Menerima Sumbangan dari Orang non Islam


sedekah-2Menerima Sumbangan dari Orang non Islam

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

`Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

Pendapat Ulama Mengenai Keharusan Menerima Sumbangan Orang Bukan Islam

Menurut nash-nash mazhab yang empat adalah harus orang-orang Islam berurusniaga, bekerjasama dan bergaul dengan orang-orang bukan Islam seperti menerima hadiah atau wasiat sehingga dalam perkara membangun masjid.

Secara umumnya penjelasan perkara ini adalah seperti berikut:

“Dasar umum dalam Islam menghendaki supaya urusan-urusan kewangan dan kontrak-kontrak (akad-akad) dan semua peraturan-peraturan bukanlah suatu larangan. Oleh yang demikian adalah harus orang-orang bukan Islam berkongsi niaga, dalam mudhârabah, bercocok tanam, mengairi tanaman dan lain-lain.”

Memang tidak dinafikan bahwa ada pengecualian-pengecualian dalam urusan-urusan tertentu yang terlarang dalam Islam seperti larangan dalam jual beli khinzîr, arak dan lain-lain sebagaimana perkara itu disebut dengan terperinci dalam kitab-kitab fiqh.

Dalam mazhab Syafi’e wasiat dan wakaf itu sebagian daripada akad (kontrak) tabarru’ (seperti derma atau pemberian) dan hubungan sesama manusia adalah harus hukumnya selama ianya bukan karena tujuan maksiat.

Menurut nash Al-Imam Al-Syafi’e dengan terang menyatakan adalah harus orang bukan Islam berwasiat membina masjid untuk orang-orang Islam. Al-Imam itu juga mengharuskan orang bukan Islam berwakaf sekalipun untuk masjid.

Berkata Al-Imam Al-Nawawi dalam Raudhah Al-Thâlibîn 6/98: Artinya: “Sah wasiat orang kafir dengan sesuatu yang boleh dijadikan harta atau boleh dimiliki. Dan tidak sah wasiat dengan arak dan khinzîr sama ada wasiat itu untuk orang Islam atau orang dzimmi, dan tidak juga bagi tujuan maksiat seperti menta’mîr gereja atau membangunnya atau mencetak kitab Taurat dan Injil atau membaca kedua-kedua kitab itu dan lain-lain seumpamanya.”

Katanya lagi:

Artinya: “Harus bagi orang Islam dan orang dzimmi berwasiat untuk menta’mîr Masjid Al-Aqsha dan lain-lain masjid, menta’mîr perkuburan nabi-nabi, ulama-ulama dan orang-orang salih karena dengan penta’mîran ini tujuannya menghidupkan orang-orang ziarah dan untuk memperolehi tabarruk.”

Pengarang Al-Sirâj Al-Wahhâb iaitu Muhammad Al-Zuhri Al-Ghamrawi sewaktu menguraikan Matn Al-Minhâj bagi Al-Nawawi tentang ‘Apa yang harus dalam jual beli harus pula menghibahkannya.” Menurut pengarang ini bahwa:

Artinya: “Setiap apa yang harus jualbelikan, harus pula menghibahkannya, dan apa yang tidak harus diperjualbelikan, seperti barang yang tidak diketahui, yang dirampas, yang hilang, maka tidak harus dihibahkan.” (h. 308)

Dengan ini jelaslah bahwa orang-orang Islam boleh berurusniaga dengan orang-orang bukan Islam, kecuali yang dilarang oleh Islam seperti khinzîr dan arak. Maka menghadiahkan sesuatu harta atau manfaat oleh orang bukan Islam kepada orang Islam adalah termasuk dalam kaedah yang disebutkan oleh Al-Imam Nawawi di atas.

Menurut kitab Kifâyah Al-Akhyâr fî Hilli Ghâyah Al-Ikhtishâr katanya:

Artinya: “Dan sekiranya yang mewakafkan itu seorang dzimmi, lalu dia berhukum kepada kita dalam perkara yang sedemikian itu (mewakafkan sesuatu harta kepada rumah berhala, gereja, kitab-kitab Taurat dan Injil) boleh kita batalkan wakafnya itu, sekiranya wakaf itu kepada sudut dalam hal-hal yang dilarang oleh orang Islam.”

Maka berdasarkan nash-nash di atas adalah harus bagi orang Islam menerima dan menggunakan apa-apa juga barang yang didermakan, atau diberikan atau dihibahkan oleh orang bukan Islam itu selama ia tiada bercanggah dengan nash dan kaedah di atas.

