Dunia Yang Mempesona


Dunia Yang Mempesona

Zaid bin Arqam berkata, “Kami pernah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq ra, kemudian ia meminta minuman, maka dibawakan kepadanya air dan madu. Ketika minuman itu didekatkan ke mulutnya, tiba-tiba ia menangis sehingga para sahabatpun ikut menangis. Para sahabat berhenti menangis tapi ia terus menangis. Abu Bakar ra tak henti menangis sehingga para sahabatnya menduga mereka takkan mampu menanyakan sebabnya. Hingga akhirnya Abu Bakar ra mengusap kedua matanya, dan segera para sahabat menanyakan padanya, “Wahai khalifah Rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan engkau menangis?”. Abu bakar ra lantas lantas menjawab, “(Aku teringat ketika) Pernah aku bersama Rasulullah SAW, kemudian aku melihat ia menolak sesuatu dari dirinya, padahal aku tidak melihat seorangpun bersama beliau. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah sesuatu yang baru saja engkau tolak dari dirimu?” . Rasulullah menjawab, “Baru saja ‘dunia’ menjelma dalam sesuatu bentuk dari dirinya. Maka aku berkata padanya,

‘Menjauhlah engkau!’, lalu dunia itu pergi, namun kembali beberapa saat kemudian dan berkata padaku, ‘Sesungguhnya engkau dapat menyelamatkan diri dariku (pesona dunia), tapi niscaya orang-orang sesudahmu tidak akan dapat menyelamatkan diri dariku (pesona dunia). (diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Hakim, dishahihkan sanadnya)

Inilah pesona dunia, pesona yang telah membuat banyak orang siap menghamba pada dunia untuk mendapatkannya. Pesona pantai yang indah hingga gunung yang sejuk, pesona mobil yang nyaman hingga kapal pesiar yang mewah, pesona tanah yang luas dan rumah yang besar hingga pesona pusat-pusat hiburan keluarga yang bertebaran, pesona layanan kelas satu di restoran mewah hingga pesona menikmati perjalanan kelas satu ke kota-kota indah di dunia ini, pesona barang elektronik canggih hingga teknologi otomatisasi yang memudahkan gaya hidup manusia, pesona memiliki banyak anak hingga pesona dihormati banyak orang, pesona memiliki uang banyak yang siap membeli apapun yang kita ingini, pesona wanita cantik hingga pesona makanan dan minuman lezat, halal maupun haram, dan masih ada berjuta-juta jenis lagi pesona dunia yang siap menghibur para pecinta pesona dunia.

Sedemikian banyak manusia yang memanfaatkan waktu dan masa sehatnya untuk menikmati pesona dunia jauh dari kebutuhan dasar / normal yang diperlukan. Harta yang berlebih digunakannya untuk menikmati fasilitas dunia atau untuk bermalas-malas di rumahnya yang nyaman, berjudi atau menikmati narkoba. Para pecinta syahwat sibuk menyenangkan syahwat perut dan kemaluannya sepuas-puasnya sesuai daya belinya, bukan lagi sesuai syariat Islam. Para pecinta kekuasaan berusaha menggunakan kekuasaan dan uangnya untuk menciptakan kekaguman dan rasa hormat orang lain pada dirinya. Para pecinta dunia yang memiliki fisik yang indah atau bakat seni atau memiliki otak yang encer berusaha memamerkan kelebihannya untuk mendapatkan pujian dan pengaruh. Para pecinta dunia yang pandai berdagang sibuk bekerja keras untuk meraih laba dan menumpuk uang sebanyak-banyaknya serta memuaskan ambisi karirnya secara berlebihan. Para pecinta dunia yang sayang anak dan keluarga sibuk mencari harta dan pengaruh untuk

menaikkan derajat keluarga dan kehormatan keturunannya.

Untuk mendapatkan pesona dunia tersebut manusia menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja keras untuk dunia. Pikiran para pencinta dunia lebih terfokus pada duniawi sehingga memberi tempat yang sedikit atau bahkan tak ada tempat bagi akhirat di hatinya. Bisa jadi para pecinta dunia adalah orang-orang yang sopan, ramah, suka menolong, namun semua itu dilakukannya dalam kerangka duniawi. Mereka berbuat baik untuk mendapatkan kepercayaan dan kehormatan dunia, niatnya bukan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Sebagian orang bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pesona dunia, yaitu dengan korupsi, merampok, mencuri, menganiaya, menipu, memperkosa atau membodohi orang lain.

Dunia Yang Menipu dan Melalaikan

  1. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang rendah dan sementara.

Allah mengilustrasikannya seperti air hujan yang menyuburkan tumbuhan sampai jangka waktu tertentu dan akhirnya tumbuhan itu menjadi kering. Allah berfirman, ”Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai pula perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan ia laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang yang berpikir.” (QS 10: 24).

  1. Kehidupan dunia hanyalah permainan, melalaikan dan kesenangan yang menipu.

Firman Allah SWT : ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS, Al-Hadid : 20)

Firman Allah SWT : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS, Ali Imran : 14).

Firman Allah SWT : Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS, Fathir : 5)

  1. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang kekal.

Firman Allah SWT : “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS, Al A’la 16-17)

Firman Allah SWT : “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (QS, Al-’Ankabut : 64)

Firman Allah SWT : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dan dia ingat akan Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang yang ingkar) memilih dunia, padahal akhirat itu jauh lebih baik dan lebih kekal”. (QS, Al A’laa :14-17)

Dunia Yang Dicintai dan Ancaman Allah SWT

Inilah ancaman-ancaman Allah SWT bagi para pecinta dunia.

Firman Allah SWT : “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS, Yunus 7 – 8)

Firman Allah SWT : “Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS, Hud 15 – 16).

