Meneladani Rasulullah saw.


nabi-muhammad-rasulullah-sawMeneladani Rasulullah saw.

Oleh : Yahya Abdurrahman

Pengantar Redaksi:

Mengikuti (al-ittiba’) dan meneladani (at-ta’asi) Rasul saw. sangat penting agar umat tidak tersesat. Maknanya, umat harus mengikuti dan meneladani perkataan, perbuatan dan persetujuan Rasul saw. Agar bisa meneladani Rasul saw. secara sempurna dan tidak terpelanting menyalahi syariat, kaidah-kaidahnya perlu dipahami. Kaidah—terutama untuk perbuatan Rasul saw.—secara singkat dibahas dalam buku pertama rangkaian pembinaan Hizbut Tahrir, yakni Nizham al-Islam, halaman. 80-81 (edisi mu’tamadah). Pembahasan ini termasuk pembahasan ushul. Penjelasan lebih detail dapat kita jumpai dalam buku as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, jilid III halaman. 84-96. Pembahasan masalah ini juga banyak bertebaran dalam buku-buku Ushûl al-Fiqh karya para ulama salaf maupun khalaf. Berikut paparannya.

Seluruh elemen umat sepakat bahwa as-Sunnah merupakan dalil syariat. As-Sunnah diartikan sebagai semua yang bersumber dari Nabi saw.—selain al-Quran—baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (diam/ persetujuan) beliau.

As-Sunah merupakan hujah yang harus diikuti sesuai dengan ketentuan yang diberikan. Allah Swt. berfirman;

Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali ‘Imran [3]: 31).

Wajibnya Ittiba’ kepada Rasul saw. ini dinyatakan secara umum, artinya mencakup semua yang keluar dari beliau baik berupa perkataan, perbuatan, maupun diam (persetujuan)-nya beliau.

Seruan beliau berupa takhyir (pilihan) antara melakukan atau meninggalkan jelas status hukumnya mubah. Seruan berupa perintah (tuntutan untuk melaksanakan) atau larangan (tuntutan untuk meninggalkan) harus dikaitkan dengan qarinah-nya untuk mengetahui tegas dan tidaknya tuntutan itu, yakni apakah perintah itu bersifat tegas sehingga wajib dilaksanakan atau tidak tegas sehingga hukumnya sunah saja; juga apakah larangan beliau itu bersifat tegas sehingga hukumnya haram atau tidak tegas sehingga hukumnya makruh.

Persetujuan (taqrir) beliau adalah terjadi ketika sahabat melakukan sesuatu di hadapan beliau atau tidak di hadapan beliau tetapi diketahui/sepengetahuan beliau, lalu beliau diam saja. Itu berarti, apa yang dilakukan sahabat itu hukumnya mubah.

Meneladani Perbuatan Rasul saw.

Para ulama lebih sering menyebut ittiba’ kepada Rasul saw. dengan istilah meneladani perbuatan Rasul saw. (at-ta’asi bi af’al ar-Rasûl).

Meneladani Rasul saw. adalah wajib, tentu sesuai dengan ketentuan hukumnya; apakah wajib, sunnah, haram, makruh, atau mubah. Shalat lima waktu, misalnya, wajib, ya kita ikuti sebagai sebuah kewajiban; shalat malam (tahajud) sunnah, ya kita laksanakan sebagai sunnah; meminum khamar haram, ya kita teladani sebagai sebuah keharaman; dst.

Jadi, meneladani perbuatan Rasul saw. berarti melakukan perbuatan persis dengan perbuatan beliau (bi mitsli fi’lihi, di atas niat atau maksudnya (‘ala wajhihi), dan karena perbuatan beliau (min ajli fi’lihi).1 Meneladani perbuatan Rasul saw. harus memenuhi tiga batasan ini. Jika tidak maka tidak terkategori sebagai peneladanan.2

  1. Bi mitsli fi’lihi (persis dengan perbuatan Nabi saw.)

Maksudnya, perbuatan itu harus sama persis dengan potret perbuatan Nabi saw.; jika berbeda maka itu bukan peneladanan. Misal, membasuh muka sebanyak tiga kali dalam berwudhu. ‘Amru bin Syu’aib menceritakan, bahwa seorang Arab baduwi datang kepada Nabi saw. dan bertanya mengenai berwudhu, lalu ia melihat Rasul saw. berwudhu dengan tiga kali, tiga kali; kemudian Rasul saw. bersabda:

Inilah tatacara berwudhu. Siapa saja yang menambah ini maka ia telah berbuat buruk, melampaui batas, dan zalim (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibn Majah).

Contoh lainnya adalah ketidakbolehan memungut zakat profesi, zakat atas rumah, zakat atas mobil, dll. Sebab, al-Hasan berkata:

Nabi saw. tidak mewajibkan zakat kecuali pada sepuluh (jenis harta): gandum, jewawut, kurma, kismis, sorghum, unta, sapi, kambing, emas, dan perak. (HR al-Baihaqi).

  1. ‘Ala Wajhihi.

