Mengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (15)


seleksi alamMengapa Darwinisme Bertentangan Dengan Al Qur’an (15)

Harun Yahya

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al An’aam, 6: 73)

  1. Kekeliruan Bahwa “Para Moyang” yang Disebutkan dalam Al Qur’an Merujuk kepada Nenek Moyang Evolusi

Perihal lain yang dicoba tampilkan oleh kaum evolusionis Muslim sebagai bukti pernyataan mereka adalah ungkapan “para nenek moyang”, yang muncul dalam beberapa ayat. Menurut tafsir mereka yang keliru, ungkapan ini merujuk langsung kepada nenek moyang purba manusia. Alasan mereka untuk ini adalah, kata “nenek moyang” muncul berbentuk jamak dalam Al Qur’an. Dua ayat terkait berbunyi:

Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.” (QS. Asy Syu’araa’, 26: 26)

Tidak ada tuhan melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. (QS. Ad Dukhaan, 44: 8)

Akan tetapi, ini pernyataan yang dipaksakan karena penggunaan kata berbentuk jamak itu lumrah dan pasti tidak bisa digunakan sebagai dasar bagi tafsir evolusionis.

Ungkapan ini muncul dalam banyak ayat lainnya, di antaranya Surat Al Baqarah: 133. Di sini, “para nenek moyang” tidak merujuk kepada proses evolusi mana pun, namun kepada generasi-generasi yang sebelumnya. Dengan cara serupa, istilah “para moyang, orang-orang sebelum” di masa lalu merujuk kepada generasi-generasi yang silam. Ungkapan ini tidak berisi makna evolusi:

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah, 2: 133)

  1. Kesalahan Tentang Bentuk Penciptaan Manusia

Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah, dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada Hari Kiamat) dengan sebenar-benarnya. (QS. Nuh, 71: 17-18)

Kaum evolusionis Muslim melihat ayat ini sebagai landasan teramat penting dalam menentukan dasar pandangan mereka. Ungkapan “Allah menumbuhkanmu dari tanah” disajikan sebagai bukti evolusi zat anorganik (zat tak hidup). Akan tetapi, sebagaimana dengan terang ditunjukkan dalam tafsir ayat, ungkapan ini menggambarkan penciptaan manusia pertama dari bumi (tanah).

Hamdi Yazir dari Elmali mengajukan tafsir yang senada:

Ada dua segi ayat. Pertama, mengatakan Dia menciptakanmu dari tanah berarti bahwa Dia menciptakan ayahmu dari tanah, dan memulai proses penciptaan bangsamu dengan menciptakannya dari tanah. Kedua, Dia menciptakan kalian semua dari tanah, sebab Allah menciptakan kita dari zat gizi, dari tumbuhan, dari bumi/tanah. 21

Omer Nasuhi Bilmen mengajukan tafsir ini terhadap Surat Nuh 17-18:

Hai manusia! Lihatlah ini. Allah membuatmu dari tanah bagai tumbuhan. Dengan kata lain, “Dia menciptakan Adam, moyangmu, dari tanah, atau anasir utamamu (zigot) terwujud dari tumbuhan dan beberapa bahan makanan lainnya yang tumbuh di bumi. Manusia lalu tumbuh dan hidup. (Lalu) hai manusia, Dia akan mengembalikanmu ke sana. Dengan kata lain: Saat engkau mati, engkau akan kembali ke bumi dan menjadi bagian dari tanah. (Dan) lalu Dia akan mengeluarkanmu dari kubur dan menggiring kalian semua ke Hari Kiamat. Semua ini adalah kenyataan. 22

Uraian Imam Tabari menyatakan bahwa: “Allah menciptakanmu dari tanah bumi. Dia membuatmu dari ketiadaan … Dia lalu akan mengembalikanmu ke keadaan asalmu, ke bumi. Engkau akan kembali ke sebagaimana engkau sebelum diciptakan. Dia bisa membuatmu kembali hidup dari bumi jika Dia menghendaki.” 23

Sebagaimana telah kita lihat dari tafsir para ulama Al Qur’an ini, ayat ini tidak dapat dipakai sebagai dasar penciptaan evolusi.

