Sakaratul Maut


Sakaratul Maut

Segala puji semata hanya bagi Allah SWT, Dzat Yang Menunjukkan kita pada kebenaran agama-Nya, Yang Menyempurnakan serta Meridhai agama-Nya, Yang membukakan pandangan hati orang yang dicintai-Nya, Yang menguasai takdir, Yang menjadi tempat kembali segala urusan. Semoga rahmat dan salam tetap tercurahkan pada nabi Muhammad SAW, yang telah dipilih oleh Allah SWT dari sekian banyak makhluk-Nya, yang dijadikan oleh-Nya sebagai yang terpilih dari yang terbaik. Semoga terlimpah pula kepada keluarga dan keturunannya, kepada semua nabi, semua keluarga mereka, dan kepada hamba-hamba-Nya yang salih.

Seandainya dihadapan manusia tak ada kemalangan ataupun siksaan, maka kedahsyatan saat menjelang maut, sakaratulmaut, cukuplah untuk menghalangi kegembiraan serta mengusir kelengahan dan kealpaan. Disetiap saat disetiap tempat, malaikat maut dapat saja menimpakan dirinya derita pencabutan nyawa. Nabi SAW bersabda: “Kematian yang tiba-tiba adalah rahmat bagi orang yang beriman, dan nestapa bagi pendosa”.

Yazid Al-Ruqasyi bercerita bahwa ketika seorang penguasa tiran yang lalim dari bani Israil sedang duduk ditemani oleh istrinya, masuklah seorang laki-laki melalui pintu istana.

Penguasa itu marah dan berkata: “Siapa engkau?, siapa yang mengizinkanmu masuk kedalam rumahku?”. Orang itu menjawab: “Yang mengizinkan aku masuk kedalam rumah ini adalah pemilik rumah ini. Sedangkan aku adalah yang tak bisa dihalangi oleh seorang pengawal pun dan tidak pernah meminta izin untuk masuk, bahkan kepada raja-raja sekalipun, tidak pernah takut kepada kekuatan raja-raja yang perkasa dan tidak pernah diusir oleh penguasa tiran yang keras kepala ataupun setan pembangkang”.

Mendengar itu, penguasa tersebut menutup mukanya dan dengan tubuh gemetar dia jatuh tersungkur. Kemudian dia bangkit dengan wajah memelas: “Jadi engkau adalah Malaikat Maut?”. “Ya”, jawab laki-laki itu.

Penguasa itu menghiba: “Sudikah engkau memberiku kesempatan agat aku bisa memperbaiki kelakuanku?”. Malaikat Maut menjawab: “Alangkah bodohnya engkau, waktumu telah habis, napasmu dan masa hidupmu telah berakhir, tidak ada jalan lagi untuk memperoleh penangguhan”.

Penguasa itu lalu bertanya: “Kemana engkau akan membawaku?”. “Kepada amal-amalmu yang telah engkau kerjakan sebelumnya, dan juga ke tempat tinggal yang telah engkau dirikan sebelumnya”, jawab Malaikat Maut. Sang penguasa berkata: “Bagaimana mungkin, aku belum pernah mempersiapkan amal baik dan rumah baik yang bagaimanapun”. Malaikat pun menjawab: “Kalau begitu, ke neraka, yang menggigit hingga ke pinggir-pinggir tulang”.

Kemudian malaikat mencabut nyawa penguasa itu, dan dia pun jatuh mati ditengah-tengah keluarganya, ditengah-tengah mereka yang meratap dan menjerit.

Yazid Al-Ruqasyi menambahkannya bahwa seandainya mereka mengetahui bagaimana buruknya neraka itu, tentu mereka akan menangis lebih keras lagi.

Sakaratulmaut adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang inti jiwa dan menjalar keseluruh bagian jiwa, sehingga tidak ada lagi satu pun bagian jiwa yang terbebas dari rasa sakit itu. Kedahsyatan rasa sakit yang dialami pada saat sakaratulmaut tak dapat diketahui dengan pasti kecuali oleh orang yang telah merasakannya, orang yang belum pernah merasakannya hanya bisa menganalogikannya saja.

Rasa sakit akibat tertusuk duri hanya menjalar pada bagian jiwa yang terletak pada anggota badan yang tertusuk duri, luka karena terbakar maka efeknya dirasakan oleh bagian-bagian jiwa yang mengalir pada bagian dagingnya itu. Akan tetapi, rasa sakit sakaratulmaut menghujam jiwa dan menyebar keseluruh anggota badan, hingga serasa dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat saraf, persendian, setiap akar rambut dan kulit kepala hingga ujung kaki. Rasa sakit sakaratul maut yang tak teperikan itu diibaratkan bahwa seandainya setetes dari rasa sakit kematian itu diletakkan diatas semua gunung di bumi, maka niscaya gunung-gunung itu akan meleleh.

