.

    Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qur’an, 48:26)

    Karena kemerosotan akhlaknya, kerajaan Israel mulai memudar dan ditempati oleh berbagai orang-orang penyembah berhala, dan bangsa Israel, yang juga dikenal sebagai Yahudi pada saat itu, diperbudak kembali. Ketika Palestina dikuasai oleh Kerajaaan Romawi, Nabi ‘Isa (Jesus) AS datang dan sekali lagi mengajak Bani Israel untuk meninggalkan kesombongannya, takhayulnya, dan pengkhianatannya, dan hidup menurut agama Allah. Sangat sedikit orang Yahudi yang meyakininya; sebagian besar Bani Israel mengingkarinya. Dan, seperti disebutkan Al-Qur’an, mereka itu yang: “: telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (Al-Qur’an, 5:78) Setelah berlalunya waktu, Allah mempertemukan orang-orang Yahudi dengan bangsa Romawi, yang mengusir mereka semua keluar dari Palestina.

    Tujuan penjelasan yang panjang lebar ini adalah untuk menunjukkan bahwa pendapat dasar Zionis bahwa “Palestina adalah tanah Allah yang dijanjikan untuk orang-orang Yahudi” tidaklah benar. Pokok permasalahan ini akan dibahas secara lebih rinci dalam bab tentang Zionisme.

    Zionisme menerjemahkan pandangan tentang “orang-orang terpilih” dan “tanah terjanji” dari sudut pandang kebangsaannya. Menurut pernyataan ini, setiap orang yang berasal dari Yahudi itu “terpilih” dan memiliki “tanah terjanji.” Padahal, ras tidak ada nilainya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang rasnya.

    Al-Qur’an juga menekankan kenyataan ini. Allah menyatakan bahwa warisan Ibrahim bukanlah orang-orang Yahudi yang bangga sebagai “anak-anak Ibrahim,” melainkan orang-orang Islam yang hidup menurut agama ini:

    Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Qur’an, 3:68)

     
  • erva kurniawan 1:09 am on 19 June 2016 Permalink | Balas  

    Penggunaan Akal Yang Tercela 

    akalPenggunaan Akal Yang Tercela

    Oleh : Imam Asy-Syatibi

    Penggunaan akal dikatakan tercela bila tanpa menggunakan dasar dan tidak bersandar pada Al-Kitab dan Sunnah. Jadi, akal (dijadikan) sebagai penentu dalam (penetapan) syari’at. Bila seseorang menempatkan akalnya seperti itu, maka dia telah terjebak dalam perbuatan bid’ah. Karena semua bid’ah itu hanyalah merupakan pendapat akal belaka yang tidak berdasar dalil sama sekali. Oleh karena itulah setiap bid’ah selalu dinisbatkan kepada sesuatu kesesatan.

    Dalam hadist shahih dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda :

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja dari manusia setelah memberikannya kepada mereka. Akan tetapi Allah mencabut ilmu tersebut dari mereka dengan mematikan ulama berserta ilmu mereka, lalu tinggallah orang-orang jahil yang dimintai fatwa, kemudian mereka pun berfatwa dengan pendapat akal mereka, maka (jadilah) mereka itu tersesat lagi menyesatkan.”1)

    Perbedaan Ulama tentang Penggunaan Akal

    Sebagian ulama berkata bahwa penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal yang menyelisihi Sunnah, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli bid’ah. Akan tetapi hal itu ada dalam masalah akidah saja, seperti ajaran Jahm2) dan semua ajaran ahli kalam lainnya. Karena mereka menggunakan pendapat akal mereka semata untuk membantah hadist-hadist Rasulullah yang shahih; bahkan, untuk membantah ayat Al-Qur’an yang telah jelas penunjukan hukumnya.

    Sebagian yang lain mengatakan bahwa penggunaan akal yang tercela dan rusak adalah penggunaan akal untuk membuat perkara-perkara yang bid’ah atau yang semisalnya. Karena memang dari semua bid’ah itu kembalinya kepada pendewaan akal dan penyimpangan dari syari’at. Pendapat inilah yang kuat. Karena dalil-dalil yang telah kita sebutkan dimuka tidak menunjukkan satu macam bid’ah saja, tapi justru menunjuk kepada semua bentuk bid’ah yang telah terjadi dan yang akan terjadi sampai hari kiamat, baik masalah ushul maupun masalah furu’.

    Sebagian yang lain lagi mengatakan penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal untuk menentukan hukum-hukum agama untuk masalah istihsan dan asumsi-asumsi, sibuk membahas permasalahan-permasalahan yang rumit yang sering mengelirukan, mengembalikan sebagian permasalahan furu’ dan kasus-kasus yang muncul antara satu dengan yang lain berdasarkan qiyas tanpa mengembalikan kepada kaidah-kaidah ushul serta meneliti sisi kelemahan dan kelayakan cara tersebut. Akal pun digunakan sebagai pemegang peranan dalam membahas permasalahan tersebut. Dibahas dan diperbincangkannya permasalahan tersebut secara terperinci sebelum kasusnya sendiri terjadi dengan mengandalkan akal berdasar perkiraan-perkiraan. Mereka yang berpendapat demikian berkata: “Karena menyibukkan diri dan larut dengan cara-cara semacam itu berarti menafikkan Sunnah, mendorong kejahilan orang terhadap Sunnah, meninggalkan keharusan berdasar Sunnah tersebut; juga dengan Kitabullah.”

    Pendapat diatas sejalan dengan pendapat sebelumnya. Kerena pendapat diatas melarang menggunakan akal meskipun tidak tercela. Hal itu karena terlalu sibuk dengan penggunaan akal akan mengarahkan diri kepada pendapat yang tercela, yaitu membuang Sunnah dan mencukupkan diri dengan akal. Dan kalau sudah begitu maka akan sejalan dengan pendapat sebelumnya. Karena di antara kebiasaan syari’at bahwa apabila melarang keras sesuatu berarti melarang pula hal-hal yang mendukungnya. Tidaklah kita mengetahui adanya sabda Rasulullah:

    “Yang halal itu jelas; yang haram pun juga jelas. Diantara kedua nya ada perkara-perkara syubhat3).”4)

    Demikian pula, dalam syari’at terdapat kaidah Saddudz Dzari’ah, yaitu menahan diri dari hal yang dibolehkan karena dikhawatirkan akan mengiring kepada hal yang tidak dibolehkan. Dan semakin besar daya rusak suatu perkara yang dilarang tersebut, maka akan semakin diperketat upaya pencegahannya.

