Akal


akalAkal

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Allah menciptakan manusia beserta akal. Dengan akal-lah akhirnya manusia dapat berpikir sehingga berkembang dan terus berkembang untuk mencapai suatu peradaban yang tinggi. Gedung-gedung menjulang tinggi, mobil yang beraneka rupa, pesawat dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara, sampai dengan komputer yang ada didepan kita saat ini, itu semua ada karena manusia bisa berpikir menggunakan akalnya, karena Allah memang sudah menggariskan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Namun sebagai mahluk Allah maka akal manusia tentunya akan mempunyai batas, dimana pada batas titik tertentu akhirnya manusia tak dapat berpikir lagi.

Sebatas Mana Manusia Bisa Berpikir?

Baik kita lihat ilustrasi dan dialog berikut ini; Ada seorang anak kecil yang bernama Feisya ia diperintahkannya Ibunya untuk memasak secangkir air diatas kompor dengan menggunakan panci terbuka untuk keperluan membuat air kopi , sayangnya setelah ia memasak air ia tinggal main sampai kelupaan karena saking asyiknya bercanda, maka setelah beberapa lama dan pada jam tertentu air habis, untunglah pada saat itu ibu anak ini melihat, ia segera memanggil anaknya dan ingin sekali menghukumnya, namun karena si ibu ini bijak akhirnya ia urungkan niatnya, sebagai gantinyan dia ingin menguji kecerdasan IQ dan SQ anaknya, maka dan terjadilah dialog berikut ini (si anak ngeyel tapi sedikit cerdas) ; IBU : Nak kamu sudah berbuat salah, tapi Ibu tidak akan menghukum kamu kalo kamu bisa jawab pertanyaan ibu?

FEISYA : Baik bu, terimakasih

IBU : Kenapa airnya habis?

FEISYA : Karena menguap

IBU : Kenapa menguap?

FEISYA : Kerena suhunya tinggi

IBU : Kenapa suhunya tinggi?

FEISYA : Karena dipanaskan?

IBU : Kenapa sih kalo dipanaskan airnya menguap?

FEISYA : yach karena suhunya tinggi?

IBU : Ehmm baiklah.. Kenapa kalo suhunya tinggi kok bisa menguap?

FEISYA : Aduh ibu ini. (sedikit nyengir ) yach karena terjadi pemanasan

IBU : Lho kok kamu gini? Jangan mbulet deh.

FEISYA : Lha, memangnya kenapa?

IBU : Kamu itu jawabnya kok muter-muter sih.

FEISYA : Lha memang begitu khan

Yach begitulah dialog tersebut., argumen si anak ini memang benar adanya, tapi sayang argumen hanyalah argumen yang dinalarkan oleh ‘anak tersebut’ (baca: manusia) yang tidak membawa ke maha-dasyatan sang pencipta-Nya. Padahal si Ibu bermaksud agar anaknya mengerti bahwa disitu ada hikmah yang bisa diambil atas kekuasaan Allah.

Akhirnya sadarlah si Ibu tersebut bahwa dialog dengan anaknya tidaklah berguna karena anaknya masih kecil belum mengerti sama sekali tapi si Ibu cukup bangga dengan IQ anaknya.

PENJELASAN

Air yang dipanaskan pada suhu tertentu memang akan menguap, tetapi mengapa harus menguap bukannya membeku atau mengembun atau berubah menjadi batu. Disinilah batas manusia sudah tidak bisa berpikir lagi, disinilah letak kekuasaan sang Pencipata, bahwa disitu sudah terjadi KETENTUAN ALLAH Pada akhirnya manusia hanya bisa mengambil hikmah dari kejadian “Penguapan Air karena pemanasan” yang berubah menjadi ilmu pengetahuan. Karena dengan ketentuan Allah inilah akhirnya terjadi penelitan yang akhirnya membawa manusia untuk merubahnya menjadi teknologi tinggi, membuat ketel uap yang untuk bisa menggerakkan kereta api, atau menggerakkan turbin untuk sumber tenaga listrik dan terus berkembang sampai bisa mencipatakan mobil dan lain sebagainya. Masih banyak contoh kasus lain yang takkan mungkin bisa dihitung Ilmu-ilmu Allah ini……

