Penjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan


zakatPenjelasan Zakat Atas Gaji / Penghasilan

Assalamu’alaikum wr.wb

Berikut ini penjelasan tentang zakat gaji/penghasilan dari profesi

(Dari Buku Panduan Zakat Praktis karya Drs. H. Hasan Rifa’i Al Faridly-Dewan Syariah Dompet Dhuafa Republika)

Dasar hukum :

Firman Allah SWT :

‘Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian’ (Q.S. Adz-Dzariyat : 19)

‘…………..Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya ……..’ (Q.S. Al Hadid : 7)

‘Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik ……..’ (Q.S. Al Baqarah : 267)

Hadits Nabi SAW :

Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan (H.R. Thabrani)

Hasil Profesi :

Hasil profesi (pegawai negeri, pegawai swasta, konsultan, dokter, notaris dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu-jaman Rasulullah). Oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan zakat. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan yang mendapat porsi pembahasan yang sangat  memadai dan detail.

Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapat dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin di antara mereka (sesuai dengan ketentuan syara’/syariat). Dengan dmeikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat.

Akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarga) nya, maka ia menjadi mustahiq (orang yang menerima zakat), sedang jika hasilnya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit, maka bagiannya tidak wajib zakat.

Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yaitu pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

Ketentuan Zakat Penghasilan (Profesi) :

Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dikategorikan berdasarkan qiyas/analogi atas kemiripan (syabbah) terhadap karakteristik harta zakat yang ada, yaitu :

  1. Model memperoleh harta penghasilan/profesi mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat diqiyaskan ke dalam zakat pertanian berdasarkan nishab (653 kg gabah kering giling atau setara dengan 552 kg beras) dan waktu pengeluaran zakatnya (setiap kali panen – untuk zakat penghasilan setiap terima gaji bulanan atau disetahunkan).
  2. Model harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang, sehingga harta ini dapat dianalogikan ke dalam zakat harta (kelompok harta simpanan/kekayaan wajib zakat berupa uang simpanan, emas, perak, surat berharga) berdasarkan kadar zakat yang harus dibayarkan (2,5%). Dengan demikian hasil profesi/gaji seseorang jika telah memenuhi ketentuan wajib zakat, maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

Hikmah Zakat :

Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, transendental dan horisontal. Oleh sebab itu, zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, yaitu :

  1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa dan lemah papa, untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah SWT.
  2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri manusia yang biasa timbul di kala ia melihat orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, jika mewah. Sedang ia sendiri tak punya apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
  3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia, menjadi murah hati, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi) dan mengikis sifat bakhil (kikir) dan serakah yang menjadi tabiat manusia sehingga dapat merasakan ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah dan tuntutan kewajiban kemasyarakatan.
  4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri di atas prinsip-prinsip : Ummatan Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, hak dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Takaful Ijtimai (tanggung jawab bersama).
  5. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), kesimbangan dalam kepemilikan harta (social ownership) dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
  6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah.
  7. Dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seorang dengan lainnya rukun, damai dan harmonis yang dapat menciptakan situasi yang tenteram dan aman lahir dan batin. Dalam masyarakat seperti itu akan tumbuh lagi bahaya komunisme (Atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab, dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme sudah dijawab. Akhirnya sesuai janji Allah, akan tercipta sebuah masyarakat baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jazakumullah Khairan Katsiran

Fendy