Kesalehan Pribadi Saja Tak Cukup


Kesalehan Pribadi Saja Tak Cukup

Menilik situasi dan kondisi yang melingkupi masyarakat Indonesia pada dewasa ini, terutama yang menyangkut masalah moral dan akhlaknya. Maka masih relevan dengan yang pernah dikatakan oleh M. Natsir -salah satu tokoh Negarawan Indonesia pada masa lalu- yang dalam salah satu bukunya yang berjudul “Menyelamatkan Ummat’, telah menuliskan : “ …Umat Muhammad SAW tidak cukup hanya menjadi orang yang baik untuk pribadinya saja. Tetapi, ia harus pula berbuat baik terhadap orang lain, dan mengajak orang lain berbuat baik. Juga tidak cukup sekedar menjadi orang yang baik saja. Tetapi harus pula mencegah kerusakan, memberantas kemungkaran dan kemaksiatan. Sebab, bila kemungkaran itu tidak diberantas, maka kebaikan yang telah dibina dan dibangun dengan susah payah akan berantakan kembali… ‘.

Moral dan akhlak masyarakat pada dasarnya ditentukan oleh moral dan akhlak dari masing-masing pribadi insan manusia yang menjadi anggota masyarakat itu. Sehingga untuk memperbaiki hal ihwal dari keadaan suatu masyarakat, yang pertama-tama harus dilakukan adalah memperbaiki moral dan akhlak dari masing-masing individu yang menjadi anggota dari masyarakat itu. Langkah selanjutnya, adalah mengajak kepada setiap individu anggota dalam masyarakat itu untuk melakukan upaya amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab, menjalankan amar ma’ruf nahi munkar itu merupakan kewajiban dan tanggungjawab dari seluruh umat Muslim untuk menyelamatkan keseluruhan masyarakat itu.

Imam Al-Ghazali meriwayatkan suatu hadits yang menyiratkan pesan bahwa seorang Muslim itu juga dituntut untuk mempunyai kewajiban dan tanggungjawab dalam dimensi kesalehan masyarakatnya, tak hanya sebatas pada satu dimensi kewajiban dan tanggungjawab kesalehan individual saja. Sebab, membiarkan suatu kejahatan dan kemungkaran berlangsung di masyarakat tanpa adanya reaksi dan upaya untuk mencegahnya, itu akan berarti mengundang datangnya siksa Allah SWT bagi keseluruhan masyarakat itu.

Siti Aisyah ra berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda : “ Allah menyiksa suatu negeri berpenduduk delapan belas ribu orang, padahal mereka beribadah sebagaimana ibadah nabi-nabi “. Kemudian para sahabat bertanya sebabnya. Rasulullah SAW menjawabnya dan bersabda : “ Karena mereka tidak marah ketika ada orang merusak nama Allah, tidak menegakkan amar ma’ruf, dan tidak mencegah orang-orang berbuat munkar “.

Didalam kitab suci Al-Qur’an juga telah dijelaskan bahwa hakikat kemaksiatan diri pribadi itu -walaupun mungkin menurut pelakunya secara kasat mata sepertinya tidak berhubungan dengan diri orang lain dan sepertinya tidak merugikan orang lain- akan tetapi sesungguhnya hal itu akan juga membahayakan diri orang lain. Hal itu akan mendatangkan bencana dan akan berarti pula mengundang datangnya murka Allah SWT.

Allah SWT berfirman : “ Dan jagalah dirimu dari bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja diantaramu “ (QS. Al-Anfaal : 25).

Pada tahap selanjutnya, tidak cukup hanya dengan hal itu saja. Tidaklah cukup jika hanya berhenti dengan membangun dan membina kesalehan pribadi dari masing-masing individu anggota masyarakat itu saja. Tidaklah cukup hanya jika hanya berhenti dengan sekedar himbauan kepada individu anggota masyarakat untuk melakukan upaya amar ma’ruf nahi mungkar saja. Tentunya agar tercapai keefektifan upaya maupun keoptimalan hasil dari amar ma’ruf nahi mungkar, diperlukan adanya suatu sistem yang melekat di sistem sosial masyarakat itu. Suatu sistem yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengatur tata kemasyarakatannya, agar terbangun kebaikan dalam masyarakat, dan kebaikan yang telah terbangun dalam masyarakat itu akan tetap terjaga dan selalu terbina, serta kebaikan dalam masyarakat senantiasa berkesinambungan. Sehingga kebaikan dalam masyarakat dari hari ke hari semakin bertambah dan semakin meningkat.

Hal itu sangat relevan jika kita menyimak salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW mengibaratkan kehidupan bermasyarakat itu dengan bahtera yang berlayar di lautan, sedangkan kemaksiatan diri pribadi itu diibaratkan sebagai tindakan melubangi kapal yang akan membahayakan keseluruhan penumpang bahtera itu.

Perumpamaan keadaan suatu masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat, tiap orang mendapat tempat tertentu. Salah seorang dari penumpang itu kemudian ada yang berfikir : “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air) tentu aku tidak akan mengganggu orang yang lain’. Kemudian secara tiba-tiba orang itu melubangi tempat yang didudukinya. Mereka yang lainnya lalu bertanya : “ Apa yang kamu perbuat ? “. Orang itu menjawabnya : “ Bukankah ini tempatku sendiri dan aku bebas berbuat apa saja “. Jika mereka terus mencegah, orang itu akan selamat dan semua penumpang kapal juga akan selamat. Tetapi kalau mereka membiarkannya, orang itu sendiri akan celaka dan semua penumpang yang naik kapal itu juga akan binasa.

Relevansi dari semua hal yang tersebut diatas -merupakan suatu keniscayaan yang mau tak mau dan suka tidak suka- tak akan dapat dilepaskan dari sistem hukum dan penegakan hukum yang diberlakukan di keseluruhan relasi sosial kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat itu. Jika tak demikian halnya, maka kebaikan yang telah dibina dan dibangun dengan susah payah itu akan mubazir, pada akhirnya akan berantakan kembali.

Sementara itu, kita -sebagai Muslim dan umat Nabi Muhammad SAW- seharusnya haqqul yaqin bahwa kebenaran yang hakiki secara kebenaran duniawi dan ukhrowi hanya kebenaran Allah SWT saja. Dan, seharusnya haqqul yaqin pula bahwa hukum dan aturan yang memiliki kebenaran hakiki secara kebenaran duniawi dan ukhrowi tentu hanya aturan Allah SWT yang disampaikan lewat utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW.

Akhirul kalam, Sudahkah kita sebagai masing-masing pribadi telah memahami dan menyadari semua hal itu ?. Sejatinya, jika kita -sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Ukhuwah Islamiyah- kemudian dapat saling bersepakat dan selanjutnya saling mengulurkan tangan agar dapat saling menggandengkan tangan untuk bersama dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga mengupayakan terwujudnya hal yang tersebut diatas. Maka, dengan izin dan ridho-Nya, tak ada halangan yang akan mampu merintanginya dan tiada aral melintang yang akan mampu menghentikannya !!!. Insya Allah, bersama kita bisa !!!.

Wallahu’alambishawab.

si-pandir,

***

Dicuplik dan disadur dari : “Mencegah Kemungkaran’ tulisan karya M Fuad Nasar, dan “Melubangi Kapal’ tulisan karya Evi Susanti, yang dimuat di kolom Hikmah SKHU Republika. Dan ditambah serba sedikit dari beberapa sumber lainnya.

Iklan