Aku berhutang budi padanya (SAW)


MuhammadAku berhutang budi padanya (SAW)

oleh M. H. Durrani

Tigapuluh tahun lalu, pada usia yang masih muda, aku telah memeluk Kristen karena pengaruh sebuah Sekolah Misi. Aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku di gereja di Inggris sebagai Pendeta Anglikan sejak 1939 hingga 1963. Islam datang pada diriku sebagai musim semi datang pada bumi yang dingin setelah musim dingin yang gelap. Demikianlah aku kembali kepelukan Islam, agama nenek-moyangku.

Peristiwa kembaliku ke Islam ini disebabkan datangnya semacam “ilham” yang dianugerahkan padaku melalui sebuah mimpi dimana aku merasa telah diberi rahmat secara pribadi oleh Nabi Muhammad yang Suci. Kini aku bersyukur kepada Tuhan dan berdoa bagi Junjungan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, penyelamat orang-orang yang bergelimang dosa.

Perubahan dalam hati datang semata dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan sebenarnyalah, tanpa petunjukNya, semua usaha kita mempelajari, semua usaha kita mencari, semua daya upaya kita untuk menemukan Kebenaran justru dapat membawa kita pada kesesatan…

Aku berani mengatakan bahwa tak seorang pun yang masuk ke dalam Islam yang tak berhutang budi pada Hazrat Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Atas belas-kasihnya pada si orang tersebut, pertolongan, petunjuk, ilhamnya… dan sebagai contoh pribadi yang mulia dimana Tuhan dengan cintaNya yang besar telah mengutusnya kepada kita agar dapat kita ikuti.

Aku pun berangsur mulai secara serius mempelajari kehidupan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Aku kemudian sadar bahwa sungguh suatu dosa menghujat orang Suci pilihan Tuhan itu, yang membangun kukuasaan Tuhan di tengah manusia murtad, penyembah berhala dan orang-orang yang berkelakuan tak terpuji.

Dia memenuhi tugasnya dengan tidak melalui berbagai bujukan duniawi, tidak melalui tekanan-tekanan, tidak melalui cara-cara tiran, namun melalui pekerti dan ahlak yang amat memikat, melalui kepribadian dan moral yang membuat orang jatuh hati, serta melalui ajaran-ajarannya yang membuat orang yakin.

Bisakah orang membayangkan contoh yang lebih tinggi dari pengorbanan diri, rasa kesetiakawanan dan kebaikan hati pada mahluk lain, dibanding orang yang mau mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri demi kebaikan orang lain ini? Sementara orang-orang lain itu – yang kebaikannya ia perjuangkan sekuat tenaga – adalah mereka yang melemparinya, memperlakukannya secara kasar, mengusirnya dan tak memberinya sejengkal pun tempat di pengasingan… dan di atas semua itu, ia tetap dengan usahanya yang sungguh-sungguh bagi kebaikan mereka?

Adakah seorang yang jujur mau melalui penderitaan yang demikian besar untuk sebuah alasan yang mengada-ada? Dapatkah seorang yang culas, tidak jujur dan hanya berangan-angan mampu menunjukkan keteguhan dan kesungguhan yang luarbiasa bagi cita-citanya, dengan tetap tegar bertahan hingga titik akhir – dan tetap tenang serta tak sedikit pun terpengaruh – dalam menghadapi berbagai bahaya, siksaan dan rintangan macam apa pun yang bisa kita bayangkan, sementara seluruh negeri menghunus senjata melawan dirinya?

Bukti apalagi yang kita perlukan untuk meyakini tujuan yang murni dan sempurna ini? Siapa lagi pribadi yang lebih dapat dipercaya kecuali dia yang menerima anugerah dan pemberian begitu unik melalui cara-cara penuh rahasia, toh secara gamblang dia bukakan sumber semua pencerahan dan ilham yang ia peroleh.

Semua faktor ini membawa kita pada kesimpulan yang sulit disangkal: bahwa pribadi seperti ini sebenarnyalah seorang Utusan Tuhan – Rasulullah. Itulah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Dia adalah keajaiban dalam hal sifat-sifat yang terpuji, kesempurnaan dalam ahlak dan perilaku baik. Kepribadian dan moralnya, ajaran dan pencapaian-pencapaiannya semua tegak sebagai bukti Kenabiannya yang tak bisa dipertanyakan.

Siapa pun manusia, yang mempelajari hidup dan ajarannya dengan tanpa prasangka, akan memberikan kesaksian bahwa sesungguhnyalah dia Nabi Utusan Tuhan sejati, dan Al-Quran, Kitab yang ia anugerahkan bagi umat manusia, adalah Kitab Wahyu Tuhan yang sebenarnya. Tak ada pencari kebenaran yang serius dan tak berprasangka mampu berkelit dari kepastian ini.

***

  1. H. Durrani , seorang Pendeta Anglikan Inggris keturunan India Selatan, kemudian menjadi Pendeta di Queta, Pakistan, yang memperoleh hikmah masuk ke dalam Islam. Petikan-petikan diambil dari tulisannya “Islam – The Light of My Life”.
Iklan