Syariat Dan Kazaliman Dalam Penyembelihan (2/2)


menyembelih sapiSyariat Dan Kazaliman Dalam Penyembelihan (2/2)

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

`Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

Penggunaan cara bius, stunning atau kejutan elektrik itu hendaklah disahkan dan diperakui oleh orang Islam yang adil yang pakar atau yang ahli dalam hal ini, bahwa binatang-binatang yang hendak di sembelih itu masih dalam keadaan hayah mustaqirrah, dan tidak menyebabkan penyeksaan terhadap binatang tersebut.

Jika perkara melemahkan atau memengsankan binatang itu akan menyeksa binatang tersebut, maka perbuatan yang sedemikian itu adalah haram, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melaknat kepada sesiapa yang melakukan penyeksaan kepada binatang sama ada untuk tujuan menyembelihnya atau pun bukan. Pernah pada satu masa Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhuma melihat sekumpulan orang melontar seekor ayam yang sengaja ditambatkan lalu ia berkata:

Maksudnya: “Sesiapa yang melakukan perkara ini (menyeksa binatang), sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melaknat sesiapa melakukan perkara ini.” (Hadits riwayat Muslim)

Adapun hukum daging binatang yang diseksa itu, jika ia mati disebabkan oleh seksaan tersebut atau disembelih ketika nyawanya diperingkat harakah mazbuh, maka ia dihukumkan bangkai, manakala jika ia tidak mati karena seksaan dan ada (zhan) sangkaan padanya hayah mustaqirrah melalui salah satu tandanya seperti pergerakan yang kuat, pancutan darah dan sebagainya selepas disembelih maka dagingnya itu halal dimakan.

Begitulah sikap agama Islam terhadap binatang yang hendak disembelih, dilakukan dengan penuh ihsan sebagaimana hadis yang tersebut di atas yang bermaksud:

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan ke atas tiap-tiap sesuatu, maka apabila kamu membunuh maka elokkanlah pembunuhan itu, dan apabila kamu menyembelih maka elokkanlah penyembelihan itu, dan hendaklah salah seorang kamu menajamkan pisaunya dan hendaklah dia menyelesakan kepada binatang sembelihannya”. (Hadits riwayat Muslim)

Bahkan ada lagi etika penyembelihan yang amat elok diikuti (disunatkan melakukannya) yang termasuk dalam pengertian ihsan yang disebutkan di dalam hadis tersebut:

(i) Memalingkan binatang sembelihannya dan orang yang menyembelih ke kiblat, serta membaca Bismillah serta selawat dan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika menyembelih.

(ii) Mempercepatkan pemotongan halqum dan mari` ketika menyembelih.

(iii) Mengiringi binatang sembelihan ke tempat penyembelihan dengan lembut (selayaknya).

(iv) Memberi minum binatang sembelihan itu sebelum disembelih.

(v) Menajamkan pisau tidak diperlihatkan di hadapannya, dan ianya tidak disembelih di hadapan binatang-binatang yang lain.

(vi) Memotong wadajan (dua urat darah yang di leher), karena ia cepat membawa kepada kematian binatang itu.

(vii) Jika sudah disembelih binatang itu, tidak segera dilapah dagingnya kecuali setelah ia sampai benar-benar mati dan sejuk tubuhnya.

Pada dasarnya agama Islam mengecam segala bentuk kezaliman, sekalipun terhadap binatang. Sebagai contoh seorang perempuan dimasukkan ke dalam neraka semata-mata menyeksa seekor kucing sepertimana yang terdapat diceritakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abdullah Radhiallahu ‘anhu katanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

Maksudnya: “Seorang wanita diseksa pada hari kiamat lantaran dia mengurung seekor kucing sehingga kucing itu mati, karena itu Allah memasukkannya ke neraka, oleh sebab kucing itu dikurungnya tanpa diberi makan dan minum dan tidak pula dilepaskannya supaya ia dapat menangkap serangga-serangga yang terdapat di bumi.” (Hadits riwayat Muslim)

Sebaliknya seorang itu telah diberi ganjaran pengampunan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu katanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

Maksudnya: “Pada suatu ketika, ada seorang laki-laki sedang berjalan melalui sebatang jalan, lalu dia merasa sangat kehausan, kebetulan dia menemukan sebuah telaga, maka dia turun ke telaga itu untuk minum. Setelah keluar dari telaga, dia melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata dalam hatinya: “Alangkah hausnya anjing ini, seperti yang baru kualami” lalu dia turun kembali ke telaga, diceduknya air dengan sepatunya, dibawanya ke atas dan diminumkannya kepada anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepada orang itu (diterimaNya amalnya) dan diampuniNya dosanya. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Dapat pahalakah kami menyayangi haiwan-haiwan ini?” Jawab (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam): “Menyayangi setiap makhluk hidup itu berpahala.”  Hadits riwayat Muslim)