Hujaman pedang, rasa sakitnya masih menyisakan sisa tenaga dalam hati dan lidahnya untuk berteriak kesakitan. Sedangkan dalam sakaratulmaut, suara dan dan jeritan akibat rasa sakitnya itu telah terputuskan oleh dahsyatnya rasa sakitnya itu sendiri, sehingga jikalau masih tersisa tinggallah suara lenguhan dan gemertak saja. Jikalau manusia tak memohon perlindungan darinya dan tidak memandangnya dengan penuh rasa gentar, itu karena ketidaktahuannya saja, bahkan Rasulullah SAW sendiri pun pernah berdoa berkaitan dengan sakaratulmaut ini: “Ya Allah Tuhanku, ringankanlah sakaratulmaut bagi Muhammad”.

Suatu ketika, Rasulullah SAW ditanya perihal pedihnya sakaratulmaut, beliau menjawab bahwa: “Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang pohon duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang terkoyak?”.

Diriwayatkan tentang nabi Musa as bahwa ketika ruhnya akan menuju ke hadirat Allah SWT, Dia bertanya kepadanya: “Wahai Musa, bagaimana engkau merasakan kematian?. Nabi Musa as menjawab: “Kurasakan diriku seperti seekor burung yang dipanggang hidup-hidup, tak mati untuk terbebas dari rasa sakit dan tak bisa terbang untuk menyelamatkan diri”.

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Ibrahim as meninggal dunia, Allah SWT bertanya kepadanya: “Bagaimana engkau merasakan kematian?”, dan nabi Ibrahim as menjawab: “Seperti sebuah pengait yang dimasukkan kedalam gumpalan bulu yang basah, kemudian ditarik”. “Yang seperti itu sudah Kami ringankan atas dirimu”, firman-Nya.

Seandainya seorang yang sudah mati dihidupkan kembali untuk menceritakan tentang rasa sakit sakaratulmaut, maka niscaya mereka tidak mempunyai gairah hidup dan tidak akan bisa merasakan nikmat tidur. Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika sekelompok kaum bani Israil berjalan melewati pekuburan, dan salah seorang diantaranya berkata kepada yang lainnya: “Bagaimana jika kalian berdoa kepada Allah SWT, agar Dia menghidupkan satu mayat dari pekuburan ini, dan kalian bisa mengajukan pertanyaan kepadanya?”. Mereka pun lalu berdoa kepada Allah SWT. Tiba-tiba mereka berhadapan dengan seorang laki-laki dengan tanda-tanda sujud diantara kedua matanya yang muncul dari satu kuburan. “Wahai manusia”, katanya, “Apa yang kalian kehendaki dariku?, lima puluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa pedihnya belum juga hilang dari hatiku !”.

Zaid bin Aslam meriwayatkan bahwa suatu ketika ayahnya berkata: “Jika bagi seorang beriman masih ada derajat tertentu yang belum berhasil dicapainya melalui amal perbuatannya, maka kematian yang dijadikan sangat berat dan menyakitkan agar dia bisa mencapai kesempurnaan derajatnya di surga. Sebaliknya, jika seorang kafir mempunyai amal baik yang belum memperoleh balasan, maka kematian akan dijadikan ringan atas dirinya sebagai balasan atas kebaikannya, dan dia akan langsung mengambil tempatnya di neraka”.

Bersamaan dengan sakaratul maut, berturut-turut datang petaka kepada dirinya. Peristiwa petaka pertama adalah kedahsyatan peristiwa dicabutnya ruh. Selanjutnya adalah menyaksikan wujud dari Malaikat Maut dengan disertai timbulnya rasa takut dalam hatinya. Kemudian adalah pertemuannya dengan Malaikat Pencatat Amal. Lalu ketika peristiwa penyaksian tempatnya di akhirat kelak.

Wujud dari Malaikat Pencabut Nyawa saat menjalankan tugasnya mencabut nyawa manusia yang penuh dosa, niscaya tak akan sanggup dilihat sekalipun oleh manusia yang paling kuat sekalipun. Diriwayatkan, suatu ketika nabi Ibrahim as, bertanya kepada Malaikat Maut: “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu ketika mencabut nyawa manusia yang gemar melakukan perbuatan jahat?”. Malaikat pun menjawab: “Engkau tidak akan sanggup”. Beliau menjawab: “Aku pasti sanggup”. “Baiklah, berpalinglah dariku”, kata Malaikat Maut. Maka nabi Ibrahim as pun berpaling darinya. Kemudian ketika berbalik kembali, maka yang ada dihadapannya adalah seorang berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan mengenakan pakaian berwarna hitam. Dari mulut dan lubang hidungnya keluar jilatan api.

Melihat pemandangan itu, nabi Ibrahim as jatuh pingsan, dan ketika beliau sadar kembali, Malaikat Maut telah berubah dalam wujud semula. Nabi Ibrahim as pun berkata: “Wahai Malaikat Maut, seandainya seorang pelaku kejahatan pada saat kematiannya tidak menghadapi sesuatu lain kecuali wajahmu, niscaya cukuplah itu sebagai hukuman atas dirinya”.

