Bolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non-Islam ? (2/2)


takziahBolehkah Menghadiri Upacara Pemakaman Mayat Orang Non-Islam ? (2/2)

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaa

Memasuki Gereja

Gereja ialah sebuah bangunan tempat beribadat penganut Kristian. Gereja disebut pelbagai nama mengikut saiz dan penggunaannya. Jikalau gereja kecil dan penggunaannya dikhaskan ia disebut chapel. Tetapi terdapat juga istilah umum yang digunakan untuk gereja yaitu disebut church. Abbey pada asalnya bermakna asrama paderi-paderi tetapi kini telah diperluaskan penggunaannya hingga lebih membawa arti gereja besar. Biasanya bahagian utama gereja berbentuk salib. Gerbang gereja pada mulanya berbentuk bulat, tetapi kemudiannya tirus ke atas bagi melambangkan keteguhan dan keagungan. (Ensiklopedia Malaysiana: 5/109-110)

Jika berlaku kematian, biasanya mayat orang kafir (Kristian) dibawa ke dalam gereja bagi menjalankan upacara khas keagamaan dan ia adalah menjadi salah satu syi’ar atau tanda khusus bagi agama mereka. Cara seperti ini tidak ada di dalam Islam dan bagi orang Islam sendiri tidak dibenarkan turut bersama mengikuti atau menyertai acara keagamaan mereka itu.

Menurut sesetengah kitab yang menghuraikan hukum-hukum yang berkaitan dengan orang kafir zimmi ada menyebutkan bahwa gereja-gereja mereka itu adalah tempat-tempat laknat, kemarahan dan kemurkaan turun kepada mereka di dalamnya sebagaimana dikatakan oleh sebahagaian sahabat: “Jauhi oleh kamu akan orang-orang Yahudi dan Nashrani di hari-hari kebesaran mereka karena kemurkaan turun kepada mereka pada hari-hari itu”. Selain daripada itu, gereja itu termasuk di antara rumah (tempat) musuh-musuh Allah, rumah musuhNya pula adalah tidak layak dijadikan tempat beribadat kepadaNya. (Ibn Qayyim Al-Jauziah, Ahklam Ahl Zimmah, 3:1230-1231)

Apabila demikian halnya gereja itu, maka tidak elok bagi seseorang Muslim memasukinya tanpa sebab-sebab tertentu, sebagaimana dicatatkan dalam sejarah pembukaan Bait Al-Muqaddas bahwa Sayyidina Umar Radhiallahu ‘anhu pernah memasuki gereja Al-Qummamah (Al-Qiyamah) dan sempat duduk di dalamnya dan apabila tiba waktu sembahyang beliau keluar. Tindakan Sayyidina Umar ini lebih banyak bermotifkan politik Islamiyah yang pada masa itu di mana agama Islam baru mula bertapak di kawasan Bait Al-Muqaddas dan Umar sendiri memasukinya bukan karena sukakan atau cenderung kepada gereja atau ajaran mereka. (Muhammad Redha, Al-Faruq: Umar bin Al-Khattab: 208)

Syarat-Syarat Memasuki Gereja

Menurut ulama Syafi’e hukum memasuki gereja itu dibolehkan dengan beberapa syarat. Antara syarat-syarat itu ada kebenaran daripada pihak gereja dan di dalam gereja itu pula tidak terdapat gambar atau patung-patung yang dimuliakan seperti gambar atau patung yang disangkakan orang Nashrani sebagai gambar atau patung Nabi Isa ‘Alaihishshalatu wasallam, atau Sayyidatina Maryam dan lain-lain.

Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak harus memasukinya (haram) masuk gereja disebabkan ada gambar-gambar atau patung yang dihormati oleh mereka yang diletakkan dalam gereja itu.

Dalam hal ini Ibnu Hajar dan Imam Ali Al-Syibramalisi Rahimahullah menyebutkan bahwa tidak harus memasuki gereja kecuali dengan ada izin kebenaran daripada mereka dan di dalamnya tidak terdapat gambar-gambar yang dimuliakan. (Tuhfah Al-Muhtaj: 9/295 & Hasyiah Nihayah Al-Muhtaj: 8/99)

Termasuk juga syarat itu hendaklah masuknya itu tidak membawa kesan cenderung atau mengiktiraf kepada ajaran gereja atau akan membawa dia mempersendakan Islam bersama-sama orang kafir sehingga boleh merusakkan aqidahnya. (Fatwa Abdul Halim Mahmud: 198)

Berasaskan kepada huraian di atas, adalah dibolehkan mengikuti serta menyertai jenazah orang kafir dari tempat kediaman asalnya sehingga sampai ke tempat pengkebumiaannya, termasuk ke gereja yang sunyi daripada gambar-gambar dan patung yang disebutkan.

Walau bagaimanapun perlu diingat bahwa orang Islam adalah haram menghadiri atau menyertai mana-mana acara peribadatan atau acara khas keagamaan agama yang lain, sama ada ia dilakukan di gereja, di kuil, rumah atau di mana-mana tempat sekalipun.

Dengan demikian perkara orang Islam datang ke gereja untuk hanya sekadar memberi takziah dan simpati kepada keluarga terdekat atau teman rapat adalah harus, yaitu selama tidak menyertai acara khusus keagamaan mereka dan di tempat itu tidak ada gambar-gambar atau patung yang mereka muliakan.

wallohu a’lam bis-showab

Kiriman Sahabat Arland

Iklan