Najiskah Bulu Binatang?


kulit-binatangNajiskah Bulu Binatang?

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu

`Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

Islam menggalakkan penganutnya untuk sentiasa menjaga kebersihan, baik pada tubuh badan, pakaian dan lain-lain, lebih-lebih lagi ketika menunaikan ibadah seperti sembahyang. Bukan saja bersih daripada benda-benda najis malahan juga bersih daripada sebarang kekotoran. Pengertian kotor dan najis itu adalah berbeda pada pandangan syarak karena setiap yang kotor itu tidak semestinya najis dan setiap yang najis pula adalah kotor. Umpamanya pakaian yang terkena lumpur, kuah kari atau kopi adalah kotor tetapi ia tidak najis.

Berbalik kepada tajuk di atas yaitu bulu binatang adakah ia najis ataupun tidak? Apabila dilihat perihal bulu di zaman sekarang, memang banyak dimanfaatkan oleh manusia seperti dijadikan pakaian, alas, perhiasan, berus dan sebagai nya. Masalah yang timbul adakah ia boleh digunakan ataupun tidak dan adakah sah sembahyang ketika memakainya.

Bulu binatang itu ada yang datangnya daripada binatang yang halal dimakan dagingnya dan binatang yang tidak halal dimakan dagingnya. Binatang itu pula ada yang disembelih dan ada juga yang mati bukan karena disembelih (bangkai). Maka IRSYAD HUKUM kali ini meninjau lebih lanjut ketetapan hukum syarak mengenai perkara tersebut.

Binatang Yang Halal Dimakan Dagingnya

Bulu binatang yang halal dimakan seperti unta, lembu, kambing, arnab, ayam dan sebagainya, jika terpisah dari badannya sama ada dicabut, tercabut atau sebagainya ketika binatang itu hidup atau mati karena disembelih maka adalah ia suci (tidak najis). Firman Allah Subhanahu Wata’ala yang tafsirnya :

“Dan (ia juga menjadikan bagi kamu) dari berjenis-jenis bulu binatang-binatang ternak itu, pelbagai perkakas rumah dan perhiasan (untuk kamu menggunakannya) hingga ke suatu masa.” (Surah An-Nahl ayat 80).

Jika bulu binatang tersebut terpisah sesudah ia menjadi bangkai maka bulu binatang berkenaan adalah najis.

Adapun anggota yang lain selain bulunya jika di potong atau dipisahkan dari badannya ketika binatang itu masih hidup ia dihukumkan sebagai bangkai, sebagaimana disebutkan dalam hadis daripada Abu Sa’id Al-Khudri Radiallahuanhu yang maksudnya :

Bahwasanya Rasulullah Sallalahahu Alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai potongan bonggol-bonggol unta dan ekor-ekor kambing. Baginda bersabda : “Apa yang dipotong daripada yang hidup adalah bangkai.” (Hadis riwawat Al-Hakim)

Hadis ini ditakhshishkan oleh dalil Al-Quran yang telah disebutkan di atas di mana bulu bianatang yang halal dimakan itu jika terpisah ketika binatang itu hidup adalah suci. Demikian juga halnya dengan anggota yang terpisah daripada manusia, ikan atau belalang ia adalah suci.

Binatang Yang Tidak Halal Dimakan Dagingnya

Jika bulu binatang yang tidak halal dimakan seperti kucing, monyet, musang dan sebagainya, terpisah daripada badannya ketika binatang itu masih hidup, maka bulu tersebut adalah najis apatah lagi sesudah binatang tersebut mati. Demikianlah juga anggota-anggotanya yang lain jika bercerai daripada binatang itu adalah dikira bangkai. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115).

Syak Pada Kesucian Bulu Binatang

Ada kalanya kita terjumpa bulu binatang dan kita tidak mengenali sama ada bulu binatang itu suci atau najis. Maka, jika terjadi syak, adakah bulu yang terpisah dari binatang itu datangnya dari yang suci ataupun yang najis, maka bulu itu di hukumkan suci karena menurut hukuman asal adalah suci, dan telah berlaku syak pada kenajisannya sedang hukum asal adalah tidak najis. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115). Sebagai contoh baju yang diperbuat daripada bulu binatang sedang tidak diketahui sama ada bulu tersebut datangnya daripada binatang yang halal dimakan ataupun sebaliknya atau ia daripada binatang yang disembelih ataupun bangkai, maka dalam hal ini baju tersebut adalah suci.

Bulu Pada Anggota Yang Terpotong

Bulu yang ada pada anggota binatang yang tidak halal dimakan yang terpotong ketika binatang itu masih hidup adalah najis apatah lagi sesudah mati, seperti ekor kucing yang terpisah atau terpotong. Karena ekor yang terpotong itu bangkai, maka bulu yang ada pada ekor itu juga adalah najis.

