Kisah Santri yang Enggan Menjadi Kiyai


Kisah Santri yang Enggan Menjadi Kiyai

Jakarta, NU.Online

Di tengah gejolak revolusi 1946, para tokoh NU selalu mengkonsolidasi kekuatan rakyat ke seluruh daerah. Walaupun situasi politik tegang, namun di tengah dentuman revolusi itu, suasana santai dan akrab masih tetap terbangun. Terutama ketika ketemu para kiai pesantren setempat yang saat itu merupakan simpul-simpul gerakan kemerdekaan.

“Bagaimana kabarnya Khadratusy syaikh,” bertanya H. Ihwan seorang kiai di Purworejo kepada KH. Wahid Hasyim..

“Alhamdulillah, baik-baik saja. Pernahkah bertemu dengan beliau?” Gus Wahid bertanya pada H. Ihwan.

“Sejak beberapa tahun saya sering menghadap beliau di Tebuireng. Bukan karena saya belajar mengaji di pesantren, tapi karena menjadi suruhan mertua saya, Haji Siraj, berurusan dengan Hadlratusy Syaikh mengenai perdagangan nila (daun terum).” Haji ihwan menjelaskan.

“Ayah saya itu dulu berdagang nila dengan Hadlratus Syaikh. Sebagai menantunya Kang Haji Ihwan ini sering diutus ayah tebuireng untuk urusan dagang nila,” H. Azhari membantu menjelaskan.

“Ya,ya,ya. saya ingat cerita itu pernah dikisahkan oleh Hadlratusy Syaikh bahwa beliau mempunyai sahabat di Purworejo,” Gus Wahid menatap wajah kami satu persatu.

“Tidak mengira bahwa hubungan orang-orang tua kita kini bersambung kembali oleh persahabatan kita.”

“Karena saya sering ke Tebuireng, disangkanya saya ini santri yang jempolan. Padahal bisanya cuma mengurus perdagangan,” Haji Ihwan menyeringai, lalu sambungnya :

“Seperti itu onta yang pergi pulang antara Makkah-Madinah kan tidak bisa menjadi haji.,” pecahlah gelak tawa mendengar kias onta yang lucu itu. Haji Ihwan itu memang jenaka, dasar keluarga lucu, mulai ayahandanya K.H. Dahlan Rois Syuriyah NU Purworejo, Haji Nur adiknya, dan K.H. Jamil adiknya lagi yang ketua cabang NU Purworejo itu.

“Bagaimana kisahnya Kang Haji Ihwan dulu sampai akan menjadi ipar K.H.A. Wahab Hasbullah?” Haji Azhari memancing pertanyaan kocak.

“Ayah saya kan kawan Kiai Hasbullah ayah KH Wahab Hasbullah waktu belajar di pesantren. Selain itu saya juga sering berjumpa dengan Kiai Wahab di Tebuireng dan karena itu dengan beliau terjalin persahabatan. Mungkin karena itu Kiai Hasbullah menyangka saya ini calon kiai besar. Saya sering dipanggil bermalam di pesantren beliau. Suatu hari saya mendengar kabar selentingan bahwa saya akan dinikahkan dengan salah seorang gadisnya atau keponakannya. Wah, mendengar itu seluruh badan saya menjadi lemas sekali, tak bisa tidur, tak enak makan.

Akhirnya pada suatu malam dengan diam-diam saya minggat dari pesantren Kiai Hasbullah. Habis, kalau sudah menjadi menantu kiyai harus membaca kitab-kitab besar.,”

Haji Ihwan mengakhiri kisahnya yang jenaka itu dan tentu saja mengundang gelak tawa sekalian yang hadir, hingga orang-orang perempuan yang pada ikut mendengarkan dari ruangan dalam juga bercekikikan dengan gelak tawa mereka.

Jam 22.00 Haji Azhari dan Haji Ihwan pamitan untuk memberi kesempatan pada Gus Wahid beristirahat. Aku pun membiarkan beliau shalat ‘Isya dan Maghrib dalam jama’ qasar setelah aku siapkan sajadahnya di musholla. Aku sudah sangat mengenal kegemarannya bersembahyang sendiri berlama-lama, karena yang dibaca dalam shalatnya adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang panjang-panjang. Aku kira orang ini memang hafal Al-Qur’an, selalu menghafalnya sambung-menyambung dalam shalat.

***

Dikutip dari buku KH Saifuddin Zuhri, Berangkat Dari Pesantren, Gunung Agung Jakarta, 1987.

Iklan