Sultan Agung Hanyakrakusumo


sultan agungSultan Agung Hanyakrakusumo

Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu HanyakraKusumo, adalah raja pada dinasti Mataram setelah Panembahan Senopati (1584-1601) dan Panembahan Hanyakrawati (1601-1613). Pada pemerintahannya (1613-1646) pernah melakukan penyerangan terhadap VOC yang berkedudukan di Batavia, yaitu pada tahun 1628 dan 1629.

Dalam sejarah babad mataram, Sultan Agung digambarkan sebagai seorang raja yang piawai dalam menjalankan roda tata negara dan kebudayaan. Dalam merumuskan upaya pengembangan kebudayaan Jawa, Sultan Agung dengan piawai merumuskan strategi konvergensi ajaran agama Islam kedalam budaya masyarakat mataram yang sebelumnya telah mengenal tradisi yang bersumber pada agama Hindu dan Budha.

Sultan Agung pada tahun 1633 memberlakukan sistem perhitungan tahun model baru (tahun Jawa) menggantikan sistem perhitungan tahun Saka. Perubahan sistem perhitungan tahun ini sangat strategis, karena berarti seluruh penulisan serat babad maupun penanggalan yang akan dijadikan acuan masyarakatnya akan mengacu kepada sistem perhitungan model baru tersebut. Sistem Perhitungan kalender tahun Jawa ini mengacu dan menyesuaikan dengan sistem perhitungan kelender tahun Hijriah, sehingga ini merupakan kelanjutan proses Islamisasi tradisi dan kebudayaan Jawa yang telah dimulai semenjak pemerintahan Kerajaan Islam Demak Bintoro.

Kalender tahun Saka merupakan warisan zaman Hindu-Budha. Sama seperti tahun Masehi, tahun Saka juga memakai dasar perhitungan Solair / Syamsiah yaitu mengikuti peredaran bumi mengitari matahari. Sedangkan tahun Jawa yang diberlakukan Sultan Agung adalah mengacu pada dasar perhitungan yang dipakai pada tahun Hijriyah. Pada sistem penanggalan Hijriyah maupun tahun jawa memakai sistem kalender berdasarkan sistem Lunair / Komariyah, yaitu berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi.

Pada saat pemberlakuan kalender Jawa tersebut , tahun Saka telah berjalan sampai tahun 1554, Dalam tahun Jawa hasil rekayasa Sultan Agung tahun itu tetap diteruskan menjadi 1955 tahun Jawa. Padahal pada hakikatnya sistem perhitungan tahun saka sama sekali jauh berbeda dengan tahun Jawa yang mengacu kepada sistem perhitungan tahun Hijriah. Disinilah letak kepiawaian Sultan Agung, merombak secara revolusioner sistem penanggalan dengan mengganti system tahun Saka dengan tahun Jawa yang mengacu kepada sistem Hijriah tanpa membuat gejolak yang berarti pada masyarakatnya.

Perubahan dan pemberlakuan itu terjadi pada tanggal 1 Suro tahun Alip 1555 Jawa atau 1 Muharam tahun 1043 Hijriyah atau 8 Juli 1633 Masehi. Disamping itu Sultan Agung juga mengembangkan seni kaligrafi tulisan Arab, melanjutkan lagi tradisi Sekaten yang diselengarakan bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari alat media dakwah kepada masyarakatnya.

Kisah diatas hanyalah sebagian kecil dari ribuan kisah tentang pasang surutnya sejarah dakwah dan syiar Islam di negeri ini. Datang sejak abad pertama Hijriyah, pada masa Khulafaur Rasyidin memerintah, disebutkan bahwa Islam telah mulai masuk ke Indonesia. Sejarah panjang dakwah serta syiar yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita sejak zaman Samudera Pasai sampai ke masa Wali Songo dan diteruskan sampai hari ini oleh pejuang Islam, selayaknya patut kita syukuri. Para pendahulu kita dengan kearifannya telah berhasil setapak demi setapak menanamkan Islam dalam ranah Tauhid, Akhlak, Sosial, Ekonomi, Budaya , dan Politik di masyarakat negeri ini. Tak dapat dipungkiri bahwa Islam telah menjadi inpirasi dan memberikan warna dalam perjalanan dinamika bangsa kita ini. Mereka telah membangun pondasi, kini pun kita punya pijakan yang kuat untuk meneruskannya. Kearifan mereka dalam berdakwah adalah salah satu hal yang dapat kita jadikan contoh dan bahan perenungan, agar tak sia-sia daya upaya yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita.

Iklan