Memelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (1/2)


quranMemelihara, Menulis Dan Menyentuh Ayat-Ayat Al-Quran (1/2)

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

`Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

AL-QURAN adalah semulia kitab dan tidak diragukan bahwa Al-Quran itu adalah Kalamullah, ia mengatasi segala kalam. Mushaf yang dituliskan padanya Kalamullah wajib dihormati, dimuliakan dan tidak merendah-rendahkan dan mendedahkannya kepada penghinaan dan pencemaran.

Al-Quran diturunkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan membawa kebenaran dan petunjuk kepada umat manusia sekaligus mengesahkan benarnya kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya. (Ibn Katsir. Kitab Fadail Al-Quran : 9-10).

Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu Wataala dalam firman-Nya dalam tafsirnya:

“Dan Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) kitab (Al-Quran) dengan membawa kebenaran, untuk mengesahkan benarnya kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya dan untuk memelihara serta mengawasinya.”

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam juga menjelaskan tentang kemuliaan dan kebesaran Al-Quran di dalam banyak hadis. Di antaranya ialah hadis yang disebut oleh Ali bin Abu Thalib yang diberitakan oleh Harits Al-A’war, katanya: “Aku berlalu di masjid, lalu aku melihat ada orang ramai yang mengarung (yakni mabuk bercakap tentang perkara-perkara yang boleh membawa fitnah, pembunuhan dan permusuhan). Kemudian aku menemui Ali bin Abu Thalib dan berkata kepadanya: “Wahai Amirul mukminin, adakah tuan melihat bahwa orang ramai telah mengarung di dalam percakapan mereka?” Ali bertanya: “Adakah mereka telah melakukannya?” Aku menjawab: “Ya”. Maka Ali pun berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Sallalahu Alaihi Wasallam bersabda yang maksudnya:

“Ingat, sesungguhnya itu akan menyebabkan fitnah”. Saya bertanya: “Bagaimana jalan keluar daripadanya wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda: “(Berpegang) kepada kitab Allah yang telah menceritakan orang-orang sebelummu dan berita orang-orang sesudahmu, dan sebagai penghukum apa yang terjadi antara sesamamu. Kitab Allah adalah firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil dan ia adalah bukan sebagai senda gurau, orang yang meninggalkan kitab Allah daripada orang yang sombong, Allah akan membinasakannya, orang yang mencari petunjuk daripada selain kitab Allah, maka Allah akan menyesatkannya, kitab Allah adalah (tali) Allah yang kuat, ia adalah juga kitab yang penuh hikmah, ia adalah jalan yang lurus, ia adalah yang tidak condong pada hawa nafsu, ia tidak berat pada setiap lisan, para ulama tidak akan kenyang padanya, ia tidak usang oleh banyaknya diulang-ulang (bacaannya), ia tidak habis-habis keajaibannya, ia adalah yang tidak henti-hentinya Jin tatkala mendengarnya, mereka berkata: (Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya). Barangsiapa berkata dengan Al-Quran, maka benarlah ia, barangsiapa yang mengamalkannya, ia diberi pahala, orang yang menetapkan hukum dengannya maka ia adil dan barangsiapa mengajak-ajak kepada Al-Quran, ia mendapat petunjuk pada jalan yang lurus.” Ambillah (kata-kata yang baik) hai A’war.” (Riwayat Al-Tirmidzi dalam Tuhfah At-Ahwazi: 8/183-186, Al-Darimi: 2/294).

Wajib Menjaga Kemuliaan Al-Quran

Menurut ulama membaca Al-Quran itu lebih utama (afdal) daripada membaca tasbih, tahlil dan zikir-zikir yang lain selain Al-Quran. (Al-Tibyan: 17).

Perkara ini dapat difahami karena ia adalah kitabullah, kitab suci umat Islam yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir dalam tempoh masa lebih kurang 23 tahun.

