Bila Dia Yang Kita Cintai


puasa 4Bila Dia Yang Kita Cintai

Bagaimana perasaan Anda ketika akan kedatangan tamu yang menginap di rumah untuk beberapa saat? Jawabannya sih tergantung siapa tamunya. Tapi coba bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru, temen dekat atau orang yang pernah berjasa dalam hidup kita. Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar terbagus untuk mereka. Kemudian menyediakan jamuan istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta.

Demikian halnya saat ini. Kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah, rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan kedatangan bulan ini? Apakah ada hubungannya kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya? Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita untuk menyambutnya?

Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya ketaqwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut. Bila jawabannya ternyata belum, kita Insya Allah masih punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini. Ya… insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan untuk mengukir prestasi.

Ada 4 golongan manusia dalam sikapnya menyambut Ramadhan.

Pertama: mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka menganggap bulan ini sebagai peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur’an, dzikir, saling menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya, dsb. Tak ada waktu terlewat kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Kedua: orang yang niatnya baik, tapi azamnya lemah. Orang ini berniat menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian mereka makin tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu ketahuan aslinya.

Ketiga: orang yang biasa-biasa saja. Kedatangan Ramadhan tidak memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin.

Keempat: orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Mereka menganggap Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya mereka membencinya dan tidak menghormati sama sekali. Mereka menentang penutupan sementara usaha hiburan malam dan bisnis esek-esek dengan alasan ekonomi dan hak asasi.

Di golongan mana kita berada? Jangan sampai kita merugi sebagaimana sabda Rasulullah, “Rugi dan meranalah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum diampuni”. Para sahabat Rasul paham akan berharganya Ramadhan sehingga berharap sepanjang tahun menjadi bulan Ramadhan. Bagaimana dengan kita? Mari kita siapkan semua semua sumber daya, baik fisik, finansial, dan ilmu untuk menyambut kedatangan tamu agung ini sebelum kita menyesal!

***

(Diambil dari artikel kiriman sdr. Oki)

Iklan