Firman Allah SWT : “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”. (QS, Al-Ahqaf:20)

Firman Allah SWT : “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS, Hud 15-16)

Firman Allah SWT : “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS, At-Takatsur: 1-5).

Dunia Yang Tidak Ada Nilainya

Para pecinta dunia hanya berpikir bahwa adalah tak mungkin dan sia-sia kalau Tuhan menciptakan dunia yang sangat sempurna ini, yang luas dan lengkap ini selain untuk dinikmati. Bahkan mereka berpikir tak mungkin Tuhan akan menghancurkan dunia ciptaan-Nya sendiri yang demikian menakjubkan ini melalui suatu bencana kiamat. Pencinta dunia hanya takjub kepada dunia yang luar biasa ini dan tidak pada akhirat karena mereka tidak tahu gambaran mengenai akhirat.

Rasulullah SAW telah menggambarkan betapa kecilnya nilai dunia ini dibanding akhirat dalam beberapa hadits sbb :

  1. Nilai dunia tidak ada artinya dibanding dengan nilai akhirat.

Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia” (dari Al-Mustaurid ibn Syaddad r.a, Hadits Riwayat Muslim). Inilah penggambaran luar biasa yang menunjukkan betapa tak ada nilainya dunia ini dibanding keluarbiasaan alam akhirat.

  1. Nilai dunia lebih hina bagi Allah dibanding dari nilai bangkai seekor kambing cacat dalam pandangan manusia.

Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berjalan melewati pasar sementara orang-orang berjalan di kanan kiri beliau. Beliau melewati seekor anak kambing yang telinganya kecil dan sudah menjadi bangkai. Beliau lalu mengangkatnya dan memegang telinganya, seraya bersabda : “Siapa diantara kalian yang mau membeli ini dengan satu dirham (saja)?”. Mereka menjawab, “Kami tidak mau membelinya dengan apapun. Apa yang kami bisa perbuat dengannya?” Kemudian beliau SAW bertanya, “Apakah kamu suka ia menjadi milikmu?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya ia hidup ia adalah aib (cacat), ia bertelinga kecil, apalagi setelah ia menjadi bangkai?”. Maka beliau SAW bersabda, “Demi Allah, dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai ini dalam pandangan kalian.” (HR Muslim). Ibarat anak kambing yang cacat dan telah jadi bangkai pula, maka tak seorangpun yang mau memilikinya bahkan memandangnya apalagi menyimpannya; demikianlah Rasulullah SAW menggambarkan

bagaimana Allah SWT menilai dunia ini yang diibaratkan lebih rendah dan hina dari bangkai kambing.

  1. Dunia tidak ada nilainya di sisi Allah, bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun..

Sahal Ibn Sa’ad as-Sa’idi ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Seandainya dunia itu ada nilainya disisi Allah bahkan seberat sayap nyamuk sekalipun, tentu Dia tidak akan sudi memberi minum pada orang kafir meskipun seteguk air.” (HR Tirmidzi, shahih). Hadits ini juga memberi makna bahwa rezeki dan kebahagiaan dunia juga diberikan Allah pada orang kafir maupun fasik, bahkan sering diberikan lebih banyak dibanding yang Ia berikan kepada orang-orang yang sholeh, ini karena nilai dunia yang sangat tidak ada artinya dibanding akhirat.

Dunia Adalah Ladang Amal Bagi Akhirat

Setiap muslim harus mempertimbangkan kepentingan akhirat dalam setiap aktivitasnya. Allah berfirman, ”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka, apakah kamu tidak memahaminya? Maka, apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi, kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?” (QS 28: 60-61).

Rasulullah SAW bersabda: “Dunia ini adalah ladang untuk bercocok tanam (tempat melakukan amal ibadah dan amal kebajikan) yang hasilnya dipanen kelak di negeri akhirat.”

Imam Ghozali dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin menasihatkan bahwa cara-cara yang baik untuk mensikapi dunia secara bijaksana adalah menghindarkan diri kedalam sikap berlebih-lebihan (tafrith) ataupun serba kekurangan (ifrath) dalam segala sesuatunya. Cukup mengambil kebutuhan dunia yang sedang-sedang saja, yaitu secukupnya sesuai kebutuhan dasar yang dibutuhkan agar cukup beribadah secara baik. Gambarannya sbb :

  1. Dunia diambil seperlunya saja sesuai kebutuhan pokok Syahwat (perut dan kemaluan) dikendalikan sesuai dengan batasan-batasan syariat dan akal sehat. Tidak memperturutkan setiap syahwat, namun tidak meninggalkannya sama sekali. Jalan tengah yang adil dan sedang-sedang saja adalah yang terbaik.
  2. Ia makan sekedar bisa memperkuat badannya agar bisa melaksanakan ibadah, ia memiliki rumah sekedar terhindar dari panas, dingin dan pencurian, ia memiliki pakaian secukupnya sesuai kebutuhan dasar untuk bekerja, untuk bergaul dengan orang-orang baik, dan untuk beribadah (sholat).
  3. Bila hati sudah selesai dengan kesibukan badan (bekerja) maka ia mengisinya dengan memperbanyak mengingat Allah SWT, dengan dzikir, sholat dan ibadah lainnya. Dengan cara ini kebutuhan syahwatnya lebih terkendali penggunaannya selalu di jalan Allah.

Disarikan dari Hakikat Dunia (Mahyudin Purwanto ), Hakikat Perilaku Zuhud (Muhammad Irfan Helmy), Kehidupan Dunia (Firdaus MA), Kitab Riyadhus Shalihin (Imam Nawawi), dll., Mensucikan Jiwa, ringkasan Ihya Ulumuddin Al Gahzali, Sa’id Hawwa.

Iklan