Maulid Nabi SAW.


maulid-nabi-muhammadMaulid Nabi SAW.

  1. Pengertian Maulid

“Maulud Nabi” yang kadang disebut “Maulid Nabi” dari bahasa asalnya Arab berarti “kelahiran Nabi”, dalam hal ini Nabi Muhammad SAW.

Muhammad SAW dilahirkan tanggal 12 Rabi’ul awwal atau 21 April 571 M. Tahun kelahiran Nabi, oleh bangsa Arab, disebut “tahun gajah”, karena pada tahun itu tentara Abrahah yang berkendaraan gajah dari Yaman menyerbu Kota Makkah untuk menghancurkan ka’bah. Tentara itu, akhirnya, lari tunggang langgang lantaran dilempari dengan kerikil tajam yang panas oleh gerombolan burung Ababil dari berbagai penjuru di luar perhitungan Abrahah.

Dalam sejarah hidup Muhammad SAW, 12 Rabi’ul awwal memiliki arti tersendiri. Selain menandai kelahiran, tanggal itu juga Nabi hijrah ke Madinah, bahkan Nabi wafat pada 12 Rabi’ul- awwal.

Di zaman Khulafaur Rasyidin dan daulat Umaiyah serta Abbasiyah, belum berkembang ide memperingati kelahiran atau Maulid Nabi. Nanti di zaman daulat Khilafat Fathimiyah abad IV hijriah, peringatan Maulid dimulai.

Raja Abu Sa’id Muzaffar, ipar Sultan Salahuddin AI-Ayubi, adalah orang pertama yang memperingati Maulid Nabi secara besar-besaran. Walaupun Raja yang memerintah kerajaan Arbil (Arbelles), sebelah timur Mosul Irak, itu sehari-harinya hidup sederhana, namun untuk peringatan Maulid Nabi, beliau tidak segan-segan mengeluarkan sampai 300 ribu dinar.

Di zaman itu, raja Mongolia Zengis Khan mengganas dan melabrak negeri tetangga. Raja Muzaffar membayangkan apabila rakyat tidak memiliki ketahanan mental yang tinggi, tentu mereka akan menjadi korban keganasan nafsu ekspansionisme itu. Pada saat semangat rakyat melemah, Raja menemukan gagasan untuk membangkitkan kembali semangat rakyat dengan mengungkapkan riwayat kehidupan Muhammad SAW, yang penuh heroisme dan patriatisme dalam menegakkan kebenaran, serta melindungi hak kaum lemah dan golongan tertindas.

Kajian mengenai hidup dan kehidupan Nabi itu ternyata mampu membangun kembali semangat rakyat serta menumbuhkan ketahanan nasional yang tinggi sehingga Zengis Khan tidak berhasil melabrak kerajaan kecil itu.

Salahuddin AI-Ayubi juga menggunakan pendekatan Maulid Nabi sebagai upaya membangkitkan semangat rakyat dalam menghadapi perang salib yang cukup lama itu.

Ummat Islam, terutama di Indonesia, secara resmi memperingati 12 Rabiul awwal sebagai hari kelahiran atau mauludin Nabi. Karena peringatan itu telah menjadi sesuatu yang sangat berarti dalam peradaban Islam Indonesia, mereka tidak saja memperingati 12 Rabiul awwal tetapi juga hari-hari sebelum dan sesudah tanggal itu.

Pada bulan Rabiul akhir, yang oleh sementara daerah di Indonesia disebut Maulid kedua, ummat Islam masih menyelenggarakan peringatan hari besar itu. Pada sementara masyarakat kita, berkembang pula budaya membaca Maulid/Rawi sebagai awal pekerjaan yang baik, sehingga membaca riwayat Nabi tidak dilakukan pada bulan Rabi’ul awal saja, tetapi juga pada sembarang bulan. Orang yang akan menunaikan ibadah haji, umpamanya, sering mengadakan Maulid. Upacara akad nikah, pihak keluarga mengadakan Maulid. Upacara memandikan anak pun dikaitkan dengan peringatan Maulid.

