Sholat Jum’at (2/2)


melempar_jumrahSholat Jum’at (2/2)

Orang-orang yang meninggal dunia pada hari Jum’at juga akan mendapat rahmat dan aman daripada segala azab kubur, perkara ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:

“Sesiapa yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, dia akan dicop dengan cop iman dan terpelihara daripada siksa kubur.” (Hadis riwayat Al-Baihaqi)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengkhabarkan bahwa ganjaran pahala yang besar kepada orang-orang yang pergi berjemaah ke masjid termasuk untuk menunaikan sembahyang Jum’at, sabda Baginda yang maksudnya :

“Apabila seseorang berwudhu lalu dia memperelokkan wudhunya kemudian dia keluar (pergi) ke masjid, dia tidak keluar kecuali untuk menunaikan sembahyang, tidak dia melangkah satu langkah kecuali ditinggikan satu darjat baginya dan dihapuskan baginya satu kesalahan, apabila dia bersembahyang Malaikat senantiasa memohonkan rahmat ke atasnya selama mana dia masih di tempat sembahyang dan belum berhadas, Malaikat memohonkan: “Wahai Allah berilah rahmat ke atasnya, wahai Allah sayangilah dia!” (Hadis riwayat Al-Bukhari)

Dalam hadis ini mengandungi beberapa perkara yang penting. Pertama ganjaran pahala yang besar akan diperolehi oleh orang-orang yang pergi berjemaah di masjid dengan sedia berwudhu lalu pergi ke masjid untuk bersembahyang. Maka setiap langkahnya akan dikira sebagai penghapus dosa-dosanya dan menaikkan darjatnya. Para Malaikat juga sentiasa memohonkan keampunan dan rahmat kepada orang-orang sedemikian. Kedua, orang yang berwudhu di rumah itu menggambarkan bahwa mereka sentiasa menjaga ketepatan waktu sembahyang karena telah bersedia lebih awal lagi.

Oleh yang demikian hari Jum’at adalah hari yang mengandungi banyak kelebihan dan kebesaran yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadiri Jumat Lebih Awal

Sesungguhnya kita dituntut agar menepati waktu sembahyang dan dilarang melengahkannya. Ini karena bukan sahaja menepati waktu sembahyang itu merupakan tuntutan agama malahan orang yang menepati waktu sembahyang itu akan mendapat ganjaran yang besar. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :

“Orang-orang yang bersembahyang pada waktunya dan menyempurnakan wudhunya, menyempurnakan (tegak) berdirinya, menyempurnakan khusyu’nya, ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang itupun naik (ke langit) dalam keadaan putih dan cemerlang. Sembahyang itupun berkata: “Semoga Allah menjaga dirimu sebagaimana engkau menjaga aku (memperelokkan kelakuan sembahyang itu)”. Tetapi sesiapa yang bersembahyang tidak dalam waktunya yang ditentukan dan tidak pula memperelokkan wudhunya, khusyu’nya, ruku’nya dan sujudnya, maka sembahyang itupun naik (ke langit) dalam keadaan hitam legam sambil berkata: “Semoga Allah mensia-siakan dirimu sebagaimana engkau mensia-siakan aku”. Sehinggakan setelah sembahyang itu berada di suatu tempat sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, lalu iapun dilipatkan sebagaimana dilipatnya baju yang koyak-koyak kemudian dipukulkanlah ke mukanya”. (Hadis riwayat Al-Thabarani)

Ulama Syafe’i juga sepakat mengatakan bahwa sunat (mustahab) menghadirkan diri lebih awal ke masjid pada hari Jum’at. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang kelebihan orang-orang yang menghadirkan diri lebih awal ke masjid pada hari Jum’at, Baginda bersabda yang maksudnya :

“Apabila datang hari Jum’at, maka setiap pintu masjid ada Malaikat yang mencatat orang-orang yang masuk mengikut urutannya. Apabila imam telah duduk (di atas mimbar), para Malaikat menutup buku catatan mereka dan datang untuk mendengarkan zikir (khutbah). Perumpamaan orang yang hadir ke masjid lebih awal adalah bagaikan orang yang menyembelih hadyi (korban) seekor unta, kemudian seperti menyembelih seekor sapi, kemudian seperti menyembelih seekor kambing, kemudian seperti menyembelih seekor ayam, kemudian seperti orang yang memberikan sedekah sebiji telur”. (Hadis riwayat Muslim)

Berdasarkan hadis-hadis di atas jelas kepada kita bahwa orang yang meghadirkan diri ke masjid lebih awal pada hari Jum’at adalah sangat dituntut dan mempunyai ganjaran dan balasan yang besar. Sembahyang tepat pada waktunya juga dianggap sebagai memelihara sembahyang karena jika dilenggahkan waktu sembahyang tersebut, kemungkinan akan tertinggal atau terlepas waktu yang ditentukan itu.

Malah Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menjelaskan bahwa antara sifat-sifat orang yang mendapat kebahagiaan itu adalah orang-orang yang tetap mengerjakan sembahyang pada waktunya dengan cara yang sempurna. FirmanNya yang tafsirnya :

“Dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya”  (Surah Al-Mukminun: 9)

Kesimpulannya, sembahyang dengan khusyu’ dan tawadhu’ serta menjaga dan memelihara waktu adalah satu kewajiban. Maka adalah disunatkan kepada orang yang wajib atasnya sembahyang Jum’àt supaya menghadirkan diri lebih awal ke masjid bagi mengelak daripada terlepas pahala atau fadilat datang awal ke masjid seperti mana maksud hadis di atas.

Lambat hadir yang mendatangkan kerugian itu termasuklah hadir setelah imam naik ke atas mimbar untuk membaca khutbah. Hal ini telah diceritakan dalam hadis di atas yang menyebutkan yang maksudnya :

“Apabila imam telah duduk (di atas mimbar) para Malaikat menutup buku catatan mereka dan datang untuk mendengarkan zikir (khutbah)”.

Ini bererti para Malaikat yang khusus bertugas mencatat kelebihan hadir awal ke masjid pada hari Jum’at itu menghentikan catatannya karena hendak sama-sama mendengar khutbah. Orang yang sedemikian hanya akan tersenarai dalam orang-orang yang hadir Jum’at sahaja, tetapi tidak tersenarai dari orang-orang yang mendapat kelebihan yang seolah-olah berkorban seekor unta atau sapi seperti yang disebut dalam hadis di atas.

Dari itu sayugadalah kita datang awal ke masjid pada hari Jum’at itu dan ketika dalam perjalanan menuju ke Masjid hendaklah dengan khusyu’ dan merendah diri. Apabila sampai di masjid jangan lupa berniat iktikaf ketika hendak masuk ke masjid. Dengan datang awal itu juga kita berkesempatan melakukan perkara-perkara sunat yang lain seperti sembahyang sunat Tahiyyat al-Masjid, membaca Al-Qur’an, beristighfar, berzikir dan berdoa, karena pada hari Jum’at itu mempunyai kelebihan dan kebesaran yang banyak dan ganjaran yang berlipat ganda.

***

Kiriman Sahabat Arland

Iklan