Meninggalkan Sholat


sholat1Meninggalkan Sholat

Diriwayatkan bahwa di neraka jahanam ada suatu lembah yang bernama Wail.  Andaikan semua gunung yang ada di dunia dijatuhkan ke dalamnya, maka gunung-gunung itu akan meleleh karena panasnya yang sangat dahsyat.  Wail tersebut adalah tempat bagi orang-orang yang meremehkan dan suka mengakhirkan salat (hingga keluar dari waktunya).  Kecuali jika mereka bertaubat kepada Allah SWT, dan menyesali apa yang telah mereka lakukan.

Diriwayatkan pula, bahwa seorang wanita Israil datang menemui Nabi Musa AS.

“Wahai utusan Allah, Aku telah berbuat dosa, namun aku telah bertobat kepada Allah SWT.  Doakanlah agar Allah mengampuni dan menerima tobatku!” pinta wanita itu

“Apakah sebenarnya dosamu itu?” tanya Nabi

Musa AS.

“Wahai nabiyullah, aku telah berzina, dan anak hasil perzinaan itu kubunuh.”

“Enyahlah kau, wahai orang durhaka, jangan sampai api turun dari langit membakar kami karena perbuatan burukmu.”

Wanita itu lalu keluar meninggalkan Nabi Musa dengan hati hancur.

Malaikat Jibril AS lalu turun dan berkata, “Wahai Musa, tahukah kamu orang yang lebih buruk darinya?”

“Orang yang meninggalkan salat,” jawab Musa AS.

Seorang salaf menguburkan saudara perempuannya yang wafat.  Tanpa sepengetahuannya, kantong uangnya yang berisi beberapa dirham terjatuh ke liang kubur. Setibanya di rumah, ia baru menyadari bahwa kantong uangnya telah hilang.  Ia pun lalu kembali kekuburan. Saat itu para pelayat telah pulang. Ia mulai menggali kuburan yang masih baru itu. Belum berapa dalam galian itu, tiba-tiba menyemburlah kobaran api dari dalam kubur. Ia segera menutup kembali kuburan itu dengan tanah.  Dengan perasaan sedih, ia pulang ke rumah menemui ibunya.

“Ibu, ceritakanlah apa yang dilakukan saudariku semasa hidupnya?”

“Mengapa kau tanyakan hal ini?” tanya sang ibu penasaran.

“Dari dalam kuburnya keluar kobaran api, Bu!”

Mendengar ini, sang ibu menangis.

“Anakku, dulu saudarimu sering melalaikan dan mengakhirkan salat hingga keluar dari waktunya,” jelas ibunya.

Al-’Amiri, dalam kitabnya, Bahjah, setelah menyebutkan tata cara salat khauf, ia menulis, “Salat khauf ini merupakan dalil paling kuat yang menjelaskan bahwa tidak ada keringanan untuk meninggalkan atau merubah waktu salat dari yang telah ditentukan.  Sebab, jika boleh, tentu para mujahid yang memerangi musuh-musuh Islam bersama Rasulullah SAW lebih berhak melakukannya. Karena alasan inilah maka salat berbeda dengan semua ibadah yang lain. Kewajiban ibadah lain gugur jika ada udzur5.  Ibadah lain juga memiliki keringanan, bahkan kadang kala ada penggantinya6 (niyaabaat). Orang yang meninggalkan kewajiban-kewajiban lain tidak wajib dibunuh, tetapi orang yang meninggalkan salat karena malas, ia dapat dikenai hukum had, dibunuh, dan darahnya halal7. Kewajiban salat ini bergantung pada kekuatan akal, bukan pada kekuatan fisik. Dalilnya: Orang yang tidak mampu mengerjakan salat dengan berdiri, ia boleh mengerjakannya dengan duduk, jika tidak mampu duduk, ia boleh melakukannya dengan berbaring pada sisi kanan tubuh, jika tidak mampu, maka boleh dilakukan dengan telentang dan isyarat mata.  Karena semua inilah maka salat disamakan dengan iman yang tidak bisa hilang begitu saja.

Rasulullah SAW bersabda: “Batas seorang hamba dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.”  (HR Muslim)

“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat, barang siapa meninggalkan salat maka ia telah kufur.”  (HR Turmudzi, dan menurutnya sahih)

Andaikan ada seorang yang telah berihram; ia datang dari daerah yang sangat jauh; telah berusaha keras untuk mencapai Arofah sebelum terbitnya fajar malam Nahr; dan saat itu ia belum menunaikan salat Isya; sedangkan, apabila waktu yang tersisa digunakan untuk mengerjakan salat Isya, ia akan kehilangan hajinya, maka menurut para ulama, orang ini tidak boleh meninggalkan salat, dan tidak boleh pula mengerjakannya seperti salat khauf. Demikianlah menurut pendapat yang paling benar. Sebab, salat lebih utama daripada haji, dan waktu haji cukup luas, yakni sepanjang umur manusia.”

Masyarakat sangat mencela orang yang tanpa udzur membatalkan puasa di bulan Ramadhan, namun mereka tidak mencela orang yang meninggalkan salat, padahal ancaman hukumannya lebih berat.  Mereka mencela orang yang meninggalkan salat Jumat, namun tidak mencela orang yang meninggalkan salat berjamaah, padahal kedua persoalan itu mempunyai kedudukan yang sama. Sepantasnya orang yang meninggalkan salat dijauhkan dari mesjid-mesjid kaum muslimin, dan diasingkan dari pertemuan-pertemuan mereka yang mulia, serta muwakalah8 dan munakahahnya9 dianggap hina.  Disamping itu, ia juga harus dinasihati dan diberi penjelasan bahwa perbuatannya itu amat buruk dan darahnya dapat menjadi mubah. Diharapkan dengan cara ini, ia menjadi sadar, dan kembali mengerjakan salat. Sesungguhnya dari Allahlah datangnya taufik.

***

Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

Iklan