Berobat dengan Benda yang Najis (2/2)


obat-najisBerobat dengan Benda yang Najis (2/2)

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

Tidak dinafikan, ada juga antara penyakit itu yang sukar ditemui ubatnya. Sebagiannya pula boleh disembuhkan dengan menggunakan ubat-ubatan daripada benda-benda najis yaitu berdasarkan pengalaman orang-orang terdahulu.

Oleh karena itu, menurut pendapat yang ashah dalam mazhab Syafi’e, adalah harus berobat dengan segala benda najis, kecuali yang memabukkan, dengan alasan bahwa berobat itu adalah merupakan perkara darurat. Sedangkan darurat itu mengharuskan kita mengambil apa yang ditegah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Tafsirnya: “Dan sesungguhnya Allah telah menerangkan kepada kamu satu persatu apa yang diharamkanNya atas kamu, kecuali yang terpaksa kamu memakannya.” (Surah Al-An’am: 119)

Berdasarkan ayat tersebut dan ayat-ayat seumpamanya, maka para ulama telah menggariskan kaedah:

Ertinya: “Keadaan-keadaan darurat itu mengharuskan perkara-perkara yang dilarang.”

Walau bagaimanapun, penggunaan najis sebagai ubat itu masih juga terikat dengan tidak melampaui batas, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Tafsirnya: “Maka sesiapa yang terpaksa karena kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang dia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah dia memakannya), karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Ma’idah: 3)

FirmanNya lagi:

Tafsirnya: “Maka sesiapa terpaksa (memakannya karena darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak pula melampaui batas (pada kadar benda yang dimakan itu), maka tidaklah dia berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Baqarah: 173)

Imam an-Nawawi Rahimahullah juga berpendapat bahwa harus berobat dengan najis selain arak. Hukum keharusan berobat itu sama sahaja bagi semua najis melainkan yang memabukkan. Ini berdasarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas Radhiallahu ‘anhu:

Maksudnya: “Bahwa serombongan suku ‘Ukal seramai lapan orang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka berikrar kepada Nabi untuk masuk Islam. Kemudian cuaca kota Madinah merimaskan mereka dan mengakibatkan tubuh badan mereka sakit-sakit, lalu mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Baginda bersabda kepada mereka: “Barangkali elok kamu pergi bersama tukang gembala kami kepada untanya, kemudian kamu dapatkan air kencing dan susunya.” Mereka menjawab: “Baiklah.” Mereka pun pergi dan meminum susu dan kencing unta itu, setelah itu mereka pun sihat. Tetapi kemudian mereka membunuh tukang gembala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu dan merampas unta-untanya.” (Hadis riwayat Bukhari)

Walau bagaimanapun, Imam an-Nawawi ada menyebutkan lagi daripada pendapat lain. Bahwa keharusan berobat dengan najis itu hanyalah dibolehkan apabila tidak ditemui ubat yang suci yang boleh menggantikannya. Jika ada ubat yang suci, maka haramlah berobat dengan najis tersebut.

Sebagaimana Al-‘Izz bin Abdussalam Rahimahullah berkata:

Ertinya: “Harus berobat dengan najis apabila tidak ada ubat yang suci yang boleh menggantikannya, karena maslahat kesihatan dan kesejahteraan itu lebih sempurna berbanding dengan maslahat menjauhi najis. Dan tidak harus berobat dengan arak mengikut pendapat yang ashah.”

Oleh yang demikian, berdasarkan daripada penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa berobat untuk menyembuhkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan dalam Islam. Ubat-ubatan yang digunakan hendaklah daripada benda-benda yang halal dan suci. Di samping itu, harus berobat dengan benda-benda yang najis selain sesuatu yang memabukkan jika tidak ada ubat lain yang suci sebagai penggantinya.

Wallohu a’lam bis-showab,-

Kiriman Sahabat Arland

Iklan