Akan tetapi, wujud Malaikat Pencabut Nyawa saat menjalankan tugas mencabut nyawa manusia yang bertakwa, akan terlihat dalam rupa yang paling indah.

Diriwayatkan, pada suatu hari nabi Ibrahim as pulang kerumah, beliau melihat seorang laki-laki didalamnya.

Lalu beliau bertanya: “Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?”. Orang itu menjawab: “Aku diizinkan masuk oleh Pemiliknya”. Lalu nabi Ibrahim berkata: “Tapi, akulah pemilik rumah ini”. Orang itu menjawab lagi: “Aku diizinkan masuk oleh Dia yang lebih berhak atas rumah ini daripada engkau atau aku”.

Beliau lalu bertanya: “Kalau begitu Malaikat apa engkau ini?”. Orang itu menjawab: “Aku adalah Malaikat Maut”.

Selanjutnya nabi Ibrahim as berkata: “Dapatkah engkau perlihatkan kepadaku rupamu ketika mencabut nyawa orang beriman?”. “Baiklah, berpalinglah dariku”, kata Malaikat Maut. Maka nabi Ibrahim as pun berpaling darinya.

Ketika beliau berbalik kembali ke arah malaikat itu, maka berdiri didepannya adalah pemuda gagah dan tampan, berpakaian indah dan menyebarkan bau harum wewangian.

Nabi Ibrahim as pun berkata: “Wahai Malaikat Maut, seandainya orang beriman melihat rupamu saja pada saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan atas amal baiknya”.

Peristiwa selanjutnya adalah tak seorang pun manusia yang mati kecuali akan diperlihatkan kepadanya dua Malaikat yang bertugas mencatat amalnya.

Jika dia seorang saleh, maka kedua malaikat itu akan berkata: “Semoga Allah memberikan ganjaran yang baik kepadamu sebab engkau telah menyatakan kami untuk duduk ditengah-tengah kebaikan, dan membawa kami hadir menyaksikan banyak perbuatan baikmu”.

Akan tetapi, jika dia adalah seorang pelaku kejahatan, maka mereka akan berkata kepadanya: “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik sebab engkau telah hadirkan kami ke tengah-tengah perbuatan yang keji, dan membuat kami hadir menyaksikan banyak perbuatan buruk, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan yang buruk. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik”.

Selanjutnya orang pendosa yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu dan selamanya dia tidak akan pernah kembali ke dunia ini lagi.

Selanjutnya adalah peristiwa diperlihatkannya tempat kembalinya di neraka atau surga. Bukan kematian yang ditakuti, namun rasa takut terhadap kematian yang su”ul khatimah telah mengoyak hati orang-orang yang arif.

Berkaitan dengan ini, nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Tak seorang pun di antara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga atau neraka”.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun akan senang bertemu dengannya, dan barangsiapa membenci pertemuan dengan-Nya, maka Dia-pun tidak senang bertemu dengannya”.

Namun peristiwa ini merupakan petaka bagi manusia-manusia pendosa, hati mereka gentar ketika kepadanya diperlihatkan tempat mereka di neraka. Ruh mereka para pendosa tidaklah keluar kecuali setelah mereka mendengar suara Malaikat Maut menyampaikan kabar: ““Rasakanlah, wahai musuh Allah, siksaan neraka !”.

Raut wajah yang paling disukai dari orang yang sedang sekarat adalah raut wajah yang mencerminkan ketentraman dan ketenangan, serta dari lidahnya terucap dua kalimah Syahadat. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Suatu ketika Malaikat Maut mendatangi orang yang sedang sekarat. Setelah melihat ke dalam hatinya dan tidak menemukan apa pun disitu, Malaikat itu lalu membuka janggut orang itu dan mendapati ujung lidahnya melekat pada langit-langit mulutnya selagi dia mengucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Dosa-dosanya diampuni akrena kalimat ikhlas yang telah diucapkannya”.

Rasulullah SAW bersabda: “Perhatikanlah tiga tanda pada orang yang sekarat, Jika keningnya berkeringat, matanya basah oleh air mata, dan bibirnya mengering, berarti rahmat Allah SWT telah turun kepadanya. Akan tetapi, jika dia kelihatan seperti orang yang dicekik-cekik, warna kulitnya memerah dan mulutnya berbusa, maka itu adalah akibat siksaan Allah yang ditimpakan atas dirinya”.

Wallahu”alambishawab.

***

Dikutip dari “Remembrance of Death and the Afterlife” yang ditulis oleh Al-Ghazali dan diterjemahkan oleh Ahsin Mohamad yang diterbitkan oleh Mizan, Bandung dengan judul sampul “Metode Menjemput Maut”.

Iklan