Tangan Sakti sang Bapak


uluran tanganTangan Sakti sang Bapak

Jalanan kota Jakarta siang itu, seperti biasa, macet. Bus P4 jurusan  Blok M-Pulogadung penuh dengan penumpang. Sebagian berdiri  menggantung lengan. Sebagian lain duduk berjuang menahan kantuk.  Sesekali satu sama lain berpandangan. Mengamati gerak-gerik penumpang  terdekatnya. Biasa, kewaspadaan khas penumpang bus kota.

Bus merambat pelan seolah masih mempunyai banyak tempat kosong. Satu  demi satu artis jalanan mulai unjuk gigi. Menghias panas terik  mentari dengan lagu-lagu bertemakan sosial dan kemasyarakatan. Kadang  dihiasi sindiran ala politikus, tapi kadang dinodai oleh lirik-lirik  sendu yang kurang pantas dilantunkan.

Sekilas ada yang aneh terlihat. Seorang bapak setengah baya memakai  batik, peci, dan sarung -khas pendatang baru- duduk di tepi jendela  dengan tenang. Tetapi yang membuat semua penumpang terheran, bapak  itu asyik menjulurkan tangannya ke luar jendela. Bukan sekali dua  kali, tapi malah terus menerus tanpa beban. Sementara penumpang lain  mulai berteriak memberi peringatan.

“Pak, hati-hati! Tangan bapak dimasukkan bisa patah kena mobil  nanti!” seru seorang ibu yang duduk di sebelahnya.

“Pak, kemarin ada peristiwa seperti itu. Tangan seorang kakek lepas  saat terjulur keluar dan tersangkut pohon di tepi jalan, hi…  ngeri!” seorang lainnya ikut menakut-nakuti.

“Aduh, Bapak ini gimana? Nanti kalo tangan bapak kena tiang atau  pohon, bisa patah dan cacat. Kasihan anak istri bapak nantinya…”

Sang Kondektur tak tinggal diam. Tampaknya kesabarannya sudah  menipis . Aksen batak menambah ketegangan.

“Bah, ini orang tak tahu di untung, kalo tak kau masukin itu tangan,  bisa koyak, matilah kau!”

Tapi sang Bapak tak bergeming sedikitpun. Tangannya masih asyik  terjulur dan mengayun-ayun di luar jendela. Sorot matanya yang lugu  pun terkesan percaya diri. Seolah ia tahu apa yang dilakukan dan apa  akibatnya. Para penumpang terheran-heran bertanya-tanya dalam hati:  Apa yang ada dalam benak Bapak tua ini?

Seorang mahasiswa yang berdiri agak jauh dari bapak tersebut segera  bereaksi. Setelah sempat mengamati gerak-gerik, sorot mata, dan mimik  wajah sang bapak, ia ikut memperingatkan sang Bapak. Tapi peringatan  ini lain dari seruan-seruan sebelumnya.

Dengan santun ia berteriak tenang, “Maaf Pak, kalau tangan bapak  nggak di masukkan, nanti sayang lho kalo kena pohon, bisa hancur dan  rusak pohonnya. Apalagi kalo kena tiang listrik, wah nanti tiangnya  patah, seluruh kota bisa padam listriknya, Pak! Jadi saya usul  dimasukkin saja tangannya, biar nggak terjadi kerusakan nantinya…”

Mendengar usulan mahasiswa tersebut, sang Bapak tampak tersenyum. Ia  paham betul dengan peringatan tersebut. Bahkan nampaknya ia sepakat  dengan ucapan sang mahasiswa. Ia tidak ingin pohon-pohon dan tiang  itu rusak karena ulah tangannya. Jauh dari lubuk hatinya ia tidak  ingin ada kerusakan. Ia datang ke Jakarta memenuhi undangan anak  sulungnya. Sama sekali bukan untuk merusak. Apalagi untuk menebang  pohon-pohon dan tiang-tiang listriknya.