    Sebagai kesimpulannya adalah bahwa penggunaan akal yang tercela adalah penggunaan akal yang berdasar atas kebodohan, mengikuti hawa nafsu tanpa mau merujuk kepada syari’at. Dan termasuk penggunaan akal yang tercela pula, segala jalan yang mengiring kepada penurutan hawa nafsu meski pada asalnya jalan tersebut baik lantaran kembali kepada kaidah syar’i.

    Footnote:

    1). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Hadist no. 100, dan 7307)

    2). Jahm bin Shafwan adalah pendiri kelompok Jahmiyyah yang di antara ajarannya adalah menolak nama-nama dan sifat-sifat Allah, pent.

    3). Syubhat artinya tidak ada kejelasan halal dan haramnya, pent.

    4). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (Hadist no. 2051) dan ini adalah lafal yang dia riwayatkan, dan Muslim (Hadist no. 1599) dari An-Nu’man bin Basyir.

    ***

    Ringkasan Al-I’tisham Imam Asy-Syatibi, “Membedah Seluk Beluk Bid’ah”, karya Syaikh Abdul Qadir As-Saqqaf, Bab 2 “Tercelanya bid’ah dan akibat buruk yang akan diperoleh para pelakunya” hal: 54.

     
  • erva kurniawan 1:07 am on 19 June 2016 Permalink | Balas  

    Setelah Ada Hadits Shahih, Tidak Boleh Mengatakan Mengapa 

    tanyaSetelah Ada Hadits Shahih, Tidak Boleh Mengatakan Mengapa

    Oleh : Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi

    Diriwayatkan dari Utsman bin Umar, ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Imam Malik untuk bertanya kepadanya tentang suatu masalah, maka Imam Malik berkata kepada laki-laki itu : ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bagini dan begitu’, lalu laki-laki itu berkata : ‘Bagaimana pendapatmu ?’. Maka Imam Malik menjawab dengan firman Allah.

    “Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. [An-Nuur : 63]

    Diriwayatkan dari Ibnu Wahb, ia berkata : Imam Malik mengatakan : “Suatu fatwa yang telah difatwakan kepada manusia maka tak satupun manusia boleh mengatakan : “Mengapa engkau berfatwa seperti ini”, melainkan cukup bagi mereka saat itu untuk mengetahui riwayat dan mereka rela dengan riwayat (hadits) itu”.

    Diriwayatkan dari Ishaq bin Isa, ia berkata : Aku mendengar Malik bin Anas mencela perdebatan dalam perkara agama, ia mengatakan : “Setiap kali datang kepada kami seseorang yang lebih pandai berdebat dari pada orang lain, maka kami membantah dengan apa yang dibawa malaikat Jibril ‘Alaihis Salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Diriwayatkan dari Ibnu Al-Mubarak, ia berkata : “Hendaknya yang engkau jadikan sandaran adalah atsar, dan ambillah dari fikiran apa yang dapat menafsirkan hadits itu untukmu”..

    Diriwayatkan dari Yahya bin Dharis, ia berkata : Aku menyaksikan Sufyan ketika datang kepadanya seorang laki-laki, lalu laki-laki itu berkata : “Apa tuntutanmu kepada Abu Hanifah ?” Sufyan berkata : “Memangnya ada apa dengan dia, sesungguhnya aku telah mendengarnya berkata : “Aku berpegang kepada Kitabullah, jika tidak aku temui, maka aku akan berpegang pada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak ada aku temui dalam Kitabullah dan tidak pula dalam Sunnah Rasul, maka aku berpegang pada pendapat para sahabat beliau, aku akan mengambil pendapat di antara mereka yang aku kehendaki dan aku akan meninggalkan pendapat diantara mereka yang aku hendaki. Sedangkan jika perkara itu berakhir pada Ibrahim, Asy-Sya’bi, Ibnu Sirin, Al-Hasan, Atha, Ibnu Al-Musayyab dan beberapa orang lainnya yang berijtihad maka saya akan berijtihad pula sebagaimana mereka berijtihad”.

    Diriwayatkan dari Ar-Rabi’, ia berkata : Pada suatu hari Imam Syafi’i meriwayatkan suatu hadits, maka berkatalah seorang laki-laki kepadanya : “Apakah engkau berpegang pada ini wahai Abu Abdullah?”, maka berkata Imam Syafi’i : “Jika diriwayatkan kepadaku suatu hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku tidak berpegang kepadanya, maka aku bersaksi kepada kalian bahwa akalku telah hilang”.

    Diriwayatkan dari Ar-Rabi’, ia berkata : Aku mendengar Imam Syafi’i berkata : “Jika kalian dapatkan dalam kitabku (tulisanku) sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berpeganglah kalian kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah apa yang telah aku ucapkan”.

    Diriwayatkan dari Mujtahid, tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-(Nya)”. [An-Nisaa : 59].

    Ia berkata : “Kepada Allah artinya adalah kepada Kitabullah, sedangkan kepada Rasul artinya adalah kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ad-Darimi, dari Abu Dzar, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar kita tidak dikalahkan dalam memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan agar kita mengajarkan As-Sunnah kepada manusia”.

    Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Pelajarilah As-Sunnah, ilmu fara’idh dan ilmu membaca sebagaimana kalian mempelajari Al-Qur’an”.

    Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia berkata : “Wahai menusia sekalian hendaklah kalian mempelajari ilmu itu sebelum ilmu itu diangkat, karena diangkatnya ilmu adalah dengan dimatikannya para ahli ilmu (para ulama). Jauhilah oleh kalian perbuatan baru (bid’ah), dan hendaklah kalian berpegang pada yang lama (As-Sunnah), karena sesungguhnya pada akhir kehidupan umat ini akan ada golongan-golongan manusia yang mana mereka menduga bahwa mereka menyeru kepada Kitabullah tetapi sebenarnya mereka telah meninggalkan Kitabullah di belakang punggung mereka”. [Hadist Riwayat Darimi]

    [Disalin dari buku Miftahul Jannah fii Al-Ihtijaj bi As-Sunnah, edisi Indonesia KUNCI SURGA Menjadikan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Hujjah oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi terbitan Darul Haq, hal. 108-111 penerjemah Amir Hamzah Fachruddin]

     
  • erva kurniawan 1:03 am on 18 June 2016 Permalink | Balas  

    Meninggalkan Puasa Ramadan 

    ramadhan8Meninggalkan Puasa Ramadan

    Orang-Orang Yang Diwajibkan Kaffarah

    ULAMA sepakat mengenai kewajipan kaffarah bagi orang-orang yang berbuka puasa dengan melakukan persetubuhan (jimak) sama ada dengan perempuan atau binatang dengan sengaja tanpa dipaksa atau dengan maksud melanggar kehormatan dalam bulan puasa, atau bukan kerana yang diharuskan berbuka puasa. Kaffarah kerana persetubuhan tersebut ialah memerdekakan seorang hamba. Jika dia tidak mendapatkannya, maka hendaklah dia puasa dua bulan berturut-turut dan jika dia tidak berdaya maka dia memberi makan enam puluh orang miskin.

    Dalil kaffarah ini telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiallahuanhu yang bermaksud, “Ketika kami duduk bersama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah datang seorang lelaki kepada Baginda lalu berkata : “Binasalah aku!” Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Kenapa dengan engkau?” Lelaki itu menjawab : “Aku telah menyetubuhi isteriku sedang aku berpuasa (Ramadan).” Lalu Nabi bersabda : “Adakah engkau berdaya memerdekakan seorang hamba?” Lelaki itu menjawab : “Tidak”. Lalu bersabda Nabi: “Adakah engkau berupaya menunaikan puasa dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab : “Tidak.” Bersabda Nabi : “Adakah engkau berdaya memberi makan enam puluh orang miskin?” Lelaki itu menjawab : “Tidak.” (Abu Hurairah) berkata : “Ketika kami duduk telah dibawakan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan serumpun tamar. “Lalu Baginda bersabda: Ambil (tamar) ini dan sedekahkan ….” (Hadis riwayat Al-Bukhari).

    Membatalkan puasa dengan jimak atau persetubuhan yang berlaku pada siang hari bulan Ramadan adalah haram. Akan tetapi tidak wajib kaffarah jika berlaku jimak pada bulan-bulan yang lain selain bulan Ramadan seperti ketika melakukan puasa sunat, nazar, qada atau puasa kaffarah. Perkara ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wataala yang tafsirnya :

    “Dihalalkan bagi kamu, pada malam hari puasa, bercampur (bersetubuh) dengan isteri-isteri kamu. Isteri-isteri kamu itu adalah sebagai pakaian bagi kamu dan kamu pula sebagai pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahasanya kamu mengkhianati diri sendiri, lalu Dia menerima taubat kamu dan memaafkan kamu. Maka sekarang setubuhilah isteri-isteri kamu dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kamu; dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) daripada benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (Maghrib); dan janganlah kamu setubuhi isteri-isteri kamu ketika kamu sedang beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas larangan Allah, maka janganlah kamu menghampirinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat hukum-Nya kepada sekalian manusia supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah : 187).

    Apabila seorang lelaki atau perempuan berbuka dengan melakukan jimak dengan sengaja, maka batal puasa dan berdosa. Begitu juga ke atasnya wajib qada puasa dan kaffarah bersama ta’zir. Jika keadaan ini berlaku kepada suami dan isteri, siapakah yang dikenakan kaffarah? Ulama berbeza pendapat tentang siapakah yang dikenakan kaffarah sama ada suami atau isteri atau kedua-duanya sekali. Menurut pendapat yang ashah di kalangan ulama Syafi’e, kaffarah hanya wajib ke atas suami sahaja.

    Jika berlaku jimak itu dua hari atau lebih dalam bulan Ramadan, ulama sepakat bagi setiap hari dikenakan kaffarah. Manakala bagi yang melakukan jimak beberapa kalli dalam satu hari atau pada hari yang sama, dia hanya dikenakan satu kaffarah.

    Jika berlaku jimak dalam keadaan musafir yang diharuskan, puasa terbatal dan tidak wajib kaffarah dengan jimak tersebut. Begitu juga jika dia menyangka (dzann) matahari telah masuk dan berlaku jimak, sedangkan hari masih siang (belum masuk matahari), dihukumkan tiada kaffarah kerana dia tidak bermaksud untuk melakukan yang dilarang. Manakala jika dia syak di siang hari, sama ada berniat puasa di malam hari atau sebaliknya, kemudian berlaku jimak dalam keadaan syak itu, lalu dia teringat bahawa dia telah berniat, maka batal puasanya dan tidak wajib kaffarah. Begitu juga tidak wajib kaffarah jika jimak itu berlaku setelah terbatal puasa oleh perkara-perkara lain seperti makan, minum dan sebagainya.

    Berdasarkan kepada penjelasan di atas, bahawa ibadat puasa itu wajib ditunaikan kecuali bagi orang-orang yang ditentukan oleh syarak mempunyai kelonggaran-kelonggaran tertentu. Kelonggaran-kelonggaran tersebut bertujuan supaya tidak membebankan umat Islam melaksanakan tanggungjawab dan kewajipan.

    Namun ibadat puasa yang ditinggalkan sama ada dengan sebab keuzuran syari atau tanpa sebab munasabah, Islam telah mewajibkan ke atas mereka qada atau fidyah ataupun kaffarah.

    Oleh yang demikian mana-mana orang yang wajib ke atasnya kaffarah atau fidyah hendaklah mengambil perhatian tentang perkara ini. Sementara yang wajib qada pula tidak akan melengah-lengahkan atau menunda-nunda qadanya sehingga masuk Ramadan yang akan datang.

     
  • erva kurniawan 1:01 am on 17 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (4) 

    ramadhan 2Permasalahan Puasa Ramadan (4)

    4. Puasa Dalam Perjalanan

    Pada kelazimannya di musim Ramadhan ini lah ramai masyarakat kita mengambil kesempatan untuk membuat perjalanan jauh seperti belayar ke luar negara untuk menziarahi sanak saudara, menunaikan umrah untuk mengambil ganjaran pahalanya yang besar di bulan mubarak ini dan juga ada yang membeli belah untuk keperluan di Hari Raya atau sebagainya. Tidak kurang pula mereka yang berada di luar negara khasnya para pelajar akan balik bercuti ke tanah air untuk sama-sama menyambut Ramadhan dan berhari raya bersama-sama kaum keluaga.

