Kitab Rahasia Puasa (3/4)


Kitab Rahasia Puasa (3/4)

Sunnat-sunnat puasa

Sunnat bagi orang yang berpuasa melewatkan sahur dan menyegerakan berbuka, yaitu dengan buah kurma atau dengan air sebelum bersembahyang. Sunnat baginya juga banyak bersedekah dalam bulan Ramadhan, banyak membaca Al-Quran duduk beri’tikaf dalam masjid pada 10 hari yang terakhir dari Ramadhan dan tiada keluar dari masjid itu, melainkan karena sesuatu hajat saja. Tiada mengapa dia memakai bau-bauan yang wangi di dalam masjid, berakad nikah di situ, makan-minum dan tidur di dalamnya, membasuh tangan di dalam besin, yang semua itu mungkin diperlukan ketika ber’iktikaf di dalam masjid.

Jenis-Jenis puasa dan tingkatannya.

Ketahuilah bahawa puasa itu ada tiga darjatnya.

  1. Puasa umum: yaitu berpuasa dengan menahan perut dan faraj (kemaluan) dari mengecap kesyahwatannya, seperti yang telah berlalu huraiannya.
  2. Puasa khusus: yaitu puasa disertakan dengan mengekang pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan seluruh anggota dari melakukan perkara-perkara yang haram atau dosa.
  3. Puasa khususul-khusus: yaitu berpuasa dengan menyertakan semua yang tersebut di atas tadi dan menambah lagi dengan berpuasanya hati dari segala cita-cita yang kotor dan pemikiran-pemikiran keduniaan dan memesongkan perhatian dari selain Allah azzawajalla sama sekali.

Rahasia-rahasia puasa dan syarat-syarat kebatinannya:

Semua ada enam yaitu:

  1. Memejamkan mata dan menahannya dari meluaskan pemandangan kepada segala perkara yang tercela dan dibenci oleh agama dan juga kepada segala sesuatu yang boleh menganggu hati, seperti melalaikannya dari berzikir dan mengingat kepada Allah.
  2. Memelihara lidah dari bersembang kosong, berbohong, mencaci maki, bercakap kotor, menimbulkan permusuhan dan riya’.
  3. Memelihara pendengaran dari mendengar hal-hal yang dilarang dan dibenci, sebab setiap yang haram diucapkan haram pula didengarkan. Dan karena itu jugalah Allah s.w.t telah menyamakan pendengaran kepada sesuatu semacam itu dengan memakan barang-barang yang diharamkan, sebagaimana dalam firmanNya: “Mereka itu suka mendengar perkara yang bohong dan memakan barang yang haram.” (al-Maidah: 42)
  4. Memelihara seluruh anggota yang lain dari membuat dosa seperti tangan dan kaki dan memeliharanya juga dari segala yang dibenci. Demikian pula menahan perut dari memakan barang-barang yang bersyubhat waktu berbuka puasa. Apalah gunanya berpuasa dari makanan yang halal, kemudian dia berbuka pula, dia memakan makanan yang haram. Orang berpuasa seperti ini, samalah seperti orang yang membangunkan sebuah istana yang indah, kemudian dia menghancurkan sebuah kota. Rasulullah s.a.w bersabda: “Ada banyak orang yang berpuasa tetapi ia tiada memperolehi dari puasaya itu selain dari lapar dan dahaga (yakni tiada mendapat pahala).” Ada yang mengatakan bahwa orang itu adalah orang yang berbuka puasanya dengan makanan yang haram. Yang lain pula mengatakan orang itu ialah orang yang menahan dirinya berpuasa dari makanan yang halal, lalu ia berbuka dengan memakan daging manusia; yaitu mencaci maki orang karena yang demikian itu adalah haram hukumnya. Ada yang mengertikannya dengan orang yang tiada memelihara anggota-anggotanya dari dosa.
  5. Janganlah dia membanyakkan makan waktu berbuka puasa, sekalipun dari makanan yang halal, sehingga terlampau kenyang, karena tidak ada bekas yang paling dibenci oleh Allah s.w.t. daripada perut yang penuh dari makanan yang halal. Cubalah renungkan, bagaimanakah dapat menentang musuh Allah (syaitan) dan melawan syahwat kiranya apa yang dilakukan oleh orang yang berpuasa waktu berbuka itu, ialah mengisikan perut yang kosong itu dengan berbagai makanan semata-mata karena dia tidak mengisikannya di waktu siang tadi. Kadangkala makanan-makanan yang disediakan itu berbagai-bagai rencamnya sehingga menjadi semacam adat pula kemudiannya. Akhirnya dikumpulkanlah bermacam ragam makanan untuk persediaan menyambut Ramadhan, dan dihidangkan pula dalam satu bulan itu bermacam-macam makanan yang tidak pernah dihidangkan dalam bulan-bulan sebelumnya. Sebagaimana yang termaklum bahwa maksud puasa itu adalah menahan selera dan mengekang nafsu, agar diri menjadi kuat untuk taat dan bertaqwa kepada Allah. Tetapi kalaulah hanya sekadar mengekang perut di siang hari hingga ke masa terbuka, lalu membiarkan syahwat berlonjak-lonjak dengan kemahuannya kepada makanan, dan dihidangkan pula dengan berbagai-bagai makanan yang lazat-lazat, sehingga perut kekenyangan, tentulah perut akan bertambah keinginannya kepada makanan-makanan itu. Malah akan timbul syahwat pula keinginan yang baru, yang kalau tidak dibiasakan sebelumnya mungkin ia tetap pada kebiasaannya. Semua ini adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan puasa yang sebenarnya. Sebab hakikat puasa dan rahsianya adalah untuk melemahkan kemahuan dan keinginan, yang digunakan oleh syaitan sebagai cara-cara yang menarik manusia kepada berbagai kejahatan. Padahal keinginan ini tidak dapat ditentang, melainkan dengan mengurangkan syahwat. Barangsiapa yang menjadikan di antara hatinya dan dadanya tempat untuk dipenuhi dengan makanan, maka ia terlindung dari kerajaan langit.
  6. Hendaklah hatinya merasa bimbang antara takut dan harap karena ia tiada mengetahui apakah amalan puasanya itu diterima oleh Allah, sehingga tergolongnya ia ke dalam puak muqarrabin (hampir kepada Allah) ataupun puasanya tertolak maka terkiralah ia ke dalam golongan orang yang terjauh dari rahmat Allah Ta’ala. Perasaan seumpama ini seharusnya sentiasa ada pada diri seseorang, setiap kali selesai melakukan sesuatu ibadat kepada Allah Ta’ala.

Bersambung.

***

Kiriman Sahabat Arland

Iklan