Keadaan Batin Pada Setiap Tahapan Sholat


Keadaan Batin Pada Setiap Tahapan Sholat

Adzan

Ketika anda mendengar panggilan sholat oleh muadzin, maka berusahalah membayangkan hingar bingar teriakan di hari kiamat. Persiapkan diri, lahir dan batin untuk menjawabnya. Mereka yang segera menjawab ajakan tersebut, niscaya akan menjadikan dirinya orang yang mendapat perlakuan lemah lembut di hari pembalasan nanti. Untuk itu ingatlah sekarang: Jika Anda menjawab seruan dengan rasa senang dan gembira, didorong oleh keinginan memenuhi panggilan adzan, percayalah di hari pengadilan kelak Anda akan bersuka ria dengan kabar gembira dan kemenangan. Itulah mengapa Rasulullah saw. Sering berkata, “Gembirakanlah kami wahai Bilal!” demikianlah karena Bilal seorang muadzin, dan shoalt itu sendiri merupakan kegembiraan dan kesenangan bagi Rasulullah saw.

Bersuci Diri

Ketika hendak menyucikan sesuatu yang ada disekitar anda secara cepat ruangan, pakaian, hingga akhirnya kulit anda maka jangan sampai mengabaikan keadaan batin, ayng merupakan tempat bersemayamnya hati, tempat bersemayamnya segala sesuatu. Bersungguh-sungguhl ah untuk menyucikan dengan bertobat dan menyesali diri, serta janji untuk meninggalkannya di masa mendatang. Bersihkanlah batin anda dengan cara ini, karena batin merupakan tempat yang diawasi oleh Dzat yang anda sembah.

Menutup Aurat

Menutup aurat berarti anda menutup bagian-bagian tubuh dari pandangan manusia. Tetapi bagaimana mengenai aurat batin dan rahasia pribadi anda yang keji, dimana hanya Allah swt. Sajalah yang menyaksikannya? Sadarilah kesalahan-kesalah ini. Tutupilah semuanya, tetapi ingat bahwa tiada sesuatupun yang dapat disembunyikan dari penglihatanNya. Hanya dengan tobat, malu serta takut, niscaya Allah akan memaafkannya.

Menghadap Kiblat

Menghadap kiblat berarti anda memalingkan wajah lahiriyah dari segala arah selain ke arah Rumah Allah swt. (Ka’bah). Apakah anda mengira bahwa tidak akan diminta untuk memalingkan hati dari segala sesuatu, lalu hanya menghadapkan diri kepada Allah swt. Semata? Tentu saja tidak benar, karena Ka’bah ini merupakan tujuan dan seluruh gerak sholat! Nabi Muhammad pernah bersabda, “Ketika seseorang sholat, dimana keinginan, wajah dan hatinya hanya tertuju kepada Allah Azza wa jalla, maka seusai sholat akan menjadikan dirinya bagaikan bayi yang baru dilahirkan ibunya.”

Berdiri Tegak

Berdiri tegak, maksudnya beridir lurus lahir dan batin di hadapan Allah Azza wa jalla. Kepala anda, yang merupakan bagian tertinggi dari tubuh, supaya sedikit membungkuk sebagai tanda kerendahan hati serta melepaskan diri dari keangkuhan dan kesombongan.

Niat

Ketika bernia, bayangkan bahwa diri anda tengah memenuhi pangilanNya, dengan melaksanakan sholat dalam rangka kepatuhan terhadap perintahNya, dengan cara melaksanakan sholat secara tepat serta menghindarkan dan meniadakan segala sesuatu yang akan mengganggu dan merusakkannya. Dan dengan melakukan semuanya secara tulusdan ikhlas semata-mata karena Allah Azza wa jalla, demi mengharap ganjaran dari Nya dan dijauhkan dari siksaNya, mencari kasih dan sayangNya

Takbir

Ketika mengucapkan takbir, hati anda tidak boleh menyangkal apa yang tengah diucapkan oleh bibir anda. Bila di dalam hati anda merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dari Allah swt, walau apa yang anda ucapkan benar, maka Allah swt, akan menggolongkan anda seorang penipu.

Doa Iftitah

Ketika mengucapkan doa iftitah (pembuka), anda tengah mewaspadai kemusyrikan yang ada di dalam diri. Ini berkenaan dengan mereka yang beribadah demi mansuia, ataupun yang mengharapkan rahmat Allah Azza wa jalla semata. DifirmankanNya “maka barangsiapa mengharapkan pertemuan denagn Tuhannya, hendaklah mengerjakan amal kebaikan. Dan dalam beribadah kepadaNya, jangan mempersekutukan Dia dengan sesuatupun.” (QS.18:110)

Ketika anda mengucapkan “Auszu billahi minasy syaithanirrajim” (Aku berlindung kepada Allah swt dari godaan setan ayng terkutuk), maka sesungguhnya harus disadari bahwa setan adalah musuh sejati, dan ia selalu mencari celah dan kesempatan untuk memisahkan anda dan Allah Azza wa jalla. Setan akan selalu menghalangi anda dalam melakukan munajat kepada Allah swt. Dan untuk bersujud kepadaNya