    Pada dasarnya ibadah puasa itu tidak diwajibkan ke atas orang yang dalam perjalanan (musafir). Ini karena musafir itu adalah merupakan salah satu keuzuran syar’ie yang menyebabkan beberapa kewajipan yang berbentuk ‘azimah diangkat dari mereka. Firman Allah Subhanhu wa Ta’ala :

    Tafsirnya: “Maka barang siapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.

    (Surah Al-Baqarah: 184)

    Ada juga hadis-hadis Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan tentang keharusan perkara ini. Antaranya ialah hadis yang diriwayatkan daripada Saiyidatuna ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya : “Sesungguhnya Hamzah bin ‘Amr Al-Aslamiy berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam : “Adakah mesti aku berpuasa di dalam musafir?” (Walhal) adalah Hamzah itu seorang yang banyak mengerjakan ibadah puasa. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika engkau hendak berpuasa berpuasalah dan jika engkau hendak berbuka, berbukalah.”

    (Hadis riwayat Bukhari)

    Walau bagaimanapun tidak semua orang musafir itu diberikan rukhshah berbuka puasa. Mereka yang diberikan kelonggaran itu hanya orang yang memenuhi syarat-syarat berikut :

    a). Perjalanannya mestilah mencapai atau melebihi jarak yang dibolehkan mengqashar sembahyang. Yaitu jarak dari tempat ia memulakan perjalanannya ke tempat yang ditujunya itu mestilah tidak kurang dari dua marhalah yaitu kira-kira 89 (delapan puluh sembilan) kilometer.

    b). Perjalanan itu ialah perjalanan yang diharuskan oleh hukum syara’ bukan perjalanan yang melibatkan perkara maksiat.

    Perjalanan yang Tidak Membebankan

    Adakah perjalanan yang tidak membebankan orang yang bermusafir seperti yang berlaku di zaman yang serba canggih ini boleh dianggap sebagai uzur syar’ie yang mana si musafir ini boleh mengambil rukhshah berbuka?

    Mengikut apa yang telah dijelaskan oleh ayat al-Qur’an di atas bahwa musafir itu adalah merupakan satu keuzuran syar’ie tanpa memperincikan sama ada perjalanan yang dilakukan itu perjalanan yang mendatangkan beban kepayahan ataupun tidak.

    Menurut apa yang telah diperjelaskan oleh Imam As-Syaf’ie dan Ashhabnya Rahimahullah keharusan berbuka puasa itu lebih kepada wujudnya kepayahan sepertimana yang disebutkan:

    Maksudnya: “ Jika dengan berpuasa akan memudharatkannya maka berbuka itu afdhal dan jika sebaliknya maka berpuasa itu lebih afdhal.” (Kitab Al-Majmuk, 6:265)

    Ini bererti apa jua jenis pengangkutan yang digunakan untuk bermusafir maka dia adalah diharuskan dan berhak untuk mengambil rukhshah berbuka mengikut syarat yang telah dijelaskan. Akan tetapi berpuasa itu adalah lebih utama (afdhal) jika tidak memudharatkan dirinya sebagimana yang telah dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’ie dan Ashhab beliau Rahimahumullah.

    Bila Diharuskan Mengambil Rukhshah Berbuka

    Syarat lain yang membawa kepada keharusan berbuka ketika musafir itu ialah orang berkenaan memulakan perjalanan sebelum terbit fajar shadiq. Maksud memulakan perjalanan di sini ialah apabila dia melewati sempadan atau perbatasan kampong tempat tinggalnya.

    Jika dia melewati tempat tersebut selepas terbitnya fajar shadiq maka kewajipan puasa itu dituntut ke atasnya dan tidak harus baginya berbuka kecuali ada sesuatu kesusahan yang menyebabkan dia tidak berkuasa meneruskan puasanya. Dalam keadaan ini dia diharuskan berbuka karena tidak berkemampuan berpuasa atau khuatir akan memudharatkan dirinya bukan karena perjalanan (safar).

    Tetapi jika dia singgah di sesuatu tempat bukan dengan niat bermuqim maka dia diharuskan berbuka walau pun selepas terbit fajar shadiq ia keluar untuk meneruskan perjalanannya karena ia masih dihukumkan sebagai orang musafir.

    Wajib Mengqadha Puasa Yang Ditinggalkan.

    Walaupun orang yang musafir itu diharuskan berbuka puasa semasa dalam perjalanan tetapi dia masih diwajibkan menqadha hari-hari puasa yang di tinggalkan itu tanpa membayar fidyah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    Tafsirnya: “Maka sesiapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka) kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.

    (Surah Al-Baqarah: 184)

    Sekiranya perjalanan itu menuju negeri yang lambat kelihatan anak bulan Ramadhan yang menyebabkan penduduk negeri tersebut terkemudian menunaikan puasa Ramadhannya dari negeri asalnya maka dia dikehendaki berpuasa bersama-sama dengan penduduk negeri itu menurut pendapat yang ashah sekalipun ia telah berpuasa tiga puluh hari penuh.

    Begitu juga halnya jika ia membuat perjalanan menuju negeri yang lebih awal kelihatan anak bulan, apabila dia sampai di sana penduduknya telah menyambut hari raya, maka ketika itu dia diwajibkan berbuka (berhari raya bersama mereka) dan haram baginya berpuasa. Walaupun bilangan puasanya pada waktu mereka menyambut hari raya itu kurang dari sebulan penuh pada perkiraannya.

    Sekiranya jumlah puasanya sebanyak dua puluh lapan hari ia akan berhari raya pada hari yang kedua puluh sembilan mengikut negeri tersebut, tetapi dalam keadaan ini dia dikenakan mengqadha sebanyak sehari untuk mencukupkan sebulan karena satu bulan itu sekurang-kurangnya adalah sebanyak dua puluh sembilan hari. Berlainan pula halnya jika ia sudah berpuasa sebanyak dua puluh sembilan hari maka ia tidak perlu mengqadha karena bilangan dua puluh sembilan hari itu adalah bilangan sebulan yang paling minima. (Kitab Mughni Al-Muhtaj 1:422-423)

    Hukum Menahan Diri (Imsak) Bagi Orang Musafir

    Jika dia sampai ke negeri tempat dia hendak bermuqim dalam keadaan dia berbuka atau tidak berpuasa maka adalah disunatkan ke atasnya imsak yaitu menahan diri bagi menghormati waktu. Imsak itu tidak wajib ke atasnya karena ia berbuka atas sebab keuzuran syar’ie yaitu musafir. Walau bagaimanapun dalam mazhab Hanafi pula mewajibkan imsak ke atasnya.