Lain-lain kezaliman yang dicela oleh Islam sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

Maksudnya: “Seekor semut menggigit seorang Nabi di antara para nabi-nabi, lalu Nabi tersebut menyuruh membakar sarang semut itu, lalu dibakarlah. Maka Allah mewahyukan kepadanya: “Hanya seekor semut yang menggigitmu, lalu engkau musnahkan umat yang selalu membaca tasbih.” (Hadits riwayat Muslim)

Demikian sikap Islam terhadap penyembelihan binatang dan kezaliman. Kedua-duanya sangat berbeza.

Jika kita mengikuti penyembelihan yang disyariatkan oleh Islam dan mengikut adab-adab yang telah dianjurkannya terhadap binatang sembelihan, maka itu sudah jelas bahwa ia menepati akan maksud berbuat ihsan kepada binatang. Adalah belum pasti bahwa melemahkan binatang dengan menggunakan bius atau lain-lain cara yang diamalkan oleh Barat itu lebih menepati apa yang dikehendaki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Tidak terdapat sebarang arahan syara’ menyuruh binatang-binatang itu dilemahkan atau dipengsankan terlebih dahulu dan kemudian barulah menyembelihnya. Sekiranya melemahkan atau memengsankan itu ialah cara yang dibuat atau dikehendaki oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, nescaya sudah barang tentu ada hadis Baginda menyebut begitu, atau setidak-tidaknya perkhabaran daripada para sahabat yang telah menyaksikannya daripada Baginda.

Sebenarnya perbuatan menyembelih ini adalah bukan perkara akal semata-mata. Jika ianya telah mengikut kehendak syara’, maka kezaliman tidak lagi berbangkit. Inilah bahaya jika akal digunakan tanpa timbangan syara’, karena berpandukan akal semata-mata itulah orang-orang jahil dan musuh-musuh Islam telah menohmah hudud undang-undang Islam sebagai kejam, ganas dan tidak sesuai dengan masa. Mereka mempertikaikan hukum potong tangan karena mencuri, rejam dan sebat karena zina, hukum bunuh balas bunuh (qishash) dan lain-lain tohmah yang diasaskan semata-mata kepada akal yang dangkal.

Orang-orang seperti itu langsung tidak memahami apa itu syara’, apatah lagi untuk memikirkan disebalik hukum syara’ itu ada hikmah atau rahsia yang tidak boleh dikesan dan dianalisa oleh akal seratus peratus. Firman Allah Ta’ala:

Tafsirnya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Surah Al-Isrâ’: 85)

Umat Islam hendaklah berwaspada terhadap segala tohmahan-tohmahan yang dilemparkan kepada umat Islam yang kebanyakannya bukan sahaja bertujuan memberi keraguan dan gambaran yang buruk kepada penganut selain Islam, malah memberi keraguan kepada umat Islam sendiri, lebih-lebih lagi jika tohmahan itu datang daripada musuh-musuh Islam yang berselindung di bawah pertubuhan-pertubuhan yang kononnya berdasarkan kepada memperjuangan hak-hak asasi manusia atau hak asasi binatang.

Sebenarnya apabila musuh-musuh Islam itu membuat kecaman terhadap Islam dan umat Islam atas nama hak-hak, maka yang sebenarnya kecaman itu adalah sebagai merealisasikan permusuhan mereka yang panjang dan lama terhadap Islam, karena itu Allah telah memperingatkan awal-awal lagi akan bahaya orang-orang kafir itu melalui firmanNya:

Tafsirnya: “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Surah Al-Baqarah: 120)

FirmanNya lagi:

Tafsirnya: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Surah Al-Mâ’idah: 82)

Walau bagaimanapun, orang-orang Islam hendaklah mencerminkan dan menggambarkan sesuatu yang terbaik kepada penganut-penganut agama yang lain, karena dengan penampilan yang baik itu adalah merupakan salah satu cara dakwah yang akan menjinakkan hati orang-orang yang benar-benar mahu mencari kebenaran, semoga Allah akan memberi hidayat kepada mereka, sesuai dengan firmanNya:

Tafsirnya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab itu beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.”

(Surah Ali ‘Imrân: 110)

***

Kiriman Sahabat Arland

Iklan