Membaca Ayat Al-Qur’an

Mengenai membaca Al-Qur’an, maka dapat dibedakan dalam tiga kategori, yaitu: 1. Mereka yang menggerakkan lidahnya tanpa kesadaran (artinya tidak memahami apa yang dilafalkan oleh lidah) 2. Mereka yang secara sadar memahami apa yang dilafalkan oleh lidah, memahami maknanya dan seolah mendengarkannya sebagai ucapan orang lain, inilah derajat yang dicapai “golongan kanan” 3. Mereka yang bermula dari menyadari makna, menjadikan lidah sebagai juru bahasa bagi kesadaran batin. Lidah memang dapat berperan sebagai penerjemah batin dan sekaligus guru sejati bagi hati. Bagi mereka yang sangat dekat dengan Tuhan, maka lidah berperan sebagai penerjemah

Rukuk

Allah swt. Menyaksikan hambaNya yang tengah berdiri, rukuk dan sujud. Sebagaimana Dia berfirman, “Yang melihatmu ketika berdiri dan melihat gerak gerikmu di tengah orang-orang yang bersujud” (QS 26:218) Rukuk dan sujud yang disertai pengakuan akan keagungan Allah Azza wa jalla. Di dalam rukuk, Anda memperbarui penyerahan diri dan rasa rendah hati, serta selalu menyebarkan kesadaran betapa ketidak mampuan dan ketidak bermaknaan kita dihadapan Dzat Yang Maha Agung. Untuk menegaskan hal ini, anda memerlukan (mencari) bantuan lidah, dengan mengagungkan asma Tuhan serta berulang kali mengakui keagungan kekuasaanNya, baik secara lahirah ataupun batiniah.

Kemudian anda bangkit dari rukuk, berharap bahwa Dia (Allah) akan mencurahkan rahmatNya kepada anda. Untuk mempertegas harapan ini dalam diri anda mengucapkan, “”Sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar siapa saja yang memujiNya). Untuk menyatakan syukur, anda segera menambah, “Rabbana lakal hamdu” (Wahai Tuhan, hanya bagiMu lah segala pujian). Untuk menunjukkan banyaknya atau memperbanyak pujian, anda juga mengucapkan, “mil as samawati wa milal ardhi” (yang memenuhi seluruh langit dan bumi).

Sujud

Selanjutnya anda bersujud. Ini adalah tingkatan pengungkapan penyerahan diri tertinggi, yang mana anda menyentuhkan bagian termulia dari badan, wajah ke wujud yang rendah, tanah. Apabila mungkin, akan lebih baik bersujud tanpa alas, yang tentu saja hal ini lebih menggambarkan sikap kerendahan hati dan berserah diri.

Apabila anda meletakkan diri dalam posisi yang sedemikian rendah, maka akan lebih menyadari dengan siapa anda berhadapan. Anda telah mengembalikan cabang pada akarnya, karena anda berasal dari tanah dan kelak akan kembali ke tanah pula. Pada saat yang sama anda juga memperbarui kesadaran batin akan keagungan Tuhan, seraya berkata, “Subhana rabbiyal a’la” (Mahasuci Tuhan Yang Mahatinggi). Pengulangan ucapan ini hanya akan lebih memperkuat pengakuan anda, karena mengucapkannya hanya sekali saja dirasa tidak memadai.

Ketika batin anda merasa terpuaskan dalam mengharapkan kasih sayang Ilahi, yakinlah bahwa Tuhan akan selalu mengaruniakan kasih dan sayang Nya. Bahwa kasih dan sayangNya selalu mengalir kepada mereka yang lemah dan rendah, tidak bagi yang sombong dan congkak.

Selanjutnya anda mulai mengangkat kepala kemudian bertakbir, “Allahu Akbar” (Allah Maha Agung) dan mintalah apa yang anda perlukan, mohonlah hajat anda, seperti, “Rabbigh fir war ham wa tajaa waz’ amma ta’lam” (Ya Allah, ampuni dan kasihanilah aku! dan lepaskanlah dari dosa yang Engkau ketahui). Selanjutnya anda sujud untuk yang kedua kalinya, yang memperkuat penyerahan diri kepada Allah swt.

Duduk dan Tasyahud

Ketika anda duduk untuk mengucapkan pengakuan (tasyahud), duduklah dengan sopan. Ungkapkan bahwa sholat dan seluruh amal sholeh yang anda lakukan itu semua semata-mata demi mengharap kasih sayangNya, dan segala sesuatu hanyalah milikNya. Itulah ayng dimaksudkan bahwa segala kehormatan (at tahiyyat) adalah milik Allah swt. “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh”. (Salam sejahtera semoga selalu terlimpah bagi Rasul saw. Serta rahmat dan berkah Allah atasnya).

Yakin bahwa salam yang anda ucapkan akan sampai kepada beliau. Dan beliau juga akan menjawab, bahkan dengan salam yang lebih sempurna bagi anda. Kemudian ucapkan pula salam bagi diri anda serta seluruh hamba Allah yang sholeh. Kemudian persaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya. Dengan mengulang dua kali kesaksian tersebut, anda telah mengulang kembali pengakuan atas kasih sayang Allah Azza wa jalla, dan meyakinkan diri akan perlindunganNya.

Doa Penutup

Pada akhir sholat, hendaknya anda berdoa memohon kepadaNya penuh harap secara santun dan disertai kerendahan hati, dengan yakin bahwa permohonan itu didengar. Tunjukkan doa anda termasuk kepada orang tua serta orang-orang beriman lainnya.

Salam

Akhirnya, dengan maksud mengakhiri sholat anda, ucapkan salam kepada para malaikat dan mereka yang hadir. Rasakan semua itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah swt. Atas segala karuniaNya karena anda dapat menyelesaikan sholat. Bayangkan bahwa anda tengah mengatakan selamat berpisah pada ibadah sholat, dan bahwa mungkin anda meninggal hingga tidak bisa lagi melakukan seperti ini.