Maknanya, melaksanakan perbuatan sesuai dengan maksud, tujuan, atau niat Rasul melakukan perbuatan itu. Artinya, meneladani perbuatan Rasul saw. dari sisi apakah perbuatan itu wajib, sunnah atau mubah. Sebab, suatu perbuatan yang dilakukan persis seperti perbuatan Nabi saw., namun berbeda niatnya, tidak bisa disebut peneladanan. Misal, Rasul shalat dengan niat sunnah, lalu kita melakukan persis seperti shalat Rasul itu dengan niat wajib, maka itu bukan meneladani, tetapi menyalahi beliau.

  1. Min ajli fi’li-hi.

Artinya, perbuatan itu dilaksanakan karena Rasul melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, perbuatan itu dilakukan dengan alasan mencontoh Rasul saw. Jika dua perbuatan dilakukan persis sama dan dengan niat yang sama pula, namun bukan dimaksudkan untuk mencontoh satu sama lain, maka hal itu bukan peneladanan.

Waktu dan tempat Rasul melakukan suatu perbuatan secara umum tidak masuk dalam bagian yang harus diteladani, sekalipun berulang-ulang; kecuali jika terdapat nash yang menunjukkan pengkhususan suatu aktivitas ibadah pada tempat dan atau waktu tertentu—jika demikian maka tempat dan waktu itu menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas yang harus kita teladani. Hal ini seperti dikhususkannya shalat dan puasa pada waktu-waktunya, haji dengan segala manasiknya di Makkah dan pada waktu tertentu, dsb.

Ketentuan ini dilihat dari sisi kewajiban mengikuti dan meneladani (al-ittiba’ wa at-ta’asi) Rasul saw. Sedangkan dari sisi melakukan perbuatan yang dilakukan Rasul saw. (al-qiyam bi al-fi’li), ketentuannya adalah sebagai berikut:3

Pertama, perbuatan Jibiliyyah, yakni perbuatan Rasul yang beliau lakukan sebagaimana biasanya manusia. Perbuatan itu merupakan karakter alamiah manusia, baik Rasul maupun bukan; seperti berdiri, duduk, makan, minum, berjalan, tidur, dan sebagainya. Perbuatan seperti ini mubah, baik bagi Rasul maupun bagi umatnya.

Kedua, perbuatan yang ditetapkan nash sebagai kekhususan bagi Rasul (khawwash ar-Rasûl). Contohnya seperti puasa wishal (puasa terus-menerus), menikahi wanita lebih dari empat orang, dsb. Perbuatan itu hanya khusus bagi Rasul dan kita haram melakukannya.

Ketiga, perbuatan Rasul yang merupakan penjelasan (bayan) atas seruan terdahulu. Perbuatan ini tanpa diperselisihkan menjadi dalil yang harus kita ikuti. Status hukum perbuatan ini mengikuti status seruan yang dijelaskan (al-mubayyan). Jika yang dijelaskan wajib, maka hukum perbuatan itu wajib. Jika yang dijelaskan sunnah maka sunnah melakukannya. Jika yang dijelaskan mubah maka mubah pula melakukannya.

Penjelasan (bayan) itu bisa dengan perkataan secara jelas (sharih al-maqal). Bayan seruan wajib contohnya sabda Rasul saw.:

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Contohlahlah dariku tatacara haji kalian. (HR Muslim dan an-Nasa’i).

Bayan seruan sunnah adalah seperti penjelasan Rasul tentang berkurban. Abu Bardah bercerita, Rasul saw. pernah berkhutbah kepada kami:

Siapa yang shalat dengan shalat kami, menghadapkan wajahnya ke kiblat kami, dan berhaji dengan ibadah haji kami, maka hendaknya ia tidak menyembelih (kurban) hingga ia shalat (‘Id Adha) (HR Muslim).

Jabir bin Abdullah berkata:

Kami berkurban bersama Nabi pada tahun Perjanjian Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang. (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Bayan atas seruan sunnah, misalnya, penjelasan tentang memakai cincin. Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin yang terbuat dari perak yang diukir di atasnya. (HR al-Bukhari dan Abu Dawud). Rasulullah saw. memakai cincin di tangan kanannya. (HR al-Bukhari, Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah).

Bisa juga bayan itu disampaikan sebagai qara’in ahwal (indikasi dalam bentuk perbuatan tertentu). Misal, ketika ada ungkapan mujmal atau umum yang hendak di-takhshish (dikhususkan) atau ungkapan mutlaq yang hendak di-taqyid (dibatasi), namun belum di-takhsis atau di-taqyid oleh Rasul, lalu saat dibutuhkan, Rasul saw. melakukan suatu perbuatan yang layak dijadikan bayan. Contoh, Rasul memotong tangan pencuri sampai pergelangan tangan sebagai penjelasan QS al-Maidah (5) ayat 38; pelaksanaan hukuman rajam merupakan bayan atas had zina; tayamum dengan mengusap muka dan tangan sampai siku sebagai penjelasan QS an-Nisa’ (4) ayat 43.

