Menjaga Kehormatan Diri


itikaf 2Menjaga Kehormatan Diri

Oleh : Abdullah Gymnastiar

Semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita untuk membaca potensi yang telah Allah berikan. Menggali dan mengembangkan diri kita dengan baik sehingga hidup yang sekali-kalinya ini tidak menjadi beban bagi orang lain, bahkan hidup terhormat karena bisa meringankan beban orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya.

Saudaraku, kehormatan dan kemuliaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita bebas dari bergantung kepada selain Allah. Perjuangan kita untuk menjaga harga diri dari meminta-minta kepada selain Allah adalah bukti kemuliaan kta. Jiwa mandiri adalah kunci harga diri.

Benar, dalam  hidup ini kita pasti membutuhkan orang  lain. Itu pasti! Tapi menikmati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia. Menjadi manusia mandiri adalah manusia yang akan memiliki harga diri. Mandiri adalah sumber percaya diri. Mandiri membuat kita lebih tenteram diri. Bangsa mandiri adalah bangsa yang akan mempunyai harga diri.

Dalam Al Quran ditegaskan, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu gigih mengubah nasibnya sendiri. Kita diberi kemampuan oleh Allah untuk mengubah nasib kita. Berarti kemampuan kita mandiri untuk mengarungi hidup ini merupakan kunci yang diberikan Allah untuk sukses dunia dan insya Allah di akhirat kelak.

Keuntungan mandiri kita akan punya wibawa sendiri. Sehebat-hebat peminta-minta pasti tidak akan punya wibawa. Misal, seorang aparat yang berpenampilan gagah tetapi gemar melakukan pungutan yang tak semestinya pasti akan jatuh wibawanya.

Keuntungan lain, kita makin percaya diri dalam menghadapi hidup ini. Orang-orang yang terlatih menghadapi masalah sendiri akan berbeda  semangatnya dalam mengarungi hidup ini dibanding orang yang selalu bersandar kepada orang lain. Sebab, kalau kita bersandar kepada selain Allah, kita akan takut sandarannya hilang. Maka orang-orang yang mandiri cenderung lebih tenang dan lebih tenteram dalam menghadapi hidup ini. Selain dia siap mengarungi, dia juga akan memiliki mental yang mantap. Ingat! Mandiri itu adalah sikap mental

Lantas dari mana kita mengawali menjadi mandiri? Pertama, mandiri diawali dafi mental. Harus memiliki tekad yang kuat, “Saya harus menjadi manusia terhormat, tidak boleh menjadi benalu!”. Dulu, pernah ada seorang anak kecil yang terseranng demam. Ketika itu dia tidak banyak bicara. Dia ambil gayung dan washlap. Lalu naik ke tempat tidur, menarik selimut, dan mengompres dirinya sendiri. Tiap orang kagum, kecil-kecil sudah mandiri,. Subhanallah, belum juga tamat sekolah sudah dihormati.

Kisah lain, ada pengalaman pada suatu kesempatan saya berada di Madinah, tepatnya di masjid Nabawi. Saya melihat ada seorang laki-laki tuna netra, telinganya ditutup kapas, dan raut wajahnya sederhana. Dia duduk di atas tikar yang lusuh dan di depannya ada  beberapa botol minyak wangi. Kala itu kami tergerak untuk memberinya sedekah. Namun apa yang terjadi, ia menolak jika diberi uang sebagai sedekah. Ia hanya mau menerima uang jika saya membeli minyak wanginya. Dan itu pun hanya mau menerima setara dengan harga minyak wangi yang dibeli, tidak mau dilebihkan. Subhanallah, sungguh pun memiliki keterbatasan fisik, ternyata beliau pantang meminta-minta.

Jadi jiwa mandiri ini benar-benar harus ditanamkan sejak kecil. Kita harus mulai merindukan anak-anak kita tumbuh tidak sekedar menjadi pekerja, namun menjadi orang yang mampu menciptakan pekerjaan. Ini penting, karena begitu banyak potensi pada bangsa ini yang tak tergali. Namun ini tentu tidak berarti bahwa mereka yang bekerja pada orang lain tidak mandiri. Para karyawan, buruh, atau pekerja lainnya jelas merupakan sosok yang mandiri. Sebab penekanannya adalah kesungguhan berikhtiar agar tidak menjadi beban orang lain.

Kedua, kita harus memiliki keberanian mencoba dan memikul resiko. Jadi kemandirian itu hanya milik pemberani. Orang yang bermental mandiri tidak akan menganggap kesulitan sebagai kesulitan, melainkan sebagai tantangan dan peluang. Kalau kita tidak berani mencoba, itulah gagal. Kalau sudah dicoba jatuh. Itu biasa.

Kegagalan itu tidak pernah terjadi pada orang-orang yang mencoba. Yang gagal itu yang tak pernah mencoba. Bahkan pengalaman bangkrut juga dapat menjadi keuntungan. Artinya, dari kebangkrutan itulah dia akan belajar memperbaiki lagi usahanya, pengalaman itu dapat membuatnya lebih waspada dan lebih semangat agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Tidak ada kata gagal dalam bisnis, yang gagal itu yang tidak berani mencoba.

Kunci ketiga bila ingin mandiri adalah tingkat keyakinan kepada Allah. Kita  harus yakin, Allah yang menciptakan kita, Allah yang memberikan rezeki. Manusia tak mempunyai apa-apa kecuali yang Allah titipkan. Barang siapa serius menggebu untuk taat kepada Allah, Allah berjanji akan diberi jalan keluar dari setiap kesulitannya.

Saudaraku, di antara kunci menjaga harga diri, marilah kita hindari merasa nikmat mendapatkan sesuatu. Tapi nikmatilah diri kita ketika memberikan sesuatu. Jangan merasa kaya dengan banyak orang yang memberi, tapi merasalah bahagia ketika kita bisa banyak memberi.

Terakhir, semoga  jerih payah kita membuahkan rezeki yang melimpah, sehingga bisa menolong orang yang membutuhkan. Hendaklah niat kita tidak hanya untuk kepentingan sendiri dan keluarga saja, tetapi saudah melebar untuk kepentingan umat. Subhanallah! Hendaklah kita  tidak termasuk orang-orang yang ragu untuk mewakafkan diri bagi kepentingan agama Allah. “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS Al Fatihah 5-6)

Wallahu a’lam