“MAHA SUCI ALLAH DENGAN SEGALAM MAHA KEBESARANNYA”

Selanjutnya marilah kita lihat lagi ketentuan Allah yang lain. Kalau di atas yang kita kaji adalah sebagai contoh dalam dunia ilmu pengetahuan yang mungkin tidak begitu jelas digamblangkan oleh Allah dalam Al’Quran (mohon maaf kalau ada salah, karena keterbatasan ilmu dan mohon koreksi bila keliru), karena manusia bisa belajar sendiri dengan berinteraksi dengan alamnya.

Nah sekarang marilah kita kaji ketentuan Allah untuk mengatur hamba-Nya (manusia) sebagai mahluk sosial , kita ambil contoh saja dalam pengaturan pembayaran Zakat atau Harta Warisan.

Dalam Al’Quran telah ditentukan bagaimana pembayaran zakat tersebut harus dilakukan, kepada siapa, berapa besarnya dan seterusnya.

Juga pembagian harta warisan anak laki-laki sekian, anak perempuan sekian, istri sekian dan seterusnya.

Kalau manusia kritis mungkin ada yang bertanya kok Tuhan mengatur sedemikan rupa? Kenapa sih kok ada Zakat? Khan uang ini saya cari sendiri? Kok harus ada yang dizakatin? Kok nggak pake bayar ‘pajak’ aja? Khan manusia bisa ngatur saja dengan ‘pajak’? Kenapa sih kok pembagian harta warisan laki-laki lebih banyak dari pada perempuan? Khan laki perempuan sama saja? Bukannya manusia dikasih akal? Bukannya manusia mahluk paling sempurna? Dan seterusnya dan seterusnya.

Yach sekali lagi manusia adalah hanya mahluk Allah, semuanya itu tidak bisa dijawab hanya dengan akal saja yang terbatas, melainkan akan bisa dijawab dengan akal dan keimanannya terhadap sang Khalik, karena ketentuan-ketentuan Allah memang demikanlah adanya.

Kita dituntun oleh Nabi Muhammad bagaimna memahami ajaran-ajaran atau ayat-ayat Allah baik lewat hadist maupun dengan dicontohkan secara langsung oleh nabi kita.

Pada akhirnya memang manusia bisa berpikir untuk mengambil hikmah dari ketentuan-ketentuan Allah tersebut.

Bahwa dengan zakat manusia sadar bahwa harta adalah hanya milik Allah, bahwa dengan zakat akan timbul hubungan sosial antara si miskin dan si kaya, bahwa dengan zakat akan terjadi pemerataan, bahwa kenapa laki-laki lebih besar karena ia harus menanggung anak istrinya dan seterusnya dan seterusnya.

Sebagai mahluk sosial Allah tahu bahwa tanpa aturan yang Dia buat kehidupan manusia dibumi sebagai khalifah akan ‘tidak sempurna’ sebagaimana yang diharapkan oleh manusia itu sendiri. Maka MAHA SUCI ALLAH telah menurunkan Al Qur’an melalui utusan-Nya Nabi besar Muhammad SAW sebagai ‘nabi’ yang terakhir untuk memeberikan petunjuk sekaligus menjadi panutan untuk memperbaiki akhlak manusia.

“MAHA SUCI ALLAH DENGAN SEGALAM MAHA KEBESARANNYA”

Demikanlah Islam sebagai Agama yang telah diridhoi Allah, Islam adalah solusi buat manusia penghuni bumi, karena Islam adalah Rahmatan Lil Allamin.

Mohon ma’af bila ada yang salah. Tolong rekan-rekan dapat mengoreksi kalo ada yang salah. Akhirnya kepada Allah aku mohon Ampun.

***

Asnurul Isroqmi (AI) Ayah Azmi & Isma

Iklan