Jumlah Minimal Jama’ah Shalat Jum’at


Jumlah Minimal Jama’ah Shalat Jum’at

Shalat Jum’at dilakukan secara berjama’ah dan tidak sah bila dilakukan secara sendirian. Namun para ulama berselisih tentang jumlah minimal orang yang menghadiri shalat Jum’at. Berikut beberapa pendapat tentang jumlah minimal jama’ah Shalat Jum’at :

Pertama,

Tidak diadakan kecuali minimal 40 orang yang diwajibkan shalat Jum’at. Ini adalah pendapat madzhab Maliki, Syafi’i dan yang masyhur dalam madzhab Ahmad. Dalilnya adalah Hadits Ka’ab bin Malik,

“As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi dari harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya, Waktu itu berapa jumlah kalian ?”, dia menjawab, ‘Empat puluh’” (HR. Abu Dawud no.1069, Ibnu Majah no. 1082 dan lainnya, hadits ini dihasankan oleh Abu Ishaq Al Huwaini dalam Ghauts Al Makdud bi Takhrij Muntaqa Ibni Al Jarud)

Kedua,

Harus ada 12 orang dari yang diwajibkan Jum’at, mereka berdalil dengan hadits Jabir, “Rasulullah berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa kecuali dua belas orang” (HR. Muslim no. 863)

Ketiga

Disyaratkan paling sedikit tiga orang; seorang Khatib dan 2 orang pendengarnya. Demikian riwayat dari Imam Ahmad, Al Hasan Al Bashri, Abu Yusuf dan salah satu pendapat Sufyan Ats Tsauri.

Adapun dalilnya adalah hadits Abu Ad Darda’ sebagai berikut, “Tidak ada dari 3 orang di satu perkampungan atau pedalaman, (lalu) tidak ditegakkan padanya shalat, kecuali setan akan menguasai mereka” (HR. Abu Dawud no. 537 dan An Nasa’i 2/106, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Keempat

Sah diadakan oleh 2 orang atau lebih. Mereka menyatakan, telah dimaklumi bahwa shalat Jama’ah selain Jum’at sah dilakukan dua orang saja secara ijma’ dan shalat Jum’at sama dengan shalat Jama’ah lainnya. Barangsiapa yang mengeluarkan dari shalat jama’ah lainnya harus mendatangkan dalil dan tidak ada dalil yang tegas dalam masalah ini. Pendapat ini dirajihkan oleh Imam Ibnu Hazm (Al Muhalla 5/45), Asy Syaukani (Nailul Authar), Shidiq Hasan Khan dan Al Albani (Al Ajwiba An Anfi’ah hal. 44). Demikian inilah pendapat yang rajih insya Allah.

Maraji’ :

Diringkas dari tulisan Ustadz Abu Asma Khalid bin Syamhudi pada Majalah As Sunnah Edisi 02/VIII/1425H/2004M, Penerbit : Yayasan Lajnah Istiqamah Surakarta.