Lagi pula, pernyataan tentang evolusi anorganik tidak memiliki dasar ilmiah. Gagasan bahwa zat-zat yang tak hidup bisa bersatu membentuk kehidupan merupakan gagasan tak ilmiah yang tidak diperkuat oleh percobaan dan pengamatan apa pun.

Bahkan sebaliknya, ahli biologi Perancis Louis Pasteur (1822-1895) memperlihatkan bahwa kehidupan hanya mungkin berasal dari kehidupan. Ini menunjukkan bahwa kehidupan pasti dengan sengaja diciptakan. Dengan kata lain, Allah menciptakan semua makhluk hidup. (Untuk rincian lebih jauh tentang bukti ilmiah dan dusta evolusionis dalam hal ini, silakan merujuk ke Harun Yahya: The Evolution Deceit, Taha Publishers, London, 1999, dan Darwinism Refuted, Goodword Publishers, New Delhi, 2003.)

  1. Kekeliruan bahwa Al Qur’an Menunjuk ke Seleksi Alam

Salah satu pernyataan evolusi yang paling dasar adalah, seleksi alam merupakan sebuah daya evolusi. Sebagaimana kita lihat di bab-bab sebelum ini, seleksi alam adalah dusta evolusionis, yang menyatakan bahwa yang kuat bertahan dan yang lemah tersingkir seiring waktu.

Akan tetapi, ilmu pengetahuan mutakhir menunjukkan, seleksi alam tidak memiliki daya evolusi, dan tidak dapat menyebabkan satu jenis makhluk hidup berkembang, atau pun jenis makhluk hidup baru muncul. Akan tetapi, fakta-fakta ilmiah ini, yang sengaja diabaikan kaum Darwinis demi kepentingan materialisnya, juga diabaikan oleh kaum evolusionis Muslim. Beberapa kelompok Muslim mendukung pandangan taklid Darwinis ini, dan bahkan mencoba memberikan bukti Al Qur’an yang sangat dipaksakan baginya. Misalnya:

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS. Al Qashash, 28: 68)

Ayat ini mengungkapkan mereka yang Allah akan tunjuki jalan yang lurus serta nabi-nabi yang akan Dia umumkan sebagai utusan. Salah besar bila mengatakan bahwa ayat ini menunjuk ke seleksi alam evolusi.

Para ulama Al Qur’an sepakat menyetujui tafsir tersebut. Misalnya, Imam Tabari mengajukan uraian berikut:

Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dari para hambaNya, dan memilih mereka yang Dia kehendaki untuk mengikuti jalan yang lurus. Mereka tidak berhak memilih dalam hal ini. Mereka tidak berhak memilih untuk berlaku seperti yang mereka inginkan… 24

Ulama besar Omer Nasuhi Bilmen mengajukan tafsir berikut ini:

Dalam ayat-ayat suci ini, Allah menyatakan kekuasaanNya dalam penciptaan, bahwa Dia menyukai dan memilih siapa yang Dia kehendaki, kebijaksanaan dan kekuatanNya, keesaanNya, kejayaan dan puja-puji milikNya, perintah ilahiahNya, dan bahwa semua hambaNya akan dipanggil menghadap keberadaan ilahiahNya. Dengan kata lain, tidak seorang pun dapat menghambat kesukaan dan pilihan sang Mahakuasa dengan cara apa pun. Apa pun yang hambaNya pilih tidak dengan sendirinya bermanfaat. Dengan segala puji, Allah tidak wajib menciptakan apa yang mereka sukai dan pilih. Allah tidak mengirimkan utusan-utusanNya berdasarkan kesukaan dan pendapat kaum yang Dia kirimi utusan itu, hanya berdasarkan pilihan ilahiahNya. Hanya Dia yang mengetahui, bagaimana dan dengan cara apa kebaikan dan kemakmuran akan terwujud. Dia tak bersekutu, tak sesuatu pun bisa ada tanpa kehendakNya yang abadi, dan kehendak siapa pun tidak dapat menentang ketentuan dan pilihanNya yang mulia. 25

