Kisah Kiyai NU yang Egaliter


Kisah Kiyai NU yang Egaliter

Bismillah, Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Selama ini ada stereo type bahwa kehidupan kiyai di pesantren sangat feodal, sehingga hubungan santri kiyai selalu diwarnai dengan berbagai hirarki yang tak terterobos oleh sang santri. Bahkan santri selalu dianggap bersikap “sami’na wa atha’na” atau pasrah bongkokan terhadap kehendak kiyai. Pandangan tersebut memang di satu sisi bisa dibenarkan karena banyak contoh untuk itu, tetapi anggapan itu tidak benar seluruhnya, di beberapa pesantren, kiyai dan ustaz senior bisa bergaul bebas dengan santri dan santri bisa mengkritik kiyai.

Tradisi yang berkembang di Pesantren Mojosari Nganjuk memang agak berbeda, para santri punya cara sendiri tidak hanya bagaimana menguji mental dan intelektualitas santri yang baru masuk, tetapi juga seringkali para santri yang belum yakin terhadap kualitas intelektualitas dan spiritualitas sang kiyai. Nampaknya santri tidak mau pengetahuan tentang kiyai diperoleh berdasarkan kabar dari mulut ke mulut, tetapi harus membuktikannya sendiri.

Kiyai Zainuddin misalnya, dikenal sebagai kiyai yang sangat alim dan wara’ (menjaga keperwiraannya), sehingga tidak pernah melihat auratnya sendiri sekalipun, apalagi melihat aurat orang lain. Pada suatu hari sekelompok santri ingin menguji kesungguhan cerita tersebut, lalu dipilihlah seorang santri untuk mengujinya, tetapi di antara sekian santri tidak ada yang berani melaksanakannya dengan cara telanjang bulat dihadapan sang kiyai, melihat tantangan itu Wahab Hasbullah menyanggupinya.

Setiap subuh dini hari Sang Kiyai punya kebiasaan membangunkan santri untuk shalat subuh. Saat itu Wahab pura-pura tidur dalam keadaan telanjang, sementara santri yang lain juga tiduran di sebelahnya, maka ketika sang kiyai membuka pintu langsung berteriak “astaghfirullah” sambil menutup matanya, lalu pergi meningalkan pemondokan menuju masjid untuk I’tikaf.

Kontan para santri semua pada bangun dan segera bergegas wudlu dan shalat subuh, demikian juga Wahab seolah tak terjadi apa apa, lalu ikut sholat. Sebagai hadiah untuk keberaniannya itu Wahab diberi jatah makan untuk beberapa hari. Sementara Sang Kiyai tidak pernah menunjukkan kemarahannya.

Di lain kesempatan para santri seangkatan Wahab ingin menguji kema’rifatan sang kiyai, dengan cara melakukan sembahyang tanpa wudlu, tentunya kalau sang kiyai ma’rifat pasti tahu, kalau sampai tidak tahu ada jamaahnya yang salat tanpa wudlu, maka ia tidak lebih seperti orang biasa saja.

Sekali lagi tak ada yang berani melaksanakan, akhirnya Wahab memberanikan diri. Setelah mendengar adzan ia tidak pergi wudlu ke sungai, tetapi langsung ikut pujian (baca-bacan shalawat) di masjid, tetapi begitu kiyai datang dan langsung qamat dikumandangkan sang kiyai tiba-tiba menginterupsi, apa ada jemaah yang belum wudlu, tentu saja semua santri menjawab tidak, kemudian Wahab juga ditanya apakah sudah wudlu, ia menjawab sudah kiyai, kiyai membantah, “tidak sampeyan belum wudlu” !!.

Karena sang kiyai mendesak akhirnya para santri yang lain bersaksi memang Wahab memang belum wudlu, akhirnya wahab pergi ke sungai dengan malas-malasan, padahal waktu sholat ashar hampir habis, para santripun sudah lelah berpujian, kiyaipun menunggu cukup lama karena jarak antara masjid dengan sungai ratusan meter.

Beberapakali Wahab dan kawan-kawan menguji pengetahuan dan kesabaran kiyai, tetapi tidak dimarahi, sebab sang kiyai tahu bahwa santrinya butuh keyakinan, sebagaimana Nabi Ibrahim perlu keyakinan untuk mengenal Tuhan. Dan dia tahu bahwa wahab dan kawan-kawannya yang nakal itu kelak akan menjadi pimpinan umat yang akan membawa ke jalan terang.

Kisah dan fragmen semacam itu banyak terjadi di pesantren, sehingga bisa menjadi alternatif dari pemikiran yang stereotip, melihat dunia NU dan pesantren sebagai tunggal dan statis, tidak pernah tahu bahwa Nu dan pesantren memiliki spectrum yang amat luas. Ada yang konservatif tetapi tidak sedikit yang liberal.

(Oleh Mun’im diceritakan oleh KH Abdullah Burdah)

Iklan