Berobat Dengan Benda Yang Najis (1/2)


obat-najisBerobat Dengan Benda Yang Najis (1/2)

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

`Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

Sakit adalah suatu perkara yang biasa menimpa manusia. Adakalanya sakit itu menimpa manusia dalam bentuk fizikal dan ada juga kalanya dalam bentuk spiritual. Dalam semua keadaan tersebut, orang sakit biasanya akan berusaha mencari ubat untuk menghilangkan sakit itu.

Hukum Berobat

Berobat untuk menghilangkan penyakit itu adalah perkara yang digalakkan pada hukum syara’. Bahkan ia boleh menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik, seperti bertujuan untuk melaksanakan tuntutan syara’ dan bagi memulihkan kesihatan tubuh badan agar dapat beribadat dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lebih sempurna.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah berobat dan menyuruh umatnya berobat. Sebagaimana dalam sebuah hadis, daripada Usamah bin Syuraik menjelaskan bahwa segolongan orang Arab pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kata mereka:

“Wahai Rasulullah adakah kami boleh berobat? Baginda menjawab: “Berobatlah kamu, karena Allah ‘azza wajalla tidak menjadikan penyakit melainkan Dia menjadikan ubatnya, melainkan satu jenis penyakit, yaitu sakit tua.”

(Hadis riwayat Abu Daud)

Dalam hadis yang lain pula, daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Allah tidak menurunkan sesuatu penyakit melainkan diturunkan bersamanya penyembuh.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Sabda Baginda lagi Maksudnya: “Bagi setiap penyakit itu ada ubatnya, maka apabila ubat serasi dengan penyakit, ia akan sembuh dengan izin Allah ‘azza wajalla.”

(Hadis riwayat Muslim)

Sebagaimana yang dijelaskan di atas, bahwa perbuatan berobat itu ternyata digalakkan dalam Islam. Namun begitu, persoalan yang timbul bagaimanakah cara berobat yang dibenarkan oleh hukum syara’?

Cara Berobat

Pada dasarnya ubat atau penawar yang dianjurkan untuk dipakai mestilah ubat-ubatan yang halal, suci, bukan yang diharamkan dan dapat diterima oleh naluri pesakit.

Berobat dengan benda yang haram itu tidak dibenarkan, bahkan ia diharamkan kecuali dalam keadaan darurat. Ini jelas bersandarkan daripada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ad-Darda’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan ubat, dan dijadikan bagi setiap penyakit itu ubatnya, maka berobatlah kamu, dan jangan kamu berobat dengan yang diharamkan.”

(Hadis riwayat Abu Daud)

Imam Bukhari pula ada menyebutkan dalam shahihnya daripada Ibnu Mas’ud katanya:

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan penawar (kesembuhan) kamu pada benda-benda yang diharamkan ke atas kamu.”

(Dikeluarkan oleh Bukhari)

Manakala dalam hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah, beliau berkata:

Maksudnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang daripada ubat yang kotor.”

(Hadis riwayat Abu Daud dan Imam Ahmad)

Berdasarkan hadis-hadis ini, jika penyakit seseorang itu masih dalam peringkat biasa yang tidak membahayakan, maka sesetengah ulama berkata bahwa adalah tidak harus yakni haram berobat dengan benda-benda najis itu.

Hikmah Pengharamannya

Adapun sudut rahasia atau hikmah ia diharamkan, mengikut para ulama Islam; najis itu menjijikkan dan tidak disukai oleh akal dan naluri. Jadi ia tidak layak dipakai atau dijadikan untuk penawar penyakit.

Ibnu al-Qayyim Rahimahullah ada menerangkan lebih jelas lagi rahsia ini, bahwa larangan tidak dibenarkan benda-benda yang diharamkan sebagai ubat penawar penyakit itu ialah, karena antara syarat boleh mendapat kesembuhan menerusi sesuatu ubat itu ialah jika terdapat sikap menerima (suka) kepada ubat berkenaan, dan ada keyakinan terhadap khasiat (manfaatnya), di samping percaya, padanya ada keberkatan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian bagi seorang Islam pula, yang haram itu memanglah kotor, najis dan menjijikkan. Setiap yang kotor dan menjijikkan, ia tidak diterima bahkan ditolak oleh naluri yang sihat.

Demikian itulah kedudukan najis yang diharamkan, mengapa ia tidak sesuai untuk dijadikan ubat, karena syarat untuk itu dapat diterima oleh naluri yang sihat tidak ada lagi. Inilah antara rahsia atau sebab mengapa berobat dengan yang haram itu dilarang. (At-Tibb an-Nabawi: 126)

Demikian antara pendapat ulama mazhab lain di luar mazhab Syafi’e.

Bersambung

Kiriman Sahabat Arland

Iklan