    Walaupun imsak itu hanya sunat keatasnya tetapi jika dia makan sesuatu hendaklah bukan dikhalayak orang ramai yang tidak mengetahui keuzuran itu karena ditakuti akan menimbulkan tohmahan dan hukuman.

    Jika orang yang musafir itu sampai ke tempat yang ditujunya dalam keadaan ia berpuasa maka dia mesti menyempurnakan puasanya itu. (Kitab Al-Majmuk 6:267/ I’anah Al-Thalibin 2:269)

    Waktu Berbuka Dalam Perjalanan

    Menurut hukum syara’ waktu berbuka puasa itu ialah apabila tenggelam matahari (waktu Maghrib). Soalnya bagaimana halnya jika perjalanan menggunakan kapal terbang yang pada kebisaannya matahari akan masih lagi wujud pada penglihatan penumpang walaupun ia sudah hilang (tenggelam) bagi mereka yang berada di bumi.

    Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ada menjelaskan:

    Tafsirnya: “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (Maghrib)”

    (Surah Al-Baqarah:187)

    Sementara itu hadis Baginda Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Aufa Radhiallahu ‘anhu katanya:

    Maksudnya: “Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu perjalanan di bulan Ramadhan. Ketika matahari telah terbenam Baginda bersabda: “Hai Fulan ! Turunlah, dan siapkan makan kita !” Jawab orang itu, “ Hari masih siang, ya Rasullullah!” Sabda Rasulullah , “Turunlah dan siapkan makan kita!” kata Abdullah,, “Orang itu pun segera turun, lalu dia menyiapkan makanan dan menyajikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, dan Baginda langsung minum. Kemudian Baginda bersabda sambil menunjuk dengan tangannya : “Apabila matahari telah terbenam di sana, dan malam telah datang di sini , maka orang puasa sudah boleh berbuka”.

    (Hadis Muttafaq ‘alaihi)

    Maka berpandukan ayat al-Quran dan hadis di atas, jika seseorang itu berpuasa lalu belayar dengan menaiki kapal terbang dan ia sedang berada di udara waktu berbukanya ialah apabila matahari itu hilang dari penglihatannya. Tidak sah puasanya jika ia berbuka selagi matahari ternampak olehnya walaupun negeri dari tempat ia memulakan perjalanan itu sudah tiba saatnya untuk berbuka.

    Sebagaimana yang berlaku bagi mereka yang menuju ke arah Timur, maka waktu siangnya adalah pendek berbanding dengan mereka yang menuju ke arah Barat waktu siangnya adalah panjang. Oleh yang demikian apa yang diambil kira sekarang bagi orang yang berpuasa itu ialah dengan terbenamnya matahari daripada penglihatannya, walau dimana ia berada ketika itu, dan bukan dikira dengan waktu tempatan yang dilaluinya atau waktu negerinya sendiri yang ditinggalkannya.

    Sekiranya puasa sepanjang hari itu menyusahkannya, maka baginya terdapat kelonggaran yang mengharuskannya berbuka, sebaliknya jika tidak menyusahkan dan dia dapat menyempurnakan puasanya itu, maka yang afdhal teruskan dan sempurnakan puasanya itu.

     
  • erva kurniawan 1:56 am on 16 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (3) 

    ramadhan 2Permasalahan Puasa Ramadan (3)

    III. Perempuan Hamil dan Perempuan Yang Menyusukan Anak

    Fungsi ibadah yang disyariatkan kepada manusia itu ialah untuk mengukur dan membuktikan ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Selain itu ia juga berperanan sebagai jalan yang menghampirkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak kira ibadah itu wajib atau pun sunat. Perkara ini dijelaskan dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya ialah syurga ‘adn (tempat tinggal yang tetap), yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; kekallah mereka di dalamnya selama-lamanya; Allah redha akan mereka dan mereka pun redha (serta bersyukur) akan nikmat pemberian-Nya. Balasan yang demikian itu untuk orang-orang yang takut (melanggar perintah) Tuhannya.

    (Surah al-Baiyinah: 7-8)

    Adalah janggal sekali pendapat yang mendakwa bahwa ibadah-ibadah seperti sembahyang, puasa, haji, zakat dan sebagainya itu sebagai suatu bebanan yang menyeksa manusia. Tuduhan ini dengan tegas ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara ugama”

    (Surah al-Haj: 78)

    Kita telah pun diajar tentang tahap (darajah) hukum-hukum ibadah yang disyariatkan itu dan perlu diambil penuh perhatian ialah ibadah-ibadah yang wajib. Ibadah seumpama ini jika kita tinggalkan dengan tiada keuzuran akan berdosa.

    Walaupun demikian, Islam sebagai agama yang mulia dan agama yang diperakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah pun menggariskan tentang kewajipan manusia dalam melaksanakan ibadah-ibadah wajib itu. Sekalipun sesuatu ibadah itu wajib dilaksanakan namun tahap kewajipan melaksanakannya adalah mengikut kadar yang termampu oleh manusia. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

    Tafsirnya: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya”

    (Surah al-Baqarah: 286)

    Ayat di atas juga dengan jelasnya menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bersifat Rahim yaitu amat pengasihani. Begitulah cantiknya syariat Islam itu. Walaupun demikian hakikatnya, tetapi tidak bererti kita bersikap cuai atau mengambil ringan tentang hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh syariat Islam itu. Kecuaian atau sikap mengambil ringan soal hukum-hukum Islam boleh membawa kepada berleluasnya kepada perkara mungkar dan maksiat yang akhirnya meleburkan iman dan taqwa manusia.

    Berbalik kepada kelonggaran atau keringanan yang diberikan oleh syariat Islam itu, maka bagaimanakah hukum dan kewajipan berpuasa terhadap perempuan hamil atau menyusukan anak?