Demikian juga halnya dengan bulu yang ada pada anggota binatang yang halal dimakan yang terpotong ketika hidup ataupun mati tanpa disembelih adalah najis, seperti ekor kerbau yang berbulu dan terpisah atau terpotong. Karena ekor kerbau itu terpotong ketika ia hidup atau terpotong setelah ia mati bukan kerena disembelih adalah bangkai, maka bulu ekor itu juga adalah najis.

Jika dicabut bulu binatang yang halal dimakan ketika hidup sehingga tercabut bersama-samanya akar bulu tersebut dan melekat padanya sesuatu yang basah daripada bulu itu seperti darah atau sebagainya, maka bulu itu mutanajjis (yang terkena najis atau bercampur najis). Akan tetapi ia boleh menjadi suci jika dibersihkan. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Najasah ayat 1/115).

Penggunaan Bulu Binatang

Daripada penjelasan sebelum ini, mana-mana bulu yang dicabut daripada bangkai atau dicabut daripada binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya adalah najis. Maka setiap penggunaan kesemua benda-benda yang najis, menurut pendapat yang sahih adalah tidak harus memanfaatkannya sama ada dibuat pakaian atau perhiasan di badan melainkan jika ada darurat. Sementara penggunaan selain daripada pakaian atau perhiasan badan adalah diharuskan jika najis itu bukan datangnya daripada anjing dan babi.

Apa yang dimaksudkan dengan darurat itu ialah, seperti terjadinya peperangan yang mengejut atau takut atas terjadi sesuatu pada dirinya karena kepanasan atau kesejukan ataupun sebagainya, lalu tiada pakaian lain selain yang najis, maka harus dipakai pakaian itu karena darurat kecuali dipakai ketika sembahyang. (Mughni Al-Muhtaj, Kitab As-Shalah, Bab Ma Yukrah Lubsuhu Wa Ma La Yukrah, Fashal Fi At-Tahalli Bi Al-Fidhah ayat 4/387).

Oleh karena itu, dapatlah difahami bahwa setiap penggunaan bulu binatang yang najis sama ada dijadikan pakaian atau perhiasan di badan adalah tidak diharuskan oleh syarak melainkan jika ada darurat.

Hubungannya Dengan Sembahyang

Menurut hukum syarak syarat sah mengerjakan sembahyang itu hendaklah bersih daripada segala najis baik pada pakaian, tubuh badan dan tempat sembahyang.

Oleh itu, jika terdapat bulu binatang yang hukumkan najis pada pakaian atau badan maka sembahyang itu tidak sah karena menanggung sesuatu yang najis. Kecuali jika bulu yang najis itu sedikit, seperti sehelai atau dua helai, karena ia dimaafkan. Melainkan bulu anjing atau babi karena ia tetap najis walaupun hanya sedikit. (AL-Feqh Al-Islami Wa Adilatuh ayat 1/175).

Apakah yang harus dilakukan oleh orang yang sedang sembahyang mendapati ada bulu najis pada pakaiannya? Menurut Ashhab Asy Syafi’e, apabila orang yang sedang sembahyang itu mendapati ada najis yang kering pada pakaian atau badannya, maka pada saat itu juga hendaklah dia mengibas najis tersebut. Jika dia mendapati najis yang basah pula hendaklah dia segera menanggalkan atau membersihkan pakaiannya yang bernajis itu tanpa menyentuh najis tersebut. Adapun jika dia tidak segera menanggalkan atau mengibas pakaian yang bernajis itu maka batal sembahyangnya.

Pakaian yang terkena bulu yang najis hendaklah terlebih dahulu dibersihkan. Cara membersihkannya ialah jika bulu itu kering dan pakaian atau anggota badan yang tersentuh bulu itu juga kering adalah memadai dengan menanggalkan najis itu sama ada dengan mengibas, mengibar atau menyapunya. Adapun jika bulu itu basah ataupun pakaian atau anggota badan yang terkena najis itu saja yang basah maka hendaklah ditanggalkan najis itu dan dibersihkan dengan air yang suci disekitar yang terkena najis. (Fath Al-‘Allam, Kitab Ath-Thararah, Bab Izalah An-Najasah ayat 1/347).

Oleh karena persoalan memakai pakaian daripada bulu itu adalah berkaitan dengan persoalan hukum najis, maka perlulah kita berhati-hati dalam memilih dan memanfaatkannya supaya pakaian yang dipilih itu diyakini diperbuat daripada bulu yang suci dan boleh kita guna pakai seperti ketika sembahyang dan sebagainya.

***

Kiriman Sahabat Arland

Iklan