Jatuh Tertimpa Tangga


Jatuh Tertimpa Tangga

Oleh : Abu Nabiel

Hidup ini tidak pernah lepas dari cobaan dan ujian. Bahkan ia merupakan sunnatullah dalam kehidupan manusia, yang mau tidak mau akan dialaminya. Terkadang cobaan dan ujian yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia, ada yang berupa kenikmatan atau kebaikan, seperti: Kekayaan; Kehormatan; Kesehatan; Kesuksesan dan lain-lain. Ada pula ujian dan cobaan tersebut yang diberikan kepada manusia berupa keburukan, seperti: Kemiskinan; Kehinaan; sakit; Kebangkrutan dan lain-lain. Sebagaimana hal tersebut difirmankan oleh Allah Ta’ala, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan(yang sebebenar-benarnya) . Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya: 35)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ujian merupakan suatu yang niscaya dan akan ditimpakan kepada setiap manusia. karena itu, kita hendaknya mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Sehingga tidak terbetik sedikit pun di dalam diri kita untuk berburuk sangka terhadap Allah Ta’ala akan ujian yang kita alami. Apa yang Allah berikan kepada kita pasti merupakan sesuatu yang terbaik. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Seorang mukmin tatkala menghadapi ujian atau cobaan hendaknya bersikap sabar dan meyakini, bahwa di balik semua itu terdapat kebaikan dan pahala yang besar dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un’ lalu berdo’a, ‘Ya Allah Berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti yang lebih baik darinya,’ melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim).

Rasulullah Ta’ala memuji orang yang beriman yang semua urusannya mendatangkan kebaikan, lantaran sikap sabarnya ketika menyikapi dan menghadapi ujian dan cobaan yang menimpanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan. Dan hal itu tidak akan didapati kecuali hanya pada diri seorang yang beriman. Jika dia diberikan kelapangan/ kemudahan, dia mensyukurinya, maka itulah kebaikan baginya. Dan jika keburukan menimpanya, dia menyikapinya dengan sabar, maka itulah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala dan RasulNya Ta’ala juga menghibur orang-orang yang mendapatkan musibah, bencana, dan sesuatu yang tidak dia senangi, seperti Penyakit, kemiskinan, kebangkrutan, kecelakaan, bahwa semua itu dapat menghapuskan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan mu).” (Asy-Syura: 30)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kegundahan, dan tidak pula kesedihan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya, Allah akan mengapuskan dosa-dosanya.” (Muttafaq ‘alaih).

Kenyataannya, tidak setiap orang dapat menyikapi musibah atau ujian Allah Ta’ala dengan sabar, mengharap kebaikan/ ganti yang lebih baik, dan ampunan dari Allah Ta’ala. Karena itu tidak sedikit di antara kita yang mengambil cara dan jalan “pintas” untuk menghilangkan musibah dan ujian tersebut. Cara dan jalan yang diharamkan dan mengundang murka Allah Ta’ala. Bahkan ironisnya, baru-baru ini terdapat berita yang sangat miris sekaligus menunjukkan betapa banyak kaum muslimin yang lemah aqidahnya dan tidak mampu bersabar atas musibah dan cobaan tersebut. Mereka berbondong-bondong mendatangi seorang dukun cilik yang konon memiliki batu ajaib yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit –wal ‘iyadzu billah- keadaan itu diperparah lagi dengan munculnya fatwa-fatwa sesat sebagian “ustadz” yang membolehkan perbuatan yang demikian itu dan menyatakan, bahwa hal tersebut bukanlah kesyirikan, melainkan hanya sebab yang dapat mendatangkan kesembuhan, yang dengan itu orang-orang miskin dapat berobat dengan biaya yang relatif terjangkau. Hal itu merupakan syubhat dan virus yang perlu segera diklarifikasi sebelum menjangkit di dalam diri kaum muslimin. Bagaimana mungkin perbuatan tersebut tidak dianggap perbuatan syirik? Padahal mendatangi “dukun” saja merupakan perbuatan yang dilarang keras oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana sabda beliau Ta’ala, “Barangsiapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu dia percaya dengan apa yang disampaikannya, maka sungguh dia telah kufur (murtad) terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani).

Kemudian mempercayai suatu benda seperti batu memiliki kemampuan atau keistimewaan –padahal dia hanya sebuah benda mati- yang tidak dimiliki oleh siapa pun, kecuali hanya Allah Ta’ala, seperti mendatangkan kesembuhan yang merupakan kekhususan Allah Ta’ala, maka ini jelas merupakan kesyirikan yang besar, yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Karena berarti dia telah mensejajarkan kedudukan Allah Ta’ala dengan batu yang hina tersebut yang tidak mendatangkan manfaat dan tidak pula mampu menolak mudharat Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi.’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (Yunus: 18).

Kalau seandainya ada batu yang boleh diagungkan oleh kaum Muslimin dan boleh bagi mereka mengharapkan berkah darinya, tentu batu tersebut hanyalah “Hajar Aswad”, ketika kaum Muslimin disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengecupnya saat melakukan Thawaf, sebagaimana dicontohkan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Pernah suatu ketika Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu mencium Hajar Aswad seraya berkata, “Sungguh aku tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak mendatangkan manfaat juga tidak mendatangkan mudharat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, maka aku pun tidak akan menciummu.” (HR. al-Bukhari). Beliau mencium Hajar Aswad semata-mata karena kepasrahan beliau terhadap syariat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya. Dan semata-mata ingin mencontoh apa yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dengan mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam inilah didapatkan barokah. Lain halnya dengan beberapa kaum muslimin yang justru malah mengusap baju-baju mereka di Hajar Aswad untuk mencari berkah! Atau mempercayai ada batu-batu tertentu yang memiliki keistimewaan yang menjadi kekhususan bagi Allah Ta’ala. Sungguh telah jelas, bahwa perbuatan di atas merupakan kesyirikan yang nyata, perbuatan yang beresiko sangat tinggi. Pelakunya tidak akan pernah diampuni oleh Allah Ta’ala, jika dia mati dan tidak bertobat dari kesyirikan yang dilakukannya. Bahkan Allah Ta’ala mengharamkan pelakunya masuk ke dalam surgaNya alias kekal di neraka selama-selamanya, serta tidak seorang pun yang mampu menolong atau mengeluarkannya dari neraka

Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki- Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa: 48)

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72).

Semoga buletin yang singkat ini dapat bermanfaat dan menjadi hujjah bagi kaum muslimin untuk berhati-hati dari kesyirikan yang dewasa ini menjadi hal yang dianggap biasa dan wajar dilakukan oleh setiap orang. Dan tentu bagi yang terlanjur melakukannya baik dilakukan secara sengaja, ataupun karena ketidaktahuan untuk segera bertaubat darinya sebelum ajal tiba. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufikNya kepada kami dan seluruh kaum muslimin untuk dapat menjauhi dan meninggalkan kesyirikan, serta mengingatkan kaum muslimin dari bahaya kesyirikan dan konsekuensi yang diterima oleh para pelakunya. Wallahu a’alam.