Risalah : Wasiat Tentang Sholat (2/8)


sholat-subuhRisalah : Wasiat Tentang Sholat (2/8)

Dikutip dari Majmû’ Washôyâ, Ulasan : Al-Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri

Rasulullah SAW bersabda: Langit merintih dan memang ia pantas merintih, karena pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat yang bersujud atau berdiri (salat) kepada Allah Azza Wa Jalla.  (HR Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Orang yang meninggalkan salat karena dilalaikan oleh urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya.  Ia dibenci oleh Allah, dan akan mati dalam keadaan tidak Islam, tinggal di neraka jahim, atau kembali ke neraka hawiyah, dilaknat oleh Allah, dan terusir dari bumi dan langit.  Ia melelahkan malaikat pencatat keburukan.  Tempat tinggal dan tempat kembalinya menjadi sempit.  Ia dilaknat dan dicaci-maki oleh rumahnya.  Pakaian yang menempel di tubuhnya mengumpatnya: Wahai musuh Allah, andaikan Allah tidak menundukkan aku untukmu aku tak akan sudi menempel ditubuhmu!  Kamu memakan rezeki Allah namun mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah digariskan-Nya!

Dengarkanlah nasihatku tentang nasib orang yang meninggalkan salat, baik semasa hidup maupun setelah meninggal.  Sesungguhnya Allah merahmati orang yang mendengarkan nasihat kemudian memperhatikan dan mengamalkannya.

Allah SWT berfirman: Sesungguhnya salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman. (QS An-Nisa`, 4:103)

Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Setelah Isya’ aku bersama Umar bin Khottob RA pergi ke rumah Abu Bakar AsShiddiq RA untuk suatu keperluan.  Sewaktu melewati pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan.  Kami pun terhenyak dan berhenti sejenak.  Kami dengar beliau menangis dan meratap.

“Ahh…, andaikan saja aku dapat hidup terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap salat.  Ahh…, aku sungguh menyesali umatku.’

“Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk pintu ini,’ kata Umar RA.

Umar kemudian mengetuk pintu. “Siapa?’ tanya Aisyah RA. “Aku bersama Abu Hurairah.’

Kami meminta izin untuk masuk dan ia mengizinkannya.  Setelah masuk, kami lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam sujudnya:

“Duhai Tuhanku, Engkau adalah Waliku bagi umatku, maka perlakukan mereka sesuai sifat-Mu dan jangan perlakukan mereka sesuai perbuatan mereka.”

“Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.  Apa gerangan yang terjadi, mengapa engkau begitu sedih?”

“Wahai Umar, dalam perjalananku ke rumah Aisyah sehabis mengerjakan salat di mesjid, Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu,” kemudian ia berkata, “Bacalah!’

“Apa yang harus kubaca?”

“Bacalah: Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS Maryam, 19:59)

“Wahai Jibril, apakah sepeninggalku nanti umatku akan mengabaikan salat?’

“Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan salat, mengakhirkan salat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa nafsu.  Bagi mereka satu dinar lebih berharga daripada salat.”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA.

Allah SWT berfirman: “Mereka tidak berhak memperoleh syafaat kecuali orang yang telah mengikat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih.”  (QS Maryam, 19:87)

Dalam menafsirkan ayat di atas Rasulullah SAW bersabda bahwa yang dimaksud dengan mengikat perjanjian adalah mengerjakan salat lima waktu.

Rasulullah SAW bersabda: Setelah tauhid, Allah tidak mewajibkan kepada hamba-Nya suatu (amalan) yang lebih Ia sukai daripada salat.  Andaikan Allah lebih mencintai suatu (amalan) selain salat, tentu para malaikat-Nya — yang di antara mereka ada yang ruku’, sujud, berdiri dan duduk — akan beribadah kepada-Nya dengan (amalan) itu.

Dikatakan bahwa di langit terdapat sejumlah malaikat yang selalu mengerjakan salat.  Mereka dijuluki sebagai pembantu Allah Yang Maha Pengasih (khoddaamur Rahman).  Para malaikat itu membanggakan salatnya kepada malaikat-malaikat yang lain.

Juga dikatakan bahwa jika seorang mukmin mengerjakan salat dua rakaat, maka 10 shof malaikat, yang setiap shofnya terdiri dari 10.000 malaikat, akan merasa takjub melihatnya.  Demikianlah Allah membanggakan orang yang salat kepada 100.000 malaikat.

Orang yang mengerjakan salat adalah makhluk pilihan Allah, pewaris surga-Nya, akan selamat dari negeri kemurkaan dan terhindar dari kutukan-Nya.  Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang khusyu’ dalam salat.

Abu Darda` berkata, “Hamba Allah yang terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berdzikir kepada Allah, yakni untuk mengerjakan salat.”

Diriwayatkan pula bahwa amal yang pertama kali diperhatikan oleh Allah adalah salat.  Jika salat seseorang cacat, maka seluruh amalnya akan ditolak.

Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah keluargamu untuk salat, karena Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak pernah kamu duga.”

Atha’ Al-Khurasaniy berkata, “Sekali saja seorang hamba bersujud kepada Allah di suatu tempat di bumi, maka tempat itu akan menjadi saksinya kelak di hari kiamat.  Dan ketika meninggal dunia tempat sujud itu akan menangisinya.”

Rasulullah SAW bersabda:”Salat adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama. (HR Baihaqi).

Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka ia telah kafir.” (HR Bazzar dari Abu Darda`)

“Barang siapa bertemu Allah sedang ia mengabaikan salat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikan kebaikannya.”  (HR Thabrani)

“Barang siapa meninggalkan salat dengan sengaja, maka terlepas sudah darinya jaminan Muhammad.”  (HR Ahmad dan Baihaqi)

“Allah telah mewajibkan salat lima waktu kepada hambaNya.  Barang siapa menunaikan salat pada waktunya, maka di hari kiamat, salat itu akan menjadi cahaya dan bukti baginya.  Dan barang siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpul-kan bersama firaun dan Haman.” (HR Ibnu Hibban dan Ahmad).

Iklan