Pujian dan Celaan


berdoa1Pujian dan Celaan

Pujian dan celaan adalah bagian dari romantika hidup manusia. Hari ini seseorang memuji kita, tetapi besoknya mungkin mencela kita. Bagi muslim yang bertauhid, pujian dan celaan dianggap sama saja, senantiasa ia kaitkan dengan Ridha Allah SWT.

Setiap manusia pada dasarnya memiliki perasaan takut dicela, ini termasuk ciri manusia, sama dengan rasa malu (muru’ah). Rasa ini jika dibiarkan dalam cengkeraman nafsu akan menyebabkan mata hati menjadi buta dan tuli dalam menempatkan rasa ini pada porsi yang sebenarnya. Penyebab dari hal ini antara lain adalah :

  1. Rasa sakit hati apabila merasakan adanya kekurangan dalam diri.
  2. Tidak memahami hakikat celaan dan pujian.
  3. Tidak mampu menguasai hati dalam menempatkan rasa malu.

Seyogyanya kita memahami dan menimbang hal dibawah ini dengan hati yang bersih dan akal yang jernih :

  1. Jika celaan itu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bersyukurlah atas celaan itu, karena berarti mengingatkan akan kesalahan kita, anggaplah celaan itu Rahmat Allah SWT untuk membenahi yang kesalahan itu.
  2. Jika celaan itu tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, bersyukurlah atas celaan itu karena berarti dosa kita semakin berkurang dan kebaikan kita semakin bertambah.
  3. Terkadang rasa takut dicela dan dihina ini dapat menyesatkan dan menjerumuskan kita, karena kita tak lagi waspada terhadap kesalahan diri kita dan menutup kebenaran menghampiri diri kita.
  4. Bersyukurlah bahwa celaan itu “hanya” datang dari orang saja, hanyalah dalam pandangan dan perasaan duniawi saja. Merupakan malapetaka jika celaan itu datangnya dari Allah SWT.
  5. Jangan sekali-kali bertahan demi gengsi dengan mencampakkan kebenaran dan menyokong kebatilan. Karena terkadang dalam celaan itu terkandung pula kebenaran.

Demikian sedikit kutipan tausiah yang pernah saya dengar dari seorang ustadz yang suka tahlilan, semoga ada manfaatnya.

***

Rifky Pradana

Iklan