Kitab Rahasia Puasa (1/4)


Kitab Rahasia Puasa (1/4)

Sebesar-besar nikmat yang pernah dikurniakan Allah ke atas hamba-hambaNya ialah dengan menjadikan puasa itu benteng bagi para wali dan pelindungan bagi mereka dari segala tipu daya syaitan dan angan-angannya, sebagimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Puasa itu separuh kesabaran”

Allah telah berfirman: “Hanyasanya orang-orang yang sabar itu dipenuhi pahalanya tanpa perhitungan.” (az-Zumar: 10)

Kalau begitu pahalanya kesabaran itu telah melampaui batas-batas perkiraan dan perhitungan dan memadailah kalau kita mengetahui keutamaannya dengan sabda Rasulullah s.a.w. yang berikut: “Demi Allah yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, bahwa bau mulut seorang yang berpuasa adalah lebih harum pada sisi Allah dari bau-bauan minyak kasturi. Allah azzawajalla berkata: Sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makannya dan minumannya karena Aku. Puasa itu (dilakukan) karena Aku, dan Akulah yang akan memberikan balasannya sendiri.”

Orang yang berpuasa itu dijanjikan Allah akan bertemu denganNya untuk menerima balasan puasanya itu.

Rasulullah s.a.w telah bersabda: “Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan: Kegembiraan yang pertama ketika masa berbuka puasanya, dan kegembiraan yang lain ialah ketika masa menemui Tuhannya.”

Dalam penafsiran makna ayat yang berikut: “Tiada seorang pun yang mengetahui apa-apa yang telah disembunyikan daripada mereka itu dari cahaya mata, iaitu sebagai pembalasan terhadap segala yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah:17)

Yakni amalan yang mereka kerjakan itu ialah berpuasa sebab Allah berfirman pula pada ayat yang lain: “Hanyasanya orang-orang yang bersabar itu dipenuhi pahalanya tanpa perhitungan.” (az-Zumar: 10)

Nyatalah orang yang berpuasa itu akan diberikan balasan secukup-cukupnya dan dilipat-gandakan pahalanya tanpa dapat diragukan lagi atau diperhitungkan banyaknya. Sudah sewajarnyalah ia menerima balasan yang begitu besar, sebab puasa itu adalah dikerjakan karena Allah semata-mata dan ditujukan kepadaNya, tiada lain. Walaupun ibadat-ibadat yang lain itu pun ditujukan kepada Allah jua, tetapi ada dua perbedaannya:

  1. Bahwasanya puasa itu adalah menahan diri dan meninggalkan hawa nafsu, dan ia adalah rahsia di dalam diri seseorang dan bukan merupakan amalan yang boleh dilihat. Semua ketaatan dibuat di mata ramai dan dapat diketahui, melainkan puasa saja, tiada yang melihatnya selain Allah azzawajalla. Ia adalah suatu amalan dalam kebatinan yang disertai dengan kesabaran semata-mata.
  2. Bahwasanya puasa itu merupakan suatu jalan penentangan terhadap musuh Allah azzawajalla, sebab jalan syaitan itu, ialah melalui syahwat dan hawa nafsu yang meminta banyak makan dan minum. Jadi dalam menekan dan menentang kemauan musuh Allah itu adalah suatu pertolongan kepada Allah Ta’ala sedangkan pertolongan Allah kepada kita itu tergantung atas pertolongan dari Allah Ta’ala.

Allah telah berfirman: “Jika kamu sekalian menolong Allah (menurut perintah Allah), tentulah Allah akan menolong kamu dan akan menetapkan kaki kamu (kedudukan kamu).” (Muhammad: 7)

Dengan jalan inilah puasa itu menjadi pintu bagi segala peribadatan dan perlindungan dari hawa nafsu. Jika kita telah mengetahui keutamaannya begitu besar sekali, maka hendaklah kita menuntut syarat-syaratnya yang lahir dan batin dengan mempelajari rukun-rukunnya, sunat-sunatnya dan syarat-syarat kebatinannya.

Bersambung.

***

Kiriman Sahabat Arland

Iklan