Tahap Awal Alam Akhirat


Tahap Awal Alam Akhirat

Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

Suatu ketika Ustman bin Affan ra berhenti didekat sebuah kuburan, ia menangis sampai janggutnya basah. Ustman ra kemudian ditanya mengenai hal itu: “Mengapa anda tidak menangis ketika menyebut surga dan neraka, tetapi anda malah menangis ketika berhenti didekat kuburan?’. Ustman bin Affan ra lalu menjawab bahwa pada suatu ketika ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kuburan adalah tahap pertama akhirat. Jika penghuninya selamat darinya, maka yang datang sesudahnya akan lebih mudah. Tetapi jika dia tidak selamat darinya, maka yang datang sesudahnya akan lebih sukar”.

Jenasah itu sesungguhnya merupakan pelajaran bagi orang yang memiliki mata hati, dan padanya terdapat nasihat serta peringatan bagi semua orang, kecuali orang-orang yang lalai. Ketika seorang hamba melihat keranda jenasah yang diusung, hendaklah dia tidak lupa bahwa suatu saat dia sendirilah yang akan diusung. Mungkin esok hari, atau mungkin lusa, atau mungkin esok lusanya lagi, bisa jadi akan terjadi tak lama lagi.

Pada masa sekarang ini, tidak jarang dijumpai sekelompok orang yang justru tertawa-tawa dan bersendau-gurau ketika mereka menghadiri suatu pemakaman. Bahkan tak jarang terjadi keributan diantara ahli warisnya perihal harta warisan yang ditinggalkannya. Sesungguhnya hanya Allah SWT saja yang mampu memberikan hidayah dan kemampuan untuk menyadari semua kelalaian dan kelemahan serta kekerasan hati kita.

Al-Turmidzi dalam A-Hakim menyebutkan bahwa Al-Nu’man bin Basyir pernah mendengar Rasulullah SAW berkhutbah diatas mimbar dan bersabda: “Ketahuilah bahwa tak ada yang tersisa dari dunia ini kecuali yang setara dengan lalat-lalat yang beterbangan di udara. Oleh karena itu, demi Allah aku berpesan kepadamu agar mengingat saudara-saudaramu yang telah meninggal dunia, sebab amal-amalmu diperlihatkan kepada mereka”.

Ibn Hanbal dalam Musnad menyebutkan bahwa Abu Sa’id Al-Khuduri berkata bahwa suatu ketika mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang mati itu mengetahui siapa yang memandikannya, mengusungnya, dan meletakkannya ke liang lahat”.

Abu Dzarr berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ziarahilah kubur, pasti kalian akan mengingat akhirat, mandikanlah jenasah, sebab dalam menyentuh jenasah terdapat pelajaran yang sangat berharga. Dan kerjakanlah shalat atas jenasah, agar kalian bisa bersedih, sebab orang yang bersedih berada didalam lindungan Allah SWT”.

Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang berziarah ke kuburan saudaranya dan duduk didekatnya, kecuali hal itu akan menyenangkan saudaranya dan membalas salamnya hingga dia berdiri”.

Ibn Abi Mulaikah juga berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Ziarahilah kubur orang-orang yang mati diantara kalian, dan ucapkanlah salam kepada mereka, sebab pada mereka terdapat pelajaran bagi kalian”.

Disunahkan bagi seseorang yang berziarah ke kubur untuk membelakangi kiblat dengan wajah menghadap ke jenasah, dan memberi salam kepadanya. Namun hendaklah dia tidak mengusap-usap dan tidak menciumi kuburannya. Peziarah hendaknya berdoa untuk dirinya dan untuk orang yang telah meninggal itu, serta mengambil pelajaran.

Ibn Abi al-Dunya dalam Al-Maut menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin di dunia bagaikan seorang bayi di dalam perut ibunya, yang menangis ketika dilahirkan, tapi ketika dia melihat cahaya dana mulai menyusu, maka dia tak lagi berkehendak untuk kembali ke tempat tinggalnya yang lama. Demikian pula halnya orang beriman, dia menderita pada saat kematian, tapi ketika dia dibawa ke hadirat Allah SWT, dia tak lagi ingin kembali ke dunia seperti halnya seorang bayi yang tak ingin kembali ke dalam perut ibunya”.

Imam Bukhari dalam Jana’iz dan imam Muslim dalam Jannah, menyebutkan bahwa Anas ra meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Kematian adalah kiamat, barangsiapa mati berarti kiamatnya telah tiba. Jika salah seorang dari kalian mati, maka tempat duduknya (yang akan datang) diperlihatkan kepadanya pagi dan petang. Jika dia termasuk penghuni surga, maka tempat duduknya itu ditempatkan di penghuni surga, dan jika dia termasuk penghuni neraka, maka tempat duduknya itu ditempatkan di neraka. Dan kepadanya dikatakan: “Inilah tempat kalian hingga kalian dibangkitkan untuk menemui Dia pada hari kebangkitan’ “.

