Management Dan Audit Zakat (6)


zakatManagement Dan Audit Zakat (6)

Pengauditan Zakat Atas Barang Bergerak

Yaitu aset yang dimiliki untuk dikelola dalam bentuk usaha jual beli sehingga menghasilkan keuntungan dan tidak digunakan untuk menghasilkan income (disewa) sebagaimana halnya dengan aset tetap.

Di antara jenis aset bergerak ialah stok barang yang masih digudangkan (barang yang telah di akhir masa temponya, piutang, kwitansi penerimaan, asuransi pada pihak lain, perjanjian dengan pihak lain, cicilan kontrak yang telah dibayarkan terlebih dahulu, pendapatan yang telah pasti, deposito dan saldo rekening berjalan yang ada di   bank serta kekayaan uang yang telah ada).

Selanjutnya akan diterangkan definisi dan cara penghitungannya menurut sistem akuntansi konvensional serta hukum syariatnya dari sudut pandang zakat harta.

  1. Barang-barang yang telah selesai diproduksi (barang jadi).

Definisi dan penghitungan akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah barang-barang yang diperuntukkan buat jual beli yang dimiliki perusahaan di akhir tahun anggaran. Istilah populer untuk pengertian di atas adalah barang-barang jadi.

Barang-barang jadi dapat berbentuk materi dan non-materi.

Dalam sistem kalkulasinya diperlakukan sama yaitu dengan menentukan harga yang paling rendah antára harga pasaran dan harga modal dengan membuat alokasi dana untuk penurunan harga, kedaluarsaan atau kekurang lancaran. Bila harga pasaran ternyata lebih rendah, dibuat juga alokasi dana untuk menanggulangi penurunan harga.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Untuk barang-barang yang dibeli untuk dijual kembali, cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga pasar, bila dijual eceran, maka ditentukan menurut harga eceran, bila dijual grosiran, ditentukan menurut harga grosiran.

Harga tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya sesuai dengan fatwa Simposium Masalaè Zakat Kontemporer I tahun 1409 H/ 1994 M. Untuk barang-barang yang diproduk langsung oleh perusahaan untuk dijual, maka penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan bakunya bçrikut dengan harga bahan tambahcn lain yang materinya kelihatan, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

Mengenai alokasi dana yang disåbutkan di atas, tidak dapat diterima dalam pengalkulasian zakat yang berdasar atas harga pasaran, namun bila dilakukan pengalkulasian atas dasar harga modal sedangkan harga pasaran ternyata lebih rendah, maka alokasi dana untuk penurunan harga dapat dipotong dari barang-barang zakat.

Barang-barang non materi mempunyai ketentuan hukum dan diperlakukan sama dengan barang-barang materi.

  1. Barang-barang yang sedang dalam proses produksi.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang masih dalam proses pembuatan dan belum siap. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar biaya produksi yang terdiri dari:

harga bahan baku, biaya-biaya lain seperti upah dan gaji pegawai, pengeluaran produksi baik secara langsung ataupun tidak.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran bahan baku dan bahan-bahan tambahan lainnya (yang nampak dalam produksi saja) kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

  1. Bahan baku utama.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Bahan baku utama adalah semua bahan baku utama yang masuk ke dalam produksi. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar harga bahan yang terdiri dari harga pembelian bahan ditambah dengan semua pengeluaran dari pengangkutan sampai penggudangan.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Bahan baku utama dapat dibagi dua bagian:

  • Bahan baku asli dan utama. Bahan ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.
  • Bahan baku yang larut. Seperti bahan pencuci, pengepakan dll. Bahan ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat, karena tidak termasuk barang-barang perdagangan.
  1. Suku cadang modal tetap.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Termasuk dalam bidang ini semua suku cadang alat-alat dan perlengkapan yang dipergunakan dalam kegiatan produksi, bukan untuk tujuan dagang. Unit-unit ini kadang-kadang dapat terlihat dalam kelompok barang-barang tetap, kadang-kadang dalam kelompok barang-barang khusus. Cara penaksiran harganya dilakukan atas dasar harga produksi setelah dikeluarkan dana alokasi untuk suku cadang yang kedaluarsa.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Unit ini dianggap termasuk dalam kelompok barang-barang modal tetap, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat.