Sadar akan ancaman kerusakan pohon-pohon dan tiang-tiang, sang Bapak  dengan cepat menarik tangannya ke dalam bus kembali. Selesai  persoalan, semua penumpang bernafas lega. Sang kondektur tak henti- hentinya mengurut dada. Tapi sebagian penumpang lain tersenyum-senyum  sambil berbisik-bisik menduga-duga.

“Oooo… ternyata Bapak ini dari tadi percaya diri karena yakin  dengan kesaktian tangannya too, Alah-alaaaaaaaah…, untung tadi  nggak jadi nabrak pohon.”

Begitulah, bahasa kembali memberi bukti nyata. Dalam berdakwah, kita  juga harus tahu bahasa yang terbaik bagi setiap orang tentu berbeda.  Sesuai dengan latar belakang objek dakwah masing-masing.

Bapak itu tidak sepenuhnya salah. Ia merasa yakin dengan kekuatan  tangannya. Toh, selama ini di kampung halamannya ia dikenal  sebagai ‘kyai dan jawara’ yang tubuhnya kebal di sabet pedang dan di  tindih batu besar. Maka ia tak merasa perlu memasukkan tangannya saat  semua penumpang ‘cemas’ akan keselamatan dan keutuhan tangannya. Ia  yakin sepenuhnya tangan saktinya tak akan sakit ‘hanya’ dengan  menyenggol pohon dan tiang.

Tapi masalahnya menjadi lain, saat sang mahasiswa mulai mengajak  untuk memikirkan hal yang lebih besar: kepentingan umum. Bagaimana  tangan saktinya itu dapat membawa kerusakan pohon-pohon dan tiang- tiang, yang sama sekali tidak ia inginkan. Sungguh, bapak tersebut  tak ingin merusak semua itu. Ia tidak ingin mengganggu kemaslahatan  umum. Maka ia masukkan kembali tangannya dengan sungguh-sungguh,  penuh keikhlasan.

Mahasiswa itu berhasil. Bukan berhasil dalam artian menyelamatkan  pohon dan tiang dari kesaktian tangan sang Bapak. Bukan, karena hal  itu sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya. Mahasiswa itu  juga bukan berhasil dalam artian bisa merubah keyakinan sang Bapak  akan kesaktian tangannya. Bukan, karena sampai sejauh ini, sang Bapak  tentu masih yakin dengan kemampuan tangannya, atau bahkan menjadi  semakin yakin.

Namun paling tidak, mahasiswa tersebut berhasil menyelamatkan tangan  sang Bapak dari ancaman patah ataupun cacat. Begitu pula ia berhasil  mempertemukan sang Bapak dengan anak sulungnya dalam suasana yang  normal dan wajar, bukan suasana sedih dalam musibah. Ia juga berhasil  membuat kondisi bus dan penumpangnya menjadi kembali tenang dan lebih  nyaman. Anda bisa bayangkan sendiri apa yang akan terjadi jika sang  Bapak tetap menjulurkan tangannya ke luar? Mahasiswa itu berhasil,  karena ia berhasil menggunakan bukan sekedar bahasa dakwah, tapi  bahasa dakwah yang terbaik.

Sekali lagi, sebelum kita berdakwah atau memberikan seruan,  peringatan, terguran, kritikan atau bahkan masukan, akan lebih elegan  dan efektif jika kita tahu ‘siapa’ di depan kita dan ‘apa’ yang ada  dalam benaknya. Sehingga kita bisa memilih bahasa dakwah yang  terbaik. Karena bahasa dakwah terbaik adalah yang mudah di pahami, di  rasakan dalam hati, dan menjadikan objek dakwah setuju dansepakat  dengan apa yang kita maksudkan.

Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Berbicaralah dengan suatu kaum  sesuai dengan kapasitas pemahaman akal mereka.”

Semoga kita adalah termasuk dalam orang-orang yang diberi kemudahan  oleh Allah SWT untuk menyampaikan sesuatu dengan bahasa dakwah yang  terbaik.

Wallahu a’lam bisshowab.

***

Hatta Syamsuddin Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Sudan

Iklan