Potret Manusia dibulan Romadhon


Menahan Amarah Di Bulan PuasaPotret Manusia di Bulan Romadhon

Pada setiap ramadhon . Dengan berpuasa diharap kita getol berbuat kebajikan, hati orang diketuk supaya trenyuh dan rela beramal. ”Sedekah itu menutup 70 pintu kejahatan.”.

Bulan puasa juga dimanfaatkan pengamen di biskota. Perhatikan syairnya: ”Kami di sini tidak mau menodong, tapi mengharapkan pertolongan Bapak dan Ibu sekalian. Lima ratus atau seribu perak tidak akan membuat Anda miskin. Berilah kami recehan untuk berbuka puasa….” Padahal, dia belum tentu berpuasa.

Usai ngamen, dia sodorkan tempat uang receh. Tak ada yang menggubris, karena terkesan memaksa. Terbukti, ketika seseorang tak memenuhi angan-angannya yang selangit, mulutnya kontan nyelekit: ”Dasar, pelit!” Ia marah karena merasa sudah menghibur, tapi tak diberi imbalan.

Potret manusia menjalankan puasa memang beragam.

Ada seorang muslim yang berpuasa sebulan penuh. Seakan lapar dan dahaganya mencuci dosa, dan bacaan Qur’annya menggetarkan surga. Saat berbuka, kala air menyiram tenggorokan, wajahnya semringah. Sholat dan tarowihnya tak pernah lowong. Hamparan karpet sajadah di masjid jadi tali silaturahmi.

Celakanya, keislaman itu cuma dilakukan sebulan. Sebelas bulan lain, ia kembali pada dunianya. Ia lupakan sholatnya. Sholat nek kober, ”Dia sering minum-minuman keras, katanya untuk melobi teman dan menjaga pergaulan dalam dunia bisnis. Dia tetap menyuap agar bisnisnya lancar. Dia juga mencarikan wanita panggilan untuk menyervis orang.

Dunia pun ibarat panggung sandiwara. Ada lagi poret manusia, di mata istri dan anak anaknya makan saur dan berbuka bersama, di luaran bibir tetap basah, dan perut selalu terisi. Ada lagi yang puasa tapi tetap mengumbar amarah. Padahal, hadis Nabi menyebutkan, bahwa amarah bisa menggugurkan pahala puasa.

Ada pula yang tetap seneng ngakali, mensiasati, membodohi orang, serta membualkan kebohongan demi kebohongan. manusia type ini berlindung di balik tutur kata lembut yang tiada cela. Suap dikatakan hibah, dan korupsi dianggap anugerah. Sogokan? ”Saya tidak pernah meminta, tapi dia yang memberi,” begitu dalih penerima sogokan.

Kecintaan terhadap dunia benar-benar telah mengusutkan akal dan pikiran. Kadang pergulatan terhadap cinta dunia ini melelahkan dan membosankan. Banyak manusia menyadari bahwa materi telah menjajahnya. Tapi, kesadaran itu sering sekadar ”tahu”. Titik. Makanya ada hadist yang berbunyi kurang lebih ,” Cinta dunia, adalah pokok atau penyebab perbuatan dosa “. Padahal, sesungguhnya, iman yang benar itu bukan sebatas retorika, tapi penghayatan dan pengamalan kebenaran.

Oleh sebab itu, para ustadz sering menyadarkan: ”Mari kita sucikan akal pikiran kita. Kita lepaskan keterikatan terhadap fisik kita –dalam rangka penyucian hati.” Puasa, antara lain, memang punya andil yang besar dalam mensucikan dan mencerahkan jiwa.

Mata ditundukkan dan pendengaran disumpal agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang tak perlu. Nabi bersabda, ”Barang siapa menahan pandangannya, ia akan merasakan lezatnya keimanan dalam hatinya.” Rasul juga pernah mengucapkan, ”Aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari kejahatan pendengaran, penglihatan, hati, dan kemaluanku.”

Ada teori bahwa manusia itu dikelompokkan dalam strata kebutuhan. Ada kebutuhan dasar yang menyangkut makan, minum, dan seks. Ada kebutuhan kasih sayang, ketenteraman, dan rasa aman. Lalu, ada kebutuhan akan perhatian dan pengakuan. Yang terakhir adalah kebutuhan aktualisasi diri.

Ahli tasawuf atau para sufi menganggap aktualisasi diri sebagai kebutuhan penyempurnaan spiritual. ”Selama indra lahiriah kita terpaku di bumi, selama itu pula hati dan akal kita tidak berlabuh pada Allah,” kata orang sufi. Indra kita ini terlalu lemah untuk dipakai melihat kebenaran.

Dalam bukunya, Murtadho Muthahari menulis, salah satu tahap dalam tingkat kesholihan seseorang adalah ketika seseorang sudah dapat mengendalikan nafsunya. Dia tak akan marah, walau mestinya ia bisa membalas dendam. Dia tidak sakit hati ketika seseorang menyakitinya. Nafsunya sudah terkendali. Tingkat kesadaran ruhnya sudah tinggi.

Bagi saya, yang awam, mungkin, tataran seperti itu terasa sangat jauh. Samar-samar di ujung sana. Yang terasa dekat justru hiruk-pikuk dunia yang mengusutkan pikiran, yang menyebabkan ketidaktenangan dalam hidup. Kekecewaan demi kekecewaan mengeruhkan otak. Hati pun masih belum ngamper oleh derita sesama.

Adakah semua ini buah kepicikan, sebagai manusia? Atau, karena selalu merasa bahwa dunia, materi, uang atau apalah namanya bisa mengatur dan menyelesaikan segala-galanya? Ya Allah ya Robb, bisakah shaumku mengikis kebusukan demi kebusukan itu?

Selamat ber-puasa romadhon

Sumber dari resonansi

Iklan