Peringatan Maulid memang tidak dapat dipisahkan dari tata kehidupan dan tata nilai bangsa Indonesia. Di Jogyakarta, peringatan Maulid diselenggarakan besar-besaran. Mereka menyebutnya Sekaten., berasal dari kata Syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat. Pada kesempatan itu digelar berbagai seni budaya Islam serta ceramah keagamaan. Di kalangan masyarakat kita tersebar luas berbagai kitab Maulid berbahasa Arab, seperti kitab barzanji, yang dibaca secara khas dengan lagu.

Peringatan Maulid, sebagai tradisi keagamaan, berlangsung dari kota sampai desa dengan berbagai acara sakral. Di Masjid, mushalla, pesantren, kantor, bahkan di perumahan, Maulid diselenggarakan melalui berbagai cara. Terkadang dikaitkan dengan perlombaan kesenian dan olahraga serta ceramah agama dan santunan terhadap fakir miskin.

Peringatan Maulid merupakan sasaran dakwah yang relevan dengan tata cara kehidupan ummat Islam di Indonesia. Pada dasarnya, Peringatan Maulid merupakan manifestasi kecintaan ummat kepada junjungannya, Muhammad SAW, yang disertai doa semoga kelak di hari kiamat mendapat syafaatnya.

  1. Masyarakat Arab Jahiliyah

Muhammad SAW berhadapan dengan struktur sosial yang rusak. Orang kaya menindas orang miskin; penguasa bertindak semena-mena; yang kuat mempermainkan yang lemah; dan yang lebih tragis adalah posisi kaum wanita yang diperlakukan hanya sebagai pemuas hawa nafsu seksual kaum laki-laki.

Kehidupan mental spiritual masyarakat Arab sebelum Islam ditandai berbagai kemusyrikan penyembahan berhala atau patung ciptaan sendiri. Masyarakat seperti itu disebut masyarakat Jahiliyah, artinya masyarakat yang diliputi kebodohan dan kejahilan. Nabi diutus kepada masyarakat itu untuk menegakkan nilai moral yang tinggi atau akhlaqul karimah (akhlak yang mulia) Nabi bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk kesempurnaan akhlak orang mulia”. (Hadist Riwayat Imam Ahmad).

Pikiran mereka sangat dipengaruhi berbagai kemusyrikan yang berkembang di masyarakat. Memang mereka percaya pada Allah, Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta yang mengatur segala sesuatunya, tetapi mereka tidak dapat memahami ajaran tauhid yang jernih sebagaimana yang diajarkan para rasul terdahulu.

Lantaran itu, mereka mencari perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Mereka menganggap tuhan-tuhan itu sanggup memberi manfaat dan mendatangkan kemudaratan.

Masyarakat Arab Jahiliyah mempunyai berbagai kepercayaan dengan bermacam tuhan kecil. Ada yang mempertuhankan malaikat, bulan, bintang, jin, binatang, dll. Mereka percaya bahwa malaikat adalah anak perempuan tuhan, karena itu mereka sembah untuk mendapatkan syafa’at dan sebagai perantara dengan Allah. Mereka juga mempersekutukan jin dengan Allah.

Sementara itu, akhlak mereka sangat parah. Minuman keras yang berakibat sampingan dalam kehidupan mental spiritual menjadi kegemaran utama. Pesta dan jamuan makan kaum bangsawan dirasa tidak sempurna tanpa menyajikan minuman keras. Kebiasaan membangga-banggakan hamar banyak terdapat dalam syair Arab Jahiliyah. Kedai-kedai minuman dibuka sepanjang hari dan di depannya dikibarkan Ghayah, bendera kebanggaan.

Judi merupakan salah satu kebanggaan dan pekerjaan bergengsi dalam kehidupan. Tidak turut dalam perjudian akan dipandang hina, yang menjatuhkan martabat dan harga diri seseorang. Sedemikian gemarnya mereka berjudi sehingga istri sendiri pun dijadikan taruhan. Jika kalah, mereka akan menyaksikan istri sendiri dibawa orang.

