Optimalisasi Ibadah di Bulan Puasa


Selamat-Berpuasa-Puasa-Ramadhan-1431-HOptimalisasi Ibadah di Bulan Puasa

Mungkin Anda termasuk orang yang paling sering berjumpa bulan Ramadlan dan menjalankan ibadah puasa di dalamnya. Anda mungkin juga termasuk orang-orang yang selalu bergembira dengan datangnya bulan Ramadlan dan mengisi bulan itu dengan amalan-amalan wajib dan sunnah.

Namun, apakah perjumpaan kita dengan bulan Ramadlan itu telah mengubah diri kita, atau minimal semakin meningkatkan kualitas ibadah kita di sisi Allah swt di bulan-bulan lainnya? Pada dasarnya, refleksi keberhasilan ibadah puasa kita di bulan Ramadlan tidak hanya dilihat pada bulan Ramadlan saja, akan tetapi juga harus bisa dirasakan pada bulan-bulan berikutnya.

Atas dasar itu, ibadah puasa kita di bulan Ramadlan bisa optimal, sudah seharusnya kita memahami tujuan puasa Ramadlan.

Tujuan puasa Ramadlan adalah membentuk individu-individu yang selalu bertaqwa kepada Allah swt. Allah swt telah berfirman, artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana puasa itu telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [Al-Baqarah:183]

Seorang mufassir ternama, Imam Ibnu al-‘Arabiy, menjelaskan makna firman Allah swt, “la’allakum tattaquun” sebagai berikut:

“Dalam menafsirkan frasa ini, para ‘ulama tafsir terbagi menjadi tiga pendapat.

Pertama, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “la’allakum tattaquun” adalah “la’allakum tattaquun maa hurrima ‘alaikum fi’luhu” {agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan kepada kalian}.

Kedua, ada yang berpendapat bahwa, “la’allakum tattaquun” bermakna “la’allakum tudl’ifuun fa tattaquun” [agar kalian menjadi lemah sehingga kalian menjadi bertaqwa]. Sebab, ketika seseorang itu sedikit makannya maka syahwatnya juga akan lemah, ketika syahwatnya melemah maka makshiyyatnya juga akan sedikit.”

Ketiga, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firman Allah swt “la’allakum tattaquun”, adalah la’allakum tattaquun ma fa’ala man kaana qablakum” [agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kalian {Yahudi dan Nashrani}.” [Imam Ibnu al-‘Arabiy, Ahkaam al-Quraan, juz I/108]

Alangkah bagusnya jika pendapat-pendapat ahli tafsir di atas kita gabungkan. Artinya, gelar taqwa akan disandang oleh orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadlan jika ia telah mampu: (1) menghindarkan diri dari perbuatan haram, (2) melemahkan hawa nafsunya, (3) tidak meniru-niru perbuatan-perbuatan orang-orang Yahudi dan Nashrani.

Pertama, puasa yang selama ini kita lakukan harus mampu membentuk sikap untuk selalu membenci dan menjauhi perbuatan-perbuatan, perkataan-perkataan, atau prasangka-prasangka yang diharamkan Allah swt. Seandainya ia masih terbelenggu dengan amaliah-amaliah yang diharamkan Allah, dirinya akan bersungguh-sungguh (yang direfleksikan dengan tindakan konkret) untuk melepaskan diri dari belenggu-belenggu keharaman tersebut. Ia tidak akan rela hidup tanpa dicintai dan diridloi Allah swt. Jika dalam melakukan puasa ia bisa menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa, disiplin waktunya, memenuhi sunnah-sunnah dan keutamaannya, lalu mengapa untuk ibadah-ibadah yang lain ia tidak bisa seserius dan sedisiplin tatkala mengerjakan puasa?

Kedua, puasa harusnya semakin membersihkan qalbu kita untuk selalu bersemangat dalam ibadah dan lemah dalam bermaksiat. Dengan puasa, syahwat (nafsu negatif) harusnya bisa dilemahkan sedangkan keinginan-keinginan baik semakin ditingkatkan. Jika kita masih memuja hawa nafsu dan melemahkan tuntunan agama yang baik, sungguh puasa kita belum mendapatkan hasil yang optimum.

Ketiga, puasa harusnya bisa menghindarkan diri kita dari upaya-upaya meniru-niru pemikiran, adat-istiadat dan peradaban kaum kafir yang bertentangan dengan Islam. Lebih jauh lagi, puasa yang selama ini kita lakukan harus mampu menjadikan diri kita hanya ridlo untuk diatur hanya dengan aturan-aturan Allah swt, bukan dengan aturan-aturan produk Yahudi dan Nashrani.

Sungguh, jika tiga hal ini telah kita pahami bersama, tentu ibadah puasa kita di bulan Ramadlan, dan ibadah-ibadah di bulan yang lain akan bermakna dan semakin optimal.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.

***

Dari Sahabat

Iklan