Risalah Shalat 1


sholat_jamaahRisalah shalat – kata pengantar

Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

Bukan menjadi rahasia umum, apa yang terjadi ditengah-tengah kita kaum muslimin pada saat ini, banyak sekali diantara saudara kita kaum muslimin yang teledor dalam menunaikan shalat. Bahkan banyak sekali diantara mereka secara terang-terangan meninggalkannya secara keseluruhan. Hal ini merupakan suatu musibah yang besar yang merusak akhlak dan mental umat Islam, yang dampaknya akan menimbulkan merajalelanya kemaksiatan dan kerusakan dari tangan mereka sendiri terhadap sesamanya, serta bala yang akan diturunkan oleh Allah SWT.

Masalah besar ini adalah beban berat di pundak pribadi-pribadi muslim yang mempunyai ghirah dan kepekaan terhadap masalah-masalah yang terjadi di kalangan saudara-saudara seiman. Hal itu bukan hanya tanggung jawab ulama dan kyai, tetapi semua muslimin yang walaupun sedikit mengetahui pentingnya shalat dalam agama, untuk tidak berpangku tangan, berdiam diri, tidak mau tahu dan membiarkan hal ini terus terjadi.

Untuk maksud dan tujuan itu, kami susun risalah kecil ini, agar dapat berperan dan turut andil dalam menyadarkan sesama kaum muslimin untuk bangkit dari keteledorannya dan bangun dari kelalaiannya. Semoga risalah ini dengan penuh harapan kepada Allah SWT, dicatat sebagai usaha yang diridhoi-Nya dan bermanfaat bagi kaum muslimin.

Kepada pembaca risalah ini, agar menyimak dan membaca semua isinya, kemudian dimohon agar diberikan kepada yang lain yang belum membacanya. Dan kepada yang hendak dengan ikhlas memperbanyaknya, kami sangat berterima kasih dan mudah-mudahan dijadikan sebagai amal jariyah.

Akhirnya, kami panjatkan doa agar Allah SWT membuka mata hati kita dan segenap kaum muslimin, di bulan disusunnya risalah kecil ini, bulan Maulid junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, dilimpahkan kepada kita semua taufik dan hidayah agar menjadi orang-orang yang menegakkan shalat. Amin…

Wassalam

M. Anis bin Syeikh Barakbah.

***

Risalah shalat – 1

Diasuh oleh : Ustadz M. Anis bin Syeikh Barakbah

Ketahuilah wahai kaum muslimin – semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua – bahwa sesungguhnya shalat itu adalah syariat (perintah agama) yang dibawa dan disampaikan oleh para Nabi yang telah diutus oleh Allah SWT semenjak Nabi Adam AS sampai junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Shalat sebagai sarana seorang hamba berhubungan denga Tuhannya, setelah berikrar dengan lisan dan yakin dengan hati bahwa tiada Tuhan selain Allah (syahadat), sebagai bukti keimanan seorang hamba yang dhoif dan kepatuhan akan perintah Tuhan Yang Maha Agung. Perumpamaan shalat adalah sebagai kepala dari seluruh anggota badan. Oleh karena sangat pentingnya shalat tersebut, junjungan Nabi Besar Muhammad SAW menyatakannya sebagai tonggak atau tiang agama, sebagaimana dalam sabda beliau,

“Shalat itu adalah tiang agama. Barangsiapa menegakkannya maka sungguh ia menegakkan agamanya, dan barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia menghancurkan agamanya.”

Karena sangat pentingnya kedudukan shalat ini, banyak sekali dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi anjuran agar didirikannya.

Anda bisa perhatikan pentingnya shalat ini, dengan peristiwa diperintahkannya shalat, yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab, 5 tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah. Di saat yang genting bagi beliau, belum selesai beliau mengajak kaumnya untuk bertauhid dan mempertuhankan Allah, berbagai macam cobaan dan bahaya yang datang dari pembesar-pembesar Quraisy semakin berat, turunlah seruan shalat ini, yang membuat segelintir orang-orang yang beriman kepada beliau menjadi tipis imannya dan membuat orang-orang kafir mencemoohkan beliau dan menyebarkan keraguan diantara segelintir orang-orang yang beriman untuk keluar dari Islam. Peristiwa ini juga terjadi pada saat beliau menerima langsung perintah shalat 5 waktu dari Allah, sedangkan perintah yang lain seperti shodaqoh, puasa, haji, dan sebagainya tidak melalui peristiwa khusus, tetapi melalui perantara malaikat Jibril.

Hal ini sebagai bukti kebesaran shalat dibandingkan perintah atau syariat yang lain. Oleh karena itu, tidaklah pantas bagi kita yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan beriman kepada Baginda Rasulullah SAW, melalaikan shalat, apalagi meninggalkannya.