Berdasarkan catatan sejarah Al-Quran sejak dari awal turunnya, ia telah mula dihafal dan ditulis sehinggalah turun ayatnya yang terakhir.

Penghafalan dan penulisan ini berlaku adalah bagi memenuhi sebahagian tuntutan pemeliharaan, penyucian dan penghormatan kepada kitab suci ini.

Oleh itu, sesuai dengan fungsinya sebagai kitab yang paling suci, maka semua umat Islam sepakat (ijmak) tentang wajibnya ke atas orang Islam menjaga dan menghormati Al-Quran.

Di antara cara menghormatinya, ia tidak boleh dicampakkan dan ditindih dengan sesuatu di atasnya. Dalam hal ini Imam Nawawi menjelaskan bahwa apabila seseorang Islam itu melempar atau mencampakkan mushaf (Al-Quran) ke tempat-tempat yang kotor dan jijik, maka dia dihukumkan kafir. Begitu juga haram meletakkan sesuatu di atasnya sekalipun dengan kitab-kitab agama. (Al-Tibyan: 150, Al-Majmu’ 2:85).

Menurut beliau lagi, sebagaimana yang telah diriwayatkan di dalam musnad Al-Darimi bahwa Ikrimah bin Abu Jahal meletakkan mushaf di mukanya (separasnya muka) seraya berkata: “Kitab Tuhanku, kitab Tuhanku.” Berdasarkan riwayat ini adalah wajar meletakkan Al-Quran itu di tempat yang sesuai seperti di atas kepala dan tidak di tempat yang hina dan tercemar.

Termasuk dalam kategori menjaga kemuliaan Al-Quran itu ialah menjaganya daripada jatuh ke tangan orang-orang kafir. Larangan ini telah dijelaskan oleh Rasullullah Sallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari yang maksudnya:

“Sesungguhnya Rasullullah Sallallahu Alaihi Wasallam melarang membawa Al-Quran ketika musafir (belayar) ke negeri musuh (kafir).” (Riwayat Al-Bukhari).

Berdasarkan pengkajian dan pembahasan ulama tentang betapa perlunya menghormati kitab suci ini, mereka telah membuat beberapa disiplin dan adab terhadapnya.

Berikut ini disebutkan beberapa adab yang berkaitan dengan Al-Quran dan mushaf bagi tujuan memuliakan dan menghormatinya sebagaimana disebut dalam kitab Nawadir Al-Ushul Fi Ma’rifah Ahadits Al-Rasul (2.391-396):

  1. Menyentuh, memegang atau membawa (mengangkat mushaf (Al-Quran) hendaklah dalam keadaan suci (berwuduk), sama ada ayat-ayat Al-Quran itu ditulis pada kertas, papan, besi, kain dan sebagainya. Dalam kaitan ini termasuklah poster atau sepanduk yang sepenuhnya bertuliskan ayat Al-Quran.
  2. Tidak meletakkan mushaf pada tempat yang mudah terdedah kepada pencemaran seperti di tempat yang sering jatuh padanya najis burung, cicak dan lain-lain dan tidak membiarkan bertaburan dan berselerak di tempat yang tidak sepatutnya.
  3. Tidak meletakkan sesuatu di atas mushaf, sama ada buku atau yang lainnya. Mushaf itu pula hendaklah diletakkan di atas segala buku dan di tempat yang lebih terhormat.
  4. Ketika membaca mushaf eloklah dipangku atau diletakkan di atas sesuatu di hadapan seperti rehal dan tidak meletakkannya secara langsung di atas lantai.
  5. Jika ia ditulis, jangan dihapus atau dipadam dengan air liur tetapi boleh memadamkan tulisannya dengan air yang bersih. Bekas larutan basuhannya hendaklah tidak jatuh ke tempat yang bernajis karena larutan basuhan itu perlu dihormati.
  6. Adalah elok dan wajar memandang Al-Quran, paling tidak sekali pada setiap hari. Diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radiallahuanhu katanya, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang maksudnya:

“Kamu berikanlah peruntukkan ibadat untuk mata kamu. Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa dia peruntukkan ibadat mata?” Baginda menjawab: “Peruntukkan ibadat mata ialah memandang mushaf, memikirkan kandungannya dan mengambil iktibar daripada keajaibannya.”