Hamdi Yazir dari Elmali menafsirkan ayat itu sebagai berikut:

Tuhanmu menciptakan dan menetapkan apa yang Dia pilih. Dengan kata lain, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih mereka yang Dia kehendaki dari mereka yang Dia telah ciptakan. Dia menetapkan bagi mereka tugas-tugas seperti kenabian dan penyampaian pesan. Mereka tidak memiliki pilihan dalam hal ini. Selain dari yang Allah tentukan, mereka tidak berhak memilih sekutu atau penyampai kabar lain. 26

Ayat kedua yang diajukan para evolusionis Muslim adalah:

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Faathir, 35: 1)

Kaum Muslimin serupa mereka itu menganjurkan ayat ini sebagai bukti pertumbuhan evolusi. Akan tetapi, mereka harus memelintir makna ayat yang sebenarnya, demi memperoleh makna demikian.

Hal itu juga bertentangan dengan nalar dan akal sehat, karena ayat itu membahas penciptaan malaikat. Imam Tabari menafsirkan ayat itu sebagai berikut: “Dia dapat menambah jumlah sayap malaikat sebanyak yang Dia kehendaki. Dia dapat melakukan hal serupa terhadap makhluk hidup lainnya. Penciptaan dan perintah ada di tanganNya.27 ” Omer Nasuhi Bilmen sepakat, “Dia begitu berkuasa sehingga Dia menentukan jumlah sayap dan kekuatan malaikat.” 28

  1. Kekeliruan Memperlihatkan Al Qur’an sebagai Bukti untuk Mutasi

Sebagaimana seleksi alam, para evolusionis Muslim menafsirkan secara keliru dan memaksakan ayat-ayat Al Qur’an saat membahas mutasi. Akan tetapi menganggap bahwa sebuah pergerakan alamiah, yang tidak berpengaruh apa pun kecuali merusak, bisa menjadi bukti evolusi merupakan kesalahan yang mengenaskan.

Tidak ada pengaruh evolusi dari mutasi yang pernah teramati. (Untuk perincian lebih jauh mengenai bukti ilmiah atas hal ini, silakan melihat Harun Yahya: Darwinism Refuted, Goodword Publishers, New Delhi, 2003 dan Evolution Deceit, Taha Publishers, London, 1999.) Hal yang penting di sini adalah bukti, yang dicoba diajukan dari Al Qur’an oleh kaum evolusionis Muslim, yang percaya bahwa mutasi merupakan mekanisme evolusi. Mereka memelintir habis sejumlah ayat sehingga jauh dari makna sebenarnya. Ayat-ayat tersebut berbunyi:

Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali. (QS. Yaasin, 36: 67)

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.”(QS. Al-Baqarah 2: 65)

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya:” “Jadilah kamu kera yang hina.” (QS. Al A’raaf, 7: 166)

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al Maa-idah, 5: 60)

Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. (QS. Al A’raaf, 7: 107)

Bila tidak ada orang yang percaya bahwa perlu memelintir dan memaksakan kebenaran demi menemukan bukti Al Qur’an bagi evolusi, tidaklah mungkin memandang ayat-ayat itu sebagai bukti apa pun bagi mutasi.

Empat ayat pertama berbicara tentang mukjizat Allah dalam mengubah tubuh makhluk hidup. Bahkan subjek pada ayat kelima (yakni, tongkat) tidak hidup, yang membuat tak mungkin berpendapat bahwa subjek itu mengalami mutasi. Penggambaran evolusionis Muslim terhadap ayat-ayat ini sebagai bukti evolusi menunjukkan, betapa zalim, memaksakan, dan tak Islami sebenarnya gagasan penciptaan evolusi.