Untuk lebih jauh lagi dibawah ini, dapat kita renungkan hujjah atau dalil-dalil baik dari ayat-ayat Al-Qur’an, Hadis junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, maupun dari kalam para ulama besar dahulu, yang kesemuanya menunjukkan betapa hebat dan agungnya shalat itu dan begitu keras larangan melalaikannya.

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat , yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’un : 4-5)

“Apa yang menyebabkan kalian masuk di dalam neraka Saqor. Mereka menjawab : kami sewaktu dulu (di dunia) tidak termasuk orang-orang yang menegakkan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir : 42-43)

Diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khattab dan Abi Hurairah, bahwa Jibril datang kepada baginda Rasulullah SAW dan berkata, “Bacalah, wahai Muhammad.” Beliau menjawab, “Apa yang harus aku baca.” Jibril kemudian membaca ayat,

“Kemudian datang setelah mereka suatu pengganti yang mensia-siakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

Maka Beliau bertanya kepada Jibril, “Apakah umatku akan mensia-siakan shalat sepeninggalku?.” Jibril menjawab, “Ya. Akan datang nanti orang-orang dari umatmu yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya dan ada yang meninggalkannya, serta mengumbar hawa nafsunya. Harta di pandangan mereka lebih baik daripada shalat.”

Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya kedudukan shalat di mata agama sebagaimana kepala dengan jasad.”

Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

“Paling awalnya sesuatu dimana seorang hamba akan dihisab adalah shalatnya. Jika didapati shalatnya sempurna, maka shalat dan semua amalnya akan diterima. Dan jika didapati shalatnya kurang, maka shalat dan semua amalnya akan tertolak.” (Abu Al-Laits As-Samarqandy di dalamnya kitabnya Qurruh Al-‘Uyuun dan Ibnu Hajar di dalam kitabnya Az-Zawaajir)

Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

“Barangsiapa menjamak 2 shalat tanpa udzur maka sungguh ia terkena dosa besar.” (HR. At-Turmudzi dan Al-Hakim)

Diriwayatkan oleh Ubadah bin Shomit,

“Telah mewasiatkan kepadaku temanku, Rasulullah SAW, dengan 7 perkara : jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu meskipun kamu dipotong-potong atau disalib, jangan meninggalkan shalat dengan sengaja, maka barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja maka sungguh ia telah keluar dari agama…” (HR. Ath-Thabrany)

Bersabda Baginda Rasululllah SAW,

“Allah telah mewajibkan shalat lima waktu atas hambaNya. Barangsiapa melaksanakannya pada waktu-waktunya maka padanya terdapat cahaya dan kejelasan pada hari kiamat. Dan barangsiapa mensia-siakannya maka ia akan dikumpulkan dengan Fir’aun dan Haman1.” (Ahmad Dahlan menyebutkan di dalam kitab Risalah-nya.

Diriwayatkan :

“Sesungguhnya beliau pada suatu hari bersabda kepada para sahabatnya, ‘Katakanlah : jangan jadikan diantara kami orang yang celaka dan diharamkan (masuk surga).’ Kemudian beliau bertanya, ‘Tahukah kalian orang yang celaka dan diharamkan?.’ Para sahabat menjawab, ‘Siapa dia wahai Rasulullah?.’ Beliau berkata, ‘(dia adalah) orang yang meninggalkan shalat.’ ”

Diriwayatkan oleh Ali bin Abi Tholib bahwa Baginda Rasulullah SAW bersabda,

“Tidak ada seorang hamba meninggalkan shalat dan tidak menggantinya kecuali Allah menuliskan diatas wajahnya (sebuah tulisan) orang ini keluar dari rahmat Allah dan Saya terlepas darinya. Dan jika seorang hamba meninggalkan satu kewajiban shalat maka Allah menulis namanya di pintu api neraka.”

Bersabda Rasulullah SAW,

“Batas antara hamba dengan kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Ahmad Adz-Dzarimy, Muslim, Abu Daud, dan banyak periwayat lainnya)

Bersabda Baginda Rasulullah SAW,

“Ikatan yang ada antara kami dan mereka (manusia) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia telah keluar dari agama.” (HR. At-Turmudzi)

Hadits Baginda Rasulullah SAW,

“Ketika Nabi SAW datang pada suatu kaum yang dipecahkan kepala-kepala mereka dengan batu. Setiap kali pecah, kembali lagi seperti semula. Berkata beliau, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?.’ Jibril menjawab, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang kepala mereka berat untuk mendirikan shalat.’ ”

  1. Haman adalah wakil dan panglima Fir’aun.
Iklan