    Seperti yang kita jelaskan sebelum ini puasa itu wajib ke atas orang-orang Islam yang mukallaf. Ini bererti perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak itu termasuk di bawah hukum di atas. Hamil itu boleh terjadi atas jalan pernikahan dan tanpa pernikahan. Menyusukan anak pula, boleh terjadi karena menyusukan anak sendiri atau anak orang lain. Perempuan yang menyusukan anak ini disebut dalam bahasa Arab sebagai Murdhi’.

    Menurut hukum syara’ perempuan yang hamil sekalipun hasil dari perzinaan dan perempuan yang menyusukan anak damit (murdhi’) walaupun anak damit itu kepunyaan orang lain disebabkan menderma atau diupah, adalah diharuskan bagi mereka untuk berbuka puasa semata-mata karena dua perkara tersebut.

    Sekalipun demikian, persoalan lain yang timbul, apakah hukum yang berbangkit dari berbuka puasa itu? Adakah diwajibkan ke atas mereka qadha atau lain hukum mengenainya?

    Dalam hal ini para fuqaha telah merumuskan hukum-hukum mengenainya. Rumusan hukum dan perbincangan mereka lebih tertumpu kepada perkara-perkara yang menyebabkan mereka berbuka puasa.

    Tetapi jika mereka berbuka puasa karena takut akan kemudaratan kepada anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan itu sahaja, maka wajib ke atas mereka membayar fidyah dan juga qadha pada tiap-tiap hari puasa yang ditinggalkannya itu.

    Jika mereka berbuka puasa karena takut akan timbul kemudaratan atas diri mereka atau kedua-duanya yaitu takut ke atas diri mereka dan anak yang dalam kandungan atau anak yang disusukan, maka wajib ke atas mereka mengqadha puasa yang ditinggalkan itu tanpa wajib mengeluarkan fidyah.

    Jika perempuan yang hamil atau perempuan yang menyusukan anak (murdhi’) itu sedang dalam musafir ataupun sakit, lalu mereka berbuka puasa dengan berniat rukhshah (kelonggaran) atas sebab musafir atau sakit, bukan karena takut akan kemudaratan kepada anaknya, maka diwajibkan ke atas mereka mengqadha puasa itu tanpa membayar fidyah di hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika musafir itu.

    Dalam keadaan musafir atau sakit, jika hamil atau yang menyusukan anak (murdhi’) berbuka karena takut akan kemudaratan anaknya dan bukan berbukanya itu atas rukhshah musafir atau sakit, menurut pendapat yang ashah dia juga tidak diwajibkan membayar fidyah. Sebagaimana tidak diwajibkan membayar kaffarah kepada orang musafir yang sampai ke kediamannya ketika siang hari puasa, lalu dia melakukan persetubuhan di siang hari itu bersama isterinya yang tidak berpuasa disebabkan baru bersih dari haidh atau nifas di siang hari itu juga. (Al-Majmuk: 6/272&375)

    Berkait dengan hukum ini, ingin juga dijelaskan apakah dia fidyah karena meninggalkan puasa itu? Kepada siapakah ia diserahkan dan bagaimanakah melaksanakannya?

    Fidyah ialah denda atau tebusan yang dikenakan kepada orang Islam yang melakukan beberapa kesalahan tertentu dalam ibadah. Ia juga merujuk kepada menebus ibadah (karena uzur dan disyariatkan), dengan memberi sedekah kepada fakir miskin berupa makanan yang mengenyangkan.(Ensiklopedia Islam 3:264)

    Adapun makna fidyah dalam hal puasa ialah bayaran denda karena tidak berpuasa Ramadhan dengan sebab-sebab tertentu atau karena melambat-lambatkan mengqadha puasa Ramadhan sehingga masuk Ramadhan berikutnya.

    Jenis fidyah itu ialah sama seperti jenis zakat fitrah yaitu makanan asasi dan yang mengenyangkan bagi sesebuah negeri seperti beras. Kadar yang patut dikeluarkan ialah satu mudd (secupak) yaitu kira-kira lima belas tahil beras bersamaan 566.85 gram.

    Pihak yang berhak menerima fidyah itu ialah orang-orang fakir dan miskin sahaja. Fidyah itu boleh diberi dengan lebih dari satu cupak kepada seorang miskin berlainan dengan kaffarah, karena ia hendaklah satu cupak sahaja kepada setiap seorang miskin hingga enam puluh orang yaitu tidak boleh dua cupak untuk satu orang miskin bagi membayar kaffarah.

    Membayar fidyah itu diharuskan selepas terbit fajar di hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena keuzuran seperti orang yang sakit yang tiada harapan untuk sembuh, orang yang terlalu tua yang tiada berdaya untuk puasa dan perempuan yang hamil dan murdhi’. Walau bagaimana pun diharuskan juga mengeluarkan fidyah itu sebelum terbit fajar bagi hari yang dikeluarkan fidyah itu dan diharuskan juga mengeluarkan fidyah terlebih dahulu sebelum berbuka, akan tetapi hanyalah satu fidyah sahaja di hari berbukanya itu dan tidak harus mendahuluinya bagi hari kedua dia berbuka puasa. Begitu juga tidak diharuskan membayar fidyah sebelum masuk bulan Ramadhan.(Raudah At-Thalibin: 2/385)

     
  • erva kurniawan 1:53 am on 15 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (2) 

    ramadanPermasalahan Puasa Ramadan (2)

    2. Wajib Menahan Diri (Imsak)

    Apabila masuknya bulan Ramadhan masih terdengar di media-media elektronik seperti radio dan televisyen yang menyiarkan berita tentang orang Islam yang didenda oleh mahkamah kadhi karena tidak berpuasa dan makan atau minum di khalayak ramai. Fenomena ini menggambarkan bahwa masih ada sebilangan kecil daripada masyarakat kita yang tidak menghiraukan kewajipan berpuasa tersebut, sedangkan ketika itu dia mukallaf dan tiada sesuatu yang menghalangnya daripada berpuasa. Ada pula di antara mereka yang senghaja berbuat demikian malahan berbangga-bangga dengan tidak berpuasa, seolah-olah kewajipan itu tidak ada bagi mereka. Perbuatan ini wajib kita perbetulkan dari terus berleluasa.