  1. Suku cadang yang diperuntukkan untuk dagang.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Termasuk dalam unit ini semua jenis suku cadang yang masih dalam stok dengan tujuan untuk diperjual belikan, oleh sebab itu unit ini diperlakukan sebagai barang-komoditi dagang.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

  1. Barang-barang yang masih dalam perjalanan.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah dibeli, dibayar harganya dan sedang dalam proses pengangkutan tetapi belum sampai di gudang pembeli sampai akhir tahun anggaran. Penaksiran nilai barang-barang seperti ini adalah berdasarkan harga beli ditambah dengan biaya-biaya lain.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan harga pasaran di saat dan tempat pembelian, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya. Bila barang-barang dibeli atas dasar dokumen kredit, maka harga yang tertera dalam dokumen kredit tersebut sebelum dibayar tunai adalah merupakan nilai barang yang kelak akan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

  1. Barang-barang yang dialihkan kepada pihak lain.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua barang-barang yang telah diserahkan oleh pemilik kepada diler (agen) untuk dijual. Penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga modal.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Barang-barang seperti ini ditaksir nilainya atas dasar harga pasaran di tempat barang, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya yang dimiliki si wajib zakat.

  1. Piutang (tagihan atas pihak lain).

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua tagihan atas pihak lain, sebagi imbalan dari harga barang, transaksi, jasa atau tagihan lainnya. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga bersih yang dapat ditagih. Jumlah ini termasuk ke dalam kelompok alokasi piutang yang pengembaliannya diragukan.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Piutang dapat dibagi tiga macam:

  • Piutang yang kemungkinan besar dapat ditagih. Piutang seperti ini digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat yang nilainya ditaksir atas nilai nominal.
  • Piutang yang tidak diharap dapat ditagih. Piutang seperti ini tidak digabungkan ke dalam kelompok barang-barang zakat. Zakatnya baru dibayar ketika menerimanya dan hanya untuk tahun berjalan saja, walaupun piutang tersebut telah berlalu beberapa tahun.
  • Piutang yang dianggap gugur. Piutang seperti ini tidak diharap dapat ditagih lagi, oleh sebab itu tidak wajib dibayar zakatnya.

Mengenai alokasi piutang yang penagihannya diragukan, boleh dipotong dari barang-barang zakat, bila telah digabungkan sebelumnya, bila piutang tersebut belum digabungkan ke dalam barang-barang zakat, maka tidak perlu dipotong dari barang-barang zakat.

  1. Obligasi penerimaan (surat tanda terima).

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah surat-surat berharga yang berlaku dalam kegiatan dagang akan tetapi waktu pencairannya belum sampai, seperti surat-surat obligasi, rekening dll. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga pasaran sekarang.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Surat-surat seperti ini ditaksir nilainya berdasarkan nilai nominal dari surat-surat berharga tersebut, tanpa menambahkan bunga. Bila surat-surat berharga tersebut berasal dari harga barang yang telah dijual dengan pembayaran kemudian, maka selisih harga antara harga tunai dengan harga kemudian dimasukkan ke dalam harga dan diperlakukan sebagai piutang berjangka lama dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

  1. Deposit yang berada di tangan pihak lain.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Termasuk ke dalam unit ini semua uang yang ditahan oleh pihak lain sebagai deposit (jaminan) atas kelangsungan transaksi, janji-janji atau komitmen perusahaan untuk melakukan sesuatu kegiatan yang tertera dalam suatu kontrak. Cara penaksiran nilainya adalah berdasarkan nilai nominal yang tercatat dalam kontrak/ kontrak.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Deposit yang merupakan jaminan suatu transaksi seperti ini dianggap sebagai hak milik bersyarat, oleh sebab itu tidak dikenakan zakat kecuali ketika penerimaannya dan hanya dibayar untuk tahun berjalan saja walaupun deposit tersebut telah berlangsung beberapa tahun. Dengan demikian, maka deposit hanya dianggap sebagai barang zakat untuk tahun penerimaannya saja.

  1. Cicilan yang dibayar terlebih dahulu.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Termasuk dalam unit ini semua dana yang dibayarkan terlebih dahulu kepada langganan, seperti pemborong, industri dan semacamnya untuk dapat melancarkan kegiatan kerjanya yang sedang dalam proses. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai nominal yang tercatat dalam kontrak.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Dana semacam ini dianggap telah keluar dari tangan pemilik pertama dan telah menjadi milik bersyarat sesuai dengan kontrak yang telah ditanda tangani ke dua belah pihak. Oleh sebab itu dana ini tidak termasuk dalam barang-barang zakat lagi.

