Mereka Yang Dilaknat Allah SWT


Mereka Yang Dilaknat Allah SWT

Segala puji bagi Allah SWT, hanya kepada-Nya kita bersyukur dan memohon pertolongan-Nya serta memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan nafsu kita dan kejahatan perbuatan kita. Barangsiapa memperoleh hidayah-Nya, maka tiada sesuatu yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan-Nya maka tiada sesuatu yang dapat memberinya hidayah.

Kita bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW itu adalah hamba dan Rasul-Nya, kekasih dan kesayangan-Nya. Ia adalah manusia utama dan termulia, baik yang dahulu maupun sekarang. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepadanya, kepada keluarganya, dan kepada semua nabi-Nya, kepada semua keluarga mereka, juga kepada hamba-hamba-Nya yang shalih.

Allah SWT menciptakan manusia tiada lain maksud dan tujuannya hanya untuk menyembah-Nya. Allah SWT menegaskan itu dalam firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS:Az-Zariyat: 56).

Oleh sebab itu setiap kita shalat, selalu kita tegaskan lagi kesaksian pengabdian kita: “Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil-’alamiin”. “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku, dan matiku, semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam”.

Pertama-tama manusia itu harus selalu menyembah-Nya dan itu berarti manusia harus senatiasa patuh kepada perintah-Nya dengan melaksanakannya dalam bentuk amal perbuatan, serta tidak mengingkari ayat-ayat yang disampaikan-Nya melalui Rasul-Nya, nabi Muhammad SAW. Mengingkarinya berarti telah kufur lagi kafir.

Termasuk dalam kufur dan kafir ini adalah mereka yang mengingkari ajaran Rasul-Nya, menutup-nutupi ajaran-Nya. Kufur ucapan ditandai dengan meyakini kepercayaan lain yang bukan dari Allah SWT, serta mengejek ajaran Dienullah. Kufur perbuatan ditandai dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Islam , justru mendukung kepercayaan lain selain Islam. Segala macam bentuk kekufuran apabila dilakukan oleh seorang muslim, maka pada hakikatnya dia telah tergolong ingkar serta murtad. Dan orang yang sampai matinya tetap berada dalam kekufuran itu akan dilaknati oleh Allah Ta’ala. Laknat Allah SWT berarti dikutuk dan dijauhkan-Nya dari rahmat-Nya. Sedangkan laknat manusia berarti dimaki oleh manusia karena keburukan dan kejahatan perbuatannya itu.

Allah SWT menegaskan hal itu dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu akan mendapat laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Mereka kekal didalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa itu dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh”. (QS:Al-Baqarah:161-162). Yang pertama kali mendapat laknat Allah SWT adalah iblis. Iblis patut dilaknat karena kesombongannya dan tekadnya untuk melakukan seluruh upaya agar manusia terjerumus ke syirik dengan menyembah kepada selain-Nya.

Allah SWT berfirman: “Iblis menjawab:”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”. (QS:Al-Araf:16-17).

Apabila iblis tak berhasil mencapai tujuannya itu, maka dia akan merayu seraya membujuk manusia agar berbuat kejahatan, kekejian, dan dusta terhadap Allah SWT.

Allah SWT berfirman: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari pada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) laga Maha Mengetahui”. (QS:Al-Baqarah:268).

Allah SWT juga mengutuk mereka yang mempunyai ilmu tetapi tidak disampaikan atau disebarkan malah disembunyikannya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang“. (QS:Al-Baqarah:159-160).

Sebagian ulama berpendapat bahwa segala segala ”ibrah berlaku secara umum, dan bukan berlaku khusus terhadap asbabun nuzulnya saja. Sehingga dengan demikian yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah siapa saja yang menyembunyikan hak dan kebenaran, serta mencampakkannya ke belakang punggung mereka apa-apa yang diperlukan umat dari ajaran Diennullah yang benar. Termasuk juga bagi para ulama yang telah menyembunyikan kebenaran ayat Allah karena kepentingannya dan didorong oleh nafsu syahwatnya.

Kemudian, orang yang zalim adalah orang yang dikutuk oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat dusta terhadap Allah?. Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: ”Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka’. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim”. (QS: Huud: 18).

Selain itu, orang yang mengabaikan hukum yang diturunkan Allah SWT serta menolak pelaksanaannya termasuk orang-orang yang zalim. Allah SWT berfirman: “Dan kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa(dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa melepaskan (hak qishashnya) maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (QS:Al-Maidah:45).

Begitu juga orang-orang yang memberikan kekuasaan dan menyerahkan kepemimpinan dirinya kepada orang musyrik, maka dia termasuk orang yang zalim. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpim-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS:At-Taubah:23).

Kita sering berpura-pura tidak mengerti terhadap segala kekufuran dan kejahatan yang telah kita lakukan. Selama ini sebenarnya sudah banyak teguran yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, namun diri kita membutakan mata menulikan telinga, serta menutup mata batin kita akan kebenaran itu. Bahkan kita ikutan mencoba menutup-nutupi dan menyembunyikan kebenaran itu, semata karena memperturutkan dorongan nafsu syahwat kita. Sesungguhnya kita harus jujur terhadap apa yang sebenarnya ada dalam diri kita, karena sekali pun itu tak diketahui oleh orang lain, tetapi ingatlah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala perbuatan dan rahasia kita.

Wallahu’alambishawab.

  • * *

Disadur dari Al Mai’unin wal Mal’unat Minarrijaali wannisa’ yang ditulis oleh Majid Assayyid Ibrahim dan diterbitkan oleh Gema Insani Pers.

Iklan