Prasangka


prasangkaPrasangka

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari keburukan orang dan janganlah sebahagian kamu menggunjing atas sebahagian yang lain” [ QS Al Hujuraat; 49:12]

Ada sebuah keluarga yang terdiri atas:  ayah, ibu, seorang anak laki-laki dan seorang anak gadis. Keempat anggota keluarga itu semuanya tuli. Suatu hari ketika si anak laki-laki sedang menggembalakan kambingnya, ada seorang yang menanyakan arah jalan yang bercabang dua.

Si anak menjawab: “Ini kambing saya, ini kambing bapak saya. Mengapa engkau mengatakan kambing ini milikmu?”

Ketika sampai di rumah ia berteriak: “Ibu, ada orang yang mengaku-ngaku kambing kita ini kambingnya.”

Dengan suara tak berdaya si ibu menjawab: “Biarlah nak, kita ini memang orang miskin. Biarkanlah dia mencela celana bapakmu yang penuh dengan tambalan itu.”

Sepulangnya suaminya dari kebun, si isteri berucap: “Pak, menurut anak kita ada yang mencela celanamu yang penuh tambalan. Saya katakan, sudahlah nak, tidak usah dipikirkan, kita ini memang petani miskin.”

Si suami menjawab: “Haram, kalau saya makan pisang di kebun. Kalau ada yang menyampaikan kepadamu saya ini suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi di kebun, itu fitnah.”

Si gadis melihat kedua orang tuanya bercakap-cakap. Setelah percakapan berakhir, si gadis dengan menangis tersedu-sedu ia berkata: “Biarlah mak, biarlah pak, kalau ada yang meminang, jangan ditolak, terima saja.”

**

Dalam kehidupan kita sehari-sehari tidak jarang kita terlibat dalam hal prasangka. Sikap berprasangka yang terbentuk oleh kepicikan, pandangan sempit, curiga kepada bayangan sendiri. Keadaan ‘tuli’ dapat diartikan orang yang tidak mau mendengar pendapat orang lain. Hanya pendapatnya saja yang benar.

Si anak laki-laki yang bertugas menggembalakan kambing, karena rasa tanggung jawabnya, menyebabkan ia bersikap curiga yang berlebihan. Apapun yang diucapkan atau dilakukan orang ditanggapinya hendak mengambil, merampas kambing miliknya.

Karena selalu menambal celana suaminya, si Ibu dihinggapi penyakit rendah diri. Semua perilaku orang selalu dianggap mengejek celana suaminya.

Si suami yang suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi, selalu khawatir bahwa isterinya akan tahu. Jadi sewaktu isterinya mengatakan bahwa celananya dicela orang, ia menyangka rahasianya terbongkar.

Si gadis pingitan yang jiwanya selalu meratap, mengira pembicaraan orang tuanya adalah mengenai dirinya.

“Dan kebanyakan mereka hanyalah mengikuti persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak dapat mengalahkan kebenaran sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” [ QS Yuunus; 10:36]

***

Dikutip sebagian besar dari tulisan H. Muh. Nur Abdurrahman

WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU [Kolom Tetap Harian Fajar, Makassar]

Iklan