Pemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an


quranPemahaman N. Isa dan Maryam Menurut The Holy Qur’an

Oleh Hedi Rachdiana

Tulisan ini tidak bermaksud lain, ini sekedar bahan renungan. Benarkah Nabi (N).Isa bisa menghidupkan orang mati?, Berdasarkan tafsir Qur’an Suci terjemahan dari The Holy Qur’an, antara lain disebutkan sebagai berikut:

Sepintas Tentang Maryam (Bunda Maria)

Maryam diserahkan ke rumah suci sejak umur 3 sampai umur 12 tahun. Ia adalah termasuk golongan Pendeta yang saleh, ayahnya bernama Imran, dan Ia diasuh oleh N. Zakaria.

Injil Lukas 1:26-27 menjelaskan, bahwa Maryam menerima khabar baik tentang kelahiran Isa (Yesus), setelah beliau menikah dengan Yusuf (bukan Nabi Yusuf) melalui suatu undian, hal ini dilakukan mengingat Maryam sejak kecil berada di rumah suci, hanya dengan cara ini beliau dapat dilepaskan untuk menikah.

Memang sejarah Maryam dan N.Isa diselubungi kegelapan, namun dengan turunnya Qur’an mengumumkan kedudukan mereka sebenarnya sebagai hamba Tuhan yang tulus dan sekaligus menolak pandangan ekstrim, yakni pandangan kaum Yahudi bahwa Isa dikandung dalam dosa dan anak haram hasil hubungan gelap Maryam dengan Panther, dan pandangan kaum Nasrani sebagai anak Tuhan penebus dosa.

Ketika Maryam dikhabarkan akan melahirkan seorang putera, beliau belum diberitahukan tentang pernikahannya, sehingga beliau berkata `pria belum pernah menyentuhku’, namun beliau pun mendapatkan jawabannya sendiri bahwa anak pasti akan lahir dengan jalan Allah membuat keadaan begitu rupa. Kata-kata ini bukanlah berarti bahwa beliau akan mengandung secara tidak wajar (kun fayakun lahir tanpa ayah), karena Maryam pun mempunyai anak lagi.

Sepintas Tentang Nabi Isa (Yesus)

N.Isa mempunyai sebutan lain yaitu Al-Masih atau Ibnu Maryam, makna Al-Masih lebih tepat disebut julukan, karena mempunyai arti orang yang suka bepergian, bepergian ini sudah merupakan kebiasaan beliau untuk berda’wah. Isa (bahasa Arab), bahasa Ibraninya Yosyua dan bahasa Yunaninya Yesus.

Qur’an tak menyebut-nyebut suami Maryam (ayah N.Isa), hal ini mirip dengan peristiwa N.Musa. Oleh karena itu, tak disebutnya ayah N.Musa kita sepakat tidak mempersoalkan status N.Musa, dan N.Isa pun bukan berarti tidak mem-punyai ayah. Kasus ini dimungkinkan karena Maryam jauh lebih terkenal daripada Yusuf ayah N.Isa tersebut.

“Eli, Eli, lama sabbahtani” (Tuhanku, Tuhanku mengapa Engkau tinggalkan aku), N.Isa berdo’a dengan menangis ketika disalib dan ditusuk lambungnya, ini menandakan beliau tidak ada bedanya dengan manusia biasa, mengeluarkan darah dan sakit. Beliau tidak mati konyol di palang salib, melainkan mendapat pertolongan Allah dengan cara disamarkan (ada seorang dari golongan musuhnya yang mirip beliau), beliau disembunyikan muridnya di suatu makam, berkat do’anya beliau selamat dan sembuh.

Beliau tidak naik ke langit dan akan dibangkitkan pada hari kiamat, beliau pergi ke Galilea beserta 2 orang muridnya, mengungsi ke tempat aman dari kejaran Yahudi, beliau meninggal/dimakamkan di Kasmir yang lebih dikenal dengan nama Yuz Asaf. N.Isa tidak meninggal dalam usia 33 tahun, juga bukan lahir pada tanggal 25 Desember, melainkan hidup sampai usia 120 tahun dan meninggal secara wajar.

N.Isa dapat bicara selagi buaian dan sesudah tua, ini hanya menunjukan tamsil/ibarat bahwa keadaan beliau akan mengalami perubahan dari bayi menjadi tua. Hendaklah direnungkan bahwa ciri- ciri ucapan beliau ialah bahwa beliau selalu berbicara dengan tamsil, marilah kita simak tentang tamsil-tamsil di bawah ini:

Tentang Pembuatan Seekor Burung dari Tanah dan Meniupnya hingga Hidup

Mustahil secara logika, namun mudah dipahami secara tamsil, karena derajat nabi itu jauh lebih tinggi daripada pembuat mainan burung, di lain pihak hak mencipta tidak diberikan kepada siapapun selain Allah SWT sendiri.

N.Isa meniupkan ruh dalam manusia, artinya beliau meningkatkan derajat manusia di atas orang-orang yang condong ke duniawi, dan para murid beliau yang awalnya hina (tamsil dimisalkan tanah) setelah mendapat ajaran beliau ibarat burung terbang untuk menyebarkan kebenaran.

Tentang Penyembuhan Orang Sakit (Buta)

Tidak mustahil secara logika, namun hendaklah dipahami bahwa N.Isa adalah akhli menyembuhkan penyakit rohani bukan penyakit jasmani. Jadi menurut keterangan, buta di sini bukanlah buta mata lahirnya, melainkan buta hatinya, lihatlah kembali tafsir Qur’an (pada ayat- ayat lainnya) yang membicarakan tentang orang buta dan tuli.

Tentang Menghidupkan Orang Mati

Mustahil, karena Qur’an menerangkan sejelasnya-jelasnya bahwa orang mati tidak akan kembali lagi ke dunia, Qur’an Surat 39:42 menerangkan bahwa “Allah mencabut jiwa (manusia) pada waktu matinya, dan yang tak mati pada waktu tidurnya lalu ia menahan (jiwa) yang ia pastikan mati, dan ia kirim kembali (jiwa) yang lain, sampai waktu yang ditentukan”, atau Qur’an Surat 23:100 yang menerangkan bahwa “Dan di belakang mereka adalah tabir (barzakh), sampai hari mereka dibangkitkan”.

Ada 3 golongan manusia yang disebut-sebut dalam Qur’an sebagai yang dihidupkan kembali, yakni:

-Orang yang kodratnya seperti tanah (tak ubahnya seperti keadaan tanah yakni mati dan hina), lalu berserah diri kepada perilaku nabi dan akhirnya terbang tinggi ke ruang angkasa rohani yang mulia. -Orang yang sakit rohaninya lalu diobati dan sembuh. -Orang yang sungguh-sungguh mati dan dihidupkan lagi rohaninya

Wabillahi taufik wal hidayah,