Kematian berarti perubahan keadaan dimana ruh sama sekali tidak lagi efektif bagi jasadnya. Semasa hidup, badan jasad adalah alat ruh untuk menggerakkan anggota badannya, mendengarkan dengan telinganya, melihat dengan matanya. Setelah kematian, jasad badannya tak lagi tunduk kepada perintah-perintah ruh. Kematian adalah ungkapan tentang tak berfungsinya semua anggota badan yang merupakan alat-alat ruh.Tak lagi berfungsi jasadnya setelah kematian sama dengan tak berfungsinya anggota badan tertentu semasa hidup seseorang dikarenakan telah rusaknya daya keseimbangan atau kehancuran pada urat syaraf sehingga menghalangi ruh untuk meresap kedalamnya.

Pada hakikatnya, ruh mampu mengetahui pelbagai hal tanpa harus berperantaraan alat tertentu. Kematian yang telah menghilangkan daya kerja badan jasadnya, tidaklah mengakibatkan rusaknya pengetahuan dan pemahaman serta kemampuannya mencerap rasa gembira, sedih, atau rasa sakit. Itulah sebabnya maka ruh bisa mengenyam rasa sedih dan duka nestapa, mengecap rasa senang dan gembira. Karenanya itu maka disebutkan bahwa ruh adalah esensi manusia yang bersifat abadi.

Pada saat kematian, ruh akan mengalami dua macam perubahan. Perubahan pertama adalah terpisahnya ruh dari mata, telinga, kaki, dan semua bagian anggota tubuhnya, seperti halnya dia terpisah dari keluarga, anak-anak, kerabat, semua kenalannya, dan semua hal kekayaan benda duniawi yang pernah menjadi miliknya. Bergejolaklah didalam dirinya perpisahan dengan semua hal fana yang pernah menentramkan hatinya. Pada saat itulah dikatakan kepada dirinya: “Cukup dirimu sendiri sebagai penghitung bagimu !’.

Perubahan kedua adalah terungkapnya segala hal yang tidak terungkapkan kepadanya di masa hidup, seperti halnya seseorang yang terbangun dari tidurnya. Pertama kali yang terungkap baginya adalah tentang manfaat dan mudharat dari apa yang menjadi akibat dari perbuatannya semasa hidup. Setiap orang yang meninggal dunia akan diperlihatkan kepadanya amal baiknya dan buruknya, dia akan menatap amal baiknya dan dia akan merasa malu terhadap amal-amal buruknya.

Kemudian ia akan mengarungi masa penantian yang panjang di alam barzakh dengan segala kondisinya tergantung amal perbuatannya, sampai tiba datangnya tiupan Sangkakala. Lalu ia akan dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar, berdiri dihadapan Yang Maha Kuasa, ditegakkannya Mizan untuk menimbang amalnya, berjalan diatas Shirath yang kecil dan tajam.

Setelah itu, menanti seruan menuju pengadilan akhir, dan penetapan apakah ia termasuk seseorang yang akan berbahagia kekal di surga?, ataukah termasuk seseorang yang akan menderita kekal di neraka?, ataukah termasuk golongan yang berhak menghuni surga akan tetapi harus melewati “tahap penyucian’ dengan disiksa di neraka?.

Berkaitan dengan kematian sebagai tahap awal dunia akhirat yang kekal itu, ada baiknya kita menyimak penuturan Ibn Umar ra yang mengatakan: Suatu ketika aku datang kepada Nabi SAW dan mendapati beliau sedang berada ditengah-tengah jamaah yang jumlahnya sepuluh orang. Seseorang dari kalangan Anshar bertanya: “Siapakah orang yang paling cerdas dan pemurah, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Yaitu orang yang paling rajin mengingat mati dan orang yang paling baik persiapannya dalam menghadapinya. Itulah orang yang paling cerdas, yang akan memperoleh kehormatan di dunia ini dan kemuliaan di akhirat kelak”.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Cukuplah maut sebagai pemisah”, dan beliau juga bersabda: “cukuplah maut sebagai pemberi peringatan”.

Wallahu’alambishawab.

***

Dikutip dari “Remembrance of Death and the Afterlife” yang ditulis oleh Al-Ghazali dan diterjemahkan oleh Ahsin Mohamad yang diterbitkan oleh Mizan, Bandung dengan judul sampul “Metode Menjemput Maut”.

Iklan