Adapun mengenai dengan maksud hadis yang mengatakan bahwa: “Allah itu Thayyib (baik atau bagus) tidak akan menerima melainkan yang baik juga”, tidaklah termasuk dalam persoalan ini, karena maksud penerimaan Allah hanya yang baik-baik itu ialah yang berkaitan dengan pemberian ganjaran pahala, sedangkan pahala itu tiada diberikan kepada orang bukan Islam.

Menerima Sumbangan Daripada Syarikat Dan Bank Konvensional

Bank-bank konvensional pada lazimnya tidak sunyi daripada bermuamalah secara riba, terutama dalam soal pinjam-meminjam. Riba itu haram dalam Islam berdasarkan al-Quran dan hadits. Namun demikian bank konvensional ada juga bermuamalah dengan perkara-perkara yang dibenarkan oleh syara’ seperti mengendalikan tukaran wang asing, perkhidmatan pengiriman wang, upah menyimpan harta benda dan lain-lain seumpamanya.

Apabila kedudukan sesebuah bank konvensional seperti di atas, bermakna bank memiliki harta yang bercampur-campur dari sumber yang haram dan dari yang halal. Mungkin susah untuk membezakan di antara keduanya.

Mengenai harta yang haram para jumhur ulama mengharuskan boleh dibelanjakan wang haram bagi maslahat umat Islam berdasarkan hadits yang dibawakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum Ad-Din di bawah tajuk “Halal Haram” dan telah mengeluarkan Al-Iraqi hadits daripada Al-Imam Ahmad dengan sanadnya yang bagus, daripada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha katanya:

Maksudnya: “Nabi Shallallahu àlaihi wasallam dihadiahkan seekor kambing panggang. Aku (‘Aisyah) mengatakan kepada Baginda, bahwa daging itu haram, Nabi pun tidak memakannya, (sebaliknya) memerintahkannya supaya diberikan. Baginda bersabda: “Beri makan kambing panggang itu kepada orang-orang tawanan.”

Menurut Al-Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya Ihya’ Ulum Ad-Din: “Jika bercampur benda-benda halal yang tidak terbatas dengan benda-benda haram yang tidak terbatas, sepertimana harta-harta yang ada pada masa kini, maka tidak haram mengambil sesuatu daripadanya walaupun ia mengandungi benda-benda halal dan haram itu, melainkan ada bukti yang menunjukkan benda-benda itu haram. Kalau tidak ada pada benda itu sesuatu tanda yang menunjukkan ianya haram, meninggalkannya adalah wara’ dan mengambilnya halal yang tidak akan menjadi fasiq memakannya.

Sesungguhnya telah dimaklumi di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Khalifah Rasyidin dan sesudahnya bahwa ada harga-harga arak dan dirham-dirham riba daripada tangan kafir zimmi (kafir yang dijamin keselamatannya oleh pemerintah Islam) bercampur baur dengan harta-harta lain, dan begitu juga harta-harta yang diambil dari harta rampasan perang.

Sejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkan riba ketika Baginda mengerjakan haji wada’ tidaklah semua manusia meninggalkan amalan riba itu secara menyeluruh, sebagaimana mereka tidak meninggalkan minuman arak dan maksiat-maksiat yang lain, sehingga diriwayatkan bahwa sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjual arak, lalu Umar Radhiallahu ‘anhu berkata: “Adalah dikutuk oleh Allah kiranya si pulan di mana dia orang yang pertama yang menjalankan penjualan arak, karena dia tidak memahami bahwa pengharaman arak itu adalah (termasuk juga) pengharaman harganya.”

Adapun orang-orang yang enggan berjual beli daripada harta-harta (yang bercampur itu) hanyalah menunjukkan sifat wara’, sedangkan banyak ulama tidakpun menegah berjual beli dengan harta-harta yang bercampur-campur itu padahal banyak harta-harta dirompak pada masa-masa pemerintahan orang-orang yang zalim.”

Berdasarkan pandangan Al-Ghazali di atas adalah harus membeli atau mengambil barang-barang yang bercampur aduk di antara halal dan haram.

Oleh yang demikian, tidaklah mengapa jika sumbangan berupa kewangan, cenderamata atau yang seumpamanya daripada syarikat-syarikat atau bank kewangan konvensional itu diambil atau diterima.

Bagaimanapun, menurut Al-Ghazali sendiri tentang benda-benda halal dan haram yang bercampur-campur dengan tidak terbatas, jika pada benda-benda itu tiada terdapat suatu tanda yang menunjukkan haramnya, maka meninggalkannya adalah ‘wara’, dan mengambilnya pula dibolehkan tiada menjadi fasik. Wara’ itu ialah menjauhi segala syubhah karena takut terjatuh dalam haram atau melazimkan membuat pekerjaan-pekerjaan yang terpuji dan meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang buruk dan keji.

wallohu ‘alam bish-showab,-

Iklan