Jejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an


gua hiroJejak Sejarah : Gua Hira dan Nuzulul Qur’an

Gua Hira-Jabal Nur termasuk obyek wisata di Mekah. Gua ini sangat terkenal dalam sejarah Islam, karena di dalam gua itulah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam diangkat menjadi rasul, di situ pula turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama [Al ‘Alaq 1-5]. Gua kecil ini terletak di puncak gunung Jabal Nur, di bagian utara Mekah, sekitar 5 km dari Masjidil-Haram, di sebelah kiri perjalanan menuju Arafah. Tinggi puncak Jabal Nur sekitar 200 m. Bentuk gunung ini terlihat berdiri tajam. Disekelilingnya terdapat sejumlah gunung, bukit batu dan jurang.

Bentuk Gua Hira agak memanjang, terletak di belakang 2 batu raksasa yang sangat dalam dan sempit, tidak dapat dilalui lebih dari satu orang. Di dalam gua hanya bisa didiami sekitar 5 orang saja, dan sekedar cukup untuk tidur 3 orang berdampingan. Tinggi gua hanya sebatas orang berdiri, atau sekitar 2 meter. Seandainya tidak ada bangunan yang tinggi di Masjidil-Haram, dari mulut gua bagian belakang dapat dilihat Ka’bah (Masjidil Haram). Meskipun dalam syariat berhaji tidak ditemukan perintah untuk mendatangi Gua Hira, namun pada musim haji banyak jamaah haji menyempatkan diri untuk naik ke Jabal Nur, menyaksikan Gua Hira. Di kawasan gunung ini tidak ditemui tanaman sedikitpun juga. Gersang. Hanya terdiri dari batu-batu besar. Mendaki puncak Gua Hira membutuhkan waktu paling tidak 2 jam. Keadaan di puncaknya sangat sunyi dan senyap hingga terasa menakutkan.

Beberapa tahun sebelum dan setelah menikah dengan Khadijah binti Khuwalid, Rasulullah telah menjadikan Gua Hira sebagai tempat menyepi untuk ber tafakur, mengasingkan diri dari berbagai kerusakan moral penduduk Mekah. Selama itu Beliau juga bekerja membantu para jamaah haji yang datang ke Ka’bah dengan menyediakan air minum buat mereka. Namun Beliau tidak pernah beribadah menurut kepercayaan orang Arab kala itu, menyembah berhala yang ada di Ka’bah. Rasulullah sering memisahkan diri dari keramaian untuk menemukan jalan keluar- cara agar masyarakat tidak menyembah berhala.

Di gua ini menjelang usia 40, Rasulullah yang selalu bertafakur, beribadah menurut agama Ibrahim selama berjam-jam bahkan berhari-hari hanya dengan membawa bekal makan dan minum secukupnya. Beliau pulang hanya untuk mengambil perbekalan dan kembali lagi ke gua. Sepanjang bulan Ramadhan digunakan Beliau untuk beribadah. Pada malam 17 Ramadhan 41H atau 6 Agustus 610, Beliau melihat “cahaya” terang benderang memenuhi ruangan gua. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul dihadapan Beliau menyampaikan wahyu Allah Yang Maha Tinggi, yang pertama, Al ‘Alaq (1-5) Setelah itu dengan perasaan takut dan gelisah, Beliau bergegas pulang dan berkata pada Khadijah : “Selimutilah Aku, selimutilah Aku.” Khadijah menyelimuti dan mendampingi Beliau hingga hilang rasa takutnya. Setelah mendengar kisah yang sangat ganjil dialami suaminya di Gua Hira, Khadijah segera menemui Waraqah bin Naufal, anak paman Khadijah, seorang pemeluk agama Nasrani di jaman Jahiliyah. Waraqah pandai menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani. Melalui dia, Muhammad tahu bawa Dirinya akan diangkat menjadi Nabi dan Rasul sebagaimana Nabi Musa, menerima wahyu Allah Yang Maha Tinggi melalui Jibril.

Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam ketika itu berusia sekitar 40 tahun. Beliau telah dipilih Allah Yang Maha Tinggi sebagai Rasul. Rasul terakhir yang membawa manusia dari alam kegelapan ke alam yang terang benderang.

 

Kiriman Sahabat Meilany