  1. Mencantikkan tulisan apabila menulisnya. Diriwayatkan daripada Abu Halimah bahwa semasa ia menulis mushaf di Kufah, Ali bin Abu Thalib berlalu dan melihat tulisannya seraya berkata kepada Abu Halimah: “Runcingkan penamu”. (Abu Halimah berkata) saya pun mengambil pena, lalu meruncingkan hujungnya, kemudian saya menuliskannya semula, dan Ali Radiallahuanhu berdiri memerhatikan tulisanku, kemudian beliau (Ali) berkata: “Beginilah sepatutnya cara kamu menyinari mushaf sebagaimana Allah Subhanahu Wataala menyinarinya.”
  2. Tidak menjadikan mushaf sebagai bantal dan alat bersandar dan jangan melemparkannya kepada kawan apabila kawan itu hendak mengambilnya.
  3. Jangan memperkecilkan (saiz) mushaf sebagaimana telah diriwayatkan bahwa Ali Radiallahuanhu pernah berkata: “Jangan engkau perkecil mushaf.”
  4. Hendaklah mushaf itu diasingkan dan tidak mencampur- adukkan dengan benda lain yang bukan daripada mushaf, yakni tidak meletakkan apa-apa benda di dalamnya.
  5. Tidak menghiasi mushaf dengan emas dan tidak ditulis dengan emas supaya tidak bercampur dengan perhiasan dunia.
  6. Tidak menuliskannya di tanah karena Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam melarang berbuat demikian. Daripada Umar bin Abd. Aziz Rahimahullah telah berkata: Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah melintasi (tempat) yang ada tulisan di tanah lalu Baginda bertanya kepada seorang muda daripada suku Huzail: “Apa ini?” Pemuda itu menjawab: “Sebahagian tulisan dari Kitab Allah Subhanahu Wataala yang ditulis oleh seorang Yahudi.” Kemudian Baginda bersabda: “Allah Subhanahu Wataala melaknat orang yang melakukan (perkara) ini, janganlah kamu letakkan Kitab Allah Subhanahu Wataala melainkan pada tempatnya.” Bertolak daripada peristiwa ini segolongan besar ulama berpendapat makruh hukumnya menulis Al-Quran dan nama-nama Allah pada mata wang dirham, mihrab dan dinding. (Ahsan Al-Kalam: 2:114).
  7. Apabila tulisan Al-Quran dijadikan bahan mandian karena berubat daripada penyakit yang dialaminya, maka janganlah ianya jatuh ke tempat yang kotor dan bernajis, atau ke tempat yang dipijak. Adalah elok jika ia jatuh ke tanah yang tidak menjadi pijakan orang ramai atau ke lubang yang digali di tempat yang bersih supaya airnya jatuh ke dalam lubang itu, kemudian barulah lubang itu ditutup. Selain daripada cara itu, air tersebut boleh juga dialirkan ke sungai supaya larutan itu akan mengalir bersama.
  8. Ayat-ayat pelindung daripada Al-Quran tidak dibawa masuk ke dalam tandas kecuali ianya dimasukkan dalam sarung kulit atau perak atau sebagainya karena berbuat yang demikian itu ianya seperti berada di dalam dada.
  9. Apabila ianya ditulis dan airnya diminum hendaklah membaca basmalah setiap kali minum dan membetulkan niat, karena Allah Subhanahu Wataala akan memberi mengikut kadar niatnya. Daripada Mujahid katanya: “Tidak mengapa menulis ayat-ayat Al-Quran kemudian melarut atau melunturkan ayat-ayat yang ditulis itu lalu meminumkannya kepada pesakit.”

Bersambung

Iklan