Perbuatan zina bukan hal aneh, malahan umum terjadi. Kumpul kebo dianggap wajar, bahkan tidak sedikit suami yang menyuruh istrinya berbuat zina, baik untuk persahabatan maupun untuk disewakan. Ibnu Abbas mengatakan: “Pada zaman jahiliyah, banyak laki-laki memaksa hamba sahayanya melakukan zina untuk mengambil upahnya”.

Kaum wanita merupakan sasaran empuk penipuan kezaliman dan kesewenang-wenangan. Hak warisnya ditiadakan, malah wanita diperjual-belikan seperti ternak. Fanatisme kesukuan sangat menonjol. Motto hidup mereka yang terkenal adalah “Bela saudaramu salah atau benar”.

Demikianlah gambaran umum masyarakat Arab sebelum Islam. Masyarakat itulah yang hendak diubah oleh Nabi melalui risalahnya. Tetapi kiranya perlu dicatat bahwa dari gambaran umum tersebut barangkali kita dapat melakukan analisa atas masyarakat modern saat ini: sejauh manakah praktek jahiliyah terselubung dalam kehidupan modern. Itulah barangkali yang pernah disinyalir sebagai “Jahiliyah Modern yang berkembang dalam diri manusia yang mengaku modern.

  1. Risalah lslamiyah

Mulanya Nabi Muhammad SAW mengajak manusia beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan berhala. Tugas ini sangat mendasar. Iman adalah dasar atas segalanya. Di atas itulah dibangun keber-agamaan seseorang.

Perjuangan Nabi menegakkan risalah, walaupun hanya selama batas yang relatif singkat, yaitu 23 tahun, namun hasilnya luar biasa. Ketika yang mulia itu wafat, seluruh jazirah Arab telah memeluk Islam.

Melalui ajaran keimanan dan pendidikan yang cermat, tekun dan bijaksana, Rasulullah berhasil membangun masyarakat baru dalam akidah, syariah, akhlak, tatanan sosial dan struktur pemerintahan, yang kesemuanya berdasar wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya.

Rasul membangun kehidupan baru di atas puing kemanusiaan yang sudah hancur. Manusia syirik menjadi beriman; yang berakhlak bejat menjadi baik; yang sombong menjadi tahu diri serta sadar akan kelemahan dan kekurangannya di hadapan Allah SWT.

Rasul yang mulia itu juga berhasil menyegarkan kembali sisa-sisa kemanusiaan yang sudah layu dan memberinya roh baru, sehingga seolah menyalakan kembali api yang telah padam. Kemanusiaan yang telah mati kini hidup kembali, bahkan dapat memberikan sinar terang kepada dunia. Pola hidup, yang meraba-raba dalam gelap, kini memperleh cahaya yang memandu umat kepada jalan yang haq. Rasul itu pembawa obor yang memberikan sinar terang.

Nabi Muhammad SAW benar-benar berhasil menghujamkan risalah Islamiyah ke jantung dan urat nadi masyarakat, sehingga dari masyarakaat jahiliyah dilahirkan masyarakat beradab dan berkepribadian tinggi.

  1. Panutan Umat

Sesungguhnya, kunci keberhasilan Nabi Muhammad SAW terletak pada akhlak yang sempurna, tutur kata menyenangkan, selalu sesuai, kata dengan perbuatan dan bijaksana dalam tindakan. Kesemuanya itu terpancar dalam keseharian beliau yang patut dijadikan panutan dan idola sepanjang masa, sebagaimana firman Allah dalam kitab suci-Nya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. (QS. AI- Ahzab: 21).

Ayat ini menekan agar kaum muslimin menjadikan Muhammad SAW sebagai ikutan dalam segala hal, dalam cara bicara, bergaul, bersikap dan bertingkah laku. Karena itu, kita harus mempelajari sejarah hidup beliau, agar mengerti dan memahami bagaimana akhlak, kepribadian, sikap dan tingkah laku yang mulia itu. Salah satu upayanya adalah memperingati Maulud.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ikutan yang baik dalam ayat di atas terhimpun dalam tiga hal: 1. Fii aqwaalihi (pada perkataannya), artinya perkataan Rasul menjadi ikutan dan pegangan, sehingga mempribadi dalam diri kita. Rasul tidak berbicara yang tidak perlu, itupun dilakukan dengan bahasa yang komunikatif, mudah dimengerti dan dipahami. Rasul tidak berbicara dengan bahasa yang sulit dipahami, baik oleh ummat di masa itu maupun di kemudian hari.

