Kisah Korban Tsunami Aceh


masjid_2_utuh_tsunami_acehKisah Korban Tsunami Aceh

Pada hari minggu pagi 26 Desember 2004 sekira pukul 8.00 WIB saya bersama istri berniat belanja makanan kepasar, dalam perjalanan terjadilah gempa yang sangat dasyat (8,9 SR). Saya bersama istri melihat langsung bangunan ruko yang roboh rata dengan tanah, istri saya terjatuh dan muntah-muntah. Kira kira 10 menit gempa terjadi banyak penduduk yang keluar rumah dan terjadi kepanikan yang luar biasa. Lalu kami langsung pulang kerumah orang tua saya untuk melihat anak2 yang kami titip sama orang tua dan alhamdulillah kami semua selamat.

Karena ada rasa empati yang dalam kami berdua ingin melihat kawan-kawan yang lain terutama yang berada dipinggir laut, akan tetapi ditengah jalan kami melihat gelombang laut yang sangat besar dan tinggi lebih dari 20 meter melimpah keruas jalan, diwaktu ini semua penduduk turun ke jalan berlari tanpa tujuan dan kembali terjadi kepanikan yang sangat luar biasa (lebih ngeri bila dibandingkan kepanikan di film Titanic). Ada yang jatuh, anak-anak terinjak-injak, kami turun dari motor karena jalanan penuh dengan orang.

Kemudian air laut mulai sampai dijalan dengan sangat cepat dan deras dan dalam hitungan detik air laut telah mencapai 1 meter, alhamdulillah secara kebetulan didepan kami ada truk reo TNI dan kami berdua naik akan tetapi kami melihat air mulai masuk kedalam truk reo lalu kami naik keatas atap truk reo disini kami selamat dan kami melihat banyak orang tua, wanita dan anak2 hanyut terbawa arus dan sebagian ada yang tenggelam (ini terjadi di Jl. T. Umar meulaboh).

Sebagian penduduk naik ketoko2 namun air yang begitu deras menghantam pintu2 toko hingga jebol sebagian terkurung didalam took, saya perkirakan lebih setengah penduduk meninggal tenggelam dan hanyut kelaut. Dikarenakan diatas atap reo telah penuh dangan orang maka yang lelaki sepakat untuk lompat ke air dan berenang mencari atap-atap toko, disini juga ada yang tenggelam Karena terantuk dengan kayu yang hanyut. Alhamdulliah saya bisa berenang lebih kurang 50 meter kesebuah atap toko Tunggal Menara, sedangkan istri saya masih diatas atap truk reo. Saya melihat mobil, minibus dan rumah hanyut (saya perkirakan truk reo tidak hanyut karena berat). Saat ini terdengar takbir dimana-mana semua bagai sudah kiamat, semua telah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Saya perkirakan yang meninggal yang hanyut dan meninggal lebih dari 2000 orang. Lebih kurang dua jam air sudah mulai surut, diwaktu ini kami berdua berenang lebih kurang 3 km untuk mencapai rumah orang tua. Saat berenang inilah saya melihat langsung banyak mayat yang bergelimpangan dijalan, dipinggir toko, dan dimana-mana. Secara kebetulan rumah orang tua saya agak tinggi dan air disini tidak terlalu kencang. Orang tua dan anak-anak mengungsi ke mesjid terdekat.

Alhamdulillah kami sekeluarga di Meulaboh selamat, tetapi banyak istri dan anak-anak kawan dan kerabat kita yang meninggal dan hanyut ke laut, hanya kepada-Nya kita berdo’a yang hanyut kelaut agar ada yang menolongnya. Amin.

Kisah ini dialami oleh Agus Maidi, Kepala Afdeling OB PT KTS

Iklan