    Menurut ketentuan hukum syara’, orang-orang yang meninggalkan puasa dengan senghaja itu sangat berat balasannya. Perbuatan tersebut termasuk dalam kategori dosa besar malahan menjadi kerugian yang tidak boleh ditukar ganti sebagaimana digambarkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:

    Maksudnya: “Barangsiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada rukhshah (keringanan) dan tidak juga karena sakit, dia tidak akan dapat melunaskan (mengganti) puasa yang ditinggalkannya itu, sekalipun dia berpuasa seumur hidup”

    (Hadis riwayat Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasa’ie, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

    Maksudnya: “Sesungguhnya di dalam syurga terdapat pintu yang disebut Rayyan, yang mana pada hari qiamat orang-orang yang berpuasa masuk daripadanya. Dikatakan: “Di manakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk daripadanya. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun yang masuk daripadanya.”

    (Hadis Muttafaq ‘Alaihi)

    Hadis di atas menerangkan bahwa orang-orang yang berpuasa itu akan diberi keistimewaan khas dimana mereka berhak untuk masuk syurga melalui pintu al-Rayyan. Amat rugilah orang-orang yang tidak mengerjakan ibadah puasa itu karena tiada hak untuk masuk syurga melalui pintu tersebut.

    Apa yang lebih dikhuatiri ialah orang-orang yang tidak berpuasa itu beranggapan bahwa puasa itu tidak perlu dikerjakan karena ia hanya suatu budaya yang menyeksa manusia. Menurut ijma’ ulama, barangsiapa yang mengingkari fardhu puasa Ramadhan atau merasa ragu-ragu akan fardhunya maka dia adalah terkeluar daripada agama Islam yaitu murtad wal’iyadzubillah.

    Daripada hadis-hadis dan ijma’ ulama yang disebutkan di atas jelas kepada kita bahwa terdapat ancaman dan peringatan kepada mereka yang mengabaikan puasa bulan Ramadhan. Oleh itu janganlah kita mengambil ringan akan perkara ini dengan mengabaikan suruhan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena azab Allah Subhanahu wa Ta’ala amat pedih.

    Membincangkan tentang orang yang berbuka puasa tanpa keuzuran ini selain daripada menerima ancaman dan balasan seperti yang disebutkan di atas, mereka ini juga dipertanggungjawabkan untuk memenuhi kehendak hukum-hukum syara’ yang diwajibkan ke atas mereka. Antaranya ialah menahan diri (imsak) daripada perkara-perkara yang dilarang ketika berpuasa.

    Menurut para fuqaha’, orang-orang yang berbuka puasa dengan senghaja tanpa keuzuran yang dibenarkan oleh hukum syara’ itu wajib imsak yaitu menahan diri daripada makan dan minum dan perkara-perkara yang membatalkan puasa.

    Imsak juga diwajibkan ke atas orang yang berbuka puasa Ramadhan bukan disebabkan keuzuran seperti orang yang lupa berniat atau makan di waktu yang disangkakannya masih belum terbit fajar sedangkan ketika itu fajar sudah terbit. Diwajibkan ke atas mereka imsak karena menghormati waktu puasa.

    Manakala bagi orang yang berbuka puasa disebabkan keuzurannya seperti orang yang sakit apabila dia sembuh dan orang yang musafir apabila dia sampai ke tempat kediamannya pada waktu siang Ramadhan, hukum imsak atau menahan diri itu adalah sunat.

    Sunat imsak bagi orang yang gila bila dia sedar, orang kafir apabila masuk Islam, kanak-kanak apabila dia baligh dan perempuan yang haidh atau nifas apabila dia bersih di siang hari Ramadhan.

    Menurut pengarang Hasyiyah I’anah at-Thalibin terdapat dua kaedah mengenai perkara imsak ini. Kaedah yang pertama ialah bahwa setiap seseorang yang diharuskan baginya berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka tidak diwajibkan baginya imsak bahkan disunatkan saja. Kaedah yang kedua yaitu bagi orang yang tidak diharuskan berbuka puasa dan dia mengetahui akan hakikat hari itu maka diwajibkan baginya imsak.

    Demikianlah ketentuan hukum yang perlu kita fahami tentang kewajipan mengerjakan ibadah puasa dan hukum yang berkaitan dengannya. Semoga dengan mengetahui hukum-hukum tersebut akan menambahkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

     
  • erva kurniawan 1:50 am on 14 June 2016 Permalink | Balas  

    Permasalahan Puasa Ramadan (1) 

    ramadhanPermasalahan Puasa Ramadan (1)

    Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

    `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

    Puasa bulan Ramadhan adalah di antara ibadat-ibadat yang disyariatkan kepada umat Islam yang mempunyai berbagai hikmat dan kemaslahatan, baik dari segi kerohanian mahupun jasmani bahkan juga dari segi kemasyarakatan.

    Bulan Ramadhan juga adalah merupakan tetamu agung umat Islam, bulan yang membawa keampunan, rahmat, kebajikan dan berkat. Kita patut merebut peluang yang ada dan mendapatkan kelebihan setiap ibadat yang dilakukan di dalamnya. Di samping itu juga kita hendaklah mempersiapkan diri dengan hukum-hakam puasa Ramadhan yang dituntut di dalam syara’, seperti memperdalami pengetahuan terhadap rukun-rukun dan perkara-perkara yang akan membatalkan puasa. Antara beberapa permasalahan penting yang kita perlu ketahui dengan lebih mantap ialah:

    1. Bagaimana Melaksanakan Niat Puasa

    Bila membincangkan soal ibadat perkara yang penting diambil perhatian ialah niat. Tanpa niat ia tidak akan menjadi ibadat yang sah. Inilah yang dimakskudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda baginda:

    “Sesungguhnya amal perbuatan itu hanyalah dengan niat.”

    (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’iy dan Ibnu Majah)

    Niat adalah salah satu dari tiga rukun puasa. Ia diwajibkan sama ada puasa itu puasa wajib atau puasa sunat. Jika orang yang berpuasa itu meninggalkan niat puasa walaupun dia tidak mengetahui (jahil), maka puasa itu tidak sah.

    Menurut al-Imam as-Suyuthi di dalam kitabnya, niat itu tempatnya di hati (al-Asybah wan-Nazhair:23). Manakala menurut pengarang Hasyiyah I’anah at-Thalibin, sunat dilafazkan niat itu dengan lidah bagi membantu dalam hati seperti mana niat ibadat-ibadat yang lain.

