Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat)


Penyelenggaraan Jenazah & Pembagian Harta Warisan (2-Tamat)

Wasiat Allah

Apabila si wafat tidak meninggalkan suatu wasiat, maka pembagian harta warisan dilakukan menurut wasiat Allah. Demikian pula apabila ada sisa harta yang tidak diatur pembagiannya di dalam wasiat, maka ia dibagi menurut ketentuan wasiat Allah.

Terdapat tiga ayat yang mengatur ketentuan tentang wasiat Allah ini yaitu:

“Allah mewasiatkan kamu mengenai anak-anak kamu; bagian anak laki- laki sama dengan bagian dua perempuan, dan jika mereka semuanya perempuan yang lebih dari dua, maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan; tapi jika anak perempuan itu seorang saja, maka baginya separuh harta. Dan untuk ibu dan bapak, kepada masing- masing satu per enam dari harta yang ditinggalkan, jika dia ada anak; tetapi jika dia tidak ada anak, dan waris-warisnya ialah ibu dan bapaknya, maka satu per tiga bagi ibunya, atau jika dia ada saudara-saudara laki-laki, maka bagi ibunya satu per enam, sesudah dipenuhi wasiat yang dia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya…” [Q.S. 4:11]

“Dan bagi kamu (suami), separuh dari apa yang isteri-isteri kamu tinggalkan, jika mereka tidak mempunyai anak. Tapi jika mereka mempunyai anak, maka bagi kamu satu per empat dari yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat mereka, atau (dan) dibayar hutangnya. Dan bagi mereka (istri-istri), satu per empat dari apa yang kamu tinggalkan jika kamu mempunyai anak. Tapi jika kamu mempunyai anak, maka bagi mereka satu per delapan dari apa yang kamu tinggalkan, sesudah dipenuhi wasiat atau (dan) dibayar hutangnya. Jika seorang laki-laki atau seorang perempuan tidak mempunyai pewaris langsung (ibu bapak dan anak), tapi mempunyai saudara laki- laki atau saudara perempuan, maka bagi masing-masing dari keduanya, satu per enam harta. Tapi jika mereka lebih banyak dari itu, maka mereka bersekutu dalam satu per tiga, sesudah dipenuhi wasiatnya, atau (dan) dibayar hutang yang tidak memudaratkan. (Yang demikian) wasiat dari Allah, dan Allah Mengetahui, Penyantun”. [Q.S. 4:12]

“Mereka meminta satu keputusan kepada kamu. Katakanlah, “Allah memutuskan kepada kamu mengenai waris yang tidak langsung (selain ibu bapak dan anak). Jika seorang laki-laki mati tanpa seorang anak, tetapi dia mempunyai saudara perempuan, maka dia (saudara perempuan) menerima separuh dari apa yang dia tinggalkan; dan dia (saudara laki- laki) adalah pewaris harta saudara perempuannya jika dia (perempuan) tidak mempunyai anak. Jika ada dua saudara perempuan, mereka menerima dua per tiga dari harta yang dia (saudara laki-laki) tinggalkan. Dan jika ada beberapa orang saudara, laki-laki dan perempuan, yang laki-laki menerima sama dengan dua bagian perempuan. Allah menjelaskan kepada kamu supaya kamu tidak sesat; Allah mengetahui segala sesuatu”. [Q.S. 4:176]

Sebagai catatan, umumnya Al-Qur’an terjemahan bahasa Indonesia menggunakan frasa “Allah syariatkan…” pada awal ayat 4:11 yang dikutip di atas. Namun apabila kita konsisten dengan terjemahan kata dalam bahasa aslinya (Arab), maka yang lebih tepat adalah frasa “Allah wasiatkan…”.

Ayat-ayat tentang wasiat Allah di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

Bagian anak-anak – Pada dasarnya, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. – Jika anak perempuan berjumlah lebih dari dua, maka mereka mendapatkan 2/3, dan berarti anak laki-laki mendapat 1/3. – Jika anak perempuan hanya satu orang, dan anak laki-laki juga satu orang, maka masing-masing mereka mendapatkan separuh (1/2). – Jika anak laki-laki lebih dari 1 orang, dan anak perempuan hanya 1 orang, maka perhitungannya kembali ke prinsip awal bahwa bagian satu orang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. – Pendapat kami, apabila orang yang wafat hanya meninggalkan anak laki-laki saja (tidak ada anak perempuan), maka warisan yang diperuntukkan bagi anak diserahkan semuanya kepada anak laki-laki tersebut, demikian pula sebaliknya.

Bagian Istri/ Suami

  • Jika tidak ada anak, istri mendapatkan 1/4 bagian.
  • Jika ada anak, istri mendapatkan 1/8 bagian.
  • Jika tidak ada anak, suami mendapatkan 1/2 bagian.
  • Jika ada anak, suami mendapatkan 1/4 bagian.

Bagian Orang Tua

  • Jika ada anak, ibu dan bapak masing-masing mendapatkan 1/6 bagian.
  • Jika tidak ada anak, ibu mendapatkan 1/3 bagian.
  • Jika tidak anak tapi ada saudara-saudara laki-laki, ibu kembali mendapatkan 1/6 bagian.

Bagian Saudara (pewaris tidak langsung)

  • Jika tidak ada pewaris langsung (ibu, bapak, anak), saudara- saudara laki-laki dan perempuan mendapat masing-masing 1/6. Apabila jumlah mereka lebih dari 6 orang, mereka semua berbagi dalam 1/3 bagian. Bagian saudara laki-laki sama dengan dua bagian saudara perempuan.
  • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara perempuannya mendapatkan 1/2 bagian.
  • Jika orang yang meninggal adalah laki-laki yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), namun mempunyai dua orang saudara perempuan, maka mereka mendapatkan 2/3 bagian.
  • Jika orang yang meninggal adalah perempuan yang tidak mempunyai pewaris langsung (ibu, bapak, anak), maka saudara laki- laki mewarisi seluruh harta.

Contoh ilustrasi, seorang laki-laki wafat dan meninggalkan seorang istri, ibu, dan anak-anak. Prosentase pembagiannya:

Istri => 1/8 (3/24) = 12,50%

Ibu => 1/6 (4/24) = 16,66%

Anak-anak => Sisa (17/24) = 70,83%

Pada kasus tertentu, harta yang dibagi dengan rumus di atas ternyata masih bersisa. Hemat kami, sisa harta tersebut dibagikan kepada orang-orang yang terikat sumpah dengan si meninggal sebagaimana telah disinggung sebelumnya (anak asuh, anak tiri, kerabat yang miskin, pembantu, anak yatim, dll).