Berlindung di balik KESALAHAN orang lain


IstighfarBerlindung di balik KESALAHAN orang lain

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu’alaikum warahhmatullahi wabarakatuhu,

Entah mungkin sudah menjadi hoby atau kebiasaan bagi sebagian kalangan kita bahwa ketika kita ingin agar perbuatan yang kita lakukan mendapatkan “PEMBENARAN” maka dengan mudahnya kita berlindung di balik “KESALAHAN” yang di perbuat oleh orang lain. Seperti seorang muslimah yang tidak berhijab, ketika ia ditanya “Mengapa tidak berhijab?”, maka dengan entengnya, ia menjawab: “Lho itu yang anaknya ULAMA saja nggak berhijab, itu yang anaknya “Kyai Haji” saja nggak berhijab, itu yang anaknya TOKOH yang paling di idolakan oleh sebagian besar masyarakat muslim saja nggak berhijab. Jika mereka saja boleh nggak berhijab, lalu mengapa saya yang cuman orang biasa-biasa saja nggak boleh untuk tidak berhijab?”

Jika demikian cara kita beragama, maka niscaya RUSAK-lah agama kita!

Kita selalu menjadikan KESALAHAN yang diperbuat oleh orang lain sebagai “HUJAH” untuk PEMBENARAN atas KESALAHAN yang kita lakukan.

Saudaraku, ketahuilah bahwa sesungguhnya apa yang pada saat ini terjadi di masyarakat bukanlah HUJAH bagi kita untuk MEMBENARKAN kesalahan yang kita lakukan.

Saudaraku, kita tidak boleh menggunakan apa yang terjadi di masyarakat sebagai dalil PEMBENAR tindakan kita. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman (artinya):

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al An’aam 6:116)

Saudaraku, ketahuilah bahwa sesungguhnya Al Qur’an dan As Sunnah-lah pegangan kita. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman (artinya):

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzaab 33:36)

Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya): “Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan terpisah sampai keduanya mendatangiku di telaga (syurga)”. (HR. Hakim).

 

Oleh sebab itu, Duhai Saudaraku, janganlah kita berlindung di balik KESALAHAN yang di lakukan oleh orang atau negara lain sebagai PEMBENAR atas KESALAHAN yang kita lakukan. Tetaplah berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah agar kita SELAMAT dari kesesatan.

Seperti juga kita tidak dapat berlindung di balik KESALAHAN atau yang kita duga sebagai KESALAHAN yang di lakukan oleh orang ARAB sebagai PEMBENAR atas KESALAHAN yang kita lakukan.

Saudaraku, ketahuilah bahwa KESALAHAN yang mungkin dilakukan oleh orang ARAB maka itu adalah TANGGUNG JAWAB orang ARAB sendiri dan bukan tanggung jawab kita. Saya justru salut terhadap ULAMA-ULAMA ARAB yang dengan gigih dan penuh kesabaran, dengan ijin Allah, berhasil sedikit demi sedikit mengurangi KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN dan juga BID’AH-BID’AH yang terjadi di ARAB sana. Memang benar bahwa mungkin masih terdapat KEMUNGKARAN ataupun BID’AH yang terjadi disana, akan tetapi itu adalah tugas ULAMA di sana untuk menasehatinya dan bukan tugas kita. Dan sejauh yang saya ketahui mereka (ULAMA-ULAMA ARAB) sudah bekerja keras untuk menasehati UMARA dan juga ORANG-ORANG ARAB agar selalu menepati kesabaran dan kebenaran. Semoga Allah meridhoi apa yang telah mereka lakukan.

Sekarang tugas kita adalah dengan memohon petunjuk kepada Allah Subhana wa Ta’ala, kita berdakwah dengan cara yang ma’ruf agar segalah KEMUNGKARAN dan BID’AH yang mungkin ada disekitar kita ini dapat berkurang sedikit demi sedikit.

ALLAHU A’LAM.

HANYA ALLAH SAJALAH YANG KUASA MEMBERIKAN PETUNJUK.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,

***

Kiriman: Hamba Allah

Iklan