Keempat, selain ketiga jenis di atas (bukan jibiliyyah, bukan khawwash ar-rasûl, dan bukan bayan seruan terdahulu), maka kemungkinan hukumnya bisa wajib, sunnah, atau mubah. Perbuatan Rasul itu semata-mata menunjukkan adanya thalab al-fi’li (tuntutan agar dilaksanakan). Ia membutuhkan qarinah (indikator) yang akan menentukan apakah tuntutan itu bersifat pasti (wajib), tidak pasti (sunnah) ataukah berupa pilihan (mubah). Berikut contoh untuk ketiga hukum tersebut:

Pertama, jika dalam perbuatan itu tampak adanya maksud taqarrub kepada Allah maka hukumnya sunah. Sebab, adanya maksud taqarrub jelas menunjukkan bahwa melaksanakan lebih dikuatkan dari meninggalkan. Hanya saja, penguatan itu tidak bersifat pasti. Jadi, hukumnya sunnah. Contohnya membaca doa qunut pada shalat subuh. Beliau melakukannya selama sebulan lalu meninggalkannya. Karena mengandung maksud taqarrub kepada Allah, maka itu menunjukkan bahwa melakukannya lebih dikuatkan, sehingga hukumnya sunnah.4

Kedua, jika Rasul melakukan suatu perbuatan, lalu dalam kesempatan lain meninggalkannya, dan di dalamnya tidak terdapat maksud taqarrub, maka perbuatan itu hukumnya mubah. Contohnya berdiri ketika ada jenazah lewat. Diriwayatkan bahwa jenazah lewat di depan Ibn ‘Abbas dan al-Hasan, lalu salah satu berdiri dan yang lain tetap duduk. Yang berdiri berkata kepada yang duduk, “Bukankah Rasul saw. telah berdiri (ketika jenazah lewat)?” Yang duduk menjawab, “Benar, tetapi beliau juga pernah tetap duduk.”5

Rasul saw. mengadakan jamuan makan dan mengundang kerabat beliau sebagai cara untuk mengumpulkan dan mendakwahi mereka. Lalu beliau tidak melakukannya lagi. Karena itu, mengundang jamuan makan itu sebagai cara dakwah hukumnya mubah, yang dalam istilah fiqh ad-da’wah disebut uslûb.

Ketiga, jika Rasul saw. melakukan perbuatan secara kontinu, dan beliau tetap melakukannya meskipun mendapat kesulitan, maka hukum perbuatan itu adalah wajib. Misalnya, tatsqif (pembinaan) bagi sebuah jamaah dakwah. Sebab, Rasul saw. melaksanakan tatsqif sepanjang hidup dan tidak pernah meninggalkannya. Contoh lain, aktivitas shira’ al-fikr (pergolakan pemikiran) adalah wajib, karena Rasul saw. mencela akidah kafir Quraisy; mencela sesembahan mereka; mencela, memburukkan, dan membatilkan sistem kehidupan mereka. Beliau (juga para sahabat) tetap melakukan semua itu meski mendapatkan kesulitan bahkan siksaan fisik. Begitu juga kifah as-siyasiy (perjuangan politik) membongkar kezaliman penguasa dan strategi musuh-musuh Islam. Thalab an-nushrah juga hukumnya wajib, karena Rasul terus melakukannya dengan mendatangi sekitar 19 kabilah. Semua menolak bahkan secara buruk seperti Bani Tsaqif di Thaif, Bani Hamdan dan Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah; dan hanya kaum Anshar yang menjawabnya. Wallah

a’lam bi ash-shawab. d

Catatan Kaki

1 Qadhi Taqiyyuddin an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, III/93.

2 Lihat, Pernyataan Al-Kamal bin al-Humam (790 –861 H/1388 – 1457 M), di antara ulama mazhab Hanafi, dalam at-Taqrir wa at-tahbir, 2/404, Dar al-Fikr, Beirut, cet. I. 1996; Muhammad bin ali bin at-Thayib al-Bashri, Abu al-Husayn (w 436 H), Al-Mu’tamad fi Ushûl al-Fiqh, I/343-345, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, cet. I. 1403 H; Imam al-Amidi (551-631 H), di antara ulama mazhab Syafi’i, Al-Ihkam fi Ushûl al-Ahkam, juz I hal. 226, Dar al-Kitab al-’Arabi, Beirut. Cet. I. 1404 H.

3 Lihat: al-Qadhi an-Nabhani, as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, III/84-88; Imam al-Amidi, al-Ihkam, I/226-seterusnya; Syaikh ‘Atha’ ibn Khalil, Taysir al-Wushûl ila al-Ushûl, hlm. 75-76, Dar al-Umamh, cet. III (mazid wa munaqqahah), Beirut. 2000; Hafizh Abdurrahman, Ushul Fih Membangun Paradigma Berpikir Tasyri’iy, hlm. 87-89; al-Azhar Press. 2003.

4 Lihat: HR. Bukhari, hadis no. 3781; Muslim, hadis no. 1087, 1088; Abu Dawud, hadis no. 1233; dll.

5 HR at-Thabrani dalam Mu’jam al-Awsath. Hadis no. 2490.

hizbut-tahrir.or.id

Iklan