Jika perlu, Rasul mengulang tiga kali agar pembicaraannya itu benar-benar dipahami dan tidak menimbulkan salah pengertian. Beliau berbicara berdasarkan kata hatinya. Dengan kata lain:

  1. Nabi berbicara jujur dan benar. Kepada ummatnya beliau ingatkan :

“Barangsiapa beriman dengan Allah dan hari akhir hendaklah ia berbicara yang baik atau ia diam”. (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Fii Af’aalihi (pada perbuatannya). Maksudnya hendaknya kita jadikan perbuatan Rasul sebagai suri tauladan. Perkataan dengan perbuatan Rasul selalu sesuai, artinya tidak hanya sekadar pandai berbicara tetapj juga dibuktikan dalam praktek. Jika menyuruh berbuat baik, beliaulah yang memulai lebih dahulu.

Bila melarang sesuatu, beliau juga tidak melakukannya. Bukan hanya sekadar melarang orang lain, tetapi lebih dahulu melarang dirinya sendiri. Bahkan dalam banyak hal, Rasul berbuat dahulu baru berkata. Misalnya, Shalat. Beliau shalat dulu, kemudian baru berkata.

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Fii ahwaalihi (akhlak dan tingkah lakunya). Akhlak Rasulullah mendapat pujian Allah SWT :

“Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) memiliki akhlak yang agung”. (QS. AI- Kalam: 4).

Karena itu, pantas bila kita pelajari akhlak Nabi sebagai pemimpin, kepala negara, panglima, suami, bapak dan teman bicara. Setelah itu, kita berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik kehidupan pribadi maupun dalam bermasyarakat.

Demikianlah wujud cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Barangsiapa mencintai Nabi Muhammad SAW, pasti akan mendapat tempat dalam surga yang penuh nikmat. Beliau bersabda :

“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku maka sesungguhnya ia mencintaiku, dan barangsiapa yang mencintaiku, maka ia bersamaku nanti di dalam surga”. (HR. As-Sijzi dari Anas).

RASUL TERAKHIR DAN PENUTUP SEGALA NABI

Nabi Muhammad SAW adalah rasul terbesar dan penutup segala Nabi. Tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahnya. Dan beliau merupakan Rasul terbesar sepanjang zaman.

Karena itu, ajaran yang dibawanya bersifat permanen. Berbeda dengan rasul-rasul terdahulu, mereka diutus untuk golongan, ummat serta jangka waktu tertentu. Ajaran -ajarannya tidak abadi. Karena itu, para rasul terdahulu menyeru dengan kalimat: Yaa Qaumi (hai kaumku). Demikian yang dilakukan Nabi Nuh, Nabi Saleh, Nabi Musa, dan para rasul lainnya.

Adapun Nabi Muhammad SAW ketika mulai menyebarkan Islam, diperintahkan Allah SWT agar menyeru dengan kalimat: “Yaa Ayyuhannasu., yang berarti “Wahai manusia”. Ini diungkapkan Allah dalam firman-Nya sebagai berikut:

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua” (QS. AI-Araf: 158).

Bahkan pada ayat lain ditegaskan lagi :

“Dan tidaklah kami mengutus engkau (hai Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam” (OS. AI-Anbiyaa: 107).

Jelaslah bahwa kerasulan Nabi Muhammad SAW. bersifat universal. Ajaran yang dibawanya berlaku tetap dan sesuai sepanjang masa, tempat dan keadaan.

Karena itu, kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagal penutup segala nabi dan rasul merupakan anugerah Allah SWT yang sangat tinggi nilainya, sebagai rahmat bagi semesta alam, bukan bagi makhluk manusia saja, tetapi juga bagi makhluk-makhluk lain yang menjadi penghuni alam semesta ini.

Wallohu a’lam bis-showab,-

Iklan