Lelaki Kecil di Balik Jendela


PemulungLelaki Kecil di Balik Jendela

Ramadhan datang lagi, berarti akan banyak para dermawan yang datang ke perkampungan kumuh tempat aku tinggal. Minggu lalu suasana di perkampungan kumuh kami dipenuhi oleh hiruk pikuk ibu-ibu pengajian yang datang untuk mengadakan bakti sosial menjual sembako murah, baju-baju bekas yang masih layak pakai. Ibu-ibu yang berpakaian bagus-bagus itu sepertinya tidak kuat menahan bau sampah dan lalat yang menyambut kedatangan mereka. Sesekali mereka menutup hidung dan menepis lalat-lalat yang menggerumuti. Inilah kehidupan kami. Tentu saja berbeda dengan rumah ibu-ibu yang besar dan rapi.

Rumah kami adalah rumah-rumah dari seng-seng bekas yang disusun menjadi dinding, pintu dan atap di pinggiran kota Jakarta. Di depan perkampungan kami dipenuhi gerobak-gerobak sampah sehingga lalat- lalat yang gemuk berterbangan di mana-mana.

Ramadhan kali ini aku tidak bisa ikut antrian karena telapak kakiku terkena pecahan kaca yang sudah berkarat saat memulung bersama bapak, hingga kakiku bengkak. Tapi aku tetap berpuasa, aku hanya bisa duduk di balik jendela seng tanpa kaca yang sengaja dibuat bapak agar ada udara masuk. Ini adalah satu-satunya jendela di rumahku. Aku suka sekali duduk disini. Aku perhatikan ibu-ibu itu ramah-ramah dan semangat sekali melayani pembeli. Aku perhatikan juga adik-adikku yang sibuk ikut-ikutan memilih baju-baju yang dijual dengan harga Rp.500 – Rp.1000, baju untuk lebaran, kata emak.

Tadi aku beri adik-adikku uang Rp. 3000 agar mereka bisa memilih baju- baju yang disukainya. Adik-adikku tertawa bahagia. “horeee … aku punya baju lebaran,” begitu riangnya.

Di perkampungan kami semuanya adalah pemulung, tidak ada yang mengemis. Kata bapakku, tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah, jadi kami kerja apa saja asal halal. Walaupun sebetulnya bapak tidak ingin aku ikut-ikutan memulung, tapi aku tidak tega melihat bapak yang semakin hari semakin kurus karena sakit batuknya yang tak kunjung sembuh.

Sewaktu aku harus putus sekolah hanya sampai kelas 4 SD, bapak menangis meminta maaf dan memelukku, bapak tidak mampu membiayai sekolahku, tidak apa, aku akan belajar sendiri, walapun aku merasa sangat sedih sekali. Umurku sekarang 13 tahun, aku suka membaca dan Alhamdulillah, bang Hasan, yang punya kios majalah di depan gang sering berbaik hati membolehkan aku membaca majalah dan buku-buku di kiosnya. Kata bang hasan, kalau banyak membaca buku yang isinya bagus, nanti bisa cepat pintar. “Aku mauuu sekali jadi orang pintar …!!”

Bila aku bisa sekolah tinggi dan punya rezeki banyak aku ingin seperti Rasulullah yang sangat dermawan, yang kata bapakku, Rasulullah bersedekah di bulan ramadhan seperti angin yang berhembus, terus menerus tiada henti. Bapak sering bercerita tentang Rasulullah dan bapak amat penolong. Itulah yang membuat bapak disegani oleh tetangga-tetangga disini, karena bapak suka bersedekah dengan tenaganya. Bapak bilang, walaupun tidak punya uang bukan berarti kita tidak bisa bersedekah. Kita bisa Bantu-bantu apa saja walau sama-sama kesusahan.

Ah bapak, aku suka menangis diam-diam dalam shalatku dan berdoa selalu untuk bapak dan emak agar mereka diberi kesabaran.

Minggu pagi ini ada lagi yang datang, kakak-kakak yang masih muda dan ramah-ramah juga. Menurut bapak, mereka dari kelompok sosial yang beberapa diantaranya adalah dokter-dokter yang baru lulus, kali ini mereka memberi kami bingkisan lebaran, buku-buku bacaan, pembagian makanan bergizi dan kami pun semua diperiksa kesehatan oleh kakak- kakak dokter yang amat baik hati. Aku tetap hanya bisa melihatnya dari jendela rumahku, tiba-tiba ada dua orang kakak dokter yang berbaju putih masuk ke rumahku, katanya dia diberitahu adikku bahwa ada yang sakit di dalam, dan aku diperiksa, diberi obat, diajak mengobrol dan diberi buku-buku. Banyak sekali.

Terimakasih ya Allah, setelah itu mereka mengumpulkan anak-anak dan bercerita tentang kasih sayang Allah, Rasulullah dan banyak lagi, ada juga yang mengajari membaca dan mengaji. Dan akhirnya acara selesai, mereka pamit pulang. Ah, seandainya ini bisa berlanjut tidak saja di bulan ramadhan, ingin rasanya aku teriakan ke kakak-kakak di luar bahwa kami ingin belajar. Apakah kakak punya waktu untuk mengajari kami membaca, menulis, mengaji, berhitung dan sebagainya? Kami tidak mengharap untuk diberi bingkisan atau apa pun. Tapi kami ingin belajar. Sekolah terlalu mahal untuk kami. Tapi lidahku kelu, tidak bicara apa pun sampai rombongan mereka pergi.

Selalu saja mereka datang untuk kemudian pergi, dan entah kapan lagi datang kembali, ramadhan tahun depankah? Kenapa harus menunggu ramadhan tahun depan? Kami khawatir, ramadhan tahun depan perkampungan kami sudah digusur dan dibuldozer. Dan kami khawatir, di bulan-bulan lainnya, akan datang kembali kakak-kakak yang memberikan makanan, uang, mengajar kami membaca tapi setelah itu kami harus ikut mereka bernyanyi-nyanyi di gereja. Bapak marah besar dengan orang- orang itu. Sehingga sekarang mereka tidak berani lagi ke rumah-rumah seng kami.

Dari aku, kami, anak-anak pemulung yang punya semangat belajar. Tapi hanya bisa memandangi gedung-gedung sekolah tanpa bisa memasuki kelas- kelasnya. Adakah yang peduli untuk berbagi?.

eramuslim – Dini Auliya

Iklan