  1. Biaya yang dibayarkan terlebih dahulu.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan terlebih dahulu pada tahun anggaran berjalan untuk pengeluaran tahun anggaran berikut, seperti sewa gedung dan asuransi untuk tahun berikut yang dibayar terlebih dahulu. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar harga yang tercatat dalam kontrak.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Dana seperti ini tidak dikenakan zakat lagi, karena telah keluar dari tangan pemilik pertama dan menjadi dana bersyarat yang dapat dimanfaatkan kemudian hari.

  1. Penghasilan yang sudah jatuh tempo.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua penghasilan/ pemasukan yang mempunyai tempo pada tahun anggaran berjalan akan tetapi belum ditagih sampai akhir tahun, seperti penghasilan investasi dan sewa yang telah jatuh tempo. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Dana ini dianggap sebagai piutang, oleh sebab itu ketentuan hukumnya sama dengan ketentuan hukum tentang piutang. Bila piutang tersebut tergolong piutang yang diharap dapat ditagih, maka digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya, bila termasuk dalam piutang yang tidak diharap dapat ditagih, maka tidak dikenakan kewajiban zakat sampai diterima secara praktis.

  1. Dokumen kredit untuk pembayaran barang dagang (LC).

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Termasuk dalam unit ini, semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut, kemudian digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

  1. Dokumen kredit untuk pembelian barang-barang konsumsi atau sumber pencaharian.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang dibayarkan kepada pihak bank sebagai pembayaran harga komoditi impor atau barang modal tetap lainnya.

Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam kontrak yang benar-benar dibayar.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Nilainya ditaksir atas dasar nilai yang memang betul-betul telah dibayar dari dokumen tersebut. Dana ini tidak dikenakan zakat.

  1. Dana surat jaminan (LG).

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana yang dibayarkan kepada pihak bank untuk menutupi surat jaminan yang disampaikan kepada pihak lain, di mana pihak bank memberikan jaminannya bahwa pemilik dana akan melaksanakan transaksi atau kontrak yang telah ditanda tangani. Bila ternyata pihak pemilik dana tidak menepati kontrak atau transaksinya, maka dana yang dibayarkan tersebut akan dicairkan untuk pihak pelanggan.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Nilai surat jaminan ditaksir atas dasar nilai yang memang benar-benar telah dibayarkan kepada pihak counterpart. Dana ini tidak dikenakan zakat, karena merupakan milik bersyarat yang belum terlaksana. Bila nilai surat jaminan tersebut ditarik kembali, maka dana tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya dan dibayarkan zakatnya untuk tahun berjalan saja.

  1. Deposito bank.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang didepositkan di bank, baik dalam bentuk rekening berjalan, rekening investasi atau jenis lain. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai yang tercatat dalam daftar setelah dicocokkan dengan daftar rekening yang dikeluarkan oleh pihak bank.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Dana ini digabungkan dengan nilai barang-barang zakat, tanpa memasukkan keuntungan yang bersifat riba, karena keuntungan riba tersebut harus didermakan kepada pihak kebajikan dan kegiatan sosial di luar pembangunan mesjid dan pencetakan Alquran. Adapun penghasilan yang tidak bersifat riba (halal), harus digabungkan dengan modal pokok dan digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

  1. Uang kas.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah semua dana yang disimpan di kas perusahaan, baik dalam bentuk emas, perak, obligasi, surat berharga ataupun dalam bentuk mata uang kertas. Cara penaksiran nilainya dilakukan atas dasar nilai uangnya di akhir tahun anggaran.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Penaksirannya dilakukan atas dasar nilainya di saat tercapainya haul, kemudian nilai tersebut digabungkan dengan nilai barang-barang zakat lainnya.

  1. Pembayaran terlebih dahulu biaya kegiatan yang akan menghasilkan kemudian.

Definisi dan cara menaksir nilainya menurut sistem akuntansi konvensional:

Yang dimaksud dengan istilah ini adalah dana-dana yang telah dibayarkan oleh sebuah perusahaan terlebih dahulu dan kelak akan menghasilkan pemasukan beberapa tahun kemudian, seperti biaya iklan, biaya pendirian perusahaan, biaya-biaya sebelum beroperasi yang biasanya berkisar antara 3 s/d 5 tahun. Cara penaksiran nilainya adalah atas dasar modal setelah dipotong alokasi konsumsi.

Cara penaksiran nilainya menurut hukum Islam:

Dana seperti ini tidak dikenakan zakat, karena berkaitan dengan penggunaan dan pengoperasian, begitu juga konsumsi yang telah dialokasikan tidak dipotong dari barang-barang zakat.

<<BERSAMBUNG>>