  1. Kekeliruan bahwa Ada Hubungan Kekerabatan antara Manusia dan Kera dalam Al Qur’an

Satu ayat yang seringkali keliru ditafsirkan selama debat tentang evolusi, dan yang ditafsirkan oleh sebagian orang sebagai suatu tanda dari teori itu, adalah ayat mengenai pengubahan yang Allah lakukan atas sekelompok orang Yahudi sehingga menjadi kera:

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman: “Jadilah kamu kera yang hina.” Maka, Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Baqarah, 2: 65-66)

Ayat ini tidak bisa ditafsirkan dalam cara yang sejalan dengan teori evolusi, karena:

1) Hukuman yang dimaksudkan mungkin dalam pengertian rasa keagamaan. Dengan kata lain, mungkin orang-orang Yahudi tersebut disejajarkan dengan kera dalam pengertian perangai, dan tidak dalam penampakan jasmaniah yang sebenarnya.

2) Jika hukuman yang dimaksud terjadi dalam bentuk jasmaniah, itu merupakan keajaiban di luar hukum alam. Kita di sini berbicara tentang keajaiban di luar kekuatan alam biasa yang berlangsung seketika atas kehendak Allah, suatu penciptaan yang sadar. Evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup, yang berlain-lainan jenis, beralih dari satu jenis ke jenis yang lain selama jutaan tahun, secara tanpa disengaja dan bertahap. Karena alasan inilah, kisah Al Qur’an di atas tidak berkaitan apa-apa dengan jalan cerita yang diajukan oleh mereka yang mendukung evolusi.

Nyatanya, ayat yang kedua berbunyi: “Maka, Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang tersebut diubah menjadi kera sebagai peringatan bagi mereka yang akan datang kemudian.

3) Hukuman ini terjadi hanya sekali dan pada sekelompok orang yang terbatas jumlahnya, sementara teori evolusi mengajukan jalan cerita yang tak masuk akal dan tak ilmiah bahwa kera berkerabat dengan semua manusia.

4) Ayat itu mengatakan bahwa manusia diubah menjadi kera; evolusi mengatakan yang terjadi adalah sebaliknya.

5) Al Qur’an 5: 60 menceritakan bahwa ada suatu masyarakat yang telah berlaku menyimpang lalu membangkitkan murka Allah dan diubah menjadi kera dan babi.

Ayatnya berbunyi:

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al Maa-idah, 5: 60)

Dalam keadaan ini, jalinan cara berpikir yang keliru yang telah kita tinjau sepanjang buku ini menghasilkan kesimpulan yang tidak wajar, yakni ayat itu berisi bukan hanya kaitan rantai evolusi antara manusia dan kera, namun juga antara manusia dan babi! Evolusionis sekali pun tidak menyatakan ada kaitan demikian antara manusia dan babi.

Seperti telah kita lihat sejauh ini, pernyataan bahwa sejumlah ayat Al Qur’an menuju ke arah evolusi adalah kekeliruan yang bertentangan bukan hanya dengan Al Qur’an, melainkan juga dengan pernyataan teori evolusi itu sendiri.

====================

21.Hamdi Yazir dari Elmali, http: //www.kuranikerim.com/telmalili/nuh.htm

22.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 8, h. 3851

23.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 6, h. 2632

24.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 4, h. 1707

25.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 5, h. 2622

26.Hamdi Yazir dari Elmali, http: //www.kuranikerim.com/telmalili/kasas.htm

27.Imam at-Tabari, Tabari Commentary, vol. 4, h. 1877

28.Omer Nasuhi Bilmen, Turkish Edition of and Commentary on the Al Qur’an, vol. 6, h. 2882

 

 

Iklan