Refleksi Maulid Nabi: Bertaklid dalam Cinta


muhammad 3Refleksi Maulid Nabi: Bertaklid dalam Cinta

Di masa Khalifah Harun al-Rasyid, ada seorang pemuda di Bashrah, Iraq yang sangat kaya. Gaya hidupnya serba mewah dan glamor. Karena sikapnya yang jelek itulah pemuda tersebut tidak disukai oleh masyarakat sekitar. Bahkan ketika ia meninggal dunia, mereka enggan menghadiri janazahnya. Tiba-tiba terdengar hatif (suara ghaib), “Wahai penduduk Bashrah, hadirilah janazah wali Allah itu, karena ia mendapat tempat yang mulya di sisiku”.

Akhirnya penduduk Bashrah menghadiri janazahnya sampai acara pemakaman. Malam harinya, mereka bermimpi bertemu dengan pemuda itu sedang yarfalu hiasan emas. Ketika ditanyai tentang keistimewaan yang diperolehnya, pemuda itu menjawab, “Karena aku selalu memuliakan hari kelahiran Nabi”.

Konon, setiap kali bulan Rabi’ul Awal tiba, pemuda itu mempunyai acara rutin: berhias diri dengan baju baru, memakai wangi-wangian dan mengadakan walimah. Ia menyuruh orang lain agar membaca sejarah kelahiran Nabi saw, di sampingnya. ‘Ritual’ itu terus ia lakukan selama bertahun-tahun.

Dan hal itulah yang membuatnya mendapat keistimewaan tersebut.

***

Begitu istimewakah?

Bukan rahasia bila perayaan maulid Nabi atau yang lazim kita sebut maulidurrasul ini masih sering dipertentangkan. Kelompok Islam Wahabiyah tidak mengakui peringatan maulid Nabi ini, seraya menyatakan sebagai bid’ah, sesat.

Berdzikir, membaca shalawat tidak dipermasalahkan. Masalahnya terletak pada membuat acara khusus untuk memperingati Maulid Nabi, bukan isi di dalamnya.

Namun kalau dirunut ke depan; Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyah, perintis Salafiyah, madzhab kaum pembaru saat itu, ketika ditanya tentang berkumpul dan beramai-ramai berdzikir, membaca al-Quran berdoa sambil menanggalkan serban dan menangis sedangkan niat mereka bukanlah karena riya’ tetapi hanyalah kerana hendak mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Adakah perbuatan-perbuatan ini boleh diterima? Beliau menjawab,”Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan suruhan didalam Syari’ah (mustahabb) untuk berkumpul dan membaca al-Quran dan berdzikir serta berdoa.” (lihat, Majmu’ al-Fatawa Ibn Taymiyah)

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani telah menulis didalam, ‘Al-Durar al-Kamina fi ‘ayn al-Mi’at al-tsamina’ bahwa Ibnu Katsir, seorang Muhaddits bermadzhab Syafi’i dan pengikut utama Ibnu Taimiyyah, telah menulis sebuah kitab yang bertajuk Mawlid Rasul Allah di penghujung hidupnya.

Ibnu Kathir membenarkan dan menggalakkan sambutan Maulid dan dalam hal 19 beliau menulis,” Malam kelahiran Nabi (s.a.w) merupakan malam yang mulia, utama, dan malam yang diberkahi dan malam yang suci, malam yang menggembirakan bagi kaum Mukmin, malam yang bercahaya-cahaya, terang benderang dan bersinar-sinar dan malam yang tidak ternilai.”

Jalaludin al-Suyuti telah menulis di dalam, “Hawi li al-Fatawa”, Sheikhul Islam dan Imam Hadits pada zamannya, Ahmad ibn Hajar (‘Asqalani) telah ditanya mengenai menyambut Maulidurrasul (s.a.w) dan beliau telah memberi jawaban:

Perbuatan Menyambut Maulidurrasul (s.a.w.) merupakan bid’ah yang tidak pernah diriwayatkan oleh para Salafus-soleh pada 300 tahun pertama hijrah.

Namun, perayaan ini penuh dengan kebaikan walau terkadang terdapat hal yang tidak patut. Jika dalam acara tersebut tidak terdapat hal-hal yang melanggar syara’ maka tergolong bida’ah hasanah, tetapi jika tidak, maka bukan bid’ah hasanah.

Diantara dalil menyambut Maulidurrasul (s.a.w), adalah hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Semasa Nabi berada di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh Muharranm (‘Asyura) dan Baginda bertanya akan perbuatan mereka. Mereka menjawab, “Kita berpuasa karena pada hari itu Nabi Musa telah diselamatkan dan Firaun telah ditenggelamkan. Kita berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur kita. Nabi lalu bersabda, “Kami lebih berhak mensyukurinya dari pada kalian.” Lalu diwajibkanlah berpuasa di hari asyura’ (Baca Istinbat edisi 5/Tahun I/Rabiul Awal 1421)

Menyambut maulid Nabi itu adalah ungkapan rasa cinta kita kepada junjungan semua makhluk, Nabi Muhammad saw. Cinta kepada Nabi itu adalah identitas seorang muslim. “Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia lebih mencintaiku dari pada dirinya, keluarganya dan seluruh umat manusia.” (Hadits).

Ala kullihal, memperingati maulid Nabi adalah perbuatan yang sangat terpuji. Menentangnya berarti menentang Nabi sendiri.

Masalahnya sekarang, betulkah kita telah mencintai Nabi?

Cinta kepada Nabi bukanlah asmara yang murni sebagai bentuk emosi. Cinta kepada Nabi adalah emosi yang ditumbuhkan oleh rasio dan aksi. Mencintai seseorang yang telah tiada dan tidak pernah kita kenal seringkali adalah bentuk semu. Obyek cinta memang harus kongkrit dan dikenal dengan nyata.

Lantas bagaimana kita harus mencintai Nabi?

Rasio juga harus berperan besar di situ. Kepekaan kita dalam membaca sebuah filsafat sejarah adalah inti dari cinta kepada Nabi. Toh, cinta kepada Nabi juga merupakan kunci kita beragama, sebagaimana iman. Kedua hal itu, idealnya harus dibangun atas dasar kesimpulan rasional dibanding sebagai sebuah kepercayaan yang turun temurun.

Jika kita dilarang taklid dalam iman maka mestinya taklid dalam cinta adalah hal yang juga imposible.

Konstruksi cinta Nabi harus dibangun atas dasar kekaguman dan membaca sejarah. Jadi, kecintaan itu bukan semata-mata ekspresi emosional atau pengaruh mutlak opini lingkungan. Lebih dari itu, cinta kepada Nabi adalah pengakuan hakiki atas keberadaan beliau sebagai manusia ideal.

Di situlah, komitmen menjadikan tauladan dan semangat ittiba’ussunnah tumbuh tanpa kesemuan. Cinta Rasul yang tidak didasarkan pada penghayatan sejarah akan mudah terombang-ambing oleh derasnya figuritas berbagai tokoh.

Kita memang tidak bisa menafikan bangunan cinta Rasul atas dasar taklid atau unsur-unsur lain di luar kekaguman. Hal itu adalah sebuah keniscayaan. Namun, kalau kita mau jujur, kita mesti bertanya kepada diri sendiri: seberapa banyak kita tahu tentang Rasul dan jejaknya, lalu seberapa lekat nama Rasul di hati kita?

Wallohu a’alam bish-shawab,-

wallohu a’lam bis-shawab,-

***

Arland

Iklan