Bagaimana Kita Mencintai Allah dan Rasulullah SAW


hidayah-allahBagaimana Kita Mencintai Allah dan Rasulullah SAW

Pembaca yang budiman, tahukan Anda bagaimana cara kita mencintai Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW itu ?!! Ketahuilah, Allah Ta’ala telah memberitahukan hal ini dalam firman-Nya:

“Katakanlah (wahai Muhammad SAW terhadap kaum muslimin) Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imran: 31).

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya Al-Firqatun Najiyah hal. 111 menyatakan: “Faedah dari ayat ini adalah bahwa kecintaan seorang hamba terhadap Allah itu adalah dengan ittiba’ (selalu mengikuti) terhadap apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW, mentaati apa yang diperintahkannya dan meninggalkan semua hal yang dilarangnya seperti apa yang terdapat dalam hadits-hadits yang shohih yang telah beliau jelaskan kepada umat manusia. Dan mahabbah (kecintaan) ini tidak akan terwujud bila hanya semata-mata ucapan lisan tanpa adanya amalan yang sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Rasulullah SAW.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah dalam kitab tafsirna Taisir A-Karimir Rahman juga menjelaskan: “Ayat ini juga merupakan Al-Mizan (alat penimbang) bagi orang-orang yang mengaku benar-benar mencintai Allah. Maka tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah itu adalah dengan ittiba’  (mengikuti) Nabi Muhammad SAW, yang mana Allah Ta’ala menjadikan ittiba’-nya seseorang pada Rasulullah dalam semua yang dida’wahkan oleh beliau SAW sebagai jalan untuk mencintai Allah dan mendapatkan keridhoan-Nya. Dan seseorang itu tidak akan mendapatkan kecintaan, keridhoan dan pahala-Nya kecuali dengan cara tashdiq (selalu membenarkan) terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM berupa Al-Kitab dan As-Sunnah, kemudian tunduk kepada perintah keduanya dan menjauhi semua hal yang dilarang oleh keduanya. Maka barangsiapa yang telah melakukan hal tersebut, Allah Ta’ala akan mencintainya dan diberi balasan berupa pahala sebagai orang-orang yang dicintai-Nya, diampunkan segala dosanya, dan akan ditutupi segala aibnya …”

Pembaca yang budiman, jelaslah bagi kita bahwa cara yang paling tepat mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah dengan ittiba’ terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah yang dibawa oleh Rasulullah. Ini berarti wajib bagi kita merasa cukup dengan agama yang dibawa Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM, dan kitapun yakin bahwa agama ini benar-benar telah sempurna, tidak perlu mendapatkan tambahan-tambahan untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman atau dikurangi karena tidak cocok dengan selera jaman, Apa saja yang berasal dari Rasulullah SAW, wajib kita terima dan kita amalkan apa adanya. Sedangkan apa saja yang tidak pernah ada pada jaman Rasulullah (tidak dicontohkan oleh beliau) wajib kita tinggalkan meskipun banyak orang yang mengerjakannya. Inilah prinsip dan hakekat kecintaan seorang hamba kepada Allah swt.gif (980 bytes).

Mengaku mencintai Allah dan mencintai Rasul-Nya dengan cara-cara selain cara tersebut di atas adalah pengakuan yang dusta dan menipu ! Karena bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta tetapi melakukan perbuatan yang dibenci dan tidak disuka oleh kekasih yang dicintainya? Nah, contohnya adalah seperti apa yang dilakukan oleh kaum muslimin di setiap bulan Rabi’ul Awal. Mereka mengadakan acara perayaan Maulid Nabi SAW dengan niat untuk ibadah dan sebagai wujud ekspresi cinta mereka kepada Rasulullah. Benarkah begitu cara kita mengekspresikan cinta kita kepada beliau, yakni dengan mengadakan acara-acara yang tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh beliau?! Bukankan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan secara gamblang bagaimana mestinya kita mengekspreskan cinta kita kepada keduanya?

Oleh karena itu benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Imam Malik bin Anas Rahimahullah: “Barangsiapa membuat bid’ah  (perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, pent) dalam agama Islam ini, dan dia memandangnya sebagai suatu kebaikan, maka sungguh dia telah menganggap dan menuduh Muhammad SAW telah mengkhianati risalah Allah (yakni wahyu yang diturunkan kepada beliau, pent). Karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu … ” (QS. Al-Maidah: 3). Maka apa saja yang pada hari itu (jaman Rasulullah, pent) bukan merupakan agama, pada hari inipun bukan merupakan agama.”

Inilah prinsip yang selalu dipegang teguh oleh para ulama Salafus Shalih, dan juga jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang istiqomah dengan prinsip-prinsip ini hingga akhir jaman. Mudah-mudahan Allah Ta’ala selalu memberikan pertolongan-Nya kepada kita dan kita berlindung dari setiap kesesatan yang dibungkus dengan baju keagamaan.

Wallahu a’lamu bishshowwab

Sumber : http://www.shahabat.cjb.net

Iklan