Kisah Kiyai yang Inkonsistensi Dalam Berpikir


Kisah Kiyai yang Inkonsistensi Dalam Berpikir

Sudah satu malam, DPP Masyumi yang waktu itu NU masih merupakan bagian dari Masyumi, menyelenggarakan rapatnya untuk mengambil sikap terhadap duduk tidaknya Masyumi dalam kabinet yang sedang disusun Bung Hatta.

Hadir dalam rapat tersebut angota DPP Masyumi lengkap: dari kalangan modernis hadir Dr. Sukiman, Mr. Kasman Singodimedjo, Dr. Abu Hanifah, Mr. Syafruddin Prawiranegara, Mr. Muhamad Roem, M Natsir, Farid Ma’ruf, K.H. Abdulkahar Muzzakir, Mr. Yusuf Wibisono, Prawoto Mangkusasmito.

Dari unsur NU hadir KH A Wahid Hasyim, KH Masykur dan Zainal Arifin. Dari kalangan Majelis Syuro hadir K.H.A. Wahab Hasbullah (yang telah dipilih menjadi ketua setelah Hadlratusy Syaikh Hasyim Asy’ari wafat), K.H. Ki Bagus Hadikusumo, K.H.R. Hajid, K.H. Imam Ghozali, K.H. Abdul Halim A.Hasan dan lain-lain.

Malam pertama yang dipenuhi dengan perdebatan sengit ternyata belum bisa mengambil keputusan. Sidang DPP dilanjutkan dengan rapat malam berikutnya yang juga masih penuh dengan perdebatan.

“Saya mengusulkan agar kita menerima tawaran Bung Hatta”, kata Kiyai Wahab berbicara dengan suara lantang. “Tapi orang-orang kita yang duduk dalam kabinet itu atas nama pribadi sebagai warga negara yang loyal kepada negara. Jadi yang duduk dalam kabinet itu bukan Masyumi sebagai partai yang tegas-tegas menentang ‘Persetujuan Renville’ dan ‘Persetujuan Linggarjati’!”

Pendapat Kiyai Wahab Hasbullah itu ternyata mengundang sambutan yang hangat, terdengar tepuk tangan yang spontan. Suasana capai dan letih perdebatan itu seperti diguyur kesejukan yang menyapu kekesalan hati dan pikiran hampir menemui jalan buntu. Beberapa orang berdiri mendekati Kiyai Wahab sebagai tanda gembira dan simpati.

“Lho, alasannnya apa kita duduk dalam kabinet yang akan melaksanakan persetujuan Renville, padahal sejak semula kita menentang Renville? Apa ini tidak melakukan perbuatan munkar?” reaksi Kiyai Raden Hajid tidak kurang lantangnya.

“Kita tidak hendak melaksanakan perkara munkar, bahkan sebaliknya kita hendak melenyapkan munkar!” jawab Kiyai Wahab menangkis pendapat Kiai Raden Hajid.

Adegan ini jadi amat menarik. Keduanya ulama besar itu sudah lanjut usia, usia mereka hampir sebaya, 60 tahunan, tetapi penampilan mereka serba cekatan dan serba tangkas, sama-sama dikenal memiliki integritas keilmuan dan agama.

“Nabi kita menyuruh kita mengubah situasi munkar (untuk melenyapkannya) dengan perbuatan,” Kiyai Wahab meneruskan uraiannya.

“Tingkat pertama dengan perbuatan. Kini terbuka kesempatan bagi kita untuk melenyapkan munkar dengan perbuatan dengan jalan duduk dalam Kabinet Hatta. Kalau kita berdiri di luar kabinet, kita Cuma bisa teriak-teriak thok, mungkin bahkan dituduh sebagai pengacau.!”

“Tapi mengapa kita dulu menolak ‘Renville’ tetapi kini hendak melaksanakannnya?” sanggah Kiyai R. Hajid tetap dengan tantangannya.

“Sejak pertama kita menentang ‘Persetujuan Renville’, sekarang dan seterusnya pun kita tetap menentangnya. Tapi cara penentangan kita dengan “falyughoyyirhu biyadih” dengan perbuatan jika kita bisa duduk dalam kabinet. Sejak semula kita mencegah orang membakar rumah kita. Setelah rumah terbakar, apakah kita Cuma duduk berpangku tangan?” jawab Kiyai Wahab membuat misal.

“Kalau demikian orang yang hendak kita dudukkan dalam kabinet mempunyai tugas apa dan apa niatnya?” bertanya Kiyai Hajid.

“Menurut hadits Nabi SAW: Ista’inu ‘ala injaa hil hawaaiji bil kitmaan.(mohonlah pertolongan kepada Allah tentang keberhasilan targetmu dengan jalan merahasiakannya (Hadits Riwayat Imam Tahbrani dan Al Baihaqi). Sebab itu cukup dengan niat dalam hati!” jawab Kiyai Wahab.

“Tapi niat mereka harus dinyatakan agar saudara-saudara yang bakal menjadi menteri itu berjanji di hadapan kita, tidak cukup Cuma dinyatakan dalam hati,” Kiyai Hajid datang dengan suatu pendekatan.

“Ooo, jadi saudara menghendaki niat itu diucapkan?” tanya Kiyai Wahab mengulurkan pancingan.

“Yaaa…,yaa…,supaya disaksikan kita-kita ini.!” Kiyai Hajid dengan jawaban tegas.

“Mana bisa.? Niat harus diucapkan.? Mana haditsnya tentang talaffudz bin niyaat. (malafazkan niat atau mengucapkan niat)?” tangkis Kiyai Wahab.

Gggggrrrrrrrr…!

Bukan saja memecahkan gelak tertawa tetapi adegan spektakuler itu merupakan teknik berdebat yang sangat bernilai dalam nada humor yang tinggi.

Kiai Wahab (dari NU) personifikasi dari Fiqih yang beraliran talaffudz bin niyyat dan kiyai Raden Hajid (dari Muhammadiyah) personifikasi dari aliran yang non-talaffudz bin niyyat saling “bertukar tempat” seperti berganti sikap.

Suatu studi tentang retorika dan teknik berdebat yang jarang kita dapati dalam diskusi yang manapun. Kiyai Wahab telah memperlihatkan kesigapan berdebat dan mengunci lawannya dengan argumentasi yang justru mendukung sikap yang selama ini ditentang oleh sang lawan.

“Kalau niat tentang hal yang harus dirahasiakan saja memerlukan talaffudz, apalagi niat untuk hal-hal yang tidak perlu dirahasiakan seperti shalat dengan talaffudz Ushollinya.!” nyeletuk kawan yang duduk di sampingku.

Adegan dalam rapat DPP Masyumi itu membuat tokoh Kiyai Wahab semakin menarik, bukan saja di kalangan kaum santri tetapi lebih lagi bagi kalangan politisi intelektual. Ternyata Kiyai Wahab bukan prototype ‘ulama kolot’ tetapi sebaliknya, menampilkan tokoh ulama yang progresif dan berpikirran rasional. Jadi dimana letak kejumudan (kebekuan) NU seperti yang sering dilontarkan oleh golongan ultra modern kalangan Islam kota?

***

Disadur dari Buku KH. Saifuddin Zuhri, Berangkat Dari Pesantren, Penerbit Gunung Agung, Jakarta, 1987.

Iklan