    Berdasarkan hadis di atas, kita dapat memahami bahawa puasa itu mesti ada niat yang khusus. Tidak memadai niat puasa itu dengan hanya makan sahur karena mengelakkan lapar atau lemah ketika berpuasa. Niat puasa itu juga tidak memadai dengan hanya menahan dirinya daripada sesuatu yang membatalkan puasa karena takut kedatangan fajar di mana orang berpuasa tidak dibenarkan melakukannya. Dari itu perbuatan seperti di atas hendaklah disertai dengan niat untuk mengerjakan puasa atau paling tidak ada lintasan di hati untuk berpuasa. (I’anah at-Thalibin: 2/248-249)

    Menurut Ibnu Katsir keadaan puasa orang-orang yang terdahulu (ahli kitab), jika tidak sampai waktu berbuka mereka boleh makan dan minum sehingga terbit fajar selama mana seseorang itu belum tidur. Ini berbeza dengan keadaan puasa orang Islam di mana mereka boleh makan dan minum termasuklah menggauli isteri sebelum terbit fajar sekalipun sesudah tidur. Puasa tidak batal dengan melakukan perkara-perkara tersebut. Begitu juga dengan niat puasa. Niat itu tidak akan terbatal dengan melakukan perkara-perkara di atas dan kita tidak perlu memperbaharui niat berkenaan.

    Manakala perempuan haidh atau nifas yang berniat selepas terbenam matahari ketika belum kering darahnya untuk berpuasa ke esokan harinya, lalu darahnya kering sebelum terbit fajar maka sah puasanya dengan niatnya itu dan tidak perlu memperbaharui niatnya, walaupun perempuan itu belum mandi hadats selepas terbit fajar.

    Begitulah juga bagi mereka yang melakukan persetubuhan di malam hari puasa, apabila dia berniat di malam itu dan belum mandi junub (hadats besar) di siang hari, adalah sah puasa dengan niatnya itu.

    Waktu berniat puasa Ramadhan itu ialah setelah terbenam matahari dan sebelum terbit fajar shadiq. Jika niat itu dilakukan setelah terbit fajar atau sebaya dengan terbit fajar puasa adalah tidak sah. Inilah yang dikatakan oleh para ulama bahawa niat itu mesti di waktu malam (tabyit), sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

    Maksudnya: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar shadiq maka tidak ada puasa baginya.”

    (Hadis riwayat Baihaqi dan Al-Daraquthni)

    Manakala bagi puasa-puasa sunat pula, masa berniat itu mulai terbenam matahari hingga sebelum tergelincir matahari pada hari berikutnya selagi dia belum melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa dari terbit fajar shadiq pada hari tersebut, sebagaimana di dalam hadis yang diriwayatkan daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:

    Maksudnya: “Bersabda Rasullullah kepadaku pada satu hari: “Wahai ‘Aisyah, adakah di sisi kamu sesuatu (untuk dimakan)?” Maka aku (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasullullah tidak ada di sisi kita sesuatupun (untuk dimakan).” Berkata (Rasullullah): “Maka (kalau begitu) sesungguhnya aku seorang yang berpuasa.”

    (Hadis riwayat Muslim)

    Adapun sekurang-kurang lafaz niat puasa Ramadhan itu ialah:

    Artinya: “Niat aku puasa Ramadhan.”

    Manakala niat yang lengkap pula ialah:

    Artinya: “Niat aku puasa esok hari menunaikan fardhu Ramadhan pada tahun ini karena Allah Ta’ala.”

    Niat puasa itu wajib dilakukan pada tiap-tiap malam di dalam hati dan sunat dilafazkan, karena ibadat puasa itu adalah ibadat berasingan yang masuk waktunya dengan terbit fajar shadiq dan keluar waktunya dengan terbenam matahari. Ia dikira sehari sehari. Apabila rosak satu hari puasa itu, ia tidak merosakkan puasa yang terdahulu dan yang terkemudian.

    Berniat pada tiap-tiap malam ini khusus bagi puasa wajib saja, yaitu puasa bulan Ramadhan, nazar, kaffarah, qadha dan fidyah haji. Masa berniat itu mulai terbenam matahari hinggalah sebelum terbit fajar shadiq.

    Di samping kita wajib berniat pada tiap-tiap hari, kita juga digalakkan untuk berniat dengan niat satu bulan penuh, itupun hanya di awal bulan Ramadhan saja. Tujuannya ialah untuk berjaga-jaga kalau-kalau kita terlupa berniat pada malam-malam berikutnya dengan bertaqlid kepada mazhab Imam Malik. Maka dengan adanya kita berniat sebulan itu akan menampung niat pada hari yang kita lupa itu. Akan tetapi niat tersebut tidak akan dikira niat sebulan jika ia diniatkan setelah berlalu satu Ramadhan. Contohnya orang yang berpuasa itu berniat dengan niat puasa sebulan pada hari kedua puasa, maka niat tersebut tidak sah.

    Maka dalam hal ini, perkara penting yang mesti kita ambil perhatian ialah kita wajib berniat puasa pada tiap-tiap malam, dan sebaiknya kita juga berniat puasa sebulan pada permulaan Ramadhan sebagai langkah berjaga-jaga kalau-kalau ada hari kita terlupa berniat.

    Ini berarti niat pada tiap-tiap malam itu tidak boleh kita tinggalkan dengan senghaja karena sudah berniat puasa sebulan adalah tidak memadai dan tidak sah puasa selain puasa hari pertama Ramadhan jika ia dikerjakan dengan hanya berniat satu bulan saja tanpa disertai dengan niat puasa setiap hari.

    Lafaz niat sebulan puasa itu ialah:

    “Saja aku puasa bulan Ramadan seluruhnya pada tahun ini karena  Allah Taala”.

     
  • erva kurniawan 1:44 am on 13 June 2016 Permalink | Balas  

    Berhenti Menjadi Pengemis 

    pengemisBerhenti Menjadi Pengemis

    Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata “maaf” kepada pengemis yang ke sekian.

    Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.

    Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku. Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

    Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.

    “Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?” tanya Diding

    Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.

    “Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?” terang Diding.

    Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, “Maksudnya… yang seratus ribu itu hanya pinjaman?”

    “Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu meminta-minta lagi,” katanya.

    Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain.

    Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gado-gado, pikirku.

    ***

    Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado-gado itu. Selain untuk mengisi perutnya -dengan tetap membayar- ia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gado-gado itu.

    Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gado-gado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. “Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat.”

    Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab. Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti meminta-minta.

    Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya.